P. 1
LAPORAN KERJA PRAKTEK

LAPORAN KERJA PRAKTEK

|Views: 2,323|Likes:
Published by peter_tmc_fr33dom

More info:

Published by: peter_tmc_fr33dom on Nov 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2015

pdf

text

original

LAPORAN KERJA PRAKTEK

UPAYA DAN STRATEGI PENINGKATAN PELAYANAN PENERBANGAN PERINTIS DAN DOMESTIK DI BANDAR UDARA DOMINE EDUARD OSOK (DEO) SORONG

Disusun oleh: Nama NIM : : Greice M Pairi 06050044

JURUSAN TEKNIK PENERBANGAN SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI ADISUTJIPTO YOGYAKARTA 2010

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek ini dengan baik. Kerja Praktek ini dilaksanakan di Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong. Selama Kerja praktek ini Penulis banyak mempelajari tentang peningkatan pelayanan penerbangan. Dengan data-data yang ada Penulis membuat Laporan Kerja Praktek tentang Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Penerbangan di Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO). Dalam kesempatan ini, Penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyakbanyaknya kepada yang terhormat : 1. Bapak Ir. Suyitmadi, MT selaku Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Yogyakarta. 2. Bapak 3. Bapak 4. Bapak Ir. Puguh 5. Bapak Jacobus Sapulette,S.Sos 6. Dan tak lupa kepada rekan-rekan dan kedua orang tua yang telah membantu dan memberikan dorongan secara moril maupun materil. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan Laporan ini.Dan Penulis berharap semoga Laporan ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi Penulis sendiri dalam pelaksanaan tugas-tugas selanjutnya. Sorong,10 Oktober 2009

Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar isi Daftar Gambar Lembar Nilai Kerja Praktek Lembar Pengesahan Lembar Ijin Kerja Praktek BAB I PENDAHULUAN A. Umum B. Latar Belakang C. Tujuan kerja Praktek D. Ruang Lingkup dan Batasan Masalah BAB II GAMBARAN UMUM
A. Sejarah Berdirinya Bandar Udara Domine Eduard OSOK ( DEO )

B. Penyerahan Pertamina Kepada Menteri Perhubungan C. Lokasi D. Struktur Organisasi BAB III BAB IV DASAR TEORI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

Transportasi Udara mempunyai peran yang sangat penting bagi urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai pendukung dan pendorong pertumbuhan sektor-sektor lain serta pemicu pertumbuhan wilayah,peranan transportasi udara selalu mendapat perhatian untuk terus di kembangkan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan kebutuhan pelayanan jasa angkutan udara. Keberadaan bandar udara sebagai prasarana transportasi udara memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan perekonomian wilayah,baik regional maupun nasional,terutama dalam memberikan kemudahan mobilitas bagi para pelaku ekonomi dan masyarakat. Dengan semakin mantapnya pelaksanaan otonomi daerah, transportasi udara mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah yang berdampak terhadap peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana transportasi udara yang berupa persawat udara, Bandar udara dan navigasi penerbangan. Sejak awal dibangunnya sebuah bandar udara di suatu wilayah, disamping memperoleh manfaat akan kecepatan transportasi udara ,harus di sadari pula bahwa antar bandar udara dan masyarakat di sekitarnya akan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Pengaruh-pengaruh itu bisa saja saling menguntungkan tetapi dapat juga saling merugikan.

Pembangunan bandar udara, untuk memenuhi kebutuhan prasarana transportasi udara yang ideal, di harapkan juga harus menjamin kepentingankepentingan masyarakat dan ekologi di sekitarnya. Kebutuhan akan pengendalian terhadap masyarakat di sekitar bandar udara sangat di perlukan, mengingat kemungkinan kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengganggu keselamatan operasi pesawat terbang. 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam Kerja Praktek ini penulis berkesempatan untuk mempelajari Sistem pelayanan Penerbangan dalam Kelancaran Penerbangan,khususnya di Bandar Udara Domine Eduard Osok Sorong. Daerah Propinsi Papua Barat yang merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia juga tidak terlepas deari permasalahan perhubungan yang belum memadai dalam menunjang kebutuhan jasa transportasi bagi masyarakat secara keseluruhan. Kondisi ini dapat terlihat dengan letak geografis yang sangat luas,jangkauan antara satu daerah ke daerah lain masih membutuhkan pembenahan secara menyeluruh baik prasarana maupun Sumber daya manusia yang siap pakai. Propinsi Papua Barat memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah yang sebagian besar belum dikelola,untuk itu perlu adanya perhatian khusus secara terpadu dari Pemerintah baik tingkat Pusat maupun Dearah,di samping itu rentang kendali pelayanan kepada masyarakat masih sangat besar di rasakan. Selama ini fasilitas perhubungan udara yang digunakan adalah Bandar Udara Jefman yang telah dipindahkan pengoperasiannya ke Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong yang hingga saat ini masih dalam tahap pembenahan baik infrastruktur maupun sarana dan prasarana lainnya. Pelayanan jasa transportasi udara yang digunakan untuk Penerbangan

Perintis maupun domestik di kota maupun kabupaten Sorong, oleh Departemen Perhubungan ditetapkan pada Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO)

Sorong, dan ini sangatlah tepat dirasakan dalam mengefesiensi waktu dan biaya yang di keluarkan oleh pemakai jasa tersebut. Kondisi ini mengakibatkan telah terjadinya lonjakan penumpang terhadap keberadaan Bandara Domine Eduard Osok (DEO). Untuk mewujudkan pelayanan penerbangan perintis dan domestik yang baik, maka harus mempunyai bandar udara yang memiliki arena dan prasarana yang dapat digunakan untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam seluruh kegiatan penerbangan dengan memperhatikan keamanan, kenyamanan, kelancaran dan keselamatan penerbangan,serta sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan memperhatikan tujuan kebijakan transportasi udara yaitu :
1. Memajukan pengembangan suatu sistem transportasi udara yang aman,

lancar, teratur, dan efisien di Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong.
2. Memanfaatkan modal transportasi dengan biaya yang optimal.

3. Memenuhi kebutuhan baik penyelenggara maupun pengguna jasa transportasi.

1.2 Rumusan Masalah Dalam pelaksanaan Kerja Praktek ini penulis melakukan studi kasus tentang sistem pelayanan penerbangan perintis dan domestik di Bandar Domine Eduard Osok (DEO). Maka penulis merumuskan masalah pada :
1. Apakah fasilitas Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong sudah

sesuai dengan standarisasi bandar udara pada umumnya?
2. Bagaimana penerapan sistem pelayanan di bandar udara?

3. Bagaimana prosedur sistem penerbangan yang baik dan benar?

1.3 Batasan Masalah Dalam tersebut. pelaksanaan Kerja Praktek agar lebih terarah maka penulis

membatasi permasalahan pada peningkatan sistem pelayanan di bandar udara

1.4 Tujuan Kerja Praktek Adapun tujuan kerja praktek ini adalah : 1. Tujuan Umum Pengurangan kesenjangan antara profil tenaga kerja yang dibutuhkan oleh dunia industri dengan lulusan pendidikan. 2. Tujuan Khusus A. Bagi Mahasiswa dengan keadaan yang diterapkan dilapangan. 2) Mahasiswa mendapatkan informasi tentang unit pelayanan di bandar udara. 3) Untuk memperdalam bidang tersebut sehingga dapat mengembangkannya lebih lanjut. 4) Menambah pengalaman dan gambaran yang sebenarnya sebagai bekal setelah selesai kuliah untuk menghadapi dunia kerja. 5) Untuk melengkapi kurikulum pada Jurusan Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Yogyakarta B. Bagi Institusi 1) Mendapatkan informasi dunia industri mengenai tenaga kerja. 2) Sebagai bahan evaluasi dibidang akademik untuk mengembangkan mutu pendidikan. 1) Sebagai studi banding teori yang didapatkan dibangku kuliah

3) Meningkatkan mutu lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja industri. 1.5 Manfaat Kerja Praktek Praktek ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak adapun manfaat yang diperoleh antara lain : 1. Bagi Mahasiswa a. Menambah wawasan dan sebagai tolak ukur antara teori yang diperoleh dibangku kuliah dengan praktek dilapangan. b. Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis sistem pelayanan yang ada di bandar udara c. Memahami masalah dengan cara pemecahannya sebagai bekal setelah memasuki dunia kerja. 2. Bagi Institusi a. Mempererat dan memperluas kerja sama antara institusi dengan dunia industri. b. Meningkatkan mutu lulusan sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja pada dunia industri. 3. Bagi Perusahaan a. Sebagai sarana tukar informasi dan media instrospeksi untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang telah ada. b. Memperoleh informasi dari lembaga pendidikan. c. Meniadakan kesenjangan antara kualitas dan kualifikasi tenaga kerja. d. Memberikan peluang masuk penempatan alumni dan kerja sama dua arah. 1.6 Metoda dan Teknik Pengambilan Data Metoda penulisan yang digunakan dalam penyusunan laporan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : 1. Data Primer

Yaitu data yang langsung diperoleh dari obyek yang akan diteliti dari sumbernya di perusahaan yang bersangkutan dengan cara : a. Metode Observasi Metode pencarian data dengan mengadakan pengamatan langsung pada perusahaan prihal yang di inginkan seperti apa yang dinyatakan didalam judul.

b. Metode Interview Metode mengadakan wawancara dengan pembimbing lapangan yang mengetahui permasalahan yang ada. 2. Data Sekunder Yaitu suatu metode yang diambil dengan mengumpulkan data dari pustaka, li-teratur, dan referensi-referensi yang tersedia baik yang dimiliki oleh perusahaan ataupun buku-buku yang berkaitan dengan obyek permasalahan yang akan diteliti. 1.7 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dan komposisi bab yang terkandung dalam laporan ini adalah sebagai berikut :

BAB I

Pendahuluan Meliputi latar belakang, tujuan kerja praktek, ruang lingkup dan batasan masalah dan sistematika penulisan laporan kerja praktek.

BAB II

Gambaran Umum Perusahaan

Meliputi sejarah berdirinya perusahaan dan struktur organisasi di Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong. BAB III Dasar Teori Meliputi penjelasan tentang Standarisasi Fasilitas yang ada di bandara, Prosedur Sistem Pelayanan Penerbangan, serta Masalah dan Pemecahannya.

BAB IV

Pembahasan Meliputi data Rekapitulasi Lalu Lintas Angkutan Udara Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong.

BAB V

Kesimpulan dan Saran Pada Kerja bab terakhir Juga ini penulis menjabarkan baik untuk

kesimpulan yang di peroleh setelah pelaksanaan Praktek. saran-saran perusahaan maupun bagi kampus.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Standarisasi Fasilitas Bandar Udara dan Sistem Pelayanan

di Bandar Udara Seperti yang kita ketahui bersama bahwa penyelenggaraan penerbangan memerlukan berbagai macam prasarana penunjang di darat, berupa fasilitas Bandar Udara yang mencakup fasilitas pokok , utilitas dan penunjang , terdiri dari berbagai macam kontruksi, bangunan, gedung dan sebagainya yang secara langsung mendukung operasi penerbangan. Kawasan bandar udara yang merupakan daerah lingkungan kerja adalah wilayah darat dan perairan , yang dipergunakan untuk pelayanan kegiatan Bandar Udara, terdiri dari fasilitas - fasilitas pokok terdiri dari :
a. Fasilitas Sisi Udara ( Air Side ) b. Fasilitas Sisi Darat ( Land Side )

c. Fasilitas Komunikasi Penerbangan d. Fasilitas Navigasi Penerbangan e. Fasilitas Alat Bantu Navigasi Visual

Fasilitas sisi udara maksudnya adalah sarana yang diperlukan sebagai tempat pendaratan dan pembeerangkatan ( Landing dan Take Off ) pesawat udara yang meliputi : a. Landasan Pacu b. Penghubung Landasan Pacu
c. Tempat Parkir Pesawat ( Apron ) d. Fasilitas pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam

kebakaran ( PKP – PK ). Semua perlengkapan tersebut diatas diperlukan agar operasi penerbangan di setiap Bandar Udara dapat berjalan lancar. Apabila salah satu perlengkapan landasan tersebut tidak sempurna dapat mengganggu kelancaran dan keselamatan oprasi penerbangan. Fasilitas sisi darat (Lanside Facility ) maksudnya adalah sarana berupa bangunan gedung yang dipergunakan oleh para pengguna jasa di bandar udara guna memperlancar operasi udara. Serta untuk kegiatan operasional bagi petugas operasi penerbangan di bandar udara yang meliputi : a. Bangunan terminal penumpang b. Bangunan terminal cargo c. Bangunan operasi
d. Menara pengatur lalu lintas udara ( ATC Tower )

e. Bangunan VIP f. Bangunan Meteorologi g. Bangunan SAR
h. Jalan masuk ( Access Road )

i. Depo pengisian BBM pesawat udara j. Bangunan adminitrasi / perkantoran k. Marka dan rambu Fasilitas navigasi penerbangan adalah sarana yang merupakan rambu-rambu yang dapat member petunjuk kepada pesawat udara yang akan berangkat dan mendarat. Sarana ini sangat diperlukan untuk memperlancar pendaratan dan keberangkatan pesawat. Dengan prasarana ini setiap pesawat yang akan mendarat dapat mengetahui posisi landasan serta serta bagaimana posisi pesawat itu sendiri terhadap landasan. Peralatan tersebut terdiri dari : a. Non Direction Beacon ( NDB ) b. Doppler VHF Omni Range ( DVOR ) c. Distance Measuring Equipment ( DME ) d. Runway Visual Range ( RVR ) e. Insrtument Landing System ( ILS ) f. Radio Detection and Rangin ( RADAR ) g. Very High Frequency Finder ( VHF – DF ) h. Diferential Global Positioning System ( DGPS ) i. Automatic Defender Surveillance ( ADS ) j. Aerodrome Surfance Detection Equipment

k. Very High Frequency Omni Directional Range Peralatan ini sangat diperlukan bagi pesawat agar terjamin

kelancaran,keselamatan dan ketetapan pendaratan, sehingga dapat dihindarkan kemungkinan timbulnya bahaya kecelakaan yang antara lain disebabkan oleh cuaca buruk atau turunya hujan lebat karena dapat mempengaruhi jarak pandang. Fasilitas alat bantu pendaratan visual adalah sarana yang memberikan kemudahan bagi pesawat yang akan megadakan pendaratan/landing. Peralatan tersebut terdiri dari : a. Marka dan rambu b. Runway Lighting c. Taxiway Lighting d. Thereshold Lighting e. Runway End Lighting f. Apron Lighting g. Precion Approach Parth indicator (PAPI/Visual Approach Slope Indicator (VASI) h. Rotating Beacon i. Apron Aea Flood/ Apron Flood Light j. Aproad Lighting System k. Indicator and Signaling Device l. Circling Guindance Light m. Sequence Flashing Light n. Runway Lead in Lighting System

o. Runway Guard Light p. Road Holding Position Light q. Aircraft Docking Guidance System Fasilitas komunikasi penerbangan maksudnya adalah sarana peralatan yang diperlukan untuk mengadakan hubungan antara pesawat udara dengan Bandar Udara baik yang akan mendarat atau yang akan berangkat guna menyampaikan petunjuk/instruksi yang diperlukan untuk take off atau landing. Peralatan ini juga diperlukan untuk mengadakan hubungan antara tempat berangkat pesawat dengan bandar udara yang dituju, untuk menyampaikan berita tentang data pesawat seperti jam berangkat, ketinggian terbang,jenis pesawat, serta Copilotnya. Data ketinggian terbang ini dipelukan agar supaya seandainya ada pesawat yang akan berangkat dari bandar udara tujuan dari pesawat pertama tidak akan menggunakan ketinggian terbang yang sama, sehingga tabrakan di udara dapat di hindari. Fasilitas Komunikasi Penerbangan tersebut antara lain : 1. Komunikasi antar stasiun penerbangan ( Aeronautical Fixid Service /AFS ) -

Very High Frequency (VHF) Air Gruond Communication Automatic Massage Switching Centre (AMSC) High Frequency – Single Side Band (HF-SSB) Direct Speech Tele Printer

-

2. Peralatan Komunikasi Lalu Lintas penerbangan (Aeronautical Mobile Service / AMS) High Frequency Air Ground Communication Very High Frequency Air Ground Communication

-

Voice Swithing Communication System Aerodrome Terminal Information System

3. Transmisi Radio Link VSAT

a. Sarana Penunjang Sarana penunjang / secunder dari saran atersebut terdiri dari : a. Penginapan Hotel b. Penyediaan Toko dan Restoran c. Fasilitas penempatan kendaraan d. Fasilitas peralatan pada umumnya ( antara lain perawatan

gedung/perkantoran, peralatan operasional) e. Fasilitas pergudangan

b. Sistem Pelayanan Di Bandar Udara Sistem pelayanan di bandar udara diklasifikasikan sebagai berikut :

Sistem Operasi Penerbangan ( Landing/Take Off )

1. Pesawat yang mendarat ( Landing ) a. Petugas keselamatan penerbangan dalam hal ini Air Traffic

Reporting Office atau Briefing Office ( BO ) harus menerima Flight Plan dari stasiun / bandara lain paling lambat 1 jam sebelum keberangkatan melalui telex, radio SSB atau faximile b. Petugas BO mengirim informasi cuaca ( Weather report ) kepada stasiun/ bandara yang mengirim Flight Plan jika pesawat yang dimaksud akan segera berangkat. c. Petugas BO menerima berita jam keberangkatan kemudian posisi/ Estime Time Arrival (ETA)
d. Petugas tower (ATC) menerima limpahan tanggung jawab

pelayanan keselamatan penerbangan pada point tertentu atau waktu tertentu untuk di bandara AFIS yaitu yaitu 15 menit sebelum waktu tiba (ETA) atau pada ketinggian tertentu.
e. Setelah

berkomunikasi

dengan

pesawat,

maka

petugas

keselamatan penerbangan memberikan informasi cuaca Traffic Info jika ada informasi lainm yang menyangkut keselamatan penenerbangan serta memberikan instruksi – instruksi keselamatan penerbangan.
f. Setelah pesawat pada posisi mendekati jam landing dan

berkomunikasi kembali maka petugas Kespen atau petugas Tower memberikan landing info berupa angin , altimeter setting dan aerodrome pressure serta nomor runway yang akan di pakai serta circuit mana yang akan dilalui serta clearance.
g. Setelah pesawat landing petugas Tower memverikan jam

landing pada pesawat serta temapt parker atau dapat di atur oleh unit AMC ( Aircraft Movement Control ) atau unit yang mengatur parker pesawt di apron.

h. Petugas Tower kemudian mengirim jam kedatangan pada stasiun keberangkatan dan Bandara Alternate.

2. Pesawat Yang Berangkat ( Take Off )

a. Unit kespen dan petugas BO setelah menerima Flight Plan dari pilot atau petugas airline segera mengirim ke bandara tujuan.
b. Pada saat pesawat meminta start engine petugas tower

memberikan informasi angin, temperature, dan altimeter setting serta nomor runway yang dipakai, traffic info jika ada ATC Clearance.
c. Setelah pesawat take off petugas tower memberikan jam

berangkat ( Airborn Time ) ke pesawat dan unit terkait di bandara setempat.
d. Pada saat pesawat berkomunikasi dengan tower memberikan

informasi

lain

yang

berhubungan

dengan

keselamatan

penerbangan di bandara tujuan, serta menginstruksikan untuk kontak pada unit kespen selanjutnya pada point, ketinggian atau waktu tertentu.
e. Setelah pesawat kontak pada unit kespen selanjutnya dan

Transsfeoff Responsibility sudah di laksanakan maka tanggung jawab pelayanan keselamatan penerbangan suah berpindah tetapi tetap memonitor jjika ada hal – hal lain yang memungkinkan pesawat RTB ( Return To Base ) atau kembali ke bandara keberangkatan.
f. Setelah pesawat mendarat di bandara tujuan maka tanggung

jawab pada pesawat dimaksud telah selesai yaitu petugas BO

menerima berita jam kedatangan pesawat ( Arrival ) baik melaui radio SSB ,telex , atau alat komunikasi lainnya.

c. Sistem Pelayanan Penumpang

1. Penumpang Berangkat a. Penumpang yang memasuki terminal bandara untuk tujuan

keberangkatan pada saat memasuki ruangan Check in harus memiliki tiket dan harus di periksa oleh petugas security bandara mengenai pemeriksaan badan melalui walk through, barang bawaan, dan bagasi melalui peralatan x – ray.
b. Di counter Check in, perusahaan penerbangan penumpang

mempunyai hak untuk membawa bagasi dengan berat yang ditetapkan oleh perusahaan penerbangan , serta mengetahui berat bagasi melalui timbangan yang akurat yang di sediakan oleh perusahaan penerbangan.
c. Setelah Check in, penumpang akan mendapatkan Boarding

Pass , nomor tempat duduk, label nomor bagasi dan kewajiban sesuai aturan untuk membeli atau membayar airport passanger tax ( PJP3U ) pada bandra keberangkatan. d. Di terminal bandara, setelah memegang karcis PJP3U penumpang mempunyai hak memasuki ruang tunggu yang telah disediakan dan dapat menggunakan fasilitas yang ada.
e. Proses check in yang ditetapkan oleh masing – masing airlines

yaitu biasanya 1,5 jam sebelum jam keberangkatan.

f. Di

ruang tuggu Bandara, penumpang akan menunggu

panggilan boarding yamg di umumkan melalui publik address system yang tersedia. g. Pada saat boarding , penumpang akan menuju pesawat sambil menunjukkan boarding pass dan dipandu oleh petugas airline sampai menuju pesawat yang akan ditumpangi. 2. Penumpang Datang
a. Penumpang yang dating pada bandara tujuan akan menuju

ruang kedatangan sambil menunggu proses bagasi dan penumpang tersebut mempunyai hak untuk menggunakan fasilitas umum yang ada di bandara.
b. Penumpang mempunyai hak untuk melapor tentang kehilangan

bagasi pada petugas airline yang di sebut Lost and Found.
c. Jika dalam beberapa hari yang telah ditentukan barang tersebut

tidak

ditemukan

maka

penumpang

berhak

mengklaim

perusahaan penerbangan untuk penggantian barang yang hilang tersebut sesuai dengan peraturan yang ada.

d. Sistem Pelayanan Pesawat di Bandar Udara ( Aircraft Handling ) Penanganan pesawat di bandar udara merupakan satu unit kerja yang tidak pernah berhubungan langsung dengan para pengguna jasa penerbangan, tetapi merupakan unit kerja yang sangat penting dan paling menentukan terhadap keberhasilan terlaksananya suatu penerbangan. Unit kerja penanganan pesawat di bandar udara dapat dikelompokkan ke dalam tiga bidang pekerjaan sebagai berikut : 1. Flight operation Flight operation: bidang operasi penerbangan yang tugasnya antara lain

sebagai berikut. a. b. Flight plan, bertugas mengatur perencanaan penerbangan. Load and Balance, bertugas mengatur keseimbangan pesawat. c. Notice to Airman, tugasnya berkomunikasi dengan penerbang, misalnya memberikan keterangan mengenai cuaca (NOTAM). 2. Penanganan Pesawat di pelalaran Bandar Udara (Ramp Handling) Bidang kerja ini melayani melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut. a. Marshelling, bertugas memandu kedatangan/keberangkatan pesawat. b. Maintenance, bertugas memeriksa/memelihara kondisi pesawat, termasuk kebersihan tempat duduk dan pantry. c. Fueling/Refueling, mengisi bahan baker pesawat d. Load Planning, perencanaan muatan penumpang dan barang. e. Loading/Unloading, melaksanakan bongkar muat barang. f. Load and Balance, mengatur keseimbangan pesawat, dalam hal ini termasuk penumpang dan barang/bagasi. g. Aircraft Cleaning, membersihkan kabin pesawat dan kamar keeil. 3. Catering Catering bertugas menyediakan konsumsi bagi para penumpang selama dalam penerbangan. Menjadi kewajiban dari perusahaan penerbangan untuk senantiasa menyediakan konsumsi bagi setiap penumpang yang menggunakan jasa penerbangannya. Namun, tidaklah mungkin bagi setiap perusahaan penerbangan untuk menyiapkan konsumsi bagi para penumpangnya. Oleh karenanya, untuk urusan katering biasanya dipercayakan kepada perusahaan lain sebagai partner usaha.

e. Pelayanan Penumpang Selama Penerbangan ( Inflight Servis )

Penanganan/pelayanan penumpang di dalam penerbangan dilaksanakan oleh awak pesawat/kru (crew) yang terdiri dari cockpit crew dan cabin crew. 1) Cockpit crew adalah awak pesawat yang bertugas di kokpit, yang terdiri dari: a) Pilot in Command ialah kapten penerbang yang bertindak sebagai pimpinan dalam penerbangan. b) First Officer/Co Pilot adalah asisten penerbang. c) Flight Engineer merupakan montir penerbangan. 2) Cabin Crew adalah awak pesawat yang bertugas di dalam kabin pesawat untuk memberikan pelayanan kepada penumpang, yang terdiri dari: a) Purser/Cabin Superintendant adalah pimpinan awak kabin. b) Steward/pramugara bertugas memberikan pelayanan kepada penumpang selama penerbangan. Pramugara adalah petugas laki laki. c) Stewardess atau flight hostess/pramugari memiliki tugas sama dengan pramugara. Pramugari adalah petugas wanita. f. Sistem Pelayanan Cargo Penanganan Barang Kirim anrg o H a n d lin g (C a ) Istilah kargo dipergunakan untuk barang-barang kiriman dan bendabenda pos yang diangkut dengan pesawat udara dari satu bandar udara ke bandar udara lain, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Penanganan/pelayanan barang-barang kiriman atau benda pos dilakukan oleh suatu unit kerja tersendiri yang dalam pelaksanaan tugasnya tidak terlepas dari kerja sama dengan perusahaan penerbangan dan pengelola pelabuhan/bandara. Di bandar udara yang kecil biasanya penanganan/pelayanan

penumpang, bagasi dan kargo dilaksanakan dalam satu atap di gedung terminal yang sama. Di bandar udara komersial internasional, penanganan kargo dilaksanakan di terminal kargo yang berdiri sendiri. Pengiriman barang melalui kargo biasanya dilakukan untuk yang sangat diperlukan cepat sampai ke tempat tujuan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya : (a) suku cadang berbagai mesin pabrik dan peralatan elektronik; (b) yang berhubungan dengan bisnis dan finansial/perbankan; (c) barang-barang yang mudah rusak, seperti sayuran dan buah-buahan. Pengiriman barang-barang melalui jasa pelayanan penerbangan pasti lebih cepat dan tepat bila dibandingkan dengan transportasi lainnya. Demikianlah empat unit kerja utama untuk menunjang terselenggaranya bisnis angkatan udara atau penerbangan.

g. Sistem Informasi Penerbangan

a. Informasi tentang kedatangan dan keberangkatan pesawat

diumumkan lewat CCTV ( Circuit Current Television ) yang terpasang digudang terminal baik diruang tunggu dan boarding lounge,juga melalui petugas informasi yang diumumkan melalui pengeras suara.
b. Informasi terhadap penumpang dilayani petugas informasi ,

juga petunjuk tertulis ( marking ) yang terpasang disegala ruangan serta pada tiket dan boarding pass. c. Informasi untuk pemilik barang dilayani oleh petugas informasi, petugas lost, dan found pada masing – masing

perusahaan penerbangan atau petugas gudang cargo jika sang pemilik mempunyai dokumen yang resmi.
d. Informasi public dapat dilayani oleh infirmasi bandara,

petunjuk tertulis ( marking ) dan rambu- rambu yang terpasang diseluruh area bandara.

2.2 Prosedur Sistem Pelayanan Penerbangan Adapun sistem pelayanan yang dapat diberikan dalam rangka keselamatan penerbangan yaitu : 1. Sistem pelayanan pengawasan keselamatan operasi dan lalu lintas pesawat udara pelaksanaanya adalah : a. Air Taffic Control ( ATC )
b. Communication officer ( COM )

c. Aeronautical Information Service ( AIS )

2. Sistem

pelayanan

berupa

pemberian

pertolongan

pada

kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran , sebagai pelaksana adalah unit kerja PKPPK yang dilengkapi denagn mobil pemadam kebakaran serta perlengkapan lainnya yang dibutuhkan saat menjalankan tugas tersebut.

3. Pelayanan berupa bantuan penggunaan alat bantu Navigasi Udara. Pelaksanaannya adalah unit kerja telekomunikasi dan navigasi dengan fasilitas berupa VOR ( Very High Omni

Directional Range ), NDB ( Non Dirrectional Beacon ), dan DME ( Distance Meassurement Equipment ).

4. Pelayanan terhadap penumpang pesawat udara

Unit

pelaksana

oleh

petugas

satpam

hygene,

sanitasi

penerangan dan terminal. Dengan fasilitas pendukung berupa ruang tunggu yang mampu menampung 150 penumpang. Explosive detector, metal detector, dan X –ray.

Adapun penggambaran hari ini dan jam terdapat traffic terbanyak adalah sebagai berikut : 1. Hari terpadat : ~ Senin – Rabu, rata – rata traffic : 28 take off / landing ~ Sabtu, rata – rata traffic : 24 take off / landing

2. Jam – jam terpadat : ~ Senin – Rabu, pada jam 02.30 – 05.00 UTC ~ Kamis, pada jam 02.30 – 05.00 UTC ~ Sabtu, pada jam 02.30 – 05.00 UTC

Local prosedur untuk Outbond dan local traffic adalah sebagai berikut :

~ ATC unit DEO Aerodrome Control Tower Frequency 122,4 Mhz space ( frequency kedua ) ~ Airspace Dimention DEO Aerodrome Traffic Zone : a. Lateral Limit : lingkaran dengan radius 10 NM berpusat pada “ SOG” VOR / DME. Vertical Limit : ~ Upper Limit 4000 feet ~ Lower Limit Ground/ Meam Sea Level b. Klasifikasi Ruang Udara : B c. Ruang Udara berdekatan : Biak sector d. Terletak didalam : Biak Fir

DEO Aerodrome Control Tower memberikan pelayanan kepada pesawat terbang sebagai berikut : ~ Aerodrome Control Service ~ Fligh Information Service ~ Alerting Service ~ Inbound dan Outbond Prosedur ~ Local Traffic ~ Penerbangan Helicopter ~ Turn Light Prosedure ~ Turn Light Climb 2500 QNH dan kontak ATC

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

3.1 Sejarah Berdirinya Bandara Domine Eduard Osok (DEO)

Kabupaten Sorong mempunyai bandar udara yang terletak di sebuah pulau dalam gugusan pulau-pulau Raja Ampat yang bernama pulau Jefman, sesuai dengan ketentuan ICAO ( International Civil Aviation Organitation), maka bandar udara di ambil dari nama desa yang terdekat dari area bandara. Menurut sejarah dan leganda yang ada bahwa Bandar Udara Jefman dulu dibuat loeh tantara DAINIPPON yakni semasa penjajahan Jepang. Ketika pecah perang perang dunia II, bandar udara direbut oleh tentara sekutu dan selesai perang dunia II bandar udara Jefman Diperbaiki dan dikelola oleh perusahaan minyak Belanda yaitu: “ NNGPM ( Nederland Nicuw Guenia Petroleum Maastseshapay)”. Fungsi bandar udara Jefman pada waktu itu berubah menjadi heume base usaha pencaharian dan pengeboran minyak bumi di daerah Sorong dan sekitarnya. Pada saat pengalihan Irian Jaya/ Papua yang waktu itu bernama Irian Barat kepada Pemerintah Republik Indonesia, maka bandar udara Jefman langsung diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Untuk kelancaran komunikasi dan transportasi angkutan operasi

pertambangan minyak di Kabupaten Sorong dan sekitarnya, maka Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Negara ( PERTAMINA) Unit V Sorong merasa perlu membangun lapangan terbang di Kabupaten Sorong ( Sorong Daratan/Tanah Besar). Sebagai bahan laporan untuk Perusahaan Penerbangan Udara/ lapangan terbang Direktorat Jendral perhubungan Udara, Departmen Perhubungan maka PERTAMINA Unit V-Sorong membuat surat kepada Gubernur Kepala Daerah Propinsi Irian Jaya Barat di Jayapura tertanggal 07 Juli 1973 No. 080/BN-S IV/7/73 perihal mohon persetujuan membangun lapangan terbang di Sorong, lampiran 1 (satu) peta situasi (lokasi pembangunan lapangan terbang) yang di tandatangani oleh Drs. TRISNA ALHAYAT jabatan hubungan masyarakat.

Pelaksanaan bandar udara Sorong Daratan mulai di kerjakan dengan penggantian tanaman tumbuhan sedangkan pekerjaan konstruksi oleh kontraktor ETDNASA. 3.2 Penyerahan Pertamina Kepada Menteri Perhubungan Sebagaimana diketahui bahwa sorong adalah kota terbesar kedua di propinsi Papua setelah Ibu Kota propinsi Jayapura , bahkan dalam beberapa hal tertentu malah melebihinya. Kondisi dan potensi telah lama tercium oleh pemerintah pusat yang antara lain adalh sektor perhubungan, dimana pada saat itu Kabupaten Sorong menggunakan Bandar Udara Jefman yang terletak disebuah pulau sejauh kurang lebih 15 km dari kota Sorong, dengan aksebilitas melewati kapal penyebrangan atau longboat. Kemampuan teknis bandar udara jefman masih terbatas untuk melayani pesawat pesawat terbesar hanta sampai jenis F-28dengan jumlah terbatas. Panjang landasan 1650 M dibatasi oleh laut pada kedua ujungnya, dengan kata lain , panjangnya hanya dimungkinkan dengan Penimbunan laut (Reklamasi). Meskipun kemajuan teknologi memungkinkan untuk melaksanakan Reklamasi namun berbagai pertimbangan , mengesampingkan kemungkinan reklamasi ini antara lain: 1. Pertimbangan yang sangat mahal 2. Aksebilitasi bandar bdara ke kota 3. Terlalu banyak resiko dan 4. Dampak – dampak lainnya.

3.3 Kondisi Lapangan Terbang saat di Serahkan

Dengan berasumsi bahwa sebagian lahan yang akan digunakan adalah milik Negara ( Hibah Pertamina ), dengan keadaan seperti itu Pertamina telah melakukan penimbunan jalan masuk +- 900 x 4 m, penimbunan ke barak kerja ( Kontraktor EDNASA ) +- 15 x 4m dari barak kerja. 3.4 Landasan Pacu Luas areal yang telah diganti rugi tanaman tumbuh kepada masyarakat yang berkebun tdak di ketahui, dengan kata lain tik mengetahui seberapa luasnya yang telah dig anti rugi oleh pertanahan pada saat itu. Dengan semakin berkembangnya pengguna jasa udara maka pihak Direktorat Jendral Udara akan bekerja sama dengan konsultan Perancis yang telah mengerjakannya dan dapat digunakan pada tahun 1984 dengan kondisi seperti berikut : 1. Runway 2. Exit taxi way 3. Apron : 650 x 30 m : 2 x 67 x 15 m : 45 x 95 m

Dengan asumsi bahwa sebagian besar lahan yan akan digunakan adalah millik Negara ( Hibah Pertamina ). Konsultan berpendapat bahwa daerah yang perlu dibebaskan adalah daerah sekitar rencana terminal, yaitu ke tepi jalan arah timur selatan keluar Kota Sorong seluas +- 47 Ha. Pada hari minggu tanggal 03 Oktober 1982 telah diadakan survey dari uadara menggunakan helicopter milik Airfast atas tapak tanah yang direncanakan oleh Pertamina dan lahan yang akan digunakan sebagai lapangan yang baru Sorong Daratan yang di buat menurut master plan.

3.5 Penerapan Status lokasi Bandar Udara Sorong Daratan

Hasil survey lapangan terbang baru di Sorong Daratan, tanggal 03 oktober 1982 Bupati Kepala Daerah Tingkat II kabupaten Sorong mengirim surat kepada Bapak Gubernur KDH Tingka I Irian Jaya pada tanggal 04 oktober 1982 No. Surat PBH/I/647/1982 perihal pengamanan daerah Bandar Udara Sorong Daratan survey. Di samping Bupati Kepala Daerah tingkat II Kabupaten Sorong ke Gubernur KDH Tingakt I Irian Jaya, Direktorat Jendral Perhubungan juga menulis Surat No. DJU/2743/82 tanggal 14 oktober 1982 perihal tanah diperuntukan untuk pembangunan Bandar udara sorong Daratan. Bulan juni 1983 sambil menunggu keputusan Gubernur KDH Tingkat I Irian Jaya tentang penetapan lokasi pembangunan yang diperuntukkan untuk bandar udara Sorong Daratan pihak bandara Jefman memasang pemberitahuan dengan memasang 4 ( empat ) buah papan pemberitahuan bahwa lokasi ini akan di bangun bandara udara Sorong daratan sebagai pengganti bandar udara Jefman. Papan pemberitahuan tersubut berisikan lapangan terbang yang akan di bangun, penempatan bangunan penunjang operasional dan luas tanah yang di butuhkan. Pada tahun 1984 keluarlah keputusan Gubernur Kepada Daerah Tingkat I Irian Jaya No.115/GJN/184 tanggal 23 Mei tentang penunjukkan dan penindakan atas lokasi bandar udara Sorong daratan dilampiri peta situasi penggunaan tanah Bandar Udara Sorong daratan,yang di tanda tangani oleh Gubernur saat itu adalah Izaac Hindom. Surat keputusan Gubernur ini telah di tuangkan dalam lembar Daerah Pimpinan Daerah tingkat I Irian Jaya nomor 89 tanggal 23 Mei 1984 seri D nomor 80 Keputusan tersebut antara lain memutuskan dan menerapkan : a. Sambil menunggu ketentuan lebih lanjut dari Menteri dalam Negeri menunjuk tanah Negara dan sebagian tanah yang berada di Remu seluas +_ 150 Ha,dengan batas-batas seperti di uraikan dalam peta situasi untuk di cadangkan sebagai lokasi lapangan terbang.

Adapun tipe-tipe pesawat yang pernah mendarat di bandar udara DEO Tower adalah sebagai berikut :

1. Fixed Wing  BEA – 146  BE – 18  BE – 20  BE – 23  C – 185  CN – 35  DA – 10  DA – 90  DHC – 3  DHC – 6  F - 27  F – 28  G – 159  G–3  HS – 25  HS – 74 : British Aerospace 146 : Twin Beech 18 : Super King Air 200 : Sundowner : Skywagon : Casa Nurtanio CN– 235 : Falcon 10 : Falcon 90 : Dacota : Twin Otter DHC – 6 : Friendship : Fellowship : Gufsteam I : Gufsteam III : Domine HS – 125 : Andover 74

 L – 100/C-130  ND – 16  PA – 31  SH – 7

: Hercules : Trasal C – 160 : Piper Navajo : Sky Van SC – 70

2. Rotary Wing  BH – 12  BH – 14  MBH – 5  S – 313  S – 316  S – 330  SK – 59 : Bell 212 : Bell 412 : Bolkow 105 : Alloute II , SE – 3130 : Alloute III , SE – 3160 : Puma Sa – 330 : Sikorsky S – 59

Tipe terbanyak yang digunakan adalah Fixed Wing Rotary Wing : F – 28 , DHC – 6 : MBH – 5 , SA – 330

:

Dan pesawat yang mempunyai kateristik adalah -

:

L – 100/C – 130 ( Hercules ) antara lain dapat melakukan

Short Take Off and Landing ( STOL ). Operasi penerbangan khusus yang berpangkalan di bandar udara Domine Eduard Osok Sorong tidak ada.

Operator – operator yang beroperasi adalah sebagai berikut :

1. MNA ( Merpati Nusantara Airlines ) Pesawat yang dimilliki adalah F – 27 F – 28 DHC – 6 Boeing F – 10 : Friendship : Fellowship : Twin Otter DHC – 6 : 737 – 200 :

2. Express Air Pesawat yang dimiliki adalah : F – 100 Being : 737 – 200

3. Batavia Air Pesawat yang dimiliki adalah :

-

Boeing

: 737 - 200

4. IAT ( Indonesian Air Transport ) Pesawat yang dimiliki adalah : SH – 7 S – 313 : sky Van Sc – 7 : Alloute II , SE 3130

5. AMA ( Aviation Mission Service ) Pesawat yang dimiliki adalah : S – 316 : Alloute III , SE – 31

3.6 Rekapitulasi Lalu Lintas Angkutan Udara Rekapitulasi angkutan udra tahun 2008 s/d 2009 serta arus lalu lintas angkutan udara tahun 2008 s/d 2009 Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong. Departmen Perhubungan Udara, bandar udara Domine Eduard Osok Sorong. Rekapitulasi angkutan udara ini sangat basar pengaruhnya didalam mengetahui seberapa banyak jumlah yang dating dan berangkat, seberapa banyak jumlah penumpang yang datang, transit dan berangkat meliputi penumpang laki – laki, perempuan, anak – anak serta bayi. Seberapa cargo yang dimuat, dibongkar serta banyaknya pos yang dibongkar maupun yang dimuat perhari, perbulan dan pertahun. Tujuan rekapitulasi ini yaitu untuk mengetahui seberapa banyak pergerakan moda transportasi yang terdapat di bandar udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong.

Dengan demikian kita juga dapat dengan mudah mengetahui seberapa banyak pergerakan arus barang dan jasa yang di kelola di bandar udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong. BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Masalah yang dihadapi serta cara pemecahannya Dalam upaya peningkatan pelayanan di bandara Domine Eduard Osok (DEO ) Sorong, maka menurut pengamatan dan hasil penelitian bahwa masih ada kendala-kendala yang ditemukan antara lain : 4.1.1 Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang ada di bandara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong menurut pengamatan penulis masih belum dapat menunjang kel;ancaran tugas dan pelayanan sebagaimana yang diharapkan, bagaimanapun juga jika sarana dan prasarana belum lengkap maka akan mempenguruhi dan mengganggu jalannya pelayanan penerbangan kebeberapa daerah pedalaman yang meupakan rute penerbangan perintis serta penerbangan domestik yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. 4.1.2 Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia juga merupakan faktor utama yang dapat menciptakan keharmonisan kerja pada setip tugas dan tanggung jawab. Dimana para pegawai yang ada pada kantor Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong lebih banyak tamatan SLTA +- 42 % yang pernah mengikuti pendididkan Curug ( Balai Diklat Teknis Penerbangan ) hal ini

tentu dapat mempengaruhi tugas dan tanggung jawab masing – masing, dengan keterbatasan sumber daya manusia.

4.1.3 Pemecahan Masalah Upaya dalam pemecahan suatu masalah dalam usaha peningkatan pelayanan penerbangan bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong adalah sebagai berikut :

1. Sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung dalam

menunjang kelancaran operasional penerbangan. Maka dengan ini sarana tersebut perlu ditingkatkan dan ditambah fasilitasnya karena bagaimanapun juga sarana dan prasarana merupakan alat yang digunakan dalam segala hal, yaitu sebagai berikut : a. Penambahan ruangan kerja . b. Peningkatan komunikasi antar Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO) sorong dengan Bandar Udara Perintis. c. Penambahan fasilitas penerangan. d. Penambahan fasilitas apron dan taxi way.

2. Sumber daya manusia demi menunjang pelaksanaan pelayanan

penerbangan. Dan adanya penambahan SDM agar dapat memperlancar dan dapat lebih baik lagi melayani penumpang atau konsumen.

Hasil

yang

dicapai

dalam

upaya

peningkatan

pelayanan

penernagan di Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong adalah sebagai berikut : Bahwa upaya pembangunan daerah di mana Kota Sorong menjadi daerah Otonomi, maka perintah daerah memperhatikan pembangunan disegala bidang ssebagai pemasukan daerah. Oleh karena itu, pembangunan Lapangan Udara Domine Eduard Osok sudah mulai di kerjakan pembangunannya yang dimulai pada tahun 1993 sudah dilakukan penimbunannya yang mana diharapkan ditingkatkan kemampuannya dari pendaratan F – 28 ke DNC – 9 serta oada tahun 2005 sudah dapat dirati oleh pesawat – pesawat berbadan lebar.

Alternative pembangunan Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong adalah pertimbangan tahunan. Maka dapat di prediksikan penumpang pada tahun 2000 dan selanjutnya akan mencapai 90.000 jiwa.

Dengan keadaan demikian yang akan langsung mempengaruhi perkembangan arus lalu lintas udara dan penumpang yang telah dapat di darati oleh pesawat jenis F – 28, B 737 – 200 itupun dengan kategori terbatas dimana ukuran landasan 1850 x 30 meter dan tidak menutup kemungkinan Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) Sorong akan mencapai 2.400 meter. Dan usaha perpanjangan akan semakin sulit jika tidak melibatkan semua pihak yang terkait.

4.1.4 Strategi perbaikan dan peningkatan kualitas Pelayanan

Dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan jasa penumpang pesawat udara di bandar udara Domine Eduard Osok ( DEO ) dapat diidentifikasi prioritas utama yang harus dilakukan oleh manajemen terhadap 27 karakteristik teknis, antara lain : 1. Berdasarkan standar pemerintah

1. Prioritas utama : memperluas terminal : luas ruang tunggu mejadi =

1243,66 m2, luas ruang kedatangan menjadi = 1029,88 m2, luas ruang check-in menjadi = 605,75 m2, dan luas pemeriksaan penumpang dan bagasi menjadi = 168,15 m2.
2. Prioritas kedua : menambah AC di Terminal : ruang check-in dan

ruang kedatangan masing-masing di tambah 2 AC Split 2 pk.
3. Prioritas ketiga : menambah jumlah troli sebanyak 101 troli. 4. Priotitas keempat : merubah tampilan TV 21 inc menjadi 29 inc di

ruang tunggu dan hall kedatangan dan tambahan 1 (satu) TV 29 inc di ruang keberangkatan.
5. Prioritas kelima : penambahan satu orang petugas kebersihan pada

masing-masing ruang, pelaksanaan kebersihan dilakukan maksimum tiap 15 menit dan menambah jumlah tempat sampah.

2. Berdasarkan kebutuhan konsumen

Prioritas keenam, ketujuh, kedelapan : pembatasan pengantar dan penjemput masuk ruang tunggu, ruang check-in dan ruang kedatangan.

1. Prioritas kesembilan, kesebelas, keempat belas: peningkatan

kemananan dan keselamatan penumpang maupun pengantar di bandar udara.
2. Prioritas kesepuluh, kedua belas, kelima belas, keenam belas,

ketujuh belas: membuat papan petunjuk, mengatur tata letak dan tata cara proses boarding pass dan pengambilan bagasi di baggage claim. Serta mengadakan satu petugas pengambil troli.
3. Prioritas ketiga belas: meningkatkan kualitas atau menggganti

audio dengan kualitas yang lebih baik.
4. Prioritas

kedelapan belas, kesembilan belas: melaksanakan petugas boarding pass dan meningkatkan

pelatihan personel

fasilitas peralatan boarding pass.
6. Prioritas

kedua

puluh,

kedua

puluh

satu:

melaksanakan

pengoperasian tempat parkir.
7. Prioritas kedua puluh dua, kedua puluh empat, kedua puluhlima:

mengatur tata letak tempat check-in maskapai penerbangan, melaksanakan pelatihan personel petugas check-in, dan meningkatkan fasilitas peralatan check-in.
8. Prioritas kedua puluh tiga: melakukan pengontrolan suhu ruang

tiap 15 menit.
9. Prioritas kedua puluh enam, kedua puluh tujuh: menambah

menambah kapasitas tempat duduk.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dalam penulisan ini penulis dapat menyimpulkan bahwa di Bandar Udara Domine Eduard Osok ( DEO) masih banyak kekurangan. Namun, jika dilihat dari pembangunan landasan yang sedang berlangsung Penulis berkeyakinan bahwa Badar Udara Domine Eduard Osok ( DEO ) akan menjadi Bandar Udara yang besar dan maju dengan pesat. Karena mempunyai lokasi yang sangat luas dan menjadi gerbang masuk ke bandara-bandara perintis di pelosok kota. Walaupun Pemerintah harus terlebih dahulu bernegosiasi kepada penduduk yang ada di sekitaran bandara untuk membicarakan soal ganti rugi tanah mereka. Setelah penulis memberikan uraian dari Bab demi Bab tentang peran penyelenggara bandar udara maka keseluruhan pembahasan tersebut diatas penulis berkesimpulan bahwa :
1. Problem utama yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari adalah

menyangkut masalah penyediaan fasilitas sarana pokok dan sarana penunjang sesuai persyaratan penerbangan yang berlaku.
2. Standar

pelayanan di bandar udara berbeda-beda karena sangat

dipengaruhi oleh sarana yang dimiliki, kondisi bandara dan sifat pola pengguna jasa yang menunjukkan cirri-ciri yang tidak sama.

3. Peningkatan produksi angkutan udara cukup tinggi disatu pihak serta dipihak lain-lain penambahan kapasitas prasarana yang masih terbatas menciptakan suatu ketidakseimbangan dalam penyediaan pelayanan. 4. Untuk memenuhi standar fasilitas yang dimiliki sangat tergantung kepada skala prioritas dengan anggaran yang tersedia. 5.2 Saran Setelah Penulis melaksanakan kerja praktek di Bandar Udara Domine Eduard Osok( DEO ) sorong, ada beberapa hal yang dapat penulis sarankan : 1. Kurangnya SDM yang mempengaruhi kelancaran sistem pelayanan di bandara. 2. Kurangnya peralatan yang menunjang sistem pelayanan di bandar udara Domine Eduard Osok ( DEO ).
3. Perlunya kesadaran dari masyarakat sekitar dalam menjaga kebersihan di

areal bandara. 4. Sistem keamanan di bandara perlu di tingkatkan.

DAFTAR GAMBAR

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->