P. 1
Kepastian Hukum Atas Sertifikat Tanah Sebagai Bukti Kepemilikan Atas Tanah

Kepastian Hukum Atas Sertifikat Tanah Sebagai Bukti Kepemilikan Atas Tanah

|Views: 901|Likes:
Published by poettrii

More info:

Published by: poettrii on Nov 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2012

pdf

text

original

Kepastian Hukum atas sertifikat tanah sebagai bukti hak kepemilikan atas tanah Studi kasus atas sengketa

tanah Meruya Selatan

Bab I Pendahuluan Berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria yang selanjutnya dalam paper ini disingkat dengan UUPA -, pada pasal 19 dinyatakan bahwa untuk menciptakan kepastian hukum Pertanahan, Pemerintah menyelenggarakan pendaftaran tanah. Atas tanah yang telah didaftarkan selanjutnya diberikan tanda bukti hak atas tanah, yang merupakan alat bukti yang kuat mengenai kepemilikan tanah. Dalam pendaftaran tanah, girik yaitu tanda bukti pembayaran pajak atas tanah dapat disertakan untuk proses administrasi. Girik, dengan demikian bukan merupakan tanda bukti kepemilikan hak atas tanah, namun semata-mata hanyalah merupakan bukti pembayaran pajak-pajak atas tanah. Dengan demikian, apabila di atas bidang tanah yang sama, terdapat klaim dari pemegang girik dengan klaim dari pemegang surat tanda bukti hak atas tanah (sertifikat) , maka pemegang sertifikat atas tanah akan memiliki klaim hak kebendaan yang lebih kuat. Namun demikian, persoalan tidak sesederhana itu. Dalam hal proses kepemilikan surat tanda bukti hak atas tanah melalui hal-hal yang bertentangan dengan hukum, maka akan ada komplikasi. 1 Paper ini akan membahas satu kasus kontemporer yang mengemuka dalam pemberitaan di media massa di Indonesia, khususnya di ibukota Jakarta, yang terkenal dengan kasus tanah Meruya [1]. Kasus tersebut bermula dari rencana eksekusi oleh pemilik hak atas tanah yaitu PT Portanigra, yang membeli tanah tersebut seluas 44 Ha sekitar tahun 1972 yang lalu dari Juhri cs sebagai koordinator penjualan tanah Rencana eksekusi yang akan dilakukan oleh PT Portanigra mendapatkan perlawanan dari masyarakat yang menempati tanah yang telah memiliki tanda bukti kepemilikan atas tanah dimaksud. Juhri Cs, ternyata setelah menjual tanah tersebut kepada PT Portanigra, menjual lagi tanah itu kepada perorangan, Perusahaan , Pemda dan berbagai instansi. Masyarakat dan berbagai instansi yang membeli dari Juhri Cs kemudian memiliki berbagai tanda bukti hak (sertifikat) atas tanah itu. Atas tindakan Juhri Cs, pengadilan telah menetapkan bahwa tindakan Juh Cs adalah bertentangan ri dengan hukum, dan mereka telah dipidana pada tahun 1987 1989 atas perbuatan penipuan, pemalsuan dan penggelapan PT Portanigra, dengan penguatan putusan pidana kepada Juhri Cs,kemudian menggugat secara perdata Juhri cs, untuk mengembalikan tanah-tanah tersebut sekaligus meminta pengadilan untuk meletakkan sita jaminan atas tanah mereka, yang luasnya 44 Hektare. Permohonan sita jaminan dikabulkan oleh hakim dengan penetapan sita jaminan No. 161/Pdt/G/1996/PN.Jkt.Bar tanggal 24 Maret 1997 dimasukkan dalam berita acara sita jaminan tanggal 1 April 1997 dan tanggal 7 April 1997. Pengadilan Negeri pada tanggal 24 April 1997 menyatakan gugatan PT Portanigra tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard--N/O) karena tidak menyertakan para pemilik tanah lainnya di atas tanah sengketa tersebut.Hakim juga memerintahkan pengangkatan sita jaminan tersebut. Pengadilan Tinggi menolak banding Portanigra dan menguatkan putusan Pengadilan Negeri. Namun, di tingkat kasasi, MA membatalkan putusan PN dan PT serta memutuskan untuk mengadili sendiri. Berdasarkan putusan Kasasi No. 570/K/Pdt/1999 jo.No.161/Pdt.G/1996/PN.JKT.BAR, Mahkamah Agung menerima kasasi PT Portanigra. Pertimbangannya antara lain ialah bahwa pihak ketiga akan dapat melakukan ban tahan (verzet) terhadap sita jaminan atau pelaksanaan eksekusi bila memiliki bukti untuk mempertahankan haknya. Ketika PT Portanigra akan melaksanakan eksekusi atas tanah tersebut, setelah mendapat penetapan dari pengadilan Jakarta Barat pada tahun 2007, dia memperoleh perlawanan dari masyarakat, dan berbagai institusi pihak ketiga, yang memiliki tanda bukti hak atas tanah tersebut. Tanda bukti hak yang dimiliki perorangan, maupun institusi beragam mulai dari hak milik, hak pakai, hak guna usaha dan sebagian diletakkan dengan hak tanggungan. Perlawanan yang diajukan oleh pemegang hak atas tanah (yang sifatnya tidak melalui jalur hukum seperti verzet) memperoleh dukungan moral dan politis dari berbagai lapisan masyarakat seperti Parlemen, Pemda, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan lain-lain. Karena kasus ini, telah melebar dan meluas melebihi porsi hukum dan khususnya keperdataan, dan mulai mengarah ke hal-hal yang berkaitan dengan stabilitas, politik, keamanan dan lain-lain, akhirnya PT Portanigra untuk sementara setuju untuk tidak melaksanakan eksekusi.

Penulis berpendapat, bahwa ternyata persoalan yang semestinya dapat diselesaikan secara hukum, ternyata telah melebar ke luar dari koridor hukum, yang justru menciptakan ketidak pastian hukum. Berkenaan dengan hal tersebut, paper ini akan membahas pokok-pokok sebagai berikut : 1. Bagaimana perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah yang telah memperoleh penguatan putusan dari Mahkamah Agung 2. Bagaimana perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi para pihak yang memegang tanda bukti kepemilikan hak atas tanah (sertifikat) 3. Bagaimana pertanggungjawaban institusi pemerintahan yang menerbitkan sertifikat tanah yang ternyata bermasalah

Bab II Hak-hak atas tanah

A.

Hak-hak atas tanah

Hak-hak perorangan dan badan hukum atas tanah memperoleh pengakuan yang kuat dalam sistem dan tata hukum di Indonesia. Hak milik atas tanah adalah bagian dari hak-hak kebendaan yang dijamin dalam konstitusi. Dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 sebagai hasil dari amandemen kedua, dinyatakan sebagai berikut : Pasal 28 g (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. (2) pasal 28 h Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. Selanjutnya dalam UUPA, dinyatakan antara lain sebagai berikut : Pasal 4 ayat (2) Hak-hak atas tanah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, dem ikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada diatasnya, sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu dalam batasbatas menurut Undang-undang ini dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi. 4 Berdasarkan pengertian pada pasal 4 ayat (2) tersebut, hak atas tanah adalah hak atas permukaan bumi, tepatnya hanya meliputi sebagian tertentu permukaan bumi yang terbatas, yang disebut bidang tanah. Hak atas tanah tidak meliputi tubuh bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya[2]. Asas yang hanya mengakui hak atas tanah adalah terbatas pada hak atas permukaan bumi saja disebut dengan asas pemisahan horisontal. Asas pemisahan horisontal adalah asas dimana pemilikan atas tanah dan benda atau segala sesuatu yang berada di atas tanah itu adalah terpisah. Asas pemisahan horisontal memisahkan tanah dan benda lain yang melekat pada tanah itu.[3] Asas pemisahan horisontal adalah asas yang didasarkan pada hukum adat[4], dan merupakan asas yang dianut oleh UUPA. Berbeda dengan asas yang dianut oleh UUPA, KUHPerdata menganut asas perlekatan, baik yang sifatnya perlekatan horisontal maupun perlekatan vertikal, yang menyatakan bahwa benda bergerak yang tertancap atau terpaku pada benda tidak bergerak, berdasarkan asas asesi maka benda -benda yang melekat pada benda pokok, [ secara yuridis harus dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari benda pokoknya. 5] KUHPerdata pasal 571

Cara peralihan hak atas tanah Hak milik atas tanah mengandung unsur hak kebendaan dan hak perse orangan. tidak semata -mata mengandung arti untuk memberikan alat bukti yang kuat. Hubungan antara pemindahan dengan alas hak adalah bersifat kausal. Peraturan Pemerintah no. Contract theory. hak guna usaha. jangka waktunya tidak terbatas. hak pakai. Pasal 20 UUPA menyatakan : Dalam pasal ini disebutkan sifat-sifat daripada hak milik yang membedakannya dengan ha k-hak lainnya. Soeprapto. Artinya yang didaftar adalah hak. Pemberian sifat ini tidak berarti. Occupation theory. karena sifat peralihan hak tersebut adalah bersifat levering. bahwa diantara hak hak atas tanah yang dapat dipunyai orang hak miliklah yang ter (artinya : paling)-kuat dan terpenuh. disewakan atau dipergunakan sendiri. bahwa hak itu merupakan hak yang mutlak. Sedangkan dalam UUP dibedakan berbagai hak atas tanah sebagai berikut: hak milik. bukan saja hanya sebagai alat bukti untuk pendaftaran tetapi merupakan syarat mutlak adanya perjanjian penyerahan. dimana orang yang pertama kali membuka tanah. B. Kata-kata terkuat dan terpenuh itu bermaksud untuk membedakannya dengan hak guna -usaha. tak terbatas dan tidak dapat diganggu gugat sebagai hak eigendom menurut penge rtiannya yang asli dulu. Sementara itu. yaitu untuk menunjukkan. memberi wewenang terbatas kepada pemiliknya[7]. 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah. Sebagai hak perseorangan. dijaminkan. yaitu : a. ciri-cirinya adalah bersifat relatif.[9] Penyerahan yang sifatnya konsensual sebagaimana dianut hukum perdata sekaligus dengan penyerahan yang sifatnya konkret sebagaimana dianut oleh hukum adat 10] pada dasarnya adalah [ bertentangan dan dapat terjadi dualisme dalam penafsiran kepastian hukumnya. hak guna-bangunan. hak atas tanah memiliki ciri-ciri bersifat absolut. Mariam Darus Badrulzaman berpendapat. menurut Aslan Noor[8]. Hukum Kodrat. teori kepemilikan ataupun pengalihan kepemilikan secara perdata atas tanah dikenal empat teori. hak membuka tanah dan hak memungut hasil hutan. Sifat yang demikian akan terang bertentangan dengan sifat hukum -adat dan fungsi sosial dari tiap-tiap hak. Creation theory. Sebagai hak kebendaan. Akta otentik yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akte Tanah. jangka waktunya terbatas. menyatakan bahwa hak milik privat atas tanah diperoleh karena hasil kerja dengan cara membukan dan mengusahakan tanah Mengenai pengalihan atau penyerahan hak atas tanah. Hak milik adalah hak turun temurun. terdapat dua pendapat yaitu yang pertama adalah bahwa jual beli harus dilakukan dengan akta otentik yang diikuti dengan pendaftaran tanah untuk mendapatkan sertifikat sebagai tanda bukti hak atas tanah. mempunyai kekuatan yang sama tidak tergantung saat kelahirannya hak tersebut. adalah bersifat stelsel pasif. bahwa lembaga pendaftaran. Hak kebendaan atas suatu benda tanah terjadi pada saat pendaftaran dilakukan. terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah .Hak milik atas sebidang tanah mengandung di dalamnya kepemilikan atas segala apa yang ada di atasnya dan di dalam tanah. hak guna bangunan. belum hak[11]. hak sewa. dan memberi wewenang yang luas bagi pemiliknya seperti dialihkan. Sedangkan hak-hak penguasaan atas tanah. Pendapat lainnya adalah bahwa perbuatan jual beli tanpa diikuti dengan akta otentik adalah sah. akan tetapi juga menciptakan hak kebendaan. memiliki fungsi sosial serta dapat dialihkan dan beralih. menyatakan dimanan penguasaan benda -benda yang ada di dunia termasuk tanah merupakan hak kodrati yang timbul dari kepribadian manusia b. hak perorangan dan hak tanggungan. Stelsel negatif ini berakibat : Buku tanah tidak memberikan jaminan yang mutlak . Hak milik adalah hk yang terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. dikelompokkan menjadi hak bangsa. Pendapat ini diwakili oleh Boedi Harsono dan R. menurut Boedi Harsono [6]. Sebelum dilakukan pendaftaran yang ada baru milik. Pendapat ini diwakili oleh Mariam Darus Badrulzaman dan Saleh Adiwinata. peralihan hak dan penghapusannya serta pencatatan beban-beban atas hak dalam daftar buku tanah. hak mengikuti bendanya (droit de suite). hak pakai dan lain-lainnya. Dalam kaitan itulah. dimana ada persetujuan diam -diam atau terang-terangan untuk pengalihan tanah d. menjadi pemiliknya dan dapat diwariskan c. maka salah satu asas dari hak atas tanah adalah adanya asas publisitas. sepanjang diikuti dengan penyerahan konkret. hak ulayat. hak menguasai dari negara.

Perjanjian kebendaan yang diikuti dengan perbuatan penyerahan (pendaftaran) dan penerbitan sertifikat c. Jadi kalau sekiranya ada suatu penyerahan. dianut ajaran untuk sahnya penyerahan dibutuhkan beberapa syarat yaitu : a. tukar menukar atau cara lain yang disepakati secara sukarela oleh pihak-pihak yang bersangkutan. tetapi justru mempero penguatan dan leh legitimasi.[12] Selanjutnya. [14] Pandangan para pakar di atas sangat menentukan dalam hal ada dua kepemilikan atas objek yang sama untuk menentukan pemilik dan pemegan hak yang sesungguhnya. kesemuanya itu tidak mengurangi kemungkinan pencabutan hak demi kepentingan umum dan penggantian kerugian yang pantas. Pengertian kepentingan umum. Pasal 570 KUHPerdata Hak milik adalah hak untuk menikmati suatu barang secara lebih leluasa dan untuk berbuat terhadap barang itu secara bebas sepenuhnya asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh kuasa yang berwenang dan asal tidak mengganggu hakhak orang lain. Wewenang menguasai (beschikkings bevoegheid) Pendapat yang dianut Mariam Darus Badrulzaman di atas. hak kepemilikan perorangan atau badan usaha atas sebidang tanah dapat dicabut dengan pemberian ganti rugi. ada juga teori abstraksi yang menganut bahwa ada pemisahan antara levering dengan rechtstitel. kalau rechtstitel yang memindahkan hak milik sah. Sedangkan pengadaan tanah selain bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilakukandengan cara jual beli. dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan Undang-undang. hak-hak atas tanah dapat dicabut. penyerahan tersebut tetap sah. Batasan tentang pengertian kepentingan umum yang abstrak dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda di masyarakat. Pembebasan tanah yang dilakukan oleh pihak selain Pemerintah.- Peranan yang pasif dari pajak balik nama. Pencabutan hak-hak atas tanah Mengenai hak kepemilikan atas tanah. sifatnya tidak mutlak. Artinya levering baru sah. dan dapat menjurus kepada ketidakpastian yang baru dan menimbulkan konflik di masyarakat. dan karenanya baru menjadikan yang me nerima penyerahan sebagai pemilik. Dalam Peraturan Presiden nomor 65 tahun 2006 pada pasal 2 dinyatakan bahwa pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk k epentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. artinya pejabat-pejabat pendaftaran tanah tidak berkewajiban untuk menyelidiki kebenaran dari dokumen -dokumen yang diserahkan kepada mereka. harus dijaga dengan ketat untuk tidak melebar dan terlalu elastis sehingga hal-hal yang tidak seyogianya digolongkan sebagai kepentingan umum. Di sisi lain. artinya apabila kepentingan Negara atau kepentingan umum menghendaki. Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah bahwa yang dimaksudkan untuk pembangunan kepentingan umum haruslah yang diselenggarakan oleh Pemerintah. yang memandang bahwa hubungan hukum adalah obligatoirnya. berdasarkan aturan PP tersebut di atas tidak dapat digolongkan sebagai pembangunan untuk kepentingan umum. Prinsip ini dianut baik dalam KUHPerdata maupun dalam UUPA. tampaknya sangat dipengaruhi oleh ajaran teori causal. berdasarkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan. Bab III Kepastian dan perlindungan hukum atas hak atas tanah . Pasal 16 ayat 4 UUPA Untuk kepentingan umum. Selanjutnya pada pasal 5 diatur secara limitatif bidang-bidang yang termasuk dalam kategori pembangunan untuk kepentingan umum. Mariam Darus Badrulzaman[13] menjelaskan bahwa berrdasarkan ajaran KUHPerdata pada pasal 584. sedangkan levering adalah akibatnya. Karena itu harus ada pengertian yang konkret akan makna kepentingan umum [15]. termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. yang membeli dengan itikad baik. Pemilik asal tidak dapat menuntut hak kebendaan dari pihak ketiga. C. Alas hak (rechttitel) b. Tuntutan pemilik asal adalah tuntutan pribadi terhadap orang yang mengalihkan hak kepada pihak ketiga tadi tanpa hak. dimana yang melakukan penyerahan tidak memiliki titel.

Namun. gugatan tersebut dapat dikualifikasikan sebagaierror in persona. Ada klaim kepemilikan ganda atas suatu objek yang sama. Pembelian tanah dikukuhkan dengan akta jual beli. kenapa dalam tenggang waktu yang sedemikian lama. 2. dalam menjual kembali tanah -tanah tersebut adalah melawan hukum. maupun error in substantia. maka PT Portanigra harus melanjutkan dengan prosedur normal dengan melakukan pendaftaran tanah untuk mendapatkan sertifikat hak Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas. Pengadilan mengabulkan kasasi perdata PT Portanigra kepada Juhri Cs 6. Juhri Cs merencanakan untuk mengajukan PK (Peninjauan Kembali) atas p utusan kasasi Mahkamah Agung 11 B. karena girik yang asli telah diserahkan kepada PT Portanigra. sepanjang menyangkut penyerahannya. sifatnya adalah pemulihan hak kebendaan atas tanah tersebut. seperti Pemda yang menjual sebagian tanah tersebut kepada masyarakat. Pengadilan memutuskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Juhri Cs. Deng an demikian. Beberapa kali peralihan tanah telah terjadi oleh pembeli tingkat kedua. dilengkapi dengan akta jual beli. kecuali akta jual beli selama lebih dari 30 tahun mengindikasikan bahwa proses perolehan tanah tersebut dari awal adalah bermasalah b. menurut penulis terdapat beberapa hal yang perlu dikritisi yaitu : a. 2. 1. Badan-badan Hukum dan Pemda. apabila dengan melihat kepadatransaksi jual beli tanah. Pemda dari Juhri Cs maupun yang kemudian dialihkan oleh para pembeli tersebut kepada pihak lain. dapat diberikan analisis sebagai berikut : a. ataupun perorangan yang memperju belikan tanah itu al kembali. Menjadi pertanyaan pula. Tanah-tanah yang dibeli oleh perorangan. 3. bukan kepemilikan yang bersifat hak perorangan. Kepastian dan perlindungan hukum bagi Juhri cs . kemudian dijual lagi kepada Perorangan. tetapi lebih memilih jalur gugatan kepada Juhri Cs yang sebenarnya tidak lagi memiliki hubungan hukum dengan tanah tersebut. Akta jual beli berdasarkan akta otentik adalah sah. kepemilikan yang dipunyai PT Portanigra adalah kepemilikan yang bersifat kebendaan. Badan-badan Hukum. d. Transaksi jual beli tanah antara PT Portanigra dengan Juhri Cs adalah sah b. Fakta hukum bahwa PT Portanigra menggunakan putusan pidana kepada Juhri Cs sebagai alas gugatan perdata dapat dibenarkan. Pengadilan memutuskan pidana penggelapan dan pemalsuan kepada Juhri Cs. karena faktanya Juhri Cs tidak pernah berstatus lagi sebagai pemilik tanah. Kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak Kepastian dan perlindungan hukum bagi pembeli pertama (PT Portanigra) Berdasarkan landasan teori pada bab sebelumnya. PT Portanigra tidak melakukan proses hukum untuk perolehan hak atas tanah dengan memohonkan pendaftaran tanah dan sertifikasi. dan juga kepada Pemerintah c/q BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang telah menerbitkan berbagai hak di atas tanah yang merupakan miliknya kepada orang lain tanpa seizinnya. Kasasi yang dikabulkan oleh Mahkamah Agung. 5. c. Gugatan seharusnya dibuat terhadap pihak-pihak yang menduduki tanah tersebut. Bukti kepemilikan tanah dalam rangka jual beli itu adalah girik yang diserahkan kepada pembeli. serta didaftarkan dan memperoleh sertifikat tanah 4. Kepemilikan PT Portanigra didasarkan pada perjanjian jual beli dengan pemilik tanah asal yang dikoordinir oleh Juhri Cs. Untuk mendapatkan hak milik. yang tidak atau belum dilanjutka n dengan pendaftaran tanah untuk mendapatkan sertifikat tanah. Tanah yang sama oleh Juhri cs. maka sengketa tanah di atas dapat dipetakan sebagai berikut : 1.A. Fakta hukum bahwa PT Portanigra tidak memiliki sertifikat tanah. Tahapan lanjut untuk pendaftaran tanah dan sertifikasi tanah belum dilaksanakan. Transaksi jual beli tanah antara PT Portanigra dengan Juhri Cs. Girik yang digunakan dalam transaksi jual beli adalah palsu. Duduk perkara sengketa pertanahan tanah Meruya Apabila diikhtisarkan dari berbagai pemberitaan dan kutipan-kutipan putusan pengadilan. membawa akibat hukum bahwa bukti kepemilikan PT Portanigra atas tanah tersebut belum lengkap c. sedangkan transaksi jual beli tanah yang dilaksanakannya tanpa hak telah dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan.

Menurut penulis. Dalam hukum berlaku satu asas. Upaya hukum Peninjauan Kembali ( PK) yang akan ditempuh oleh Juhri Cs juga kehilangan justifikasi dan pijakan hukumnya. Para pihak yang menduduki dan memiliki hak atas tanah saat ini. Putusan pengadilan perdata dan pengadilan pidana yang tidak dijadikan refensi mengakibatkan proses sertifikasi tetap dapat diteruskan. tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap Juhri Cs. akar persoalan dalam perkara ini adalah dari pengadilan dan birokrasi sendiri. atas kejahatan pemalsuan dan penggelapan girik dan kuitansi dalam proses jual beli tanah yang telah dijual sebelumnya kepada PT Portanigra b. Uang tersebut tidak dikembalikan kepada PT Portanigra. Uang yang dikembalikan adalah jasa untuk urusan memperlancar jual beli yang ternyata tidak lancar. memiliki kepemilikan hak yang beragam seperti hak milik. sedangkan ketidak jujuran harus dibuktikan. d. Juni 2001. di atas lahan sengketa. dengan tiga berkas kasus) . b. sekaligus juga memutuskan untuk mengangkat atau membatalkan sita jaminan yang sebelumnya telah diletakkan pada tanah sengketa. c. a. Atas dasar apa Juhri Cs mengajukan PK. Hukum juga memberi perlindungan absolut dan relatif. Juhri Cs telah menerima hukuman pidana atas perbuatan penggelapan dan pemalsuan suratsurat tanah dan surat-surat lainnya dalam rangka jual beli tanah kepada pihak lainnya Juhri Cs telah mengembalikan uang yang timbul dari hasil pen jualan kembali tanah tersebut melalui negara. Pengadilan Tinggi memperkuat dan sependapat dengan Pengadilan Negeri e. dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional harus dapat dimintai pertanggungjawaban atas terbitnya sertifikat di atas lahan sengketa. 17] [ e. Juhri Cs tidak mempunyai klaim kepemilikan apapun lagi atas tanah tersebut. hak pakai. Pembeli tanah dari Juhri Cs. penulis memberikan komentar sebagai berikut : Hukuman pidana dan pengembalian uang yang dilakukan oleh Juhri Cs adalah membuktikan bahwa mereka tidak dalam kapasitas yang sah untuk melakukan transaksi penjualan ke mbali tanah yang bukan merupakan miliknya Status uang yang dikembalikan patut dipertanyakan. Badan Hukum maupun Pemda telah melakukan transaksi jual beli dengan akte otentik. Hal tersebut dapat disimpulkan dari kronologi fakta hukum berikut : a.a. Bukti-bukti kepemilikan tanahpun tidak ada pada Juhri Cs. baik perorangan. 3. hingga memperoleh sertifikat tanah b. April 1997 Hakim Pengadilan Negeri. Juhri Cs berencana akan melakukan perlawanan dengan mengajukan Peninjauan Kembali atas putusan kasasi Mahkamah Agung Sehubungan dengan hal-hal tersebut. Kepastian dan perlindungan hukum bagi pembeli dari Juhri Cs a. Namun. pendaftaran tanah. yaitu bahwa kejujuran itu dianggap ada pada setiap orang. b. Tanggungjawab Pemerintah atas terbitnya sertifikat tanah di atas lahan sengketa Pemerintah. maupun hak tanggungan d. dan meminta agar gugatan diperbaiki kembali dengan memperluas pihak tergugat. 1985 1987 : Pengadilan Pidana telah menghukum Juhri Cs (tiga orang. Sepanjang menyangkut enforceability (daya paksa) dari putusan kasasi mahkamah agung. kepada pembeli kemudian. Oktober 1997. Mahkamah Agung menerima kasasi PT Portanigra. Maret 1997 Hakim Pengadilan Perdata mengabulkan permohonan sita jaminan atas tanah sengketa c. serta para pihak yang saat ini secara nyata menduduki baik secara hukum maupun konkret. Hukum melindungi para pembeli dengan itikad baik[16]. telah berlangsung sesuai dengan aturan dari Pemerintah. maupun kepada masyarakat atau Pemda yang membeli tanah melalui Juhri Cs. c. d. bukan uang hasil penjualan tanah. hak guna bangunan. sebagai berikut : Persoalan yuridis dalam putusan ini ada dua yaitu : . karena kepemilikan pada pihak -pihak yang menduduki tanah tersebut saat ini adalah kepemilikan kebendaan maupun kepemilikan perorangan 4. menolak gugatan perdata PT Portanigra dengan N/O atau tidak dapat menerima gugatan. Pengalihan tanah dari para pembeli awal. Tanah tidak dalam penguasaan Juhri Cs. c. Juhri Cs bukan merupakan pemilik tanah.

kalau para pihak yang terkait mempelajari dengan cermat. dan juga tak dapat pihak-pihak ketiga mendapat manfaat karenanya. pokok gugatannya telah meliputi pihak-pihak lain di luar Juhri Cs. karena tanah tersebut masih dalam status sengketa. Namun pada saat yang sama. Dalam kasus PT Portanigra.Yurisprudensi tersebut memberi keseimbangan bagi para pihak dalam hal memohon proses sertifikasi. telah diketahui bahwa terdapat pemalsuan dan penggelapan atas surat surat jual beli yang dilakukan oleh Juhri Cs. Dalam yurisprudensi MA no. petuk pajak ataupun Letter C yang diajukan oleh masyarakat dalam proses pendaftaran tanah dan sertifikasi bukan merupakan alat bukti pemilikan atas tanah. Cara ini dibenarkan apabila akibat suatu putusan membawa akibat kepada pihak ketiga yang bukan tergugat. Melakukan gugatan tata usaha negara kepada Badan Pertanahan Nasional b. Putusan kasasi yang memperluas akibat putusan kepada orang-orang yang tidak merupakan pihak dalam perkara gugatan menurut penulis tidak tepat. Badan Pertanahan Nasional dapat memproses lanjut permohonan sertifikasi yang diajukan masyarakat. seharusnya tidak memproses lanjut permohonan pendaftaran tanah dalam rangka sertifikasi tanah. adalah tepat. serta menghukum Juhri Cs dan semua orang yang mendapatkan hak dari mereka untuk mengosongkan tanah-tanah milik adat tersebut dan menyerahkannya dalam keadaan kosong kepada Portanigra. BPN juga tahu bahwa girik. Pengadilan negeri dan pengadilan tinggi pada dasarnya tidak memeriksa pokok perkara. Putusan kasasi yang menyatakan bahwa sita jaminan adalah sah. namun tidak diikutkan sebagai tergugat serta.a. namun mengembalikan kepada penggugat untuk memperbaiki dan melengkapi gugatan. dikesampingkan oleh BPN. yurisprudensi mengenai hal tersebut telah ada. fakta hukum yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap di pengadilan pidana. Melakukan gugatan perdata kepada Juhri Cs c. Pengadilan negeri dan pengadilan tinggi menolak gugatan sudah benar. Dalam perkara pidana. dengan alasan pada bagian a di atas. Birokrasi atau BPN seharusnya. Bagaimana pengadilan dapat memutuskan untuk mengangkat sita jaminan sedangkan pokok perkaranya sendiri tidak atau belum diperiksa. namun tindakan pengadilan negeri yang dikuatkan oleh pengadian tinggi dalam mengangkat sita jaminan yang l sebelumnya adalah tidak tepat. Juhri Cs melakukan perbuatan melawan hukum sekaligus wanprestasi. Di satu sisi. 1588/K/Pdt/2001 terdapat kaedah hukum yang menyatakan sebagai berikut : *Sertifikat tanah yang terbit terlebih dulu dari akta jual beli tidak berdasarkan hukum dan dinyatakan batal. dan para pihak lainnya yang dalam proses jual beli tanah adalah dengan itikad baik. Sedangkan persoalan yang terkait dengan birokrasi juga ada dua yaitu : a. Pengangkatan sita jaminan yang dilakukan oleh pengadilan negeri dan dikuatkan oleh pengadilan tinggi tidak berarti bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa. karena proses kasasi masih berjalan. Melakukan perlawanan (verzet) atas putusan mahkamah agung b. Dalam konstruksi hukum perdata pada pasal 1340 dinyatakan bahwa suatu perjanjian tidak dapat membawa rugi kepada pihakpihak ketiga. dan dalam pokok gugatan tidak menyinggung pihak ketiga tersebut. pada dasarnya menyatakan bahwa sita jaminan dianggap sah dan berharga. Benar bahwa pihak ketiga yang berkepentingan dapat menempuh upaya hukum perlawanan atau verzet. meniadakan sita jaminan yang telah diputuskan sebelumn Hal ini lah yang membuat ya.Upaya hukum bagi masyarakat yang dirugikan dari kasus ini adalah antara lain: a. Sebenarnya. Putusan pengadilan perdata yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap. Seyogianya aparat birokrasi di BPN harus menggunakan fakta hukum tersebut untuk tidak memproses pendaftaran tanah dan sertifikasi. . 18] [ Masyarakat. akan dirugikan dengan adanya persoalan tersebut. b. Penerbitan sertifikat tanpa ada pengajuan dari pemilik adalah tidak sah BPN seyogianya menunda proses sertifikasi. Di sisi lain. Amar Putusan Kasasi yang mengabulkan permohonan PT Portanigra. digunakan oleh BPN untuk memproses lanjut sertifikasi. Namun memeriksa dan memutuskan gugatan dimana gugatan meliputi pihak -pihak yang tidak diikutkan sebagai tergugat serta adalah tidak tepat. Selain itu menyatakan Portanigra sebagai pemilik yang sah atas tanah sengketa berdasarkan bukti-bukti.

Sebagian terbesar kalangan di masyarakat mempunyai persepsi berbeda dan menganggap bahwa putusan pengadilan tersebut tidak mencerminkan asas keadilan . secara radikal mendobrak dan menggugat kenetralan dan keobjektifan peran dari hukum. Masyarakat. anti objektivisme. pemda maupun badan-badan kenegaraan lainnya seperti komisi-komisi nasional yang bergerak di bidang advokasi kepentingan masyarakat. yang menurut hukum harus dilindungi sebagai pembeli beritikad baik. dimana tidak a kepercayaan da kepada lembaga dan pranata hukum yang ada. sebenarnya telah dikaji dalam satu aliran hukum post modernisme yang bernama critical legal studies. Bab IV Simpulan Sehubungan dengan pembahasan pada paper ini dalam kaitannya dengan sengketa tanah di Meruya Selatan. Namun manakala keadilan tersebut tidak ditemukan lewat saluran formal. Perlindungan hukum kepada pemegang hak atas tanah yang telah memperoleh penguatan putusan dari Mahkamah Agung. aliran critical legal studies merupakan suatu aliran yang bersikap anti liberal. ketertiban dan kepastian hukum yang dihasilkan lembagalembaga formal negara. Apabila ada pertentangan antaran kepastian hukum dengan keadilan. maka pencari keadilan akan menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan keseimbangan antara keadilan dan kepastian hukum. Aliran post modernisme dalam mencari keadilan Cita-cita hukum yang baik adalah untuk mendapatkan keadilan dan kepastian hukum. Bahkan dukungan non legal diperoleh baik dari institusi parlemen. maka harus dicari suatu rujukan yang telah disepakati. ternyata tidak mendapatkan perlindungan itu. akan terjadi apatisme hukum. menafsirkan dan mengenforce keadilan menurut persepsinya masing masing. serta menolak kepercayaan terhadap unsur keadilan. Kepastian hukum yang ideal adalah hukum yang memberi keadilan. maka unsu keadilan harus dikedepankan dan r dimenangkan. dan penegak hukum lainnya terutama dalam hal keberpihakan hukum dan penegak hukum terhadap golongan yang kuat/ mayoritas/ berkuasa/ kaya dalam rangka mempertahankan hegemoninya. yang dengan dipengaruhi oleh pola pikir post modern. Tetapi mana kala. dengan saluran formal yang mengedepankan kepastian hukum tidak mencerminkan adanya keadilan. karena : a. tampaknya tidak dapat diperoleh secara utuh. dan anti kemapanan dalam teori dan filsafat hukum. anti formalisme. Ketika pengadilan negeri yang memperoleh legitimasi formal dari negara akan mengeksekusi suatu putusan mahkamah agung. Kasus tanah di Meruya Selatan yang menjadi pembahasan paper ini adalah contoh nyata. seperti verzet maupun peninjauan kembali masih terbuka b. Kepastian hukum adalah sebuah falsafah positivisme dimana untuk mendapatkan titik temu antara para pihak yang kepentingannya berbeda-beda. Fenomena yang demikian ini. Ini sesungguhnya adalah sebuah ironi di negara yang berdasarkan hukum. Munir Fuady[19] mencatat. dilegalkan dan diformalitaskan serta enforceable oleh aparat hukum sebagai penjelmaan dari kedaulatan birokrasi negara. Jakarta Barat antara PT Portanigra dengan Juhri Cs dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Mencari dengan cara sendiri-sendiri upaya perdamaian atau upaya lain untuk mempertahankan hak-haknya C.d. Beberapa upaya hukum yang lain. yang bahkan pada titik ekstrim akan dapat menjelma menjadi chaos karena masing -masing pihak akan mencari. serta menolak unsur kebenaran objektif dari ilmu pengetahuan hukum. hakim. kalangan masyarakat justru tidak menerimanya.

Cessie. Filsafat dan Teori Hukum Post Modern.Perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi para pihak yang memegang tanda bukti kepemilikan hak atas tanah (sertifikat). dia boleh mengangkat bangunan rumahnya. Pokok-pokok Hukum Perdata. 1997 Munir Fuady. Mandar Maju. 28-29 [9] John Salindeho. ibid. akan dapat membebaskan institusi pemerintahan dari tanggungjawab yuridis keperdataannya. cet. hal. 1994 Mariam Darus Badrulzaman. diabaikan haknya untuk diikutkan sebagai pihak turut tergugat. Bandung. Bandung. Jakarta. Bandung. Mandar Maju. 2005 Subekti. Citra Aditya Bakti. yang secara harfiah berarti Elang boleh terbang dari tungkul perhinggapannya. PT Intermasa. ed. Bandung. Satrio. Subrogatie. Jakarta. Implementasi Prinsip Kepentingan Umum dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Sinar . Jakarta. Apabila dia meninggalkan tanahnya. 1997.cit. Citra Aditya Bakti. 1996. dan hanya dibuka upaya hukum melalui verzet b. 31 [8] Aslan Noor. 40 41 [7]Mariam Darus Badrulzaman.com [2] Boedi Harsono. Jakarta. 2007. Alumni. Sistem Jaminan Kredit Dalam Era Pembangunan Hukum. Maret 2008 Sampe L. karena : a. Grafika. PT. hal. Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lainyang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal. Sistem Jaminan Kredit Dalam Era Pembangunan Hukum. 3 Jakarta. 2007 Aslan Noor. op. Bandung. 2005 Perundang-undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Undang-Undang no. 5 tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok-pokok Agraria Peraturan Pemerintah no. Citra Aditya Bakti. Sinar Grafika. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. 3 Jakarta. 1999 John Salindeho. . Penerbit Universitas Trisakti. Jakarta. Proses perolehan sertifikat yang bermasalah menimbulkan potensi gugatan di kemudian hari 3. Sinar Grafika. Institusi pemerintahan yang menerbitkan sertifikat tanah yang ternyata bermasalah seyogianya dapat dimintakan pertanggungjawaban perdata. Namun mengingat sistem pendaftaran tanah yang stelsel pasif. hal. Konsep Hak Milik atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia. namun tungkul itu tetap tinggal . 2006. Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lain yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal . Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional. hal. PT Alumni Bandung.hukumonline. 76 [4] Dalam implementasi asas pemisahan horisontal. Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional Penerbit Universitas Trisakti. [5] Djuhaendah Hasan. 63 [3] Djuhaendah Hasan. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. 1994. juga tidak utuh. PT. 1996 J. 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum [1] Diikhtisarkan dan diakses dari www. 34-35 2. 65 tahun 2006 tentang Perubahan Peraturan no. atas tanah adat di tanah batak berlaku ungkapan Habang Lali ndang habang tungko . Bandung. hal. Bandung. namun tanahnya kembali menjadi milik masyarakat ulayat adat. 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah Peraturan Presiden no. 70 [6] Boedi Harsono. hal. dan tuntutan ganti rugi. 32. kepemilikannya hanya terbatas pada rumahnya itu saja. Novatie. . PT. 2006 Boedi Harsono. PT. Kompensatie & Percampuran Hutang. Alumni. Pengertian ungkapan ini adalah bahwa apabila anggota masyarakat adat me mbangun rumah di atas tanah ulayat adat. PT. 2007 Djuhaendah Hasan. ed. Purba Daftar Pustaka Buku Adrian Sutedi. Pemegang sertifikat hak milik. hal. Konsep Hak Milik atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia.

Sedangkan hubungan negara dengan tanah melahirkan kewenangan dan tanggung jawab [1] . 211 [19] Munir Fuady. PT Alumni Bandung. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. hal. pemeliharaan bumi. Kompensatie & Percampuran Hutang. Hak menguasai dari Negara memberi wewenang kepada Negara untuk : a. op. asas kekeluargaan dan asas kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. rakyat juga dapat memiliki hak atas tanah. 12-13 [15] Adrian Sutedi. PT Intermasa. Satrio. 1999. air dan ruang angkasa. Cessie. Pernyataan tersebut menjelaskan dua hal. air dan ruang angkasa tersebut. hal. menentukan dan mengatur hubungan -hubungan hukum antara orang -orang dengan bumi. 290 [16] Pasal 1965 KUHPerdata : Itikad baik selamanya harus dianggap tetap ada. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasa i oleh Negara. hal. hal. sedangkan siapa yang menunjuk kepada suatu itikada buruk diwajibkan membuktikannya [17] Subekti. Implementasi Prinsip Kepentingan Umum dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Sinar . air dan ruang angkasa c. hal. hal. Jakarta. namun penguasaan tersebut harus dalam kerangka untuk kemakmuran rakyat. Hak milik adalah hak turun temurun. hal. Djuhaendah Hasan menyatakan asas hukum adat antara lain adalah asas kontan konkret. Di sisi lain. Bandung.cit. yaitu untuk kemakmuran rakyat. PT. 64 [18] Djuhaendah Hasan. 36 [14] J. sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 114 [11] Mariam Darus Badrulzaman. Dengan perkataan lain hubungan individu dengan tanah adalah hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban. 2005. terdapa t pada pasal 2 Undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok -pokok Agraria (selanjutnya disebut UUPA) yang menyatakan bahwa bumi. penggunaan. Cf. Pokok-pokok Hukum Perdata. Citra Aditya Bakti. op. Selanjutnya dalam penjelasannya dinyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok pokok kemakmuran rakyat. 2007. persediaan dan b. Novatie. Filsafat dan Teori Hukum Post Modern. 7 Hak Menguasai Tanah Oleh Negara Bab I Pendahuluan Hak menguasai tanah oleh negara bersumber dari kekuasaan yang melekat pada negara. air dan ruang angkasa Penguasaan tanah oleh negara dalam konteks di atas adalah penguasaan yang otoritasnya menimbulkan tanggungjawab. yaitu bahwa secara konstitusional Negara memiliki legitimasi yang kuat untuk menguasai tanah sebagai bagian dari bumi. hal. Djuhaendah Hasan. 37 [12] Ibid. Subrogatie.cit. Grafika. Penjabaran lebih jauh dari hak menguasai tanah oleh negara. 59 [13] Ibid. 2005. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. menentukan dan mengatur hubungan -hubungan hukum antara orang -orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. Op. Jakarta. sebagaimana tercermin dalam ketentuan pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. hal. cet.cit. terkuat dan terpenuh yang dapat dimiliki orang atas tanah dengan mengingat fungsi sosial yang melekat pada kepemilikan tanah tersebut. 32.[10] Asas asas hukum adat tidak mendapatkan penjelasan dalam UUPA.

seringkali menuntut Negara untuk melakukan penataan kembali atas tata ruang termasuk pemanfaatan tanah sedemikian rupa yang meminta masyarakat untuk menyerahkan tanahnya kepada Negara untuk dipergunakan bgai kepentingan umum. kemerdekaan. Dalam hal ini organisasi negara dipandang sebagai badan hukum publik yang memiliki otoritas mengatur warganya maupun menyelenggarakan seluruh kedaulatan yang melekat pada dirinya sesuai mandat yang diberikan oleh konstitusi atau perundang -undangan. kawasan industri. paper ini akan mengkaji dua pokok permasalahan yaitu : 1. Negara dipandang sebagai subjek hukum. yang disebut rechtspersoon. antara lain termasuk adanya kewaji an b yang melekat untuk memenuhi prestasi kepada pihak berkontrak. Bagaimana penguasaan tanah oleh Negara merupakan pencerminan dari tanggung jawab publik Negara Bagaimana Perlindungan hukum terhadap masyarakat yang tanahnya diambil alih oleh negara. 1. Pembangunan prasarana jalan raya. Negara adalah salah satu subjek hukum. pertanian dan sebagainya adalah beberapa di antara dasar legitimasi yang digunakan o leh negara dalam pengambilalihan tanah masyarakat. yaitu yang mampu mendukung hak dan kewajiban. hak dalam arti sempit yang dikorelasikan dengan kewajiban. . terbatas pada yurisdiksi hukum kekuasaannya. dalam hal-hal tertentu Negara juga dapat bertindak sebagai badan hukum perdata. Selain sebagai Badan Hukum Publik. Pengertian yang termasuk pada hak meliputi. Bab II Penguasaan Tanah oleh Negara dan Perlindungan Terhadap Hak Milik Perorangan A. Penyelenggaraan kedaulatan yang dimiliki oleh Negara adalah sempurna dalam arti kedaulatan tersebut bersumber dari dirinya sendiri. yang peruntukan akhirnya tidak sesuai dengan maksud awal pengambil alihan tersebut. dan kekuasaan itu berakhir manakala ada negara lain yang memulai kekuasaan atasnya[3]. dalam konsep hukum adalah karena negara tersebut dipersonifikasi serta dianggap sebagai pembawa hak. tidak dapat dipecah-pecah.[2]Kedaulatan yang melekat pada negara. Aspek hukum penguasaan tanah oleh Negara Negara sebagai subjek Hukum Penguasaan tanah adalah suatu hak.Dinamika pembangungan nasional. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. dan secara khusus lagipubliek rechts-person. Subjek hukum adalah sesuatu yang disebut sebagai pembawa hak. asli dan sempurna. yang apabila tidak dipenuhi dapat mengakibatkan tuntutan keperdataan. yakni pendukung hak dan kewajiban publik yang padanya melekat kewenangan untuk menyelenggarakan kepentingan publik[4]. 2. Suatu hak hanya dimungkinkan diperoleh apabila orang atau badan yang akan memiliki hak tersebut cakap secara hukum untuk menghaki objek y ang menjadi haknya. kekuasaan dan imunitas. Negara sebagai badan hukum perdata terjadi manakala Negara dalam suatu peristiwa hukum bertindak sebagai pihak dalam suatu Kontrak yang terikat hak dan kewajiban kontraktual dengan segala konsekuensinya.

[6] Dalam keseimbangan yang demikian.keperdataan. pada dasarnya agraria hanya menyangkut pengaturan tanah -tanah untuk pertanian saja. Sepanjang menyangkut hak-hak atas tanah. pengaturan hak-hak atas tanah dalam UUPA adalah sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan agak sensitif atau kurang netral. adalah juga merupakan sub bagian dari hukum benda dan hukum kekayaan pada umumnya. namun secara umum selalu menjadikan Undang-undang nomor 5 tahun 1960 sebagai salah satu dasar hukum atau konsiderans dalam undang-undang yang bersangkutan. Pasal tersebut tidak mengikutkan wilayah angkasa. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara. namun berdasarkan konvensi dan hukum internasional wilayah angkasa sampai batas ketinggian tertentu adalah juga termasuk dalam yurisdiksi batas kedaulatan suatu negara. dan dia dapat dituntut sebagai rechtpersoon di depan pengadilan. Hanya saja apabila dilihat dari etimologi pengertian agraria[7] yang berasal dari bahasa Latin. UUPA. Menurut Djuhaendah Hasan[9]. Hukum benda adalah bagian dan sub dari hukum kekayaan. dimana dalam pembukaan atau mukadimah undang-undang dasar dinyatakan bahwa salah satu tugas Negara yang membentuk Pemerintah Republik Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan melindungi segenap bangsa Indonesia. maka tujuan penyerahan sebagian hak -hak masyarakat kepada negara memperoleh legitimasi politik dan legitimasi sosial. Undang-undang lainnya yang mengandung kewenangan atau otoritas Pemerintah untuk mengatur peruntukan tanah tersebar pada berbagai Undang-undang. mengingat rumusan yang dalam UUPA sendiri menyatakan bahwa hubungan antara bangsa Indonesia dengan tanah adalah abadi. hanya mengatur pembagian dan distribusi tanah kepada masyarakat terutama tanah-tanah yang diperoleh sebagai hasil taklukan dan ekspansi wilayah. Otoritas negara dalam penguasaan hak atas tanah Otoritas negara dalam penguasaan hak atas tanah bersumber dari Undang-undang Dasar atau konstitusi Negara. Tanah termasuk ke dalam kelompok benda. maka mempelajari hak atas tanah tidak cukup hanya dengan mengacu kepada UUPA. UUPA tampaknya mengoreksi dan mempertegas pengertian pada pasal 33 Undang-undang dasar 1945 dengan mengikutkan ruang angkasa sebagai bagian seutuhnya dari wilayah Republik Indonesia. Hukum adat sendiri dalam pertumbuhannya tidak terlepas dari pengaruh politik dan masyarakat kolonial yang kapitalistis dan masyarakat swapraja yang feodal. Kemudian. yang menjadi pertimbangan adalah. Otoritas Negara. Namun mengingat tanah. Negara atau Pemerintah harus memiliki sense of public service. Hal tersebut mengandung makna bahwa otoritas yang dimiliki negara untuk pengaturan tanah tidak semata-mata dapat didasarkan pada bunyi pasal-pasal perundang-undangan yang . ditegaskan dan dideklarasikan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah dikuasai oleh Negara. pada dasarnya pengaturan pokoknya dapat direferensi ke UUPA. Pengertian yang secara normatif diakui dalam ilmu hukum adalah bahwa masyarakat secara sukarela menyerahkan sebagian dari hak -hak kemerdekaannya untuk diatur oleh Negara dan dikembalikan lagi kepada masyarakat untuk menjaga keteraturan. bahwa hukum benda sebagai bagian dari hukum kekayaan bersifat netral. Hukum agraria[8] dalam hukum Romawi Kuno. karena bukan fungsi kenegaraan (ius imperii) yang dilaksanakannya tetapi semata-mata fungsi privaat (ius gestines)[5] 2. seperti pada namanya hanya mengatur mengenai hal-hal pokok mengenai keagrariaan. kedaulatan yang melekat pada dirinya kehilangan imunitasnya. Hal lainnya.Dalam hal Negara bertindak sebagai Badan Hukum Perdata yang semata-mata melaksanakan fungsi privaat-komersial. sedangkan masyarakat harus memiliki the duty of public obedience. dalam hal ini Negara Republik Indonesia dalam penguasaan hak atas tanah bersumber dari konstitusi. dalam pasal 33 Undang-undang dasar 1945. Hak-hak atas tanah dengan demikian dapat juga ditinjau dari hak-hak kebendaan pada umumnya. perlindungan dan kemakmuran rakyat. Asas hukum agraria adalah hukum adat.

UU no. dalam bidangbidang seperti : 1) Penatagunaan tanah 2) Pengaturan Tata ruang 3) Pengadaan tanah untuk kepentingan umum b. UU no. Jenis-jenis hak menguasai tanah yang dimiliki Negara Hak menguasai tanah oleh Negara. UU no. hanya saja tidak menggunakan UUPA sebagai salah satu referensinya. Kewenangan yang diberikan oleh UUPA digolongkan dalam tiga bagian. UU no. mengatur dan menyelenggarakan pemeliharaan tanah peruntukan. penggunaan. antara lain tercantum pada : a. Pasal 5 ayat 2 UU Pokok Kehutanan redaksi dan konstruksinya persis seperti pasal 2 ayat 2 UUPA. dan pengaturan hubungan hukum antara orang dan perbuatan hukum hal tersebut adalah merupakan intisari dari pengaturan UUPA pasal 2 ayat 2 yang menyangkut kewenangan yang diturunkan oleh Negara kepada Pemerintah. yaitu pengaturan peruntukan. 23 tahun 1997 tentang Penataan Lingkungan Hidup f. UU no. 11 tahun 1967 tentang Ketentuan -ketentuan pokok Pertambangan pada pasal 1 ayat 1 yang mengatur mengenai penguasaan bahan galian c. dalam bidang bidang seperti : 1) Pembatasan jumlah bidang dan luas tanah yang boleh dikuasai (landreform) . Turunan dari UUPA yang secara eksplisit dibunyikan pada Undang-undang lainnya tentang Hak menguasai dari negara. 5 tahun 1967 tentang UU Pokok Kehutanan. pengaturan hubungan hukum antara orang dengan bagian [10] . 11 tahun 1974 tentang Pengairan e. UU no.mengaturnya tetapi harus dengan memperhatikan konteks kekinian maupun suasana kebatinan yang timbul dalam pembuatan pasal-pasal aturan tersebut. b. 3. menentukan dan mengatur hubungan -hubungan hukum antara orang-orang dengan tanah Hak-hak yang mengenai pengaturan h ubungan hukum tersebut dijabarkan dalam berbagai produk peraturan dan perundang -undangan lainnya. dijabarkan dalam bentuk kewenangan tertentu untuk penyelenggaraan hak tersebut. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal Penggolongan hak menguasai negara pada tanahyang ada pada UUPA adalah meliputi : a. Ketiga bagian tanah. persediaan dan Hak-hak yang mengenai pengaturan peruntukan tersebut dijabarkan dalam berbagai produk peraturan dan perundang -undangan lainnya. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi g. 3 tahun 1972 tentang ketentuan -ketentuan Pokok Transmigrasi d. UU no.

Dikaitkan dengan kemampuan menjunjung hak dan kewajiban. karena pada dasarnya hak tanggungan adalah merupakan ikutan (assesoris) dari suatu perikatan pokok. Dalam pengertian ini. hak guna usaha dan hak guna bangunan. yaitu : a. yang diperoleh secara hukum adat. 4 tahun 1996. Tanah adalah bagian dari hak milik yang dapat dimiliki secara perorangan. Dasar hak untuk kepemilikan perorangan atas tanah Dasar hak untuk kepemilikan individu atas tanah secara umum adalah hak universal yang mengakui kepemilikan atas hak-hak pribadi. orang akan menjadi subjek hukum apabila perorangan tersebut mampu mendukung hak dan kewajibannya. Dalam Undang-undang Dasar 1945 amandemen kedua pada pasal 28 G dinyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan harta benda yang dibawah kekuasaannya.[11] 2) B. Hak tanggungan dapat digolongkan ke dalam hubungan hukum antar orang dan perbuatan hukum atas tanah. orang yang dibawah perwalian dan orang yang dicabut hak-hak keperdataanya tidak dapat digolongkan sebagai subjek hukum dalam konteks kemampuan menjunjung hak dan kewajiban. pembukuan. 2. seperti hubungan hutang piutang yang dijamin pelunasannya dengan hak tanggungan tersebut. maka orang-orang yang belum dewasa. berkesinambungan dan teratur. dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis. turun temurun yang berasal dari pengakuan atau pembukaan hutan oleh masyarakat adat yang belum ada pengusahaan sebelumnya. Hak yang timbul karena hak ulayat. Pada prinsipnya setiap orang adalah subjek hukum (natuurljik persoon). dalam bidang-bidang seperti : 1) Pendaftaran tanah. . menentukan dan mengatur hubungan -hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum atas tanah Hak-hak yang mengenai pengaturan hubungan hukum dan perbuatan hukum dijabarkan dalam berbagai produk peraturan dan perundang-undangan lainnya. hak tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah yang meliputi hak milik. dalam bentuk peta dan daftar. Sedangkan pada pasal 28 H ayat 4 dinyatakan bahwa setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun. termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya (Ps1 1yat 1 PP 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah) Hak tanggungan Berdasarkan UU no. yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus. Dalam UUPA dijelaskan bahwa sumber kepemilikan hak perorangan itu berasal dari dua unsur. pengolahan. Perorangan sebagai subjek hukum Subjek hukum adalah sesuatu yang menurut hukum berhak/ berwenang untuk melakukan perbuatan hukum atau siapa yang mempunyai hak dan cakap untuk bertindak dalam hukum. Subjek hukum adalah segala sesuatu yang me nurut hukum mempunyai hak dan kewajiban[12]. meliputi pengumpulan. Hak milik Perorangan atas Tanah 1.2) Pengaturan hak pengelolaan tanah c. Subjek hukum adlah sesuatu pendukung hak yang menurut hukum berwenang/ berkuasa bertindak menjadi pendukung hak.

. hak membuka tanah. dalam catatan Satjipto Rahardjo[13]. yaitu suatu peristiwa tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu kepada pemiliknya. Hak-hak yang dapat dimiliki ini berasal atau merupakan derivasi dari hak menguasai tanah oleh negara. dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan undang-undang. Hak itu dilekatkan kepada seseorang yang disebut sebagai pemilik atau subjek dari hak itu. Ia juga disebut sebagai orang yang memiliki titel atas barang yang menjadi sasaran dari pada hak Hak itu tertuju kepada orang lain. Pengambil alihan tanah perorangan oleh Negara Alas hak bagi Negara untuk mengambil alih tanah perorangan Alas hak bagi negara untuk mengambli alih tanah masyarakat. 1. termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. hak guna usaha. hubungan tersebut harus dimaknai dalam konteks kolektif sebagai bangsa. Pada pasal 18 UUPA dinyatakan bahwa untuk kepentingan umum. C. hak guna bangunan. hak pakai. tanah wakaf. Hak yang diperoleh oleh orang-orang. hak-hak atas tanah dapat dicabut. c. Dengan kata lain sertifikat bukanlah alas hak. yang disebut sebagai isi dari pada hak Commission atau omission itu menyangkut sesuatu yang disebut sebagai objek dari hak Setiap hak menurut hukum mempunyai titel. hak sewa. Berdasarkan pasal 1 ayat 20 Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997. d. Sifat yang melekat pada kekuasaan negara dalam penguasaan tanah Sifat yang melekat pada kepemilikan tanah yang dimiliki oleh perorangan Sifat yang melekat pada kekuasaan negara dalam penguasaan tanah tercermin dari berbagai rumusan Undang-undang yang mengatur penggunaan. Sifat yang melekat pada hak milik perorangan atas tanah adalah sekalipun dalam UUPA dinyatakan bahwa hubungan antara bangsa Indonesia dengan tanah bersifat abadi. b. Sertifikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan hukum. baik yang berasal dari perorangan.b. kumpulan perorangan atau badan hukum adalah : a. Fungsi sosial dimaksud adalah dalam menggunakan (atau dalam hal tidak menggunakan) hak -hak atas tanah harus tidak boleh mendatangkan kerugian bagi masyarakat. Antara hak dan kewajiban terdapat hubungan korelatif Hak yang ada pada seseorang ini mewajibkan pihak lain untuk melakukan (commission) atau tidak melakukan (omission) sesuatu perbuatan. b. Jenis-jenis hak yang demikian adalah hak milik. hak pengelolaan. hak kepemilikan perseorangan atas tanah dari semula telah dibatasi dengan mendeklarasikan bahwa semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. dan hak -hak lain yang sifatnya sementara. hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan. tetapi hanya sekedar bukti hak atas tanah. yaitu yang menjadi pemegang kewajiban. Ciri-ciri yang melekat pada hak menurut hukum. mengandung unsur-unsur sebagai berikut : a. Hal tersebut antara lain dapat dijelaskan dengan dilarangnya hak milik atas tanah diperoleh oleh warga negara asing secara abadi. pemanfaatan dan pengalih fungsian tanah. hak memungut hasil hutan. Selain itu. e.

termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. seyogianya harus dianggap sebagai inkonstitusional yang bertentangan dengan jaminan perlindungan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa hanya negara melalui Pemerintahlah yang dapat memaksakan pencabutan hak atas tanah. Pemaksaan atau upaya yang dilakukan oleh pihak diluar Pemerintah. mengenal dua cara untuk pencabutan hak atas tanah. hak -hak atas tanah dapat dicabut. Cara biasa diajukan oleh pihak yang berkepentingan secara berjenjang kepada Pemerintah. yaitu cara yang biasa dan cara untuk keadaan mendesak. dan spritual tertentu. ukuran utama ganti rugi atau kompensasi yang diberikan oleh Pemerintah adalah bahwa seyogianya mereka tidak menjadi lebih miskin dan tidak dapat lagi berusaha setelah tanahnya dibebaskan. Masalah ganti rugi yang sering menjadi persoalan semestinya tidak semata-mata direduksi hanya untuk penggantian berdasarkan nilai jual objek pajak setempat. tetapi hendaknya mempertimbangkan dampak ikutan dari terserabutnya hak atas tanah tersebut. masalah pencabutan hak atas tanah. Pencabutan hak atas tanah oleh Negara Pada pasal 18 UUPA dinyatakan bahwa untuk kepentingan umum. Bab III .2. Karena itulah. Unsur-unsur yang harus dipenuhi menurut pasal 18 UUPA adalah : a.P Parlindungan[15]. bahwa yang boleh mencabut hak adalah pihak yang memberikan hak tersebut sebelumnya. Berdasarkan logika hukum. Undang-Undang nomor 20 tahun 1961 tentang Undang-undang tentang Pencabutan Hak-hak atas Tanah dan Benda benda yang Ada di Atasnya. dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan undang-undang. tetapi hubungan tanah dengan pemiliknya mengandung nilai-nilai budaya. adat. ekonomis. Dasar atau alasan atau reason de¶tree untuk pencabutan hak atas tanah adalah adanya : 1) 2) 3) b. Manusia mempunyai hubungan emosional dan spritual dengan tanah. baik dalam bentuk pembebasan tanah untuk kepentingan pembangunan atau kepentingan lainnya harus selalu mempertimbangkan suasana psikologis dari masyarakat atau perorangan yang haknya dicabut. Kepentingan umum Kepentingan bangsa dan negara Kepentingan bersama dari rakyat Mekanisme atau cara mencabut hak atas tanah harus dengan : 1) 2) Ganti kerugian yang layak Menurut cara yang diatur dengan undang-undang UUPA tidak menjelaskan siapa atau lembaga mana yang dapat menguji dan menetapkan terpenuhinya unsur-unsur pada pasal 18 untuk dapat dicabut hak atas tanah. Menurut A. Tanah tidak dapat semata-mata dipandang hanya sebagai komoditas belaka. sedangkan cara yang tidak biasa inisiatifnya dapat datang dari Pemerintah[14].

Demikian juga untuk bangunan dan objek lain yang melekat di atasnya. waduk bendungan atau pelabuhan udara misalnya tetap saja memperhitungkan manfaat makro yang akan diterima oleh Pemerintah sebagai hasil dari pembangunan tersebut. Salah satu prinsip dasar yang universal dalam pengambilalihan tanah oleh negara adalah bahwa ³ no private property shall be taken for public use without just and fair compensation´. transfer (BOT). Pembebasan kawasan tersebut semula dimaksudkan adalah untuk kompleks olah raga yang megah dan representatif di Asia sebagai wujud kebanggaan bangsa dalam mengangkat harkat dan semangat bangsa Indonesia yang baru merdeka dan dalam semangat nation building. yang merupakan kepentingan bangsa. Bahwa pada akhirnya ada unsur komersial dalam perhitungan Pemerintah untuk pembebasan tanah. sementara masyarakat rela untuk direlokasi dari kawasan tersebut. serta diberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berimbang mengenai hal tersebut. negara dan masyarakat secara umum. seringkali bahwa kerjasama kemitraan dengan swasta adalah salah satu upaya untuk dapat melaksanakan dan melanjutkan tugas-tugas pembangunannya. Kerja sama tersebut dapat berupa kerja sama operasi. Dengan kata lain. Kepentingan pembangunan harus disesuaikan dan diharomonisasikan dengan konsep penataan wilayah peruntukan. Persoalan ganti rugi Ganti rugi adalah soal yang pelik untuk dipecahkan. build. sebagai swasta hanya proyek yang prospektif dan profitabell h yang a mereka tertarik untuk bekerja sama. own. Pembebasan Tanah oleh Negara untuk Kepentingan Pembangunan Kepentingan pembangunan adalah legitimasi yang paling kuat bagi Pemerintah untuk mengambil alih tanah-tanah perorangan dengan mencabut hak-hak yang sebelumnya melekat pada tanah tersebut. Kepentingan umum tidak bermotif komersial. Di sisi lain. tersirat makna bahwa kepentingan umum adalah perwujudan dari tugas negara untuk mensejahterakan dan memajukan kepentingan rakyat. dalam perkembangan lebih lanjut dapat melenceng dari tujuan semula. sementara tujuan peruntukan semula tinggal hanya asesories belaka. Pemerintah di tengah keterbatasan dana. dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. 2) Adanya peralih fungsian dari tujuan semula pembebasan tanah Pembebasan tanah yang semula untuk kepentingan umum. sehingga dalam proses perolehan tanah tersebut hendaknya dapat memperhatikan prinsip-prinsip keadilan sehingga tidak merugikan pemilik asal[16] Persoalan yang sering dikonotasikan sebagai ketidak adilan dalam pembebasan tanah untuk kepentingan pembangunan antara lain adalah : 1) Adanya kerja sama antara Pemerintah dengan pihak swasta dalam pembebasan tanah. sebab tidak dapat dipungkiri dalam logika berusaha. ketika rezim penguasa berganti. Pembebasan tanah untuk kepentingan jalan tol. Dari sudut formal kepentingan Pemerintah ganti rugi lebih banyak diartikan ganti rugi material dengan mengambil patokan berdasarkan harga pasar atau harga yang ditetapkan tersendiri oleh Pemerintah. Pembebasan kompleks olah raga Senayan di ibu kota Republik Indonesia. kawas tersebut telah lebih an didominasi oleh sektor swasta. dan tata ruang. Jakarta misalnya adalah sebuah contoh aktual. Dalam perkembangan lanjutannya. maupun prioritas dan strategi pembangunan. seperti nilai jual objek pajak (NJOP) misalnya. Namun motivasi utama dalam pembebasan tanah yang muaranya adalah pencabutan hak atas tanah adalah tugas -tugas dan kewajiban Pemerintah untuk melaksanakan mandat kepemerintahanannya dalam mengabdi kepada kepentingan publik. Kerja sama pemanfaatan dalam bentuk otorita dan lain-lain. Kepentingan pembangunan dapat dikualifikasikan sebagai kepentingan umum. seperti 3) .Keseimbangan hukum antara penguasaan negara dengan perlindungan terhadap hak milik individu dalam penyelenggaraan hak atas tanah A. banjir kanal. unsur tersebut sifatnya adalah pelengkap dan merupakan ikutan dari tujuan atau motif utama untuk kepentingan umum. Pemilik asal dapat merasa bahwa kepentingannya dikorbankan untuk kepentingan pihak swasta.

Ruang lingkup kepentingan umum Undang-undang nomor 21 tahun 1961 pada pasal 1 menyatakan sebagai berikut : Untuk kepentingan umum. ganti rugi tidak sesederhana itu. maka. Perubahan penggunaan dari tujuan semula pengambil alihan tanah Undang-undang tidak memberikan pengaturan maupun penjelasan atas pembebasan tanah yang semula dimaksudkan untuk tujuan pembangunan dalam konteks kepentingan umum. keamanan dan faktor stress karena penyesuaian ke lokasi yang baru. telah mencoba melakukan perbaikan antara lain dengan : 1) 2) Membatasi pengertian dan ruang lingkup pembangunan untuk kepentingan umum Memberi batasan yang jelas yang membedakan pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangungan untuk kepentingan umum. Dalam Peraturan Presiden nomor 65 tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. maka Presiden dalam keadaan yang memaksa setelah mendengar Menteri Agraria. Pemerintah telah punya rumusan dan tabel-tabel untuk mengkonversi nilai pasarnya. mengadakan pula pencabutan hak guna pelaksanaan usaha-usaha swasta. maka yang dapat dijadikan rujukan hanyalah ketentuan-ketentuan umum hukum perdata. pelabuhan. perumahan dan kesehatan rakyat serta lain-lain usaha dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional semesta berencana. Pemerintah Republik Indonesia. Jika untuk menyelesaikan sesuatu soal pemakaian tanah tanpa hak oleh rakyat Pemerintah memandang perlu untuk menguasai sebagian tanah kepunyaan pemiliknya. sebagai perkecualian. Pada hal sesungguhnya. C. Komfortabilitas dengan lingkungan. kedekatan dengan prasarana ekonomi atau lokasi pekerjaan. tingkat polusi. sedemikian pula kepentingan pembangunan. termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. ketentuan-ketentuan Rancangan Undang-undang ini tidak menutup kemungkinan untuk. Contoh dari pada kepentingan umum itu misalnya pembuatan jalan raya. B. jika pemilik itu tidak bersedia menyerahkan tanah yang bersangkutan atas dasar musyawarah. Produk perundang-undangan yang demikian terkesan lebih mengutamakan kepentingan negara dan pemodal atau sektor swasta dibandingkan dengan perlindungan kepada pemilik tanah asal. seperti pasal 1338 KUHPerdata yang mengatur . yang tidak dapat semata-mata diukur dalam nilai penggantian atas tanah dan bangunan yang melekat di atasnya. asal usaha itu benar-benar untuk kepentingan umum dan tidak mungkin diperoleh tanah yang diperlukan melalui persetujuan dengan yang empunya. yang kemudian dialihkan dan beralih tujuannya. soal tersebut dapat pula dianggap sebagai suatu kepentingan umum untuk mana dapat dilakukan pencabutan hak. dengan pengadaan tanah selain bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. seiring dengan tuntutan zaman yang lebih mengedepankan penghormatan kepada hak-hak individual dan persuasi dalam pembebasan tanah.tanaman tumbuh. bangunan untuk industri dan pertamabangan. Menteri Kehakiman dan Menteri yang bersangkutan dapat mencabut hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. adalah persoalan persoalan besar. Dalam penjelasan umum dinyatakan bahwa biarpun demikian. Sudah barang tentu usaha swasta tersebut rencananya harus disetujui Pemerintah dan sesuai dengan pola pembangunan nasional semesta berencana. Dalam konteks demikian. Kompensasi bagi ex pemilik hak atas tanah. telah mencoba memperbaiki aturan-aturan untuk pembebasan tanah dalam rangka kepentingan pembangunan dengan memberi batasan yang lebih jelas mengenai ruang lingkup kepentingan umum maupun tata cara dan prosedur untuk pembebasan tanahnya.

Menurut Herlien Budiono[17]. kepercayaan dan pernyataan. di dalam hukum perjanjian adalah penting untuk memegang asas keseimbangan antara kehendak. b. maka perjanjian tersebut dianggap telah berakhir sehingga sangat muskil untuk menggunakan pasal-pasal di atas sebagai dasar untuk mengajukan gugatan ganti rugi. Sedangkan peralihan atau pencabutan hak atas tanah dianggap telah tuntas apabila para pihak telah sepakat dengan penyelesaiannya misalnya dengan ganti rugi. diharuskan oleh kepatutan. tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian. Tanggungjawab publik Negara tersebut tercermin dalam : a. pengaturan hubungan hukum antara orang dengan bagian-bagian tanah. dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. kebiasaan atau undang-undang. dalam pengertian pemenuhan prestasi dan kontra prestasi telah dilaksanakan. patut disadari bahwa penggunaan pasalpasal tersebut berlaku sangat umum. pemberian tanah pengganti dan lain-lain. dan pengaturan hubungan hukum antara orang dan perbuatan hukum . Asas lainnya yang dapat dimajukan adalah ketentuan pada pasal 1339 KUHPerdata yang menyatakan bahwa suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya.tentang asas itikad baik dimana dinyatakan bahwa suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Bab IV Simpulan Berdasarkan pemaparan pada bab-bab sebelumnya. Tentu saja apabila suatu perjanjian telah ditunaikan. Penguasaan tanah oleh Negara adalah pencerminan dari tanggung jawab publik Negara. Pengaturan tata guna tanah dalam konsep penataan wilayah dan tata ruang Kewenangan Negara untuk pengaturan peruntukan. Namun.

PT Citra Aditya Bakti. apabila peruntukan tanah dimaksud tidak seperti pada maksud awalnya. CV Mandar Maju. 2006 Mochtar Kusumaatmadja. Jakarta 2005 Aslan Noor.Parlindungan.1. b. alih bahasa Oetarid Sadino. Jakarta.P. Implementasi Prinsip Kepentingan Umum dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan . . St. . Citra Aditiya Bakti. Bandung. L J. yang peruntukan akhirnya tidak sesuai dengan maksud awal pengambil alihan tersebut pada dasarnya tidak tersedia. Minn. Paul.Bandung. Sinar Grafika. 2007 A. CV Mandar Maju. Purba Jakarta. Universitas Trisakti. USA. PT. Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional . 1979 Boedi Harsono. Bandung 1996 Herlien Budiono. Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia. 2007 Djuhaendah Hasan. 1994 Apeldoorn. Tidak ada sanksi yang diatur oleh Undang-undang bagi pihak yang membebaskan tanah apabila pada akhirnya penggunaan tanah tersebut berbeda dari tujuan semula Tidak ada kompensasi khusus. Jakarta. Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia. Bunga Rampai Hukum Agraria serta Landreform. Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan. Maret 2008 Daftar Pustaka Adrian Sutedi. Pradnya Paramita. atau saluran perundang-undangan yang secara langsung tersedia bagi masyarakat yang merasa hak-haknya dirugikan dengan penerimaan ganti rugi atau tanah pengganti. fifth ed. Perlindungan hukum terhadap masyarakat yang tanahnya diambil alih oleh negara. Sampe L. Pengantar Ilmu Hukum.. 2006 Black s Law Dictionary. Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan benda Lain yang melekat pada tanah dalam Konsepsi Penerapan asas Pemisahan Horisontal. Bandung. Hal tersebut tercermin dalam : a.

Bandung. 1999. Bandung. loc. Alumni. 2007 . PT. Bandung. op. Ilmu Hukum. PT. Jakarta. alih bahasa Oetarid Sadino. D ooge. Research & Education Association. hal. 411 . Soeroso. Bandung. Bandung 1996. PT. PT Citra Aditya Bakti. 1979 hal. 227 [17] Herlien Budiono.P. 2006 Satjipto Rahardjo. 46-47 [11] ST. Implementasi Prinsip Kepentingan Umum dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan. hal. 2007. 2006.386 [8] Black s Law Dictionary. Universitas Trisakti. Sinar Grafika. 228 [5] Yudha Bhakti Ardhiwisastra. Sinar Grafika. Remy Sjahdeini. Bandung.Bandung. Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan. USA. Alumnni. hal. Imunitas Kedaulatan Negara di Forum Pengadil an Asing. PT. 296 [3] Yudha Bhakti Ardhiwisastra. 22 [6] Mochtar Kusumaatmadja. 51 [12] R. 61 [9] Djuhaendah Hasan. Soeroso. . Jakarta. 2006. 1999 Supriadi. Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional. 55 [14] Supriadi. Citra Aditiya Bakti. Citra Aditya Bakti. Ilmu Hukum. Alumni. PT. Paul. Citra Aditya Bakti. Jakarta. Konsepsi Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia. 2006. 2006. 2007. hal. Hukum Agraria. Bunga Rampai Hukum Agraria serta Landreform. Pradnya Paramita. hal. Benjamin L.PT. New Jersey. Remy Sjahdeini. CV Mandar Maju..Parlindungan. hal. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung. Imunitas Kedaulatan Negara di Forum Pengadilan Asing. PT. Alumni. Minn. Jakarta. Hukum Agraria. Alumnni. hal. Hak Tanggungan. hal. Bandung. CV Mandar Maju. 2006 R. Sinar Grafika. Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia. Pengantar Ilmu Hukum. 92 [16] Adrian Sutedi. hal. Sinar Grafika.J van Apeldoorn. Bandung. 2007 Yudha Bhakti Ardhiwisastra. hal. Sinar Grafika. Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan benda Lain yang melekat pada tanah dalam konsepsi penerapan asas pemisahan horisontal.cit. 1999. 2000 ST. Jakarta 2005. 2006 pg. Soeroso. PT. USA.cit [13] Satjipto Rahardjo. 85 [2] L. Pengantar Ilmu Hukum. Hak Tanggungan.hal. PT. Jakarta. fifth ed. St.9 [7] Cf. Bandung. 46 [4] R. Bandung. hal. hal. 1994. 70 [15] A. Latin Super review. Jakarta. hal. 105 [10] Boedi Harsono. Alumni. 1999 [1] Aslan Noor. 2000.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->