P. 1
Posisi dan Fungsi Al Qur-an dalam Islam

Posisi dan Fungsi Al Qur-an dalam Islam

|Views: 392|Likes:
Published by La Ode Rinaldi
Blok 7
Al Islam dan Kemuhammadiyahan
Drs. Danusiri, MAg
Blok 7
Al Islam dan Kemuhammadiyahan
Drs. Danusiri, MAg

More info:

Published by: La Ode Rinaldi on Nov 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

B.7 p.

1 Kedokteran Posisi dan Fungsi Alquran Dalam Islam TIU: Setelah mengikuti Pembekalan materi ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan posisi dan fungsi Alquran dalam dunia Islam TIK: 1. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi Alquran sebagai petujuk kehidupan, rahmatan lil ‘alamin, penjelas segala sesuatu, dan tak ada sesuatu pun di dunia ini yang luput dari perhatian Islam. 2. Mahasiswa dapat membaca ayat-ayat yang menjadi refernsi dalam pebekalan 3. Mahasiswa dapat mengerti dan menjelaskan terjemah dari ayat-ayat yang menjadi referensi tersebut. 4. Mahasiswa dapat menghipotesiskan bahwa Alquran maupun as-Sunnah juga menjelaskan tentang penyakit, pengobatan, dan cara-cara penyembuhan dari sakit 1. Posisi Alquran - Alquran merupakan Kitab suci Dalam Islam. - Alquran adalah kalamullah, yang diturunkan kepada Rasul Utusannya, Muhammad Saw melalui perantara Malaikat Jibril untuk pedoman hidup bagi manusia secara umum, khusnya bagi orang beriman agar kehidupan mereka memperoleh kebenaran dan kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. - Kitab suci Alquran bagi kaum muslimin merupakan salah satu rukun Iman. Pengertian rukun adalah sesuatu yang harus ada, tidak boleh tidak ada, kalau tidak ada (mengimani Alquran), seseorang tidak lagi disebut sebagai seorang beriman. - Dengan demikian, bagi setiap muslim harus beriman terhadap Alquran sebagai kitab suci. 2. Kandungan Naskah Alquran Alquran terdiri atas 30 Juz (bagian). Tiap juz terdiri atas (yang standar) 9 lembar, setiap lembar terdiri atas 2 halaman, tiap halaman terdiri atas sejumlah ayat. Tiap ayat terdiri atas sejumlah kalam (dalam bahasa Indonesia kalimat), tiap kalimat mengandung sejumlah informasi, setiap informasi mengandung sejumlah pemahaman oleh manusia, setiap pemahaman mengandung sejumlah petunjuk, setiap petunjuk menuntut untuk diamalkan dalam perbuatan kongkrit.

1

Pertanyaan reflektif : mengukur kualitas keberagamaan setiap muslim a. Seberapa banyak kita tahu informasi dan petunjuk dari Alquran ? b. Seberapa banyak yang kita tahu dari Alquran dan telah menjadi habitat kita dalam pelaksanaannya ? c. Seberapa banyak yang kita tahu tetapi belum konsisten melaksanakannya ? d. Seberapa banyak kita tahu petunjuk dari Alquran tetapi belum melaksanakannya ? e. Mengapa aku baru tahu ( sedikit ?) petunjuk dari Alquran ? f. Mengapa (belum banyak ?) petunjuk Alquran yang telah menjadi habitat bagi ku ?

g. Bagaimana ke depan sikap ku terhadap Alquran sebagai petunjuk hidup secara komrehensif ? 5. Fungsi Alquran a. Alquran sebagai Rahmat bagi Alam Semesta Surat al-Ambiya’ ayat 107 menyebutkan sebagai berikut:                  107. Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Pengertian rahmat adalah kasih sayang. Orang yang memperoleh kasih sayang akan mendapat kebahagiaan. Tebaran kebahagiaan yang dipromosikan oleh Alquran berlaku bagi seluruh alam semesta. Rincian tebaran rahmat Islam sebagaimana dijelaskan oleh Alquran berlaku bagi seluruh alam semesta mencakup: Kasih sayang secara fisik dan spiritual bagi individu, individu dalam hubungannya dengan sosial, individu dan sosial dalam kehidupannya di dunia, maupun seluruh makhluk di akhirat kelak. Hanya saja khusus di akhirat kelak berlaku bagi yang mengimani dan melaksanakan ajaran Alquran, inklusif asSunnah as-Shahihah al-maqbulah, al-ma’mulah (hadis sahih, yang dapat diterima sebagai pedoman hidup, dan yang dapat diapresiasikan dalam perbuatan praksis)

2

b. Alquran sebagai penjelas segala sesuatu Alquran Surat an-Nakhl ayat 89 menyebutkan sebagai berikut:                                                                     89. (dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Salah satu esensi kandungan ayat tersebut adalah, Alquran itu menjelaskan seluruh hal, bukan saja hanya bagi kehidupan manusia, melainkan juga realitas. Alquran mempertegas dalam surat al-Kahfi ayat 109 sebagai berikut:                                109. Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

Maksudnya pentunjuk-petnjuk Alquran itu jika diinfentarisir dalam daftar dengan menggunakan daun di bumi ini dan air lautan itu untuk tinta, lalu tinta itu habis, kemudian dibuat tinta lagi seukuran itu dan berkali-kali, daftar petunjuk itu belum cukup dibuat tinta sudah habis.

3

Mungkin saudara menanggapinya ngoyoworo, tetapi perhatikan penyataan ini “setiap hari, wanita rata-rata menyusun 75.000 kalimat dan mayoritasnya tak terucapkan. Sementara itu laki-laki, setiap hari menyusun 65.000 kalimat (Bambang Nugroho, 2009: 5). Jika wanita sanggup berumur 80 tahun betapa banyak pernyataan yang ia buat. Jika pernyataan-pernyataan itu mayoritas menyimpang dari syariah, tentu akan berakibat tidak baik di kehidupan kelak. Jika energi manusia untuk menyelami kandungan ajaran Alquran oleh manusia dari generasi ke generasi yang bertebaran di muka bumi ini, lalu hasil pemahamannya dibukukan, akan membutuhkan berapa trilyun-trilyun lembar kertas ? c. Tidak ada gejala apa pun di dunia ini yang dialpakan oleh Alquran Alquran Surat al-An’am ayat 38 menyebutkan sebagai berikut:                                               38. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472], Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. [472] sebahagian Mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan AlQuran dengan arti: dalam Al-Quran itu Telah ada pokokpokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmahhikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.

4

Salah satu kandungan esensial dari ayat tersebut adalah semua gejala kehidupan di dunia bagi manusia ini diatur oleh Alquran. Dalam kehidupan manusia, kapan pun, di mana pun, sedang apa pun tetap diatur oleh syariat Islam, Jadi tidak ada kawasan netral agama, dan tidak mengenal dikhotomi sakral (suci) dan profan (kehidupan duniawi belaka) sebagaimana yang dikonsepsikan dalam agama non Islam. Demikian juga ketetapan hukum mubah dalam Islam perlu dipertanyakan kembali. Menurut para pakar fikih, Mubah adalah kawasan netral, tak berpahala dan tak berdosa, jadi berada di kawasan luar agama. Implikasinya rata-rata kebanyakan manusia setiap harinya berada di kawasan liar dari agama. Tentu ini tidak benar. Jika ditinjau dari segi waktu, setiap detik ada aturan yang harus diindahkan oleh setiap muslim. Beragama harus non stop 24 jam sehari semalam, atau beragama Islam secara kaffah. Jika ditinjau dari segi posisi tubuh, dalam sehari semalam posisi tubuh manusia hanya berada dalam tiga posisi: berdiri, duduk, dan rebah tubuh. Dalam ketiga posisi diatur ketat harus dalam koridor syar’i. Jika ditinjau sebagai makhluk yang bermobilitas, setiap muslim harus tetap bersyariah sejak dari tempat yang paling suci (masjid) hingga tempat yang paling dianggap kotor (wc). Ruang rentang antara masjid dan wc begitu banyak yang secra kuantitas tidak terbatas, bisa halaman masjid, halaman rumah, kamar tamu, kamar tidur, ruang makan, dapur, alun-alun, pasar, mall, pantai, gunung, tengah hutan, tengah laut, tengah padang sahara, ruang pertunjukan, ruang kegiatan ilmiah, ruang kegiatan ekonmi, ruang kegiatan hiburan, bahkan di ruang angkasa dst-dst. Koredor syar’i harus tetap lekat bagi setiap muslim. d. Pernyataan Alquran Islam sebagai agama yang sempurna. Alquran Surat al-Maidah ayat 3 menyebutkan sebagai berikut:          5

                                                                                             3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[397] orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [394] ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.

6

[395] maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati. [396] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi. [397] yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh nabi Muhammad s.a.w. [398] Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat Ini jika terpaksa. Salah satu kandungan esensial dari ayat tersebut adalah pernyataan Islam itu sebagai agama yang sempurna. Jadi tidak perlu mencari agama lain di luar Islam. Memeluk agama di luar Islam justru akan tertolak sama sekali. Demikian firman Allah: (Q.S. Ali Imran/3 : 85)                   85. Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. e. Alquran sebagai jaminan kebenaran Berpedoman kepada Alquran dijamin tidak pernah akan tersesat, sebaliknya berpedoman kepada yang selain Alquran belum ada jaminan kebenarannya, bisa-bisa 7

malah menyesatkan. Demikian sabda Nabi ketika beliau berpidato dalam haji wada’ (haji perpisahan, tak lama setelah itu beliau wafat) “Taraktu fiikum amraini. Lantadhilluu abadaa maa intamassaktum bihimaa, kitaaballlaahi wa sunnata Rasuulihi” (Aku tinggalkan untuk kamu semua, yang kamu tidak pernah akan tersesat selamanya selagi kamu berpegang keduanya, yaitu kitabullah (Alquran) dan Sunnah-sunnah UtusanNya – Al-Hadis. 6. Hipotesis Jika Alquran menyatakan bahwa segala sesuatu telah dijelaskan, tidak ada aspek kehidupan apapun yang dibiarkan berada di luar kawasan Islam, bahwa Islam sebagai agama yang sempurna, agama di luar Islam pasti tertolak, dan ada jaminan kebenaran berpedoman dari Alquran, maka Alquran pasti juga mengandung ajaran tentang penyembuhan dari sakit, ajaran itu pasti sempurna dalam arti tuntas, dan dijamin benar tidak pernah salah. Implikasi Dokter muslim harus berpedoman kepada Alquran dan asSunnah dalam menjalani profesinya secara komplit. Wallaahu a’lamu bi ash-shawab. 7. Penutup Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua, amin yaa Rabbal’aalamiin. Semarang akhir sept 2009

B1.p1 kep S1 Konsep Agama dan Dimensi KehidupanBeragama TIU: Setelah mengikuti pembelajaran bab ini Mahasiswa dihrapkan mampu menjelaskan pengertitian agaa dan dimensi kehidupan beragama.

8

TIK: 1. Mahasiswa dapat menjelaskan konsep agama secara umum dan agama Islam 2. Mahasiswa dapat menbedakan pengertian agama dan beragama 3. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian Dimensi dan dimensi agama Islam 1. Konsep Agama Kata ‘agama’ berasal dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali dari India, ‘a’ yang berarti ‘tidak’ dan ‘gama’ berarti ‘kacau’. Dalam pengucapan bahasa Melayu bisa diucapkan ‘igama’ dan ‘ugama’, artinya sama saja, yaitu tidak kacau. Yang dimaksudkan tidak kacau adalah - tidak kacau dengan dirinya sendiri antara lahir dan batin - tidak kacau antara seorang dengan orang lain (individu – sosial) - tidak kacau antara manusia dengan benda-benda (minerologi) - tidak kacau dengan dunia tetumbuhan - tidak kacau dengan dunia binatang - tidakkacau dengan alam semesta - tidak kacau denganlehidupansesudah mati Kalau masih ada kekacauan berarti belum atau tidak beragama. Yang dimaksud kacau adalah tidak ada, keserasian, kerukunan, dan kedamaian. Padanan kata ‘agama dalam bahsa Arab adalah asy-Syari’ah, ath-Thariqah, ash-Shirath, al-millah, dan ad-Din. Arti asal kata asy-syari’ah adalah ‘jalan’ atau jalan menuju sumber mata air. Kemudian, yang dimaksudkan mata air adalah kehidupan sebenarnya. Air merupakan jaminan kehidupan. Kata ath-thariqah adalah padanan dari kata ‘asy-syari’ah’. Hanya saja, dalam praktiknya kata ath-thariqah menunjuk jalan yang lebih khusus yaitu jalan yang ditempuh orang-orang yang hendak berhubungan dengan Tuhan yang disadari atau ingin berada di dekat Tuhan sedekat-dekatnya dalam keadaan sadar. Arti kata ‘al-millah juga berarti agama atau asy-syari’ah, tetapi kata ini lebih menunjuk kepada sikap mental ‘ingin selalu atau cenderung terhadap sesuatu, kaitannya dengan agama sebagai sumber ajaran.

9

Arti kata ‘ad-din’ adalah ‘wadl’un ilaahiyyun saaiqun lidzaawil ‘uquuli li sa’adati ad-daraini’ (pranata atau undang-undang ketuhanan yang disampaikan kepada manusia yang berakal sehat untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat). Di dalam Islam, wujud undang-undang itu adalah wahyu atau kalamullah yang kemudian dikodifikasikan dalam bentuk naskah ‘al-Qur’aanulkariim’. Termasuk wahyu adalah hadis Nabi yang shohih. Atas dasar firman Allah dalam Q.S. an-Najm/53 : 3-4). Dengan demikian, yang dimaksud agama dalam Islam adalah Alquran dan as-sunnah itu sendiri. Pelaksana undang-undang, dalam hal ini manusia, disebut beragama. 2. Perbedaan antara Agama dan Beragama Antara agama dan beragama dapat dibedakan, meskipun tidak bisa dipisahkan. Dilihat dari aspek kebenaran, agama bersifat mutlak dalam arti tidak boleh diubah dan memang tidak berubah sepanjang zaman. Sekali undang-undang menyatakan ‘Qul Huwallaahu Ahad’ akan begitu terus tidak boleh diubah upama ‘Qul Huwa-llaahu alwaahid’. Secara prinsip kata ahad (Esa,satu) semakna dengan kata ‘wahid (yang pertama, yang Esa). Karena mutlak sifat kebenrannya, agama, maka kebenrana itu tidak perlu diuji (untestable trust) dipercayai atas dasar iman. Yang dimaksud ‘iman’ adalah percaya secara penuh, tidak tercampur oleh keraguan, tidak mempertanyakannya, dan tidak menentang. ‘Beragama’, dilihat dari sifat kebenrannya adalah relatif oleh banyak faktor, terkadang subjektif, dan karenanya, bisa berubah, boleh berubah, kadang-kadang harus diubah sejauh tidak menghilangkan esensi setelah ada perubahan dari yang sebelumnya. Pada Zaman Nabi, umpamanya, untuk memperoleh kualitas gigi bersih cukup digosok dengan kayu siwak atau kayu araq. Sekarang, untuk memperoleh kualitas gigi bersih harus disikat dengan sikat gigi, menggunakan odol, dan berkumur penghilang bau tak sedap dalam mulut. ‘Teknik’ yang berlaku pada zaman dalam kasus membersihkan gigi zaman sekarang tidakdikenalpada zaman Nabi saw, dengan demikian ada perubahan metodis, dan ini adalah benar sepenuhnya. Oleh karenakebenaran beragama bersifat relatif, biasa terjadi perbedaan praktik keberagamaan antara daerah satu dengan daerah yang lain. Paham resmi Muhamadiyah tidak mengenal praktik upacara tahlilan, shalawat nariyahan, takhtiman al-Qur’an, istighasahan, manaqiban, dan upacara-upacara peringatan kematian (empatpuluhan, seratusan, seribuan, dan khaul), semua ini menjadi tradisi yang amat subur bagi NU. ‘Khuruj’ bagi Jahulak atau jamaah tabligh, tidak dilaksanakan oleh NU maupun

10

Muhammadiyah. Perbedaan praktik keberagamaan ini dapat disatukan dalam konsep yang lebih makro ‘beribadah’ Implikasi perbedaan praktik keberagamaan dapat diambil dari segi positifnya, yaitu pola keberagamaan yang bersifat moderat dan tolerans. Masing-masing golongan hendaklah memberi peluang pemikiran ‘mungkin dalam praktik keberagamaan di luar golongannya ada kebenarannya dan di dalam golongannya ada kemungkinan salah. Selanjutnya akan menimbulkan sifat hati-hati menyikapi praktik keberagaman orang atau golongan lain. Sebenarnya, praktik keberagamaan umat Islam Nyaris berbeda dalam semua hal, kecuali dalam tiga perkara saja, yaitu: (1)Yang dipertuhan adalah Allah swt, (2) Kitab sucinya al-Qur’an, dan (3) Nabinya Muhammad saw binAbdullah . Karena sifat kebenaran beragama relatif, maka kebenarannya juga bersifat testable trust (kebenaran yang perlu diuji). Standart pengujiannya adalah melalui al-Qur’an dan as-sunnah shohihah dengan pemahaman yang benar, tepat, dan tidak tercampuri oleh kepentingan pribadi atau kelompok. 3. Dimensi Beragama Kata ‘dimensi’ berarti ukuran (panjang, lebar, tinggi, luas) atau matra. Dengan demikian, yang dimaksud Dimensi beragama mencakup luas jangkauan beragama, dalam hal ini beragama Islam. Jangkauan beragama Islam seluas jangkauan agama Islam itu sendiri, yaitu: a. Islam menjadi rahmat bagialam semesta.Dalam hal ini Allah swt. Berfirman: Wamaa Arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin (tidaklah Ku utus engkau Muhammad kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta, Q.S. al-Anbiya’/21 : 107). Kata rahmat berarti kasih sayang. Orang atau apa saja yang memperoleh rahmat akan menjadi senang dan bahagia, dan cakupan alam semesta dapat digambarkan sebagai berikut: Di alam semesta ini terdapat benda-benda angkasa dan ruang antar benda. Matahari berjumlah satu milyard. Setiap matahari rata-rata memilki satelit 400.000 benda angkasa. Bumi hanyalah satu di antara satelit matahari. Selain itu masih ada bayi matahari yang disebut sop cosmos (sop [sayur] alam semesta) yang luas danpanasnya tak terukur oleh kepandaian manusia. Wujud sop kosmos adalah zat alir yang darinya secara evolusi bermilyard-milyard tahun cahaya akan melahirkan mataharimatahari baru. b. Dalam cakupan yang demikian luas itu, semua ada penjelasannya. Dalam hal ini Allah berfirman: Wanazzalnaa

11

‘alaika al-kitaaba tibyaanan likulli syaiin (Dan Kami turunkan kepadamu Muhammad al-Kitab [al-Qur’an] sebagai penjelas terhadap segala sesuatu, Q.S. an-Nahl/16 : 89). Dalam bahsa yang lain, Allah berfirman: “Maa farrathnaa filkitaabi min syaiin(tidak Kami alpakan dalam Kitab itu segala sesuatu, Q.S. alAn’am/6 : 38). Artinya segala sesuatu di alam semesta ini diatur oleh Islam. Seandainya semua aturan Tuhan itu ditulis dalam lembaran-lembaran kertas, semua air laut dan dedaunan di bumi dibuat tinta untuk menuliskannya, tinta itu sudah habis lalu membuat tinta lagi seukuran yang pertama, tentu aturan itu belum selesai ditulis. Demikian antara lainfirman Allah”Qul laukaana al-bahru midaadan likalimaatillaahi lanafidza al-bahru qabla antnfadza kalimaatu Rabbii wlau ji’naa bimitslihii madadaa ( Katakan olehmu hai Muhammad, seandainya lautan itu dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat Tuhanku pastilah habis sebelum kalimat Tuhanku selesai ditulis, meskipun didatangkan lautan lagi sebanyak itu, Q.S. al-Kahfi/18 : 108). Dalam khusus kehidupan manusia, dimensi beragama mencakup a. dunia batin atau dunia dalam (inner world) mencakup kepercayaan, rasa, dan pemikiran) dan dapat dirumuskan dalam bahasa yang singkat dan padat tasdiiqun bilqalbi (membenarkan dalam hati); dan unia lahir (outer world) mencakup pernyataan secara lisan dalam bentuk komitmen (iqraarun bilisan) dan wa’amalun bil arkan atau biljawaarih ysitu perbuatan dengan anggota badan dalam totalitas kehidupannya. Ada Pola lain mengenai dimensi beragama dalam kehidupan manusia, yaitu ibadah dan muamalah. Yang dimaksudkan ibadah adalah upacara-upacara keagamaan (thaharah, syahadad, salat, shaum, zakat, haji, mengurus jenazah, ‘aqiqah, udhiyyah, doa, dan zikir). Yang dimaksud muamalah adalah hubungan antar manusia. Dalam keseluruhan pelaksanaan antara ibadah dan muamalah ini ada hubungan timbal-balik dan saling merasuki. Setiap melaksanakan ibadah selalu ada kandungan muamalahnya, dan setiap melaksanakan muamalah selalu ada kandungan ibadahnya. Inilah yang dimaksud bahwa diciptakan manusia dan jin untuk mengabdi kepada Allah (Wamaa khalaqtu aljinna wa al-insa illaa liya’buduuni – Q.S. az-Zariayat :56). Contoh: ketika melaksanakan salat (ibadah) ada unsur salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, maksudnya supaya memperhatikan keadaan teman sejawatnya ada kesulitan atau tidak dan jika ada supaya dibantu dalam megatasi

12

kesulitan. Ketika sedang melaksanakan kerja bakti membersihkan got diniati ibadah untuk membersihkan lingkungan. Dalam hal ini Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri (tubuh, jiwa, lingkungan diri – Inn-llaaha yuhibbuat-tawwaabiina wa yuhibbu al-mutathahhiriin – Q.S. al-Baqarah/2 : 222) b. Hubungan antara manusia dengan manusia lain (individu – sosial atau sebaliknya, sosial terhadap individu). dan individu atau manusia pada umumnya dengan alam semesta. Alam semesta mencakup: (1) minerologi atau jamadaad (bendabenda statis seperti: batu, air,barang tambang dll), (2) tetumbuhan (nabataat), dsm dunia binatang (hayamanaat). c. Kehidupan dunia-akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman: “Rabbanaa Aatinaa fiad-dunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannraar (Ya Than kami, anugerahilah kami kebahagiaan duniadan akhirat, Q.S.alBaqarah/2 : 201). 4. Mahmud Syaltut Mahmut Syaltut menjelaskan bahwa dimensi beragama atau tepatnya agama Islam ada dua macam, yaitu aqidah dan syariah. Aqidah adalah dimensi keyakinan dan syariah adalah pelaksanaan terhadap apa yang diyakini. 5. Harun Nasution Harun Nasution menjelaskan Islam mengandung banyak aspek kehidupan antara lain di samping aspek teologi juga mengandung aspek: sejarah, politik, hukum, sosial dan lain-lain. 6. Para Orientalis dan Islamis yang anti Islam pun mengakui bahwa dimensi Islam amat luas. H.A.R. Gibb menyatakan:”Islam a much more than a syistem of theology. It is a complite civilization ( Islam adalah sebuah sistem yang lebih dari sekedar teologi. Islam merupakan sistem peradaban secara komplit). Peradaban mencakup:ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kindahan, ekonomi, politi, sosial kemasyarakatan dan lain-lian. 7. Penutup Keluasan matra atau dimensi Islam tidak dimiliki oleh agama lain. Karena itu, kita yang telah berada di panggkuan Islam ini hendaklah lebih yakin dan lebih giat lagi dalam melaksanakan agama dan menjadi kaum beragama semaksimal yang dapat kita wujudkan.

Penulis,

13

D a n u s i r i.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->