P. 1
SKH

SKH

|Views: 100|Likes:
Dicolong dari kaskus nih
Dicolong dari kaskus nih

More info:

Published by: Septian Hari Nugroho on Nov 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

pdf

text

original

.......ketika pintu kebahagiaan tertutup, maka pintu yg lain akan terbuka.

tapi kadang gw terlalu lama menatap pintu yg tertutup itu, sehingga gw melupakan pintu lain yg terbuka buat gw....... langit senja yg kuning tertutupi awan yg memekat perlahan disusul jatuhnya rintik hujan. dan gw masih disini, memetik gitar kesayangan gw. mencoba menyelesaikan bait-bait lagu yg terlupakan dalam kisah kita...

PART 1 salam kenal semuanya. nma gw harrizd. gw sekedar ingin berbagi cerita tentang hidup gw.. kisah ini dimulai awal Januari 2007.... saat itu gw adalah siswa kelas 3 sebuah sekolah menengah kejuruan di kota asal gw. pada awal semester empat gw berhasil memenangkan beasiswa program magang di industri dari Politeknik Manufaktur Astra di jakarta yg bekerjasama dengan pihak sekolah. gw bukan anak orang kaya, gw jg bukan murid terpandai di kelas, tapi keberhasilan gw memenangkan tes beasiswa itu nyatanya membuat gw cukup lebih dikenal di sekolah. karena dari satu sekolah, cuma 2 orang murid yg berhak mendapatkan kesempatan itu, yaitu gw dan teman sekelas gw namanya Lucky. sebenarnya di kelas gw nggak begitu dekat dengan Lucky. tapi gw bersyukur dari beasiswa itulah gw akhirnya bisa lebih kenal dan bersahabat dengan Lucky. maka terhitung sejak januari 2006 gw meninggalkan sekolah gw untuk magang selama 1 tahun. di jakarta sendiri ternyata gw dan lucky nggak bisa bareng karena tidak ditempatkan di perusahaan yg sama. gw di jakarta sementara dia di bekasi. dan walaupun dengan susah payah (karena itu pertama kalinya gw merantau) akhirnya gw hampir menyelesaikan kontrak magang gw selama 1 tahun itu. satu minggu menjelang berakhirnya masa magang gw, gw pulang kampung ke cirebon. gw mulai 'memulangkan' barang-barang dari kosan gw di jakarta. sesampainya di rumah, gw menyempatkan diri mampir ke rumah sahabat kecil gw. namanya diaz. dia orangnya asyik, enak diajak curhat layaknya sahabat sebagaimana mestinya. gw sudah sangat dekat dengan diaz karena memang kami adalah teman sekelas saat SD. meski kemudian kami melanjutkan sekolah di tempat yg berbeda tapi gw tetep berhubungan baik dengan diaz. dan dari diaz juga lah gw kenal dengan seorang cewek bernama Tiie. tiie adalah teman satu sekolah diaz (gw dan diaz beda sekolah). sewaktu di jakarta gw

pernah cerita ke diaz kalo gw pengen punya teman cewek karena gw cukup merasa kesepian di sana. gw diberi nomer handphone nya, dan gw dibiarkan berusaha sendiri mendekati tiie. gw kenal tiie sekitar september 2006 lewat sms yg gw kirim ke nomernya. awalnya sih tu cewek agak jual mahal tapi setelah beberapa kali sms akhirnya dia mulai membalas sms gw. dan dari situ lah kami mulai dekat, tanpa pernah sekalipun gw bertemu tiie. dan hari itu gw menemui diaz di rumahnya. "lo udah selesai magang nya?" itu pertanyaan pertama diaz saat melihat gw. "satu minggu lagi," jawab gw. "hari ini gw balik menyicil barang-barang dari kosan." kami ngobrol-ngobrol ringan. "gimana sama tiie, sukses?" tanya diaz. gw nyengir. "lumayan. besok gw mau ketemuan sama dia di mall." "ya ya, tiie juga cerita soal itu." "terus gimana?" gw mencoba mengulik informasi. "dia ada respon nggak sih sama gw?" diaz tertawa. "tenang aja," jawabnya. "tenang aja bukan jawaban yg gw harapkan." kata gw. "gw sama tiie taruhan." "maksudnya?" gw kaget. "yaa gitu deh, besok kan kalian ketemuan tuh. nah kalo dia ternyata suka sama lo, maka gw menang dan berhak atas hadiah pulsa 25 rebu perak!" "ett dah gw cuma dihargain segitu??" "hehehe..ya kan intinya besok dia jatuh cinta nggak sama lo?" gw tertawa.

"gw gugup yaz." kata gw. "selama ini kan gw ngobrol sama dia cuma lewat sms atau telpon, dan besok gw bakal ketemu orangnya! sumpah deg-degan gw." "tenang rizd, gw bilang ke tiie kalo lo tuh mirip sama nicky tirta bintang sinetron itu. dia pasti bakal suka sama lo." "bujug, nicky tirta? emang gw mirip ya sama dia?" "sedikit sih." gw tertawa. "pokoknya besok lo harus bikin dia suka sama lo. kan biar gw menang taruhan." gw geleng-geleng kepala. "taruhannya nggak bisa lebih mahal yaa?" gw memang gugup menghadapi besok. sudah 4 bulan ini memang tiie sudah jadi salahsatu pengisi kesepian gw di jakarta. dia enak buat diajak ngobrol dan becandanya juga nyambung banget. beberapa kali bahkan gw sempet curhat sama tiie. dalam lamunan gw sering menerka-nerka seperti apa sih cewek bernama lengkap Devi Elviantiie itu. dan hari ini, siang ini, gw sudah berdiri di salahsatu sudut mall menunggu kehadiran seorang wanita yg sudah janji ketemu di tempat ini. gw bersandar di dinding. ramainya orang lalu lalang di mall justru makin menambah gugup. gw memutuskan ke wc sekedar cuci muka. tiba di depan pintu wc gw coba nelpon tiie. "halo," terdengar suara cewek menjawab telepon gw. suara itu bukan dari handphone, tapi seorang cewek di samping gw..

PART 2 siang ini gw janji ketemuan sama tiie. dia bilang pake baju warna ungu, tapi gw bingung coz cewek-cewek di mall ini juga banyak yg pake ungu. udah jam setengah 3 tapi kayaknya dia belum dateng juga. gw coba menelpon dia. terdengar nada tunggu nya. "halo," kata gw saat terdengar jawaban dari sana. "halo rizd," jawab tiie. yg gw agak aneh kok hp gw speaker nya mendadak gede banget suaranya. jernih pula kayak ngobrol sama orang di sebelah kita. "gw emang di sebelah lo kali," kata tiie. gw liat samping kanan gw ada seorang cewek berkacamata sedang tersenyum ke arah gw. tangan kanannya memegang handphone yg menempel di telinganya. "lo beneran di sebelah gw?" gw memastikan, masih tetap menatap cewek di sebelah gw. "iyaa." cewek di sebelah gw bicara, sama persis dengan yg gw denger di hp. "waduhh gw mendadak rabun dekat nih." "yee...belagak rabun lagi. ya udah gw balik ya." gw nyengir lalu gw akhiri panggilan di hp gw. gw bicara pada cewek di sebelah gw. "lo tiie ya?" kata gw. "dan lo pasti su'eb kan?" jawab cewek itu. gw tertawa. ini yg gw suka dari tiie, dia selalu bisa memulai pembicaraan dengan baik. gw yg sebenarnya merasa gugup sedikit mencair. "akhirnya ketemu juga yaa," kata tiie setelah berjabat tangan dengan gw.

"eh, iya. ya udah yuk kita cari tempat buat ngobrol." gw mengajak tiie ke sebuah kafe. siang itu tiie memakai gaun rok blus terusan warna ungu. rambut tiie panjang sebahu dibiarkan tergerai. gw masih agak gugup, ini pertama kalinya gw janji ketemuan dengan seorang cewek. kami duduk dan ngobrol di salahsatu kursi kafe. yg gw kenal selama ini tiie adalah orang yg ceria dan sedikit agak cerewet. dan itu memang tergambar dengan jelas saat ini. dia selalu punya lelucon yg membuat gw nyaman memposisikan diri gw saat itu. "kok pake warna ungu?" tanya gw. "lagi jadi janda ya?" "hehehe...iya janda muda gitu deh." "tetep aja janda. hehehe" cukup lama minuman pesanan kami datang. kami ngobrol nggak jelas sesuka hati. dan gw sudah benar-benar bisa mengatasi kegugupan gw saat itu. sudah pukul lima sore tapi kami masih bertahan di kursi kami. padahal kalau gw perhatikan di kursi lain mungkin sudah puluhan pasangan bergantian duduk. tapi toh itu tidak membuat suasana sore itu menjadi buruk. semakin gw mengenal tiie gw semakin merasa nyaman. dia bisa menciptakan chemistry sedemikian rupa. "by the way thanks ya tiie udah mau ketemuan sama gw," kata gw saat kami berjalan turun ke luar mall. waktu itu hari sudah mulai gelap. "harusnya gw yg bilang terimakasih. lo udah jauh-jauh dari jakarta nyempetin ketemu gw." tiie tersenyum. senyum yg manis. "ah nggak gitu juga kok. kan gw emang asli sini?" "kapan lo berangkat lagi ke jakarta?" "besok gw masuk shift siang jadi gw berangkat pagi." "ati-ati di jalan deh kalo gitu. kasih gw kabar ya kalo lo udah nyampe sana." gw mengangguk pelan. kami berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. saat itu gw belum punya motor sendiri jadi gw nggak bisa mengantar pulang tiie. gw dan tiie memakai angkot berbeda. "rizd lo nyesel nggak sih ketemu gw?" tiba-tiba tiie bertanya.

"nyesel? nggak lah. lo sendiri nyesel nggak?" tiie menggeleng. "nah ya udah nggak ada masalah kan?" tiie tersenyum. "sekali lagi thanks ya buat hari ini. gw duluan ya." tiie masuk ke angkot yg berhenti di depan kami. setelah angkot pergi gw menyebrang jalan menggunakan angkot yg berbeda untuk perjalanan pulang ke rumah. tapi gw nggak langsung ke rumah, gw mampir ke rumah diaz. gw ngobrol dengan diaz sambil main gitar di teras rumahnya. "jadi gimana nih yg abis ketemuan?" tanya diaz. "asyik." jawab gw singkat. "besok di sekolah bakal ada cerita seru dari dia." diaz nyengir. "thanks ya bro udah kenalin tiie ke gw." "jadi lo suka sama barang yg gw kasih?" "ett dah kayak orang jual kucing pake tanya gitu." gw menyandarkan gitar milik diaz ke dinding. "tiie nggak sms apa-apa ke lo sore ini?" "belum. dia kalo cerita suka panjang lebar jadi kayaknya nggak lewat hp." saat itulah hp milik diaz berbunyi. diaz membaca isi sms nya. "rizd," kata diaz setelah membaca pesan. "kenapa?" tanya gw. "gw dapet kiriman pulsa 25 ribu." gw dan diaz saling pandang. "so?" kata gw. lalu kami berdua tertawa. dan malam itu gw menyanyikan beberapa lagu bertemakan fallin in love diiringi petikan gitar oleh diaz. malam yg menyenangkan buat gw.

PART 3

pertemuan dengan tiie hari minggu kemarin sedikit banyak memberikan angin segar dalam diri gw. gw menghadapi minggu terakhir gw di jakarta dengan hati yg lebih cerah. beberapa tugas akhir yg belum diselesaikan sudah terselesaikan dengan baik. karena gw datang ke sana dengan baik-baik maka pulang pun gw pamitan dengan rekan kerja dan atasan yg gw kenal. sedih rasanya berpisah dengan orang-orang yg sudah bersama dalam satu tahun terakhir ini. tapi mereka selalu memotivasi gw bahwa ini adalah langkah awal gw menapak masa depan gw. kontrak magang di sini memang sudah berakhir, tapi setelah ini masih ada ujian yg harus gw lewati. ujian dalam konotasi yg sebenarnya, ujian nasional (UNAS) akhir semester nanti. kadang gw berpikir bahwa gw nyaris nggak mungkin lulus karena gw sudah tertinggal jauh di pelajaran sekolah gw. program magang ini sebenarnya suatu dilema. saat gw disibukkan bekerja, gw diharuskan mengejar pelajaran yg tertinggal dengan usaha sendiri. sebelum berangkat ke jakarta, guru kejuruan memberi bekal modul pelajaran untuk gw pelajari secara otodidak. mana gw bisa?? dengan waktu yg banyak dan dengan sistem face to face di sekolah saja masih banyak yg gw nggak ngerti, apalagi belajar sendiri di sela kesibukan kerja? dan pada kenyataannya modul pelajaran itu sudah nyaris membusuk di pojok kamar kos gw karena samasekali nggak pernah gw sentuh. debu tebal menyelimuti cover modul. gw ambil kemoceng dan membersihkannya dari debu. "lagi beres-beres rizd?" sebuah suara terdengar dari belakang gw. "hey, lucky." gw menoleh ke asal suara. "kok lo udah ada di sini? bukannya kita kumpul nya besok?" lucky menjabat tangan gw. dia menggendong sebuah tas hitam kecil. "di tempat gw, semua peserta magang sudah diliburkan hari rabu kemarin." lucky duduk di sebelah kasur sementara gw menuangkan air dari galon ke gelas untuknya. "thanx rizd. gw udah bawa pulang semua barang dari kosan hari sabtu

kemarin. sisanya yg ada di tas yg gw bawa ini, dan berhubung gw udah libur malem ini gw nginep disini aja deh." "oke, bro. anggep aja kamer orang lain. hehehe.." gw melanjutkan beres-beres buku. semua pakaian sudah tertata rapi dalam tas sementara buku-buku akan gw masukkan ke tas lain. hari ini adalah hari terakhir gw beraktivitas di perusahaan. besok setelah solat jumat gw dan semua peserta program magang ini diharuskan berkumpul di kampus politeknik manufaktur astra dalam rangka perpisahan sebagai tanda berakhirnya program magang ini. by the way, selain gw dan lucky peserta magang ini juga banyak yg berasal dari kota lain. jadi semua siswa yg lolos tes dari berbagai kota di indonesia dikumpulkan di jakarta untuk kemudian disebar di beberapa perusahaan milik grup astra. di tempat gw sendiri ada sebanyak enambelas siswa dari berlainan kota, termasuk dari denpasar, yg mengikuti program ini. dan ketika memikirkan bahwa gw harus berpisah dengan mereka, yg satu tahun ini bersama melewati suka dukanya, gw kembali sedih. seolah ada sesuatu yg hilang dari diri gw. "anak-anak yg laen pada kemana? kayaknya sepi nih kosan," lucky melongok keluar melihat kamar-kamar yg lain. "biasanya sore kayak gini mereka pada makan. ada juga yg katanya mau menikmati detik-detik terakhir di jakarta." gw tertawa kecil. "pasti dua dewa dari bali itu ya?" lucky ikut tertawa. program magang ini memang mengumpulkan orang-orang dari hampir semua penjuru negeri. termasuk Ketut dan Gedhe, dua siswa asal denpasar. gw dan lucky biasa menyebut mereka dewa, merujuk pada adat mereka di bali. "lo nggak ikut jalan-jalan rizd?" "yaah lo liat aja sendiri barang-barang gw disini belum beres." "lo udah siap balik lagi ke sekolah?" gw diam sejenak. "siap nggak siap toh kita harus siap kan" "oh iya gimana masalah belajar lo bisa belajar sendiri?" "bisa nggak bisa toh kita harus bisa kan?" lucky nyengir. "gw takut nggak lulus," kata gw. "kita udah tertinggal pelajaran jauh banget." "kalo itu gw juga sama. tapi mau gimana lagi ini kan memang konsekuensi kita dari awal ikut program ini," jawab lucky lagi.

gw diam. "seandainya kita nggak lulus gimana dong?" tanya gw lagi. "gw sih yakin aja kita bisa lulus. guru kita juga pasti nggak mau kan siswa yg berprestasi macam kita gagal ujian." gw diam memikirkan kata-kata lucky. harus gw akui sahabat gw yg satu ini memang punya optimisme yg kuat. dia tipe orang intelek yg selalu bicara berdasarkan fakta. dari hasil psikotes di awal kelas 1 lucky yg nilai IQ nya paling tinggi di kelas. "yakin aja rizd kita pasti lulus kok." kata lucky menyemangati gw. "thanks bro." "ya udah gw laper nih. cari makan dulu yuk." gw segera menyelesaikan beres-beres dan sepuluh menit kemudian gw dan lucky sudah di luar menuju warung makan langganan gw. entah ada hubungannya atau tidak dengan magang gw yg selesai, tapi gw merasa jakarta indah sekali malam ini. bukan mau mendramatisir, tapi mungkin malam ini adalah malam terakhir gw makan malam di jakarta...

PART 4

esoknya gw bangun mendengar pintu kamar digedor. gw lihat jam weker menunjukkan pukul sepuluh siang. "rizd, bangun udah siang nih." seseorang berseru dari luar. gw belum begitu sadar sepenuhnya. di sebelah gw lucky masih terlelap nyenyak. semalam gw dan yg lain begadang ngobrol-ngobrol menikmati malam terakhir di sini. baru setelah subuh gw dan lucky balik ke kamar dan tidur. "iya bentar," gw beranjak membuka pintu kamar. "yaah baru bangun ya lo," kata Ade, teman sebelah kamar gw. begitu pintu dibuka dia menerobos masuk. "numpang kencing," lanjutnya masuk ke kamar mandi. "di kamer gw nggak ada air." "lo sedotin mulu sih." "bukan gw. tuh si mail, dia mandi lama banget sampe aer nya abis," teriak ade dari dalam kamar mandi. "sembarangan aja lo bilang gw ngabisin aer!" tiba-tiba Ismail, teman sekamar ade, masuk dan menuju pintu kamar mandi. "lo tuh yg kencing sembarangan, makanya gw mesti rajin nyiramin bekas kencing lo! dari dulu gw bilangin nggak ada percayanya sih lo." "eh, gw nggak kencing sembarangan ya ! gw kencing di wc !" "iya tapi lo nggak pernah nyiramin bekasnya kan?"

pintu kamar mandi terbuka. dan sedetik kemudian ade menyiram mail dengan air dari gayungnya. mail sudah berusaha menghindar tpi karena terlalu dekat dia tidak bisa mengelak. "wooi lo !" mail menggebrak pintu kamar mandi yg langsung tertutup. dari dalam terdengar ade tertawa terbahak-bahak. "tuh gw udah nyiram bekas kencing gw!" kata ade. suaranya menggema di kamar mandi. "wah lo pikir gw be.." "berisik!" gw berteriak mengatasi kegaduhan. "kalo mau ribut di kamer sendiri sana! pagi-pagi ribut di kamer orang!" mail bersungut-sungut keluar kamar. ade dan mail memang sering ribut, tapi gw tau mereka cuma sebatas becanda. ade orangnya jahil sementara mail gampang marah. makanya setiap ribut pasti heboh. dari dalam kamar mandi ade masih tertawa. 'bip bip' hp gw berbunyi. gw lihat di layar terpampang nama tiie memanggil. "halo," kata gw. "hay rizd," tiie menjawab dari seberang. "lagi ngapain?" "eh, enggak ngapa-ngapain kok. gw baru bangun tidur." "busyet siang kayak gini lo baru bangun? semalem ngapain aja?" "enggak ngapa-ngapain sih. cuma begadang bareng temen-temen aja." ade keluar dari kamar mandi dan mengatakan 'thank you' yg gw jawab dengan anggukan kepala. "lo kok nelpon jam segini sih?" tanya gw. "emang napa? nggak boleh? kalo nggak boleh gw tutup deh." "jiiaah..pake ngambek. nggak, maksud gw kok jam belajar gini bisa nelpon?" "pelajaran terakhir gurunya nggak ada, daripada iseng gw nelpon aja deh." "pantesan berisik banget tuh di belakang lo." "biasa lah anak sekolah kalo nggak ada guru berasa di surga. hehehe.."

kami pun asyik mengobrol. "eh, setelah kita ketemu kok gw sering mimpiin lo ya?" kata gw becanda. "haha...ngerayu nih ceritanya?" "enggak kok serius," padahal gw bohong. "iya sih, gw juga kok jadi mimpiin lo terus ya?" giliran gw yg tertawa. "lo udah punya cewek belum sih rizd?" gw diam sebentar. "belum aja deh. hehehe.." jawab gw. "gw serius rizd, lo punya cewek belum?" "ciiee...sejak kapan lo serius? bukannya lo suka sheila on 7?" gw tertawa. "iiih....bukan itu dodol. becanda aja ah." "iya deh gw serius. lo mau nanya apa?" "wah sejak kapan lo serius? bukannya lo fans ungu ya?" giliran dia yg tertawa. "sorry, sorry, rizd gw becanda kok." lanjut tiie begitu gw diam. "gw pengen tau aja, lo punya cewek nggak?" "gw jomblo kok. emang kenapa?" "emh...nggak papa sih nanya doang. lo nggak nyari cewek gitu?" "udah nyari sih, tapi nggak laku. nggak ada yg mau sama gw. nasib....." "hahaha. kalo gw nembak lo, lo mau nggak nerima gw?" "ah lo ini becanda mulu." "enggak kok gw serius. lo mau nggak jadi cowok gw?" gw terkejut. gw coba mencerna kalimat tiie. dari nada bicaranya agaknya dia serius menanyakan itu. "lo becanda ya tiie?" gw memastikan.

"gw serius harrizd... apa mesti gw ulangi lagi pertanyaannya?" kata tiie. "lo-maunggak-jadi-cowok-gw?" lagi-lagi gw terdiam. jujur gw nggak menyangka dia bakal nanyain itu. dan kalo mau lebih jujur lagi, gw memang suka dan mau jadi cowoknya! mimpi apa gw semalam bangun tidur ditembak cewek?! "kok diem sih?" tanya tiie. "gw salah ngomong ya? maaf deh kalo gw terlalu lancang...." "eh, enggak kok. gw mau jadi cowok lo." tiie diam sebentar. "beneran?" "beneran," jawab gw. "serius?" "serius." tiie kembali diam. jujur saat itu hati gw berdebar kencang seolah tidak percaya dengan yg sedang terjadi. "berarti sekarang kita jadian dong? thanks ya rizd. tapi kok lo mau sih nerima gw?" "karena ku sayang kamu.." "yaelah....berasa dengerin lagu.." tiie tertawa kecil. kami sama-sama terdiam. "eh udah dulu ya, ada guru dateng nih." suara tiie terdengar berbisik. "oke, sayang.." untuk pertama kalinya gw panggil tiie dg panggilan 'sayang'. ah, pagi yg indah buat gw..

PART 5

hari senin minggu depannya gw sudah mulai beraktivitas kembali di sekolah. rasanya sedikit aneh memakai seragam putih abu-abu lagi setelah 1 tahun kemarin gw di jakarta. ada perasaan nggak biasa waktu duduk di kelas mendengarkan guru berbicara. terlebih gw sama sekali tidak mengerti apa yg dijelaskan guru gw di depan ! di kosan dulu gw nyaris nggak pernah belajar samasekali. ada seorang guru yg usil menunjuk gw ke depan mengerjakan soal yg dibuatnya. alhasil gw jadi bahan tertawaan seisi kelas. "udah sabar aja bro, mereka cuma iri sama lo" lucky menepuk bahu gw ketika kami keluar dari ruang guru setelah menghadap ketua jurusan (kajur). tadi pak kajur meminta jurnal laporan kami berdua sewaktu di jakarta. "kayaknya tanggapan yg laen kurang baik nih dengan kepulangan kita ke sini," kata gw. gw memang merasa sepertinya gw tidak disambut dengan baik oleh teman-teman di kelas. gw merasa terasing dari yg lain. sejak kemunculan gw di kelas pagi ini, cuma ada beberapa orang yg mendekati gw sekedar menyapa kabar dan bertanya soal kegiatan magang di jakarta. "perasaan lo aja kali rizd," lucky menenangkan gw. kami duduk di bangku taman depan Ruang Gambar. "semoga aja deh," kata gw. hari itu bukan hari yg baik sebagai awal masuk sekolah. untung saja ada sedikit penghiburan saat pulang sekolah gw ketemuan lagi dengan tiie.

"hai rizd," tiie menyapa gw tanpa canggung saat kami bertemu di depan sekolahnya. ini pertama kalinya gw ketemu tiie setelah jadian. dan gw kembali merasa canggung seperti pertama kali ketemu di mall. "eh, hai. diaz udah balik ya?" gw mencari bahan pembicaraan. "udah dari tadi lah. liat aja udah sepi gini," jawab tiie. saat itu jam 2 siang. sekolah memang bubar jam setengah 2, tinggal ada beberapa siswa di sekitar sekolah termasuk gw dan tiie. kami bertemu di depan sebuah toko klontongan di depan gang sekolah. kami duduk di teras toko yg luas dan membentuk anak tangga. "wah lo balik lag jadi anak sekolah nih," tiie mengomentari seragam gw. gw nyengir lebar. "gimana tadi rasanya masuk sekolah?" lanjutnya. "ya biasa aja lah nggak aneh-aneh banget. kan gw emang anak sekolah?" tiie tersenyum. senyum yg berhasil mencairkan kegugupan gw. gw suka sekali melihat tiie dengan seragam abu-abu nya. "so?" kata gw. "so apanya?" "kita beneran resmi jadi pacar nih?" "pacar? siapa? emang kapan kita jadian?" gw berdiri. "ya udh gw balik yaa." kata gw. tiie menarik tangan gw dengan keras dan ketika gw berhadapan dengannya gw berpura-pura jatuh lalu tepat saat itu gw mencium pipinya. muka tiie memerah malu, dia mendorong gw sampai nyaris jatuh. gw tertawa kecil. "maaf mbak, saya nggak sengaja." "bukan nggak sengaja, tapi mupeng lo." gw tertawa lagi.

"ya udah yuk." kata gw lagi. "emang mau kemana?" "kemana aja deh, ikut nggak?" tiie nampak berpikir. tapi sebelum dia sempat menjawab gw sudah menggandeng tangannya menarik dia mengikuti gw. "bentar dulu, mau kemana nih?" "udah nggak usah rewel, tinggal ikut aja napa?" gw menyetop angkot lalu kami menuju sebuah mall. gw mengajaknya nonton film di studio 21. "mau nonton film apa?" tanya gw. "apa aja deh. nanti juga nggak akan ditonton filmnya," kata tiie lalu nyengir. "emang mau ngapain kalo nggak nonton?" gw dan tiie saling tatap mata. lalu tanpa dikomando kami senyum sendiri. film dimulai pukul 3 sore dan selesai pukul setengah 5. biarpun sebenarnya filmnya nggak jelas tapi kami cukup menikmati kebersamaan kami. sejak saat itulah kami sering janji ketemuan di mall dan nonton di studio 21. yg unik adalah film apapun yg kami tonton dan di studio berapapun, kami selalu memilih bangku nomor E1 dan E2. bangku itu sudah menjadi favorit kami kalau nonton. tapi beberapa kali pernah juga kami duduk di bangku lain karena penuhnya bioskop oleh penonton, biasanya tiap senin rame soalnya tarif nonton hemat. hubungan gw dengan tiie berjalan baik. kami bisa saling mengerti, walaupun kadang gw suka egois. tiie adalah tipe cewek yg sangat memperhatikan cowoknya. gw juga merasa nyaman diperhatikan, tapi gw suka merasa agak risih kalau perhatiannya sudah berlebih.

tiie bisa menerima gw apa adanya, itu point yg paling gw suka dari dia. disaat hampir semua temannya punya cowok yg bawa motor keren, dia menerima gw yg samasekali nggak pernah memboncengnya dengan motor. walaupun di rumah ada motor punya kakak tapi gw merasa lebih nyaman menggunakan angkutan umum.

gw merasa bersyukur sekali punya pacar dia. sebelum ini gw pernah 2 kali pacaran tapi belum pernah merasa seperti dengan tiie. tiie sangat bisa mengerti gw. selama 1 bulan kami jadian belum pernah sekalipun kami bertengkar. sampai pada suatu pagi hp gw berbunyi, pesan dari tiie. gw sedang bersiap berangkat sekolah saat gw baca sms yg berbunyi seperti ini. 'rizd, gw nyesel kenal lo. mulai hari ini kita PUTUS !!'

PART 6

sekali lagi gw menelpon tiie. gagal. operator bilang nomor sedang tidak aktif. sudah empat jam berlalu sejak tiie mengirim sms pagi tadi nomornya langsung tidak aktif. entah apa yg sedang terjadi, gw sendiri tidak habis pikir. pagi tadi tiie kirim sms yg isinya minta putus, pas gw balas di hp belum muncul laporan terkirim. gw langsung cek dengan menelepon, tapi ternyata nomornya tidak aktif. gw kalut. gw bingung. gw pengen tau apa yg sebenernya terjadi ! kenapa tiba-tiba tiie mengirim sms seperti itu tanpa penjelasan ? ada masalah kah ? toh kalau emang ada masalah, bukannya lebih baik dibicarakan baik-baik ? sama-sama cari solusi bukan ide yg buruk, menurut gw. tapi seinget gw antara gw dan tiie sedang tidak ada masalah sama sekali. terakhir tadi malam tiie kirim ucapan selamat tidur lewat sms. it's fine. keadaan baik-baik saja kok. lalu kenapa dia kirim sms kayak gitu ? jujur saja gw takut kehilangan tiie. satu bulan jadian cukup membuat gw benarbenar jatuh hati. gw takut beneran putus. ah, hari yg buruk buat gw. di kelas gw lebih banyak melamun daripada konsen pada pelajaran. hari ini padahal ada ulangan matematika dan gw isi jawabannya asal-asalan. begini ya rasanya patah hati? waktu dulu gw putus nggak beginibegini amat rasanya, gw membatin dalam hati.

"aah," gw menggerutu. "napa sih lo kyaknya hari ini lo bete banget?" lucky duduk di meja. dua teman gw teguh dan agung juga ikut gabung. "muka lo udah kayak sarung buat lebaran aja pake dilipet gitu," teguh menimpali. "biasa lah cuy, ini soal cewek," jawab gw. "beuh...hari gini masih pusing mikirin cewek?" teguh geleng kepala. "gw kasih tau aja ya bro, dalam kamus playboy tuh nggak ada kata cinta. nggak ada tuh istilah cinta pake hati, yg ada cinta pake otak !" gw yg lain tertawa. "bentar dulu cil," kata agung pada teguh. "lo bilang tadi soal kamus playboy, emangnya lo punya cewek?" kami semua tertawa. "beuh....jangan salah sangka. gw tuh kalo jalan sama cewek harus atur schedule, balik sekolah gw ada jadwal sama memey, jam 3 nya si dara, abis itu menjelang maghrib ayu udah nunggu gw. jadi mana sempet kalian liat gw jalan ?" "iya gw tau," kata gw. "kalo jam 12 malem giliran om om hidung belang yaa?" "beuh...lo kata gw gigolo?" "emang kenapa sih lo sama cewek lo?" tanya lucky. "cewek gw minta putus." "jiiaaah....gitu aja pusing. kalo putus ya cari lagi dong." "gw bukan playboy bro. gw masih mencintai cewek pake hati, gw bukan cowok yg cuma manfaatin cewek." "wuiih....masih ada aja ya cowok kek lo gini?" agung yg sekarang geleng kepala. "inget pesen gw bro, cewek jaman sekarang gak ada yg bener bro. makanya cinta pake otak. oke bro?" teguh menepuk bahu gw. "gw laper nih, ada yg mau ikut ke kantin?" "lo nraktir nih?"

"kagak lah, lo bayar sendiri-sendiri." lalu mereka bertiga beranjak pergi. gw kembali memikirkan tiie. kayaknya nggak ada yg bisa gw lakukan kecuali menunggu sms gw terkirim dan berharap tiie berpikir dingin lalu menjelaskan yg sebenarnya terjadi. dan setelah lama gw amati layar hp gw menyala tanda pesan terkirim. entah berapa banyak gw kirim sms ke dia soalnya laporannya bejibun. berkali-kali gw kirim permintaan maaf dan menegaskan bahwa gw nggak mau putus. dengan hati berdebar gw tunggu balasan sms tiie. di sela pelajaran terakhir gw mencuri-curi kesempatan mengecek hp gw siapa tahu ada balasan. tapi nyatanya sampai gw balik pun hp gw tetep sepi. pikiran gw sumpek banget siang itu. kayaknya tiie serius pengen putus, pikir gw. gw lagi nongkrong di halte bareng teman-teman saat hp gw bergetar. segera gw liat hp. ada balasan sms dari tiie !! gw seneng banget saat itu. dengan berdebar-debar gw baca isi pesannya. 'sayang, maaf ya tadi gw nggak bawa hp ke sekolah soalnya lobet' langsung gw bales tuh. 'apa yg sebenernya terjadi? maksud sms tadi pagi apa?' dan semenit setelahnya tiie membalas lagi. 'hehe..maaf ya rizd tadi gw becanda doang kok. gw cuma mau ngetes seberapa besar sayang lo ke gw.' fiuh....betapa leganya gw baca sms itu. semua pikiran-pikiran jelek selama beberapa jam yg lalu langsung lenyap begitu saja. 'jadi tadi lo nggak serius minta putus kan?' 'enggak donk sayang..emang kaget banget ya kok sampe ngirim sms sampe puluhan gitu.' 'bukan kaget lagi, jantungan nih gw baca sms lo tadi pagi!' tiie tetap menjawab dengan santai. 'iya deh maafin gw ya...lo tenang aja gw nggak serius kok tadi.'

gw menghela nafas panjang. berkali-kali gw mengucap syukur. mungkin terkesan lebay, tapi begitulah karena gw sudah terlalu sayang. gw takut kehilangan tiie. 'by the way hari ini lo ada acara nggak? kita ketemuan yuk. nonton di tempat biasa.' gw mengajak tiie nonton. cukup lama sampai tiie membalas. 'wah maaf banget siang ini gw nggak bisa, ada bokap nih.' bokap tiie memang bekerja di karawang. dan tiap dua minggu sekali pulang. mungkin hari ini memang jadwal bokapnya balik. 'oh ya udah kalo gitu' gw mengakhiri pembicaraan di sms dengan hati yg sangat lega.

PART 7

harus diakui sekarang ini gw lagi sayang-sayangnya sama tiie. walaupun kadang dia sangat menyebalkan, suka 'memacu adrenalin' gw seperti yg dilakukannya waktu pura-pura minta putus beberapa waktu yg lalu. dan pada kenyataannya setiap hubungan pasti tidak pernah berjalan mulus, sering ada pertengkaran kecil diantara pasangan. begitupun yg terjadi pada kami. dan kalau hal itu sedang terjadi pada kami, tiie seringkali menonaktifkan nomor handphone nya. yg tentu saja hal ini membuat gw merasa tidak nyaman. sangat tidak nyaman kalo lo tau. gw pikir kejadian semacam itu cuma sekali dua kali, tapi setiap ada hal yg membuatnya marah dia selalu mematikan handphone nya. "ya kan biar kita nggak semakin terbawa emosi," tiie pernah beralibi demikian ketika gw tanyakan alasan dia melakukan hal itu. "menurut gw dengan nggak berhubungan beberapa saat, emosi kita akan mencair. dan saat itulah kita akan damai lagi." kita ? tapi nyatanya setiap kita bertengkar selalu saja gw yg minta maaf lebih dulu, nggak peduli siapa yg salah. tiap nomor tiie sedang nonaktif gw selalu mengirim pesan berisi puisi sekedar bentuk permintaan maaf. dan seandainya lo tau tiie, gw melakukan itu semua karena rasa sayang gw ke elo! kadang lo menanggapi dengan dingin sms-sms gw. tapi gw selalu berusaha mencari celah untuk lo memaafkan gw. sekali lagi, itu karena gw sayang sama lo. gw takut kehilangan lo.

well, kejadian semacam itu gw anggap sebagai kerikil-kerikil dalam perjalanan hubungan kami yg tentu saja adalah juga pelajaran untuk menuju hubungan yg lebih baik. toh tiie juga tidak selalu menunjukkan sisi sensitif nya. beberapa kali dia menunjukkan kalau dia adalah sosok perempuan yg dewasa menghadapi sebuah masalah. dan yg paling tidak pernah gw lupakan adalah momen ketika gw ulang tahun yg ke 18 di awal Maret. tanpa gw tahu, tiie memberikan sebuah kejutan dengan datang di rumah gw setelah pulang sekolah. dia bersama tiga orang temannya repot-repot membawa kue ulang tahun beserta kadonya. dengan sebuah syukuran kecil-kecilan gw mendapatkan hadiah terbaik di hari ultah gw. ini pertama kalinya, dan satu-satunya sampai saat ini, pacar gw merayakan ultah gw di rumah gw sendiri. gw merasa telah menemukan wanita terakhir dalam hidup gw. gw bertekad akan selalu setia dan berharap hubungan kami akan terus berlanjut sampai jenjang yg lebih serius nantinya. kesetiaan gw tidak perlu dipertanyakan lagi. gw rela melakukan apapun demi seorang tiie. mungkin gw sudah terkena virus cinta buta, kadang-kadang gw berpikir demikian. tapi gw tidak bisa selalu hanya menjalani kehidupan gw dengan tiie. ada kehidupan real yg harus gw hadapi, yaitu ujian nasional. gw memasuki bulanbulan terakhir di sekolah. untuk mengejar ketertinggalan pelajaran gw 1 tahun terakhir ini, gw mengikuti les bimbingan belajar di salahsatu lembaga pendidikan. tiap hari sampai menjelang dilangsungkannya ujian, sepulang sekolah gw mengikuti les yg berdurasi 2 jam pertemuan. yg gw kejar hanya 3 mata pelajaran yg di uji kan nanti. bulan april adalah bulan yg sibuk buat gw. di samping les, gw juga dituntut mengisi kekosongan nilai di raport gw selama 1 tahun gw di jakarta. karena gw tidak berada di sekolah saat itu, maka otomatis nilai raport gw pun kosong. jadi setelah gw kembali, gw diwajibkan 'mengejar' nilai yg kosong itu. caranya adalah dengan meminta soal tes pada guru yg bersangkutan. bisa dibayangkan berapa banyak tes tambahan yg harus gw hadapi untuk nilai selama 2 semester. tapi beruntung gw nggak sendiri, ada lucky yg juga sama-sama mengikuti tes tambahan ini. di saat murid lain pulang, gw menemui guru untuk tes tambahan. setelah itu gw ke tempat les. begitu hampir setiap harinya. dan otomatis frekuensi gw bertemu tiie juga menurun drastis. tapi toh beruntung gw punya pacar tiie, dia sangat mengerti dengan ini.

lagipula tiie juga sibuk mengikuti pengayaan atau jam tambahan setelah jam pulang sekolahnya. gw tau tiie juga sedang bersiap-siap menghadapi ujian nasional akhir Mei nanti. sekolah gw juga sebenarnya mengadakan jam tambahan, tapi berbeda dengan sekolah tiie yg jam tambahannya siang hari, di

sekolah gw jam tambahan diadakan pagi hari sebelum jam belajar. kalau dulu gw masuk jam 7 pagi, sekarang gw dan kelas 3 yg lain mulai belajar jam 6 pagi. tapi itu tidak setiap hari karena yg ditambahkan hanya materi 3 pelajaran yg di uji kan. gw cuma punya 1 hari libur, dan bahkan nyaris tidak ada karena kadang gw ikut les tambahan, diskusi kelompok belajar bareng teman sekolah, atau sekedar belajar sendiri di rumah. benar-benar gw nyaris mati dalam kesibukan.! beberapa hari sebelum ujian tiba.. nama-nama peserta ujian beserta denah ruangan untuk ujian sudah terpampang di sebuah papan di depan Ruang Guru. gw mengecek nama gw ada di Ruang 035. iseng-iseng gw juga melihat nama-nama yg lain. dan saat itulah gw sadar bahwa momen terberat dalam sekolah akan gw hadapi kurang dari 3 hari lagi......

PART 8

*teeeet* sepersekian detik setelah bel berbunyi seisi ruangan bergemuruh. beberapa dari kami bahkan berteriak senang. petugas pengawas ruangan hanya geleng kepala sebelum akhirnya pergi. hari ini adalah hari terakhir kami ujian nasional. sudah 3 hari ini kami berkutat dengan soal. ketakutan akan ujian yg selama ini memenuhi otak gw sekejap sirna. ternyata kalau mau dibilang bobrok, negeri ini memang benar-benar bobrok! mari kita tengok fakta-fakta yg gw alami ketika ujian nasional 3 hari terakhir ini. jam dimulainya ujian adalah jam 8 pagi, tapi satu jam sebelumnya--setiap hari selama ujian--gw rutin menerima sms dari ade, teman magang sewaktu di

jakarta. dia mengirimkan pesan berisi kunci jawaban lengkap dari soal pertama sampai terakhir! tapi gw tidak langsung percaya begitu saja, gw harus cek dengan soalnya. dan ketika di ruangan ujian gw sibuk mencocokkan jawaban dari ade, salah satu guru dari jurusan kami yg seharusnya tidak ada di sekitar ruangan, menghampiri salah satu jendela ruangan kami dari luar. dia mengetuknya, memanggil sutrisno teman gw yg duduk di sisi jendela tersebut. awalnya kami semua kaget. begitu jendela dibuka, guru kami menyerahkan dua lembar kertas HVS putih. jelas saja gw dan yg lain pastinya, bertanya-tanya apa maksudnya. "ini jawaban untuk soal tipe A dan ini untuk soal tipe B," suara guru kami pelan tapi cukup keras untuk didengar seisi ruangan, termasuk dua orang pengawas ujian dari departemen pendidikan nasional. Salah satu dari mereka berdiri. tadinya gw kira dia akan marah melihat kami diberi contekan, tapi ternyata si pengawas malah membalas senyuman dari guru kami sebelum dia pergi lagi. "ingat, jangan berisik." cuma itu komentar dari si pengawas, kemudian ia duduk lagi. kertas digilir ke semua siswa sesuai tipe soal yg mereka dapat. dan saat gw coba bandingkan bocoran dari ade dengan contekan dari guru, hasilnya 95% sama! begitulah yg terjadi selama 3 hari ini. gw tertawa dalam hati. pendidik macam apa mereka-mereka ini ?? kalau saja gw tahu akan seperti ini, gw nggak akan bersusah payah mengikuti les dan jam tambahan. gw tinggal hadir dan menunggu 'masukan' dari guru. "gw bilang juga apa kan, kita pasti dibantu guru," kata lucky ketika kami keluar ruangan. gw perhatikan ekspresi semua murid di hari terakhir ini begitu ceria. "rizd, ayo ikutan pesta!" agung berteriak dari kerumunan murid yg mencoretcoret seragam dengan pilox. "entar gw nyusul deh," gw balas teriak. gw dan lucky berjalan menuju halte tempat favorit gw dan teman-teman biasanya nongkrong sebelum pulang ke rumah. tapi halte siang ini sepi. yg lain sedang sibuk corat-coret baju di sekitar halaman sekolah. 'bip bip' hp gw berbunyi. sms dari tiie. gw ingat siang ini kami janji ketemuan setelah sekitar 1 bulan disibukkan persiapan ujian.

"gw duluan ya bro," gw pamit pada lucky. gw menemui tiie di sekolahnya. lalu kami memutuskan jalan ke sebuah objek wisata. tempat yg tenang dan teduh untuk mengobrol melepas rindu. "wah curang ya guru lo," tiie berkomentar setelah gw ceritakan yg terjadi di ruangan ujian. saat itu kami duduk di bawah sebuah pohon yg menghadap ke sebuah danau. "gw boro-boro dapet bocoran kek gitu!" gw tertawa lebar. perasaan lega gw melewati ujian dilengkapi rasa bahagia gw bertemu tiie. apalagi di tempat ini cuacanya sangat mendukung untuk bersantai. tiie adalah sosok yg sempurna buat gw. dia sangat terbuka. dia menanyakan soal hubungan gw dengan mantan-mantan gw. gw cerita apa adanya. dan sebelum ini tiie juga memang pernah menceritakan soal mantannya, jadi seperti tukar cerita diantara kami. yg gw tahu dari cerita tiie, mantan tiie adalah siswa sekolah gw juga. seangkatan, tapi tidak satu jurusan. namanya Eka. tapi gw belum pernah lihat dan tahu seperti apa persisnya Eka, karena kami memang tidak saling mengenal. gw cuma pernah lihat namanya di papan pengumuman waktu gw mengecek pembagian ruangan ujian minggu kemarin. gw ingat eka ada di Ruang 021 untuk jurusan bangunan. tapi gw sendiri tidak pernah mempermasalahkan lebih jauh soal eka pada tiie. toh mereka sudah putus. saat sedang memutar sebuah lagu, hp gw mati karena lobet. "tiie, hp lo mana? gantian donk puter mp3, hp gw koit" kata gw hendak mengambil hp gw dari tas milik tiie. tapi tiie bereaksi cepat. dia menepis tangan gw dari tasnya. "kenapa?" gw heran. "mmh...itu. hp gw lobet, iya lobet." tiie nyengir terpaksa. gw yg nggak percaya mencoba mengambil hp tapi ditepisnya lagi. "gw cuma mau liat bener nggak lobet?" kata gw mulai berpikiran aneh. "bener! nggak percayaan banget," tiie terlihat gusar. gw menangkap ekspresi takut di wajah tiie. gw jadi mulai curiga. dan saat itu gw baru sadar, sejak pertama jadian tiie memang tidak pernah mau meminjamkan hp nya ke gw. pasti ada saja alasannya untuk menolak menyerahkan hp nya ke gw.

ada apa sih sebenarnya?? gw bertanya-tanya dalam hati.

PART 9 emosi gw mendidih nyaris melonjak keluar dari ubun-ubun. "emang masalah ya kalo gw liat hp lo??" suara gw melengking tinggi sampai gw sendiri tidak mengenali suara gw. setelah adegan berebut tas selama beberapa detik, gw berhasil mendapatkan hp tiie. tiie sendiri seolah pasrah dan terdengar mulai sesenggukan menangis sambil terduduk memegangi tas nya. entah berdasarkan apa gw langsung mengecek kotak SMS nya.

tapi saat gw pilih submenu inbox nya, keterangan di layar hp berbunyi seperti ini please insert password to open the message inbox.. "maksudnya apaan nih pake password segala??"gw menggerutu. "ada yg lo sembunyiin dari gw ya tiie???" tiie tidak menggubris. dia tetap menangis. "password nya berapa??" gw tanya sekali lagi tapi tetap tidak dijawab. emosi gw makin memuncak. oke, gw bisa pecahin kode ini sendiri, gw membatin dalam hati. lalu dengan jarijari yg bergetar gw menekan keypad hp. pertama gw coba tanggal lahir tiie, gagal. saat gw coba tanggal lahir gw juga gagal. "kalo password nya bukan tanggal jadian, tiie pasti memang nyembunyiin sesuatu dari gw" setan kecil berbisik di telinga gw. jantung gw berdegup sangat kencang waktu itu. terlebih tangan gw juga bergetar hebat. gw masukkan tanggal jadian kami...tetap saja gagal. dan entah setan mana yg berbisik, gw ingat waktu mengecek nama peserta ujian, gw melihat nama eka mantan tiie. di sana juga tertera tanggal lahir peserta ujian. meski hati gw memberontak, otak gw coba mengingat angka yg tertera di kolom tanggal lahir eka.

pelan-pelan gw tekan angka-angka ini. 2-7-0-4-1-9-8-9............ BERHASIL !!!! bayangkan betapa sesaknya dada gw ketika melihat kenyataan ini ! apa maksudnya tiie menggunakan tanggal lahir mantannya sebagai password inbox ?? bukannya mereka sudah lost contact sejak putus beberapa bulan lalu ? tentu saja jawabannya adalah gw salah besar ! sekuat apapun gw berontak, toh gw tidak bisa menutupi kenyataan bahwa di dalam inbox hp tiie terdapat banyak pesan dari nomor yg diberi nama Eka_sAyan9, dan nomor gw cuma punya nama 'harizt'. yg lebih miris, pesan gw cuma ada beberapa saja, padahal hampir setiap saat gw kirim sms ke tiie ! tapi yg gw lihat justru sms dari eka lah yg mendominasi. isi pesannya pun nggak kalah mesra seperti gw sms ke tiie. kata 'sayang' dan 'cinta' akrab ditemui di sms yg gw baca.

dalam hati gw ingin sekali berteriak ! menyumpahi kebodohan gw selama ini ! otak gw samasekali nggak mampu berpikir jernih. "nih gw balikin hp lo," gw lempar hp nya ke rumput. gw nggak sanggup baca semua isi sms itu. dengan ragu tiie memungut hp dan memasukkannya ke tas. jujur aja, saat itu gw sebenarnya ingin sekali membanting hp tiie sampai pecah berkeping-keping lalu berteriak di depan wajahnya biar dia tahu yg gw rasakan sekarang. napas gw mendadak sesak. kepala pening terasa panas. nggak ada sepatah pun kata yg sanggup gw ucapkan. "maafin gw rizd," kata tiie akhirnya setelah lama kami terdiam. "sekarang lo tau kan alasan gw nggak mau minjemin hp ke lo?" gw nggak menjawab. "gw tau lo pasti sakit hati. itu yg gw nggak mau." tanpa terasa airmata gw meleleh juga, saking sakit hatinya gw. buru-buru gw menyeka nya. "gw nggak nyangka lo tega giniin gw," walau berat akhirnya gw bicara. giliran tiie yg diam. "kenapa diem?? jawab pertanyaan gw!" gw kembali berteriak. tiie nampak ketakutan. dia tidak berani menatap wajah gw. "habisnya selama satu bulan terakhir ini kan kita jarang contact," tiie menjawab dengan muka tertunduk. "lo jarang sms, jarang nelepon..cuma eka yg ngasih support gw selama ujian ini. dia yg tiap pagi kirim sms nyemangatin gw." "ooh jadi gitu.....disaat gw sibuk demi sekolah, lo mulai berpaling sama mantan lo?! asal lo tau, alasan lo tadi itu klasik banget!" "lo jangan marah-marah gitu dong. lo denger dulu penjelasan gw!" "apa?? apa lagi yg mau lo jelasin ! udah jelas lo ngekhianatin gw!" "tapi gw kek gitu di sms doang rizd..gw samasekali nggak ada rasa." "terus kenapa mesti panggil sayang-sayangan? cinta-cintaan??"

"jadi sebenernya waktu gw putus dulu, dia tuh nggak mau. dia tetep ngehubungin gw.." "termasuk panggilan 'sayang' itu??" gw mendengus kasar. "itu kan panggilan di sms doank....dia yg duluan manggil kek gitu, gw sih cuma ngikut aja. abisnya nggak enak kan kalo nggak bales sms, dikira sombong.." gw terdiam. emosi gw sedikit menurun, tapi belum bisa menjernihkan otak dan pikiran gw. berkali-kali gw coba menarik napas, tetap terasa sesak. "oke," kata gw. suara gw bergetar. "sekarang gw pengen tau kenapa password sms lo tanggal lahirnya eka?" tiie diam. "lo masih sayang kan sama eka??" gw mencecar tiie dengan pertanyaan yg gw yakin akan jadi kunci permasalahan ini. tapi tiie tetap diam. masih diam.. "nggak bisa jawab kan?" kata gw sinis. gw berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan tiie yg masih terduduk di tempatnya...

PART 10

satu minggu sudah berlalu sejak kejadian gw meninggalkan tiie gara-gara masalah eka. selama itu juga gw hampir tidak pernah menghubungi tiie, begitu pun tiie tidak pernah membalas kalau gw sms. tapi satu hal yg pasti, kami belum putus, setidaknya belum ada kata terlontar dari kami yg menegaskan hubungan kami berakhir.

jujur saja hati gw masih sakit, gw nggak bisa memungkiri itu. gw seolah masih melihat rangkaian kata-kata sms eka di depan mata gw. tapi gw juga nggak mampu membohongi perasaan kalau gw masih sayang tiie. perlahan gw sadar bahwa rasa sayang gw ke tiie lebih besar dari ketidakrelaan gw dikhianati dia. seiring berlalunya hari, gw mulai memaafkan tiie. mungkin tiie benar bahwa mereka tidak pernah bertemu. mungkin mereka seperti itu di sms saja. apapun itu, gw sadar gw telah mengambil keputusan keliru saat emosi menguasai hati. gw harus membicarakan ini dengan hati yg lebih tenteram dan pikiran yg dingin. dan dengan tekad itulah gw pacu sepeda motor milik kakak gw menuju rumah tiie. disana gw disambut dengan baik oleh lee, adik perempuan tiie yg saat itu duduk di kelas 6 sd. "kakak lagi tidur," kata lee. "kata siapa?" "kata kakaknya, tadi bilang gitu ke lee," kata lee yg sedetik kemudian menyadari omongannya. gw nyengir lebar. "jadi tadi kata kakak, suruh bilang lagi tidur ya?" "iya gitu," lee terpaksa mengaku. "tadi pas kak harrizd dateng, kakak tuh lagi nonton tivi. terus buru-buru masuk kamer, nyuruh lee bilang kek tadi." gw tersenyum senang. "sekarang tolong 'bangunin' kak tiie dong.." kata gw. "bilang aja kakak mau ngobrol gitu." dengan mendengus pelan lee beranjak dari ruang tamu menuju kamar tiie. gw perhatikan rumah sedang sepi, bokap tiie pasti lagi di karawang. nyokapnya mungkin lagi ngerumpi sama tetangga di luar. makanya gw berjalan mengikuti lee dari belakang. "kak," lee mengetuk pintu sebuah kamar. dia belum sadar gw ada di belakangnya. "ada cowok kakak tuh! maksa minta ketemu." "masih kecil udah bisa bohong ya?" gw berbisik di telinga lee. lee terperanjat kaget.

"ngapain disini?" lee berbisik. gw cuma nyengir lebar. "udah ah, bangunin sendiri sana." lee menggerutu lalu pergi. gw berdiri menatap pintu kamar berwarna cokelat itu. gw ragu buat mengetuk pintu. tiie bakal marah nggak ya kalau tahu gw ada di depan kamarnya? "cepetan ketuk aja pintunya!" lee berseru pelan dari kursi tamu. "cemen ah." gw nyengir lalu memantapkan hati mengetuk pintu. baru saja gw gerakkan tangan ketika tiba-tiba lee menarik tangan gw, menggiring gw kembali ke ruang tamu. gw didudukkan di kursi dengan posisi asal-asalan. "ada mamah," kata lee menunjuk jendela samping rumah. dari sana tampak seorang wanita paro baya masuk ke rumah lewat pintu samping. "bahaya kalo ketahuan, entar lee dimarahin bawa cowok masuk." ibu tiie menuju ruang tamu menemui gw dan lee. gw menyalaminya. "ini siapa ya?" tanyanya. lee berbisik di telinga ibunya. entah cuma perasaan gw atau bukan tapi sepertinya ekspresi wajah ibunya kurang bersahabat. "saya mau ketemu tiie," gw mencoba ramah. sejenak ibunya menengok ke arah kamar lalu berkata. "kayaknya tiie lagi tidur. kesini lagi aja nanti, besok atau lusa." "waduh, tapi saya ada perlu penting bu." gw nyengir pait. "tolong bangunin tiie nya dong bu.." ibu tiie diam sebentar lalu beranjak ke kamar tiie. sedetik kemudian ia sudah menggedor-gedor memanggil nama tiie. cukup lama sampai akhirnya gw lihat pintu terbuka dan sosok tiie muncul dari dalam kamar. mereka bicara sebentar lalu ibu pergi lagi keluar rumah. sepertinya masih tetap dengan ekspresi ketidaksukaannya ke gw. tiie menatap gw dengan tajam, tatapan yg tidak biasanya. lalu akhirnya dia berjalan menuju tempat gw. dia memasang wajah kusut. duduk di kursi seberang gw, menyuruh lee pergi, lalu berkata.

"mau ngapain lagi?" katanya sebal. "kok ngomongnya gitu sih?" gw mencoba cairkan suasana. "gw masih cowok lo, tiie." "oh ya?" jawab tiie tanpa menatap gw. "bukannya kemaren lo udah marahmarah dan ninggalin gw sendirian?" "ssst..denger tiie, gw ke sini buat menyelesaikan masalah hari kamis kemaren, bukan mengungkit-ungkit hal itu." gw berpindah duduk di sebelah tiie yg masih bersikap dingin. "mari kita bicarakan ini baik-baik." tiie tetap diam. "gw sayang banget sama lo, tiie. itu yg bikin gw kesini sekarang. gw tanya, lo sayang nggak sama gw?" tiie bertahan diam. "oke, oke. gw minta maaf soal kemarin. kita baikan yaa? gw nggak mau kehilangan lo." gw menggenggam tangan tiie. "gw lagi nggak mood," katanya. "kita ngomonginnya besok aja deh." gw meraih tangan tiie kemudian menggenggamnya. tapi tiie segera menarik tangannya. "gw lagi nggak mood," katanya lalu berdiri. "kita ngomonginnya besok lagi aja." lalu tiie berlalu ke kamar dan menutup pintu cukup keras. kali ini giliran gw yg ditinggal.

PART 11

"wey bro," lucky menepuk bahu gw. "lo dipanggil pak suara tuh di ruang guru."

"mau disuruh ngapain lagi? kan nilai udah terisi semua?" gw bangun dari duduk. "tau tuh gw juga bingung sama wali kelas kita yg satu ini." "gw cabut dulu bro," kata gw pamit pada agung dan teguh yg masih duduk di bangku taman. lucky menemani gw ke ruang guru. "misi pak, tadi katanya bapak nyari saya?" kata gw pada pak suara yg seperti sedang mencari sesuatu di mejanya. lucky berdiri di belakang gw. "eh, iya, ini min." jawab pak suara tanpa menoleh ke arah gw. "daftar nilai kamu, udah kamu kasih belum ya ke saya? soalnya di meja saya kok nggak ada?" "masa sih pak?" gw terkejut. "kemaren kan udah saya serahkan ke bapak, bareng sama punya lucky juga. iya kan luck?" gw menoleh ke lucky mencari dukungan. lucky mengiyakan. "coba cari lagi pak, kali aja nyelip di dalem file lain" lucky memberi saran. pak suara menghentikan aktivitasnya. dia menatap lucky. "memang kamu nggak liat sekarang saya lagi ngapain?" kata pak suara sedikit meninggi. "kamu murid berani nyuruh guru ya?" "saya kan cuma ngasih saran pak," lucky membela diri. "kamu kalo dibilangin ngeyel ya? bukannya bantuin, saya lagi sibuk nyari daftar nilai nya si amin nih!" gw terkejut lagi. "tunggu dulu pak," kata gw. "yg bapak cari daftar nilai siapa?" "si amin temen kamu itu, masa nggak kenal? nur amin syaifulloh." "yaelah....saya harrizd pak, bukan amin. kalo bapak emang ada perlu sama amin, nanti saya panggilin deh dia lagi di kantin." "oh jadi kamu bukan amin? terus siapa yg suruh kesini??" lucky baru saja mau mengatakan sesuatu, tapi gw langsung menariknya keluar ruangan. "iya pak, nanti saya panggil amin suruh menghadap bapak," kata gw sebelum pergi.

di luar lucky ngotot meyakinkan gw bahwa dia mendengar tadi wali kelas menyuruhnya memanggil 'harrizd' bukan 'amin'. dan akhirnya kami asyik menjelek-jelekkan wali kelas kami yg payah itu. tapi kami baru bertemu amin pada jam terakhir, jadi gw pikir percuma memberitahukannya. "kita ngenet dulu yuk," kata lucky setelah bubaran. kami menuju tempat parkir murid. "gw ada janji mau nemuin cewek gw di sekolahnya bro." "oh si tiie yg sering lo ceritain itu ya?" gw mengangguk. "okelah gw ikut, sekalian kenalin dong. gw pengen tau kek apa sih cewek yg sering lo ceritain itu?" akhirnya gw membonceng lucky ke sekolah tiie. gw menunggu di depan toko tempat biasa gw nunggu tiie. gw sempat bertemu diaz tapi nampaknya sohib gw itu lagi sibuk jadi langsung pergi. setelah menunggu setengah jam akhirnya tiie muncul juga di gerbang. dia berjalan bareng teman-teman ceweknya. gw berjalan mendekat bermaksud menyambutnya. gw berdiri di depan gang sementara lucky tetap di depan toko. biar nanti gw kenalkan mereka. "hay..." gw tersenyum ke arah tiie. tapi lo tau apa yg terjadi? tiie seolah nggak melihat keberadaan gw, dia berlalu begitu saja padahal tadi kami sempat bertatap muka! gw menoleh ke arah lucky yg juga nampak bingung. gw mengejar tiie, meraih tangannya berusaha menghentikannya. "tiie," panggil gw. tiie memang berhenti, tapi cuma sebentar. dia menepis tangan gw lalu melanjutkan berjalan lagi. teman-temannya sempat melihat gw lalu mereka saling berbisik. gw bingung sekali. kenapa lagi ini?? bukankah kemarin tiie yg minta membicarakan masalah kami siang ini? tapi apa yg dia lakukan benar-benar membuat gw malu pada teman-temannya. gw hampiri lagi tiie. tapi tiie yg sempat melihat gw mendekat, langsung masuk ke sebuah angkot kemudian angkot itu pergi dengan tiie ada di dalamnya.

gw berlari ke tempat motor diparkir. lucky yg keheranan menghampiri gw. "itu tadi cewek lo rizd?" tanyanya. "kok dia gitu banget ke elo??" lucky duduk di jok belakang. "sory, entar gw ceritain deh. sekarang kita harus ngejar angkot tadi. gw udah hafal plat nomornya." gw langsung menarik gas. mengikuti arah perginya angkot tadi. gw merasakan lagi emosi gw mulai naik. bingung dan sedih berbaur. "ada apa lagi sih tiie??" gw membatin. ingin rasanya menabrakkan diri ke trotoar, tapi gw ingat di belakang gw ada lucky. "sabar bro. keep calm.." bisik lucky ke gw. gw berhasil menyusul, angkot itu tengah menurunkan penumpang. gw sengaja menyalipnya. berhenti agak jauh dari tempat itu. langsung gw lepas helm dan menyerahkannya ke lucky. "bro, tolong lo bawa motor gw," kata gw. "gw mau ikut angkot itu. lo ikutin dari belakang aja angkot yg gw naiki, oke?" lucky mengangguk setuju. lalu gw berdiri di pinggir jalan itu, menunggu angkot tadi menghampiri gw lalu gw pun masuk. begitu gw masuk, tiie yg duduk di pojokan terkejut melihat gw ada di seberangnya. dia tampak cemas dan takut. sementara gw sendiri sedikit bernafas lega setidaknya gw nggak bakal kehilangan jejak tiie. perlahan angkot mulai jalan. dari tempat gw sekarang, sekali lagi gw melempar senyum ke arah tiie, tapi lagi-lagi dia buang muka..

PART 12

"ngapain sih lo ngikutin gw terus??" kata tiie gusar ketika kami turun dari angkot. kami turun di depan sebuah pusat perbelanjaan. gw tau dari tempat ini tiie akan berganti angkot menuju rumahnya. "makanya kasih gw waktu buat bicara," gw membalas tidak kalah sengit. "mau ngomongin apa lagi?? nggak ada lagi yg perlu diomongin!" "please dengerin gw dulu tiie," gw menurunkan nada bicara gw. "alaah..emang penting ya dengerin lo?" gw sudah hilang kesabaran. kalau saja saat itu ada cermin, gw yakin cerminnya bakal pecah memantulkan wajah gw yg memerah dipenuhi darah yg mendidih di ubun-ubun. "lo pikir sapa elo??" gw berteriak menarik perhatian orang-orang di sekitar gw. "kan lo yg salah? kok jadi gw yg ngemis-ngemis minta maaf gini!" tiie memandang sekitar. orang-orang berbisik memandang kami. rupanya dia tidak menyangka gw akan semarah itu. "eh, siapa juga yg nyuruh lo ngemis maaf ke gw!" tiie membalas lagi. "gw nggak butuh kata maaf dari lo!!" jelegerr ! gw seperti disambar petir mendengar kata-kata yg diucapkan tiie barusan. emosi yg tadi memuncak tiba-tiba hilang. nafas gw terasa sangat sesak. kata-kata itu sanggup membuat gw terdiam. tubuh gw terasa lemas. darah di sekujur tubuh gw seolah menjadi panas. "kenapa tiie?" kata gw terbata-bata. "kenapa lo lakuin ini ke gw?" tiie tersenyum sinis.

"asal lo tau," katanya memelankan suara. "gw memang udah putus sama eka, tapi tetep aja dia tuh selalu ada di hati gw. dan sehebat apapun elo, nggak mungkin bisa ngegantiin eka di hati gw." nafas gw makin sesak. gw nggak pernah menduga kalau jadinya akan seperti ini. gw pikir kemarin tiie akan membicarakan soal kata 'damai'. tapi ternyata gw salah besar ! "lo juga perlu tau rizd," kata tiie lagi. "sampe kapanpun gw nggak akan pernah dapetin yg gw mau dari lo." selesai mengatakan itu tiie berlalu meninggalkan gw yg terdiam kaku. gw sangat shock dengan semua ini. untunglah saat itu lucky datang menghampiri gw. "ayo kita pulang bro," kata lucky. "nggak enak sama orang-orang di sini pada ngeliatin tuh." lalu gw duduk di belakang lucky. lucky mengantar gw sampai rumah. lucky yg merasa iba, berusaha mengibur gw. dia baru pulang sekitar jam 5 sore. gw lumayan terhibur ada teman saat gw sedih seperti ini. gw benar-benar nggak habis pikir akan begini jadinya. malam itu gw duduk merenung di samping tempat tidur di kamer gw. gw ambil hp lalu mulai menghapus pesan-pesan masuk dari tiie. terakhir gw hapus nomornya dari daftar kontak di hp gw. gw harus bisa lupain tiie, kata gw dalam hati. gw nggak mau terus-terusan begini. gw bergegas ke lemari, mencabut foto-foto gw bersama tiie yg gw tempel di pintu lemari, lalu memasukkannya ke laci dan gw kunci rapat-rapat. kuncinya gw sembunyikan di bawah tumpukan baju. saat itulah hp gw berbunyi. sms dari chosar, teman gw biasa ngeband. maaf kalau gw lupa cerita, sebelum berangkat magang ke jakarta gw pernah punya sebuah band yg anggotanya teman sekolah gw. tapi sejak gw di jakarta sampai sekarang kami belum pernah main lagi. dan chosar, malam itu mengajak gw main di studio rental langganan kami. tidak mau terus larut dalam sedih, gw tarik gas motor gw menuju studio. beruntung sekali malam ini gw masih punya sesuatu yg membahagiakan. di studio sudah ada teguh, agung dan chosar. mereka duduk di ruang tunggu studio. "tumben nih," kata gw. "siapa yg ngajakin kita maen?"

"tuh si chosar, gw sama teguh juga di-sms ngedadak banget tadi abis maghrib" kata agung. "kenapa nggak dari siang aja lo bilang ke anak-anak?" tanya gw ke chosar. "ini juga dadakan kok," jawab chosar. "maksud lo?" "sebenernya yg ngajakin maen malem ini bukan gw, tapi temen gw." gw memandang ketiga teman gw. "bukannya dari dulu band kita cuma berempat yaa?" kata gw. "iya. tapi temen gw juga anak band, dia udah lama nggak maen juga. malem ini dia mau maen tapi temen-temennya lagi pada sibuk. bentar lagi dia dateng katanya sekarang lagi di jalan." "temen lo anak mana sih?" "anak SMK veteran. namanya ruly." meski saat itu studio sedang sepi penyewa, kami menunggu teman chosar. dan akhirnya setelah sepuluh menit menunggu terdengar mesin motor masuk di depan studio. "nah, dateng tuh anaknya." gw menoleh ke arah pintu, seorang perempuan dengan menenteng helm berdiri tersenyum menyapa kami di depan pintu. ketika dia melempar senyum ke gw, gw yakin sebagian dari diri gw jatuh hati padanya. "lo yang namanya ruly?" tanya gw ke cewek itu. dia tertawa kecil lalu menjawab. "oh, bukan. gw finny. nih yg namanya ruly," dia menunjuk seorang cowok yg juga menenteng helm, yg muncul di belakangnya. chosar dan yg lain tertawa lebar. "ruly itu cowok cuy," kata chosar. "halo semuanya," yg dipanggil ruly menyapa kami.

setelah ngobrol sebentar kami mulai main. sebenarnya gw tetap berharap ruly itu cewek yg tadi, tapi its oke lah. gw bersyukur malam ini bisa sejenak melupakan kesedihan. dan yg lebih penting, malam ini gw bertekad melupakan tiie !

PART 13

saat gw merasa sudah menapakkan beberapa langkah ke depan meninggalkan sebuah titik dalam hidup gw, ternyata gw masih berada di titik yg sama yg terakhir kali gw pijak. gw sudah bertekad melupakan tiie. sudah cukup tiie membuat luka di hati gw. gw nggak mau dibohongi lagi. tapi sebagian hati gw, yg masih dipenuhi rasa sayang, berbanding terbalik dengan luka yg menohok hati. gw terperanjat senang ketika layar hp gw menampilkan nomor tiie memanggil. nama tiie memang sudah dihapus dari daftar kontak tapi toh nomornya masih menempel di kepala gw. sudah empat hari berlalu sejak pertengkaran di pinggir jalan itu ketika tiie menelepon. gw terdiam bingung menjawab atau mengabaikannya. tiga kali tiie memanggil sebelum akhirnya dia mengirim sebuah pesan. 'kok nggak diangkat sih? btw RBT lo buat gw ya? ya udah kalo lo emang gk mau lagi gw ada di hidup lo, gw nggak akan ganggu lo lagi.' begitu bunyi pesan dari tiie. tiga hari yg lalu gw memasang ringbacktone di nomor gw, lagu milik Kertas berjudul Selamat Tinggal Kekasih Terbaik. dari judulnya saja gw yakin lo pasti paham isi dan lirik lagunya. butuh sepuluh menit buat gw menjawab pesannya. 'sorry gw tadi lagi tidur siang. kok lo ngomong gitu? gw pasang lagu itu coz ngikutin tren aja, kan lagu itu lagi tenar sekarang.' sebagian hati gw menolak keras untuk mengatakannya, tapi sebagian yg lain mampu menggerakkan jempol tangan gw mengetikkan kalimat pesan itu dan

mengirimkannya ke nomor tiie. inilah titik nadir dimana sebuah pesan singkat mampu menggoyahkan pendirian gw. tekad gw untuk membuang tiie dari kehidupan gw, yg tiga hari terakhir ini gw pupuk dalam hati, nyatanya bukan sebuah kebulatan hati. perlahan tapi pasti harapan gw kepada tiie mulai tumbuh lagi seiring pesan yg masuk di hp gw dan jawaban yg gw kirim ke nomornya. harapan itu tumbuh menjamur di sebagian hati gw yg menolaknya, hingga kini sudah benar-benar tertutup jamur bernama harapan. dan berawal dari saling berbalas pesan itulah yg akhirnya membawa gw duduk di kursi kafe tempat gw pertama bertemu tiie. di depan gw ada tiie sedang duduk manis seperti biasanya. dan di sisi lain meja kami, ada seorang lelaki seumuran gw. fisiknya lumayan berisi, berkulit agak gelap, berambut cepak dan mengenakan sebuah kacamata berbingkai hitam. dia adalah Eka, mantan tiie. ini kali pertama gw bertatap muka dengan orang yg sudah begitu merusak keharmonisan gw dan tiie. "oke rizd, seperti yg gw bilang di sms kemarin, hari ini gw mau menjelaskan semuanya ke elo." kata tiie, samasekali tidak nampak di raut wajahnya rasa bersalah. tiie nampak tenang dan menguasai dirinya, berbanding terbalik dengan gw yg sangat kikuk dengan 'reuni' ini. gw sangat tidak nyaman dengan tatapan mata eka ke gw. beberapa kali di bawah meja gw menggosok kedua telapak tangan gw sekedar untuk menenangkan diri. "dan sekarang," lanjut tiie. "gw menghadirkan eka di hadapan kita, biar semuanya jelas sejelas-jelasnya." sejenak sunyi. kami sama-sama terdiam. "pertama, soal password di inbox hp gw. gw memang memakai tanggal lahir eka sebagai password, tapi itu saat kami masih jadian. gw nggak pernah pake password itu sejak gw sama elo, tapi gw nggak menggantinya. password itu cuma non aktif, gw yakin lo paham soal ini. dan setelah gw tanya ke ade gw, ternyata dia yg mengaktifkan lagi password itu." gw mendengarkan dengan seksama tanpa komentar. gw menunduk menatap meja. sejenak cuma terdengar bunyi jari tangan yg gw ketukkan ke meja. "soal sms eka, gw udah ceritain ke elo waktu kita ribut kemaren. dan lo bisa tanya langsung ke orangnya." gw menatap eka. dia membalas tatapan gw dengan tajam.

"asal lo tau, yg sebenernya perusak hubungan itu elo bukan gw!" eka angkat bicara. "maksud lo apa??" gw bereaksi. emosi gw langsung tersulut. "hubungan gw sama tiie lagi anget-angetnya pas lo muncul dalam hubungan kami!" "biar gw yg jelasin," tiie menyela menenangkan suasana. "jadi gini rizd, waktu gw nembak lo, sebenernya pagi itu gw baru putus sama eka. gw sedih, gw nembak lo sebagai penghilang kesedihan gw." "penghilang kesedihan maksudnya pelarian kan??" komentar gw sinis. "dan seinget gw lo pernah bilang kalo lo putus sama eka jauh sebelum kita jadian??" eka menatap tiie marah. "oke, gw akuin gw bohong." kata tiie. "gw cuma takut lo nolak gw, kalo lo tau gw baru putus sama cowok gw. tapi terlepas dari itu, lo udah bisa bikin gw ngelupain eka dan bikin gw bener-bener sayang sama lo rizd, bukan sekedar pelarian." "apa-apaan nih?"eka berontak. "lo bilang di sms kalo lo masih sayang sama gw!" "itu cuma sms ka! gw nggak enak aja sama lo, coz gw tau lo masih ngarep ke gw." tiie memandang gw. "toh akhirnya gw juga harus memilih kan? dan gw memilih harrizd yg nyata ada di depan gw, bukan lo, yg cuma ada dalam hati gw. lo emang ada di hati gw ka, tapi lo cuma bagian masa lalu gw ka!" eka marah. dia menggebrak meja lalu pergi..

PART 14

"so.." kata gw. "apa tujuan dari reuni hari ini?" tiie diam. dia melirik pintu yg baru saja eka lalui. "maafin gw rizd.." katanya pelan. dia tertunduk. bahunya nampak bergetar menahan tangis. "gw tau gw salah." gw diam. memberinya kesempatan bicara. "gw malu sama diri gw sendiri." lanjutnya. "gw malu sama elo." gw masih bisa melihat tubuhnya yg bergetar. jujur saja saat itu gw merasa iba. gw memang mudah luluh. hati gw terlalu lembut untuk tetap menahan rasa marah dan kecewa pada tiie. "setelah kita bertengkar terakhir itu, gw kepikiran lo terus. gw sadar kesalahan gw rizd..." tiie menyeka airmata lalu mengangkat wajah memandang gw. "seperti yg udah gw bilang tadi, gw milih lo rizd." "nggak ada yg nyuruh lo ngelakuin itu," kata gw berkomentar. "gw tau, tapi gw sayang sama elo!"

"terus gimana dengan eka?" "gw kan udah bilang kalo gw sama dia cuma berhubungan lewat sms. nggak lebih. gw tau lo sayang banget sama gw. gw harap lo masih mau nerima gw lagi jadi cewek lo....." gw kembali diam. sejenak gw merasakan rasa marah gw ke tiie kemarin mulai luntur. hati gw yg sempat tergores seolah menemukan penyembuhnya. lubang di hati itu telah disulam dengan baik oleh permohonan maaf tiie. gw sangat tidak bisa membohongi diri gw bahwa gw masih sayang, sangat sayang ke tiie. rasa itulah yg membuat gw mengangguk tanda jawaban atas permohonannya tadi. dan selanjutnya bisa ditebak. kami melanjutkan hubungan kami dengan cukup baik. walaupun kadang ada kecurigaan yg melintas di pikiran gw, gw berusaha meyakinkan diri dengan yg gw jalani sekarang. gw berusaha menjadi diri gw lebih baik, terutama dalam mengendalikan emosi yg seringkali mudah tersulut saat ada masalah. begitupun tiie, dia membuktikan kesetiaannya ke gw. dia lebih terbuka dalam semua hal. tidak ada lagi yg ditutupi. sementara itu karir kami di sekolah sudah hampir mendekati akhir saat memasuki bulan juli. beberapa perlu dilengkapi dalam hal administrasi, dan kami tinggal menunggu pembagian ijazah. dalam 'masa-masa bebas belajar' itu kami lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. kami belum pernah membicarakan hubungan kami setelah resmi lulus nanti, makanya gw agak terkejut saat wali kelas gw memanggil gw ke ruangannya untuk membicarakan kelanjutan program magang di jakarta yg pernah gw ikuti kemarin. "kami mendapat email dari perusahaan tempat kamu magang dulu," kata pak suara. "mereka meminta kamu menjadi karyawan mereka. kamu setuju rizd?" gw diam. yg gw pikirkan saat itu adalah berarti gw akan meninggalkan lagi kota ini, dan itu juga artinya meninggalkan tiie! "bagaimana?" pak suara membuyarkan lamunan gw. "eh, ng..anu pak, saya diberi kesempatan berpikir dulu nggak?" kata gw grogi. pak suara membaca kembali surat di tangannya.

"disini tertulis, persetujuan setuju atau tidak nya dikirimkan paling lambat satu minggu setelah surat ini diterima," katanya. "itu artinya sabtu ini kamu sudah harus memutuskan menerima tawaran ini atau tidak." "baik pak," kata gw lalu berdiri. "eeh...mau kemana kamu??" "mau pulang pak, ngomongin ini sama orangtua di rumah." "ya nanti dulu dong, kita kan belum selesai ngomong.." pak suara geleng kepala. "kamu itu seperti tidak pernah diajari sopan santun saja." dan setelah sepuluh menit lebih out of topic (begitulah kalau guru ngomel), akhirnya pembicaraan kembali lagi ke soal tawaran pekerjaan. "kalau kamu terima tawaran ini, kamu nanti mulai bekerja di jakarta akhir bulan ini." lanjut wali kelas gw. "kamu akan berangkat bersama teman-teman kamu yg nanti lolos tes seleksi untuk jadi karyawan di sana." gw mengangguk. gw sudah mendengar kabar bahwa pabrikan otomotif tempat gw magang dulu akan mengadakan tes seleksi karyawan untuk lulusan sekolah ini. tadinya gw pikir gw juga harus melewati tes itu. "seharusnya kamu bangga rizd, sementara yg lain harus melewati tes, kamu sudah diterima di sana. tinggal sign contract saja," kata teguh berkomentar setelah gw menceritakan panjang lebar pembicaraan gw dengan wali kelas. "hehehe..itu kalimatnya pak suara yg paling gw inget," kata gw. "gimana, gw tadi mirip kan?" teguh tertawa. teman gw yg satu ini memang punya bakat meniru gaya bicara guru di sekolah. siang itu seperti biasa gw, lucky, teguh dan agung nongkrong di halte. gw dan teguh memang bawa motor, tapi karena sudah kebiasaan maka kami harus 'ritual' nongkrong di halte. "berarti lo balik kampung lagi donk ya?" agung berkomentar. "eh, kalo lucky gimana? dipanggil lagi nggak?" "gw juga dapet tawaran, tapi gw tolak coz gw nggak begitu tertarik gawe di pabrik kek gitu," jawab lucky. "bagaimanapun jalannya, saya berdoa semoga kita semua kelak bakal sukses," kata teguh. "tumben omongan lo lempeng?"

gw tau tadi teguh menirukan gaya bicara guru kimia kami. kami berempat tertawa. tawa yg lepas. tanpa gw pernah tau kapan akan mengulang masa itu lagi..

PART 15

siang itu gw janji bertemu tiie di tempat biasa. di bawah sebuah pohon di tepi danau kecil berwarna hijau. gw janji bertemu jam 2 siang, tapi kali ini gw sengaja datang lebih akhir. gw sudah hafal, sejak pertama bertemu, tiie selalu datang melewati jam yg dijanjikan. entah kenapa siang ini gw ingin jadi 'yg terlambat'. "hay sayang," gw duduk di sebelah tiie yg sedang asyik mendengarkan lagu dari i-pod nya. tiie melepaskan headset di telinganya. "lo terlambat sepuluh menit duapuluh tiga detik," katanya melihat arloji hitam di tangannya. "ahh, baru juga sekali ini gw dateng terlambat..biasanya juga kan elo yg selalu telat?" tiie nyengir.

"sekali-kali gw pengen on time dong." suasana di sana sangat teduh meskipun sebenarnya matahari siang ini lumayan terik. mungkin karena banyaknya pepohonan di sekitar jadi banyak oksigen di sana, kalau tidak salah begitu kata guru SD gw. "kek nya hari ini ngebet banget pengen ketemu," gw becanda. tiie tersenyum. masih dengan senyum khas nya yg manis. "kangen sama pacar sendiri nggak boleh ya?" katanya. "boleh kok. apa sih yg enggak buat lo.." gw menarik tangan tiie dan menyandarkan kepalanya di bahu gw. "gw takut rizd," katanya dalam pelukan gw. "kok takut? gw ada di samping lo." "kan entar lo ke jakarta?" gw tersenyum mengusap rambutnya yg hitam panjang. "gw bakal sering balik kok," kata gw. tiie menggeleng. "enggak perlu," kata tiie sambil menatap mata gw. "kok gitu? lo nggak mau ketemu gw ya?" gw heran. "kalo iya kenapa??" tiie tertawa. "bukan itu. lo nggak perlu bolak-balik ke sini buat ketemu gw. soalnya gw juga nggak ada disini." "wouw.." gw terkejut mendengar ini. "emang lo mau kemana?" "gw ikut bokap gw. gw bakal kuliah di karawang." sontak gw gembira mendengarnya. sebuah keputusan yg bijak menurut gw, apalagi alasannya kalau bukan soal jarak. jakarta-karawang adalah lebih baik daripada jakarta-cirebon. "asyik dong kalo gitu. kita masih bisa sering ketemu." tiie mengangguk senang.

"wah bentar lagi ada yg bakal jadi mahasiswa nih," kata gw. "itu kabar baiknya," lanjut tiie. gw kernyitkan dahi. "emang ada kabar buruknya?" "ada, seenggaknya buat gw cukup buruk karena mulai besok gw ada di karawang." gw terdiam sejenak. "maksud lo..besok lo berangkat ke karawang?" tiie menggeleng. "bukan besok, tapi malem ini." "kok bisa? bukannya kita sama-sama belum menerima ijazah? ntar yg ngambil ijazah lo siapa?" "itu udah gw obrolin sama bokap gw. kemaren bokap dateng dan gw ngobrol banyak sama bokap. soal ijazah, ntar gw balik pas pembagian ijazah. satu hari doang karena besoknya gw cabut lagi ke karawang." "gw pikir lo nggak akan secepat ini perginya," kata gw sedih. "cepat atau lambat nggak ada bedanya kan? toh pada akhirnya gw bakal pergi juga.." kami terdiam. suasana siang itu begitu sejuk. bahkan tanpa angin pun kami cukup merasa nyaman. tapi toh tetap saja hati gw nggak senyaman biasanya. "kalo boleh jujur, gw sebenernya nggak begitu yakin dengan hubungan long distance," kata tiie. "akan lebih sulit buat kita menjaga kepercayaan masingmasing." "gw juga baru pertama ini long distance. tapi justru itu tantangannya kan? dibikin asyik aja lagi." "masalahnya gw nggak suka tantangan, rizd." tiie menyela. gw berpikir sejenak. "kalo boleh tau, seberapa yakin lo dengan hubungan jarak jauh ini?"

tiie menggeleng. "gw belum bisa bayangin itu. gw nggak yakin kita akan bertahan." "jangan ngomong gitu ah. gw aja yakin kita pasti bisa, lo juga harus yakin dong. ini yg mendasari berhasil atau enggak nya seseorang dalam menjalani hubungan jarak jauh, di samping kepercayaan juga pastinya." tiie terdiam. gw memegang kedua bahunya. "gini deh, ikutin gw." gw menyodorkan jari kelingking tangan kanan gw. sejenak tiie tidak mengerti, tapi kemudian ia mengaitkan jari kelingkingnya ke jari gw. jari kami saling bertautan sekarang. "gw mau kita sama-sama berjanji," kata gw lagi. tiie tersenyum menyadari ini. "lo ikutin kata-kata gw ya." tiie mengangguk. gw mendehem pelan lalu mulai mengucapkan yg kelak di kemudian hari kami sebut 'janji tepi danau'.. "gw janji nggak akan selingkuh," kata gw. "gw juga janji nggak akan selingkuh," tiie mengikuti gw. "janji untuk melakukan yg terbaik buat pasangan kita." "janji untuk melakukan yg terbaik buat pasangan kita." gw menarik napas. "dan gw janji nggak bakal bohongin elo." "sama, gw juga janji enggak akan bohong. dan gw janji akan menepati janji gw ke elo.." kedua mata kami saling bertatapan. gw bisa lihat dari sorot matanya, tiie lebih tegar sekarang. ada secercah keyakinan dalam dirinya, gw tau itu. kami berdiri lalu saling berpelukan. sore itu kami sangat menikmati kebersamaan kami. kami sama-sama tahu, jarak bukanlah akhir segalanya. kami harus bisa melewatinya. dan babak baru dalam hubungan kami dimulai hari ini...

PART 16

bulan juli jadi bulan yg menyedihkan buat gw. bulan juli adalah bulan perpisahan gw dengan orang-orang terdekat gw. setelah tiie, kini gw harus berpisah dengan teman-teman gw di sekolah. walau tidak semua adalah sahabat dekat gw, tetap saja ada segelintir kesedihan melihat kami berpelukan dan saling mendoakan kesuksesan yg lain. bahkan orang yg menurut gw paling menyebalkan di kelas pun menangis memeluk gw. seisi ruangan larut dalam haru, walaupun ada beberapa yg berceloteh membuat lelucon sekedar mencairkan suasana. hari ini adalah hari terakhir kami di sekolah. hari ini adalah hari pelepasan alumni yg baru saja lulus. dengan berpakaian putih hitam lengkap dengan dasi hitamnya, kami menghadiri acara pelepasan di aula sekolah. sebuah panggung megah berdiri di sisi aula. hiburan pentas seni dipersembahkan untuk kami yg

sesaat lagi resmi meninggalkan sekolah. tapi toh tetap saja tidak mengurangi intensitas kehilangan dalam diri kami. perpisahan dengan sahabat-sahabat terbaik adalah hal paling mengharukan yg pernah gw alami. perasaan yg sama, yg terjadi 3 tahun lalu saat perpisahan masa SMP, gw rasakan lagi hari ini. perasaan yg tidak pernah berubah. selalu sama dalam setiap perpisahan sekolah yg gw lewati. tapi gw selalu menghibur diri gw bahwa ini adalah step yg harus gw lalui untuk sebuah kesuksesan yg menanti kami di depan sana. perpisahan hari ini adalah pintu menuju apa yg dikatakan guru kami merupakan masa depan. masa depan yg harus dibangun oleh kami sendiri. dan kami akan mulai membangun fondasi masa depan kami mulai hari ini. maka sudah selayaknya doa dari sahabat menjadi penguat fondasi itu. "good luck bro," kata teguh menyalami gw. "jangan lupa kalo lebaran balik, kita kumpul lagi." gw tersenyum. teguh adalah salahsatu teman terbaik gw. setelah ini dia akan bekerja di luar pulau jawa. kami yg biasanya selalu bersama dalam masa-masa sekolah, kini akan menentukan jalan kami masing-masing. gw tahu kami masih bisa bertemu lagi dalam momen-momen tertentu, tapi gw yakin kalian setuju bahwa rasanya akan beda sekali dengan pertemuan saat-saat di sekolah. "kapan lo ke batam?" tanya gw. saat itu acara pelepasan sudah selesai. di aula tinggal tersisa beberapa murid dan guru serta petugas yg membenahi panggung. gw, lucky, teguh dan agung berjalan keluar menuju halte. "hari minggu ini gw cabut," jawab teguh. gw bisa mendengar nada suaranya tidak seceria biasanya. "wah kalian bertiga enak, udah punya planning yg pasti mau ke mana setelah ini." kata agung berkomentar. "nah gw masih belum tau mau kemana gw." "lo ikut gw aja deh mau nggak?" kata teguh. agung sudah sumringah ketika teguh melanjutkan, "lo jadi tukang pel di kapal ferry yg gw pake entar." kami tertawa. "ngehe lo," balas agung. "mending gw ke jepang kalo gitu." "jepang? ngapain?" lucky yg bertanya. "bantu temen gw. dia katanya butuh tenaga bantuan gitu." lucky tampak tertarik dengan pembicaraan ini.

"emang temen lo disana punya usaha apa?" "ada bro," lanjut agung. "bantuin ultraman ngelawan monster beruang raksasa!" kami tertawa lagi. sesampainya di halte kami bertemu chosar. dia memang beda jurusan dengan kami berempat, gw ketemu dia cuma waktu kumpul bareng sebagai band. chosar adalah teman sekelas agung saat SMP, dari situlah kami kenal dia dan iseng membentuk band bernama 'fiktiv'. sesuai namanya, band ini cuma fiktif belaka, dalam artian cuma sekedar iseng kalau kami sedang bosan dengan aktivitas sekolah. tapi walau begitu gw cukup menikmatinya. "gw ke bandung minggu depan," kata chosar setelah kami ngobrol. "kuliah di UPI." gw menarik napas panjang. betapa kami akan benar-benar 'bercerai' hari ini. kami punya jalan kami masing-masing yg harus dipilih dan itu merupakan sebuah keharusan yg mutlak terjadi. kadang gw membayangkan suatu hari nanti, setelah beberapa tahun tidak pernah bertemu, kami akan berkumpul lagi dengan masing-masing kami menggendong anak dan didampingi seorang istri. pasti akan aneh sekali rasanya jika membandingkannya dengan saat-saat seperti ini. gw tersenyum sendiri membayangkan itu. gw memandangi wajah teman-teman gw satu persatu. gw pasti bakal kangen kalian, kata gw dalam hati. gw bakal kangen dengan ulah jahil kalian, termasuk saat kalian menaruh bangkai kecoa dalam tas gw padahal kalian tahu gw amat sangat takut dengan hewan kecil yg satu ini! gw nggak bisa membayangkan ekspresi wajah gw yg ketakutan setengah mati sampai hampir menangis garagara secara nggak sengaja tangan gw menyentuh bangkai kecoa itu saat akan mengambil pulpen. waktu itu gw marah besar sampai 'puasa ngomong' ke kalian. sekarang, saat gw ingat lagi momen seperti itu, ada semacam kerinduan yg menelisik aliran darah gw. kerinduan pada sahabat terbaik. dan siang ini, saat kami meninggalkan halte, masing-masing kami telah membuka halaman pertama dari sebuah buku bernama kenangan yg suatu hari nanti pasti menarik untuk diceritakan..

PART 17

semua terasa berlalu begitu cepat. menyadarkan gw pada sebuah realita yg harus gw hadapi. sekarang gw bukan lagi anak sekolah yg tinggal menengadahkan tangan untuk meminta uang dari orangtua gw. kalau dulu gw pernah merantau di jakarta selama 1 tahun, itu gw anggap sebagai 'pemanasan' karena sekarang lah saatnya gw harus bener-bener bisa mandiri. di titik inilah gw akan menentukan masa depan gw seperti apa. gw kembali lagi ke jakarta. kali ini bukan lagi sebagai siswa magang, tapi benarbenar sebagai seorang karyawan. dalam kerjaan sendiri gw ditempatkan di

posisi yg lumayan nyaman buat gw, mungkin karena gw udah pernah di sana jadi pengetahuan gw sedikit lebih banyak dari yg lain. ada empatbelas orang, termasuk gw, yg dinyatakan lulus tes dan akhirnya bekerja di pabrikan otomotif produsen mobil yg cukup terkenal di negeri ini. gw ditempatkan sebagai Quality Accuracy yg kerjaannya 'cuma' mengukur dan menghitung. makanya banyak waktu senggang buat gw. biasanya gw manfaatkan itu untuk sekedar berkirim pesan dengan tiie atau meneleponnya, rekan kerja tempat gw pun nggak ada yg complain dengan kebiasaan gw ini, karena mereka pun sama dengan gw. makanya di perusahaan ini telah muncul paradigma yg mengatakan 'quality adalah kumpulan orang malas yg digaji tinggi'. gw nggak mempermasalahkan itu karena memang demikian adanya. sudah 1 bulan gw di jakarta, dan selama itu gw dan tiie belum pernah bertemu meski kami tetap keep contact. nggak bisa dipungkiri gw kangen ingin bertemu tiie tapi karena belum menemukan waktu yg tepat maka kami belum sempat bertemu lagi sejak terakhir bertemu menjelang keberangkatannya ke karawang. memasuki bulan puasa, gw semakin kangen tiie. tapi lagi-lagi gw harus mengubur rasa kangen itu untuk sementara. harus gw akui, menjalani hubungan jarak jauh nggak sesederhana yg gw pikirkan dulu. lebih banyak pertengkaran yg timbul cuma karena hal-hal sepele, misalnya telat balas sms. pikiran gw udah kemana-mana tuh menduga yg jelek-jelek. mungkin juga karena kami sama-sama masih labil, masalah-masalah tersebut bahkan sempat membuat hubungan kami putus, meskipun 3 hari kemudian balikan lagi. begitu yg sering terjadi. dan yg paling gw nggak suka adalah tiie kembali lagi ke kebiasaannya yg dulu, sering mematikan handphone saat ada masalah. ini sering membuat gw gusar sampai nggak konsen dalam bekerja. kalau mau dihitung, intensitas pertengkaran kami meningkat jika dibandingkan saat kami masih sama-sama dalam satu wilayah. gw nggak bisa membiarkan ini berlarut-larut. gw putuskan ke karawang weekend itu. gw belum pernah ke karawang. gw belum tahu seluk beluk kota ini. maka wajar saja kalau gw datang terlambat dari waktu yg dijanjikan. dengan bersusah payah akhirnya gw menemukan kampus tiie. sudah pukul lima sore ketika gw tiba di depan gerbang kampusnya. dan setelah menunggu lima menit akhirnya tiie datang ke tempat gw menunggu. gw cukup surprize melihat tiie. kulitnya nampak lebih putih dari saat terakhir kami bertemu. dan tentu saja yg paling mencolok adalah rambutnya yg skarang makin panjang.

gw tipe cowok yg menyukai cewek berambut panjang. dan itu pernah gw ungkapkan ke tiie. "wah ada yg beda nih sama rambut lo," kata gw mengomentari rambutnya. "kan menyesuaikan selera lo," tiie tersenyum. "tapi kek nya kalo lo nggak banyak berubah deh, tetep aja jelek." gw menatap tiie selama beberapa detik. "kenapa liatin gw kek gitu??" kata tiie melotot ke arah gw. "beuh...pede banget lo," gw menepuk jidatnya. "ini bulan puasa, dilarang mikir jorok." "sapa yg mikirin jorok? nggak nyambung lo.." gw tertawa. benar kan dugaan gw, setelah kami bertemu semua baik-baik saja. gw pikir pertengkaran kami selama ini adalah karena kurangnya kami bertemu. berbicara langsung selalu lebih baik dari sekedar sms atau telepon. sore ini kami memutuskan buka puasa bareng di mall karawang. saat bulan ramadhan seperti ini, pengelola mall biasanya menyediakan 'kafe terbuka' di halaman depannya. meja dan kursi dipasang memenuhi halaman untuk tempat orang menyantap menu berbuka yg tentu saja dijual di situ. "baru kali ini gw buka puasa sama cewek," kata gw berkomentar. "kasian banget ya lo ternyata," tiie geleng kepala. "emang di rumah lo nggak ada cewek?" "bukan gitu, maksud gue.." "iya, iya gw ngerti." tiie tertawa. kami sudah selesai makan saat itu. "btw kok kita lebih sering ribut ya akhir-akhir ini?" gw memulai pembicaraan serius. "elo sih curigaan mulu. kan kalo ribut tuh biasanya lo yg mulai gara-gara curiga sama gw." gw nyengir. "nyindirnya kena banget," kata gw.

tiie juga nyengir. "oya, gw mau nanya nih. gw harap lo jawab jujur ya.." kata gw lagi. "tinggal tanya aja susah amat." sejenak gw berpikir. "lo udah bisa lupain eka belum sih?" tanya gw akhirnya.

PART 18

"rizd, gw tau lo masih belum percaya seratus persen sama gue" katanya tetap tenang. "tolong kasih gw kesempatan ngebuktiin itu semua, bahwa eka udah

nggak ada di hidup gw. dan kalo elo nggak bisa ngasih kepercayaan itu ke gw, rasanya nggak mungkin gw bisa ngeyakinin elo soal ini." "jadi intinya?" tanya gw lagi. tiie menggenggam tangan gw. "dengerin gw ya rizd. eka adalah masa lalu gw, dan udah selayaknya masa lalu itu nggak diungkit lagi." kata tiie melanjutkan. "elo yg sekarang ada di hidup gw. elo ada buat hari ini, dan gw harap lo juga ada untuk besok, lusa dan seterusnya di hari-hari gw. percaya gw ya?" ada secercah ketulusan dalam mata tiie saat dia ucapkan itu, dan keterlaluan sekali kalau gw masih juga belum percaya. gw anggukkan kepala. gw balas menggenggam tangannya. "lo pernah berpikir nggak sih, dengan siapa kelak lo ingin ditemani menghabiskan masa tua lo?" tanya gw lagi. "gw belum begitu ngerti arah pertanyaan lo." "ehem..gini deh, lo pernah berpikir nggak sih buat ngelanjutin hubungan kita ke jenjang yg lebih serius?" buru-buru gw lanjutkan lagi begitu melihat ekspresi tiie terkejut mendengar pertanyaan gw, "yaa maksud gw gini lho, semua pasangan pasti ingin hubungannya terus berlanjut kan? entah itu tunangan, atau langsung married mungkin?" muka tiie memerah. "kok gw belum berpikiran ke situ ya?" dia tersenyum malu. "tiie, gw nganggep hubungan kita sekarang ini bukan cuma sekedar iseng-iseng berhadiah tanpa kita tahu tujuan akhirnya." gw menggenggam tangan tiie lebih erat. "dalam hati kecil gw, gw tau lo adalah yg terbaik yg pernah gw miliki. lo sempurna di mata gw. lo udah lebih dari cukup buat gw tiie. gw pengen lo jadi yg terakhir di hidup gw..." tiie terdiam. gw yakin dia agak shock dengan yg gw katakan tadi. jangankan lo tiie, gw sendiri juga nggak habis pikir gw berani mengatakan itu. tapi jujur, itulah yg saat ini paling gw pengen lo tau tentang ini. "thanx rizd, gw ngerasa tersanjung sekali.." muka tiie bersemu merah. "yg gw pikirkan sekarang adalah gimana caranya kita ngejaga ini jangan sampe semuanya berantakan nggak jelas. dan kalo boleh jujur, gw juga berharap ending yg sama dengan yg lo pikirkan." gw tersenyum lebar.

"kita sama-sama jaga kepercayaan ini ya," kata tiie lagi. "gw sayang lo rizd." gw bangun dari duduk, membungkukkan badan dan gw cium kening tiie. "gw juga sayang sama elo," gw berbisik di telinga kirinya. "sayaang banget." wajah tiie kembali memerah. dia berusaha menahan senyumnya. dengan kedua telapak tangannya dia mendorong wajah gw menjauh. "udah ah, nggak enak tuh diliatin orang-orang. dikiranya kita lagi ngapain." gw berdiri. tangan kanan gw menggenggam tangannya menuntun tiie beranjak dari situ. "mau kemana lagi nih kita?" tanya tiie. "kok lo yg nanya ke gw sih? kan lo yg apal daerah sini." tiie mencibir. "oke deh sekarang tinggal pilih." kata tiie. "seperti yg anda lihat, di belakang kita adalah mall karawang yg baru saja kita singgahi. di arah jam 1 sana ada ramayana, tempat yg lumayan asyik buat ngedate. atau ada satu tempat favorit anak muda di sini, karawang theater. satu-satunya bioskop di sini." lanjut tiie menirukan gaya bicara seorang guide. "kasian amat ya, cuma punya bioskop satu. hehehe.." tiie mendengus. "jadi ke mana nih?" gw belagak berpikir. "ke mana aja deh. kemanapun perginya, kalo sama elo pasti asyik." tiie menarik tangan gw. "eh, eh..mau kemana nih?" "lo bilang kemana aja boleh?" "iya tapi mau kemana nih?" gw masih diseret mengikuti langkah tiie. "biarpun sama elo, kalo tempat tujuannya makam sih ogah gw." "kan tadi katanya 'kemana aja'??"

gw menepuk jidatnya. "ya udah deh kita nonton aja," kata gw berhenti di sisi jalan mau nyetop angkot. tiie menarik tangan gw. "ngapain pake angkot? deket tuh, jalan kaki juga nyampe." tiie menunjuk sebuah gedung di kejauhan. "yg mana bioskopnya? nggak keliatan!" "ya udah tinggal ikut gw aja susah amat?" "ampun dah, malem ini kok lo rewel banget tiie?? kek nya tadi kita salah pilih menu ya." "berisik. coment mulu dari tadi." dan sepanjang jalan itu kami meributkan hal-hal tidak penting yg bahkan samasekali nggak ada hubungannya dengan kami. malam itu kami menonton sebuah film komedi. saat kami keluar dari bioskop jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. kami berjalan kaki kembali ke mall. dari sana kami akan menggunakan angkot untuk pulang. cahaya temaram dari lampu jalanan menemani setiap langkah kami. dipadukan dg sinar bulan purnama malam ini menambah anggun kesan yg tercipta. "malem ini karawang indah ya," kata gw. tiie menjawabnya dg sebuah senyum. dia menggandeng erat tangan gw seolah tidak mau terlepas. gw pun demikian. kami berjalan bergandeng tangan menyusuri dinginnya malam di karawang. dan suatu hari nanti, saat gw melewati lagi jalan ini, gw pasti akan ingat ada satu malam yg indah yg gw lalui dengan tiie...

PART 19

baru dua hari yg lalu bertemu dan keadaan tampak baik-baik saja, gw dan tiie kembali terlibat sebuah pertengkaran. seperti biasa, penyebabnya sepele. untuk diketahui, jam kuliah tiie adalah sore hari jam 3 sampai 8 an malam. di jam-jam itulah gw yg baru balik kerja, biasanya sms an dengan tiie. tapi sore itu setelah beberapa kali gw sms tiie tidak kunjung membalas. sambil duduk istirahat di kamar, gw coba lagi sms. tetap tidak ada balasan, padahal saat itu sudah jam setengah tujuh malam. biasanya jam segitu adalah jam istirahat tiie. kami pasti sms an di jam ini. gw yg mulai kesal akhirnya menelepon. baru dua kali terdengar nada tunggu, panggilan gw direject. gw coba telepon lagi, kali ini cukup lama sebelum kembali direject oleh tiie. beberapa kali gw telepon hasilnya sama. 'panggilan ditolak' begitu keterangan di hp gw. dalam keadaan seperti ini gw mengirim sms ke tiie, maksudnya mempertanyakan kenapa nggak bales dan malah me reject panggilan gw. tapi karena gw sedang kesal maka sms yg gw ketik pun 'cukup tidak halus'. gw yakin tiie pasti akan membalas kalau gw sms seperti itu. tapi gw tunggu tetap saja hp gw membisu. maunya apa sih??, gw berpikir dalam hati. kalo memang lagi sibuk kan apa susahnya sih bales sekali aja bilang lagi sibuk gitu, biar gw nggak kesel..! hampir tiap limabelas detik sekali gw mengecek hp gw tapi tetap sama hasilnya. gw sudah bersiap tidur ketika masuk sebuah pesan dari tiie. "akhirnya," gw bergumam. langsung gw baca isi pesannya. 'sory tadi gw lupa bawa hp ke kampus. tadi kek nya yg mainin hp ini ade gw soalnya pas gw tinggal hp ini lagi dicas'. baru saja gw mau balas, masuk lagi satu pesan dari tiie. buru-buru gw batalkan sms gw dan membuka pesan tiie. 'kenapa sih lo nggak pernah bisa percaya sama gw? padahal kemaren gw pikir kita udah sepakat buat saling percaya. tapi lo selalu mempermasalahkan hal-hal sepele kek gini ! gw cape tau diginiin terus ?!' maka gw balas dengan permintaan maaf karena gw nggak tau yg sebenernya tiie nggak membawa hp nya.

'males gw ngomong sama elo!' itu balasan dari tiie. gw coba membalas dengan sms yg halus. lama gw tunggu belum ada balasan dari tiie. ternyata firasat gw benar bahwa pesan tadi malah belum terkirim. saat ini tiie pasti sedang mematikan hp nya karena saat gw telepon nggak pernah nyambung. gw semakin kesal. malam itu gw yg niatnya tidur awal supaya tidak telat sahur, malah baru bisa tidur justru setelah makan sahur. dan sampai saat itu gw cek lagi sms gw masih pending. tidur selama 2 jam bukanlah pilihan ideal buat pekerja seperti gw. gw nyaris teler di tempat kerja. selain ngantuk, gw juga masih belum tenang soal tiie. hari ini gw bener-bener badmood kerja! beberapa kali gw mencuri waktu sekedar memejamkan mata sebentar. baru kali ini gw mengerti nikmatnya tidur. tapi tentu saja tidur saat jam kerja bukanlah perbuatan yg baik. dilarang meniru atau memperbanyak adegan ini. ini hanya efek dramatisasi yg dilakukan oleh profesional terlatih di sela kantuk yg menggelayuti mata gw itulah gw sedikit tersadar saat hp gw menampilkan laporan sms terkirim ke nomor tiie. gw bersyukur akhirnya nomor tiie aktif. langsung gw kirim sms lagi saat itu juga. 'maafin gw ya soal semalem..tuhan aja mau memaafkan, masa lo susah amat sih maafin gw?' eh ternyata sms ini justru makin menyulut pertengkaran. 'gw bukan tuhan! jangan samain gw sama tuhan!?', ini sms balasan tiie. saat itu juga kantuk gw seolah lenyap begitu saja. gw bener-bener kesal sekarang. gw bermaksud menghapus sms tiie satu persatu dari inbox gw. dan gw terkejut saat mendapati sms dari nomor asing tanpa nama kontak. sms itu diterima jam setengah empat sore kemarin. begini bunyinya, 'rizd ini tiie, gw pake hp temen. sory nih kek nya sore ini kita nggak sms an dulu, gw lupa bawa hp soalnya. sory banget yaa...balik dari kampus gw call lo deh. oke sayang? love you.' gw bingung. gw merasa nggak pernah menerima sms ini kemarin. gw liat lagi, bener ini sms dari tiie. gw kenal karakter sms nya. gw ingat-ingat lagi yg terjadi saat jam sms ini masuk. lalu gw terkejut sendiri dan segera menghampiri teman kerja gw, namanya riyanto.

"to, kemaren sore lo pinjem hp gw kan?" tanya gw ke dia. riyanto yg sedang menyeduh kopi mengangguk tanpa melihat ke arah gw. "waktu itu ada sms nggak di hp gw?" riyanto memandang gw sekarang sambil tangannya mengaduk kopi dengan sendok. "kek nya iya ada," jawabnya polos. "nggak sengaja gw buka tuh sms." gw menepuk jidat gw. "kenapa lo nggak bilang ke gw sih?" kata gw kesal. "kek nya gw lupa deh. lagian kan waktu itu lo lagi di jalur." aargh....gw kesal sendiri. gw ambil gelas kopi riyanto. "wey, punya gw maen embat aja lo." riyanto protes mencoba merebut gelasnya. "ini pajak lo buka sms gw kemaren!" "busyet..sejak kapan buka sms pake pajak kopi?" "sejak hari ini, jam ini, menit ini, detik ini juga!"

PART 20

apa yg terjadi setelahnya tidak pernah gw duga sebelumnya. beberapa menit sebelum jam makan, tiie mengirim pesan seperti ini. 'gw cape kek gini terus. udahlah lebih baik kita akhiri sampe di sini aja. thanx buat semua nya..' gw langsung lemas membaca pesan itu. tadinya gw pikir masalah seperti ini akan diselesaikan secara baik-baik. tapi untuk ke sekian kalinya tiie mengambil keputusan sepihak. setelah menyantap beberapa sendok makanan gw keluar dari kantin menuju mushola. gw rebahan di teras mushola, berusaha menjernihkan pikiran gw. "woy, udah solat belum lo maen tidur aja di mushola." seseorang menyenggol kaki gw. gw lihat ternyata itu pak muhammad bos gw. "udah pak. bapak nya aja dateng nya telat jadi nggak sempet liat siaran langsung gw solat." "yaelah...ngapain juga liatin lo solat?" "nah bapak sendiri udah solat belom?" pak muhammad nyengir. "bentar deh gw rebahan dulu." pak muhammad duduk di sebelah gw melepas sepatunya. bos gw yg satu ini memang asyik. walaupun usianya sudah hampir 40 an tahun, bicara dengan dia seperti dengan teman sebaya saja. gw tau pak muhammad bukan orang yg suka membedakan status atasan dan bawahan. buatnya, semua disini adalah rekan kerja yg punya hak sama. makanya gw selalu nyaman kalau berhadapan dengan dia. "elo kenapa rizd kek nya muka lo nelangsa gitu?" tanya pak muhammad. "ada keluarga yg kena musibah di kampung?" entah kenapa saat itu gw seperti mendapat ide cemerlang dari bisikan setan di telinga gw. gw langsung berpikir bahwa untuk menyelesaikan masalah gw dengan tiie adalah kami harus bertemu. makanya gw langsung mengiyakan pertanyaan pak muhammad. "iya pak, paman gw meninggal." entah darimana gw dapat jawaban itu. kalimat tadi meluncur begitu saja dari mulut gw tanpa tedeng aling-aling.

pak muhammad terkejut. "paman lo yg dimana? kapan meninggalnya?" "di kampung, pak. tadi sebelum makan gw ditelepon dari rumah." pak muhammad diam. "lo mau ngelayat kagak?" tanyanya kemudian. gw langsung mengangguk. yg ada di otak gw adalah gw ingin bertemu tiie secepatnya. "ya udah lo sekarang temui admin, bilang lo minta ijin pulang mau ngelayat sanak yg meninggal." "emang boleh tuh pak?" "ya boleh dong..perusahaan udah menjamin hak-hak karyawannya termasuk cuti darurat kek gini." gw bingung. gw belum yakin apakah gw akan benar-benar berbohong demi menemui tiie. gw masih ragu. gw takut konsekuensinya. "udah nggak papa," kata pak muhammad lagi. "sudah selayaknya kita melayat saudara yg kena musibah. tenang aja, lo paling juga diminta bawa copy surat kematian paman lo sepulangnya lo dari sana." gw masih bingung. hati kecil gw menolak dengan keras konspirasi kotor ini. tapi sebagian dari diri gw melonjak senang mengetahui gw akan bisa bertemu tiie. dan seperti yg dikatakan pak muhammad, gw tidak menemui hambatan dalam ijin meninggalkan perusahaan. bagian admin hanya mengingatkan gw harus membawa copy surat kematian paman gw yg padahal samasekali hal itu tidak pernah terjadi. beberapa orang mungkin akan menyebut ini tindakan nekat, tapi menurut gw ini adalah tindakan paling tolol yg pernah gw lakukan gara-gara masalah cewek. dan akhirnya siang itu dengan berbekal surat ijin meninggalkan perusahaan gw sudah berada di jalan menuju kosan. sejujurnya gw sendiri takut, kalau nanti kebohongan ini akan terbongkar. apa yg akan menimpa gw kalau itu terjadi?? ah, persetan dengan itu! gampang deh gw pikirkan lagi kalo masalah gw selesai, kata gw dalam hati.

hal pertama yg gw lakukan di kosan adalah menghubungi nomor yg kemarin dipakai tiie sms ke nomor gw. "halo," kata seorang cewek di seberang sana. "halo. ini temennya tiie bukan?" "iya. ini siapa?" "gw harrizd, cowo nya tiie." jawab gw. "kemaren tiie sms ke gw pake nomer ini." "oooh...gw endah. terus, ada apa ya? kenapa nggak nelepon tiie aja kalo mau ngobrol sama dia? gw lagi di kosan nih." gw berpikir sejenak. "gw lagi butuh bantuan lo, lo bisa bantu nggak?" gw berspekulasi. apapun jawabannya gw pasrah deh. "oke," kata endah. "emang gw bisa bantu apa?" "bentar, tiie sering curhat sama lo nggak sih?" "bukan sering, tapi selalu. gw sama tiie tuh deket banget. dia sering cerita tentang lo ke gw." "oke, gw anggep itu sebagai jawaban bahwa gw sudah memilih orang yg tepat." "thanx. sekarang kasihtau gw apa yg harus gw lakukan?" dengan singkat gw jelaskan inti permasalahan gw dengan tiie ke endah. untung endah orang yg bersahabat. dengan mudah dia paham situasinya. "nah, hari ini gw mau ke kampus pengen ketemu tiie. tapi gw nggak hafal seluk beluk kampus nya. gw minta tolong lo, ketemuin gw sama tiie ya?" kata gw penuh harap. "emmh.....oke oke. lo mau kesini jam berapa?" gw lirik jam dinding. "jam 4 an gw nyampe kampus deh." "oke. kita ketemu di pos satpam aja yaa? entar lo sms gw lagi kalo udah nyampe." "sip!" gw gembira sekali. "thanx ya ndah."

"oke." gw terduduk di lantai. hati kecil gw masih bertanya haruskah gw melakukan ini semua?? otak dan pikiran gw saat ini sedang kacau. gw terlalu takut kehilangan tiie. gw harus menemui tiie sekarang juga untuk menyelesaikan ini. seperti yg biasa terjadi, semua akan berjalan baik jika dibicarakan secara langsung. ya, gw harus menemui tiie sekarang juga.. PART 21

sesuai kesepakatan dengan endah tadi, gw melakukan perjalanan ke karawang sekitar satu setengah jam. perjalanan yg cukup tidak menyenangkan. otak gw dipenuhi kecemasan. gw cuma bisa menatap jendela mengikuti arah bus berjalan. bathin gw memberontak dg keras yg gw lakukan sekarang. bodoh sekali gw melakukan ini semua hanya demi seorang wanita. "tapi semua sudah terjadi. terlambat untuk menghentikan ini semua," kata-kata itu seolah menjadi penenang hati gw yg kacau. "nggak mungkin gw balik lagi. gw harus menyelesaikan semuanya." maka dengan semua perasaan aneh yg bercampur di kepala gw, kaki gw melangkah memasuki gerbang kampus. gw sudah mengirim pesan ke nomor endah. 'gw lagi di kelas, lagi ada dosennya. lo tunggu aja di tempat parkir', sms balasan endah. gw belum pernah masuk ke kampus ini. gw samasekali buta denah lokasinya. bermodal nekat, gw akhirnya menemukan tempat parkir. gw duduk di sebuah bangku panjang di sana. 'gw udah di tempat parkir.' lima menit kemudian baru endah membalas. 'oke. tunggu gw kesana sebentar lagi' gw bersandar lemas ke dinding. pikiran gw diselimuti perasaan bersalah pada diri sendiri. asal lo tau aja, ini janji ketemuan terburuk yg pernah gw lakukan. gw menghela napas panjang. gw lihat di sekeliling lingkungan yg asing buat gw. kampus ini terbilang teduh. gw merasa cukup nyaman di sini. di seberang gw

ada sebuah ruangan, mungkin kelas, gw belum tahu pasti karena pintu ruangan itu tertutup. gw menunggu dengan sabar. jam menunjukkan pukul setengah lima saat pintu ruangan di seberang gw terbuka. dua orang wanita keluar dari sana lalu menghampiri tempat gw duduk. satu diantara mereka yg mengenakan kerudung memperkenalkan diri. "gw endah," katanya. lalu menunjuk temannya, "dan ini wulan." gw tersenyum senang. entah apa yg harus gw ucapkan saat itu. rasanya menyenangkan sekali menyambut uluran tangan orang yg bersedia membantu kita. "gw nggak punya banyak waktu," lanjut endah. "ini masih jam kuliah. tadi gw ijin ke kamar kecil buat keluar dari ruangan. tapi wulan punya alasan memfotokopi. sekarang wulan akan nganter lo ke kosan gw, nggak jauh dari sini. lo tunggu di sana sampe jam istirahat, oke?" wulan tersenyum ke arah gw. "tunggu dulu," kata gw saat kami akan berpencar. "apa tiie ada di dalam?" endah melirik ke ruangan tempat ia keluar. "lagi belajar. nanti jam istirahat gw bawa tiie ke kamer gw. lo tunggu aja disitu." gw mengangguk setuju. lalu gw diantar wulan menuju kosan endah sementara endah kembali ke kelas. "sory berantakan," kata wulan saat kami masuk ke sebuah kamar. memang berantakan. "tadinya gw pikir cewe adalah makhluk paling rajin," gw tertawa kecil. "biasanya jg kami beres-beres kok. kebetulan aja lo kesini pas lagi berantakan." gw mengangguk. "oke, sikakan menunggu." wulan hendak menutup pintu. "hey," gw menahan pintu. gw memandang wajahnya. "thanx ya buat semuanya." wulan tersenyum. "it's oke," katanya sebelum pergi.

akhirnya gw sendirian di dalam kamar. belum pernah gw membayangkan berada di kamar cewek. dan sekarang, gw tidur telentang di tengah kamar yg berantakan ini. beberapa 'perangkat khusus cewek' berserakan di atas tempat tidur. "dasar cewek," kata gw dalam hati. gw memejamkan mata. lantai kamar ini terasa dingin menembus kulit gw. entah berapa lama gw tidak sadarkan diri sampai gw terbangun mendengar ketukan di pintu. pintu terbuka dan wulan muncul dari balik pintu. "tiie ada di depan. sebentar lagi dia kesini." wulan segera membenahi tempat tidurnya. gw bangun dan duduk di sisi tempat tidur. beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka. endah merentangkan tangannya di pintu, menahan tiie yg hendak berbalik keluar saat melihat gw. "penjelasannya nanti aja ya," kata endah. "lo selesaikan dulu masalah kalian sampe beres, abis itu lo berhak menghakimi gw. oke?" tiie, dengan penuh ketidakpercayaannya, melangkah ke arah gw. wulan tersenyum lebar lalu dia keluar bersama endah. terdengar bunyi 'klik' saat pintu ditutup. "duduklah," kata gw menepuk sisi tempat tidur di sebelah gw. gw tau tiie pasti bingung dan terkejut dengan kehadiran gw di dalam kamar temannya. dia masih belum mau bicara. "ada dua hal yg mau gw omongin ke elo," kata gw. "pertama, gw yg minta bantuan ke endah. jadi tolong jangan salahkan temen-temen lo atas kehadiran gw disini. mereka orang-orang baik." seperti biasa, tiie menunduk. dalam keadaan begini gw nyaris tidak mengenalinya karena kontras sekali dengan sosoknya yg biasanya ceria. "kenapa lo bisa ada di sini?" akhirnya tiie bicara.

"untuk itulah gw akan menjelaskan hal kedua," gw meraih tangan tiie dan menggenggamnya. "gw sayang lo." kami sama-sama terdiam. "udah, lo kesini cuma buat ngomong gitu doang?" kata tiie.

"tiie, ketika gw sayang ke seseorang, gw rela ngelakuin apapun buat dia. bahkan kalau harus melewati jarak yg jauh, cuma buat bilang kalo gw sayang dia." tiie diam. entah apa yg di pikirkannya saat mendengar kata - kata gw. gw cuma ingin dia tahu betapa penting dan berartinya dia buat gw saat ini. lagi-lagi, akal gw dikalahkan oleh sebuah rasa bernama sayang. gw terlalu sayang pada tiie untuk melepasnya pergi dari kehidupan gw saat ini. tiie adalah satu bagian penting dalam hidup gw, melebihi pentingnya diri gw swndiri. gw sangat berharap tiie mengerti ini. saat itu ingin sekali gw memeluk tiie. gw ingin menyampaikan rasa takut gw kehilangan dia. gw sudah benar-benar dibutakan rasa ini. gw lihat tiie masih diam. gw juga diam, karena gw nggak mau merusak apa yg sedang dipikirkannya. cukup lama keadaan ini bertahan hingga akhirnya tiie buka suara juga. "lo kesini cuma buat bilang itu aja kan?" katanya dijawab dengan anggukan kepala gw. "ya udah, sekarang lo udah nyampein itu ke gw. terus mau apa lagi?" gw terhenyak. sebagian diri gw menolak mendengar kata - kata tiie tadi. gw yakin itu bukan dari hatinya. "terus, respon lo juga cuma segitu doang?" kata gw lagi. "lo pernah mikirin nggak sih, setiap kata-kata yg lo ucapin pengaruhngya apa buat gw? termasuk yg barusan lo ucapin itu." "emang ada yg salah yaa sama kata-kata gw barusan?" gw diam. bingung harus mengatakan apa. "tiie, gw jauh-jauh kesini nemuin lo. gw sampe bohong ke bos gw cuma supaya gw bisa ngomongin ini langsung sama lo." "emang lewat sms nggak bisa ya?" "emang dari tadi pagi lo ngitungin nggak berapa sms gw yg nggak lo bales?" "kenapa nggak lewat telepon?" "lo pernah ngitung berapa kali lo teken tombol merah di hp lo siang ini?" tiie diam lagi. "kenapa sih lo tuh selalu kek gini?" kata tiie. nada suaranya memelan. "kenapa lo selalu bisa ngelakuin segalanya cuma buat gw? apa sih yg lo harapkan dari gw?"

"gw nggak berharap banyak kok," ujar gw meyakinkan dia. "gw cuma pengen lo tau yg gw rasakan. gw pengen lo ngerti bahwa terlalu berat buat gw kehilangan elo. lo udah ada di hidup gw. rasanya seperti kehilangan sesuatu yg besar saat lo minta putus. gw terlanjur sayang sama lo tiie. gw harap lo ngerti ini." kami kembali terdiam. tiie kembali menunduk, mungkin tidak berani menatap gw. "tiie..jangan pernah pergi dari hidup gw... tetaplah di hati gw." kata gw menggenggam tangannya. "tuhan menciptakan sesuatu itu berpasangpasangan. tapi tuhan hanya menciptakan satu hati untuk seorang manusia. lo tau kenapa?" tiie menggeleng. "supaya manusia mencari hati yg menjadi pasangannya itu. dan gw yakin lo adalah hati yg gw cari di hidup gw.." bregh.. tiie memeluk gw. sedikit terisak dia berkata. "maafin gw rizd." katanya. "gw sekarang sadar kalo lo emang bener-bener sayang sama gw. maafin gw yaa. gw janji nggak akan ninggalin elo." kami berpelukan selama beberapa saat. gw bisa merasakan hangatnya tubuh tiie. "oke tiie, gw juga minta maaf ya kalo selama ini gw sering marah-marah sama lo." tiie melepaskan pelukannya. "lucu yaa," katanya tertawa sambil mengusap airmatanya. "kita sering marahan, putus, terus baikan lagi di hari yg sama." gw tersenyum. "itu karena kita sama-sama sayang." "kita? lo aja kalii...hehe" gw melangkah ke jendela. di luar rupanya turun hujan. tiie menghampiri gw. kami sama-sama menatap kosong jendela yg basah. gw meraih tangan tiie lalu merangkulnya.

entah apa yg melintas di pikiran gw saat itu, tiba-tiba gw bernyanyi menyenandungkan sebuah lagu. tanpa melihat tiie, gw tahu tiie menikmatinya, meski suara gw sumbang, setidaknya gw yakin lagu yg gw senandungkan sampai di hatinya.....

PART 22

gw semakin erat memeluk tiie. gw bisa merasakan hangat tubuhnya. gw bisa merasakan tiap tarikan nafas yg dia lakukan, dan ada kelegaan saat mengembuskannya. ini salahsatu momen yg nggak akan gw lupakan. mata kami sama-sama menatap menembus jendela yg basah terkena percikan air. dalam keadaan begitu, tiie menggenggam telunjuk tangan gw, membimbingnya ke kaca kemudian menggerakkan ujungnya melingkar di kaca. tangan gw yg hangat membuat sebuah pola di permukaan kaca yg berembun. "seberapa yakin sih elo dengan cinta kita?" tanya tiie memandang pola berbentuk 'hati' yg terukir di kaca. "seyakin elo saat menggerakkan telunjuk gw," jawab gw berbisik pelan di telinganya. tiie tersenyum. "tadi yg lo senandungkan lagu apa?" lanjutnya.

gw diam beberapa detik. gw menggeleng. "entahlah," kata gw. "gw cuma bersenandung." tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. buru-buru gw lepaskan pelukan gw. endah dan wulan masuk sambil cengar-cengir nggak jelas. "ekhem!" gw yakin deheman endah sangat disengaja. "eh, hai, ndah.." kami berusaha bereaksi sebiasa mungkin. "jadi gimanaa...udah beres masalahnya?" tanya wulan kembali membenahi kasur entah untuk keberapa kalinya. dia memang hobi beresin kasur mungkin. "oia ndah, lan, thanx banget ya buat semua bantuannya.." kata gw. "kalo tanpa kalian entah apa jadinya gw?" "udah ah gak usah lebay," ujar endah. "sama-sama kok. ya udah bentar lagi waktu buka puasa tuh, kalian mau buka dimana? sekalian bareng di sini aja sama gue dan wulan? atau..?" tiie melirik gw. "kita ke warung aja deh," jawab gw. dan malam itu untuk kedua kalinya gw menikmati santap buka puasa bareng orang yg paling gw cinta... kami berbuka di salahsatu warung nasi goreng di pasar cimanuk. dengan menu alakadarnya kami sangat menikmati kebersamaan ini. sekitar pukul setengah delapan gw pamit pulang ke cirebon. di dalam bus yg mengantar gw menuju ke rumah, disitulah gw baru sadar bahwa ada satu masalah lagi yg harus dihadapi : gw harus menyerahkan sebuah surat kematian sebagai bukti kepada bos gw. tiba-tiba gw mulai cemas. gimana nih, ini bukan perkara mudah ! darimana gw bakal dapet surat kematian, sementara tidak ada satu pun keluarga gw yg meninggal ???

PART 23

malam itu gw nyampe rumah tepat saat keluarga di rumah hendak sahur. mereka yg heran dg kedatangan gw di midweek langsung saja mencecar gw dg beberapa pertanyaan sama yg gw jawab dg santai. "cuti," kata gw bohong. padahal mana bisa cuti? kerja aja belum ada 1 tahun udah maen cuti aja ! malam itu gw melewatkan sahur dg keluarga besar gw. kadang kangen jg dg suasana ini, mengingat tahun kemarin gw puasa di jakarta, begitu pun tahun ini. menjalani puasa 'di tempat orang' sambil beraktivitas bekerja memang punya tantangan sendiri. tapi entah kenapa gw selalu kangen suasana rumah kalau bulan suci ini tiba. gw ingin memanfaatkan waktu yg sempit ini dg baik. gw nggak bisa berlamalama dg enjoy berlibur. besok pagi gw harus berangkat kerja sambil menyerahkan selembar kertas bukti kematian sodara gw, yg gw sendiri nggak tahu siapa ! karena memang nggak ada sodara gw yg meninggal.

"kelewatan lo rizd," kata gw dalam hati. "tega-teganya lo ngaku ada paman yg meninggal. itu bukannya sama aja nyumpahin ya?" ah, setannn!... gw udah terlanjur ada di sini dg alibi demikian. nggak mungkin banget kan besok gw menghadap bos gw sambil mencari simpati dg permintaan maaf gw bahwa gw membohongi dia ? masalahnya bukan cuma level group leader atau foreman yg tahu, tapi supervisor up lah yg menandatangani surat ijin cuti darurat gw. gw bisa dipecat kalo ketahuan ! makanya pagi itu juga gw menemui ketua RT gw. untung Pak RT di tempat gw bukan model atau wanita karir, jd gw bisa menemui dia sedang duduk manis baca koran menikmati pagi yg indah. "wah, kamu bukannya di jakarta rizd?" RT gw terbilang muda. dengan umur segitu beliau masih kerap gabung dg anak-anak muda komplek gw jd seperti ngobrol dg teman sebaya. "justru itu Pak," gw tetap memanggil demikian untuk menghormati posisinya. "gw sekarang disini karena ada keperluan yg sangat mendadak. bener-bener mendadak, sampe gw cuti pun bohong ke bos gw. gw bilang kalo paman gw di kampung meninggal, makanya gw diijinkan balik hari ini." Pak RT terdiam. "Lha, terus?" tanyanya polos menjurus bego. "iya itu tadi Pak, berhubung gw bilang ada sanak yg meninggal.. gw butuh bantuan buat bikin surat keterangan seperti itu." Pak RT malah tertawa. "mana bisa bikin yg kayak gituan kalo aslinya nggak ada yg meninggal? kamu ada-ada aja." gw sudah menduga jawaban semacam itu. "apa nggak bisa diusahakan tuh Pak?" gw tetap yakin hari ini bakal pulang ke jakarta membawa surat nan penting itu. Pak RT terdiam lagi. "nanti dulu, saya coba hubungi dulu teman saya di kelurahan," katanya. "tapi kayaknya kalo pun bisa, kamu mesti punya pelicin buat mereka yg buat. ya kamu ngerti sendiri lah, bikin surat semacam ini bukan perkara yg dibenarkan dalam hukum kita." "tapi semua pun bisa dibenarkan kalo ada uang kan?"

argumen yg cuma dibalas senyum kecut ketua RT gw. maka pagi itu, meluncur lah kami menuju gedung kelurahan. di sana kami langsung menemui bagian administrasi, yg katanya kolega ketua RT. "wah wah...mana bisa kami mengeluarkan surat itu tanpa berdasarkan kenyataan?" Pak Sudibyo geleng-geleng kepala. "mohon maaf, surat kematian bukan surat undangan pernikahan yg bisa dibuat sesuka hati. maaf." jlegerr !... gw seperti sudah pupus harapan di situ. muka gw pucat. gw bingung harus melakukan apa lagi, gw samasekali nggak berpengalaman dalam hal seperti ini. "emang susah bikin surat seperti ini," kata Pak RT iba melihat gw. saat itu kami duduk di beranda masjid tepat di sebelah kantor kelurahan. "huft.." gw menggerutu pelan. "terus gw mesti bilang apa ke bos gw besok?" "lagian kamu nya jg sih beralasan jangan yg aneh coba." "waktu itu cuma itu yg ada di pikiran gw Pak." kami diam cukup lama sampai akhirnya Pak RT mengajak pulang. "jadi kita balik tanpa hasil nihh?" tanya gw. "Lha, terus?" lagi-lagi pertanyaan polos yg menjurus bego! gw mendesah pelan. mati dah gw besok!... dan saat gw berpikir besok akan membawa pakaian dari kos pulang ke rumah, saat itulah sebuah mobil dinas kijang tua plat merah masuk ke area parkir masjid yg sekaligus jg area parkir kelurahan. "itu siapa, Pak?" "Pak Lurah." "kira-kira Pak Lurah bisa bantu nggak ya?" tanya gw. Pak RT menatap gw. lalu dia melepas helm di kepalanya. "patut dicoba," kata Pak RT. kami membiarkan laki-laki gendut berseragam cokelat yg keluar dari mobil itu masuk ke kantor sebelum akhirnya kami jadi tamu pertamanya hari itu. setelah melalui diskusi panjang yg melelahkan akhirnya Pak Lurah bersedia membantu. bukan surat kematian, hanya sebuah surat bermaterai yg ditandatangani Lurah dan gw (berasa orang penting gw) yg

menyebutkan bahwa saudara Harrizd adalah benar pulang kampung untuk melayat pamannya yg meninggal hari ini. ah, sebuah surat yg tidak masuk akal ! gw cuma berdoa semoga atasan-atasan gw besok mendadak rabun saat membaca surat ini !!

PART 24

empat hari menjelang idul fitri, gw mudik bareng temen-temen kos. dg menenteng satu dus bingkisan THR dari perusahaan, malam itu gw disambut dg baik oleh keluarga di rumah. acara 'temu kangen' berlangsung hangat. kakak gw yg merantau jg balik siang ini. rumah serasa lengkap saat semua berkumpul. ini momen yg paling gw tunggu setiap tahun. tiie jg mudik pagi tadi. kalau saja hari ini gw libur, gw pasti bakal mudik bareng dia. dan esoknya gw janjian buka bersama bareng tiie. gw sudah menunggu kesempatan ini. malam nanti gw akan memberikan sebuah surprize kecil buat dia.. gw sudah menyiapkan 'sesuatu'. sore itu gw janji ketemu di kafe biasa tempat kami ketemu. kali ini gw on time. bagaimanapun ini akan jadi hari yg spesial buat kami.

tapi ternyata justru gw kaget. tiie sudah duduk manis menunggu gw, padahal saat itu gw datang limabelas menit sebelum waktu yg dijanjikan. dengan mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam tiie nampak manis sore itu. "wow pantes hari ini nggak turun hujan," sindir gw. "yee...emangnya gw miss too late yah?" cibir tiie. "ini kedua kalinya gw datang lebih awal dari elo." "jiiaaah.....bangga gitu?" "hehehe.. ya bangga dong bisa datang lebih cepat dari pangeran ku yg gantengnya nggak ketulungan ini." gw yakin kalimat terakhir itu bukan pujian yg baik. gw mendengus pelan. "so.. apa agenda kita sore ini?" tanya gw. tiie pura-pura berpikir. "setelah kita buka puasa, kita nonton yg jam setengah 7. abis itu lo temenin gw shoping aksesoris cewek. terus..terus...temenin gw jg beli kaos buat lebaran. abis itu.." "ett dah, gw cowok lo apa bodyguard sih?" "hehehe.. seorang cowok kan juga harus bisa ngelindungin cewe nya dong?" gw mendengus. "haha.. gitu aja marah. jangan marah dong say..." tiie mengusap pipi kanan gw. saat itulah makanan pesanan kami datang. tapi kami harus bersabar menunggu limabelas menit sampai waktunya buka puasa. gw lapar sekali sore itu dan nambah 1 porsi lagi. tiie cuma ketawa ketiwi melihat gw yg 'kelaparan'. dan sesuai yg disebutkan tiie, kami nonton sebuah film. lalu jam 8 gw menunggu dg sabar tiie belanja aksesoris cewek. sampai akhirnya jam 9 an gw dan tiie berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. "haduuh.. hari ini cape banget gw," kata tiie. "ada jg gw yg cape nunggu juragan cewek belanja," sahut gw ketus.

"yaelaah...gitu aja sewot? bulan puasa harus banyak berbuat baik dong. sabar bu, sabarr. orang sabar itu disayang Tuhan." "orang utan disayang elo." tiie tertawa. "ah, sayang bisa aja deh..." gw mencibir. jarang-jarang dia manggil gw 'sayang' secara langsung. biasanya dia berani di sms atau telepon doang. malam makin larut. gw liat arloji sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. gw nggak bisa menahan tiie lebih lama. gw harus memberikan 'itu' sekarang.. gw berdiri di sisi kiri tiie. gw berinisiatif menggandeng tangannya. tiie nampak biasa saja karena gw memang sudah sering menggandengnya. lalu saat gw merasa waktunya tepat, gw keluarkan 'itu' dari kantong celana dan gw kenakan di jari manis tangan kanan tiie. upz ! ukurannya kekecilan !! sumpah saat itu gw grogi setengah mati. tiie yg terkejut menarik tangannya lalu sesuai dugaan gw, dia terkejut melihat cincin emas di jari manisnya. "eh, anu.. maaf, gw nggak tau ukurannya." gw malu banget saat itu. tiie masih terkejut. dia memandang gw dan cincin di tangannya bergantian. "gw belum ngerti.." katanya bingung. gw menarik nafas panjang. ah, akhirnya gw harus menjelaskan ini juga.. "sorry sebelumnya kalo ini mengejutkan elo," kata gw gugup. jujur saat itu gw nyaris tidak sadar apa yg gw ucapkan. "ehm..gimana ngomongnya ya? mungkin lebih baik gw benerin dulu cincin nya." gw meraih cincin di jari manis tiie lalu mengenakannya pada kelingking tiie. masuk dan pas. gw bernafas lega. ini sedikit membantu ketenangan gw. "oke," kata gw masih gugup. "pertama..ini cincin emas asli. gw beli ini pake tabungan gw sendiri, jd lo nggak usah khawatir dg kehalalan cincin ini." gw tertawa kecil. gw sudah bisa menguasai diri. "cincin ini adalah sebuah ungkapan. sebuah bukti dari ucapan gw dulu..bahwa gw pengen jadiin lo yg terakhir di hidup gw. gw serius jalani hubungan sama lo. gw pengen married sama lo. will you marrie me?"

ah, kata-kata tadi meluncur begitu saja dari mulut tanpa gw sadari. apa gw terlalu cepat mengatakan semua ini?? goblok, karena gw baru berpikir itu sekarang. gw terdiam kaku. sama dengan tiie yg rupanya kaget dg statement gw barusan. "rizd..lo serius sama yg barusan lo omongin?" tanyanya. gw mengangguk, berusaha mantap. gw nggak peduli apa yg akan terjadi setelah ini. suasana hening beberapa saat. sampai akhirnya tiie berkata. "yes, I will.." ah, tak terbayangkan perasaan gw saat itu. lega campur senang mendengar jawaban tiie. langsung gw peluk tiie. "thanx rizd," katanya. gw mengangguk bahagia..

PART 25

gw sepenuhnya sadar, saat gw mengenakan cincin di jari tangan tiie gw sudah mengambil sebuah keputusan nan sakral. gw tahu keputusan ini punya sebuah tanggungjawab besar. dan tanggungjawab itu harus dipikul oleh gw dan tiie bersama-sama. tapi meskipun begitu, orangtua tiie belum tahu soal 'lamaran' gw. selain menurut gw ini terlalu dini untuk diketahui orangtua kami, tiie jg nampaknya masih terkena efek kejut dari cincin yg gw beri kemarin. gw tahu-meski gw

sudah membuktikan keseriusan gw dg cincin itu-dia masih cukup meragukan kebenaran niat gw. tiie tidak pernah mengatakan itu, tapi gw bisa merasakannya. beberapa hari setelah hari raya, gw jalan bareng dia seperti biasa. kami mampir ke tepi danau tempat dulu biasa kami menghabiskan waktu ketika masih sekolah. "kangen banget gue sama tempat ini." tiie menghirup napas dalam-dalam. dia berdiri di tepian danau berwarna hijau cerah. tiie melirik gw. "kok elo biasa aja sih?" gw tersenyum. "emangnya kalo orang lagi seneng harus bikin pengumuman kek orang meninggal yaa?" ujar gw. "hahaha.. ngomongin soal orang meninggal, gw jadi inget surat kematian yg lo buat waktu itu." tiie geleng kepala. "makanya mas, jangan suka bohong jadinya repot kan?" tiie mencubit hidung gw. gw bereaksi dg mendengus keras. "yg bikin gw bohong siapa?" "yeee...nggak ada yg nyuruh elo bohong kan? elo nya aja terlalu kreatip jadinya kek gitu tuh." "gw bilang bikin bukan nyuruh bohong." "..." "itu masih mending," lanjut gw. "tadinya yg gw mau kasih surat wasiat gw biar sekalian percaya mereka." tiie tertawa lebar. dia menarik gw ke depan. "sini coba, orang pacaran kek orang lagi musuhan berdirinya jauh-jauhan gini.." gw bisa melihat tiie tidak memakai cincin dari gw di tangannya. "nah gini kan lebih romantis?" "kasian pohon di belakang nggak ada yg nungguin kan kalo kita di sini?" "yeeee..ngapain jagain pohon segala?" tiie menepuk jidatnya. kesempatan buat gw memegang tangan tiie. gw perhatikan jari-jarinya.

"kok cincin nya nggak dipake?" tanya gw menyelidik. "yaelaah....gitu aja sinis nanya nya?" tiie menarik tangannya. dia merogoh saku celananya, mengeluarkan cincin yg pernah gw berikan, lalu memakainya di jari kelingking. "gw takut cincinnya ilang, soalnya kan ukurannya nggak pas di jari manis gw. enggak kebayang deh kalo cincin ini sampe ilang.." tiie memperhatikan jari-jarinya. "gue suka cincin ini," katanya. "soalnya kalo nanti gw butuh duit, gw bisa jual nih cincin. hehehe... yaah, becanda kok. gitu aja langsung ngelipet tuh muka." gw tersenyum. kami melalui siang yg dingin itu dengan ngobrol nggak keruan sambil ketawa ketiwi nggak jelas. satu hal yg gw syukuri adalah gw selalu bisa tertawa, atau setidaknya tersenyum, jika berada di sebelah tiie. sejak pertama kenal lewat sms, gw kenal tiie adalah orang yg ceria dan selalu bisa mencairkan suasana. itu hal penting yg membuat gw nyaman di sisinya. "boleh tanya kan rizd?" kata tiie. "kok elo bisa sih seyakin ini sih jalani hubungan sama gw? jujur aja gw sampe sekarang enggak pernah menyangka akan dapet cincin ini dari elo." tiie menjabarkan jari-jarinya. "seperti yg gw pernah bilang ke elo tiie.." "kalo gw adalah hati yg elo cari di hidup elo?" gw tersenyum simpul sambil anggukkan kepala. "lo sendiri, seyakin apa lo sama hubungan kita?" gw balik tanya. tiie diam sesaat. saat itulah gw bisa merasakan keraguan dalam hatinya. gw yakin hati tiie nggak seyakin gw padanya. tapi hati kecil gw setengah mati menolak statement yg satu ini. "gw belum begitu yakin dengan ini rizd," kata tiie pelan. "maaf, maksud gw.. gw emang mau lo jadiin gw yg terakhir sebagai pendamping lo. lo mesti tau itu. tapi gw sendiri nggak mau terlalu berandai-andai terlalu yakin ini akan berakhir seperti yg kita inginkan. kita sama-sama masih muda.. jalan kita masih sangat panjang rizd. dan kita enggak akan pernah tahu apa yg ada di depan kita nanti." gw terdiam. "rizd," lanjut tiie. "jangan berpikir gw pesimis dg hubungan kita. gw yakin kok kita akan baik-baik aja. gw yakin kita bisa mengatasi konflik yg ada dg baik. tapi gw belum terlalu yakin ini akan berakhir sebaik yg kita inginkan." gw masih diam.

"maka dari itu rizd, gw butuh elo buat ngeyakinin hati gw. gw butuh elo buat ngebuktiin bahwa yg kita impikan ini akan terwujud. gw butuh lo rizd.." "elo adalah alasan gw berdiri di sini tiie," jawab gw. "elo adalah alasan gw ngasih cincin. elo adalah alasan gw melabuhkan hati gw. dan elo adalah gw. gw yakin itu." tiie tersenyum. "kok sekarang lo pinter ngegombal rizd?" komentarnya. "ah enggak kok. ini juga gw boleh ngapalin dua hari dua malem!" gw garukgaruk kepala kayak orang bego. "kemaren baru beli di gramedia." kami tertawa lebar. siang yg mendung itu seolah telah mentahbiskan bahwa gw akan melabuhkan hati gw hanya untuk tiie. dan dalam hati gw berdoa semoga Tuhan mendengar ini...

PART 26

seperti kebanyakan lainnya, gw benar-benar memanfaatkan momen hari raya untuk bertemu orang-orang yg sudah lama nggak gw temui. termasuk mantan

gw yg sudah hampir 2 tahun nggak pernah tampak batang hidungnya semenjak putus. pertemuan yg nggak disengaja sebenarnya. siang itu gw, lucky, agung dan teguh sedang bereuni di sebuah kafe. beberapa bulan terakhir ini kami jarang, hampir tidak pernah malah, bertemu bertatap muka karena kesibukan kerja masingmasing. yg gw tahu sekarang agung sudah bekerja di sebuah distributor alat-alat elektronik di kota ini. lucky gawe di pabrik percetakan buku terkenal di bandung, sementara teguh sendiri di batam. maka wajar lah kalau hari itu kami bermaksud temu kangen setelah cukup lama nggak bertemu. jam 2 siang lewat beberapa menit saat dua orang wanita cantik duduk di bangku sebelah meja kami. awalnya gw nggak begitu memerhatikan mereka, tapi teman-teman gw begitu berisik mengatakan 'cewe yg pake pink itu ngeliatin kita mulu!' atau 'deketin aja yuk?'.. dan saat gw menoleh ke arah yg dibicarakan teman-teman gw, gw tertegun. cewek mungil berambut panjang yg memakai sweater pink itu juga tengah memandang gw. cukup lama kami bertatap mata. "icha," gumam gw perlahan. gw kenal baik sosok cewek dg sweater pink itu. dia pernah jadi bagian hidup gw selama beberapa waktu. dan jujur saja, sampe saat ini pun gw masih menganggap demikian. hanya saja rasanya berbeda dg saat gw masih jadian dg cewek bernama asli Julia Etika ini. "harrizd," icha melambaikan tangannya ke gw seolah baru menyadari siapa gw. "weittz, lo kenal cewek itu rizd??" bisik teguh bersemangat. "mantan gw," kata gw pada teguh sambil tangan gw membalas lambaian tangan icha. icha berdiri dari duduknya, lalu menyeret kursinya dan menepikannya di meja kami. meja tempat gw memang besar karena khusus untuk yg datang banyakan atau 'paket keluarga'. "wi, sini !" icha memanggil temannya untuk gabung. alhasil, meja yg diset untuk empat kursi kini sudah sesak gara-gara icha dan kawannya. samar masih gw dengar teguh berbisik 'lo beneran kenal dia rizd?' tapi nggak gw gubris. "hayy, gimana kabar rizd?" icha menyalami gw. dia tampak sangat sumringah seperti bertemu artis idolanya. "baik," jawab gw sok cool.

"eh iya lupa kenalan sama temen-temen lo." icha memandang berkeliling temanteman gw. "gw icha dan ini temen gw dwii." gw lihat teguh menyikut lengan agung. gejala-gejala cowok mulai terdeteksi di sini. "udah kenal lama mbak sama harrizd?" teguh membuka percakapan. icha mengangguk penuh semangat. "lama banget ya rizd?" icha tersenyum lebar ke arah gw. lesung pipit nya tergambar jelas di sisi mulutnya yg gw yakin pasti memakai lip gloss. lesung pipit itulah yg dulu pernah membuat gw tergila-gila pada sosok icha. "eh mas, boleh tukeran tempat duduk nggak?" kata icha pada lucky yg duduk di sebelah gw. lucky memandang gw sebentar lalu gw jawab dg anggukan kepala. well, akhirnya di sebelah gw duduk bidadari mungil berlesung pipit dg wangi yg khas. gw ingat benar parfum ini yg dia pakai dulu saat jadian sama gw. rupanya icha tidak pernah mengganti parfumnya. gw memberi tanda kedipan mata pada teguh. teguh yg mengerti kode gw segera mengajak ngobrol dwii. maka sekarang ada dua arah pembicara. gw dg icha dan ketiga teman gw dg dwii. icha sendiri nampaknya tidak begitu tertarik ngobrol dg teman-teman gw. beberapa kali pertanyaan agung dan teguh dijawab sambil lalu dg mata tetap memandang gw. entah de ja vu darimana, tapi yg gw rasakan saat memandang wajah icha adalah seperti kembali ke masa lalu. gw duduk di sebelahnya seolah masih sebagai cowoknya. dan sikap icha saat ini memang tidak ada perubahan dg dulu sewaktu jadian. gw pandangi wajah mungil cewek di sebelah gw. ah, gw kembali terpesona dg lesung pipit milik icha. parfum yg dia pakai benar-benar membangkitkan de ja vu dalam diri gw. ingin sekali saat itu gw menggenggam tangan icha.. merangkulnya.. menghirup wangi parfum tubuh icha...mencium keningnya... mencium pipinya....merasakan lekukan lesung pipitnya menempel di hidung gw. lalu...... lalu.................. 'bip bip' anggap saja bunyi hp gw seperti itu. gw merasakan getaran hp di saku celana gw menyadarkan gw dari lamunan yg mulai ngawur nggak jelas. ada pesan dari tiie. 'hayy sayang.. lg seru-serunya kumpul sama temen yaa? jgn lupa makan siang ya'

buru-buru gw masukkan hp ke saku karena gw takut icha ikut membaca sms itu. well, kenapa lo mesti takut rizd? bukannya lo udah biasa dapet sms kek gitu dari tiie?? kenapa lo takut? lo takut ketahuan icha kalo lo udah punya cewek?? kenapa? ah, gw berusaha menepis pikiran aneh di otak gw. gw kembali memandang icha. "mikirin apa sih?" tanya icha. gw menggeleng. siang itu sampai sore harinya saat kami berpisah pulang, mata gw nggak bisa lepas memandang lesung pipit icha. dan sebelum pulang kami sempat tukeran nomor handphone..

PART 27

sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan ada sosok wanita lain diantara gw dan tiie. gw yg sebelumnya samasekali tidak pernah berpaling, bahkan sekedar melirik ke cewek lain, saat ini sedang diuji. kehadiran kembali sosok icha yg sudah lama menghilang nyatanya mampu menyegarkan oase yg nyaris kering di gurun hati gw. icha telah menghadirkan sebuah de ja vu yg mampu menggoyahkan hati gw. semakin sering berkomunikasi dg icha, semakin dalam pula rasa yg tumbuh kembali mekar di sebelah hati gw yg sudah terukir sebuah nama yg mengisi cawan hidup gw hampir 1 tahun terakhir.

sejak bertemu di kafe kemarin, icha sering sms gw menanyakan kabar atau speak-speak yg jelas menunjukkan rasa yg dia punya buat gw. beberapa kali bahkan gw mereject panggilan dari tiie untuk menjawab telepon icha. gw sangat comfort dg icha. apalagi kalau membayangkan lesung pipitnya yg manis.. kalau mau ditelisik, sms gw dg icha nyaris sama seperti sms gw dan tiie. icha bukanlah tipe orang yg bisa menutupi perasaannya. beberapa kali di sms dia mengatakan kangen gw, atau pengen jalan lagi bareng gw ke tempat yg dulu sering kami kunjungi berdua. ada sebagian hati gw yg melonjak girang dan mengiyakan ajakan icha. tapi sebagian hati gw bereaksi menolak keras hal ini. saat gw mulai terbuai dalam lamunan membayangkan senyum lesung pipit icha, gw disadarkan dg cincin tiie. dan ini cukup membuat gw kembali mendarat berpijak pada kenyataan yg sebenarnya. bahwa gw kini sudah berada di sebuah jalan yg finish nya nanti adalah tiie. rasa gw terlalu kuat kepada tiie. hati gw selalu berpihak lagi padanya. lagi dan lagi... seperti siang itu saat gw dan tiie memutuskan untuk melakukan perjalanan bareng ke jakarta. tiie akan turun di karawang sementara gw melanjutkan ke jakarta. liburan hari raya sudah usai, maka saatnya gw balik lagi ke aktivitas gw di tempat kerja. sudah jauh-jauh hari gw dan tiie merencanakan untuk berangkat bareng. makanya malam sebelum gw berangkat, gw hapus semua pesan dari icha. gw takut ada konflik dari sesuatu yg nggak gw lakukan. asal tahu saja, sejak ketemu di kafe kemarin gw belum pernah lagi ketemu icha. kami cuma

berkomunikasi via handphone. so, menurut gw itu belum masuk dalam kategori 'selingkuh'. "hay sayang," gw menyapa tiie yg saat itu berdiri di halte bus. tiie menjawabnya dg senyum manis di bibirnya. "gimana puas belum liburannya?" "yah..lumayan puas lah," jawab gw. "lo sendiri gimana?" "cuma diem di rumah, maen-maen ke sodara buat silaturahmi bareng keluarga..terus ketemu pacar gw deh." gw tertawa pelan. "eh iya rizd, keluarga gw sekarang pada komen mulu soal cincin ini," tiie menunjukkan jari manisnya yg dilingkari cincin bermata safir. "gara-garanya pas acara kumpul keluarga kan gw pake nih cincin. eh mereka pada bilang gini, waah..kek nya sebentar lagi ada yg bakal seserahan nih! gitu coba katanya.." "terus lo marah?" "ya enggak laah.. gw sih biasa aja, secara artis kan udah biasa digosipin git.. aw, jangan nepuk jidat orang seenaknya dong!.." tiie balas mencubit hidung gw. "ya jujur gw sih biasa aja, tapi ada malu juga. hehehe..." "malu cincinnya bukan berlian ya?" "enggak gitu ah. ya malu aja.. gimana sih kalo orang malu itu?" gw menggeleng. "gw nggak pernah malu soalnya," kata gw. "bahkan kemaluan pun kek nya gw nggak punya." tiie tertawa lebar. "haduh.. ada-ada aja lo. parah! diajarin siapa sih kok pacar gw jadi kek gini?" "otodidak aja kok," gw jawab sekenanya. kami sempat mengobrol beberapa menit sebelum akhirnya bus datang. di dalam bus kami tidak bisa mengobrol leluasa. saat itu bus juga sesak oleh para mudikers. AC jadi sedikit kehilangan fungsinya. maka adalah keputusan bijak untuk tidur selama perjalanan. tapi tiie rupanya belum mengantuk, dia meminjam hp gw untuk bermain game sebelum akhirnya dia juga tertidur.

kami turun di pertigaan cikampek. sempat singgah dulu di sebuah warung makan lalu melanjutkan perjalanan dg angkot ke rumah tiie. gw cuma mengantar sampai depan rumah karena saat itu sudah sore. lalu gw melanjutkan perjalanan kembali menggunakan bus menuju jakarta. gw tiba di kosan menjelang maghrib. di kosan gw belum ada orang soalnya temen-temen yg lain baru balik besok siang. besok gw masuk pagi dan mereka dapet shift malam. gw rebahan di kamar menikmati embusan kipas angin kecil di kosan. kipas itu gw beli patungan dg yg lain. gw lalu mengirim pesan ke tiie. mungkin karena capek gw tertidur. saat gw bangun beberapa saat kemudian gw cek hp barangkali ada balasan dari tiie. tapi nggak ada. makanya gw kirim lg pesan ke tiie. 'lagi ngapain say?' lama nggak ada balasan. gw kirim ulang pesan tadi dua kali lagi. lalu gw tinggal mandi. setelahnya gw cek hp. akhirnya tiie balas pesan gw. 'gw lg sms an sama icha' jelegerr !!... buru-buru gw cek inbox gw. Oh my God !! gw memang sudah menghapus semua pesan dari icha semalam, tapi yg tadi pagi belum gw hapus !

PART 28

malam yg seharusnya gw gunakan buat istirahat setelah perjalanan melelahkan dan persiapan hari pertama kerja, nyatanya gw sibukkan membalas pesan dua wanita yg saling beradu argumen membela diri. 'tolong ajarin cewek lo sopan santun kalo sms' ini sms icha ke gw. meski tanpa tanda seru pelengkap pesan, gw tahu icha menyampaikan sebuah pesan bernada keras. gw tahu dia kesal. baru gw hendak membalas, hp gw sudah bergetar pesan dari tiie. 'gw cuma ngobrol ringan kok sama icha!' ringan? ringan dalam tahap apa dan bagaimana? tiie membuat gw kesal malam ini. baru gw akan membalas pesan tiie, gw keduluan pesan icha yg masuk ke hp. langsung gw cek isi sms icha. 'nih rizd sms dari cewek lo ke gw..' di bagian bawah kalimat tadi ada rangkaian sms kasar dan sangat tidak pantas dibaca. gw kenal itu karakter sms tiie. hanya berselang beberapa detik masuk lagi sms icha yg mem forward sms tiie buat icha ke gw. ini berlangsung beberapa lama. belum lagi disusul sms tiie yg juga mem forward sms berisi cacian icha yg adalah reaksi sebagai jawaban sms tiie padanya. aaarrgh!.... gw cuma jadi pembaca setia dua kubu yg berperang lewat sms tanpa bisa membalas satu pun pesan-pesan itu. gw bingung sebenarnya apa yg diinginkan dua cewek ini. gw lempar hp ke atas bantal. gw bergegas keluar menuju ruang depan. menyalakan televisi dan mulai mengalihkan perhatian dengan bermain play station. dari dalam kamar masih terdengar bunyi hp berdering. entah berapa kali hp gw berbunyi.

gw merasa sangat lelah dan ini bukan waktu yg tepat untuk 'berperang' lewat sms. malam itu gw menulikan telinga gw dari deringan hp yg baru membisu sekitar pukul duabelas tengah malam. tapi gw sudah terlanjur asyik dengan game di hadapan gw. entah jam berapa sampai akhirnya gw tertidur dengan layar televisi masih menyala. esoknya gw terbangun mendengar ketukan di pintu. gw terperanjat meraih remote dan mengecek jam di televisi menunjukkan pukul setengah sepuluh siang. "oh my gosh!" gw memaki dalam hati. gw bergegas ke pintu. dalam hati gw bersyukur lingkungan kos gw aman karena ternyata semalam gw tidur dg pintu tidak terkunci. "pagi mas," seorang lelaki paruh baya menyapa gw di depan pintu gw lihat dia membawa sebuah buku besar. "saya Ketua RT disini. seperti bulan-bulan kemarin, saya mau menagih uang keamanan." momen yg tepat, kata gw dalam hati. gw memberikan limaribu rupiah sebagai iuran keamanan yg dibalas dg senyum ramah Pak RT. gw lihat jam dinding di kamar menunjukkan pukul sepuluh kurang limabelas menit. berarti gw sudah sangat terlambat untuk masuk kerja hari ini. maka gw memutuskan menambah 'liburan' gw. rupanya pagi ini lidah gw sedang berfungsi dg baik. teh manis yg gw seduh kali ini terasa sangat nikmat. hangatnya kentara mengalir di kerongkongan. daripada pusing lebih baik gw menikmati pagi ini dengan menyetel lagu-lagu favorit di mp3 player yg menggema ke seantero kamar. ditemani secangkir teh hangat gw duduk di teras kosan menikmati semilir angin pagi yg mendung. gw cek hp gw menampilkan tigapuluh pesan singkat semalam. masih berisi hasil forward yg satu ke yg lain, gw hapus pesannya satu per satu. dan yg pertama gw lakukan setelah itu adalah menelepon icha. entah apa yg ada di pikiran gw saat itu tapi gw merasa ini adalah tindakan yg tepat. "halo rizd," terdengar suara icha jernih di telinga gw. "hay cha. lagi ngapain?" gw berbasa-basi. "lagi tiduran aja di kamer. kok lo nelepon jam segini? bukannya gawe?" "hari ini gw bolos." "lho kok bolos?"

"bangun kesiangan gara-gara jadi pembaca setia sms dua orang cewek yg lagi ribut." "oh gara-gara semalem ya? gw minta maaf ya kalo gara-gara tadi malem lo jadi telat bangunnya.." "ah enggak kok bukan karena itu." gw menyempatkan meminum teh yg nyaris dingin. "gw yg harusnya minta maaf ke elo soal sms cewek gw." "iya tuh, cewek lo psycho banget takut kehilangan lo katanya! tapi nggak perlu ngomong kasar gitu kan? gw bukan cewek perebut cowok orang!" gw diam mendengarkan. "lagian kok bisa sih cewek lo tau nomer gw? emang dia baca-baca sms gw ya?" "kek nya sih gitu. kemaren gw jalan sama dia soalnya, terus dia pinjem hp gw." "yaelah..kenapa nggak lo apusin semua sms gw?" "udah gw apus kok, cuma ada yg kelewat aja. maaf ya cha.. gw beneran ngerasa nggak enak sama lo." "lo nggak salah kok. cewek lo nya aja yg kelewatan." kami sama-sama terdiam. "mungkin udah nasib gw kali ya.. tiap ada cowok yg gw suka, pasti dia udah punya cewek," lanjut icha. "emang lo suka sama gw?" icha tertawa pelan. "perasaan gw ke elo masih sama kek dulu rizd. dan akan selalu sama.." gw tersenyum. hati kecil gw berbunga-bunga mendengar pengakuan icha. "gw nggak bisa coment," kata gw. "lo nggak perlu coment apapun kok. gw cuma pengen lo tau ini aja. gw emang sayang sama lo, tapi nggak berarti gw harus memiliki lo. biar aja rasa ini ada di hati gw." "thanx ya cha udah ngertiin posisi gw.." tuut.. tuut..

icha menutup teleponnya...

PART 29

seandainya gw bisa memilih... sebuah kalimat klasik yg dipakai orang yg sedang dalam keadaan bimbang seperti gw. dalam waktu beberapa hari icha mampu mencuri separuh hati gw yg dulu pernah tiie dapatkan butuh lebih dari 4 bulan. mungkin bukan sepenuhnya mencuri. sebagian dari diri gw dulu pernah dimiliknya. saat rasa itu sudah membeku, tiie datang dan mengukir namanya di hati gw. dan sekarang, dengan segala perhatian dan kata-kata yg diucapkannya icha mampu mencairkan kembali separuh hati gw yg dulu membeku. seandainya gw bisa memilih... tapi tidak ada yg menyuruh gw memilih. jd mengapa gw harus memilih? pilihan gw cuma satu dan itu ada di hadapan gw sekarang. gw sudah memilih satu hati untuk gw, yg gw harap juga hati yg terakhir yg gw cari untuk melengkapi hidup gw. setelah kejadian semalam, gw masih berkomunikasi dg icha. tapi kini icha lebih bisa 'menahan diri' untuk mengatakan 'kangen' atau 'sayang'. gw bisa memaklumi ini. gw pun tidak terlalu mengumbar rayuan atau sindiran yg kadang memang gw katakan. tapi gw pikir itu cuma 'pemanis'. tidak ada maksud lain selama yg gw rayu tidak salah mengartikan rayuan gw. tapi gw pesimis icha tidak menyalah arti kan rayuan gw itu.

tidak ada masalah dg icha. yg harus gw selesaikan sekarang adalah 'kebekuan' tiie terhadap gw. seperti yg sering terjadi sebelumnya, tiie menonaktifkan nomor hp nya, enggan membalas pesan gw saat nomornya aktif dan mereject panggilan yg gw lakukan.

hal itulah yg mengirim gw sekarang berdiri di depan pagar hitam, mengetukkan kunci ke besi pagar sambil mulut gw tidak hentinya mengucap salam. hari ini gw sudah 'terlanjur' libur. setelah sebelumnya ke klinik dekat kosan untuk 'membeli' surat sakit sebagai alibi gw besok, gw memutuskan menemui tiie di rumahnya. ini belum jam kuliah, jadi gw yakin tiie ada di rumah. "assalamu'alaikum," gw berteriak cukup lantang untuk kesekian kalinya. tangan gw tetap menggedor besi pagar dg gerendel besarnya. belum ada tanda-tanda orang dari dalam akan keluar membukakan pintu buat gw. maka gw memutuskan mengulang salam gw beberapa kali lagi. suara gw sudah nyaris serak saat seorang wanita paro baya berpakaian agak kumal muncul dari balik pintu bergegas menghampiri gw. saat itu gerimis mulai turun rintik-rintik menimpa kulit kepala gw. "nyari siapa mas?" tanya wanita yg gw yakin adalah pembantu rumah tangga di rumah ini. dia berdiri di depan gw tapi enggan membukakan pagar untuk mempersilakan gw masuk sekedar berteduh dari rintikan nakal gerimis yg sekarang mulai sedikit deras. "tiie ada di rumah nggak bi?" kata gw menghiraukan kepala gw yg mulai nyeri tertimpa rintikan hujan. wanita di depan gw nampak salah tingkah dan bingung saat akan menjawab. "tiie nya keluar tadi siang sama temen-temen kuliahnya," katanya gugup. "siang jam berapa bi? perasaan sekarang baru jam satu," gw menunjukkan arloji gw. "eh, ng.. itu, bibi nggak tau persisnya jam berapa soalnya waktu mereka pergi bibi nggak liat jam." "emang jam nya ditaro dimana bi kok nggak keliatan?" gw melanjutkan sinis tapi gw yakin pertanyaan ini kalau ditanyakan di saat normal pasti akan nampak bodoh. "ada di dalem, tapi ya itu tadi bibi nggak ngeliat."

gw mengangguk pelan. saat itulah secara tidak sengaja mata gw melihat siluet seorang wanita berkacamata sedang mengintip dari balik gorden jendela di kamar atas rumah ini. saat gw perhatikan dg seksama wanita tadi segera lenyap dari kaca jendela yg bening menyisakan gorden yg bergoyang karena gerakannya. gw tersenyum simpul. "saya boleh nitip pesan buat tiie?" kata gw kemudian pada si bibi. "iya mas. ada pesan apa?" "tolong bilang ke dia, kalo mau bohong yg rapi gitu.." lalu gw pamit pergi. gw segera menyeberang jalan dan menggunakan angkot menuju pintu tol cikampek. dari sana gw melanjutkan dg bus untuk kembali ke jakarta. sebuah perjalanan yg sia-sia, kata gw dalam hati. dalam perjalanan pulang ke kosan gw cuma diam menikmati lagu-lagu dari headset gw. baju dan celana gw sudah nyaris basah kuyup. ditambah lagi dinginnya AC bus menambah merinding bulu kuduk gw. jam tepat menunjukkan pukul tiga kurang lima menit saat gw sampai di kosan. tapi sore ini sudah berasa seperti malam karena cuaca yg mendung. di kosan sendiri teman-teman gw sudah datang dan tengah bersantai ria menikmati oleholeh yg dibawa dari kampung. mereka tampak sangat terkejut melihat kemunculan gw. tapi dg gaya sok cool gw menunjukkan surat sakit yg gw 'beli' dari dokter. mereka langsung mengerti, karena gw sudah sering ijin sakit seperti ini. kosan gw berbentuk mirip rumah. ada dapur dan kamar mandi serta satu buah kamar yg luas untuk kami berempat tidur dan ruang depan yg kami fungsi kan sebagai ruang televisi. tiga teman gw semuanya dapat jatah shift yg berbeda dg gw, jadi dg leluasa gw bisa menguasai kamar sendirian saat mereka kerja. dan malam ini gw tidur lebih cepat, berharap semoga besok bisa bangun tepat waktu... PART 30

mengawali kerja di hari kedua adalah bukan pertanda baik. selain gw, ada beberapa rekan gw yg jg senin kemarin 'menambah liburan'. setelah brifing pagi khas ala perusahaan jepang pada umumnya, pagi itu gw dan mereka dikumpulkan di lobby untuk menerima 'ceramah' dan 'masukan' dari big boss berupa ancaman Surat Peringatan ke 1 karena dianggap telah melanggar peraturan dan kode etik karyawan. semua alasan, kecuali alibi surat kematian, tidak ada yg ditolerir kali ini.

dan setelah 1 jam mendengar kicauan big boss, kuping gw kembali dipanaskan maki-makian supervisor up yg kali ini menyebut gw sebagai calon penerima jam emas. di perusahaan gw, ada salahsatu kebijakan yaitu berupa hadiah sebuah jam tangan merk Roll*x khusus buat karyawan berdedikasi tinggi yg telah sangat berjasa berkontribusi buat perusahaan dalam 1 tahun terakhir. biasanya yg berhak mendapatkan penghargaan ini adalah level manager. dan lo tahu arti ucapan boss gw tadi? itu adalah sindiran tajam yg ketajamannya mampu merobek kulit seseorang bahkan dalam sentuhan sepersekian detik saja. begitu tajamnya sindiran itu bahkan mungkin seorang limbad pun enggan bermainmain dengannya. dan hari ini memang bukan hari keberuntungan gw. group leader gw dg seenaknya datang ke tempat gw membawa laptop serta beberapa lembar kertas. memanggil gw dg lantang dari kejauhan dg 'panggilan yg tidak semestinya'. "hari ini lo bantuin gw aja menyelesaikan daily report gw," katanya enteng. "terus kerjaan gw gimana? masih ada front door avanza yg harus gw cek. katanya kemaren ada complain dari finishing line??" ujar gw menolak. "udah abaikan aja dulu, itu mah gampang kan lagi dikerjain juga sama orang engineering." "tapi job rules gw enggak ada tuh point mengerjakan tugas leader?" "bukan mengerjakan tapi cuma membantu." "membantu???" gw lihat layar laptop group leader gw bernama Amrullah itu. "dg laporan yg masih kosong kek gitu lo bilang cuma ngebantu?" Amrullah tertawa. "bawel lo," katanya. "udah kerjain aja. mau gw kasih SP1 enggak nih?" "ogah. kerjaan gw aja belum kelar." Amrullah merogoh saku celananya lalu mengeluarkan tiga bungkus kopi capuccino favorit gw dan dua batang cokelat yg sering nongol di iklan. "nih buat cemilan lo," kata Amrullah. "entar jam 10 gw bawain pop mie sama snack." "nah gitu dong.." gw mengangguk bersemangat. Amrullah mendengus dg kasar.

"kalo udah selesai, lo save di folder punya gw tapi jangan lupa di back up di desktop." Amrullah beranjak pergi tapi kemudian kembali lagi beberapa detik kemudian. "oiya rizd, kalo ada supervisor kita kesini lo tinggalin aja nih lappie, pura-pura kerjain tugas lo. kalo di tanya macem-macem bilang aja lo nggak tau, yg ngerjain daily report ini gw. oke?" gw mengangguk pelan. dan setelah itu leader gw benar-benar pergi. tapi nyatanya hari ini memang bukan hari yg baik buat gw. saking khusyuknya mengerjakan job dadakan dari leader, gw sampai mengabaikan sosok yg sekarang berdiri di sebelah gw tengah memperhatikan layar laptop. "tugas kamu apa disini?" gw kenal suara ini. dan saat gw tengok ke asal suara ternyata itu boss gw yg tadi pagi dg 'bijak' memberikan sindirannya. gw cengarcengir nggak jelas. "panggil Amrullah sekarang!" katanya lembut tapi penuh penekanan. well, dan untuk ketiga kalinya dalam 1 hari gw menerima wejangan tingkat tinggi dari boss. kali ini ditemani Amrullah di samping gw. tadinya gw pikir kesialan gw akan berakhir seiring bunyi bel pada jam 4 sore pertanda jam pulang. tapi beberapa detik berselang setelah bunyi bel, hp gw bergetar ada pesan singkat dari icha. 'rizd, cewek lo sebenernya mau nya apa sih? kek nya dia seneng banget kalo maki-maki gw' ah, ada apa lagi ini??, gw menggerutu dalam hati. dua menit kemudian pertanyaan gw terjawab seiring sms icha dan tiie yg nyaris masuk berbarengan. de ja vu dua malam yg lalu... hari ini gw terlalu lelah menanggapi mereka. gw matikan hp dan baru mengaktifkan lagi setelah sampai di kosan. seperti sudah diduga, lebih dari duapuluh pesan berebut masuk untuk gw baca. tapi gw tidak perlu membacanya karena gw sudah bisa menebak isi pesannya. dalam kebingungan dan banyaknya pesan itulah, terselip satu buah pesan dari nomor yg nggak gw kenal masuk ke hp gw. langsung gw abaikan pesan dua wanita yg tengah berperang. 'hay ini harrizd bukan? ini gw tania, lo masih inget gw?' Tania.. Tania...

gw coba mengingat nama itu. ah, Tania adalah mantan pertama gw! saat gw masih cupu-cupunya, dia adalah cewek pertama yg pernah gw cium keningnya di sebuah jendela kamar dg perasaan was-was takut ketahuan orangtuanya. dia cewek pertama yg nembak gw. dan tentu, she's my first kiss... "bales nggak ya? bales nggak ya?" gw dalam hati. dan setelah berpikir keras selama 10 menit akhirnya gw kirim balasan. 'maaf ini bukan harrizd. lo salah sambung kali..' meski hati gw menolak, tapi toh gw krm juga pesan itu. gw sudah cukup pusing dg icha dan tiie .... gw nggak mau memperumit masalah ini. PART 31

gw duduk terhenyak di kursi. dari balkon atas sini gw bisa melihat atap-atap rumah di sekitar kos gw. dari sini juga gw bisa mendengar kerasnya deru mobil yg dipacu melintasi jalan tol atas yg jaraknya tidak kurang dari 1 km. dalam beberapa kesempatan, saat gw melamun gw sering memandangi mobil yg berlalu lalang di jalan tol itu. kosan gw nggak terlalu tinggi jadi belum cukup untuk melihat seluruh kota dari sini. angin sore yg mendung dan basah perlahan berembus menerpa kulit gw. entah kebetulan atau nggak, kadang alam juga seolah merepresentasikan perasaan gw. seperti sore ini gw mendapati hati gw tengah 'mendung' tertutup awan kegelisahan. begitu pekatnya awan itu, bahkan sesungging senyum pun tidak mampu terukir di bibir gw saat gw baca kembali sms terakhir dari tiie. 'gw emang sayang lo. tapi sorry gw nggak mau diginiin sama cowok. lebih baik kita putus sampe disini, oke? entar kapan-kapan kalo kita ketemu di cirebon gw balikin deh cincin nya.' rasanya seperti ada sebilah duri yg mengendap di dasar hati gw. perlahan duri itu mulai menusuk-nusuk dinding hati yg mulai rapuh dan berjamur. gw adalah cowok, dan pantang buat seorang cowok untuk menangis karena cewek. tapi nyatanya kali ini gw nggak bisa menahan laju airmata yg mengalir perlahan di pipi gw. gw merasakan kesedihan yg mendalam. kesedihan yg hanya mampu diciptakan oleh seseorang yg sudah sekian lama jadi bagian hidup gw. kesedihan yg terlahir karena rasa sayang gw yg terlalu besar buat dia. terlalu besar, sehingga sampai detik ini pun gw sangat terguncang dg keputusan sepihak dari tiie. tadi siang saat jam kerja gw sempatkan sms an dg tiie. setelah 'adu kata-kata kasar' dg icha hari minggu kemarin tiie masih enggan membalas pesan gw. dia

cuma sms saat menurutnya ada sms tidak pantas yg diterimanya dari icha. selain itu, tiie tetap menjadi sosok yg dingin buat gw saat ini. dan siang tadi gw bersyukur tiie membalas sms gw. sms yg dingin memang, tapi gw selalu berusaha membaca sms itu dengan konotasi yg positif. rupanya tiie masih kesal atas insidennya dg icha. beberapa kali dia mengungkapkan kemarahannya pada gw. dia menganggap gw telah melakukan tindakan bodoh dg berbalas pesan dg icha. 'gw pikir kejadiannya sedikit sama dg kejadian tempo hari lo dan eka. gw cuma sms an sama mantan. enggak lebih. so, kalo gw bisa maafin lo waktu itu, kenapa lo sekarang nggak mau maafin gw?' dan inilah awal di mana kemarahan tiie memuncak. dia menolak keras kasus ini disamakan dg kejadian dulu. dia menuduh gw sangat pintar memutarbalikkan fakta dg mengungkit kejadian dulu yg seharusnya tidak perlu dibahas lagi. bahkan permohonan maaf gw pun ditolaknya. 'tiie.. udah dong jangan marah terus. lo tahu kan makna cincin yg gw kasih ke elo? mana mungkin gw berpaling ke yg lain kalo gw udah seserius ini sama lo? lo juga masih inget kan sama janji kita di tepi danau?' dan balasan dari tiie adalah sms yg gw baca di awal tadi. setelah itu, tiie enggan membalas satu pun sms gw. mungkin buatnya semua sudah berakhir di sini. saat dirinya sedang 'berada di atas', itulah saat yg tepat untuk memutuskan suatu hubungan karena dg begitu dia bisa memberi gw pelajaran bernama 'penyesalan'. dan memang, pelan tapi pasti hati gw mulai diselimuti kegelisahan. gw mulai membodohi diri gw karena pertemuan dg icha kemarin. gw mulai menyesali adanya sore itu. dan gw mulai menyesali lesung pipit icha yg telah menggoyahkan hati gw. gw benar-benar dibuat menyesal kali ini.. airmata masih jatuh mengalir dg mulusnya dari pelupuk mata gw tanpa mampu gw seka. hati gw terlalu kosong untuk sekedar menggerakkan tangan menyekanya dg baju atau telapak tangan sekalipun. sementara mata gw menatap kosong atap-atap rumah yg berjejer rapi di bawah gw. balkon ini sejatinya adalah tempat untuk menjemur pakaian. di belakang gw ada beberapa tali yg dikaitkan ke dinding untuk menaruh pakaian. balkon ini memang jarang dikunjungi anak kos kecuali untuk keperluan tersebut. dan gw bersyukur karena dg begitu gw bisa leluasa menikmati sore yg menyedihkan ini sendirian. menyendiri saat patah hati memang selalu lebih baik. "hey rizd ngapain lo di sini sendirian?" sebuah suara mengagetkan gw. gw menoleh ke asal suara. teman gw Apendi membawa sebuah ember berisi pakaian baru dicuci menghampiri gw. "pantes gw cari di kamer enggak ada. taunya bertapa disini lo."

gw nggak menjawab. bibir gw mendadak kaku untuk digerakkan. "wah, lo nangis ya?" lanjut Apendi menyelidik. kali ini buru-buru gw seka airmata gw. "kenapa lo sampe nangis gitu?" gw menggeleng. "udah cerita aja daripada dipendam dalam hati bisa jadi penyakit." gw tetap menggeleng. "diputusin cewek ya? tuh gw bisa baca sms di hp lo." gw mendapati layar hp gw menghadap bebas ke arahnya. buru-buru gw masukkan ke kantong celana. "enggak ada apa-apa kok," gw berkilah lalu pergi dari situ. selintas gw melihat Apendi tersenyum. dan itulah awal mulai berembusnya gosip 'tangisan di balkon'.. PART 32

gw hirup nafas dalam-dalam. dalam hati gw bersyukur setidaknya gw masih diberi kesempatan menikmati lagi langit sore ini. sejak putus dg tiie, balkon ini seolah menjadi tempat favorit gw menumpahkan segala beban dalam hati. dg memandang langit yg luas tak bertepi gw seakan berbicara padanya menceritakan kegalauan yg saat ini menghinggapi hati. dengan diiringi sebuah gitar tua milik teman gw mulai bernyanyi yg gw sendiri nggak jelas kuncikuncinya. "wooii...jangan nangis mulu, entar kesambet lo di sana angker kan!" salah seorang teman meneriaki gw dari bawah. sejak kepergok nangis kemarin, temen-temen gw sekarang punya bahan sindiran buat gw. bahkan ada beberapa yg mengarang cerita horor bertajuk 'tangisan di balkon' yg tentu saja tokoh utamanya seorang cowok yg baru saja diputusin ceweknya! tapi it's oke.. gw menganggap itu cuma bahan selorohan. biasanya gw menanggapi sindiran mereka dg satu senyuman lebar. gw tahu mereka cuma becanda, karena gw pun kadang-kadang jg suka mengejek mereka. gw petik lagi senar gitar di tangan. gw hentikan sejenak. gw meraih pulpen dan menuliskan di kertas yg gw taruh di lantai beberapa kata mengisi bait syair lagu yg sedang gw rangkai. sebuah lagu ungkapan kegalauan hati gw saat ini. lagu yg hanya terdiri dari untaian nada-nada sederhana. sebuah lagu patah hati.

sedang asyik mencatat dan mencoret lirik di kertas, dari bawah terdengar lagi teriakan temen gw. "wooii rizd....ada telepooonn!!" terdengar suara Ardi. gw bergegas menuju tangga lalu turun ke kamar gw di lantai bawah. "nih daritadi hp lo bunyi mulu ganggu orang tidur," Ardi menemui gw di depan kamar dg wajah kusut dan rambut acak-acakan. gw menerima hp gw yg bergetar panggilan masuk. nama icha terpampang di layar. "nih," gw serahkan gitar ke Ardi. lalu bergegas gw kembali ke atas. "hallo," gw menjawab telepon icha. langkah kaki gw terdengar kasar menapaki anak tangga menuju balkon. anak-anak kos yg lain nampaknya masih tertidur nyenyak di kamar mereka. kebanyakan memang dapat jatah shift yg berbeda dg gw. "met sore rizd," terdengar suara lembut icha dari seberang. "lagi ngapain?" "baru balik gawe nih. lagi istirahat aja." "met istirahat deh kalo gitu," lanjut gitu. "kalo gw lagi meringkuk kedinginan nih di kamer. disini lagi ujan gede. disitu ujan enggak?" pertanyaan basa-basi yg kerap ditanyakan cewek dalam membuka pembicaraan di telepon. "enggak tuh," gw duduk di kursi di balkon. "di sini malah panas banget." "yaah..namanya jg jakarta. hehehe... by the way gw sekarang ngekos jg lho, ikutan lo." "ngekos? ngapain? kan rumah lo nggak jauh-jauh amat dari sekolah? biasanya jg pake angkot." "yaelaah..omongan lo barusan sama kek nyokap gw waktu awal gw minta ngekos," icha tertawa pelan. "gw kan pengen refreshing rizd. kek nya seru jg jadi anak kos. lebih menantang aja gitu." "apanya yg menantang? yg ada jg lo pasti ngincer bebas nya kan?" icha tertawa lagi. "iya jg sih. nih temen gw aja lg asyik berduaan di kamer sama cowoknya. gw jd mengungsi di luar deh. tapi nggak papa dink, kan anak-anak udah bikin perjanjian yg ngapel kesini mesti bawa cemilan buat pajak. hehehe.." "kasian yg ngapelnya donk??"

"itu resiko bung," ujar icha. "entar kalo lo ngapelin gw jg bawa makanan yg banyak yaa?" kami tertawa. dan kami pun larut dalam obrolan ringan. "oh iya gimana kabar cewek lo?" tanya icha. "baik kayaknya." "kok kayaknya? lo masih marahan ya gara-gara gw?" "bukan karena lo sepenuhnya kok. gw sama cewek gw emang banyak banget perbedaannya. kami nggak bisa memenuhi keinginan yg lain. gw selalu berseberangan pendapat sama dia." "ehmm...lo pernah denger filosofi ABC nggak?" "apaan tuh?" "sebuah filosofi sederhana sih. lo mau tau?" "boleh tuh." "jadi gini, kalo misalkan lo adalah 'A', maka cewek lo itu 'B'. kalian disatukan bukan buat jadi 'A'. juga bukan buat jadi 'B'. tapi kalian disatukan untuk menjadi 'C'.. yaitu jalan yg harus kalian tempuh bersama-sama untuk mengatasi perbedaan yg ada," kata icha panjang lebar. gw mendengarkan dg seksama. "jangan pernah memaksa cewek lo buat menjadi 'A', dan lo jg nggak bisa memaksakan diri lo menjadi 'B'. tapi kalian harus sama-sama menemukan 'C'. jadi kalo 1 ditambah 1 adalah 2, maka 'A' plus 'B' harusnya sama dengan 'C'." gw tersenyum simpul mendengar penjelasan icha. "sejak kapan lo jd orang bijak kek gini?" kata gw. icha terkekeh pelan. "sejak putus sama lo rizd. gw selalu mikir apa yg bikin kita putus.." ujar icha. "ternyata gw tau sekarang, kita putus karena kita nggak pernah bisa menemukan apa yg dinamakan 'C'. mungkin gw bukan orang yg tepat. maka gw berharap lo bisa nemuin itu dari cewek lo sekarang." lama kami saling diam. "thanks ya cha." gw sengaja nggak cerita kalau gw sudah putus karena takut membuatnya merasa bersalah.

"sama-sama rizd. gw cuma pengen selalu ada buat lo. fisik boleh aja menghilang, tapi hati dan perasaan akan selalu ada, sampe gw mati..." "thanks cha.Tapi kok lo bisa segitunya sih sama gw?" “jangankan elo, gw juga enggak tau rizd kenapa gw bisa sesayang ini sama lo..” sejenak Icha diam. “tapi lo nggak keberatan kan dengan perasaan gw ini?” “enggak lah cha. Justru gw harusnya berterimakasih ada cewek kek lo di dunia ini yg bisa mencintai dengan tulus. Gw bahagia kok bisa dicintai elo.” “gw nggak pernah berharap jadi bagian terindah di hati lo rizd. Gw Cuma pengen kalo suatu saat nanti lo melihat gw, lo akan senyum dan berkata dia pernah sayang sama gw...” Dan pembicaraan sore itu ditutup dengan sebuah isak tangis Icha. Isak tangis yg penuh arti.. PART 33

satu minggu berlalu setelah gw putus dg tiie.. gw masih sering duduk-duduk di balkon sekedar menikmati langit senja yg indah atau bernyanyi dg suara fals gw diiringi gitar tua. teman-teman gw jg sekarang jd sering nongkrong di balkon bareng gw. posisi tali jemuran digeser lebih ke belakang supaya memberikan kami ruang lebih luas. sayang kami tidak bisa menggeser posisi galon raksasa penampung air yg letaknya di ujung sudut depan balkon. padahal akan sangat menyenangkan duduk di sana karena posisinya paling dekat dg jalanan gang, jadi bisa lebih bebas cuci mata melihat cewek-cewek yg biasa berlalu lalang di sana. hehehe.. kalau satu minggu yg lalu cuma ada sebuah kursi kayu di atas, sekarang sudah ada tambahan dua buah kursi lagi dan satu buah kursi panjang untuk kami kumpul-kumpul. gw mensyukuri itu, disaat gw sedang sedih karena patah hati ada teman-teman yg walaupun tetap dg 'dongeng horornya' menemani gw. sebuah penghiburan di tengah oase yg sudah benar-benar nyaris kering. gw sendiri sampai sekarang masih belum bisa melupakan tiie. semakin besar tekad gw melupakan tiie, semakin kuat rasa yg gw punya buat dia. gw belum menemukan celah yg mampu menghapus tiie dari memori gw. layaknya kebanyakan orang yg sedang broken heart, gw jg mengalami yg namanya penurunan semangat hidup. jarang makan, jarang minum, tapi nggak sampe jarang mandi sih.. gw tetap mandi 2x sehari pagi dan sore hari kok. cuma memang kadang gw lupa gosok gigi. hehehe.. selain itu semuanya berjalan normal.

walau sedikit terganggu, gw masih bisa menyelesaikan job gw di tempat kerja dg baik. walau sedikit 'kucing-kucingan' gw masih sering membantu mengerjakan tugas leader gw. dan gw dapat 'upah tambahan' tentunya. sekarang gw seperti tukeran tugas, leader gw yg lebih sering mengerjakan job gw. tapi anehnya dia bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari setengah jam. padahal yg dicek adalah part yg terbilang besar seperti panel roof milik xenia atau back door gran max-luxio yg saat itu masih menjadi the big secret karena belum dilaunching ke publik. "ginian doang mah gampang. tinggal nembak angka doang apa susahnya?" komentar leader gw menjawab pertanyaan yg akhirnya gw tanyakan demi menjawab rasa penasaran selama ini. "dasar geblek," kata gw dalam hati. well, semua baik-baik saja. gw mulai mengadaptasikan diri dg kehidupan tanpa tiie. meski dalam beberapa kesempatan gw nyaris saja lupa hendak mengirim pesan yg biasa gw kirim buat dia. semua berjalan normal. dg sisa semangat yg ada dalam diri gw, gw mencoba bangkit dari keterpurukan ini. ada sosok icha yg sekarang menemani gw hampir di setiap waktu gw. icha lah yg sekarang menelepon gw pagi-pagi membangunkan gw mengingatkan jam kerja gw. icha yg sekarang jadi 'lawan' sms gw. icha yg mengirimi gw pesan selamat tidur setiap malam. singkatnya, icha lah yg sekarang mengisi hari-hari gw. dg cantik dia bisa menggantikan tugas tiie selama ini. gw samasekali tidak menceritakan keadaan gw dan tiie sekarang ke icha. biarlah, toh gw dg begini saja gw sudah menikmati ini semua. sampai pada satu pagi yg cerah di hari minggu. gw sedang menikmati kopi capuccino hangat favorit gw sambil menikmati pemandangan jakarta dari balkon saat sebuah suara memanggil gw dari belakang. "rizd," panggil Dani teman satu kamar gw. gw berdiri menoleh ke asal suara. "ada yg mau ketemu sama elo." "siapa?" tanya gw. Dani berdiri di ujung tangga. dan saat dia menoleh ke bawah, sesosok wanita muncul menapaki anak tangga. dia tersenyum ke arah gw. senyum yg gw kenal. senyum yg dulu pernah membuat gw jatuh hati saat pertama bertemu dg pemilik senyum itu. "tiie?" ucap gw pelan tidak percaya dg kehadirannya saat ini di depan gw. tiie melangkah mendekati gw.

"hay rizd," katanya ramah. "pertama, tolong jangan salahkan Dani. dia dg baik hati mau menunjukkan jalan ke kosan ini. dia orang yg baik." tiie tersenyum lagi. rasanya de ja vu sekali dg ucapan tiie barusan. gw ganti memandang Dani. "lo pernah kirim sms ke cewek lo pake nomer gw pas lo nggak ada pulsa," kata Dani menjawab pertanyaan dalam benak gw. "dia masih nyimpen nomer gw tuh. dan gw cuma bantu seseorang yg lagi nyasar di jalan menuju kemari." gw mengangguk pelan. lalu Dani berlalu dari tempat kami. sekarang tinggal gw dan tiie di balkon. entah gw harus senang atau marah dg kehadirannya yg tibatiba ini. "mau apa lagi?" gw mencoba dingin. "untuk itulah gw akan menjelaskan hal kedua," lanjutnya. "yg gw yakin lo tau pasti itu." kami diam. gw menatap ke arah lain menghindar tatapan matanya. gw benarbenar dibuat bingung olehnya. pikiran gw berkecamuk hebat saat itu. dan belum sempat gw berkata, tiie menarik tangan gw mendekatkan tubuhnya ke gw, lalu.. sebuah ciuman basah menempel di bibir gw dg telaknya. gw bisa melihat mata tiie yg terpejam tepat di depan mata gw seolah sangat menikmati momen itu. gw kaget banget saat itu!! setengah sadar buru-buru gw lepaskan diri dari pelukannya. PART 34

gw udah berkali-kali mencium tiie, tapi ciuman kali ini benar-benar mengejutkan gw. darah gw berdesir kencang dari ujung kaki ke ujung kepala. gw samasekali nggak menyangka. tadinya gw nyaris sepakat dg hati gw bahwa tiie sudah benar-benar membenci gw bahkan untuk sekedar membalas sms sekalipun. "kenapa?" ujar tiie polos. "kaget aja," jawab gw. "gw kaget dg yg barusan. dan gw kaget tiba-tiba lo ada di sini." "sekarang lo tau kan gimana rasanya waktu gw menemukan lo di kamernya endah?" tiie tersenyum. gw cuma garuk-garuk kepala. perasaan gw saat itu campur aduk antara kaget dan bahagia. gw samasekali tidak pernah berpikir tiie akan muncul di depan gw

pagi itu, tetap dg senyumnya yg menawan. sebuah senyum yg mampu mencairkan kebekuan hati gw selama satu minggu terakhir ini. "kenapa lo ada di sini?" tanya gw lagi. "sama dengan alasan lo dua minggu yg lalu saat menemui gw di kosan endah." lagi-lagi tiie tersenyum. "gw mau minta maaf sama lo rizd. gw tau gw terlalu egois. gw terlalu dini men judge elo.." gw terdiam. "kok bisa?" kata gw. "kok bisa elo dg mudahnya muncul di depan gw setelah satu minggu ini elo mengacuhkan gw?? lo samasekali enggak mau denger penjelasan apapun dari gw kan? lo pernah mikirin nggak sih rasanya itu semua?" tiie menundukkan kepala. "gw tau gw salah rizd. makanya hari ini gw putuskan menemui lo buat ngucapin maaf," katanya. "setelah gw pikir-pikir ternyata lo emang nggak sepenuhnya salah dan nggak adil buat lo kalo gw nge judgement tanpa dengerin penjelasan dari lo." gw menarik napas panjang. "percuma. gw yakin penjelasan gw nggak akan lo terima." "iih...jangan ngomong kek gitu! emang gw sejahat itu ya?" gw mendengus keras. "oke oke. gw kesini nggak minta macem-macem ke elo. gw cuma pengen dengerin yg sebenernya dari lo soal icha, abis itu gw balik." gw berpikir sejenak. "ayolah.. kasihtau gw ya?" tiie merayu. dan gw tau rayuan tiie pasti selalu berhasil melunakkan hati gw. "duduk," kata gw mempersilakannya duduk. gw duduk di kursi favorit gw dan tiie di sebelah gw. "makasih.." ucap tiie pelan. "nih," lanjutnya menyodorkan cangkir kopi gw. "minum dulu biar tenang." gw hendak menolak saat tiie memegang tangan gw lalu menyuapkan cangkir ke mulut gw.

"udah minum dulu. jangan banyak protes!" tiie memaksa sambil tertawa kecil. terpaksa gw minum kopi yg dijejalkan tiie. "gw emang pernah ketemu sama icha, tapi itu nggak sengaja." gw mulai bercerita. tiie memperhatikan dg seksama. "waktu gw lagi sama temen-temen di mall, pas nongkrong di kafe ketemu dia deh.." tiie mengangguk-anggukkan kepala. "pantesan waktu itu lo nggak bales sms gw ya?" komentarnya sambil tersenyum penuh arti. "gw akuin emang iya gw sengaja nggak bales. tapi di sana ada temen-temen gw kok. mana bisa gw ngapa-ngapain di tempat seramai itu. sumpah gw kagak ngapa-ngapain," lanjut gw melihat tiie tertawa kecil. "udah, lanjut.." kata tiie lagi. "ya abis itu gw tukeran nomer hp sama icha. terus kita sms an gitu, kek yg elo liat secara sembunyi-sembunyi di inbox gw." "ah, iya yg itu. sebenernya gw nggak liat sembunyi-sembunyi kok. waktu gw pake hp lo, ada sms dari icha. karena takut itu sms penting makanya gw buka. eh taunya sms 'jangan lupa makan ya biar enggak sakit'.. ya udah gw save aja nomernya di hp gw." "buka sms tanpa sepengetahuan yg berkepentingan emang bukan sembunyisembunyi ya?" kata gw ketus. "hehehe.. iya maaf, gw juga salah kok waktu itu," ujar tiie tertawa. "abisnya gw sebagai cewek lo kan wajar aja kalo cemburu??" "what's? sejak kapan elo punya rasa cemburu??" "sejak pertama ketemu sama elo, gw cemburu takut ada cewek lain yg ngembat elo. makanya gw tembak aja lo deh sebelum telat," tiie tertawa kecil. "sett...lo kata gw kambing pake diembat segala?" "lo bukan kambing kok, lo itu marmut." kali ini tiie tertawa lantang. "kalo gw liat lo makan, gw selalu inget sama binatang kecil yg mirip tikus itu. abis mulut lo komat-kamit kek marmut sih kalo lagi makan!" "enak aja," gw menolak argumen tiie. tiie masih tertawa.

"oke deh marmut.. terus cerita soal icha nya gimana?" "ya enggak gimana-gimana. kan udah gw ceritain ke elo?" "yakin nggak ada yg kelewat?" "nggak ada tuh." "oke," tiie menggeser kursinya mendekat ke gw. "sekarang lo mau maafin gw nggak?" "katanya tadi abis dengerin cerita lo balik? kok sekarang pake acara minta maaf segala?" tiie tersenyum senang. "abis ini gw balik deh," lanjutnya. "sekarang lo jawab dulu pertanyaan gw tadi, lo maafin gw nggak?" gw diam pura-pura berpikir. "alaah pake mikir segala," tiie mendorong kepala gw pelan. "iya iya gw maafin." "bener?" "bener." "serius?" "serius." "sejak kapan lo suka serius? bukannya lo fans ungu?" "sejak saat ini," gw menarik tangan tiie dan mendekatkan tubuhnya ke gw. lalu persis seperti tadi, kali ini sebuah ciuman dari gw yg mendarat di bibirnya. masih sama, basah........ PART 35

betapa sebuah kecupan mampu mengubah semuanya. hati gw luluh. bukan kecupannya yg membuat gw seperti itu, tapi ketulusan yg ditunjukkan tiie lah yg telah mencairkan kebekuan dalam hati gw. kami kembali menjalin hubungan dg

status pacaran. kali ini kami lebih hati-hati, khawatir menyinggung perasaan yg lain dan berakibat seperti kemarin. weekend ini juga rencananya kami akan ketemuan. tapi jumat pagi gw mendapat kabar orangtua di rumah mengalami sakit dan sebagai anak yg baik gw memilih membatalkan pertemuan gw dg tiie lalu jumat malamnya gw pulang ke cirebon. ayah gw terkena penyakit chikungunya dan berdasarkan cerita ibu, sebelum ayah, ibu dan adik gw juga sempat terkena virus yg sama. juga beberapa orang tetangga kami pun mengalami hal yg sama. mungkin memang sedang mewabah di lingkungan kami. beruntung gw memiliki kakak ipar yg berprofesi sebagai dokter umum, keadaan ayah sudah semakin membaik hari minggu nya. siang itu gw mengantar adik bungsu gw ke rumah kakak untuk sebuah keperluan. gw tinggal balik karena adik gw minta dijemput lagi malamnya. dg headset menempel di telinga, gw menikmati perjalanan pulang dg sepeda motor kesayangan gw. gw sengaja memilih jalan memutar karena sekalian jalan-jalan mengobati kangen gw pada kota ini. gw menepi di sisi jalan saat hp gw bergetar. gw balas pesan dari tiie yg menanyakan kabar ayah gw. baru saja gw hendak menarik gas saat sebuah suara memanggil gw. gw menoleh ke asal suara dari seberang jalan, depan sebuah sekolah kejuruan yg rata-rata muridnya cewek. seorang cewek melambaikan tangan ke gw dg bersemangat dari salahsatu kerumunan murid di sana. dia bergegas ke tepi jalan dan setelah memastikan jalanan sepi dia berlari menghampiri gw. "icha!" gw tersenyum senang saat icha berdiri di samping gw. saat itu dia mengenakan pakaian olahraga dg sebuah tas punggung warna pink. "elo kok nggak bilang sih kalo lagi ada di cirebon?" kata icha tersenyum tetap dg lesung pipitnya yg menawan. dalam hati gw bersyukur masih bisa melihat senyum itu. gw tatap lagi senyumnya. ah, gw pengen lebih lama lagi bisa memandangnya. "kebetulan yg indah yaa.." kata gw membalas senyumnya. "gw balik kemaren, bokap gw sakit." sudah hampir 2 minggu ini kami lost contact. gw pikir icha lagi sibuk. icha menarik hidung gw. ekspresinya sama seperti kami bertemu terakhir kali di kafe. "perasaan ini hari minggu deh. kok lo ada di sekolah?" tanya gw. "ekskul," jawabnya singkat.

"terus sekarang lo mau kemana?" "balik laah..tapi sayang gw nggak punya tukang ojek yg nganter gw balik." icha tertawa lebar. "kebetulan banget hari ini gw belum dapet penumpang nih. ngojek sama saya aja neng?" entah setan apa yg membisiki gw mengatakan itu. icha menarik hidung gw lagi lalu duduk di belakang gw. dua detik kemudian kami sudah melaju di tengah jalanan beraspal. "gw takut jatoh nih rizd," kata icha di kuping gw. "terus?" "boleh gw peluk elo? biar ada pegangan gitu. hehehe.." gw mengangguk setuju. dan kedua tangan icha sudah melingkar di perut gw sekarang. entah apa yg harus gw rasakan saat itu. bahagia, senang dan gembira menutupi sedikit rasa bersalah gw yg tiba-tiba hinggap di pikiran gw. tapi buruburu gw tepis pikiran itu. "rizd, kalo lo nggak buru-buru kita ke Bima aja dulu yuk?" "oke nona.." Bima adalah salahsatu stadion sepakbola di kota ini. stadion ini memang kerap dikunjungi orang-orang untuk sekedar beristirahat di bawah rindangnya pepohonan yg ditanam di sekitar lingkungan stadion. kalau hari minggu pagi, stadion ini ramai oleh orang yg jogging dan berolahraga, seperti di Senayan. awalnya kami duduk di bawah sebuah pohon. tapi icha mengajak gw ke sebuah mobil bak terbuka tua di dekat tempat kami. mobil rongsok yg sudah tidak dipakai lagi. "mau ngapain?" tanya gw heran. "jangan ngeres dulu deh," icha protes. lalu dia memanjat dan kini duduk di atap mobil. "ayo naek. lebih asyik di sini." gw geleng kepala heran. mobil itu diparkir (lebih tepatnya ditelantarkan) di bawah pohon randu besar di tepi jalan stadion. cukup teduh di atas sini. gw lihat di sekitar gw jg ada beberapa pasang muda-mudi yg 'mojok' di bawah pohon. "kita kek orang lagi pacaran aja ya?" kata icha lalu tertawa. gw tersenyum.

"orang pacaran mana ada yg lost contact kek kita?" "maksudnya?" "lo kan udah 2 minggu ini enggak sms gw?" "apaan? kan tiap hari jg kita sms an??" gw heran. gw anggap icha lagi teler. makanya gw tertawa lebar. "malah lo jahat, ngerjain gw!" lanjut icha. kali ini gw beneran kaget. "lo ngomong apa sih? udah 2 minggu ini lo nggak sms gw!" "ngelindur lo," icha mengambil HP nya. "2 minggu lalu kan lo sms pake nomer baru lo? nih liat sms dari lo belum gw apusin tuh termasuk sms waktu minta ketemuan itu." icha menunjukkan semua pesan yg dimaksudkannya. gw coba cek kontak dg nama 'harrizd_new'. dan betapa kagetnya gw melihat nomor yg terpampang di layar HP Icha. "ini kan nomer adenya tiie!" kata gw pelan. PART 36

“ini bukan nomer gw. Ini nomer adenya tiie,” kata gw lagi. Icha menatap gw heran. “maksud lo apa??” tanyanya. “itu nomer baru lo kan?!” Gw menggelengkan kepala. “sesuatu yg salah udah terjadi di sini,” lanjut gw. Dalam hati gw mulai emosi. apa maksud tiie menggunakan nomor adiknya untuk sms icha dan mengaku sebagai gw? “dengerin gw cha. Selama dua minggu ini lo samasekali nggak pernah berhubungan sama gw lagi. Nomer ini, yg lo kira adalah gw dan lo sms in dia, itu bukan gw. Kalo lo mau bukti coba aja sekarang lo call ke nomer gw.” Icha mengambil HP nya lalu mengikuti perintah gw. Saat HP gw bergetar gw tunjukkan nama yg muncul di layar HP gw adalah namanya. “lo call nomer lama gw kan?” gw memastikan.

Icha mengangguk pelan. “jadi.. jadi siapa yg gw sms in selama dua minggu terakhir ini?” icha masih mencari celah bahwa penjelasan gw salah. “lo kan rizd, yg ngajakin gw ketemuan di mall hari sabtu kemaren sepulang gw sekolah?? Tapi lo malah ngerjain gw!!” “tunggu dulu, maksud lo apa? Gw baru kemaren ada di cirebon.” Tapi pikiran gw sejatinya sudah bisa menerka apa yg telah terjadi. Untuk sementara gw tahan emosi gw. Icha tidak salah apa-apa. Dia hanya menjadi korban dari orang tidak bertnggungjawab yg memanfaatkan keadaan. Akan sangat salah kalau gw menumpahkan kemarahan gw sekarang. “oke sekarang gini deh, lo ceritain semuanya dari awal sejak orang ini sms ke lo ngaku sebagai gw.” Icha menyeka airmatanya. “gw pikir itu beneran lo rizd.. gw bener-bener bodoh kenapa waktu terima sms itu gw nggak konfirm ke nomer lo yg lama,” dia mulai sesenggukan. “waktu itu dia sms kalo itu nomer baru lo, dan nomer lo yg lama dipake ade lo soalnya lo baru beli HP lagi. Dia juga ngelarang gw kirim pesan atau telepon ke nomer lo yg lama. Katanya percuma aja. Ya udah gw percaya aja. Mana punya gw rasa curiga ke elo?” Gw memandang iba ke arah Icha. saat melihatnya menitikkan airmata, gw samasekali tidak terima ada yg memperlakukan Icha seperti ini! Apalagi dia mengatasnamakan gw untuk membenarkan perbuatannya itu! “sampe hari sabtu kemaren, lo sms gw ngajakin ketemuan di mall sepulang gw sekolah,” icha melanjutkan ceritanya. “tapi hari itu gw bener-bener diperlakukan dengan sangat nggak adil sama lo! Lo bilang kita ketemuan di kafe atas, gw tunggu lama tapi lo nggak muncul juga. Lo bilang lagi lo ada di parkiran dan nyuruh gw ke sana. Tapi pas gw ke sana gw samasekali nggak bisa ngeliat lo! Gw bingung karena mendadak nomer lo mati. Gw ngerasa dikerjain banget sama lo. Gw sampe nangis di parkiran!! Gw pikir lo tega banget kek gitu ke gw...” Dada gw semakin sesak mendengar cerita Icha. Dan betapa bodohnya gw karena gw juga nggak berusaha menghubungi Icha dua minggu terakhir ini. Gw terlalu dibuai oleh sosok tiie yg kembali hadir di hidup gw. Kini saat gw mwmbayangkan wajah tiie, yg ada hanyalah segumpal kemarahan yg hampir memuncak di kepala gw. “terus, dia bikin ulah apa lagi ke lo?” tanya gw lagi menghiraukan tangisan Icha. Gw pengen tau seburuk apa tiie memperlakukan Icha. Icha menggeleng.

“lo enggak pernah sms lagi sampe tiga hari kemaren lo akhirnya minta maaf pake nomer yg laen lagi. Lo bilang HP lo kemalingan waktu kita mau ketemuan. Alasan yg masuk akal kan?” “terus lo maafin gw?” “jelas iya! Sejahat apapun elo, seburuk apapun perlakuan lo ke gw kemaren, gw akan dengan senang hati menerima kata maaf lo. Gw samasekali nggak punya kekuatan buat marah sama lo rizd. Hati gw terlalu lemah buat sekedar nggak ngebales sms lo. Gw harap lo ngertiin ini.” Gw meraih bahu Icha lalu merangkulnya. “maafin gw cha,” kata gw. “ini bukan tindakan yg dibenarkan. Gw nggak bisa terima ini. Gw minta maaf banget sama elo.” “lo nggak akan ngerti rasa ini rizd,” ucap Icha di sela tangisnya. “gw ngerti kok cha,” gw membelai rambutnya. “ini udah kelewatan. Gw akan coba menegur cewek gw.” Icha menatap gw heran. “maksud lo, ini ulah cewek lo?” tanyanya. “nggak semestinya ini dilakukannya cha. Nomer yg dia pake buat sms lo, itu adalah nomer adenya. Tapi gw samasekali nggak pernah tahu-menahu soal ini. Lo percaya gw kan cha?” Icha mengangguk. Kepalanya bergesek di dada gw. Lalu kami jadi saling membisu sementara gw tetap memeluk Icha. “untung hari ini kita ketemu,” kata icha lagi. “gw nggak bisa ngebayangin apa lagi yg bakal gw alami kalo gw nggak tau yg sebenernya.” “maafin gw cha,” Cuma itu yg bisa gw katakan. Dan setelah keadaan Icha tenang kami memutuskan pulang. Gw mengantar Icha sampai depan gang rumahnya. “thanks rizd..” ucapnya sebelum berlalu dan meninggalkan gw. Gw masih terus memandangnya sampai Icha benar-benar lenyap dari hadapan gw. setelah Icha tidak terlihat lagi gw menarik nafas panjang. ah, ternyata betapa rumitnya hubungan gw dengan tiie... PART 37

sebuah sms di pagi hari membangunkan tidur gw. gw lihat di layar HP menampilkan nama dan foto Icha. 'rizd, salah nggak sih kalo gw terlalu sayang sama lo??' gw sedikit mengerutkan dahi untuk mencerna kalimatnya. jam dinding di kamar menunjukkan pukul setengah delapan pagi saat gw memutuskan untuk tidur lagi tanpa membalas pesan Icha. gw masih ngantuk karena semalam gw tidur cukup larut. gw baru benar-benar terjaga saat kakak membangunkan gw dua setengah jam kemudian. siang nanti gw mesti balik ke Jakarta jadi gw harus siap-siap. hal pertama yg gw ingat saat bangun adalah wajah Icha yg kemarin menangis. seolah dia masih ada di depan gw, airmatanya dapat gw lihat jelas mengalir di pipi mengikuti lesung pipitnya. sejenak gw pejamkan mata. ini semakin membuat bayangan Icha berkecamuk di pikiran gw. entah kenapa pagi ini otak gw memutar kembali memori-memori kebersamaan gw dengan Icha. saat baru pertama kenal sampai terakhir kemarin baju gw basah terkena airmatanya. dan ketika gw buka mata bayangannya semakin jelas. Icha ada di depan gw. benar-benar di depan gw! dengan manisnya dia duduk di sisi tempat tidur gw. Icha tersenyum lebar memandang gw. "hay Cha, kok lo ada di sini?" gw menyapa sambil kucek-kucek mata dan merapikan rambut gw yg acak-acakan. gw yakin suara gw cukup keras dan jelas untuk didengar. tapi Icha masih tersenyum tanpa menjawab pertanyaan gw barusan. "sejak kapan lo ada di kamer gw Cha?" gw ulangi menyapanya. kali ini dengan suara yg lebih keras. gw yakin nyokap gw di dapur pun bisa mendengar suara gw. Icha masih diam. senyumnya lenyap sekarang. dengan wajah sedih Icha mulai menangis lagi seperti kemarin. kali ini lebih histeris. suaranya menggema di dinding kamar. belum pernah gw melihat tangisan yg begitu menyayat hati seperti ini. hati gw seolah tercabik mendengar isak tangis Icha yg begitu kelam. wajah manis dengan lesung pipit yg menawan yg selama ini gw kagumi dari sosok Icha lenyap tertelan ekspresi kesedihannya. "lo kenapa Cha tiba-tiba nangis kek gini?" tanya gw. ingin rasanya saat itu gw beranjak duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya lalu merangkulnya untuk sedikit menenangkan hatinya. tapi entah mengapa tubuh gw terasa kaku untuk melakukan itu. bahkan bibir gw terlalu kelu untuk mengucapkan kata-kata penghiburan baginya.

suara tangis Icha masih terdengar keras di telinga gw. gw heran kenapa orang rumah nggak ada yg masuk ke kamar gw mengecek yg terjadi. padahal tangisan Icha kali ini lebih histeris dari seorang anak kecil yg minta jajan kepada ibunya. seolah tangisan itu hanya gw yg bisa mendengarnya. selama beberapa menit gw cuma jadi penonton seorang wanita yg tengah dilanda kegalauan menangis sejadi-jadinya di hadapan gw, tanpa gw bisa melakukan apa-apa. "lo kenapa lagi Cha?" akhirnya gw mampu bicara. Icha sesenggukan. gw lihat bibirnya bergerak hendak mengatakan sesuatu. gw tetap diam menunggu jawaban sampai akhirnya dia memanggil nama gw. "rizd..." suaranya lirih menusuk tepat di jantung. "iya Cha?" jawab gw. "salah nggak sih kalo gw terlalu sayang sama elo?" pertanyaan yg rasanya pernah gw dengar tapi entah di mana. gw menggeleng. "enggak kok Cha. yg salah adalah gw, yg nggak bisa jujur dan memilih.." Icha sesenggukan lagi. tangisnya mulai reda. tapi bahunya bergetar hebat tanda kegalauan yg melanda dirinya. dan gw masih belum mampu bergerak dari tempat gw sekarang. "gw cuma pengen lo tau kalo gw sayang banget sama lo sampe detik ini, bahkan sampe detik-detik yg akan datang!" kata Icha di sela senggukan tangisnya. beberapa saat suasana hening. keheningan yg mencekam. "rizd," lanjut Icha akhirnya. "kalo setelah hari ini lo nggak bisa ngehubungin gw, itu bukan karena gw nggak mau kenal lo lagi. tapi gw cuma pengen lo bahagia dg pilihan lo saat ini..." Icha memaksakan tersenyum. senyumnya beda dg yg biasanya gw lihat. sebuah senyum yg tulus tapi tertutupi kesedihan yg amat mendalam. "maksud lo apa Cha?" gw tanya heran. jantung gw berdebar kencang mencerna tiap kata yg diucapkan Icha tadi. tapi Icha tidak menjawab. dia diam sambil tersenyum ke arah gw. "Cha.." gw memanggil.

Icha tetap diam. "Icha..." kali ini lebih keras. tapi entah kenapa gw mendapati suara gw seolah menjauh. suara gw seperti tertelan kesunyian kamar. "ICHA!!" gw berteriak tapi yg keluar dari mulut gw adalah tangisan parau. suara gw benar-benar hilang sekarang. gw coba memanggilnya berkali-kali tapi tetap tidak ada suara. di depan gw Icha masih tersenyum.. gw nggak mengerti ini!! kenapa lo diem aja Cha?? lo nggak bisa denger gw? lo nggak bisa liat airmata gw?! lo kenapa Cha?? tiba-tiba gw merasakan sakit di tangan kanan gw. saat gw mencoba melihat lg wajah Icha, gw cuma mendapati kamar gw yg kosong dg gw sedang terbaring di lantai. tidak ada Icha. tidak ada tangisan itu. yg ada hanya keheningan di penjuru kamar. dan saat gw merasakan pipi gw basah oleh airmata, gw akhirnya sadar bahwa gw menangis dalam mimpi gw... PART 38

gw masih merasakan jantung gw berdebar cepat. hati gw gelisah. gw merasa ada yg nggak beres dg mimpi gw tadi pagi. maka dg alasan inilah siang itu gw duduk di atas jok motor gw sambil celingukan berusaha menemukan sosok yg gw cari. jam di HP menunjukkan pukul setengah satu siang. belum waktunya bubaran sekolah. memang ada sebagian yg keluar dari sekolah, tapi gw belum menemukan Icha. gw sengaja ke sekolahnya bermaksud menemui Icha karena gw pikir mimpi tadi pagi pasti pertanda kurang baik, gw yakin itu. gw cuma ingin meyakinkan bahwa firasat gw salah. gw berharap siang ini akan ada seorang cewek yg memanggil nama gw dg penuh semangat seperti kemarin. gw kangen melihat lesung pipitnya. tapi sampai jam satu lebih sepuluh menit gw belum juga menangkap sosok Icha dari kerumunan murid cewek yg berlalu lalang di sekitar gw. bisa dikatakan hampir 95% siswa sekolah ini adalah perempuan. dan tentunya kehadiran gw di tengah mereka cukup menarik perhatian. maklumlah makhluk seperti gw di sekolah ini terbilang langka. sama halnya saat gw sekolah juga melihat seorang wanita di lingkungan sekolah sepertinya hal yg aneh dan akan menjadi tontonan yg mengasyikkan buat semua. kini giliran gw yg ditonton seperti itu. gw berusaha se-cool mungkin. hehe.. gw mulai gelisah tingkat tinggi. satu per satu gw perhatikan murid yg keluar dari gerbang tapi Icha belum juga nampak. padahal sudah hampir jam setengah dua

siang. jam 3 sore nanti gw mesti berangkat ke jakarta lagi menggunakan kereta. biasanya gw memang pake bus, tapi kalau keadaan 'sempit' seperti ini gw bisa mengandalkan kereta api yg perjalanannya hanya 2,5 jam saja untuk sampai di ibukota. "jangan-jangan Icha ekskul?" pikir gw dalam hati. gw sedang mempertimbangkan untuk masuk ke sekolah dan mencari Icha di sana saat dua orang cewek menghampiri gw. "hay kak," sapa salahsatu dari mereka. "kakak yg kemaren jemput Icha ya?" "kita hafal kok muka sama motor kakak," sahut yg lain. ah, lagi-lagi kebetulan yg sangat indah. gw memperkenalkan diri. "Nadya," kata cewek berambut panjang dan menggunakan lensa kontak warna biru. "saya Bunga kak," yg badannya lebih tinggi memperkenalkan namanya. "kok nggak bareng sama Icha? Icha nya mana?" tanya gw. "justru itu kak, kita berdua juga lagi khawatir sama Icha," jawab Bunga. "emang Icha kenapa?" dalam hati gw berkata 'tuh kan gw blg jg apa..' "tadi pagi dia ijin balik. Icha muntah-muntah hebat di WC. terus katanya dia sakit kepala, dan kalo aku liat sih dia mimisan gitu dari hidungnya! makanya kita khawatir banget." gw cukup dikejutkan dg berita ini. kemarin pas ketemu gw yakin Icha baik-baik aja. "sejak kapan Icha kek gitu?" Bunga dan Nadya saling pandang. "seminggu terakhir ini sih Icha sering cerita ke kita kalo dia ngerasa sering lemes gitu, makanya dia balik ke rumah nggak ke kosan," Nadya yg menjawab. gw langsung mengkhawatirkan keadaan Icha saat ini. gw harus ke rumah Icha, kata gw dalam hati. "oke deh, makasih ya. saya ke rumahnya aja deh kalo gitu." gw bersiap menyalakan mesin motor ketika seorang murid dari gerbang berlari mengacungkan HP nya memanggil Bunga dan Nadya.

"kenapa tuh si Dinda?" tanya Bunga. Nadya mengangkat bahu. gw menahan niat gw pergi. cewek yg dipanggil Dinda tadi datang terengah-engah menghampiri kami. "gawat..gawat.." katanya mengatur nafas. "gawat apaan lagi Nda? nyokap lo minta cerai lagi?" kata Bunga geli. "aah, bukan soal keluarga gw!" sergah Dinda. "ini soal Icha!" langsung saja pikiran buruk menguasai otak gw. "Icha kenapa??" tanya gw nggak sabar. Dinda, cewek berkulit hitam berambut keriting itu melongo keheranan melihat gw. "udah nggak penting soal gw," kata gw. "emang Icha kenapa?" sedikit bingung akhirnya Dinda menjawab, "barusan ade nya Icha sms katanya Icha masuk Rumah Sakit!" kami bertiga berseru kaget. Dinda menunjukkan pesan di HP nya. "oh my gosh!" Nadya berkomentar. "ayo kita kesana sekarang!" lalu dia duduk di jok belakang gw. "nah, lo mau ngapain di situ?" Bunga dan Dinda bertanya bersamaan. "ke Rumah Sakit.." jawab Nadya dg tampang innocent. Bunga dan Dinda segera menarik kedua tangan Nadya. walau berusaha menolak tapi Nadya tidak kuat melawan dua kawannya. "enggak, kita bertiga berangkat bareng!" kata Bunga. "penyakit lo nggak juga sembuh dari dulu." "kita ketemu di sana aja ya kak?" kata Nadya. "eh, gue bisa jalan sendiri kali. nggak pake tarik-tarik gini lah!.." ketiganya beradu mulut. suara mereka menghilang saat mereka masuk ke angkot yg mangkal di dekat halte. dan gw segera memacu sepeda motor gw menuju Rumah Sakit Pelabuhan tempat Icha dirawat berdasarkan informasi adiknya di sms tadi. tapi karena gw lupa di ruang mana Icha berada, terpaksa gw menunggu tiga cewek tadi di pintu masuk Rumah Sakit.

"hay kak," Nadya menyapa gw ramah. gw masih bisa melihat Dinda dan Bunga mencubit lengannya. lalu bersama-sama kami menuju ruangan Icha. dalam hati gw tak hentinya berdoa semoga Icha baik-baik saja... PART 39

"Ndod, nggak pake acara pegang tangan bisa kan?" Dinda melotot ke arah Nadya yg segera melepaskan genggamannya dari tangan gw. "jangan panggil gw pake nama itu," Nadya balik melotot. "hahaha...kalo emang udah namanya kenapa mesti malu Ndod?" Bunga menepuk pipi Nadya. "nama gue Nadya, bukan Nandod!" "Nadya Edo Sudjono alias Nandod. oke? nggak ada debat kusir lagi. mestinya lo kan bangga bawa nama bokap lo." "lagian sejak kapan sih elo protes kita panggil pake nama itu?" Dinda ikut mengkudeta cewek berwajah ke indo an ini. "biasanya juga lo fine-fine aja tuhh." "kata siapa? sejak awal juga gue nggak mau pake nama itu." "oya? kok gue nggak pernah denger protes lo ya...sampe yg tadi barusan." "aah..lo ngeselin nih." dan akhirnya keributan kecil inilah yg mengantar kami berempat sampai di depan sebuah ruangan dengan kursi tunggu berderet rapi di koridornya khas Rumah Sakit. di kursi itu duduk dua perempuan. Putri, adik Icha satu-satunya dan tentu saja Tante Lina nyokapnya Icha. kami kenal cukup baik saat gw masih pacaran dg Icha. Tante Lina adalah seorang single parent. ia bercerai dg suaminya ketika Icha masih duduk di bangku kelas 6 SD. hak asuh kedua putrinya jatuh kepadanya. dan buat gw, Tante Lina adalah teladan yg baik untuk Icha dan Putri. ia berhasil melakukan tugasnya merangkap sebagai sosok seorang ayah dalam keluarga kecilnya ini dg sangat baik. Tante Lina adalah tipe wanita yg tegar. tapi hari ini gw nggak mampu melihat hal itu. ketegaran yg biasa ditunjukkannya kini tengah ditutupi awan mendung. "gimana keadaan Icha, tante?" tanya Dinda yg duduk di sebelah Tante Lina.

Tante Lina menggeleng. sesekali ia menyeka matanya dg tissue. "udah 1 jam tante disini tapi belum ada perkembangan," katanya. "dokter cuma nyuruh kami nunggu." "Ndod, emang Icha sakit apa sih kamu tau nggak?" gw berbisik pada Nadya yg duduk di sebelah gw. "kok malah ikutan manggil pake nama itu sih kak?" Nadya memprotes. "emang Icha nggak pernah cerita ya?" gw menggeleng. "Icha tuh kena yg namanya Leukemia kronis sejak empat bulan yg lalu. tau Leukemia kan? kanker darah itu lho." jujur gw shock banget saat itu. Icha samasekali nggak pernah menyinggung soal penyakitnya ini ke gw. dan Icha memang tampak normal layaknya yg lain. hebat sekali Icha menyembunyikannya dari gw! "semua akan baik-baik aja kok tante," kata Dinda lagi. "saya yakin Icha bakal sembuh dan segera gabung lagi sama kita di sekolah." Bunga mengangguk setuju. Tante Lina kembali menggelengkan kepala dg sedihnya. "kali ini gejalanya udah akut. tante takut Icha kenapa-napa Nda.." Dinda merangkul Tante Lina dan mengucapkan kata-kata penghiburan. gw sendiri nggak begitu paham dg penyakit yg diderita Icha, yg gw tahu adalah penyakit ini terbilang mematikan. gw merasa terpukul dg semua ini. "bisa-bisanya Icha nggak cerita ke gw," batin gw dalam hati. ternyata mimpi gw tadi pagi benar pertanda buruk. apa yg akan terjadi selanjutnya, semoga saja bukan sesuatu yg terlalu buruk buatnya. kami semua terdiam dalam sunyi. hanya suara beberapa perawat dan pasien yg lewat di depan kami yg menjadi musik pengiring kebisuan ini. waktu berjalan lambat gw rasakan. dalam tiap detik gw nggak hentinya berdoa semoga Icha bisa melewati fase ini dg baik.

"ini cuma ujian kecil dari Tuhan Cha, lo bakal sembuh.." gw menghibur diri sendiri. "gw akan bisa liat senyum lo lagi. gw kangen lesung pipit lo."

tanpa terasa airmata mengalir di pipi gw. jantung gw berdebar cepat. dada gw terasa sesak seolah ada sebongkah batu yg menindih. gw bisa merasakan darah gw mengalir dg panas di sekujur tubuh gw. gw sangat shock dg ini semua. "ini kak," Nadya menyodorkan sebuah tissue buat gw. "enggak baik buat cowok nangis di depan cewek." "thanks Nad," gw mengambil tissue itu lalu menyeka airmata dengannya. Nadya menepuk bahu gw perlahan. "sabar ya kak," ucapnya lembut. gw mengangguk setuju. kemudian kami kembali terdiam. tiap detik yg berlalu adalah sebuah ketegangan buat kami. rasanya kami sepakat bahwa saat ini yg kami harapkan adalah seorang dokter menemui kami dan mengatakan Icha baik-baik saja dan boleh pulang. atau Icha yg keluar dari ruangannya sambil tersenyum lebar dan meyakinkan kami bahwa semua baik-baik saja. lama kami menunggu.. tidak ada dokter itu. tidak ada Icha yg muncul dari balik pintu cokelat. yg ada hanya sebuah pengharapan bahwa ini adalah tahapan yg bisa dilalui dg baik. sebuah titik balik bahwa Icha akan sembuh total setelah ini.. gw menarik napas panjang lalu meraih tangan Nadya. Nadya tersenyum simpul ke gw. "numpang liat jam," kata gw pelan. arloji di tangan Nadya menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh. dan saat itu gw memutuskan untuk 'menambah libur' gw satu atau dua hari lagi. gw ingin lebih lama di sini. gw ingin melewatkan tiap detik penuh doa ini untuk menemani Icha. gw ingin Icha tahu gw ada di sampingnya. dan gw akan jadi orang pertama yg memeluknya saat ia terbangun nanti... enggan rasanya mengakui bahwa yg ada di hadapan gw sekarang ini adalah kenyataan.. sebuah kesunyian menyakitkan yg menusuk hati gw yg paling dalam. rasanya baru kemarin gw ketemu Icha di kafe itu. gw masih bisa mencium aroma wangi parfum yg biasa Icha pakai. menelisik dalam rongga hidung gw dan mengalir ke seluruh pembuluh darah dalam tubuh ini. setiap kata yg diucapkannya dengan penuh semangat, melekat erat di otak gw. kata-kata itu mendengung di kepala gw bagai kaset yg diputar berkali-kali dari sebuah tape recorder. gw nggak bisa melupakan begitu saja setiap gerak tubuhnya yg khas. semua bayangan tentang Icha memenuhi hati dan pikiran gw saat ini.

dan yg paling menyesakkan tentu saja adalah saat gw mengingat cara Icha memberikan senyum ke gw. sebuah senyum indah yg tulus dari hati.. caranya memandang mata gw.. lesung pipit itu... betapa menyakitkannya rasa ini. gw merasa jadi orang paling bersalah saat membiarkannya menangis di pelukan gw. seharusnya gw nggak membiarkan airmata itu mengalir dari kedua pelupuk matanya yg indah. nggak seharusnya airmata itu merusak keindahan lesung pipitnya. dan gw tentu saja adalah satu-satunya orang yg paling pantas untuk disalahkan untuk ini. gw merasa bukan apa-apa buat Icha. gw nggak pernah melakukan yg terbaik buatnya. gw bisa melihat kesungguhan Icha mencintai gw, tapi gw nggak mampu membalasnya dg nyata. gw bisa merasakan tulusnya sebuah perasaan yg begitu erat tertanam dalam hatinya. perasaan yg sama yg sebenarnya gw punya, tapi nggak mampu gw tunjukkan. semua ini benar-benar terasa begitu menyakitkan. begitu berat gw rasakan menindih pundak gw. begitu sesak memenuhi rongga dada. gw tertunduk kelu. gw biarkan airmata meleleh di kedua pipi ini. airmata yg sejatinya menunjukkan betapa sakitnya rasa yg terlahir dari sebuah kehilangan yg nyata. 'fisik boleh menghilang, tapi hati dan perasaan akan selalu ada, sampe mati.....' gw merasakan kesakitan yg dalam saat mengingat kata-kata ini. gw lihat lagi, ingin memastikan bahwa mata gw memang rabun dan nggak mampu membaca dg baik, tapi nama yg terukir di batu ini adalah nama Icha. gw nggak mampu membacanya, semakin menambah deras airmata yg mengalir dari pelupuk mata gw. tubuh gw bergetar hebat. gw sangat berharap ini semua cuma mimpi, dan beberapa saat lagi akan mendapati diri gw dalam kamar yg kosong seperti kemarin. tapi gw tidak kunjung melihat dinding kamar gw. yg ada adalah gw tetap di sini, tertunduk menangis di samping Icha. Icha yg kini sudah beristirahat dg tenang untuk selamanya. tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi pertengkaran, dan tidak akan ada lagi tangisan. entah sudah berapa lama gw menatap gundukan tanah ini. menatap bungabunga segar yg ditaburkan di atas tanah yg basah. airmata gw juga ikut jatuh membasahi tanah ini. berkali-kali gw meyakinkan ini cuma mimpi, tapi sebuah suara di samping gw menyadarkan gw dari semua itu.

"ikhlasin Icha ya rizd," bisik Nadya menepuk bahu gw. "ikhlas nggak ikhlas nggak akan mengembalikan Icha. tapi kalo kita ikhlas, seenggaknya Icha akan tenang di sana..." gw mengangguk pelan. menyambut tissue yg disodorkan Nadya. di belakang kami, tinggal tersisa Bunga, Dinda dan Putri yg masih berdiri berpelukan tangan ikut menangis. tadi pagi gw menerima telepon dari Putri mengabarkan keadaan Icha yg memasuki masa kritis. tapi saat gw datang di Rumah Sakit yg gw dapati hanya isak tangis kehilangan dari family yg datang melayat. gw terlambat... gw nggak ada di samping Icha di saat-saat terakhirnya. gw nggak bisa memeluknya saat dia terbangun, karena memang sejak masuk ICU Icha tidak pernah sadarkan diri. sampai pagi ini..... Tuhan telah menentukan jalan yg harus gw pilih. Icha telah pergi meninggalkan begitu banyak memori yg tertanam dalam hati. biarlah itu jadi salahsatu memori indah yg pernah terjadi antara kami berdua. memori yg tidak akan terlupakan dan tersimpan rapi di sudut hati gw. perlahan gw tatap batu nisan di depan gw. di bawah nama Icha tertanggal 27 November. Icha berpulang tepat di hari ulang tahunnya. sebuah akhir dari perjalanan yg indah.. gw pejamkan mata. meraba ukiran nama di batu nisan itu dg tangan kanan gw. mencoba membaca namanya tanpa melihat. mencoba membaca namanya dari hati gw.. gw membuka mata saat tangan Nadya menggenggam tangan gw. menarik tangan gw lalu menyelipkan sebuah lilin kecil berwarna pink, warna favorit Icha. Bunga, Dinda dan Putri kini ada di seberang mengelilingi makam kecil ini. mereka juga menggenggam lilin yg sama. dengan hati-hati Dinda menyalakan lilin-lilin di tangan kami. "kita tiup sama-sama yaa," ucapnya pelan sambil menutupi lilin dari angin dg tangan kirinya. gw melirik ke arah Nadya. dia mengangguk meyakinkan gw. lalu gw pandangi lilin di tangan gw. "selamat ulang tahun Cha," kata gw lirih. dan seiring nyala api yg padam di tangan kami, berakhirlah semua kisah tentang Icha. tapi gw yakin kisah itu akan bersemi dalam hati kami yg mencintainya.

PART 40

sudah satu bulan berlalu sejak kepergian Icha tapi gw belum mampu menepis rasa bersalah yg menghinggapi benak gw. gw sering termenung dalam kesendirian. beberapa kali bahkan gw menangis tanpa sebab. terlalu berat rasanya menjalani hidup yg monoton ini dengan dihantui bayang-bayang seorang Icha. kadang gw berpikir Icha pergi bukan karena Leukemia nya, tapi justru gw lah penyebab itu semua. sementara gw di sini, terbunuh oleh rasa bersalah yg ada. "enggak kak, kakak enggak salah apa-apa. berhenti deh mikir kek gitu," suara Nadya terdengar jernih di telinga gw. "itu cuma bikin kakak jadi gila aja tau." gw mengangguk meski gw tahu Nadya nggak mungkin melihatnya. "Icha udah tenang di sana kak. jangan bikin Icha sedih.." "iya Nad. maafin gue." "udah deh buang jauh-jauh pikiran jelek kek gitu. jalanin aja yg ada sekarang. oke?" "iya iya, gue ngerti kok." "nah tuh udah ngerti? ya udah jangan sampe larut dalam perasaan aja." gw tersenyum. "eh, udah jam sembilan nih kak. si mamah udah ngomel-ngomel mulu daritadi nyuruh beres-beres," lanjut Nadya. "entar dilanjut lagi deh. daah.." Nadya menutup teleponnya. gw rebahkan badan di kursi panjang sambil senyum sendiri. beruntung gw sekarang punya teman macam Nadya, Bunga dan Dinda. sejak pertemuan di sekolah waktu itu kami jadi dekat. mereka adalah teman yg baik. mungkin kami disatukan oleh rasa kehilangan yg sama. kehilangan salahsatu sosok terbaik dalam hidup kami. tapi toh seperti yg pernah dikatakan juga oleh Nadya, bahwa life must go on. hidup akan terus berlanjut, dengan atau tanpa Icha. Icha sudah menemukan kebahagiaannya di sana. maka tugas gw adalah menemukan kebahagiaan gw di sini, di kehidupan gw sendiri. Icha adalah sebuah persinggahan dalam perjalanan panjang kehidupan gw. gw nggak boleh terlalu lama singgah di sana, karena gw akan tertinggal jauh

nantinya. gw sadar gw hidup nggak hanya dari masa lalu. ada hari ini dan esok yg juga harus gw perjuangkan. gw nggak boleh terlalu lama menatap sebuah pintu yg tertutup, gw harus mencari pintu lain yg terbuka buat gw. begitulah kira-kira gw menyemangati diri gw sendiri dari keterpurukan. dan gw bersyukur ada sosok tiie di samping gw yg juga selalu men support gw. tiie selalu bisa mengerti yg gw rasakan. tiie sudah tahu yg terjadi pada Icha, gw yg memberitahunya. dan tanpa diminta, tiie mengakui perbuatannya yg menyamar menjadi gw untuk mengelabui Icha. dia beralibi bahwa dia penasaran dan ingin tahu seperti apa sosok Icha sebenarnya. dan ketika janji ketemuan di mall, tiie sebenarnya juga ada di sana. cukup jelas untuk sekedar tahu bagaimana sosok seorang Icha. well, gw nggak mau memperpanjang masalah ini. toh Icha juga sudah memaafkannya. maka sangat tidak etis rasanya kalau gw harus menghukum tiie atas perbuatannya itu. biar bagaimanapun tiie adalah pilihan gw sekarang. jalan yg sudah gw tapaki sejak awal, tidak mungkin gw akhiri begitu saja. gw akan melanjutkan perjalanan gw dengan tiie. "pagi-pagi nongkrongnya di sini," sebuah suara mengagetkan gw. "hay tiie," gw menengok ke asal suara dan menyapanya. tiie duduk di kursi sebelah gw. "jemuran masih kosong nih. lagi pada males nyuci ya?" tiie mengomentari tali jemuran yg hari ini kosong. "pada nyuci di laundry kali," jawab gw sekenanya. "jakarta lagi kekurangan aer." hari Minggu itu kami memang janji ketemuan di kosan gw. setelah ini kami berencana jalan-jalan ke Ancol, ke Dufan lebih tepatnya. "by the way, sebentar lagi kita ultah ya?" kata tiie tersenyum. "ultah apaan?" gw pura-pura nggak mengerti. "first anniversary kita sayang.." kata tiie. "masa lo lupa sih??" "hehehe..gw jarang cek kalender selain buat mastiin tanggal gajian soalnya." padahal gw tahu maksud pembicaraan tiie. pertengahan Januari nanti, kami akan sampai di 1 tahun hari jadian kami. tiie mendengus keras. "iya iya gue inget kok," kata gw. "lo pengen kado apa entar?"

"emang mau ngasih? emmh...kalo gitu gw minta kandang kecil aja deh." "buat apaan tuh kandang? suka aneh aja deh lo ini." "buat ngandangin elo. kan elo marmut?" tiie tertawa lebar. "ett dah segini cakepnya tetep dibilang marmut!" "sekali-kali lo ngaca deh kalo lagi makan. kan gw udah bilang, mulut lo tuh kek marmut tau nggak sih kalo lagi makan?" "enggak," kata gw lalu berdiri. "mau kemana?" "mandi lah. emang lo mau jalan sama orang belon mandi?" "ogah! udah mandi sana, pantes daritadi kek ada yg aneh. hehehe.." gw bergegas ke tangga. "eh, lo beneran mau mandi?" seru tiie. "kan tadi gw udah bilang gitu!" "lha, terus gw ditinggal sendirian disini?" "ya udah ikut gw mandi aja. kita mandi bareng deh.." "ogah! otak lo mesum mulu! lo mandi sana, gw tunggu di kamer aja deh." gw lalu turun diikuti langkah cepat tiie mengejar gw. satu jam kemudian gw dan tiie sudah ada dalam bus yg mengantar kami menuju Ancol. gw berharap hari ini akan sedikit mengobati kesedihan gw.. PART 41

malam tahun baru 2008... gw duduk di teras rumah dengan harap-harap cemas. jam di HP menunjukkan hampir pukul delapan malam. 'jadi ikut nggak sih?' gw baca sms dari tiie. lalu buru-buru gw balas. 'tunggu sebentar lagi'

tadinya gw kira malam tahun baru ini akan gw lewatkan dengan kumpul bareng temen-temen. sebelum gw balik ke cirebon, gw dan tiie memang nggak ada rencana jalan pas malam tahun baru. so gw santai aja, makanya gw ijinkan adik gw yg mau pinjem motor gw malam itu. tapi sial buat gw, magrib tadi tiie sms katanya dia diajak jalan-jalan sama temen-temennya. ada yg punya acara ultah. dan dia meminta gw menemaninya. sementara motor gw udah dibawa kabur adik gw. makanya langsung gw sms kakak gw bilang pinjem motornya. sejak gw kirim sms itu, dia bilang lagi dalam perjalanan pulang. tapi sampe sekarang belum datang juga. wajar gw gelisah. rencananya kami berangkat jam 7 malam, tapi gw membuat semuanya terhambat sampai jam 8 ini. gw cuma bisa garuk-garuk kepala menikmati kegelisahan ini. ada dua motor matic warna hitam berhenti di depan rumah gw. gw keluar menghampiri mereka. "hay kak," sapa Bunga yg dibonceng Dinda. lalu gw menoleh ke Nadya yg tersenyum lebar ke gw. Nadya cuma seorang diri di motornya. "mau pada kemana?" tanya gw. "yaelaah pake tanya segala," kata Dinda. "udah cantik-cantik kek gini juga." "gue aja kali yg cantik, elo nggak." Nadya tertawa lebar sementara Dinda melotot ke arahnya dg tatapan sinis. "kita mau taun baruan nih," kata Bunga. "kan kemaren-kemaren kakak bilang nggak ada acara malam ini, ikut sama kita aja yuk? tuh si Nandod sampe belabelain tukeran pake motornya sama Dinda." "yaah..mesti diakui sih motor gue emang lebih bagus dari punya dia ini," sahut Dinda menepuk setir motor. Nadya yg tampak sedikit malu, berusaha jaga image. "nggak gitu juga kali," katanya ketus. "punya lo kan bensinnya full jadi gw nggak perlu ngisi lagi." Dinda melotot ke Nadya. "busyet lo, Ndod. gw pikir jarum bensin lo udah mati. jadi ini beneran udah mau abis?? wah rugi gw donk!" Nadya cuma nyengir. meski saat itu malam hari, tapi gw bisa melihat kedua matanya yg memakai lensa kontak biru berkilat tertimpa cahaya lampu.

"ayo kak, tuh sama Nadya boncengan," kata Bunga. "gratis kok." gw diam berpikir sejenak. "sorry," kata gw menggelengkan kepala. "kalian nggak bilang dari kemarenkemaren sih..gw udah ada janji." "yaaaahh...." mereka bertiga berseru kecewa. "sama ceweknya ya?" tanya Nadya. gw mengangguk pelan. mereka bertiga saling pandang. itulah hebatnya mereka, bisa berdiskusi tanpa bicara sepatah kata pun. "ya udah deh kalo gitu kita balik aja," ujar Nadya. "balik ke rumah, Ndod?" "terus kemana lagi?" "maaf ya.." kata gw. "enggak papa kok kak," Dinda yg menjawab. "yaah biarpun ada penonton yg kecewa tapi seenggaknya gw nggak perlu keluar duit nih buat bensin. hehehe.." mereka bertiga pamit beberapa saat sebelum kakak gw datang. langsung gw ambil alih Tornado produksi tahun 94 itu. kakak gw memang demen motor lama yg dimodif sedemikian rupa. suara khas motor 2 tax terdengar nyaring di sepanjang gang. "bensinnya belum diisi tuh," kata kakak gw mengingatkan. "oiya kalo mesinnya mendadak mati, bersihin aja busi nya." "iya gw ngerti," kata gw nggak sabar. lalu beberapa detik kemudian gw sudah meliuk-liuk di jalanan. tiie dan yg lain kumpul di rumah Fani, teman sekelas tiie. jam 9 gw datang disambut pandangan kesal mereka. setelah berkali-kali meminta maaf atas keterlambatan gw, kami langsung berangkat menuju daerah Telaga Remis. sebuah daerah di kaki Gunung Ciremai yg tepat untuk melewatkan malam yg dingin. kami mampir di sebuah warung makan lesehan. meski gw belum kenal teman-teman tiie, gw berusaha sebaik mungkin beradaptasi dg mereka. bukan hal yg sulit karena mereka orang-orang yg baik dan ramah. dengan menu makan malam ikan bakar, kami melewatkan perayaan ulang tahun kecil-kecilan ini dg menyenangkan. sayangnya ini memang bukan malam yg baik

buat gw. saat akan melanjutkan acara malam itu dg berkeliling kota, motor yg gw pakai ngadat. butuh 15 menit buat menghidupkan motor tua ini. sialnya ini terjadi bukan cuma sekali, tapi berkali-kali sehingga cukup merusak chemistry yg sudah berusaha gw bangun. dan teman-teman tiie yg nampaknya kesal memutuskan meninggalkan gw yg berkutat dg busi kotor motor gw. "maafin gw ya tiie," kata gw sambil menuntun motor di tepi jalan. "kita malah jadi ditinggal gara-gara motor ini." tiie tersenyum sambil mengangguk. jalanan malam itu masih ramai dipenuhi kendaraan yg berlalu lalang. suara terompet hampir terdengar tiap detik. gw lirik jam tangan gw. "udah jam duabelas nih," kata gw menepikan motor di depan sebuah toko yg sudah tutup. gerimis mulai turun. "met taun baru ya." gw cium keningnya. tiie nampak kaget. dia tersenyum malu. dan akhirnya malam itu kami habiskan dg duduk di depan toko menunggu hujan reda sambil tangan gw belepotan membersihkan busi... PART 42

memasuki tahun baru ini menjadi masa-masa paling sibuk buat gw. kalau sebelum ini di tempat kerja gw bisa santai sms an, ngopi, atau bahkan tidur saat jam kerja, kali ini gw benar-benar dibuat 'kerja'. nggak ada waktu buat gw nyantai kecuali jam makan siang. selebihnya gw disibukkan menyelesaikan job gw. nggak ada hari libur. Sabtu dan Minggu jadi hari kerja normal. tiap hari gw balik ke kosan saat jam dinding di kamar menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, bahkan beberapa kali gw baru balik jam duabelas tengah malam. rutinitas yg monoton dan menguras banyak waktu inilah yg pada akhirnya juga ikut andil dalam renggangnya hubungan gw dengan tiie. kesibukan gw yg meningkat dibanding sebelumnya membuat kami jarang berkomunikasi. hanya sekedar sapaan ringan di pagi hari atau ucapan selamat makan siang, itu pun jarang dibalas karena gw biasanya menggunakan jam istirahat untuk menambal jam tidur gw yg kurang. otomatis selama beberapa minggu terakhir kami layaknya orang yg tidak saling mengenal. mulai muncul sedikit rasa 'asing' dalam hubungan kami. seperti sepasang kekasih yg baru jadian, yg kami obrolkan sekarang cuma hal yg terbilang sekedar basa-basi. chemistry diantara kami mulai luntur nampaknya. itu ditengarai dengan seringnya kami bertengkar tanpa sebab. hal kecil yg bisa

menimbulkan gesekan emosional kerap terjadi di rentang waktu ini. gw nyaris nggak lagi mengenal seorang tiie. begitupun mungkin dia. sejak terakhir bertemu di malam tahun baru, gw belum sempat menemui dia lagi. perubahan drastis, dari yg dulu hampir tiap menit kami berinteraksi meski sekedar lewat pesan singkat, menjadi lost contact membawa perubahan pula pada perasaan kami. pertengkaran demi pertengkaran selalu muncul tiap hari. gw sendiri nggak bisa terlalu meng handle penyelesaiannya, karena memang gw nggak punya waktu banyak buat itu. dan pertengkaran-pertengkaran itu mencapai puncaknya di malam hari tepat sebelum ulang tahun hari jadian kami yg pertama. saat itu jam setengah sebelas malam dan gw baru saja rebahan di kasur saat tiie mengirim sebuah pesan singkat. 'gue nggak tahan sama kondisi kita yg sekarang. gw juga nggak ngerti kenapa bisa jadi kek gini, tapi GUE NGGAK TAHAN LAGI !.. gue pengen kita putus dan gue harap lo ngerti ini.!' benar-benar bukan seperti yg gw bayangkan. tadinya malam ini gw akan sempatkan menelepon tiie tepat saat berganti hari jam duabelas nanti. gw ingin menyampaikan betapa bahagianya gw bisa sampai di satu tahun pertama jadian dengannya. gw ingin menyanyikan sebuah lagu yg gw ciptakan buat tiie, yg belum sempat gw dengarkan ke dia karena memang lagu ini pas dinyanyikan dalam momen membahagiakan seperti ini. tapi apa lacur yg terjadi benar-benar mengecewakan. seperti yg pernah dan selalu terjadi selama ini, tiie menonaktifkan lagi HP nya untuk mengacuhkan gw yg ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik, bukan dengan cara putus. karena terlalu lelah gw akhirnya tertidur dan bangun keesokan paginya dengan hati yg sedikit hampa. sebelum berangkat kerja gw sempatkan mengirim pesan berisi lirik lagu yg sedianya gw nyanyikan tadi malam. juga beberapa puisi untuk sekedar menyampaikan perasaan gw saat ini. hari yg seharusnya jadi hari paling bersejarah dalam hubungan kami nyatanya jadi hari tanpa makna yg tetap gw lalui dengan kesibukan gw di tempat kerja. meski ini mengganggu pekerjaan tapi gw berusaha menyelesaikan tugas gw sebaik yg gw mampu. sementara di luar sana tiie tetap 'membisu'. enggan membalas pesan dan menjawab telepon gw. gw semakin terganggu dengan ini. saat sampai di hitungan satu tahun, gw pikir hubungan kami sudah nggak layak dikategorikan sebagai hubungan yg main-main yg biasa dilakukan anak-anak berseragam putih abu-abu. gw sering mengingatkan tiie soal arti cincin yg gw berikan kepadanya

bahwa gw memang berniat serius menjalani hubungan ini, tapi sepertinya tiie menanggapi ini biasa saja. mood gw di tempat kerja semakin memburuk seiring ketidakjelasan hubungan gw dengan tiie. ini berimbas pada banyaknya tugas yg nggak terselesaikan. di tengah kegalauan itu gw memutuskan menemui tiie di kampusnya. kali ini tanpa meminta bantuan endah ataupun wulan. gw bertekad menyelesaikan masalah ini dengan cara yg lebih baik. hari Sabtu ini harusnya gw ada di tempat kerja menjalani lembur, tapi gw membelot. sejak pagi tadi bos gw berkali-kali menelepon tapi gw abaikan. bahkan gw non aktifkan HP gw. peduli setan dengan konsekuensinya, pikir gw dalam hati. gw hafal hari Sabtu adalah jadwal tiie praktek di lab, makanya gw tunggu di depan lab sampai kelas bubar. begitu melihat tiie, buru-buru gw hampiri dia. tanpa banyak debat gw tarik tangannya menjauh dari kerumunan. "hey, apa-apaan nih?" seorang lelaki menahan tubuh gw. "nggak usah ikut campur!" hardik gw. "ini bukan urusan lo!" laki-laki itu mencengkeram lengan gw sambil berkata, "gw cowoknya tiie dan gw berhak tau ada urusan apa lo sama cewek gw?!!" PART 43

"nyantai aja kali," gw menepis tangan laki-laki itu. "lagian siapa elo ngakungaku? gw cowoknya tiie!" giliran dia yg menepis tangan gw. orang-orang di sekitar mulai memperhatikan keributan kecil ini. "lo tanya sendiri aja sama orangnya," katanya dingin sambil melirik tiie. gw menoleh ke arah tiie. gw yakin tiie akan bilang orang di sebelahnya ini adalah orang gila yg mengaku-ngaku sebagai pacarnya. gw yakin dia akan menjelaskan kesalahpahaman ini. "dia emang cowok gw," kata tiie pelan. ada ekspresi ragu dalam wajahnya. gw menggeleng. "enggak. gw kenal lo, lo nggak mungkin ngelakuin ini ke gw. lo pasti bohong," kata gw menolak ucapan tiie.

tiie menepis tangan gw. "kalo begitu lo enggak pernah bener-bener kenal gw," katanya lalu menarik tangan laki-laki di sebelahnya dan berlalu meninggalkan gw yg terbengongbengong sendirian. sumpah gw yakin ekspresi bego nya Mr.Bean pun kalah dari ekspresi gw saat ini. gw disadarkan dari lamunan saat seseorang menarik tangan gw menuju pintu sebuah kelas yg kosong. "tiie lagi nggak mau diganggu," kata Endah ke gw. "tapi nggak perlu kan sampe nyuruh orang ngaku-ngaku jadi cowoknya?" gw kesal. "dia lagi bener-bener nggak mau diganggu. tadi di kelas aja dia diem mulu nggak nyahut pas gw ajak ngobrol." gw garuk-garuk kepala. "terus gw mesti gimana dong?" tanya gw. "mending biarin aja dulu, entar kalo udah adem juga bakal baikan. kan biasanya juga gitu?" "tapi ini enggak kek biasanya Ndah," gw memukul pintu. Endah menepuk bahu gw. "lo cuma terlalu takut aja rizd," katanya. "tiie banyak curhat ke gw. lo tenang aja. tunggu waktu yg tepat buat ngomongin ini." syukurlah ada yg menenangkan hati gw saat ini. gw terlalu takut kehilangan tiie. "thanks Ndah," kata gw lalu beranjak pergi. tadinya gw berniat langsung pulang ke kosan tapi entah apa yg merasuki otak gw, sehingga membuat gw berputar arah dan sekarang berdiri di depan pagar rumah tiie. gw ketuk-ketukkan gerendel besar ke besi pagar. seorang wanita paro baya yg tempo hari menemui gw kembali menghampiri gw. "tiie nya ada bi?" tanya gw. padahal tanpa dijawab pun gw sudah tahu jawabannya. "belum balik tuh mas," jawab bibi itu. "ya udah saya nunggu aja deh sampe tiie nya balik," lanjut gw. "eh, nggak perlu bi. saya nunggu di sini aja."

"yakin nih nggak mau masuk?" si bibi melepaskan kembali gerendel pagar. gw mengangguk. "bentar doang kok," kata gw sok cool. si bibi kemudian masuk kembali ke rumah. sementara gw berdiri menyandarkan punggung di pagar. gw berniat 'menghadang' tiie di sini. gw harap tiie mau membicarakan baik-baik masalah diantara kami. dan dengan sabarnya gw menunggu... berdiri tanpa kata. entah sudah berapa lama gw berdiri di depan pagar rumah tiie. yg gw sesalkan adalah gw samasekali nggak hafal jam berapa tiie akan pulang. kaki gw mulai terasa kebas dan panas. leher terasa kaku. dan gw sudah mendekati kata menyerah dan hampir memutuskan pulang saat akhirnya yg gw tunggu muncul juga. tiie turun dari sebuah angkot. dia melihat dan tahu keberadaan gw. gw terus memandangnya dari tempat gw berdiri. "hay tiie," gw menyapa dengan suar cukup lantang. tiie melangkah menuju pagar dan membuka gerendelnya. jarak diantara kami hanya setengah meter, tapi tiie seolah tidak melihat gw di dekatnya. dia masuk lalu mengunci pagar lagi, membiarkan gw yg lagi-lagi hanya bisa termangu melihatnya berlalu tanpa menggubris gw. akhirnya tiie menghilang di balik pintu rumahnya. gw masih berdiri diam di tempat gw memandang pintu yg tadi dilalui tiie. "sebegitu nggak berartinya lagi kah gw sampai gw diperlakukan seperti ini?" kata gw dalam hati. gw menghela nafas panjang. ternyata begitu berat mempertahankan sebuah hubungan mencapai titik yg gw inginkan. mata gw masih menatap pintu cokelat itu beberapa saat lamanya. dan setelah gw sadari tidak akan ada yg keluar dari sana untuk menyambut gw, gw putuskan untuk pulang ke kosan.... PART 44

makin hari tiie makin menjauh dari gw. dia benar-benar jadi sosok yg nggak gw kenal !

aneh rasanya mendapati diri gw selalu diacuhkan olehnya. samasekali nggak ada lagi perhatian sedikitpun ke gw yg selama ini selalu ditunjukkannya. belum pernah kami putus dan belum juga nyambung lagi dalam waktu yg cukup lama. berkali-kali gw bolos gawe untuk menemuinya di kampus, tapi berkali-kali pula gw 'ditolak'. bahkan gw nyaris berkelahi dengan laki-laki kurang ajar yg kemarin mengaku pacar barunya tiie yg belakangan gw tau namanya Ega. selalu ada cara buat tiie menghindar dari gw. nebeng di motor temennya, ngumpet di Ruang Dosen, atau mengalihkan perhatian gw dengan mengirim 'umpan' berupa seorang bidadari yg kecantikannya bahkan nggak melebihi anak pemilik kosan gw. gw mulai berpikir bahwa tiie memang benar-benar sudah nggak ingin ada gw lagi di hidupnya. mungkin gw sekarang cuma jadi sampah yg mengotori pikirannya. terus apa artinya hubungan selama 1 tahun kalau akhirnya begitu mudah seperti ini? "nggak, gw yakin tiie nggak seperti itu," gw menghibur diri sendiri. "gw yakin tiie masih sayang gw." gw harus membuktikannya. maka dari itu gw putuskan menemuinya lagi. gw ingin tahu yg sebenar-benarnya, karena selama ini tiie selalu diam membisu. kalau toh nanti tiie memang benar-benar ingin pergi dari gw, it's oke kali ini gw akan turuti kemauannya. tapi gw ingin mendengar itu langsung dari mulutnya sendiri biar gw tenang dan nggak penasaran. akhirnya siang itu gw sampai lagi di depan pagar bercat hitam. gw sedikit tegang kali ini. gw berharap yg ada di pikiran gw salah. menggosok-gosokkan telapak tangan selalu bisa menghangatkan. gw menghela nafas berusaha setenang mungkin. gw buka gerendelnya dan bergegas masuk. gw sengaja melakukan ini karena takut tiie akan tahu keberadaan gw lalu menghindari gw lagi. gw mengetuk pintu cokelat di hadapan gw dengan cukup keras. "semoga bukan si bibi lagi," harap gw dalam hati. cukup lama sampai akhirnya terdengar suara 'klik' pada pintu di depan gw. gw bersiap dengan segala kemungkinan. pintu terbuka lebar dan gw lihat sosok tiie di belakangnya. hanya butuh sepersekian detik buat tiie menyadari keberadaan gw lalu bergerak cepat menutup pintu. brakk! "tiie, gw pengen ngomong sama lo!" gw berhasil mengganjal pintu dengan kaki kanan gw.

"apaan lagi sih?? enggak ada yg perlu diomongin lagi!!" tiie tetap mendorong pintu hingga telapak kaki gw benar-benar terjepit sekarang. sangat menyakitkan memang, tapi gw pikir ini kesempatan emas gw bisa bicara dengannya. kami saling mendorong pintu. dan gw semakin merasakan nyeri di kaki gw. "gw mohon tiie..kita bisa bicarakan ini baik-baik," kata gw. tiie akhirnya menghentikan mendorong pintu tapi dia tetap menahan dari belakangnya. "ya udah ngomong sekarang. lima menit cukup," terdengar suara tiie dari balik pintu. "bisa kita ngomong tanpa melibatkan kaki gw?" wajah tiie muncul di celah sempit pintu menengok ke arah kaki gw di bawah. dia lalu membuka pintunya sedikit lagi. tanpa peduli rasa sakit gw manfaatkan celah itu untuk menerobos masuk. gw langsung menahan kedua tangan tiie yg mendorong gw. "lima menit," kata gw. lalu tanpa dipersilakan gw duduk di kursi tamu. sakit di kaki gw terasa semakin nyeri. tiie duduk di kursi seberang gw. "cepetan ngomong, lo udah ngabisin dua menit buat bengong. tinggal tiga menit," kata tiie ketus. "lima menit kalo keadaannya normal," sahut gw mengelus kaki gw. "kaki gw butuh waktu penyembuhan nggak kurang dari 1 jam. emang lo tega ngeliat gw jalan pincang?" tiie menatap gw dengan tatapan aneh. suasana benar-benar kaku sekarang. situasi yg sebelumnya nggak pernah gw alami dengan tiie. "sampe sekarang gw nggak ngerti kenapa sikap lo kek gini ke gw," gw membuka pembicaraan. "dari dulu lo emang nggak pernah ngerti tentang gw," sahut tiie tajam. "gw pikir lo bener-bener sayang sama gw..." "kalo gitu pikiran lo salah!" "oke gw akuin gw emang salah..."

"bagus deh kalo gitu." "gw terlalu sibuk sama kerjaan gw..." "semua orang kerja emang gitu kali?!" "tapi kalo omongan gw selalu disela, kapan mau selesainya??!" tiie terdiam. akhirnya ada kesempatan gw bicara. "gw tanya sama lo sekarang tiie, lo masih sayang sama gw nggak?" tiie menggeleng. "gw nggak pernah sayang sama lo." "bohong!" suara gw meninggi. "lo bisa aja ngebohongin perasaan lo, tapi lo nggak bisa ngebohongin gw!" "tau apa lo tentang gw?? lo tuh nggak pernah ngerti keadaan gw!! lo egois! lo nggak pernah bener-bener peduli sama gw!!?" gw tertegun. gw pandangi tiie yg kini mulai menangis. "lo nggak ngerti tentang gw. samasekali nggak ngerti......" "maafin gw tiie," kata gw pelan. "gw udah berusaha sebisa gw buat jadi yg terbaik buat lo." "gw tau itu," tiie mengangguk. "tapi gw sayang lo tiie..." suasana hening. keheningan yg mencekam. lama kami diam. setelah gw pikirpikir lagi, gw putuskan berdiri lalu beranjak pergi tanpa mengucap lagi sepatah kata pun... PART 45

setelah pertemuan hari itu, hubungan gw dengan tiie perlahan kembali membaik. tidak sepenuhnya memang, tapi sekarang tiie mau membalas sms gw. beberapa kali dia yg mengirim sms dulu sekedar say hay atau mengajak ngobrol. dan boleh dikatakan, setelah beberapa hari sesudahnya hubungan kami benarbenar membaik.

bukan balikan, tapi sekedar membaik. gw cukup bersyukur akhirnya dia luluh juga. memang dalam hati gw masih berharap bisa balikan lagi, tapi kali ini gw nggak mau menunjukkan itu terang-terangan karena takut membuat mood tiie kembali buruk. biar saja mengalir apa adanya tanpa harus gw paksakan. dan pertanda bahwa sudah benar-benar tidak ada perang dingin lagi adalah ketika tiie kembali membuat surprize di hari ulang tahun gw di awal Maret. secara mengejutkan dia datang ke kosan, membawa sebuah kue tart mini plus hadiah sebuah sweater manis dan kaos berwarna biru. melalui sebuah acara kecil-kecilan, karena cuma ada kami berdua, lengkap dengan ritual pecah telor di kepala hari itu menjadi salahsatu ultah yg menyenangkan buat gw. kami seperti menjalani sebuah hubungan tanpa status. tapi toh gw nggak terlalu mempermasalahkannya. selama tiie merasa nyaman akan ini gw nggak akan mengusik terlalu jauh. gw ingin mengembalikan lagi feel yg dia punya buat gw secara perlahan-lahan. gw mencoba sabar untuk ini. karena gw adalah orang yg berkeyakinan bahwa kesabaran akan berbuah manis. hari-hari gw sendiri masih berjalan seperti biasa. masih dengan kesibukan lembur dan seabrek kerjaan lainnya, tapi kali ini gw selalu menyempatkan menelepon atau sekedar sms tiie. gw banyak belajar dari yg terjadi kemarin. tinggal sedikit kesabaran lagi maka gw akan mendapatkan tiie kembali.

dan tanpa terasa gw sudah sampai di penghujung bulan Maret...

weekend ini gw janji ketemuan lagi dengan tiie. sudah jauh hari gw meminta ijin kepada bos untuk nggak mengikuti lembur hari Sabtu dengan alasan keperluan keluarga yg mendesak. hehehe Jumat malam yg dingin. gw sedang duduk-duduk di teras kosan sambil mengutak-atik HP. akhir-akhir ini banyak sms dari teman gw yg mengkonfirmasi nomor mereka yg baru. maka gw iseng-iseng menghapus kontak yg sudah kadaluwarsa dari log HP gw. beberapa nomor yg menurut gw nggak penting juga kena delete. dan saat sedang asyik menghapus kontak-kontak itu, gw sampai di sebuah nama. gw tertegun memandang nama yg tertulis di layar HP gw... Psychopat, begitu nama yg tertera di sana. gw bahkan sudah lupa ada kontak dengan nama itu. setelah gw ingat-ingat lagi ternyata itu adalah nomor Eka, mantan tiie yg dulu pernah jadi pemicu keributan diantara kami. dulu gw lagi marah-marahnya jadi gw save kontaknya dengan nama itu. sejenak gw ragu dihapus nggak ya? ah ngapain juga disave, kata gw dalam hati. tapi tunggu dulu, kek nya seru juga deh ngerjain orang malem-malem gini, otak

jail gw mulai bekerja. maka dua detik kemudian gw tekan tombol hijau di keypad HP gw. sambil menunggu jawaban gw memikirkan trik apa ya yg bakal gw pake buat ngerjain tuh orang. "hallo," terdengar suara di telinga gw. sumpah gw mendadak parno. takut kalo ketahuan. padahal peduli setan mau ketahuan juga apa urusannya?? "hallo. ini Eka?" jujur sebenarnya gw enggan menyebut nama itu. "iya ini siapa ya?" "enngh............." gw bingung. gw nggak tau mesti ngapain. dan entah apa yg melintas di otak gw saat mulut gw dengan lantang menyebut sebuah nama. "gw Agung, masa lo lupa bro?" ah SKSD banget gw! "Agung yg mana ya?" tanya Eka lagi. "Agung.......emhh.................anak jurusan Elektro bro! wah lo kebangetan banget lupa sama sohib lo!" dan lebih kebangetan lagi gw yg samasekali enggak sadar apa yg gw katakan! gw cuma berspekulasi. kalau ternyata Eka nggak kenal juga sama nama ini, gw akan meminta maaf atas kesalahan sambung gw. "ooh lo Gung!" kata Eka yg akhirnya membuat gw bernapas lega. selamet.. untung... terus siapa lagi ya nama yg gw sebut? "kemana aja lo nggak ada kabar? sekarang gawe dimana lo?" pertanyaan khas alumni STM. "gw di Bandung ikut paman gw," jawab gw sekenanya. pokoknya semua jawaban gw ngasal! "wah asyik dong.. gw di cirebon aja nih. padahal gw pengen gawe di luar kota juga kek elo." "ya udah tinggal gawe aja masa sih nggak bisa?" "bukan nggak bisa Gung, gw disini juga nebeng di tempat sodara jadi nggak enak kalo mau keluar." dan akhirnya kami terlibat dalam obrolan ringan, atau lebih tepatnya obrolan asal-asalan. hehehe.. beberapa pertanyaan yg nggak bisa gw jawab gw alihkan dengan membahas masalah ekonomi negara yg makin memburuk. "eh, lo balik ke Cirebon kapan? entar kita double date yuk?" kata Eka.

bujug, gw mesti jawab apa? "waah...justru itulah bro, gw lagi sedih banget..." gw jawab begitu karena tibatiba sebuah ide melintas di otak gw. gw yakin ini adalah jawaban dari pertanyaan yg dulu sempat hinggap di benak gw. "sedih kenapa lo?" "gw baru putus sama cewek gw tiga hari yg lalu," gw mulai trik gw. "cewek gw selingkuh sama mantannya. sumpah kecewa banget gw!" Eka cuma tertawa kecil. "sakit hati banget gw bro. lo pernah enggak sih ngerasa sakit ati kek gini garagara pacar lo selingkuh sama mantannya?" "hehehe.. gw enggak pernah sih kek elo," jawab Eka. "tapi gw pernah ada di posisi mantannya cewek lo." gw mulai bisa menebak arah pembicaraan Eka. "tunggu dulu, emang kapan lo punya cewek?" "ah ngehe lo. itu tuh waktu gw masih sama Tiie, lo inget dia kan? waktu itu kan pernah gw kenalin ke elo." "ooh.. yg anak SMA 5 itu yaa?" "iya bro." "emang gimana ceritanya?" gw semakin memancing di lahan yg tepat! "iya jadi kan gini, waktu gw lagi adem-ademnya sama Tiie tiba-tiba ada cowok brengsek, si Harrizd anak jurusan Mesin di sekolah kita." sampai di kalimat inidalam hati gw pura-pura nggak kenal nama yg disebutkan Eka. "dia ngerebut Tiie dari gw. gara-gara Harrizd tiba-tiba Tiie mutusin gw tanpa alasan yg jelas. Tiie bilang dia bingung milih antara gw atau si Harrizd." gw mendengarkan dengan saksama. "asal lo tau, status gw sama dia udah putus waktu itu. tapi tiie tetep sms gw kek kita masih jadian aja. ketemuan, jalan bareng, nonton.... ya pokoknya nggak ada bedanya sama waktu pacaran deh! tapi kan gw juga pengen kejelasan hubungan gw. makanya gw suruh dia milih. dan sialnya ternyata dia milih Harrizd." meski terkejut gw masih bisa tersenyum mendengar pengakuan Eka. "tapi lagi-lagi, biarpun dia bilang dia lebih milih Harrizd, dia tetep berhubungan sama gw. ya gw

sih asyik-asyik aja biarpun cuma jadi simpenan ya nggak? namanya juga cowok. hehehe...." jantung gw berdegup kencang. gw ingat tiie pernah bilang ke gw bahwa dia dan Eka nggak pernah lagi bertemu setelah meraka putus. dan ternyata!! yg gw dengar barusan cukup membuat gw terdiam. bayangan-bayangan buruk beberapa bulan lalu kembali melintas di otak gw. kejadian saat gw merebut HP tiie.. kejadian di mall.. "tapi Tiie pinter juga, dia pernah merencanakan sesuatu semacem sandiwara gitu lah buat nutupin hubungan gw sama dia dari cowoknya." "maksudnya??" jantung gw berdegup makin cepat. HP di tangan gw sampai bergetar. "jadi harrizd tuh pernah buka HP nya tiie dan liat sms-sms gw buat tiie. dia udah mencium aroma perselingkuhan gw. terus Tiie bikin sandiwara itu deh. gw ditugaskan ketemu Harrizd di mall bareng tiie juga. terus pas kita bertiga lagi ngobrol gw pura-pura marah ke tiie biar si cowok bego itu percaya kalo kita nggak ada apa-apa! dan itu berhasil!! hahaha..." gw benci banget mendengar suara tawa itu. "yaah...namanya juga jadi suami simpenan ya mesti berkorban akting juga laah." darah di sekujur tubuh gw terasa panas. antara percaya dan nggak percaya gw mendengarnya. O my gosh!! berarti selama ini gw ditipu mentah-mentah oleh mereka?! "kapan terakhir kali lo ketemu Tiie?" tanya gw dengan sedikit gusar. "pas kita lulus, tiie kuliah di karawang jadi kita nggak pernah ketemu lagi," jawab Eka. "tapi kita tetep sih sms an kek biasa. terus dua minggu yg lalu kalo nggak salah, tiie bilang kalo dia lagi ada di cirebon." sampai di sini gw pastikan ini benar karena tiie memang bilang kalo dia balik ke cirebon karena ada keperluan keluarga. "terus dia maen ke rumah gw. pas banget rumah gw lagi kosong." "terus?" bahu gw sudah bergetar menahan emosi. "yaa gitu deh, lo tau sendiri lah kalo sepasang kekasih ketemu ngapain? ya kita..." tuut.. tuuut.. gw putuskan menutup telepon karena gw benar-benar nggak sanggup mendengar kelanjutannya!! PART 46

entah apa yg harus gw katakan lagi. menelepon Eka semalam mungkin adalah keputusan keliru yg gw lakukan. tapi bukannya lebih baik tahu yg sebenarnya daripada dibohongi?? semalaman gw nyaris nggak bisa tidur. kata-kata Eka terus mendengung nyaring di kedua telinga gw. ingin sekali gw menangis. bukan, bukan menangisi tiie. tapi menangisi kebodohan gw selama ini! tiie yg gw kira adalah sosok terbaik yg ada di hidup gw ternyata dengan mudahnya melakukan ini semua!!! bodoh sekali gw mempercayai tiap kata yg diucapkan tiie! bodoh sekali gw dengan begitu gigihnya memperjuangkan seorang tiie! sebuah kebodohan terburuk yg pernah ada!! sabtu siang ini gw sudah janjian dengan Tiie. rencananya kita akan nonton film terbaru. sejak pagi gw samasekali nggak menyinggung soal Eka semalam karena gw ingin mengatakannya langsung di depannya nanti. meskipun gw tahu akan berat, tapi toh ini tetap harus dijelaskan kebenarannya. dan tepat pukul dua siang gw sudah ada di depan pintu cokelat, disambut senyum manis tiie seperti biasanya. tapi kali ini senyum itu nggak mampu menyentuh hati gw. langit siang itu mendung, yaa bisa dikatakan semendung hati gw saat ini. "yuk masuk," kata tiie ramah sambil menggandeng tangan gw. jujur perasaan gw saat itu sudah benar-benar nggak keruan. ingin gw langsung membeberkan semuanya, tapi gw pikir ini belum waktu yg tepat. gw biarkan saja dulu. "bentar ya gw ganti baju dulu," lanjut tiie lalu berlalu ke kamarnya. gw diam. dalam hati sebenarnya emosi gw sudah mencapai taraf yg mengkhawatirkan untuk ditahan. "sabar.. sabar...." gw menenangkan diri sendiri. gw tetap diam berkutat dengan pikiran gw sampai tiie muncul dengan anggunnya di hadapan gw. "udah siap?" tanya gw berpura-pura ramah. senyum yg gw sunggingkan sekedar menghilangkan ekspresi aneh pada wajah gw. tiie mengangguk. gw sambut uluran tangannya dan kami pun berlalu. gw nggak bisa memungkiri hati gw saat ini benar-benar hambar. dulu gw selalu senang bisa menggandeng tangan tiie dan seolah menunjukkan kepada orang-orang bahwa kami adalah pasangan serasi yg akur dan damai, tapi kali ini genggaman tangan gw hanya sebuah genggaman kosong tanpa makna.

tatapan mata tiie nggak lebih hanya sekedar tatapan mata biasa yg mulai meredup seiring kebenaran yg akhirnya terungkap. gw melalui siang itu dengan perasaan yg benar-benar kosong. gw menganggap ini cuma bagian formalitas dari sebuah acara inti yg nanti pasti akan berdampak besar dalam kehidupan kami. dan gw rasa gw menjalankan tugas berpura-pura ini dengan cukup baik. tiie tidak menanyakan keheranannya dengan sikap gw yg agak dingin kali ini. setelah selesai menonton gw mengajak tiie mampir di sebuah kafe di mall. inilah momen yg tepat menyampaikan semuanya. semuanya! kami memesan dua gelas minuman dingin. tiie nampaknya masih belum menyadari apa yg akan terjadi selanjutnya. dia tetap menunjukkan wajah ceria seperti biasanya. "kok nggak diminum es nya?" tanya tiie melihat gelas yg nggak gw sentuh sedikitpun. gw menggeleng. "lidah gw lagi enggak enak rasa," gw berkilah. sebuah senyum sinis tersungging di sudut bibir gw. "lo kenapa sih kek nya hari ini lagi bad mood ya?" tanya tiie akhirnya. "daritadi senyum lo aneh." "masa sih? bukannya yg aneh itu hubungan kita ya?" gw sudah memulainya. tiie tampak mengerutkan dahi. "maksud lo?" tanyanya heran. "ya aneh aja kalo menurut gw." "ah elo nya aja yg aneh tuh. orang kita biasa-biasa aja kok." "enggak tiie, hubungan kita tuh memang aneh." tiie meletakkan gelasnya di meja. "maksudnya lo mau bilang kalo hubungan kita aneh gara-gara gw kan? gw ngerti arah omongan lo." gw tersenyum simpul. "syukur deh lo udah ngerti." "maksud lo apa sih ngomong kek gini? ngerusak mood gw aja."

"it's oke, yg penting gw nggak ngerusak hubungan kita," lanjut gw dengan gaya bicara sok diplomatis. "iih...sumpah deh lo tuh beje banget. maksud lo apa ngomong kek gitu?" gw meminum sedikit minuman gw untuk menenangakan hati. "maaf kalo gw harus bilang bahwa gw udah tau semuanya tiie.." tiie diam masih belum mengerti. "gw tau sebaik yg elo tau tentang hubungan lo dan Eka," inilah untuk pertama kalinya gw lihat wajah tiie pucat. gw pandangi wajahnya, menunggu dia bicara tapi karena dia hanya diam maka gw lanjutkan. "gw udah tau semuanya tentang elo dan Eka selama ini. mulai dari affair yg kalian sembunyikan, sampai sandiwara palsu waktu kita bertiga ketemu di mall!" sumpah baru gw lihat ekspresi wajah yg seperti ini. kaget, malu mungkin, dan bingung bercampur jadi satu melahirkan ekspresi yg sangat janggal di wajah manis tiie. tiie masih diam. "semalem gw iseng nelepon mantan lo," gw bercerita dengan lagak se cool ungkin. hehehe "tentunya gw nyamar jadi orang lain. tadinya cuma mau ngerjain aja sebelum nomornya gw hapus dari kontak gw, tapi dia malah curhat ke gw... lo tau apa yg dia ceritakan? everything abot you!!" gw menghela napas panjang. meski nampaknya gw tenang-tenang saja, tapi dalam hati gw benar-benar nervous saat harus mengulang cerita semalam. tiie cuma diam menunduk mendengarkan setiap detail yg gw ucapkan. "gw nggak marah kok," kata gw lagi. "karena gw tau gw nggak punya hak buat itu. gw cuma sedikit menyayangkan sikap sembunyi-sembunyi kalian. padahal kalo lo memang lebih milih mantan lo itu, lo bisa ngomong jujur ke gw. gw bisa cari cewek lain, gw yakin gw masih laku. tapi yg lo lakuin ini bener-bener bikin gw sakit!!" napas gw nggak teratur sekarang. "kenapa sih lo tega ngelakuin ini semua ke gw?? apa artinya semua perjuangan yg gw lakukan buat lo?? apa artinya cincin yg sekarang lo pake itu?!! apa artinya hubungan kita selama ini??" gw menggebrak meja cukup keras. perhatian orangorang mulai tertuju pada kami.

tiie yg terkejut mulai menangis pelan. kali ini gw membiarkannya. tangisan dia kali ini nggak sebanding dengan rasa yg terpatri di hati gw. sakit ini nggak bisa diungkapkan. terlalu sakit untuk sekedar menyebutnya sakit. "tadinya gw berharap bisa memperbaiki hubungan kita," lanjut gw. "tapi gw tau sekarang, percuma gw bisa memiliki lo karena hati lo bukan buat gw. mungkin memang benar yg dulu lo bilang, sampe kapanpun lo enggak akan dapetin yg lo mau dari gw.." "............" "gw udah coba perjuangkan lo sepenuh hati gw tiie. tapi sekarang gw sadar, lo akan bahagia cuma sama orang laen dan bukan gw. udah saatnya buat gw bilang nyerah. terlalu berat buat gw untuk terus berharap dari lo. gw sadar gw bukan siapa-siapa dibandingkan seorang Eka. walau gw kecewa, tapi gw sekarang relain kok kalo lo mau pergi dari hidup gw..." saat itulah tiie bangun dan sambil menyeka airmatanya dia bergegas meninggalkan gw. gw bereaksi dengan mengejarnya. "Mas, Mas...." panggil seorang dari belakang gw. gw hentikan langkah gw. "minumannya dibayar dulu." kata waitress yg menghampiri gw. ah, setannnnnn! dalam keadaan begini gw lupa bayar. "nih, ambil aja kembaliannya." kata gw meninggalkan si waitress. "yeeeee............emang pas kali uangnya!" sahutnya. ah, peduli setan! gw bergegas mengejar tiie turun ke eskalator. "tiie," panggil gw. gw cuma cemas takut dia melakukan sesuatu yg tidak terpikirkan. tiie menepis tangan gw. kami berjalan cepat keluar. langit sore sudah benar-benar mendung. angin yg bertiup basah membuat gw bergidik. gw masih mengimbangi tiie yg berjalan semakin cepat. sejak gw bercerita dia samasekali tidak bicara sepatah kata pun. suasana sore itu menjadi semakin dingin. tiie berhenti di tepi jalan. menyetop sebuah angkot lalu masuk ke dalamnya. dan gw cuma bisa jadi seorang pengekor setia. gw duduk di sebelah tiie. di dalam angkot sudah penuh penumpang yg lain maka gw putuskan untuk tidak bicara. gw diam memastikan tiie di samping gw baik-baik saja. dan saat angkot melaju, kaca jendela mulai basah oleh rintik hujan yg turun...... PART 47

nggak akan pernah ada yg tahu seperti apa sebuah cerita akan berakhir. dan kisah ini berakhir di suatu senja yg hujan saat gw mengejar tiie yg bergegas turun dari angkot menembus hujan yg semakin deras... "tiie, kita berteduh aja dulu," kata gw berjalan cepat di sampingnya. gw lepas jaket gw dan gw tadahkan di atas kepalanya untuk menghalangi air hujan. gw tahu itu percuma karena hujan yg turun terlalu deras untuk dihalangi. tiie berhenti, meraih jaket gw lalu dihempaskannya ke tanah. "ngapain sih lo masih ngikutin gw??" tanyanya gusar. gw pungut jaket gw, sedikit membersihkannya dari tanah lalu gw berkata. "gw cuma pengen mastiin lo baik-baik aja sampe rumah. gw merasa bertanggungjawab karena gw yg ngajak lo keluar." kami berdua sudah benar-benar basah kuyup sekarang. gw mulai menggigil kedinginan tapi rasa itu kalah dingin dibandingkan sikap tiie ke gw saat ini. gw acuhkan bibir gw yg bergetar tiap kali mengucapkan kata. "gw baik-baik aja nggak usah khawatir! rumah gw juga udah deket tuh, sekarang gw minta lo pergi!!" gw diam termangu. "tiie, gw minta maaf.." "nggak ada lagi yg perlu dibicarakan," potong tiie tegas. "semuanya udah terungkap kan?" lalu tiie berjalan lagi dan gw kembali mengikutinya. "gw cuma pengen tau aja," kata gw ketika kami sampai di seberang rumahnya. "apa yg diceritain Eka ke gw itu bener?" tiie berhenti. tadinya gw pikir dia akan menyeberang jalan tapi gw lihat dia sedang memikirkan sesuatu. selama beberapa detik dia diam. begitupun gw. kami sama-sama membiarkan tubuh kami semakin basah diguyur air hujan. suara gemuruh petir sesekali terdengar memecah kesunyian diantara kami. "yg lo denger dari Eka itu bener," akhirnya tiie bicara. "semuanya yg lo denger dari Eka bener. hebat kan gue bisa nyembunyiin semuanya dari lo??" tiie menyeringai. dinginnya hujan rupanya juga telah mendinginkan emosi gw. gw cuma gelengkan kepala tidak mampu memercayai semua ini.

"gw pikir lo adalah yg terbaik tiie.." "itulah kenapa gw selalu bilang lo nggak pernah bisa ngertiin gw! gw tuh nggak pantes buat lo perjuangkan rizd! masih banyak cewek di luar sana yg pantas dapetin semua itu," gw lihat tubuh tiie bergetar. bukan karena kedinginan, tapi dia mulai menangis lagi. "dan lo...samasekali nggak pernah tau apa yg terjadi sebenarnya selama ini!" gw tertegun. air hujan menutupi pandangan mata gw. "maksud lo?" kata gw pelan. tiie tertawa kecil. "selama ini lo nggak pernah tau kan siapa gw??" "gw tau lo lebih baik dari lo sendiri." tiie menatap gw tajam. dia menggelengkan kepala. "nggak rizd," ucapnya. "lo samasekali nggak tau!" tiie mengambil dompet dari saku celana jeans nya, lalu mengeluarkan dua buah kartu yg seperti kartu identitas. "gw rasa udah saatnya lo tau ini," lanjut tiie. "gw nggak bisa nutupin ini selamanya." "lo ngomong apa sih? nutupin apa lagi lo??" "oke gw akan cerita, tapi tolong jangan potong kalimat gw kalo gw belum selesai bicara, oke?" gw mengangguk sebagai tanda setuju. ah, apalagi ini?? "gw mau tanya sama lo, dulu waktu temen lo Diaz ngenalin gw ke elo, lo kenal gw dengan nama apa?" gw agak nggak mengerti arah pembicaraannya. "nama lo Devi Elviantiie kan?" jawab gw. "tolong jangan ngebahas yg nggak penting." "justru itu titik awal kesalahannya!" kata tiie tegas. gw garuk-garuk kepala gw yg sebenarnya nggak gatal.

"gw semakin nggak ngerti!" komentar gw. tiie diam sejenak menghela napas panjang lalu mulai bicara lagi. "coba lo liat KTP gw," dia menyerahkan salahsatu kartu di tangannya. gw perhatikan nggak ada yg aneh dengan KTP itu, sampai gw lihat nama yg tertera di samping foto. jantung gw mulai berdegup kencang lagi. di kartu itu tertulis nama Rizka Sarah Maulviiaty, bukan Devi Elviantiie. gw coba membacanya lagi dan bisa dipastikan mata gw masih normal. "maksudnya apa ini? kok nama lo bukan Devi Elviantiie? sejak kapan lo ganti nama?" gw masih memperhatikan kartu di tangan gw. "huh, ternyata lo belum ngerti juga," ujar tiie. "denger rizd, di kartu itu nggak tertulis nama Devi Elviantiie, karena gw memang bukan Devi Elviantiie!! gw Rizka Sarah Maulviaty!" PART 48

kartu di tangan gw terjatuh saking kagetnya gw. "apa maksud lo?" bibir gw seperti tertahan. "jangan potong kalimat yg akan gw katakan," kata tiie mengingatkan gw. gw cuma bisa diam sambil menikmati segala keanehan ini. "Devi Eviantiie bukan Rizka Sarah Maulviaty, begitupun sebaliknya. karena kami berdua adalah dua orang yg berbeda! mulai sekarang panggil gw dengan nama Rizka, karena memang itu nama gw." hati gw mencelos mendengar ini. kebohongan apa lagi ini yg sedang dibeberkan tiie? gw masih belum mengerti inti masalahnya. maka gw putuskan diam mendengarkan kata-kata tiie selanjutnya. "sejak awal lo kenal seorang Tiie, lo memang berhubungan sama cewek yg namanya Devi Elviantiie. dia adalah sahabat gw sejak SMP. kami sudah dekat sejak pertama ketemu. dan kedekatan itu berlanjut pula saat kami memutuskan sekolah di SMA yg sama. well, yg namanya sahabat wajar kan saling curhat, dan dia banyak curhat ke gw soal elo. sejak pertama kali lo sms Tiie ngajak kenalan, dia selalu curhat ke gw. hampir tiap ketemu dia selalu cerita soal elo, sampe gw hafal semua tentang lo. isi sms lo ke tiie, kondisi lo, bahkan mungkin gw lebih hafal dibandingkan Tiie sendiri." sampai disini gw masih diam. antara percaya dan tidak percaya gw dengarkan cerita tiie. dinginnya hujan jadi tidak berasa. tubuh gw seolah kebas dari air hujan yg mengguyur telak tiap bagian tubuh gw.

"tapi waktu kita ketemu pertam.." "please jangan potong cerita gw," kata tiie. "waktu kita ketemu, sebenarnya Tiie datang ke mall bareng gw. kami datang lebih awal dari lo jadi kami bisa tahu seperti apa orang yg akan kami temui. tapi begitu Tiie melihat lo yg lagi nunggu di sberang tempat kami, Tiie mendadak enggan bertemu sama lo. dia seperti ketakutan, atau apa lah gw juga nggak ngerti. dan dia minta gw untuk gantiin dia nemuin lo. tentunya gw di sini sebagai seorang Tiie. awalnya gw nolak, tapi gw nggak bisa ngecewain harapan sahabat gw. dia memohon dengan sangat ke gw supaya gw mau ngegantiin dia. dan selanjutnya, seperti yg lo tau, kita ketemuan. tapi satu hal yg enggak lo tau, Tiie juga sebenarnya ada di dekat kita waktu kita ngobrol di kafe. gw yakin lo nggak mernyadari itu. dia duduk sendirian di seberang meja kita,ikut memperhatikan kita. dan mulai saat itulah lo kenal gw sebagai seorang Devi Elviantie." gw geleng-geleng kepala. "nggak mungkin. lo pasti bohong!!" gw menganggap cerita yg diceritakan tiie adalah fiktif belaka. gw yakin tiie lagi ngigau. "nyatanya nomor yg gw hubungi kan nomor tiie? gw samasekali nggak tau nomor HP lo." "ah, itu hal yg mudah sayaang.. tinggal kasih nomornya ke gw, beres kan? di awal gw kan udah bilang kalo gw udah paham tentang lo dengan baik. so, nggak sulit buat gw beradaptasi jadi orang yg seolah-olah udah mengenal lama seorang Harrizd." tiie tersenyum. senyum yg belum pernah gw lihat. senyum yg nggak gw kenali. "nih sekarang lo liat kartu OSIS punya Tiie," dia menyerahkan kartu terakhir di tangannya. "pas perpisahan sekolah kami saling bertukar kartu OSIS sebagai kenang-kenangan." foto di kartu itu jelas bukan foto tiie yg ada di depan gw. tapi namanya adalah Devi Elviantiie, persis nama seorang cewek yg gw kenal selama ini. tapi gw masih enggan mempercayai ini!! otak gw menolak dengan keras fakta yg dibeberkan tiie. "sejak kita ketemuan," kata tiie lagi. "gw selalu menceritakan semua tentang kita ke Tiie. kami nggak mau menimbulkan kecurigaan dari Diaz, karena dia nggak tau apapun tentang permainan kami ini. Diaz sering nanyain lo ke Tiie, jadi menurut gw akan lebih baik kalo Diaz menganggap lo sudah ketemu dengan orang yg benar. selama ini, kita nggak pernah ketemu bertiga sama Diaz kan? gw selalu menghindari momen itu, karena gw takut rahasia kami terbongkar." "kenapa lo tega ngelakuin ini semua ke gw?" tanya gw lirih. dada gw terasa sesak menerima kenyataan ini.

"elo yg tega ke gw! sejak pertama kita ketemu, lo udah bikin gw jatuh cinta sama lo, padahal waktu itu gw masih berstatus pacaran sama Eka, cowok gw." tiie diam. "sejak awal gw enggan mengakui ini, tapi gw terlanjur suka sama lo rizd.. sementara gw juga masih sayang cowok gw. itulah sebabnya kenapa selalu ada seorang Eka dalam hubungan kita. semakin gw berusaha memilih diantara kalian, semakin gw jatuh dalam dilema.." gw pejamkan mata. gw hampir menangis tapi gw tahan. "dan lo harus tau, nggak mudah buat gw hidup di dalam bayang-bayang orang lain. gw pengen banget lo mencintai gw apa adanya sebagai seorang Rizka, bukan sebagai Tiie. tapi gw tau itu nggak mungkin. lo udah terlanjur tau bahwa gw adalah Tiie. gw bisa dapetin rasa itu dari eka, karena dia memang kenal gw sebagai diri gw, bukan orang lain..." tiie menangis lagi. "tapi kenapa orang-orang di sekitar lo nggak curiga waktu gw selalu manggil lo pake nama Tiie? bahkan Eka pun manggil lo pake nama itu?" gw masih berusaha mencari selah untuk meyakinkan bahwa ini semua hanya bohong. "ah. lo ini masih tetep bego ya kadang-kadang. nama belakang gw kan Maulviaty, wajar aja kalo mereka taunya lo manggil gw pake nama belakang gw. dan soal Eka, di memang selalu manggil gw dengan nama belakang karena itu adalah panggilan kesayangan dia buat gw." kami sama-sama terdiam....entah berapa lama. tubuh kami seolah benar-benar kebal diguyur hujan. "jadi selama setahun ini gw mencintai orang yg salah??" kata gw nelangsa. "sejak awal kita ketemu, semua udah salah rizd. dan semua yg diawali dengan salah, akan berakhir salah juga...." tiie menyeka airmatanya. gw yg sejak tadi menahan airmata kini tidak bisa mencegahnya meleleh di kedua pipi gw. airmata gw disamarkan oleh air hujan yg mengalir di wajah gw. gw sedang memejamkan mata saat gw merasakan tiie memeluk gw. isak tangisnya terdengar jelas di telinga gw. tapi gw cuma diam tertegun mendapati diri gw dipeluk oleh orang yg ternyata nggak gw kenal. "gw tau saat ini pasti akan terjadi," bisik tiie pelan di sela isaknya. "gw cuma pengen bilang kalo gw bahagia pernah kenal sama lo. lo berhak dapet yg terbaik buat hidup lo. sementara gw, gw cuma sebuah kesalahan dalam cerita cinta lo. maafin gw rizd....." tiie melepaskan pelukannya. gw bisa merasakan perlahan jemari tiie semakin melepaskan gw. dia memungut KTP nya lalu berkata.

"di belakang kartu OSIS itu udah gw tulis nomor HP Tiie. lo bisa kapan aja memastikan langsung ke Tiie, bahwa yg gw jelaskan sekarang adalah benar." "tunggu dulu tiie.." "tolong panggil gw dengan nama asli gw." "oke. gw cuma pengen tau, kenapa waktu itu Tiie nggak mau menemui gw?" tiie diam. lalu dia menggeleng. "sejak kami bersahabat, Tiie selalu terbuka sama gw. tapi entah kenapa buat yg satu ini dia samasekali nggak mau cerita kenapa dia enggan nemuin lo. sumpah gw nggak tau." gw masih tertegun. satu pertanyaan besar dalam hati gw tidak terjawab. gw pandangi lagi wajah tiie. mungkin ini terakhir kalinya gw melihat wajah itu. dan sesaat sebelum berlalu pergi, tiie sempat menyunggingkan sebuah senyuman ke gw. senyum yg sama ketika pertama gw menemui dia di mall. ......... senja sudah berganti malam saat gw lihat tiie menghilang di balik pintu cokelat rumahnya. hujan, walaupun sudah tidak begitu deras,tetap setia menemani kesendirian gw saat ini. dan gw masih berdiri di tempat gw. otak gw seolah membeku. gw masih shock dengan kenyataan ini. hati gw masih belum bisa menerimanya. lama gw tertegun menatap kosong pintu pagar bercat hitam. betapa gw ingat gw pernah berdiri di situ menunggu sebuah cinta, yg ketika kemudian gw sadari itu adalah sebuah kesalahan, gw hanya bisa tersenyum kelu. ada semacam sakit yg tercipta di sudut hati. tapi ada sedikit rasa bahagia bahwa gw pernah memiliki sebuah kesalahan di hidup gw. "lo memang kesalahan terbesar dalam hidup gw tiie," kata gw dalam hati. "tapi lo adalah kesalahan yg indah untuk dikenang..."

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->