P. 1
PENGUKURAN SIPAT DATAR

PENGUKURAN SIPAT DATAR

|Views: 737|Likes:
Published by Anjar Adhiyoso

More info:

Published by: Anjar Adhiyoso on Nov 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

90

4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
4. Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
4.1 Tujuan dan sasaran
pengukuran sipat datar
kerangka dasar vertikal







Ilmu Ukur Tanah adalah ilmu yang
mempelajari pengukuran-pengukuran yang
diperlukan untuk menentukan letak relatife
titik-titik diatas, pada atau dibawah
permukaan tanah, atau sebaliknya, ialah
memasang titik-titik dilapangan. Letak titik-
titik yang ditentukan adalah berguna pada
kompliming peta atau untuk menentukan
garis-garis atau jalur-jalur dan kemiringan-
kemiringan konstruksi pada pekerjaan teknik
sipil.

Pengukuran-pengukuran ini dilakukan pada
daerah yang relatife sempit, dimana tidak
perlu dilibatkan adanya faktor kelengkungan
bumi diperhitungkan, termasuk dalam Ilmu
Geodesi Tinggi.

Sebagaimana telah kita tahu bahwa
permukaan bumi ini tidak tentu, artinya tidak
mempunyai pemukaan yang sama tinggi,
maka tinggi titik kedua tersebut dapat di
hitung, yaitu apabila titik pertama telah
diketahui tingginya.

Tinggi titik pertama (h1) dapat di definisikan,
sebagai koordinat lokal ataupun terikat
dengan titik yang lain yang telah diketahui
tingginya, Sedangkan selisih tinggi atau
lebih dikenal dengan beda tinggi (h) dapat


diketahui/diukur dengan menggunakan
prinsip sipat datar.

Pengukuran menggunakan sipat datar optis
adalah pengukuran tinggi garis bidik alat
sipat datar di lapangan melalui rambu ukur.
Rambu ukur ini berjumlah 2 buah masing-
masing didirikan di atas dua patok/titik yang
merupakan jalur pengukuran. Alat sipat
datar optis kemudian diletakan di tengah-
tengah antara rambu belakang dan muka.
Alat sipat datar diatur sedemikian rupa
sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu
dengan mengetengahkan gelembung nivo.
Setelah gelembung nivo di ketengahkan
(garis arah nivo harus tegak lurus pada
sumbu kesatu) barulah di baca rambu
belakang dan rambu muka yang terdiri dari
bacaan benang tengah, atas dan bawah.
Beda tinggi slag tersebut pada dasarnya
adalah pengurangan Benang Tengah
belakang (BT
b
) dengan Benang Tengah
muka (BT
m
).

Pengukuran beda tinggi dengan cara sipat
datar dapat memberikan hasil lebih baik
dibandingkan dengan cara-cara
trigonometris dan barometris, maka titik-titik
kerangka dasar vertikal diukur dengan sipat
datar.

Pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal maksudnya adalah pembuatan
serangkaian titik-titik di lapangan yang

91
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
4.2 Peralatan, bahan, dan
formulir pengukuran sipat
datar kerangka dasar vertikal
diukur ketinggiannya melalui pengukuran
beda tinggi untuk pengikatan ketinggian
titik–titik lain yang lebih detail dan banyak.

Tujuan pengukuran sipat datar kerangka
dasar vertikal adalah untuk memperoleh
informasi tinggi yang relatif akurat di
lapangan sedemikian rupa sehingga
informasi tinggi pada daerah yang tercakup
layak untuk diolah sebagai informasi yang
layak kompleks.

Referensi informasi ketinggian diperoleh
melalui suatu pengamatan di tepi pantai
yang dikenal dengan nama pengamatan
Pasut. Pengamatan pasut dilakukan
menggunakan alat-alat sederhana yang
bekerja secara mekanis, manual dan
elektronis.

Tinggi permukaan air laut direkam pada
interval waktu tertentu dengan bantuan
pelampung baik dalam kondisi air laut
pasang maupun surut.

Pengamatan permukaan air laut pada
interval tertentu kemudian diolah dengan
bantuan ilmu statistik sehingga diperoleh
informasi mengenai tinggi muka air laut rata-
rata atau sering dikenal dengan istilah Mean
Sea Level (MSL).

MSL ini berdimensi meter dan merupakan
referensi ketinggian bagi titik-titik lain di
darat.









Gambar 67. Proses pengukuran



Rambu Belakang Rambu Muka


Arah Pengukuran

Gambar 68. Arah pengukuran






4.2.1 Peralatan yang digunakan :
1. Alat sipat datar optis
Pada dasarnya alat sipat datar
terdiri dari bagian utama
sebagai berikut:
a. Teropong berfungsi untuk membidik
rambu (menggunakan garis bidik) dan
memperbesar bayangan rambu.

b. Nivo tabung diletakan pada teropong
berfungsi mengatur agar garis bidik
mendatar. Terdiri dari kotak gelas
yang diisi alkohol. Bagian kecil kotak
tidak berisi zat cair sehingga kelihatan
ada gelembung. Nivo akan terletak

92
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
tegak lurus pada garis tengah vertikal
bidang singgung di titik tengah bidang
lengkung atas dalam nivo mendatar.

c. Kiap (leveling head/base plate),
terdapat sekrup-sekrup kiap
(umumnya tiga buah) dan nivo kotak
(nivo tabung) yang semuanya
digunakan untuk menegakkan sumbu
kesatu (sumbu tegak) teropong.

d. Sekrup pengunci (untuk mengunci
gerakan teropong kekanan/ kiri).

e. Lensa okuler (untuk memperjelas
benang).

f. Lensa objektif/ diafragma (untuk
memperjelas benda/ objek).
g. Sekrup penggerak halus (untuk
membidik sasaran).

h. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar
objek).

i. Statif (tripod) berfungsi untuk
menyangga ketiga bagian tersebut di
atas.





















2. Rambu ukur 2 buah
Rambu ukur dapat terbuat dari kayu,
campuran alumunium yang diberi skala
pembacaan. Ukuran lebarnya ± 4 cm,
panjang antara 3m-5m pembacaan
dilengkapi dengan angka dari meter,
desimeter, sentimeter, dan milimeter.










Gambar 70. Rambu ukur


Gambar 69. Alat sipat datar

93
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Gambar 73. Unting-unting












Gambar 71. Cara menggunakan rambu
ukur di lapangan

3. Statif
Statif merupakan tempat dudukan alat
dan untuk menstabilkan alat seperti
Sipat datar. Alat ini mempunyai 3 kaki
yang sama panjang dan bisa dirubah
ukuran ketinggiannya. Statif saat
didirikan harus rata karena jika tidak
rata dapat mengakibatkan kesalahan
saat pengukuran.









Gambar 72. Statif
4. Unting-Unting
Unting-unting terbuat dari besi atau
kuningan yang berbentuk kerucut
dengan ujung bawah lancip dan di
ujung atas digantungkan pada seutas
tali. Unting-unting berguna untuk
memproyeksikan suatu titik pada pita
ukur di permukaan tanah atau
sebaliknya.









5. Patok
Patok dalam ukur tanah berfungsi
untuk memberi tanda batas jalon,
dimana titik setelah diukur dan akan
diperlukan lagi pada waktu lain. Patok
biasanya ditanam didalam tanah dan
yang menonjol antara 5 cm - 10 cm,
dengan maksud agar tidak lepas dan
tidak mudah dicabut. Patok terbuat
dari dua macam bahan yaitu kayu dan
besi atau beton.

- Patok Kayu
Patok kayu yang terbuat dari kayu,
berpenampang bujur sangkar dengan
ukuran ± 50mm x 50mm, dan bagian
atasnya diberi cat.

94
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
- Patok Beton atau Besi
Patok yang terbuat dari beton atau
besi biasanya merupakan patok tetap
yang akan masih dipakai diwaktu lain.










Gambar 74. Patok kayu dan beton/ besi

6. Pita ukur (meteran)
Pita ukur linen bisa berlapis plastik
atau tidak, dan kadang-kadang
diperkuat dengan benang serat. Pita
ini tersedia dalam ukuran panjang
10m, 15m, 20m, 25m atau 30m.
Kelebihan dari alat ini bisa digulung
dan ditarik kembali, dan
kekurangannya adalah kalau ditarik
akan memanjang, lekas rusak dan
mudah putus, tidak tahan air.






Gambar 75. Pita ukur
7. Payung
Payung ini digunakan atau memiliki
fungsi sebagai pelindung dari panas
dan hujan untuk alat ukur itu sendiri.
Karena bila alat ukur sering
kepanasan atau kehujanan, lambat
laun alat tersebut pasti mudah rusak
(seperti; jamuran, dll).









4.2.2 Bahan Yang Digunakan :
1. Peta wilayah study
Peta digunakan agar mengetahui di
daerah mana akan melakukan
pengukuran

2. Cat dan kuas
Alat ini murah dan sederhana akan
tetapi peranannya sangat penting
sekali ketika di lapangan, yaitu
digunakan untuk menandai dimana
kita mengukur dan dimana pula kita
meletakan rambu ukur. Tanda ini
tidak boleh hilang sebelum
perhitungan selesai karena akan
mempengaruhi perhitungan dalam
pengukuran.

Gambar 76. Payung

95
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
4.3. Prosedur pengukuran sipat
datar kerangka dasar
tik l








Gambar 77. Cat dan kuas
3. Alat tulis
Alat tulis digunakan untuk
mencatat hasil pengkuran di
lapangan.

4.2.3 Formulir Pengukuran
Formulir pengukuran digunakan
untuk mencatat kondisi di lapangan
dan hasil perhitungan-perhitungan/
pengukuran di lapangan (terlampir).
Pengukuran harus dilaksanakan
berdasarkan ketentuan-ketentuan
yang ditetapkan sebelumnya.






Ketentuan-ketentuan pengukuran Kerangka
Dasar Vertikal adalah sebagai berikut :
a. Pengukuran dilakukan dengan cara
sipat datar.
b. Panjang satu slag pengukuran.
c. Pengukuran antara dua titik, sekurang-
kurangnya diukur 2 kali (pergi dan
pulang).
d. Perbedaan hasil ukuran pergi dan
pulang tidak melebihi angka toleransi
yang ditetapkan.
Khusus mengenai angka toleransi
pengukuran sipat datar, dapat dijelaskan
sebagai berikut :
T = ± K D
Dimana :
T = toleransi dalam satuan
milimeter
K = konstanta yang menunjukan
tingkat ketelitian pengukuran
dalam satuan milimeter
D = Jarak antara dua titik yang
diukur dalam satuan kilometer

Berikut ini diberikan contoh harga K untuk
bermacam tingkat pengukuran sipat datar :

Tabel 3. Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar
Tingkat K
I
II
III
3 mm
6 mm
8 mm


Contoh :
Dari A ke B sejauh 2 km, harus diukur
dengan ketelitian tingkat III. Ini berarti
perbedaan ukuran beda tinggi pergi dan
pulang tidak boleh melebihi 8 2 = 11 mm.

Apabila beda tinggi ukuran pergi dan pulang
” 11 mm, ukuran tersebut diterima sebagai
ukuran tingkat III, Bila > 11 mm ukuran
harus diulangi.

96
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Dari pengalaman menunjukkan bahwa titik-
titik kerangka dasar vertikal yang akan
digunakan harus diukur lebih teliti.

Pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal harus diawali dengan
mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam
hal ini kesalahan garis bidik alat sipat datar
optis melalui suatu pengukuran sipat datar
dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat).
Kesalahan garis bidik adalah kemungkinan
terungkitnya garis bidik teropong ke arah
atas atau bawah diakibatkan oleh
keterbatasan pabrik membuat alat ini betul-
betul presisi.

Langkah-langkah dalam pengukuran sipat
datar kerangka dasar vertikal adalah
sebagai berikut :
1. Siswa akan menerima peta dan batas-
batas daerah pengukuran.
2. Ketua tim menandai semua peralatan
yang dibutuhkan serta mengambil peta
dan batas-batas pengukuran di
laboratorium. Lalu menyerahkannya
pada laboran.
3. Ketua tim memeriksa kelengkapan alat,
lalu anggota tim membawanya ke
lapangan.
4. Survei ke daerah yang akan dipetakan
pada jalur batas pemetaan.
5. Menentukan lokasi-lokasi patok atau
merencanakan lokasi-lokasi patok
sehingga jumlah slag itu genap.
6. Setelah selesai merencanakan lokasi-
lokasi patok (menggunakan Cat) lalu
menandainya di lapangan.
7. Melakukan pengukuran kesalahan garis
bidik. Hal ini dilakukan dengan cara
mendirikan rambu diantara 2 titik (patok)
dan dirikan statif serta alat sipat datar
optis kira-kira di tengah antara 2 titik
tersebut. Yang perlu diperhatikan
pengukuran itu tidak harus dilaksanakan
jauh dari laboratorium.
8. Sebelum digunakan, alat sipat datar
harus terlebih dahulu diatur sedemikian
rupa sehingga garis bidiknya (sumbu II)
sejajar dengan bidang nivo melalui
upaya mengetengahkan gelembung
nivo yang terdapat pada nivo kotak.
Bidang nivo sendiri merupakan bidang
equipotensial yaitu bidang yang
mempunyai energi potensial yang sama.
9. Sebelum pembacaan dilakukan adalah
mengatur agar sumbu I (sumbu yang
tegak lurus garis bidik) benar-benar
tegak lurus dengan sumbu II melalui
upaya mengetengahkan gelembung
nivo tabung. Setelah sama, langkah
selanjutnya kedua nivo yaitu nivo kotak
dan nivo tabung diatur, barulah kita
melakukan pembacaan rambu. Rambu
yang dibaca harus benar-benar tegak
lurus terhadap permukaan tanah.
10. Ketengahkan gelembung nivo dengan
prinsip perputaran 2 sekrup kaki kiap
dan 1 sekrup kaki kiap. Setelah

97
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
gelembung nivo di tengah, lalu
memasang unting-unting.
11. Untuk memperjelas benang diafragma
dengan memutar sekrup pada teropong.
12. Sedangkan untuk memperjelas objek
rambu ukur dengan memutar sekrup
fokus diatas teropong.
13. Setelah itu, membaca benang atas,
benang tengah, dan benang bawah
rambu belakang. Kemudian membaca
kembali benang atas, benang tengah,
dan benang bawah rambu muka. Hasil
pembacaan di tulis pada formulir yang
telah disiapkan. Kemudian mengukur
jarak dengan menggunakan pita ukur
dari rambu belakang ke alat dan dari
alat ke rambu belakang (hasilnya di
rata-ratakan) serta mengukur juga jarak
rambu muka ke alat dan dari alat ke
rambu muka (hasilnya dirata-ratakan).
Kemudian alat digeser sedikit (slag 2)
lakukan hal yang sama sampai slag
akhir pengukuran selesai.
14. Setelah pengukuran selesai, lalu
kembali ke laboratorium untuk
mengembalikan alat.
15. Setelah itu melakukan pengolahan data.
Pengolahan data yang dilakukan adalah
pengolahan data untuk mengeliminir
kesalahan acak atau sistematis dengan
dilengkapi instrumen tabel kesalahan
garis bidik dan sistematis.

Kesalahan sistematis berupa kesalahan
garis bidik kita konversikan ke dalam
pembacaan benang tengah mentah yang
akan menghasilkan benang tengah setiap
slag yang telah dikoreksi dan merupakan
fungsi dari jarak muka atau belakang
dikalikan dengan koreksi garis bidik.

4.2.2 Penentuan beda tinggi antara dua
titik

Penentuan beda tinggi anatara dua titik
dapat dilakukan dengan tiga cara
penempatan alat ukur penyipat datar,
tergantung pada keadaan lapangan.
Dengan menempatkan alat ukur penyipat
datar di atas titik B. Tinggi a garis bidik (titik
tengah teropong) di atas titik B diukur
dengan mistar. Dengan gelembung
ditengah–tengah, garis bidik diarahkan ke
mistar yang diletakkan di atas titik lainnya,
ialah titik A. Pembacaan pada mistar
dimisalkan b, maka angka b ini menyatakan
jarak angka b itu dengan alas mistar. Maka
beda tinggi antara titik A dan titik B adalah t
= b –a.

Alat ukur penyipat datar diletakkan antara
titik A dan titik B, sedang di titik–titik A dan B
ditempatkan dua mistar. Jarak dari alat ukur
penyipat datar ke kedua mistar ambillah
kira–kira sama, sedang alat ukur penyipat
datar tidaklah perlu diletakkan digaris lurus
yang menghubungkan dua titik A dan B.
Arahkan garis bidik dengan gelembung di

98
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
tengah–tengah ke mistar A (belakang) dan
ke mistar B (muka), dan misalkan
pembacaaan pada dua mistar berturut-turut
ada b (belakang) dan m (muka).

Bila selalu diingat, bahwa angka – angka
pada rambu selalu menyatakan jarak antara
angka dan alas mistar, maka dengan
mudahlah dapat dimengerti, bahwa beda
tinggi antara titik–titik A dan B ada t = b – m.

Alat ukur penyipat datar ditempatkan tidak
diantara titik A dan B, tidak pula di atas
salah satu titik A atau titik B, tetapi di
sebelah kiri titik A atau disebelah kanan titik
B, jadi diluar garis AB. Pembacaan yang
dilakukan pada mistar yang diletakkan di
atas titik A dan B sekarang adalah berrturut-
turut b dan m lagi, sehingga digambar
didapat dengan mudah, bahwa beda tinggi
t = b –a m.

















Gambar 78. Pengukuran sipat datar
4.2.3 Kesalahan–kesalahan pada sipat
datar

a. Kesalahan petugas.
- Disebabkan oleh observer.
- Disebabkan oleh rambu.
b. Kesalahan Instrumen.
- Disebabkan oleh petugas.
- Disebabkan oleh rambu.
c. Kesalahan Alami.
- Disebabkan pengaruh sinar
matahari langsung.
- Pengaruh refraksi cahaya.
- Pengaruh lengkung bumi.
- Disebabkan pengaruh posisi
instrument sifat datar dan rambu-
rambu.

4.2.4 Pengukuran Sipat Datar

















99
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Gambar 79. Pengukuran sipat datar rambu ganda
Eliminasi kesalahan sistematis alat sipat
datar dengan cara ,mengoreksi KGB
(kesalahan garis bidik). Metode pengukuran
rambu muka dan belakang dengan dua
stand (dua kali alat berdiri).






Keterangan :
=
.
BT benang tengah yang dianggap benar
BT = benang tengah yang dibaca dari
teropong

Koreksi = - kesalahan
I = Kgb = sudut
|
|
|
|
.
|

\
|
÷
=
.
÷
d
BT BT
kgb
kgb 0 lim
tan
¬
|
|
|
.
|

\
|
÷
=
.
d
BT BT
kgb











|
|
.
|

\
|
+ ÷ +
÷ ÷ ÷
=
) ( ) (
) ( ) (
"
dmII db dm db
BTm BTb BTm BTb
kgb
II I I
II II I I


Koreksi Kgb = -Kgb.
a Eliminasi kesalahan sistematis karena
kondisi alam. Eliminasi kesalahan
sistematis karena kondisi alam dapat
dikoreksi dengan membuat jarak
belakang dan jarak muka hampir sama.

b. Jumlah slag pengukuran harus genap.
Peluang untuk meng-koreksi kesalahan
di slag ganjil dan genap lebih besar.
Pembagian kesalahan setiap slag lebih
rata.

c. Cara meng-koreksi kesalahan acak
(random error):
- Dilapangan kita peroleh bacaan BA,
BT, BB pada setiap slag (misalnya)
n = genap.
- Dari lapangan kita peroleh jarak
belakang
- x jarak muka.










100
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

Gambar 80. Pengukuran sipat datar di luar slag rambu
Gambar 80. Pengukuran sipat datar di luar slag rambu

101
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

Gambar 81. Pengukuran sipat datar dua rambu
Gambar 82. Pengukuran sipat datar menurun

102
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal




































































Gambar 83. Pengukuran sipat datar menaik
Gambar 84. Pengukuran sipat datar tinggi bangunan

103
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal


Hasil yang diperoleh dari praktek
pengukuran sipat datar dan pengolahan
data lapangan adalah tinggi pada titik-titik
(patok-patok) yang diukur untuk keperluan
penggambaran dalam pemetaan.

Perhitungan meliputi :
ƒ Mengoreksi hasil ukuran
ƒ Mereduksi hasil ukuran, misalnya
mereduksi jarak miring menjadi jarak
mendatar dan lain-lain
ƒ Menghitung azimuth pengamatan
matahari
ƒ Menghitung koordinat dan ketinggian
setiap titik.

Langkah-langkah dalam pengolahan data
adalah sebagai berikut:
1. Menuliskan nilai BA, BT, BB, jarak
belakang dan jarak muka.

2. Mencari nilai kesalahan garis bidik.

3. Menghitung BT koreksi (BT
k
) di setiap
slag.

4. Menghitung beda tinggi (¨H) di setiap
slag dari bacaan benang tengah
koreksi belakang dan muka.

Beda tinggi awal suatu slag diperoleh
melalui pengurangan benang tengah
belakang koreksi dengan benang
tengah muka koreksi. Beda tinggi
setiap slag harus memenuhi syarat beda
tinggi sama dengan nol jika jalur
pengukur berawal dan berakhir pada titik
yang sama. Penjumlahan beda tinggi
awal setiap slag merupakan kesalahan
acak beda tinggi yang harus dikoreksikan
kepada setiap slag berdasarkan bobot
tertentu.

5. Menghitung jarak (™d) setiap slag dengan
menjumlahkan jarak belakang dan jarak
muka.

6. Menghitung total jarak (™ (™d)) jalur
pengukuran dengan menjumlahkan
semua jarak slag.

7. Menghitung bobot koreksi setiap slag
dengan membagi jarak slag dengan total
jarak pengukuran.

Sebagai bobot koreksi kita menggunakan
jarak setiap slag yang merupakan
penjumlahan jarak muka dan belakang.
Total bobot adalah jumlah jarak semua
slag. Koreksi tinggi setiap slag dengan
demikian diperoleh melalui negatif
kesalahan acak beda tinggi dikalikan
dengan jarak slag tersebut dan dibagi
dengan total jarak seluruh slag.

8. Menghitung tinggi titik-titik pengukuran
(Ti) dengan cara menjumlahkan tinggi titik
sebelumnya dengan tinggi titik koreksi
yang hasilnya akan sama dengan nol.

4.4 Pengolahan data sifat datar
kerangka dasar vertikal

104
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
9. Jika tidak sama dengan nol maka
pengolahan data harus diulangi dan
diidentifikasi kembali letak
kesalahannya. Jika tinggi titik awal
diketahui, maka tinggi titik-titik koreksif
diperoleh dengan cara menjumlahkan
tinggi titik awal terhadap beda tinggi
koreksi slag secara berurutan.

Rumus-rumus dalam pengukuran
kerangka dasar vertikal :
BTbk = BTb – (Kgb.db)
BTmk = BTm – (Kgb.dm)
¨H = BTbk – BTmk
™d = db + dm
Bobot =
) ( d
d
E E
E

¨Hk = ¨H – (™¨H . bobot)
Ti = Ti awal + ¨H

Dimana :
BTb = Benang Tengah Belakang
BTm = Benang Tengah Muka
BTbk = Benang Tengah Belakang
BTmk = Benang Tengah Muka
¨H = Beda Tinggi
¨Hk = Beda tinggi koreksi
™d = Total jarak per-slag
™ (™d) = Total Jarak dari penjumlahan ™d
dm = Jarak muka
db = Jarak belakang
Bobot = Koreksi slag dengan membagi
jarak slag dengan total jarak
pengukuran
Ti = Tinggi titik-titik pengukuran.


Penggambaran (pemetaan) dapat dilakukan
dalam bentuk konvensional (manual) dan
digital.

Dengan penggambaran konvensional
(manual), harus terlebih dahulu menentukan
luas cakupan daerah yang akan dipetakan,
kemudian dibandingkan dengan luas
lembaran yang tersedia. Apakah itu A0, A1,
A2 dan sebagainya. Dalam hal ini untuk tugas
praktikum Ilmu Ukur Tanah, direferensikan
kertas yang digunakan adalah berukuran A2,
A1 dan A0. Setelah diperoleh berupa
perbandingan luas cakupan wilayah di
lapangan dengan di ukuran kertas yang ada,
kemudian tentukan skala dari peta yang akan
digambarkan.

Dengan penggambaran digital, skala bukan
menjadi masalah tetapi yang dipentingkan
adalah masalah koordinat titik-titik dan
penggunaan koordinat itu untuk
mengintegrasikan berbagai macam peta/
gambar yang akan ditetapkan.

Penggambaran digital lebih menguntungkan
karena pada skala berapa pun peta/gambar
digital dapat dikeluarkan tidak bergantung
pada skala serta revisi data dari peta/ gambar
digital lebih mudah dibandingkan dengan
peta/ gambar konvensional. Konsep yang
pertama kali mendekati untuk penyajian peta/
4.5 Penggambaran sipat datar
kerangka dasar vertikal

105
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
gambar digital adalah konsep CAD
(Computer Aided Design) atau suatu
database grafis yang menyimpan
koordinat-koordinat kemudian disajikan
dalam bentuk grafis, kemudian dikenal
pula istilah GIS (Geographical
Information System) yaitu suatu sistem
yang mampu mengaitkan database
dengan database atributnya yang sesuai.

Peta-peta/ gambar dalam bentuk digital
dapat disajikan dalam bentuk hard copy
atau cetakan print out dari hasil-hasil file
komputer, soft copy atau dalam bentuk
file serta dalam bentuk penyajian peta/
gambar digital di layar komputer.

Keuntungan-keuntungan dari penyajian
gambar dalam bentuk digital adalah:
1. Proses pembuatannya relatif cepat.
2. Murah dan akurasinya tinggi.
3. Tidak dibatasi skala dalam
penyajiannya.
4. Jika perlu melakukan revisi mudah
dilakukan dan tidak perlu
mengeluarkan banyak biaya.
5. Dapat melakukan analisis spasial
(keruangan) secara mudah.

Unsur-unsur yang harus ada dalam
penggambaran hasil pengukuran dan
pemetaan adalah :

Legenda
Yaitu suatu informasi berupa huruf,
simbol dan gambar yang menjelaskan
mengenai isi gambar. Legenda memiliki
ruang di luar muka peta dan dibatasi oleh
garis yang membentuk kotak-kotak.

Tanda-tanda atau simbol-simbol yang
digunakan adalah untuk menyatakan
bangunan-bangunan yang ada di atas
bumi seperti jalan raya, kereta api,
sungai, selokan, rawa atau kampung.
Juga untuk bermacam-macam keadaan
dan tanam-tanaman misalnya ladang,
padang rumput, atau alang-alang,
perkebunan seperti: karet, kopi, kelapa,
untuk tiap macam pohon diberi tanda
khusus.

Untuk dapat membayangkan tinggi
rendahnya permukaan bumi, maka
digunakan garis-garis tinggi atau tranches
atau kontur yang menghubungkan titik-
titik yang tingginya sama di atas
permukaan bumi.

Muka peta
Yaitu ruang yang digunakan untuk
menyajikan informasi bentuk permukaan
bumi baik informasi vertikal maupun
horizontal. Muka peta sebaiknya memiliki
ukuran panjang dan lebar yang
proporsional agar memenuhi unsur
estetik.

Skala peta
Yaitu simbol yang menggambarkan
perbandingan jarak di atas peta dengan
jarak sesungguhnya di lapangan. Skala

106
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
peta terdiri dari: skala numeris, skala
perbandingan, dan skala grafis.

Skala numeris yaitu skala yang
menyatakan perbandingan perkecilan
yang ditulis dengan angka, misalnya:
skala 1 : 25.000 atau skala 1 : 50.000.

Skala grafis yaitu skala yang
digunakan untuk menyatakan panjang
garis di peta dan jarak yang
diwakilinya di lapangan melalui
informasi grafis.
1 0.5 0
1 2 3 4
Kilometer

Skala grafis memiliki kelebihan
dibandingkan dengan skala numeris
dan skala perbandingan karena tidak
dipengaruhi oleh muai kerut bahan
dan perubahan ukuran penyajian
peta.

Orientasi arah utara
Yaitu simbol berupa panah yang
biasanya mengarah ke arah sumbu Y
positif muka peta dan menunjukkan
orientasi arah utara. Orientasi arah
utara ini dapat terdiri dari: arah utara
geodetik, arah utara magnetis, dan
arah utara grid koordinat proyeksi.
Skala peta grafis biasanya selalu
disajikan untuk melengkapi skala
numeris atau skala perbandingan
untuk mengantisipasi adanya
pembesaran dan perkecilan peta serta
muai susut bahan peta.

Sumber gambar yang dipetakan
Untuk mengetahui secara terperinci
proses dan prosedur pembuatan peta.
Sumber peta akan memberikan tingkat
akurasi dan kualitas peta yang dibuat.

Tim pengukuran yang membuat peta
Untuk mengetahui penanggung jawab
pengukuran di lapangan dan
penyajiannya di atas kertas. Personel
yang disajikan akan memberikan
informasi mengenai kualifikasi personel
yang terlibat.

Instalasi dan simbol
Instalasi dan simbol yang memberikan
pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan
pengukuran dan pembuatan peta.
Instalasi dan simbol instalasi ini akan
memberikan informasi mengenai
karakteristik tema yang biasanya
diperlukan bagi instalasi yang
bersangkutan.











107
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
A1
A3 A2
A4
Ukuran kertas untuk penggambaran hasil
pengukuran dan pemetaan terdiri dari :

Tabel 4. Ukuran kertas untuk penggambaran
hasil pengukuran dan pemetaan

Ukuran kertas yang digunakan untuk
pencetakkan peta biasanya Seri A. Dasar
ukuran adalah A0 yang luasnya setara
dengan 1 meter persegi. Setiap angka
setelah huruf A menyatakan setengah
ukuran dari angka sebelumnya. Jadi, A1
adalah setengah A0, A2 adalah
seperempat dari A0 dan A3 adalah
seperdelapan dari A0. Perhitungan yang
lebih besar dari SA0 adalah 2A0 atau dua
kali ukuran A0.












Penggambaran sipat datar kerangka dasar
vertikal akan menyajikan unsur unsur: jarak
mendatar antara titik-titik penggambaran,
tinggi titik-titik dan garis hubung antara satu
titik ikat dengan titik ikat yang lain.
Penggambaran secara manual pada sipat
datar kerangka dasar vertikal memiliki
karakteristik, yaitu : skala jarak mendatar
kurang dari skala tinggi, karena jangkauan
jarak mendatar memiliki ukuran yang
signifikan berbeda dengan jangkauan
tingginya.

Peralatan yang harus disiapkan untuk
menggambar sipat datar kerangka dasar
vertikal meliputi :
1. Lembaran kertas milimeter dengan
ukuran tertentu.
2. Penggaris 2 buah (segitiga atau lurus).
3. Pensil.
4. Penghapus.
5. Tinta.

Prosedur penggambaran untuk sipat datar
kerangka dasar vertikal secara manual,
sebagai berikut :

1. Menghitung kumulatif jarak horizontal
pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal.
2. Menghitung range beda tinggi
pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal.
3. Menentukan ukuran kertas yang akan
dipakai.
Ukuran
Kertas
Panjang
(milimeter)
Lebar
(milimeter)
A0
A1
A2
A3
A4
A5
1189
841
594
420
297
210
841
594
420
297
210
148
Gambar 85. Pembagian kertas seri A

108
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
4. Membuat tata letak peta, meliputi
muka peta dan ruang legenda.
5. Menghitung panjang dan lebar muka.
6. Menetapkan skala jarak horizontal
dengan membuat perbandingan
panjang muka peta dengan kumulatif
jarak horizontal dalam satuan yang
sama. Jika hasil perbandingan tidak
menghasilkan nilai yang bulat, maka
nilai skala dibulatkan ke atas dan
memiliki nilai kelipatan tertentu.
7. membuat skala beda tinggi dengan
membuat perbandingan lebar muka
peta dengan range beda tinggi dalam
satuan yang sama. Jika hasil
perbandingan tidak menghasilkan nilai
yang bulat, maka nilai skala
dibulatkan ke atas dan memiliki nilai
kelipatan tertentu.
8. Membuat sumbu mendatar dan tegak
yang titik pusatnya memiliki jarak
tertentu terhadap batas muka peta,
menggunakan pensil.
9. Menggambarkan titik-titik yang
merupakan posisi tinggi hasil
pengukuran dengan jarak-jarak
tertentu serta menghubungkan titik-
titik tersebut, menggunakan pensil.
10. Membuat keterangan- keterangan nilai
tinggi dan jarak di dalam muka peta serta
melengkapi informasi legenda, membuat
skala, orientasi pengukuran, sumber peta,
tim pengukuran, nama instansi dan
simbolnya, menggunakan pensil.
11. Menjiplak draft penggambaran ke atas
bahan yang transparan menggunakan
tinta.

Untuk penggambaran sipat datar kerangka
dasar vertikal secara digital dapat
menggunakan perangkat lunak lotus, excell
atau AutoCad. Penggambaran dengan
masing-masing perangkat lunak yang
berbeda akan memberikan hasil keluaran
yang berbeda pula. Untuk penggambaran
menggunakan lotus atau excell yang harus
diperhatikan
adalah penggambaran grafik dengan metode
scatter, agar gambar yang diperoleh pada
arah tertentu (terutama sumbu horizontal)
memiliki interval sesuai dengan yang
diinginkan, tidak memiliki interval yang sama.
Penggambaran dengan AutoCad walaupun
lebih sulit akan menghasilkan keluaran yang
lebih sempurna dan sesuai dengan format
yang diinginkan.







109
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Contoh Hasil Pengukuran Sipat Datar Kerangka Vertikal :


Dari lapangan didapat ;
HASIL PENGOLAHAN DATA

Diketahui, sipat datar Kerangka Dasar Vertikal (KDV) tertutup dengan 8 slag, titik 1
merupakan titik awal dengan ketinggian +905 meter MSL.
- Titik 1 : BTb = 0,891 ; BTm = 1,675 ; db = 11 ; dm = 14
- Titik 2 : BTb = 1,417 ; BTm = 1,385 ; db = 13 ; dm = 13
- Titik 3 : BTb = 1,406 ; BTm = 1,438 ; db = 12 ; dm = 12
- Titik 4 : BTb = 1,491 ; BTm = 0,625 ; db = 15 ; dm = 31
- Titik 5 : BTb = 2,275 ; BTm = 1,387 ; db = 29 ; dm = 26
- Titik 6 : BTb = 1,795 ; BTm = 0,418 ; db = 13 ; dm = 14
- Titik 7 : BTb = 0,863 ; BTm = 1,801 ; db = 8 ; dm = 7
- Titik 8 : BTb = 0,753 ; BTm = 2,155 ; db = 8 ; dm = 12

TITIK 1
Diketahui : BTb = 0,891
BTm = 1,675
db = 11 , dm = 14
Kgb = -0,00116
™(™d) = 238
™¨H = 0,02380
Jawab :
1. BTbk = BTb - (Kgb . db)
= 0,891 -(-0,00116.11)
= 0.90376
2. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 1,675-(-0,00116.14)
= 1,69124
3. ¨H = BTbk-BTmk
= 0.90376 - 1,69124
= - 0,78748

4. ™d = db+dm
= 14+11
= 25
5. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
25

= 0,10504
6. ¨Hk = ¨H-(™¨H.bobot)
= -0,78748-(0,02380.
0,10504)
= -0,78998
7. Ti = 905





110
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
TITIK 2
Diketahui : BTb=1,147
BTm=1,385
db=13 , dm=13
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H=0,02380
Jawab :
8. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 1,147 -(-0,00116.13)
= 1,43208
9. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 1,385 -(-0,00116.13)
= 1,69124
10. ¨H = BTbk-BTmk
= 1,43208 - 1,69124
= -0,78748
11. ™d = db+dm
= 13+13
= 26
12. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
26

= 0,10924
13. ¨Hk = ¨H - (™¨H.bobot)
= -0,78748- (0,02380. 0,10924)
= 0,02940

14. Ti = Ti
1
+ ¨Hk
1

= 905 - 0,02940
= 904,21002

TITIK 3
Diketahui : BTb=1,406
BTm=1,438 ;
db=12 , dm=12
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H=0,02380
Jawab :
15. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 1,406 -(-0,00116.12)
= 1,41992
16. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 1,438 -(-0,00116.12)
= 1,45192
17. ¨H = BTbk-BTmk
= 1,41992 -1,45192
= - 0,03200
18. ™d = db+dm
= 12+12
= 24
19. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
24

= 0,10084

20. ¨Hk = ¨H-(™¨H.bobot)
= - 0,03200-(0,02380.
0,10084)
= -0,03440
21. T i = Ti
2
+¨Hk
2


= 904,21002-0,03440
= 904,23942

111
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
TITIK 4
Diketahui : BTb=1,491
BTm=0,625
db=15 , dm=31
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H=0,02380
Jawab :
22. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 1,491-(-0,00116.15)
= 1,50840
23. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 0,625-(-0,00116.31)
= 0,66096
24. ¨H = BTbk-BTmk
= 1,50840-0,66096
= 0,84744
25. ™d = db+dm
= 15 +31
= 46

26. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
46

= 0,19328
27. ¨Hk = ¨H-(™¨H.bobot)
= 0,84744-(0,02380 .0,19328)
= 0,84284
28. Ti = Ti
3
+¨Hk
4

= 904,23942+0,84284
= 904,20502

TITIK 5
Diketahui : BTb=2,275
BTm=1,387
db=29 , dm=26
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H=0,02380
Jawab :
29. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 2,275-(-0,00116.29)
= 2,30864
30. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 1,387-(-0,00116.26)
= 1,41716

31. ¨H = BTbk-BTmk
= 2,30864-1,41716
= 0,89148
32. ™d = db+dm
= 29+26
= 55
33. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
55

= 0,23109
34. ¨Hk = ¨H-(™¨H.bobot)
= 0,89148-(0,02380.
0,23109)
= 0,88598
35. Ti = Ti
4
+¨Hk
5

= 904,20502+0,88598
= 905,04786

112
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
TITIK 6
Diketahui : BTb=1,795
BTm=0,418
db=13 , dm=14
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H=0,02380
Jawab :
36. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 1,795 - (-0,00116.13)
= 1,81008
37. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 0,418 -(-0,00116.14)
= 0,43424
38. ¨H = BTbk-BTmk
= 1,81008-0,43424
= 1,37584
39. ™d = db+dm
= 13+14
=27
40. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
27

= 0,11345
41. ¨Hk = ¨H - (™¨H.bobot)
= 1,37584- (0,02380.
0,11345)
= 1,37314
42. Ti = Ti
5
+¨Hk
6


= 905,04786+1,37314
= 905,93384

TITIK 7
Diketahui : BTb = 0,863
BTm=1,801
db=8 , dm=7
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H = 0,02380
Jawab :
43. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 0,863 -(-0,00116.8)
= 0,87228
44. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 1,801 -(-0,00116.7)
= 1,80912
45. ¨H = BTbk-BTmk
= 0,87228- 1,80912
= -0,93684
46. ™d = db+dm
= 8+7
= 15
47. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
15

= 0,06303
48. ¨Hk = ¨H-(™¨H.bobot)
= -0,93684-(0,02380.
0,06303)
= -0,93834
49. Ti = Ti
6
+¨Hk
7

= 905,93384+(-0,93834)
= 907,30698


113
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
TITIK 8
Diketahui : BTb=0,793
BTm=2,155
db=8 , dm=12
Kgb=-0,00116
™(™d)= 238
™¨H=0,02380
Jawab :
50. BTbk = BTb-(Kgb.db)
= 0,793-(-0,00116.8)
= 0,80228
51. BTmk = BTm-(Kgb.dm)
= 2,155 -(-0,00116.12)
= 2,16892
52. ¨H = BTbk-BTmk
= 0,80228 - 2,16892
= -1,36664
53. ™d = db+dm
= 8+12
= 20
54. Bobot =
) ( d
d
E E
E

=
238
20

= 0,08403
55. ¨Hk = ¨H-(™¨H.bobot)
= -1,36664-(0,02380.
0,08403)
= -1,36864
56. Ti = Ti
7
+¨Hk
8

= 907,30698+(-1,36864)
= 906,3686


























114
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Belakang
Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan
Stand
Tengah
Diukur Oleh
Lokasi
Pengukuran
dari
Jarak
Muka
PENGUKURAN SIPAT DATAR
Bawah
Muka
Bacaan Benang
Atas
Bawah
Tengah Belakang
Atas
Tanggal
Beda Tinggi
Total
+ -
Titik
Tinggi
Instruktur
Alat Ukur
No.Lembar
Cuaca
Ket


































































Tabel 5. Formulir pengukuran sipat datar

115
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
PENGUKURAN SIPAT DATAR
Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar
Cuaca
Alat Ukur
Instruktur
dari
Pengukuran
Lokasi
Diukur Oleh Tanggal
Stand
Bacaan Benang
Belakang Muka
Tengah
Atas
Bawah
Tengah
Atas
Bawah
Belakang Muka Total
Jarak Beda Tinggi
- +
Tinggi
Titik
Ket
1
2
3
4
5
6
7
8
0.891
1.417
1.406
1.491
2.275
1.795
0.863
0.793
0.946
0.836
1.482
1.352
1.466
1.346
1.566
1.416
2.420
2.130
1.860
1.730
0.903
0.823
0.833
0.753 2.095
2.215
1.766
1.836
0.348
0.488
1.257
1.517
0.470
0.780
1.378
1.498
1.320
1.450
1.605
1.745 1.675
1.385
1.438
0.625
1.387
0.418
1.801
2.155
11
13
12
15
29
13
8
8
14
13
12
31
26
14
7
12
25
26
24
46
55
27
15
20
0.03200
0.78748
0.03200
0.84744
0.89148
1.37584
0.93684
1.36664
905
904.21002
904.23942
904.20502
805.04786
905.93384
907.30698
906.36864
238


















































Tabel 6. Formulir pengukuran sipat datar

116
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
I
N
S
T
I
T
U
S
I
P
E
N
D
ID
IK
A
N
T
E
K
N
IK
S
IP
IL
-
S
1
F
A
K
U
L
T
A
S
P
E
N
D
ID
IK
A
N
T
E
K
N
O
L
O
G
I D
A
N

K
E
J
U
R
U
A
N

U
N
IV
E
R
S
IT
A
S
P
E
N
D
ID
IK
A
N
IN
D
O
N
E
S
IA
2
0
0
7
J
U
D
U
L

G
A
M
B
A
R
G
E
D
U
N
G

O
L
A
H

R
A
G
A
L
E
G
E
N
D
A
C
A
T
A
T
A
N
P
E
N
G
U
K
U
R
A
N

K
E
R
A
N
G
K
A

D
A
S
A
R

V
E
R
T
I
K
A
L
L
O
K
A
S
I
D
R
.

I
R
.

D
R
S
.

H
.

I
S
K
A
N
D
A
R

M
U
D
A

P
U
R
W
A
A
M
I
J
A
Y
A
,

M
T
D
O
S
E
N
D
R
.

I
R
.

D
R
S
.

H
.

I
S
K
A
N
D
A
R

M
U
D
A

P
U
R
W
A
A
M
I
J
A
Y
A
,

M
T
M
A
T
A

K
U
L
I
A
H
T
S

2
4
1
P
R
A
K
T
I
K

I
L
M
U

U
K
U
R

T
A
N
A
H
P
E
N
G
U
K
U
R
A
N

K
E
R
A
N
G
K
A

D
A
S
A
R

V
E
R
T
I
K
A
L
S
I
P
A
T

D
A
T
A
R

O
P
T
I
S
U
P
O
H
O
N
B
A
C
A
A
N

B
E
N
A
N
G
B
A
T
A
S

J
A
L
A
N













































Gambar 86. Pengukuran kerangka dasar vertikal

























117
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-04
Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT
Pengukuran
Sipat Datar
Kerangka
Dasar Vertikal
Maksud :
Pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur
ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan
ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan banyak
Tujuan :
Memperoleh informasi tinggi yang akurat untuk menyajikan informasi
yang lebih kompleks (garis kontur)
Referensi tinggi :
diperoleh dengan cara pengamatan pasut pada selang waktu tertentu
di tepi pantai untuk memperoleh tinggi muka air laut rata-rata atau
mean sea level (MSL)
Eliminasi kesalahan sistematis :
Melakukan pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri
alat) untuk memperoleh nilai kesalahan garis bidik (kemungkinan
terungkitnya garis bidik ke atas/bawah akibat keterbatasan pabrik
membuat alat betul-betul presisi)
Pengaturan awal alat sipat datar :
Mengatur garis bidik // sumbu II teropong dengan mengetengahkan
gelembung nivo kotak (menggerakkan 2 sekrup kaki kiap ke dalam/
luar dan 1 sekrup kaki kiap ke kanan/kiri) ; Mengatur sumbu I tegak
lurus sumbu II teropong dengan mengetengahkan gelembung nivo
tabung. Rambu ukur diatur tegak lurus permukaan tanah dan dibaca.
Pengukuran di lapangan :
Persiapan sketsa/peta jalur pengukuran dan rencana pematokan
dengan jumlah slag genap. Persiapan patok-patok pengukuan. Survei
awal dan pematokan. Rambu ukur didirikan di atas patok-patok
pengukuran. Alat sipat datar didirikan sekitar tengah-tengah slag atau
dibuat jumlah jarak belakang ~ jumlah jarak muka. Pembacaan
rambu ukur belakang dan muka. Pengukuran jarak belakang & muka.
Pengolahan Data :
Koreksi bacaan benang tengah dengan hasil kali koreksi garis bidik dan jarak.
Perhitungan beda tinggi koreksi kesalahan sistematis. Perhitungan bobot koreksi
dari rasio jarak slag terhadap total jarak pengukuran. Perhitungan kesalahan acak.
Distribusi kesalahan acak ke setiap slag dengan bobot koreksi. Perhitungan beda
tinggi dan tinggi definitif yang telah dikoreksi kesalahan acak. Penggambaran
jalur pengukuran dengan skala vertikal > skala horisontal.

Gambar 87. Diagram alir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal
Model Diagram Alir
Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

118
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 4 mengenai pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal, maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Pengukuran menggunakan sipat datar optis adalah pengukuran tinggi garis bidik alat
sipat datar di lapangan melalui rambu ukur.

2. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal maksudnya adalah pembuatan
serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda
tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak.

3. Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh
informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan sedemikian rupa sehingga informasi
tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak
kompleks.

4. Bagian utama pada Alat sipat datar optis adalah
a. Teropong untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar
bayangan rambu.
b. Nivo tabung berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar.
c. Kiap (leveling head/base plate), digunakan untuk menegakan sumbu kesatu (sumbu
tegak) teropong.
d. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri).
e. Lensa okuler (untuk memperjelas benang).
f. Lensa objektif/ diafragma (untuk memperjelas benda/ objek).
g. Sekrup penggerak halus (untuk membidik sasaran).
h. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek).
i. Statif (tripod) berfungsi untuk menyangga ketiga bagian tersebut di atas.

5. Peralatan yang digunakan pada pengukuran sipat datar optis adalah :
a. alat sipat datar optis. e. patok.
b. rambu ukur 2 buah. f. pita ukur
c. statif. g. payung.
d. unting-unting.



119
4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal
Soal Latihan


Jawablah pertanyaan-pertanyaan di abwah ini !

1. Jelaskan peralatan dan bahan-bahan apa sajakah yang digunakan pada pengukuran
sipat datar kerangka dasar vertikal!
2. Jelaskan bagaimana prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal !
3. Apa sajakah keuntungan-keuntungan dari penggambaran dalam bentuk digital !
4. Jelaskan bagaimana prosedur pengolahan data pada pengukuran sipat datar kerangka
dasar vertikal !
5. Diketahui pengukuran sipat datar dengan 4 slag (A, B, C dan D) dan tinggi titik T
i

(awal)
=
+ 777 meter HSL.
Slag : 1 ( A –B) BT
b
= 1,568 Slag : 1 d
b
= 25,08
BT
m
= 1,658 d
m
= 25,5
Slag : 2 ( B –C) BT
b
= 1,775 Slag : 1 d
b
= 32,5
BT
m
= 1,886 d
m
= 34,5
Slag : 3 ( C –D) BT
b
= 1,675 Slag : 1 d
b
= 27,5
BT
m
= 1,558 d
m
= 26,95
Slag : 4 ( D –A) BT
b
= 1,890 Slag : 1 d
b
= 26,5
BT
m
= 1,780 d
m
= 25,55

4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

91

diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak. Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh informasi lapangan tinggi yang relatif rupa akurat di
Gambar 67. Proses pengukuran

sedemikian

sehingga

informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak kompleks. Referensi informasi ketinggian diperoleh melalui suatu pengamatan di tepi pantai yang dikenal dengan nama pengamatan Pasut. bekerja Pengamatan alat-alat secara pasut dilakukan yang dan menggunakan elektronis. Tinggi permukaan air laut direkam pada interval waktu tertentu dengan bantuan pelampung baik dalam kondisi air laut pasang maupun surut. Pengamatan permukaan air laut pada 4.2.1 Peralatan yang digunakan : 1. Alat sipat datar optis Pada dasarnya alat sipat datar terdiri dari bagian utama sebagai berikut: a. Teropong berfungsi untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar bayangan rambu. b. Nivo tabung diletakan pada teropong berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar. Terdiri dari kotak gelas yang diisi alkohol. Bagian kecil kotak tidak berisi zat cair sehingga kelihatan ada gelembung. Nivo akan terletak sederhana manual Arah Pengukuran
Gambar 68. Arah pengukuran Rambu Belakang Rambu Muka

mekanis,

4.2 Peralatan, bahan, dan formulir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal

interval tertentu kemudian diolah dengan bantuan ilmu statistik sehingga diperoleh informasi mengenai tinggi muka air laut ratarata atau sering dikenal dengan istilah Mean Sea Level (MSL). MSL ini berdimensi meter dan merupakan referensi ketinggian bagi titik-titik lain di darat.

4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

92

tegak lurus pada garis tengah vertikal bidang singgung di titik tengah bidang lengkung atas dalam nivo mendatar. c. Kiap (leveling head/base plate), kiap

terdapat (nivo

sekrup-sekrup tabung) yang

(umumnya tiga buah) dan nivo kotak semuanya digunakan untuk menegakkan sumbu kesatu (sumbu tegak) teropong. d. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri). 2. Rambu ukur 2 buah e. Lensa okuler (untuk memperjelas Rambu ukur dapat terbuat dari kayu, campuran alumunium yang diberi skala objektif/ diafragma halus (untuk (untuk pembacaan. Ukuran lebarnya panjang antara 4 cm, 3m-5m pembacaan benang). f. Lensa
Gambar 69. Alat sipat datar

memperjelas benda/ objek). g. Sekrup penggerak membidik sasaran). h. Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek). i. Statif atas. (tripod) berfungsi untuk

dilengkapi dengan angka dari meter, desimeter, sentimeter, dan milimeter.

menyangga ketiga bagian tersebut di

Gambar 70. Rambu ukur

Alat ini mempunyai 3 kaki yang sama panjang dan bisa dirubah ukuran ketinggiannya. Gambar 71. Patok terbuat dari dua macam bahan yaitu kayu dan besi atau beton. Statif saat didirikan harus rata karena jika tidak rata dapat mengakibatkan kesalahan saat pengukuran. Gambar 73. Cara menggunakan rambu ukur di lapangan 3. dimana titik setelah diukur dan akan diperlukan lagi pada waktu lain. Unting-unting 5.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 93 4. berpenampang bujur sangkar dengan ukuran 50mm x 50mm. Unting-Unting Unting-unting terbuat dari besi atau kuningan yang berbentuk kerucut dengan ujung bawah lancip dan di ujung atas digantungkan pada seutas tali. Statif Statif merupakan tempat dudukan alat dan untuk menstabilkan alat seperti Sipat datar. Statif . Patok Kayu Patok kayu yang terbuat dari kayu. dengan maksud agar tidak lepas dan tidak mudah dicabut. dan bagian atasnya diberi cat. Patok biasanya ditanam didalam tanah dan yang menonjol antara 5 cm .10 cm. Gambar 72. Patok Patok dalam ukur tanah berfungsi untuk memberi tanda batas jalon. ukur Unting-unting di berguna tanah untuk atau memproyeksikan suatu titik pada pita permukaan sebaliknya.

Peta wilayah study 2. 20m.2. yaitu digunakan untuk menandai dimana kita mengukur dan dimana pula kita meletakan rambu ukur. Pita ukur . 15m. dll). 1. 7. Payung Payung ini digunakan atau memiliki fungsi sebagai pelindung dari panas dan hujan untuk alat ukur itu sendiri. Gambar 75. jamuran. Karena bila alat ukur sering kepanasan atau kehujanan. Gambar 74. Payung Bahan Yang Digunakan : Peta digunakan agar mengetahui di daerah mana akan melakukan pengukuran diperkuat dengan benang serat. 25m atau 30m. dan kekurangannya adalah kalau ditarik akan memanjang. Patok kayu dan beton/ besi 6. lekas rusak dan mudah putus. Kelebihan dari alat ini bisa digulung dan ditarik kembali. Pita ukur (meteran) Pita ukur linen bisa berlapis plastik atau tidak. Pita ini tersedia dalam ukuran panjang 10m.2 Gambar 76.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 94 Patok Beton atau Besi Patok yang terbuat dari beton atau besi biasanya merupakan patok tetap yang akan masih dipakai diwaktu lain. Cat dan kuas Alat ini murah dan sederhana akan tetapi peranannya sangat penting sekali ketika di lapangan. Tanda ini tidak boleh hilang sebelum perhitungan selesai karena akan mempengaruhi perhitungan dalam pengukuran. lambat laun alat tersebut pasti mudah rusak (seperti. dan kadang-kadang 4. tidak tahan air.

Tingkat Ketelitian Pengukuran Sipat Datar 3.3. Apabila beda tinggi ukuran pergi dan pulang 11 mm. b. dapat dijelaskan sebagai berikut : T= Gambar 77. Bila > 11 mm ukuran harus diulangi. Pengukuran sipat datar. 4.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 95 d.3 Formulir Pengukuran Formulir pengukuran untuk mencatat kondisi di lapangan dan hasil perhitungan-perhitungan/ pengukuran di lapangan (terlampir). ukuran tersebut diterima sebagai ukuran tingkat III. Ini berarti perbedaan ukuran beda tinggi pergi dan pulang tidak boleh melebihi 8 2 = 11 mm. Panjang satu slag pengukuran.2. Pengukuran berdasarkan harus dilaksanakan ketentuan-ketentuan Tingkat I II III Contoh : K 3 mm 6 mm 8 mm yang ditetapkan sebelumnya. Cat dan kuas K D dalam satuan Dimana : T = toleransi untuk milimeter K = konstanta yang menunjukan tingkat ketelitian pengukuran dalam satuan milimeter digunakan D = Jarak antara dua titik yang diukur dalam satuan kilometer Berikut ini diberikan contoh harga K untuk bermacam tingkat pengukuran sipat datar : Tabel 3. c. dilakukan dengan cara Dari A ke B sejauh 2 km. Perbedaan hasil ukuran pergi dan pulang tidak melebihi angka toleransi yang ditetapkan. Khusus mengenai angka toleransi pengukuran sipat datar. 4. Alat tulis Alat tulis digunakan mencatat hasil pengkuran di lapangan. Pengukuran antara dua titik. . harus diukur dengan ketelitian tingkat III. sekurangkurangnya diukur 2 kali (pergi dan pulang). Prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar tik l Ketentuan-ketentuan pengukuran Kerangka Dasar Vertikal adalah sebagai berikut : a.

Rambu yang dibaca harus benar-benar tegak lurus terhadap permukaan tanah. Sebelum digunakan. 5. 7. 3. 2. Survei ke daerah yang akan dipetakan pada jalur batas pemetaan. Kesalahan garis bidik adalah kemungkinan terungkitnya garis bidik teropong ke arah atas atau bawah diakibatkan oleh keterbatasan pabrik membuat alat ini betulbetul presisi. Melakukan pengukuran kesalahan garis bidik. Bidang nivo sendiri merupakan bidang equipotensial yaitu bidang yang mempunyai energi potensial yang sama. 9. alat sipat datar harus terlebih dahulu diatur sedemikian rupa sehingga garis bidiknya (sumbu II) sejajar dengan bidang nivo melalui upaya mengetengahkan gelembung nivo yang terdapat pada nivo kotak. Ketengahkan gelembung nivo dengan prinsip perputaran 2 sekrup kaki kiap dan 1 sekrup kaki kiap. pada laboran. Hal ini dilakukan dengan cara mendirikan rambu diantara 2 titik (patok) dan dirikan statif serta alat sipat datar optis kira-kira di tengah antara 2 titik tersebut. Setelah selesai merencanakan lokasilokasi patok (menggunakan Cat) lalu menandainya di lapangan. barulah kita melakukan pembacaan rambu. lalu anggota tim membawanya ke lapangan. 4. Setelah . langkah selanjutnya kedua nivo yaitu nivo kotak dan nivo tabung diatur. Ketua tim memeriksa kelengkapan alat. Siswa akan menerima peta dan batasbatas daerah pengukuran.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 96 Dari pengalaman menunjukkan bahwa titiktitik kerangka dasar vertikal yang akan digunakan harus diukur lebih teliti. Yang perlu diperhatikan pengukuran itu tidak harus dilaksanakan jauh dari laboratorium. Langkah-langkah dalam pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah sebagai berikut : 1. 10. menyerahkannya 6. Sebelum pembacaan dilakukan adalah mengatur agar sumbu I (sumbu yang tegak lurus garis bidik) benar-benar tegak lurus dengan sumbu II melalui upaya mengetengahkan gelembung nivo tabung. Ketua tim menandai semua peralatan yang dibutuhkan serta mengambil peta dan batas-batas Lalu pengukuran di laboratorium. Menentukan lokasi-lokasi patok atau merencanakan lokasi-lokasi patok sehingga jumlah slag itu genap. 8. Setelah sama. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal harus diawali dengan mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam hal ini kesalahan garis bidik alat sipat datar optis melalui suatu pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat).

Alat ukur penyipat datar diletakkan antara titik A dan titik B. Tinggi a garis bidik (titik tengah teropong) di atas titik B diukur dengan mistar. Hasil pembacaan di tulis pada formulir yang telah disiapkan. Setelah kembali pengukuran ke selesai. Kemudian mengukur jarak dengan menggunakan pita ukur dari rambu belakang ke alat dan dari alat ke rambu belakang (hasilnya di rata-ratakan) serta mengukur juga jarak rambu muka ke alat dan dari alat ke rambu muka (hasilnya dirata-ratakan). Arahkan garis bidik dengan gelembung di mengembalikan alat. lalu untuk laboratorium tergantung pada keadaan lapangan. Maka beda tinggi antara titik A dan titik B adalah t = b –a. Pengolahan data yang dilakukan adalah pengolahan data untuk mengeliminir kesalahan acak atau sistematis dengan dilengkapi instrumen tabel kesalahan garis bidik dan sistematis. Dengan menempatkan alat ukur penyipat datar di atas titik B. 11. Kemudian membaca kembali benang atas. dan benang bawah rambu muka. membaca benang atas. 4. lalu Kesalahan sistematis berupa kesalahan garis bidik kita konversikan ke dalam pembacaan benang tengah mentah yang akan menghasilkan benang tengah setiap slag yang telah dikoreksi dan merupakan fungsi dari jarak muka atau belakang dikalikan dengan koreksi garis bidik. 12. Kemudian alat digeser sedikit (slag 2) lakukan hal yang sama sampai slag akhir pengukuran selesai. ialah titik A.2 Penentuan beda tinggi antara dua titik Penentuan beda tinggi anatara dua titik dapat dilakukan alat dengan ukur tiga cara datar. benang tengah. maka angka b ini menyatakan jarak angka b itu dengan alas mistar. benang tengah. dan benang bawah rambu belakang. . 15. garis bidik diarahkan ke mistar yang diletakkan di atas titik lainnya. Pembacaan pada mistar dimisalkan b.2. sedang alat ukur penyipat datar tidaklah perlu diletakkan digaris lurus yang menghubungkan dua titik A dan B. Setelah itu. penempatan penyipat memasang unting-unting. 13. Dengan gelembung ditengah–tengah. Untuk memperjelas benang diafragma dengan memutar sekrup pada teropong. Setelah itu melakukan pengolahan data.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 97 gelembung nivo di tengah. Sedangkan untuk memperjelas objek rambu ukur dengan memutar sekrup fokus diatas teropong. Jarak dari alat ukur penyipat datar ke kedua mistar ambillah kira–kira sama. sedang di titik–titik A dan B ditempatkan dua mistar. 14.

Bila selalu diingat. maka dengan mudahlah dapat dimengerti. c. Kesalahan Alami. Disebabkan oleh observer. bahwa angka – angka pada rambu selalu menyatakan jarak antara angka dan alas mistar.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 98 tengah–tengah ke mistar A (belakang) dan ke mistar B (muka). 4. Disebabkan oleh rambu.3 Kesalahan–kesalahan pada sipat datar a. Disebabkan pengaruh sinar matahari langsung.4 Pengukuran Sipat Datar pengaruh posisi instrument sifat datar dan rambu- Gambar 78. Pengaruh lengkung bumi. Disebabkan rambu. jadi diluar garis AB. Pengukuran sipat datar .2. b. Pengaruh refraksi cahaya. Pembacaan yang dilakukan pada mistar yang diletakkan di atas titik A dan B sekarang adalah berrturutturut b dan m lagi. Disebabkan oleh petugas. 4. Kesalahan petugas. tetapi di sebelah kiri titik A atau disebelah kanan titik B. Alat ukur penyipat datar ditempatkan tidak diantara titik A dan B. dan misalkan pembacaaan pada dua mistar berturut-turut ada b (belakang) dan m (muka). Kesalahan Instrumen. Disebabkan oleh rambu. tidak pula di atas salah satu titik A atau titik B. bahwa beda tinggi t = b –a m. bahwa beda tinggi antara titik–titik A dan B ada t = b – m.2. sehingga digambar didapat dengan mudah.

mengoreksi KGB kgb ( BTbI BTm I ) ( BTbII BTm II ) (dbI dm I ) (db"II dmII ) (kesalahan garis bidik). BT. Koreksi Kgb = -Kgb. Cara meng-koreksi kesalahan acak BT benang tengah yang dianggap benar teropong BT = benang tengah yang dibaca dari (random error): Dilapangan kita peroleh bacaan BA. Jumlah slag pengukuran harus genap. Peluang untuk meng-koreksi kesalahan di slag ganjil dan genap lebih besar. b.kesalahan I = Kgb = sudut BT d BT lim kgb tan kgb 0 kgb BT d BT Dari lapangan kita peroleh jarak belakang x jarak muka. BB pada setiap slag (misalnya) n = genap. Koreksi = . Metode pengukuran rambu muka dan belakang dengan dua stand (dua kali alat berdiri). Gambar 79. c. a Eliminasi kesalahan sistematis karena kondisi dikoreksi alam. Eliminasi kesalahan jarak sistematis karena kondisi alam dapat dengan membuat belakang dan jarak muka hampir sama.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 99 Eliminasi kesalahan sistematis alat sipat datar dengan cara . Keterangan : Pembagian kesalahan setiap slag lebih rata. Pengukuran sipat datar rambu ganda .

Pengukuran sipat datar di luar slag rambu Gambar 80. Pengukuran sipat datar di luar slag rambu .4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 100 Gambar 80.

Pengukuran sipat datar menurun . Pengukuran sipat datar dua rambu Gambar 82.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 101 Gambar 81.

Pengukuran sipat datar tinggi bangunan .4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 102 Gambar 83. Pengukuran sipat datar menaik Gambar 84.

BB.4 Pengolahan data sifat datar kerangka dasar vertikal Hasil yang diperoleh dari praktek tinggi sama dengan nol jika jalur pengukur berawal dan berakhir pada titik yang sama. Menghitung total jarak ( pengukuran dengan semua jarak slag. 8. 3. Beda tinggi azimuth pengamatan . 6. 2.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 103 setiap slag harus memenuhi syarat beda 4. 7. Menghitung bobot koreksi setiap slag dengan membagi jarak slag dengan total jarak pengukuran. Penjumlahan beda tinggi awal setiap slag merupakan kesalahan acak beda tinggi yang harus dikoreksikan kepada setiap slag berdasarkan bobot tertentu. Perhitungan meliputi : Mengoreksi hasil ukuran Mereduksi hasil ukuran. jarak belakang dan jarak muka. Koreksi tinggi setiap slag dengan demikian diperoleh melalui negatif kesalahan acak beda tinggi dikalikan dengan jarak slag tersebut dan dibagi dengan total jarak seluruh slag. misalnya mereduksi jarak miring menjadi jarak mendatar dan lain-lain Menghitung matahari Menghitung koordinat dan ketinggian setiap titik. Mencari nilai kesalahan garis bidik. BT. Total bobot adalah jumlah jarak semua slag. Langkah-langkah dalam pengolahan data adalah sebagai berikut: 1. Menghitung tinggi titik-titik pengukuran (Ti) dengan cara menjumlahkan tinggi titik sebelumnya dengan tinggi titik koreksi yang hasilnya akan sama dengan nol. 5. Menghitung beda tinggi ( H) di setiap slag dari bacaan benang tengah koreksi belakang dan muka. Menghitung jarak ( d) setiap slag dengan menjumlahkan jarak belakang dan jarak muka. Sebagai bobot koreksi kita menggunakan jarak setiap slag yang merupakan penjumlahan jarak muka dan belakang. Beda tinggi awal suatu slag diperoleh melalui pengurangan benang tengah belakang koreksi dengan benang tengah muka koreksi. 4. ( d)) jalur menjumlahkan pengukuran sipat datar dan pengolahan data lapangan adalah tinggi pada titik-titik (patok-patok) yang diukur untuk keperluan penggambaran dalam pemetaan. Menghitung BT koreksi (BTk) di setiap slag. Menuliskan nilai BA.

4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 104 9. Jika tidak sama dengan nol maka pengolahan data harus diulangi dan diidentifikasi kembali letak kesalahannya. Konsep yang pertama kali mendekati untuk penyajian peta/ ( d) = Total Jarak dari penjumlahan d = Jarak muka = Jarak belakang jarak slag dengan total jarak pengukuran Ti = Tinggi titik-titik pengukuran. Bobot = Koreksi slag dengan membagi . Dengan penggambaran konvensional (manual). bobot) = H–( lapangan dengan di ukuran kertas yang ada. kemudian dibandingkan dengan luas lembaran yang tersedia. harus terlebih dahulu menentukan luas cakupan daerah yang akan dipetakan. Penggambaran digital lebih menguntungkan karena pada skala berapa pun peta/gambar digital dapat dikeluarkan tidak bergantung pada skala serta revisi data dari peta/ gambar digital lebih mudah dibandingkan dengan peta/ gambar konvensional. A1 dan A0. A2 dan sebagainya. direferensikan kertas yang digunakan adalah berukuran A2.db) = BTbk – BTmk = db + dm BTmk = BTm – (Kgb. kemudian tentukan skala dari peta yang akan digambarkan. Dalam hal ini untuk tugas praktikum Ilmu Ukur Tanah. maka tinggi titik-titik koreksif diperoleh dengan cara menjumlahkan tinggi titik awal terhadap beda tinggi koreksi slag secara berurutan. Dengan penggambaran digital. Apakah itu A0. Jika tinggi titik awal diketahui.5 Penggambaran sipat datar kerangka dasar vertikal Penggambaran (pemetaan) dapat dilakukan dalam bentuk konvensional (manual) dan digital. skala bukan menjadi masalah tetapi yang dipentingkan adalah masalah koordinat koordinat berbagai titik-titik itu macam dan untuk peta/ penggunaan mengintegrasikan = Ti awal + H Dimana : BTb BTm BTbk H Hk d dm db = Benang Tengah Belakang = Benang Tengah Muka = Benang Tengah Belakang = Beda Tinggi = Beda tinggi koreksi = Total jarak per-slag BTmk = Benang Tengah Muka gambar yang akan ditetapkan.dm) Bobot = Hk Ti d ( d) H . Setelah luas diperoleh berupa di perbandingan cakupan wilayah kerangka dasar vertikal : = BTb – (Kgb. A1. Rumus-rumus BTbk H d dalam pengukuran 4.

selokan. sungai. Unsur-unsur yang harus ada dalam dan rendahnya permukaan digunakan garis-garis tinggi atau tranches atau kontur yang menghubungkan titiktitik yang tingginya sama di atas permukaan bumi. Peta-peta/ gambar dalam bentuk digital dapat disajikan dalam bentuk hard copy atau cetakan print out dari hasil-hasil file komputer. 4. Tanda-tanda atau simbol-simbol yang digunakan adalah untuk menyatakan bangunan-bangunan yang ada di atas bumi seperti jalan raya. Muka peta sebaiknya memiliki ukuran estetik. Untuk dapat membayangkan bumi. Tidak dibatasi skala dalam penyajiannya. Legenda memiliki ruang di luar muka peta dan dibatasi oleh garis yang membentuk kotak-kotak. kelapa. Keuntungan-keuntungan dari penyajian gambar dalam bentuk digital adalah: 1. Skala peta Yaitu simbol yang menggambarkan perbandingan jarak di atas peta dengan jarak sesungguhnya di lapangan. soft copy atau dalam bentuk file serta dalam bentuk penyajian peta/ gambar digital di layar komputer. Dapat dan tidak analisis perlu spasial mengeluarkan banyak biaya. 3. melakukan (keruangan) secara mudah. tinggi maka (Computer Aided Design) atau suatu menyimpan disajikan koordinat-koordinat pula yang istilah mampu kemudian dalam bentuk grafis. rawa atau kampung. kemudian dikenal GIS (Geographical database Information System) yaitu suatu sistem mengaitkan dengan database atributnya yang sesuai. atau alang-alang.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 105 gambar database digital grafis adalah yang konsep CAD mengenai isi gambar. kereta api. kopi. Jika perlu melakukan revisi mudah dilakukan 5. perkebunan seperti: karet. 2. Murah dan akurasinya tinggi. padang rumput. untuk tiap macam pohon diberi tanda khusus. Muka peta Yaitu ruang yang digunakan untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik informasi vertikal maupun horizontal. Skala panjang agar dan lebar yang unsur proporsional memenuhi penggambaran hasil pengukuran pemetaan adalah : Legenda Yaitu suatu informasi berupa huruf. simbol dan gambar yang menjelaskan . Proses pembuatannya relatif cepat. Juga untuk bermacam-macam keadaan dan tanam-tanaman misalnya ladang.

dan arah utara grid koordinat proyeksi. misalnya: skala 1 : 25.000. dan skala grafis.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 106 peta terdiri dari: skala numeris. Orientasi arah utara ini dapat terdiri dari: arah utara geodetik. skala perbandingan. Tim pengukuran yang membuat peta Untuk mengetahui penanggung jawab pengukuran yang di lapangan akan dan penyajiannya di atas kertas. arah utara magnetis. Instalasi dan simbol instalasi ini akan informasi tema bagi yang instalasi mengenai biasanya yang dibandingkan dengan skala numeris dan skala perbandingan karena tidak dipengaruhi oleh muai kerut bahan dan peta.5 0 1 2 3 4 informasi mengenai kualifikasi personel yang terlibat. Skala peta grafis biasanya selalu disajikan numeris untuk untuk atau melengkapi skala skala adanya perbandingan perubahan ukuran penyajian mengantisipasi . Kilometer Skala grafis memiliki kelebihan Instalasi dan simbol Instalasi dan simbol yang memberikan pekerjaan dan melaksanakan pekerjaan pengukuran memberikan karakteristik diperlukan bersangkutan.000 atau skala 1 : 50. Skala garis grafis di peta di yaitu dan skala jarak yang yang melalui digunakan untuk menyatakan panjang diwakilinya lapangan informasi grafis. Sumber peta akan memberikan tingkat akurasi dan kualitas peta yang dibuat. 1 0. Orientasi arah utara Yaitu simbol berupa panah yang biasanya mengarah ke arah sumbu Y positif muka peta dan menunjukkan orientasi arah utara. dan pembuatan peta. Personel disajikan memberikan menyatakan perbandingan perkecilan yang ditulis dengan angka. Sumber gambar yang dipetakan Untuk mengetahui secara terperinci proses dan prosedur pembuatan peta. Skala numeris yaitu skala yang pembesaran dan perkecilan peta serta muai susut bahan peta.

Prosedur penggambaran untuk sipat datar kerangka dasar vertikal secara manual. Pembagian kertas seri A . A1 adalah setengah A0. Menghitung kumulatif jarak horizontal pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal. Perhitungan yang lebih besar dari SA0 adalah 2A0 atau dua kali ukuran A0. 3. Jadi. Peralatan yang harus disiapkan untuk berbeda dengan jangkauan Ukuran kertas yang digunakan untuk pencetakkan peta biasanya Seri A. Tinta. Pensil. yaitu : skala jarak mendatar kurang dari skala tinggi. 4. Penggaris 2 buah (segitiga atau lurus). Lembaran kertas milimeter dengan ukuran tertentu. A1 A3 A2 2. 5. karena jangkauan jarak mendatar memiliki ukuran yang signifikan tingginya. ikat yang lain. Setiap angka setelah huruf A menyatakan setengah ukuran dari angka sebelumnya.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 107 Ukuran kertas untuk penggambaran hasil pengukuran dan pemetaan terdiri dari : Tabel 4. A2 adalah seperempat dari A0 dan A3 adalah seperdelapan dari A0. sebagai berikut : 1. menggambar sipat datar kerangka dasar vertikal meliputi : 1. range beda tinggi pengukuran sipat datar kerangka dasar A4 3. Penghapus. Dasar ukuran adalah A0 yang luasnya setara dengan 1 meter persegi. 2. Menghitung vertikal. Gambar 85. Ukuran kertas untuk penggambaran hasil pengukuran dan pemetaan Ukuran Kertas A0 A1 A2 A3 A4 A5 Panjang (milimeter) 1189 841 594 420 297 210 Lebar (milimeter) 841 594 420 297 210 148 Penggambaran sipat datar kerangka dasar vertikal akan menyajikan unsur unsur: jarak mendatar titik datar ikat antara dengan titik-titik titik dasar penggambaran. tinggi titik-titik dan garis hubung antara satu Penggambaran secara manual pada sipat kerangka vertikal memiliki karakteristik. Menentukan ukuran kertas yang akan dipakai.

Membuat keterangan. Jika hasil perbandingan tidak menghasilkan nilai yang bulat. menggunakan pensil. Membuat tata letak peta. Penggambaran dengan AutoCad walaupun lebih sulit akan menghasilkan keluaran yang lebih sempurna dan sesuai dengan format yang diinginkan. Menetapkan skala jarak horizontal dengan membuat perbandingan panjang muka peta dengan kumulatif jarak horizontal dalam satuan yang sama. 5. 11. sumber peta.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 108 4. menggunakan pensil. 6. Menghitung panjang dan lebar muka. Menjiplak tinta. Menggambarkan merupakan pengukuran posisi dengan titik-titik tinggi yang hasil 10. Penggambaran perangkat lunak masing-masing draft penggambaran ke atas bahan yang transparan menggunakan berbeda akan memberikan hasil keluaran yang berbeda pula. sama. 7. nama instansi dan simbolnya. agar gambar yang diperoleh pada arah tertentu (terutama sumbu horizontal) memiliki interval sesuai dengan yang diinginkan. . menggunakan pensil. Untuk penggambaran menggunakan lotus atau excell yang harus diperhatikan adalah penggambaran grafik dengan metode scatter. meliputi muka peta dan ruang legenda. membuat skala. tim pengukuran.keterangan nilai tinggi dan jarak di dalam muka peta serta melengkapi informasi legenda. membuat skala beda tinggi dengan membuat perbandingan lebar muka peta dengan range beda tinggi dalam satuan yang yang bulat. 8. Membuat sumbu mendatar dan tegak yang titik pusatnya memiliki jarak tertentu terhadap batas muka peta. Untuk penggambaran sipat datar kerangka dasar atau vertikal secara digital dapat dengan yang menggunakan perangkat lunak lotus. maka Jika nilai hasil skala perbandingan tidak menghasilkan nilai dibulatkan ke atas dan memiliki nilai kelipatan tertentu. tidak memiliki interval yang sama. excell AutoCad. jarak-jarak tertentu serta menghubungkan titiktitik tersebut. maka nilai skala dibulatkan ke atas dan memiliki nilai kelipatan tertentu. 9. orientasi pengukuran.

db = 12 .69124 = . BTm = 1. dm = 12 Titik 4 : BTb = 1. dm = 12 4. dm = 14 Kgb = -0.863 .1.795 .675 . BTm = 1.14) = 1. BTb = 0. BTm = 0. H = BTbk-BTmk = 0. BTbk = BTb . dm = 14 Titik 7 : BTb = 0.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 109 Contoh Hasil Pengukuran Sipat Datar Kerangka Vertikal : Dari lapangan didapat .406 .438 . db = 15 .00116 ( d) = 238 H = 0.10504 = H-( = -0. dm = 31 Titik 5 : BTb = 2. BTm = 1. titik 1 merupakan titik awal dengan ketinggian +905 meter MSL.387 .491 . BTmk = BTm-(Kgb.02380 Jawab : 1. Bobot = TITIK 1 Diketahui : d ( d) 25 238 H. db = 13 . db = 8 . BTm = 1. db = 13 .417 .78748-(0. BTm = 0.bobot) = 0.90376 .675 db = 11 .11) = 0.78998 = 905 . HASIL PENGOLAHAN DATA Diketahui.(Kgb .675-(-0.dm) = 1. BTm = 2.78748 7.10504) = -0.891 .385 .02380.00116.801 . dm = 13 Titik 3 : BTb = 1. Hk = d = db+dm = 14+11 = 25 5. dm = 26 Titik 6 : BTb = 1. BTm = 1. Titik 1 : BTb = 0.753 . dm = 14 Titik 2 : BTb = 1.00116. dm = 7 Titik 8 : BTb = 0. db = 8 .891 -(-0.625 . sipat datar Kerangka Dasar Vertikal (KDV) tertutup dengan 8 slag. 0.0. db = 11 . db = 29 .418 .891 BTm = 1.155 .275 .69124 3. Ti 6.90376 2. db) = 0.

406 -(-0. 0.02380.dm) = 1.385 db=13 .13) = 1.45192 17. BTbk = BTb-(Kgb. BTmk = BTm-(Kgb.10924 13.00116 ( d)= 238 H=0.00116.438 -(-0.10084) = -0. T i = -0. BTbk = BTb-(Kgb.02380 Jawab : 8.02380 Jawab : 15.78748 11.00116. BTmk = BTm-(Kgb.03200 18.00116.bobot) = .10924) = 0.02380.69124 = -0.43208 9.db) = 1. d = db+dm = 13+13 = 26 12. Bobot = TITIK 3 Diketahui : BTb=1.41992 -1.02940 14. dm=12 Kgb=-0.10084 = H-( H. Bobot = d ( d) d ( d) = 26 238 H.13) = 1.12) = 1.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 110 TITIK 2 Diketahui : BTb=1. Hk = H-( = 0.dm) = 1.385 -(-0.03200-(0.21002-0.406 BTm=1. dm=13 Kgb=-0.02940 = 904.147 -(-0.0.21002 21.69124 10.45192 = .23942 .438 .43208 .41992 16. Hk = 24 238 = 0.1.03440 = 904.0.bobot) 20. H = BTbk-BTmk = 1. db=12 .(0.147 BTm=1.00116.12) = 1. H = BTbk-BTmk = 1.0. Ti = Ti1 + Hk1 = 905 .78748. 0.03440 = Ti2+ Hk2 = 904.db) = 1.00116 ( d)= 238 H=0. d = db+dm = 12+12 = 24 19.

50840 23.15) = 1.88598 = Ti4+ Hk5 = 904. Bobot = d ( d) = 33. BTbk = BTb-(Kgb.88598 = 905.db) = 1. Hk 55 238 H.02380 .387-(-0.23109 = H-( = 0.02380.89148-(0.30864-1.00116 ( d)= 238 H=0. BTmk = BTm-(Kgb.19328 27. Hk = H-( = 0. dm=31 Kgb=-0.26) = 1.23109) = 0.20502+0.0. BTmk = BTm-(Kgb. Ti = 0.23942+0.41716 = 0.00116. Ti = Ti3+ Hk4 = 904.29) = 2. H = BTbk-BTmk = 1.66096 = 0.84744 25.625-(-0.625 db=15 .89148 32.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 111 TITIK 4 Diketahui : BTb=1. 0.20502 35.491 BTm=0.dm) = 0.19328) = 0.491-(-0. H = BTbk-BTmk = 2.50840-0.275 BTm=1. d = db+dm = 15 +31 = 46 TITIK 5 Diketahui : BTb=2.00116.387 db=29 .275-(-0. BTbk = BTb-(Kgb. Bobot = d ( d) = 46 238 H.02380 Jawab : 29.30864 30.84284 28. dm=26 Kgb=-0.41716 31.bobot) = 0.02380 Jawab : 22.84284 = 904.dm) = 1.00116 ( d)= 238 H=0.66096 24.31) = 0.84744-(0.00116.04786 .bobot) 34.00116.db) = 2. d = db+dm = 29+26 = 55 26.

93384 49. H = BTbk-BTmk = 0.7) = 1. d = db+dm = 13+14 =27 40. Ti = Ti5+ Hk6 = 905.80912 45.37584. dm=14 Kgb=-0.801 -(-0.14) = 0. Hk = H-( = 1.06303 = H-( = -0.8) = 0.00116 ( d)= 238 H=0.863 -(-0.02380 Jawab : 36.795 BTm=0.11345 41.02380.801 db=8 .02380 Jawab : 43.13) = 1.1.00116. 0.db) = 0.00116.93684 46.93834 = Ti6+ Hk 7 = 905.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 112 TITIK 6 Diketahui : BTb=1. H = BTbk-BTmk = 1.80912 = -0.(0.00116 ( d)= 238 H = 0.87228 44.418 -(-0. Hk = 15 238 H.bobot) 48. Ti = 0.81008 37. BTbk = BTb-(Kgb.04786+1.43424 38. Bobot = TITIK 7 Diketahui : BTb = 0.418 db=13 .37314 42.(-0. d = db+dm = 8+7 = 15 47.dm) = 0. 0.37314 = 905. dm=7 Kgb=-0. Bobot = d ( d) d ( d) = 27 238 H.00116.37584 39.87228.863 BTm=1.02380.30698 .93384+(-0.93684-(0.00116.bobot) = 0.81008-0.93834) = 907.06303) = -0.dm) = 1.db) = 1. BTmk = BTm-(Kgb.11345) = 1.795 . BTmk = BTm-(Kgb.43424 = 1. BTbk = BTb-(Kgb.

Ti = Ti7+ Hk8 = 907.02380.00116 ( d)= 238 H=0.80228 51. Bobot = d ( d) = 20 238 H.2.08403 55. Hk = H-( = -1. H = BTbk-BTmk = 0.bobot) = 0.3686 .793 BTm=2.08403) = -1.8) = 0.155 db=8 .80228 .36864) = 906.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 113 TITIK 8 Diketahui : BTb=0.793-(-0. d = db+dm = 8+12 = 20 54.16892 = -1. BTmk = BTm-(Kgb. BTbk = BTb-(Kgb.db) = 0. 0.30698+(-1.155 -(-0.00116.36864 56.12) = 2.02380 Jawab : 50.36664 53.36664-(0.dm) = 2. dm=12 Kgb=-0.16892 52.00116.

Lembar Cuaca Alat Ukur Instruktur Beda Tinggi dari Muka Atas Bawah Tengah + - Tinggi Titik Ket .4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 114 Tabel 5. Formulir pengukuran sipat datar PENGUKURAN SIPAT DATAR Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan Pengukuran Lokasi Diukur Oleh Bacaan Benang Belakang Stand Tengah Atas Bawah Tanggal Jarak Belakang Muka Total No.

605 1.801 0.352 1.891 1.320 1.420 2.566 1.417 1.20502 805.346 1.860 1.03200 No.466 1.23942 904.793 Atas Bawah 0.30698 906.155 1.625 1.095 Tengah 1.946 0.36664 0.03200 0.745 1.348 1.498 1.04786 905.863 0.Lembar Cuaca Alat Ukur Instruktur Beda Tinggi dari Muka Atas Bawah 1.766 2.836 1.215 2.730 0.836 1.450 1.780 0.488 0.93684 1. Formulir pengukuran sipat datar PENGUKURAN SIPAT DATAR Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan Pengukuran Lokasi Diukur Oleh Bacaan Benang Belakang Stand Tengah 1 2 3 4 5 6 7 8 0.482 1.387 0.406 1.823 0.378 0.385 Tanggal Jarak Belakang 11 13 12 15 29 13 8 8 Muka 14 13 12 31 26 14 7 12 Total 25 26 24 46 55 27 15 20 0.36864 Ket 238 .37584 0.416 2.21002 904.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 115 Tabel 6.903 0.89148 1.753 2.795 0.84744 0.275 1.517 1.470 1.130 1.491 2.257 0.78748 Tinggi Titik 905 904.93384 907.418 1.833 0.675 + 0.438 1.

ISKANDAR DR. MT MATA KULIAH TS 241 PRAKTIK ILMU UKUR TANAH JUDUL GAMBAR PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL PENGUKURAN KERANGKA DASAR VERTIKAL LOKASI GEDUNG OLAH RAGA Gambar 86. DRS.116 CATATAN U INSTITUSI PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL . H.S1 FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2007 LEGENDA SIPAT DATAR OPTIS POHON BATAS JALAN BACAAN BENANG DOSEN 4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal DR. IR. H. DRS. IR. Pengukuran kerangka dasar vertikal . ISKANDAR MUDA PURWAAMIJAYA.

Pengolahan Data : Koreksi bacaan benang tengah dengan hasil kali koreksi garis bidik dan jarak. Alat sipat datar didirikan sekitar tengah-tengah slag atau dibuat jumlah jarak belakang ~ jumlah jarak muka. MT Model Diagram Alir Ilmu Ukur Tanah Pertemuan ke-04 Model Diagram Alir Pengukuran Sipat Datar Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal Kerangka Dasar Vertikal Maksud : Pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan banyak Tujuan : Memperoleh informasi tinggi yang akurat untuk menyajikan informasi yang lebih kompleks (garis kontur) Referensi tinggi : diperoleh dengan cara pengamatan pasut pada selang waktu tertentu di tepi pantai untuk memperoleh tinggi muka air laut rata-rata atau mean sea level (MSL) Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal Eliminasi kesalahan sistematis : Melakukan pengukuran sipat datar dalam posisi 2 stand (2 kali berdiri alat) untuk memperoleh nilai kesalahan garis bidik (kemungkinan terungkitnya garis bidik ke atas/bawah akibat keterbatasan pabrik membuat alat betul-betul presisi) Pengaturan awal alat sipat datar : Mengatur garis bidik // sumbu II teropong dengan mengetengahkan gelembung nivo kotak (menggerakkan 2 sekrup kaki kiap ke dalam/ luar dan 1 sekrup kaki kiap ke kanan/kiri) . Rambu ukur didirikan di atas patok-patok pengukuran. Rambu ukur diatur tegak lurus permukaan tanah dan dibaca. Perhitungan beda tinggi dan tinggi definitif yang telah dikoreksi kesalahan acak. Pengukuran jarak belakang & muka. Perhitungan kesalahan acak.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 117 Dosen Penanggung Jawab : Dr. Mengatur sumbu I tegak lurus sumbu II teropong dengan mengetengahkan gelembung nivo tabung. Pengukuran di lapangan : Persiapan sketsa/peta jalur pengukuran dan rencana pematokan dengan jumlah slag genap. Persiapan patok-patok pengukuan. Perhitungan bobot koreksi dari rasio jarak slag terhadap total jarak pengukuran.Ir. Survei awal dan pematokan. Perhitungan beda tinggi koreksi kesalahan sistematis. Distribusi kesalahan acak ke setiap slag dengan bobot koreksi. Diagram alir pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal .Drs. Pembacaan rambu ukur belakang dan muka.H.Iskandar Muda Purwaamijaya. Gambar 87. Penggambaran jalur pengukuran dengan skala vertikal > skala horisontal.

e. 3. Sekrup pengunci (untuk mengunci gerakan teropong kekanan/ kiri). g. alat sipat datar optis. d. b. i. e. payung. Pengukuran menggunakan sipat datar optis adalah pengukuran tinggi garis bidik alat sipat datar di lapangan melalui rambu ukur. c. h. 4. digunakan untuk menegakan sumbu kesatu (sumbu tegak) teropong. 2. Peralatan yang digunakan pada pengukuran sipat datar optis adalah : a. unting-unting. Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal maksudnya adalah pembuatan serangkaian titik-titik di lapangan yang diukur ketinggiannya melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik–titik lain yang lebih detail dan banyak. statif. . Lensa okuler (untuk memperjelas benang).4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 118 Rangkuman Berdasarkan uraian materi bab 4 mengenai pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal. pita ukur g. d. patok. Nivo tabung berfungsi mengatur agar garis bidik mendatar. rambu ukur 2 buah. Statif (tripod) berfungsi untuk menyangga ketiga bagian tersebut di atas. Lensa objektif/ diafragma (untuk memperjelas benda/ objek). f. f. Kiap (leveling head/base plate). Vizir (untuk mencari/ membidik kasar objek). maka dapat disimpulkan sebagi berikut: 1. b. Tujuan pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal adalah untuk memperoleh informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan sedemikian rupa sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah sebagai informasi yang layak kompleks. Bagian utama pada Alat sipat datar optis adalah a. Teropong untuk membidik rambu (menggunakan garis bidik) dan memperbesar bayangan rambu. 5. Sekrup penggerak halus (untuk membidik sasaran). c.

780 Slag : 1 db = 25. Jelaskan bagaimana prosedur pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal ! 3. Apa sajakah keuntungan-keuntungan dari penggambaran dalam bentuk digital ! 4.5 Slag : 1 db = 32.558 Slag : 4 ( D –A) BTb = 1.775 BTm = 1. C dan D) dan tinggi titik Ti (awal) = + 777 meter HSL.55 .5 dm = 34.5 Slag : 1 db = 27. Jelaskan peralatan dan bahan-bahan apa sajakah yang digunakan pada pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal! 2.95 Slag : 1 db = 26.658 Slag : 2 ( B –C) BTb = 1. Jelaskan bagaimana prosedur pengolahan data pada pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal ! 5.4 Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal 119 Soal Latihan Jawablah pertanyaan-pertanyaan di abwah ini ! 1.886 Slag : 3 ( C –D) BTb = 1.890 BTm = 1.08 dm = 25.675 BTm = 1. B. Slag : 1 ( A –B) BTb = 1.568 BTm = 1.5 dm = 26. Diketahui pengukuran sipat datar dengan 4 slag (A.5 dm = 25.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->