BAB II PEMBAHASAN A.

Pengertian Agama Secara Umum Merumuskan pengertian agama bukan suatu perkara mudah, dan ketidak sanggupan manusia untuk mendefinisikan agama karena disebabkan oleh persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena itu tidak mengherankan jika secara internal muncul pendapat-pendapat yang secara apriori menyatakan bahwa agama tertentu saja sebagai satu-satunya agama samawi, meskipun dalam waktu yang bersamaan menyatakan bahwa agama samawi itu meliputi Islam, Kristen dan Yahudi. Sumber terjadinya agama terdapat dua katagori, pada umumnya agama Samawi dari langit, agama yang diperoleh melalui Wahyu Illahi antara lain Islam, Kristen dan Yahudi. dan agama Wad’i atau agama bumi yang juga sering disebut sebagai agama budaya yang diperoleh berdasarkan kekuatan pikiran atau akal budi manusia antara lain Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan berbagai aliran keagamaan lain atau kepercayaan. Dalam prakteknya, sulit memisahkan antara wahyu Illahi dengan budaya, karena pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, seruan-seruan pemuka agama meskipun diluar Kitab Sucinya, tetapi oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai Perintah Illahi, sedangkan pemuka-pemuka agama itu sendiri merupakan bagian dari budaya dan tidak dapat melepaskan diri dari budaya dalam masa kehidupannya, manusia selalu dalam jalinan lingkup budaya karena manusia berpikir dan berperilaku. Beberapa acuan yang berkaitan dengan kata “Agama” pada umumnya; berdasarkan Sansekerta yang menunjukkan adanya keyakinan manusia berdasarkan Wahyu Illahi dari kata A-GAM-A, awalan A berarti “tidak” dan GAM berarti “pergi atau berjalan, sedangkan akhiran A bersifat menguatkan yang kekal, dengan demikian “agama: berarti pedoman hidup yang kekal”

1

Berdasarkan kitab, SUNARIGAMA yang memunculkan dua istilah; AGAMA dan UGAMA, agama berasal dari kata A-GA-MA, huruf A berarti “awang-awang, kosong atau hampa”, GA berarti “genah atau tempat” dan MA berarti “matahari, terang atau bersinar”, sehingga agama dimaknai sebagai ajaran untuk menguak rahasia misteri Tuhan, sedangkan istilah UGAMA mengandung makna, U atau UDDAHA yang berarti “tirta atau air suci” dan kata GA atau Gni berarti “api”, sedangkan MA atau Maruta berarti “angin atau udara” sehingga dalam hal ini agama berarti sebagai upacara yang harus dilaksanakan dengan sarana air, api, kidung kemenyan atau mantra. Berdasarkan kitab SADARIGAMA dari bahasa sansekerta IGAMA yang mengandung arti I atau Iswara, GA berarti Jasmani atau tubuh dan MA berarti Amartha berarti “hidup”, sehingga agama berarti Ilmu guna memahami tentang hakikat hidup dan keberadaan Tuhan.

B. MENGAPA KITA BERAGAMA ?? (by : Ust. Husein Al-Kaff)

"Dasar pertama agama (din) adalah mengenal-Nya." Perkataan di atas sangat tepat dan pada tempatnya, mengingat banyak orang yang beragama, tetapi tidak mengenal agamanya dengan baik. Padahal, mengenai agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Tetapi secara realita, keberagamaan sebagian besar dari mereka tidak sebagaimana mestinya. Nah, dalam kesempatan ini kami akan memberikan penjelasan tentang mengapa kita beragama dan bagaimana seharusnya kita beragama. Sehingga kita beragama atas dasar bashirah (pengetahuan, pengertian, dan bukti). Allah Ta’ala berfirman : "Katakanlah (wahai Muhammad). Inilah jalan-Ku. Aku mengajak kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata)" (QS Yusuf, 12 : 108). Namun sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kami terlebih dulu membicarakan tentang din itu sendiri. Apa itu Din ?

2

Seseorang dikatakan mutadayyin (ber-din dengan baik). Keyakinan seperti itu akan diperoleh seseorang dengan argumentasi (dalil aqli) yang dapat dipertahankan.Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali." Berdasarkan hal di atas. Maliki Yaumiddin (Dialah Pemilik (Raja) Hari Pembalasan). dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam dimensi keyakinan atau akidah. Dalam arti balasan." Demikian pula dalam sebuah hadis. kebahagiaan. din diartikan sebagai : "sekumpulan keyakinan. Keyakinan ini pada intinya berkisar kepada Allah dan Hari Akhirat. sehingga keyakinannya tersebut tidak dapat digoyahkan lagi. din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Adapun syariat adalah konsekuensi logis dan praktis dari keyakinan. tetapi tidak mengindahkan syariat-Nya. Sehingga sulit dipercaya jika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. (2) hukum (syariat). kedamaian. hukum. norma yang akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan manusia. Mengamalkan syariat merupakan representasi dari keyakinan. Rasulullah Saww bersabda : "Addiinu nashiihah (agama adalah ketaatan). jika dia dapat melengkapi dirinya dengan tiga dimensi agama tersebut secara proporsional. Alquran menyebutkan kata din dalam surat Al-Fatihah ayat 4. larangan yang datang dari-Nya. Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain lain saling berkaitan. din diartikan sebagai ketaatan. Dengan menjalankan din. dan (3) norma (akhlak). maka dia pasti berbahagia. seseorang harus meyakini dan mengimani beberapa perkara dengan kokoh dan kuat. Seseorang belum bisa dikatakan mutadayyin selagi tidak berakhlak. Menurut arti bahasa (etimologi). din mencakup tiga dimensi : (1) keyakinan (akidah)." Sedangkan menurut terminologi teologi. baik di dunia maupun akhirat. Sedangkan akhlak adalah tuntunan akal budi (aqal amali) yang mendorong seseorang untuk mengindahkan norma-norma dan meninggalkan keburukankeburukan. la Karena syariat merupakan kewajiban dan 3 . dan ketenangan akan teraih di dunia dan di akhirat.

Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa. "Allah telah menciptakan kalian lemah. Mengapa Kita Beragama ? Marilah kita kembali pada pertanyaan semula : "mengapa kita beragama ? Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhlukmakhluk lainnya. Bukankah banyak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia. 4 : 28). termasuk malaikat. manusia dicipta dari unsur yang berbeda. bukan hasil usahanya). keliru sekali jika seseorang terlalu mementingkan akhlak daripada syariat. Lebih khusus lagi. Dalam pengertian bahwa yang menentukan seseorang itu mutadayyin atau tidak adalah akidahnya. Yahudi atau yang lainnya. Karena itu.diina liman la akhlaqa lahu. di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata penberian dari Allah. lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua. sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya. 4 . Kristiani. Demikian pula. bahkan lebih lemah darinya. Memang dari unsur hewani manusia tidak lebih dari binatang. yang memisahkan seseorang yang beragama dari yang tidak beragama (ateis) adalah akidahnya. Dari ketiga dimensi din tersebut. kemudian menjadi kuat. bahwa akidahlah yang menjadikan orang itu disebut Muslim. Sehubungan ini Allah Swt berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" (QS An-Nisa." (QS Rum : 54). Dengan kata lain. yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. Karena. akidah menduduki posisi yang paling prinsip dan menentukan.

Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : "Sungguh telah Kami muliakan anak-anak. 17 : 70). jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya. keduanya bukan materi). Termasuk ke dalam unsur ruhan adalah fitrah. condong kepada keindahan. dalam kitab Ma’arif al-Qur’an 5 . Karenanya. Syahid Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia yaitu mencari kebenaran (hakikat). berkarya (berkreasi). 7 : 170." (QS Al-Isra. Unsur akal pada manusia. Sedangkan menurut Syeikh Ja’far Subhani. awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu difaktualkan (bilfi’li) dan ditampakkan. serta Kami anugerahi mereka rezeki. Din adalah bagian dari fitrah manusia. dalam arti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah Pemilik kesempurnaan tersebut. condong kepada kebaikan. Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia.Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal. Al-Furqan : 42). Dengan akalnya. maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendirinya. juz 1). Syeik Taqi Mishbah Yazdi. atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya. Oleh karena itu. dengan tanpa memasukkan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab Al-Ilahiyyat. dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. maka orang itu sama dengan binatang. Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama . terdapat empat macam kecenderungan pada manusia. Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut. bahkan lebih hina dari binatang (QS Al-A’raf. dia berhak bangga atas yang lainnya. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu. atas kebanyakan makhluk Kami Dan sungguh Kami utamakan mereka di lainnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20). Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi). manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya.

maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib. ada yang kuat dan ada pula yang lemah. namun cukup kembali pada dirinya untuk menyebut suara dan panggilan hatinya. Teori-teori Kemunculan Agama. 37. adalah makin pandai seseorang akan makin jauh ia 6 . yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut diperoleh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya. menyebutkan adanya dua ciri fitrah. maka keyakinan terhadap yang ghaib tidak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama. dan kedua fitrah tersebut ada pada semua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda. August Comte—peletak dasar aliran positivisme—menyebutkan. Rum: 30).juz 1 hal. Pada mulanya—periode primitif—karena manusia tidak mengetahui rahasia alam. adalah bahwa beragama merupakan fitrah manusia. namun untuk menentukan siapa atua apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah. melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. yang terdapat pada manusia." (QS. bik fitrah beragama maupun lainnya. manusia tidak harus dipaksa beragama. Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri. Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama. Namun. antara lain: 1. bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. bahwa ada Sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya. Allah Ta’ala berfirman. Dengan demikian. "Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus. sebagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan. Konsekuensi logis teori di atas. dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segala sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris. bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. Agama muncul karena kebodohan manusia Sebagian mereka berpendapat. C.

seperti Albert Einstein. 3. merupakan ciri orang yang beragama. sekalipun dengan cara kekerasan. Demikian sebaliknya. bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat.dari agama bahkan akhirnya tidak beragama. Agama adalah produk penguasa Karl Marx—bapak aliran komunis-sosialis—mengatakan. teori di atas gagal. seperti harus sabar. betapa banyak orang pandai yang beragama. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama. alangkah banyak orang bodoh yang tidak beragama 2. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. Namun. sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosialekonomi. menerima takdir. Namun. bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya. ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi. menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Jadi.takut merupakan akibat dari meyakini adanya Tuhan (baca: beragama). 7 . Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini. Jadi. Hegel dan lainnya. Padahal. sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin. Kenyataannya. maka agama dengan sendirinya akan hilang. Charles Darwin. sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. jangan marah dan lainnya. dan makin bodoh seseorang maka makin kuat agamanya. Agama muncul karena kelemahan jiwa (takut) Teori ini mengatakan.

kesatriaan. bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orangorang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat. Padahal mencintai dan menyembah kesempurnaan adalah fitrah. adalah bahwa kaum agamawan mendapatkan kesempurnaan yang mutlak hanya pada Tuhan. keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan. Teori ini mengatakan. Agama adalah produk orang-orang lemah. sebenarnya mereka (kaum Atheis) beragama dengan pikiran mereka sendiri. Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. komunis-sosialisme menurut Karl Marx dan lainnya). Pentingnya Agama Bagi Kehidupan Manusia 8 . ilmu pengetahuan menurut August Comte. sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Atau dengan kata lain. Sebenarnya. Perbedaan kaum agamawan dengan mereka. Jadi. seorang filsuf Jerman. mereka ingin menghapus agama dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka anggap lebih sempurna (seperti. mereka mempertuhankan diri mereka sendiri. Teori ini diperoleh Nietzche. D. kekuasaan dan kekuatan menurut Nietszche.4. Teori di atas terbantahkan jika kita lihat kenyataan sejarah. belas kasih. bahwa tidak sedikit dari pembawa agama adalah para penguasa dan orang kuat—misalnya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman—keduanya adalah raja yang kuat.

penilaian moral telah bergeser dari rumusan agama ke rumusan humanisme universal. Mungkin hal ini disebabkan oleh berkembangnya teknologi dan mode barat yang banyak dikonsumsi oleh pemuda kita. Orang cukup menyandarkan pegangan pada apakah seseorang itu merugikan orang lain atau tidak. Selalu merasa dirinyalah yang benar dan tahu tentang agama. termasuk agama untuk manusia. kedudukan manusia lebih rendah dari agama dan akidah.Kita hidup di lingkungan beragama. dengan demikian tak dapat disangkal lagi bahwa saat ini manusia telah mulai merubah pandangan medreka dari agama kepada hal-hal yang bersifat materi. Pernahkah kita menyadari akan pentingnya bagi kemanusiaan ? Tidakkah selama ini kita tahu bahwa atas nama agama manusia sering melakukan tindakan yang tidak semestinya. Dengan dasar ini. dalam penafsiran klasik terhadap agama. Sekatrang orang tidak memerlukan rumusan-rumusan agama untuk menilai apakah seseorang bermoral atau tidak. Suatu tindakan dikatakan tidak bermoral hanya jika tindakan itu merugikan orang lain. manusia berkhidmat pada agama dan jiwa manusia menjadi tidak bernilai. Adapun di masa modern. dan berbagai penyelewengan arti yang tidak pada tempatnya. Maka. Mereka mengatakan. apakah suatu tindakan dinilai bermoral atau amoral. Maka wajar jika kita tak banyak orang yang tahu apa arti agama itu sebenarnya. Tidak sedikit orang yang memaksakan fahamnya terhadap orang lain. serta dengan mudah mereka akan mengorbankan jiwanya demi agama. manusia untuk agama. manusia menepatkan dirinya lebih tinggi dari agama. Jangankan mengindahkan norma-normanya melaksanakan kewajibannya saja mereka ogah. Padahal dalam pandangan tradisional. Dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Masikah agama digunakan untuk nilai moral ? Tampaknya tidak. Hal tersebut membuktikan bahwa saat ini agama sedang mengalami dekadensi penafsiran. Inilah yang disebut dekadensi penafsiran manusia terhadap agama. dan main hakim sendiri. Bahkan demi materi seseorang rela mengorbankan 9 . Sebagian menyangka bahwa karakteristik zaman modern adalah segala sesuatu untuk manusia atu humanisme. dan ini berarti bahwa manusia tidak mengorbankan diri demi agama dan membunuh seseorang atas nama agama.

Tentunya berbicara manusia adalah berbicara bagaimana itu. Ini sebabnya kenapa agama begitu penting bagi manusia. 12 September lalu. yang memiliki kelebihan akal. tetapi paling tidak akan membuat keuangan saya stabil. Seandainya tak ada satupun agama didunia ini yang mengatur segala seluk-beluk kehidupan manusia.16 septermber 2008). mudah putus asa dll) E. sarjana dari Sacramento State University. tidak pernah membantah) Namun ada satu sudut pandang lain yaitu bila manusia tidak mampu mempergunakan akalnya manusia lebih hina dari binatang. mungkin kita akan pernah tahu siapa Bapak-Ibu kita. Singkat kata. sehingga manusia itu ketika mampu mempergunakan akalnya secara maksimal dia bahkan bias lebih baik dari malaikat (dalam pemahaman agama malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan patuh.” kata gadis 22 tahun kepada Insider. Agar kehidupan manusia serba teratur. satu pondasi dasar untuk memaksimalkan penggunaan akal kita (walaupun banyak keterbatasan tentunya (karena satu sisi manusia makhluk lemah yang suka berkeluh kesah. (kompas. Sungguh berbahagialah kita semua karena memiliki agama dan Tuhan tempat kita memohon dan meratap. kita sebagai manusia harus maksimal UNTUK MENGGUNAKAN AKAL DAN PIKIRAN kita yaitu mencari sebuah prinsip dasar kehidupan. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN DAN PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN 10 . “Memang melelang keperawatan tidak akan menyelesaikan seluruh masalah saya. Seperti kasus natalian Dylan. Gadis ini melelang keperawanannya di situs lelang eBay dan uangnya akan digunakan untuk membayar biaya sekolah yang belum lunas.kehormatannya. seperti apa manusia dan apakah manusia itu???? Pendekatan pertama adalah bahwa manusia itu makhluk hidup yang unik. Karena tidak ada halangan bagi manusia mau berbaur dengan siapa saja untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Oleh karena itu.

Anaximenes mengatakan: “Semua adalah udara”. Tetapi ia tidak setuju dengan iman Thales yang kedua bahwa semua adalah air. Thales dari Milletos mengamati alam semesta ini dan mengatakan: “Semua adalah air”. manusia telah memperhatikan alam semesta. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN. Ia masukkan dalam filsafatnya iman keduanya sendiri ialah bahwa semua adalah ketidak terbatasan. agama dan kebudayaan. Pulau Miletos dikelilingi laut. Air kalau dipanaskan jadi uap air.Sejak awal sejarah umat manusia. Kemudian timbul filsuffilsuf lain dan yang paling berpengaruh pada ilmu pengetahuan alam manusia ialah Aristoteles yang hidup diabad ke-4 Filsafat Yunani untuk detail lebih lanjut Yang mau saya tekankan disini ialah pengaruh iman pada ilmu pengetahuan Setelah Thales mengamati alam semesta ini ia mulai kembangkan pikiran dan kesimpulan-kesimpulannya. Anaximandros setuju dengan Thales bahwa alam ini dapat dimengerti oleh otak manusia. Silahkan baca buku Ini iman pertama yang paling mendasar dari ilmu pengetahuan alam. Seorang filsuf lainnya Anaximandros berpendapat bahwa: “Semua adalah yang tak terbatas (to apeiron)”. Ini berlainan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang. Pada abad ke-6 sebelum Kristus. Filsuf-filsuf berikutnya memasukkan 11 . Thales menambah iman kedua ialah bahwa semua adalah air. Ini menghasilkan ilmu 1. pengetahuan. Thales sangat terkesan akan air. sebelum Kristus. Mengapa ia lakukan itu? Karena ia percaya bahwa alam semesta ini dapat dimengerti oleh otaknya. Filsuf lainnya lagi. Uap air kalau mendingin jadi air kembali. Ilmu Pengetahuan bermula dari filsafat Yunani kuno. Ia tentu sering melihat hujan. Bahwa alam semesta dapat dimengerti akal manusia tidak dapat dibuktikan tetapi harus diterima dengan iman. Iman kedua Anaximenes adalah udara. Pengetahuan ilmu pengetahuan alam praktis dikembangkan oleh Archimedes. dan dirinya sendiri dan bertanya-tanya akan banyak hal. Tanpa kepercayaan ini ia tidak akan buat kesimpulan-kesimpulan dan teori-teori atau filsafat-filsafat.

Pada tahun 1895 di-Universitas Wina diberikan matapelajaran “filsafat ilmu pengetahuan induktif”. PRINSIP VERIFIKASI DAN FALSIFIKASI. Setiap minggu mereka jumpa untuk membahas secara filosofis jurusan masingmasing. Pengaruh iman pada teori-teori manusia ditunjukkan a. Kepercayaan atau iman ini: “ialah bahwa alam semesta dapat dimengerti oleh manusia” diteruskan dari generasi kegenerasi. Sejak 1922 pelajaran diberikan oleh Moritz Schlick (1882—1936). oleh Alfred North Whitehead dan Albert Einstein. Hans Hahn. Apakah ada cara untuk menguji teori-teori ilmiah dengan cara yang lebih dapat diandalkan? Menurut saya ada. Schlick mengumpulkan beberapa dosen dari jurusan lain. Makin lama makin besar pengaruh iman pada ilmu pengetahuan. seorang akhli fisika. ialah dengan prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi. Rudolf Carnap dll . Para ilmuwan selanjutnya mengambil alih iman ini dan dalam perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang sesungguhnya ilmu pengetahuan manusia dipengaruhi oleh iman tambahan mereka sampai sekarang. A. maka salahlah seluruh teori atau filsafat yang dibangun diatasnya. Kalau ada satu saja asumsi mula yang salah.l. preassumptions (asumsi mula) atau axioms. Dengan demikian ilmu pengetahuan mulai disoroti secara filosofis. Diantaranya terdapat akhli matematika Kurt Goedel. Diantara akhli-akhli ilmu exakta tersebut ada seorang sosiolog Otto 12 . Kehormatan mengajar diberikan kepada seorang akhli fisika Ernst Mach (1838-1916).imannya sendiri dalam filsafatnya. Iman ini dalam ilmu pengetahuan disebut juga presupostions. Mereka kembangkan rumus-rumus yang mereka percaya berlaku selamanya. juga berlaku hari ini dan besok”. Ini iman kedua. Makin lama makin banyak dan makin kompleks. Kemudian Galileo dan Newton mengambil alih iman ini begitu saja dan menambah iman baru: “Apa yang berlaku kemarin.

. Positivisme Logis kemudian mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan alam khususnya. Lawan dari positivisme logis adalah metafisiska. sampai ia terbukti salah. Prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi dapat seleksi teori-teori yang “benar” dan teori-teori yang “salah”. diseluruh Eropah Barat bahkan diseluruh dunia sampai sekarang. METAFISIKA. Banyak sekali makalah makalah dan buku-buku yang ditulis kelompok ini. makin lama makin pesat. Seorang metafisikus percaya bahwa apa yang masuk keakalnya adalah juga benar walaupun tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. sangat pesat. tetapi tidak pernah jadi anggota kelompok ini. Mula-mula filsafat yang dikeluarkan kelompok ini bernama filsafat dari lingkungan Wina (der Wiener Kreis). Keduanya maju dengan pesat. B. Mereka katakan: “Suatu ucapan yang tidak dapat diverifikasi ialah ucapan yang tidak bermakna”. Yang salah masuk tong sampah atau maksimal sejarah masa lampau. Yang paling menyolok ialah bahwa mereka sangat tekankan prinsip verifikasi. Metafisika disini mungkin mempunyai arti yang sedikit lain daripada metafisika dari Aristoteles.Neurath (1882-1945). Karl Popper menunjukan bahwa sebuah teori tidak pernah dapat diverifikasi (dibuktikan benar) tetapi teori yang bermakna seharusnya dapat difalsifikasi (dibuktikan salah). Buah dari ilmu pengetahuan alam ialah Teknologi dan kedokteran. Ludwig von Witgenstein dan Karl Popper mempunyai pengaruh yang besar. Tetapi kini lebih dikenal sebagai positivisme logis (logical positivism). 13 . Yang “benar” diteruskan dan dikembangkan.

Baginya lebih masuk keakalnya kalau alam semesta ini selamanya ada. Inilah hakekat dari teori kreasi. Contoh: Persoalan “Teori Evolusi versus Teori Kreasi”: Kalau seorang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. maka didalam teorinya ada unsur-unsur metafisis. Ini adalah hakekat dari “The Big Bang Theory”. kalau ia buat teori. Kalau seorang percaya bahwa Tuhan itu ada. sedikit dalam waktu sangat lama. Saya mengakui apa yang ditunjukkan kedua ilmuwan besar itu adalah benar. presuposition) yang diambilnya sebelum ia menyelidiki sesuatu. masuk keakalnya bahwa Tuhan dapat menciptakan alam semesta dalam waktu sekejap. atau berevolusi perlahan-lahan dari sebuah gumpalan masa yang sangat padat. Inilah hakekat dari teori evolusi. belum tentu masuk akal untuk orang lain. Saya telah tunjukkan bahwa Thales dari Milletospun telah mempunyai mempunyai asumsi mula bahwa alam semesta ini dapat dimengerti sebelum ia mulai filsafatnya. Yang lebih masuk keakalnya ialah kalau Tuhan menciptakan alam semesta sedikit. maka masuk keakalnya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta. maka hal itu tidak masuk keakalnya. Kalau seorang percaya Tuhan yang mempunyai kesanggupan tak terbatas.Albert Einstein menunjukkan bahwa berapa positifnyapun seorang ilmuwan mengaku. maka masuk keakalnya bila Tuhan ciptakan alam semesta dalam waktu enam hari seperti disaksikan Alkitab. Tetapi kalau asumsi mulanya ialah bahwa Tuhan hanya lebih besar sedikit dari manusia. maka tidak masuk keakalnya bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. 14 . Hal itu sangat tergantung pada asumsi-asumsi mula (preassumptions. Einstein mengakui bahwa dalam teori-teorinya sendiri ada unsur metafisis. Tetapi saya juga tunjukkan bahwa sebuah teori yang masuk akal menurut seorang. Seorang ilmuwan lain yang juga sangat terkenal Wernher von Heisenberg menunjukkan betapa miskinnya ilmu pengetahuan manusia bila hanya yang dapat diverifikasi/falsifikasi saja yang dianggap bermakna. Kalau ia percaya ada Tuhan seperti disaksikan Alkitab.

l.Seorang yang percaya pada Tuhan Alkitab. Kalau sebuah teori sama sekali tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN. walaupun dalam teori yang manapun ada unsur metafisik dan unsur iman. maupun teori kreasi tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi. Inilah yang dilakukan a. Sejak semula manusia sudah penuh pertanyaan mengenai alam semesta dan dirinya sendiri. dan (sayangnya) juga oleh beberapa teolog protestan. Baik teori evolusi. Manusia butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. maka sesungguhnya ia sudah keluar dari bidang ilmiah dan masuk bidang agama atau kepercayaan atau filsafat. Manusia butuh agama yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia ini. Keduanya hanya soal lebih masuk akal yang mana menurut Anda. tetapi percaya juga teori evolusi akan berusaha untuk mengkompromikan keduanya. tetapi banyak pertanyaan manusia tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan.J. oleh seoarang rohaniwan Katolik Pater Tijlhard de Chardin S. II. Siapakah sesungguhnya saya ini? Mengapa saya ada disini? Setelah mati kemana saya? Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan. Kompromi ini diambil alih oleh beberapa rohaniwan Katolik lain termasuk Paus Yohannes Paulus II. Manusia tidak puas dengan ilmu pengetahuan saja. seperti umpamanya teori evolusi/kreasi. 15 . Sebelum Anda mengambil keputusan tanya dahulu apa asumsi-asumsi mula Anda? Sesungguhnya perdebatan evolusi/kreasi adalah perdebatan ilmiah atau perdebatan agama? Kesimpulan pasal I: Sebuah teori ilmiah seharusnya dapat diverifikasi dan/atau difalsifikasi.

Tuhan! Siapa yang ciptakan Tuhan? Tuhan selamanya ada. Keduanya sama-sama tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. Karena Tuhan tidak kelihatan tetapi materi nyata. Kalau ada yang selamanya ada. Apalagi teolog-teolog sebelum mereka seperti Agustinus dan Thomas Aquinas. Argumen kosmologis teleologis dsb dari Thomas Aquinas telah dibantah oleh filsuf-filsuf lain. 16 . Siapa yang ciptakan alam semesta?. ILMU PENGAMATAN- PENGAMATAN DAN PENYELIDIKAN-PENYELIDIKAN YANG DAPAT DIAMATI DENGAN CERMAT DAN DAPAT DIULANGI. jadi adalah kepercayaan non-ilmiah. tidak dapat diverifikasi /falsifikasi. TETAPI SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGRITIK FIRMAN ALLAH. FIRMAN ALLAH BERADA JAUH DIATAS SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS MANUSIA. maka lebih masuk akal untuk mengatakan materi selamanya ada. AGAMA PENGETAHUAN PADA PADA HAKEKATNYA HAKEKATNYA ADALAH ADALAH IMAN. Bertrand Russel membahas soal ini dengan cara yang sederhana sekali. walaupun mereka mungkin terpengaruh filsuf-filsuf seperti Plato dan Aristoteles. TETAPI KESIMPULAN-KESIMPULAN STUDI KRITIS TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI ATAU FALSIFIKASI. Inipun sesungghunya tidak dapat dibuktikan. METODE ILMIAH SANGAT COCOK UNTUK MENAKLUKAN ALAM (Kejadian 1:28). APA YANG DISEBUT “STUDI KRITIS ALKITAB” OLEH BEBERAPA TEOLOG DIKIRA ADALAH ILMIAH.Pernyataan-pernyataan agama pada umumnya tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. SESUNGGUHNYA “STUDI KRITIS ALKITAB” BUKAN AGAMA DAN BUKAN ILMU. Luther dan Calvin tidak pernah berpretensi bahwa teologi mereka “ilmiah”. Umpama mengenai keberadaan Tuhan. mengapa harus Tuhan? Mengapa bukan alam semesta saja? Keduanya sama logis atau sama onlogisnya. JADI APA? TIDAK LAIN DARIPADA SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS YANG TIDAK BERMAKNA. Agama adalah kepercayaan yang tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. ALIAS OMONG KOSONG.

ternyata juga dilakukan oleh orang dewasa yang sebenarnya justru lebih membahayakan. maka akan semakin terasa derajat urgensi atau kepentingannya. tindakan pencurian dan perampokan tidak hanya dilakukan oleh orang miskin. Bisakah pendidikan digunakan sebagai instrumen bagi upaya mengembangkan moral anak? Tentu secara teoritik jawabnya bisa. Ketika moral dikaitkan dengan subjeknya yaitu manusia. yang salah satu kegiatannya terletak pada persekolahan. tindak kekerasan. meningkatnya perkelahian antar pelajar (tawuran). Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral baik intern maupun ekstern. Semakin merosot dan bobroknya moralitas masyarakat sekarang. kolusi. problem sosial moral itu antara lain berwujud semakin meningkatnya hubungan seks pranikah. Pendidikan adalah salah satu faktor ekstern yang dapat mempengaruhi perkembangan moral. Moral manusia tidak berkembang dengan sendirinya. merosotnya penghargaan siswa terhadap guru dan orang tua. namun banyak pula dilakukan oleh orang kaya (korupsi). dalam jangka panjang. Fenomena keseharian yang terjadi di masa kini khususnya di kalangan remaja. psikologis dan sosial. rendahnya kepedulian sosial. Moral berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan biologis. tentu saja menimbulkan suatu pertanyaan. Munculnya perilaku yang meyimpang dikalangan remaja (juvenile deliquence) yang membahayakan ini. meningkatnya penyalah-gunaan narkoba. yang semuanya itu menggambarkan indikasi kegagalan tercapainya tujuan pendidikan. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah solusi dalam membangun moralitas manusia melalui pendidikan agama. Perlu usaha proaktif dan inovatif untuk mengembangkan dan membentuk perilaku yang bermoral. Pendidikan. nepotisme. apalagi ketika moralitas manusia cenderung mengarah ke perilaku amoral. tentu dapat dimanfaatkan sebagai instrument untuk mengembangkan 17 . Revitalisasi Pendidikan Agama Dalam Mengembangkan Moral Anak (Perspektif Psikologi Perkembangan tentang Moral) Berbicara tentang moral atau etika berarti berbicara tentang sesuatu yang bertkaitan dengan baik buruknya perilaku manusia.F. terror.

keputusan benar-salah. Sedangkan Kupperman (1983) menyatakan nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan pilihannya di antara berbagai alternatif untuk bertindak. empati. tergantung pada kematangan perkembangannya. mengapa pendidikan yang telah berlangsung sekian lama ini menunjukkan indikasi kegagalan dalam membangun moralitas masyarakatnya? Lantas apa kesalahan pendidikan selama ini? Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah alternatif pendidikan yang dapat mengembangkan moralitas anak. sedangkan nilai dari kata value yang berarti harga. baik-buruk. Oleh karena itu. Kalau memang pendidikan mampu menjadi instrumen dalam mengembangkan moral anak. Apakah suatu tindakan dapat dipandang sebagai tindakan 18 . Moral Feelings adalah perasaan moral. teknik aturan pengasuhan anak. Piaget mengatakan bahwa anak berpikir dengan dua cara yang berkaitan dengan moral. Moral Behavior adalah bertingkah laku secara aktual dalam keadaan tertentu dengan mempertimbangkan proses dasar munculnya tingkah laku dan altruism (mementingkan kepentingan orang lain). Persoalan konseptual pun muncul mengenai tindakan atau tingkah laku moral (moral behavior). Moral Thought adalah bagaimana remaja berpikir tentang standar benar dan salah. Nilai inilah yang dikatakan Newcomb (1985) sebagai suatu keyakinan yang mendorong seseorang untuk bertindak atas dasar pilihannya. konsep ini dikembangkan oleh psycho-analytic theorists. moral berasal dari kata mores (latin) yang berarti dapat kebiasaan atau cara hidup. Konsep dan Perkembangan Moral Anak Dari segi etimologi. indah-tidak indah pada wilayah psikologis merupakan hasil dari serangkaian proses psikis yang mengarahkan seseorang pada suatu tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan keyakinannya. dan peran emosi dalam perkembangan moral.moral anak sebagai-mana Ballantine memiliki keyakinan bahwa sekolah dapat dijadikan sebagai tempat untuk melatih anak-anak dalam memahami nilai-nilai sosial yang penting agar tatanan sosial dapat ditegakkan.

Tipe ini memandang penalaran moral itu sebagai suatu keharus serta mencukupi bagi lahirnya suatu tindakan moral. yaitu seorang etis murni. Tipe pertama ialah tipe rasionalis. jika tindakan tersebut tidak pernah dipikirkan oleh pelakunya? Banyak ahli filsafat moral ataupun mereka yang menganalisis bahasa moral. yang menurut Kleinberger diwakili oleh Immanuel Kant dan Kohlberg. akan tetapi tidak mencukupi untuk melahirkan suatu tindakan moral. mengidentifikasi tiga tipe dari teori etika (ethical) dalam hubungannya dengan masalah ini. dalam rangka kegiatan naluriahnya. Tipe ketiga ialah tipe behavioristik sosial. yang masingmasing dilalui setiap orang sebelum ia dapat meraih tahapan berikutnya yang lebih tinggi. Tipe kedua adalah tipe naturalistis. & Jacob L. “Bilamana menyelam di sungai dapat dinilai sebagai suatu per-buatan yang berani atau perbuatan konyol?” Apabila seseorang melompat ke sungai untuk menyelamatkan seseorang yang hendak tenggelam. Keempat tahapan tersebut ialah: (1) tahapan perilaku naluriah. William M. Gerwitz 1993: 89) Kita dapat membedakan empat tahapan perbuatan (moral). sebagai suatu kondisi yang mencukupi bagi lahirnya moralitas suatu tindakan atau badan (Kurtines. (2) dalam tahapan kedua ini cara beroperasinya gejolak naluriah dimodifikasi melalui pengaruh hadiah dan hukuman yang kurang lebih secara sistematis dialaminya dari lingkungan sosialnya. Tipe ini berpandangan bahwa penalaran moral itu memang merupakan suatu keharusan. Kleinberger (1982) seorang filosof. yaitu seorang etis yang bertanggung jawab yang menurut Kleinberger diwakili oleh Aristoteles dan John Dewey. yang memandang perbuatan yang lahir sejalan dengan nilai moral yang telah diterima. kompetensi tentang pertimbangan moral merupakan suatu keharusan (atau mungkin dipandang cukup) bagi lahirnya tindakan moral. Sokrates bertanya. (3) dalam tahapan ketiga.moral. yang hanya dapat dipengaruhi oleh rasa sakit dan senang yang dialami seseorang secara kebetulan. apakah tindakan tersebut dapat dipandang sebagai tindakan moral atau tidak? Berkenaan dengan itu. perbuatan seseorang terutama dikendalikan oleh antisipasi 19 . akan tetapi motifnya adalah untuk mendapatkan hadiah. Sebelum suatu tindakan dapat dipandang sebagai suatu tindakan moral. alasan atau motivasi si pelaku melakukan tindakan tersebut harus terlebih dahulu diuji.

Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal (Mudyahadjo. Berkembangnya moral seseorang dari suatu tahap ke tahap berikutnya sangat tergantung dari perkembangan fisiknya atau biologis. media massa. lepas dari persoalan. lingkungan sosial yang disebut faktor ekstern. sekolah. (4) dalam tahapan tertinggi ini perbuatan diatur oleh suatu pengaturan ideal yang memungkinkan seseorang bertindak selaran dengan apa yang dipandangnya benar. Pendidikan meliputi semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya. ataupun tidak sengaja melalui proses enkulturisasi dan akulturasi. merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. pengalamannya. budaya/adat istiadat. (Purwanto. Istilah ini berasal dari kata Paedagogia (Yunani) berarti pergaulan dengan anak-anak. apakah ia akan mendapatkan pujian atau celaan dari lingkungan sosial yang terdekat”. dan sosialnya. misalnya keluarga.akan kemungkinan mendapatkan pujian dan celaan. Pendidikan Agama: Sebuah Harapan Ada dua istilah yang hampir sama dan sering digunakan dalam dunia pendidikan. memimpin). Faktor ekstern ini terjadi baik secara sengaja melalui proses sosialisasi. 1985: 1) Dalam definisi maha luas pendidikan adalah hidup. Pendi-dikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Paedagogiek atau ilmu pengetahuan ialah yang menyelidiki. 2001: 3-6). Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya mem-bimbing. teman sebaya. Definisi sempit pendidikan adalah sekolah. yaitu: Paedagogie dan paedagogiek. Sedangkan yang sering digunakan istilah paedagogog. yang disebut faktor intern. psikologis (kognisi dan emosi). Selain itu dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. kecakapan 20 . Paedagogie berarti pendidikan sedangkan paedagogiek artinya ilmu pendidikan. yaitu seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Pendidikan adalah segala pengalaman yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.

Mengingat pentingnya penanaman moral bagi peserta didik. Oleh karena itu pendidikan harus diarahkan untuk membangun kesadaran kritis peserta didik tentang berbagai hal. kebaikan dan keindahan. meliputi learning to know (belajar mengetahui). (3) mengarahkan anak agar memiliki sifat-sifat baik yang melekat. Oleh karena itu. Dalam hal ini ada empat pilar pendidikan UNESCO (Delor. Pendidikan juga merupakan salah satu usaha mengembangkan moral anak yang mencakup dua proses sengaja dan tidak sengaja. karena sebagai bagian dari masyarkaat mereka hidup selalu bersinggungan dengan orang lain. dan adat istiadat bangsa yang bernilai luhur. dan frekuensi dalam melakukan hal-hal yang terpuji menjadi satu kebiasaan sebagai wujud adanya internalisasi nilai moral. sehingga mereka dapat memberikan alasan-alasan moral (moral reasoning) yang tepat sebelum mereka mewujudkannya dalam tindakan. 21 . Nilai-nilai ini ditanamkan (diinternalisasikan) ke dalam diri peserta didik harus secara komprehensif dan melekat dalam setiap mata pelajaran. ada beberapa usulan agenda pendidikan bermuatan moral yang harus segera direalisasikan: Pendidikan harus berdasarkan nilai-nilai agama. intensitas. learning to be (belajar menjadi diri sendiri) dan learning live together (belajar hidup bersama) merupakan pijakan yang kuat bagi orang tua untuk mengajarkan dan mendidik moral anak (Andayani. dan menganiaya orang lain itu tidak baik. 1997) yang dapat dijadikan pedoman dalam mendidik moral. budaya. sehingga dapat hidup bahagia bersama dengan orang yang lain tanpa merugikan. sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. untuk menjaga keharmonisan itu anak perlu dibiasakan untuk menampilkan perilaku-perilaku yang baik dan benar. hak asasi manusia. 2004: 3). Dengan demikian. Dari empat pilar pendidikan tersebut maka pendidik memiliki peran penting sebaga berikuti: (1) memperluas wawasan pengetahuan anak tentang nilai-nilai. dan kejujuran. keadilan. (4) membimbing anak untuk selalu harmonis dengan lingkungannya.serta ketrampilannya kepada generasi muda. agar konsistensi. kebenaran. tawuran. termasuk nilai-nilai moral. peserta didik akan menyadari bahwa menyontek. (2) membimbing anak agar terampil melakukan suatu tindakan dari apa yang diyakininya sebagai nilai kebenaran. learning to do (belajar berbuat).

sendiri. yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan kehidupan akhirat (Jalaluddin & Usman Said. pendidikan adalah juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena menurut ajaran Islam. “Hai orang-orang yang beriman. Islam mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan. Dengan demikian tujuan akhir pendidikan yang dikehendaki Islam adalah terbentuknya manusia yang sempurna yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa atau berkepribadian muslim. seperti firmannya dalam Surah Ali Imran: 102. yang sebenar-benarnya takwa. Islam selalu mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan. yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah. Pendidikan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sampai ketingkat yang dikehendaki Allah SWT. Kepribadian muslim adalah suatu istilah yang abstrak dan sulit untuk menentukan siapa dan kapan seseorang telah mencapai keadaan itu. bertakwalah kamu kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu untuk mencapai tingkat takwa atau manusia yang berkepribadian muslim menghendaki adanya pendidikan.Dalam setiap mata pelajaran seharusnya ada pesan nilai dan moral tersebut untuk kemudian dihayati dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. 1994: 38). dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” Tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan misi Islam itu sendiri. karena penentuan siapa-siapa diantara hambanya yang mencapai kesempurnaan itu 22 . Tujuan itu sama dan sebangun dengan target yang terkandung dalam tugas kenabian yang diemban oleh Rasul Allah SAW. dapat menyelami hakekat alam. yang terungkap dalam pernyataan beliau: “Sesung-guhnya aku diutus adalah untuk membimbing manusia mencapai akhlak yang mulia” (hadis).

dalam surah al-Baqarah: 44 dengan tegas menyatakan. pembinaan akhlak. menyatakan bahwa pendidikan agama sesungguhnya jauh lebih berat daripada pengajaran pengetahuan umum apapun. mulai dari pemberian pengetahuan. beban tanggungjawab yang diberikan kepada guru agama lebih berat. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan.merupakan hak Allah. Beratnya tidak terletak pada ilmiahnya. Bayyinah ayat : 5) Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi hamba Allah yaitu mempercayai dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. seperti tercantum dalam Al-Qur'an: “Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya menyembahKu”(QS. guru dan orang dewasa lainnya yang harus dapat membawa anak kearah kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Adz-Dzariyat: 56). 23 . akan tetapi pada isi dan tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam agama Islam. Ini berarti bahwa yang dimaksud pendidik itu adalah orang tua. sehingga dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan yang dikehandaki maka perlu adanya kerjasama antara guru agama dengan guru lain. Oleh karenanya. Zakiyah Daradjat (1991: 112) dalam bukunya ilmu jiwa agama. Pendidikan agama ditujukan kepada pembentukan sikap. (QS. “Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah Allah dan dengan ikhlas beragama kepadanya”. guru dan masyarakat. tanggungjawab pendidikan tidak hanya terletak di pundak guru atau pendidik formal di sekolah. Dengan demikian pendidikan yang ditujukan kepada anak adalah secara keseluruhan atau seutuhnya. Dalam kaitan ini Allah SWT. dan pribadinya. tetapi merupakan tanggungjawab bersa-ma antara orang tua. sampai kepada pembinaan tingkah laku (akhlak) sesuai dengan ajaran agama. Namun demikian tujuan pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup manusia. tetapi juga aspek afektif dan psikomotor. Kepribadian seperti inilah yang disebut kepribadian muslim (taqwa) dan ke sinilah arah dan tujuan terakhir dari pendidikan Islam Hal tersebut berarti juga bahwa pendidikan tidak hanya menyangkut aspek kognitif. atau dengan ringkas dikatakan pembinaan kepribadian disamping pembinaan pengetahuan agama anak. pembinaan sikap.

maka keyakinan itulah yang akan mengawasi segala tindakan. Dengan pendidikan agama ini diharapkan tercipta suatu menifestasi riil yang tercermin dalam perilaku bermoral. senantiasa menjaga hatinya untuk tidak menuruti hawa nafsu. tindakan. melainkan juga perhatian dan stimulasi terhadap asfek non kongnisi antara lain berupa. Pendidikan agama yang diberikan kepada anak hendaklah secara keseluruhan atau seutuhnya. dan perkataannya akan dikendalikan oleh pribadi yang terbina didalamnya nilai agama. Inilah yang dinamakan insan yang bertaqwa. 24 . kecerdasan moral. Lebih jauh Zakiyah Daradjat (1977: 15) dalam bukunya Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia berpendapat bahwa apabila keyakinan beragama itu betul-betul telah menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang. emosi dan spiritual. senantiasa cenderung terhadap sesuatu yang diridahi Tuhan. perbuatan. perkataan bahkan perasaannya. Dengan pengembangan moral melalui pendidikan maka akan tercipta suatu manifestasi riil dan tercermin dalam perilaku. tindakan. sikap. dan kepribadi-annya sampai kepada pembinaan tingkah laku (akhlak) sesuai dengan ajaran agama. padahal kamu membaca Al-Kitab (taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir ?” Jadi melalui pendidikan agama kita dapat mengembangkan moral anak dan akhirnya dimana segala sikap. Sayyid Sabiq (1981: 52) dalam bukunya Unsur-unsur Dinamika dalam Islam. bersih dari noda dan dapat membawa dirinya kepada lebih takwa. mulai dari pemberian pengetahuan. Agama menjadi kepribadian anak dimana segala sikap. Rencana dan realisasinya bukan semata-mata beroritentasi pada materi pelajaran dan kognisi. Sekarang merupakan saat yang tepat untuk memulai memformat kembali pola pendidikan yang sudah berjalan. dan perkataannya akan dikendalikan oleh pribadi yang terbina didalamnya nilai agama.sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. yang akan menjadi pengendali perbuatannya. pembinaan. perbuatan. mengatakan bahwa orang yang berpegang teguh pada agama. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama sangat perlu dan penting diberikan kepada anak dalam rangka mengembangkan moral Jadi. yang akan menjadi pengendali perbuatannya.

25 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful