P. 1
Mentari Vol 12 No 1 Januari 2009

Mentari Vol 12 No 1 Januari 2009

|Views: 827|Likes:
Published by lppmp

More info:

Published by: lppmp on Nov 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2013

pdf

text

original

ISSN 1411-2620

MAJALAH ILMIAH ILMU-ILMU HUMANIORA MENTARI

DAFTAR ISI Peningkatan Kemampuan Motorik Melalui Permainan Rakyat, 1-12 Razali Siswi Sekolah Dasar

Invasi Akasia Berduri (Acacia nilotica) (L.) Willd ex Del. di Taman Nasional Baluran Jawa Timur dan Strategi Penanganannya, 13-38
Djufri

Perencanaan Pembelajaran, 39-56 Ramli Strategi Dakwah Bagi Masyarakat Gampong, 57-67 Maimun Yusuf Etos Kerja dalam Perspektif Islam, 68-84 Tarmizi Gadeng Peranan Kampus & Mahasiswa Aceh dalam Mewujudkan Generasi Muda Aceh Bebas Narkoba, 85-99 Rusnaidi Narkoba dalam Pandangan Syariat Islam, 100-113 Saidi Kedudukan Syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam Sistem Hukum Nasional, 114-138 Mohammad Irham Filsafat Hukum Ketatanegaraan dalam Perspektif Islam, 139-166 Said Mahyiddim

Minority Recruitment, 167-178 Sayed Mahdi Studi Islam Komprehensif, 179-190 Zul Azimi

Razali, Peningkatan Kemampuan Motorik Siswi

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK SISWI SEKOLAH DASAR MELALUI PERMAINAN RAKYAT oleh Razali Dosen FKIP Unsyiah, Darussalam, Kuala, Banda Aceh

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajarkan dengan metode pembelajaran keseluruhan dan metode pembelajaran bagian. Disamping itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajarkan dengan permainan awo dan permainan auh-auh. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Metode penelitian adalah eksperimen dengan rancangan desain faktorial 2 x 2. Jumlah sampel penelitian sebanyak 40 orang yang diambil secara random, yang terbagi dalam empat kelompok, setiap kelompok terdiri 10 orang siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis Variansi (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pengaruh tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajarkan dengan metode pembelajaran keseluruhan dan metode pembelajaran bagian, (2) terdapat perbedaan pengaruh tingkat kemampuan motorik yang signifikan antara antara kelompok siswi yang diajarkan dengan permainan awo dan permainan auh-auh, tingkat kemampuan motorik kelompok siswi yang diajar dengan permainan awo lebih tinggi dibandingkan yang dengan permainan auh-auh, dan (3) terdapat pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan jenis permainan terhadap tingkat kemampuan motorik. Permainan awo lebih efektif diajarkan dengan metode pembelajaran bagian, sedangkan permainan auh-auh lebih efektif diajarkan dengan metode keseluruhan. Kata kunci: kemampuan motorik, metode keseluruhan, metode bagian, permainan awo dan permainan auh-auh

1

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 1-12

PENDAHULUAN Setiap bangsa memiliki corak kebudayaan yang khas. Demikian pula bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa, memiliki bermacam-macam corak kebudayaan yang khas di setiap daerah. Dari sekian banyak corak kebudayaan yang khas, terdapatlah kebudayaan yang berasal dari Propinsi Aceh. Salah satu bentuk kebudayaan tersebut adalah permainan rakyat. Permainan rakyat yang terdapat di daerah Aceh merupakan khasanah budaya yang telah ada dan diterima dari generasi sebelumnya. Permainan rakyat ini dapat dijadikan salah satu sarana untuk sosialisasi antar anggota masyarakat. Oleh karena itu, permainan rakyat mempunyai arti dan kedudukan tersendiri dalam masyarakat Aceh. Permainan rakyat sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional dapat memberikan andil dalam memupuk dan mengembangkan kebudayaan nasional di kalangan generasi penerus. Oleh karena itu, perlu digali kembali dan dikembangkan agar tidak punah. Untuk menjaga kelestarian permainan rakyat yang ada di Provinsi Aceh, perlu diadakan penelitian tentang permainan rakyat Aceh karena: (1) di antara beberapa jenis permainan di daerah Aceh perkembangan telah agak merosot dan bahkan hampir punah dan (2) sangat bermanfaat sebagai bahan perbandingan dengan jenis permainan rakyat yang terdapat di daerah lain. Di daerah Aceh terdapat beberapa bentuk permainan rakyat yang dulu sering dimainkan oleh masyarakat, permainan tersebut antara lain permainan awo, king-kingkingan, somsom bate, pet-pet, dan auh-auh. Permainan awo dan permainan auh-auh merupakan jenis permainan tradisional rakyat Aceh yang dapat digunakan sebagai pilihan untuk dapat meningkatkan kebugaran jasmani dan kemampuan motorik siswa, khususnya siswa sekolah dasar. Dulu, permainan awo dan permainan auh-auh banyak di mainkan anak-anak. Selain bentuknya menyenangkan berupa permainan, tetapi juga banyak tantangan karena melibatkan dan menuntut gerak fisik yang sangat variariatif seperti gerakan berlari, memukul bola, berlari, menangkap bola, melempar bola atau melempar sasaran, dan melompat. Keterampilan-keterampilan tersebut banyak melibatkan otot-otot besar (gross motor activity). Ateng (1992:75) menyatakan aktivitas yang dilakukan anak dengan melibatkan otot-otot besar merupakan hal yang sangat penting untuk pertumbuhan yang baik bagi anak-anak. Permainan awo dan permainan auh-auh adalah

2

Razali, Peningkatan Kemampuan Motorik Siswi

permainan yang dimainkan dengan menggunakan bola yang terbuat dari daun kelapa yang dalam bahasa Aceh disebut dengan boh. Permainan ini dulu sering dimainkan oleh anak-anak, khususnya anak SD yang berada di Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Permainan awo dan auh-auh sekarang ini hampir punah ditelan masa. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh banyak faktor, dan salah satunya adalah masuknya cabang olahraga lain di Indonesia, khusus di Aceh. Apabila permainan awo dan auh-auh ini diteliti dan digali kembali akan sangat bermanfaat bagi pembinaan olahraga di sekolah, terutama dalam usaha meningkatkan kemampuan motorik siswa SD. Permainan awo dan auh-auh perlu dijaga dan dilestarikan, karena permainan tersebut merupakan aset budaya daerah dan nasional. Permainan tersebut dapat dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal mata pelajaran pendidikan jasmani di SD. Pate (1984:198) menyatakan bahwa pada masa anak-anak sangat penting untuk memperbaiki dan menyelaraskan gerakan-gerakan mendasar yang perlu untuk perkembangan keterampilan olahraga selanjutnya, sehingga anak tidak mengalami kesulitan dalam mempelajari keterampilan motorik pada tingkat yang lebih sulit Dengan demikian, peningkatan kemampuan motorik menjadi sangat penting, agar anak-anak dengan mudah dapat melakukan berbagai aktivitas gerak lainnya. Namun, untuk meningkatkan kemapuan motorik siswa SD belum saatnya diberikan latihan fisik yang terlalu berat sebab akan menimbulkan pengaruh yang negatif pada proses pertumbuhan. Pate (1984:347) menambahkan, latihan fisik yang sangat ekstrim dan dalam jangka panjang dapat berpengaruh negatif pada pertumbuhan dan perkembangan rangka anak. Hal ini, disebabkan mereka masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikologis. Lebih lanjut, Pate menyatakan bahwa pengalaman dini dalam gerakan harus bersifat umum dan harus diberikan dalam lingkungan bermain. Spesialisasi yang terlalu awal dapat mempunyai pengaruh negatif pada perkembangan umum pola gerak dasar. Hal ini didukung oleh pendapat Ateng (1992:116) yang menyatakan bahwa metode penyajian yang paling tepat di sekolah dasar adalah latihan dalam bentuk bermain. Dengan demikian, perlu dicari berbagai alternatif untuk meningkatkan kualitas kemampuan motorik siswa SD melalui berbagai bentuk permainan yang disenangi anak-anak, di antaranya adalah melalui permainan awo dan auh-auh. Agar diperoleh hasil keterampilan motorik yang optimal dari permainan awo dan auh3

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 1-12

auh, maka diperlukan pendekatan yang tepat sesuai dengan karakteristik keterampilan. Pendekatan tersebut antara lain memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik jenis keterampilan yang diajarkan. Permainan awo memiliki kompleksitas gerakan yang lebih tinggi dan sulit. Sedangkan permainan auh-auh memiliki kompleksitas gerakan lebih rendah apabila dibandingkan permainan awo. Magill (1985:379) menyatakan, apabila tingkat organisasi gerakannya tinggi dan tingkat kompleksitasnya rendah, maka lebih baik menggunakan metode keseluruhan (whole-method), dan apabila organisasi gerakan rendah dan tingkat kompleksitasnya tinggi lebih baik menggunakan metode bagian (part-method). Dengan demikian, pemilihan metode pembelajaran yang tepat, diharapkan siswa dapat bermain awo dan auh-auh dengan tidak mengalami hambatan yang berarti, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan motoriknya. Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut: (1) apakah terdapat perbedaan tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajarkan dengan metode pembelajaran keseluruhan dan metode pembelajaran bagian?, (2) apakah terdapat perbedaan tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajarkan dengan permainan awo dan permainan auh-auh?, dan (3) apakah terdapat pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan jenis permainan terhadap tingkat kemampuan motorik? PEMBAHASAN Kemampuan Motorik Kemampuan motorik merupakan salah satu faktor penting dalam memanipulasi pola gerakan pada suatu objek dan sekaligus merupakan fungsi dari pengalaman dan kematangan (Rink, 1993: 118). Kemampuan motorik dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang berhubungan dengan penampilan dalam melakukan keterampilan gerak (Wall and Murray, 1994: 20). Hal yang senada juga dikatakan bahwa kemampuan motorik adalah kemampuan umum atau kapasitas seorang individu berdasarkan penampilan dari keterampilan gerak yang bervariasi. Kemampuan ini diasumsikan tidak begitu saja dapat dimodifikasi melalui latihan atau pengalaman, dan relatif stabil sepanjang hidup individu tersebut (Burton dan Miller, 1998: 366). Pendapat lain menyatakan bahwa kemampuan motorik adalah

4

Razali, Peningkatan Kemampuan Motorik Siswi

kualitas kemampuan seseorang yang dapat mempermudah dalam melakukan keterampilan gerak. Kemampuan tersebut memberikan kontribusi terhadap keberhasilan suatu tugas gerak yang akan dilakukan (Kirkendall, 1980: 213). Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa kemampuan motorik adalah kemampuan yang memberi dukungan sehingga dapat memudahkan melakukan keterampilan gerak. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran keseluruhan mengacu kepada teori Gestalt. Para ahli teori Gestalt memandang bahwa belajar secara keseluruhan merupakan hal yang penting. Kesalahan-kesalahan yang terjadi diperbaiki dan dihaluskan melalui belajar bagian (Oxendine, 1984: 251). Apabila prinsip psikologi Gestalt diaplikasikan dalam proses belajar motorik, hal itu dapat dilakukan sebagai berikut: (1) aktivitas suatu keterampilan olahraga dilakukan secara keseluruhan, bukan secara terpisah-pisah atau bagian per bagian, (2) tugas utama guru atau pelatih adalah memaksimalkan transfer dari latihan di antara kegiatan-kegiatan yang dilakukan, (3) faktor insight sangat penting dalam memecahkan masalah, dan (4) memahami hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan dalam memperagakan suatu ke-terampilan yang efektif (Lutan, 1988: 137-138). Salah satu faktor penting dari aplikasi prinsip psikologi Gestalt dalam proses belajar motorik adalah faktor insight. Insight adalah pemahaman yang diperoleh secara tiba-tiba dari hubungan antara bagian-bagian tugas dalam gerakan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam situasi keseluruhan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa berpikir dan memecah-kan masalah merupakan karakteristik yang tepat dari pengorganisasian substantif, restrukturisasi, dan pemusatan perhatian yang memberikan insight dalam memecahkan masalah (http://www. enabling. org/ia/gestalt/gerhards/ gtax1.htm1). Secara umum, mengajar keterampilan lebih baik apabila dilakukan secara keseluruhan. Karena dengan latihan secara keseluruhan peserta dapat mengatur irama dan waktu (timing) (Rink, 2002: 33). Penggunaan metode keseluruhan menuntut individu untuk melaksanakan tugas gerakan secara menyeluruh, tanpa melihat komponen per bagian (Fuoss dan Troppmann, 1981: 252). Hal tersebut senada dengan pendapat yang menyatakan bahwa belajar dengan menggunakan pendekatan keseluruhan dimaksudkan agar individu melakukan 5

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 1-12

tugas secara keseluruhan melalui demonstrasi (Oxendine, 1984: 251). Pendapat lain menyatakan bahwa pembelajaran keterampilan dengan metode pembelajaran keseluruhan memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang keterampilan yang dipelajari (Rink, 2002: 33). Hal ini sangat penting dalam belajar motorik agar pembentukan motor program tidak terputus-putus dan di samping itu juga dapat membantu individu merasakan gerak dari awal sampai akhir dalam satu keterampilan yang utuh. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan metode pembelajaran keseluruhan dalam penelitian ini adalah teknik penyajian materi pelajaran dengan cara mengajarkan siswi langsung bermain. Konsep belajar bagian perbagian erat kaitannya dengan teori belajar stimulus-respons (S-R) (Oxendine, 1984: 251). Salah satu teori S-R yang dapat diterapkan dalam belajar keterampilan motorik adalah teori koneksionisme dari Thorndike. Teori Thorndike terkenal dengan tiga hukum belajar, yaitu (1) hukum kesiapan (law of readiness), (2) hukum latihan (law of exercise), dan (3) hukum efek (law of effect) (Singer, 1980: 85). Apabila teori Thorndike diterapkan dalam belajar keterampilan motorik, hal tersebut dapat dilakukan sebagai berikut: (1) kesiapan siswa secara fisik dan mental sangat penting dalam menerima stimulus; (2) latihan harus dilakukan dalam kondisi yang baik untuk memperoleh hasil belajar yang efektif sehingga melakukan latihan yang berulang-ulang (drill) sangat penting; (3) guru harus memperhatikan rangkaian urutan gerakan yang tepat, yang berarti bahwa tugas utama guru adalah mengorganisasi pengalaman belajar dari yang sederhana hingga ke yang kompleks. Keterampilan harus dilatih bagian demi bagian sehingga keseluruhan permainan pada akhirnya dapat diperkenalkan (Lutan, 1988: 127-128). Salah satu faktor penting dari aplikasi teori adalah latihan yang berulang-ulang (drill). Drill sangat diperlukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik karena merupakan bentuk pengulangan latihan dengan tujuan mendapatkan efisiensi kualitas keterampilan yang lebih baik (Piskurich, 2000: 158). Belajar keterampilan dengan metode bagian menempatkan latihan bagian demi bagian sebelum menggabungkan keterampilan tersebut secara keseluruhan (Magill, 1985: 377). Belajar dengan metode bagian dilakukan dengan cara membagi beberapa komponen yang kemudian diajarkan satu per satu dengan mendemontrasikan atau memberi contoh (Christina dan Corcos, 1988: 58). Apabila komponen

6

Razali, Peningkatan Kemampuan Motorik Siswi

yang satu sudah dikuasai, baru dilanjutkan ke komponen yang lain. Pendapat yang senada menyatakan bahwa belajar dengan metode bagian dilakukan dengan membagi materi berdasarkan bagian tertentu (Oxendine, 1984: 250). Metode bagian adalah cara mengajar yang membagi keterampilan menjadi bagian demi bagian. Caranya dimulai dari mengajarkan bagian-bagian terkecil dari suatu keterampilan dan pada akhirnya digabungkan menjadi suatu keterampilan yang utuh (Sugiyanto, 2003:19). Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa metode pembelajaran bagian adalah teknik penyajian materi pelajaran dengan cara bagian demi bagian. Permainan Rakyat Permainan rakyat adalah permainan yang tumbuh dan berkembang di daerah dan masyarakat tertentu yang berbentuk permainan tradisonal. Salah satu permainan rakyat Aceh adalah permainan Awo. Permainan awo dapat digolongkan ke dalam permainan bola kecil. Cholik dan Lutan (1996:69) mengatakan bahwa permainan kecil adalah jenis permainan yang tidak mempunyai peraturan yang baku, baik fasilitas maupun aturan permainannya. Permainan tersebut umumnya bersifat tradisional, ada yang menggunakan alat, ada juga tanpa menggunakan alat. Nama permainan awo didasarkan pada jenis bola yang digunakan di dalam permainan yaitu boh (bola). Awo memiliki arti bola yang terbuat dari daun kelapa atau daun iboh (sejenis palem) yang berbentuk kubus (Depdikbud, 1980/1981:89). . Permainan awo dimainkan oleh dua regu baik anak laki-laki maupun perempuan ataupun campuran. Tidak ada suatu ketentuan tentang jumlah pemain setiap regu, hal ini tergantung pada jumlah anak yang terkumpul dibagi menjadi dua regu dengan kekuatan yang relatif seimbang agar permainan dapat berjalan lebih menarik. Setiap regu dapat terdiri atas 4, 5, 6 orang atau lebih. Cara bermain awo mirip dengan bermain kasti. Perkataan auh-auh berasal dari bahasa Kleut Aceh Selatan yang artinya bola terbuat dari daun kelapa. Empat helai daun kelapa dianyam sedemikian rupa sehingga terciptalah sebuah bola yang bentuknya seperti kubus. Permainan ini biasanya dimainkan pada waktu upacara perkawinan, menjelang hari raya, dan pada waktu senggang pada saat biasanya anak-anak berkumpul. Permainan auh-auh dimainkan oleh anak perempuan dengan jumlah pemain 10 orang. 9 orang bertugas menangkap bola dan satu 7

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 1-12

orang bertugas sebagai babu atau pelempar bola. Permainan auh-auh dimainkan dengan cara anak-anak mengelilingi sebuah lingkaran, pada lingkaran kecil di tengah-tengah lingkaran besar berdiri seorang pemain yang disebut dengan istilah babu (pembagi bola). Tugas babu ini adalah melempar bola ke arah pemain lainnya yang berdiri di tepi lingkaran secara bergiliran. Apabila seorang pemain tidak dapat menangkap bola yang dilempar tadi, maka gilirannya menjadi babu (Depdikbud, 1980/1981:37). Keterampilan yang digunakan dalam bermain awo adalah berlari, memukul bola, berlari, menangkap bola, melempar bola atau melempar sasaran, dan melompat. Adapun keterampilan yang digunakan dalam bermain auh-auh adalah melempar, menangkap, berlari, melompat, dan menghindar. Keterampilan motorik dalam permainan awo lebih banyak menekankan pada ketepatan memukul bola, menangkap bola, berlari, dan kelincahan. Adapun keterampilan motorik dalam permainan auhauh lebih menekankan pada ketepatan melempar dan menangkap bola, serta kecepatan berlari. Kemampuan berlari setiap pemain untuk permainan awo dan permainan auh-auh berbeda fungsinya. Berlari yang dikehendaki dalam permainan awo adalah lari secepat-cepatnya, berbelok-belok dan tidak keluar dari lapngan permainan. Sedangkan pada permainan auh-auh, para pemain bebas berlari ke luar lapangan permainan untuk menghindari dari lemparan babu. Dilihat dari jumlah pemain, permainan awo memiliki jumlah pemain penyerang dan penjaga dalam jumlah yang seimbang, sehingga gerakan yang dilakukan relatif seimbang atau sama antara pemain yang satu dengan pemain lainnya. Hal ini berbeda dengan permainan auhauh, pemain penjaga hanya satu orang yang disebut dengan babu, sehingga frekuensi gerak yang dilakukan pemain tidak seimbang antara penyerang dan babu. Sebagai contoh, apabila babu mengejar salah seorang pemain dengan berlari, maka pemain lain yang tidak dikejar dapat saja diam, sehingga pemain yang diam tersebut memiliki frekuensi gerakan yang relatif sedikit. Berpijak dari landasan teori yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) secara keseluruhan, tingkat kemampuan motorik kelompok siswi yang diajar dengan metode keseluhan lebih baik daripada metode pembelajaran bagian (2) secara keseluruhan, tingkat kemampuan motorik kelompok siswi yang diajar dengan permainan awo lebih baik daripada permainan

8

Razali, Peningkatan Kemampuan Motorik Siswi

auh-auh, dan (3) terdapat pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan jenis permainan terhadap tingkat kemampuan motorik siswi. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Metode penelitian adalah eksperimen dengan rancangan desain faktorial 2 x 2. Jumlah sampel penelitian sebanyak 40 orang yang diambil secara random, yang terbagi dalam empat kelompok, setiap kelompok terdiri 10 orang siswa. Pengukuran kemampuan motorik menggunakan tes kemampuan motorik yang terdiri dari tes: lari cepat 30 meter, baring duduk, lompat jauh tanpa awalan, melempar bola kasti, dan lari lintang silang. Sebelum instrumen tersebut digunakan, terlebih dahulu di uji kelayakannya baik reliabilitas maupun validitasnya. Teknik analisis yang digunakan adalah Analisis Variansi (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi à = 0,05. Analisis data penelitian dilakukan sebagai berikut: (1) data mentah yang diperoleh dari pengukuran kemampuan motorik terlebih dahulu diubah menjadi skor standar (T-skor), (2) menguji persyarat-an analisis, yaitu uji normalitas dengan menggunakan uji Liliefors dan uji homogenitas dengan menggunakan uji Barlett (Sudjana, 1994: 261-264), dan (3) untuk menguji hipotesis 1 dan 4 digunakan teknik Anava dengan taraf signifikansi α = 0,05. Karena terdapat interaksi, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Tukey (Ferguson dan Takane, 1989: 335). HASIL PENELITIAN Pengujian Persyaratan Analisis Pengujian persyaratan analisis meliputi uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas menggunakan uji Liliffors pada taraf signifikan = 0,05, diperoleh harga Lilifors hitung (Lo) untuk seluruh kelompok perlakuan lebih kecil dari harga Lilifors tabel (Lt). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Adapun homogenitas menggunakan uji Barlett pada taraf signifikan = 0,05, diperoleh harga χ 2 hitung sebesar 3,18 < χ 2 tabel sebesar 7,81, sehingga hipotesis nol diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa populasi mempunyai varians yang homogen. 9

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 1-12

Pengujian Hipotesis 1. Perbedaan Tingkat Kemampuan Motorik Kelompok Siswi yang Diajar dengan Metode Pembelajaran Keseluruhan dan Metode Pembelajaran Bagian Hasil perhitungan Anava terhadap tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajar dengan metode pembelajaran keseluruhan dibandingkan dengan siswi yang diajar dengan metode pembelajaran bagian, diperoleh harga Fhitung sebesar 1,33, sedangkan harga Ftabel sebesar 4,11, dengan demikian harga Fhitung < harga Ftabel, sehingga Ho diterima. Kesimpulan, secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajar dengan metode pembelajaran keseluruhan dan kelompok siswi yang diajar dengan metode pembelajaran bagian. 2. Perbedaan Tingkat Kemampuan Motorik Kelompok Siswi yang Diajar dengan Permainan Awo dan Permainan Auh-auh Hasil perhitungan Anava terhadap tingkat kemampuan motorik siswi yang dilatih dengan permainan awo dibandingkan dengan siswi yang dilatih dengan permainan auh-auh, diperoleh harga Fhitung sebesar 15,93, sedangkan harga Ftabel sebesar 4,11, dengan demikian harga Fhitung < harga Ftabel, sehingga Ho di tolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajar dengan permainan awo danpermainan auhauh. Untuk mengetahui kelompok mana yang memilliki tingkat kemampuan motorik lebih, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Tukey. Hasil perhitungan dengan uji Tukey pada taraf signifikansi = 0,05, diperoleh harga qhitung sebesar 7,18, sedangkan harga qtabel sebesar 2,86, dengan demikian harga qhitung > harga qtabel. Kesimpulan, secara keseluruhan tingkat kemampuan motorik kelompok siswi yang diajar dengan permainan awo lebih baik daripada kelompok siswi yang diajar dengan permainan auh-auh. 3. Pengarauh Interaksi antara Pembelajaran dan Jenis Permainan terhadap Kemampuan Motorik Siswi Berdasarkan hasil Analisis Varians pada taraf signifikan = 0,05, diperoleh hasil perhitungan Fhitung interaksi sebesar 61,09 dan Ftabel sebesar 4,11, dengan demikian harga Fhitung > harga Ftabel, sehingga Ho di tolak. Dengan demikian, terdapat pengaruh interaksi antara metode

10

Razali, Peningkatan Kemampuan Motorik Siswi

pembelajaran dengan jenis permainan terhadap tingkat kemampuan motorik siswi. Oleh karena terdapat interaksi, maka perlu dilakukan uji lanjut dengan uji Tukey. Hasil uji lanjut menjukkan bahwa permainan awo lebih efektif diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran bagian, sedangkan permainan auh-auh lebih efektif diajarkan dengan menggunakan metode keseluruhan. PENUTUP Pertama, tidak terdapat perbedaan pengaruh tingkat kemampuan motorik antara kelompok siswi yang diajarkan dengan metode pembelajaran keseluruhan dan metode pembelajaran bagian. Kedua, terdapat perbedaan pengaruh tingkat kemampuan motorik yang signifikan antara antara kelompok siswi yang diajarkan dengan permainan awo dan permainan auh-auh, tingkat kemampuan motorik kelompok siswi yang diajar dengan permainan awo lebih tinggi dibandingkan yang dengan permainan auh-auh, Ketiga, terdapat pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan jenis permainan terhadap tingkat kemampuan motorik. Hasil uji lanjut menjukkan bahwa permainan awo lebih efektif diajarkan dengan metode pembelajaran bagian, sedangkan permainan auh-auh lebih efektif diajarkan dengan metode keseluruhan.

11

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 1-12

DAFTAR PUSTAKA Burton, Allen W. and Daryl E. Miller. 1998. Movement Skill Assessment. USA: Human Kinetics. Cholik Mutohir, Toho dan Rusli Lutan. 1996. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: BP3GSD Ditjen Dikti Depdikbud. Christina, Robert W. and Daniel M. Corcos. 1988. Coaches Guide to Teaching Sport Skills. Champaign, Illinois: Human Kinetics Books. Ferguson, George A. and Takane, Yoshio. 1989. Statistical Analysis in Psychology and Education. New York: McGraw-Hill-Book Company. Fuoss, Donald. E. and Robert J. Troppmann. 1981. Effective Coaching A Psychologycal Approach. New York: John Wiley and Sons, Inc. Kirkendall, Don R., Joseph J. Gruber, and Robert E. Johnson. 1980. Measurement and Evaluation for Physical Educators. Dubuque: Wm. C. Brown Company Publisher. Lutan, Rusli. 1985. Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Depdikbud. Magill, Richard A. 1985. Motor Learning Concepts and Applications. Iowa: W.C. Brown Publishers. Oxendine, Joseph B. 1984. Psychology of Motor Learning. New Jersey: Prentice Hall Inc. Piskurich, George M. 2000. Rapid Instructional Design: Learning ID Fast and Right. San Francisco: Jossey-Bass/ Preiffer. Rink, Judith E. 2002. Teaching Physical Education for Learning. Boston: McGraw-Hill. Singer, Robert N. 1980. Motor Learning and Human Performance an Aplication to Motor Skills and Movement Behaviors. New York: MaCmillan Publishing Co. Inc. Sudjana. 1994. Desain dan Analisis Eksperimen. Bandung: Tarsito. ______. 1992. Metode Statistika. Bandung: Tarsito. Sugiyanto. 2003. Dasar-dasar Belajar Gerak. Jakarta: Depdiknas, Direktorat Tenaga Pendidikan. The International Society for Gestalt Theory and its Applications. 2000. http://www. enabling.org/ia/gestalt/gerhards/gtax1.htm1. Wall, Jennifer and Nancy Murray. 1994. Children and Movement Physical Education in the Elemantary School. Iowa: WCB. Brown & Benchmark.

12

Djufri, Invasi Akasia Berduri

INVASI AKASIA BERDURI (ACACIA NILOTICA) (L.) WILLD EX DEL. DI TAMAN NASIONAL BALURAN JAWA TIMUR DAN STRATEGI PENANGANANNYA oleh Djufri Dosen FKIP Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh ABSTRACT Acacia nilotica is a thorny wattle native species in India, Pakistan and much of Africa. This Acacia is widely distributed in tropical and subtropical Africa from Egypt and Mauritania to South Africa. The invasion of A. nilotica has resulted in the reduction of savannah wide in Baluran National Park reaching about 50%. Presure to the savannah has a great impact on the balance and preservation of whole ecosystem in Baluran. Some efforts have been to fight against the wide-spreading of invasion of A. nilotica for example eradication chemically use Indamin 72 HC and 2,4 D Dinitropenol, but result is not effective. And so it is with eradication in the mechanic use bulldozer appliance, and cut away to burn, not yet given optimal result, proven invasion of A. nilotica in this time not yet deductible, exactly growing wide. For the reason, require to be looked for alternative is way of the other eradication, so that the wide-spreading of preventable invasion A. nilotica. Otherwise hence the possibility of big savannah exist in National Park of Baluran metamorphose to become forest of A. nilotica. PENDAHULUAN Invasi adalah pergerakan satu atau lebih tumbuhan dari satu area ke area lainnya dan pada akhirnya mereka menetap di tempat tersebut. Proses ini berlangsung secara kompleks melalui peristiwa migrasi, eksistensi, dan kompetisi sebagai tahapan penting dalam invasi, yang seluruhnya terkait dengan waktu. Invasi umumnya terjadi di daerah yang gundul, tetapi dapat juga terjadi di area yang ada tumbuhan. Invasi merupakan bentuk permulaan suksesi yang pada akhirnya secara terus menerus akan menghasilkan tahapan suksesi hingga terbentuk klimaks. Biasanya invasi komunitas klimaks tidak efektif, kenyataannya invasi biasanya terjadi pada area yang populasinya jarang, sehingga menghasilkan tahapan perkembangan yang baru (Weaver & Frederic, 1978). 13

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Invasi sangat efektif bila terjadi secara lokal, baik invasi semak yang menyerang padang rumput atau pohon yang menutupi suatu kawasan. Pada suatu komunitas umumnya dijumpai beberapa spesies yang mempunyai kemampuan sebagai pionir. Invasi pada kawasan yang jauh, jarang menghasilkan efek suksesional, karena spesies baru perkembangannya berlawanan dengan spesies lokal (native species). Hal ini sangat berbeda pada area yang baru di dekatnya. Invasi ke komunitas yang baru dimulai dengan migrasi, lalu agresi, kompetisi, dan reaksi (Weaver & Frederic, 1978). Di Taman Nasional Baluran dijumpai beberapa spesies flora eksotik, yang keberadaannya cukup mengganggu keutuhan ekosistem asli kawasan tersebut. Salah satu spesies flora eksotik yang cukup mengganggu keseimbangan ekosistem Baluran adalah adalah akasia berduri (Acacia nilotica). Tumbuhan ini diintroduksi oleh pihak pengelola ke Taman Nasional Baluran pada tahun 1969 yang semula dimaksud sebagai sekat bakar. Namun ternyata A. nilotica merupakan spesies yang tumbuh dan menyebar cepat sehingga mengganggu pertumbuhan spesies lainnya, terutama pada kawasan savana. A. nilotica yang diintroduksi ke Indonesia merupakan sub spesies indica. Introduksi dilakukan pada tahun 1850, melalui Kebun Botani di Calcuta (India) dengan tujuan untuk menjadikan tumbuhan ini sebagai salah satu tumbuhan yang memiliki nilai komersial yaitu sebagai penghasil getah (gum) yang berkualitas tinggi. Namun setelah tumbuhan ini ditanam di Kebun Raya Bogor, ternyata produksi getahnya sangat rendah sehingga pohon-pohon tersebut ditebang 40 tahun kemudian. Introduksi tumbuhan ini ke Taman Nasional Baluran di Banyuwangi Jawa Timur bertujuan sebagai sekat bakar untuk menghindari menjalarnya api dari savana ke kawasan hutan jati (Anonim, 1999). Namun, invasi A. nilotica di Taman Nasional Baluran telah menyebabkan terdesaknya berbagai spesies rumput sebagai komponen utama penyusun savana Baluran. Invasi A. nilotica menyebabkan pertumbuhan rumput terdesak, sehingga dipandang dari aspek ketersedian pakan bagi herbivora sudah tidak memadai, oleh karenanya satwa mencari pakan alternatif yang lain, salah satunya adalah daun dan biji A. nilotica. Namun sebagi sumber pakan utama, rumput tetap tidak dapat tergantikan (Sabarno, 2002). Fenomena ini tentunya dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem Taman Nasional Baluran, misalnya berkurang dan menyusutnya pakan utama bagi herbivora. Kondisi ini pada gilirannya dapat mengancam keberadaan satwa herbivora di kawasan 14

Djufri, Invasi Akasia Berduri

ini. Kondisi savana Baluran saat ini sedang mengalami proses perubahan dari ekosistem terbuka yang didominasi suku rumupt-rumputan (Poaceae) menjadi areal yang ditumbuhi A. nilotica. Pada tempat-tempat tertentu pertumbuhan A. nilotica sangat rapat, sehingga membentuk kanopi tertutup, akibatnya beberapa rumput tidak mampu hidup di bawahnya. Kejadian ini kemungkinan disebabkan karena kompetisi kebutuhan cahaya atau adanya zat alelopati. Untuk memperoleh jawaban atas fenomena tersebut perlu dilakukan penelitian (Djufri, 2004). Permasalahan timbul setelah A. nilotica tumbuh dan berkembang sehingga hampir menginavsi seluruh areal savana Bekol, yang merupakan sumber pakan utama bagi beberapa spesies mamalia terestrial, seperti banteng, rusa dan kerbau liar. Tingkat percepatan pertumbuhan A. nilotica di Baluran mencapai 100-200 hektar per tahun. Berdasarkan data terakhir tahun 2000, A. nilotica di Taman Nasional Baluran sudah menginvasi sekitar 50% dari luas savana atau sekitar 5000 ha (Sabarno, 2002). Dampak yang nyata yaitu berkurangnya luasan savana sebagai sumber pakan bagi mamalia, dan menyebabkan terjadinya kompetisi di antara satwa dalam hal mendapatkan sumber pakan. Berkurangnya luasan savana juga mengurangi ruang gerak satwa dalam mengasuh dan membesarkan anaknya. Apabila kondisi ekologis ini berlangsung terus tanpa ada pengendalian, maka populasi spesies mamalia akan terancam. Menurut Mutaqin (2002) salah satu alasan ditetapkan Baluran sebagai Taman Nasional adalah karena adanya savana alami yang cukup luas yaitu 10.000 ha yang dihuni oleh berbagai spesies satwa liar langka dan dilindungi, salah satu di antaranya adalah banteng (Bos javanicus). Oleh karena itu, keberadaan ekosistem savana dan satwa banteng menjadi salah satu objek utama dan sekaligus sebagai prioritas dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Baluran. PEMBAHASAN Pengertian Invasi Invasi adalah perpindahan satu atau lebih spesies tumbuhan dari satu tempat ke tempat lainnya, dan pada akhirnya mereka menetap di tempat tersebut, proses migrasi ini berlangsung sangat kompleks. Invasi dapat terjadi di daerah yang gundul atau di daerah yang telah ada tumbuhannya. Sebenarnya invasi merupakan bentuk awal dari suksesi, namun karena secara terus menerus dapat beradaptasi terhadap seluruh fase suksesi, sehingga akhirnya dapat mencapai kondisi klimaks. Invasi yang efektif biasanya bersifat lokal, sebagai contoh, invasi besar-besaran kelompok semak yang masuk ke padang rumput atau spesies pohon 15

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

yang menyerang suatu komunitas. Pada setiap komunitas ditemukan spesies yang mampu bertindak sebagai pionir, demikian juga pada komunitas yang berdekatan karena kondisi habitat relatif sama. Invasi jarang terjadi pada daerah yang jauh sebagai fenomena suksesi, namun melalui invasi spesies penyerang dapat berkembang bahkan dapat menguasai lahan yang didudukinya atau membuat daerah yang baru. Proses invasi dimulai dari migrasi, kemudian agregasi, dan kompetisi, selanjutnya reaksi. Dalam perkembangan selanjutnya terjadi kompetisi dan reaksi yang menyebakan terbatasnya cahaya dan air secara cepat. Kemudian akan terjadi perkembangan vegetasi, dimana migran masuk dan hidup dengan baik, sehingga terjadi interaksi antar penghuni, selanjutnya menghadirkan proses yang rumit dan kompleks (Weaver dan Frederic, 1978). Contoh yang menarik adalah invasi A. nilotica di savana Taman Nasional Baluran yang telah merubah komunitas savana menjadi permadani hijau berupa hutan A. nilotica dengan tingkat kerapatan pohon bervariasi dari satu savana ke savana lainnya. Bila kondisi ini tidak ditangani secara profesional, maka tidak diragukan lagi savana di kawasan ini akan hilang (Djufri, 2004). Mengapa beberapa spesies eksotik mempunyai kemampuan untuk menginvasi dan mendominasi habitat baru sekaligus menggantikan kedudukan spesies lokal? Salah satu penyebabnya adalah ketidakhadiran predator, penyakit dan parasit alamiah mereka di habitat yang baru tersebut. Kegiatan manusia dapat menyebabkan timbulnya kondisi lingkungan yang tidak lazim, misalnya penambahan bahan makanan, meningkatkan insiden kebakaran, dan meningkatnya daerah terbuka, sehingga spesies-spesies eksotik lebih mudah untuk menyesuaikan diri dari pada spesies lokal. Konsentrasi terbesar spesies eksotik biasanya dijumpai pada habitat yang telah dirubah oleh kegiatan manusia. Di Asia Tenggara misalnya, perusakan hutan yang terjadi terus menerus menyebabkan hanya sejumlah kecil spesies lokal yang hidup pada kawasan yang tersisa. Kenaikan besar-besaran spesies eksotik Allaria officinalis yaitu tumbuhan dua tahunan (bineal) dari Eropa di Amerika Serikat mungkin disebabkan oleh kenaikan nitrogen di udara dan kondisi tanah yang juga telah berubah (Primack, et al., 1998). Cara Terjadinya Invasi Kedatangan spesies asing (exotic, invander, invasive, non-native) ke suatu habitat baru yang kondisi lingkungannya berbeda dengan kondisi lingkungan di daerah asalnya, tidak akan menyebabkan terjadinya kompetisi yang kuat dengan spesies asli (indigenous, native). 16

Djufri, Invasi Akasia Berduri

Spesies asing ini biasanya hanya akan menjadi tumbuhan pengganggu di habitat baru tersebut. Banyak spesies tumbuhan memiliki kemampuan tinggi untuk berkecambah, tetapi nasib anakan (sapling) dan tumbuhan dewasa selanjutnya ditentukan oleh kompetisi dengan tumbuhan lain, serta hebivora oleh serangga dan hewan lain. Komunitas yang terbuka umumnya lebih mudah untuk di invasi, sedangkan komunitas yang tertutup lebih sulit di invasi. Pada komunitas terbuka seperti gurun, padang rumput, dan hutan pinus, pengaruh lingkungan fisik-kimia sangat kuat terhadap kehadiran populasi tumbuhan, sehingga tumbuhan menyesuaikan diri dengan sumber daya yang ada. Habitat yang terbuka memudahkan invasi spesies asing karena berkurangnya kompetisi, tetapi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan perkecambahan dan pertumbuhan suatu spesies memiliki kisaran luas. Kebutuhan primer seperti air, pH, dan nutrien dapat menihilkan kehadiran semua spesies invasive, kecuali sebagian kecil spesies pionir yang tetap mampu bertahan hidup (Weaver dan Frederic, 1978). Setelah fase permulaan invasi atau fase pionir, tumbuhan asli dan asing dalam kondisi kritis. Komunitas spesies asli dapat diserang spesies asing pada intensitas kompetis yang sama tingginya atau di bawahnya atau di atasnya, hal ini juga terkait dengan bentuk habitusnya. Spesies pohon di hutan yang berhabitus tinggi umumnya tidak segera terpengaruh oleh serangan spesies asing, mengingat spesies asing tersebut masih harus menghadapi tekanan lingkungan untuk keberhasilan perkecambahan bibit, serta pertumbuhan anakan dan dewasa. Jika habitusnya lebih besar atau tempat tumbuhnya di atas spesies asli, seperti lumut terhadap lumut kerak, maka pendatang baru dapat mendominasi dan segera memberikan karakter baru pada komunitas. Pada tumbuhan berhabitus semak dan pohon, kompetisi ini tergantung pada urutan fase bentuk hidupnya (life form). Apabila invasi berada di bawah level existing, maka tidak akan berpengaruh terhadap spesies asli kecuali terjadi pengembalaan secara berlebihan. Dalam hal ini spesies asing menjadi komponen sekunder dari komunitas dan ekosistem tetap dalam kondisi normal. Pada komunitas lumut Sphagnum yang tumbuh di kawasan beriklim basah terdapat pengecualian. Di tempat ini invasi di lantai hutan terjadi pada musim semi, sejalan dengan melimpahnya air hujan (Weaver & Frederic, 1978). Rintangan dalam Invasi Kondisi topografi, fisik dan biologi bertindak sebagai agen pembatas atau pelindung invasi. Misalnya pegunungan, kadar alkalin 17

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

tanah yang tinggi, atau pengembalaan hewan-hewan. Khusus untuk topografi bersifat permanen dan biasanya menghasilkan tantangan yang permanen pula. Faktor biologi misalnya penanaman (cultivation) dan penyiangan (burning), biasanya bersifat sementara dan eksis hanya beberapa tahun, atau terjadi pada satu musim. Rintangan yang bersifat temporal biasanya sering terjadi. Pada tanah yang mengalami depresi air, ternyata tumbuhan tetap eksis, tetapi danau yang besar merupakan tantangan komplit untuk sebagian besar tumbuhan, mereka segera dapat melakukan migrasi silang meskipun mereka eksis di tempat tersebut. Pengaruh rintangan terhadap invasi memacu proses eksistensi dan migrasi suatu spesies (Weaver & Frederic, 1978). Rintangan geografi yang utama adalah laut, danau, sungai, gunung, dan gurun. Semuanya berpengaruh terhadap invasi karena semuanya merupakan faktor fisik yang paling dominan, misalnya penyebab difisiensi air, temperatur, nutrien, dan lain-lain. Komponen tersebut dapat melindungi spesies yang datang dan habitat yang sangat berbeda, pada waktu yang sama, berperan sebagai media bagi generasi tumbuhan berikutnya. Rintangan tersebut berpengaruh terhadap mesofita dan xerofita; gurun sebagai pembatas invasi bagi tumbuhan mesik dan hidrik, dimana mereka tertolong oleh faktor kekeringan yaitu dengan penurunan temperatur gunung yang tinggi sebagai pembatas bagi tumbuhan dataran rendah dan tumbuhan di daerah datar. Juga sangat menghambat migrasi dibandingkan sebagian besar rintangan fisik yang lainnya, karena sulit melakukan perpindahan pada kondisi kemiringan tertentu. Beberapa daerah gundul dengan kondisi yang ekstrim merupakan tantangan bagi invasi komunitas yang berdekatan (Weaver & Frederic, 1978). Rintangan biologi pada komunitas tumbuhan terjadi pada tumbuhan dan hewan serta tumbuhan parasit, invasi pada komunitas tumbuhan dibatasi oleh dua cara, yaitu asosiasi woodland yang bertindak sebagai penghalang ecesis invasi spesies dari tipe asosiasi lainnya dan menentukan perbedaan habitat fisiknya. Apakah berupa tantangan komplit atau bersifat parsial akan bergantung pada ketidakmiripan kedua habitat tersebut. Beberapa tumbuhan tidak mampu untuk melakukan invasi di padang rumput walaupun sebagai spesies semak daerah terbuka. Hutan dewasa dilaporkan memerlukan difus cahaya, karena sinar merupakan tantangan bagi kehidupan tumbuhan termasuk daerah payau karena pengaruh air dan kurangnya aerasi, sehingga dapat menghambat invasi spesies woodland dan padang rumput, hutan dan semak belukar bertindak sebagai penghalang mekanik 18

Djufri, Invasi Akasia Berduri

khususnya terhadap kehadiran gulma dan beberapa yang lainnya disebabkan oleh angin. Komunitas yang tertutup apakah hutan, padang rumput, atau gurun, berpengaruh terhadap penurunan laju invasi. Asosiasi yang tertutup biasanya bertindak sebagai tantangan komplit, walaupun lebih terbuka yang dibatasi oleh satu proporsi langsung terhadap derajat spesies lokal (native species). Kemudian sejumlah tahapan suksesi lebih banyak ditentukan oleh sulitnya peningkatan invasi pada daerah yang stabil. Manusia dan hewan mempengaruhi invasi melalui perusakan calon individu baru (disseminuies). Baik pada daerah gundul mapun pada fase suksesi sedang bejalan (fase seral), tikus dan burung biasanya berperan sebagai decisive untuk merubah secara luas perkembangannya. Manusia dan hewan bertindak sebagai tantangan melalui peristiwa banjir, drainase, dan lain-lain, kemudian pada gilirannya sampai pada skala kompetisi melalui penanaman, pengembalaan, parasitisme, atau dengan cara yang lainnya. Sejarah Invasi Acacia Nilotica di Taman Nasional Baluran A. nilotica diperkirakan berasal dari India, Pakistan, dan juga ditemukan di Afrika. Sekarang ini telah dikenal beberapa spesiesnya seperti A. nilotica sub spesies indica, A.leucoploea Willd., A. famesiana Willd. A. ferruginea DC., A. catechu Willd., A. horrida (l.f) Willd., A. sinuata (Lour.) Merr., A. pennata Willd., dan A. senegal Willd. (Brenan, 1983). Akasia tersebar luas di Afrika tropis dan subtropis dari Mesir dan Mauritania sampai Afrika Selatan. Beberapa spesies tersebar luas di Asia Timur seperti Birma. A. nilotica sub spesies indica juga tumbuh di Ethopia, Somalia, Yaman, Oman, Pakistan, India, dan Birma. Kemudian juga berhasil ditanam di Iran, Vietnam (Ho Chi Min City), Australia (Sydney dan Queensland) dan di Carribean (Brenan, 1983). Sub spesies ini umum dijumpai pada tanah dengan kandungan liat yang tinggi, tetapi dapat juga tumbuh pada tanah lempung bepasir yang dalam dan di area dengan curah hujan yang tinggi. Umumnya tumbuh di dekat jalur air terutama di daerah yang sering mengalalami banjir. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada area yang menerima curah hujan kurang dari 350-1500 mm per tahun. Spesies ini dilaporkan sangat sensitif terhadap kebekuan/digin dan salinitas, namun dapat tumbuh pada area dimana rata-rata temperatur bulanan sangat dingin yaitu 160C (Gupta, 1970). Menurut Duke (1983) A. nilotica berasal dari Mesir Selatan lalu tersebar ke Mozambique dan Natal, kemudian di introduksi ke Zanzibar, Pemba, India dan Arab. Saat ini A. nilotica merupakan gulma yang 19

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

menimbulkan masalah serius di Afrika Selatan. Di Australia, sebagian besar area A. nilotica dijumpai di Queensland dengan laju invasi dilaporkan masih rendah terutama di bagian utara, New South Wales, dan Australia Selatan. Data yang diberikan Bolton dan James (1985) menunjukkan invasi sekitar 6,6 juta ha atau 25% dari luas padang rumput Mitchell, dengan kepadatan pada area tersebut sekitar 0,6 juta ha. Distribusi dan kepadatan spesies ini terus menunjukkan peningkatan (Reynold dan Carter, 1990). A. nilotica yang diintroduksi ke Indonesia berasal dari subspesies indica. Introduksi dilakukan pada tahun 1850, melalui Kebun Botani di Calcuta (India) dengan tujuan untuk menjadikan tumbuhan ini sebagai salah satu tumbuhan yang memiliki nilai komersial yaitu sebagai penghasil getah (gum) yang berkualitas tinggi. Namun setelah tumbuhan ini ditanaman di Kebun Raya Bogor, ternyata produksi getahnya sangat rendah sehingga pohon-pohon tersebut ditebang 40 tahun kemudian. Introduksi tumbuhan ini ke Taman Nasional Baluran tidak diketahui dengan pasti, diperkirakan pada awal tahun 1960-an atau sebelumnya. Tujuan introduksi ini adalah sebagai sekat bakar untuk menghindari menjalarnya api dari savana ke kawasan hutan. Pada tahun 1969 tumbuhan ini ditanam di savana Bekol dengan tujuan yang sama yaitu sebagai sekat bakar untuk mencegah menjalarnya kebakaran dari savana ke kawasan hutan (Balai Taman Nasional Baluran, 1999). Fisiognomi savana Bekol disajikan pada Gambar 1. Savana Bekol seluar 420 ha, merupakan habitat yang sangat disukai oleh herbivora yang menjadikan savana ini sebagai tempat untuk melakukan berbagai aktivitas. Keadaan ini memungkinkan untuk tersebarnya biji bersama kotoran satwa yang dikeluarkan saat beraktivitas di savana Bekol yang terbuka, dikelilingi areal yang masih tertutup A. nilotica, sehingga masih memungkinkan tersebarnya biji-biji A. nilotica yang berasal dari area yang terinvasi A. nilotica tingkat pohon, melalui aliran sungai atau curah hujan yang cukup deras, ke areal savana Bekol yang masih terbuka.

20

Djufri, Invasi Akasia Berduri

1

2 3 4

5 6 7

Balai Taman Nasional Baluran (1999).

Gambar 1 . Posisi savana di Taman Nasional Baluran. (1). Savana Karang Tekok 5675 ha, (2). Savana Labuhan Merak 850 ha, (3). Savana Balanan 1250 ha, (4). Savana Kramat 620 ha, (5). Savana Bama, Kajang dan Bekol 1175 ha, (6). Savana Widuri 350 ha, (7). Savana Semiang 80 ha.

21

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Kondisi iklim dan alam Taman Nasional Baluran merupakan faktor yang sangat menunjang cepatnya penyebaran serta suburnya pertumbuhan A. nilotica. Intensitas cahaya matahari yang tinggi dan kekeringan merupakan pendorong utama dimakannya biji-biji tumbuhan ini oleh herbivora seperti banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), kijang (Mutiacus muntjak) dan kerbau liar (Sus sp). Akibatnya biji-biji yang keluar bersama kotoran satwa tersebar di seluruh kawasan yang dilintasi oleh satwa tersebut. Intensitas cahaya matahari yang tinggi ditambah curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun telah merangsang pertumbuhan biji-biji yang dorman juga merangsang pertumbuhan biji yang tersebar dengan herbivora. Akibatnya pada areal savana Bekol yang kondisinya terbuka (bebas dari A. nilotica tingkat pohon) setelah kegiatan pembongkaran dilakukan, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan segera ditumbuhi oleh anakan A. nilotica. Tingkat pertumbuhan anakan di savana Bekol tergolong sangat pesat, dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah dapat mencapai ketinggian 100 cm. Hal ini terlihat dari kondisi savana Bekol setelah kegiatan pencabutan anakan A. nilotica yang dilakukan pada tahun 1998/1999 seluas 175 ha, namun dalam jangka waktu yang singkat sudah ditumbuhi kembali oleh A. nilotica dan tumbuh sangat cepat, dan kerapatannya sekarang sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan (Balai Taman Nasional Baluran, 1999). Selain kedua faktor tersebut di atas, faktor lain yang menyebabkan tingginya kerapatan anakan A. nilotica adalah karena tingginya tingkat regenerasi dan kemampuan untuk bertahan hidup. A. nilotica tergolong tumbuhan xerofit yaitu tumbuhan yang dapat hidup dengan baik pada kelembaban udara yang rendah, oleh karenanya dalam kondisi air yang terbatas (curah hujan yang rendah) tumbuhan ini mampu melakukan regenerasi vegetatif. Hal ini dapat dilihat karena tumbuhnya kembali tunas-tunas dorman yang terdapat di sisa-sisa tunggak yang belum tercabut dan dibakar atau pada batang-batang pohon yang tertinggal. Pada musim hujan pertumbuhan tunas-tunas dorman tersebut berlangsung dengan cepat dan subur sehingga dengan segera membentuk terubusan atau semak berduri yang rapat dan sulit untuk ditembus dengan ketinggian mencapai 4,5 dan lebar tajuk, 1,5. Beberapa Kelebihan Acacia Nilotica sebagai Spesies Invasif Introduksi tumbuhan yang ditanam dengan disengaja maupun tidak dari spesies pohon dapat menyebabkan bencana lingkungan jika dalam introduksi tersebut tidak dilakukan Analisis Dampak Mengenai 22

Djufri, Invasi Akasia Berduri

Lingkungan (AMDAL) secara memadai, sebagaimana halnya kasus invasi A. nilotica diringkas di bawah ini, berikut saran-saran untuk memenimalisasi perubahan invasi yang sama dari spesies lain di beberapa kawasan. A. nilotica dapat tersebar dengan cepat karena: (i). Anakan dari pohon muda terlindung dari pengembalaan (grazing) karena berduri, (ii). Perkembangan aktif oleh pengguna lahan di awal-awal tahun, (iii). Jarak pemencarannya jauh melalui mekanisme (hewan peliharaan, satwa liar dan banjir), sehingga penyebarannya tidak dapat dikontrol, (iv). Produksi biji sangat besar (di atas 175.000/pohon). (v). Biji dapat hidup untuk jangka waktu yang lama. (vi). Tumbuhan muda tumbuh cepat. (vii). Toleran terhadap pengembalaan, kekeringan, dan api. (viii). Merupakan pohon kecil pada habitat yang sering terbakar akan menyerbu secara cepat, (ix). Pohon hidup untuk jangka waktu yang panjang (30-60 tahun), dan (x). Kemungkinan dapat tumbuh pada kisaran iklim yang ekstrem (Carter et al., 1990). Pelajaran berharga yang dapat diambil dari invasi dan sejumlah saran yang perlu diperhatikan bahwa semua tumbuhan introduksi harus disaring dan diteliti secara cermat. Penyaringan tersebut termasuk observasi di lingkungan habitat asalnya dan kawasan di tempat introduksi meliputi: (i). Mengukur produksi biji dan lamanya hidup, (ii). Menentukan metode pemantuan pemencaran biji, (iii). Pengujian kerentanan perkecambahan dan pohon berukuran kecil untuk di grazing ada atau tanpa duri, (iv). Analisis bikikilm dan tanah untuk memprediksi potensinya di tempat yang baru, (v). Meneliti pengaruh insekta predator tumbuhan patogen dan pengendalian tumbuhan dengan api di lingkungan asalnya, (vi). Meneliti metode praktis untuk mengendalikan secara kimia dan biologi terutama permasalahan sebagai gulma (Carter et al., 1990). Tidak dapat dipungkiri bahwa satu tumbuhan gulma biasanya tidak mungkin untuk dieliminasi dan tindakan biasanya menyangkut pengendalian penyebaran (sangat mahal dan sering menjadi proses yang sia-sia). Dengan demikian, diperlukan perubahan strategi pengelolaan baru untuk mengatasi dan menguasai pengaruh dari gulma. Pengendalian secara biologi dapat secara sempurna, namun tidak dapat diandalkan sebagai upaya terakhir. Para ilmuwan berkeyakinan bahwa semua tumbuhan introduksi dianggap gulma sebelum diperoleh bukti sebaliknya.

23

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Upaya Penanggulangan Acacia Nilotica di Taman Nasional Baluran Upaya penanggulangan invasi A. nilotica yang telah dilakukan selama ini di Taman Nasional Baluran dapat dikategorikan dalam dua kelompok yaitu: (1). Pemberantasan secara kimiawi dan (ii) pemberantasan secara mekanik/fisik. 1. Pemberantasan secara Kimiawi Upaya ini telah dilakukan pada tahun 1985 oleh Puslitbang Departemen Kehutan dengan menggunakan bahan kimia jenis herbisida sistematik yang bersifat hormon (Indamin 720 HC dan 2,4-D Dinitropenol) dimasukkan ke dalam lubang pohon yang dibor setinggi dada dengan kemiringan 450C (Santoso dalam Mutaqin, 2002). Selain itu juga dilakukan uji coba penebangan batang/pohon sebatas permukaan tanah, kemudian tonggaknya dilaburi solar/minyak tanah, luas areal yang digunakan dalam percobaan tersebut mencapai 25 ha. Pada tahun 1996 PT Mitra Buana Mukti juga melakukan percobaan dengan cara mengupas kulit batang sampai lapisan kambium (peneresan) secara melingkar selebar 15 cm, kemudian pada bagian batang diteres/diolesi larutan Xarbosida garlon 48 Ec. Sejak tahun 1999 pihak penyelenggara pengelola juga telah berupaya melakukan uji coba pemberantasan tegakan A. nilotica, anakan dan spesies-spesies gulma lain yang tumbuh di areal bekas pembongkaran dengan menggunakan minyak tanah, solar, larutan ragi dan Round Up. Uji coba ini dilakukan dengan cara mengolesi/melaburi batang yang diteres, tunggak dan penyemprotan daun batang dengan bahan-bahan tersebut di atas (Mutaqin 2002). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberantasan A. nilotica secara kimiawi ini kurang efektif/berhasil dalam proses membunuh A. nilotica. Jika metode ini diterapkan, ditinjau dari segi biaya maupun tenaga kurang efisien, terlebih lagi bila dikaitan dengan luasnya areal dan tingginya kerapatan tegakan yang ada., sehingga dari segi teknis pelaksanaan di lapangan penggunaan metode kimiawi kurang praktis, karena setiap pohon yang akan dimusnahkan harus diberi perlakuan yang sama. Disamping itu, penggunaan bahan kimia herbisida (di kawasan konservasi) harus mendapatkan pengawasan ekstra ketat dan hati-hati, mengingat herbisida mempunyai efek samping yang kemungkinan besar dapat merugikan kehidupan satwa dan lingkungan. Hasil uji coba pemberantasan dengan menggunakan minyak tanah, solar maupun bahan kimia Round Up (dalam jumlah tertentu) yang dioleskan pada pohon yang diteres maupun tunggak belum dapat membunuh pohon secara total. Bagian batang/pohon dari batas teresen 24

Djufri, Invasi Akasia Berduri

ke atas (pucuk) mati total, sedangkan batas teresan ke bawah (akar) masih hidup. Demikian pula pengolesan tunggak hanya sebagian kecil saja yang mati, sisanya tetap hidup terutama pada awal musim hujan akan tumbuh tunas-tunas baru, prosentase jumlah tunggak yang mati dan jangka waktu proses kematian sangat tergantung pada jumlah bahan yang digunakan. Uji coba pemberantasan dengan daun dan batang yang dilukai pada anakan A. nilotica maupun terhadap spesies gulma dan herba lain dengan menggunakan bahan tersebut juga tidak memberikan hasil yang memuaskan. Cara tersebut belum mampu mematikan, hanya merontokkan daun dan mengeringkan ranting-ranting yang kecil, sedangkan batang utama masih tetap hidup dan setelah beberapa lama akan tumbuh tunas baru kembali. Namun demikian, hasil uji coba penggunaan bahan tersebut dengan cara memotong terlebih dahulu batang (pengolesan) pada anakan A. nilotica dan spesies gulma lainnya (widuri, jarak, dan kapasan) cukup efektif dalam mematikan spesies tersebut di atas, asal saja dilakukan pada saat cuaca terang (musim panas). 2. Pemberantasan secara Mekanik Pemberantasan secara mekanik sudah dilakukan sejak tahun 1989-2001, sebagaimana yang disajikan pada Tabel 1. Pemberantasan secara mekanik/fisik yang dilakukan dengan cara memotong/menebang pohon (Tahun Anggaran 1989/1999 s/d 1990/1991) tanpa perlakuan apaapa pada tunggak belum memberikan dampak yang nyata terhadap musnahnya/berkurangnya A. nilotica, justru merangsang tumbuhnya biji-biji yang dorman dan mempercepat pertumbuhan regenerasi vegetatif dari batang yang dilukai maupun dari tunggak yang ditinggalkan. Dampak negatif yang paling menonjol dari kegiatan ini adalah merajalelanya pertumbuhan tunas-tunas baru (terubusan). Satu tunggak pohon A. nilotica bisa tumbuh 5-6 batang/cabang baru. Demikian pula upaya pencabutan pohon dengan menggunakan katrol (Tahun Anggaran 1992/1993) belum memberikan hasil yang optimal. Pelaksanaan di lapangan sangat lambat karena luas area yang berhasil dicabut tidak sebanding dengan target luas pencabutan yang telah ditetapkan. Cara ini kurang efektif dan kurang efisien. Skenario pemberantasan secara mekanik disajikan pada Gambar 2.

25

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Tabel 1. Pemberantasan A. nilotica secara mekanik/fisik di Taman Nasional Baluran Jawa Timur (Mutaqin, 2002) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Tahun Anggaran/ Sumber Dana 1993/1994 (APBN) 1994/1995 (APBN) 1995/1996 (APBN) 1996/1997 (APBN) 1997/1998 (APBN) 1997/1998 (DPL) 1998/1999 (APBN) 1998/1999 (DR) 1999/2000 (DIK-S-DR) 2000/2001 (DIK-S-DR) Lokasi Savana Bekol Bekol Bekol Bekol Bekol Bekol Drebus, Bama Bama Drebus, Bama Krmat Kramat dan Curah Udang Realisasi 25 ha 25 ha 25 ha 50 ha 50 ha 65,54 ha 50 ha 110,06 ha 110,06 ha (target 135 ha) 150 ha

Upaya pembongkaran secara mekanik dengan alat buldoser yang dilakukan sejak tahun 1993 s/d 2000 cukup berhasil. Luas area savana yang berhasil dibuka mencapai 409,6 ha. Metode pemberantasan secara mekanik dengan buldoser saat itu dianggap metode yang paling cepat dan tepat dibandingkan dengan metode lainnya. Namun demikian, metode tersebut berdampak negatif terhadap perubahan struktur tanah, sehingga merangsang pesatnya pertumbuhan anakan (seedling) yang berasal dari biji yang jatuh saat pembongkaran, biji yang dorman maupun biji yang terbawa/berasal dari kotoran satwa. Pada areal savana yang berbatu metode ini sulit dilaksanakan, untuk itu perlu dicarikan metode alternatif yang dapat meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkannya (Mutaqin, 2002). Pada tahun 1997 timbul masalah baru, yaitu dengan munculnya spesies pionir (semak perdu) pada areal bekas pembongkaran. Spesies ini juga mengganggu/menghambat pertumbuhan rumput antara lain widuri (Calotropis gigantea), nyawon (Vernonia cinerea), dan kapasan (Thespesia lanpas). Areal bekas pembongkaran yang telah ditumbuhi atau ditutupi oleh spesies pionir diperkirakan sudah mencapai 50-60% luas areal savana yang telah dibongkar. Hal ini sebelumnya tidak pernah dipikirkan, untuk itu pada areal bekas pembongkaran selain kegiatan pencabutan anakan juga perlu diikuti dengan kegiatan pemberantasan gulma.

26

Djufri, Invasi Akasia Berduri

Pengukuran lokasi perlakuan Savana yang terinvasi Acacia nilotica Tonggak selesai dibongkar lalu dibakar

Penebangan Acacia nilotica

Pembongkaran tonggak Acacia nilotica

Tonggak Acacia nilotica

Lokasi setelah pembongkaran akan terbebas dari tegakan Acacia nilotica untuk beberapa waktu

Gambar 2. Skenario pemberantasan Acacia nilotica secara mekanis Pemberantasan A. nilotica dengan sistem tebang bakar (cara tradisional) yang dilaksanakan pada tahun 2000 memberikan hasil yang menggembirakan dimana tunggak yang dibakar langsung mati kerena sebagian besar tunggak yang dibakar telah habis menjadi arang/abu, akar tertinggal mulai mengering dan sebagian ada yang membusuk sehingga peluang untuk tumbuh kecil. Dampak negatif dari metode tebang bakar ini kecil dibandingkan dengan metode pemberantasan secara mekanik lainnya. Namun karena area tegakan A. nilotica yang dibakar sangat terbatas, maka hasilnya untuk jangka panjang menjadi tidak bermakna, karena 1-2 tahun kemudian areal ini akan diserang lagi oleh anakan A. nilotica dengan laju pertumbuhan lebih cepat lagi dibandingkan dengan cara yang lainnya. Sebab pembakaran dapat merangsang pertumbuhan biji A. nilotica yang dorman di tempat tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan pada areal bekas pemberantasan secara mekanik menunjukkan adanya pergeseran pola atau komposisi 27

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

spesies penyusun vegetasi savana dari spesies rumput musiman ke berbagai spesies herba, perdu dan rumput menahun. Begitu areal savana dibuka tidak langsung ditumbuhi spesies rumput melainkan anakan A. nilotica dan beberapa spesies gulma (herba dan perdu) yang tumbuh sampai menyebar ke seluruh areal yang terbuka, terutama setelah musim hujan tiba (Nopember-Maret). Rumput yang tumbuh sedikit bahkan hampir tidak ada, karena kalah bersaing dengan anakan A. nilotica dan gulma. Berbeda dengan areal bekas pemberantasan secara tradisional (tebang bakar) begitu musim hujan tiba langsung ditumbuhi berbagai spesies rumput seperti bayapan (Brachiaria reptans), lamuran (Dichantium coricosum), emprit-empritan (Eragraostis tenela), dan berbagai spesies lainnya seperti kapasan (Thespesia lanpas) dan temblek ayam (Lantana camara). Areal tersebut secara umum didominasi spesies-spesies rumput. Berdasarkan hasil inventarisasi tumbuhan pionir di areal bekas pemberantasan dengan cara tradisional (tebang bakar) di savana Kramat ditemukan 31 spesies tumbuhan tergolong 16 familia, 5 spesies di antaranya merupakan spesies rumput yang disukai satwa herbivora. Hasil analisis vegetasi tumbuhan pionir di areal pemberantasan secara tradisional disajikan pada Tabel 2. Metode pemberantasan yang dilakukan secara mekanik dengan alat buldoser membawa dampak negatif terhadap perubahan struktur tanah. Tanpa disadari penggunaan metode ini telah merubah posisi lapisan tanah bagian atas (topsoil). Dampak lain dari metode ini adalah terjadinya erosi di musim hujan, sehingga rumput yang diharapkan tumbuh kemungkinan besar hanyut terbawa banjir, akibatnya yang tumbuh bukan spesies rumput melainkan anakan A. nilotica dan bermacam-macam spesies gulma. Keuntungan metode mekanik efektif untuk membuka lahan tegakan A. nilotica.
Tabel 2. Nilai penting beberapa spesies pionir yang mampu hidup di areal savana Kramat setelah dilakukan pemberantasan A. nilotica dengan tebang bakar (Mutaqin, 2002) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Spesies Brachiaria reptans Thespesia lanpas Ageratum conyzoides Vernonia cinerea Oplismenus burmanii Abutilon crispum Achyranthes aspera KR (%) 86,76 0,77 2,52 2,90 4,59 0,14 0,23 FR (%) 13,33 10.00 10,00 10,00 3,33 6,67 6,67 DR (%) 71,76 11,85 5,41 3,67 3,28 0,76 0,49 NP 171,85 22,62 17,93 16,57 11,20 7,57 7,39

28

Djufri, Invasi Akasia Berduri

8. 9. 10. 11. 12.

13. 14. 15. 16. 17.

Centela asiatica Bidens pilosa Cyperus rotundus Euphorbia hirta Dactyloctenium aegyptium Imperata cylindrica Crotalaria setriata Borreria laevis Leucas javanica Biphytum sensitivum

0,24 0,14 0,64 0,21 0,09

6,67 6,67 3,33 3,33 3,33

0,19 0,12 0,83 0,35 0,38

7,10 6,93 4,80 3,89 3,80

0,28 0,19 0,14 0,09 0,07

3,33 3,33 3,33 3,33 3,33

0,16 0,15 0,14 0,07 0,07

3,77 3,67 3,61 3,49

Keterangan : KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, PR = Penutupan Relatif, dan NP = Nilai Penting

Upaya pencabutan anakan A. nilotica seharusnya dilakukan setiap tahun, luasnya harus setara dengan luas areal yang telah dibongkar. Dengan kata lain, luas areal pencabutan anakan pertahun harus merupakan komulatif dari luas areal pembongkaran. Hal ini ternyata sulit dilaksanakan mengingat terbatasnya dana. Akibatnya areal yang telah dibongkar beberapa tahun yang lalu saat ini telah ditumbuhi kembali oleh anakan A. nilotica bahkan ada yang sudah mencapai tingkat sapling maupun pohon. Mengingat adanya dampak negatif dari penggunaan metode secara mekanik tersebut, maka upaya pemberantasan A. nilotica pada tahun 2000 dilakukan secara manual, yaitu metode tradisional dengan cara tebang bakar. Cara ini ternyata cukup efektif dan efisien serta berdampak positif terhadap pertumbuhan rumput. Keberhasilan upaya pemusnahan/pemberantasan A. nilotica dalam rangka mengembalikan fungsi savana yang terbebas dari invasi tumbuhan eksotik tersebut relatif sangat kecil. Kondisi di lapangan, luas areal savana yang telah dibuka/dibongkar sejak tahun 1993 s/d 2000 sudah mencapai 559,6 ha, saat ini hanya 300 ha yang masih terbuka, sisanya sudah tertutup kembali oleh anakan A. nilotica bahkan ada yang sudah mencapai tingkat sapling dan pohon. Dari 300 ha areal yang terbuka tersebut telah mulai di tumbuhi anakan A. nilotica, oleh karenanya perlu segera dilakukan upaya pencabutan kembali.

29

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Pembersihan batang, pencangkulan dan pengikatan batang Pengukuran lokasi Anakan (seedling) yang tumbuh di savana Pencabutan Seedling yang seedling sudah dicabut, dikumpulkan lalu dibakar

Strategi saat ini 1. Rehabilitasi savana Penanaman rumput pada areal bekas pencabutan 2. Perawatan savana Pembersihan/pembakaran 3. Penggunaan tenaga fungsional khusus untuk perawatan savana

Savana yang terbebas dari seedling Acacia nilotica beberapa saat

Gambar 3. Mekanisme pemberantasan seedling Acacia nilotic menggunakan metode pencabutan

Kondisi Acacia Nilotica di Savana Taman Nasional Baluran Savana Baluran dengan luas 10.000 ha merupakan satu-satunya padang rumput alami di pulau Jawa yang dihuni oleh beberapa spesies satwa liar yang dilindungi. Kondisinya saat ini cukup memprihatinkan akibat adanya invasi A. nilotica. Invasi ini telah memberikan dampak negatif terhadap pembinaan habitat (savana), yang semula ditanam di pinggir sebagai sekat bakar untuk menghindari/mencegah savana dari kebakaran yang terkendali. Sekitar tahun 1980-an dampak negatif dari introduksi A. nilotica di Taman Nasional Baluran mulai nampak, dimana 30

Djufri, Invasi Akasia Berduri

areal savana Bekol yang semula terbuka sebagian sudah mulai tertutup oleh A. nilotica. Kehadiran spesies ini dapat menghambat bahkan dapat mematikan rumput sebagai pakan satwa. Akibatnya ketersediaan rumput sangat terbatas dan pada gilirannya dapat mengancam kelangsungan hidup satwa herbivora di Taman Nasional Baluran. Hasil penelitian Makmur pada tahun 1981 dalam Mutaqin (2002) melaporkan bahwa kerapatan tumbuhan A. nilotica di savana Bekol mencapai 75 batang/ha, dan lima tahun kemudian 1986 mengalami peningkatan yang cukup pesat dimana kerapatnnya mencapai 3.337 batang/ha (Balai Taman Nasional Baluran, 1999), dan tahun 1987 tingkat kerapatan pohon terus meningkat hingga mencapai 5369 batang/ha. Namun hasil penelitian Tim Penyusun Rancangan Pemberantasan A. nilotica tahun 2000 melaporkan bahwa kerapatan pohon A. nilotica di savana Kramat dan Curah Udang sekitar 1245 batang/ha. Saat ini A nilotica tidak hanya tumbuh di savana Bekol, melainkan sudah menyebar hampir ke seluruh savana di Taman Nasional Baluran antara lain; Kramat, Derbus, Curah Udang, Talpat, Asam Sabuk dan Balanan. Luas area yang terinvasi kurang lebih mencapai 5000 ha (Mutaqin, 2002). Kondisi Savana Bekol setelah Pemberantasan Acacia Nilotica Pemberantasan A. nilotica hingga tuntas terutama dipusatkan pada savana Bekol, yang merupakan pusat pengunjung dan pusat atraksi satwa, guna mengembalikan kondisi savana Bekol seperti semula agar dapat menarik bagi heribivora untuk kembali merumput dan beraktivitas sehingga mempermudah pengunjung untuk menyaksikan areal savana yang telah dibongkar seluas 299,5 ha. Sedangkan luas areal pencabutan anakan A. nilotica hingga tahun 1999 seluas 185 ha, disajikan pada Tabel 3. Pembongkaran A. nilotica diharapkan dapat merangsang kembali pertumbuhan rumput, namun ternyata pada areal savana terbuka (bekas lokasi pembongkaran) hanya sedikit ditumbuhi rumput yang kalah bersaing dengan spesies lain seperti nyawon (Vernonia cinerea), kapasan (Thespesia lanpas), cemplak (Abutilon sp) dan biduri (Calotropis gigantea). Penyeberan spesies tersebut sudah sangat mengkhawatirkan karena telah mencapai luas sekitar 50 ha, dengan kerapatan masing-masing sebagaimana yang disajikan pada Tabel 4.

31

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Tabael 3. Luas areal pencabutan anakan A. nilotica di savana Bekol per tahun Anggaran (APBN dan DR-BDR) (Balai Taman Nasional Baluran, 1999) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tahun Anggaran 1993/1994 1994/1995 1994/1995 1995/1996 1995/1996 1996/1997 1996/1997 1997/1998 1997/1998 1998/1999 Luas Area (ha) 25 25 25 25 25 50 75 125 50 185 Jenis Kegiatan Pemusnahan Pemusnahan Pencabutan Pemusnahan Pencabutan Pemusnahan Pencabutan Pencabutan Pemusnahan Pencabutan

Tabel 4. Kerapatan tumbuhan pionir di savana Bekol pada lokasi bekas pembongkaran (Balai Taman Nasional Baluran, 1999) No. 1. 2. 3. 4. Spesies Pionir Thespesia lanpas Vernonia cinerea Calotropis gigantea Abutilon sp Familia Malvaceae Asteraceae Asclepiadaceae Malvaceae Kerapatan/ha 4518 3733 3650 2733

Spesies semak tersebut di atas pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan spesies rumput, akibatnya dapat menghambat pertumbuhan rumput. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran pola penyusun komunitas savana Bekol dari spesies rumput ke spesies semak. Terhambatnya pertumbuhan rumput akibat pesatnya pertumbuhan semak, lalu ditambah lagi dengan pesatnya pertumbuhan anakan A. nilotica tentu saja sangat mengancam eksistensi rumput sebagai komponen utama penyusun savana di Bekol. Oleh karenanya, agar dominasi rumput dapat dipertahankan maka diperlukan penanganan yang serius berupa pengendalian terhadap pertumbuhan semak pionir dan anakan A. nilotica (Balai Taman Nasional, 1999). Pada saat ini (2005) kondisi savana Bekol seluas 420 ha memperlihatkan karakter sebagai berikut: (a). Sekitar 150 ha berupa savana terbuka yang tidak dijumpai adanya pohon A. nilotica, tetapi hanya ditumbuhi oleh anakan A. nilotica, tetapi hanya ditumbuhi oleh anakan A. nilotica yang berukuran rata-rata 25-50 cm, dengan tingkat kerapatan berkisar 140-400 individu/10 meter persegi. Komposisi 32

Djufri, Invasi Akasia Berduri

spesies penyusun pada daearah ini mencapai 60 spesies, disajikan pada Tabel 5. Pada daerah ini rumput bayapan (Brachiria reptans) menguasai seluruh tempat dengan penutupan area mencapai 75%, (b). Sekitar 200 ha berupa savana yang tertutupi oleh pohon A. nilotica berumur 3-4 tahun, tinggi pohon berkisar 2,5-4 m, dengan kerapatan pohon rata-rata sekitar 1500/ha. Komposisi spesies di daerah ini sangat terbatas karena telah dipengaruhi oleh kerapatan pohon A. nilotica terkait dengan intensitas sinar dan kemungkinan adanya pengaruh zat alelopati yang diproduksi oleh A. nilotica atau karena adanya kompetisi antar spesies. Spesies yang dijumpai di daerah ini disajikan pada Tabel 6, dan (c). Sekitar 70 ha berupa savana yang sudah berubah fungsi menjadi hutan A. nilotica berumur 4-5 tahun, tinggi pohon berkisar 5-7,5 meter, dengan kerapatan pohon A. nilotica mencapai 4500/ha (Gambar 4). Di lantai hutan A. nilotica ini relatif bersih karena hanya dijumpai beberapa spesies saja yang mampu hidup, dan kerapatannya sangat rendah. Misalnya gletengan (Synedrella nudiflora), kapasan (Abutilon Sp.), bayapan (Brachiria reptans), jarong (Stachytarpeta indica) dan merakan (Themeda arguens) (Djufri, 2005, Pengamatan Pribadi). Berdasarkan data pada Tabel 5 dan 6 dapat dikemukakan bahwa jumlah spesies yang hidup di savana Bekol yang terbuka jauh lebih banyak dibandingkan savana yang ditumbuhi oleh pohon A. nilotica dengan kerapatan 1500/ha, dan jauh lebih sedikit lagi spesies yang mampu hidup pada savana yang telah berubah menjadi hutan A. nilotica. Bila gejala ini terus berlangsung pada seluruh savana yang ada di Taman Nasional Baluran, maka tidak mustahil komunitas savana akan hilang. Konsekkuensinya adalah hilangnya spesies rumput yang menjadi pakan utama bagi herbivora yang hidup di kawasan ini. Disamping itu, savana yang menjadi salah satu keunikan dan andalan kawasan ini akan menjadi terancam. Oleh karenanya, diharapkan adanya upaya yang serius dari semua pihak terutama pihak pengelola di bawah naungan Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun) sehingga kerusakan yang meluas akibat invasi A. nilotica dapat dicegah sedini mungkin melalui program yang kongkrit dan komprehensif meskipun membutuhkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, bila kita memang sepakat bahwa kelestarian savana di kawasan ini harus tetap dilestarikan atau ada pemikiran lain yang beranggapan bahwa upaya penanggulangan cukup seperti yang telah dilakukan selama ini, sembari menunggu adanya temuan baru bahwa A. nilotica akan dapat dimanfaatkan secara lestari (sustainable).

33

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Gambar 4. Fisiognomi tegakan Acacia nilotica di savana Bekol
Tabel 5. Komposisi spesies yang dijumpai di savana Bekol yang terbuka (150 ha) setelah dilakukan pembongkaran secara mekanik (Djufri, April-Juni, 2004, Pengamatan Pribadi) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Nama Daerah Widoro bekol Akasia berduri Pilang Nimba Jeruk hitam Petai cina Nyawon Kapasan Temblek ayam Biduri Rimbang Kemangi Pegagang Putri malu (merah) Putri malu (hijau) Kekosongan Tarum Sidagori Jarong lelaki Jarong Pedangan Bayapan Susukan Ceplukan Nama Ilmiah Zyzipus rotundifolia Acacia nilotica Acacia leprosula Azadirachta indica Citrus Sp. Leucaena leucocepala Vernonia cinerea Thespesia lanpas Lantana camara Calotropis gigantea Solanum torvum Ocimum basilicum Centela asiatica Mimosa pudica Mimosa invisa Moghania macrophylla Indigofera sumatrana Sida Rhombifolia Stachytarpheta indica Achyranthes aspera Cleome rutudisperma Brachiaria reptans Desmodium heterophylla Physalis angulata Familia Rhamnaceae Mimosaceae Mimosaceae Meliaceae Rutaceae Mimosaceae Mimosaceae Malvaceae Verbenaceae Asclepiadaceae Solanaceae Lamiaceae Apiaceae Mimosaceae Mimosaceae Mimosaceae Fabaceae Malvaceae Lamiaceae maranthaceae Capparidaceae Poaceae Fabaceae Solanaceae Bentuk Hidup Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Semak Semak Semak Semak Semak Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba

34

Djufri, Invasi Akasia Berduri

25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60.

Semangka gunung Patikan kebo Nyawon ungu Babadotan Belulang Tempuyung Kacangan Kacangan Pulutan Lamuran merah Kacangan Lamuran kecil Merakan Buah perahu Kacangan Jajagoan Lamuran putih Ketulan Orok-orok Tuton Semacam merica Kembang telang Orok-orok Meniran Meniran Paci Teki payung Gletengan Kacangan Rumput gunung Teki Sintrong Rumput pait Rumput jarum Emprit-empritan Alang-alang

Melotria Sp. Euphorbia hirta Eupatorium suaveolens Ageratum conyzoides Eleusine indica Emilia sonchifolia Flemengia lineata Cayanus cayan Triumfetta bartramia Dichantium coricosum Casia seamea Politrias amaura Themeda arguens Salvinia pubescens Polygonum mucronata Panicum repens Dichantium Sp. Bidens pilosa Crotalaria setriata Dactyloctenium aegyptium Hedyotis corymbosa Clitoria ternatea Crotalaria anagyroides Phyllanthus debilis Phyllanthus urinaria Leucas lavandulaefolia Cyperus pygmaeus Synedrella nudiflora Clidemia hirta Oplismenus burmanii Cyperus rotundus Crassocephalum crepidiodes Axonopus compressus Digitaria ciliaris Eragrostis tenela Imperata cylindrica

Cucurbitaceae Euphorbiaceae Asteraceae Asteraceae Poaceae Asteraceae Fabaceae Fabanceae Malvaceae Poaceae Fabaceaa Poaceae Poaceae Salvinaceae Fabaceae Poaceae Poaceae Asteraceae Fabaceae Poaceae Rubiaceae Fabaceae Fabaceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Lamiaceae Cyperaceae Asteraceae Fabaceae Poaceae Cyperaceae Asteraceae Poaceae Poaceae Poaceae Poaceae

Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba

35

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Tabel 6. Komposisi spesies yang dijumpai di savana Bekol yang ditumbuhi pohon A. nilotica dengan Kerapatan pohon sekitar 1500/ha seluas 200 ha (Djufri, April-Juni, 2004, Pengamatan pribadi) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Nama Daerah Widoro bekol Akasia berduri Pilang Nimba Jeruk hutan Petai Cina Nyawon Kapasan Temblek ayam Biduri Rimbang Kemangi Pegagan Putri malu (merah) Putri malu (hijau) Kekosongan Tarum Sidagori Jarong lelaki Jarong Pedangan Bayapan Susukan Ceplukan Semangka gunung Patikan kebo Nyawon ungu Babadotan Belulang Temputung Nama Ilmiah Zizipus rotundifolia Acacia nilotica Acacia leprosula Azadirachta indica Citrus Sp. Leucaena leucocepala Vernonia cinerea Thespesia lanpas Lantana camara Calotropis gigantea Solanum torvum Ocimum basilicum Centela asiatica Mimosa pudica Mimosa invisa Maghania macrophylla Indigofera sumatrana Sida rhombifolia Stachytarpheta indica Achyranthes aspera Cleome rutudisperme Brachiaria reptans Desmodium heterophylla Physalis angulata Melotria Sp. Euphorbia hirta Eupatorium suaveolens Ageratum conyzoides Eleusine indica Emilia sonchifolia Familia Rhamnaceae Mimosaceae Mimosaceae Meliaceae Rutaceae Mimosaceae Asteraceae Malvaceae Verbenaceae Asclepiadaceae Solanaceae Lamiaceae Apiaceae Mimosaceae Mimosaceae Fabaceae Fabaceae Malvaceae Lamiaceae Amaranthaceae Capparidaceae Poaceae Fabaceae Solanaceae Cucurbitaceae Euphorbiaceae Asteraceae Asteraceae Poaceae Asteraceae Bentuk Hidup Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Anakan pohon Semak Semak Semak Semak Semak Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba Herba

PENUTUP Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat diambil beberapa kesimpulan berikut: (i). Mekanisme terjadinya invasi sangat kompleks, menyangkut seluruh tahapan suksesi, sehingga tercapai kondisi klimaks. Sebagian invasi spesies dapat menggantikan spesies lokal, (ii). A. nilotica merupakan salah satu spesies invasif yang bersifat merusak di 36

Djufri, Invasi Akasia Berduri

savana Taman Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur, (iii). Upaya penanggulangan invasi A. nilotica lebih banyak dilakukan, baik dengan cara mekanis maupun kimia. Kegiatan pemberantasan A. nilotica secara kimiawi kurang efektif dan efisien, dan membutuhkan biaya yang besar dalam pengadaan bahan kimia serta tidak signifikan dengan luas areal serta kerapatan tegakan yang harus dimusnahkan. Pemberantasan secara mekanis dengan penebangan/pemotongan belum berhasil optimal. Bahkan memicu pertumbuhan biji-biji yang dorman dan regenerasi vegetatif A. nilotica. Begitu juga dengan cara pengkatrolan, karena membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak efisien. Sedangkan dengan cara pembongkaran menggunakan buldoser, dianggap cukup efektif, akan tetapi dampak pembalakan lahan bekas pembongkaran tonggak berpengaruh terhadap perubahan struktur tanah.

DAFTAR PUSTAKA Balai Taman Nasional Baluran. 1999. Rancangan Pencabutan Seedling/Anakan Hasil Pembongkaran secara Mekanis 150 ha di Savana Bekol. Banyuwangi: TNB. Reboisasi TNB. Bolton, M.P. and P.A. James. 1985. A. survey of prickly acacia (Acacia nilotica) in five Western Queensland shires. Stock Routes and Rural Lands Protection Board. Brisbane. Internal Report. Nopember 1985. Brenan, J.P.M. Manual on taxonomy of Acacia species, present taxonomy of four species of Acacia (A. albida, A. sinegal, A. nilotica, A. tortilis). Roma: FAO. Carter, J.O., P. Newman, P. Tindale, D. Cowan, and P.B. Hodge. 1990. Complementary grazing of sheep and goats on Acacia nilotica. In Proceedings 6 th Biennial Conference. Australian Rangelands Society. Carnovan, Western Australia, pp.271-272. Djufri, 2004. REVIEW: Acacia nilotica (L.) Willd ex Del. dan Permasalahannya di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Biodiversitas 4 (2):96-104. Duke. 1983. Medicinal plants of the Bible. New York: Trado-Medic Books, Owerri. Gupta, R.K. 1970. Resource survey of gummiferous acacia in Wstern Rajasthan. Tropical Ecology 11. 148-161. Mutaqin, I.Z. 2002. Keanekaragaman Hayati dan Pengendalian Jenis Asing Invasif. Dalam Upaya Penanggulangan Tanaman Eksotik 37

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 13-38

Acacia nilotica di Kawasan Taman Nasional Baluran. Jakarta, Kantor Meneteri Negara Lingkungan Hidup. Primack, R.B., J. Supriatna, M. Indrawan, dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Reynolds, J.A. and J.O. Carter. 1990. Woody weeds in central western Quensland. In Proceedings 6 th Biennial Conference, Australian Rangelands Society. Camarvon, Western Australia pp. 304-306. Sabarno, M.Y. 2002. Savana Taman Nasional Baluran. Biodiversitas 3 (1): 207-212. Weaver, J.E. and E.C. Frederic. 1978. Plant Ecology. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Company, Ltd.

38

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

PERENCANAAN PEMBELAJARAN oleh Ramli Dosen FKIP Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan tanpa perencanaan, tetapi hasilnya tidak maksimal. Seorang guru/dosen yang mengajar tanpa membuat perencanaan diibaratkan dengan seseorang yang pergi ke suatu tempat, tetapi alamat yang dituju tidak jelas. Apa yang terjadi? Jawabannya, tidak banyak yang diperoleh apabila pembelajaran tidak direncanakan terlebih dahulu. Agar belajar-mengajar mendapatkan hasil maksimal, perlu dibuat perencanaan yang matang. Pembelajaran yang dilaksanakan secara bebas tanpa memiliki perencanaan akan berdampak negative pada hasil belajar. Di dalam perencanaan terdapat standar isi yang berhubungan erat dengan standar kelulusan. Standar kelulusan mengilhami penyusunan indicator pembelajaran. Selanjutnya, indikator pembelajaran dijabarkan dari kompetensi dasar. Kompetensi dasar dan standar kompetensi telah di atur dalam standar isi yang telah disediakan oleh Kemendiknas. Semua hal tersebut merupakan bahan mentah dari sebuah perencanaan pembelajaran yang dimanifestasikan ke dalam sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Implementasi dari semua hal yang tersebut di atas adalah RPP yang dibuat oleh guru/dosen untuk 1 atau 2 pertemuan. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud membicarakan hakikat perencanaan pembelajaran, dan cara menyiapkan perencanaan pembelajaran yang baik agar pelaksanaannya dapat diterapkan dalam pembelajaran. Setelah membaca tulisan ini, Anda diharapkan memiliki kemampuan untuk (1) mendeskripsikan pengertian perencanaan pembelajaran, (2) menjelaskan pentingnya perencanaan pembelajaran, (3) menguraikan manfaatnya, dan (4) menyusun langkah-langkah perencanaan pembelajaran.

39

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

PEMBAHASAN Pengertian Perencanaan Pembelajaran Pembelajaran adalah terjemahan dari instruction yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini dipengaruhi oleh aliran Psikologi Kognitif-Holistik yang menempatkan siswa sebagai sumber kegiatan. Gagne (dalam Sanjaya, 2008:27) mengatakan bahwa mengajar (teaching) adalah bagian dari pembelajaran yang menjadikan guru berperan sebagai perancang berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan oleh siswa dalam mempelajari sesuatu. Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang ada, baik potensi yang berasal dari siswa, guru, maupun dari lingkungan. Sebagai suatu proses kerja sama, pembelajaran pembelajaran tidak hanya menitikberatkan pada kegiatan guru dan siswa saja. Akan tetapi pembelajaran adalah kegiatan yang melibatkan guru secara bersama-sama dengan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa dalam suatu proses pembelajaran selamanya memanfaatkan segala potensi yang dimiliki untuk keberhasilan belajar. Perencanaan berasal dari kata rencana yang bermakna pengambilan keputusan tentang hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Ketika kita merencanakan sesuatu, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien. Terry (dalam Sanjaya, 2002008:24) mengungkapkan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh orang atau kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur sebagai berikut ini: 1. adanya tujuan yang harus dicapai, 2. adanya strategi untuk mencapai tujuan, 3. sumber daya yang mendukung, 4. implementasi setiap keputusan/rencana. Tujuan merupakan arah yang harus dicapai. Untuk menyusun perencanaan yang baik, diperlukan perumusan tujuan dengan sasaran

40

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

yang jelas dan terukur. Dengan adanya sasaran yang jelas, berarti ada target yang harus dicapai. Target itulah yang selanjutnya menjadi fokus dalam merumuskan langkah-langkah selanjutnya. Strategi berkaitan dengan penetapan keputusan yang dipilih oleh seorang perencana seperti, menentukan alokasi waktu, langkah-langkah yang harus dikerjakan, penentuan kriteria keberhasilan, dan sebagainya. Sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan meliputi, sarana dan prasarana, biaya, dan waktu. Sedangkan implementasi adalah pelaksanaan dari strategi yang dipilih oleh perencana dan sumber daya yang dimiliki. Dari keempat unsur perencanaan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa perencanaan bukanlah harapan yang ada dalam angan-angan yang bersifat khayal dan tersimpan dalam benak seseorang. Perencanaan adalah harapan dan angan-angan yang dapat dirumuskan dengan disertai langkah-langkah untuk mencapainya, dideskripsikan secara jelas dalam suatu dokumen tertulis, sehingga dokumen itu dapat dijadikan pedoman oleh setiap orang yang memerlukannya. Pentingnya perencanaan pembelajaran Bagi seorang profesional, merencanakan merencanakan kegiatan sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya merupakan tahapan yang tidak boleh dilupakan. Guru adalah profesi kependidikan yang merupakan seorang profesional dalam bidang pembelajaran. Sebagai seorang profesional, sama seperti pada bidang profesi lainnya, guru juga dituntut untuk menyiapkan perencanaan dalam setiap aktivitas pembelajarannya. Mengapa perencanaan pembelajaran dibutuhkan? Berikut ini adalah beberapa hal yang menyebabkan perencanaan menjadi penting dalam pembelajaran. 1. Pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Sesederhana apapun proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, pembelajaran tersebut tetap memiliki tujuan. Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa setiap kegiatan yang memiliki tujuan untuk dicapai haruslah direncanakan dengan baik terlebih dahulu. 2. Pembelajaran adalah proses kerja sama. Proses pembelajaran minimal akan melibatkan guru dan siswa. Guru perlu merencanakan apa yang harus dilakukan oleh siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Di samping itu, guru juga perlu merancang perang apa 41

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

yang akan diperaninya dalam proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. 3. Proses pembelajaran adalah proses yang komplek. Pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi juga merupakan proses pembentukan perilaku siswa. Siswa dalam satu kelas merupakan kumpulan individu yang kompleks dengan minat, bakat, dan motivasi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang oleh guru agar materi dapat tersampaikan dengan baik dan tepat. Guru harus memperhitungkan segala potensi yang dimiliki siswa sebelumnya. 4. Proses pembelajaran harus berjalan dengan efektif dan efisien. Pembelajaran akan efektif apabila sarana dan prasarana yang tersedia mampu digunakan guru dengan sesuai dan tepat sasaran. Efisiensi pembelajaran akan terjadi apabila pemilihan sarana dan prasarana untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran dapat dilakukan guru dengan tepat. Hal ini hanya akan bisa dilakukan apabila guru terlebih dahulu melakukan perencanaan sebelum melaksanakan pembelajaran. Dari keempat hal yang membicarakan betapa pentingnya perencanaan pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan yang kompleks. Oleh karena itu diperlukan perencanaan yang matang, sehingga akan berfungsi sebagai pedoman guru dalam menjaga kelangsungan pembelajaran tetap dalam jalur pencapaian tujuan pembelajaran. Manfaat perencanaan pembelajaran Ketika kita menyusun perencanaan pembelajaran, tentu kita akan memikirkan alternatif mana yang terbaik agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif. Upaya memikirkan alternatif terbaik yang akan digunakan dalam pembelajaran akan memberikan manfaat kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa manfaat yang akan diperoleh guru dengan menyiapkan perencanaan pembelajaran seperti yang dikutip dari Sanjaya (2008:33). 1. Melalui perencanaan yang matang, guru akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan. Artinya, guru akan memiliki prediksi terhadap pelaksanaan pembelajaran, mulai dari jalannya pelaksanaan pembelajaran hingga hasil yang akan

42

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

diperoleh. Hal ini dapat terjadi karena guru telah memikirkan sebelumnya tentang materi pelajaran, strategi yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran, atau evaluasi yang akan dilakukan setelahnya. 2. Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Seorang perencana yang baik akan mampu memprediksikan kesulitan yang akan dialami dalam pelaksanaan. Oleh karena bentuk kesulitan telah diketahui, ia dapat dengan mudah mencari solusi agar kesulitan itu dapat teratasi dalam pembelajaran nanti. 3. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Guru dapat dengan mudah memilih sumber belajar dari banyak tempat karena perkembangan teknologi yang begitu pesat sekarang ini. Dari sejumlah sumber belajar yang tersedia dengan mudah itu, guru dapat merencanakan dengan memilih satu yang tepat untuk digunakan dalam proses pembelajaran. 4. Perencanaan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis. Artinya, guru memiliki panduan dalam melaksanakan pembelajaran. Perencanaan yang berisi tahapan-tahapan pelaksanaan pembelajaran itu memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru hanya harus mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang telah direncanakannya itu. Menyusun langkah-langkah perencanaan pembelajaran Perencanaan pembelajaran dibuat bukan hanya untuk kelengkapan administrasi saja. Namun, perencanaan pembelajaran disusun sebagai bagian tak terpisahkan dari pekerjaan profesional, sehingga berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Penyusunan perencanaan pembelajaran haruslah didorong oleh kebutuhan agar pelaksanaan pembelajaran berlangsung terarah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. a. Prinsip Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Sebelum menyusun perencanaan pembelajaran yang baik, Sanjaya (2008:39) menganjurkan agar setiap guru memperhatikan pengetahuan tentang prinsip signifikansi, relevansi, kepastian, adaptabilitas, kesederhanaan, dan prediktif seperti yang diuraikan berikut ini 43

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

1. Signifikansi atau kebermaknaan. Prinsip ini menyebutkan bahwa perencanaan pembelajaran hendaknya memiliki makna agar pembelajaran berjalan efektif. Perencanaan pembelajaran benarbenar disusun untuk kemudian menjadi panduan dalam pelaksanaan pembelajaran. 2. Relevansi. Nilai relevansi dalam perencanaan pembelajaran yang disusun memiliki kesesuaian baik internal maupun eksternal. Kesesuaian internal adalah perencanaan pembelajaran disusun sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Sedangkan kesesuaian eksternal adalah perencanaan pembelajaran yang disusun harus sesuai dengan kebutuhan siswa. 3. Kepastian. Kepastian bermakna bahwa dalam perencanaan pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pembelajaran tidak memuat banyak alternatif yang harus dipilih lagi, akan tetapi berisi langkah-langkah pasti yang dapat dilakukan secara otomatis. 4. Adaptabilitas. Perencanaan pembelajaran yang disusun hendaknya memiliki prinsip lentur dan tidak kaku. Prinsip ini memungkinkan guru melaksanakan pembelajaran dengan tidak kaku. Artinya, guru dalam melaksanakan pembelajaran tidak harus persis sama seperti dalam perencanaan pembelajaran, tetapi dapat meluweskan dengan berimprovisasi sehingga pembelajaran tidak berlangsung dengan membosankan. 5. Kesederhanaan. Perencanaan pembelajaran harus bersifat sederhana yang artinya mudah diterjemahkan dan mudah pula diimplementasikan. 6. Prediktif. Perencanaan pembelajaran harus mampu memperkirakan apa yang akan terjadi, bagaimana respons atau keaktifan siswa, atau hasil evaluasi pemberbelajaran yang akan berlangsung. Setelah memahami prinsip-prinsip penyusunan perencanaan pembelajaran di atas, guru diharapkan mampu menyusun perencanaan pembelajaran yang baik dan efektif. Perencanaan pembelajaran yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip di atas akan menjadikan guru mudah dalam melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu, guru juga akan dengan pasti dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. b. Komponen Perencanaan Pembelajaran

44

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

Sebelum guru memulai kegiatan penyusunan perencanaan pembelajaran, lebih dahulu harus diperhatikan komponen-komponen yang merupakan sisi dari perencanaan pembelajaran. Komponenkomponen ini merupakan struktur isi perencanaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional atau sekarang dikenal dengan Kementrian Pendidikan Nasional (Permen no. 22 Tahun 2006). 1. Standar Isi Standar isi adalah acuan dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Standar Isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Di dalam standar isi inilah terkandung standar kompetensi dan kompetensi dasar yang merupakan dasar penyusunan silabus dan RPP bagi guru untuk setiap mata pelajaran.

2. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. SKL terbagi ke dalam tiga jenis sesuai dengan satuan pendidikan yaitu sebagai berikut. • SKL pada satuan pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

3. Panduan Pengembangan KTSP 45

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

Pengembangan KTSP harus dilakukan sesuai dengan UndangUndang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36: • Ayat (1), Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Ayat (2), Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diverifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. Pasal 36 ayat (3), Kurikulum disusun sesuai jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: 1. peningkatan iman dan taqwa, 2. peningkatan akhlak mulia, 3. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik, 4. keragaman potensi daerah dan pembangunan daerah dan nasional, 5. tuntutan dunia kerja, 6. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, 7. agama, 8. dinamika perkembangan global persatuan nasional dan nilainilai kebangsaan, 4. Silabus Silabus adalah suatu rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar dari suatu mata kuliah. Silabus ini merupakan bagian dari kurikulum sebagai penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar. Dengan demikian pengembangan silabus ini minimal harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut: kompetensi apakah yang harus dimiliki oleh peserta didik, bagaimana cara membentuk kompetensi tersebut, dan bagaimana cara mengetahui bahwa peserta didik telah memiliki kompetensi itu. lingkungan tuntutan

46

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Pengembangan silabus disusun di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD dan SMP, dan dinas provinsi yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SMA dan SMK, serta departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk Ml, MTs, MA, dan MAK. 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang telah dijabarkan dalam silabus. RPP ini dapat digunakan oleh setiap pengajar sebagai pedoman umum untuk melaksanakan pembelajaran kepada peserta didiknya, karena di dalamnya berisi petunjuk secara rinci, pertemuan demi pertemuan, mengenai tujuan, ruang lingkup materi yang harus diajarkan, kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus digunakan. Oleh karena itu, dengan berpedoman RPP ini pengajar akan dapat mengajar dengan sistematis, tanpa khawatir keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, strategi belajar mengajar, atau keluar dari sistem evaluasi yang seharusnya. RPP akan membantu si pengajar dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalahmasalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran. Baik pengajar maupun peserta didik mengetahui dengan pasti tujuan yang hendak dicapai dan cara mencapainya. Dengan demikian pengajar dapat mempertahankan situasi agar peserta didik dapat memusatkan perhatian dalam pembelajaran yang telah diprogramkannya. Sebaliknya, tanpa RPP atau tanpa persiapan tertulis maupun tidak tertulis, seorang pengajar akan mengalami kesulitan dalam proses 47

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

pembelajaran yang dilakukannya. Seorang pengajar yang belum berpengalaman pada umumnya memerlukan perencanaan yang lebih rinci dibandingkan seorang pengajar yang sudah berpengalaman. c. Perencanaan Pembelajaran Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (PP No. 19 Tahun 2005, Pasal 20). Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Berikut ini akan diuraikan langkah-langkah penyusunan silabus dan RPP.

1) Langkah Penyusunan Silabus Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Penyusunan silabus dilaksanakan bersama-sama oleh guru kelas / guru yang mengajarkan mata pelajaran yang sama pada tingkat satuan pendidikan untuk satu sekolah atau kelompok sekolah dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing sekolah. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Adapun langkah-langkah dalam pengembangan Silabus adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada struktur isi kurikulum, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

48

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan / atau tingkat kesulitan materi; b. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran; c. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. 2. Mengidentifikasi materi pokok yang menunjang pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan mempertimbangkan: a. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik, b. kebermanfaatan bagi peserta didik, b. struktur keilmuan, c. kedalaman dan keluasan materi, d. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan, e. alokasi waktu 3. Mengembangkan Pengalaman Belajar Pengalaman belajar merupakan kegiatan mental dan fisik yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Rumusan pengalaman belajar juga mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik. 4. Merumuskan Indikator Keberhasilan Belajar Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan kita-kita, perbuatan dan/atau respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, dan dirumuskan dalam bentuk kata kerja operasional yang terukur dan dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. 5. Menentukan Jenis Penilaian 49

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. 6. Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar. 7. Menentukan Sumber Belajar Sumber belajar adalah rujukan, objek atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

2) Langkah Penyusunan RPP RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP

50

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. Komponen-komponen yang harus terdapat dalam suatu RPP, sesuai dengan yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) adalah sebagai berikut: 1. Identitas mata pelajaran. Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan. 2. Standar kompetensi. Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. 3. Kompetensi dasar. Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. 4. Indikator pencapaian kompetensi. Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 5. Tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. 6. Materi ajar. Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. 7. Alokasi waktu. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar. 8. Metode pembelajaran. Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta 51

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. 9. Kegiatan pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. a) Kegiatan Awal Pada suatu pertemuan, kegiatan awal pembelajaran ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan awal, guru melakukan beberapa hal-hal berikut ini: • • • • menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

b) Kegiatan Inti Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. 1. Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru melakukan beberapa hal-hal berikut ini:

52

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam jadi guru dan belajar dari aneka sumber, menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain, memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya, melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, Memfasilitasi peserta didik melakukan laboratorium, studio, atau lapangan. percobaan di

• •

• •

2. Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi, guru melakukan beberapa hal-hal berikut ini: • • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna, memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis, memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut, memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif, memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar, memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok, memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok, memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan, 53

• • • •

• •

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik. Dalam kegiatan konfirmasi, guru melakukan beberapa halhal berikut ini:

3. Konfirmasi

memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber, memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan, memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar, berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengar menggunakan bahasa yang baku dan benar. membantu menyelesaikan masalah, memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi, memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh, memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

• • • •

• • • •

c) Kegiatan Penutup Dalam kegiatan penutup, guru melakukan beberapa hal-hal berikut ini: • • • bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman/simpulan pelajaran, dan/atau sendiri

melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran,

54

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, menyampaikan berikutnya. rencana pembelajaran pada pertemuan

10. Penilaian hasil belajar. Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. 11. Sumber belajar. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. 3) Prinsip-prinsip Penyusunan RPP 1. Penyusunan RPP memperhatikan perbedaan individu peserta didik. RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. 2. Penyusunan RPP mendorong partisipasi aktif peserta didik. Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar. 3. RPP mampu mengembangkan budaya membaca dan menulis. Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan 4. RPP mengandung umpan balik dan tindak lanjut. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi. 5. RPP memiliki keterkaitan dan keterpaduan. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan 55

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 39-56

pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. 6. RPP menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi. DAFTAR PUSTAKA Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Sanjaya, Wina. 2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Uno, Hamzah B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

56

Ramli, Perencanaan Pembelajaran

57

Yusuf, Strategi Dakwah

STRATEGI DAKWAH BAGI MASYARAKAT GAMPONG oleh Maimun Yusuf Dosen Fadak IAIN Arraniry, Darussalam, Banda Aceh

PENDAHULUAN Dakwah merupakan suatu keharusan dalam rangka pengembangan agama Islam. Aktivitas dakwah yang maju akan membawa pengaruh bagi terhadap kemajuan agama. Sebaliknya, aktivitas dakwah yang lesu akan berakibat pada kemunduran agama. Karena adanya hubungan timbal balik seperti itu, maka dapat dimengerti jika agama Islam meletakkan kewajiban dakwah di atas pundak setiap pemeluknya. Sebagai agama dakwah, Islam melahirkan nilai dan panduan moral yang tidak hanya melulu menganjurkan penganutnya menyampaikan kebenaran ajaran Islam dengan ajakan lisan atau mulut semata, tetapi juga harus dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan nyata (amal saleh) yang berintikan “keteladanan”. Sebagai kitab dan sumber dakwah, Alquran dan Alsunnah–menekankan kepada kaum Muslim agar memiliki integritas diri, keserasian dan keseimbangan antara berbicara dan bekerja, berkhutbah dan beramal, mengajak dan merangkul sesama manusia untuk menciptakan prestasi kerja (bukan prestise) yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia dan lingkungannya, lahir dan batin.1 Berbagai etnis/suku bangsa di Indonesia memiliki budaya adat istiadatnya masing-masing, yang dalam pelaksanaan berada dan dikendalikan oleh lembaga-lembaga adat sesuai dengan kewenangan lingkungannya, seperti nagari di Minangkabau, huta di Tapanuli, subak di Bali, desa di Jawa dan gampong di Aceh.2 Masyarakat Aceh dikenal
1

Renungkan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Q.S. Al-Shaff/61: 2-3). Dan hayati juga firman-Nya, “Demi Masa, sesungguhnya manusia selalu berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan diiringi dengan kesabaran. (Q.S. Alashar: 103: 1-3) Badruzzaman Ismail, Membangun Keistimewaan Aceh dari Sisi Adat dan Budaya, (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh, 2007), hal. 6.
2

57

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

sebagai sebuah masyarakat yang memiliki adat dan budaya yang mengandung nilai dan kearifan yang sangat komprehensif. Dikatakan demikian, karena kehidupan masyarakat Aceh seakan tidak lepas dari norma adat dan kearifan budaya lokal (local wisdom) yang diwariskan secara turun-temurun. Tatanan adat dan budaya Aceh ini merangkum hampir semua aspek kehidupan masyarakat Aceh, bahkan sejak dulu adat Aceh ini sudah melembaga dalam masyarakat dengan wilayah kerja yang sangat sistematis mulai dari tingkat gampong, mukim dan sagoe.3 Dalil historis membuktikan bahwa budaya masyarakat Aceh identik dengan budaya Islam – yang merupakan perwujudan iman dan amal saleh. Budaya Aceh berbasis Syariat Islam karena penjelmaan iman dan amal salih dalam kehidupan masyarakatnya. Dengan demikian, segala bentuk aktivitas yang berhubungan dengan masyarakat dalam interaksi sosial, idealnya diformat dan berwujud sesuai dengan Syariaat Islam yang berlaku di Aceh. Pada dasarnya, hubungan dakwah Islam dengan masyarakat gampong di Aceh saling mengisi dan melengkapi. Kalau dicermati dengan seksama, dari dahulu sampai sekarang, masyarakat gampong adalah masyarakat yang paling antusias dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan dakwah Islam, walaupun dalam cara dan pendekatan yang khas tradisional. Dalam kesempatan ini, penulis akan mengkaji tentang strategi dakwah bagi masyarakat gampong. PEMBAHASAN Makna Dakwah dalam Perspektif Islam Penggunaan kata “dakwah” dalam masyarakat Islam, terutama di Indonesia, adalah sesuatu yang tidak asing. Arti dari kata ‘dakwah” yang dimaksudkan adalah “seruan” dan “ajakan.” Kalau kata diberi arti “seruan,”4 maka yang dimaksudkan adalah seruan kepada Islam atau
Lembaga adat yang berkembang dalam masyarakat Aceh memang dibangun berdasarkan adat dan agama Islam, sehingga antara adat istiadat dengan hukum tidak pernah bertentangan. Selebihnya masing-masing unsur memiliki rujukannya masingmasing sebagaimana yang termaktub dalam hadih maja, “Adat bak Po Teumereuhom hukum bak Syiah Kuala, qanun bak Putro Phang reusam bak Laksamana”. Artinya: adat diurus oleh Po Teumereuhom (Raja) atau Sultan, hukum diputuskan oleh Ulama (Syiah Kuala), qanun diurus oleh permaisuri raja (Puteri Pahang), sedangkan tata cara kehidupan dikelola oleh Panglima (Laksamana/Bentara). Muhammad Husein, Adat Aceh, (Daerah Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1970), hal. 1. Apabila dilihat arti kata “dakwah” atau “da’a” pada terjemahan Alquran, paling tdaj ada sepuluh padanannya. Pertama dalam arti “menyeru” dapat dilihat dalam
4 3

58

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

seruan Islam. Demikian juga halnya kalau diberi arti “ajakan” maka yang dimaksud adalah ajakan kepada Islam atau ajakan Islam. Islam sebagai agama di sebut agama dakwah, maksudnya adalah agama yang disebarluaskan dengan cara damai tidak lewat kekerasan.5 Secara terminologi dakwah itu dapat diartikan sebagai sisi positif dari ajakan untuk menuju keselamatan dunia akhirat. Sedangkan menurut istilah para ulama memberikan takrif (definisi) yang bermacam-macam, antara lain: 1. Syeikh Ali Makhfudh dalam kitabnya Hidayatullah Mursyidin, mengatakan dakwah adalah “mendorong manusia untuk berbuat kebajikan dan mengikuti petunjuk (agama), menyeru mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan munkar agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.”6 2. Syeikh Muhammad Khidr Husain dalam bukunya Aldakwah ila al Ishlah mengatakan, dakwah adalah upaya untuk memotivasi orang agar berbuat baik dan mengikuti jalan petunjuk, dan melakukan amr makruf nahi munkar dengan tujuan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.7 3. HSM. Nasruddin Latif mendefinisikan dakwah: “Setiap usaha aktivitas dengan tulisan maupun tulisan yang bersifat yang menyeru, mengajak, memanggil manusia manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah swt. Sesuai dengan garis-garis akidah dan syariat serta akhlak islaminya.8
Q.S.3:104, kedua “memanggil” dalam Q.S. 30: 25, ketiga, “doa” dalam Q.S. 2: 186, keempat, “dakwa” dalam Q.S. 19: 91, kelima, “harap” dalam Q.S. 25: 13, keenam, “meminta” dalam Q.S. 47: 37, ketujuh, “keluhan” dalam Q.S. 7: 5 kedelapan, “mengadu” dalam Q.S. 54: 10, Kesembilan, “menyembah” dalam Q.S. 72: 18, kesepuluh, “berteriak” dalam Q.S. 84: 11. Perbedaan pendapat itu dapat dimaklumi karena perbedaan konteks arti dan kata yang mendampingi yang membuatnya satu idiom (arti tersendiri), juga hal itu berkaitan dengan maksud ayat. Dengan demikian. dapat dimengerti bahwa seseorang yang akan melakukan penerjemahan terhadap Alquran, apabila bertemu dengan kata doa, dengan segala bentuk perubahannya, tidak bisa memahaminya dengan arti kata dalam “kamus” saja. Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, diterjemahkan dari Hayat Muhammad, oleh Ali Audah, (Jakarta: Tintamas, 1984), hlm. 217 6 Syekh Ali Mahfudz, Hidayat Almursyidin ila Thuruq Alwazi wa Alkhitabat (h) (Beirut: Dar Almaarif, tt.), hlm. 17 7 Ad-Dakwah ila al-Ishlah, hlm. 7 Nasruddin Latif, Teori dan Praktik dakwah Islamiyah, (Jakarta: Firma Dara, tt), hlm. 11
8 5

59

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

Dari uraian di atas, secara holistik dan integral harus dipahami bahwa dakwah merupakan tugas kerisalahan, yang menuntut setiap priadi muslim untuk ikut berperan. Tugas ini termasuk persoalan penting dalam Islam, sebagai upaya agar umat manusia masuk ke dalam jalan Allah (sistem Islam) secara menyeluruh (kaffah). Tiga serangkai upaya tersebut–dengan lisan tulisan, maupun dengan perbuatan nyata (aksi sosial)–sebagai ikhtiar muslim dalam membumikan ajaran Islam menjadi kenyataan dalam kehidupan pribadi (syakhsyiah), keluarga (usrah), masyarakat (jamaah). Sehingga semua segi bidang kehidupan dapat diwujudkan menjadi suatu tatanan kehidupan yang islami. Tatanan yang diindikasikan Alquran dan Assunnah merupakan syarat tegaknya ikhtiar realisasi Islam – amar maruf nahi munkar. Untuk mewujudkan hal itu maka aspek organisasi dan manajerial merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kegiatan dakwah. Masyarakat Gampong Gampong adalah suatu kawasan (teritorial) kelompok penduduk masyarakat yang berbatasan dengan gampong lain, memiliki pemerintahan sendiri, memiliki tatanan aturan, ada kepengurusan dan kekayaan sendiri. Perangkat gampong terdiri dari : keuchik, imeum meunasah, tuha peut dan tuha lapan (sekarang ditambah sekretaris/ khatib). Gampong yang wilayah teritorial kelompok penduduk yang berbatasan adalah kesatuan masyarakat hukum terkecil, sebagai organisasi pemerintahan terendah, langsung di bawah Mukim dan menempati wilayah tertentu.9 Gampong juga merupakan persekutuan masyarakat hukum adat yang mirip dengan negara kecil.10 Gampong dipimpin oleh “keuchik” sebagai ketua adat dalam “masyarakat gampong”, yang dipilih oleh rakyatnya sendiri secara langsung. A. Hasjmy menjelaskan bahwa gampong dinamakan juga dengan “meunasah”. Untuk satu gampong diangkat seorang keuchik dengan sebuah staf pembantu yang bernama “tuha peut dan seorang imam rawatib”.11

Badruzzaman Ismail, Eksposa Majelis Adat Aceh Provinsi NAD, (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh, 2007), hal. 44-45. 10 T. M. Juned, “Adat dalam Perspektif Perdebatan dan Praktek Hukum”, dalam buku Menuju Revitalisasi Hukum dan Adat Aceh, (Banda Aceh: Yayasan Rumpun Bambu, CSSP, 2005), hal. 35. 11 A. Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, (Jakarta: Beuna, tt.), hal. 80.

9

60

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

Suatu hal yang menarik dalam sistem kepemimpinan adat gampong di Aceh adalah penataan sistem pemerintahan masyarakatnya, di mana keuchik memegang kekuasaan berlandaskan: “mono trias function” yaitu kemanunggalan kekuasaan keuchik dalam tiga fungsi kekuasaan, eksekutif, legeslatif dan yudikatif. Meskipun keuchik memiliki kemanunggalan kekuasaan, namun keuchik juga bisa sangat demokratis, karena dalam menjalankan tugasnya selalu diharuskan bermusyawarah dengan pembantunya (imeum meunasah, tuha peut, dan tuha lapan).12 Oleh karena itu, lembaga adat gampong sangat sesuai apabila disebut sebagai pageu gampong (pilar-pilar demokratisasi desa) dan menjadi perekat dalam mewujudkan kesatuan, kerja sama, kedamaian, kerukunan, ketenteraman dan kenyamanan bagi penerapan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya. Kendatipun demikian, yang penting untuk dicamkan, kehidupan masyarakat adat, dapat berkembang dan meluas, bahkan menipis dan menghilang tergantung pada dinamika kehidupan masyarakat dan kemampuannya dalam mendayagunakan adat istiadatnya itu sesuai perkembangan sosio budaya dan ilmu pengeahuan dan teknologi. Sekarang ini, era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemajuan di bidang informasi dan komunikasi, di samping membawa banyak perubahan positif berupa kemudahan dan kecepatan dalam mengatasi masalah, tetapi juga membawa dampak negatif yang dapat merusak tatanan kehidupan keluarga dan sosial kemasyarakatan dalam masyarakat gampong. Dalam hal ini, diperlukan kesadaran ekstra dari masyarakat gampong untuk mewaspadai berbagai unsur negatif dari dampak negatif kemajuan era globalisasi. Strategi Dakwah bagi Masyarakat Gampong Secara bahasa, strategi memiliki arti, ilmu siasat perang; muslihat untuk mencapai sesuatu.13 Dalam kajian dakwah, strategi dapat dimaknai sebagai kiat-kiat atau langkah-langkah yang sangat menentukan tujuan dakwah dapat diraih secara sukses dan gemilang, dengan kata lain, capaian dakwah memberi kebahagiaan bagi manusia, baik lahir maupun batin, baik di dunia maupun di akhirat.

Badruzzaman, Eksposa Majelis.., hal. 45. Pius A. Partanto dan M. Dahlan Albarry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), hal. 727.
13

12

61

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

Menurut penulis, strategi dakwah dapat dibagi ke dalam dua kategori; pertama, katagori nilai atau sumber inspirasi. Kedua, kategori operasional atau aktualisasi. Strategi dakwah berdasarkan kategori nilai atau inspirasi dapat ditemukan dalam surat Alnahal/16: 125 sebagai berikut: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Alnahal/16: 125). Ayat tersebut mengandung tiga inspirasi sebagai upaya strategis dalam penyampaian dakwah; yaitu dengan hikmah, pengajaran yang baik dan berdebat atau berdiskusi dengan cara yang terbaik. Berkaitan dengan penerapan strategi tersebut, sasaran dakwah dapat dibagi kepada tiga golongan,14 yaitu: 1. Golongan cendekiawan, yaitu golongan yang cinta kepada kebenaran dan dapat berpikir secara kritis. Golongan ini harus didakwahkan dengan cara bi alhikmah, yaitu dengan alasan, dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh akal mereka. 2. Golongan masyarakat awam, yaitu golongan masyarakat kebanyakan. Mereka belum mampu berpikir secara kritis dan mendalam serta belum mampu menangkap makna yang lebih jauh. Golongan ini harus didakwahkan dengan cara memberi pengajaran yang baik, yaitu dengan anjuran dan didikan yang mudah mereka pahami. 3. Golongan yang tingkat kecerdasannya berada antara kaum cendekiawan dan awam, atau golongan pertengahan. Mereka harus didakwahkan dengan dialog, diskusi dan bertukar pikiran (mujadalah). Tiga golongan di atas diakui keberadaannya dalam masyarakat Aceh dengan berbagai segmen dan latar belakang sosial. Menghadapi bermacam-macam model masyarakat tersebut diperlukan pendekatan dan metode yang tidak sembarangan. Adapun strategi dakwah dalam kategori operasional dan aktualisasi dalam menyampaikan visi dan misi dakwah Islam bagi
14

M. Natsir, Fiqhud Dakwah, (Surakarta: Yayasan Kesejahteraan, 1984), hlm.

165.

62

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

masyarakat gampong sebenarnya sangat sederhana, di antara beberapa strategi dakwah yang perlu direalisasikan adalah sebagai berikut:15 a. Pendekatan Personal Pendekatan dengan cara ini terjadi dengan cara individual, yaitu antara dai dan madu langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikan langsung diterima dan biasanya reaksi yang ditimbulkan oleh madu akan langsung diketahui. Pendekatan dakwah seperti ini pernah dilakukan pada zaman Rasulullah ketika berdakwah secara rahasia.16 Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan di zaman era modern seperti sekarang ini pendekatan personal harus tetap dilakukan karena mad’u terdiri dari berbagai karakteristik. Di sinilah letak elastisitas pendekatan dakwah. b. Pendekatan Pendidikan Pendekatan masa Nabi, dakwah lewat pendidikan dilakukan beriringan dengan masuknya Islam kepada kalangan para sahabat.17 Begitu juga pada zaman sekarang ini, kita dapat melihat pendekatan pendidikan teraplikasi dalam lembagalembaga pendidikan seperti pesantren, madrasah, perguruan tinggi, universitas dan yayasan-yayasan pendidikan yang bercorak Islam yang di dalamnya terdapat studi integratif antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum.

Mohammad Irham, “Titik Temu FKPM dan Dakwah Islam”, dalam M. Jamil Yusuf dkk, (Ed), Polmas dan HAM Dengan Pendekatan Dakwah dan Adat Budaya Aceh, (Banda Aceh: Fakultas Dakwah IAIN Arraniry bekerja sama dengan Polda NAD, 2009), hal. 76-79. 16 Pendekatan personal dilakukan Nabi sejak turunnya wahyu pertama kepada orang-orang terdekatnya secara rahasia. Pendekatan model ini dilakukan agar tidak menimbulkan guncangan reaksioner di kalangan masyarakat Quraisy mengingat saat itu mereka masih berpegang teguh pada kepercayaan animisme warisan leluhur mereka. Dakwah dengan cara ini berlangsung selama tiga tahun. Dan di antara yang beriman pada saat itu adalah: Khadijah Bt. Khuwailid, Ali Ibn Abi Thalib, Zaid Ibn Haritsah, Abu Bakar Asshiddiq, Utsman Ibn Affan, Zubair bn. Alarqam dan sebagainya. Hal ini tercantum dalam Ibnu Saad, Althabaqat Alkubra, Beirut: Dar Elfikr, 1980, hal. 199. 17 Kegiatan ini dilakukan dari rumah ke rumah, maka rumah sahabat al-Arqam Abi Arqam dijadikan sebagai tempat pertama penyampaian dakwah Islam secara berkelompok, selain itu ada tempat lainnya, yaitu di antaranya Assuffah, Dar Alqurra dan Kuffah.

15

63

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

c. Pendekatan Diskusi Pendekatan diskusi pada era sekarang sering dilakukan lewat berbagai diskusi keagamaan, dai sebagai nara sumber sedangkan mad’u berperan sebagai audience. Tujuan dari diskusi ini adalah membahas dan menemukan pemecahan semua problematika yang ada kaitannya dengan dakwah sehigga apa yang menjadi permasalahan dapat ditemukan jalan keluarnya. d. Pendekatan Misi Maksud dari pendekatan misi adalah pengiriman tenaga para dai ke daerah-daerah di luar tempat domisli.18 Kita bisa mencermati untuk masa sekarang ini ada banyak organisasi yang bergerak di bidang dakwah mengirimkan dai mereka untuk disebar luaskan ke daerah-daerah yang minim para dainya, dan di samping itu daerah yang menjadi tujuan adalah biasanya kurang memahami ajaran-ajaran Islam yang prinsipil. e. Pendekatan dakwah kultural Pendekatan dakwah kultural adalah usaha-usaha dakwah Islam yang dirintis dan dikembangkan dengan melakukan interaksi dan adaptasi terhadap budaya dan adat istiadat yang telah lama hidup, tumbuh dan berkembang dalam suatu wilayah dan daerah tertentu. Dalam bahasa dakwah dikenal dengan “usaha menyampaikan dakwah dengan bahasa kaumnya” atau “berdakwah sesuai dengan kemampuan daya tangkap masyarakat setempat” (khatibin nas ala qadri uqulihim). Pelajaran berharga dari suksesnya eksistensi dan bertahannya Islam di Aceh adalah karena kedatangan dakwah Islam ke Aceh tidak merusak dan menghancurkan budaya lokal yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh, tetapi justeru menggunakan instrumen adat, budaya dan tradisi Aceh untuk menyampaikan universalitas ajaran Islam. Sehingga sampai saat ini antara adat dan agama Islam menjadi “organ” yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Pendekatan misi ini pernah dirintis Nabi di Makkah, tapi belum berhasil, kemudian dikembangkan di Madinah dengan hasil yang maksimal. Pendekatan serupa pula dilakukan secara besar-besaran pada zaman sahabat khususnya pemeintahan Umar Ibn Khattab r.a. contoh-contoh dakwah melalui pendekatan misi ini antara lain misi dakwah ke Yatsrib, Najed, Najran, Makkah dan sebagainya.

18

64

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

f. Pendekatan dakwah struktural Pendekatan dakwah struktural adalah dakwah Islam yang dikembangkan melalui kemitraan dengan para pemimpin (keuchik, tuha peut, tuha lapan) yang memiliki kewenangan dalam mengatur dan mengendalikan persoalan umat pada tingkat gampong. Karena kecenderungan umat atau masyarakat adalah mengikuti agama yang dianut oleh para pemimpin atau penguasanya. Dalam bahasa Islam, apabila kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan), apabila kamu tidak mampu, maka rubahlah dengan lisan (ceramah dan khutbah), dan apabila kamu tidak mampu maka gunakan hati untuk berdoa (agar kemungkaran itu segera sirna), dan itulah selemah-lemah iman. Dalam sejarahnya, salah satu faktor yang menyebabkan agama Islam berhasil berkembang pesat di Aceh karena kemampuan dan kecerdikan para dai memikat hati para sultan sehingga mereka memilih Islam atas dasar pilihan sadar dan kebebasan, bukan karena tekanan, paksaan dan peperangan. g. Pendekatan dakwah bi alhal (tindakan dan kerja nyata) Pendekatan dakwah bi al-hal adalah dakwah yang dilakukan dengan seruan, panggilan dan ajakan dengan aksi, tindakan dan perbuatan nyata yang sesuai dengan keadaan manusia.19 Karena merupakan aksi atau tindakan nyata maka dakwah bi al-hal lebih mengarah pada tindakan menggerakkan (“aksi menggerakkan” madu) sehingga dakwah ini lebih berorientasi pada pengembangan masyarakat. Usaha pengembangan masyarakat Islam memiliki bidang garapan yang luas. Meliputi pengembangan pendidikan, ekonomi dan sosial masyarakat. Pengembangan pendidikan merupakan bagian penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini berarti bahwa pendidikan harus diupayakan untuk menghidupkan masyarakat Aceh yang maju, efisien, mandiri, terbuka dan berorientasi ke masa depan yang lebih berkualitas. Dalam bidang ekonomi, pengembangannya dilakukan dengan peningkatan minat usaha dan etos kerja yang tinggi serta menghidupkan dan mengoptimalisasi ekonomi umat. Sementara
Yunan Yusuf, Dakwah bi al-Hal, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan, Vol. 3. No. 2. 2001. Lihat juga, Hasim, Kamus Istilah Islam, (Bandung: Pustaka, 1987), hlm. 24.
19

65

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

pengembangan sosial kemasyarakatan dilakukan dalam kerangka merespons problem sosial yang timbul karena dampak modernisasi dan globalisasi, seperti masalah pengangguran, tenaga kerja, kemiskinan, penegakan hukum, HAM dan pemberdayaan perempuan. Dari beraneka ragam pendekatan dakwah Islam di atas diharapkan mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi pembinaan sumber daya manusia masyarakat gampong. Dan inilah yang penulis maksud dengan pendekatan integratif – memadukan berbagai pendekatan yang multi bidang lalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi masalah dan tantangan aktual yang dihadapi oleh masyarakat gampong. Sekarang ini, masyarakat di mana pun menghadapi berbagai permasalahan yang serba kompleks. Oleh karena itu, strategi pendekatan dakwah pun tidak harus melalui satu pendekatan semata, tetapi dengan menggunakan berbagai pendekatan yang dapat mengatasi kompleksitas yang dihadapi masyarakat gampong. PENUTUP Setiap Muslim diharapkan mengambil bagian dalam rangka pelaksanaan dakwah, yakni, mengajak manusia ke jalan Allah untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ajakan tersebut dapat mengambil wujul yang formal atau tindakan-tindakan yang membawa kemaslahatan dan patut diteladani. Kedua macam ajakan tersebut sering dibedakan dengan istilah dakwah bi allisan dan dakwah bi alhal. Dengan demikian setiap Muslim berpeluang untuk memberikan andilnya dalam pelaksanaan dakwah menurut kemampuan dan bidangnya masing-masing, terutama bagi masyarakat gampong di seluruh Aceh.

66

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 57-67

DAFTAR PUSTAKA A. Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, (Jakarta: Beuna, tt.). Badruzzaman Ismail, Eksposa Majelis Adat Aceh Provinsi NAD, (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh, 2007). Badruzzaman Ismail, Membangun Keistimewaan Aceh dari Sisi Adat dan Budaya, (Banda Aceh: Majlis Adat Aceh, 2007). Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut: Dar el –Fikr, 1980. M. Natsir, Fiqhud Dakwah, (Surakarta: Yayasan Kesejahteraan, 1984). Mohammad Irham, “Titik Temu FKPM dan Dakwah Islam”, dalam M. Jamil Yusuf dkk, (Ed), Polmas dan HAM Dengan Pendekatan Dakwah dan Adat Budaya Aceh, (Banda Aceh: Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry bekerja sama dengan Polda NAD, 2009). Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, diterjemahkan dari Hayat Muhammad, oleh Ali Audah, (Jakarta: Tintamas, 1984). Muhammad Husein, Adat Aceh, (Daerah Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1970). Nasruddin Latif, Teori dan Praktik dakwah Islamiyah, (Jakarta: Firma Dara, tt). Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994). Syekh Ali Mahfudz, Hidayat al-Mursyidin ila Thuruq al-Wa’zi wa alKhitabat (h) (Beirut: Dar al-Ma’arif, tt.). T.M. Juned, “Adat dalam Perspektif Perdebatan dan Praktek Hukum”, dalam buku Menuju Revitalisasi Hukum dan Adat Aceh, (Banda Aceh: Yayasan Rumpun Bambu, CSSP, 2005). Yunan Yusuf, Dakwah bi al-Hal, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan, Vol. 3. No. 2. 2001. Lihat juga, Hasim, Kamus Istilah Islam, (Bandung: Pustaka, 1987).

67

Gadeng , Etos Kerja dalam

ETOS KERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM (Peluang dan Tantangan Profesionalisme Masyarakat Muslim dalam Era Modern) oleh Tarmizi Gadeng Dosen FE Unmuha, Banda Aceh

PENDAHULUAN Islam, di antara agama-agama yang ada di dunia, adalah satusatunya agama yang menjunjung tinggi nilai kerja. Ketika masyarakat dunia pada umumnya menempatkan kelas pendeta dan kelas militer di tempat yang tinggi, Islam menghargai orang-orang yang berilmu, petani, pedagang, tukang dan pengrajin. Sebagai manusia biasa, mereka tidak diunggulkan dari yang lain, karena Islam menganut nilai persamaan di antara sesama manusia di hadapan manusia. Ukuran ketinggian derajat adalah ketakwaannya kepada Allah, yang diukur dengan iman dan amal salihnya. Dalam suasana kehidupan yang sulit dewasa ini, umat Islam ditantang untuk bisa survive, dan membangun kembali tatanan kehidupannya–moral, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya untuk membuktikan, bahwa rekomendasi Allah kepada umat Islam sebagai khaira ummah (umat terbaik) tidak salah alamat.1 Dalam makalah ini, penulis ingin menampilkan salah satu kajian yang boleh jadi dianggap penting untuk didiskusikan bersama, yaitu tentang bagaimana sebenarnya etos kerja dalam perspektif Islam? Pertanyaan dan kajian ini penting karena ada sebagian kalangan dan analis berpendapat bahwa etos kerja umat Islam lemah dibandingkan negara-negara non-Muslim lainnya. PEMBAHASAN Pengertian Etos Kerja Menurut kamus, perkataan “etos” yang berasal dari bahasa Yunani (ethos) bermakna watak atau karakter. Secara lengkapnya, pengertian etos ialah karakteristik dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan, dan seterusnya, yang bersifat khusus tentang seorang
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah dari yang buruk (munkar) dan beriman kepada Allah.” Q.S. Ali ‘Imran/ 3: 110.
1

68

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

individu atau sekelompok manusia. Dari perkataan “etos” terambil pula perkataan “etika” dan “etis” yang merujuk kepada makna “akhlaq” atau bersifat “akhlaqi”, yaitu kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok, termasuk suatu bangsa.2 Juga dikatakan bahwa “etos” berarti jiwa khas suatu kelompok manusia,3 yang dari jiwa khas itu berkembang pandangan bangsa tersebut tentang yang baik dan yang buruk, yakni, etikanya. Secara sederhana, etos dapat didefinisikan sebagai watak dasar dari suatu masyarakat. Perwujudan etos dapat dilihat dari struktur dan norma sosial masyarakat itu.4 Sebagai watak dasar dari masyarakat, etos menjadi landasan perilaku diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, yang terpancar dalam kehidupan masyarakat.5 Karena etos menjadi landasan bagi kehidupan manusia, maka etos juga berhubungan dengan aspek evaluatif yang bersifat menilai dalam kehidupan masyarakat.6 Weber mendefinisikan etos sebagai keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku seseorang, sekelompok atau sebuah institusi (guiding beliefs of a person, group or institution). Jadi, etos kerja dapat diartikan sebagai doktrin tentang kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai hal yang baik dan benar dan mewujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka.7
Webster’s New World Dictionary of the American Language, 1980 (revisi baru), s.v. “ethos”, “ethical” dan “ethics”. 3 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, 1977 (terbitan Gramedia), s.v. “ethos”. 4 Ensiklopedia Nasional Indonesia, (1989), hlm. 219. 5 C. Geertz, The Interpretation of Culture, (New York: Basic Book, 1973), hlm. 127. 6 Di sisi lain, Taufik Abdullah mendefinisikan etos kerja dari aspek evaluatif yang bersifat penilaian diri terhadap kerja yang bersumber pada identitas diri yang bersifat sakral – yakni realitas spiritual keagamaan yang diyakininya. Taufik Abdullah, Agama, Etos Kerja dan Pengembangan Ekonomi, (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 3. Karena itu, etos tidak dapat dipisahkan dari sistem kebudayaan suatu masyarakat. Sebagai watak dasar suatu masyarakat, etos berakar dalam kebudayaan masyarakat itu sendiri. Kebudayaan, sebagai suatu sistem pengetahuan gagasan yang dimiliki suatu masyarakat dari proses belajar, adalah induk dari etos itu. Maka setiap masyarakat (yang berbeda kebudayaannya), mempunyai etos yang berbeda pula termasuk dalam hubungannya dengan etos kerja. 7 Max Weber, The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, terj. Talcott Parson, (New York: Charles Scribner’s Son, 1958). Dalam mengaitkan makna etos kerja di atas dengan agama, maka etos kerja merupakan sikap diri yang mendasar terhadap kerja yang merupakan wujud dari kedalaman pemahaman dan penghayatan religius yang memotivasi seseorang untuk melakukan yang terbaik dalam suatu pekerjaan. Dengan kata lain, etos kerja adalah semangat kerja yang mempengaruhi cara
2

69

Gadeng , Etos Kerja dalam

Adapun indikasi-indikasi orang atau sekelompok masyarakat yang beretos kerja tinggi, menurut Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama, ada tiga belas sikap yang menandai hal itu: (1) Efisien; (2) Rajin; (3) Teratur; (4) Disiplin atau tepat waktu; (5) Hemat; (6) Jujur dan teliti; (7) Rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan; (8) Bersedia menerima perubahan; (9) Gesit dalam memanfaatkan kesempatan; (10) Energik; (11) Ketulusan dan percaya diri; (12) Mampu bekerja sama; dan, (13) mempunyai visi yang jauh ke depan.8 Menurut Sarsono, Konfusionisme memiliki konsep tersendiri berkenaan dengan orang-orang yang aktif bekerja, yang ciri-cirinya antara lain (1) Etos kerja dan disiplin pribadi; (2) Kesadaran terhadap hierarki dan ketaatan; (3) Penghargaan pada keahlian; (4) Hubungan keluarga yang kuat; (5) Hemat dan hidup sederhana; (6) Kesediaan menyesuaikan diri.9 Beberapa indikasi dan ciri-ciri dari etos kerja yang terefleksikan dari pendapat-pendapat tersebut di atas, secara universal cukup menggambarkan segi-segi etos kerja yang baik pada manusia, bersumber dari kualitas diri, diwujudkan berdasarkan tata nilai sebagai etos kerja yang diimplementasikan dalam aktivitas kerja. Etos Kerja dalam Kajian Budaya dan Agama Masalah etos kerja memang cukup rumit. Nampaknya tidak ada teori tunggal yang dapat menerangkan segala segi gejalanya, juga bagaimana menumbuhkan dari yang lemah ke arah yang lebih kuat atau lebih baik. Kadang-kadang nampak bahwa etos kerja dipengaruhi oleh sistem kepercayaan, seperti agama, kadang-kadang nampak seperti tidak lebih dari hasil tingkat perkembangan ekonomi tertentu masyarakat saja. Salah satu teori yang relevan untuk dicermati adalah bahwa etos kerja terkait dengan sistem kepercayaan yang diperoleh karena pengamatan bahwa masyarakat tertentu–dengan sistem kepercayaan tertentu–memiliki etos kerja lebih baik (atau lebih buruk) dari masyarakat lain–dengan sistem kepercayaan lain. Misalnya, yang paling terkenal ialah pengamatan seorang sosiolog, Max Weber, terhadap
pandang seseorang terhadap pekerjaannnya yang bersumber pada nilai-nilai transenden atau nilai-nilai keagamaan yang dianutnya. Gunnard Myrdal, An Approach to the Asian Drama, (New York: Vintage Books, 1970), hlm. 62. 9 Sarsono, Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998), hlm. 98.
8

70

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

masyarakat Protestan aliran Calvinisme, yang kemudian dia angkat menjadi dasar apa yang terkenal dengan “Etika Protestan”.10 Para peneliti lain – mengikuti cara pandang Weber – juga melihat gejala yang sama pada masyarakat-masyarakat dengan sistemsistem kepercayaan yang berbeda, seperti masyarakat Tokugawa di Jepang (oleh Robert N. Bellah), Santri di Jawa (oleh Geertz) dan Hindu Brahmana di Bali (juga oleh Geertz), Jainisme dan Kaum Farsi di India, kaum Bazari di Iran, dan seorang peneliti mengamati hal yang serupa untuk kaum Isma’ili di Afrika Timur, dan sebagainya. Semua tesis tersebut bertitik tolak dari sudut pandang nilai, atau dalam bahasa agama bertitik tolak dari keimanan atau budaya mereka masing-masing.11 Kesan bahwa etos kerja terkait dengan tingkat perkembangan ekonomi tertentu, juga merupakan hasil pengamatan terhadap masyarakat-masyarakat tertentu yang etos kerjanya menjadi baik setelah mencapai kemajuan ekonomi tertentu, seperti umumnya negara-negara Industri Baru di Asia Timur, yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura. Kenyataan bahwa Singapura, misalnya, menunjukkan peningkatan etos kerja warga negaranya setelah mencapai tingkat perkembangan ekonomi yang cukup tinggi. Peningkatan etos kerja di sana kemudian mendorong laju perkembangan yang lebih cepat lagi sehingga negara kota itu menjadi seperti sekarang.12
Tesis Weber ini telah menimbulkan sikap pro dan kontra di kalangan sosiolog. Sebagian sosiolog mengakui kebenaran tesisnya itu, tetapi tidak sedikit yang meragukan, bahkan yang menolaknya. Kurt Samuelson, ahli sejarah ekonomi Swedia adalah salah seorang yang menolak keseluruhan tesis Weber tersebut, dengan mengatakan bahwa tidak pernah dapat ditemukan dukungan tentang kesejajaran antara protestantisme dengan tingkah laku ekonomis. Kurt Samuelson, Religion and Economic Action: A Critic of Max Webe, (New York: Harper Torchbook, 1964), hlm. 1-26. 11 Nurcholish Madjid, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 76. Lihat juga, Nurcholish Madjid, Fatsoen Nurcholish Madjid, (Jakarta: Republika, 2002), hlm. 24. Menurut hipotesa Weber bahwa ajaran Protestantisme sangat bersesuaian dengan semangat kapitalisme. Weber lebih jauh menjelaskan bahwa penganut Protestan cenderung untuk mengumpulkan kekayaan dan mengejar sukses material sebagai bukti dari anugerah Tuhan pada mereka, dan sekaligus sebagai konfirmasi atas status mereka sebagai orang-orang pilihan Tuhan untuk diselamatkan di dunia dan di akhirat nanti. Sebagai konsekwensi logis dari keyakinan tersebut, maka kaum Protestan di Jerman yang diamati Weber menampilkan etos kerja yang unik, seperti: bekerja keras, bertindak rasional, berdisiplin tinggi, berorientasi pada sukses material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan serta menabung dan berinvestasi. 12 Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1995), hlm. 215.
10

71

Gadeng , Etos Kerja dalam

Pada dekade tahun 80-an, di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia pun tumbuh minat yang cukup besar untuk membuktikan kebenaran tesis Weber di atas. Bahkan pada waktu itu pernah muncul suatu gagasan untuk membangun suatu system teologi yang dapat mendorong keberhasilan proses pembangunan di Indonesia. Pada saat itu suatu gagasan yang disebut dengan “Teologi Pembangunan”, bahkan di Kaliurang Yogyakarta, pernah diadakan seminar tenatang Teologi Pembangunan ini. Gagasan tentang Teologi Pembangunan ini dilandasi oleh asumsi-asumsi: (1) sistem teologi yang dianut oleh umat Islam Indonesia belum mampu mendorong dan membangkitkan etos kerja yang tinggi; (2) umat Islam Indonesia mudah sekali menyerah ketika mengalami suatu kegagalan; (3) umat Islam Indonesia bersifat pasif, fatalis dan deterministik; serta asumsi-asumsi lainnya.13 Namun, karena masalah teologi sangat sensitif, akhirnya gagasan-gagasan yang pernah dicetuskan itu berakhir dengan tanpa memperoleh rumusan yang jelas dan sistematis. Kalau kita mau mencermati dan mengkaji makna-makna yang terkandung dalam alQuran dan Alsunnah, maka kita akan menemukan banyak sekali bukti, bahwa sesunguhnya ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras, dan bahwa ajaran Islam memuat spirit dan dorongan pada tumbuhnya budaya dan etos kerja yang tinggi. Kalau pada tataran praktis, umat Islam seolah-olah beretos kerja rendah, maka bukan sistem teologi yang harus dirombak, melainkan harus diupayakan bagaimana cara dan metode untuk memberikan pengertian dan pemahaman yang benar mengenai watak dan karakter esensial dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
13

Fadlil Munawwar Manshur, “Profesionalisme dalam Perspektif Islam,” dalam Edy Suandi Hamid, dkk (peny), Membangun Profesionalisme Muhammadiyah, (Yogyakarta: LPTP PP Muhammadiyah-UAD Press, 2003), hlm. 20. Sering terdengar pendapat yang mengatakan bahwa etos kerja masyarakat Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa Asia lainnya, terutama Jepang dan Korea. Pandangan ini antara lain didasarkan pada kenyataan bahwa tingkat kemajuan ekonomi Indonesia jauh tertinggal dibandingkan kedua bangsa tersebut di atas. Namun, pendapat itu ada yang membantah dengan menunjukkan bagaimana kerasnya kerja petani dan buruh di pelbagai tempat di Indonesia. Rendahnya tingkat kemajuan bangsa Indonesia itu, menurut pendapat ini tidak terkait sama sekali dengan tinggi rendahnya etos kerja, tetapi lebih terkait dengan politik ekonomi pembangunan. Kedua pendapat tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, tetapi sukar untuk disangkal bahwa tingkat kemakmuran dan kesejahteraan suatu masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh etos kerja yang ada pada masyarakat itu.

72

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

Etos Kerja dalam Perspektif Islam a. Pengertian Etos Kerja dalam Islam Membicarakan etos kerja dalam Islam, berarti menggunakan dasar pemikiran bahwa Islam, sebagai suatu sistem keimanan, tentunya mempunyai pandangan tertentu yang positif terhadap masalah etos kerja.14 Adanya etos kerja yang kuat memerlukan kesadaran pada orang bersangkutan tentang kaitan suatu kerja dengan pandangan hidupnya yang lebih menyeluruh, yang pandangan hidup itu memberinya keinsafan akan makna dan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, seseorang agaknya akan sulit melakukan suatu pekerjaan dengan tekun jika pekerjaan itu tidak bermakna baginya, dan tidak bersangkutan dengan tujuan hidupnya yang lebih tinggi, langsung ataupun tidak langsung. Menurut Nurcholish Madjid, etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim, bahwa kerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh perkenan Allah swt. Berkaitan dengan ini, penting untuk ditegaskan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja (praxis).15 Inti ajarannya ialah bahwa hamba mendekati dan berusaha memperoleh ridha Allah melalui kerja atau amal saleh, dan dengan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya.16 Toto Tasmara, dalam bukunya Etos Kerja Pribadi Muslim, menyatakan bahwa “bekerja” bagi seorang Muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh asset, fakir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khaira ummah),
Ismail al-Faruqi melukiskan Islam sebagai a religion of action dan bukan a religion faith. Oleh karena itu, Islam sangat menghargai kerja. Dalam sistem teologi Islamkeberhasilan manusia dinilai di akhirat dari hasil amal dan kerja yang dilaksanakannya di dunia. Al-Faruqi, Al-Tawhid: Its Implication for Thought and Life (Herndon, Virginia: IIIT, 1995), hlm. 75-6. 15 Nurcholis Madjid, Islam Agama Kemanusiaan…, hlm. 216 16 Q.S. Al-Kahf/ 18: 110. Islam, sebagai sistem nilai dan petunjuk, misalnya, secara tegas mendorong umatnya agar memiliki kejujuran (Q.S. 33: 23-24); mendorong hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan (Q.S. 7: 13, 17: 29; 25: 67; 55: 7-9); anjuran melakukan kerja sama dan tolong-menolong dalam kebaikan (Q.S. 5: 2); kerajinan dan bekerja keras (Q.S. 62: 10); sikap hati-hati dalam mengambil keputusan dan tindakan (Q.S. 49: 6); jujur dan dapat dipercaya (Q.S. 4: 58; 2: 283; 23: 8); disiplin (Q.S. 59: 7); berlomba-lomba dalam kebaikan (Q.S. 2: 148; 5: 48). Prinsip-prinsip dasar dari rangkaian sistem nilai yang terkandung dalam al-Qur’an tersebut di atas dapat dijadikan menurut penulis, dapat dijadikan tema sentral dalam melihat persoalan etos kerja versi ajaran Islam.
14

73

Gadeng , Etos Kerja dalam

atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.17 Dalam bentuk aksioma, Toto meringkasnya dalam bentuk sebuah rumusan: KHI = T, AS (M, A, R, A) KHI = Kualitas Hidup Islami T = Tauhid AS = Amal Shaleh M = Motivasi A = Arah Tujuan (Aim and Goal/Objectives) R = Rasa dan Rasio (Fikir dan Zikir) A = Action, Actualization. Dari rumusan di atas, Toto mendefinisikan etos kerja dalam Islam (bagi kaum Muslim) adalah: “Cara pandang yang diyakini seorang Muslim bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal shaleh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.”18 Sementara itu, Rahmawati Caco, berpendapat bahwa bagi orang yang beretos kerja Islami, etos kerjanya terpancar dari sistem keimanan atau aqidah Islami berkenaan dengan kerja yang bertolak dari ajaran wahyu bekerja sama dengan akal. Sistem keimanan itu, menurutnya, identik dengan sikap hidup mendasar (aqidah kerja). Ia menjadi sumber motivasi dan sumber nilai bagi terbentuknya etos kerja Islami. Etos kerja Islami di sini digali dan dirumuskan berdasarkan konsep iman dan amal shaleh, tanpa landasan iman dan amal shaleh, etos kerja apa pun tidak dapat menjadi Islami. Tidak ada amal saleh tanpa iman dan iman akan merupakan sesuatu yang mandul bila tidak melahirkan amal shaleh. Kesemuanya itu mengisyaratkan bahwa iman dan amal shaleh merupakan suatu rangkaian yang terkait erat, bahkan tidak terpisahkan.19 Dari beberapa pendapat tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa etos kerja dalam Islam terkait erat dengan nilai-nilai (values) yang terkandung dalam dan Alsunnah tentang “kerja” – yang dijadikan sumber inspirasi dan motivasi oleh setiap Muslim untuk melakukan
Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995), hlm. 27. 18 Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, hlm. 28. 19 Rahmawati Caco, “Etos Kerja” (Sorotan Pemikiran Islam),” dalam Farabi Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah, (terbitan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Anai Gorontalo, Vol. 3, No. 2, 2006), hlm. 6869.
17

74

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

aktivitas kerja di berbagai bidang kehidupan. Cara mereka memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dan Alsunnah tentang dorongan untuk bekerja itulah yang membentuk etos kerja Islam. b. Prinsip-prinsip Dasar Etos Kerja dalam Islam Sebagai agama yang menekankan arti penting amal dan kerja, Islam mengajarkan bahwa kerja itu harus dilaksanakan berdasarkan beberapa prinsip berikut: 1. Bahwa perkerjaan itu dilakukan berdasarkan pengetahuan sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah dalam Alquran, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan mengenainya.”(Q.S, 17: 36). 2. Pekerjaan harus dilaksanakan berdasarkan keahlian sebagaimana dapat dipahami dari hadis Nabi saw, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (Hadis Shahih riwayat al-Bukhari). 3. Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Dialah Tuhan yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang dapat melakukan amal (pekerjaan) yang terbaik; kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mulk: 67: 2). Dalam Islam, amal atau kerja itu juga harus dilakukan dalam bentuk saleh sehingga dikatakan amal saleh, yang secara harfiah berarti sesuai, yaitu sesuai dengan standar mutu. 4. Pekerjaan itu diawasi oleh Allah, Rasul dan masyarakat, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, “Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu.”(Q.S. 9: 105). 5. Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Pekerja keras dengan etos yang tinggi itu digambarkan oleh sebuah hadis sebagai orang yang tetap menaburkan benih sekalipun hari telah akan kiamat.20 6. Orang berhak mendapatkan imbalan atas apa yang telah ia kerjakan. Ini adalah konsep pokok dalam agama. Konsep
Dari Anas Ibn Malik (dilaporkan bahwa) ia berkata: Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila salah seorang kamu menghadapi kiamat sementara di tangannya masih ada benih hendaklah ia tanam benih itu.” (H.R. Ahmad).
20

75

Gadeng , Etos Kerja dalam

imbalan bukan hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan dunia, tetapi juga berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan ibadah yang bersifat ukhrawi. Di dalam Alquran ditegaskan bahwa: “Allah membalas orang-orang yang melakukan sesuatu yang buruk dengan imbalan setimpal dan memberi imbalan kepada orangorang yang berbuat baik dengan kebaika.”(Q.S. 53: 31). Dalam hadis Nabi dikatakan, “Sesuatu yang paling berhak untuk kamu ambil imbalan atasnya adalah Kitab Allah.” (H.R. al-Bukhari). Jadi, menerima imbalan atas jasa yang diberikan dalam kaitan dengan Kitab Allah; berupa mengajarkannya, menyebarkannya, dan melakukan pengkajian terhadapnya, tidaklah bertentangan dengan semangat keikhlasan dalam agama. 7. Berusaha menangkap makna sedalam-dalamnya sabda Nabi yang amat terkenal bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat yang dipunyai pelakunya: jika tujuannya tinggi (seperti tujuan mencapai riza Allah) maka ia pun akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti, hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka), maka setingkat itu pulalah nilai kerjanya tersebut.21 Sabda Nabi saw. itu menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada komitmen yang mendasari kerja itu. Tinggi rendah nilai kerja itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi rendah nilai komitmen yang dimilikinya. Dan komitmen atau niat adalah suatu bentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianutnya. Oleh karena itu, komitmen atau niat juga berfungsi sebagai sumber dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, atau, jika ia mengerjakannya dengan tingkat-tingkat kesungguhan tertentu.

Sebuah hadis yang amat terkenal, “Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya (ditujukan) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada (ridla) Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa yang hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya.” (Lihat al-Sayyid ‘Abd al-Rahim ‘Anbar al-Thahthawi, Hidayat al-Bari ila Tartib al-Ahadits al-Bukhary, 2 Jilid (Kairo: al-Maktabat al-Tijariyah al-Kubra, 1353 H), jil. 1, hlm. 220-221; dan al-Hafidh alMundziry, Mukhtashar Shahih Muslim, 2 Jilid (Kuwait: Wazarat al-Awqaf wa alSyu’un al-Islamiyyah, 1388 H/1969 M), jil. 2, hlm. 47. (hadis No. 1080).

21

76

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

8. Ajaran Islam menunjukkan bahwa “kerja” atau “amal” adalah bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi keberadaan kemanusiaan. Jika filsuf Perancis, Rene Descartes, terkenal dengan ucapannya, “Aku berpikir maka aku ada” (Cogito ergo sum) – karena berpikir baginya bentuk wujud manusia – maka sesungguhnya, dalam ajaran Islam, ungkapan itu seharusnya berbunyi “Aku berbuat, maka aku ada.”22 Pandangan ini sentral sekali dalam sistem ajaran Islam. Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri: “Belumkah ia (manusia) diberitahu tentang apa yang ada dalam lembaran-lembaran suci (Nabi (Musa)? Dan Nabi Ibrahim yang setia? Yaitu bahwa seseorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain. Dan bahwa tidaklah bagi manusia itu melainkan apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian ia akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan bahwa kepada Tuhan-mulah tujuan yang penghabisan”.23 Itulah yang dimaksudkan dengan ungkapan bahwa, kerja adalah bentuk eksistensi manusia. Yaitu bahwa harga manusia, yakni apa yang dimilikinya – tidak lain ialah amal perbuatan atau kerjanya itu. Manusia ada karena amalnya, dengan amalnya yang baik itu manusia mampu mencapai harkat yang setinggitingginya, yaitu bertemu Tuhan dengan penuh keridlaan. “Barang siapa benar-benar mengharap bertemu Tuhannya, maka hendaknya ia berbuat baik, dan hendaknya dalam beribadat kepada Tuhannya itu ia tidak melakukan syirik,”24 (yakni, mengalihkan tujuan pekerjaan selain kepada Allah, Sang Maha Benar, al-Haqq, yang menjadi sumber nilai terdalam pekerjaan manusia). Dalam ajaran Islam, beramal dengan semangat penuh pengabdian yang tulus untuk mencapai keridlaan Allah dan
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. 417. 23 QS, al-Najm/52:: 36-42. 24 QS, al-Kahfi/18: 110.
22

77

Gadeng , Etos Kerja dalam

meningkatan taraf kesejahteraan hidup umat adalah fungsi manusia itu sendiri sebagai khalifatullah fi al-Ardl. Dalam beramal, zakat misalnya, bisa dimanfaatkan hasilnya untuk keperluan yang bersifat konsumtif, seperti menyantuni anak yatim, janda, orang yang sudah lanjut usia, cacat fisik atau mental dan sebagainya, secara teratur per bulan, atau sampai akhir hayatnya, atau sampai mereka mampu mandiri dalam mencukupi kebutuhan pokok hidupnya.25 9. Menangkap pesan dasar dari sebuah hadis shahih yang menuturkan sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Orang mukmin yang kuat lebih disukai Allah”, redaksinya kira-kira begini: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah ‘azza wa jalla dari pada orang mukmin yang lemah, meskipun pada kedua-duanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah. Jika sesuatu (musibah) menimpamu, maka janganlah berkata: “Andaikan aku lakukan sesuatu, maka hasilnya akan begini dan begitu,”. Sebaliknya berkatalah: “Ketentuan (qadar) Allah, dan apa pun yang dikehendaki-Nya tentu dilaksanakan-Nya”. Sebab sesungguhnya perkataan “andaikan” itu membuka perbuatan setan”.26 Dengan demikian, untuk membuat kuatnya seorang mukmin seperti dimaksudkan oleh Nabi Saw, manusia beriman harus bekerja dan aktif, sesuai petunjuk lain: “Katakan (hai Muhammad): “Setiap orang bekerja sesuai dengan kecenderungannya (bakatnya) ….”27 Juga firman-Nya, “Dan jika

Selain itu, hasil zakat bisa pula digunakan untuk keperluan yang bersifat produktif, seperti pemberian bantuan keuangan sebagai modal usaha bagi fakir miskin yang mempunyai keterampilan tertentu dan mau berusaha serta bekerja keras. Hal ini untuk membebaskan mereka dari keterpurukan taraf hidupnya sehingga bisa mandiri. Hasil zakat bisa pula digunakan untuk mendirikan pabrik-pabrik dan proyek-proyek yang profitable dan hasilnya disalurkan untuk pos-pos yang berhak menerimanya. Pabrik-pabrik dan proyek lain yang dibiayai dengan hasil zakat dalam penerimaan tenaga kerja harus memberi prioritas kepada fakir miskin yang telah diseleksi dan telah diberikan pendidikan keterampilan yang sesuai dengan lapangan kerja yang telah tersedia. 26 Mukhtashar, Jil. 2, hlm. 246 (Hadis No. 1840). 27 Q.S, al-Isra’/17: 84.

25

78

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

engkau bebas (berwaktu luang), maka bekerja keraslah, dan kepada Tuhan-Mu berusahalah mendekat”.28 Karena perintah agama untuk aktif bekerja itu, maka Robert N. Bellah mengatakan, dengan menggunakan suatu istilah dalam sosiologi modern, bahwa etos yang dominan dalam Islam ialah menggarap kehidupan dunia ini secara giat, dengan mengarahkannya kepada yang lebih baik (ishlah).29 Maka adalah baik sekali direnungkan firman Allah dalam surah al-Jumu’ah: “Maka bila sembahyang itu telah usai, menyebarlah kamu di bumi, dan carilah kemurahan (karunia) Allah, serta banyaklah ingat kepada Allah, agar kamu berjaya”.30 Dari prinsip-prinsip dasar di atas, penting juga dirumuskan ciriciri orang yang mempunyai dan menghayati etos kerja Islam, hal itu akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu panggilan dan perintah Allah yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan (khaira ummah), Toto Tasmara merinci ciri-ciri etos kerja Muslim, sebagai berikut: (1) Memiliki jiwa kepemimpinan (leadhership); (2) Selalu berhitung; (3) Menghargai waktu; (4) Tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan (positive improvements); (5) Hidup berhemat dan efisien; (6) Memiliki jiwa wiraswasta (entrepreneurship); (7) Memiliki insting bersaing dan bertanding; (8) Keinginan untuk mandiri (independent); (9) Haus untuk memiliki sifat keilmuan; (10) Berwawasan makro (universal); (11) Memperhatikan kesehatan dan gizi; (12) Ulet, pantang menyerah; (13) Berorientasi pada produktivitas; dan (14) Memperkaya jaringan silaturrahim.31 Problema Etos Kerja Dalam Masyarakat Islam
Q.S, al-Insyirah/94: 7. Etos yang dominan pada komunitas (umat) ini ialah (giat) di dunia ini aktivis, bersifat sosial dan politik, dalam hal ini lebih dekat kepada Israel kuna (zaman para nabi, sejak Nabi Musa dan seterusnya), dari pada kepada agama Kristen mulamula (sebelum munculnya Reformasi di zaman Modern), dan juga secara relatif dapat menerima etos yang dominan abad ke dua puluh. Robert N. Bellah, “Islamic Tradition and the Problem of Modernization” dalam Robert N. Bellah, ed., Beyond Belief (New York: Harper and Raw, 1970), hlm. 151-152. 30 Q.S, al-Jumu’ah/62: 10. 31 Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, hlm. 29-59.
29 28

79

Gadeng , Etos Kerja dalam

Nilai kerja dalam masyarakat Islam mulai merosot akibat berkembangnya pemerintahan feodal yang zalim. Dalam sistem pemerintahan yang seperti itu, timbul kehidupan yang mewah di kalangan elite bangsawan. Pemerintahan yang otoriter menyebabkan motivasi rakyat untuk bekerja merosot. Dalam keadaan tertindas, rakyat “lari” kepada Tuhan. Sebenarnya, tauhid yang merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam, bersifat membebaskan. Tauhid telah menghapus sistem hak milik feodal, karena seluruh hak milik raja dan penguasaan tanah oleh kaum feodal itu “diambil alih” oleh Tuhan untuk dilimpahkan kembali kepada rakyat. Tapi rakyat yang tak bersenjata tak bisa berbuat apa-apa. Karena itulah, yang timbul adalah aliran tasawuf. Dalam dunia Islam di Timur Tengah, timbulnya aliran-aliran tasawuf berkorelasi positif dengan berkembangnya pemerintahan otoriter. Dalam keadaan yang lemah secara ekonomis, politis maupun mental, rakyat tidak bisa mendukung pemerintahan. Itulah sebabnya pemerintahan Islam akhirnya lemah di dalam dan hancur oleh invansi dan akhirnya jatuh ke tangan penjajah. Runtuhnya perekonomian kaum Muslim adalah akibat penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Mereka jatuh ke tangan penjajah karena pemerintahannya lemah. Dan pemerintahan lemah karena tidak didukung oleh rakyat yang lemah akibat pemerintahan yang otoriter dan represif.32 Dewasa ini, kebanyakan negara-negara berpenduduk Islam termasuk dalam kategori negara-negara sedang berkembang dan Dunia Ketiga, yaitu kelompok negara-negara yang pada masa Revolusi Industri tidak ikut serta dalam proses pembentukan Orde Dunia sekarang yang kapitalis itu. Pada masa itu, kebanyakan dunia Islam malahan jatuh ke tangan penjajahan dan mengalami eksploitasi ekonomi oleh system kolonialisme. Kapitalisme, menimbulkan pertumbuhan ekonomi di satu pihak dan keterbelakangan di lain pihak. Keterbelakangan itu terjadi melalui mekanisme kolonialisme dan imperialisme.
Banyak analis yang mengatakan bahwa lemahnya perekonomian rakyat di dunia Islam itu disebabkan oleh lemahnya etos kerja dan lemahnya etos kerja disebabkan karena menguatnya aliran tasawuf yang lebih mementingkan aspek ibadah yang berorientasi pada akhirat semata. Masyarakat lebih menekankan orientasinya kepada kehidupan akhirat semata karena hal itu dianggap satu-satunya harapan dalam situasi otoriter yang represif. M. Dawam Rahardjo,Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 459. Lihat juga, Jalaluddin Rakhmat, “Kemiskinan di Negara-negara Muslim,” dalam Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 103-108.
32

80

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

Eksploitasi pada zaman penjajahan itu merupakan penjelasan atas terjadinya kemiskinan di dunia Islam termasuk Indonesia. Koeksidensi antara kemiskinan dan kemusliman itu menimbulkan kesimpulan bahwa etos kerja di kalangan kaum Muslim itu rendah, padahal dewasa ini, Dunia Ketiga tidak hanya terdiri atas dunia Islam. Filipina juga sebuah negara yang masih terbelakang ekonominya, padahal mayoritas penduduknya beragama Katolik. Sebab-sebab kemiskinan itu adalah faktor-faktor yang kompleks yang terjalin dalam sejarah dan karena itu tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan etos kerja.33 Harapan perkembangan dunia Islam agaknya berasal dari dunia pendidikan. Etos kerja tidak hanya semata-mata bergantung kepada nilai-nilai agama dalam arti sempit, tetapi dewasa ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan, informasi, dan komunikasi. Oleh sebab itu, yang perlu dkembangkan adalah etos ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Apabila kelak sudah banyak tenaga-tena muda terpelajar di pusat dunia Islam, maka orientasi mereka terhadap etos industri akan berkembang. Dalam konteks Indonesia, kelompok-kelompok masyarakat dalam Pergerakan Indonesia agaknya mengambil tema yang berbedabeda dari Alquran yang menyebabkan tumbuhnya etos yang berbeda di antara mereka. Etos Masyumi adalah musyawarah dengan cita-cita kemasyarakatan ke arah tercapainya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Negara yang Adil Makmur di bawah Ampunan Ilahi). Muhammadiyah mengambil tema lain, yaitu yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 104, sedangkan ayat yang dijadikan dasar berorganisasi Nahdlatul Ulama (NU) adalah surah Ali Imran ayat 103. Di kalangan cendekiawan Muslim telah berkembang etos di sekitar konsep Ulul al-Bab, seperti yang tercantum dalam surat Ali ‘Imran ayat 190-191. Yang pertama menekankan dakwah amar ma’ruf nahy munkar,
Faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan suatu negara itu cukup kompleks. Dari sudut ekonomi, faktor yang paling berpengaruh adalah tingkat investasi. Sementara itu, sumber investasi utama dunia Islam ada dua, yaitu modal dan “bantuan” atau kredit luar negeri yang yang berasal dari negara-negara industri maju, dan hasil penggalian kekayaan alam, terutama migas, yang eksploitasinya dilakukan dengan modal dan teknologi asing. Sungguh pun begitu, tingkat pertumbuhan yang tinggi itu paling tidak menunjukkan adanya etos kerja tertentu. Hal yang perlu dipelajari bukanlah hanya soal etos kerja, melainkan bagaimana mengkombinasikan atau mengintegrasikan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh dunia Islam sehingga bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal bagi dunia Islam. Rahardjo, Intelektual, Intelegensia…, 461.
33

81

Gadeng , Etos Kerja dalam

sedangkan yang kedua menekankan persatuan umat. Sementara itu, ICMI (yang berdiri 7 esember 1990) menekankan peranan kelompok pemikir dalam perkembangan masyarakat.34

PENUTUP Sebenarnya, “etos kerja” dalam perspektif Islam adalah seperangkat “nilai-nilai etis” yang terkandung dalam ajaran Islam – Alquran dan Alsunnah – tentang keharusan dan keutamaan bekerja, yang digali dan dikembangkan secara sungguh-sungguh oleh umat Islam dari masa ke masa, dan itu sangat mempengaruhi tindakan dan kerjakerjanya di berbagai bidang kehidupan dalam mencapai hasil yang diharapkan lebih baik dan produktif. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ajaran Islam sejelas-jelasnya memberikan inspirasi dan motivasi kepada umat Islam agar bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang terbaik, dan ini tentunya dengan tidak mengabaikan landasan etis atau prinsip-prinsip dasar dan umum yang ada di dalam ajaran Islam. Yang perlu diingat, etos kerja Islami dapat terhambat oleh sistem pemerintahan yang feodal, otoriter dan represif terhadap rakyat. Oleh karena itu, etos kepemimpinan di dunia Islam khususnya, harus dibenahi dengan pemahaman yang utuh terhadap etos kerja dalam ajaran Islam. Dalam implementasinya, umat Islam merumuskan tema tertentu dalam mengembangkan etos kerjanya; ada yang menampilkan etos “khaira ummah” sebagai dasar pijaknya, ada pula etos “keadilan”, etos “musyawarah”, etos “ulul al-bab”, etos “imamah”, etos “tauhid yang membebaskan”, etos “iptek”, etos “persamaan gender”, etos “HAM”, etos “pluralisme”, dan sebagainya. Semua tema tersebut pada dasarnya digali dari Alqurqan. Munculnya keragaman tema karena latarbelakang umat Islam yang beragam dengan segala kepentingan yang juga berbeda, sehingga skala prioritas yang mungkin ingin ditujunya melalui temaPilihan Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh semangat pembaharuannya yang ingin menegakkan paham tauhid yang murni dengan memberantas hal-hal yang dianggap takhayul, bid’ah dan khurafat. Kepentingan NU adalah mempertahankan doktrin Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan kesatuan antara ulama dan umat. Sedangkan pilihan ICMI dilatarbelakangi oleh semangat untuk menumbuhkan etos iptek yang dinilai sebagai kunci perkembangan bangsa dan umat Islam yang dinilai terbelakang. Dengan pilihan atas tema yang berbeda itu, berbagai masyarakat Islam di Indonesia memperlihatkan etos yang berbeda. Yang dimaksud dengan etos di sini adalah sikap utama yang mendasari tindakan dan kegiatan seorang dalam masyarakat. Rahardjo, “Etos Masyarakat Utama,” dalam Intelektual, Intelegensia…, hlm. 449-450.
34

82

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:68-84

tema tertentu yang dianggapnya penting untuk dikembangkan dalam konteks tuntutan dan semangat zamannya. Tujuannya tetap sama, “hasanah” di dunia, dan “hasanah” kelak di akhirat. Ini tidak berarti mengabaikan ayat-ayat Alquran lainnya yang tidak dirumuskan dalam bentuk tema tertentu dimaksud. Setiap Muslim memiliki kesempatan dalam mengakses ajaran Alquran sesuai kemampuan dan kebutuhannya. Di sinilah kunci utama universalisme ajaran Islam – shalih likulli zaman wa makan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

DAFTAR BACAAN Abdullah, Taufik, Agama, Etos Kerja dan Pengembangan Ekonomi, (Jakarta: LP3ES, 1982). Al-Faruqi, Ismail, Al-Tawhid: Its Implication for Thought and Life (Herndon, Virginia: IIIT, 1995). Al-Mundziry, Al-Hafidh, Mukhtashar Shahih Muslim, 2 Jilid (Kuwait: Wazarat al-Awqaf wa al-Syu’un al-Islamiyyah, 1388 H/1969 M), jil. 2. Al-Thahthawi, Al-Sayyid ‘Abd al-Rahim ‘Anbar, Hidayat al-Bari ila Tartib al-Ahadits al-Bukhary, 2 Jilid (Kairo: al-Maktabat alTijariyah al-Kubra, 1353 H), jil. 1. Bellah, Robert N., “Islamic Tradition and the Problem of Modernization” dalam Robert N. Bellah, ed., Beyond Belief (New York: Harper and Raw, 1970). Caco, Rahmawati, “Etos Kerja” (Sorotan Pemikiran Islam),” dalam Farabi Jurnal Pemikiran Konstruktif Bidang Filsafat dan Dakwah, (terbitan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Anai Gorontalo, Vol. 3, No. 2, 2006). Echols, John M. dan Shadily, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, (terbitan Gramedia, 1977). Ensiklopedia Nasional Indonesia, (1989). Geertz, C., The Interpretation of Culture, (New York: Basic Book, 1973). Madjid, Nurcholish, Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999). Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 1995).

83

Gadeng , Etos Kerja dalam

Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992). Manshur, Fadlil Munawwar, “Profesionalisme dalam Perspektif Islam,” dalam Edy Suandi Hamid, dkk (peny), Membangun Profesionalisme Muhammadiyah, (Yogyakarta: LPTP PP Muhammadiyah-UAD Press, 2003). Myrdal, Gunnard, An Approach to the Asian Drama, (New York: Vintage Books, 1970). Rahardjo, Dawam, M, Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1999). Rakhmat, Jalaluddin, “Kemiskinan di Negara-negara Muslim,” dalam Islam Alternatif, (Bandung: Mizan, 1998). Samuelson, Kurt, Religion and Economic Action: A Critic of Max Webe, (New York: Harper Torchbook, 1964). Sarsono, Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998). Tasmara, Toto, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1995). Weber, Max, The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, terj. Talcott Parson, (New York: Charles Scribner’s Son, 1958). Webster’s New World Dictionary of the American Language, 1980.

Madjid,

84

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

PERANAN KAMPUS & MAHASISWA ACEH DALAM MEWUJUDKAN GENERASI MUDA ACEH BEBAS NARKOBA oleh Rusnaidi Dosen FE Unmuha, Banda Aceh

PENDAHULUAN Secara kualitatif eksistensi mahasiswa dapat dilihat dari empat hal. Pertama, mereka adalah kaum terpelajar atau intelektual karena mereka sedang bergulat dengan penimbaan ilmu pengetahuan di kampus-kampus. Kedua, mahasiswa adalah calon pemimpin. Dengan kapasitas keilmuan dan sikap terpelajar (being educated), memungkinkan mereka untuk menjadi pemimpin dalam segala lapisan di masa yang akan datang. Ketiga, mahasiswa adalah penggerak perubahan (agent of change). Hal itu dimungkinkan karena kemampuan dan daya banding (comparative adventage) yang mereka miliki, serta banyaknya informasi yang membuat mereka selalu melakukan dan memprakarsai perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Keempat, mahasiswa adalah garda depan perbaikan masyarakat karena potensi intelektualitas, obsesi, dan cita-cita masa depan mereka. Dengan melihat beberapa posisi mahasiswa tersebut, mahasiswa di mana pun, termasuk mahasiswa Aceh mempunyai peran yang amat penting dalam mewujudkan kampus dan generasi muda Aceh yang bersih dari segala gangguan, penyakit dan berbagai sumber malapetaka yang akan meracuni dan merusak masa depan generasi muda Aceh. Salah satu gangguan, penyakit, dan sumber malapetaka tersebut adalah bahaya “penyalahgunaan Narkoba”. Penyalahgunaan Narkoba dan dampak yang ditimbulkannya selama ini telah menyedot perhatian dunia internasional termasuk bangsa Indonesia untuk memberantasnya. Hal itu karena perlahan tapi pasti, gerakan penyalahgunaan Narkoba akan menghancurkan generasi terbaik sebuah setiap bangsa, termasuk masyarakat Aceh. Dalam kesempatan ini, penulis mendukung sepenuhnya berbagai program dan kegiatan yang dilakukan Badan Narkotika Provinsi Aceh untuk memberantas dan memerangi Narkoba sampai ke akar-akarnya. Atas dasar itulah, penulis mencoba berbagi saran dan pandangan yang dituangkan dalam makalah sederhana ini dengan judul “Peranan 85

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

Kampus dan Mahasiswa Aceh dalam Mewujudkan Generasi Muda Aceh Bebas Narkoba”. Kerja sama yang baik, kompak dan terpadu dari pihak Pemerintah Aceh dan setiap komponen masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan sangat menentukan berhasil dan suksesnya “aneuk nanggroe” untuk membebaskan dirinya dari belenggu dan jeratan ‘bencana Narkoba”. PEMBAHASAN Pengertian dan Sejarah Narkoba Definisi NARKOBA sesuai dengan Surat Edaran Badan Narkotika Nasional (BNN) No. SE/03/IV/2002 merupakan akronim dari Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Adiktif lainnya. Narkoba yaitu zatzat alami maupun kimiawi yang jika dimasukkan ke dalam tubuh dapat mengubah pikiran, suasana hati, perasaan, dan perilaku seseorang. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilang rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Sedangkan bahan adiktif adalah bahan-bahan aktif atau obat yang dalam organisme hidup menimbulkan kerja biologi yang apabila disalahgunakan dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) yakni keinginan untuk menggunakan kembali secara terus menerus.1 Sejarah pemakaian Narkoba sudah berlangsung lama. Sekitar 5000-6000 tahun sebelum Masehi. Orang-orang Mesopotamia telah membudidayakan tanaman poppy yang berkhasiat mengurangi nyeri dan memberi efek nyaman (joy plant). Zat ini dalam bahasa Yunani disebut opium atau yang dikenal sebagai candu.2 Pada tahun 1803 seorang apoteker Jerman berhasil mengisolasi bahan aktif opium yang memberi efek narkotika dan diberi nama Morfin. Morfin berasal dari bahasa Latin Morpheus yaitu nama dewa mimpi Yunani. Kemudian ada juga jenis lainnnya, seperti kokain, ganja,
Lebih lanjut lihat Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Mengenal Penyalahgunaan Narkoba Buku 2A Untuk Remaja/Anak Muda, (Jakarta: BNN RI, 2007), hlm 8-16. 2 Libertus Jehani & Antoro dkk (ed.), Mencegah Terjerumus Narkoba, (Tangerang: Visi Media, 2006), hlm. 2.
1

86

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

meskalin, psilosibin, kafein, nikotin dan seterusnya. Selanjutnya dibuatlah bahan semi sintesis dari bahan-bahan tersebut. Fungsi dan kegunaannya terus saja berkembang dan bervariasi sesuai penemuan khasiat alami, penyebaran dan percobaan-percobaan atau campuran sesuai kebutuhan misalnya untuk pengobatan, pengawetan, untuk ritusritus kepercayaan, untuk sosialisasi diri, untuk rekreasi, dan seterusnya. Bahan-bahan ini bersifat prikoaktif yang menyebabkan perubahan perilaku, kesadaran, pikiran dan perasaan seperti rasa nyaman, gembira, percaya diri dan sebagainya. Efeknya bagi pengguna pada umumnya bersifat penenang (depresan), perangsang (stimulan) dan pemicu khayalan (halusinogen). Masalahnya ialah sifat adiksi fisik maupun adiksi psikis dan emosional. Hal ini ditujukan agar badan merasa tidak nyaman bila tidak memakainya. Pikiran kusut, kacau dan tidak berdaya terhadap tekanan. Perasaan tidak terkendali oleh keinginan dan kerinduan yang terusmenerus mendesak untuk menggunakannya (ketagihan) maka hidup seseorang menjadi porak-poranda baik secara fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Di Indonesia, data awal yang menunjukkan penyalahgunaan zat yang dapat menimbulkan ketagihan (adiktif) itu mulai dijumpai pada tahun 1969 di Sanatorium Dharma Wangsa, Jakarta. Sejumlah kasus pun dijumpai di berbagai kota besar si Indonesia.3 Mereka yang telah merasa ketagihan candu dan keturunannya serta minuman keras dan zat adiktif lainnya itu menjadi egois dan berani berbuat apa saja untuk memperolehnya kendatipun melawan hukum. Dengan demikian, para pencandu itu bukan hanya membahayakan dirinya sendiri melainkan juga membahayakan orang lain. Menghadapi kenyataan serupa itu timbul upaya untuk menanggulanginya, baik oleh Pemerintah maupun masyarakat. Rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu saja sangat menentang penggunaan candu dan minuman keras. Oleh karena
Di Indonesia, penggunaan obat-obatan terlaran (drug) di kalangan anak muda semakin meningkat dan meluas. Pada akhir tahun 1960-an, penyalahgunaan obat-obat terlarang di kalangan remaja mencapai 80.000 hingga 100.000 kasus atau kira-kira 0,0050%, dan pada masa tahun 1995 mencapai 125.000 anak muda atau sekitar 0, 0062% dan mayoritas di antaranya merupakan remaja di kota-kota besar seperti Jakarta, tewas karena obata-obat terlarang, masuk penjara atau terlibat kejahatan lain. Lihat “Global Initiative on the provention of Drug in South East Asian Countries,” adalah makalah yang dipresentasikan oleh Delegasi Yayasan Bersama Indonesia sebagai LSM yang bergerak dalam penanggulangan bahaya Narkotika. Seminar IFNGO di Chiang Mai, 14-18 Maret 1996.
3

87

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

itu, mereka mengamanatkan kehendaknya melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagaimana tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yang mencantumkan upaya Negara untuk mengatasi hal tersebut (GBHN 1973, 1978, 1983, 1988) 9 tahun 1976 tentang Narkotika.4 Bahaya-Bahaya Narkoba Yang Menghancurkan Generasi Muda Aceh Bahaya penggunaan Narkoba dapat dibedakan menjadi bahaya dari segi hukum dan bahaya dari segi kesehatan. Seperti diketahui dari UU Narkotika dan UU Psikotropika, semua orang yang terlibat dapat dikenai sanksi berupa hukuman penjara, denda, bahkan sampai hukuman mati.5 Mereka yang dapat dijerat hukum melalui undang-undang tersebut mencakup produsen, penyalur dan pemakai dengan gradasi (tingkatan) hukuman dan denda yang bervariasi. Bahkan orang-orang yang mempersulit penyelidikan pun dapat dijerat hukum. Denda maksimal yang tercantum dalam undang-undang tersebut adalah sebesar 750 juta, sedangkan hukuman maksimalnya adalah hukuman mati. Bahaya dari segi kesehatan sangat berbeda, tergantung dari jenis Narkoba yang digunakan. Yang pasti, semua jenis Narkoba dan obat terlarang itu menyebabkan adiksi dan gejala putus obat apabila dihentikan pemakaiannya. Adiksi yang ditimbulkan menyebabkan si pemakai menjadi ketagihan dan membutuhkan obat tersebut terusmenerus. Ketergantungan ini mengganggu kesehatan fisik dan psikisnya. Gejala putus obat (withdrawal syndrome) adalah gejala-gejala yang timbul akibat dihentikannya pemakaian obat terlarang tersebut. Dalam keadaan ini maka fungsi normal tubuhnya menjadi terganggu seperti berkeringat, nyeri seluruh tubuh, demam, mual, sampai muntah. Gejala ini akan menghilang kalau diberikan lagi obat terlarang itu. Gejala ini
Peraturan Perundang-undangan sekitar Narkotika & Zat Adiktif, Majalah BERSAMA (Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama), Jakarta, 30 Agustus-September 1991, hlm. 33-36. 5 Lihat lebih lanjut UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika; UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika; Keppres No. 3 tahun 2002 tentang Minuman Beralkohol; Keppres No. 17 tahun 2002 tentang pembentukan BNN sebagai pengganti Keppres No. 116 tahun 1999 tentang BKNN; Pernyataan Presiden RI tanggal 12 Mei tahun 2000 bahwa Narkoba sudah menjadi BENCANA NASIONAL. Data BNN RI tahun 2004, menunjukkan bahwa 1, 5 % dari jumlah penduduk Indonesia terlibat penyalahan Narkoba (3,2 juta orang). Data tahun 2005 menunjukkan bahwa 15 ribu orang tewas setiap tahun akibat penyalahan Narkoba.
4

88

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

semakin lama semakin bertambah gawat. Secara farmakologik, efek yang ditimbulkan oleh obat terlarang itu dapat dikelompokkan menjadi depresan, stimulan dan halusinogen. Dalam kelompok depresan, obat terlarang ini akan menyebabkan depresi (menekan) aktivitas susunan saraf pusat. Pemakai akan menjadi tenang pada awalnya, kemudian apatis, mengantuk dan seterusnya tidak sadar diri. Semua gerak refleks menurun, mata menjadi sayu, daya penilaian menurun, gangguan terhadap sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah). Termasuk kelompok depresan ini ialah opioid seperti heroin, morfin dan turunannya, sedativa seperti barbiturat dan diazepam, nitrazepam dan turunannya. Kelompok stimulan merupakan obat terlarang yang dapat merangsang fungsi tubuh. Pada awalnya pemakai akan merasa segar, penuh percaya diri, kemudian berlanjut menjadi susah tidur, perilaku hiperaktif, agresif, denyut jantung menjadi cepat, dan mudah tersinggung. Termasuk dalam kelompok ini contohnya adalah kokain, amfetamin, ekstasy dan kafein. Kelompok halusinogen merupakan kelompok obat yang menyebabkan adanya penyimpangan persepsi termasuk halusinasi seperti mendengar suara atau melihat sesuatu. Persepsi ini menjadi “aneh”. Termasuk dalam kelompok ini contohnya ialah LSD, meskalin, mariyusns/ganja. Efeknya, pemakai menjadi curiga berlebihan, mata menjadi merah dan agresif serta disorientasi. Cara-cara pemakaian obat terlarang tersebut di atas juga sangat bervariasi, mulai dari cara oral sampai suntikan. Menyangkut cara penyuntikan, bahaya yang timbul adalah kemungkinan terjadinya infeksi pada alat suntik, tertularnya radang hati (hepatitis virus B) dan HIV/AIDS. Sedangkan cara pemakaian yang dihirup melalui hidung dapat menyebabkan pendarahan di hidung (epistakis).6 Berdasarkan uraian di atas dapat dimengerti bahwa Narkoba perlu dihindari karena dapat merugikan bagi diri sipemakai dan orang lain, yaitu:7 1. Terhadap Pribadi atau Individu - Narkoba dapat merubah kepribadian sikorban secara drastis, seperti berubah menjadi pemurung, pemarah, bahkan melawan terhadap apa atau siapapun.
Libertus Jehani & Antoro, Mencegah Terjerumus…, hlm. 6-8. Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Mengenal Penyalahgunaan Narkoba: Buku 2B Untuk Orang tua dan Dewasa, (Jakarta: BNN RI, 2007), hlm. 1920.
7 6

89

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

-

Menimbulkan sikap masa bodoh sekalipun terhadap dirinya, seperti tidak lagi memperhatikan pakaian, tempat di mana ia tidur dan sebagainya. - Semangat belajar menjadi menurun dan suatu ketika bisa saja si korban bersikap seperti orang gila karena reaksi dari penggunaan Narkoba tersebut. - Tidak ragu untuk mengadakan hubungan seks secara bebas karena pandangannya terhadap norma-norma masyarakat, hukum, agama sudah longgar dan rapuh. - Menjadi pemalas bahkan hidup santai. - Tidak segan-segan menyiksa diri karena ingin menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan terhadap obat bius. 2. Terhadap keluarga - Tidak segan-segan mencuri uang bahkan menjual barang-barang di rumah yang bisa diuangkan. - Tidak menjaga sopan santun di rumah bahkan melawan orang tua. - Kurang menghargai harta milik yang ada di rumah, mengendarai kendaraan ugal-ugalan. - Mencemarkan nama keluarga dan keharmonisan keluarga sirna/terganggu. - Kerugian material (membeli dan mengobati). 3. Terhadap Masyarakat - Berbuat tidak senonoh (mesum) dengan orang lain, yang berakibat tidak saja bagi dirinya sendiri melainkan mendapat hukuman masyarakat yang berkepentingan. - Mengambil milik orang lain demi memperoleh uang untuk membeli atau mendapatkan Narkoba. - Mengganggu ketertiban umum seperti mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi. - Melakukan tindakan kekerasan, baik fisik, psikis maupun seksual. - Menimbulkan bahaya bagi ketenteraman dan keselamatan umum yang antara lain tidak merasa menyesal apabila berbuat kesalahan. 4. Terhadap Bangsa dan Negara - Hilangnya generasi muda (lost generation). - Kualitas generasi menurun - Hilangnya rasa patriotisme atau rasa cinta pada bangsa dan pada gilirannya mudah untuk dipengaruhi oleh keprntingan-kepentingan yang menjadi ancaman terhadap ketahanan nasional dan stabilitas nasional. - Negara terjajah kembali.

90

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

Dari berbagai macam bahaya yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan Narkoba dapat disimpulkan bahwa perlahan tapi pasti nasib sebuah komunitas: dari unit terkecil seperti individu dan keluarga, sampai kepada masyarakat, bangsa dan negara akan mengalami kehancuran dan bencana nasional yang memalukan dan memilukan, merusak dan bahkan menghancurkan, punah dan kehilangan generasi adalah sesuatu yang niscaya. Dampak bencana yang disebabkan oleh penyalahgunaan Narkoba singkatnya akan merusak dan menghancurkan tatanan sistem dalam segala aspek dan lini kehidupan bangsa. Untuk itu penting dilakukan tindakan serius, sistematis dan padu dalam menemukan berbagai faktor penyebab dan langkah-langkah strategis dan konkrit untuk mengatasinya: baik tindakan preventif maupun pengobatan (rehabilitasi). Peranan Mahasiswa dalam Mengatasi Penyalahgunaaan Narkoba Pada dasarnya, Narkoba boleh digunakan untuk dua hal, yaitu: (1) Untuk kepentingan medis, misalnya operasi, dan (2) Untuk kepentingan ilmu pengetahuan seperti eksperimen ilmiah di laboratorium. Penggunaan Narkoba di luar dua hal tersebut dilarang oleh Undang-undang. Apabila seseorang menggunakan Narkoba di luar itu tergolong penyalahgunaan dan akan mendapatkan sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.8 Menurut penulis, Upaya-upaya pencegahan yang perlu dilakukan oleh mahasiswa Aceh terhadap penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan dengan langkah-langkah nyata dan kooperatif melalui gerakan atau jihad intelektual; baik melalui tulisan, lisan, maupun sosialisasi pembinaan dan pendidikan anti-Narkoba. Dapat juga dilakukan dengan aksi-aksi nyata dalam membantu dan mendukung berbagai program kampanye anti-Narkoba yang dilakukan oleh Badan Narkotika Provinsi Aceh. Dalam hal ini, kerja sama antara Mahasiswa Aceh (kampuskampus yang ada di Aceh) dan Badan Narkotika Provinsi Aceh dalam pemberantasan penyalahgunaan Narkoba penting dilakukan. Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain adalah sebagai berikut: 1. Melakukan pembersihan dan pemeliharaan kampus “bebas Narkoba”. Prosesi awal yang penting dilakukan oleh mahasiswa dalam hal pemberantasan penyalahgunaan Narkoba adalah dimulai dari lingkungan kampus terlebih dahulu sebelum beranjak ke tempat atau lingkungan
8

BNN RI, Mengenal Penyalahgunaan…, hlm. 19.

91

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

lainnya. Setiap mahasiswa Aceh memiliki kampus masing-masing. Di setiap kampus tentunya memiliki organisasi-oraganisasi kemahasiswaan yang berada dalam sebuah wadah bernama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dipimpin oleh seorang Presiden Mahasiswa. Organisasi internal kampus inilah yang memiliki peran dan tanggung jawab moral dalam mengatur, membina dan mengorganisir sesama mahasiswa untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi oleh masyarakat kampus. Dalam konteks pemberantasan Narkoba, organisasi internal kampus semisal BEM bisa melakukan kerja sama dengan Badan Narkotika Provinsi Aceh dan LSM-LSM anti-Narkoba lainnya dalam menentukan program-program kerja dan tindakan-tindakan prioritas “pemberantasan Narkoba” dalam skala internal kampus. Sosialisasi internal kampus tentang penyalahgunaan Narkoba dan bahaya-bahaya yang ditimbulkan penting dilakukan. Pendidikan anti-Narkoba juga perlu dipersiapkan untuk internal kampus. Dari kampus inilah nantinya dibentuk semacam tim sosialisasi atau kampanye anti-Narkoba yang dilakukan lewat penyadaran moral, pembinaan dan pelatihan-pelatihan anti-Narkoba terhadap masyarakat di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam. Karena kampus dan mahasiswanya dikenal sebagai pusat gerakan intelektual dan pengabdian, maka cara-cara yang bersifat intelektual penting untuk dikedepankan. 2. Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Rumah (Keluarga) a. Orang Tua Harus Paham Narkoba Membangun jalinan komunikasi intens antara orang tua dan anak merupakan alat yang paling ampuh untuk dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun demikian, banyak orang tua merasa ragu mendiskusikan tentang penyalahgunaan “Narkoba” dengan anak-anak mereka. Sebagian dari kita percaya bahwa anak-anak kita tidak akan terlibat pada hal-hal yang terlarang tersebut. Sebagian lainnya menundanya karena tidak mengetahui bagaimana mereka harus mengatakannya, atau justeru merasa takut untuk memikirkan tentang hal itu dan mendorong ke arah yang tidak diinginkan. Suatu studi di Amerika terhadap kaum muda yang mengikuti program rehabilitasi mengatakan bahwa mereka mengkonsumsi alkohol atau obat-obat terlarang dua tahun sebelum orang tua mereka mengetahuinya. Artinya, orang tua selalu terlambat mengetahui apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Hal ini bisa terjadi karena komunikasi terhambat. Dari hasil studi tersebut ada pesan menarik untuk

92

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

orang tua yakni pentingnya menjalin komunikasi sedini mungkin dan sesering mungkin terhadap anak. Anak-anak menginginkan orang tua untuk berbicara kepada mereka mengenai Narkoba. Kalau orang tua terlihat ragu-ragu atau tidak yakin akan pendiriannya sendiri, maka anak justeru akan tergoda mencobanya. Orang tua perlu memperkaya diri dengan pengetahuan mengenai Narkoba dan sampaikan pengetahuan tersebut kepada anak dengan sikap yakin dan percaya diri. b. Orang Tua Harus Mengawasi Kegiatan Anak Sudah banyak buku yang menyajikan bagaimana orang tua berperan sebagai pengawas dan mitra bagi putra-putrinya. Persoalannya sekarang adalah bagaiama hal tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama berkaitan dengan peran orang tua untuk mengembangkan karakter anak sehingga mampu menolak tekanan kelompok sebaya untuk memakai Narkoba. Anak perlu dibimbing untuk mencari teman sejati, yang tidak menjerumuskan dirinya dalam hal yang merugikan atau merusak. Anak sepatutnya diajar dan dididik untuk menolak tawaran penyalahguanaan Narkoba (dengan argumen yang logis) dan mengetahui jadwal kegiatan anak dan siapa saja kawan-kawannya. Orang tua sebagai pengawas sesungguhnya menjaga anak untuk menghindari bahaya Narkoba. Orang tua juga harus meningkatkan perannya sebagai mitra dan pengawas. Tetaplah bangun sampai saat anak pulang pada waktu malam. Fungsi orang tua sebenarnya juga sebagai detektor penyalahgunaan Narkoba. Para orang tua perlu mengetahui gejala-gejala penyalahgunaan Narkoba agar mereka dapat segera membantu. Ada tiga gejala sekurang-kurangnya yang menunjukkan anak itu menyalahgunakan Narkoba, yaitu: Pertama, hadirnya perlatan Narkoba, seperti pipa rokok yang biasa dipakai untuk menghirup kokain/heroin, kertas linting untuk ganja atau botol kecil dan pemantik (korek) gas. Kedua, kehadiran Narkoba itu sendiri. Ketiga, adanya bau alkohol atau Narkoba lainnya. Tanda-tanda lain adalah perubahan perilaku dan keadaan tubuh anak seperti, munculnya kebosanan pada hal-hal yang pada awalnya sering dilakukan dengan senang hati. Menurunnya prestasi di sekolah, menjadi mudah tersinggung, malas, mengantuk, berat badan menurun dan suka memakai baju lengan panjang untuk menyembunyikan bekas suntikan pada lengan. 93

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

c. Orang Tua Menjadi Pendidik Utama Anak Orang tua merupakan panutan dalam kehidupan anak. Segala hal yang dikatakan dan dilakukan orang tua sehubungan dengan Narkoba akan memengaruhi sikap dan keputusan yang akan mereka ambil mengenai Narkoba. Dalam hal ini memang keteladanan menjadi sangat penting. Dalam penerapan peraturan di rumah, misalnya, harus berlaku bagi setiap anggota keluarga. Bila orang tua menghendaki anak tidak merokok, maka sebaiknya orang tua pun jangan merokok. Selain itu, orang tua harus jujur dan mengakui kelemahan-kelemahannya kepada anak tanpa harus merasa takut kehilangan wibawanya. Aturan yang dibuat oleh orang tua harus konsisten, kontinyu dan konsekuen. Pertimbangkan pendapat anggota keluarga secara umum. Aturan yang telah ditetapkan, harus dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga tidak terkecuali bagi orang tua yang telah membuat aturan. Peran keluarga dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba sangat penting. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Narkoba adalah obat, bahan, zat bukan makanan, yang jika diminum, dihisap, dihirup, ditelan atau disuntikkan, berpengaruh terutama pada kerja otak (susunan syaraf pusat) dan seringkali menyebabkan ketergantungan. d. Orang Tua Harus Mendorong Anak Percaya Diri Remaja yang menyalahgunakan Narkoba memiliki citra diri yang rendah/negatif. Remaja dengan citra diri positif lebih mudah menolak tawaran Narkoba. Orang tua membantu peningkatan percaya diri anak antara lain, pertama, dengan memberi pujian dan dorongan untuk halhal kecil atau sepele yang dilakukannya. Kedua, membantu anak mencapai tujuannya secara realistik. Anak perlu diarahkan keinginan dan cita-citanya sesuai dengan kemampuan dan kenyataan. Hindari berkhayal, koreksi tindakannya, bukan pribadi atau harga dirinya. Ketiga, memberi anak tanggung jawab yang dapat membangun kepercayaan dirinya, sesuai dengan kemampuan dirinya. Tugas yang diberikan kepada anak harus dikerjakannya setiap hari di rumah, seperti membersihkan kamar tidur, menyapu ruangan, mencuci pakaian, piring dan seterusnya. e. Mengembangkan Nilai Positif Anak Sejak dini anak harus dididik untuk mampu membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah. Hal itu memungkinkan anak berani mengambil keputusan atas dorongan hati nuraninya, bukan karena tekanan atau bujukan teman. Tunjukkan sikap tulus, jujur tidak

94

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

munafik, terbuka, mau mengakui kesalahan, meminta maaf, serta tekad orang tua untuk memperbaiki diri. f. Mengatasi Konflik dalam Keluarga Jangan biarkan konflik suami-isteri berlarut-larut, sebab anak dapat merasakan suasana ketegangan orang tua. Jangan bertengkar atau berdebat di depan anak. Jika perlu, minta pertolongan/konsultasi tenaga profesi/ahli, atau orang yang dapat dipercaya. Ciptakan suasana damai antara suami-isteri. Berikan contoh yang baik kepada anak. Beberapa cara bagaimana orang tua menunjukkan contoh-contoh yang baik dan sehat kepada anak: a). Berhati-hati tentang kebiasaan penggunaan obat setiap badan sakit atau setiap ada masalah; 2). Memelihara dan memperhatikan kesehatan melalui makanan yang bergizi dan olah raga yang tertaur; 3). Menjelaskan kapan sebaiknya obat itu digunakan dan tidak digunakan. g. Menjadi Sahabat Anak-anak Orang tua harus berperan menjadi teladan atau role model dalam budaya anti-narkoba, anti kekerasan dan disiplin diri. Namun menjadi orang tua yang juga sekaligus sahabat mampu menjadikan anak merasa dekat dan nyaman. Orang tua seyogyanya menjadi teman diskusi dan pendengar yang bai terhadap masalah yang dihadapi anak. Anak diajak untuk berdialog secara terbuka dan mendalam, tentunya di saat yang tepat. Perhatikan ekspresi wajah dan tingkah lakunya, jagalah kerahasiaan anak serta emosi orang tua. Orang tua harus menjadi tempat bertanya, mengikuti perkembangan anak dan permasalahannya sehingga dapat memberikan penjelasan bila anak bertanyan, termasuk masalah Narkoba. Teman-teman anak harus dikenali dan diajak berkomunikasi. Bila putra-putri kita membawa teman ke rumah, bergabunglah dengan mereka meskipun sejenak, tanpa mempermalukan anak di depan temantemannya. Kebiasaan ini akan membuat anak maupun teman-temannya menjadi akrab dengan orang tua dan menganggap orang tua sebagai bagian dari kelompok mereka. Orang tua harus mendukung kegiatan anak di sekolah, berolah raga, menyalurkan hobi, bermain musik, dan sebagainya, tanpa menuntut prestasi dan harus menang. Libatkan diri dalam kegiatan anak. Anak menghargai saat orang tua melibatkan diri dalam kegiatan mereka, tanpa terlalu banyak ikut campur dalam keputusan yang diambil anak.

95

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

3. Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Tempat Kerja Pencegahan berbasis tempat kerja dapat diwujudkan dengan: a. melaksanakan kampanye anti penyalahgunaan Narkoba bagi karyawan perusahaan, b. melaksanakan diklat bagi staf di perusahaan dan instansi-instansi yang ada, c. pemerintah juga perlu memotivasi pelaku usaha agar melaksanakan kampanye anti Narkoba di perusahaan, d. Membangun kerja sama dengan perusahaan dalam melaksanakan pencegahan di tempat kerja 4. Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Sekolah Berdasarkan hasil riset, jaringan pengedaran Narkoba memiliki sistem yang sangat rapi dan padu sehingga sulit diberantas. Sebagai contoh, yang menjadi target utama pengedaran Narkoba di sekolah biasanya adalah siswa “smart”, pandai bergaul, dan disegani temantemannya. Tempat-tempat transaksi yang biasa digunakan adalah di WC sekolah, warung-warung kecil di sekitar sekolah, tempat parkir, dan rumah kos. Sering terungkap pula bahwa para pengedar terdiri dari kalangan siswa, juru parkir, satpam, tukang rokok, pedagang makanan/minuman, alumni, dan bandar yang sengaja mangkal di tempat parkir. Oleh karena itu, pengedaran Narkoba di sekolah harus dilawan dengan memakai sistem dan koordinasi yang baik dari berbagai komponen. Adapun sekolah dapat membuat sistem melalui pendidikan, penerapan aturan dan tata tertib yang tegas dan kondusif, membentuk jaringan antinarkoba di lingkungan sekolah, serta melaksanakan koordinasi dengan masyarakat, sekitar sekolah, LSM, dan aparat kepolisian. Dari berbagai survey, dapat diketahui bahwa korban Narkoba banyak yang pada awalnya tidak mengetahui akan bahayanya. Oleh karena itu, pendidikan tentang pemahaman dan bahaya Narkoba sangat penting. Jaringan antinarkoba di sekolah perlu dibentuk sebagai tanda bahwa sekolah sangat serius dalam menangani Narkoba. Salah satu caranya adalah dengan memfungsikan komponen-komponen penting yang ada di sekolah, seperti bagian kesiswaan, guru bimbingan dan konseling, wali kelas, guru mata pelajaran terkait, OSIS, perwakilan kelas, dan unsur-unsur penting yang strategis lainnya. Unsur luar yang

96

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

dapat dikoordinasikan dengan jaringan ini adalah orang tua siswa, alumni, masyarakat sekitar sekolah, LSM, medis dan kepolisian.9 Selain itu, koordinasi sekolah dengan LSM dan kepolisian tidak hanya dilakukan pada awal-awal tahun pelajaran atau bila ada kasus muncul. Hal ini perlu dilaksanakan secara berkala dengan harapan memberikan warning bahwa mereka selalu diperhatikan. Sekolah harus membuka diri untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Di samping itu, peran aktif guru sangat menentukan untuk menjaga dan menghindarkan seorang anak terjebak dalam pemakaian narkoba, yakni dengan cara mengadakan pendekatan dari hati ke hati. Pendidikan budi pekerti sepertinya perlu dihidupkan kembali guna membina dan mengasah moral dan mental anak-anak.10 5. Peran Media Massa Dalam Pencegahan Narkoba Media cetak dan dunia pertelevisian mempunyai peran penting untuk terlibat dalam upaya pencegahan bahaya Narkoba. Karena pesan yang disampaikan media setiap harinya akan memberikan daya ingat yang cepat kepada remaja khusus anak di bawah umur yang rentan terkena bahaya tersebut. Pengiklanan pun memiliki tanggung jawab atas kebenaran informasi tentang produk yang diiklankan. Termasuk ikut memberikan arah, batasan, dan masukan pada pembuat iklan agar tidak terjadi janji yang berlebihan atas kemampuan nyata sesuatu produk. Seberapa jauh tanggung jawab pengiklan pada pesan-pesan iklan yang melanggar etika akibat kesalahan informasi yang diberikan kepada perusahaan periklanannya? Hal ini juga menjadi masalah serius. Pola-pola kerja sama yang perlu dilakukan dengan media massa dalam mensosialisasikan kampanye anti-narkoba antara lain: (1) melakukan kampanye anti penyalahgunaan Narkoba melalui media
Kontribusi keluarga atau orang tua siswa dalam penanggulangan Narkoba adalah dengan meluangkan waktu untuk memonitor setiap aktivitas anaknya. Orang tua siswa harus sering berkonsultasi dengan sekolah walaupun tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan. Anak-anak perlu diajak dialog untuk mengetahui pola pikir dan problem yang sesungguhnya mereka hadapi. Kamar tidur dan tas sekolah mereka perlu juga diperiksa secara berkala. Tempat mangkal yang sering mereka gunakan perlu mendapat pantauan serius dari pihak orang tua. 10 Pihak sekolah, dalam hal ini para guru, sebenarnya belum semua mendapatkan informasi yang lengkap tentang Narkoba. Oleh karena itu, perlu ada pelatihan bagi para guru. Kalau tidak begitu, mereka bisa dibohongi oleh murid. Bisa saja, anak menyebut “bong” (semacam pipa untuk menghisap uap narkotik) sebagai prakarya atau Narkoba berbentuk “pil” dibilang obat sakit perut.
9

97

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:85-99

cetak dan elektronik; (2) mengadakan diklat bagi wartawan khusus wartawan yang menangani masalah Narkoba; (3) membuat press release tentang isu-isu penting seputar permasalahan Narkoba; (4) melaksanakan press conference menyikapi masalah-masalah urgen tentang permasalah Narkoba; (5) melakukan kerja sama dengan wartawan agar melakukan kontrol hukum terhadap kasus-kasus Narkoba. PENUTUP Akhirnya, dapat dimengerti dan disimpulkan bahwa Narkoba dengan beragam jenis dan modelnya, bukan hanya merusak dan meghancurkan masa depan seseorang atau sekelompok orang semata, melainkan berimbas dan menular pada kehancuran suatu masyarakat, bahkan generasi bangsa. Peredaran dan daya penyebarannya memakai strategi dan jaringan kerja yang rapi, canggih, dan profesional. Untuk mengatasi fenomena tersebut, di mana Narkoba bukan hanya merupakan masalah nasional, tetapi juga sebenarnya telah menjadi “musuh” dan “bencana” internasional, maka dibutuhkan usaha-usaha kolektif dan terpadu, dari berbagai komponen bangsa Indonesia; baik mahasiswa, pemerintah maupun masyarakat–bekerjasama dengan warga dunia lainnya–untuk saling bantu-membantu dalam menyelamatkan generasi bangsa dari serangan sistemik sindikat peredaran Narkoba yang semakin marak belakangan ini. Berbagai upaya startegis, sistematis dan tepat sasaran juga patut dilakukan dari setiap lingkungan kampus di Nanggroe Aceh Darussalam, di mana peran, tindakan nyata, dan tanggung jawab mahasiswa Aceh sangat dibutuhkan konstribusinya–dalam rangka penyelamatan generasi muda Aceh dari serbuan penyakit dan bencana mematikan ini–yang bernama “hantu” Narkoba!. Perang terhadap bandar dan pengedar Narkoba mutlak diprioritaskan, tidak hanya oleh aparat penegak hukum, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam upaya pemberantasannya. Upaya-upaya preventif dan kuratif pun juga penting diaktualisasikan secara seimbang dan komprehensif. Sekurangkurangnya, marilah kita mulai, (ibdak binafsik!)

98

Rusnaidi, Peranan Kampus&Mahasiswa

DAFTAR BACAAN Global Initiative on the provention of Drug in South East Asian Countries. makalah yang dipresentasikan oleh Delegasi Yayasan Bersama Indonesia sebagai LSM yang bergerak dalam penanggulangan bahaya Narkotika. Seminar IFNGO di Chiang Mai, 14-18 Maret 1996. Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Mengenal Penyalahgunaan Narkoba Buku 2A Untuk Remaja/Anak Muda, (Jakarta: BNN RI, 2007). Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Mengenal Penyalahgunaan Narkoba: Buku 2B Untuk Orang tua dan Dewasa, (Jakarta: BNN RI, 2007). Keppres No. 17 tahun 2002 tentang pembentukan BNN sebagai pengganti Keppres No. 116 tahun 1999 tentang BKNN. Keppres No. 3 tahun 2002 tentang Minuman Beralkohol. Libertus Jehani & Antoro dkk (ed.), Mencegah Terjerumus Narkoba, (Tangerang: Visi Media, 2006). Peraturan Perundang-undangan sekitar Narkotika & Zat Adiktif, Majalah BERSAMA (Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama), Jakarta, 30 Agustus-September 1991. Pernyataan Presiden RI tanggal 12 Mei tahun 2000 bahwa Narkoba sudah menjadi BENCANA NASIONAL. UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

99

Saidi, Narkoba dalam Pandangan Syariat Islam

NARKOBA MENURUT PANDANGAN SYARIAT ISLAM oleh Saidi Dosen Fatar Unmuha, Banda Aceh

PENDAHULUAN “Satu-satunya jalan agar tidak terjerumus narkoba adalah jangan mencoba menggunakan narkoba. Yang Terbaik dalam hidup akan hilang karena narkoba. Hidup pasti akan berakhir tetapi jangan akhiri hidupmu dengan narkoba!” Demikian salah satu pesan dan peringatan yang pernah penulis baca dan dengar di seputar informasi tentang narkoba dan dampak yang ditimbulkannya. Intinya adalah, “jangan bermain api” dengan narkoba. Cepat atau lambat narkoba akan melumpuhkan dan memusnahkan kehidupan seorang anak manusia dengan penderitaan dan kesengsaraan yang panjang, bukan hanya seorang atau dua orang yang dirugikan oleh narkoba, tetapi juga dan bahkan masa depan generasi bangsa bisa rusak dan hancur akibat penyalahgunaan narkoba. Kendatipun narkoba pada awalnya dikonsumsi manusia sebagai obat dan digunakan sebagai objek penelitian di bidang ilmu pengetahuan, namun karena kesalahan dalam penggunaannya bisa menjadi penyakit menular yang sangat berbahaya, dan dapat menyebar cepat melalui pergaulan, terutama di kalangan ramaja. Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah dan penyakit yang dapat mematikan kreatifitas dan kesehatan kehidupan generasi muda, oleh karana itu, bukan hanya di Indonesia, tetapi semua negara di dunia memaklumkan perang terhadap penyalahgunaan narkoba dengan segala bencana yang ditimbulkannya. Fakta dan data menunjukkan bahwa baik secara kualitas maupun kuantitas narkoba secara cepat selalu mengorbankan generasi muda. Masalah narkotika dan obat-obatan terlarang seperti ganja, morfin, putaw dan jenis lainnya merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa. Di kalangan generasi muda dan masyarakat tertentu telah dirasuki dan bahkan dapat dikategorikan sebagai pecandu yang sulit disembuhkan. Tindakan preventif yang harus dilakukan untuk menghindari terjerumus dan ketergantungan generasi muda terhadap obat-obat terlarang tersebut. Salah satunya adalah dengan pendekatan agama. Mengenai status hukum penyalahgunaan narkoba dalam 100

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

berbagai jenisnya, apakah ia termasuk kepada yang dilarang agama atau bukan? Tulisan ini akan mengkaji persoalan narkoba dari sudut pandang syariat Islam. PEMBAHASAN Definisi dan Gejala Ketergantungan Narkoba Narkoba adalah singkatan dari “Narkotika dan Obat-obat terlarang,”dari pengertian tersebut dapat dipisahkan antara narkotika dan obat-obat terlarang. Narkotika diartikan sebagai bahan-bahan pembius atau obat-obat bius. Sedangkan obat-obat terlarang banyak jenisnya, antara satu dan lainnya, punya pengaruh berbeda terhadap keadaan fisik maupun mental seseorang. Istilah lain yang tidak kalah populernya adalah “NAZA”, yaitu singakatan dari Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif lainnya.1 Jenis-jenis obat (drug atau farmakon) didefinisikan oleh WHO sebagai “semua zat yang bila dimasukkan ke dalam tubuh suatu makhluk, akan mengubah atau mempengaruhi satu atau lebih fungsi kesadaran dan tingkah laku makhluk tersebut”. Dalam masalah ketergantungan obat, biasanya yang dimaksud dengan obat ialah: zat dengan efek yang besar terhadap susunan syaraf pusat atau fungsi mental, seperti obat psikotropik, termasuk obat psikotomimetik (psikedelik) dan stimulansia, morfin dan derivatnya serta obat tidur. “Opioid” ialah semua zat, asli atau sintetik, yang mempunyai efek seperti morfin. Sedangkan narkotika sebenarnya secara farmakologik berarti obat-obat yang menekan susunan syaraf pusat, terutama opioid; tetapi sebagian ahli memasukkan juga tranguilaizer, neroleptika, dan hipnotika ke dalam kelompok narkotika. Menurut peraturan di Indonesia, dalam narkotika termasuk juga kokain dan psikotomimetika (ganja). Opioid Opioid yang terkenal dengan opium, morfin, heroin, kodein, dan petidin. Efek satu dosis tunggal morfin atau opioid yang lain ternyata tergantung pada pengalaman individu dengan obat tersebut sebelumnya, pada kepribadiannya, adanya atau tidak adanya rasa nyeri serta tergantung pula pada keadaan dan suasana pemakaian. Semua jenis narkoba (Naza) tersebut diproduk dalam dua bentuk kemasan; Pertama, diproduk khusus untuk kepentingan “obat-obatan” dan bisa dipakai dengan resep dokter. Kedua, dikemas khusus untuk kepentingan “bisnis”, dalam bentuk kedua ini baik proses produksinya,
1

WF. Maramis, Ilmu Kedokteran Jiwa, (Surabaya: Airlangga University Press,

1988).

101

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

proses pemasarannya, maupun yang mengkonsumsinya tetap sifatnya ilegal. Pada dasarnya narkoba adalah obat yang sangat dibutuhkan di dunia kedokteran, tanpa adanya jenis-jenis obat tersebut, penyakitpenyakit tertentu ada yang tidak bisa ditolong, tetapi penyalahgunaannya itu yang menjadi masalah utama. Sasaran utama narkoba adalah remaja, hanya sebagian kecil yang bukan dari kelompok mereka. Menurut hasil dari suatu penelitian bahwa 64% pecandu narkoba berasal berasal dari mereka yang usia rata-rata antara 16-18 tahun. Pertanyaannya, mengapa usia remaja menjadi sasaran empuk dari pengedar dan pecandu Narkoba? Ditinjau dari ilmu psikologi, usia remaja mempunyai beberapa ciri khas tertentu, yaitu: (1) Masa remaja sebagai periode penting; (2) Masa remaja sebagai periode peralihan; (3) Masa remaja sebagai periode perubahan; (4) Masa remaja sebagai usia bermasalah; (5) Masa remaja sebagai masa mencari identitas; (6) Masa remaja sebagai usia yang menakutkan; (7) Masa remaja sebagai masa yang tidak realistis; dan 8. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.2 Pada tahun 2000 saja, sekitar 70% dari 4 juta pecandu narkoba tercatat sebagai anak usia sekolah, berusia antara 14 hingga 20 tahun. Ketua National Drug Abuse Prevention Center (NDPC), Jesse Monintjo (ketika itu), mengungkapkan fakta baru ini berdasarkan temuan Tim Pokja (Kelompok Kerja) Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba yang dibentuk oleh Direktorat Pembinaan Kesiswaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bila temuan itu benar, berarti penderita narkoba mengalami peningkatan sekitar 100% dalam kurun waktu empat bulan terakhir. Data di Depdiknas terakhir pada bulan November 1999 menyatakan sekitar 2 juta siswa tersangkut urusan narkoba. Dari skala umur telah terjadi pergeseran yang mencolok dan mengejutkan bahwa anak sekolah menjadi konsumen terbesar narkoba. Depdiknas mensinyalir pecandu narkoba banyak dari kalangan usia 15-27 tahun, sedangkan jumlah total anak sekolah di Indonesia di Indonesia (dari SD sampai perguruan tinggi/PT) tercatat sekitar 45 juta siswa.3 Sementara itu, Direktur RS Marzuki Mahdi – dr. Amir Hussein Anwar (pada saat itu) – mengatakan bahwa ada 500 ribu pengguna narkoba jarum suntik di Indonesia terkena HIV positif. Dalam 4 hingga

Hurlock, EB, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 1997). 3 Koesmarwanti dan Nugroho Widiyanto, Dakwah Sekolah di Era Baru, (Karangasem: Intermedia, 2002), hal. 40-41.

2

102

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

5 tahun mendatang, mereka bakal mengidap AIDS baru.4 Bayangkan saja, bila sejak tahun 2000 hingga sekarang tahun 2009 antisipasi terhadap narkoba tidak maksimal tentu saja prosentase korban narkoba secara nasional bisa membludak lebih besar dan gawat lagi. Fenomena “gunung es” yang luar biasa ini, tidak lagi hanya menyinggung masalah moral, tetapi sudah mengarah pada upaya menghancurkan generasi pemimpin bangsa. Data yang terkumpul selama ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan, kalangan mahasiswa, intelektual dan artis menduduki peringkat pertama dalam hal pengedaran dan pemakaian narkoba. Bahkan, sekarang sindikat narkoba sudah memperluas jaringan hingga anak-anak sekolah dasar dan menengah. Adapun gejala-gejala yang muncul jika seseorang kecanduan (ketergantungan) narkoba antara lain:5 (1) Fisik - Berat badan turun drastis - Mata cekung dan merah, muka pucat dan bibir kehitam-hitaman - Tangan penuh dengan bintik-bntik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan - Buang air besar dan kecil kurang lancar - Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas (2) Emosi - sangat sensitif dan cepat bosan - Bila ditegur atau dimarahi dia menunjukkan sikap membangkang - Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar kepada anggota keluarga atau orang lain di sekitarnya - Nafsu makan tidak menentu (3) Perilaku - Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya - Menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga - Sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam - Suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah
Republika, 23 Maret 2002. Visimedia, Mencegah Terjerumus Narkoba, (Tangerang: Agromedia Pustaka, 2006), hal. 11-13.
5 4

103

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

Selalu kehabisan uang Waktunya di rumah kerap kali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi/tempat-tempat sepi lainnya - Takut akan air, jika terkena akan terasa sakit – karena itu mereka jadi malas mandi - Sering batuk-batuk dan pilek yang berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala “putus zat” - Sikapnya cenderung menjadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang saat beli obat - Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan - Sering menguap - Mengeluarkan air mata berlebihan - Mengeluarkan keringat berlebihan - Sering mengalami mimpi buruk - Mengalami nyeri di kepala - Mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi. Semua orang pada prinsipnya ingin hidup lebih baik dan ingin segera keluar dari masalah yang dihadapinya. Dalam hati seorang pecandu sekalipun, ada niat juga untuk berhenti mengkonsumsi narkoba. Ia ingin berhenti karena terdorong oleh rasa bersalah baik kepada orang tua, saudara, kenalan, dan lingkungan sekitarnya. Ia juga punya kerinduan seperti orang lainnya, bisa belajar atau bekerja. Namun, lazimnya para pecandu narkoba tidak berdaya karena syarafnya sudah terikat oleh zat adiktif. Tekad bulat dan tindakan nyata “stop narkoba” dari dalam diri sendiri merupakan modal awal setiap pecandu untuk bisa keluar dari jeratan dan belenggu ‘bencana’ narkoba. Secara umum, dalam dunia kedokteran dikenal tiga tingkatan dalam memberikan terhadap pasien narkoba, yaitu preventif, kuratif dan rehabilitasi. Bantuan semacam ini cocok untuk mereka yang kecanduan narkoba. Pertama, preventif/promosi kesehatan. Mencegah diri dari suatu penyakit jauh lebih bijak dibandingkan mengobati setelah sakit. Dengan cara seperti ini dapat mengurangi modal dan resiko. Rasulullah bersabda: “Pencegahan pangkal dari segala pengobatan” (Hadis). “Prevention is better than cure”, petuah ini sudah sangat dikenal oleh ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu kedokteran. Cara semacam ini sangat mudah karena tidak punya efek samping, baik secara fisik maupun psikologis. Padahal Islam sangat menganjurkan umatnya untuk

-

104

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

mencari jalan termudah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Tindakan preventif atau mencegah narkoba ini, tidak hanya dengan pendidikan kesehatan, bisa dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk promosi, tetapi juga bisa dalam bentuk ancaman berat bagi si pelaku. Sebenarnya bukan hukuman berat ini yang harus ditonjolkan tetapi bagaimana cara, agar orang takut dan sadar serta tidak mau memulai perbuatan tersebut. Kedua, kuratif/pengobatan. Bila suatu penyakit dalam bentuk fisik/biologis, tentu saja pengobatannya melalui berbagai macam cara baik dalam bentuk obat, maupun operasi atau kalau perlu diamputasi. Lain halnya dengan kecanduan narkoba, kepada mereka diberikan obat dan dilanjutkan dengan terapi medis, dan tidak jarang si penderita baru sembuh setelah diterapi dengan terapi spiritual. Artinya, ada usaha untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, dengan berbagai macam cara persuasif dan bijaksana sehingga mereka secara sukarela bersedia meninggalkan perbuatan keji tersebut. Allah berfirman dalam Alquran surat al-Nahl ayat 125: “Serulah (mereka) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, pendidikan yang baik dan berdiskusilah dengan mereka secara baik…”. Dalam Alquran surat Ali Imran Allah juga berfirman, ”Maka karena rahmat Allah, engkau (Muhammad) dapat bertindak lemah lembut kepada mereka, dan jika engkau berlaku kasar dan keras hati maka mereka akan melarikan diri daripadamu. Maka maafkanlah mereka, dan minta ampun atas dosa mereka….” Metode dan pendekatan yang ditonjolkan dalam dua ayat di atas, adalah cara-cara yang mengandung kelembutan dan kesejukan sehingga diharapkan mereka yang sudah terlanjur menjadi tergugah hatinya, dan secara sadar/sukarela kembali ke jalan yang benar. Ketiga, rehabilitasi. Bagi orang yang sudah sembuh dari penyakit diusahakan agar bertambah sehat; kepada mereka diberikan berbagai latihan yang sifatnya mengarah kepada pencegahan supaya tidak terulang kembali. Demikian halnya bagi mereka yang terlibat narkoba, bila telah bertobat, diusahakan agar keluarga dan masyarakat dapat menerima dan melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas sosial, tanpa membangkitkan masa lalunya yang penuh dengan kemesuman. Dengan cara tersebut mereka tidak merasa terasing dan bisa hidup secara wajar dan normal di dalam masyarakat. Narkoba dalam Pandangan Syariat Islam Syariat Islam adalah seperangkat peraturan berdaarkan wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. tentang tingkah laku manusia

105

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

mukallaf yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat untuk semua yang beragama Islam.6 Ahmad Zaki Yamani7 berpendapat bahwa pengertian syariat Islam itu terbagi menjadi dua bidang, yaitu pengertian dalam bidang yang luas dan pengertian dalam bidang yang khusus atau sempit. Pengertian syariat Islam dalam bidang yang luas meliputi semua hukum yang telah disusun dengan teratur oleh para ahli fiqih dalam pendapat fiqihnya mengenai persoalan di masa mereka, atau mereka perkirakan akan terjadi kemudian dengan mengambil dalil langsung dari Alquran dan Hadis atau sumber hukum yang lain, seperti qiyas, ijma’, istihsan, istishlah dan mashlahah mursalah. Sedangkan dalam pengertian sempit, syariat Islam itu terbatas pada hukum-hukum yang berdalilkan pasti dan tegas, tertera dalam Alquran, Hadis yang shahih dan ditetapkan dengan ijma’. Syariat Islam mengandung tiga dimensi, yaitu pertama, dimensi akidah, yaitu mencakup hukum-hukum yang berhubungan dengan zat Allah swt, sifat-sifat-Nya, iman kepada-Nya, kepada utusan-Nya, hari kiamat dan hal-hal yang mencakup dalam ilmu kalam. Kedua, dimendi moral, yaitu membahas secara spesifik tentang etika, pendidikan dan pembersihan jiwa, budi pekerti yang harus dimiliki oleh seseorang dan sifat-sifat buruk yang harus dihindari seseorang. Ketiga, dimensi hukum, yaitu meliputi tindakan-tindakan manusia seperti ibadah, muamalah, hukuman, dan sebagainya yang termasuk dalam kajian ilmu fiqih. Dari ketiga dimensi ini dapat diketahui bahwa syariah dapat dibedakan antara syariah sebagai ajaran yang datang langsung dari Allah dengan undangundang hasil pemikiran manusia yang disebut dengan fiqih.8 Lalu pertanyaannya, bagaimana pandangan Islam terhadap narkoba? Pada dasarnya, narkoba bukan hanya musuh Islam, namun sudah diakui sebagai bahaya dan bencana bagi setiap masyarakat dunia secara umum, karena melalui banyak penelitian ditemukan bahwa, terdapat hubungan yang bermakna antara pecandu narkoba dengan berbagai perilaku kriminal. Di dalam Alquran dan Hadis memang tidak ditemukan istilah narkoba, yang ditemui adalah dalil sekitar khamar atau yang memabukkan. Narkoba dan khamar berbeda dari segi bahasa,
Amir Syarifuddin, Meretas Kebekuan Ijtihad: Isu-isu Penting Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), hal. 26. 7 Ahmad Zaki Yamani, Syariat Yang Kekal dan Persoalan Masa Kini, terj. KMS Agustjik, (Jakarta: Tanpa Penerbit, 1978), hal. 14-15. 8 Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia: Tinjauan dari Aspek Metodologis, Legislasi, dan Yurisprudensi, (Jakarta: RajaGraffindo Persada, 2007), hal. 42-43.
6

106

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

tetapi di antara keduanya memiliki kesamaan illat (alasan logis/sebab) yang dampaknya yaitu–sama-sama memabukkan, karena mabuk seseorang bisa bertindak kriminal, menuduh, menyerang, merusak, membunuh dan sebagainya di luar batas kesadaran normalnya. Dalam konteks ini, khamar dan narkoba dilihat kesamaan illatnya melalui metode qiyas. Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 90-91: “Hai orangorang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala dan mengundi nasib adalah keji dari perbuatan syetan; maka jauhilah semoga kamu mendapat keberuntungan. Hanya sesungguhnya syetan itu bermaksud untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu disebabkan (meminum )khamar dan berjudi itu; dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari mengerjakan salat, maka tidakkah kamu berhenti.” Sementara dalam Hadis Nabi saw. dinyatakan: “Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar hukumnya haram.” Dari kedua dalil hukum tersebut, secara tegas dan jelas dinyatakan bahwa khamar, sebagaimana juga berjudi, berhala dan bertenung adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk menjauhinya. Tentang apa itu khamar dijelaskan dalam hadis Nabi yaitu segala sesuatu yang mengganggu dan mempengaruhi fungsi akal, baik dalam bentuk cairan atau suatu benda padat; dimasukkan ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, isapan ataupun suntikan; dalam kenyataan sehari-hari waktu ini dikelompokkan pada narkotika dan obat-obat terlarang serta minuman beralkohol. Setiap pekerjaan keji (dosa) yang digambarkan dalam Islam di atas, selalu berkonotasi negatif, baik bagi si pelaku, keluarga maupun masyarakatnya. Dari hasil penelitian Dadang Hawari, membuktikan bahwa penyalahgunaan narkoba menimbulkan dampak antara lain, “merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar, ketidakmampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk, perubahan perilaku menjadi anti sosial, kekerasan lainnya baik kuantitatif maupun kualitatif.” Permasalahan penyalahgunaan Naza (Narkoba) mempunyai dimensi yang luas dan kompleks; baik dari sudut medik, psikiatrik, kesehatan jiwa, maupun psikososial (ekonomi, politik, sosial budaya, kriminalitas dan lain sebagainya).9
9

Dadang Hawari, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997).

107

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

Dengan demikian, bahaya narkoba itu sifatnya holistik (menyeluruh), tidak hanya mengganggu kesehatan jasmani bagi si pelaku, tetapi juga kesehatan rohaninya dan bahkan bisa merusak kesehatan sosial kemasyarakatan. Syariat Islam menolak narkoba dan minuman beralkohol yang tersimpul dalam nama khamar sebagaimana tergambar dalam bentuk larangan yang tercantum dalam ayat dan hadis di atas ada tujuh alasan. Ketujuh alasan adalah: (1) Disejajarkannya khamar dengan berhala dan tenung, dua perbuatan yang sangat bertentangan dengan akidah Islam; (2) Dinyatakannya sebagai sesuatu yang keji yang harus dijauhi; (3) Dinyatakannya sebagai salah satu bentuk perbuatan syetan dan merupakan musuh agama; (4) Dilarang dengan tegas dan disuruh menjauhinya; (5) Dinyatakan sebagai pemicu permusuhan dan kebencian; (6) Dinyatakan sebagai penghambat mengingat Allah dan shalat yang seharusnya tidak boleh dilalaikan seseorang; dan (7) Ditantangnya orang yang belum mau menghentikannya. Adapun alasan pelarangannya adalah sebagai berikut: (1) Khamar dan Narkoba adalah sesuatu yang keji dan kotor dalam pandangan agama, baik dalam bentuk zat maupun dalam bentuk sifat; (2) Khamar dan Narkoba merupakan perbuatan syetan yang akan membawa manusia ke arah kerusakan dan kehancuran; (3) Khamar dan Narkoba membawa dampak negatif yang besar; baik terhadap kehidupan individual, keluarga, juga kehidupan sosial dalam bentuk menimbulkan permusuhan dan kebencian sesama umat; terhadap kehidupan beragama dalam bentuk menghadang kesempatan mengingat Allah dan melakukan shalat. Secara hukum perbuatan di atas adalah haram. Hukum ini berlaku untuk yang mengkonsumsinya, menanam dan mengadakan bahan bakunya, memproduksinya, mengedarkannya, memperjualbelikan, ikut membawanya dan menyaksikan transaksinya. Sedangkan sebagai sanksi hukumannya adalah dera atau pukulan dengan cambuk sebanyak 40 kali terhadap pelaku. Tujuan Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum seseungguhnya adalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Kehadiran syariat Islam di muka bumi adalah untuk kebaikan manusia dan alam semesta. Segala sesuatu yang membawa manfaat dan memuliakan harkat dan fitrah manusia didukung oleh syariat Islam meskipun tidak secara langsung tercatat dalam Alquran dan Hadis. Sebaliknya, segala sesuatu yang direkayasa, diolah dan diproduksi oleh manusia dan itu membawa

108

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

mudharat dan mafsadat akan ditolak dan ditentang oleh syariat Islam. Dalam hal ini, narkoba membawa dampak yang luar biasa dalam merusak dan menghancurkan masa depan manusia dan khususnya umat Islam, atas dasar itu syariat Islam secara tegas dan jelas mendukung untuk memerangi musuh bersama umat manusia ini. Suatu kenyataan yang tidak mungkin dibantah adalah bahwa apa yang disebut narkoba telah berada di tengah kita dan merasuk ke tengah masyarakat, termasuk masyarakat dalam lingkungan yang selama ini dikenal kuat adat dan taat beragama. Dengan demikian dapat diduga bahwa yang telah terjerumus dalam penyakit masyarakat khusus ini sebagian besar adalah umat Islam yang secara hukum Islam kepadanya telah berlaku larangan sebagaimana disebutkan di atas. Orang Islam yang secara hukum telah terkena kewajiban dalam melaksanakan syariat Islam tetapi ternyata tidak menjalankan syariat Islam itu dapat dikelompokkan kepada dua kelompok, antara lain: (1) Mereka tidak melaksanakan hukum karena mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa yang dikonsumsinya itu termasuk pada apa yang selama ini diketahui keharamannya atau dalam arti ia tidak tahu tentang keharaman narkoba itu. (2) Mereka memang telah mengetahui keharamannya sebagaimana yang berlaku terhadap khamar yang selama ini ia yakini keharamannya, namun mereka tidak mengindahkan hukum dan sanksi agama itu. Ketidak patuhan umat dalam bentuk yang pertama dapat disebabkan oleh kurangnya penyiaran dan penyuluhan agama yang berkenaan dengan bentuk-bentuk tindak kejahatan atau perbuatan maksiat. Kalau memang alasannya adalah seperti ini, berati bahwa petugas agama, ulama dan muballigh belum menjalankan tugasnya secara baik, sehingga banyak sasaran yang terlewatkan. Kekurangan dalam hal ini masih mudah mengatasinya, antara lain dengan mengintensifkan penyuluhan agama secara merata di tengah masyarakat. Pelanggaran dalam bentuk kedua rasanya disebabkan oleh begitu rendahnya tingkat keimanan umat sehingga mereka tidak begitu yakin akan kebenaran agama dan oleh karenanya tidak begitu takut akan ancaman dan sanksi agama. Pelanggaran ajaran agama dalam bentuk ini lebih serius, karena ia telah tahu namun melanggar; bila dibandingkan dengan yang pertama yang disebabkan pelanggaran itu disebabkan oleh ketidaktahuannya. Bertitik tolak dari teori bahwa kejahatan itu timbul ketika niat dan kesempatan ada. Maka pelanggaran dalam bentuk kedua di atas

109

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

akan berarti ajaran agamanya tidak mampu lagi menghilangkan niat berbuat jahat itu. Pertanyaan selanjutnya ialah apakah menghilangkan niat itu hanya semata tugas agama? Selama ini memang diperkirakan demikian, namun harus pula diketahui bahwa menyadarkan umat akan keburukan dan keharusan menjauhinya bukanlah semata tugas agama, meskipun tugas agama dalam hal ini adalah dominan. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, pemerintah, lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat itu sendiri juga sanagat menentukan. Katakanlah dalam hal menghilangkan niat, masyarakat, termasuk ulama mengalami kegagalan; namun kalau pihak yang satu lagi, yaitu kesempatan melakukan kejahatan, dapat terlaksana secara baik dengan arti kesempatan berbuat buruk dapat diperkecil atau dihilangkan, setidaknya kejahatan itu akan berkurang, kalau tidak hilang sama sekali. Pertanyaan selanjutnya adalah: “Apakah usaha menutup kesempatan berbuat jahat itu” telah terlaksana dengan baik? Siapa yang harus berbuat dalam hal ini. Selama ini dikenal usaha menutup kesempatan itu adalah tugasnya penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim); baik melalui tindakan preventif maupun represif. Oleh karena itu, masyarakat sering menuding pihak penegak hukum bila terjadi suatu kejahatan. Memang secara fungsional penegak hukum bertugas untuk itu. Namun, bukan berarti yang lain dapat berlepas tangan. Ini adalah tugas banyak pihak; yaitu mulai dari orang tua, para pendidik di sekolah, lingkungan pergaulan, masyarakat dan pemerintah. Pada dasarnya pemerintah di mana pun tidak menginginkan generasi mudanya rusak dan hancur karena narkoba. Akan tetapi, kesalahan dalam menetapkan kebijaksanaan yang membuat mereka kecolongan, dalam pembinaan generasi mudanya, sehingga tidak sedikit para remaja terlibat narkoba. Undang-undang yang berat saja tidak cukup bagi mereka yang terlibat narkoba, kalau tidak didukung dengan proses pelaksanaan pengadilan yang betul-betul serius, tegas dan adil, tidak pilih kasih serta tidak memanfaatkan unsur KKN. Suatu kenyataan bahwa narkoba adalah sebagai salah satu penyakit masyarakat yang cukup membahayakan generasi kita mendatang. Kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, karena yang demikian tidak akan menyelesaikan masalah. Perlu dievaluasi kembali diri masing-masing atas kelalaian kita selama ini dan selanjutnya secara sadar, optimis dan terarah untuk berbuat lebih baik. Ulama dan pemuka agama harus meningkatkan peranannya dalam membina dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat secara

110

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

umum; penting menjelaskan ajaran agama tentang narkoba secara khusus, tentang hukum, dosa dan bahayanya bagi jasmani dan rohani. Orang tua merupakan orang yang paling dekat dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya perlu menjelaskan narkoba;10 bahaya dan kerusakannya serta menyuruh menjauhinya. Selanjutnya meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya untuk tidak terlibat dengan narkoba. Demikian pula para pendidik di sekolah diminta berpartisipasi aktif dalam pemberantasan narkoba, maupun pengawasan secara ketat menghindari keterlibatan anak didiknya dalam narkoba.11 Demikian pula diharapkan partisipasi aktif dari masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab dalam pencegahan narkoba melalui peraturan perundangundangan yang membatasi dan menutup kemungkinan terjadinya peredaran narkoba di daerahnya; serta peningkatan pengawasan atas jalannya peraturan tersebut. Para penegak hukum diharapkan bekerja keras mengawasi dan mencegah peredaran narkoba tersebut dan menyelesaikan secara hukum pihak-pihak yang terlibat dengan tidak pandang bulu. Hukum harus ditegakkan secara serius demi tegaknya supremasi hukum. Pemberantasan narkoba adalah tugas semua komponen masyarakat. Di samping itu, masing-masing pihak harus sama-sama bekerja menghadapinya menurut cara masing-masing, juga harus bekerja sama dan secara bersama-sama menghadapi dan menyelesaikannya.

Keluarga sebagai pendidik utama dan pertama yang diterima anak dengan segala daya upaya mereka mempersiapkan anaknya agar berhasil melewati masa remaja yang penuh dengan berbagai cobaan. Ada beberapa persyaratan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, yaitu: 1. mengisi batin anak-anaknya dengan penanaman iman, pembinaan amal dan akhlakul karimah. 2. menjaga keserasian hubungan suami isteri, sehingga tidak terjadi pertengkaran di depan anak-anak, hal ini dapat menyebabkan anak stres, cemas, kacau dan gelisah, pada akhirnya kepribadian anak terganggu. 3. komunikasi timbal balik antara anak, anak dan anggota keluarga secara terbuka, sopan dan harmonis. Si anak tidak segan-segan membicarakan permasalahannya kepada orang tua, sehingga mereka betah di rumah dan tidak lari mencari teman yang mau mendengar berbagai keluhan mereka. 11 Fungsi sekolah bukan hanya mengisi kognisi anak-anak dengan bebagai macam ilmu pengetahuan semata, peran iman, sangat menonjol dalam mempersiapkan generasi muda. sebaiknya semua guru bisa menghubungkan setiap keterangan dari bidang studi yang dajarkan dengan iman dan amal shalih, agar semua ilmu pengetahuan yang diperoleh anak tidak kering dari nilai-nilai spiritual. Di samping itu, afeksi dan kognisi serta psikomotor anak tidak kalah pentingnya untuk mendapatkan perhatian dan pembinaan dari guru, sehingga mereka tidak mudah terjerumus ke dunia fantasi lewat kebahagiaan semu, termasuk narkoba.

10

111

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

PENUTUP Penyalahgunaan narkoba adalah suatu kejahatan yang membidani lahirnya bencana individual, sosial dan bahkan bangsa dan negara–yang dampak buruknya dapat melumpuhkan dan menghancurkan sebuah generasi bangsa. Penyalahgunaan narkoba merupakan suatu benih kejahatan, jika benih inidibiarkan tumbuh dalam suatu masyarakat, cepat atau lambat akan tumbuhlah cabang-cabangnya yang lain dalam berbagai bentuk kriminal seperti, copet, pencurian, perjudian, pergaulan bebas, perkelahian dan seterusnya. Dengan demikian, ketenangan dan ketenteraman masyarakat pasti akan terganggu. Karena akibat penyalahgunaan narkoba itu demikian kompleks, maka seyogyanya semua pihak bertanggung jawab, kerja sama, bantu-membantu dalam menanggulanginya, baik dalam bentuk preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Dalam mengatasi problema narkoba tersebut sebaiknya semua pihak selalu memperhatikan berbagai pesan Islam yang terkandung dalam Alquran dan Hadis–dengan cara merubah sikap dan perilaku mereka yang terlibat narkoba melalui pendekatan akal sehat, menerima secara sukarela dan senang hati, sesuai dengan ciri khas kejiwaan yang Islami, tidak dipaksakan. Cara-cara tersebut selalu disesuaikan dengan prinsip-prinsip persuasif, motivatif, konsultatif dan edukatif. Kehadiran syariat Islam di muka bumi bukan untuk menyusahkan dan membebani manusia dengan penderitaan, tetapi bertujuan untuk memanusiakan harkat, martabat dan meninggikan derajat manusia itu sendiri, memuliakan dan memudahkan segala urusan manusia sesuai petunjuk syariat. Salah satu tujuan utama syariat Islam adalah membawa kemaslahatan bagi manusia, di mana ada maslahat di situ ada hukum Allah, umat Islam diserukan agar mampu memberikan dan mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya dalam kehidupan ini dan begitu pun sebaliknya, berupaya keras untuk menolak, menjauhi dan menghindari berbagai kejahatan, kekejian, dan perbuatan dosa yang merugikan diri dan lingkungannya. Diharamkannya penyalahgunaan narkoba dalam pandangan syariat Islam bukan tanpa alasan dan pertimbangan yang matang, kalau narkoba itu digunakan pada jalurnya untuk kepentingan medis dan pengembangan ilmu pengetahuan yang manfaatnya banyak bagi kemaslahatan manusia, jelas Islam mendukungnya, tetapi justeru yang terjadi dalam fenomena yang berulangkali disaksikan, penyalahgunaan narkoba sudah menjalar mudharat dan mafsadahnya bukan hanya bersifat individual, tetapi juga berimbas pada kerusakan sosial dan

112

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:100-113

bahkan sebuah generasi bangsa. Dengan penyalahgunaan narkoba generasi bangsa yang hari ini dipersiapkan untuk masa depan menjadi hilang dan mengalami “penyakit kronis” akibat ketergantungannya dengan narkoba, secara ekonomi dan moral, pelan tapi pasti, narkoba dalam berbagai manifestasinya bisa membangkrutkan kualitas dan kuantitas “terbaik” generasi bangsa di masa mendatang. “Mari bersamasama kita perangi narkoba dan memberikan solusi terbaik bagi kemaslahatan umat!”

DAFTAR BACAAN Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia: Tinjauan dari Aspek Metodologis, Legislasi, dan Yurisprudensi, (Jakarta: RajaGraffindo Persada, 2007). Ahmad Zaki Yamani, Syariat Yang Kekal dan Persoalan Masa Kini, terj. KMS Agustjik, (Jakarta: Tanpa Penerbit, 1978). Amir Syarifuddin, Meretas Kebekuan Ijtihad: Isu-isu Penting Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Ciputat Press, 2005). Dadang Hawari, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997). EB. Hurlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta: Erlangga, 1997). Koesmarwanti dan Nugroho Widiyanto, Dakwah Sekolah di Era Baru, (Karangasem: Intermedia, 2002). Visimedia, Mencegah Terjerumus Narkoba, (Tangerang: Agromedia Pustaka, 2006). WF. Maramis, Ilmu Kedokteran Jiwa, (Surabaya: Airlangga University Press, 1988).

113

Irham, Kedudukan Syariat Islam

KEDUDUKAN SYARIAT ISLAM DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) DALAM SISTEM HUKUM NASIONAL oleh Mohammad Irham Dosen Akfis Unmuha, Banda Aceh

PENDAHULUAN Pada era reformasi, Pemerintah Republik Indonesia memberikan kembali kewenangan kepada Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (selanjutnya disebut NAD) untuk melaksanakan syariat Islam. Pemberian tersebut dikokohkan dengan payung hukum berupa UU RI Nomor 44 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Keistimewaan Aceh dan UU RI Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Sebagai Provinsi NAD.1 Pemberian kewenangan dalam kedua peraturan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan langkah legalisasi (taqnin) syariat Islam2 yang hasilnya disebut qanun3. Meskipun langkah legalisasi
Pemberian izin pelaksanaan syariat Islam kepada Aceh sebenarnya sudah pernah diberikan melalui berbagai peraturan dalam sejarah perjalanan Aceh. Di antaranya, Surat Kawat Gubernur Sumatera Nomor 189 Tahun 1947 yang memberi izin kepada residen Aceh membentuk Mahkamah Syar’iyyah dengan kewenangan penuh, meskipun hanya dalam bidang kekeluargaan saja. Peraturan lainnya. PP Nomor 29 Tahun 1957 tentang Pembentukan Mahkamah Syar’iyyah. Di seluruh Aceh berikut susunan dan kewenangannya. Demikian juga keputusan Perda Menteri RI Nomor 1/Missi/1959 yang mengganti Aceh dengan sebutan makna pemberian”Daerah Istimewa Aceh.” Sebutan ini mengandung makna pemberian “Otonomi yang seluasluasnya, terutama dalam lapangan keagamaan, peradatan dan pendidikan.” Namun demikian, pemberian kewenangan atau kesempatan pelaksanaan syariat Islam tersebut dapat dikatakan sebagai “Isapan Jempol” yang tidak pernah terealisasikan dengan baik. Keadaan seperti ini berjalan terus sampai akhirnya lahir UU Nomor 44/1999 dan UU Nomor 18/2001. Untuk mengetahui sejarah berbagai peraturan tentang keistimewaan untuk melaksanakan syariat Islam kepada Aceh, lihat misalnya Al Yasa Abubakar, “Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh (Sejarah dan Prospeknya),” dalam Safwan Idris (et.al.), Syariat di Wilayah Syariat (Banda Aceh: Dinas Syariat Islam dan YUA, 2002), hal. 26-51. 2 Taqnin menurut etimologi adalah legistilation, law making, codification (pembuatan peraturan/undang-undang, legislasi). Hans Wehr, A Dictionary of Modern
1

114

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

syariat Islam masih diperdebatkan, baik dari kalangan pemikir muslim,4 maupun non-Muslim,5 namun tidak dapat disangkal bahwa legalisasi
Writen Arabic, J. Milton Cowan (ed.), (Wesbaden: Otto Harrassowitz, 1971), hal. 791. Sedangkan menurut terminonologi adalah upaya mengkompilasikan kaidah-kaidah peraturan yang berkaitan dengan hukum-hukum tertentu dalam sebuah bentuk kitab tertulis, atau dalam satu bentuk legislasi dengan melalui suatu kekuasaan tertentu. Abd al-Hamid Mutawalli, Azmah al-Fikr al-Islamy fi al-‘Asr al-Hadith (T.tp: al-Hay’ah alMisriyyah al-Ammah li al-Kitab, 1985), hal. 22 3 Taqnin menurut etimologi berarti rule, statude, code (peraturan, undangundang). Hans Wehr. A Dictionary, hal. 791. Sedangkan menurut terminologi adalah sekumpulan kaedah yang disusun untuk mengatur urusan manusia dalam hubungan kemasyarakatan. Kaidah tersebut harus ditaati, dihormati, dan diterapkan anggota masyarakat, serta bagi penegak hukum dapat memaksa manusia untuk menghormati dan menegakkan hukum tersebut. Muhammad al-Ghazali (et.al), Nizam Itsbatt alDa’wa wa Adillatuh fi al-Fiqh al-Islami wa al-Qanun (Iskandariyyah: Dar al-Da’wah, 1996), Cet. I, hal. 28. Sedangkan pengertian Qanun di NAD akan diuraikan pada pembahasan di belakang. 4 Pendukung legislasi memandang bahwa pelegislasian syariat Islam akan menciptakan ketertiban hukum, mencegah kesewenang-wenangan, dan menjaga terpengaruhinya hak dan keadilan, serta memudahkan untuk dijadikan rujukan dalam proses peradilan. Sementara penentang legislasi syariat Islam berpendapat, bahwa langkah tersebut dianggap membuat hukum baru yang tidak digali dari sumber alKitab, al-Sunnah, dan fiqh Islami pada umumnya. Dengan demikian, legislasi itu menyerupai hukum-hukum positif yang dipraktekkan di peradilan negara-negara sekuler. Di antara pendukung legislasi adalah Abd a-Rahman al-Qasim. Sedangkan penentangnya adalah al-Syaikh al-Shalihi dan al-Syaikh Abdullah al-Bassam. Polemik tersebut menurut Ahmad Muhammad Jamal hanya bersifat lafzy (kebahasaan) semata. Karenanya, dia menawarkan pengganti istilah taqnin al-syariah dengan Taqrib alsyariah. Lihat Ahmad Muhammad Jamal, Qadaya Mu’asiroh fi Mahkamah al-Fikr alIslami (Kairo: Dar al-Sahwah, 1986), Cet. II, hal. 33-35. Menurut hemat penulis, pengalihan istilah tersebut tidaklah mengubah esensinya. Karena istilah taqnin alsyariah dan taqrib al-syariah merupakan upaya mewujudkan syariat Islam dalam bentuk peraturan resmi yang dibuat kekuasaan. 5 Kritik dari pemikir luar Islam terhadap legislasi syariat Islam di antaranya dilontarkan orientalis Joseph Schacht dalam artikelnya “Problems of Modern Islamic Legislation.” Menurutnya, hukum Islam tradisional itu lebih sebagai doktrin dan metode daripada sebagai kitab hukum (code). Secara alamiah pun, hukum Islam itu tidak cocok untuk dilegislasikan karena akan mendistorsinya. Problema ini telah dijawab dengan baik oleh orientalis lain, Ann Elizabeth Mayer. Menurutnya, perlu dirumuskan kembali teori sumber hukum Islam (Theories of sources of Islamic law) dalam khazanah ushul fiqh, dengan melihatnya dalam perspektif tingkatan sumber hukum (hierarchy of sources of law) yang terdapat dalam sistem hukum modern. Berdasarkan hal tersebut, pengakuan juris (fuqaha) sebagai pemegang otoritas hukum Islam, harus diganti dengan menjadikan al-Quran dan al-Sunnah sebagai pengganti kedudukannya. Di samping itu, fiqh yang selama ini didudukkan sebagai sumber utama (primary source of law) diturunkan derajatnya menjadi sumber sekunder (secondary source). Uraian lengkap analisis Mayer tersebut dapat dilihat dalam artikelnya “The

115

Irham, Kedudukan Syariat Islam

merupakan salah satu ciri periode modern perkembangan hukum Islam (fiqh).6 Pada periode inilah terjadi gerakan-gerakan baru di dunia Islam7 untuk menerapkan syariat sebagai ganti hukum positif, atau untuk

Shari’ah: A Metdhodology or a Body of Substantive Rules? Dalam, Nicholhas Heer (ed.), Islamic Law and Jurisprudence (Seattle University of Washington Press, 1990), hal. 177-198. 6 Term hukum Islam (fiqh) dapat diidentikkan dengan syariat Islam dalam terminologi khusus, yakni syariat dalam makna sempit. Karena syariat luas mencakup hukum keyakinan, etika, dan ‘amali (fiqh). Lihat Hasan Ahmad al-Khatib, al-Fiqh alMuqarran (Kairo: Dar al-Ta’lif, 1957), hal. 8; Muhammad al-Ghazali, Hadha Dinuna (Damaskus: Dar al-Qalam, 1997), Cet. I, hal. 205. Padahal, term fiqh itu pada masa awal sejarah Islam mempunyai cakupan pengertian yang luas kemudian hanya terbatas pada literatur hukum saja. Lihat, Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence (Islamabad: Islamic Research Institute, 1994), hal. 1-10. Secara umum mayoritas pemikir membedakan syariat dengan fiqh. Pertama, cakupan syariat lebih luas daripada fiqh, sehingga fiqh merupakan salah satu bagian dari syariat, kedua, syariat bersumber dari Allah, sehingga mempunyai nilai kebenaran mutlak, sedang fiqh yang berasal dari pemikir fuqaha’, sehingga kebenarannya hanya relatif. Ketiga, syariat bersifat universal, sedangkan fiqh hanya bersifat lokal – temporal. Dalam perjalanan sejarah, sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam; yaitu: kitabkitab fiqh, fatwa ulama’, keputusan pengadilan Agama, dan peraturan perundangan di negeri muslim. Lihat, M. Atho’ Mudzhar, Membaca Gelombang Ijtihad: Antara Tradisi dan Liberasi (Yogyakarta: Tititan Ilahi Press, 1998), hal. 91; Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1995), hal. 31-33; Marshall G. S Hodgson hanya menyebutkan 3 (tiga) macam: fiqh, fatwa, dan qada’. Lihat dalam bukunya. The Venture of Islam the Classical Age. Vol 1 (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), hal. 338. Pemikiran Hodgson tersebut dielaborasi oleh Nur Ahmad Fadhil Lubis dengan menambahkan 2 (dua) bentuk lainnya; yakni Qanun (Legal decision) dan Siyasah (Ruler’s statutes). Lihat dalam bukunya A History of Islamic Law in Indonesia (Medan: IAIN Press, 2000), hal. 19. 7 Di antara bidang syariat Islam yang telah banyak dilegislasikan di dunia Islam adalah tentang hukum keluarga. Di beberapa negara Islam, bidang hukum ini telah banyak dilakukan pembaharuan. Lihat selanjutnya penelitian yang dilakukan Tahir Mahmood dalam dua bukunya. Personal Law in Islamic Countries History, Text, and Comporative Analysis (New Delhi: The Academy of Law and Relligion, 1987), dan Family Law Reform in the Muslim World (New Delhi: the Indian Law Institute, 1972). Dari judul kedua buku tersebut, tampaknya Tahir Mahmood menyamakan istilah Islamic countries (negara Islam) dengan Muslim World (Dunia Islam). Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya perkembangan makna dar Islam; apakah didasarkan atas dijadikannya hukum Islam sebagai konstitusi negara, ataukah atas dasar sekedar berjalannya hukum Islam di negara tersebut, ataukah berdasarkan jumlah mayoritas penduduknya yang muslim.

116

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

menyelaraskan hukum positif agar sejalan dengan hukum syariat dengan mengadopsi berbagai pemikiran madzhab dalam bentuk legislasi.8 PEMBAHASAN Sistem Hukum Nasional Hukum nasional adalah cerminan dari norma-norma moral masyarakat yang diangkat menjadi norma-norma hokum sehingga mengikat seluruh warga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Banyak teori yang dikemukakan tentang transformasi norma-norma moral menjadi norma-norma hukum ini. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Apakah bangsa Indonesia sudah mempunyai sebuah hukum nasional? Dilihat dari kenyataan normatif yang ada (das sollen), maka Indonesia memang mempunyai sebuah hukum nasional yang terdiri dari UUD, Undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya yang berlaku dalam wilayah Negara Republik Indonesia, tetapi dari segi kenyataan alamiah (das Sein) apakah norma-norma hukum tersebut betul-betul jalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masih merupakan persoalan besar. Masalah lainnya, hukum yang kita pandang nasional tidak melambangkan satu kesatuan dilihat dari sejarah, asal-usul dan filsafatnya. Sewaktu Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada bulan Agustus 1945 satu-satunya hukum nasional yang kita miliki adalah UUD 1945 yang disusun dalam masa relatif pendek, dan karena itu memiliki berbagai kelemahan, sehingga pada era reformasi konstitusi Indonesia telah tiga kali mengalami amandemen dan untuk masa mendatang akan disempurnakan secara terus-menerus. Sementara itu, sumber hukum yang lebih rendah berupa undang-undang, peraturanperaturan, sistem pemerintahan, sistem peradilan dan lain-lain masih mewarisi apa yang ditinggalkan oleh kaum kolonial. Pemerintah kolonial juga mewariskan apa yang mereka pandang sebagai hukum adat, di samping pengakuannya terhadap hukum Islam sebagai perdata khusus yang berlaku bagi umat Islam. Dengan demikian, para ahli hokum kita pada umumnya mengatakan bahwa hukum nasional Indonesia sekarang ini bersumber atau mencerminkan tiga sistem

Legalisasi hukum pertama kali adalah lahirnya Majallah al-Ahkam alAdliyyah, pada tahun 1293 H/1876 M pada akhir masa Turki Utsmani, Abd al-Madjid Abd al-Hamid, Tarikh al-Fiqh al-Islami (Maghrib: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1994), hal. 322-323.

8

117

Irham, Kedudukan Syariat Islam

hukum: Barat, Adat dan Islam.9 Ketiga sistem hukum inilah yang sedang bertarung atau berlebur untuk membentuk suatu hokum nasional yang lebih berciri Indonesia di masa depan. Dari ketiga sistem hukum ini, maka hukum Islam mempunyai peluang besar untuk mengisi hukum nasional karena beberapa pertimbangan. Pertama, bila kita dapat sepakat dengan adat yang mempunyai implikasi hukum, maka hukum adat di samping klaim yang sering mengatakannya sebagai hukum yang berciri Indonesia, ia lebih bersifat kesukuan (ethnicity), kecuali adat yang benar yang merupakan sumber komplementer hukum Islam. Oleh karena itu, hukum adat yang tidak mencerminkan keadilan, kemanusiaan dan kebersamaan berpotensi untuk sektarianisme dan disintegrasi bangsa, dan dari hari ke hari cenderung ditinggalkan masyarakat seiring dengan berkembangnya arus migrasi, akulturasi dan modernisasi di seluruh wilayah Indonesia. Kedua, Hukum Barat sebagai hukum asing menggambarkan sejarah dan norma-norma bangsa Eropa yang belum tentu sejalan dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Selain itu, hukum Barat zaman kolonial dirancang sebagai bagian dari politik kolonial untuk mempertahankan kekuasaan asing di bumi nusantara. Dengan meningkatnya semangat kebangsaan di masa depan, maka hukum yang berasal dari Barat akan diterima dengan sangat selektif, hanya bila itu sesuai dengan rasa keadilan dan norma-norma bangsa Indonesia. Ketiga, Hukum Islam mencerminkan norma-norma bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, seperti diakui Daniel S. Lev, sebelum nusantara dipersatukan oleh sebuah Pemerintah Kolonial Belanda, hukum Islam telah lebih dahulu menyatukan mayoritas rakyat Indonesia.10 Segi lain yang memantapkan hukum Islam adalah sifat diyani yang dikandungnya di samping sifat qadai 11 karena berasal dari hukum agama yang tidak hanya mengikat manusia sebagai makhluk sosial, tetapi lebih-lebih lagi karena berhubungan dengan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Tinggi bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan keburukan akan dibahas dengan keburukan, baik di dunia
9

Abdul Gani Abdullah, PengantarKompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hal. 15-16. 10 Daniel S. Lev, terj. Nirwono dan A.E. Priyono, Hukum dan Politik di Indonesia (Jakarta: LP3S, 1990), hal. 121-122. 11 Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Universitas Yarsi, 1999), hal. 60-62.

118

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

maupun di akhirat. Ini merupakan sebuah kenyataan bahwa hukum Islam telah menjadi hukum positif Indonesia. Definisi Syariat Islam Versi Qanun Aceh Kewenangan pelaksanaan syariat Islam yang diberikan oleh Pemerintah RI kepada Pemerintah NAD adalah syariat dalam arti yang luas,12 yakni tuntunan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan (pasal 1 ayat [10] UU Nomor 44 Tahun 1999). Pengertian syariat semacam ini, kemudian diikuti dalam peraturan-peraturan di NAD.13 Namun, pemilahan bidang-bidang syariat Islam yang luas tersebut berbedabeda.14
Syariat Islam dalam makna luas mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia. Namun dalam pembagian bidang-bidangnya para pemikir berbeda pendapat. Ada pemikir yang membaginya menjadi 2 (dua) bidang besar, ‘aqidah dan syari’ah. Pembagian ini di antaranya dikemukakan oleh Mahmud Saltut dalam bukunya, alIslam ‘Aqidah was Syari’ah (Kuwait: Dar al-Qalam, 1996). Pendapat lain memaknai syariat Islam secara luas mencakup 3 (tiga) bidang besar: al-‘I’tiqadiyyah (keimanan), al-Khuluqiyyah (etika), dan al-Ahkam al-‘Amallyyah (hukum-hukum perbuatan). Sedangkan syariat Islam dalam arti sempit hanya dibatasi pada bidang-bidang hukum perbuatan yang disebut fiqh. Lihat misalnya Hasan Ahmad al-Khatib, al-Fiqh alMuqarran (Kairo: Dar al-Ta’lif, 1957), hal. 8. Jika syariat Islam dalam arti sempit hanya dibatasi pada fiqih, maka term fiqh pada masa awal sejarah Islam justru mempunyai cakupan pengertian yang luas. Namun dalam perkembangan mengalami pergeseran makna sehingga akhirnya hanya terbatas pada literatur hukum saja. Lihat Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence (Islamabad: Islamic Research Institute, 1994), hal. 1-10. Meskipun dalam sejarah telah terjadi pergeseran makna syariat dan fiqh, namun secara umum mayoritas pemikir hukum Islam membedakan syariat dengan fiqh. Pertama, cakupan syariat lebih luas daripada fiqh, sehingga fiqh merupakan salah satu bagian dari syariat. Kedua, syariat bersumber dari Allah sehingga mempunyai nilai kebenaran mutlak, sedang fiqh berasal dari pemikiran fuqaha sehingga kebenarannya hanya relatif. Ketiga, syariat bersifat universal, sedangkan fiqh hanya bersifat lokal – temporal. 13 Lihat misalnya, Pasal 1ayat (6) Perda Nomor 5 Tahun 2000; Pasal 1 ayat (1) Qanun Nomor 10 Tahun 2002; dan Pasal 1 ayat (6) Qanun Nomor 11 Tahun 2002. 14 Dalam Pasal 1 ayat (6), Perda Nomor 5 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syariat Islam disebutkan bahwa pelaksanaan syariat Islam itu meliputi 13 (tiga belas) bidang, yaitu: aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan dan dakwah Islamiyah atau amar ma’ruf dan nahi munkar, baitul mal, kemasyarakatan, syiar Islam, pembelaan Islam, qadha, jinayat, munakahat, dan mawaris. Dalam penjelasan umum Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan bidang aqidah, ibadah, dan syiar Islam dijelaskan bahwa syariat secara umum meliputi bidang aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Sementara bidang-bidang syariat Islam dalam Qanun Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam dibedakan menjadi tiga macam; ahwal syakhsiyyah, mu’amalah, dan jinayah (Pasal 49 Qanun Nomor 10/2002). Meskipun dalam penjelasan umum, point angka 4 disebutkan, bahwa bidang hukum yang menjadi
12

119

Irham, Kedudukan Syariat Islam

Pengaturan Pemerintah NAD terhadap seluruh bidang syariat tersebut mencakup juga bidang aqidah dan syiar Islam, yang diatur dalam qanun Nomor 11 Tahun 2002. Dalam qanun ini diatur mulai dari bentuknya sampai sanksi atas pelanggaran terhadapnya. Pengaturan bidang-bidang syariat dalam qanun di NAD tersebut merupakan bentuk campur tangan pemerintah terhadap urusan keagamaan umat.15 Sebagaimana uraian terdahulu, syariat Islam dalam pandangan qanun NAD merupakan tuntunan ajaran Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan (pasal 1 ayat [6] Perda Nomor 5 Tahun 2000, Pasal 11 Tahun 2002).16 Definisi syariat Islam dalam makna yang luas sebagaimana dimaksudkan dalam beberapa peraturan di NAD tersebut mengandung makna, bahwa seluruh bidang syariat Islam yang sangat luas cakupannya akan diatur dalam sebuah qanun. Ini berarti, pemerintah NAD akan ikut mengurusi seluruh bidang syariat Islam. Langkah semacam ini mirip dengan pemikiran ‘Ali Jarisyah yang berpendapat bahwa kekuasaan (baca: penguasa) dalam Islam itu harus mengurus seluruh aspek ajaran Islam.17 Upaya taqnin di NAD tersebut didasarkan
kompetensi Mahkamah Syari’ah sebagai Peradilan Islam tersebut hanya merupakan pembagian secara garis besar, sedangkan rinciannya akan diatur dalam Qanun tersendiri. Pemilihan bidang syariat Islam tersebut menunjukkan adanya inkonsistensi dalam klasifikasinya. 15 Sampai saat ini, bidang-bidang syariat Islam yang telah diatur dalam Qanun adalah bidang aqidah, ibadah dan syiar Islam (Qanun Nomor 11 Tahun 2002), masalah minuman Khamr dan sejenisnya (Qanun Nomor 12 Tahun 2003), masalah maisir/ perjudian (Qanun Nomr 13 Tahun 2003) dan masalah Khalwat / Mesum (Qanun Nomor 14 Tahun 2003). 16 Dengan keluarnya UU Nomor 18 Tahun 2001 seluruh Perda yang ada termasuk Perda Nomor 5 ini dinyatakan sebagai Qanun (Pasal 30 UU Nomor 18/2001). 17 Menurut Jarisyah, ajaran Islam itu meliputi 4 (empat) bidang, ‘aqidah, akhlak, sya’air (syiar-syiar), dan al-ahkam al-amalyyah (hukum-hukum praktis). Keempat bidang tersebut harus ditegakkan oleh penguasa dan hal inilah yang menjadi pondasi berdirinya bangunan Islam. Uraian lebih lanjut, lihat ‘Al Jarisyah, Ushul alSyariyah Madmunuha wa Khasisuha, (Kairo: Dar Gharib, 1979), Cet. I, hal. 36-60. Pemikiran senada juga dikemukakan al-Bayati. Menurutnya di antara tugas kekuasaan legeslatif adalah melakukan legislasi, dimana Qanun yang dihasilkan itu meliputi seluruh bidang hukum syara’ yang terbagi menjadi bidang ibadah, muamalah, dan uqubat. Bidang muamalat. Bidang muamalat dan uqubat inilah yang mencakup semua bidang yang termasuk dalam Qanun ‘Am (hukum publik) dan Qanun Khas (hukum privat) dengan segala bentuk cabang-cabangnya. Munir Hamid al-Bayati, al-Dawlah al-Qanuniyyah Muqarranah (Baghdad al-Dar al-Arabiyyah, 1979), hal. 238-239.

120

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

atas filosofi bahwa pelaksanaan syariat akan ditaati masyarakat manakala ditegakkan dengan sanksi. Sanksi ini ada dua: sanksi ukhrawi yang akan diterima di akhirat kelak, dan sanksi duniawi yang akan diterapkan manusia melalui kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Di sini penegakan hukum menuntut peranan negara. hukum tidak berarti apa-apa bila tidak ditegakkan oleh negara.18 Syariat Islam sebagia institusi yang hidup memang meliputi setiap aspek kehidupan manusia; keimanan, ritual, dan etika. Karena sifat alamiahnya yang beraneka ragam itulah, negara tidak dengan mudah dapat mengintervensi atau mengaturnya. Hal ini disebabkan hubungan antara hukum Islam dengan masyarakat bersifat progresif dan sangat kompleks, sehingga hubungan semacam ini sangat penting untuk dipertimbangkan.19 Tinjauan Beberapa Qanun Aceh dalam Sistem Hukum Nasional: Sebuah Catatan Kritis Sepanjang tahun 2002 hingga akhir 2003, DPRD Provinsi NAD berhasil menetapkan sejumlah qanun yang kemudian diundangkan dalam tahun-tahun tersebut. Berikut ini adalah tinjauan atas beberapa qanun Provinsi NAD yang bertalian dengan upaya penerapan syariat Islam di daerah itu. 1. Qanun No. 10/2002 tentang Peradilan Syariat Islam Qanun ini20merupakan upaya untuk mengejawantahkan salah satu kekhususan Aceh, yang diatur secara umum dalam pasal 1 ayat 7, pasal 25-26 UU No. 18/2001. Ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal tersebut, misalnya kewenangan Mahkamah Syariyyah… didasarkan atas syariat Islam dalam sistem hukum nasional, tidak begitu jelas menunjuk kepada kewenangan Mahkamah Syariyyah dalam mengadili masalah ahwal al-syakhsiah, muamalah dan jinayah – dalam penjelasan UU
Campur tangan negara yang terwujud dalam bentuk peraturan tertulis merupakan salah satu sumber Qanun (al-Masadir al-rasmiyyah). Sumber inilah yang menjadikannya daya ikat dan daya paksa. Sedangkan sumber Qanun yang lain adalah sumber-sumber material (al-Masadir al-Maddiyah / al-maqdu’iyyah), sumber-sumber kesejarahan (al-masadir al-tarikhiyyah), dan sumber yang berupa pemahaman (almasadir al-tafsiriyyah), ‘Abd al-Hamid Mutawalli, al-Syar’iyah al-Islamiyyah ka Masdar Asasiyy li al-Dustur (Iskandariyyah: al-Ma’arif, 1990), Cet. III, hal. 19-20. 19 Fadhil Lubis, A History of Islamic Law, hal. 14-15. 20 Tentang kandungan qanun ini selengkapnya, lihat Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 10/2002 Tentang Peradilan Syariat Islam, (tt.tp).
18

121

Irham, Kedudukan Syariat Islam

dikategorikan jelas, yang barangkali hanya menunjuk kepada kewenangan yang lazim dimiliki pengadilan agama, yakni masalah keperdataan (UU No. 7/1989, Pasal 1 ayat 1-2, yang dijabarkan dalam pasal 49 sebagai perkawinan, kewarisan, wasiat dan hibah, serta wakaf dan sedekah). Hal ini selaras dengan Kepres No. 11/2003, yang mengungkapkan bahwa mahkamah tersebut hanya memiliki kewenangan yang dimiliki sebelumnya oleh pengadilan agama. Qanun yang disahkan pada 14 Oktober 2002 dan diundangkan pada 6 Januari 2003 ini terdiri dari 7 bab. Bab pertama memuat tentang ketentuan umum, bab kedua tentang susunan mahkamah; bab ketiga tentang kekuasaan dan kewenangan mahkamah; bab keempat tentang hukum materil dan formil; bab kelima tentang ketentuan-ketentuan lain; bab keenam tentang peralihan; dan bab ketujuh tentang ketentuan peralihan; dan bab ketujuh tentang ketentuan penutup. Secara keseluruhan, berbagai ketentuan yang dirumuskan di dalam qanun ini melampaui hal yang baru disebutkan yakni kompetensi pengadilan agama yang lazim dalam masalah keperdataan. Bahkan secara umum, ketentuan-ketentuan dalan qanun peradilan syariat juga berseberangan dengan UU No. 7/1998 tentang Peradilan Agama, dalam kasus-kasus berikut: a. Semua pengadilan di Indonesia adalah pengadilan negara yang harus dibentuk dengan undang-undang. Dalam undang-undang pembentukannya, semua kewenangan, personalia maupun acara dapat dicantumkan (lihat UU No. 14/1970, UU No. 14/1985 dan UU No. 7/1989). Dengan demikian, pembentukan Mahkamah Syariat yang kewenangannya melampaui atau lebih luas dari peradilan agama, harus dibentuk dengan undang-undang, bukan dengan peraturan daerah atau qanun. b. Pengembangan peradilan agama kepada peradilan syariat – seperti dinyatakan dalam qanun ini (pasal 2 ayat 3) – juga mesti ditetapkan dengan UU, bukan dengan qanun. c. Pembukaan kamar khusus Mahkamah Agung di Provinsi NAD (Pasal 57) sangat sulit dilakukan. Menurut UU tentang Mahkamah Agung berkedudukan di ibukota negara, bukan di ibukota provinsi. Kamar baru di Mahkamah Agung dapat dibentuk khusus untuk menampung perkara-perkara kasasi Mahkamah Syariat Tinggi NAD, tetapi dengan mengamandemen UU tentang Mahkamah Agung terlebih dahulu. 122

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

d. Tentang Susunan Mahkamah Syariat (Pasal 6 dan seterusnya) juga harus ditetapkan dengan UU, bukan dengan qanun atau peraturan daerah. e. Tentang pembinaan dan pengawasan hakim (Pasal 11), seharusnya dilakukan oleh Mahkamah Agung, bukan oleh Menteri Kehakiman apalagi Gubernur Aceh. Menteri Kehakiman hanya menangani masalah administrasi saja. f. Kasus tentang dominasi eksekutif juga terlihat dalam ketentuan tentang kedudukan protokoler hakim yang diatur dengan keputusan gubernur (pasal 24 ayat 1). g. Kewenangan Mahkamah Syariat, dinyatakan mencakup ahwal alsyakhsyiah, muamalah dan jinayah (pasal 49). Dalam penjelasan pasal 49, dikemukakan: - Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang ahwalul syakhshiyah meliputi hal-hal yang diatur dalam pasal 49 UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agama beserta penjelasan dari pasal tersebut, kecuali waqaf, hibah dan shadaqah. - Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang mu’amalah adalah sebagai berikut: 1. Jual beli, hutang piutang 2. Qiradh, salam 3. Masaqah, muzaraah, mukhabarah 4. Wakalah, syirkah 5. Ariyah, hiwalah, hajru, syufah, rahnun 6. Ihyaul mawat, ma’din, luqathah 7. Perbankan, Ijarah, takaful 8. Perburuhan 9. Harta rampasan 10. Wakaf, hibah, shadaqah, hadiyah - Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang jinayah adalah sebagai berikut: 1. Hudud 2. Menuduh berzina 3. Mencuri 4. Merampok 5. Minuman keras 6. Murtad 7. Pemberontak 8. Qishash a. Hukuman membunuh dan melukai 123

Irham, Kedudukan Syariat Islam

b. Hukuman denda (diat) 9. Tazir. Hukuman yang dikenakan kepada orang yang mengerjakan maksiat atau melanggar jinayat yang tidak dikenakan hudud, qishash maupun denda, tetapi diserahkan kepada pertimbangan hukum berdasarkan perbuatan dan kondisi pelaku. Kewenangan Mahkamah Syariat di atas, dalam kenyataannya megambil alih berbagai kewenangan lembaga peradilan lain yang ditetapkan menurut UU. Pertanyaan yang muncul di sini adalah apakah Mahkamah Syariat akan menggeser atau melikuidasi lembaga-lembaga peradilan lainnya di Aceh? Kalau memang demikian, bagaimana ketentuan tentang pengembangan Peradilan Agama menjadi Mahkamah Syariat di atas (Pasal 2 ayat 3, pasal 3 ayat 3 ayat 1)? Semestinya yang dirumuskan dalam pasal-pasal tersebut adalah pengalihan atau pengubahan lembaga-lembaga peradilan lainnya menjadi Mahkamah Syariat. Kasus yang sama juga terlihat dalam ketentuan peralihan (bab VI, pasal 58 ayat 1) yang menetapkan pengalihan Peradilan Agama menjadi Mahkamah Syariat. h. Tentang hukuman materil dan formil Mahkamah Syariat (bab IV) juga semestinya ditetapkan dengan UU, bukan dengan qanun. Jika Mahkamah Syariat berwenang menangani kasus ahwal alsyakhsyiah, muamalah dan jinayah, ia jelas membutuhkan undangundang ahwal al-syakhsyiah, undang-undang muamalah, dan undang-undang jinayah, bukan peraturan daerah atau qanun tentangnya. Kalau tidak demikian, qanun semacam itu akan batal demi hukum karena melanggar ketentuan undang-undang yang lebih tinggi. 2. Qanun No. 11/2002 Tentang Pelaksanaan Syariat Islam bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam. Qanun tentang pelaksanaan syariat Islam di bidang aqidah, ibadah, dan syiar Islam21 disahkan pada 14 Oktober 2002, dan diundangkan pada 6 Januari 2003. Kandungan utama qanun ini berupaya memilah dan mengelaborasi lebih jauh peraturan daerah No. 5/2002, pelaksanaan syariat Islam dibatasi pada bidang akidah, ibadah, dan syiar
Tentang kandungan qanun ini selengkapnya, lihat Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11/2002 Tentang Pelaksanaan Syariat Islam bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam, (tt.tp).
21

124

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

Islam. Sebagaimana peraturan daerah No. 5/2000, qanun ini mendefinisikan syariat Islam dalam pengertian luas: “Syariat Islam adalah tuntunan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan” (Pasal 1 ayat 6). Akidah didefinisikan sebagai akidah menurut paham “Ahlussunnah wal Jamaah” (Pasal 1 ayat 7) dan ibadah dibatasi pada shalat dan puasa di bulan Ramadan (pasal 1 ayat 8). Pengaturan pelaksanaan syariat Islam dalam ketiga bidang tersebut–yakni akidah, ibadah, dan syiar Islam dalam pasal 2, dinyatakan memiliki tujuan: a. Membina dan memelihara keimanan dan ketakwaan individu dan masyarakat dari pengaruh ajaran sesat. b. Meningkatkan pemahaman dan pengamalan ibadah serta penyediaan fasilitasnya c. Menghidupkan dan menyemarakkan kegiatan-kegiatan guna menciptakan suasana dan lingkungan yang Islami. Sementara dalam pasal 3, fungsinya ditetapkan sebagai “pedoman pelaksanaan syariat Islam bidang aqidah, ibadah dan syiar Islam. Pasal 4-5 menetapkan kewajiban memelihara akidah Islam, larangan menyebarkan paham atau aliran sesat, serta larangan keluar dari akidah Islam (murtad) dan/atau menghina atau melecehkan agama Islam. Implikasi hukumnya diatur dalam pasal 20–yakni ketentuan tazir berupa penjara 2 tahun atau cambuk 12 kali untuk upaya penyebaran paham atau aliran sesat. Sementara bagi orang murtad dan/atau menghina atau melecehkan Islam dinyatakan akan diatur dalam qanun tersendiri. Pasal 6 menyerahkan kewenangan penetapan aliran/paham sesat kepada fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi NAD. Akan tetapi, yang dimaksudkan dengan paham atau aliran sesat dalam qanun ini tidak didefinisikan secara jelas. Dalam penjelasan pasal 2, paham atau aliran sesat didefinisikan sebagai “pendapat-pendapat tentang aqidah yang tidak berdasarkan kepada Alquran atau Hadits Shahih, atau penafsiran yang tidak memenuhi persyaratan metodologis atau kedua sumber tersebut. Kewajiban menjalankan ibadah dalam qanun ini meliputi shalat fardlu, shalat jumat, dan puasa (bab IV). Cakupan ibadah yang disebutkan itu jelas sangat terbatas. Demikian pula, dalam sanksi hukumnya, hanya ditetapkan hukuman tazir berupa penjara enam bulan atau cambuk tiga kali untuk yang tidak menjalankan shalat jumat tiga kali berturut-turut tanpa halangan syari (Pasal 21 ayat 1), hukuman 125

Irham, Kedudukan Syariat Islam

pencabutan izin usaha untuk perusahaan angkutan yang tidak memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penumpangnya untuk melakukan salat farzu (pasal 21 ayat 2), dipenjara satu tahun atau denda Rp 3 juta atau cambuk enam kali dan pencabutan izin usaha untuk perusahaan angkutan yang tidak memberikan kesempatan fasilitas kepada penumpangnya untuk melakukan salat farzu (pasal 21 ayat 2), dipenjara satu tahun atau denda Rp 3 juta atau cambuk enam kali dan pencabutan izin usaha untuk penyedia fasilita/peluang kepada kaum muslimin untuk tidak berpuasa tanpa halangan syari (pasal 22 ayat 1), serta empat bulan atau cambuk dua kali untuk makan minum di muka umum pada siang hari Ramadan (pasal 22 ayat 2). Sementara hukuman yang tidak salat farzu atau berpuasa tanpa halangan syari tidak ditetapkan. Sebagaimana peraturan daerah No. 5/2000, qanun ini juga menetapkan ketentuan tentang busana islami (Pasal 13)–dijelaskan sebagai “pakaian yang menutupi aurat yang tidak tembus pandang, dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh.” Sementara hukuman untuk yang melanggarnya adalah “pidana dengan hukuman tazir setelah melalui proses peringatan dan pembinaan oleh Wilayatul Hisbah,” tanpa menyinggung bentuk hukumannya – misalnya penjara atau cambuk. Wilayatul Hisbah, dalam qanun ini (pasal 1 ayat 11), dinyatakan sebagai badan yang bertugas mengawasi pelaksanaan syariat Islam. Badan ini dibentuk oleh pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta dapat dibentuk pada tingkat gampong, kemukiman, kecamatan atau wilayah lingkungan lainnya (pasal 14 ayat 1-2). Setelah proses tegur atau nasehat terhadap pelaku pelanggaran ketentuan qanun, pejabat Wilayatul Hisbah akan melimpahkan kasus pelanggaran tersebut kepada pejabat penyidik, jika tidak terjadi perubahan pada pelaku pelanggaran (pasal 14 ayat 3-4). Penyelidikan, dalam pasal 15, dilakukan oleh: (a) pejabat kepolisian Provinsi NAD, atau (b) pejabat penyidik pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintahan daerah yang diber kewenangan. Selain itu, qanun ini juga memuat tentang penuntutan. Dalam pasal 16, penuntutan umum didefinisikan sebagai jaksa atau pejabat lain yang diberi kewenangan untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan putusan mahkamah syariat. Secara rinci, kewenangan penuntut umum diurai dalam pasal 17, yakni menerima dan memeriksa berkas perkara dari penyidik, mengadakan pra penuntutan bila terdapat kekurangan pada hasil penyidikan, membuat surat dakwaan, 126

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

melimpahkan perkara ke mahkamah syariat, menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa maupun saksi tentang waktu persidangan disertai dengan surat panggilan, melakukan penuntutan sesuai ketentuan yang berlaku, mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab pentuntut, dan melaksanakan keputusan hakim. Sementara pasal 19 menetapkan mahkamah syariat sebagai yang berwenang memeriksa dan memutuskan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam qanun ini. 3. Qanun No. 12/2003 tentang Larangan Minuman Khamar dan Sejenisnya. Qanun tentang larangan minuman khamar dan sejenisnya ini disahkan pada 15 Juli 2003, dan diundangkan pada 16 Juli 200322 Di dalam qanun ini, yang dimaksudkan dengan khamar dan sejenisnya adalah minuman yang memabukkan, apabila dikonsumsi dapat menyebabkan terganggu kesehatan, kesadaran dan daya pikir” (pasal 1 ayat 20). Pasal 2 menyebutkan “segala bentuk kegiatan dan/atau perbuatan yang berhubungan dengan segala minuman yang memabukkan. Tujuan pelarangannya adalah melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kegiatan dan/atau perbuatna yang merusak akal, mencegah terjadinya perbuatan atau kegiatan yang merusak akal, mencegah terjadinya perbuatan atau kegiatan yang timbul akibat minuman khamar dalam masyarakat, dan meningkatkan peranserta masyarakat dalam mencegah dan memberantas terjadinya perbuatan minuman khamar dan sejenisnya (pasal 3). Dalam pasal 4 ditetapkan bahwa minuman khamar dan sejenisnya adalah haram, dan setiap orang dilarang mengkonsumsi minuman khamar dan sejenisnya (pasal 4). Ambisi qanun ini adalah larangan yang menyeluruh, tidak sebatas konsumsi khamar dan sejenisnya, serta berlaku untuk seluruh warga Aceh, baik muslim maupun non-muslim.23 Seperti tampak pada pasal 6 ayat 1, setiap orang atau badan hukum dan badan usaha dilarang memproduksi, menyediakan, menjual, memasukkan, mengedarkan, mengangkut, menyimpan, menimbun, memperdagangkan, menghadiahkan dan
Tentang kandungan qanun ini selengkapnya, lihat Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 12/2003 Tentang Larangan Minuman Khamar dan Sejenisnya, (tt.tp). 23 Draf Rancangan Qanun tentang Minuman Khamar dan Sejenisnya yang ada di tangan penulis hanya menetapkan larangan minum khamar terbatas kepada kaum muslimin.
22

127

Irham, Kedudukan Syariat Islam

mempromosikan minuman khamar dan sejenisnya. Selain itu di dalam pasal 6 ayat 2 dikatakan bahwa setiap orang atau badan hukum dilarang turut serta/membantu menyediakan, menjual, memasukkan mengedarkan, mengangkut, menyimpan, menimbun, memperdagangkan, dan memproduksi minuman khamar dan sejenis ini juga berlaku bagi badan hukum dan badan usaha yang dimodali atau memperkerjakan tenaga asing (Pasal 7). Selain itu qanun no. 12 ini juga melarang instansi yang berwenang menerbitkan izin usaha hotel, losmen, wisma, bar, restoran, warung kopi, rumah makan, kedai, kios, dan tempat-tempat lain dilarang melegalisasikan penyediaan minuman khamar dan sejenisnya. (pasal 8). Bagi pelanggar pasal 5 di atas, pasal 26 menetapkan bahwa ancaman hukuman yang diberikan adalah hukumam hudud 40 kali cambukan. Bagi pelanggaran terhadap pasal 6–8, ancaman hukumannya adalah uqubat tazir berupak kurungan paling lama satu tahun dan paling singkat tiga bulan dan/atau denda paling banyak Rp 75 Juta dan paling sedikit Rp 25 juta. Khusus bagi pengulangan pelanggaran yang terancam hukuman dalam pasal 26, ditetapkan bahwa hukumannya dapat ditambah sepertiga dari ‘uqubat maksimal (pasal 29). Bab lima, yang mengatur tentang pengawasan dan pembinaan, serta bab 6 tentang penyidikan dan penuntutan memiliki kandungannya yang senada qanun no. 11 tentang pelaksanaan syariat Islam bidang aqidah, ibadah, dan syiar Islam. 4. Qanun No. 13/2003 Tentang Maisir (Perjudian) Qanun tentang maisir (perjudian) ini disahkan pada 15 Juli 2003, dan diundangkan pada 16 Juli 2003.24 Dalam qanun ini perjudian atau maisir didefinisikan sebagai kegiatan dan/atau perbuatan yang bersifat taruhan antara dua pihak atau lebih di mana pihak yang menang mendapatkan bayaran” (pasal 1 ayat 20). Cakupan larangan maisir adalah segala bentuk kegiatan dan/atau perbuatan serta keadaan yang mengarah kepada taruhan dan dapat berakibat kepada kemuzaratan bagi pihak-pihak yang bertaruh dan orang-orang/lembaga yang ikut terlibat dalam taruhan tersebut.

Tentang kandungan qanun ini selengkapnya, lihat Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 13/2003 Tentang Maisir / Perjudian, (tt.tp).

24

128

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

Dalam pasal 3 disebutkan bahwa tujuan pelarangan maisir adalah memelihara dan melindungi harta benda/kekayaan, mencegah anggota masyarakat melakukan perbuatan yang mengarah kepada maisir, melindungi masyarakat dari pengaruh buruk yang timbul akibat kegiatan dan/atau perbuatan maisir, serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan perbuatan maisir. Qanun ini mengharamkan maisir (pasal 4) dan melarang setiap orang melakukan perbuatan maisir (pasal 5). Selain itu, setiap orang atau badan usaha dilarang menyelenggarakan dan / atau memberikan fasilitas kepada orang yang akan melakukan perbuatan maisir, dan setiap orang atau badan hukum atau badan usaha dilarang melindungi perbuatan maisir (pasal 6 ayat 1-2). Selain itu, instansi pemerintah dilarang memberi izin usaha penyelenggaraan maisir (pasal 7), dan setiap orang atau kelompok atau institusi masyarakat berkewajiban mencegah terjadinya perbuatan maisir (pasal 8), dengan melaporkan kepada pejabat yang berwenang secara lisan atau tertulis (pasal 9). Setiap orang yang melanggar ketentuan dalam pasal 5 diancam dengan ‘uqubat berupa cambuk di depan umum maksimal 12 kali, minimal 6 kali (pasal 23 ayat 1). Sementara setiap orang atau badan hukum atau badan usaha noninstansi pemerintah yang melanggar ketentuan pasal 6 dan 7 diancam dengan uqubat atau denda maksimal Rp 35 juta, minimal Rp 15 juta (pasal 23 ayat 2). Sehubungan dengan pelaksanaan hukuman, dalam pasal 30 disebutkan bahwa hukuman cambuk dilaksanakan dengan menggunakan cambuk dari rotan sepanjang satu meter, diameternya antara 0.75 cm sampai satu sentimeter, dan tidak mempunyai ujung ganda. Hukuman dilakukan di tempat umum dengan disaksikan banyak orang dan dihadiri jaksa serta dokter yang ditunjuk. Ditentukan juga bahwa kadar cambukan tidak melukai serta dilakukan pada bagian tubuh kecuali kepala, muka, leher, dada, dan kemaluan. Selain itu, disebutkan bahwa terhukum laki-laki dicambuk dalam posisi berdiri tanpa penyangga dan tanpa diikat, dengan mengenakan baju tipis yang menutup aurat. Terhukum perempuan dicambuk dalam posisi duduk dan ditutupi kain di atasnya. Bila perempuan itu hamil pencambukan dilakukan 60 hari setelah melahirkan. Dalam pasal 31 disebutkan bahwa apabila selama pencambukan timbul hal-hal yang membahayakan terhukum berdasarkan pendapat dokter yang ditunjuk, pencambukan dapat ditunda dan sisa cambukan akan dilakukan di lain waktu yang memungkinkan.

129

Irham, Kedudukan Syariat Islam

Bab 5 tentang pengawasan dan pembinaan, serta bab 6 tentang penyidikan dan penuntutan memiliki kandungan yang senada dengan dua qanun sebelumnya – yakni qanun No. 11 dan qanun No. 12 di atas. 5. Qanun No. 14 / 2003 Tentang Khalwat (Mesum) Dalam qanun ini,25 khalwat/mesum didefinisikan sebagai perbuatan bersunyi-sunyi antara dua mukallaf atau lebih yang berlainan jenis yang bukan muhrim atau tanpa ikatan perkawinan. (Pasal 1 ayat 20). Cakupan larangan khalwat/mesum adalah segala kegiatan, perbuatan dan keadaan yang mengarah kepada perbuatan zina (pasal 2). Tujuan pelarangannya adalah untuk menegakkan syariat Islam dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat, melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kegiatan dan/atau perbuatan yang merusak kehormatan, meningkatkan peranserta masyarakat dalam mencegah dan memberantas terjadinya perbuatan khlawat/mesum dan menutup peluang terjadinya kerusakan moral (Pasal 3). Qanun yang disahkan 15 Juli 2003 dan diundangkan pada 16 Juli Tahun yang sama ini menetapkan khalwat/mesum hukumnya haram (pasal 4). Setiap orang dilarang melakukan khalwat/mesum (pasal 5). Selain itu setiap orang atau kelompok masyarakat, atau aparatur pemerintahan dan badan usaha dilarang memberikan fasilitas kemudahan dan/atau melindungi orang yang melakukan khalwat/mesum (pasal 6). Setiap orang baik individu maupun kelompok, ditetapkan berkewajiban mencegah terjadinya perbuatan khalwat/mesum (pasal 7) Setiap orang yang melanggar ketentuan pasal 4, diancam dengan uqubat tazir berupa cambuk paling banyak 9 kali, paling sedikit 3 kali, dan atau denda paling banyak Rp 10 juta, paling sedikit Rp 2,5 juta (pasal 22 ayat 1). Sementara yang mencederai pasal 5 diancam dengan uqubat tazir berupa kurungan paling lama 6 bulan, paling singkat 2 bulan, dan atau denda paling banyak Rp 15 juta dan paling sedikit 5 juta (pasal 22 ayat 2). Bagi yang melakukan pelanggaran lebih dari satu kali, maka hukumannya dapat ditambah seperti cambuk dalam qanun khalwat/mesum serupa dengan ketentuan yang ada dalam qanun maisir. Demikian pula ketentuan dalam bab 5 tentang pengawasan dan

Tentang kandungan qanun ini selengkapnya, lihat Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 14/2003 Tentang Khalwat (Mesum), (tt.tp).

25

130

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

pembinaan serta bab 6 penyidikan dan penuntutan senada dengan qanunqanun sebelumnya. Peranan Dinas Syariat Islam dalam Prosesi Penerapan Syariat Dinas Syariat Islam NAD telah menyusun serangkaian program yang diharapkan menjadi jembatan bagi terwujudnya visi dan msi Dinas Syariat Islam. Program-program ini dapat dikategorikan sebagai program umum, program khusus dan program prioritas. Secara rinci, Program Umum Dinas Syariat Islam meliputi:26 1. Pengembangan dan pelaksanaan syariat Islam yang bertujuan untuk mewujudkan pelaksanaan syariat Islam seara kaffah dalam masyarakat 2. Pembangunan Masyarakat Mulia Sejahtera (PMMS) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi kaum dhuafa melalui pelaksanaan syariat Islam 3. Pembangunan Pesantren Darul Aitam yang bertujuan mendukung kelancaran jalannya program pendidikan agama serta mewujudkan keseimbangan antara imtaq dan Iptek. 4. Pembangunan Islamic Centre untuk mewujudkan pusat pengkajian dan pengembangan keislaman serta pelaksanaan syariat Islam 5. Pemberdayaan guru mengaji (minyeuk panyot) dengan tujuan menghidupkan dan menggairahkan kembali pengajian gampong. Sementara itu, program khusus yang dicanangkan Dinas Syariat Islam tahun 2002 adalah:27 1. Pembinaan masyarakat di daerah perbatasan dengan pengiriman 90 dai di tiga kabupaten perbatasan 2. Pembuatan baliho di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara dengan pesan informasi “Anda memasuki wilayah pelaksanaan syariat Islam Nanggroe Aceh Darussalam 3. Ikut serta dalam program Gema Assalam dengan membina dan membekali pendamping sehingga menjadi penggerak kegiatan peribadatan dan membantu menciptakan suasana yang lebih Islami di tempat tugas masing-masing, 4. Menyiapkan qanun prioritas untuk digunakan Mahkamah Syariah, yaitu qanun tentang larangan minuman keras, qanun tentang larangan perjudian dan qanun tentang larangan khalwat.
M. Saleh Suhaidy, “Tentang Dinas Syariat Islam: Apa dan Untuk Apa?”, dalam Shafwan Idris, et.al, Syariat di Wilayah Syariat, (Banda Aceh: Dinas Syariat Islam dan YUA, 2002), hal. 267-270. 27 Suhaidy, Dinas Syariat…, hal. 269.
26

131

Irham, Kedudukan Syariat Islam

Dari sejumlah program umum dan program khusus ini, Dinas Syariat Islam mempunyai sejumlah program prioritas yang meliputi:28 1. Mendorong terbentuknya Dinas Syariat Islam di Kabupaten dan Kota 2. Pembentukan Mahkamah Syariah–penyiapan qanun tentang kelembagaannya, qanun-qanun untuk hukum material dan hukum formilnya 3. Pemantapan pengamalan zakat–penjelasan dan sosialiasi makna Badan Baitul Mal dan Badan Amil Zakat, aturan tentang tanggung jawab kewenangan, tugas-tugas serta pembinaannya yang meliputi Badan Amil Zakat Gampong, kabupaten/kota dan provinsi 4. Pemberantasan KKN, judi, miras/narkoba serta khalwat bekerjasama dengan instansi terkait dan melibatkan masyarakat komponen masyarakat secara lebih aktif 5. Mengusahakan terciptanya suasana dan lingkungan belajar yang islami di seluruh Aceh dengan menetapkan jam belajar gampong, melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan 6. Mendorong dan membantu fasilitas guna menjadikan meunasah sebagai pusat kegiatan peribadatan dan kemasyarakatan serta memeratakan (membudayakan) pengamalan salat farzu berjamaah di awal waktu di setiap muenasah (gampong) dan disemua instansi pemerintahan serta sekolah (madrasah) 7. Sosialisasi pelaksanaan syariat Islam secara kaffah, terutama melalui mass media, meliputi perluasan wawasan masyarakat, mempertebal keimanan, menyemarakkan pengamalan ibadah, serta menghidupkan toleransi intern dan antarumat beragama 8. Menetapkan pakaian dinas pegawai negeri dan seragam sekolah yang lebih islami, serta membantu dan mendorong masyarakat agar mengenakan busana yang lebih islami 9. Mendorong dan membantu masyarakat menggunakan kalender hijriah huruf Arab Melayu yang benar dan indah untuk menciptakan suasana yang lebih religius dan Islami. Akhirnya dengan sejumlah program serta tiga tahapan pengembangan masyarakat–tawin, tanzim, dan taudi–kiranya syariat Islam akan kembali diterima secara kaffah oleh masyarakat Aceh sebagai sarana bagi bangkit dan berulangnya peradaban Aceh yang islami.
28

Ibid.

132

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

Kedudukan Syariat Islam di NAD dalam Sistem Hukum Nasional Indonesia sebagai negara hukum memiliki sistem hukum yang dikenal dengan sistem hukum nasional. Sistem hukum nasional adalah system hukum yang mengabdi kepada kepentingan nasional. Sistem hukum nasional adalah sistem hukum yang berdasarkan pada konstitusi UUD 1945. Sistem hukum nasional terdiri atas subsistem hukum antara lain; subsistem peraturan perundang-undangan, subsistem legislasi, subsistem pendidikan hukum, subsistem penegakan hukum dan lain-lain. Subsistem ini memiliki fungsi masing-masing dan membentuk satukesaruan yang dikenal dengan sistem hukum. Pada masa Orde Baru, hukum nasional dipahami dalam konteks, unifikasi hukum yang rigid dan ketat. Keragaman hukum tidak diakui, sehingga hanya ada satu hukum yang mengabdi kepada kepentingan nasional. Pemahaman hukum yang sempit tentang hukum nasional ternyata tidak tepat lagi pada era sekarang. UUD 1945 dalam beberapa kali amandemennya telah mengakui adanya keragaman dan kesatuankesatuan hukum masyarakat di daerah. Artinya, keberadaan ‘hukum lokal’ mendapat pengakuan dari konstitusi dan merupakan bagian dari hukum nasional. UU No. 11 Tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh adalah perundang-undangan nasional dan menjadi bagian dalam sistem hukum nasional. Secara yuridis undang-undang ini dibentuk berdasarkan konstitusi UUD 1945. Meskipun UU No. 11 Tahun 2006 mengatur otonomi yang luas bagi Aceh dalam menyelenggarakan pemerintahan secara khusus, namun ia tetap menjadi bagian dari sistem hukum nasional. Oleh karena itu, pembentukan peraturan organik dalam rangka menyelenggarakan undang-undang pemerintahan Aceh adalah bagian dari peraturan perundang-undangan nasional dalam bingkai sistem hukum nasional. Qanun Aceh memiliki perbedaan dari segi kekuatan hukumnya bila dibandingkan dengan peraturan daerah yang ada di seluruh Indonesia. Meskipun qanun Aceh adalah produk perundang-undangan di daerah, namun ia memilki karakteristik dan kekuatan tersendiri. Qanun Aceh yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dapat dibatalkan oleh presiden melalui Peraturan Presiden (Perpres) bila bertentangan dengan kepentingan umum, bertentangan dengan hirarki perundang-undangan yang lebih tinggi atau bertentangan antar sesama qanun. Namun, qanun yang mengatur tentang penyelenggaraan kehidupan masyarakat Aceh, seperti qanun syariat Islam dapat dibatalkan melalui mekanisme (yudicial review) di Mahkamah Agung. 133

Irham, Kedudukan Syariat Islam

Mahkamah Agung berwenang melakukan uji materi (yudicial review) terhadap peraturan perundang-undangan yang kedudukannya berada di bawah undang-undang seperti peraturan pemerintah (PP), peraturan presiden (Perpres) dan lain-lain. Qanun Aceh juga diberikan kekuatan yuridis untuk mengatur materi-materi muatan, yang tidak dapat diatur dalam peraturan daerah pada umumnya. Materi muatan ancaman pidana misalnya, hanya boleh diatur dengan peraturan daerah berupa ancaman pidana maksimal 6 bulan penjara atau denda maksimal 50 juta rupiah. Dalam pasal 143 UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam bulan) penjara atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Namun, untuk Qanun Aceh dikecualikan dari ketentuan tersebut. Aturan pidana cambuk yang diatur dalam Qanun Aceh adalah produk peraturan perundang-undangan di daerah, namun ia diberikan kekuasaan untuk mengatur ancaman pidana melampaui apa yang biasanya diatur oleh peraturan daerah pada umumnya. Kekuasaan yang dimiliki Qanun Aceh untuk mengatur materi tertentu, bukanlah sesuatu yang menyimpang atau keluar dari hukum nasional. Ia tetap menjadi bagian hukum nasional karena kekuasaan itu diberikan kepada Qanun atas perintah undang-undang yang notabenenya adalah produk hukum nasional. Berdasarkan logika yuridis di atas, dapat dipahami bahwa ketentuan hukuman cambuk misalnya, yang diatur dalam Qanun Aceh yang ada selama ini adalah bagian dari hukum nasional karena keberadaannya diperintahkan secara implisit oleh undang-undang nasional, baik UU No. 18 Tahun 2001 (sebelum dicabut), maupun berdasarkan UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Jadi secara yuridis, keberadaan hokum cambuk di Aceh cukup kuat, karena memiliki landasan yuridis, yaitu UU N0. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Namun, yang menjadi persoalan utama adalah konstruksi teoritis hukuman cambuk sebagai bentuk hukuman dalam hukum syariat Islam, dan penegakan hukuman cambuk di Aceh yang kelihatannya sebagian kalangan menganggap ‘belum’ memenuhi rasa keadilan masyarakat.29

Syahrizal Abbas, Kedudukan Qanun Aceh dalam Sistem Hukum Nasional, Makalah yang disampaikan pada Konferensi Internasional: Syariat Islam dan

29

134

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

Keberadaan qanun Aceh dalam sistem peraturan perundangundangan di Indonesia, merupakan bentuk pengakuan pemerintah terhadap realitas hukum di daerah. Otonomi khusus merupakan payung bagi keberadaan qanun di Aceh dalam percaturan perundang-undangan Indonesia. Bahkan konstitusi mengamanatkan bahwa system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UUD 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat istimewa dan khusus, terkait dengan karakter khas perjuangan masyarakat Aceh yang memilki ketahanan dan daya juang tinggi. PENUTUP Sebagai penutup ingin dikatakan bahwa pelaksanaan syariat Islam di Aceh adalah sebuah proses. Maksudnya, upaya terus menerus dan berkesinambungan dari semua unsur dan lapisan masyarakat untuk melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Berhubung kita sudah terlalu lama meninggalkan syariat Islam di satu pihak dan di pihak lain banyak sekali perubahan yang telah terjadi di tengah masyarakat, maka upaya merumuskan kembali peraturan-peraturan berdasarkan syariat yang dianggap cocok dengan kebutuhan masyarakat atau sebaliknya merumuskan perilaku dan perbuatan anggota masyarakat yang harus diubah serta disesuaikan dengan tuntunan syariat, akan merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara terus-menerus dan sungguhsungguh. Masa depan penerapan syariat Islam di Aceh, sesungguhnya tidak hanya untuk kepentingan masyarakat Aceh semata, akan tetapi juga untuk kepentingan daerah-daerah lain di Indonesia, terutama daerah-daerah yang memiliki akar keislaman yang kuat dan telah pula mencanangkan penerapan Syariat dengan berbagai cara. Kesuksesan penerapan syariat Islam akan menjadi pendorong gerakan yang memang sudah tumbuh di berbagai daerah lain tersebut. Pengaruh penerapan syariat Islam di Aceh mungkin adalah hal yang tak terduga bagi masyarakat Aceh, akan tetapi keberhasilan penerapan syariat tersebut akan dirasakan dan diharapkan oleh masyarakat lain. Di sinilah pentingnya bahwa penerapan syariat Islam di Aceh harus berhasil mencapai tujuannya yaitu merealisasikan “rahmatan lilalamin”, menimbulkan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari, menegakkan rasa keadilan yang merata dan pada akhirnya akan muncul kesejahteraan
Tantangan Dunia Global, Menggagas Format Penerapan Hukum Islam yang Aktual dan Dinamis di Nanggroe Aceh Darussalam, 19-21 Juli 2007.

135

Irham, Kedudukan Syariat Islam

masyarakat. Meskipun tujuan ini berjangka panjang, akan tetapi hendaknya dalam jangka singkat diperlukan agar hasilnya harus dirasakan oleh masyarakat. Sebaliknya, apabila penerapan syariat Islam sampai pada hasil yang sebaliknya, tentu akibatnya juga akan dirasakan oleh tidak hanya masyarakat Aceh. Di sinilah pentingnya mengingatkan bahwa upaya penerapan syariat Islam adalah sebagai jihad bersama tidak saja masyarakat Aceh, tetapi masyarakat lainnya di Indonesia. DAFTAR BACAAN ‘Abd al-Hamid Mutawalli, al-Syar’iyah al-Islamiyyah ka Masdar Asasiyy li al-Dustur (Iskandariyyah: al-Ma’arif, 1990). Abd al-Hamid Mutawalli, Azmah al-Fikr al-Islamy fi al-‘Asr al-Hadith (T.tp: al-Hay’ah al-Misriyyah al-Ammah li al-Kitab, 1985). Abd al-Madjid Abd al-Hamid, Tarikh al-Fiqh al-Islami (Maghrib: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1994). Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence (Islamabad: Islamic Research Institute, 1994). Ahmad Hasan, The Early Development of Islamic Jurisprudence (Islamabad: Islamic Research Institute, 1994). Ahmad Muhammad Jamal, Qadaya Mu’asiroh fi Mahkamah al-Fikr alIslami (Kairo: Dar al-Sahwah, 1986), Cet. II, hal. 33-35. Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1995). Al Jarisyah, Ushul al-Syariyah Madmunuha wa Khasisuha, (Kairo: Dar Gharib, 1979), Cet. I. Munir Hamid al-Bayati, al-Dawlah alQanuniyyah Muqarranah (Baghdad al-Dar al-Arabiyyah, 1979). Al Yasa Abubakar, “Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh (Sejarah dan Prospeknya),” dalam Safwan Idris (et.al.), Syariat di Wilayah Syariat (Banda Aceh: Dinas Syariat Islam dan YUA, 2002). Analiansyah, “Benarkah Hukum Islam itu Kejam,?” Serambi Indonesia, 7 Oktober 2002. Ann Elzhabeth Mayer, “The Shari’ah: A Metdhodology or a Body of Substantive Rules? Dalam, Nicholhas Heer (ed.), Islamic Law and Jurisprudence (Seattle University of Washington Press, 1990).

136

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009:114-138

Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 10/2002 Tentang Peradilan Syariat Islam, (tt.tp). Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11/2002 Tentang Pelaksanaan Syariat Islam bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam, (tt.tp). Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 12/2003 Tentang Larangan Minuman Khamar dan Sejenisnya, (tt.tp). Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 13/2003 Tentang Maisir / Perjudian, (tt.tp). Dinas Syariat Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 14/2003 Tentang Khalwat (Mesum), (tt.tp). Hans Wehr, A Dictionary of Modern Writen Arabic, J. Milton Cowan (ed.), (Wesbaden: Otto Harrassowitz, 1971). Hasan Ahmad al-Khatib, al-Fiqh al-Muqarran (Kairo: Dar al-Ta’lif, 1957). Hasan Ahmad al-Khatib, al-Fiqh al-Muqarran (Kairo: Dar al-Ta’lif, 1957). Idem. Family Law Reform in the Muslim World (New Delhi: the Indian Law Institute, 1972). Iskandar Ibrahim “HaruskahIman dan Ibadah Dipublikasikan?” Serambi Indonesia, 27 Oktober 2002. M. Atho’ Mudzhar, Membaca Gelombang Ijtihad: Antara Tradisi dan Liberasi (Yogyakarta: Tititan Ilahi Press, 1998). Mahmud Saltut, al-Islam ‘Aqidah was Syari’ah (Kuwait: Dar al-Qalam, 1996). Marshall G. S Hodgson, The Venture of Islam the Classical Age. Vol 1 (Chicago: The University of Chicago Press, 1974). Muhammad al-Ghazali (et.al), Nizam Itsbatt al-Da’wa wa Adillatuh fi al-Fiqh al-Islami wa al-Qanun (Iskandariyyah: Dar al-Da’wah, 1996), Cet. I. Muhammad al-Ghazali, Hadzha Dinuna (Damaskus: Dar al-Qalam, 1997), Cet. I. Nur Ahmad Fadhil Lubis, A History of Islamic Law in Indonesia (Medan: IAIN Press, 2000). Suara Indonesia Baru, 5 Mei 2003 137

Irham, Kedudukan Syariat Islam

Tahir Mahmood, Personal Law in Islamic Countries History, Text, and Comporative Analysis (New Delhi: The Academy of Law and Relligion, 1987). Titin Zakiah, “Mengritisi Mahkamah Syariah di NAD,” Serambi Indonesia, 21 dan 22 Oktober 2002. Daniel S. Lev, terj. Nirwono dan A.E. Priyono, Hukum dan Politik di Indonesia (Jakarta: LP3S, 1990). Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Universitas Yarsi, 1999).

138

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

FILSAFAT HUKUM KETATANEGARAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM oleh Said Mahyiddin Dosen Unmuha, Banda Aceh

PENDAHULUAN Sejarah menunjukkan bahwa agama sebagai tradisi dan kebudayaan (yang dianut umatnya) memiliki kemampuan secara multiple untuk melakukan tafsiran ulang secara terus-menerus dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman. Agama-agama samawi seperti Judio-Kristen dan Islam dalam masa kontemporer mau tidak mau harus menjawab tantangan politik seperti halnya soal kebangsaan, kenegaraan dan demokrasi. Agama, sebagaimana dinyatakan banyak kalangan, dapat dipandang sebagai instrumen ilahiah untuk memahami dunia.1 Islam, dibandingkan dengan agama-agama lain, sebenarnya merupakan agama yang paling mudah untuk menerima premis semacam ini. Alasan utamanya terletak pada ciri Islam yang paling menonjol, yaitu sifatnya yang “hadir di mana-mana” (omnipresence). Ini sebuah pandangan yang mengakui bahwa “di mana-mana” kehadiran Islam selalu memberikan “panduan moral yang benar bagi tindakan manusia.”2 Dalam konteksnya yang sekarang, tidaklah terlalu mengejutkan, meskipun kadang-kadang mengkhawatirkan, bahwa dunia Islam kontemporer menyaksikan sebagian kaum Muslim yang ingin mendasarkan seluruh kerangka kehidupan sosial, ekonomi dan politik pada ajaran Islam secara eksklusif, tanpa menyadari keterbatasanketerbatasan dan kendala-kendala yang bakal muncul dalam praktiknya. Ekspresi-ekspresinya dapat ditemukan dalam istilah-istilah simbolik yang dewasa ini popular seperti revitalisme Islam, kebangkitan Islam,
1

Argumen ini pernah dinyatakan secara cukup kuat oleh Robert N. Bellah. Lihat tulisannya, “Islamic Tradition and the Problem of Modernization,” Robert N. Bellah, Beyond Belief: Essays on Religion in a Post-Tradisionalist World, Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1991, h. 146. Lihat juga Leonard Binder, Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologis, Chicago and London: University of Chicago Press, 1988, h. 4. 2 Fazlur Rahman, Islam, New York, Chicago, San Fransisco: Holt, Reinhart, Winston, 1966, h. 241.

139

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

revolusi Islam, atau fundamentalisme Islam.3 Sementara ekspresiekspresi itu didorong oleh niat yang tulus, tidak dapat dipungkiri bahwa semuanya itu kurang dipikirkan secara matang dan pada kenyataannya lebih banyak bersifat apologetik.4 Gagasan-gagasan pokok mereka seperti dikemukakan oleh Mohammed Arkoun, “tetap terpenjara oleh citra kedaerahan dan etnografis, terbelenggu oleh pendapat-pendapat klasik yang dirumuskan secara tidak memadai dalam bentuk sloganslogan ideologis kontemporer.” Lebih lanjut, “artikulasi mereka masih tetap didominasi oleh kebutuhan ideologis untuk melegitimasi rezimrezim masyarakat Islam dewasa ini.”5 Adalah sebuah fenomena yang mengejutkan bahwa sejak berakhirnya kolonialisme Barat pada pertengahan abad ke-20, Negaranegara Muslim (misalnya Turki, Mesir, Sudan, Maroko, Pakistan, Malaysia, Aljazair) mengalami kesulitan dalam upaya mereka mengembangkan sintesis yang memungkinkan (viable) antara praktik dan pemikiran politik Islam dengan negara di daerah mereka masingmasing. Di negara-negara tersebut, hubungan politik antara Islam dan negara ditandai oleh ketegangan-ketegangan yang tajam, jika bukan permusuhan. Sehubungan dengan posisi Islam yang menonjol di wilayah-wilayah tersebut, yakni karena kedudukannya sebagai agama yang dianut sebagian besar penduduk, tentu saja menimbulkan tanda tanya. Kenyataan inilah yang telah menarik perhatian sejumlah pengamat politik Islam untuk mengajukan pertanyaan, apakah Islam sesuai atau tidak dengan sistem politik modern, di mana gagasan negarabangsa merupakan salah satu unsur pokoknya.6
Dalam gerakan semacam ini, Mohammed Arkoun menyebut adanya dua kelompok pendukung yang berbeda. “Mereka yang menikmati posisi sosial dan ekonomi yang menguntungkan bersedia untuk berkompromi dan menganut pandanganpandangan keislaman yang konservatif, sebab mereka tidak punya akses kepada modernitas pemikiran! Kita juga tahu bahwa mereka yang belajar ilmu-ilmu teknik cenderung untuk mendukung gerakan fundamentalisme: mereka tidak mempunyai kesadaran akan pandangan-pandangan kritis yang berkembang di bidang ilmu humaniora dan sosial, khususnya sejarah.” Lihat tulisannya, The Concept of Authority in Islamic Thought,” Klauss Ferdinand and Mehdi Mozaffari (eds.), Islam: State and Society, London: Curzon Press, 1988, hh. 70-71. 4 Kritik umum atas kecenderungan semacam ini juga dibahas dalam Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of Intellectual Tradition, Chicago and London: University of Chicago Press, 1982. 5 Arkoun, “The Concept of Authority……, hh. 72-73- dan 53. 6 Banyak karya yang dapat dirujuk mengenai masalah ini. Yang penting mencakup: Leonard Binder, Religion end Politics in Pakistan, Berkeley and Los Angeles; University of California Press, 1963; Mohammed Ayoub (ed.), The Politics of
3

140

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

Di Indonesia, dalam hal hubungannya politik dengan negara, sudah lama Islam mengalami jalan buntu. Baik pemerintahan Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto memandang partai-partai politik yang berlandaskan Islam sebagai pesaing kekuasaan yang potensial, yang dapat merobohkan landasan negara yang nasionalis. Terutama karena alasan ini, sepanjang lebih empat dekade, kedua pemerintah di atas berupaya untuk melemahkan dan “menjinakkan partai-partai Islam”. Akibatnya, tidak saja para pemimpin dan aktivis Islam politik gagal menjadikan Islam sebagai dasar ideologi dan agama negara pada 1945 (menjelang Indonesia merdeka) dan lagi pada akhir 1950-an dalam perdebatan-perdebatan di Majelis Konstituante mengenai masa depan konstitusi Indonesia), tetapi mereka juga mendapatkan diri mereka berkali-kali disebut “kelompok minoritas atau “kelompok luar”.7 Pendek kata, seperti telah dikemukakan para pengamat lain, Islam politik telah berhasil dikalahkan–baik secara konstitusional, fisik, birokratis, lewat pemilihan umum maupun secara simbolik.8 Yang lebih menyedihkan lagi, Islam politik seringkali menjadi sasaran ketidak-percayaan, dicurigai menentang ideologi Pancasila. Dalam soal ini cukuplah dikatakan bahwa saling curiga antara Islam dan negara berlangsung di sebuah negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Pertanyaan untuk persoalan di atas adalah: mengapa hal demikian yang terjadi? Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan ketegangan seperti itu? Adakah jalan keluar darinya, yakni jalan penyelesaian yang mengubah hubungan politik antara Islam dan negara dari saling memusuhi dan mencurigai menjadi harmonis dan saling menguntungkan? Untuk membantu mencari jalan keluar atas persoalan
Islamic Reassertion, London: Croom Helm, 1981; Edward Mortimer, Faith and Power: The Politics of Islam, London: Faber and Faber, 1982; Fred Halliday and Hamzah Alavi (eds.), State and Ideology in the Middle East and Pakistan, New York: Monthly Review Press, 1988; R. Hrair Dekmejian, Islam in Revolution: Fundamentalism in the Arab World, Sycracuse University Press, 1985; dan Nazih Ayubi, Political Islam: Religion and Politics in the Arab World, London and New York: Routledge, 1991. 7 Lihat Ruth McVey, “Faith as the Outsider: Islam in Indonesian Politics,” James Piscatori (ed.), Islam in the Political Proceess, hh. 199-225; W.F. Wertheim, “Indonesian Moslems Under Sukarno dan Suharto: Majority with Minority Mentality,” Studies on Indonesian Islam, Townsville: Occasional Paper No. 19, Centre for Southeast Asian Studies, James Cook University of North Queensland, 1986. 8 Untuk paparan ringkas mengenai kekalahan politik Islam, lihat Donald K. Emmerson, “Islam and Regime in Indonesia: Who’s Coopting Whom?” makalah disampaikan dalam pertemuan tahunan American Political Sceince Association, Atlanta, Georgia, 31 Agustus 1989.

141

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

tersebut, penulis akan mencoba menemukan jawabannya dengan mengkaji hubungan Islam dan negara dalam perspektif Filsafat Hukum Islam–melacak akar-akar sejarah, prinsip-prinsip ketatanegaraan, mekanisme, aturan main, tujuan dan hakikat bernegara dalam hukum Islam. PEMBAHASAN Definisi Filsafat Hukum Islam Dalam bukunya “Filsafat Hukum Islam”,9 Ismail Muhammad Syah (Ismuha) memberikan definisi Filsafat Hukum Islam sebagai “pengetahuan tentang hakikat, rahasia dan tujuan hukum Islam, baik yang menyangkut materinya maupun proses penentuannya.” Dari rumusan tersebut filsafat hukum Islam mencakup dua hal pokok yang terdiri dari filsafat tasyri dan hakikat serta rahasia hukum Islam yang selanjutnya disebut falsafah syariah. Sejalan dengan maksud dari definisi di atas namun lebih rinci, Hasbi As-Shiddieqy mendefinisikan filsafat hukum Islam, “setiap qaidah, asas atau (mabda) atau aturan-aturan yang digunakan untuk mengendalikan masyarakat Islam. Baik kaidah itu merupakan ayat Alquran, ataupun merupakan hadis, maupun merupakan pendapat sahabat Nabi Muhammad dan tabiin, atau pendapat yang berkembang pada suatu masa dalam kehidupan umat Islam atau suatu bidang-bidang masyarakat Islam. Istilah lain dari Filsafat Hukum Islam sebagaimana yang diuraikan Hasbi, meliputi (daa-imul ahkam, mabadiul ahkam, ushul al-ahkam, maqashidul ahkam, mahasinul ahkam, qawqidul ahkam, asrarul ahkam, khasa-isul ahkam, mahasinul ahkam dan thawabiul ahkam). Ringkasnya Filsafat Hukum Islam adalah sendi-sendi hukum, prinsip-prinsip hukum, pokok-pokok hukum (sumber-sumber hukum), kaidah-kaidah hukum yang di atasnyalah dibina undang-undang Islam.10 Filsafat Hukum Islam sebagaimana filsafat pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjangkau oleh ilmu
9

Ismail Muhammad Syah, Filsafat Hukum Islam, Jakarta: Bumi Aksara, Hasbi As-Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993,

1992, h. 3.
10

h. 36-37.

142

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

hukum. Menurut Juhaya S. Praja, ada dua tugas filsafat hukum Islam sebagaimana tugas filsafat pada umumnya, yaitu: pertama, tugas kritis dan, kedua, tugas konstruktif. Tugas kritis filsafat hukum Islam ialah mempertanyakan kembali paradigma-paradigma yang telah mapan di dalam hukum Islam. Sementara tugas konstruktif filsafat hukum Islam ialah mempersatukan cabang-cabang hukum Islam dalam kesatuan sistem hukum Islam sehingga nampak bahwa antara satu cabang hukum Islam dengan lainnya tak terpisahkan. Dengan demikian, pertanyaanpertanyaan yang diajukan filsafat hukum Islam: Apa hakikat hukum Islam; hakikat keadilan; hakikat pembuat hukum; tujuan hukum; sebab orang harus taat pada hukum Islam; dan sebagainya.11 Dari beberapa pengertian yang diberikan oleh para filosof hukum Islam di atas, dapat dimengerti bahwa filsafat hukum Islam adalah pengetahuan yang mendalam tentang seluk-beluk dan segala aspek hukum Islam yang ditelaah secara kritis, konstruktif, komprehensif dan bertanggung jawab. Dengan demikian, bila dikaitkan dengan kajian filsafat ketatanegaraan dalam perspektif hukum Islam, bermakna, pengetahuan yang mempertanyakan secara kritis tentang apa sesungguhnya hakikat bernegara menurut hukum Islam; mengapa masyarakat Islam perlu memilih pemimpin; bagaimana nasib warga negara bila tidak diatur oleh suatu pemerintahan, dsb. Definisi Negara Secara leksikal, negara mengandung arti: 1) organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat, 2) Kelompok sosial yang memiliki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasikan di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kekuatan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.12 Definisi lain tentang negaradikemukakan oleh Maclver. Menurutnya, negara adalah suatu bentuk persekutuan dalam wilayah kekuasaan tertentu dengan tujuan menyelenggarakan ketertiban masyarakat berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh pemerintah.13
11

Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, Bandung: Lathifah Press, 2004, h.

15. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989, h. 610. 13 Robert M. Maclver, The Modern State, London: Oxford University, 1980, h. 22.
12

143

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

Dalam hukum internasional, Negara sebagai kesatuan politik sekurang-kurangnya harus memiliki empat unsur, seperti dirumuskan dalam Konvensi Montevideo yang dikutip oleh F. Isywara sebagai berikut: 1) penduduk yang tetap, 2) wilayah tertentu, 3), pemerintah, 4) kemampuan mengadakan hubungan dengan negara-negara lain.14 SementaraBudiarjo menyebutkan bahwa minimal ada empat unsur, yaitu penduduk, wilayah, pemerintah dan kedaulatan.15 Dalam literatur klasik Islam ditemui pula beberapa rumusan mengenai unsur-unsur negara. Di antaranya, rumusan Ibn Abi Rabi’ menyebutkan paling sedikit ada lima unsur yang harus dimiliki oleh negara, yaitu wilayah, penduduk, pemerintah, keadilan, dan adanya pengelolaan negara.16 Al-Mawardi juga menulis ada lima unsur pokok dalam suatu negara, yaitu (1) agama sebagai landasan negara dan persatuan rakyat, (2) wilayah, (3) penduduk, (4) pemerintah yang berwibawa, dan (5) keadilan atau keamanan.17 Pada prinsipnya kedua rumusan tersebut memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memandang wilayah, penduduk, pemerintahan dan keadilan sebagai unsur asasi dalam sebuah Negara. Bedanya, alMawardi menyebutkan agama sebagai salah satu unsur, sedangkan Ibn Abi Rabi’ menyebutkan unsur pengelolaan negara. Meskipun begitu, bukankah menurut al-Mawardi agama diperlukan justeru sebagai landasan pengelolaan Negara. Dengan demikian, pendapat keduanya tidak berbeda. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa negara adalah lembaga sosial yang diadakan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang vital. Suatu negara paling sedikit harus memiliki tiga unsur, yaitu wilayah, penduduk dan pemerintah. Dari ketiga unsur tersebut terlihat bahwa pemerintah merupakan unsur terpenting dari suatu negara. Alasannya, sekalipun telah ada sekelompok individu yang mendiami suatu wilayah, belum juga dapat diwujudkan suatu negara jika tidak terdapat segelintir orang yang berwenang mengatur dan menyusun hidup bersama itu.

14 15

F. Isjwara, Pengantar Ilmu Politik, Bandung: Bina Cipta, 1980, h. 95. Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, 1989, h. 42-

44. Muhammad Jalal Syaraf dan Ali Abdul Muti’, al-Fikr al-Siyasi fi al-Islam: Syakhsiyat wa Mazahib, Kairo: Dar al-Jam’iyyat, 1978, h. 215 dan 218. 17 Al-Mawardi, Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah, Beirut: Dar al-Fikr, 1966, h. 36.
16

144

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

Islam dan Negara: Sebuah Dialektika Pemikiran Konsepsi tentang Islam, negara, dan pemerintahan telah menimbulkan diskusi panjang di kalangan pemikir Muslim dan memunculkan perbedaan pandangan yang cukup panjang dan tidak hanya berhenti pada tataran teoritis konsepsional, tetapi juga memasuki wilayah politik praktis, sehingga acapkali membawa pertentangan dan perpecahan di kalangan umat.18 Perbedaan tentang negara dan pemerintahan dalam Islam dapat dilacak sejak Nabi Muhammad saw., wafat. Dalam hal ini terdapat perbedaan pandangan tentang masalah suksesi kepemimpinan yang terjadi di sekitar kewafatan Nabi Muhammad. Walaupun sebagian umat Islam (kelompok Syi’ah) meyakini bahwa Nabi Muhammad saw., telah mewariskan kepemimpinannya kepada Ali Ibn Abi Thalib melalui peristiwa Ghadir Khum,19 namun sebagian besar yang lain (kelompok Sunni) menganggap bahwa peristiwa tersebut tidak berhubungan dengan suksesi kepemimpinan, dan Nabi Muhammad tidak menentukan modus suksesi kepemimpinan. Perbedaan pandangan tentang negara dan pemerintahan di kalangan pemikir dan ulama Islam, juga disebabkan oleh perbedaan persepsi mereka tentang esensi kedua konsep tersebut. Sebagian memandang bahwa keduanya–negara dan pemerintahan berbeda secara konseptual: pemerintahan adalah corak kepemimpinan dalam mengatur kepentingan orang banyak (berhubungan dengan metode atau strategi politik), sedangkan negara merupakan institusi politik sebagai wadah penyelenggaraan pemerintahan (berhubungan dengan bentuk atau format politik). Sebagai konsekuensinya, pembicaraan tentang negara dan pemerintahan dapat dilakukan secara terpisah seperti membicarakan
Perbedaan pandangan selain disebabkan oleh factor sosio-historis dan sosio cultural – yakni perbedaan latar belakang sejarah dan sosial budaya umat Islam – juga disebabkan oleh factor yang bersifat teologis, yaitu tidak adanya keterangan tegas (clear-cut eksplanation) tentang negara dan pemerintahan dalam sumber-sumber Islam: al-Qur’an dan al-Sunnah. Memang terdapat beberapa istilah yang sering dihubungkan dengan konsep negara, seperti khalifah, dawlah, hukumah atau imamah. Namun istilah-istilah tersebut berada dalam kategori ayat-ayat zhanniyat yang memungkinkan penafsiran al-Qur’an tidak membawa keterangan yang jelas tentang bentuk Negara, konsepsi tentang kekuasaan dan kedaulatan, dan ide tentang konstitusi. Lihat Qamaruddin Khan, al-Mawardi’s Theory of The State, (Lahore: tanpa tahun), hlm. 1. 19 Pada peristiwa yang terjadi dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’, Nabi Muhammad Saw., diriwayatkan pernah bersabda: Man kuntu mawlahu, fahadza Ali mawlahu, yang artinya: “Barang siapa yang menjadikan aku “mawla”nya, maka hendaknya menjadikan Ali “mawla”-nya pula. Hadis ini terdapat dalam beberapa kitab hadis, antara lain Musnad Ibn Hanbal, Jil. 4 dan Sanad Ibn Majah, Jil. I.
18

145

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

strategi dan penyelenggaraan dan pengisian pemerintahan tanpa mempersoalkan bentuk negara. Sebagian yang lain memandang bahwa tidak ada perbedaan di antara keduanya, sehingga pembicaraan tentang pemerintahan tidak terlepas dari pembicaraan tentang negara. Di kalangan umat Islam sampai sekarang terdapat tiga aliran tentang hubungan antara Islam dan ketatanegaraan.20 Aliran pertama berpendirian bahwa Islam bukanlah semata agama dalam pemikiran Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dan Tuhan, sebaliknya Islam adalah satu agama yang lengkap dengan pengaturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. Para penganut aliran ini pada umumnya berpendirian bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap. Di dalamnya terdapat pula antara lain system ketatanegaraan atau politik. Oleh karenanya dalam bernegara, menurut aliran ini, umat Islam hendaknya kembali kepada sistem ketatanegaraan Islam, dan tidak perlu atau bahkan jangan meniru sistem ketatanegaraan Barat. Aliran ini juga berpendapat, bahwa sistem ketatanegaraan atau politik Islami yang harus diteladani adalah system yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw dan oleh empat alKhulafa’ al-Rasyidun. Tokoh-tokoh utama dari aliran ini antara lain Syeikh Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dan Maulana A.A. Almaududi. Aliran kedua berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul biasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur; dan Nabi tidak pernah dimaksudkan untuk mendirikan dan mengepalai satu Negara. Tokohtokoh terkemuka dari aliran ini antara lain Ali Abdul Raziq dan Thaha Husein. Aliran ketiga menolak pendapat bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Tetapi aliran ini juga menolak anggapan bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antara manusia dan Maha Penciptanya. Aliran ini berpendirian bahwa dalam Islam tidak terdapat system ketatanegaraan tetapi terdapat seperangkat nilai etika bagi kehidupan bernegara. Di antara tokoh-tokoh
20

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993), h. 1-2.

146

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

dari aliran ketiga ini yang terhitung cukup menonjol adalah Mohammad Husein Haikal dan Fazlur Rahman.21 Pada titik ini, rasanya dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya tradisi pemikiran politik Islam itu kaya, beraneka ragam dan lentur. Dilihat dari perspektif ini, dalam tulisannya “Islam and Political Development,” Michael Hudson mengemukakan bahwa, “sebenarnyapertanyaan yang patut dikemukakan bukannya yang kaku dan salah arah karena bergaya mendikotomisasi, yakni ‘apakah Islam dan pembangunan politik itu bertentangan atau tidak,’ melainkan ‘seberapa banyak dan pemikiran Islam yang bagaimana yang sesuai dengan sistem politik modern?”22 Kendati Islam mengakui eksistensi bangsa dan suku bangsa, karenanya wawasan kebangsaan tidak bertentangan dengan wawasan keislaman, namun bentuk ekstrem dari rasa kebangsaan (nasionalisme) yang mendasari pelembagaan negara-bangsa dapat menjadi persoalan jika dihadapkan dengan universalisme Islam. Hal ini menjadi alasan bagi mereka yang menolak konsep negara-bangsa, dan kemudian mencari bentuk negara dalam khazanah budaya Islam. Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa sangkut-paut sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan menyatakan bahwa Islam telah memberikan sebuah sistem sosial, ekonomi dan politik yang menyeluruh dan terperinci. Hukum Islam, syari’ah, dalam dua sumber sucinya–Alquran dan Sunnah, trasisi lisan dan tindakan Nabi Muhammad saw–bersifat permanen, tetapi aturan-aturan legalnya yang langsung bersifat bersifat terbatas; pada saat yang sama, turunan-turunan intelektualnya (sebagaimana yang ditunjukkan dalam berjilid-jilid karya
Penting untuk dicatat bahwa pendapat seperti ini juga mengakui bahwa alQur’an mengandung nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang bersifat etis mengenai aktivitas sosial dan politik umat manusia. Ajaran-ajaran ini mencakup prinsip-prinsip tentang “keadilan, kesamaan, persaudaraan, dan kebebasan. Untuk itu, bagi kalangan ini, sepanjang Negara berpegang kepada prinsip-prinsip seperti itu, maka mekanisme yang diterapkannya adalah sesuai dengan ajaran Islam. Karena wataknya yang substansialis itu (dengan menekankan nilai-nilai keadilan, persamaan, musyawarah, dan partisipasi, yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, kecenderungan itu mempunyai potensi untuk berperan sebagai pendekatan yang dapat menghubungkan Islam dengan sistem politik modern, di mana negara-bangsa merupakan salah satu unsurnya. Bahtiar Effendi, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1998, h. 15. 22 Michael Hudson, “Islam and Political Development,” dalam John L. Esposito (ed.), Islam and Development, Syracuse: Syracuse University Press, 1980, h. 1-24.
21

147

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

fiqih) dan kumulasi tingkah laku masyarakat-masyarakat Muslim sepanjang abad dan ditempat-tempat yang berbeda (seperti ditunjukkan dalam catatan-catatan sejarah) bisa berubah dan luas cakupannya. Kedua bagian itu kadang-kadang bercampur dan membingungkan, bukan saja dalam pandangan beberapa pengamat dan sarjana non-Muslim, melainkan juga dalam pandangan beberapa juru bicara Islam yang bersemangat.23 Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa paling tidak terdapat tiga paradigma dalam pandangan Islam tentang negara. Pertama, adalah paradigma integratif, yaitu adanya integrasi antara Islam dan Negara. Wilayah agama juga meliputi politik atau Negara. Karenanya, menurut paradigma ini, negara merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus. Pemerintahan negara didasarkan atas “kedaulatan Ilahi” (divine sovereignty), karenanya memang kedaulatan itu berasal dan berada di “tangan” Tuhan. Negara dalam paradigma ini, dalam prakteknya cenderung menisbatkan diri dengan Islam secara formal, yaitu dengan menyebut diri sebagai negara Islam. Kedua, paradigma simbiotik, yang memandang bahwa agama dan negara berhubungan timbal balik dan saling memerlukan. Dalam hal ini, agama memerlukan negara karena dengan negara agama dapat berkembang. Sebaliknya, negara membutuhkan agama karena dengan agama negara dapat berkembang dalam bimbingan etika dan moral. Dalam kenyataan empiris, penisbatan Islam dengan negara dapat bersifat formal maupun substansial, yaitu dengan memberi tempat bagi agama dalam konstitusi dan kehidupan bernegara. Negara dapat mengambil bentuk monarki (konstitusional) maupun republik dan lain-lain. Ketiga, paradigma instrumental, yaitu bahwa negara merupakan instrument atau alat bagi pengembangan agama dan realisasi nilai-nilai agama. Paradigma ini bertolak dari satu anggapan bahwa Islam hanya membawa prinsip-prinsip dasar tentang kehidupan bernegara dan tidak menentukan bentuk tunggal. Dalam paradigma ini agama tidak berhubungan formal dan institusional dalam Negara dan menolak pendasaran negara kepada Islam, atau paling tidak menolak determinasi Islam akan bentuk tertentu daripada negara. Negara dalam paradigma ini, dapat berperan untuk memberikan kontribusi nilai etik dan moral bagi perkembangan kehidupan politik dan kehidupan kenegaraan. Paradigma ini tidak terlalu peduli kepada bentuk negara, konstitusi maupun modus suksesi, berdasarkan pada suatu anggapan
Fathi Osman, “Parameters of the Islamic State,” Arabia: The Islamic World Review, No. 17, Januari 1983, h. 10.
23

148

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

bahwa Islam tidak menentukan format tunggal tentang itu. Sebagai gantinya paradigma ini mementingkan substantifikasi Islam- yaitu melakukan pemaknaan nilai-nilai Islam secara hakiki – ke dalam proses politik dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari perspektif paradigma ini, aktivitas politik umat Islam berada pada tataran kultural, yaitu mengembangkan landasan budaya bagi terwujudnya masyarakat utama sesuai nilai-nilai Islam. Prinsip-Prinsip Hukum Islam dalam Ketatanegaraan Di dalam al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang mengandung petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Di antara ayat-ayat tersebut mengajarkan tentang kedudukan manusia di bumi dan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; seperti prinsipprinsip musyawarah atau konsultasi, ketaatan kepada pemimpin, keadilan, persamaan dan kebebasan beragama: 1. Kedudukan Manusia di Bumi Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran : 26). Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (Al-Hadid : 5). Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-An’Am : 165). Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus : 14).

149

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

2. Musyawarah/Konsultasi Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan dari rezki yang kami berikan kepada mereka. (Al-Syura : 38). Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali Imran : 159). 3. Ketaatan Kepada Pemimpin Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Al-Nisa’ : 59). 4. Keadilan Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Al-Nahl : 90). Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. (Al-Nisa’ : 58).

150

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

5. Persamaan Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat : 13). 6. Kebebasan Beragama Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah : 256). Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (Yunus : 99). Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orangorang yang berserah diri (kepada Allah)". (Ali Imran : 64) Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Al-Mumtahanah : 8-9). 151

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

Piagam Madinah dan Sejarah Pembentukan Negara Islam Umat Islam memulai hidup bernegara setelah nabi hijrah ke Yatsrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Di Yatsrib atau Madinah untuk pertama kali lahir satu komunitas Islam yang bebas dan merdeka di bawah pimpinan Nabi, dan terdiri dari para pengikut nabi yang datang dari Makkah (Mhuajirin) dan penduduk Madinah yang telah memeluk Islam, serta yang telah mengundang nabi untuk hijrah ke Madinah (Anshar). Tetapi umat Islam di kala itu bukan satu-satunya komunitas di Madinah. Di antara penduduk Madinah terdapat pula komunitas-komunitas lain yaitu orang-orang Yahudi dan sisa suku-suku Arab yang belum mau menerima Islam dan masih tetap memuja berhala. Dengan kata lain umat Islam di Madinah merupakan bagian dari suatu masyarakat majemuk.24 Tidak lama setelah nabi menetap di Madinah, atau menurut sementara ahli sejarah belum cukup dua tahun dari kedatangan nabi di kota itu, beliau mempermaklumkan satu piagam yang mengatur kehidupan dan hubungan antara komunitas-komunitas yang merupakan komponen-komponen masyarakat yang majemuk di Madinah. Piagam tersebut lebih dikenal sebagai Piagam Madinah. Banyak di antara pemimpin dan pakar ilmu politik Islam beranggapan bahwa Piagam Madinah adalah konstitusi atau undang-undang dasar bagi negara Islam yang pertama dan yang didirikan oleh Nabi di Madinah. Secara garis besar yang, butir-butir penting yang telah diletakkan oleh Piagam Madinah sebagai landasan bagi kehidupan bernegara untuk masyarakat majemuk di Madinah adalah: 1. Semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari banyak suku, tetapi merupakan satu komunitas. 2. Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan antara anggota komunitas Islam dengan anggota komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip: (a) Bertetangga baik; (b) Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama; (c) Membela mereka yang teraniaya; (d) Saling menasehati; (e) menghoramati kebebasan beragama. Satu hal yang patutu dicatat bahwa Piagam Madinah, yang oleh banyak pakar politik didakwakan sebagai konstitusi negara Islam yang pertama itu, tidak menyebut agama negara.
24

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993), hal. 9 – 10.

152

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, yang menjadi persoalan adalah tidak meninggalkan satu Sunnah tentang bagaimana sistem penyelenggaraan negara itu, misalnya bagaimana sistem pengangkatan kepala negara, siapa yang berhak menetapkan undang-undang, kepada siapa kepala negara bertanggung jawab, dan bagaimana bentuk pertanggungan jawab tersebut. Karena ketidakjelasan ini, timbullah praktik sistem kenegaraan dalam sejarah Islam yang berubah-ubah. Dalam Masa Khulafaul-Rasyidin terlihat kebijakan yang bervariasi satu sama lain, terutama sekali menyangkut masalah suksesi. Misalnya, ketika Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama melalui pemilihan melalui satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi saw., wafat. Umar ibn Khaththab mendapat kepercayaan sebagai khalifah kedua tidak melalui pemilihan dalam suatu musyawarah terbuka, tetapi melalui penunjukan dan wasiat pendahulunya, Abu Bakar, kendatipun Abu Bakar pernah mendiskusikan dengan sahabatnya yang lain secara tertutup. Usman ibn Affan menjadi khalifah ketiga melalui pemilihan oleh sekelompok orang yang telah ditetapkan oleh Umar ibn Khaththab sebelum ia wafat. Sementara Ali ibn Abi Thalib diangkat menjadi khalifah yang keempat melalui pemilihan. Penyelenggaraan negara di masa Bani Umayyah telah jauh berubah dari ajaran yang sebenarnya bila dibandingkan dengan praktik masa Nabi Saw., dan Khulafa’ al-Rasyidin. Pada masa ini hampir tidak ada lagi bentuk musyawarah dipraktekkan, terutama dalam hal suksesi. Tradisi suksesi telah berubah dari praktik msyawarah menjadi sistem penunjukan terhadap anaknya atau keturunannya yang lain. Tidak jarang terjadi perebutan kekuasaan melalui kekerasan senjata. Demikian pula praktik sistem kenegaraan di masa Bani Abbasiyah, tidak banyak perbedaannya dengan masa Bani Umayyah. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara agama dan negara dalam Islam, telah diberikan teladannyaoleh Nabi Muhammad Saw., sendiri setelah hijrah dari Makkah ke Madinah. Dari Nama yang dipilih oleh Nabi Saw., bagi kota hijrahnya itu menunjukkan rencana Nabi dalam rangka mengemban misi sucinya dari Tuhan, yaitu menciptakan masyarakat berbudaya tinggi, yang kemudian menghasilkan entitas sosial-politik, yaitu sebuah negara. Teori Ketatanegaraan dalam Islam Dalam bagian ini, pemaparan tentang teori kenegaraan dalam Islam akan diuraikan berdasarkan sejarah dan tokoh yang mewarnai pada masa tersebut. Untuk itu terbagi ke dalam tiga periode, yaitu 153

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

periode klasik: 650-1250 M, periode pertengahan: 1250-1800 M, dan periode modern: 1800 M.25 Penulis dalam hal ini, hanya mempresentasikan pandangan para ulama dan pemikir Islam di zaman klasik dan pertengahan, dengan tujuan untuk menggali khazanah pemikiran mereka tentang negara dalam perspektif Islam. Dalam hal ini, zaman klasik dan dan pertengahan disatukan dalam satu bagian tersendiri. Hal tersebut karena, pelacakan dilakukan bukan berdasarkan zaman atau waktu tokoh politik hidup akan tetapi mengikuti pola sejauh mana tingkat keterlibatan tokoh tersebut dalam pemerintahan sehingga pandangannya sedikit banyak dipengaruhi oleh aktivitas mereka. Pembagian yang diterapkan di sini adalah berdasarkan pada keterkaitan dalam pemerintahan, yang terbagi ke dalam: (1) mereka yang terlibat langsung dalam pemerintahan, seperti Ibn Abi Rabik AlMawardi dan Ibn Khaldun, (2) mereka yang berada di luar kekuasaan, tetapi sering berpartisipasi dalam bentuk kritik terhadap kekuasaan seperti Alqhazali dan Ibn Taimiyah, dan (3) mereka yang terlepas dari konteks politik yang ada, sehingga bersifat spekulatif, seperti alFarabi.26 Ibn Abi Rabik adalah seorang politikus yang hidup pada masa dinasti Abbasiyyah mendukung bentuk pemerintahan monarki. Dalam pandangan Ibn Abi Rabik, monarki atau kerajaan di bawah pimpinan seorang raja serta penguasa tunggal, sebagai bentuk terbaik.27 Alasan yang dikemukakan oleh Ibn Abi Rabi’ adalah keyakinannya bahwa dengan banyak kepala, maka politik negara akan terus kacau dan sukar membina persatuan.28 Untuk urusan agama, Ibn Abi Rabik mengatakan bahwa Allah telah memberikan keistimewaan kepada raja dengan segala keutamaan, telah memperkokoh kedudukan mereka di bumi-Nya dan mempercayakan hamba-hamba-Nya kepada mereka.29 Untuk menguatkan pendapatnya, Ibn Abi Rabik mengutip dua ayat Alquran yang artinya:

Istilah ini dipinjam dari masa yang diklasifikasikan oleh Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI-Press, 1985), h. 56-89. 26 Harun, Islam…, h. 69. 27 Masykuri Abdillah, “Gagasan dan Tradisi Bernegara dalam Islam: Sebuah Perspektif Sejarah dan Demokrasi Modern”, Tashwirul Afkar, No. 7 (2000), h. 102. 28 Munawir, Islam…, h. 46. 29 Munawir, Islam…, h. 46.

25

154

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

”Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’m : 16 Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(alNisa’: 59) Dari dua ayat tersebut, pada surat pertama tercantum kata khalaif dan pada ayat kedua tercantum uli al-amr. Dengan demikian, Ibn Abi Rabi’ melandaskan sistem pemerintahan monarki dari dua kata tersebut. Adapun Mawardi yang terkenal dengan political scientist,30 dia merupakan tokoh perumus konsep imamah.31 Alasan mengapa mawardi menggagas perlunya imamah, pertama, adalah untuk merealisasi ketertiban dan perselisihan, kedua berdasarkan kepada surat al-Nisa’ (4) : 59. Dengan begitu, kata uli al-amr menurut mawardi adalah imamah (kepemimpinan). Lebih dari itu, dalam karyanya al-Ahkam Alsulthaniyyah (principles of government), mengemukakan bahwa imamah atau khalifah adalah penggantian posisi Nabi untuk menjaga kelangsungan agama dan urusan dunia.32 Dari definisi tersebut mengandung tiga unsur, yaitu (1) imamah itu adalah tidak lain dari mengganti kedudukan Nabi; (2) objek khilafah ialah menjaga agama, dan (3) mengendalikan masyarakat.33 Untuk menjaga dua aspek tersebut, Mawardi menawarkan enam sendi negara yaitu; pertama, agama yang dihayati. Agama diperlukan sebagai pengendali hawa nafsu dan pengawas melekat atas hati nurani manusia, karenanya merupakan sendi yang terkuat bagi kesejahteraan dan ketenangan negara. Kedua,
Munawir, Islam…, h. 47 Syamsul Anwar, “Al-Mawardi dan Teorinya tentang Khilafah,” Al-Jami’ah, no. 35, 1987, h. 24. 32 Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah, Beirut: Dar al-Fikr, t.th, h. 5. 33 Hasbi as-Shiddieqy, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam, Jakarta:, Bulan Bintang, 1991, h. 37.
31 30

155

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

penguasa yang berwibawa. Dengan wibawanya dia dapat mempersatukan aspirasi-aspirasi yang berbeda dan membina negara untuk mencapai sasaran-sasarannya yang luhur dan menjaga agama yang dihayati, melindungi jiwa dan kehormatan warga negara, serta menjaga mata pencaharian mereka. Penguasa itu ialah imam dan khalifah. Ketiga, keadilan yang menyeluruh. Dengan menyeluruhnya keadilan akan tercipta keakraban antara sesama warga negara, menimbulkan rasa hormat dan ketaatan kepada pemimpin, menyemarakkan kehidupan rakyat dan membangun minat rakyat untuk berkarya dan berprestasi. Keempat, keamanan yang merata. Dengan meratanya keamanan rakyat dapat menikmati ketenangan batin dan dengan tidak adanya rasan takut akan berkembang inisiatif dan kegiatan serta daya kreasi rakyat. Meratanya keamanan adalah akibat menyeluruhnya keadilan. Kelima, kesuburan tanah yang berkesinambungan. Dengan kesuburan tanah kebutuhan rakyat akan bahan makanan dan kebutuhan materi yang lain dapat dipenuhi, dan dengan demikian dapat menghindarkan perebutan dengan segala akibat buruknya. Keenam, harapan kelangsungan hidup. Dalam kehidupan manusia terdapat kaitan erat antara kelangsungan generasi dengan generasi yang lain.34 Dari enam sendi di atas, tampak bahwa bentuk negara yang ditawarkan Mawardi tidak begitu jelas. Dengan kata lain, sikap Mawardi dapat diartikan bahwa baik sumber awal praktek politik Islam maupun fakta sejarah, memang dia tidak menemukan bentuk pemerintahan yang baku yang dapat dikatakan sebagai bentuk pemerintahan yang islami. Namun, ia menawarkan perangkat kenegaraan mulai dari pemilihan kepala negara, menteri, dan tata cara pemberhentian mereka.35 Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa pandangan tersebut mendekati apa yang sekarang dikenal dengan konsep welfare state (negara yang memberi pelayanan kepada masyarakat).36 Menurut Mahmud A. Faksh, Almawardi menggambarkan bahwa pemerintahan Islam yang ideal adalah 30 tahun
Munawir, Islam…, h. 46. Untuk mengetahui pandangan al-Mawardi tentang hal-hal tersebut, Lihat Donald P. Little, “A New Look at Al-Ahkam al-Sulthaniyya”, The Muslim World, Vol. LXIV, 1974, h. 1-15; Sri Mulyati, “The Theory of State of Al-Mawardi”, dalam Sri Mulyati, dkk., Islam and Development A Politico-Religious Response, Yogyakarta: Titian Ilahi Press,PERMIKA Montreal, LPMI, 1997, h. 8-15; Fathurrahman Djamil, “Al-Mawardi: Mekanisme Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Negara”, dalam Sudarnoto Abdul Hakim dkk, (peny.), Islam Berbagai Perspektif: Didedikasikan untuk 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, Yogyakarta: Lembaga Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia, 1995, h. 135-166. 36 Syamsul, Al-Mawardi…, h. 26.
35 34

156

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

dalam periode ”Republik” setelah Nabi.37 Jadi, menurut Mawardi, pemerintahan para Sahabat Nabi yakni, Abu Bakar, Umat Ibn Alkhathab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib merupakan pemerintahan yang bercorak republik. Pendapat ini didukung oleh Masykuri Abdillah yang mengatakan bahwa pada masa al-KhulafaulRasyidun (11-41 H/632-661 M), bentuk negara lebih tepat disebut republik, karena sistem pemilihan kepala negara dilakukan dengan cara pemilihan/pengangkatan oleh rakyat atau wakilnya berdasarkan kualitas individual, bukan berdasarkan kriteria kekeluargaan secara turun temurun.38 Sementara itu, Ibn Khaldun seorang qadhi kenamaan yang juga seorang pengikut filosof Muslim, Ibn Rusyd,39 dalam hal negara ia membedakan antara masyarakat (society) dan negara. Menurutnya, manusia memiliki wazi (kharisma) dan mulk kekuasaan.40 Karena mempunyai dua hal tersebut, yaitu kharisma dan kekuasaan maka disebut negara. Negara ini muncul dari masyarakat yang menetap yang telah membentuk sivilisasi atau peradaban (umran, madaniah, hadharah) bukan lagi yang masih berpindah-pindah mengembara seperti kehidupan nomad di padang pasir.41 Lebih lanjut, berdasarkan kekuasaan, Ibn Khaldun membagi tipe negara ke dalam dua kelompok yaitu: 1) negara yang berciri kekuasaan (mulk thabiiy), dan 2) negara dengan ciri kekuasaan politik (mulk siyasi). Dari dua tipologi tersebut, tipe pertama ditandai oleh kekuasaan yang sewenang-wenang (despotisme) dan cenderung kepada ”hukum rimba”. Adapun tipe kedua terbagi lagi ke dalam tiga macam yaitu: 1) negara hukum atau nomokrasi (siyasah diniyah), 2) negara hukum sekuler (siyasah aqliyah),dan, 3) negara ala ”Republik” Plato (siyasah madaniyah)42 Dari ketiga tipe negara tersebut, menurut Ibn Khaldun negara ideal adalah siyasah diniyyah atau nomokrasi Islam.43
MahmudA. Faksh, “Theories of State in Islamic Political Thought”, Journal of South Asian And Middle Eastern Studies, Vol. VI, No. 3, 1983, 63-64. 38 Masykuri, Gagasan…, h. 99. 39 A. Syafii Maarif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1993, 67; idem, Al-Qur’an Realitas Sosial dan Limbo Sejarah, Sebuah Refleksi, Bandung: Pustaka, 1995, h. 116. 40 Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negara Barat,Bandung: Mizan, 1998, h. Andi Faisal Bakti, “The Political Thought and Communication of Ibn Khaldun,” dalam Yudian Wahyudi dkk, The Dynamics of Islamic Civilization, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998, h. 235. 41 Deliar, Pemikiran.., h. 71. 42 Ibn Khaldun, Muqaddimah , Beirut: Dar al-Fikr, t.th, h. 190-1. 43 Ibn Khaldun, Muqaddimah, h.10.
37

157

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

Di samping teori di atas, Ibn Khaldun menguraikan teori Ashabiyyah (group feeling), yakni rasa satu kelompok. Teori tersebut menurut Fuad Baali, sangat dekat dengan ide Emile Durkheim yaitu kesadaran kolektif (conscience collective).44 Dengan begitu, maka corak ashabiyyah sama dengan dawlah yang berarti negara dalam arti dinasti.45 Munawir Sjadzali46 menyimpulkan bahwa pertama, teori ashabiyyah merupakan solidaritas kelompok yang terdapat dalam watak manusia. Dasarnya dapat bermacam-macam: ikatan darah atau persamaan keturunan, bertempat tinggal berdekatan atau bertetangga, persekutuan atau aliansi, dan hubungan antara pelindung dan yang dilindungi, kedua, adanya solidaritas kelompok yang kuat merupakan suatu keharusan bagi bangunnya suatu dinasti atau negara besar, ketiga, seorang kepala negara atau raja, agar mampu mengendalikan secara efektif ketertiban negara dan melindunginya, baik terhadap gangguan dari dalam maupun dari luar dan kekuatan fisik yang memadai. Oleh karena itu, dari berbagai ashabiyyah atau solidaritas kelompok yang terdapat di negara itu, kepala negara atau raja harus berasal dari solidaritas yang paling dominan, dan keempat, banyak dinasti atau negara besar yang dibangun dari atau karena agama, kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa atau raja itu berkat adanya solidaritas atau keunggulan.47 Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang penguasa menurut filsafat politik Ibn Khaldun, maka dibutuhkan tiga hal. Pertama, mengenal tujuan dengan baik, yaitu bahwa orang harus tahu ke arah mana masyarakat dibimbing. Kedua, mengenal kondisi aktual tentang komunitas politik, tempat seorang negarawan mengenal seni politiknya. Ketiga, penguasaan seni memerintah dapat berasal dari pengalaman menjalankan kekuasaan. Lebih lanjut, Alghazali merupakan teolog, ahli hukum, pemikir orisinil, ahli tasawuf terkenal dan mendapat julukan Hujjah Alislam.48
Fuad Baali, ‘Ashabiyyah,dalam John L. Esposito (ed.), The Oxford Ensyclopedia of The Modern Islamic World, 4 Vol. New York: Oxford University Press, 1995, I : 140. 45 Fuad Baali, ‘Ashabiyyah, h. 140 46 Munawir, Islam…, h. 105. 47 Abdurrahmane Lhakhsasie, “Ibn Khaldun”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver (ed.), History of Islamic Filosophy, London and New York: Routledge, 1996, h. 354. 48 Gelar-gelar di atas bukanlah gelar yang muncul begitu saja, mengingat jasajasanya terhadap pemikiran Islam, baik itu hukum, filsafat, pendidikan dan politik. Untuk lebih mengetahui pemikiran al-Ghazali dan jasa-jasanya terhadap ilmu
44

158

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

Menurut al-Ghazali, negara bisa berdiri oleh karena dua sebab: pertama, kebutuhan akan keturunan demi keberlangsungan hidup umat manusia, hal itu hanya mungkin melalui pergaulan antara laki-laki dan perempuan serta keluarga; dan kedua, saling membantu dalam penyediaan bahan makanan, pakaian dan pendidikan anak.49 Karena dua hal tersebut, maka diperlukan kerja sama dan saling membantu antar sesama manusia, antara lain dengan membangun pagar-pagar tinggi di sekeliling pusat perumahan, dan di sanalah lahir negara karena dorongan kebutuhan bersama.50 Tentang bentukpemerintahan, al-Ghazali menganut sistem teokrasi. Sebab, kekuasaan kepala negara tidak datang dari rakyat, melainkan dari Allah. Dalam hal ini, ia berdalil kepada dua surat alQur’an yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(al-Nisa’: 59) dan, Katakanlah: ”Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berokan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki...(Ali ’Imran : 26). Ayat pertama sudah tentu menyangkut masalah uli al-amr, sedangkan ayat kedua berkenaan dengan istilah malik, mulk. Tampaknya kedua kata tersebut diartikan dengan istilah raja dan kerajaan. Di sinilah letak pandangan Alghazali bahwa bentuk pemerintahan adalah teokrasi. Adapun Ibn Taimiyah menganggap bahwa mendirikan suatu pemerintahan untuk mengelola urusan umat merupakan kewajiban agama yang paling agung, karena agama tidak mungkin tegak tanpa pemerintahan. Alasan lain adalah Allah memerintahkan amr maruf dan nahi munkar serta misi atau tugas tersebut tidak mungkin dilaksanakan
pengetahuan baca Massino Campanini, “Al-Ghazali”, dalam Hossein Nasr dan Oliver (ed), History…, hlm. 258-349. M. Amin Abdullah, The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali and Kant, Ankara: Turkye Diyanet Vaktiyayin Kurulu’num, 1992, khususnya Bab II dan IV; idem, Falsafah Kalam di Era Postmodernism, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995, h. 127-40. 49 Munawir, Islam…., h. 74. 50 Ibid, h. 75.

159

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

kekuatan atau kekuasaan pemerintah.51 Dalam konteks ini Ibn Taimiyah sebagai orang puritan yang menganggap al-Qur’an dan Hadis satusatunya referensi bagi setiap formulasi pemikiran,52 yang karenanya pemikiran Ibn Taimiyah banyak mengacu kepada dua sumber tersebut. Lebih lanjut, dalam pandangan Ibn Taimiyah, pemerintahan di masa Nabi dinamakan khilafah dan sesudahnya disebut dengan kerajaan. Akan tetapi, Ibn Taimiyah tetap membolehkan kerajaan dengan istilah khilafah (jawaz tasmiyyah al-muluk al-khilafah).53 Dengan kata lain, bagi Ibn Taimiyah raja-raja yang berkuasa boleh menggunakan istilah atau gelar khalifah. Hal ini dapat dipahami sebab, tampaknya, bagi Ibn Taimiyah yang penting ada seorang pemimpin negara ketimbang tidak ada. Dengan begitu, maka Ibn Taimiyah mendukung adanya negara monarki dan republik asalkan pemimpinnya menjaga agama dan keadilan.54 Selain para ulama dan pemikir Muslim tersebut, adalah alFarabi,55 seorang filosof yang sering dikenal dengan sebutan ”Guru Kedua” (al-Muallim al-Tsani) setelah Aristoteles, sang ”Guru Pertama” (al-Muallim al-Awwal), menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang mempunyai kecenderungan alami untuk bermasyarakat, karena tidak mampu memenuhi segala kebutuhannya sendiri tanpa bantuan atau kerja sama dengan pihak lain.56 Al-Farabi dengan konsepnya Negara Utama (al-Madinah alFadhilah) yang secara filosofis mengacu kepada negara kesatuan yang dibangun pada masa Nabi di Madinah.57 Kecuali itu, konsep penting alFarabi adalah sebagai pencetus negara kemasyarakatan yang bercorak federasi (colevistic state).58 Di samping konsep tersebut, Alfarabi menawarkan tiga macam masyarakat yang sempurna. Pertama,
Al-Nisa’ (4) : 59. Ali ‘Imran (3): 26. 53 Thoha Hamim, Paham Keagamaan Kaum Reformis, terj. Imran Rosyidi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000, h. 13. 54 Ibn Taimiyah, Al-Khilafah wa al-Mulk, Yordan: Maktabah al-Manar, 1988, h. 23-25. Di samping karya tersebut baca juga penjelasan Ibn Taimiyah tentang perangkat kenegaraan dalam karyanya, As-Siyasah al-Syar’iyyah fi Islah al-Ra’I wa alRa’iyyah, Beirut: Dar al-Jil, 1988.
52 51

Analisa awal tentang Al-Farabi, baca, Deborah L, Black, “Al-Farabi”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver, History.., h. 178-197. 56 Mulyadhi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000, h. 33. 57 Munawir, Islam…, h. 50-51. 58 Sumarno, Konsepsi Negara…, h. 5.

55

160

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

masyarakat sempurna besar, yaitu gabungan banyak bangsa yang sepakat untuk bergabung dan saling membantu serta kerja sama. Kedua, masyarakat sempurna sedang yaitu masyarakat yang terdiri dari satu bangsa yang menghuni di satu wilayah di bumi ini.Ketiga, masyarakat sempurna kecil yaitu masyarakat yang terdiri dari para penghuni satu kota. Tampaknya, masyarakat yang ketigalah yang dinamakan dengan Negara Utama. Sebab ketika Nabi mendirikan negara hanya dalam satu cakupan kota, Yastrib (Madinah). Karena itu, pemikiran Alfarabi mengacu pada konsep republik. Sebab, corak pemerintahan pada masa Nabi adalah republik. Dari uraian di atas, satu hal yang penting dicatat bahwa tidak ada ulama yang mempersoalkan apakah Islam mempunyai konsep tentang negara atau tidak. Akan tetapi, bagaimanapun mereka telah berbuat, artinya sejumlah orang dan masyarakat Muslim telah mendirikan negara dan mengadopsi hukum-hukum Allah yang ditafsirkan dari Alquran dan Hadis Nabi.59 Sehingga, benar apa yang dikatakan oleh Nurcholish Madjid, bahwa formalisasi negara Islam adalah produk isu modern.60 Dalam bahasa Olaf Schumann, ”masalah negara Islam”, atau dawlah islamiyyah memang merupakan masalah masa kini dan baru timbul ketika umat Islam dan pemukanya terpaksa memikirkan kembali paham dan bentuk negara yang mereka anggap cocok dengan Islam, akan tetapi yang sekaligus tahan uji terhadap kepentingan-kepentingan zaman modern.61 SIMPULAN Salah satu hal mengenai Islam yang tidak mungkin diingkari ialah pertumbuhan dan perkembangan agama itu bersama dengan pertumbuhan dan perkembangan sistem politik yang diilhaminya. Sejak Rasulullah saw., melakukan hijrah dari Mekkah ke Yatsrib–yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah–hingga saat sekarang ini dalam wujud sekurang-kurangnya Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran, Islam menampilkan dirinya sangat terkait dengan masalah kenegaraan. Sesungguhnya, secara umum keterkaitan antara agama dan
Ibid. Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan: Artikulasi NilaiIslam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer, Jakarta: Paramadina, h. 155; idem, “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”, dalam Muhammad Kamal Hassan, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim, terj. Ahmadie Thaha, Jakarta: Lingkaran Studi Indonesia, 1987, h. 282-285. 61 Schumann, Dilema Islam, h. 62.
60 59

161

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

negara, di masa lalu dan zaman sekarang, bukanlah hal yang baru, apalagi hanya khas Islam. Hubungan antara agama dan negara dalam Islam, telah diberikan teladannya oleh Nabi Muhammad saw., sendiri setelah hijrah dari Makkah ke Madinah. Dari Nama yang dipilih oleh Nabi saw., bagi kota hijrahnya itu menunjukkan rencana Nabi dalam rangka mengemban misi sucinya dari Tuhan, yaitu menciptakan masyarakat berbudaya tinggi, yang kemudian menghasilkan entitas sosial-politik, yaitu sebuah negara. Negara Madinah pimpinan Nabi, pada dasarnya adalah model bagi hubungan antara negara dan agama dalam Islam. Pengalaman Negara Madinah itu telah menyajikan kepada umat manusia contoh tatanan sosial-politik yang mengenal pendelegasian wewenang (artinya, wewenang atau kekuasaan tidak memusat pada tangan satu orang seperti pada sistem diktatorial, melainkan kepada banyak orang melalui musyawarah) dan kehidupan berkonstitusi (artinya, sumber wewenang dan kekuasaan tidak pada keinginan dan keputusan lisan pribadi, tetapi pada suatu dokumen tertulis yang prinsip-prinsipnya disepakati bersama. Karena wujud historis terpenting dari sistem sosial-politik pengalaman Madinah itu ialah dokumen yang termasyhur, yaitu Mitsaq Almadinah (Piagam Madinah) yang di kalangan sarjana modern juga menjadi amat terkenal sebagai ”Konstitusi Madinah”. Ide pokok pengalaman Madinah oleh Nabi ialah adanya suatu tatanan sosial-politik yang diperintah tidak oleh kemauan pribadi, melainkan secara bersama-sama; tidak oleh prinsip-prinsip ad hoc yang dapat berubah-ubah sejalan dengan kehendak pemimpin, melainkan oleh prinsip-prinsip yang dilembagakan dalam dokumen kesepakatan dasar semua anggota masyarakat, yaitu sebuah konstitusi.

162

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

DAFTAR BACAAN A. Syafii Maarif, Al-Qur’an Realitas Sosial dan Limbo Sejarah, Sebuah Refleksi, Bandung: Pustaka, 1995. A. Syafii Maarif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1993. Abdurrahmane Lhakhsasie, “Ibn Khaldun”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver (ed.), History of Islamic Filosophy, London and New York: Routledge, 1996. Al-Mawardi, Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah, Beirut: Dar al-Fikr, 1966. Andi Faisal Bakti, “The Political Thought and Communication of Ibn Khaldun,” dalam Yudian Wahyudi dkk, The Dynamics of Islamic Civilization, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998. Bahtiar Effendi, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1998. Deborah L, Black, “Al-Farabi”, dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver, History of Philosophy, London and New York: Routledge, 1996. Deliar Noer, Pemikiran Politik di Negara Barat,Bandung: Mizan, 1998. Donald K. Emmerson, “Islam and Regime in Indonesia: Who’s Coopting Whom?” makalah disampaikan dalam pertemuan tahunan American Political Sceince Association, Atlanta, Georgia, 31 Agustus 1989. Donald P. Little, “A New Look at Al-Ahkam al-Sulthaniyya”, The Muslim World, Vol. LXIV, 1974. F. Isjwara, Pengantar Ilmu Politik, Bandung: Bina Cipta, 1980. Fathi Osman, “Parameters of the Islamic State,” Arabia: The Islamic World Review, No. 17, Januari 1983. Fathurrahman Djamil, “Al-Mawardi: Mekanisme Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Negara”, dalam Sudarnoto Abdul Hakim dkk, (peny.), Islam Berbagai Perspektif: Didedikasikan untuk 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali, Yogyakarta: Lembaga Penterjemah dan Penulis Muslim Indonesia, 1995. Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of Intellectual Tradition, Chicago and London: University of Chicago Press, 1982. Fazlur Rahman, Islam, New York, Chicago, San Fransisco: Holt, Reinhart, Winston, 1966, h. 241.

163

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

Fred Halliday and Hamzah Alavi (eds.), State and Ideology in the Middle East and Pakistan, New York: Monthly Review Press, 1988. Fuad Baali, ‘Ashabiyyah,dalam John L. Esposito (ed.), The Oxford Ensyclopedia of The Modern Islamic World, 4 Vol. New York: Oxford University Press, 1995. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UIPress, 1985). Hasbi As-Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1993. Hasbi as-Shiddieqy, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam, Jakarta:, Bulan Bintang, 1991. Ibn Khaldun, Muqaddimah , Beirut: Dar al-Fikr, t.th, h. 190-1. Ibn Taimiyah, Al-Khilafah wa al-Mulk, Yordan: Maktabah al-Manar, 1988. Ibn Taimiyah, As-Siyasah al-Syar’iyyah fi Islah al-Ra’I wa al-Ra’iyyah, Beirut: Dar al-Jil, 1988. Ismail Muhammad Syah, Filsafat Hukum Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992. Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, Bandung: Lathifah Press, 2004. Klauss Ferdinand and Mehdi Mozaffari (eds.), Islam: State and Society, London: Curzon Press, 1988. Leonard Binder, Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologis, Chicago and London: University of Chicago Press, 1988. Leonard Binder, Religion end Politics in Pakistan, Berkeley and Los Angeles; University of California Press, 1963; M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernism, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995. M. Amin Abdullah, The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali and Kant, Ankara: Turkye Diyanet Vaktiyayin Kurulu’num, 1992. MahmudA. Faksh, “Theories of State in Islamic Political Thought”, Journal of South Asian And Middle Eastern Studies, Vol. VI, No. 3, 1983. Massino Campanini, “Al-Ghazali”, dalam Hossein Nasr dan Oliver (ed), History of Philosophy, London and New York: Routledge, 1996.

164

Mahyiddin, Filsafat Hukum Ketatanegaraan

Masykuri Abdillah, “Gagasan dan Tradisi Bernegara dalam Islam: Sebuah Perspektif Sejarah dan Demokrasi Modern”, Tashwirul Afkar, No. 7 (2000). Michael Hudson, “Islam and Political Development,” dalam John L. Esposito (ed.), Islam and Development, Syracuse: Syracuse University Press, 1980. Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, 1989. Mohammed Arkoun, The Concept of Authority in Islamic Thought,” Klauss Ferdinand and Mehdi Mozaffari (eds.), Islam: State and Society, London: Curzon Press, 1988. Mohammed Ayoub (ed.), The Politics of Islamic Reassertion, London: Croom Helm, 1981. Edward Mortimer, Faith and Power: The Politics of Islam, London: Faber and Faber, 1982. Muhammad Jalal Syaraf dan Ali Abdul Muti’, al-Fikr al-Siyasi fi alIslam: Syakhsiyat wa Mazahib, Kairo: Dar al-Jam’iyyat, 1978. Mulyadhi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000. Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993). Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993). Musnad Ibn Hanbal, Jil. 4 Nazih Ayubi, Political Islam: Religion and Politics in the Arab World, London and New York: Routledge, 1991. Nurcholish Madjid, “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”, dalam Muhammad Kamal Hassan, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim, terj. Ahmadie Thaha, Jakarta: Lingkaran Studi Indonesia, 1987. Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan: Artikulasi NilaiIslam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer, Jakarta: Paramadina, 1998. Olaf Schumann, Dilema Islam Kontemporer Antara Masyarakat Madani dan Negara Islam, Paramadina, Vol.I, No. 2, 1999. Qamaruddin Khan, al-Mawardi’s Theory of The State, (Lahore: tanpa tahun), hlm. 1. R. Hrair Dekmejian, Islam in Revolution: Fundamentalism in the Arab World, Sycracuse University Press, 1985. Robert M. Maclver, The Modern State, London: Oxford University, 1980.

165

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 139-166

N. Bellah, “Islamic Tradition and the Problem of Modernization,” dalam Robert N. Bellah, Beyond Belief: Essays on Religion in a Post-Tradisionalist World, Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1991. Ruth McVey, “Faith as the Outsider: Islam in Indonesian Politics,” James Piscatori (ed.), Islam in the Political Proceess. Sanad Ibn Majah, Jil. I. Sri Mulyati, “The Theory of State of Al-Mawardi”, dalam Sri Mulyati, dkk., Islam and Development A Politico-Religious Response, Yogyakarta: Titian Ilahi Press,PERMIKA Montreal, LPMI, 1997. Syamsul Anwar, “Al-Mawardi dan Teorinya tentang Khilafah,” AlJami’ah, no. 35, 1987. Thoha Hamim, Paham Keagamaan Kaum Reformis, terj. Imran Rosyidi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989. W.F. Wertheim, “Indonesian Moslems Under Sukarno dan Suharto: Majority with Minority Mentality,” Studies on Indonesian Islam, Townsville: Occasional Paper No. 19, Centre for Southeast Asian Studies, James Cook University of North Queensland, 1986.

Robert

166

Mahdi, Minority Recruitment

MINORITY RECRUITMENT by Sayed Mahdi Lecturer of Faculty of Economics, Syiah Kuala University, Banda Aceh

ABSTRACT Keberdaan tenaga kerja unggul dalam sebuah perguruan tinggi menjadi tolak ukur keberhasilan kampus dalam jangka panjang. Karyawan atau staff pengajar yang unggul bisa menjadikan nilai competitive bagi sebuah perguruan tinggi, di mana para pesaing sulit untuk meniru keunggulan tersebut dalam jangka pendek. Oleh karena itu, dalam article ini menjelaskan model dan kebijakan perkrutan karyawan dalam industri perguruan tinggi Amerika, terutama untuk tenaga pengajar dari golongan minoritas.. Disamping itu, artikel ini juga menjelaskan hubungan positif yang di kaitkan dengan aspek hukum dalam bidang ketenaga kerjaan dengan process seleksi tenaga pengajar dari golongan minoritas.yang di harapkan bisadi implementasikan dalam dunia perguruan tinggiAceh. Keywords: Minority recruitment, affirmative action and faculty recruitment.

Introduction With sweeping demographic changes occurring in the United States, employers in all industries will need to reform and refocus their minority hiring and recruitment practices in order to better serve their clients. Higher education will need to be on the forefront of this transition. The U.S. Census Bureau (2008) released projections that minorities, currently roughly one-third of the population, are projected to become the majority by 2042. They also project that by 2023 more than half of children will be minorities. Though more prevalent within some demographic areas, this will have resounding effects throughout higher as well as K-12 education. So where does this need to begin to ensure that minority faculty make up more than the current 16 percent of full-time faculty in the

167

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 167-178

coming years (National Center for Education Statistics, 2008)? It first must start with the understanding of affirmative action and the employee selection process. By understanding these two aspects and incorporating them together in a successful way, higher education as a whole can better sever their clients. History of Affirmative Action There have been many reforms and Act’s that have changed the legal way to hirer and handle employees in the United States. The Equal Pay Act of 1963 prohibits discrimination of wages on the basis of sex. The Age Discrimination in Employment Act of 1967 (reformed in 1974) prohibits discriminating against individuals over the age of 40 in employment decisions. The most important of these is the Civil Rights Act of 1967, which prohibited discrimination on the basis of race, color, religion, sex/gender, or national origin. This was advanced by the Civil Rights Act of 1968 which provides criminal penalties for discrimination in hiring (Auburn). Affirmative action promotes access to employment for historically depressed groups. The phrase “affirmative action” was first used in President John F. Kennedy’s Executive Order 10925 stating that employers must “take affirmative action to ensure that applicants are employed, and that employees are treated during employment, without regard to their race, creed, color, or national origin.” The phrase was also reiterated and later used in Lyndon Johnson's 1965 Executive Order 11246. U.S. Equal Employment Opportunity Commission In 1965, the United States Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) was created to help shape the law and educate the public. This took place until 1972 when Congress gave litigation enforcement authority to the EEOC. Today, the EEOC enforces laws, provides oversight, and coordinates all equal employment opportunity policies. One thing prohibited by the Civil Rights Act of 1964 is discrimination of employment on the basis of race and color. This protects all individuals seeking employment with an employer whom has 15 or more employees (EEOC). When recruiting for a position, job requirements must be consistent for persons of all races and colors. It is illegal to solicit applications only from sources where potential workers are all of the same race or color. Also, requiring applicants to have a certain 168

Mahdi, Minority Recruitment

educational background that is unimportant to their job performance is prohibited. An employer can request information regarding race and color on the application if its purpose is for affirmative action tracking, but they are not allowed to base any decisions on that information. The EEOC suggests that if this information is requested, it be kept separate from the application when it is being reviewed. If it is not handled this way, and members of a racial group are not offered employment, it could suggest discrimination (EEOC). This can be a cause for concern among employers who have to be worried about being sued. This is not to say that they cannot hire a more qualified candidate that is not a minority. Where it becomes a problem is if there is a less qualified, non-minority hired over a more qualified minority; in that case charges could be filed. Faculty Recruitment One detailed example of an outlined hiring practice is that used by Auburn University. They use a 23 point checklist, with many chances to catch unethical recruitment. After the department justifies its need to fill or add a position, the appropriate higher level administrators will sign their approval. The search committee can then be selected from among tenured faculty and start going over job description, qualifications, and advertisement options for the position. This information is then checked by the Dean, Provost, and by the Affirmative Action Equal Employment Opportunity Office (AA/EEO) (Auburn). After this, advertisements and announcements can be sent, but no changes can be made without the approval of the AA/EEO. Once resumes are received applicants are sent a Voluntary Affirmative Action Survey Card, which is returned to the AA/EEO who prepares a new form for the committee. Applicants can only be reviewed based on advertised criteria, and if an applicant is not chosen for an interview, a statement indicating why they were not chosen must be submitted. It is not sufficient for the committee to just indicate, “less qualified” (Auburn). After the candidates are chosen and interviewed, the search committee chooses the candidate that they would like to select. All of their documentation then goes to the AA/EEO. Once the department chair makes a conditional offer, everything then must be approved again by the Dean, Provost, and AA/EEO. Once approved by all three parties, an official offer can be made (Auburn).

169

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 167-178

With just a short summary of Auburn University’s policy for hiring faculty, it is clear to see the checks that are in place involving their Affirmative Action Equal Employment Opportunity Office. One thing that Auburn could do that is not detailed is include staff and/or students on the search committee. This may bring more diversity and different view points to the search. However, by following the steps they outline, they are able to go though the right channels in order to avoid legal action against them. If any legal issues ever do come up, they have the documentation on file to counter any accusation. Strategies for Minority Recruitment So how does an institution insure that they have enough minority candidates in their applicant poll? Many colleges take the approach of waiting for applicants to apply and then consider them (Jaskchik, 2006). There are many steps that can be taken to attract minority candidates to apply. These can come in the form of the locations chosen for advertisement, networking, and creating an atmosphere that will attract minority faculty. One good way of advertising for a position to target a particular group is to maintain contacts among minority interest groups involved in higher education. One example of these are The Compact for Faculty Diversity which helps to support students of color as they complete their degrees (Turner, 2002). Another example would be The Hispanic Theological Initiative which helps support Hispanic scholars looking for faculty positions (Turner, 2002). Also, some more well known organizations such as The Association of American Colleges and Universities (AACU) and The American Association of University Professors (AAUP) each reach out an promote diversity and could attract more candidates of color (Turner, 2002). There are many more organizations that exist to support diversity in faculty and help locate current faculty and graduating students. The University of Michigan lists nine websites that they post positions on that are geared at attracting minorities (Michigan). By utilizing these types of sources, an institution could post positions and connect with many perspective candidates at a very low cost, if any. Another way to attract minority faculty is through networking. Many times, everyday communication determines who finds out about open positions. One way this can be accomplished is by connecting with minority faculty members at other campuses and creating networks, or even through the community (Turner, 2002). One obstacle with 170

Mahdi, Minority Recruitment

forcing networks is that the current faculty must realize the importance and purpose of reaching out to minorities in order to create diversity. Creating an environment on campus that makes minorities feel welcome is another way in which an institution can reach out. This can be done with a minority faculty member on the search committee whom is respected and visible in the community (Turner, 2002). Once minority faculty members are hired, if they feel welcome and at home at that institution, then by word of mouth and networking they will be able to reach out to other scholars who may be interested in future positions. By utilizing theses techniques that can be accomplished before any applications begin to come in, a search committee will have a more diverse applicant poll to review. Present Need With the predicted surge of minority students entering higher education in the United States over the next two decades, there will be an inevitable wave of retirements that will reshape higher education. As the baby boomers close in on retirement, there will be a large void that will need filled. The average age of retirement for the general population is 62, but on average faculty members are retiring at the age of 66 (Wheeler, 2008). In a report by TEAA-CREF, the first baby boomers turn 62 this year (Wheeler, 2008). This proves that the next decade in higher education will be a busy one for faculty search committees. In 2007, a faculty profile was released documenting the age of Auburn University’s faculty. Over five percent of Auburns faculty was over 65 while about 28 percent ranged from 55-64 (Auburn). If the average retiring age of faculty holds true at 66, it is possible that Auburn could see around 33 percent of its faculty depart in the next decade. The chart below shows that they had 1,176 faculty members in 2007, meaning they have the potential to need over 380 new faculty members within the next 10 years. Figure 1

171

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 167-178

100% = 1,176 33.7% 28.3% 22.6%

10.2% 5.1% 0.1%
Below 25 25-34 35-44 45-54 55-64 65+

Auburn University is not alone in having a large number of faculties that will be exiting the work force. In 2007, Penn State University had a total number of 5,335 faculty members in all of their schools. Between those 5,335, 14.6 percent of those faculty members were 60 years of age or older (Penn State). This means if the average age of retirement holds true, Penn State could need to recruit around 780 new faculty members within the next six years, and even more from losing other faculty members. In 2006, it was predicted that Cornell University would need to hire around 400 new faculty members in the next five years. The chart below shows the average age of the faculty at Cornell and again reinforces the changes that will soon impact higher education as a whole. Figure 2

172

Mahdi, Minority Recruitment

The American Association of State Colleges and Universities stated in 2006, “Higher Education faculty is aging and there will be a major bulge in retirements over the next decade. Tomorrow’s faculty will be more female, more diverse racially and ethnically, and will bring different expectations to their careers.” In 2006, 38 percent of full-time faculty was made up of women compared to 27 percent in 1987. At this time, 80 percent of full-time faculties were white, compared to 1987 when 89 percent of full-time faculties were white (AAACU). This statement and the figures shown reinforces the notion that higher education is moving in a different direction. Student Learning and Diversity The changing demographics in the United States should not be the only reason to promote diversity, nor should minorities automatically be hired for diversity sake. Pamela Bernard, the vice president and the general council at Duke University feels that “if students are to become global citizens, thinkers who can comprehend and act on the myriad issues that our world faces, they must interact with people who challenge their views” (Duke). The more diverse an

173

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 167-178

institution’s faculty is, the more perspectives students have exposure to. Students who have this exposure to different minority’s perspectives can take different views and ideas and become more complex thinkers (Turner). Beyond the classroom learning aspect, it is also important to understand some of the characteristics that employers are looking for when hiring recent college graduates. In a survey conducted by Peter D. Hart Research Associates, Inc. on behalf of the AACU, 76% were looking for employees with teamwork skills and the ability to collaborate with other in a diverse group setting (AACU). The survey was conducted in 2006 and involved 305 employers with 25 or more employees. It reported that 25% or more of new hires held a bachelors degree from a four year institute. That 76% who were looking for employees that could function appropriately in a diverse group also falls inline with the 72% of the employers who were looking for candidates with knowledge of global issues and developments and their implications on the future (AAUP). It is easy to see, demographic changes aside, that diversity in the classroom is an important key to a students learning and ability to step outside their realm of familiarity. It also speaks to the importance of preparing students, minority or not, for future employment in today’s changing market. Reverse Discrimination While there may be a need and purpose for hiring more diverse faculty members, there are things which a search and selection committee must avoid. Some opponents of affirmative action will argue that strides have been made since the Civil Rights Act of 1967 and that there is not a need for the process. This may be further argued as President-elect Barrack Obama gets ready to step into the White House. Reverse discrimination cases have been heard inside court rooms numerous times since the implementation of affirmative action. The key for institutions is to take the right steps to prevent themselves from any legal conflict. In 1999, Virginia Tech made an unprecedented decision in academia and took faculty hiring practices away from the faculty and gave them to the Dean. Two years prior to this move, 35% of all hires in arts and sciences were either women or minority. In the spring of 2002, 88% of all new hires in arts and sciences were women or minority (Wilson, 2002). Some said that Virginia Tech needed to take these drastic steps to break up the “genteel Southern institution” (Wilson, 174

Mahdi, Minority Recruitment

2002). Robert B. Clegg, who at the time was a lawyer for the Center for Equal Opportunity, a research group that opposes affirmative action, said there is nothing wrong with the dean being involved in the hiring process. He did state however, “But if your motive for doing that is to give a preference to some groups and to discriminate against others, then you’re breaking the law” (Wilson, 2002). So what do institutions need to do to ensure that they are not basing a decision solely on race? In two cases over the last decade involving the University of Michigan and their admissions decisions, the court has ruled that Michigan had successfully demonstrated that one of its core missions was to enhance student learning by having a diverse student body (Bernard, 2006). If institutions are going to continue hiring minority faculty to create a more diverse atmosphere, they must be able to show that their decisions are based on the mission of the institution, and document why their candidate does this as opposed to another candidate. In essence, if their goal is diversity, they must be able to demonstrate that the applicant in question is going to be able to educate and prepare their students for an intricate, diverse world. Conclusion Employment in the United States has come a long way since the Civil Rights Act of 1967. With the coining of the phrase “affirmative action” by President John F. Kennedy, to the creation of the United States Equal Employment Opportunity Commission, progress has been made to create a more diverse workplace throughout the country. Have we come far enough though in over 40 years? With the changing demographics that will be sweeping the country in the next two decades, it is safe to say that the United States will soon be considerably diverse. To create a diverse workplace in the future without an affirmative action agenda, students at all levels must be experience different views to become more complex thinkers in order to deal with a changing global economy. That said, with the apparent statistics it would be all too easy to say that institutions should hire minority faculty whenever a position opens. Yet as competing countries continue to grow within the higher education system, institutions need to hire the most educated, prepared, and dedicated faculty available, regardless of race, gender, age, or religion. There is an obvious need for minority faculty, but there is an even greater need to mentor minority students, and all students, so they can advance their education and become part of a competitive applicant

100% = 1,176 175 33.7%

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 167-178

pool. If this can occur in the present, in the next 2 decades affirmative action can become a side issue, and instead of focusing on one’s physical traits, higher education institutions can concentrate on programs that will make professors better at preparing students for their futures. Appendix A Figure 1

Distribution of Full-time Faculty by Age for Auburn University 2005-2006, Source: www.auburn.edu/administration Appendix B Figure 2

176

Mahdi, Minority Recruitment

Average Age of Faculty at Cornell, Source: http:// www. news. cornell. edu

References American Association of State Colleges and Universities (2006). Faculty Trends and Issues. Retrieved: November 12, 2008. www.aascu.org. Association of American Colleges and Universities (2006). Peter D. Hart Research Associates, Inc. How Should Colleges Prepare Students to Succeed in Today’s Global Economy? Retrieved: November 10, 2008. www.aacu.org. Auburn University Office of Affirmative Action/EEO. Faculty Recruitment Checklist. Retrieved: November 11, 2008. http://www.auburn.edu/administration/aaeeo/. Auburn University AA/EEO Major Laws. Retrieved: November 12, 2008. http://www.auburn.edu/administration/aaeeo/majorlaws/constit ution.html. Bernard, Pamela J. (2006). When Seeking a Diverse Faculty, Watch Out for Legal Minefields. The Chronicle of Higher Education. 53 (6). Jaschik, Scott. (2006). New Approaches to Faculty Hiring. Inside Higher Ed. Retrieved: November 12, 2008. http://www.insidehighered.com. Kennedy, John F. (1961). Establishing the President’s Committee on Equal Employment Opportunity. Executive Order 10925. Retrieved: November 11, 2008. National Center for Education Statistics (2008). Digest of Educational Statistics: 2007. Retrieved: November 12, 2008. http://nces.ed.gov. Penn State University Budget Office. Retrieved: November 20, 2008. http://www.budget.psu.edu. Steele, Bill (2006). In a Seller’s Market, Cornell Needs to Recruit Hundreds of New Faculty, Putting Years-long Pressure on Budget. Retrieved: November 18, 2008. http://www.news.cornell.edu/stories/Oct06/DC.faculty.ws.html.

177

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 167-178

The U.S. Equal Employment Opportunity Commission (2008). Race/Color Discrimination. Retrieved: November 12, 2008. http://www.eeoc.gov/types/race.html. Turner, Caroline. (2002). Diversifying the Faculty: A Guidebook for Search Committees. Washington, DC: Association of American Colleges and Universities. University of Michigan Human Resources. Retrieved: November 13, 2008. http://www.hr.umich.edu. U.S. Census Bureau (2008). An Older and More Diverse Nation by Midcentury. Retrieved: November 12, 2008. http://www.census.gov. Wheeler, David L. (2008). Colleges Explore New Ways to Manage Retirements. The Chronicle of Higher Education. 54 (40). Wilson, Robin (2002). Stacking the Deck for Minority Candidates? The Chronicle Of Higher Education. 48 (44).

178

Azimi, Studi Islam Komprehensif

STUDI ISLAM KOMPREHENSIF (Sebuah Upaya untuk Memahami Islam dalam Berbagai Aspeknya) oleh Zul Azimi1

PENDAHULUAN Untuk memahami ajaran Islam memang diperlukan metodologi. Metodologi yang tepat akan mengantarkan umat Islam terhadap pemahaman yang utuh dan integral terhadap Islam itu sendiri. Sebaliknya, memahami Islam secara parsial (sepotongsepotong/sepihak) akan menimbulkan penilaian yang berat sebelah alias tidak seimbang. Metodologi ibarat kunci yang bisa membuka pintu rumah, pintu mobil, atau pintu lemari. Tanpa kunci kita tidak akan mampu membuka pintu rumah dan melihat isinya. Tanpa kunci kita tidak bisa menjalankan mobil dan mengantarkan kemana arah yang kita tuju. Tanpa metodologi kita tidak mampu melihat isi ajaran Islam dengan baik. Tanpa metodologi pula kita tidak akan mampu sampai kepada tujuan pemahaman Islam secara efektif, efisien dan cerdas. Seseorang yang hanya memahami Islam hanya dari sudut pandang fiqih semata akan menimbulkan ketidakutuhan dalam menilai ajaran Islam, seolah-olah Islam itu hanya berisi hukum-hukum saja. Islam juga agama yang berbicara tentang sains, teknologi, sejarah, pemikiran, ekonomi, politik, dakwah, teologi, tasawuf, filsafat, pendidikan, serta aspek-aspek lainnya. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana memposisikan Islam sebagai sasaran penelitian? Atho Mudzhar2 berpendapat bahwa kajian tentang Islam secara garis besar dapat mengambil dua bentuk kajian: pertama, kajian terhadap Islam sebagai wahyu; kedua, kajian tentang Islam sebagai produk sejarah.

Penulis adalah alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry NAD. Saat ini sebagai direktur Lembaga Sosial Kemasyarakatan “Saleum”, berdomisili di Sigli (Aceh Pidie). 2 Lihat Atho Mudzar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hal. 19-23.

1

179

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 179-190

Dalam ungkapan yang berbeda, Jacques Waardenburg3 menyatakan bahwa studi-studi keislaman melingkupi studi mengenai Islam sebagai agama dan tentang aspek-aspek keislaman dari kebudayaan masyarakat Muslim. Lebih lanjut Waardenburg menjelaskan bahwa untuk meneliti Islam harus dibedakan antara Islam normatif yang berupa preskripsi-preskripsi, norma-norma, dan nilai-nilai yang termuat dalam petunjuk suci (Alquran & Alsunnah) dan, Islam aktual, berupa semua bentuk gerakan, praktek dan gagasan yang pada kenyataannya eksis dalam masyarakat Muslim dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda.4 PEMBAHASAN Karakteristik Ajaran Islam Istilah “karakteristik ajaran Islam” terdiri dari dua kata: karakteristik dan ajaran Islam. Kata karakteristik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai sesuatu yang mempunyai karakter atau sifatnya yang khas.5 Islam dapat diartikan agama yang diajarkan Nabi Muhammad saw., yang berpedoman pada kitab suci Alquran dan diturunkan ke dunia ini melalui wahyu Allah swt.6 Ensiklopedi Islam Indonesia, mendefinisikan bahwa Islam adalah agama tauhid yang ditegakkan oleh Nabi Muhammad saw., selama 23 tahun di Makkahdan Madinah yang inti sari Islam berserah diri atau taat sepenuh hati pada kehendak Allah swt., demi terciptanya kepribadian yang bersih,

Dikutip oleh Mastuhu dan Deden Ridwan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, (Jakarta: Nuansa, 1998), hal. Vi. 4 Waardenburg mengajukan tiga lingkup kajian yang dapat dilakukan dalam studi Islam. Pertama, studi normatif terhadap Islam, yang umumnya dikerjakan kaum Muslim sendiri untuk menemukan kebenaran relijius meliputi studi-studi: tafsir, hadis, fiqih, dan kalam. Kedua, studi non-normatif terhadap Islam, biasanya dilakukan di universitas-universitas dan meliputi baik apa yang dianggap kaum Muslim sebagai Islam yang benar , maupun Islam yang hidup (living Islam), yakni ekspresi-ekspresi relijius kaum Muslim yang faktual. Lingkup kedua ini bisa dilakukan baik oleh Muslim maupun non-Muslim. Ketiga, studi non-normatif terhadap aspek-aspek kebudayaan dan masyarakat Muslim, dalam pengertian yang lebih luas dapat meliputi: telaah Islam dari sudut sejarah dan sastra atau antropologi budaya dan sosiologi, serta tidak spesifik bertitik tolak dari sudut agama. 5 Badudu dan Zain, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1996), hal. 617. 6 Pusat Depennas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (jakarta: Balai Pustaka, 1994), hal. 444.

3

180

Azimi, Studi Islam Komprehensif

hubungan yang harmonis, dan damai sesama manusia serta sejahtera dunia dan akhirat.7 Ajaran Islam mengandung berbagai arti pula, yaitu sebagai berikut: 1. Menurut dan menyerahkan. Orang yang memeluk Islam adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan menurut segala ajaran yang telah ditentukan-Nya. 2. Sejahtera, tidak tercela, tidak cacat, selamat, tenteram, dan bahagia. Ini berarti bahwa setiap Muslim adalah orang yang sejahtera, tenteram, selamat, dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat dengan tuntutan ajaran Rabbul’alamin. 3. Mengaku, menyerahkan, dan menyelamatkan. Ini berarti bahwa orang yang memeluk Islam itu adalah orang yang mengaku dengan sadar adanya Allah swt, kemudian ia menyerahkan diri pada kekuasaan-Nya dengan menurut segala titah dan firmanNya sehingga ia selamat di dunia dan di akhirat. 4. Damai dan sejahtera. Artinya bahwa Islam adalah agama yang membawa kepada kedamaian dan perdamaian. Membawa kesejahteraan dunia dan akhirat. Orang yang memeluk Islam adalah orang yang menganut ajaran perdamaian dan mencerminkan jiwa perdamaian dalam segala tingkah laku dan perbuatan.8 Dari segi bahasa (etimologi) Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Juga berarti memelihara dalam keadaan sentosa, menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat. Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa karakteristik ajaran Islam adalah suatu karakter yang harus dimiliki oleh setiap umat Muslim dengan berpedoman kepada Alquran dan Hadis dalam berbagai bidang ilmu dan kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, pekerjaan, dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Secara sederhana, karakteristik ajaran Islam dapat diartikan menjadi suatu ciri yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah (kemanusiaan), yang di dalamnya termasuk
7 8

Harun Nasution, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Djambatan, 1992), hal. 443. Taufiq H. Idris, Kebudayaan Mengenal Islam, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983),

hal. 24.

181

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 179-190

ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, lingkungan hidup dan disiplin ilmu.9 Kajian Keislaman dalam Sejarah Ilmu-ilmu keislaman banyak dirumuskan pada abad ke-2, 3 dan 4 Hijriyah atau abad 8, 9, dan 10 Masehi. Pada abad tersebut supremasi keilmuan memperoleh kemajuan luar biasa. Lahirnya sejumlah ahli-ahli di bidang ilmu-ilmu keislaman memperlihatkan ramainya percaturan dan pembahasan ilmiah di bidang ini. Pada periode ini telah muncul para mujtahid besar yang mungkin tidak dapat ditandingi mujtahid periode manapun. Demikian pula peletakan dasar-dasar metodologi hampir seluruh disiplin ilmu agama dirumuskan di masa ini. Teori tentang penelitian hadis Nabi muncul dan berkembang sejalan dengan pelacakan sabdasabda Nabi yang berserakan di berbagai tempat oleh para peneliti yang tekun menghimpun dan menganalisisnya. Penetapan hukum Islam yang menuntut ijtihad maksimal juga mendorong munculnya metodologi istinbath atau penetapan hukum untuk kemaslahatan kaum Muslimin. Metodologi menafsirkan Alquran menjadi sesuatu yang harus dan wajib diikuasai setiap orang yang akan menafsirkan Alquran. Dari pembahasan aspek metodologi inilah kemudian muncul ilmu-ilmu bantu yang menjadi pedoman bagi para peneliti ilmu-ilmu keislaman seperti ulumul Hadis, ulumul Alquran, ushul fiqih, ilmu tajwid, ilmu lughah dan lain-lain. Dari lahirnya metodologi inimuncul ilmu-ilmu yang menjadi produk penelitian dimaksud. Di kelompok ilmu-ilmu keislaman berkembang ilmu yang berhubungan dengan Alquran, Hadis, Fiqih, Kalam, Tasawwuf, dan Tarikh. Perkembangan ilmu-ilmu keislaman tersebut didukung oleh pembahasan dan penetapan metodologi yang sistematis dan mapan.10 Signifikansi Studi Islam Dari segi tingkatan kebudayaan, agama merupakan Universal Cultural. Salah satu prinsip teori fungsional menyatakan bahwa ‘segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya’. Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Graffindo Persada, 2002), hal. 79. 10 Didin Saefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, (Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005), hal. 2.
9

182

Azimi, Studi Islam Komprehensif

dan fungsi dalam masyarakat.11 Oleh karena itu, studi Islam menjadi penting karena agama, termasuk Islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Dalam pengantar simposium nasional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana (FKMP) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 6 Agustus 1998 di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Harun Nasution12 mengatakan bahwa persoalan yang menyangkut usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama –terutama dari sisi etika dan moralitasnya–kurang mendapat tempat yang memadai. Situasi keberagamaan di Indonesia cenderung menampilkan kondisi keberagamaan yang legalistik-formalistik. Agama “harus” dimanifestasikan dalam bentuk ritual-formal, sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan “bentuk” daripada “isi”. Kondisi seperti itu menyebabkan agama kurang dipahami sebagai seperangkat paradigma moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Di samping itu, formalisme gejala keagamaan yang cenderung individualistik daripada kesalehan sosial, mengakibatkan munculnya sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi.13 Harun Nasution berpandangan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi cegahanNya. Dengan demikian, orang yang bertakwa adalah orang yang dekat dengan Tuhan; dan yang dekat dengan Yang Maha Suci adalah “suci”; orang-orang sucilah yang mempunyai moral yang tinggi. Gambaran yang dikemukakan oleh Harun Nasution tersebut mendapat sambutan cukup serius dari Masdar F. Masudi. Masdar F. Masudi14 mengatakan bahwa kesalahan kita, sebagai umat Islam Indonesia, adalah mengabaikan agama sebagai sistem etika dan moral yang relevan bagi kehidupan manusia sebagai makhluk yang bermartabat dan berakal budi. Karena itulah, kita tersentak ketika temuan memperlihatkan kepada dunia sesuatu yang sangat ironi: negara Indonesia yang penduduknya 100% beragama, mayoritas beragama Islam (sekitar 90%)
11

Djamari, Agama dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: Al-Fabeta, 1993),

hal. 79. Harun Nasution, “Format Baru Gerakan Keagamaan”, makalah disampaikan dalam pembukaan simposium Nasional di PPIM IAIN Jakarta, 1998, hal. 1. 13 Harun Nasution, “Format Baru Gerakan Keagamaan”, hal. 1-2. 14 Masdar F. Mas’udi, “Agama Sumber Etika Negara-Negara: Perlu Pemikiran Ulang”, makalah disampaikan dalam simposium Nasional di PPIM IAIN Jakarta, 1998, hal. 1-3.
12

183

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 179-190

dan para pejabatnya rajin merayakan hari-hari besar agama ternyata menduduki peringkat terkemuka di antara negara-negara yang paling “korup” di dunia. Dari gambaran umat Islam Indonesia di atas, dapat diketahui bahwa agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat Islam. Oleh karena itu, signifikansi studi Islam di Indonesia adalah mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat Muslim Indonesia secara khusus, dan masyarakat beragama pada umumnya. Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalisme keagamaan Islam diubah menjadi format agama yang substantif. Sikap eksklusivisme kita ubah menjadi sikap universalisme, yakni agama yang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama diwahyukan untuk manusia. Di samping itu, studi Islam diharapkan dapat melahirkan suatu komunitas yang mampu melakukan perbaikan secara intern dan ekstern. Secara intern, komunitas itu diharapkan dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dari konflik intra-agama Islam; tampaknya konflik internal umat Islam yang didasari dengan organisasi formal keagamaan belum sepenuhnya final. Studi Islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran (tasamuh) dalam wacana pluralitas agama, sehingga tidak melahirkan Muslim ekstrem yang membalas kekerasan agama dengan kekerasan pula; pembakaran masjid dibalas dengan pembakaran gereja. Oleh karena itu, dalam situasi hidup keberagamaan di Indonesia, studi agama–terutama Islam, karena merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk–sangat penting dilakukan. Islam Normatif & Islam Aktual 1. Islam Normatif Islam dari segi normatif memiliki pedoman yang jelas yakni wahyu berupa Alquran dan sabda Nabi berupa hadis, yang menjelaskan pesan-pesan Alquran lebih detail. Memahami Islam secara normatif berarti menggali, memahami, menghayati dan mengamalkan pesanpesan Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis Nabi saw. Kajian terhadap Islam sebagai wahyu Allah bukan bertujuan mempertanyakan kebenaran Alquran dan ajaran-ajarannya, melainkan mempertanyakan bagaimana mempelajari cara membaca Alquran, bagaimana memahami ayat-ayat yang diturunkan, apa hubungan ayat yang satu dengan yang lainnya atau surat yang satu dengan yang lainnya, kenapa bahasa Alquran memakai istilah ini bukan itu, dan lain sebagainya. 184

Azimi, Studi Islam Komprehensif

Sudah jelas bagi kaum Muslim bahwa Islam adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Dilihat dari sejarahnya, wahyu itu bersifat mutawatir (kabar yang dapat dipercaya dan diyakini kebenarannya). Dari kenyataan sejarah cukup banyak para Sahabat yang meriwayatkannya dari Nabi, kemudian para tabiin (para pengikut Sahabat), bahkan generasi sesudahnya. Keorisinalan sejarah Alquran diyakini keasliannya oleh kaum Muslimin. Para orientalis pun mengakui bahwa Alquran adalah benar yang dibaca oleh Nabi Muhammad dulu; hanya mereka tidak menyebutkan sebagai wahyu Allah sebagaimana kaum Muslimin mengakuinya. Namun mereka mengakui bahwa Alquran adalah bacaan Nabi Muhammad yang ditulis oleh Zaid ibn Tsabit kemudian dikumpulkan oleh Abu Bakar dan diperbanyak salinannya oleh Usman ibn Affan. Ringkasan yang disebut wahyu dalam Islam adalah ayat-ayat dalam bahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi. Kalau ayat-ayat itu diganti dengan kata lain walaupun hanya diganti dengan sinonimnya itu sudah bukan wahyu lagi. Demikian pula kalau diubah susunan katakatanya meskipun susunan kata-kata itu adalah dengan menggunakan bahasa Arab, itu juga bukan firman Allah. Mengapa? Di dalamnya sudah ada campur tangan manusia. Adapun terjemahan adalah hasil pemikiran manusia.15 2. Islam Aktual Islam aktual memahami ekspresi relijius para penaganutnya dalam bentuk pengamalan. Dari sudut pandang ini tampak corak dan ragam pengamalan yang berbeda-beda di satu tempat dengan yang lainnya. Namun corak pengamalan itu terbatas pada hal yang bukan prinsip melainkan menyangkut sesuatu yang biasa disebut furu (cabang). Di damping ajaran yang bersifat doktrin, Islam juga merupakan agama yang dapat diteliti dari berbagai sudut pandang seperti sejarahnya, akidahnya, hukumnya, filsafatnya, moral dan sosiologinya, dan sebagainya. Dari sudut pandang doktrin, Islam adalah agama yang diwahyukan Allah, agama satu-satunya yang benar dan diterima di sisi Allah sesuai dengan Surat Ali Imran ayat 19. Tetapi dipandang dari
Harun Nasution, “Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: sebuah Perspektif”, dalam Mastuhu dan Deden Ridwan (Ed). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Tinjauan Antardisiplin Ilmu, (Bandung: Nuansa, 1998), hal. 10.
15

185

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 179-190

sudut penganutnya, Islam dapat diteliti dari berbagai sudut pandang, misalnya bagaimana ketaatan penganutnya terhadap agamanya. Dari segi ini, meminjam istilah Atho Mudzhar, Islam dapat dipandang sebagai “produk budaya, produk sejarah, gejala sosial dan lain-lain.” Islam sebagai “produk budaya” akan memberi corak yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain karena masing-masing penganut di masing-masing wilayah berbeda-beda. Corak Islam yang dianut di Timur Tengah akan berbeda dengan yang dianut orang-orang di Jawa Tengah; upacara-upacara orang Islam di Saudi Arabia di samping memiliki kesamaan dengan negara Muslim lain tentu memiliki ciri khas yang berbeda dengan tradisi Islam di berbagai belahan bumi ini; cara merayakan hari-hari besar di Iran akan jauh berbeda dengan teman-teman kita di Padang Pariaman, misalnya. Tradisi berlebaran di Indonesia dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri jauh lebih semarak dari pada di Makkah dan Madinah. Tradisi Idul Adha yang di Indonesia biasa-biasa saja tapi justeru di Arab Saudi lebih semarak dan sakral. Sekurang-kurangnya, terdapat lima gejala yang perlu diperhatikan apabila kita hendak mempelajari suatu agama: Pertama, scripture atau naskah-naskah atau sumber-sumber ajaran agama tersebut. Kedua, para penganut, pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan agama para penganutnya. Ketiga, ritusritus, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadat seperti salat, haji, puasa, perkawinan dan waris. Keempat, alat-alat (sarana) seperti masjid, gereja, lonceng, peci, sorban, dan semacamnya. Kelima, organisasi-organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Gereja Katolik, Gereja Protestan, Syiah, Ahmadiyah dan lain-lain.16 Islam sebagai produk sejarah memberikan gambaran kepada kita bahwa wajah Islam yang kita lihat dan saksikan sehari-hari tidak seluruhnya sama dan sebangun dengan Islam yang ada pada zaman Nabi. Teologi Syiah, Mutazilah bahkan Ahlus Sunnah wa al-Jamaah, yang menjadi anutan banyak pemeluk Islam di dunia, adalah produk sejarah. Konsep Khulafa al-Rasyidin, ijtihad empat mazhab fikih, dan konsep tasawwuf al-Ghazali adalah produk sejarah. Dalam hal Islam sebagai produk budaya dan sejarah, memberikan gambaran kepada kita bahwa campur tangan manusia dalam membedah dan memformulasikan ajaran, mazhab, pendapat dan
16

Mudzhar, Pendekatan studi…, 30-32.

186

Azimi, Studi Islam Komprehensif

renungannya demikian–dominan. Mereka sama-sama mendasarkan pendapatnya atas teks wahyu dan sunnah Nabi. Peran ijtihad dalam hal ini demikian besar. Hasil ijtihad kalau benar-benar didasarkan atas teks yang mutawatir dengan tujuan mencari kebenaran demi kemaslahatan umat dinilai sebagai berpahala. Ada dalil yang populer menyatakan, “barang siapa berijtihad dan benar, maka ia mendapatkan dua pahala, sebaliknya barang siapa berijtihad dan hasilnya tidak benar maka ia tetap memperoleh satu pahala.” Memahami Islam secara Komprehensif Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar orang berpendapat tentang Islam, atau menyaksikan orang yang mengamalkan ajaran Islam. kadang-kadang kita menyaksikan ada yang pendapatnya ekstrim, ada yang longgar, bahkan ada yang serba boleh. Ada juga penilaian orang luar Islam terhadap Islam yang terkesan miring bahkan negatif, di samping tidak sedikit yang netral dan fair. Hal ini terlihat misalnya dalam tradisi orientalisme, yang melihat Islam secara mendalam namun ia bukan Muslim. Untuk memahami ajaran Islam secara utuh (komprehensif) memang tidak dapat hanya dengan mengandalkan satu cara atau pendekatan semata. Orang memahami Islam dari sudut tafsir Alquran saja, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain, maka keislamannya dianggap parsial (sepihak). Demikian juga mengamalkan Islam dari sudut hukum fikih semata, juga akan tidak utuh. Dengan demikian, untuk dapat memahami Islam secara benar dapat ditempuh beberapa cara: Pertama, Islam harus dipelajari dari sumber yang asli, yaitu Alquran dan Alsunnah. Kekeliruan memahami Islam adalah karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Alquran dan Alsunnah atau melalui pengenalan dari kitab-kitab fikih dan tasawwuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman; Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak parsial; artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan yang bulat. Memahami Islam secara parsial (sepotong-sepotong) akan membahayakan, akan menimbulkan sikap skeptis, bimbang, dan tidak pasti; Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zu’ama dan sarjana-sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pemahaman Islam yang baik, yaitu

187

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 179-190

pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Alquran dan Sunnah Rasul dengan pengalaman yang dihadapi setiap saat. Namun bukan berarti perpustakaan ulama besar ini tidak ada kekurangannya. Mereka pada umumnya hidup pada abad klasik yang secara sosio kultur tidak sama dengan kondisi saat ini. Pengenalan akan karya-karya mereka sekurang-kurangnya sebagai bahan studi banding dan tidak diperlakukan sebagai hal yang taken for granted (diambil begitu saja). Keempat, memahami Islam tidak boleh hanya dihampiri dengan satu pendekatan saja, sebab hal itu akan menimbulkan ketidakutuhan. Misalnya memandang Islam dari sudut tasawwufnya saja; hal ini akan menimbulkan konsekwensi bahwa segala sesuatu di luar itu kurang dianggap penting. Hal lainnya bahwa pengutamaan pendekatan hanya pada tasawwuf semata akan menimbulkan kepincangan pada aspek muamalah karena boleh jadi orang hanya mengutamakan kesalehan individual sementara kesalehan sosial kemasyarakatan diabaikan. Demikian pula bila memahami Islam hanya dari sudut sejarahnya atau sosial budayanya akan berakibat pada longgarnya ikatan norma agama karena selalu dikaitkan dengan kenyataan sosial budaya penganutnya. Dalam hal pendekatan pemahaman Islam secara bulat dan utuh, A. Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, mengajukan beberapa cara yaitu pertama, ketahui siapa Tuhan yang menjadi pusat penyembahan; kedua, pelajari kitab sucinya yaitu Alquran; Ketiga, pelajari pribadi Nabi Muhammad; Keempat, teliti suasana dan situasi di mana Nabi Muhammad bangkit; kelima, pelajari orang-orang terkemuka seperti sahabat-sahabat Nabi yang setia.17 PENUTUP Dalam situasi global seperti di zaman ini, agama diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, politik, keamanan maupun kemakmuran, dan lain sebagainya. Hal ini antara lain karena diyakini bahwa agama mengandung nilai-nilai universal dan absolut yang mampu memberikan resep-resep mujarab (solusi) yang tidak ada habishabisnya. Namun demikian, untuk sampai kepada keadaan di mana agama mampu bersentuhan dengan berbagai persoalan aktual yang berkaitan dengan berbagai dimensi kehidupan tersebut diperlukan pendekatanA. Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hal. 38-44.
17

188

Azimi, Studi Islam Komprehensif

pendekatan baru yang lebih relevan. Dalam kaitan itu, agama tidak cukup dipahami dari satu pendekatan saja, seperti yang selama ini dilakukan, melainkan harus dipahami dan dianalisis dengan menggunakan berbagai pendekatan yang komprehensif, aktual dan integral. Seseorang yang ingin memahami agama dalam hubungannya dengan berbagai masalah tersebut perlu melengkapi diri dengan ilmuilmu bantu seperti filsafat, sejarah, antropologi, sosiologi, sains dan teknologi dan sebagainya. Ilmu-ilmu keislaman yang selama ini terkesan jumud (stagnan), sebenarnya tetap dapat diaktualisasikan dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman, sepanjang yang mengembangkan ilmu-ilmu keislaman tersebut melengkapi dirinya dengan ilmu-ilmu bantu, dan menguasai teori-teori penelitian lengkap dengan metodologinya, baik secara teoritis maupun praktis. Memahami agama Islam yang ideal seperti disebutkan di atas perlu dilakukan, karena suatu sikap keberagamaan yang benar harus bertolak dari pemahaman yang benar terhadap agama tersebut.

189

Mentari Vol. 12 No. 1, Januari 2009: 179-190

DAFTAR PUSTAKA A. Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991). Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Graffindo Persada, 2002). Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998). Badudu dan Zain, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1996). Didin Saefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, (Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005). Djamari, Agama dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: Al-Fabeta, 1993). Harun Nasution, “Format Baru Gerakan Keagamaan”, makalah disampaikan dalam pembukaan simposium Nasional di PPIM IAIN Jakarta, 1998. Harun Nasution, “Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: sebuah Perspektif”, dalam Mastuhu dan Deden Ridwan (Ed). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Tinjauan Antardisiplin Ilmu, (Bandung: Nuansa, 1998). Harun Nasution, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Djambatan, 1992). Masdar F. Mas’udi, “Agama Sumber Etika Negara-Negara: Perlu Pemikiran Ulang”, makalah disampaikan dalam simposium Nasional di PPIM IAIN Jakarta, 1998. Mastuhu dan Deden Ridwan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, (Jakarta: Nuansa, 1998). Pusat Depennas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (jakarta: Balai Pustaka, 1994). Taufiq H. Idris, Kebudayaan Mengenal Islam, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983).

190

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->