P. 1
Relasi Agama Dan Negara Di Indonesia

Relasi Agama Dan Negara Di Indonesia

|Views: 1,378|Likes:
Published by Muhammad Sokhib

More info:

Published by: Muhammad Sokhib on Nov 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

RELASI AGAMA DAN NEGARA DI INDONESIA

Disusun oleh : 1. Muhammad Shokhib 2. Lutfina

Tingkat/Progam Dosen Pembimbing Mata Kuliah

: I/S-1 PAI : Sukarno, S.Ag, M.SI : Ilmu Kewarganegaraan

UNWAHAS

Agama secara etimologis berasal dari bahasa sansekerta yang tersusun dari kata ´a´ yang berati tidak dan ³gam´ yang berati pergi. langgeng abadi yang diwariskan terus menerus dari satu generasi kepada generasi lainnya. Muncul dari berbagai dimensi sejarah kehidupan. Hakikat Agama Agama adalah realitas yang selalu melingkupi manusia. Karena itu tidak muda mendefinisikannya. Bahkan acapkali darah menjadi hiasannya. Secara umum kata agama berarti tidak kacau yang secara analitis kritis diuraikan dengan cara memisahkan kata demi kata: ³a´ berati tidak dan ³gama´ berarti kacau. Sehingga kita tidak terjebak pada ranah penafsiran linier. Termasuk disetiap daerah dan pemeluknya cenderung terikat pada khasanah maritimnya. Maka menjadi sesuatu yang krusial bila kita lihat sebab dan akibat dari konflik yang ada baik itu mempertahankan bangunan keyakinan beragama dan bernegara. Termasuk spesifikasi para ahli dalam ranah paradigma kajian yang mengkhususkan pada agama tertentu. Jadi kehidupan orang yang memeluk agama atau beragama akan mengamalkan ajaran-ajaranya dengan sungguh sungguh tidak akan mengalami kekacauan atau split personality. Bahkan agama menut bahasa arab mempunyai banyak arti sesuai dengan konteksnya. Ini bisa kita lihat bagaimana penafsiran agama dan negara cenderung pada porsi bagaimana negara dan bagaimana agama menjadi menarik untuk diketengahkan sebagai dua perbedaan. Tapi bukan bagimana kita mempermasalahkan apakah mungkin antara agama dapat berdampingan sesuai dengan apa yang kita bangun dan persepsikan. tetap ditempat. adil.Relasi Agama dan Negara Membincang Negara dan agama adalah sebuah pembicaraan yang cenderung mengarah pada ruang lingkup membangun persepsi. secara terminologis memiliki arti berbeda-beda bahkan setiap ahli mengemukakan sesuai fokus keilmuannya. Saya melihat selama ini orang mendefinisikannya baik peran dan fungsi hubungan antara agama dan negara cenderung melihat pada sisi politis. Dapat dipastikan akan selalu diwarnai oleh latar belakang pemikiran yang digelutinya. Bahkan kalau kita rujuk dari berbagai referensi agama bisa menjadi definisi yang multi interpretasi. sejahtera dan berujung pada perdamaian. Tapi dari beberapa konsepsi yang ada saya melihat agama merupakan satu syistem credo (tata keimanan atau . Karena itu berbagai kepentingan sosial-politik sangat mewarnai penggambaran konflik kepentingan antara yang menghendaki agama sebagai dasar negara dengan kalangan politik modern yang menolaknya. Dalam bentuk harfiah yang terpadu kata agama berati tidak pergi.

Dalam bentuk modern negara terkait erat dengan keinginan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan cara-cara yang demokratis. Konstitusi di Indonesia disebut sebagai Undang-Undang Dasar. Bentuk paling kongkrit pertemuan negara dengan rakyat adalah pelayanan publik. Dalam perkembangannya banyak negara memiliki kerajang layanan yang berbeda bagi warganya. Agama juga sistem ritus manusia kepada yang dianggapnya mutlak. Karenanya dia juga mengatur bagaimana negara dikelola. seperti organisasi secara umum. maksud didirikannya negara Konstitusi merupakan dokumen hukum tertinggi pada suatu negara. Terutama sesungguhnya adalah bagaimana negara memberi pelayanan kepada rakyat secara keseluruhan.keyakinan) atas sesuatu yang mutlak diluar manusia. adalah untuk memudahkan anggotanya (rakyat) mencapai tujuan bersama atau cita-citanya. Juga sistem norma yang mengatur hubungan antara manusia dan sesama manusia. ekonomi. Yang disebut sebagai kedaulatan. militer. Sebagai dokumen yang mencantumkan cita-cita bersama. Bahkan negara menjadi penting bila kita lihat dari fungsi dalam mensejahterakan serta memakmurkan rakyat Melaksanakan ketertiban Pertahanan dan keamanan Menegakkan keadilan. Keberadaan negara. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Negara menjalankan fungsi pelayanan keamanan bagi seluruh rakyat bila semua rakyat merasa bahwa tidak ada ancaman dalam kehidupannya. dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. yakni pelayanan yang diberikan negara pada rakyat. Hakikat Negara Hakikat negara menjadi suatu hal yang penting ketika kita hidup dalam wilayah kekuasaan. . Bahkan negara merupakan pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut. sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Keinginan bersama ini dirumuskan dalam suatu dokumen yang disebut sebagai Konstitusi. serta hubungan antara manusia dan alam lainnya yan sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan yang dimaksud. yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada. fungsi pelayanan paling dasar adalah pemberian rasa aman. termasuk didalamnya nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh rakyat sebagai anggota negara. Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik.

Dalam arti bahwa antara agama dan negara itu sama-sama jalan akan tetapi pada akhirnya akan menemukan jalan kebuntuan. Padahal. Sementara. . hubungan linier. masih ada yang lebih unggul darinya. Dalam hubungan ini. dan kekurangan. Meski hal itu tidak sepenuhnya sesuai. hal ini dapat menjadi kontrol dan dapat saling mengisi kekurangan yang melekat pada diri masing-masing dan harus bisa menerima kekurangankekurangan. samasama jalan dan mempunyai suatu hubungan yang saling mengontrol. Dalam hal ini. Pada awalnya. Dengan begitu. antara keduanya sama-sama jalan dan menerapkan sistem (pemerintahan) yang dimilikinya sendiri-sendiri. namun. di sini. diperlukan suatu hubungan yang cukup berarti antara agama dan negara. masih ada pendikotomian yang sifatnya hanya mementingkan dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar (agama atau negara). di mana. rigiditas. terdapat suatu relasi yang tidak sejalan antara agama dan negara. Dengan lain ungkapan. paling tidak. terdapat tiga sistem hubungan antara keduanya yang hingga kini masih sering dipermasalahkan oleh para cendekiawan. baik yang sifatnya intern maupun ekstern. fungsi hingga klasifikasi kepentingan. Bila sejarah kia jadikan rujukan. maka banyak perlakuan berbeda dari kesaling pautan antara negara dan agama. yang diinginkan banyak kalangan adalah adanya suatu hubungan dan adanya pertemuan antar-keduanya. Kedua. antara agama dan negara. ada perbedaan yang sedikit mencolok. Pertama. salah satu dari mereka akan menafikan yang lain dan akan terjadi hegemoni dan dogmadogma bahwa ada salah satunya yang menjadi primadona (negara atau agama). bahkan ketidaksesuaian antara keduanya dapat dikurangi dan akan berkurang yang kemudian akan tercipta suatu hubungan yang harmonis dan adanya saling keterkaitan antarkeduanya. Keduanya saling mengisi denfan agama sebagai ajaran yang mengikat untuk mempraktekan dan negara sebagai bagian yang mengikat akan fungsi pelayanan atas kesepakatan kolektif. Artinya. Sehingga. hubungan paralel. Singkat kata. samasama mempunyai posisi yang cukup penting dalam masyarakat. Agama menjalankan dan berjalan pada sistem kepentingannya sendiri.Relasi Agama Dan Negara Agama dan negara adalah dua istilah yang mempunyai keterikatan dan keterkaitan. Baik darai sisi peran. ada sedikit kesesuaian. Sehingga terjadilah suatu konsep yang tidak sejalan dan sepaham yang kemudian antara keduanya tidak akan pernah bertemu dan bertutursapa sampai kapan pun. Hampir sama dengan hubungan yang pertama. Mereka hanya menganggap bahwa itulah satu-satunya yang paling benar. Negara pun juga demikian adanya dan hanya mementingkan keinginannya masing-masing. Dengan demikian. Ketiga. adanya kekakuan. Di mana. hubungan sirkuler.

Paradigma integralistik ini antara lain dianut oleh kelompok Islam Syi¶ah. Konsep ini menegaskan kembali bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik atau Negara. Istilah multikulturalisme mengandung tiga komponen penting. dan cara tertentu untuk merespons pluralitas itu. Bagaimana kemudian sikap dan posisi para ulama klasik tentang ini.multikulturalisme bukanlah doktrin politik pragmatik. politik. Begitu juga negara bisa menjadi kontrol untuk agama. yang berarti bahwa kehidupan kenegaraan diatur dengan menggunakan hukum dan prinsip keagamaan. ekonomi dan budaya dalam realitas keberagamaan. Paradigma Integralistik Paradigma integralistik merupakan paham dan konsep hubungan Negara dan Agama yang menganggap bahwa Negara dan agama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. yang sumber positifnya adalah hukum Agama.Sebab. Khasanah Multikulturalisme Untuk melihat dan meninjau ulang hubungan antara agama dan negara. Hanya saja Syi¶ah tidak menggunakan term dawlah tetapi dengan term Imamah. yang mana agama itu. baik dalam kehidupan sosial. . Pemahaman seperti ini memunculkan diskursus berkepanjangan mengenai hubungan antara negara dan agama dalam Islam.konsep ini merujuk kepada pluralitas kebudayaan. Karena itu.perbedaan menjadi asasnya dan gerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi semakin intensif. Kedua bersikap lebih moderat serta mentolerir semua bentuk negara. Dari sinilah kemudian peradigma integralistik dikenal juga dengan paham Islam: din wa dawlah.hampir semua negara di dunia tersusun dari aneka ragam kebudayaan. melainkan sebagai cara pandang kehidupan manusia. Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu (integrated). Paradigma ini kemudian melahirkan konsep tentang Agama-Negara. melainkan harus ada campur tangan negara agar tercipta suatu tatanan kehidupan yang sejahtera dan berlandaskan pada agama (Islam) dan negara.Karena itu.Artinya. Diskusi-diskusi tersebut hingga saat ini mengerucut dalam dua arus besar: pertama menginginkan bentuk kekhilafahan sebagai satu-satunya bentuk negara Islam.multikulturalisme harus diterjemahkan ke dalam kebijakan multikultural sebagai politik pengelolaan perbedaan kebudayaan warga negara. sepanjang nilai-nilai Islam bisa dijalankan. yakni terkait dengan kebudayaan. agar tidak menjalankan keinginannya sendiri secara individu. Ini juga memberikan pengertian bahwa Negara merupakan suatu lembaga politik dan sekaligus lembaga Agama.agama itu bisa menjadi sistem kontrol dan melengkapi kekurangan yang terdapat pada sebuah negara. Konsep seperti ini sama dengan konsep teokrasi. hubungan antara keduanya yang semestinya.

Negara dan Agama merupakan dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan bidangnya masing-masing. maka hukum positif yang berlaku adalah hukum yang betul-betul berasal dari kesepakatan manusia melalui social contract dan tidak ada kaitannya dengan hukum Agama (syari¶ah). karena tanpa kekuasaan Negara. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa adanya kekuasaan yang mengatur kehidupan manusia merupakan kewajiban Agama yang paling besar. Begitu juga sebaliknya. Konsep sekularistik ini bisa dilihat dari pendapat Ali Abdul Raziq yang menyatakan bahwa dalam sejarah kenabian Rasulullah pun tidak ditemukan keinginan nabi Muhammad untuk mendirikan Agama. Dalam konteks paradigma simbiotik ini. konstitusi yang berlaku dalam paradigma ini tidak saja berasal dari adanya social contract. sehingga keberadaannya harus dipisahkan dan tidak boleh satu sama lain melakukan intervensi. karena agama juga membantu Negara dalam pembinaan moral. Paradigma Sekularistik Paradigma sekularistik beranggapan bahwa ada pemisahan (disparitas) antara Negara dan Agama. . Negara memerlukan Agama. Oleh karenanya. etika. dan spiritualitas. Dalam konteks ini. hubungan Negara dan Agama dipahami saling membutuhkan dan bersifat timbal balik. Berdasar pada pemahaman yang dikotomis ini. Rasulullah hanya penyampai risalah kepada manusia dan mendakwahkan ajaran agama kepada manusia. tetapi saling membutuhkan. agama juga membutuhkan Negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan Agama.Paradigma Simbiotik Menurut konsep ini. tetapi bisa saja diwarnai oleh hukum Agama (syari¶at). Pendapat Ibnu Taimiyah tersebut melegitimasi bahwa antara Negara dan Agama merupakan dua entitas yang berbeda. maka Agama tidak bisa berdiri tegak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->