PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

1. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pajak merupakan tulang punggung negara di bidang pembiayaan pemerintahan dan pembangunan. Hal ini dapat dilihat sejak zaman kerajaan baik di Benua Eropa, Ker ajaan-kerajaan di Asia hingga Negara Modern yang demokratis seperti Amerika Serikat s ekarang ini pajak merupakan penerimaan negara yang paling diandalkan. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda dahulu, di Nusantara, salah satu pajak yang dilaksanakan adalah Bea Balik Nama atas tanah yang dilaksanakan berdasa rkan Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 ( selanjutnya disingkat Ord onansi BBN, Stbl. 1924 No.291 ). Pajak ini dipungut atas peristiwa hukum yang terjadi k arena pemindahan hak atas harta tetap ( tanah dan atau bangunan) sebagaimana yang diatur dalam Buku II Kitab Undang-undang Hukum Perdata/Sipil (KUHP/S) yang terkenal dengan sebutan Hak Barat atau yang disamakan dengan orang barat ( orang Timur Asin g ). Pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda sampai dengan zaman kemerdekaan Republik Indonesia sebelum tahun 1960 terdapat dualisme hukum yang berlaku di bidang pertanahan. Bagi masyarakat yang berasal dari Eropa, Amerika dan orang Asia / Timur Asing termasuk Cina, India, Jepang dan lain-lain berlaku Hukum Barat yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata/Sipil. Sedangkan untuk orang Indonesia a sli (Bumiputra) berlaku Hukum Adat masing-masing daerahnya. Perbedaan perlakuan at as hukum yang berlaku ini sangat terasa dan besar dampaknya bagi masyarakat. Khusu s bagi BBN sebagaimana yang tertuang dalam Stbl 1924 No.291 hanya diberlakukan ke pada orang atau badan yang hak hukumnya diatur dalam KUHP/S yang dalam setiap pe ralihan atau perolehan hak penguasaannya atas tanah dan atau bangunan dicatat dala m Akte. Sedangkan bagi mereka para pribumi (bumiputra) bahkan dulu disebut Inlander tidak dikenakan BBN karena tidak diatur peralihan haknya dalam KUHP/S tetapi diatur d alam Hukum Adat dan tidak melalui Akte. Dalam pelaksanaannya peralihan hak ini hany a dicatatkan melalui Lurah/Kepala Desa dan dicatat dalam Buku Wira-Wiri Desa guna pe mungutan Pajak Bumi yang nantinya akan dilaporkan kepada Jawatan Pajak Bumi (seka rang Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan, Direktorat Jenderal Pajak) atau Kantor Pend aftaran Tanah Milik. Pada tahun 1960 lahir Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria ( UUPA No.5/1960 ), dimana melalui Undang-undang ini dualisme di bidang hukum pertanahan DIFUSIKAN, artinya hak-hak atas tanah menurut Hukum Barat dan Hukum Adat dilebur menjadi Hak Indonesia. Sejalan dengan itu maka
MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

1

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Ordonansi BBN Stbl 1924 No.291 kehilangan objeknya karena telah dibekukan dengan keluarnya UUPA No.5 Tahun 1960. Keadaan atau kekosongan dasar pemungutan BBN tersebut berjalan mulai 1960 sampai dengan 1997 dan pada tanggal 29 Mei 1997 lahirla h Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan B angunan (BPHTB) yang diundangkan melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tah un 1997 Nomor 44. Namun baru berjalan kurang lebih selama 3(tiga) tahun Undang-undang ini telah mengalami perubahan dengan keluranya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 Tentang BPHTB. Bebe rapa pokok pikiran yang melatarbelakangi perubahan Undang-undang ini adalah: 1. Memperluas cakupan objek pajak untuk mengakomodir adanya perolehan hak atas tanah dan bangunan yang belum diatur ; 2. Lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan dalam pengenaan pajak ; 3. Lebih memberikan kepastian hukum mengenai ketentuan dan sanksi bagi wajib pajak dan pejabat pemerintah/fiskus ; 4. Menyesuaikan dengan ketentuan baku dan istilah yang tercantum dalam Undang-undang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan ( UU KUP ) ; 5. Menyesuaikan dengan ketentuan yang berkaitan dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daer ah. B. TUJUAN INSTRUKSIONAL 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mendapatkan pelajaran ini para peserta didik diharapkan dapat mengerti, memahami, dan menjelaskan serta melaksanakan ketentuan yang tercantum dalam Undang Undang BPHTB beserta segala aturan pelaksanaannya mulai dari latar belakang, dasar 2arif, sampai dengan sanksi yang dikenakan terhadap pejabat yang melanggar ketentuan. 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mendapatkan pelajaran ini, para peserta didik diharapkan dapat : a. Mengerti dan memahami latar belakang dan tujuan ditetapkannya Undangundang BPHTB.

b.

Memahami falsafah, dasar 2arif, terminology, ketentuan dan segala peraturan ikutan dari Undang-undang BPHTB.

MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

2

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

c.

Memahami dan menjelaskan tentang objek, subjek, 3ariff, dan dasar pengenaan BPHTB.

d. Memahami dan menjelaskan serta melaksanakan tatacara perhitungan BPHTB. e. Memahami dan menjelaskan tempat dan saat terutang BPHTB, tempat dan tatacara pembayaran serta tatacara penagihan BPHTB. f. Memahami, menjelaskan , dan melaksanakan pemberian pelayanan atas permohonan keberatan, banding, dan pengurangan BPHTB. g. Memahami dan menjelaskan penggunaan SSB, penerbitan SKBKB/ SKBKBT/SKBLB/SKBN, pemberian restitusi dan imbalan bunga. h. Memahami dan menjelaskan mekanisme pembayaran, pengiriman, dan pembagian hasil BPHTB. i. Memahami dan menjelaskan ketentuan bagi pejabat, pelaporan, dan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan. C. ALAT PENUNJANG Dalam pelaksanaannya, mata ajar BPHTB ini perlu ditunjang dengan alat dan kemudahan untuk memahami aturan/Undang-undang BPHTB seperti: 1. Buku Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB dan Buku Undangundang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia yang berkaitan dengan BPHTB. 3. Surat Keputusan Menteri, Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak, dan Surat Keputusan maupun Surat Edaran lainnya yang berkaitan dengan BPHTB. 4. Transparansi Materi Ajar.

MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

3

Waris f. Hak Guna Usaha c. Pemindahan Hak karena : a. Hibah d. Pemberian Hak Baru karena : a. Kelanjutan Pelepasan Hak b. Hibah Wasiat e. Pemisahan Hak yang mengakibatkan peralihan h. Penggabungan Usaha k. yang menjadi objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Hadiah 2 . Hak Guna Bangunan d. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut meliputi: 1. Pelaksanaan putusan Hakim yang mempunyai kekuatan Hukum Tetap j. OBJEK BPHTB Sesuai bunyi pasal 2 Undang-undang BPHTB. Jual Beli b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. KEGIATAN BELAJAR 1 OBJEK . SUBJEK dan WAJIB PAJAK BPHTB A. Hak Milik b. Tukar Menukar c. Pemekaran Usaha m. Diluar Pelepasan Hak Sedangkan jenis-jenis hak atas tanah a. Peleburan Usaha l. Hak Pakai MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 4 yang perolehan haknya dikenakan BPHTB sebagaimana diatur dalam pasal 2 ayat (3) UU BPHTB meliputi : . Pemasukan dalam Perseroan/Badan Hukum lainnya g. Penunjukan pembeli dalam Lelang i.

Objek yang diperoleh orang pribadi/Badan karena KONVERSI HAK perbuatan Hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama 5. Latihan 1. Hak Pengelolaan Berdasarkan ketentuan pasal 3 ayat (1) terdapat beberapa objek pajak yang tidak dikenakan BPHTB yaitu : 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. Objek yang diperoleh Badan/Perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha/kegia tan lain diluar fungsi dan tugasnya 4. Objek yang diperoleh negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum 3. Objek yang diperoleh orang pribadi/Badan karena kepentingan IBADAH B SUBJEK BPHTB Yang menjadi subjek BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas Tanah dan atau Bangunan. Objek yang diperoleh perwakilan diplomatik. 3. Apa yang dimaksud dengan pemasukan dalam perseroan menurut UU BPHTB? 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemberian hak baru sebagai kelanjutan pelepasan hak. WAJIB PAJAK BPHTB Subjek pajak BPHTB sesuai dengan ketentuan tersebut diatas menjadi wajib pajak BPHTB apabila dikenakan kewajiban membayar pajak. Jelaskan maksud dari perlakuan azas timbal balik dalam pengenaan BPHTB atau karena MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 5 . Hak Milik atas satuan Rumah Susun f. konsulat berdasar azas perlakuan timbal balik 2. Objek yang diperoleh orang pribadi/Badan karena WAKAF 6. C.

tarif BPHTB merupakan tarif tunggal sebesar 5 %. KEGIATAN BELAJAR 2 TARIF.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. DASAR PENGENAAN Yang menjadi dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak atau disingkat NPOP sesuai ketentuan pasal 6 UU BPHTB. Waris = Nilai Pasar 6. Berdasarkan jenis perolehan haknya. Hadiah = Nilai Pasar 14. Penentuan tarif tunggal ini dimaksudkan untuk kesederhanaan dan kemudahan perhitun gan. Lelang = yang tercantum dalam Risalah Lelang Berdasarkan ketentuan pasal 6 ayat (3) UU BPHTB. Hibah Wasiat = Nilai Pasar 5. Peleburan Usaha = Nilai Pasar 12. Pemasukan dalam Perseroan / Badan Hukum lainnya = Nilai Pasar 7. T A R I F Sesuai pasal 5 UU BPHTB. B. bila NPOP tidak diketahui atau NPOP lebih rendah dari NJOP PBB maka yang menjadi dasar pengenaan adalah NJOP PBB dan apabila NJOP PBB belum ditetapkan maka sesuai dengan ketentuan pasal 6 a yat (4) besarnya NJOP PBB ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pemberian Hak Baru = Nilai Pasar 10. DASAR PENGENAAN DAN CARA MENGHITUNG BPHTB A. Tukar Menukar = Nilai Pasar 3. Jual Beli = Harga Transaksi 2. pemerintah menentukan suatu batas nilai perolehan tidak kena pajak yang disebut Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena P MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 6 . Pemisahan Hak = Nilai Pasar 8. Peralihan Hak karena Putusan Hakim = Nilai Pasar 9. NPOP tersebut adalah sebagai berikut : 1. Selanjutnya didalam pasal 7 UU BPHTB. Penggabungan Usaha = Nilai Pasar 11. Pemekaran Usaha = Nilai Pasar 13. Hibah = Nilai Pasar 4.

04/2000 tanggal 14 Desember 2000.000. untuk perolehan hak selain perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf a.000.000. Keputusan Menteri Keuangan ini kemudian mengalami perubahan dan yang terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK. untuk perolehan hak karean waris . ditetapkan paling banyak Rp60.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN ajak (NPOPTKP). huruf b.000. ditetapkan paling banyak Rp300. ditetapkna sebesar Rp49.00 (tiga ratus juta rupiah) b. maka NPOPTKP untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf b ditetapkan sama dengan NPOPTKP sebagaimana ditetapkan pada huruf d f.00 (sepuluh juta rupiah) d.03/2008 tanggal 22 Februari 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 516/KMK. untuk perolehan hak Rumah Sederhana Sehat (RSH) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 03/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR bersubsidi.04/2000 Tentang Tata Cara Penentuan Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajaak Tidak Kena Pajak BPHTB. dalam hal NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf d lebih besar daripada NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf b. untuk perolehan hak baru melalui program pemerintah yang diterima pelaku usaha kecil atau mikro dalam rangka Program Peningkatan Sertifikasi Tanah untuk Memperkuat Penjaminan Kredit bagi Usaha Mikro dan Kecil. dalam hal NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf d lebih besar daripada NPOPTKP yang ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 7 .000. Ketentuan pasal 7 ini dijabarkan lebih lanjut dengan Peraturan Pemeri ntah dan yang terakhir adalah Peraturan Pemerintah Nomor 113 Tahun 2000 tanggal 1 Desember 2000 yang kemudian ditindaklanjuti lagi dengan Keputusan Menteri Keuanga n Nomor 516/KMK. dan Rumah Susun Sederhana sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 7/PERMEN/M/2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman Dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPR Sarusun Bersubsidi. ditetapkan sebesar Rp10.00 (empat puluh sembilan juta rupiah) c.03/2008 ini berisikan ketentuan sebagai berikut: a.00 (enam puluh juta rupiah) e. atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK. termasuk suami/istri.000.000. dan huruf c.000.

Dengan demikian untuk menghitung besarnya BPHTB terutang adalah : BPHTB terutang = Tarif x NPOPKP Contoh : 1.000.000.60. Besarnya NPOPTKP ditetapkan secara regional. Perolehan hak karena jual beli b. maksudnya adalah NPOPTKP tersebut ditetapkan per daerah tingkat II (Kabupaten/Kota) dengan mempertimbangkan usulan dari Kepala Daerah yang bersangkutan.000.000.000) = Nihil atau dengan kata lain Bapak Sumarno tidak terutang BPHTB. Bila NPOPTKP ditentuk an sebesar Rp50. C. maka NPOPTKP untuk perolehan hak sebagaimana dimaksud pada huruf c ditetapkan sama dengan NPOPTKP sebagaimana ditetapkan pada huruf d. Bapak Sumarno membeli sebidang tanah yang terletak di Kabupaten Tangerang dengan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) sebesar Rp50.000. Bapak Ali membeli sebuah rumah seluas 200 M2 yang berada diatas sebidang tanah hak milik seluas 500 M2 di Kota Bogor dengan harga pero lehan sebesar Rp500.000 .000.(tanah dan bangunan).000. 2.500.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c.000.Apabila NPOPTKP ditetapkan untuk Kabupaten Tangerang sebesar Rp 60..000.600..50. Sebukan yang menjadi dasar pengenaan dari: a. Perolehan hak karena lelang MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 8 . Pada tanggal 1 Pebruari 2003. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tarif pajak tunggal 2.000) = Rp27.000. Perolehan hak karena putusan hakim c.maka BPHTB yang menjadi kewajiban Bapak Sumarno tsb adalah : 5% x (50.000. CARA MENGHITUNG BPHTB Untuk menghitung besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah dengan cara mengurangkan NPOP dengan NPOPTKP.000.000.000 .000.Berdasarkan data SPPT PBB atas objek tersebut terny ata NJOPnya sebesar Rp.maka kewajiban BPHTB yang harus dipenuhi oleh Bapak Ali tersebut adalah : 5% x (600.Latihan: 1...000.. Pada tanggal 1 Maret 2003 .

HIBAH WASIAT DAN PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN A.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. Saat terutang pajak adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan 3. Apabila NPOPTKP karena waris untuk daerah tersebut ditentuk an sebesar Rp250 juta maka BPHTB yang terutang adalah sebesar : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN : 50 % dari yang 9 . Seorang anak menerima warisan dari orang tuanya sebidang tanah dan bangunan dengan nilai pasar pada waktu pendaftaran hak sebesar Rp250 juta. tanggal 1 Desember 2000 yang mengatur hal-hal sebag ai berikut : 1. Maksimum Rp60 juta terhadap penerima hibah wasiat selain dari yang diatas. PENGENAAN BPHTB KARENA WARIS DAN HIBAH WASIAT Sesuai dengan bunyi pasal 3 ayat (2) UU BPHTB pengenaan BPHTB karena waris dan hibah wasiat diatur dengan peraturan pemerintah. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOTKP) terdiri dari 2 jenis : a. Apa sebab pemerintah menentukan batas nilai tidak dikenakan pajak (NPOPTKP) dalam perhitungan BPHTB? 4. 2. Terhadap tanah dan bangunan tersebut telah dikenakan PBB dengan NJOP seb esar Rp325 juta. KEGIATAN BELAJAR 3 PENGENAAN BPHTB KARENA WARIS. Maksimum Rp300 juta terhadap waris dan juga terhadap hibah wasiat yang diterima oleh orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga se darah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas dan satu derajat k e bawah dengan pemberi hibah wasiat termasuk suami/istri. BPHTB terutang karena waris dan hibah wasiat sebesar seharusnya terutang. Contoh : 1. Dasar pengenaan (NPOP) adalah nilai pasar pada saat pendaftaran hak. b. Untuk itu telah terbit Peratu ran Pemerintah No: 111/2000. 4. Apabila NPOP lebih kecil dari NJOP PBB maka yang menjadi dasar pengenaan adalah NJOP PBB 5.

500. Terhada p tanah tersebut telah diterbitkan SPPT PBB pada tahun pendaftaran hak denga n NJOP sebesar Rp250 juta. 0% dari BPHTB yang seharusnya terutang bila penerima Hak Pengelolaan adalah Departemen. Seorang cucu menerima hibah wasiat dari kakeknya sebidang tanah seluas 300 M2 dengan nilai pasar pada waktu pendaftaran hak sebesar Rp300 juta. Besarnya BPHTB karena Hak Pengelolaan adalah : a.000. Apabila Nilai Pasar lebih kecil dari NJOP PBB maka yang dipakai adalah NJOPPBB. Lembaga Pemerintah Non Departemen. 50% dari BPHTB yang seharusnya terutang untuk selain yang diatas. Lembaga Pemerintah Lain dan Per um Perumnas b.250. pengenaan BPHTB karena pemberian hak pengelolaan diatur dengan peraturan pemerintah. Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota.000. c. menyerahkan bagian-bagian tanah ter sebut kepada pihak ketiga dan atau bekerjasama dengan pihak ketiga.000.875. Saat terutang Pajak yaitu sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya keputusan pemberian Hak Pengelolaan d. Sebuah Yayasan Yatim Piatu “ Al-Jannah” menerima hibah wasiat dari seorang dermawan sebidang tanah seluas 1. Dasar pengenaan ( NPOP) adalah Nilai Pasar e. meng gunakan tanah untuk keperluan tugasnya.2. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 10 .3.000 M2 dengan nilai pasar pada waktu pend aftaran hak sebesar Rp800 juta. Apabila NPOPTKP pada daerah tersebut ditentuka n sebesar Rp50 juta maka BPHTB yang terutang adalah sebesar : 50% x 5% x (Rp300 juta – Rp50 juta ) = Rp6. 2.B.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 50% x 5% x (Rp325 juta – Rp250 juta) = Rp1. PENGENAAN BPHTB KARENA PEMBERIAN HAK PENGELOLAAN Sesuai dengan pasal 3 ayat (2) UU BPHTB. Untuk itu telah diterbitkan Peraturan Pemerintah No: 112 Tahun 2000 tanggal 1 Desember 2000 yan g mengatur hal-hal sebagai berikut : 1.. Yang dimaksud dengan Hak Pengelolaan adalah hak menguasai dari Negara atas tanah yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pe megang haknya untuk merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah. Apabila NPOPTKP pada daerah tersebut ditent ukan sebesar Rp60 juta maka BPHTB terutang yang harus dibayar oleh Yayasan tersebut adalah sebesar : 50% x 5% x ( Rp800 juta – Rp60 juta) = Rp18.

Perum Perumnas menerima Hak Pengelolaan dari Pemerintah sebidang tanah seluas seluas 5 Ha dengan nilai pasar pada waktu penerbitan hak sebesar Rp3 milyar.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : 1. 25 milyar. Apabila NPOPTKP pada daerah tersebut ditetapkan sebesar Rp60 juta m aka besarnya BPHTB yang harus diabayar oleh Perum Perumnas tersebut adala h: 0% x 5% x (Rp3 milyar – Rp60 juta) = 0 ( nihil ). Bagaimana menetukan NPOPTKP untuk waris dan hibah wasiat? 4. Apa yang menjadi dasar pengenaan BPHTB karena waris? 3. Apabila NPOPTKP atas daerah tersebut ditetapkan sebesar Rp50 juta maka besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh BUMD Perpakiran tersebut adal ah sebesar : 50% x 5% x (Rp1. Terhadap tanah dan bangunan tersebut telah diterbitkan SPPT PBB dengan NJOP sebesar Rp1.25 milyar – Rp50 juta) = Rp30 juta Latihan: 1. Apa yang dimaksud dengan hibah wasiat? Jelaskan! 2. Apakah yang dimaksud dengan Hak Pengelolaan? MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 11 . 2. Sebuah perusahaan negara milik daerah ( BUMD Perpakiran ) menerima hak pengelolaan dari pemerintah sebidang tanah dan sebuah gedung untuk parkir de ngan nilai pasar pada waktu penerbitan hak sebesar Rp1 milyar.

Penggabungan Usaha : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 12. Hibah Wasiat : Sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan Haknya ke Kantor Pertanahan 10. B. Pemekaran Usaha : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 14. Putusan Hakim : Sejak tanggal putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap 9. Pemisahan Hak : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 7. Pemasukan dalam Perseroan : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 6. dengan kata lain saat terutang pajak BPHTB adalah merupakan saat untuk wajib membayar pajak. TEMPAT PAJAK TERUTANG : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 12 . KEGIATAN BELAJAR 4 SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG SERTA TATA CARA PEMBAYARAN A. Peleburan Usaha : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 13. Lelang : Sejak tanggal penunjukan pemenang Lelang 8. Tukar Menukar : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 3. SAAT TERUTANG PAJAK Ketentuan pasal 9 ayat (1) UU BPHTB memuat tentang saat terutang pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan sebagai berikut : 1. Hadiah : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta Pajak terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak. Hibah : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 4. Waris : Sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan 5.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. Pemberian Hak Baru : Sejak tanggal ditandatangani dan diterbitkannya Surat Keputusan Pemberian Hak 11. Jual Beli : Sejak tanggal dibuat & ditandatanganinya Akta 2.

Dibayar dengan menggunakan Surat Setoran Bea ( SSB ) ke Kas Negara melalui Bank/Kantor Pos atau Tempat Pembayaran lain yg ditunjuk 3. Pembayaran tidak mendasarkan kepada adanya Surat Ketetapan Pajak. Bagaimana kalau BPHTB ternyata nihil? Jelaskan! MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 13 . Pendaftaran Hak untuk Waris & Hibah Wasiat 3. atau Propinsi yang meliputi letak tanah dan atau bangunan C. Ditunjuknya pemenang Lelang 4. Sebutkan tat cara pembayaran BPTHB! 3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Tempat pajak terutang adalah di wilayah Kabupaten. Kapankan saat terutangnya BPHTB dan dimana harus dibayar? 2. TATA CARA PEMBAYARAN Ketentuan tata cara pembayaran BPHTB tercantum dalam pasal 10 UU BPHTB yang dijabarkan lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 517/KMK.6/2001 tanggal 6 April 2001 yang intinya adalah sebagai berikut : 1. Kota. SSB juga berfungsi sebagai SPOP dan sekaligus digunakan untuk melaporkan data perolehan hak atas tanah dan atau bangunan Kewajiban Bayar pada saat : 1. 2. Ditandatanganinya SK Pemberian Hak dalam hal pemberian Hak Baru 5. Dibuat & ditandatanganinya Akta 2. Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap Latihan: 1.04/2 000 tanggal 14 Desember 2000 yang kemudian ditindak lanjuti dengan Keputusan Dirjen Pajak Nomor 269/PJ/2001 tanggal 2 April 2001 dan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor 09 /PJ.

. kecuali wajib p ajak melapor sebelum ada pemeriksaan Contoh : Bapak Krosbin Simatupang membeli sebidang tanah di Surabaya pada tanggal 5 Januari 2003 dengan harga perolehan menurut PPAT sebesar Rp. TATA CARA PENETAPAN Tata cara penetapan BPHTB diatur didalam pasal 11 dan 12 sebagai berikut : 1.? Jawab : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 14 . Direktorat Jenderal Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6.000.000. Berapa BPHTB yang haru s dibayar oleh Bapak Krosbin Simatupang tersebut berdasarkan SKBKB dan SKBKBT y ang diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan PBB tersebut bila NPOPTKP ditentukan s ebesar Rp50.dan BPHTBnya telah dibayar lunas pada tanggal tersebut. terdapat data baru lagi sehingga Pajak terutang bertambah. Dalam jangka waktu 5 tahun sejak pajak terutang. maka Kepala Kantor Pelayanan PBB/KPP Pratama menerbitk an Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) ditamba h sanksi administrasi sebesar 100% dari jumlah kenaikan. KEGIATAN BELAJAR 5 TATA CARA PENETAPAN DAN PENAGIHAN A. ternyata NJO P PBB atas tanah tersebut adalah sebesar Rp.000. dalam hal ini Kepala Kantor Pelayanan PBB/KPP Pratama menerbitkan Surat Ketet apan BPHTB Kurang Bayar (SKBKB) ditambah denda 2% per bulan maks imum untuk jangka waktu 24 bulan ( 48% ).. Setelah terbit SKBKB. ternyata transaksi yang benar atas tanah tersebut adalah sebesar Rp400.350.000.000.Atas temuan-temuan tersebut diat as Kepala Kantor Pelayanan PBB Surabaya Satu telah menerbitkan SKBKB pada tangg al 7 Pebruari 2003 dan SKBKBT pada tanggal 1 Maret 2003. 2.. berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat kurang bayar.000.Pada tanggal 1 Maret 2003 diperoleh data baru (novum).300.000.000. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan PBB Surabaya Satu pada tanggal 7 Pebruari 2003.

- MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 15 . SSB kurang bayar 3.000.000.000) = Rp12.000 . Jelaskan bagaimana tata cara penetapan BPHTB 2.BPHTB yang telah dibayar BPHTB kurang bayar Denda : 2 x 2% x Rp2.000.000.000 .2.000.50. BPHTB yang seharusnya terutang pada tanggal 7 Pebruari 2003 : 5% x (350. Dari pemeriksaan.000. SKBKBT.600.= Rp 5. WP kena sanksi administrasi berupa denda/bunga maka Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan Surat Tagihan BPHTB (STB) ditambah sanksi bunga 2% per bulan maksimum 24 bulan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1. Apa yang harus dilakukan oleh fiskus apabila Dasar Penagihan sudah jatuh tempo? = Rp15. Latihan: 1. Pajak terutang berdasar SURAT-SURAT tersebut diatas harus dilunasi paling lambat 1 (satu) bulan sejak diterima oleh wajib pajak.000.500.000.500.000. TATA CARA PENAGIHAN Sesuai dengan pasal 13.50.000. SK Pembetulan / SK Pengurangan / SK Keberatan / SK Banding merupakan Dasar Penagihan Pajak.500.500.000.000.= Rp 2.BPHTB yang telah dibayar BPHTB kurang bayar Sanksi administrasi ( 100% ) SKBKBT B.= Rp 2.= Rp 2.000) = Rp17. Surat Tagihan BPHTB setara dengan Surat Ketetapan Pajak (SKP) SKBKB. BPHTB yang telah dibayar pada tanggal 5 Januari 2003 adalah : 5% x (300.000.000.500.000.SKBKB = Rp12.000.500.000.= Rp 100.000.000) = Rp15. 14 dan 15 UU BPHTB maka apabila : 1.- 3.000 . BPHTB yang seharusnya terutang pada tanggal 1 Maret 2003 : 5% x (400.000. Jelaskan bagaimana tata cara penbagihan BPHTB 3. lewat batas waktu dapat ditagih dengan SU RAT PAKSA. STB. Pajak terutang tidak/kurang bayar 2.500.000.000.= Rp 2.50.

mengabulkan seluruhnya / sebagian b. Keputusan dapat berupa : a.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 7. b. Secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas dan dilampiri : a. Wajib Pajak yang tidak setuju atas keputusan keberatan dari Direktur Jenderal Pajak dapat mengajukan banding ke Badan Penyelesaian Sengketa Pajak ( sekarang Pengadilan Pajak ) MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 16 . SKBLB. Keputusan dalam jangka waktu 12 bulan sejak diterima permohonan dari wajib pajak. Diajukan oleh wajib pajak kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Kepala KPPBB/KPP Pratama atas : SKBKB. SKBKBT. Yang tidak memenuhi syarat tidak dianggap sebagai surat keberatan dan tidak dipertimbangkan 5. BANDING DAN PENGURANGAN A. 2. SKBN . KEGIATAN BELAJAR 6 KEBERATAN. menolak. Keberatan diajukan dalam waktu 3(tiga) bulan sejak diterimanya SK oleh wajib pajak 4.Asli SKBKB/SKBKBT/SKBLB/SKBN c. KEBERATAN Keberatan diatur dalam pasal 16 dan 17 yang dapat dirinci sebagai berikut : 1. lewat waktu dianggap diterima 7. Keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak 6. menambah besar pajak terutang 8.Copy identitas 3.Copy SSB .Copy Akta/Risalah Lelang / SK Pemberian Hak / Putusan Hakim d. atau c.

WP Badan memperoleh hak baru selain Hak Pengelolaan dan telah menguasai tanah dan atau bangunan secara fisik lebih dari 20 tahun mendapat pengurangan sebesar 50% c. Keputusan Menteri Keuangan ini kemudian diubah dan terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 91/PMK. B A N D I N G Banding diatur dalam pasal 18 dan 19 Undang-undang BPHTB yang dapat disarikan sebagai berikut : • • • Diajukan ke BPSP ( Pengadilan Pajak ) dalam jangka waktu 3 bulan sejak terima SK Keputusan Keberatan Pengajuan banding tidak menunda kewajiban pembayaran pajak Bila Keberatan dan Banding dikabulkan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN B.03/2006 tanggal 13 Oktober 2006 tentang Perubahan Kedua atas KMK No. WP pribadi memperoleh hak baru melalui program Pemerintah di bidang Pertanahan dan tidak mempunyai kemampuan ekonomis mendapat pengurangan sebesar 75% b. kelebihan pembayaran dapat imbalan bunga 2%/bulan maksimum 24 bulan yang dihitung sejak pelunasan pajak sampai dengan terbit Surat Ketetapan BPHTB Lebih Bayar C. Dalam hal kondisi tertentu WP yang ada hubungannya dengan Objek Pajak : a. PENGURANGAN Pengurangan diatur dalam pasal 20 Undang-undang BPHTB yang kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 561/KMK. WP pribadi menerima hibah dari keluarga sedarah satu derajad keatas dan kebawah mendapat pengurangan sebesar 50% 2. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 17 .561/KMK. yang dapat dirinci sebagai berikut : 1.03/2004 tanggal 25 Nopember 2004 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB. Kondisi Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan sebab-sebab tertentu : a. WP memperoleh hak dari hasil pembelian uang ganti rugi pemerintah yang nilai ganti ruginya dibawah NJOP mendapat pengurangan sebesar 50%. WP pribadi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan RS dan RSS langsung dari pengembang dan membayar secara angsuran mendapat pengurangan sebesar 25% d.04/2004 tentang Pemberian Pengurangan BPHTB.

janda/dudanya) yang memproleh hak atas tanah dan atau bangunan rumah dinas pemerintah. purnawirawan. WP yang domisilinya termasuk dalam wilayah program rehabilitasi dan rekonstruksi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan melalui program pemerintah di bidang pertanahan atau WP yang objek pajaknya MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 18 . PNS. BDN. pensiunan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. WP pribadi (Veteran. mendapat pengurangan sebesar 50% g. mendapat pengurangan sebesar 50% pengunaan Nilai Buku dlm rangka penggabungan atau peleburan usaha f. Polri. WP Badan anak perusahaan dari perusahaan asuransi dan reasuransi yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang berasal dari peusahaan induknya selaku pemegang saham tunggal sebagai kelanjutan dari pelaksanaan KepMenKeu tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. WP Badan Korpri yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan dalam rangka pengadaaan perumahan bagi anggota Korpri/PNS. WP memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak berfungsi lagi karena bencana alam dlsb yang terjadi dalam waktu 3 bulan setelah penandatanganan Akta. WP Badan terkena dampak krisis ekonomi dan moneter yang berdampak luas pada kehidupan perekonomian nasional sehingga WP harus melakukan restrukturisasi usaha dan atau utang usaha sesuai kebijaksanaan pemerintah. mendapat pengurangan sebesar 100% e. mendapat pengurangan sebesar 75% d. WP memperoleh hak sebagai penggantian dari tanah yang dibebaskan pemerintah untuk kepentingan umum yang memerlukan persyaratan khusus. j. Bapindo dan Bank Exim dalam rangka merger. mendapat pengurangan sebesar 50%. mendapat pengurangan 75% h. TNI. WP Bank Mandiri yang memperoleh hak atas tanah yang berasal dari BBD. mendapat pengurangan sebesar 100% i. WP Badan melakukan Merger atau Konsolidasi dengan atau tanpa terlebih persetujuan dahulu mengadakan likuidasi dan telah memperoleh keputusan tersebut dari Dirjen Pajak. mendapat pengurangan sebesar 50% c.

Fotokopi Surat Setoran Bea ( SSB ) Fotokopi Akta / Risalah Lelang / Kep. Surat Keterangan Lurah/Kepala Desa Fotokopi persetujuan Merger dari Dirjen Pajak Permohonan dalam waktu 3(tiga) bulan sejak tanggal pembayaran Khusus untuk MERGER.Pajak dalam bahasa Indonesia dengan lampiran : a.Pemberian Hak Baru / Putusan Hakim c. WP yang objek pajaknya terkena bencana alam gempa bumi di Propinsi DIY dan sebagian Propinsi Jawa Tengah yang perolehan haknya atau saat terhutangnya l. e. k. Permohonan diajukan oleh WP kepada Kepala KPPBB/KPP Pratama / Kakanwil DJP / Dir. WP yang objek pajaknya terkena bencana alam gempa bumi dan tsunami di pesisir Pantai Selatan Pulau Jawa yang perolehan haknya atau saat terhutangnya terjadi 3(tiga) bulan sebelum terjadinya bencana. mendapat pengurangan sebesar 100%.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN terkena bencana lam gempa bumi dan gelombang tsunami di Propinsi NAD dan Kepulauan Nias. 3. Sumatera Utara. Tanah dan atau bangunan di Propinsi NAD yang selama masa reahbilitasi berlangsung digunakan untuk kepentingan sosial/pendidikan yang semata-mata tidak untuk mencari keuntungan mendapat pengurangan sebesar 100%.Jen. diberi pengurangan sebesar 100%. Tanah dan bangunan untuk kepentingan sosial/pendidikan yang semata-mata tidak mencari keuntungan mendapat pengurangan sebesar 50% 4. TATA CARA PERMOHONAN PENGURANGAN 1. terjadi 3(tiga) bulan sebelum terjadinya bencana. permohonan diajukan sebelum Akta ditandatangani oleh Notaris/PPAT MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 19 . b. 2. Fotokopi identitas d. 3. diberi pengurangan sebesar 100%.

Dalam hal ini W P tetap mengajukan permohonan pengurangan sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. maksimum 24 bulan. Bila permohonannya ditolak / dikabulkan namun BPHTB masih kurang bayar maka terhadap WP tersebut dikenakan sanksi bunga 2% per bulan dari kekurangan bayar tersebut . Terhadap BPHTB kurang bayar (SKBKB) tidak dap at diajukan pengurangan kembali Latihan: 1. lebih dari 6 bulan dianggap dikabulkan. Ketetapan diatas 2. Dalam Surat Setoran Bea diberi tanda “ p engurangan dihitung sendiri” dan jumlah setoran setelah pengurangan. Keputusan oleh Kakanwil DJP dalam waktu 4(empat) bulan sejak diterima pemohonan dari WP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. 5. Bentuk Keputusan : mengabulkan seluruhnya / sebagian atau menolak 3. Ketetapan sampai dengan 2. Atas permohonan kemudian dilakukan Pemeriksaan Sederhana dan dituangkan dalam Berita Acara Permohonan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai surat permohonan dan tidak dipertimbangkan KEPUTUSAN PENGURANGAN 1. Keputusan oleh Kepala KPPBB/KPP Pratama dalam waktu 3(tiga) bulan sejak terima permohonan dari Wajib Pajak. Wewenang Keputusan : a. dampak krisis. lebih dari 4 bulan dianggap diterima.5 M oleh Kepala Kantor PBB/ KPP Pratama b. Lebih dari 5 M. lebih dari 3 bulan dianggap diterima. 2. dan keputusan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam waktu 6(enam) bulan. merger dan Bank Mandiri oleh Direktur Jenderal Pajak PENGURANGAN YANG DIHITUNG SENDIRI OLEH WP Terhadap WP yang memenuhi syarat dapat menghitung sendiri besar pengurangan sebelum pembayaran BPHTB. Sebutkan syarat-syarat untuk mengajukan keberatan BPHTB MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 20 .5 M sampai dengan 5 M oleh KAKANWIL DJP c.

Jelaskan tata cara pengurangan yang dihitung sendiri oleh Wajib Pajak 8. KEGIATAN BELAJAR 7 RESTITUSI DAN IMBALAN BUNGA SERTA PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN BPHTB A. Pajak dibayar > pajak terutang yang disebabkan oleh : MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 21 . RESTITUSI DAN IMBALAN BUNGA Restitusi atau pengembalian kelebihan pembayaran BPHTB diatur dalam pasal 21 dan pasal 22 yang dapat dirinci sebagai berikut : 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. Siapa yang berwenang untuk memberi keputusan atas pengajuan keberatan BPHTB? Jelaskan! 3. Sebab-sebab Restitusi : a. Sebutkan dan jelaskan kondisi tertentu Wajib Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak yang dapat mengajukan penguranagn BPHTB 4.

c. maka permohonan tersebut dianggap diterima d an paling lambat 1 bulan setelah 12 bulan harus terbit SKBLB dan apabila pe MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 22 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN - Permohonan pengurangan dikabulkan Permohonan keberatan dikabulkan Permohonan banding dikabulkan Perobahan peraturan b. Permohonan restitusi diajukan oleh WP dalam alasan dan dilampiri : bahasa Indonesia dengan 1) 3) 4) b.Tata Cara Pengajuan Restitusi dan Imbalan Bunga a. SKBLB apabila jumlah pajak yang telah dibayar oleh WP ternyata lebih besar dari jumlah pajak yang terutang. SKBN apabila jumlah pajak yang dibayar oleh WP sama besarnya dengan jumlah pajak yang terutang SKBKB apabila jumlah pajak yang telah dibayar oleh WP lebih kecil dari jumlah pajak terutang Keputusan dalam waktu 12 bulan sejak terima permohonan apabila waktu 12 bulan tersebut terlampaui. KPPBB/KPP Pratama 1) 2) 3) d. Pajak dibayar tidak seharusnya terutang 2. Asli Surat Setoran Bea ( SSB ) 2) Fotokopi SK Keberatan / Banding / Pengurangan Fotokopi Akta / Risalah Lelang / Keputusan Hak Baru / Putusan Hakim Fotokopi identitas Wajib Pajak Yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai surat permohonan dan tidak dipertimbangkan Berdasarkan menerbitkan : pemeriksaan atas permohonan.

KPKN d an Kanwil DJP.04/2000 tanggal 14 Desember 2000 sebagai berikut : 1. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 23 .16% untuk Daerah Propinsi b.07/2008 tanggal 28 Januari 2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. e. 2. Berdasarkan SKBLB harus diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran BPHTB (SKPKPB) yang dikirim ke : WP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN nerbitan SKBLB lewat waktu maka WP mendapat bunga 2% per bulan dihitu ng sejak lewat waktu sampai dengan terbit SKBLB. f. bulan Agustus. dan bulan Nopember tahun anggaran berjalan. Pemerintah Pusat mendapat bagian sebesar 20% dari seluruh penerimaan BPHTB yang kemudian bagian Pemerintah Pusat ini dibagikan secara merata keseluruh daer ah Kabupaten/Kota dan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu bulan April. Atas imbalan bunga diterbitkan Surat Ketetapan Imbalan Bunga ( SKIB ) dan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga ( SPMIB ) B. PEMBAGIAN HASIL PENERIMAAN BPHTB Pembagian hasil penerimaan BPHTB diatur dalam pasal 23 Undang-undang BPHTB dan pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan N o:519/KMK.64% untuk Daerah Kabupaten/Kota Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 04/PMK. g. BO. lewat dari waktu yan g ditentukan tersebut WP dapat bunga 2% per bulan. Pelimpahan kewenangan ini dilakukan dengan menerbitkan Surat Perintah Menerbitkan Surat Kuasa Umum (SPMSKU). Berdasarkan SPMSKU ini maka Kuasa Bendahara Umum Negara menerbitkan Surat Kuasa Umum (SKU) kepada Bank Operasional III untuk melakukan pemindahbukuan Dana Bagi Hasil BPHTB dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah. Dalam waktu 2 bulan setelah SKBLB harus diterbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pembayaran BPHTB ( SPMKPB ). Pemerintah Daerah mendapat bagian sebesar 80% yang dibagi sebagai berikut : a. atas transfer Dana Bagi Hasil BPHTB untuk daerah Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku Kuasa Pengguna Anggaran melimpahkan sebagian kewenangan perintah pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah kepada Kuasa Bendahara Umum Negara. Penyaluran Dana Bagi Hasil BPHTB ini berdasarkan realisasi penerimaan BPHTB tahun anggaran berjalan dan dilaksanakan secara mingguan.

dan 2)fotokopi keputusan kepala daerah mengenai penunjukan/penetapan pejabat Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah yang disahkan oleh kepala daerah. Jelaskan secara singkat pembagian hasil penerimaan BPHTB MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 24 . nama rekening dan nama bank kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan yang dilampiri dengan: 1)asli rekening koran dari Rekening Kas Umum Daerah. Sebutkan sebab-sebab terjadinya kelebihan bayar BPHTB 2. setiap tahun anggaran selambatlambatnya pada minggu pertama bulan Desember sebelum tahun anggaran dimulai.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dalam rangka penyaluran transfer ke daerah. pemerintah daerah wajib menyampaikan nomor rekening. Latihan: 1. Jelaskan tata cara pengajuan restitusi BPHTB 3.

2. Pejabat Lelang hanya dapat menanda tangani Risalah Lelang pada saat Pejabat yang berwenang menandatangani dan menerbitkan Surat WP menyerahkan SSB.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9. KEWAJIBAN PEJABAT Ketentuan bagi pejabat diatur dalam pasal 24 Undang-undang BPHTB yang mengatur tentang kewajiban bagi pejabat yang berkaitan dengan pelaksanaan BPHTB y aitu : 1. Keputusan pemberian hak atas tanah hanya dapat menandatangani dan menerbitka n SK dimaksud pada saat WP menyerahkan SSB. Kepala Kantor Lelang wajib menyampaikan laporan tentang perolehan hak atas tanah dan atau bangunan dis ertai salinan SSB kepada Kepala KPPBB/KPP Pratama 2. Pendaftaran peralihan hak atas tanah karena waris/hibah wasiat hanya Kabupaten/Kota pada saat WP dapat dilakukan oleh Pejabat Pertanahan menyerahkan SSB. 3. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 25 . Laporan/Pemberitahuan disampaikan selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota memberitahukan perolehan hak atas tanah karena pemberian hak baru kepada Kepala KPPBB/KPP Pratama disertai salinan SSB. KEGIATAN BELAJAR 8 KEWAJIBAN. bila libur hari kerja berikutnya. Pejabat Pembuat Akta Tanah ( PPAT) / Notaris hanya dapat menandatangani Akta pada saat WP menyerahkan Surat Setoran BPHTB (SSB) den gan menyerahkan fotokopi dan menunjukkan aslinya. B. 4. PELAPORAN DAN SANKSI A. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) /Notaris. 3. PELAPORAN Masalah pelaporan pelaksanaan BPHTB diatur dalam pasal 25 Undang-undang BPHTB yang mengatur hal-hal sebagai berikut : 1.

Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) / Notaris / Kepala Kantor Lelang yang melanggar ketentuan Kewajiban Bagi Pejabat.unt uk setiap laporan.250.. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota yang melanggar ketentuan bagi pejabat dikenakan sanksi sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tah un 1980 (PP 30/80) tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.500. Latihan: 1.7..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN C. S A N K S I Sanksi yang dikenakan kepada para pejabat terkait diatur dalam pasal 26 Undang-undang BPHTB sebagai berikut : 1.000.000.setiap pelanggaran dan denda sebesar Rp. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 26 . dikenakan sanksi berupa denda s ebesar Rp. Sebutkan kewajiban bagi para pejabat yang berkaitan dengan pelaksanaan BPHTB 2. 2. Sebutkan pula sanksi yang dpat dikenakan kepada para pejabat terkait dalam pelaksanaan BPHTB apabila mereka melanggar ketentuan bagi pejabat.

Pilihan Ganda Berikanlah tanda lingkaran ( O ) atau tanda silang ( X ) untuk jawaban yang Saudara anggap paling benar menurut ketentuan pada huruf didepannya ( a.Men. kepastian hokum. atas harga jual yang ditetapkan oleh Kakanwil DJP c. yang dikenakan atas nilai tanah dan atau bangunan b. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) d.Keu.RI No:630/KMK. dan memperluas cakupan objek pajak 2. Perubahan UU No. Pajak yang kurang dibayar ditambah sanksi administrasi sebesar 100% dari pajak yang kurang dibayar d.d ). Memberikan rasa keadilan d. Meningkatkan penerimaan pajak sebesar-besarnya b. 1. Badan-badan Internasional PBB b. Pajak yang kurang dibayar ditambah denda administrasi b. Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT) adalah jumlah kewajiban yang harus dibayar berupa: a. kecuali: a. Pajak yang kurang dibayar ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan 100% dari jumlah kekurangan pajak 5.20 Tahun 2000 tentang BPHTB diharapkan dapat mencapai sasaran: a.21 Tahun 1997 menjadi UU No. Kerjasama Bilateral 3. Memberikan kepastian hokum c. yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan 4.04/1997 antara lain adalah seperti di bawah ini. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak: a.b.c. Pajak yang kurang dibayar ditambah bunga sebesar 2% per bulan maksimum 24 bulan c. Memberikan rasa keadilan. yang dikenakan pada kepemilikan tanah dan atau bangunan d. Apabila NPOP lebih rendah dari NJOP. Colombo Plan c. Badan atau Organisasi Internasional yang tidak dikenakan BPHTB sebagaimana diatur dalam Kep. Bila NJOP belum ditetapkan maka yang digunakan adalah: MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 27 . maka dasar pengenaan BPHTB adalah NJOP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN TEST FORMATIF: I.

NPOPTKP berdasarkan usulan Gubernur atau Kepala Daerah c. Nilai pasar objek pajak tersebut c. Harga transaksi tahun yang lalu d.000. Menurut pasal 9 ayat(3) UU BPHTB. Denda sebesar Rp7. Sesuai PP No.000. NJOP yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan 6. NJOP tahun yang lalu dari objek pajak tersebut d. Harga transaksi objek pajak tersebut b.00 10. Lokasi tempat tinggal atau domisili yang memperoleh hak b.500.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a.000. Tanda penerimaan surat keberatan sangat penting bagi wajib pajak yaitu sebagai: a. dikenakan sanksi: a. atau propinsi yang meliputi: a.00 setiap pelanggaran b. Nilai Pasar tahun yang lalu c. Tanda bukti bahwa persyaratan surat keberatan telah terpenuhi d. memperoleh: a. tempat BPHTB terutang adalah di wilayah kabupaten/kota.30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS d. Besarnya NPOP dalam hal jual beli adalah: a. 0% dari BPHTB yang seharusnya terutang MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 28 . Tanda bukti bahwa wajib pajak telah menyampaikan surat keberatan c. Letak kantor Notaris/PPAT yang membuat Akta d. Denda sebesar Rp250. NJOP tahun yang lalu b.00 b. NPOPTKP paling banyak Rp300. Administrasi c. Letak kantor bank tempat pembayaran 8. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 ayat(3) UU BPHTB yaitu tidak mewajibkan menyerahkan bukti pembayaran BPHTB pada waktu pendaftaran hak. Lokasi tanah dan atau bangunan c.000. Tanggal dimulainya pemberian keputusan atas keberatan 7. Perhitungan waktu yang digunakan saat menunggu keputusan penyelesaian permohonan keberatan b. Orang pribadi penerima hibah wasiat yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas/ke bawah dengan pemberi hibah wasiat. Harga transaksi yang nilainya melebihi NJOP 9.

Pemasukan dalam Perseroan atau badan Hukum lainnya merupakan: a. Penggabungan Usaha. Surat untuk melakukan penagihan pajak b. harus didaftarkan ke pengadilan untuk pembagian warisan c. Surat Tagihan BPHTB (STB) adalah: a. maka warisan tersebut: a. Surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi 14. Konversi hak atas nama yang sama d. dan Pemekaran Usaha merupakan: a. kecuali: a. Kelanjutan Pelepasan Hak MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 29 . Peleburan Usaha. Pemindahan Hak b. Jual beli. Surat untuk melakukan tagihan pajak dtambah sanksi administrasi d. Waris dan Hibah Wasiat c. Pengalihan Hak yang merupakan Hak Perolehan b. Agar diperoleh penerimaan pajak yang sebesar-besarnya b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN d.16 Tahun 1985 tentang Undang-undang Rumah Susun d. Merumuskan kebijaksanaan pemerintah tentang Hak Pengelolaan 12. Perolehan Hak berdasarkan bisnis d. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan 15. Pemindahan Hak c. dan kelanjutan pelepasan hak b.000.000. Pemisahan Hak yang mengakibatkan Peralihan Hak d.00 11. Surat untuk melakukan tagihan pajak dan pemaksaan pembayaran c. Mempertegas dasar hukum jenis perolehan hak yang belum diatur c. Perolehan Hak yang diatur dalam Hukum Perdata 16. Apabila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa tanah dan bangunan. objek BPHTB d. Memberikan dasar pengenaan atas UU No. dibagi kepada ahli waris tanpa dipotong pajak 13. Objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Pemberian Hak Baru c. bukan objek pajak b. Pengertian cakupan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam perubahan UU BPHTB Tahun 2000 adalah: a. NPOPTKP yang ditetapkan setelah mempertimbangkan usulan Kepala Daerah secara regional paling banyak Rp300.

BPHTB dibayar di Bank/Kantor Pos Tempat Pembayaran di wilayah kabupaten/kota tempat domisisli subjek pajak c. STB c. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 30 .5 milyar sampai dengan Rp5 milyar c. SSB. STB 20. Tempat dan Tata cara pembayaran BPHTB sebagaimana diatur dalam Kep. Bapak Hasan Azhary. BPHTB dibayar keKas Negara di wilayah kbupaten/kota tempat domisili subjek pajak b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 17. SKBLB. SKBKB. Menteri Keuangan 19. SKBKB. SKBLB. SKBN d. Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan berwenang memberikan keputusan pemberian pengurangan BPHTB atas tanah dan atau bangunan: a. BPHTB dibayar di Tempat Pembayaran BPHTB di wilayah kabupaten/kota yang meliputi Bank/Kantor Pos terdekat dengan menggunakan SSB d. dengan jumlah pengurangan kurang dari Rp2.KeuRI. karena dampak krisis ekonomi dan merger b. Saudara diminta memberikan penjelasan selengkapnya kepada Pak Hasan Azhary mengenai BPHTB karena hibah wasiat tersebut. Keberatan dapat diajukan atas: a. No. URAIAN/ESSAY: 1. seorang hartawan dari Nangro Aceh Darussalam bermaksud memberikan hibah wasiat sebidang tanah seluas 2 Ha kepada sebuah Yayasan Yatim Piatu “Al-Khairat”. SKBKB. dengan jumlah pengurangan lebih dari Rp2. SKBKB. SSB b.517/KMK.04/2000 adalah: a. BPHTB dibayar ke Kas Negaradi Tempat P{embayaran BPHTB di wilayah kabupaten/kota yang meliputi klokasi objek pajak dengan menggunakan SSB 18. atas objek yang sudah tidak berfungsi lagi karena bencana alam d. Apabila wajib pajak akan mengajukan permohonan pengurangan BPHTB karena merger.Men. Untuk itu Pak Hasan Azhary menemui Saudara dan menanyakan segala sesuatu mengenai BPHTB karena hibah wasiat. Kakanwil DJP yang bersangkutan c. maka permohonannya diajukan kepada: a. SKBKBT.5 milyar II. Direktur Jenderal Pajak d. Kepala KPPBB yang bersangkutan b.

ternyata NJOP tanah di Jalan Anyelir No. Jakarta Selatan dengan luas tanah 400 M2 dan luas bangunan 180 M2 melalui transaksi jual beli dan harga yang dilaporkan kepada KPPBB Jakarta Selatan Dua sebesar Rp500 juta dan dibuktikan dengan SSB yang telah dibayar lunas di Bank tempat Pembayaran. sedangkan NJOP bangunan kelas A-1.9 Kebayoran Baru. Ibu Farida pada tanggal 5 Februari 2007 membeli sebidang tanah dan bangunan dari Ibu Ratna yang terletak di Jalan Anyelir No. Dari hasil uji silang data tersebut ternyata ditemukan data yang lebih baru lagi yaitu Ibu Ratna (penjual) telah membayar PPh Final atas penjual tanah dan bangunan kepada Ibu Farida sebesar Rp50 juta. Hitung besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh Ibu Farida berdasarkan SKBKB dan SKBKBT apabila NPOPTKP ditentukan sebesar Rp60 juta. setelah laporan PPAT diterima oleh KPPBB dan dilakukan penelitian data klasifikasi NJOP. Pada tanggal 10 Maret 2007. Pada tanggal 10 Mei 2007 KPPBB mengadakan uji silang data dengan KPP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. Atas temuan ini KPPBB menerbitkan SKBKBT pada tanggal 11 Mei 2007. Atas perbedaan ini KPPBB kemudian menerbitkan SKBKB pada tanggal 11 Maret 2007. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 31 .9 Kebayoran Baru tersebut ditetapkan kelas A-12.

d 4. Lihat kegiatan belajar 5 UMPAN BALIK Cocokkanlah jawaban Anda dengan Jawaban Test Formatif yang ada pada Modul ini. TP = Jumlah jawaban yang benar x 100% Jumlah seluruh soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai: 91% 81% 71% 61% s. Kemudian hitunglah jumlah jawaban yang benar dan gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauh mana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. a MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN .99% 80. c 13. d 18.d s.d s. b 12. d 2. c 3. d II. c 20. d 5. Uraian/Essay: 1.d s. d 14. d 6.99% 70.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF: I. d 9. c 15. b 7.99% : Amat baik : Baik : Cukup : Kurang 32 11. b 8. b 17.d 100% 90. Lihat kegiatan belajar 3 2. Pilihan Ganda: 1. c 10. a 16. c 19.

Keputusan Menteri Keuangan RI.04/2000 tentang Tatacara Pembagian Hasil Penerimaan BPHTB.04/2000 tentang Penunjukan Tempat dan Tatacara Pembayaran BPHTB 7. Keputusan Menteri Keuangan RI. DAFTAR PUSTAKA 1. MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 33 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Apabila TP Anda belum mencapai 81% ke atas (kategori baik). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB 3. Nomor 519/KMK. Nomor 517/KMK.04/2000 tentang Tatacara Penentuan Besarnya NPOPTKP BPHTB 6.04/2000 tentang Tatacara Pemberian Pengurangan BPHTB 8. Keputusan Menteri Keuangan RI. Nomor 516/KMK. maka disarankan Anda untuk mengulang materi yang ada. Nomor 518/KMK. Peraturan Pemerintah Nomor 111 Tahun 2000 tentang BPHTB Karena Waris dan Hibah Wasiat 4. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang BPHTB 2. Peraturan Menteri Keuangan RI. Peraturan Pemerintah Nomor 112 tahun 2000 tentang BPHTB Karena Pemberian Hak Pengelolaan 5. Nomor 33/PMK.03/2008 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan RI.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN MODUL BPHTB@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 34 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful