BAB II PEMBAHASAN A.

Pengertian Agama Secara Umum Merumuskan pengertian agama bukan suatu perkara mudah, dan ketidak sanggupan manusia untuk mendefinisikan agama karena disebabkan oleh persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena itu tidak mengherankan jika secara internal muncul pendapat-pendapat yang secara apriori menyatakan bahwa agama tertentu saja sebagai satu-satunya agama samawi, meskipun dalam waktu yang bersamaan menyatakan bahwa agama samawi itu meliputi Islam, Kristen dan Yahudi. Sumber terjadinya agama terdapat dua katagori, pada umumnya agama Samawi dari langit, agama yang diperoleh melalui Wahyu Illahi antara lain Islam, Kristen dan Yahudi. dan agama Wad’i atau agama bumi yang juga sering disebut sebagai agama budaya yang diperoleh berdasarkan kekuatan pikiran atau akal budi manusia antara lain Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan berbagai aliran keagamaan lain atau kepercayaan. Dalam prakteknya, sulit memisahkan antara wahyu Illahi dengan budaya, karena pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, seruan-seruan pemuka agama meskipun diluar Kitab Sucinya, tetapi oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai Perintah Illahi, sedangkan pemuka-pemuka agama itu sendiri merupakan bagian dari budaya dan tidak dapat melepaskan diri dari budaya dalam masa kehidupannya, manusia selalu dalam jalinan lingkup budaya karena manusia berpikir dan berperilaku. Beberapa acuan yang berkaitan dengan kata “Agama” pada umumnya; berdasarkan Sansekerta yang menunjukkan adanya keyakinan manusia berdasarkan Wahyu Illahi dari kata A-GAM-A, awalan A berarti “tidak” dan GAM berarti “pergi atau berjalan, sedangkan akhiran A bersifat menguatkan yang kekal, dengan demikian “agama: berarti pedoman hidup yang kekal”

1

Berdasarkan kitab, SUNARIGAMA yang memunculkan dua istilah; AGAMA dan UGAMA, agama berasal dari kata A-GA-MA, huruf A berarti “awang-awang, kosong atau hampa”, GA berarti “genah atau tempat” dan MA berarti “matahari, terang atau bersinar”, sehingga agama dimaknai sebagai ajaran untuk menguak rahasia misteri Tuhan, sedangkan istilah UGAMA mengandung makna, U atau UDDAHA yang berarti “tirta atau air suci” dan kata GA atau Gni berarti “api”, sedangkan MA atau Maruta berarti “angin atau udara” sehingga dalam hal ini agama berarti sebagai upacara yang harus dilaksanakan dengan sarana air, api, kidung kemenyan atau mantra. Berdasarkan kitab SADARIGAMA dari bahasa sansekerta IGAMA yang mengandung arti I atau Iswara, GA berarti Jasmani atau tubuh dan MA berarti Amartha berarti “hidup”, sehingga agama berarti Ilmu guna memahami tentang hakikat hidup dan keberadaan Tuhan.

B. MENGAPA KITA BERAGAMA ?? (by : Ust. Husein Al-Kaff)

"Dasar pertama agama (din) adalah mengenal-Nya." Perkataan di atas sangat tepat dan pada tempatnya, mengingat banyak orang yang beragama, tetapi tidak mengenal agamanya dengan baik. Padahal, mengenai agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Tetapi secara realita, keberagamaan sebagian besar dari mereka tidak sebagaimana mestinya. Nah, dalam kesempatan ini kami akan memberikan penjelasan tentang mengapa kita beragama dan bagaimana seharusnya kita beragama. Sehingga kita beragama atas dasar bashirah (pengetahuan, pengertian, dan bukti). Allah Ta’ala berfirman : "Katakanlah (wahai Muhammad). Inilah jalan-Ku. Aku mengajak kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata)" (QS Yusuf, 12 : 108). Namun sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kami terlebih dulu membicarakan tentang din itu sendiri. Apa itu Din ?

2

Menurut arti bahasa (etimologi). Alquran menyebutkan kata din dalam surat Al-Fatihah ayat 4. dan (3) norma (akhlak). Sehingga sulit dipercaya jika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Keyakinan ini pada intinya berkisar kepada Allah dan Hari Akhirat. Dalam arti balasan. kebahagiaan." Berdasarkan hal di atas. Dalam dimensi keyakinan atau akidah. Rasulullah Saww bersabda : "Addiinu nashiihah (agama adalah ketaatan). seseorang harus meyakini dan mengimani beberapa perkara dengan kokoh dan kuat. (2) hukum (syariat). din mencakup tiga dimensi : (1) keyakinan (akidah). Mengamalkan syariat merupakan representasi dari keyakinan. baik di dunia maupun akhirat. Keyakinan seperti itu akan diperoleh seseorang dengan argumentasi (dalil aqli) yang dapat dipertahankan. maka dia pasti berbahagia. la Karena syariat merupakan kewajiban dan 3 . din diartikan sebagai : "sekumpulan keyakinan. Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain lain saling berkaitan. Maliki Yaumiddin (Dialah Pemilik (Raja) Hari Pembalasan).Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali. Dengan menjalankan din. kedamaian. dan ketenangan akan teraih di dunia dan di akhirat. hukum. jika dia dapat melengkapi dirinya dengan tiga dimensi agama tersebut secara proporsional. dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. sehingga keyakinannya tersebut tidak dapat digoyahkan lagi." Sedangkan menurut terminologi teologi. din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Adapun syariat adalah konsekuensi logis dan praktis dari keyakinan. din diartikan sebagai ketaatan. Seseorang dikatakan mutadayyin (ber-din dengan baik). tetapi tidak mengindahkan syariat-Nya. Seseorang belum bisa dikatakan mutadayyin selagi tidak berakhlak." Demikian pula dalam sebuah hadis. norma yang akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan manusia. Sedangkan akhlak adalah tuntunan akal budi (aqal amali) yang mendorong seseorang untuk mengindahkan norma-norma dan meninggalkan keburukankeburukan. larangan yang datang dari-Nya.

Demikian pula. di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata penberian dari Allah. Mengapa Kita Beragama ? Marilah kita kembali pada pertanyaan semula : "mengapa kita beragama ? Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhlukmakhluk lainnya. Memang dari unsur hewani manusia tidak lebih dari binatang. manusia dicipta dari unsur yang berbeda. Karena. "Allah telah menciptakan kalian lemah. bahwa akidahlah yang menjadikan orang itu disebut Muslim. yang memisahkan seseorang yang beragama dari yang tidak beragama (ateis) adalah akidahnya. bukan hasil usahanya). akidah menduduki posisi yang paling prinsip dan menentukan." (QS Rum : 54). Sehubungan ini Allah Swt berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" (QS An-Nisa. 4 : 28). 4 . yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. kemudian menjadi kuat. Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa. Bukankah banyak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia. Yahudi atau yang lainnya. sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya. bahkan lebih lemah darinya. Dari ketiga dimensi din tersebut. Lebih khusus lagi. keliru sekali jika seseorang terlalu mementingkan akhlak daripada syariat. lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua.diina liman la akhlaqa lahu. Karena itu. Dalam pengertian bahwa yang menentukan seseorang itu mutadayyin atau tidak adalah akidahnya. Kristiani. termasuk malaikat. Dengan kata lain.

juz 1). keduanya bukan materi). Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama . atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya. manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20). Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia. 17 : 70). condong kepada kebaikan. Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : "Sungguh telah Kami muliakan anak-anak. dalam kitab Ma’arif al-Qur’an 5 . dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). dengan tanpa memasukkan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab Al-Ilahiyyat. Termasuk ke dalam unsur ruhan adalah fitrah. maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendirinya. Oleh karena itu. atas kebanyakan makhluk Kami Dan sungguh Kami utamakan mereka di lainnya. terdapat empat macam kecenderungan pada manusia. dalam arti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah Pemilik kesempurnaan tersebut. Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu. Karenanya. Syeik Taqi Mishbah Yazdi.Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal. Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu difaktualkan (bilfi’li) dan ditampakkan. serta Kami anugerahi mereka rezeki. 7 : 170. Al-Furqan : 42). berkarya (berkreasi). maka orang itu sama dengan binatang. Sedangkan menurut Syeikh Ja’far Subhani. Unsur akal pada manusia." (QS Al-Isra. Dengan akalnya. jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya. condong kepada keindahan. Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi). bahkan lebih hina dari binatang (QS Al-A’raf. dia berhak bangga atas yang lainnya. Din adalah bagian dari fitrah manusia. Syahid Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia yaitu mencari kebenaran (hakikat).

yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut diperoleh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya. manusia tidak harus dipaksa beragama. Rum: 30). C. Dengan demikian. 37. bahwa agama muncul karena kebodohan manusia." (QS. Pada mulanya—periode primitif—karena manusia tidak mengetahui rahasia alam. ada yang kuat dan ada pula yang lemah. dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segala sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris. Allah Ta’ala berfirman. adalah bahwa beragama merupakan fitrah manusia. namun untuk menentukan siapa atua apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah. bik fitrah beragama maupun lainnya. menyebutkan adanya dua ciri fitrah. antara lain: 1. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama.juz 1 hal. maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib. Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama. bahwa ada Sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya. Teori-teori Kemunculan Agama. melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. "Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus. dan kedua fitrah tersebut ada pada semua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda. maka keyakinan terhadap yang ghaib tidak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka. Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri. bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. sebagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan. Konsekuensi logis teori di atas. namun cukup kembali pada dirinya untuk menyebut suara dan panggilan hatinya. August Comte—peletak dasar aliran positivisme—menyebutkan. Agama muncul karena kebodohan manusia Sebagian mereka berpendapat. Namun. adalah makin pandai seseorang akan makin jauh ia 6 . yang terdapat pada manusia.

jangan marah dan lainnya.dari agama bahkan akhirnya tidak beragama. Namun. alangkah banyak orang bodoh yang tidak beragama 2. maka agama dengan sendirinya akan hilang. Agama adalah produk penguasa Karl Marx—bapak aliran komunis-sosialis—mengatakan. sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin. Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini. Jadi. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat. sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosialekonomi. Charles Darwin. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. sekalipun dengan cara kekerasan. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya. teori di atas gagal. Demikian sebaliknya. bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas. betapa banyak orang pandai yang beragama. bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Padahal. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama. Agama muncul karena kelemahan jiwa (takut) Teori ini mengatakan. Hegel dan lainnya. dan makin bodoh seseorang maka makin kuat agamanya. seperti Albert Einstein. seperti harus sabar. ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi. merupakan ciri orang yang beragama. Namun. Jadi. bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. 3.takut merupakan akibat dari meyakini adanya Tuhan (baca: beragama). sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. 7 . Kenyataannya. menerima takdir.

D. belas kasih. seorang filsuf Jerman. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan. Padahal mencintai dan menyembah kesempurnaan adalah fitrah.4. Agama adalah produk orang-orang lemah. Teori ini diperoleh Nietzche. sebenarnya mereka (kaum Atheis) beragama dengan pikiran mereka sendiri. mereka ingin menghapus agama dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka anggap lebih sempurna (seperti. Perbedaan kaum agamawan dengan mereka. ilmu pengetahuan menurut August Comte. mereka mempertuhankan diri mereka sendiri. komunis-sosialisme menurut Karl Marx dan lainnya). Sebenarnya. Teori di atas terbantahkan jika kita lihat kenyataan sejarah. bahwa tidak sedikit dari pembawa agama adalah para penguasa dan orang kuat—misalnya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman—keduanya adalah raja yang kuat. adalah bahwa kaum agamawan mendapatkan kesempurnaan yang mutlak hanya pada Tuhan. Pentingnya Agama Bagi Kehidupan Manusia 8 . Atau dengan kata lain. Teori ini mengatakan. Jadi. kesatriaan. kekuasaan dan kekuatan menurut Nietszche. keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat. sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orangorang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat.

Adapun di masa modern. Maka wajar jika kita tak banyak orang yang tahu apa arti agama itu sebenarnya. dalam penafsiran klasik terhadap agama. kedudukan manusia lebih rendah dari agama dan akidah. Orang cukup menyandarkan pegangan pada apakah seseorang itu merugikan orang lain atau tidak. Jangankan mengindahkan norma-normanya melaksanakan kewajibannya saja mereka ogah. manusia untuk agama. serta dengan mudah mereka akan mengorbankan jiwanya demi agama. dan berbagai penyelewengan arti yang tidak pada tempatnya. Maka. Dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Masikah agama digunakan untuk nilai moral ? Tampaknya tidak. Mungkin hal ini disebabkan oleh berkembangnya teknologi dan mode barat yang banyak dikonsumsi oleh pemuda kita. manusia menepatkan dirinya lebih tinggi dari agama. Bahkan demi materi seseorang rela mengorbankan 9 . Hal tersebut membuktikan bahwa saat ini agama sedang mengalami dekadensi penafsiran. dan main hakim sendiri. Sebagian menyangka bahwa karakteristik zaman modern adalah segala sesuatu untuk manusia atu humanisme. Pernahkah kita menyadari akan pentingnya bagi kemanusiaan ? Tidakkah selama ini kita tahu bahwa atas nama agama manusia sering melakukan tindakan yang tidak semestinya. Dengan dasar ini. dengan demikian tak dapat disangkal lagi bahwa saat ini manusia telah mulai merubah pandangan medreka dari agama kepada hal-hal yang bersifat materi. Sekatrang orang tidak memerlukan rumusan-rumusan agama untuk menilai apakah seseorang bermoral atau tidak. Selalu merasa dirinyalah yang benar dan tahu tentang agama.Kita hidup di lingkungan beragama. Padahal dalam pandangan tradisional. Tidak sedikit orang yang memaksakan fahamnya terhadap orang lain. penilaian moral telah bergeser dari rumusan agama ke rumusan humanisme universal. apakah suatu tindakan dinilai bermoral atau amoral. dan ini berarti bahwa manusia tidak mengorbankan diri demi agama dan membunuh seseorang atas nama agama. manusia berkhidmat pada agama dan jiwa manusia menjadi tidak bernilai. termasuk agama untuk manusia. Inilah yang disebut dekadensi penafsiran manusia terhadap agama. Mereka mengatakan. Suatu tindakan dikatakan tidak bermoral hanya jika tindakan itu merugikan orang lain.

Seandainya tak ada satupun agama didunia ini yang mengatur segala seluk-beluk kehidupan manusia. sarjana dari Sacramento State University. satu pondasi dasar untuk memaksimalkan penggunaan akal kita (walaupun banyak keterbatasan tentunya (karena satu sisi manusia makhluk lemah yang suka berkeluh kesah. Oleh karena itu. 12 September lalu. kita sebagai manusia harus maksimal UNTUK MENGGUNAKAN AKAL DAN PIKIRAN kita yaitu mencari sebuah prinsip dasar kehidupan. mudah putus asa dll) E. Sungguh berbahagialah kita semua karena memiliki agama dan Tuhan tempat kita memohon dan meratap. (kompas. tetapi paling tidak akan membuat keuangan saya stabil. Agar kehidupan manusia serba teratur.kehormatannya. Singkat kata. sehingga manusia itu ketika mampu mempergunakan akalnya secara maksimal dia bahkan bias lebih baik dari malaikat (dalam pemahaman agama malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan patuh. Tentunya berbicara manusia adalah berbicara bagaimana itu. yang memiliki kelebihan akal.16 septermber 2008). tidak pernah membantah) Namun ada satu sudut pandang lain yaitu bila manusia tidak mampu mempergunakan akalnya manusia lebih hina dari binatang. seperti apa manusia dan apakah manusia itu???? Pendekatan pertama adalah bahwa manusia itu makhluk hidup yang unik.” kata gadis 22 tahun kepada Insider. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN DAN PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN 10 . Karena tidak ada halangan bagi manusia mau berbaur dengan siapa saja untuk melampiaskan nafsu seksualnya. “Memang melelang keperawatan tidak akan menyelesaikan seluruh masalah saya. Seperti kasus natalian Dylan. Ini sebabnya kenapa agama begitu penting bagi manusia. mungkin kita akan pernah tahu siapa Bapak-Ibu kita. Gadis ini melelang keperawanannya di situs lelang eBay dan uangnya akan digunakan untuk membayar biaya sekolah yang belum lunas.

Silahkan baca buku Ini iman pertama yang paling mendasar dari ilmu pengetahuan alam. Tetapi ia tidak setuju dengan iman Thales yang kedua bahwa semua adalah air. Mengapa ia lakukan itu? Karena ia percaya bahwa alam semesta ini dapat dimengerti oleh otaknya. Pengetahuan ilmu pengetahuan alam praktis dikembangkan oleh Archimedes. Thales sangat terkesan akan air. agama dan kebudayaan. Iman kedua Anaximenes adalah udara.Sejak awal sejarah umat manusia. Anaximandros setuju dengan Thales bahwa alam ini dapat dimengerti oleh otak manusia. sebelum Kristus. Ia masukkan dalam filsafatnya iman keduanya sendiri ialah bahwa semua adalah ketidak terbatasan. Filsuf-filsuf berikutnya memasukkan 11 . Anaximenes mengatakan: “Semua adalah udara”. Seorang filsuf lainnya Anaximandros berpendapat bahwa: “Semua adalah yang tak terbatas (to apeiron)”. Ilmu Pengetahuan bermula dari filsafat Yunani kuno. Ini berlainan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang. manusia telah memperhatikan alam semesta. Tanpa kepercayaan ini ia tidak akan buat kesimpulan-kesimpulan dan teori-teori atau filsafat-filsafat. Pulau Miletos dikelilingi laut. Pada abad ke-6 sebelum Kristus. Thales dari Milletos mengamati alam semesta ini dan mengatakan: “Semua adalah air”. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN. pengetahuan. dan dirinya sendiri dan bertanya-tanya akan banyak hal. Thales menambah iman kedua ialah bahwa semua adalah air. Kemudian timbul filsuffilsuf lain dan yang paling berpengaruh pada ilmu pengetahuan alam manusia ialah Aristoteles yang hidup diabad ke-4 Filsafat Yunani untuk detail lebih lanjut Yang mau saya tekankan disini ialah pengaruh iman pada ilmu pengetahuan Setelah Thales mengamati alam semesta ini ia mulai kembangkan pikiran dan kesimpulan-kesimpulannya. Uap air kalau mendingin jadi air kembali. Air kalau dipanaskan jadi uap air. Filsuf lainnya lagi. Bahwa alam semesta dapat dimengerti akal manusia tidak dapat dibuktikan tetapi harus diterima dengan iman. Ini menghasilkan ilmu 1. Ia tentu sering melihat hujan.

seorang akhli fisika. Ini iman kedua. Mereka kembangkan rumus-rumus yang mereka percaya berlaku selamanya. Makin lama makin besar pengaruh iman pada ilmu pengetahuan. Diantaranya terdapat akhli matematika Kurt Goedel. Schlick mengumpulkan beberapa dosen dari jurusan lain. preassumptions (asumsi mula) atau axioms. Kalau ada satu saja asumsi mula yang salah. Pengaruh iman pada teori-teori manusia ditunjukkan a. Pada tahun 1895 di-Universitas Wina diberikan matapelajaran “filsafat ilmu pengetahuan induktif”. PRINSIP VERIFIKASI DAN FALSIFIKASI. Makin lama makin banyak dan makin kompleks. Sejak 1922 pelajaran diberikan oleh Moritz Schlick (1882—1936).imannya sendiri dalam filsafatnya. maka salahlah seluruh teori atau filsafat yang dibangun diatasnya. juga berlaku hari ini dan besok”. Iman ini dalam ilmu pengetahuan disebut juga presupostions. Rudolf Carnap dll . Para ilmuwan selanjutnya mengambil alih iman ini dan dalam perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang sesungguhnya ilmu pengetahuan manusia dipengaruhi oleh iman tambahan mereka sampai sekarang. Hans Hahn. Apakah ada cara untuk menguji teori-teori ilmiah dengan cara yang lebih dapat diandalkan? Menurut saya ada.l. Kemudian Galileo dan Newton mengambil alih iman ini begitu saja dan menambah iman baru: “Apa yang berlaku kemarin. A. Kehormatan mengajar diberikan kepada seorang akhli fisika Ernst Mach (1838-1916). Kepercayaan atau iman ini: “ialah bahwa alam semesta dapat dimengerti oleh manusia” diteruskan dari generasi kegenerasi. ialah dengan prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi. Dengan demikian ilmu pengetahuan mulai disoroti secara filosofis. Diantara akhli-akhli ilmu exakta tersebut ada seorang sosiolog Otto 12 . Setiap minggu mereka jumpa untuk membahas secara filosofis jurusan masingmasing. oleh Alfred North Whitehead dan Albert Einstein.

sampai ia terbukti salah. Metafisika disini mungkin mempunyai arti yang sedikit lain daripada metafisika dari Aristoteles. makin lama makin pesat. Tetapi kini lebih dikenal sebagai positivisme logis (logical positivism). Yang paling menyolok ialah bahwa mereka sangat tekankan prinsip verifikasi.. Seorang metafisikus percaya bahwa apa yang masuk keakalnya adalah juga benar walaupun tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. Keduanya maju dengan pesat. Yang salah masuk tong sampah atau maksimal sejarah masa lampau.Neurath (1882-1945). Positivisme Logis kemudian mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan alam khususnya. B. METAFISIKA. diseluruh Eropah Barat bahkan diseluruh dunia sampai sekarang. sangat pesat. Ludwig von Witgenstein dan Karl Popper mempunyai pengaruh yang besar. Banyak sekali makalah makalah dan buku-buku yang ditulis kelompok ini. 13 . Lawan dari positivisme logis adalah metafisiska. Prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi dapat seleksi teori-teori yang “benar” dan teori-teori yang “salah”. Yang “benar” diteruskan dan dikembangkan. Karl Popper menunjukan bahwa sebuah teori tidak pernah dapat diverifikasi (dibuktikan benar) tetapi teori yang bermakna seharusnya dapat difalsifikasi (dibuktikan salah). Mereka katakan: “Suatu ucapan yang tidak dapat diverifikasi ialah ucapan yang tidak bermakna”. Buah dari ilmu pengetahuan alam ialah Teknologi dan kedokteran. tetapi tidak pernah jadi anggota kelompok ini. Mula-mula filsafat yang dikeluarkan kelompok ini bernama filsafat dari lingkungan Wina (der Wiener Kreis).

Seorang ilmuwan lain yang juga sangat terkenal Wernher von Heisenberg menunjukkan betapa miskinnya ilmu pengetahuan manusia bila hanya yang dapat diverifikasi/falsifikasi saja yang dianggap bermakna. Kalau seorang percaya Tuhan yang mempunyai kesanggupan tak terbatas. kalau ia buat teori. Inilah hakekat dari teori evolusi. maka didalam teorinya ada unsur-unsur metafisis. atau berevolusi perlahan-lahan dari sebuah gumpalan masa yang sangat padat. 14 . Einstein mengakui bahwa dalam teori-teorinya sendiri ada unsur metafisis. Saya mengakui apa yang ditunjukkan kedua ilmuwan besar itu adalah benar. belum tentu masuk akal untuk orang lain. maka masuk keakalnya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta. maka masuk keakalnya bila Tuhan ciptakan alam semesta dalam waktu enam hari seperti disaksikan Alkitab. Yang lebih masuk keakalnya ialah kalau Tuhan menciptakan alam semesta sedikit. sedikit dalam waktu sangat lama. masuk keakalnya bahwa Tuhan dapat menciptakan alam semesta dalam waktu sekejap. Ini adalah hakekat dari “The Big Bang Theory”. presuposition) yang diambilnya sebelum ia menyelidiki sesuatu. Tetapi kalau asumsi mulanya ialah bahwa Tuhan hanya lebih besar sedikit dari manusia.Albert Einstein menunjukkan bahwa berapa positifnyapun seorang ilmuwan mengaku. Baginya lebih masuk keakalnya kalau alam semesta ini selamanya ada. maka hal itu tidak masuk keakalnya. Tetapi saya juga tunjukkan bahwa sebuah teori yang masuk akal menurut seorang. Kalau ia percaya ada Tuhan seperti disaksikan Alkitab. maka tidak masuk keakalnya bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Hal itu sangat tergantung pada asumsi-asumsi mula (preassumptions. Saya telah tunjukkan bahwa Thales dari Milletospun telah mempunyai mempunyai asumsi mula bahwa alam semesta ini dapat dimengerti sebelum ia mulai filsafatnya. Inilah hakekat dari teori kreasi. Kalau seorang percaya bahwa Tuhan itu ada. Contoh: Persoalan “Teori Evolusi versus Teori Kreasi”: Kalau seorang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.

Sejak semula manusia sudah penuh pertanyaan mengenai alam semesta dan dirinya sendiri. tetapi percaya juga teori evolusi akan berusaha untuk mengkompromikan keduanya. Manusia tidak puas dengan ilmu pengetahuan saja. Keduanya hanya soal lebih masuk akal yang mana menurut Anda. PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN. maka sesungguhnya ia sudah keluar dari bidang ilmiah dan masuk bidang agama atau kepercayaan atau filsafat. II. 15 .Seorang yang percaya pada Tuhan Alkitab. maupun teori kreasi tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi.l. walaupun dalam teori yang manapun ada unsur metafisik dan unsur iman.J. Manusia butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Sebelum Anda mengambil keputusan tanya dahulu apa asumsi-asumsi mula Anda? Sesungguhnya perdebatan evolusi/kreasi adalah perdebatan ilmiah atau perdebatan agama? Kesimpulan pasal I: Sebuah teori ilmiah seharusnya dapat diverifikasi dan/atau difalsifikasi. Siapakah sesungguhnya saya ini? Mengapa saya ada disini? Setelah mati kemana saya? Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan. dan (sayangnya) juga oleh beberapa teolog protestan. Kompromi ini diambil alih oleh beberapa rohaniwan Katolik lain termasuk Paus Yohannes Paulus II. Kalau sebuah teori sama sekali tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. Inilah yang dilakukan a. tetapi banyak pertanyaan manusia tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. oleh seoarang rohaniwan Katolik Pater Tijlhard de Chardin S. seperti umpamanya teori evolusi/kreasi. Baik teori evolusi. Manusia butuh agama yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia ini.

tidak dapat diverifikasi /falsifikasi. JADI APA? TIDAK LAIN DARIPADA SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS YANG TIDAK BERMAKNA. Tuhan! Siapa yang ciptakan Tuhan? Tuhan selamanya ada. mengapa harus Tuhan? Mengapa bukan alam semesta saja? Keduanya sama logis atau sama onlogisnya. Luther dan Calvin tidak pernah berpretensi bahwa teologi mereka “ilmiah”. Inipun sesungghunya tidak dapat dibuktikan. ILMU PENGAMATAN- PENGAMATAN DAN PENYELIDIKAN-PENYELIDIKAN YANG DAPAT DIAMATI DENGAN CERMAT DAN DAPAT DIULANGI. Umpama mengenai keberadaan Tuhan.Pernyataan-pernyataan agama pada umumnya tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. FIRMAN ALLAH BERADA JAUH DIATAS SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS MANUSIA. TETAPI SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGRITIK FIRMAN ALLAH. AGAMA PENGETAHUAN PADA PADA HAKEKATNYA HAKEKATNYA ADALAH ADALAH IMAN. Argumen kosmologis teleologis dsb dari Thomas Aquinas telah dibantah oleh filsuf-filsuf lain. jadi adalah kepercayaan non-ilmiah. Karena Tuhan tidak kelihatan tetapi materi nyata. APA YANG DISEBUT “STUDI KRITIS ALKITAB” OLEH BEBERAPA TEOLOG DIKIRA ADALAH ILMIAH. METODE ILMIAH SANGAT COCOK UNTUK MENAKLUKAN ALAM (Kejadian 1:28). Siapa yang ciptakan alam semesta?. Kalau ada yang selamanya ada. SESUNGGUHNYA “STUDI KRITIS ALKITAB” BUKAN AGAMA DAN BUKAN ILMU. walaupun mereka mungkin terpengaruh filsuf-filsuf seperti Plato dan Aristoteles. Bertrand Russel membahas soal ini dengan cara yang sederhana sekali. 16 . Keduanya sama-sama tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. TETAPI KESIMPULAN-KESIMPULAN STUDI KRITIS TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI ATAU FALSIFIKASI. ALIAS OMONG KOSONG. maka lebih masuk akal untuk mengatakan materi selamanya ada. Agama adalah kepercayaan yang tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. Apalagi teolog-teolog sebelum mereka seperti Agustinus dan Thomas Aquinas.

Moral manusia tidak berkembang dengan sendirinya. problem sosial moral itu antara lain berwujud semakin meningkatnya hubungan seks pranikah. Bisakah pendidikan digunakan sebagai instrumen bagi upaya mengembangkan moral anak? Tentu secara teoritik jawabnya bisa. ternyata juga dilakukan oleh orang dewasa yang sebenarnya justru lebih membahayakan. Pendidikan adalah salah satu faktor ekstern yang dapat mempengaruhi perkembangan moral. Ketika moral dikaitkan dengan subjeknya yaitu manusia. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral baik intern maupun ekstern. Fenomena keseharian yang terjadi di masa kini khususnya di kalangan remaja. dalam jangka panjang. merosotnya penghargaan siswa terhadap guru dan orang tua. meningkatnya perkelahian antar pelajar (tawuran). tentu saja menimbulkan suatu pertanyaan. terror. psikologis dan sosial.F. meningkatnya penyalah-gunaan narkoba. tindakan pencurian dan perampokan tidak hanya dilakukan oleh orang miskin. rendahnya kepedulian sosial. tindak kekerasan. kolusi. Munculnya perilaku yang meyimpang dikalangan remaja (juvenile deliquence) yang membahayakan ini. yang salah satu kegiatannya terletak pada persekolahan. Semakin merosot dan bobroknya moralitas masyarakat sekarang. yang semuanya itu menggambarkan indikasi kegagalan tercapainya tujuan pendidikan. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah solusi dalam membangun moralitas manusia melalui pendidikan agama. Moral berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan biologis. Pendidikan. Perlu usaha proaktif dan inovatif untuk mengembangkan dan membentuk perilaku yang bermoral. namun banyak pula dilakukan oleh orang kaya (korupsi). apalagi ketika moralitas manusia cenderung mengarah ke perilaku amoral. tentu dapat dimanfaatkan sebagai instrument untuk mengembangkan 17 . Revitalisasi Pendidikan Agama Dalam Mengembangkan Moral Anak (Perspektif Psikologi Perkembangan tentang Moral) Berbicara tentang moral atau etika berarti berbicara tentang sesuatu yang bertkaitan dengan baik buruknya perilaku manusia. nepotisme. maka akan semakin terasa derajat urgensi atau kepentingannya.

moral anak sebagai-mana Ballantine memiliki keyakinan bahwa sekolah dapat dijadikan sebagai tempat untuk melatih anak-anak dalam memahami nilai-nilai sosial yang penting agar tatanan sosial dapat ditegakkan. Moral Feelings adalah perasaan moral. moral berasal dari kata mores (latin) yang berarti dapat kebiasaan atau cara hidup. Oleh karena itu. mengapa pendidikan yang telah berlangsung sekian lama ini menunjukkan indikasi kegagalan dalam membangun moralitas masyarakatnya? Lantas apa kesalahan pendidikan selama ini? Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah alternatif pendidikan yang dapat mengembangkan moralitas anak. Moral Thought adalah bagaimana remaja berpikir tentang standar benar dan salah. Persoalan konseptual pun muncul mengenai tindakan atau tingkah laku moral (moral behavior). teknik aturan pengasuhan anak. sedangkan nilai dari kata value yang berarti harga. Sedangkan Kupperman (1983) menyatakan nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan pilihannya di antara berbagai alternatif untuk bertindak. empati. Moral Behavior adalah bertingkah laku secara aktual dalam keadaan tertentu dengan mempertimbangkan proses dasar munculnya tingkah laku dan altruism (mementingkan kepentingan orang lain). keputusan benar-salah. Kalau memang pendidikan mampu menjadi instrumen dalam mengembangkan moral anak. Piaget mengatakan bahwa anak berpikir dengan dua cara yang berkaitan dengan moral. Apakah suatu tindakan dapat dipandang sebagai tindakan 18 . tergantung pada kematangan perkembangannya. Konsep dan Perkembangan Moral Anak Dari segi etimologi. dan peran emosi dalam perkembangan moral. Nilai inilah yang dikatakan Newcomb (1985) sebagai suatu keyakinan yang mendorong seseorang untuk bertindak atas dasar pilihannya. indah-tidak indah pada wilayah psikologis merupakan hasil dari serangkaian proses psikis yang mengarahkan seseorang pada suatu tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan keyakinannya. konsep ini dikembangkan oleh psycho-analytic theorists. baik-buruk.

perbuatan seseorang terutama dikendalikan oleh antisipasi 19 . yaitu seorang etis yang bertanggung jawab yang menurut Kleinberger diwakili oleh Aristoteles dan John Dewey. William M. alasan atau motivasi si pelaku melakukan tindakan tersebut harus terlebih dahulu diuji. yang masingmasing dilalui setiap orang sebelum ia dapat meraih tahapan berikutnya yang lebih tinggi. sebagai suatu kondisi yang mencukupi bagi lahirnya moralitas suatu tindakan atau badan (Kurtines. akan tetapi tidak mencukupi untuk melahirkan suatu tindakan moral. apakah tindakan tersebut dapat dipandang sebagai tindakan moral atau tidak? Berkenaan dengan itu. Tipe ini memandang penalaran moral itu sebagai suatu keharus serta mencukupi bagi lahirnya suatu tindakan moral. Sokrates bertanya. (3) dalam tahapan ketiga. yaitu seorang etis murni. Sebelum suatu tindakan dapat dipandang sebagai suatu tindakan moral. kompetensi tentang pertimbangan moral merupakan suatu keharusan (atau mungkin dipandang cukup) bagi lahirnya tindakan moral. Kleinberger (1982) seorang filosof. mengidentifikasi tiga tipe dari teori etika (ethical) dalam hubungannya dengan masalah ini. Tipe pertama ialah tipe rasionalis. jika tindakan tersebut tidak pernah dipikirkan oleh pelakunya? Banyak ahli filsafat moral ataupun mereka yang menganalisis bahasa moral. (2) dalam tahapan kedua ini cara beroperasinya gejolak naluriah dimodifikasi melalui pengaruh hadiah dan hukuman yang kurang lebih secara sistematis dialaminya dari lingkungan sosialnya. Gerwitz 1993: 89) Kita dapat membedakan empat tahapan perbuatan (moral). yang memandang perbuatan yang lahir sejalan dengan nilai moral yang telah diterima. yang hanya dapat dipengaruhi oleh rasa sakit dan senang yang dialami seseorang secara kebetulan. & Jacob L. yang menurut Kleinberger diwakili oleh Immanuel Kant dan Kohlberg.moral. “Bilamana menyelam di sungai dapat dinilai sebagai suatu per-buatan yang berani atau perbuatan konyol?” Apabila seseorang melompat ke sungai untuk menyelamatkan seseorang yang hendak tenggelam. akan tetapi motifnya adalah untuk mendapatkan hadiah. Tipe ini berpandangan bahwa penalaran moral itu memang merupakan suatu keharusan. Tipe kedua adalah tipe naturalistis. Keempat tahapan tersebut ialah: (1) tahapan perilaku naluriah. dalam rangka kegiatan naluriahnya. Tipe ketiga ialah tipe behavioristik sosial.

2001: 3-6). 1985: 1) Dalam definisi maha luas pendidikan adalah hidup. yaitu seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. apakah ia akan mendapatkan pujian atau celaan dari lingkungan sosial yang terdekat”. Pendidikan meliputi semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya. Berkembangnya moral seseorang dari suatu tahap ke tahap berikutnya sangat tergantung dari perkembangan fisiknya atau biologis. Pendidikan adalah segala pengalaman yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan Agama: Sebuah Harapan Ada dua istilah yang hampir sama dan sering digunakan dalam dunia pendidikan. media massa. Sedangkan yang sering digunakan istilah paedagogog. Paedagogiek atau ilmu pengetahuan ialah yang menyelidiki. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal (Mudyahadjo. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya mem-bimbing. dan sosialnya. misalnya keluarga. yaitu: Paedagogie dan paedagogiek. Faktor ekstern ini terjadi baik secara sengaja melalui proses sosialisasi. Istilah ini berasal dari kata Paedagogia (Yunani) berarti pergaulan dengan anak-anak. (4) dalam tahapan tertinggi ini perbuatan diatur oleh suatu pengaturan ideal yang memungkinkan seseorang bertindak selaran dengan apa yang dipandangnya benar. Pendi-dikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. pengalamannya. Selain itu dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan.akan kemungkinan mendapatkan pujian dan celaan. Definisi sempit pendidikan adalah sekolah. sekolah. budaya/adat istiadat. Paedagogie berarti pendidikan sedangkan paedagogiek artinya ilmu pendidikan. merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. (Purwanto. memimpin). kecakapan 20 . teman sebaya. lingkungan sosial yang disebut faktor ekstern. lepas dari persoalan. yang disebut faktor intern. ataupun tidak sengaja melalui proses enkulturisasi dan akulturasi. psikologis (kognisi dan emosi).

karena sebagai bagian dari masyarkaat mereka hidup selalu bersinggungan dengan orang lain. Pendidikan juga merupakan salah satu usaha mengembangkan moral anak yang mencakup dua proses sengaja dan tidak sengaja. intensitas. dan menganiaya orang lain itu tidak baik.serta ketrampilannya kepada generasi muda. termasuk nilai-nilai moral. (2) membimbing anak agar terampil melakukan suatu tindakan dari apa yang diyakininya sebagai nilai kebenaran. dan adat istiadat bangsa yang bernilai luhur. tawuran. keadilan. sehingga mereka dapat memberikan alasan-alasan moral (moral reasoning) yang tepat sebelum mereka mewujudkannya dalam tindakan. agar konsistensi. (4) membimbing anak untuk selalu harmonis dengan lingkungannya. ada beberapa usulan agenda pendidikan bermuatan moral yang harus segera direalisasikan: Pendidikan harus berdasarkan nilai-nilai agama. 2004: 3). hak asasi manusia. Dari empat pilar pendidikan tersebut maka pendidik memiliki peran penting sebaga berikuti: (1) memperluas wawasan pengetahuan anak tentang nilai-nilai. learning to do (belajar berbuat). meliputi learning to know (belajar mengetahui). dan kejujuran. Oleh karena itu. Oleh karena itu pendidikan harus diarahkan untuk membangun kesadaran kritis peserta didik tentang berbagai hal. untuk menjaga keharmonisan itu anak perlu dibiasakan untuk menampilkan perilaku-perilaku yang baik dan benar. sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. peserta didik akan menyadari bahwa menyontek. kebaikan dan keindahan. dan frekuensi dalam melakukan hal-hal yang terpuji menjadi satu kebiasaan sebagai wujud adanya internalisasi nilai moral. Nilai-nilai ini ditanamkan (diinternalisasikan) ke dalam diri peserta didik harus secara komprehensif dan melekat dalam setiap mata pelajaran. sehingga dapat hidup bahagia bersama dengan orang yang lain tanpa merugikan. learning to be (belajar menjadi diri sendiri) dan learning live together (belajar hidup bersama) merupakan pijakan yang kuat bagi orang tua untuk mengajarkan dan mendidik moral anak (Andayani. budaya. 1997) yang dapat dijadikan pedoman dalam mendidik moral. Mengingat pentingnya penanaman moral bagi peserta didik. Dengan demikian. Dalam hal ini ada empat pilar pendidikan UNESCO (Delor. (3) mengarahkan anak agar memiliki sifat-sifat baik yang melekat. 21 . kebenaran.

Dengan demikian tujuan akhir pendidikan yang dikehendaki Islam adalah terbentuknya manusia yang sempurna yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa atau berkepribadian muslim. Karena menurut ajaran Islam. Tujuan itu sama dan sebangun dengan target yang terkandung dalam tugas kenabian yang diemban oleh Rasul Allah SAW. yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan kehidupan akhirat (Jalaluddin & Usman Said. agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. bertakwalah kamu kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan. sendiri. Kepribadian muslim adalah suatu istilah yang abstrak dan sulit untuk menentukan siapa dan kapan seseorang telah mencapai keadaan itu. yang sebenar-benarnya takwa. “Hai orang-orang yang beriman. Pendidikan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sampai ketingkat yang dikehendaki Allah SWT. dapat menyelami hakekat alam. Islam mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan. 1994: 38). pendidikan adalah juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu untuk mencapai tingkat takwa atau manusia yang berkepribadian muslim menghendaki adanya pendidikan.Dalam setiap mata pelajaran seharusnya ada pesan nilai dan moral tersebut untuk kemudian dihayati dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Islam selalu mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan. karena penentuan siapa-siapa diantara hambanya yang mencapai kesempurnaan itu 22 . dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” Tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan misi Islam itu sendiri. yang terungkap dalam pernyataan beliau: “Sesung-guhnya aku diutus adalah untuk membimbing manusia mencapai akhlak yang mulia” (hadis). seperti firmannya dalam Surah Ali Imran: 102. yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah.

“Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah Allah dan dengan ikhlas beragama kepadanya”. Kepribadian seperti inilah yang disebut kepribadian muslim (taqwa) dan ke sinilah arah dan tujuan terakhir dari pendidikan Islam Hal tersebut berarti juga bahwa pendidikan tidak hanya menyangkut aspek kognitif. sampai kepada pembinaan tingkah laku (akhlak) sesuai dengan ajaran agama. Dengan demikian pendidikan yang ditujukan kepada anak adalah secara keseluruhan atau seutuhnya.merupakan hak Allah. Pendidikan agama ditujukan kepada pembentukan sikap. Namun demikian tujuan pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup manusia. beban tanggungjawab yang diberikan kepada guru agama lebih berat. Bayyinah ayat : 5) Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi hamba Allah yaitu mempercayai dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. tetapi merupakan tanggungjawab bersa-ma antara orang tua. (QS. guru dan orang dewasa lainnya yang harus dapat membawa anak kearah kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam kaitan ini Allah SWT. tanggungjawab pendidikan tidak hanya terletak di pundak guru atau pendidik formal di sekolah. tetapi juga aspek afektif dan psikomotor. Dalam agama Islam. Ini berarti bahwa yang dimaksud pendidik itu adalah orang tua. pembinaan akhlak. menyatakan bahwa pendidikan agama sesungguhnya jauh lebih berat daripada pengajaran pengetahuan umum apapun. guru dan masyarakat. mulai dari pemberian pengetahuan. 23 . seperti tercantum dalam Al-Qur'an: “Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya menyembahKu”(QS. Oleh karenanya. Zakiyah Daradjat (1991: 112) dalam bukunya ilmu jiwa agama. akan tetapi pada isi dan tujuan pendidikan itu sendiri. atau dengan ringkas dikatakan pembinaan kepribadian disamping pembinaan pengetahuan agama anak. Adz-Dzariyat: 56). dan pribadinya. sehingga dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan yang dikehandaki maka perlu adanya kerjasama antara guru agama dengan guru lain. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan. pembinaan sikap. dalam surah al-Baqarah: 44 dengan tegas menyatakan. Beratnya tidak terletak pada ilmiahnya.

Dengan pendidikan agama ini diharapkan tercipta suatu menifestasi riil yang tercermin dalam perilaku bermoral. tindakan. perkataan bahkan perasaannya. maka keyakinan itulah yang akan mengawasi segala tindakan. Dengan pengembangan moral melalui pendidikan maka akan tercipta suatu manifestasi riil dan tercermin dalam perilaku. Pendidikan agama yang diberikan kepada anak hendaklah secara keseluruhan atau seutuhnya. yang akan menjadi pengendali perbuatannya. senantiasa menjaga hatinya untuk tidak menuruti hawa nafsu. kecerdasan moral. bersih dari noda dan dapat membawa dirinya kepada lebih takwa. dan perkataannya akan dikendalikan oleh pribadi yang terbina didalamnya nilai agama. perbuatan. tindakan. Lebih jauh Zakiyah Daradjat (1977: 15) dalam bukunya Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia berpendapat bahwa apabila keyakinan beragama itu betul-betul telah menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang. emosi dan spiritual. yang akan menjadi pengendali perbuatannya. Inilah yang dinamakan insan yang bertaqwa. Rencana dan realisasinya bukan semata-mata beroritentasi pada materi pelajaran dan kognisi. perbuatan. padahal kamu membaca Al-Kitab (taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir ?” Jadi melalui pendidikan agama kita dapat mengembangkan moral anak dan akhirnya dimana segala sikap. Sekarang merupakan saat yang tepat untuk memulai memformat kembali pola pendidikan yang sudah berjalan. senantiasa cenderung terhadap sesuatu yang diridahi Tuhan. melainkan juga perhatian dan stimulasi terhadap asfek non kongnisi antara lain berupa. dan perkataannya akan dikendalikan oleh pribadi yang terbina didalamnya nilai agama. mengatakan bahwa orang yang berpegang teguh pada agama.sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama sangat perlu dan penting diberikan kepada anak dalam rangka mengembangkan moral Jadi. Sayyid Sabiq (1981: 52) dalam bukunya Unsur-unsur Dinamika dalam Islam. sikap. mulai dari pemberian pengetahuan. Agama menjadi kepribadian anak dimana segala sikap. pembinaan. 24 . dan kepribadi-annya sampai kepada pembinaan tingkah laku (akhlak) sesuai dengan ajaran agama.

25 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful