P. 1
PERTOLONGAN PERTAMA

PERTOLONGAN PERTAMA

|Views: 734|Likes:
Published by Deden Hardian

More info:

Published by: Deden Hardian on Nov 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

PERTOLONGAN PERTAMA

Pengertian Pertolongan Pertama : Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera / kecelakaan yang memerlukan pertolongan medis dasar. Pengertian Medis Dasar : Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam yang terlatih secara khusus. Batasannya adalah sesuai dengan sertifikat yang dimiliki oleh pelaku Pertolongan Pertama. Pelaku Pertolongan Pertama : Pelaku Pertolongan Pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian, yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar. Tujuan Pertolongan Pertama : a. Menyelamatkan jiwa penderita b. Mencegah cacat c. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan. Dasar Hukum Di Indonesia dasar hukum mengenai pertolongan pertama dan pelakunya belum tersusun dengan baik seperti halnya di Negara maju. Walau demikian dalam KUHP ada beberapa pasal yang mencakup aspek dalam Pertolongan Pertama. Pelanggaran tentang orang yang perlu ditolong diatur dalam pasal 531 K U H Pidana yang berbunyi : “Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang di dalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp.4.500,-.jika orang yang perlu ditolong itu mati, diancam dengan : K U H P 45, 165, 187, 304 s, 478, 525, 566” pasal ini berlaku, bila pelaku pertolongan pertama dapat melakukan tanpa membahayakan keselamatan dirinya, dan orang lain. Penjelasan : ♦ Dalam keadaan bahaya maut = bahaya maut yang ada seketika itu, misalnya orang berada dalam rumah terbakar, tenggelam di air, seorang akan membunuh diri, dan sebagainya. ♦ Memberikan pertolongan = menolong sendiri ♦ Mengadakan pertolongan = misalnya memintakan pertolongan polisi atau dokter. ♦ Pasal ini hanya dapat dikenakan, apabila dengan memberi pertolongan itu tidak dikuatirkan, bahwa orang itu sendiri, dibahayakan atau orang lain dapat kena bahaya dan orang yang perlu ditolong itu mati. Dalam tatanan dunia medis pelaku Pertolongan Pertama merupakan bagian dari penyelenggaraan jasa medis sehingga juga harus menjaga kerahasiaan penderita yang ditolongnya. Hal ini juga diatur dalam Pasal 322 K U H Pidana menegaskan : 1. Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik yang sekarang, maupun yang dahulu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya sembilan ribu rupiah. 2. Jika kejahatan itu dilakukan yang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. Dalam undang-undang ini tidak disebutkan pihak atau pejabat yang seharusnya menyimpan rahasia, hanya ancaman kepada pihak yang seharusnya menyimpan rahasia. Jadi seorang pelaku Pertolongan Pertama yang terlibat dalam pemeriksaan pasien yang ditolongnya, harus bisa menyimpan rahasia pasien akibat pekerjaan yang dilakukannya. Persetujuan tindakan pertolongan Dua bentuk persetujuan a. Persetujuan yang dianggap diberikan, tersirat (Implied consent). b. Persetujuan yang dinyatakan (Expressed consent). Persetujuan yang dianggap diberikan adalah, persetujuan yang umumnya diberikan dalam keadaan penderita sadar (normal) yaitu penderita memberikan isyarat yang mengizinkan tindakan pertolongan dilakukan atas dirinya, dan dalam keadaan gawat darurat (emergency) yaitu penderita dalam keadaan tidak sadar dan tidak didampingi keluarga terdekat dan secara medik dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan medik segera. Persetujuan yang dinyatakan adalah persetujuan yang dinyatakan secara lisan (oral) atau secara tertulis oleh penderita (tertulis). Penyelenggaraan Pertolongan Pertama PMI dapat menyelenggarakan Pertolongan Pertama, maupun menyelenggarakan pendidikan Pertolongan Pertama. Serta dapat mendirikan pos Pertolongan Pertama adalah berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan R.I. no. 023/Birhub/1972.

Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama : a. b. c. d. e. f. g. h. i. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya. Keselamatan diri dan tim harus jadi prioritas. Dapat menjangkau penderita. Dalam kasus kecelakaan atau musibah, kemungkinan Pelaku harus memindahkan penderita lain untuk menjangkau penderita yang lebih parah. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa. Meminta bantuan / rujukan. Pelaku Pertolongan Pertama harus bertanggung jawab sampai bantuan rujukan mengambil alih penanganan penderita. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban. Membantu pelaku Pertolongan Pertama lainnya. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.

Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama : a. Jujur dan bertanggungjawab b. Berlaku professional c. Kematangan emosi Pada keadaan tertentu kondisi penderita emosional, juga keluarga penderita yang tak dapat menerima kenyataan yang dialami penderita, dalam hal ini pelaku harus dapat menenangkan diri, serta dapat menenangkan penderita dan keluarganya. Juga sabar, tidak panik dan gugup dalam menghadapi penderita. d. Kemampuan bersosialisasi e. Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus penyegaran. f. Kondisi fisik baik g. Mempunyai rasa bangga. Pelaku merasa bangga berpenampilan rapih dan bersih, bekerja dengan rapih, yang dapat meyakinkan penderita. Peralatan Dasar Pelaku Pertolongan Pertama : Dalam melakukan tugasnya pelaku pertolongan pertama memerlukan beberapa peralatan dasar. Peralatan dasar ini dapat dibagi menjadi peralatan perlindungan diri atau yang lebih dikenal dengan Alat Perlindungan Diri (APD) dan peralatan minimal untuk melakukan tugasnya. Alat Perlindungan Diri (APD) : Sebagai pelaku pertolongan pertama seseorang akan mudah terpapar dengan jasad renik maupun cairan tubuh seseorang yang memungkinkan penolong dapat tertular oleh penyakit. Prinsip utama dalam menghadapi darah dan cairan tubuh dari penderita adalah : Darah dan semua cairan tubuh sebagai media penularan penyakit. Beberapa penyakit yang dapat manular diantaranya adalah Hepatitis, TBC, HIV/AIDS. Disamping itu APD juga berfungsi untuk mencegah penolong mengalami luka dalam melakukan tugasnya. Beberapa APD : 1. Sarung tangan lateks. Jangan menggunakan sarung tangan kain saja karena cairan dapat merembes. Bila akan melakukan tindakan lainnya yang memerlukan sarung tangan kerja, maka sebaiknya sarung tangan lateks dipakai terlebih dahulu. 2. Kacamata pelindung Berguna untuk melindungi mata dari percikan darah, maupun mencegah cedera akibat benturan atau kelilipan pada mata saat melakukan pertolongan. 3. Baju pelindung Penggunaannya kurang popular di Indonesia, gunanya adalah untuk mencegah merembesnya cairan penderita melalui baju penolong. 4. Masker penolong Sangat berguna untuk mencegah penularan penyakit melalui udara. 5. Masker Resusitasi Diperlukan bila akan melakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru. 6. Helm Dipakai bila akan bekerja di tempat yang rawan akan jatuhnya benda dari atas. Misalnya dalam bangunan runtuh, dan sebagainya. Catatan : Alat perlindungan diri minimal bagi seorang pelaku Pertolongan pertama adalah sarung tangan dan masker RJP. Beberapa tindakan umum untuk menjaga diri Pemakaian APD tidak sepenuhnya melindungi penolong. Ada beberapa tindakan lain yang juga perlu dilakukan sebagai tindakan pencegahan. 1. mencuci tangan cuci tangan merupakan tindakan yang sederhana namun paling efektif untuk menghentikan rantai penularan penyakit. ∼ Cucilah tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. ∼ Pakailah sabun yang memiliki sifat antiseptic (anti kuman) ∼ Cucilah tangan bersih-bersih sampai ke sikut bila selesai menangani penderita. 2. Membersihkan alat Selain tubuh penolong, alat yang baru dipakai juga harus dibersihkan. Membersihkan alat ini ada beberapa tahapan, yaitu: ∼ Mencuci dengan air : hanya menghilangkan bekas atau noda saja. ∼ Desinfeksi (memakai bahan pembunuh kuman misalnya pemutih). ∼ Sterilisasi (proses khusus untuk menjadi bebas kuman)

Peralatan Pertolongan Pertama a. Penutup luka ≈ Kasa steril ≈ Abantalan kasa b. Pembalut Contoh : ≈ Pembalut gulung/pita ≈ Pembalut segitiga/mitela ≈ Pembalut tubuler/tabung ≈ Pembalut rekat/plester c. Cairan antiseptic Contoh : ≈ Alcohol 70% ≈ Providone iodine 10% d. Cairan pencuci mata e. Peralatan stabilisasi Contoh : ≈ Bidai ≈ Papan spinal panjang ≈ Papan spinal pendek f. Gunting pembalut g. Pinset h. Senter i. Kapas j. Selimut k. Kartu penderita l. Alat tulis m. Oksigen n. Tensimeter dan stetoskop o. Tandu

MI TO A AN AN R D ASA LD AA F

ANATOMI DAN FAAL DASAR

Anatomi (susunan tubuh) Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan bentuk tubuh. Fisiologi (faal tubuh) Ilmu yang mempelajari faal (fungsi) bagian dari alat atau jaringan tubuh. Posisi Anatomis Sebagai referensi maka tubuh manusia harus diproyeksikan menjadi suatu posisi yang dikenal sebagai posisi anatomis yaitu berdiri tegak, kedua lengan disamping tubuh, telapak tangan menghadap ke depan. Kanan dan kiri disesuaikan dengan kanan dan kiri tubuh manusia. Tubuh manusia dikelilingi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Secara garis besar, tubuh manusia dibagi menjadi : 1. Kepala 2. Leher 3. Batang tubuh (dada, perut, punggung, dan panggul) 4. Anggota gerak atas 5. Anggota gerak bawah Rongga tubuh Selain pembagian tubuh maka juga perlu dikenali 5 buah rongga yang terdapat di dalam tubuh yaitu : 1. Rongga tengkorak 2. Rongga tulang belakang 3. Rongga dada 4. Rongga perut 5. Rongga panggul Perut (Abdomen) Khusus untuk rongga perut masih dibagi menjadi empat bagian yang dikenal sebagai kwadran. Pembagian ini dilakukan untuk memudahkan mengenali organ dalam perut. Pembagiannya : a. b. c. d.

Kwadran kanan atas (ada organ hati, kandung empedu, pankreas dan usus). Kwadran kiri atas (ada organ lambung, limpa, dan usus). Kwadran kanan bawah (terutama organ usus termasuk usus buntu). Kwadran kiri bawah (terutama usus).

Struktur tubuh manusia Tubuh manusia terbentuk dari unit hidup yang terkecil sampai menjadi bentuk kompleks. Sel adalah bagian terkecil dari mahluk hidup. Kumpulan dari sel-sel yang menyatu dengan bentuk, besar dan fungsinya yang sama disebut sebagai jaringan. Organ adalah kumpulan bermacam jaringan yang bersatu dengan fungsi tertentu. SISTEM TUBUH Adalah susunan dari organ-organ yang mempunyai fungsi tertentu : 1. Sistem rangka/skeleton (susunan rangka). 2. Sistem otot/muskularis (susunan otot). 3. Sistem respirasi (susunan pernapasan). 4. Sistem sirkulasi darah (Susunan peredaran darah). 5. Sistem saraf/nervus (susunan saraf). 6. Sistem pencernaan/digestif (susunan pencernaan) 7. Sistem endokrin (susunan kelenjar buntu). 8. Sistem kemih/urinarius (susunan perkemihan). 9. Kulit. 10. Sistem indera (panca indera) 11. Sistem reproduksi (susunan reproduksi).

SISTEM RANGKA Klasifikasi tulang Rangka manusia terdiri dari berbagai tulang. Bentuk tulang berbagai macam, yaitu : 1. Tulang panjang atau tulang pipa misalnya pada tulang paha dan lengan atas. 2. Tulang pendek misalnya tulang-tulang jari. 3. Tulang pipih misalnya tulang rusuk. 4. Tulang tak beraturan misalnya tulang-tulang pergelangan tangan. 5. Tulang sesamoid, misalnya tulang tempurung lutut.

Pembagian susunan rangka : 1. Tulang kepala 2. Rangka dada 3. Tulang belakang dan panggul 4. Tulang anggota gerak atas 5. Tulang anggota gerak bawah Susunan Kerangka : 1. Tengkorak otak Gubah/atap tengkorak Dasar tengkorak 2. Tengkorak wajah Bagian Mata Bagian Hidung Bagian Pipi Bagian Rahang Bagian Lidah 3. Rahang bawah 4. Tulang belakang Tulang Leher Tulang Punggung Tulang pinggang Tulang Kelangkang Tulang Tungging 5. Rangka dada Tulang Dada Tulang Iga 6. Tulang panggul Tulang Usus Tulang Kemaluan TulangDuduk 7. Anggota gerak atas Tulang Selangka Tulang Belikat Tulang Lengan Atas Tulang Hasta Tulang Pengumpil Tulang Pergelangan Tangan Tulang Telapak Tangan Tulang Jari Tangan 8. Anggota gerak bawah Tulang Paha Tulang Tempurung Lutut Tulang Kering Tulang Betis Tulang Pergelangan Kaki Tulang Telapak Tangan Tulang Telapak Kaki Tulang Jari Kaki Fungsi Kerangka 1. Menopang bagian tubuh 2. Melindungi Organ tubuh. 3. Tempat melekat otot dan pergerakan tubuh. 4. Memberi bentuk bangunan tubuh. 5. Tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah. SISTEM OTOT Pengertian : Merupakan suatu organ/alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak. Golongan otot : 1. Otot rangka (Otot serat lintang, otot lurik). 2. Otot polos 3. Otot jantung. Otot Rangka Merupakan otot yang bergerak aktif dan memelihara sikap tubuh. Sebagian otot ini melekat pada rangka dan berfungsi untuk menggerakkan bagian rangka. Dalam keadaan istirahat otot tetap mempunyai sedikit ketegangan atau disebut tonus otot. Susunan otot rangka tubuh : 1. Otot-otot kepala 2. Otot-otot leher 3. Otot-otot bahu 4. Otot-otot dada 5. Otot-otot perut

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Otot-otot punggung Otot-otot lengan atas Otot-otot lengan bawah Otot-otot panggul Otot-otot tungkai atas Otot-otot tungkai bawah

Fungsi tonus otot : a. Memelihara sikap dan posisi tubuh. b. Menahan rongga perut oleh otot-otot perut. c. Menahan tekanan darah oleh otot-otot dinding pembuluh darah. Bagian – bagian otot : 1. Kepala otot 2. Empal otot 3. Ekor otot SISTEM PERNAPASAN Pengertian Proses pernapasan sebenarnya terdiri dari 2 jenis pernapasan yaitu pernapasan dalam dan pernapasan luar. Pernapasan dalam adalah pertukaran gas yang terjadi di dalam jaringan sedangkan pernapasan luar adalah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida dalam paru-paru. Susunan : 1. Hidung dan mulut 2. Tekak (Farings) 3. Pangkal tengkorak (larings) 4. Batang tenggorok (trakea) 5. Cabang tenggorok (bronkus) 6. Paru-paru 7. Anak cabang tenggorok (bronkiolus) 8. Gelembung udara paru-paru (alveolus) merupakan unit paru-paru yang terkecil tempat terjadinya pertukaran gas. Fungsi :

1. Mengambil oksigen (O2) untuk diedarkan ke seluruh tubuh sebagai zat pembakar. 2. Mengeluarkan karbon dioksida (CO2) sebagai sisa pembakaran dan akan dibuang melalui paru-paru.
3. Menghangatkan dan melembabkan udara (hidung).

Proses pernapasan : 1. Menarik napas (inspirasi atau inhalasi) 2. Menghembuskan napas (Ekspirasi atau ekshalasi) Proses ini terjadi bergantian yaitu insprasi dan ekspirasi secara teratur, berirama dan terus menerus yang merupakan gerak refleks otot pernapasan. Gerak refleks ini diatur oleh pusat pernapasan di bagian batang otak. Manusia memerlukan olsigen untuk mempertahankan kehidupannya dan bila dalam 4 – 6 menit tidak mendapatkan oksigen akan menimbulkan kerusakan pada otak dan biasanya akan menyebabkan kematian sel otak setelah 8-10 menit. Oksigen yang berkurang dalam jaringan tubuh akan menyebabkan kekacauan fikiran. Bila kadar oksigen darah tidak cukup maka warna merah darah akan berganti kebiru-biruan yang dapat dilihat pada bibir dan bibir bagian dalam, cuping telinga, kuku jari ini disebut sianosis. Cara pernapasan : 1. Pernapasan dada. Ketika bernapas, rangka dada bergerak membesar. 2. Pernapasan perut. Ketika bernapas sekat rongga dada bergerak turun naik dipacu oleh perubahan tekanan dalam perut. SISTEM SIRKULASI DARAH Sistem sirkulasi darah terdiri dari : 1. Jantung 2. Pembuluh darah 3. Darah dan komponennya 4. Saluran limfe Jantung Jantung adalah organ berupa otot dan berbentuk kerucut dengan puncaknya dibawah dan basisnya diatas. Jantung berada dalam rongga dada diantara kedua paru-paru, dan dibelakang tulang dada serta menghadap ke kiri. Jantung bekerja diluar kemauan kita karena dipengaruhi susunan saraf otonom. Pembuluh Darah 1. Pembuluh Nadi (arteri)

Pembuluh darah yang keluar dari jantung, dan membawa darah ke organ dan bagian tubuh. 2. Pembuluh balik (vena) Pembuluh darah yang membawa darah dari bagian atau organ tubuh kembali ke jantung. 3. Pembuluh rambut (kapiler) Merupakan pembuluh darah halus dan berfungsi sebagai : a. alat penghubung arteri dan vena b. tempat pertukaran zat c. menyerap zat nutrisi di usus. Tiga bagian tubuh yang tidak mengandung kapiler yaitu rambut, kuku dan tulang rawan. Saluran Limfe Saluran limfe mengumpulkan, menyaring dan menyalurkan cairan limfe ke dalam darah dari dinding pembuluh kapiler untuk membersihkan jaringan. Fungsi Darah : 1. Alat pengangkut a. mengangkut oksigen/zat pembakar dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. b. Mengangkut CO2 dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru. c. Mengambil zat nutrisi/makanan dari usus halus ke seluruh jaringan tubuh. d. Mengangkat zat tak berguna untuk dikeluarkan dari tubuh melalui kulit dan ginjal. 2. Pertahanan tubuh terhadap penyakit 3. Bagian dari proses pengaturan suhu tubuh. 4. Membantu membekukan darah bila terjadi luka. Jumlah darah dalam tubuh berkisar ± 1/13 x atau sekitar 8% berat badan. Darah terdiri dari : a. Cairan plasma dimana terlarut zat gizi, zat sampah dan zat kebal. b. Sel darah merah (± 5 juta/mm3) yang bertugas menghantar oksigen ke seluruh tubuh. c. Sel darah putih (5000-10000/mm3) yang bertugas melawan kuman penyakit. d. Keping darah (200.000-400.000/mm3) yang bertugas menyebabkan pembekuan darah apabila terjadi luka. Faktor yang mempengaruhi peredaran darah : 1. Isi dan komponen darah. 2. Tekanan dalam pembuluh darah. 3. Kondisi jantung dan pembuluh darah. Peredaran darah terdiri dari : 1. Peredaran darah kecil dengan bagan sebagai berikut : Jantung – Pembuluh nadi – Paru-paru (terjadi pengambilan oksigen dan pembuangan gas karbondioksida) – pembuluh darah balik – paru-paru – jantung. 2. Peredaran darah besar dengan bagan sebagai berikut. : Jantung – pembuluh nadi – seluruh bagian tubuh (terjadi pemberian oksigen serta pengambilan zat sampah) – pembuluh balik – jantung. Denyut Nadi Setiap jantung berdenyut / memompa darah, maka denyutan ini akan diteruskan melalui pembuluh nadi. Denyut nadi ini dapat diraba pada : 1. Pembuluh nadi yang letaknya dekat permukaan tubuh. 2. Pembuluh nadi yang letaknya diatas dasar yang keras/tulang. Misalnya pada pergelangan tangan, leher, dan lainnya.

SISTEM SARAF

Pengertian Sistem yang berfungsi mengatur seluruh tubuh dengan melakukan koordinasi dan kerjasama antar sistem dalam tubuh. Pembagian sistem saraf : 1. Susunan saraf pusat a. Otak Otak besar Otak kecil Batang otak b. Bumbung saraf tulang belakang 2. Susunan saraf tepi a. susunan araf somatik b. susunan saraf otonom Fungsi : a. Sensorik : Dilakukan oleh organ pancaindera b. Motorik Mengatur tubuh bergerak c. Koordinasi (gabungan) : mengendalikan sistem lain tubuh. Mengatur kesadaran, ingatan, bahasa dan emosi. Otak dan bumbung saraf tulang belakang dilindungi oleh pembungkus yang disebut maningea. Otak terletak dalam rongga tengkorak langsung diatas dasar tengkorak. Otak dilindungi oleh selaput otak yang berisi cairan yang ikut membantu mengatasi benturan pada kepala. Bumbung saraf tulang belakang merupakan perpanjangan dari otak dan terletak dalam saluran yang terbentuk oleh rongga tulang belakang. Alat ini adalah kumpulan serabut saraf dan jaringan sel saraf. Serabut saraf merupakan serabut yang terpencar dari otak dan bumbung saraf tulang belakang serta berjalan ke seluruh tempat di badan.

SISTEM PENCERNAAN Pengertian Saluran pencernaan adalah saluran yang menerima makanan dari luar untuk diserap oleh tubuh dengan jalan dicerna (proses telan, kunyah dan mencampur). Dengan bantuan enzim dan zat cair mulai dari mulut sampai anus. Susunan : 1. Mulut 2. Tekak (farings) 3. Kerongkongan 4. Lambung 5. Usus halus Usus 12 jari Jejunum Ileum 6. Usus besar Seikum Usus buntu Kolon asendens Kolon transversum Kolon desendens Kolon sigmoid Poros usus Anus Organ getah pencernaan : a. Kelenjar ludah b. Kelenjar getah lambung c. Kelenjar hati d. Kelenjar pancreas (kelenjar ludah perut) e. Kelenjar getah usus Fungsi : Alat pencernaan harus mengolah makanan menjadi zat gizi yang kemudian dapat diserap kedalam darah. Zat gizi tersebut adalah : zat putih telur, zat lemak, zat hidrat arang, garam, vitamin, dan air. Apabila zat tersebut dibakar dengan oksigen, maka timbul tenaga (perlu untuk hidup dan pergerakan tubuh), panas (untuk suhu tubuh) dan sampah yang perlu dibuang dengan proses pembuangan.

Setiap bagian dari susunan pencernaan mempunyai fungsi masing-masing untuk membantu proses pencernaan.

SISTEM ENDOKRIN Pengertian Kelenjar buntu atau kelenjar endokrin adalah kelanjar yang mengirimkan hasil sekresinya kedalam darah tanpa melalui suatu saluran. Hasil sekresi ini disebut hormon. Beberapa organ endokrin menghasilkan hormon tunggal atau lebih dari satu macam. Organ – organ endokrin (kelenjar buntu) antara lain : a. Kelenjar hipofise b. Kelenjar tiroid atau paratiroid c. Kelenjar suprarenal d. Kelenjar timus e. Kelenjar pinealis (epifise) f. Kelenjar pankreatika (ludah perut) g. Kelenjar kelamin Fungsi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menghasilkan hormon untuk jaringan tubuh. Mengendalikan kerja kelenjar tubuh. Merangsang kerja kelenjar tubuh. Merangsang pertumbuhan jaringan. Mengatur metabolisme, oksidasi, dan meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus. Mempengaruhi metabolisme lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan air.

SISTEM KEMIH (Urinarius) Pengertian Proses penyaringan darah untuk menyerap zat yang digunakan tubuh dan membebaskan dari zat yang tidak digunakan tubuh. Susunan : 1. Ginjal 2. Ureter 3. Kandung kemih 4. Uretra Ginjal mengeluarkan sekret kemih, kemudian disalurkan ke kandung kemih oleh ureter untuk ditampung dan dari kandung kemih dikeluarkan melalui uretra. Ginjal melekat langsung pada dinding belakang perut setinggi ruas tulang pinggang ke tiga, di kiri dan kanan tulang belakang. Fungsi ginjal : 1. 2. 3. 4. 5. KULIT Pengertian : Lapisan jaringan pada bagian luar yang menutupi dan melindungi permukaan tubuh, dan yang berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga-rongga lubang masuk. Kulit merupakan muara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa dan juga berfungsi sebagai alat indera. Susunan : 1. 2. 3. Fungsi : 1. 2. 3. 4. 5. Mencegah cedera mekanik, kimia dan termal. Perlindungan terhadap mikro organisme Mempertahankan suhu tubuh Mengatur keseimbangan cairan Alat indera : raba, tekanan, suhu dan nyeri. Lapisan kulit ari Lapisan kulit jangat Lapisan bawah kulit Mengeluarkan zat racun Mengatur keseimbangan cairan Mengatur konsentrasi garam darah Mengatur konsentrasi asam basa darah Mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir amoniak, kreatinin.

Selaput lendir Bagian yang menutupi atau melapisi rongga-rongga, lubang-lubang masuk seperti hidung, mulut, pelepasan, dll.selaput lendir tampak merah muda dan sangat peka terhadap rangsangan.

PANCA INDERA
Pengertian Adalah organ untuk menerima jenis rangsangan (stimulus) tertentu. Indera Penglihatan (Mata) Susunan 1. Alat Bantu mata 2. Bola mata Fungsi : Sebagai indera penglihatan yang menerima rangsangan berkas cahaya pada retina melalui serabut saraf optikus ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan. Indera Pendengaran (Telinga) Susunan 1. Telinga bagian luar 2. Telinga bagian tengah 3. Telinga bagian dalam Fungsi : Sebagai proses pendengaran, dan keseimbangan (gerak refleks kesadaran kedudukan kepala terhadap badan, guna memindahkan berat badan mempertahankan keseimbangan). Indera Penciuman (Hidung) Alat penciuman yang terdapat di rongga hidung, keluar dari ujung saraf otak yaitu saraf olfaktorius. Serabut saraf ini muncul di bagian atas selaput lendir yang dikenal sebagai olfaktori. Bau yang masuk rongga hidung akan merangsang saraf olfaktorius, rangsang bau ini diteruskan ke pusat penciuman di otak untuk ditafsirkan. Rangsang penciuman dirangsang oleh gas yang terhirup ataupun unsur-unsur halus. Susunan Saraf olfaktorius Bulbus olfaktorius Fungsi Proses penciuman Kelainan pada penciuman Penciuman akan lemah bila selaput lender hidung sangat kering, sangat basah atau bengkak (misal : flu). Rasa penciuman mungkin hilang pada cedera kepala. Indera Pengecap (Lidah) Lidah sebagai indera pengecap, terletak pada dasar mulut dilapisi selaput lendir dan bergerak ke segala arah. Selaput lendir dan tekak mengandung putting-putting pengecap. Susunan 1. Pangkal lidah 2. Punggung lidah 3. Ujung lidah Fungsi 1. merasakan arti makanan. 2. Alat refleks, dengan adanya rasa asam, pahit, asin, manis, dsb untuk merangsang getah cerna keluar. Macam-macam pengecapan Rasa pahit pada pangkal lidah Rasa manis pada ujung lidah Rasa asin pada ujung, samping kiri dan kanan lidah. Rasa asam pada samping kiri dan kanan lidah. SISTEM REPRODUKSI Organ reproduksi membentuk traktus genitalia yang berhubungan dengan traktus urinarius. Pada laki-laki kedua traktus ini berhubungan langsung sedangkan pada perempuan tidak menyatu. Organ reproduksi sebagian besar terletak di luar rongga panggul, pada perempuan terletak pada rongga panggul. Susunan pada laki-laki : Alat genitalia laki-laki terbagi atas : 1. Kelenjar Testis Vesika seminalis Prostate Bulbouretralis

Rongga mata Alis mata Kelopak mata Air mata Otot mata

2.

3.

Kelenjar duktuli Epididimis Duktus seminalis Uretra Bangun penyambung Skotrum Funikulus spermatikus Penis

Susunan pada perempuan : Alat kelamin perempuan dibagi : 1. Alat genitalia luar Tundun (mons veneris) Bibir besar (labia mayora) Bibir kecil (labia minor) Klentit (klitoris) Selaput dara (himen) Kerampang (perineum) 2. Alat genitalia dalam Liang kemaluan (vagina) Rahim (Uterus) Ovarium Fungsi Organ pengembangbiakkan (reproduksi) Testis menghasilkan sel kelamin laki-laki yaitu sperma Ovari menghasilkan sel kelamin perempuan yaitu ovum (sel telur) Organ-organ ini menghasilkan juga hormone membentuk sifat laki-laki dan sifat perempuan.

PENILAIAN
Penolong tidak dapat melakukan pertolongan dengan baik sampai masalah yang dialami penderita baik berupa suatu ruda paksa (trauma) atau penyakit (medis) sudah ditemukan dan dimengerti. Pelaku pertolongan pertama harus menilai penderita dan keadaannya sedemikian rupa hingga dapat melakukan penatalaksanaan penderita dengan baik. Pemeriksaan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian yang tertinggal. Langkah-langkah penilaian adalah sebagai berikut : 1. Penilaian keadaan 2. Penilaian dini 3. Pemeriksaan fisik 4. Riwayat penderita 5. Pemeriksaan berkala atau lanjut 6. Pelaporan PENILAIAN KEADAAN Pada saat penolong mencapai tempat kejadian, sebelum melakukan sesuatu hendaknya dilakukan penilaian keadaan terlebih dulu. Penilaian keadaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum tentang kejadian yang sedang dihadapi, faktor-faktor yang akan mendukung atau menghambat Pertolongan Pertama. Selain itu juga perlu dinilai bahaya lain yang mungkin akan terjadi baik pada penderita atau pada penolong. Pada tahap ini penolong melakukan langkah-langkah pengamanan baik untuk lokasi, untuk korban dan bagi dirinya sendiri, termasuk melakukan dukungan yang diperlukan bila memungkinkan. 1. Bagaimana kondisi saat itu ? Apa yang sedang dihadapi, berapa jumlah korban, bagaimana mekanisme kecelakannya, amankah lingkungannya, bagaimana rencana pertolongannya, apa saja yang bisa dimanfaatkan ?. 2. Kemungkinan apa saja yang akan terjadi ? Bahaya apa yang mungkin terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung bagi penolong, penderita dan orangorang yang ada di sekitar kejadian. Bahaya ini dapat timbul sebagai kelanjutan dari peristiwa tersebut atau suatu kejadian yang sama sekali baru. Beberapa keadaan berbahaya yang mungkin terjadi di tempat kejadian, misalnya kamungkinan ledakan, hubungan pendek arus listrik, tanah longsor, perkelahian, kebakaran, dan lain-lain. 3. Bagaimana mengatasinya ? Pada tahap ini penolong melakukan langkah-langkah untuk mengamankan keadaan atau ancaman bahaya dan menentukan tindakan pengamanan bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (Safety Plan). Penolong juga harus menentukan dukungan apa yang diperlukan, termasuk cara-cara mengatasi keadaan secara sederhana dan cepat, sehingga bantuan pertolongan yang datang tidak akan mengalami kesulitan, misalnya dengan memberikan data yang cukup akurat pada saat meminta pertolongan, memberikan rambu-rambu pada tempat kejadian, dan lain-lain. Di Lokasi Pada saat tiba di lokasi kejadian, penolong harus : 1. Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian. 2. Penolong harus memperkenalkan diri. Bila memungkinkan : ♦ Nama penolong ♦ Nama organisasi ♦ Permintaan izin untuk menolong dari penderita/orang 3. Menentukan keadaan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini dari penderita.

4. 5. 6.

Mengenali dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam nyawa. Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan. Minta bantuan.

Adapun sumber informasi langsung didapat dari : • Kejadian itu sendiri • Penderita (bila sadar) • Keluarga atau saksi • Mekanisme kejadian • Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang jelas • Gejala atau tanda yang khas suatu cedera atau penyakit

INGAT : AMANKAN DIRI SENDIRI TERLEBIH DAHULU !!!

PENILAIAN DINI Ini merupakan tahap penting dari proses penilaian. Pada tahap ini penolong harus mengenali dan mengatasi keadaan yang dapat mengancam nyawa penderita dengan cara yang tepat, cepat, dan sederhana. Bila dalam pemeriksaan ditemukan adanya masalah, khususnya pada system pernafasan dan system sirkulasi maka penolong langsung melakukan tindakan bantuan hidup dasar dan resusitasi. Langkah-langkah penilaian dini : a. Kesan umum Tentukan terlebih dahulu penderita adalah kasus trauma atau kasus medis. Kasus trauma : adalah kasus yang biasanya disebabkan oleh suatu ruda paksa yang mempunyai tanda-tanda yang jelas terlihat dan atau teraba, misalnya kasus perdarahan, patah tulang, penurunan kesadaran. Kasus medis : adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa. Pada kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari riwayat gangguannya. Penolong harus berusaha meminta penderita atau keluarga/saksi mata untuk menjelaskan keadaannya dengan baik dan rici. Misalnya sesak nafas, sesak dada. Kesan umum ini mulai dibentuk pada saat kita mendekati penderita sehingga kita memperoleh gambaran ringkas dan cepat mengenai berat ringannya kasus yang sedang kita hadapi. Namun perlu diingat bahwa kesan umum bukan merupakan kesimpulan akhir keadaan penderita. Kesimpulan akhir baru dapat ditentukan setelah seluruh tahapan penilaian dan pemeriksaan penderita telah dilakukan. b. Memeriksa respon Respon yang diberikan penderita merupakan gambaran sederhana dan cepat mengenai berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak. Untuk menentukan tingkat respon seorang penderita berdasarkan rangsangan yang diberikan penolong. Dikenal ada 4 tingkatan, yaitu Awas, Suara, Nyeri, Tidak respon (ASNT). A = Awas Penderita sadar dan mengenali keberadaan, lingkungannya serta waktu. S = Suara Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara. N = Nyeri Penderita hanya bereaksi hanya pada rangsang nyeri yang diberikan oleh penolong, misalnya dicubit, tekanan pada titik tulang dada. T = Tidak respon Penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun yang diberikan oleh penolong. Tidak membuka mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi pada rangsang nyeri. c. Memastikan jalan nafas terbuka dengan baik Keadaan jalan nafas penderita merupakan dasar penatalaksanaan penderita. Pastikan jalan nafas penderita terbuka dan bersih. Cara menentukan jalan nafas tergantung dari keadaan penderita, apakah ada respon atau tidak. 1. Pasien dengan respon baik Perhatikan pada saat penderita menjawab pertanyaan penolong. Adakah gangguan bersuara atau gangguan berbicara ? 2. Pasien yang tidak respon Perlu dilakukan tindakan untuk memastikan jalan nafas terbuka. Bila penderita tidak menderita atau tidak ada kecurigaan cedera spinal, gunakan teknik angkat dagu tekan dahi. Sebaliknya bila ada kecurigaan maka gunakan teknik perasat pendorongan rahang bawah. d. Menilai pernafasan Setelah jalan nafas dipastikan terbuka dengan baik dan bersih maka penolong harus menentukan pernafasannya. Periksa ada tidaknya nafas dengan cara Lihat, Dengar, Rasakan, nilai selama 3-5 detik. Penilaian pernafasan tidak dibatasi hanya pada ada tidaknya nafas tetapi juga pada kualitas dari pernafasannya itu sendiri, apakah nafas penderita cukup

untuk dapat mempertahankan kehidupan. Bila ternyata penderita tidak bernafas maka segera lakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar dan Resusitasi Jantung Paru. e. Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat Pada pemeriksaan ini penolong menilai apakah jantung melakukan tugasnya untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Pastikan denyutan jantung cukup baik dan tidak ada perdarahan yang membahayakan nyawa. Menilai sirkulasi : 1. Penderita respon : Periksalah nadi radial (pergelangan tangan). Pada bayi periksalah pada nadi brakial (bagian dalam lengan atas). 2. Penderita tidak respon : Periksalah nadi karotis (leher) kecuali pada bayi tetap periksa nadi brakial. Ada tidaknya nadi diperiksa dalam waktu 5 – 10 detik. Bila tidak ada nadi segera mulai tindakan Resusitasi Jantung Paru . Jangan terpaku pada cedera yang terlihat. Pastikan dahulu bahwa tidak ada perdarahan yang mengancam nyawa, termasuk perdarahan yang tidak terlihat. Hati – hati pakaian penderita (tebal, warna gelap) dapat mnyembunyikan darah dalam jumlah yang cukup banyak. f. Hubungi bantuan Apabila dirasakan perlu, segera minta bantuan rujukan. Mintalah bantuan orang lain untuk melakukannya atau lakukan sendiri. Pesan yang disampaikan harus singkat, jelas, dan lengkap. Penilaian dini harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancam nyawa haru ditanggulangi sebelum melakukan pemeriksaan fisik. Setelah melakukan penilaian dini maka segera kita melakukan pemeriksaan selanjutnya sesuai dengan kasus yang kita hadapi yaitu suatu kasus trauma atau kasus medis. Penilaian ini dilakukan secara terarah terlebih dahulu baru dilanjutkan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dalam penilaian dini perlu juga dipertimbangkan prioritas transportasi penderita. Apakah harus sesegera mungkin atau dapat “tertunda”. Penilaian terarah akan sangat membantu menentukan hal ini. PEMERIKSAAN FISIK Penilaian terarah Penilaian terarah bertujuan agar penolong dapat melakukan penatalaksanaan yang terbaik sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Hal ini juga penting untuk menunjukkan sikap profesional penolong bahwa penolong segera melakukan tindakan pertolongan secepatnya berorientasikan masalah yang dihadapi. Penilaian terarah ini kita bedakan berdasarkan kasus yang kita hadapi trauma atau medis. Pada kasus trauma penilaian penderita harus lebih dititik beratkan pada hasil pemeriksaan fisik baik yang terarah sesuai keluhan utama penderita atau keterangan saksi, mekanisme kejadian, atau setelah seluruh pemeriksaan fisik menyeluruh selesai dilakukan. Tanda vital diperiksa dan bila memungkinkan baru dilakukan wawancara untuk memperoleh riwayat penderita. Pada umumnya tanda pada kasus trauma jelas terlihat dan teraba, kecuali penderita mengalami cedera di bagian dalam tubuh. Pada keadaan ini mekanisme kejadian dan gejala harus dipelajari dengan teliti. Pada kasus medis pelaku Pertolongan Pertama harus memperoleh riwayat penderita terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang diperlukan serta mencari nilai tanda vital. Ini dilakukan mengingat kasus medis umumnya hanya berupa gejala yang dirasakan penderita saja. Untuk mendapatkan data yang lengkap kita harus dapat membuat penderita/sumber informasi lain menjelaskan gejalanya dengan baik dan jelas (wawancara/Tanya jawab). Kasus Trauma Pada kasus trauma kita harus membedakan penderita berdasarkan mekanisme cedera. Penolong harus menilai apakah mekanisme cederanya signifikan atau tidak. Beberapa contoh keadaan yang tergolong signifikan diantaranya adalah :  Terpental keluar dari kendaraan  Ada penumpang lain yang meninggal di ruang yang sama  Jatuh dari ketinggian lebih dari 5 meter  Kendaraan terbalik, melaju dengan kecepatan tinggi  Kecelakaan sepeda motor  Penderita tidak respon atau ada gangguan status mental  Ada luka tusuk di daerah kepala, dada atau perut Penentuan signifikan atau tidak juga sangat dipengaruhi oleh mekanisme kejadian dan usia penderita. Hal-hal yang disebutkan diatas hanya merupakan beberapa contoh saja. Jatuh bagi seorang bayi walau hanya dari ketinggian 1 meter dapat berakibat fatal. Sebaliknya juga jatuh pada orang dewasa dari ketinggian kurang dari 5 meter tetapi kepala terkebih dahulu tentu dapat berakibat fatal. Penderita trauma Mekanisme cedera tidak signifikan :  Cari penyebab terjadinya cedera (mekanisme cedera)  Wawancarai penderita sambil menilai apakah pernafasannya adekuat dan ada tanda-tanda perdarahan besar atau tidak  Temukan riwayat yang berhubungan dengan kejadiannya dan pemeriksaan sesuai dengan keluhan penderita.  Lakukan pemeriksaan fisik rinci sesuai dengan kebutuhan. Mekanisme cedera signifikan :  Nilai keadaan dan tentukan kemungkinan penyebab cederanya  Wawancarai keluarga atau saksi mata, pada saat yang bersamaan lakukan penilaian penderita untuk mengenali keadaan yang mengancam nyawa. Stabilkan kepala dan leher penderita, periksa jalan nafas, nilai pernafasan dan nadi. Jangan lupa mencari tanda-tanda perdarahan besar.

 Lakukan penilaian trauma cepat, yaitu pemeriksaan fisik menyeluruh secara cepat dan melakukan penatalaksanaannya secara cepat pula, carilah cedera yang menyolok dan membutuhkan penanganan segera.  Nilai tanda vital bila keadaan penderita terkesan tidak stabil.  Lakukan pemeriksaan fisik menyeluruh bila waktu cukup tersedia.  Ulangi penilaian tanda vital. Catat perubahan yang terjadi. Kasus Medis Pada kasus medis penderita dibagi berdasarkan ada tidaknya respon. Pada penderita yang tidak respon lakukan pemeriksaan fisik secara cepat hanya untuk memastikan bahwa tidak ada suatu trauma, lalu lanjutkan dengan pemeriksaan tanda vital. Bila menemukan adanya perubahan tanda vital diluar batas normal maka anggap seseorang itu mengalami masalah medis. Riwayat penderita dilakukan dari keluarga atau saksi mata. Pada penderita yang sadar lakukan wawancara terlebih dahulu untuk mencari riwayat penderita terlebih dahulu, lalu lanjutkan pemeriksaan fisik sesuai dengan keluhan penderita. Kasus medis biasanya tidak memerlukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Penderita medis Penderita respon :  Mulai dengan wawancara dan lanjutkan selama menilai dan menangani penderita.  Ajukan pertanyaan yang mengarah ke riwayat penyakitnya.  Lakukan pemeriksaan fisik penderita sesuai dengan keluhan yang diberikan pada saat wawancara.  Nilai tanda vital. Penderita tidak respon :  Upayakan mewawancarai keluarga atau saksi mata untuk mencari riwayat penyakit dan penyebabnya, namun disamping itu :  Pastikan jalan nafas terbuka dengan baik, pernafasannya baik, dan ada nadi. Jangan lupa memeriksa ada tidaknya perdarahan besar. Lakukan penatalaksanaan sesuai dengan temuan penolong.  Periksa tanda-tanda khas suatu penyakit.  Nilai tanda vital. Algoritme penatalaksanaan penderita Pemeriksaan penderita merupakan suatu keterampilan yang harus dilatih. Prinsip pemeriksaan fisik menyeluruh penderita : a. Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan yang meliputi seluruh tubuh penderita. Tujuannya untuk menemukan berbagai tanda. b. Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis dan berurutan, biasanya dari ujung kepala sampai ujung kaki namun dapat berubah sesuai dengan kondisi penderita. Tindakan ini melibatkan pancaindera kita berupa : 1. Penglihatan (inspeksi) Bagian yang akan diperiksa sedapat mungkin terpapar dengan jelas. Bila dianggap perlu buka atau potonglah pakaian korban. 2. Perabaan (palpasi) Perabaan dilakukan dengan kedua belah tangan secara berurutan dan sistematis dimulai dari ujung kepala sampai ujung jari kaki, namun dapat berubah sesuai dengan kondisi penderita. 3. Pendengaran (auskultasi) Lakukan pemeriksaan secara berurutan. Lihat, bandingkan baru raba. Pada penderita cedera, harus dicari adanya: P = Perubahan bentuk L = Luka terbuka N = Nyeri tekan B = Bengkak Pada saat melakukan pemeriksaan selalu perhatikan penderita. Perhatian menunjukkan bahwa kita bertujuan baik dan biasanya akan memudahkan kita memperoleh data yang diperlukan. Kadang-kadang penderita tidak ingin diketahui mengalami suatu gangguan sehingga pertanyaan apakah ada yang sakit atau terasa mungkin akan dijawab dengan tidak, sehingga data yang diperoleh tidak akurat. Pemeriksaan fisik harus dilakukan dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki dengan teliti. 1. Kepala Kulit kepala dan tulang tengkorak, termasuk tulang-tulang wajah.  Telinga dan Hidung : Perhatikan adanya cairan bening, darah atau campurannya. Bagi pelaku PP tidak penting untuk mencari asal cairan tersebut tetapi curigai kemungkinan yang paling berat, yaitu terjadinya cedera tulang tengkorak dan otak, bila mekanisme cederanya mendukung.  Mata ∼ Manik mata (pupil) : apakah besar – kecil dan simetris antara kiri dan kanan ? ∼ Gerakkan bola mata : apakah kiri dan kanan sama ? ∼ Kelopak mata : apakah bagian dalam kelopak pucat ? ∼ Bagian putih mata : apakah ada kelainan ? ∼ Bagaimana refleksnya, normal atau melambat, atau bahkan tidak ada samasekali. Pada saat memeriksa mata perhatikan sumber cahaya. Jangan sampai sinar yang terang mengganggu pemeriksaan kita. Bila memeriksa di tempat yang terang upayakan untuk melindungi mata dari sumber cahaya.  Mulut Apakah ada perdarahan, bagian gigi yang patah, benda asing atau gangguan lain ? 2. Leher Periksalah leher sebelum memasang pelindung leher. PLNB perhatikan apakah tenggorokan tertarik ke satu sisi? Apakah ada pembesaran pembuluh leher? 3. Dada

Perhatikan tampakan luar dari tulang dada, tulang rusuk dan permukaan kulitnya. Cedera pada daerah dada dapat berakibat cedera pada organ dalam rongga dada. Bila menemukan adanya PLNB pada daerah dada perhatikan pernafasan penderita. Pada penderita dengan respon dapat diminta untuk menarik nafas dalam dan tanyakan apakah ada nyeri. 4. Perut Bagian perut merupakan bagian yang paling lemah perlindungannya, sehingga bila ada ruda paksa di daerah perut besar kemungkinannya organ dalam perut juga akan mengalami cedera. Periksa PLNB dan lakukan sesuai dengan kuadran perut sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian yang terlampaui. Periksa ketegangan dinding perut. Khusus bila ada ruda paksa di daerah perut, ketegangan dinding perut dapat menjadi salah satu indikator terjadinya perburukan. Pemeriksaan perut yang paling penting adalah perabaan dengan mencari adanya daerah dengan nyeri tekan. Bila penderita mengeluh adanya bagian yang nyeri maka lakukan perabaan dan bagian yang nyeri ditekan dengan hati-hati. Bagian yang nyeri diperiksa terakhir. 5. Punggung Pada penderita trauma pemeriksaan punggung biasanya dilakukan terakhir. Yaitu saat memindahkan penderita ke atas tandu atau papan spinal. Seperti halnya pemeriksaan di tempat lain, pemeriksaan dilakukan dengan mencari PLNB walau lebih mengandalkan palpasi. 6. Panggul Periksa PLNB pada daerah panggul. Pada ruda paksa yang sering dialami panggul adalah patah tulang yang berakibat perdarahan dalam dan dapat berakibat fatal. Salah satu pemeriksaan sederhana untuk menilai keutuhan tulang-tulang panggul adalah dengan menekan bersamaan kedua bagian tulang panggul yang menonjol, atau dengan sedikit memutarkan bagian panggul. Hindarkan tindakan menggerakan panggul ini bila sudah ada kecurigaan cedera tulang belakang. Daerah kemaluan hanya diperiksa bila perlu. Penderita dengan cedera tulang punggung mungkin akan mengalami gangguan berkemih dan buang air besar sehingga pemeriksa mungkin akan menemukan adanya bau pesing atau bau tinja. Pada pria dengan cedera tulang belakang mungkin akan terlihat bahwa kemaluannya mengalami reaksi yang dikenal dengan istilah (priapismus). 7. Anggota gerak bawah dan atas Pada pemeriksaan anggota gerak selain PLNB juga lakukan pemeriksaan Gerak – Sensasi – Sirkulasi (GSS). Gerakan penting untuk menilai keadaan tulang, otot maupun saraf. Alat gerak bawah dapat dinilai sirkulasinya melalui dua pembuluh nadi yaitu nadi punggung kaki (nadi dorsalis pedis) dan nadi di belakang mata kaki sebelah dalam (nadi tibialis posterior). Pada pemeriksaan penderita anak (kurang dari 6 tahun) perlu dilakukan juga pemeriksaan pengisian kapiler, yaitu dengan jalan menekan kuku di bagian yang berbatasan dengan kulit jari. Lalu dilihat berapa lama bagian yang pucat tersebut menjadi merah kembali (umumnya warnanya kembali dalam waktu kurang dari 2 detik). Pada orang dewasa pemeriksaan ini tidak berarti dan hanya dilakukan pada pemeriksaan korban banyak.

TANDA VITAL Parameter yang dikelompokkan dalam tanda vital adalah : Denyut Nadi Normal : Bayi : 120 - 150 x/menit Anak : 80 - 150 x/menit Dewasa : 60 - 90 x/menit Frekuensi Pernafasan Normal : Bayi : 25 - 50 x/menit Anak : 15 - 30 x/menit Dewasa : 12 - 20 x/menit Suhu Tubuh Normal : 37°C Tekanan Darah Normal : (dewasa) Sistolik : 100 - 140 mmHg Diastolik : 60 - 90 mmHg Kulit Kondisi kulit : ∼ Lembap ∼ Kering ∼ Berkeringat Warna kulit : ∼ Biru ∼ Pucat ∼ Merah ∼ Kuning ∼ Biru kehitaman Beberapa peralatan yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan vital adalah : 1. Jam tangan dengan penunjuk detik yang jelas 2. Senter kecil 3. Stetoskop 4. Alat pengukur tekanan darah (Sfigmomanometer) 5. Alat tulis untuk mencatat 1. Pemeriksaan denyut nadi Dapat diperiksa di : b. Leher (Pembuluh nadi leher/A. Karotis) c. Lengan atas (pembuluh nadi lengan atas/A. Brakialis) pada bayi d. Pergelangan tangan (pembuluh nadi pergelangan tangan/A. Radialis) e. Lipatan paha pembuluh nadi lipat paha/A.Femoralis)

Cara memeriksa nadi : 1. Pasien berbaring atau duduk dengan tenang 2. Raba jari yang akan diperiksa dengan telunjuk dan jari tengah 3. Tekan sedikit sampai nadi teraba lalu mulai menghitung sambil melihat penunjuk detik pada jam 4. Apabila denyut nadi teratur, nadi diperiksa selama 15 detik, hasilnya dikali 4 untuk mendapatkan nadi per menit. Apabila denyut nadi tidak teratur, harus diukur selama 60 detik, untuk menghindari kekeliruan. 5. Laporkan juga teratur atau tidak, kuat atau lemah denyut nadi penderita

2.

Pemeriksaan Pernafasan Saat menghitung frekuensi pernafasan jangan biarkan penderita mengetahui bahwa anda sedang menghitung pernafasan. Letakkan tangan anda saja atau dengan tangan penderita pada dada atau perutnya lalu amati gerakan naik turunnya. Satu kali pernafasan adalah satu kali menghirup nafas dan satu kali mengeluarkan nafas (satukali gerakan naik dan turun). Pernafasan dihitung selama 30 detik, lalu dikali dua untuk mendapatkan frekuensi pernafasan per menit. Dalamnya nafas juga memberikan petunjuk kepada penolong mengenai banyaknya udara yang dihirup penderita. Pada umumnya kerja otot pada saat bernafas tidak banyak. Tenaga yang diperlukan pada saat menghirup nafas sangat sedikit, bahkan mengeluarkannya hampir tidak mengeluarkan tenaga. Beberapa gejala dan tanda gangguan napas adalah : a. Berusaha menghirup udara b. Pernapasan yang terlalu cepat, lambat, dalam atau dangkal c. Bunyi nafas tambahan seperti mengi, mengorok dan lainnya d. Kulit lembap berlebihan dan kemerahan, berangsur-angsur menjadi pucat atau kebiruan e. Sulit berbicara, penderita hanya dapat mengucapkan beberapa patah kata dalam satu helaan napas f. Pusing g. Nyeri dada, rasa kesemutan pada tangan dan kaki h. Perubahan status mental : cemas, gelisah sampai tidak ada respon 3. Pemeriksaan suhu tubuh Pada pemeriksaan cukup diperoleh data mengenai suhu relatif saja, apakah ada peningkatan atau penurunan suhu yang dilakukan dengan perabaan dengan menggunakan punggung tangan pada bagian tubuh yang terbuka (dahi, leher). Kelembaban kulit juga harus dinilai. 4. Pemeriksaan tekanan darah Bila ada peralatan maka pemeriksaan tekanan darah dapat dilakukan dan informasinya cukup penting.

Cara pengukuran tekanan darah 1. Lilitkan manset sampai menutupi setengah lengan atas, dua setengah centimeter diatas sikut. Bagian balon diletakkan diatas A. Brakialis. Pasang sedemikian rupa sehingga dapat dimasukkan 1 jari di bagian punggung lengan atas. 2. Pompa dengan cepat dan pada saat bersamaan rabalah nadi radialis sampai tidak teraba lalu tambahkan 30 mmHg. 3. Letakkan stetoskop diatas A. Brakialis. 4. Kurangi tekanan manset dengan kecepatan sekitar 2 mmHg/detik (boleh lebih cepat jika sudah menguasai tekniknya, namun jangan terlalu cepat), perhatikan petunjuk. 5. Saat mendengar suara denyutan pertama kali, baca angkanya. Ini merupakan nilai sistolik lalu hapalkan. Hal ini dilakukan tanpa menghentikan upaya pengosongan udara manset. 6. Terus kurangi tekanan manset sampai suara denyutan menurun tajam atau hilang. Ini adalah nilai diastolic. 7. Catat nilainya sebagai sistolik – diastolik dalam mmHg. 8. paling efektip penderita diukur dalam posisi tidur telentang. Apabila tidak memungkinkan, catat posisi pasien saat diukur. Kesalahan pengukuran dapat terjadi karena : 1. Bising 2. Bagian telinga dari stetoskop tidak terpasang dengan baik 3. Manset tidak terpasang dengan baik 4. Nilai sistolik belum pada nilai maksimal 5. Ukuran manset tidak sesuai 6. Bagian balon terlalu besar/kecil 7. Pengurangan tekanan manset terlalu cepat Catatan : kadang-kadang lingkungan terlalu berisik atau ada faktor penyulit lainnya, sehingga pengukuran tekanan darah hanya dilakukan secara palpasi, artinya hanya berdasarkan perabaan nadi radialis saja. Caranya : No. 1 dan 2 seperti diatas. Pada saat mengurangi tekanan manset yang dicatat adalah saat nadi radialis mulai teraba yaitu nilai sistolik. Cara ini tidak dapat untuk mengetahui nilai diastolik. Pencatatannya : nilai sistolik – palpasi. RIWAYAT PENDERITA Seperti telah disebutkan pada penilaian terarah bahwa wawancara perlu dilakukan, baik untuk mengetahui penyebab atau pencetus suatu kejadian, mekanisme kejadian atau perjalanan suatu penyakit. Wawancara ini dapat dilakukan dengan penderita, keluarganya, atau saksi mata, dan bila dianggap perlu maka semuanya dapat dimintai keterangannya untuk memperoleh riwayat penderita yang rinci. Riwayat penyakit ini sangat penting terutama pada kasus medis.

Untuk memudahkan, dikenal akronim : K–O–M–P–A–K K O M P A K Keluhan utama (gejala dan tanda) sesuatu yang sangat dikeluhkan penderita. Obat – obatan yang diminum Pengobatan yang sedang dijalani penderita atau obat yang baru saja diminum atau yang seharusnya diminum namun ternyata belum diminum. Makanan/minuman terakhir Peristiwa ini mungkin menjadi dasar terjadinya kehilangan respon pada penderita. Selain itu juga data ini penting untuk diketahui bila ternyata penderita harus menjalani pembedahan kemudian di rumah sakit. Penyakit yang diderita Riwayat penyakit yang diderita atau pernah diderita yang mungkin berhubungan dengan keadaan yang sedang dialami penderita pada saat ini, misalnya keluhan sesak nafas dengan riwayat gangguan jantung 3 tahun yang lalu. Alergi yang dialami Perlu dicari apakah penyebab kelainan pada pasien iini mungkin merupakan suatu bentuk alergi, biasanya penderita atau keluarganya sudah mengetahuinya. Kejadian Kejadian yang dialami korban, sebelum kecelakaan atau sebelum timbulnya gejala yang diderita saat ini.

Pertanyaan ini kadang-kadang menentukan apakah suatu kasus yang kita hadapi murni trauma atau murni medis atau gabungan keduanya dimana yang satu menjadi penyebab yang kedua menjadi akibat.

“Penolong tidak membuat diagnosa akan tetapi dapat membuat kesimpulan berdasarkan hasil temuannya”

PEMERIKSAAN BERKALA Penilaian dan penatalaksanaan yang sudah selesai tidak berarti bahwa tugas seorang penolong sudah selesai. Pemeriksaan harus diteruskan secara berkala sebelum mendapat pertolongan medis. Mungkin mengulang memeriksa dari awal atau mencari hal yang terlewati. Secara umum pada pemeriksaan berkala harus dinilai kembali : a. Keadaan respon b. Nilai kembali jalan napas dan perbaiki bila perlu. c. Nilai kembali pernafasan, frekuensi dan kualitasnya. d. Periksa kembali nadi penderita dan bila perlu lakukan secara rinci bila waktu memang tersedia. e. Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban, dan kondisinya. Periksa kembali dari ujung kepala sampai ujung kaki, mungkin ada bagian yang terlewat atau membutuhkan pemeriksaan yang lebih teliti. f. Periksa kembali secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa atau sengaja dilewati karena melakukan pemeriksaan terarah. g. Nilai kembali penatalaksanaan penderita, apakah sudah baik atau masih perlu ada tindakan lainnya. Periksa kembali semua pembalutan, pembidaian, apakah masih cukup kuat, apakah perdarahan sudah dapat diatasi, ada bagian yang belum terawat. h. Pertahankan komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman. Bila penderita belum stabil dan keadaannya cukup parah maka penilaian kembali dilakukan setiap 5 menit. Bila keadaan penderita tenang dan stabil, maka pemeriksaan diulang setiap 15 menit sekali. Tidak semua hal tersebut diatas harus dilakukan, pilihlah pemeriksaan yang sesuai dengan keadaan penderita, namun tanda vital sebaiknya tetap diperiksa secara teratur. Pemeriksaan tanda vital sebaiknya dilakukan sesegera mungkin apalagi bila bekerja secara kelompok dan pemantauan ini tetap dilakukan selama penderita masih ditangani. Catat setiap perubahan yang terjadi.

PELAPORAN Semua pemeriksaan dan tindakan pertolongan dilaporkan secara singkat dan jelas kepada penolong selanjutnya. Dalam laporan sebaiknya dicantumkan : ∼ Umur dan jenis kelamin penderita ∼ Keluhan utama ∼ Tingkat respon ∼ Keadaan jalan napas ∼ Pernafasan ∼ Sirkulasi ∼ Pemeriksaan fisik yang penting ∼ KOMPAK yang penting ∼ Penatalaksanaan ∼ Perkembangan lainnya yang dianggap penting

ALGORITMA PENILAIAN

Tiba di

lokasi

Penilaian keadaan Trauma Mekanisme cedera Tidak signifikan Wawancara Penderita
Cedera yang mengancam nyawa?

Penilaian dini

Medis

Respon

Signifikan Wawancara keluarga/sak si Napas adekuat? Perdarahan besar? Penanganan trauma cepat Pemeriksaan fisik rinci

Tidak ada respon Wawancara keluarga/sak si

Respon Wawancara Penderita Tentukan riwayat penyakit
Pemeriksaan fisik sesuai keluhan penderita

Buka airway Perdarahan besar? Beri pertolongan

Periksa tanda vital
Pemeriksaan fisik Rinci sesuai kebutuhan

Cari tandatanda khas suatu penyakit

Monitor tanda vital

Monitor tanda vital

Pemeriksaan berkelanjutan
Evakuasi dan transportasi bila perlu

Serah terima

BANTUAN HIDUP DASAR DAN RESUSITASI JANTUNG PARU
Sebelumnya telah dijelaskan mengenai penilaian penderita. Tahap pertama dalam penilaian penderita adalah melakukan penilaian dini, yang dilakukan pada saat pertama kali menemukan penderita. Jika dalam penilaian dini ini penolong menemukan gangguan pada salah satu dari ketiga komponen ini : tersumbatnya jalan napas, tidak menemukan adanya napas, dan atau tidak ada nadi, maka penolong harus segera melakukan tindakan yang dikenal dengan istilah Bantuan Hidup Dasar. SISTEM PERNAPASAN DAN SIRKULASI Tubuh manusia terdiri dari beberapa system diantaranya yang utama adalah system pernapasan dan system peredaran darah. Kedua system ini merupakan komponen utama untuk mempertahankan hidup seseorang. Terganggunya salah satu atau kedua fungsi ini dapat mengakibatkan ancaman kehilangan nyawa pada seseorang. Tubuh dapat makanan untuk beberapa minggu dan menyimpan air untuk beberapa hari, tetapi hanya dapat menyimpan oksigen hanya dalam beberapa menit saja. Sistem pernapasan memasok oksigen (O2) ke seluruh tubuh sesuai dengan kebutuhan dan juga mengeluarkan karbon dioksida (CO2). System sirkulasi inilah yang bertanggung jawab memberikan pasokan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Selain itu, system ini juga yang bertanggungjawab untuk membuang sisa-sisa makanan dari jaringan tubuh. Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah :  Jantung  Pembuluh darah (Arteri, Vena, dan Kapiler)  Darah dan bagian-bagiannya Jantung berfungsi untuk memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan system pernapasan. Pada umumnya semakin cepat kerja jantung semakin cepat pula frekuensi pernapasan seseorang dan sebaliknya. Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab, antara lain :  Penyakit jantung  Gangguan pernapasan  Syok  Kompilasi penyakit lain Pada bayi dan anak, kasus-kasus gangguan pernapasan sangat sering menyebabkan terjadinya henti jantung, sehingga pada penderita yang lebih muda pembebasan dan penguasaan jalan napas harus lebih mendapat perhatian. MATI Salah satu keadan manusia yang harus dikenali penolong adalah mati, walau pada dasarnya keadaan ini merupakan keadaan yang terakhir yang harus dihadapi oleh seorang penolong. Dalam istilah kedokteran dikenal dua istilah untuk mati, mati klinis dan mati biologis. Mati klinis memiliki pengertian bahwa pada saat melakukan pemeriksaan penderita, penolong tidak menemukan adanya pernapasan dan denyut nadi yang berarti sistem pernapasan dan sistem peredaran darah terhenti. Pada beberapa keadaan, penanganan yang baik masih memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali. Bila tidak segera diatasi maka akan terjadi apa yang disebut mati biologis. Mati biologis berarti kematian sel, yaitu karena terganggunya pasokan oksigen dan zat makanan ke sel-sel yang menyusun jaringan sehingga akhirnya sel tersebut akan mati dan jaringan itu akan terganggu. Sifatnya menetap, tidak akan bisa hidup kembali. Masing-masing sel dan jaringan memiliki daya tahan yang berbeda-beda sebelum mati biologis. Pada manusia kematian biologis paling cepat terjadi pada sel-sel otak. Otak merupakan pusat pengatur kegiatan seluruh tubuh manusia yang bila rusak tentu akan berakibat pada organ atau bagian tubuh lainnya. Mati klinis

Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi. Mati klinis dapat reversibel. Penderita mempunyai kesempatan waktu selama 4 – 6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak. Mati biologis Kematian sel dimulai terutama sel otak dan bersifat irreversibel, biasa terjadi dalam waktu 8 – 10 menit dari henti jantung. (KECUALI : berada di suhu yang ekstrim dingin, pernah dilaporkan pernah melakukan resusitasi selama satu jam atau lebih dan berhasil). Walau muncul agak lama, ada beberapa tanda yang dapat menjadi pedoman sudah terjadinya kematian pada seseorang. Tanda-tanda ini dikenal sebagai tanda pasti mati, yaitu : Lebam mayat Muncul sekitar 20 – 30 menit setelah kematian, darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah akibat daya tarik bumi. Terlihat sebagai warna ungu kebiruan pada kulit. Kaku mayat Kaku pada tubuh dan anggota gerak setelah meninggal. Biasanya terjadi setelah 1 – 2 jam setelah meninggal. Pembusukan Proses ini biasanya mulai timbul setelah 6 – 12 jam setelah kematian. Ditandai dengan bau yang sangat tidak enak dan jenazah biasanya sudah membengkak. Proses ini sangat dipengaruhi keadaan setempat seperti suhu, kelembaban, dan lainnya. Tanda lainnya : cedera mematikan Cedera yang dimaksudkan adalah cedera yang bentuknya sedemikian parah sehingga hampir dapat dipastikan penderita tersebut tidak dapat bertahan hidup. Apabila ditemukan tanda-tanda seperti disebutkan diatas tidak perlu dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

HANYA DOKTER YANG BERHAK MENYATAKAN SESEORANG TELAH MENINGGAL

Penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam ”rantai penyelamatan / rantai survival” dilakukan bersamaan. Rantai ini diperkenalkan oleh AHA (Amerikan Heart Association) yang mempunyai empat rantai sebagai berikut : 1. Kecepatan dalam permintaan bantuan 2. Resusitasi Jantung Paru 3. Defibrilasi (dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan peralatan khusus) 4. Pertolongan hidup lanjut (di RS, seperti Advanced Cardiac Life Support) Bantuan Hidup Dasar Pada dasarnya gangguan salah satu system akan mengganggu system yang lainnya. Contohnya saluran napas yang tidak terbuka dengan baik akan dapat menimbulkan kegagalan pernapasan yang akhirnya akan menyebabkan jantung juga akan berhenti bekerja. Sehingga dalam mengatasi satu masalah penolong harus memeriksa dan memastikan sistem pernapasan dan sistem sirkulasi berfungsi dengan baik atau setidak-tidaknya mampu mempertahankan kehidupan sebelum memperoleh pertolongan yang lebih lanjut. Bantuan hidup dasar merupakan beberapa cara yang sederhana yang dapat mempertahankan hidup seseorang untuk sementara. Cara-cara ini adalah bagaimana menguasai dan membebaskan jalan napas, bagaimana memberikan bantuan pernapasan dan bagaimana membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah matinya sel otak. Bila tindakan ini dilakukan sebagai satu kesatuan yang lengkap maka tindakan ini dikenal dengan istilah Resusitasi Jantung Paru. Untuk memudahkan pelaksanaannya maka digunakan akronim A B C A – B – C yang berlaku universal.

Airway Control atau penguasaan jalan napas (buka jalan napas) Breathing Support atau bantuan pernapasan. Circulatory Support atau bantuan sirkulasi lebih dikenal dengan pijatan jantung luar dan menghentikan pernapasan.

AIRWAY CONTROL (Penguasaan Jalan Napas) Lidah paling sering menyebabkan sumbatan jalan napas pada kasus-kasus penderita tidak ada respon, karena pada saat penderita kehilangan kesadaran, otot-otot akan menjadi lemas termasuk otot dasar lidah yang akan jatuh ke belakang sehingga jalan napas menjadi tertutup. Penguasaan jalan napas merupakan prioritas pada semua penderita. Prosedurnya bervariasi mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan penanganan bedah. Tindakan-tindakan lain kecil peluangnya untuk berhasil bila jalan napas seseorang masih terganggu. Beberapa cara yang dikenal dan sering dilakukan untuk membebaskan jalan napas :

a.

Angkat Dagu Tekan Dahi Teknik ini dilakukan pada penderita yang tidak mengalami trauma pada kepala, leher maupun tulang belakang. Caranya : 1. Letakkan tangan anda pada dahi penderita, gunakan tangan yang paling dekat dengan kepala penderita. 2. Tekan dahi sedikit mengarah ke belakang dengan telapak tangan sampai kepala penderita terdorong ke belakang. 3. Letakkan ujung jari tangan yang lainnya di bagian ujung tulang rahang bawah 4. Angkat dagu ke depan lakukan gerakan ini bersamaan dengan tekan dahi, sampai kepala penderita pada posisi ekstensi maksimal. Pada pasien basi dan anak kecil tidak dilakukan sampai maksimal tetapi sedikit ekstensi saja. 5. Pertahankan tangan di dahi penderita untuk menjaga posisi kepala tetap ke belakang. 6. Buka mulut penderita dengan memanfaatkan ibu jari tangan yang menekan dagu. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan teknik ini : 1. Bagi penderita yang masih bayi, gerakan ekstensi kepala tidak boleh maksimal. 2. Tangan jangan menekan di jaringan lunak bawah dagu. 3. Jangan gunakan ibu jari untuk mengangkat dagu. 4. Awasi mulut penderita agar tetap terbuka. 5. Jika penderita dengan gigi palsu cobalah pertahankan pada posisinya tetapi jika mengganggu / sulit dipertahankan sebaiknya gigi palsu tersebut dilepas.

b. Perasat pendorongan rahang bawah (Jaw Thrust Maneuver) :
Teknik ini dilakukan sebagai pengganti teknik tekan dahi angkat dagu. Perlu diingat teknik ini sangat sulit dilakukan, tetapi merupakan teknik yang aman untuk membuka jalan napas bagi penderita yang mengalami trauma pada tulang belakang. Dengan melakukan teknik ini berarti kepala dan leher penderita dibuat dalam posisi alami / normal. INGAT : “Gunakan teknik ini jika penderita mengalami trauma tulang belakang atau curiga trauma tulang belakang.” Caranya : 1. Berlutut di sisi atas penderita, letakkan kedua sikut penolong sejajar dengan posisi penderita, kedua tangan memegang sisi kepala. 2. Kedua sisi rahang bawah dipegang (jika pasien anak atau bayi, gunakan dua atau tiga jari pada sisi rahang bawah). 3. Gunakan kedua tangan untuk menggerakan rahang bawah ke posisi dengan secara perlahan. Gerakan ini mendorong lidah ke atas sehingga jalan napas terbuka. 4. Pertahankan posisi mulut penderita tetap terbuka. Jangan lupa untuk memeriksa mulut penderita trauma yang mengalami penurunan respon atau tidak ada respon apakah ada suatu benda yang dapat menyumbat saluran napas (sisa makanan, gigi palsu, atau yang lainnya). Pembersihannya dapat dilakukan dengan cara sapuan jari secara buta (blend finger sweep), tetapi cara ini tidak boleh dilakukan pada bayi dan anak kecil. Pemeriksaan jalan napas Setelah memastikan jalan napas terbuka maka jalan napas harus diperiksa. Jalan napas yang tebuka dengan baik dan bersih sangat diperlukan untuk pernapasan adekuat. Keadaan jalan napas dapat ditentukan bila pasien sadar, respon dan dapat berbicara dengan penolong. Perhatikan pengucapannya apakah baik atau terganggu. Hati-hati memberikan penilaian pada penderita dengan gangguan mental. Pada penderita yang disorientasi, merasa mengambang, bingung, atau tidak respon harus diwaspadai kemungkinan adanya darah, muntah atau cairan liur berlebihan dalam saluran nafas. Pemeriksaan jalan napas pada penderita yang tidak ada respon dilakukan dengan cara membuka mulut penderita. Caranya : 1. Berlututlah dekat penderita 2. Silangkan ibu jari dan telunjuk penolong 3. Letakkan ibu jari pada gigi seri bawah penderita dan telunjuk pada gigi seri atas 4. Lakukan gerakan seperti menggunting untuk membuka mulut penderita 5. Periksa mulut setelah terbuka apakah ada cairan, benda padat, termasuk patahan gigi atau gigi palsu yang terlepas, yang mungkin dapat menyumbat jalan napas. 6. Terakhir dengarkan suara napas tambahan yang merupakan petunjuk adanya sumbatan. (misalnya : ngorok, kumur, suara frekuensi tinggi. Suara seperti tercekik). Membersihkan jalan napas Posisi pemulihan Bila penderita dapat bernapas dengan baik dan tidak ada kecurigaan adanya cedera leher, tulang punggung atau cedera lain yang dapat bertambah parah akibat tindakan ini maka letakan pada posisi pemulihan atau juga dikenal dengan istilah posisi miring mantap. Posisi ini diharapkan akan mencegah terjadinya sumbatan dan jika ada cairan maka cairan tersebut akan mengalir melalui mulut dan tidak masuk ke dalam napas. Salah satu cara untuk melakukan posisi pemulihan (sesuaikan dengan keadaan di lapangan) : 1. Letakan lengan kiri penderita diatas kepalanya. Lalu silangkan tungkai kanan penderita diatas tungkai kiri. 2. Jaga bagian wajah penderita dan raihlah bahu kanannya. 3. Balikkan penderita ke arah penolong, lalu letakkan tangan kanannya di bagian muka. Bila mungkin balikan tubuh secara bersama-sama jangan sampai penderita jadi terpuntir. 4. Tekuk bagian lutut tungkai yang berada di sebelah atas. Sapuan jari

Teknik ini hanya dilakukan pada penderita yang tidak sadar. Pada tindakan ini penolong menggunakan jarinya untuk membuang benda padat yang mengganggu jalan napas. Jangan memasukkan jari terlampau dalam. Khusus pada anak dan bayi tindakan ini dilakukan bila benda yang menyumbat terlihat. Cara melakukan sapuan jari : 1. Balikkan penderita pada sisi kirinya (jangan dilakukan bila ada cedera leher/tulang belakang). 2. Buka mulut penderita dan lihat ke dalam. 3. Masukkan jari diantara pipi bagian dalam dan gigi sampai geraham yang paling belakang. 4. Bentuk jari seperti kait lalu upayakan pengambilan benda yang menyumbat tersebut. Hati-hati jangan sampai malah memasukkan benda tersebut makin kedalam. Pada anak dan bayi gunakan jari yang relatif paling kecil (biasanya kelingking), dan lakukan bila hanya bendanya terlihat.

SUMBATAN JALAN NAPAS Secara umum sumbatan jalan napas dapat terjadi baik pada jalan napas bagian atas atau jalan napas bagian bawah. Jalan napas bagian atas meliputi mulut dan hidung sampai ke bagian larings. Bronkus dan lanjutannya tergolong jalan napas bagian bawah, sumbatan pada bagian ini biasanya akibat benda asing yang terhirup atau spasme saluran napas. Sumbatan jalan napas pada orang sadar umumnya karena makanan, sedangkan pada orang yang tidak ada respon adalah lidah yang jatuh kebelakang. Secara umum sumbatan jalan napas dapat terjadi karena benda asing (makanan, mainan, darah, dan yang lainnya) atau dari struktur anatomis penderita (lidah, penyempitan saluran pernapasan, kerusakan jaringan, dan sebagainya). Pada bayi dan anak kecil sumbatan jalan napas kebanyakan terjadi akibat benda asing. Sedangkan pada orang dewasa kebanyakan terjadi akibat lidah. Sumbatan yang terjadi oleh benda asing dapat bersifat total atau sebagian (parsial). Pada sumbatan total, penderita akan sulit bernapas dan akhirnya akan kehilangan kesadaran. Dalam keadaan sehari-hari yang sering dijumpai adalah tersedak yang memiliki ciri khas. Penderita terkesan mencekik leher sendiri dengan kedua tangannya. Sumbatan parsial ditandai dengan upaya untuk bernapas dan mungkin disertai bunyi napas tambahan misalnya mengirik, mengorok, kumur dan lain-lain. Pada sumbatan persial mungkin tidak diperlukan tindakan khusus, walaupun penderita harus secepat mungkin dibawa ke rumah sakir karena jika kesulitan ini bekepanjangan dapat menimbulkan kegagalan pernapasan, oleh sebab itu jangan meninggalkan penderita yang mengalami sumbatan benda asing sebagian (parsial). Khusus untuk menangani sumbatan total dikenal dengan adanya Perasat Heimlich (Heimlich Manuver). Perasat ini dapat dilakukan pada dewasa dan anak. Perasat ini pada dasarnya hentakan perut, namun pada dasarnya dapat dilakukan beberapa variasi dari perasat ini. Perasat Heimlich : a. Hentakan perut - pada penderita dewasa dan anak, ada respon. 1. Penolong berdiri di belakang penderita, posisikan tangan penolong memeluk di atas perut penderita melalui ketiak penderita. 2. Sisi genggaman penolong diletakkan di atas perut penderita tepat pada pertengahan antara pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan. 3. Letakkan tangan lain penolong diatas genggaman pertama, lalu hentakkan tangan penolong ke arah belakang dan atas, posisi siku penolong ke arah luar, lakukan hentakan sambil meminta penderita membantu memuntahkannya. 4. Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau penderita menjadi tidak respon. b. Hentakan perut – pada penderita dewasa dan anak-anak, tidak ada respon. 1. Baringkan penderita pada posisi terlentang. 2. Upayakan memberikan bantuan pernapasan, bila gagal upayakan perbaikan posisi dan coba ulangi pemberian napas bantuan, bila gagal, lanjutkan ke langkah berikut : 3. Berlututlah demikian rupa sehingga paha penderita diapit oleh lutut penolong lalu tempatkan tumit tangan sedikit diatas pusat tepat pada garis tengah antara pusat dan pertemuan rusuk kiri dan kanan. 4. Lakukan 5 kali hentakan perut ke arah atas. 5. Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari. Bila perlu dapat dilakukan penarikan rahang bawah. Ingat pada anak kecil dan bayi lakukan hanya bila bendanya telihat. 6. Bila belum berhasil ulangi langkah 2 – 5 berulang-ulang sampai jalan napas terbuka. c. 1. 2. 3. 4. Hentakan dada – penderita dewasa yang kegemukan atau wanita hamil yang ada respon. Penolong berdiri di belakang penderita, lengan memeluk penderita melalui ketiak di bagian dada. Posisikan tangan membentuk kepalan seperti pada hentakan perut tepat diatas pertengahan tulang dada. Lakukan hentakan dada. Lanjutkan sampai jalan napas terbuka atau penderita menjadi tidak sadar.

d. Hentakan dada – pada penderita dewasa yang kegemukan atau wanita hamil yang tidak respon. Langkahnya sama seperti pada butir b, hanya posisi penolong berlutut di samping penderita dan letakkan tumit tangan pada pertengahan tulang dada. Beberapa cara untuk membebaskan jalan napas (misalnya tersedak) pada bayi : 1. a. Penderita ada respon : Yakinkan bahwa penderita mengalami sumbatan jalan napas total.

2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5.

Posisikan penderita pada salah satu lengan penolong, wajah mengarah kebawah, kepala lebih rendah dari tubuh. Topanglah bagian kepala dengan jari penderita pada daerah rahang dan tulang pipi. Hati-hati jangan sampai mencederai mata dan hidung. Lakukan lima kali pukulan punggung, gunakan tumit tangan diantara kedua tulang belikat. Bila belum keluar balikkan penderita, kepala tetap lebih rendah. Lakukan 5 kali hentakan dada, gunakan jari tengah dan jari manis pada pertengahan garis tengah tulang dada tepat dibawah garis khayal penghubung putting susu kiri dan kanan. Lakukan berulang-ulang tindakan diatas sampai sumbatan teratasi atau tidak ada respon. b. Penderita tidak ada respon : Pastikan penderita tidak ada respon Buka jalan napas dan berikan bantuan pernapasan, bila belum masuk coba perbaiki posisi kepala. Lakukan 5 kali pukulan punggung dan 5 kali hentakan dada. Buka mulut penderita dan lihat apakah ada benda asing, jika ada tariklah keluar dengan perasat pengangkutan rahang dan lidah. Ulangi langkah-langkah tersebut diatas sampai jalan napas terbuka.

BREATHING SUPPORT (Bantuan Pernapasan) Bila pernapasan seseorang terhenti, maka penolong harus berupaya untuk memberikan bantuan pernapasan. Ada beberapa teknik yang dikenal untuk memberikan bantuan pernapasan, yakni : a. menggunakan mulut penolong : 1. Mulut ke masker RJP. 2. Mulut ke APD. 3. Mulut ke mulut/hidung. b. Menggunakan alat bantu : Kantung masker berkatup (Bag Vakve Mask / BVM) Kandungan oksigen di udara bebas kurang lebih 21%. Proses bernapas manusia hanya memanfaatkan sekitar 5% saja. Yang berarti udara yang kita keluarkan masih mengandung sebanyak kira-kira 16% oksigen. Udara ini dapat diberikan kepada penderita yang mengalami henti napas sampai ada sumber oksigen yang lebih tinggi kandungannya. Frekuensi pemberian napas bantuan : ◙ Dewasa : 10-12 x pernapasan/menit, masing-masing 1,5–2 detik ◙ Anak (1-8 th) : 20 x pernapasan/menit, masing-masing 1-1,5 detik ◙ Bayi (0-1 th) : lebih dari 20 x pernapasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik ◙ Bayi baru lahir : 40 x pernapasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik Bahaya bagi penolong yang melakukan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut : - Penyebaran penyakit - Kontaminasi bahan kimia - Muntahan penderita Saat memberikan bantuan pernapasan petunjuk yang dipakai untuk menentukan cukup tidaknya udara yang dimasukkan adalah gerakkan naiknya dada, jangan sampai memberikan udara yang berlebihan, karena dapat mengakibatkan udara juga masuk ke dalam lambung sehingga dapat menyebabkan muntah dan mungkin akan menimbulkan kerusakan pada paru-paru. Pada beberapa keadaan kita mungkin akan menemukan sumbatan jalan napas setelah melakukan bantuan pernapasan, yang ditandai dengan sulitnya pemberian bantuan pernapasan. Dalam situasi seperti ini maka kita harus kembali ke tindakan AIRWAY CONTROL seperti yang telah dijelaskan diatas. Beberapa tanda-tanda pernapasan : Adekuat (mencukupi) ~ Dada dan perut bergerak naik dan turun seirama dengan pernapasan ~ Udara terdengar dan terasa saat keluar dari mulut/hidung ~ Penderita tampak nyaman ~ Frekuensinya cukup (nilai normal). Kurang adekuat (kurang mencukupi) ~ Gerakan dada kurang baik ~ Ada suara napas tambahan ~ Kerja otot bantu napas ~ Sianosis (kulit kebiruan) ~ Perubahan status mental (gelisah, cemas) Tidak bernapas : ~ Tidak ada gerakan dada atau perut ~ Tidak terdengar aliran udara melalui mulut atau hidung ~ Tidak terasa hembusan napas dari mulut atau hidung. Teknik pemberian bantuan pernapasan : 1. Nilai respon penderita, jika perlu mintalah pertolongan. 2. Buka jalan napas, gunakan teknik angkat dagu tekan dahi atau perasat pendorongan rahang bawah. 3. Lakukan pemeriksaan napas, Lihat, Dengar, Rasakan selama 3-5 detik

Jika penderita tidak benapas, posisikan mulut penolong sedemikian rupa sehingga seluruh mulut atau hidung (keduanya pada bayi dan anak) tetutup rapat, tidak ada udara yang bocor. Jepitlah dengan baik kedua cuping penderita sehingga udara tidak bocor, jangan menariknya. 5. Berikan 2 kali bantuan pernapasan awal (1,5 – 2 detik untuk dewasa dan 1 – 1,5 detik untuk bayi dan anak) tiupannya harus merata dan jumlahnya cukup (dada bergerak naik). Bila udara ternyata tidak masuk maka upayakan reposisi untuk jalan napas, lalu tiup kembali. Jika tidak masuk juga, maka penolong harus menganggap ada sumbatan jalan napas, sehingga harus kembali ke tindakan Airway Control. 6. Lakukan pemeriksaan nadi karotis, selama 5-10 detik. 7. Jika nadi karotis berdenyut maka teruskan pemberian napas buatan sesuai dengan kelompok usia penderita. 8. Nilai pernapasan yang kita berikan apakah sudah cukup baik, hal ini ditandai dengan gerakan naik turunnya dada dengan baik. 9. Bila upaya memberikan napas buatan gagal, maka upayakan memposisikan kembali kepala penderita. Nilai juga kemungkinan adanya sumbatan. Bila menggunakan masker atau APD maka pastikan bahwa masker atau APD tersebut terpasang dengan baik dan tidak ada kebocoran udara pada saat mamberikan bantuan pernapasan. Kekuatan tiupan bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh penderita. Pada penderita dewasa umumnya dilakukan tiupan kuat. Penderita anak diberikan tiupan sedang (hembusan) dan pada bayi hanya diberikan tiupan hasil pengembungan pipi penolong. Sebagai patokan jumlah udara yang ditiupkan kepada penderita adalah gerakan naiknya dada. Yang perlu diingat adalah jangan memberikan tiupan yang terlalu perlahan, walau terjadi gerakan naiknya dada namun udara yang masuk kurang. CIRCULATORY SUPPORT (Bantuan Sirkulasi) Tindakan paling penting pada bantuan sirkulasi adalah Pijatan Jantung Luar. Pijatan jantung luar dapat dilakukan mengingat sebagian jantung terletak diantara tulang dada dan tulang punggung. Sehingga penekanan dari luar dapat menyebabkan terjadinya efek pompa pada jantung yang dinilai cukup untuk mengatur peredaran darah minimal pada keadaan mati klinis. Kedalaman penekanan disesuaikan dengan kelompok usia penderita. Dewasa : 4 – 5 cm Anak : 3 – 4 cm Bayi : 1,5 – 2,5 cm Secara umum dapat dikatakan bahwa bila jantung berhenti berdenyut maka pernapasan akan langsung mengikutinya, namun keadaan ini tidak berlaku sebaliknya. Seseorang mungkin hanya mengalami kegagalan pernapasan dengan jantung yang masih berdenyut, akan tetapi dalam waktu singkat akan diikuti henti jantung karena kekurangan oksigen. Pada saat terhentinya kedua sistem inilah seseorang dinyatakan sebagai mati klinis. Berbekal pengertian diatas maka selanjutnya dilakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru.

4.

Resusitasi Jantung Paru (RJP)
RJP harus dimulai sesegera mungkin. Tindakan ini merupakan gabungan dari ketiga komponen A, B dan C. pelaksanaannya terlihat pada skema resusitasi. Pada orang dewasa dikenal dua rasio, yaitu 15 kali kompresi dada berbanding 2 kali tiupan napas ( 15:2 ) per siklus, bila penolong hanya satu orang. Dan 5 : 1 per siklus bila penolongnya 2 orang. Pada anak dan bayi hanya dikenal satu rasio yaitu 5 : 1 (5 kali kompresi dada berbanding satu kali tiupan napas). Sebelum melakukan RJP pada penderita, penolong harus : 1. Menentukan tidak adanya respon. 2. Menentukan ada tidaknya pernapasan. 3. Menentukan ada tidaknya denyut nadi. Untuk melakukan penilaian respon, dilakukan dengan jalan memanggil atau mengguncangkan bahu penderita. (hati-hati bila ada cedera tulang leher dan tulang belakang). Jika tidak ada respon, pada penderita bayi lakukan pertolongan selama 1 menit terlebih dahulu, baru aktifkan system bantuan bila hal ini belum dilakukan. Mengingat umumnya pada bayi / anak terjadi karena sebab lain, sehingga biasanya pemulihannya lebih cepat. Setelah membuka jalan napas, tentukan fungsi pernapasan dengan teknik : Lihat, Dengar, dan Rasakan selama 3 - 5 detik (dekatkan pipi dan telinga di depan hidung dan mulut penderita, kemudian mata melihat gerakan dada penderita) jika perlu lakukan bantuan pernapasan. Untuk menentukan ada tidaknya denyut nadi, harus dilakukan perabaan pada nadi karotis (dewasa dan anak) dan nadi brakialis (bayi). Cara menentukan nadi karotis : 1. Letakkan 2 jari pada bagian jakun penderita. 2. Geser dua jari tersebut kearah anda, berhentilah pada lekukan antara jakun dan otot leher. 3. Raba nadi antara 5 – 10 detik. Jika denyut nadi karotis teraba, maka jangan lakukan pijatan jantung luar. Tetapi jika nadi karotis tidak teraba segera lakukan RJP.

Bila penderita menunjukkan tanda-tanda pulihnya salah satu atau semua system, maka tindakan RJP dihentikan atau hanya diarahkan ke system yang belim pulih saja. Biasanya yang paling lambat pulih adalah pernapasan spontan, maka hanya dilakukan tindakan Resusitasi Paru (Napas Buatan) saja.

Teknik kompresi dada pada penderita dewasa 1. Posisikan penderita. Penderita harus berbaring terlentang diatas dasar yang keras, misalnya di lantai, jangan di atas kasur. 2. Bebaskan pakaian di sekitar dada penderita 3. Posisikan diri penolong pada salah satu sisi penderita. Upayakan senyaman mungkin. Kedua lutut penolong dibuka kira-kira selebar bahu penolong. 4. Tentukan titik pertemuan lengkung iga kiri dan kanan dengan cara meraba lengkung iga paling bawah geser sampai bertemu dengan tulang iga sisi berlawanan. 5. Tentukan titik pijatan dari titik pertemuan kedua lengkung iga tersebut, lalu ukur dua jari keatas pada garis tengah tulang dada. 6. Letakkan tumit tangan lain di sebelah atas dari jari kedua tersebut. 7. Bagian yang menekan adalah tumit tangan, tangan yang bebas diletakkan diatas tangan yang satunya untuk menopang. 8. Posisikan tangan dan bahu penolong tegak lurus dengan tangan yang menekan. 9. Lakukan pijatan jantung luar (PJL). Jaga agar posisi tangan tetap lurus, berikan tekanan yang sesuai kekuatan dan kedalamannya dengan keadaan penderita. Pada saat melepas tekanan jangan sampai tertahan, tetapi jangan sampai bergeser dan terlepas dari titik tekanan tersebut.

RJP Dewasa satu penolong Untuk melakukan RJP dewasa satu orang penolong, maka harus dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Tentukan penderita tidak ada respon. 2. Aktifkan system minta bantuan (bila belum dilakukan). 3. Buka jalan napas dan lakukan pemeriksaan napas. 4. Lakukan bantuan napas awal dua kali dan jika perlu singkirkan benda asing dari mulut pendrita. 5. Jika penderita bernapas dan nadi karotis teraba, letakkan penderita pada posisi miring stabil pemulihan. 6. Periksa nadi karotis, jika tidak ada denyutan, lakukan RJP. 7. Posisikan penolong dan tentukan titik pijatan. 8. Lakukan pijatan jantung sebanyak 15 kali dengan kecepatan pijatan 80 – 100 kali per menit. 9. Berikan napas buatan 2 kali dengan kuat – lembut, dilakukan setelah 15 kali pijatan jantung dengan waktu per satu tiupan sekitar 1,5 – 2 detik. 10. Lakukan terus sampai mencapai 4 siklus dari 15 pijatan dan 2 bantuan pernapasan. 11. Kemudian periksa nadi karotis penderita 12. Jika nadi berdenyut dan napas ada, teruskan monitor ABC sampai bantuan datang. 13. Jika nadi berdenyut dan napas belum ada, maka teruskan bantuan pernapasan 10 – 12 kali per menit, jika kemudian nadi tidak berdenyut lagi, lakukan lagi RJP. Periksa kembali nadi karotis dan napas setiap 2 atau 3 menit kemudian. RJP dewasa dua penolong Jika penderita tidak ada respon, tidak bernapas dan nadi tidak teraba, setelah penolong memberikan napas awal, maka : 1. Posisi penolong, saling berseberangan diantara penderita, satu penolong berlutut di daerah kepala, yang lainnya di daerah dada. 2. Lakukan pijatan jantung sebanyak 5 kali dengan kecepatan 80 – 100 kali per menit 3. Berikan napas bantuan satu kali 4. Setelah satu menit RJP (12 siklus), maka lakukan pemeriksaan ulang nadi karotis. Jika nadi berdenyut dan napas ada, teruskan pengawasan ABC sampai bantuan datang. Jika nadi berdenyut tetapi napas belum ada maka teruskan bantuan pernapasan 10 – 12 kali per menit, jika kemudian nadi tidak berdenyut lakukan RJP. Periksa kembali nadi karotis dan napas setiap 2 atau 3 menit kemudian. Catatan untuk pelaksanaan RJP RJP yang baik bukan jaminan penderitanya akan selamat, tetapi ada hal-hal yang dapat dipantau untuk menentukan keberhasilan tindakan maupun pemulihan system pada penderitaan, diantaranya: 1. Saat melakukan Pijatan Jantung Luar, mintalah seseorang menilai nadi karotis, bila ada denyut maka berarti tekanan kita cukup baik. 2. Gerakan dada terlihat naik turun dengan baik pada saat memberikan bantuan pernapasan. 3. Reaksi manik mata mungkin akan kembali normal 4. Warna kulit penderita akan berangsur-angsur membaik 5. Penderita mungkin akan menunjukkan refleks menelan dan bergerak. 6. Nadi akan berdenyut kembali. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada saat melakukan RJP:  Patah tulang dada dan tulang iga  Bocornya paru-paru (pnemotoraks)  Perdarahan dalam paru-paru / rongga dada (Hemotoraks)  Luka dan memar pada paru-paru  Robekan pada hati Tindakan RJP dapat dihentikan apabila : 1. Penderita pulih kembali

2. 3. 4.

Penolong kelelahan Diambil alih oleh tenaga yang sama atau yang lebih terlatih Jika ada tanda pasti mati, tidak usah lakukan RJP.

RJP pada anak dan bayi Anak (1 – 8 tahun) dan bayi (0 – 1 tahun)memerlukan sedikit perbedaan dalam pertolongan. Pemeriksaan nadi pada bayi dilakukan pada nadi brakial (nadi lengan atas), sedangkan pada anak seperti orang dewasa. Perbandingan antara Pijatan Jantung Luar dan bantuan pernapasan pada satu atau dua orang penolong adalah sama yaitu 5 : 1. Jika bayi atau anak tidak bernapas dan nadi tidak berdenyut, mulailah dengan RJP dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Posisikan penderita 2. Buka baju penderita bagian dada 3. Tentukan titik pijatan, untuk bayi satu jari diatas garis imaginer / semu dari kedua putting susu. Untuk anak sama dengan dewasa. 4. Lakukan pijatan jantung, untik bayi dengan mempergunakan jari tengah dan jari manis. Sedangkan pada anak mempergunakan satu tumit tangan saja. Kecepatan pijatan jantung luar pada bayi sekurang-kurangnya 100 kali /menit. Catatan: khusus untuk bayi baru lahir maka perbandingan antara Pijatan Jantung Luar dan bantuan pernapasan adalah 3 : 1, mengingat dalam keadaan normal bayi baru lahir memiliki denyut nadi diatas 120 kali/menit dan pernapasan mendekati 40 kali/menit.

KESALAHAN PADA RJP Kesalahan  Penderita tidak berbaring pada bidang keras  Akibat RJP kurang efektif

 Penderita tidak horizontal

Bila kepala penderita lebih tinggi maka jumlah darah yang ke otak berkurang

 Tekan dahi kurang baik

angkat

dagu

Jalan napas terganggu

 Kebocoran saat melakukan pernapasan buatan  Lubang hidung tidak tertutup rapat dan mulut penderita kurang terbuka saat pernapasan buatan  Letak tangan kurang tepat, arah tekanan kurang baik  Tekanan terlalu dalam atau terlalu cepat  Rasio RJP dan pernapasan buatan tidak baik

Pernapasan buatan tidak efektif

Pernapasan buatan tidak efektif

Patah tulang, luka dalam paru-paru

Jumlah darah yang dialirkan kurang

Oksigenisasi darah kurang

PERDARAHAN DAN SYOK

PERDARAHAN Perdarahan terjadi akibat rusaknya dinding pembuluh darah yang dapat disebabkan oleh ruda paksa (trauma) atau penyakit. Klasifikasi sumber perdarahan/golongan perdarahan : 1. Perdarahan nadi (arteri) : Darah yang berasal dari pembuluh nadi keluar memancar sesuai dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang. 2. Perdarahan balik (vena) : Darah yang keluar dari pembuluh 3. Perdarahan rambut (kapiler) : Berasal dari pembuluh kapiler, darah yang keluar merembes perlahan. JENIS PERDARAHAN 1. Perdarahan luar : Perdarahan tampak, terlihat jelas keluar dari luka terbuka. 2. Perdarahan dalam : Perdarahan dalam, biasanya tak terlihat dan kulit tidak tampak rusak. Kadang-kadang terlihat berada di bawah permukaan kulit berupa memar. Waspadai adanya perdarahan dalam, bila terjadi : ☻ Luka tusuk ☻ Darah atau cairan keluar dari telinga atau hidung ☻ Muntah atau batuk darah ☻ Memar luas pada batang tubuh ☻ Luka tembus dada atau perut ☻ Nyeri tekan, kaku atau kejang pada dinding perut ☻ Buang air kecil atau besar berdarah PENANGANAN A. Perlindungan terhadap infeksi pada penanganan perdarahan : 1. Pakai APD agar tidak terkena darah atau cairan tubuh korban 2. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan sewaktu memberi perawatan 3. Cucilah tangan segera setelah selesai merawat 4. Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda dengan darah atau cairan tubuh korban B. Mengendalikan perdarahan luar 1. Tekanan langsung Tekan bagian yang berdarah tepat di atas luka, umumnya perdarahan akan berhenti setelah 5 – 15 menit. Beri penutup luka yang tebal pada tempat perdarahan. Bila belum berhenti bisa beri penutup lain, tanpa melepas penutup pertama. Tindakan ini merupakan cara yang paling penting dalam upaya menghentikan perdarahan.

2.

Elevasi (dilakukan bersamaan dengan tekanan langsung) Tinggikan anggota badan yang berdarah lebih tinggi dari jantung. Hanya dapat dilakukan pada perdarahan di daerah alat gerak saja. 3. Tekan pada titik tekan Bila kedua cara tersebut diatas belum berhasil maka perlu dilakukan cara ketiga yaitu dengan cara menekan pembuluh nadi diatas daerah yang mengalami perdarahan. Contoh titik tekan yaitu : a. A.brakialis (pembuluh nadi di lengan atas) b. A.femoralis (pembuluh nadi di lipat paha)

4.

Cara lain yang dapat membantu menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut : a. Immobilisasi dengan atau tanpa pembidaian b. Torniket Torniket sebaiknya hanya digunakan apabila semua cara menghentikan perdarahan gagal. PERAWATAN PERDARAHAN 1. Pada perdarahan besar : a. Jangan buang waktu hanya untuk mencari penutup luka. b. Tekan langsung menggunakan tangan (sebaiknya menggunakan sarung tangan) c. Pertahankan dan tekan cukup kuat. d. Rawat luka setelah perdarahan terkendali. Pada perdarahan ringan atau terkendali : a. Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka. b. Tekan sampai perdarahan terkendali. c. Pertahankan penutup luka dan balut. d. Sebaiknya jangan melepas penutup luka atau balutan pertama. Perdarahan dalam atau curiga pada perdarahan dalam : a. Baringkan dan istirahatkan penderita

2.

3.

b. c. d. e. f. g. h.

Buka jalan napas dan pertahankan Periksa berkala pernapasan dan denyut nadi Perawatan syok bila terjadi syok atau diduga akan menjadi syok Jangan beri makan dan minum Rawatlah cedera berat lainnya bila ada Bila ada berikan oksigen Rujuk ke fasilitas kesehatan

Perlu diingat : penanganan perdarahan berarti mengendalikan perdarahan, bukan bearti menghentikan perdarahan sama sekali. SYOK Syok terjadi bila sistem peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke organ vital (terutama otak, jantung dan paru-paru). Penyebab 1. Kegagalan jantung memompa darah 2. Kehilangan darah dalam jumlah besar 3. Pelebaran (dilatasi) pembuluh darah yang luas, sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik. 4. Kekurangan cairan tubuh yang banyak misalnya diare.

Tanda

a.
b. c.

d. e.

Pernapasan Nadi Kulit Wajah Mata

: cepat dan dangkal : cepat dan lemah : pucat, dingin dan lembab : pucat, sinosis pada bibir, lidah dan cuping telinga : pandangan hampa, pupil melebar

Gejala : a. Mual dan mungkin muntah b. Haus c. Lemah d. Pusing e. Gelisah dan takut mati Penanganan syok : 1. Bawa penderita ke tempat teduh dan aman 2. Tidurkan telentang, tungkai ditinggikan 20 – 30 cm bila tidak ada kecurigaan patah tulang belakang atau patah tungkai. Bila menggunakan papan spinal atau tandu maka angkat bagian kaki. 3. Longgarkan pakaian penderita 4. Cegah kehilangan panas tubuh dengan beri selimut 5. Tenangkan penderita 6. Pastikan jalan napas dan pernapasan baik. 7. Kontrol perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada. 8. Bila ada berikan oksigen sesuai protokol. 9. Jangan beri makan dan minum. 10. Periksa berkala tanda vital secara berkala

CEDERA JARINGAN LUNAK

Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit, otot, saraf, atau pembuluh darah akibat suatu ruda paksa. Keadaan ini umumnya dikenal dengan istilah luka. Beberapa penyulut yang dapat terjadi adalah perdarahan, kelumpuhan serta berbagai gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya cedera yang terjadi. KLASIFIKASI LUKA Berdasarkan keterlibatan jaringan kulit, maka luka dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Luka terbuka Cedera jaringan lunak disertai kerusakan / terputusnya jaringan kulit yaitu rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan di bawah kulit. 2. Luka tertutup

Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan / terputusnya jaringan kulit, yang rusak hanya jaringan di bawah kulit. Pembagian ini tidak jadi penentu berat ringannya suatu cedera. JENIS LUKA TERBUKA 1. Luka lecet ☻ Umumnya terjadi akibat gesekan sehingga permukaan kulit terkelupas, mungkin tampak titik-titik perdarahan. ☻ Walau hanya merupakan luka permukaan tetapi kadang-kadang sangat nyeri karena ujung-ujung saraf juga mengalami cedera. ☻ Tepi luka tidak teratur. 2. Luka iris/sayat ☻ Umumnya terjadi akibat kontak dengan benda tajam ☻ Jaringan kulit dan lapisan dibawahnya terputus sampai kedalaman yang bervariasi ☻ Tepi luka dan bentuk luka teratur 3. Luka robek ☻ ☻ 4. Luka tusuk ☻ ☻ ☻ ☻ ☻ Umumnya terjadi akibat benturan keras dengan benda tumpul Tepi luka dan bentuk luka tidak teratur

Terjadi akibat masuknya benda tajam dan runcing melalui kulit dalam tubuh Ciri khasnya adalah luka relatif lebih dalam dibandingkan dengan lebarnya Luka jenis ini sangat berbahaya karena dapat melibatkan alat-alat dalam tubuh Bentuk luka hampir menyerupai benda yang menusuk Penyulitnya adalah bila benda yang menusuk masih tertancap pada bagian tersebut

5. Luka avulse (sobek) Sama dengan luka robek tetapi jaringan tubuh tidak terlepas hanya terkelupas namun masih ada bagian yang menempel sehingga terbentuk lembaran gantung 6. Luka amputir Luka terbuka dengan jaringan tubuh terpisah. Beberapa penyebab luka lainnya seperti gigitan hewan dan sengatan serangga memiliki bentuk luka yang bervariasi tergntung daari kejadian pada saat itu. Hal yang harus diwaspadai adalah terjadinya keracunan atau penularan penyakit seperti rabies. Pada keadaan ini penanganan oleh pihak medis harus diupayakan secepat mungkin. Dalam praktek dilapangan mungkin kita akan menemukan suatu luka yang bervariasi bentuknya dan mungkin berupa luka gabungan antara luka terbuka dan luka tertutup.

JENIS LUKA TERTUTUP Jenis luka ini dikelompokkan dalam luka tertutup namun beberapa jenis luka ini dapat berupa campuran antara luka tertutup dan terbuka. 1. Luka memar Merupakan luka tertutup murni akibat berkumpulnya darah dibawah lapisan kulit yang utuh. Tanda : Nyeri Bengkak Warna merah kebiruan (memar) Nyeri tekan 2. Cedera karena himpitan kuat Gejala dan tanda sangat tergantung dari besarnya gaya himpitan yang dialami bagian tubuh tersebut, muali dari memar sampai dengan luka terbuka. 3. Cedera remuk Pada keadaan yang hebat dapat terjadi remuk pada jaringan tulang dan kehancuran jaringan bawah kulit lainnya. Cedera remuk dapat berupa luka terbuka maupun luka tertutup.

PENUTUP LUKA DAN PEMBALUT PENUTUP LUKA Penutup luka adalah bahan yang diletakkan tepat diatas luka. Bahan yang dipakai sebaiknya berdaya serap baik dan cukup besar untuk menutup seluruh permukaan luka, seperti kasa steril. Dalam keadaan darurat semua bahan yang relatif bersih dapat dimanfaatkan sebagai penutup luka. Jangan memakai bahan yang mydah melekat di luka, misalnya kapas, tisu dan lain-lain. Penutup luka ada yang mengandung obat, bacalah aturan pakai terlebih dahulu bila akan menggunakan bahan ini. Penutup luka oklusif (kedap) Bahan kedap air dan udara yang dipakai pada luka umtuk mencegah keluar masuknya udara dan menjaga kelembaban organ dalam.

Penutup luka tebal (bantalan penutup luka) Setumpuk bahan penutup luka setebal kurang lebih 2 – 3 cm. Fungsi penutup luka : 1. Membantu mengendalikan perdarahan 2. Mencegah kontaminasi lebih lanjut 3. Mempercepat penyembuhan 4. Mengurangi nyeri PEMBALUT Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka. Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain. Fungsi pembalut 1. Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan 2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya 3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera Pemasangan yang baik akan membantu proses penyembuhan. Beberapa jenis pembalut : ◙ Pembalut pita/gulung ◙ Pembalut segitiga (mitela) ◙ Pembalut tabung / tubuler ◙ Pembalut penekan PEDOMAN PENUTUPAN LUKA DAN PEMBALUTAN Penutupan luka : ◙ Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka ◙ Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan, maka prioritasnya adalah menghentikanperdarahan tersebut. ◙ Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan penutup yang menempel pada bagian luka tidak terkontaminasi (teknik aseptik). Pembalutan : ◙ Usahakan untuk memasang pembalut setelah perdarahan terhenti. Kecuali pembalutan penekanan yang memang berfungsi untuk menghentikan perdarahan. ◙ Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar. ◙ Jangan biarkan ujung sisa pembalut terurai ◙ Bial membalut luka sebaiknya daerah yang dibalut lebih lebar dari luas luka. Ini dilakukan untuk menambah luasnya permukaan tubuh yang mengalami tekanan sehingga mencegah terjadinya kerusakan jaringan. ◙ Jangan menutupi ujung jari kecuali terdapat luka di bagian terdebut, bagian ini dapat menjadi petunjuk apabila pembalutan kita terlalu kuat yaitu dengan mengamati ujung jari. Bila pucat artinya pembalutan terlalu kuat dan harus diperbaiki. ◙ Khusus pada anggota gerak pembalutan dilakukan dari distal ke proksimal arah jantung. ◙ Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan, misalnya pada pembalutan sendi jangan merusaha menekuk sendi bila dibalut dalam keadaan lurus. ◙ Bila membalut melingkari dada, perintahkan penderita menarik napas dalam terlebih dahulu, tahan napas baru kencangkan pembalut. Bila penderita tidak respon, kencangkan pada saat penderita menarik napas (inhalasi). ◙ Jangan melakukan pembalut melingkari leher. Penggunaan pembalutan penekanan : Kombinasi penutup luka dan pembalut juga dapat dipakai untuk mrmbantu melakukan tekanan pada kasus perdarahan. Langkah-langkahnya : 1. Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung diatas luka dan tekan. 2. Beri bantalan penutup luka. 3. Gunakan pembalut untuk menahan penutup luka. 4. Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal). Perawatan luka terbuka : 1. Pastikan daerah luka terlihat. 2. Bersihkan daerah sekitar luka. 3. Kontrol perdarahan bila ada. 4. Cegah kontaminasi lanjut. 5. Beri penutup luka dan balut. 6. Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah. 7. Tenangkan penderita. 8. Atasi syok bila ada, bila perlu rawat pada posisi syok walau syok belum terjadi. 9. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Perawatan luka trtutup : Atasi seperti perdarahan dalam. Khusus untuk memar dapat dilakukan pertolongan sebagai berikut : 1. Istirahatkan anggota gerak tersebut 2. Berikan kompres dingin (misalnya kantung es) 3. Balut tekan 4. Tinggikan anggota gerak tersebut Beberapa perawatan luka spesifik atau hal-hal yang perlu mendapat perhatian pada perawatan luka.

Perawatan luka dengan benda asing menancap : Langkah-langkah perawatan luka yang disertai dengan menancapnya benda asing adalah sebagai berikut : 1. Stabilkan benda yang menancap secara manual 2. Jangan dicabut. Benda asing yang menancap tidak pernah boleh dicabut, kecuali pada pipi. 3. Bagian yang luka dibuka sehingga terlihat dengan jelas. 4. Kendalikan Perdarahan, hati-hati jangan sampai menekan benda yang menancap. 5. Stabilkan benda asing tersebut dengan menggunakan penutup luka tebal, atau berbagai variasi misalnya pembalut donat, pembalut gulung,dan lain-lainnya. 6. Rawat syok bila ada 7. Jaga pasien tetap istirahat dan tenang 8. Rujuk ke fasilitas kesehatan Cedera kulit kepala Dalam melakukan perawatan pada cedera kulit kepala penolong harus mengenali dengan baik keadaan yang sedang dihadapinya terutama berhubngan dengan ada tidaknya patah tulang tengkorak yang menyertai luka pada daerah tersebut. Hal yang harus mendapat perhatian adalah bila penolong mencurigai terjadinya patah tulang tengkorak adalah : 1. Jangan coba bersihkan kulit kepala. 2. Jangan melakukan penekanan langsung. Perawatan luka kulit kepala : 1. Kendalikan perdarahan dengan penekanan langsung pada luka dan beri penutup luka. Bila curiga ada perdarahan yang disertai patah tulang tengkorak terbuka maka gunakan bantalan yang tebal untuk menghentikan perdarahan. 2. Pasang pembalut. 3. Tinggikan, bila tak ada patah tulanng tengkorak, cedera tulang belakang atau dada. Tetapi jangan posisikan penderita tidak sadar dengan kepala-bahu relatif lebih tinggi. Perawatan luka wajah : Pada luka di daerah wajah harus diwaspadai terjadinya perdarahan di bagian dalam sepeti mulut dan saluran napas atas yang memungkunkan terjadinya gangguan jalan napas. Langkah-langkahnya : 1. Awasi jalan napas 2. Kendalikan perdarahan 3. Beri penutup luka dan balut Benda tertancap di pipi : Seperti telah disebutkan diatas, benda yang menancap tidak boleh dicabut. Dalam pertolongan pertama ada satu keadaan yang membutuhkan tindakan penolong untuk mencabut benda yang menancap yaitu bila hal ini terjadi pada pipi. Hal ini dilakukan bila penolong menilai bahwa benda yang menancap menghalangi jalan napas. Caranya : 1. Lihat kedalam mulut, apakah benda menancap menembus dinding pipi. 2. Jangan mencabut benda yang menancap kecuali menghalangi jalan napas, lakukan penilaian dengan teliti. 3. Bila dianggap perlu untuk mencabut, tarik dengan aman kea rah yang paling memungkinkan. 4. Bila benda yang menembus dan sulit dicabut, stabilisasi benda tersebut. 5. Miringkan kepala kecuali ada cedera leher dan tulang belakang. 6. Jika benda dicabut, tempatkan penutup luka didalam (antara gigi dan pipi) 7. Beri penutup luka diluar dan balut. 8. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Cedera mata Mata merupakan salah satu alat tubuh yang sangat penting. Adakalanya alat ini mengalami cedera, baik pada bagian luarnya seperti kelopak mata, maupun pada bola mata itu sendiri. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian penolong adalah : 1. Jangan lakukan tekanan langsung terutama bila bola mata juga mengalami cedera. 2. Bila dimata ada benda tertanam atau luka sayat, jangan berupaya membersihkan mata. 3. Jangan mencabut benda yang menancap. 4. Jangan berupaya memasukkan bola mata yang keluar. 5. Kurangi gerakkan mata. 6. Tutup juga mata yang sehat untuk mencegah gerakkan mata yang sakit. Ingat gerakan mata bersifat simultan kiri dan kanan. 7. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Cedera perut Bila melihat bentuk tubuh manusia maka jelas bahwa daerah perut merupakan bagian tubuh yang palilng lemah prlindungannya. Ruda paksa di daerah perut akan dengan mudah mengakibatkan alat dalam tubuh di daerah ini ikut mengalami cedera. Jangan tertipu oleh penampilan penderita, sebab dampak ruda paksa pada daerah perut seringkali tidak menunjukkan gejala langsung namun baru terlihat beberapa waktu kemudian. Gejala dan tanda yang mungkin ditemukan pada cedera perut adalah : 1. Nyeri dan kejang perut 2. Nyeri tekan pada dinding perut 3. Memar 4. Ada luka terbuka 5. Muntah darah 6. Gejala dan tanda syok 7. Penderita memegang dan melindungi perut 8. Penderita berbaring dengan tungkai tertekuk 9. Pada luka terbuka mungkin terlihat adanya organ dalam perut keluar (umumnya usus). Catatan : gejala dan tanda diatas tidak selalu ada semua.

Perawatan luka terbuka pada dinding perut : 1. Kontrol perdarahan luar bila memungkinkan 2. Telentangkan dengan tungkai tertekuk 3. Atasi syok jika ada dan periksa berkala 4. Waspadai muntah 5. Jangan sentuh atau coba memasukkan organ yang keluar 6. Organ yang keluar sebaiknya ditutup dengan penutup luka yang besar atau dengan kain bersih (steril) yang sudah dibasahi sengan air suam-suam kuku. 7. Bila perlu selimuti bagian perut untuk mencegah kehilangan panas 8. Jangan cabut benda asing yang menancap 9. Beri oksigen bila ada 10. Transportasi dalam posisi tersebut diatas, segera mungkin rujuk ke fasilitas kesehatan. 11. Teruskan periksa berkala. Perawatan luka tertutup pada dinding perut : 1. Telentangkan pasien dengan tungkai tertekuk 2. Pertahankan jalan 3. Awasi muntahan yang terjadi 4. Atasi syok 5. Beri oksigen bila ada 6. Transportasi dalam posisi tersebut diatas ke fasilitas kesehatan Catatan : Jangan beri makanan dan minuman

CEDERA ALAT GERAK
Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat dan otot pada manusia sangat penting. Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya. Secara umum cedera pada alat gerak dapat berupa : 1. Patah tulang 2. Kepala sendi atau ujung tulang keluar dari sendi (cerai sendi atau dislokasi) 3. Otot atau sambungan ototnya teregang melebihi batas normal (terkilir otot, strain) 4. Robek atau putusnya jaringan ikat di sekitar sendi (terkilir sendi, sprain) PATAH TULANG Pengertian Patah tulang adalah terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau sebagian saja. Penyebab Terjadinya gaya yang melampaui batas elastisitas jaringan tulang sehingga jaringan tilang rusak. Gaya tersebut umumnya terjadi akibat kekerasan dari luar misalnya terpukul, karena benda keras, tertembak, terjatuh, dan sebagainya. Cedera dapat terjadi sebagai akibat : 1. Gaya langsung 2. Gaya tidak langsung 3. Gaya puntir Mekanisme terjadinya cedera harus diperhatikan pada kasus-kasus yang berhubungan dengan patah tulang. Ini dapat memberikan gambaran kasar kepada kita seberapa berat cedera yang kita hadapi. Gejala dan tanda : 1. Terjadi perubahan bentuk pada bagian tubuh yang patah. Cara yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan membandingkan dengan sisi yang sehat. 2. Daerah yang patah nyeri dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan. 3. Bagian yang patah mungkin membengkak, disertai memar / perubahan warna. 4. Bagian yang patah mengalami gangguan fungsi gerak atau sukar digerakkan. 5. Terdengar suara berderik (krepitasi tulang) pada daerah yang patah (suara ini tidak perlu dibuktikan dengan menggerakkan bagian cedera tersebut). 6. Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka. Jenis patah tulang : 1. Patah tulang tertutup Tidak ada luka, permukaan kulit tidak rusak/masih utuh, sehingga bagian tulang yang patah tidak berhubungan dengan udara. 2. Patah tulang terbuka

Ada luka, permukaan kulit diatas / dekat dengan bagian yang patah rusak, seningga bagian tulang yang patah berhubungan dengan udara. Akan tetapi tulang yang patah tidak selalu terlihat atau menonjol keluar. Patah tulang terbuka memerlukan pertolongan yang lebih cepat karena adanya resiko terjadinya factor penyulit yaitu infeksi yang cukup besar.

URAI / CERAI SENDI (DISLOKASI) Pengertian Keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang dari sendinya. Penyebab : Karena sendi teregang melebihi batas normal. Gejala & Tanda : Secara umum berupa gejala dan tanda patah tulang yang terbatas pada daerah sendi. TERKILIR / KESELEO Terkilir / keseleo ada 2 macam, yaitu : A. Terkilir sendi (sprain) Pengertian : Robeknya atau putusnya jaringan ikat di sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas normal. Penyebab : Terpeleset, gerakan yang salah, sehingga menyebabkan sendi teregangmelampaui gerakan normal. Gejala dan tanda : 1. Nyeri bengkak 2. Bengkak 3. Nyeri tekan 4. Warna kulit merah kebiruan B. Terkilir otot (strain) Pengertian : Robeknya bagian otot pada bagian tendon (ekor otot), karena teregang melebihi batas normal. Penyebab : Umumnya terjadi karena pembebanan secara tiba-tiba pada otot tertentu. Merupakan salah satu cedera olah raga yang paling sering terjadi karena : 1. Latihan peregangan tidak cukup. 2. Latihan peregangan tidak benar. 3. Teregang melampaui kemampuan. 4. Gerakan yang tak benar. Gejala dan tanda : 1. Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu. 2. Nyeri menyebar keluar dengan kejang atau kaku otot. 3. Bengkak pada daerah cedera. PEMBIDAIAN Upaya untuk menstabilkan dan mengistirahatkan (imobilisasi) bagian yang cedera. Tujuan pembidaian 1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah. 2. Mengurangi terjadinya cedera baru di sekitar bagian tulang yang patah. 3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah. 4. Mengurangi rasa nyeri. 5. Mempercepat penyembuhan. Macam-macam bidai : 1. Bidai keras Umumnya terbuat dari kayu, aluminium, karton, plastic atau bahan lain yang kuat dan ringan. Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum. 2. Bidai traksi Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada tulang paha. Umumnya bidai ini bervariasi bentuk dan pemakaiannya sesuai pembuatnya. 3. Bidai improvisasi Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk menopang. Contoh : majalah, Koran, karton, dll. 4. Gendongan/belat dan bebat Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah cedera. Contoh : gendongan lenga.

Pedoman umum pembidaian
Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti pedoman umum. 1. Sedapat mungkin informasikan rencana tindakan kepada penderita. 2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada. 3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di bagian distalnya. 4. Nilai gerak-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum melakukan pembidaian.

5. Siapkan alat-alat selengkapnya. 6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai pada posisi ketika ditemukan. 7. Jangan berusaha memasukkan bagian tulang yang patah. 8. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur terlebih dahulu pada anggota badan pendrita yang sehat. 9. Bila cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit kedua sendi tersebut. Upayakan juga membidai sendi distalnya. 10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan. 11. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis. 12. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar. 13. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah. 14. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksdaan GSS yang pertama. 15. Jangan membidai berlebihan. Pertolongan cedera alat gerak 1. Lakukan penilaian dini ◙ Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa ◙ Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat. ◙ Pasang bidai leher (neck collar) dan beri oksigen bila ada. 2. Lakuakan pemeriksaan fisik 3. Stabilkan bagian yang patah sevara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan sampai menambah rasa sakit penderita. 4. Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera. 5. Atasi perdarahan dan rawat luka bila ada. 6. Siapkan semua perlatan dan bahan untuk membidai. 7. Lakukan pembidaian 8. Kurangi rasa sakit ◙ Istirahatkan bagian yang cedera ◙ Kompres es bagian uang cedera (khususnya pada patah tulang tertutup). 9. Baringkan penderita pada posisi yang nyaman. Patah tulang, cerai tulang sendi dan terkilir/keseleo mungkin ditemukan bersamaan pada suatu cedera. Penanganan terkilir Bila menemukan penderita dalam keadaan terkilir maka dapat juga dilakukan tindakan : 1. Letakkan penderita pada posisi yang nyeman, istirahatkan bagian yang cedera. 2. Tinggikan daerah yang cedera. 3. Beri kompres dingin maksimum 30 menit, ulangi setiap jam bila perlu. 4. Balut tekan dan tetap tinggikan 5. Bila ragu rawat sebagai patah tulang. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. MENOLONG BEBERAPA MACAM CEDERA ALAT GERAK Selalu ikuti pedoman umum pembidaian pada semua kasus di bawah ini. Patah tulang lengan atas. Pertolongan : 1. Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam. 2. Pasang bidai L atau bidai sampai sikut. 3. Ikat pada daerah diatas dan dibawah tulang patah 4. Lengan bawah digendong. 5. Jika siku juga patah dan tangan tak dapat dilipat, pasang bidai sampai ke lengan bawah dan biarkan lengan tergantung tidak usah digendong. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah tulang lengan bawah Pertolongan : 1. Letakkan tangan pada dada. 2. pasang bidai dari siku sampai tangan. 3. Ikat pada daerah diatas dan dibawah tulang yang patah. 4. Lengan digendong. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan Patah tulang panggul Tanda-tanda patah tulang panggul : 1. Nyeri di daerah atas kemaluan bila penderita mencoba duduk atau berdiri. 2. Kadang tidak mampu menggerakkan kaki dan terasa kesemutan. Pertolongan : 1. Harus hati-hati dalam memindahkan pendrita. 2. Penderita harus diangkat dengan usungan papan dengan kedua kaki diangkat menadi satu. 3. Dibawah lutut diberi bantal, letakkan bantalan lunak disebelah kiri dan kanan tulang pinggul. 4. Pembalut diikatkan pada tulang pingul dan pergelangan kaki. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah tulang paha (tungkai atas) Pertolongan :

1.

Siapkan pembalut secukupnya untuk mengikat bidai, sebaiknya pasang dua bidai dari : Ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki. Lipat paha sampai sedikit melewati telapak kaki. 2. Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah. 3. Bila perlu ikat kedua tungkai diatas lutut dan pergelangan kaki / telapak kaki dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan. 4. Rujuk ke fasilitas kesehatan. a. b. Patah tulang tungkai bawah : Pertolongan : 1. Siapkan pembalut secukupnya untuk mengikat bidai. 2. Sebaiknya pasang dua bidai sebelah dalam dan luar tungkai yang patah. 3. Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah. 4. Bidai mulai dari lipat paha sampai sedikit melebihi telapak kaki. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah tulang kaki : Pertolongan : 1. Apabila tidak ada perdarahan sepatu tidak dibuka sebab sudah merupakan bidai. 2. Bila ada perdarahan banyak dan terjadi pembengkakan, maka sepatu dibuka, bila sukar digunting. 3. Hentikan perdarahan yang terjadi. 4. Beri kapas/kain pada telapak kaki, kemudian pasang bidai yang sesuai dengan panjang telapak kaki. 5. Beri ikatan pada kaki dan jangan terlalu kencang. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Urai sendi rahang bawah Gejala dan tanda cerai/urai sendi rahang bawah adalah : 1. Mulut terbuka. 2. Rahang bawah kaku sukar digerakkan. 3. Rasa nyeri. 4. Sukar berbicara. Tindakan pada urai/cerai sendi rahang bawah : 1. Bungkuslah kedua ibu jari penolong dengan kain bersih, maksudnya agar tidak licin dan mencegah cedera jari penolong jika mulut penderita terkatup tiba-tiba setelah perbaikan. 2. Berdiri di depan penderita. 3. Letakkan kedua ibu jari di masing-masing geraham penderita. 4. Tekan kea rah bawah dan dorong kea rah belakang kemudian keatas. Penolong harus hati-hati dan cepat melepaskan kedua ibu jari dari mulut penderita setelah posisi rahang kembali normal. 5. Setelah kembali ke posisi normal, rahang kemudian lakukan imobilisasi daerah tersebut. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

CEDERA KEPALA, LEHER,TULANG BELAKANG DAN DADA
CEDERA KEPALA Pengertian Semua kejadian pada daerah kepala yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otakbaik ringan maupun berat. Penyebab : Umumnya benturan benda tumpul dengan kepala atau penyebab lain yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan kulit, tengkorak, dan otak. Pembagian umum Secara umum cedera kepala dapat dibagi menjadi tiga, yaitu : 1. Cedera kepala sederhana. 2. Patah tulang tengkorak. 3. Cedera otak (dapat disertai patah tulang tengkorak). Patah tulang tengkorak dapat berdampak pada cedera jaringan otak. Pada cedera kepala juga dikenal adanya patah tulang terbuka dan tertutup. Hati-hati pada patah tulang terbuka, karena otak dapat terpapar dengan udara luar, sehingga dapat terjadi infeksi pada jaringan otak yang terbuka tersebut. Gejala dan tanda 1. Perubahan respon (dari tampak bingung sampai tidak ada respon samasekali). 2. Gangguan pernapasan. 3. Sakit kepala, pusing yang muncul mendadak setelah benturan. 4. Mual. 5. Muntah, biasanya khas yang dikenal dengan muntah proyektil, yaitu muntah memancar yang langsung terjadi tanpa awalan. 6. Gangguan penglihatan. 7. Anak mata (pupil) tidak simetris. 8. Kadang-kadang kejang. 9. Perubahan tanda vital.

10. Nyeri di sekitar cedera. 11. Luka terbka atau tertutup di daerah kepala. 12. Pada patah tulang tengkorak mungkin ditemui : Ada bagian tengkorak yang teraba lunak atau lekuk yang lebih dalam. Darah atau cairan otak keluar melalui hidung atau telinga. 13. Memar di belakang telinga (Battle sign). 14. Memar di sekeliling mata (Racoon’s eyes, memar kaca mata). 15. Postur abnormal. Penanganan : 1. Lakukan penilaian dini. 2. Imobilisasi kepala dan leher. 3. Berikan oksigen bila ada. 4. tutup dan balut luka. 5. Baringkan penderita dengan baik. 6. Periksa tanda vital secara berkala. 7. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Catatan : • jangan mencoba mencabut benda yang menancap di kepala, tetapi upayakan benda tersebut tetap pada tempatnya dengan beri balutan di sekitarnya. • Jangan menghalangi aliran cairan otak melalui hidung atau luka di kepala. Tutup dengan longgar memakai penutup kassa steril. • Jika disertai dengan cedera berat pada wajah, maka perhatikan jalan napas. Pastikan jalan napas terbuka dengan baik tanpa terlalu menggerakkan kepala penderita.

CEDERA SPINAL Pengertian Semua cedera yang berhubungan dengan tulang belakang, mulai dari tulang leher sampai tulang ekor termasuk persyarafan didalamnya. Penyebab Benturan benda tumpul pada daerah tulang belakang, jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalulintas, dll. Gejala dan tanda : 1. Perubahan bentuk pada kepala, leher atau daerah tulang punggung. 2. Kelumpuhan pada alat gerak. 3. Mati rasa, kesemutan pada alat gerak. 4. Ada bagian yang lebih sensitive atau nyeri. 5. Nyeri pada saat menggerakkan lengan atau tungkai. 6. Hilangnya kemampuan mengendalikan buang air besar dan kecil. 7. Sulit bernapas dengan atau tanpa pergerakan dada. 8. Priapismus (ereksi kemaluan pria yang menetap). 9. Cedera kepala, gumpalan darah di daerah bahu, punggung atau sisi penderita. Catatan : gejala dan tanda tersebut biasanya tidak khas atau tidak langsung terlihat. Tidak ditmukannya hal-hal diatas tidak menyingkirkan kemungkinan adanya cedera spinal. Penyulit pada cedera spinal : 1. Henti napas, karena kelumpuhan otot dada. 2. Kelumpuhan umum. 3. Syok. Penanganan : 1. Analisa mekanisme terjadinya cedera. 2. Lakukan stabilisasi manual kedudukan netral satu garis lurus pada leher dan kepala saat kontak pertama kali dengan pasien, bila ada pasang bisai leher (neck collar). 3. Lakukan penilaian dini. 4. Berikan oksigen bila ada. 5. Lakukan pemeriksaan fisik. 6. Pertahankan stabilisasi leher sampai seluruh proses penilaian, penatalaksanaan lainnya selesai dan penderita dimobilisasi dengan baik. 7. Penderita harus dimobilisasi dengan papan spinal atau alas keras lainnya yang sejenis. 8. Periksa tanda vital penderita selama transportasi. 9. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

CEDERA PADA LEHER Luka terbuka yang besar pada leher dapat mengakibatkan masuknya udara ke dalam peredaran darah yang dikenal sebagai emboli udara. Emboli udara dapat mengakibatkan sumbatan sehingga penderita dapat mengalami serangan jantung atau pitam otak (stroke). Luka tertutup pada leher sama berbahayanya karena dapat terjadi kerusakan jaringan dalam leher dan juga emboli udara. Gejala dan tanda. 1. luka terbuka pada daerah leher atau memar di daerah leher, atau kelainan bentuk. 2. Sukar bicara atau kehilangan suara, atau perubahan suara menjadi serak atau parau. 3. Sumbatan jalan napas. 4. Tenggorokan terlihat tidak lurus (bengkok). 5. Dapat teraba udara di bawah kulit. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. CEDERA DADA Cedera pada dada umumnya terjadi kerana benturan dengan benda tumpul atau tertusuk. Apapun jenis cedera dada yang terjadi pada dasarnya semua akan mengarah ke gangguan sistem pernapasan yang dapat berakibat fatal. Pembagian cedera dada Cedera dada dapat dibagi menjadi : 1. Cedera dada tertutup, yaitu kulit pada daerah dada tidak terbuka. Contohnya : patah tulang dada tertutup. 2. Cedera dada terbuka, yaitu kulit dan dinding dada terbuka, ada kemungkinan terjadinya hubungan antara udara dalam rongga dada dan udara luar. Contohnya : patah tulang dada terbuka, luka tusuk tembus dada. Penyulit cedera dada 1. Rongga dada kelasukkan udara bebas (pneumotoraks). 2. Rongga dada kemasukkan darah (Hemotoraks). 3. Gabungan keduanya. Gejala dan tanda umum cedera dada : 1. Sesak napas atau sukar bernapas. 2. Nyeri pada saat bernapas. 3. Gejala lainnya sesuai dengan jenis cederanya. Penanganan cedera dada tertutup : 1. Lakukan penilaian dini, buka jalan napas. 2. Nilai pernapasannya, berikan oksigen bila ada,bersiaplah untuk melakukan bantuan pernapasan atau RJP. 3. Hentikan perdarahan luar bila ada. 4. Biarkan pasien pada posisi paling nyaman, umumnya pasien ini akan memberikan ruang gerak dada yang maksimal sesuai dengan keadaannya. 5. Pantau tanda vital secara berkala. Patah tulang iga Tulang iga sapat patah pada bagian tertentu saja, atau patah majemuk pada beberapa bagian. Bila satu atau lebih tulang iga patah sedemikian rupa sehingga masing-masing iga terbagi menjadi beberapa bagian atau lebih maka keadaan ini dikenal dengan istilah flail chest. Gejala dan tanda patah tulang iga : 1. Nyeri pada pernapasan. 2. Berikan bantalan pada bagian yang patah. 3. Dinding dada tidak mengembang dengan baik pada saat bernapas. 4. Asanya gerakan paradoks yaotu ada bagian yang bergerak berlawanan sengan bagian dada lainnya pada saat melakukan gerakan napas. 5. Perubahan bentuk pada dada. 6. Bentuk darah. 7. Penderita terkesan berupaya melindungi bagian yang cedera (guarding position). 8. Memar yang jelas dan luas di daedah dada, perubahan bentuk dada. 9. Pelebaran pembuluh balik leher, mata merah, sianosis, bagian tubuh atas bengkak. 10. Tanda-tanda syok. Pertolongan patah tulang iga : 1. Seperti pada pertolongan patah tulang dada tertutup. 2. Berikan bantalan pada bagian yanmg patah. 3. Pada kasus flail chest upayakan bagian yang patah terganjal sehingga tidak ikut bergerak pada saat bernapas. 4. Pasang gendongan. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Pada kasus cedera dada tertutup, waspadai penderita dengan gejala sesak napas yang bertambah parah dan tenggorokan penderita tertarik ke satu sisi. Pada keadaan ini penderita harus secepat mungkin dibawa ke RS. Cedera dada terbuka Cedera ini sering berakibat perubahan tekanan pada rongga dada sehingga paru-paru mungkin kempes atau terdorong. Hal yang sering terjadi adalah hubungan terus menerus antara udara dalam rongga dada dengan udara luar mengikuti irama napas, keadaan ini dikenal sebagai luka hisap dada (Sucking Chest Wound) dan merupakan keadaan yang mengancam jiwa. Pertolongan cedera dada terbuka : 1. Lakukan penilaian dini.

2. Jangan dicabut jika ada benda yang menancap. 3. Segera tutup luka dengan penutup kedap, bila penderita menjadi semakin sesak atau dicurigai ada luka hisap dada maka salah satu sisi dibuka sehingga terbentuk suatu mekanisme katup satu arah. 4. Penatalaksanaan selanjutnya seperti pada cedera dada lainnya. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

LUKA BAKAR
PENYEBAB     Termal (suhu > 60° C) Kimia (asam/basa kuat) Listrik Radiasi

PENAMPANG JARINGAN KULIT PENGGOLONGAN : Berdasarkan lapisan kulit yang mengalami cedera, luka bakar dibagi menjadi : 1. Luka bakar derajat satu (permukaan) Hanya meliputi lapisan kulit yang paling atas saja (kulit ari). Ditandai dengan kemerahan, nyeri dan kadangkadang bengkak. 2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih dalam) Meliputi lapisan paling luar kulit yang rusak dengan bagian dibawahnya terganggu. Luka bakar jenis ini paling sakit, ditandai dengan gelembung pada kulit berisi cairan, bengkak, kulit kemerahan atau putih lembab dan rusak. 3. Luka bakar derajat tiga Lapisan yang terkena tidak terbatas, bahkan dapat sampai ke tulang dan organ dalam. Luka bakar ini paling berat dan ditandai dengan kulit tampak kering, pucat atau putih, atau gosong dan hitam dapat diikuti dengan mati rasa karena kerusakan saraf, jadi yang nyeri hanya daerah disekitarnya. Berbeda dengan derajat satu dan dua, luka bakar derajat tiga tidak menimbulkan nyeri. Hal yang perlu diingat adalah bahwa luka bakar derajat yang lebih berat selalu diiringi oleh daerah yang lebih ringan derajat luka bakarnya. Misalnya daerah luka bakar derajat tiga dikelilingi oleh daerah dengan luka bakar derajat dua dan satu.

Hukum sembilan pada dewasa : Daerah Tubuh 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kepala Badan bagian depan atas Badan bagian depan bawah Badan bagian belakang atas Badan bagian belakang bawah Lengan kiri Lengan kanan Tungkai kanan bagian depan Tungkai kanan bagian belakang Tungkai kiri bagian depan Tungkai kiri bagian belakang Kemaluan 9% 9% 9% 9% 9% 9% 9% 9% 9% 9% 9% 1%

Hukum sembilan pada anak-anak : Daerah Tubuh 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kepala Badan bagian depan atas Badan bagian depan bawah Badan bagian belakang atas Badan bagian belakang bawah Lengan kiri depan Lengan kanan depan Lengan kiri belakang Lengan kanan belakang Tungkai kanan bagian depan Tungkai kanan bagian belakang Tungkai kiri bagian depan Tungkai kiri bagian belakang 18 % 9% 9% 9% 9% 4,5 % 4,5 % 4,5 % 4,5 % 7% 7% 7% 7%

LUAS PERMUKAAN TUBUH Dalam penanganan luka bakar dan penentuan derajat berat luka bakar luas permukaan tubuh yang mengalami luka bakar sangat berperan. Pedoman untuk memperkirakan luas daerah yang terbakar dilakukan dengan hukum sembilan yaitu membagi daerah tubuh dengan prosentase sembilan per daerah tubuh. Cara lain menghiting luas luka bakar Cara lain untuk menghitung luas daerah luka bakar adalah dengan menggunakan telapak tangan penderita sebagai referensi. Satu kali luas telapak tangan sama dengan 1 %. Derajat Berat Luka Bakar Derajat luka bakar ditentukan oleh dua faktor utama yaitu luasnya permukaan tubuh yang mengalami luka bakar dan lokasinya. 1. Luka bakar ringan :  Tidak mengenai wajah, tangan dan kaki, sendi, kemaluan atau saluran napas.  Luka bakar derajat tiga kurang dari 2% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat dua kurang dari 15% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat satu kurang dari 50% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat dua kurang dari 10% luas permukaan tubuh (bayi/anak). 2. Luka bakar sedang :  Tidak mengenai wajah, tangan dan kaki, sendi, kemaluan atau saluran napas.  Luka bakar derajat tiga antara 2% - 10% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat dua antara 15% - 30% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat satu lebih dari 50% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat dua kurang dari 10% - 20% luas permukaan tubuh (bayi/anak). 3. Luka bakar berat :  Luka bakar disertai cedera sluran napas.  Luka bakar derajat tiga pada wajah, tangan, kaki, sendi, kemaluan atau saluran napas.  Luka bakar derajat tiga diatas 10% luas permukaan tubuh.  Luka bakar derajat dua lebih dari 10% luas permukaan tubuh.  Luka bakar yang disertai nyeri, bengkak dan perubahan bentuk alat gerak.  Luka bakar meliputi satu bagian tubuh seperti lengan, tungkai atau dada.  Semua luka derajat tiga atau dua lebih besar dari 20% (bayi/anak). Pada orang dewasa, luka bakar derajat dua seluas 20% dapat mengakibatkan syok. Pada anak-anak syok dapat terjadi akibat luka bakar derajat dua seluas 10%.. BEBERAPA HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN 1. Luka bakar yang disebabkan :  Listrik : Luka bakar tampak kecil tetapi kerusakandi dalam jaringan tubuh cukup luas.  Kimia : masing-masing bahan memiliki cirri-ciri tersendiri. 2. Daerah yang terkena :  Wajah  Tangan dan kaki  Kemaluan, bokong dan paha bagian dalam.  Sendi : karena dapat terjadi penyulit dalam proses penyembuhannya di kemudian hari. 3. Faktor penyulit :  Usia kuran dari 5 tahun atau lebih dari 55 tahun, dianggap berat.  Adanya penyakit penyerta. PENANGANAN LUKA BAKAR Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong. 1. Hentikan proses luka bakarnya. Alirkan air dingin pada bagian yang terkena. Bila ada bahan kimia alirkan air secara terus menerus selama 20 menit atau lebih. 2. Lepsakan pakaian dan perhiasan. Jika pakaian melekat, gunting di sekitarnya, jangan memaksa melepaskan bagian yang melekat tersebut. 3. Lakukan penilaian dini. Atasi semua masalah mengancam jiwa. Bila ada berikan oksigen. 4. Tentukan derajat berat luka bakar selama pemeriksaan fisik. Hitung derajat, luas permukaan tubuh terkena, lokai luka bakar dan factor komplikasi. Jangan lupa kemungkinan cedera lain. 5. Tutup luka bakar. Gunakan penutup luka steril atau lembaran penutup luka steril sekali pakai, jangan memecahkan gelambung. Jangan gunakan lemak, salep, cairan, antiseptic atau es pada luka bakar. Jika luka bakar mengenai mata, pastikan kedua mata tertutup. Bila yang terbakar jari-jari, maka masing-masing jari dibalut terpisah. 6. Jagalah kehangatan tubuh penderita, dan rawat cedera lain yang perlu. 7. Rujuk ke fasilitas kesehatan. PENANGANAN BEBERAPA LUKA BAKAR KHUSUS : Luka bakar Kimia Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong

• Segera siram/aliri luka bakar dengan air sebanyak-banyaknya, sekurang-kurangnya 20 menit. Jangan buang waktu mencari antidotnya. • Jangan menyiram bahan kimia yang bereaksi makin kuat dengan air misalnya bubuk kaustik soda. • Bila mengenai mata, siram dengan air, dan lepaskan lensa kontak. • Minimalkan kontaminasi lanjut dengan aliran air sedemikian rupa hingga tidak mengenai daerah sehat. Bila penderita terkontaminasi, upayakan membersihkan penderita dari jauh, jangan sampai penolong juga terkena bahan kimia. 1. Bahan kimia padat/bubuk, sapu dengan sikat halus kemudian siram dengan air sebanyak-banyaknya. 2. Siram atau aliri dengan air sekurang-kurangnya selama 20 menit. 3. Amankan bekas pakaian penderita yang terkontaminasi. 4. Pasang penutup luka steril pada luka. 5. Atasi syok bila ada. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Luka Bakar Listrik Pada luka bakar listrik, bahaya yang dihadapi adalah kemungkinan terjadinya henti napas dan henti jantung, kerusakan jaringan saraf dan organ dalam. Luka bakar listrik mungkin kecil diluarnya tetapi kerusakan di dalam tubuh bias luas mngingat sifat konduksi listrik dapat berat, misalnya kerusakan jaringan tulang. Gejala dan tanda syok listrik :  Perubahan status mental dan penurunan respon.  Tampak luka bakar berat  Pernapasan dangkal, tidak teratur atau tidak ada.  Denyut nadi lemah, tidak teratur atau tidak ada.  Patah tulang majemuk karena kontraksi otot. Penanganan lika bakar listrik Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong. 1. Lakukan penilaian dini. 2. Periksa dan cari luka bakar di daerah listrik masuk dan tempat listrik keluar. 3. Tutup luka dengan penutup luka steril kering. 4. Atasi syok, bila ada. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Catatan: penolong harus siap melakukan RJP pada penderita yang tersengat listrik. Penderita harus dipantau dengan ketat, karena henti napas dan henti jantung sering berulang.

Luka bakar Inhalasi Luka bakar yang terjadi karena menghirup udara panas, asap atau bahan racun yang masuk ke saluran napas. Gejala dan tanda awal, mungkin ringan dan semakin lama menjadi berat. Gejala dan tanda : 1. Bulu hidung hangus terbakar 2. Luka bakar pada wajah 3. Butir arang karbon dalam cairan ludah. 4. Bau asap atau jelaga pada pernapasan. 5. Kesukaran napas. 6. Pernapasan berbunyi. 7. Serak, batuk, sukar bicara. 8. Gerakan dada terbatas. 9. Kulit kebiruan (sianosis) Penanganan : Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong. 1. Pindahkan penderita ke tempat aman. 2. Berikan oksigen, bila perlu oksigen yang dilembabkan. 3. Penilaian dini terutama jalan napas dan pernapasan. 4. Bila perlu, lakukan pernapasan buatan. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Catatan : Hati-hati dengan pemberian oksigen di daerah kebakaran. Pastikan penderita sudah diamankan secukupnya untuk mencegah terjadinya reaksi antara oksigen dengan api.

PEMINDAHAN PENDERITA

Saat tiba di lokasi ada kemungkinan penderita yang ditemukan harus segera dipindahkan. Pada situasi yang berbahaya tindakan cepat dan waspada sangat penting. Penanganan penderita yang salah akan menimbulkan cedera lanjutan atau cedera baru. Mekanika tubuh Istilah mekanika tubuh ini mengacu pada penggunaan gerak tubuh penolong yang benar dan baik untuk memudahkan pengangkatan dan pemindahan penderita. Pemindahan dengan gerak tubuh yang benar dan baik dapat mencegah cedera pada penolong. Hal yang harus diperhatikan saat pemindahan penderita : ◙ Lakukan apenilaian mengenai kesulitan yang mungkin akan terjadi pada saat memindahkan penderita. ◙ Rencanakan pergerakan sebelum mengangkat penderita, termasuk bagaimana menggerakannya. ◙ Jangan coba mengangkat dan menurunkan penderita jika tidak yakin dapat mengendalikannya. ◙ Selalu mulai dari posisi pembebanan yang seimbang dan jaga tetap seimbang. ◙ Gunakan tenaga otot tungkai , hindari pembebanan otot punggung. ◙ Posisi punggung harus tegak waktu mengangkat penderita. ◙ Upayakan untuk memindahkan beban serapat munngkindengan tubuh penolong. ◙ Lakkukan gerakan secara menyeluruh dan upayakan agar bagian tubuh saling menopang. ◙ Bila dapat kurangi jarak atau ketinggian yang harus dilalui penderita. ◙ Perbaiki posisi dan angkatlah secara bertahap. Upayakan kerja berkelompok, terus berkomunikasi dan lakukan koordinasi. Mekanika tubuh yang baik tidak akan membantu mereka yang tidak siap secara fisik. Sebagai penolong selalu muncul beberapa pertanyaan pada saat menemukan penderita, diantaranya : a. Kapan saatnya penderita harus dipindahkan ? b. Apakan penilaian dan pemeriksaan penderita harus selesai sebelum pemindahan ? c. Berapa lamakah tulang belakang harus dijaga? Jawaban secara pasti tidak ada mengingat semua hal diatas itu tergantung dari keadaan. Secara umum, bila tidak ada bahaya maka jangan memindahkan penderita.

Macam – macam pemindahan penderita Pemindahan penderita dibagi menjadi dua berdasarkan penyebab yang menjadi dasar penolong untuk memindahkannya. 1. Pemindahan Darurat Tindakan ini hanya dilakukan bila : a. Ada bahaya langsung terhadap penderita, misalnya : ◙ Kebakaran atau bahaya kebakaran. ◙ Ledakan atau bahaya ledakan. ◙ Sukar untuk mengamankan penderita dari bahaya di lingkungan tersebut. ◙ Bangunan yang tidak stabil. ◙ Mobil terbalik. ◙ Kerumunan masa yang resah. ◙ Material berbahaya (bahan kimia, limbah beracun, dan lainnya). ◙ Tumpahan minyak. ◙ Cuca ekstrim. b. Memperoleh jalan masuk atau menjangkau penderita lainnya. c. Bila tindakan penyelamatan nyawa tidak dapa tdilakukan karena posisi penderita tidak sesuai untuk perawatannya atau perlu mereposisi pnderita, misalnya akan melakukan RJP. Bahaya terbesar pada pemindahan darurat adalah memicu terjadinya cedera spinal. Hal ini dapat dikurangi dengan melakukan gerakan searah dengan sumbu panjang badan serta menjaga kepala, leher, dan punggung berada dalam satu garis lurus semaksimal mungkin. Beberapa macam pemindahan darurat ◙ Menarik kemeja penderita ◙ Menarik dengan selimut ◙ Menarik dengan kain / bahan lembaran ◙ Menarik dari ketiak / lengan ◙ Menggendong di punggung ◙ Memapah ◙ Menarik dengan merangkak ◙ Menjulang 2. Pemindahan biasa / tidak darurat Bila tidak ada bahaya langsung terhadap penderita, maka penderita hanya dipindahkan bila semuanya telah siap dan penderita selesai ditangani, yakni : a. Penilaian awal selesai dilakukan. b. Denyut nadi dan napas stabil dan dalam batas normal. c. Tidak ada perdarahan luar tidak terkendali atau tidak ada indikasi perdarahan dalam. d. Mutlak tidak ada cedera spinal atau leher, dan cedera bukan di daerah leher. e. Semua patah tulang sudah dimobilisasi. Ada dua teknik yang umum dipakai yaitu : a. Teknik angkat langsung (2-3 penolong di satu sisi) b. Teknik angkat anggota gerak. Posisi Penderita Selain masalah pemindahan penderita, hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana mengatur posisi penderita.

Secara umum dapat dikatakan bahwa posisi penderita tergantung dari keadaannya. Beberapa pedoman untuk memposisikan penderita adalah : ◙ Penderita dengan syok, letakkan dalam posisi syok jika tidak ditemukan tanda-tanda cedera pada tungkai atas (patah tulang) dan cedera spinal. ◙ Penderita dengan gangguan pernapasan, posisikan duduk atau setengah duduk. ◙ Penderita dengan nyeri perut, posisikan tidur satu sisi dengan tungkai ditekuk. ◙ Penderita yang untah-muntah, posisikan nyaman dan awasi jalan napas. ◙ Penderita trauma, trauma tersangka cedera spinal harus segera distabilkan dan immobilisasi dengan papan spinal panjang. ◙ Penderita tidak ada respond dan tidak ditemukan atau tidak dicurigai ada cedera spinal atau cedera berat lainnya posisikan miring stabil/pemulihan. ◙ Posisi nyaman, bila cedera tidak mengganggu. Posisi terbaik melakukan pemindahan tergantung kondisi saat itu. Peralatan pemindahan penderita Berikut adalah contoh-contoh berbagai peralatan untuk memindahkan penderita : ◙ Tandu beroda / trolley ambulans ◙ Tandu lipat ◙ Tandu scoop ◙ Perangkat ekstrikasi badan ◙ Tandu kursi ◙ Tandu basket ◙ Tandu selimut ◙ Papan spinal panjang dan pendek

KEDARURAAN MEDIS
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dilapangan penolong mungkin akan menemukan kasus non trauma atau yang lebih dikenal dengan istilah kedaruratan medis atau kasus medis. Seseorang yang mengalami kasus medis mungkin juga akan mengalami cedera sebagai akibat dari gejala gangguan fungsi tubuh yang terjadi misalnya kehilangan kesadaran lalu terjatuh sehingga terjadi suatu luka. Dalam penatalaksanaannya kasus medis tidak banyak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal yang paling penting adalah mengenali kedaruratannya secara dini. Kesimpulan mengenai keadaan yang dihadapi hamper 80% diperoleh berdasarkan wawancara dengan penderita bila sadar, keluarganya atau saksi mata dan sumber informasi lainnya. Dalam penatalaksanaan penderita yang paling penting adalah menjaga jalan napas dan memantau tanda vital penderita secara teratur. GEJALA DAN TANDA PADA KEDARURATAN MEDIS Gejala dan tanda pada kedaruratan medis sangat beragam, khas maupun tidak khas. Perubahan yang tidak normal dari tranda vital penderita sudah mengarah pada kedaruratan medis. Beberapa hal yang dapat diamati pada penderita yang mengarahkan kecurigaan kita pada adanya masalah medis adalah : Gejala : 1. Demam 2. Nyeri 3. Mual, muntah. 4. Buang air kecil berlebihan atau tidak samasekali. 5. Pusing, perasaan mau pingsan, merasa akan kiamat. 6. Sesak atau merasa sukar bernapas. 7. Rasa haus atau lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut. Tanda : 1. Perubahan status mental (tidak sadar, bingung) 2. Perubahan irama jantung : nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat kuat. 3. Perubahan pernapasan : irama dan kualitas warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah). 4. Perubahan keadaan kulit : suhu, kelembaban, keringat berlebihan, sangat kering, termasuk perubahan warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah).

5. 6. 7. 8. 9. 10.

Perubahan tekanan darah. Manik mata : sangat lebar atau sangat kecil. Bau khas dari mulut atau hidung. Aktivitas otot misalnya kejang atau kelumpuhan. Gangguan saluran cerna : mual, muntah atau diare. Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada.

Anggap semua semua keluhan penderita adalah benar. Bila penderita merasa tidak enak atau nyaman maka perlakukan sebagai kasus medis. Secara umum gangguan medis dapar dibagi menjadi : 1. Gangguan jantung dan pernapasan. 2. Gangguan kesadaran atau perubahan status mental. 3. Gangguan akibat perubahan lingkungan. 4. Keracunan. 5. Lain-lain. Gangguan Jantung Dewasa ini penyakit jantung di kota-kota besar sudah mulai mengalami peningkatan dan bahkan masuk dalam peringkat teratas penyakit yang menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan perubahan pola hidup khususnya yang paling banyak terjadi di kota besar. Faktor-faktor resiko penyakit jantung adalah : 1. Tidak dapat diubah : ◙ Riwayat penyakit dalam keluarga ◙ Jenis kelamin ◙ Latar belakang etnis ◙ usia 2. Dapat diubah : ◙ Merokok ◙ Tekanan darah tinggi ◙ Kadar kolesterol tinggi ◙ Aktivitas fisik 3. Faktor penyulit : ◙ Obesitas (kegemukan) ◙ Penyakit gula (diabetes) ◙ Stress berlebihan Beberapa gangguan jantung yang dapat ditemui adalah serangan jantung, angina (pectoris) dan gagal jantung. Gejalanya hampir sama dan semuanya dapat berakhir pada terhentinya fungsi jantung. Gejala dan tanda : 1. Perasaan tidak enak, nyeri atau rasa berat di dada. Nyeri sering menyebar ke lengan kiri, leher, rahang dan punggung. 2. Nyeri berkembang beberapa menit dengan permulaan yang tiba-tiba. 3. Penderita akan memegang dadanya dan sedikit membungkuk. 4. Sering penderita tidak ada respon, henti napas, dan denyut nadi tidak teraba. Gejala 1-4 khas pada serangan jantung namun dapat dialami pada keluhan jantung lainnya. 5. Gangguan pernapasan, pada gagal jantung biasanya berupa sesak napas yang terjadi setelah melakukan aktivitas fisik. 6. Nadi tidak normal (cepat, lemah, atau tidak teratur). 7. Palpitasi (jantung terasa berdebar-debar). 8. Mungkin terlihat pelebaran pembuluh balik di daerah leher, dan tubuh bagian atas. 9. Bengkak-bengkak sering tampak pada daerah pergelangan kaki, perut membengkak. 10. Mual, muntah, rasa tidak enak di lambung. 11. Kepala terasa ringan. 12. Keringat beelebihan. 13. Merasa mau kiamat. Penatalaksanaan : 1. Tenangkan penderita dan jangan panik. 2. Jangan tinggalkan penderita sendiri. 3. Suruhlah penderita untuk menghentikan semua kegiatannya dan berbaring pada posisi yang paling nyaman. (penderita gagal jantung biasanya memililh posisi setengah duduk). 4. Pastikan jalan napas penderita trbuka dengan baik. Berikan oksigen bila ada. 5. Kendorkan semua ikatan pada tubuh penderita. 6. Jangan beri makan atau minum. 7. Bila penderita tidak respon maka segera lakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. 8. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Kecepatan dimulainya tindakan pertolongan sangat menentukan keberhasilan pertolongan kita. Gangguan Pernapasan Gangguan pernapasan menyebabkan terganggunya proses masuknya oksigen dalam tubuh. Kasus medis yang terjasi pada saluran napas memiliki gejala dan tanda umum yang sama. Irama pernapasan menjadi cepat disertai upaya bernapas. Napas terasa pendek dan udara terasa kurang. Kekurangan oksigen ini dapat menyebabkan timbulnya warna kebiruan pada kulit dan selaput lender (sianosis). Gejala dan tanda : 1. Sukar untuk menyelesaikan suatu kalimat tanpa berhenti untuk menarik napas. 2. Suara napas tambahan.

3. Tampak kerja otot Bantu napas. 4. Posisi tripod (segitiga kokoh), tubuh condong ke depan, tegak, kedua tangan bertumpu pada lutut. 5. Irama dan kualitas pernapasan tidak normal. 6. Perubahan warna kulit (pucat, kemerahan atau sianosis). 7. Perubahan status mental (meracau, gelisah, dll). 8. Pada asma biasanya khas yaitu adanya bunyi mengi pada saat penderita mengeluarkan napas dan batuk yang riaknya terkesan sukar keluar. 9. Nadi cepat. 10. Dinegara kita banyak ditemukan kasus tuberkulosa, pada penderita ini biasanya dapat disertai batuk darah. 11. Bila disertai demam maka penyebabnya biasanya adalah radang paru-paru. Penatalaksanaan : 1. Nilai pernapasan penderita apakah sudah adekuat, berikan bantuan napas bila perlu. Jaga agar jalan napas selalu terbuka. 2. Letakkan penderita pada posisi yang p[aling nyaman biasanya duduk tegak. 3. Berikan oksigen bila ada. 4. Tenangkan penderita. Akibat kurangnya udara penderita merasa sangat tidak nyaman dan ketakutan, jangan menganggap kasar perlakuannya. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. GANGGUAN KESADARAN ATAU PERUBAHAN STATUS MENTAL Perubahan pada respon normal seorang penderita biasanya dikenal debagai perubahan status mental. Perubahan ini dapat berlangsung secara perlahan bertahap atau langsung. Bentuknya bervariasi mulai dari perubahan respon, disorientasi, agresif, sampai tidak ada respon. Kejasian ini biasanya didasari oleh adanya gangguan medis, diantaranya : a. Kekurangan oksigen dalam darah (hipoksia). b. Kadar zat gula dalam darah rendah (hipoglikemia) atau tinggi (hiperglikemia). c. Pitam otak (stroke). d. Kejang umum. e. Demam, infeksi. f. Keracunan termasuk obat dan alcohol. g. Cedera kepala. h. Gangguan jiwa. Sebagai penolong pertama tugas kita bukan untuk menentukan penyebabnya melainkan mengenali kedaruratannya dan memberikan pertolongan segera dengan benar. Penderita dengan perubahan status mental dapat memburuk dengan cepat. Riwayat penderita harus diperoleh secepat mungkin. Serangan yang serupa di masa lalu akan menjadi petunjuk yang sangat penting bagi tenaga medis pada tingkat pertolongan lanjutan. Penatalaksanaan Secara umum penatalaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Nilai dan pantaulah pernapasan serta jalan napas penderita. 2. Baringkan penderita bila tidak ada kecurigaan cedera tulang punggung dan leher baringkan pada posisi miring mantap. 3. Berikan oksigen bila ada. 4. Pantaulah tanda vital dan tingkat respon secara teratur. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

BEBERAPA KASUS MEDIS YANG MUNGKIN AKAN KITA TEMUKAN

GANGGUAN KADAR GULA DARAH Gangguan ini paling banyak disebabkan oleh penyakit yang dikenal sebagai Diabetes mellitus atau diabetes saja oleh awam. Seperti diketahui tubuh tidak hanya membutuhkan oksigen sebagao bahan untuk bertahan hidup, tetapi juga membutuhkan zat gizi dan salah satu zat yang utama adalah gula. Tubuh manusia akan bereaksi baok pada sat kekurangan atau kelebihan zat gula dalam darah. Penderita diabetes umumnya memiliki kadar gula darah yang tinggi. Keadaan ini biasanya menjadi berat karena : 1. Infeksi 2. Tidak atau lupa makan obat. 3. Mengkonsumsi makanan yang kadar gulanya tinggi atau banyak makanan yang diubah menjadi zat gula dalam tubuh. 4. Stres berkepanjangan. Gejala dan tanda : 1. Napas berbau aseton (gula anggur). 2. Kulit kemerahan, kering. 3. Lapar atau haus. 4. Nadi cepat dan lemah. 5. Perubahan status mental sampai tidak sadar. 6. Terlihat seperti mabuk, limbung, bicaranya mengacau. 7. Sering buang air kecil.

Gejala ini biasanya bertahap dari ringan ke berat. Pada kebanyakan kasus gejalanya bervariasi mulai dari 12 sampai 24 jam. Gejala awal biasanya berupa lapar, haus, dan sering buang air kecil. Makin lama akan menjadi berat sampai kehilangan respond dan meninggal. Gejala dan tanda kadar gula rendah dalam darah (hipoglikemia) 1. Terlihat seperti mabuk, limbung, bicaranya mengacau. 2. Bertindak aneh. 3. Agresif atau gelisah. 4. Nadi cepat. 5. Kulit teraba dingin, lembab. 6. Lapar 7. Sakit kepala 8. Kejang-kejang Gejalanya biasanya mendadak dan cepat. Penyebab umum adalah : 1. Terlambat makan, khususnya pada penderita diabetes. 2. Muntah-muntah. 3. Aktivitas fisik berat. 4. Beban tubuh yang berat akibat suhu yang sangat panas atau dingin. 5. Stres emosional. 6. Kelebihan dosis insulin (obat dianetes) secara tidak disengaja. Walaupun keadaannya berbeda namun penatalaksanaannya sama, yaitu : 1. Lakukan penilaian dini dan usahakan untuk memperoleh riwayat penyakit. 2. Awasi dan pantau jalan napas dan pernapasan. 3. Berikan minuman manis, bila penderita sadar. 4. Lakukan pemeriksaan berkala. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. PITAM OTAK (STROKE) Salah satu penyebab gangguan kesadaran yang paling sering dijumpai adalah stroke. Stroke dapat terjadi akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di dalam otak sehingga aliran darah memnuju bagian tertentu dari otak terganggu. Gejala dan tanda yang dapat dijumpai pada penderita sangat beragam tergantung dari luas dan daerah mana dari otak yang terkena dampak gangguan peredaran darah tersebut, mulai dari gejala ringan sampai keadaan yang mengancam jiwa. Secara umum gejala dan tanda stroke adalah : a. Nyeri kepala, mungkin gejala awal atau satu-satunya gejala. b. Kehilangan kesadaran. c. Berbagai tingkat respon. d. Rasa kesemutan atau kelumpuhan dari wajah dan atau alat gerak. e. Sukar berbicara f. Penglihatan kabur g. Kejang h. Manik mata tidak sama kiri dan kanan i. Kehilangan control saluran kemih dan pelepasan. j. Faktor resiko meningkat dengan bertambahnya usia. Penatalaksanaan 1. Tenangkan penderita dan jangan panic. 2. Jangan tinggalkan penderita sendiri. 3. Baringkan penderita. 4. Pastikan jalan napas penderita terbuka dengan baik. Berikan oksigen bila ada. 5. Kendorkan semua ikatan pada tubuh penderita. 6. Jangan beri makan atau minum. 7. Bila penderita tidak ada respon maka lakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. 8. Rujuk ke fasilitas kesehatan. 9. Hati-hati membawa penderita bila ada bagian yang lumpuh. KEJANG Kejang merupakan kekakuan tubuh atau alat gerak akibat kontraksi dan atau relaksasi otot yang tidak terkontrol. Dapat terjadi hanya pada satu atau beberapa otot saja, atau juga dapat terjadi pada seluruh tubuh. Beberapa penyebab umum dari kejang adalah : a. Penyakit kronis tertentu. b. Epilepsi atau ayan. c. Hipoglikemia. d. Keracunan, termasuk alcohol dan obat. e. Stroke. f. Demam (umumnya pada balita). g. Infeksi h. Cedera kepala atau tumor otak i. Hipoksia j. Komplikasi kehamilan (eklampsia). Secara umum biasanya kejang akan terhenti dengan sendirinya dan sebagai pelaku pertolongan pertama tidak banyak yang kita bisa lakukan. Hal yang paling penting adalah penilaian dini dan menjaga jalan napas penderita serta mencegah

terjadinya atau merawat cedera yang terjadi akibat gerakan selama kejang. Jangan berupaya menahan gerakan orang yang sedang kejang. Kejang umum yang paling sering dihadapi adalah epilepsi atau ayan. Kejang yang lainnya pada dasarnya penatalaksanaannya sama dengan pada kejang epilepsi. AYAN (EPILEPSI) Kekakuan tubuh dan anggota gerak untuk beberapa saat, yang disertai kejang dan diikuti hilangnya kesadaran. Akibat gangguan di otak berupa lepasnya muatan listrik berlebihan. Gejala dan tanda : 1. Pandangan penderita mendadak kosong, merasa mendengar atau melihat sesuatu. 2. Teriakan tercekik. 3. Jatuh tiba-tiba, berbaring kaku sesaat, punggung melengkung. 4. Wajah dan leher kebiruan dan sembab. 5. Gerakan kejang otot. 6. Tidak ada respon. 7. Mulut berbuih kadang berdarah. 8. Mungkin lidah tergigit. 9. Mungkin hilang kendali kemih dan pencernaan, penderita mengalami buang air besar dan kecil secara spontan. 10. Penderita kembali sadar dalam waktu yang tidak lama, tapi bingung atau mungkin tak sadar yang terjadi. 11. Setelah kejang penderita kelelahan dan tidur. Penatalaksanaan : 1. Lindungi penderita dari cedera. 2. Jangan menahan atau melawan kejang. 3. Lindungi lidah penderita dari tergigit. 4. Posisikan stabil segera. 5. Rawat cedera akibat kejang. 6. Bila serangan telah berlalu, penderita tertidur, lakukan : 7. Jagalah jalan napas agar tidak tersumbat. 8. Biarkan istirahat. 9. Hindari penderita dari ketegangan dan rasa malu sekeliling. HISTERIA Terjadi karena penderita secara kejiwaan, ingin mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Gejala dan tanda : 1. Hilang kesadaran dengan sikap yang dibuat-buat. 2. Mungkin berguling-guling di tanah. 3. Napas cepat 4. Tidak dapat bergerak atau jalan, tanpa sebab yang tampak jelas. Penatalaksanaan : 1. Tenangkan penderita 2. Hindarkan penderita dari massa. 3. Bawa penderita ke tempat terang. 4. Dampingi penderita dan awasi terus. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. PINGSAN (Syncope/collapse) Terjadi karena peredaran darah yang ke otak berkurang, yang dapat terjadi akibat emosi yang hebat, berada dalam ruangan yang penuh orang tanpa udara segar yang cukup, letih dan lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Gejala dan tanda : 1. Perasaan limbung. 2. Pandangan berkunang-kunang dan teling berdenging. 3. Lemas, keluar keringat dingin. 4. Menguap. 5. Dapat menjadi tidak ada respon, yang biasanya terjadi hanya beberapa menit. 6. Denyut nadi lambat.

Penatalaksanaan : 1. Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan. 2. alonggarkan pakaian. 3. Usahakan penderita menghirup udara segar. 4. Periksa cedera lainnya. 5. Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit. 6. Bula tidak cepat pulih, maka : - Periksa napas dan nadi. - Posisikan stabil. - Rujuk ke fasilitas kesehatan.

KEDARURATAN LINGKUNGAN PAPARAN PANAS Panas dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Umumnya ada 3 macam gangguan yang terjadi, yaitu :

Kram panas Terjadi akibat kehilangan garam tubuh yang berlebihan melaui keringat. Gejala dan tanda 1. Kejang pada otot yang disertai nyeri, biasanya pada otot tungkai dan perut. 2. Kelelahan 3. Mual 4. Mungkin pingsan Penatalaksanaan : 1. Baringkan penderita di tempat teduh. 2. Beri minum kepada penderita, bila perlu campur sedikit garam. JANGAN MEMBUANG WAKTU UNTUK MENCARI GARAM. 3. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Kelelahan Panas (Heat exhaustion) Terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktivitas di lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan system sirkulasi terganggu. Gejala dan tanda : 1. Pernapasan cepat dan dangkal. 2. Nadi lemah. 3. Kelit teraba dingin, lembab dan selaput lendir pucat. 4. Pucat, keringat berlebihan. 5. Lemah. 6. Pusing, kadang tidak respon. Penatalaksanaan 1. Baringkan penderita di tempat yang teduh. 2. Kendorkan pakaian yang mengikat. 3. Tinggikan tungkai penderita sekitar 20 – 30 cm. 4. Berikan oksigen bila ada. 5. Beri minum bila penderita sadar. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Sengatan Panas (Heat stroke) Merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Suhu tubuh menjadi terlalu tinggi dan pada banyak kasus penderita tidak lagi berkeringat. Bila tiadk diatasi dengan segera, maka sel otak akan segera mati. Gejala dan tanda : 1. Pernapasan cepat dan dalam. 2. Nadi cepat dan kuat yang berangsur menjadi cepat dan lemah. 3. Kulit teraba kering, panas kadang kemerahan. 4. Manik mata melebar. 5. Tidak ada respon. 6. Kejang umum atau gemetar pada otot. Penatalaksanaan 1. Turunkan suhu tubuh penderita secepat mungkin. 2. Letakkan kantung es pada ketiak, lipat paha, di belakang lutut dan sekitar mata kaki serta di samping leher. 3. Bila memungkinkan, masukkan penderita ke dalam bak berisi air dingin dan tambahkan es kedalamnya. 4. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

PAPARAN DINGIN (Hipotermia) Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh menurun. Suhu lingkungan tidak perlu sampai beku untuk mencetuskan hipotermia. Ada beberapa keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu factor angina dan kekurangan makanan. Gejala dan tanda : 1. Menggigil 2. Terasa melayang 3. Pernapasan cepat, nadi lambat. 4. Gangguan pernapasan. 5. Reaksi manik mata lambat. 6. Penurunan respon. Penatalaksanaan Rawat penderita dengan hati-hati, berikan rasa nyaman. 1. Penilaian dini dan pemeriksaan penderita. 2. Pindahkan penderita dari lingkungan dingin. 3. Jaga jalan napas dan erikan oksigen bila ada. 4. Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetep kering. 5. Bila penderita sdar, dapat diberikan minuman hangat secara pelan-pelan. 6. Pantau tanda vital secara berkala.

7.

Rujuk ke fasilitas kesehatan.

KERACUNAN Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian. Harus dibedakan dengan reaksi obat. Reaksi obat dalam tubuh sudah diketahui dan memang diinginkan, namun adakalanya terjadi reaksi obat yang tidak diinginkan, misalnya sesak napas, biduran, gatal-gatal, nyeri perut, lemas, dsb. Beberapa contoh zat yang berupa racun : insektisida, bahan kimia seperti sianida (sering ditemukan pada singkong beracun), logam berat, racun binatang (ular, kalajengking, dll). Makin banyak jumlah zat racun tersebut, maka akan menimbulkan tingkat keracunan yang lebih dalam. Dalam keadaan sehari-hari ada beberapa zat yang sering digolongkan sebagai racun namun sebenarnya bahan ini adalah korosif, yaitu dapat menyebabkan luka bakar pada bagian tubuh dalam bila masuk kedalam tubuh. Penatalaksanaan penderita pada kasus ini biasanya disamakan dengan keracunan. Cara terjadinya keracunan pada manusia : Sengaja bunuh diri Dengan minum obat-obatan cairan kimia dalam jumlah yang berlebihan misalnya minum racun serangga, obat tidur berlebihan, sering berakhir dengan kematian, kecuali penemuan kasus keracunan tersebut cepat dan langsung mendapat pertolongan. Keracunan tidak sengaja Misalnya : a. Makan makanan/minuman yang telah tercemar oleh kuman / zat kimia tertentu. b. Salah minum yang biasanya terjadi pada anak-anak/orang tua yang sudah pikun misalnya obat kutu anjing disangka susu, dsb. c. Makan singkong yang mengandung kadar sianida tinggi. d. Udara yang tercemar gas beracun. Secara umum pada kasus keracunan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab yaitu :  Apakah kira-kira bahan penyebabnya ?  Berapa banyak jumlah zatnya ?  Kapan kejadiannya ?  Apa yang sudah dilakukan penderita ? Jalur masuknya racun kedalam tubuh manusia. Keracunan melalui mulut/alat pencernaan. Penyebab : a. Obat-obatan terutama obat tidur/penenang (luminal, valium, mogadon), biasanya dalam jumlah besar atau diminum dengan bahan lain sehingga terjadi reaksi keracunan. b. Makanan yang mengandung racun misalnya: singkong, jengkol, tempe bongkrek, oncom, makanan kaleng yang kadaluarsa. c. Baygon, minyak tanah, zat pembunuh serangga lainnya. d. Makanan / minuman yang mengandung alkohol (bir, minuman keras). Perhatikan sekitar penderita mungkin ditemukan petunjuk mengenai sebab keracunannya, misalnya botol obat, pembungkus, sisa makanan, sisa muntahan. Keracunan melalui pernapasan Penyebab : a. Menghirup gas beracun/udara beracun (mis. Gas mobil dalam keadaan tertutup). b. Kebocoran gas industri. Keracunan melalui kulit atau absorbsi (kontak) Penyebab : Zat kimia / tanaman beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan dapat meresap ke dalam kulit tersebut. Keracunan ini dapat juga terjadi akibat tersentuh binatang yang memiliki racun pada kulit atau bagian tubuh lainnya. Keracunan melalui suntikan atau gigitan Penyebab: a. Gigitan sengatan binatang berbisa (ular, kalajengking, dll) b. Gigitan / sengatan binatang laut (ubur-ubur, anemone, ketimun laut, gurita, ikan pari, dll). c. Obat suntik. Gejala dan tanda keracunan secara umum Gejala dan tanda keracuna yang khas biasanya sesuai dengan jalur masuk racun ke dalam tubuh. Bila masuk melalui saluran pencernaan, maka gangguan utama akan terjadi pada saluran pencernaan. Bila masuk melalui jalan napas maka yang terganggu adalah pernapasannya dan bila melalui kulit akan terjadi reaksi setempat lebih dahulu. Gejala lanjutan yangn terjadi biasanya sesuai dengan sifat zat racun tersebut terhadap tubuh. Gejala umum : a. Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan. b. Penurunan respon. c. Gangguan pernapasan. d. Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan. e. Mual, muntah.

f. g. h. i. j.

Lemas, lumpuh, kesemutan. Pucat atau sianosis. Kejang-kejang. Syok. Gangguan iram jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.

Gejala-gejala khas Keracunan melalui mulut : 1. Mual, Muntah. 2. Nyeri perut 3. Diare 4. Napas mulut berbau. 5. Suara parau, nyeri di saluran cerna (mulut dan kerongkongan). Keracunan melalui pernapasan : 1. Sesak napas. 2. Mungkin sianosis (kebiruan) 3. Napas berbau Keracunan melalui kulit : Daerah kontak berwarna kemerahan, nyeri, melepuh dan meluas. Keracunan melalui suntikan atau gigitan : Di daerah suntikan/gigitan : 1. Luka 2. Nyeri 3. Kemerahan 4. Perubahan warna (biasanya pada gigitan ular). Penatalaksanaan keracunan secara umum : 1. Pengamanan sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang. 2. Pengamanan penderita dan penolong terutama bila berada di daerah dengan gas beracun. 3. Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan. 4. Penilaian dini, bila perlu lakukan RJP. 5. Racun masuk melalui jalur kontak, maka buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan beracun bila ada, lalu bilaslah daerah yang terkena dengan air. 6. Awasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah. 7. Beri oksigen bila ada sesuai dengan ketentuan, khususnya pada keracunan melalui udara. 8. Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya sebaiknya diamankan untuk identifikasi. 9. Penatalaksanaan syok bila terjadi. 10. Pantaulah tanda vital secara berkala. 11. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Beberapa perhatian khusus : Pada keracunan melalui mulut / pencernaan : a. Untuk menurunkan kekuatan kadar racun yang tertelan dilakukan pengenceran dengan memberi minuman susu atau air sebanyak-banyaknya atau beri anti racun umum (norit, putih telur, susu). b. Jangan memberikan susu pada keracunan yang diketahui mengandung fosfat, karena dapat bereaksi. c. Mengeluarkan racun dari lambung dengan rangsangan-rangsangan muntah, hanya efektif bila bila dilakukan dalam 4 jam pertama. Setelah keracunan, tetapi hati-hati karena rangsangan muntah tidak boleh (kontra-indikasi) dilakuakn pada : 1. Menelan asam/basa kuat 2. Menelan produk minyak bumi (minyak tanah, bensin, dsb). 3. Korban kejang atau ada bakat kejang. 4. Korban tidak sadar / ada gangguan kesadaran. Pada keracunan melalui kontak : a. Buka baju penderita yang terkena. b. Siramlah bagian yang kena racun dengan air sekurang-kurangnya selama 20 menit. c. Hati-hati bila racun berupa serbuk, jangan disiram dahulu tetapi sikat dahulu sampai debu racunnya bersih baru disiram dengan air. d. Jangan menyiram daerah yang terkena racun yang bereaksi dengan air. e. Pada waktu menyiram atau menyikat posisikan diri penolong sedemikian rupa sehingga terhindar dari kemungkinan percikan racun tersebut. GIGITAN ULAR Pertolongan gigitan ular : Jangan berikan minuman beralkohol atau stimulant (merangsang) peredaran darah lebih cepat. Jangan hisap dengan mulut. Jangan menyayat luka tempat gigitan. Cara kesatu :  Tenangkan korban  Istirahatkan  Cuci luka gigitan dengan air dan sabun.  Letakkan luka lebih rendah dari jantung.  Balut seluruh (pola spiral) daerah anggota gerak yang digigit.  Immobilisasi dengan bidai.  Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Cara kedua : Penggunaan ikatan penghambat yangn masih kontroversial. TENGGELAM Pedoman untuk pertolongan : 1. Keamanan tempat 2. Kondisi penderita • Apakah penderita respond an dapat membantu? • Apakah penderita terlihat terluka? • Apakah penderita berada di permukaan atau tenggelam? 3. Kondisi air • Jarak pandang dalam air • Suhu air • Pergerakan air • Kedalaman air • Bahaya lain 4. Sumber daya yang tersedia Jika terjadi di air tenang, terbuka dan dangkal dengan dasar yang sama: Jangan menyelamatkan dengan turun ke dalam air jika bukan seorang perenang yang baik dan terlatih dalam penyelamatan di air dan memakai alat pelampung dan disertai dengan penyelamat yang lain. Jika penderita respon dan dekat tepian, coba penyelamatan dengan Raih, Lempar, Dayung dan Renang (RLDR). Penanganan : Jika penderita respon dan tidak ada cedera spinal : o Pindahkan penderita secepat mungkin dari air dengan cara teraman. o Lakukan pemeriksaan awal (dini). Bila ada berikan oksigen. o Jaga kehangatan tubuh pasien. Ganti pakaian basah dan selimuti. o Sewaktu menungu bantuan terlatih, lakukan pemeriksaan fisik dan riwayat pasien. Jika penderita tidak respon dan di air dangkal : o Pertahankan jalan napas tetap terbuka dan jangan gerakkan. o Jika penderita bernapas, pertahankan wajah tetap menghadap ke atas. o Topang punggung penderita. o Jika ada penolong kedua, stabilisasi kepala dan leher penderita. o Jika menemukan penderita tidak respon, wajah penderita menghadap ke bawah di air dangkal. o Putar penderita dengan menopang kepala tetap tidak bergerak. Jika penderita tidak respon di air yang tidak aman (dalam, dingin, dan bergerak) atau butuh RJP : o Posisikan penderita di atas papan spinal panjang. o Penderita harus dipindahkan dari air. o Napas buatan dapat segera diberikan tetapi pijat jantung tidak dapat dilakukan di air.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->