P. 1
PTK MATe

PTK MATe

|Views: 1,234|Likes:
Published by danicafauz

More info:

Published by: danicafauz on Nov 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

A.

Pembelajaran Matematika

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari
perkembangan teknologi modern. Matematika mempunyai peran penting
dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia.
Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi
dewasa ini didasari oleh perkembangan matematika di bidang teori
bilangan, aljabar, teori peluang, analisis dan matematika diskrit. Untuk
menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan
matematika yang kuat sejak dini.
Konsep dasar matematika perlu dikuasai anak didik sejak dini.
Konsep tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegunaan matematika antara lain: (1) untuk memecahkan persoalan
sehari-hari. (2) pengembangan ilmu dan (3) mengembangkan matematika
itu sendiri (Ruseffendi dkk, 1997: 106). Penanaman konsep matematika
disampaikan secara berkesinambungan, artinya bertahap dan berurutan
sebelum konsep B harus didahului konsep A, pengalaman yang lalu
mendasari pengalaman yang baru (Herman Hudojo, 1990: 5). Matematika
biasanya berkenaan dengan konsep abstrak yang tersusun secara hierarki
dan penalarannya deduktif. Matematika menurut Van De Walle (1991: 1)
adalah: (1) matematika sebagai dasar aktifitas manusia artinya peserta
didik harus diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan matematikasasi
pada semua kompetensi pembelajaran matematika. (2) matematika harus
berhubungan dengan kehidupan manusia artinya matematika harus dekat

10

dengan anak dan dikaitkan dengan situasi kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika di SD selalu berpedoman pada Silabus dan
Kurikulum. Pembelajaran dinilai berhasil bila siswa dapat belajar sesuai
dengan tujuan yang dirancang. Oleh sebab itu proses pembelajaran harus
diwujudkan atau diciptakan melalui kegiatan yang menimbulkan interaksi
dua arah. Dalam upaya meraih keberhasilan dalam pembelajaran
matematika, guru senantiasa berupaya mengembangkan strategi
pembelajaran, misalnya dengan menerapkan penggunaan metode dan
media atau alat peraga yang sesuai. Dengan metode yang baik serta
penggunaan alat peraga yang sesuai diharapkan siswa lebih mudah
memahami konsep serta dapat meningkatkan mutu proses belajar
mengajar. Penanaman konsep matematika yang konkret akan lebih mudah
dipahami oleh siswa dan dapat membuat siswa lebih efektif,
menyenangkan, sistematik, teratur dan terarah dalam belajarnya.

B.

Pembelajaran Bilangan Bulat

Pengertian bilangan bulat adalah bilangan yang terbentuk dari
perluasan himpunan bilangan asli dan bilangan cacah (Elang Krisnadi,
2005: 1.5–1.8 ). Bilangan bulat terdiri dari: (1) bilangan-bilangan yang
bertanda 11able11ve (-1, -2, -3, -4, -5, ….) yang selanjutnya disebut
bilangan bulat 11able11ve; (2) bilangan 0 (Nol) dan; (3) bilangan-bilangan
yang bertanda positif (1, 2, 3, 4, 5, …..) yang selanjutnya disebut bilangan
bulat positif. Pada operasi pengurangan bilangan bulat, sebarannya
mencakup: (1) pengurangan bilangan bulat positif oleh bilangan bulat
positif; (2) pengurangan bilangan bulat positif oleh bilangan bulat
11able11ve; (3) pengurangan bilangan bulat 11able11ve oleh bilangan
bulat positif; (4) pengurangan bilangan bulat 11able11ve oleh bilangan
bulat

11able11ve.
Operasi hitung dalam bahasan bilangan bulat baru diperkenalkan kepada
siswa sekolah dasar di kelas 4 (pada siswa yang masih dalam taraf berpikir
konkret). Pendekatan yang harus dilakukan harus sesuai dengan

11

perkembangan mental anak di usia anak antara 10 sampai 11 tahun.
Banyak persoalan yang muncul pada 12able12 bilangan bulat bagi siswa-
siswa sekolah dasar kelas 4, misalkan pada waktu mereka akan melakukan
operasi hitung seperti: 4 + (-7); (-6) + 9; 2-7; (-3) – (-6); dan sebagainya.
Persoalan yang muncul dalam kaitannya dengan soal-soal yang seperti itu
adalah bagaimana memberikan penjelasan dan cara menanamkan
pengertian operasi tersebut secara konkret, karena kita tahu bahwa pada
umumnya siswa berpikir dari hal-hal yang bersifat konkret menuju hal-hal
yang bersifat abstrak. Untuk mengenalkan konsep operasi hitung pada
sistem bilangan bulat dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
1. Tahap pengenalan konsep secara konkret
2. Tahap pengenalan konsep secara semi konkret atau semi abstrak
3. Tahap pengenalan konsep secara abstrak.
Dalam tahap pertama ada dua model peragaan yang dapat dikembangkan,
yaitu model yang menggunakan pendekatan himpunan (yaitu
menggunakan alat peraga manik-manik), sedang model yang kedua
menggunakan pendekatan 12able kekekalan panjang (yaitu menggunakan
alat peraga mistar bilangan atau pita garis bilangan atau tangga garis
bilangan).

Pada tahap kedua, proses pengerjaan operasi hitungnya diarahkan
menggunakan garis bilangan dan pada tahap ketiga kepada siswa baru
diperkenalkan dengan konsep-konsep operasi hitung yang bersifat abstrak.
Prinsip dan cara kerja pada garis bilangan sama dengan cara kerja pada
balok, tangga, atau pita garis bilangan, yaitu ditekankan pada langkah
“maju” untuk operasi penjumlahan dan langkah “mundur” untuk operasi
pengurangan. Kemudian sisi muka model yang dihadapkan 12able12v
bilangan positif maupun 12able12ve ditunjukkan oleh arah ujung anak
panah pada garis bilangannya. Untuk lebih jelasnya, prinsip-prinsip kerja
penggunaan garis bilangan diuraikan sebagai berikut:
1. Setiap akan melakukan peragaan, posisi awal aktivitas peragaan harus
selalu dimulai dari bilangan atau skala 0 (nol).

12

2. Jika bilangan pertama dalam suatu operasi hitung bertanda positif, maka
ujung anak panah diarahkan ke bilangan positif dan bergerak maju
dengan skala yang besarnya sama dengan bilangan pertama sedangkan
pangkal anak panahnya mengarah pada bilangan negatifnya. Sebaliknya
jika bilangan pertamanya bertanda 13able13ve, maka ujung anak

panahnya

diarahkan ke bilangan 13able13ve dan gerakkan dengan skala yang

besarnya

sama dengan bilangan pertama sedangkan pangkal anak panahnya
mengarah ke bilangan positif.

B.Jika anak panah dilangkahkan maju, maka dalam prinsip
operasi hitung
istilah maju dapat diartikan sebagai penjumlahan. Sebaliknya, jika anak
panah dilangkahkan mundur maka istilah mundur dapat diartikan
sebagai pengurangan. Namun demikian, gerakan maju atau mundurnya
anak panah tergantung pada bilangan penambah atau pengurangnya.

C.

Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi atau disebut juga metode peragaan merupakan
metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan
mempertunjukkan secara langsung objeknya atau caranya melakukan
sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu (Winata Putra, dkk., 2005:
4.24 – 4.26). Metode demonstrasi adalah cara guru menyajikan bahan
pelajaran dengan memperlihatkan atau mendemonstrasikan suatu proses
dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu. Untuk
merencanakan metode demonstrasi yang efektif, guru perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1.Perumusan tujuan secara jelas dari segi kecekatan dan kegiatan.
Maksudnya tujuan yang diharapkan mencakup segi kecekatan dan

kegiatan.
2. Menetapkan apakah metode demonstrasi dapat dilaksanakan dilihat dari

13

segi jumlah peserta didik, alat-alat pelajaran, serta waktu.
3. Menetapkan pedoman setiap langkah demonstrasi.
4. Merumuskan keterangan-keterangan yang akan diberikan kepada
peserta didik yang berkaitan dengan demonstrasi.
C.Merencanakan penilaian yang sesuai.
Dalam demonstrasi itu guru atau siswa memperlihatkan
(mendemonstrasikan) suatu kejadian tertentu dalam cara-cara mengerjakan
sesuatu dan cara mengatur sesuatu (Karawapi, 1971: 105-106). Menurut
Subarjo, metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan
mempertunjukkan sesuatu, yang dipertunjukkan dapat berupa suatu
rangkaian percobaan, suatu model alat atau suatu keterampilan tertentu.
Dalam metode ini siswa dituntut untuk memperhatikan suatu obyek atau
proses. Dalam metode ini dapat dikembangkan keterampilan proses, yaitu
mengamati, mengklasifikasi, membuat kesimpulan sementara, menerapkan
dan mengkomunikasikan. (Subarjo dkk, 1989).
Pengertian metode demonstrasi yang digunakan dalam penelitian
ini sama dengan pengertian-pengertian metode demonstrasi di atas.
Pelaksana metode demonstrasi pada penelitian ini adalah siswa. Dalam
pembelajaran matematika, metode demonstrasi sangat diperlukan karena
dengan demonstrasi, siswa akan terbimbing melalui contoh yang
diperagakan serta berikutnya dapat terlatih memperagakan caranya di
depan kelas sehingga dapat dengan mudah mengerjakan operasi hitung
matematika. Dalam melaksanakan tugas, siswa dapat memperoleh
pengalaman secara langsung dan nyata. Peragaan dapat diberikan dan
dilakukan secara kelompok atau perorangan. Melalui metode ini siswa
dapat mengembangkan berbagai keterampilan dan pembiasaan kerja
mandiri serta bersikap jujur. Selain itu peragaan dapat dilakukan dengan
memberikan siswa contoh latihan-latihan soal, yang dikerjakan di papan
tulis secara bergantian sampai siswa betul-betul memahami cara
mengerjakan soal-soal hitung pengurangan bilangan bulat.
Kebaikan dari metode demonstrasi antara lain adalah (1) guru dan siswa

14

aktif dalam pembelajaran, (2) bakat dan keterampilan tertentu siswa
mudah dikembangkan, (3) mengembangkan sikap dan tindakan ilmiah,
dan (4) guru tidak banyak memberikan keterangan tetapi pengertian siswa
dapat jelas. Sedangkan kekurangan metode demonstrasi adalah (1) banyak
membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, (2) memerlukan kemampuan dan
kecekatan guru yang lebih bila dibanding metode lain, (3) dalam
demonstrasi memerlukan perhatian dan konsentrasi siswa yang sungguh-
sungguh, (4) terkadang hasil demonstrasi perlu diulangi, jika hasilnya
tidak sesuai seperti yang diharapkan. (Sugito, 1994: 41-43)

D.Alat Peraga

Bila ditinjau dari segi usia, anak SD umumnya berumur 6 – 12
tahun yang menurut Piaget, usia anak SD masih berada dalam masa
operasional konkret serta awal operasional formal (Ichsan, 2003: 2). Oleh
sebab itu penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika di SD
sangat diperlukan guna mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak.
Dengan digunakannya alat peraga anak akan dapat melihat langsung
obyek-obyek matematika, meraba serta memanipulasi benda-benda
sehingga pemahaman anak akan meningkat. Di samping itu dengan
digunakannya alat peraga, pembelajaran akan menjadi lebih
menyenangkan, menjadi bermakna bagi kehidupan anak serta mudah
diingat dan tidak membosankan.
Alat peraga diartikan sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, guru harus mampu
menjelaskan konsep kepada siswa. Usaha ini dibantu dengan
menggunakan alat peraga matematika karena dengan bantuan alat yang
sesuai dengan topik yang diajarkan, konsep akan lebih mudah untuk
dipahami siswa. (Hudoyo, 1988: 45). Alat peraga dalam pembelajaran,
teaching aids, atau audiovisual aids (AVA) adalah alat-alat yang
digunakan oleh guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi
pelajaran yang disampaikannya kepada siswa dan mencegah terjadinya

15

verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan banyak
verbalisme tentu akan segera membosankan, sebaliknya pengajaran akan
lebih menarik bila siswa gembira belajar atau senang karena mereka
merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya.
Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau
pengalaman kongkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak.
Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran
daripada bila siswa belajar tanpa dibantu dengan alat peraga pengajaran
(Uzer Usman; 1992 : 26-27). Menurut Dale (1992 : 47) alat peraga adalah
alat bantu atau pelengkap yang digunakan guru dalam berkomunikasi
dengan siswa. Alat peraga itu dapat berupa benda atau perilaku, yang inti
belajarnya adalah interaksi siswa dengan guru dan alat peraga beserta
komunikasi pendidikan yang terjadi pada suatu situasi sehingga siswa
dapat berhasil dalam belajar. Berdasar beberapa pendapat tentang alat
peraga di atas dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah alat bantu atau
pelengkap yang digunakan guru dalam berkomunikasi dengan siswa untuk
menerangkan atau mewujudkan konsep sehingga dapat memupuk
kreatifitas guru dan siswa guna memperlancar dan meningkatkan mutu
proses belajar mengajar.

Penggunaan alat peraga dalam setiap pembelajaran bukanlah untuk
bermaksud mengganti peran guru dalam mengajar, melainkan hanya
merupakan pelengkap dan membantu guru dalam mengajar atau
membantu para siswa dalam mempelajari suatu konsep. Alat peraga itu
mempunyai peranan yang sangat penting, karena :
1.Alat peraga dapat membuat pendidikan lebih efektif dengan jalan
meningkatkan semangat belajar siswa. Dengan menyediakan alat
peraga para siswa memperoleh pengalaman secara langsung dengan
menggunakan waktu dan kegiatan yang lebih terarah.
2. Alat peraga memungkinkan pendidikan lebih sesuai dengan perorangan
Dengan memanfaatkan media peraga, pembelajaran dapat berlangsung
lebih menyenangkan bagi masing-masing perorangan.

16

E.Alat peraga memungkinkan belajar lebih merata. Dengan
menggunakan
alat peraga, memungkinkan perhatian siswa meningkat dan mengarah
kepada yang sedang diragakan.
Alat peraga yang dipakai dalam penelitian ini adalah mistar
bilangan. Alat peraga ini terdiri dari mistar berskala dan model yang
pendekatannya berhubungan dengan konsep kekekalan panjang. Model
yang digunakan dapat berupa boneka, wayang, mobil-mobilan, dan
sebagainya, yang terpenting adalah bahwa model tersebut harus
mempunyai sisi muka dan sisi belakang. Proses operasinya berpegang
pada prinsip bahwa panjang keseluruhan sama dengan jumlah panjang
masing-masing bagian-bagiannya.
Manfaat penggunaan balok garis bilangan dalam membantu siswa
memahami konsep operasi pengurangan bilangan bulat adalah (1)
memperbesar perhatian siswa dalam pembelajaran, (2) meletakkan dasar-
dasar yang kongkret untuk berpikir sehingga dapat mengurangi
verbalisme, (3) melatih siswa dalam pemecahan masalah, (4) mendorong
siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Yang perlu diingat adalah bahwa
tujuan utama penggunaan alat peraga adalah agar konsep-konsep atau ide-
ide dalam matematika yang sifatnya abstrak itu dapat dikaji, dipahami dan
dicapai oleh penalaran siswa terutama siswa yang masih berada pada tahap
berpikir konkret. Cara penggunaan alat peraga mistar bilangan adalah
Bilangan positif mobil maju bilangan negative mobil mundur dan tanda
positif (+) mobil menghadap ke kanan sedangkan tanda kurang (-) mobil
mengharap ke kiri.

Gambar 2.1.
Alat Peraga Mistar Bilangan

17

Dengan melaksanakan PTK guru mendapat kesempatan untuk
berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.
Guru tidak hanya menerima hasil perbaikan yang ditemukan orang lain,
namun ia sendiri adalah pelaku dan perancang perbaikan tersebut, yang
menghasilkan berbagai teori dalam memperbaiki pembelajaran. Hasil yang
ditemukan sendiri akan merupakan dorongan yang kuat bagi guru untuk
terus-menerus melakukan perbaikan. Inilah yang diistilahkan sebagai
theorizing by practitioners, yang membangun sendiri pengetahuan (self-
contructed knowledge) berupa personal theory atau theory-in-use (Raka
Joni, Kardiawarman, & Hadisubroto, 1998)

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->