P. 1
Mulok MI MTs

Mulok MI MTs

|Views: 604|Likes:
Published by Suwahono, M.Pd

More info:

Published by: Suwahono, M.Pd on Nov 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki beribu-ribu pulau. Masing-masing pulau memiliki keanekaragaman adat-istiadat, tatacara dan tatakrama pergaulan, seni serta kondisi alam yang berbeda-beda yang perlu dilestarikan. Salah satu cara untuk melaksanakan usaha pelestarian tersebut adalah melalui proses pendidikan. Madrasah merupakan wahana untuk proses pendidikan secara formal yang menjadi bagian dari masyarakat, maka harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekitar sekolah atau daerah dimana sekolah itu berada. Untuk merialisasikan usaha ini maka sekolah sedini mungkin harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada peserta didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhasan daerahnya, baik yang berkaitan dengan kondisi alam, kondisi lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dalam bentuk kurikulium muatan lokal. Dimasukannya kurikulum muatan lokal dalam kurikulum nasional pada jenjang MI dan MTs adalah untuk menyelaraskan apa yang diberikan kepada siswa dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di daerahnya, mengoptimalkan potensi dan sumber belajar yang ada di sekitarnya bagi kepentingan siswa, menumbuhkan dan mengembangkan minat perhatian siswa sesuai dengan kebutuhan yang ada di sekitarnya, memperkenalkan dan menanamkan kehidupan sosial budaya serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat pada siswa sedini mungkin. Beberapa alasan yang dapat dijadikan dasar dalam penerapan kurikulum muatan lokal pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah ini adalah: 1. Kekayaan alam dan budaya yang dimiliki oleh berbagai daerah di Indonesia merupakan aset yang perlu dilestarikan dan dikembangkan melalui pendidikan.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

1

2.

Model pengembangan kurikulum yang bersifat sentralistik sudah tidak dapat dipertahankan lagi karena tidak mengakomadasi kepentingan pelestaraian dan pengembangan kekayaan alam dan budaya daerah yang beraneka ragam.

3.

Desentralisasi menuntut orientasi pendidikan selaras dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan masyarakat setempat. Kurikulum muatan lokal di MI dan MTs sebagai kurikulum yang berdiri sendiri,

telah diimplementasikan sejak tahun pelajaran 1994/1995. Dalam kurikulum 2004, posisi dan kedudukan kurikulum muatan lokal merupakan bagian integral dalam kurikulum nasional. Sejalan dengan pelaksanaan kurikulum 2004, kurikulum muatan lokal harus diselaraskan dengan tuntutan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang memberikan otoritas penuh pada madrasah dalam mengembangakan kurikulum muatan lokal. Dengan demikian madrasah harus mengupayakan pengembangan kurikulum muatan lokal berdasarkan kondisi lingkungan, sosial budaya dan kebutuhan daerah. Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal MI/MTs diperlukan untuk memberikan arahan kepada madrasah dalam pengembangkan kurikulum muatan lokal. B. Landasan Pengembangan kurikulum muatan lokal ini dilandasi oleh kebijakan-kebijakan yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan sebagai berikut: 1. Undang Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom berimplikasi terhadap kebijaksanan pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistik ke desentralistik. Pergeseran pengelolaan tersebut memberikan kesempatan yang besar untuk berkembangnya kurikulum muatan lokal disekolah, termasuk di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

2

2. Pengembangan kurikulum muatan lokal tersebut mengacu pada Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu berkenaan dengan pasal-pasal sebagai berikut: a. Pasal 3, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. b. Pasal 36 Ayat (1) dan (2), yang menyatakan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan dan dilakukan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik; dan c. Pasal 37 Ayat (1), yang menyatakan bahwa pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, ketrampilan / kejujuran, dan muatan lokal. C. Pengertian Kurikulum muatan lokal MI/MTs adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas daerah yang materinya tidak dapat dikelompokan ke dalam mata pelajaran MI/MTs. Substansi dalam kurikulum muatan lokal bervariasi dan yang disajikan oleh madrasah hanya satu satuan substansi, seperti; Bahasa Daerah, Kesenian Daerah, Ketrampilan Khusus Daerah (BSNP, 2005). D. Fungsi dan Tujuan Muatan Lokal

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

3

Kurikulum Muatan Lokal dalam kurikulum MI /MTs sebagai berikut: a. Fungsi Penyesuaian

mempunyai fungsi

Madarasah merupakan salah satu komponen masyarakat. Oleh karena itu program madrasah harus disesuaikan dengan lingkungan masyarakat dan kebutuhan daerah. Demikian pula pribadi-pribadi yang ada dalam lingkungan madrasah hidup dalam lingkungan masyarakat. Sehingga perlu diupayakan agar setiap pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan lingkungannya. b. Fungsi Integrasi Peserta didik adalah bagaian integral dari masyarakatnya. Karena itu muatan lokal merupakan program pendidikan yang berfungsi untuk mendidik peserta didik agar dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat dan lingkungannya. c. Fungsi Perbedaan Peserta didik yang satu dengan yang lain berbeda. Pengakuan atas perbedaan berarti pula memberi kesempatan bagi setiap pribadi untuk memilih apa yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Muatan lokal adalah program pendidikan yang bersifat luwes, yaitu program pendidikan yang pengembangannya disesuaikan dengan minat, bakat, kemampuan dan kebutuhan peserta didik, lingkungan dan daerahnya. Sedangkan tujuan kurikulum muatan lokal MI dan MTs, agar peserta didik: a. b. mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya. memiliki bekal kemampuan dan ketrampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya. c. memiliki sikap dan prilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya,

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

4

d.

mampu melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

5

BAB II STRUKTUR, KEDUDUKAN DAN KARAKTERISTIK KURIKULUM MUATAN LOKAL

A. Struktur dan Kedudukan Kurikulum Muatan Lokal 1. Kurikulum Muatan Lokal dalam Struktur Kurikulum MI Dalam struktur kurikulum 2004, kurikulum muatan lokal merupakan bagian dari kurikulum nasional. Masuknya kurikulum muatan lokal tidak mengubah struktur kurikulum yang sudah ada. Kurikulum muatan lokal untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah/MI dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut: Matapelajaran A. Matapelajaran 1. Pendidikan Agama a. Al Qur’an dan Hadits b. Aqidah Akhlaq c. Fiqh d. SKI 2. Pendidikan Kewatganegaraan dan Pengetahuan Sosial 3. Bahasa Indonesia 4. Bahasa Arab 5. Matematika 6. Pengetahuan Alam 7. Kerajinan Tangan dan Kesenian 8. Pendidikan Jasmani Matapelajaran *) Kegiatan yang mendorong atau mendukung pembentukan sikap dan perilaku *) Jumlah Kelas I - II III IV -VI 2 2 2 5 6 5 4 4 2 2 2 2 2 5 5 5 4 4 3 2 2 2 2 5 5 3 5 4 4 3

B. Muatan Lokal C. Kegiatan Khusus

32

34

37

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

6

Keterangan *) Mata pelajaran ditentukan sesuai dengan kebutuhan madrasah *) Ditentukan oleh madrasah minimal 2 (dua) jam pelajaran dan maksimal 4 (empat) jam / minggu. Dalam struktur kurikulum MI, bidang kajian Muatan Lokal berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas daerah yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi dalam muatan lokal bervariasi dan yang disajikan oleh madrasah hanya satu satuan substansi, seperti Bahasa Daerah, Kesenian Daerah, Ke Muhammadiyahan ataupun Ketrampilan Khusus Daerah.

2. Kurikulum Mulok dalam Struktur Kurikulum MTs Dalam struktur kurikulum 2004, kurikulum muatan lokal merupakan bagian dari kurikulum nasional. Masuknya kurikulum muatan lokal dalam kurikulum MTs tidak mengubah struktur kurikulum yang sudah ada. Kurikulum muatan lokal untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah /MTs dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut: Matapelajaran A. Matapelajaran 1. Pendidikan Agama a. Al Qur’an dan Hadits b. Aqidah Akhlaq c. Fiqh d. SKI 2. Bahasa Indonesia 3. Bahasa Arab 4. Bahasa Inggris 5. Matematika 6. Pengetahuan Alam 7. Pengetahuan Sosial dan Pendidikan Kewatganegaraan 8. Kesenian 9. Pendidikan Jasmani VII 2 2 2 2 5 3 4 5 5 5 2 2 Kelas VIII 2 2 2 2 5 3 4 5 5 5 2 2 IX 2 2 2 2 5 3 4 5 5 5 2 2

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

7

B. Muatan Lokal C. Kegiatan Khusus

10. Ketrampilan/ Teknologi Informasi dan Komunikasi Matapelajaran *) Kegiatan yang mendorong atau mendukung pembentukan sikap dan perilaku *) Jumlah

2

2

2

41

41

41

Keterangan *) Mata pelajaran ditentukan sesuai dengan kebutuhan madrasah *) Ditentukan oleh madrasah minimal 2 (dua) jam pelajaran dan maksimal 4 (empat) jam / minggu. Berdasarkan tabel di atas bidang kajian Muatan Lokal berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Dalam hal ini muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan kedalam mata pelajaran yang ada. Substansi dalam muatan lokal bervariasi dan yang disajukan oleh sekolah hanya satu satuan substansi, seperti Bahasa Daerah, Kesenian Daerah, KeMuhammadiyahan, Ketrampilan Khusus Daerah. 3. Kedudukan Kurikulum Muatan Lokal dalam kurikulum MI/MTs Salah satu semangat Kurikulum 2004 adalah mengakomodasi kepentingan kedaerahan serta cara pencapaiannya menyesuaikan kemampuan daerah/ madrasah. Oleh karena itu Kurikulum Muatan Lokal dalam struktur kurikulum nasional mempunyai kedudukan yang sangat penting. Mengingat peran penting kurikulum muatan lokal MI/ MTs dalam struktur kurikulum 2004, maka muatan lokal merupakan matapelajaran yang berdiri sendiri dan mempunyai alokasi waktu tersendiri. Muatan lokal juga merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas atau karakteristik daerah/ madrasah.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

8

Kedudukan kurikulum muatan lokal dalam struktur kurikulum MI/ MTs berimplikasi pada peran dan tanggung jawab madrasah dalam menentukan keseluruhan komponen yang dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum muatan lokal. B. Diversifikasi Kurikulum Muatan Lokal Diversifikasi kurikulum adalah kurikulum yang disesuaikan, diperluas dan diperdalam atau dirancang untuk melayani keberagaman kemampuan dan minat peserta didik serta kebutuhan dan kemampuan daerah/ madrasah ditrinjau dari segi lingkungan alam, social, budaya dan kebutuhan daerah/ madrasah. Makna “lokal” dalam kurikulum muatan lokal merujuk pada lingkup wilayah tempat suatu bahan kajian dapat diberlakukan, bukan dibatasi oleh wilayah pemerintahan tertentu. Dengan demikian ia tergantung dari tujuan yang dipelajari. Sedangkan wilayah pemerintahan hanya digunakan sebagai wilayah pembinaan pelaksanaan kurikulum muatan lokal. Sebagai contoh : untuk Bahasa Daerah yang cakupan penggunaannya luas mungkin arti lokal adalah propinsi, jika bahasa daerah tersebut digunakan oleh masyarakat di seluruh propinsi yang bersangkutan, untuk bahan ketrampilan tertentu, misalnya mutiara mungkin yang dimaksud lokal hanya satu desa atau beberapa desa yang memiliki potensi cukup banyak mutiara untuk kesenian lokal, mungkin makna lokal meliputi beberapa desa yang terkenal dengan jenis kesenian di maksud. Kesenian Reyog misalkan memiliki arti lokal di beberapa desa di Ponorogo dan sebagainya. untuk sosial kemasyarakatan mungkin makna lokal mempunyai cakupan terkait dengan identitas satu kelompok sosial. Misalnya, Ke-Muhammadiyahan atau Aswaja merujuk pada identitas suatu kelompok sosial keagamaan Muhammadiyah dan NU dan sebagainya.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

9

Berdasarkan pemahaman diatas, maka diversifikasi pengembangan kurikulum muatan lokal harus didasarkan pada karakteristik-karakteristik, sebagai berikut : 1. Kekhasan lingkungan alam Yang dimaksud dengan lingkungan alam ialah lingkungan hidup dan tidak hidup tempat makhluk hidup tinggal di mana terdapat ekosistem. Dan lingkungan alam bisa dibagi menjadi empat katagori, yakni : a)pantai, misalnya budidaya ikan, produksi garam, pariwisata pantai dan sebagainya b)dataran rendah, misalnya pertanian, perkebunan, peternakan dan sebagainya c)dataran tinggi/pegunungan, misalnya perkebunan, agrowisata, d)daerah hutan, misalnya kehutanan, konservasi flora dan fauna dan sebagainya. 2. Kekhasan lingkungan sosial Lingkungan sosial adalah lingkungan terdapatnya interaksi orang perorang, antara orang dengan kelompok sosial atau sebaliknya, dan antara kelompok sosial dengan kelompok lain. Maka pendidikan adalah sebagai lembaga sosial dalam sistem sosial yang dilaksanakan di madrasah. Oleh karena itu madrasah dipersilahakan memilih muatan lokal sesuai dengan kondisi sosial setempat. 3. Kekhasan lingkungan budaya Lingkungan budaya adalah sistem nilai, tradisi, adat istiadat, bahasa yang menjadi identitas suatu kelompok sosial. Lingkungan budaya yang memungkinkan dapat dikembangkan sebagai kekhasan kurikulum muatan lokal, mencakup dua jenis lingkungan kebudayaan, yaitu: a) fisik seperti alat-alat kesenian daerah, alat-alat pertanian dan sebagainya. b) non fisik seperti bahasa daerah, kesenian daerah, dan sebagaianya. 4. Kebutuhan daerah setempat

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

10

Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta pembanungunan daerah yang bersangkutan. Mengingat setiap daerah di Indonesia memiliki kebutuhan dan prioritas pembanguan sendiri-sendiri, maka setiap daerah berhak mengembangkan kurikulum muatan lokal yang mendukung tercapainya tujuan pembangunan tersebut. Contoh jasa, perdagangan, industri dan sebagainya.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

11

BAB III PENGEMBANGAN KURIKULUM MUATAN LOKAL

A. Konsep Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Pengertian pengembangan kurikulum muatan lokal secara praktis merupakan proses merencanakan untuk menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada kurikulum yang berlaku. Karena pengembangan kurikulum muatan lokal secara esensial terkait dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, maka perlu ditekankan di sini bahwa sasaran yang ingin dicapai. Sasaran tersebut bukan sematamata memproduksi bahan pelajaran, melainkan titik beratnya adalah peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri. Oleh karenanya harus diketahui faktor yang harus dipertimbangkan. Ada empat hal pokok yang perlu pertimbangan dalam pengembangan kurikulum muatan lokal. Pertimbangan tersebut adalah 1) falsafah hidup bangsa, 2) pertimbangan kebutuhan dan harapan masyarakat, 3) kesesuaian dengan peserta didik, 4) kesesuaian dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun pendekatan dengan konsep yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum muatan lokal, diantaranya : 1) Pendekatan dengan konsep kurikulum rekonstruksi sosial, Pengembangan kurikulum muatan lokal dengan pendekatan kurikulum rekonstruksi sosial mengandaikan kurikulum muatan lokal sebagai sarana untuk mengidentifikasi masalah, kebutuhan, tujuan ilmu pengetahuan dan seni, menilai hubungan manusia, dan mengenali sikap-sikap dan strategi bagi perubahan sosial yang diperlukan. Di sini kurikulum mempertemukan siswa dengan masalahmasalah yang ada di masyarakat. Kurikulum muatan lokal semacam ini fokus pada penggalian sumber-sumber alam dan non alam, termasuk budaya dan masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat. Sementara itu pembelajaran
Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

bahwa

pengembangan kurikulum muatan lokal merupakan proses yang menyangkut banyak

12

diarahkan untuk membantu mengembangkan potensi dan meningkatkan kemajuan masyarakat. 2) Pendekatan dengan konsep kurikulum transformasi Pengembangan kurikulum muatan lokal dengan pendekatan kurikulum transformasi mengandaikan kurikulum sebagai alat transmisi kebudayaan, transaksi dengan masyarakat atau transformasi pribadi peserta didik. Dengan pendekatan ini pengembangan kurikulum muatan lokal didasarkan pada kepedulian kurikulum terhadap lingkungan dimana siswa berada. Model kurikulum muatan lokal semacam ini fokus pada transformasi siswa yang bersifat pluralistik dan holistic. 3) Pendekatan dengan konsep pengembangan kurikulum berfokus pengguna. Pengembangan kurikulum muatan lokal berfokus pengguna mengandaikan pengembangan kurikulum untuk melayani masyarakat pengguna pendidikan. Dengan demikian pengembangan kurikulum bukan semata-mata menyangkut aspek teknis, tetapi juga melibatkan idealisme yang memposisikan masyarakat sebagai tuan dalam proses penyelenggaraan pembelajaran.

B. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum muatan lokal Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum muatan lokal di MI/MTs. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1. Keimanan, Budi pekerti Luhur , dan Nilai-nilai Budaya Keyakinan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat berpengaruh pada sikap dan arti kehidupannya. 2. Penguatan integritas nasional Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan yang memberikan pemahaman tentang masyarakat indonesia yang bersifat majemuk dan kemajuan peradaban Indonesia dalam tatanan peradaban dunia yang multi kultur dan multi bahasa 3. Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan kinestetika
Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

13

Keseimbangan pengalaman belajar peserta didik yang meliputi hal-hal tersebut sangat dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum mutan lokal 4. Kesamaan memperoleh kesempatan Penyediaan tempat yang memperdayakan peserta didik secara demokratis dan berkeadilan 5. Perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi Kemampuan berpikir dan belajar dengan mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengetahui situasi yang cepat berubah. 6. Pengembangan kecakapan hidup Kurikulum mengintegrasikan unsur-unsur yang menunjang kemampuan bertahan hidup. 7. Belajar sepanjang hidup Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hidup. 8. Berpusat pada anak Upaya memandirikan peseta didik untuk belajar, bekerja, dan menilai diri sendiri diutamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan, pemahaman, dan pengetahuannya. 9. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan Peserta didik yang bervariasi harus diintegrasikan dalam berbagai disiplin ilmu. C. Rambu-Rambu Penyusunan Standar Kompetensi Kurikulum Muatan Lokal Standar kompetensi adalah acuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran dan memantau perkembangan mutu pendidikan. Standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai pernyataan tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dan dicapai dalam mempelajari suatu matapelajaran Menurut definisi tersebut, standar kompetensi meliputi dua hal, yaitu standar isi dan standar penampilan. Standar kompetensi yang menyangkut isi berupa pernyataan
Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

14

tentang pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari matapelajaran tertentu. Standar kompetensi yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang criteria untuk menentukan sikap dan tingkat penguasaan siswa terhadap standar isi. Berbeda dengan matapelajaran lainnya, kurikulum muatan lokal merupakan kurikulum yang berbasis pada kekhasan daerah. Untuk itu, strandar kompetensinya tidak ditentukan secara nasional, tetapi ditetapkan oleh masing-masing madrasah. Adapun rambu-rambu penyusunan standar kompetensi kurikulum muatan lokal di MI/MTs, adalah sebagai berikut: 1) Standar kompetensi harus memuat pernyataan yang menjelaskan apa yang harus dikuasai oleh peserta didik, yang mencakup aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap. 2) Standar kompetensi disusun berdasarkan substansi dalam muatan lokal yang berdasarkan kekhasan lingkungan alam, sosial, budaya dan kebutuhan daerah. 3) Standar kompetensi harus berbentuk matrik yang meliputi : a. Standar kompetensi b. Kompetensi dasar c. Hasil belajar d. Indikator

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

15

Contoh matrik kurikulum matapelajaran muatan lokal KOMPETENSI DAN HASIL BELAJAR TAHUN PELAJARAN : MATAPELAJARAN : KELAS : MI/MTs. : Standar Kompetensi : ……………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… KOMPETENSI DASAR HASIL BELAJAR 1.1. ……………. 1.1.1. …………….. 1.1.2. ……………… INDIKATOR ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ……………… ………………

1.2. ……………

1.2.1………………. ……………… 1.2.2. …………….. ………………

Keterangan: 1. Kolom kompetensi berisi kompetensi-kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik dari setiap matapelajaran muatan lokal yang diajarkan di MI/MTs. 2. Kolom hasil belajar berisi hasil-hasil yang hendak dicapai oleh peserta didik dari mata pelajaran yang diajarkan. 3. Kolom indikator merupakan karakteristik atau tanda-tanda yang lebih khusus sebagai pentujuk pencaapaian kompetensi.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

16

BAB IV IMPLEMENTASI KURIKULUM MUATAN LOKAL DI MADRASAH
A. Identifikasi Kesiapan Madrasah Identifikasi kesiapan madrasah merupakan upaya untuk mengetahui sejauh mana kesiapan madrasah dalam mengembangkan kurikulum muatan lokal. Kesiapan madrasah dalam hal ini ditandai dengan keadaan di mana setiap pihak yang berkompeten di madrasah telah mengerti dan memahami pengembangan dan pelaksanaan kurikulum muatan lokal. Terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi MI/Mts agar melaksanakan kurikulum muatan lokal dengan baik, diantaranya: 1. 2. berada dalam lingkungan yang memiliki kekhasan lingkungan alam, sosial, budaya dan kebutuhan daerah. memiliki tenaga pelaksana serta sarana prasarana untuk menunjang dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, bahan pengajaran dan media yang bermuatan lokal. 3. 4. Mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam hal program, dana, sarana dan prasarana. Memungkinkan untuk dipantau, dinilai dan dibina secara terus menerus oleh para pembina pendidikan dari daerah dan atau dari pusat. (Subandijah, 1996) dapat

B. Peran dan tanggung jawab madrasah dalam mengembangkan kurikulum muatan lokal Dalam pengembangan kurikulum muatan lokal, madrasah mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat besar. Adapun peran dan tanggung jawab yang

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

17

harus dilaksanakan oleh madrasah dalam pengembangan kurikulum muatan lokal, adalah sebagai berikut: 1. Persiapan / perencanaan Tahapan persiapan meliputi kegiatan sebagai berikut: a. pemilihan dan penentuan substansi muatan lokal yang akan dikembangkan menjadi matapelajaran yang diajarkan di MI/MTs b. membentuk tim pengembang kurikulum muatan lokal di MI/MTs yang bertugas untuk : - merumuskan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan hasil belajar - memberikan bahan-bahan pertimbangan dalam pengembangan silabus matapelajaran muatan lokal - menyusun pedoman penilaian c. menyediakan guru, sarana prasarana dan pendanaan yang dibutuhkan dalam implementasi kurikulum muatan lokal 2. Pelaksanaan kurikulum muatan lokal Pelaksanaan kurikulum muatan lokal merupakan tanggung jawab madrasah. Dalam pelaksanaannya, madrasah dapat memberikan kewenangan kepada guru matapelajaran muatan lokal yang ditunjuk oleh madrasah. Adapun pelaksanaan kurikulum muatan lokal, meliputi kegiatan sebagai berikut: a. Pengembangan silabus matapelajaran muatan lokal Salah satu ciri khas kurikulum muatan lokal adalah adanya peluang bagi daerah dan madrasah untuk mengembangkan silabus sesuai dengan ciri khas kondisi alam, sosial, budaya dan kebutuhan daerah / madrasah masingmasing. Adapun tahapan yang harus diperhatikan dalam pengembangan silabus matapelajaran muatan lokal di MI/MTs, adalah sebagai berikut:

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

18

1) Prosedur Pengembangan Silabus Kurikulum Muatan Lokal Prosedur pengembangan silabus kurikulum muatan lokal meliputi perencanaan, pelaksanaan dan revisi. Langkah-langkah ini perlu dilakukan agar proses pengembangan silabus kurikulum muatan lokal dapat terarah dan lebih mudah pelaksanaannya. a) Perencanaan Dalam perencanaan ini, guru/ tim pengembang silabus kurikulum muatan lokal mengumpulkan informasi dan referensi, serta mengidentifikasi sumber belajar termasuk nara sumber yang diperlukan dalam pengembangan silabus kurikulum muatan lokal. b) Pelaksanaan Pelaksanaan penyusunan silabus kurikulum muatan lokal dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Merumuskan kompetensi dan tujuan pembelajaran, serta

menentukan materi pembelajaran yang memuat kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator hasil belajar.

Menentukan metode pembelajaran sesuai dengan model

pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode dan teknik mengajar merupakan faktor penunjang pencapaian tujuan kurikulum, serta faktor penentu keberhasilan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Setiap interaksi belajar mengajar memerlukan metode mengajar yang berbeda. Berbagai metode mengajar perlu dipahami oleh guru. Masingmasing metode tersebut memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Metode yang satu dengan metode lainnya saling mengisi dan melengkapi. Karena itu, sesuai dengan model dan pendekatan pembelajaran yang telah diterapkan, maka guru dapat memilih dan menentukan metode yang paling tepat dan sesuai. Untuk

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

19

menentukan

metode

mengajar

yang

sesuai

diperlukan

pertimbangan tentang beberapa faktor, antara lain sebagai berikut: ♦ Kemampuan guru sendiri dalam menggunakan metode mengajar. ♦ Tujuan pengajaran yang ingin dicapai ♦ Bahan pengajaran yang perlu dipelajari oleh peserta didik. ♦ Perbedaan individual dalam menggunakan inderanya. ♦ Sarana dan prasarana yang ada atau yang dapat disediakan oleh madrasah. ♦ Memperhatikan prinsip-prinsip belajar. ♦ Mengutamakan keaktifan peserta didik dalam belajar. ♦ Merangsang peserta didik untuk berfikir dan menalar. ♦ Memungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik. Menentukan alat penilaian berbasis kelas sesuai dengan misi

kurikulum muatan lokal. c) Revisi Draft silabus kurikulum muatan lokal yang telah dikembangkan perlu diuji kelayakannya melalui analisis kualitas silabus, penilaian ahli, dan uji lapangan. Berdasarkan hasil uji kelayakan kemudian dilakukan revisi. Revisi ini pada prinsipnya perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, sejak awal penyusunan draft sampai silabus kurikulum muatan lokal tersebut dilaksanakan dalam situasi belajar yang sebenarnya. (Form Silabus Matapelajaran Muatan Lokal terlampir)

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

20

b. Pemilihan bahan ajar kurikulum muatan lokal Bahan ajar kurikulum muatan lokal, pada dasarnya dapat diambil dari sumber belajar yang ada di lingkungan alam, sosial maupun budaya yang sesuai dengan tingkat perkembangan berfikir, bertingkah laku maupun kemampuan peserta didik di mana madrasah itu berada. Karena itu, pengenalan dan pemahaman guru terhadap lingkungan alam, sosial, budaya dan kebutuhan daerah/madrasah sangat diperlukan dan akan membantu dalam mengembangkan dan menerapkan kurikulum muatan lokal dalam kurikulum madrasah. Bahan ajar muatan lokal dapat diperoleh melalui studi kebutuhan (need assessment) maupun pengamatan guru atau team khusus madrasah terhadap lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang ada di sekitar madrasah ataupun kebutuhan daerah setempat / madrasah. Tujuan pembelajaran disusun sesuai dengan tahap perkembangan siswa, pokok bahasan disusun untuk mengelompokkan bahan ajar yang sekelompok. Alokasi waktu, sarana penunjang dan lainnya dapat disusun sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah setempat. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan bahan ajar kurikulum muatan lokal adalah sebagai berikut: a) Dasar pemilihan bahan ajar Pemilihan bahan pengajaran muatan lokal harus didasarkan pada prinsipprinsip sebagai berikut: 1) Isi dan bahan ajar muatan lokal didasarkan pada keadaan dan kebutuhan daerah. 2) Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan ekonomi serta lingkungan budaya. 3) Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan
Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

21

peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta pembangunan daerah yang bersangkutan. 4) Kebutuhan siswa yang akan belajar, misalnya di suatu daerah terdaapat banyak obyek pariwisata, siswa perlu diberi bekal kepariwisataan. Jika di daerah tersebut berkembang pesat pertokoan, siswa diberi bekal ketrampilan administrasi pertokoan dan begitu seterusnya. (Erry Utomo dkk.: 1997) b) Ruang lingkup bahan ajar Ruang lingkup bahan ajar kurikulum muatan lokal secara garis besar meliputi empat kelompok sebagai berikut: 1) Kelompok pendidikan lingkungan meliputi antara lain polusi, kebersihan kota, tata kehidupan kota, pelestarian lingkungan dan lainlain. 2) Kelompok pendidikan sosial meliputi antara lain gotong royong, budi pekerti, kemuhammadiyahan, Aswaja dan sebagainya. 3) Kelompok pendidikan budaya meliputi antara lain bahasa daerah, adat istiadat, kesenian daerah dan lain-lain. 4) Kelompok pendidikan ketrampilan meliputi antara lain kerajinan tangan, pertanian, kewirausahaan dan lain-lain. 5) Kelompok pendidikan muatan lokal sebagai penjabaran dari kebutuhan daerah / madrasah karena tuntutan perkembangan zaman. c) Sumber bahan ajar Sumber-sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam memperoleh bahan pengajaran muatan lokal adalah sebagai berikut.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

22

1) Nara sumber yang ada di daerah, seperti pengusaha, penyuluh dari dinas-dinas tertentu, orang tua peserta didik, ilmuwan, seniman, tokoh masyarakat, dan orang-orang yang memiliki pengalaman atau yang telah menguasai bidang pekerjaan atau ketrampilan tertentu. 2) Media tulisan semacam majalah, khazanah pustaka, surat kabar dan lain-lain. 3) Pengalaman langsung berupa penjelajahan oleh guru atau team khusus madrasah terhadap keadaan lingkungan alam, sosial dan budaya, perkembangan ilmu dan teknologi maupun kebutuhan daerah sekitar / madrasah. d) Tehnik penentuan bahan ajar Penentuan bahan ajar muatan lokal dapat dilakukan dengan pola kerja sama antara kepala madrasah, guru, orang tua peserta didik, tokoh masyarakat atau masyarakat dalam merumuskan dan mengembangkan bahan ajar kurikulum muatan lokal di madrasah. Dalam hal ini, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh sebagai berikut: 1) Pada awal tahun ajaran, kepala madrasah bersama seluruh guru menemukan dan menunjukkan unsur-unsur yang sersifat khas daerah atau kebutuhan daerah setempat/ madrasah yang dianggap perlu dimasukkan sebagai kurikulum muatan lokal. Kegiatan ini dapat mengikutsertakan komite madrasah, orangtua murid dan tokoh masyarakat. 2) Para guru menentukan unsur-unsur yang bersifat khas daerah setempat/ madrasah yang dapat dipadukan dalam pokok bahasan yang akan diajarkan. 3) Kepala madrasah mengkoordinasikan para guru untuk memasukkan unsur-unsur yang perlu dimasukkan dalam program

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

23

pendidikan ke dalam matapelajaran-matapelajaran, kelas, cawu dan waktu belajar.

c.

Pembelajaran Pelaksanaan kurikulum muatan lokal dimaksudkan sebagai aktualisasi

kurikulum muatan lokal tertulis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran di madrasah. Dalam garis besarnya pelaksanaan kurikulum muatan lokal mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi hasil belajar. (E. Mulyasa: 2004) a) Penentuan program pembelajaran Pengembangan program kurikulum muatan lokal di madrasah mencakup pengembangan program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial serta program bimbingan dan konseling. b) Pelaksanaan pembelajaran Dalam pembelajaran, tugas guru agar yang paling utama adalah tujuan mengkondisikan lingkungan menunjang tercapainya

kompetensi anak didik sebagaimana tertera dalam desain kurikulum muatan lokal. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal: yakni pre tes, proses, dan post tes (tes akhir). 1) Pre Tes Pre tes dalam pelaksanaan pembelajaran berfungsi sebagai berikut. ♦ Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

24

♦ Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. ♦ Untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran. ♦ Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai, tujuan-tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik, dan tujuan-tujuan mana yang harus mendapat penekanan dan perhatian khusus. 2) Proses Proses di sini dimaksudkan sebagai kegiatan dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan pembelajaran direalisasikan melalui modul. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Hal ini tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya. 3) Post tes Umumnya pelaksanaan pembelajaran kurikulum muatan lokal diakhiri dengan post tes. Post tes dalam pelaksanaan pembelajaran berfungsi sebagai berikut. ♦ Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok. ♦ Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

25

♦ Untuk mengetahui para peserta didik yang mengikuti kegiatan rimedeal, dan peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta tingkat kesulitan dalam mengerjakan modul (kesulitan belajar). 3. Evaluasi Pembelajaran Penilaian pembelajaran matapelajaran muatan local menggunakan standar penilaian yang ditetapkan oleh kurikulum 2004. Prinsip dasar penilaian tersebut berdasarkan Penilaian Berbasis Kelas. Penilaian Berrbasis Kelas merupakan kegiatan mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi yang ditetapkan. Penilaian Berbasis Kelas bersifat internal, yaitu hanya dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Penilaian tersebut juga merupakan bagian dari kegiatan belajar mengajar sebagai masukan bagi peningkatan mutu hasil belajar. Penilaian Berbasis Kelas memberikan kewenangan kepada madrasah untuk menentukan criteria keberhasilan, cara, dan jenis penilaian. Penilaian ini menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Berorientasi pada kompetensi Penilaian mengacu pada kompetensi yang dimuat dalam kurikulum. Semua kompetensi yang ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik mendapat peluang yang sama untuk dinilai b. Mengacu pada patokan Penilaian mengacu pada hasil belajar sebagai criteria ditetapkan (criterion reference assessment. Madrasah menetapkan criteria sesuai kondisi dan kebutuhannya.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

26

c. Ketuntasan belajar Pencapaian hasil belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadahi dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai prasarat penguasaan kompertensi lebih lanjut. Madrasah dapat menetapkan tingkat ketuntasan belajar sesuai kondisi dan kebutuhan. d. Menggunakan berbagai cara Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik. Tes maupun non tes digunakan untuk mengumpulkan informasi. e. Valid, adil, terbuka dan berkesinambungan Penilaian memberiakan informasi yang akurat tentang hasil belajar peserta didik, adil tyerhadap semua peserta didik, terbuka bagi semua pihak, dan dilaksanakan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tenatang perkembanagan belajar peserta didik sebagai hasil kegitan belajarnya Madrasah melaporkan hasil penilaian kepada peserta didik, orang tua, dan pihak-pihak yang berkepentingan. Laporan menggambarkan kemajuan dan hasil belajar pada kurun waktu tertentu. Isi laporan memuat deskripsi kemajuan dan hasil belajar secara utuh dan menyeluruh. Hasil penilaian dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memberikan umpan balik.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

27

BAB V EVALUASI DAN UMPAN BALIK

A. Evaluasi Evaluasi Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dilakukan secara berkala, sistematis, dan berjenjang yang dilakukan oleh tim pengembang kurikulum yang telah dibentuk oleh madrasah masing-masing. Evaluasi Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan kurikulum sesuai dengan dasar, fungsi, kebutuhan daerah/ madrasah dan kesesuaian dengan perkembangan masyarakat serta menunjang tujuan pendidikan nasional. Disamping itu evaluasi bertujuan untuk mengetahui kendala dan permasalahan dalam pelaksanaan kurikulum muatan lokal. Evaluasi dilaksanakan terhadap semua aspek dalam pengembangan kurikulum muatan lokal yang meliputi perencanaan, pelaksanaan serta hasil didikan (output). 1. Evaluasi Perencanaan : Evaluasi perencanaan mencakup evaluasi terhadap : a. Pemilihan substansi dan Isi Muatan Lokal b. Kurikulum matapelajaran muatan lokal Rumusan Standar Kompetensi (SK) Rumusan Kompetensi Dasar (KD) Rumusan Hasil Belajar Rumusan Indikator Hasil Belajar

c. Standar materi pokok d. Sistem pembelajaran e. Pengendalian mutu 2. Pelaksanaan Evaluasi terhadap pelaksanaan pengembangan kurikulum muatan lokal meliputi :

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

28

a. Silabus matapelajaran muatan lokal b. Pemilihan Bahan Ajar c. Pembelajaran d. Penilaian Hasil Belajar 3. Hasil Didikan Evaluasi pada hasil didikan dilakukan terhadap para lulusan (output) mencakup aspek: a. cognitive evaluasi ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta didik MI dan MTs. setelah mengikuti pembelajaran muatan lokal terhadap nilai-nilai substansi yang dikembangkan dalam kurikulum muatan lokal madrasah. b. psychomotic evaluasi ini untuk mengetahui kualitas, kuantitas serta intensitas ketrampilan penerapan terhadap nilai-nilai substansi yang kembangkan dalam kurikulum muatan lokal di MI/MTs. c. affective evaluasi ini untuk mengetahui kedalaman rasa memiliki (handarbeni) para peserta didik MI/MTs. terhadap nilai-nilai substansi yang dikembangkan dalam kurikulum muatan lokal madrasah. B. Umpan Balik Evaluasi Pengembangan kurikulum muatan lokal madrasah merupakan dasar dan pijakan bagi madrasah dan tim pengembang kurikulum muatan lokal untuk menyusun umpan balik. Umpan balik tersebut berupa rekomendasi yang meliputi kemungkinan adanya perubahan, perbaikan dan penguatan dari pengembangan kurikulum muatan lokal yang telah ditentukan.

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

29

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

30

Lampiran. CONTOH : FORMAT SILABUS DAN PENILAIAN Nama Madrasah Matapelajaran Kelas/ Semester : : :

Standar Kompetensi : Materi Pokok Dan Uraian Materi Pokok Strategi Pembelajaran Tatap Muka Pengalaman Belajar Jenis Tagihan Ulangan harian, dll Penilaian Bentuk Instrumen Pilihan Ganda, dll Contoh Instrumen Soal Alokasi Waktu Sumber/ Bahan

Kompetensi Dasar

Hasil Belajar Indikator

8 x 45 menit

Buku Bahasa Jawa

Ket : Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Hasil Belajar Materi Pokok Strrategi Pembelajaran 1. Tatap Muka 2. Pengalaman Belajar

: diambil dari kurikulum matapelajaran muatan lokal : diambil dari kurikulum matapelajaran muatan lokal : diambil dari kurikulum matapelajaran muatan lokal : diambil dari kurikulum matapelajaran muatan lokal : pengembangan oleh guru matapelajaran muatan lokal : pengembangan oleh guru matapelajaran muatan lokal berupa ceramah, diskusi, ujian block, kuis, dll berupa menggali informasi, mengolah informasi, membuat keputusan, dll

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

1

Pedoman Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->