From: Ummu Igen <[EMAIL PROTECTED]> >Date: Mon May 23, 2005 10:38 am >Subject: Tanya : Hukum Kuret >Assalamu'alaikum

wr.wb >Ahwan yang terhormat, >Saya ingin bertanya, tentang hukum Kuret ( membuang janin ) awal kuret >menurut pertimbangan dokter prosentase hidup / mati 30% / 70%. >sedangkan pada saat hamil masih menggunakan alat kontrasepsi ( spiral >). usia kandungan saat itu 2 minggu. dengan pertimbangan itu siibu >bersedia untuk dikuret. >Wallahu ya ikhwan, tolonglah ana dengan jawaban antum yang hakiki >Jazakallah khairan katsiran >Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, >============ >From: "ibnu nugroho" <[EMAIL PROTECTED]> >Date: Mon, 10 Jun 2002 11:06:04>+0700 >Assalamu'laikum Saya ada pertanyaan titipan nih. Bagaimana hukum kuret ?. >(membersihkan rahim karena ada virus, dll). >Boleh atau tidak? >Setelah dikuret (dan kemudian berdarah), samakah dengan nifas, bisakah >tetap shalat atau tidak? Pokoknya hal2 yang berhubungan dengan kuret ini, >adakah yang mengetahuinya? Atas bantuannya, saya ucapkan jazakumullah >khairan Kuret (pembersihan rahim) biasanya dilakukan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal yang dapat mengakibatkan infeksi di kemudian hari serta merusak kesuburan wanita itu nantinya. Kuret dilakukan apabila terjadi keguguran pada seorang wanita, sedangkan arti Keguguran adalah ; persalinan prematur janin sebelum si janin mampu hidup sendiri. Sebagian besar keguguran terjadi pada kehamilan dini, selama tiga bulan pertama. Ada yang malah terjadi sangat dini sehingga yang bersangkutan tidak mengetahui bahwa ia sedang mengandung. Salah satu tanda keguguran dalam masa tiga bulan pertama kehamilan biasanya adalah adanya sedikit perdarahan, seperti pada awal haid. Tanda tersebut akan berlangsung beberapa hari, bila perdarahan tersebut semakin hebat atau kejang yang hebat muncul, biasanya ini merupakan abortus yang tidak dapat dihindari. Terkadang keguguran muncul setelah tiga bulan pertama kehamilan, dan mungkin berlangsung secara tiba-tiba tanpa ada gejala perdarahan maupun rasa sakit yang hebat. Dalam masalah keguguran, para ulama telah banyak menjelaskan hukumhukumnya, dan insya Allah saya akan salinkan beberapa diantaranya yang diambil dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah (Fatwa-Fatwa Tentang Wanita). HUKUM DARAH YANG MENYERTAI KEGUGURAN PREMATUR SEBELUM SEMPURNANYA BENTUK JANIN DAN SETELAH SEMPURNANYA JANIN. Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Di antara para wanita hamil terkadang ada yang mengalami keguguran, ada yang janinnya telah sempurna bentuknya dan ada pula yang belum berbentuk, saya harap Anda dapat menerangkan tentang

Jika seorang wanita melahirkan janin yang telah berbentuk manusia. tidak ada batasan minimal pada masa nifas seorang wanita. Untuk itu wajib baginya melaksanakan shalat serta berpuasa di bulan Ramadhan dan dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya. yaitu tidak berpuasa. Sedangkan jika yang dilahirkan wanita itu janin yang belum berbentuk manusia melainkan segumpal daging saja yang tidak memiliki bentuk atau hanya segumpal darah saja. karena wanita yang seperti ini dikenakan hukum mustahadhah menurut para ulama. Dan jika terhentinya darah nifas itu diteruskan oleh mengalirnya darah haidh setelah empat puluh hari. dan hendaknya ia berwudhu setiap akan melaksanakan shalat serta mewaspadainya keluarnya darah dengan menggunakan kapas atau sejenisnya sebagaimana layaknya yang dilakukan wanita yang msutahadhah. jadi ia tetap diwajibkan untuk berpuasa. jika seorang wanita telah suci dengan tidak mengeluarkan darah setelah sepuluh hari dari kelahiran atau kurang dari sepuluh hari atau lebih dari sepuluh hari. maka pada saat itu wanita tersebut dikenakan hukum mustahadhah.shalat pada kedua kondisi ini ? Jawaban. yaitu hukum wanita yang mengeluarkan darah istihadhah. dan darah yang keluar setelah empat puluh hari ini adalah darah rusak (darah penyakit). dan diharamkan bagi suaminya menyetubuhinya pada masa itu. melaksanakan shalat hingga habis masa haidh itu. bukan hukum wanita yang sedang nifas dan juga bukan hukum wanita haidh. maka wanita itu dikenakan hukum haidh. yang mana saat itu ia 'mustahadhah' (mengeluarkan darah istihadhah) : "Berwudhulah engkau setiap kali waktu shalat". dan dibolehkan baginya untuk menjama' dua shalat. kakinya dan kepalanya. maka wajib baginya untuk mandi kemudian setelah itu ia dikenakan ketetapan hukum sebagaimana wanita suci lainnya sebagaimana disebutkan diatas. Syaikh Ibnu Baaz. sebab darah yang dikelurkan itu termasuk ke dalam katagori darah istihadhah. Dan disyariatkan pula baginya mandi untuk kedua gabungan shalat dan shalat Shubuh berdasarkan hadits Hammah bintu Zahsy yang menetapkan hal itu. yaitu tidak dibolehkan baginya berpuasa. dan jika ia telah mendapatkan kesuciannya dengan tidak mengeluarkan darah sebelum mencapai empat puluh hari maka wajib baginya untuk mandi kemudian shalat dan berpuasa jika di bulan Ramadhan dan bagi suaminya dibolehkan untuk menyetubuhinya. 2/75] . tidak melakukan shalat dan tidak dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya hingga ia menjadi suci atau mencapai empat puluh hari. berlaku baginya ketetapan-ketetapan hukum nifas. yaitu ada tangannya. yaitu Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya'. hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy. [Kitab Fatawa Ad-Da'wah. maka dia itu dalam keadaan nifas.

dan diperintahkan kepadanya untuk menulis empat hal. yaitu menuliskan rizkinya. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya. Kemudian apabila sesudah kelahiran ternyata tidak sesuai dengan kenyataan (bayi belum berbentuk manusia-pen) maka ia segera kembali mengerjakan kewajiban. maka ia tidak shalat dan puasa. “Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah. momen penting ini pun tak lepas dari perhatian syariat karena pada saat persalinan seorang wanita akan mengeluarkan darah nifas. Perlu ukhty ketahui bahwa waktu tersingkat janin berwujud manusia adalah delapan puluh hari dimulai dari hari pertama hamil. Selain itu. Oleh karena itu. amalnya. darah nifas termasuk jenis darah yang biasa terjadi pada wanita. Dan sebagian pendapat mengatakan sembilan puluh hari. bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada kami. Tetapi kalau ternyata demikian (bayi sudah berbentuk manusia-pen). kemudian menjadi ‘alaqah seperti itu pula. dan celaka atau bahagianya. Setelah momen ini. puasa dan ibadah lainnya. ajalnya. Abu Dawud dan Ahmad).” (HR. para muslimah hendaknya mengetahui hukum-hukum seputar darah nifas. Dan sebaik-baik pendidikan untuk anak adalah dengan pendidikan agama. atau disertai rasa sakit tapi tidak diikuti dengan proses kelahiran bayi. Baik darah itu keluar bersamaan ketika proses melahirkan. tetap berlaku hukum menurut kenyataan sehingga tidak perlu kembali mengerjakan kewajiban. Darah tersebut dihukumi sebagai darah penyakit (istihadhah) yang tidak menghalangi dari shalat. Di mana seorang wanita yang meninggal saat melahirkan bahkan termasuk golongan manusia yang mati syahid (HR. sesudah atau sebelum melahirkan. Jika darah yang keluar tidak disertai rasa sakit. kemudian menjadi mudhghah seperti itu pula. Karena momen ini merupakan bagian dari jihad teragung kaum wanita. Rasa sakit yang dimaksud adalah rasa sakit yang kemudian diikuti dengan kelahiran. dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang benar dan yang mendapat berita yang benar. seperti rasa sakit. yang disertai dengan dirasakannya tanda-tanda akan melahirkan. Ternyata. darah yang keluar dari rahim baru disebut dengan nifas jika wanita tersebut melahirkan bayi yang sudah berbentuk manusia. Apakah Darah Nifas itu?? Nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan. maka itu bukan darah nifas. Jika seorang wanita mengalami keguguran dan ketika dikeluarkan janinnya belum berwujud manusia. Sebagaimana haid dan istihadhah. maka tidak dianggap sebagai nifas. dll. maka darah yang keluar itu bukan darah nifas.” (kitab Syarhul Iqna’) Secara ringkas dapat disimpulkan beberapa hal untuk mengenali darah nifas: .Waktu persalinan adalah salah satu momen paling mendebarkan bagi seorang wanita. seorang wanita akan memulai babak baru kehidupannya menjadi seorang ibu yang mempunyai kewajiban mendidik buah hatinya. Bukhari dan Muslim) Menurut Ibnu Taimiyah. “Manakala seorang wanita mendapati darah yang disertai rasa sakit sebelum masa (minimal) itu. Namun jika sesudah masa minimal. Sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud sradhiyallahu ‘anhu .

bila berhentinya darah kurang dari sehari. Maka sang wanita harus mandi (bersuci). Disertai dengan tanda-tanda akan melahirkan (seperti rasa sakit. Darah nifas berhenti dilanjutkan keluarnya darah haid (berhentinya darah nifas bertepatan waktu haid). bersamaan atau sesudah melahirkan 2. maka tidak dihukumi suci. Menurut ulama yang berpendapat bahwa lama maksimal nifas adalah 40 hari. dll. sebelum atau sesudah melahirkan. seperti shalat dan puasa.” (HR. Darah terus keluar hingga melebihi waktu 40 hari. insyaa Allah. jika darah berhenti ia mandi (bersuci) untuk shalat dan puasa. maka sang wanita tetap meninggalkan shalat dan puasa. Darah yang keluar setelah 40 hari dihukumi sebagai darah haid. meskipun belum sempurna benar) Lama Keluarnya Darah Nifas Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyah lin Nisa mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang apakah nifas itu ada batas minimal dan maksimalnya. Hadits hasan shahih). Ibnu Majah dan Tirmidzi. Adapun Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi di dalam Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz mengatakan bahwa nifas ada batas maksimalnya. akan tetapi kemudian darah keluar lagi sebelum hari ke-40. Pendapat beliau berdasarkan hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. mereka menilai darah . 2. pada dasarnya tidak ada batasan minimal atau maksimal lama waktu nifas. 3. Ada beberapa kondisi: 1. Pendapat yang kuat. Waktu empat puluh hari adalah kebiasaan sebagian besar kaum wanita. Sang wanita baru wajib mandi (bersuci) setelah darah haid tidak keluar lagi. baik darahnya itu keluar bersamaan. Darah nifas terus keluar dan baru berhenti setelah hari ke-40. maka ia wajib mandi dan melakukan ibadah wajibnya lagi. 2. Mengenai banyaknya darah. Selama darah nifas masih keluar maka sang wanita belum wajib mandi (bersuci). ada beberapa kondisi wanita yang sedang nifas: 1.1. menilai darah yang keluar setelah 40 hari sebagai darah fasadh (penyakit) yang statusnya adalah sebagaimana istihadhah. 4. “Kaum wanita yang nifas tidak shalat pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama empat puluh hari. Secara ringkas. Maka. Jika darah keluar. juga tidak ada batasan sedikit atau banyaknya. yaitu empat puluh hari. ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Akan tetapi apabila sebelum empat puluh hari wanita tersebut telah suci. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata. ia harus meninggalkan shalat dan puasa. Darah tetap keluar setelah 40 hari dan tidak bertepatan dengan kebiasaan masa haid. dll) yang diikuti dengan proses kelahiran 3. Waktu empat puluh hari dihitung sejak keluarnya darah. Maka sang wanita wajib mandi (bersuci) dan kemudian melakukan ibadah wajibnya lagi. Darah nifas berhenti keluar sebelum 40 hari. Akan tetapi. Darah nifas berhenti keluar sebelum 40 hari dan tidak keluar lagi setelah itu. baik sebelum. Sedangkan menurut ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal dan maksimal lama nifas. Bayi yang dilahirkan/ dikeluarkan sudah berbentuk manusia (terdapat kepala. Nifas adalah darah yang keluar dari rahim disebabkan melahirkan. badan dan anggota tubuh lain seperti tangan dan kaki.

yang keluar setelah 40 hari tetap sebagai darah nifas. Sholat. bukan dengan nifas. (lihat sub judul “Hukum Suami yang Bercampur dengan Istri yang sedang Nifas”) Tidak bleh diceraikan. dan mereka tidak perlu menggantinya apabila suci. Hal-hal yang Diharamkan bagi Wanita yang Nifas Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang sedang nifas diharamkan melakukan apa saja yang diharamkan bagi wanita yang haid. maka itu yang dipakai. 3. sang wanita telah mengalami beberapa kali nifas yang lamanya 50 hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha.” (Muttafaq ‘alaih) Thawaf. yang dimaksud ‘quru‘ adalah haid. “Wanita-wanita yang dicerai hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’…” (Qs. Oleh karena itu. Wanita haid dan nifas diharamkan melakukan thawaf keliling ka’bah. Allah Ta’ala berfirman. Antara lain. Pendapat inilah yang lebih kuat. kecuali beberapa hal di bawah ini: 1. Wanita yang sedang nifas tidak boleh melakukan puasa wajib maupun sunnah. kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (Qs. ath-Thalaq: 1) Hukum-hukum Seputar Nifas Tidak ada perbedaan hukum antara haid dan nifas. Bukhari dan Muslim) Jima’.” (HR. baik yang wajib maupun sunnah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala. Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada 2 keadaan: • • Ada tanda bahwa darah akan berhenti/ makin sedikit. meski darah tetap keluar. Maka batasan ini yang dipakai. Iddah Apabila wanita tidak sedang hamil. “Hai Nabi. Diharamkan bagi suami menceraikan istrinya yang sedang haid atau nifas. baru kemudian mandi (bersuci) Ada kebiasaan dari kelahiran sebelumnya. Akan tetapi. hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah sampai kamu suci. “Ketika kami mengalami haid. insyaa Allah. Wanita yang haid dan nifas haram melakukan shalat fardhu maupun sunnah. jika ingin berhati-hati. 4. “Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji. insya Allah. 1. setelah 40 hari dinilai suci. Misal. 5. Akan tetapi ia wajib mengqadha puasa wajib yang ia tinggalkan pada masa nifas. masa iddah dihitung dengan haid. masa iddah dihitung . apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (dengan wajar). (Ibnu Hazm di dalam kitabnya alMuhalla) Puasa. Maka sang wanita menunggu darah berhenti keluar. dan inilah pendapat yang lebih kuat. al-Baqarah: 228) Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Sehingga sang wanita bersuci untuk melaksanakan shalat dan puasa. dan tidah sah thawafnya. 2. yang artinya.

Sikap Utsman tersebut mungkin timbul karena kehati-hatiannya. Masa haid termasuk hitungan masa ila’. Rasulullah bersabda. sedangkan istrinya sedang dalam keadaan nifas. Riwayat yang ada hanyalah dari Imam Ahmad dari Utsman bin Abu Al-Ash bahwa istrinya datang kepadanya sebelum empat puluh hari. “Mereka bertanya kepadamu tentang wanita haid. maka katakanlah. bila sang istri meminta untuk berhubungan. maka masa iddahnya adalah sampai sang istri mendapat 3 kali haid. bukan karena nifas. Ibnu Majah 1:210 no:640. maka sang suami harus memilih antara jima’ atau bercerai. Masa Ila’ Ila’ adalah sumpah seorang laki-laki untuk tidak melakukan jima’ terhadap istrinya selamanya atau lebih dari empat bulan. insya Allah. al-Baqarah: 222) Seorang suami boleh sekedar bercumbu dengan istri yang sedang nifas asal tidak sampai jima’. maka janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci. lalu ia berkata. para ulama berselisih pendapat apakah wajib membayar kaffarah (denda) ataukah tidak (Lihat al-Mughni oleh Imam Ibnu Qudamah rahimahullah). “Jangan engkau dekati aku!” Akan tetapi.” (Shahih Ibnu Majah no:523. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani) Adapun apabila seorang wanita telah suci dari nifas sebelum 40 hari. Pendapat yang lebih kuat. bukan nifas. “Menggauli wanita nifas sama halnya dengan wanita haid. 2. bila sang istri meminta untuk melakukan jima’. Hukum Suami yang Bercampur dengan Istri yang sedang Nifas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata. yaitu khawatir istrinya belum suci benar. Nasa’ai I:153. atau takut dapat mengakibatkan pendarahan disebabkan senggama atau hal lain. Karena tidak ada dalil syar’i yang melarangnya.berdasarkan haid. ucapan Utsman tersebut bukan berarti seorang suami terlarang menggauli istrinya. Setelah masa empat bulan. sedangkan masa nifas tidak. Adapun jika suami menceraikan istrinya setelah melahirkan. Dan inilah pendapat yang kuat. wajib membayar kaffarah.” (Lihat Majmu’ Fatawa) Allah Ta’ala berfirman. Akan tetapi bila sampai terjadi jima’. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . ‘Aunul Ma’bud 1:445 no:261. “Hendaklah ia bershadaqah satu dinar atau separuh dinar. bukan nifas. ketika berbicara tentang seorang suami yang mencampuri istrinya di waktu haid. Jadi. 3. Balighnya seorang wanita dihitung dari saat haid pertama kali. jika suami menceraikan istrinya sebelum melahirkan. apabila seorang suami bersumpah untuk tidak berjima’ dengan istrinya. masa iddahnya habis karena melahirkan. maka masa ila’ ditetapkan empat bulan ditambah masa nifas. hukumnya haram menurut kesepakatan ulama. sang suami harus memilih apakah jima’ atau bercerai. kebanyakan ulama berpendapat bahwa suami tidak dilarang untuk menggaulinya. (Lihat al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz) . Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas sradhiyallahu ‘anhu . Setelah masa itu. yang artinya.” (Qs. Sebab. “Bahwa haid adalah suatu kotoran.

maka hendaklah memastikan dahulu. atau sedang menjalani terapi tertentu. tahun 2004 . Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin (penerbit Darul Haq) Catatan Daurah Muslimah “Darah Kebiasaan Wanita” oleh ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar. Apakah kondisi sang istri telah normal dan benar-benar pulih secara medis sehingga bisa dicampuri oleh suaminya. terjadi perdarahan. hendaklah berkonsultasi dengan dokter. Karena dalam hal ini kondisi setiap wanita berbeda-beda.). Tidak selayaknya seorang muslim melakukan hal yang berbahaya dan membahayakan orang lain. tahun 2007 Catatan Kajian Al Wajiz oleh ustadz Muslam.Karena itu. apakah sang istri benar-benar telah suci dari darah nifasnya. apabila pada diri seorang suami atau istri timbul keragu-raguan. Karena secara medis. Maraaji’ : Al Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz (Terj. Apabila masih ragu. Wallahu Ta’ala a’lam. kecuali bila saat itu sang istri langsung mengalami haid. Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi (Pustaka As Sunnah) Darah Kebiasaan Wanita (terjemahan Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyah lin Nisa). jima’ aman dilakukan bila sang istri telah melewati masa nifas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful