P. 1
Bahan Pembuatan Sabun

Bahan Pembuatan Sabun

|Views: 486|Likes:

More info:

Published by: Rizaldi Fadillah Rachman on Nov 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2012

pdf

text

original

Bahan Pembuatan Sabun

by Saepul Rohman on 01/07/09 at 9:05 am | 20 Comments | | Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak. Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna. Sabun dibuat dengan reaksi penyabunan sebagai berikut: Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut : C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion. Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat. Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun.

Bahan Baku: Minyak/Lemak
Minyak/lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang (± 28°C), sedangkan lemak akan berwujud padat.

75-7. sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu. terutama asam laurat. minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya. Lard. seperti oleat. Jenis-jenis Minyak atau Lemak Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi karena berbagai alasan. Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi. Asam lemak dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 akan menimbulkan iritasi pada kulit. dan linolenat yang terlalu banyak akan menyebabkan sabun mudah teroksidasi pada keadaan atmosferik sehingga sabun menjadi tengik. kandungan FFA. dan lain-lain. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang . Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). 4. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. linoleat. Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow. dan mudah larut). Jika digunakan sebagai pengganti tallow. sedangkan rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun menjadi keras dan sulit terlarut dalam air. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna. spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi. Trigliserida yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun memiliki asam lemak dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 18. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa. 3. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging sebagai hasil samping. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~ 40%). Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0. Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri pembuatan sabun.0 %. titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak). Tallow dengan titer di bawah 40°C dikenal dengan nama grease. Kandungan asam lemak tak jenuh. bilangan saponifikasi. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Titer pada tallow umumnya di atas 40°C.Minyak tumbuhan maupun lemak hewan merupakan senyawa trigliserida. dan bilangan iodin. jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. mudah berbusa. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya : 1. 2. lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Coconut Oil (minyak kelapa). Tallow. seperti : kelayakan ekonomi.

8. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Marine Oil. Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak. 5. bukan sebagai sabun rumah tangga. Castor Oil (minyak jarak). Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. 9. Bahan Pendukung . 7. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Olive oil (minyak zaitun). dan mampu menurunkan kesadahan air. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. NaOH. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan.menimbulkan bau tengik. Campuran minyak dan lemak. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. dan ethanolamines. 10. Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. kaprilat. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit. Bahan Baku: Alkali Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH. NH4OH. tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak). Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen. atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu. Na2CO3. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. KOH. Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku. dan kaprat. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air. mudah berbusa. 6. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit.

CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + OHb. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. 1. CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2 c. NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/ 19. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif. sedangkan sabun akan mengendap. Reaksi saponifikasi tersebut adalah sebagai berikut : R-COO-CH2 H2C – OH R-COO-CH + 3 NaOH 3 R-COO-Na + HC – OH R-COO-CH2 H2C – OH ester triglyserida caustic soda Na stearat (sabun) glyserin sifat – sifat sabun : a. kalsium. Anti oksidan. Pewarna. NaCl harus bebas dari besi. NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders. dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi. Fillers inert. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. Bahan aditif. NaCl. 2. hal yang membedakan adalah komposisi bahan baku terutamanya yaitu minyal dan lemak serta zat-zat aditif lainnya.dan parfum.37 pm Primsip proses produksi sabun Pada primsipnya proses produksi sabun (reaksi saponifikasi) adalah sama. peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Reaksi yang terjadi adalah eksotermis sehingga suhu harus tetap dikontrol. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garamgaram Mg atau Ca dalam air mengendap. http://majarimagazine. sabun . Proses pembuatan sabun dikenal dengan istilah proses saponifikasi yang merupakan reaksi pemutusan rantai triglesireda melalui reaksi dengan caustic soda (NaOH).

(garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar.r meresap lebih cepat kepermukaan kain.42 pm .Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan tegangan permukaan sehingga aii kain sehingga kain menjadi bersih. http://madja. (larut dalam air. karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. .com/2007/12/20/primsip-proses-produksi-sabun/ 19. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.Molekul sabun akan mengelilingi kotoran dengan ekornya dan mengikat molekul kotoran. hidrofobik. hidrofilik.Sedangkan bagian kepala molekul sabun didalam air pada saat pembilasan menarik molekul kotoran keluar dari kain sehingga kain menjadi bersih. Non polar : CH3(CH2)16 Polar : COONa+ (larut dalam miyak.wordpress. . . memisahkan kotoran non polar) memisahkan kotoran polar) Proses penghilangan kotoran. Proses ini disebut emulsifikasi karena antara molekul kotoran dan molekul sabun membentuk suatu emulsi.

Pembahasan Ketika kita memasukkan NaOH/KOH ke dalam air untuk dilarutkan. pastikan minyak tersebut sudah mendidih karena proses saponifikasi pada sabun membutuhkan suhu sekitar 80–100 °C untuk menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Cara kerja sabun adalah mengikat minyak kedalam air. Pada hampir seluruh panjangnya (atau "ekornya") strukturnya tepat sama dengan molekulmolekul minyak. air yang semula keruh menjadi bening kembali. setelah kita aduk berkali-kali hingga larut. dan sebuah kaki anorganik yang senang bergandengan dengan air. Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut alkali . sehingga akhirnya minyak dan kotoran dapat dibilas dengan lebih mudah. lemak akan terhidrolisis oleh basa. Tapi. pada awalnya air akan menjadi keruh. Dalam proses saponifikasi. Molekul-molekul sabun berbentuk panjang dan tipis. karena itu memiliki afinitas atau keakraban dengan molekulmolekul minyak. Karena dibuat melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan sebuah senyawa anorganik (alkali). molekul sabun mempertahankan beberapa ciri keduanya. Itulah sebabnya sabun memiliki kemampuan tiada banding dalam menarik kotoran berminyak dari tubuh atau pakaian ke dalam air. Hal ini menunjukkan bahwa NaOH/KOH telah larut dalam air.basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari asam). Molekul sabun mempunyai sebuah kaki organik yang senang bergandengan dengan bahan-bahan organik berminyak. pada salah satu ujungnya yang lain (atau "kepalanya") ada sepasang atom yang muatan listriknya sedemikian hingga hanya senang bergabung dengan . menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Namun. Pada saat kita mencampurkan larutan NaOH/KOH ke dalam minyak.

Trace merupakan suatu kondisi pada saat cairan yang diaduk (minyak sawit) mulai mengental. molekul sabun mempertahankan beberapa ciri keduanya. Itulah sebabnya sabun memiliki kemampuan tiada banding dalam menarik kotoran berminyak dari tubuh atau pakaian ke dalam air. 4. dan sebuah kaki anorganik yang senang bergandengan dengan air. maupun asam stearat. 2. dan kepala inilah yang membuat seluruh molekul sabun menyatu dengan air yang membuatnya dapat larut. 5. asam oksalat. menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Molekul sabun mempunyai sebuah kaki organik yang senang bergandengan dengan bahan-bahan organik berminyak. peawarna dan zat-zat aditif lainnya. Bahan baku pembuatan sabun dapat berupa senyawa tripalmitin. Karena dibuat melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan sebuah senyawa anorganik (alkali). Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Hasil percobaan yang diperoleh yaitu terbentuk campuran berwarna coklat tua dan berbusa. Hal ini berarti telah terjadi perpisahan antara garam alkali (sabun) dengan gliserol. 3. Pada saat ini biasanya ditambahkan pengharum. lemak akan terhidrolisis oleh basa.molekul-molekul air. . Pada dasarnya gliserol tetap digunakan dalam campuran sabun (tidak dipisahkan) agar kandungan gliserol dapat membantu sabun dalam mengangkat benda asing yang akan dibersihkan. kita dapat menyimpulkan: 1. KESIMPULAN Dari pengolahan data diatas. Titik akhir proses saponifikasi adalah trace. Dalam proses saponifikasi. Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut alkali --basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari asam).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->