P. 1
PMS

PMS

|Views: 1,117|Likes:
Published by masruroh_suci

More info:

Published by: masruroh_suci on Nov 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

text

original

Siklus Haid, Sindrom Pra-Haid dan Gangguan Haid

SIKLUS HAID, SINDROM PRA-HAID, SERTA GANGGUAN HAID DALAM MASA REPRODUKSI
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kehendak-Nyalah makalah yang berjudul “Siklus Haid, Sindrom Pra-Haid, serta Gangguan Haid dalam Masa Reproduksi” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Dalam penulisan makalah ini penulis banyak menemukan kesulitan yang disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat dorongan dan bimbingan berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Dosen pembimbing, Bapak Usman, DCN, M. Kom. atas ilmu yang telah Ibu berikan kepada penulis. 2. Teman-temanku dan semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis menyadari, sebagai seorang mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih perlu banyak belajar dalam penulisan makalah ini, bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dan bersifat membangun agar makalah ini memiliki daya guna di masa yang akan datang. Harapan penulis, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan rekan mahasiswa.
Padang, Februari 2009

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................. ii BAB I PENDUHULUAN 1.1 Latar Belakang................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah............................................................................ 1 1.3 Tujuan.............................................................................................. 1 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian ....................................................................................... 3 2.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi ............................................... 3 2.3 Sindrom Pra-Haid............................................................................ 4 2.4 Siklus Haid....................................................................................... 7 2.5 Siklus Haid Perempuan Aktif............................................................ 10 2.6 Gangguan Haid................................................................................. 10 2.6.1 Hipermenorea......................................................................... 11 2.6.2 Hipomenorea.......................................................................... 12 2.6.3 Polimenorea............................................................................ 12 2.6.4 Oligomenorea.......................................................................... 12 2.6.5 Amenorea............................................................................... 13 2.6.6 Premenstrual Tension............................................................... 13 2.6.7 Mastalgia................................................................................ 13 2.6.8 Mittelschmerz.......................................................................... 14 2.6.9 Dismenorea............................................................................. 14 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan.......................................................................... 15 3.2 Saran................................................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Haid atau yang sering disebut dengan menstruasi merupakan pelepasan lapisan dalam (endometrium) yang disertai pendarahan, terjadi berulang setiap bulan secara periodik, kecuali

pada saat hamil. Sedangkan siklus haid adalah waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya haid periode berikutnya. Siklus haid setiap perempuan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, bukan saja antara beberapa perempuan, tetapi juga pada perempuan yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar siklus haidnya tidak terlalu sama. Sebelum datangnya haid, setiap perempuan umumnya mengalami sindrom bulanan atau yang lebih dikenal dengan sindrom pra-haid. Sindrom ini sangat mengganggu aktifitas perempuan, terutama mereka yang aktif bekerja diluar rumah. Selain itu, gangguan haid juga sering terjadi seperti: dismenorea, hipermenorea, hipemenorea, amenorea, dan masih banyak gangguan haid lainnya yang sering dialami oleh para perempuan. Karena kurangnya pengetahuan serta informasi yang dimiliki oleh sebagian besar perempuan tentang siklus haid, sindrom pra-haid, serta gangguan haid dalam masa reproduksi, maka penulis tertarik untuk membahas tentang masalah yang sering dialami oleh setiap perempuan ini. 1.2 Rumusan Masalah Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah mengenai siklus haid, sindrom pra-haid, serta gangguan-gangguan haid apa saja yang dialami oleh perempuan dalam masa reproduksi. 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : 1. Agar para perempuan lebih mengetahui tentang sindrom pra-haid, siklus haid, gangguan-gangguan selama haid, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan haid. 2. Agar perempuan aktif dapat mengatur siklus haidnya tanpa mengalami gangguan selama beraktifitas. 3. Agar perempuan tahu bagaimana cara mengurangi sindrom pra-haid yang sering mengganggu aktifitas mereka. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG , 2005: 103).

Menstruasi adalah penumpahan lapisan uterus yang terjadi setiap bulan berupa darah dan jaringan, yang dimulai pada masa pubertas, ketika seorang perempuan mulai memproduksi cukup hormon tertentu (‘kurir’ kimiawi yang dibawa didalam aliran darah) yang menyebabkan mulainya aliran darah ini (Robert P. Masland dan David Estridge, 2004: 51). Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi karena adanya serangkaian interaksi antara beberapa kelenjer didalam tubuh (Virnye Winiastri,dkk, 2002: 19). 2.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya haid antara lain : 1) Faktor hormon Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang wanita yaitu:  FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan oleh Hipofise  Estrogen yang dihasilkan oleh ovarium  LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh Hipofise  Progesteron dihasilkan oleh ovarium 2) Faktor Enzim Enzim hidrolitik yang terdapat dalam endometrium merusak sel yang berperan dalam sintesa protein, yang mengganggu metabolisme sehingga mengakibatkan regresi endometrium dan perdarahan. 3) Faktor vascular Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh pula arteria-arteria, vena-vena dan hubungan antaranya. Dengan regresi endometrium timbul statis dalm vena-vena serta saluransaluran yang menghubungkannya dengan arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan hematom, baik dari arteri maupun dari vena. 4) Faktor Prostaglandin Endometrium mengandung prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan kontraksi myometrium sebagai suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada haid. Secara khusus, perempuan mengalami haid pada usia dua belas dan tiga belas tahun, tetapi selalu terdapat perempuan yang mengalaminya pada usia lebih awal, kira-kira sepuluh tahun, dan beberapa diantaranya bahkan lebih dini. Dilain pihak , beberapa perempuan mungkin belum

mengalami haid pada usia lima belas atau enam belas tahun. Ini semua bergantung pada produksi dan pelepasan hormon. Cepat atau lambatnya haid (kematangan seksual) ini kecuali ditentukan oleh konstitusi fisik individual, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan milieu yang melingkungi anak. Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis, umpamanya bisa memperlambat tibanya menstruasi. Selanjutnya , rangsangan-rangsangan kuat dari luar, umpamanya saja berupa film-film sex (blue film) buku bacaan dan majalah-majalah bergambar sex godaan dan rangsangan dari kaum pria, pengamatan secara langsung terhadap perbuatan sex/coitus, semua itu tidak hanya meningkatkan memuncaknya atau semakin panasnya reaksi-reaksi sexual saja, akan tetapi juga mengakibatkan kematangan sexual yang lebih cepat pada diri anak. Maka pengaruh kultur dan peradaban itu tampaknya ambivalen sifatnya, artinya kultur dan peradapan dapat memperlambat atau mempercepat tempo kematangan sexual anak. Jadi, juga memperlambat atau mempercepat awal dari haid anak gadis. 2.3 Sindrom Pra-Haid Beberapa saat sebelum mulai haid, atau bisa pada hari-hari haid, sejumlah gadis dan perempuan biasanya mengalami rasa tidak enak. Mereka biasanya merasakan satu atau beberapa gejala yang disebut sebagai kumpulan gejala sebelum haid atau istilah populernya Pre-menstrual syndrome (PMS). Sindrom pra-haid adalah sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari pertama hingga hari keempat belas sebelum masa haid dimulai dan diikuti dengan tahap bebas gejala jika masa ini telah lewat (Anthony Tan,2002:23). Beberapa dokter percaya bahwa sindrom pra-haid dialami oleh separuh dari total perempuan yang berada pada masa reproduktif. Sekitar lima persen dari perempuan yang mengalami PMS disarankan untuk mengurangi kegiatan sehari-hari mereka karena mereka sangat terganggu. Meskipun penyebabnya belum diketahui, sejumlah teori sedang diteliti. PMS mungkin berkaitan dengan meningkatnya kadar hormon setiap bulan, rendahnya kadar gula, kekurangan vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals didalam otak yang mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan salah satunya. Gejala-gejala atau perubahan-perubahan fisik dan mental yang sering dikeluhkan oleh para penderita sindrom pra-haid diantaranya yaitu: a) Gejala fisik:

Kenaikan berat badan  Perasaan bengkak dan Pembengkakan (perut, jari, tungkai, pergelangan kaki, dll)  Ketidaknyamanan buah dada (pembesaran, nyeri tekan, terasa berat, terasa kaku)  Sakit kepala dan serangan migren  Pegal dan nyeri pada otot  Dismenore kongestif, yaitu sakit perut atau sakit pinggang bagian bawah  Berkurangnya air kencing  Perubahan kulit, termasuk bisul, jerawat, bercak putih, dan pembengkakan-pembengkakan lain  Perubahan nafsu makan (kehilangan nafsu makan atau keinginan makan makanan yang berlemak)  Perubahan tidur ( kurang tidur atau tidur berlebihan)  Tidak ada gairah untuk aktif serta badan terasa lelah  Mata terasa sakit, hidung tersumbat, dan timbul reaksi alergi  Mual, pingsan, asma, dan epilepsy  Kejang, terjadi karena dinding-dinding otot uterus dengan perlahan akan mengkerut untuk membantu mengeluarkan lapisan. b) Gejala mental (psikis)

Ketegangan dan cepat marah (emosional)

Depresi, termasuk kurang percaya diri dan perasaan tidak berharga

Stres

Kelesuan

Berkurangnya daya konsentrasi dan daya ingat berkurang

Kecenderungan kearah keagresifan dan/atau kekerasan fisik

Control emosi yang rendah dan reaksi emosi yang tidak logis

Penurunan efisiensi, terutama dalam memecahkan masalah mental  Dorongan yang kuat untuk banyak makan, tidak ada hubungan dengan nafsu makan  Bertambahnya kecenderungan minum obat, tablet, dsb. Sindrom ini dirasakan juga sangat mengganggu dalam keadaan-keadaan khusus, misalnya ketika ingin melakukan perjalanan jauh, beraktifitas, ujian, pertandingan olahraga, ibadah puasa, serta ibadah haji. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat dasar fisiologis pada sindroma pra-haid. Meskipun satu sebab tunggal dari sindroma pra-haid belum ditemukan, para ilmuwan

Kurang atau tidak ada dorongan seks

menyarankan bahwa sindroma pra-haid disebabkan oleh tali-temali yang rumit antara ketidakseimbangan hormon, stress, dan kekurangan gizi. Sindrom pra-haid ini sangat menyiksa, karena hampir semua perempuan mengalaminya. Namun banyak juga perempuan yang mengalami kesulitan untuk mengenali sindrom pra-haid ini pada dirinya sendiri, terutama bagi mereka yang baru mengenal konsep sindrom pra-haid. Berbagai faktor gaya hidup tampaknya menjadikan gajala-gajala lebih buruk termasuk stress, jumlah kegiatan fisik luar yang tidak memadai, dan diet yang mengandung gula, karbohidrat yang diolah, garam, lemak, alkohol dan kafein yang tinggi. Empat kelompok gejala utama sindrom pra-haid telah diidentifikasi. Setiap perempuan dapat mengalami gejala-gejala dalam satu atau beberapa kelompok. 1) Ketegangan Pra-haid berciri khas ketegangan syaraf, perubahan suasana hati, rasa terganggu dan kecemasan. 2) Hiperhidrasi, atau sindroma hiperhidrasi, ditandai oleh penambahan berat badan, pembengkakan ditangan dan kaki, kelunakan buah dada, dan kembungnya perut. 3) Hasrat makan yang berarti bertambahnya selera dengan hasrat makan makanan-makanan manis atau asin, gejala-gejala pun mencakup sakit kepala, kelelahan, pusing, dan jantung yang berdebar. 4) Depresi pun umum dan mencakup mudah lupa, menangis, kebingungan dan sukar tidur. Para perempuan yang diganggu oleh sindrom pra-haid dapat memperbaiki gejala-gejala mereka dengan melakukan perubahan-perubahan diet sebagai berikut:

engurangi jumlah gula yang dimakan • Makan makanan yang berprotein tinggi karena dapat menyebabkan lebih banyak air yang keluar tubuh , sehingga mengurangi rasa penuh diperut bagian bawah • Meminum ramuan tradisional

enambah serat

encakup satu hingga dua sendok makan minyak safflower dalam diet • Mengurangi jumlah garam yang dimakan jika retensi cairan merupakan masalah, karena garam menyebabkan tubuh berusaha menyimpan air dalam tubuh, sehingga menyebabkan rasa penuh diperut bagian bawah • Menghindari kafein dan beberapa minuman ringan seperti cola, teristimewa jika kecemasan dan kelunakan buah dada merupakan masalah

engurangi jumlah lemak yang dimakan

Selain itu : • Mencakup kegiatan fisik dalam kegiatan sehari-hari, dan • Mempraktekkan teknik-teknik pengurangan stress secara teratur. Banyak perempuan telah berkurang penderitaannya dengan ancangan gaya hidup yang moderat ini dan dianjurkan untuk pengobatan awal bagi sindroma pra-haid. 2.4 Siklus Haid Siklus haid merupakan waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya haid periode berikutnya. Sedangkan panjang siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya (Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG ,2005:103). Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan ± 1 hari. Dalam satu siklus terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat dari produksi hormon-hormon oleh ovarium, yaitu dinding rahim makin menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan. Siklus haid perempuan normal berkisar antara 21-35 hari dan hanya 10-15 persen perempuan yang memiliki siklus haid 28 hari. Panjangnya siklus haid ini dipengaruhi oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus haid gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada perempuan usia 43 tahun 27,1 hari, dan pada perempuan usia 55 tahun 51,9 hari. Siklus haid perempuan tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia. Pada masa remaja biasanya memang mempunyai siklus yang belum teratur, bisa maju atau mundur beberapa hari. Pada masa remaja, hormon-hormon seksualnya belum stabil. Semakin dewasa biasanya siklus haid menjadi lebih teratur, walaupun tetap saja bisa maju atau mundur karena faktor stres atau kelelahan. Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 ± 16 cc. pada wanita yang lebih tua biasanya yang keluar lebih banyak. Pada wanita dengan anemia defisiensi besi jumlah darah haidnya juga lebih banyak. Jumlah darah haid lebih dari 80 cc dianggap patologik. Setiap bulannya, haid berlangsung sekitar 3-7 hari. Setelah hari kelima dari siklus haid, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, endometrium meluruh dan terjadilah siklus berikutnya. Siklus haid selama ± 1 bulan dapat kita bedakan dalam 4 masa (stadium):

1) Stadium Menstruasi atau desquamasi Pada masa ini endometrium dicampakkan dari dinding rahim disertai dengan perdarahan, hanya lapisan tipis yang tinggal yang disebut dengan stratum basale. Stadium ini berlangsung selama 4 hari. Jadi, dengan haid itu keluar darah, potongan-potongan endometrium dan lendir dari servix. Darah itu tidak membeku karena ada fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan-potongan mucosa. Hanya kalau banyak darah keluar maka fermen tersebut tidak mencukupi hingga timbul bekuan-bekuan darah dalam darah haid. Banyaknya perdarahan selama haid normal adalah ± 50 cc. Luka yang terjadi karena endometrium dilepaskan, berangsur-angsur ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang terjadi dari sel epitel kelenjer-kelenjer endometrium. Pada saat ini tebalnya endometrium ± 0,5 mm, stadium ini sudah mulai waktu stadium menstruasi dan berlangsung ± 4 hari. Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal ± 3,5 mm. Kelenjar-kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain hingga berkelok. Stadium proliferasi berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari hari pertama haid. Pada stadium ini endometrium kira-kira tetap tebalnya tapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang dan berliku dan mengeluarkan getah. Dalam endometrium sudah tertimbun glycogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur. Memang maksud dari perubahan ini tidak lain dari pada mempersiapkan endometrium untuk menerima telur. Pada endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat (stratum compactum) yang hanya ditembus oleh saluran-saluran keluar dari kelenjar-kelenjar, lapisan mampung (stratum spongiosum), yang banyak lubang-lubangnya karena disini terdapat rongga dari kelenjar-kelenjar dan lapisan bawah yang disebut stratum basale. Stadium sekresi ini berlangsung dari hari ke-14 sampai 28. Kalau tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepaskan dengan perdarahan dan berulang lagi siklus menstruasi. 2.5 Siklus Haid Perempuan Aktif Kini perempuan aktif yang sibuk bekerja, diluar maupun didalam rumah, dimungkinkan dapat mengatur sendiri siklus haid mereka. Mengatur siklus haid dapat dilakukan dengan

2) Stadium Post menstruum atau stadium regenerasi

3) Stadium Intermenstruum atau stadium proliferasi

4) Stadium Praemenstruum atau stadium sekresi

berbagai cara, yaitu dengan cara menunda haid atau menjarangkannya. Haid dimungkinkan tidak terjadi setiap bulan, tetapi dalam kurun waktu tertentu, misalnya empat kali dalam setahun. Namun, hal ini hanya dapat terjadi jika perempuan mengkonsumsi kontrasepsi oral yang mengandung hormon estrogen dan hormone progesterone. Dengan demikian, maka bagi perempuan yang akan melaksanakan ibadah haji atau ibadah puasa sekarang tidak akan terganggu lagi. Juga bagi kita yang akan melakukan perjalanan jauh pun tidak akan mengalami gangguan haid lagi. Karena siklus haid ini rutin terjadi pada setiap perempuan, maka sebaiknya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) Menjaga kebersihan dengan mandi dua kali sehari menggunakan sabun mandi biasa, pada saat mandi organ reproduksi luar perlu cermat dibersihkan. b) Mengganti pembalut minimal empat kali sehari terutama sehabis buang air kecil. c) Bila perut, terutama daerah sekitar rahim, terasa nyeri, dan masih dapat diatasi (ringan), tidak usah dibiasakan minum obat penghilang rasa sakit, kecuali sangat mengganggu kegiatan sehari-hari, seperti misalnya hingga menyebabkan pingsan. d) Makan makanan bergizi terutama yang banyak mengandung zat besi dan vitamin, seperti hati ayam/sapi, daging, telur, sayur-sayuran, dan buah-buahan. e) Aktivitas harian tidak perlu diubah kecuali bila ada aktivitas fisik yang berlebihan misalnya olahraga berat. 2.6 Gangguan Haid Adapun tanda-tanda gangguan haid adalah: Bagi perempuan tertentu, tidak teraturnya haid merupakan keadaan wajar, namun bagi perempuan lainnya keadaan ini dapat merupakan tanda bagi penyakit menahun, kekurangan darah (anemia), gangguan gizi (malnutrisi), atau mungkin adanya infeksi atau tumor dalam rahim (uterus). Apabila haid tidak terjadi pada saat yang seharusnya, hal ini mungkin menunjukkan tanda kehamilan. Akan tetapi masa haid yang tidak teratur atau tidak mendapat haid sering merupakan keadaan yang wajar bagi banyak remaja yang baru saja mendapatkan haid dan bagi perempuan yang berusia diatas 40 tahun. Kecemasan dan gangguan emosional dapat menyebabkan seorang wanita tidak mendapatkan haid.

Apabila perdarahan mulai terjadi selama kehamilan, hal ini hampir selalu menjadi tanda permulaan suatu keguguran atau abortus (kematian bayi didalam kandungan) Apabila masa haid berlangsung lebih dari enam hari, dan darah yang dikeluarkan banyak dan tidak seperti biasanya, atau haid lebih dari satu kali dalam sebulan, maka anda harus meminta nasehat dokter. Gangguan haid dan siklusnya, khususnya dalam masa reproduksi, dapat digolongkan kedalam: 1. kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid: a. hipermenorea atau menoragia b. hipomenorea 2. kelainan siklus: a. polimenorea b. oligomenorea c. amenorea 3. perdarahan diluar haid: a. metroragia 4. gangguan lain yang ada hubungan dengan haid: a. premenstrual tension (ketegangan prahaid) b. mastodinia c. Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi) d. Dismenorea 2.6.1 Hipermenorea (Menoragia) Hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktilitas yang terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium pada waktu haid, dan sebagainya. Pada gangguan pelepasan endometrium biasanya terdapat juga gangguan dalam pertumbuhan endometrium yang diikuti dengan gangguan pelepasannya pada waktu haid.

Terapi pada hipermenorea pada mioma uteri niscaya tergantung dari penanganan mioma uteri, sedangkan diagnosis dan terapi polip endometrium serta gangguan pelepasan endometrium terdiri atas kerokan. 2.6.2 Hipomenorea Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa. Sebabsebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misalnya sesudah miomektomi), pada gangguan endokrin, dan lain-lain. Kecuali jika ditemukan sebab yang nyata, terapi terdiri atas menenangkan penderita. Adanya hipomenorea tidak mengganggu fertilitas. 2.6.3 Polimenorea Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasa ( kurang dari 21 hari). Perdarahan kurang lebih sama atau lebih banyak dari haid biasa. Hal yang terakhir ini diberi nama polimenoragia atau epimenoragia. Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya. 2.6.4 Oligomenorea Di sini siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari. Apabila panjangnya siklus lebih dari 3 bulan, hal itu sudah mulai dinamakan amenorea. Perdarahan pada oligomenorea biasanya berkurang. Oligomenorea dan Amenorea sering kali mempunyai dasar yang sama, perbedannya terletak tingkat. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa. 2.6.5 Amenorea Amenorea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya tiga bulan berturut-turut. Lazim diadakan pembagian antara amenorea primer dan amenorea sekunder. Amenorea primer apabila seorang wanita berumur 18 tahun keatas tidak pernah dapat haid, sedangkan pada amenorea sekunder penderita pernah mendapat haid tetapi kemudian tidak dapat lagi. Amenorea primer umumnya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk diketahui, seperti kelainan-kelainan congenital dan kelainan-kelainan genetic. Adanya amenorea sekunder lebih menunjuk kepada sebab-sebab yang timbul kemudian dalam kehidupan wanita, seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor-tumor, penyakit infeksi, dan lain-lain. 2.6.6 Premenstrual Tension (Tegangan Prahaid)

Premenstrual tension merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadangkadang berlangsung terus sampai haid berhenti. Gejala-gejala yang tidak seberapa berat banyak dijumpai, terutama pada wanita berumur antara 30 dan 45 tahun. Keluhan-keluhan terdiri atas gangguan emosional berupa iritabilitas, gelisah, insomia, nyeri kepala, mudah tersinggung, sukar tidur, perut kembung, mual, pembesaran dan rasa nyeri pada mamma, dan sebagainya. Sedangkan pada kasus yang berat terdapat depresi, rasa ketakutan, gangguan konsentrasi, dan peningkatan gejala-gejala fisik tersebut diatas. 2.6.7 Mastalgia Gejala mastalgia adalah rasa nyeri dan pembesaran mamma sebelum haid. Sebabnya edema dan hiperemi karena peningkatan relative dari kadar estrogen. Pada pemeriksaan harus diperhatikan adanya radang atau neoplasma. Terapi biasanya terdiri atas pemberian diuretikum, sedang pada mastalgia keras kadang-kadang perlu diberikan metiltestosteron 5 mg sehair secara sublingual. Bromokriptine dalam dosis kecil dapat membantu pengurangan penderitaan. 2.6.8 Mittelschmerz Mittelschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus haid, pada saat ovulasi. Rasa nyeri yang terjadi mungkin ringan, tetapi mungkin juga berat. Lamanya mungkin hanya beberapa jam, tetapi pada beberapa kasus sampai 2-3 hari. Rasa nyeri dapat disertai atau tidak disertai dengan perdarahan, yang kadang-kadang sangat sedikit berupa getah berwarna coklat, sedang pada kasus lain dapat merupakan perdarahan seperti haid biasa. Diagnosis dibuat berdasarkan saat terjadinya peristiwa dan bahwa nyerinya tidak mengejang, tidak menjalar, dan tidak disertai mual dan muntah. Penanganan umumnya terdiri atas penerangan pada wanita yang bersangkutan. 2.6.9 Dismenorea Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subjektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekwensi dismenorea cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan. Oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak dibawah perut sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual, maka istilah dismenorea hanya dipakai jika nyeri haid demikian

hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari, untuk beberapa jam atau beberapa hari. Penanganan dismenorea ini dapat dilakukan dengan cara penerangan dan nasehat, pemberian obat analgesic, terapi hormonal, teapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin, dilatasi kanalis servikalis, dan lain sebagainya. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Haid atau menstruasi merupakan ciri khas kematangan biologis seorang perempuan. Haid merupakan salah satu perubahan siklik yang terjadi pada alat kandungan sebagai persiapan untuk kehamilan. Setiap perempuan normal akan mengalami haid setiap bulannya, yang dipengaruhi oleh faktor hormon, enzim , vascular, dan prostaglandin. Sebelum datangnya haid perempuan akan mengalami sindrom pra-haid yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, yang berupa perubahan-perubahan atau gejala-gejala fisik maupun mental. Sindrom pra-haid ini berkaitan dengan meningkatnya kadar hormon setiap bulan, rendahnya kadar gula, kekurangan vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals didalam otak yang mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan salah satunya. Sindrom pra-haid ini tidak selalu sama pada setiap orang, begitu juga dengan siklus haid juga berbeda antara setiap perempuan walau saudara kembar sekalipun. Siklus haid biasanya 28 hari, yang berlangsung selama 3-7 hari. Siklus ini tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia. Siklus haid ini berlangsung dalam 4 masa (stadium) yaitu stadium menstruasi, stadium post menstruum, stadium inter menstruum, dan stadium pramenstruum. Sekarang para perempuan aktif yang sibuk bekerja, baik didalam maupun diluar rumah, tidak perlu khawatir lagi, karena mereka dapat mengatur siklus haid mereka dengan cara mengkonsumsi kontrasepsi oral yang mengandung hormone estrogen dan progesterone. Adapun gangguan haid yang terjadi dalam masa reproduksi seperti hipermenorea, hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, amenorea, premenstrual mention, mastalgia, mittelschmerz, disminorea, dan masih banyak gangguan haid lainnya yang sering dirasakan oleh setiap perempuan.

3.2 Saran Saran yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah: a) Kepada setiap perempuan, agar selalu memperhatikan siklus haidnya, untuk menghindari terjadinya gangguan-gangguan yang berhubungan dengan haid. b) Untuk menghindari terjadinya sindrom pra-haid, setiap perempuan dianjurkan untuk melakukan perubahan-perubahan diet atau mengatur pola makan seperti yang telah dijelaskan pada bab pembahasan. c) Kepada setiap orang tua, terutama orang tua perempuan, agar dapat menjelaskan tentang haid kepada anak-anaknya sedini mungkin, untuk mengurangi rasa takut yang sering dialami oleh anak-anak ketika menghadapi menarche (haid yang pertama kali datang). d) Kepada tenaga kesehatan, agar dapat menjelaskan mengenai segala hal yang berhubungan dengan haid, terutama gangguan-gangguan selama haid. DAFTAR PUSTAKA Affandi, Biran. 1996. Gangguan Haid pada Remaja dan Dewasa. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Burns, August,dkk. 2000. Pemberdayaan Wanita dalam Bidang Kesehatan. Yayasan Essentia Medica: Yogyakarta. Masland, Robert, dkk. 2004. Apa yang Ingin Diketahui Remaja tentang Seks. Bumi Aksara: Jakarta. Shreeve, Caroline. 1993. Sindrom Pramenstruasi. Arcan Penerbit Umum: Jakarta. Tan, Anthony. 2002. Wanita dan Nutrisi. Bumi Aksara: Jakarta. Werner, David, dkk. 1999. Apa Yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter. Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset: Yogyakarta. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo: Jakarta. Winiastri, Virnye, dkk. 2002. Pengalaman Materi Membantu Remaja Mengatasi Dirinya. Deputi Bidang KB dan Kespro BKKBN: Jakarta. Zein, Asmar Yetty, dkk. 2005. Psikologi Ibu dan Anak. Fitramaya: Yogyakarta www.askep-askeb-kita.blogspot.com

Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Share to Google Buzz Label: Materi Kebidanan: ISiklus Haid, Sindrom Pra-Haid dan Gangguan Haid Newer Post Older Post Home
Top of Form

Bottom of Form

Blog Archive
• •

► 2010 (2011) ▼ 2009 (241)

► 12/27 - 01/03 (1)

○ ○ ○ ○ ○ ○

► 12/13 - 12/20 (1) ► 12/06 - 12/13 (10) ► 11/29 - 12/06 (8) ► 11/22 - 11/29 (1) ► 10/25 - 11/01 (3) ▼ 09/13 - 09/20 (98)
                            

Askep dengan Intususepsi Askep dengan Intususepsi Askep dengan Intususepsi Askep Neonatus dengan Infeksi Saluran Nafas Askep Neonatus dengan Infeksi Saluran Nafas Askep Neonatus dengan Infeksi Saluran Nafas Materi Kesehatan: Konsep Pertumbuhan dan Perkemban... Materi Kesehatan: Konsep Pertumbuhan dan Perkemban... Materi Kesehatan: Konsep Pertumbuhan dan Perkemban... Askep Anak dengan Tetanus Askep Anak dengan Tetanus Askep Anak dengan Tetanus Materi Kesehatan: Stimulasi Perkembangan Anak Materi Kesehatan: Stimulasi Perkembangan Anak Materi Kesehatan: Stimulasi Perkembangan Anak Materi Kesehatan: Permainan dan Perilaku bermain b... Materi Kesehatan: Permainan dan Perilaku bermain b... Materi Kesehatan: Permainan dan Perilaku bermain b... Materi Kesehatan: Penyakit Kekurangan Energi dan P... Materi Kesehatan: Penyakit Kekurangan Energi dan P... Materi Kesehatan: Penyakit Kekurangan Energi dan P... Materi Kesehatan: Hemostatis Materi Kesehatan: Hemostatis Materi Kesehatan: Hemostatis Askep Anak dengan Gagal Ginjal Kronik Askep Anak dengan Gagal Ginjal Kronik Askep Anak dengan Gagal Ginjal Kronik Askep Anak dengan BBLR Askep Anak dengan BBLR

                                  

Askep Anak dengan BBLR ASKEP pada Anak ASD, VSD, KOARTASIO AORTA dan Bron... ASKEP pada Anak ASD, VSD, KOARTASIO AORTA dan Bron... ASKEP pada Anak ASD, VSD, KOARTASIO AORTA dan Bron... Askep Anak dengan Thalasemia Askep Anak dengan Thalasemia Askep Anak dengan Thalasemia Askep dengan hyaline Membrane Disease – Respirato... Askep dengan hyaline Membrane Disease – Respirato... Askep dengan hyaline Membrane Disease – Respirato... Askep dengan Penyakit Jantung Bawaan : Patent Duct... Askep dengan Penyakit Jantung Bawaan : Patent Duct... Askep dengan Penyakit Jantung Bawaan : Patent Duct... Askep Anak dengan Sepsis Neonatorum Askep Anak dengan Sepsis Neonatorum Askep Anak dengan Sepsis Neonatorum Askep Anak dengan Morbili Askep Anak dengan Morbili Askep Anak dengan Morbili Askep Anak dengan Meningitis Askep Anak dengan Meningitis Askep Anak dengan Meningitis Askep Benigna Prostat Hipertropi / BPH Askep Benigna Prostat Hipertropi / BPH Askep Benigna Prostat Hipertropi / BPH Asuhan Keperawatan Sirosis Hepatitis (Askep Sirosi... Asuhan Keperawatan Sirosis Hepatitis (Askep Sirosi... Asuhan Keperawatan Sirosis Hepatitis (Askep Sirosi... Post Laparotomi dan Kistektomi Post Laparotomi dan Kistektomi Post Laparotomi dan Kistektomi Secsio Caesarea atas Gemelli (Kehamilan Ganda) Secsio Caesarea atas Gemelli (Kehamilan Ganda) Secsio Caesarea atas Gemelli (Kehamilan Ganda) Hidrosefalus (Hidrocephalus)

                                  ○

Servisitis dan Adnexitis Askeb Ikterus Sindroma Gawat Nafas (SGN) Malpraktik VS Standar Pelayanan Kesehatan Eklamsi dan Preklamsi Kurangnya Tenaga Spesialis Penyakit Menular Seksual Menometrorrhagia Jahe Meredakan Morning Sickness Alkohol Memperbesar Resiko Keguguran pada Ibu Hami... Karsinoma Serviks Uteri Mutu Pelayanakan Kesehatan di RS dan Kepuasan Kons... Askeb BBLR dengan Ikterik grade IV Askeb Kista Ovarium Siklus Haid, Sindrom Pra-Haid dan Gangguan Haid Askeb BBLR dengan Ikterik Askeb KPD dan Persalinan Preterm Askeb Ca Ovarium Sindrom Gawat Nafas (SGN) Pada BBL Gambaran Kejadian Abortus dan Faktor-Faktor yang M... Perdarahan Post Partum Health Provider dan Hukum Praktek Remaja dan Kontrasepsi Pendekatan Mutu dan Kepuasan Pelanggan Dalam Pelay... Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR ) Ikterik Pada Bayi Baru Lahir Kehamilan Ektopik Pengaruh Program KB Terhadap Pengendalian Penduduk... Secsio Caesarea atas Indikasi Ketuban Pecah Dini Sectio Caesarea atas Indikasi Letak Sungsang Peran Pendamping Selama Proses Persalinan Pengaruh Program KB Terhadap Pengendalian Penduduk... Masalah Kurangnya Mutu Layanan Puskesmas Ditinjau ... Materi Kesehatan: Kanker Ovarium

► 09/06 - 09/13 (6)

○ ○ ○ ○ •

► 08/30 - 09/06 (1) ► 08/23 - 08/30 (99) ► 08/02 - 08/09 (2) ► 07/26 - 08/02 (11)

► 2002 (1)

Situs Referensi lainnya :
Kesehatan Ibu Hamil dan Menyusui Tips Kesehatan Bayi dan Anak Kesehatan Repoduksi Wanita Tips Diet dan Nutrisi Seimbang Info obat-obatan, suplemen dan vitamin Info Perawatan dan Pengobatan Kanker Macam Alat Medis dan Kesehatan Studi Gratis Lowongan Kerja di Jepang
Ads Powered by:KumpulBlogger.com

Pasang iklan Mini Banner di sini , Komisi 3% untuk Blogger

Followers statistik Situs H0T dan Referensi lain:
Koleksi Jilbab Cantik Kerudung Manis Hindi Film, Lagu Bollywood Kesehatan Repoduksi Wanita Horoskop, Zodiak dan Astrologi Ramalan Bintang Hari ini Situs Gadis dan ABG Wanita dan Rahasianya Rahasia Keperkasaan Pria

Powered by Blogger.

Karya Tulis Ilmiah|Solusi Tugas Akhir Kebidanan
Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan Skripsi Kebidanan
• • • • • •

Beranda Profil Contoh KTI/Skripsi Daftar Judul KTI/Skripsi FAQ Cara Pemesanan
Top of Form

Bottom of Form

Beranda > KTI > Hubungan Antara Aktivitas Olahraga Dengan Sindroma Pra Menstruasi Pada Remaja Putri Di Prodi Kebidanan XXX

Hubungan Antara Aktivitas Olahraga Dengan Sindroma Pra Menstruasi Pada Remaja Putri Di Prodi Kebidanan XXX
April 5, 2010 Maz Dea Tinggalkan komentar Go to comments BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan berwawasan kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan pembangunan nasional. Pembangunan kesehatan diselenggarakan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap orang demi tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Depkes, 2006). Pencapaian kesehatan yang optimal didukung pula dengan tercapainya kesehatan reproduksi, sesuai misi Program Keluarga Berencana Nasional, yaitu mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas sejak dimulainya proses pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut. Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat sejahtera secara fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala hal yang terkait dengan sistem, fungsi serta proses reproduksi (Mohamad, 2007). Hak reproduksi berlaku bagi setiap manusia termasuk juga remaja. Hak remaja atas kesehatan reproduksi ini mulai diakui secara internasional melalui kesepakatan mengenai hak-hak reproduksi dalam International Conference on Population and Development (Konferensi

Internasional Kependudukan dan Pembangunan) di Kairo tahun 1994 (Mohamad, 2007). Remaja merupakan aset bangsa untuk masa depan, sehingga remaja dengan sumber daya yang berkualitas, sehat jasmani dan rohani, cerdas, produktif dan mandiri merupakan modal pembangunan nasional dalam mencapai pembangunan kesehatan. Remaja merupakan tahap akhir pematangan sosio biologis manusia dalam mata rantai tumbuh kembang anak. Data demografi menunjukkan, remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Berdasarkan data WHO tahun 1995, sekitar seperlima penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun, dan pada tahun yang sama Biro Pusat Statistik mencatat populasi remaja Indonesia sebesar 30 % dari 200 juta penduduk (Pardede, 2002). Tahun 2008, data Profil Kesehatan Indonesia mencatat penduduk Indonesia yang tergolong usia 10-19 tahun adalah sekitar 44 juta jiwa atau 21 %, yang terdiri dari 50,8 % remaja laki-laki dan 49,2 % remaja perempuan (Depkes, 2008). Remaja (adolescence) merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, fisiologis, dan psikososial (Sayogo, 2006). Menurut Santrock (2003), masa remaja dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara pesat dan optimal pada dua masa dalam siklus hidup manusia, yaitu masa balita dan remaja. Proses tersebut meliputi perubahan secara fisik, fisiologis dan psikososial, proses berpikir, tumbuhnya kemandirian sampai dengan perkembangan fungsi seksual yang diawali dengan masa pubertas. Menstruasi (haid) adalah perdarahan secara periodic dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro, 2005). Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus menstruasi. Menstruasi biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga menopause (biasanya terjadi sekitar usia 45 – 55 tahun). Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari (Bioheath Indonesia, 2007). Umumnya sebagian perempuan mengalami ketidaknyamanan yang dirasakan sebelum menstruasi dengan gejala bervariasi, sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh Pelayanan Kesehatan Ramah Remaja (PKRR) di bawah naungan WHO tahun 2005 menyebutkan bahwa permasalahan remaja di Indonesia adalah seputar permasalahan mengenai gangguan menstruasi (38,4 %), masalah gizi yang berhubungan dengan anemia (20,3 %), gangguan belajar (19,7 %), gangguan psikologis (0,7 %) serta masalah kegemukan (0,5 %) (Setiasih, 2007). Salah satu gangguan yang menyertai siklus menstruasi pada wanita adalah terjadinya sindroma pra menstruasi( PKBI, 2003). Sindroma pra menstruasi (Pre Menstrual Syndrome) adalah sekumpulan gejala atau keluhan baik fisik maupun psikologis yang dirasakan wanita pada hari ke 1 hingga hari ke 14 sebelum menstruasi dimulai, dan diikuti dengan tahap bebas dari gejala jika menstruasi sudah tejadi (Health Media Nutrition, 2006). Penelitian Fatimah (2007), menunjukkan bahwa 71,9 % dari 154 responden mengalami sindroma pra menstruasi. Sekitar 40% wanita berusia 14 – 50 tahun mengalami sindrom pra-menstruasi atau yang lebih dikenal dengan PMS (pre-menstruation syndrome). Bahkan survai tahun 1982 di Amerika Serikat menunjukkan, PMS dialami 50% wanita dengan sosio-ekonomi menengah yang datang ke klinik ginekologi.. Pada sekitar 14 persen perempuan antara usia 15 hingga 35 tahun, sindrom pramenstruasi dapat sangat hebat pengaruhnya sehingga mengharuskan mereka beristirahat dari sekolah atau kantornya (Wales, 2008).

Tampaknya keadaan ketidak seimbangan pada beberapa keadaan interaksi yang kompleks antara hormone, nutrient essensial, dan neurotransmitter yang dikombinasikan dengan stress psikologi merupakan penyebab terjadinya gejala PMS dan ketidak seimbangan ini berbeda secara luas antara satu orang dengan orang lain, dan bahkan antara satu siklus menstruasi dengan siklus lain pada seorang wanita. Jadi telah ditetapkan bahwa PMS merupakan keadaan abnormalitas dari wanita untuk beradaptasi terhadap perubahan fluktuasi hormonal bulannya.( Suheimi, 2008) Health Media Nutrition (2006) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang rumit antara ketidakseimbangan hormon, stres dan kekurangan gizi yang dapat menyebabkan terjadinya sindroma ini. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sindroma pra menstruasi, antara lain : stress, status gizi, kebiasaan makan makanan tertentu, aktivitas olahraga, merokok dan alkohol. Faktor-faktor risiko tersebut dapat memperburuk gejala dan keluhan sindroma pra menstruasi bila tidak ditangani dengan baik (Media Health Nutrition, 2006). Secara umum hal ini akan sangat berpengaruh kepada aktifitas wanita sehari-hari, termasuk di dalamnya adalah aktifitas pada lingkungan sosial, kehidupan pribadi dan terutama aktifitas belajar di kampus apabila dia seorang mahasiswa(Riyanto, 2002). Selain tingkat konsumsi zat gizi yang tercukupi, sindroma pra menstruasi dapat dicegah dengan aktivitas olah raga secara teratur. Olah raga dapat melancarkan peredaran darah, mengurangi ketegangan serta memunculkan perasaan gembira, tenang dan nyaman akibat rangsangan hormon endorphin dari dalam tubuh (Chandra, 2008). Hal ini didukung penelitian Fatimah (2007), yang menyebutkan bahwa responden dengan keluhan dan gejala sindroma pra menstruasi mempunyai tingkat konsumsi zat gizi vitamin C, magnesium dan asam lemak omega 6 masingmasing sebesar 63,2 %, 59,6 % dan 56,3 % yang berada dalam kategori kurang yaitu kurang dari 80% AKG. Untuk responden yang melakukan aktivitas olahraga ringan didapatkan hasil bahwa 26,2 % tidak mengalami PMS dan 73,8% mengalami PMS. Sedangkan untuk responden yang melakukan aktivitas olahraga berat didapatkan hasil bahwa 60,3% tidak mengalami PMS dan 39,7 % mengalami PMS. Prodi Kebidanan XXX merupakan salah satu institusi pendidikan kesehatan dibawah naungan Politeknik Kesehatan Depkes XXX. Prodi Kebidanan XXX mempunyai mahasiswa yang keseluruhannya berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia 17-21 tahun dengan pembagian usia 17-19 tahun pada tingkat I, 18-20 tahun pada tingkat II, dan 20-25 tahun pada tingkat III. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 29 Desember 2008 melalui wawancara dengan mini kuesioner terhadap 96 mahasiswa tingkat I didapatkan hasil bahwa 68 orang diantaranya mengalami gejala yang mengarah pada sindroma pra menstruasi. Kemudian dari 10 mahasiswa yang mengalami PMS tersebut dilakukan pengukuran status gizi dengan IMT didapatkan hasil bahwa 7(70%) mahasiswa diantaranya mempunyai status gizi kurang, 2(20%) mahasiswa mengalami gizi sedang, dan 1(10%) diantaranya mengalami gizi baik. Didapatkan hasil pula melalui wawancara dengan mini kuesioner didapatkan bahwa 6(60%) diantaranya melakukan aktivitas olahraga ringan, 3(30 %) mahasiswa diantaranya melakukan aktifitas olahraga sedang, dan 1(10 %) mahasiswa diantaranya melakukan aktivitas olahraga berat. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara status gizi dan aktifitas olahraga dengan sindroma pra menstruasi pada remaja putri di Prodi Kebidanan Semarang. B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, secara nyata bahwa terdapat gejala sindroma pra menstruasi pada remaja serta implikasi yang ditimbulkannya. Secara umum hal tersebut dapat berpengaruh pada aktivitas remaja yang tinggi, baik aktivitas pada lingkungan sosial, kehidupan pribadi dan terutama aktivitas belajar di kampus. Sehingga dalam penelitian ini perlu dikaji “adakah hubungan antara status gizi dan aktivitas olahraga dengan sindroma pra menstruasi pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX?” C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara status gizi dan aktivitas olahraga dengan sindroma pra menstruasi pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX Tahun 2009. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah: a. Mengidentifikasi status gizi pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX b. Mengidentifikasi aktifitas olahraga pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX. c. Mengidentifikasi sindroma pra menstruasi di Prodi Kebidanan XXX. d. Menganalisis hubungan antara status gizi dengan sindroma pra menstruasi pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX. e. Menganalisis hubungan antara aktivitas olahraga dengan sindroma pra menstruasi pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX. D. Manfaat 1. Bagi Remaja Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang sindroma pra menstruasi pada remaja putri di Prodi Kebidanan XXX sehingga dapat melakukan upaya penanganan terhadap gejala-gejala yang terjadi. 2. Bagi Pemerintah/ Dinas Kesehatan Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta sebagai wacana untuk dapat meningkatkan keterlibatannya pada masalah kesehatan remaja khususnya kesehatan reproduksi. 3. Bagi Institusi Pendidikan Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas bagi pengembangan akademik. 4. Bagi Peneliti a. Peneliti sekarang Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan penelitian tentang terjadinya sindroma pra menstruasi pada remaja putri, serta diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama di bangku kuliah dalam kehidupan bermasyarakat. b. Peneliti selanjutnya Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut. 5. Bagi profesi bidan

Karya tulis ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi fungsi bidan dalam memberikan pelayanan dan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja. •
• • •

Share this: StumbleUpon Digg Reddit

• Categories: KTI Tag:Contoh KTI/Skripsi, Karya Tulis Ilmiah, Karya Ilmiah, Contoh KTI, Teknik Menyusun Karya Tulis Ilmiah Atau Skripsi Komentar (4) Lacak Balik (1) Tinggalkan komentar Lacak balik 1. aura fakih April 13, 2010 pukul 7:46 am | #1 Kutip contoh ktix bsa dilihat gak?soalx sy jg lgi nysun proposal ttg hub sttus gizi dg siklus mens di asrama akbid sumbawa 2. Adi April 13, 2010 pukul 1:10 pm | #2 Kutip Silahkan email saya di mujaddid99@gmail.com 3. veronica April 22, 2010 pukul 3:16 pm | #3 Kutip tolong donk, abstrak na! bagaimana hasil dari penelitian ini. thnx! 4. enik April 28, 2010 pukul 7:24 pm | #4 Kutip

bisa diliatin contoh ktinya gak ya???bisa di jadikan acuan buat ngerjain kti saya yang hampir sam dengan ini….
Top of Form

Nama (wajib) E-mail (wajib) Situs web

Subscribe to comments feed Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.
Bottom of Form

Perbedaan Status Gizi Anak Sekolah Dengan dan Tanpa Program PMTAS di MIS XXX dan MIS XXX Kota XXX HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PASANGAN SUAMI ISTRI YANG MENIKAH SELAMA LEBIH DARI SATU TAHUN DAN BELUM MEMILIKI ANAK TERHADAP PEMERIKSAAN INFERTILITAS DI RW XXX KELURAHAN XXX KOTA XXX PADA BULAN XXX-XXX TAHUN XXX umpan RSS

Tulisan Terakhir

Studi Deskriptif Faktor–faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Dukun Bayi Sebagai Penolong Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas XXX Kecamatan XXX Kabupaten XXX Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Dengan Praktik Senam Nifas Puskesmas XXX Kabupaten XXX Perbedaan Status Gizi Anak Sekolah Dengan dan Tanpa Program PMTAS di MIS XXX dan MIS XXX Kota XXX Hubungan Antara Aktivitas Olahraga Dengan Sindroma Pra Menstruasi Pada Remaja Putri Di Prodi Kebidanan XXX HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PASANGAN SUAMI ISTRI YANG MENIKAH SELAMA LEBIH DARI SATU TAHUN DAN BELUM MEMILIKI ANAK TERHADAP PEMERIKSAAN INFERTILITAS DI RW XXX KELURAHAN XXX KOTA XXX PADA BULAN XXX-XXX TAHUN XXX

• • • •

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Ca Mammae dengan Pelaksanaan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) di Desa XXX RT XXX RW XXX Kecamatan XXX Kabupaten XXX Terapkan Street Smart Untuk Karya Tulis Ilmiah (KTI) atau Skripsi Stop ! Jangan Lakukan Jalan Pintas Dalam Membuat KTI atau Skripsi Kebidanan HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN MOBILISASI DINI PADA IBU POST SECTIO CAESAR DI RS XXX TAHUN XXX? HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN BALITA KE POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA XXX KAB. XXX TAHUN 2009 KTI Skripsi Strategi Street Smart KTI atau Skripsi Tips dan Trik KTI atau Skripsi Belajar Membuat Website Penjualan Karya Tulis Ilmiah Kebidanan My Profil On Facebook Rahasia Sukses Clickbank April 2010 Februari 2010 Daftar Masuk log

• • • •

Kategori
• • • • • • • • •

Blogroll

Arsip
• •

Meta
• •

Puncak WordPress Copyright © 2010 Karya Tulis Ilmiah|Solusi Tugas Akhir Kebidanan Blog pada WordPress.com. Theme: INove by NeoEase.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->