ANALISIS MISKONSEPSI FISIKA SISWA SMA DI BANDAR LAMPUNG Oleh Drs. Nengah Maharta, M. Si.

Dosen Program Studi Pendidikan Fisika, PMIPA, FKIP Univ. Lampung Abstrak. Konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berpikir. Apabila pemahaman suatu konsep oleh siswa tidak sesuai dengan apa yang diterima para pakar dalam bidang itu maka disebut salah konsep atau miskonsepsi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat miskonsepsi fisika siswa SMA di Bandar Lampung. Penelitian dilakukan pada tiga SMA, yaitu SMAN 2 Bandar Lampung, SMAN 3 Bandar Lampung, dan SMAN 9 Bandar Lampung. Sekolah yang dipilih sebagai sampel merupakan sekolah-sekolah favorit di Bandar Lampung. Tiap-tiap sekolah diambil masing-masing satu kelas XII IPA sebagai sampel dimana kelas tersebut merupakan kelas unggulan di sekolahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat miskonsepsi fisika siswa sangat tinggi yaitu sebanyak 65% siswa. SMAN 2 Bandar Lampung merupakan sekolah yang paling kecil tingkat miskonsepsi fisikanya yaitu 53%. SMAN 3 Bandar Lampung sebanyak 78% , sedangkan SMAN 9 Bandar Lampung sebesar 66%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rata-rata tingkat miskonsepsi fisika siswa SMA di Bandar Lampung lebih tinggi dari hasil penelitian ini. ANALYSIS OF PHYSICS MISSCONCEPTION OF STUDENTS SENIOR HIGH SCHOOL IN BANDAR LAMPUNG By Drs. Nengah Maharta, M. Si. Dosen Program Studi Pendidikan Fisika, PMIPA, FKIP Univ. Lampung Abstract: Concept is the abstraction of something characteristics that make easier of human communicates and probable human to think. If students concepts understanding different from experts statement, it’s called missconception. This research is the descriptive research which to know about students missconception of senior high school at Bandar Lampung. It was done at three school in Bandar Lampung, that are SMAN 2 Bandar Lampung, SMAN 3 Bandar Lampung, and SMAN 9 Bandar Lampung. This schools are favourite schools in Bandar Lampung. The best class of the third grade of Each schools above is used to be a sample of this research.

Akan tetapi prestasi yang diperoleh oleh beberapa siswa tersebut belum menunjukkan kondisi rata-rata siswa mengenai pemahaman fisika. 1991: 1). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang teramat pesat saat ini. Hal itu mungkin menyebabkan hasil belajar fisika siswa menjadi kurang baik.). and SMAN 9 Bandar Lampung about 66%. Upaya siswa dalam mempelajari fisika sering menemui hambatan-hambatan. SMAN 2 Bandar Lampung is the lowest level of physic missconception. Alkarhami (1999:1) menyebut kondisi buku pelajaran dan pola pembinaan/ calon guru yang ada sekarang ini menjadi salah satu penyebabnya. Mengingat begitu pentingnya peranan ilmu fisika. maupun medali emas. misalnya olimpiade fisika. Apabila kita perhatikan pada ajang kompetisi fisika tingkat dunia. dan kecilnya gaji guru (Berg (Ed. Para peneliti bidang pendidikan fisika di Indonesia menyebutan beragam alasan mengenai kurangnya pemahaman fisika siswa. telah mempermudah kehidupan manusia. Lain halnya dengan Suparno (2005) kemampuan dan cara mengajar guru ditengarai sebagai penyebab lemahnya pemahaman fisika siswa. that is about 53%. medali perak. . PENDAHULUAN Fisika merupakan ilmu fundamental yang menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan lain dan teknologi. Banyak pihak mengatakan bahwa penyebab kurangnya pemahaman fisika siswa adalah guru yang tidak qualified. that is 65% of students.The result of this research show that the average of the students physics missconception level so high. baik medali perunggu. silabus yang terlalu padat. jumlah mata pelajaran yang banyak. sudah semestinya ilmu ini dipahami dengan baik oleh siswa. SMAN 3 Bandar Lampung about 78%. termasuk siswa-siswa di Bandar Lampung. siswa Indonesia memang sering memperoleh medali. Fisika biasanya dianggap sebagai pelajaran yang sulit dipahami. fasilitas praktikum yang kurang memadai.

Guru yang memiliki kompetensi profesional baik. hanya mengejar target penyelesaian silabus semata. Pembelajarannya tidak hanya memberikan rumus-rumus semata. Sebaliknya. tentu akan mengajar dengan baik juga. Hasil pengamatan mengenai metode pembelajaran guru-guru fisika pada beberapa SMA di Bandar Lampung menunjukkan bahwa mereka pada umumnya menerapkan metode pembelajaran yang kurang memperhatikan pemahaman konsep fisika oleh siswa. kemungkinan akan berdampak pada lemahnya pemahaman siswa terhadap konsep-konsep fisika. dan menyajikan materi apa adanya. Hal ini disebabkan peranan sentral guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. biasanya semua rumus-rumus fisika yang ada diberikan begitu saja lalu diberikan banyak latihan penerapan rumus tersebut pada soal-soal kuantitatif. Mereka bisa saja mahir menyelesaikan soal-soal kuantitatif (soal-soal berupa hitungan angkaangka) namun akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan fisika sederhana tetapi memerlukan pemahaman konsep didalamnya. Guru tersebut cenderung mengajarkan semua materi fisika yang ada pada silabus. tetapi juga memberikan pemahaman konsep dengan baik. tidak hanya hitung-hitungan matematika saja. Siswa kurang diajak bagaimana proses memperoleh dan memahami suatu konsep. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat miskonsepsi fisika siswa SMA di Bandar Lampung. Rumus-rumus matematis diberikan begitu saja tanpa mempertimbangkan bagaimana pemahaman rumus tersebut. Guru dituntut harus memiliki kompetensi profesional yang baik. Oleh karena keterbatasan waktu. Penerapan pembelajaran seperti ini. .Berdasarkan pendapat-pendapat di atas. bisa dikatakan bahwa guru merupakan faktor penting penyebab rendahnya pemahaman konsep fisika siswa. Dalam pembelajaran. guru yang kompetensi profesionalnya kurang.

kemampuan pemahaman konsep merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan belajar fisika. Kebanyakan yang terjadi adalah informasi baru tersebut bertentangan dengan prakonsepsi siswa seperti yang dikemukakan oleh Redhana dan Kirna (2004) bahwa prakonsepsi ini sering merupakan miskonsepsi. Siswa sering kali mengalami konflik dalam dirinya ketika berhadapan dengan informasi baru dengan ide-ide yang dibawa sebelumnya. Fisika dan begitu pula ilmu pengetahuan yang lainnya merupakan kumpulan konsep-konsep yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.KAJIAN TEORETIS Dalam belajar fisika. melainkan mereka telah membawa sejumlah pengalaman-pengalaman atau ide-ide yang dibentuk sebelumnya ketika mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Ausubel dalam Berg (Ed. baik permasalahan fisika yang ada dalam kehidupan sehari-hari maupun permasalahan fisika dalam bentuk soal-soal fisika di sekolah. Hanya dengan penguasaan konsep fisika seluruh permasalahan fisika dapat dipecahkan. situasi-situasi. Siswa sebelum menerima suatu pelajaran fisika dari gurunya biasanya telah mengembangkan tafsiran-tafsiran atau dugaan-dugaan konsep yang akan diterimanya. or properties that possess common critical attributcs and are designated in any given culture by some accepted sign or symbol. Pinker (2003) mengemukakan bahwa siswa hadir di kelas umumnya tidak dengan kepala kosong. kejadiankejadian. Gagasan-gagasan atau ide-ide yang dimiliki oleh siswa sebelum menerima suatu pembelajaran ini disebut dengan prakonsepsi. Bloom (1979:99) mengatakan bahwa kemampuan pemahaman konsep adalah hal penting dalam kemampuan intelektual yang selalu ditekankan di sekolah dan perguruan tinggi. atau ciri-ciri yang memiliki ciri-ciri khas dan yang terwakili dalam setiap budaya oleh suatu tanda atau simbol (objects. events.) (1999: 8) Konsep adalah benda-benda. situations. Dengan . Hal ini menunjukkan bahwa pelajaran fisika bukanlah pelajaran hafalan tetapi lebih menuntut pemahaman konsep bahkan aplikasi konsep tersebut. Informasi baru ini bisa sejalan atau bertentangan dengan prakonsepsi siswa.

Suatu miskonsepsi siswa bisa berasal dari beberapa sebab.demikian konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berpikir (Berg (Ed. Jadi bentuk miskonsepsi fisika yang dialami siswa berupa kesalahan konsep awal. atau gagasan intuitif atau pandangan yang naif. hubungan yang tidak benar antara konsep satu dengan lainnya. yaitu siswa salah menginterpretasi gejala atau peristiwa yang dihadapi dalam hidupnya. Tafsiran konsep seseorang atau konsepsi tersebut kadang sesuai dengan tafsiran yang dimaksud oleh para ilmuwan atau pakar dalam bidang itu kadang pula tidak sesuai. Tafsiran perorangan mengenai suatu konsep ini disebut konsepsi. Untuk pembelajar pemula. Konsep dalam fisika sebagian besar telah mempunyai arti yang jelas karena merupakan kesepakatan para fisikawan. 1999: 8).). Miskonsepsi siswa bisa berasal dari siswa sendiri. atau mungkin juga gurunya mengalami miskonsepsi terhadap suatu konsep sehingga apa yang disampaikannya juga merupakan suatu miskonsepsi. Penyebab Miskonsepsi Miskonsepsi akan terbentuk bila konsepsi seseorang mengenai suatu materi tidak sesuai dengan konsepsi yang diterima oleh ilmuwan atau pakar dibidangnya. kekacauan konsep-konsep yang berbeda dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar. miskonsepsi sering juga diistilahkan dengan konsep alternatif. Misalnya penafsiran konsep hambatan listrik dan arus listrik berbeda untuk setiap siswa. klasifikasi contohcontoh yang salah. penggunaan konsep yang salah. miskonsepsi yang dialami siswa bisa juga diperoleh dari pembelajaran dari gurunya. Selain itu. Suparno (1998 : 95) memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan konsep. Konsepsi yang tidak sesuai dengan yang diterima para pakar dalam bidang itu disebut salah konsep atau miskonsepsi. Pembelajaran yang dilakukan gurunya mungkin kurang terarah sehingga siswa melakukan interpretasi yang salah terhadap suatu konsep. . tetapi tafsiran konsep fisika tersebut bisa berbeda-beda diantara siswa satu dengan siswa yang lainnya.

bahasa sehari-hari berbeda. buku fiksi dan kartun sains sering salah konsep karena alasan menariknya yang perlu.Msikonsepsi yang bersumber dari guru ini ditekankan pula oleh Sadia (1996:13) yang menyatakan bahwa miskonsepsi mungkin pula diperoleh melalui proses pembelajaran pada jenjang pendidikan sebelumnya. bebas atau tertekan. model demonstrasi sempit. tidak membiarkan siswa mengungkapkan gagasan/ide. tingkat penulisan buku terlalu tinggi bagi siswa. langsung ke dalam bentuk matematika. konteks. Hanya berisi ceramah dan menulis. dan cara mengajar. yaitu berasal dari siswa. tidak mengoreksi PR. Tabel 1. Secara lebih lengkap. model analogi yang diapakai kurang tepat. Penyebab dari resistennya sebuah miskonsepsi . Adapun penjelasan rincinya seperti yang disajikan pada tabel 1 dibawah ini. radio. keyakinan dan agama. tidak tahu membaca buk teks. pengajar. penjelasan orang tua/orang lain yang keliru. reasoning yang tidak lengkap. pemikiran asosiatif. tidak mengungkapkan miskonsepsi. Penyebab Miskonsepsi Sebab Utama Sebab Khusus Prakonsepsi. Pengalaman siswa. intuisi yang salah. buku teks. salah tulis terutama dalam rumus. bukan lulusan dari bidang ilmu fisika. perasaan senang tidak senang. relasi guru-siswa tidak baik Penjelasan keliru. kemampuan siswa. tahap perkembangan kognitif siswa. minat belajar siswa Tidak menguasai bahan. pemikiran humanistik.dll Siswa Pengajar Buku Teks Konteks Cara mengajar Mengatasi Miskonsepsi Fisika Mengatasi miskonsepsi fisika siswa ternyata bukan persoalan yang mudah karena sejumlah miskonsepsi fisika bersifat resistan meskipun telah diusahakan untuk menjelaskannya dengan penalaran yang logis melalui penunjukkan perbedaannya dengan pengamatan sebenarnya yang diperoleh dari peragaan dan percobaan. konteks hidup siswa (tv. film yang keliru. teman diskusi yang salah. Suparno (2005) menyatakan faktor penyebab miskonsepsi fisika bisa dibagi menjadi lima sebab utama.

Walaupun sulit mengatasi miskonsepsi ini. Kesulitan dalam mengatasi masalah miskonsepsi juga dikatakan oleh Berg (Ed.karena setiap orang membentuk pengetahuan dalam kepalanya persis dengan pengalaman yang diperolehnya. Langkah kedua adalah merancang pengalaman belajar yang bertolak dari prakonsepsi tersebut dan kemudian menghaluskan bagian yang sudah baik dan mengoreksi bagian konsep yang salah. Apabila guru berhasil mengoreksi miskonsepsi siswa pada suatu konsep tertentu maka apabila siswa diberi soal yang sedikit menyimpang dari konsep yang semula. dari peta konsep dan dari pengalaman guru. Begitu pengetahuan terbentuk dalam diri siswa dari pengalaman yang diperoleh langsung maka akan menjadi susah untuk memberi tahu siswa itu untuk mengubah miskonsepsi itu (Wiliantara. membaca jawaban-jawaban yang diberikan siswa langsung. Prinsip utama dalam koreksi miskonsepsi adalah bahwa siswa diberi pengalaman belajar yang menunjukkan pertentangan konsep mereka dengan peristiwa alam. demikian juga membaca hasil tes esai siswa dengan cara yang kritis dan santai. Langkah pertama adalah mendeteksi prakonsepsi siswa. Apa yang sudah ada dalam kepala siswa sebelum kita mulai mengajar? Prakonsepsi apakah yang sudah terbentuk dalam kepala siswa oleh pengalaman dengan peristiwaperistiwa yang akan dipelajari? Apa kekurangan prakonsepsi tersebut ? Prakonsepsi dapat diketahui dari literatur atau hasil-hasil penelitian sebelumnya. tetapi tetap ada cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi miskonsepsi siswa. test diagnostik. 2). namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan seperti yang dikemukakan oleh Berg (Ed) (1991: 6). miskonsepsi akan muncul lagi. pengamatan. Cara mengatasi miskonsepsi yang efektif dan efisien memang sulit ditemukan. Dengan demikian diharapkan bahwa pertentangan pengalaman ini dengan konsep yang . 2005). yaitu: 1). Fokuskan perhatian kepada jawaban siswa yang salah.) (1991:5-6) Menurutnya miskonsepsi awet dan sulit diubah. Literatur dan test diagnostik sangat membantu.

yaitu penyesuaian struktur kognitif (otak) yang menghasilkan konsep baru yang lebih tepat. 3). belum tentu pengalaman yang tidak cocok dengan prakonsepsi akan berhasil. Pertanyaan dan soal yang dipakai harus dipilih sedemikian rupa sehingga perbedaan antara konsepsi yang benar dan konsepsi yang salah akan muncul dengan Jelas. Soal tersebut adalah tipe soal objektif yang disertai alasan dalam menjawabnya dan dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengungkap miskonsepsi fisika siswa. Adapun jumlah sampel seluruhnya yaitu 98 siswa yang terdiri dari 34 Siswa Kelas XII IPA 1 SMAN 2 Bandar Lampung. Teknik pengambilan data dilakukan dengan memberikan soal-soal konsep fisika yang telah mereka pelajari. atau hanya menulis banyak rumus di papan tulis. Materi soal merupakan materi fisika yang telah dipelajari oleh siswa yang digunakan sebagai sampel. dan SMAN 9 Bandar Lampung. Sekolahsekolah yang dipilih sebagai sampel ini merupakan sekolah-sekolah favorit di Bandar Lampung. dan 32 Siswa Kelas XII IPA 1 SMAN 9 Bandar Lampung. (cognitive dissonance theory. Atau dengan memakai istilah Piaget dapat dikatakan bahwa pertentangan pengalaman baru dengan konsep yang salah akan menyebabkan akomodasi. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat miskonsepsi fisika pada siswa-siswa SMA di Bandar Lampung. atau hanya berceramah tanpa interaksi dengan murid. Langkah ketiga adalah latihan pertanyaan dan soal untuk melatih konsep baru dan menghaluskannya. Tiap-tiap sekolah diambil masing-masing satu kelas XII IPA yang merupakan kelas unggulan di sekolahnya. Cara mengajar yang tidak membantu adalah kalau guru hanya membahas soal tanpa memperhatikan konsep (drill). Jumlah soal yang diberikan sebanyak 25 butir soal dan disusun sendiri oleh peneliti. akan tetapi. Soal-soal tersebut . 32 Siswa Kelas XII IPA 1 SMAN 3 Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan sampel tiga SMA yaitu SMAN 2 Bandar Lampung. SMAN 3 Bandar Lampung. Festinger).lama akan menyebabkan koreksi konsepsi.

Tabel 2. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Setelah soal yang digunakan untuk menganalisis miskonsepsi siswa dikerjakan siswa maka masing-masing soal dilakukan analisis. dan listrik magnet.terdiri dari vektor. fluida. optik. Adapun hasil pengerjaan soal yang dilakukan oleh siswa yaitu seperti pada Tabel 2. kinematika. Hasil Uji Miskonsepsi Fisika Siswa No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Rata -rata Jumlah Salah SMAN 2 SMAN 3 SMAN 9 7 5 22 24 4 30 0 4 16 6 21 22 5 31 18 27 14 17 26 29 11 29 29 34 25 18 10 28 32 30 13 32 10 22 27 31 26 25 25 30 20 25 16 29 31 31 19 28 22 30 26 25 4 25 29 18 5 30 2 23 21 31 24 16 23 31 7 22 26 22 20 27 17 29 28 23 26 21 Total Salah Total (%) 21 21 58 59 83 85 72 73 22 22 92 94 12 12 49 50 64 65 68 69 71 72 63 64 53 54 92 94 45 46 74 76 56 57 68 69 77 79 87 89 47 48 86 88 79 81 87 89 77 79 64 65 Jumlah Benar SMAN 2 SMAN 3 SMAN 9 27 29 12 10 30 4 34 30 18 28 13 12 29 3 16 7 20 17 8 5 23 5 5 0 9 16 22 4 0 2 19 0 22 10 5 1 6 7 7 2 12 7 16 3 1 1 13 4 10 2 6 7 28 7 3 14 27 2 30 9 11 1 8 16 9 1 25 10 6 10 12 5 15 3 4 9 6 11 Total Benar Total (%) 77 79 40 41 15 15 26 27 76 78 6 6 86 88 49 50 34 35 30 31 27 28 35 36 45 46 6 6 53 54 24 24 42 43 30 31 21 21 11 11 51 52 12 12 19 19 11 11 21 21 34 35 . suhu dan kalor. dinamika. usaha dan energi. getaran dan gelombang.

Dari hasil analisis jawaban siswa yang salah. diketahui bahwa siswa tidak memahami konsep vektor kecepatan dimana kecepatan dapat bernilai negatif pada saat benda bergerak berlawanan arah dengan semula. diuraikan pada bagian bawah ini.Dari Tabel 2. SMAN 2 Bandar Lampung menjadi sekolah yang paling baik penguasaan konsep fisika siswanya walaupun secara rata-rata hanya 47% dari sebanyak 34 siswa yang menjawab benar setiap soal yang diujikan. 2: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep vektor kecepatan sebuah benda yang dilempar vertikal ke atas. yaitu sebagai berikut: Analisis soal no. Siswa yang menjawab benar 41% sedangkan siswa yang menjawab salah lebih banyak. Dari 98 siswa yang menjadi sampel. 59%. 3: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gaya yang bekerja pada benda yang dilempar vertikal ke atas. Miskonsepsi siswa terjadi karena siswa menyamakan kecepatan dengan kelajuan. siswa yang menjawab benar 79% sedangkan siswa yang menjawab salah 21%. Hasil yang diperoleh SMAN 3 Bandar Lampung yaitu sebanyak 22% dari 32 siswa dan SMAN 9 Bandar Lampung sebesar 34% dari 32 siswa yang menjawab benar setiap soal yang diujikan. Analisis soal no. Hal ini berarti sebagian besar siswa memahami konsep penjumlahan vektor. dapat dilihat bahwa secara rata-rata dari semua sampel. Dari ketiga sampel penelitian ini. Analisis soal no. Siswa yang menjawab salah mengalami miskonsepsi karena menganggap benda yang bergerak ke atas karena ada suatu gaya konstan yang berarah ke atas padahal benda bergerak ke atas akibat dari kecepatan awal yang diberikan oleh . hanya 35% siswa yang menjawab benar tiap soal yang diberikan dan sebanyak 65% siswa menjawab salah. Diketahui bahwa hanya 15% siswa yang mampu memberikan jawaban yang benar sedangkan sebanyak 85% menjawab salah. 1: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep penjumlahan vektor. Adapun hasil analisis dari tiap-tiap soal yang diujikan.

Analisis soal no. 4: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep kecepatan pada gerak parabola. Siswa tersebut tidak beranggapan bahwa benda tadi hanya mengalami jatuh bebas tanpa ada komponen kecepatan yang berarah mendatar sesuai dengan arah dari gerak pesawat. Gaya sentripetal berarah ke pusat rotasi dan gaya sentrifugal berarah menjauhi pusat rotasi dan kedua gaya bekerja pada objek yang berbeda. 5: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep perpaduan dua gerak. 6: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gaya sentripetal dan gaya sentrifugal. Hanya 6% saja siswa yang mampu menjawab benar sedangkan 94% siswa menjawab salah atau mengalami miskonsepsi. Siswa yang menjawab benar adalah 27%. Adapun siswa yang mengalami miskonsepsi beralasan bahwa pada benda hanya bekerja gaya gravitasi yang mempercepat benda bergerak lurus ke bawah. Analisis soal no. Sedikit sekali siswa yang memiliki konsepsi yang benar. yaitu GLB dan GLBB dipercepat. Sebagian besar siswa menjawab salah. Analisis soal no. Analisis soal no. Pemahaman siswa mengenai soal ini bagus karena sebanyak 78% siswa menjawab benar dan hanya 22% saja yang menjawab salah. yaitu sebanyak 73%. 7: .telapak tangan. Siswa yang mengalami miskonsepsi cenderung beralasan gaya sentripetal dan gaya sentrifugal bekerja pada benda yang sama. Jadi mereka tidak memahami bahwa benda yang bergerak tidak selalu disebabkan oleh gaya konstan melainkan dapat disebabkan oleh gaya sesaat yang memberikan kecepatan awal pada benda. Siswa yang menjawab salah ini mengalami miskonsepsi karena selalu beranggapan bahwa kecepatan di titik tertinggi pada gerak parabola sama dengan pada gerak vertikal keatas yaitu nol padahal pada gerak parabola ada komponen gaya mendatar yang besarnya konstan sehingga pada gerak parabola kecepatannya tidak nol di titik tertinggi melainkan Vo cos θ. bahwa gaya sentripetal dan gaya sentrifugal adalah pasangan gaya aksi-reaksi.

Siswa yang mengalami miskonsepsi ini tidak memahami Hukum I Newton dimana jika benda bergerak lurus beraturan maka jumlah gaya-gaya yang bekerja pada benda yang sejajar dengan arah geraknya adalah nol. 10: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep perubahan energi. Analisis soal no. Siswa yang menjawab benar hanya 31% saja. Miskonsepsi siswa terjadi karena sebagian siswa menganggap percepatan berbanding lurus dengan massa benda. Siswa yang mengalami miskonsepsi selalu beranggapan bahwa suatu benda yang bergerak menurun selalu mengalami perubahan energi dari energi potensial menjadi energi kinetik. Mereka tidak memahami bahwa kecepatan benda jatuh bebas tanpa tanpa gesekan tidak dipengaruhi oleh massa benda namun hanya dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi sehingga kedua benda akan sampai ke tanah secara bersamaan. Penurunan energi potensial benda akan diubah menjadi kalor karena energi kinetik benda konstan. yaitu mg sin θ. Analisis soal no. 11: . Hal ini berarti pemahaman konsep gaya normal siswa bagus. Siswa yang menjawab benar sebanyak 50% sedangkan 50% lagi menjawab salah. Siswa mengalami miskonsepsi karena beranggapan gaya gesekan kinetik sama dengan gaya yang bekerja ke arah bawah. menunjukkan bahwa pemahaman konsep gerak jatuh bebas siswa masih kurang. Sebanyak 88% siswa mampu memberikan jawaban yang benar. Analisis soal no. Sebagian siswa lainnya yang mengalami miskonsepsi beralasan bahwa massa berbanding terbalik dengan percepatan. Analisis soal no. 9: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gerak benda jatuh bebas tanpa gesekan. Melihat hanya 35% siswa saja yang menjawab benar. Mereka tidak memahami bahwa bila kecepatan benda konstan maka tidak ada perubahan energi kinetik yang dialami benda. 8: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesekan pada benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan.Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gaya normal pada berbagai kemiringan bidang.

Sebagian besar siswa tidak mengalami miskonsepsi karena 64% dari siswa mampu menjawab dengan benar soal ini sedangkan yang menjawab salah hanya 36% saja. Siswa yang mengalami miskonsepsi beranggapan bahwa air yang menempel di dinding luar gelas berasal dari air di dalam gelas. dimana benda hanya mengalami perubahan wujud tanpa mengalami kenaikan suhu. 14: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep Hukum I Ohm. Analisis soal no.Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep kesetimbangan yang menerapkan Hukum I Newton. Udara yang berada di sekitar gelas yang dingin akan mengalami kondensasi sehingga terbentuk titik-titik air yang menempel pada dinding gelas bagian luar. yaitu R. 13: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep perubahan wujud zat. Apabila I atau V diubah-ubah maka hambatan R tidak akan mengalami perubahan atau dengan kata lain hambatan R konstan. Siswa yang mengalami miskonsepsi hanya melihat faktor kesebandingan dan ketaksebandingan saja tanpa melihat ada besaran konstan di persamaan ini. . Analisis soal no. Padahal titik air tersebut berasal dari kondensasi uap air dari udara yang berada di luar gelas. Hampir seluruh siswa menjawab salah. Siswa yang mengalami miskonsepsi beranggapan bahwa semakin panjang tali maka semakin besar gaya yang bekerja pada tali tersebut. Hanya 6% saja siswa yang menjawab benar soal ini. Tali yang putus terlebih dahulu adalah tali yang tegangannya terbesar yaitu bagian tali yang membentuk sudut didepannya paling kecil (T3). Analisis soal no. Hanya 46% siswa yang menjawab benar sedangkan sisanya sebanyak 54% siswa menjawab salah. Siswa yang mengalami miskonsepsi selalu berpikir bahwa suatu benda yang diberikan sejumlah kalor akan mengalami kenaikan suhu padahal ada yang namanya kalor laten. 12: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep asas black. Sebagian besar dari siswa yaitu sebanyak 72% salah menjawab soal ini.

17: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gerak harmonis sederhana. beda potensial pada lampu lainnya tidak akan terpengaruh sehingga nyala lampu sama terang dengan semula Analisis soal no. Siswa yang mengalami miskonsepsi yaitu sebanyak 43% sedangkan sebanyak 57% siswa menjawab salah. Siswa yang menjawab benar soal ini yaitu 31% saja sedangkan sebanyak 69% menjawab salah. Siswa yang menjawab salah mengalami miskonsepsi karena beranggapan arus yang mengalir d alam rangkaian menjadi lebih besar karena arus tidak lagi terbagi pada dua lampu tetapi hanya mengalir pada satu lampu. Siswa yang menjawab salah sebenarnya pada umumnya . 16: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep terjadinya gelombang. Konsep yang benar yang diketahui oleh siswa yang menjawab salah yaitu bahwa gelombang terjadi karena getaran yang merambat. Konsep yang benar adalah partikel tersebut hanya bergetar di tempat. Sedangkan siswa yang menjawab salah sebanyak 46%. 18: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep pemantulan pada cermin datar. Adapun siswa yang menjawab benar yaitu sebesar 54%. Analisis soal no. 15: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep listrik dinamis. Miskonsepsinya siswa karena tidak memahami bahwa periode dan frekuensi getaran harmonis tidak dipengaruhi oleh simpangan. Analisis soal no. Siswa tidak memahami bahwa energi kinetik benda berbanding lurus dengan cos θ. Siswa tidak memahami bahwa dua lampu yang dihubung paralel dengan suatu sumber tegangan akan memiliki beda potensial yang sama pada kedua ujungujungnya yaitu sama dengan beda potensial V sehingga bila salah satu lampu dilepas. Siswa yang menjawab benar hanya sebanyak 24% sedangkan sebanyak 76% menjawab salah. Miskonsepsinya siswa tersebut karena menyatakan getaran tersebut merambat melalui partikel yang diam atau partikel yang berpindah.Analisis soal no.

Siswa lupa bahwa benda dalam keadaan mengapung (diam) berarti jumlah gaya-gaya yang bekerja padanya adalah nol sehingga besar gaya ke atas (Gaya Archimedes) sama dengan besar gaya ke bawah. Analisis soal no. 19: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep pembiasan pada prisma. Siswa tidak memahami tentang konsep sudut kritis bahwa apabila sinar dengan sudut datang sama atau lebih besar dari sudut kritis maka sinar itu tidak akan dibiaskan melainkan dipantulkan Analisis soal no.tahu bahwa sudut datang harus sama dengan sudut pantul namun kesalahan mereka pada umumnya adalah mengatakan bahwa jarak dari kedua titik benda dan bayangan harus sama padahal benda dan bayangan yang ada pada gambar tidak berada pada garis yang sejajar dengan bidang cermin. 22: . Siswa cenderung berpikir bahwa jari-jari kelengkungan lensa sejenis dengan jarak titik fokus lensa tersebut. Lebih dari separuh siswa mampu memberi jawaban yang benar pada soal ini yaitu sebanyak 52% sedangkan sebanyak 48% siswa mengalami miskonsepsi. Adapun letak miskonsepsi siswa yaitu siswa selalu beranggapan bahwa apabila ada sinar yang datang dari medium rapat menuju medium kurang rapat maka sinar itu akan dibiaskan menjauhi garis normal. Siswa yang mampu menjawab benar tanpa mengalami miskonsepsi yaitu sebanyak 21% sedangkan sebanyak 79% siswa salah jawabannya atau mengalami miskonsepsi. Sedikit sekali siswa yang memiliki konsepsi yang benar yaitu hanya 11% sedangkan siswa yang mengalami miskonsepsi sangat banyak yaitu 89%. Analisis soal no. Siswa mengalami miskonsepsi karena menganggap jari-jari kelengkungan lensa berubah-ubah bergantung indeks bias medium tempat lensa berada. 20: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep jari-jari kelengkungan lensa. Siswa yang mengalami miskonsepsi beranggapan gaya ke atas lebih besar daripada gaya ke bawah. 21: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep Gaya Archimedes. Analisis soal no.

23: Soal ini adalah soal mengenai cepat rambaat gelombang elektromagnetik. induktor. sesuai dengan aturan tangan kanan. Miskonsepsi siswa ini disebabkan siswa tidak memahami bahwa muatan yang bergerak dalam pengaruh medan magnetik yang homogen akan dibelokkan oleh gaya lorentz yang arahnya selalu tegak lurus dengan resultan kecepatan muatan. Mereka tidak memahami konsep reaktansi kapasitif pada kapasitor dan reaktansi induktif pada induktor bahwa untuk arus listrik dc. dan kapasitor. Adapun jumlah siswa yang menjawab benar soal ini hanya 12% saja. Hanya 11% siswa saja yang benar jawabannya sedangkan sebanyak 89% siswa mengalami miskonsepsi. 25: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep hukum lenz. Siswa yang mengalami miskonsepsi terhadap soal ini juga banyak. Mereka cenderung menyamakan cepat rambat gelombang elektromagnetik sebanding dengan frekuensinya. Analisis soal no. Adapun siswa yang menjawab benar hanya 19% sedangkan siswa yang mengalami miskonsepsi sebanyak 81%. Karena induktor tidak ada hambatan. padahal cepat rambat gelombang elektromagnetik sama semua jika merambat pada medium yang sama. Siswa yang mengalami miskonsepsi ini cenderung menyamakan induktor dan kapasitor dengan resistor sehingga bila ketiga komponen elektronika tersebut dirangkai paralel dan dihubungkan dengan sumber tegangan dc maka arus listrik akan melewati ketiga komponen tersebut. reaktansi kapasitif bernilai tak hingga. semua arus listrik akan mengalir melalui L Analisis soal no. Banyak siswa yang mengalami miskonsepsi terhadap soal ini. Sebanyak 88% siswa mengalami miskonsepsi terhadap permasalahan ini. Miskonsepsi yang dialami siswa yaitu menganggap bahwa pemancar radio FM memancarkan gelombang lebih cepat daripada radio AM karena frekuensi radio FM lebih besar. Analisis soal no. dan reaktansi induktif bernilai 0. Sebanyak 21% siswa . 24: Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep gaya lorentz yang bekerja pada muatan yang bergerak.Soal ini mengukur pemahaman siswa mengenai konsep listrik dinamis pada rangkaian paralel resistor.

10 April 1999 di Aula Perpustakaan IKIP Bandung Berg. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana. 1996. Makalah disajikan pada seminar dan lokakarya Paradigma Pendidikan Sain Fisika Berbasis Nilai. Melihat tingginya tingkat miskonsepsi fisika siswa SMA di Bandar Lampung maka disarankan kepada guru-guru fisika SMA untuk memberi perhatian lebih terhadap masalah miskonsepsi ini dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas.benar jawabannya sedangkan sebanyak 79% siswa mengalami miskonsepsi. 1999. diselengarakan FPMIPA IKIP Bandung. Euwe Van Den (Ed). Sadia. dapat disimpulkan bahwa rata-rata siswa yang mengalami miskonsepsi terhadap konsep-konsep fisika sangat tinggi. Implementasi Kurikulum Fisika Bernuansa Afektif-Nilai. Pengembangan Model Belajar Konstruktivis dalam Pembelajaran IPA di SMP. 1999. Selain itu sebagian siswa mengalami miskonsepsi menganggap tidak ada arus yang timbul karena magnet dijauhkan dari kumparan. yaitu 65%. Suud Karim. tingkat miskonsepsi fisika siswa secara umum di Bandar Lampung lebih tinggi lagi dari hasil yang diperoleh pada penelitian ini. (Suatu Studi Eksperimental dalam Pembelajaran Konsep . Guru-guru fisika jangan hanya memberikan banyak rumus-rumus fisika tanpa menanamkan pemahaman konsep rumus tersebut. Miskonsepsi Fisika dan Remediasi. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil pengamatan dan pembahasan di atas. DAFTAR PUSTAKA Alkarhami. Miskonsepsi siswa terletak pada pemahaman Hukum Lenz dimana siswa menganggap arus induksi yang timbul berlawanan arahnya dengan gerakan magnet sehingga arus induksi akan timbul dari B ke A melalui galvanometer. Dengan demikian.

J. Redhana. Diakses tanggal 13 Juli 2009. Yogyakarta : Kanisius. IKIPN Singaraja. I M. I Putu Eka.. I W. Suparno. IKIP Bandung. Identifikasi miskonsepsi siswa SMA Negeri di kota Singaraja terhadap konsep-konsep kimia yang dilakukan setelah pembelajaran. Disertasi (tidak diterbitkan).or. . Laporan penelitian (Tidak Dipublikasikan).http://www. 2005.php?id=254. Wilantara.Energi Usaha dan Suhu di SMPN I Singaraja). Miskonsepsi (Konsep Alternatif) Siswa SMU dalam Bidang Fisika. Jakarta: PT. implementasi model belajar konstruktivis dalam pembelajaran fisika untuk mengubah miskonsepsi ditinjau dari penalaran formal siswa (online). 2005. 1998. Suparno. 2004. dan Kirna.Grasindo.id/cetakartikel. S. Miskonsepsi & Perubahan Konsep Pendidikan Fisika.damandiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful