P. 1
PTK MATe

PTK MATe

|Views: 1,234|Likes:
Published by danicafauz

More info:

Published by: danicafauz on Nov 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

Dalam bagian ini, disajkan hasil penelitian dari setiap siklus yang
dilaksanakan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan
tujuan penelitian yang telah ditulis oleh peneliti sebagai berikut :

I.

Deskripsi per Siklus
J.Pelaksanaan Siklus I

Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan
efektivitas hasil belajar siswa, maka peneliti mengembangkan rencana
Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus
yang masing-masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan
data dan refleksi.
a.Perencanaan

1).Mengidentifikasi dan merumuskan masalah. Dengan berkolaborasi
dengan beberapa teman sejawat dan pembimbing untuk
mengungkap dan memperjelas permasalahan yang dihadapi untuk
dicarikan jalan pemecahan yang tepat, sampai diperoleh hasil lebih
baik.

2).Merancang pembelajaran dengan menitikberatkan pada
penggunaan media pembelajaran dan metode yang tepat.
3).Menyusun lembar observasi sebagai panduan bagi observer dalam
mengobservasi pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang
difokuskan pada kegiatan guru dalam menerapakan model
pembelajaran dan metode yang tepat, sesuai dengan analisis
masalah.

26

4).Merancang RPP perbaikan dan alat evaluasi..

b.Pelaksanaan Tindakan
1).Guru mengatur siswa untuk duduk yang rapi dan mengabsen.
2).Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
3).Guru memotivasi siswa.
4).Guru menjelaskan materi pembelajaran.
5).Guru memberikan pertanyaan secara individu.
6).Guru memberi simpulan tentang materi diskusi.
7).Siswa mengerjakan tes formatif perbaikan.

c.Pengamatan

1).Observer mengamati proses perbaikan pembelajaran yang terutama
difokuskan pada kegiatan guru dalam menggunakan media
pembelajaran dan metode yang tepat.
2).Observer mencatat semua temuan pada saat pembelajaran.
Dari pengamatan guru yang mengajar diperoleh data sebagai berikut :
1)Dalam penggunaan alat peraga guru hanya memberi kesempatan
kepada siswa yang ingin mencoba saja. Jadi siswa yang aktif
semakin aktif dan siswa yang pasif semakin pasif.
2)Dalam mengajukan pertanyaan, guru cenderung menunjuk individu
bukan secara klasikal.
Dari pengamatan terhadap siswa, diperoleh data sebagai berikut :

1.

Mayoritas siswa masih takut untuk mencoba mistar
bilangan yang digunakan guru.
2.

Siswa masih bingung dalam mengoperasikan mistar

bilangan.

d.Proses Refleksi

Dari kumpulan data yang diperoleh menghasilkan refleksi sebagai

berikut :

27

1).Dalam mengajukan pertanyaan, guru cenderung menunjuk pada
siswa yang aktif saja.
2).Dalam menggunakan mistar bilangan guru tidak memberi
kesempatan kepada siswa yang pasif.
3).Secara umum pelaksanaan pembelajaran sudah berjalan dengan
baik, namun ada kekurangan yaitu penggunaan mistar bilangan
kurang merata.

2. Pelaksanaan Siklus II

Atas dasar hasil dan refleksi terhadap perbaikan pembelajaran
untuk meningkatkan efektivitas hasil belajar siswa pada siklus I dan
diskusi dengan teman sejawat serta konsultasi dengan dosen pembimbing
serta mengkaji dengan teori pembelajaran Matematika kelas 4 di Sekolah
Dasar, maka guru sebagai peneliti mengembangkan rencana perbaikan
pembelajaran berupa prosedur kerja yang dilaksanakan di dalam kelas
yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data dan
refleksi.
a.Proses Perencanaan
1).Perencanaan tindakan pada siklus II didasarkan hasil refleksi pada
siklus I. Dalam perencanaan ini penulis berkolaborasi dengan
beberapa teman sejawat dan pembimbing untuk mengungkap dan
memperjelas permasalahan yang penulis hadapi memperjelas
permasalahan yang penulis hadapi untuk dicarikan jalan
pemecahan yang tepat sampai diperoleh hasil yang memuaskan.
2).Merancang pembelajaran dengan menitikberatkan pada aktivitas
guru untuk mengungkap dan menggunakan media atau model
pembelajaran secara optimal dan menggunakan metode yang tepat.
3).Mengecek kembali lembar observasi sebagai panduan bagi
observer dalam mengobservasi pelaksanaan perbaikan
pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dalam

28

menggunakan media pembelajaran secara optimal dan
menggunakan metode bervariasi.
4).Merencanakan waktu yang diperlukan.

5).

Menentukan jenis prosedur dan alat penelitian untuk mengetahui

tingkat keberhasilan siswa.

6).

Merancang RPP perbaikan dan alat evaluasi.

b.Pelaksanaan Tindakan
1).Guru mengucapkan salam, doa bersama, absensi siswa.

2).

Guru menunjukkan mistar bilangan.

3).

Guru menyampaikan informasi dan siswa memperhatikan.

4).

Guru menyampaikan pembelajaran yang telah dipersiapkan.

5).

Guru memotivasi siswa untuk bersungguh-sungguh dalam

mengikuti pelajaran.

6).

Guru menyuruh siswa yang pasif untuk menyelesaikan soal

menggunakan mistar bilangan.

7).

Guru memberikan kesimpulan tentang materi yang disampaikan.

8).

Siswa mengerjakan tes perbaikan siklus II yang disajikan guru.

c.Pengamatan

1).Observer mengamati proses perbaikan pembelajaran yang terutama
difokuskan pada kegiatan guru dalam menggunakan media
pembelajaran secara optimal dan penggunaan metode yang tepat
dan variatif.
2).Observer mencatat semua temuan-temuan selama proses
pembelajaran berlangsung.
3).Dari pengamatan terhadap guru yang mengajar diperoleh temuan
data sebagai berikut :
a).Dalam menggunakan media mistar bilangan guru sudah dapat
mengaktifkan siswa yang pasif.

29

b).Setiap guru bertanya siswa cenderung berebut untuk
memperoleh kesempatan maju ke depan atau menunjuk jari.
c).Dalam mengerjakan tugas kelompok, siswa kelihatan aktif
berdiskusi.
d).Setiap ada tugas, semua siswa cepat mengerjakan dengan
percaya diri.

d.Proses Refleksi

Setelah selesai melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran pada
siklus II ini dan pengamatan atas tindakan kelas di atas tindakan
pembelajaran di dalam kelas, selanjutnya diadakan refleksi mengacu
pada data yang telah dikumpulkan oleh peneliti. Dan segala kegiatan
yang telah dilakukan dalam kegiatan pada siklus II diperoleh hasil
sebagai berikut :

a.Dalam menggunakan model pembelajaran sudah optimal
sehingga siswa lebih mudah menerima penjelasan guru tentang
”operasi hitung bilangan bulat”.
b.Secara umum pelaksanaan sudah berjalan dengan baik dilihat
dari hasil belajar siswa sudah tuntas semua.

B. Paparan Keberhasilan dan Kegagalan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kegiatan perbaikan pra
siklus, Siklus I dan Siklus II terbukti bahwa pembelajaran memerlukan
kompetensi yang tinggi dari seorang guru. Banyak faktor yang
mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan suatu pembelajaran.
Dari beberapa kajian teori mengenai pembelajaran, yang paling
menentukan keberhasilan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran. Pengolahan pembelajaran itu meliputi cara
memilih strategi dan model ataupun media yang digunakan.

1.Pembahasan Siklus I

30

Dalam pembelajaran pada siklus I media yang digunakan oleh
peneliti sebenarnya sudah berhasil menarik minat siswa untuk belajar dan
menimbulkan rasa ingin mencoba. Tetapi peneliti kurang dapat
mengaktifkan keterlibatan siswa secara keseluruhan. Hanya siswa yang
aktif yang terlibat sedangkan yang pasif tidak tersentuh.
Data hasil perbaikan pembelajaran siklus I peneliti sajikan dalam
bentuk tabel dan diagram berikut ini :

Tabel 4.1
Tabel Perbaikan Pembelajaran Siklus I

No

Rentang Nilai

Jumlah

Prosentase

1

10 - 39

0

0 %

2

40 - 59

10

26,3 %

3

60 - 79

20

52,6 %

4

80 - 100

8

21,1 %

Jumlah

38

100 %

Diagram Batang 4.1
Diagram Perbaikan Pembelajaran Siklus 1

05

10

15

20

25

10-39

40 - 59

60 - 79

80 - 100

Rentang Nilai

Jumlah Siswa

Dari gambar diagram di atas, perbaikan pembelajaran pada
siklus I ini menunjukkan bahwa prestasi ketuntasan siswa mengalami
peningkatan. Yang semula dalam kegiatan pembelajaran Pra siklus
siwa yang mencapai KKM hanya 39,47 % dengan nilai rata-rata 52,89,
tetapi untuk siklus I menjadi 73,68% dan nilai rata-rata 63,42 atau

31

semula hanya 15 siswa yang tuntas tetapi dalam siklus I mengalami
peningkatan menjadi 28 siswa. Namun demikian peningkatan ini
belum maksimal, maka dilanjutkan lagi untuk melakukan kegiatan
perbaikan pembelajaran pada siklus II.
2. Pembahasan Siklus II

Dalam pembahasan perbaikan pembelajaran siklus II ini, guru
sebagai peneliti telah memperbaiki kelemahan atupun kekurangan
yang terjadi pada pembelajaran siklis I. yaitu dengan mengoptimalkan
penggunaan metode dan alat peraga mistar bilangan. Sehingga hasil
ketuntasan personal dalam mata pelajaran Matematika dengan materi
pokok pembelajaran ”Operasi hitung bilangan bulat” di kelas IV
semester 2 Sekolah Dasar Negeri 5 Depok, Kecamatan Toroh,
Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah tahun ajaran 2009/2010
dapat tercapai 100% atau dari 38 siswa dapat tuntas semua dengan
asumsi nilai KKM 60.

Data hasil perbaikan pembelajaran siklus II peneliti sajikan
dalam bentuk tabel dan diagram sebagai berikut :

Tabel 4.2
Tabel Perbaikan Pembelajaran Siklus II

No

Rentang Nilai

Jumlah

Prosentase

1

40 - 59

0

0 %

2

60 - 79

20

52,6 %

3

80 - 100

18

47,4%

Jumlah

38

100%

Diagram Batang 4.2

32

Diagram Perbaikan Pembelajaran Siklus II

05

10

15

20

25

40 - 59

60 - 79

80 - 100

Rentang Nilai

Jumlah Siswa

Dari diagram yang ditampilkan di atas perbaikan pembelajaran
pada siklus II menunjukkan bahwa semua siswa telah mendapatkan
nilai KKM. Dari 38 siswa semua mendapatkan nilai di atas 59 dengan
rata-rata kelas 75. Ini berarti pada materi operasi hitung bilangan bulat
di kelas IV SD Negeri 5 Depok Kecamatan Toroh Kabupaten
Grobogan Tahun Pelajaran 2009/2010 sudah berhasil dengan
dibuktikan bahwa seluruh siswa memenuhi standar KKM. Dapat
disimpulkan pula bahwa penggunaan mistar bilangan dan metode
peragaan yang digunakan peneliti terbukti dapat meningkatkan hasil
belajar siswa melalui perbaikan pembelajaran dengan 2 siklus.Berikut
akan peneliti sajikan tabel dan diagram hasil belajar siswa dari pra
siklus, siklus I dan siklus II. Sehingga pembaca dapat mengetahui
perkembangan atau peningkatan belajar siswa dilihat dari hasil
evaluasi dari pra siklus, siklus I dan siklus II.

Tabel 4.3

33

Tabel Ketuntasan Belajar

NoKetuntasan

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

Jumlah%

Jumlah

%

Jumlah

%

1Tuntas

15

39

28

74

38

100

2Belum
tuntas

23

41

10

26

0

0

Dengan melihat data di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
a.

Sebelum perbaikan pembelajaran siswa yang tuntas standar
KKM > 60 hanya 15 siswa dari 38 siswa (39%).
b.

Pada Perbaikan pembelajaran siklus I siswa yang tuntas
standar KKM > 60 telah mencapai 28 siswa dari 38 siswa,
mengalami peningkatan tetapi belum tuntas semua (74 %).
c.

Pada perbaikan pembelajaran siklus II dari 38 siswa telah
tuntas standar KKM > 60 atau tuntas 100%.

Diagram Batang 4.3
Diagram Ketuntasan Belajar

C.Pembahasan dari Setiap Siklus

0

5

10

15

20

25

30

38

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

Tuntas
Belum Tuntas

34

Berdasarkan hasil pengolahan data, temuan dan refleksi maka
pembahasannya adalah sebagai berikut :
Hasil perolehan data pada perbaikan pembelajaran adalah :

1.

Sebelum perbaikan pembelajaran siswa yang tuntas dengan
nilai 60 ke atas ada 15 siswa atau 39 % dengan rata-rata kelas 52,89.
2.

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I siswa
yang tuntas belajar dengan nilai 60 ke atas ada 28 siswa atau 74 % dengan
rata-rata 63,42.
3.

Dengan menggunakan alat peraga yang efektif dan efisien
yaitu mistar bilangan dan dengan metode peragaan atau demonstrasi
secara optimal pada kompetensi dasar opereasi hitung bilangan bulat di SD
Negeri 5 Depok, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan ternyata
menunjukkan hasil yang meningkat dibuktikan dengan data hasil evaluasi
pada siklus II dari 38 siswa, 100 % siswa tuntas KKM (asumsi nilai KKM
60) dengan rata-rata kelas 75.
Keberhasilan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan peneliti
tidak lepas dari penggunaan alat peraga mistar bilangan. Penggunaan
peraga mistar bilangan terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas IV pada mata pelajaran matematika. Alat peraga diartikan sebagai
alat bantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan
pembelajaran, guru harus mampu menjelaskan konsep kepada siswa.
Usaha ini dibantu dengan menggunakan alat peraga matematika karena
dengan bantuan alat yang sesuai dengan topik yang diajarkan, konsep akan
lebih mudah untuk dipahami siswa. (Hudoyo, 1988: 45). Alat peraga
dalam pembelajaran, teaching aids, atau audiovisual aids (AVA) adalah
alat-alat yang digunakan oleh guru ketika mengajar untuk membantu
memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kepada siswa dan
mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang
menggunakan banyak verbalisme tentu akan segera membosankan,
sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar atau

35

senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang
diterimanya.

Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau
pengalaman kongkret dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak.
Belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran
daripada bila siswa belajar tanpa dibantu dengan alat peraga pengajaran
(Uzer Usman; 1992 : 26-27). Menurut Dale (1992 : 47) alat peraga adalah
alat bantu atau pelengkap yang digunakan guru dalam berkomunikasi
dengan siswa. Alat peraga itu dapat berupa benda atau perilaku, yang inti
belajarnya adalah interaksi siswa dengan guru dan alat peraga beserta
komunikasi pendidikan yang terjadi pada suatu situasi sehingga siswa
dapat berhasil dalam belajar. Berdasar beberapa pendapat tentang alat
peraga di atas dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah alat bantu atau
pelengkap yang digunakan guru dalam berkomunikasi dengan siswa untuk
menerangkan atau mewujudkan konsep sehingga dapat memupuk
kreatifitas guru dan siswa guna memperlancar dan meningkatkan mutu
proses belajar mengajar.

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->