PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

1. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pajak merupakan tulang punggung negara di bidang pembiayaan pemerintahan dan pembangunan. Hal ini dapat dilihat sejak zaman kerajaan baik di Benua Eropa, Ker ajaan-kerajaan di Asia hingga Negara Modern yang demokratis seperti Amerika Serikat s ekarang ini pajak merupakan penerimaan negara yang paling diandalkan. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda dahulu, di Nusantara, salah satu pajak yang dilaksanakan adalah Bea Balik Nama atas tanah yang dilaksanakan berdasa rkan Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 ( selanjutnya disingkat Ord onansi BBN, Stbl. 1924 No.291 ). Pajak ini dipungut atas peristiwa hukum yang terjadi k arena pemindahan hak atas harta tetap ( tanah dan atau bangunan) sebagaimana yang diatur dalam Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata/Sipil (KUHP/S) yang terkenal dengan sebutan Hak Barat atau yang disamakan dengan orang barat ( orang Timur Asin g ). Pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda sampai dengan zaman kemerdekaan Republik Indonesia sebelum tahun 1960 terdapat dualisme hukum yang berlaku di bidang pertanahan. Bagi masyarakat yang berasal dari Eropa, Amerika dan orang Asia / Timur Asing termasuk Cina, India, Jepang dan lain-lain berlaku Hukum Barat yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata/Sipil. Sedangkan untuk orang Indonesia a sli (Bumiputra) berlaku Hukum Adat masing-masing daerahnya. Perbedaan perlakuan at as hukum yang berlaku ini sangat terasa dan besar dampaknya bagi masyarakat. Khusu s bagi BBN sebagaimana yang tertuang dalam Stbl 1924 No.291 hanya diberlakukan ke pada orang atau badan yang hak hukumnya diatur dalam KUHP/S yang dalam setiap pe ralihan atau perolehan hak penguasaannya atas tanah dan atau bangunan dicatat dala m Akte. Sedangkan bagi mereka para pribumi (bumiputra) bahkan dulu disebut Inlander tidak dikenakan BBN karena tidak diatur peralihan haknya dalam KUHP/S tetapi diatur d alam Hukum Adat dan tidak melalui Akte. Dalam pelaksanaannya peralihan hak ini hany a dicatatkan melalui Lurah/Kepala Desa dan dicatat dalam Buku Wira-Wiri Desa guna pe mungutan Pajak Bumi yang nantinya akan dilaporkan kepada Jawatan Pajak Bumi (seka rang Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan, Direktorat Jenderal Pajak) atau Kantor Pend aftaran Tanah Milik. Pada tahun 1960 lahir Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria ( UUPA No.5/1960 ), dimana melalui Undang-undang ini dualisme di bidang hukum pertanahan DIFUSIKAN, artinya hak-hak atas tanah menurut Hukum Barat dan Hukum Adat dilebur menjadi Hak Indonesia. Sejalan dengan itu maka
MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

1

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Ordonansi BBN Stbl 1924 No.291 kehilangan objeknya karena telah dibekukan dengan keluarnya UUPA No.5 Tahun 1960. Keadaan atau kekosongan dasar pemungutan BBN tersebut berjalan mulai 1960 sampai dengan 1997 dan pada tanggal 29 Mei 1997 lahirla h Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan B angunan (BPHTB) yang diundangkan melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tah un 1997 Nomor 44. Namun baru berjalan kurang lebih selama 3(tiga) tahun Undang-undang ini telah mengalami perubahan dengan keluranya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang BPHTB. Bebe rapa pokok pikiran yang melatarbelakangi perubahan Undang-undang ini adalah: 1. Memperluas cakupan objek pajak untuk mengakomodir adanya perolehan hak atas tanah dan bangunan yang belum diatur ; 2. Lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan dalam pengenaan pajak ; 3. Lebih memberikan kepastian hukum mengenai ketentuan dan sanksi bagi wajib pajak dan pejabat pemerintah/fiskus ; 4. Menyesuaikan dengan ketentuan baku dan istilah yang tercantum dalam Undang-undang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan ( UU KUP ) ; 5. Menyesuaikan dengan ketentuan yang berkaitan dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daer ah. B. TUJUAN INSTRUKSIONAL 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mendapatkan pelajaran ini para peserta didik diharapkan dapat mengerti, memahami, dan menjelaskan serta melaksanakan ketentuan yang tercantum dalam Undang Undang BPHTB beserta segala aturan pelaksanaannya mulai dari latar belakang, dasar 2arif, sampai dengan sanksi yang dikenakan terhadap pejabat yang melanggar ketentuan. 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mendapatkan pelajaran ini, para peserta didik diharapkan dapat : a. Mengerti dan memahami latar belakang dan tujuan ditetapkannya Undangundang BPHTB.

b.

Memahami falsafah, dasar 2arif, terminology, ketentuan dan segala peraturan ikutan dari Undang-undang BPHTB.

MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

2

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

c.

Memahami dan menjelaskan tentang objek, subjek, 3ariff, dan dasar pengenaan BPHTB.

d. Memahami dan menjelaskan serta melaksanakan tatacara perhitungan BPHTB. e. Memahami dan menjelaskan tempat dan saat terutang BPHTB, tempat dan tatacara pembayaran serta tatacara penagihan BPHTB. f. Memahami, menjelaskan , dan melaksanakan pemberian pelayanan atas permohonan keberatan, banding, dan pengurangan BPHTB. g. Memahami dan menjelaskan penggunaan SSB, penerbitan SKBKB/ SKBKBT/SKBLB/SKBN, pemberian restitusi dan imbalan bunga. h. Memahami dan menjelaskan mekanisme pembayaran, pengiriman, dan pembagian hasil BPHTB. i. Memahami dan menjelaskan ketentuan bagi pejabat, pelaporan, dan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. C. ALAT PENUNJANG Dalam pelaksanaannya, mata ajar BPHTB ini perlu ditunjang dengan alat dan kemudahan untuk memahami aturan/Undang-undang BPHTB seperti: 1. Buku Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB dan Buku Undangundang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia yang berkaitan dengan BPHTB. 3. Surat Keputusan Menteri, Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak, dan Surat Keputusan maupun Surat Edaran lainnya yang berkaitan dengan BPHTB. 4. Transparansi Materi Ajar.

MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

3

Pemindahan Hak karena : a. Hak Pakai MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 4 yang perolehan haknya dikenakan BPHTB sebagaimana diatur dalam pasal 2 ayat (3) UU BPHTB meliputi : . Hibah Wasiat e. Peleburan Usaha l. Hak Guna Bangunan d. Diluar Pelepasan Hak Sedangkan jenis-jenis hak atas tanah a. SUBJEK dan WAJIB PAJAK BPHTB A. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut meliputi: 1. Jual Beli b. Pemberian Hak Baru karena : a. OBJEK BPHTB Sesuai bunyi pasal 2 Undang-undang BPHTB. Hadiah 2 . Waris f. Kelanjutan Pelepasan Hak b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. Pemasukan dalam Perseroan/Badan Hukum lainnya g. Penggabungan Usaha k. KEGIATAN BELAJAR 1 OBJEK . Hibah d. Hak Guna Usaha c. Pemisahan Hak yang mengakibatkan peralihan h. Tukar Menukar c. yang menjadi objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Hak Milik b. Penunjukan pembeli dalam Lelang i. Pelaksanaan putusan Hakim yang mempunyai kekuatan Hukum Tetap j. Pemekaran Usaha m.

Apa yang dimaksud dengan pemasukan dalam perseroan menurut UU BPHTB? 2. Hak Pengelolaan Berdasarkan ketentuan pasal 3 ayat (1) terdapat beberapa objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB yaitu : 1. konsulat berdasar azas perlakuan timbal balik 2. Objek yang diperoleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum 3. Objek yang diperoleh perwakilan diplomatik.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. C. WAJIB PAJAK BPHTB Subjek pajak BPHTB sesuai dengan ketentuan tersebut diatas menjadi wajib pajak BPHTB apabila dikenakan kewajiban membayar pajak. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemberian hak baru sebagai kelanjutan pelepasan hak. Hak Milik atas satuan Rumah Susun f. Latihan 1. 3. Objek yang diperoleh orang pribadi/Badan karena kepentingan IBADAH B SUBJEK BPHTB Yang menjadi subjek BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas Tanah dan atau Bangunan. Jelaskan maksud dari perlakuan azas timbal balik dalam pengenaan BPHTB atau karena MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 5 . Objek yang diperoleh Badan/Perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha/kegia tan lain diluar fungsi dan tugasnya 4. Objek yang diperoleh orang pribadi/Badan karena WAKAF 6. Objek yang diperoleh orang pribadi/Badan karena KONVERSI HAK perbuatan Hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama 5.

Berdasarkan jenis perolehan haknya. Pemisahan Hak = Nilai Pasar 8. Hibah Wasiat = Nilai Pasar 5. Peleburan Usaha = Nilai Pasar 12. Peralihan Hak karena Putusan Hakim = Nilai Pasar 9. Pemasukan dalam Perseroan / Badan Hukum lainnya = Nilai Pasar 7. Pemberian Hak Baru = Nilai Pasar 10. NPOP tersebut adalah sebagai berikut : 1. Hadiah = Nilai Pasar 14. bila NPOP tidak diketahui atau NPOP lebih rendah dari NJOP PBB maka yang menjadi dasar pengenaan adalah NJOP PBB dan apabila NJOP PBB belum ditetapkan maka sesuai dengan ketentuan pasal 6 a yat (4) besarnya NJOP PBB ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Waris = Nilai Pasar 6. Penentuan tarif tunggal ini dimaksudkan untuk kesederhanaan dan kemudahan perhitun gan. Tukar Menukar = Nilai Pasar 3. Jual Beli = Harga Transaksi 2. B. DASAR PENGENAAN DAN CARA MENGHITUNG BPHTB A. pemerintah menentukan suatu batas nilai perolehan tidak kena pajak yang disebut Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena P MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 6 . KEGIATAN BELAJAR 2 TARIF. Penggabungan Usaha = Nilai Pasar 11. tarif BPHTB merupakan tarif tunggal sebesar 5 %. DASAR PENGENAAN Yang menjadi dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak atau disingkat NPOP sesuai ketentuan pasal 6 UU BPHTB. Pemekaran Usaha = Nilai Pasar 13. Hibah = Nilai Pasar 4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. Selanjutnya didalam pasal 7 UU BPHTB. T A R I F Sesuai pasal 5 UU BPHTB. Lelang = yang tercantum dalam Risalah Lelang Berdasarkan ketentuan pasal 6 ayat (3) UU BPHTB.

000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN ajak (NPOPTKP). dalam hal NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf d lebih besar daripada NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf b. untuk perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam rangka Program Peningkatan Sertifikasi Tanah untuk Memperkuat Penjaminan Kredit bagi Usaha Mikro dan Kecil. ditetapkna sebesar Rp49.00 (empat puluh sembilan juta rupiah) c.03/2008 ini berisikan ketentuan sebagai berikut: a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK. ditetapkan paling banyak Rp60.00 (sepuluh juta rupiah) d. maka NPOPTKP untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf b ditetapkan sama dengan NPOPTKP sebagaimana ditetapkan pada huruf d f. ditetapkan sebesar Rp10. untuk perolehan hak karean waris .04/2000 tanggal 14 Desember 2000.000. huruf b.000.000.00 (enam puluh juta rupiah) e. ditetapkan paling banyak Rp300. dalam hal NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf d lebih besar daripada NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 7 . Ketentuan pasal 7 ini dijabarkan lebih lanjut dengan Peraturan Pemeri ntah dan yang terakhir adalah Peraturan Pemerintah Nomor 113 Tahun 2000 tanggal 1 Desember 2000 yang kemudian ditindaklanjuti lagi dengan Keputusan Menteri Keuanga n Nomor 516/KMK.04/2000 Tentang Tata Cara Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajaak Tidak Kena Pajak BPHTB.000.03/2008 tanggal 22 Februari 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/KMK. untuk perolehan hak Rumah Sederhana Sehat (RSH) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 03/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR bersubsidi. untuk perolehan hak selain perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf a. Keputusan Menteri Keuangan ini kemudian mengalami perubahan dan yang terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK.00 (tiga ratus juta rupiah) b. dan Rumah Susun Sederhana sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 7/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi. termasuk suami/istri. dan huruf c.000.000. atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat.000.

000. Perolehan hak karena lelang MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 8 . Perolehan hak karena putusan hakim c.000 ... Besarnya NPOPTKP ditetapkan secara regional.500. CARA MENGHITUNG BPHTB Untuk menghitung besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah dengan cara mengurangkan NPOP dengan NPOPTKP.Latihan: 1. C.maka kewajiban BPHTB yang harus dipenuhi oleh Bapak Ali tersebut adalah : 5% x (600.000 . Bapak Ali membeli sebuah rumah seluas 200 M2 yang berada diatas sebidang tanah hak milik seluas 500 M2 di Kota Bogor dengan harga pero lehan sebesar Rp500.Apabila NPOPTKP ditetapkan untuk Kabupaten Tangerang sebesar Rp 60.000.000. maka NPOPTKP untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf c ditetapkan sama dengan NPOPTKP sebagaimana ditetapkan pada huruf d.000.000. Dengan demikian untuk menghitung besarnya BPHTB terutang adalah : BPHTB terutang = Tarif x NPOPKP Contoh : 1.000. 2.000.600. Sebukan yang menjadi dasar pengenaan dari: a.50.60.000. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tarif pajak tunggal 2. Bila NPOPTKP ditentuk an sebesar Rp50... Perolehan hak karena jual beli b.000.000.000.000) = Rp27.maka BPHTB yang menjadi kewajiban Bapak Sumarno tsb adalah : 5% x (50.Berdasarkan data SPPT PBB atas objek tersebut terny ata NJOPnya sebesar Rp.000) = Nihil atau dengan kata lain Bapak Sumarno tidak terutang BPHTB. Bapak Sumarno membeli sebidang tanah yang terletak di Kabupaten Tangerang dengan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) sebesar Rp50..000. Pada tanggal 1 Pebruari 2003.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c. Pada tanggal 1 Maret 2003 . maksudnya adalah NPOPTKP tersebut ditetapkan per daerah tingkat II (Kabupaten/Kota) dengan mempertimbangkan usulan dari Kepala Daerah yang bersangkutan.000.000.000.(tanah dan bangunan).

Dasar pengenaan (NPOP) adalah nilai pasar pada saat pendaftaran hak. tanggal 1 Desember 2000 yang mengatur hal-hal sebag ai berikut : 1. Maksimum Rp300 juta terhadap waris dan juga terhadap hibah wasiat yang diterima oleh orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga se darah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas dan satu derajat k e bawah dengan pemberi hibah wasiat termasuk suami/istri. BPHTB terutang karena waris dan hibah wasiat sebesar seharusnya terutang. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOTKP) terdiri dari 2 jenis : a. Terhadap tanah dan bangunan tersebut telah dikenakan PBB dengan NJOP seb esar Rp325 juta. KEGIATAN BELAJAR 3 PENGENAAN BPHTB KARENA WARIS. Untuk itu telah terbit Peratu ran Pemerintah No: 111/2000. Seorang anak menerima warisan dari orang tuanya sebidang tanah dan bangunan dengan nilai pasar pada waktu pendaftaran hak sebesar Rp250 juta. PENGENAAN BPHTB KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT Sesuai dengan bunyi pasal 3 ayat (2) UU BPHTB pengenaan BPHTB karena waris dan hibah wasiat diatur dengan peraturan pemerintah. Contoh : 1. 2. HIBAH WASIAT DAN PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN A. Apabila NPOP lebih kecil dari NJOP PBB maka yang menjadi dasar pengenaan adalah NJOP PBB 5. Maksimum Rp60 juta terhadap penerima hibah wasiat selain dari yang diatas. 4. Apabila NPOPTKP karena waris untuk daerah tersebut ditentuk an sebesar Rp250 juta maka BPHTB yang terutang adalah sebesar : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN : 50 % dari yang 9 . Saat terutang pajak adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan 3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. Apa sebab pemerintah menentukan batas nilai tidak dikenakan pajak (NPOPTKP) dalam perhitungan BPHTB? 4. b.

Lembaga Pemerintah Lain dan Per um Perumnas b.3. meng gunakan tanah untuk keperluan tugasnya. Apabila Nilai Pasar lebih kecil dari NJOP PBB maka yang dipakai adalah NJOPPBB. c. Saat terutang Pajak yaitu sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan d. Seorang cucu menerima hibah wasiat dari kakeknya sebidang tanah seluas 300 M2 dengan nilai pasar pada waktu pendaftaran hak sebesar Rp300 juta.875. Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota.000. 2. Lembaga Pemerintah Non Departemen.2. Yang dimaksud dengan Hak Pengelolaan adalah hak menguasai dari Negara atas tanah yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pe megang haknya untuk merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah. 0% dari BPHTB yang seharusnya terutang bila penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen. pengenaan BPHTB karena pemberian hak pengelolaan diatur dengan peraturan pemerintah. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 10 . Apabila NPOPTKP pada daerah tersebut ditent ukan sebesar Rp60 juta maka BPHTB terutang yang harus dibayar oleh Yayasan tersebut adalah sebesar : 50% x 5% x ( Rp800 juta – Rp60 juta) = Rp18. PENGENAAN BPHTB KARENA PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN Sesuai dengan pasal 3 ayat (2) UU BPHTB.250. Dasar pengenaan ( NPOP) adalah Nilai Pasar e. 50% dari BPHTB yang seharusnya terutang untuk selain yang diatas.000 M2 dengan nilai pasar pada waktu pend aftaran hak sebesar Rp800 juta.B. Sebuah Yayasan Yatim Piatu “ Al-Jannah” menerima hibah wasiat dari seorang dermawan sebidang tanah seluas 1.. Besarnya BPHTB karena Hak Pengelolaan adalah : a.500.000.000. Apabila NPOPTKP pada daerah tersebut ditentuka n sebesar Rp50 juta maka BPHTB yang terutang adalah sebesar : 50% x 5% x (Rp300 juta – Rp50 juta ) = Rp6. menyerahkan bagian-bagian tanah ter sebut kepada pihak ketiga dan atau bekerjasama dengan pihak ketiga.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 50% x 5% x (Rp325 juta – Rp250 juta) = Rp1. Terhada p tanah tersebut telah diterbitkan SPPT PBB pada tahun pendaftaran hak denga n NJOP sebesar Rp250 juta. Untuk itu telah diterbitkan Peraturan Pemerintah No: 112 Tahun 2000 tanggal 1 Desember 2000 yan g mengatur hal-hal sebagai berikut : 1.

Apakah yang dimaksud dengan Hak Pengelolaan? MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 11 . Apa yang dimaksud dengan hibah wasiat? Jelaskan! 2. Apa yang menjadi dasar pengenaan BPHTB karena waris? 3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : 1. Sebuah perusahaan negara milik daerah ( BUMD Perpakiran ) menerima hak pengelolaan dari pemerintah sebidang tanah dan sebuah gedung untuk parkir de ngan nilai pasar pada waktu penerbitan hak sebesar Rp1 milyar. Bagaimana menetukan NPOPTKP untuk waris dan hibah wasiat? 4. Apabila NPOPTKP atas daerah tersebut ditetapkan sebesar Rp50 juta maka besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh BUMD Perpakiran tersebut adal ah sebesar : 50% x 5% x (Rp1. Apabila NPOPTKP pada daerah tersebut ditetapkan sebesar Rp60 juta m aka besarnya BPHTB yang harus diabayar oleh Perum Perumnas tersebut adala h: 0% x 5% x (Rp3 milyar – Rp60 juta) = 0 ( nihil ). Terhadap tanah dan bangunan tersebut telah diterbitkan SPPT PBB dengan NJOP sebesar Rp1. Perum Perumnas menerima Hak Pengelolaan dari Pemerintah sebidang tanah seluas seluas 5 Ha dengan nilai pasar pada waktu penerbitan hak sebesar Rp3 milyar.25 milyar – Rp50 juta) = Rp30 juta Latihan: 1. 2. 25 milyar.

Hibah : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 4. Hibah Wasiat : Sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan Haknya ke Kantor Pertanahan 10. Tukar Menukar : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 3. dengan kata lain saat terutang pajak BPHTB adalah merupakan saat untuk wajib membayar pajak. Pemekaran Usaha : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 14. Waris : Sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan 5. SAAT TERUTANG PAJAK Ketentuan pasal 9 ayat (1) UU BPHTB memuat tentang saat terutang pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagai berikut : 1. Pemasukan dalam Perseroan : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 6. Pemisahan Hak : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 7. KEGIATAN BELAJAR 4 SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG SERTA TATA CARA PEMBAYARAN A. Hadiah : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta Pajak terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak. Lelang : Sejak tanggal penunjukan pemenang Lelang 8. Penggabungan Usaha : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 12. Peleburan Usaha : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 13. Pemberian Hak Baru : Sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya Surat Keputusan Pemberian Hak 11. Jual Beli : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 2. Putusan Hakim : Sejak tanggal putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap 9. B. TEMPAT PAJAK TERUTANG : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 12 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5.

SSB juga berfungsi sebagai SPOP dan sekaligus digunakan untuk melaporkan data perolehan hak atas tanah dan atau bangunan Kewajiban Bayar pada saat : 1. atau Propinsi yang meliputi letak tanah dan atau bangunan C. Pembayaran tidak mendasarkan kepada adanya Surat Ketetapan Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Tempat pajak terutang adalah di wilayah Kabupaten. 2. Kota.6/2001 tanggal 6 April 2001 yang intinya adalah sebagai berikut : 1.04/2 000 tanggal 14 Desember 2000 yang kemudian ditindak lanjuti dengan Keputusan Dirjen Pajak Nomor 269/PJ/2001 tanggal 2 April 2001 dan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor 09 /PJ. Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap Latihan: 1. TATA CARA PEMBAYARAN Ketentuan tata cara pembayaran BPHTB tercantum dalam pasal 10 UU BPHTB yang dijabarkan lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 517/KMK. Pendaftaran Hak untuk Waris & Hibah Wasiat 3. Ditunjuknya pemenang Lelang 4. Dibayar dengan menggunakan Surat Setoran Bea ( SSB ) ke Kas Negara melalui Bank/Kantor Pos atau Tempat Pembayaran lain yg ditunjuk 3. Kapankan saat terutangnya BPHTB dan dimana harus dibayar? 2. Ditandatanganinya SK Pemberian Hak dalam hal pemberian Hak Baru 5. Bagaimana kalau BPHTB ternyata nihil? Jelaskan! MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 13 . Dibuat & ditandatanganinya Akta 2. Sebutkan tat cara pembayaran BPTHB! 3.

Dalam jangka waktu 5 tahun sejak pajak terutang. 2. Setelah terbit SKBKB. terdapat data baru lagi sehingga Pajak terutang bertambah.. maka Kepala Kantor Pelayanan PBB/KPP Pratama menerbitk an Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) ditamba h sanksi administrasi sebesar 100% dari jumlah kenaikan.Pada tanggal 1 Maret 2003 diperoleh data baru (novum).. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan PBB Surabaya Satu pada tanggal 7 Pebruari 2003.Atas temuan-temuan tersebut diat as Kepala Kantor Pelayanan PBB Surabaya Satu telah menerbitkan SKBKB pada tangg al 7 Pebruari 2003 dan SKBKBT pada tanggal 1 Maret 2003.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6. kecuali wajib p ajak melapor sebelum ada pemeriksaan Contoh : Bapak Krosbin Simatupang membeli sebidang tanah di Surabaya pada tanggal 5 Januari 2003 dengan harga perolehan menurut PPAT sebesar Rp. Berapa BPHTB yang haru s dibayar oleh Bapak Krosbin Simatupang tersebut berdasarkan SKBKB dan SKBKBT y ang diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB tersebut bila NPOPTKP ditentukan s ebesar Rp50.000.000.000. Direktorat Jenderal Pajak.? Jawab : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 14 .300.dan BPHTBnya telah dibayar lunas pada tanggal tersebut.000. TATA CARA PENETAPAN Tata cara penetapan BPHTB diatur didalam pasal 11 dan 12 sebagai berikut : 1.000.000. dalam hal ini Kepala Kantor Pelayanan PBB/KPP Pratama menerbitkan Surat Ketet apan BPHTB Kurang Bayar (SKBKB) ditambah denda 2% per bulan maks imum untuk jangka waktu 24 bulan ( 48% ).000.. KEGIATAN BELAJAR 5 TATA CARA PENETAPAN DAN PENAGIHAN A. ternyata transaksi yang benar atas tanah tersebut adalah sebesar Rp400.350.000. ternyata NJO P PBB atas tanah tersebut adalah sebesar Rp. berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat kurang bayar.

000. Dari pemeriksaan.000) = Rp15. BPHTB yang telah dibayar pada tanggal 5 Januari 2003 adalah : 5% x (300.50.BPHTB yang telah dibayar BPHTB kurang bayar Denda : 2 x 2% x Rp2.000.000.000. 14 dan 15 UU BPHTB maka apabila : 1.000.= Rp 5.= Rp 2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1. TATA CARA PENAGIHAN Sesuai dengan pasal 13.600.500.000) = Rp12. WP kena sanksi administrasi berupa denda/bunga maka Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan Surat Tagihan BPHTB (STB) ditambah sanksi bunga 2% per bulan maksimum 24 bulan.500. Jelaskan bagaimana tata cara penetapan BPHTB 2.= Rp 2.000. BPHTB yang seharusnya terutang pada tanggal 1 Maret 2003 : 5% x (400.= Rp 2. Latihan: 1.000. Surat Tagihan BPHTB setara dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP) SKBKB.000.000. Pajak terutang berdasar SURAT-SURAT tersebut diatas harus dilunasi paling lambat 1 (satu) bulan sejak diterima oleh wajib pajak.000 .000.000. lewat batas waktu dapat ditagih dengan SU RAT PAKSA. STB.000. Apa yang harus dilakukan oleh fiskus apabila Dasar Penagihan sudah jatuh tempo? = Rp15.000) = Rp17.- 3.50.= Rp 2.BPHTB yang telah dibayar BPHTB kurang bayar Sanksi administrasi ( 100% ) SKBKBT B.2.000.000 .000. BPHTB yang seharusnya terutang pada tanggal 7 Pebruari 2003 : 5% x (350. SSB kurang bayar 3.000. Jelaskan bagaimana tata cara penbagihan BPHTB 3.SKBKB = Rp12.500.000.000 .000. SKBKBT.500.= Rp 100.500.000. SK Pembetulan / SK Pengurangan / SK Keberatan / SK Banding merupakan Dasar Penagihan Pajak.500.- MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 15 . Pajak terutang tidak/kurang bayar 2.500.000.000.000.50.

2.Copy SSB . SKBKBT. Yang tidak memenuhi syarat tidak dianggap sebagai surat keberatan dan tidak dipertimbangkan 5.Copy Akta/Risalah Lelang / SK Pemberian Hak / Putusan Hakim d. Secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas dan dilampiri : a. Wajib Pajak yang tidak setuju atas keputusan keberatan dari Direktur Jenderal Pajak dapat mengajukan banding ke Badan Penyelesaian Sengketa Pajak ( sekarang Pengadilan Pajak ) MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 16 . Keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak 6. lewat waktu dianggap diterima 7. b. SKBN . KEGIATAN BELAJAR 6 KEBERATAN. Keputusan dalam jangka waktu 12 bulan sejak diterima permohonan dari wajib pajak. Keberatan diajukan dalam waktu 3(tiga) bulan sejak diterimanya SK oleh wajib pajak 4. KEBERATAN Keberatan diatur dalam pasal 16 dan 17 yang dapat dirinci sebagai berikut : 1. BANDING DAN PENGURANGAN A. menolak. Diajukan oleh wajib pajak kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Kepala KPPBB/KPP Pratama atas : SKBKB.Copy identitas 3. mengabulkan seluruhnya / sebagian b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 7. menambah besar pajak terutang 8.Asli SKBKB/SKBKBT/SKBLB/SKBN c. atau c. Keputusan dapat berupa : a. SKBLB.

561/KMK. yang dapat dirinci sebagai berikut : 1. WP pribadi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan RS dan RSS langsung dari pengembang dan membayar secara angsuran mendapat pengurangan sebesar 25% d. Keputusan Menteri Keuangan ini kemudian diubah dan terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 91/PMK.04/2004 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB. B A N D I N G Banding diatur dalam pasal 18 dan 19 Undang-undang BPHTB yang dapat disarikan sebagai berikut : • • • Diajukan ke BPSP ( Pengadilan Pajak ) dalam jangka waktu 3 bulan sejak terima SK Keputusan Keberatan Pengajuan banding tidak menunda kewajiban pembayaran pajak Bila Keberatan dan Banding dikabulkan. WP Badan memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah dan atau bangunan secara fisik lebih dari 20 tahun mendapat pengurangan sebesar 50% c. Dalam hal kondisi tertentu WP yang ada hubungannya dengan Objek Pajak : a.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN B. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 17 . WP memperoleh hak dari hasil pembelian uang ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya dibawah NJOP mendapat pengurangan sebesar 50%.03/2006 tanggal 13 Oktober 2006 tentang Perubahan Kedua atas KMK No. kelebihan pembayaran dapat imbalan bunga 2%/bulan maksimum 24 bulan yang dihitung sejak pelunasan pajak sampai dengan terbit Surat Ketetapan BPHTB Lebih Bayar C. WP pribadi menerima hibah dari keluarga sedarah satu derajad keatas dan kebawah mendapat pengurangan sebesar 50% 2. Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu : a. PENGURANGAN Pengurangan diatur dalam pasal 20 Undang-undang BPHTB yang kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 561/KMK.03/2004 tanggal 25 Nopember 2004 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB. WP pribadi memperoleh hak baru melalui program Pemerintah di bidang Pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan ekonomis mendapat pengurangan sebesar 75% b.

WP Badan Korpri yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan dalam rangka pengadaaan perumahan bagi anggota Korpri/PNS. Bapindo dan Bank Exim dalam rangka merger. purnawirawan. WP Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang berasal dari peusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai kelanjutan dari pelaksanaan KepMenKeu tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. j. TNI. mendapat pengurangan 75% h. mendapat pengurangan sebesar 75% d. mendapat pengurangan sebesar 100% i. mendapat pengurangan sebesar 50% pengunaan Nilai Buku dlm rangka penggabungan atau peleburan usaha f. WP yang domisilinya termasuk dalam wilayah program rehabilitasi dan rekonstruksi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan melalui program pemerintah di bidang pertanahan atau WP yang objek pajaknya MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 18 . WP Badan terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga WP harus melakukan restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai kebijaksanaan pemerintah. pensiunan. PNS. mendapat pengurangan sebesar 100% e. mendapat pengurangan sebesar 50%. WP Badan melakukan Merger atau Konsolidasi dengan atau tanpa terlebih persetujuan dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan tersebut dari Dirjen Pajak. WP Bank Mandiri yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari BBD. WP memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak berfungsi lagi karena bencana alam dlsb yang terjadi dalam waktu 3 bulan setelah penandatanganan Akta. WP memperoleh hak sebagai penggantian dari tanah yang dibebaskan pemerintah untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus. WP pribadi (Veteran. BDN. mendapat pengurangan sebesar 50% g.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. mendapat pengurangan sebesar 50% c. Polri. janda/dudanya) yang memproleh hak atas tanah dan atau bangunan rumah dinas pemerintah.

terjadi 3(tiga) bulan sebelum terjadinya bencana. k. WP yang objek pajaknya terkena bencana alam gempa bumi dan tsunami di pesisir Pantai Selatan Pulau Jawa yang perolehan haknya atau saat terhutangnya terjadi 3(tiga) bulan sebelum terjadinya bencana. diberi pengurangan sebesar 100%. Sumatera Utara.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN terkena bencana lam gempa bumi dan gelombang tsunami di Propinsi NAD dan Kepulauan Nias. e. 3. diberi pengurangan sebesar 100%. Fotokopi identitas d. 3. Tanah dan atau bangunan di Propinsi NAD yang selama masa reahbilitasi berlangsung digunakan untuk kepentingan sosial/pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan mendapat pengurangan sebesar 100%. Permohonan diajukan oleh WP kepada Kepala KPPBB/KPP Pratama / Kakanwil DJP / Dir.Pajak dalam bahasa Indonesia dengan lampiran : a. Fotokopi Surat Setoran Bea ( SSB ) Fotokopi Akta / Risalah Lelang / Kep.Pemberian Hak Baru / Putusan Hakim c. b. 2. Surat Keterangan Lurah/Kepala Desa Fotokopi persetujuan Merger dari Dirjen Pajak Permohonan dalam waktu 3(tiga) bulan sejak tanggal pembayaran Khusus untuk MERGER. TATA CARA PERMOHONAN PENGURANGAN 1.Jen. Tanah dan bangunan untuk kepentingan sosial/pendidikan yang semata-mata tidak mencari keuntungan mendapat pengurangan sebesar 50% 4. permohonan diajukan sebelum Akta ditandatangani oleh Notaris/PPAT MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 19 . mendapat pengurangan sebesar 100%. WP yang objek pajaknya terkena bencana alam gempa bumi di Propinsi DIY dan sebagian Propinsi Jawa Tengah yang perolehan haknya atau saat terhutangnya l.

5 M oleh Kepala Kantor PBB/ KPP Pratama b. lebih dari 4 bulan dianggap diterima. lebih dari 6 bulan dianggap dikabulkan. 2. Sebutkan syarat-syarat untuk mengajukan keberatan BPHTB MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 20 . Keputusan oleh Kakanwil DJP dalam waktu 4(empat) bulan sejak diterima pemohonan dari WP. Lebih dari 5 M.5 M sampai dengan 5 M oleh KAKANWIL DJP c. Ketetapan sampai dengan 2. Wewenang Keputusan : a. Ketetapan diatas 2. merger dan Bank Mandiri oleh Direktur Jenderal Pajak PENGURANGAN YANG DIHITUNG SENDIRI OLEH WP Terhadap WP yang memenuhi syarat dapat menghitung sendiri besar pengurangan sebelum pembayaran BPHTB. Bentuk Keputusan : mengabulkan seluruhnya / sebagian atau menolak 3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. maksimum 24 bulan. 5. Terhadap BPHTB kurang bayar (SKBKB) tidak dap at diajukan pengurangan kembali Latihan: 1. Bila permohonannya ditolak / dikabulkan namun BPHTB masih kurang bayar maka terhadap WP tersebut dikenakan sanksi bunga 2% per bulan dari kekurangan bayar tersebut . Dalam Surat Setoran Bea diberi tanda “ p engurangan dihitung sendiri” dan jumlah setoran setelah pengurangan. dan keputusan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam waktu 6(enam) bulan. dampak krisis. Atas permohonan kemudian dilakukan Pemeriksaan Sederhana dan dituangkan dalam Berita Acara Permohonan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai surat permohonan dan tidak dipertimbangkan KEPUTUSAN PENGURANGAN 1. Dalam hal ini W P tetap mengajukan permohonan pengurangan sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Keputusan oleh Kepala KPPBB/KPP Pratama dalam waktu 3(tiga) bulan sejak terima permohonan dari Wajib Pajak. lebih dari 3 bulan dianggap diterima.

Siapa yang berwenang untuk memberi keputusan atas pengajuan keberatan BPHTB? Jelaskan! 3. KEGIATAN BELAJAR 7 RESTITUSI DAN IMBALAN BUNGA SERTA PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN BPHTB A. Sebutkan dan jelaskan kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yang dapat mengajukan penguranagn BPHTB 4. Jelaskan tata cara pengurangan yang dihitung sendiri oleh Wajib Pajak 8. Pajak dibayar > pajak terutang yang disebabkan oleh : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 21 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. Sebab-sebab Restitusi : a. RESTITUSI DAN IMBALAN BUNGA Restitusi atau pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB diatur dalam pasal 21 dan pasal 22 yang dapat dirinci sebagai berikut : 1.

Tata Cara Pengajuan Restitusi dan Imbalan Bunga a. Pajak dibayar tidak seharusnya terutang 2. maka permohonan tersebut dianggap diterima d an paling lambat 1 bulan setelah 12 bulan harus terbit SKBLB dan apabila pe MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 22 . c. Permohonan restitusi diajukan oleh WP dalam alasan dan dilampiri : bahasa Indonesia dengan 1) 3) 4) b. KPPBB/KPP Pratama 1) 2) 3) d.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN - Permohonan pengurangan dikabulkan Permohonan keberatan dikabulkan Permohonan banding dikabulkan Perobahan peraturan b. SKBN apabila jumlah pajak yang dibayar oleh WP sama besarnya dengan jumlah pajak yang terutang SKBKB apabila jumlah pajak yang telah dibayar oleh WP lebih kecil dari jumlah pajak terutang Keputusan dalam waktu 12 bulan sejak terima permohonan apabila waktu 12 bulan tersebut terlampaui. Asli Surat Setoran Bea ( SSB ) 2) Fotokopi SK Keberatan / Banding / Pengurangan Fotokopi Akta / Risalah Lelang / Keputusan Hak Baru / Putusan Hakim Fotokopi identitas Wajib Pajak Yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai surat permohonan dan tidak dipertimbangkan Berdasarkan menerbitkan : pemeriksaan atas permohonan. SKBLB apabila jumlah pajak yang telah dibayar oleh WP ternyata lebih besar dari jumlah pajak yang terutang.

e. Berdasarkan SPMSKU ini maka Kuasa Bendahara Umum Negara menerbitkan Surat Kuasa Umum (SKU) kepada Bank Operasional III untuk melakukan pemindahbukuan Dana Bagi Hasil BPHTB dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah. lewat dari waktu yan g ditentukan tersebut WP dapat bunga 2% per bulan. PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN BPHTB Pembagian hasil penerimaan BPHTB diatur dalam pasal 23 Undang-undang BPHTB dan pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan N o:519/KMK. BO. g.07/2008 tanggal 28 Januari 2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 23 . f. atas transfer Dana Bagi Hasil BPHTB untuk daerah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran melimpahkan sebagian kewenangan perintah pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah kepada Kuasa Bendahara Umum Negara. Pemerintah Daerah mendapat bagian sebesar 80% yang dibagi sebagai berikut : a. KPKN d an Kanwil DJP. Berdasarkan SKBLB harus diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran BPHTB (SKPKPB) yang dikirim ke : WP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN nerbitan SKBLB lewat waktu maka WP mendapat bunga 2% per bulan dihitu ng sejak lewat waktu sampai dengan terbit SKBLB. Atas imbalan bunga diterbitkan Surat Ketetapan Imbalan Bunga ( SKIB ) dan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga ( SPMIB ) B. Pelimpahan kewenangan ini dilakukan dengan menerbitkan Surat Perintah Menerbitkan Surat Kuasa Umum (SPMSKU). Penyaluran Dana Bagi Hasil BPHTB ini berdasarkan realisasi penerimaan BPHTB tahun anggaran berjalan dan dilaksanakan secara mingguan.64% untuk Daerah Kabupaten/Kota Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 04/PMK. 2. dan bulan Nopember tahun anggaran berjalan.04/2000 tanggal 14 Desember 2000 sebagai berikut : 1. Pemerintah Pusat mendapat bagian sebesar 20% dari seluruh penerimaan BPHTB yang kemudian bagian Pemerintah Pusat ini dibagikan secara merata keseluruh daer ah Kabupaten/Kota dan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu bulan April.16% untuk Daerah Propinsi b. Dalam waktu 2 bulan setelah SKBLB harus diterbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pembayaran BPHTB ( SPMKPB ). bulan Agustus.

setiap tahun anggaran selambatlambatnya pada minggu pertama bulan Desember sebelum tahun anggaran dimulai.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dalam rangka penyaluran transfer ke daerah. Sebutkan sebab-sebab terjadinya kelebihan bayar BPHTB 2. pemerintah daerah wajib menyampaikan nomor rekening. Jelaskan secara singkat pembagian hasil penerimaan BPHTB MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 24 . Jelaskan tata cara pengajuan restitusi BPHTB 3. nama rekening dan nama bank kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan yang dilampiri dengan: 1)asli rekening koran dari Rekening Kas Umum Daerah. Latihan: 1. dan 2)fotokopi keputusan kepala daerah mengenai penunjukan/penetapan pejabat Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah yang disahkan oleh kepala daerah.

Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota memberitahukan perolehan hak atas tanah karena pemberian hak baru kepada Kepala KPPBB/KPP Pratama disertai salinan SSB. 4. Pejabat Pembuat Akta Tanah ( PPAT) / Notaris hanya dapat menandatangani Akta pada saat WP menyerahkan Surat Setoran BPHTB (SSB) den gan menyerahkan fotokopi dan menunjukkan aslinya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9. Pejabat Lelang hanya dapat menanda tangani Risalah Lelang pada saat Pejabat yang berwenang menandatangani dan menerbitkan Surat WP menyerahkan SSB. KEGIATAN BELAJAR 8 KEWAJIBAN. Keputusan pemberian hak atas tanah hanya dapat menandatangani dan menerbitka n SK dimaksud pada saat WP menyerahkan SSB. 3. PELAPORAN DAN SANKSI A. 2. Laporan/Pemberitahuan disampaikan selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. Pendaftaran peralihan hak atas tanah karena waris/hibah wasiat hanya Kabupaten/Kota pada saat WP dapat dilakukan oleh Pejabat Pertanahan menyerahkan SSB. KEWAJIBAN PEJABAT Ketentuan bagi pejabat diatur dalam pasal 24 Undang-undang BPHTB yang mengatur tentang kewajiban bagi pejabat yang berkaitan dengan pelaksanaan BPHTB y aitu : 1. B. 3. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) /Notaris. Kepala Kantor Lelang wajib menyampaikan laporan tentang perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dis ertai salinan SSB kepada Kepala KPPBB/KPP Pratama 2. PELAPORAN Masalah pelaporan pelaksanaan BPHTB diatur dalam pasal 25 Undang-undang BPHTB yang mengatur hal-hal sebagai berikut : 1. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 25 . bila libur hari kerja berikutnya.

000.. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) / Notaris / Kepala Kantor Lelang yang melanggar ketentuan Kewajiban Bagi Pejabat. S A N K S I Sanksi yang dikenakan kepada para pejabat terkait diatur dalam pasal 26 Undang-undang BPHTB sebagai berikut : 1.setiap pelanggaran dan denda sebesar Rp.unt uk setiap laporan. Latihan: 1.500. Sebutkan kewajiban bagi para pejabat yang berkaitan dengan pelaksanaan BPHTB 2. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota yang melanggar ketentuan bagi pejabat dikenakan sanksi sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tah un 1980 (PP 30/80) tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 2..7. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 26 .250.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN C. dikenakan sanksi berupa denda s ebesar Rp. Sebutkan pula sanksi yang dpat dikenakan kepada para pejabat terkait dalam pelaksanaan BPHTB apabila mereka melanggar ketentuan bagi pejabat.000.

kecuali: a. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak: a. yang dikenakan atas nilai tanah dan atau bangunan b.b.20 Tahun 2000 tentang BPHTB diharapkan dapat mencapai sasaran: a. Perubahan UU No. Apabila NPOP lebih rendah dari NJOP. 1. Meningkatkan penerimaan pajak sebesar-besarnya b.04/1997 antara lain adalah seperti di bawah ini.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN TEST FORMATIF: I. Pilihan Ganda Berikanlah tanda lingkaran ( O ) atau tanda silang ( X ) untuk jawaban yang Saudara anggap paling benar menurut ketentuan pada huruf didepannya ( a. Bila NJOP belum ditetapkan maka yang digunakan adalah: MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 27 .d ).c.Men. Memberikan kepastian hokum c. atas harga jual yang ditetapkan oleh Kakanwil DJP c. Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) adalah jumlah kewajiban yang harus dibayar berupa: a. Pajak yang kurang dibayar ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan 100% dari jumlah kekurangan pajak 5.Keu. Badan atau Organisasi Internasional yang tidak dikenakan BPHTB sebagaimana diatur dalam Kep. Pajak yang kurang dibayar ditambah bunga sebesar 2% per bulan maksimum 24 bulan c. maka dasar pengenaan BPHTB adalah NJOP. yang dikenakan pada kepemilikan tanah dan atau bangunan d. Memberikan rasa keadilan d. Memberikan rasa keadilan. kepastian hokum.21 Tahun 1997 menjadi UU No.RI No:630/KMK. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) d. Pajak yang kurang dibayar ditambah denda administrasi b. dan memperluas cakupan objek pajak 2. yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan 4. Kerjasama Bilateral 3. Badan-badan Internasional PBB b. Pajak yang kurang dibayar ditambah sanksi administrasi sebesar 100% dari pajak yang kurang dibayar d. Colombo Plan c.

Letak kantor Notaris/PPAT yang membuat Akta d. Menurut pasal 9 ayat(3) UU BPHTB.00 setiap pelanggaran b. 0% dari BPHTB yang seharusnya terutang MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 28 . Administrasi c.000. Lokasi tempat tinggal atau domisili yang memperoleh hak b. atau propinsi yang meliputi: a. Tanda bukti bahwa wajib pajak telah menyampaikan surat keberatan c. Harga transaksi objek pajak tersebut b.00 b.00 10. Tanggal dimulainya pemberian keputusan atas keberatan 7. NJOP tahun yang lalu dari objek pajak tersebut d. Sesuai PP No.000. Harga transaksi yang nilainya melebihi NJOP 9. NJOP tahun yang lalu b.000. dikenakan sanksi: a. Denda sebesar Rp7.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a.000.500. NJOP yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan 6. Nilai Pasar tahun yang lalu c. Tanda penerimaan surat keberatan sangat penting bagi wajib pajak yaitu sebagai: a. tempat BPHTB terutang adalah di wilayah kabupaten/kota. Perhitungan waktu yang digunakan saat menunggu keputusan penyelesaian permohonan keberatan b. Orang pribadi penerima hibah wasiat yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas/ke bawah dengan pemberi hibah wasiat.30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS d. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat(3) UU BPHTB yaitu tidak mewajibkan menyerahkan bukti pembayaran BPHTB pada waktu pendaftaran hak. Lokasi tanah dan atau bangunan c. Harga transaksi tahun yang lalu d. memperoleh: a. Letak kantor bank tempat pembayaran 8. NPOPTKP paling banyak Rp300. NPOPTKP berdasarkan usulan Gubernur atau Kepala Daerah c. Nilai pasar objek pajak tersebut c. Tanda bukti bahwa persyaratan surat keberatan telah terpenuhi d. Besarnya NPOP dalam hal jual beli adalah: a. Denda sebesar Rp250.

Pengalihan Hak yang merupakan Hak Perolehan b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN d. kecuali: a. Jual beli. Mempertegas dasar hukum jenis perolehan hak yang belum diatur c. harus didaftarkan ke pengadilan untuk pembagian warisan c. Waris dan Hibah Wasiat c. Peleburan Usaha. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan 15. Perolehan Hak yang diatur dalam Hukum Perdata 16. Surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi 14. Agar diperoleh penerimaan pajak yang sebesar-besarnya b. Pemisahan Hak yang mengakibatkan Peralihan Hak d. Pemindahan Hak c. Surat untuk melakukan tagihan pajak dan pemaksaan pembayaran c. Konversi hak atas nama yang sama d. Surat untuk melakukan penagihan pajak b. dan Pemekaran Usaha merupakan: a. Penggabungan Usaha.16 Tahun 1985 tentang Undang-undang Rumah Susun d. Pengertian cakupan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam perubahan UU BPHTB Tahun 2000 adalah: a. Kelanjutan Pelepasan Hak MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 29 . Apabila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa tanah dan bangunan.000. dan kelanjutan pelepasan hak b. dibagi kepada ahli waris tanpa dipotong pajak 13. Surat untuk melakukan tagihan pajak dtambah sanksi administrasi d. Objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Pemberian Hak Baru c. Surat Tagihan BPHTB (STB) adalah: a. NPOPTKP yang ditetapkan setelah mempertimbangkan usulan Kepala Daerah secara regional paling banyak Rp300. Perolehan Hak berdasarkan bisnis d. maka warisan tersebut: a. Merumuskan kebijaksanaan pemerintah tentang Hak Pengelolaan 12. bukan objek pajak b. Pemindahan Hak b. Memberikan dasar pengenaan atas UU No.000. Pemasukan dalam Perseroan atau badan Hukum lainnya merupakan: a.00 11. objek BPHTB d.

SKBKB.Men. SSB. SKBKBT. Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan keputusan pemberian pengurangan BPHTB atas tanah dan atau bangunan: a.5 milyar sampai dengan Rp5 milyar c. dengan jumlah pengurangan kurang dari Rp2. Kakanwil DJP yang bersangkutan c. Saudara diminta memberikan penjelasan selengkapnya kepada Pak Hasan Azhary mengenai BPHTB karena hibah wasiat tersebut. seorang hartawan dari Nangro Aceh Darussalam bermaksud memberikan hibah wasiat sebidang tanah seluas 2 Ha kepada sebuah Yayasan Yatim Piatu “Al-Khairat”. STB c. dengan jumlah pengurangan lebih dari Rp2. BPHTB dibayar ke Kas Negaradi Tempat P{embayaran BPHTB di wilayah kabupaten/kota yang meliputi klokasi objek pajak dengan menggunakan SSB 18. karena dampak krisis ekonomi dan merger b.517/KMK. SKBKB. Keberatan dapat diajukan atas: a. SKBLB.04/2000 adalah: a. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 30 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 17. SSB b. maka permohonannya diajukan kepada: a.KeuRI. Menteri Keuangan 19. SKBKB. Kepala KPPBB yang bersangkutan b. atas objek yang sudah tidak berfungsi lagi karena bencana alam d. SKBN d. Direktur Jenderal Pajak d. Tempat dan Tata cara pembayaran BPHTB sebagaimana diatur dalam Kep. BPHTB dibayar di Bank/Kantor Pos Tempat Pembayaran di wilayah kabupaten/kota tempat domisisli subjek pajak c. STB 20. Untuk itu Pak Hasan Azhary menemui Saudara dan menanyakan segala sesuatu mengenai BPHTB karena hibah wasiat. Bapak Hasan Azhary.5 milyar II. SKBLB. BPHTB dibayar keKas Negara di wilayah kbupaten/kota tempat domisili subjek pajak b. URAIAN/ESSAY: 1. No. SKBKB. Apabila wajib pajak akan mengajukan permohonan pengurangan BPHTB karena merger. BPHTB dibayar di Tempat Pembayaran BPHTB di wilayah kabupaten/kota yang meliputi Bank/Kantor Pos terdekat dengan menggunakan SSB d.

sedangkan NJOP bangunan kelas A-1. setelah laporan PPAT diterima oleh KPPBB dan dilakukan penelitian data klasifikasi NJOP. Hitung besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh Ibu Farida berdasarkan SKBKB dan SKBKBT apabila NPOPTKP ditentukan sebesar Rp60 juta. Pada tanggal 10 Mei 2007 KPPBB mengadakan uji silang data dengan KPP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. ternyata NJOP tanah di Jalan Anyelir No. Pada tanggal 10 Maret 2007.9 Kebayoran Baru tersebut ditetapkan kelas A-12. Dari hasil uji silang data tersebut ternyata ditemukan data yang lebih baru lagi yaitu Ibu Ratna (penjual) telah membayar PPh Final atas penjual tanah dan bangunan kepada Ibu Farida sebesar Rp50 juta. Jakarta Selatan dengan luas tanah 400 M2 dan luas bangunan 180 M2 melalui transaksi jual beli dan harga yang dilaporkan kepada KPPBB Jakarta Selatan Dua sebesar Rp500 juta dan dibuktikan dengan SSB yang telah dibayar lunas di Bank tempat Pembayaran. Ibu Farida pada tanggal 5 Februari 2007 membeli sebidang tanah dan bangunan dari Ibu Ratna yang terletak di Jalan Anyelir No. Atas temuan ini KPPBB menerbitkan SKBKBT pada tanggal 11 Mei 2007. Atas perbedaan ini KPPBB kemudian menerbitkan SKBKB pada tanggal 11 Maret 2007. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 31 .9 Kebayoran Baru.

d 18. c 15. a 16. Kemudian hitunglah jumlah jawaban yang benar dan gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauh mana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. d 5.d 100% 90.d s. d 9. b 17.d s. b 12. Pilihan Ganda: 1. b 7. c 19. b 8. c 3. d 6.99% 80.99% 70. d II. Uraian/Essay: 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF: I. a MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN .d s. Lihat kegiatan belajar 5 UMPAN BALIK Cocokkanlah jawaban Anda dengan Jawaban Test Formatif yang ada pada Modul ini. Lihat kegiatan belajar 3 2. c 13. TP = Jumlah jawaban yang benar x 100% Jumlah seluruh soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai: 91% 81% 71% 61% s. c 10. c 20. d 4.99% : Amat baik : Baik : Cukup : Kurang 32 11. d 2. d 14.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB 3.04/2000 tentang Tatacara Pemberian Pengurangan BPHTB 8. Nomor 517/KMK.03/2008 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan RI.04/2000 tentang Tatacara Pembagian Hasil Penerimaan BPHTB. Nomor 516/KMK. Nomor 518/KMK. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB 2. Nomor 519/KMK. Keputusan Menteri Keuangan RI. Peraturan Pemerintah Nomor 111 Tahun 2000 tentang BPHTB Karena Waris dan Hibah Wasiat 4. Keputusan Menteri Keuangan RI.04/2000 tentang Tatacara Penentuan Besarnya NPOPTKP BPHTB 6. Peraturan Menteri Keuangan RI.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Apabila TP Anda belum mencapai 81% ke atas (kategori baik). Keputusan Menteri Keuangan RI.04/2000 tentang Penunjukan Tempat dan Tatacara Pembayaran BPHTB 7. Nomor 33/PMK. maka disarankan Anda untuk mengulang materi yang ada. DAFTAR PUSTAKA 1. Peraturan Pemerintah Nomor 112 tahun 2000 tentang BPHTB Karena Pemberian Hak Pengelolaan 5. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 33 .

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 34 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful