Kesetimbangan Benda dikatakan mencapai kesetimbangan jika benda tersebut dalam keadaan diam/statis atau dalam keadaan

bergerak beraturan/dinamis. Ditinjau dari keadaannya, kesetimbangan terbagi dua, yaitu: 1. Kesetimbangan Translasi (a = 0) åF=0 å Fx = 0 ; å Fy = 0 w = 0 (statis) w = konstan (dinamis) v = 0 (statis) v = konstan (dinamis

2. Kesetimbangan Rotasi (alpha = 0)

å t = 0 ® pilih pada suatu titik dimana gaya-gaya yang bekerja terbanyak Macam Kesetimbangan Statis : 1. Kesetimbangan Stabil 2. Kesetimbangan Labil 3. Kesetimbangan Indiferen (netral) : : : setelah gangguan, benda berada pada posisi semula setelah gangguan, benda tidak kembali ke posisi semula setelah gangguan, titik berat tetap benda tetap pada satu garis lurus seperti semula

MENGGESER (MENGGULING) benda yang mula-mula setimbang stabil akan menggeser dan/atau mengguling jika ada gaya luar yang mempengaruhinya.

1.

Untuk benda menggeser (translasi) murni berlaku: SF ¹ O dan St = 0

2.

Untuk benda mengguling (rotasi) murni berlaku: SF= 0 dan St ¹ 0

3.

Untuk benda menggeser dan mengguling berlaku SF ¹ 0 dan SF ¹ 0

Pada umumnya soal-soal Kesetimbangan terbagi dua jenis, yaitu: 1. Kesetimbangan titik/partikel Penyelesaian soal ini dikerjakan dengan syarat kesetimbangan translasi yaitu SF = 0. 2. Kesetimbangan benda Penyelesaian soal ini dikerjakan dengan syarat kesetimbangantranslasi dan rotasi, yaitu SF =0 dan St = 0

Contoh:

terlebih dahulu gambarkan gaya-gaya yang bekerja pada sistem benda tersebut. Jarak B ke lantai 3 m.W = 0 ® TA . cos 45o = 0 TA = T2 . 3 = 30 .jadi dapat diselesaikan dengan prinsip kesetimbangan titik. Sebuah tangga AB homogen beratnya 30 kgf dan panjangnya 5 m.T2. 2 NB = 20 kgf Jadi besar gaya mendatar pada titik A adalah fA = NB = 20 kgf Fluida ( zat alir ) adalah zat yang dapat mengalir.T2 . yaitu fluida statis dan dinamis. berapakah besar tegangan pada tall horisontai A ? Jawab: Titik B dalam keadaan setimbang. AE NB.Hitunglah besarnya gaya mendatar pada titik A supaya tangga setimbang ? Jawab: Pada soal kesetimbangan benda ini. StA = 0 ® NB . 1/2 Ö2 TA = 800 N 2. BC = W . misalnya zat cair dan gas. Kesetimbangan translasi SF =0 ® SFy = 0 ® NA = W = 30 kgf SF = 0 ® SFX = 0 ® fA = NB Kesetimbangan rotasi: (dipilih di titik A karena titik tersebut paling mudah bergerak dan gaya-gaya yang bekerja padanya paling banyak). Pada keadaan setimbang: SFy = 0 ® T1 . 1/2 Ö2 = 800 T2 = 800 Ö2 N SFx = 0 ® T1 .g = 800 N T1 . Uraikan gaya-gaya yang bekerja pada sb-x dan sb-y. sin 45o = 0 T2 . Sebuah balok yang massanya 80 kg tergantung pada dua utas tali yang bersambungan seperti terlihat pada gambar Jika g= 10 N/kg. Fluida dapat digolongkan dalam dua macam. TEKANAN HIDROSTATIS Tekanan hidrostatis ( Ph) adalah tekanan yang dilakukan zat cair pada bidang dasar tempatnya. cos 45o TA = 800 Ö2 . diletakkan pada lantai di A dan pada tembok di B.W = 0 ® T1 = W = m.1. .

V=rz. y = 2 g cos q / r g r y = kenaikan/penurunan zat cair pada pipa (m) . g rb = massa jenis benda rz = massa jenis fluida V = volume benda V' = volume benda yang berada dalam fluida Akibat adanya gaya ke atas ( Fa ). Tiga keadaan benda di dalam zat cair: a. berat benda di dalam zat cair (Wz) akan berkurang menjadi: Wz = W .Fa Wz = berat benda di dalam zat cair TEGANGAN PERMUKAAN Tegangan permukaan ( g) adalah besar gaya ( F ) yang dialami pada permukaan zat cair persatuan panjang(l) g = F / 2l KAPILARITAS Kapilaritas ialah gejala naik atau turunnya zat cair ( y ) dalam tabung kapiler yang dimasukkan sebagian ke dalam zat cair karena pengarah adhesi dan kohesi. terapung: W=Fa Þ rb.PARADOKS HIDROSTATIS Gaya yang bekerja pada dasar sebuah bejana tidak tergantung pada bentuk bejana dan jumlah zat cair dalam bejana. melayang: W = Fa Þ rb = rz c. Ph = r g h Pt = Po + Ph F = P h A = r g V r = massa jenis zat cair h = tinggi zat cair dari permukaan g = percepatan gravitasi Pt = tekanan total Po = tekanan udara luar HUKUM PASCAL Tekanan yang dilakukan pada zat cair akan diteruskan ke semua arah sama.V' . tinggi ( h ) dan massa jenis zat cair ( r ) dalam bejana. P1 = P2 ® F1/A1 = F2/A2 HUKUM ARCHIMEDES Benda di dalam zat cair akan mengalami pengurangan berat sebesar berat zat cair yang dipindahkan. V' . tetapi tergantung pada luas dasar bejana ( A ). tenggelam: W>Fa Þ rb > rz b. rb<rz W = berat benda Fa = gaya ke atas = rz .

5 m di bawah permukaan air! Jawab: P = r .104 N/m2 2.13. 10 . Tentukanlah tekanan pada bagian pipa dimana kecepatan aliran airnya 65 cm/det. yaitu: v = Ö(2gh) h = kedalaman lubang dari permukaan zat cair Contoh: 1. g .(g = 980 cm/det2) ! Jawab: P1 = 1 cmHg = 1. Pada tempat dengan kecepatan air 35 cm/det tekanannya adalah 1 cmHg.5 P = 4. penampang tidak sama besar.5m. Q=A. Air mengalir sepanjang pipa horisontal.g = tegangan permukaan (N/m) q = sudut kontak (derajat) p = massa jenis zat cair (kg / m3) g = percepatan gravitas (m / det2) r = jari-jari tabung kapiler (m) Sifat Fluida Ideal: tidak dapat ditekan (volume tetap karena tekanan) dapat berpindah tanpa mengalami gesekan mempunyai aliran stasioner (garis alirnya tetap bagi setiap partikel) kecepatan partikel-partikelnya sama pada penampang yang sama HUKUM BERNOULLI Hukum ini diterapkan pada zat cair yang mengalir dengan kecepatan berbeda dalam suatu pipa. tingginya 7. Sebuah kolam air berdinding bujursangkar dengan panjang 15 m.Tentukanlah tekanan air 4.v A 1 . maka besar kecepatannya selalu dapat diturunkan dari Hukum Bernoulli. v2 v = kecepatan fluida (m/det) A = luas penampang yang dilalui fluida Untuk zat cair yang mengalir melalui sebuah lubang pada tangki. 4. v1 = A 2 . P + r g Y + 1/2 r v2 = c P = tekanan 1/2 r v2 = Energi kinetik r g y = Energi potensial ]® tiap satuan waktu CEPAT ALIRAN (DEBIT AIR) Cepat aliran (Q) adalah volume fluida yang dipindahkan tiap satuan waktu.6.5. h = 103 .980 dyne/cm2 P1 = 13328 dyne/cm2 .

87 cmHg Suhu adalah ukuran derajat panas atau dingin suatu benda. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu disebut termometer.P2 = 1/2 r (V22 . Hubungan suhu pada skala-skala Celcius (C).1500 P2 = 13328 . Fahrenheit (F). Fahrenheit.9p) = 32p ® x = 32p/(5-9p) Derajat Fahrenheit: tF = 9x + 32 C = 5x = 5(32p/5-9p) = 160p/(5-9p) C = pF F = C/P = 160p/p(5-9p) = 160/(5-9p) 5x = p(9x + 32) 5x . Reamur (R). Reamur.P2 = 1/2 3000 .9px = 32p .V12) . Kelvin Jadi: t C = 4/5 t R = ( 9/5t+ 32 )oF = ( t + 273 )oK o o Contoh: Temperatur termometer Celcius (oC) menunjukkan p kali temperatur termometer Fahrenheit (oF). maka: P1 P1 P1 P1 . Berapakah besarnya temperatur masing-masing termometer itu? Jawab: Derajat Celcius : tc = 5x x(5 .v1 = 35 cm/det. dan Kelvin (K): ® Acuan atas (air mendidih) ® Acuan bawah (es mencair) Acuan ini ditentukan pada tekanan 1 atm = 76 cm Hg Gbr.P2 = 1/2 1 (652 352) .P2 = 1500 dyne/cm2 Jadi: P2 = P1 . v2 = 65 cm/det Prinsip Bernoulli: P1 + pgy1 + 1/2rv12 = P2 + rgy2 + 1/2rv22 Karena y1 = y2 (pipa horisontal).1500 P2 = 11828 dyne/cm P2 = 0. Hubungan Suhu Skala-Skala Celcius.

yaitu titik dimana gas di atas tekanan dan temperatur kritis tidak dapat dicairkan hanya dengan mengecilkan volumenya. kalor lenyap) ® t/kg Jadi kalor yang diserap ( â ) atau yang dilepas ( á ) pada saat terjadi perubahan wujud benda tidak menyebabkan perubahan suhu benda (suhu benda konstan ). BEBERAPA PENGERTIAN KALOR 1 kalori adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 gram air sebesar 1ºC. Jika suatu benda menerima / melepaskan kalor maka suhu benda itu akan naik/turun atau wujud benda berubah. c Q = kalor yang di lepas/diterima H = kapasitas kalor Dt = kenaikan/penurunan suhu m = massa benda c= kalor jenis Kalor yang diserap/dilepaskan (Q) dalam proses perubahan wujud benda: Q = m . Tr = titik tripel. Kalor adalah bentuk energi yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah. Di atas titik kritis gas tidak dapat diembunkan tanpa menurunkan tekanannya. kalor sublim. Titik Didih suatu zat cair dipengaruhi oleh tekanan udara. Dt Q = m . Kalor yang digunakan untuk menaikkan/menurunkan suhu tanpa mengubah wujud zat: Q = H . kalor beku. Hubungan tekanan dan temperatur terhadap tingkat wujud suatu zat dapat ditentukan dari DIAGRAM P-T. L m = massa benda kg L = kalor laten (kalor lebur. Gas berwujud stabil. ”Pertukaran kalor . yaitu titik keseimbangan antara ketiga wujud padat-cair-gas.ºC atau kkal/kg ºC). K = titik kritis. c . 25ºC) titik didih air sebesar 100ºC.Titik didih suatu zat adalah suhu yang tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan di atas permukaan zat cair.18 joule 1 joule = 0.24 kalori Kapasitas kalor (H) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh zat untuk menaikkan suhunya 1ºC (satuan kalori/ºC). artinya makin besar tekanan udara makin besar pula titik didih zat cair tersebut. 3. Kalor jenis (c) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan 1 gram atau 1 kg zat sebesar 1ºC (satuan kalori/gram. Dt H = m . Di atas titik tripel tidak mungkin merubah wujud zat dari padat langsung ke gas.kalor embun. 2. Penambahan tekanan menaikkan titik didih dan titik lebur zat. Dari diagram P-T dapat disimpulkan bahwa: 1. 1 kalori = 4. Pada tekanan dan temperatur udara standar(76 cmHg. kalor uap.

1 (ta. Kalor jenis suatu benda tidak tergantung dari massa benda. 80 + 10 . tetapi tergantung pada sifat dan jenis benda tersebut. A . H = K . Konduksi Perambatan kalor tanpa disertai perpindahan bagian-bagian zat perantaranya. Pada setiap penyelesaian persoalan kalor (asas Black) lebih mudah jika dibuat diagram alirnya. karena perbedaan massa jenis. 2. (DT/ L) H = jumlah kalor yang merambat per satuan waktu DT/L = gradien temperatur (ºK/m) K = koefisien konduksi A = luas penampang (m²) L = panjang benda (m) 2. Bila kalor lebur es sama dengan 80 kalori/gram. DT H = jumlah kalor yang merambat per satuan waktu K = koefisien konveksi DT = kenaikan suhu (ºK) . sampai tercapai kesetimbangan termal. maka berdasarkan asas Black: Q = mL + mcDt 1000 = 10 .Jika dua buah zat atau lebih dicampur menjadi satu maka zat yang suhunya tinggi akan melepaskan kalor sedangkan zat yang suhunya rendah akan menerima kalor. H = K . hitunglah temperatur akhir air ! Jawab: Misalkan temperatur akhir setelah diberi kalor ialah taºC. biasanya terjadi pada benda padat. Jika kalor jenis suatu benda adalah kecil maka kenaikan suhu benda tersebut akan cepat bila dipanaskan. Menurut asas Black Kalor yang dilepas = kalor yang diterima Catatan: 1.5 kalori/gramoC) sebanyak 10 gram pada suhu 0ºC diberi kalor sebanyak 1000 kalori. Contoh diagram alir untuk es bersuhu -tºC yang mencair sampai suhu tºC setelah menyerap kalor adalah sebagai berikut: Contoh: Es (kalor jenis 0.0) 1000 = 800 + 10 ta ta = 20 C Kalor dapat merambat melalui tiga macam cara yaitu: 1. Konveksi Perambatan kalor yang disertai perpindahan bagian-bagian zat. A .

yaitu: lmax . Semua benda (panas/dingin) memancarkan energi radiasi/kalor Semakin tinggi suhu benda. 50 = 50 gram t = 1 detik 1 joule = 0.24 . hitunglah suhu air panas! Jawab: misalkan suhu air panas ta Q = 3 liter/menit = 3 dm3/60 detik = 50 cm3/detik berarti V = 50 cm3 ® m = r . Radiasi Perambatan kalor dengan pancaran berupa gelombang-gelombang elektromagnetik. 2.24 kal E = Q ® 0. Untuk benda ini berlaku hukum PERGESERAN WIEN. 3.3. Pancaran kalor secara radiasi mengikuti Hukum Stefan Boltzmann: W = e . t 0. c. Koefisien emisivitas benda tergantung pada sifat permukaannya. Jika suhu awal air 20ºC dan seluruh kalor diberikan pada air. T = C C = konstanta Wien = 2.8ºC .ºK4 e = emisivitas (o < e < 1) T = suhu mutlak (ºK) Benda yang dipanaskan sampai pijar. 3500 . T4 W = intensitas/energi radiasi yang dipancarkan per satuan luas per satuan waktu s = konstanta Boltzman =5. 1 = 50. semakin besar radiasinya dan semakin pendek panjang gelombangnya. Contoh: 1. Air mengalir dengan laju alir 3 liter/menit.24 P. s .V = 1 .20 ) ® ta = 36.Benda hitam sempurna mempunyai nilai e = 1 merupakan pemancar dan penyerap kalor yang paling baik.672 x 10-8 watt/cm2.t = m. selain memancarkan radiasi kalor juga memancarkan energi radiasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 10-6 s/d 10-5 m.9 x 10-3m ºK Kesimpulan: 1. 1 ( ta .

72 watt/m2 b. hitunglah: a. t E = 391. A . Pada suhu 4 derajat C volume air adalah paling kecil sehingga massa jenisnya paling besar. (DT/L)] kuningan K .T ® E = W. A . 3600 = 705060 Joule 3. Muai Panjang (pemuaian satu dimensi) Lt = Lo ( 1 + a Dt) Lt = panjang benda pada tºC (m) Lo = panjang benda pada 0ºC (m) a = koefisien muai panjang 2. Benda hitam sempurna luas permukaannya 0.2. (DT/L)] besi = [K . 0.5 m2 dan suhunya 27ºC. 5.72. T2 = 350ºK = 1. energi total yang dipancarkan selama 1 jam.3004) = 391. Tetapi air pada daerah tertentu (antara 0-4 derajat C) memiliki keanehan pemuaian disebut ANOMALI AIR. Muai Volume (pemuaian tiga dimensi) Vt = Vo ( 1 + g Dt) Vt = volume benda pada tºC (m3) Vo = volume benda pada 0ºC (m3) .4ºC Pada umumnya suatu benda akan memuai (volume benda bertambah) jika dipanaskan? sedangkan massa benda tetap. s = 5.hitunglah suhu pada titik sambungan antara besi dan kuningan! Jawab: Misalkan suhu pada titik sambungan = T. yaitu 1 gram/cm3.672. Jawab: Benda hitam: e = 1 . Besi panjangnya 2 meter disambung dengan kuningan yang panjangnya 1 meter. maka [K .350)/l T= 2600/7= 371.10-8 (3504 .10-8 watt/m2K4 a. kalor yang diserap persatuan waktu persatuan luas b. W = e s ( T24 .5. Grafik volume vs suhu Es untuk es dan air Pemuaian suatu benda karena menerima kalor (suhu benda naik) terbagi atas: 1.T14) ® T1 = 300ºK . Bila koefisien konduksi termal kuningan tiga kali koefisien termal besi.T)/2 = 3 KA (T . A (500 . A. keduanya mempunyai luas penampang yang sama. W = E/A. Muai Luas (pemuaian dua dimensi) At = Ao (1 + b Dt) At = luas benda pada tºC (m²) Ao = luas benda pada 0ºC (m²) b = koefisien muai luas = 2a 3. Apabila suhu pada ujung besi adalah 500ºC dan suhu pada ujung kuningan 350ºC.672. Jika suhu sekelilingnya 77ºC.

10-5. Hukum-hukum Newton tentang gerak berlaku. berapakah suhunya sekarang? Jawab: Lt = Lo ( 1 + a Dt) Dt = (Lt . Gas dapat digolongkan sebagai fluida. PERSAMAAN GAS IDEAL DAN TEKANAN (P) GAS IDEAL P V = n R T = N K T n = N/No .10-3/ºC).25 cm3 Teori kinetik zat membicarakan sifat zat dipandang dari sudut momentum. Sebuah tabung terbuat dari gelas (a = 10-5/ºC) pada suhu 20ºC mempunyai volume sebesar 250 cm3.10-3. Berapakah cm3 eter akan tumpah jika tabung dipanasi sampai 120ºC? Jawab: Gelas: Vo = 250 cm3 Dt = 120 . tetapi diutamakan pada sifat zat secara keseluruhan sebagai hasil rata-rata kelakuan partikel-partikel zat tersebut.g = koefisien muai volume = 3a g = 1/273ºK (khusus pada tekanan dan volume tetap) Contoh: 1.10-3/ºC Vt = Vo (1 + g Dt) Vt = 250 (1 + 5. 4.30 takhir = 130ºC 2. Jarak antara partikel gas jauh lebih besar daripada ukuran partikel. SIFAT GAS IDEAL 1.0 cm pada suhu 30ºC.10-5) = 100ºC Dt = takhir . Gas terdiri atas partikel-partikel dalam jumlah yang besar sekali.tawal 100 = takhir . 2.75 = 124.10-5/ºC Vt = Vo(1 + g Dt) Vt = 250 (1 + 3. Bila panjang batang baja itu sekarang menjadi 100. hanya kerapatannya jauh lebih kecil.20 = 100ºC g = 3a = 3.1 cm. Tumbukan antara partikel-partikel gas dan antara partikel dengan dinding tempatnya adalah elastis sempurna.100) = 375 cm3 Jadi volume eter yang tumpah = 375 .Lo) / (Lo a) Dt = (100. Gas mudah berubah bentuk dan volumenya.75 cm3 Eter: Vº = 250 cm3 Dt= 100ºC g = 5. Sebatang baja (angka muai linier 10-5/ºC) panjangnya 100. sehingga ukuran partikel gas dapat diabaikan. 2.250. SIFAT GAS UMUM 1. Tabung itu berisi penuh dengan eter ( g = 5. 3. Peninjauan teori ini bukan pada kelakuan sebuah partikel.1 -100)/(100.100) = 250. yang senantiasa bergerak dengan arah sembarang dan tersebar merata dalam ruang yang kecil.

Makin tinggi temperatur gas ideal makin besar pula kecepatan partikelnya. 5. Persamaan gas ideal (P V = nRT) berdimensi energi/usaha .. No = 8. Dari persarnaan gas ideal PV = nRT.dst. ºK N = jumlah pertikel P = (2N / 3V) . berlaku Hukum Boyle-Gay-Lussac: PV/T=C C = konstan Jadi: (P1.V1)/T1 = (P2. T) tetap. 3..T = suhu (ºK) R = K . (isotermik) berlaku Hukum Boyle: PV = C Pada (n. Tekanan merupakan ukuran energi kinetik persatuan volume yang dimiliki gas.31 )/mol.38 x 10-23 J/ºK No = bilangan Avogadro = 6. V) tetap. dapat di jabarkan: Pada (n.V2)/T2=. 2. Energi dalam gas ideal merupakan jumlah energi kinetik seluruh partikelnya. . 4.023 x 1023/mol ENERGI TOTAL (U) DAN KECEPATAN (v) GAS IDEAL Ek = 3KT/2 U = N Ek = 3NKT/2 v = Ö(3 K T/m) = Ö(3P/r) dengan: Ek = energi kinetik rata-rata tiap partikel gas ideal U = energi dalam gas ideal = energi total gas ideal v = kecepatan rata-rata partikel gas ideal m = massa satu mol gas p = massa jenis gas ideal Jadi dari persamaan gas ideal dapat diambil kesimpulan: 1. Temperatur merupakan ukuran rata-rata dari energi kinetik tiap partikel gas. Ek ® T = 2Ek/3K V = volume (m3) n = jumlah molekul gas K = konstanta Boltzman = 1.P) tetap. (isokhorik) berlaku Hukum Gay-Lussac: P/T=C Pada (n. (isobarik) berlaku Hukum Gay-Lussac: V/T= C Padan tetap.

DW = 0 ® DQ = DU DQ = n . 1. Pada proses isobarik (tekanan tetap) ® DP = 0. jika diperhitungkan semua bentuk energi yang timbul.Contoh: 1. DV = P (V2 .105/100 = 60 m/det 2. Hukum ini diterapkan pada gas. 1/2 . jika massa jenis gas 100 kg/m3 dan tekanannya 1. 3. Berapakah kecepatan rata-rata dari partikel-partikel suatu gas dalam keadaan normal. 1/10 = R . 0 ® AV = -25 /15. Cp . Energi adalah kekal. Dalam suatu sistem berlaku persamaan termodinamika I: DQ = DU+ DW DQ = kalor yang diserap DU = perubanan energi dalam DW = usaha (kerja) luar yang dilakukan 4. Pada proses isokhorik (Volume tetap) ® DV =O. khususnya gas ideal PV = n R T P . DV + -V . Jadi kita ubah persamaan tersebut menjadi: P DV + V DP = R DT (cara differensial parsial) 15 .10 = -1/6 cm3/menit Jadi perubahan volume gas tiap menit adalah 1/6 cm3.R DT DQ = n . R .105 N/m2? Jawab: PV = 2/3 Ek PV = 2/3 . DT AU = 3/2 n . DT ® maka Cv = 3/2 R (kalor jenis pada volume tetap) . DV + 25. Usaha tidak diperoleh jika tidak diberi energi dari luar.dimana tanda (-) menyatakan gas menerima usaha dari luar (dari sekelilingnya). sehingga. 3. Cv . DARI PERSAMAAN TERMODINAMIKA I DAPAT DIJABARKAN: 1.RT. Suatu gas tekanannya 15 atm dan volumenya 25 cm3 memenuhi persamaan PV . DW = P . DT DU-= 3/2 n .2. DP = n R DT 2. Hitunglah perubahan volume gas tiap menit? Jawab: Persamaan PV = RT jelas untuk gas ideal dengan jumlah mol gas n = 1.2.V1) ® P.1. R . m v2 = 1/3 m v2 v2 = (3PV)/m = (3 P)/(m/V) = 3P/r v = Ö3P/r = Ö3. Bila tekanan gas berubah 1/10 atm tiap menit secara isotermal. sehingga. DT ® maka Cp = 5/2 R (kalor jenis pada tekanan tetap) 2. DV = n .

2. Cara lain untuk menghitung usaha adalah menghitung luas daerah di bawah garis proses. 5. DW ® (+). Sehingga DQ. energi dalam (U) gas adalah U = Ek = 3/2 nRT ® g = 1. Isotermik Gbr.67 ® Cp-CV=R Suhu sedang U = Ek =5/2 nRT ® g = 1. 3.67 . DW ® (-). 2. Pada proses adiabatik (tidak ada pertukaran kalor antara sistem dengan sekelilingnya) ® DQ = 0 Berlaku hubungan:: PVg = konstan ® g = Cp/Cv . maka sistem akan melakukan kerja dan energi akan naik.4. Untuk gas diatomik (H2. Jika sistem menerima kerja. DU = 0 ® DQ = DW = nRT ln (V2/V1) 6.disebut konstanta Laplace 7. N2. maka grafik adiabatik. Pada proses isotermik (temperatur tetap): ® DT = 0 . dll). Usaha pada proses a ® b adalah luas abb*a*a Perhatikan perbedaan grafik isotermik dan adiabatik ® penurunan adiabatik lebih curam dan mengikuti persamaan PVg= C.67 4. Untuk gas monoatomik (He. Jika sistem menerima panas. jika DP = DV. jika DP > DV.sehingga. Isobarik Gbr. dll). energi dalam (U) gas adalah Suhu rendah (T £ 100ºK) U = Ek = 3/2 nRT ® g = 1. Jadi: 1. Adiabatik 8. Sehingga DQ. maka grafik isotermik. Ne. maka sistem akan mengeluarkan panas dan energi dalam akan turun. Catatan: 1. Gbr.

67 Tidak mungkin membuat suatu mesin yang bekerja secara terus-menerus serta rnengubah semua kalor yang diserap menjadi usaha mekanis. T1 > T2.Suhu tinggi (T > 5000ºK) U = Ek = 7/2 nRT ® g = 1.Q2/Q1 = 1 . maka usaha mekanis: W = Q1 .Q2 h = W/Q1 = 1 .T2/T1 T1 = reservoir suhu tinggi T2 = reservoir suhu rendah Q1 = kalor yang masuk Q2 =kalor yang dilepas W = usaha yang dilakukan h = efesiensi mesin Untuk mesin pendingin: h = W/Q2 = Q1/Q2 -1 = T1/T2 .1 Koefisien Kinerja = 1/h .

Pada proses adiabatik (tidak ada pertukaran kalor antara sistem dengan sekelilingnya) ® DQ = 0 Berlaku hubungan:: PVg = konstan ® g = Cp/Cv . Cp . DU = 0 ® DQ = DW = nRT ln (V2/V1) 6. Hukum ini diterapkan pada gas. Cv . 3. Dalam suatu sistem berlaku persamaan termodinamika I: DQ = DU+ DW DQ = kalor yang diserap DU = perubanan energi dalam DW = usaha (kerja) luar yang dilakukan DARI PERSAMAAN TERMODINAMIKA I DAPAT DIJABARKAN: 1. DT DU-= 3/2 n .1.sehingga. 5.disebut konstanta Laplace 7. R . Usaha tidak diperoleh jika tidak diberi energi dari luar. khususnya gas ideal PV = n R T P . DW = P . DT AU = 3/2 n . . DP = n R DT 2. jika diperhitungkan semua bentuk energi yang timbul. 4. DT 2. Energi adalah kekal. R . 3. sehingga. Pada proses isotermik (temperatur tetap): ® DT = 0 . DV = n . Pada proses isobarik (tekanan tetap) ® DP = 0. sehingga. DT ® maka Cv = 3/2 R (kalor jenis pada volume tetap) 4.R DT DQ = n . DV = P (V2 . Cara lain untuk menghitung usaha adalah menghitung luas daerah di bawah garis proses. DW = 0 ® DQ = DU DQ = n . DV + -V .V1) ® P. ® maka Cp = 5/2 R (kalor jenis pada tekanan tetap) Pada proses isokhorik (Volume tetap) ® DV =O.

dll).67 3. maka grafik adiabatik. maka grafik isotermik.Gbr. Isotermik Gbr. Jika sistem menerima panas. energi dalam (U) gas adalah U = Ek = 3/2 nRT ® g = 1. Jadi: 1. jika DP > DV. Jika sistem menerima kerja. dll). maka sistem akan mengeluarkan panas dan energi dalam akan turun. Untuk gas diatomik (H2. DW ® (-). Ne. Suhu sedang U = Ek =5/2 nRT ® g = 1. 2. Usaha pada proses a ® b adalah luas abb*a*a Gbr. Untuk gas monoatomik (He. energi dalam (U) gas adalah Suhu rendah (T £ 100ºK) U = Ek = 3/2 nRT ® g = 1. Adiabatik Perhatikan perbedaan grafik isotermik dan adiabatik ® penurunan adiabatik lebih curam dan mengikuti persamaan PVg= C. N2. maka sistem akan melakukan kerja dan energi akan naik. DW ® (+).67 4. . Sehingga DQ. jika DP = DV. Isobarik 8. Catatan: 1. Sehingga DQ.67 ® Cp-CV=R Suhu tinggi (T > 5000ºK) U = Ek = 7/2 nRT ® g = 1.67 Tidak mungkin membuat suatu mesin yang bekerja secara terus-menerus serta rnengubah semua kalor yang diserap menjadi usaha mekanis. 2.

T1 > T2.Q2 h = W/Q1 = 1 .Q2/Q1 = 1 .1 Koefisien Kinerja = 1/h . maka usaha mekanis: W = Q1 .T2/T1 T1 = reservoir suhu tinggi T2 = reservoir suhu rendah Q1 = kalor yang masuk Q2 =kalor yang dilepas W = usaha yang dilakukan h = efesiensi mesin Untuk mesin pendingin: h = W/Q2 = Q1/Q2 -1 = T1/T2 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful