Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

BAB IV

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2005
Pendahuluan
APBN tahun 2005 merupakan APBN pertama yang disusun berdasarkan mekanisme pembahasan dan format baru sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Karena itu, penyusunan APBN 2005 dilakukan dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Kerangka Ekonomi Makro, dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal tahun 2005 sebagaimana telah dibahas bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2005.
APBN 2005 merupakan APBN masa transisi dari pemerintah lama ke pemerintah baru.

Sebagai APBN transisi, APBN 2005 disusun sedemikian rupa, sehingga mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan untuk menjamin terjaganya konsistensi arah dan kesinambungan proses konsolidasi fiskal, dengan menyediakan ruang gerak yang cukup bagi inisiatif baru oleh Pemerintah dan DPR hasil Pemilu 2004, di wilayah-wilayah kebijakan yang strategis, seperti kebijakan belanja gaji bagi PNS/TNI/Polri dan pensiunan, belanja subsidi BBM dan non-BBM, penetapan prioritas alokasi anggaran, serta alternatif dan komposisi sumber-sumber pembiayaan defisit. Dengan kerangka kebijakan demikian, tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan kebijakan fiskal pada APBN 2005 masih cukup berat dan semakin kompleks. Tantangan pokoknya tidak hanya terfokus pada upaya mengendalikan defisit anggaran semata, melainkan bergeser kepada masalah pemenuhan kebutuhan pembiayaan dibanding dengan sumber-sumber pembiayaan anggaran yang terbatas (financing gap). Hal ini disebabkan terutama oleh membengkaknya beban kewajiban pembayaran pokok utang, baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri dalam jumlah yang sangat besar. Kewajiban tersebut harus dipenuhi seluruhnya dan secara tepat waktu, oleh karena sebagai konsekuensi dari diakhirinya program kerjasama dengan IMF, sejak tahun 2004 Pemerintah tidak lagi dapat memanfaatkan fasilitas penjadwalan ulang (rescheduling) utang luar negeri melalui forum Paris Club (PC). Kondisi tersebut mengisyaratkan perlunya strategi kebijakan fiskal tahun 2005 tetap dijaga agar konsisten dalam mendorong upaya peningkatan penerimaan negara, mengendalikan dan mengefisienkan belanja negara, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan anggaran. Strategi ini memerlukan langkah-langkah pembaharuan (reformasi) yang berkelanjutan pada berbagai jenis instrumen fiskal, yang meliputi (i) bidang

Tantangan yang dihadapi dalam APBN 2005.

Strategi kebijakan fiskal tahun 2005 harus konsisten.

74

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), (ii) penganggaran belanja negara, (iii) pengelolaan utang dan optimalisasi pembiayaan anggaran, serta (iv) penataan kelembagaan keuangan negara. Reformasi perpajakan, yang diharapkan dapat diterapkan pada tahun 2005, akan mencakup hal-hal yang berkaitan dengan objek dan subjek pajak, tarif dan klasifikasi atau strata tarif, serta prosedur dan administrasi perpajakan. Reformasi tersebut akan dilakukan melalui perubahan Undang-undang Pajak Penghasilan, Undang-undang PPN dan PPnBM, serta Undang-undang Ketentuan Umum Perpajakan. Langkah-langkah pembaharuan yang akan dilakukan tersebut diperkirakan baru akan menuai hasil pada tahun 2006. Dalam jangka pendek, pembaharuan kebijakan perpajakan tersebut justru diperkirakan akan menyebabkan terjadinya potensi kehilangan (potential loss) pada penerimaan perpajakan. Untuk mengkompensasikan penurunan penerimaan pajak tersebut, Pemerintah akan mengintensifkan pelaksanaan langkah-langkah modernisasi dan reformasi administrasi perpajakan, disertai dengan upaya-upaya khusus lainnya (extra effort), terutama melalui intensifikasi pemungutan dan peningkatan pelayanan. Sementara itu, kebijakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) akan lebih dititikberatkan pada upaya-upaya perbaikan sistem administrasi dan kebijakan dalam rangka meningkatkan kontribusi penerimaan SDA, bagian pemerintah atas laba BUMN, dan PNBP lainnya. Di bidang belanja negara, kebijakan tahun 2005 lebih diarahkan pada langkah-langkah peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan belanja negara, serta penyempurnaan manajemen belanja negara, dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara secara bertahap. Langkah-langkah pembaharuan tersebut antara lain meliputi penganggaran terpadu (unified budget), anggaran berbasis kinerja, kerangka pengeluaran berjangka menengah, dan standar akuntansi pemerintah. Kebijakan belanja pegawai diarahkan untuk memperbaiki pendapatan aparatur negara, terbatas mempertahankan pendapatan nominal, sedangkan kebijakan belanja barang diarahkan untuk mempertahankan fungsi pelayanan publik setiap instansi pemerintah, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengadaan barang dan jasa, perjalanan dinas, dan pemeliharaan aset negara. Sementara itu, kebijakan belanja modal diarahkan pada kegiatan investasi sarana dan prasarana pembangunan dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, serta modal fisik lainnya. Pada belanja daerah, kebijakan umum tahun 2005 diarahkan antara lain untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat; memperkuat koreksi kesenjangan fiskal antardaerah (horizontal imbalance); memperkecil kesenjangan pelayanan publik antardaerah (public service provision gap) terutama melalui penyusunan standar pelayanan minimum; mempertahankan kebijakan fiskal khususnya untuk mendukung kebijakan makro ekonomi; serta meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali pendapatan asli daerah (taxing power).
Cakupan dalam reformasi perpajakan.

Titik berat reformasi penerimaan bukan pajak.

Kebijakan umum belanja negara dalam tahun 2005.

Kebijakan belanja pegawai.

Kebijakan umum belanja daerah tahun 2005.

75

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

Kebijakan umum DBH, DAU, dan DAK tahun 2005.

Dalam kaitan ini, kebijakan dana bagi hasil (DBH) diarahkan untuk mempercepat penetapan alokasi DBH pajak dan bukan pajak (SDA) melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data. Sementara itu, kebijakan dana alokasi umum (DAU) tetap mengacu pada konsep kesenjangan fiskal (fiscal gap) untuk mengatasi ketidakseimbangan antardaerah, dengan formula sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan, serta tetap mempertimbangkan faktor penyeimbang (alokasi dasar) berdasarkan kebutuhan belanja pegawai. Sesuai dengan kesepakatan Pemerintah dengan DPR-RI pada Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN tahun 2005, proporsi DAU tahun 2005 ditetapkan sebesar 25,5 persen dari penerimaan dalam negeri neto. Di lain pihak, alokasi anggaran untuk Dana Alokasi Khusus (DAK) non-Dana Reboisasi ditingkatkan, dengan prioritas pada bidang-bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan, prasarana pemerintahan daerah, serta bidang pertanian. Dengan berbagai langkah kebijakan di atas, dalam APBN 2005, pendapatan negara dan hibah ditetapkan sebesar Rp380,4 triliun atau 17,4 persen terhadap PDB, sedangkan belanja negara ditetapkan sebesar Rp397,8 triliun atau 18,2 persen terhadap PDB. Dengan demikian, akan terjadi defisit anggaran sebesar Rp17,4 triliun atau 0,8 persen terhadap PDB.

Upaya yang dilakukan dalam mobilisasi sumber-sumber pembiayaan.

Dalam rangka menutup defisit anggaran tersebut, akan dilakukan langkah-langkah mobilisasi sumber-sumber pembiayaan melalui: (i) penggunaan sebagian dana simpanan pemerintah di BI; (ii) penjualan aset eks BPPN yang sekarang dikelola oleh PT PPA (Perusahaan Pengelola Aset) dan melanjutkan kebijakan privatisasi BUMN secara optimal; (iii) penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dengan mempertimbangkan program moneter dan pengelolaan utang secara terpadu; (iv) penarikan pinjaman luar negeri, baik pinjaman proyek maupun pinjaman program secara selektif, seraya memperbaiki ketentuan dan persyaratan pinjaman, serta mengupayakan konversi utang. Ringkasan APBN-P 2004 dan APBN 2005 dapat diikuti pada Tabel IV.1. dan Grafik IV.1.

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH
Pendapatan negara dan hibah tahun 2005 ditetapkan Rp380,4 triliun.

Pendapatan negara dan hibah dalam APBN tahun 2005 ditetapkan Rp380,4 triliun, atau 17,4 persen terhadap PDB. Jumlah ini, berarti menurun Rp23,4 triliun atau 5,8 persen jika dibandingkan dengan anggaran pendapatan negara dan hibah yang ditetapkan dalam APBN-P tahun 2004. Dari jumlah tersebut, 78,3 persen bersumber dari penerimaan perpajakan, dan 21,5 persen bersumber dari penerimaan negara bukan pajak, sedangkan sisanya 0,2 persen berasal dari hibah. Kontribusi penerimaan sektor perpajakan yang semakin meningkat tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah tetap konsisten untuk terus menggali sumber-sumber pendanaan dari dalam negeri dalam rangka mewujudkan kemandirian APBN.

76

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

T a b e l IV .1 R IN G K A S A N A P B N -P 2 0 0 4 D A N A P B N 2 0 0 5 (triliu n ru p ia h ) 2004 U r a ia n A . P e n d a p a ta n N e g a ra d a n H ib a h I. P e ne rim a a n D a la m N e g e ri 1 . P e ne rim a a n P e rp a ja k a n 2 . P e ne rim a a n N e g a ra B uk a n P a ja k II. H ib a h B . B e la n ja N e g a ra I. B e la nja P e m e rinta h P us a t II. B e la nja D a e ra h 1 . D a na P e rim b a ng a n 2 . D a na O to no m i K hus us d a n P e nye s ua ia n C . S u rp lu s /D e fis it A n g g a ra n (A - B ) D . P e m b ia y a a n (D .I + D .II) I. P e m b ia ya a n D a la m N e g e ri II. P e m b ia ya a n L ua r N e g e ri (ne to )
S um b er : D ep art em e n K eua ng an R I
1)

2005 % th d PDB 2 0 ,3 2 0 ,3 1 4 ,0 6 ,2 0 ,0 2 1 ,6 1 5 ,1 6 ,5 6 ,2 0 ,3 -1 ,3 1 ,3 2 ,5 -1 ,2 AP B N 3 8 0 ,4 3 7 9 ,6 2 9 7 ,8 8 1 ,8 0 ,8 3 9 7 ,8 2 6 6 ,2 1 3 1 ,5 1 2 4 ,3 7 ,2 -1 7 ,4 1 7 ,4 3 7 ,6 -2 0 ,2 % th d PDB 1 7 ,4 1 7 ,3 1 3 ,6 3 ,7 0 ,0 1 8 ,2 1 2 ,2 6 ,0 5 ,7 0 ,3 -0 ,8 0 ,8 1 ,7 -0 ,9

A P B N -P 4 0 3 ,8 4 0 3 ,0 2 7 9 ,2 1 2 3 ,8 0 ,7 4 3 0 ,0 3 0 0 ,0 1 3 0 ,0 1 2 3 ,1 6 ,9 -2 6 ,3 2 6 ,3 5 0 ,1 -2 3 ,8

1) P erbe daa n s a t u digit d i be la k a ng k o m a t erh ada p an gk a pen ju m la ha n ada la h k a rena p em b ulat an

Grafik IV.1 RINGKASAN PERKEMBANGAN APBN, 2002 - 2005 25
Persentase terhadap PDB

20 15 10 5 0 -5 2002 2003 2004 Tahun Anggaran 2005

Pendapatan Negara dan Hibah Surplus / Defisit Pembiayaan Luar Negeri

Belanja Negara Pembiayaan Dalam Negeri

Penerimaan Perpajakan
Dalam APBN 2005, penerimaan perpajakan direncanakan Rp297,8 triliun, atau 13,6 persen terhadap PDB dengan dasar perhitungan tahun 1993*). Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan perpajakan dalam APBN-P 2004, penerimaan perpajakan tahun 2005 tersebut meningkat Rp18,6 triliun atau 6,7 persen. Kenaikan ini relatif moderat, baik dilihat dari nilai nominal maupun persentasenya terhadap PDB, bila dibandingkan dengan
___________ *) Lihat boks 3 untuk perbandingan angka rasio perpajakan (tax ratio) dengan menggunakan PDB atas dasar tahun perhitungan 1993 dan 2000 Sasaran penerimaan perpajakan tahun 2005 Rp297,8 triliun (13,6 persen terhadap PDB).

77

Bab IV

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

peningkatan relatif pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini didasarkan atas perhitungan adanya kemungkinan terjadinya penurunan (potential loss) penerimaan berkaitan dengan efektivitas pelaksanaan amandemen Undangundang tentang PPh, PPN, dan Ketentuan Umum Perpajakan (KUP). (Lihat Boks 4: Pokok-pokok Perubahan Undang-undang Perpajakan).
Tujuan reformasi perpajakan 2005 menciptakan sistem perpajakan yang sehat dan kompetitif.

Reformasi perpajakan, yang diharapkan akan mulai diimplementasikan pada tahun 2005 tersebut, terutama bertujuan untuk menciptakan sistem perpajakan yang sehat dan kompetitif dalam rangka mewujudkan iklim usaha yang kondusif bagi kegiatan investasi dan perdagangan. Reformasi tersebut pada dasarnya merupakan kelanjutan dari langkah-langkah pembaharuan kebijakan perpajakan (tax policy reform) yang telah dilakukan pada tahun 1984, 1994, 1997, dan terakhir tahun 2000. Di samping melakukan penyempurnaan terhadap kebijakan perpajakan, Pemerintah juga akan melanjutkan langkah-langkah perbaikan dalam bidang administrasi perpajakan (tax administration reform) yang telah dimulai sejak tahun 2001. Reformasi administrasi perpajakan tersebut mencakup modernisasi administrasi pajak dan kepabeanan. Melalui modernisasi administrasi perpajakan ini, diharapkan akan dapat dihasilkan tambahan penerimaan pajak guna mengkompensasikan potensi hilangnya penerimaan (potential loss), sehubungan dengan penyempurnaan pada aspek kebijakan perpajakan. (Lihat Boks 5: Reformasi dan Modernisasi Administrasi Perpajakan). Penerimaan perpajakan dalam tahun 2005 masih tetap mengandalkan penerimaan dari sektor pajak dalam negeri, khususnya pada tiga sumber utama yaitu PPh, PPN dan PPnBM, serta cukai. Sebagai gambaran, dari total penerimaan perpajakan tahun 2005 sebesar Rp297,8 triliun, sebesar Rp285,5 triliun atau 95,9 persen di antaranya bersumber dari pajak dalam negeri, sedangkan Rp12,4 triliun atau 4,1 persen lainnya berasal dari pajak perdagangan internasional. Salah satu sumber penerimaan pajak dalam negeri terbesar adalah pajak penghasilan (PPh). Dalam APBN 2005, rencana penerimaan PPh, yang terdiri dari PPh nonmigas dan PPh migas, ditetapkan Rp142,2 triliun atau 6,5 persen terhadap PDB. Dari jumlah tersebut, penerimaan PPh nonmigas dalam tahun 2005 ditetapkan Rp128,6 triliun, atau 5,9 persen terhadap PDB. Jumlah tersebut, secara nominal lebih tinggi Rp15,8 triliun atau 14,0 persen, dibandingkan dengan sasaran penerimaan PPh nonmigas yang ditetapkan dalam APBN-P 2004. Peningkatan ini relatif lebih moderat bila dibandingkan dengan peningkatan basis pajak sebagaimana tercermin dari asumsi perkiraan pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang digunakan dalam perhitungan APBN tahun 2005. Hal ini didasarkan atas perkiraan terjadinya potensi kehilangan (potential loss) penerimaan PPh, berkaitan dengan adanya rencana kebijakan penyesuaian PTKP PPh orang pribadi, dan penyesuaian tarif PPh badan sebagaimana diusulkan dalam RUU Perubahan Undang-undang tentang PPh. Untuk mengamankan sasaran penerimaan PPh nonmigas tahun 2005 tersebut, Pemerintah akan terus melanjutkan langkah-langkah modernisasi pemungutan PPh dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak, yang telah dimulai sejak tahun 2003. Langkah dimaksud antara lain berupa

.

Penerimaan perpajakan masih mengandalkan pajak dalam negeri.

Target penerimaan PPh tahun 2005 : 6,5 persen terhadap PDB.

Target penerimaan PPh nonmigas tahun 2005 : 5,9 persen terhadap PDB.

Langkah-langkah modernisasi pemungutan PPh.

78

obyek antara lain pengenaan PPh Pasal 25 atas WP yang melakukan pembelian barang serta P RUU PPN dan PPnBM 79 . sehingga seringkali menimbulkan ketidakpastian. Beberapa permasalahan utama yang dikemukakan. Kebijakan untuk mengoptimalkan dukungan penerimaan sektor perpajakan merupakan opsi yang paling realistis karena sumber-sumber penerimaan negara bukan pajak sangat fluktuatif.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 4: Pokok-pokok Perubahan Undang-Undang Perpajakan Latar Belakang alam upaya penyehatan APBN sebagaimana diamanatkan oleh GBHN tahun 1999 . Tujuan D kompetitif dalam meningkatkan daya saing kegiatan ekonomi nasional. tergantung pada perkembangan berbagai faktor eksternal yang relatif sulit diprediksi. antara lain restitusi setiap bulan hanya boleh diajukan oleh eksportir dan PKP yang melakukan penyerahan pada pemungut. Reformasi perpajakan ini meliputi aspek kebijakan dan administrasi perpajakan yang mencakup perubahan Undang-undang PPh. adanya perlakuan yang tidak adil. (iv) perubahan dan penurunan tarif. antara lain tarif PPh Badan menjadi tarif tunggal. serta perubahan Undang-undang KUP. khusus UKM tarif tersendiri. banyak sekali masukan-masukan baik dari lembaga internasional maupun lembaga nasional. (iii) penyesuaian PTKP. dan (iv) meningkatkan produktivitas aparat perpajakan. (vi) perluasan dan penyesuaian pembayaran angsuran pajak tahun berjalan. yang menganggap bahwa sistem perpajakan di Indonesia sudah kurang kondusif. (vii) penyederhanaan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan pekerja (Withholding System). prosedur perpajakan yang terlalu kompleks. penerimaan negara terutama yang bersumber dari sektor perpajakan perlu semakin dimantapkan. (ii) meningkatkan tingkat kepatuhan sukarela. antara lain adalah struktur tarif yang tidak kompetitif. antara lain kompensasi kerugian dipisahkan antara kerugian operasional dan non-operasional. Selain itu. (viii) mempertegas ketentuan pencegahan penghindaran pajak.2004. serta (ix) SPT Tahunan PPh Pasal 21 ditiadakan dan perpanjangan waktu penyampaian SPT Tahunan cukup memberitahukan. dan pelaksanaan konsolidasi fiskal dalam rangka kesinambungan fiskal (fiscal sustainability). (ii) penyelarasan pengurang penghasilan bruto. Pemerintah telah perubahan (amandemen) UU Perpajakan yang suatu sistem transaksi derivatif dikenakan pajak. dan kurang kompetitif lagi bagi kegiatan investasi di Indonesia. okok-pokok perubahan Undang-undang PPN dan PPnBM meliputi (i) penyederhanaan proses restitusi. antara lain WP bersangkutan dinaikkan 300% sedangkan tanggungan (dependent) turun. serta adanya peraturan yang kurang tegas. (iii) pengaturan mengenai JKP atau BKP tidak berwujud Pokok-pokok perubahan Undang-undang PPh meliputi (i) perluasan subyek dan mewahpajak. RUU PPh Sehubungan denganbertujuan untuk (i) menciptakanmenyusun drafperpajakan yang sehat dan hal tersebut. (v) perluasan pemotongan pemungutan PPh dan pembedaan tarif pemotongan antara WP yang ber-NPWP dan yang tidak ber-NPWP. (iii) meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan. perubahan Undang-undang PPN dan PPnBM. (ii) pemusatan tempat pajak terutang dipermudah untuk mengurangi beban administrasi WP.

dan perlakuan khusus yaitu pembentukan NPL. dalam jangka panjang. sehingga mampu mendorong perkembangan investasi dan penciptaan lapangan kerja. yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan output nasional dan penerimaan perpajakan. antara lain mempertegas ketentuan mengenai syarat faktur pajak yang dapat dikreditkan. Pada PPN diperkirakan terjadi potensi penurunan penerimaan akibat dari penghapusan pengenaan PPN. (xi) akses data perpajakan. serta (vii) fasilitas. amandemen Undang-undang Perpajakan ini diperkirakan akan menimbulkan dampak penurunan penerimaan perpajakan. sedangkan pada PPN. Potensi penurunan penerimaan diperkirakan terjadi pada PPh. yaitu pengalihan BKP karena perjanjian leasing. reformasi kebijakan perpajakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing sistem perpajakan Indonesia. (ix) pembukuan dan pencatatan. dan perlakuan khusus dengan penerapan Norma Penghitungan Penghasilan. (v) pembayaran pajak. potensi peningkatan penerimaan diperkirakan diperoleh dari perluasan basis pajak pada premi asuransi. yang terdiri dari penyesuaian PTKP PPh OP. antara lain tidak semua SPT Lebih Bayar harus diperiksa terlebih dahulu. RUU KUP okok-pokok perubahan Undang-undang KUP meliputi (i) definisi. (x) pemeriksaan. serta (xii) ketentuan pidana dan penyidikan.Dilain pihak. (iii) surat pemberitahuan. antara lain pengusaha yang berorientasi ekspor. perubahan tarif PPh Badan. antara lain pengenaan sanksi administrasi pada penyampaian SPT yang tidak tepat waktu. (ii) pemberian NPWP dan pengukuhan PKP secara jabatan. (vii) penagihan pajak. (viii) penyelesaian sengketa di bidang perpajakan. pengambilan dan penyampaian SPT. perusahaan penerbangan dan pelayaran internasional serta perwakilan asing. (iv) pengaturan kembali BKP. pada PPh yang diperkirakan bersumber dari perluasan basis pajak. (iv) sanksi administrasi.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 dari dalam daerah pabean keluar daerah pabean (ekspor). (vi) penetapan dan ketetapan. Selanjutnya. (vi) faktur pajak. Dampak Penerimaan alam jangka pendek. juga ada potensi peningkatan penerimaan. penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan dan penyerahan BKP dalam rangka penggabungan usaha (merger). (v) pengkreditan Pajak Masukan harus memenuhi syarat formal dan material. antara lain penandatanganan. P D 80 .

Keseluruhan operasi dilakukan dengan berbasis teknologi informasi dan ditunjang oleh kerjasama operasi dengan instansi lain. dan penerapan praktik good governance dilaksanakan dalam konteks penegakan hukum dan keadilan. pelayanan. yaitu menghimpun penerimaan negara dari sektor pajak yang mampu menunjang kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan Undang-undang Perpajakan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi. (ii) tercapainya tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan. penempatan aparat sesuai kapasitas dan kapabilitasnya.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 5 : Reformasi dan Modernisasi Administrasi Perpajakan Latar Belakang dan Tujuan eformasi administrasi perpajakan jangka menengah (3-5 tahun) yang digulirkan Pemerintah sejak tahun 2001 diarahkan untuk mendukung pencapaian visi DJP. reorganisasi. Revisi UU KUP dan peraturan terkait lainnya tersebut. dan penyempurnaan terhadap peraturan terkait lainnya. perangkat keras dan sumber daya manusia. yang meliputi aspek perangkat lunak. ada tiga tujuan yang secara spesifik hendak dicapai oleh reformasi administrasi perpajakan jangka menengah. Pemerintah juga akan melakukan amandemen terhadap Undang-undang tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP). yaitu : (i) tercapainya tingkat kepatuhan perpajakan yang tinggi. Program reformasi pada aspek sumber daya manusia ditempuh melalui penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional. dan sumber daya manusia yang profesional dengan kode etik yang ketat. yang didukung oleh organisasi yang ramping. yang memayungi semua lini dan tahapan operasional. pelatihan dan program pengembangan self capacity. Program dan Kegiatan rogram dan kegiatan dalam kerangka reformasi dan modernisasi perpajakan dilakukan secara komprehensif. Kanwil DJP WP Besar merupakan Kantor Pelayanan Pajak percontohan yang modern. dan (iii) tercapainya produktivitas aparat perpajakan yang tinggi. Secara garis besar. kaderisasi. Untuk uji coba pelaksanaan keseluruhan program tersebut secara utuh telah dipilih Kanwil DJP WP Besar sebagai proyek percontohan. Reformasi perangkat lunak mencakup perbaikan struktur organisasi dan kelembagaan. Program ini dilakukan antara lain melalui pelaksanaan uji kemampuan dan kelayakan secara ketat. serta misi fiskal. Reformasi perangkat keras diupayakan melalui pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan mutu sehingga dapat menunjang upaya modernisasi administrasi perpajakan di seluruh Indonesia. Keberhasilan pengimplementasian Kantor Pelayanan Pajak modern ini akan dilanjutkan ke kantor-kantor lainnya di seluruh Indonesia secara bertahap. pembayaran. R P S 81 . serta penyempurnaan dan penyederhanaan sistem operasi (mulai dari pengenalan dan penyebaran informasi perpajakan. teknologi informasi yang memberikan percepatan pelayanan sekaligus pengawasan yang baik. yaitu menjadi model pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen perpajakan kelas dunia. yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat. Perbaikan Peraturan ebagai bagian dari reformasi administrasi perpajakan. pemeriksaan dan penagihan. hingga pengawasan) agar lebih efektif dan efisien.

Sejalan dengan itu. terutama dalam hal pengurusan restitusi secara cepat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Di samping itu.5 triliun. peningkatan manajemen pemeriksaan pajak. atau 4. e-registration. e-payment. selaras dengan peningkatan kegiatan ekonomi seperti tercermin pada asumsi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2005. dan (iii) penelitian kembali atas WP yang memperoleh fasilitas pembayaran pendahuluan. di antaranya berupa: (i) penagihan kembali PPN yang tertunda.4 triliun. atau 0. Pemerintah juga akan melakukan berbagai upaya dan langkahlangkah administratif. Lebih rendahnya rencana penerimaan PPh migas tahun 2005 ini dikarenakan asumsi harga minyak yang digunakan sebagai dasar perhitungan APBN 2005 (US$24/bbl) jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan asumsi harga minyak pada APBN-P 2004 (US$36/ bbl). atau 41. Untuk mendukung pencapaian sasaran penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2005 tersebut.6 persen terhadap PDB).5 triliun.1 triliun atau 0.6 persen terhadap PDB.5 triliun. atau 0.2 triliun atau 0.5 persen terhadap PDB.1 persen terhadap PDB. Berlawanan dengan itu. highway information system. rasio penerimaan PBB dan BPHTB terhadap PDB juga mengalami Penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2005 ditargetkan 4. untuk mendorong perkembangan kegiatan ekonomi. optimalisasi penerimaan pajak juga akan dilakukan melalui program canvassing. Target penerimaan PPh migas: 0.8 triliun. maka penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2005 tersebut berarti mengalami peningkatan sebesar Rp0.5 persen terhadap PDB. serta mengintensifkan penagihan tunggakan pajak. dan e-counseling. Pemerintah juga akan terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak dalam menunaikan kewajiban perpajakannya melalui kampanye sadar dan peduli pajak. langkah-langkah administratif tersebut juga akan diiringi dengan upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada WP. atau 12. Sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2005 Rp13. (ii) penghitungan kembali atas pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan. berarti mengalami penurunan Rp9. Langkah-langkah kebijakan administratif di bidang PPN dan PPnBM tahun 2005. kampanye sadar dan peduli pajak tersebut juga dilaksanakan melalui media elektronik.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 pengembangan dan pengawasan e-filing. Namun. Faktor lain yang juga turut berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan PPN adalah perkiraan terjadinya tambahan penerimaan (potential gain) PPN dari kebijakan perluasan basis pajak sebagaimana diusulkan dalam amandemen Undang-undang PPN dan PPnBM. berarti mengalami peningkatan Rp11.6 persen terhadap PDB. Selain dilakukan melalui billboard. penerimaan PBB dan BPHTB ditetapkan Rp13. Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tahun 2004 sebesar Rp13.6 triliun. penerimaan PPh migas dalam tahun 2005 ditetapkan Rp13.3 triliun. dan komik pajak untuk konsumsi anak-anak. Dalam tahun 2005.9 persen bila dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp87. videotron.7 persen.1 persen dari sasaran penerimaan PPh migas yang ditetapkan dalam APBN-P 2004.5 triliun (0. Peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM tersebut didasarkan atas kalkulasi perkiraan terjadinya peningkatan nilai transaksi ekonomi yang merupakan obyek PPN dan PPnBM. Sementara itu.6 persen terhadap PDB. Jumlah ini.3 triliun atau 0. Penerimaan PPN dan PPnBM dalam tahun 2005 ditetapkan Rp98. Jumlah tersebut bersumber dari penerimaan PBB Rp10. dan penerimaan BPHTB Rp3.5 persen terhadap PDB. 82 . Jumlah ini.

serta pengkajian dan penyempurnaan sistem dan prosedur kegiatan verifikasi dan audit. atau 1.6 persen dalam tahun 2005. bila dibandingkan dengan sasarannya dalam APBNP 2004 sebesar Rp28. pengenaan cukai atas produk kaset/CD/VCD/ DVD dan LD mulai tahun 2005 diperkirakan dapat memberikan tambahan penerimaan cukai tergantung pada tarif cukai yang akan dikenakan. didasarkan atas perkiraan terjadinya peningkatan produksi rokok. pelaksanaan audit secara reguler maupun insidensial serta audit bersama-sama DJBC. dan perlindungan masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana pengawasan. berbagai upaya yang akan dilakukan. Peningkatan produksi rokok tersebut didorong oleh kebijakan HJE dan tarif cukai yang stabil. serta meningkatnya permintaan. akan terus semakin dimantapkan. baik sigaret kretek tangan (SKT). sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat. yang pada gilirannya akan berdampak positif pada sektor konstruksi dan transaksi properti pada tahun 2005. yaitu komputerisasi pelayanan pita cukai hasil tembakau untuk mempercepat pelayanan pita cukai dan meningkatkan akurasi data cukai hasil tembakau. Jumlah ini. 83 . Peningkatan sasaran penerimaan cukai tersebut. di antaranya berupa penerapan excise service system (ESS).4 persen terhadap PDB.7 persen dalam tahun 2004 menjadi 0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 penurunan. dalam rangka mengamankan sasaran penerimaan cukai tahun 2005. juga akan dilakukan langkah-langkah peningkatan sistem pengawasan dalam rangka penegakan hukum di bidang cukai. sigaret kretek mesin (SKM).3 persen terhadap PDB. berbagai langkah administratif lainnya di bidang cukai juga akan lebih dimantapkan pada tahun 2005. dari 0. Sejalan dengan itu. serta peningkatan pengetahuan dan keahlian SDM di bidang pengawasan. pemantauan pelaksanaan tindak lanjut temuan hasil audit. (Lihat Boks 6: Penambahan Barang Kena Cukai (BKC) atas Kaset/VCD/DVD dan LD). Berbagai langkah tersebut. juga akan disertai dengan peningkatan pelaksanaan verifikasi dan audit yang akan dilakukan melalui: penetapan kriteria dokumen cukai yang memperoleh prioritas utama. dalam APBN 2005. Di samping itu.8 persen. terutama langkah dan upaya dalam menanggulangi peredaran rokok polos dan pita cukai palsu. Selain itu. Di samping itu. seperti program ekstensifikasi melalui digital mapping. Beberapa kebijakan di bidang cukai yang akan ditempuh dalam tahun 2005. Di bidang cukai. berbagai kebijakan dan langkah-langkah administrasi yang telah ditempuh dalam tahun 2004. Target penerimaan PBB dan BPHTB tersebut didasarkan atas perkiraan kondisi perekonomian yang terus membaik.4 triliun atau 1. berarti meningkat Rp0.3 persen terhadap PDB). penerimaan cukai ditetapkan Rp28.9 triliun (1. dan penyempurnaan sistem administrasi perpajakan diharapkan juga turut berperan dalam pencapaian sasaran penerimaan PBB dan BPHTB tersebut.5 triliun atau 1. Seluruh hasil dari penerimaan cukai terhadap produk kaset/CD/ VCD/DVD dan LD akan dialokasikan untuk upaya-upaya pengawasan dan penegakan hukum terhadap produk-produk bajakan tersebut. Di samping peningkatan produksi dan penambahan barang kena cukai (BKC) tersebut. maupun sigaret putih mesin (SPM).9 triliun. Sasaran penerimaan cukai 2005: Rp28. Langkah-langkah kebijakan administratif untuk mendukung penerimaan PBB dan BPHTB. DJP dan BPKP.

aransemen. industri rekaman. Pengenaan cukai atas produk-produk rekaman tersebut sesungguhnya lebih ditekankan pada aspek pengawasan untuk mengurangi peredaran produk bajakan. tidak adanya kepastian usaha. dan produk bajakan yang mengakibatkan terjadinya eksternalitas negatif. dan kerugian yang sangat besar bagi stakeholders.rekamanDVD. CD. kekerasan dan bahasa/ syair yang tidak sesuai dengan etika dan budaya bangsa). VCD. penyanyi. yaitu barang-barang yang dalam pemakaiannya perlu dibatasi dan diawasi. kerugian finansial bagi industri rekaman. juga mengakibatkan kehilangan penerimaan negara dari sektor pajak. sehingga hak-hak para stakeholders. selain telah menimbulkan ketidakpastian usaha bagi industri rekaman. Kenapa Cukai ? emilihan pengenaan cukai didasarkan atas beberapa pertimbangan antara lain : (i) pungutan cukai lebih bersifat mengawasi peredaran produk yang dikategorikan sebagai Barang Kena Cukai (BKC). Maraknya peredaran barang-barang bajakan tersebut. (ii) UU PPN dan PPnBM belum mengatur masalah pengawasan fisik atas pelunasan pungutannya. Produk-produk rekaman tersebut dapat dikategorikan sebagai barang-barang yang patut diawasi. seperti para musisi. komposer. Hal ini 84 .11/1995 tentang Cukai dapat bersinergi dengan ketentuan di bidang HAKI dalam mencegah kebocoran penerimaan negara. Berbeda halnya dengan PPN yang lebih menganut prinsip "self assessment". baik PPN maupun PPh. CD. antara lain karena peredaran atau pemakaiannya bisa memiliki content yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi ketertiban dan keamanan masyarakat (pornografi.11/1995 tentang Cukai. seperti misalnya. kecuali barang untuk kebutuhan pokok. dan (iii) UU PPN dan PPnBM belum maksimal dalam mencegah kebocoran penerimaan negara dan penegakan hukum yang berkaitan dengan HAKI. yang beredar di Indonesia diperkirakan merupakan hasil bajakan. serta mempunyai ketentuan pidana atas pelanggarannya.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 6: Upaya Pemberantasan Pembajakan Kaset. dan LD melalui Penambahan Barang Kena Cukai (BKC) Latar Belakang dan Tujuan Usulan penambahan BKCdari total Kaset. dan industri rekaman. DVD. yaitu : (i) PPN lebih ditujukan untuk penerimaan negara dan dikenakan terhadap semua barang pada setiap tahapan mulai dari tahap produksi sampai dengan pedagang pengecer. sedangkan produk-produk rekaman yang legal dapat ditingkatkan. dan dapat mematikan kreativitas pihak-pihak yang berkaitan dengan dunia usaha. P Harapan Melalui kepastian dalam pengawasanyang dikenaimaupuntersebut. diharapkan produk-produk baik fisik administratif yang diberikan oleh Undang-undang Cukai terhadap produk cukai rekaman bajakan secara bertahap dapat dikurangi. (ii) UU No. dan pihak-pihak yang terkait lainnya justru akan dapat dipulihkan. penyanyi.11/1995 tentang Cukai memiliki kepastian dalam pengawasan baik fisik maupun administratif. dan (iii) UU No. Hal ini sejalan dengan UU No. yang menetapkan karakteristik usulan produk yang menjadi barang kena cukai adalah barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik yang ditetapkan. dan LDatas pertimbangan atas produk-produk ini didasarkan bahwa sekitar 90 persen VCD. seperti para musisi.

1 persen terhadap PDB. Dana yang dikumpulkan dari cukai atas kaset.6 persen apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaannnya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp12. Sasaran penerimaan bea masuk ini. baik dalam rangka skema Common Effective Preferential Tariff for ASEAN Free Trade Area (CEPT for AFTA). para penyanyi. tidak sepenuhnya dapat dinikmati. VCD.1 persen terhadap PDB. maka para musisi.2 triliun atau 1. DVD dan LD seluruhnya akan dialokasikan kepada upaya-upaya pengawasan dan penegakan hukum. Mengenai kekhawatiran bahwa pengenaan cukai akan menurunkan permintaan terhadap produk rekaman. D Selanjutnya. Dampak Penerimaan engan asumsi. karena dari hasil kajian terbukti bahwa penurunan permintaan akibat pengenaan cukai juga tidak terlalu signifikan. Sasaran penerimaan ini. Dari jumlah tersebut. Pada sisi lain. Peningkatan sasaran penerimaan bea masuk yang relatif moderat tersebut didasarkan atas perkiraan terjadinya peningkatan impor barang.2 triliun atau 11. Tarif Cukai Mengenai kekhawatiran cukai yang dikenakan nilainya relatifini akan menaikkan harga jual pengenaan cukai terhadap produk tidak beralasan.000. yang terdiri dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor.4 triliun. berarti Rp0. Namun dampak peningkatan volume impor tersebut. VCD. oleh karena pada saat yang bersamaan.0 triliun. maka tarif cukai tersebut hanya berkisar antara 0. atau 0.0 triliun atau 0. atau 0.000-Rp150. sehingga tidak signifikan jika dibandingkan dengan harga jualnya. juga kurang beralasan.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 terutama karena dengan maraknya pembajakan (yang mencapai 90%). Penerimaan bea masuk tahun 2005 ditargetkan 0.6 persen terhadap PDB. penerimaan pajak lainnya dalam tahun 2005 ditetapkan mencapai Rp2.2 triliun atau 1.8 triliun.6 persen terhadap PDB. Dalam APBN 2005. Sasaran penerimaan pajak perdagangan internasional tahun 2005 mencapai 0.1 persen bila dibandingkan dengan sasaran penerimaan pajak lainnya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp1.7 persen lebih tinggi. berarti meningkat Rp0.0 triliun.000. Penerimaan pajak lainnya ditargetkan Rp2. antara Rp15.5 persen terhadap PDB. penerimaan pajak perdagangan internasional juga diperkirakan meningkat. dari sasaran yang ditetapkan dalam APBN-P 2004.1%-1%. Peningkatan penerimaan pajak lainnya tersebut diperkirakan bersumber terutama dari meningkatnya jumlah dan nilai transaksi yang membutuhkan bea meterai. Jumlah ini. atau 0. juga terjadi penurunan tarif efektif rata-rata bea masuk. Apabila dibandingkan dengan harga produk-produk tersebut di pasaran. sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi dalam negeri. bahwa pada tahap awal pengenaan cukai dapat mengurangi peredaran produk bajakan sekitar 30 persen.5 persen terhadap PDB. ditetapkan Rp12. penerimaan pajak perdagangan internasional. DVD dan LD misalnya antara Rp100-Rp1. CD. (dari sebelumnya 90 persen menjadi 60 persen). penerimaan bea masuk ditetapkan Rp12. Tarif cukai yang diusulkan akan dikenakan pada produk kaset. CD. lebih tinggi Rp0. maka hal ini diperkirakan akan berdampak positif terhadap upaya pemberantasan produk-produk tersebut dalam jangka pendek dan jangka panjang. berkaitan dengan penurunan tarif nominal. dan produser rekaman legal yang justru dirugikan.2 triliun. Dampak positif (keuntungan) dari pengenaan cukai diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang diperkirakan akan timbul. oleh karena kecil. 85 .

PB B d . Pa ja k L a in n y a 2 .0 1 7 .9 1 .2 0 . Reformasi dalam bidang administrasi kepabeanan tersebut mencakup prakarsa fasilitasi perdagangan.2 6 .0 6 .02 persen terhadap PDB.8 4 .4 1 .1 2 2 . S u m b e r D a y a A la m 2 .1 1 2 .5 persen. serta prakarsa peningkatan integritas pegawai.5 1 3 . PPN d a n PPn B M c .6 1 7 . T a b e l IV .2 0 . B PH TB e.0 1 4 2 .8 0 .4 1 .7 2 .6 1 2 8 . B a g ia n Pe m e r in ta h a ta s L a b a B U M N 3 . penerimaan pajak/pungutan ekspor dalam APBN 2005 ditetapkan Rp0. Beberapa faktor yang mendasari peningkatan sasaran penerimaan pajak/pungutan ekspor tahun 2005 tersebut antara lain adalah perkiraan peningkatan volume ekspor barang yang kena pajak/pungutan ekspor. dan sekaligus mendorong kegiatan perdagangan internasional.3 0 .3 triliun. penagihan. prakarsa pemberantasan penyelundupan dan undervaluation.4 9 .9 1 0 .8 5 0 . Bea Mas uk b .3 8 1 . dan pengawasan pembayaran pajak/pungutan ekspor.1 0 .5 3 .0 2 0 .5 4 .8 2 3 .2.5 0 .P 2 0 0 4 d a n A P B N 2 0 0 5 1) ( t r iliu n r u p ia h ) U r a ia n A P e n e r im a a n D a la m N e g e r i I.6 0 . P e n e r im a a n P e r p a ja k a n 1 . Sasaran penerimaan pajak/pungutan ekspor dalam tahun 2005 sebesar 0.2 1 1 2 . Pa ja k/Pu n g u ta n Ek s p o r II.6 5 .4 1 2 .5 1 3 . (Lihat Boks 7: Reformasi Administrasi Kepabeanan).0 1 3 . maka rencana penerimaan pajak ekspor tahun 2005 tersebut berarti mengalami peningkatan Rp8.3 2 9 7 . PN B P la in n y a B H ib a h J u m l a h 2004 % thd A P BN-P P DB 4 0 3 . serta langkah-langkah intensifikasi pemungutan. C u k a i f .0 3 .6 0 .6 2 8 5 .8 5 .9 0 . atau 0.0 0 .02 persen terhadap PDB.3 1 2 3 .3 0 .1 1 .4 0 .2 2 8 .3 2005 % thd A P BN P DB 3 7 9 .0 0 .9 6 .2 1 1 .0 2 0 .4 1 0 . Sementara itu. Kebijakan yang mendukung penerimaan bea masuk.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 maupun akibat dari kerangka kerjasama perekonomian ASEAN dengan China (ASEAN-China Free Trade Area). P a ja k P e r d a g a n g a n In t e r n a s io n a l a. India (ASEAN-India Free Trade Area). atau 2. Pa ja k Pe n g h a s ila n m ig a s n o n m ig a s b .8 0 .6 0 .8 1 3 .4 1 3 5 .3 0 .8 3 8 0 .4 1 ) P e r b e d a a n s a t u d ig it d i b e la k a n g k o m a t e r h a d a p a n g k a p e n ju m la h a n a d a la h k a r e n a p e m b u la t a n S u m b e r : D e p a rt e m e n K e u a n g a n R I 86 .2 P E N D A P A T A N N E G A R A D A N H IB A H A P B N . P e n e r im a a n N e g a r a B u k a n P a ja k 1 . dan Jepang (ASEAN-Japan on Comprehensive Economic Cooperation).5 3 .3 2 7 9 .2 4 .6 0 . Pemerintah akan senantiasa memantapkan kebijakan reformasi administrasi kepabeanan (customs administration reform) yang telah diluncurkan sejak tahun 2002.3 2 .6 2 0 . Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran penerimaan bea masuk tersebut. P a ja k D a la m N e g e r i a .8 0 .2 0 . prakarsa peningkatan koordinasi dengan stakeholder. Gambaran pendapatan negara dan hibah dalam APBN-P 2004 dan APBN 2005 dapat diikuti lebih lanjut pada Tabel IV.7 8 7 .5 1 .6 0 .5 0 .0 2 6 7 .2 1 4 .1 2 8 .7 4 0 3 .3 miliar.3 0 .8 9 2 .5 1 0 . Apabila dibandingkan dengan sasaran penerimaan pajak ekspor dalam APBN-P 2004.9 9 8 .1 1 2 .

terutama dalam mengatasi kebocorankebocoran. Untuk dapat mengoptimalkan fungsi fasilitasi perdagangan. pengembangan Harmonized System (HS). Sehubungan dengan itu. community protector dan revenue collector. Prakarsa Pemberantasan Penyelundupan dan Undervaluation Masing-masing fungsi trade facilitator. sebagai community protector. Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut secara optimal. penyediaan tempat 87 . dan penyelesaian kewajiban pabean impor harus diciptakan sedemikian rupa. sehingga sistem dan prosedur pelayanan di bidang impor tersebut dapat mencegah terjadinya penyelundupan dan undervaluation. berupa : pemberlakuan jalur prioritas. (ii) prakarsa Pemberantasan Penyelundupan dan Undervaluation. perbaikan sistem pengeluaran barang. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus mampu memperlancar arus barang melalui penyederhanaan sistem dan prosedur pabean. R Prakarsa Fasilitasi Perdagangan Dalam prakarsa ini. sehingga importir dapat melaksanakan kegiatannya dengan efisien. penyempurnaan sistem pembayaran. Cakupan reformasi kepabeanan tersebut meliputi penyempurnaan fungsi utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai trade facilitator.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 7: Reformasi Administrasi Kepabeanan eformasi kepabeanan pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 dan akan terus berlanjut selama lima tahun ke depan. 2. (iii) prakarsa Peningkatan Koordinasi dengan Stakeholder. community protector. namun sekaligus berfungsi secara efektif sebagai filter bagi kemungkinan beroperasinya illegal trader. serta modernisasi sistem otomasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pemberlakuan sistem baru penetapan jalur. maka sistem dan prosedur pelayanan di bidang impor disempurnakan dengan tujuan untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada importir. sistem dan prosedur pelayanan yang berkaitan dengan proses penyelesaian pengeluaran barang di pelabuhan (khususnya barang impor). yaitu bersama-sama dengan lembaga-lembaga internasional dan lembaga swasta dalam negeri. maka disusunlah program reformasi kepabeanan yang dikelompokkan ke dalam (i) prakarsa Fasilitasi Perdagangan. Langkah-langkah strategis yang diambil dalam memberantas penyelundupan dan undervaluation yaitu melalui program registrasi importir. perbaikan database harga. perbaikan teknik pemeriksaan barang. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus melakukan prosedur pengawasan yang ketat. guna mengantisipasi perkembangan globalisasi ekonomi dan perdagangan dunia. dan revenue collector yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mempunyai karakteristik yang dapat saling melemahkan. kampanye anti penyelundupan. Reformasi kepabeanan dititikberatkan pada pembaharuan dalam bidang administrasi kepabeanan (customs administration reform). Prakarsa fasilitasi perdagangan meliputi langkah-langkah strategis. yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dibantu oleh stakeholders terkait. serta (iv) prakarsa Peningkatan Integritas Pegawai. 1. dan tanpa adanya intervensi yang signifikan dari aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. sistem dan prosedur pengawasan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan negara. Sebaliknya. dan sekaligus memberikan pengawasan yang tepat kepada high risk importir. Lebih lanjut. Reformasi kepabeanan ini disusun berdasarkan hasil kajian komprehensif terhadap hampir semua sistem dan prosedur pelayanan dan pengawasan di bidang kepabeanan.

penyempurnaan situs Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pemeriksaan lapangan (spot check). Di bidang pemerintahan. Peningkatan Kerjasama Penanganan Pengaduan Masyarakat Antara Komisi Ombudsman Nasional (KON) dan Departemen Keuangan. dominasi PNBP masih ditopang oleh penerimaan SDA migas. Sehubungan dengan itu. serta (vi) evaluasi dan peninjauan kembali tarif PNBP yang dikelola di berbagai departemen/LPND. (v) peningkatan kinerja dan kesehatan BUMN melalui peningkatan intensitas penerapan good corporate governance. Sehubungan dengan hal itu disusunlah prakarsa peningkatan integritas pegawai melalui langkahlangkah strategis. dirumuskan langkah-langkah strategis dalam rangka peningkatan koordinasi dengan stakeholder melalui program pembentukan Tim Pendamping Pemerintah. dalam tahun 2005 akan terus dilanjutkan langkah-langkah pemantapan pelaksanaan kebijakan di bidang PNBP yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Kritik yang berkembang dalam masyarakat mengenai rendahnya kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. di samping ditentukan oleh upaya dan kebijakan yang ditempuh pemerintah. 4. Untuk dapat melaksanakan fungsinya secara optimal. 88 . khususnya masyarakat usaha juga perlu ditingkatkan. peningkatan peran unit intelijen dalam pengawasan barang.7 persen terhadap PDB). Prakarsa Peningkatan Kerjasama dengan Stakeholder pemeriksaan.8 triliun (3. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memerlukan kerjasama dengan stakeholder. Peningkatan Fungsi Pengawasan Penegakan Kode Etik dan Perilaku Pegawai. perkembangan PNBP ini. Di samping itu. optimalisasi penggunaan Hi-Co Scan X-ray. yaitu penyempurnaan Kode Etik. Berbagai kebijakan strategis yang diambil di bidang kepabeanan tidak akan dapat berjalan dengan efektif tanpa didukung oleh pegawai yang mempunyai integritas yang tinggi. Penyediaan Saluran Pengaduan. Karena itu. penyederhanaan sistem verifikasi dokumen serta penagihan tunggakan. serta Program Pemberian Insentif.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 3. (iv) pengelolaan potensi sumber daya kelautan secara berkelanjutan dan lestari. Kebijakan tersebut antara lain meliputi: (i) optimalisasi dan intensifikasi PNBP yang bersumber dari SDA. koordinasi dengan masyarakat. (ii) penanggulangan pertambangan tanpa izin (Peti). (iii) optimalisasi pemanfaatan sumber daya hutan dengan berwawasan hutan lestari. baik di bidang pelayanan maupun di bidang pemberantasan penyelundupan. Dengan Sasaran PNBP dalam tahun 2005 Rp81. pada hakekatnya bermuara pada ketidakmampuan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugasnya. Sampai saat ini. Untuk meningkatkan PNBP dimaksud. terdapat kebijakan berbagai departemen yang pelaksanaan pengawasannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan pengembangan komunitas pertukaran data elektronik kepabeanan (PDE kepabeanan). Kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terhadap pendapatan negara akan senantiasa diupayakan lebih meningkat dari waktu ke waktu. pembentukan Komite Kode Etik. juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga dan tingkat produksi minyak mentah. sehingga perlu adanya koordinasi yang optimal agar tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Prakarsa Peningkatan Integritas Pegawai Penerimaan Negara Bukan Pajak Dalam tahun 2005 Pemerintah memantapkan pelaksanaan kebijakan di bidang PNBP.

jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan SDA pertambangan umum dalam APBN-P 2004 sebesar Rp1.7 triliun.97 triliun. atau berperan hampir 57.6 persen dari total keseluruhan PNBP.6 triliun (0.9 persen terhadap PDB). pertambangan umum. serta penerimaan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) Rp1. dan perikanan.8 triliun. Dalam tahun 2005.600 per dolar Amerika Serikat. Sasaran penerimaan ini didasarkan pada asumsi: (i) harga rata-rata minyak mentah Indonesia US$24. penerimaan SDA pertambangan umum ditetapkan sebesar Rp2. Penerimaan tersebut meliputi penerimaan iuran tetap (landrent) Rp0. serta (iv) optimalisasi produksi dan penyediaan bahan baku mineral.04 triliun. Penerimaan pertambangan umum tersebut didasarkan pada asumsi adanya peningkatan volume. PNBP yang bersumber dari SDA meliputi penerimaan SDA migas. batubara.3 persen.0 per barel. (ii) pembinaan dan pengelolaan usaha pertambangan sumber daya mineral dan batubara.5 persen terhadap PDB). terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi Rp31. Pada penerimaan SDA pertambangan umum. Sasaran PNBP tersebut terdiri dari penerimaan SDA Rp50.7 persen terhadap PDB. berarti terdapat peningkatan Rp0. penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN Rp10. langkah-langkah kebijakan yang akan ditempuh dalam tahun 2005 antara lain meliputi : (i) implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis PNBP Yang Berlaku Pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. (ii) tingkat produksi minyak mentah 1.8 triliun. Dalam APBN 2005. atau 3.1 persen. jumlah tersebut berarti menurun Rp42.0 triliun (0.3 triliun (0. Target penerimaan SDA migas tahun 2005 tersebut. Selain itu.5 persen dari total penerimaan SDA. penerimaan SDA minyak bumi dan gas alam (migas) ditetapkan sebesar Rp47.1 persen terhadap PDB). dan PNBP lainnya Rp20.0 triliun atau 33. terutama dengan melakukan upaya inventarisasi dan eksploitasi sumber daya mineral dan batubara.5 persen terhadap PDB).1 persen terhadap PDB. serta penerapan PP Nomor 45 Tahun 2003 secara efektif dalam tahun 2005.125 juta barel per hari. Jumlah ini menyumbang 92. Berdasarkan berbagai kebijakan tersebut. penerimaan SDA masih merupakan komponen terbesar. dan panas bumi dalam upaya meningkatkan devisa.1 triliun.8 triliun.2 triliun atau 11. Target penerimaan SDA pertambangan umum tahun 2005 sebesar Rp2. dalam APBN tahun 2005. Jumlah ini. maka dalam APBN 2005. (iii) upaya konservasi dan rehabilitasi sumber daya alam dengan tetap memperhatikan fungsi lingkungan.0 triliun. Penerimaan SDA terutama SDA migas masih mendominasi PNBP. atau 46. Jika dibandingkan dengan sasaran PNBP dalam APBN-P 2004 sebesar Rp123. dan penerimaan SDA gas alam Rp15. atau 0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.3 persen terhadap PDB). sasaran PNBP mencapai Rp81. yaitu 62. maka penerimaan migas tahun 2005 tersebut berarti lebih rendah Rp40.2 persen dari total PNBP. 89 .9 persen.6 triliun. atau 2. dan (iii) rata-rata nilai tukar rupiah Rp8. kehutanan.7 persen terhadap PDB). juga dilakukan langkah-langkah untuk menyediakan informasi secara lengkap dan mudah diperoleh dalam rangka mewujudkan daya tarik investasi.3 triliun (0. Jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan SDA migas dalam APBN-P 2004 sebesar Rp87.9 triliun (2.1 persen terhadap PDB.9 triliun (1.

serta iuran hak pengusahaan hutan (IHPH) Rp6. Kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi kegiatan eksploitasi hutan secara bertahap.1 triliun atau 0. penerimaan SDA kehutanan ditetapkan Rp1. juga akan diterapkan kebijakan social forestry dan good forestry governance sebagai kebijakan cross cutting yang akan menjadi ruh dan memayungi seluruh kegiatan yang menjadi jabaran kebijakan. Pemerintah masih akan tetap melanjutkan kebijakan soft landing (pengurangan annual allowable cut secara bertahap). selain diarahkan untuk mengoptimalkan penerimaan. 90 . Jika dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp2. Langkah-langkah kebijakan yang akan ditempuh. Penerimaan SDA perikanan. dari hutan tanaman industri diperkirakan 22. selain diarahkan untuk mengoptimalkan penerimaan negara.7 triliun. sehingga diharapkan akan terwujud pengelolaan hutan secara lestari. karena dalam APBN-P 2004 terdapat hasil tunggakan tahun-tahun sebelumnya . serta upaya-upaya pencegahan illegal logging. Untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu. juga akan dilakukan berbagai kegiatan. (ii) intensifikasi terhadap provisi sumber daya hutan dan dana reboisasi. sekaligus juga ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan hutan lestari. (iii) pemantapan restrukturisasi sektor kehutanan.3 persen.800 m3. (iv) pemantapan pelaksanaan desentralisasi sektor kehutanan.3 triliun. juga ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan potensi sumber daya kelautan secara berkelanjutan.8 triliun. kebijakan yang akan dilakukan meliputi (i) akselerasi rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan.0 miliar. Di samping itu. Kebijakan di bidang SDA perikanan diarahkan pada optimalisasi penerimaan negara serta ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan potensi sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. juga diasumsikan adanya penyempurnaan berbagai ketentuan tarif untuk masing-masing jenis kayu dan produksi hutan bukan kayu. (ii) untuk PSDH. Jumlah tersebut terdiri dari penerimaan dana reboisasi (DR) Rp0. kebijakan yang akan ditempuh.500 ton. berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2002 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Kelautan dan Perikanan. Di samping itu. termasuk pungutan perikanan asing (PPA).457 ribu m3. serta (v) pemantapan koordinasi pemberantasan illegal logging dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. jumlah tersebut berarti mengalami penurunan Rp1.1 persen terhadap PDB. Karena itu. serta pemanfaatan sumber daya hutan yang lebih realistis. penerimaan provisi sumber daya hutan (PSDH) Rp0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam tahun 2005 Pemerintah masih melanjutkan kebijakan soft landing. antara lain meliputi peningkatan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara optimal dan lestari.1 persen terhadap PDB. Dalam tahun 2005. dalam APBN 2005. meliputi pungutan pengusahaan perikanan (PPP). dan pungutan hasil perikanan (PHP). Dalam tahun 2005 sasaran penerimaan SDA kehutanan ditargetkan Rp1. Berdasarkan langkah-langkah kebijakan tersebut. Lebih rendahnya penerimaan SDA kehutanan dalam tahun 2005. serta peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan pesisir secara terpadu. dalam tahun 2005. Di bidang penerimaan SDA kehutanan. meliputi antara lain: (i) pengembangan sistem sarana dan prasarana pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan. Target penerimaan SDA kehutanan tahun 2005 tersebut didasarkan pada asumsi produksi kayu sebagai berikut : (i) untuk dana reboisasi diperkirakan 5. produksi kayu yang berasal dari Perhutani diperkirakan 847.1 triliun atau 0.6 triliun atau 59.794 ribu m3. kebijakan yang ditempuh dalam tahun 2005. dan produksi hasil hutan bukan kayu diperkirakan 422. guna mendukung pemulihan kembali (recovery) hutan yang rusak.

komponen PNBP yang potensinya cukup besar dalam meningkatkan kapasitas pendapatan negara adalah penerimaan yang berasal dari bagian pemerintah atas laba BUMN. maupun keorganisasian. Dengan mempertimbangkan langkahlangkah kebijakan dimaksud. serta memperhitungkan dampak perkembangan berbagai indikator ekonomi makro terhadap perkiraan laba BUMN. Langkah-langkah kebijakan strategis dimaksud antara lain meliputi kewajiban bagi BUMN untuk meningkatkan intensitas penerapan prinsipprinsip pengelolaan perusahaan yang baik dan sehat (good corporate governance). Dalam rangka meningkatkan PNBP lainnya. laut. operasional.5 persen. dan pulau-pulau kecil. serta (vi) peningkatan sistem informasi kelautan dan perikanan terpadu (SIKPT).5 persen terhadap PDB.5 triliun atau 16. dalam tahun 2005. penerimaan SDA perikanan dalam APBN tahun 2005 ditetapkan Rp0.3 persen. jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN dalam APBN-P 2004 sebesar Rp9. berarti terdapat peningkatan Rp0. jika dibandingkan dengan sasaran penerimaan SDA perikanan yang ditetapkan dalam APBN-P 2004 sebesar Rp0. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan kenaikan produksi ikan. dan pendapatan pelunasan piutang. serta PNBP lainnya dalam tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp20. antara lain melalui evaluasi dan penetapan tarif pungutan PNBP yang lebih realistis. dalam rangka meningkatkan kinerja dan kesehatan BUMN. (iii) peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Jumlah ini.7 triliun. Karena itu.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 (ii) implementasi monitoring. serta asumsi tarif yang bervariatif per gross tonage.5 persen terhadap PDB.7 triliun. Penerimaan SDA perikanan dalam APBN 2005 didasarkan pada asumsi produksi perikanan yang diperkirakan mencapai 7. Potensi jenis penerimaan ini dipengaruhi oleh kemampuan BUMN dalam meraih laba. baik manajemen. 91 . evaluasi dan penetapan secara transparan mengenai tugas.6 triliun atau 0. Pemerintah telah dan akan terus mengambil langkah-langkah kebijakan strategis. potensi PNBP lainnya. Sementara itu.1 triliun berarti mengalami peningkatan Rp1.2 triliun.3 triliun Sasaran penerimaan SDA perikanan dalam tahun 2005 ditetapkan Rp0. Penurunan ini antara lain disebabkan oleh adanya pelaksanaan program divestasi dan privatisasi beberapa BUMN tertentu yang sebelumnya merupakan kelompok BUMN potensial penyumbang dividen.5 triliun dan pungutan hasil perikanan (PHP) Rp0.762 unit dan kapal tangkap asing 1.355 unit. Dalam tahun 2005 penerimaan Pemerintah atas laba BUMN ditetapkan Rp10. (iv) pengembangan sistem dan mekanisme hukum dan kelembagaan nasional maupun internasional. Selain penerimaan SDA. Jumlah ini.6 triliun atau 0. dan tanggung jawab bagi komisaris dan direksi. juga akan semakin dikembangkan agar memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pendapatan negara. serta optimalisasi alokasi sumber daya yang dimiliki BUMN. Dengan mempertimbangkan berbagai langkah kebijakan tersebut. (v) peningkatan pengelolaan sumber daya pesisir. dengan jumlah kapal tangkap domestik 4. wewenang. dengan melakukan berbagai penataan dan penyempurnaan. maka penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN dalam tahun 2005 ditetapkan Rp10. yang sebagian besar berasal dari PNBP yang dikelola oleh berbagai departemen/LPND.4 triliun atau 133. Pemerintah akan terus melanjutkan program optimalisasi dan intensifikasi.3 juta ton. serta kebijakan dan upaya yang ditempuh pemerintah dalam pengelolaan BUMN. controlling and surveilance (MCS) atau vessel monitoring system (VMS).3 triliun. Jumlah tersebut meliputi pungutan pengusahaan perikanan (PPP) Rp0.

Jika dibandingkan dengan sasarannya dalam APBN-P 2004 sebesar Rp22. Paket perundang-undangan tersebut menjadi landasan hukum pengelolaan keuangan yang mandiri bagi bangsa untuk menggantikan perundang-undangan lama yang disusun pada masa kolonial Hindia Belanda.0 triliun yang dalam APBN 2005 tidak dianggarkan lagi.3 triliun atau 0. Belanja Negara Dalam satu tahun terakhir. Dalam satu tahun terakhir. telah dimulai langkah reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. guna meningkatkan kualitas pengelolaan anggaran. merupakan satu loncatan yang telah dilakukan Pemerintah dan DPR-RI di bidang pengelolaan keuangan negara. Diberlakukannya paket perundang-undangan di bidang keuangan negara tersebut. sebagai upaya untuk meluruskan kembali tujuan dan fungsi anggaran secara sungguh-sungguh. dan Instructie en Verdere Bepalingen voor de Algemene Rekenkamer (IAR) Paket perundang-undangan di bidang keuangan negara yang menjadi landasan reformasi pengelolaan keuangan negara merupakan dasar hukum yang kuat di bidang keuangan negara untuk lebih mandiri.3 triliun. 92 . Hibah Penerimaan hibah tahun 2005 Rp750. yaitu (1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.3 miliar atau 1. Relegen voor het Administratif beheer (RAB). peningkatan pengawasan di dalam pelaksanaan pemungutan dan penyetorannya ke kas negara. mengingat beban premi penjaminan tersebut sudah dibebankan pada Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). karena dalam beberapa periode pemerintahan sebelumnya paket perundang-undangan tersebut belum dapat diselesaikan.0 miliar.0 triliun atau 9. telah dimulai langkah reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. yang berarti naik Rp12. dan akuntabel. (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.7 miliar. dan mempertimbangkan prospek perekonomian dalam tahun 2005 yang diperkirakan akan lebih baik dari tahun sebelumnya. penerimaan negara dari hibah ditetapkan mencapai Rp750.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 atau 0. dengan diberlakukannya satu paket perundang-undangan bidang keuangan negara.6 persen dari penerimaan hibah dalam APBN-P 2004 sebesar Rp737. (Lihat Boks 8: Reformasi Manajemen Keuangan Negara dalam Paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara). Hal ini penting. Dalam APBN 2005. yaitu Indische Comptabiliteitswet (ICW). maka PNBP lainnya dalam APBN 2005 ditetapkan Rp20.0 miliar. transparan. jumlah tersebut berarti mengalami penurunan Rp2. Berdasarkan langkah-langkah kebijakan tersebut.9 persen terhadap PDB. dan (3) Undangundang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.0 persen. karena dalam APBN-P 2004 termasuk penerimaan premi penjaminan sekitar Rp2. Penerimaan hibah ini berasal dari beberapa komitmen yang telah disepakati oleh negara/ lembaga donor pada tahun-tahun anggaran sebelumnya.9 persen terhadap PDB. yang diharapkan dapat dicairkan selama pelaksanaan APBN 2005. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya rencana pendapatan lain-lain.

sebagai Pengguna Anggaran. pelaksanaan anggaran. dilakukan pembagian kewenangan yang lebih jelas dalam pengelolaan keuangan antara menteri teknis dan Menteri Keuangan. perubahan yang sangat signifikan antara lain adalah penerapan TSA (Treasury Single Account) dalam pengelolaan kas negara yang memungkinkan dana pemerintah dikelola secara optimal untuk mendukung pelaksanaan APBN. profesionalitas. penerapan penyusunan anggaran dalam kerangka pengeluaran jangka menengah (Medium Term Expenditure Framework. maupun asas-asas baru yang mendukung pencapaian good governance dan clean government dalam pengelolaan keuangan negara. untuk menjamin pengelolaan keuangan negara secara transparan dan bertanggung jawab. dan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. untuk mengatur penggunaan dana anggaran kementeriannya secara efisien dan efektif dalam rangka optimalisasi kinerja kementeriannya untuk menghasilkan output yang telah ditetapkan. Sementara itu. Reformasi Manajemen Keuangan Negara mencakup keseluruhan aspek pengelolaan keuangan negara. Di bidang perbendaharaan. dan asas spesialitas. Neraca dan Laporan Arus Kas. seperti asas tahunan. dan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. baik asas-asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan keuangan negara. perubahan yang dilakukan meliputi penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). proporsionalitas.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 8: aket Rancangan Undang-undang Bidang Keuangan Negara (RUU tentang Keuangan Negara. Sehubungan dengan itu. Pembagian kewenangan ini memberikan pula fleksibilitas kepada menteri teknis. asas kesatuan. Dalam bidang penyusunan anggaran. Pembagian kewenangan yang baru ini memberikan jaminan (1) terlaksananya mekanisme saling uji (check and balance) dalam pelaksanaan pengeluaran negara. dan (2) kejelasan akuntabilitas Menteri Keuangan sebagai Bendahara Umum Negara dan menteri teknis sebagai Pengguna Anggaran. Pemerintah akan menyajikan laporan yang lebih lengkap dan akurat dalam waktu yang relatif singkat. yaitu penyusunan anggaran. di bidang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. dan penerapan anggaran terpadu (unified budget). Selain itu. Pemerintah telah menyiapkan standar akuntansi pemerintahan dengan mengacu kepada international public sector accounting standard (IPSAS). keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara. berdasarkan UU Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. antara lain akuntabilitas yang berorientasi pada hasil. Sedangkan dalam bidang pelaksanaan anggaran. MTEF). Paket RUU dimaksud kini telah menjadi paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara yang terdiri atas Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-undang Keuangan Negara menjabarkan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam UUD 1945 ke dalam asas-asas umum. yang disusun dan disajikan berdasarkan akuntansi pemerintah. asas universalitas. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. yang meliputi. dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Badan Pemeriksa Keuangan berwenang untuk melakukan P Reformasi Manajemen Keuangan Negara dalam Paket Undang-Undang Bidang Keuangan Negara 93 . RUU tentang Perbendaharaan Negara dan RUU tentang Pemeriksaan Tanggungjawab Keuangan Negara) kepada DPR-RI pada tanggal 29 September 2000 merupakan babak penting dari rangkaian sejarah reformasi manajemen keuangan pemerintah. Laporan keuangan tersebut meliputi laporan Realisasi Anggaran.

yang diterbitkan oleh Fiscal Affairs Department.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 pemeriksaan atas pelaksanaan pengelolaan keuangan negara dan pertanggungjawaban keuangan negara. Pemerintah dengan didukung oleh DPR-RI. antara lain (1) agar tidak terjadi duplikasi anggaran yang disebabkan kurang tegasnya pemisahan antara kegiatan operasional dengan proyek. Dalam tahun 2005 telah dilaksanakan reformasi belanja negara dengan mengubah format anggaran belanja negara menjadi bersifat terpadu (unified budget). sedangkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 mengatur pengalokasian dana yang diperlukan untuk menyelenggarakan kewenangan itu. 94 . dan akan mulai dilaksanakan dalam tahun 2005 adalah dengan perubahan anggaran belanja negara yang sebelumnya terdiri dari anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan menjadi anggaran terpadu (unified budget). dimaksudkan pula untuk mendukung terselenggaranya pemerintahan daerah sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dirumuskan dalam Bab VI UUD 1945. sedang dan akan melaksanakan secara bertahap suatu reformasi di bidang manajemen belanja negara. khususnya proyek-proyek nonfisik. selain menjadi acuan dalam reformasi pengelolaan keuangan negara. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 mengatur fungsi/kewenangan Daerah. Oleh karena itu. (ii) Public Availability of Information. serta (4) meningkatkan kredibilitas statistik keuangan pemerintah. and Reporting. (2) memudahkan penyusunan anggaran berbasis kinerja yang akan diterapkan dalam beberapa tahun ke depan. Anggaran belanja terpadu itu diwujudkan dalam bentuk penyatuan anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan dalam APBN yang selama ini dipisahkan. dan dijabarkan dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Prinsip pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri tersebut sejalan dengan “Codes of Good Practices on Fiscal Transparency”. menjadi satu format anggaran belanja pemerintah pusat yang komprehensif. Bersamaan dengan itu. berfungsi pula untuk memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai implementasi reformasi keuangan negara tersebut. yaitu menyatukan anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan. dalam waktu dekat. yang meliputi (i) Clarity of Roles and Responsibilities. dan (iv) Assurances of Integrity. International Monetary Fund. dengan mengacu pada format keuangan pemerintah sesuai standar internasional. dilakukan juga reklasifikasi belanja negara. Agar kewenangan dan dana tersebut dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah. khususnya belanja negara untuk pemerintah pusat. tidak berkelebihan bila dikatakan bahwa Paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara selain menjadi landasan reformasi dalam pengelolaan Keuangan Negara pada tingkat pemerintahan pusat. (3) memberikan gambaran yang objektif dan proporsional mengenai kegiatan keuangan pemerintah. guna memperjelas keterkaitan antara output/outcome yang dicapai dengan penganggaran organisasi. Langkah reformasi ini sejalan dengan amanat Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. diperlukan asas-asas umum sebagai rambu-rambu dalam pengelolaan keuangan daerah. Asas-asas umum yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Keuangan Negara. Hal ini dilakukan dengan tujuan. Reformasi belanja negara yang sedang dipersiapkan saat ini. Execution. (iii) Open Budget Preparation.

dengan mengacu pada Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. Penyesuaian itu antara lain berupa (1) dalam format dan struktur belanja negara yang baru. (6) perumahan dan fasilitas umum. (10) pendidikan. Sedangkan anggaran belanja pemerintah pusat menurut organisasi akan disesuaikan dengan susunan kementerian negara/lembaga. organisasi. belanja barang. yang segera akan diterapkan Pemerintah. Di samping itu. (4) ekonomi. Dalam APBN 2005. Dalam rangka penghitungan biaya input dan penilaian kinerja program anggaran terpadu ini. dan fungsi. berarti Pemerintah telah mengikuti konsep statistik keuangan pemerintah standar internasional (Government Finance Statistics/GFS Manual 2001). (2) semua pengeluaran negara yang sifatnya bantuan/ subsidi yang disalurkan melalui perusahaan dalam rangka penugasan pelayanan umum. belanja negara tetap dipisahkan antara belanja pemerintah pusat dengan belanja untuk daerah. pembayaran bunga utang. Pemaduan kedua anggaran tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa investasi dan belanja operasional yang berulang (recurrent) secara simultan dipertimbangkan pada saat-saat kunci pengambilan keputusan dalam penyusunan anggaran.(Lihat Boks 9 : Format Baru Belanja Negara). baik yang digunakan untuk investasi maupun untuk biaya operasional. akan dilakukan penerapan secara bertahap (i) anggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). sasaran. dan fungsi. 95 . (ii) kerangka pengeluaran berjangka menengah (medium term expenditure framework/MTEF). (7) kesehatan. Adapun belanja pemerintah pusat menurut fungsi dibedakan dalam 11 fungsi. bantuan sosial. belanja modal. yang akan diterapkan pemerintah dalam jangka menengah. (2) pertahanan. (9) agama. sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. dalam format belanja yang baru diklasifikasikan sebagai subsidi. anggaran belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja pegawai. program. (5) lingkungan hidup. dan mengarah kepada pengalokasian sumber daya yang lebih rasional dan Pengintegrasian anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan merupakan tahapan yang diperlukan untuk memudahkan penyusunan dan pelaksanaan anggaran yang berorientasi kinerja. guna meningkatkan keterkaitan antara proses perencanaan dengan penganggaran. pengintegrasian anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan diperlukan untuk memudahkan penyusunan anggaran berbasis kinerja. Perubahan format dan struktur belanja negara sesuai Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan kegiatan instansi pemerintah. subsidi. Menurut jenis belanja.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dualisme/pembedaan yang ada saat ini antara anggaran belanja rutin dengan anggaran belanja pembangunan telah mengalihkan fokus dari kinerja penganggaran secara keseluruhan. Penyusunan anggaran belanja pemerintah pusat yang bersifat terpadu tersebut diikuti dengan perubahan format anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 menjadi terinci menurut jenis belanja. dan (11) perlindungan sosial. dan belanja lain-lain. Ke depan. sangat penting untuk keseluruhan biaya. dalam format baru diklasifikasikan sebagai belanja lain-lain. anggaran belanja pemerintah pusat terinci menurut jenis belanja. organisasi. belanja hibah. (8) pariwisata dan budaya. dengan melakukan beberapa penyesuaian. (3) ketertiban dan keamanan. supaya dapat terjamin hubungan yang lebih jelas antara tujuan. yaitu (1) pelayanan umum. dan (3) semua pengeluaran negara yang selama ini “mengandung” nama lain-lain yang tersebar di semua pos belanja negara.

96 . beberapa perubahan pokok sebagai akibat dari penerapan 2 hal sebagaimana di atas. Khusus untuk belanja pemerintah pusat. yaitu dengan menyatukan anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan yang sebelumnya dipisahkan. Tujuan perubahan format adalah sebagai berikut. Kedua. s u b s e kto r d an p ro g ram Form at bar u K las ifikas i Jen is Bela n ja U n ifie d B u d g etin g Belan ja p u s a t terd iri d a ri 8 je n is b e lan ja K las ifikas i O rg a n is as i D afta r o rg a n is as i p e n g g u n a an g g ara n b e lan ja n e g ara te rcan tu m d a lam N K d an U U A PBN .Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 9: Format Baru Belanja Negara erubahan format di sisi belanja negara mulai dilaksanakan dalam penyusunan RAPBN 2005. K las ifikas i Se kto r terd iri a tas 20 s ekto r d a n 50 s u b s ekto r Pro g ram meru p akan rin cian d ari s e kto r p ad a p e n g e lu a ran ru tin d an p emb a n g u n a n N ama-n ama p ro g ra m a n ta ra p en g e lu a ran ru tin d a n p e n g e lu a ran p emb a n g u n an a g a k b erb e d a D as ar A lo kas i A lo ka s i an g g ara n b erd a s a rka n s e kto r. Dengan sistem penganggaran yang terpadu (u i i d b d e . Form at Lama K la s ifika s i Je n is Belan ja D u a l B u d g etin g Belan ja p u s a t terd iri d a ri 6 je n is b e lan ja (terma s u k b e lan ja p emb a n g u n an ) K las ifikas i O rg a n is as i T id a k terc an tu m d ala m NK d an U U A PBN teta p i h an y a te rca n tu m d a la m b u ku Sa tu an 3 y a n g d iteta p ka n d en g a n K e p p res . rincian menurut ognss hnatrutdlmbk Sta 3 raiai ay ema aa uu aun . yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. belanja negara menurut jenis belanja (klasifikasi ekonomi) tetap dibedakan antara belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. K las ifikas i Fu n g s i terd iri a tas 11 fu n g s i d an 79 s u b fu n g s i Pro g ram p a d a ma s in g -mas in g keme n terian n e g ara /le mb a g a d iko mp ila s i s e s u a i d en g an fu n g s in y a N ama-n ama p ro g ra m te la h d is es u a ika n d e n g a n u n ified b u d g e t D as ar A lo kas i A lo ka s i an g g ara n b erd a s a rka n p ro g ram ke men te rian n e g ara /lemb a g a P Dalam format baru. Perubahan-perubahan yang diterapkan pada intinya : (1) melaksanakan sistem penganggaran secara terpadu (unified budget). Pertama. b Rincian belanja negara menurut organisasi disesuaikan dengan kementerian negara/lembaga . Dalam format yang lama. perubahan pokok sebagai akibat penyempurnaan format APBN. menyesuaikan dengan klasifikasi yang digunakan secara internasional. dan (b) meningkatkan keterkaitan antara keluaran (output) dan hasil (outcomes) yang dicapai dengan penganggaran organisasi. fungsi dan jenis belanja. dan (2) mereklasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dapat diikuti dalam persandingan format lama dan format baru berikut. yang ada. Ju mlah ke me n te rian n eg ara /lemb a g a d is es u a ika n d e n g a n y a n g ad a . antara lain sebagai berikut : a. meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan belanja negara melalui (a) minimalisasi duplikasi rencana kerja dan penganggaran dalam belanja negara. Secara ringkas. dan akan termuat dalam UU APBN. r n i n b l n a n g r m n r t n f e u g t) i c a e a j e a a e u u j n sb l n a( k n m )t d kl g m m s h a a t r b l n ar t nd nb l n ap m a g n n ei eaj eooi ia ai eiakn naa eaj ui a eaj ebnua.

P e n e r im a a n H ib a h B . Dalam format yang baru ditambah lagi dengan 3 jenis belanja baru. Pengeluaran pembangunan dalam format lama dikonversikan dalam format baru dan terdistribusikan ke dalam belanja pegawai. P e n e r im a a n N e g a ra B u k a n Pa ja k I I . belanja hibah. P e n e r im a a n H ib a h B . Selanjutnya. B e la n ja U n t u k D a e r a h 1 . B e la n ja Pe m e r in t a h P u s a t 1 . P e n e r im a a n Pe r p a ja k a n 2 . Untuk lebih jelasnya mengenai penerapan perubahan format baru khususnya perubahan rincian belanja negara menurut jenis belanja (klasifikasi ekonomi) dapat diikuti dalam konversi sebagai berikut: K O N V ER S I B EL A N JA N EG A R A M EN U R U T JE N IS B E L A N JA D A L A M I -A C C O U N T FO RM A T LA M A A . B e la n ja la in -la in I I . B EL A N JA N E G A R A I. D a n a O t on om i K h u s u s da n P e n y e s u a ia n C . B e la n ja Pe g a w a i 2 . P e n e r im a a n N e g a ra B u k a n Pa ja k FO RM AT BARU A . dan belanja lain-lain. dan bantuan sosial. K e s e im b a n ga n P r im e r D . B e la n ja U n t u k D a e r a h 1 . B a n t u a n S o s ia l 8 . B e la n ja B a r a n g 3 . belanja modal. bantuan sosial. S u rp lu s / D e fis it A n g g a r a n E . B e la n ja Pe g a w a i b . P e m b ia ya a n I I . P EN D A P A T A N N EG A R A D A N H I B A H I. Pem bayaran B u nga U tang d . P e m b ia ya a n Sementara itu. subsidi. Rincian belanja menurut jenis (tidak termasuk belanja pembangunan) terdiri dari 5 jenis belanja. Dalam hal ini 97 . belanja barang. Pengalokasian anggaran dalam format APBN yang baru didasarkan pada program-program yang diusulkan oleh kementerian negara/lembaga. P e n g e lu a r a n p e m b a n g u n a n I I . yaitu belanja modal. Pem bayaran B u nga U tang 5 . karena terdapat perbedaan program. Meskipun merupakan reklasifikasi. D a n a P e r im b a n g a n 2 . Dengan demikian. yaitu : belanja pegawai. B EL A N JA N E G A R A I. rincian anggaran belanja menurut fungsi adalah merupakan kompilasi dari anggaran program-program kementerian negara/lembaga. Selanjutnya. rincian belanja negara menurut fungsi hanya merupakan alat analisis (tools of analysis) yang digunakan untuk menganalisa fungsi-fungsi yang telah. belanja barang. pembayaran bunga utang. rincian belanja menurut fungsi merupakan reklasifikasi atas program-program yang dalam format lama merupakan rincian dari sektor/subsektor. dan belanja rutin lainnya. Fungsi/subfungsi bukan merupakan dasar pengalokasian anggaran. d. sedang dan akan dilaksanakan oleh Pemerintah sesuai dengan international best practices. D a n a P e r im b a n g a n 2 . D a n a O t on om i K h u s u s da n P e n y e s u a ia n C . P e n e r im a a n D a la m N e g e r i 1 . B e la n ja M o d a l 4. P e n e r im a a n D a la m N e g e r i 1 . B e la n ja H ib a h 7 . S u b s id i 6 . P e n g e lu a r a n R u tin a . P EN D A P A T A N N EG A R A D A N H I B A H I. S u rp lu s / D e fis it A n g g a r a n E . B e la n ja B a r a n g c. P e n g e lu a r a n R u tin L a in n y a 2 . B e la n ja Pe m e r in t a h P u s a t 1 . K e s e im b a n ga n P r im e r D . P e n e r im a a n Pe r p a ja k a n 2 . program-program tersebut dikelompokkan sesuai dengan fungsi dan subfungsinya.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 c. namun program-program dalam format baru (unified budget) tidak bisa dipersandingkan dengan program-program dalam format lama. S u b s id i e .

and religion). selanjutnya besaranbesaran anggaran belanja negara dalam APBN 2005. serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. (7) kesehatan. Dalam proses penyusunan APBN 2005 juga dilakukan pembaharuan. Adapun penggunaan anggaran belanja negara tersebut pada intinya akan diarahkan untuk membiayai kegiatan operasional dan non-operasional pemerintah dengan efisiensi dan efektivitas yang semakin meningkat. 98 . yaitu anggaran belanja negara disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005. yang didukung oleh Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL). dan didukung oleh Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/ Lembaga (RKA-KL). Dalam APBN 2005. dalam APBN rincian belanja negara menurut fungsi terdiri dari 11 fungsi dengan rincian. (10) pendidikan. anggaran belanja negara ditetapkan Rp397. atau 18. Dalam APBN 2005. berikut kebijakankebijakan yang mendasarinya dapat disampaikan sebagai berikut. (2) pertahanan. anggaran belanja negara ditetapkan Rp397. (3) ketertiban dan keamanan. terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana bagi masyarakat dan dunia usaha. serta perbaikan pelayanan pemerintah. Sejalan dengan berbagai perubahan tersebut. dan hanya sedikit berbeda dengan memisahkan fungsi agama dari fungsi rekreasi. agar laporan keuangan pemerintah menjadi lebih transparan dan akuntabel.8 triliun. dan (11) perlindungan sosial. Sedangkan RKA-KL adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu kementerian negara/lembaga. Dengan format belanja negara yang baru tersebut.8 triliun. sesuai dengan penggarisan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. Dengan demikian. serta (iii) standar akuntansi pemerintahan. bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu. Hal ini menjadi perhatian utama pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara.2 persen terhadap PDB. RKP merupakan rencana pelaksanaan pembangunan pemerintah yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Nasional (Repenas) Transisi. Sesuai dengan Undangundang Nomor 17 Tahun 2003. (5) lingkungan hidup. (8) pariwisata dan budaya. culture. (6) perumahan dan fasilitas umum.2 persen terhadap PDB. strategis. yang berisi kebijakan pembangunan. (4) ekonomi. baik yang terkait dengan APBN maupun yang diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan.IMF. atau 18. yang merupakan penjabaran dari rencana kerja pemerintah dan rencana strategis kementerian negara/lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran. anggaran belanja negara disusun dengan berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005. perencanaan anggaran.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Indonesia telah mengacu pada classification of the functions of government (COFOG) yang disusun oleh UNDP dan diadopsi GFS manual 2001 . maka di lingkungan Departemen Keuangan dilakukan reorganisasi yang memisahkan secara tegas fungsi perumusan kebijakan. (Lihat Boks 10: Reorganisasi Departemen Keuangan). (9) agama. agar setiap rupiah penerimaan yang diperoleh dari rakyat dapat didistribusikan kembali dan bermanfaat. budaya dan agama (recreation. dan fungsi pelaksanaan anggaran di dalam unit organisasi yang terpisah. sejalan dengan standar akuntansi sektor publik yang diterima secara internasional.(1) pelayanan umum.

unit-unit organisasi dalam Departemen Keuangan. dan perbendaharaan negara. dan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC). Keuangan. Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dalam pengelompokan tersebut dibedakan fungsi penyusunan kebijakan yang bersifat konsepsional (conceptual framework) dengan fungsi penyusunan kebijakan yang bersifat teknis operasional (operational and technical policy). dan Badan Informasi dan Teknologi Keuangan (BINTEK). Sejalan dengan pengelompokan dimaksud. dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35. BAF. dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb). terutama yang berkaitan dengan fungsifungsi pengelolaan kebijakan fiskal. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Dalam rangka reorganisasi tersebut. yaitu Badan Pengkajian Ekonomi. terciptanya kebijakan fiskal yang sehat untuk mendukung pelaksanaan pembangunan nasional yang berkesinambungan. akuntabilitas berdasarkan hasil. serta penerapan sistem penganggaran yang berbasis kinerja (performance based budget). diharapkan mampu mendukung pelaksanaan tugas Departemen Keuangan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur di dalam paket Undang-undang Bidang Keuangan Negara. pengelolaan anggaran negara. Selain itu. DJPKPD. Melalui penataan organisasi ini. terlaksananya alokasi anggaran negara secara efektif dan efisien. antara lain melalui: i. fungsi-fungsi penyusunan kebijakan yang semula dilaksanakan oleh berbagai unit organisasi. yaitu DJA. Sekretariat Jenderal (Setjen). dikelompokkan ke dalam unit organisasi tersendiri. dan BINTEK dihapus dari struktur organisasi Departemen Keuangan. khususnya tiga unit organisasi baru dimaksud. transparansi. Sebagai gantinya. 36. rentang kendali. fungsi-fungsi pelaksanaan kebijakan yang selama ini tersebar pada DJA. serta penyatuan fungsi serupa dalam satu unit organisasi. dibentuk tiga unit organisasi setingkat eselon I. Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK). Badan Analisa Fiskal (BAF). dilakukan penataan kembali tugas dan fungsi unit-unit di lingkungan Departemen Keuangan dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip profesionalitas. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (DJPKPD). 5 (lima) unit organisasi setingkat eselon I.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 10: Reorganisasi Departemen Keuangan governance) dalam pengelolaan keuangan negara. Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan (DJLK). pemisahan fungsi yang jelas antara penyusunan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan (check and balance). dan 37 tahun 2004. Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN). Sesuai dengan pendekatan ini. serta Sekretariat Jenderal dikelompokkan kembali ke dalam unit-unit organisasi Departemen Keuangan. DJLK. yaitu Direktorat Jenderal Anggaran (DJA). Reorganisasi Departemen Keuangan merupakan bagian dari reformasi baikbidang di kelembagaan (institutional reform) untuk mewujudkan kepemerintahan yang (good 99 . dilakukan reorganisasi Departemen Keuangan dengan pendekatan bahwa setiap unit organisasi diarahkan untuk memberikan kontribusi yang optimal dalam pencapaian visi dan misi dalam rangka pengelolaan fiskal (strategy focused organization). antara lain melalui penerapan sistem anggaran terpadu (unified budget). ii. dan Kerjasama Internasional (BAPEKKI). BAKUN. penggunaan kerangka pengeluaran jangka menengah dalam penyusunan anggaran (Medium Term Expenditure Framework — MTEF).

9 persen dari belanja negara. serta (iii) memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.1 persen atau Rp131. pengadaan sarana dan prasarana pembangunan. (ii) meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dari keseluruhan anggaran belanja negara dalam APBN 2005 sebesar Rp397. (4) meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD). sebesar 66. sebagai wujud nyata penerapan kebijakan desentralisasi fiskal yang telah dijalankan sejak tahun 2001. Belanja pemerintah pusat dalam tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp266. serta (5) meningkatkan akuntabilitas. pemberian subsidi. pelaksanaan fungsi pelayanan instansi pemerintah kepada masyarakat. atau 66. (2) memperbaiki kesenjangan fiskal antardaerah. yaitu (i) mempercepat reformasi. Rincian mengenai belanja negara dalam tahun 2005 dapat diikuti dalam Tabel IV. memperbaiki struktur fiskal. dari anggaran belanja negara dalam tahun 2005 tersebut. sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2005. Dengan organisasi yang baru tersebut.5 triliun untuk belanja untuk daerah. Jumlah tersebut diperlukan untuk memenuhi kewajiban pemerintah dalam pembayaran gaji aparatur negara.2 triliun. dan memobilisasi pendapatan. dan Kantor Pelayanan dan Perbendaharaan Negara.9 persen dari belanja negara. sekitar sepertiganya akan ditransfer untuk belanja daerah. sekitar sepertiganya akan ditransfer untuk belanja daerah. terwujudnya sistem perbendaharaan yang transparan dan bertanggung jawab yang mampu menjamin ketersediaan dana secara efisien untuk mendukung kegiatan unitunit pemerintahan dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 100 . transparansi.01/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan serta KMK Nomor 303/KMK. selain lebih terfokus pada pencapaian visi dan misi.2 triliun atau 66. (3) memperkecil kesenjangan pelayanan publik antardaerah. Pengalokasian anggaran untuk daerah tersebut didukung oleh beberapa kebijakan umum yang mendasari antara lain dengan: (1) memperhatikan aspirasi daerah. dan partisipasi masyarakat. terutama melalui penyusunan standar pelayanan minimum. Belanja Pemerintah Pusat Belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 ditetapkan Rp266.8 triliun. sebagai wujud nyata penerapan kebijakan desentralisasi fiskal yang telah dijalankan sejak tahun 2001.3. Sebagai tindak lanjut terbitnya Keputusan Presiden tentang Organisasi Departemen Keuangan yang baru.01/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. dan sebesar 33. Kemudian. serta pemenuhan kewajiban pemerintah pada pihak ketiga. Selain itu. struktur organisasi Departemen Keuangan menjadi lebih ramping. Anggaran belanja negara dalam tahun 2005.9 persen atau Rp266.2 triliun dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 iii. pengelolaan belanja negara juga akan diarahkan untuk mendukung pelaksanaan tiga agenda pembangunan tahun 2005. Menteri Keuangan telah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.

sesuai dengan yang digariskan dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003. organisasi.7 1 . Untuk melangkah kesana. B e la n ja M o d a l 4 . 101 . penumpukan.3 B E LANJA NEG ARA A P B N 2 0 0 5 1) ( t r il iu n r u p ia h ) 2005 U r a ia n APB N 2 6 6 . pengelompokan belanja pemerintah pusat dalam bentuk belanja rutin dan belanja pembangunan yang semula bertujuan untuk memberikan penekanan pada arti pentingnya anggaran pembangunan. P e m b a y a r a n B u n g a U ta n g 5 .4 0 . yaitu menurut jenis belanja. dan memenuhi kewajiban pemerintah dalam hal pembayaran bunga utang.2 6 0 .2 2 . membantu masyarakat yang kurang mampu. khususnya di sisi belanja pemerintah pusat.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 T a b e l IV . D a n a A lo k a s i K h u s u s 2 .5 1 2 4 . D a n a O to n o m i K h u s u s d a n P e n ye s u a ia n J u m l a h 1 ) P e r b e d a a n s a t u a n g k a d i b e la k a n g k o m a t e r h a d a p a n g k a p e n ju m la h a n a d a la h k a r e n a p e m b u la t a n S u m b e r : D e p a r te m e n K e u a n g a n R I Dengan penerapan format baru belanja negara.0 5 .3 7 . B e la n ja L a i n .2 3 9 7 .7 6 .2 0 .7 3 4 . melalui perubahan format belanja pemerintah pusat menjadi tiga bentuk. anggaran belanja pemerintah pusat dalam tahun 2005 antara lain untuk mempertahankan pendapatan nominal aparatur negara relatif tetap seperti tahun 2004. mendukung penyediaan sarana dan prasarana pembangunan nasional. B e la n ja U n t u k D a e r a h 1 .4 4 . B e la n ja B a r a n g 3 . Selama ini. serta usaha kecil dan menengah melalui program subsidi. B a n tu a n S o s i a l 8 . D a n a P e rim b a n g a n a .0 4 3 .1 2 . D a n a B a g i H a s il b .8 % th d PDB 1 2 .1 0 .2 I . B e la n ja P e m e r in t a h P u s a t 1 . S ub s id i 6 . meningkatkan pelayanan publik setiap instansi pemerintah.2 8 8 .1 3 1 . D a n a A lo k a s i U m u m c .la i n I I.8 1 . dan fungsi. B e la n ja H i b a h 7 .3 3 1 .5 2 . B e la n ja P e g a w a i 2 .8 4 .8 0 .1 1 5 . Perkembangan dinamis dalam penyelenggaraan pemerintahan membutuhkan sistem perencanaan fiskal yang terdiri dari sistem penyusunan anggaran tahunan yang dilaksanakan sesuai dengan kerangka pengeluaran berjangka menengah dan berbasis kinerja. maka tidak ada lagi pemisahan antara belanja rutin dengan belanja pembangunan. maka kegiatan awal yang dilakukan adalah dengan melakukan unifikasi anggaran (unified budgeting).1 6 4 . Menurut jenis belanja. petani. dan penyimpangan anggaran.3 1 7 .8 1 3 1 .9 1 .3 1 8 . dalam pelaksanaannya telah menimbulkan peluang terjadinya duplikasi.

honorarium.6 triliun. Dalam belanja pegawai.6 triliun. fungsi ekonomi. serta untuk kontribusi sosial. melalui pemberian gaji dan pensiun ke-13. dapat diuraikan sebagai berikut. Selanjutnya.7 triliun. alokasi anggaran untuk honorarium.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Klasifikasi organisasi didasarkan atas alokasi anggaran programprogram yang akan dilaksanakan oleh kementerian/lembaga. belanja hibah. Dalam APBN 2005. menurut organisasi yang dasar pengalokasian anggarannya menurut program-program yang akan dilaksanakan. Kemudian. dan belanja lain-lain. Sementara itu. sebagian besar anggaran belanja pemerintah pusat terkonsentrasi pada beberapa fungsi. rincian anggaran belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. Anggaran gaji dan tunjangan dalam APBN 2005 ditetapkan Rp34. Berdasarkan atas kebijakan tersebut. dilihat menurut fungsi. 102 . Jumlah tersebut telah memperhitungkan pemberian gaji ke-13 dan penambahan pegawai baru. anggaran untuk gaji dan tunjangan ditetapkan Rp34. atau 22. bantuan sosial. belanja barang. Fungsi-fungsi ini kemudian terinci dalam subfungsi. kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. dan agama. yang bertugas di dalam negeri dan di luar negeri. kebijakan belanja pegawai tetap diarahkan untuk menjaga kelancaran kegiatan operasional pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Menurut Jenis Belanja Berdasarkan format belanja negara yang baru. sama seperti kebijakan dalam tahun 2004. Sementara itu. dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah pusat sebesar Rp266. Kebijakan tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan pendapatan aparatur negara. Kepolisian Negara. belanja modal.2 triliun. yang memuat program-program yang akan dijalankan kementerian negara/lembaga. Dalam APBN 2005. uang vakasi dan lain-lain ditetapkan Rp6. yang terbatas pada langkah mempertahankan pendapatan nominalnya agar relatif tetap. Selain itu. dan Departemen Kesehatan. baik dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada aparatur negara. alokasi belanja pegawai dalam APBN 2005 ditetapkan Rp60.6 triliun. anggaran belanja pemerintah pusat terdiri atas belanja pegawai. maka dilakukan perbaikan manfaat tunjangan hari tua (THT) pegawai negeri. Jumlah tersebut dialokasikan untuk belanja gaji dan tunjangan. yaitu Departemen Pertahanan.8 persen dari belanja pemerintah pusat. kesehatan. beberapa kementerian memperoleh alokasi anggaran yang relatif besar. fungsi pendidikan. subsidi. fungsi pertahanan. Dalam APBN 2005. kebijakan belanja pegawai tetap diarahkan untuk menjaga kelancaran kegiatan operasional pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. yaitu fungsi pelayanan umum. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. pembyaran bunga utang. utamanya di bidang pendidikan. Anggaran belanja pemerintah pusat tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan operasional dan non-operasional setiap kementerian negara/lembaga. walaupun di sisi lain terdapat pengalihan status pegawai Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dari pegawai pusat menjadi pegawai daerah. Belanja pegawai pada dasarnya merupakan kompensasi. Departemen Pendidikan Nasional. vakasi dan lembur. dalam rangka menjaga kepastian manfaat dan tingkat kesejahteraan aparatur negara setelah memasuki masa pensiun. atau 13. dalam rangka mengisi formasi pegawai disediakan anggaran untuk penambahan pegawai baru. Anggaran belanja pemerintah pusat menurut fungsi. sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan.0 persen dari belanja pemerintah pusat. serta fungsi ketertiban dan keamanan.

Beban pembayaran bunga utang luar negeri tersebut terdiri atas pembayaran bunga pinjaman multilateral sebesar 38. serta belanja modal fisik lainnya. belanja pemeliharaan.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Selanjutnya. atau 12. dan belanja perjalanan. yang didasarkan pada beberapa asumsi utama. yang berarti meningkat 16.0 triliun.5 persen dari total belanja pemerintah pusat. pembayaran bunga utang dalam APBN 2005 ditetapkan Rp64. Hal tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya perkiraan tingkat suku bunga SBI-3 bulan dalam tahun 2005 yakni sebesar 6. belanja modal diarahkan untuk mempercepat penyediaan sarana dan prasarana fisik yang manfaatnya dapat dinikmati untuk lebih dari satu tahun anggaran. yang mengacu kepada skala gaji menurut Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1997 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil Sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2001. beban pembayaran bunga utang tahun 2005 tersebut juga telah memperhitungkan pencairan pinjaman baru yang akan dilakukan dalam tahun 2005.2 triliun.2 persen dari total belanja pemerintah pusat. sebesar 60. Komposisi pembayaran bunga utang dalam negeri tahun 2005 antara lain terdiri dari fixed rate sekitar 61.2 persen untuk pembayaran bunga utang luar negeri.5 persen dan nilai tukar rupiah Rp8.8 persen dari belanja pemerintah pusat.2 persen dari anggaran yang sama dalam tahun 2004.9 persen.1 triliun. atau 6. Pembayaran bunga utang luar negeri dalam APBN 2005 ditetapkan Rp25.7 persen. Belanja barang ini dirinci dalam belanja barang. Dalam APBN 2005.0 triliun.5 persen. Dalam APBN 2005. dan pemeliharaan aset negara.7 persen.4 triliun.9 persen. Berdasarkan asumsi-asumsi ekonomi makro serta rencana kebijakan dalam pengelolaan utang negara. dan pinjaman lainnya sekitar 14.600 per dolar Amerika Serikat.1 persen dari total belanja pemerintah pusat.4 persen bunga atas hedge bonds dan surat utang kepada Bank Indonesia. Dalam APBN 2005. pembayaran bunga utang luar negeri dalam APBN 2005 ditetapkan Rp25.1 triliun. Belanja modal tersebut dipergunakan untuk kegiatan investasi pemerintah melalui penyediaan sarana dan prasarana pembangunan dalam bentuk tanah. belanja modal ditetapkan Rp43.1 triliun. Berdasarkan pada kebijakan tersebut. serta sekitar 1. Alokasi anggaran tersebut telah memperhitungkan penyesuaian besaran manfaat THT bagi penerima pensiun. pembayaran bunga utang ditetapkan Rp64. Selain dari pada itu. Dalam APBN 2005.5 persen. belanja jasa. Pembayaran bunga utang dalam negeri ditetapkan mencapai Rp39. alokasi anggaran untuk kontribusi sosial dalam APBN 2005 ditetapkan Rp17. 103 . serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengadaan barang dan jasa. fasilitas kredit ekspor sebesar 21. gedung dan bangunan. jaringan.9 persen. dan 39.1 triliun.4 persen dari belanja pemerintah pusat. belanja barang ditetapkan Rp32.0 triliun.1 triliun atau 9. Pembayaran bunga utang dalam negeri ditetapkan Rp39. Pada sisi lain. bilateral sebesar 24. atau 16. alokasi belanja barang dalam APBN 2005 ditetapkan Rp34. peralatan dan mesin. yaitu suku bunga SBI-3 bulan rata-rata 6. kebijakan belanja barang diarahkan untuk mempertahankan fungsi pelayanan publik setiap instansi pemerintah. Anggaran kontribusi sosial dalam APBN 2005 ditetapkan Rp19.8 persen dialokasikan untuk pembayaran bunga utang dalam negeri. Sejalan dengan rencana kerja pemerintah pusat tahun 2005. belanja modal dalam APBN 2005 ditetapkan Rp43. variable rate sekitar 36.1 triliun atau 24. perjalanan dinas. Belanja barang merupakan belanja negara yang digunakan untuk pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Untuk mendukung agenda tersebut. Dari keseluruhan beban pembayaran bunga utang dalam tahun 2005.1 triliun.

4 triliun. serta membantu BUMN yang melaksanakan tugas pelayanan umum. Dari alokasi subsidi dalam tahun 2005 tersebut. 104 . Dalam tahun anggaran 2005 ditempuh kebijakan untuk tidak menaikkan tarif dasar listrik (TDL). yang diasumsikan rata-rata US$24 per barel. Selisih tersebut terjadi karena Pemerintah menetapkan harga jual BBM dalam negeri yang lebih rendah dari biaya pokok pengadaan BBM. anggaran untuk subsidi ditetapkan Rp31. dan industri (I1) dengan daya terpasang sampai dengan 450 VA untuk konsumsi sampai dengan 60 kwh per bulan. anggaran untuk subsidi ditetapkan Rp31. serta beberapa BUMN lainnya dialokasikan Rp0. hampir seluruhnya disalurkan melalui perusahaan negara.6 juta kilo liter. subsidi dialokasikan sebagai upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga.4 triliun. rumah tangga (R1). Besarnya alokasi subsidi harga BBM tersebut terutama dipengaruhi oleh perkiraan harga minyak mentah internasional dalam tahun 2005. Dengan demikian. sehingga harga jualnya dapat terjangkau oleh masyarakat. atau mengimpor barang atau jasa yang memenuhi hajat hidup orang banyak.9 triliun. PT PLN (Persero) sebagai pengelola subsidi listrik sebesar Rp3. mengekspor. Selanjutnya. Dalam APBN 2005 subsidi melalui PT Pertamina (Persero) ditetapkan Rp19. Perum Bulog sebagai pengelola subsidi pangan dan penugasan mengelola stok beras nasional sebesar Rp5. Di samping itu. atau 10.0 triliun. seperti PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola subsidi BBM sebesar Rp19. membantu masyarakat kurang mampu dan usaha kecil dan menengah dalam memenuhi sebagian kebutuhannya.8 triliun sebagai bantuan dalam rangka menjalankan penugasan pemerintah (public service obligation/PSO). Subsidi ini akan disalurkan kepada kelompok pelanggan sosial (S1 dan S2). hampir seluruhnya disalurkan melalui perusahaan negara. Kebijakan pokok yang berkaitan dengan penyaluran BBM dalam negeri yang akan diambil dalam tahun 2005 antara lain jenis BBM yang menjadi prioritas subsidi adalah minyak tanah untuk rumah tangga.7 persen dari pengeluaran subsidi tahun 2005. bisnis (B1). diharapkan PT PLN (Persero) dapat menetapkan tarif yang terjangkau bagi kelompok pelanggan tersebut. menjual. apabila dilihat dari jenis perusahaannya maka sebagian besar subsidi melalui perusahaan negara dalam tahun 2005 disalurkan melalui lembaga non-keuangan. Dalam APBN 2005. Dalam APBN 2005. Dengan demikian. sehingga harganya lebih murah dari harga pasar.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam APBN 2005. PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan negara yang menyediakan dan menyalurkan BBM menerima subsidi karena adanya selisih antara biaya penyediaan BBM dalam negeri dengan jumlah penerimaan dari penjualan BBM dalam negeri.3 triliun.8 persen dari belanja pemerintah pusat. dalam tahun anggaran 2005 ditempuh kebijakan untuk tidak Dari alokasi subsidi dalam tahun 2005. Selanjutnya. Subsidi tersebut disalurkan melalui perusahaan/lembaga yang memproduksi. atau 60.0 triliun.3 triliun. dan sisanya disalurkan melalui perusahaan swasta.9 persen dari pengeluaran subsidi tahun 2005.3 triliun. beberapa BUMN produsen pupuk yang mengelola subsidi pupuk sebesar Rp1. Adapun kebijakan pokok yang berkaitan dengan penyaluran BBM dalam negeri yang akan diambil dalam tahun 2005 antara lain (i) jenis BBM yang menjadi prioritas subsidi adalah minyak tanah untuk rumah tangga. Penyediaan anggaran subsidi melalui perusahaan negara non-lembaga keuangan tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan Pemerintah untuk memberlakukan administered price bagi beberapa jenis komoditi. dalam APBN 2005 juga dianggarkan subsidi yang disalurkan melalui PT PLN (Persero) sebesar Rp3. atau 11.0 triliun. dan (ii) volume konsumsi BBM dalam negeri dalam tahun 2005 ditetapkan 59. dalam APBN 2005 subsidi harga BBM yang disalurkan melalui PT Pertamina (Persero) ditetapkan Rp19.

8 triliun. baik urea maupun non-urea.8 triliun subsidi dalam APBN 2005 juga disalurkan melalui perusahaan negara berbentuk lembaga keuangan yang mengelola subsidi bunga kredit program. Subsidi tersebut dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program beras untuk rakyat miskin (Raskin) sebesar Rp4. PT Pos Indonesia (Persero) untuk tugas layanan jasa pos pada kantor cabang luar kota dan daerah terpencil.2 persen dari pengeluaran subsidi 2005. jagung komposit.9 miliar.0 miliar melalui perusahaan negara penyedia benih. PT Bank Central Asia Tbk.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 menaikkan tarif dasar listrik (TDL). atau 4. sebagai penugasan Pemerintah kepada Perum Bulog. diharapkan dapat menjangkau sekitar 8. akan dapat terjangkau oleh petani. dan PT Bank Bukopin) sebesar Rp73. Selain melalui perusahaan negara non-lembaga keuangan. BUMN tersebut adalah PT Kereta Api (Persero) untuk tugas layanan jasa angkutan kereta api kelas ekonomi. Lembaga keuangan milik negara tersebut adalah PT Permodalan Nasional Madani (PNM).2 triliun digunakan untuk biaya pengelolaan sekitar 350 ribu ton cadangan stok beras nasional.8 triliun. dengan masing-masing KK memperoleh rata-rata 20 kg beras per bulan dimana 12 bulan. dalam APBN 2005 juga dialokasikan subsidi melalui BUMN pelaksana PSO sebesar Rp0.3 juta kepala keluarga (KK) miskin. yaitu PT Sang Hyang Seri (Persero). Sementara itu. Subsidi tersebut digunakan untuk pengadaan benih unggul padi. dalam rangka menjaga stabilitas harga pupuk di tingkat petani dengan harga yang terjangkau. PT Pertani (Persero).3 triliun. Alokasi 105 Dalam APBN 2005 juga dialokasikan subsidi melalui BUMN pelaksana PSO sebesar Rp0.7 triliun dan bantuan PSO dalam rangka pengelolaan cadangan stok beras nasional sebesar Rp1.3 triliun.000 per kg. Dalam rangka mendukung pelaksanaan penugasan pelayanan umum (Public Service Obligation/PSO). Selain kepada perusahaan negara.9 triliun. Dengan alokasi subsidi tersebut. Selanjutnya. Sementara itu. Dalam APBN 2005 subsidi melalui perusahaan negara produsen pupuk ditetapkan Rp1. jagung hibrida. termasuk untuk daya terpasang 450 VA. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) untuk tugas layanan jasa angkutan laut kelas ekonomi. beberapa bank BUMN. dan bank pembangunan daerah (BPD) yang menyalurkan berbagai skim kredit program dan kredit pemilikan rumah sederhana sehat (KPRSh). dalam APBN 2005 ditetapkan subsidi melalui perusahaan negara produsen pupuk sebesar Rp1. Dalam APBN 2005 juga dialokasikan subsidi sebesar Rp120. . Penyediaan kredit bersubsidi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pendanaan dengan tingkat bunga yang lebih rendah dari bunga pasar.9 triliun. dan PT TVRI (Persero) antara lain untuk program penyiaran publik. Subsidi dan bantuan PSO yang disalurkan melalui Perum Bulog dalam APBN 2005 ditetapkan Rp5. dan meningkatkan pelayanan dengan menambah sambungan baru. dan ikan budidaya. subsidi dan bantuan PSO yang disalurkan melalui Perum Bulog dalam APBN 2005 ditetapkan Rp5. kedelai. sebesar Rp0. dalam APBN 2005 juga dianggarkan subsidi melalui perusahaan swasta (antara lain PT Bank Agroniaga. dengan harga jual Raskin Rp1. Untuk program Raskin. maka diharapkan harga pupuk di tingkat petani.2 triliun. pengalokasian dana lainnya sebesar Rp1. dan UPT Pusat di lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan. sehingga petani bisa mendapatkan benih berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 subsidi tersebut akan digunakan antara lain untuk subsidi bunga atas skim kredit ketahanan pangan (KKP) dan KPRSh.4 0.6 2. B e la n ja P e g a w a i B e la n ja B a ra n g B e la n ja M o d a l P e m b a y a ra n B u n g a U t a n g a .2 Dalam APBN 2005 ditetapkan bantuan sosial Rp16.2 % th d PDB 2. Dalam APBN 2005 belanja lain-lain sebesar Rp15.0 43. usaha ekonomi produktif.4 0.0 1.1 1.8 30.7 34. Sementara itu. Pemanfaatan belanja lain-lain ini adalah untuk menampung belanja pemerintah pusat yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis belanja yang telah disebutkan di atas.0 25. L u a r N e g e ri S u b s id i a . dan dana cadangan umum.L e m b a g a N o n -K e u a n g a n b .5 triliun.0 triliun.0 2.3 31. dan penanggulangan kemiskinan. P e ru s a h a a n S w a s ta B e la n ja H ib a h B a n tu a n S o s ia l B e la n ja L a in -la in J u m l a h 1) P e rb e d a a n s a tu d ig it d i b e la k a n g k o m a te rh a d a p a n g k a p e n ju m la h a n a d a la h k a re n a p e m b u la ta n S u m b e r : D e p a rt e m e n K e u a n g a n R I 106 . Dana untuk belanja hibah dalam APBN 2005 belum ditetapkan.1 31. Selain pos-pos pengeluaran tersebut di atas. Belum dialokasikannya anggaran hibah tersebut berkaitan dengan belum adanya rencana untuk memberikan bantuan atau sumbangan yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau lembaga internasional.7 12.8 0. 3.4 persen dari belanja pemerintah pusat.1 15.1 17.9 1. Bantuan sosial dalam tahun 2005 tersebut diberikan dalam bentuk cadangan anggaran untuk penanggulangan bencana Rp2. 6. 1.8 1. dalam APBN 2005 belanja lainlain ditetapkan sebesar Rp15. Rincian belanja pemerintah pusat menurut klasifikasi jenis belanja dapat lihat pada Tabel IV. Adapun penggunaannya antara lain untuk penanggulangan bencana alam. serta bantuan untuk sarana peribadatan.4 0. beasiswa. 4. dan bantuan yang diberikan melalui kementerian negara/lembaga Rp14. seperti bantuan kemanusiaan.8 1.4 1.Lem ba ga K eu anga n . P e ru s a h a a n N e g a ra .9 persen dari belanja pemerintah pusat. pelayanan hukum. 8.1 64.2 0. 5. 7.4 Ta be l IV . 2.8 triliun atau 5.4 B E L A N J A P E M E R IN T A H P U S A T M E N U R U T J E N IS B E L A N J A A P B N 2005 1) (tril iu n ru p ia h ) 200 5 U ra i a n AP BN 60. Dalam APBN 2005 bantuan sosial ditetapkan Rp17.8 2 6 6 . alokasi dana untuk belanja hibah dalam APBN 2005 belum dapat ditetapkan. Anggaran bantuan sosial ini merupakan transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial.1 39. D a la m N e g e ri b . Hal ini mengingat belanja hibah merupakan transfer yang sifatnya tidak wajib kepada negara lain atau kepada organisasi internasional.0 0.8 triliun.5 triliun.1 triliun atau 6.

kementerian negara/lembaga menyusun dan sekaligus menyampaikan rencana kerja dan anggaran (RKA-KL) dimaksud kepada Menteri Keuangan. 107 . Pada dasarnya. Secara keseluruhan. proses dan mekanisme penganggaran dan penyusunan APBN 2005 juga sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selanjutnya. 36 tentang APBN 2005. yaitu sebagaimana termuat dalam buku Satuan 3 yang menjadi lampiran tak terpisahkan dari UU APBN.2 triliun. anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp266. RK-KL dari semua kementerian negara/lembaga tersebut dihimpun menjadi satu rencana kerja pemerintah (RKP). sedangkan rincian secara lengkap tersaji dalam lampiran NK dan APBN 2005 dan dalam UU No. Akhirnya.2 persen terhadap PDB. Melalui proses sebagaimana tersebut di atas. selama ini sudah ada rincian belanja negara menurut organisasi. Kemudian. rincian belanja negara disusun berdasarkan pada organisasi yang ada beserta dengan program-program yang diusulkannya. rincian belanja pemerintah pusat menurut organisasi akan tersaji dalam tabel ringkas. RKA-KL dari semua kementerian negara/ lembaga dan RKP dijadikan pedoman dalam penyusunan NK dan APBN 2005 dan sekaligus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari UU APBN 2005. Alokasi anggaran belanja pemerintah pusat dalam APBN 2005 sebesar Rp266. dan dana otonomi khusus dan penyesuaian. sedangkan dalam penyusunan APBN 2005 dilakukan melalui proses penganggaran bersifat kombinasi antara top down dan bottom up. Dalam NK dan APBN 2005. Selain itu.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Menurut Organisasi Sebagaimana yang telah tertuang di dalam penjelasan pasal 11 ayat 5 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. belanja negara yang dirinci menurut organisasi adalah hanya belanja pemerintah pusat. Berdasarkan RK-KL dan pagu anggaran per program tersebut.17 Tahun 2003. Masingmasing kementerian negara/lembaga menyusun rencana kerja (RK-KL) yang didalamnya memuat program-program yang akan dilaksanakan oleh unit-unit organisasi yang bersangkutan. sebagai perencanaan. maka dapat disusun anggaran belanja pemerintah pusat beserta rinciannya menurut organisasi. Dalam APBN 2005. Rincian anggaran belanja negara menurut organisasi. masing-masing kementerian negara/lembaga bersama dengan komisi mitra kerjanya di DPR membagi pagu anggaran sementara per program ke dalam kegiatan yang ditetapkan dan menurut jenis belanja. sehingga tersusun rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-KL).2 triliun atau 12. sedangkan belanja untuk daerah tetap dirinci ke dalam dana perimbangan. Pemerintah bersama-sama Panitia Anggaran DPR-RI menetapkan pagu anggaran sementara untuk setiap kementerian negara/ lembaga berdasarkan program. dalam tahun sebelumnya lebih bersifat top down. rincian belanja negara menurut organisasi disesuaikan dengan susunan kementerian negara/lembaga pemerintah pusat. Untuk memenuhi ketentuan pasal 11 UU No. Sementara itu. Dalam penyusunan APBN. Perbedaan yang prinsip antara rincian belanja menurut organisasi dalam APBN 2005 dengan APBN tahuntahun sebelumnya adalah terletak pada penyajian dan proses/mekanisme penyusunannya.

0 triliun atau 8. dalam tahun anggaran 2005 ditetapkan mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp11.1 persen dari belanja pemerintah pusat. Dalam tahun anggaran 2005. Dalam APBN 2005. Dalam APBN 2005.1 triliun. anggaran bagi Departemen Kesehatan sebesar Rp7. Alokasi anggaran bagi Departemen Pendidikan Nasional terutama dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui bidang pendidikan nasional. Departemen Kesehatan mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp7. alokasi anggaran bagi Kepolisian Negara sebesar Rp11. yang antara lain meliputi: (a) program pengembangan sarana dan prasarana kepolisian.4 triliun. alokasi anggaran belanja Departemen Pertahanan akan dipergunakan untuk membiayai program-program prioritas.8 triliun atau 2. yaitu pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. (d) pengembangan pertahanan matra udara. (d) pengendalian banjir dan pengamanan pantai. serta (f) peningkatan/ pembangunan jalan dan jembatan. dan (f) program pendidikan non-formal. (e) program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. dan (c) program pemantapan keamanan dalam negeri.0 triliun.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Anggaran belanja pemerintah pusat yang dialokasikan dalam APBN 2005 tersebut. Alokasi anggaran tersebut diharapkan dapat mendukung Kepolisian Negara dalam melaksanakan program prioritasnya. (c) penyediaan dan pengelolaan air baku. diharapkan dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan program-program prioritas yang meliputi: (a) upaya kesehatan Pemanfaatan anggaran belanja negara bagi Departemen Pendidikan Nasional. Dengan alokasi anggaran tersebut.9 persen dari belanja pemerintah pusat. Sesuai dengan program-program yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang telah mendapatkan persetujuan dari DPR. Dalam APBN 2005. Departemen Pekerjaan Umum mendapat alokasi anggaran Rp13. (b) program pengembangan strategi keamanan dan ketertiban. antara lain: (a) pengembangan dan pengelolaan sungai.2 triliun.8 triliun. diperuntukkan bagi seluruh kementerian negara/lembaga selaku pengguna anggaran sebesar Rp127.3 persen dari belanja pemerintah pusat. antara lain meliputi: (a) pengembangan pertahanan integratif. Kepolisian Negara. (b) pengembangan pertahanan matra darat. Dalam APBN 2005.6 triliun atau 8. dan kepada Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) sebesar Rp138. (c) pengembangan pertahanan matra laut. antara lain meliputi : (a) program pendidikan anak usia dini. (b) pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. (c) program pendidikan menengah. dan (e) penegakan kedaulatan dan penjagaan keutuhan wilayah NKRI. Dalam APBN 2005. Untuk Departemen Pendidikan Nasional dalam APBN 2005 ditetapkan alokasi anggaran sebesar Rp21. Sementara itu. Anggaran belanja negara bagi Departemen Pertahanan dalam APBN 2005 sebesar Rp22. dan programprogram lain sebagai pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. (b) program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. waduk dan sumber air lainnya. Departemen Pekerjaan Umum ditetapkan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp13. (e) rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan. Alokasi anggaran untuk Departemen Pendidikan Nasional ditetapkan akan dipergunakan terutama untuk membiayai program-program prioritas.2 triliun atau 4.2 persen dari belanja pemerintah pusat.8 triliun atau 108 . Alokasi anggaran yang relatif cukup besar tersebut ditetapkan akan dipergunakan terutama untuk pelaksanaan program-program prioritas. Departemen Pertahanan ditetapkan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp22. (d) program pendidikan tinggi. rawa dan jaringan pengairan lainnya.1 triliun.

Sedang dalam Lampiran 5 dapat diikuti rincian belanja menurut organisasi dan program.7 persen dari total alokasi anggaran untuk kementerian negara/lembaga sebagai pengguna anggaran sebesar Rp 127. dan (2) mendistribusikan kembali pendapatan dan kekayaan melalui transfer. berkaitan dengan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara sebagaimana tercantum dalam penjelasan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.8 triliun. dalam APBN 2005 dialokasikan anggaran sebesar Rp82. Departemen Keuangan selaku BUN mendapat alokasi anggaran sebesar Rp138. dan (d) perbaikan gizi masyarakat. Alokasi anggaran tersebut terutama dimaksudkan untuk dapat menunjang program-program pendidikan. Selanjutnya. baik untuk konsumsi kelompok maupun konsumsi perorangan. Sedangkan pimpinan unit organisasi dari kementerian atau lembaga bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN dari segi barang dan/ atau jasa yang disediakan (output). dalam APBN 2005 ditetapkan anggaran sebesar Rp6. dapat dilihat bahwa untuk keenam kementerian negara/ lembaga tersebut sebagai pengguna anggaran.5 persen dari belanja pemerintah pusat. (d) program pendidikan tinggi. menteri atau pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran atau pengguna barang negara bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang APBN dari segi manfaat atau hasil (outcome).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 masyarakat. yang besarnya mencapai Rp138. akan dipergunakan untuk program-program sebagai berikut: (a) pembayaran bunga utang. Menurut Fungsi Fungsi pokok pemerintah adalah (1) melaksanakan tanggung jawab atas ketersediaan barang dan jasa kepada masyarakat.4 triliun atau 64.8 triliun. belanja pemerintah pusat yang dialokasikan kepada Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Dalam rangka penyediaan barang dan jasa tersebut. Secara keseluruhan alokasi anggaran belanja negara menurut organisasi untuk APBN 2005 dapat dilihat pada Tabel IV. (c) program pendidikan menengah. (c) pencegahan dan pemberantasan penyakit. serta (c) belanja lain-lain. Dalam APBN 2005. suatu unit organisasi pemerintah dapat melakukan dengan (a) memproduksi sendiri barang dan jasa dan mendistribusikannya. (b) upaya kesehatan perorangan. Selebihnya. Untuk Departemen Agama.5. meningkat 16. Tanggung jawab pimpinan kementerian/ lembaga dan pimpinan unit organisasi pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara. yaitu Rp45. Sementara itu. (b) program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. seperti : (a) program pendidikan anak usia dini.7 triliun atau 2.4 triliun.4 persen dari tahun sebelumnya.7 triliun. atau (c) mentransfer uang (cash) kepada rumah tangga sehingga memungkinkan mereka mampu membeli barang 109 . Departemen Agama dalam APBN 2005 mendapat alokasi anggaran sebesar Rp6. Dari uraian di atas.3 persen akan dialokasikan untuk membiayai berbagai program yang dikelola oleh masing-masing kementerian negara/lembaga selain dari keenam kementerian negara/lembaga yang telah diuraikan di atas. (b) membeli dari pihak ketiga dan mendistribusikannya. (b) subsidi dan transfer lainnya. yang selain dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional juga dilaksanakan oleh Departemen Agama.0 triliun atau 35. dan (e) program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

8 179.914.748.796.566.9 180.165.9 510.7 14.1 1.186.797.5 11.422.1 4.6 738.6 6.037.278.8 1.8 64.385.7 196.1 69.4 3.9 127.8 138.6 100.6 124.8 364.6 10.8 58.187.9 739.717.5 40.372.965.5 21.8 11.8 504.0 779.6 194.2 84.5 209.6 19.9 155.7 1.2 72.9 67.7 11.4 BAGIAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN 61 62 69 CICILAN DAN BUNGA UTANG SUBSIDI DAN TRANSFER LAINNYA BELANJA LAIN-LAIN JUMLAH BAGIAN PEMBIAYAAN DAN PERHITUNGAN JUMLAH 65.3 1) Perbedaan satu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI 110 .585.6 1.415.6 1.8 1.2 220.264.358.006.0 5.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Tabel IV.1 79.1 21.308.5 1.0 4.2 2.1 7.161.6 3.720.5 BELANJA PEMERINTAH PUSAT MENURUT ORGANISASI.2005 1) (miliar rupiah) KODE 1 2 4 5 6 7 8 10 11 12 13 15 18 19 20 22 23 24 25 26 27 29 32 33 34 35 36 40 41 42 43 44 47 48 50 51 52 54 55 56 57 59 60 63 64 65 66 67 68 74 75 76 77 KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DEWAN PERWAKILAN RAKYAT BADAN PEMERIKSA KEUANGAN MAHKAMAH AGUNG KEJAKSAAN AGUNG KEPRESIDENAN WAKIL PRESIDEN DEPARTEMEN DALAM NEGERI DEPARTEMEN LUAR NEGERI DEPARTEMEN PERTAHANAN DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM DEPARTEMEN KEUANGAN DEPARTEMEN PERTANIAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN KESEHATAN DEPARTEMEN AGAMA DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DEPARTEMEN SOSIAL DEPARTEMEN KEHUTANAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK.5 1.5 55.9 883.8 21.5 14.2 676.2 11.1 1.6 - APBN 2005 218.645.5 72.8 1.024.7 50.3 255.7 3.826.0 346.9 305.4 858.9 137.2 32.7 929.0 53.296.5 59.607.8 52.028.021.5 204.801.473.6 822.9 6.470.3 247.919.8 266. HUKUM DAN KEAMANAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA BADAN INTELIJEN NEGARA LEMBAGA SANDI NEGARA DEWAN KETAHANAN NASIONAL BADAN PUSAT STATISTIK KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BAPPENAS BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERPUSTAKAAN NASIONAL KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI KEPOLISIAN NEGARA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL BADAN NARKOTIKA NASIONAL KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL KOMISI NASIONAL HAK AZASI MANUSIA BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI JUMLAH KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA APBN 2004 202.4 1.8 1.548.773.5 17.1 727.665.9 207.2 750.220.081.6 2.0 6.3 279.3 15.0 3.706.1 11.1 1.422.7 1.745.678.6 5.396.690.7 3.998.5 164.1 3.105.2 1.790.4 632.3 1.2 436.978.2 669.7 13.3 26.2 2.4 213.2 226.387.7 68.7 21.4 136.065.2 64.5 77. 2004 .0 41.006.0 117.2 154.3 595.8 218.244.6 63.

(2) program subsidi dan transfer lainnya. dan (11) perlindungan sosial. subfungsi dan program. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2005. juga dibiayai dari pinjaman dan sumber-sumber lain yang tidak merupakan pembayaran wajib bagi Pemerintah. Dengan berubahnya sebagian nama-nama program dalam Rencana Rincian belanja negara menurut fungsi terdiri 11 fungsi. Selain ke194 program yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga. Dengan demikian rincian belanja negara baik menurut fungsi maupun menurut sektor merupakan kompilasi dari program-program yang dilaksanakan kementerian negara/ lembaga. (6) perumahan dan fasilitas umum. dalam APBN 2005 belanja pemerintah pusat menurut fungsi terdiri dari 11 (sebelas) fungsi. (5) lingkungan hidup. Alokasi anggaran per program menurut fungsi tahun 2005 tidak dapat dipersandingkan dengan alokasi program menurut sektor tahun 2004. Dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi tersebut.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 dan jasa secara langsung di pasar. (3) ketertiban dan keamanan. dan program yang semula terbagi dalam anggaran rutin dan anggaran pembangunan. yaitu (1) program pembayaran bunga utang. Rincian belanja pemerintah pusat menurut fungsi terdiri dari subfungsi-subfungsi. Dalam melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. Mengacu kepada amanat UU Nomor 17 Tahun 2003 tersebut. terdapat 194 (seratus sembilan puluh empat) program. 111 . klasifikasi belanja negara menurut fungsi dapat dipergunakan sebagai alat analisis (tools of analysis) yang menggambarkan perkembangan belanja suatu negara menurut fungsi. selain dibiayai melalui penerimaan yang bersumber dari perpajakan. (9) agama. dan (3) memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia. dan (3) program pembiayaan lain-lain. Dalam proses penganggaran. yang selanjutnya dapat diperbandingkan dengan negara lainnya yang rincian belanjanya mengikuti COFOG. Membandingkan antara rincian belanja menurut fungsi dan menurut sektor pada hakekatnya adalah bahwa klasifikasi fungsi. dalam APBN 2005. kompilasi dari alokasi anggaran tersebut menjadi data statistik yang disusun mengikuti standar internasional sebagaimana ditetapkan dalam classification of the functions of government (COFOG) yang dipublikasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan demikian. dimana 102 (seratus dua) diantaranya merupakan program prioritas. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara telah mengamanatkan bahwa salah satu rincian belanja negara adalah belanja negara menurut fungsi. yaitu (1) mempercepat penyelesaian reformasi. Besaran anggaran untuk masing-masing fungsi atau subfungsi merupakan kompilasi anggaran dari program-program yang termasuk fungsi atau subfungsi yang bersangkutan. yaitu: (1) pelayanan umum. subfungsi dan program merupakan pengganti klasifikasi sektor. (2) meningkatkan kesejahteraan rakyat. yang tersebar di semua fungsi. (7) kesehatan. (8) pariwisata dan budaya. masih terdapat 3 (tiga) program yang dilaksanakan oleh Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). dasar alokasi anggaran adalah programprogram yang diajukan oleh kementerian negara/lembaga. subsektor. Selanjutnya. Rincian belanja negara menurut fungsi merupakan tools of analysis. (4) ekonomi. (2) pertahanan. yang merupakan kumpulan dari program-program yang akan dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga dalam rangka melaksanakan 3 (tiga) agenda pokok pembangunan. (10) pendidikan.

alokasi anggaran untuk program-program pemerintah dalam fungsi pendidikan dalam APBN 2005 mencapai sebesar Rp26. (2) program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi. fungsi ekonomi. Dalam APBN 2005. dan adanya program-program gabungan atau pemecahan dari program yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga pada tahun sebelumnya. (4) program peningkatan/ pembangunan jalan dan jembatan.6 triliun atau 59.4 triliun. yaitu sebesar Rp158. yaitu program pembayaran bunga utang.6 triliun. Alokasi anggaran untuk program-program dalam fungsi pelayanan umum dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp158. dalam tahun 2005 terdapat perubahan sejumlah program. sebagian besar anggaran belanja negara untuk Pemerintah Pusat dialokasikan untuk menjalankan program-program dalam fungsi pelayanan umum.5 persen dari seluruh anggaran belanja pemerintah pusat. Sejalan dengan tiga agenda pembangunan yang akan dilaksanakan Pemerintah dalam tahun 2005.0 triliun atau sekitar 10 persen dari anggaran belanja pemerintah pusat. atau masing-masing sekitar 24 persen. ekonomi. Programprogram yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mengaktualisasikan fungsi ekonomi antara lain adalah: (1) program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan. yang masing-masing mencapai Rp64. 22 persen. dan pertahanan. pendidikan.7 triliun. hal ini tidak berarti bahwa programprogram yang tercakup dalam fungsi-fungsi yang lain menjadi kurang penting.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Kerja Pemerintah (RKP) 2005.0 triliun. dan 6 persen dari keseluruhan belanja pemerintah pusat. Program-program yang akan dilaksanakan antara lain: (1) program wajib belajar (wajar) pendidikan dasar sembilan tahun dalam rangka peningkatan perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang berkualitas. Hal ini terkait dengan upaya untuk meningkatkan anggaran pendidikan sesuai amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. total alokasi anggaran pada program-program yang terdapat dalam fungsi ekonomi mencapai sebesar Rp28. Sebagian besar belanja pemerintah pusat untuk membiayai pelaksanaan program-program dari fungsi-fungsi pelayanan umum.0 triliun. serta fungsi ketertiban dan keamanan.0 triliun. Jumlah tersebut mencapai 10. program pembayaran subsidi dan transfer lainnya. (3) program penyempurnaan restrukturisasi dan reformasi sarana dan prasarana ketenagalistrikan. karena program-program tersebut juga mendapatkan alokasi anggaran yang cukup memadai sesuai dengan kebutuhan anggaran yang diperlukan. maka program-program yang terdapat dalam belanja negara menurut fungsi dalam APBN 2005 tidak dapat dipersandingkan dengan program-program yang terinci dalam belanja negara menurut sektor dalam APBN 2004. Di samping itu. dan fungsi pertahanan. serta ketertiban dan keamanan. dan program pembiayaan lain-lain. Namun demikian. Alokasi anggaran untuk program-program dalam fungsi pendidikan dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp26. Sementara itu. dan Rp15. 112 . Dalam tahun 2005 sebagian besar belanja pemerintah pusat terdapat pada fungsi pelayanan umum. Rp58. dan (5) program peningkatan ketahanan pangan. fungsi pendidikan. Dengan kata lain. Relatif besarnya anggaran belanja pemerintah pusat dalam fungsi pelayanan umum tersebut antara lain dikarenakan dalam fungsi tersebut tercakup pula program-program yang dijalankan oleh Bendaharawan Umum Negara. (2) program Alokasi anggaran untuk program-program dalam fungsi ekonomi dalam APBN 2005 ditetapkan sebesar Rp28. rawa. tidak seluruh program-program yang diajukan kementerian negara/lembaga pada tahun 2004 dapat dikonversikan ke dalam program-program yang diajukan pada tahun 2005. dan jaringan pengairan lainnya.6 persen dari anggaran belanja pemerintah pusat yang ditetapkan dalam APBN 2005 sebesar Rp266. Perubahan tersebut meliputi adanya usulan program-program baru yang sebelumnya belum ada.2 triliun.8 triliun.

dan (5) program pembinaan dan penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM).001. APBN 2005 1) (miliar rupiah) Program-program dalam fungsi pertahanan dan fungsi ketertiban dan keamanan dalam APBN 2005 .0 15. Selain pendidikan umum dan kejuruan. Sementara itu. Pemerintah juga memberikan perhatian pada pendidikan agama dan keagamaan. program-program yang akan dilaksanakan untuk mengaktualisasikan fungsi pertahanan antara lain: (1) program pengembangan pertahanan integratif.016. sedangkan dalam Lampiran 6 dapat diikuti rincian lebih lengkap belanja pemerintah pusat menurut fungsi. (3) program pengembangan potensi dukungan pertahanan. KODE 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 FUNGSI PELAYANAN UMUM PERTAHANAN KETERTIBAN DAN KEAMANAN EKONOMI LINGKUNGAN HIDUP PERUMAHAN DAN FASILITAS UMUM KESEHATAN PARIWISATA DAN BUDAYA AGAMA PENDIDIKAN PERLINDUNGAN SOSIAL JUMLAH JUMLAH 158.038.4 7. kualitas. Dalam Tabel IV. serta mampu menciptakan dan mengembangkan iptek. Sebagai salah satu upaya untuk semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). dalam rangka meningkatkan perluasan layanan pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi kebutuhan pasar kerja. (2) program pengembangan pertahanan matra darat. Sehubungan dengan itu. fungsi ketertiban dan keamanan akan diaktualisasikan melalui: (1) program pemeliharaan kamtibmas. Dalam APBN 2005.220.3 266.036. kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan.1 3. Berkaitan dengan hal tersebut. maupun udara. dalam fungsi pendidikan juga terdapat program peningkatan pendidikan agama dan keagamaan. dan (3) program pendidikan tinggi. Keberhasilan dari pelaksanaan programprogram tersebut tidak terlepas dari jumlah. (2) program pengembangan sarana dan prasarana kepolisian.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 pendidikan menengah.4 691.3 22.4 2. dalam APBN 2005 juga akan dilaksanakan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.6 dapat diikuti rincian belanja pemerintah pusat menurut fungsi. Tabel IV.987.3 1) Perbedaan satu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI 113 .104. laut. (4) program pembinaan sarana dan prasarana hukum. (3) program pemantapan keamanan dalam negeri.3 25.585.6 ANGGARAN PEMERINTAH PUSAT MENURUT FUNGSI.280.1 920. yang diarahkan untuk mengantisipasi meningkatnya lulusan sekolah menengah pertama sebagai konsekuensi dari keberhasilan program wajar 9 tahun dan penyediaan tenaga kerja lulusan pendidikan menengah yang berkualitas.7 2.559.4 28. fungsi pertahanan dan fungsi ketertiban dan keamanan merupakan fungsi-fungsi strategis dari Pemerintah.

dan partisipasi masyarakat. dan dana tugas pembantuan. Pemerintah dan DPR-RI sedang melakukan proses pembahasan terhadap usulan pemerintah atas amandemen Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dalam rangka meningkatkan akuntabilitas publik dan pelayanan publik tingkat lokal. 114 . memfasilitasi. (ii) mempercepat penanggulangan kemiskinan. Selain itu. dan cepat tumbuh. (Lihat Boks 11: Amandemen Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah). serta (vii) meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali pendapatan asli daerah (taxing power). sejak tahun 2001. budaya. serta (iii) mempercepat pertumbuhan di wilayah andalan. seperti kawasan timur Indonesia (KTI). memperbaiki struktur fiskal. transparansi. pinjaman daerah. Pemerintah telah menyediakan alokasi belanja untuk daerah dengan jumlah dan cakupan yang cenderung meningkat. utamanya dana dekonsentrasi. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah mengamanatkan bahwa setiap penyerahan atau pelimpahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah harus diikuti dengan pembiayaannya (money follow function). maka Pemerintah mengupayakan pemantauan serta evaluasi atas pelaksanaan dana desentralisasi. serta sesuai dengan asas demokrasi. Pemerintah telah menyediakan alokasi anggaran belanja untuk daerah. dan keamanan. Sebagai tahun kelima pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Amandemen tersebut meliputi dana perimbangan. Guna mewujudkan sistem perimbangan keuangan yang mencerminkan pembagian tugas. (vi) konsolidasi kebijakan fiskal khususnya untuk mendukung kebijakan makro ekonomi. melalui APBN. sosial. dan kegiatan dalam programprogram yang dibiayai melalui belanja pemerintah pusat. Arah kebijakan belanja untuk daerah tahun 2005 terutama untuk meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas. (iv) memperkuat koreksi kesenjangan fiskal antar daerah (horizontal imbalance).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Belanja Untuk Daerah Sejak tahun 2001. dalam tahun 2005 belanja untuk daerah diarahkan terutama untuk (i) meningkatkan efisiensi sumber daya nasional. kewenangan. Selanjutnya. (iii) meningkatkan akuntabilitas. yang dari tahun ke tahun jumlah dan cakupannya cenderung meningkat. wilayah terpencil. dan tanggung jawab yang jelas antara Pemerintah Pusat dan Daerah. politik. khususnya di wilayah pasca konflik. strategis. (v) memperkecil kesenjangan pelayanan publik antardaerah (public service provision gap) terutama melalui penyusunan standar pelayanan minimum (SPM). pemulihan kondisi ekonomi. guna mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah yang terkoordinasi dan terintegrasi. kebijakan belanja untuk daerah dalam tahun 2005 juga diarahkan untuk mendorong. dan memobilisasi pendapatan. Hal ini dilaksanakan untuk menghindari terjadinya kegiatan yang tumpang tindih antara kegiatan yang dibiayai dengan dana desentralisasi. melalui APBN. dan pelaksanaan Sistem Informasi Keuangan Daerah. (ii) memperhatikan aspirasi daerah. pengaturan pengelolaan keuangan daerah. Berkaitan dengan itu. dan kawasan perbatasan. dan membantu Pemerintah Daerah dalam melakukan berbagai upaya untuk (i) mengatasi ketertinggalan wilayah terbelakang.

pengaturan secara rinci pengelolaan keuangan daerah. Ketentuan tersebut akan dielaborasi lebih lanjut dalam Perubahan UU Nomor 34 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dan pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri. pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 perlu disesuaikan dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. penetapan maksimal 130 % atas penyaluran realisasi minyak dan gas bumi.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 11: Amandemen Undang-undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintahandan mantap antaradi semua tingkat yang harmonis pemerintahan. MA merekomendasikan kepada Pemerintah dan DPR agar melakukan perubahan yang bersifat mendasar dan menyeluruh terhadap UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. diperlukan sistem hubungan keuangan yang adil pemerintah pusat dan pemerintah daerah. beberapa ketentuan dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 dinilai mengandung beberapa kelemahan. DPA. Beberapa perubahan yang telah berhasil dirumuskan dalam UU ini. dan Tap MPR Nomor VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi atas Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Presiden. Selain itu. dan pelaksanaan sistem informasi keuangan daerah. sehingga menutup peluang kabupaten/kota untuk menambah jenis pajak baru di luar yang tercantum dalam UU. Pemerintah bersama DPR telah berhasil menetapkan UU Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU Nomor 25 Tahun 1999 di atas. dan sesuai dengan asas demokrasi. antara lain meliputi (i) dimasukkannya persentase bagi hasil PPh Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 yang diadopsi dari PP 115 Tahun 2000 tentang Pembagian Hasil Penerimaan PPh Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21 antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah 115 . Dalam pelaksanaannya. antara lain. Berdasarkan beberapa hal tersebut. antara lain meliputi pengaturan sumber-sumber penerimaan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. definisi dan kriteria pengalokasian Dana Alokasi Khusus. Pemerintah bersama-sama dengan DPRRI telah memberlakukan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. penambahan bagian daerah dari sektor pertambangan panas bumi. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 secara tegas dinyatakan ketentuan mengenai prinsip kebijakan perimbangan keuangan dan ketentuan lebih lengkap mengenai sumber-sumber penerimaan daerah dengan mencantumkan jenis-jenis dari lain-lain pendapatan asli daerah (PAD) yang sah dan ketentuanketentuan yang tidak boleh dilanggar oleh daerah dalam upaya meningkatkan PAD-nya. terdapat beberapa ketentuan tambahan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. Berkaitan dengan dana perimbangan. penegasan mekanisme penyaluran bagian daerah. yang berkaitan dengan formulasi dan penghitungan dana perimbangan. Di samping itu. penyesuaian persentase bagi hasil minyak dan gas bumi. prinsip-prinsip pelaksanaan pinjaman daerah. Upaya untuk meningkatkan PAD ini akan dilakukan dengan memperluas tax base dan memberikan taxing power kepada kabupaten/kota yang tidak berdampak tumpang tindih dengan pajak nasional. Tap MPR Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. penyesuaian persentase Dana Alokasi Umum. Sesuai dengan amanat Tap MPR Nomor XV/MPR/1998 mengenai perlunya pengaturan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabilitas publik dan pelayanan publik tingkat lokal. DPR. BPK.

Selanjutnya. Sedangkan dari gas bumi. 116 . dan kumulatif pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah tidak melebihi 60% dari PDB tahun anggaran yang bersangkutan. termasuk penerbitan obligasi Daerah. Pengaturan tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kebijakan fiskal dan ekonomi makro daerah. dalam rangka meningkatkan mutu pelaksanaan desentralisasi berdasarkan prinsip demokrasi. Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) juga telah dimuat dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. ketentuan pelaksanaannya masih menunggu pembahasan lebih lanjut. yaitu bahwa untuk keperluan mendesak yang diakibatkan bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi daerah. serta penambahan bagian daerah dari sektor pertambangan panas bumi. Dalam hal ini. persentase tersebut minimal sebesar 26 % dari PDN Neto yang ditetapkan dalam APBN. imbangan untuk Pemerintah sebesar 84. dan pelaksanaan sistem informasi keuangan daerah. Penerbitan obligasi hanya dapat diterbitkan dalam matauang rupiah. (iii) penetapan realisasi penyaluran bagi hasil yang berasal dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak melebihi 130 % (seratus tiga puluh persen) dari asumsi dasar harga minyak dan bumi dalam APBN tahun berjalan. dan tugas pembantuan. sepanjang mengikuti ketentuan perundangundangan yang berlaku. Pengaturan prinsip-prinsip pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah dimaksudkan untuk lebih mendorong terwujudnya good governance yang mengacu pada pengalaman internasional. Kemudian. meliputi sistematika dan redaksional. akuntabilitas.5 % dan untuk Daerah sebesar 30. serta (vi) penyempurnaan definisi dan kriteria Dana Alokasi Khusus. (iv) penyempurnaan bagi hasil SDA. dengan mengalihkan DAK yang bersumber dari Dana Reboisasi ke dalam Dana Bagi Hasil. Informasi keuangan yang terdapat dalam sistem ini selain dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambilan kebijakan pusat dan daerah. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tersebut juga telah diatur lebih lengkap mengenai pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah. dan hanya boleh digunakan untuk membiayai investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan. yaitu dari minyak bumi. termasuk mengenai anggaran desentralisasi. dekonsentrasi. Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat yang berasal dari APBN dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Daerah.5 % dan untuk Daerah 15.5 %. Pembatasan yang masih diperlukan adalah pengendalian defisit APBN dan APBD tidak melebihi 3% dari PDB tahun anggaran yang bersangkutan. maka kelebihannya akan diperlakukan sebagai DAU tambahan yang penyalurannya akan dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 juga membahas mengenai pengaturan secara rinci pengelolaan keuangan daerah. yaitu sejak tahun 2008. Pengaturan pinjaman daerah yang diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 telah disesuaikan dengan UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. pinjaman yang bersumber dari dalam negeri dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. serta lebih menjamin kepastian hukum. pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri tidak perlu lagi dibatasi hanya untuk membiayai proyek-proyek yang menghasilkan penerimaan (revenue generating). juga dimaksudkan sebagai upaya pengungkapan informasi kepada publik secara luas. Dalam hal ini. imbangan untuk Pemerintah sebesar 69. 0. (v) penyesuaian persentase Dana Alokasi Umum (DAU).5 % dari imbangan untuk Daerah baik dari minyak bumi dan gas bumi akan dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar. Dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 juga dikemukakan mengenai dana darurat. (ii) disesuaikannya persentase bagi hasil minyak dan gas bumi yang akan berlaku sejak tahun 2009. melalui baik lembaga keuangan perbankan maupun lembaga keuangan non-perbankan. dan transparansi.5 %. Dalam hal terdapat kelebihan realisasi penyaluran bagi hasil tersebut. Sementara itu.

diarahkan terutama untuk (i) memperkuat koreksi ketimpangan horisontal. rasionya terhadap PDB menurun 0. Dana Perimbangan Dalam tahun 2005.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam tahun anggaran 2005. 117 .5 triliun atau 6. Alokasi dana perimbangan ditetapkan sebesar Rp124. yaitu sebesar 94.0 persen bila dibandingkan dengan alokasi dana perimbangan dalam APBN-P tahun 2004. dan ditujukan untuk mengoreksi ketimpangan vertikal (vertical imbalance).2 triliun atau 1. dana alokasi umum (DAU). Dalam tahun 2005. Dari total alokasi dana perimbangan dalam tahun 2005 tersebut. (ii) meningkatkan pelayanan publik. kebijakan dana perimbangan yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). antara lain melalui peningkatan koordinasi dan akurasi data. Dana Bagi Hasil Dana bagi hasil merupakan bagian daerah yang bersumber dari penerimaan yang dihasilkan oleh daerah (by origin). Alokasi belanja untuk daerah tersebut sebagian besar merupakan alokasi dana perimbangan. naik 1.7 persen terhadap PDB. maka akan diupayakan percepatan penetapan alokasi DBH perpajakan dan DBH SDA.3 triliun atau 5.5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. jumlah tersebut meningkat Rp1. Kebijakan dana bagi hasil mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku. Demikian pula.5 persen merupakan alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian.2 persen dibandingkan dengan alokasinya dalam APBN-P tahun 2004.2 persen dari tahun sebelumnya.2 triliun. Alokasi DBH ditetapkan Rp31. 25. Jumlah ini. Dalam tahun 2005 alokasi belanja untuk daerah ditetapkan Rp131. alokasi dana perimbangan dalam tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp124. alokasi anggaran belanja untuk daerah ditetapkan Rp131. UU Nomor 18/ 2001. Dalam rangka peningkatan dan penyempurnaan penyaluran DBH tahun 2005. turun 16.4 persen terhadap PDB. dan sisanya sebesar 5. Jumlah ini secara nominal meningkat sebesar 1. naik 1. dan UU Nomor 21/2001.2 triliun atau 1.1 persen merupakan alokasi dana bagi hasil. Alokasi DBH dalam tahun 2005 terdiri dari alokasi DBH perpajakan 62. yaitu mengacu kepada UU Nomor 25/1999. Secara nominal. dan (iii) meningkatkan efisiensi melalui anggaran kinerja berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.3 triliun atau 5.6 persen dibandingkan dengan alokasi DBH dalam APBN-P tahun 2004. Dalam pelaksanaannya. Besarnya bagian daerah tersebut ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.4 persen merupakan alokasi dana alokasi umum.5 persen dan alokasi DBH SDA 37. atau 1.7 persen terhadap PDB.0 persen terhadap PDB. penyaluran dana bagi hasil didasarkan atas realisasi penerimaan negara yang dibagihasilkan.5 triliun. alokasi DBH ditetapkan Rp31.5 triliun atau 6.4 persen terhadap PDB. baik penerimaan perpajakan. secara nominal mengalami penurunan Rp6. maupun penerimaan sumber daya alam. 71.0 persen dari tahun sebelumnya.5 persen merupakan alokasi dana alokasi khusus. dan 3. atau 16.5 persen. Berkaitan dengan itu.0 persen terhadap PDB.6 persen dari tahun sebelumnya. dan dana alokasi khusus (DAK). UU Nomor 17/2000.5 persen.

kehutanan. masing-masing menerima alokasi dana bagi hasil dari penerimaan minyak bumi dan gas alam sebesar 70 persen setelah dikurangi pajak. yang terdiri dari minyak bumi. pajak bumi dan bangunan (PBB). dengan rincian 8 persen menjadi bagian provinsi.5 triliun atau 0. dan faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan. Selanjutnya. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai dengan tahun ke-8. alokasi DBH perpajakan ditetapkan Rp19. Jumlah ini.9 persen terhadap PDB. atau 10. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 115 Tahun 2000. dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999. dan DBH BPHTB Rp3. dan provinsi Papua sampai dengan tahun ke-25. dan Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan. pertambangan umum. sedangkan sisanya sebesar 20 persen merupakan bagian pemerintah pusat yang dikembalikan lagi kepada pemerintah daerah. secara nominal mengalami peningkatan Rp1. bagian daerah atas BPHTB ditetapkan sebesar 80 persen dari penerimaan BPHTB. DBH Sumber Daya Alam DBH sumber daya alam terdiri dari bagi hasil dari penerimaan sumber daya alam (SDA). berdasarkan Undangundang Nomor 25 Tahun 1999.2 triliun. luas wilayah. Sementara itu. bagian daerah atas PPh.8 triliun. 118 . Dalam tahun 2005.4 triliun. sejalan dengan disahkannya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sementara itu.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 DBH Perpajakan DBH Perpajakan meliputi bagi hasil atas penerimaan pajak penghasilan (PPh) pasal 21 dan PPh 25/29 orang pribadi. Penetapan bagian daerah atas DBH SDA sesuai dengan Undangundang Nomor 25 Tahun 1999 dan PP Nomor 104 Tahun 2000. gas alam. baik PPh pasal 21 maupun PPh pasal 25/29 orang pribadi ditetapkan masing-masing sebesar 20 persen dari penerimaannya. Alokasi DBH perpajakan meliputi DBH PPh Rp6.5 triliun atau 0. serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Penetapan bagian daerah atas DBH Pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 115 Tahun 2000. yang seluruhnya juga dikembalikan lagi kepada daerah. dan perikanan.9 persen terhadap PDB. dan perikanan ditetapkan masing-masing sebesar 80 persen.8 triliun. sedangkan sisanya sebesar 10 persen merupakan bagian pemerintah pusat. alokasi untuk daerah dari bagi hasil minyak bumi dan gas alam ditetapkan masing-masing 15 persen dan 30 persen dari penerimaannya setelah dikurangi pajak. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Provinsi Papua. Namun. kehutanan. DBH PBB Rp9.2 persen dibandingkan dengan alokasi DBH perpajakan dalam APBN-P tahun 2004. Alokasi DBH perpajakan ditetapkan Rp19. bagian daerah dari penerimaan SDA pertambangan umum. dan 12 persen menjadi bagian kabupaten/ kota yang pembagiannya diatur melalui Keputusan Gubernur dengan mempertimbangkan jumlah penduduk. bagian daerah atas PBB ditetapkan sebesar 90 persen dari penerimaan PBB.

Alokasi DBH SDA ditetapkan Rp11.8 triliun (4. atau 8. Penggunaan DAU tahun 2005 disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan masingmasing daerah.1 persen terhadap PDB. naik 8. Dari jumlah tersebut.1 persen. kebijakan DAU mencakup hal-hal sebagai berikut: (i) alokasi DAU ditetapkan 25.6 triliun.8 triliun atau 0. Sementara itu. (iii) keadaan geografi. dan (iv) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). besarnya dana alokasi umum (DAU) ditetapkan sekurang-kurangnya 25 persen dari penerimaan dalam negeri bersih. (iii) potensi SDM.6 triliun.8 persen dibandingkan dengan alokasi DBH SDA dalam APBN-P tahun 2004.9 triliun (3. (ii) potensi SDA. Berdasarkan perkiraan penerimaan dalam negeri dalam tahun anggaran 2005 yang sebesar Rp379. turun 39. DAU bagian pemerintah provinsi tersebut naik 8.5 persen dari total penerimaan dalam negeri bersih.8 persen dari tahun sebelumnya. atau sekitar 39. alokasi DBH SDA ditetapkan Rp11.8 triliun atau 4. dan DBH perikanan Rp0.5 persen terhadap PDB. atau sebesar Rp8. DBH kehutanan Rp0. Dalam tahun 2005.1 persen terhadap PDB) atau 25. sedangkan pemerintah kabupaten/kota akan mendapatkan alokasi 90 persen.6 triliun.2 persen dari total DAU dalam APBN-P tahun 2004.3 triliun. Alokasi DBH SDA terdiri dari DBH minyak bumi Rp4. variabel kapasitas fiskal daerah terdiri dari (i) potensi industri. Namun demikian.7 triliun. serta (v) peningkatan akurasi data dasar perhitungan DAU. yang dihitung dari selisih kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal daerah. Formula DAU tahun 2005 ditetapkan berdasarkan bobot daerah.7 triliun. maka besarnya DAU yang akan ditransfer ke daerah dalam tahun 2005 adalah Rp88.5 persen dari penerimaan dalam negeri bersih. Alokasi DAU ditetapkan Rp88. yaitu penerimaan dalam negeri setelah dikurangi dengan dana bagi hasil dan DAK yang bersumber dari dana reboisasi. secara nominal. DBH pertambangan umum Rp1.8 triliun. Penetapan formula DAU 2005 sesuai dengan PP 104/2000 sebagaimana telah diubah dengan PP 84/2001. (iii) tetap mempertimbangkan faktor penyeimbang (alokasi dasar) berdasarkan lumpsum dan proporsional kebutuhan belanja pegawai.2 persen dari tahun sebelumnya.6 triliun.2 triliun dan alokasi DAK DR sebesar Rp0. Jumlah ini secara nominal naik Rp6. atau sebesar Rp79. Dana Alokasi Umum DAU diberikan kepada daerah dengan tujuan terutama untuk mengatasi kesenjangan horisontal (horizontal imbalance) antardaerah.6 persen terhadap PDB). penggunaan DAU harus disesuaikan dengan prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah. mengalami penurunan Rp7.5 persen terhadap PDB. DAU dihitung secara proporsional dari daerah induknya.8 triliun atau 0. pemerintah provinsi akan memperoleh bagian 10 persen. 119 . DBH gas alam Rp4. Jumlah ini. yang merupakan tugas dan kewenangan daerah. (ii) formula sesuai dengan PP Nomor 104/2000 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 84/2001.9 triliun (0.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam tahun 2005. Sesuai dengan Pasal 7 UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. (iv) bagi daerah otonom baru.5 persen dari alokasi DAU provinsi tahun 2004 dan alokasi DAU kabupaten/kota juga mengalami peningkatan 8. dan (iv) tingkat pendapatan masyarakat dengan memperhatikan kelompok masyarakat miskin. (ii) luas wilayah. Adapun variabel kebutuhan fiskal daerah meliputi: (i) jumlah penduduk. serta dengan memperhitungkan perkiraan alokasi DBH sebesar Rp31.4 persen terhadap PDB).3 triliun. dan dialokasikan dalam bentuk block grant.

01 persen terhadap PDB. DAK dibedakan atas DAK dana reboisasi (DAK DR) dan DAK non-dana reboisasi (DAK Non-DR). kedua. alokasi DAK DR ditetapkan sebesar Rp0. (iii) tunggakan. dan ketiga. turun 62. dan (v) keberhasilan dalam penanganan kayu ilegal.3 triliun atau 0.0 persen.5 persen dari tahun sebelumnya. DAK Non-Dana Reboisasi DAK Non-DR dialokasikan untuk mendukung kegiatan yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab DAK Non-DR dialokasikan sejak tahun 2003 dan digunakan untuk membiayai kebutuhan khusus.5 triliun. Sedangkan dana reboisasi yang sebesar 60 persen merupakan bagian Pemerintah Pusat yang penggunaannya untuk rehabilitasi hutan dan lahan.2 persen dibandingkan dengan alokasi DAK dalam APBN-P tahun 2004.5 persen dibandingkan alokasi DAK DR dalam APBN-P tahun 2004 yang sebesar Rp0. pertama. terutama bagi daerah yang sebelumnya merupakan daerah penghasil. Sumber penerimaan dana reboisasi berasal dari: (i) rencana karya tahunan. (iv) pengembalian pinjaman hutan tanaman industri (HTI) patungan dan BUMN yang jatuh tempo.0 persen dan alokasi DAK Non-DR 93. seperti (i) kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumus alokasi umum. Berdasarkan kriteria kebutuhan khusus tersebut.01 persen terhadap PDB.2 persen terhadap PDB. Sesuai dengan UU Nomor 25 Tahun 1999 jo PP Nomor 104 Tahun 2000. kebutuhan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil.2 persen dari tahun sebelumnya. kebutuhan yang tidak dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus alokasi umum. yang merupakan bagian daerah penghasil. Alokasi DAK DR ditetapkan Rp0. DAK Dana Reboisasi Alokasi DAK ditetapkan Rp4. DAK dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhan khusus dengan memperhatikan ketersediaan dana dari APBN. DAK DR digunakan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil.3 triliun atau 0. Dalam tahun 2005. yaitu sebesar 40 persen. Penurunan tersebut berkaitan dengan lebih rendahnya penerimaan dana reboisasi dalam tahun 2005 dibandingkan dengan penerimaannya dalam APBN-P tahun 2004. Departemen Keuangan. Jumlah ini.2 persen terhadap PDB. alokasi DAK ditetapkan Rp4. dan atau (ii) kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional. atau 16. Kriteria kebutuhan khusus tersebut meliputi.3 triliun atau 0. atau 62.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dana Alokasi Khusus DAK dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhan khusus dengan memperhatikan ketersediaan dana dari APBN. dan Komisi III DPR RI. Dalam tahun anggaran 2005.3 triliun atau 0. (ii) ijin pemanfaatan kayu.8 triliun. Sesuai dengan namanya. kebutuhan khusus yang dapat dibiayai dengan DAK dana reboisasi adalah kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil. kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional. Jumlah ini secara nominal menunjukkan penurunan Rp0. Sumber pendanaannya berasal dari penerimaan dana reboisasi. secara nominal mengalami peningkatan Rp0. DAK Non-DR dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendukung pelaksanaan 120 .6 triliun. Alokasi DAK dalam tahun 2005 terdiri dari alokasi DAK DR 7. melalui mekanisme APBN yang secara teknis dibahas antara Departemen Kehutanan. naik 16.

0 triliun atau 0. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian Dana otonomi khusus dan penyesuaian dialokasikan ke daerah sejak tahun 2002. naik 42. kesehatan. Jumlah ini secara nominal menunjukkan peningkatan Rp1. (ii) kesehatan. dan pertanian. (iv) kelautan dan perikanan. Dana otonomi khusus disediakan khusus untuk Provinsi Papua.0 triliun atau 0. Alokasi DAK Non-DR tahun 2005 terdiri dari alokasi DAK NonDR bidang pendidikan Rp1. seperti UU otonomi khusus bagi NAD dan Papua serta Inpres percepatan pemulihan daerah di wilayah provinsi Maluku dan Maluku Utara sebagai daerah pascakonflik. yaitu setara 2 (dua) persen dari alokasi DAU nasional. Sementara itu. dalam tahun 2005 alokasi DAK Non-DR ditetapkan sebesar Rp4. pengalokasian DAK Non-DR tahun 2005 dilakukan dengan menggunakan kriteria umum.8 triliun. (iii) infrastruktur jalan. dan kriteria teknis.53 triliun. Agar tidak terjadi tumpang tindih dalam hal pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui dana desentralisasi dan kegiatan yang dibiayai melalui program-program belanja pemerintah pusat.22 triliun. infrastruktur jalan. yang penggunaannya diarahkan terutama untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. kriteria teknis ditetapkan oleh menteri teknis dengan memperhatikan berbagai variabel yang berkaitan dengan bidang-bidang yang akan dibiayai dengan DAK Non-DR tahun 2005.2 persen terhadap PDB. tidak termasuk sisa anggaran lebih (SAL). yang penggunaannya diarahkan untuk pendidikan dan kesehatan. bidang kelautan dan perikanan Rp0. DAK Non-DR tahun 2005 dilakukan mencakup bidang-bidang pendidikan. Kriteria umum adalah dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal daerah. (v) prasarana pemerintahan daerah. bidang kesehatan Rp0.9 persen dari tahun sebelumnya. Kegiatan yang selama ini dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi dan tugas pembantuan. dan (vi) pertanian.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 kegiatan yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab daerah ke arah pemenuhan kebutuhan khusus. irigasi. karakteristik daerah. dan air bersih perdesaan.2 persen terhadap PDB.62 triliun. sesuai dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Peningkatan ini karena adanya realokasi dari dana-dana dekonsentrasi ke DAK. bidang prasarana pemerintahan daerah Rp0. 121 .2 triliun. dan air bersih perdesaan. serta daerah yang termasuk kategori daerah ketahanan pangan.17 triliun. kelautan dan perikanan. atau sekitar 42. bidang infrastruktur Rp1. namun kegiatan tersebut sebenarnya merupakan kewenangan dan tanggung jawab daerah. Selanjutnya. Daerah penerima alokasi DAK Non-DR mempunyai kewajiban untuk menyediakan dana pendamping sekurangkurangnya 10 persen dari nilai DAK yang diterimanya. prasarana pemerintahan daerah. dan bidang pertanian Rp0. Dalam pelaksanaannya. dengan belanja PNS daerah (fiscal netto) pada APBD tahun 2003. daerah ke arah pemenuhan kebutuhan khusus. secara bertahap pendanaan kegiatan tersebut dialihkan menjadi dana desentralisasi melalui alokasi DAK Non-DR. kriteria khusus. Alokasi DAK Non-DR ditetapkan Rp4.15 triliun. kriteria khusus dalam pengalokasian DAK Non-DR tahun 2005 adalah dengan memperhatikan peraturan perundang-perundangan yang berlaku. yang didasarkan pada selisih antara realisasi penerimaan daerah. Berkaitan dengan itu. yang pada dasarnya mencakup bidang-bidang (i) pendidikan.32 triliun. irigasi.9 persen dari alokasi DAK Non-DR dalam APBN-P tahun 2004 sebesar Rp2. maka dalam tahun 2005 akan dilakukan pengalihan sebagian kegiatan. Dana otonomi khusus disediakan untuk Provinsi Papua.

berarti Rp8. maka defisit anggaran dalam APBN tahun 2005 ditetapkan sebesar Rp17. Jumlah ini secara nominal menunjukkan kenaikan Rp0. Perbandingan anggaran belanja untuk daerah dalam APBN 2004 dengan RAPBN 2005 dapat diikuti pada Tabel IV.4 persen terhadap PDB). naik 4.aa ttp tnagnyn dhdp d eii ngrn aa PNP 04 kn eai atna ag iaai i sisi pembiayaan tidaklah semakin ringan. dana otonomi khusus dan penyesuaian ditetapkan sebesar Rp7. Jumlah ini.4 triliun (17. atau 4. Penurunan besaran defisit dan rasionya terhadap PDB tahun 2005 tersebut.2 triliun (0.8 triliun atau setara dengan 2 persen dari DAU tahun 2005. dan dana penyesuaian sebesar Rp5. Dana penyesuaian murni ini secara bertahap diupayakan pengurangannya untuk mempercepat tujuan DAU sebagai alat pemerataan kemampuan keuangan antardaerah. Berdasarkan anggaran pendapatan negara dan hibah sebesar Rp380.9 triliun atau 33.8 persen terhadap PDB. dana penyesuaian ad-hoc dialokasikan apabila ada kebijakan Pemerintah Pusat yang berpengaruh terhadap pos anggaran tertentu dalam belanja daerah. bahwa jika mempergunakan PDB dengan dasar perhitungan tahun 2000.5 triliun.a a a a t t p ia ay iuukn nu euui eii PN eaamt. dalam tahun 2005 dana penyesuaian ad-hoc dialokasikan untuk mengantisipasi adanya kebijakan pemberian gaji ke-13 bagi PNS.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dana penyesuaian yang dialokasikan ke daerah mencakup dana penyesuaian murni dan ad-hoc.3 persen bila dibandingkan dengan alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian dalam APBN-P tahun sebelumnya. Dana penyesuaian ad-hoc hanya bersifat sebagai bantuan.3 triliun. Keseimbangan Umum dan Defisit APBN 2005 Defisit APBN 2005 ditetapkan sebesar 0.2 persen terhadap PDB). esn ehdp PDB.3 persen dari tahun sebelumnya.8 persen terhadap PDB.20. Pembiayaan yang perlu disediakan t d kh n ad b t h a u t km n t p d f s tA B s m t . rlu a a 0 3p r e t r a a tu . termasuk PNS di daerah.8 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan defisit anggaran dalam APBN-P 2004 sebesar Rp26.8 triliun (18. dan anggaran belanja negara sebesar Rp397. Dana penyesuaian murni dialokasikan sebagai pelaksanaan kebijakan agar penerapan formula DAU tidak menimbulkan adanya daerah yang memperoleh DAU lebih kecil dari DAU tahun sebelumnya ditambah dana penyesuaian murni tahun sebelumnya (hold harmless).65 persen (Lihat Boks 3: Perubahan Dasar Penghitungan PDB Indonesia dan Dampaknya). misalnya.3 persen terhadap PDB). Perlu dicatat. Dalam tahun 2005. Sementara itu.3 triliun (1. maka rasio defisit anggaran menjadi 0. Pembiayaan Anggaran M s i u b s r nd f s ta g a a d l m A B 2 0 l b hr n a d r s s r n ekpn eaa eii ngrn aa PN 05 ei edh ai aaa dfstagaa dlmAB. dan tidak mencakup seluruh kebutuhan pendanaan pos anggaran yang bersangkutan.3 persen terhadap PDB). yang terdiri atas dana otonomi khusus sebesar Rp1. mencerminkan besarnya kesungguhan dan komitmen Pemerintah dalam melanjutkan program dan langkah-langkah konsolidasi fiskal (fiscal consolidation) untuk memantapkan upaya peningkatan ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability). atau 0.4 triliun.7. kn eai juga diperlukan untuk memenuhi kewajiban pembayaran cicilan pokok utang dlmngr dnuagla ngr yn aa jthtmodlmthn20. Alokasi dana otonomi khusus dan penyesuaian d t t p a R 7 2t i i n ieakn p. aa eei a tn ur eei ag kn au ep aa au 05 122 .

2 11 . K eh ut ana n v.8 persen terhadap PDB).9 3. 0 % th d P DB 6. 8 2.8 triliun. Kebutuhan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok utang Rp67. 3 0. 2 13 0.9 4. 4 0. 2 0. turun Rp8. 5 13 1. 3 31 . 8 9.J m a i i a a i ad b n i g a p87 rlu 31 esn ehdp D) ulh n.1 persen terhadap PDB).8 triliun atau 4. 6 5. M iny ak B um i ii. secara n m n lt r nR 9 7t i i na a 1 . baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri pada APBN-P 2004 sebesar Rp69. N on -d ana R e bois as i II . 8 6. pbl iadnkn dengan kebutuhan pembiayaan untuk memenuhi seluruh kewajiban pembayaran pokok utang. 31 4. 2 82 . 0 0. 1 0. rlu tu 01 esn ai oa euua ebaan APBN-P 2004 sebesar Rp95. J m a t r e u t r i i d r ( pembayaran pokok yang jatuh tempo dan ulh esbt edr ai i ) pembelian kembali SUN Rp20. t i i n( . Memenuhi kewajiban pembayaran pokok pinjaman (termasuk pembelian kembali) Surat Utang Negara (SUN).1 8.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Dalam APBN 2005. P ajak B um i d an B an gu nan iii. P ro pin s i 2. 7 0. 4 9. 5 20 05 AP BN 12 4.0 triliun (0. K ab up ate n c. 9 0. D a n a B a g i H a sil 1. 1 0. AP B N -P 2004 d an AP B N 2005 (triliu n ru p iah ) 20 04 U r a i a n I.5 6. 5 0. 2 1. p r e t r a a P B . 8 3. cicilan pokok utang luar negeri dan penyertaan modal negara (SMF). t i i n( . P erik a nan b .3 persen terhadap PDB). 4 3. D an a O to no m i K hu s us b. 5 0. D a n a A lo ka si K h u su s 1. 6 1. 4 0.0 persen terhadap PDB).7 4. 1 0. D a n a O to n o m i K h u su s d a n P e n y e su a i a n a. D an a P en y es ua ian J u m l a h A P B N -P 12 3. T ab e l IV. 7 1. 8 5. p r e i ebyrn iia oo tn ur eei p68 rlu 21 esn i terhadap PDB).9 t i i n P k ku a gl a rlu. p r e d r t t lk b t h np m i y a oia uu p. 2 6. 4 3.7 triliun (3. D an a R eb ois a s i 2. rlu. 8 3. 0 0.5 triliun (3. 9 0. 9 79 . 7 4.8 triliun atau 1. . 9 1.1 triliun atau 3. yang secara keseluruhan berjumlah R 6 . Pokok dan pembelian kembali SUN Rp20. 2 73 . 2 1. 2 19 . 2 0. 1 0. 0 0. Jumlah ini. D a n a P e ri m b a n g a n a . jumlah seluruh kebutuhan pembiayaan ditetapkan mencapai Rp86. dan penyertaan modal ngr R 10tiin eaa p . 9 0. 5 0. 0 0. berarti mengalami penurunan Rp0. 1 0. 5 0. Jumlah yang diperlukan untuk menutup defisit ini.2 persen. Pembiayaan dimaksud diperlukan untuk: a Menutup defisit anggaran Rp17. () p m a a a c c l n p k k u a g l a n g r R 4 . 3 0. P erta m b an gan U m um iv.8 8. 6 88 . b. P ajak P en gha s ila n ii.8 4.4 triliun (0.4 triliun (0. 0 7. 0 4. 2 0. Kebutuhan untuk menutup defisit Rp17. 2 0.2 19 . 7 7. 1 37 . 05 p61 rlu 39 persen terhadap PDB). 1 0.7 AN G G AR AN B E L AN JA U N T U K D AE R AH . G a s A lam iii. 1 0.9 triliun atau 33.9 triliun (1.3 triliun (1. 3 0. 1 ) Pe rb e d a a n s a tu a n g ka d i b e la ka n g ko ma te rh a d a p a n g ka p e n ju mla h a n a d a la h ka re n a p e mb u la ta n Su mb e r : De p a r te me n Ke u a n g a n RI 123 .8 persen bila dibandingkan dengan kebutuhan pembiayaan defisit anggaran dalam APBN-P 2004 sebesar Rp26.5 persen terhadap PDB). 0 1) Kebutuhan pembiayaan 2 0 R 8 .8 persen terhadap PDB). 5 % th d P DB 5.9 persen terhadap PDB.4 17 . D a n a A lo ka si U m u m 1. P a ja k i.1 ii persen terhadap PDB). 3 0.8 persen terhadap PDB. 4 0. 2 1. oo tn ur negeri Rp46. 2 0. t i i n ( . 2 0. 6 0. 3 6. 6 0. 3 0. dan (i) penyertaan modal negara Rp1. 4 0. 7 0.6 9. 1 0. 0 0. 0 4. 7 1. B ea P e ro leha n H ak at as Tan ah da n B an gu nan 2. S u m b e r D a y a A la m i.

penjualan aset eks BPPN yang sekarang dikelola oleh PT (Persero) Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) akan diupayakan secara optimal untuk memperoleh hasil dan harga yang terbaik sesuai dengan kondisi pasar. antara lain rekening dana investasi (RDI). Rencana penarikan pinjaman luar negeri Rp26. Jumlah ini berasal dari : (i) hasil privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan Rp7.0 triliun (0. Jumlah ini.6 triliun (1. dan SUN Rp43.7 persen terhadap PDB). pembiayaan anggaran yang berasal dari sumber-sumber nonperbankan dalam negeri (bruto) dalam APBN 2005 ditetapkan mencapai Rp50. Pemanfaatan dana dari berbagai pos tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan anggaran.6 persen dari penarikan pinjaman luar negeri (bruto) dalam APBN-P 2004 sebesar Rp21.5 triliun (2.4 persen terhadap PDB. ADB) dalam kerangka pembaharuan tata kelola BUMN (State Owned Enterprises Governance Loan).0 triliun (sekitar US$2. Privatisasi BUMN yang akan dilakukan dalam tahun 2005 pada dasarnya merupakan kelanjutan dari program divestasi/pelepasan saham Pemerintah di BUMN pada tahun sebelumnya. Pembiayaan perbankan dalam negeri ini berasal dari penggunaan saldo rekening pemerintah yang disimpan di Bank Indonesia.7 persen dari pembiayaan dalam negeri pada APBN-P 2004 sebesar Rp74. dan (ii) penerbitan SUN Rp43. dan rekening non-RDI.6 triliun atau 19. terdiri dari privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan Rp7.3 persen bila dibandingkan dengan total pembiayaan perbankan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN-P 2004 sebesar Rp23. Penarikan pinjaman luar negeri tahun 2005 tersebut terdiri dari pinjaman program Rp8. Sebagian besar pinjaman program tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari pinjaman Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank. biaya. program pembaharuan tatakelola dan keuangan pemerintah daerah (Local Government Finance and Governance Reform Pembiayaan non perbankan dalam negeri Rp50.5 triliun atau 2. Sementara itu. Dalam APBN 2005. Jumlah ini.6 triliun (sekitar US$1.6 triliun dan pinjaman proyek Rp18.6 triliun (sekitar US$3.4 persen terhadap PDB. Pembiayaan dalam negeri Rp59.0 triliun. dan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pelaksanaan program moneter. Dalam hal penerbitan SUN. terdiri dari pinjaman program Rp8. Jumlah ini.(Lihat Boks 12: Pengelolaan Surat Utang Negara). pembiayaan yang bersumber dari perbankan dalam negeri ditetapkan mencapai Rp9.1 persen terhadap PDB).2 persen terhadap PDB).9 triliun atau 22. Pembiayaan perbankan dalam negeri Rp9. pengelolaan resiko. Sementara itu.7 persen terhadap PDB).0 persen terhadap PDB).Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Kebutuhan pembiayaan tersebut akan diupayakan dapat dipenuhi dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri.5 triliun (2. pembiayaan anggaran yang bersumber dari dalam negeri ditetapkan mencapai Rp59.0 triliun (2. dan pinjaman proyek Rp18. berarti lebih rendah Rp14.5 triliun (2.7 triliun (1.5 triliun (0. Pembiayaan anggaran yang berasal dari sumber-sumber pinjaman luar negeri (bruto) pada tahun 2005 ditetapkan mencapai Rp26.9 triliun atau 62. dan kebutuhan pembiayaan.0 triliun.4 persen terhadap PDB). Dari jumlah tersebut.3 persen terhadap PDB).8 persen terhadap PDB.1 miliar) atau 0.7 persen terhadap PDB).2 persen terhadap PDB). naik Rp4.1 triliun (3. turun Rp14.3 persen terhadap PDB).9 triliun (1.5 triliun. 124 .2 persen terhadap PDB.3 persen terhadap PDB.1 miliar) atau 1. sesuai dengan kesepakatan Pemerintah dan DPR-RI pada Pembicaraan Pendahuluan Penyusunan RAPBN tahun 2005. Pemerintah diberikan fleksibilitas dalam hal jangka waktu maupun denominasi mata uangnya dengan mempertimbangkan faktor kondisi pasar.0 triliun atau 0.0 miliar) atau 0.

0 miliar.00 akan mengakibatkan potensi penambahan beban bunga sebesar Rp9.17 triliun.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Boks 12 : Pengelolaan Surat Utang Negara ilai nominal Surat Utang Negara per 29 Desember 2004 yang telah diterbitkan adalah sebesar Rp621. pembelian kembali (buyback).73 triliun.71 triliun. Secara umum. yaitu potensi penambahan beban bunga akibat kenaikan suku bunga. antara lain. kegiatan pengelolaan Surat Utang Negara. Dengan demikian. permasalahan beban bunga utang yang cukup besar di dalam APBN secara berangsur telah diupayakan untuk terus menurun. Dalam rangka mengurangi jumlah Surat Utang Negara yang diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi perbankan. tujuan pengelolaan Surat Utang Negara adalah untuk meminimalkan biaya bunga dalam jangka panjang pada tingkat risiko yang dapat dikendalikan. 4. 2. yaitu (1) kenaikan tingkat bunga sebesar 1% akan mengakibatkan potensi penambahan beban bunga sebesar Rp2. lebih ditujukan dalam kerangka untuk mengurangi refinancing risk. Di dalam portofolio Surat Utang Negara terkandung aspek biaya dan risiko. Surat Utang Negara yang diterbitkan dalam mata uang Rupiah: 1. Risiko-risiko yang dihadapi dalam pengelolaan Surat Utang Negara. dengan perincian sebagai berikut: A. Obligasi Negara dengan tingkat bunga tetap (fixed rate bonds) sebesar Rp178. yang meliputi kegiatan penerbitan (issuance). Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan Surat Utang Negara saat ini adalah refinancing risk sebagai akibat terlalu terkonsentrasinya jatuh tempo Surat Utang Negara dalam periode 2004 – 2009. sehingga risiko beban jangka pendek maupun jangka panjang yang timbul dapat dikelola secara optimal. Selain itu. Pemerintah telah melaksanakan program asset-bond swap pada tahun N 125 . Obligasi Negara lindung nilai (hedge bonds) sebesar Rp2. yaitu potensi penambahan beban bunga akibat melemahnya nilai tukar Rupiah. dan (3) risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) yaitu. seiring dengan semakin menurunnya tingkat bunga SBI sebagai hasil upaya kebijakan makro ekonomi Pemerintah bersama Bank Indonesia. Obligasi Negara kepada Bank Indonesia sebesar Rp219.57 triliun. Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter sangat diperlukan agar penerbitan Surat Utang Negara dapat tepat waktu. B.18 triliun dan US$1. Obligasi Negara dengan tingkat bunga mengambang (variable rate bonds) sebesar Rp220. Surat Utang Negara dalam valuta asing sebesar US$1.28 triliun. (2) risiko nilai tukar (currency risk). Interest rate risk dan currency risk dalam portofolio Surat Utang Negara dapat dilihat melalui analisa sensitivitas berikut. dan (2) pelemahan kurs Rupiah terhadap US dolar sebesar Rp100. adalah: (1) risiko tingkat bunga (interest rate risk).0 miliar. 3. dan penukaran (switching).69 miliar. risiko yang dihadapi Pemerintah untuk membiayai kewajiban pokok yang jatuh tempo dari hasil penerbitan baru dengan biaya yang mahal. Refinancing risk ini muncul sebagai akibat terkonsentrasinya struktur jatuh tempo Surat Utang Negara dalam periode tertentu dan terbatasnya daya serap pasar dalam periode tersebut.

8 persen terhadap PDB pada tahun 2004 menjadi 29. antara lain: (1) menyediakan harga acuan melalui pengembangan pasar antar pedagang surat utang negara. (5) meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem kliring. Dengan perhitungan PDB atas dasar tahun 126 . Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank. reksadana. (3) menerbitkan Surat Utang Negara yang menjadi acuan. Rasio utang terhadap PDB mengalami penurunan. dan perusahaan asuransi. Program ini dilakukan untuk menurunkan jumlah Surat Utang Negara. dan mempertimbangkan tidak adanya lagi penjadwalan ulang (rescheduling) utang luar negeri pada tahun 2004 dan 2005. Jumlah Surat Utang Negara yang telah dilunasi dalam program ini adalah sebesar Rp11.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 2002 dan 2003. Dengan berbagai perkembangan tersebut. maka posisi utang luar negeri pemerintah diperkirakan akan menurun dari 30.7 persen terhadap PDB pada tahun 2004 menjadi 25. Japan Bank for International Cooperation (JBIC). yaitu program penjualan aset BPPN yang pembayarannya menggunakan Surat Utang Negara yang jatuh tempo pada tahun 2004 dan 2005. Oleh karena itu. upaya pengembangan infrastruktur pasar surat utang negara merupakan bagian penting yang terintegrasi di dalam strategi pengelolaan Surat Utang Negara.9 persen terhadap PDB pada tahun 2005. Selanjutnya dalam Tabel IV. yakni 62.9 persen terhadap PDB pada tahun 2005. dan registri. setelmen. Pinjaman tersebut bersumber dari Bank Dunia (International Bank for Reconstruction and Development. dan Fasilitas Kredit Ekspor (FKE). yang pada gilirannya dapat mengurangi beban bunga utang di dalam APBN dan refinancing risk.9 dapat diikuti rincian pembiayaan defisit anggaran APBN-P 2004 dan APBN 2005 dalam format yang sesuai dengan Undangundang APBN.0 persen terhadap PDB pada tahun 2005.9 persen pada tahun 2005. pasar surat utang negara yang likuid dapat memberikan peluang bagi Pemerintah untuk meminimalkan biaya penerbitan dan mengelola risiko Surat Utang Negara secara lebih optimal. Pengelolaan Surat Utang Negara dapat dilakukan secara efektif dan optimal apabila didukung oleh pasar surat utang negara yang aktif dan likuid. Pada hakekatnya. (4) memperluas basis investor melalui kerjasama dengan pemodal institusional. IBRD). antara lain dana pensiun. Selanjutnya. penarikan pinjaman proyek diharapkan terutama dari pinjaman yang telah disepakati dengan donor. secara keseluruhan posisi (stok) utang pemerintah diperkirakan akan menurun dari 62. Demikian pula. yaitu dari 31.4 persen terhadap PDB pada tahun 2004 menjadi 54. Inisiatif untuk mengembangkan infrastruktur pasar surat utang negara yang likuid meliputi.61 triliun. Program). yang direncanakan akan dapat dicairkan dalam tahun 2005. dan (6) menciptakan kerangka hukum yang dapat mewujudkan pasar yang transparan dan menjamin terlindunginya kepentingan pemodal (investor).4 persen pada tahun 2004 menjadi 54. ADB). Dengan demikian.8. dan dukungan terhadap pembaharuan pengawasan keuangan negara (Support for State Audit Reform). Rincian kebutuhan dan sumber pembiayaan dalam APBNP 2004 dan APBN 2005 dapat dilihat pada Tabel IV. (2) membangun dan mengembangkan pasar repo (repurchase agreement). posisi utang dalam negeri diperkirakan juga akan mengalami penurunan.

9 -2.7 1.1 -23.6 8. Kebutuhan Pembiayaan i.8 1.1 0.2 0. Non P e rba nka n Da la m Ne ge ri II PEM BIAYAAN LUAR NEGERI (Ne to) 1.4 67.2 0.3 2005 % thd APBN PDB 37.8 1) Perbedaan s atu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI 127 .1 18.1 59.3 2. Pe rba nka n Da la m Ne ge ri 2.7 0.8 17. Non Perbankan Dalam Negeri ii.0 28.8 3.3 1.1 0.0 95.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 Tabel IV.7 1.0 4.9 26.0 -46.2 0. Luar Negeri a.8 -2.7 0. Penyertaan Modal Negara (SMF) B Sumber Pembiayaan i.6 9. Pemerintah) b.0 % thd PDB 3. Pinja m a n Lua r Ne ge ri (Bruto) a.8 21.1 23.1 18.9 APBN 86.8 74.0 3. Pembayaran Pokok Utang iii.4 2.2 26.2 0.5 26.5 0.1 23.3 1. Pinjaman Proyek 1) Perbedaan satu digit di belakang koma terhadap angka penjumlahan adalah karena pembulatan Sumber : Departemen Keuangan RI T abe l IV.4 0.3 -0.9 50.2 1.6 8.6 18.5 1.7 3.9 0.8 A.1 0.5 9.2 2.0 86.4 1.9 PEM BIAYAAN DEFISIT ANG G ARAN APBN-P 2004 dan APBN 2005 (triliun rupiah) Ura ia n I PEM BIAYAAN DALAM NEGERI 1. Defisit APBN ii.4 0.8 3.6 -45. Pinjam an Program b.2 1.3 -1.6 18.3 69.1 17.5 1.9 2.7 3.8 26.2 21.6 1) 2005 % thd PDB 4.9 1. Pinjam an Proyek 2.6 -20.0 50.8 KEBUTUHAN DAN SUMBER PEMBIAYAAN APBN-P 2004 dan APBN 2005 (triliun rupiah) 2004 Uraian APBN-P 95.5 26. Pinjaman Program b.3 3. Pe m ba ya ra n Cicila n Pokok Uta ng LN JUM L AH 1) 2004 % thd APBN-P PDB 50. Perbankan Dalam Negeri (Rek.5 0.4 1. Dalam Negeri a.1 0.

Grafik IV.Bab IV Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 2000.2.2 PROYEKSI RASIO UTANG PEMERINTAH TERHADAP PDB 2002-2005 80 Persentase thd PDB 60 40 20 0 2002 2003 2004 2005 Tahun Anggaran Utang Pemerintah Utang Dalam Negeri Utang Luar Negeri 128 . maka rasio utang pemerintah terhadap PDB adalah 47 persen (Lihat Boks 3: Perubahan Dasar Penghitungan PDB Indonesia dan Dampaknya). Rasio utang pemerintah terhadap PDB dari tahun 2002 dan proyeksinya pada tahun 2004 dan tahun 2005 dapat diikuti pada Grafik IV.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful