Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

BAB IV

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2005
Pendahuluan
APBN tahun 2005 merupakan APBN pertama yang disusun berdasarkan mekanisme pembahasan dan format baru sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Karena itu, penyusunan APBN 2005 dilakukan dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Kerangka Ekonomi Makro, dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal tahun 2005 sebagaimana telah dibahas bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2005.
APBN 2005 merupakan APBN masa transisi dari pemerintah lama ke pemerintah baru.

Sebagai APBN transisi, APBN 2005 disusun sedemikian rupa, sehingga mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan untuk menjamin terjaganya konsistensi arah dan kesinambungan proses konsolidasi fiskal, dengan menyediakan ruang gerak yang cukup bagi inisiatif baru oleh Pemerintah dan DPR hasil Pemilu 2004, di wilayah-wilayah kebijakan yang strategis, seperti kebijakan belanja gaji bagi PNS/TNI/Polri dan pensiunan, belanja subsidi BBM dan non-BBM, penetapan prioritas alokasi anggaran, serta alternatif dan komposisi sumber-sumber pembiayaan defisit. Dengan kerangka kebijakan demikian, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan kebijakan fiskal pada APBN 2005 masih cukup berat dan semakin kompleks. Tantangan pokoknya tidak hanya terfokus pada upaya mengendalikan defisit anggaran semata, melainkan bergeser kepada masalah pemenuhan kebutuhan pembiayaan dibanding dengan sumber-sumber pembiayaan anggaran yang terbatas (financing gap). Hal ini disebabkan terutama oleh membengkaknya beban kewajiban pembayaran pokok utang, baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri dalam jumlah yang sangat besar. Kewajiban tersebut harus dipenuhi seluruhnya dan secara tepat waktu, oleh karena sebagai konsekuensi dari diakhirinya program kerjasama dengan IMF, sejak tahun 2004 Pemerintah tidak lagi dapat memanfaatkan fasilitas penjadwalan ulang (rescheduling) utang luar negeri melalui forum Paris Club (PC). Kondisi tersebut mengisyaratkan perlunya strategi kebijakan fiskal tahun 2005 tetap dijaga agar konsisten dalam mendorong upaya peningkatan penerimaan negara, mengendalikan dan mengefisienkan belanja negara, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan anggaran. Strategi ini memerlukan langkah-langkah pembaharuan (reformasi) yang berkelanjutan pada berbagai jenis instrumen fiskal, yang meliputi (i) bidang

Tantangan yang dihadapi dalam APBN 2005.

Strategi kebijakan fiskal tahun 2005 harus konsisten.

74

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), (ii) penganggaran belanja negara, (iii) pengelolaan utang dan optimalisasi pembiayaan anggaran, serta (iv) penataan kelembagaan keuangan negara. Reformasi perpajakan, yang diharapkan dapat diterapkan pada tahun 2005, akan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan objek dan subjek pajak, tarif dan klasifikasi atau strata tarif, serta prosedur dan administrasi perpajakan. Reformasi tersebut akan dilakukan melalui perubahan Undang-undang Pajak Penghasilan, Undang-undang PPN dan PPnBM, serta Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan. Langkah-langkah pembaharuan yang akan dilakukan tersebut diperkirakan baru akan menuai hasil pada tahun 2006. Dalam jangka pendek, pembaharuan kebijakan perpajakan tersebut justru diperkirakan akan menyebabkan terjadinya potensi kehilangan (potential loss) pada penerimaan perpajakan. Untuk mengkompensasikan penurunan penerimaan pajak tersebut, Pemerintah akan mengintensifkan pelaksanaan langkah-langkah modernisasi dan reformasi administrasi perpajakan, disertai dengan upaya-upaya khusus lainnya (extra effort), terutama melalui intensifikasi pemungutan dan peningkatan pelayanan. Sementara itu, kebijakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) akan lebih dititikberatkan pada upaya-upaya perbaikan sistem administrasi dan kebijakan dalam rangka meningkatkan kontribusi penerimaan SDA, bagian pemerintah atas laba BUMN, dan PNBP lainnya. Di bidang belanja negara, kebijakan tahun 2005 lebih diarahkan pada langkah-langkah peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan belanja negara, serta penyempurnaan manajemen belanja negara, dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara secara bertahap. Langkah-langkah pembaharuan tersebut antara lain meliputi penganggaran terpadu (unified budget), anggaran berbasis kinerja, kerangka pengeluaran berjangka menengah, dan standar akuntansi pemerintah. Kebijakan belanja pegawai diarahkan untuk memperbaiki pendapatan aparatur negara, terbatas mempertahankan pendapatan nominal, sedangkan kebijakan belanja barang diarahkan untuk mempertahankan fungsi pelayanan publik setiap instansi pemerintah, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengadaan barang dan jasa, perjalanan dinas, dan pemeliharaan aset negara. Sementara itu, kebijakan belanja modal diarahkan pada kegiatan investasi sarana dan prasarana pembangunan dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, serta modal fisik lainnya. Pada belanja daerah, kebijakan umum tahun 2005 diarahkan antara lain untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat; memperkuat koreksi kesenjangan fiskal antardaerah (horizontal imbalance); memperkecil kesenjangan pelayanan publik antardaerah (public service provision gap) terutama melalui penyusunan standar pelayanan minimum; mempertahankan kebijakan fiskal khususnya untuk mendukung kebijakan makro ekonomi; serta meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali pendapatan asli daerah (taxing power).
Cakupan dalam reformasi perpajakan.

Titik berat reformasi penerimaan bukan pajak.

Kebijakan umum belanja negara dalam tahun 2005.

Kebijakan belanja pegawai.

Kebijakan umum belanja daerah tahun 2005.

75

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

Kebijakan umum DBH, DAU, dan DAK tahun 2005.

Dalam kaitan ini, kebijakan dana bagi hasil (DBH) diarahkan untuk mempercepat penetapan alokasi DBH pajak dan bukan pajak (SDA) melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data. Sementara itu, kebijakan dana alokasi umum (DAU) tetap mengacu pada konsep kesenjangan fiskal (fiscal gap) untuk mengatasi ketidakseimbangan antardaerah, dengan formula sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan, serta tetap mempertimbangkan faktor penyeimbang (alokasi dasar) berdasarkan kebutuhan belanja pegawai. Sesuai dengan kesepakatan Pemerintah dengan DPR-RI pada Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN tahun 2005, proporsi DAU tahun 2005 ditetapkan sebesar 25,5 persen dari penerimaan dalam negeri neto. Di lain pihak, alokasi anggaran untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) non-Dana Reboisasi ditingkatkan, dengan prioritas pada bidang-bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan, prasarana pemerintahan daerah, serta bidang pertanian. Dengan berbagai langkah kebijakan di atas, dalam APBN 2005, pendapatan negara dan hibah ditetapkan sebesar Rp380,4 triliun atau 17,4 persen terhadap PDB, sedangkan belanja negara ditetapkan sebesar Rp397,8 triliun atau 18,2 persen terhadap PDB. Dengan demikian, akan terjadi defisit anggaran sebesar Rp17,4 triliun atau 0,8 persen terhadap PDB.

Upaya yang dilakukan dalam mobilisasi sumber-sumber pembiayaan.

Dalam rangka menutup defisit anggaran tersebut, akan dilakukan langkah-langkah mobilisasi sumber-sumber pembiayaan melalui: (i) penggunaan sebagian dana simpanan pemerintah di BI; (ii) penjualan aset eks BPPN yang sekarang dikelola oleh PT PPA (Perusahaan Pengelola Aset) dan melanjutkan kebijakan privatisasi BUMN secara optimal; (iii) penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dengan mempertimbangkan program moneter dan pengelolaan utang secara terpadu; (iv) penarikan pinjaman luar negeri, baik pinjaman proyek maupun pinjaman program secara selektif, seraya memperbaiki ketentuan dan persyaratan pinjaman, serta mengupayakan konversi utang. Ringkasan APBN-P 2004 dan APBN 2005 dapat diikuti pada Tabel IV.1. dan Grafik IV.1.

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH
Pendapatan negara dan hibah tahun 2005 ditetapkan Rp380,4 triliun.

Pendapatan negara dan hibah dalam APBN tahun 2005 ditetapkan Rp380,4 triliun, atau 17,4 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti menurun Rp23,4 triliun atau 5,8 persen jika dibandingkan dengan anggaran pendapatan negara dan hibah yang ditetapkan dalam APBN-P tahun 2004. Dari jumlah tersebut, 78,3 persen bersumber dari penerimaan perpajakan, dan 21,5 persen bersumber dari penerimaan negara bukan pajak, sedangkan sisanya 0,2 persen berasal dari hibah. Kontribusi penerimaan sektor perpajakan yang semakin meningkat tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah tetap konsisten untuk terus menggali sumber-sumber pendanaan dari dalam negeri dalam rangka mewujudkan kemandirian APBN.

76

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

T a b e l IV .1 R IN G K A S A N A P B N -P 2 0 0 4 D A N A P B N 2 0 0 5 (triliu n ru p ia h ) 2004 U r a ia n A . P e n d a p a ta n N e g a ra d a n H ib a h I. P e ne rim a a n D a la m N e g e ri 1 . P e ne rim a a n P e rp a ja k a n 2 . P e ne rim a a n N e g a ra B uk a n P a ja k II. H ib a h B . B e la n ja N e g a ra I. B e la nja P e m e rinta h P us a t II. B e la nja D a e ra h 1 . D a na P e rim b a ng a n 2 . D a na O to no m i K hus us d a n P e nye s ua ia n C . S u rp lu s /D e fis it A n g g a ra n (A - B ) D . P e m b ia y a a n (D .I + D .II) I. P e m b ia ya a n D a la m N e g e ri II. P e m b ia ya a n L ua r N e g e ri (ne to )
S um b er : D ep art em e n K eua ng an R I
1)

2005 % th d PDB 2 0 ,3 2 0 ,3 1 4 ,0 6 ,2 0 ,0 2 1 ,6 1 5 ,1 6 ,5 6 ,2 0 ,3 -1 ,3 1 ,3 2 ,5 -1 ,2 AP B N 3 8 0 ,4 3 7 9 ,6 2 9 7 ,8 8 1 ,8 0 ,8 3 9 7 ,8 2 6 6 ,2 1 3 1 ,5 1 2 4 ,3 7 ,2 -1 7 ,4 1 7 ,4 3 7 ,6 -2 0 ,2 % th d PDB 1 7 ,4 1 7 ,3 1 3 ,6 3 ,7 0 ,0 1 8 ,2 1 2 ,2 6 ,0 5 ,7 0 ,3 -0 ,8 0 ,8 1 ,7 -0 ,9

A P B N -P 4 0 3 ,8 4 0 3 ,0 2 7 9 ,2 1 2 3 ,8 0 ,7 4 3 0 ,0 3 0 0 ,0 1 3 0 ,0 1 2 3 ,1 6 ,9 -2 6 ,3 2 6 ,3 5 0 ,1 -2 3 ,8

1) P erbe daa n s a t u digit d i be la k a ng k o m a t erh ada p an gk a pen ju m la ha n ada la h k a rena p em b ulat an

Grafik IV.1 RINGKASAN PERKEMBANGAN APBN, 2002 - 2005 25
Persentase terhadap PDB

20 15 10 5 0 -5 2002 2003 2004 Tahun Anggaran 2005

Pendapatan Negara dan Hibah Surplus / Defisit Pembiayaan Luar Negeri

Belanja Negara Pembiayaan Dalam Negeri

Penerimaan Perpajakan
Dalam APBN 2005, penerimaan perpajakan direncanakan Rp297,8 triliun, atau 13,6 persen terhadap PDB dengan dasar perhitungan tahun 1993*). Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan perpajakan dalam APBN-P 2004, penerimaan perpajakan tahun 2005 tersebut meningkat Rp18,6 triliun atau 6,7 persen. Kenaikan ini relatif moderat, baik dilihat dari nilai nominal maupun persentasenya terhadap PDB, bila dibandingkan dengan
___________ *) Lihat boks 3 untuk perbandingan angka rasio perpajakan (tax ratio) dengan menggunakan PDB atas dasar tahun perhitungan 1993 dan 2000 Sasaran penerimaan perpajakan tahun 2005 Rp297,8 triliun (13,6 persen terhadap PDB).

77

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

peningkatan relatif pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didasarkan atas perhitungan adanya kemungkinan terjadinya penurunan (potential loss) penerimaan berkaitan dengan efektivitas pelaksanaan amandemen Undangundang tentang PPh, PPN, dan Ketentuan Umum Perpajakan (KUP). (Lihat Boks 4: Pokok-pokok Perubahan Undang-undang Perpajakan).
Tujuan reformasi perpajakan 2005 menciptakan sistem perpajakan yang sehat dan kompetitif.

Reformasi perpajakan, yang diharapkan akan mulai diimplementasikan pada tahun 2005 tersebut, terutama bertujuan untuk menciptakan sistem perpajakan yang sehat dan kompetitif dalam rangka mewujudkan iklim usaha yang kondusif bagi kegiatan investasi dan perdagangan. Reformasi tersebut pada dasarnya merupakan kelanjutan dari langkah-langkah pembaharuan kebijakan perpajakan (tax policy reform) yang telah dilakukan pada tahun 1984, 1994, 1997, dan terakhir tahun 2000. Di samping melakukan penyempurnaan terhadap kebijakan perpajakan, Pemerintah juga akan melanjutkan langkah-langkah perbaikan dalam bidang administrasi perpajakan (tax administration reform) yang telah dimulai sejak tahun 2001. Reformasi administrasi perpajakan tersebut mencakup modernisasi administrasi pajak dan kepabeanan. Melalui modernisasi administrasi perpajakan ini, diharapkan akan dapat dihasilkan tambahan penerimaan pajak guna mengkompensasikan potensi hilangnya penerimaan (potential loss), sehubungan dengan penyempurnaan pada aspek kebijakan perpajakan. (Lihat Boks 5: Reformasi dan Modernisasi Administrasi Perpajakan). Penerimaan perpajakan dalam tahun 2005 masih tetap mengandalkan penerimaan dari sektor pajak dalam negeri, khususnya pada tiga sumber utama yaitu PPh, PPN dan PPnBM, serta cukai. Sebagai gambaran, dari total penerimaan perpajakan tahun 2005 sebesar Rp297,8 triliun, sebesar Rp285,5 triliun atau 95,9 persen di antaranya bersumber dari pajak dalam negeri, sedangkan Rp12,4 triliun atau 4,1 persen lainnya berasal dari pajak perdagangan internasional. Salah satu sumber penerimaan pajak dalam negeri terbesar adalah pajak penghasilan (PPh). Dalam APBN 2005, rencana penerimaan PPh, yang terdiri dari PPh nonmigas dan PPh migas, ditetapkan Rp142,2 triliun atau 6,5 persen terhadap PDB. Dari jumlah tersebut, penerimaan PPh nonmigas dalam tahun 2005 ditetapkan Rp128,6 triliun, atau 5,9 persen terhadap PDB. Jumlah tersebut, secara nominal lebih tinggi Rp15,8 triliun atau 14,0 persen, dibandingkan dengan sasaran penerimaan PPh nonmigas yang ditetapkan dalam APBN-P 2004. Peningkatan ini relatif lebih moderat bila dibandingkan dengan peningkatan basis pajak sebagaimana tercermin dari asumsi perkiraan pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang digunakan dalam perhitungan APBN tahun 2005. Hal ini didasarkan atas perkiraan terjadinya potensi kehilangan (potential loss) penerimaan PPh, berkaitan dengan adanya rencana kebijakan penyesuaian PTKP PPh orang pribadi, dan penyesuaian tarif PPh badan sebagaimana diusulkan dalam RUU Perubahan Undang-undang tentang PPh. Untuk mengamankan sasaran penerimaan PPh nonmigas tahun 2005 tersebut, Pemerintah akan terus melanjutkan langkah-langkah modernisasi pemungutan PPh dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak, yang telah dimulai sejak tahun 2003. Langkah dimaksud antara lain berupa

.

Penerimaan perpajakan masih mengandalkan pajak dalam negeri.

Target penerimaan PPh tahun 2005 : 6,5 persen terhadap PDB.

Target penerimaan PPh nonmigas tahun 2005 : 5,9 persen terhadap PDB.

Langkah-langkah modernisasi pemungutan PPh.

78

okok-pokok perubahan Undang-undang PPN dan PPnBM meliputi (i) penyederhanaan proses restitusi. (ii) penyelarasan pengurang penghasilan bruto. penerimaan negara terutama yang bersumber dari sektor perpajakan perlu semakin dimantapkan. dan pelaksanaan konsolidasi fiskal dalam rangka kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). dan kurang kompetitif lagi bagi kegiatan investasi di Indonesia. yang menganggap bahwa sistem perpajakan di Indonesia sudah kurang kondusif. Tujuan D kompetitif dalam meningkatkan daya saing kegiatan ekonomi nasional.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 4: Pokok-pokok Perubahan Undang-Undang Perpajakan Latar Belakang alam upaya penyehatan APBN sebagaimana diamanatkan oleh GBHN tahun 1999 . (vii) penyederhanaan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan pekerja (Withholding System). dan (iv) meningkatkan produktivitas aparat perpajakan. (iii) meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan. (ii) pemusatan tempat pajak terutang dipermudah untuk mengurangi beban administrasi WP. Reformasi perpajakan ini meliputi aspek kebijakan dan administrasi perpajakan yang mencakup perubahan Undang-undang PPh. (viii) mempertegas ketentuan pencegahan penghindaran pajak. (ii) meningkatkan tingkat kepatuhan sukarela.2004. serta perubahan Undang-undang KUP. (iii) pengaturan mengenai JKP atau BKP tidak berwujud Pokok-pokok perubahan Undang-undang PPh meliputi (i) perluasan subyek dan mewahpajak. antara lain kompensasi kerugian dipisahkan antara kerugian operasional dan non-operasional. sehingga seringkali menimbulkan ketidakpastian. (iii) penyesuaian PTKP. tergantung pada perkembangan berbagai faktor eksternal yang relatif sulit diprediksi. obyek antara lain pengenaan PPh Pasal 25 atas WP yang melakukan pembelian barang serta P RUU PPN dan PPnBM 79 . serta (ix) SPT Tahunan PPh Pasal 21 ditiadakan dan perpanjangan waktu penyampaian SPT Tahunan cukup memberitahukan. banyak sekali masukan-masukan baik dari lembaga internasional maupun lembaga nasional. serta adanya peraturan yang kurang tegas. prosedur perpajakan yang terlalu kompleks. adanya perlakuan yang tidak adil. antara lain tarif PPh Badan menjadi tarif tunggal. (v) perluasan pemotongan pemungutan PPh dan pembedaan tarif pemotongan antara WP yang ber-NPWP dan yang tidak ber-NPWP. antara lain WP bersangkutan dinaikkan 300% sedangkan tanggungan (dependent) turun. khusus UKM tarif tersendiri. antara lain restitusi setiap bulan hanya boleh diajukan oleh eksportir dan PKP yang melakukan penyerahan pada pemungut. (iv) perubahan dan penurunan tarif. Pemerintah telah perubahan (amandemen) UU Perpajakan yang suatu sistem transaksi derivatif dikenakan pajak. (vi) perluasan dan penyesuaian pembayaran angsuran pajak tahun berjalan. Beberapa permasalahan utama yang dikemukakan. perubahan Undang-undang PPN dan PPnBM. Kebijakan untuk mengoptimalkan dukungan penerimaan sektor perpajakan merupakan opsi yang paling realistis karena sumber-sumber penerimaan negara bukan pajak sangat fluktuatif. RUU PPh Sehubungan denganbertujuan untuk (i) menciptakanmenyusun drafperpajakan yang sehat dan hal tersebut. Selain itu. antara lain adalah struktur tarif yang tidak kompetitif.

yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan output nasional dan penerimaan perpajakan. (vi) penetapan dan ketetapan. potensi peningkatan penerimaan diperkirakan diperoleh dari perluasan basis pajak pada premi asuransi. (ii) pemberian NPWP dan pengukuhan PKP secara jabatan. dalam jangka panjang. perubahan tarif PPh Badan. antara lain tidak semua SPT Lebih Bayar harus diperiksa terlebih dahulu. pada PPh yang diperkirakan bersumber dari perluasan basis pajak. RUU KUP okok-pokok perubahan Undang-undang KUP meliputi (i) definisi. (v) pengkreditan Pajak Masukan harus memenuhi syarat formal dan material. antara lain pengenaan sanksi administrasi pada penyampaian SPT yang tidak tepat waktu. Pada PPN diperkirakan terjadi potensi penurunan penerimaan akibat dari penghapusan pengenaan PPN. antara lain pengusaha yang berorientasi ekspor. penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan dan penyerahan BKP dalam rangka penggabungan usaha (merger).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 dari dalam daerah pabean keluar daerah pabean (ekspor). (iv) pengaturan kembali BKP. antara lain mempertegas ketentuan mengenai syarat faktur pajak yang dapat dikreditkan. (v) pembayaran pajak. antara lain penandatanganan. juga ada potensi peningkatan penerimaan. (viii) penyelesaian sengketa di bidang perpajakan. (iv) sanksi administrasi. reformasi kebijakan perpajakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing sistem perpajakan Indonesia. (vi) faktur pajak. dan perlakuan khusus yaitu pembentukan NPL. Potensi penurunan penerimaan diperkirakan terjadi pada PPh. perusahaan penerbangan dan pelayaran internasional serta perwakilan asing. pengambilan dan penyampaian SPT. yang terdiri dari penyesuaian PTKP PPh OP. Dampak Penerimaan alam jangka pendek. (xi) akses data perpajakan. (vii) penagihan pajak. amandemen Undang-undang Perpajakan ini diperkirakan akan menimbulkan dampak penurunan penerimaan perpajakan. (ix) pembukuan dan pencatatan. serta (xii) ketentuan pidana dan penyidikan. (iii) surat pemberitahuan. P D 80 . (x) pemeriksaan.Dilain pihak. serta (vii) fasilitas. Selanjutnya. sedangkan pada PPN. yaitu pengalihan BKP karena perjanjian leasing. dan perlakuan khusus dengan penerapan Norma Penghitungan Penghasilan. sehingga mampu mendorong perkembangan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 5 : Reformasi dan Modernisasi Administrasi Perpajakan Latar Belakang dan Tujuan eformasi administrasi perpajakan jangka menengah (3-5 tahun) yang digulirkan Pemerintah sejak tahun 2001 diarahkan untuk mendukung pencapaian visi DJP. pelayanan. Untuk uji coba pelaksanaan keseluruhan program tersebut secara utuh telah dipilih Kanwil DJP WP Besar sebagai proyek percontohan. Reformasi perangkat keras diupayakan melalui pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan mutu sehingga dapat menunjang upaya modernisasi administrasi perpajakan di seluruh Indonesia. Keseluruhan operasi dilakukan dengan berbasis teknologi informasi dan ditunjang oleh kerjasama operasi dengan instansi lain. dan sumber daya manusia yang profesional dengan kode etik yang ketat. Reformasi perangkat lunak mencakup perbaikan struktur organisasi dan kelembagaan. hingga pengawasan) agar lebih efektif dan efisien. Secara garis besar. dan (iii) tercapainya produktivitas aparat perpajakan yang tinggi. yang didukung oleh organisasi yang ramping. dan penyempurnaan terhadap peraturan terkait lainnya. perangkat keras dan sumber daya manusia. pemeriksaan dan penagihan. teknologi informasi yang memberikan percepatan pelayanan sekaligus pengawasan yang baik. Pemerintah juga akan melakukan amandemen terhadap Undang-undang tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP). R P S 81 . yaitu menghimpun penerimaan negara dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan Undang-undang Perpajakan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi. pembayaran. Perbaikan Peraturan ebagai bagian dari reformasi administrasi perpajakan. yaitu menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia. penempatan aparat sesuai kapasitas dan kapabilitasnya. yang memayungi semua lini dan tahapan operasional. serta misi fiskal. Keberhasilan pengimplementasian Kantor Pelayanan Pajak modern ini akan dilanjutkan ke kantor-kantor lainnya di seluruh Indonesia secara bertahap. yaitu : (i) tercapainya tingkat kepatuhan perpajakan yang tinggi. reorganisasi. serta penyempurnaan dan penyederhanaan sistem operasi (mulai dari pengenalan dan penyebaran informasi perpajakan. pelatihan dan program pengembangan self capacity. kaderisasi. Program ini dilakukan antara lain melalui pelaksanaan uji kemampuan dan kelayakan secara ketat. Revisi UU KUP dan peraturan terkait lainnya tersebut. ada tiga tujuan yang secara spesifik hendak dicapai oleh reformasi administrasi perpajakan jangka menengah. dan penerapan praktik good governance dilaksanakan dalam konteks penegakan hukum dan keadilan. yang meliputi aspek perangkat lunak. Program dan Kegiatan rogram dan kegiatan dalam kerangka reformasi dan modernisasi perpajakan dilakukan secara komprehensif. Kanwil DJP WP Besar merupakan Kantor Pelayanan Pajak percontohan yang modern. yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat. Program reformasi pada aspek sumber daya manusia ditempuh melalui penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional. (ii) tercapainya tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan.

berarti mengalami peningkatan Rp11. (ii) penghitungan kembali atas pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan.4 triliun.5 triliun. 82 .5 triliun (0.5 persen terhadap PDB. langkah-langkah administratif tersebut juga akan diiringi dengan upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada WP.1 triliun atau 0. Langkah-langkah kebijakan administratif di bidang PPN dan PPnBM tahun 2005.2 triliun atau 0. highway information system.3 triliun atau 0. atau 4. Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2004 sebesar Rp13.3 triliun.8 triliun.6 persen terhadap PDB. Peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM tersebut didasarkan atas kalkulasi perkiraan terjadinya peningkatan nilai transaksi ekonomi yang merupakan obyek PPN dan PPnBM. Sejalan dengan itu. atau 12. Jumlah ini.6 persen terhadap PDB. Berlawanan dengan itu. Lebih rendahnya rencana penerimaan PPh migas tahun 2005 ini dikarenakan asumsi harga minyak yang digunakan sebagai dasar perhitungan APBN 2005 (US$24/bbl) jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan asumsi harga minyak pada APBN-P 2004 (US$36/ bbl). untuk mendorong perkembangan kegiatan ekonomi.5 persen terhadap PDB. atau 0. Penerimaan PPN dan PPnBM dalam tahun 2005 ditetapkan Rp98. Untuk mendukung pencapaian sasaran penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2005 tersebut.6 triliun. penerimaan PPh migas dalam tahun 2005 ditetapkan Rp13. selaras dengan peningkatan kegiatan ekonomi seperti tercermin pada asumsi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2005. dan (iii) penelitian kembali atas WP yang memperoleh fasilitas pembayaran pendahuluan. rasio penerimaan PBB dan BPHTB terhadap PDB juga mengalami Penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2005 ditargetkan 4.6 persen terhadap PDB). Sementara itu. Pemerintah juga akan melakukan berbagai upaya dan langkahlangkah administratif. serta mengintensifkan penagihan tunggakan pajak.5 triliun. e-payment. e-registration. Faktor lain yang juga turut berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan PPN adalah perkiraan terjadinya tambahan penerimaan (potential gain) PPN dari kebijakan perluasan basis pajak sebagaimana diusulkan dalam amandemen Undang-undang PPN dan PPnBM.7 persen. Pemerintah juga akan terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak dalam menunaikan kewajiban perpajakannya melalui kampanye sadar dan peduli pajak. dan e-counseling. maka penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2005 tersebut berarti mengalami peningkatan sebesar Rp0.6 persen terhadap PDB. videotron. berarti mengalami penurunan Rp9. Dalam tahun 2005.5 triliun.9 persen bila dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp87. di antaranya berupa: (i) penagihan kembali PPN yang tertunda.5 persen terhadap PDB. Jumlah tersebut bersumber dari penerimaan PBB Rp10. Sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2005 Rp13. atau 41.1 persen terhadap PDB. dan komik pajak untuk konsumsi anak-anak. Namun. optimalisasi penerimaan pajak juga akan dilakukan melalui program canvassing. Target penerimaan PPh migas: 0. penerimaan PBB dan BPHTB ditetapkan Rp13. terutama dalam hal pengurusan restitusi secara cepat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 pengembangan dan pengawasan e-filing. Selain dilakukan melalui billboard. peningkatan manajemen pemeriksaan pajak.1 persen dari sasaran penerimaan PPh migas yang ditetapkan dalam APBN-P 2004. atau 0. Di samping itu. dan penerimaan BPHTB Rp3. Jumlah ini. kampanye sadar dan peduli pajak tersebut juga dilaksanakan melalui media elektronik.

Peningkatan produksi rokok tersebut didorong oleh kebijakan HJE dan tarif cukai yang stabil. sigaret kretek mesin (SKM). Jumlah ini. serta meningkatnya permintaan. juga akan disertai dengan peningkatan pelaksanaan verifikasi dan audit yang akan dilakukan melalui: penetapan kriteria dokumen cukai yang memperoleh prioritas utama.4 triliun atau 1. akan terus semakin dimantapkan. dan penyempurnaan sistem administrasi perpajakan diharapkan juga turut berperan dalam pencapaian sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tersebut. 83 . Di samping itu.3 persen terhadap PDB).8 persen. Berbagai langkah tersebut. penerimaan cukai ditetapkan Rp28. Beberapa kebijakan di bidang cukai yang akan ditempuh dalam tahun 2005. baik sigaret kretek tangan (SKT). juga akan dilakukan langkah-langkah peningkatan sistem pengawasan dalam rangka penegakan hukum di bidang cukai.4 persen terhadap PDB. berbagai langkah administratif lainnya di bidang cukai juga akan lebih dimantapkan pada tahun 2005.6 persen dalam tahun 2005. yaitu komputerisasi pelayanan pita cukai hasil tembakau untuk mempercepat pelayanan pita cukai dan meningkatkan akurasi data cukai hasil tembakau. Langkah-langkah kebijakan administratif untuk mendukung penerimaan PBB dan BPHTB. sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat. terutama langkah dan upaya dalam menanggulangi peredaran rokok polos dan pita cukai palsu. Sasaran penerimaan cukai 2005: Rp28. Seluruh hasil dari penerimaan cukai terhadap produk kaset/CD/ VCD/DVD dan LD akan dialokasikan untuk upaya-upaya pengawasan dan penegakan hukum terhadap produk-produk bajakan tersebut. dari 0. pelaksanaan audit secara reguler maupun insidensial serta audit bersama-sama DJBC. Peningkatan sasaran penerimaan cukai tersebut.5 triliun atau 1. dan perlindungan masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana pengawasan. maupun sigaret putih mesin (SPM). berbagai kebijakan dan langkah-langkah administrasi yang telah ditempuh dalam tahun 2004. Di samping itu. Di samping peningkatan produksi dan penambahan barang kena cukai (BKC) tersebut. pengenaan cukai atas produk kaset/CD/VCD/ DVD dan LD mulai tahun 2005 diperkirakan dapat memberikan tambahan penerimaan cukai tergantung pada tarif cukai yang akan dikenakan.3 persen terhadap PDB. Sejalan dengan itu.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 penurunan. serta pengkajian dan penyempurnaan sistem dan prosedur kegiatan verifikasi dan audit.7 persen dalam tahun 2004 menjadi 0. seperti program ekstensifikasi melalui digital mapping. dalam rangka mengamankan sasaran penerimaan cukai tahun 2005. DJP dan BPKP. atau 1. berbagai upaya yang akan dilakukan. Di bidang cukai. Selain itu. bila dibandingkan dengan sasarannya dalam APBNP 2004 sebesar Rp28. di antaranya berupa penerapan excise service system (ESS). dalam APBN 2005. serta peningkatan pengetahuan dan keahlian SDM di bidang pengawasan. yang pada gilirannya akan berdampak positif pada sektor konstruksi dan transaksi properti pada tahun 2005. didasarkan atas perkiraan terjadinya peningkatan produksi rokok.9 triliun (1.9 triliun. berarti meningkat Rp0. (Lihat Boks 6: Penambahan Barang Kena Cukai (BKC) atas Kaset/VCD/DVD dan LD). pemantauan pelaksanaan tindak lanjut temuan hasil audit. Target penerimaan PBB dan BPHTB tersebut didasarkan atas perkiraan kondisi perekonomian yang terus membaik.

VCD. kekerasan dan bahasa/ syair yang tidak sesuai dengan etika dan budaya bangsa). Hal ini sejalan dengan UU No. dan kerugian yang sangat besar bagi stakeholders. Hal ini 84 . yaitu : (i) PPN lebih ditujukan untuk penerimaan negara dan dikenakan terhadap semua barang pada setiap tahapan mulai dari tahap produksi sampai dengan pedagang pengecer. P Harapan Melalui kepastian dalam pengawasanyang dikenaimaupuntersebut. sedangkan produk-produk rekaman yang legal dapat ditingkatkan.rekamanDVD. Produk-produk rekaman tersebut dapat dikategorikan sebagai barang-barang yang patut diawasi. penyanyi. CD. CD.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 6: Upaya Pemberantasan Pembajakan Kaset. (ii) UU No.11/1995 tentang Cukai memiliki kepastian dalam pengawasan baik fisik maupun administratif. dan industri rekaman.11/1995 tentang Cukai dapat bersinergi dengan ketentuan di bidang HAKI dalam mencegah kebocoran penerimaan negara. industri rekaman. seperti para musisi.11/1995 tentang Cukai. dan dapat mematikan kreativitas pihak-pihak yang berkaitan dengan dunia usaha. dan LDatas pertimbangan atas produk-produk ini didasarkan bahwa sekitar 90 persen VCD. kerugian finansial bagi industri rekaman. yang menetapkan karakteristik usulan produk yang menjadi barang kena cukai adalah barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik yang ditetapkan. yaitu barang-barang yang dalam pemakaiannya perlu dibatasi dan diawasi. seperti para musisi. aransemen. dan LD melalui Penambahan Barang Kena Cukai (BKC) Latar Belakang dan Tujuan Usulan penambahan BKCdari total Kaset. yang beredar di Indonesia diperkirakan merupakan hasil bajakan. kecuali barang untuk kebutuhan pokok. Kenapa Cukai ? emilihan pengenaan cukai didasarkan atas beberapa pertimbangan antara lain : (i) pungutan cukai lebih bersifat mengawasi peredaran produk yang dikategorikan sebagai Barang Kena Cukai (BKC). dan (iii) UU No. Pengenaan cukai atas produk-produk rekaman tersebut sesungguhnya lebih ditekankan pada aspek pengawasan untuk mengurangi peredaran produk bajakan. Berbeda halnya dengan PPN yang lebih menganut prinsip "self assessment". dan produk bajakan yang mengakibatkan terjadinya eksternalitas negatif. diharapkan produk-produk baik fisik administratif yang diberikan oleh Undang-undang Cukai terhadap produk cukai rekaman bajakan secara bertahap dapat dikurangi. dan pihak-pihak yang terkait lainnya justru akan dapat dipulihkan. komposer. (ii) UU PPN dan PPnBM belum mengatur masalah pengawasan fisik atas pelunasan pungutannya. tidak adanya kepastian usaha. antara lain karena peredaran atau pemakaiannya bisa memiliki content yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi ketertiban dan keamanan masyarakat (pornografi. DVD. juga mengakibatkan kehilangan penerimaan negara dari sektor pajak. seperti misalnya. serta mempunyai ketentuan pidana atas pelanggarannya. Maraknya peredaran barang-barang bajakan tersebut. baik PPN maupun PPh. selain telah menimbulkan ketidakpastian usaha bagi industri rekaman. sehingga hak-hak para stakeholders. penyanyi. dan (iii) UU PPN dan PPnBM belum maksimal dalam mencegah kebocoran penerimaan negara dan penegakan hukum yang berkaitan dengan HAKI.

(dari sebelumnya 90 persen menjadi 60 persen). karena dari hasil kajian terbukti bahwa penurunan permintaan akibat pengenaan cukai juga tidak terlalu signifikan. Dampak Penerimaan engan asumsi. dari sasaran yang ditetapkan dalam APBN-P 2004. baik dalam rangka skema Common Effective Preferential Tariff for ASEAN Free Trade Area (CEPT for AFTA). Jumlah ini. penerimaan pajak perdagangan internasional juga diperkirakan meningkat. oleh karena kecil. sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi dalam negeri. Dampak positif (keuntungan) dari pengenaan cukai diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang diperkirakan akan timbul. berarti Rp0. Penerimaan bea masuk tahun 2005 ditargetkan 0. Namun dampak peningkatan volume impor tersebut.1 persen terhadap PDB. juga terjadi penurunan tarif efektif rata-rata bea masuk.1 persen terhadap PDB. atau 0.000. maka para musisi. Dari jumlah tersebut. maka tarif cukai tersebut hanya berkisar antara 0.000-Rp150. Mengenai kekhawatiran bahwa pengenaan cukai akan menurunkan permintaan terhadap produk rekaman.1%-1%.0 triliun atau 0. 85 . tidak sepenuhnya dapat dinikmati. lebih tinggi Rp0.6 persen terhadap PDB. penerimaan pajak perdagangan internasional. Sasaran penerimaan bea masuk ini. Sasaran penerimaan pajak perdagangan internasional tahun 2005 mencapai 0. Pada sisi lain.1 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan pajak lainnya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp1. berkaitan dengan penurunan tarif nominal.0 triliun. maka hal ini diperkirakan akan berdampak positif terhadap upaya pemberantasan produk-produk tersebut dalam jangka pendek dan jangka panjang. dan produser rekaman legal yang justru dirugikan.5 persen terhadap PDB.8 triliun. VCD. sehingga tidak signifikan jika dibandingkan dengan harga jualnya. Peningkatan penerimaan pajak lainnya tersebut diperkirakan bersumber terutama dari meningkatnya jumlah dan nilai transaksi yang membutuhkan bea meterai. para penyanyi. Penerimaan pajak lainnya ditargetkan Rp2.5 persen terhadap PDB. yang terdiri dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor.000. atau 0.2 triliun atau 1. penerimaan pajak lainnya dalam tahun 2005 ditetapkan mencapai Rp2. VCD.0 triliun.6 persen apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaannnya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp12. Peningkatan sasaran penerimaan bea masuk yang relatif moderat tersebut didasarkan atas perkiraan terjadinya peningkatan impor barang. Dana yang dikumpulkan dari cukai atas kaset. antara Rp15.6 persen terhadap PDB. juga kurang beralasan.2 triliun. Tarif Cukai Mengenai kekhawatiran cukai yang dikenakan nilainya relatifini akan menaikkan harga jual pengenaan cukai terhadap produk tidak beralasan. CD.7 persen lebih tinggi. CD.2 triliun atau 1. Sasaran penerimaan ini. Tarif cukai yang diusulkan akan dikenakan pada produk kaset. DVD dan LD seluruhnya akan dialokasikan kepada upaya-upaya pengawasan dan penegakan hukum. penerimaan bea masuk ditetapkan Rp12. berarti meningkat Rp0.4 triliun. Apabila dibandingkan dengan harga produk-produk tersebut di pasaran. bahwa pada tahap awal pengenaan cukai dapat mengurangi peredaran produk bajakan sekitar 30 persen. Dalam APBN 2005. ditetapkan Rp12. oleh karena pada saat yang bersamaan.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 terutama karena dengan maraknya pembajakan (yang mencapai 90%). DVD dan LD misalnya antara Rp100-Rp1. atau 0.2 triliun atau 11. D Selanjutnya.

0 0 .4 1 3 5 . B a g ia n Pe m e r in ta h a ta s L a b a B U M N 3 .2 0 .9 6 . atau 2.1 1 . S u m b e r D a y a A la m 2 . PN B P la in n y a B H ib a h J u m l a h 2004 % thd A P BN-P P DB 4 0 3 .6 0 . B PH TB e.6 0 .7 4 0 3 .2 1 1 2 .5 1 3 . P a ja k D a la m N e g e r i a .9 1 0 . Gambaran pendapatan negara dan hibah dalam APBN-P 2004 dan APBN 2005 dapat diikuti lebih lanjut pada Tabel IV.0 0 .P 2 0 0 4 d a n A P B N 2 0 0 5 1) ( t r iliu n r u p ia h ) U r a ia n A P e n e r im a a n D a la m N e g e r i I.3 2 9 7 . maka rencana penerimaan pajak ekspor tahun 2005 tersebut berarti mengalami peningkatan Rp8.4 1 0 .3 2 .7 8 7 .4 1 .5 3 .3 0 .5 4 .Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 maupun akibat dari kerangka kerjasama perekonomian ASEAN dengan China (ASEAN-China Free Trade Area).8 5 . dan sekaligus mendorong kegiatan perdagangan internasional.0 1 4 2 . dan pengawasan pembayaran pajak/pungutan ekspor.6 5 . Pa ja k/Pu n g u ta n Ek s p o r II.2 P E N D A P A T A N N E G A R A D A N H IB A H A P B N .6 0 .6 0 . atau 0.2.3 2005 % thd A P BN P DB 3 7 9 .1 2 8 .0 1 3 .0 2 0 .4 1 . India (ASEAN-India Free Trade Area).8 5 0 .02 persen terhadap PDB.4 1 ) P e r b e d a a n s a t u d ig it d i b e la k a n g k o m a t e r h a d a p a n g k a p e n ju m la h a n a d a la h k a r e n a p e m b u la t a n S u m b e r : D e p a rt e m e n K e u a n g a n R I 86 .3 triliun. P a ja k P e r d a g a n g a n In t e r n a s io n a l a. penagihan.8 0 .7 2 .1 0 .1 1 2 .6 2 8 5 .3 0 .3 0 .1 1 2 . (Lihat Boks 7: Reformasi Administrasi Kepabeanan).5 0 .4 9 . dan Jepang (ASEAN-Japan on Comprehensive Economic Cooperation).5 persen. Beberapa faktor yang mendasari peningkatan sasaran penerimaan pajak/pungutan ekspor tahun 2005 tersebut antara lain adalah perkiraan peningkatan volume ekspor barang yang kena pajak/pungutan ekspor. penerimaan pajak/pungutan ekspor dalam APBN 2005 ditetapkan Rp0. Sasaran penerimaan pajak/pungutan ekspor dalam tahun 2005 sebesar 0. P e n e r im a a n P e r p a ja k a n 1 . prakarsa pemberantasan penyelundupan dan undervaluation. Sementara itu.8 0 .0 1 7 .3 8 1 .6 1 7 .2 0 .9 0 .5 1 .3 miliar.4 0 .9 1 .0 2 6 7 .3 0 .9 9 8 . Pa ja k Pe n g h a s ila n m ig a s n o n m ig a s b .2 4 .2 6 .5 1 3 . PPN d a n PPn B M c . Pa ja k L a in n y a 2 .5 0 . T a b e l IV .1 2 2 .0 2 0 .0 6 .8 1 3 .2 2 8 .8 2 3 .5 3 . Bea Mas uk b . C u k a i f . serta langkah-langkah intensifikasi pemungutan. Pemerintah akan senantiasa memantapkan kebijakan reformasi administrasi kepabeanan (customs administration reform) yang telah diluncurkan sejak tahun 2002. Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran penerimaan bea masuk tersebut.8 0 .4 1 2 .3 1 2 3 . serta prakarsa peningkatan integritas pegawai.6 1 2 8 . P e n e r im a a n N e g a r a B u k a n P a ja k 1 .6 2 0 .2 0 .2 1 4 .02 persen terhadap PDB. Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan pajak ekspor dalam APBN-P 2004.0 3 .5 1 0 .2 1 1 .3 2 7 9 . prakarsa peningkatan koordinasi dengan stakeholder.8 4 .8 3 8 0 . PB B d . Kebijakan yang mendukung penerimaan bea masuk.6 0 .8 9 2 . Reformasi dalam bidang administrasi kepabeanan tersebut mencakup prakarsa fasilitasi perdagangan.

sehingga importir dapat melaksanakan kegiatannya dengan efisien. berupa : pemberlakuan jalur prioritas. dan penyelesaian kewajiban pabean impor harus diciptakan sedemikian rupa. community protector. Lebih lanjut. Prakarsa fasilitasi perdagangan meliputi langkah-langkah strategis. dan sekaligus memberikan pengawasan yang tepat kepada high risk importir. perbaikan database harga. maka disusunlah program reformasi kepabeanan yang dikelompokkan ke dalam (i) prakarsa Fasilitasi Perdagangan. penyediaan tempat 87 . yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibantu oleh stakeholders terkait. Reformasi kepabeanan dititikberatkan pada pembaharuan dalam bidang administrasi kepabeanan (customs administration reform). pengembangan Harmonized System (HS). Langkah-langkah strategis yang diambil dalam memberantas penyelundupan dan undervaluation yaitu melalui program registrasi importir. Sebaliknya. terutama dalam mengatasi kebocorankebocoran. Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut secara optimal. Reformasi kepabeanan ini disusun berdasarkan hasil kajian komprehensif terhadap hampir semua sistem dan prosedur pelayanan dan pengawasan di bidang kepabeanan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus mampu memperlancar arus barang melalui penyederhanaan sistem dan prosedur pabean. dan tanpa adanya intervensi yang signifikan dari aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 1. dan revenue collector yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mempunyai karakteristik yang dapat saling melemahkan. (iii) prakarsa Peningkatan Koordinasi dengan Stakeholder.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 7: Reformasi Administrasi Kepabeanan eformasi kepabeanan pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 dan akan terus berlanjut selama lima tahun ke depan. sistem dan prosedur pengawasan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan negara. pemberlakuan sistem baru penetapan jalur. penyempurnaan sistem pembayaran. serta (iv) prakarsa Peningkatan Integritas Pegawai. namun sekaligus berfungsi secara efektif sebagai filter bagi kemungkinan beroperasinya illegal trader. perbaikan sistem pengeluaran barang. maka sistem dan prosedur pelayanan di bidang impor disempurnakan dengan tujuan untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada importir. sehingga sistem dan prosedur pelayanan di bidang impor tersebut dapat mencegah terjadinya penyelundupan dan undervaluation. serta modernisasi sistem otomasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Prakarsa Pemberantasan Penyelundupan dan Undervaluation Masing-masing fungsi trade facilitator. perbaikan teknik pemeriksaan barang. kampanye anti penyelundupan. R Prakarsa Fasilitasi Perdagangan Dalam prakarsa ini. community protector dan revenue collector. sebagai community protector. sistem dan prosedur pelayanan yang berkaitan dengan proses penyelesaian pengeluaran barang di pelabuhan (khususnya barang impor). Untuk dapat mengoptimalkan fungsi fasilitasi perdagangan. 2. (ii) prakarsa Pemberantasan Penyelundupan dan Undervaluation. Cakupan reformasi kepabeanan tersebut meliputi penyempurnaan fungsi utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai trade facilitator. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus melakukan prosedur pengawasan yang ketat. guna mengantisipasi perkembangan globalisasi ekonomi dan perdagangan dunia. Sehubungan dengan itu. yaitu bersama-sama dengan lembaga-lembaga internasional dan lembaga swasta dalam negeri.

khususnya masyarakat usaha juga perlu ditingkatkan. Peningkatan Fungsi Pengawasan Penegakan Kode Etik dan Perilaku Pegawai. Di samping itu. Untuk meningkatkan PNBP dimaksud. penyederhanaan sistem verifikasi dokumen serta penagihan tunggakan. Kebijakan tersebut antara lain meliputi: (i) optimalisasi dan intensifikasi PNBP yang bersumber dari SDA. Sehubungan dengan itu. pemeriksaan lapangan (spot check).7 persen terhadap PDB). Di bidang pemerintahan. 4. 88 . dirumuskan langkah-langkah strategis dalam rangka peningkatan koordinasi dengan stakeholder melalui program pembentukan Tim Pendamping Pemerintah. Prakarsa Peningkatan Kerjasama dengan Stakeholder pemeriksaan. (iv) pengelolaan potensi sumber daya kelautan secara berkelanjutan dan lestari. Karena itu. pada hakekatnya bermuara pada ketidakmampuan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugasnya. Dengan Sasaran PNBP dalam tahun 2005 Rp81. serta (vi) evaluasi dan peninjauan kembali tarif PNBP yang dikelola di berbagai departemen/LPND. Untuk dapat melaksanakan fungsinya secara optimal. (v) peningkatan kinerja dan kesehatan BUMN melalui peningkatan intensitas penerapan good corporate governance.8 triliun (3. Kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terhadap pendapatan negara akan senantiasa diupayakan lebih meningkat dari waktu ke waktu. pembentukan Komite Kode Etik. Peningkatan Kerjasama Penanganan Pengaduan Masyarakat Antara Komisi Ombudsman Nasional (KON) dan Departemen Keuangan. optimalisasi penggunaan Hi-Co Scan X-ray. penyempurnaan situs Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. (ii) penanggulangan pertambangan tanpa izin (Peti). Prakarsa Peningkatan Integritas Pegawai Penerimaan Negara Bukan Pajak Dalam tahun 2005 Pemerintah memantapkan pelaksanaan kebijakan di bidang PNBP. dalam tahun 2005 akan terus dilanjutkan langkah-langkah pemantapan pelaksanaan kebijakan di bidang PNBP yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. dan pengembangan komunitas pertukaran data elektronik kepabeanan (PDE kepabeanan). yaitu penyempurnaan Kode Etik. dominasi PNBP masih ditopang oleh penerimaan SDA migas. Sampai saat ini. sehingga perlu adanya koordinasi yang optimal agar tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memerlukan kerjasama dengan stakeholder. Penyediaan Saluran Pengaduan. (iii) optimalisasi pemanfaatan sumber daya hutan dengan berwawasan hutan lestari. baik di bidang pelayanan maupun di bidang pemberantasan penyelundupan. peningkatan peran unit intelijen dalam pengawasan barang. koordinasi dengan masyarakat. di samping ditentukan oleh upaya dan kebijakan yang ditempuh pemerintah. Berbagai kebijakan strategis yang diambil di bidang kepabeanan tidak akan dapat berjalan dengan efektif tanpa didukung oleh pegawai yang mempunyai integritas yang tinggi. Sehubungan dengan hal itu disusunlah prakarsa peningkatan integritas pegawai melalui langkahlangkah strategis. serta Program Pemberian Insentif. Kritik yang berkembang dalam masyarakat mengenai rendahnya kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. perkembangan PNBP ini. juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga dan tingkat produksi minyak mentah. terdapat kebijakan berbagai departemen yang pelaksanaan pengawasannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 3.

9 persen terhadap PDB). Dalam APBN 2005. berarti terdapat peningkatan Rp0.9 persen.5 persen dari total penerimaan SDA. Sasaran penerimaan ini didasarkan pada asumsi: (i) harga rata-rata minyak mentah Indonesia US$24. atau 46. serta penerapan PP Nomor 45 Tahun 2003 secara efektif dalam tahun 2005. PNBP yang bersumber dari SDA meliputi penerimaan SDA migas.5 persen terhadap PDB). yaitu 62. dan panas bumi dalam upaya meningkatkan devisa. dan perikanan. terutama dengan melakukan upaya inventarisasi dan eksploitasi sumber daya mineral dan batubara.1 persen terhadap PDB).7 persen terhadap PDB).2 persen dari total PNBP. Pada penerimaan SDA pertambangan umum.2 triliun atau 11.3 persen. atau 2.8 triliun. Jumlah ini menyumbang 92. penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN Rp10.0 triliun atau 33.6 triliun. (ii) tingkat produksi minyak mentah 1. maka dalam APBN 2005.1 persen terhadap PDB. (iii) upaya konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam dengan tetap memperhatikan fungsi lingkungan.8 triliun.0 triliun. (ii) pembinaan dan pengelolaan usaha pertambangan sumber daya mineral dan batubara. atau berperan hampir 57. dan PNBP lainnya Rp20.600 per dolar Amerika Serikat. penerimaan SDA minyak bumi dan gas alam (migas) ditetapkan sebesar Rp47. Selain itu. dan penerimaan SDA gas alam Rp15. pertambangan umum. sasaran PNBP mencapai Rp81. Jumlah ini. Penerimaan pertambangan umum tersebut didasarkan pada asumsi adanya peningkatan volume. batubara.3 persen terhadap PDB).8 triliun. langkah-langkah kebijakan yang akan ditempuh dalam tahun 2005 antara lain meliputi : (i) implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis PNBP Yang Berlaku Pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi Rp31. Berdasarkan berbagai kebijakan tersebut. atau 0.7 persen terhadap PDB. kehutanan.9 triliun (2.9 triliun (1. maka penerimaan migas tahun 2005 tersebut berarti lebih rendah Rp40.6 persen dari total keseluruhan PNBP.7 triliun. atau 3.04 triliun.5 persen terhadap PDB). 89 . juga dilakukan langkah-langkah untuk menyediakan informasi secara lengkap dan mudah diperoleh dalam rangka mewujudkan daya tarik investasi.1 triliun. serta penerimaan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) Rp1. Jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan SDA migas dalam APBN-P 2004 sebesar Rp87. penerimaan SDA pertambangan umum ditetapkan sebesar Rp2.3 triliun (0. Penerimaan tersebut meliputi penerimaan iuran tetap (landrent) Rp0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.1 persen terhadap PDB. jumlah tersebut berarti menurun Rp42. dan (iii) rata-rata nilai tukar rupiah Rp8. Penerimaan SDA terutama SDA migas masih mendominasi PNBP. dalam APBN tahun 2005. serta (iv) optimalisasi produksi dan penyediaan bahan baku mineral. Target penerimaan SDA pertambangan umum tahun 2005 sebesar Rp2. Dalam tahun 2005.0 triliun (0.1 persen. Target penerimaan SDA migas tahun 2005 tersebut. jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan SDA pertambangan umum dalam APBN-P 2004 sebesar Rp1.97 triliun. penerimaan SDA masih merupakan komponen terbesar. Sasaran PNBP tersebut terdiri dari penerimaan SDA Rp50.3 triliun (0.6 triliun (0.125 juta barel per hari. Jika dibandingkan dengan sasaran PNBP dalam APBN-P 2004 sebesar Rp123.0 per barel.

Untuk mencapai tujuan tersebut. (ii) intensifikasi terhadap provisi sumber daya hutan dan dana reboisasi. dalam tahun 2005. serta upaya-upaya pencegahan illegal logging. Langkah-langkah kebijakan yang akan ditempuh. dalam APBN 2005.500 ton. kebijakan yang ditempuh dalam tahun 2005. kebijakan yang akan ditempuh. Lebih rendahnya penerimaan SDA kehutanan dalam tahun 2005. Karena itu.1 persen terhadap PDB. (iii) pemantapan restrukturisasi sektor kehutanan. sehingga diharapkan akan terwujud pengelolaan hutan secara lestari. penerimaan SDA kehutanan ditetapkan Rp1.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam tahun 2005 Pemerintah masih melanjutkan kebijakan soft landing. Di bidang penerimaan SDA kehutanan.7 triliun. 90 . serta pemanfaatan sumber daya hutan yang lebih realistis. selain diarahkan untuk mengoptimalkan penerimaan.8 triliun. Jika dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp2.0 miliar. meliputi pungutan pengusahaan perikanan (PPP). Kebijakan di bidang SDA perikanan diarahkan pada optimalisasi penerimaan negara serta ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan potensi sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2002 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Kelautan dan Perikanan.1 triliun atau 0. Dalam tahun 2005. sekaligus juga ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan hutan lestari. dari hutan tanaman industri diperkirakan 22. termasuk pungutan perikanan asing (PPA). serta (v) pemantapan koordinasi pemberantasan illegal logging dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. juga akan diterapkan kebijakan social forestry dan good forestry governance sebagai kebijakan cross cutting yang akan menjadi ruh dan memayungi seluruh kegiatan yang menjadi jabaran kebijakan.1 triliun atau 0. produksi kayu yang berasal dari Perhutani diperkirakan 847. Pemerintah masih akan tetap melanjutkan kebijakan soft landing (pengurangan annual allowable cut secara bertahap). jumlah tersebut berarti mengalami penurunan Rp1. Berdasarkan langkah-langkah kebijakan tersebut. antara lain meliputi peningkatan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara optimal dan lestari. dan produksi hasil hutan bukan kayu diperkirakan 422. Kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi kegiatan eksploitasi hutan secara bertahap.3 persen. Jumlah tersebut terdiri dari penerimaan dana reboisasi (DR) Rp0. juga ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan potensi sumber daya kelautan secara berkelanjutan. dan pungutan hasil perikanan (PHP). guna mendukung pemulihan kembali (recovery) hutan yang rusak. Di samping itu. kebijakan yang akan dilakukan meliputi (i) akselerasi rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan. selain diarahkan untuk mengoptimalkan penerimaan negara. juga akan dilakukan berbagai kegiatan. Penerimaan SDA perikanan. penerimaan provisi sumber daya hutan (PSDH) Rp0. serta peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan pesisir secara terpadu. Di samping itu. Target penerimaan SDA kehutanan tahun 2005 tersebut didasarkan pada asumsi produksi kayu sebagai berikut : (i) untuk dana reboisasi diperkirakan 5.800 m3.794 ribu m3. meliputi antara lain: (i) pengembangan sistem sarana dan prasarana pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan. serta iuran hak pengusahaan hutan (IHPH) Rp6. (iv) pemantapan pelaksanaan desentralisasi sektor kehutanan. karena dalam APBN-P 2004 terdapat hasil tunggakan tahun-tahun sebelumnya . (ii) untuk PSDH. Selain itu.6 triliun atau 59. juga diasumsikan adanya penyempurnaan berbagai ketentuan tarif untuk masing-masing jenis kayu dan produksi hutan bukan kayu. Dalam tahun 2005 sasaran penerimaan SDA kehutanan ditargetkan Rp1.1 persen terhadap PDB.457 ribu m3.3 triliun.

operasional. jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan SDA perikanan yang ditetapkan dalam APBN-P 2004 sebesar Rp0. maka penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN dalam tahun 2005 ditetapkan Rp10. Langkah-langkah kebijakan strategis dimaksud antara lain meliputi kewajiban bagi BUMN untuk meningkatkan intensitas penerapan prinsipprinsip pengelolaan perusahaan yang baik dan sehat (good corporate governance). serta kebijakan dan upaya yang ditempuh pemerintah dalam pengelolaan BUMN. dengan jumlah kapal tangkap domestik 4. 91 . dan pendapatan pelunasan piutang.1 triliun berarti mengalami peningkatan Rp1. Sementara itu. Dengan mempertimbangkan berbagai langkah kebijakan tersebut.4 triliun atau 133. (iv) pengembangan sistem dan mekanisme hukum dan kelembagaan nasional maupun internasional. Penurunan ini antara lain disebabkan oleh adanya pelaksanaan program divestasi dan privatisasi beberapa BUMN tertentu yang sebelumnya merupakan kelompok BUMN potensial penyumbang dividen.7 triliun. Dengan mempertimbangkan langkahlangkah kebijakan dimaksud. Jumlah ini.2 triliun. controlling and surveilance (MCS) atau vessel monitoring system (VMS). Selain penerimaan SDA. baik manajemen.3 persen.6 triliun atau 0. (v) peningkatan pengelolaan sumber daya pesisir.762 unit dan kapal tangkap asing 1. serta optimalisasi alokasi sumber daya yang dimiliki BUMN.5 triliun atau 16. komponen PNBP yang potensinya cukup besar dalam meningkatkan kapasitas pendapatan negara adalah penerimaan yang berasal dari bagian pemerintah atas laba BUMN. evaluasi dan penetapan secara transparan mengenai tugas.355 unit. juga akan semakin dikembangkan agar memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pendapatan negara. berarti terdapat peningkatan Rp0. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan kenaikan produksi ikan. serta asumsi tarif yang bervariatif per gross tonage. dan tanggung jawab bagi komisaris dan direksi. Pemerintah telah dan akan terus mengambil langkah-langkah kebijakan strategis. Dalam rangka meningkatkan PNBP lainnya.3 juta ton.6 triliun atau 0. laut. dan pulau-pulau kecil. potensi PNBP lainnya. serta memperhitungkan dampak perkembangan berbagai indikator ekonomi makro terhadap perkiraan laba BUMN.5 persen terhadap PDB.3 triliun Sasaran penerimaan SDA perikanan dalam tahun 2005 ditetapkan Rp0. dengan melakukan berbagai penataan dan penyempurnaan. jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN dalam APBN-P 2004 sebesar Rp9. antara lain melalui evaluasi dan penetapan tarif pungutan PNBP yang lebih realistis. dalam rangka meningkatkan kinerja dan kesehatan BUMN. maupun keorganisasian. serta (vi) peningkatan sistem informasi kelautan dan perikanan terpadu (SIKPT). Pemerintah akan terus melanjutkan program optimalisasi dan intensifikasi.5 persen terhadap PDB. Potensi jenis penerimaan ini dipengaruhi oleh kemampuan BUMN dalam meraih laba.3 triliun.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 (ii) implementasi monitoring. Karena itu.5 triliun dan pungutan hasil perikanan (PHP) Rp0. Dalam tahun 2005 penerimaan Pemerintah atas laba BUMN ditetapkan Rp10. wewenang. penerimaan SDA perikanan dalam APBN tahun 2005 ditetapkan Rp0. serta PNBP lainnya dalam tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp20.7 triliun. Penerimaan SDA perikanan dalam APBN 2005 didasarkan pada asumsi produksi perikanan yang diperkirakan mencapai 7. dalam tahun 2005. (iii) peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. yang sebagian besar berasal dari PNBP yang dikelola oleh berbagai departemen/LPND. Jumlah ini.5 persen. Jumlah tersebut meliputi pungutan pengusahaan perikanan (PPP) Rp0.

mengingat beban premi penjaminan tersebut sudah dibebankan pada Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).0 miliar. Dalam satu tahun terakhir. (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.0 triliun atau 9. dan akuntabel. dengan diberlakukannya satu paket perundang-undangan bidang keuangan negara. Dalam APBN 2005. yaitu Indische Comptabiliteitswet (ICW). (Lihat Boks 8: Reformasi Manajemen Keuangan Negara dalam Paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara).9 persen terhadap PDB.3 triliun atau 0.0 miliar.9 persen terhadap PDB. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya rencana pendapatan lain-lain. yang diharapkan dapat dicairkan selama pelaksanaan APBN 2005. karena dalam beberapa periode pemerintahan sebelumnya paket perundang-undangan tersebut belum dapat diselesaikan. dan (3) Undangundang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. 92 . Penerimaan hibah ini berasal dari beberapa komitmen yang telah disepakati oleh negara/ lembaga donor pada tahun-tahun anggaran sebelumnya. karena dalam APBN-P 2004 termasuk penerimaan premi penjaminan sekitar Rp2.0 persen. merupakan satu loncatan yang telah dilakukan Pemerintah dan DPR-RI di bidang pengelolaan keuangan negara. dan Instructie en Verdere Bepalingen voor de Algemene Rekenkamer (IAR) Paket perundang-undangan di bidang keuangan negara yang menjadi landasan reformasi pengelolaan keuangan negara merupakan dasar hukum yang kuat di bidang keuangan negara untuk lebih mandiri.7 miliar.6 persen dari penerimaan hibah dalam APBN-P 2004 sebesar Rp737. jumlah tersebut berarti mengalami penurunan Rp2. Hibah Penerimaan hibah tahun 2005 Rp750. Belanja Negara Dalam satu tahun terakhir. yaitu (1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Diberlakukannya paket perundang-undangan di bidang keuangan negara tersebut. Jika dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp22. telah dimulai langkah reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara.3 miliar atau 1. guna meningkatkan kualitas pengelolaan anggaran. Paket perundang-undangan tersebut menjadi landasan hukum pengelolaan keuangan yang mandiri bagi bangsa untuk menggantikan perundang-undangan lama yang disusun pada masa kolonial Hindia Belanda. yang berarti naik Rp12. Relegen voor het Administratif beheer (RAB). Hal ini penting. penerimaan negara dari hibah ditetapkan mencapai Rp750. peningkatan pengawasan di dalam pelaksanaan pemungutan dan penyetorannya ke kas negara. maka PNBP lainnya dalam APBN 2005 ditetapkan Rp20. telah dimulai langkah reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. Berdasarkan langkah-langkah kebijakan tersebut.0 triliun yang dalam APBN 2005 tidak dianggarkan lagi. transparan.3 triliun. dan mempertimbangkan prospek perekonomian dalam tahun 2005 yang diperkirakan akan lebih baik dari tahun sebelumnya. sebagai upaya untuk meluruskan kembali tujuan dan fungsi anggaran secara sungguh-sungguh.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 atau 0.

Laporan keuangan tersebut meliputi laporan Realisasi Anggaran. yang meliputi. proporsionalitas. Paket RUU dimaksud kini telah menjadi paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara yang terdiri atas Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan (2) kejelasan akuntabilitas Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara dan menteri teknis sebagai Pengguna Anggaran. dan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. perubahan yang sangat signifikan antara lain adalah penerapan TSA (Treasury Single Account) dalam pengelolaan kas negara yang memungkinkan dana pemerintah dikelola secara optimal untuk mendukung pelaksanaan APBN. Badan Pemeriksa Keuangan berwenang untuk melakukan P Reformasi Manajemen Keuangan Negara dalam Paket Undang-Undang Bidang Keuangan Negara 93 . dilakukan pembagian kewenangan yang lebih jelas dalam pengelolaan keuangan antara menteri teknis dan Menteri Keuangan. Sementara itu. yang disusun dan disajikan berdasarkan akuntansi pemerintah. baik asas-asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan keuangan negara. untuk mengatur penggunaan dana anggaran kementeriannya secara efisien dan efektif dalam rangka optimalisasi kinerja kementeriannya untuk menghasilkan output yang telah ditetapkan. Neraca dan Laporan Arus Kas. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara. penerapan penyusunan anggaran dalam kerangka pengeluaran jangka menengah (Medium Term Expenditure Framework. asas universalitas. Di bidang perbendaharaan. Sehubungan dengan itu.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 8: aket Rancangan Undang-undang Bidang Keuangan Negara (RUU tentang Keuangan Negara. maupun asas-asas baru yang mendukung pencapaian good governance dan clean government dalam pengelolaan keuangan negara. seperti asas tahunan. Pemerintah akan menyajikan laporan yang lebih lengkap dan akurat dalam waktu yang relatif singkat. Pembagian kewenangan ini memberikan pula fleksibilitas kepada menteri teknis. Undang-undang Keuangan Negara menjabarkan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam UUD 1945 ke dalam asas-asas umum. Selain itu. dan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. perubahan yang dilakukan meliputi penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). yaitu penyusunan anggaran. dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. MTEF). sebagai Pengguna Anggaran. Sedangkan dalam bidang pelaksanaan anggaran. di bidang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Dalam bidang penyusunan anggaran. asas kesatuan. RUU tentang Perbendaharaan Negara dan RUU tentang Pemeriksaan Tanggungjawab Keuangan Negara) kepada DPR-RI pada tanggal 29 September 2000 merupakan babak penting dari rangkaian sejarah reformasi manajemen keuangan pemerintah. dan penerapan anggaran terpadu (unified budget). dan asas spesialitas. antara lain akuntabilitas yang berorientasi pada hasil. pelaksanaan anggaran. Pembagian kewenangan yang baru ini memberikan jaminan (1) terlaksananya mekanisme saling uji (check and balance) dalam pelaksanaan pengeluaran negara. Reformasi Manajemen Keuangan Negara mencakup keseluruhan aspek pengelolaan keuangan negara. profesionalitas. berdasarkan UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemerintah telah menyiapkan standar akuntansi pemerintahan dengan mengacu kepada international public sector accounting standard (IPSAS). untuk menjamin pengelolaan keuangan negara secara transparan dan bertanggung jawab.

Pemerintah dengan didukung oleh DPR-RI. dan dijabarkan dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. and Reporting. dan akan mulai dilaksanakan dalam tahun 2005 adalah dengan perubahan anggaran belanja negara yang sebelumnya terdiri dari anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan menjadi anggaran terpadu (unified budget). (iii) Open Budget Preparation. selain menjadi acuan dalam reformasi pengelolaan keuangan negara. guna memperjelas keterkaitan antara output/outcome yang dicapai dengan penganggaran organisasi. dilakukan juga reklasifikasi belanja negara. (3) memberikan gambaran yang objektif dan proporsional mengenai kegiatan keuangan pemerintah. khususnya belanja negara untuk pemerintah pusat. dimaksudkan pula untuk mendukung terselenggaranya pemerintahan daerah sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dirumuskan dalam Bab VI UUD 1945. dengan mengacu pada format keuangan pemerintah sesuai standar internasional. (2) memudahkan penyusunan anggaran berbasis kinerja yang akan diterapkan dalam beberapa tahun ke depan. Reformasi belanja negara yang sedang dipersiapkan saat ini. menjadi satu format anggaran belanja pemerintah pusat yang komprehensif. Langkah reformasi ini sejalan dengan amanat Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan (iv) Assurances of Integrity. Prinsip pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri tersebut sejalan dengan “Codes of Good Practices on Fiscal Transparency”. diperlukan asas-asas umum sebagai rambu-rambu dalam pengelolaan keuangan daerah. Agar kewenangan dan dana tersebut dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah. Asas-asas umum yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Keuangan Negara. sedangkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 mengatur pengalokasian dana yang diperlukan untuk menyelenggarakan kewenangan itu. berfungsi pula untuk memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Anggaran belanja terpadu itu diwujudkan dalam bentuk penyatuan anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan dalam APBN yang selama ini dipisahkan. (ii) Public Availability of Information. Bersamaan dengan itu. yaitu menyatukan anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan. sedang dan akan melaksanakan secara bertahap suatu reformasi di bidang manajemen belanja negara. dalam waktu dekat. Oleh karena itu. 94 . Execution. serta (4) meningkatkan kredibilitas statistik keuangan pemerintah.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 pemeriksaan atas pelaksanaan pengelolaan keuangan negara dan pertanggungjawaban keuangan negara. International Monetary Fund. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 mengatur fungsi/kewenangan Daerah. dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. tidak berkelebihan bila dikatakan bahwa Paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara selain menjadi landasan reformasi dalam pengelolaan Keuangan Negara pada tingkat pemerintahan pusat. antara lain (1) agar tidak terjadi duplikasi anggaran yang disebabkan kurang tegasnya pemisahan antara kegiatan operasional dengan proyek. khususnya proyek-proyek nonfisik. Dalam tahun 2005 telah dilaksanakan reformasi belanja negara dengan mengubah format anggaran belanja negara menjadi bersifat terpadu (unified budget). yang meliputi (i) Clarity of Roles and Responsibilities. yang diterbitkan oleh Fiscal Affairs Department. Sebagai implementasi reformasi keuangan negara tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan.

(2) semua pengeluaran negara yang sifatnya bantuan/ subsidi yang disalurkan melalui perusahaan dalam rangka penugasan pelayanan umum. organisasi. sasaran. anggaran belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja pegawai. dan fungsi. (4) ekonomi.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dualisme/pembedaan yang ada saat ini antara anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan telah mengalihkan fokus dari kinerja penganggaran secara keseluruhan. dan kegiatan instansi pemerintah. Menurut jenis belanja. Adapun belanja pemerintah pusat menurut fungsi dibedakan dalam 11 fungsi. dengan mengacu pada Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. Dalam rangka penghitungan biaya input dan penilaian kinerja program anggaran terpadu ini. anggaran belanja pemerintah pusat terinci menurut jenis belanja. dan (11) perlindungan sosial. Pemaduan kedua anggaran tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa investasi dan belanja operasional yang berulang (recurrent) secara simultan dipertimbangkan pada saat-saat kunci pengambilan keputusan dalam penyusunan anggaran. 95 . pengintegrasian anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan diperlukan untuk memudahkan penyusunan anggaran berbasis kinerja. dengan melakukan beberapa penyesuaian. sangat penting untuk keseluruhan biaya. guna meningkatkan keterkaitan antara proses perencanaan dengan penganggaran. (7) kesehatan. yaitu (1) pelayanan umum. Dalam APBN 2005. belanja barang. dalam format baru diklasifikasikan sebagai belanja lain-lain. subsidi. supaya dapat terjamin hubungan yang lebih jelas antara tujuan. (6) perumahan dan fasilitas umum. baik yang digunakan untuk investasi maupun untuk biaya operasional. dalam format belanja yang baru diklasifikasikan sebagai subsidi. belanja hibah. (2) pertahanan. akan dilakukan penerapan secara bertahap (i) anggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). bantuan sosial. yang akan diterapkan pemerintah dalam jangka menengah. dan (3) semua pengeluaran negara yang selama ini “mengandung” nama lain-lain yang tersebar di semua pos belanja negara. Penyusunan anggaran belanja pemerintah pusat yang bersifat terpadu tersebut diikuti dengan perubahan format anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 menjadi terinci menurut jenis belanja. belanja modal. dan belanja lain-lain. berarti Pemerintah telah mengikuti konsep statistik keuangan pemerintah standar internasional (Government Finance Statistics/GFS Manual 2001). belanja negara tetap dipisahkan antara belanja pemerintah pusat dengan belanja untuk daerah. yang segera akan diterapkan Pemerintah. Sedangkan anggaran belanja pemerintah pusat menurut organisasi akan disesuaikan dengan susunan kementerian negara/lembaga. (8) pariwisata dan budaya. Penyesuaian itu antara lain berupa (1) dalam format dan struktur belanja negara yang baru. (10) pendidikan. Ke depan. dan fungsi.(Lihat Boks 9 : Format Baru Belanja Negara). sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. (ii) kerangka pengeluaran berjangka menengah (medium term expenditure framework/MTEF). Perubahan format dan struktur belanja negara sesuai Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan mengarah kepada pengalokasian sumber daya yang lebih rasional dan Pengintegrasian anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan merupakan tahapan yang diperlukan untuk memudahkan penyusunan dan pelaksanaan anggaran yang berorientasi kinerja. (5) lingkungan hidup. pembayaran bunga utang. organisasi. (9) agama. Di samping itu. program. (3) ketertiban dan keamanan.

Secara ringkas. 96 . Tujuan perubahan format adalah sebagai berikut. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. Ju mlah ke me n te rian n eg ara /lemb a g a d is es u a ika n d e n g a n y a n g ad a . Khusus untuk belanja pemerintah pusat. fungsi dan jenis belanja. b Rincian belanja negara menurut organisasi disesuaikan dengan kementerian negara/lembaga . rincian menurut ognss hnatrutdlmbk Sta 3 raiai ay ema aa uu aun . Pertama. beberapa perubahan pokok sebagai akibat dari penerapan 2 hal sebagaimana di atas. r n i n b l n a n g r m n r t n f e u g t) i c a e a j e a a e u u j n sb l n a( k n m )t d kl g m m s h a a t r b l n ar t nd nb l n ap m a g n n ei eaj eooi ia ai eiakn naa eaj ui a eaj ebnua. dan (b) meningkatkan keterkaitan antara keluaran (output) dan hasil (outcomes) yang dicapai dengan penganggaran organisasi. Kedua. dapat diikuti dalam persandingan format lama dan format baru berikut. K las ifikas i Se kto r terd iri a tas 20 s ekto r d a n 50 s u b s ekto r Pro g ram meru p akan rin cian d ari s e kto r p ad a p e n g e lu a ran ru tin d an p emb a n g u n a n N ama-n ama p ro g ra m a n ta ra p en g e lu a ran ru tin d a n p e n g e lu a ran p emb a n g u n an a g a k b erb e d a D as ar A lo kas i A lo ka s i an g g ara n b erd a s a rka n s e kto r. antara lain sebagai berikut : a. yaitu dengan menyatukan anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan yang sebelumnya dipisahkan. meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan belanja negara melalui (a) minimalisasi duplikasi rencana kerja dan penganggaran dalam belanja negara. sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. perubahan pokok sebagai akibat penyempurnaan format APBN. Form at Lama K la s ifika s i Je n is Belan ja D u a l B u d g etin g Belan ja p u s a t terd iri d a ri 6 je n is b e lan ja (terma s u k b e lan ja p emb a n g u n an ) K las ifikas i O rg a n is as i T id a k terc an tu m d ala m NK d an U U A PBN teta p i h an y a te rca n tu m d a la m b u ku Sa tu an 3 y a n g d iteta p ka n d en g a n K e p p res . K las ifikas i Fu n g s i terd iri a tas 11 fu n g s i d an 79 s u b fu n g s i Pro g ram p a d a ma s in g -mas in g keme n terian n e g ara /le mb a g a d iko mp ila s i s e s u a i d en g an fu n g s in y a N ama-n ama p ro g ra m te la h d is es u a ika n d e n g a n u n ified b u d g e t D as ar A lo kas i A lo ka s i an g g ara n b erd a s a rka n p ro g ram ke men te rian n e g ara /lemb a g a P Dalam format baru. belanja negara menurut jenis belanja (klasifikasi ekonomi) tetap dibedakan antara belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. Dengan sistem penganggaran yang terpadu (u i i d b d e . menyesuaikan dengan klasifikasi yang digunakan secara internasional. dan (2) mereklasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. Perubahan-perubahan yang diterapkan pada intinya : (1) melaksanakan sistem penganggaran secara terpadu (unified budget). yang ada. dan akan termuat dalam UU APBN.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 9: Format Baru Belanja Negara erubahan format di sisi belanja negara mulai dilaksanakan dalam penyusunan RAPBN 2005. s u b s e kto r d an p ro g ram Form at bar u K las ifikas i Jen is Bela n ja U n ifie d B u d g etin g Belan ja p u s a t terd iri d a ri 8 je n is b e lan ja K las ifikas i O rg a n is as i D afta r o rg a n is as i p e n g g u n a an g g ara n b e lan ja n e g ara te rcan tu m d a lam N K d an U U A PBN . Dalam format yang lama.

karena terdapat perbedaan program. B e la n ja B a r a n g c. B e la n ja Pe m e r in t a h P u s a t 1 . S u b s id i 6 . B e la n ja M o d a l 4. P e n e r im a a n N e g a ra B u k a n Pa ja k FO RM AT BARU A . P e n e r im a a n H ib a h B . B EL A N JA N E G A R A I. P e n e r im a a n Pe r p a ja k a n 2 . P e n g e lu a r a n R u tin L a in n y a 2 . belanja barang. D a n a P e r im b a n g a n 2 . B EL A N JA N E G A R A I. P EN D A P A T A N N EG A R A D A N H I B A H I. Pem bayaran B u nga U tang 5 . d. D a n a O t on om i K h u s u s da n P e n y e s u a ia n C . B e la n ja U n t u k D a e r a h 1 . Pengeluaran pembangunan dalam format lama dikonversikan dalam format baru dan terdistribusikan ke dalam belanja pegawai. dan belanja lain-lain. P e n e r im a a n D a la m N e g e r i 1 . K e s e im b a n ga n P r im e r D . pembayaran bunga utang. D a n a O t on om i K h u s u s da n P e n y e s u a ia n C . rincian anggaran belanja menurut fungsi adalah merupakan kompilasi dari anggaran program-program kementerian negara/lembaga. subsidi. Pem bayaran B u nga U tang d . P EN D A P A T A N N EG A R A D A N H I B A H I. P e n e r im a a n D a la m N e g e r i 1 . namun program-program dalam format baru (unified budget) tidak bisa dipersandingkan dengan program-program dalam format lama. Dengan demikian. P e n e r im a a n N e g a ra B u k a n Pa ja k I I . Untuk lebih jelasnya mengenai penerapan perubahan format baru khususnya perubahan rincian belanja negara menurut jenis belanja (klasifikasi ekonomi) dapat diikuti dalam konversi sebagai berikut: K O N V ER S I B EL A N JA N EG A R A M EN U R U T JE N IS B E L A N JA D A L A M I -A C C O U N T FO RM A T LA M A A . B e la n ja la in -la in I I . rincian belanja negara menurut fungsi hanya merupakan alat analisis (tools of analysis) yang digunakan untuk menganalisa fungsi-fungsi yang telah. Dalam hal ini 97 . P e n e r im a a n Pe r p a ja k a n 2 .Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 c. P e m b ia ya a n Sementara itu. Selanjutnya. B e la n ja H ib a h 7 . B e la n ja Pe m e r in t a h P u s a t 1 . P e n g e lu a r a n R u tin a . bantuan sosial. B e la n ja Pe g a w a i 2 . S u rp lu s / D e fis it A n g g a r a n E . S u rp lu s / D e fis it A n g g a r a n E . belanja hibah. yaitu belanja modal. sedang dan akan dilaksanakan oleh Pemerintah sesuai dengan international best practices. B a n t u a n S o s ia l 8 . Pengalokasian anggaran dalam format APBN yang baru didasarkan pada program-program yang diusulkan oleh kementerian negara/lembaga. S u b s id i e . program-program tersebut dikelompokkan sesuai dengan fungsi dan subfungsinya. belanja modal. K e s e im b a n ga n P r im e r D . Meskipun merupakan reklasifikasi. rincian belanja menurut fungsi merupakan reklasifikasi atas program-program yang dalam format lama merupakan rincian dari sektor/subsektor. P e n e r im a a n H ib a h B . belanja barang. D a n a P e r im b a n g a n 2 . Selanjutnya. P e m b ia ya a n I I . yaitu : belanja pegawai. Fungsi/subfungsi bukan merupakan dasar pengalokasian anggaran. dan belanja rutin lainnya. Rincian belanja menurut jenis (tidak termasuk belanja pembangunan) terdiri dari 5 jenis belanja. Dalam format yang baru ditambah lagi dengan 3 jenis belanja baru. P e n g e lu a r a n p e m b a n g u n a n I I . B e la n ja Pe g a w a i b . B e la n ja U n t u k D a e r a h 1 . dan bantuan sosial. B e la n ja B a r a n g 3 .

(8) pariwisata dan budaya. Dalam APBN 2005. Sedangkan RKA-KL adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu kementerian negara/lembaga.(1) pelayanan umum. dan didukung oleh Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/ Lembaga (RKA-KL). strategis. yang berisi kebijakan pembangunan. maka di lingkungan Departemen Keuangan dilakukan reorganisasi yang memisahkan secara tegas fungsi perumusan kebijakan. Adapun penggunaan anggaran belanja negara tersebut pada intinya akan diarahkan untuk membiayai kegiatan operasional dan non-operasional pemerintah dengan efisiensi dan efektivitas yang semakin meningkat. Dalam proses penyusunan APBN 2005 juga dilakukan pembaharuan. RKP merupakan rencana pelaksanaan pembangunan pemerintah yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Nasional (Repenas) Transisi. Dengan demikian. (10) pendidikan. dan (11) perlindungan sosial. 98 . bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu. baik yang terkait dengan APBN maupun yang diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. yang didukung oleh Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL). dan hanya sedikit berbeda dengan memisahkan fungsi agama dari fungsi rekreasi. anggaran belanja negara ditetapkan Rp397. atau 18.IMF. (Lihat Boks 10: Reorganisasi Departemen Keuangan). and religion).2 persen terhadap PDB. Dengan format belanja negara yang baru tersebut. yaitu anggaran belanja negara disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005. sesuai dengan penggarisan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. budaya dan agama (recreation. sejalan dengan standar akuntansi sektor publik yang diterima secara internasional. (5) lingkungan hidup. anggaran belanja negara disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Indonesia telah mengacu pada classification of the functions of government (COFOG) yang disusun oleh UNDP dan diadopsi GFS manual 2001 . perencanaan anggaran. Sesuai dengan Undangundang Nomor 17 Tahun 2003. (7) kesehatan.8 triliun.8 triliun. (3) ketertiban dan keamanan. yang merupakan penjabaran dari rencana kerja pemerintah dan rencana strategis kementerian negara/lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran. anggaran belanja negara ditetapkan Rp397. selanjutnya besaranbesaran anggaran belanja negara dalam APBN 2005. serta (iii) standar akuntansi pemerintahan. berikut kebijakankebijakan yang mendasarinya dapat disampaikan sebagai berikut. atau 18.2 persen terhadap PDB. serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Hal ini menjadi perhatian utama pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara. dalam APBN rincian belanja negara menurut fungsi terdiri dari 11 fungsi dengan rincian. culture. Sejalan dengan berbagai perubahan tersebut. serta perbaikan pelayanan pemerintah. agar laporan keuangan pemerintah menjadi lebih transparan dan akuntabel. Dalam APBN 2005. (9) agama. terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana bagi masyarakat dan dunia usaha. (6) perumahan dan fasilitas umum. (4) ekonomi. dan fungsi pelaksanaan anggaran di dalam unit organisasi yang terpisah. (2) pertahanan. agar setiap rupiah penerimaan yang diperoleh dari rakyat dapat didistribusikan kembali dan bermanfaat.

yaitu Direktorat Jenderal Anggaran (DJA). Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (DJPKPD). Dalam rangka reorganisasi tersebut. Sebagai gantinya. BAF. ii. 36. fungsi-fungsi penyusunan kebijakan yang semula dilaksanakan oleh berbagai unit organisasi. pemisahan fungsi yang jelas antara penyusunan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan (check and balance). fungsi-fungsi pelaksanaan kebijakan yang selama ini tersebar pada DJA. Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN). akuntabilitas berdasarkan hasil. 5 (lima) unit organisasi setingkat eselon I. terlaksananya alokasi anggaran negara secara efektif dan efisien. Dalam pengelompokan tersebut dibedakan fungsi penyusunan kebijakan yang bersifat konsepsional (conceptual framework) dengan fungsi penyusunan kebijakan yang bersifat teknis operasional (operational and technical policy). dan BINTEK dihapus dari struktur organisasi Departemen Keuangan. antara lain melalui penerapan sistem anggaran terpadu (unified budget). Reorganisasi Departemen Keuangan merupakan bagian dari reformasi baikbidang di kelembagaan (institutional reform) untuk mewujudkan kepemerintahan yang (good 99 . terciptanya kebijakan fiskal yang sehat untuk mendukung pelaksanaan pembangunan nasional yang berkesinambungan. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. dan perbendaharaan negara. Badan Analisa Fiskal (BAF). BAKUN. khususnya tiga unit organisasi baru dimaksud. dilakukan penataan kembali tugas dan fungsi unit-unit di lingkungan Departemen Keuangan dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip profesionalitas. yaitu DJA. Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK). Sesuai dengan pendekatan ini. Sekretariat Jenderal (Setjen). Selain itu. serta penerapan sistem penganggaran yang berbasis kinerja (performance based budget). Melalui penataan organisasi ini. dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35. rentang kendali. transparansi. antara lain melalui: i. dan 37 tahun 2004. Sejalan dengan pengelompokan dimaksud. dan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 10: Reorganisasi Departemen Keuangan governance) dalam pengelolaan keuangan negara. dibentuk tiga unit organisasi setingkat eselon I. serta penyatuan fungsi serupa dalam satu unit organisasi. Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Keuangan. DJPKPD. DJLK. serta Sekretariat Jenderal dikelompokkan kembali ke dalam unit-unit organisasi Departemen Keuangan. dikelompokkan ke dalam unit organisasi tersendiri. dan Kerjasama Internasional (BAPEKKI). yaitu Badan Pengkajian Ekonomi. pengelolaan anggaran negara. diharapkan mampu mendukung pelaksanaan tugas Departemen Keuangan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur di dalam paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara. Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK). penggunaan kerangka pengeluaran jangka menengah dalam penyusunan anggaran (Medium Term Expenditure Framework — MTEF). unit-unit organisasi dalam Departemen Keuangan. dan Badan Informasi dan Teknologi Keuangan (BINTEK). dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb). terutama yang berkaitan dengan fungsifungsi pengelolaan kebijakan fiskal. dilakukan reorganisasi Departemen Keuangan dengan pendekatan bahwa setiap unit organisasi diarahkan untuk memberikan kontribusi yang optimal dalam pencapaian visi dan misi dalam rangka pengelolaan fiskal (strategy focused organization).

Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 iii. struktur organisasi Departemen Keuangan menjadi lebih ramping. terutama melalui penyusunan standar pelayanan minimum. Rincian mengenai belanja negara dalam tahun 2005 dapat diikuti dalam Tabel IV.2 triliun dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat. Anggaran belanja negara dalam tahun 2005. Dari keseluruhan anggaran belanja negara dalam APBN 2005 sebesar Rp397.9 persen dari belanja negara. sekitar sepertiganya akan ditransfer untuk belanja daerah. dan memobilisasi pendapatan. Kemudian. pemberian subsidi.01/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan.9 persen atau Rp266. dari anggaran belanja negara dalam tahun 2005 tersebut. terwujudnya sistem perbendaharaan yang transparan dan bertanggung jawab yang mampu menjamin ketersediaan dana secara efisien untuk mendukung kegiatan unitunit pemerintahan dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. sebagai wujud nyata penerapan kebijakan desentralisasi fiskal yang telah dijalankan sejak tahun 2001.8 triliun. Dengan organisasi yang baru tersebut.9 persen dari belanja negara. dan partisipasi masyarakat. atau 66. yaitu (i) mempercepat reformasi. serta (iii) memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) memperbaiki kesenjangan fiskal antardaerah. 100 .1 persen atau Rp131. selain lebih terfokus pada pencapaian visi dan misi. (4) meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD). pengelolaan belanja negara juga akan diarahkan untuk mendukung pelaksanaan tiga agenda pembangunan tahun 2005. dan sebesar 33.01/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan serta KMK Nomor 303/KMK. serta (5) meningkatkan akuntabilitas. serta pemenuhan kewajiban pemerintah pada pihak ketiga. Belanja Pemerintah Pusat Belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 ditetapkan Rp266. sebesar 66. sebagai wujud nyata penerapan kebijakan desentralisasi fiskal yang telah dijalankan sejak tahun 2001.5 triliun untuk belanja untuk daerah. Selain itu. dan Kantor Pelayanan dan Perbendaharaan Negara. pengadaan sarana dan prasarana pembangunan. memperbaiki struktur fiskal. sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005.2 triliun atau 66. transparansi. (3) memperkecil kesenjangan pelayanan publik antardaerah. Belanja pemerintah pusat dalam tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp266. pelaksanaan fungsi pelayanan instansi pemerintah kepada masyarakat. (ii) meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menteri Keuangan telah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.2 triliun. sekitar sepertiganya akan ditransfer untuk belanja daerah. Sebagai tindak lanjut terbitnya Keputusan Presiden tentang Organisasi Departemen Keuangan yang baru.3. Pengalokasian anggaran untuk daerah tersebut didukung oleh beberapa kebijakan umum yang mendasari antara lain dengan: (1) memperhatikan aspirasi daerah. Jumlah tersebut diperlukan untuk memenuhi kewajiban pemerintah dalam pembayaran gaji aparatur negara.

serta usaha kecil dan menengah melalui program subsidi. B e la n ja L a i n .3 7 .3 1 7 . B e la n ja P e m e r in t a h P u s a t 1 . Selama ini. pengelompokan belanja pemerintah pusat dalam bentuk belanja rutin dan belanja pembangunan yang semula bertujuan untuk memberikan penekanan pada arti pentingnya anggaran pembangunan. D a n a A lo k a s i K h u s u s 2 . B e la n ja H i b a h 7 . melalui perubahan format belanja pemerintah pusat menjadi tiga bentuk. Menurut jenis belanja. maka kegiatan awal yang dilakukan adalah dengan melakukan unifikasi anggaran (unified budgeting). B e la n ja U n t u k D a e r a h 1 .2 6 0 .2 0 . khususnya di sisi belanja pemerintah pusat. D a n a O to n o m i K h u s u s d a n P e n ye s u a ia n J u m l a h 1 ) P e r b e d a a n s a t u a n g k a d i b e la k a n g k o m a t e r h a d a p a n g k a p e n ju m la h a n a d a la h k a r e n a p e m b u la t a n S u m b e r : D e p a r te m e n K e u a n g a n R I Dengan penerapan format baru belanja negara.3 1 8 . Perkembangan dinamis dalam penyelenggaraan pemerintahan membutuhkan sistem perencanaan fiskal yang terdiri dari sistem penyusunan anggaran tahunan yang dilaksanakan sesuai dengan kerangka pengeluaran berjangka menengah dan berbasis kinerja.5 1 2 4 .la i n I I. dalam pelaksanaannya telah menimbulkan peluang terjadinya duplikasi.0 4 3 . 101 . maka tidak ada lagi pemisahan antara belanja rutin dengan belanja pembangunan. penumpukan.8 4 .9 1 .2 3 9 7 . sesuai dengan yang digariskan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. D a n a B a g i H a s il b .5 2 .7 3 4 . petani.7 6 . D a n a P e rim b a n g a n a .1 0 . Untuk melangkah kesana.8 0 .8 1 .0 5 . meningkatkan pelayanan publik setiap instansi pemerintah. D a n a A lo k a s i U m u m c .3 3 1 . dan fungsi.4 0 . mendukung penyediaan sarana dan prasarana pembangunan nasional.8 1 3 1 . anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2005 antara lain untuk mempertahankan pendapatan nominal aparatur negara relatif tetap seperti tahun 2004. B a n tu a n S o s i a l 8 .4 4 . yaitu menurut jenis belanja. membantu masyarakat yang kurang mampu. S ub s id i 6 .2 I .8 % th d PDB 1 2 .Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 T a b e l IV .1 2 . B e la n ja P e g a w a i 2 .2 2 .7 1 .1 3 1 .2 8 8 .3 B E LANJA NEG ARA A P B N 2 0 0 5 1) ( t r il iu n r u p ia h ) 2005 U r a ia n APB N 2 6 6 . B e la n ja M o d a l 4 .1 6 4 . organisasi. B e la n ja B a r a n g 3 . dan penyimpangan anggaran.1 1 5 . P e m b a y a r a n B u n g a U ta n g 5 . dan memenuhi kewajiban pemerintah dalam hal pembayaran bunga utang.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam belanja pegawai. fungsi pendidikan. Anggaran belanja pemerintah pusat tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan operasional dan non-operasional setiap kementerian negara/lembaga. Selain itu. Selanjutnya. Fungsi-fungsi ini kemudian terinci dalam subfungsi. Sementara itu.0 persen dari belanja pemerintah pusat.6 triliun. vakasi dan lembur. Dalam APBN 2005. dilihat menurut fungsi. sama seperti kebijakan dalam tahun 2004. uang vakasi dan lain-lain ditetapkan Rp6. kebijakan belanja pegawai tetap diarahkan untuk menjaga kelancaran kegiatan operasional pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. yaitu Departemen Pertahanan. pembyaran bunga utang. Jumlah tersebut telah memperhitungkan pemberian gaji ke-13 dan penambahan pegawai baru.7 triliun. serta fungsi ketertiban dan keamanan. belanja hibah. Dalam APBN 2005. atau 13. yang terbatas pada langkah mempertahankan pendapatan nominalnya agar relatif tetap. atau 22. dan agama. Kemudian. alokasi belanja pegawai dalam APBN 2005 ditetapkan Rp60.6 triliun. utamanya di bidang pendidikan. Anggaran gaji dan tunjangan dalam APBN 2005 ditetapkan Rp34. baik dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada aparatur negara. walaupun di sisi lain terdapat pengalihan status pegawai Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dari pegawai pusat menjadi pegawai daerah. sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan. dan belanja lain-lain. Menurut Jenis Belanja Berdasarkan format belanja negara yang baru. Belanja pegawai pada dasarnya merupakan kompensasi. anggaran untuk gaji dan tunjangan ditetapkan Rp34. yaitu fungsi pelayanan umum. kebijakan belanja pegawai tetap diarahkan untuk menjaga kelancaran kegiatan operasional pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. 102 . belanja barang.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Klasifikasi organisasi didasarkan atas alokasi anggaran programprogram yang akan dilaksanakan oleh kementerian/lembaga.6 triliun. yang memuat program-program yang akan dijalankan kementerian negara/lembaga. dan Departemen Kesehatan. Departemen Pendidikan Nasional. dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah pusat sebesar Rp266. subsidi. Dalam APBN 2005. Kepolisian Negara. alokasi anggaran untuk honorarium. anggaran belanja pemerintah pusat terdiri atas belanja pegawai. menurut organisasi yang dasar pengalokasian anggarannya menurut program-program yang akan dilaksanakan.2 triliun. sebagian besar anggaran belanja pemerintah pusat terkonsentrasi pada beberapa fungsi. dalam rangka mengisi formasi pegawai disediakan anggaran untuk penambahan pegawai baru. melalui pemberian gaji dan pensiun ke-13.8 persen dari belanja pemerintah pusat. Kebijakan tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan pendapatan aparatur negara. kesehatan. bantuan sosial. rincian anggaran belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. fungsi pertahanan. dalam rangka menjaga kepastian manfaat dan tingkat kesejahteraan aparatur negara setelah memasuki masa pensiun. serta untuk kontribusi sosial. Berdasarkan atas kebijakan tersebut. Anggaran belanja pemerintah pusat menurut fungsi. Sementara itu. Jumlah tersebut dialokasikan untuk belanja gaji dan tunjangan. yang bertugas di dalam negeri dan di luar negeri. beberapa kementerian memperoleh alokasi anggaran yang relatif besar. maka dilakukan perbaikan manfaat tunjangan hari tua (THT) pegawai negeri. honorarium. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. fungsi ekonomi. belanja modal.

jaringan. Dalam APBN 2005. serta belanja modal fisik lainnya. pembayaran bunga utang ditetapkan Rp64. atau 6.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Selanjutnya. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengadaan barang dan jasa.1 triliun atau 9.2 triliun. Belanja modal tersebut dipergunakan untuk kegiatan investasi pemerintah melalui penyediaan sarana dan prasarana pembangunan dalam bentuk tanah.2 persen dari anggaran yang sama dalam tahun 2004. kebijakan belanja barang diarahkan untuk mempertahankan fungsi pelayanan publik setiap instansi pemerintah.2 persen dari total belanja pemerintah pusat.7 persen. pembayaran bunga utang dalam APBN 2005 ditetapkan Rp64. variable rate sekitar 36. yaitu suku bunga SBI-3 bulan rata-rata 6.4 persen dari belanja pemerintah pusat. dan belanja perjalanan. Untuk mendukung agenda tersebut. Pembayaran bunga utang dalam negeri ditetapkan mencapai Rp39. belanja modal ditetapkan Rp43.1 triliun. alokasi belanja barang dalam APBN 2005 ditetapkan Rp34. Berdasarkan asumsi-asumsi ekonomi makro serta rencana kebijakan dalam pengelolaan utang negara.5 persen dan nilai tukar rupiah Rp8. beban pembayaran bunga utang tahun 2005 tersebut juga telah memperhitungkan pencairan pinjaman baru yang akan dilakukan dalam tahun 2005. Beban pembayaran bunga utang luar negeri tersebut terdiri atas pembayaran bunga pinjaman multilateral sebesar 38. alokasi anggaran untuk kontribusi sosial dalam APBN 2005 ditetapkan Rp17.1 triliun. fasilitas kredit ekspor sebesar 21. atau 16. Pembayaran bunga utang luar negeri dalam APBN 2005 ditetapkan Rp25.0 triliun. yang mengacu kepada skala gaji menurut Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1997 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001.9 persen. Pada sisi lain. belanja modal dalam APBN 2005 ditetapkan Rp43.2 persen untuk pembayaran bunga utang luar negeri.1 persen dari total belanja pemerintah pusat. yang didasarkan pada beberapa asumsi utama. Selain dari pada itu.9 persen. dan 39. Dalam APBN 2005. belanja modal diarahkan untuk mempercepat penyediaan sarana dan prasarana fisik yang manfaatnya dapat dinikmati untuk lebih dari satu tahun anggaran.5 persen dari total belanja pemerintah pusat. atau 12. Belanja barang merupakan belanja negara yang digunakan untuk pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. belanja barang ditetapkan Rp32. belanja pemeliharaan.4 triliun. Alokasi anggaran tersebut telah memperhitungkan penyesuaian besaran manfaat THT bagi penerima pensiun.1 triliun atau 24. Dari keseluruhan beban pembayaran bunga utang dalam tahun 2005. Pembayaran bunga utang dalam negeri ditetapkan Rp39. belanja jasa. Belanja barang ini dirinci dalam belanja barang. gedung dan bangunan.0 triliun. Komposisi pembayaran bunga utang dalam negeri tahun 2005 antara lain terdiri dari fixed rate sekitar 61. peralatan dan mesin.1 triliun. sebesar 60. Sejalan dengan rencana kerja pemerintah pusat tahun 2005. 103 . perjalanan dinas.8 persen dari belanja pemerintah pusat. dan pemeliharaan aset negara. pembayaran bunga utang luar negeri dalam APBN 2005 ditetapkan Rp25. serta sekitar 1. dan pinjaman lainnya sekitar 14.1 triliun.7 persen.600 per dolar Amerika Serikat. Anggaran kontribusi sosial dalam APBN 2005 ditetapkan Rp19.5 persen.1 triliun.0 triliun. Berdasarkan pada kebijakan tersebut.4 persen bunga atas hedge bonds dan surat utang kepada Bank Indonesia. Hal tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya perkiraan tingkat suku bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2005 yakni sebesar 6.9 persen. Dalam APBN 2005. yang berarti meningkat 16.5 persen.8 persen dialokasikan untuk pembayaran bunga utang dalam negeri. Dalam APBN 2005. bilateral sebesar 24.

mengekspor.4 triliun. PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan negara yang menyediakan dan menyalurkan BBM menerima subsidi karena adanya selisih antara biaya penyediaan BBM dalam negeri dengan jumlah penerimaan dari penjualan BBM dalam negeri. Besarnya alokasi subsidi harga BBM tersebut terutama dipengaruhi oleh perkiraan harga minyak mentah internasional dalam tahun 2005.3 triliun. dalam APBN 2005 juga dianggarkan subsidi yang disalurkan melalui PT PLN (Persero) sebesar Rp3. Dalam tahun anggaran 2005 ditempuh kebijakan untuk tidak menaikkan tarif dasar listrik (TDL). serta beberapa BUMN lainnya dialokasikan Rp0.9 triliun. Selisih tersebut terjadi karena Pemerintah menetapkan harga jual BBM dalam negeri yang lebih rendah dari biaya pokok pengadaan BBM. Selanjutnya. dan (ii) volume konsumsi BBM dalam negeri dalam tahun 2005 ditetapkan 59. seperti PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola subsidi BBM sebesar Rp19. sehingga harganya lebih murah dari harga pasar. diharapkan PT PLN (Persero) dapat menetapkan tarif yang terjangkau bagi kelompok pelanggan tersebut. serta membantu BUMN yang melaksanakan tugas pelayanan umum.4 triliun.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam APBN 2005. membantu masyarakat kurang mampu dan usaha kecil dan menengah dalam memenuhi sebagian kebutuhannya. 104 . Dalam APBN 2005. menjual. dalam tahun anggaran 2005 ditempuh kebijakan untuk tidak Dari alokasi subsidi dalam tahun 2005.8 persen dari belanja pemerintah pusat. yang diasumsikan rata-rata US$24 per barel. dan industri (I1) dengan daya terpasang sampai dengan 450 VA untuk konsumsi sampai dengan 60 kwh per bulan. subsidi dialokasikan sebagai upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga. hampir seluruhnya disalurkan melalui perusahaan negara. Di samping itu. atau 11.6 juta kilo liter. dalam APBN 2005 subsidi harga BBM yang disalurkan melalui PT Pertamina (Persero) ditetapkan Rp19. Penyediaan anggaran subsidi melalui perusahaan negara non-lembaga keuangan tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan Pemerintah untuk memberlakukan administered price bagi beberapa jenis komoditi.0 triliun.9 persen dari pengeluaran subsidi tahun 2005. dan sisanya disalurkan melalui perusahaan swasta.0 triliun. beberapa BUMN produsen pupuk yang mengelola subsidi pupuk sebesar Rp1.8 triliun sebagai bantuan dalam rangka menjalankan penugasan pemerintah (public service obligation/PSO). apabila dilihat dari jenis perusahaannya maka sebagian besar subsidi melalui perusahaan negara dalam tahun 2005 disalurkan melalui lembaga non-keuangan. anggaran untuk subsidi ditetapkan Rp31.3 triliun. sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. Dari alokasi subsidi dalam tahun 2005 tersebut. Dengan demikian. PT PLN (Persero) sebagai pengelola subsidi listrik sebesar Rp3. Adapun kebijakan pokok yang berkaitan dengan penyaluran BBM dalam negeri yang akan diambil dalam tahun 2005 antara lain (i) jenis BBM yang menjadi prioritas subsidi adalah minyak tanah untuk rumah tangga. Perum Bulog sebagai pengelola subsidi pangan dan penugasan mengelola stok beras nasional sebesar Rp5. bisnis (B1). atau 60. atau 10. Dalam APBN 2005 subsidi melalui PT Pertamina (Persero) ditetapkan Rp19. Subsidi tersebut disalurkan melalui perusahaan/lembaga yang memproduksi.0 triliun. Kebijakan pokok yang berkaitan dengan penyaluran BBM dalam negeri yang akan diambil dalam tahun 2005 antara lain jenis BBM yang menjadi prioritas subsidi adalah minyak tanah untuk rumah tangga. hampir seluruhnya disalurkan melalui perusahaan negara. Selanjutnya.3 triliun. anggaran untuk subsidi ditetapkan Rp31. Subsidi ini akan disalurkan kepada kelompok pelanggan sosial (S1 dan S2). rumah tangga (R1). Dengan demikian.7 persen dari pengeluaran subsidi tahun 2005. Dalam APBN 2005. atau mengimpor barang atau jasa yang memenuhi hajat hidup orang banyak.

BUMN tersebut adalah PT Kereta Api (Persero) untuk tugas layanan jasa angkutan kereta api kelas ekonomi.0 miliar melalui perusahaan negara penyedia benih. akan dapat terjangkau oleh petani. dan bank pembangunan daerah (BPD) yang menyalurkan berbagai skim kredit program dan kredit pemilikan rumah sederhana sehat (KPRSh). Subsidi tersebut dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program beras untuk rakyat miskin (Raskin) sebesar Rp4. dan PT TVRI (Persero) antara lain untuk program penyiaran publik. baik urea maupun non-urea.3 juta kepala keluarga (KK) miskin. Selain melalui perusahaan negara non-lembaga keuangan. Subsidi tersebut digunakan untuk pengadaan benih unggul padi. beberapa bank BUMN. dalam rangka menjaga stabilitas harga pupuk di tingkat petani dengan harga yang terjangkau. Selain kepada perusahaan negara. dengan harga jual Raskin Rp1.8 triliun subsidi dalam APBN 2005 juga disalurkan melalui perusahaan negara berbentuk lembaga keuangan yang mengelola subsidi bunga kredit program.9 triliun. Selanjutnya. dalam APBN 2005 ditetapkan subsidi melalui perusahaan negara produsen pupuk sebesar Rp1. pengalokasian dana lainnya sebesar Rp1. Untuk program Raskin.9 miliar. dan PT Bank Bukopin) sebesar Rp73. Dengan alokasi subsidi tersebut.7 triliun dan bantuan PSO dalam rangka pengelolaan cadangan stok beras nasional sebesar Rp1. maka diharapkan harga pupuk di tingkat petani. PT Bank Central Asia Tbk. dalam APBN 2005 juga dialokasikan subsidi melalui BUMN pelaksana PSO sebesar Rp0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 menaikkan tarif dasar listrik (TDL).3 triliun. kedelai. dalam APBN 2005 juga dianggarkan subsidi melalui perusahaan swasta (antara lain PT Bank Agroniaga. .000 per kg. subsidi dan bantuan PSO yang disalurkan melalui Perum Bulog dalam APBN 2005 ditetapkan Rp5.8 triliun. Dalam APBN 2005 subsidi melalui perusahaan negara produsen pupuk ditetapkan Rp1. jagung hibrida. PT Pos Indonesia (Persero) untuk tugas layanan jasa pos pada kantor cabang luar kota dan daerah terpencil. sehingga petani bisa mendapatkan benih berkualitas dengan harga yang terjangkau. diharapkan dapat menjangkau sekitar 8.2 triliun.3 triliun. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) untuk tugas layanan jasa angkutan laut kelas ekonomi. PT Pertani (Persero). jagung komposit. dan ikan budidaya. Alokasi 105 Dalam APBN 2005 juga dialokasikan subsidi melalui BUMN pelaksana PSO sebesar Rp0. sebagai penugasan Pemerintah kepada Perum Bulog. termasuk untuk daya terpasang 450 VA. dengan masing-masing KK memperoleh rata-rata 20 kg beras per bulan dimana 12 bulan. dan UPT Pusat di lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan.2 persen dari pengeluaran subsidi 2005.9 triliun. atau 4. sebesar Rp0. yaitu PT Sang Hyang Seri (Persero). Subsidi dan bantuan PSO yang disalurkan melalui Perum Bulog dalam APBN 2005 ditetapkan Rp5. Dalam APBN 2005 juga dialokasikan subsidi sebesar Rp120. Sementara itu.2 triliun digunakan untuk biaya pengelolaan sekitar 350 ribu ton cadangan stok beras nasional. dan meningkatkan pelayanan dengan menambah sambungan baru. Penyediaan kredit bersubsidi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pendanaan dengan tingkat bunga yang lebih rendah dari bunga pasar. Dalam rangka mendukung pelaksanaan penugasan pelayanan umum (Public Service Obligation/PSO). Lembaga keuangan milik negara tersebut adalah PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Sementara itu.8 triliun.

7 12.8 triliun atau 5.0 43. usaha ekonomi produktif.0 0. 5.9 persen dari belanja pemerintah pusat.1 15.2 Dalam APBN 2005 ditetapkan bantuan sosial Rp16.0 triliun. serta bantuan untuk sarana peribadatan.6 2.8 triliun.Lem ba ga K eu anga n .1 17.8 1. Dalam APBN 2005 bantuan sosial ditetapkan Rp17. 7.L e m b a g a N o n -K e u a n g a n b . seperti bantuan kemanusiaan.8 0. P e ru s a h a a n S w a s ta B e la n ja H ib a h B a n tu a n S o s ia l B e la n ja L a in -la in J u m l a h 1) P e rb e d a a n s a tu d ig it d i b e la k a n g k o m a te rh a d a p a n g k a p e n ju m la h a n a d a la h k a re n a p e m b u la ta n S u m b e r : D e p a rt e m e n K e u a n g a n R I 106 . beasiswa. Rincian belanja pemerintah pusat menurut klasifikasi jenis belanja dapat lihat pada Tabel IV. Pemanfaatan belanja lain-lain ini adalah untuk menampung belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja yang telah disebutkan di atas.0 2.1 64. Belum dialokasikannya anggaran hibah tersebut berkaitan dengan belum adanya rencana untuk memberikan bantuan atau sumbangan yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau lembaga internasional.8 1. Anggaran bantuan sosial ini merupakan transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.2 % th d PDB 2.3 31. dan dana cadangan umum.4 persen dari belanja pemerintah pusat. Hal ini mengingat belanja hibah merupakan transfer yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional. dan bantuan yang diberikan melalui kementerian negara/lembaga Rp14. 4.9 1.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 subsidi tersebut akan digunakan antara lain untuk subsidi bunga atas skim kredit ketahanan pangan (KKP) dan KPRSh.4 Ta be l IV .4 0. Bantuan sosial dalam tahun 2005 tersebut diberikan dalam bentuk cadangan anggaran untuk penanggulangan bencana Rp2. Dalam APBN 2005 belanja lain-lain sebesar Rp15. 1. alokasi dana untuk belanja hibah dalam APBN 2005 belum dapat ditetapkan. 2. pelayanan hukum.4 1. Adapun penggunaannya antara lain untuk penanggulangan bencana alam.0 25.0 1.4 B E L A N J A P E M E R IN T A H P U S A T M E N U R U T J E N IS B E L A N J A A P B N 2005 1) (tril iu n ru p ia h ) 200 5 U ra i a n AP BN 60. 8.1 39. B e la n ja P e g a w a i B e la n ja B a ra n g B e la n ja M o d a l P e m b a y a ra n B u n g a U t a n g a . P e ru s a h a a n N e g a ra .4 0.1 31. dalam APBN 2005 belanja lainlain ditetapkan sebesar Rp15.8 30.8 2 6 6 .4 0.5 triliun. L u a r N e g e ri S u b s id i a .7 34.2 0.1 triliun atau 6. 6. Sementara itu. 3. Selain pos-pos pengeluaran tersebut di atas. dan penanggulangan kemiskinan. D a la m N e g e ri b . Dana untuk belanja hibah dalam APBN 2005 belum ditetapkan.1 1.5 triliun.

anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp266. Melalui proses sebagaimana tersebut di atas. Berdasarkan RK-KL dan pagu anggaran per program tersebut. rincian belanja negara disusun berdasarkan pada organisasi yang ada beserta dengan program-program yang diusulkannya. sedangkan belanja untuk daerah tetap dirinci ke dalam dana perimbangan. proses dan mekanisme penganggaran dan penyusunan APBN 2005 juga sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. sedangkan dalam penyusunan APBN 2005 dilakukan melalui proses penganggaran bersifat kombinasi antara top down dan bottom up. yaitu sebagaimana termuat dalam buku Satuan 3 yang menjadi lampiran tak terpisahkan dari UU APBN. sedangkan rincian secara lengkap tersaji dalam lampiran NK dan APBN 2005 dan dalam UU No. Dalam APBN 2005.2 triliun. maka dapat disusun anggaran belanja pemerintah pusat beserta rinciannya menurut organisasi. Selanjutnya. Dalam penyusunan APBN. rincian belanja negara menurut organisasi disesuaikan dengan susunan kementerian negara/lembaga pemerintah pusat. 36 tentang APBN 2005.17 Tahun 2003. dalam tahun sebelumnya lebih bersifat top down. sebagai perencanaan.2 persen terhadap PDB. sehingga tersusun rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-KL). selama ini sudah ada rincian belanja negara menurut organisasi. Kemudian. masing-masing kementerian negara/lembaga bersama dengan komisi mitra kerjanya di DPR membagi pagu anggaran sementara per program ke dalam kegiatan yang ditetapkan dan menurut jenis belanja. RKA-KL dari semua kementerian negara/ lembaga dan RKP dijadikan pedoman dalam penyusunan NK dan APBN 2005 dan sekaligus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari UU APBN 2005. belanja negara yang dirinci menurut organisasi adalah hanya belanja pemerintah pusat. Alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 sebesar Rp266. Secara keseluruhan. dan dana otonomi khusus dan penyesuaian. Dalam NK dan APBN 2005. Pemerintah bersama-sama Panitia Anggaran DPR-RI menetapkan pagu anggaran sementara untuk setiap kementerian negara/ lembaga berdasarkan program. Akhirnya.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Menurut Organisasi Sebagaimana yang telah tertuang di dalam penjelasan pasal 11 ayat 5 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Rincian anggaran belanja negara menurut organisasi. kementerian negara/lembaga menyusun dan sekaligus menyampaikan rencana kerja dan anggaran (RKA-KL) dimaksud kepada Menteri Keuangan. Untuk memenuhi ketentuan pasal 11 UU No. rincian belanja pemerintah pusat menurut organisasi akan tersaji dalam tabel ringkas.2 triliun atau 12. Masingmasing kementerian negara/lembaga menyusun rencana kerja (RK-KL) yang didalamnya memuat program-program yang akan dilaksanakan oleh unit-unit organisasi yang bersangkutan. Selain itu. Sementara itu. Pada dasarnya. RK-KL dari semua kementerian negara/lembaga tersebut dihimpun menjadi satu rencana kerja pemerintah (RKP). Perbedaan yang prinsip antara rincian belanja menurut organisasi dalam APBN 2005 dengan APBN tahuntahun sebelumnya adalah terletak pada penyajian dan proses/mekanisme penyusunannya. 107 .

antara lain meliputi: (a) pengembangan pertahanan integratif. (b) program pengembangan strategi keamanan dan ketertiban. Alokasi anggaran yang relatif cukup besar tersebut ditetapkan akan dipergunakan terutama untuk pelaksanaan program-program prioritas. waduk dan sumber air lainnya.8 triliun atau 108 . (b) program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Sementara itu. Untuk Departemen Pendidikan Nasional dalam APBN 2005 ditetapkan alokasi anggaran sebesar Rp21. Alokasi anggaran untuk Departemen Pendidikan Nasional ditetapkan akan dipergunakan terutama untuk membiayai program-program prioritas.8 triliun. yang antara lain meliputi: (a) program pengembangan sarana dan prasarana kepolisian. diperuntukkan bagi seluruh kementerian negara/lembaga selaku pengguna anggaran sebesar Rp127.1 persen dari belanja pemerintah pusat. (c) penyediaan dan pengelolaan air baku. (e) program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Alokasi anggaran bagi Departemen Pendidikan Nasional terutama dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui bidang pendidikan nasional. (d) program pendidikan tinggi.2 triliun.6 triliun atau 8. Alokasi anggaran tersebut diharapkan dapat mendukung Kepolisian Negara dalam melaksanakan program prioritasnya. Dalam APBN 2005. antara lain meliputi : (a) program pendidikan anak usia dini. Anggaran belanja negara bagi Departemen Pertahanan dalam APBN 2005 sebesar Rp22.2 triliun atau 4.1 triliun. (c) program pendidikan menengah.8 triliun atau 2.4 triliun. dan kepada Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) sebesar Rp138. Departemen Pekerjaan Umum ditetapkan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp13. Departemen Pekerjaan Umum mendapat alokasi anggaran Rp13. (d) pengembangan pertahanan matra udara. alokasi anggaran bagi Kepolisian Negara sebesar Rp11.3 persen dari belanja pemerintah pusat. alokasi anggaran belanja Departemen Pertahanan akan dipergunakan untuk membiayai program-program prioritas. Dalam APBN 2005. dan (c) program pemantapan keamanan dalam negeri. dan (e) penegakan kedaulatan dan penjagaan keutuhan wilayah NKRI. anggaran bagi Departemen Kesehatan sebesar Rp7. rawa dan jaringan pengairan lainnya. (b) pengembangan pertahanan matra darat.2 persen dari belanja pemerintah pusat. Dengan alokasi anggaran tersebut. Dalam APBN 2005. Dalam APBN 2005. dalam tahun anggaran 2005 ditetapkan mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp11. (d) pengendalian banjir dan pengamanan pantai. Sesuai dengan program-program yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang telah mendapatkan persetujuan dari DPR. Dalam tahun anggaran 2005. yaitu pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. diharapkan dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan program-program prioritas yang meliputi: (a) upaya kesehatan Pemanfaatan anggaran belanja negara bagi Departemen Pendidikan Nasional. Departemen Pertahanan ditetapkan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp22. antara lain: (a) pengembangan dan pengelolaan sungai.9 persen dari belanja pemerintah pusat.0 triliun atau 8. dan (f) program pendidikan non-formal. (c) pengembangan pertahanan matra laut.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Anggaran belanja pemerintah pusat yang dialokasikan dalam APBN 2005 tersebut. serta (f) peningkatan/ pembangunan jalan dan jembatan. (e) rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan.0 triliun. Kepolisian Negara. Departemen Kesehatan mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp7.1 triliun. Dalam APBN 2005. dan programprogram lain sebagai pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. (b) pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi.

yaitu Rp45. dan (e) program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dan (d) perbaikan gizi masyarakat.4 persen dari tahun sebelumnya. Selanjutnya.7 triliun atau 2.7 triliun.8 triliun. Untuk Departemen Agama.0 triliun atau 35.4 triliun atau 64. dapat dilihat bahwa untuk keenam kementerian negara/ lembaga tersebut sebagai pengguna anggaran. atau (c) mentransfer uang (cash) kepada rumah tangga sehingga memungkinkan mereka mampu membeli barang 109 . Departemen Keuangan selaku BUN mendapat alokasi anggaran sebesar Rp138. dalam APBN 2005 dialokasikan anggaran sebesar Rp82. Selebihnya. Dari uraian di atas. Dalam APBN 2005. menteri atau pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran atau pengguna barang negara bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN dari segi manfaat atau hasil (outcome). (b) membeli dari pihak ketiga dan mendistribusikannya. Tanggung jawab pimpinan kementerian/ lembaga dan pimpinan unit organisasi pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara. (c) pencegahan dan pemberantasan penyakit.4 triliun. (b) upaya kesehatan perorangan. akan dipergunakan untuk program-program sebagai berikut: (a) pembayaran bunga utang.5 persen dari belanja pemerintah pusat. belanja pemerintah pusat yang dialokasikan kepada Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 masyarakat. Sementara itu. yang selain dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional juga dilaksanakan oleh Departemen Agama. Departemen Agama dalam APBN 2005 mendapat alokasi anggaran sebesar Rp6. dan (2) mendistribusikan kembali pendapatan dan kekayaan melalui transfer. Sedangkan pimpinan unit organisasi dari kementerian atau lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN dari segi barang dan/ atau jasa yang disediakan (output). meningkat 16. (b) subsidi dan transfer lainnya. (d) program pendidikan tinggi. Sedang dalam Lampiran 5 dapat diikuti rincian belanja menurut organisasi dan program.3 persen akan dialokasikan untuk membiayai berbagai program yang dikelola oleh masing-masing kementerian negara/lembaga selain dari keenam kementerian negara/lembaga yang telah diuraikan di atas. (b) program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Secara keseluruhan alokasi anggaran belanja negara menurut organisasi untuk APBN 2005 dapat dilihat pada Tabel IV. yang besarnya mencapai Rp138. seperti : (a) program pendidikan anak usia dini. berkaitan dengan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara sebagaimana tercantum dalam penjelasan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Alokasi anggaran tersebut terutama dimaksudkan untuk dapat menunjang program-program pendidikan. Menurut Fungsi Fungsi pokok pemerintah adalah (1) melaksanakan tanggung jawab atas ketersediaan barang dan jasa kepada masyarakat. (c) program pendidikan menengah.8 triliun. baik untuk konsumsi kelompok maupun konsumsi perorangan. dalam APBN 2005 ditetapkan anggaran sebesar Rp6. suatu unit organisasi pemerintah dapat melakukan dengan (a) memproduksi sendiri barang dan jasa dan mendistribusikannya. Dalam rangka penyediaan barang dan jasa tersebut.5.7 persen dari total alokasi anggaran untuk kementerian negara/lembaga sebagai pengguna anggaran sebesar Rp 127. serta (c) belanja lain-lain.

745.9 67.372.8 364.773.1 11.2 750.7 3.385.5 209.8 58.665.5 204.6 2.8 1.2 11.065.5 17.9 155.5 59.796.4 136.9 207.0 5.7 14.4 BAGIAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN 61 62 69 CICILAN DAN BUNGA UTANG SUBSIDI DAN TRANSFER LAINNYA BELANJA LAIN-LAIN JUMLAH BAGIAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN JUMLAH 65.9 510.1 1.220.5 BELANJA PEMERINTAH PUSAT MENURUT ORGANISASI.7 11.5 21.422.028.2 220.5 14.1 7.566.8 21.5 164.3 247.585.470.3 26.720.9 6.0 4.5 11.7 929.790.1 4.3 255.8 1.826.165.308.978.387.801.7 1. HUKUM DAN KEAMANAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA BADAN INTELIJEN NEGARA LEMBAGA SANDI NEGARA DEWAN KETAHANAN NASIONAL BADAN PUSAT STATISTIK KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BAPPENAS BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERPUSTAKAAN NASIONAL KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI KEPOLISIAN NEGARA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL BADAN NARKOTIKA NASIONAL KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL KOMISI NASIONAL HAK AZASI MANUSIA BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI JUMLAH KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA APBN 2004 202.706.2 436.6 194.678.0 53.2 32.7 3.6 6.717.1 21.7 50.0 346.5 55.187.024.105.797.4 858.081.0 6.5 72.1 1.8 218.006.1 69. 2004 .3 1.1 727.6 19.965.998.6 100.0 779.6 822.2005 1) (miliar rupiah) KODE 1 2 4 5 6 7 8 10 11 12 13 15 18 19 20 22 23 24 25 26 27 29 32 33 34 35 36 40 41 42 43 44 47 48 50 51 52 54 55 56 57 59 60 63 64 65 66 67 68 74 75 76 77 KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT BADAN PEMERIKSA KEUANGAN MAHKAMAH AGUNG KEJAKSAAN AGUNG KEPRESIDENAN WAKIL PRESIDEN DEPARTEMEN DALAM NEGERI DEPARTEMEN LUAR NEGERI DEPARTEMEN PERTAHANAN DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM DEPARTEMEN KEUANGAN DEPARTEMEN PERTANIAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN KESEHATAN DEPARTEMEN AGAMA DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DEPARTEMEN SOSIAL DEPARTEMEN KEHUTANAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK.6 1.422.8 179.9 305.8 11.8 138.0 117.9 180.748.0 3.1 3.4 213.8 504.9 137.3 279.2 72.9 739.7 13.6 738.244.264.6 - APBN 2005 218.5 40.645.2 2.6 3.278.6 1.5 1.4 1.2 676.415.919.690.2 154.1 1.5 1.396.4 632.8 1.4 3.161.8 1.8 266.6 10.5 77.3 595.186.8 52.296.2 1.037.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Tabel IV.021.2 2.6 5.8 64.6 124.914.0 41.006.1 79.9 127.2 84.7 1.9 883.6 63.358.7 68.2 64.473.7 196.3 1) Perbedaan satu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI 110 .607.3 15.2 226.548.2 669.7 21.

kompilasi dari alokasi anggaran tersebut menjadi data statistik yang disusun mengikuti standar internasional sebagaimana ditetapkan dalam classification of the functions of government (COFOG) yang dipublikasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan berubahnya sebagian nama-nama program dalam Rencana Rincian belanja negara menurut fungsi terdiri 11 fungsi. yaitu: (1) pelayanan umum. masih terdapat 3 (tiga) program yang dilaksanakan oleh Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). subfungsi dan program. yang selanjutnya dapat diperbandingkan dengan negara lainnya yang rincian belanjanya mengikuti COFOG. (2) meningkatkan kesejahteraan rakyat. Membandingkan antara rincian belanja menurut fungsi dan menurut sektor pada hakekatnya adalah bahwa klasifikasi fungsi. dan (3) memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 dan jasa secara langsung di pasar. Rincian belanja pemerintah pusat menurut fungsi terdiri dari subfungsi-subfungsi. Mengacu kepada amanat UU Nomor 17 Tahun 2003 tersebut. dasar alokasi anggaran adalah programprogram yang diajukan oleh kementerian negara/lembaga. yaitu (1) mempercepat penyelesaian reformasi. subfungsi dan program merupakan pengganti klasifikasi sektor. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2005. yang merupakan kumpulan dari program-program yang akan dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga dalam rangka melaksanakan 3 (tiga) agenda pokok pembangunan. Dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. (6) perumahan dan fasilitas umum. yaitu (1) program pembayaran bunga utang. terdapat 194 (seratus sembilan puluh empat) program. Rincian belanja negara menurut fungsi merupakan tools of analysis. (10) pendidikan. juga dibiayai dari pinjaman dan sumber-sumber lain yang tidak merupakan pembayaran wajib bagi Pemerintah. dan (3) program pembiayaan lain-lain. (8) pariwisata dan budaya. dan (11) perlindungan sosial. Alokasi anggaran per program menurut fungsi tahun 2005 tidak dapat dipersandingkan dengan alokasi program menurut sektor tahun 2004. dalam APBN 2005 belanja pemerintah pusat menurut fungsi terdiri dari 11 (sebelas) fungsi. Dalam melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. (9) agama. 111 . (5) lingkungan hidup. (2) program subsidi dan transfer lainnya. (7) kesehatan. selain dibiayai melalui penerimaan yang bersumber dari perpajakan. Dalam proses penganggaran. dalam APBN 2005. (3) ketertiban dan keamanan. dimana 102 (seratus dua) diantaranya merupakan program prioritas. subsektor. Dengan demikian rincian belanja negara baik menurut fungsi maupun menurut sektor merupakan kompilasi dari program-program yang dilaksanakan kementerian negara/ lembaga. Dengan demikian. Selain ke194 program yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga. Besaran anggaran untuk masing-masing fungsi atau subfungsi merupakan kompilasi anggaran dari program-program yang termasuk fungsi atau subfungsi yang bersangkutan. yang tersebar di semua fungsi. (4) ekonomi. (2) pertahanan. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara telah mengamanatkan bahwa salah satu rincian belanja negara adalah belanja negara menurut fungsi. Selanjutnya. klasifikasi belanja negara menurut fungsi dapat dipergunakan sebagai alat analisis (tools of analysis) yang menggambarkan perkembangan belanja suatu negara menurut fungsi. dan program yang semula terbagi dalam anggaran rutin dan anggaran pembangunan.

dan program pembiayaan lain-lain. rawa. Di samping itu. Jumlah tersebut mencapai 10. dan jaringan pengairan lainnya. Namun demikian. Dengan kata lain. Alokasi anggaran untuk program-program dalam fungsi pendidikan dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp26. Perubahan tersebut meliputi adanya usulan program-program baru yang sebelumnya belum ada. Relatif besarnya anggaran belanja pemerintah pusat dalam fungsi pelayanan umum tersebut antara lain dikarenakan dalam fungsi tersebut tercakup pula program-program yang dijalankan oleh Bendaharawan Umum Negara. (4) program peningkatan/ pembangunan jalan dan jembatan. 22 persen. Sebagian besar belanja pemerintah pusat untuk membiayai pelaksanaan program-program dari fungsi-fungsi pelayanan umum.0 triliun atau sekitar 10 persen dari anggaran belanja pemerintah pusat. dan adanya program-program gabungan atau pemecahan dari program yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga pada tahun sebelumnya.4 triliun. Alokasi anggaran untuk program-program dalam fungsi pelayanan umum dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp158. dalam tahun 2005 terdapat perubahan sejumlah program.6 persen dari anggaran belanja pemerintah pusat yang ditetapkan dalam APBN 2005 sebesar Rp266. maka program-program yang terdapat dalam belanja negara menurut fungsi dalam APBN 2005 tidak dapat dipersandingkan dengan program-program yang terinci dalam belanja negara menurut sektor dalam APBN 2004.6 triliun atau 59.0 triliun. Rp58. dan fungsi pertahanan.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Kerja Pemerintah (RKP) 2005. hal ini tidak berarti bahwa programprogram yang tercakup dalam fungsi-fungsi yang lain menjadi kurang penting.2 triliun. yaitu program pembayaran bunga utang. total alokasi anggaran pada program-program yang terdapat dalam fungsi ekonomi mencapai sebesar Rp28. dan pertahanan.0 triliun. Dalam tahun 2005 sebagian besar belanja pemerintah pusat terdapat pada fungsi pelayanan umum. dan (5) program peningkatan ketahanan pangan. Sementara itu. Dalam APBN 2005. dan Rp15. ekonomi.5 persen dari seluruh anggaran belanja pemerintah pusat. 112 . sebagian besar anggaran belanja negara untuk Pemerintah Pusat dialokasikan untuk menjalankan program-program dalam fungsi pelayanan umum. Program-program yang akan dilaksanakan antara lain: (1) program wajib belajar (wajar) pendidikan dasar sembilan tahun dalam rangka peningkatan perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang berkualitas.0 triliun.6 triliun. Sejalan dengan tiga agenda pembangunan yang akan dilaksanakan Pemerintah dalam tahun 2005. serta ketertiban dan keamanan. pendidikan. serta fungsi ketertiban dan keamanan. (2) program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. karena program-program tersebut juga mendapatkan alokasi anggaran yang cukup memadai sesuai dengan kebutuhan anggaran yang diperlukan. atau masing-masing sekitar 24 persen. fungsi pendidikan. alokasi anggaran untuk program-program pemerintah dalam fungsi pendidikan dalam APBN 2005 mencapai sebesar Rp26. tidak seluruh program-program yang diajukan kementerian negara/lembaga pada tahun 2004 dapat dikonversikan ke dalam program-program yang diajukan pada tahun 2005. dan 6 persen dari keseluruhan belanja pemerintah pusat. yang masing-masing mencapai Rp64. program pembayaran subsidi dan transfer lainnya. yaitu sebesar Rp158.7 triliun. Hal ini terkait dengan upaya untuk meningkatkan anggaran pendidikan sesuai amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.8 triliun. Programprogram yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mengaktualisasikan fungsi ekonomi antara lain adalah: (1) program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan. (3) program penyempurnaan restrukturisasi dan reformasi sarana dan prasarana ketenagalistrikan. (2) program Alokasi anggaran untuk program-program dalam fungsi ekonomi dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp28. fungsi ekonomi.

4 7. laut. (3) program pemantapan keamanan dalam negeri.987.0 15.3 22.4 691.3 1) Perbedaan satu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI 113 . fungsi pertahanan dan fungsi ketertiban dan keamanan merupakan fungsi-fungsi strategis dari Pemerintah. (2) program pengembangan sarana dan prasarana kepolisian. dalam APBN 2005 juga akan dilaksanakan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Sehubungan dengan itu.6 ANGGARAN PEMERINTAH PUSAT MENURUT FUNGSI. kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan. Sementara itu. Tabel IV.280. Selain pendidikan umum dan kejuruan.001. Sebagai salah satu upaya untuk semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).3 266. KODE 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 FUNGSI PELAYANAN UMUM PERTAHANAN KETERTIBAN DAN KEAMANAN EKONOMI LINGKUNGAN HIDUP PERUMAHAN DAN FASILITAS UMUM KESEHATAN PARIWISATA DAN BUDAYA AGAMA PENDIDIKAN PERLINDUNGAN SOSIAL JUMLAH JUMLAH 158.038. kualitas. (4) program pembinaan sarana dan prasarana hukum.1 920. dalam rangka meningkatkan perluasan layanan pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi kebutuhan pasar kerja.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 pendidikan menengah. dan (3) program pendidikan tinggi.104. program-program yang akan dilaksanakan untuk mengaktualisasikan fungsi pertahanan antara lain: (1) program pengembangan pertahanan integratif. Dalam Tabel IV. (3) program pengembangan potensi dukungan pertahanan.4 28. sedangkan dalam Lampiran 6 dapat diikuti rincian lebih lengkap belanja pemerintah pusat menurut fungsi. serta mampu menciptakan dan mengembangkan iptek. (2) program pengembangan pertahanan matra darat.1 3.7 2.559.4 2. dalam fungsi pendidikan juga terdapat program peningkatan pendidikan agama dan keagamaan.585. Keberhasilan dari pelaksanaan programprogram tersebut tidak terlepas dari jumlah. APBN 2005 1) (miliar rupiah) Program-program dalam fungsi pertahanan dan fungsi ketertiban dan keamanan dalam APBN 2005 .6 dapat diikuti rincian belanja pemerintah pusat menurut fungsi. yang diarahkan untuk mengantisipasi meningkatnya lulusan sekolah menengah pertama sebagai konsekuensi dari keberhasilan program wajar 9 tahun dan penyediaan tenaga kerja lulusan pendidikan menengah yang berkualitas. Berkaitan dengan hal tersebut.036. fungsi ketertiban dan keamanan akan diaktualisasikan melalui: (1) program pemeliharaan kamtibmas.016. maupun udara.220. Pemerintah juga memberikan perhatian pada pendidikan agama dan keagamaan.3 25. dan (5) program pembinaan dan penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM). Dalam APBN 2005.

(vi) konsolidasi kebijakan fiskal khususnya untuk mendukung kebijakan makro ekonomi. dan pelaksanaan Sistem Informasi Keuangan Daerah. dan partisipasi masyarakat. memfasilitasi. serta sesuai dengan asas demokrasi. Sebagai tahun kelima pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. dan membantu Pemerintah Daerah dalam melakukan berbagai upaya untuk (i) mengatasi ketertinggalan wilayah terbelakang. maka Pemerintah mengupayakan pemantauan serta evaluasi atas pelaksanaan dana desentralisasi. (Lihat Boks 11: Amandemen Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah). dan keamanan. strategis. Arah kebijakan belanja untuk daerah tahun 2005 terutama untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas. Berkaitan dengan itu. kewenangan. politik. dan memobilisasi pendapatan. sosial. dan cepat tumbuh. memperbaiki struktur fiskal. Pemerintah dan DPR-RI sedang melakukan proses pembahasan terhadap usulan pemerintah atas amandemen Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. melalui APBN. (ii) mempercepat penanggulangan kemiskinan. (v) memperkecil kesenjangan pelayanan publik antardaerah (public service provision gap) terutama melalui penyusunan standar pelayanan minimum (SPM). yang dari tahun ke tahun jumlah dan cakupannya cenderung meningkat.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Belanja Untuk Daerah Sejak tahun 2001. Hal ini dilaksanakan untuk menghindari terjadinya kegiatan yang tumpang tindih antara kegiatan yang dibiayai dengan dana desentralisasi. Selanjutnya. utamanya dana dekonsentrasi. dan dana tugas pembantuan. Pemerintah telah menyediakan alokasi belanja untuk daerah dengan jumlah dan cakupan yang cenderung meningkat. (iv) memperkuat koreksi kesenjangan fiskal antar daerah (horizontal imbalance). budaya. dan kegiatan dalam programprogram yang dibiayai melalui belanja pemerintah pusat. serta (vii) meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali pendapatan asli daerah (taxing power). Guna mewujudkan sistem perimbangan keuangan yang mencerminkan pembagian tugas. seperti kawasan timur Indonesia (KTI). pengaturan pengelolaan keuangan daerah. Pemerintah telah menyediakan alokasi anggaran belanja untuk daerah. Amandemen tersebut meliputi dana perimbangan. dalam tahun 2005 belanja untuk daerah diarahkan terutama untuk (i) meningkatkan efisiensi sumber daya nasional. Dalam rangka meningkatkan akuntabilitas publik dan pelayanan publik tingkat lokal. transparansi. khususnya di wilayah pasca konflik. guna mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah yang terkoordinasi dan terintegrasi. dan tanggung jawab yang jelas antara Pemerintah Pusat dan Daerah. (iii) meningkatkan akuntabilitas. melalui APBN. sejak tahun 2001. wilayah terpencil. (ii) memperhatikan aspirasi daerah. serta (iii) mempercepat pertumbuhan di wilayah andalan. dan kawasan perbatasan. pemulihan kondisi ekonomi. 114 . Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah mengamanatkan bahwa setiap penyerahan atau pelimpahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah harus diikuti dengan pembiayaannya (money follow function). Selain itu. kebijakan belanja untuk daerah dalam tahun 2005 juga diarahkan untuk mendorong. pinjaman daerah.

pengaturan secara rinci pengelolaan keuangan daerah. antara lain. Di samping itu. penyesuaian persentase Dana Alokasi Umum. dan sesuai dengan asas demokrasi. Pemerintah bersama-sama dengan DPRRI telah memberlakukan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabilitas publik dan pelayanan publik tingkat lokal. prinsip-prinsip pelaksanaan pinjaman daerah. terdapat beberapa ketentuan tambahan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. dan pelaksanaan sistem informasi keuangan daerah. dan Tap MPR Nomor VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi atas Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Presiden. penegasan mekanisme penyaluran bagian daerah. penambahan bagian daerah dari sektor pertambangan panas bumi. definisi dan kriteria pengalokasian Dana Alokasi Khusus. MA merekomendasikan kepada Pemerintah dan DPR agar melakukan perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh terhadap UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. DPR.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 11: Amandemen Undang-undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintahandan mantap antaradi semua tingkat yang harmonis pemerintahan. penyesuaian persentase bagi hasil minyak dan gas bumi. penetapan maksimal 130 % atas penyaluran realisasi minyak dan gas bumi. Pemerintah bersama DPR telah berhasil menetapkan UU Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU Nomor 25 Tahun 1999 di atas. DPA. Berkaitan dengan dana perimbangan. diperlukan sistem hubungan keuangan yang adil pemerintah pusat dan pemerintah daerah. sehingga menutup peluang kabupaten/kota untuk menambah jenis pajak baru di luar yang tercantum dalam UU. Upaya untuk meningkatkan PAD ini akan dilakukan dengan memperluas tax base dan memberikan taxing power kepada kabupaten/kota yang tidak berdampak tumpang tindih dengan pajak nasional. pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 perlu disesuaikan dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Beberapa perubahan yang telah berhasil dirumuskan dalam UU ini. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 secara tegas dinyatakan ketentuan mengenai prinsip kebijakan perimbangan keuangan dan ketentuan lebih lengkap mengenai sumber-sumber penerimaan daerah dengan mencantumkan jenis-jenis dari lain-lain pendapatan asli daerah (PAD) yang sah dan ketentuanketentuan yang tidak boleh dilanggar oleh daerah dalam upaya meningkatkan PAD-nya. dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Ketentuan tersebut akan dielaborasi lebih lanjut dalam Perubahan UU Nomor 34 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Berdasarkan beberapa hal tersebut. Sesuai dengan amanat Tap MPR Nomor XV/MPR/1998 mengenai perlunya pengaturan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dalam pelaksanaannya. antara lain meliputi (i) dimasukkannya persentase bagi hasil PPh Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 yang diadopsi dari PP 115 Tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan PPh Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah 115 . beberapa ketentuan dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 dinilai mengandung beberapa kelemahan. dan pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri. Tap MPR Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Selain itu. BPK. yang berkaitan dengan formulasi dan penghitungan dana perimbangan. dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. antara lain meliputi pengaturan sumber-sumber penerimaan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

serta (vi) penyempurnaan definisi dan kriteria Dana Alokasi Khusus. (iii) penetapan realisasi penyaluran bagi hasil yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak melebihi 130 % (seratus tiga puluh persen) dari asumsi dasar harga minyak dan bumi dalam APBN tahun berjalan. imbangan untuk Pemerintah sebesar 84.5 % dan untuk Daerah sebesar 30. sepanjang mengikuti ketentuan perundangundangan yang berlaku. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tersebut juga telah diatur lebih lengkap mengenai pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah. dan tugas pembantuan. imbangan untuk Pemerintah sebesar 69. dan pelaksanaan sistem informasi keuangan daerah.5 % dari imbangan untuk Daerah baik dari minyak bumi dan gas bumi akan dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. dekonsentrasi. persentase tersebut minimal sebesar 26 % dari PDN Neto yang ditetapkan dalam APBN. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 juga membahas mengenai pengaturan secara rinci pengelolaan keuangan daerah. dan hanya boleh digunakan untuk membiayai investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan. Dalam hal ini. serta penambahan bagian daerah dari sektor pertambangan panas bumi. Kemudian. Pengaturan pinjaman daerah yang diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 telah disesuaikan dengan UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. juga dimaksudkan sebagai upaya pengungkapan informasi kepada publik secara luas. pinjaman yang bersumber dari dalam negeri dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. akuntabilitas. maka kelebihannya akan diperlakukan sebagai DAU tambahan yang penyalurannya akan dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan. dan transparansi. termasuk penerbitan obligasi Daerah. dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan desentralisasi berdasarkan prinsip demokrasi. Dalam hal ini. Informasi keuangan yang terdapat dalam sistem ini selain dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambilan kebijakan pusat dan daerah. Sementara itu. yaitu dari minyak bumi. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 juga dikemukakan mengenai dana darurat. 0. 116 . meliputi sistematika dan redaksional.5 % dan untuk Daerah 15. Sedangkan dari gas bumi. Penerbitan obligasi hanya dapat diterbitkan dalam matauang rupiah. (v) penyesuaian persentase Dana Alokasi Umum (DAU).5 %. Selanjutnya. Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) juga telah dimuat dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat yang berasal dari APBN dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara. melalui baik lembaga keuangan perbankan maupun lembaga keuangan non-perbankan.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Daerah. Dalam hal terdapat kelebihan realisasi penyaluran bagi hasil tersebut.5 %. Pembatasan yang masih diperlukan adalah pengendalian defisit APBN dan APBD tidak melebihi 3% dari PDB tahun anggaran yang bersangkutan. (iv) penyempurnaan bagi hasil SDA. (ii) disesuaikannya persentase bagi hasil minyak dan gas bumi yang akan berlaku sejak tahun 2009. yaitu sejak tahun 2008. dengan mengalihkan DAK yang bersumber dari Dana Reboisasi ke dalam Dana Bagi Hasil. serta lebih menjamin kepastian hukum. dan kumulatif pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tidak melebihi 60% dari PDB tahun anggaran yang bersangkutan. pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri tidak perlu lagi dibatasi hanya untuk membiayai proyek-proyek yang menghasilkan penerimaan (revenue generating). Pengaturan prinsip-prinsip pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah dimaksudkan untuk lebih mendorong terwujudnya good governance yang mengacu pada pengalaman internasional. ketentuan pelaksanaannya masih menunggu pembahasan lebih lanjut. Pengaturan tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kebijakan fiskal dan ekonomi makro daerah. termasuk mengenai anggaran desentralisasi. yaitu bahwa untuk keperluan mendesak yang diakibatkan bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi daerah.

3 triliun atau 5. kebijakan dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH).2 triliun atau 1.0 persen terhadap PDB. maka akan diupayakan percepatan penetapan alokasi DBH perpajakan dan DBH SDA.2 triliun. yaitu mengacu kepada UU Nomor 25/1999. alokasi anggaran belanja untuk daerah ditetapkan Rp131.5 persen. (ii) meningkatkan pelayanan publik. Kebijakan dana bagi hasil mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku. 25.1 persen merupakan alokasi dana bagi hasil.7 persen terhadap PDB. turun 16. Dalam pelaksanaannya. 71. diarahkan terutama untuk (i) memperkuat koreksi ketimpangan horisontal. Demikian pula.7 persen terhadap PDB.0 persen dari tahun sebelumnya.5 persen merupakan alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian.0 persen bila dibandingkan dengan alokasi dana perimbangan dalam APBN-P tahun 2004. naik 1.5 persen dan alokasi DBH SDA 37. Dana Bagi Hasil Dana bagi hasil merupakan bagian daerah yang bersumber dari penerimaan yang dihasilkan oleh daerah (by origin).5 triliun atau 6.3 triliun atau 5. penyaluran dana bagi hasil didasarkan atas realisasi penerimaan negara yang dibagihasilkan. UU Nomor 17/2000. Dalam tahun 2005. Dari total alokasi dana perimbangan dalam tahun 2005 tersebut. dan sisanya sebesar 5. naik 1. dan (iii) meningkatkan efisiensi melalui anggaran kinerja berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. maupun penerimaan sumber daya alam. Berkaitan dengan itu. UU Nomor 18/ 2001. jumlah tersebut meningkat Rp1. Dana Perimbangan Dalam tahun 2005.2 triliun atau 1.2 persen dari tahun sebelumnya.6 persen dari tahun sebelumnya. Besarnya bagian daerah tersebut ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam tahun 2005 alokasi belanja untuk daerah ditetapkan Rp131. rasionya terhadap PDB menurun 0.5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Alokasi belanja untuk daerah tersebut sebagian besar merupakan alokasi dana perimbangan. Jumlah ini. yaitu sebesar 94. dan UU Nomor 21/2001. Secara nominal. alokasi dana perimbangan dalam tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp124.6 persen dibandingkan dengan alokasi DBH dalam APBN-P tahun 2004.5 persen. atau 1.0 persen terhadap PDB. dana alokasi umum (DAU).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam tahun anggaran 2005. baik penerimaan perpajakan. Dalam rangka peningkatan dan penyempurnaan penyaluran DBH tahun 2005.2 persen dibandingkan dengan alokasinya dalam APBN-P tahun 2004. secara nominal mengalami penurunan Rp6.5 persen merupakan alokasi dana alokasi khusus. dan 3.4 persen merupakan alokasi dana alokasi umum. dan ditujukan untuk mengoreksi ketimpangan vertikal (vertical imbalance). Alokasi dana perimbangan ditetapkan sebesar Rp124. atau 16. dan dana alokasi khusus (DAK). Jumlah ini secara nominal meningkat sebesar 1.4 persen terhadap PDB.4 persen terhadap PDB.5 triliun atau 6. Alokasi DBH ditetapkan Rp31. alokasi DBH ditetapkan Rp31. 117 . antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data.5 triliun. Alokasi DBH dalam tahun 2005 terdiri dari alokasi DBH perpajakan 62.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai dengan tahun ke-8. pertambangan umum. bagian daerah atas BPHTB ditetapkan sebesar 80 persen dari penerimaan BPHTB. dan faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan. dan DBH BPHTB Rp3. serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Penetapan bagian daerah atas DBH Pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 115 Tahun 2000. gas alam. masing-masing menerima alokasi dana bagi hasil dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar 70 persen setelah dikurangi pajak. secara nominal mengalami peningkatan Rp1. Sementara itu. baik PPh pasal 21 maupun PPh pasal 25/29 orang pribadi ditetapkan masing-masing sebesar 20 persen dari penerimaannya. sejalan dengan disahkannya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). alokasi DBH perpajakan ditetapkan Rp19.5 triliun atau 0. luas wilayah. alokasi untuk daerah dari bagi hasil minyak bumi dan gas alam ditetapkan masing-masing 15 persen dan 30 persen dari penerimaannya setelah dikurangi pajak.4 triliun. berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999. yang terdiri dari minyak bumi. DBH Sumber Daya Alam DBH sumber daya alam terdiri dari bagi hasil dari penerimaan sumber daya alam (SDA).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 DBH Perpajakan DBH Perpajakan meliputi bagi hasil atas penerimaan pajak penghasilan (PPh) pasal 21 dan PPh 25/29 orang pribadi. Penetapan bagian daerah atas DBH SDA sesuai dengan Undangundang Nomor 25 Tahun 1999 dan PP Nomor 104 Tahun 2000. dan perikanan. dan provinsi Papua sampai dengan tahun ke-25. Dalam tahun 2005. Jumlah ini.9 persen terhadap PDB. bagian daerah dari penerimaan SDA pertambangan umum.2 triliun. Alokasi DBH perpajakan ditetapkan Rp19.9 persen terhadap PDB. dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Selanjutnya. berdasarkan Undangundang Nomor 25 Tahun 1999. Namun.2 persen dibandingkan dengan alokasi DBH perpajakan dalam APBN-P tahun 2004. Alokasi DBH perpajakan meliputi DBH PPh Rp6. dan Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan. Sementara itu. dan perikanan ditetapkan masing-masing sebesar 80 persen. bagian daerah atas PBB ditetapkan sebesar 90 persen dari penerimaan PBB. bagian daerah atas PPh. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 115 Tahun 2000. yang seluruhnya juga dikembalikan lagi kepada daerah. dan 12 persen menjadi bagian kabupaten/ kota yang pembagiannya diatur melalui Keputusan Gubernur dengan mempertimbangkan jumlah penduduk. sedangkan sisanya sebesar 10 persen merupakan bagian pemerintah pusat. pajak bumi dan bangunan (PBB). DBH PBB Rp9. dengan rincian 8 persen menjadi bagian provinsi. 118 . Sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. sedangkan sisanya sebesar 20 persen merupakan bagian pemerintah pusat yang dikembalikan lagi kepada pemerintah daerah.8 triliun. kehutanan. kehutanan. atau 10.8 triliun.5 triliun atau 0. khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Provinsi Papua.

Jumlah ini secara nominal naik Rp6.5 persen dari alokasi DAU provinsi tahun 2004 dan alokasi DAU kabupaten/kota juga mengalami peningkatan 8.5 persen terhadap PDB. Dari jumlah tersebut. DBH kehutanan Rp0.5 persen dari total penerimaan dalam negeri bersih. dan (iv) tingkat pendapatan masyarakat dengan memperhatikan kelompok masyarakat miskin. atau sebesar Rp79. besarnya dana alokasi umum (DAU) ditetapkan sekurang-kurangnya 25 persen dari penerimaan dalam negeri bersih.8 triliun atau 0. DBH gas alam Rp4.8 triliun.8 triliun (4. dan DBH perikanan Rp0. penggunaan DAU harus disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah. (iii) keadaan geografi.2 persen dari total DAU dalam APBN-P tahun 2004.2 persen dari tahun sebelumnya.6 triliun.9 triliun (0.6 triliun.5 persen terhadap PDB. turun 39. DAU dihitung secara proporsional dari daerah induknya.7 triliun. Dalam tahun 2005. alokasi DBH SDA ditetapkan Rp11. Alokasi DBH SDA ditetapkan Rp11. (ii) formula sesuai dengan PP Nomor 104/2000 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 84/2001.8 persen dibandingkan dengan alokasi DBH SDA dalam APBN-P tahun 2004.7 triliun. maka besarnya DAU yang akan ditransfer ke daerah dalam tahun 2005 adalah Rp88. sedangkan pemerintah kabupaten/kota akan mendapatkan alokasi 90 persen. Namun demikian. naik 8. serta dengan memperhitungkan perkiraan alokasi DBH sebesar Rp31. Alokasi DBH SDA terdiri dari DBH minyak bumi Rp4.8 triliun atau 0. Adapun variabel kebutuhan fiskal daerah meliputi: (i) jumlah penduduk. Penggunaan DAU tahun 2005 disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan masingmasing daerah. serta (v) peningkatan akurasi data dasar perhitungan DAU. Jumlah ini.2 triliun dan alokasi DAK DR sebesar Rp0.6 triliun.1 persen terhadap PDB) atau 25. yang merupakan tugas dan kewenangan daerah. atau 8.8 triliun atau 4.1 persen terhadap PDB. Dana Alokasi Umum DAU diberikan kepada daerah dengan tujuan terutama untuk mengatasi kesenjangan horisontal (horizontal imbalance) antardaerah.3 triliun. Sesuai dengan Pasal 7 UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.6 persen terhadap PDB). Alokasi DAU ditetapkan Rp88. 119 .9 triliun (3. dan (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). (iv) bagi daerah otonom baru.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam tahun 2005. variabel kapasitas fiskal daerah terdiri dari (i) potensi industri. (ii) luas wilayah. Berdasarkan perkiraan penerimaan dalam negeri dalam tahun anggaran 2005 yang sebesar Rp379. Sementara itu. pemerintah provinsi akan memperoleh bagian 10 persen. atau sekitar 39. (iii) potensi SDM.1 persen. yang dihitung dari selisih kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal daerah. DAU bagian pemerintah provinsi tersebut naik 8.5 persen dari penerimaan dalam negeri bersih. Penetapan formula DAU 2005 sesuai dengan PP 104/2000 sebagaimana telah diubah dengan PP 84/2001. kebijakan DAU mencakup hal-hal sebagai berikut: (i) alokasi DAU ditetapkan 25.6 triliun.8 persen dari tahun sebelumnya.4 persen terhadap PDB). dan dialokasikan dalam bentuk block grant. atau sebesar Rp8. DBH pertambangan umum Rp1. Formula DAU tahun 2005 ditetapkan berdasarkan bobot daerah. (ii) potensi SDA. mengalami penurunan Rp7. (iii) tetap mempertimbangkan faktor penyeimbang (alokasi dasar) berdasarkan lumpsum dan proporsional kebutuhan belanja pegawai.3 triliun. secara nominal. yaitu penerimaan dalam negeri setelah dikurangi dengan dana bagi hasil dan DAK yang bersumber dari dana reboisasi.

5 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah ini.0 persen dan alokasi DAK Non-DR 93. kedua. Berdasarkan kriteria kebutuhan khusus tersebut. pertama. turun 62. Penurunan tersebut berkaitan dengan lebih rendahnya penerimaan dana reboisasi dalam tahun 2005 dibandingkan dengan penerimaannya dalam APBN-P tahun 2004. (iv) pengembalian pinjaman hutan tanaman industri (HTI) patungan dan BUMN yang jatuh tempo.3 triliun atau 0. Sumber pendanaannya berasal dari penerimaan dana reboisasi. (iii) tunggakan. atau 16. Alokasi DAK DR ditetapkan Rp0. dan atau (ii) kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional. yaitu sebesar 40 persen. dan ketiga. naik 16.01 persen terhadap PDB. dan (v) keberhasilan dalam penanganan kayu ilegal. yang merupakan bagian daerah penghasil.3 triliun atau 0. Alokasi DAK dalam tahun 2005 terdiri dari alokasi DAK DR 7. DAK Non-Dana Reboisasi DAK Non-DR dialokasikan untuk mendukung kegiatan yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab DAK Non-DR dialokasikan sejak tahun 2003 dan digunakan untuk membiayai kebutuhan khusus. (ii) ijin pemanfaatan kayu. kebutuhan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil. Departemen Keuangan. DAK dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhan khusus dengan memperhatikan ketersediaan dana dari APBN. DAK Dana Reboisasi Alokasi DAK ditetapkan Rp4. atau 62.0 persen. Sumber penerimaan dana reboisasi berasal dari: (i) rencana karya tahunan.2 persen dibandingkan dengan alokasi DAK dalam APBN-P tahun 2004.5 triliun. kebutuhan yang tidak dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus alokasi umum. DAK Non-DR dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendukung pelaksanaan 120 . alokasi DAK ditetapkan Rp4. Sesuai dengan UU Nomor 25 Tahun 1999 jo PP Nomor 104 Tahun 2000.2 persen terhadap PDB. terutama bagi daerah yang sebelumnya merupakan daerah penghasil. Dalam tahun 2005. alokasi DAK DR ditetapkan sebesar Rp0. Sedangkan dana reboisasi yang sebesar 60 persen merupakan bagian Pemerintah Pusat yang penggunaannya untuk rehabilitasi hutan dan lahan. Jumlah ini secara nominal menunjukkan penurunan Rp0.01 persen terhadap PDB. dan Komisi III DPR RI. Sesuai dengan namanya.5 persen dibandingkan alokasi DAK DR dalam APBN-P tahun 2004 yang sebesar Rp0. DAK DR digunakan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil.2 persen terhadap PDB.8 triliun. secara nominal mengalami peningkatan Rp0. kebutuhan khusus yang dapat dibiayai dengan DAK dana reboisasi adalah kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dana Alokasi Khusus DAK dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhan khusus dengan memperhatikan ketersediaan dana dari APBN. Kriteria kebutuhan khusus tersebut meliputi. Dalam tahun anggaran 2005.6 triliun.3 triliun atau 0. kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.3 triliun atau 0. melalui mekanisme APBN yang secara teknis dibahas antara Departemen Kehutanan. DAK dibedakan atas DAK dana reboisasi (DAK DR) dan DAK non-dana reboisasi (DAK Non-DR).2 persen dari tahun sebelumnya. seperti (i) kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumus alokasi umum.

Dana otonomi khusus disediakan khusus untuk Provinsi Papua. dan pertanian. Kriteria umum adalah dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal daerah. yang penggunaannya diarahkan untuk pendidikan dan kesehatan.32 triliun. Kegiatan yang selama ini dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi dan tugas pembantuan. daerah ke arah pemenuhan kebutuhan khusus. (iv) kelautan dan perikanan. 121 . (ii) kesehatan. bidang prasarana pemerintahan daerah Rp0. bidang kelautan dan perikanan Rp0.15 triliun.2 persen terhadap PDB. Alokasi DAK Non-DR tahun 2005 terdiri dari alokasi DAK NonDR bidang pendidikan Rp1.2 triliun. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian Dana otonomi khusus dan penyesuaian dialokasikan ke daerah sejak tahun 2002. (iii) infrastruktur jalan. Agar tidak terjadi tumpang tindih dalam hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui dana desentralisasi dan kegiatan yang dibiayai melalui program-program belanja pemerintah pusat.0 triliun atau 0. naik 42. Peningkatan ini karena adanya realokasi dari dana-dana dekonsentrasi ke DAK. tidak termasuk sisa anggaran lebih (SAL). yang penggunaannya diarahkan terutama untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. Dana otonomi khusus disediakan untuk Provinsi Papua. atau sekitar 42. kelautan dan perikanan. dalam tahun 2005 alokasi DAK Non-DR ditetapkan sebesar Rp4. secara bertahap pendanaan kegiatan tersebut dialihkan menjadi dana desentralisasi melalui alokasi DAK Non-DR. Daerah penerima alokasi DAK Non-DR mempunyai kewajiban untuk menyediakan dana pendamping sekurangkurangnya 10 persen dari nilai DAK yang diterimanya.62 triliun. irigasi. infrastruktur jalan.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 kegiatan yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab daerah ke arah pemenuhan kebutuhan khusus.9 persen dari alokasi DAK Non-DR dalam APBN-P tahun 2004 sebesar Rp2. Sementara itu. Alokasi DAK Non-DR ditetapkan Rp4.22 triliun. Berkaitan dengan itu. bidang kesehatan Rp0. Jumlah ini secara nominal menunjukkan peningkatan Rp1. sesuai dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan. dan kriteria teknis. karakteristik daerah. prasarana pemerintahan daerah. bidang infrastruktur Rp1. DAK Non-DR tahun 2005 dilakukan mencakup bidang-bidang pendidikan.53 triliun.0 triliun atau 0. Dalam pelaksanaannya. yaitu setara 2 (dua) persen dari alokasi DAU nasional.17 triliun. yang didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan daerah. irigasi. Selanjutnya. yang pada dasarnya mencakup bidang-bidang (i) pendidikan. dan (vi) pertanian. kriteria khusus. seperti UU otonomi khusus bagi NAD dan Papua serta Inpres percepatan pemulihan daerah di wilayah provinsi Maluku dan Maluku Utara sebagai daerah pascakonflik. dan air bersih perdesaan. kriteria khusus dalam pengalokasian DAK Non-DR tahun 2005 adalah dengan memperhatikan peraturan perundang-perundangan yang berlaku. dan air bersih perdesaan. namun kegiatan tersebut sebenarnya merupakan kewenangan dan tanggung jawab daerah. kesehatan. pengalokasian DAK Non-DR tahun 2005 dilakukan dengan menggunakan kriteria umum. (v) prasarana pemerintahan daerah.2 persen terhadap PDB. maka dalam tahun 2005 akan dilakukan pengalihan sebagian kegiatan. dengan belanja PNS daerah (fiscal netto) pada APBD tahun 2003.9 persen dari tahun sebelumnya. kriteria teknis ditetapkan oleh menteri teknis dengan memperhatikan berbagai variabel yang berkaitan dengan bidang-bidang yang akan dibiayai dengan DAK Non-DR tahun 2005.8 triliun. dan bidang pertanian Rp0.

yang terdiri atas dana otonomi khusus sebesar Rp1. esn ehdp PDB. rlu a a 0 3p r e t r a a tu . Jumlah ini. berarti Rp8. misalnya.7. Alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian d t t p a R 7 2t i i n ieakn p.4 triliun. Berdasarkan anggaran pendapatan negara dan hibah sebesar Rp380.8 triliun atau setara dengan 2 persen dari DAU tahun 2005.65 persen (Lihat Boks 3: Perubahan Dasar Penghitungan PDB Indonesia dan Dampaknya).3 persen terhadap PDB). Dalam tahun 2005.3 persen terhadap PDB). Dana penyesuaian murni dialokasikan sebagai pelaksanaan kebijakan agar penerapan formula DAU tidak menimbulkan adanya daerah yang memperoleh DAU lebih kecil dari DAU tahun sebelumnya ditambah dana penyesuaian murni tahun sebelumnya (hold harmless). Pembiayaan Anggaran M s i u b s r nd f s ta g a a d l m A B 2 0 l b hr n a d r s s r n ekpn eaa eii ngrn aa PN 05 ei edh ai aaa dfstagaa dlmAB. naik 4.2 persen terhadap PDB). atau 0.8 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan defisit anggaran dalam APBN-P 2004 sebesar Rp26. Dana penyesuaian ad-hoc hanya bersifat sebagai bantuan. maka defisit anggaran dalam APBN tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp17.3 persen dari tahun sebelumnya. Keseimbangan Umum dan Defisit APBN 2005 Defisit APBN 2005 ditetapkan sebesar 0.9 triliun atau 33. termasuk PNS di daerah.5 triliun. mencerminkan besarnya kesungguhan dan komitmen Pemerintah dalam melanjutkan program dan langkah-langkah konsolidasi fiskal (fiscal consolidation) untuk memantapkan upaya peningkatan ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability). Dana penyesuaian murni ini secara bertahap diupayakan pengurangannya untuk mempercepat tujuan DAU sebagai alat pemerataan kemampuan keuangan antardaerah. atau 4.8 persen terhadap PDB. dan dana penyesuaian sebesar Rp5. Jumlah ini secara nominal menunjukkan kenaikan Rp0.2 triliun (0. Perbandingan anggaran belanja untuk daerah dalam APBN 2004 dengan RAPBN 2005 dapat diikuti pada Tabel IV. Sementara itu.3 triliun.20. bahwa jika mempergunakan PDB dengan dasar perhitungan tahun 2000. Perlu dicatat.4 triliun (17. maka rasio defisit anggaran menjadi 0.aa ttp tnagnyn dhdp d eii ngrn aa PNP 04 kn eai atna ag iaai i sisi pembiayaan tidaklah semakin ringan.4 persen terhadap PDB).8 persen terhadap PDB.a a a a t t p ia ay iuukn nu euui eii PN eaamt. dana otonomi khusus dan penyesuaian ditetapkan sebesar Rp7. aa eei a tn ur eei ag kn au ep aa au 05 122 .3 triliun (1.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dana penyesuaian yang dialokasikan ke daerah mencakup dana penyesuaian murni dan ad-hoc. dan tidak mencakup seluruh kebutuhan pendanaan pos anggaran yang bersangkutan. Pembiayaan yang perlu disediakan t d kh n ad b t h a u t km n t p d f s tA B s m t .8 triliun (18. dan anggaran belanja negara sebesar Rp397. dana penyesuaian ad-hoc dialokasikan apabila ada kebijakan Pemerintah Pusat yang berpengaruh terhadap pos anggaran tertentu dalam belanja daerah. Penurunan besaran defisit dan rasionya terhadap PDB tahun 2005 tersebut.3 persen bila dibandingkan dengan alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian dalam APBN-P tahun sebelumnya. kn eai juga diperlukan untuk memenuhi kewajiban pembayaran cicilan pokok utang dlmngr dnuagla ngr yn aa jthtmodlmthn20. dalam tahun 2005 dana penyesuaian ad-hoc dialokasikan untuk mengantisipasi adanya kebijakan pemberian gaji ke-13 bagi PNS.

3 0.3 triliun (1. M iny ak B um i ii.1 8.6 9. 9 0. B ea P e ro leha n H ak at as Tan ah da n B an gu nan 2. jumlah seluruh kebutuhan pembiayaan ditetapkan mencapai Rp86.8 persen terhadap PDB. 7 7. 3 0. 9 1. D a n a B a g i H a sil 1. 3 31 . 2 1. 0 0. Jumlah ini. dan penyertaan modal ngr R 10tiin eaa p . 4 0. cicilan pokok utang luar negeri dan penyertaan modal negara (SMF). 5 0. turun Rp8. 3 6. 8 6. 4 0. 9 79 .5 6. D an a O to no m i K hu s us b. 0 4. 7 1. 5 13 1. pbl iadnkn dengan kebutuhan pembiayaan untuk memenuhi seluruh kewajiban pembayaran pokok utang. 31 4. 0 % th d P DB 6. 0 0.8 persen terhadap PDB).9 4. rlu tu 01 esn ai oa euua ebaan APBN-P 2004 sebesar Rp95. Pokok dan pembelian kembali SUN Rp20. K ab up ate n c. 6 0. 1 0. Kebutuhan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok utang Rp67.9 persen terhadap PDB. 8 5. 2 82 . 0 1) Kebutuhan pembiayaan 2 0 R 8 . 4 9. 6 88 . P erik a nan b .5 persen terhadap PDB). G a s A lam iii. D a n a A lo ka si U m u m 1.9 triliun atau 33. 5 0. 7 0. 2 0. 8 2. 5 % th d P DB 5.0 persen terhadap PDB).1 triliun atau 3.8 8. 9 0. 6 0. P a ja k i. Jumlah yang diperlukan untuk menutup defisit ini. 1 ) Pe rb e d a a n s a tu a n g ka d i b e la ka n g ko ma te rh a d a p a n g ka p e n ju mla h a n a d a la h ka re n a p e mb u la ta n Su mb e r : De p a r te me n Ke u a n g a n RI 123 .8 4.2 19 . 05 p61 rlu 39 persen terhadap PDB). 2 6. J m a t r e u t r i i d r ( pembayaran pokok yang jatuh tempo dan ulh esbt edr ai i ) pembelian kembali SUN Rp20. dan (i) penyertaan modal negara Rp1.1 persen terhadap PDB).7 AN G G AR AN B E L AN JA U N T U K D AE R AH . P ro pin s i 2.4 triliun (0. b. 1 0. t i i n( . 2 0. Pembiayaan dimaksud diperlukan untuk: a Menutup defisit anggaran Rp17. Memenuhi kewajiban pembayaran pokok pinjaman (termasuk pembelian kembali) Surat Utang Negara (SUN). oo tn ur negeri Rp46. D an a R eb ois a s i 2.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam APBN 2005. 2 1.4 17 .4 triliun (0. D an a P en y es ua ian J u m l a h A P B N -P 12 3. 8 3. t i i n ( . 9 0. 2 0. 1 0. S u m b e r D a y a A la m i. N on -d ana R e bois as i II . 3 0. 0 0.9 triliun (1. P ajak B um i d an B an gu nan iii. 3 0. 0 0.3 persen terhadap PDB). 4 3. 6 1. P ajak P en gha s ila n ii. baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri pada APBN-P 2004 sebesar Rp69.1 ii persen terhadap PDB). AP B N -P 2004 d an AP B N 2005 (triliu n ru p iah ) 20 04 U r a i a n I. 5 0. 0 7. T ab e l IV. 8 3. 1 0.J m a i i a a i ad b n i g a p87 rlu 31 esn ehdp D) ulh n. yang secara keseluruhan berjumlah R 6 . 8 9. 7 0. 4 3. 0 4. D a n a O to n o m i K h u su s d a n P e n y e su a i a n a. 0 0. () p m a a a c c l n p k k u a g l a n g r R 4 .5 triliun (3. 2 0. 1 0. 2 13 0. 6 5. 2 11 .8 triliun atau 4. 2 0. K eh ut ana n v.7 4. D a n a A lo ka si K h u su s 1.7 triliun (3. berarti mengalami penurunan Rp0. 2 0. rlu. 4 0. 5 20 05 AP BN 12 4. 1 0.9 t i i n P k ku a gl a rlu.0 triliun (0. P erta m b an gan U m um iv. 3 0. 2 1. secara n m n lt r nR 9 7t i i na a 1 . 1 37 . p r e d r t t lk b t h np m i y a oia uu p. t i i n( . p r e i ebyrn iia oo tn ur eei p68 rlu 21 esn i terhadap PDB). Kebutuhan untuk menutup defisit Rp17. 1 0.8 persen bila dibandingkan dengan kebutuhan pembiayaan defisit anggaran dalam APBN-P 2004 sebesar Rp26. 2 73 . 7 1. 7 4. 4 0.9 3.8 triliun. .2 persen. p r e t r a a P B . 1 0. 2 19 .8 triliun atau 1.8 persen terhadap PDB). D a n a P e ri m b a n g a n a . 5 0.

124 . ADB) dalam kerangka pembaharuan tata kelola BUMN (State Owned Enterprises Governance Loan).1 triliun (3. antara lain rekening dana investasi (RDI). Jumlah ini berasal dari : (i) hasil privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan Rp7.6 triliun (sekitar US$1.0 triliun.2 persen terhadap PDB).9 triliun atau 22. turun Rp14. Dalam hal penerbitan SUN. Privatisasi BUMN yang akan dilakukan dalam tahun 2005 pada dasarnya merupakan kelanjutan dari program divestasi/pelepasan saham Pemerintah di BUMN pada tahun sebelumnya. pembiayaan yang bersumber dari perbankan dalam negeri ditetapkan mencapai Rp9. Dari jumlah tersebut.4 persen terhadap PDB. dan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pelaksanaan program moneter.6 triliun (sekitar US$3. sesuai dengan kesepakatan Pemerintah dan DPR-RI pada Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN tahun 2005.0 triliun (0. program pembaharuan tatakelola dan keuangan pemerintah daerah (Local Government Finance and Governance Reform Pembiayaan non perbankan dalam negeri Rp50.1 persen terhadap PDB).2 persen terhadap PDB.5 triliun (2.6 triliun atau 19. Sebagian besar pinjaman program tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari pinjaman Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank. dan pinjaman proyek Rp18.4 persen terhadap PDB).6 triliun dan pinjaman proyek Rp18. berarti lebih rendah Rp14.0 persen terhadap PDB).5 triliun (2.(Lihat Boks 12: Pengelolaan Surat Utang Negara). dan rekening non-RDI.3 persen terhadap PDB).7 persen terhadap PDB).6 persen dari penarikan pinjaman luar negeri (bruto) dalam APBN-P 2004 sebesar Rp21. dan (ii) penerbitan SUN Rp43.2 persen terhadap PDB). Rencana penarikan pinjaman luar negeri Rp26.4 persen terhadap PDB.5 triliun (2.0 triliun. Pembiayaan dalam negeri Rp59.0 miliar) atau 0. terdiri dari pinjaman program Rp8.1 miliar) atau 1. pembiayaan anggaran yang berasal dari sumber-sumber nonperbankan dalam negeri (bruto) dalam APBN 2005 ditetapkan mencapai Rp50. Jumlah ini.7 persen terhadap PDB). Sementara itu.7 persen dari pembiayaan dalam negeri pada APBN-P 2004 sebesar Rp74. naik Rp4.5 triliun. Pembiayaan perbankan dalam negeri Rp9.5 triliun atau 2. Pembiayaan anggaran yang berasal dari sumber-sumber pinjaman luar negeri (bruto) pada tahun 2005 ditetapkan mencapai Rp26.0 triliun atau 0. Pemerintah diberikan fleksibilitas dalam hal jangka waktu maupun denominasi mata uangnya dengan mempertimbangkan faktor kondisi pasar.0 triliun (2. terdiri dari privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan Rp7.3 persen terhadap PDB). Pemanfaatan dana dari berbagai pos tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan anggaran. Pembiayaan perbankan dalam negeri ini berasal dari penggunaan saldo rekening pemerintah yang disimpan di Bank Indonesia.5 triliun (0. Jumlah ini. Penarikan pinjaman luar negeri tahun 2005 tersebut terdiri dari pinjaman program Rp8. penjualan aset eks BPPN yang sekarang dikelola oleh PT (Persero) Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) akan diupayakan secara optimal untuk memperoleh hasil dan harga yang terbaik sesuai dengan kondisi pasar. dan kebutuhan pembiayaan. Sementara itu. Dalam APBN 2005.7 triliun (1. dan SUN Rp43.6 triliun (1.9 triliun (1. pembiayaan anggaran yang bersumber dari dalam negeri ditetapkan mencapai Rp59. Jumlah ini.9 triliun atau 62.3 persen bila dibandingkan dengan total pembiayaan perbankan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN-P 2004 sebesar Rp23.1 miliar) atau 0.7 persen terhadap PDB).8 persen terhadap PDB.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Kebutuhan pembiayaan tersebut akan diupayakan dapat dipenuhi dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri.3 persen terhadap PDB.0 triliun (sekitar US$2. biaya. pengelolaan resiko.

Secara umum. Obligasi Negara lindung nilai (hedge bonds) sebesar Rp2. Dengan demikian.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 12 : Pengelolaan Surat Utang Negara ilai nominal Surat Utang Negara per 29 Desember 2004 yang telah diterbitkan adalah sebesar Rp621. Surat Utang Negara dalam valuta asing sebesar US$1. Risiko-risiko yang dihadapi dalam pengelolaan Surat Utang Negara.28 triliun. 2.0 miliar. dan (2) pelemahan kurs Rupiah terhadap US dolar sebesar Rp100.18 triliun dan US$1. Obligasi Negara kepada Bank Indonesia sebesar Rp219.57 triliun. sehingga risiko beban jangka pendek maupun jangka panjang yang timbul dapat dikelola secara optimal. Obligasi Negara dengan tingkat bunga mengambang (variable rate bonds) sebesar Rp220. seiring dengan semakin menurunnya tingkat bunga SBI sebagai hasil upaya kebijakan makro ekonomi Pemerintah bersama Bank Indonesia. Di dalam portofolio Surat Utang Negara terkandung aspek biaya dan risiko. lebih ditujukan dalam kerangka untuk mengurangi refinancing risk. yang meliputi kegiatan penerbitan (issuance).00 akan mengakibatkan potensi penambahan beban bunga sebesar Rp9. risiko yang dihadapi Pemerintah untuk membiayai kewajiban pokok yang jatuh tempo dari hasil penerbitan baru dengan biaya yang mahal. Surat Utang Negara yang diterbitkan dalam mata uang Rupiah: 1.71 triliun. permasalahan beban bunga utang yang cukup besar di dalam APBN secara berangsur telah diupayakan untuk terus menurun.17 triliun. yaitu potensi penambahan beban bunga akibat kenaikan suku bunga. dan (3) risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) yaitu.73 triliun. yaitu potensi penambahan beban bunga akibat melemahnya nilai tukar Rupiah. adalah: (1) risiko tingkat bunga (interest rate risk). tujuan pengelolaan Surat Utang Negara adalah untuk meminimalkan biaya bunga dalam jangka panjang pada tingkat risiko yang dapat dikendalikan. Pemerintah telah melaksanakan program asset-bond swap pada tahun N 125 . (2) risiko nilai tukar (currency risk).69 miliar. kegiatan pengelolaan Surat Utang Negara. Selain itu. yaitu (1) kenaikan tingkat bunga sebesar 1% akan mengakibatkan potensi penambahan beban bunga sebesar Rp2. dan penukaran (switching). antara lain. Obligasi Negara dengan tingkat bunga tetap (fixed rate bonds) sebesar Rp178. Dalam rangka mengurangi jumlah Surat Utang Negara yang diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi perbankan. Interest rate risk dan currency risk dalam portofolio Surat Utang Negara dapat dilihat melalui analisa sensitivitas berikut. 3. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan Surat Utang Negara saat ini adalah refinancing risk sebagai akibat terlalu terkonsentrasinya jatuh tempo Surat Utang Negara dalam periode 2004 – 2009. dengan perincian sebagai berikut: A. pembelian kembali (buyback). B.0 miliar. Refinancing risk ini muncul sebagai akibat terkonsentrasinya struktur jatuh tempo Surat Utang Negara dalam periode tertentu dan terbatasnya daya serap pasar dalam periode tersebut. 4. Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter sangat diperlukan agar penerbitan Surat Utang Negara dapat tepat waktu.

IBRD). posisi utang dalam negeri diperkirakan juga akan mengalami penurunan. reksadana. yaitu dari 31. Pada hakekatnya. Dengan demikian.9 persen terhadap PDB pada tahun 2005. dan (6) menciptakan kerangka hukum yang dapat mewujudkan pasar yang transparan dan menjamin terlindunginya kepentingan pemodal (investor). Selanjutnya dalam Tabel IV. setelmen.0 persen terhadap PDB pada tahun 2005. (4) memperluas basis investor melalui kerjasama dengan pemodal institusional.61 triliun. yang pada gilirannya dapat mengurangi beban bunga utang di dalam APBN dan refinancing risk. dan perusahaan asuransi. Program).8 persen terhadap PDB pada tahun 2004 menjadi 29. Pengelolaan Surat Utang Negara dapat dilakukan secara efektif dan optimal apabila didukung oleh pasar surat utang negara yang aktif dan likuid. Pinjaman tersebut bersumber dari Bank Dunia (International Bank for Reconstruction and Development. Rincian kebutuhan dan sumber pembiayaan dalam APBNP 2004 dan APBN 2005 dapat dilihat pada Tabel IV. Rasio utang terhadap PDB mengalami penurunan. secara keseluruhan posisi (stok) utang pemerintah diperkirakan akan menurun dari 62. Dengan perhitungan PDB atas dasar tahun 126 . maka posisi utang luar negeri pemerintah diperkirakan akan menurun dari 30. Inisiatif untuk mengembangkan infrastruktur pasar surat utang negara yang likuid meliputi. dan dukungan terhadap pembaharuan pengawasan keuangan negara (Support for State Audit Reform). penarikan pinjaman proyek diharapkan terutama dari pinjaman yang telah disepakati dengan donor.9 persen terhadap PDB pada tahun 2005. dan Fasilitas Kredit Ekspor (FKE). Oleh karena itu.4 persen terhadap PDB pada tahun 2004 menjadi 54. yaitu program penjualan aset BPPN yang pembayarannya menggunakan Surat Utang Negara yang jatuh tempo pada tahun 2004 dan 2005.9 dapat diikuti rincian pembiayaan defisit anggaran APBN-P 2004 dan APBN 2005 dalam format yang sesuai dengan Undangundang APBN. pasar surat utang negara yang likuid dapat memberikan peluang bagi Pemerintah untuk meminimalkan biaya penerbitan dan mengelola risiko Surat Utang Negara secara lebih optimal.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 2002 dan 2003. (5) meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem kliring. antara lain dana pensiun.8. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank.9 persen pada tahun 2005. Selanjutnya. dan registri. dan mempertimbangkan tidak adanya lagi penjadwalan ulang (rescheduling) utang luar negeri pada tahun 2004 dan 2005. (2) membangun dan mengembangkan pasar repo (repurchase agreement).7 persen terhadap PDB pada tahun 2004 menjadi 25. ADB).4 persen pada tahun 2004 menjadi 54. upaya pengembangan infrastruktur pasar surat utang negara merupakan bagian penting yang terintegrasi di dalam strategi pengelolaan Surat Utang Negara. Demikian pula. (3) menerbitkan Surat Utang Negara yang menjadi acuan. Jumlah Surat Utang Negara yang telah dilunasi dalam program ini adalah sebesar Rp11. Dengan berbagai perkembangan tersebut. yakni 62. yang direncanakan akan dapat dicairkan dalam tahun 2005. Program ini dilakukan untuk menurunkan jumlah Surat Utang Negara. antara lain: (1) menyediakan harga acuan melalui pengembangan pasar antar pedagang surat utang negara. Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Pinja m a n Lua r Ne ge ri (Bruto) a.3 69.4 67.3 1.2 21.2 0.3 2005 % thd APBN PDB 37.0 86.4 1.8 3.2 1.6 18.6 8.5 0. Pinjaman Program b.1 17.8 1.8 74.6 18.7 0.3 1. Luar Negeri a.6 1) 2005 % thd PDB 4.9 PEM BIAYAAN DEFISIT ANG G ARAN APBN-P 2004 dan APBN 2005 (triliun rupiah) Ura ia n I PEM BIAYAAN DALAM NEGERI 1.1 18. Pinjam an Program b.1 0.9 50.5 1.3 -1.4 1.6 -20.3 2.8 3.2 1.1 59.8 KEBUTUHAN DAN SUMBER PEMBIAYAAN APBN-P 2004 dan APBN 2005 (triliun rupiah) 2004 Uraian APBN-P 95. Non Perbankan Dalam Negeri ii.9 26. Pe rba nka n Da la m Ne ge ri 2.0 28.2 26.1 23.1 23.0 4.7 1. Pemerintah) b. Penyertaan Modal Negara (SMF) B Sumber Pembiayaan i.6 -45.8 -2.4 0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Tabel IV. Pembayaran Pokok Utang iii.4 2. Dalam Negeri a.7 0.5 1.9 APBN 86.5 26.1 0.5 26.6 8.0 % thd PDB 3. Kebutuhan Pembiayaan i.8 21.0 95. Non P e rba nka n Da la m Ne ge ri II PEM BIAYAAN LUAR NEGERI (Ne to) 1.2 2.3 -0.1 0.8 A.0 -46.3 3.6 9.2 0.5 9.8 26.1 -23.9 2.0 3.1 18. Pe m ba ya ra n Cicila n Pokok Uta ng LN JUM L AH 1) 2004 % thd APBN-P PDB 50. Pinjaman Proyek 1) Perbedaan satu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI T abe l IV.2 0.4 0.8 1) Perbedaan s atu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI 127 .9 -2.1 0.8 17.7 3. Pinjam an Proyek 2.5 0. Perbankan Dalam Negeri (Rek.9 1.7 1.9 0.7 3. Defisit APBN ii.0 50.2 0.

Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 2000.2 PROYEKSI RASIO UTANG PEMERINTAH TERHADAP PDB 2002-2005 80 Persentase thd PDB 60 40 20 0 2002 2003 2004 2005 Tahun Anggaran Utang Pemerintah Utang Dalam Negeri Utang Luar Negeri 128 .2. maka rasio utang pemerintah terhadap PDB adalah 47 persen (Lihat Boks 3: Perubahan Dasar Penghitungan PDB Indonesia dan Dampaknya). Grafik IV. Rasio utang pemerintah terhadap PDB dari tahun 2002 dan proyeksinya pada tahun 2004 dan tahun 2005 dapat diikuti pada Grafik IV.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful