Resusitasi Cairan pada Luka Bakar

Luka bakar adalah trauma yang terjadi dikulit dan atau jaringan sekitarnya yang bisa disebabkan oleh panas, radiasi, kimia, atau sengatan listrik. Luka bakar dibedakan menurut kedalamannya (derajat 1, superficial, parsial tipis, sangat dalam) dan persentase area total tubuh yang terkena (BSA). Dukungan infus intravena diberikan saat terjadi syok atau pada luas luka bakar dengan BSA > 10%. Pilihlah kanula infus no:14-16 dan pasanglah pada satu atau dua sisi dibagian kulit yang tidak terpapar oleh luka bakar. Pilihlah pada bagian dengan risiko flebitis yang rendah. Resusitasi cairan juga pasti sangat dibutuhkan pada pasien dengan luka bakar yang sangat luas (BSA > 20%) (1). Dan perkirakan volume cairan yang hilang dalam 24 jam pertama segera setelah terjadi trauma (bukan saat pasien masuk rumah sakit) (2).
(A) Rule of nines (Dewasa) and (B) Lund-Browder chart (Anak) untuk

estimasi luas luka bakar

(digambar ulang oleh: Artz CP, JA Moncrief: The Treatment of Burns, ed. 2. Philadelphia, WB Saunders Company, 1969; used with permission.) Hal-hal penting sehubungan dengan resusitasi pada Luka bakar :

1. Tujuan utama resusitasi pada luka bakar adalah tercukupi kebutuhan air 2.
tubuh untuk mempertahankan fungsi organ dan mencegah komplikasi karena resusitasi yang berlebihan (2). Resusitasi pada luka bakar adalah seni keseimbangan, disatu sisi mengisi defisit air intravaskuler dan disisi yang lain adalah mencegah potensi kelebihan air, yang biasanya dijumpai suatu udem pulmonal, peningkatan

Ditemukan perbedaan signifikan volume air resusitasi yang diberikan kelompok pasien usia muda cenderung diberikan jauh lebih banyak setiap persen luka bakarnya. dalam hal (9)(10): • • • Meminimize risiko asidosis laktat Kecepatan berubah menjadi bikarbonat (2. oleh PT. walau terjadi di area yang tidak terkena luka bakar (3). angka kematiannya masih cukup rendah (5). Hasil Dua puluh empat pasien direkrut: dua belas diantaranya menerima Formula Parkland sedang dua belas lagi diresusitasi menurut pendekatan permissive hypovolaemic. Metode Dua kelompok pasien luka bakar >20% BSA tanpa trauma penyerta dan masuk ICU dalam 6 jam pertama dibandingkan. 5. laktat darah arteri dan imbang cairan bersih diambil dalam 48 jam pertama. tekanan vena sentral dan sindroma kompartemen. Dampak dari resusitasi volume dengan lebih sedikit cairan terhadap difungsi organ ganda setelah luka bakar berat dinilai. Suatu studi multi senter baru-baru ini juga menyatakan adanya peningkatan angka kematian dan kejadian pneumonia bila pasien diberikan resusitasi cairan > 5 mL/kg/% TBSA (6). . (7) (e) ASERING® biasa digunakan pada resusitasi untuk syok hemoragik tanpa risiko peningkatan asidosis laktat . pembedahan atau saat luka bakar . Dan ini ditemukan pada pasien luka bakar luas (mayor) yang dihitung kebutuhan air resusitasinya menggunakan formula Parkland. Penggunaan ASERING® ** pada luka bakar : (d) ASERING® adalah infus resusitasi yang lazim digunakan saat kehilangan darah pada trauma. Hipovolemia permisif diberikan dengan pendekatan berorientasi hemodinamik sepanjang 24 jam pertama. Pasien memiliki usia dan keparahan sebanding.5 – 4 kali lebih cepat) Memiliki efek sebagai bahan bakar sel jantung ** ASERING® adalah infus acetated ringer’s orisinil yang pertama dipasarkan di Indonesia. Otsuka Indonesia (Perusahan farmasi Internasional yang berbasis di Jepang) Formula Parkland dibandingkan dengan volume cairan yang lebih sedikit (11) Jumlah cairan kristaloid berdasarkan Formula Parkland adalah 4 ml/kg/% luka bakar dalam 24 jam. 4. Resusitasi yang berlebihan pada luka bakar yang sangat luas akan sangat berhubungan dengan mudahnya terjadi reaksi adverse pada pasien. Skor multiple-organ dysfunction score (MODS) Marshall dihitung 10 hari setelah masuk ICU. di mana separuhnya diberikan dalam 8 jam pertama. tapi setelah 24 jam efek ASERING® terbukti jauh lebih baik dibanding RL. 6. Variabel hemodinamik.3. Pendekatan ini diacu sebagai “permissive hypovolaemia”. Walaupun banyak kejadian reaksi adverse. (8) (f) ASERING® dan RL terbukti bisa menjaga “survival rate” pada kasus luka bakar berat (guinea pig) dibanding Normal salin (100% & 87%). Hal ini ternyata juga terjadi pada kelompok pasien dengan usia tua bila dibandingkan pasien usia 15–44 tahun (4).

Goiaˆnia.Permissive hypovolaemia memungkinkan volume infus lebih sedikit (3. Gibran NS. Herston. J. Decreased fluid volume to reduce organ damage: A new approach to burn shock resuscitation? A preliminary study Resuscitation.001). journal homepage: www. imbang cairan positif lebih kecil (+7. Surgical Residency Program. Steven MD. but low mortality is achievable. silviapd@gmail.elsevier. Israel. Adriana. pendekatan ini agaknya efektif mengurangi disfungsi organ ganda yang diinduksi oleh akumulasi cairan edema dan utilisasi O2 jaringan yang tidak adekuat. Gamelli RL. Baptist Health Systems. Burns. Ann Surg 2007. P < 0. Ringer Acetate Solution in Clinical Practice. Arlati. Fodor. Referensi: 1.8. 9. Department of Intensive Care Medicine.5 ± 5. Wolf E.elsevier. Butterfield Street. Pronto Socorro para Queimaduras. Volume 72. revision March 2009. 8. L. Daher S. 2009 3.245:622–8 7. www. Pradella. et all. Care Injured (2006) 37. Pulici. University of Alabama at Birmingham. Clinical Faculty. QLD 4029. http://www. www.6 ± 0. Vitolo. Fodor. The association between fluid administration and outcome following major burn: a multicenter study. P < 0. Acute burn intravenous resuscitation: Are we giving too much volume to our patients?.003) dibandingkan Formula Parkland. 1-5. V. Oliver. Royal Brisbane and Women’s Hospital. Brazil. Ha’Aliya St.7 ml/kg/ % luka bakar versus 4. 23(1): 37-49. Resuscitation and Early Management. A. MediMedia Com. et al. Goia´ s.com 5. 11.7 l/hari. E. Issue 3. 2. Bucci. Controversies in fluid resuscitation for burn management: Literature review and our experience. Luciana.2 ± 0. Injury. Nathens AB.com © Medic8 ® All Rights Reserved 8. Conahan ST. Storti. et al. Robert I Jr. Utilization of exogenous acetate during canine hemorrhagic shock. Hayden D. Increased fluid resuscitation can lead to adverse outcomes in major-burn injured patients. JM.com/locate/injury 4. Klein MB. Osuka Pharmaceuticals. March 2007. et all. Circ Shock 1987. Department of Plastic and Reconstructive Surgery. S. Kveim M. Haifa 31096.05) dan skor MODS lebih ringan (P = 0. Resuscitation Fluid Composition and Myaocardial Performance during Burn Shock.4 l/hari versus +12 ± 4. Burn: Last full review.com/locate/burns 6. Variabel hemodinamik maupun kadar laktat darah arteri sebanding pada kedua kelompok pasien sepanjang periode resusitasi. 1999. Int. Lebih dari itu. 39 : 653 . M.merck.3 ml/kg/% luka bakar. Clinical Faculty. Dulhunty.medic8. Updated: Jun 19. Australia. Piccolo. Kesimpulan Permissive hypovolaemia tampaknya aman dan ditoleransi baik oleh pasien luka bakar. Division of Plastic Surgery.html#S21_CH315_F00. 374—379. 10. et al. Scand J Clin Lab Invest 1979.com/mmpe/sec21/ch315/ch315a. et al. Pages 371-378 . Rambam Medical Centre & Bruce Rapaport Faculty of Medicine. Elson C.

trauma. demam berdarah dengue (DHF). Komposisi: Setiap liter asering mengandung: • • • • • Na 130 mEq K 4 mEq Cl 109 mEq Ca 3 mEq Asetat (garam) 28 mEq . dehidrasi berat. luka bakar.JENIS-JENIS CAIRAN INFUS ASERING Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut. syok hemoragik.

pada keadaan asupan oral terbatas • • • KA-EN MG3 Indikasi : • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak Bayi prematur atau bayi baru lahir. RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus • Pada kasus bedah. misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA. asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran • Mempunyai efek vasodilator • Pada kasus stroke akut. dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati • Pada pemberian sebelum operasi sesar. pada keadaan asupan oral terbatas • Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B . sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: • Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian.Keunggulan: • Asetat dimetabolisme di otot. demam) < 24 jam pasca operasi Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi: • • • • Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui.

5 gr/L Otsu-NS Indikasi: • Untuk resusitasi .• Mensuplai kalium 20 mEq/L • Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L KA-EN 4A Indikasi :  Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak  Tanpa kandungan kalium. sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal  Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml): • • • • • Na 30 mEq/L K 0 mEq/L Cl 20 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B Indikasi:  Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun  Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia  Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi: • • • • • Na 30 mEq/L K 8 mEq/L Cl 28 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 37.

• • Kehilangan Na > Cl. luka bakar) Otsu-RL Indikasi:  Resusitasi  Suplai ion bikarbonat  Asidosis metabolik MARTOS-10 Indikasi: • Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik • Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor. insufisiensi adrenokortikal. misal diare Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum. stres berat dan defisiensi protein • • AMIPAREN Indikasi: • Stres metabolik berat • Luka bakar • Infeksi berat • Kwasiokor • Pasca operasi • Total Parenteral Nutrition • Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit AMINOVEL-600 Indikasi: * Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI Dosis: 0. infeksi berat.3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L .

Dalam keadaan sehat. Sebagai contoh. beberapa pasien rawat-inap dengan asupan makan yang kurang juga mengalami kekurangan zat gizi. jika tubuh kekurangan air setelah olah raga maka kita akan merasa haus dan minum. jika kita kurang minum air maka produksi air kemih akan berkurang untuk menjaga kadar air tubuh dalam batas-batas normal. asupan minum yang kurang atau ada demam tinggi. Sebaliknya pada pasien yang sakit dan dirawat inap karena diare kronis. Pada diare berat dan muntaber. dan jenis cairan yang diberikan untuk mengatasi kedua jenis dehidrasi inipun berbeda. bisa terjadi dehidrasi akut yang berat yang mengancam jiwa. tubuh tidak bisa melakukan kompensasi dengan adekuat. Di samping kekurangan air dan elektrolit. terdapat kekurangan air juga di kompartemen intraseluler. Kira-kira 55-60% dari berat badan orang dewasa terdiri atas air. dan pada bayi dan anak total air tubuh lebih tinggi lagi yakni 80% pada bayi baru lahir dan 70% pada anak. sehingga tidak jarang kita lihat bahwa pasien diberikan infus yang mengandung asam amino dan karbohidrat untuk dukungan nutrisi. Air tubuh yang sebanyak 60% ini. Ini adalah mekanisme kompensasi tubuh. Jadi mudah dipahami bahwa gangguan keseimbangan air akan sangat mempengaruhi kondisi tubuh.* Penderita GI yang dipuasakan * Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar. Dehidrasi bisa terjadi akut dan kronis sesuai dengan penyebabnya. karena banyak kehilangan air dari kompartemen ekstraseluler. sehingga seseorang jatuh dalam keadaan yang dinamakan dehidrasi. Biasanya dehidrasi tidak seberat pada diare. trauma dan pasca operasi) * Stres metabolik sedang * Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) PAN-AMIN G Indikasi: * Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan * Nitrisi dini pasca operasi • Tifoid PENDAHULUAN Air merupakan unsur vital untuk makhluk hidup. Juga. tubuh memiliki mekanisme keseimbangan atau homeostasis yang mengatur asupan dan pengeluaran air. Pada keadaan-keadaan di mana asupan air sangat berkurang sekali atau kehilangan air sangat berlebihan atau cepat. tersebar di tiga kompartemen cairan tubuh yakni: Intraselular ( di dalam sel) Interstisial (antar sel) Intravaskular (di dalam pembuluh darah) Cairan intravascular dan cairan interstisial keduanya disebut juga cairan ekstraseluler. · · · .

Dengan kata lain. Jenis dan jumlah dan kecepatan cairan rumatan yang diberikan kepada pasien berbeda dengan cairan resusitasi. karbohidrat dan lipid) ke dalam pembuluh balik atau vena. Di sini cairan infus diberikan dengan cepat dan dalam jumlah cairan yang besar sesuai dengan derajat dehidrasi atau perdarahan yang terjadi. Pada pasien-pasien yang mengalami syok karena perdarahan juga membutuhkan terapi cairan untuk menyelamatkan jiwanya. biasanya diberikan cairan melaui infus. pemahaman tentang produk infus dan terapi cairan tentunya sangat penting. Sedangkan pada dehidrasi sedang sampai berat. Untuk dehidrasi ringan. misal hanya 500 ml per hari atau kurang. jadi jumlah cairan yang diperlukan tidak banyak. pasien umumnya masih bisa mendapat air cukup dari minum. artinya diberikan sebagai jalan masuk obat suntik ke dalam pembuluh darah balik (catatan i. Terapi cairan resusitasi adalah pemberian cairan untuk menyelamatkan jiwa pasien yang mengalami syok karena dehidrasi akut dan berat atau perdarahan. 4. 3. APA ITU TERAPI CAIRAN Terapi cairan adalah suatu tindakan pemberian air dan elektrolit dengan atau tanpa zat gizi kepada pasien-pasien yang mengalami dehidrasi dan tidak bisa dipenuhi oleh asupan oral biasa melalui minum atau makanan. Pada infus jaga. Seringkali pasien rawat-inap karena kondisi sakitnya tidak bisa mengkonsumsi air dan elektrolit dalam jumlah cukup melalui minum. Ini merupakan bagian manajemen pasien dan salah satu tindakan yang paling banyak dilakukan untuk “menolong” pasien. Parenteral artinya pemberian selain melalui enteral. Terakhir adalah Parenteral feeding atau nutrisi parenteral. atau asupan oral tidak memungkinkan. misal jika ada muntah-muntah atau pasien tidak sadar. dimana insiden demam berdarah dan diare yang tinggi dan semakin banyak penduduk yang terancam dari tahun ke tahun. Resusitasi Pemberian elektrolit rumatan Parenteral feeding IV line sering disebut juga infus jaga. JENIS CAIRAN INFUS . Tujuannya bermacam-macam mulai dari yang samar sampai yang paling tegas 1.Khusus untuk Indonesia. 2. sehingga memerlukan dukungan infuse untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar tidak jatuh dalam gangguan keseimbangan air dan elektrolit yang bisa mengancam jiwa.v artinya intravena atau di dalam pembuluh darah balik). Nutrisi parenteral ini diberikan pada pasien yang kekurangan gizi atau asupan gizi melalui oral diperkirakan akan terhambat oleh kondisi penyakit pasien. IV line : Berjaga-jaga. umumnya digunakan terapi cairan oral (lewat mulut). nutrisi parenteral adalah pemberian infus zat gizi (bisa asam amino. jalan obat. Terapi cairan melalui infus dikerjakan mulai dari Rumah Sakit yang paling canggih sampai kunjungan rumah (home visit) yang diberikan oleh Paramedis s/d Dokter ahli . Terapi cairan rumatan bertujuan mengganti kehilangan air normal harian pada pasien rawat inap.

Kesemua faktor ini merupakan hal yang harus diketahui dokter. FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERHATIKAN DALAM PEMBERIAN TERAPI CAIRAN INTRAVENA Faktor Pasien Dari sisi pasien yang perlu diperhatikan adalah penyakit dasar pasien. pasien dengan komplikasi penyakit tertentu.Sekarang tersedia banyak sekali jenis cairan dipasaran. selain elektrolit beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam sel. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900 mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena) • Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral. trigliserida. Overkil l: Pendekatan Overkill dilakukan untuk membunuh semua mikroba. dalam pemberian infus. Kondisi orang sakit membutuhkan cairan yang berbeda sesuai dengan penyakitnya. dan kekuatan jantung. Cl-. a. • • Kandungan lain cairan Seperti disebutkan sebelumnya. Ca++. Osmolaritas cairan Yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. antara lain: glukosa. 3. yaitu overkill dan non-overkill (bioburden-based). Faktor Cairan 1. Pada sterilisasi cairan intravena yang menggunakan metoda sterilisasi uap panas. sorbitol. Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain seperti Mg++. status hidrasi dan hemodinamik. dengan prosedur sterilisasi akhir pada suhu tinggi yaitu 121oC selama 15 menit. Jadi. pas atau terlalu banyak. Cairan sebagai terapi seharusnyalah tepat sehingga dicapai efek yang optimal. Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril. • 4. laktat atau asetat. Dengan cara ini. Pada pemanasan . yang diperhitungkan bukan hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang. Sterilitas cairan infus. bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain. Metoda ini sudah dikenal lebih dari satu abad yang lalu. Misalnya saja larutan glukosa konsentrasi tinggi. maltosa. 2. Pemberian cairan yang salah bisa memperberat penyakit pasien. Zn++ dan trace element lainnya. • Pengetahuan dokter dan paramedis tentang isi dan komposisi larutan infus sangatlah penting agar bisa memilih produk sesuai dengan indikasi masingmasing. Kandungan elektrolit cairan • Elektrolit yang umum dikandung dalam larutan infus adalah Na+. asam amino. Namun cara ini sangat berisiko dilakukan pada cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino karena bisa jadi nutrisi tersebut pecah dan pecahannya menjadi racun. K+. silitol. fruktosa. cukup. hanya cairan infus yang mengandung elektrolit tidak akan mengalami perubahan. ada dua pendekatan yang banyak digunakan. Rancangan cairan disesuaikan dengan kondisi patologis.

. dimana pemanasan akhir yang digunakan tidak lagi harus mencapai 121 derajat. b. bebas partikel namun kandungannya tetap stabil serta tidak terurai yang diakibatkan pemanasan yang terlampau tinggi. cairan ini akan menghasilkan produk dekomposisi yang dinamakan 5-HMF atau 5-Hidroksimetil furfural yang pada kadar tertentu berpotensi menimbulkan gangguan hati. Selain suhu sterilisasi yang terlalu tinggi. lama penyimpanan juga berbanding lurus dengan peningkatan kadar 5HMF ini. maka berkembang juga teknologi sterilisasi yang lebih mutakhir yaitu metoda Non-Overkill atau disebut juga Bioburden. sehingga produk-produk yang dihasilkan dengan metoda ini selain dijamin steril. bebas pirogen. Non-overkill (bioburden-based) : sesuai dengan perkembangan kedokteran yang membutuhkan jenis cairan yang lebih beragam contohnya cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino serta obat-obatan yang berasal dari bioteknologi. Dengan demikian infus tetap bermanfaat dan aman untuk diberikan.tinggi.

Proses sterilisasi akhir dari kemasan dan isi di otoklaf pada suhu yang optimal sehingga tidak merusak zat-zat yang rentan seperti dekstrosa. Penyediaan air demineralisata (deionized water). Bahan baku dengan beban mikroba dan endotoksin (pirogen) tidak melebihi batas yang dipersyaratkan. 2. 6. Proses produksi dengan semua komponen produk dan berhubungan langsung dengan bahan dilakukan secara otomatis.22 mikron untuk menghilangkan kontaminasi mikroba dan partikel pada tahap pengolahan larutan infus sebelum proses pengisian kedalam botol. B. Bahan baku (Material) 1. dan 5. Pendekatan bioburden umumnya lebih sesuai untuk produk infus dan telah digunakan secara luas di berbagai negara Eropa. albumin dll Pengendalian kualitas (quality control) yang ketat melalui pengujian secara kimia. SDM ( Sumber Daya Manusia) Pelatihan SDM penerapan higiene perorangan untuk pengelolaan produk steril dan pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala. pirogen tidak akan hilang hanya dengan pemanasan 121 oC. 3. asam amino. Amerika Serikat dan Jepang. 7. mikrobiologi untuk memastikan kualitas larutan dan kemasan produk sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan C. (Catatan.Cairan infus yang dihasilkan oleh Otsuka Jepang termasuk PT Otsuka Indonesia mempergunakan pendekatan metoda Bioburden melalui proses dan teknologi sebagai berikut : A. 1. dengan demikian pemanasan dengan suhu 121oC tidak memjamin bebas pirogen jika tidak difiltrasi) Pembuatan botol. peralatan yang Design dan kebersihan ruang produksi memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan dipantau secara berkala Pembersihan dan sanitasi peralatan serta fasilitas produksi yang tervalidasi dan terkendali. dengan system Reverse Osmosis yang memenuhi syarat. Proses (Metode). Penggunaan filter khusus untuk menjamin larutan bebas pirogen dan filter berukuran 0. fisika. 2. . dengan sistem blow moulding pada suhu 1850 C pengisian larutan di bawah Laminar Air Flow. 4. dan penyediaan air untuk injeksi (water for injection) melalui unit distilasi bertahap (multi stage distillation unit) pada suhu 121140 oC yg bebas pirogen.

China dan Taiwan. Selama lebih dari 30 tahun. dengan pabrik seluas 40. Carleton and J. JP XV 2006 Sterile Dosage Forms 2nd Edition – Salvatore Turco & Robert E King.000 M2 berlokasi di Lawang-Malang.Martono S. Optimasi Pembuatan Sediaan Infus Dekstrosa yang disterilkan pada suhu 115 oC. Referensi: 1. 3. 2006 Revision . dimana pabriknya telah tersebar dibeberapa negara seperti Indonesia. halaman 37 Validation of Aseptic Pharmaceutical Processes – F. PT Otsuka Indonesia memiliki visi “Menjadi perusahaan yang paling unggul dalam sumbangsihnya untuk meningkatkan kesehatan umat manusia”. PDA Journal of Pharmaceutical Science and Technology. Bahkan produksi infusnya telah diekspor ke berbagai negara di Asia Pacific. Vietnam. Hal 1-10 6. Pakistan. Jawa Timur.J. Agalloco halaman 266 4.Dari ulasan persyaratan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan yang baik dalam terapi cairan. Artocarpus Media Pharmaceutica Indonesiana Vol 5 No 1 Maret 2005. USP XXX 2007 hal 669-676 5. Draft 18. Marchaban.P. Hingga saat ini Otsuka Jepang merupakan produsen infus terbesar di Asia. PT Otsuka Indonesia adalah perusahaan farmasi multinasional Jepang yang didirikan pada tahun 1975. diperlukan teknologi dan pengalaman yang handal baik dari segi petugas kesehatan (dokter dan paramedik) dan produsen produk infus. PT Otsuka Indonesia telah memproduksi ratusan juta botol infus dan telah digunakan untuk menyelamatkan jutaan jiwa manusia. 2. Milala AS. Technical Monograph No 1. Thailand.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful