Pelaksanaan Akad dan Akibat Hukum Perjanjian : WANPRESTASI, SANKSI, GANTI KERUGIAN DAN KEADAAN MEMAKSA 1.

Wanprestasi Suatu perjanjian dapat terlaksana dengan baik apabila para pihak telah memenuhi prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada pihak yang dirugikan. Tetapi adakalanya perjanjian tersebut tidak terlaksana dengan baik karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak atau debitur. Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang artinya prestasi buruk. Adapun yang dimaksud wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian[1] dan bukan dalam keadaan memaksa. Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi yaitu:[2] 1) Tidak memenuhi prestasi sama sekali; Sehubungan dengan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali. 2) Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya; Apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya. 3) Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru. Debitur yang memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali. Sedangkan menurut Subekti, bentuk wanprestasi ada empat macam yaitu[3]: 1) Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan; 2) Melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya; 3) Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat; 4) Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan. Untuk mengatakan bahwa seseorang melakukan wanprestasi dalam suatu perjanjian, kadangkadang tidak mudah karena sering sekali juga tidak dijanjikan dengan tepat kapan suatu pihak diwajibkan melakukan prestasi yang diperjanjikan. Dalam hal bentuk prestasi debitur dalam perjanjian yang berupa tidak berbuat sesuatu, akan mudah ditentukan sejak kapan debitur melakukan wanprestasi yaitu sejak pada saat debitur berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam perjanjian. Sedangkan bentuk prestasi debitur yang berupa berbuat sesuatu yang memberikan sesuatu apabila batas waktunya ditentukan dalam perjanjian maka menurut pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap melakukan wanprestasi dengan lewatnya batas waktu tersebut. Dan apabila tidak ditentukan mengenai batas waktunya maka untuk menyatakan seseorang debitur melakukan wanprestasi, diperlukan surat peringatan tertulis dari kreditur yang diberikan kepada debitur. Surat peringatan tersebut disebut dengan somasi. Somasi adalah pemberitahuan atau pernyataan dari kreditur kepada debitur yang berisi ketentuan bahwa kreditur menghendaki pemenuhan prestasi seketika atau dalam jangka waktu seperti yang ditentukan dalam pemberitahuan itu. Menurut pasal 1238 KUH Perdata yang menyatakan bahwa: “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatan sendiri, ialah jika ini menetapkan bahwa si berutang harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”.[4] Dari ketentuan pasal tersebut dapat dikatakan bahwa debitur dinyatakan wanprestasi apabila sudah ada somasi (in gebreke stelling). Adapun bentuk-bentuk somasi menurut pasal 1238 KUH Perdata adalah:[5] 1) Surat perintah

Dengan surat penetapan ini juru sita memberitahukan secara lisan kepada debitur kapan selambat-lambatnya dia harus berprestasi. 4. Dalam keadaan tertentu somasi tidak diperlukan untuk dinyatakan bahwa seorang debitur melakukan wanprestasi yaitu dalam hal adanya batas waktu dalam perjanjian (fatal termijn).Surat perintah tersebut berasal dari hakim yang biasanya berbentuk penetapan. 2. yaitu: a) Mengajukan tuntutan adanya keadaan memaksa (overmach). Bila peristiwa A menurut pengalaman manusia yang normal diduga mampu menimbulkan akibat (peristiwa B). atau kerugian yang sungguh-sungguh menimpa benda si berpiutang (schaden). 3) Peralihan resiko. b) Mengajukan alasan bahwa kreditur sendiri telah lalai. 3. Hal ini biasa disebut “exploit juru Sita” 2) Akta sejenis Akta ini dapat berupa akta dibawah tangan maupun akta notaris. Dari kedua teori diatas maka yang lazim dianut adalah teori Adequated Veroorzaking karena pelaku hanya bertanggung jawab atas kerugian yang selayaknya dapat dianggap sebagai akibat dari perbuatan itu disamping itu teori inilah yang paling mendekati keadilan. Keadaan Memaksa (overmach) . debitur mengakui dirinya wanprestasi. tidak hanya biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan (kosten). Seorang debitur yang dituduh wanprestasi dapat mengajukan beberapa alasan untuk membela dirinya. Sanksi Apabila debitur melakukan wanprestasi maka ada beberapa sanksi yang dapat dijatuhkan kepada debitur. Berkaitan dengan hal ini ada dua sarjana yang mengemukakan teori tentang sebabakibat yaitu:[8] a) Conditio Sine qua Non (Von Buri) Menyatakan bahwa suatu peristiwa A adalah sebab dari peristiwa B (peristiwa lain) dan peristiwa B tidak akan terjadi jika tidak ada pristiwa A b) Adequated Veroorzaking (Von Kries) Menyatakan bahwa suatu peristiwa A adalah sebab dari peristiwa B (peristiwa lain). prestasi dalam perjanjian berupa tidak berbuat sesuatu. Ganti Kerugian Penggantian kerugian dapat dituntut menurut undang-undang berupa “kosten. tetapi juga berupa kehilangan keuntungan (interessen). Dalam perkembangannya. yaitu[6]: 1) Membayar kerugian yang diderita kreditur. 3) Tersimpul dalam perikatan itu sendiri Maksudnya sejak pembuatan perjanjian. schaden en interessen” (pasal 1243 dsl) Yang dimaksud kerugian yang bisa dimintakan penggantikan itu. yaitu keuntungan yang didapat seandainya siberhutang tidak lalai (winstderving). c) Mengajukan alasan bahwa kreditur telah melepaskan haknya untuk menuntut ganti rugi. 2) Pembatalan perjanjian. suatu somasi atau teguran terhadap debitur yang melalaikan kewajibannya dapat dilakukan secara lisan akan tetapi untuk mempermudah pembuktian dihadapan hakim apabila masalah tersebut berlanjut ke pengadilan maka sebaiknya diberikan peringatan secara tertulis.[7] Bahwa kerugian yang harus diganti meliputi kerugian yang dapat diduga dan merupakan akibat langsung dari wanprestasi. 4) Membayar biaya perkara apabila sampai diperkarakan dimuka hakim. artinya ada hubungan sebab-akibat antara wanprestasi dengan kerugian yang diderita. kreditur sudah menentukan saat adanya wanprestasi.

ganti kerugian serta adanya keadaan memaksa. atau barang rusak dalam perjalanan. maka perikatan bekerja kembali. atau menurut perjanjian harus diserahkan kerumah pembeli pada waktu tertentu. sehingga jika A harus memenuhi prestasinya ia akan menjadi miskin. debitur hanya dapat mengemukakan tentang keadaan memaksa. Dalam hal ini ajaran subyektif mengakui adanya keadaan memaksa. jika debitur karena keadaan memaksa tidak memberi atau berbuat sesuatu yang diwajibkan atau telah melakukan perbuatan yang seharusnya ia tidak lakukan. Dalam kasus-kasus seperti ini resikonya adalah gantirugi dari pihak yang lalai. Setelah keadaan memaksa itu hilang. yaitu teori obyektif dan teori subjektif: Menurut teori obyektif. atau barang yang diserahkan tidak sesuai dengan contoh yang disetujui. DR. M. tanpa diduga bahan-bahan tersebut harganya naik berlipat ganda.Debitur yang tidak dapat membuktikan bahwa tidak terlaksanya prestasi bukan karena kesalahannya. . Apabila barang itu bukan milik penjual. Sedangkan keadaan memaksa yang bersifat sementara berlakunya perikatan ditunda. Apabila dalam pengantaran barang terjadi kerusakan (sengaja atau tidak). Prof. yang menghalangi debitur untuk memenuhi prestasinya. jika pemenuhan prestasi bagi setiap orang mutlak tidak mungkin dilaksanakan. Mengenai keadaan memaksa ada dua teori. penyerahan sebuah rumah tidak mungkin dilaksanakan karena rumah tersebut musnah akibat bencana tsunami. berikut ini disajikan pemikiran salah satu ahli fiqh muamalat Indonesia. Sebaliknya debitur bebas dari kewajiban membayar gantirugi. sehingga tidak sesuai dengan perjanjian dan dilakukan dengan unsur kesengajaan. Menurut teori subyektif terdapat keadaan memaksa jika debitor yang bersangkutan mengingat keadaan pribadinya tidak dapat memenuhi prestasinya. tetapi ternyata tidak diantarkan dan atau tidak tepat waktu. diwajibkan membayar gantirugi. Jika bersifat tetap maka berlakunya perikatan berhenti sama sekali. Wanprestasi. Keadaan memaksa dapat bersifat tetap dan sementara. 5. b) Debitor tidak lagi dapat dinyatakan wanprestasi. Hukum Islam dalam cabang fiqh muamalahnya juga mengakui/mengakomodir wanprestasi. barang yang akan diserahkan diluar kesalahan debitur terbakar musnah. d) Kreditor tidak dapat menuntut pembatalan pada persetujuan timbal-balik. larangan untuk mengirimkan suatu barang dicabut atau barang yang hilang ditemukan kembali.[10] Untuk kelalaian itu ada resiko yang harus ditanggung oleh pihak yang lalai. baik ketika akad berlangsung maupun pada saat pemenuhan prestasi. atau barang yang dibawa tidak sesuai dengan contoh yang disepakati maka barang tersebut harus diganti. dimana barang-barang tersebut masih harus dibuat dengan bahanbahan tertentu. pihak penjual juga harus membayar ganti rugi. bentuk-bentuk kelalaian itu menurut ulama. diantaranya pada akad Bay’barang yang dijual bukan milik penjual (misal barang wadiah atau ar-rahn). sanksi. Apabila kelalaian berkaitan dengan keterlambatan pengantaran barang. c) Resiko tidak beralih kepada debitor. Keadaan memaksa menghentikan bekerjanya perikatan dan menimbulkan berbagai akibat yaitu:[9] a) Kreditur tidak dapat lagi memintai pemenuhan prestasi. maka ia harus membayar ganti rugi terhadap harga yang telah ia terima. Keadaan memaksa adalah suatu keadaan yang terjadi setelah dibuatnya perjanjian. A pemilik industri kecil harus menyerahkan barang kepada B. dimana debitur tidak dapat dipersalahkan dan tidak harus menanggung resiko serta tidak dapat menduga pada waktu persetujuan dibuat. Akan tetapi jika menyangkut industri besar maka tidak terdapat keadaan memaksa. Misalnya. atau barang tersebut hasil curian. Misalnya. H.A. Ganti Kerugian dan Keadaan Memaksa dalam Perspektif Fiqh Muamalah Dalam perjanjian/akad dapat saja terjadi kelalaian. Nasrun Haroen. Misalnya. Sanksi. Misalnya. dan karenanya tidak wajib membayar ganti rugi.

hal. cet. Alasannya adalah.18 [3] Subekti. Sumber. hal. (Jakarta: Intermasa. cet.25 [7] Subekti. tidak boleh mencampur adukan antara keduanya karena akan menimbulkan kekeliruan posita yang pada akhirnya akan mengaburkan tujuan dari gugatan itu sendiri. Apa Bedanya ? Diposkan oleh NM. 2005 R. Cit. Pokok-Pokok Hukum Perjanjian. dan Islam mengapresiasi orang yang memberi kelapangan dalam pembayaran hutang. Pokok-Pokok Hukum Perdata. seorang debitur yang tidak memenuhi pembayaran hutang tepat waktu. Hukum Perjanjian. 1999). cet. 148 [8] Nindyo Pramono. Januari 09. 2005). Segala kerugian baik terjadi sebelum maupun sesudah akad maka ditanggung resikonya oleh pihak yang menimbulkan kerugian. Hukum Perjanjian. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. SH Jumat. Daftar Pustaka Haroen. Pokok-Pokok Hukum Perdata. 2. 2000 Pramono. cet. suatu sebab yang tidak terlarang. . (Jakarta: Intermasa. Op. Nindyo.23 [9] R.com/2008/03/20/wanprestasi-sanksi-ganti-kerugian-dan-keadaan-memaksa/ Wanprestasi dan Perbuatan Melawan Hukum . asalkan orang tersebut telah berbuat maximal untuk memenuhi prestasinya. 36. suatu pokok persoalan tertentu. WAHYU KUNCORO. yang secara harfiah berarti jaminan atau tanggungan. Jakarta: Intermasa. Cit. 2009 Formalitas Gugatan Kerap ditemukan dalam suatu gugatan dimana Penggugat terlihat bingung membedakan antara posita Wanprestasi dengan posita perbuatan melawan hukum. 323 [5]Nindyo Pramono.22 [6] Ibid. 1. Setiawan. Ada beberapa perbedaan yang sangat prinsipil antara wanprestasi dengan perbuatan melawan hukum. tidak dipenuhinya prestasi sama sekali. (Jakarta: Gaya Media Pratama. Nasrun. Fiqh Muamalah. hal. 1985 Subekti. 1999 [1] Nindyo Pramono. Pradnya Paramita. (Jakarta: Putra Abadin. 2000). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jakarta: Pusat Penerbitan UT. 2. jelas merupakan pelanggaran hak kreditur. Op. 27-28 [10] Nasrun Haroen. Hukum Komersil. seperti : a.22-2. Artinya untuk mendalilkan suatu subjek hukum telah wanprestasi. perlu dipenuhi empat syarat: kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya.wordpress. 1. Jakarta: Intermasa. Fiqh Muamalah. 1985) [4] Subekti. 2. Akan tetapi dalam keadaan memaksa fiqh Islam tidak menghukumi orang yang berbuat tanpa disengaja dan tidak menghendaki perbuatan lalai tersebut. Setiawan. hal. 32. 6. cet. Pentingnya adh-dhaman dalam perjanjian agar dalam akad yang telah disetujui kedua belah pihak tidak terjadi perselisihan. Cit. Op. Hukum Komersil. 120-121 http://yogiikhwan. harus ada lebih dahulu perjanjian antara kedua belah pihak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUHPerdata : “Supaya terjadi persetujuan yang sah. Ulama mengatakan adakalanya adh-dhaman berupa barang atau uang. hal. 2003).Ganti kerugian dalam akad muamalah dikenal dengan adh-dhaman. (Jakarta: Pusat Penerbitan UT. Jakarta." Wanprestasi terjadi karena debitur (yang dibebani kewajiban) tidak memenuhi isi perjanjian yang disepakati. Wanprestasi timbul dari persetujuan (agreement). (Jakarta. 2005). 2. 2003 Subekti. Anggapan seperti ini sekilas benar adanya namun ketika akan dituangkan dalam bentuk gugatan tertulis. Setiawan. Pradnya Paramita. Perbedaan prinsipil tersebut adalah : 1.. Jakarta: Purta Abadin. kecakapan untuk membuat suatu perikatan.21 [2] R.. 2005 Subekti. Umumnya mereka beranggapan bahwa wanprestasi merukan bagian dari perbuatan melawan hukum (genus spesifik). hal. Pokok-Pokok Hukum Perjanjian. Jakarta: Gaya Media Pratama.

c. Artinya. tidak layak memenuhi prestasi yang dijanjiakan. “biaya. yang boleh dituntut kreditur. Dari 2 kriteria tersebut. saat itu juga pihak yang dirugikan langsung dapat menuntutnya (action. Dalam perbuatan melawan hukum. perhitungan ganti rugi dihitung sejak saat terjadi kelalaian. Sementara. bukan karena perjanjian yang berdasarkan persetujuan dan perbuatan melawan hukum merupakan akibat perbuatan manusia yang ditentukan sendiri oleh undang-undang. Sekali timbul perbuatan melawan hukum. Timbulnya hak menuntut. unlawfull). 186 K/Sip/1959 tanggal 1 Juli 1959 yang menyatakan : “apabila perjanjian secara tegas menentukan kapan pemenuhan perjanjian. Dalam hal terdapat kedua kesalahan (delik pidana sekaligus kesalahan perdata) maka sekaligus pula dapat dituntut hukuman pidana dan pertanggung jawaban perdata (civil liability). Jika debitur lalai untuk menyerahkan barang yang bersangkutan. 2. Dapat juga diperhitungkan jumlah ganti rugi berupa pemulihan kepada keadaan . tuntutan ganti rugi sesuai dengan ketentuan pasal 1265 KUHPerdata. yakni perbuatan manusia yang sesuai dengan hukum (rechtmagitg. Hal ini sebagaimana dimaksud Pasal 1352 KUHPerdata : "Perikatan yang lahir karena undang-undang. dalam perbuatan melawan hukum. perbuatan melawan hukum semata-mata berasal dari undang-undang. semenjak perikatan dilakukan. Hal ini sebagaimana dimaksud pasal 1243 KUHPerdata yang menyatakan “Perikatan ditujukan untuk memberikan sesuatu. atau untuk tidak berbuat sesuatu” atau jika ternyata dalam perjanjian tersebut terdapat klausul yang mengatakan debitur langsung dianggap lalai tanpa memerlukan somasi (summon) atau peringatan. indemnification) Pada wanprestasi. maka barang itu. timbul dari undang-undang sebagai undang-undang atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang". hak menuntut dapat dilakukan tanpa diperlukan somasi. Perbuatan melawan hukum lahir karena undang-undang sendiri menentukan. kita akan mendapatkan apakah bentuk perbuatan melawan hukum tersebut berupa pelanggaran pidana (factum delictum). menurut hukum. Pasal 1246 KUHPerdata menyatakan. lawfull) atau yang tidak sesuai dengan hukum (onrechtmatig.b. ingeberkestelling). Berdasarkan pasal 1246 KUHPerdata tersebut. barang itu menjadi tanggungan kreditur sejak perikatan lahir. Ada 2 kriteria perbuatan melawan hukum yang merupakan akibat perbuatan manusia. Pada wanprestasi diperlukan lebih dahulu suatu proses. terdiri atas kerugian yang telah dideritanya dan keuntungan yang sedianya dapat diperolehnya”. Dengan demikian. ganti rugi dan bunga. tidak perlu menyebut ganti rugi bagaimana bentuknya. menjadi tanggungannya”. inter pellatio. tidak perlu perincian. tidak tepat waktu dipenuhinya prestasi. Hal ini diperkuat yurisprudensi Mahkamah Agung No. kesalahan perdata (law of tort) atau betindih sekaligus delik pidana dengan kesalahan perdata. Dengan demikian kiranya dapat dipahami bahwa ganti rugi dalam wanprestasi (injury damage) yang dapat dituntut haruslah terinci dan jelas. untuk berbuat sesuatu. seperti Pernyataan lalai (inmorastelling. 3. Tuntutan ganti rugi (compensation. negligent of expression. Hal ini sebagaimana diatur Pasal 1237 KUHPerdata. tuntutan ganti rugi didasarkan pada hitungan objektif dan konkrit yang meliputi materiil dan moril. claim. penghitungan ganti rugi harus dapat diatur berdasarkan jenis dan jumlahnya secara rinci seperti kerugian kreditur. dalam wanprestasi. debitur belum dapat dikatakan alpa memenuhi kewajiban sebelum hal itu dinyatakan kepadanya secara tertulis oleh pihak kreditur”. keuntungan yang akan diperoleh sekiranya perjanjian tesebut dipenuhi dan ganti rugi bunga (interst). rechtvordering). “Pada suatu perikatan untuk memberikan barang tertentu.

herstel in de oorpronkelijke toestand. 3. Kontrak Terima Jadi / Turn Key. Adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari 1 ( satu ) tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN. Gubernur untuk pengadaan yg . Kontrak Unit Price / Harga Satuan.html KONTRAK PROYEK Terkait dengan posting sebelumnya perihal pengertian Dokumen Pelaksanaan Proyek (DPP). seperti : Putusan Mahkamah Agung No. Adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi dibidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu. Adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa 1 (satu) tahun anggaran 2. Berdasarkan Bentuk Imbalan : 1. Putusan Mahkamah Agung No. “soal besarnya ganti rugi pada hakekatnya lebih merupakan soal kelayakan dan kepatutan yang tidak dapat didekati dengan suatu ukuran”. Kontrak Lumpsum. Kontrak Cost & Fee. Berdasarkan Jangka Waktu Pelaksanaan : 1. b. Kontrak Gabungan / Lumpsum dan Unit Price. Adalah kontrak pengadaan barang / jasa untuk penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu. Adalah kontrak pengadaan barang / jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu berdasarkan harga satuan yg pasti & tetap untuk setiap satuan pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu. 2. Kontrak Tahun Jamak. Kontrak Tahun Tunggal. peralatan & jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yg telah ditetapkan. dengan jumlah harga kontrak yang pasti dan tetap. Adalah kontrak pengadaan barang / jasa pemborongan atas EPC (Engineering Proquirement & Consctruction) penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti & tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi. PENGERTIAN & PERBEDAAN TYPE KONTRAK a.semula (restoration to original condition. menyatakan. Pembayaran kepada penyedia jasa / kontraktor pelaksanaan berdasarkan hasil pengukuran bersama terhadap volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan.blogspot. 6. dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut. 5.com/2009/01/wanprestasi-dan-perbuatan-melawan-hukum. 196 K/ Sip/ 1974 tanggal 7 Oktober 1976 menyatakan “besarnya jumlah ganti rugi perbuatan melawan hukum. Adalah kontrak pelaksanaan jasa pemborongan mulai dari proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan konstruksi fisik yang dilaksanakan oleh Penyedia Jasa satu kontrak yang sama. Kontrak Design & Built. http://advokatku. Kontrak Persentase. A. yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara. Adalah kontrak yang merupakan gabungan lumpsum & harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan 4. disini saya akan tulis perihal pengertian & macam-macam kontrak proyek. 7. Adalah kontrak pelaksanaan pengadaan barang / jasa pemborongan dimana kontraktor yang bersangkutan menerima imbalan jasa yg nilainya tetap disepakati oleh kedua belah pihak. 1226 K/Sip/ 1977 tanggal 13 April 1978. Meskipun tuntutan ganti rugi tidak diperlukan secara terinci. diperpegangi prinsip Pasal 1372 KUHPerdata yakni didasarkan pada penilaian kedudukan sosial ekonomi kedua belah pihak”. serta semua resiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa atau kontraktor pelaksana. herstel in de vorige toestand). beberapa yurisprudensi Mahkamah Agung membatasi tuntutan besaran nilai dan jumlah ganti rugi.

Jenis pekerjaan dengan Budget tertentu yang terdiri dari Jenis pekerjaan dengan Budget tertentu yg terdiri dari banyak sekali Jenis / item pekerjaan atau Multi Paket Pekerjaan yang sangat beresiko bagi Pemberi tugas atas terjadinya “unpredictable cost” seperti misalnya adanya claim kontraktor akibat adanya ketidak-sempurnaan dari Batasan Lingkup Pekerjaan. • Adanya perubahan gambar / spesifikasi teknis dari Perencana yang sudah disetujui oleh Pemberi Tugas • Adanya instruksi tertulis dari pengawas lapangan untuk menyempurnakan suatu jenis pekerjaan tertentu yg dipastikan bahwa sangat beresiko secara struktural atau system tidak berfungsi tanpa adanya penyempurnaan tersebut dimana hal tersebut sebelumnya belum dinyatakan dalam spesifikasi teknik. Kontrak Pengadaan Tunggal. 2. Berdasarkan Jumlah Pengguna Barang/Jasa : 1. Kontrak Lumpsum. Apabila ada perbedaan lingkup pekerjaan antara yg tercantum dalam Spesifikasi Teknis / Gambar dengan Pekerjaan yang akan dilelangkan. Gambar lelang. B. 6. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan system kontrak Lumpsum adalah : 1. Spesifikasi teknis. saat rapat penjelasan lelang (Aanwijzing) harus ditegaskan bahwa apabila terdapat perbedaan antara volume pada Bill of Quantity (BQ) dengan hasil perhitungan peserta lelang maka peserta lelang tidak boleh merubah volume Bill of Quantity yg diberikan dan agar menyesuaikannya dalam harga satuan yg diajukan 5. Pekerjaan tambah/kurang terhadap nilai kontrak yg ada hanya boleh dilakukan apabila : • Permintaan dari Pemberi Tugas untuk menambah / mengurangi pekerjaan yang instruksinya dilakukan secara tertulis. i. Bupati / Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten / Kota. Dengan system kontrak ini diharapkan dapat meminimalize tejadinya unpredictable cost tersebut karena harga yg mengikat adalah Total Penawaran Harga (Volume yang tercantum dalam daftar kuantitas / Bill of Quantity bersifat tidak mengikat). Dalam perhitungan volume pekerjaan yg akan dicantumkan & Bill of Quantity harus dihindari sampai sekecil mungkin kesalahan yang mungkin terjadi. APLIKASI SETIAP TYPE KONTRAK. Implikasi/penyimpangan yang sering dilakukan oleh Kontraktor di lapangan : . Batasan lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan harus jelas dinyatakan dalam Spesifikasi Teknis / Gambar Lelang. • Dalam perhitungan biaya tambah/kurang harga satuan yang digunakan harga satuan pekerjaan yang tercantum dalam Bill of Quantity kontrak yang bersifat mengikat. Untuk mempermudah dalam hal evaluasi penawaran harga. Jenis pekerjaan borongan yang perhitungan volumenya untuk masing-masing unsur/jenis item pekerjaan sudah dapat diketahui dengan pasti berdasarkan gambar rencana & spek teknisnya. atau Bill of Quantity yang ada. harus dijelaskan dalam Rapat Penjelasan Lelang (Aanwijzing) dan dibuat Addendum Dokumen Lelang yang menjelaskan perubahan lingkup pekerjaan tersebut. 2. 2. Sistem Kontrak Lumpsum ini lebih tepat digunakan untuk : 1. Adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang / jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yg jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan dalam kesepakatan bersama. Penggunaan Daftar Kuantitas/Bill of Quantity dalam pelelangan hanya digunakan sebagai acuan bagi kontraktor dalam mengajukan penawaran harga yang bersifat tidak mengikat & Peserta Lelang harus melakukan perhitungan sendiri sebelum mengajukan penawaran. Adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu. c.dibiayai APBD Propinsi. Kontrak Pengadaan Bersama. 4. 3. karena setelah terjadi kontrak nantinya volume lebih/kurang tidak dapat dikurangkan/ditambahkan.

Detail dan sample yang sangat banyak .Waktu yang lama sehingga biaya sangat besar Sementara di lain pihak pengukuran volume lebih mudah dilakukan dalam masa pelaksanaan dan pekerjaan sangat mendesak dan harus segera dilaksanakan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan system kontrak Unit Price / Harga Satuan ini adalah : a.1. 3. Jenis pekerjaan yang mana volume pekerjaan yang pasti sama sekali tidak dapat diperoleh sebelum pekerjaan selesai dilaksanakan. Kontrak Gabungan/Lumpsum. dan • Komponen pekerjaan yang perhitungan volumenya belum dapat diketahui dengan pasti sebelum pelaksanaan pekerjaan dilakukan. Dalam penggunaan system kontrak ini jarang dijumpai adanya Implikasi seperti halnya pada kontrak Lumpsum di atas karena kontraktor tidak terbebani oleh adanya resiko-resiko pekerjaan yang belum terprediksi pada saat pelelangan. a. Sistem Kontrak ini pada umumnya digunakan pada : a. Sistem Kontrak gabungan ini pada umumnya digunakan pada : Unit Price. Dalam hal penawaran kontraktor terdapat harga satuan timpang untuk item pekerjaan tertentu harus dilakukan klarifikasi & dibuat Berita Acara Kesepakatan mengenai harga satuan yg akan digunakan untuk perhitungan biaya perubahan. . Jenis pekerjaan yang untuk mendapatkan keakuratan perhitungan volume pekerjaan yang tajam/pasti diperlukan adanya : . Untuk penggunaan system kontrak unit price agar dihindari terjadi adanya harga satuan timpang karena harga satuan bersifat mengikat untuk perhitungan realisasi biaya kontrak. 2. Kontraktor tidak mau melaksanakan pekerjaan tertentu karena item pekerjaan tidak tercantum dalam Bill of Quantity 2. ii. namun terdapat bagian-bagian tertentu pekerjaan yg masih memerlukan adanya tambahan gambar/detail/sample sedangkan pekerjaan sudah sangat mendesak dan harus segera dilaksanakan. Pembelian suatu barang atau industri jadi yg hanya diperlukan sekali saja. iii. Kontraktor mengajukan perhitungan perubahan pekerjaan mengacu kepada volume Bill of Quantity yang ada. Kontrak Terima Jadi / Turnkey / EPC (Engineering Proquirement & Construction). Kontraktor melaksanakan pekerjaan dilapangan sesuai volume yang tercantum dalam BQ. maka kurang tepat apabila digunakan system kontrak unit price ini karena : • Untuk setiap proses pembayaran harus dilakukan pengukuran bersama di lapangan yang dapat dipastikan memerlukan waktu yang cukup lama. Sistem Kontrak Unit Price/Harga Satuan ini lebih tepat digunakan untuk : 1. dan tidak mengutamakan kepentingan untuk alih (transfer) teknologi selanjutnya. • Biaya total pekerjaan belum dapat diprediksi dari awal sehingga untuk pekerjaan dengan Budget tertentu sangat riskan bagi Pemberi Tugas terhadap terjadinya resiko pembengkakan biaya proyek b. sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan system kontrak Lumpsum. b. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang terdiri dari banyak sekali item pekerjaan namun volume pekerjaan sudah dapat dihitung dari gambar rencana seperti halnya bangunan gedung. Jenis pekerjaan borongan yang terdiri dari gabungan antara : • Komponen pekerjaan yang perhitungan volumenya untuk masing .Survey dan penelitian yang sangat dalam . Jenis pekerjaan borongan yg sebagian perhitungan volumenya untuk masing-masing unsure/jenis/item pekerjaan sudah dapat diketahui dengan pasti berdasarkan gambar rencana. iv. Kontrak Unit Price atau Harga Satuan.masing unsur / jenis / item pekerjaan sudah dapat diketahui dengan pasti berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknisnya.

b. C. Urutan ke-2 : Ketentuan khusus kontrak c. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN PELAKSANAAN. Berdasarkan urutan proses dan kegunaan dari masing-masing dokumen maka terjadi saling keterkaitan antara dokumen yang satu dengan dokumen yang lain sebagai berikut : 1. Urutan ke-8 : Spesifikasi Umum i. Urutan ke-4 : Surat Perintah Kerja e. Sistem Kontrak Design & Built ini pada umumnya digunakan pada kontrak jasa pemborongan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya umum dan sederhana sehingga dirasa oleh Pemilik proyek akan kurang efisien baik dari segi biaya maupun waktu jika design dan pelaksanaan dilaksanakan oleh Penyedia Jasa yang berbeda. Urutan ke-11 : Bill of Quantity / Rincian Anggaran Biaya. Kontrak Design & Built. Urutan ke-9 : Gambar j. Dalam system kontrak Terima Jadi/Turnkey Pemberi Tugas tidak perlu menyiapkan Dokumen Perencanaan berupa gambar detail dan spesifikasi teknis tetapi cukup membuat suatu standar requirement/TOR (Term of Requriement) saja v. KETENTUAN KHUSUS KONTRAK. . Pada umumnya “Urutan Hirarki” dokumen kontrak adalah sbb. Urutan ke-5 : Berita Acara Klarifikasi / Negosiasi f. Kontrak Cost & Fee. HIRARKI DAN HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN. Urutan ke-1 : Surat Perjanjian dan Amandemen/Addendum Kontrak b. Urutan ke-6 : Addendum Dokumen Lelang g. Kontrak Persentase. Surat Perjanjian adalah bentuk perjanjian perikatan kontrak antara Pihak Pemberi Tugas / Pengguna Jasa dengan Pihak penerima Tugas / Penyedia Jasa yang ditandatangani oleh kedua belah pihak diatas materai dengan ketentuan-ketentuan yg telah ditetapkan dalam syarat-syarat khusus kontrak dan syarat-syarat umum kontrak diatas. Namun demikian tidak semua pekerjaan jasa konsultansi menggunakan system kontrak Prosentase tetapi dapat pula menggunakan system Billing Rate. Didalam Surat Perjanjian Pemborongan selain berisi ketentuan-KONTRAK ditetapkan “URUTAN HIRARKI” bagian-bagian dokumen kontrak yang bertujuan apabila terjadi pertentangan ketentuan antara bagian satu dengan bagian yang lain maka yang berlaku adalah ketentuan berdasarkan urutan yang lebih tinggi dari urutan yg telah di tetapkan. Sistem Kontrak Prosentase ini pada umumnya digunakan pada Kontrak Jasa Konsultasi bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan. Sistem Kontrak Cost & Fee ini pada umumnya digunakan pada kontrak jasa pemborongan dimana kontraktor yg bersangkutan menerima imbalan jasa / fee tertentu yg sifatnya tetap karena sulitnya untuk memprediksi besarnya faktor resiko yang bakal terjadi selama durasi pelaksanaan vii. Urutan ke-10 : Berita Acara Rapat Penjelasan Lelang (Aanwijzing) k. Urutan ke-3 : Ketentuan umum kontrak (Beberapa type kontrak butir b & c masuk dalam pasal-pasal Surat Perjanjian) d. Jenis pekerjaan spesifik yang hanya bisa dilaksanakan oleh penyedia jasa tertentu baik dari segi perencanaan ataupun konstruksinya. SURAT PERJANJIAN. vi. dimana konsultan yg bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan prosentase tertentu dari nlai fisik konstruksi / pemborongan tersebut. 2. Urutan ke-7 : Spesifikasi Teknis h. : a.

………… s/d tgl. Jaminan Uang Muka sebesar 20 % dari harga kontrak yaitu sebesar Rp ……………………… • Penentuan Tata cara Pembayaran.hari • Penyesuaian Harga Kontrak / Eskalasi Pasal ini tidak berlaku(misalnya). Untuk proyek-proyek yang mengacu kepada Kepres misalnya untuk Proyek-proyek dikalangan Departemen Pekerjaan Umum. Dan untuk type kontrak yang menganut kepada standar FIDICKetentuan khusus kontrak ini dinamakan “Part II Condition” 3. Ketentuan umum kontrak adalah pasal-pasal yg berisi tentang definisi-definisi dan penjelasanpenjelasan “UMUM” yang akan diperikatkan dalam kontrak setelah diterbitkannya SPK yang antara lain menjelaskan : • Hak & Kewajiban Para Pihak • Jaminan Pekerjaan • Asuransi • Keselamatan Kerja • Tata cara pembayaran • Waktu pelaksanaan pekerjaan • Masa Pemeliharaan • Pengawas Pekerjaan • Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan • Tata cara penyelesaian perselisihan • Penyesuaian Harga Kontrak / Eskalasi • Denda • Tata cara perubahan pekerjaan & pekerjaan tambah/kurang • Dll Untuk proyek-proyek dikalangan Departemen Pekerjaan Umum Ketentuan Umum Kontrak ini sudah ada Standarisasinya yang dinamakan Dokumen “Syarat-syarat Umum Kontrak”. Ketentuan Umum Kontrak ini sudah ada standarisasinya yang dinamakan Dokumen “Syarat-syarat Khusus Kontrak”. Jaminan Pelaksanaan sebesar 5 % dari harga kontrak yaitu Rp ……………………… Jaminan Pemeliharaan / Retensi sebesar 5 % dari harga kontrak yaitu sebesar Rp …………. Masa pemeliharaan ditentukan selama……….penjelasan “DETAIL” dan atau “PERUBAHAN” terhadap pasal-pasal yang ada didalam syarat-syarat umum Kontrak sebagai contoh misalnya : • Penentuan Besar Jaminan Penawaran.Pembayaran Uang Muka sebesar 20 % dari harga kontrak yaitu sebesar Rp ……………… . SURAT PERINTAH KERJA. Surat Perintah Kerja (SPK) adalah Dokumen yang dikeluarkan oleh Pemberi Tugas kepada Pemenang Lelang yang merupakan perintah untuk segera memulai kegiatan dilapangan berdasarkan . Waktu pelaksanaan pekerjaan adalah selama …hari dimulai sejak dikeluarkannya SPK yaitu tgl.Termyn Retensi sebesar 5 % dari harga kontrak yaitu sebesar Rp………setelah berakhirnya masa pemeliharaan. Dan untuk type kontrak yang menganut kepada standar FIDIC ketentuan Umum Kontrak ini dinamakan “Part I Condition” 4. dan seterusnya.Ketentuan khusus kontrak adalah pasal-pasal yang berisi tentang penjelasan . ………… • Penentuan Masa Pemeliharaan.Pembayaran selanjutnya berdasarkan progress bulanan dengan dikurangi pengembalian Uang mukan dan retensi secara proporsional. • Penentuan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan. . . KETENTUAN UMUM KONTRAK.

Namun apabila diperlukan adanya perubahan harus dibuat Addendum Dokumen Lelang atas persetujuan Pengguna Jasa. • Jika dalam suatu dokumen terdapat perbedaan gambar antara antara lembar satu dengan yang lain maka yang berlaku adalah gambar dengan skala yang lebih besar. misalnya produk material yang ditawarkan dll. menegaskan dan mendetailkan hal-hal yang belum tercantum dalam gambar. SPESIFIKASI TEKNIS. 11. Spesifikasi Teknis. 6. Addendum Dokumen Lelang adalah dokumen yg berisi segala macam perubahan baik pengurangan. 9.Dokumen dari Gambar s/d Berita Acara Rapat Klarifikasi di atas. persyaratan material. ADDENDUM DOKUMEN LELANG. Pada umumnya proyek swasta Berita Acara Aanwijzing ini juga memuat Addendum/Perubahan spesifikasi teknis. 8. 5. lingkup pekerjaan. Spesifikasi Umum & Gambar Lelang tanpa merubah substansi yang ada didalamnya. BERITA ACARA RAPAT KLARIFIKASI / NEGOSIASI. SPESIFIKASI UMUM. BERITA ACARA RAPAT PENJELASAN LELANG. Spesifikasi Umum selain memuat ketentuan yg telah diuraikan dalam “Definisi Spesifikasi Umum” di muka. 10. Gambar adalah dokumen produk Konsultan Perencana yang disahkan oleh Pemberi Tugas yg berisi tentang dimensi-dimensi dan ukuran-ukuran bangunan yang dipakai sebagai acuan bagi pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Tetapi untuk proyek pemerintah Berita Acara Aanwijzing hanya berisi penjelasan tentang Spesifikasi Teknis.kurangnya berisi tentang nama paket pekerjaan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan dan besarnya nilai pekerjaan. Spesifikasi Teknis dan Spesifikasi Umum yang ditandatangani oleh Panitia Lelang. Spesifikasi teknis memiliki tingkat hirarki yg lebih tinggi dibanding gambar karena apabila dilihat dari kronologis penyusunannya spesifikasi teknis dibuat untuk menjelaskan. gambar atau lingkup pekerjaan. Surat Perintah Kerja tersebut sekurang . • Kesalahan yang dibuat oleh peserta lelang dalam membuat penawaran namun bersifat tidak menggugurkan. . 7. • Jika dalam suatu dokumen terdapat perbedaan antara gambar arsitektur dengan gambar struktur maka untuk dimensi ruang yang berlaku adalah sesuai dengan gambar arsitektur. juga menjelaskan tentang tata cara peserta lelang dalam memasukan penawaran pekerjaan yang telah diuraikan dalam Gambar (butir A) dan Spesifikasi Teknis (butir B) termasuk dokumendokumen yang harus dilampirkan. Berita Acara Rapat Penjelasan Lelang adalah Notulen hasil rapat penjelasan terhadap Gambar Lelang. BILL OF QUANTITY (BQ). persyaratan-persyaratan peralatan & persyaratan khusus lainnya dari pekerjaan-pekerjaan yang ditentukan dalam Gambar tersebut Butir A. Spesifikasi Teknis berisi uraian tentang peraturan-peraturan yg dipakai. Konsultan dan Wakil Peserta Lelang. Spesifikasi Umum) yg terjadinya dalam kurun waktu setelah undangan lelang / pengambilan sampai dengan pemasukan dokumen penawaran dari peserta lelang yg harus disetujui oleh Konsultan & Pemberi Tugas / Pengguna Jasa. Berita Acara Rapat Klarifikasi dibuat apabila Pemberi Tugas merasa perlu untuk meminta penegasan / kesanggupan untuk melaksanakan pekerjaan kepada Pemenang Lelang terkait adanya : • Beberapa hal yg dirasa belum jelas dari dokumen penawaran penawaran yg telah disampaikan. persyaratan pelaksanaan pekerjaan. GAMBAR. penambahan maupun penyempurnaan terhadap Dokumen Lelang (Gambar lelang. namun untuk dimensi struktur (misalnya dimensi penulangan pelat) yang berlaku adalah yang tercantum pada gambar struktur.

spesifikasi teknis (butir B) dan spesifikasi umum (butir C) yang digunakan sebagai standar acuan bagi Peserta Lelang dalam mengajukan penawaran harga. http://masisnanto.blogdetik.com/2009/02/03/type-kontrak-proyek/ .Bill of Quantity adalah daftar item & kuantitas pekerjaan yang penyusunan & perhitungannya didasarkan atas gambar lelang (butir A).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful