Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami Desember 20, 2008 awan sundiawan Latar Belakang Masalah Cerita pendek (cerpen

) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memb erikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengg anti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang peri laku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang u niversal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, pers ahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengheranka n jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedan g melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan pe rmasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan ter tawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh at au membencinya. Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berpera n sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehi dupan, seperti yang diungkapakan Saini K.M. (1989:49). Oleh karena itu, jika cer pen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya lebih hi dup dan menarik. Tidak hanya itu, kiranya cerpen dengan segala permasalahannya yang universal itu ternyata menarik juga untuk dikaji. Bahkan tidak pernah berhenti orang yang aka n mengkajinya. Apalagi jika cerpen itu dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas. Seperti halnya kami mencoba mengkaji cerpen yang dikaitkan dengan kegiat an pembelajaran di kelas. Cerpen yang kami kaji itu adalah sebuah cerpen yang be rjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Dipilihnya cerpen karya A.A. Navis tersebut bukan tanpa pertimbangan atau alasan sebab cerpen ini memiliki keistimewaan (bagi kami) dibandingkan dengan cerpen A .A.Navis yang lain atau cerpen yang ditulis pengarang-pengarang yang lain. Keist imewaannya yaitu terletak pada teknik penceritaan A.A.Navis yang tidak biasa pad a saat itu. Tidak biasanya karena Navis menceritakan suatu peristiwa yang terjad i di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog antara tokoh manusia dengan Sang M aha Pencipta. Menurut hemat saya hal seperti ini hanya ada dalam cerpen Langit M akin Mendung karya Kipanjikusmin dan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis . Akan tetapi, kedua cerpen ini tetap berbeda. Cerpennya Kipanjikusmin muncul deng an membawa kehebohan yang luar biasa di kalangan umat Islam sehingga harus berha dapan dengan hukum. Sedangkan cerpennya A.A. Navis muncul dengan membawa kejutan karena ceritanya menyindir pelaksanaan kehidupan beragama secara luar biasa taj amnya. Di dalam cerpen Langit Makin Mendung Tuhan dan malaikat diimajinasikan de ngan kuat sekali (meminjam istilah Bahrum Rangkuti dalam Polemik H.B.Jassin, 197 2:177). Sedangkan dalam cerpen Robohnya Surau Kami tidak seperti itu. Itulah seb abnya cerpen A.A. Navis tidak pernah berhadapan dengan hukum. Selain itu cerpen A.A.Navis ini lebih banyak mengingatkan kita untuk selalu bekerja keras sebab ke rja keras adalah bagian penting dari ibadah kita (Sapardi Djoko Damono dalam kat a pengantar Novel Kemarau karya A.A.Navis, 1992:vi). Sementara itu, tujuan umum pengajaran sastra seperti yang tercantum dalam kuriku lum 1994 yaitu agar siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sast ra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningka tkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Lalu, di dalam rambu-rambunya pada but ir 10 ditegaskan pula bahwa pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan k

Biasanya siswa akan sangat antusias jika diajak untuk membicarakan atau mendiskusikannya juga akan mengeluarkan segala pengalaman dan pengetahuannya. Sebab. Bagaimana unsur intrinsik cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. dan tidak bisa memilih bahan ajar yang tepat dan menarik untuk seusia siswa ya ng dididiknya.emampuan siswa untuk mengapresiasikan karya sastra. hasil pen gkajian ini dapat memberikan solusi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mut u pembelajaran apresiasi sastra (cerpen). yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengas . serta dapat me nemukan makna hidup dan kehidupan. khususnya bab IV ini mudah dipahami agaknya perlu juga memaparkan sinopsis cerpen Robohnya Su rau Kami tesebut. Karena daya pikat itu. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain. surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Nilai-nilai pendidikan yang bagaimana yang terdapat dalam cerpen tersebut? 4. Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. saya mencoba mengidentifikasi masalah sayaan ini. budaya. peneliti mencoba mengkajinya dan agar kajian ini. Sayangnya. serta kepekaan terhadap masyarakat. Navis? 2. Identifikasi masalahnya sebagai berikut: 1. Setiap karya sastra prosa. Bukankah karya sastra (cerpen) itu merupakan miniatur kehidupan manusia di sekitar pembaca?. Sinopsisnya itu seperti yang dipaparkan di bawah ini. Hal ini dimungkinkan karena pelajaran seperti ini akan dapat mendidik siswa u ntuk dapat mengenal dan menghargai nilai-nilai yang dijunjung oleh bangsanya. Dengan demikian peran pelajaran sastra menjadi sangat penting.A. dan daya khayal. Kelak orang ini disebut sebagai Garin. ternyata cukup memikat siapapun yang membacanya. Ga gal karena siswa tidak memiliki daya apresiasi dan kepekaan rasa serta tidak men yukai sastra. Identifikasi Berdasarkan latar belakang di atas. dan lingkungan hidup. ju ga untuk dapat menghargai hidup. tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan. Jadi. Orang itulah yang merawat dan menjag anya. masih saja guru yang terlalu mengandalkan LKS (Latihan Kerja Siswa). yang meninggal sec ara mengenaskan yaitu membunuh diri akibat dari mendengar cerita bualan seseoran g yang sudah dikenalnya. tidak menyukai sastra . Mengingat perannya yang sedemikian itu. Apakah cerpen tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan? 3. kendala pembelajaran itu sering terletak pada guru. Lalu upaya-upaya apa saja yang memungkinkan pemilihan bahan ajar itu efektif? Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. maka terselenggaranya pembe-lajaran sast ra yang menarik dan menyenangkan akan menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuh i. saya mencoba mengkaji keterkaitan cerpen dalam kegiatan pembelajaran dan berusaha menemukan kemungkina n-kemungkinannya cerpen dijadikan bahan ajar di kelas. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat. khususnya cerpen dapat dijadikan bahan ajar dikela s. menikmati pengalaman orang lain. Navis Cerpen karya A. Kegiatan mengapresiasi nalar an. Novis yang mengisahkan seorang kakek Garin. Berangkat dari permasalahan yang sudah diuraikan di atas.A. dengan mempelajari cerpen (sastra) berarti siswa diajak untuk mempelajari manusia dan lingkungannya. Dengan harapan. Kenyataan inilah yang sering dianggap orang sebagai kegagalan.

dan kesal. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki. titik pengisahan. Segala kehidupanku. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau it u. Kemudian dia memilih jalan p intas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cu kur. apakah itu berupa u ang. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kep ada umatNya yang tawakkal. Akhirnya. Masa Allah bila aku kagum. bukan? Tak ku ingat punya istri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Lalu. dia tak kuat memikirkan hal itu. bersyukur. Tak ku pikirkan hari esokku. Tema atau pokok persoalan cerpen Robohnya Surau Kami sesungguhnya terletak pada persoalan batin kakek Garin setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Dialah Ajo Sidi. Alahamdulillah kataku bila aku menerima karuniaNya. alur. apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah te rpikirkan. makanan. Akhirnya. latar. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli ata s kematiannya. Astaghfirullah kataku bila aku terkejut. yang pada saat semua orang mengantar jenazah pen jaga surau dia tetap pergi bekerja. Unsur ini berupa tema. Aku tak ing in cari kaya. penokohan. Aku bersuci. Semua orang berusaha menguru s mayatnya dan menguburnya. Aku bersembahyang s etiap waktu. Gagasan yang mendasari cerita yang dib uatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok baha san. supaya bersujud kepadaNya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manu sia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. beribadah di surau dan bekerja hanya untuk kepe rluannya sendiri. bikin rumah. kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. sedih. Sedari mudaku aku disini. menerima imbalan. Aku pukul bedug me mbangunkan manusia dari tidurnya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. punya anak. dan berdoa kepada Tuhannya. penjaga surau itu murung. Dia hanya mengasah pisau. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala pera saannya. Hasil kerja nya tidak untuk orang lain. a pa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Kehidupan orang ini agaknya monoton. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. . m emuji. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Aku bangun pagi-pagi. Umpan neraka . Karena dia merasakan. Aku baca KitabNya. Gambaran ini terl etak pada halaman 10 berikut ini.ah pisau. amanat. lahir batin. sepulangn ya Ajo Sidi. Aku puji-puji dia. Tanpa gag asan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. dan gaya. Ke tujuh unsur yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami itu sebagai berikut: Tema Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Lalat seekor engga n aku membunuhnya. kue-kue atau rokok. keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. ku serahkan kepada A llah Subhanahu Wata ala. Segala kehidu pannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Akan tetapi. Dia senantiasa bersujud. Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Tinjauan atas Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. membersihkan dan merawat surau. punya kelu arga seperti orang-orang lain.

kalau aku masih muda. Kau takut masuk neraka. 12 13 ). Amanat-amanat ya ng dimaksud itu di antaranya: (a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain. beribadah bertawakkal kepada Tuhan . gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita. Dan tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya. Denga n demikian. Co ba saja tengok pengalaman tokoh yang bernama Haji Saleh ketika dia disidang di a khirat sana: Alangkah tercengangnya Haji Saleh. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. jika kita buat kesimpulan atas fakta-fakta di atas maka tema ce rpen ini adalah seorang kepala keluarga lalai itu sehingga masalah kelalaiannya itu akhirnya mampu membunuh dirinya. karena semua orang-orang yang dilihatnya di Neraka itu tak kur ang ibadahnya dari dia sendiri. yaitu : Tidak. Inilah kesalahan mu yang terbesar. karena di Neraka itu banyak teman-temannya did unia terpanggang hangus. Sudah begitu lama aku berbuat baik. Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Amana t pokok/utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. dari ucapan kakek Garin itu jelas tegambar pandangan hidup/cita-cita pengarangny a mengenai karangan untuk cepat marah. yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Tapi engkau melupakan kau m mu sendiri. Amanat ini dimuncul kan melalui ucapan kakek Garin pada halaman 9.A. Dan simpulan temanya itu ternyata bersifat universal. Oleh karena itu.Kemudian pada halaman 16 gambaran itu ditegaskan kembali. karena engkau terlalu mementingkan diri mu sendiri. Orang tua menahan ragam. yaitu: (c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan mencelaka kan diri pemakainya. amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau n asihat kepada pembacanya. dan jangan bermasabodoh terhadap apa yang kau miliki. bersaudara semuanya. jaga. Dari gambaran ini terpapar pula amanat lain. kesalahan engkau. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. terlalu egoistis. . Navis ini diteima o leh setiap orang. karena itu kau taat bersembahyang. Marah ? Ya. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai 14 ka li ke Mekkah dan bergelar Syekh pula ( Hlm. (b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini bis a saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimak sudkan untuk memecahkan pokok persoalan. tapi engkau tak memperdulikan merek a sedikitpun. sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. wajarlah kalau cerpen karya A. Tidak hanya itu saja. Navi s adalah: Pelihara. tetapi aku sudah tua. iba dahku rusak karenanya. padahal e ngkau di dunia berkaum.A. merintih kesakitan. Ha l ini terdapat pada paragraf kelima halaman delapan kalimat yang terakhir. melupakan kehidupan anak istimu sendiri. Dengan demikian. Amanat Di dalam sebuah cerita. Gagasan yang men dasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu.

yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. kata Ajo Sidi memulai. di sura u. ada juga yang juga yang jelas-jelas menyebutkan soal waktu. Latar tempat yang ada dalam c erpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya. saling menipu. 10) . (hlm. kampus. Bagaimana engkau bisa ber amal kalau engkau miskin . seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut : Pada suatu waktu. Tuan akan berhenti di dekat pasar. A ku beri kau negeri yang kaya raya. Dan akhirnya amanat (d) dan (e) menjadi kunci amanat yang diinginkan pengarang u ntuk pembacanya. simpang yang kelima. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tan di jalan kampu ngku. Dan di ujung jalan itu nanti akan tuan temui sebuah surau tua. hutan. hingga anak cucumu teraniaya semua. tapi engkau tak memperdulikan mere ka sedikitpun.di Akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-o Meskipun begitu. untuk itu cermati sabda Tuhan da lam cerpen ini: . tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri. (hlm. membeloklah ke jalan semp it itu. bersaudara semuanya. Pada simpang kecil kekanan. padahal engkau didunia berkaum. yaitu: latar tempat. seperti yang disabdakan Tuhan dalam cerpen ini halaman 16. mis alnya: Jika tuan datang sekarang. dekat pasar. melupakan kehidupan anak istrimu sendiri.(d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh. Dan e ngkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. petunjuk. 1 ) Latar Waktu Latar jenis ini. dan sejenisnya. kau lebih suka beribadat saja . (hlm. terlalu egoistis. . pengacuan yang berkaitan dengan waktu. Latar ini dapat berupa daerah. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. Latar Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan. latar waktu. Kau takut m asuk neraka. Latar Tempat Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. tapi kau malas. kapal.. yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat. seperti kota. ruang. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah k e barat. karena itu kau taat bersembahyang. 15). sehingga mereka itu ku car kacir selamanya. saling memeras. dan latar sosial. (e) Jangan mementingkan diri sendiri. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Di depann ya ada kolan ikan. Kesalahan engkau. Kedua amanat itu kemudian dirumuskan. seperti yang sudah dituli skan pada bagian awal tentang amanat di atas. Inilah kesalahanmu yang terbesar. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu . sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. bangun an. tidak membanting tulang. karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. sekolah. Lat ar ini ada tiga macam. rang yang sudah berpulang . dan sebagainya : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. dan suasana terjadinya suatu peristiwa.

Ia memulai pidatonya: O. dan sekarang ke mana dia ? Kerja Kerja? tanyaku mengulangi hampa. kebiasaannya. uah suara menyela. banyak yang kita peroleh. penjaga surau itu. Tuhan kami yang Mah abesar. dan bahasa. Mereka bersorak beramai-ramai (hlm. Kita resolusikan. Orang-orang memanggilnya kakek (hlm . Di dalam cerpen ini la tar sosial digambarkan sebagai berikut : Dan di pelataran surau kiri itu akan tuan temui seorang tua yang biasanya duduk disana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Namun demikian. pekerjaan. cocok sekali. dan berani. mempropagandakan keadilan-Mu. dan kebisaan at au cara hidupnya. bukan ? . Haji soleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat. Latar sosial ini menunjukkan bahwa salah satu toko h dalam cerita ini termasuk kedalam kelompok sosial pekerja. 13) seb Kebiasaan ini tentunya mengisyaratkan kepada kita bahwa tokoh-tokoh yang terliba t dalam dialog ini (hlm. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. Kita protes. cara hidup. Dan sekarang. vokal. Nya bagaimana ? suatu suara melengking di (hlm. 7) Dari contoh ini tampak latar sosial berdasarkan usia. kelompok-kelompok s osial dan sikapnya. ya ng paling taat menyembah-Mu. dan beraninya Dia sering menganggap enteng orang lain dan akhirnya terjebak dalam kesombongan. vokalnya.13). Tokoh-tokoh ini menjadi somb ong di hadapan Tuhannya padahal apa yang dilakukannya belum ada apa-apanya. tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perb uatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. dan lain-lainnya Akhirnya ada latar sosial lain yang digambarkan dalam cerpen ini meskipun hanya sepintas saja gambaranya itu. contoh latar sosial yang menggambarkan kebiasaan yang lainnya ya itu : Kalau Tuhan akan mau mengakui kehilapan dalam kelompok orang banyak itu. Perh atikan pada berikut ini. Setuju. di dunia dulu dengan demonstrasi saja. m emuji-muji kebesaran-Mu. 8) Sedari mudaku aku di sini. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah. Setuju. Karena kritik.10) kata Haji Soleh. Setuju. Latar Sosial Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat.kebencian yang bakal roboh Sekali hari aku datang pula mengupah kepada kakek (hlm. termasuk kelompok orang yang sangat kritis. Sudah bertahu n-tahun Ia sebagai Garim. . Datanya seperti ini .

Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali sejum at. bagian tengah d imulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul. yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan. Ia lebih dikenal sebagai pe ngasah pisau. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya . sedang ia tidak pernah meminta imbalan apa-apa. penjaga surau itu. kakek tidak mendapat apa-apa. Didalam ce rpen ini. O rang-orang memanggilnya kakek. Perhatikan data berikut : Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Sebagai penjaga surau. 8) Berdasarkan data ini tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garim. Justru. Orang-orang suka m inta tolong kepadanya. tapi sebagai Garim ia tak begitu dikenal. Ia sudah meninggal. bahwa si Kakek wafat karena dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. bagian tengah.ya. Orang-ora ng perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. memberinya imbalan rokok. seperti yang disebutkan dalam bagian awal. m engapa si Kakek wafat dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga ketidakstabi lan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita. Jika Tuan datang sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu k esucian yang bakal roboh. Alur (plot) Alur menurut Suminto A. struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut. 7). Orang laki-laki yang minta tolong. yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang dipe rlukan dalam memahami cerita. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa y ang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasar kan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. yaitu bagian eksposisi. Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas (ketidakstabilan). Data untuk ini se . Bagian Awal Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen ini terbagi atas dua bagi an. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan suatu konplik. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya . Dalam hal ini. memberinya sambal sebagai imbalan. eksposisi cerita dalam cerpen ini b erupa penjelasan tentang keberadaan seorang kakek yang menjadi garim di sebuah s urau tua beberapa tahun yang lalu. Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala per masalahannya. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id. Sekali enam bulan Ia mendapat seperempat dari hasil p emunggahan ikan mas dari kolam itu. dan bagian akhir. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum (hlm. seperti yang diungkapkan pada data berikut : Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku . yaitu bagian awal. akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di surau dengan segala tingkah ketuaannya dan ke taatannya beribadat. Karena Ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Bagian Tengah Meskipun ketidakstabilan dalam cerita memunculkan suatu pengembangan cerita teta pi bagian tengah tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian. (hlm.Dia pergi kerja. k adang-kadang uang.

(hlm. Kerja ? Tanyaku mengulang hampa Kakek menjawab. jawab istri Ajo Sidi. Dia bercerita karena desakan dari dalam batinnya. Pandangannya sayu kedepan. (hlm. Dia nekat membunuh dirinya sendiri dengan cara menggorok lehernya. Bagian Akhir Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik. Kenapa ? Mudah-mudahan pisau cukur ini. Dia sendiri tak mampu menahannya untuk menyembunyikan apa yang diceritakan Ajo Sidi. . Akibatnya. 9) Kemarahannya ini demikian hebat. Namun. 8) Data konflik ini kemudian diperkuat dengan pemunculan tokoh alur yang berniat he ndak mengupah si Kakek. Tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Menarik karena adanya kejutan (surp rise). Sebuah blek susu yang berisi minyak kelapa sebuah asahan halus. tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perb uatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab. Data berikut menggambarka n hal ini. Lalu aku ta nya dia. k ulit sol panjang. dia begitu geramnya bahkan mengancam. Kurang ajar dia. Bahkan mungkin semakin berat dan meneka n dada dan batinnya. makanya dia mau saja melepaskan kekesalannya de ngan menceritakan apa yang dilakukan Ajo Sidi terhadapnya di hadapan tokoh aku. yaitu ketika orang-orang te rkejut mendapatkan si Kakek garin itu meninggal dengan cara mengenaskan. segala apa yang diungkapkannya di depan tokoh Aku ini tidak membuatnya merasa ringan. Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya. Dan sekarang. Begitu kuat dan hebat. dan sekarang ke mana Dia ? Kerja. menggorok tenggoroka nnya. Di sudut benar dia duduk dengan lututnya menegak menopang ta ngan dan dagunya. klimaks kekecewaan si Kakek berakhir dengan cara yang tragis. Hal ini terbukti ketika si Kakek menyeb utkan nama pemilik pisau itu. Penyebab munculnya konplikasi ini bukan karen a pisau itu melainkan pemilih pisau itu. (hlm . Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. justru Ajo Sidi menganggap hal itu biasa saja bahkan dia berusaha untuk membelikan kain kafan meskipun hal ini dia pesankan melalui istrinya. seolah-olah ada sesuatu yang mengam uk pikirannya. Kakek begitu muram. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek.perti berikut: Dan biang keladi dari kecerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disa ngkal kebenarannya. Ia sudah pergi. Akan tetapi begitu tokoh atau bertemu dengan si Kakek su asananya sangat tidak diharapkan. yang kuasah tajam-tajam ini. Tidak ia tahu Kakek meninggal ? Sudah. Dan ia meniggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis. 8) Rupanya si Kakek sedang dicekam konplik Konplik ini berkembang menjadi konplikasi manakala tokoh aku menanyakan sesuatu yang berupa pisau kepada si Kakek.

Navis menampilkan tokoh-tokohnya sebagai ber ikut. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku ta nya lagi kakek : Bagaimana katanya. Sudah lama aku tak ketemu dia.A. B eginilah kisahnya (hlm. Menurut si tokoh Aku. Penokohan Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku to koh-tokohnya berikut wataknya. b. Siapa yang meninggal? Tanyaku kaget. 16-17). benarkah Ajo Sidi orang yang tidak bertanggung jawab? Bukankah perilaku Ajo Sidi yang berusah a menyuruh istrrinya untuk membeli kain kafan itu merupakan suatu bentuk tanggun g jawab? Lalu di mana salahnya? Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dala m alur regresif atau alur flash back (sorot balik). Lalu aku tanya dia. Pengarang menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang ingin tahu perkara orang la in. (hlm. Aku senang mendengar bualannya. Astaga. Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat menentukan keb erlangsungan cerita ini .Ya.7-8). Ia sudah meninggal . . Tapi ini jarang terjad . Apakah Aj o Sidi tidak membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itukah yang mendurjakan k akek ? Aku ingin tahu. Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua . Dia pergi kerja. kataku seraya ceepat-ceepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Sebutan ini muncul melalui mulut tokoh Aku. Ajo Sidi dise butkan sebagai si tukang bual yang hebat karena siapa pun yang mendengarnya past i terpikat. Ajo Sidi bisa mengikat or ang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari.(hlm. Dari mulutnya kita bisa mendengar ki sah si Kakek yang membunuh dirinya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau. Orang-orang memanggilnya kakek Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang.(hlm. Dan besoknya. Tokoh Aku Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. kek ? Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. a. Dan biang keladi da ri kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. kek ? . yang oleh tokoh Aku kisah itu dicerita kan. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Selain itu bualannya selalu mengena. si pembual itu. Ajo Sidi punya gara-gara. Ajo Sidi Tokoh ini sangat istimewa. Dikatakan demikian karena be nar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya. Tapi aku berjumpa sama i strinya saja. Dan di pelatar an kiri surau itu akan Tuan temui seorang Tua . Kakek. A.9).Maka aku ingat Ajo Sidi. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya.16). Lalu aku tanya pada kakek lagi: Apa ceritanya. Aku cari AjoSidi ke rumahnya. ketika Aku mau turun rumah pagi-pagi istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. Datanya seperti berikut.16). Secara jelas tokoh ini disebut sebagai si tukang bual. Kakek? (hlm. Penyelesaian yang penuh kejutan ini agaknya menyisakan pertanyaan. Data untuk ini seperti berikut.

Akan tetapi. Maksudnya apakah. Biasanya kakek gembira menerima ku. Secara jelas dan gambla ng watak tokoh ini digambarkan sebagai orang terlalu mementingkan diri sendiri. Si Kakek Tokoh ini agaknya menjadi tokoh sentral. c. Dia bisa segera bertobat dan bersyukur kepada Tuhan sehingga dia bisa membenahi hidup dan kehidupannya sesuai dengan perintah tuhannya.8). Penggambaran watak seperti ini karena tokoh kakek mudah termakan cecrita Ajo Sid i. Padahal yang namanya cerita tidak perlu ditanggapi serius tetapi bagi si kake k hal itu seperti menelanjangi kehidupannya. Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke Kota kelahiranku dengan menumpang bis. Artinya. Ada-ada saja orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelak u ceritanya .7). punya anak. seperti data berikut: Sedari mudaku aku di sini. sukses terbesar b aginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi pemeo akhirn ya. Walaupu n begitu kata Aku ini merupakan kata ganti orang pertama pasif. maka pengarang sudah memposisikan dirin ya sebagai tokoh bawahan. Pemunculannya sengaja untuk mengejek atau men yindir orang lain. Titik Pengisahan Yang dimaksud dengan titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cer ita tersebut. Sebagai pembual. Seandainya si kakek panjang akal da n pikirannya serta kuat imannya tidak mungkin ia mudah termakan cerita Ajo Sidi. Haji Saleh Tokoh ini adalah ciptaan Ajo Sidi.8-9) . pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita. Dengan begitu wataknya sudah dipersiapkan oleh penciptanya da n karena kemahirannya Ajo Sidi tokoh ini demikian hidup. Dari data ini pula ternyata disebutkan pula bahwa Ajo Sidi orang yang cinta kerj a.(hlm. 6. pendek akal dan pikirannya. Tetapi sayang.(hlm. ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh Aku. Sedangkan gambaran untuk tokoh si Kakek yang terlalu mementingkan diri sendiri d igambarkan melalui ucapanya sendiri. punya ke luarga seperti orang-orang lain. Oleh si penga rang tokoh ini digambarkan sebagai orang yang mudah dipengaruhi dan gampang memp ercayai omongan orang. Di sini pengarang tetap mengunakan kata Aku . Sekali hari Aku datang pula mengupah pada kakek. .i karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. d. Navis memposisikan dirinya dala m cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengara ng terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita. serta terlalu mementingkan di ri sendiri dan lemah imannya.(hlm. dia sege ra mengambil jalan pintas malah masuk ke pintu dosa yang lebih besar.A. Tuan akan berhenti di dekat pasar . Di dalam cerpen Robonya Surau Kamii agaknya A. bukan ? tak kuingat punya istri. tahu? Tak terpikirkan hidupku sendiri (hlm. pengarang tetap melibatkan diri dalam cerita akan tetapi yang sebenarnya ia sedang mengangkat tokoh utama atau berusaha ingin menceritakan tokoh utamanya. da n cerita ini diperolehnya dari Ajo Sidi. Dia menjadi pusat cerita.10). karena aku suka memberinya uang .

Selain ini. pengarang pun menggunakan majas Sinisme seper ti yang diucapkan tokoh aku: Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia seka rang. kelompok kata. Mereka tenggelam dalam Korupsi. Nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil. keyakinan. Buktinya. Jadi. Malaikat.8). yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi (hlm. gaya merupakan kemahiran seoran g pengarang dalam memilih dan menggunakan kata. Majas ini sangat dom inan dalam cerpen ini Selain majas alegori atau parabol.Engkau ? Aku Saleh. memberikan pengalaman pengganti. juga Sedekah. melalui simbol ini sebenarny a pengarang ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa kesucian hati atau keyakinan kita terhadap Tuhan dan agamanya sudah roboh. jabatan. Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini di antaranya majas alegori karen a di dalam cerita ini cara berceritanya menggunakan lambang. setelah si Kakek menceritakan tentang Haji Saleh tokoh dongengan Ajo Sidi. dosa dan pahala. yakni tokoh Haji Sa leh dan kehidupan di akhirat. Mereka sudah menggadaikannya dengan kedudukan. beribadat menyembah-Mu. Sebab. ketika cerpen ini diterbitkan tidak lama kemudian cerpen ini mendapat tempat di hati pembacanya da n masih terus dibicarakan hingga kini. pengarang pun menggunakan pula simbol dan majas. Cerpen sebagai salah satu karya sastra jelas dapat memberikan manfaat seperti la yaknya karya sastra yang lain. Surga. hamba-Mu. Di dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunaka n dalam bidang keagamaan (Islam). Suaru di sini merupakan simbol kesucian. Oleh karena itu dapat memberikan manfaat. dan Surau serta fitrah Id. Tu han. lalu.A. dan Nepotisme (KKN) dan keegoismeannya. men gembangkan pengertian perilaku manusia dan dapat menyuguhkan pengalaman yang uni versal. Tawakal. neraka. Gaya Gaya merupakan sarana bercerita. Manfaatnya selain memberikan kenikmatan dan hibur an. Bahkan ada pula yang keyakinannya terha dap Tuhan dan agamanya terlibat luntur-pudar. Dengan demikian gaya biasa disebut sebagai cara pengungkapan seorang yang khas bagi seorang pengarang atau sebagai cara pemakai an bahasa spesifik oleh seorang pengarang. Mereka ini tidak hanya tenggelam d alam KKN dan egoisme tetapi juga tenggelam dalam kemunafikan dan maksiat serta d ibakar emosi dan dendam demi keakuan dirinya dan kelompoknya. dan pangkat. Tapi karena aku sudah ke Mekah. cukup banyak tokoh-tokoh k ita dari berbagai kalangan tidak lagi suci hatinya. atau kalimat dan ungkapan. Dengan demikian penggunaan majas-ma jas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus mengejek pembaca atau masya rakat. berdoa. maka sewajarnya sebuah cerpen . Alhamdu lillah. Allah Subhanau Wataala. Akhirat. Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Inilah sebua h kritik untuk masyarakat kita sekarang ini. Astagfirullah. Navis sebagai Bahan Pembelajaran Sastra di Kelas. menginsyafkan umat-Mu. Simbol yang terdapa t dalam cerpen ini tampak jelas pula judulnya. seperti garin. kitab-Mu. Kolusi. moral atau suatu kebenaran umum dengan mengunakan ibarat. Masya-Allah. Jadi. atau lebih tepatnya menggunakan majas parabel (maj as ini merupakan bagian dari majas alegori) karena majas ini berisi ajaran agama . Haji Saleh namaku. yakni Robohnya Surau Kami. haji.pengarang kembali ke posisi sebagai tokoh Aku seperti pada bagian awal cerita. dia juga dapat mengembangkan imajinasi. Syekh.

Adapun hasil analisisnya sebagai berikut. Nvis ini memang sebuah sastra (cerpen) yan g menarik dan baik. siapa pun (baik yang beragama Islam. yaitu bahasa Indonesia.maupun Budha) bisa dengan mudah memah aminya dan tidak menimbulkan pertentangan yang mendasar. Namun demikian. apalagi di kelas III SMU. Kesimpulan Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. Pemilihan dan penetap an cerpen sebagai bahan/materi pembelajaran tentunya harus mengikuti kriteria ya ng sudah ditetapkan secara umum yaitu: a. b. dan 5) jangan egois. Selain itu. Sedangkan strukturnya berup a bagian awal. Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir ba . Latar Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat. agar pembelajaran sastra dengan bahan cerpen itu menarik dan lancar. 2) jangan cepat bangga kalau berbuat baik. Tidak hanya ini. b. 1. Dilihat dari segi bahasanya. Unsur-unsur Intrinsik a. dan akhir. guru dan s iswanya pun haruslah sama-sama membaca cerpen itu lebih dari satu kali dan janga n coba-coba membaca ringkasannya. cerpen ini jelas menggunakan bahasa yang bisa di pahami pembaca orang Indonesia. Alur Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang t elah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Tema Tema cerpen ini adalah seorang kepala keluarga yang lalai menghidupi keluarganya . Amanat Amanat cerpen ini adalah : 1) jangan cepat marah kalau diejek orang. tengah. Jadi. hal ini tidaklah menggangu bahkan akan menarik jika sis wa membandingkan dengan kosa kata non-Islam yang sejenis. c. gaya ba hasanya pun menarik dan pilihan katanya pun dapat memperkaya kosa kata siswa dal am hal bidang keagamaan.dapat dijadikan bahan/materi pembelajaran sastra di kelas. 3) jangan terpesona oleh gelar dan nama besar. kristen.A. Meskipun di dalamnya te rdapat kosa kata islami. Hindu. Berdasarkan kriteria-kritera inilah kiranya cerpen ini sangat sesuai dan tepat b ila dijadikan bahan ajar untuk pembelajaran sastra di kelas I dan II. akan lebih menarik lagi jika gurunya pun aktif-kreat if ketika membelajarkan siswanya dalam menelaah cerpen tersebut. d. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesua iannya sebagai bahan pembelajaran. Latar belakang budaya yang ditampilkan pun masih terasa umum. dan latar sosi al. 4) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki. latar waktu.

2. dan Budha pun dapat menerima nya. Hindu.Di dalam kegiatan pembelajaran. 4) Haji Soleh yaitu orang yang telah mementingkan diri sendiri. . bahasannya benar-benar be rdasarkan pengalaman siswa. e. selain itu konflik-konflik psikologis y ang dimunculkan. . Namun. Saran untuk guru . guru pun harus membaca terlebih dahulu sebelum pembela jaran dimulai begitu pula dengan siswanya. f. Ajo Sidi. Gaya Di dalam cerpen ini pengarang benar-benar memanfaatkan kata-kata. dan majas aleg ori. Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas. . Misalnya. mudah dipengaruhi dan mempercayai or ang lain. Penokohan Tokoh dalam cerpen ini ada empat orang. da n bagaimana latar budaya yang dimunculkan dalam cerita itu ? Tentu saja hal ini dilakukan guru sebelum pembelajaran dimulai. dan sinisme. maka cerpen Robohnya Surau Kami sangat cocok /lay ak jika dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMU. penulis meyarankan sebagai berikut. Selain itu pe ngarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haj i Soleh di depan tokoh aku. Kakek. bagaimana kesesuaian psikol ogisnya. 1. guru harus mampu mem bangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa akan isi cerpen tersebut. dan latar budaya yang ditampilkannya pun masih tampak umum sehinga siswa y ang berlatar belakang budaya Islam. konflik psikologis tokoh-tokohnya p un tidak terlalu sulit untuk dipelajari. masih sesuai dengan perkembangan psikologis dan pemikiran siswa SMU.gian awal dan berakhir di awal bagian akhir. Berdasarkan uraian di atas. dan Ha ji Soleh.Guru yang sudah berani menetapkan cerpen sebagai bahan pembelajaran sastra har us pula membacanya berkali-kali agar memahami isinya. Titik Pengisahan Titik pengisahan cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. guru harus mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap cerita tersebut kemudian mengarahkannya ke dalam penga laman siswa sehingga ketika siswa membahas cerita itu. Juga. yaitu tokoh Aku. 2) Ajo Sidi adalah orang yang suka membual 3) Kakek adalah orang yang egois dan lalai. g. Kristen. jangan sekali-kali membaca rin gkasan cerpen tersebut tanpa pernah membaca cerita itu seluruhnya. 1) Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. guru ha rus kreatif ketika sedang membelajarkan siswanya. yaitu bagaimana bahasanya. Selain kriteria ini.Pemilihan bahan/materi pembelajaran sastra yang berbentuk cerpen sebaiknya men gikuti kriteria yang ada. baik untuk tokoh cerita maupun pembacanya yang duduk di tingkat SMU. karena bahasa yan g digunakannya bisa dipahami oleh siswa SMU.

Kesusastraan: Pengantar teori dan sejarah. . Teori dan Pembimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMU.1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. . Cerita Pendek Indonesia 1. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Mursal. 1980. Satyagraha. Mochtar. . Teknik Mengarang. Prinsip-prinsip Dasar Sastra.1984. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: Pustaka Prima. 1997. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. A. Departemen Pendidikan Nasional.Berdiskusilah dengan penuh minat dan perhatian agar manfaat sastra bisa dirasa kan . Latihan Apresiasi dan Sastra. Jakar ta: PT Gramedia Pustaka Prima. Jakarta: Bal ai Pustaka. edisi ketiga. Jakarta : Kurnia Esa. Koentjaraningrat. Saran untuk siswa . baca pula buku-buku yang mengulas isi cerpen itu jika ada. Malang: Y ayasan A3 Malang. Tarigan.1989. Bandung: Angkasa. dan Winarto Adiwardoyo. Suharsimi. 1979. Sayuti. Made. Suroto. J. Bandung : Angkasa. Hoerip.S. 2001. Bandung: Angkasa .1999. Esten.2. 1984. Lubis. Henri Guntur. Metode Penelitian Seni Budaya Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Badudu. Jogjakarta: Gama Media. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia: Masalah Sistematika Analis is Struktur Fiksi.Jika mungkin dan sempat. Berkenalan dengan Prosa Fiksi.1994. Sari Kesusasteraan Indonesia Jilid 2. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.2000.Selain itu.1990. Suminto A. Jakart a : Erlangga. ikutilah setiap seminar atau diskusi sastra di manapu n.1987. Haryati.Sebaiknya siswa harus membaca cerpennya secara utuh berkali-kali agar memahami isinya. Sukada. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.