PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL OLEH GURU PKn DI SMA NEGERI I BANJARNEGARA

Skripsi Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh: Nama NIM Jurusan : Anggun Kusuma Wardani : 3401403029 : Hukum dan Kewarganegaraan

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing dan untuk selanjutnya diajukan ke depan sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Tijan, M.Si NIP. 131658237

Drs. Sumarno NIM. 131475652

Mengetahui Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Drs. Slamet Sumarto, M.Pd NIP. 131570070

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang panitia skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : :

Penguji Skripsi

Drs. AT Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 131813668

Anggota I

Anggota II

Drs. Tijan, M.Si NIP. 131658237

Drs. Sumarno NIP. 131475652

Mengetahui Dekan Fakultas Universitas Negeri Semarang

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iii

Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Juni 2007 Anggun Kusuma W NIM. baik sebagian atau seluruhnya. Semarang.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis didalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. 3401403029 iv .

Yeni.… yang semasa hidup beliau telah merawat. mendidik dengan penuh kasih sayang (terima kasih Ibu…Engkau telah berikan yang terbaik untukku) Adikku Dani……….yang sudah membantu dan mensupport-qu Sahabat KFC………(Diyah... Santi. kau penyemangat bagiku dan kau menambah keceriaan dalam hidup ini Terima kasih untuk mas. Dwi. Bambang.terima kasih sayang.. Enrica.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: “Berdoa dan berusaha adalah dua kunci keberhasilan sedangkan tawakal adalah awal dari kesempurnaan” “Be humble Alloh Creature” Persembahan: Untuk orang tuaku sekaligus keluargaku di Banjarnegara Dan Teruntuk Almarhumah Ibu tercinta…………. membimbing. Edi) terima kasih kau memberiku arti kebersamaan Teman-teman wisma Annisa……. Rini.yang selama ini mewarnai hari-hariku Teman-teman PPKn’03 dan Almamaterku v .Esav…….

M... Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan 4. M. Bapak Drs. Dosen Pembimbing I yang dengan sabar mengarahkan dan membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini dari awal hingga akhir 5. petunjuk dan bimbingan hingga terselesaikannya skripsi ini vi .Si. Untuk itu penulis sampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada: 1. Universitas Negeri Semarang.M. Bapak Drs. maka skripsi ini dapat tersusun..PRAKATA Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh S.Sudijono Sastroatmodjo.Pd... Bapak Prof. Sumarno.T yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual oleh Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara” dengan lancar. Slamet Sumarto. Sunardi.W. Dosen Pembimbing II yang penuh ikhlas dalam memberikan saran. M. Dekan Fakultas Ilmu Sosial 3. Skripsi ini merupakan syarat akademis dalam menyelesaikan pendidikan SI di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial. Bapak Drs. Bapak Drs. Tijan. Penulis menyadari bahwa berkat bantuan dari berbagai pihak. Dr. Rektor Universitas Negeri Semarang 2. M.Si. H.

. Ibu Purwati. Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Juni 2007 Penulis vii . H.Pd dan Bapak Drs. Adikku Dani yang senantiasa memberi semangat dan keceriaan dalam hidup penulis 10. Semarang. Kepala Sekolah SMA Negeri I Banjarnegara yang mengijinkan penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah yang beliau pimpin 7. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Keluarga di rumah yang selalu memberi semangat dan bantuan hingga penulis jadi sarjana 11. Bapak Drs. oleh karena itu penulis sangat berterimakasih bila ada saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya penyusunan skripsi ini. Almarhumah Ibu tercinta yang semasa hidup beliau selalu membimbing serta memberikan kasih sayang kepada penulis 9. Guru pengampu bidang studi Kewarganegaraan yang telah membantu penulis di lapangan dalam mendapatkan data-data yang kami butuhkan 8.. Sigit Budi Nurani. M. S.Ag.6. Mahmudi.

Untuk mengetahui sejauh mana penerapan pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran PKn di sekolah. bukan hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi. Kata Kunci: Pembelajaran.W. terutama dalam memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara efektif dan efisien. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual oleh Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara?”. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau yang sering disingkat CTL merupakan salah satu strategi belajar yang diharapkan mampu mengefektifkan proses belajar mengajar dimana pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami.SARI Anggun K. 2007. Kualitas pembelajaran diantaranya bergantung pada kemampuan guru. maka perlu diadakan peneliitan terhadap hal tersebut. wawancara. Lokasi penelitian yang dijadikan objek adalah SMA Negeri I Banjarnegara. Kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sehingga pada akhirnya pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi siswa. (3) Untuk mengetahui sistem penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. PKn Kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan. viii . program semester. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui persiapan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. (3) Penilaian pembelajaran PKn dilakukan guru secara terintegrasi baik selama proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian. Sedangkan untuk pengembangan silabus dibuat secara bersama-sama dalam MGMP. namun guru tetap menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif dengan cara melibatkan 7 komponen utama pembelajaran kontekstual. dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. dapat disimpulkan bahwa: (1) Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara secar mandiri meliputi: program tahunan. (2) Kegiatan belajar mengajar PKn sudah cukup baik meskipun dalam penyampaian materi pelajaran guru lebih sering menggunakan metode ceramah dibandingkan dengan metode yang lain. perhitungan minggu efektif. (2) Untuk mengetahui proses pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. serta dokumentasi yang diolah dan diperiksa dengan menggunakan tekhnik triangulasi untuk pengecekan keabsahan data dengan proses hasil wawancara dan observasi kemudian dicocokkan dengan isi dokumen yang terkait.

pengertian dan pemahaman tentang pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). ix . Secara global masih perlu adanya pelatihan-pelatihan ataupun seminar untuk menambah pengetahuan. Dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara memberikan pengalaman belajar secara kontekstual dan praktis kepada siswa. Dan bagi sekolah diharapkan meningkatkan sarana dan prasarana guna mendukung proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.Saran.

.................................................................................................................................................... ii PENGESAHAN KELULUSAN ........................................................................................................................................................................................................ i PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................................... 5 C............................................. x DAFTAR TABEL.................. Latar Belakang ........ v KATA PENGANTAR ............................ 6 E.................... iii PERNYATAAN.........................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL..................................... 14 D................. xiv BAB I PENDAHULUAN ..... 8 A......... Konsep Pembelajaran............. Konsep Pembelajaran Kontekstual ...................... Sistematika Skripsi.................................... Konsep Mata Pelajaran PKn .................................................. vi SARI ............................................................................................................................ 8 B........................................ Perumusan Masalah .......................................... 1 B.............. 6 BAB II LANDASAN TEORI ............................ viii DAFTAR ISI................................. 10 C............................................................................................................................ 1 A......... 17 x .......................................................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...... xiii DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................ Konsep Dasar dan Perubahan Kurikulum ............................................................................................................. Tujuan Penelitian ... Manfaat Penelitian ..................................... 5 D..............................................................................................................................................................................................

............................................................................. Prosedur Penelitian ......................... Lokasi Penelitian.......................................................... Dasar Penelitian ... 34 A.... 37 F.................................. 60 2..................................................................... Simpulan ............ 44 1........................................... 44 2............. Penilaian Pembelajaran Kontekstual ............................................................... Metode Pengumpulan Data .................. 59 1.......................... Kerangka Berfikir ................................. 34 B.............................................. Tinjauan Umum Sekolah yang diteliti ....................................................................................... 34 C........... 23 F.................................... 35 D................................................. Fokus Penelitian ........................................... Validitas Data Penelitian........................ 75 xi ................. 47 3............. 30 BAB III METODE PENELITIAN ................................................... 40 H.................. 42 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................... 36 E............................................................................... Hasil Penelitian ...... Metode Analisis Data................... Perencanaan Pembelajaran Kontekstual................................................. 55 B.. 74 BAB V SIMPULAN DAN SARAN ............. 75 A.......................................................... 64 3........................... Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual..............................E................. Proses Pembelajaran Kontekstual ............................................... 44 A................................................................... 52 4... Proses Pembelajaran Kontekstual .... Sumber Data Penelitian....... Penilaian Pembelajaran Kontekstual ........ Pembahasan...................................... Perencanaan Pembelajaran Kontekstual......................................... 38 G................................................................................

.................................B............................... 76 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 78 LAMPIRAN-LAMPIRAN xii ......................... Saran .....

.......................... 50 Tabel 5............................ Perbedaan Pembelajaran Konvensional dengan Kontekstual .............................................................. 23 Tabel 3..................... 53 Tabel 7.............................. 50 Tabel 4............ Eksistensi Perencanaan Pembelajaran .......................... Sarana dan Prasarana .. Sistem Penilaian ............. Komposisi Siswa... 14 Tabel 2.....DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1................. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar............................... Kondisi Guru............... 62 xiii ............................................................................................................ 51 Tabel 6.........................

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 14. Pedoman Wawancara untuk Siswa 18. Program Semester 12. Program Tahunan 11. Foto-foto Dokumentasi xiv . Struktur Organisasi SMA Negeri I Banjarnegara 9. Penilaian Proses dan Hasil Belajar Siswa 15. Kalender Pendidikan 10. Lembar Pengamatan 20. Pedoman Wawancara untuk Guru 17. Visi dan Misi Sekolah 5. Perhitungan Alokasi Waktu 13. Program Unggulan Sekolah 7. Profil Sekolah 6. Catatan Dokumentasi 19. Surat Ijin Survey Pendahuluan 2. KTSP SMA Negeri I Banjarnegara 4.DAFTAR LAMPIRAN 1. Daftar nama dan Kode Guru 8. Surat Ijin Penelitian 3. Daftar Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan 16.

peran dan tanggung jawab guru sesuai dengan kebijakan otonomi sekolah antara lain adalah menguasai dan mengembangkan materi pembelajaran. Dalam lingkup kelas. di mana tiap-tiap sekolah memiliki wewenang untuk mengelola dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. terutama dalam memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara efektif dan efisien. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan. Kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan. maka guru mempunyai peran yang strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan pengamatan. Salah satu pengaruh tersebut adalah diberlakukannya otonomi sekolah. 1 . Guru merupakan personil sekolah yang memiliki kesempatan bertatap muka lebih banyak dengan siswanya. merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran. Dengan demikian. bahwa pengetahuan sebagi perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. LATAR BELAKANG Otonomi daerah membawa pengaruh bagi manajemen pendidikan di Indonesia. Kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru.BAB I PENDAHULUAN A. serta mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Dengan konsep itu.2 ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Siswa cenderung pasif dan hanya sebagai pendengar ceramah guru tanpa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Sering dijumpai guru terbiasa melaksanakan kegiatan pembelajarannnya dengan metode konvensional di mana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa ibarat kertas putih bersih yang siap diisi dengan ilmu pengetahuan. maka diperlukan suatu inovasi strategi belajar yang diharapkan lebih efektif dan efisien sebagai alternatif yaitu pembelajaran kontekstual. kurang fleksibel dan guru cenderung kurang demokratis. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. . Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat dengan CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pencapaian dan keberhasilan pendidikan berdasarkan hasil akhir pembelajaran dengan mengabaikan proses. Proses belajar mengajar terkesan kaku. Adanya kenyataan seperti di atas.

Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. teknologi dan informasi. Keberadaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut peran aktif guru dalam mengolah pembelajaran menjadi pembelajaran yang berkualitas dan mengembangkan ranah atau domain pembelajaran siswa yang . siswa perlu mengerti apa makna belajar.3 Dalam konteks tersebut. khususnya dalam bidang akademik maupun prestasi. Dalam upaya itu. apa manfaatnya. Terbukti bahwa SMA Negeri I Bajarnegara telah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal lain yang ada di kota Banjarnegara. dan bagaimana mancapainya. yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. seiring dengan kemajuan zaman. Kondisi SMA Negeri I Banjarnegara yang terletak secara strategis di tengah kota sangat dominan dalam mengembangkan dunia kependidikan di kota Banjarnegara. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Adapun kurikulum tersebut merupakan kurikulum penyempurnaan atas kurikulum sebelumnya yakni Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi. SMA Negeri I Banjarnegara yang mrupakan sebuah institusi pendidikan merupakan wadah pengembang wawasan keilmuan masyarakat dengan menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung di SMA Negeri I Banjarnegara telah berkembang seiring dengan tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini. dalam status apa mereka. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.

Dalam hal ini strategi yang digunakan tidak hanya strategi yang secara konvensional saja. masyarakat belajar (learning community). refleksi (reflection). menemukan (inquiry).4 meliputi ranah kognitif. pemodelan (modelling). Di samping itu. Adapun penelitian akan dilaksanakan di SMA Negeri I Banjarnegara dengan pertimbangan bahwa di sekolah tersebut pelaksanaan pembelajaran kontekstual telah dilaksanakan pada semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. bertanya (questioning). Strategi pembelajaran menuntut guru PKn agar dapat menjadikan siswa mampu menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan aplikasinya dalam kehidupan nyata. ranah afektif dan ranah psikomotorik. dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). maka perlu diadakan penelitian terhadap hal tersebut. namun strategi yang secara adaptif mampu dikembangkan oleh siswa secara mandiri. Untuk mengetahui sejauh mana penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah. Salah satu strategi pembelajaran yang merupakan perangkat pembelajaran berasosiasi dengan KTSP adalah strategi pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dengan tujuh komponen pembelajaran yang meliputi konstruktivisme (constructivism). karena SMA Negeri I Banjarnegara merupakan salah . Kurikulum yang digunakanpun telah disesuaikan dengan kurikulum yang saat ini berlaku yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Bagaimanakah proses pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara? 3.62 dan untuk IPS yaitu 7. Bagaimanakah sistem penilaian pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara? C. Bagaimanakah persiapan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara? 2. 1. B. Dengan uraian sub permasalahan sebagai berikut. Dari latar belakang tersebut penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual oleh Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara”. 1. maka masalah utama yang akan diteliti adalah “Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara”.78 (lihat lampiran 3). dengan data tahun pelajaran 2006/2007 NEM masuk (kelas I baru) rata-ratanya 8. TUJUAN PENELITIAN Adanya penulisan penelitian ini bertujuan sebagai berikut.36 sedangkan untuk NEM keluar (kelas III) rata-ratanya untuk IPA yaitu 8.5 satu SMA favorit yang ada di Kabupaten Banjarnegara. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas. Untuk mengetahui persiapan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara .

Memberikan konstribusi dan motivasi bagi guru PKn pada khususnya dan guru mata pelajaran pada umunya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran kontekstual 3. . 1. Memberikan masukan bagi sekolah dalam mensosialisasikan pembelajaran kontekstual kepada guru-guru mata pelajaran agar lebih memaksimalkan pelaksanaan pendekatan tersebut dan memperbaiki kualitas pembelajaran. abstrak. GARIS-GARIS BESAR SISTEMATIKA SKRIPSI Dalam memberikan gambaran umum mengenai isi penelitian skripsi ini. Pendahuluan. meliputi: judul. Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara 2. motto dan melalui pengembangan pendekatan pembelajaran persembahan. daftar isi. Adapun skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: 1. kata pengantar. dan daftar lampiran. Untuk mengetahui proses pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara 3. D.6 2. pengesahan. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut. perlu dikemukakan garis besar pembahasan melalui sistematika skripsi. daftar tabel. Untuk mengetahui sistem penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dalam pembelajaran kontekstual. E.

tujuan penelitian. perencanaan pembelajaran kontekstual. meliputi: a. dan prosedur penelitian. e. pelaksanaan pembelajaran kontekstual. Bab I Pendahuluan.7 2. meliputi: tinjauan umum sekolah yang diteliti. dan kerangka berpikir. dan penilaian pembelajaran kontekstual. d. meliputi simpulan dan saran 3. Bab II Landasan Teori. sumber data penelitian. dan sistematika penulisan skripsi b. permasalahan. proses pembelajaran kontekstual. c. meliputi: dasar penelitian. konsep pembelajaran kontekstual. konsep pembelajaran. Bab V Penutup. berisi: konsep dasar dan perubahan kurikulum. validitas data penelitian. Bagian isi. meliputi daftar pustaka dan lampiran-lampiran . Bab III Metode Penelitian. berisi: latar belakang. fokus penelitian. metode analisis data. lokasi penelitian. Bagian akhir. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. konsep mata pelajaran PKn. metode pengumpulan data.

berpendapat bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang memuat rencana untuk pendidikan peserta didik selama belajar di sekolah. Pada sisi lain yaitu Pasal 1 ayat 19 UU No. c. a. d. b. Beauchamp. Krugi. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya kurikulum merupakan rencana. Macdonal.BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep Dasar dan Perubahan Kurikulum Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. mengemukakan kurikulum sebagai rencana kegiatan untuk menuntun pengajaran. isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. menerangkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. mendefinisikan kurikulum sebagai rencana untuk membelajarkan peserta didik. Hilda Taba. menguraikan bahwa kurikulum merupakan semua cara yang ditempuh sekolah agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang diinginkan. Seperti dikemukakan oleh Darsono (2000: 127) bahwa pengertian kurikulum menurut para ahli dapat dicermati seperti di bawah ini. pengaturan tentang pelaksanaan proses belajar 8 .

Setelah beberapa tahun diimplementasikan. 19 Tahun 2005 tentang SNP. Kurikulum merupakan pedoman yang akan direalisasikan oleh guru dalam menciptakan situasi belajar.9 mengajar yang akan dilaksanakan oleh guru. 060/V/1993 dan No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. pemerintah memandang perlu dilakukan kajian dan penyempurnaan sehingga mulai tahun 2001 Depdiknas melakukan serangkaian kegiatan untuk menyempurnakan Kurikulum 1994 dan melakukan rintisan secara terbatas untuk validasi dan mendapatkan masukan yang empiris. maka draf kurikulum tersebut perlu disesuaikan kembali. 061/V/1993. . Atas dasar pengertian diatas. Kurikulum itu disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). PP No. Adapun penyempurnaan kurikulum selanjutnya dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Namun dengan lahirnya UU No. Kurikulum senantiasa berubah seiring dengan perkembangan zaman dan adanya perubahan terhadap pendidikan oleh pemerintah pusat. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Permen Diknas No. maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah rencana kegiatan yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai pengalaman belajar yang diinginkan. Dengan mengacu pada UU No. Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah yang berlaku pada awalnya adalah Kurikulum 1994 yang ditetapkan melalui Keputusan Mendikbud No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. Draf kurikulum hasil rintisan tersebut semula akan diberlakukan penerapannya di sekolah-sekolah mulai tahun ajaran 2004/2005.

menguasai pengetahuan. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. dan silabus. 2006). Sehubungan dengan itu. Permen Diknas No. Adapun KTSP mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2006/2007 bagi Sekolah Standar Nasional (SSN). B. dinyatakan bahwa mata pelajaran kewarganegaraan mencakup tiga dimensi yaitu: .10 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Pengertian dan Dimensi Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di dalam kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan dijelaskan bahwa mata pelajaran kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang ingin membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Konsep Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 1. keterampilan dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip kewarganegaraan. selanjutnya BSNP menggagas Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004. kalender pendidikan. Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). dan bagi sekolah yang telah siap.24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Pada tahun 2009/2010 diharapkan semua sekolah telah melaksanakan KTSP (Puskur Balitbang. KTSP terdiri atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Permen Diknas No.

2. komitmen. keterampilan memecahkan masalah sosial. konstitusi. lembaga pemerintah dan non pemerintah. bahas. hak sipil dan hak politik. penguasaan atas nilai-nilai religi. dan mengelola konflik. hukum dan moral. sosio-kultural. kebebasan berserikat dan berkumpul dan perlindungan terhadap minoritas (Depdiknas). pemerintah berdasar hukum dan peradilan yang bebas dan tidak memihak. 2. sejarah nasioanal. dan suku bangsa untuk menjadi warga negara . kebebasan individual. toleransi. dan proses pengambilan keputusan politik. 3. identitas nasional.11 1. kerja sama. hak dan kewajiban warga negara. Hakikat Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama. kebebasan berbicara. keterampilan mengadakan koalisi. usia. Misalnya dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society). dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge) yang mencakup bidang politik. keterampilan mempengruhi dan memonitoring jalannya pemerintahan. keberbasan pers. dimensi keterampilan kewarganegaraan (civics skill) yang meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. hak asasi manusia. meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi. dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics values) yang mencakup kepercayaan diri.

Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Depdiknas. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk riri berdasarkan pada karakter-karakter Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya. 4. rasional. 2002). Berfikir secara kritis.12 Indonesia yang cerdas. c. terampil. b. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Kewarganegaraan Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas. berbangsa dan bernegara. dan berkarakter sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas. terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berfikir sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. a. 3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut: . Tujuan mata pelajaran kewarganegaraan adalah untuk memberikan kompetensi-kompetensi sebagai berikut. dan d. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat. dan kreatif dalam menggapai isu kewarganegaraan. 2002).

Sistim hukum dan peradilan nasional. Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia. Persatuan dan Kesatuan Bangsa. penghormatan dan perlindungan HAM d. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintahan daerah dan otonomi. Budaya demokrasi . Hak dan kewajiban anggota masyarakat. Peraturan-peraturan daerah. harga diri sebagai warga masyarakat. Demokrasi dan sistem politik. Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonsia. Prestasi diri. Cinta lingkungan. hukum dan peraturan. Keterbukaan dan jaminan keadilan b. Partisipasi dalam pembelaan negara. Hubungan dasar negara dengan konstitusi f. Persamaan kedudukan warga negara e. meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama. Pemerintah pusat. Hak asasi manusia. meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan. Konstitusi Negara. Tata tertib di sekolah. Kekuasaan dan politik. Instrumen nasional dan internasional HAM. Sumpah Pemuda. meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga. Hukum dan peradilan internasional c. Pemajuan. Kebutuhan warga negara. Norma. Menghargai keputusan bersama. Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemerdekaan mengeluarkan pendapat. meliputi: Hidup gotong royong. Kebebasan berorganisasi. Budaya politik. meliputi: Hak dan kewajiban anak.13 a. meliputi: Pemerintahan desa dengan kecamatan. Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Norma yang berlaku di masyarakat.

Dampak globalisasi. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran PKn Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). kelas XI. dinyatakan bahwa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan minimal harus ada dalam Standar Isi (Permen diknas No. Pancasila. dan organisasi internasional.. Hubungan internasional globalisasi.14 menuju masyarakat madani. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila sebagai ideologi terbuka h. dan Mengevaluasi C. Globalisasi. Sistem pemerintahan. Belajar bukan hanya mengingat. Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. 5. meliputi: Kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara. akan tetapi lebih luas daripada itu yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil . Adapun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn kelas X. Pers dalam masyarakat demokrasi g. 22 Tahun 2006). meliputi: Globalisasi di lingkungannya. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Konsep Pembelajaran 1. Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi. dan kelas XII lebih lanjut dapat dilihat dalam lampiran.

2002: 36). Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan. Teori Behavioristik. Teori Kognitif. c. budi pekerti (etika). menguraikan bahwa pembelajaran merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa. sikap dan lain-lain. emosional. b. maka terjadi perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut (Hamalik. sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna). kebiasaan. Darsono (2002: 24-25) secara umum menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. a. Kalau seseorang telah melakukan perbuatan belajar.15 latihan. menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. jasmani. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan). hubungan sosial. . Teori Gestalt. pemahaman. apresiasi. melainkan perubahan kelakuan yang meliputi aspek-aspek seperti pengetahuan. mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Sedangkan secara khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut.

Ciri-ciri Pembelajaran Darsono (2002: 65) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut. Oleh karena itu pembelajaran . a. Pembelajaran dapat membuat siswa menerima pelajaran. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar c. baik secara fisik dan psikologis. 3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa d. menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Tujuan Pembelajaran Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa f.16 d. 2. Teori Humanistik. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menyenangkan bagi siswa e. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncana secara sistematis b. Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Didalamnya terkandung tujuan yang menjadi target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan pengalaman-pengalaman belajar.

. Metode. D. Oleh sebab itu. Konsep Pembelajaran Kontekstual 1. strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah membantu pada siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. Artinya. sebelum menentukan strategi perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya. baik kuantitas maupun kualitas. Ada dua hal yang perlu dicermati dari pengertian strategi pembelajaran tersebut. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan. keterampilan. dalam dunia pendidikan strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di disain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi. 2002: 24-26). Kedua. Pertama.17 pasti mempunyai tujuan. strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu.R. arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa (Darsono. dan Pendekatan Pembelajaran J. Pengertian Strategi. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. David dalam Wina Sanjaya (2006: 124) menjelaskan bahwa.

18 Adapun upaya pengimplementasian rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal disebut dengan metode. Hakikat Pendekatan dan Pembelajaran Kontekstual Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah diciptakan dalam proses belajar. 2. 2006: 124-125). Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry serta pembelajaran induktif (Sanjaya. pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Pengertian strategi berbeda dengan metode. Pendekatan kontekstual . agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Menurut Roy Killen (1998) ada dua pendekatan pembelajaran. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tersebut. Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach). yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred-approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred-approaches). Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan strategi maupun metode.

menggunakan berbagai sumber. dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik dalam berbagai macam tatanan kehidupan. dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment) (Depdiknas. belajar dengan bergairah. dan . 2003: 3). yakni: kontruktivisme (Contrucivism). memperluas. dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa. baik di sekolah maupun di luar sekolah (Nurhadi. menemukan (Inquiry). d. menyenangkan dan tidak membosankan. c.19 merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan. 2002: 4). siswa aktif dan kritis. pemodelan (Modeling). 3. refleksi (reflection). Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Menurut Nurhadi (2002: 20) ada beberapa karakter pembelajaran berbasis kontekstual. serta guru kreatif. bertanya (Questioning). masyarakat belajar (Learning Community). pembelajaran terintegrasi. adanya kerjasama. sharing dengan teman dan saling menunjang. b. yaitu: a.

dan menghafal materi pelajaran. misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional Ada perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional. b. c. berdiskusi. d. siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok.20 e. saling menerima dan memberi. kemampuan didasarkan atas pengalaman. tindakan atau perilaku . sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan. artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. 4. Dibawah ini dijelaskan perbedaan kedua model tersebut dilihat dari konteks tertentu. Dalam CTL. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima. mencatat. CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar. a. laporan praktikum. sedangkan dalam pembelajaran konvensional. laporan kepada orang tua bukan sekedar rapor tetapi hasil karya siswa. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri. Dalam pembelajaran CTL. dan karangan siswa.

Dalam pembelajaran konvensional hal ini tidak mungkin terjadi. dan lain sebagainya. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final. e. sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas. sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes. . Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa. Dalam CTL. siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing. rekaman. observasi. penampilan. wawancara. f. misalnya dengan evaluasi proses. maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara. pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya. oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. h. hasil karya siswa. pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.21 individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya. Dalam pembelajaran CTL. sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran. misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru. oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain. g. Dalam pembelajaran CTL.

1. dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung. Agar pelaksanaan pembelajaran kontekstual lebih efektif. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan. Mempertimbangkan keragaman siswa. 2. maka guru perlu melaksanakan hal-hal sebagai berikut. dan keteampilan berpikir tinggi. 3. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual. perkembangan pemecahan masalah. Memperhatikan multi-intelegensia siswa. 6. 5. . Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri. menggambarkan bahwa CTL memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya (Sanjaya. 2005: 102-104). tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.22 Beberapa perbedaan pokok diatas. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa. dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan (Mulyasa. 2006: 260). 4. 5.

dan lingkungan pembelajaran. pertanyaan kedua menyangkut strategi. daripada hanya sekedar hafalan informasi faktual (Nurhadi. Pertanyaan pertama “kompetensi apakah yang akan diajarkan” menyangkut tujuan dan materi pelajaran. logis dan sistematis. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual Rencana pembelajaran adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan sistem penyampaiannya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan belajar. (2) bagaimana cara memberikan pengalaman belajar untuk mencapai kompetensi tersebut. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual 1. sedangkan pertanyaan ketiga menyangkut masalah evaluasi atau penilaian. kegiatan pembelajaran. uji coba dan revisi paket pembelajaran. dan (3) bagaimana mengetahui bahwa kompetensi yang diajarkan telah dikuasai oleh siswa. dan terakhir mengevaluasi program dan hasil belajar (Dirjen dikdasmen. metode. Menerapkan penilaian autentik yang akan mengevaluasi pengetahuan dan berpikir kompleks seorang siswa. E. Guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik. termasuk didalamnya pengembangan paket pembelajaran. 2003: 20-21). 2003: 6). Gafur (2003: 22) menjelaskan bahwa dalam menyusun disain pembelajaran atau merencanakan kegiatan pembelajaran.23 7. media. perlu menjawab tiga pertanyaan pokok: (1) kompetensi apakah yang akan diajarkan. Karena disamping untuk .

Persiapan mengajar yang dikembangkan guru memiliki makna yang cukup mendalam bukan hanya kegiatan ritmis untuk memenuhi kelengkapan administratif. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. setiap guru harus memiliki persiapan mengajar yang matang sebelum melaksanakan pembelajaran. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. a. Konstruktivisme (constructivism) Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam hal ini anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. . 2. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. tetapi merupakan cerminan dari pandangan. menemukan sendiri. 2005: 82). sikap dan keyakinan profesional guru mengenai apa yang terbaik untuk peserta didiknya. persiapan tersebut mengemban “profesional accountability” sehingga guru dapat mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. baik persiapan tertulis maupun tidak tertulis (Mulyasa. Oleh karena itu. Ketujuh komponen utama itu adalah sebagai berikut ini.24 melaksanakan pembelajaran.

(3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca. akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Bertanya (questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. teman sekelas. Dengan demikian dalam proses perencanaan. tabel dan karya lainnya. Dalam pembelajaran melalui CTL. Karena itu peran bertanya sangat penting. c. guru tidak menyampaikan informasi begitu saja. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dan keingintahuan setiap individu. guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal. (2) mengumpulkan data melalui observasi. . Artinya. Adapun langkahlangkah kegiatan inquiry yaitu: (1) merumuskan masalah. akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.25 b. proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan. Menemukan (inquiry) Komponen kedua dalam CTL adalah inkuiri. atau audiens yang lain. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta dari mengingat. gambar. sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. bagan. akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri.

mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar. Dalam pembelajaran kontekstual. guru bukan satu-satunya model. Adapun . guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran.26 d. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi. pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu. dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Dalam pembelajaran kontekstual. Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. antar teman. e. Pemodelan (modeling) Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan. Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa yang lalu. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar” . f. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau juga dapat didatangkan dari luar. antar kelompok.

(5). (3). (c) menggunakan berbagai cara dan sumber. . kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu. g. pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu.27 realisasinya didalam kelas dapat berupa: (1). Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. (e) tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan kehidupan siswa yang nyata setiap hari. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar. kinerja. (6). (d) tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. catatan atau jurmal di buku siswa. cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari. hasil karya. dan produk). (4). 2003). maka guru segera bisa melakukan tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment) Authentic assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Adapun prinsip yang dipakai dalam penilaian autentik yaitu: (a) harus mengukur semua aspek pembelajaran (proses. serta (f) penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa. (b) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. bukan keluasannya (Nurhadi. (2). diskusi.

Penilaian kemampuan peserta didik Penilaian terhadap kemampuan peserta atau didik idealnya yang menggunakan pengukuran intelegensia potensi dimilikinya. tetapi juga harus dilakukan terhadap proses pembelajaran itu sendiri. raport dan hasil ulangan. 2004: 168). mengingat sulitnya alat ukur tersebut diperoleh guru. Adapun penilaian proses pembelajaran meliputi: 1. Penilaian proses pembelajaran Penilaian terhadap proses pembelajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pembelajaran itu sendiri. a. Penilaian Pembelajaran Kontekstual Penilaian adalah unsur yang penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar sekaligus sebagai umpan balik proses pembelajaran selanjutnya (Rohani.28 3. Namun. Penilaian dalam pembelajaran tidak semata-mata dilakukan terhadap hasil belajar. . Penialaian proses bertujuan untuk menilai efektivitas dan efisiensi pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program dan pelaksanaannya. maka guru dapat melakukan penilaian ini dengan mempelajari dan menganalisis kemajuan-kemajuan belajar yang ditunjukkannya. Artinya penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran. misalnya analisis hasil belajar.

cara memecahkan masalah. 3. cara menjawab pertanyaan. . kunjungan rumah. misalnya cara mengerjakan tugas. b. guru perlu mengamati tingkah laku peserta didik dalam berbagai situasi. Penilaian hasil pembelajaran Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. data pribadi. Karakteristik peserta didik Untuk mengetahui informasi mengenai karakteristik peserta didik.29 2. guru dapat menggunakan teknik pengamatan terhadap cara belajar. dan memberikan kuesioner atau daftar isian mengenai sifat dan karakter peserta didik. dialog dengan orang tuanya. Kebiasaan belajar Untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar peserta didik. 5. Minat. perhatian dan motivasi belajar peserta didik Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengamatan terhadap kegiatan belajar peserta didik. 4. melakukan wawancara. dan sebagainya. melakukan analisis. Pengetahuan awal dan prasarat Penilaian terhadap pengetahuan awal dan prasarat dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang relevan dengan bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik. dan cara diskusi.

Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama. . sosio kultural. 3. mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. bahasa. afektif dan psikomotorik secara seimbang. Sasaran penilaian Sasaran atau objek evaluasi hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif. F. Kerangka Berfikir Berdasarkan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. usia.30 Adapun penilaian hasil pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. dan tes sumatif yakni pada akhir suatu program atau pertengahan program. Prosedur pelaksanaan tes Penilaian hasil belajar dapat dilaksanakan dalam bentuk tes formatif yakni pada akhir pengajaran. terampil dan berkarakter seperti yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Alat penilaian Penggunaan alat penilaian hendaknya komprehensif yang meliputi tes dan bukan tes sehingga diperoleh gambaran hasil belajar yang objektif. 2. 1. suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas.

Belajar akan lebih bermanfaat jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. bukan transfer pengetahuan guru ke siswa. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Adapun tahap-tahap dalam pembelajaran kontekstual.31 Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau yang sering disingkat CTL merupakan salah satu strategi belajar yang diharapkan mampu mengefektifkan proses belajar mengajar dimana proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Sehingga pada akhirnya pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta. dapat dijelaskan sebagai berikut: . Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi “mengingat” jangka pendek. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. bukan “mengetahuinya”. dan ceramah menjadi pilihan utama strategi pembelajaran.

yaitu melaksanakan pembelajaran kontekstual dimana guru mengaitkan materi pelajaran dengan pembelajaran kontekstual yang meliputi: konstruktivisme (constructivism). maka guru harus membuat rencana remidial. Guru menganalisis nilai-nilai yang sudah masuk untuk disimpulkan siswa yang lulus atau belum lulus kompetensi. media pembelajaran yang akan digunakan. yaitu guru melakukan penilaian baik selama proses pembelajaran maupun setelah pembelajaran berlangsung. bertanya (questioning). misalnya siswa harus observasi ke lapangan. Tentunya dengan . Guru harus dapat merencanakan kegiatan siswa yang harus dilakukan oleh siswa. 2. Tahap keempat. Tahap kedua. yaitu setelah melaksanakan penilaian maka guru akan memperoleh hasil akhir pembelajaran. Dalam tahap ini siswa melaksanakan pembelajaran kontekstual secara individu maupun kelompok. Tahap ketiga. pemodelan ( modelling). 4.32 1. Bagi siswa yang telah lulus kompetensi guru bisa saja mengadakan pengayaan. refleksi (reflection). masyarakat belajar (learning community). dan penilaian yang sebenarya (authentic assessment). dan bagi siswa yang belum lulus kompetensi. wawancara atau pemodelan dalam kelas yang kesemuanya itu terungkap dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru sebelumnya. yaitu guru melakukan persiapan dan perencanaan yang matang sebelum pembelajaran kontekstual dilaksanakan yang meliputi kesiapan guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran. Tahap pertama. menemukan (inquiry). dan pemilihan metode. 3.

.33 perencanaan yang lebih baik lagi dan disesuaikan dengan peserta didik agar dapat lulus kompetensi.

lokasi yang peneliti pilih adalah SMA Negeri I Banjarnegara.BAB III METODE PENELITIAN A. maka lokasi penelitian perlu ditetapkan terlebih dahulu. 1999:2). Pemilihan lokasi di SMA Negeri I Banjarnegara karena di sekolah tersebut. Oleh karena itu. gambar. Dalam penelitin ini. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2004:4) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan deskriptif analisis adalah suatu pengumpulan data secara kaya dari suatu fenomena yang ada untuk dianalisis. sehingga diperoleh gambaran terhadap apa yang sudah diteliti. pelaksanaan pembelajaran 34 . Data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Penemuan kebenaran melalui kegiatan penelitian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Dasar Penelitian Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang bermaksud menemukan kebenaran (Rachman. Lokasi Penelitian Penetapan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertanggungjawabkan data yang diperoleh. tingkah laku. B.

Proses pembelajaran kontrekstual yang akan diteliti: a. Jadi dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inkuiri. Pertama. Disamping itu. persiapan media pembelajaran yang akan digunakan. dan c. cara mengajar guru. b. penetapan fokus berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusieksklusi atau kriteria masuk-keluar suatu informasi yang baru diperoleh di lapangan (Moleong. cara guru memberikan stimulus kepada siswa. penetapan fokus dapat membatasi studi. C. . 2004:92). pembuatan perangkat pembelajaran. Fokus Penelitian Penentuan fokus penelitian memiliki dua tujuan. dan c. 1. pemilihan metode yang akan digunakan. karena SMA Negeri I Banjarnegara merupakan salah satu SMA favorit yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Kedua. Di dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut. cara guru menyampaikan materi.35 kontekstual dilaksanakan pada semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Persiapan pembelajaran kontekstual yang akan diteliti: a. 2. Kurikulum yang digunakanpun telah disesuaikan dengan kurikulum yang saat ini berlaku yaitu Kurikulum Tingkat Suatu Pendidikan (KTSP). b.

laporan kegiatan siswa. keadaan dan fenomena-fenomena yang terjadi.36 3. tugas-tugas terstruktur. Jenis Data Sejalan dengan tujuan penelitian serta pendekatan yang digunakan maka jenis data yang digunakan dalam penelitian ini lebih banyak berbentuk kata-kata. ulangan harian. Sumber Data Penelitian 1. 2. tingkah laku atau tindakan serta fenomena-fenomena yang dihimpun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kegiatan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. D. Guna melengkapi dan mendukung sumber data utama digunakan sumber data tambahan yang berupa dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang terdapat di sekolah seperti Silabus. b. catatan perilaku harian. tingkah laku. c. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara serta siswa dan para pelaku kegiatan sekolah yang lainnya dengan harapan dapat memberikan informasi dan keteranganketerangan yang memadai sesuai dengan aspek kajian yang dirumuskan. Rencana Pelaksanaan . dan d. Kata-kata. Sistem penilaian pembelajaran kontekstual yang akan diteliti: a.

transkrip. buku. juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan (Rachman. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur dengan menggunakan alat bantu yaitu pedoman wawancara. majalah. 2004:186). daftar nama siswa kelas X dan daftar nama guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. prasasti. Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai perangkat pembelajaran guru. 1999:77). legger agenda. Daftar Nilai beserta komponen lainnya untuk dijadikan bahan studi kelayakan. dan sebagainya (Arikunto. 1997:206). surat kabar.37 Pembelajaran. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. . Metode Pengumpulan Data Penelitian disamping dengan menggunakan metode yang tepat. notulen rapat. Adapun metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara adalah: 1. Metode Dokumentasi Dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. Penggunaan teknik dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. E. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang membeikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong. 2. Metode Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Dimana dilakukan pengamatan atau pemusatan perhatian terhadap obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Validitas Data Penelitian Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. 1997:204). Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan. Suatu tes dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang hendak diukur.38 Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. . pendengaran dan pengecap (Arikunto. penciuman. Metode Observasi Metode observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap fenomena yang akan diteliti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpul data yang berupa pertanyaan yang ditujukan pada guru PKn dan siswa. F. dan lembar pengamatan komponen pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. 3. lembar pengamatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh guru. Metode ini digunakan untuk memperoleh data variabel proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan pendekatan kontekstual yang berupa lembar observasi atau lembar pengamatan yang terdiri dari lembar pengamatan silabus. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.

Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara 2.39 Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud (Arikunto. orang yang berpendidikan. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa. Membandingkan yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi 3. 2004:144). 1. Pemeriksaan keabsahan data diterapkan dalam membuktikan hasil penelitian dengan kenyataan yang ada dalam lapangan. Peneliti hanya menggunakan: (1). Teknik pemeriksaan data ini memanfaatkan sesuatu yang lain untuk keperluan pengecekan atau membandingkan triangulasi dengan sumber data dapat ditempuh dengan jalan sebagai berikut ini. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu 4. Akan tetapi dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan kelimanya untuk membandingkan. Lincoln dan Guba dalam bukunya Moleong (2004:176) untuk memeriksa keabsahan pada penelitian kualitatif maka digunakan taraf kepercayaan data dengan teknik triangulasi. membandingkan . pejabat pemerintah 5.

kategori. model analisis mengalir. penarikan kesimpulan) berinteraksi. model analisis interaksi. . Data yang diperoleh dari lapangan berupa data kualitatif dan data tersebut diolah dengan model interaksi. Setelah data terkumpul. Kedua. yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan serta melakukan pencatatan di lapangan. peneliti menggunakan metode yang kedua dari penjelasan diatas yaitu menggunakan model analisis interaksi untuk menganalisis data hasil penelitiannya. penarikan kesimpulan/verifikasi) dilakukan saling menjalin dengan proses pengumpulan data dan mengalir bersamaan. dimana tiga komponen analisis (reduksi data.40 data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. dan (2). sajian data. Menurut Milles dan Huberman dalam bukunya Maman Rachman (1999:20) ada dua metode analisis data: Pertama. dan satuan ukuran dasar sehingga ditemukan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data. Adapun langkah-langkah dalam model interaksi adalah sebagai berikut. Pengumpulan data Dalam hal ini peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. sajian data. Dalam penelitian ini. dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. G. maka tiga komponen analisis (reduksi data. 1. Metode Analisis Data Analisis data adalah proses pengorganisasian dan mensyaratkan data kedalam pola.

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang manajamkan. Penyajian data Penyajian data yaitu sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. 1992:19). Penyajian data merupakan analisis merancang deretan dan kolom-kolom dalam sebuah matriks untuk data kualitatif dan menentukan jenis dan bentuk data yang dimasukkan dalam kotak-kotak matriks (Milles.41 2. kekokohannya dan kecocokannya yang merupakan validitasnya (Milles. menggolongkan. Kesimpulan adalah suatu tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagaimana yang timbul dari data yang harus diuji kebenarannya. 1992:17-18). mengarahkan dan membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sekunder sedemikian rupa sehingga dapat ditarik dan diverifikasi (Milles. pengabstrakkan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. 4. Tahap analisis data dapat dilihat pada bagan berikut ini: . 3. Verifikasi data Verifikasi data adalah penarikan kesimpulan oleh peneliti berdasarkan analisis data penelitian. 1992: 15 – 16). Reduksi data Reduksi yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan.

yaitu mengadakan observasi pendahuluan di SMA Negeri I Banjarnegara. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini dilakukan meliputi 3 (tiga) tahap yaitu: 1.42 Pengumpulan Data Reduksi Data Penyajian Data Penarikan Kesimpulan / Verifikasi Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Tahap penelitian a. Pertama-tama peneliti melakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. 2. Pelaksanaan penelitian. membuat instrumen penelitian dan membuat surat ijin penelitian. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. Apabila ketiga tersebut selesai dilakukan. dan . b. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. maka diambil suatu keputusan atau verifikasi. Pengamatan secara langsung yang dilaksanakan di SMA Negeri I Banjarnegara mengenai pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn. H. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Tahap pra penelitian Dalam tahap ini peneliti membuat rancangan skripsi.

43 c. . Tahap pembuatan laporan Dalam tahap ini peneliti menyusun data hasil penelitian untuk dianalisis kemudian di deskripsikan sebagai suatu pembahasan dan terbentuk suatu laporan hasil penelitian. Kajian pustaka yaitu pengumpulan data dari informasi dan buku-buku. 3.

SMA Negeri I Banjarnegara telah menempatkan dirinya sebagai salah satu sekolah yang menjadi dambaan dan harapan warga masyarakat Banjarnegara khususnya dan Jawa Tengah umumnya. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kemudian diikuti dengan peraturan pelaksanaannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian di era globalisasi dewasa ini semakin mempertegas tuntutan diatas dan bahwa lulusan SMA Negeri I Banjarnegara harus memiliki kemampuan lebih dalam segala bidang moral maupun akademis/non akademis.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Visi dan Misi SMA Negeri I Banjarnegara berdiri sejak tanggal 1 Agustus 1961. Tinjauan Umum Sekolah yang Diteliti a. Dalam usianya yang telah lebih dari 40 tahun tersebut. Hasil Penelitian 1. Dambaan tersebut mengandung arti suatu tuntutan agar semua pelaksana kependidikan di SMA Negeri I Banjarnegara harus selalu meningkatkan kwalitas dan kinerjanya agar SMA Negeri I Banjarnegara selalu menjadi sekolah terbaik mutunya dalam mengelola kegiatan kependidikan. 44 .

10) Unggul dalam lomba keterampilan. 1) Luas dalam wawasan keilmuan agama. 4) Unggul dalam perolehan ujian nasional. 6) Unggul dan lomba olahraga. Optimis dalam menghadapi tantangan serta Prestasi yang unggul”. 2) Unggul dalam aktivitas keagamaan. semua warganya mempunyai akhlak yang mulia dan tanggung menghadapi segala tantangan. 7) Unggul dalam kedisiplinan. Indikator Visi tersebut adalah sebagai berikut. 3) Unggul dalam persaingan SPMB. Dengan Visi ini. Jika disingkat Visi tersebut berbunyi “TOP” yang artinya SMA Negeri I Banjarnegara akan berusaha sekuat tenaga supaya menjadi “TOP”. menjadi yang teratas baik dalam bidang akademik maupun non akademik. 8) Unggul dalam lomba keterampilan berbahasa. . semua warga sekolah diharapkan memiliki arah kedepan yang jelas dan memiliki motivasi yang kuat dalam rangka mendukung tercapainya Visi tersebut melalui Misi yang jelas yang akan dilakukan.45 Untuk mewujudkan tujuan diatas sekaligus merespon kebijakan pemerintah di era reformasi yaitu Otonomi Daerah dibidang pendidikan yang diberlakukan di seluruh Indonesia SMA Negeri I Banjarnegara menetapkan Visi sekolah “Teguh dalam iman dan taqwa. 5) Unggul dalam kegiatan ilmiah remaja. 9) Unggul dalam lomba kesenian.

segenap warga SMA Negeri I Banjarnegara diharapkan mempunyai gambaran yang jelas tentang keberadaanya di masa depan dengan meningkatkan dedikasi dan loyalitas. 6) Menerapkan managemen partisipasi dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan pelanggaran sekolah. 1) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut sehingga menjadi sumber kearifan dan kebijakan dalam bertindak. siswa-siswi dan masyarakat.46 Berdasarkan pada Visi sekolah yang dilengakapi dengan indikator diatas. . kerjasama yang baik antara segenap tenaga kependidikan. ditetapkan Misi yang jelas sebagai berikut. kesenian. 2) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki. Dengan Visi diatas itu. 4) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya melalui kegiatan olahraga. keterampilan komputer dan keterampilan berbahasa asing khususnya bahasa Inggris. 3) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara optimal. 5) Membiasakan warga sekolah khususnya para siswa untuk selalu berdisiplin.

Adapun hasil dari pengamatan yang peneliti lakukan di SMA Negeri I Banjarnegara. 2. program semester. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual Persiapan atau perencanaan merupakan faktor yang sangat mendukung dan memegang peranan yang sangat penting untuk dapat melaksanakan suatu pembelajaran yang baik dan untuk dapat menciptakan sebuah kondisi yang kondusif yang dalam kegiatan belajar mengajar dapat mendorong peserta didik untuk dapat lebih mudah menguasai sejumlah kompetensi sebagaimana yang termuat dalam kurikulum. guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara pada dasarnya tidak mengalami kesulitan. Pembuatan perangkat pembelajaran dilakukan sebagai langakah awal guru agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).47 7) Mendorong warga sekolah khususnya para siswa untuk mngembangkan budaya gemar membaca dan menulis. Hanya saja seringkali guru membuat perangkat pembelajaran karena adanya tuntutan . maka guru SMA Negeri I Banjarnegara termasuk guru PKn dituntut untuk dapat mempersiapkan sebaik mungkin segala sesuatu yang sekiranya perlu dalam sebuah proses belajar mengajar. perhitungan minggu efektif. sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru membuat perangkat pembelajaran yang meliputi program tahunan. pengembangan silabus dan sistem penilaian. Dalam pembuatan perangkat pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebut.

serta alokasi waktu selama 1 tahun. Untuk perangkat pembelajaran selain silabus. Berisi jumlah minggu keseluruhan dalam 1 semester. 2. dan distribusi waktu dalam 1 semester. Sehingga perangkat pembelajaran yang seharusnya sudah jadi diawal semester sebelum dimulai kegiatan belajar mengajar. alokasi waktu (bulan/minggu). Standar Kompetensi. guru membuat sendiri dengan berpedoman Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kalender pendidikan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Program Program Tahunan Eksistensi Sudah dibuat Keterangan Berisi identitas satuan pelajaran. Program Semester Sudah dibuat 3. pencapaian target pembelajaran. Mengenai eksistensi perencanaan program pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Perhitungan Minggu Efektif Sudah dibuat . No 1. Artinya rencana atau program yang telah dibuat oleh guru terkadang tidak sesuai dengan waktu atau pelaksanaan yang telah ditentukan dikarenakan suatu sebab tertentu sehingga guru perlu menyesuaikan dan memperhitungkan alokasi waktu untuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Berisi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. terkadang baru jadi sesaat setelah berlangsung kegiatan belajar mengajar. dan Kompetensi Dasar.48 atau kewajiban dari pihak sekolah. jumlah minggu tidak efektif. dan keterangan. Sehingga pada akhirnya semua kompetensi pada mata pelajaran PKn dalam satu semester dapat dicapai oleh siswa. Adapun perangkat pembelajaran tersebut bersifat kondisional.

49

4.

Sudah Pengembangan Silabus dan dibuat Sistem Penilaian

5.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Sudah dibuat

6.

Program Pengayaan Remidial

Sudah dan direncanakan

Berisi identitas satuan pelajaran, perumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, sistem penilaian dan pemilihan sumber bacaan/belajar. Berisi identitas satuan pelajaran, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, indikator, materi pokok, strategi pembelajaran, media pembelajaran, penilaian, dan sumber bacaan/belajar. Hanya dibuat guru jika ada siswa yang tidak tuntas belajar.

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut. a. Program Tahunan Program tahunan sudah disusun oleh guru PKn dengan acuan kalender pendidikan yang telah ditetapkan oleh sekolah. Program tahunan dibuat sebelum proses pembelajaran dimulai dan harus diserahkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah untuk memperoleh persetujuan. Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara sudah membuat program tahunan dengan baik, hal ini ditandai dengan format program tahunan yang dibuat sudah sesuai dengan format yang ada dalam kurikulum yang berlaku saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Lihat lampiran 5).

50

b. Program Semester Sama halnya dengan program tahunan, guru sudah membuat program semester dengan baik, hal ini ditandai dengan program semester yang dibuat sudah memuat mengenai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, alokasi waktu (bulan/minggu), pencapaian target pembelajaran, dan keterangan. Program semester juga telah diserahkan kepada Kepala Sekolah dan telah memperoleh persetujuan sebelum digunakan untuk mengajar (lihat lampiran 6). c. Perhitungan Minggu Efektif Perhitungan minggu efektif diperoleh dari jumlah minggu keseluruhan dalam satu semester dikurangi jumlah minggu tidak efektif dalam satu semester. Misalnya dalam satu semester terdiri dari 6 bulan (20 minggu), sedangkan minggu tidak efektif yaitu untuk ulangan umum, ulangan blok, persiapan pembagian raport, dan cadangan selama 5 minggu, maka dalam 20 minggu dipotong 5 minggu. Sehingga jumlah mingggu yang efektif untuk kegiatan belajar mengajar sebanyak 15 minggu. Adapun perhitungan minggu efektif tersebut kemudian dibuat distribusi waktu untuk masing-masing Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar (lihat lampiran 7).

51

d. Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Didalam penyusunan dan pengembangan silabus, guru Pkn diberi kewenangan yang cukup luas untuk mengembangkan silabus yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah serta karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik, namun

pengembangan silabus di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Adapun indikator ketercapaian materi pelajaran dalam silabus PKn di SMA Negeri I Banjarnegara meliputi beberapa aspek diantaranya kemampuan siswa dalam menganalisis, menguraikan,

menyimpulkan, menunjukkan, menerapkan mendeskripsikan dan juga mensimulasikan. (lihat lampiran 9). e. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara sudah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan baik. Hal ini ditandai dengan guru mengembangkan RPP dari setiap pokok bahasan / Standar Kompetensi yang akan disampaikan. Selain itu, format desain pembelajaran yang dibuat oleh guru sudah memuat identitas satuan pelajaran (sekolah, mata pelajaran, kelas/semester) dan isi yaitu Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, indikator, alokasi waktu, tujuan pembelajaran, materi pokok, metode, strategi pembelajaran, sumber dan media belajar serta penilaian hasil belajar. Adapun langkah-langkah pembelajaran yang muncul

f.52 dalam RPP yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara mencakup pendahuluan. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 8. Proses Pembelajaran Kontekstual Berdasarkan hasil pengamatan kelas yang peneliti lakukan dari tanggal 2 sampai 14 April 2007 di SMA Negeri I Banjarnegara. guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara mengadakan di setiap akhir ulangan baik ulangan blok maupun ulangan akhir semester. kegiatan inti. dapat diuraikan bahwa suasana kelas saat proses pembelajaran PKn berlangsung cukup baik. Untuk program remidial ini. Seperti yang peneliti amati pada saat guru memberikan materi pokok bahasan Menghargai Persamaan Kedudukan Warga Negara dalam Berbagai Aspek Kehidupan. 3. dan penutup yang pengalokasian waktunya disesuaikan dengan pokok bahasan yang ada. Sedangkan bagi siswa yang telah tuntas belajar diberikan kesempatan untuk mempertahankan kecepatan belajarnya yang diatas pengayaan. rata-rata dengan melalui kegiatan . Program Pengayaan dan Remidial Guru memberikan perlakuan khusus bagi siswa yang mendapat kesulitan belajar melalui kegiatan remidial. Kegiatan awal pembelajaran yang dilakukan guru yaitu memberikan motivasi kepada siswa dengan cara menggali pengetahuan siswa tentang topik yang telah diberikan maupun tentang topik yang akan diberikan.

53 Awal pertemuan. pembelajaran dengan metode ceramah tersebut dilakukan oleh guru mengingat materi pelajaran PKn cukup banyak sehingga kalau sering menggunakan metode yang lain dikhawatirkan dalam satu semester . Secara serempak dan tidak beraturan sebagian besar siswa menjawab pertanyaan guru. Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara masih cenderung menggunakan metode ceramah. Guru masih harus mengendalikan dan menunjuk siswa untuk menjawab. tetapi siswa belum mempunyai keberanian untuk menjawab sendiri. meskipun kadang juga divariasi dengan metode yang lain seperti simulasi di depan kelas dan diskusi. Hal ini menunjukkan bagaimana keaktifan siswa di kelas. guru memberikan ilustrasi atau gambaran nyata mengenai bagaimana cara memperoleh status warga negara dan hilangnya status warga negara. Sigit Budi Nurani (guru PKn kelas XI). guru sedikit mengulang materi yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya dengan pertanyaan-pertanyaan singkat. Menurut Drs. Seringkali guru hanya memberikan materimateri pelajaran dan kemudian setelah selesai pemberian materi maka akan dilanjutkan dengan pemberian soal-soal kepada siswa untuk dikerjakan. Memasuki topik baru. dimana pertanyaan yang diberikan guru hampir semua dapat dijawab oleh siswa dengan benar meskipun siswa tidak menjawab jika tidak ditunjuk oleh guru.

karena siswa secara langsung dapat membangun pengetahuan yang sudah ada pada diri siswa itu sendiri. Guru memberikan metode yang lain seperti simulasi ataupun diskusi kelompok untuk menjaga agar siswa tidak merasa jenuh dengan metode pembelajaran yang dilakukan guru yaitu ceramah.54 materi ada yang tidak tersampaikan kepada siswa. atau juga guru memberikan tugas kelompok untuk mendiskusikan dan mencari jalan keluar suatu permasalahan yang ada di masyarakat kemudian dipresentasikan di depan kelas. namun guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara tetap berusaha menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif. (wawancara 12 April 2007). Hal tersebut tentunya memberikan efek yang positif terhadap siswa. Meskipun dalam penyampaian materi pelajaran guru sering menggunakan metode ceramah. Dalam pemberian materi pelajaran. serta dapat menjadi bekal yang cukup dalam hidup bermasyarakat baik sekarang maupun yang akan datang. Menurutnya metode ceramah merupakan salah satu metode yang dianggap cukup efektif dalam pembelajaran PKn. membangun daya kritis dan kreatifitas siswa. Siswa banyak dilibatkan secara langsung dalam proses belajar mengajar misalnya guru memberikan tugas kepada siswa untuk mensimulasikan tata cara pemilihan kepala desa di depan kelas. guru mengambil sumber bahan dari buku paket dan lembar kerja siswa (LKS). Biasanya guru menjelaskan materi yang sudah ada di LKS namun jika materi yang ada .

sampai dengan tugas pembuatan makalah dengan tema-tema tertentu yang sumber bahannya diambil dari media massa ataupun internet yang selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. tugas kelompok untuk simulasi di depan kelas. Dalam penilaian pembelajaran PKn yang dilaksanakan dengan teknik tes.55 dalam LKS tersebut kurang. Adapun penilaian pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. Penilaian dapat dilaksanakan melalui teknik tes dan non tes. Penilaian Pembelajaran Kontekstual Penilaian adalah unsur penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar sekaligus sebagai umpan balik proses pembelajaran selanjutnya. Pemberian tugas-tugas tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kreatifitas serta cara berpikir kritis siswa. guru lebih . Adapun pemberian tugas oleh guru kepada siswa sudah mulai bervariasi yaitu mulai dari tugas mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS. 4. sehingga nantinya setelah mereka terjun di masyarakat mereka menemui masalah yang hampir sama maka tidak akan mengalami kesulitan yang berarti karena sudah mendapat pengalaman sebelumnya. guru melakukannya secara terintegrasi baik selama proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. Hasil penilaian tersebut digunakan guru sebagai alat evaluasi untuk mengetahui dimana dan dalam hal apa siswa perlu memperoleh bimbingan untuk mencapai ketuntasan belajar secara maksimal. guru menambahinya dengan penjelasan atau memberikan catatan tambahan kepada siswa.

Namun demikian sudah barang tentu apabila guru melaksanakan penilaian non tes. yaitu bisa diterima oleh semua pihak.Pd (guru PKn kelas X dan XI) tanggal 12 April 2007. Keputusan apa yang akan diambil tetap berada pada jalur objektif. Pernyataan diatas mengandung arti bahwa sesungguhnya guru harus mampu memberikan nilai pada siswa secara apa adanya (objektif). sudah dapat dipastikan sikap subjektivitas akan muncul. Maksudnya.56 menekankan pada soal-soal yang berbentuk uraian dengan kadar kesulitan yang cukup tinggi. beliau mengemukakan bahwa ”perlu pertimbangan yang cukup matang dalam memberi nilai kepada siswa terutama bagi mereka yang catatan perilakunya tergolong sangat baik namun nilai tesnya jelek. maka tidak akan mempengaruhi guru dalam memberikan nilai secara objektif”. Menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Ibu Purwati. Sedangkan penilaian yang dilakukan dengan teknik non tes. Tetapi apabila sebaliknya jika siswa mempunyai catatan perilaku yang kurang baik namun nilai tesnya bagus. sehingga aspek yang dinilai tidak hanya pada ingatan. bahwa dalam melaksanakan penilaian non tes. S. tetapi juga pada penerapan dan kemampuan analisis siswa. guru biasanya memberikan nilai plus (+) bagi mereka. pemahaman. guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara biasa melakukannya dengan membuat catatan mengenai sikap dan perilaku siswa selama di sekolah. Hal ini tidak menjadi persoalan sepanjang subjektivitas tersebut bersifat objektif. guru dituntut untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan subjektivitasnya melalui berbagai judment atau perkiraan tentang sikap dan perilaku siswa. .

a.57 Tingkat ketercapaian materi dan daya serap siswa dalam mencapai ketuntasan belajar di SMA Negeri I Banjarnegara dapat diukur dengan melaksanakan hal-hal berikut ini. Bagi siswa yang belum mencapai batas tuntas. c. Penilaian Akhir Semester/Ulangan Komprehensif. dilaksanakan dengan sistem penilaian berkelanjutan yang meliputi aspek kognitif dan afektif. Adapun ketentuan mengenai sistem bonus adalah sebagai berikut. Penilaian Ulangan Blok. dilaksanakan pada pertengahan semester dengan materi tes adalah kompetensi dasar yang belum diteskan atau diulangkan. b. dilaksanakan pada setiap akhir semester dengan materi tes semua kompetensi dasar pada semester yang bersangkutan. Sistem penilaian yang diterapkan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara yaitu dengan sistem bonus. a. diadakan remidi pada kompetensi dasar yang belum tuntas maksimal dua kali. Penilaian Ulangan Harian. Ujian pertama/utama Ujian Lulus / tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi I Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi II Tuntas Tidak tuntas Nilai Akhir Ditambah 4 dari nilai yang diperoleh Ditambah 2 dari nilai batas tuntas Tidak ditambah (= nilai batas tuntas) Nilai tertinggi yang diperoleh .

kemudian diadakan evaluasi ulang. Kegiatan pengayaan yang diadakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara biasanya . Ujian susulan (ujian pertama tidak ikut karena sakit atau ijin) Ujian Lulus / tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi I Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi II Tuntas Tidak tuntas Nilai Akhir Ditambah 2 dari nilai yang diperoleh Ditambah 1 dari nilai batas tuntas Tidak ditambah (= nilai batas tuntas) Nilai tertinggi yang diperoleh c.58 b. Remidiasi ditekankan pada materi yang belum memenuhi standar komopetensi. Siswa yang batas tuntasnya kurang dari 65 harus mengikuti remidiasi. diadakan pengayaan. yaitu 65. Ujian susulan (karena ujian pertama tidak ikut tanpa alasan) Ujian Lulus / tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi I Tuntas Tidak tuntas Remidi II tuntas Nilai Akhir Ditambah 2 dari nilai batas tuntas Tidak ditambah (= nilai batas tuntas) Nilai tertinggi yang diperoleh Dalam pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara batas minimal yang harus diperoleh siswa atau batas ketuntasan belajar ditentukan oleh sekolah. Artinya nilai siswa setelah diakumulasikan harus mencapai 65 atau lebih. Sedangkan bagi siswa yang mencapai batas ketuntasan belajar 65 atau lebih.

jawaban singkat. dkk (2003:20-21) bahwa tahap-tahap pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: (1) merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa. Instrumen penilaian yang digunakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara meliputi dua bentuk yaitu tes dan non tes. (3) menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri. Sedangkan untuk instrumen non tes yaitu dengan melakukan pengamatan.59 dilakukan pada saat menjelang diadakan ulangan. (2) membentuk kelompok belajar yang saling tergantung. tahap proses pembelajaran kontekstual. serta menjodohkan. Dari tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran kontekstual di SMA Negeri I Banjarnegara tersebut. keaktifan dalam bertanya dan ketetapan waktu mengumpulkan tugas. ulangan blok maupun ulangan akhir semester. pilihan ganda. dan tahap penilaian pembelajaran kontekstual. yaitu tahap persiapan pembelajaran kontekstual. Sebagaimana diungkapkan oleh Nurhadi. baik ulangan harian. Pembahasan Berdasarkan dari hasil penelitian dapat dilihat ada tiga tahap dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri I Banjarnegara. uraian. Guru membuat skala sikap atau minat misalnya mengenai kehadiran di kelas. Bentuk instrumen tes diantaranya adalah dengan pertanyaan lisan. dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan baik karena hampir sesuai dengan prinsip penerapan pembelajaran kontekstual. (4) . B.

Namun demikian hal tersebut tidak menjadi persolan yang begitu berarti karena sekolah dapat mempertahankan kualitas dan mutu hasil belajar mengajar. 1) Perencanaan Pembelajaran Kontekstual Guru dituntut untuk berusaha sedapat mungkin agar pembelajaran berhasil. (6) menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran siswa. minat siswa. (2) membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa. dan (7) menerapkan penilaian autentik. Meskipun pelaksanaan pembelajaran kontekstual di SMA Negeri I Banjarnegara dapat dikatakan cenderung dilaksanakan dengan baik. . namun keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran PKn masih kurang sehingga dalam proses pelaksanaan pembelajaran kurang maksimal. (5) memperhatikan multi-intelegensi siswa. Menurut Hamalik (2001:135) pada dasarnya perencanaan megajar yang dibuat oleh guru berfungsi untuk: (1) memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. serta (4) memberikan kesempatan bagi guruguru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya. dan mendorong motivasi belajar.60 mempertimbangkan keragaman siswa. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu ialah guru senantiasa nembuat perencanaan mengajar sebelumnya. (3) mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar.

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muataqn dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan. memberikan umpan balik. Adapun prinsip-prinsip pengembangan silabus bedasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) antara lain: (a) Ilmiah. pengertian silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan / atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. kompetensi dasar. indikator. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok pembelajaran. tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam sibus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik. melakukan perbaikan. penilaian alokasi waktu. dan spriritual peserta didik. materi pokok/pembelajaran. emosional. Cakupan. Silabus dapat berfungsi untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. mendiagnosis kesulitan belajar. kegiatan pembelajaran. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. dan sumber/bahan/alat belajar. intelektual. kedalaman. (b) Relevan. motivasi guru agar mengajar lebih baik dan memotivasi siswa agar belajar lebih baik. . (c) Sistematis. dan indikator pencapaian untuk penilaian. sosial.61 Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

indikator. dan seni yang mutakhir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi. Cakupan indikator. (h) Menyeluruh. Cakupan indikator. sumber belajar. pengalaman belajar. Komponen silabus mencakup kompetensi yaitu kognitif. materi pokok. pengalaman belajar. materi pokok. (e). Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi pengalaman belajar. Aktual dan kontekstual. Adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar. kesempatan mengembangkan ide/gagasan/kreativitas tersebut tidak dimanfaatkan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. teknologi. materi pokok. dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. sumber belajar. Penyusunan dan pengembangan silabus oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan secara bersama-sama . (f) Memadai. menyusun serta membuat silabus sendiri dengan memperhatikan Namun karakter siswa. sistem penilaian. sumber belajar.62 (d) Konsisten. dan keragaman peserta didik. (g) Fleksibel. afektif dan psikomotor. Apabila dilihat dari segi prinsip-prinsip pengembangan silabus sebagaimana telah terurai diatas. dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu. maka sebenarnya guru memiliki kewenangan untuk merancang. kondisi untuk sekolah dan keseluruhan ranah lingkungannya. serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

Dari uraian mengenai perencanaan pembelajaran diatas. bila pembuatan dan pengembangan silabus dilakukan secara bersama oleh MGMP. Namun demikian. Hal tersebut tentunya tidak menyalahi aturan atau kurikulum yang ada karena dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa apabila guru mata pelajaran karena suatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. maka bukan tidak mungkin guru akan merasa enggan untuk membuat dan mengembangkan silabus secara mandiri karena terpancang pada silabus yang telah ada. maka sebaiknya bergabung dengan sekolahsekolah lain melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP setempat.63 dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (MGMP PKn) se-kabupaten Banjarnegara. Dan apabila sekolah belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. maka silabus dan RPP yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara pada dasarnya sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual dimana didalamnya termuat unsur-unsur atau 7 pilar pembelajaran kontekstual seperti misalnya konstruktivisme dan inkuiri yang merupakan bagian dari pilar pembelajaran kontekstual diwujudkan .

Dalam KTSP seperti halnya KBK. dan (2) penguatan non verbal yang dapat dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik. Dalam pembelajaran. tepat. bapak/ibu puas dengan hasil kerja kalian. sentuhan. acungan jempol. tugas guru yang paling penting atau utama adalah mengkondisikan lingkungan sehingga terjadi perubahan perilaku bagi peserta didik (Mulyasa. dan menunjukkan. sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Menurut Sigalingging (2004) penguatan dibagi menjadi dua macam yaitu: (1) penguatan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian seperti bagus. Penguatan .. sedangkan guru hanya menciptakan suasana yang mendorong timbulnya motivasi belajar pada siswa sekaligus sebagai fasilitator. Sehingga dalam proses pembelajaran siswa merupakan sentral kegiatan atau pelaku utama.64 dalam RPP yaitu melalui indikator mendeskripsikan. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 8. Salah satu tugas guru dalam proses belajar mengajar (PBM) yaitu terus memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar mengeluarkan atau menyampaikan pendapat. menganalisis. belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemhaman terhadap konsep. Salah satu bentuk motivasi guru PKn terhadap siswa yaitu dengan cara memberikan penguatan (reinforcement) pada peserta didiknya. maupun ideidenya. 2) Proses Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. dan kegiatan yang menyenangkan. 2005). gagasan.

(3) dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar. Sedangkan kelemahan metode ceramah yaitu : (1) mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). Djamarah dan Zain (2002:109) menyatakan bahwa dalam penggunaan metode ceramah terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan. (4) guru menyimpulkan bahwa . Meskipun metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan metode ceramah oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara masih sangat dominan jika dibandingkan dengan penggunaan metode-metode yang lain. (3) bila selalu digunakan dan terlalu lama membosankan.65 bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran. serta guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik. (4) mudah mempersiapkan dan melaksanakannya. merangsang dan meningkatkan motivasi belajar. (2) yang visual menjadi rugi sedang yang auditif (mendengar) lebih besar menerimanya. apalagi dalam pembelajaran dimana sekolah kurang fasilitas dalam mendukung kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. serta meningkatkan kegiatan belajar dan membina perilaku yang produktif. Metode ceramah merupakan metode tradisional karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Kelebihan metode ceramah yaitu: (1) guru mudah menguasai kelas. tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pembelajaran. (2) mudah mengorganisasikan tempat duduk atau kelas.

66 siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya. dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran efektif yaitu: konstruktivisme. pemodelan. bertanya. Pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaannya. (4) fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya. Dalam kegiatan belajar mengajar. (2) anak didik yang berbagai tingkat kematangannya. dan (5) pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian siswa sehingga siswa dapat belajar seoptimal mungkin. masyarakat belajar. dan penilaian sebenarnya. serta (5) menyebabkan siswa menjadi pasif. menemukan. . Pelaksanaan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata nyata dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dalam penerapan kehidupan mereka sehari-hari. refleksi. (3) situasi yang berbagai keadaannya. Disinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. Winarno dalam Djamarah dan Zain (2002:54) disebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar yaitu: (1) tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya.

dengan diistilahkan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik tidak dilakukan dalam sekali waktu. Konstruktivisme (constructivisme) Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari pembelajaran kontekstual yaitu pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik dibangun sendiri oleh peserta didik sedikit demi sedikit atau pengetahuan dilakukan secara bertahap. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator. mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan yang baru diperoleh. . Tugas guru dalam hal ini adalah memfasilitasi dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. menemukan. berbangsa dan bernegara yang dikerjakan oleh siswa secara berkelompok. dan dibuat laporan dalam bentuk tertulis untuk selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. guru hanya menyampaikan beberapa contoh kasus kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia.67 a. Didalamnya terdapat pengalaman belajar yaitu mendeskripsikan dan menganalisis artikel yang menampilkan persamaan kedudukan warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. Cara penerapan komponen konstruktivisme adalah dengan menghubungkan pola pemikiran peserta didik atau dengan menanamkan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna bila dilakukan dalam bekerja. Dalam perangkat pembelajaran yang dibuat dan digunakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara yaitu dalam RPP kelas X pokok bahasan kelima terdapat makna konstruktivisme.

Dalam prakteknya. sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan menarik dan menyenangkan. Untuk itu tugas guru yang diemban adalah memberikan stimulus respon pada peserta didik agar peserta didik lebih memahami dan menemukan segala hal-hal yang hangat sebagai pengalaman baru yang harus diketahuinya. Dalam proses pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara terdapat komponen menemukan atau inquiry yang diterapkan oleh guru kepada siswa yaitu dalam pengalaman belajar mempresentasikan dan mengilustrasikan berbagai kasus pelanggaran HAM. maupun internet yang kemudian didiskusikan oleh kelompoknya masing-masing untuk selanjutnya dipresentasikan di . Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. Tujuan dari menemukan adalah memupuk kreatifitas dan kekritisan dari diri peserta didik. siswa mencari sumber bahan secara kelompok mengenai contoh kasus-kasus pelanggaran HAM di berbagai media massa. b.68 misalnya kasus-kasus mengenai status kewarganegaraan di kalangan artis yang mana siswa biasanya lebih tertarik dan cepat merespon. media elektronik. apapun materi yang diajarkan. hal ini juga memancing rasa keingintahuan dari benak peserta didik untuk selalu mengungkapkan berbagai hal atau sesuatu yang baru. Menemukan (inquiry) Inkuiri merupakan kegiatan yang mendorong seluruh pikiran dan tubuh untuk bersama-sama aktif di dalam maupun di luar kelas.

Tugas guru dalam hal ini adalah mendorong dan mengarahkan peserta didik untuk mengetahui tentang sesuatu dan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik serta menghilangkan ketakutan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan. bertanya tidak harus dilakukan antara peserta didik dengan guru tetapi dapat pula dilakukan diantara peserta didik satu dengan peserta didik yang lain sehingga terjadi proses saling belajar diantara peserta didik. diharapkan akan dapat melatih peserta didik untuk dapat berpikir secara kritis. . mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam proses belajar mengajar. Dengan bertanya. Bertanya (questioning) Bertanya merupakan sarana untuk mengembangkan rasa keingintahuan peserta didik dan tidak jarang digunakan oleh guru untuk mengetahui dan menilai kemampuan siswanya dalam menerima materi yang telah disampaikan. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri yaitu menggapai informasi. Siswa diberikan kesempatan dan kebebasan untuk dapat mengilustrasikan dan mengemukakan pendapatnya sedangkan guru hanya mengarahkan sekaligus mengendalikan kelas agar tetap kondusif. c.69 depan kelas.

Dalam kelas CTL. Hal semacam itu dimaksudkan agar siswa terdorong untuk berpikir kritis serta membangun rasa kepercayaan diri siswa dalam menjawab pertanyaan. Masyarakat belajar (learning community) Masyarakat belajar merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. d. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Namun kegiatan bertanya yang dipadu dengan ceramah pemberian materi kurang begitu menyita antusias siswa untuk aktif bertanya. guru melengkapi. Dalam menjawab pertanyaan siswa. Masyarakat belajar dapat tercipta apabila ada proses komunikasi dua arah. Siswa diberi kesempatan bertanya pada guru baik sebelum maupun sesudah guru menyampaikan materi. guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompokkelompok belajar. Baru kalau siswa tidak bisa atau kurang sempurna dalam menjawab. Kegiatan saling belajar tersebut bisa terjadi apabila tidak ada pihak . Guru biasanya menyampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah tanya jawab. yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu dan seterusnya. Yang pandai mengajari yang lemah. Biasanya siswa lebih antusias untuk bertanya dalam sebuah diskusi-diskusi kelas. biasanya guru tidak langsung menjawabnya sendiri tetapi dilemparkan pada siswa.70 Kegiatan bertanya dalam pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara diterapkan hampir disetiap proses belajar mengajar.

Melalui kegiatan masyarakat belajar atau diskusi ini. karena siswa diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya dengan cara bertukar informasi antara siswa satu ke siswa lainnya ataupun siswa ke guru. Komponen masyarakat belajar oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara diwujudkan dalam bentuk diskusi-diskusi kelompok. Pemodelan dapat berupa demonstrasi. lebih bermakna. selanjutnya guru memberikan topik permasalahan yang berbeda-beda kesemua kelompok untuk didiskusikan yang kemudian dipresentasikan dan dibahas bersama di depan kelas. e. Guru bukan satu satunya model. Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang. pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. karena model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau juga di datangkan dari luar. Pemodelan (modeling) Pemodelan pada dasarnya membahas gagasan yang dipikirkan. mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. tidak ada pihak yang menganggap paling tahu dan semua pihak saling mendengarkan. . aktifitas anak dalam kelas lebih tinggi. Dalam artian bahwa bagi siswa pembelajaran akan dirasa lebih menyenangkan.71 yang merasa segan untuk bertanya.

72

Adapun komponen pemodelan dalam pembelajaran PKn diwujudkan dalam berbagai bentuk. Selain guru sebagai model dalam kelas, tidak jaran siswa dilibatakan sebagai model dalam proses belajar mengajar. Selain itu komponen pemodelan juga diwujudkan dalam bentuk simulasi. Sebagai contoh dalam pengalaman belajar berupa menampilkan peran serta dalam sistem politik di Indonesia, guru memberi tugas kepada siswa untuk mensimulasikan didepan kelas tata cara pemilihan kepala desa. Dengan adanya simulasi atau pemodelan tersebut, siswa dirangsang untuk menjadi kreatif dan mencoba menampilkan segala kemampuannya. f. Refleksi (reflection) Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dalam masa lalu. Refleksi dilakukan dengan tujuan agar peserta didik dapat mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari, sehingga kelak dapat menjadi tolak ukur di dalam mengadakan suatu penilaian. Kegiatan refleksi atau mengevaluasi diri sendiri baik dilakukan, karena hal itu merupakan siklus kehidupan nyata. Mengalami-umpan balik dan berusaha berkali-kali akan lebih efektif daripada jika siswa dibiarkan memahami pengetahuan secara sepotong-sepotong dan mengandalkan penilaian dari orang lain (guru). Kegiatan refleksi dalam pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan pada setiap akhir pemberian materi oleh guru

73

dan juga dilakukan pada saat menjelang ulangan baik ulangan tengah semester maupun ulangan semester. Namun demikian dalam refleksi yang dilakukan oleh guru di akhir pemberian materi, terkadang tidak terlaksana karena sebelum guru memberikan refleksi atau memberi pertanyaan pada siswa mengenai hal-hal yang belum jelas, jam pelajaran sudah selesai. g. Penilaian sebenarnya (authentic assessment) Penilaian sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat dan benar sehingga siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode atau semester tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Adapun penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara mencakup penilaian proses pembelajaran dan

penilaian hasil pembelajaran. Dalam penilaian proses pembelajaran, guru lebih menekankan pada segi afektif yaitu dengan memberi

74

catatan mengenai aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar, keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, maupun ketepatan siswa dalam mengumpulkan tugas. Sedangkan untuk penilaian hasil belajar, penekanannya yaitu pada segi kognitif. Guru menilai tingksat kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran dengan cara memberikan tes atau ulangan baik dalam bentuk essay tes maupun objektif tes. 3) Penilaian Pembelajaran Kontekstual Penilaian dapat dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk mengambil suatu keputusan yang didasarkan atas data yang telah disusun secara sistematis. Penilaian yang merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran, dalam pelaksanaannya di kelas tidak hanya yang bersifat produk yaitu dilaksanakan setelah selesai proses pembelajaran, akan tetapi harus dilaksanakan juga pada awal proses pembelajaran. Hal ini terlebih dalam mata pelajaran PKn yang mempunyai tujuan dan misi mengembangkan aspek civic intellegence, civic responcibility, dan civic participation, maka bukan hanya dilakukan melalui penilaian produk atau hasil tetapi juga melalui penilaian proses. Melalui kegiatan penilaian yang dilakukan pada awal dan akhir kegiatan pembelajaran, segala informasi dan data yang didapat mengenai diri siswa akan jauh menjadi lebih lengkap, misalnya bagaimana aktifitas, kreatifitas, keseriusan, ketekunan dan respon terhadap berbagai pertanyaan-pertanyaan guru dan siswa lainnya. Sebaiknya guru juga dituntut untuk benar-benar lebih serius

sebab proses pembelajaran memungkinkan untuk itu. Hasil belajar yang telah lama ini diperoleh apabila siswa mampu merefleksikan hasil belajarnya. dan peduli terhadap persoalan lingkungan dalam rangka pembentukan warga negara Indonesia yang cerds.75 dalam memperhatikan setiap perkembangan siswanya. sikap dan keterampilan belajarnya. Sugandi (2004:44) menjelaskan bahwa refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Dalam pembelajaran kontekstual. kemampuan siswa untuk merefleksikan hasil belajar dapat ditumbuhkan. Salah satu keberhasilan dalam belajar apabila hasil belajar yang diperoleh siswa mampu bertahan lama. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PKn dengan menggunakan kontekstual diharapkan mampu memberdayakan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuan. terampil. Melalui refleksi diri siswa dilatih untuk memiliki kemampuan bersikap kritis. Siswa dapat mengukur sejauh mana penguasaan materi pelajaran dan penggunaanya untuk memecahkan masalah masyarakat dan negaranya. . kreatif dan berkarakter. baik perkembangan intelektual. sikap ataupun keterampilannya. peka.

2. Penilaian pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan dengan cukup baik oleh guru secara terintegrasi baik selama proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. namun guru tetap menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif dengan cara melibatkan 7 komponen utama pembelajaran kontekstual disetiap pokok bahasan. Instrumen penilaian yang digunakan melalui teknik tes dan non tes. 3.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. siswa dan lingkungan sekolah saling mendukung satu sama lain. Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dapat dikatakan cukup ideal dimana 7 pilar pembelajaran kontekstual tercermin atau diwujudkan dalam silabus dan RPP. 75 . Proses pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara sudah cukup baik. 4. maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini. Meskipun dalam penyampaian materi pelajaran guru lebih sering menggunakan metode ceramah dibandingkan dengan metode yang lainnya. 1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya. Pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan dengan baik apabila guru. Adapun sistem penilaian yang digunakan sesuai dengan ketentuan yang dibuat pihak sekolah yaitu dengan menggunakan sistem bonus.

akan tetapi guru hendaknya dapat mengembangkannya lagi misalnya dengan guru membuat buku ajar sendiri dimana materi-materi yang ada disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. 3. karena pada dasarnya silabus seharusnya dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan karakter siswa. Saran 1. guru diharapkan tidak hanya terpancang pada sarana dan prasarana serta buku pelajaran pokok yang sudaha ada. Masih sangat diharapkan adanya pelatihan-pelatihan ataupun seminarseminar yang memperjelas tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 2. mengerti. sehingga pemelajaran kontekstual dapat dipraktekkan secara benar dan tepat dalam poses pembelajaran di kelas. sehingga mampu menghadapi persoalan keseharian di masyarakat nantinya. . Guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara memberikan pengalaman belajar secara kontekstual dan praktis kepada siswa. 4. artinya pembelajaran harus bermakna dan memberikan kesempatan berlatih bagi siswa menjadi warga negara yang sebenarnya. guru diharapkan mampu mengembangkannya secara mandiri dan tidak hanya terpancang pada silabus yang sudah ada yaitu hasil dari MGMP.76 B. Dalam pembuatan silabus. Dalam proses belajar mengajar. agar guru-guru di SMA Negeri I Banjarnegara termasuk guru PKn dapat mengetahui. dan paham tentang KTSP. kondisi dan lingkungan sekolah.

.77 5. Bagi pihak sekolah diharapkan mampu meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar mengajar di kelas. serta mengupayakan buku pelajaran maupun buku pengetahuan umum untuk memenuhi keinginan siswa yang haus akan ilmu pengetahuan dan mendukung kelancaran pembelajaran PKn khususnya serta mata pelajaran lain pada umumnya.

2004. Huberman. Sutrisno. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Modul Perencanaan Pembelajaran PPKn Berbasis Kompetensi.78 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Arnie. 2001. Metodologi Research. 2005. Rohani. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Michael dan Milles. 2003. Ahmad. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: Remaja Rosdakarya. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas. 2006. Mulyasa. Hamalik. Gafur. Puskur Balitbang. Jakarta: Depdiknas. Menjadi Guru Profesional. Max. Abdul. Moleong. Hadi. Pedoman PPL Universitas Negeri Semarang. Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: Remaja Rosdakarya. Oemar. Suharsimi. Semarang: IKIP Semarang. Dirjen Dikdasmen. 2002. Pengelolaan Pengajaran. Nurhadi. Malang: Universitas Negeri Malang Press. 2004. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Mulyasa. 2002. 1997. 2006. Saiful Bahri dan Aswan Zain. Prosedur Penelitian. 2003. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 2003. Jakarta: UI Press. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Jakarta: Depdiknas. 1996. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1992. 2004. Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan. Fajar. Semarang: UNNES Pres. Bandung: Remaja Rosdakarya. . Strategi Belajar Mengajar. 2005. Darsono. Lexy. Analisis Data Kualitatif. Djamarah.

H. 2004.79 Sanjaya. Jakarta: Sinar Grafika. Jakarta: Kencana Prenada Media. Paparan Kuliah Evaluasi Pengajaran PKn. Sigalingging. . Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan. 2006. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. FIS UNNES. Wina.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful