P. 1
Laporan Praktikum Korosi

Laporan Praktikum Korosi

|Views: 3,418|Likes:
Published by suselo_suluhito

More info:

Published by: suselo_suluhito on Nov 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

Laporan Praktikum Modul C Korosi

Oleh :

Kelompok

: 16

Anggota (NIM) : Satrio Swandiko Prillianto Wafi Ihtikamiddin Rawinder Singh Rais Rijal Wirana Suselo Suluhito Zakiy Nur R (13108012) (13108035) (13108049) (13108056) (13108083) (13108095) (13108097)

Tanggal Praktikum Tanggal Penyerahan Nama Asisten (NIM)

: 5 November 2010 : 9 November 2010 : Panji (13706029)

Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung 2010

I.

TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mengetahui mekanisme kerusakan logam akibat korosi dan parameter-parameternya 2. Mempelajari teknik perlindungan korosi sacrificial anode dan impressed current

II.

TEORI DASAR Korosi adalah kerusakan/deteorasi pada material karena pengaruh lingkungannya. Korosi menyebabkan perubahan sifat-sifat pada material. Perubahan sifat ini, cenderung merugikan daripada menguntungkan. Macam-macam kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan korosi, yaitu udara, air, tekanan, sinar matahari, temperature, pH dll. Secara umum, korosi bisa diartikan dengan teroksidasinya sebuah/bagian material akibat reaksi kimia. Syarat-syarat terjadinya korosi pada sebuah material ada 3, yaitu ada larutan elektrolit, konduktor, dan elektroda.

Reaksi kimia ketika terjadi proses korosi : Oksidasi Reduksi :B : A + ne
n+ -

→ →

Bn+ + neA

(Anoda) (Katoda)

Jenis-jenis korosi : 1. Pitting : Korosi yang menimbulkan lubang-lubang kecil (mengalir dari permukaan kea rah bawah 2. Intergranular Corrosion : Korosi yang terjadi pada batas butir. Energi yang terdapat pada batas butir adalah yang tertinggi diantara bagian butir tersebut. Sehingga korosi lebih mudah terjadi. 3. Errosion Corrosion : Korosi yang terjadi akibat aliran fluida. Aliran fluida yang turbulen menyebabkan material terkorosi. Biasanya terjadi pada belokan pipa, bagian pada pipa yang berubah diameternya, dsb. 4. Crevice Corrosion : Biasa terjadi di celah-celah sambungan. Korosi jenis ini diakibatkan oleh ion O2 yang terjebak pada celah tersebut. Perbedaan konsentrasi ion O 2 yang ada pada udara disekitar material inilah yang menyebabkan mudah terjadinya korosi. Teknik-teknik pencegahan korosi :

1. Sacrificial Anode : Menghubungkan katoda dengan anoda yang mempunyai Esel lebih kecil sehingga lebih mudah teroksidasi. Katoda akan selamat dari korosi tapi anoda akan terkorosi. 2. Impressed Current : Menghubungkan katoda dengan sumber tegangan sehingga elektron pada katoda bertambah. Ketika elektron pada katoda bertambah maka katoda tidak akan menangkap elektron yang berarti anoda pun tidak akan melepaskan elektronnya. Karena anoda tidak melepaskan elektron maka oksidasi pada anoda pun tidak terjadi. 3. Coating/galvanizing : Melapisi material yang akan dilindungi dengan lapisan/bahan material lain, misal cat. Material Al & Stainless Steel merupakan material yang relatif tahan karat dibandingkan material lain. Hal ini diakibatkan oleh peristiwa yang disebut passivasi. Proses berlangsungnya adalah sebagai berikut : “ ketika reaksi oksidasi terjadi, maka Al akan berikatan dengan O2 membentuk Al2O3. Sementara itu, ion Fe pada stainless steel akan berikatan pula dengan O 2 membentuk Fe2O3. Kedua lapisan oksida yang terbentuk merupakan lapisan oksida yang kontinu. Lapisan oksida ini mampu menutupi seluruh permukaan Al/stainless steel sehingga material tersebut tidak mengalami korosi. Akan tetapi lapisan oksida ini bisa tergerus. Jika lapisan ini tergerus maka material akan bereaksi membentuk oksida lagi. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, maka material yang bersangkutan akan berkurang sedikit demi sedikit dan habis. Passivasi ini bisa juga digolongkan sebagai teknik galvanizing yang terjadi (secara alami) pada Al & Stainless Steel.

III.

Prosedur Percobaan STAR T Sediakan specimen Fe, C, Cu, Zn. Larutan elektrolit HCl & NaCl serta power supply.

Ukur dan catat dimensi serta massa awal spesimen

Rangkai alat & bahan sesuai petunjuk modul

Catat nilai tegangan & arus yang terjadi

Biarkan reaksi terjadi lalu ukur dan catat dimensi serta massa akhir spesimen

END

IV.

DATA PRAKTIKUM

Data Percobaan Praktikum Modul Korosi
Spesimen Fe C Impressed Current Massa Massa Awal Massa Akhir (gram) (gram) 7,44 7,41 5,33 5,33 HCl + Fe dan Zn Dimensi Massa Tebal Awal Lebar Awal Massa Awal Massa Akhir (mm) (mm) (gram) (gram) 1,05 27 7,67 7,67 5,1 17,45 17,37 16,26 NaCl + Fe dan C Dimensi Massa Tebal Awal Lebar Awal Massa Awal Massa Akhir (mm) (mm) (gram) (gram) 1 26 7,51 7,43 2,75 25,2 3,79 7,80 HCl + Fe dan C Dimensi Massa Tebal Awal Lebar Awal Massa Awal Massa Akhir (mm) (mm) (gram) (gram) 1,1 25,7 7,34 7,29 2,8 24,9 3,74 3,74 HCl + Fe dan Cu Dimensi Massa Tebal Awal Lebar Awal Massa Awal Massa Akhir (mm) (mm) (gram) (gram) 1,05 26 7,41 7,39 1,1 33 14,11 14,11 Waktu 20 jam 25 menit Dimensi Tebal Awal Lebar Awal (mm) (mm) 1 26,85 5,9 20,6 Tegangan (Volt) 0,12 Kuat Arus (mA) 0,49

Spesimen Fe Zn

Tegangan (Volt) 0,54

Kuat Arus (mA) 23,0

Spesimen Fe C

Tegangan (Volt) 0,24

Kuat Arus (mA) 1,87

Spesimen Fe C

Tegangan (Volt) 0,29

Kuat Arus (mA) 0,5

Spesimen Fe Cu

Tegangan (Volt) 0,3

Kuat Arus (mA) 0,49

Wirana 13108083 III. Analisis Hasil percobaan menunjukkan beberapa spesimen mengalami perubahan bentuk, warna dan massa. Sedangkan spesimen lain tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini akan dianalisis lebih dalam. Pada percobaan Impressed current, logam Fe tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini terjadi karena pada percobaan impressed current kita memberikan arus terhadpa reaksi. Arus ini berfungsi untuk mencegah logam Fe teroksidasi menjadi Fe 2+ . Logam Fe yang terus disuplai electron agar tidak sempat teroksidasi. Dari data massa Fe mengalami perubahan dari 7,44 gram menjadi 7,41 gram sedangkan Karbon tidak mengalami perubahan (inert). Dapat disimpulkan bahwa impressed current dapat mencegah terjadinya korosi pada logam (dalam hal ini logam Fe). Pada keempat percobaan lainnya salah satu spesimen pada tiap percobaan mengalami perubahan (massanya berubah). Hal ini menunjukkan bahwa pada percobaan tersebut telah terjadi korosi. Berikut analisis dari keempat percobaan tersebut. Dari data percobaan, kita dapat menentukan laju korosi, yaitu besarnya pengurangan material akibat reaksi kimia per satuan waktu (CPR : Corrosion Penetration Rate). Untuk kebanyakan aplikasi adalah suatu penetrasi korosi kurang dari sekitar 20 mpy ( 0.50 mm/yr) yang bisa diterima. 𝐶𝑃𝑅

= 𝐾𝑊

𝜌𝐴𝑡

Dimana : K=87.6 untuk satuan mm/yr Ρ=massa jenis (kg/m3) W=W1-W2 (kg) A=luas (m2) t=waktu (yr)

Dapat dilihat bahwa yang mengalami korosi adalah logam yang menjadi anoda. Hal ini terjadi karena pada anoda terjadi reaksi oksidasi. Tabel di bawah ini menunjukkan tingkat oksidasi-reduksi logam.

.Rekasi pada tiap percobaan Fe dan Zn + HCl A: K: Zn 2H+ + Zn2+ 2Cl+ + 2e2eH2 ZnCl2(aq) + + 2ClH2(g)

Zn (s) +

2HCl(aq)

CPR = 87,6 x 1110 / ( 7,14 x 10,47 x 20,4167) =63,71 mm/year

Laju korosi Zn yang besar menunjukkan bahwa sangat korosif dan logam Zn tidak disarankan untuk kebanyakan aplikasi Reaksi ini berjalan spontan (dilihat dari nilai voltase yang positif).

Fe dan Cu + HCl A: K: Fe 2H+ + Fe2+ 2Cl+ + 2e2eH2 FeCl2(aq) + + 2ClH2

Fe (s) +

2HCl(aq)

CPR = 87,6 x 20 / ( 7,9 x 15,6 x 20,4167) = 0,696 mm/year Laju korosi Fe pada reaksi ini masih berada tidak jauh dari yang diijinkan untuk banyak aplikasi. Untuk itu Fe masih dapat digunakan untuk beberapa aplikasi. Reaksi ini berjalan spontan (dilihat dari nilai voltase yang positif). Fe dan C + HCl A: K: Fe 2H2O + Fe (s) + Fe2+ 2e2H2O(l) + 2eH2 + 2OHFe(OH)2(aq) + H2(g)

CPR = 87,6 x 50(mg) / ( 7,9(g/cm3) x 15,42(cm2) x 20,4167(hours)) = 1,76 mm/year Laju korosi Fe pada reaksi ini masih berada tidak jauh dari yang diijinkan untuk banyak aplikasi. Untuk itu Fe masih dapat digunakan untuk beberapa aplikasi. Reaksi ini berjalan spontan (dilihat dari nilai voltase yang positif).

Fe dan C + NaCl A: K: 2Na+ + 2H2O + 2NaCl(aq) (g) 2Cl2e+ H2 2H2O(l) 2Na+ + + 2OH2Na(OH)(aq) + Cl2 (g) + H2 Cl2 + 2e-

Berdasarkan data percobaan, logam Fe mengalami perubahan massa yaitu dari 7,51 gram menjadi 7,43 gram. Hal ini seharusnya tidak terjadi karena pada anoda Na yang mengalami oksidasi (Na lebih mudah teroksidasi). Kesalahan ini mungkin terjadi karena penghitngan massa awal dan massa akhir.

VI.

KESIMPULAN   

Korosi terjadi akibat adanya interaksi antara logam dengan lingkungan. Korosi dapat terjadi pada semua jenis material, akan tetapi kasus korosi pada logam lebih sering ditemui. Sacrificial anode lebih efektif jika dibandingkan dengan impressed current. Pada sacrificial anode logam terlindungi dari korosi, sementara pada impressed current hanya menghambat/memperlama terjadinya korosi.

 

Sacrificial anode hanya dapat dilakukan jika material dihubungkan dengan anoda yang mempunyai kecenderungan untuk mengalami oksidasi yang lebih tinggi. Impressed current dilakukan dengan memberikan suplai e - pada katoda sehingga jumlah e- yang ditangkap katoda dari anoda semakin sedikit. Hal ini memperlambat terjadinya oksidasi pada anoda.

Laju korosi sangat bergantung pada waktu teroksidasi, luas permukaan reduksi massa, & massa jenis.

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM 1. Jelaskan apa yang dimaksud SCE ! Jawab : SCE (Standard Calomel Elektrode). Standar awal yang digunakan untuk mendapatkan beda potensial yang terjadi pada proses elektrokimia. 2. Analisa hasil percobaan yang dilakukan ! Jawab : Analisa ada di bab V. 3. Tentukan cara mendapatkan arus proteksi maksimum ! Jawab : Dengan lebih dahulu mengetahui arus yang terjadi pada proses elektrokimia sehingga dapat diperkirakan arus proteksi yang harus dialirkan pada katoda. 4. Apa yang terjadi jika arus proteksi berlebihan ? Jawab : Material katoda yang akan terkorosi. TUGAS TAMBAHAN 1. Kenapa disebut korosi keramik? Karena keramik merupakan campuran dari metal dan non-metal dan keramik mempunyai ketahanan yang sangat baik pada korosi pada lingkungan terutama pada temperatur kamar. Korosi pada keramik secara umum merupakan reaksi simple pemisahan kimia, sangat kontras dengan korosi yang terjadi pada logam. 2. Pada reaksi antara Fe dan Cu dalam HCl terjadi reaksi 𝑎 ∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻+ + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒𝐶𝑙2 𝑎𝑞 Pada katoda terjadi reaksi reduksi HCl dan pada anoda terjadi reaksi oksidasi Fe. 3. Biological corrosion yaitu korosi yang disebabkan oleh bakteri, contohnya pada stainlessteel, alumunium alloy, copper alloy pada lingkungan yang memiliki derajat

keasaman 4-9 pH dan temperatur 10derajat C – 50 derajat C. Bakterinya terbagi 2 yakni aerobic dan anaerobic, pada kapal laut dan konstruksi bangunan lepas pantai bakteri anaerobik lebih banyak berperan dalam proses korosi, sedangkan bakteri aerobik menyerang stainless steel pada sambungan menyebabkan naiknya laju pitting. Gambar di bawah ini menunjukkan korosi pada stainless steel 316 pada sambungannya.

Rais Rijal 13108056 Bab IV Analisis

Pada percobaan korosi, secara kasat mata dan fisik kita dapat menentukan logam itu terkorosi atau tidak dengan cara sebagai berikut :     Melihat perubahan warna Perubahan bentuk Perubahan dimensi (adanya tonjolan- tonjolan dan makin tipis) Adanya retakan dan mudah retak

Untuk mengetahui korosi lebih dalam lagi, maka kita melakukan percobaan korosi dengan dua metode proteksi korosi pada material, metode tersebut adalah sacrificial anode dan impressed current. Pada percobaan sacrificial anode kita melakukan dua percobaan, yakni membuat reaksi rangkaian elektrokimia antara (1) Besi dengan Tembaga dengan elektrolit HCl dan (2) Besi dengan Zink dengan elektrolit HCl, juga (3)besi dengan carbon elektrolit HCl dan NaCl. Untuk percobaan impressed current reaksi elektrokimia yang kita gunakan adalah antara Besi dengan Karbon. Logam material yang ingin dilindungi terletak lebih kanan dalam tabel volta. Berikut deret volta sebagai acuan kita menganalisis kereaktifan logam. Li-K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Ni-Sn-Pb-H-Cu-Hg-Ag-Au Semakin ke kanan maka akan bersifat katodik atau akan mengalami reduksi begitu juga sebaliknya semakin ke kiri maka akan bersifat anodik atau akan mengalami oksidasi. Pada percobaan Fe dengan Cu, sesuai teori Fe sebagai anoda dan Cu sebagai katoda karena sesuai dengan letaknya pada deret volta, Fe terletak lebih kekiri dibanding Cu. Pada percobaan Fe dengan Zn sesuai deret volta, Fe terletak lebih kekanan dibanding Zn maka Fe akan bertindak sebagai katoda dan Zn sebagai anoda. pada anoda akan terjadi aliran elektron dan pengurangan massa, jadi dapat disimpulkan, logam yang akan dilindungi harus terletak lebih ke kanan pada deret galvani.

Pada Fe yang berada pada HCl, H+ yang tereduksi. 2H+ + 2e-  H2. Sedangkan pada Fe yang berada pada NaCl, yang tereduksi adalah H2O. H2O + ½O2 + 2e-  2OH-Bukan Na yang tereduksi karena Na terletak pada logam alkali dan ia tidak bisa direduksi karena sangat aktif/anodic (pada Tabel Galvanik, Na terletak jauh di bawah). Dapat diketahui dari perhitungan standard potensial reduksi antara Fe - H dan Fe - H2O, yang memiliki selang nilai yang lebih besar adalah Fe – H2O.

V o H 2O  V o Fe  0,401  (0,440)  0,841 V H  V Fe
o o

 0,000  (0,440)  0,440

Dan diketahui juga bahwa risiko korosi galvanik logam-logam yang berdekatan pada deret galvanik bila digabung, kecil. Sehingga yang mengalami oksidasi adalah Fe pada NaCl. Arus elektron : anoda → katoda ; arus listrik : katoda → anoda

Berikut proses percobaan Sacrificial Anode

Pada percobaan (1) sacrificial anode antara besi dan tembaga (Fe (3) dan Cu), kita mendapatakan pengurangan massa pada Fe (3) dan sebaliknya pada Cu mengalami pertambahan massa. Permukaan besi juga terdapat pengotor atau yang sering kita kenal dengan karat. Pada rangkaian ini anoda sebagai tempat terjadinya oksidasi dan katoda sebagai tempat terjadinya reduksi dan kita tahu bahwa material yang lebih anodik akan mengalami oksidasi sedangkan yang katodik akan mengalami reduksi. Artinya

akan ada aliran elektron dari anoda menuju katoda. Dalam hal ini Besi menjadi anoda dan mengalami reaksi oksidasi sehingga massa besi menjadi berkurang. Sebaliknya Tembaga yang menjadi katoda mengalami pertambahaan massa. Berikut reaksi kimia yang terjadi - pada anoda terjadi reaksi : Fe  Fe2+ + 2e- ion Fe2+ akan bereaksi dengan ion Cl- dari HCl : Fe2+ + 2Cl-  FeCl2 - elektron bereaksi dengan H+ membentuk gas H2 di sekitar Cu : 2H+ + 2e-  H2 Setelah percobaan didapat massa Fe sebesar 7,39gr dari 7,41gr yang berarti terdapat penambahan massa, hal ini bertentangan dengan teori, karena harusnya massa Fe berkurang, sedangkan massa Cu tetap pada 14,11gr, yang harusnya bertambah. Percobaan (2) sacrificial anode antara antara besi dan zink (Fe (2) dan Zn), kita mendapatkan pengurangan massa pada Zn yakni dari 17,37 gr menjadi 16,26 gr. Massa Fe ternyata tetap tidak ada perubahan, yang berarti Fe dilindungi oleh Zn, yang terkorosi adalah Zn. Karena Zn lebih negatif potensialnya Vo = -0,763 jika dilihat dari Tabel Galvanik, dibandingkan dengan Fe Vo = -0,440. Terbentuk gelembung gas disekitar Fe, karena H+ tereduksi menjadi H, sehingga terbentuk gas H disekitar Fe yang merupakan katoda. Secara teori zink yang seharusnya mengalami pengurangan massa sebagai akibat dan besi yang mengalami pertambahan massa Karena bila kita lihat dalam deret volta, Zink lebih reaktif dibanding besi yang seharusnya massa zink yang berfungsi sebagai anoda berkurang karena melepas elektron dan massa besi sebagai katoda bertambah karena menerima elektron dari zink. Disebut juga zink lebih anodic dibanding besi. Reaksi kimianya sebagai berikut - pada anoda terjadi reaksi : Zn  Zn2+ + 2e- ion Zn2+ akan bereaksi dengan ion Cl- dari HCl : Zn2+ + 2Cl-  ZnCl2 - elektron bereaksi dengan H+ membentuk gas H2 di sekitar Fe : 2H+ + 2e-  H2. Pada elektrolit NaCl massa Fe berkurang dari 7,51gr ke 7,43gr dan massa C dari 3,79gr bertambah menjadi 7,80gr, hal ini sesuai dengan teori akan terjadi aliran elektron dari anoda ke katoda.

Impressed current

+
A

-

Power Supply

C

Fe

HCl

Percobaan kedua yang dilakukan adalah impressed current. Material yang akan kita proteksi pada percobaan ini adalah besi. Dari deret Volta, Fe berada di kiri C yang artinya Fe lebih reaktif sehingga seharusnya Fe yang mengalami korosi. Ini dikarenakan adanya aliran eketron dari C ke Fe. Pada percobaan ini, Fe dihubungkan dengan kutub negatif dari power supply, maka Fe mendapatkan aliran elektron (e) sehingga Fe menjadi anoda dan ion H+ dari HCl tereduksi menjadi H maka secara teoritik Fe tidak mungkin terkorosi karena ada arus pembalikkan dari power supply jika besar arusnya sama besarnya. Pada elektrolit HCl massa Fe berkurang dari 7,44 gr menjadi 7,41 gr. Massa karbon tetap 5,33 gr. Bisa diambil kesimpulan bahwa pemberian arus listrik bisa menghindari Fe dari korosi.

KESIMPULAN

 Korosi adalah penurunan kualitas secara mekanik, fisik atau penampilan dari suatu zat yang diakibatkan karena adanya pengaruh interaksi lingkungan contoh: Fe lebih mudah mengalami korosi pada lingkungan NaCl dibandingkan pada lingkungan HCl.

 Proses korosi adalah proses elektrokimiawi, yaitu reaksi kimia yang melibatkan perpindahan elektron dari satu spesi ke spesi yang lain.  Dengan menggunakan teknik sacrificial anode, material yang ingin kita lindungi dari korosi bisa terjadi. Dengan menjadikan material pilihan kita tersebut sebagai katoda dan bukan menjadi anoda. Karena Fe letaknya lebih ke kanan jika dibandingkan Zn pada Tabel Galvanik, maka yang mengalami oksidasi adalah Zn.  Pada impressed current, dapat dikatakan bahwa untuk melindungi material yang kita inginkan, bisa dengan menghubungkannya pada kutub negatif sumber listrik sehingga material tersebut akan menjadi katoda dan akan terjadi reduksi di sana. Sedangkan untuk kutub positifnya, bisa kita gunakan anoda inert seperti C pada percobaan.

Lampiran Tugas Tambahan

4. Kenapa disebut korosi keramik? Karena keramik merupakan campuran dari metal dan non-metal dan keramik mempunyai ketahanan yang sangat baik pada korosi pada lingkungan terutama pada temperatur kamar. Korosi pada keramik secara umum merupakan reaksi simple pemisahan kimia, sangat kontras dengan korosi yang terjadi pada logam.

5. Apa itu biological corrosion? Biological corrosion yaitu korosi yang disebabkan oleh bakteri, contohnya pada stainlessteel, alumunium alloy, copper alloy pada lingkungan yang memiliki derajat keasaman 4-9 pH dan temperatur 10derajat C – 50 derajat C. Bakterinya terbagi 2 yakni aerobic dan anaerobic, pada kapal laut dan konstruksi bangunan lepas pantai bakteri anaerobik lebih banyak berperan dalam proses korosi, sedangkan bakteri aerobik menyerang stainless steel pada sambungan menyebabkan naiknya laju pitting. Gambar di bawah ini menunjukkan korosi pada stainless steel 316 pada sambungannya.

Cara pencegahannya sebagai berikut   Melakukan pembersihan rutin pada permukaan yang rentan terkorosi mengontrol bacteri dengan chemical treatment

Zakiy NR 13108097 Analisis
Setelah dilakukan percobaan terjadi perubahan pada bentuk, warna, dan massa spesimen. Hal tersebut menandakan telah terjadi reaksi kimia antara spesimen – spesimen tersebut. Pada percobaan impressed current, massa awal dan massa akhir tidak terlalu berbeda jauh. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan cukup berhasil membuktikan bahwa impressed current dapat mencegah korosi. Caranya dengan memberikan arus dari sumber eksternal yang berlawanan arah terhadap arah arus naturalnya ketika tidak diberi arus dari luar sehingga tidak ada arus yang mengalir dan tidak dapat terjadi korosi. Pada keempat percobaan selain impressed current, terjadi proses korosi akibat perbedaan potensial antara logam – logam yang dipasangkan. Dapat dilihat bahwa logam yang menjadi anoda akan mengalami oksidasi sehingga terjadi korosi. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya pengurangan massa diakhir percobaan. Perbedaan potensial dan logam yang menjadi anoda dapat ditentukan dari deret Volta : Li Ni oksidasi (anodic) K Sn Ba Pb Sr (H) Ca Sb Na Bi Mg Cu Al Hg Zn Ag Cr Pt reduksi (cathodic) Fe Au Cd Co

Dari data yang diambil, kita dapat menentukan laju korosi, yaitu besarnya pengurangan material akibat reaksi kimia per satuan waktu (CPR,Corrosion Penetration Rate). 𝐶𝑃𝑅 = K=87.6 untuk satuan mm/yr Ρ=massa jenis (kg/m3) 𝐾𝑊 𝜌𝐴𝑡 t=waktu (yr)

W=W1-W2 (kg) A=luas (m2)

Dari percobaan ini, dapat dilihat bahwa yang mengalami korosi adalah logam yang menjadi anoda. Pada tabel, dapat dilihat secara sepintas bahwa yang menjadi anoda adalah yang mengalami pengurangan massa. Fe dan Zn + HCl A: K: Zn 2H+ Zn (s) + + Zn2+ 2Cl+ + 2e2eH2 ZnCl2(aq) + + 2ClH2(g)

2HCl(aq)

CPR = 87,6 x 1110 / ( 7,14 x 10,47 x 20,4167) =63,71 mm/year

Fe dan Cu + HCl A: K: Fe 2H+ Fe (s) + + Fe2+ 2Cl+ + 2e2eH2 FeCl2(aq) + + 2ClH2

2HCl(aq)

CPR = 87,6 x 20 / ( 7,9 x 15,6 x 20,4167) = 0696 mm/year
Fe dan C + HCl A: K: Fe 2H2O Fe (s) + + Fe2+ 2e2H2O(l) + 2eH2 + 2OH+ H2(g)

Fe(OH)2(aq)

CPR = 87,6 x 50(mg) / ( 7,9(g/cm3) x 15,42(cm2) x 20,4167(hours)) = 1,76 mm/year
*karena atom C inert, maka pada katoda yang bereaksi adalah H2O

Fe dan C + NaCl A: K: 2Na+ 2H2O + + 2Cl2e+ 2H2O(l) H2 2Na+ + + 2OH2Na(OH)(aq) + Cl2 (g) + H2 (g) Cl2 + 2e-

2NaCl(aq)

*pada anoda, NaCl yang bereaksi karena pada deret volta Na lebih anodic daripada Fe *pada katoda, karena atom C inert, maka yang bereaksi adalah H 2O

Dari reaksi diatas dapat dilihat bahwa seharusnya tidak terjadi korosi untuk Fe dan C dalam NaCl karena yang bereaksi adalah NaCl dan air.

Wafi Ihtikamiddin 13108035 Analisis
Terjadi perubahan bentuk, warna, dan massa dari specimen setelah diangkat dari sel galvani. Hal ini membuktikan bahwa telah terjadi reaksi. Spesimen dicelup selama 20 jam 25 menit dengan bagian yang tercelup sebesar 3 cm. Pada impressed current ini diberi arus listrik I sebesar i = 0.49 mA, dan elektrolit HCl. Spesimen Fe dihubungkan dengan kutub negatif dari power supply, sehingga Fe mendapatkan aliran elektron (e) dan menjadi katoda. Massa Fe yang tereduksi sangat sedikit, 0.03 gram. Hal ini membuktikan bahwa dengan impressed current bisa menghambat terjadinya korosi yaitu dengan memberikan arus dari luar yang melawan arus natural penyebab korosi (semakin besar massa Fe tereduksi makin besar laju korosi). Pada proses sacrificial anode yaitu pada keempat percobaan lainnya terjadi korosi karena adanya larutan elektrolit, konduktor, dan beda potensial. Semakin negatif harga potensialnya maka spesimen/material tersebut bersifat anodik sehingga akan mengalami korosi. Pada data percobaan, spesimen yang menunjukkan pengurangan massa adalah specimen yang terkorosi sebagai anoda. Untuk harga potensial bisa dilihat pada table berikut:

Untuk laju korosi bisa dihitung dengan rumus berikut : 𝐶𝑃𝑅

= CPR = Corrosion Penetration Rate K = 87.6 untuk satuan mm/yr Ρ = massa jenis (kg/m3) W = W1-W2 (kg) t = waktu (yr) A = luas (m2) 𝐾𝑊

𝜌𝐴𝑡

Fe dan Zn pada elektrolit HCl, Zn terkorosi karena harga potensialnya lebih negatif dari Fe. 𝐴/𝑂 ∶ 𝑍𝑛 → 𝑍𝑛2+ + 2𝑒 − 𝐾/𝑅 ∶ 2𝐻 + + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝑍𝑛 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝑍𝑛𝐶𝑙2 𝑎𝑞 𝐶𝑃𝑅

=

87.6 17.37 − 16.26 10−3 = 63.71 𝑚𝑚 𝑦𝑟 7.14𝑥10.47𝑥20.4167

Fe dan C pada elektrolit NaCl, tidak ada yang terkorosi karena yang bereaksi adalah NaCl dengan H2O. 𝐴/𝑂 ∶ 2𝑁𝑎+ + 2𝐶𝑙 − → 2𝑁𝑎+ + 𝐶𝑙2 + 2𝑒 − 𝐾/𝑅 ∶ 2𝐻2 𝑂 + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝑂𝐻 − 2𝑁𝑎𝐶𝑙 𝑎𝑞 + 2𝐻2 𝑂 𝑙 → 2𝑁𝑎(𝑂𝐻) 𝑎𝑞 + 𝐶𝑙2 𝑔

+ 𝐻2 𝑔

Fe dan C pada elekrolit HCL, Fe terkorosi dengan reaksi sebagai berikut : 𝐴/𝑂 ∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝐾/𝑅 ∶ 2𝐻2 𝑂 + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝑂𝐻 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻2 𝑂 𝑙 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒(𝑂𝐻)2 𝐶𝑃𝑅 = 𝑎𝑞

87.6 7.34 − 7.29 10−3 = 1.76 𝑚𝑚 𝑦𝑟 7.9𝑥15.42𝑥20.4167

Fe dan Cu pada elektrolit HCL, Fe terkorosi dengan rekasi sebagai berikut : 𝐴/𝑂 ∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝐾/𝑅 ∶ 2𝐻 + + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒𝐶𝑙2 𝑎𝑞 𝐶𝑃𝑅

=

87.6 7.41 − 7.39 10−3 = 0.696 𝑚𝑚 𝑦𝑟 7.9𝑥15.6𝑥20.4167

BAB V KESIMPULAN

1. Korosi terjadi karena adanya perpindahan electron. Korosi dapat terjadi jika ada komponen berikut : larutan elektrolit, konduktor, dan katoda. 2. Dengan menggunakan teknik sacrificial anode, material yang ingin kita lindungi dari korosi bisa terjadi. Dengan menjadikan material pilihan kita tersebut sebagai katoda, bukan sebagai anoda. 3. Pada impressed current, untuk melindungi material yang kita inginkan, bisa dengan menghubungkannya pada kutub negatif sumber listrik sehingga arus luar akan melawan arus natural yang menyebabkan korosi.

Tugas setelah praktikum 1. SCE adalah standard calomel electrode) yaitu elektroda standar yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu logam bersifat anodik atau katodik pada rangkaian elektrokimia. 2. Analisis sudah pada bab IV. 3. Cara menentukan arus proteksi maksimum adalah dengan mengukur arus yang mengalir pada konduktor di rangkaian elektrokimia, arus tersebut merupakan arus maksimumnya. 4. Bila memberikan arus proteksi berlebihan maka tidak akan terjadi apapun, karena electron sudah tidak dapat menuju katoda dari anoda karena terhalang arus proteksi. Tugas tambahan a. Biological corrosion adalah korosi yang disebabkan karena adanya mikroba pada logam, mikroba tersebut menghasilkan senyawa-senyawa yang korosif, sehingga logam tersebut bereaksi dengan senyawa korosif dan terkorosi. b. Pada reaksi antara Fe dan Cu dalam HCl terjadi reaksi 𝑎 ∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻 + + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒𝐶𝑙2 𝑎𝑞 Pada katoda terjadi reaksi reduksi HCl dan pada anoda terjadi reaksi oksidasi Fe. c. Korosi merupakan senyawa, yaitu campuran antara logam dan non-logam. Keramik merupakan campuran antara logam dan non-logam, berarti dapat dikatakan keramik telah terkorosi, sehingga keramik memiliki ketahanan terhadap korosi yang tinggi di segala lingkungan terutama pada temperatur ruangan.

Satrio 13108002
BAB IV ANALISIS DATA Setelah spesimen diangkat dari sel galvani, terjadi perubahan pada bentuk, warna, dan massa spesimen. Hal tersebut menandakan telah terjadi reaksi antara kedua logam dan juga elektrolit sehingga mengubah spesimen awal. Praktikum kali ini tidak terlalu sesuai dengan prosedur percobaan sebenarnya, karena spesimen telah diangkat walaupun belum mencapai 24 jam, disebabkan karena masalah non teknis. Pada praktikum pertama mengenai impressed current, massa awal dan massa akhir tidak terlalu berbeda jauh. Hal ini menandakan bahwa metode yang dilakukan sudah benar, karena impressed current memang digunakan untuk mencegah korosi dengan memberikan arus yang berlawanan dengan arah arus yang menyebabkan korosi, sehingga tidak ada arus yang mengalir dan tidak dapat terjadi korosi. Pada keempat praktikum selanjutnya, diinginkan massa spesimen yang berada pada anoda berkurang sedangkan massa spesimen yang berada pada katoda bertambah setelah diangkat dari sel galvani. Hal tersebut menandakan telah terjadinya korosi pada anoda dan pelapisan pada katoda. Hal tersebut disebabkan karena anoda mengalami reaksi oksidasi yang melepaskan elektron dan katoda mengalami reaksi reduksi yang menerima elektron. Untuk logam yang terkorosi dapat dilihat pada deret volta, semakin ke kiri semakin mudah teroksidasi. Deret volta : Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn Pb (H) Sb Bi Cu Hg Ag Pt Au

Semakin negatif potensial elektroda standarnya, semakin mudah terkorosi. Dari data yang diambil, kita dapat menentukan laju korosi, yaitu besarnya pengurangan material akibat reaksi kimia per satuan waktu (CPR/Corrosion Penetration Rate). 𝐶𝑃𝑅 = K=87.6 untuk satuan mm/yr Ρ=massa jenis (kg/m3) 𝐾𝑊 𝜌𝐴𝑡 t=waktu (yr)

W=W1-W2 (kg) A=luas (m2)

Untuk HCl+Fe dan Zn, yang terkorosi adalah Zn. Persamaan reaksinya : 𝑎 ∶ 𝑍𝑛 → 𝑍𝑛2+ + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻+ + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝑍𝑛 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝑍𝑛𝐶𝑙2 𝑎𝑞 𝐶𝑃𝑅

=

87.6 17.37 − 16.26 103 = 63.71 𝑚𝑚 𝑦𝑟 7.14𝑥10.47𝑥20.4167

Untuk NaCl+Fe dan C, tidak ada yang terkorosi, karena Na pada deret volta lebih anodic dari pada Fe, sehingga pada anoda yang bereaksi adalah NaCl, sedangkan C merupakan inert, sehingga H2O yang bereaksi pada katoda. 𝑎 ∶ 2𝑁𝑎 + + 2𝐶𝑙 − → 2𝑁𝑎+ + 𝐶𝑙2 + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻2 𝑂 + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝑂𝐻 − 2𝑁𝑎𝐶𝑙 𝑎𝑞 + 2𝐻2 𝑂 𝑙 → 2𝑁𝑎(𝑂𝐻) 𝑎𝑞 + 𝐶𝑙2 𝑔

+ 𝐻2 𝑔

Pada reaksi ini seharusnya tidak terjadi laju korosi, tetapi ada perubahan massa awal dan akhir, hal tersebut bisa saja disebabkan karena adanya pengotor. Untuk HCl+Fe dan C, yang terkorosi adalah Fe, yang bereaksi pada katoda adalah H2O, persamaan reaksinya : 𝑎 ∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻2 𝑂 + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝑂𝐻 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻2 𝑂 𝑙 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒(𝑂𝐻)2 Laju korosinya 𝐶𝑃𝑅 = 87.6 50 = 1.76 𝑚𝑚 𝑦𝑟 7.9𝑥15.42𝑥20.4167 𝑎𝑞

Untuk HCl+Fe dan Cu, yang terkorosi adalah Fe, persamaan reaksinya : 𝑎

∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻 + + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒𝐶𝑙2 𝑎𝑞 Laju korosinya 𝐶𝑃𝑅 = 87.6 20 = 0.696 𝑚𝑚 𝑦𝑟 7.9𝑥15.6𝑥20.4167

BAB V KESIMPULAN

5.1. Korosi pada logam terjadi apabila terjadi reaksi oksidasi, melepas elektron pada logam tersebut. Suatu korosi dapat terjadi apabila ada anoda, katoda, konduktor, dan elektrolit. Komponen-ko,ponen tersebut harus ada untuk menghasilkan korosi, bila tidak ada satu atau lebih, maka korosi tidak akan terjadi. 5.2. Ada beberapa cara untuk mencegah korosi, dalam praktikum kali ini dicoba 2 cara, yaitu impressed current dan sacrificial anode. Impressed current adalah cara untuk mencegah korosi dengan metode memberikan arus yang arahnya kebalikan arah arus yang terjadi saat proses korosi berlangsung, tujuannya agar tidak ada perpindahan elektron dari anoda ke katoda, sehingga tidak terjadi korosi. Sacrificial anode metodenya adalah untuk melindungi logam yang berada pada katoda dengan mengorbankan logam yang berada pada anoda dengan membentuk sel galvani menggunakan kedua logam tersebut.

Tugas setelah praktikum 5. SCE adalah standard calomel electrode) yaitu elektroda standar yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu logam bersifat anodik atau katodik pada rangkaian elektrokimia. 6. Analisis sudah pada bab IV. 7. Cara menentukan arus proteksi maksimum adalah dengan mengukur arus yang mengalir pada konduktor di rangkaian elektrokimia, arus tersebut merupakan arus maksimumnya. 8. Bila memberikan arus proteksi berlebihan maka tidak akan terjadi apapun, karena electron sudah tidak dapat menuju katoda dari anoda karena terhalang arus proteksi. Tugas tambahan d. Biological corrosion adalah korosi yang disebabkan karena adanya mikroba pada logam, mikroba tersebut menghasilkan senyawa-senyawa yang korosif, sehingga logam tersebut bereaksi dengan senyawa korosif dan terkorosi. e. Pada reaksi antara Fe dan Cu dalam HCl terjadi reaksi 𝑎 ∶ 𝐹𝑒 → 𝐹𝑒 2+ + 2𝑒 − 𝑘 ∶ 2𝐻 + + 2𝐶𝑙 − + 2𝑒 − → 𝐻2 + 2𝐶𝑙 − 𝐹𝑒 𝑠 + 2𝐻𝐶𝑙 𝑎𝑞 → 𝐻2 𝑔 + 𝐹𝑒𝐶𝑙2 𝑎𝑞 f. Pada katoda terjadi reaksi reduksi HCl dan pada anoda terjadi reaksi oksidasi Fe. Korosi merupakan senyawa, yaitu campuran antara logam dan non-logam. Keramik merupakan campuran antara logam dan non-logam, berarti dapat dikatakan keramik telah terkorosi, sehingga keramik memiliki ketahanan terhadap korosi yang tinggi di segala lingkungan terutama pada temperatur ruangan.

Rawinder 13108049 Analisis

1. Fe(2) + C(2) HCl 0,25M

Fe

Fe3+ +3e- E0= 0,44 V

Dari literatur diperoleh beda potensial sebesar 0,44 V, sedangkan pada percobaan diperoleh beda potensial sebesar 0,29 V. Terdapat perbedaan nilai potensial yang diperoleh. Ini terjadi dimungkinkan oleh adanya pengotor baik dari elektrolit ataupun dari besi itu sendiri. Pengotor ini memiliki beda potensial yang lebih tinggi dari besi.Dari deret volta terlihat bahwa Fe lebih bersifat oksidatif daripada H2 sehingga Fe mengalami perkaratan. Pada specimen Fe muncul gelembung gelembung udara yang menandakan bahwa Fe beroksidasi. Pada percobaan ini, berat Fe berkurang sebesar 0,05 g, sedangkan C tidak bereaksi karena inert. Laju korosi dapat dihitung dengan rumus dibawah. Dari data diatas, dapat diperoleh laju korosi, yaitu: CPR = 87,6 x 50(mg) / ( 7,9(g/cm3) x 15,42(cm2) x 20,4167(hours)) = 1,76 mm/year

2. Fe(1) + C(1) NaCl 0,25M Fe Na+ + eFe3+ +3eNa E0= 0,44 V E0= -2,714 V

Menurut literatur beda potensial yang diperoleh adalah 2,274 V, sedangkan pada percobaan diperoleh beda potensial sebesar 0,24 V. Terdapat perbedaan nilai potensial yang diperoleh. Hal ini bisa disebabkan karena adanya pengotor yang menyebabkan reaksi redoksnya tidak sempurna terjadi, sehingga nilai potensialnya menurun, dan akibat dari hambatan kabel yang diabaikan. Pada percobaan ini, berat Fe berkurang sebesar 80 mg, sedangkan C beratnya bertambah sebesa 4,01 gram, yang seharusnya tidak bereaksi karena inert.Hal ini

mungkin disebabkan salah perhitungan saat menimbang atau spesimennya tertukar. Dari data diatas, dapat diperoleh laju korosi, yaitu: CPR = 87,6 x 80 / ( 7,9 x 15,6 x 20,4167) = 2,785 mm/year Sedangkan laju korosi untuk C: CPR = 87,6 x 4010 / ( 2267 x 15,12 x 20,4167) = 0,5 mm /year

3. Fe(4) + Cu HCl 0,25M Fe Fe3+ +3e- E0= 0,44 V Menurut literatur beda potensial yang diperoleh adalah 0,44 V, sedangkan pada percobaan diperoleh beda potensial sebesar 0,3 V. Terdapat perbedaan nilai potensial yang diperoleh. Hal ini bisa disebabkan karena adanya pengotor pada specimen ataupun elektrolit, dan pengaruh hambatan kabel, sehingga nilai potensialnya menurun. Pada percobaan ini, berat Fe berkurang sebesar 20 mg, sedangkan Cu tidak berkurang yang seharusnya mengalami pengurangan. Hal ini mungkin terjadi karena data yang diambil tertukar. Dari deret volta, terlihat bahwa Fe lebih bersifat oksidatif daripada Cu, sehingga pengurangan berat Fe lebih besar daripada Cu, atau dengan kata lain, Cu dilindungi oleh Fe. Dari data diatas, dapat diperoleh laju korosi untuk Fe yaitu: CPR = 87,6 x 20 / ( 7,9 x 15,6 x 20,4167) = 0696 mm/year 4. Fe(5) + Zn HCl 0,25M Zn Zn2+ +2e- E0= 0,76 V Menurut literatur beda potensial yang diperoleh adalah 0,76 V, sedangkan pada percobaan diperoleh beda potensial sebesar 0,54 V. Terdapat perbedaan nilai potensial yang diperoleh. Hal ini bisa disebabkan karena ada pengotor, sehingga nilai potensialnya naik.

Pada percobaan ini, berat Fe tidak mengalami perubahan, sedangkan Zn berkurang sebesar 1110 mg. Hal ini disebabkan karena Zn bertindak sebagai Anoda (banyak terdapat gelembung) yang mengalami oksidasi sedangkan Fe sebagai Katoda. Dalam kasus ini, Fe dilindungi oleh Zn dari korosi, atau dengan kata lain Zn dikorbankan untuk melindungi Fe(sacrificial anode). Dari data diatas, dapat diperoleh laju korosi Zn yaitu: CPR = 87,6 x 1110 / ( 7,14 x 10,47 x 20,4167) =63,71 mm/year

5. Fe(3) + C(3) HCl 0,25M Fe 2H+ + 2eFe3+ +3e- E0= 0,44 V H2 E0= 0 V Setelah dilakukan impressed current, beda potensial yang diperoleh adalah 0,12 V dan berat Fe yang berkurang sebesar 30 mg, nilai ini cukup besar dibandingkan dengan sacrificial anode. Dari sini dapat disimpulkan bahwa perlindungan korosi dengan sacrificial anode lebih ampuh daripada dengan impressed current Dari data diatas, dapat diperoleh laju korosi Fe, yaitu: CPR = 87,6 x 30 / ( 7,9 x 16,11 x 20,4167) =1,011mm/year

Kesimpulan

 Mekanisme kerusakan logam akibat korosi ialah sebagai berikut: Logam yang memiliki nilai potensial standar lebih rendah akan bertindak sebagai anoda, sedangkan yang lebih tinggi akan bertindak sebagai katoda.  Agar terjadi suatu proses korosi, harus ada anoda, katoda, elektrolit, dan konduktor. Pada kasus besi yang berkarat di alam, anoda, katoda, dan konduktor bisa terdapat pada besi itu sendiri, karena besi tersebut umumnya tidak murni 100%, sedangkan air, garam, serta udara yang ada di lingkungan bisa bertindak sebagai elektrolit.  Teknik Sacrificial Anode lebih baik dibandingkan dengan teknik Impressed current, walaupun keduanya tetap dapat mengahambat terjadinya korosi pada logam.

Tugas Setelah Praktikum

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan SCE! SCE (Standard Calomel Elektrode) adalah elektroda standard yang digunakan untuk menunjukkan kecendrungan material apakah lebih anodik atau katodik yang digunakan untuk mendapatkan beda potensial rangkaian elektrokimia.

2. Analisa hasil percobaan yang dilakukan! Sudah dianalisa pada Bab Analisis

3. Tentukan cara mendapatkan arus proteksi maksimum! Sebelum diberikan suplai arus, kita mengukur arus yang mengalir akibat beda potensial anoda dan katoda. Besar arus itulah yang kita gunakan sebagai arus proteksi maksimum, dengan kata lain jumlah elektron yang harusnya keluar dari anoda digantikan dengan besar yang sama dari pensuplai elektron.

4. Apa yang terjadi jika arus proteksi berlebihan? Jika diberikan arus proteksi berlebihan maka tidak akan terjadi apa-apa. Material yang akan dilindungi tidak akan lebih terlindungi. Hal ini hanya mengakibatkan pemborosan listrik saja.

Tugas Tambahan

1. Biological corrosion adalah korosi yang disebabkan karena adanya mikroba pada logam, mikroba tersebut menghasilkan senyawa-senyawa yang korosif, sehingga logam tersebut bereaksi dengan senyawa korosif dan terkorosi.

2. Korosi merupakan senyawa, yaitu campuran antara logam dan non-logam. Keramik merupakan campuran antara logam dan non-logam, berarti dapat dikatakan keramik telah terkorosi, sehingga keramik memiliki ketahanan terhadap korosi yang tinggi di segala lingkungan terutama pada temperatur ruangan.

1. Fe(3) + C(3) HCl 0,25M Fe 2H+ + 2eFe3+ +3e- E0= 0,44 V H2 E0= 0 V Setelah dilakukan impressed current, beda potensial yang diperoleh adalah 0,12 V dan berat Fe yang berkurang sebesar 30 mg, nilai ini cukup besar dibandingkan dengan sacrificial anode. Dari sini dapat disimpulkan bahwa perlindungan korosi dengan sacrificial anode lebih ampuh daripada dengan impressed current Dari data diatas, dapat diperoleh laju korosi Fe, yaitu: CPR = 87,6 x 30 / ( 7,9 x 16,11 x 20,4167) =1,011mm/year

Suselo Suluhito 1308059

ANALISIS DATA
Pada logam Fe dan Cu dalam elektrolit HCl, massa Fe berkurang 0,02 gram dan massa Cu tetap. Pengurangan massa Fe terjadi karena pada standard electrode potential Fe lebih anodic dibandingkan Cu sehingga logam Fe terkorosi. Menurut table standard emf series, tegangan yang akan timbul dari percobaan tersebut adalah sebesar -0,1 Volt(Callister, W. D. : Material Science and Engineering Edisi 2 hal 568). Namun pada percobaan yang dilakukan tegangan yang timbul overvoltage yaitu sebesar -0,3 Volt. Hal tersebut terjadi karena system tidak dalam keadaan setimbang. Pada logam Fe dan Zn dalam elektrolit HCl, massa Zn berkurang 1,11 gram dan massa Fe tetap. Pengurangan massa Zn terjadi karena pada standard electrode potential Zn lebih anodic dibandingkan Fe sehingga logam Zn terkorosi. Menurut table standard emf series, tegangan yang akan timbul dari percobaan tersebut adalah sebesar 0,323 Volt(Callister, W. D. : Material Science and Engineering Edisi 2 hal 568). Namun pada percobaan yang dilakukan tegangan yang timbul overvoltage yaitu sebesar 0,54 Volt. Hal tersebut terjadi karena system tidak dalam keadaan setimbang. Pada dua percobaan diatas menunjukkan bahwa, logam Fe akan terkorosi jika bersifat anodic dari logam pasangannya. Sehingga untuk mencegah pengkorosian Fe di alam, logam tersebut dipasangkan logam yang bersifat lebih anodic seperti Zn agar tidak terjadi korosi. Pada kedua percobaan tersebut menghasilkan tegangan positif, sehingga reaksi berlangsung spontan. Pada logam Fe dan pelat C dalam elektrolit NaCl, massa Fe berkurang 0,08 gram dan massa C meningkat 4,01 gram. Peningkatan pada pelat C yang sangat significant mungkin diakibatkan dari kesalahan pengambilan data. Pengurangan massa Fe terjadi karena logam ini lebih anodic daripada pelat logam C sehingga Fe terkorosi kedalam larutan NaCl. Pada logam Fe dan pelat C dalam elektrolit HCl, massa Fe berkurang 0,05 gram dan massa C tetap. Pengurangan massa Fe terjadi karena logam ini lebih anodic daripada pelat logam C sehingga Fe terkorosi kedalam larutan HCl. Pada percobaan pelat Fe dan pelat C pada dua elektrolit yang berbeda, pelat Fe tetap terjadi korosi. Hal tersebut menunjukkan larutan NaCl dan Larutan HCl bisa digunakan sebagai elektrolit untuk mengkorosi Fe karena kedua larutan tersebut ionik. Kedua percobaan tersebut menghasilkan tegangan positif sehingga reaksi berlangsung spontan. Pada percobaan Impressment current(logam Fe dan pelat C dalam elektrolit HCl), massa Fe berkurang 0,04 gram dan massa C tetap. Jika dibandingkan dengan percobaan yang sama tanpa tambahan arus, percobaan impressments current terbukti dapat menahan korosi pada logam

Fe. Hal terjadi karena korosi akibat perpindahan electron dari Fe ke pelat C dilawan dengan perpindahan electron yang arahnya berlawanan sehingga laju korosi tertahan.  Laju korosi pada pelat Fe dan C dalam larutan HCl. CPR = 87,6 x 30 / ( 7,9 x 16,11 x 20,4167) =1,011mm/year  Laju korosi pada pelat Fe dan Zn dalam larutan HCl, CPR = 87,6 x 1110 / ( 7,14 x 10,47 x 20,4167) =63,71 mm/year  Laju korosi pada pelat Fe dan Cu dalam larutan HCl, CPR = 87,6 x 20 / ( 7,9 x 15,6 x 20,4167) = 0,696 mm/year  Laju korosi pada pelat Fe dan C dalam larutan NaCl, CPR = 87,6 x 80 / ( 7,9 x 15,6 x 20,4167) = 2,785 mm/year  Laju korosi pada pelat Fe dan C dalam larutan HCl(impresment Current), CPR = 87,6 x 50(mg) / ( 7,9(g/cm3) x 15,42(cm2) x 20,4167(hours)) = 1,76 mm/year

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN      Logam yang bersifat anodic mudah terkorosi daripada logam yang bersifat katodic. Setiap rangakaian korosi yang bersifat spontan selalu menghasilkan tegangan yang positif Seluruh percobaan menunjukkan overvoltage karena system tidak dalam keadaan setimbang Elektrolit NaCl dan elektrolit HCl dapat menyebabkan logam terkorosi Impressment current dapat menghambat laju korosi pada logam

SARAN  Sebaiknya saat pengambilan data dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi kesalahan data.

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM

1. SCE (Standard Calomel Electrode) adalah sebuah klorida merkuri mercurous elektroda yang digunakan sebagai acuan (standar) pengukuran dalam penentuan polarografi.. 2. Di analisa data 3. Menghitung arus total (Ip) Ip=A x Ic x f A= Luas penampang logam yang akan dilindungi ic = Kerapatan arus dari logam yang akan dilindungi (mA/m2). f = Coating Breakdown (Pertamina standard rata-rata 5 % per tahun) 4. Pemberian arus yang berlebihan akan menyebabkan electron berpindah dari katodik ke anodic sehingga pelat katodik mengalami korosi.

TUGAS TAMBAHAN 1. Biological corrosion terjadi ketika ada mahluk hidup semacam bacteri memakan minyak bumi dan hasil pembuangan metabolismenya menghasilkan senyawa kimia yang bersifat asam sehingga menyebabkan pitting pada baja dan alumunium. 2. Perbedaan korosi pada logam dan ceramics adalah ceramics jauh lebih sulit dibandingkan dengan logam waulupun keramik mengandung campuran logam dan polymer. 3. Pada larutan yang mengandung Cu2+ yang diberi pelat logam Cu dan Fe, maka Cu2+ diberi electron dari Fe yang terkorosi sehingga Volume Cu bertambah. Hal ini biasanya dilakukan pada pemurnian tembaga.

VI.

DAFTAR PUSTAKA    Callister, William D. Materials Science and Engineering.2nd edition. John Willey & sons.inc.1990 Fontana. Corrosion Engineering. Kalpakjian, Serope. Manufacturing Engineering and Technology. 5th edition. Pearson.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->