BAB II PEMBAHASAN A.

Pengertian Agama Secara Umum Merumuskan pengertian agama bukan suatu perkara mudah, dan ketidak sanggupan manusia untuk mendefinisikan agama karena disebabkan oleh persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena itu tidak mengherankan jika secara internal muncul pendapat-pendapat yang secara apriori menyatakan bahwa agama tertentu saja sebagai satu-satunya agama samawi, meskipun dalam waktu yang bersamaan menyatakan bahwa agama samawi itu meliputi Islam, Kristen dan Yahudi. Sumber terjadinya agama terdapat dua katagori, pada umumnya agama Samawi dari langit, agama yang diperoleh melalui Wahyu Illahi antara lain Islam, Kristen dan Yahudi. dan agama Wad’i atau agama bumi yang juga sering disebut sebagai agama budaya yang diperoleh berdasarkan kekuatan pikiran atau akal budi manusia antara lain Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan berbagai aliran keagamaan lain atau kepercayaan. Dalam prakteknya, sulit memisahkan antara wahyu Illahi dengan budaya, karena pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, seruan-seruan pemuka agama meskipun diluar Kitab Sucinya, tetapi oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai Perintah Illahi, sedangkan pemuka-pemuka agama itu sendiri merupakan bagian dari budaya dan tidak dapat melepaskan diri dari budaya dalam masa kehidupannya, manusia selalu dalam jalinan lingkup budaya karena manusia berpikir dan berperilaku. Beberapa acuan yang berkaitan dengan kata “Agama” pada umumnya; berdasarkan Sansekerta yang menunjukkan adanya keyakinan manusia berdasarkan Wahyu Illahi dari kata A-GAM-A, awalan A berarti “tidak” dan GAM berarti “pergi atau berjalan, sedangkan akhiran A bersifat menguatkan yang kekal, dengan demikian “agama: berarti pedoman hidup yang kekal”

1

Berdasarkan kitab, SUNARIGAMA yang memunculkan dua istilah; AGAMA dan UGAMA, agama berasal dari kata A-GA-MA, huruf A berarti “awang-awang, kosong atau hampa”, GA berarti “genah atau tempat” dan MA berarti “matahari, terang atau bersinar”, sehingga agama dimaknai sebagai ajaran untuk menguak rahasia misteri Tuhan, sedangkan istilah UGAMA mengandung makna, U atau UDDAHA yang berarti “tirta atau air suci” dan kata GA atau Gni berarti “api”, sedangkan MA atau Maruta berarti “angin atau udara” sehingga dalam hal ini agama berarti sebagai upacara yang harus dilaksanakan dengan sarana air, api, kidung kemenyan atau mantra. Berdasarkan kitab SADARIGAMA dari bahasa sansekerta IGAMA yang mengandung arti I atau Iswara, GA berarti Jasmani atau tubuh dan MA berarti Amartha berarti “hidup”, sehingga agama berarti Ilmu guna memahami tentang hakikat hidup dan keberadaan Tuhan.

B. MENGAPA KITA BERAGAMA ?? (by : Ust. Husein Al-Kaff)

"Dasar pertama agama (din) adalah mengenal-Nya." Perkataan di atas sangat tepat dan pada tempatnya, mengingat banyak orang yang beragama, tetapi tidak mengenal agamanya dengan baik. Padahal, mengenai agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Tetapi secara realita, keberagamaan sebagian besar dari mereka tidak sebagaimana mestinya. Nah, dalam kesempatan ini kami akan memberikan penjelasan tentang mengapa kita beragama dan bagaimana seharusnya kita beragama. Sehingga kita beragama atas dasar bashirah (pengetahuan, pengertian, dan bukti). Allah Ta’ala berfirman : "Katakanlah (wahai Muhammad). Inilah jalan-Ku. Aku mengajak kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata)" (QS Yusuf, 12 : 108). Namun sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kami terlebih dulu membicarakan tentang din itu sendiri. Apa itu Din ?

2

dan (3) norma (akhlak). sehingga keyakinannya tersebut tidak dapat digoyahkan lagi. maka dia pasti berbahagia. Mengamalkan syariat merupakan representasi dari keyakinan. Sedangkan akhlak adalah tuntunan akal budi (aqal amali) yang mendorong seseorang untuk mengindahkan norma-norma dan meninggalkan keburukankeburukan. Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain lain saling berkaitan. Alquran menyebutkan kata din dalam surat Al-Fatihah ayat 4. Dengan menjalankan din." Sedangkan menurut terminologi teologi. norma yang akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan manusia. tetapi tidak mengindahkan syariat-Nya. Adapun syariat adalah konsekuensi logis dan praktis dari keyakinan. la Karena syariat merupakan kewajiban dan 3 . kebahagiaan. Maliki Yaumiddin (Dialah Pemilik (Raja) Hari Pembalasan). dan ketenangan akan teraih di dunia dan di akhirat.Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali. Sehingga sulit dipercaya jika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Seseorang dikatakan mutadayyin (ber-din dengan baik)." Demikian pula dalam sebuah hadis. (2) hukum (syariat). Dalam dimensi keyakinan atau akidah. Keyakinan ini pada intinya berkisar kepada Allah dan Hari Akhirat. jika dia dapat melengkapi dirinya dengan tiga dimensi agama tersebut secara proporsional. baik di dunia maupun akhirat. Dalam arti balasan. seseorang harus meyakini dan mengimani beberapa perkara dengan kokoh dan kuat. dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Menurut arti bahasa (etimologi). larangan yang datang dari-Nya. kedamaian. din diartikan sebagai : "sekumpulan keyakinan. Rasulullah Saww bersabda : "Addiinu nashiihah (agama adalah ketaatan). din mencakup tiga dimensi : (1) keyakinan (akidah). Seseorang belum bisa dikatakan mutadayyin selagi tidak berakhlak." Berdasarkan hal di atas. din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. hukum. Keyakinan seperti itu akan diperoleh seseorang dengan argumentasi (dalil aqli) yang dapat dipertahankan. din diartikan sebagai ketaatan.

bahwa akidahlah yang menjadikan orang itu disebut Muslim. Karena itu. 4 : 28). 4 . Yahudi atau yang lainnya. Dengan kata lain. yang memisahkan seseorang yang beragama dari yang tidak beragama (ateis) adalah akidahnya. Sehubungan ini Allah Swt berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" (QS An-Nisa. Karena. akidah menduduki posisi yang paling prinsip dan menentukan." (QS Rum : 54). di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata penberian dari Allah. manusia dicipta dari unsur yang berbeda. Bukankah banyak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia. keliru sekali jika seseorang terlalu mementingkan akhlak daripada syariat. Lebih khusus lagi. Mengapa Kita Beragama ? Marilah kita kembali pada pertanyaan semula : "mengapa kita beragama ? Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhlukmakhluk lainnya. Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa. termasuk malaikat. Kristiani. sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya. lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua. kemudian menjadi kuat. Memang dari unsur hewani manusia tidak lebih dari binatang. Demikian pula. bukan hasil usahanya). bahkan lebih lemah darinya. Dari ketiga dimensi din tersebut. yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. "Allah telah menciptakan kalian lemah. Dalam pengertian bahwa yang menentukan seseorang itu mutadayyin atau tidak adalah akidahnya.diina liman la akhlaqa lahu.

dalam kitab Ma’arif al-Qur’an 5 . berkarya (berkreasi). Termasuk ke dalam unsur ruhan adalah fitrah. Oleh karena itu. juz 1). Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. terdapat empat macam kecenderungan pada manusia. atas kebanyakan makhluk Kami Dan sungguh Kami utamakan mereka di lainnya. 17 : 70). Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi). dalam arti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah Pemilik kesempurnaan tersebut. condong kepada kebaikan." (QS Al-Isra. awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu difaktualkan (bilfi’li) dan ditampakkan. Karenanya. Din adalah bagian dari fitrah manusia. condong kepada keindahan. Al-Furqan : 42). keduanya bukan materi). dengan tanpa memasukkan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab Al-Ilahiyyat. dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). 7 : 170. maka orang itu sama dengan binatang. Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama . Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut. serta Kami anugerahi mereka rezeki. Dengan akalnya. Syeik Taqi Mishbah Yazdi. Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : "Sungguh telah Kami muliakan anak-anak. Sedangkan menurut Syeikh Ja’far Subhani. Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia. atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya. manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20).Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal. bahkan lebih hina dari binatang (QS Al-A’raf. dia berhak bangga atas yang lainnya. Syahid Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia yaitu mencari kebenaran (hakikat). Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu. maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendirinya. Unsur akal pada manusia.

juz 1 hal. bahwa ada Sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya. antara lain: 1. dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segala sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris. namun cukup kembali pada dirinya untuk menyebut suara dan panggilan hatinya. 37." (QS. Rum: 30). namun untuk menentukan siapa atua apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah. adalah bahwa beragama merupakan fitrah manusia. maka keyakinan terhadap yang ghaib tidak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka. Agama muncul karena kebodohan manusia Sebagian mereka berpendapat. Konsekuensi logis teori di atas. yang terdapat pada manusia. dan kedua fitrah tersebut ada pada semua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda. yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut diperoleh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya. "Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus. menyebutkan adanya dua ciri fitrah. August Comte—peletak dasar aliran positivisme—menyebutkan. Namun. manusia tidak harus dipaksa beragama. bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama. melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. bik fitrah beragama maupun lainnya. Allah Ta’ala berfirman. Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri. maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib. Pada mulanya—periode primitif—karena manusia tidak mengetahui rahasia alam. C. ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Dengan demikian. sebagai fitrah Allah yang atasnya manusia diciptakan. adalah makin pandai seseorang akan makin jauh ia 6 . Teori-teori Kemunculan Agama. bahwa perkembangan pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama.

Demikian sebaliknya. alangkah banyak orang bodoh yang tidak beragama 2. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama dari para pemeluknya. Kenyataannya. maka agama dengan sendirinya akan hilang. seperti Albert Einstein. 7 . Namun. teori di atas gagal. Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. betapa banyak orang pandai yang beragama. Hegel dan lainnya. menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. Charles Darwin. sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin. Jadi. Padahal. ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama. sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosialekonomi. bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Agama adalah produk penguasa Karl Marx—bapak aliran komunis-sosialis—mengatakan. 3. jangan marah dan lainnya.takut merupakan akibat dari meyakini adanya Tuhan (baca: beragama). menerima takdir. dan makin bodoh seseorang maka makin kuat agamanya. Namun.dari agama bahkan akhirnya tidak beragama. seperti harus sabar. sekalipun dengan cara kekerasan. bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Agama muncul karena kelemahan jiwa (takut) Teori ini mengatakan. bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas. merupakan ciri orang yang beragama. Jadi.

Padahal mencintai dan menyembah kesempurnaan adalah fitrah. adalah bahwa kaum agamawan mendapatkan kesempurnaan yang mutlak hanya pada Tuhan. D.4. belas kasih. Sebenarnya. mereka ingin menghapus agama dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka anggap lebih sempurna (seperti. Atau dengan kata lain. Teori ini mengatakan. Teori ini diperoleh Nietzche. Teori di atas terbantahkan jika kita lihat kenyataan sejarah. ilmu pengetahuan menurut August Comte. keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat. sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. seorang filsuf Jerman. bahwa tidak sedikit dari pembawa agama adalah para penguasa dan orang kuat—misalnya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman—keduanya adalah raja yang kuat. Perbedaan kaum agamawan dengan mereka. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan. Jadi. Agama adalah produk orang-orang lemah. Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. sebenarnya mereka (kaum Atheis) beragama dengan pikiran mereka sendiri. kesatriaan. komunis-sosialisme menurut Karl Marx dan lainnya). mereka mempertuhankan diri mereka sendiri. kekuasaan dan kekuatan menurut Nietszche. Pentingnya Agama Bagi Kehidupan Manusia 8 . bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orangorang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat.

Sekatrang orang tidak memerlukan rumusan-rumusan agama untuk menilai apakah seseorang bermoral atau tidak. Mungkin hal ini disebabkan oleh berkembangnya teknologi dan mode barat yang banyak dikonsumsi oleh pemuda kita. serta dengan mudah mereka akan mengorbankan jiwanya demi agama. Mereka mengatakan. dan ini berarti bahwa manusia tidak mengorbankan diri demi agama dan membunuh seseorang atas nama agama. Adapun di masa modern. Maka. Maka wajar jika kita tak banyak orang yang tahu apa arti agama itu sebenarnya. apakah suatu tindakan dinilai bermoral atau amoral. Sebagian menyangka bahwa karakteristik zaman modern adalah segala sesuatu untuk manusia atu humanisme. dalam penafsiran klasik terhadap agama. dan berbagai penyelewengan arti yang tidak pada tempatnya. manusia untuk agama. dengan demikian tak dapat disangkal lagi bahwa saat ini manusia telah mulai merubah pandangan medreka dari agama kepada hal-hal yang bersifat materi. penilaian moral telah bergeser dari rumusan agama ke rumusan humanisme universal. manusia berkhidmat pada agama dan jiwa manusia menjadi tidak bernilai. Dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Masikah agama digunakan untuk nilai moral ? Tampaknya tidak. Hal tersebut membuktikan bahwa saat ini agama sedang mengalami dekadensi penafsiran. Pernahkah kita menyadari akan pentingnya bagi kemanusiaan ? Tidakkah selama ini kita tahu bahwa atas nama agama manusia sering melakukan tindakan yang tidak semestinya. manusia menepatkan dirinya lebih tinggi dari agama. Padahal dalam pandangan tradisional.Kita hidup di lingkungan beragama. Selalu merasa dirinyalah yang benar dan tahu tentang agama. Jangankan mengindahkan norma-normanya melaksanakan kewajibannya saja mereka ogah. kedudukan manusia lebih rendah dari agama dan akidah. Inilah yang disebut dekadensi penafsiran manusia terhadap agama. Orang cukup menyandarkan pegangan pada apakah seseorang itu merugikan orang lain atau tidak. termasuk agama untuk manusia. Tidak sedikit orang yang memaksakan fahamnya terhadap orang lain. Bahkan demi materi seseorang rela mengorbankan 9 . dan main hakim sendiri. Dengan dasar ini. Suatu tindakan dikatakan tidak bermoral hanya jika tindakan itu merugikan orang lain.

Sungguh berbahagialah kita semua karena memiliki agama dan Tuhan tempat kita memohon dan meratap. kita sebagai manusia harus maksimal UNTUK MENGGUNAKAN AKAL DAN PIKIRAN kita yaitu mencari sebuah prinsip dasar kehidupan. seperti apa manusia dan apakah manusia itu???? Pendekatan pertama adalah bahwa manusia itu makhluk hidup yang unik. Singkat kata. tidak pernah membantah) Namun ada satu sudut pandang lain yaitu bila manusia tidak mampu mempergunakan akalnya manusia lebih hina dari binatang. mungkin kita akan pernah tahu siapa Bapak-Ibu kita. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN DAN PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN 10 . 12 September lalu. Agar kehidupan manusia serba teratur. Tentunya berbicara manusia adalah berbicara bagaimana itu. sehingga manusia itu ketika mampu mempergunakan akalnya secara maksimal dia bahkan bias lebih baik dari malaikat (dalam pemahaman agama malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan patuh. Seandainya tak ada satupun agama didunia ini yang mengatur segala seluk-beluk kehidupan manusia.kehormatannya. satu pondasi dasar untuk memaksimalkan penggunaan akal kita (walaupun banyak keterbatasan tentunya (karena satu sisi manusia makhluk lemah yang suka berkeluh kesah.16 septermber 2008). Ini sebabnya kenapa agama begitu penting bagi manusia. Seperti kasus natalian Dylan. tetapi paling tidak akan membuat keuangan saya stabil. yang memiliki kelebihan akal. sarjana dari Sacramento State University. “Memang melelang keperawatan tidak akan menyelesaikan seluruh masalah saya. (kompas. Oleh karena itu. Karena tidak ada halangan bagi manusia mau berbaur dengan siapa saja untuk melampiaskan nafsu seksualnya.” kata gadis 22 tahun kepada Insider. mudah putus asa dll) E. Gadis ini melelang keperawanannya di situs lelang eBay dan uangnya akan digunakan untuk membayar biaya sekolah yang belum lunas.

Thales menambah iman kedua ialah bahwa semua adalah air.Sejak awal sejarah umat manusia. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN. Filsuf lainnya lagi. Thales sangat terkesan akan air. Bahwa alam semesta dapat dimengerti akal manusia tidak dapat dibuktikan tetapi harus diterima dengan iman. Ia masukkan dalam filsafatnya iman keduanya sendiri ialah bahwa semua adalah ketidak terbatasan. Anaximenes mengatakan: “Semua adalah udara”. Filsuf-filsuf berikutnya memasukkan 11 . manusia telah memperhatikan alam semesta. Ini menghasilkan ilmu 1. Uap air kalau mendingin jadi air kembali. Kemudian timbul filsuffilsuf lain dan yang paling berpengaruh pada ilmu pengetahuan alam manusia ialah Aristoteles yang hidup diabad ke-4 Filsafat Yunani untuk detail lebih lanjut Yang mau saya tekankan disini ialah pengaruh iman pada ilmu pengetahuan Setelah Thales mengamati alam semesta ini ia mulai kembangkan pikiran dan kesimpulan-kesimpulannya. Pengetahuan ilmu pengetahuan alam praktis dikembangkan oleh Archimedes. Silahkan baca buku Ini iman pertama yang paling mendasar dari ilmu pengetahuan alam. sebelum Kristus. Iman kedua Anaximenes adalah udara. Ilmu Pengetahuan bermula dari filsafat Yunani kuno. Seorang filsuf lainnya Anaximandros berpendapat bahwa: “Semua adalah yang tak terbatas (to apeiron)”. Pulau Miletos dikelilingi laut. Anaximandros setuju dengan Thales bahwa alam ini dapat dimengerti oleh otak manusia. Ia tentu sering melihat hujan. agama dan kebudayaan. dan dirinya sendiri dan bertanya-tanya akan banyak hal. Tetapi ia tidak setuju dengan iman Thales yang kedua bahwa semua adalah air. Ini berlainan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang. Mengapa ia lakukan itu? Karena ia percaya bahwa alam semesta ini dapat dimengerti oleh otaknya. Tanpa kepercayaan ini ia tidak akan buat kesimpulan-kesimpulan dan teori-teori atau filsafat-filsafat. Pada abad ke-6 sebelum Kristus. pengetahuan. Air kalau dipanaskan jadi uap air. Thales dari Milletos mengamati alam semesta ini dan mengatakan: “Semua adalah air”.

Hans Hahn. Diantaranya terdapat akhli matematika Kurt Goedel. Schlick mengumpulkan beberapa dosen dari jurusan lain.imannya sendiri dalam filsafatnya. maka salahlah seluruh teori atau filsafat yang dibangun diatasnya. Setiap minggu mereka jumpa untuk membahas secara filosofis jurusan masingmasing. Rudolf Carnap dll . Pada tahun 1895 di-Universitas Wina diberikan matapelajaran “filsafat ilmu pengetahuan induktif”. Diantara akhli-akhli ilmu exakta tersebut ada seorang sosiolog Otto 12 . juga berlaku hari ini dan besok”. ialah dengan prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi. Kemudian Galileo dan Newton mengambil alih iman ini begitu saja dan menambah iman baru: “Apa yang berlaku kemarin. Para ilmuwan selanjutnya mengambil alih iman ini dan dalam perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang sesungguhnya ilmu pengetahuan manusia dipengaruhi oleh iman tambahan mereka sampai sekarang. Iman ini dalam ilmu pengetahuan disebut juga presupostions. Apakah ada cara untuk menguji teori-teori ilmiah dengan cara yang lebih dapat diandalkan? Menurut saya ada. Makin lama makin besar pengaruh iman pada ilmu pengetahuan. Ini iman kedua. A. seorang akhli fisika. oleh Alfred North Whitehead dan Albert Einstein. Dengan demikian ilmu pengetahuan mulai disoroti secara filosofis. Makin lama makin banyak dan makin kompleks. preassumptions (asumsi mula) atau axioms. Kehormatan mengajar diberikan kepada seorang akhli fisika Ernst Mach (1838-1916). Pengaruh iman pada teori-teori manusia ditunjukkan a. Mereka kembangkan rumus-rumus yang mereka percaya berlaku selamanya. Kalau ada satu saja asumsi mula yang salah.l. Sejak 1922 pelajaran diberikan oleh Moritz Schlick (1882—1936). Kepercayaan atau iman ini: “ialah bahwa alam semesta dapat dimengerti oleh manusia” diteruskan dari generasi kegenerasi. PRINSIP VERIFIKASI DAN FALSIFIKASI.

Tetapi kini lebih dikenal sebagai positivisme logis (logical positivism). diseluruh Eropah Barat bahkan diseluruh dunia sampai sekarang. Banyak sekali makalah makalah dan buku-buku yang ditulis kelompok ini. Mula-mula filsafat yang dikeluarkan kelompok ini bernama filsafat dari lingkungan Wina (der Wiener Kreis).Neurath (1882-1945). tetapi tidak pernah jadi anggota kelompok ini. Karl Popper menunjukan bahwa sebuah teori tidak pernah dapat diverifikasi (dibuktikan benar) tetapi teori yang bermakna seharusnya dapat difalsifikasi (dibuktikan salah). Prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi dapat seleksi teori-teori yang “benar” dan teori-teori yang “salah”. makin lama makin pesat. Yang salah masuk tong sampah atau maksimal sejarah masa lampau.. B. Ludwig von Witgenstein dan Karl Popper mempunyai pengaruh yang besar. sampai ia terbukti salah. Yang “benar” diteruskan dan dikembangkan. Metafisika disini mungkin mempunyai arti yang sedikit lain daripada metafisika dari Aristoteles. sangat pesat. Yang paling menyolok ialah bahwa mereka sangat tekankan prinsip verifikasi. Seorang metafisikus percaya bahwa apa yang masuk keakalnya adalah juga benar walaupun tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. Buah dari ilmu pengetahuan alam ialah Teknologi dan kedokteran. Lawan dari positivisme logis adalah metafisiska. METAFISIKA. Keduanya maju dengan pesat. Positivisme Logis kemudian mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan alam khususnya. 13 . Mereka katakan: “Suatu ucapan yang tidak dapat diverifikasi ialah ucapan yang tidak bermakna”.

Yang lebih masuk keakalnya ialah kalau Tuhan menciptakan alam semesta sedikit. maka didalam teorinya ada unsur-unsur metafisis. belum tentu masuk akal untuk orang lain. kalau ia buat teori. masuk keakalnya bahwa Tuhan dapat menciptakan alam semesta dalam waktu sekejap. Kalau seorang percaya bahwa Tuhan itu ada. Tetapi kalau asumsi mulanya ialah bahwa Tuhan hanya lebih besar sedikit dari manusia. Kalau ia percaya ada Tuhan seperti disaksikan Alkitab. Contoh: Persoalan “Teori Evolusi versus Teori Kreasi”: Kalau seorang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. maka tidak masuk keakalnya bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Hal itu sangat tergantung pada asumsi-asumsi mula (preassumptions. Baginya lebih masuk keakalnya kalau alam semesta ini selamanya ada. sedikit dalam waktu sangat lama. Einstein mengakui bahwa dalam teori-teorinya sendiri ada unsur metafisis. Saya mengakui apa yang ditunjukkan kedua ilmuwan besar itu adalah benar. 14 . maka masuk keakalnya bila Tuhan ciptakan alam semesta dalam waktu enam hari seperti disaksikan Alkitab.Albert Einstein menunjukkan bahwa berapa positifnyapun seorang ilmuwan mengaku. atau berevolusi perlahan-lahan dari sebuah gumpalan masa yang sangat padat. maka hal itu tidak masuk keakalnya. Seorang ilmuwan lain yang juga sangat terkenal Wernher von Heisenberg menunjukkan betapa miskinnya ilmu pengetahuan manusia bila hanya yang dapat diverifikasi/falsifikasi saja yang dianggap bermakna. Inilah hakekat dari teori evolusi. maka masuk keakalnya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta. presuposition) yang diambilnya sebelum ia menyelidiki sesuatu. Tetapi saya juga tunjukkan bahwa sebuah teori yang masuk akal menurut seorang. Kalau seorang percaya Tuhan yang mempunyai kesanggupan tak terbatas. Saya telah tunjukkan bahwa Thales dari Milletospun telah mempunyai mempunyai asumsi mula bahwa alam semesta ini dapat dimengerti sebelum ia mulai filsafatnya. Ini adalah hakekat dari “The Big Bang Theory”. Inilah hakekat dari teori kreasi.

II. maka sesungguhnya ia sudah keluar dari bidang ilmiah dan masuk bidang agama atau kepercayaan atau filsafat. Manusia butuh agama yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia ini. oleh seoarang rohaniwan Katolik Pater Tijlhard de Chardin S. Kompromi ini diambil alih oleh beberapa rohaniwan Katolik lain termasuk Paus Yohannes Paulus II. Baik teori evolusi. Keduanya hanya soal lebih masuk akal yang mana menurut Anda. PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN. Siapakah sesungguhnya saya ini? Mengapa saya ada disini? Setelah mati kemana saya? Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan. tetapi banyak pertanyaan manusia tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan.l. dan (sayangnya) juga oleh beberapa teolog protestan. tetapi percaya juga teori evolusi akan berusaha untuk mengkompromikan keduanya. seperti umpamanya teori evolusi/kreasi. Manusia tidak puas dengan ilmu pengetahuan saja. Sejak semula manusia sudah penuh pertanyaan mengenai alam semesta dan dirinya sendiri. Kalau sebuah teori sama sekali tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. maupun teori kreasi tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi.Seorang yang percaya pada Tuhan Alkitab. 15 .J. Manusia butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. walaupun dalam teori yang manapun ada unsur metafisik dan unsur iman. Sebelum Anda mengambil keputusan tanya dahulu apa asumsi-asumsi mula Anda? Sesungguhnya perdebatan evolusi/kreasi adalah perdebatan ilmiah atau perdebatan agama? Kesimpulan pasal I: Sebuah teori ilmiah seharusnya dapat diverifikasi dan/atau difalsifikasi. Inilah yang dilakukan a.

Tuhan! Siapa yang ciptakan Tuhan? Tuhan selamanya ada. Kalau ada yang selamanya ada. Siapa yang ciptakan alam semesta?. AGAMA PENGETAHUAN PADA PADA HAKEKATNYA HAKEKATNYA ADALAH ADALAH IMAN. TETAPI KESIMPULAN-KESIMPULAN STUDI KRITIS TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI ATAU FALSIFIKASI. mengapa harus Tuhan? Mengapa bukan alam semesta saja? Keduanya sama logis atau sama onlogisnya. SESUNGGUHNYA “STUDI KRITIS ALKITAB” BUKAN AGAMA DAN BUKAN ILMU. tidak dapat diverifikasi /falsifikasi. Keduanya sama-sama tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. jadi adalah kepercayaan non-ilmiah.Pernyataan-pernyataan agama pada umumnya tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. Bertrand Russel membahas soal ini dengan cara yang sederhana sekali. Argumen kosmologis teleologis dsb dari Thomas Aquinas telah dibantah oleh filsuf-filsuf lain. METODE ILMIAH SANGAT COCOK UNTUK MENAKLUKAN ALAM (Kejadian 1:28). ALIAS OMONG KOSONG. maka lebih masuk akal untuk mengatakan materi selamanya ada. walaupun mereka mungkin terpengaruh filsuf-filsuf seperti Plato dan Aristoteles. Agama adalah kepercayaan yang tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. ILMU PENGAMATAN- PENGAMATAN DAN PENYELIDIKAN-PENYELIDIKAN YANG DAPAT DIAMATI DENGAN CERMAT DAN DAPAT DIULANGI. JADI APA? TIDAK LAIN DARIPADA SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS YANG TIDAK BERMAKNA. Umpama mengenai keberadaan Tuhan. 16 . TETAPI SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGRITIK FIRMAN ALLAH. FIRMAN ALLAH BERADA JAUH DIATAS SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS MANUSIA. Luther dan Calvin tidak pernah berpretensi bahwa teologi mereka “ilmiah”. APA YANG DISEBUT “STUDI KRITIS ALKITAB” OLEH BEBERAPA TEOLOG DIKIRA ADALAH ILMIAH. Apalagi teolog-teolog sebelum mereka seperti Agustinus dan Thomas Aquinas. Karena Tuhan tidak kelihatan tetapi materi nyata. Inipun sesungghunya tidak dapat dibuktikan.

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral baik intern maupun ekstern. problem sosial moral itu antara lain berwujud semakin meningkatnya hubungan seks pranikah. Revitalisasi Pendidikan Agama Dalam Mengembangkan Moral Anak (Perspektif Psikologi Perkembangan tentang Moral) Berbicara tentang moral atau etika berarti berbicara tentang sesuatu yang bertkaitan dengan baik buruknya perilaku manusia. maka akan semakin terasa derajat urgensi atau kepentingannya. meningkatnya penyalah-gunaan narkoba. apalagi ketika moralitas manusia cenderung mengarah ke perilaku amoral. tindakan pencurian dan perampokan tidak hanya dilakukan oleh orang miskin. ternyata juga dilakukan oleh orang dewasa yang sebenarnya justru lebih membahayakan. tentu saja menimbulkan suatu pertanyaan. psikologis dan sosial. Pendidikan adalah salah satu faktor ekstern yang dapat mempengaruhi perkembangan moral. namun banyak pula dilakukan oleh orang kaya (korupsi). dalam jangka panjang. tindak kekerasan. nepotisme. Semakin merosot dan bobroknya moralitas masyarakat sekarang. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah solusi dalam membangun moralitas manusia melalui pendidikan agama. terror. meningkatnya perkelahian antar pelajar (tawuran). Pendidikan. Moral berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan biologis. merosotnya penghargaan siswa terhadap guru dan orang tua. rendahnya kepedulian sosial. yang salah satu kegiatannya terletak pada persekolahan. Bisakah pendidikan digunakan sebagai instrumen bagi upaya mengembangkan moral anak? Tentu secara teoritik jawabnya bisa. Perlu usaha proaktif dan inovatif untuk mengembangkan dan membentuk perilaku yang bermoral. yang semuanya itu menggambarkan indikasi kegagalan tercapainya tujuan pendidikan. Moral manusia tidak berkembang dengan sendirinya.F. Ketika moral dikaitkan dengan subjeknya yaitu manusia. Munculnya perilaku yang meyimpang dikalangan remaja (juvenile deliquence) yang membahayakan ini. Fenomena keseharian yang terjadi di masa kini khususnya di kalangan remaja. kolusi. tentu dapat dimanfaatkan sebagai instrument untuk mengembangkan 17 .

Moral Behavior adalah bertingkah laku secara aktual dalam keadaan tertentu dengan mempertimbangkan proses dasar munculnya tingkah laku dan altruism (mementingkan kepentingan orang lain). Sedangkan Kupperman (1983) menyatakan nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi seseorang dalam menentukan pilihannya di antara berbagai alternatif untuk bertindak. dan peran emosi dalam perkembangan moral. Oleh karena itu. Persoalan konseptual pun muncul mengenai tindakan atau tingkah laku moral (moral behavior). keputusan benar-salah. konsep ini dikembangkan oleh psycho-analytic theorists. mengapa pendidikan yang telah berlangsung sekian lama ini menunjukkan indikasi kegagalan dalam membangun moralitas masyarakatnya? Lantas apa kesalahan pendidikan selama ini? Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah alternatif pendidikan yang dapat mengembangkan moralitas anak.moral anak sebagai-mana Ballantine memiliki keyakinan bahwa sekolah dapat dijadikan sebagai tempat untuk melatih anak-anak dalam memahami nilai-nilai sosial yang penting agar tatanan sosial dapat ditegakkan. Moral Thought adalah bagaimana remaja berpikir tentang standar benar dan salah. indah-tidak indah pada wilayah psikologis merupakan hasil dari serangkaian proses psikis yang mengarahkan seseorang pada suatu tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan keyakinannya. baik-buruk. Nilai inilah yang dikatakan Newcomb (1985) sebagai suatu keyakinan yang mendorong seseorang untuk bertindak atas dasar pilihannya. Kalau memang pendidikan mampu menjadi instrumen dalam mengembangkan moral anak. Konsep dan Perkembangan Moral Anak Dari segi etimologi. tergantung pada kematangan perkembangannya. empati. Piaget mengatakan bahwa anak berpikir dengan dua cara yang berkaitan dengan moral. moral berasal dari kata mores (latin) yang berarti dapat kebiasaan atau cara hidup. teknik aturan pengasuhan anak. Moral Feelings adalah perasaan moral. Apakah suatu tindakan dapat dipandang sebagai tindakan 18 . sedangkan nilai dari kata value yang berarti harga.

Tipe kedua adalah tipe naturalistis. alasan atau motivasi si pelaku melakukan tindakan tersebut harus terlebih dahulu diuji. akan tetapi tidak mencukupi untuk melahirkan suatu tindakan moral. Kleinberger (1982) seorang filosof. (3) dalam tahapan ketiga. Tipe ini memandang penalaran moral itu sebagai suatu keharus serta mencukupi bagi lahirnya suatu tindakan moral. Tipe ini berpandangan bahwa penalaran moral itu memang merupakan suatu keharusan. & Jacob L. sebagai suatu kondisi yang mencukupi bagi lahirnya moralitas suatu tindakan atau badan (Kurtines. jika tindakan tersebut tidak pernah dipikirkan oleh pelakunya? Banyak ahli filsafat moral ataupun mereka yang menganalisis bahasa moral. apakah tindakan tersebut dapat dipandang sebagai tindakan moral atau tidak? Berkenaan dengan itu. mengidentifikasi tiga tipe dari teori etika (ethical) dalam hubungannya dengan masalah ini. Keempat tahapan tersebut ialah: (1) tahapan perilaku naluriah. yang memandang perbuatan yang lahir sejalan dengan nilai moral yang telah diterima. yaitu seorang etis murni. yang hanya dapat dipengaruhi oleh rasa sakit dan senang yang dialami seseorang secara kebetulan. Tipe ketiga ialah tipe behavioristik sosial. yang masingmasing dilalui setiap orang sebelum ia dapat meraih tahapan berikutnya yang lebih tinggi. kompetensi tentang pertimbangan moral merupakan suatu keharusan (atau mungkin dipandang cukup) bagi lahirnya tindakan moral. akan tetapi motifnya adalah untuk mendapatkan hadiah. Gerwitz 1993: 89) Kita dapat membedakan empat tahapan perbuatan (moral). dalam rangka kegiatan naluriahnya.moral. Sebelum suatu tindakan dapat dipandang sebagai suatu tindakan moral. Tipe pertama ialah tipe rasionalis. (2) dalam tahapan kedua ini cara beroperasinya gejolak naluriah dimodifikasi melalui pengaruh hadiah dan hukuman yang kurang lebih secara sistematis dialaminya dari lingkungan sosialnya. yaitu seorang etis yang bertanggung jawab yang menurut Kleinberger diwakili oleh Aristoteles dan John Dewey. perbuatan seseorang terutama dikendalikan oleh antisipasi 19 . yang menurut Kleinberger diwakili oleh Immanuel Kant dan Kohlberg. “Bilamana menyelam di sungai dapat dinilai sebagai suatu per-buatan yang berani atau perbuatan konyol?” Apabila seseorang melompat ke sungai untuk menyelamatkan seseorang yang hendak tenggelam. Sokrates bertanya. William M.

Pendidikan adalah segala pengalaman yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya mem-bimbing. merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Pendi-dikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sedangkan yang sering digunakan istilah paedagogog. Berkembangnya moral seseorang dari suatu tahap ke tahap berikutnya sangat tergantung dari perkembangan fisiknya atau biologis.akan kemungkinan mendapatkan pujian dan celaan. teman sebaya. psikologis (kognisi dan emosi). Pendidikan meliputi semua perbuatan atau usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya. lingkungan sosial yang disebut faktor ekstern. media massa. Paedagogiek atau ilmu pengetahuan ialah yang menyelidiki. Pendidikan Agama: Sebuah Harapan Ada dua istilah yang hampir sama dan sering digunakan dalam dunia pendidikan. Definisi sempit pendidikan adalah sekolah. apakah ia akan mendapatkan pujian atau celaan dari lingkungan sosial yang terdekat”. kecakapan 20 . dan sosialnya. 1985: 1) Dalam definisi maha luas pendidikan adalah hidup. pengalamannya. (4) dalam tahapan tertinggi ini perbuatan diatur oleh suatu pengaturan ideal yang memungkinkan seseorang bertindak selaran dengan apa yang dipandangnya benar. yang disebut faktor intern. Faktor ekstern ini terjadi baik secara sengaja melalui proses sosialisasi. memimpin). misalnya keluarga. budaya/adat istiadat. Istilah ini berasal dari kata Paedagogia (Yunani) berarti pergaulan dengan anak-anak. ataupun tidak sengaja melalui proses enkulturisasi dan akulturasi. yaitu: Paedagogie dan paedagogiek. lepas dari persoalan. 2001: 3-6). (Purwanto. Paedagogie berarti pendidikan sedangkan paedagogiek artinya ilmu pendidikan. yaitu seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal (Mudyahadjo. Selain itu dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. sekolah.

Oleh karena itu. learning to be (belajar menjadi diri sendiri) dan learning live together (belajar hidup bersama) merupakan pijakan yang kuat bagi orang tua untuk mengajarkan dan mendidik moral anak (Andayani. dan kejujuran. (4) membimbing anak untuk selalu harmonis dengan lingkungannya. kebenaran. untuk menjaga keharmonisan itu anak perlu dibiasakan untuk menampilkan perilaku-perilaku yang baik dan benar. dan adat istiadat bangsa yang bernilai luhur. karena sebagai bagian dari masyarkaat mereka hidup selalu bersinggungan dengan orang lain. hak asasi manusia. kebaikan dan keindahan. dan menganiaya orang lain itu tidak baik. sehingga dapat hidup bahagia bersama dengan orang yang lain tanpa merugikan. agar konsistensi. Mengingat pentingnya penanaman moral bagi peserta didik. budaya. intensitas. 1997) yang dapat dijadikan pedoman dalam mendidik moral. tawuran. learning to do (belajar berbuat). termasuk nilai-nilai moral. 21 . Dari empat pilar pendidikan tersebut maka pendidik memiliki peran penting sebaga berikuti: (1) memperluas wawasan pengetahuan anak tentang nilai-nilai. keadilan. sehingga mereka dapat memberikan alasan-alasan moral (moral reasoning) yang tepat sebelum mereka mewujudkannya dalam tindakan. Pendidikan juga merupakan salah satu usaha mengembangkan moral anak yang mencakup dua proses sengaja dan tidak sengaja. (2) membimbing anak agar terampil melakukan suatu tindakan dari apa yang diyakininya sebagai nilai kebenaran. Dalam hal ini ada empat pilar pendidikan UNESCO (Delor. (3) mengarahkan anak agar memiliki sifat-sifat baik yang melekat. Nilai-nilai ini ditanamkan (diinternalisasikan) ke dalam diri peserta didik harus secara komprehensif dan melekat dalam setiap mata pelajaran. peserta didik akan menyadari bahwa menyontek. dan frekuensi dalam melakukan hal-hal yang terpuji menjadi satu kebiasaan sebagai wujud adanya internalisasi nilai moral. Dengan demikian. sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.serta ketrampilannya kepada generasi muda. ada beberapa usulan agenda pendidikan bermuatan moral yang harus segera direalisasikan: Pendidikan harus berdasarkan nilai-nilai agama. meliputi learning to know (belajar mengetahui). Oleh karena itu pendidikan harus diarahkan untuk membangun kesadaran kritis peserta didik tentang berbagai hal. 2004: 3).

Pendidikan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sampai ketingkat yang dikehendaki Allah SWT.Dalam setiap mata pelajaran seharusnya ada pesan nilai dan moral tersebut untuk kemudian dihayati dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. sendiri. Dengan demikian tujuan akhir pendidikan yang dikehendaki Islam adalah terbentuknya manusia yang sempurna yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa atau berkepribadian muslim. karena penentuan siapa-siapa diantara hambanya yang mencapai kesempurnaan itu 22 . Tujuan itu sama dan sebangun dengan target yang terkandung dalam tugas kenabian yang diemban oleh Rasul Allah SAW. dapat menyelami hakekat alam. Karena menurut ajaran Islam. Kepribadian muslim adalah suatu istilah yang abstrak dan sulit untuk menentukan siapa dan kapan seseorang telah mencapai keadaan itu. pendidikan adalah juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. yang sebenar-benarnya takwa. yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan kehidupan akhirat (Jalaluddin & Usman Said. yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah. seperti firmannya dalam Surah Ali Imran: 102. yang terungkap dalam pernyataan beliau: “Sesung-guhnya aku diutus adalah untuk membimbing manusia mencapai akhlak yang mulia” (hadis). Oleh karena itu untuk mencapai tingkat takwa atau manusia yang berkepribadian muslim menghendaki adanya pendidikan. bertakwalah kamu kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. Islam selalu mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan. Islam mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan. dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” Tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan misi Islam itu sendiri. agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. 1994: 38). “Hai orang-orang yang beriman. Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

“Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah Allah dan dengan ikhlas beragama kepadanya”. dalam surah al-Baqarah: 44 dengan tegas menyatakan. guru dan masyarakat. seperti tercantum dalam Al-Qur'an: “Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan supaya menyembahKu”(QS. akan tetapi pada isi dan tujuan pendidikan itu sendiri. beban tanggungjawab yang diberikan kepada guru agama lebih berat. guru dan orang dewasa lainnya yang harus dapat membawa anak kearah kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam. menyatakan bahwa pendidikan agama sesungguhnya jauh lebih berat daripada pengajaran pengetahuan umum apapun. pembinaan sikap. sampai kepada pembinaan tingkah laku (akhlak) sesuai dengan ajaran agama. sehingga dalam rangka terwujudnya tujuan pendidikan yang dikehandaki maka perlu adanya kerjasama antara guru agama dengan guru lain. Adz-Dzariyat: 56). Ini berarti bahwa yang dimaksud pendidik itu adalah orang tua. Beratnya tidak terletak pada ilmiahnya. Namun demikian tujuan pendidikan islam adalah identik dengan tujuan hidup manusia. atau dengan ringkas dikatakan pembinaan kepribadian disamping pembinaan pengetahuan agama anak. dan pribadinya.merupakan hak Allah. mulai dari pemberian pengetahuan. tetapi juga aspek afektif dan psikomotor. Kepribadian seperti inilah yang disebut kepribadian muslim (taqwa) dan ke sinilah arah dan tujuan terakhir dari pendidikan Islam Hal tersebut berarti juga bahwa pendidikan tidak hanya menyangkut aspek kognitif. Pendidikan agama ditujukan kepada pembentukan sikap. Oleh karenanya. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan. Zakiyah Daradjat (1991: 112) dalam bukunya ilmu jiwa agama. 23 . Dengan demikian pendidikan yang ditujukan kepada anak adalah secara keseluruhan atau seutuhnya. Bayyinah ayat : 5) Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi hamba Allah yaitu mempercayai dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. tanggungjawab pendidikan tidak hanya terletak di pundak guru atau pendidik formal di sekolah. tetapi merupakan tanggungjawab bersa-ma antara orang tua. Dalam agama Islam. pembinaan akhlak. (QS. Dalam kaitan ini Allah SWT.

yang akan menjadi pengendali perbuatannya. pembinaan. maka keyakinan itulah yang akan mengawasi segala tindakan. mulai dari pemberian pengetahuan. Sayyid Sabiq (1981: 52) dalam bukunya Unsur-unsur Dinamika dalam Islam. 24 .sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Inilah yang dinamakan insan yang bertaqwa. Pendidikan agama yang diberikan kepada anak hendaklah secara keseluruhan atau seutuhnya. Dengan pendidikan agama ini diharapkan tercipta suatu menifestasi riil yang tercermin dalam perilaku bermoral. tindakan. dan kepribadi-annya sampai kepada pembinaan tingkah laku (akhlak) sesuai dengan ajaran agama. Lebih jauh Zakiyah Daradjat (1977: 15) dalam bukunya Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia berpendapat bahwa apabila keyakinan beragama itu betul-betul telah menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang. Sekarang merupakan saat yang tepat untuk memulai memformat kembali pola pendidikan yang sudah berjalan. yang akan menjadi pengendali perbuatannya. bersih dari noda dan dapat membawa dirinya kepada lebih takwa. dan perkataannya akan dikendalikan oleh pribadi yang terbina didalamnya nilai agama. emosi dan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama sangat perlu dan penting diberikan kepada anak dalam rangka mengembangkan moral Jadi. Agama menjadi kepribadian anak dimana segala sikap. Dengan pengembangan moral melalui pendidikan maka akan tercipta suatu manifestasi riil dan tercermin dalam perilaku. sikap. senantiasa menjaga hatinya untuk tidak menuruti hawa nafsu. perbuatan. kecerdasan moral. dan perkataannya akan dikendalikan oleh pribadi yang terbina didalamnya nilai agama. senantiasa cenderung terhadap sesuatu yang diridahi Tuhan. mengatakan bahwa orang yang berpegang teguh pada agama. Rencana dan realisasinya bukan semata-mata beroritentasi pada materi pelajaran dan kognisi. padahal kamu membaca Al-Kitab (taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir ?” Jadi melalui pendidikan agama kita dapat mengembangkan moral anak dan akhirnya dimana segala sikap. melainkan juga perhatian dan stimulasi terhadap asfek non kongnisi antara lain berupa. tindakan. perkataan bahkan perasaannya. perbuatan.

25 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful