P. 1
Tokoh Islam Menurut Abjad

Tokoh Islam Menurut Abjad

|Views: 713|Likes:
Published by Nur Taufik

More info:

Published by: Nur Taufik on Nov 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2011

pdf

text

original

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Daftar Isi. 1. ABDULLAH bin ABBAS 2. ABDULLAH bin UMAR 3. ABDULLAH bin ZUBEIR 4. ABDULLAH bin UMMI MAKTUM 5. ABDULLOH bin SALAM 6. ABDURRAHMAN bin 'AUF 7. ABU A’LA MAUDUDI 8. ABU AYUB AL-ANSHARI 9. ABU BAKAR Ash-SHIDDIQ 10. ABU DARDA’ 11. ABU HURAIRAH 12. ABU SUFYAN bin HARITS 13. ABU THALHAH 14. ABU UBAIDAH bin JARRAH 15. ABU UBAYD AL-BAKRI 16. ABUZAR AL-GHIFARI 17. AISYAH 18. AL-GHOZALI 19. AL-IDRISI 20. AL KHAWARIZMI 21. ALI bin ABI THALIB 22. AMIR IBNU FARIHAH 23. AMR IBNU AL-JAMUH 24. AMRU BIN ASH 25. AR-RAZI 26. ASHIM bin TSABIT 27. ASMA' binti ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ 28. BARA' bin MALIK 29. BILAL bin RABAH 30. DURRAH binti ABU LAHAB bin ABDUL MUTHOLIB 31. FATHIMAH binti MUHAMMAD 32. HAFSAH binti UMAR bin KHATTAB 33. HAKIM bin HAZAM 34. HAMZAH bin ABDUL MUTHALIB 35. HASAN AL-BANA 36. HASAN AL-BASHRI 37. HINDUN binti AMR bin HARAM 38. IBNU HAITSAM 39. IBNU KHALDUN 40. IBNU SINA 41. IBNU RUSYD 42. IBNU QOYYIM 43. IBNU YUNUS 44. IKRIMAH bin ABU JAHL 45. IMAM AL-TIRMIDZI 46. IMAM BUKHORI 47. IMAM MUSLIM 48. IMAM SYAFI’I 49. JABIR IBNU HAYYAN

15/11/107:15

sn

1 of 207

Kisah Sahabat
50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62.
63.

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83.
84.

85. 86. 87. 88. 89.

JAKFAR bin ABU TALIB JUWAIRIYAH binti AL-HARITS KHABAB bin ARATS KHADIJAH AL-KUBRA KHAULAH binti MALIK bin TSA'LABAH KHANSA' BINTI KHIDZAM KHUBAIB bin BA'AD MAJA'AH AS-SADUSI MIQDAD bin 'AMR MUAZ bin JABAL MUHAMMAD BIN SIRIN MUSH'AB bin 'UMAIR MUSTAPHA AKKAD RABI'AH bin KA'AB RAMLAH binti ABI SUFYAN (Ummu Habibah) RUQAYYAH binti ROSULULLAH SAW, Isteri Utsman SA'Ad bin ABI WAQASH SAID bin MUSAYAB SALMAN AL-FARISI SAUDAH binti ZUM`AH SHUHAIB bin SINAN SULAIMAN dan ATHO’ ibn YASAR SYAFIYAH BINTI ABDUL MUTHTHALIB SYAIKH MUHAMMAD AL-MUNQADIR TSA’LABAH bin ABDURRAHMAN UBAY bin KA'AB UMAR BIN ABDUL AZIZ UMAR bin KHATTAB UMMI UMARAH ANSYARIAH UMMU HAKIM binti AL-HARITS AL-MAKHZUMIYAH UMMU KULTSUM BINTI UQBAH BIN ABI MU'AITH UMMU SALAMAH USAID bin HUDHAIR USAMAH bin ZAID UTSMAN bin AFFAN ZAID AL-KHAIR ZAID bin HARITSAH ZAID bin TSABIT ZAINAB binti JAHSY bin RI`AB ZAINAB binti RASULULLAH SAW

15/11/107:15

sn

2 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

ABDULLAH BIN ABBAS Lisannya bertanya, Qalbunya mencerna Di antara sahabat-sahabat RasuluLlah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada para sahabat cilik ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk bermain, bicara dan menasehati mereka. Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok sahabat junior ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Semenjak kecilnya, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan sesungguhannya terhadap suatu masalah. Rasulullah mengetahui potensi besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan sahabatsahabat cilik lainnya. RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil Abdullah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini: "Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna? Jagalah Allah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laranganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan Allah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakanlah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan. [Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi] Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang manakah hasil tarbiyah Rasulullah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat Rasulullah bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana Rasulullah berwudhu. Rasulullah - sang murobbi agung itu - tidak menyepelekan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo'akan: "Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara agamaMu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu." Kemudian Rasulullah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi Rasulullah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan Rasulullah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, Rasulullah mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan Allah SWT. Rasulullah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.

15/11/107:15

sn

3 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya bersedih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa saja yang berkenaan dengan Rasulullah dan ajaran al-Islam. Logika Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan pertanyaan anak-anak kecil macam mereka. Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti didepan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakaiannya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas tertidur di muka rumahnya, "Oh keponakan Rasulullah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang menemui anda." Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior. Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau bergabung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara,di bawah pimpinan Abdullah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar. AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini telah wafat Ulama Ummat. Semoga ALlah SWT berkenan memberikan pengganti AbduLlah bin Abbas." Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

4 of 207

Kisah Sahabat
ABDULLAH bin UMAR

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Abdullah bin Umar adalah putra Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa muda, Abdullah bin Umar mendapat pendidikan dari lingkungannya, yang selalu mendapat pembinaan semangat Islam. Dia dididik oleh ayahnya yang disiplin dan taat kepada agamanya. Pada Perang Badar dan Uhud, Abdullah bin Umar tidak ikut perang. Pada Perang Khandak (parit), Abdullah bin Umar ikut serta. Semenjak inilah Abdullah bin Umar ikut perang. Usia beliau waktu itu baru lima belas tahun. Abdullah bin Umar pada suatu malam yang sunyi telah bermimpi yang aneh. Dalam mimpinya itu, dia duduk di masjid sedang mengerjakan salat. Kemudian melihat ada yang turun mendekati dia untuk mengajak pergi ke suatu tempat yang indah pemandangannya. Lalu, Abdullah bin Umar menceritakan tentang mimpinya itu kepada saudaranya, yaitu Hafsah, istri Nabi. Sewaktu Nabi mendengarkannya, Nabi berkata, "Abdullah adalah seorang anak yang cakap, sebaiknya engkau setiap malam lebih banyak berdoa dan berzikir." Abdullah bin Umar dengan perasaan senang dan ikhlas melaksanakan nasihat Nabi, beribadah sepanjang malam, istirahatnya berkurang. Pada waktu shalat ia menangis. Kadang-kadang air matanya keluar, dan mohon ampun kepada Allah. Sehingga, Rasulullah SAW merasa belas kasihan kepadanya. Maka, beliau memberi julukan kepadanya yaitu "Anak muda yang cakap". Setelah Rasulullah SAW wafat, ia senantiasa ingat apa yang pernah ia alami selama bergaul dengan Nabi. Apabila membaca Alquran, dia sampai menangis. Demikian rasa takwa dan takutnya kepada Allah SWT. Dengan keakraban Abdullah bin Umar dengan Nabi, menyebabkan dapat menghayati ajaran yang terkandung di dalamnya. Abdullah bin Umar pernah menjadi guru. Murid-muridnya datang dari berbagai tempat untuk belajar dan mendapat bimbingannya. Mencontoh sifat-sifat Nabi Muhammad SAW seperti cara memakai pakaian, makan, minum, dan lain-lain. Dengan dasar inilah, ia dapat digolongkan seorang yang berjiwa besar. Dia disegani dan dihormati. Ketika wafatnya Utsman terjadi huru-hara. Para sahabat menginginkan Abdullah bin Umar menduduki jabatan khalifah, namun Abdullah bin Umar tidak menerima jabatan yang dianggapnya besar itu. Abdullah bin Umar ingin memperbanyak amal ibadah kepada Allah. Muawiyah pernah berpesan kepada anaknya, Yazid, "Abdullah bin Umar memang terlalu sibuk dengan amaliah dan ibadah kepada Allah SWT, sehingga dia tidak mau menerima tawaran menjadi khalifah itu." Mengerjakan shalat malam tidak pernah lupa. Kain sajadah untuk sujud tetap terbentang dekat tempat tidurnya. Sebelum tidur, beliau salat terlebih dulu. Sejenak tidur, bangun lagi untuk mengambil air wudhu. Kemudian shalat beberapa rakaat. Hampir setiap malamnya tidak kurang dari empat atau lima rakaat. Abdullah bin Umar wafat pada tahun 72 Hijriah, tepat pada usia 84 tahun.

(Sumber : 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto.)

15/11/107:15

sn

5 of 207

Kisah Sahabat
ABDULLAH bin ZUBEIR Pejuang putra pejuang

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Isu bahwa kaum muslimin tidak akan bisa melahirkan bayi karena telah diteluh oleh dukun-dukun Yahudi di Madinah, terjawab sudah. Seorang wanita mulia putri As Siddiq telah melahirkan kandungannya ketika beliau sedang hijrah dari Makkah ke Madinah menyusul teman-temannya seaqidah. Beliau tidak lain adalah Asma` binti Abi Bakar yang melahirkan bayi laki-laki-laki-laki di Quba` dan diberi nama Abdullah. Sebelum disusui Abdullah bin Zubeir dibawa menghadap Nabi SAW dan ditahniq dan didoa`kan oleh beliau. Abdullah yang memang lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah ini berkembang menjadi seorang pemuda pewira yang perkasa. Keperwiraannya dimedan laga ia buktikan ketika bersama mujahid-mujahid lainnya menggempur Afrika membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu mengikuti ekspedisi tersebut usianya baru berkisar 17 tahun. Namun begitulah kehebatan sistem tarbiyah Islamiyah yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh-tokoh pejuang dalam menegakkan Islam. Dalam peperangan tersebut jumlah personel diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Personel kaum muslimin hanya 120 ribu tentara sedangkan musuh berjumlah 120 ribu orang. Keadaan ini cukup membuat kaum muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walau hal itu tidak membuat mereka keder. Sebab bagi mereka perang adalah mencari kematian sedang ruhnya bisa membumbung menuju jannah sebagaimana yang telah dijanjikan Rabb mereka. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut segera Abdullah memutar otak mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh bertumpu pada raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Segera dan dengan penuh keberanian ia mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis-lapis menuju kearah panglima Barbar. Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dengan raja Barbar telah dekat segera ia tebaskan pedang nya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik tersebut. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut dihadapan para mujahid yang gagah berani. Selain seorang jago perang, Abdullah juga seorang `abid yang penuh rasa khusuk dan ketawadhuan. Mujahis penah memberi kesaksian bahwa apabila Ibnu Zubeir sedang sholat, tubuhnya seperti batang pohon yang tak bergeming karena khusuknya dalam sholat. Bahkan Yahya bin Wahab juga bercerita bahwa apabila `Abdullah bin Zubeir ini sedang sujud, banyak burung-burung kecil bertengger dipunggung beliau karena mengira punggung tersebut adalah tembok yang kokoh. Tokoh yang tegas dalam kebenaran ini wafat pada usia 72 tahun terbunuh oleh tangan pendosa Hajjaj bin Yusuf.

15/11/107:15

sn

6 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

ABDULLAH bin UMMI MAKTUM Siapakah laki laki itu? Yang karenanya Nabi yang mulia mendapat tegoran dari langit dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril Al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah kedalam hati nabi yang mulia. Dia tiada lain adalah 'ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM' Muadzin Rasulullah. 'Abdullah bin Ummi Maktum, orang mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah SAW. Yaitu anak paman Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah 'Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya 'Atikah binti 'Abdullah. Ibunya bergelar "Umi Maktum" karena anaknya 'Abdullah lahir dalam keadaan buta total. 'Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, 'Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak……! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin memepelajari syariat Islam dan sering mendatangi majelis Rasulullah SAW. Begitu rajin dia mendatangi majelis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al-Qur'an, sehingga setiap waktu senggang selalu disinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu disebutnya. Bahkan dia sangat rewel. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, di samping keuntungan bagi yang lain lain juga. Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, mengharapkan semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, 'Amr bin Hisyam alias Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan walid bin Mughirah, ayah saifullah Khalid bin walid. Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba 'Abdullah bin Ummi maktum datang mengganggu minta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an. Kata 'Abdullah, "Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!" Rasul yang mulia terlengah memperdulikan permintaan 'Abdullah. Bahkan beliau agak acuh kepada interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi 'Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pemimpin Quraisy tersebut. Mudahmudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau: "Dia ( Muhammad ) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya, Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yanag menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti." (QS. 80 : 1 - 16).

15/11/107:15

sn

7 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al-Amin ke dalam hati Rasulullah sehubungan dengan peristiwa 'Abdullah bin Ummi maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat. Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi 'Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilahkan duduk ditempat duduk beliau. Beliau tanyakan keadaannya dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan 'Abdullah demikian rupa; bukankah tegoran dari langit itu sangat keras! Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi jadi, Allah Ta'ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. 'Abdullah bin Ummi maktum bergegas meninggalkan tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama sama Mus'ab bin Umar sahabat-sahabat Rasul yang pertama tama tiba di Madinah, setibanya di Yatsrib (Madinah), 'Abdullah dan Mush'ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan mengajarkan pengajaran Isalam. Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat 'Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka 'Abdullah qamat. Dan bila 'Abdullah adzan, maka Bilal qamat. Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal adzan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk sahur, dan 'Abdullah adzan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makam minum dan segala yang membatalkan puasa. Untuk memuliakan 'Abdullah bin Ummi maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan beliau, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada 'Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy. Setelah perang Badr, Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayatayat tersebut sangat berkesan di hati 'Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, "Ya, Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang." Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannnya cacat (udzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia senantiasa berdoa dengan segala kerendahan hati. Katanya, "Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang udzur sepertiku!" Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya. Zaid bin Tsabit, sekertaris Rasulullah yang bertugasmenuliskan wahyu menceritakan, "ku duduk di samping Rasulullah. Tiba tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, "Tulislah, hai Zaid!” Lalu aku menuliskan, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah….." (QS. 4 : 95). Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, "Ya Rasulullah! Bagaimana dengan orangorang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat)?"

15/11/107:15

sn

8 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Selesai pertanyaan 'Abdullah, Rasulullah berdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, "Coba baca kembali yang telah engkau tulis!" Aku membaca , "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang)." lalu kata beliau. Tulis! "Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu." Maka turunlah pengecualian yang diharap harapkan Ibnu Ummi Maktum. Meskipun Allah SWT telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang. Katanya, "Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya eraterat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari." Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah 'Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. 'Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, 'Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!" Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah 'Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, 'Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah 'Umar mengangkat Sa'ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa'ad. Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. 'Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu. Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pndahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu. Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ' Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin. Radhiyallahu'anhu!!!! [fosmil.org]

15/11/107:15

sn

9 of 207

Kisah Sahabat
ABDULLOH BIN SALAM

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Awwalul Muslimin yang seorang ini memang tidak "sepopuler" Waroqoh bin Naufal. Tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah bagaimana dia masuk Islam, seperti hadits panjang yang diriwayatkan oleh Anas R.A. berikut ini: Setelah Abdulloh bin Salam mendengar berita tentang kedatangan seorang Nabi, datanglah dia ke Makkah, dari tempat asalnya yang cukup jauh. "Sesungguhnya aku datang untuk mengajukan tiga pertanyaan yang tidak akan ada yang bisa menjawabnya, kecuali seorang Nabi: Pertama, apakah tanda awal dari hari kiamat? Kedua, apakah makanan pertama ahli sorga? Ketiga, mengapa seorang anak kadang menyerupai bapaknya, kadang menyerupai ibunya?" "Telah mengkhabarkan Jibril barusan, apa jawaban ketiga pertanyaan tsb" jawab Nabi. "Jibril?" tanya Abdulloh. "Ya" jawab Nabi."Dia adalah malaikat yang dimusuhi Yahudi!" kata Abdulloh. Lalu Nabi membaca ayat mengenai Malaikat Jibril, diteruskan menjawab "teka-teki" berikut: "MAN KAANA 'ADUWWAN LI JIBRIILA FAINNAHU NAZZALAHU 'ALAA QOLBIKA [Al-Baqoroh 97] Pertanda awalnya kiamat adalah akan adanya api yang akan menggiring manusia dari Timur ke Barat. Makanan awal ahli sorga adalah lemak hati ikan, anaknya akan menyerupai bapaknya, dan sebaliknya, kalau mani perempuan keluar mendahului laki-laki, anaknya akan menyerupai ibunya" Memperoleh jawaban yang tepat demikian itu, Abdulloh langsung mengucapkan syahadat:"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOOHU WA ASYHADU ANNAKA ROSUULULLOOH Ya Rosulullooh, sesungguhnya Yahudi adalah kaum pendusta. Seandainya mereka tahu dengan keIslamanku, niscaya mereka (yang tadinya sangat menghormatiku) akan menghina saya". Kebetulan lewat sekelompok Yahudi yang lalu ditanya Nabi:"Siapakah Abdulloh itu?"Dia adalah KHOIRUNAA, sebaik-baiknya dari kami; WABNU KHOIRINAA, dari keturunan terbaik kami, WA SAYYIDUNAA, dan sayyid kami WABNU SAYYIDINAA, dan keturunan sayyid kami!!"kata para Yahudi itu, dengan bangga. "Bagaimana seandainya Abdulloh bin Salam masuk Islam?" tanya Nabi."Kami berlindung kepada Alloh dari hal itu". Tiba-tiba, keluarkan Abdulloh. Lalu didepan kaumnya yang Yahudi tadi, dia bersyahadat:" ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOOHU WA ANNA MUHAMMADAN ROSUULULLOOH" Akibatnya? Seketika saja, Yahudi yang baru saja menyanjung-nyanjung setengah mati, kini berbalik menjadi sewot: "SYARRUNAA, sejelek-jeleknya kami! WABNU SYARRUNAA, sejelek-jeleknya keturunan kami!!" Sejak itu, Yahudi "membuang" Abdulloh. Dari yang tadinya ulama panutan yang sangat dihormati, menjadi orang yang paling mereka hinakan. [Bukhori, V/148] Sedih? Susah?Tentu saja tidak. Sebab Abdulloh bin Salam, seperti Waro TIDAK AKAN DATANG SEORANG LAKI-LAKI YANG MEMBAWA AJARANMU MUHAMMAD, KECUALI PASTI AKAN DISAKITI demikian ucapan terkenal Waroqoh bin Naufal. Dengan maksud yang sama, dalam akhir hadits tsb, Abdulloh berkata: FA HAADZALLADZII KUNTU AKHHOOFU YAA ROSUULALLOOH Ya Rosul, Inilah perkara yang saya kuatirkan. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

10 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
ABDURRAHMAN BIN 'AUF Dermawan yang masuk syurga

Tokoh Muslim

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram,terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiranbutiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya. Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang. Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ...... Ummul Mu'minin Aisyah r.a. demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: "Apakah yang telah terjadi dikota Madinah…..?" Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin 'Auf baru datang dari Svam membawa barang-barang dagangannya . .. Kata Ummul Mu'minin lagi: -- "Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?" "Benar, ya Ummal Mu'minin ... karena ada 700 kendaraan...... !" Ummul Mu'minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya. Kemudian katanya: "Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Kulihat Abdurrahman bin'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!"Abdurrahman bin 'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan... ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul.. ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yang berbeda-beda. Dan sebelum talitemali perniagaannya dilepaskannya,ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lain berkata kepadanya: "Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya....".Kemudian ulasnyalagi: "Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah 'azza wajalla.....!" Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang maha besar .... Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin 'Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah ...! Dialah seorang Mu'min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh karena keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a. yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela ... ! Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing.... Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da'wah, yakni sebelum Rasulullah saw. memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orangorang Mu'min ... Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam.. . . Abu, Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Maka tak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu-raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui RasuIullah saw. menyatakan bai'at dan memikul bendera Islam....Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuhpuluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai Seorang Mu'min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw. memasukkannya dalam sepuluh orang Yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

15/11/107:15

sn

11 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Dan Umar r.a. mengangkatnya pula sebagai anggota kelompok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: "Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!" Segeralah Abdurrahman masuk Islam menyebabkannya menceritakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy .... Dan sewaktu Nabi saw., memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Nabsyi, Ibnu 'Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah . . . ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya. Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya: "Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak......!" Perniagaan bagi Abdurrahman bin 'Auf r.a. bukan berarti rakus dan loba .. Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya ... · Dan Abdurrahman bin 'Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya ....Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad dalam mempertahankan Agama tentulah ia sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan ..... Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah ....Telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang sahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah. Persaudaraan ini mencapai kesempurnaannya dengan cara yang harmonis yang mempesonakan hati. Orang-orang Anshar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang muhajirin .. , sampai-sampai soal rumahtangga. Apabila ia beristeri dua orang diceraikannya yang seorang untuk memperisteri saudaranya ......! Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin 'Auf dengan Sa'ad bin Rabi'.... Dan marilah kita dengarkan sahabat yang mulia Anas bin Malik r.a. meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi: " ... dan berkatalah Sa'ad kepada Abdurrahman: "Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperisterinya......! Jawab Abdurrahman bin 'Auf: "Moga-moga Allah memberkati anda, isteri dan harta anda ! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga....! Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana.......ia pun beroleh keuntungan ...! Kehidupan Abdurrahman bin 'Auf di Madinah baik semasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam maupun sesudah wafatnya terus meningkat · · · Barang apa Saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridla Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak.....! Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri . · · tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam ..... Bila jumlah modal niaga dan harta kekayaan yang lainnya ditambah keuntungannya yang diperolehnya, maka jumlah kekayaan Abdurrahman bin 'Auf itu dapat dikira-kirakan apabila kita memperhatikan nilai dan jumlah yang dibelanjakannya pada jalan Allah Rabbul'alamin! Pada suatu hati ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Wahai ibnu 'Auf! anda termasuh golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan....! Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda....!" Semenjak ia mendengar nasihat Rasulullah ini dan ia menyediakan bagi AIlah pinjaman yang balk, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda. Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang

15/11/107:15

sn

12 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin. Diserahkannya pada suatu hari limaratus ekor kuda untuk perlengkapan balatentara islam ...dan di hari yang lain seribu limaratus kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat lima puluh ribu dinar untuk jalan Allah, lain diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman bin Affan r.a. yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya:"Harta Abdurrahman bin 'Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkat". Ibnu 'Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya .... Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkannya dan tidak pula dengan menyimpannya ....Bahkan ia mengumpulkannya secara santai dan dari jalan yang halal ....Kemudian ia tidak menikmati sendirian .... tapi ikut menikmatinya bersama keluarga dan kaum kerabatnya serta saudara·saudaranya dan masyarakat seluruhnya. Dan karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, pernah dikatakan orang: "Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin 'Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka . . Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar hutang-hutang mereka.Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagibagikannya kepada mereka".Harta kekayaan ini tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya, selama tidak memungkinkannya untuk membela Agama dan membantu kawan-kawannya. Adapun untuk lainnya, ia selalu takut dan ragu. Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang shaum .... Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya, tetapi iapun menangis sambil mengeluh: "Mushab bin Umeir telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya! Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluasluasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalaukalau telah didahulukan pahala kebaikan kami...!" Pada suatu peristiwa lain sebagian sahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka bertanya: "Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad ... ?" Ujarnya: "Rasulullah saw. telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita ... ?" Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya .... ! Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya:"Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang dudukduduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka! Tetapi bila orang asing itu mengenal satu segi saja dari perjuangan ibnu 'Auf dan jasa-jasanya, misalnya diketahuinya bahwa di badannya terdapat duapuluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacad pincang yang tidak sembuh sembuh pada salah satu kakinya......sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya .... Di waktu itulah orang baru akan menyadari bahwa laki·laki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin 'Auf ... ! Semoga Allah ridla kepadanya dan ia pun ridla kepada Allah ... ! Sudah menjadi kebiasaan pada tabi'at manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan ... artinya bahwa orang-orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakannya, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan mementingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa dibangkitkan oleh kekayaan... ! Tetapi bila kita melihat

15/11/107:15

sn

13 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Abdurrahman bin 'Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai tabi'at kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang unik ... ! Peristiwa ini terjadi sewaktu Umar bin Khatthab hendak berpisah dengan ruhnya yang suci dan ia memilih enam orang tokoh dari para sahabat Rasulullah saw. sebagai formatur agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang baru.... Jari-jari tangan sama-sama menunjuk dan mengisyaratkan Ibnu 'Auf .... Bahkan sebagian shahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak dengan khalifah di antara yang enam itu, maka ujamya:"Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih balk ambil pisau lain taruh ke atas leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus ke sebelah. ..! Demikianlah, baru saja kelompok Enam formatur itu mengadakan pertemuan untuk memilih salah seorang diantara mereka untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan al-Faruk, Umar bin Khatthab maka kepada kawan-kawannya yang lima dinyatakannya bahwa ia telah melepaskan haknya yang dilimpahkan Umar kepadanya sebagai salah seorang dari enam orang calon yang akan dipilih menjadi khalifah. Dan adalah kewajiban mereka untuk melakukan pemilihan itu terbatas diantara mereka yang berlima saja .... Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim diantara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin 'Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka yang berlima, sementara Imam Ali mengatakan: "Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi ... !" Oleh Ibnu 'Auf dipilihlah Utsman bin Affan untuk jabatan khalifah dan yang lain pun menyetujui pilihannya. Nah, inilah hakikat seorang laki-laki yang kaya raya dalam Islam! Apakah sudah anda perhatikan bagaimana Islam telah mengangkat dirinya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatannya itu, dan bagaimana ia menempa kepribadiannya dengan sebaikbaiknya? Dan pada tahun ketigapuluh dua Hijrah, tubuhnya berpisah dengan ruhnya .... Ummul Mu'minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain,maka diusulkannya kepadanya sewaktu ia masih terbaring diranjang menuju kematian, agar ia bersedia dikuburkan di pekarangan rumahnya berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar.... Akan tetapi ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut ... ! Pula dahulu ia telah membuat janji dan ikrar yang kuat dengan Utsman bin Madh'un, yakni bila salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain maka hendaklah ia dikuburkan di dekat shahabatnya itu ... ! Selagi ruhnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak mengucapkan kata-kata: "Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari shahabat-shahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah ... !" Tetapi sakinah dari Allah·segera menyelimutinya, lain satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan sukacita yang memberi cahaya serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa... Ia memasang telinganya untuk menangkap sesuatu ....seolah-olah ada suara yang lembut merdu yang datang mendekat ....Ia sedang mengenangkan kebenaran sabda Rasulullah saw.yang pernah beliau ucapkan: "Abdurrahman bin 'Auf dalam surga!", lagi pula ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya: "Orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Alloh kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannnya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, niscaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita ... !"(Q·S. 2 al-Baqarah: 262)

15/11/107:15

sn

14 of 207

Kisah Sahabat
ABU A'LA MAUDUDI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu fokus tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam. Sayyid Abul A’la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa terakhir. Ia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) di Aurangabad, India Selatan, tepatnya pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Rasa dekat keluarga ini dengan warisan pemerintahan Muslim India dan kebenciannya terhadap Inggris, memainkan peranan sentral dalam membentuk pandangan Maududi di kemudian hari. Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli bahasa Arab pada usia muda. Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan kemudian wafat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh minat pada soal-soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai ‘alim. Kebanyakan biografi Maududi hanya menyebut dirinya sebagai jurnalis yang belajar agama sendiri. Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya. Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di minggua partai pro Kongres yang bernama Taj. Di sini dia jadi sepenuhnya aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres. Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah seperti Muhammad ‘Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam (negeri Islam). Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami’ati ‘Ulama Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami’at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam. Di Delhi, Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami’at mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad ke delapan belas. Pada 1926, ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.

15/11/107:15

sn

15 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya. Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan. Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan terang-terangan meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat. Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin. Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama’at Islami (partai Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama’ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama’at mengembangkan struktur partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi. Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama’at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama’at memilih Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore, dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama’at. Dia telah "kembali" kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius. [Majalah Percikan Iman No. 4 Tahun I Oktober 2000]

15/11/107:15

sn

16 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
ABU AYUB AL-ANSHARI

Tokoh Muslim

Nama lengkapnya Khalid bin Zaid bin Kulaib. Beliau berasal dari keluarga Bani Najjar. Mendapatkan kehormatan untuk tempat singgah Rasul setelah sampai di Madinah pada saat berhijrah. Pada saat Rasul memasuki Madinah semua kaum Anshar berharap agar beliau tinggal di rumah mereka. Secara silih berganti mereka menghalangi unta Nabi dengan maksud untuk diarahkan ke rumah mereka. Tetapi Nabi mengatakan, “Biarkanlah unta ini! Dia telah diperintahkan.” Maka unta beliau pun terus berjalan dan baru berhenti di halaman rumah Abu Ayub Al-Anshari. Abu Ayub gembira sekali melihat hal itu, maka dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri dan menyambut Nabi dengan hati gembira bercampur haru. Dia pun membawa barang bawaan Nabi masuk ke rumahnya. Ketika itu dia merasakan seolah membawa seluruh isi kekayaan dunia. Rumahnya terdiri dari dua tingkat. Nabi memilih tingkat pertama, agar lebih mudah menemui para sahabat yang datang. Tetapi hal itu membuat Abu Ayub Al-Anshari tidak bisa tidur semalaman. Dia merasa tidak sopan untuk tidur di atas Nabi. Karenanya, dia mendatangi Nabi di pagi hari dan meminta beliau untuk pindah ke tingkat atas. Seketika itu wajah Nabi berseri-seri, lalu mengatakan, “Jangan repotkan dirimu, Abu Ayub! Tingkat bawah lebih cocok bagi kami karena banyaknya orang yang datang.” Abu Ayub mengatakan, “Aku, mematuhi perintah Rasul itu. Hingga pada suatu malam yang sangat dingin, kendi kami pecah dan airnya tumpah ke lantai. Karena takut tumpahan air itu sampai ke tingkat bawah, tempat Rasul, aku dan istriku cepat-cepat berdiri dan menghampiri tempat tumpahan air itu, lalu mengelapnya dengan sehelai kain beledu, satu-satunya kain yang kami punya dan biasa kami pakai untuk selimut. Di pagi harinya, aku menemui Nabi dan mengatakan, ‘Demi bapakku, engkau dan ibuku! Aku tidak suka berada di atasmu, dan tidak suka engkau berada di bawahku.’ Lalu aku sampaikan cerita kendi tadi dan Rasul pun mau memahami dan naik ke tingkat atas. Aku dan istriku turun ke tingkat bawah.” Rasul tinggal di rumah Abu Ayub Al-Anshari selama kurang lebih 7 bulan. Yaitu sampai selesai membangun Mesjid Nabi dan kamar-kamar yang berada di sampingnya. Nabi kemudian tinggal di kamarkamar itu. Abu Ayyub Al-Anshari berhati lembut, sangat menyintai Rasul, dan ringan tangan. Memiliki sebatang pohon kurma yang dia pakai untuk menghidupi diri dan keluarganya. Dia juga salah seorang pahlawan Islam. Mengikuti semua peperangan yang terjadi pada masa Rasul dan peperangan perluasan Islam setelahnya. Kecuali bila terjadi lebih dari satu peperangan dalam waktu yang bersamaan. Pada masa Muawiyah, dia mengikuti pasukan yang dikirimnya untuk menaklukkan Konstantinopel padahal umurnya sudah mendekati 80 tahun. Di tengah perjalanan laut dia jatuh sakit. Pada saat menjenguk, Yazid bin Muawiyah, panglima perang saat itu, bertanya kepadanya, “Engkau mempunyai permintaan, wahai Abu Ayub?” Dia meminta bila mati agar dibawa oleh tentara dan dikuburkan di bawah pagar Konstantinopel. Dan ternyata dia meninggal pada saat itu. Mayatnya dibawa oleh tentara di tengah-tengah pertempuran. Atas kehendak Allah, pasukan ?Islam sampai juga ke pagar Konstantinopel, maka mulailah mereka menggali kuburan dan menanam Abu Ayub Al-Anshari di sana.

15/11/107:15

sn

17 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
ABU BAKAR Ash-SHIDDIQ

Tokoh Muslim

Abu Bakar lahir tahun 573 M dari sebuah keluarga terhormat di Mekkah dua tahun satu bulan setelah kelahiran Rasul Muhammad SAW. Nama aslinya Abdullah Ibn Abu Kuhafah, lalu ia mendapat gelar Ash Shiddiq setelah masuk Islam. Semenjak kanak-kanak, ia adalah sosok pribadi yang terkenal jujur, tulus, penyayang, dan suka beramal, sehingga masyarakat Mekkah menaruh hormat kepadanya. Ia selalu berbuat yang terbaik untuk menolong fakir miskin. Abu Bakar adalah sahabat yang terpercaya dan dikagumi oleh Rasulullah SAW. Ia pemuda yang pertama kali menerima seruan Rasul tanpa banyak pertimbangan. Seluruh kehidupannya dicurahkan untuk perjuangan suci membela dakwah Rasul. Rasul SAW sangat menyayanginya sehingga seringkali untuk menggantikan Rasul menjadi imam shalat, ia lah yang ditunjuk. Saat Rasul hijrah ke Madinah, Abu Bakar menyertainya. Kedekatan abu Bakar dengan Rasul dalam perjuangan Islam ibarat Rasul dengan bayangannya. Sampai akhir hayatnya, Rasulullah Muhammad SAW tidak menunjuk seseorang sebagai khalifah, sehingga ketika beliau meninggal dunia masyarakat muslim dalam kebingungan. Dan terdapatlah golongan Muhajirin dan Anshar berusaha memilih penerus dan penggantinya sambil masing-masing memunculkan tokohnya - meski pada akhirnya kedua tokoh dari masing-masing golongan yang mengusulkan tersebut menolak sambil berkata "Tidak, kami tidak mempunyai kelebihan dari kamu sekalian dalam urusan ini." Dalam situasi yang semakin kritis, Umar dari golongan Muhajirin mengangkat tangan abu Bakar seraya menyampaikan sumpah setia kepadanya dan membaiatnya sebagai khalifah. Sikap Umar tersebut pun diikuti oleh Abu Ubadiyah dari Anshar beserta tokoh-tokohnya yang hadir. Mereka menyatakan kerelaannya membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Dalam pidato pelantikannya Abu Bakar berkata "Saya, bukanlah yang terbaik diantara kamu sekalian. Oleh karena itu saya sangat menghargai dan mengharapkan saran dan pertolongan kalian semua. Menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang terpilih sebagai penguasa adalah kesetiaan yang sebenar-benarnya; sedang menyembunyikan kebenaran adalah suatu kemunafikan. Orang yang kuat maupun orang yang lemah adalah sama kedudukannya dan saya akan memperlakukan kalian semua secara adil. Jika aku bertindak dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, taatilah aku, tetapi jika aku mengabaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidaklah layak kalian mentaatiku." Pidato tersebut berisi prinsip-prinsip kekuatan demokratis, dan bukan kekuasaan yang bersifat otokratis. Seorang khlaifah wajib menjalankan pemerintahan sesuai dengan ajaran Islam dan mempertanggungjawabkan segala kebijaksanaannya kepada rakyatnya. Semenjak diangkat sebagai Khalifah, Abu Bakar menghadapi berbagai permasalahan. Program pertama yang dicanangkan Abu Bakar setelah ia menjadi khalifah, adalah meredam pemberontakan, memerangi orang-orang yang membangkang tidak mau membayar zakat. Pemurtadan saat itu juga terjadi dimana-mana dan menimbulkan kekacauan. Sepeninggal Rasulullah SAW, memang banyak umat Islam yang kembali memeluk agamanya semula. Mereka berasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan lebih tragis lagi, muncul orang-orang yang mengaku Rasul, antara lain Musallamah Al Kadzdzab, Tulaiha Al Asadi, dan Al Aswad Al Ansi. Untuk meluruskan akidah orang-orang murtad tersebut, Abu Bakar mengirim sebelas pasukan perang ke sebelas daerah tujuan, diantaranya Pasukan Khalid bin Walid yang ditugaskan menundukkan Tulaiha Al Asadi, Pasukan Amer bin Ash ditugaskan di Qudla'ah, Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam.

15/11/107:15

sn

18 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Program Abu Bakar selanjutnya memproyekkan pengumpulan dan penulisan ayat-ayat Al Qur'an. Program ini dicanangkan atas usulan Umar bin Khattab, sedangkan pelaksananya dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit. Semasa pemerintahannya, Abu Bakar juga berhasil memperluas daerah dakwah Islamiyah, antara lain ke Irak yang ketika itu termasuk wilayah jajahan kerajaan Parsi dan ke Syam yang dibawah jajahan Romawi. Setelah memerintah selama dua tahun, Abu Bakar berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 23 Jumadil Akhir 13 H, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan dekat makan Rasulullah SAW. Ketaatannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta budi luhurnya terkenal.

[Tabloid MQ EDISI 3/TH.II/JULI 2001]

15/11/107:15

sn

19 of 207

Kisah Sahabat
ABU DARDA’

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Uwaimir bin Malik Al Khazraji yang digelari Abu Darda' bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu dia pergi menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar. Sesudah itu patung tersebut diberi pakaian baru yang terbuat dari sutera megah, yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya. Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu darda' masuk ke rumah dan bersiap hendak pergi ke tokonya, tiba-tiba jalan di Yastsrib menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu Darda' mendekati orang ramai dan bertemu dengan seorang pemuda suku Khazraj. Abu darda' menanyakan kepadanya dimana 'Abdullah bin Rawahah. Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu Darda', karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda' dengan 'Abdullah bin Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahiliyah. Setelah Islam datang, 'Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda' tetap dalam kemusyrikan. Tetapi hal itu tidak menyebabkan hubungan persahabatan kedua orang tersebut menjadi putus. Karena 'Abdullah berjanji akan mengunjungi Abu Darda' sewaktu-waktu, untuk mengajak dan menariknya ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda', karena umurnya habis tersia-sia setiap hari dalam kemusyrikan. Abu Darda' tiba di toko pada waktunya. Ia duduk bersila diatas kursi, sibuk jual beli dan mengomandoi para pelayan. Sementara itu 'Abdullah bin Rawahah datang ke rumah Abu Darda'. Sampai di sana ia melihat Ummu Darda' di halaman rumahnya. "Assalamu'alaiki. Ya amatallah (Semoga Anda bahagia, hai hamba Allah )." kata 'Abdullah memberi salam. "Wa'alaikassalam, ya akha Abi Darda' (Dan semoga Anda bahagia pula, hai sahabat Abu Darda')," jawab Ummu Darda. "Kemana Abu Darda,'' tanya 'Abdullah. "Dia ke toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang," jawab Ummu Darda' "Boleh saya masuk?" tanya 'Abdullah. "Dengan segala senang hati! Silakan!" Jawab Ummu Darda'. Ummu Darda' melapangkan jalan bagi 'Abdullah, kemudian dia masuk ke dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak. 'Abdullah bin Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda' meletakkan patung sembahannya. Dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Dihampirinya patung itu lalu dikapaknya hingga berkeping-keping. Katanya, "ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!" Setelah selesai menghancurkan patung tersebut, dia pergi meninggalkan rumah. Ummu Darda' masuk ke kamar tempat patung berada. Alangkah terperanjatnya dia, ketika dilihatnya patung telah hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Ummu Darda' meratap menampar nampar kedua pipinya seraya berkata, "Engkau celakakan saya, hai Ibnu Rawahah." Tidak berapa lama kemudian Abu Darda' pulang dari toko. Didapatinya istrinya duduk dekat pintu kamar patung sambil menangis. Rasa cemas dan takut kelihatan jelas di wajahnya. "Mengapa engkau menangis?" tanya Abu Darda'. "Teman Anda, 'Abdullah bin Rawahah tadi datang kemari ketika Anda sedang di toko. Dia telah menghancurkan patung sembahan Anda. Cobalah Anda saksikan sendiri," jawab Ummu Darda'. Abu Darda' menengok ke kamar patung, dilihatnya patung itu sudah hancur berkeping-keping. Maka timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud hendak mencari 'Abdullah. Tetapi setelah kemarahannya

15/11/107:15

sn

20 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

berangsur padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, "seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri." Maka ditinggalkannya patung yang menyesatkan itu, lalu dia pergi mencari 'Abdullah bin Rawahah. Bersama sama dengan 'Abdullah, dia pergi menghadap Rasulullah SAW dan menyatakan masuk agama Allah di hadapan beliau. Sejak detik pertama Abu Darda' beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, dia beriman dengan sebenarbenar iman. Dia sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam, telah memperoleh pengertian yang dalam tentang agama Allah ini, hafal Al-Qur'an, senantiasa beribadat, dan taqwa yang selalu mereka tanamkan dalam diri mereka di sisi Allah. Karena itu dia bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sungguh, sekali pun dia harus berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang berangkat lebih dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungan dengan dunia, mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan mempelajari Al-Qur'an dengan tekun dan menghafalkan ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya perdagangannya mengganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majelis-majelis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaannya tanpa ragu dan penyesalan. Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu orang pernah bertanya kepadanya. Maka dijawabnya, "Sebelum masa Rasulullah saya menjadi seorang pedagang. Maka setelah saya masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda' dalam kuasa-Nya, saya akan menjadi penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput shalat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar." Kemudian dia menengok kepada si penanya dan berkata, "Saya tidak mengatakan bahwa Allah Ta'ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak mengganggu saya untuk berdzikrullah (berdzikir)." Abu Darda' tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekedar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekedar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh. Pada suatu malam yang sangat dingin, sekelompok jamaah bermalam di rumahnya. Abu Darda' menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya selimut. Ketika hendak tidur, mereka mempertanyakan selimut, Seorang diantaranya berkata, "Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda'." Kata yang lain tidak, "Tidak perlu!" Tetapi orang yang seorang itu menolak saran orang yang tidak setuju. Dia terus pergi ke kamar Abu Darda'. Sampai di muka pintu dilihatnya Abu Darda' berbaring, dan istrinya duduk di sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin melindungi mereka dari kedinginan. Orang itu bertanya kepada Abu Darda', "Saya lihat Anda sama dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Kemana saja kekayaan dan harta benda Anda?" Jawab Abu Darda', "kami mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda kami langsung kami kirimkan kesana setiap kami peroleh. Seandainya masih ada yang tinggal di sini (berupa selimut), tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu susah membawa barang yang berat-berat. Kami memang sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa." Kemudian Abu Darda bertanya kepada orang itu, "Pahamkah Anda?" Jawab orang itu, "Ya, saya mengerti. Semoga Anda di karuniai Allah segala kebaikan." Pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khatab, 'Umar mengangkat Abu darda' menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi Abu Darda' menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu Darda', "Bilamana Anda

15/11/107:15

sn

21 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah kepada mereka, serta menegakkan shalat bersama sama dengan mereka." Khalifah Umar menyukai rencana Abu Darda' tersebut. Lalu Abu Darda' berangkat ke Damsyik. Sampai di sana didapatinya masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya. Maka dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia berpidato di hadapan mereka. Katanya : "Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku seagama; tetangga se-negeri; dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah gerangan sebabnya kalian tidak menyenangi saya, dan tidak menerima nasehat saya? Padahal saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasehatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian. Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Ta'ala, dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian. Bangsa-bangsa sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercitacita setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebentar, harta yang mereka tumpuk habis terkikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan-bangunan mewah yang mereka bangun rubuh menjadi kuburan. Hai penduduk Damsyiq! Itulah bangsa 'Ad (kaum Nabi Hud as) yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian yang berani sekarang membeli daripadaku peninggalan kaum 'Ad itu dengan harga dua dirham?" Mendengar pidato Abu Darda' tersebut orang banyak menangis, sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid. Sejak hari itu Abu Darda' senantiasa mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang bertanya kepadanya selalu ia jawab. Jika dia bertemu dengan seorang bodoh, diajarinya. Dan jika dia melihat orang terlalai, diingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi, serta kemampuan yang ada padanya. Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok seorang lelaki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci maki mereka. Abu Darda' datang menghampiri, lalu bertanya, "Apa yang terjadi? Mengapa begini?" Jawab mereka, "Orang itu jatuh ke dalam dosa besar." Kata Abu Darda', "Karena itu janganlah kalian caci maki dia, dan jangan pula kalian pukuli. Tetapi berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari segala dosa." Tanya mereka, "Apakah Anda tidak membencinya?" Jawab Abu Darda', "Sesungguhnya saya membenci perbuatannya. Apabila dia telah menghentikan perbuatannya yang berdosa itu, maka dia adalah saudara saya." Orang itu menangis dan tobat dari kesalahannya. Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda' dan berkata kepadanya, "Wahai sahabat Rasulullah! Ajarilah saya!" Jawab Abu Darda', "Hai anakku! Ingatlah kepada Allah di waktu kamu bahagia. Maka Allah akan mengingatmu di waktu kamu sengsara. Hai Anakku! Jadilah kamu pengajar, orang yang mau belajar dan orang yang mau mendengar. Dan jangan menjadi orang yang bodoh). Karena yang bodoh itu, pasti celaka." Abu Darda' pernah pula melihat sekelompok pemuda duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang lalu lalang. Abu Darda' menghampiri mereka dan berkata kepadanya, "Hai anak-anakku! Tempat yang paling baik bagi orang muslim adalah rumahnya. Di sana dia dapat memelihara diri dan pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan dan dipasar-pasar, karena hal itu menghabiskan waktu dengan percuma."

15/11/107:15

sn

22 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ketika Abu Darda' tinggal di Damsyiq, yang menjadi gubernur waktu itu ialah Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Mu'awiyah melamar anak gadis Abu Darda' (yaitu Darda') untuk puteranya Yazid. Abu Darda' menolak lamaran Mu'awiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya, Darda', dengan Yazid (putera Gubernur). Bahkan Darda' dikawinkannya dengan pemuda muslim, anak kebanyakan. Abu Darda' menyukai agama dan akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap Abu Darda' dan berbisikbisik sesama mereka, "Anak gadis Abu Darda' dilamar oleh Yazid bin Mu'awiyah, tetap lamarannya di tolak. Kemudian Abu Darda' mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak orang kebanyakan." Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda', mengapa dia bertindak seperti itu. Jawab Abu Darda', "Saya bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan Darda'." Orang itu kembali bertanya,"Mengapa?" Jawab Abu darda', "Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda' telah berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa siap sedia melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang gemerlapan menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda' ketika itu?" Pada suatu waktu ketika Abu Darda' berada di negeri Syam, Amirul Mukminin 'Umar bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi sahabat itu di rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu Darda', ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu Darda' mendengar suara Khalifah, Abu Darda' berdiri mengucapkan selamat datang dan menyilahkan Khalifah Umar duduk. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan menyelubungi keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara. Khalifah 'Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda', ternyata sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda', ternyata berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin. Kata khalifah 'Umar, "Semoga Alah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukah Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?" Jawab Abu Darda'. "Ingatkah Anda hai 'Umar, sebuah hadist yang disampaikan Rasulullah kepada kita?" Tanya Umar, "Hadist apa gerangan?" Jawab Abu Darda', "Bukankah Rasulullah telah bersabda: 'Hendaklah puncak salah seorang kamu tentang dunia, seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).'" Jawab Khalifah Umar, "Ya, saya ingat!" Kata Abu Darda', "Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?" Khalifah Umar menangis, Abu Darda'pun menangis pula. Akhirnya mereka berdua bertangistangisan sampai subuh. Abu Darda' menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah kepada mereka sampai dia meninggal. Tatkala Abu Darda' hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung. Mereka bertanya, "Sakit apa yang Anda rasakan?" Jawab Abu Darda', "Dosa-dosaku!" Mereka bertanya, "Apa yang Anda inginkan?" Abu Darda' menjawab, "Ampunan Tuhanku." Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir disekitarnya, "Ulangkanlah kepadaku kalimah 'Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.'" Abu Darda' senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir.

15/11/107:15

sn

23 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Setelah Abu Darda' pergi menemui Tuhannya, Abu Muhammad berkata pada Auf bin Malik, "hai, Ibnu Malik! Inilah karunia Allah kepada kita berkat Al-Qur'an. Seandainya engkau mengawasi jalan ini, engkau akan melihat suatu pemandangan yang belum pernah engkau saksikan, dan mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengar, dan tidak pernah terlintas dalam pikiranmu." Tanya 'Auf bin Malik, "Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad?" Jawab Abu Muhammad, "Disediakan Allah Ta'ala untuk Abu Darda', karena Dia telah menolak kemewahan dunia dengan mudah dan lapang dada." [fosmil.org]

15/11/107:15

sn

24 of 207

Kisah Sahabat
ABU HURAIRAH R.A.

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Alumnus Shuffah Penghafal Lebih Dari 1600 Hadits Nabi Dilahirkan di negeri Yaman, yatim semasa kecilnya, tidak berkerabat kecuali ibunya, Abdu Syams (hamba matahari) nama semasa Jahiliyah, Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dusi nama setelah taslim (masuk Islam) di hadapan Thufail bin Amru Ad-Dusi, Shuffah nama almamaternya. Itulah Abu Hurairah RA, sosok yang akan kita perbincangkan pada “Tokoh Islam” kali ini. Abu Hurairah, demikian nama itu biasa dikenal, sejatinya Rasulullah menamainya Abdurrahman, tetapi beliau seringkali memanggilnya dengan, "Abu Hirr" sebagai panggilan intim. Mengapa lalu dipanggilnya dengan Abu Hurairah (Bapak kucing kecil) ? Hal itu mengingat pada masa kanak-kanak, ia mempunyai seekor kucing kecil sebagai teman main, sehingga teman-temannya memanggilnya dengan Abu Hurairah. Pada tahun-tahun pertama setelah memeluk Islam ia masih tetap tinggal di Yaman, di tengah-tengah kaumnya, namun akhirnya berpindah ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Abu Hurairah mencurahkan waktunya untuk menemani dan melayani Nabi saw. Dia mengajak ibunya untuk masuk Islam sembari memintakan doanya kepada Rasul dan akhirnya doanya terkabul ibu Abu Hurairah masuk Islam. Selama itu Abu Hurairah tetap berbakti kepadanya. Abu Hurairah menetap di Suffah (suatu tempat di Mesjid Nabi yang dikhususkan untuk para sahabat yang tidak berpunya) dan selalu menyertai Rasul di mana saja beliau berada. Hal itu membuatnya hafal hadis dalam jumlah yang sangat banyak. Apalagi setelah Rasul mendoakan agar dia tidak melupakan ilmu yang pernah dia peroleh. Penghafal lebih dari 1600 hadis Nabi. Ini pernah mengatakan, "Saya menghafal pada saat kaum Muhajirin sibuk berdagang dan kaum Anshar sibuk bercocok tanam." Dia itu pecinta berat ilmu pengetahuan, sampai pernah pada suatu saat dia pergi ke pasar di Madinah dan mengatakan kepada yang hadir, "Kalian semua duduk saja di sini, sedang warisan Rasul sedang dibagi-bagi di Mesjid." Mendengar itu semua orang pergi ke Mesjid. Setelah sampai, ternyata tidak menjumpai kecuali orang-orang yang sedang salat, membaca kitab suci Alquran dan mengkaji ilmu pengetahuan. Mereka semua heran terhadap Abu Hurairah. Dia lalu mengatakan, "Itulah warisan Nabi Muhammad saw." Ketika pada suatu masa dimana taraf kehidupan di kota Madinah meningkat akibat banyaknya harta rampasan, keadaan Abu Hurairah ikut berubah. Dia mempunyai rumah, istri dan anak. Tetapi itu semua tidak merubah sifat rendah hati, kesenangannya terhadap ilmu, rajin beribadah, sungguh dan taat. Ketika pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan r.a. Abu Hurairah dijadikan gubernur Madinah. Tetapi itu pun tidak merubah ketakwaan dan kehati-hatiannya dalam menghindarkan diri dari dosa. Dia selalu puasa di siang hari dan melakukan salat pada malamnya. Kata-kata Abu Hurairah yang sering disenandungkan adalah, "Saya tumbuh dan berkembang dalam keadaan yatim, hijrah dalam keadaan miskin, pernah bekerja pada Bisrah binti Ghazwan dengan bayaran sekadar pengisi perutku. Saya melayani orang apabila turun dari kendaraan dan membantu mengangkat badannya sewaktu naik. Lalu Allah berkenan mengawinkannya (Bisrah bint Ghazwan) denganku. Segala puji bagi Allah yang membuat agama tegak dan membuat Abu Hurairah menjadi pemimpin."

15/11/107:15

sn

25 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
ABU SUFYAN bin HARITS

Tokoh Muslim

Agaknya tidak ada tali-temali yang menghubungkan dua pribadi sedemikian erat dan kuat, seperti talitemali yang menghubungkan Muhammad SAW dengan Abu Sufyan bin Harits. Abu Sufyan lahir bersamaan dengan Muhammad bin Abdullah. Keduanya sebaya dan dibesarkan dalam keluarga yang sama. Abu Sufyan adalah anak paman Rasulullah SAW yang paling dekat. Karena Al-Harits, ayah kandung Abu Sufyan, dengan Abdullah ayahanda Rasululah SAW adalah kakak beradik dari putra Abdul Muthallib. Di samping itu, Abu Sufyan adalah saudara susuan Rasululah. Kedua-duanya disusui oleh Halimatus Sa'diyah secara bersama-sama. Setelah itu keduanya menjadi kawan bermain yang saling mengasihi dan sahabat terdekat bagi Rasulullah sebelum kenabian. Abu Sufyan adalah salah seorang yang sangat mirip dengan Rasulullah. Maka, hubungan keluarga mana lagi yang lebih dekat dan kuat dari hubungan Muhammad bin Abdullah dengan Abu Sufyan? Karena hubungan yang demikian erat itulah, kebanyakan orang menyangka bahwa Abu Sufyan adalah orang yang paling dahulu menerima seruan Rasulullah SAW dan yang paling cepat mempercayai serta mematuhi ajarannya dengan setia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, ia menjadi penentang Rasulullah SAW. Ketika Rasululah SAW mulai berdakwah secara terang-terangan, Abu Sufyan menjadi penunggang kuda yang terkenal. Di samping itu, ia adalah penyair yang berimajinasi tinggi dan berbobot. Dengan kedua keistimewaannya itulah, Abu Sufyan tampil memusuhi dan memerangi dakwah Rasulullah SAW. Ia berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Bila kaum Quraisy menyalakan api peperangan melawan Rasulullah SAW dan kaum muslimin, Abu Sufyan selalu turut mengobarkannya dan setiap penganiayaan yang dilancarkannya selalu membawa malapetaka besar bagi kaum muslimin. Sementara itu, setan penyair Abu Sufyan selalu membangunkan dan mempergunakan lidahnya untuk menyindir Rasulullah dengan kata-kata tajam, kotor, dan menyakitkan. Abu sufyan terus-menerus memusuhi Rasulullah SAW berkelanjutan hingga masa dua puluh tahun. Selama masa itu, dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan meneror Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Tidak berapa lama sebelum penaklukan Mekah, seorang saudara Abu Sufyan menulis surat kepadanya, mengajak masuk Islam sebelum Mekah ditaklukkan. Ajakan saudaranya itu diterimanya, maka dia pun masuk Islam. Tetapi, buku-buku sejarah mencatat kisah macam-macam tentang Islamnya Abu Sufyan. Karena itu, marilah kita dengarkan dia menceritakan kisahnya sendiri. Ingatannya tentu lebih dalam, sifatnya lebih terperinci dan lebih benar. "Ketika Islam sudah berdiri teguh dan kuat, gencarlah berita bahwa Rasulullah akan datang menaklukkan Mekah. Sementara itu, bumi yang terbentang luas semakin sempit terasa bagiku. Aku bertanya kepada diriku sendiri, "Hendak ke mana kau? Siapa temanku? Dan, dengan siapa aku?" Kemudian, aku panggil istri dan anak-anakku, lalu kukatakan, "Bersiaplah kalian untuk mengungsi dari Mekah ini, karena tidak lama lagi tentara Muhammad akan tiba. Aku pasti akan dibunuh oleh kaum muslimin. Hal itu tidak mustahil terjadi jika mereka menemukan aku." Mereka menjawab, "Apakah belum tiba juga masanya bagi Bapak untuk menyaksikan bangsa-bangsa Arab dan bukan Arab tunduk patuh dan setia kepada Muhammad dan agamanya, sedangkan Bapak senantiasa memusuhinya. Seharusnya Bapaklah orang yang pertama-tama memperkuat barisan Muhammad dan membantu segala kegiatannya."

15/11/107:15

sn

26 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

"Istri dan anak-anakku senantiasa membujukku masuk Islam, sehingga akhirnya Allah melapangkan dadaku menerimanya." "Saya bangkit dan berkata kepada pelayanku, Madzkur, 'Siapkan bagi kami unta dan kuda.' Lalu, anakku Ja'far kubawa bersama-sama denganku. Kami mempercepat jalan menuju Abwa', yaitu daerah antara Mekah dan Madinah. Kami mendapat kabar bahwa Muhammad telah sampai di sana dan menduduki tempat itu dan di sana aku masuk Islam. Ketika kami hampir tiba, aku menyamar, sehingga tidak seorang pun mengenalku, lalu aku menyatakan Islam di hadapan beliau." "Aku meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah satu mil aku berjalan, aku bertemu dengan pasukan perintis kaum muslimin menuju Mekah. Pasukan demi pasukan lewat. Aku menghindar dari jalan mereka, karena khawatir ada di antara mereka yang mengenalku." "Lalu, terlihat olehku Rasulullah berada di tengahtengah pasukan pengawalnya. Aku memberanikan diri menemuinya sampai aku tegak berhadapan muka dengannya. Lalu, kubuka topeng dari wajahku, setelah dia melihat dan mengenalku, dia memalingkan muka dariku ke arah lain. Aku pun pindah berdiri ke arah dia melihat, tetapi dia berpaling pula ke arah lain. Aku tetap mengejar sehingga hal seperti itu terjadi beberapa kali." "Aku tidak pernah ragu, jika aku mendatangi Rasulullah, beliau akan gembira dengan keislamanku. Dan, para sahabat akan gembira pula karena nabinya gembira. Tetapi, ketika kaum muslimin melihat Rasulullah SAW berpaling dariku, mereka pun memperlihatkan muka masam dan semuanya memalingkan muka dariku." "Aku bertemu dengan Abu Bakar, tetapi dia memalingkan mukanya dariku. Aku memandang kepada Umar bin Khattab dengan pandangan lembut, tetapi Umar melongos dengan cara yang menjengkelkan. Bahkan, ada seorang Anshar berkata dengan semangat kepadaku, 'Hai Musuh Allah! Engkau telah banyak menyakiti Rasulullah SAW dan para sahabat. Kejahatanmu telah sampai ke ujung timur dan barat permukaan bumi ini'." Orang Anshar ini semakin mengeraskan suaranya memaki-makiku, sehingga kaum muslimin menyorotkan pandangan menghina kepadaku, tetapi aku gembira dengan cemoohan yang sedang kualami. Sementara itu, aku melihat pamanku, Abbas. Aku mendekatinya seraya berkata, "Wahai paman! Aku berharap semoga Rasulullah gembira karena aku masuk Islam, sebagai famili dekat baginya, yang paman mengetahui seluruhnya. Tolonglah paman bicarakan dengannya (Muhammad) mengenai maksudku." Jawab Abbas, "Demi Allah, saya tidak berani satu kalimat pun bicara dengannya setelah kulihat dia memalingkan muka darimu. Kecuali, bila datang kesempatan lain yang lebih baik, akan saya coba." "Sekarang kepada siapa akan paman serahkan aku?' tanyaku." Jawab Abbas,"Saya tidak berwenang apaapa selain yang engkau dengar." "Aku sungguh susah dan sedih karena jawaban paman Abbas kepadaku. Tidak lama kemudian aku melihat adik sepupuku, Ali bin Abi Thalib. Maka, kubicarakan dengannya maksudku. Ali pun menjawab seperti jawaban paman Abbas." "Aku kembali menemui paman Abbas. Aku berkata, 'Jika paman tidak sanggup membujuk Rasulullah mengenai diriku, tolong cegah orang-orang itu mengejekku, atau yang menghasut orang lain mengejekku'." Abbas bertanya, "Siapa orangnya? Sebutkan ciri-cirinya kepadaku." "Maka, kuterangkan ciri-ciri orang itu kepada paman Abbas. Ia lalu berkata, 'Oh, itu adalah Nu'aiman bin Harits an-Najjary'." Abbas kemudian mendatangi orang tersebut seraya berkata, "Hai Nu'aiman! Sesungguhnya Abu Sufyan itu adalah anak paman Rasulullah, dan anak saudaraku. Seandainya Rasulullah SAW marah hari ini kepadanya, barangkali besok beliau rida kepadanya. Karena itu, janganlah mencela Abu Sufyan." "Ketika Rasulullah berhenti di Jahfah, saya duduk di muka pintu rumahnya bersama anakku, Ja'far. Ketika beliau keluar rumah, beliau melihatku, tetapi dia tetap memalingkan muka dariku. Tetapi, aku tidak putus asa untuk mendapatkan ridanya. Setiap kali dia keluar masuk rumah, aku senantiasa duduk di muka pintu. Sedangkan anakku, Ja'far, kusuruh berdiri di dekatku. Dia tetap memalingkan muka bila melihatku. Lama juga kualami keadaan seperti ini, hingga akhirnya aku merasa susah sendiri."

15/11/107:15

sn

27 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

"Lalu, aku berkata kepada isteriku, 'Demi Allah, bila aku dan anakku ini pergi mengasingkan diri sampai kami mati kelaparan dan kehasusan, tentu Rasulullah akan meridaiku'." "Tatkala berita mengenai diriku itu sampai kepada Rasulullah, beliau merasa kasihan. Ketika beliau keluar dari kubah untuk pertama kali beliau memandang lembut kepadaku. Aku berharap semoga beliau tersenyum melihatku." "Kemudian Rasulullah SAW memasuki kota Mekah. Aku turut dalam rombongan pasukan beliau. Belau langsung menuju masjid, aku pun segera mendampingi dan tidak berpisah semenit pun dengannya." Saat terjadi perang Hunein seluruh kabilah Arab bersatu padu, persatuan Arab yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memerangi Rasulullah dan kaum muslimin. Mereka membawa perlengkapan perang dan jumlah tentara yang cukup banyak. Bangsa Arab bertekad hendak membuat perhitungan kalah atau menang dengan kaum muslimin dalam perang kali ini. Rasulullah SAW menemui musuh hanya dengan beberapa pasukan. Aku turut dalam rombongan pasukan pengawal beliau. Tatkala kulihat jumlah tentara musyrikin sangat besar, aku berkata kepada diriku, "Demi Allah, hari ini aku harus menebus segala dosa-dosaku yang telah lalu karena memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Hendak kubaktikan kepada beliau amal yang diridai Allah dan Rasul-Nya." Ketika pasukan telah berhadap-hadapan, kaum musyrikin dengan jumlah tentaranya yang banyak berhasil mendesak mundur kaum muslimin, sehingga banyak di antara kaum muslimin yang lari dari samping Nabi saw. Hampir saja menderita kekalahan yang tidak diinginkan. "Demi Allah, aku tetap bertahan di samping beliau di tengah-tenah medan tempur. Beliau tetap berada di atas keledainya yang berwarna keabu-abuan, teguh bagaikan sebuah bukit yang terhunjam dalam ke bumi. Dengan pedang terhunus ditebasnya setiap musuh yang datang mendekat, bagaikan seekor singa jantan menghadapi mangsanya. Melihat Rasulullah seorang diri, aku melompat dari kudaku dan kupatahkan sarung pedangku. Hanya Allah yang tahu, ketika itu aku ingin mati di samping Rasulullah SAW. Pamanku, Abbas, memegang kendali keledai Nabi pada sebuah sisi, dan berdiri di sampingnya, sedangkan aku memegang kendali keledai itu pada sisi yang lain dan berdiri pula di sebelahnya. Tangan kananku memegang pedang untuk melindung Nabi, sedang tangan kiriku memegang kendali kendaraan beliau." "Ketika Rasulullah melihat perlawananku yang mematikan musuh, beliau bertanya kepada paman Abbas, 'Siapa ini paman'?" Abbas menjawab, "Ini saudara Anda, anak paman Anda, Sufyan bin Harits. Ridakanlah dia, ya Rasulullah." Beliau menjawab, "Sudah kuridhai. Dan, Allah telah mengampuni segala dosanya." "Hatiku bagai terbang kegirangan mendegar Rasulullah ridha mengampuni segala dosa-dosaku. Lalu, kuciumi kaki beliau yang terjuntai di kendaraan. Beliau menoleh kepadaku seraya berkata, 'Saudaraku, demi hidupku, majulah menyerang musuh'." "Ucapan Rasulullah sungguh membangkitkan keberanianku. Lalu, kuserang kaum musyirikin sampai mereka mundur. Kukerahkan kaum muslimin mengejar mereka sejauh lebih kurang satu farsakh (1 farsakh = 8 km). Kemudian, kami kucar-kacirkan barisan mereka setiap arah." Semenjak perang Hunain, Abu Sufyan bin Harits merasakan nikmat dan keindahan rida Nabi SAW kepadanya. Dia merasa bahagia dan mulia menjadi sahabat beliau. Meski demikian, Abu Sufyan tidak berani mengangkat pandangannya ke wajah Rasulullah SAW selama-lamanya, karena malu mengingat masa silamnya yang kelabu.

15/11/107:15

sn

28 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Abu Sufyan memendam rasa penyesalan yang dalam di hatinya, berhubung dengan masa hitam jahiliah yang menutupnya dari cahaya Allah, dan melempar jauh-jauh kitabullah. Maka, dia sekarang bagaikan tengkurap di atas mushaf Alquran siang malam, membaca ayat-ayat, mempelajari hukum-hukum, dan merenungkan pengajaran-pengajaran yang terkandung di dalamnya. Dia berpaling dari dunia dan segala godaannya, menghadap kepada Allah semata-mata dengan seluruh jiwa dan raganya. Pada suatu ketika Rasulullah melihatnya dalam masjid, lalu beliau bertanya kepada Aisyah ra. "Hai Aisyah, tahukah kamu siapa itu?" "Tidak, ya Rasululah," jawab Aisyah. "Dia adalah anak pamanku, Abu Sufyan bin Harits, perhatikanlah dia yang paling dahulu masuk masjid dan paling belakang keluar. Pandangannya tidak pernah beranjak dan tetap menunduk ke tempat sujud," kata beliau. Ketika Rasulullah SAW meninggal, Abu Sufyan sedih bagaikan seorang ibu kehilangan putra satu-satunya. Dia menangis seperti seorang kekasih menangisi kekasihnya, sehingga jiwa penyairnya kembali memantulkan rangkuman sajak yang memilukan dan menyanyat hati setiap pembaca atau pendengarnya. Pada zaman pemerintahan Umar al-Faruq (Umar bin Khattab) , Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu, digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Tidak lebih tiga hari setelah itu, maut datang menjemputnya, seakan sudah berjanji sebelumnya. Dia berpesan kepada istri dan anak-anaknya, "Kalian sekali-kali jangan menangisiku. Demi Allah! Aku tidak berdosa sedikit pun sejak aku masuk Islam." Lalu, ruhnya yang suci pergi ke hadirat Allah. Khalifah Umar bin Khattab turut menyalatkan jenazahnya. Beliau menangis kehilangan Abu Sufyan bin Harits, sahabat yang mulia.

(Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Abdulrahman Ra'fat Basya)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

29 of 207

Kisah Sahabat
ABU THALHAH

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

"Infiruu khifafaw watsiqaala", berangkatlah kamu sekalian dalam keadaan merasa ringan ataupun berat. Berhenti pada ayat ini, At Taubah:41, suami ummu Sulaim, Abu Thalhah RA, tersentak. Ia yang kini sudah renta dimakan usia dengan putera-putera yang sudah dewasa, seperti terbangun dari tidur pulasnya. Dia sudah berumur lanjut, namun ayat ini diyakini berlaku untuk dirinya, bahkan dirasakan ayat ini khusus ditujukan untuk dirinya, berdialog, mengingatkan dan membangkitkan gelora lama yang tetap hangat dalam dadanya. Hatinya berdetak keras, wajahnya memerah, suaranya lantang menggelegar, " wahai anak-anakku, tolong siapkan segala perlengkapan perangku", teriaknya. Mendengar perintah lantang sang ayah, putera-putera abu thalhah, yang juga singa-singa Allah terkejut. Tidak terlalu tuakah bagi sang ayah untuk turut ke medan perang ? Mereka bertanya-tanya dan mencoba menahan. "Ayah, engkau telah berperang bersama Rasulullah SAW sehingga beliau wafat. Engkaupun turut serta berjihad bersama khilafah abu bakar sampai beliau dipanggil Allah. Ayah, engkaupun tak pernah tertinggal dalam menegakkan kalimatullah bersama umar bin khattab sampai beliaupun mendahului kita menghadap Allah Rabbul Izzati. Karenanya, ayah, sekarang cukuplah kami putera-puteramu, penerusmu yang terjun ke medan bersama do'a mu". Abu thalhah diam, tegak bak spink, wajahnya tetap memerah, namun suaranya sudah kembali lembut, "wahai anakku siapkanlah perlengkapan perangku. Tidakkah engkau mengetahui, bahwa Allah telah memanggil kita yang muda maupun yang tua, infiruu khifafaw watsiqaala". Dia pun berangkat tak tercegah, menuju medan tempur laut dan mendapat kemuliaan syahid di tengah lautan. Setelah satu pekan perjalanan laut, barulah ditemukan daratan untuk mengebumikan jasad asy syahid. Yang luar biasa adalah sampai saat dikebumikan, tubuhnya tak berubah sedikitpun. Abu thalhah beroleh syahid yang diidamkannya. Inilah sosok mu'min tang telah dirasuki roh Al Qur'an, tercelup pekat sibgha Allah. "Dirinya" telah hilang, hawa nafsu telah terkalahkan, belenggu dan jeratjerat dunia telah tersiasati. Tinta Rabbani telah menulisi jasad bergerak abu thalhah, membentuk jiwa kokoh, tegar namun tawadlu. Warna hatinya hanya satu "Allah" dan hanya "Allah", cinta akan jihad, burung undan hijau—surga tanpa hisab. Itulah abu thalhah dan kita adalah penerusnya, insya Allah. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

30 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
ABU UBAIDAH bin JARRAH

Tokoh Muslim

Saat hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir, Umar bin Khattab berkata : "Seandainya Abu Ubaidah Ibnul Jarrah masih hidup, tentulah ia di antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai penggantiku. Dan jika Allah bertanya hal itu kepadaku, maka aku akan jawab: "Saya angkat kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya…" Ialah Abu Ubaidah, Amir bin Abdillah Ibnul Jarrah, sahabat Rasulullah yang masuk Islam melalui Abu Bakar pada awal kerasulan, yaitu sebelum Rasulullah SAW mengambil rumah Arqam sebagai tempat berdakwah. Semenjak Abu Ubaidah berbai'at kepada Rasulullah SAW, untuk membaktikan seluruh hidupnya di jalan Allah, ia tidak lagi memperhatikan dirinya dan masa depannya. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk mengemban amanat yang dititipkan Allah kepadanya, untuk mencapai ridha-Nya. Amanat yang diembannya selalu dipenuhi dengan tanggung jawab. Dan itu merupakan sifat yang paling menonjol dari Abu Ubaidah. Inilah yang membuat Rasulullah kagum padanya, sehingga Rasulullah bersabda : "Amiinu hadzihi al Ummah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah (orang kepercayaan umat ini, adalah Abu Ubaidah bin Jarrah)". Rasulullah SAW, sangat sayang pada Abu Ubaidah. Rasulullah pun sangat terkesan atas pribadinya. Ketika datang utusan dari Najran dan Yaman yang menyatakan ke-islaman mereka, mereka meminta kepada Rasulullah agar mengirimkan kepada mereka seorang guru untuk mengajarkan Islam dan Al Quran. Dan Rasululullah bersabda : "Baiklah akan saya kirim bersama tuan-tuan seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya…., benar-benar terpercaya…., benar-benar terpercaya…!" Pujian yang begitu tulus keluar dari mulut Rasulullah. Mendengar hal itu para sahabat semua terkesima dan berharap kalau pilihan Rasulullah jatuh pada dirinya, karena pujian tersebut merupakan pengakuan yang jujur dari seorang Rasul yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Peristiwa tersebut diceritakan oleh Umar bin Khattab : "Sebenarnya aku tak pernah tertarik menjadi seorang amir, tetapi ketika Rasulullah mengucapkan hal itu, aku sangat tertarik dan berharap bahwa orang yang dimasudkan Rasulullah itu adalah aku. Dan aku pun cepat-cepat berangkat untuk shalat dzuhur. Seperti biasa, Rasulullah yang mengimami para jamaah. Ketika kami selesai shalat, Rasulullah menoleh ke kanan dan ke kiri. Maka aku pun mengulurkan badan agar kelihatan Rasulullah…. Tetapi, Rasulullah masih melayangkan pandangannya mencari-cari, hingga akhirnya tampaklah Abu Ubaidah, maka dipanggilnya. Lalu Rasulullah bersabda : 'Pergilah berangkat bersama mereka dan selesaikanlah apabila terjadi perselisihan diantara mereka dengan yang haq…!' Maka berangkatlah Abu Ubaidah bersama orang-orang dari Najran dan Yaman". Seperti di zaman Rasulullah, Abu Ubaidah menjadi seorang yang sangat dipercaya. Begitupun setelah Rasulullah wafat, Abu Ubaidah sangat dipercayai umat. Beliau mengemban kepercayaan umatnya dengan amanah dan penuh tanggung jawab. Sehingga tidak aneh kalau beliau selalu dijadikan suri teladan oleh umat di masa itu. Sampai suatu hari di Madinah, terdengar kabar bahwa Abu Ubaidah wafat. Amirul Mukminin Umar bin Khattab seketika memejamkan kedua pelupuk matanya. Air mata pun meleleh, hingga Umar membuka matanya dengan tawakal menyerahkan diri. Didoakannya Abu Ubaidah agar mendapat rahmat dari Allah. Lalu bangkitlah kenangan-kenangan lamanya bersama Abu Ubaidah sahabatnya. Lalu katanya,

15/11/107:15

sn

31 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

"Seandainya aku bercita-cita, maka tak ada harapanku selain sebuah rumah yang penuh didiami oleh tokoh-tokoh seperti Abu Ubaidah…" Abu Ubaidah wafat di atas bumi yang telah disucikan dari keberhalaan Persi dan penindasan Romawi.

[Tabloid MQ EDISI 11/TH.II/MARET 2002]

15/11/107:15

sn

32 of 207

Kisah Sahabat
ABU UBAYD AL-BAKRI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Saat fafar intelektual muslim memancar ke segenap penjuru bumi, nama-nama ilmuwan Islam tercatat dengan tinta emas dari lembar abad ke abad. Mereka datang dari berbagai disiplin ilmu, dengan penguasaan pengetahuan yang mengagumkan, diiringi berbagai penemuan yang mencengangkan. Dari deretan nama-nama besar itu, tercatatlah Abu Ubayd Al Bakri sebagai seorang geografer terbesar abad XI atau bertepatan dengan abad ke-5 H. Selain menguasai ilmu geografi, beliau juga mahir dalam disiplin ilmu botani, filologi, dan bibliofil atau pecinta buku. Beliau merupakan putra seorang penguasa kerajaan kecil di Pesisir Atlantik, sebelah selatan Semenanjung Iberia dan sebelah barat Niebla (Labla). Kerajaan yang bertajuk Huelva dan Saltes ini didirikan pada 403 H atau 1012 M. Dari kampung halamannya inilah, Abu Ubayd memulai pengembaraan ilmiahnya. Ilmuwan yang tidak banyak terungkap tentang detil hidupnya ini berguru pada tokoh-tokoh terkemuka. satu diantaranya Abu Marwan bin Hayyan yang merupakan ahli tarikh. Dalam rentang waktu tidak begitu lama, nama beliau pun segera meroket sebagai penulis terkenal. Putra Izza Ad Dwala ini menyusun dua buah buku geografi monumental yang membuat namanya terkenal di jazirah Arab. Buku dengan titel "Mu'jamma Ista'jam" merupakan sebuah daftar toponyms (namanama tempat) yang sebagian besar terletak di Jazirah Arab. Sebagai pengantar bukunya, beliau memaparkan setting geografis Arab zaman dulu secara menarik disertai pemukiman dari masing-masing suku bangsa yang terkenal waktu itu. Karya monumental lainnya berjudul "Al Masalik wa Al Mamalik". Hasil curah gagasannya yang satu ini terdiri dari beberapa jilid yang secara sendiri-sendiri membahas satu tema pokok. Jilid pengantarnya terbagi dalam geografi umum, muslim, dan non muslim. Walau tidak diterbitkan secara utuh, tetapi bagian yang menyangkut muslim barat telah lama diketahui lewat penerbitan dan terjemahan bahasa Prancis oleh Mac Guckin de Slane. Pada 1831 M, Quatremere di Paris telah menerbitkan beberapa bagian Al Masalik. Penerbitan ini juga didahului oleh penerjemahan singkat Al Masalik, masih oleh Quatremere. Bagian ini berisi materi yang berhubungan dengan Andalusia. Selain itu, kutipan-kutipan Al Masalik termasuk dalam sebuah kompilasi sejarah Geografis berjudul "Ar Rawd Al Mikhtar" yang ditulis oleh Ibnu Abdul Mun'im Al Himyari as Sabri. Masih dalam disiplin geografi, buku lain yang beliau tulis adalah "Itineraries and Kingdoms" atau "Rencana-rencana Perjalanan dan Kerajaan-kerajaan". Buku ini tidak hanya memuat keteranganketerangan dan faktor-faktor yang bersifat geografis, tetapi juga mencakup uraian komprehensif mengenai politik, sosial historis, bahkan etnografi (ilmu bangsa-bangsa). Walau hal ini pernah disinggung dalam Al Masalik, tetapi paling tidak mempunyai nilai informasi yang sangat berharga. Buku ini mengandung pemikiran-pemikiran metodis dan pertanyaan pokok yang harus dijawab juga gambaran tentang sketsa-sketsa historis yang sebelumnya tidak pernah diungkap. Kecemerlangan Abu Ubayd di bidang geografi juga tercermin dalam karya-karya yang berbentuk laporan mengenai Al Idrisi dan Al Moravid. Laporan ini masih dianggap sebagai bahan yang paling dapat diandalkan bagi suatu dokumentasi mengenai asal-usul kedua dinasti tersebut. Gambaran tentang Ifikriya, Maghribi, dan Sudan juga dikupas dengan menarik.

15/11/107:15

sn

33 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Karya-karya lainnya tersebar diluar disiplin ilmu geografi, terutama di bidang ilmu botani. Tulisan "Kitab An Nabat" menjadi rujukan kaum naturalist (penyelidik alam), tidak hanya di Andalusia tetapi juga di luar Andalusia. Bahkan penulis buku "Umdat At Tabib fi Syarh Al Ashab", Ibnu Abdu Al Ishbili, menjadikan buku ini sebagai narasumber tulisannya. Permata ilmu yang ditinggalkan ilmuwan ini menjadi pelita intelektual para ilmuwan berikutnya. Perjalanan keilmuwan beliau berakhir ketika Yang Mahakuasa memanggilnya. Beliau menutup mata pada bulan Syawwal 487 H atau bertepatan dengan November 1094 M di Kordoba. [Tabloid MQ EDISI/

6/TH.II/OKTOBER 2001]

15/11/107:15

sn

34 of 207

Kisah Sahabat
ABUZAR AL-GHIFARI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Adalah Jundab, seorang pemimpin besar perampok yang melakukan teror di negeri-negeri di sekitarnya. Ia lahir dari keluarga perampok Ghiffar yang tinggal dekat jalur kafilah Mekkah - Syiria. Kemudian ia dikenal sebagai Abuzar. Tapi Jundab pada dasarnya memiliki hati yang baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh serangannya kemudian menjadi suatu titik balik dalam perjalanan hidupnya. Ia bukan saja sangat menyesali segala perbuatan jahatnya, tapi juga mengajak rekanrekannya mengikuti jejaknya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya. Titik balik kehidupan Abuzar ini sangat penting, karena Islam menerima anugerah, salah seorang tokoh revolusioner yang paling jujur. Bersama ibu dan saudara lelakinya Anis, ia hijrah ke Nejed Atas. Disini menetap salah seorang paman dari pihak ibunya. Inilah hijrah Abuzar yang pertama dalam mencari kebenaran dan kebajikan. Tapi tempat ini pun dia tidak bisa tinggal lama. Ide-idenya yang revolusioner juga menimbulkan kebencian orang-orang sesuku, yang kemudian mengadukannya kepada sang paman. Kini giliran rumah pamannya yang terpaksa ia tinggalkan, mengungsi ke sebuah kampung dekat Mekkah. Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai menentang pemujaan berhala. Dia berkata :"Saya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi Besar Islam." Saudara lelakinyalah, Anis, yang pulang dari Mekkah membawa kabar datangnya fajar baru, agama Islam. Pada waktu itu ajaran Nabi Muhammad telah mulai mengguncangkan Mekkah dan membangkitkan gelombang kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Mendengar hal itu Abuzar, yang telah lama merindukan kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah SAW. dan ingin bertemu dengan beliau. Pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka'bah, sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran Nabi. Waktu itu kota Mekkah dalam suasana saling bermusuhan. Ka'bah waktu itu masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana untuk bersembahyang. Pada akhirnya, seperti yang diinginkannya, Abuzar mendapat kesempatan bertemu dengan Nabi. Di sana dan pada saat itulah ia memeluk agama Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani. Mengenyampingkan segala resiko, Abuzar secara terbuka memimpin sembahyang dan berkhotbah tentang agama Islam di Ka'bah. Benar saja pada suatu hari seorang penyembah berhala suku Quraisy menyerangnya dan untung dapat diselamatkan oleh Abbas, paman Nabi. Abbas mengingatkan si penyerang bahwa Abuzar anggota penting suku Ghiffar yang mendiami jalur perdagangan mereka ke Syria. Salah-salah lalu lintas perdagangan mereka bisa terancam. Keterangan ini sementara dapat menenangkan mereka. Sejak saat itu Abuzar membaktikan dirinya kepada agama Islam dan kepada pendirinya. Ia segera mendapat tempat, bahkan termasuk yang terdekat dan terpercaya di antara para sahabat Nabi, yang sempat menimbulkan iri. Abuzar ditugaskan Nabi mengajarkan agama Islam di kalangan sukunya sendiri. Dia pulang ke kampung halamannya dan sangat berhasil dalam tugasnya itu. Bukan hanya ibu dan saudara lelakinya Anis, tetapi hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkannya. Dia tercatat sebagai salah seorang penyiar agama Islam yang pertama dan terkemuka. Nabi sangat menghargainya. Ketika kemudian dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam "Perang pakaian compang-camping", dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu. Pada waktu akan meninggal, Nabi memanggil Abuzar dan sambil memeluknya berkata :"Abuzar akan tetap sama sepanjang hidupnya." Ucapan Nabi ternyata benar, Abuzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta. Abuzar dikenal gigih dalam mempertahankan prinsip egaliter

15/11/107:15

sn

35 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Islam. Kesetiaannya pada dan penafsirannya mengenai "Ayat Kanz" (tentang pemusatan kekayaan) menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga. Ayat ini dalam "Surah Taubah" dalam Al-Qur'an berbunyi: "Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beri tahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan di cap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis : Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntungannmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun." Ia menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Dia tidak dapat diajak berdamai berkenaan dengan tumbuhnya kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah. Menurut pendapatnya, adalah kewajiban orang Islam sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin. Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abuzar mengutip peristiwa semasa Nabi seperti yang diceritakan berikut ini: "Pada suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abuzar, terlihat pegunungan Ohad, lalu beliau berkata kepada Abuzar: "Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah." Abuzar hidup menurut cara yang dianggapnya benar dan menjalankan sendiri apa yang diajarkannya. Ia bersikap tanpa kompromi terhadap kapitalisme, terhadap orang yang berkedudukan tinggi sekalipun. Abu Hurairah adalah sahabat Nabi yang namanya masyhur yang diangkat sebagai gubernur Bahrain. Suatu hari, ia datang mengunjungi Abuzar, tapi yang dikunjungi menolak bertemu pada mulanya. Ketika ditanyakan mengapa dia begitu jengkel kepada Abu Haurairah, tercermin dalam tanya jawab berikut: "Anda telah diangkat sebagai gubernur Bahrain." "Benar," jawab Abu Hurairah. "Di sana Anda tentunya telah membangun rumah seperti istana dan membeli sebidang tanah yang luas," tambah Abuzar. "Tidak benar itu," jawab Abu Hurairah lagi. "Kalau begitu Anda adalah saudaraku," kata Abuzar kemudian dan langsung memeluknya. Selama pemerintahan dua khalifah pertama, ajaran Abuzar tidak pernah mendapat tantangan. Dia hidup tenteram dan dihormati semua orang. Kesulitan timbul pada masa pemerintahan khalifah ketiga. Ketika Abuzar pindah ke Syria, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara melimpah ruah. Ajaran egaliter Abuzar telah membuat bangkitnya masa melawan mereka. Ia menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan setempat. Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, yang bernama al-Khizra, ia ditegur Abuzar: "Kalau anda membangun istana ini dari uang negara, berarti anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan 'israf' (pemborosan)." Muawiyah hanya bisa terpesona dan tidak dapat menjawab. Muawiyah berusaha keras agar Abuzar tidak meneruskan ajarannya, tapi sang penganjur egaliterisme tetap tegar pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abuzar dan ahli-ahli agama Islam, tapi pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya. Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajarannya. Tapi ternyata rakyat berduyun-duyun meminta nasehat Abuzar. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abuzar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius. Abuzar segera dipanggil menghadap khalifah di Madinah. Pergi memenuhinya, ia masih jauh di luar kota, ketika penduduk Madinah telah keluar menyongsongnya. Sahabat Nabi itu menerima ucapan selamat datang yang hangat. Di Madinah Abuzar juga tidak dapat hidup tenteram. Sebagian orang-orang kaya kota mengkhawatirkan aktivitasnya yang menganjurkan pemerataan penyaluran harta kekayaan. Akhirnya khalifah menyelenggarakan diskusi tentang masalah itu, yang mempertemukan Abuzar dengan

15/11/107:15

sn

36 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ka'Ab Ahbar, seorang terpelajar. Dalam kesempatan itu, Kaab Ahbar mempertanyakan apa yang diinginkan dengan mempertahankan hukum warisan dalam yurisprudensi Muslim, padahal Islam tidak mengizinkan penumpukan harta. Masalah ini sesungguhnya berada di luar pokok persoalan. Seperti yang di duga, diskusi tidak membawa hasil. Usman kemudian meminta Abuzar meninggalkan Madinah untuk tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil yang terletak di jalur jalan Irak - Madinah. Musuh-musuh Islam, seperti Abdullah ibn Saba, mencoba memanas-manasi keadaan dengan memberontak kepada khalifah. Abuzar justru menjadi marah dan berkata: "Walaupun Usman menggantungku di bukit yang paling tinggi sekalipun, aku tidak akan mengangkat jariku untuk melawannya," Seperti layaknya Muslimin sejati, Abuzar tunduk pada pemerintah pusat kekuasaan Islam. Dia melaksanakan perintah pindah ke Razba dan meninggal di sana pada tanggal 8 Dzulhijah tahun 32 H. jasadnya terbaring di jalur kafilah, dan hanya ditunggui jandanya. Tampaknya tidak ada seorang pun yang membantu menguburkannya. Tiba-tiba di kaki langit muncul sebuah kafilah haji yang sedang menuju ke Mekkah. Ketika diberitahukan itulah mayat Almarhum Abuzar, sahabat Nabi yang terpuji, mereka segera memutuskan berhenti di sana. Jenazah Abuzar mereka sembahyangkan dipimpin Abdullah ibn Mas'ud, seorang sarjana Islam yang terkenal, untuk kemudian dikuburkan. Demikianlah akhir hidup sahabat Nabi yang terpercaya itu, yang dengan gigih mengajarkan dan melaksanakan semangat jiwa sosial yang sejati. Ali R.A. pernah berkata: "Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali."

15/11/107:15

sn

37 of 207

Kisah Sahabat
AISYAH SHIDDIQ

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Aisyah adalah salah seorang putri tersayang Sayidina Abu Bakar, sahabat Nabi yang setia, yang kemudian menggantikan Nabi sebagai khalifah yang pertama. Ia lahir di Mekkah 614 M, delapan tahun sebelum permulan zaman hijrah. Orang tuanya sudah memeluk agama Islam. Sejak kecil anak gadis itu telah dididik sesuai dengan tradisi paling mulia, agama baru itu, dan dengan sempurna dipersiapkan dan diberinya hak penuh untuk kemudian menduduki tempat yang mulia. Ia menjadi isteri Nabi selama 10 tahun. Masih muda sewaktu dinikahkan dengan Nabi, tetapi ia memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya. Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai isteri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia. Di seluruh dunia, ia diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Ia dianugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi. Diingatnya secara sempurna semua kuliah yang diberikan Nabi kepada para delegasi dan jamaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, kuliah dan diskusi Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain. Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama baru itu. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajaran Islam. Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya 10 tahun saja. Tahun 11 H, 632 M, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang di huni Aisyah. Nabi digantikan oleh sahabat yang setia, Abu Bakar, sebagai khalifah Islam yang pertama. Aisyah terus menduduki urutan kesatu, dan setelah Fatimah meninggal dunia pada tahun 11 H, Aisyah dianggap sebagai wanita yang paling penting di dunia Islam. Tetapi ayahnya, Abu Bakar, tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia 2,5 tahun setelah wafat Nabi. Selama kekuasaan Umar al-Faruq yang kedua, Aisyah menduduki posisi sebagai ibu utama di seluruh daerah-daerah Islam yang secara cepat makin meluas. Orang datang untuk meminta nasehat-nasehatnya yang bijaksana tentang segala hal yang penting. Umar terbunuh dan kemudian khalifah Usman. Dua peristiwa kesyahidan tersebut telah mengguncangkan sendi-sendi negara baru itu, dan menjurus kepada perpecahan yang tragis di kalangan umat Islam. Keadaan itu sangat merugikan agama yang sedang menyebar luas dan berkembang dengan cepat, yang pada waktu itu telah menjalar sampai ke batas pegunungan Atlas di sebelah barat, dan ke puncak-puncak Hindu Kush di sebelah timur. Aisyah tidak dapat tinggal diam sebagai penonton dalam menghadapi oknum-oknum pemecah belah itu. Dengan sepenuh hati ia membela mereka yang menuntut balas atas kesyahidan khalifah yang ketiga. Di dalam Perang Unta, suatu pertempuran melawan Ali, khalifah yang keempat, pasukan Aisyah kalah dan ia terus mundur ke madinah di bawah perlindungan pengawal yang diberikan oleh putra khalifah sendiri. Beberapa orang sejarawan yang menaruh minat terhadap peristiwa itu, baik yang Muslim maupun yang bukan, memberikan kritik kepada Aisyah dalam pertempuran melawan Ali. Tetapi tidak seorang pun yang meragukan kesungguhan hati dan keyakinan Aisyah untuk menuntut balas bagi darah Usman. Aisyah menyaksikan berbagai perubahan yang dialami oleh Islam selama 30 tahun kekuasaan Khalifah yang saleh. Ia meninggal dunia tahun 678 M. ketika itu kekuasaan berada di tangan Muawiyah. Penguasa ini amat takut kepada Aisyah dengan kritik-kritiknya yang pedas berkenaan dengan negara Islam yang secara politis sedang berubah itu.

15/11/107:15

sn

38 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ibu utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya, kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi. Kesederhanaan dan kesopanannya segera menjadi obor penyuluh bagi wanita Islam sejak waktu itu juga. Ia menghuni ruangan yang berukuran kurang dari 12x12 kaki bersama-sama dengan Nabi. Ruangan itu beratap rendah, terbuat dari batang dan daun kurma, diplester dengan lumpur. Pintunya cuma satu, itu pun tanpa daun pintu, dan hanya ditutup dengan secarik kain yang digantungkan di atasnya. Selama masa hidup Nabi, jarang Aisyah tidak kekurangan makan. Pada malam hari ketika Nabi menghembuskan nafasnya yang terakhir, Aisyah tidak mempunyai minyak untuk menyalakan lampu, dan makanan tidak ada sedikitpun. Waktu khalifah Umar berkuasa, isteri dan beberapa sahabat Nabi mendapatkan tunjangan yang cukup besar tiap bulannya. Aisyah jarang menahan uang atau pemberian yang diterimanya sampai keesokan harinya, karena semuanya itu segera dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, waktu Abdullah bin Zubair menyerahkan sekantung uang sejumlah satu lakh dirham, Aisyah membagikan uang itu sebelum waktu berbuka puasa. Aisyah pada zamannya terkenal sebagai orator. Pengabdiannya kepada masyarakat, dan usahanya untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqih, tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. Jika orang menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal itu akhirnya di bawa ke Aisyah, dan kata-kata Aisyah menjadi keputusan terakhir. Kecuali Ali, Abdullah bin Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah juga termasuk kelompok intelektual di tahuntahun pertama Islam. Ibu agung agama Islam ini menghembuskan nafasnya yang terakhir 17 Ramadhan, 58 H (13 Juli, 678 M). kematiannya menimbulkan rasa duka terutama di Madinah dan di seluruh dunia Islam. Aisyah bersama Khadijah dan Fatimah az-Zahra dianggap sebagai wanita yang paling menonjol di kalangan wanita Islam. Kebanyakan para ulama menempatkan Fatimah ditangga teratas, diikuti Khadijah, dengan Aisyah yang terakhir.Menurut Allama ibn Taimiyah, Fatimahlah yang berada di tempat teratas, karena ia itu anak tersayang Nabi, Khadijah itu agung karena dialah orang pertama yang memeluk agama Islam. Tetapi, tidak seorang pun yang menandingi Aisyah mengenai peranannya dalam menyebarluaskan ajaran Nabi.

15/11/107:15

sn

39 of 207

Kisah Sahabat
AL-GHOZALI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Imam Al-Ghazali lebih dikenali sebagai ulama tasawuf dan akidah. Oleh sebab itu sumbangannya terhadap bidang falsafah dan ilmu pengetahuan lain tidak boleh dinafikan. Al-Ghazali merupakan seorang ahli sufi yang bergelar "hujjatui Islam". Abu Hamid Ibnu Muhammad al-Tusi al-Ghazali itulah tokoh yang dilahirkan di Tus, Pars! pada tahun 450 Hijrah. Sejak kecil lagi, beliau telah menunjukkan keupayaan yang luar biasa dengan menguasai berbagai-bagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau bukan saja produktif dari segi menghasilkan buku dan karya tetapi merupakan seorang ahli fikir Islam yang terulung. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan begitu mendalam sehingga mendorongnya menggembara dan merantau dari sebuah tempat ke tempat yang lain untuk berguru dengan ulama-ulama yang hidup pada zamannya. Sewaktu berada di Baghdad, Al-Ghazali telah dilantik sebagai Mahaguru Universiti Baghdad. Walaupun telah bergelar mahaguru tetapi beliau masih merasakan kekurangan pada ilmu pengetahuan yang dimiliki. Lantaran itu, beliau meninggalkan jawatannya dan beralih ke bidang tasawuf dengan merantau ke Makkah sambil berguru dengan ahli-ahli sufi yang terkenal disana Selain belajar dan mengkaji,. Al-Ghazali juga banyak menulis. Dianggarkan beliau telah menulis 300 buah buku mencakup pelbagai bidang ilmu pengetahuan seperti mantik, akhlak, tafsir, ulumul Quran, falsafah, dan sebagainya. Walau bagaimanapun, sebahagian besar hasil tulisannya telah hangus dibbakar oleh tentera Moghul yan menyerang kota Baghdad. Antara kitab yang musnah termasuk: 40 Jilid Tafsir, Sirrul Alamain (Rahsia Dua Dunia), dan al Madhnuuna bihi ala Qhairiha (Ilmu Yang Harus Disembunyikan Dari Orang'orang Yang Bukan Ahlinya,). Cuma 84 buah buku tulisan beliau yang berjaya diselamatkan seperti Al Munqiz Mm al Dhalal (Penyelamat Kesesatan), Tahafut al Falsafah (Penghancuran Falsafah), Mizanul Amal (Timbangan Amal), Ihya Ulumuddin (Penghidupan Pengetahuan), Mahkun Nazar (Mengenai Ilmu Logik), Miyarul Ilmu, dan Maqsadil Falsafah (Tujuan Falsafah). Meskipun Al-Ghazali banyak menulis mengenai falsafah tetapi beliau tidak dianggap sebagai seorang ahli falsafah. Malah kebanyakan penulis menggolongkan Al-Ghazali sebagai seorang yang memerangi dan bersikap antifalsafah. Pandangan ini berdasarkan tulisan Al-Ghazali dalam buku Tahafut Falsafah yang banyak mengkritik dan mengecam falsafah. Bahkan dalam buku tersebut, Al-Ghazali menyatakan tujuan menyusun buku itu adalah untuk menghancurkan falsafah dan menggugat keyakinan orang terhadap falsafah. Namun begitu, pandangan bahawa Al-Ghazali seorang yang antifalsafah tidak dipersetujui oleh beberapa orang sarjana. Biarpun tidak ada seorang pun yang boleh menafikan kecaman Al-Ghazali terhadap falsafah seperti yang ditulis dalam buku Tahafut Falsafah itu tetapi perlu diingat- kan bahawa sikap skeptis (ragu) dan kritikannya terhadap falsafah merupakan sebahagian proses ilmu falsafah itu sendiri. Hal ini kerana tugas ahli falsafah bukan semata-mata untuk mencari kebenaran dan penyelesaian terhadap sesuatu masalah tetapi juga mencabar serta membantah penyelesaian yang dikemukakan terhadap permasalahan tersebut. Kalau menyelusuri perjalanan hidup Al-Ghazali maka akan didapati bahawa beliau merupakan ilmuwan Islam pertama yang mendalami falsafah dan kemudian mengambil sikap mengkritiknya. Walaupun AlGhazali kurang senang dengan falsafah dan ahli filsafat tetapi dalam buku Maqasid al Falasifah., beliau

15/11/107:15

sn

40 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

telah mengemukakan kaedah falsafah untuk menghuraikan persoalan yang berkaitan dengan logik, ketuhanan, dan fizikal. Menurut Al-Ghazali, falsafah terbagi menjadi enam ilmu pengetahuan yaitu matematik, logik, fizik, metafizik, politik, dan etika. Bidang-bidang ini terkadang sejalan dengan agama kadang pula sangat berlawanan dengan agama. Namun begitu, agama Islam tidak menghalang umatnya mempelajari ilmu pengetahuan tersebut sekiranya mendatangkan kebaikan serta tidak menimbulkan kemudaratannya. Umpamanya agama tidak melarang ilmu matematik kerana ilmu itu merupakan hasil pembuktian fikiran yang tidak boleh dinafikan selepas ia difahami. Cuma bagi Al-Ghazali, ilmu tersebut boleh menimbulkan beberapa persoalan yang berat. Antaranya ialah ilmu matematik terlalu mementingkan logik sehingga boleh menyebabkan timbul persoalan yang berkaitan dengan ketuhanan khususnya mengenai perkara yang tidak dapat dihuraikan oleh akal fikiran. Menurut Al-Ghazali tidak salah berpegang kepada logik tetapi yang menjadi masalahnya ialah golongan falsafah yang terlalu berpegang kepada logik, hendaklah membuktikan fakta termasuk perkara yang berhubung dengan ketuhanan atau metafizik. Sebab itulah beliau menentang golongan ahli falsafah Islam yang cuba mengungkap kejadian alam dan persoalan ketuhanan menggunakan pemikiran daripada ahli falsafah Yunani. Beberapa orang ahli falsafah Islam seperti Ibnu Sina dan al-Farabi jelas terpengaruh akan idea pemikiran falsafah Aristotle. Maka tidak hairanlah ada antara pandangan ahli falsafah itu bertentangan dengan ajaran Islam yang boleh menyebabkan kesesatan dan syirik. Terdapat tiga pemikiran falsafah metafizik yang menurut Al-Ghazali amat bertentangan dengan Islam iaitu qadimnya alam ini, tidak mengetahui Tuhan terhadap perkara dan peristiwa yang kecil, dan pengingkaran terhadap kebangkitan jasad atau jasmani. Al-Ghazali tidak menolak penggunaan akal dalam pembicaraan falsafah dan penghasilan ilmu pengetahuan yang lain. Sebaliknya beliau berpendapatan bahawa ilmu kalam dan penyelidikan menggunakan fikiran boleh menambahkan keyakinan dan menyalakan apt keimanan pada hati orang bukan Islam terhadap kebenaran ajaran Islam. Jadi, perkembangan sesuatu ilmu pengetahuan bukan sahaja bersandarkan kepuasan akal fikiran tetapi juga perlu mengambil kira aspek perasaan dan hati nurani. Al-Ghazali menganjurkan supaya umat Islam mencari kebenaran dengan menjadikan al-Quran sebagai sumber yang utama bukannya melalui proses pemikiran dan akal semata-mata. Jadi, apa yang cuba dilakukan oleh Al-Ghazali ialah memaparkan kesalahan dan kepalsuan bidang pengetahuan yang bercanggah dengan agama serta bertentangan dengan pendirian umat Islam. Sekali gus menunjukkan bahawa Al-Ghazali sebenarnya merupakan seorang ahli falssafah Islam yang mencari kebenaran dengan berpandukan al-Quran dan hadis tidak sebagaimana pemikiran serta permainan logik yang lazim digunakan ahli falsafah Yunani. Perkara yang ditentang oleh Al-Ghazali bukan ahli falsafah dan pemikiran yang dibawakan oleh mereka tetapi kesalahan, kesilapan, dan kesesatan yang dilakukan oleh golongan tersebut. Pada Al-Ghazali, tunjang kepada pemikiran falsafah ialah al-Quran itu sendiri.

15/11/107:15

sn

41 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

AL-IDRISI (495-560 H./1099-1165 M) Nama lengkapnya Abu Abdillah, Muhammad bin Idris Al-Hammudi Al-Hasani Al-Qurthubi. Lahir di pesisir Sibtah, Maroko Utara, kawasan selat Gibraltar. Memperoleh ilmunya di Kordova, Andalusia, tempat dia pindah setelah itu. Dia banyak mempelajari geografi. Pada bidang ini dia banyak menghasilkan penemuan baru. Beliau berkelana di negara-negara Afrika utara. Dari situ dia banyak mengenali desa-desa dan kotakota yang ada di sana. Beliau mengunjungi beberapa kota pesisir laut Tengah Prancis dan Inggris, malah pernah pergi ke negeri-negeri timur, yaitu, Mesir, Syiria, dan Asia Kecil (Turki sekarang). Dengan kecerdasan yang luar biasa, sifat rendah hati yang jarang ada duanya dan pengetahuannya yang luas, Al-Idrisi banyak menguasai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, seperti; matematika, geografi, ilmu falak, fisika, politik, kedokteran dan kegunaan jenis-jenis rumput, beserta bentuk dan tempatnya. Al-Idrisi pindah ke Sisilia atas undangan dari rajanya, Roger. Saat itu Sicilia adalah pusat perdagangan, pertukaran budaya dan pertemuan pemikiran-pemikiran dunia. Mengetahui kecerdesannya. Raja Sicilia meminta Al-Idrisi untuk menyusun sebuah buku yang mencakup semua pengetahuan dasar tentang geografi. Dia pun menulis bukunya Nuzhatul Musytaq fi ikhtiraqil Afaq (Jalan-jalan perindu dalam menjelajah negeri-negeri). Buku ini mempunyai banyak kelebihan dalam bidangnya. Di dalamnya tercantum 70 peta tempat-tempat di dunia yang menurut ukuran zamannya sangat teliti. Hal penting lagi, yaitu Al-Idrisi berpendapat bahwa bumi ini bulat. Melawan arus konsep bumi datar yang berlaku saat itu. Banyak mengkritik, mengomentari dan menjelaskan kata-kata sulit yang ada dalam literatur-literatur yang ditulis oleh para pendahulunya. Juga menulis tentang riwayat perjalannya yang mencakup keterangan tentang tempat-tempat mata air sungai Nil dan binatang-binatang yang ada di daerahdaerah itu, serta menentukan batas-batas laut khatuliswa yang sampai saat itu para ilmuwan gagal melakukannya. Al-Idrisi juga telah melakukan pengukuran garis lingkar bumi. Hasilnya; 22.900 mil = 42185 km. Tidak jauh berbeda dengan panjang lingkar yang sebenarnya, yaitu; 40068 km. Hasil karyanya yang paling terkenal:

Nuzhatul Musytaq fi Ikhtiraqil Afaq Al-Jami‘ li shifat asytatin nabat (Kumpulan sifat-sifat tumbuhan) Al-Adwiyah al-Mufradah (obat-obat yang berdiri sendiri). Al-Masalik wal Mamalik (jalur dan kerajaan). Kebahagiaan manusia dan jiwa

15/11/107:15

sn

42 of 207

Kisah Sahabat
Al KHAWARIZMI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Dunia Islam benar-benar sebuah peradaban yang lengkap jika kita mau mempelajarinya. Dari obatobatan sampai matematika ada di dalamnya, begitu juga para ahlinya. Di antara kita, banyak sekali yang mengenal dan mungkin pernah belajar satu teori matematika yang bernama Algoritma. Sebuah teori yang mempermudah manusia menghitung dalam jumlah besar dengan menggunakan sistem decimal. Jika kita pernah mempelajari, ada satu pertanyaan menarik, pernahkah kita tahu siapa yang pertama kali menemukan dan memperkenalkan rumus Algoritma? Tak lain dan tak bukan adalah orang-orang Islam. Adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi, seorang intelektual Islam yang lahir pada tahun 770 Masehi, di sebuah kota bernama Khawarizmi. Tak ada data yang pasti tentang tanggal dan kapan tepatnya Al Khawarizmi dilahirkan. Khawarizmi adalah sebuah kota kecil sederhana di pinggiran sungai Oxus, tepatnya di bagian selatan sungai itu. Sungai Oxus adalah satu sungai yang mengalir panjang dan membelah negara Uzbekistan. Uzbekistan, adalah sebuah negara muslim yang besar sebelum tentara Rusia mengambil alih dan menggempur daerah itu pada tahun 1873. Ratusan tahun lebih Uzbekistan berada dalam tatanan pemerintahan Islam dengan penduduk mayoritas Islam yang hidup makmur dengan rahmat melimpah. Tapi rupanya, hal ini membuat orang-orang Rusia mulai melirik Uzbekistan menjadi satu di antara banyak negara jajahannya. Itulah kenapa Al Khawarizmi dipanggil dengan sebutan Al Khawarizmi, untuk menunjukkan tempat awal dilahirkannya tokoh kita kali ini. Pada saat Al Khawarizmi masih kecil, kedua orang tuanya berimigran, pindah dari Uzbekistan menuju Baghdad, Irak. Saat itu Irak di bawah pemerintahan Khalifah Al Ma'mun yang memerintah sepanjang tahun 813 sampai 833. Kelak di kota inilah lahir sebuah konsep matematika yang oleh orang Barat dan kita di sini sekarang, menyebutnya sebagai Algoritma. Entah bagaimana awalnya sampai menjadi Algoritma, tapi yang jelas ia berasal dari kata Al Khawarizmi. Mungkin orang-orang Barat dengan lidahnya terlalu sulit menyebutkan dengan fasih kata Al Khawarizmi sehingga menjadi Algoritma. Al Khawarizmi adalah seorang tokoh matematika besar yang pernah dilahirkan Islam dan disumbangkan pada peradaban dunia. Dan mungkin tak seratus tahun sekali akan lahir ke dunia orang-orang seperti dia. Meski namanya dikenal sebagai seorang ahli dalam bidang matematika, sebenarnya ia juga ahli dalam bidang yang lain. Al Khawarizmi juga seorang astronomi, ia juga seorang yang ahli dalam ilmu geografi dan segala seluk belum tentang tanah dan bumi. Ini yang menarik dalam Islam, seorang tokoh yang ahli dan dikenal dalam satu bidang, selalu saja ahli pula dalam bidang yang lain. Ada kesimpulan yang bisa ditarik dari sini, bahwa Islam adalah sebuah tatanan menyeluruh yang tak terpisahkan. Belajar matematika tak lepas pula belajar astronomi. Belajar astronomi tak ketinggalan pula belajar tentang keindahan alam dan itu tak terlepas pula dari pelajaran tauhid. Bahwa kedahsyatan alam ini tercipta karena kebesaran Allah pada manusia dan semesta. Al Khawarizmi selain terkenal dengan teori Algoritmanya, ia juga dikenal sebagai seorang yang membangun teori-teori matematika lain, di antaranya Aljabar. Salah satu kehebatan Al Khawarizmi adalah, ia tak hanya mengenali satu hal sebagai subyek saja, tapi ia juga mampu menyelesaikan masalah yang ada dalam subyek tersebut. Dunia benar-benar tak bisa lepas dari jasa-jasa orang-orang Islam. Aljabar diambil dari kata depan judul buku yang dikarang oleh Al Khawarizmi, "Al Jabr wa Al Muqabilah". Dalam buku ini ia merumuskan dan menjelaskan secara detail table trigonometri yang biasa

15/11/107:15

sn

43 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

kita pelajari saat ini. Tak hanya itu, jika kita pelajari secara detail, buku ini ternyata mengenalkan teori-teori kalkulus dasar dengan gampang. Selain karya-karyanya di bidang matematika, Al Khawarizmi juga melahirkan karya dalam bidang astronomi. Ia membuat tabel yang mengelompokkan ilmu perbintangan ini. Pada awal abad 12, karyakarya Al Khawarizmi diterjemahkan ke dalam bahasa lain, dan yang pertama kali adalah bahasa latin oleh Adelard of bath dan Gerard of Cremona. Kita-kita itu adalah, The Treatise of Arithmetic, Al Muqala fi Hisab Al Jabr wa Al Muqabilah. Di banyak universitas di Eropa, buku-buku karya Al Khawarizmi masih menjadi acuan dan text book untuk mahasiswa di sana sampai pertengahan abad ke enam belas. Karya-karyanya, setelah di terjemahkan dalam bahasa Latin, kemudian menyusul bahasa-bahasa lain seperti bahasa-bahasa yang digunakan di Eropa dan terakhir diterjemahkan dalam bahasa Cina. Dalam bidang astronomi pun, Al Khawarizmi menyumbangkan karya-karya besarnya yang tak terbatas. Begitu juga dalam bidang geografi, ia membuat koreksi-koreksi mendasar pada pemikiran filsuf Yunani tentang geografi. Dalam sejarah tercatat tujuh puluh orang yang ahli dalam bidang geografi bekerja di bawah koordinasi Al Khawarizmi. Grup ini kemudian melahirkan peta bumi yang kita kenal sebagai globe untuk pertama kali. Karya ini dikenal dunia pada tahun 830 masehi. Sepuluh tahun kemudian, tahun 840, Al Khawarizmi meninggal dunia dengan warisannya khazanah dalam ilmu pengetahuan dunia. Kita yang masih hidup saat ini, tak bisa berbicara matematika tanpa menyebut nama Al Khawarizmi. Kita juga tak bisa bersenang-senang, tanpa mengucapkan terima kasih pada Al Khawarizmi saat mempermainkan bola dunia alias globe. Tapi yang lebih penting dari itu adalah, bagaimana caranya kita semua, mampu menjadi seperti dia. Menerangi dunia dan memberi pencerahan dengan Ilmu-ilmu Islam. Kita pasti bisa! (NN)

15/11/107:15

sn

44 of 207

Kisah Sahabat
ALI BIN ABI THALIB

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ali, khalifah Islam ke empat, sangat jenius. Hanya segelintir orang yang menerima anugerah watak kesatria, berpengetahuan luas, serta memiliki kesalehan, kejernihan pikiran dan daya imajinasi yang luar biasa. Karakter istimewa seorang menantu Nabi besar, yang dibesarkan dan dituntun oleh Nabi sendiri. Secara luas Ali memang diakui sebagai salah satu hasil tempaan Islam yang terbaik. Keberaniannya membuatnya menyandang julukan "Singa Tuhan". Seorang orientalis ternama berkata, "Pengetahuannya merupakan 'gerbang ilmu', ia ksatria, ramah, dan sabar sebagai penguasa, ia tokoh penting pada zamannya. Sebagian besar karya besar yang diprakarsai Umar untuk kesejahteraan rakyat, berasal dari nasehat Ali. Dia selalu siap menolong orang lemah dan mengganti rugi orang yang dirugikan; berbagai kisah tentang kegagahberaniannya masih selalu diungkapkan dengan penuh gairah di pasar-pasar di Cairo sampai New Delhi." Ali bin Abi Thalib yang kunniyat-nya adalah Abul Hasan, dilahirkan pada tahun Gajah ke-13. Ia keponakan Nabi dan dari suku Bani Hasyim, yang dipercayai menjadi penjaga tempat suci Ka'bah, jabatan mulia sangat dihormati di seluruh Arab. Abi Thalib, yang berkeluarga besar, mempercayakan Ali dibesarkan dan dididik oleh Nabi, ia sudah dimulai sejak masa kanak-kanaknya. Kesempatan ini sangat membantu mengarahkan sifat baiknya yang luar biasa. Sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya mengemukakan bahwa Khadijah adalah wanita pertama, Abu Bakar adalah pria pertama, dan Ali anak-anak pertama yang memeluk agama Islam. Ali memerankan peranan penting pada waktu Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Ketika Abu Bakar menemui Nabi hijrah, dan mereka terus menerus diganggu dan dikejar-kejar orang Quraisy Makkah, Ali tetap tinggal di Makkah untuk menjaga sejumlah barang berharga yang dititipkan kepada Nabi, yang belakangan dikembalikan kepada para pemiliknya. Seperti diketahui, Muhammad mendapat kepercayaan penuh secara luas di kalangan warga Madinah, bahkan oleh musuh bebuyutannya, yang menitipkan barang-barang milik meraka kepada Nabi. Diceritakan Ali yang dikenal besar nyalinya, waktu itu sempat tidur nyenyak di rumah Nabi yang dikepung musuh. Keesokan harinya, ia menyelesaikan semua persoalannya lalu berangkat ke Madinah. Nabi memilih Ali, pemuda yang berbakat, untuk menjadi teman hidup putri kesayangan beliau yang cantik, Fatimah az-Zahra. Upacara pernikahan dilaksanakan dengan sangat sederhana yang pantas sekali menjadi teladan untuk masa-masa kemudiannya. Mas kawin yang diberikan Ali kepada Fatimah terdiri dari sehelai kain, beberapa barang tembikar, dan batu gerinda. Dari perkawinan itu lahir lima anak, yaitu tiga anak laki-laki, Imam Hasan, Husain dan Muhsin, serta dua anak perempuan, Zainab dan Ummi Kalsum. Ali hidup sangat sederhana, ia hidup mencari nafkah dengan bekerja kasar. Kesederhanaannya antara lain dapat dilihat dari perabot rumah tangganya yang tidak bertambah, sedang isterinya melaksanakan semua tugas kerumahtanggaan dengan tangannya sendiri. Dalam hal daya tahan menghadapi kemiskinan, rasa peri kemanusiaan yang tinggi, semangat beramal, dan kesediaan mengorbankan kepentingan diri sendiri, pasangan Islam ini hampir tidak ada tandingannya dalam sejarah umat manusia. Kalau bepergian, mereka selalu lebih suka tidak membawa makanan, yang terdiri dari menu yang sederhana, daripada nantinya di rumah mereka terpaksa menolak peminta-minta. Ali diminta oleh Nabi menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk Yaman, hal yang sebelumnya gagal dilakukan para penyebar agama Islam lainnya. Sebaliknya dengan Ali, yang berhasil dengan baik sekali melakukannya dan suku bangsa Hamdan malahan langsung memeluk agama Islam pada hari kedatangannya di negeri itu. Kemahirannya berpidato, intelektualitas yang tinggi, dan kekuatan persuasifnya sangat membantu Ali mempopulerkan Islam di daerah-daerah yang tadinya bersikap bermusuhan itu.

15/11/107:15

sn

45 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Watak kesatriannya meninggalkan bekas yang tidak dapat dihapuskan dalam sejarah awal agama Islam. Sikapnya gagah berani dalam membela Islam dinilai luar biasa. Ia benar-benar telah membuktikan diri sebagai benteng paling tangguh bagi agama baru permusuhan yang pernah terus-menerus menerima sikap permusuhan dari berbagai kekuatan asing. Semasa hidup Nabi, Ali memainkan peranan penting di semua peperangn yang berlangsung di waktu itu. Hanya dalam perang Tabuk ia absen, ketika dengan berat hati ia harus tinggal di Madinah atas perintah Nabi. "Anda menghadapiku sama seperti Harun menghadapi Musa, kecuali bila tidak ada lagi Nabi setelah aku." Ali pertama kali menunjukkan keberaniannya dalam perang Badar, ketika ia mengalahkan Walid dan Sheba, prajurit Arab yang terkenal, dalam pertempuran satu lawan satu. Ketika pembawa panji-panji Islam mati terbunuh dalam pertempuran di Ohad, ia dengan berani mengambil panji-panji itu lalu membunuh pembawa panji-panji musuh. Karena kepahlawanannya yang luar biasa itu, orang menjulukinya "La Fata Illa Ali" (Tak ada pemuda seperti Ali), dua tahun kemudian, ia berhadapan dengan Amir ibn Abad Wudd, prajurit Arab yang sangat terkenal, yang dibunuhnya dalam suatu duel. Dari seluruh kegiatan perangnya, yang paling menonjol saat ia ambil bagian dalam perebutan benteng kota Khaibar, yang semula dianggap tidak dapat ditaklukan. Benteng itu diperkuat oleh orang-orang Yahudi dan sebelumnya dapat mempertahankan diri dari serangan-serangn tentara Muslimin, di bawah komando Abu Bakar dam Umar. Sehari sebelum benteng itu direbut, Nabi berkata, "Besok panji-panji Islam akan dipercayakan kepada seseorang yang akan merebut benteng itu. Orang tersebut mencintai Allah dan Nabinya, dan Allah serta Nabi juga mencintai dia." Keesokan harinya Ali dipanggil menghadap Nabi. Nabi menggenggamkan panji-panji di tangannya. Ali pun pergi melaksanakan perintah. Dengan menghancurkan pintu gerbangnya yang besar, yang sebelumnya tidak tergeserkan oleh kekuatan 12 laki-laki, benteng itu pun direbut dengan gemilang. Rasa belas kasih kepada musuh yang dikalahkan adalah bagian dari watak kesatria. Beberapa kali Ali mengampuni orang-orang yang kalah perang. Di antaranya ketika dalam suatu aksi militer, seorang musuh jatuh dari kudanya ke tanah sampai pakaiannya terlepas seluruhnya, dan orang membiarkannya. Menurut Ibn Saad, suatu waktu seorang bernama Ibn Muljem, dibawa menghadap ke hadapannya. Ali ingat bahwa orang itu pernah menyerangnya, namun ia menyadari musuhnya itu kini sudah tak berdaya. Ia lalu memerintahkan anak buahnya agar memperlakukan Ibn Muljem dengan sebaik-baiknya. Dalam masa pemerintahan dua khalifah yang pertama, Ali bertindak sebagai penasehat utama. Ia menyelesaikan segala masalah kenegaraan yang rumit, dan semua keputusan penting Khalifah diambil setelah berkonsultasi dengannya. Dalam segala hal nasehatnya selalu diminta, terutama mengenai masalah hukum dan agama yang orang menganggap paling dikuasainya. Pikiran-pikirannya dihargai tinggi oleh kawan maupun lawan. Setelah wafatnya Nabi, Ali mengkususkan diri kepada kegiatan memajukan kehidupan moral dan intelektual umat dan jarang ikut berperang. Ia juga turut mengurusi pekerjaan administrasi pemerintahan Umar. Ali terpilih menjadi khalifah setelah mati syahidnya Usman, ketika dunia Islam menghadapi huru-hara, yang memuncak dengan dikepungnya Madinah oleh kaum perusuh. Penduduk Madinah, kota metropolitan itu, serta berbagai propinsi disekitarnya, berlomba-lomba menyampaikan sumpah setia kepadanya. Ia memang dianggap tokoh paling pantas untuk meduduki jabatan paling tinggi itu. Tapi Muawiyah, yang telah mengumpulkan kekutan besar disekelilingnya, menyatakan akan menuntut balas atas kematian Usman. Sebagai orang pandai, Muawiyah sadar akan kecilnya peluang yang terbuka baginya untuk meduduki jabatan tertinggi itu selagi Ali masih ada. Ini mendorongnya merencanakan suatu cara yang dapat memenangkan dukungan rakyat.

15/11/107:15

sn

46 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Di pihak Ali, ia menyadari bahwa para perusuh terlalu kuat untuk dihadapi dengan tindakan sembrono dan tergesa-gesa yang bisa berakibat pada kehancuran agama Islam. Kenyataan ini membuat Ali menahan diri. Ia tetap berkeinginan menghadapi para pengacau dengan tegas, tapi pada saat yang menguntungkan. Kepada Talha dan Zubair yang mendesak agar para pembunuh Usman dihukum dengan segera, Ali menjawab, "Saya sendiri tidak kurang inginnya melakukan hal yang sama, tapi saya tidak boleh bertindak demikian. Ini saat yang sangat kritis. Gangguan keamanan di pusat kerajaan dapat mendorong orang Badui dan orang asing berontak. Kalau ini terjadi, sekali lagi tanah Arab akan kembali ke zaman jahiliyah. Padahal, mereka berada di luar kontrol kita. Tunggu dan lihatlah sampai Allah menunjukkan kepada saya jalan keluar dari kesulitan ini." Sesungguhnya keadaan telah menjadi begitu kritis, dan suasana politik telah demikian eksplosifnya, sehingga setiap tindakan drastis yang diambil untuk menumpas para perusuh akan membahayakan keamanan negara. Namun, lawan-lawan Ali memutuskan menggunakan situasi itu untuk keuntungan mereka. Hampir semua sejarawan Muslim terkemuka menyatakan keraguannya tentang motif di belakang tindakan oposisi Muawiyyah. Mereka berkeyakinan, ada maksud kurang jujur di belakang oposisi Aisyah, Talha, dan Zubair dalam masalah Muawiyah ini. Keinginan menuntut balas atas kematian Usman bukanlah motif sebenarnya dari ancaman Muawiyah. Sedang Ali mengupayakan segala kemungkinan penyelesaian secara damai sebelum menyatakan perang kepada Muawiyah demi mempertahankan solidaritas nasional. Ditemani Talha dan Zubair, Aisyah yang sangat terguncang dengan wafatnya Usman, bergerak maju ke Basrah, tapi ia kemudian menyerah (656 M). Ketika diberitahukan gerakan Aisyah dan kawan-kawan, Ali langsung berangkat ke Basrah. Pada 12 Rajab tahun 36 H, Kufa memberi penyambutan besar-besaran kepada khalifah, termasuk pesta besar di istana. Tapi khalifah yang alim dan sederhana itu menolak pesta pora dan lebih suka berkemah di udara terbuka. Di Kufa, kedua pasukan itu berhadap-hadapan, tapi kemudian meletakkan senjata masingmasing karena Ali dan Aisyah ingin menghindari pertempuran dan bertekad mencari penyelesaian lewat perundingan. Ini, sesungguhnya bertentangan dengan kepentingan kaum Saba, sebagian tentara Ali sendiri, yang berniat menyebarkan rasa permusuhan di antara kedua tentara. Tujuan akhirnya jelas: ingin meruntuhkan Islam. Maka pada suatu malam, ketika penyelesaian sudah hampir tercapai, kelompok Saba diam-diam menyerang tentara lawan, dan pecahlah pertempuran. Dalam keadaan demikian, Ali maupun pihak Kufa menganggap pihak lawannyalah yang telah memulai peperangan. Ali berusaha keras menentramkan para prajuritnya dan mengingatkan Zubair akan ramalan Nabi. Dengan cara ini Zubair dapat dibujuk untuk segera menarik tentaranya dari medan tempur. Malangnya, dalam perjalanan kembali ke Makkah, selagi dia sedang bersembahyang di suatu tempat, seorang Saba telah membunuhnya. Ketika seorang penjahat "mempersembahkan" kepala Zubair kepadanya, dengan geram Ali berkata, "Sampaikan kepada pembunuh Zubair kabar dari neraka." Akhirnya tentara yang dipimpin Aisyah dikalahkan. Khalifah sendiri datang menjenguk wanita terhormat itu, dan menanyakan keadaannya. Masih dengan rasa penghormatan, Aisyah dikirim kembali ke Madinah diiringkan sejumlah wanita terhormat. Bahkan khalifah sendiri mengantarnya cukup jauh. Perhatian Khalifah Ali sekarang tertuju kepada Muawiyah. Gubernur Syria yang memberontak itu sedang menjadi ancaman bagi solidaritas dan keutuhan negara Islam. Sebagai seorang yang berperikemanusiaan, Ali dengan maksimal berusaha mengadakan penyelesaian secara damai dan menghindari pertumpahan darah kaum Muslimin. Tapi persyaratan damai yang disampaikan Muawiyah tidak masuk akal. Ali lalu menawarkan cara penyelesaian perselisihan dengan perkelahian satu lawan satu, tapi ditolak kaum Umayyah. Akhirnya pertempuran mati-matian antara dua tentara tak terelakan lagi. "Kaum pemberontak dikalahkan dalam tiga kali pertempuran beruntun yang menentukan," papar seorang sejarawan ternama. "Kaum Muawiyah sudah siap melarikan diri dari medan tempur, ketika tipu daya kaki tangan Amr, putra dari Aas, menyelamatkan mereka dari kepunahan. Dia memberikan kepada

15/11/107:15

sn

47 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

tentara sewaannya Al-Qur'an untuk dipasang di ujung tombak dan di pucuk tiang bendera mereka berteriak-teriak minta ampun. Tentara khalifah segera berhenti mengejar dan meminta agar mereka menyelesaikan perselisihan melalui pihak penengah (arbitrase). Arbitrase itu berakhir dengan kekacauan. Penyebabnya, ditipunya Abu Musa Asy'ari, wakil Ali, oleh Amr bin al-Aas yang licik yang mewakili Muawiyah. Pertentangan dalam pemerintah Islam sendiri telah melahirkan sekelompok orang fanatik yang dinamakan Khariji, yang terbukti menjadi ancaman bagi pemerintahan Ali. Mereka menyebarkan kekacauan di seluruh kerajaan khalifah, membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan memaksa penduduk mengikuti fanatismenya. Pada mulanya khalifah mencoba mengatasi kaum fanatik Khariji dengan kesabaran luar biasa. Tapi akhirnya terpaksa Ali menggunakan tangan besi dan mereka ditindas melalui pertempuran yang dahsyat. Lalu orang Kerman dan Parsi memberontak terhadap kekuasaan khalifah. Ali mengirim Zaid bin Abiha ke sana, dan Zaid berhasil menumpas pemberontakan serta mengembalikan ketentraman. Sebagai ganjarannya, Ali bukannya menghukum para pemberontak, tapi sebaliknya memperlakukan mereka dengan lemah lembut. Sepantasnya memang bila orang Parsi menjulukinya 'Nusyirwan': orang yang adil. Kembali pada pemberontakan orang Khariji (fanatik), yang pada akhirnya Ali sendiri yang menjadi korban, tiga orang Khariji merencanakan membunuh tiga orang. Yaitu Ali, Muawiyah, dan Amr bin alAas. Ibn Maljem yang diserahi membunuh khalifah menyerangnya ketika Ali hendak bersembahyang. Tapi khalifah yang arif dan adil itu memerintahkan orang-orangnya agar memperlakukan si pembunuh dengan penuh kebajikan. Salah satu putra Islam terbesar itu meninggal pada usia 63 tahun. Pemerintahannya berlangsung selama 4 tahun 9 bulan dan ia ditakdirkan menjalankan kemudi pemerintahan Islam melalui masa-masa paling kritis berupa pertentangan antar kelompok. Ia sangat sederhana, saleh, rendah hati dan penuh kebajikan. Dalam dirinya tersimpan nilai-nilai kemanusiaan yang besar, senang membantu orang miskin, dan suka memaafkan musuh yang bahkan telah mengancam jiwanya. Kadang-kadang kebajikan Ali muncul sebagai kelemahannya juga. Kekuasaan dan keagungan keduniawian tidaklah menarik dirinya. "Demikianlah, ia telah wafat," kata seorang penulis kenamaan, Kolonel Osborn, "dalam usia yang sebaikbaiknya, seorang Muslimin yang terbaik pernah hidup." Lemah lembut dan berperikemanusiaan, siap memberi pertolongan kepada yang lemah dan menderita, kehidupanya telah diabdikannya demi tegaknya Islam. Ali terpilih menjadi khalifah ketika Islam banyak digoncang berbagai gejolak. Diberkahi keberanian luar biasa tapi dengan pertimbangan yang dalam, ia berperang meredam gelombang pemberontakan yang hendak menghancurkan dasar-dasar negara Islam pertama itu. Dalam awal sejarah Islam, tidak ada orang yang dapat menyamainya dalam sikap kesatria. Ia dikenal dengan julukan 'Singa Tuhan'. Keberaniannya telah menjadi seperti dongengan, yang masih juga diungkapkan di seluruh dunia Islam. Ali sangat jenius. Dibesarkan oleh Nabi Muhammad dan berkesempatan menemani Nabi selama sekitar 30 tahun, Ali menempati posisi yang unik sebagai intelektual terbesar di antara para sahabat Nabi. Sebagaimana Aristoteles, ia juga dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan Islam. Di dalam kitab Izalat ul-Khifa, Shah Waliullah atas nama Imam Hambali memuji intelektualitas Ali yang tinggi sebagai akibat didikan yang diberikan Nabi. Kenyataan ini dikuatkan Nabi: "Aku menjadi gudang ilmu pengetahuan, sedangkan Ali menjadi gerbangnya." Ia seorang Hafidz Qur'an dan penafsir berkualitas tinggi. Bersama Ibn Abbas, Ali dianggap sebagai ahli terbesar Al-Qur'an. Selama enam bulan pertama kekhalifahan Abu Bakar, ia mengatur bab-bab Al-Qur'an menurut urut-urutan waktu turunnya wahyu.

15/11/107:15

sn

48 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Dalam bukunya yang terkenal Al Fibrits , Ibn Nadim menjelaskan bahwa Ali sangat berhati-hati dalam menyaring laporan tentang tradisi sedemikian rupa, sehingga yang dilaporkan dikumpulkannya itu diterima luas sebagai suatu yang otentik. Ali juga seorang Mujtahid dan ahli hukum pada zamannya, malahan yang terbesar di segala zaman. Ia mampu menyelesaikan semua masalah rumit dan yang paling musykul sekalipun. Bahkan yang berkepribadian tinggi seperti Umar dan Aisyah menyampaikan berbagai kesulitan yang mereka hadapi kepadanya. Semua sekolah agama menganggapnya sembagai bapak mistik Islam. Ahli mistik terkenal, Junaid Baghdadi, mengakui Ali memiliki otoritas paling tinggi dalam ilmu mistik. Menurut Shah Waliullah dalam Izalat-ul-Khifa , Ali menghabiskan banyak waktunya untuk mistik, sebelum ia terpilih sebagai Khalifah. Ia seorang dari dua orator terbesar pada awal masa Islam, di samping Abu Bakar. Menurut Ibn Nadim, Ali juga peletak dasar tata bahasa Arab. Tak disangsikan lagi, Ali adalah ahli hukum terbesar pada masa permulaan Islam. Dikisahkan, pada suatu waktu dua wanita bertengkar memperebutkan seorang bayi laki-laki, masing-masing menyatakan bayi itu anaknya. Kedua perempuan itu lalu dibawa menghadap Ali. Sesudah mendengar penjelasan masingmasingnya, ia memerintahkan agar bayi itu dipotong-potong. Mendengar hal ini, seorang di antara wanita tadi langsung menangis dan dalam linangan air mata memohon Khalifah menyelamatkan si bayi dan dialah ibu si bayi yang sesungguhnya! Ali langsung memberikan bayi itu kepada ibunya yang sejati, dan menghukum wanita yang seorang lagi. Umar mengomentari Ali sebagai berikut: "Semoga Tuhan melindungi; kita boleh saja menghadapi isu yang kontroversial, tapi Ali selalu bisa menyelesaikannya." Menurut Abdullah ibn Mas'ud, Ali memiliki kemampuan memberikan pertimbangan yang baik sekali. Nabi sendiri mempercayai berbagai pertimbangan yang disampaikan Ali, dan mengangkatnya sebagai khadi di Yaman. Nabi memerintahkan Ali agar tidak menyampaikan keputusannya sebelum mendengar kedua pihak yang bersengketa. Bahkan lawan-lawannya, antara lain Muawiyah, menyampaikan berbagai masalah rumit dan meminta pertimbangannya. Sejarah permulaan Islam penuh dengan pertimbangan yang bersifat ilmiah yang pernah disampaikannya. Sejarawan masa itu dan sesudahnya menghargai tinggi kepandaian dan kebajikan Ali. Sejarawan ternama Masudi berkata, "Jika nama agung sebagai Muslim pertama, sebagai sahabat Nabi ketika hijrah dan yang terpercaya dalam perjuangan menegakkan iman, sahabat akrab Nabi dalam kehidupan dan bagi keluarganya; ilmu yang dimiliki benar-benar disemangati ajaran Nabi dan ajaran Al-Qur'an; yang menjauhkan diri dari berbagai keinginan pribadi serta tegar dalam menjalankan keadilan; yang jujur, cinta kepada kesucian dan kebenaran; yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang hukum dan ilmu, yang merupakan sebagian dari sifat-sifatnya yang ulung; semua orang tentu harus menganggap Ali sebagai Muslim yang paling terkemuka." Tokoh ternama seperti Syah Waliullah, dalam bukunya yang terkenal Izalat-ul-Khifa , pernah membicarakan panjang lebar sifat-sifat Ali yang agung. Dia berkesimpulan, kekesatriaan dan kekuatan watak, kemanusiaan dan keikhlasan hati, yang menjadi ciriciri orang besar, semuanya dimiliki Ali. Sejarawan lain memperkuat dengan: "Contoh kesederhanaan yang diwariskan Nabi kepada empat pengganti beliau tidak ada taranya dalam sejarah. Raja-raja dari kerajaan yang luas itu melaksanakan kehidupan seperti para pertapa dan tidak pernah ingin memanfaatkan kekayaan yang bergelimang di hadapannya. Istana dan jubah kerajaan ada pada mereka, tapi keempat raja itu, jasmaniah maupun rohaniah, sangat bangga dengan gubuk tempat tinggalnya dan pakaian lusuh yang mereka pakai. Cara mereka hidup jauh lebih sederhana daripada rakyatnya. Sama seperti rakyat biasa, mereka ke masjid tanpa pengawalan, malahan mereka tidak mempunyai polisi atau pengawal pribadi sama sekali. Sebaliknya, untuk kesejahteraan negara dan rakyat, keempat khalifah begitu besar perhatiannya sehingga soal kecil saja yang timbul di daerah perbatasan yang jauh segera menjadi perhatian mereka. Sepenuh hati dan jiwanya mereka abdikan mencintai Allah, dan seluruh tenaga mereka dibaktikan melayani rakyat."

15/11/107:15

sn

49 of 207

Kisah Sahabat
AMIR IBNU FARIHAH

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Amir ibnu farihah adalah maula (budak) Thufail ibnu Harits, dan Thufail adalah saudara tiri Aisyah lain ibu yaitu isteri Rasulullah SAW. Ibunya bernama Ummum Ruman. Setelah Amir mendengar bahwasanya Muhammad ibnu Abdullah diberi wahyu dari Allah, maka Amir bergegas datang ke hadapan Rasulullah. Kemudian menyatakan keislamannya di hadapan beliau. Keislamannya menimbulkan kemarahan di kalangan kaum Quraisy karena mereka khawatir makin tersebarnya agama Islam. Mereka mencoba mengembalikannya kepada kekufuran dengan janji kemerdekaan dan juga ancaman, namun Amir hanya menutup telinganya dan mengikrarkan bahwa tidak ada satupun yang ia takuti selain Allah SWT. Ia kemudian menantang kaum Quraisy, yang membuat kaum itu geram dan lalu melemparnya ke atas batu-batu yang panas di siang hari setelah menelanjanginya, lalu mereka juga menyetrika para budak dengan besi yang panas. Namun tidak ada satupun yang mau kembali kepada kekufuran. Setelah Abu Bakar mengetahui bahwa Amir ibnu Farihah masuk Islam, dan setiap hari ia menanggung beban yang amat berat, maka ia segera pergi ke rumah Thufail untuk membeli Amir. Setelah Amir memperoleh kemerdekaan ia turut berhijrah bersama Rasulullah SAW, dan menjadi tamu Sa'ad ibnu Khaitsamah. Sa'ad adalah salah seorang dari 12 pemimpin baiat Aqabah yang kedua. Di Madinah, Amir sibuk berdagang, tapi dia tidak pernah absen untuk shalat berjama'ah bersama Rasulullah. Ia sedikit berbicara, dan lebih suka berdzikir kepada Allah SWT. Ia juga turut dalam beberapa peperangan, dan termasuk dalam pasukan yang berjalan kaki. Dia juga termasuk yang diberi peringatan oleh Allah SWT pada saat perang uhud, karena melakukan pelanggaran menuruni bukit uhud. Pada bulan Safar tahun ke-empat hijriah, Seorang pembesar Najed yang bernama Amir ibnu Malik, dengan panggilan Abu Barra yang meminta beberapa utusan dari Rasulullah untuk mengajak kaumnya mengikuti agama Islam. Dan dia berani menjamin kalau utusan tersebut tidak akan diserang oleh kaumnya. Akhirnya Rasulullah mengutus 40 orang yang diantaranya adalah Amir ibnu Farihah, di bawah pimpinan Al Mundzir ibnu Amr. Setelah berkemah di Bi Ma'unah, utusan itu mengirim lagi Haram ibnu Malhan sebagai delegasi untuk menyampaikan surat dari Rasulullah kepada Amir ibnu Thufail yang menjadi tokoh di daerah itu. Amir Ibnu Thufail enggan membaca surat itu, sebaliknya ia malah menghunus pedang dan membunuh utusan tersebut. Dia kemudian meminta bantuan Bani Amir untuk meyerang utusan lain Rasulullah, namun Bani tersebut menolak dengan alasan tidak akan melanggar janji Abu Barra'. Bantuan baru dia dapat oleh Bani Sulaim, yang langsung mengepung para utusan Rasulullah. Mereka membunuh para utusan tersebut hingga tersisa hanya 3 orang. Amir ibnu Farihah, termasuk utusan yang syahid di Bir Ma'unah, ia dibunuh oleh Jabar ibnu Salma al Kabaly dengan tusukan panah di antara dua pundaknya, hingga ujung panah itu menembus pundaknya. Ketika terbunuh Amir ibnu Farihah sempat berkata, "Sungguh aku telah beruntung." Jabar kemudian bertanya, "Karena apakah Amir merasa beruntung pada saat itu?" Para sahabat menjawab, "Ia beruntung karena mati syahid." Jabar menambahkan, "Sungguh, aku melihat jenazahnya terangkat tinggi ke langit, hingga aku tidak bisa melihatnya." Setelah menyaksikan kejadian itu Jabbar menyatakan masuk Islam. Setelah berita para utusan tersebut sampai ke Rasulullah, beliau merasa sangat sedih, dan beliau bersabda, "Ini adalah perbuatan Abu Barra. Sebelumnya aku tidak ingin mengirim utusan ke Nejeb karena aku khawatir kejadian seperti ini." Kemudian para sahabat melaporkan, "Kami tidak menemukan jenazah Amir Ibnu Farihah padahal ia juga mati syahid." Sabda beliau, "Malaikat telah mengubur jenazahnya dan kini ia berada di tempat yang paling tinggi." [Dikutip dari : Kehidupan Orang-orang

Shaleh - islamuda.com]

15/11/107:15

sn

50 of 207

Kisah Sahabat
AMR IBNU AL_JAMUH

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Rasulullah SAW memiliki banyak para sahabat dengan berbagai keistimewaan yang patut diteladani. Satu diantaranya adalah Amr Ibnu Al Jamuh. Kendati pun kakinya pincang, ia termasuk tokoh di kalangan penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah. Putranya, Mu'adz bin Amr lebih dahulu masuk Islam bersama kelompok 70 yang melakukan bai'at Aqabah kepada Rasulullah SAW. Bersama sahabatnya Mu'adz bin Jabal, Mu'adz bin Amr mendakwahkan Islam di kalangan masyarakat Madinah dengan keberanian yang menakjubkan sebagaimana layaknya pemuda mukmin yang gagah perkasa. Suatu ketika kedua pemuda muslim ini menyelinap di kegelapan malam ke dalam rumah bapak Mu'adz bin Amr. Mereka mengambil berhala yang ada disitu dan membuangnya ke dalam lubang tempat membuang hajat. Amr Ibnu Al Jamuh yang tidak menjumpai sang tuhan Manaf di keesokan harinya, sangat marah ketika melihat tuhannya berada di tempat kotor tersebut. Tuhan itu lalu dicucinya hingga bersih kemudian diberi wangi-wangian. Pada malam-malam berikutnya, Mu'adz bin Jabal dan Mu'adz bin Amr mengulangi hal yang serupa hingga akhirnya Amr Ibnu Al Jamuh merasa bosan. Ketika itu ia berkata pada sang tuhan Manaf : "Jika kamu benar-benar dapat memberikan kemamfaatan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu sendiri...!" Ternyata kejadian di malam-malam sebelumnya terulang kembali. Bahkan kali ini sang berhala terikat kuat dengan bangkai anjing. Dalam keheranan, kekecewaan, dan kemarahan, datanglah seorang bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Seraya menunjuk kepada tuhan yang tak berdaya tersebut, ia mengajak akal dan hati nurani Amr berdiskusi tentang Tuhan yang sesungguhnya, termasuk Muhammad Al Amin dan Al Islam. Singkat cerita, setelah beberapa saat Amr pun berbai'at kepada Rasulullah SAW dan menjadi seorang muslim. Selain sifatnya yang sangat pemurah dan dermawan, keistimewaan lain dari sahabat yang satu ini adalah tekadnya yang kuat untuk meraih surga kendatipun tubuhnya cacat. Yah, cacat itulah kelebihannya. Amr Ibnu Al Jamuh pernah berujar : "Demi Allah, aku berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga...!" Perkataan ini diucapkannya setelah usahanya untuk meyakinkan Rasulullah agar mengijinkannya turut serta dalam perang Badar gagal dan ketika datang berita kepadanya tentang perang Uhud yang sebentar lagi akan terjadi. Amr meminta dengan sangat kepada Rasulullah agar kali ini beliau memberinya kesempatan untuk turut serta dalam peperangan. Setelah permintaannya dikabulkan, ia pun mempersiapkan senjatanya. Dengan hati yang puas dan gembira ia berjalan berjingkat-jingkat, dan memohon kepada Allah : "Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku...!" Singkat cerita, Allah pun akhirnya mengabulkan permintaannya untuk gugur syahid membela agama Allah di medan Uhud. Suatu pelajaran berharga dari kisah di atas adalah bahwa keislaman yang benar akan mampu membangkitkan rasa percaya diri, motivasi, semangat, dan harapan seseorang untuk meraih kesuksesan. Keempat faktor ini seringkali menjadi faktor penentu keberhasilan dalam melakukan sesuatu atau meraih cita-cita. Seorang yang cacat seperti Amr sebenarnya mendapat dispensasi (pengecualian) untuk tidak turut berperang, namun ternyata hal ini bukanlah kepuasan baginya.

15/11/107:15

sn

51 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Tentu ini bukan berarti penolakan Amr terhadap keringanan dari Allah yang Maha Pengasih kepada hamba-Nya yang cacat seperti Amr. Namun justru kecintaan kepada Allah dan surgalah yang telah menyelimuti dirinya. Sehingga ia merasa cacat tubuh bukanlah hambatan untuk berjihad. justru cacat inilah yang seolah menjadi pemicu semangat untuk melakukan yang terbaik untuk islam : Berjihad, gugur di jalan Allah dan meraih surga dengan kepincangan! [Tabloid MQ EDISI 11/TH.I/MARET 2001]

15/11/107:15

sn

52 of 207

Kisah Sahabat
AMRU BIN ASH

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Kelahirannya: Amru bin Ash lahir setengah abad sebelum hijrah Sifat-sifatnya: Salah seorang Arab yang cerdik dan jenius. Lantang dan fasih berbicara. Memiliki daya pikir yang luar biasa dan memiliki pandangan yang jauh. Ayahnya (Ash bin Wail) seorang tokoh dan penguasa Arab zaman Jahiliah. Amru bin Ash meninggalkan kenangan yang mengagumkan dan menarik perhatian dunia selama kurun waktu yang sangat panjang. Pada saat sebagian kaum Muslimin hijrah ke Habasyah atas izin Nabi, bangsa Quraisy tidak mendapatkan orang yang pantas untuk merayu Najasyi, raja Habasyah ketika itu, untuk mengembalikan kaum muhajirin kecuali Amru bin Ash. Bangsa Quraisy memilihnya karena mengetahui kecerdikan dan eratnya hubungan antara mereka berdua. Tetapi setelah mendengarkan kata-kata Amru bin Ash dan kaum muhajirin Muslim, hati Najasyi malah menjadi yakin dan tenang, lalu memeluk Islam. Memeluk Islam: Ketika hendak pulang dari Habasyah, Amru bin Ash diajak oleh Najasyi untuk memeluk Islam setelah disampaikan betapa besar karunia Allah yang diberikan kepada bangsa Arab dengan diutusnya Nabi Muhammad kepada mereka. Nasihat yang disampaikan oleh raja yang besar seperti Najasyi itu ternyata masuk ke dalam hati Amru bin Ash. Dia pun mulai tertarik kepada Islam, akhirnya hatinya dibuka oleh Allah untuk menerima petunjuk pada tahun ke 8 H. Amru bin Ash bertekad untuk menemui Nabi di Madinah. Di tengah jalan dia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Usman bin Thalhah, ternyata tujuan mereka adalah sama. Setibanya mereka bertiga di hadapan Nabi, Khalid bin Walid dan Usman bin Thalhah langsung menyampaikan janji setia kepada Nabi, sedang Amru malah memegangi tangan Nabi hingga membuat beliau mengatakan, “Kenapa kamu ini wahai Amru?” Dia menjawab, “Saya akan menyampaikan janji setia asal Allah mengampuni dosa-dosaku yang telah lewat.” Nabi mengatakan, “Islam dan Hijrah menghapus hal-hal yang telah lalu.” Dia pun menyampaikan sumpah suci. Setelah Nabi tahu kecerdikan, kejeniusan dan keberaniannya, dia ditugasi untuk menjadi panglima dalam perang Zatus Salasil. Perjuangannya di jalan Allah: Pada masa Abu Bakar Sidik, Amru bin Ash mempunyai peran besar dalam meredam pemberontakan kaum murtad. Sedang pada masa Umar bin Khatab Amru bin Assh berhasil menaklukan Palestina dan Mesir. Tidak perlu dijelaskan lagi tentunya betapa penting dua penaklukan itu. Penaklukan Palestina telah memberikan keamanan daerah pantai Syuria kepada kaum Muslimin. Penaklukan Mesir adalah pintu gerbang Islam menuju Afrika, negeri-negeri Arab Magribi dan Spanyol di kemudian hari. Kata-kata mutiara yang pernah dia ucapkan: Laki-laki ada tiga: Sempurna, setengah laki-laki dan bukan laki-laki sama sekali. Yang sempurna adalah laki-laki yang agama dan akalnya disempurnakan oleh Allah swt. Orang ini apabila hendak mengambil keputusan selalu meminta pertimbangan kepada para ahli. Dengan begitu dia selalu benar dalam semua tindakannya. Adapun yang setengah adalah laki-laki yang agama dan akalnya tidak disempurnakan oleh Allah swt. Orang ini apabila mengambil keputusan tidak meminta pertimbangan kepada siapa pun, malah mengatakan, “Siapa yang pantas saya ikuti dan saya pakai pendapatnya?” Tindakannya kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah. Adapun yang bukan laki-laki sama sekali adalah orang yang tidak mempunyai agama dan daya pikir sama sekali. Orang ini akan selalu salah dalam semua tindakannya. Dia mengatakan, “Saya akan meminta pertimbangan kepada siapa saja, termasuk pembantuku.”

15/11/107:15

sn

53 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Di hari-hari senjanya dia pernah mengatakan, “Dulu saya pernah berada dalam tiga keadaan: Kekafiran. Jika saya mati saat itu pasti masuk neraka. Setelah menyampaikan sumpah suci kepada Rasul saw. saya menjadi orang yang paling pemalu di hadapan Rasul, hingga saya belum pernah memandang beliau dengan sepenuh pandangan. Jika saya mati saat itu orang-orang pasti mengatakan, “Selamat untukmu Amru bin Ash! Masuk Islam dan mati dalam kebaikan.” Kelebihan-kelebihannya: Imam Ahmad dan Tirmizi pernah meriwayatkan dari Nabi, bahwa beliau pernah bersabda, “Orang yang paling kuat Iman dan Islamnya adalah Amru bin Ash.” Wafatnya: Amru bin Ash wafat pada tahun ke 43 H. dalam umur dan perjalanan hidup yang panjang.

15/11/107:15

sn

54 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

AR-RAZI (251-313 H/ 865–936 M) Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi. Lahir di kota Ray di kawasan Khurasan (sebelah timur kota Tehran sekarang) Pada awal hidupnya, dia banyak memperhatikan studi filsafat, bahasa dan matematika. Pada usianya yang ke tiga puluh tahun dia pindah ke kota Bagdad dan mulai giat mempelajari ilmu kedokteran. Ketua rumah sakit ‘Adhadiah di kota Bagdad. Tidak lama setelah itu dia pulang lagi ke Ray dan menduduki jabatan kepala dokter di rumah sakit kerajaan. Namanya semakin terkenal luas di seluruh negeri. Beliau berhasil menenemukan beberapa penemuan ilmiah di bidang kedokteran dan kimia, di antaranya: o Pembuatan benang operasi dari usus kucing o Yang pertama-tama menyembuhkan luka dengan jahit o Yang pertama kali membedakan antara penyakit cacar dengan cacar air o Membuat salep dari air raksa o Mengobati TBC dengan susu dicampur gula o Yang pertama-tama memisahkan farmasi dari kedokteran o Yang pertama kali menjadikan ilmu kimia sebagai pembantu ilmu kedokteran o Perintis farmasi kimia, hasilnya: o Yang pertama kali menghasilkan alkohol dari perasan zat-zat yang mengandung gula o Yang pertama kali menghasilkan zat asam belerang dengan mengkristalkan belerang besi. Di hari-hari senjanya, Ar-Razi kehilangan daya penglihatan karena terlalu banyak membaca pada waktu malam. Ada cerita menarik tentang dirinya. Pada suatu hari seorang dokter datang untuk mengobati matanya. Sebelum memulai ditanya oleh Ar-Razi tentang jumlah jaringan mata. Seketika itu dokter tersebut gemetar dan diam tidak bisa menjawab, maka Ar-Razi pun menyela, “Barang siapa yang tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tidak sepantasnya memegang peralatan dan memain-mainkannya di mata saya.” Ar-Razi meninggalkan banyak karangan dalam berbagai disiplin ilmu. Jumlahnya mencapai 230 judul. Bukunya yang paling terkenal adalah: Al-Hawi dalam kedokteran, Al-Mansuri dalam kedokteran, Al-Judari dan Hashbah (cacar dan cacar air), Bar’u Sa‘ah (sembuh seketika), Sirrul Asrar (rahasia dari rahasia) dalam kimia, dan Tadbir (pengaturan) juga dalam kimia. Pesan-Pesannya: “Obatilah penyakit pada saat muncul gejala awalnya dengan sesuatu yang tidak menghilangkan energi pasien. Hal ini disepakati oleh para dokter, telah terbukti secara empiris dan agar berada di depanmu!” “Apabila seorang dokter mampu mengobati dengan makanan tanpa obat, maka hal itu sejalan dengan prinsip kebahagiaan.” “Sebaiknya seorang pasien hanya berobat kepada satu orang dokter saja. Kemungkinan kelirunya akan lebih kecil.” “Umur tidak cukup untuk mengetahui khasiat setiap tumbuhan yang yang ada di muka bumi. Dari itu pilihlah yang sudah terkenal. Hal inipun telah disepakati oleh para dokter dan terbukti secara empiris!” “Kebenaran dalam kedokteran adalah suatu tujuan yang tidak mungkin dicapai, mengobati dengan hanya bersandarkan kepada buku tanpa kemahiran seorang ahli adalah tindakan yang berbahaya.”

15/11/107:15

sn

55 of 207

Kisah Sahabat
ASHIM bin TSABIT

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Kaum Quraisy keluar semuanya, baik sayyid (bangsawan) maupun abid (hamba sahaya) untuk memerangi Muhammad SAW bin Abdullah di Uhud. Kedengkian dan nafsu hendak membunuhnya di Badar masih memenuhi darah mereka. Tidak saja kaum pria, bahkan perempuan-perempuan bangsawan kaum Quraisy pun turut pula ke Uhud untuk menggelorakan semangat perang. Di antara para perempuan itu terdapat Hindun binti Uthbah, istri Abu Sufyan bin Harb, Taithah binti Munabbih, istri Amr bin Ash, Sulafah binti Sa'ad beserta suaminya, Thalhah, dan tiga orang anak lakilakinya: Musafi, Julas, dan Kilab, serta banyak lagi perempuan-perempuan lainnya. Ketika pasukan-pasukan Islam dan musyrikin telah berhadap-hadapan di Uhud, dan api peperangan telah menyala, Hindun binti Uthbah dan beberapa perempuan lain berdiri di belakang pasukan pria. Para perempuan ini memegang rebana dan menabuhnya sambil menyanyikan lagu perang, antara lain berbunyi, "Gempurlah musuh-musuhmu Kami akan bentangkan hamparan untukmu Jangan mundur berserakan Mundur, sungguh tidak terpuji." Lagu-lagu mereka membakar semangat pasukan berkuda, membuat para suami bagai kena sihir. Kemudian, pertempuran usai. Kaum Quraisy mencatat kemenangan pada peperangan tersebut. Para perempuan Quraisy berlompatan, berlari-lari ke tengah lapangan pertempuran, mabuk kemenangan. Mereka mencincang dan merusak mayat-mayat kaum muslimin yang tewas dalam pertempuran tersebut dengan cara yang sangat keji. Perut mayat-mayat itu mereka belah, matanya dicongkel, telinga dan hidungnya dipotong. Bahkan, seorang di antara mereka tidak puas dengan cara begitu saja. Hidung dan telinga mayat-mayat itu dibuatnya menjadi kalung, lalu dipakainya untuk membalaskan dendam bapak, saudara, dan pamannya yang terbunuh di Badar. Sulafah binti Sa'ad lain pula gayanya. Dia tidak seperti perempuan lain. Hatinya goncang dan gelisah menunggu kemunculan suami dan ketiga orang anaknya. Dia berdiri bersama kawan-kawannya yang sedang mabuk kemenangan. Setelah lama menunggu dengan sia-sia, akhirnya dia masuk ke arena pertempuran, sampai jauh ke dalam. Diperiksanya satu per satu wajah mayat-mayat yang bergelimpangan. Tiba-tiba didapatkannya mayat suaminya terbaring hampa berlumuran darah. Dia melompatinya bagaikan singa betina ketakutan. Kemudian, ditujukannya pandangan ke segala arah mencari anak-anaknya: Musafi, Kilab, dan Julas. Tidak berapa lama dia mencari ke segenap lapangan, didapatinya Musafi dan Kilab telah tewas. Tetapi, Julas masih hidup dengan sisa napasnya. Sulafah memeluk tubuh anaknya yang setengah sekarat. Kemudian, diletakkannya kepala anak itu ke pahanya. Dibersihkannya darah dari kening dan mulutnya. Air matanya kering karena pukulan berat yang sangat menggoncang hatinya. Kemudian, ditatapnya wajah anaknya seraya bertanya, "Siapa lawan yang menjatuhkan kamu nak, siapa?" Sang anak hendak menjawab, tetapi napas sekaratnya tidak mengizinkan. Sulafah bertanya terus-menerus, "Siapa nak? Siapa lawan yang menjatuhkanmu, siapa?" Akhirnya Julas menjawab juga dengan suara terputus-putus, "Ashim bin Tsabit, dia pula yang memukul rubuh abang Musafi dan ...." Belum habis dia berbicara, nafasnya sudah tiada. Sulafah binti Sa'ad bagaikan gila. Dia menangis dan meraung sekeras-kerasnya. Dia bersumpah dengan Lata dan Uzza, tidak akan makan dan menghapus air mata, kecuali bila orang Quraisy membalaskan dendamnya terhadap Ashim binTsabit, dan memberikan batok kepala Ashim kepadanya untuk dijadikan mangkok tempat minum khamr. Kemudian dia berjanji, bagi orang yang dapat menyerahkan Ashim bin Tsabit kepadanya hidup atau mati, hadiah uang (harta) sebanyak yang dimintanya. Janji Sulafah itu tersiar cepat ke seluruh Quraisy. Setiap pemuda Mekah berharap agar mereka dapat memenangkan lomba itu, dan membawa Ashim kepada Sulafah untuk memperoleh hadiah besar yang dijanjikannya.

15/11/107:15

sn

56 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Seusai perang Uhud, kaum muslimin kembali ke Madinah. Mereka membicarakan pertempuran yang baru dialami. Sama-sama memperlihatkan rasa sedih atas pahlawan-pahlawan yang syahid, memuji keberanian orang-orang yang terluka, dan sebagainya. Mereka pun tidak ketinggalan menyebut nama Ashim bin Tsabit yang dikatakan sebagai pahlawan gagah tak terkalahkan. Mereka kagum bagaimana Ashim mampu merubuhkan tiga bersaudara sekaligus. Seorang di antaranya berkata, "Itu soal yang tidak perlu diherankan. Bukankah Rasulullah SAW pernah mengingatkan ketika beliau bertanya bebarapa saat sebelum berkobar Perang Badar, "Bagaimana caranya kamu berperang?" Lalu Ashim tampil dengan busur panah di tangan. Katanya, "Jika musuh berada di hadapanku seratus hasta, aku panah dia. Apabila musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertanding dengan lembing sampai patah. Jika lembingku patah, kuhunus pedang, lalu aku main pedang." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Nah, begitulah berperang. Siapa yang hendak berperang, berperanglah seperti Ashim." Tidak berapa lama setalah Perang Uhud, Rasulullah SAW memilih enam orang sahabat yang mulia untuk melaksanakan suatu tugas penting, dan beliau mengangkat Ashim bin Tsabit sebagai kepala. Orangorang terpilih ini berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Rasulullah SAW kepada mereka. Di tengah jalan, tidak jauh dari Mekah, sekelompok kaum Hudzail melihat kedatangan mereka. Kelompok itu segera mengepung mereka dengan ketat. Ashim dan kawan-kawan dengan sigap menyambar pedang masing-masing, dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Kata orang-orang Hudzail, "Kalian tidak akan berdaya melawan kami. Demi Allah, kami tidak akan berlaku jahat terhadap kalian jika kalian menyerah. Kalian boleh mempercayai sumpah kami dengan nama Allah." Para sahabat Rasulullah SAW berpandangan satu sama lain seolah-olah bermusyawarah, sikap apa yang harus diambil. Ashim menoleh kepada kawan-kawannya seraya berkata, "Aku tidak dapat memegang janji orang-orang musyrik itu." Kemudian diingatkannya sumpah Sulafah untuk menangkapnya. Lalu dihunusnya pedangnya sambil berdoa, "Wahai Allah, aku memelihara agama-Mu dan bertempur karenanya. Maka lindungilah daging dan tulangku, jangan biarkan seorang musuh pun menjamah." Kemudian, diserangnya orang-orang Hudzail, diikuti oleh dua orang kawannya. Mereka bertiga bertempur mati-matian, sehingga akhirnya rubuh dan tewas satu per satu. Adapun kawan Ashim yang bertiga lagi menyerah sebagai tawanan. Mereka dikhianati oleh kaum Hudzail yang tidak memenuhi janji. Pada mulanya kaum Hudzail tidak mengetahui bahwa salah seorang di antara korban mereka adalah Ashim bin Tsabit. Tetapi setelah diketahuinya, mereka pun girang bukan kepalang, karena membayangkan hadiah besar yang akan diperolehnya. Memang tidak salah angan-angan mereka. Bukankah Sulafah telah bersumpah, jika dia berhasil membunuh Ashim bin Rsabit, dia akan minum khamr di batok kepala Ashim? Bukankah dia telah menjanjikan bagi siapa yang berhasil menyerahkan Ashim kepadanya hidup atau mati akan diberinya hadiah berapa saja yang diminta? Hanya beberapa saat setelah kematian Ashim bin Tsabit dan kawan-kawan, kaum Quraisy telah mencium beritanya. Karena kaum Hudzail tinggal tidak jauh dari kota Mekah, para pemimpin Quraisy segera mengirim utusan kepada pembunuh Ashim, meminta kepala Ashim untuk menghilangkan dahaga Sulafah binti Sa'ad, menyempurnakan sumpahnya, serta meringankan kesedihan terhadap tiga orang anaknya yang tewas di tangan Ashim. Para pemimpin Quraisy membekali para utusan itu dengan jumlah yang memadai, dan menyuruh agar menyerahkan uang itu seluruhnya kepada kaum Hudzail dengan murah hati demi untuk mendapatkan kepala Ashim. Kaum Hudzail pergi mencari mayat Ashim untuk

15/11/107:15

sn

57 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

memisahkan kepalanya dari jasad. Tetapi, alangkah ajaib, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sarang lebah dan gerombolan serangga menyerang mereka dari segala arah. Ketika mereka hendak menghampiri tubuh Ashim yang telah menjadi mayat, serangga itu terbang menyerangnya, menggigiti muka, mata, dan kening. Bahkan, seluruh tubuh mereka tidak ada yang ketinggalan digigit serangga-serangga itu, sehingga mereka tidak bisa mendekati jenazah Ashim. Setelah mereka mencoba berulang-ulang menghampiri mayat Ashim, mereka selalu gagal, akhirnya menyerah. Mereka berkata sesamanya, "Biarkanlah dahulu sampai malam. Biasanya bila hari telah malam, mereka terbang. Maka, tinggallah mayat itu untuk kita." Lalu, mereka duduk menunggu sampai malam. Tetapi, setalah hari senja dan malam hampir tiba, langit tertutup oleh awan tebal menghitam. Kilat dan petir menggelegar sambung-menyambung membuat hati menjadi gentar. Hujan lebat turun bagai dicurahkan dari langit. Setahu mereka belum pernah terjadi di sana hujan selebat itu. Dengan cepat air mengalir dari tebing-tebing memenuhi sungai-sungai dan menutup permukaan lembah. Banjir besar segera datang melanda segala yang ada. Setelah Subuh tiba, mereka bangkit kembali mencari tubuh Ashim di segala penjuru. Tetapi, usaha mereka sia-sia, bahkan mereka tidak menemukan bekasbekasnya. Rupanya banjir telah menghanyutkan mayat Ashim tanpa diketahui ke mana perginya. Allah Taala memperkenankan doa Ashim bin Tsabit. Dia melindungi mayat Ashim yang suci, jangan sampai dijamah oleh tangan-tangan kotor orang-orang musyrik. Allah memelihara batok kepala Ashim yang mulia agar tidak dijadikan tempat minum khamr oleh mereka. Allah tidak memberi kesempatan bagi mereka. (haiqal)

15/11/107:15

sn

58 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

ASMA' binti ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ Dia seorang wanita muhajir yang mulia dan tokoh yang besar karena akal dan kemuliaan jiwa serta kemauannya yang kuat. Asma' dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma' 10 tahun lebih tua daripada saudaranya seayah, Aisyah, Ummul Mu'minin dan dia adalah saudara sekandung dari Abdullah bin Abu Bakar. Asma' mendapat gelar Dzatun nithaqain (si empunya dua ikat pinggang), karena dia mengambil ikat pinggangnya, lalu memotongnya menjadi dua. Kemudian, yang satu dia gunakan untuk sufrah (bungkus makanan untuk bekal) Rasulullah SAW, dan yang lain sebagai pembungkus qirbahnya pada waktu malam, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq keluar menuju gua. Penduduk Syam mengolok-olok Ibnu Zubair dengan julukan "Dzaatun nithaqain" ketika mereka memeranginya. Maka Asma' bertanya kepada puteranya itu, Abdullah bin Zubair :"Mereka mengolokolokkan kamu ?" Abdullah menjawab :"Ya." Maka Asma' berkata :"Demi Allah, dia adalah benar." Ketika Asma' menghadap Al-Hajjaj, dia berkata: "Bagaimana engkau mengolok-olok Abdullah dengan julukan Dzatun nithaqain ? Memang, aku mempunyai sepotong ikat pinggang yang harus dipakai oleh orang perempuan dan sepotong ikat pinggang untuk menutupi makanan Rasulullah SAW." Asma' telah lama masuk Islam di Mekkah, sesudah 17 orang dan berbai'at kepada Nabi SAW, serta beriman kepadanya dengan iman yang kuat. Pengamalan Islam Asma' yang Baik Pada suatu ketika, datang Qatilah binti Abdul Uzza kepada puterinya, Asma' binti Abu Bakar AshShiddiq, sedangkan Abu Bakar telah menalaknya di zaman jahiliyyah, membawa hadiah-hadiah berupa kismis, samin dan anting-anting. Namun Asma' menolak hadiah tersebut dan tidak mengizinkannya memasuki rumahnya. Kemudian dia memberitahu Aisyah :"Tanyakan kepada Rasulullah SAW?" Aisyah menjawab :"Biarlah dia memasuki rumahnya dan dia (Asma') boleh menerima hadiahnya." Tindakan Asma' yang Baik Abu Bakar r.a. membawa seluruh hartanya yang berjumlah 5.000 atau 6.000 ketika Rasulullah SAW pergi hijrah. Kemudian kakeknya, Abu Quhafah datang kepada Asma' sedangkan dia seorang buta. Abu Quhafah berkata :"Demi Allah, sungguh aku lihat dia telah menyusahkan kalian dengan hartanya, sebagaiamana dia telah menyusahkan kalian dengan dirinya." Maka Asma' berkata kepadanya:"Sekali-kali tidak, wahai, Kakek! Beliau telah meninggalkan kebaikan yang banyak bagi kita." Kemudian Asma' mengambil batu-batu dan meletakkanya di lubang angin, di mana ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju. Setelah itu Asma' memegang tangannya (Abu Quhafah) dan berkata: "Letakkan tangan Anda di atas uang ini." Maka kakeknya meletakkan tangannya di atasnya dan berkata :"Tidaklah mengapa jika dia tinggalkan ini bagi kalian, maka dia (berarti) telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian." Sebenarnya Abu Bakar tidak meninggalkan sesuatu pun bagi keluarganya, tetapi Asma' ingin menenangkan hati orang tua itu. Az-Zubair ibnul Awwam menikah dengannya, sementara dia tidak mempunyai harta dan sahaya maupun lainnya, kecuali kuda. Maka Asma' memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat adonan roti. Suatu ketika Az-Zubair bersikap keras terhadapnya, maka Asma' datang kepada ayahnya dan mengeluhkan hal itu. Maka sang ayahpun berkata : "Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya wanita itu apabila bersuami seorang yang sholeh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang isterinya tidak menikah lagi, maka keduanya akan berkumpul di surga."

15/11/107:15

sn

59 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Asma' datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya :"Wahai, Rasulullah, aku tidak punya sesuatu di rumahku, kecuali apa yang diberikan oleh Az-Zubair kepadaku. Bolehkah aku memberikan dan menyedekahkan apa yang diberikan kepadaku olehnya?" Maka Nabi SAW menjawab :"Berikanlah (bersedekahlah) sesuai kemampuanmu dan jangan menahannya agar tidak ditahan pula suatu pemberian terhadapmu." Maka Asma' adalah termasuk seorang wanita dermawan. Dari Abdullah bin Zubair r.a. dia berkata :"Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma'." Kedermawanan mereka berbeda. Adapun Aisyah, sesungguhnya dia suka mengumpulkan sesuatu, hingga setelah terkumpul padanya, dia pun membagikannya. Sedangkan Asma', maka dia tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma' adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Dia tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok. Pernah dia menderita sakit, lalu dia bebaskan semua hamba sahayanya. Asma' ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Az-Zubair, dan menunjukkan keberaniannya yang baik. Dia membawa sebilah belati dalam pasukan Said bin Ash di masa fitnah, lalu diletakkannya di balik lengan bajunya. Kemudian ditanyakan kepadanya :"Apa yang kamu lakukan dengan membawa ini ?" Asma' menjawab :"Jika ada pencuri masuk kepadaku, maka aku tusuk perutnya." Umar ibnul Khaththab r.a. memberi tunjangan untuk Asma' sebanyak 1000 dirham. Asma' meriwayatkan 58 hadits dari Nabi SAW; dan dalam suatu riwayat dikatakan : bahwa dia meriwayatkan 56 hadits [Al-Kazaruni,"Mathaali'ul Anwaar"]. Telah sepakat antara Bukhari dan Muslim atas 14 hadits. Bukhari meriwayatkan sendiri atas 4 hadits, sedangkan Muslim juga meriwayatkan sebanyak itu pula. [Al-Hafih Al-Maqdisi, Al-Kamaal fii Ma'rifatir Rijaal]. Dalam satu riwayat : Diceritakan bahwa Asma' meriwayatkan 22 hadits dalam Shahihain. Sedangkan yang disepakati Bukhari dan Muslim 13 hadits. Bukhari meriwayatkan sendiri 5 hadits, sedangkan Muslim meriwayatkan 4 hadits. [Ibnul Jauzi, "Al-Mujtana"] Asma' Sebagai Penyair dan Pemberani Asma' adalah wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Dia berkata mengenai suaminya, Az-Zubair, ketika dibunuh oleh Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi'i di Wadi As-Siba' (5 mil dari Basrah) ketika kembali dari Perang Jamal :

Ibnu Jarmuz mencurangi seorang pendekar dengan sengaja di waktu perang, sedang dia tidak lari Hai, Amru, kiranya kamu ingatkan dia tentu kamu mendapati dia bukan seorang yang bodoh, tidak kasar hati dan tangannya semoga ibumu menangisi, karena kamu bunuh seoranng Muslim dan kamu akan terima hukuman pembunuhan yang disengaja
Tekad Asma' yang Kuat, Kemuliaan Jiwa dan Keberaniannya Kata-kata Asma' kepada puteranya menunjukkan kepada kita tentang makna-makna yang luhur itu. Suatu saat puteranya, Abdullah, datang menemui ibunya, Asma' yang buta dan sudah berusia 100 tahun. Dia berkata kepada ibunya :"Wahai, Ibu, bagaimana pendapat Anda mengenai orang yang telah meninggalkan aku, begitu juga keluargaku." Asma' berkata :"Jangan biarkan anak-anak kecil bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap akan terhibur mengenaimu dengan baik." Kemudian Abdullah keluar dan bertempur hingga ia mati terbunuh. Konon, Al-Hajjaj bersumpah untuk tidak menurunkannya dari tiang kayu hingga ibunya meminta keringanan baginya. Maka tinggallah dia disitu selama satu tahun. Kemudian ibunya lewat di bawahnya dan berkata : "Tidakkah tiba waktunya bagi orang ini untuk turun ?" Diriwayatkan, bahwa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" Asma' menjawab :"Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu."

15/11/107:15

sn

60 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam]. Penulis buku, Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi mencatat dialog yang terjadi antara Asma' dengan Abdullah, dalam sebuah kasidah yang dianggap sebuah karya seni yang indah. Dia berkata :

Asma' di antara manusia adalah sebaik-baik wanita ia lakukan perbuatan terbaik di saat perpisahan datang kepadanya Ibnu Zubair menyeret baju besi di bawah baju besi berlumur darah Ia berkata : Wahai, Ibu, aku telah payah dengan urusanku antara penawanan yang pahit dan pembunuhan yang keji. Teman-teman dan zaman mengkhianatiku, maka aku tak punya teman selain pedangku kulihat bintangku yang tampak terang telah lenyap dariku dan tidak lagi naik. Kaumku telah berupaya melindungiku, maka tak ada penolong selain itu jika aku menerimanya. Asma' menjawab dengan kelopak mata yang kering seakan-akan tidak ada tempat sebelumnya bagi air mata. Air mata itu berubah menjadi uap yang naik dari hatinya yang patah. Tidaklah diselamatkan kecuali kehidupan atau ia menjadi tulang-belulang seperti halnya batang pohon kematian di medan perang lebih baik bagimu daripada hidup hina dan tunduk jika orang-orang menelantarkanmu, maka sabar dan tabahlah, karena Allah tidak menelantarkan. Matilah mulia, sebagaimana engkau hidup mulia dan hiduplah selalu dalam namamu yang mulia dan tinggi tiada di antara hidup dan mati kecuali menyerang di tengah pasukan itu.
Kata-kata Asma' kepada puteranya ini akan tetap menjadi cahaya di atas jalan kehidupan yang mulia, yaitu ketika puteranya berkata : "Wahai, Ibu, aku takut jika pasukan Syam membunuhku, mereka akan memotong-motong tubuh dan menyalibku." Asma' menjawab dengan perkataan yang kukuh seperti gunung, kuat seperti jiwanya, besar seperti imannya, dan perkataan itulah yang menentukan akhir pertempuran : "Hai, Anakku, sesungguhnya kambing yang sudah disembelih tidaklah merasa sakit bila ia dikuliti."

Al-Manfaluthi menyudahi kasidahnya dengan perkataan : Datang berita kematian kepada ibunya, maka ia pun mengeluarkan air matanya yang tertahan.
Abdullah gugur sebagai syahid dan unggulan nilai-nilai yang tinggi dari ibu teladan. Kisah ini tercatat dalam lembaran-lembaran yang paling cemerlang dalam sejarah orang-orang yang kekal.

Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

61 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

BARA' bin MALIK r.a (Sang Pemburu Jannah) Lelaki perkasa ini tidak lain adalah saudara dari Anas bin Malik r.a, khodim Rasulullah S.a.w. Keberanian dan keperkasaannya di medan laga sudah tidak diragukan lagi. Pernah dalam satu perang tanding beliau berhasil menghabisi seratus jagoan dari kaum kafir. Baginya, memasuki jannah dengan mati syahid adalah dambaan yang selalu dicarinya, karena itu sejak perrang Uhud beliau tidak pernah absen menyertai Rasulullah S.a.w dalam setiap pertempuran. Ketika Abu Bakar r.a berkuasa, banyak terjadi pembangkangan, antara lain pembangkangan Musailamah Al Kadzab yang mengaku sebagai Nabi. Segera Abu Bakar memberangkatkan pasukan menggempur pasukan Musailamah yang tangguh. Pertempuran antar dua pasukan pun terjadi dengan serunya di Yamamah. Bara` r.a seperti biasanya segera mengamuk menebas setiap musuh yang berada didekatnya. Namun kekuatan musuh yang cukup solid hampir membuat semangat tempur kaum muslimin mengendor. Segera Bara' berteriak dengan suara yang lantang, " Wahai manusia! Demi Allah, tidak ada lagi bagiku Madinah..! yang ada hanyalah jannah!".Lalu beliau pukul kudanya melesat menyerbu ketengah-tengah kumpulan musuh. Melihat hal itu, sontak semangat kaum muslimin kembali bangkit dan segera menyusul Bara' menggempur musuh dengan satu tekad, mati menuju jannah. Akibatnya pasukan Musailamah terdesak dan mundur memasuki benteng pertahanannya. Untuk membobol pintu benteng, Bara' berinisiatif agar kawan-kawannya melemparkan dirinya melewati atas benteng kemudian nanti beliau yang akan membuka pintunya. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa. Usul itupun dilaksanakan. Setelah beliau berhasil masuk segera pintu benteng dibukanya setelah sebelumnya harus menghabisi sepuluh nyawa pasukan penjaga benteng. Bagaikan air bah pasukan muslimin segera memasuki benteng dan menghabisi perlawanan Musailamah sang pendusta. Pada peperangan ini Bara' harus merakan lebih dari 80 luka akibat serangan lawan. Kini, Bara' telah berada dalam pertempuran lain, perang dengan pasukan penyembah api, satu diantaranya adi daya kekafiran saat itu; pasukan Persia dengan segala perlengkapannya. Perang-pun berkecamuk dengan dasyatnya, dan pasukan Persi ternyata menunjukkan kelasnya sebagai pasukan elite. Mereka berhasil mendesak tentara muslimin. Maka orang-orangpun berkata kepada Bara' bin Malik, " Wahai Bara', sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda kepadamu, sesungguhnya jika engkau memohon kepada Allah S.W.T pasti Dia mengabulkan, maka berdo`alah kepada-Nya untuk kehancuran musuh ".Bara' lalu berdo`a memohon kehancuran pasukan musuh dan agar dirinya mendapat syahid bertemu dengan Nabi-nya yang mulia. Allah mengabulkan doa`nya sehingga kaum muslimin berhasil melumpuhkan lawan, dan Bara' pun memperoleh apa yang selama ini dicita-citakannya, syahid dijalan Allah. Bara' …betapa wangi merah darahmu…kamipun rindu menyusulmu. Wallahu a`lam.

15/11/107:15

sn

62 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

BILAL bin RABAH (Muadzin sejati Rasulullah) Siapakah gerangan lelaki yang ketika didera siksa dahsyat Kafir Quraisy, hanya kata-kata “ AhadunAhad “ yang keluar dari mulutnya, Siapakah pula lelaki yang pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, “Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)” ? Dialah Bilal Bin Rabah, Semoga Allah meridloinya, lelaki yang lahir di Mekah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah itu tumbuh di Mekah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umaiyah bin Khalaf. Ketika pada masa permulaan datangnya Islam, Bilal masuk dalam deretan kelompok yang pertama-tama memeluk Islam (Assabiqunal Awwalin). Taslimnya Bilal saat di atas permukaan bumi baru hanya ada segelintir pemeluk Islam, Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar Sidik, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir dan ibunya; Sumaiyah, Shuhaib Ar-Rumi dan Miqdad bin Aswad. Bilal adalah salah seorang sahabat Nabi yang paling banyak merasakan siksa dan kekerasan kaum musyrikin Quraisy. Para pemeluk Islam saat itu, rata-rata mempunyai pelindung dari keluarga mereka kecuali dia, Ammar bin Yasir beserta bapak dan ibunya, dan Shuhaib. Karenanya mereka ini banyak menjadi sasaran kesewenang-wenangan kaum musyrikin Quraisy. Pada suatu hari, ketika matahari di atas kepala dan pasir Mekah seolah mendidih karena sangat panasnya, Umaiyah bin Khalaf dan sekelompok kaum musyrikin melepas bajunya, lalu memakaikan baju besi dan menjemurnya di terik matahari. Selama itu tidak henti-hentinya dia dicambuki dan disuruh mencela Nabi Muhammad saw. Tetapi selama itu juga, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bilal kecuali, “Yang Mahaesa! Yang Mahaesa! “ Ahadun-Ahad “ Bila mereka sudah lelah menyiksanya, Umaiyah mengikat lehernya dengan tali besar lalu menyerahkannya kepada anak-anak untuk mereka seret berkeliling kota Mekah. Setelah itu Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar Sidik ra. setelah dia beli seharga 9 uqiah emas (1 uqiah = 31, 7475). Umaiyah bin Khalaf menjualnya mahal, dengan harapan Abu Bakar enggan membelinya, padahal dalam hatinya dia mengatakan, “Jika dia membelinya 1 uqiah pun akan saya jual.” Sebaliknya Abu Bakar juga mengatakan dalam hati, “Jika tidak mau menjualnya di bawah harga 100 uqiah pun akan saya beli.” Hal itu membuat Bilal gembira sekali. Dia memulai fase hidup baru. Di kemudian hari dia ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin yang lain. Muazin Rasul saw. sepanjang hidup beliau. Suatu ketika, setelah Nabi wafat, dia mengumandangkan azan, tetapi setelah sampai pada kata-kata, “Asyhadu anna Muahammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah)” dia menangis terisak-isak dan meminta kepada Abu Bakar agar dibebaskan dari tugas itu. Dia tidak mampu lagi melakukannya setelah Nabi tidak ada. Bilal termasuk anggota delegasi dakwah Muslimin pertama yang berangkat ke Syam, dia menetap di Darya (dekat Damaskus) hingga Umar bin Khatab datang ke Damaskus dan menyuruhnya untuk mengumandangkan azan kembali. Umar sangat mencintai dan menghormatinya, dia pernah mengatakan, “Abu Bakar tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).” Setelah suara azan Bilal mengumandang Umar dan seluruh yang hadir menangis terisak-isak. Mereka teringat saat-saat mendengarkan suara itu pada saat Nabi masih hidup. Bilal berpulang ke rahmatullah setelah pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, “Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)”. Semoga Allah meridlai dan memberinya pahala yang baik atas kontribusi yang dia persembahkan kepada Islam dan Muslimin.

15/11/107:15

sn

63 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

DURRAH binti ABU LAHAB bin ABDUL MUTHOLIB (Puteri Paman Nabi SAW) Durrah binti Abu Lahab masuk Islam, kemudian hijrah dan mengamalkan Islam dengan baik. Imam AdzDzahabi berkata :"Dia mempunyai sebuah hadits dalam "Al-Musnad", dari riwayat putera pamannya, AlHarits bin Naufal." [Ath-Thabaqaat (8/34), Al-Istii'aab (4/290), Al-Ishaabah (7/634), dan Ushudul Ghaabah (5/449)] Ibnu Hajar menyebutkan dalam Al-Ishaabah, bahwa ketika Durrah binti Abu Lahab datang ke Madinah sebagai muhajir, dia turun di rumah Rafi' bin Mu'alla. Kemudian beberapa wanita bani Zuraiq berkata kepadanya :"Engkau puteri Abu Lahab, yang Allah berfirman tentang dia :"Binasalah kedua tangan Abu Lahab (QS. Al-Lahab, 111:1). Maka hijrahmu tidak berguna bagimu." Kemudian dia datang kepada Nabi SAW dan menceritakan hal itu kepada beliau. Maka Nabi SAW berkata :"Duduklah." Kemudian beliau mengimami Sholat Zhuhur dan duduk di atas mimbar sesaat. Lalu beliau bersabda :"Wahai, orang-orang, mengapa aku diganggu atas keluargaku? Demi Allah, sungguh syafa'atku akan diperoleh kerabatku, bahkan Shada', Hakam, dan Salhab pun akan memperolehnya pada hari kiamat." [Ibnu Hajar menyebutnya dalam Al-Ishaabah dengan perkataan: Diriwayatkan oleh Ibnu Ashim, Thabarani dan Ibnu Mandah, dari jalan Ab-durrahman bin Basyar, dan ia adalah dhoif, dari Muhammad bin Ishaq, dari Nafi' dan Zaid bin Aslam, dari Ibnu Umar, dan Sa'id Al-Maqbari dan Ibnu Al-Munkadir, dari Abu Hurairah, dan dari Ammar bin Yasir. Mereka berkata: "Datang Durrah hingga akhir hadits...." ; Al-Ishaabah, juz 7 hal. 634] Daruquthni meriwayatkan dalam kitab Al-Ikhwah, Ibnu Ady dalam Al-Kaamil dan Ibnu Mandah dari Durroh binti Abu Lahab, dia berkata : Nabi SAW bersabda :"Orang hidup tidak boleh mengganggu orang yang sudah mati." Adab Nabawi inilah yang patut kita miliki dan tidak kita tinggalkan selamanya, betapa pun kita memusuhi orang yang sudah mati itu.

Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

64 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

FATHIMAH binti MUHAMMAD Rasulullah SAW Julukannya adalah al-Batuul, yaitu wanita yang memutuskan hubungan dengan yang lain untuk beribadah atau tiada bandingnya dalam keutamaan ilmu, akhlaq, budi pekerti, kehormatan dan keturunannya. Lahir bersamaan dengan terjadinya peristiwa agung yang menggoncangkan Makkah, yaitu peristiwa peletakkan Hajarul Aswad disaat renovasi Ka`bah. Beliau adalah anak yang paling dicintai oleh keluarganya, terutama ayahnya. Sebagaimana tampak dalam ucapan Rasulullah SAW ,:"Fathimah adalah bagian dariku, aku merasa susah bila ia bersedih dan aku merasa terganggu bila ia diganggu".(Ibnu Abdil Barr, Al-Isti`ab). Dalam hadits lain diriwayatkan "Barang siapa telah memarahinya berarti telah memarahiku". (H.R.Muslim) Ketika Fathimah beranjak dewasa, Abu Bakar dan Umar bergiliran untuk meminangnya namun Rasulullah SAW dengan halus menolaknya. Dan kemudian ia dinikahkan Rasulullah SAW dengan Ali bin Abi Thalib ra dengan mahar berupa baju besi pemberian Rasul atas perintah Allah SWT . Ali bin Abi Thalib ra. bercerita bahwa disaat ia menikahi Fathimah, tiada yang dimilikinya kecuali kulit kambing yang dijadikan alas tidur pada malam hari dan diletakkan di atas onta pengangkut air pada siang hari. Kemudian Rasulullah SAW membekali Fathimah dengan selembar beludru, bantal kulit yang berisi sabut, dua buah penggiling dan dua buah tempayan air. Saat itu mereka tak memiliki pembantu, maka Fathimahlah yang menarik penggiling itu hingga membekas ditangannya, mengambil air dengan tempat air dari kulit biri-biri hingga membekas dipundaknya dan menyapu rumah hingga pakaiannya terkotori oleh asap api. Manakala Ali mengetahui bahwa Rasulullah SAW memperoleh banyak pelayan, ia berkata kepada Fathimah agar meminta kepadanya seorang pelayan. Namun Rasulullah SAW tidak mengabulkannya dan sebagai gantinya beliau mengajarinya beberapa kalimat do`a, yaitu membaca tasbih, tahmid dan takbir, masing-masing 10x setelah sholat dan mengajarkan untuk membaca tasbih 30x, tahmid 30x dan takbir 34x ketika hendak tidur. Dari pernikahan Ali dan Fathimah, Rasulullah SAW memperoleh 5 orang cucu, Hasan, Husein, Zainab, Ummi Kultsum dan yang satu meninggal ketika masih kecil. Cinta Rasulullah SAW kepaa Fathimah terlukis dalam sebuah hadits dari Musawwar bin Mughromah, ia berkata "Aku mendengar Nabi SAW berkata ketika Beliau sedang berdiri dimimbar :"Sesungguhnya Bani Hasyim bin Mughirah meminta izin kepadaku agar menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib, aku tidak mengizinkan mereka. Kemudian tidak aku izinkah kecuali bila Ali menceraikan putriku dan menikah dengan putri-putri mereka. Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku, meragukanku apa yang meragukannya dan menyakitiku apa yang menyakitinya."(H.R Ash-Shohihain) Fathimah telah meriwayatkan hadits Nabi SAW sebanyak 18 buah. Beliau wafat pada usia 29 tahun dan dikebumikan di Baqi`pada selasa malam, 3 Ramadhan 11 H. Wallahu A`lam bish-Showab. (disarikan dari Shifatus Shofwah, Ibnu Jauzi:Min `Alamin Nisa',M.Ali qutfb: Nisa Khaula Rasul, M.Ibrahim Sulaiman).

15/11/107:15

sn

65 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

HAFSAH binti UMAR bin KHATTAB Selain Aisyah, Hafshah dikenal sebagai istri Rasulullah SAW yang pencemburu. Seringkali ia membuat ulah untuk menarik perhatian Rasulullah. Suatu hari, ketika Rasulullah menemuinya, Hafshah bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa mulutmu bau maghafir (minuman dari getah yang berbau busuk)?" "Aku baru saja minum madu, bukan maghafir," jawab Nabi penuh tanda tanya. "Kalau begitu, engkau minum madu yang sudah lama," timpal Hafshah. Keheranan Rasulullah makin bertambah ketika Aisyah yang ditemuinya mengatakan hal serupa. Saking kesalnya, Rasulullah mengharamkan madu buat dirinya untuk beberapa waktu. Beliau tak tahu kalau Hafshah telah "berkomplot" dengan Aisyah untuk "ngerjain" Rasulullah. Keduanya cemburu lantaran Nabi tinggal lebih lama dari jatah waktunya di rumah Zainab binti Jahsy. Waktu itu Nabi tertahan karena Zainab menawarkan madu kepada beliau. Membicarakan kehidupan Hafshah binti Umar bin Khattab tak bisa lepas dari sifat pencemburunya yang besar. Sebenarnya, sifat cemburunya itu lahir dari rasa cintanya yang mendalam kepada Rasulullah. Ia takut kalau-kalau Rasulullah kurang memberi perhatian dan cinta yang cukup kepadanya. Namun, sifat pencemburunya itu terkadang melahirkan ulah yang menjengkelkan. Pernah, dalam sebuah perjalanan Hafshah dan Aisyah dibawa serta. Kedua istri Nabi itu duduk dalam sekedup (tandu di atas punggung unta) yang berbeda. Selama perjalanan, Rasulullah lebih sering berada dalam sekedup di atas unta Aisyah. Pada waktu istirahat, Hafshah yang terbakar api cemburu meminta Aisyah untuk berpindah tempat. Seusai istirahat, Rasulullah naik kembali ke sekedup Aisyah yang sudah ditempati Hafshah dan mengajak bicara. Beliau tak tahu kalau yang menjawabnya dengan jawaban-jawaban pendek itu Hafshah. Dan... betapa kesalnya Rasulullah setelah ia tahu dirinya dipermainkan kedua istrinya itu. Begitu seringnya Hafshah membuat ulah, lantaran cemburu, Rasulullah pernah berniat akan menceraikannya. Namun, Jibril datang mencegah Nabi. Rasulullah malah mendatangi anak Umar bin Khattab itu dan berkata, "Ya Hafshah, hari ini Jibril datang kepadaku dan memerintahkan kepadaku "irji' ilaa Hafshah, fainnaha hiya showwama, qowwama wa hiya azawaajuka fil jannah" (kembalilah kepada Hafshah, sesungguhnya ia wanita yang senntiasa puasa, mendirikan shalat, dan ia adalah istrimu kelak di surga). Dialah Hafshah binti Umar, wanita yang mendapat pembelaan Rasulullah lantaran sifat pencemburunya. Jibril memberi penilaian memiliki kelemahan dan kekurangan dengan sifat cemburunya, tapi beribadah. Ia rajin puasa sunnah dan tak pernah meninggalkan membelanya, bahkan menyampaikan jaminan Allah bahwa Hafshah surga. Jibril tatkala hendak diceraikan obyektif atas diri Hafshah. Meski Hafshah adalah wanita yang tekun shalat tahajjud. Maka Jibril pun termasuk salah satu istri Nabi di

Kecemburuan istri-istrinya sebenarnya dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan manusiawi oleh Rasulullah. Apalagi, beliau dikenal orang yang paling sabar dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk ulah istri-istrinya. Namun, yang membuatnya marah adalah jika rasa cemburu itu mendorong istri-istrinya atau dirinya melakukan maksiat kepada Allah. Rasulullah pernah ditegur Allah lantaran mengharamkan madu dan istrinya akibat ulah Hafshah. Rasa cemburu yang seperti inilah yang tidak dibenarkan Rasulullah.

15/11/107:15

sn

66 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Akibat rasa cemburunya yang berlebihan itu, Hafshah ditegur langsung oleh Allah melalui firman-Nya dalam surat At-Tahrim ayat 3 dan 4. Tapi, putri Umar bin Khattab itu pulalah yang dibela Jibril ketika hendak dicerai oleh Rasulullah karena memiliki kelebihan-kelebihan dalam sisi peribadatannya. (NN)

15/11/107:15

sn

67 of 207

Kisah Sahabat
HAKIM bin HAZAM

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Sejarah mencatat, dia adalah satu-satunya anak yang lahir dalam Kabah yang agung. Ceritanya sebagai berikut. Pada suatu hari ibunya yang sedang hamil tua masuk ke dalam Kabah bersama rombongan orang-orang sebayanya untuk melihat-lihat Kabah. Hari itu Kabah dibuka untuk umum sesuai dengan ketentuan. Ketika berada dalam Kabah, perut ibu tiba-tiba terasa hendak melahirkan. Dia tidak sanggup lagi berjalan keluar Kabah. Seseorang lalu memberikan tikar kulit kepadanya, dan lahirlah bayi itu di atas tikar tersebut. Bayi itu adalah Hakim bin Hazam bin Khuwailid, yaitu anak laki-laki dari saudara Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid ra. Hakim bin Hazam dibesarkan dalam keluarga keturunan bangsawan yang berakar dalam dan terkenal kaya. Karena itu, tidak heran kalau dia menjadi orang pandai, mulia, dan banyak berbakti. Dia diangkat menjadi kepala kaumnya dan diserahi urusan rifadah (lembaga yang menangani orang-orang yang kehabisan bekal ketika musim haji) di masa jahiliah. Untuk itu dia banyak berkorban harta pribadinya. Dia bijaksana dan bersahabat dekat dengan Rasulullah SAW sebelum beliau menjadi Nabi. Sekalipun Hakim bin Hazam kira-kira lima tahun lebih tua dari Nabi SAW, tetapi dia lebih senang, lebih ramah, dan lebih suka berteman dan bergaul dengan beliau. Rasulullah mengimbanginya pula dengan kasih sayang dan persahabatan yang lebih akrab. Kemudian, ditambah pula dengan hubungan kekeluargaan, karena Rasulullah mengawini bibi Hakim, Khadijah binti Khuwailid ra, hubungan di antara keduanya bertambah erat. Anda boleh jadi heran, walaupun hubungan persahabatan dan kekerabatan antara keduanya demikian erat, ternyata Hakim tidak segera masuk Islam, melainkan sesudah pembebasan kota Mekah dari kekuasaan kafir Quraisy, kira-kira dua puluh tahun sesudah Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Orang memperkirakan Hakim bin Hazam, yang dikaruniai Allah akal sehat dan pikiran tajam ditambah dengan hubungan kekeluargaan, serta persahabatan yang akrab dengan Rasulullah, akan menjadi mukmin pertama-tama yang membenarkan dakwah Muhammad, dan menerima ajarannya dengan spontan. Tetapi, Allah berkehendak lain. Dan, kehendak Allah jualah yang berlaku. Kita heran dengan terlambatnya Hakim bin Hazam masuk Islam, tetapi Hakim sendiri pun tidak kurang keheranannya. Setelah dia masuk Islam dan merasakan nikmat iman, timbullah penyesalan mendalam, karena umurnya hampir habis dalam kemusyrikan dan mendustakan Rasulullah. Putranya pernah melihat dia menangis, lalu bertanya, "Mengapa Bapak menangis?" "Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan Bapak menangis, hai anakku!" jawab Hakim. "Pertama, keterlambatan masuk Islam menyebabkan aku tertinggal merebut banyak kebajikan. Seandainya aku nafkahkan emas sepenuh bumi, belum seberapa artinya dibandingkan dengan kebajikan yang mungkin aku peroleh dengan Islam. Kedua, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan dalam Perang Badar dan Uhud, lalu aku berkata kepada diriku ketika itu, aku tidak lagi akan membantu kaum Quraisy memerangi Muhammad, dan tidak akan keluar dari kota Mekah. Tetapi, aku senantiasa ditarik-tarik kaum Quraisy untuk membantu mereka. Ketiga, setiap aku hendak masuk Islam, aku lihat pemimpin-pemimpin Quraisy yang lebih tua tetap berpegang pada kebiasaankebiasaan jahiliah. Lalu, aku ikuti saja mereka secara fanatik." "Kini aku menyesal, mengapa aku tidak masuk Islam lebih dini. Yang mencelakakan kita tidak lain melainkan fanatik buta terhadap bapak-bapak dan orang-orang tua kita. Bagaimana aku tidak akan menangis karenanya, hai anakku?" Sebagaimana kita heran dengan terlambatnya Hakim bin Hazam masuk Islam, begitu pulalah dia heran terhadap dirinya. Rasulullah pun heran terhadap orang-orang yang berpikiran tajam dan berpaham luas seperti Hakim bin Hazam, tetapi menutupi diri untuk menerima Islam. Padahal, dia dan golongan orang-orang yang seperti dia ingin segera masuk Islam.

15/11/107:15

sn

68 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Semalam sebelum memasuki kota Mekah, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, "Di Mekah terdapat empat orang yang tidak suka kepada kemusyrikan, dan lebih cenderung kepada Islam." "Siapa mereka itu, ya Rasulullah," tanya para sahabat. "Mereka adalah ''Attab bin Usaid, Jubair bin Muth''im, Hakim bin Hazam, dan Suhail bin Amr. Maka, dengan karunia Allah, mereka masuk Islam secara serentak," jawab Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW masuk kota Mekah sebagai pemenang, beliau tidak ingin memperlakukan Hakim bin Hazam, melainkan dengan cara terhormat. Maka, beliau perintahkan juru pengumuman agar menyampaikan beberapa pengumuman. Siapa yang mengaku tidak ada Tuhan selain Allah yang maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan mengaku Muhammad sesungguhnya hamba Allah dan Rasul-Nya, dia aman. Siapa yang duduk di Kabah, lalu meletakkan senjata, dia aman. Siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia aman. Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa yang masuk ke rumah Hakim bin Hazam, dia aman. Rumah Hakim bin Hazam terletak di kota Mekah bagian bawah, sedang rumah Abu Sufyan bin Harb terletak di bagian atas kota Mekah. Hakim bin Hazam memeluk Islam dengan sepenuh hati, dan iman mendarah daging di kalbu. Dia bersumpah akan selalu menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan jahiliah dan menghentikan bantuan dana kepada Quraisy untuk memusuhi Rasulullah dan para sahabat beliu. Hakim menempati sumpahnya dengan sungguh-sungguh. Sekali peristiwa di Darun Nadwah (Balai Sidang), suatu tempat terhormat bagi kaum Quraisy di masa Jahiliah untuk bermusyawarah, para pemimpin, tetua-tetua, dan para pembesar mereka memutuskan dalam musyawarah hendak membunuh Rasulullah SAW. Hakim ingin melepaskan diri dari kenangan pada putusan tersebut. Untuk itu, dia membuat tirai penutup yang dapat melupakan ingatannya pada masa lalu yang dibencinya itu. Lalu dibelinya gedung Darun Nadwah tesebut seharga seratus ribu dirham. Para pemuda Quraisy bertanya kepadanya, "Untuk apa gedung yang dimuliakan kaum Quraisy itu Anda beli, hai paman? Jawab Hakim, "Bukan begitu, wahai anakku! segala kemuliaan telah sirna. Yang mulia hanyalah takwa. Aku tidak hendak membelinya, melainkan karena ingin menjual kembali untuk membeli rumah di surga. Aku saksikan kepada kalian semuanya, uangnya akan kusumbangkan untuk perjuangan fi sabilillah." Sesudah masuk Islam, Hakim bin Hazam pergi menunaikan ibadah haji. Dia membawa seratus ekor unta yang diberinya pakaian kebesaran yang megah. Kemudian unta-unta itu disembelihnya sebagai kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Waktu haji tahun berikutnya, dia wukuf di Arafah, beserta seratus orang hamba sahayanya. Masing-masing sahaya tergantung di lehernya sebuah kalung perak bertuliskan kalimat, "Bebas karena Allah Azza wa jalla, dari Hakim bin Hazam. Selesai menunaikan ibadah haji, budak-budak itu dimerdekakan semuanya. Waktu naik haji ketiga kalinya. Hakim bin Hazam mengurbankan seribu ekor biri, seribu ekor persis, disembelihnya di Mina, untuk dimakan dagingnya oleh fakir miskin, guna mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Sesudah Perang Hunain, Hakim bin Hazam meminta harta rampasan kepada Rasulullah SAW lalu diberi oleh beliau. Kemudian ia meminta lagi, diberi pula oleh beliau. Akhirnya harta rampasan yang diterima Hakim dengan jalan meminta-minta itu berjumlah seratus ekor unta yang kini menjadi cerita (hadis) dalam Islam. Rasulullah lalu berkata kepada Hakim, "Sesungguhnya harta itu manis dan enak. Siapa yang mengambilnya dengan rasa sukur dan rasa cukup, dia akan diberi barakah dengan harta itu. Dan, siapa yang mengambilnya dengan nafsu serakah, dia tidak akan mendapat barakah dengan harta itu, bahkan

15/11/107:15

sn

69 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

dia seperti orang makan yang tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta atau menerima)." Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, Hakim bin Hazam bersumpah, "Ya Rasulullah, demi Allah yang mengutus engkau dengan agama yang hak, aku berjanji tidak akan meminta-minta apa pun kepada siapa saja sesudah ini. Dan, aku berjanji tidak akan mengambil sesuatu dari orang lain sampai aku berpisah dengan dunia." Sumpah tersebut dipenuhi Hakim dengan sungguh-sungguh. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, dia disuruh supaya mengambil gajinya dari baitul mal, tetapi dia tidak mengambilnya. Tatkala jabatan khalifah pindah kepada Umar al-Faruq, Hakim pun tidak mau mengambil gajinya setelah dipanggil beberapa kali. Khalifah Umar mengumumkan di hadapan orang banyak, "Ya, maasyiral muslimin! saya telah memanggil Hakim bin Hazam beberapa kali supaya mengambil gajinya dari baitul mal, tetapi dia tidak mengambilnya." Begitulah, sejak mendengar sabda Rasulullah tersebut di atas, Hakim selamanya tidak mau mengambil sesuatu dari seseorang sampai dia meninggal.

(Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Dr. Abdur Rahman Ra''fat Basya)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

70 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

HAMZAH bin ABDUL MUTHALIB Seorang wanita dan pria legam menghampiri tubuh tak bernyawa. Di tengah pertempuran yang berkecamuk, mata wanita itu berbinar. Sesuai janji yang terpatri, ia titahkan pria legam membelah dada mayat tak berdaya itu. Hindun, nama wanita itu, kemudian memamah jantung si mayat. Mayat yang terbelah itu adalah Hamzah bin Abdul Muthalib. Ia gugur dalam pertempuran di Uhud. Anak panah pria legam yang bernama Wahsyi, telah mengantarnya kembali kepada Ilahi. Hamzah mendapat gelar 'singa Allah dan Rasul' atas keberaniannya membela Islam dan Muhammad, sang Nabi yang juga keponakannya. Umur Hamzah diperkirakan tak terpaut jauh dengan keponakannya itu. Mereka berdua merupakan teman sepermainan sejak kanak-kanak. Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat. Meski demikian, sebagaimana Bani Muttalib lainnya, Hamzah memang tidak langsung menerima dan memeluk agama yang diwahyukan kepada Muhammad. Walaupun dalam lubuk hatinya, ia tak bisa mengingkari keluhuran budi pembawa risalah tersebut. Meski demikian, ia tak memperlihatkan rasa tidak suka terhadap dakwah Muhammad, seperti yang dilakukan orang-orang Quraiys. Bahkan ia selalu memberikan perlindungan terhadap diri Nabi Muhammad. Pada saat kaum kafir memperlihatkan kebencian yang kian meningkat, ia pun meningkatkan perlindungan kepada Muhammad. Beruntung, Hamzah ditakdirkan menjadi pria perkasa. Hamzah memiliki fisik yang kuat. Ia pun terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, ahli pedang, dan bela diri di seantero Makkah. Hamzah merupakan manusia padang pasir yang lebih suka menyendiri. Ia juga dikenal sebagai seorang pemburu rusa yang mumpuni. Pada salah satu kisah perburuan rusa, Hamzah dikejutkan dengan suatu keributan. Ternyata, seekor singa telah memasuki kemahnya. Setelah menurunkan rusa yang baru saja di burunya, ia kemudian menghadapi singa itu seorang diri. Berbekal keahliannya, akhirnya, ia berhasil mengakhiri keganasan binatang buas tersebut. Lalu ia pun menguliti singa tersebut, dan melemparkan kulitnya ke atas pelana kudanya. Orang-orang Makkah melihat kulit singa di pelana kuda Hamzah mafhum dengan keberanian dan kepiawaian Hamzah. Kegagahannya itu, membuat lawan-lawannya merasa gentar meski hanya mendengar namanya. Bahkan ia berani melabrak petinggi Quraiys semacam Abu Jahal. Penyebabnya, Abu Jahal telah memperlakukan keponakannya, Muhammad, secara tak hormat. Pada suatu hari, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Muhammad ketika ia berada di Safa. Pada saat bertemu muka, ia pun mulai mencaci, memaki dan melampiaskan amarahnya kepada rasul. Meski demikian, Muhammad tidak menanggapi semua perilaku Abu Jahal. Usai menumpahkan segala amarahnya, Abu Jahal bergegas bergabung dalam pertemuan petinggi Quraiys. Tanpa sepengetahuannya, tindakan Abu Jahal diketahui oleh seorang wanita, budak Jud'an bin Amir. Tak lama berselang terlihat Hamzah memasuki Makkah dengan busur di bahunya, usai berburu. Rekan Abu Jahal melihat itu langsung bergegas untuk mengingatkan Abu Jahal bahwa Hamzah telah datang dari berburu dan khawatir akan mendengar perlakuan Abu Jahal terhadap keponakannya. Menjadi kebiasaan Hamzah, setelah berburu ia pergi ke Baitullah untuk berthawaf, sebelum ia kembali ke keluarganya. Setelah melihat Hamzah, budak wanita Jud'an bin Amir menghampirinya dan mengisahkan apa yang dilakukan Abu Jahal kepada Rasulullah SAW. Amarah menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendengarkan kisah wanita itu. Bergegas ia mencari Abu Jahal. Ia telah menetapkan niat untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada Abu Jahal. Di Masjid yang tak jauh dari Ka'bah, ia melihat Abu Jahal.

15/11/107:15

sn

71 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Sesampainya di hadapan Abu Jahal, langsung saja Hamzah memukulkan busurnya ke kepala Abu Jahal. Darah segar pun mengucur. Tak hanya itu, ia pun memukul tubuh lawannya hingga babak belur dan tersungkur. Hamzah tetap berdiri gagah di hadapan petinggi Quraiys itu. Di hadapan mereka ia menyatakan bahwa ia berada di pihak Muhammad. Hamzah pun kemudian memberikan kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pada saat Abu Jahal tersungkur, orangorang dari suku Makhzumah ingin menolongnya. Namun dicegah Hamzah, mereka pun kembali duduk. Para petinggi Quraiys saling pandang. Semula mereka akan menentang Hamzah atas perlakuannya terhadap Abu Jahal. Namun mereka pun rupanya takut dan akhirnya kembali duduk di masjid. Beberapa saat kemudian ia menendang debu ke arah muka para petinggi Quraiys itu, dan meninggalkan tempat itu. Pembelaan dan pernyataan Hamzah, telah menyadarkan kafir Quraiys bahwa Hamzah yang gagah berani akan selalu membela Muhammad. Tak heran jika kemudian mereka mulai menimbang akibat ketika akan mengganggu nabi yang mulia itu. Abu Sufyan menyatakan bahwa Muhammad telah mendapatkan teman yang kuat dan sangat disegani. Allah memperkuat agamanya dengan masuknya Hamzah ke dalam Islam. Ia berdiri tegar dan siap membela rasul. Sejak memeluk Islam ia mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk kemajuan Islam. Sehingga Rasulullah SAW memberinya gelar Asad Allah wa Asad Rasulih (Singa Allah dan Rasulnya). Pada saat pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Kafir Quraiys di Perang Badr, Hamzah betul-betul memperlihatkan keberanian dan kecakapan perang yang luar biasa. Banyak orang kafir Quraiys tumbang di tangannya. Bahkan ayah Hindun, seorang petinggi Quraiys mati di ujung pedangnya. Pada Perang Badr, umat Islam mendapatkan kemenangan gemilang. Orang-orang kafir mundur dengan teratur. Tak heran jika kekalahan ini menumbuhkan dendan kesumat di dada mereka. Hamzah pun dianggap memiliki peran besar dalam kekalahan mereka. Untuk membalas kekalahan, mereka kemudian terlibat dalam Perang Uhud. Selain nyawa Nabi yang menjadi incaran, Hamzah pun telah ditetapkan menjadi target sebagai tumbal kekalahan pasukan kafir pada Perang Badr. Hindun yang ayahnya terbunuh oleh Hamzah menetapkan strategi. Ia memerintahkan seorang budak bernama Wahsyi yang mahir memanah, untuk membunuh Hamzah di medan perang. Dan menjanjikan kemerdekaan kepada budak tersebut. Sesuai strategi, Wahsyi ternyata mampu menyarangkan anak panahnya di tubuh Hamzah. Dan Hamzah akhirnya syahid dalam medan pertempuran tersebut. Duka menyelimuti pasukan Muslim atas gugurnya Hamzah. Dan Muhammad pun tentunya sangat berduka, dengan gugurnya sahabat dan pamannya tercinta di tahun ketiga Hijriah. [republika.co.id]

15/11/107:15

sn

72 of 207

Kisah Sahabat
HASAN AL-BANA

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Syeikh Hasan Al-Bana dilahirkan pada tahun 1906, yang dibesarkan dalam keluarga Islam yang taat. Dengan asuhan secara Islam itulah maka ia boleh berkata: “Hanya Islamlah ayah kandungku.” Hal itu kerana rasa cintanya terhadap ajaran Islam, kerana ajaran itulah yang membentuk watak dan keperibadiannya. Ayah kandungnya sendiri adalah Syeikh Ahmad Abdurrahman yang lebih terkenal dengan panggilan asSa’ati, atau si tukang jam. Hasan Al-Bana hafal 30 Juz kitab suci Al-Quran, padahal umur beliau pada saat itu baru 20 tahun. Ketika umur yang sekian itu beliau berhasil menginsafkan Syeikh Abdul Wahab Jandrawy, Pemimpin (Syeikh) Al-Azhar University yang mempunyai pengaruh besar pada segenap lapisan masyarakat dan mempunyai hubungan yang akrab dengan berbagai pihak. Namun Syeikh yang banyak ilmunya itu tidak mempunyai roh jihad membela rakyat dan Islam dari kezaliman Raja Farouk dan penjajah Inggeris. Kecuali Syeikh Jandrawy ini adalah seorang pemimpin Sufi yang mempunyai banyak pengikut setiap malam berzikir dan berselawat dengan nyanyian-nyanyian khusus ahli Thariqat, tetapi mereka tidak mengerti sama sekali bahwa mereka itu terkurung oleh suasana yang diliputi kejahilan dan kejumudan umat. Mereka jauh dari semangat dan keagungan Islam kerana suasana kemunduran umat yang membelenggu. Pada tahun 1927, ketika Hasan Al-Bana baru berusia 21 tahun, beliau telah lulus dari Perguruan Darul Ulum Mesir, beliau terus mengajar di Ismailiyah. Di Ismailiyah beliau semakin mengerti suasana rakyat Mesir yang telah sempurna rusaknya. Amat nyata perbedaannya antara kehidupan bangsa Mesir yang menjadi pekerja kasar dengan rumah serta perkampungan yang buruk; dengan kehidupan orang-orang kulit putih yang menempati gedung-gedung megah dengan segala keangkuhannya. Kecuali kemiskinan dan kebodohan, rakyat juga banyak yang rusak moralnya karena pengaruh kehidupan Barat yang sengaja dibuat oleh kaum penjajah untuk menghancurkan rakyat Mesir dari segi yang lain. Dalam suasana yang demikian itulah Hasan Al-Bana mendirikan suatu jemaah yang dinamakan “Allkhwanul Muslimin” (Persaudaraan orang-orang Muslim) pada bulan Dzul Kaedah 1347 Hijrah (Mac 1928) yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Semangat kedua beliau itulah sebagai rantai yang menyambung kepada cita yang diinginkan oleh Hasan Al-Bana beserta kawan kawannya di dalam membentuk organisasi tersebut. Adapun khiththah gerakan lkhwanul Muslimin yang menuju cita yang diredhai Allah berdasarkan AlQuran dan Sunnah Rasulullah SAW itu melalui tahapan yakni : 1. Membentuk peribadi Muslim 2. Membentuk rumahtangga dan keluarga Islam 3. Cara hidup kampung Islam 4. Menuju kepada negeri Islam 5. Menuju kepada pemerintahan Islam. Gerak Ikhwanul Muslimin meliputi segala bidang dakwah, mulai pendidikan terhadap anak-anak, pelajaran Al-Quran bagi orang dewasa, pendidikan keluarga, bidang sosial walaupun nampaknya sederhana sekalipun, dari kampung-kampung sampai kepada Universitas di kampus-kampus, mulai artikel sampai penerbitan buku dan majalah-majalah, sampai kepada urusan politik dalam amar makruf nahi mungkar, dan sebagainya. Sampai kepada Muktamar Ikhwanul Muslimin yang ketiga tahun 1934, tampak tokoh-tokoh intelektual dan para ulama terkenal yang menjadi anggota dan pendukung Ikhwan, seperti Syekh Thanthawi

15/11/107:15

sn

73 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Jauhari, seorang ahli tafsir terkenal dan Guru Besar. Kemudian Sayid Quthub, Dr. Abdul Qadir Audah, seorang Hakim terkenal, dan juga Dr. Hasan Al-Hadlaiby, dan sebagainya. Syeikh Hasan Al-Bana bersama kawan-kawannya tidak mampu berdiam diri menghadapi kekuasaan Raja Farouk yang telah tenggelam dalam kemabukan dan sewenang-wenang. Perbedaan pendapat, perselisihan, dan akhirnya pertentangan dengan penguasa yang aniaya dan dibantu oleh kekejaman penjajah Inggeris tidak dapat dihindarkan. Tentu saja penyokong Kerajaan bekerja keras untuk dapat mengawasi gerak-geri para anggota Ikhwanul Muslimin. Kaum Imperialis Inggeris pula di dalam mencelakakan Ikhwanul Muslimin mempunyai peranan yang sangat besar. Akhirnya pada pagi hari tanggal 13 Februari 1949 beliau memanggil puteranya. Kemudian beliau bercerita kepada puteranya itu bahwa semalam beliau bermimpi merasa dikunjungi Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata kepada beliau: “Wahai Hasan, kamu telah menunaikan kewajiban, semoga amalmu diterima oleh Allah.” Kemudian pada petang harinya, beliau meninggalkan rumah bersama kawan-kawan seperjuangan pergi menunaikan tugas. Tiba-tiba beliau di tembak oleh seorang anggota Polisi kakitangan Raja Farouk, dan tersungkurlah beliau di tepi jalan Kairo, dan beliau menemui syahidnya setelah sampai di rumah sakit. Beliau meninggal dunia karena ditembak di pinggir jalan raya, dan tidak diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan pembunuhnya mendapat hadiah dari Raja Farouk. Jenazah beliau hanya disholatkan oleh ayah beliau sebagai Imam dan anak lelaki beliau sebagai makmum. Hanya dua orang. Karena di sekeliling rumah beliau dijaga ketat oleh tentara negara yang melarang siapapun masuk rumahnya memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. [www.daarut-tauhiid.org]

15/11/107:15

sn

74 of 207

Kisah Sahabat
HASAN AL-BASHRI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Lahir dan pertumbuhannya: Nama Hasan bin Yasar, maula (hamba yang dimerdekakan untuk laki-laki, untuk perempuan maulat) milik sahabat yang mulia Zaid bin Tsabit dan ibunya, Khairah maulat milik Ummu Salamah, istri Nabi saw. Hasan lahir di Madinah, kira-kira tahun 30 H, dia tumbuh di rumah istri-istri Nabi, terutama rumah Umu Salamah. Dia terdidik di pangkuan Umu Salamah yang merupakan salah satu wanita Arab yang paling sempurna akal pikirannya, paling bijaksana, istri Nabi yang paling luas ilmuanya dan paling banyak meriwayatkan hadis dari beliau. Juga termasuk hitungan wanita Arab yang tahu tulis baca di zaman Jahiliah. Hasan juga mendapatkan kehormatan dapat menyusu dari Umu Salamah pada saat ibunya pergi untuk suatu keperluan. Maksud Umu Salamah hanya untuk menghibur Hasan kecil yang sedang menangis karena lapar tetapi dengan kehendak Allah tetek beliau mengeluarkan susu. Demikianlah Hasan terus berpindah-pindah dari rumah Ibu kaum Mukminin yang satu ke rumah Ibu kaum Mukminin yang lain. Dari iklim yang bersih itu Hasan menghirup akhlak, agama dan ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu: Hasan berguru kepada sahabat-sahabat terkemuka di Mesjid Rasul saw. seperti; Usman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy‘ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Lalu dia pindah ke Basrah bersama kedua orang tuanya. Basrah pada saat itu adalah salah satu pusat keilmuan terbesar. Mesjidnya selalu ramai dengan para sahabat yang datang silih berganti, terutama Abdullah bin Abbas yang selalu disertai oleh Hasan Al-Bashri. Dari sahabat inilah dia belajar tafsir, hadis dan ilmu membaca Alquran. Dari sahabat lain Hasan belajar fikih, sastra dan bahasa, hingga menjadi orang yang ilmunya paling banyak pada zamannya. Akhirnya banyak orang yang mendatangi majlis pengajian Hasan yang menjadi banyak dicintai orang dan namanya terkenal ke manamana. Pujian ulama kepada dirinya: Salah seorang sahabat dekatnya, Khalid bin Shafwan mengatakan, “Dia adalah orang yang batinnya sama dengan lahirnya dan perkataannya sama dengan perbuatannya. Apabila berpesan untuk melakukan kebaikan dia adalah orang yang paling banyak melakukannya dan apabila melarang dari keburukan dia adalah orang yang paling banyak meninggalkannya. Saya benar-benar telah mendapatkannya sebagai orang yang tidak membutuhkan orang lain di saat orang lain sangat membutuhkan dirinya.” Maslamah bin Abdul Malik juga mengatakan tentang dirinya, “Bagaimana bisa tersesat suatu kaum padahal di dalamnya ada Hasan Al-Bashri?” Nasehatnya kepada para penguasa: Dia tidak pernah meninggalkan memberikan nasehat kepada para penguasa apabila hal itu dia anggap benar, meskipun keras. Sampai pada saat dimintai pendapat oleh Umar bin Hubairah tentang perintah yang diberikan oleh khalifah Yazid bin Abdul Malik yang menurutnya tidak tepat, “Ibn Hubairah! Takutlah kepada Allah dalam melaksanakan perintah Yazid dan jangan takut kepada Yazid dalam melaksanakan perintah Allah. Ketahuilah bahwa Allah swt. pasti melindungimu dari Yazid, sedang Yazid tidak mampu melindungimu dari Allah. Ibn Hubairah, sebentar lagi akan datang kepadamu seorang malaikat yang kejam dan tidak pernah melanggar perintah Allah, untuk memindahkanmu dari dipan dan istana yang luas ini ke kuburan sempit yang tidak engkau temukan Yazid di sana. Sebaliknya engkau akan menemukan amal perbuatanmu yang melanggar perintah Tuhan Yazid. Ibn Hubairah! Jika engkau bersama Allah dan taat kepada-Nya, akan selamat dari musibah Ibn Abdul Malik di dunia dan akhirat. Tetapi jika bersama Yazid dalam melakukan maksiat kepada Allah, Allah akan menyerahkan dirimu kepada Yazid. Ketahuilah wahai Ibn Hubairah! Bahwa seorang makhluk —siapapun orangnya— tidak

15/11/107:15

sn

75 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

boleh ditaati jika dia melanggar perintah Allah.” Ibn Hubairah lalu menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Pesan-pesannya: Pesan-pesan Hasan Al-Bashri menggetarkan hati, menggugah orang-orang yang lalai dan membuat air mata pendengarnya bercucuran. Dia pernah mengatakan, “Permisalan antara dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat. Apabila engkau bertambah dekat ke salah satu dua arah itu, berarti anda telah bertambah jauh dari akhirat. Dunia adalah kampung, permulaannya susah payah dan akhirnya kebinasaan. Dalam barang halalnya perhitungan, dan dalam barang haramnya siksaan. Barangsiapa merasa cukup dengannya, dia telah tertipu, barang siapa membutuhkannya, dia bersedih.” Wafatnya: Hasan Al-Basri wafat pada tahun 110 H. Ketika itu penduduk Bashrah berbondong-bondong mengantar jenazahnya pada hari Jumat, awal Rajab. Semoga Allah memberinya kasih sayang yang luas.

15/11/107:15

sn

76 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

HINDUN binti AMR bin HARAM Dalam wacana keislaman baik itu dalam bentuk tulisan, diskusi, seminar, pengajian, dan lain sebagainya kita lebih sering mendengar bahwa para sahabat Nabi dan orang-orang yang memperjuangkan Islam pada waktu itu adalah dari kalangan laki-laki. Padahal jika kita membuka kembali lembaran sejarah Islam, niscaya tidak sedikit wanita mukminah yang turut memperjuangkan Islam. Wanita mukminah merupakan bagian positif yang ikut serta memikul beban dan tanggung jawab dalam memerangi musuh Allah. Salah satu diantaranya adalah Hindun. Ketika kita mendengar nama Hindun, pasti yang ada di dalam benak kita adalah wanita 'Si Pemakan Jantung' yang keji dan beringas terhadap umat Islam, namun akhirnya ia menghiasi dirinya dengan sinar Islam. Dialah Hindun bin Utbah. akan tetapi Hindun yang ini berbeda dengan Hindun yang memiliki julukan 'Si Pemakan Jantung'. Kendatipun ia kurang begitu populer, tetapi peranannya cukup menghiasi lembaran sejarah Islam. Hindun binti Amr bin Haram, adalah istri Amr bin Jamuh. Hatinya penuh dengan keimanan dan rasa cinta terhadap agama yang dipeluknya. Karena itulah ia mengikhlaskan segala apa yang ia miliki sekalipun suami dan anak tercintanya ia korbankan demi memperjuangkan Al Islam. Suami Hindun seorang terkemuka dan terpandang di kalangan kaumnya. Sekalipun suami Hindun seorang yang pincang, namun karena panggilan jihad dan dimotivasi istrinya, akhirnya ia terpanggil pula untuk membela agama Allah serta memerangi musuh Allah hingga ia mati syahid. Tidak hanya suaminya, anaknya juga yakni Khallad bin Amr bin Jamuh dan saudaranya yang bernama Abdullah bin Amr bin Haram, mati syahid pula dalam peperangan. Ketegaran Hindun turut menghantarkan kepergian tiga orang yang dicintainya untuk menemui Kekasih dambaannya, Allah SWT. Lalu Hindun membawa mereka diatas unta menuju ke Madinah untuk dikuburkan di sana. Ketika Aisyah melhat Hindun, lalu ia bertanya, "Ya Hindun, semoga engkau memperoleh kebaikan. Apakah yang berada di belakangmu?' Jawab Hindun, "Rasulullah adalah orang yang shaleh, dan setiap musibah selain kehilangan beliau adalah kecil. Dan Allah telah mengangkat beberapa orang mukmin sebagai syuhada." Lalu Aisyah bertanya lagi, "Ya Hindun, akan engkau bawa kemana mereka itu?" Jawab Hindun, "Akan aku bawa ke Madinah dan hendak aku kuburkan di sana." Lalu Ummu Khallad ini pun memacu untanya, agar lebih cepat menelusuri jalan. Tetapi unta yang ditumpanginya tidak mampu melaju cepat. Akhirnya Hindun memutar halauan, menuju ke arah medan peperangan. Sungguh keajaiban yang luar biasa ketika itu unta yang ditumpanginya bergerak serta berjalan sangat cepat, hingga akhirnya sampai di Uhud. Akhirnya di Uhud, Hindun bertemu dengan Rasulullah. Lalu Rasulullah mendekati jenazahnya. Seraya bersabda, "Sungguh aku melihatmu (Amr bin Jamuh) berjalan di dalam syurga dengan kakimu ini dalam keadaan sehat." Lalu Rasulullah menyuruh para sahabatnya agar menguburkan mereka (Amr bin Jamuh, anaknya, dan saudaranya dalam satu liang kubur). Rasulullah berkata, "Ya Hindun, mereka akan bersahabat di dalam syurga. Amr bin Jamuh suamimu, Khallad puteramu, dan Abdullah saudaramu, semuanya akan menjadi penghuni syurga." Mendengar keterangan Rasulullah, Hindun merasa bangga dan bahagia. Lalu berkata, "Ya Rasulullah. do'akanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka." Lalu Rasulullah berkata : "Wahai Hindun, engkau memiliki kesabaran yang tinggi, keimanan yang luhur dan kepercayaan yang kuat kepada apa yang berada di sisi Allah, engkau tidak pernah berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan ini. Sebaliknya engkau sangat mencintai apa yang berada di sisi Allah." Kalau kita amati peristiwa yang telah dialami oleh Hindun, sungguh mengherankan. Seorang wanita yang kehilangan suami, anak, dan saudara kandungnya dalam sehari, namun hatinya tiada bergoncang dan air

15/11/107:15

sn

77 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

matanya tiada mengalir. Itu semua karena keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya telah kokoh tertanam dalam hati, sehingga tidak ada lagi ruang dan relung hati untuk berduka cita. Semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya telah menjadi tujuan hidupnya. Sehingga segala apapun yang ia miliki semua itu dikorbankannya demi tegaknya panji Islam. Beliau memiliki putera empat orang dan semuanya diikutsertakannya dalam perang. [Tabloid MQ EDISI

1/TH.II/MEI

2001]

15/11/107:15

sn

78 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

IBNU HAITSAM (Bapak Ilmu Matematika, Fisika dan Perintis Ilmu Optik Dunia) Ilmuwan Muslim yang hidup antara tahun 354–430 H./965–1039 M ini mempunyai nama lengkap Hasan Abu Ali Muhammad bin Hasan bin Haitsam, dilahirkan di Basrah, Irak. Dialah pakar dalam bidangnya, ahli ilmu matematika dan fisika serta perintis ilmu optik. Juga sederet keahlian berbagai disiplin ilmu lain, antara lain Geometri, Filsafat, Mantiq (logika), Kedokteran, Ilmu Falak. Dan yang paling terkenal adalah karyanya dalam ilmu optik. Dia adalah orang pertama yang mampu menjelaskan bagian-bagian mata dan proses penglihatan secara tepat dan teliti ditinjau dari segi ilmiah. Dia berhasil menepis pandangan Yunani yang mengatakan bahwa proses penglihatan terjadi karena keluarnya sinar dari mata dan mengenai obyek yang dilihat. Ibnu Haitsam menjelaskan bahwa sinar datang dari obyek menuju mata, melalui kornea, selaput pelangi, bagian-bagian mata yang lain dan terakhir sampai ke retina. Ibnu Haitsam juga telah menemukan hukum pembiasan dan pemantulan sinar serta hubungan antara sudut jatuhnya sinar dengan embiasannya. Melakukan beberapa eksperimen ilmiah mengenai penguraian sinar. Pernah mengkaji tabiat sinar, pelangi, bayangan dan gerhana. Pernah mengkaji berbagai macam cermin, baik yang cembung, cekung, maupun yang datar dan juga masalah pembelokan melengkung. Pernah mengkaji teori perbedaan kecepatan benda-benda yang jatuh akibat pengaruh daya gravitasi. Pernah menyinggung hukum pertama dalam mekanika. Ibnu Haitsam meninggalkan karya banyak sekali dalam berbagai macam bidang keilmuan. Yang paling terkenal antara lain: Al-Manazir (Pemandangan, 7 jilid), Catatan-catatan Euclides, Pemecahan keraguan Euclides, Analisa tentang praktek kedokteran, Anatomi mata dan proses penglihatan. Beliau juga meninggalkan beberapa artikel, seperti: Luas benda tiga dimensi sama sisi dan tiga dimensi secara umum, Permulaan sisi segi tujuh, Merubah lingkaran menjadi bujur sangkar, Mengeluarkan sisisisi kubus, Dasar sistim angka India, Penguraian dan persenyawaan. Semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor pemerintahan di Irak dan tekun dalam melakukan penelitian dan pengkajian. Serta menguasai filsafat dan ilmu anatomi, terutama mata. Beliau datang ke Mesir atas undangan pemerintah Fatimiah di Mesir, ketika mereka mendengar kabar bahwa dia pernah mengatakan, “Kalau saya di Mesir, pasti saya akan berbuat sesuatu yang bermanfaat, baik pada musim banjir maupun musim surut.” Setelah tiba di Mesir dan menyaksikan sendiri daerah hilir sungai Nil, dia mengetahui bahwa sesuatu yang pernah terdetik dalam hatinya, ternyata tidak mungkin terlaksana. Dia pulang dalam keadaan sedih. Untuk beberapa saat dia bekerja sebagai pegawai di kantor pemerintahan di Kairo. Setelah itu, Ibnu Haitsam menjalani sisa hidupnya untuk menulis dan mengopi buku secara tekun. Setiap tahun, dia menyalin buku kaedah-kaedah dalam geometri karangan Euqlides, dan buku Majesty karangan Ptolemeos dalam bidang ilmu falak. Naskah buku itu kemudian dia jual kepada para pembaca yang berdatangan dari penjuru negeri dan hasilnya cukup untuk hidup selama setahun. Ibnu Haitsam, karena keluasan ilmu pengetahuan dan banyaknya karyanya menjadi terkenal di mana-mana. Kata-kata mutiara yang pernah dia ucapkan: "Selama saya masih hidup dan dengan sekuat tenaga melakukan kegiatan ilmiah seperti itu ada tiga hal yang saya perhatikan: Pertama; Bisa membantu orang yang mencari dan mengutamakan kebenaran baik semasa saya masih hidup atau setelah mati. Kedua; Hal

15/11/107:15

sn

79 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

itu saya jadikan sebagai usaha untuk membuktikan hal-hal yang timbul dalam pikiranku tentang ilmu-ilmu itu. Ketiga; Saya memandangnya sebagai tabungan dan persiapan untuk hari tua."

15/11/107:15

sn

80 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

IBNU KHALDUN (731 H. – 808 H.) Lahir dan pertumbuhannya: Nama lengkapnya Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Bakar Muhammad bin Hasan. Lahir di Tunisia tahun 732 H. dalam sebuah keluarga keturunan sahabat Nabi, Wail bin Hajar, yang mempunyai asal usul dari satu suku Arab di Hadramaut, Yaman yang sejak nenek moyangnya, Khalid bin Usman telah bertransmigrasi ke Qarmunah, Andalusia. Dari Khalid inilah diambil nama Khaldun, dengan memberikan imbuhan dengan huruf wau dan nun sebagai akhiran, sebagaimana kebiasaan yang berlaku di kalangan penduduk Andalusia. Ayahnya seorang pakar fikih yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk fikih dan sastra. Di Tunisia Ibnu Khaldun tumbuh dan mulai menghafal Alquran beserta hukum tajwid. Di situ juga dia mempelajari linguistik Arab dan syariat dari bapaknya. Bapaknya selalu berusaha agar Ibn Khaldun dapat menimba ilmu dari cendekiawan di zamannya. Waktu mudanya Ibnu Khaldun pernah bekerja sebagai pegawai negeri dalam waktu yang cukup lama. Perkelanaannya: Ibnu Khaldun meninggalkan Tunisia menuju Fez dan meninggalkan keluarganya di Konstantin (Qisthanthinah). Kemudian menetap di Fez, ibu kota ilmu pengetahuan di negeri Islam Maghrib. Selama bermukim di Fez, Ibnu Khaldun tekun melakukan pengkajian, membaca dan menemui para ilmuwan Maghrib dan Andalusia. Di samping itu dia juga menjelajahi perpustakaan-perpustakaan Fez untuk memperluas bacaan dan memenuhi tuntutan keilmuannya. Pada masa ini dia telah berhasil menyelesaikan draf Mukaddimah bukunya, Al-‘Ibar. Setelah itu Ibnu Khaldun pergi ke Andalusia, lalu pindah ke Aljazair. Di Aljazair dia bekerja sebagai pengawal istana, khatib dan mengajar di mesjid Al-Qashabah. Tujuh tahun kemudian dia pindah ke Telmesan bersama keluarganya. Kemudian pindah dan menetap di Fez. Di sini dia tekun membaca dan mengajar. Setelah itu pergi sendiri ke Andalusia. Di sana dia sempat mengunjungi Granada sebelum bertolak menuju Maroko. Akhirnya Ibnu Khaldun bertemu dengan keluarganya kembali di Telmesan. Di sini dia menetap sementara waktu untuk menulis dan membaca lebih serius. Selanjutnya dia meninggalkan Telmesan lagi dan pergi ke benteng Bani Salamah di Aljazair untuk menetap selama empat tahun. Dalam suasana yang tenang inilah Ibnu Khaldun menulis bukunya, Al-‘Ibar berikut mengedit dan melampirinya dengan sejarah bangsa-bangsa. Seusai itu semua, dia pergi ke Tunisia lagi. Menetap di Kairo Pada tahun 784 H. Ibnu Khaldun berniat untuk menunaikan haji. Untuk maksud itu dia menempuh jalan laut. Setelah 40 hari perjalanan dia sampai di Alexandria, bertepatan dengan sepuluh hari setelah raja Zahir Barquq naih tahta di Mesir. Rupa-rupanya, dia tidak bisa meneruskan perjalanan haji pada tahun itu. Karena itu dia ganti haluan dan pergi ke Kairo. Di Kairo Ibnu Khaldun langsung diserbu oleh para penuntut ilmu. Dia menerima mengajar di Mesjid Jamik Al-Azhar, yang membuat namanya terus menanjak dan dihormati oleh sultan. Setelah beberapa waktu tinggal di Kairo Ibnu Khaldun mengirim surat kepada keluarganya agar datang ke Kairo. Tetapi sultan Tunisia tidak mengizinkannya. Dia masih berharap agar Ibnu khaldun kembali. Akhirnya sultan Barquq turun tangan dan mengirim permohonan sendiri kepada sultan Tunisia. Selanjutnya, Ibnu Khaldun diangkat menjadi guru di sekolah Al-Qamhiyah yang terletak di samping mesjid Amru bin Ash, lalu kadi mazhab Maliki. Ketika itu keluarganya mau datang dari Tunisia lewat jalan laut. Tetapi di tengah perjalanan kapal yang ditumpanginya tenggelam dihempas badai. Keluarga Ibnu Khaldun meninggal semuanya. Dia sedih sekali tertimpa musibah itu, hingga mengundurkan diri dari

15/11/107:15

sn

81 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

jabatannya. Tidak ada yang bisa menghibur dirinya kecuali menenggelamkan diri dalam lautan ilmu, mengajar, membaca dan menulis. Hasil karyanya: Ibnu Khaldun hanya sedikit meninggalkan karangan, yang paling terkenal adalah Al-‘Ibar wa diwanil Mubtada’ wal Khabar fi Ayyamil Arab wal Ajam wal Barbar. Wafatnya: Beliau meninggal dunia dan dikuburkan pada bulan Ramadan tahun 808 H. di Mesir.

15/11/107:15

sn

82 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

IBNU SINA (370 H.-428 H./980 M-1037 M.) Kelahiran dan pertumbuhannya: Nama lengkapnya adalah Husein bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina yang dijuluki dengan Abu Ali. Ibnu Sina lahir di desa Afsinah, sebuah desa yang berbatasan dengan kota Bukhara di Republik Ozbekistan. Dia dibesarkan di dalam keluarga yang stabil. Ayahnya berasal dari desa Balah kemudian pindah ke kota Bukhara di masa pemerintahan Amir Nuh bin Mansur. Dia bekerja di suatu ladang di suatu desa di Bukhara yang bernama Khormisin, akan tetapi dia tinggal di desa Afsinah, karena pertimbangan dekat dengan tempat kerjanya. Ayahnya mempunyai waktu dan fasilitas untuk mendidik dan mengajari Ibnu Sina dan saudara-saudaranya dengan baik sesuai dengan tingkat pendidikan anak di kala itu. Orang tuanya telah mencarikan guru Alquran dan sastra buat mereka. Ibnu sina berhasil menghafal Alquran dalam usia sepuluh tahun. Mencari Ilmu: Setelah Ibnu sina berhasil mempelajari banyak buku-buku sastra, orang tuanya mengirimnya kepada seorang guru untuk mengajarinya matematik, seterusnya fikih, metodologi penelitian dan apologi. Kemudian dia belajar ilmu Tasauf, mantik dan filsafat. Dia sangat pakar dalam bidang kedokteran dan terkenal ke mana-mana, sehingga para ilmuan kedokteran berdatangan belajar kepadanya. Ibnu Sina belajar dengan sungguh-sungguh siang malam. Malam membaca buku, siang belajar dari guru. Secara rutin, dia terus belajar fikih dan filsafat. Dalam mencari solusi suatu masalah, dia mempunyai cara tersendiri. Beliau berhasil menyelesaikan studinya dalam usia yang masih dini. Konon dikatakan bahwa dia berhasil menyelesaikan semua itu dalam usia enam belas atau delapan belas tahun. Popularitas dan Posisinya: Di waktu sang Raja, Nuh bin Mansur kena penyakit, para dokter merasa kebingungan mencari obatnya. Ketika itulah nama Ibnu Sina terdengar ke telinga sang raja, lalu beliau memanggilnya untuk ikut dalam tim medis yang akan mengobati sang raja. Ibnu Sina melakukan tugas yang dibebankan kepadanya tersebut dengan baik, sehingga sang raja pun sembuh. Setelah itu sang raja memberikan izin khusus kepadanya untuk masuk ke perpustakaan yang ada di istana. Ibnu Sina mengggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, di mana dia berhasil membaca semua buku yang ada di dalamnya, tanpa kecuali. Ibnu Sina mulai mengadakan pengembaraan, ketika Daulat Samaniah mulai mengalamai kekacauan. Pertama sekali dia berangkat ke Bukhara, kemudian ke Karkanang. Selama dalam perjalanan dia selalu memakai pakaian pakar fikih, sehingga sultan Khuwarazmi menerimanya dengan penuh hotmat. Setelah itu dia meneruskan pengembaraannya ke Jurjan, lalu ke Khurasan, kemudian berangkat lagi ke Dahastan. Pada akhirnya dia kembali ke Jurjan dan di kota itu dia berhasil bertemu dengan Syekh Jurjani. Di kota Jurjan, kedudukan Ibnu Sina cukup tinggi, dia sempat menduduki kursi menteri dua kali yaitu di masa Daulat Hamadan. Selama hidupnya Ibnu Sina tidak pernah berhenti membaca, menulis dan mengarang. Dia memberikan pelajaran kepada para santrinya di awal malam, sedangkan di pagi hari dia berangkat ke Kementerian. Hasil Karyanya: Hasil karya Ibnu Sina kurang lebih 250 buah, sebagian dalam bentuk buku, sebagian bentuk risalah dan yang lain dalam bentuk makalah, semuanya berkisar dalam bidang matematika, mantik, akhlak, fisika, kedokteran dan filsafah. Hasil karya Ibnu Sina yang paling terkenal adalah dalam bidang kedokteran. Dalam bidang ini beliau berhasil menyususn buku "Al Kanun" yang memuat analisanya yang begitu rinci dan detil, seperti hubungan antara rematik dengan beberapa penyakit paru-paru lainnya, peranan air dan debu dalam penularan penyakit, hubungan antara faktor kejiwaan dengan penyakit pisik serta beberapa sebab penyakit yang sangat langka. Buku "Al Kanun" tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropah dan dijadikan sebagai bahan kajian di berbagai perguruan tinggi secara terus

15/11/107:15

sn

83 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

menerus selama empat belas abad. Ibnu Sina juga mempunyai andil besar dalam bidang fisika seperti teemuat dalam bukunya As-syifa, An Najah dan Al Isyarah. Wafatnya: Walaupun Ibnu Sina sangat pakar dalam ilmu kedokteran, namun beliau kurang perhatian terhadap kesehatannya sendiri, sehingga dia sering sekali di timpa penyakit yang menyebabkan kondisi tubuhnya sangat lemah. Beliau meninggal dunia di Hamdan pada tahun 428 H./ 1037 M.

15/11/107:15

sn

84 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

IBNU RUSYD (520-595 H / 1128-1198 M) Nama lengkapnya Abul Walid, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd. Beliau lahir di Kordoba, di sebuah keluarga yang banyak berkecimpung di bidang fikih dan pekerjaan kadi (hakim). Ayahnya seorang kadi kerajaan pada masanya, dan kakeknya seorang ahli fikih dan ilmu-ilmu lain, serta mempunyai beberapa kajian tentang filsafat. Di bawah bimbingan para pakar di zamannya, Ibnu Rusyd mempelajari hampir semua bidang ilmu yang ada pada waktu itu. Dia mendapatkan ijazah di bidang fikih dan kedokteran. Menyenangi seni sastra dan syair Arab, baik yang Jahiliyah maupun Islam. Sempat ketemu dengan ilmuwan-ilmuwan besar pada zamannya, seperti Ibnu Thufail, Ibnu Bajah, dan Abu Bakar ibn ‘Arabi. Pindah ke Maroko sebelum mencapai usia tiga puluh tahun. Di sana beliau mendapatkan tempat di hati para pemimpinnya. Rendah hati, cerdas, dan berpendirian kuat. Pada saat namanya mencuat di hadapan para penguasa Mowahhid banyak orang yang iri dan mulai menghembuskan fitnah. Ibnu Rusyd kemudian dijatuhi tahanan rumah. Baru berakhir setelah satu tahun, setelah dinyatakan tidak bersalah. Ibnu Rusyd tidak lama hidup setelah terjadi bencana yang menimpa dirinya itu. Dia meninggal setahun kemudian. Jenazahnya dibawa ke Kordova dan dimakamkan di tempat penguburan nenek moyangnya, di taman pemakaman Ibnu Abbas. Meninggalkan karya-karya dalam bidang fikih, kedokteran, filsafat, ilmu falak, dan nahwu. Dan yang sampai kepada kita berjumlah 87 judul buku. Yang paling terkenal: o Tahafutut Tahafut (Kerancuan buku Tahafut) o Faslulmaqal fi ma bainal hikmati was syari‘ati minal Ittishal (Hubungan antara agama dengan filsafat) o Bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtashid (fikih perbandingan antar madzhab) o Penjelasan “Republika” Plato o Penjelasan pendapat-pendapat tentang masyarakat idaman o Manahijul Adillah (metodologi mempelajari akidah) o Pokok-pokok pikiran dalam ilmu kedokteran

15/11/107:15

sn

85 of 207

Kisah Sahabat
IBNU QOYYIM

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Nama lengkap Ibnu Qoyyim adalah Muhammad bin Abu Bakar bin Said bin Hariz Azzar'ie. Ia berasal dari Damsyik. Nama julukannya adalah syamsuddin. Nama sehari-harinya ia dipanggil "Abu Abdullah". Mengapa ia dipanggil Ibnu Qoyyim? Padahal dilihat dari nama sebenarnya ia tidak ada kaitan dengan nama Qoyyim. Persoalannya, ayahnya adalah seorang pendiri dan pengasuh perguruan "Al-Jauziyah"n, di daerah pasar gandum di kota Damsyik. Karena bapaknya adalah pendiri (qoyyim) perguruan tersebut, maka ia dipanggil dengan "Ibnu Qoyyim Al Jauziyah". Tapi singkatnya ia dipanggil "Ibnu Qoyyim". Ibnu Qoyyim dilahirkan di kota Damsyik (sekarang Damaskus) tahun 691 H (1292 M). Ia dibesarkan dalam keluarga ilmuwan. Kondisi askripsi ini dilimpahkan pada Ibnu Qoyyim, sehingga ia menjadi terkenal, lantaran situasi ketika ia dilahirkan dan dibesarkan, kota Damsyik tengah berada dalam keadaan puncak peradaban ilmu pengetahuan. Dan Islam merupakan bagian yang sangat internalized dalam setiap individu maupun masyarakatnya. Ilmu pengetahuan dan peradaban Islam sangat kental di kota Damsyik. Sehingga lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah bertebaran di mana-mana. Namun Ibnu Qoyyim menjadikan ayahnya sebagai gurunya langsung. Ia mendapat bimbingan dan pengarahan dari ayahnya sendiri. Luas ilmu yang dimiliki Ibnu Qoyyim karena sangat dipengaruhi oleh berbagai guru lain yang menjadi ulama terkenal seperti: Ahmad Ibnu Taimiyah, Ibnu Syirazi, dan lain-lain. Dengan demikian tidak mengherankan ia menjadi ulama yang kondang di abad ke-8 hijriyah. Fikiran-fikirannya sangat tajam dan cemerlang. Keistiqomahan sangat tercermin dalam tulisan-tulisan dan sikapnya terhadap fenomena-fenomena kemaksiatan yang ada. Ia melontarkan fikiran-fikirannya mengenai kemaksiatan dan dampak-dampaknya pada pribadi dan masyarakat. Pertama: Karena berbuat maksiat, maka seseorang akan terbiasa dengan kemaksiatan. Hal ini dapat dipahami dalam masyarakat. Seseorang pada awalnya merasa aneh dengan kemaksiatan yang ada di lingkungan. Kemudian, ia mencoba mencicipi buah terlarang (maksiat). Lama-kelamaan akan terdorong untuk melakukan tindakan maksiat berikutnya. akhirnya, tindakan coba-coba tersebut berakhir menjadi kebiasaan. Kemaksiatan (kesenangan semu) ini menjadi kebiasaan karena peranan syetan yang tidak henti-hentinya mengganggu manusia untuk menjadi abdi mereka. Kedua: Karena melakukan perbuatan maksiat, seseorang kehilangan rasa malu. rasa malu merupakan cerminan pribadi manusia. Bila manusia sudah kehilangan rasa malu, pandangan, hati dan pendengarannya seakan-akan tertutup dari kebenaran. Dengan demikian ketiadaan rasa malu pada diri manusia digambarkan sebagai tanpa rasa. karsa dan karya yang bersifat kemanusiaan. Ibnu Qoyyim tidak melepaskan dirinya dari proses belajar dan mengjar (bima tu'allimu nal kitab wa bima kuntum tadrusun). Ia mengajar di perguruan Al Jauziyah, milik ayahnya. Profesi gurunya ia tekuni meskipun ia sudah menjadi ulama termasyhur dan disegani. Murid-muridnya banyak sekali. Muridnya yang turut muncul ke permukaan anatar lain Ibnu Katsir. Keulamaannya sangat tercermin dengan sikap hidupnya yang bisa menjadi teladan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Begitu juga di sela-sela waktunya sebagai pendidik dan tokoh referensi keagamaan masyarakat, ia tidak melupakan diri untuk mengkonstruksikan fikiran-fikirannya dalam bentuk buku. Sejak kecil, Ibnu Qoyyim sudah nampak bakat intelektualitas dan keulamaannya. Ia giat belajar, terbuka sifat pribadinya, rendah hatinya, tenang penampilannya, disenangi sikap dan kearifan

15/11/107:15

sn

86 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

fikirannya oleh masyarakat, tegar ucapannya walaupun harus menghadapi resiko. Sifat-sifat tersebut terkumpul dalam perilaunya dan turut pula menshibghah kebudayaan dan pengetahuan yang ada. Kepribadian dan prilakunya yang menarik dan menonjol tersebut lantaran ia begitu sulit melepaskan diri dari Qurän dan Hadits. Setelah ia menghafal Al-Qurän secara sempurna, dilanjutkan dengan menhafal Hadits. Ia pun menjadikan sastra dan bahasa sebagai pusat perhatiannya. Kompleksitas pengetahuan dalam dirinya didukung oleh manhaj yang tertata dengan baik, tercermin dalam kajian, fikiran dalam buku-bukunya. ia begitu sabar, sistematik dan teliti uraiannya, pembahasannya luas dan mendalam. Dengan demikian, tulisannya terasa tersuguhkan dengan lengkap, serasi dan berkesinambungan. Karena itu, tidak mengherankan bila seorang doktor dari Al Azhar yakni Al Ustadz Husaini Ali Ridwan membahas secara khusus mengenai tulisan Ibnu Qoyyim. [Majalah Sabili No. 33 Tahun II Januari 1991]

15/11/107:15

sn

87 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

IBNU YUNUS (Meninggal tahun: 399 H./1009 M.) Lahir dan perkembangannya: Nama langkapnya adalah Abul Hasan, Abdurrahman bin Ahmad bin Yunus bin Abdul A‘la. Lahir di Mesir dari kalangan keluarga yang terkenal menaruh intens terhadap ilmu pengetahuan. Kakeknya, Yunus adalah salah seorang sahabat Imam Syafii rahimahullah, sedang ayahnya adalah ahli sejarah tersohor dan ulama paling besar di Mesir. Ibn Yunus sudah menuntut ilmu sejak kecil. Karena menonjol dalam ilmu falak dia didorong oleh Aziz billah Al-Fathimi dan anaknya, Hakim bi Amrillah untuk mengkaji ilmu falak dan matematika. Untuknya dibangun sebuah peneropong bintang di puncak bukit Muqattam, dekat Kairo, lengkap dengan alatalatnya. Ibn Yunus berhasil meneropong gerhana matahari dan bulan yang terjadi pada tahun 368 H./978 M. Dalam peneropongan itu, Ibn Yunus mendapatkan masukan yang sama dengan pendapat ahli falak Bagdad. Hasil-hasil peneropongannya merupakan hasil peneropongan pertama yang tercatat secara ilmiah dan sangat teliti. Karena itu hasil karyanya banyak dipakai sebagai rujukan bagi peneliti yang datang kemudian. Karyanya yang paling penting: Meneropong gerhana matahari pada tahun 368 H. / 977 M. dan tahun 369 H./978 M. Dua gerhana matahari pertama yang tercatat secara ilmiah dengan penuh ketelitian. Membuktikan bahwa gerakan bulan terus bertambah cepat. Membetulkan condong lingkaran zodiak dan sudut pandangan mata terhadap matahari, serta mengambil inisiatif dalam penentuan garis ekuinoks. Memecahkan banyak permasalahan pelik dalam astrometri. Ilmuwan yang pertama memikirkan tentang penghitungan busur secunder sekaligus membuat kaedahnya secara sederhana tanpa harus menggunakan akar dan kepangkatan. Punya andil dalam pemisahan trigonometri dari ilmu falak. Membuat daftar tangen dan kotangen. Menemukan cara baru yang memudahkan semua proses hitung-menghitung. Karyanya yang terpenting adalah penemuan bandul. Ibnu Yunus menghabiskan umurnya dalam meneliti dan meneropong gerakan benda-benda langit. Ibnu Yunus meninggalkan sejumlah karangan dalam bidang Ilmu Falak dan Matematika, yang paling penting adalah: * Al-Zij al-Hakimi. * Zill (Kotangen)

* Ghayat al-intifa‘ * Al-Mail (Condong) * Al-Ta‘dil al-Muhkam (Perubahan cermat) * Al-Raqqash (Bandul) * Sejarah tokoh-tokoh Mesir.

15/11/107:15

sn

88 of 207

Kisah Sahabat
IKRIMAH bin ABU JAHL

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ikrimah bin Abu Jahl akan datang ke tengah-tengah anda sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah anda memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup, padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal." Demikian, Rasulullah SAW berpesan kepada kaum Muslimin berkaitan dengan ke-Islaman Ikrimah bin Abu Jahl. Ikrimah berusia 30 tahun ketika Rasulullah SAW mulai menyampaikan da'wah Islam secara terbuka. Ia adalah seorang bangsawan Quraisy yang dihormati, kaya, dan berasal dari keturunan darah biru. Kalaulah tidak terhalang oleh sikap ayahnya yang sangat keras menentang Islam, agaknya ia telah masuk Islam lebih awal, sebagaimana putra-putra Mekkah yang berpandangan luas dan maju, seperti Saad bin Abi Waqash dan Mus'ab bin Umair. Ikrimah dikenal sebagai pemuda Quraisy yang gagah berani dan sebagai penunggang kuda yang sangat mahir dalam peperangan. Ia memusuhi Rasulullah hanya karena didorong oleh sikap kepemimpinan bapaknya yang sangat keras memusuhi Rasulullah. Karena itu, ia turut memusuhi beliau lebih keras dan menganiaya para shahabat lebih keras, kejam, dan bengis, untuk menyenangkan hati ayahnya. Sejak kematian ayahnya dalam Perang Badar, pandangan sikap Ikrimah terhadap kaum Muslimin berubah. Kalau dulu ia memusuhi kaum Muslimin lantaran untuk menyenangkan hati ayahnya, maka sekarang ia memusuhi Rasulullah SAW dan para shahabatnya karena dendam atas kematian ayahnya. Dan dendam itu ia lampiaskan dalam Perang Uhud. Ketika Perang Khandaq meletus, kaum Musyrikin Quraisy mengepung kota Madinah selama berhari-hari. Ikrimah bin Abu Jahl tak sabar dengan pengepungan yang membosankan itu. Lalu ia nekad menyerbu benteng kaum Muslimin. Usahanya sia-sia, bahkan merugikannya hingga ia lari terbirit-birit di bawah hujan panah kaum Muslimin. Ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah), kaum Quraisy memutuskan tidak akan menghalangi Rasulullah dan para shahabatnya masuk kota Mekkah. Tapi Ikrimah dan beberapa orang pengikutnya tak mengindahkan keputusan itu. Mereka menyerang pasukan besar kaum Muslimin. Namun, serangan itu dapat dipatahkan oleh Panglima Khalid bin Walid. Ikrimah melarikan diri ke Yaman lantaran takut dihukum mati oleh Rasulullah. Ummu Hakim, istri Ikrimah, menemui Rasulullah SAW untuk meminta grasi. Rasulullah memenuhi permohonan itu. Maka Ummu Hakim pun berangkat menyusul Ikrimah. Setelah bertemu dengan Ikrimah di tempat pengasingannya, Ummu Hakim membujuk suaminya agar mau kembali ke Mekkah. Ummu Hakim juga mengabarkan bahwa Rasulullah SAW telah mengampuni dan memaafkannya. Ketika Ikrimah dan istrinya hampir tiba di kota Mekkah, Rasulullah SAW berkata kepada para shahabatnya, "Ikrimah bin Abu Jahl akan datang ke tengah-tengah anda sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah anda memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup, padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal." Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah SAW, beliau menyambutnya dengan sangat gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah duduk pula di hadapan beliau dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda ke-Islamannya. Setelah itu, Ikrimah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya yang telah lalu. Rasulullah pun memenuhi permintaan Ikrimah itu.

15/11/107:15

sn

89 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Maka wajah Ikrimah pun berseri-seri. Kemudian ia berkata, "Demi Allah, ya Rasulullah! Tak satu sen pun dana yang telah saya keluarkan untuk memberantas agama Allah di masa lalu, melainkan mulai saat ini akan saya tebus dengan dengan mengorbankan hartaku berlipat ganda untuk menegakkan agama Allah. Dan tak seorang pun kaum Muslimin yang telah gugur di tanganku, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin berlipat ganda, demi untuk menegakkan agama Allah." Sejak itu, Ikrimah menggabungkan diri ke dalam barisan da'wah sebagai anggota pasukan berkuda yang cekatan dan gagah berani di medan perang. Disamping itu, Ikrimah juga menjadi seorang ahli ibadah dan pembaca Al-Qur'an yang tekun di masjid. [masjid_annahl]

15/11/107:15

sn

90 of 207

Kisah Sahabat
IMAM AL-TIRMIDZI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ahli hadits bermata buta tapi mampu mengintegrasikan hadits dengan fiqh Nama Imam al-Tirmidzi amat panjang, yakni Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin alDhahhak al-Sulami al-Dharir al-Bughi al-Tirmidzi. Beliau dilahirkan pada tahun 209 H di desa Tirmidz, sebuah kota kuno yang terletak di pinggiran sungai Jihon (Amoderia), sebelah utara Iran. Imam al-Tirmidzi merupakan figur yang cerdas, tangkas, cepat hafal, zuhud, juga wara'. Sebagai bukti kerendahan pribadi, beliau senantiasa mencucurkan air mata, sehingga kedua bola matanya memutih yang berdampak kebutaan pada masa tuanya. Dengan adanya musibah kebutaan inilah beliau juga disebut al-Dharir (yang buta). Tentang sejak kapan terjadinya musibah kebutaan kedua mata Imam al-Tirmidzi, banyak terjadi silang pendapat. Ada sebagian yang menyatakan beliau buta sejak lahir, sementara ulama yang lain menyatakan ketika usianya mulai senja. Tapi mayoritas ulama sepakat, beliau tidak buta sejak lahir, melainkan musibah itu datang belakangan. Yusuf bin Ahmad al-Baghdadi menuturkan, “Abu Isa mengalami kebutaan pada masa menjelang akhir usianya.” Pengembaraan Ilmiah Sejak usia dini, Tirmidzi sudah gemar mempelajari dan mengkaji berbagai disiplin ilmu keislaman, baik fiqh maupun hadits. Dalam rangka mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu inilah, beliau harus mengembara ke berbagai wilayah Islam. Tirmidzi tercatat pernah mengembara ke Khurasan, Iraq, dan Hijaz. Ada sebuah asumsi yang menyatakan, beliau tidak pernah singgah di Baghdad. Seandainya beliau pernah singgah di sana, niscaya beliau akan berguru pada Sayyid al-Muhadditsin Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241) H). Dan sejarah tidak mencatat bahwa Imam al-Tirmidzi pernah mengambil hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam lawatannya itu, Tirmidzi banyak mengunjungi ulama-ulama besar untuk mendengar hadits yang kemudian dihafal dan dicatat untuk kemudian dikumpulkan dalam sebuah kitab yang tersusun secara sistematis. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakan secara efektif. Selama perjalanan pengembaraannya, Imam al-tirmidzi belajar dari banyak guru. Di antaranya: Ziyad bin Yahya al-Hassani (wafat 254 H), Abbas bin Abd al-`Adhim al-Anbari (w 246), Abu Said al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi (w 257), Abu Hafsh Amr bin Ali al-Fallas (w 249), Ya`qub bin Ibrahim alDauraqi (w 252), Muhammad bin Ma`mar al-Qoisi al-Bahrani (w 256), dan Nashr bin Ali al-Jahdhami (w 250 H). Imam-imam di atas, selain tercatat sebagai guru-guru Imam al-Tirmidzi, juga tercatat sebagai guru Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam al-Nasai, dan Imam Ibn Majah. Dan hanya sembilan guru inilah yang masing-masing menjadi guru Imam Hadits yang enam. Selain berguru kepada imam di atas, Imam al-Tirmidzi sebelumnya juga memiliki beberapa guru, antara lain; Abdullah bin Muawiyah al-Jumahi (w 243), Ali bin Hujr al-Marwazi (w 244), Suwaid bin Nashr bin Suwaih al-Marwazi (w 240), Qutaibah bin Said al-Tsaqafi Abu Raja (w 240), Abu Mush`ab Ahmad bin Abi Bakr al-Zuhri al-Madani (w 242), Muhammad bin Abdul al-Malik bin Abi al-Syawarib (w 244), Ibrahim bin Abdullah bin Hatim al-Harawi (w 244), dan Ismail bin Musa al-Fazari al-Suddi (w 245). Tirmidzi juga belajar kepada Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud. Murid-murid Imam al-Tirmidzi Karena kehebatannya dalam disiplin ilmu hadits, tak pelak lagi, banyak orang yang ingin menyerap dan mengkaji kedalaman pengetahuannya dengan menjadi muridnya. Mereka yang tercatat mengambil hadits dari Imam al-Tirmidzi di antaranya: Makhul bin al Afdhal, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Abd bin muhammad al-Nafsiyyun, al-Haisam bin Kulaib al-Syasyi, dan Ahmad bin Yusuf alNasafi. Dan yang terpenting adalah Abi al-Abbas al-Mahbubi Muhammad bin Ahmad bin Mahbub alMarwazi (w 346) yang meriwayatkan karya terbesar Imam al-Tirmidzi, Jami' al-Tirmidzi. Imam al-Tirmidzi merupakan sosok manusia yang shalih, taqwa, wara', zuhud, dan yang tak kalah pentingnya, kekuatan hafalannya diakui oleh para ulama. Abdurrahman bin Muhammad al-Idrisi menuturkan, “Muhammad bin Isa bin Saurah al-Tirmidzi al-Dharir adalah seorang imam dalam ilmu

15/11/107:15

sn

91 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

hadits yang pendapatnya banyak dirujuk para ulama. Beliau mengarang kitab al-Jami', al-Tawarikh (sejarah), dan al-UIlal. Sosok yang alim lagi brilian (cemerlang) ini diakui kekuatan hafalannya.” Al-Hakim Abu Ahmad menukil dari gurunya, Ahmad, “Ketika Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari meninggal, ia tidak meninggalkan seorang ulama yang menjadi penggantinya di Khurasan selain Imam alTirmidzi yang dalam pengetahuannya, luhur dalam ke-wara'-an dan kezuhudan. Imam al-Tirmidzi senantiasa menangis sehingga beliau menjadi buta pada tahun-tahun terakhir.” Abu Ya'la al-Khalili pernah menuturkan bahwa Tirmidzi merupakan figur penghafal dan ahli hadits yang mumpuni dan telah diakui oleh para ulama. Beliau mempunyai kitab al-Jami' dan al-Jarh wa al-TaUdil. Ia dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya, dan sebagai ulama yang menjadi panutan, serta berpengetahuan luas. Kitab Jami'-nya al-Tirmidzi merupakan bukti nyata atas keagungan reputasinya tentang hadits. Semua ini membuktikan bahwa sosok Tirmidzi memang pantas mendapat sanjungan. Namun demikian, ternyata ada sementara ulama yang menganggap bahwa Imam al-Tirmidzi merupakan sosok yang tidak diketahui asal-muasal dan jatidirinya (majhul al-hal), sehingga --secara otomatis-- periwayatannya ditolak begitu saja. Pandangan seperti inilah yang antara lain dilontarkan Imam Ibn Hazm al-Dhahiri. Statemen Ibn Hazm al-Dhahiri yang cukup kontroversial dan bertolak belakang dengan pandangan mayoritas ulama ini telah membuat geger, terutama di lingkungan ulama hadits. Bahkan Ibn Hazm banyak mendapat kecaman, antara lain datang dari Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Tahdzib alTahdzib. Dalam kitab itu sikap Ibn Hazm al-Dhahiri dianggap sebagai satu wujud kesombongan terhadap kedudukan para ulama yang telah masyur. Imam al-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, mengatakan, “Al-Tirmidzi adalah alhafidh (ahli hadits) yang kondang, penulis kitab al-Jami' terpercaya dan disepakati periwayatannya.” Sedangkan pandangan Ibn Hazm al-Dhahiri tentang kemajhulan Tirmidzi disebabkan ia tidak mengenal dan mengetahui pribadi Tirmidzi beserta hasil-hasil karyanya, seperti al-Jami' dan al- Ilal. Sementara itu, Ibn Katsir dalam karyanya al-Bidayah wa al-Nihayah menuturkan, “Pandangan Ibn Hazm tentang kemajhulan al-Tirmidzi tidak akan mengurangi keunggulannya. Sikap ini tidak akan merendahkan pribadi al-Tirmidzi di kalangan para ulama. Bahkan sebaliknya akan menurunkan derajat Ibn Hazm sendiri dalam pandangan para ulama.” Komentar ulama Sebagai ulama yang berpengetahuan luas, Imam al-Tirmidzi telah berhasil menyusun beberapa buah kitab, antara lain: al-Jami' al-Shahih (Jami al-Tirmidzi atau Sunan al-Tirmidzi), al-Syamail alNabawiyyah, al-UIlal, al-Tarikh, al-Zuhd, al-Asma wa al-Kuna. Karya Imam al-Tirmidzi yang sangat monumental adalah kitab al-Jami al-Shahih atau Jami al-Tirmidzi, ada juga yang menyebutnya Sunan al-Tirmidzi. Namun, tampaknya para ulama lebih banyak menggunakan istilah al-Jami' ketimbang Sunan. Banyak komentar ulama yang mengagungkan karya besar Imam alTirmidzi ini. Al-Hafidh Abu al-Fadhl al-Maqdisi mengatakan, “Aku mendengar Imam abu Ismail Abdullah bin Muhammad al-Anshari berkata `Menurutku, kitab Jami' al-Tirmidzi lebih bermanfaat ketimbang kitab Shahih karya al-Bukhari dan Muslim, karena kedua kitab Shahih karya al-Bukhari dan Muslim ini kurang dapat dipahami kecuali oleh orang yang mempunyai pengetahuan mendalam. Sementara kitab Jami' al-Tirmidzi dapat bermanfaat bagi semua orang, karena ia sekaligus mensyarahi (menjelaskan) maksud dari hadis-per hadis.“Abu Ali Manshur bin Abdullah al-Khalidi menuturkan bahwa al-Tirmidzi berkata, “Setelah selesai disusun, kitab ini aku perlihatkan kepada ulama-ulama Hijaz, Iraq dan Khurasan. Mereka semua menerimanya. Maka siapa yang menyimpan kitabku ini di rumahnya, seolah-olah di dalam rumah itu ada seorang Nabi yang selalu berbicara.” Al Hafidh Ibn al-Katsir menuturkan, “Ini adalah kitab Imam al-Tirmidzi yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya, paling bagus susunannya, dan paling sedikit pengulangannya. Di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak dijumpai di dalam kitab lain, berupa penyebutan mazhab-mazhab, segi-segi pengambilan dalil (istidlal), dan macam-macam hadits dari yang shahih, hasan, dan gharib. Di dalamnya juga dijelaskan tentang jarh dan ta'dil (evaluasi negatif dan positif atas rawi-rawi hadits).”

15/11/107:15

sn

92 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

komentar-komentar ulama di atas itu cukup untuk dijadikan sebagai bukti tentang keunggulan karya Imam al-Tirmidzi ini. Ada juga sebagian ulama yang mengkritik beberapa hadits yang dicantumkan oleh al-Tirmidzi dalam kitabnya itu dengan alasan bahwa hadits-hadits itu palsu. Kritikan seperti ini pernah dilontarkan oleh ahli hadits Imam Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu'at. Kritikan serupa juga pernah dilontarkan oleh Imam Ibn Taimiyah beserta muridnya, Imam al-Dhahabi. Hadits yang diduga palsu sebanyak 30 buah. Hanya saja, vonis palsu yang dialamatkan padanya telah disanggah dan ditepis oleh Jalal al-Din al-Suyuti, seorang pakar hadits dari Mesir yang hidup pada abad IX H. Kiranya perlu kita ketahui bersama bahwa hadits-hadits yang dikritik karena diduga palsu hanyalah hadits yang menyangkut fadlail al-a'mal (keutamaan amal). Apabila pengkritik memandangnya sebagai hadits palsu, maka Imam al-Tirmidzi sendiri tidak memandang demikian. Sebab, hampir semua ahli hadits, termasuk Imam al-Tirmidzi, tidak mau meriwayatkan hadits palsu yang telah diketahui kepalsuannya secara nyata. Integrasi HadiTs-Fiqih Sebelum munculnya Imam al-Tirmidzi, kualifikasi Hadis hanya terbagi menjadi Hadits Shahih dan Hadits Dhaif. Shahih adalah hadits yang antara lain diriwayatkan oleh rawi yang kuat hafalannya (dhabith), dan wajib diterima guna diamalkan. Sementara dhaif merupakan hadits yang antara lain diterima dari rawi yang mempunyai daya ingat lemah, dan periwayatannya harus ditinggalkan. Dari sini, Imam al-Tirmidzi mempunyai pemikiran yang sangat brilian. Ketika suatu hadits diriwayatkan oleh rawi yang standar hafalannya di bawah rawi Hadits Shahih, namun masih unggul dibanding rawi Hadits Dhaif sehingga hafalannya dapat disebut `tidak kuat sekali, namun lemahpun tidak`, maka beliau mengkatagorikan periwayatan seperti ini kepada tingkat hasan. Oleh karenanya, Imam al-Tirmidzi-lah orang yang sangat berperan membagi hadits menjadi shahih, hasan, dan dhaif. Sebelum beliau tidak seorang ulamapun yang menyinggung-nyinggung tentang istilah hadits hasan. Dan ungkapan ini banyak sekali kita temukan dalam karya besar beliau. Peran Imam al-Tirmidzi yang lain yang juga sangat penting adalah penyatuan antara paradigma hadits dan fiqh dalam satu kitab. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, sebagaimana kita ketahui, tidak menjadikan kitabnya sebagai ajang perbandingan antara berbagai mazhab fiqh. Kedua Imam Hadits itu hanya mencantumkan hadits-hadits semata, tanpa sedikitpun memberikan pen-syarah-an, apalagi menukil berbagai pendapat Imam mazhab. Berbeda dengan Imam al-Tirmidzi yang mengintegrasikan antara hadits dan fiqh. Hal inilah yang menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara kitab Jami' alTirmidzi dengan kitab-kitab hadits yang lain. Kalau kita lihat, kitab Jami' al-Tirmidzi selalu menampilkan perbandingan pendapat antarmazhab. Perbandingan ini selalu di-bareng-kan tatkala beliau menuliskan sebuah hadits. Bahkan, karena banyaknya memuat perbandingan fiqh, kitab al-Tirmidzi ini nyaris terkesan sebagai kitab fiqh, bukan kitab hadits. Statemen seperti ini tidaklah berlebihan, mengingat setiap hadits selalu diperjelas melalui metode pemikiran fiqh. Namun demikian, bukan berarti al-Tirmidzi merupakan figur sektarian, berpegang pada salah satu mazhab sebagaimana disalah pahami oleh sebagian ulama Mazhab Hanafi di mana beliau dianggap sebagai pengikut Mazhab Syafi'i. Semua itu merupakan pandangan yang keliru, karena beliau tidak terikat sedikitpun oleh salah satu mazhab, baik Hanafi, Maliki, Syafi'i, maupun Hambali. Beliau merupakan tokoh ynag hanya mengikuti Sunah-sunah Nabi saw, seorang mujtahid yang tidak ber-taqlid (mengikut) kepada siapapun. Ketidakberpihakan Imam al-Tirmidzi pada salah satu pemikiran mazhab fiqh ini dapat dipahami dengan tidak adanya unsur pengunggulan terhadap salah satu pandangan mazhab di dalam kitabnya. Seandainya beliau berafiliasi pada Mazhab Syafi'i, niscaya beliau akan mendominasikan pandangan-pandangan Imam Syafi'i dalam karyanya. Begitu juga kalau beliau bermazhab Hanafi, Maliki, atau Hambali. Tapi ternyata hal seperti ini tidak pernah dilakukannya. Bahkan terkadang pandangan-pandangan mereka (para Imam Mazhab) juga mendapat kritikan dari al-Tirmidzi. Ini merupakan salah satu bukti bahwa pandangan beliau tidak sektarian. Tutup Usia

15/11/107:15

sn

93 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kapan tepatnya Imam al-Tirmidzi meninggal dunia. Al-Sam'ani dalam kitabnya al-Ansab menuturkan bahwa beliau wafat di desa Bugh pada tahun 275 H. Pendapat ini diikuti oleh Ibn Khallikan. Sementara yang lain mengatakan beliau wafat pada tahun 277 H. Sedangkan pendapat yang benar adalah sebagaimana dinukil oleh al-hafidh al-Mizzi dalam alTahdzib dari al-Hafidh Abu al-Abbas Ja'far bin Muhammad bin al-Mu'taz al-Mustaghfiri yang mengatakan “Abu Isa al-Tirmidzi wafat di daerah Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab 279 H. Beliau wafat pada usia 70 tahun dan dimakamkan di Uzbekistan.“ Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah Swt menerima segala jerih payah beliau dalam menyebarluaskan Sunnah-sunnah Nabi saw. (Prof KH Ali Mustofa Yaqub, MA)

15/11/107:15

sn

94 of 207

Kisah Sahabat
IMAM BUKHORI

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Sumber dari segala sumber hukum yang utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Selain sebagai sumber hukum, Al-Qur'an dan As-Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang universal. Isyarat sampai kepada ilmu yg mutakhir telah tercantum di dalamnya. Oleh karenanya siapa yang ingin mendalaminya, maka tidak akan ada habis-habisnya keajaibannya. Untuk mengetahui As-Sunnah atau hadits-hadits Nabi, maka salah satu dari beberapa bagian penting yang tidak kalah menariknya untuk diketahui adalah mengetahui profil atau sejarah orang-orang yang mengumpulkan hadits, yang dengan jasa-jasa mereka kita yang hidup pada jaman sekarang ini dapat dengan mudah memperoleh sumber hukum secara lengkap dan sistematis serta dapat melaksanakan atau meneladani kehidupan Rasulullah untuk beribadah seperti yang dicontohkannya. Abad ketiga Hijriah merupakan kurun waktu terbaik untuk menyusun atau menghimpun Hadits Nabi di dunia Islam. waktu itulah hidup enam penghimpun ternama Hadits Sahih yaitu: o Imam Bukhari o Imam Muslim o Imam Abu Daud o Imam Tirmizi o Imam Nasa'i o Imam Ibn Majah Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu'minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja'fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Karena itulah ia dikatakan "al-Mughirah al-Jafi." Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir. Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara' (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan takwa. Diceritakan, bahwa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: "Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun uang yang haram maupun yang subhat." Dengan demikian, jelaslah bahwa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara'. Tidak heran jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu. Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum'at. Tak lama setelah bayi yang baru lahir itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menangis dan selalu berdo'a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata: "Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do'amu yang tiada hentihentinya." Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididikl oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian. Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadits. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran dan berdiskusi

15/11/107:15

sn

95 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra'yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya. Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma karena tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua karena Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat. Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebagian karyakaryanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami'as-Sahih dan pendahuluannya. Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya memberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahwa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya. Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahwa ia pernah berkata: "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits." Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya karena menetap di negeri Khurasan. Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadits-hadits dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbuatan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadits dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadits sebanyak itu lengkap dengan sumbernya. Kemasyuran Imam Bukhari segera mencapai bagian dunia Islam yang jauh, dan kemanapun ia pergi selalu di elu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatanya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya. Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Sahih Muslim menceritakan: "Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadits secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya." Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahwa "Al-

15/11/107:15

sn

96 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Qur'an adalah makhluk." Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: "Barang siapa berpendapat lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orangorang mulai menjauhinya. Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadzlafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'a." Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata: "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akherat kelak, insya Allah." Demikian juga ia pernah berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz AlQur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta." Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: "Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini." Oleh karena Imam Bukhari berpendapat bahwa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut. Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besarbesaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menaburnaburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majelis pengajian dan pengajaran hadits. Tetapi kemudian badai fitnah datang lagi. Kali ini badai itu datang dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami' al-Sahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahwa "Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majelis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alasan di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahwa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu." Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alasan untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara. Imam Bukhari, kemudian mendo'akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara. Imam Bukhari tidak saja mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya tulisnya yang terpenting, Sahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo'a sebelum menulis buku itu. Sebagian buku tersebut ditulisnya di samping makan Nabi di Madinah.

15/11/107:15

sn

97 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadits muridnya ini: "Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana." Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya. Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahwa dia menyatakan: "Aku menulis hadits yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadits dan berpendirian bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan." Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma'in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang haditsnya diriwayatkan dalam kitab Sahih-nya sebanyak 289 orang guru. Karena kemasyurannya sebagai seorang alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan mendengar langsung haditsnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahwa kitab Sahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmizi, Nasa'i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma'qil alNasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyur sebagai perawi kitab Sahih Bukhari. Dalam bidang kekuatan hafalan, ketajaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadits, juga dalam bidang ilat-ilat hadits, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadits lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari berkata: "Saya hafal hadits di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadits sahih, dan 200.000 hadits yang tidak sahih." Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadits di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadits, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadits ini diberi sanad hadits lain dan sanad hadits lain dibuat untuk matan hadits yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadits yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadits kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadits, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: "Saya tidak tahu hadits yang Anda sebutkan ini." Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahwa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: "Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya." Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: "Hadits pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadits kedua isnadnya yang benar adalah beginii" Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan

15/11/107:15

sn

98 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

sepuluh hadits. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu haditshadits yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai "Imam" dalam bidang hadits. Sebagian hadirin memberikan komentar terhadap "uji coba kemampuan" yang menegangkan ini, ia berkata: "Yang mengagumkan, bukanlah karena Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadits yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali."Jadi banyak pemirsa yang heran dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadits secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa. Imam Bukhari pernah berkata: "Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi'in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadits sahabat dan tabi'in, yakni hadits-hadits mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW." Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa'id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : "Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadits dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma'il al-Bukhari." Imam al-A'immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: "Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadits, yang melebihi Muhammad bin Isma'il." Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: "Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma'il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Irak yang melebihi kealimannya." Al-Hakim menceritakan, dengan sanad lengkap. Bahwa Muslim (pengarang kitab Sahih), datang kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: "Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadits dan dokter ahli penyakit (ilat) hadits." Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: "Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi." Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: "Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal." Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: "Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya." Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: "Haditsnya diingkari."

15/11/107:15

sn

99 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadits yang diriwayatkan seseorang hanya karena orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ia berkata: "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan." Selain dikenal sebagai ahli hadits, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada derajat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi'i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan 'Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadits yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadits, bukan sebagai ahli fiqh. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Dinul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahwa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka. Diantara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut : o Al-Jami' as-Sahih (Sahih Bukhari). o Al-Adab al-Mufrad. o At-Tarikh as-Sagir. o At-Tarikh al-Awsat. o At-Tarikh al-Kabir. o At-Tafsir al-Kabir. o Al-Musnad al-Kabir. o Kitab al-'Ilal. o Raf'ul-Yadain fis-Salah. o Birril-Walidain. o Kitab al-Asyribah. o Al-Qira'ah Khalf al-Imam. o Kitab ad-Du'afa. o Asami as-Sahabah. Kitab al-Kuna. Sekilas Tentang Kitab AL-JAMI' AS-SAHIH (Sahih Bukhari) Diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' as-Sahih." Dalam menghimpun hadits-hadits sahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan kesahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling sahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al-Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun." Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini

15/11/107:15

sn

100 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahwa ia mendengar Muhammad bin Isma'il al-Bukhari berkata: "Aku susun kitab Al-Jami' as-Sahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadits pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar sahih." Maksud pernyataan itu ialah bahwa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadits-hadits dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun. Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Karenanya tidak mengherankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai "Buku Hadits Nabi yang Paling Sahih." Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari berkata: "Tidaklah kumasukkan ke dalam kitab Al-Jami'as-Sahih ini kecuali hadits-hadits yang sahih; dan kutinggalkan banyak hadits sahih karena khawatir membosankan." Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahwa Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab, seperti hadits mutabi dan hadits syahid, dan hadits-hadits yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi'in. Jumlah Hadits Kitab Al-Jami'as-Sahih (Sahih Bukhari) Al-'Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahwa jumlah hadits Sahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-"Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib. Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Sahih Bukhari, menyebutkan, bahwa semua hadits sahih mawsil yang termuat dalam Sahih Bukhari tanpa hadits yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadits. Sedangkan matan hadits yang mu'alaq namun marfu', yakni hadits sahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambungmenyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadits. Semua hadits Sahih Bukhari termasuk hadits yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu'alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi' sebanyak 344 buah hadits. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadits. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi'in dan ulama-ulama sesudahnya.

15/11/107:15

sn

101 of 207

Kisah Sahabat
IMAM MUSLIM

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ulama dengan 300.000 hadits di kepalanya Keharuman namanya tak akan pernah hilang sepanjang zaman. Dalam setiap ceramah, hampir semua ustadz selalu mengutip karya-karyanya. Beliau adalah ulama kenamaan, terutama dalam bidang dan ilmu hadits. Nama lengkap berikut silsilahnya adalah Imam Abu al-Husain Muslim bin Muslim bin Kausyaz alQusyairi al-Naisaburi. Lahir tahun 204 H/ 820 M atau menurut riwayat lain 206 H/ 822 M. Beliau dinisbahkan kepada nenek moyangnya, Qusyair bin Ka'ab bin Rabiah bin Sha'sha'ah, suatu keluarga bangsawan besar di wilayah Arab. Di samping (penisbahan) kepada Qusyair, beliau juga dinisbahkan kepada Naisapur. Hal ini karena beliau putera kelahiran Naisapur, yakni kota kecil di Iran bagian timur laut. Pengembaraan Semenjak berusia kanak-kanak, Imam Muslim telah rajin menuntut ilmu. Didukung kecerdasan luar biasa, kekuatan ingatan, kemauan yang membaja, dan ketekunan yang mengagumkan, konon ketika berusia 10 tahun, beliau telah hafal al-Qur'an seutuhnya serta ribuan hadits berikut sanadnya. Sungguh prestasi yang teramat mengagumkan. Seperti halnya Imam al-Bukhari, Imam Muslim juga mengadakan pengembaraan intelektual ke berbagai negeri Islam, seperti Hijaz, Iraq, Syam, Mesir, Baghdad, dan lain-lain guna memburu hadits dan berguru pada ulama-ulama kenamaan. Beliau telah mengunjungi hampir seluruh pusat pengkajian hadits yang ada pada saat itu, bahkan terkadang dilakukannya berkali-kali, seperti ke Baghdad. Semua ini merupakan bukti konkret bahwa perhatian Imam Muslim terhadap peninggalan Nabi saw yang monumental ini sangat besar. Pengembaraan perdananya dimulai ke Makkah pada tahun 220 H sekaligus menunaikan ibadah haji. Kemudian pada tahun 230 H beliau melakukan pengembaraan intelektual yang secara spesifik untuk kepentingan hadits. Sedang lawatannya yang terakhir terjadi pada tahun 259 H ke Baghdad saat usianya mencapai 53 tahun. Dalam pengembaraannya itu, beliau tidak mengenal usia. Semenjak usia yang relatif masih sangat muda sampai berusia senja, beliau tidak pernah berhenti apalagi putus asa dalam pengembaraannya mengejar dan memburu Hadits Nabi saw. Guru dan muridnya Dalam lawatan intelektualnya, Imam Muslim tercatat banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan, tentunya dalam rangka mencari hadits. Beliau berguru kepada Yahya dan Ishak bin Rahawaih di Khurasan, Muhammad bin Mahran dan Abu Ghassan di Ray, Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah di Iraq, Said bin Manshur dan Abu MasUab di Hijaz, Tamr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya di Mesir. Beliau juga belajar dari Usman dan Abu Bakar (keduanya putra Abu Syaibah), Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Jury, Zuhair bin Harb, Amr al-Naqid, Muhammad bin al-Mutsanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Said al-UAili, Qutaibah bin Sa'id, dan yang tak boleh terlupakan beliau juga berguru pada Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Tidak sedikit para ulama yang meriwayatkan hadits dari Imam Muslim. Di antaranya terdapat ulamaulama besar yang sederajat dengannya, seperti Abu Hafidh al-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Tawwanah al-Ishfiroyini, dan Abu Isa alTirmidzi. Selain ulama-ulama di atas, yang juga tercatat sebagai murid Imam Muslim antara lain; Ahmad bin Mubarak al-Mustamli, Abu al-Abbas Muhammad bin Ishak bin al-Siraj. Di antara sekian banyak muridnya itu, yang paling istimewa adalah Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, seorang ahli fiqih lagi zahid. Ia adalah perawat utama kitab Shahih Muslim. Selain karya besar Imam Muslim yang sangat monumental, yaitu kitab Shahih Muslim, beliau juga tercatat mempunyai buah karya lebih dari 20; antara lain: al-Ullal, al-Aqran, al-IntifaUbi Uhub al-Siba, Kitab Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahid, Aulad al-Shahabah, Al-Musnad al-Kabir, Al-Thabaqat (Thabaqat al-Kubra), Kitab al-Mukhadramin, Al-JamiUal-Kabir, Kitab al-Tamyiz, Kitab al-Asma wa alKuna, Kitab Su'alatihi Ahmad bin Hanbal, dan sebagainya.

15/11/107:15

sn

102 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Banyak ulama yang memandang Imam Muslim sebagai ulama hadits nomor dua setelah Imam al-Bukhari. Hal yang tidak mengherankan, mengingat Imam Muslim merupakan murid Imam al-Bukhari. Al Khatib al-Baghdadi mengatakan, Muslim telah mengikuti jejak al-Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya. Pernyataan ini tidaklah berarti Imam Muslim hanyalah figur yang hanya mampu bertaqlid pada al-Bukhari, sebab Imam Muslim mempunyai ciri dan pandangan tersendiri dalam menyusun kitabnya. Beliau juga mempunyai metode baru yang belum pernah diperkenalkan ulama sebelumnya. Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama hadits maupun ulama lainnya. AlKhatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanad lengkap dari Ahmad bin Salamah, katanya "Saya melihat Abu Zur'ah dan Abu Hatim senantiasa mengistimewakan dan mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj di bidang pengetahuan hadits sahih atas guru-guru mereka." Ishaq bin Rahawaih pernah memuji Imam Muslim dengan perkataannya "Adakah orang yang seperti Muslim?" Demikian pula Ibn Abi Hatim menyatakan "Muslim adalah seorang hafidh (ahli hadis). Saya menulis hadits yang diterima dari dia di Ray." Selanjutnya Abu Quraisy al-Hafidh menyatakan bahwa di dunia ini, orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat, salah satunya adalah Muslim. Tentunya, yang dimaksud dengan pernyataan ini adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup pada masa Abu Quraisy. Dengan munculnya berbagai komentar dari para ulama terhadap kepakaran Imam Muslim dalam disiplin ilmu Hadits ini, cukuplah kiranya menjadi bukti awal bahwa beliau memang figur yang pantas mendapat sanjungan yang demikian, dan tentunya setelah al-Bukhari. Karya monumental Sejarah mencatat bahwa Imam Muslim merupakan ulama kedua yang berhasil menyusun kitab al-Jami' al-shahih yang di kemudian hari terkenal dengan sebutan Shahih Muslim. Kitab ini berisi 10.000 hadits yang disebutkan secara berulang-ulang (mukarrar) atau sebanyak 3.030 buah hadits tanpa pengulangan. Hadits sejumlah itu disaring dengan sangat ketat dari 300.000 buah hadits selama kurun waktu 15 tahun. Berdasarkan kualitas keshahihannya, para ulama memasukkan karya Imam Muslim ini pada peringkat kedua setelah karya monumental Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari). Hal ini karena syarat yang ditetapkan oleh Imam Muslim relatif lebih longgar daripada syarat yang ditetapkan Imam al-Bukhari. Dalam persambungan sanad (ittisal al-sanad) antara yang meriwayatkan (rawi) dengan yang menerimanya (marwi'anhu) atau antara murid dan guru menurut Imam Muslim hanya cukup syarat mu'asharah (semasa), tidak harus terjadi liqa' (pertemuan) antara keduanya. Sementara Imam AlBukhari mensyaratkan terjadinya liqa 'untuk menyatakan terjadinya persambungan sanad. Shahih Muslim merupakan hasil dari sebuah kehidupan yang penuh berkah. Pasalnya, ia dikerjakan secara terus-menerus oleh penulisnya, baik ketika berada di suatu tempat, dalam perjalanan pengembaraan, dalam situasi sulit maupun lapang, serta melalui proses pengumpulan, penghafalan, penulisan, dan penyaringan yang ekstra ketat. Sehingga kitab ini sebagaimana kita lihat, merupakan sebuah kitab shahih yang teramat baik dan sistematis. Oleh karena itu, tidak heran rasanya jika Imam Muslim sangat menyanjung dan mengagungkan kitab monumentalnya. Sebagai wujud kegembiraan atas karunia Allah yang diterimanya, beliau pernah bertutur "Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini." Maksud beliau adalah kitab Shahih Muslim itu. Adapun ketelitian, kecermatan, dan kehati-hatian beliau terhadap hadits yang dituangkan dalam kitab Shahih-nya itu dapat disimak dari penuturannya sebagai berikut: "Aku tidak mencamtumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini melainkan dengan alasan. Aku juga tiada menggugurkan sesuatu hadits dari kitabku ini melainkan dengan alasan pula." Spesifikasi Shahih Muslim Secara eksplisit, Imam Muslim tidak menegaskan syarat-syarat tertentu yang diterapkan dalam kitab Shahih-nya. Kendati demikian, para ulama telah menggali dan mengkaji syarat-syarat itu melalui

15/11/107:15

sn

103 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

penelitian yang serius terhadap kitab itu. Penelitian dan pengkajian ini membuahkan kesimpulan bahwa syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya adalah antara lain: Pertama, beliau tidak meriwayatkan hadits kecuali dari para periwayat yang adil, dlabith (kuat hafalan), dan dapat dipertanggungjawabkan kejujurannya. Kedua, beliau sama sekali tidak meriwayatkan hadits kecuali hadits-hadits musnad lengkap dengan sanad-nya), muttashil (sanad-nya bersambung), dan marfu' (berasal dari Nabi saw). Keterangan Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya akan lebih memberikan gambaran yang cukup jelas kepada kita mengenai syarat-syarat yang diterapkan Imam Muslim dalam karya besarnya. Beliau mengklasifikasikan hadits menjadi tiga katagori: hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi adil dan kuat hafalan; hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tidak diketahui keadaannya (majhul al-hal) dan sedang-sedang saja kekuatan hafalan dan ingatannya; hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah (hafalan dan ingatan) dan rawi yang haditsnya ditinggalkan orang . Untuk hadits katagori ketiga, Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya. Sementara apabila Imam Muslim meriwayatkan hadits katagori pertama, beliau senantiasa menyertakan pula hadits katagori kedua. Sebagai buah karya yang monumental, kitab Shahih Muslim memiliki beberapa ciri khusus, di antaranya; beliau menghimpun matan-matan hadits yang satu tema lengkap dengan sanad-nya pada satu tempat (bab), tidak memisahkannya dalam tempat yang berbeda, serta tidak mengulang-ulangnya, kecuali dalam kondisi yang mengharuskan, seperti untuk menambah faedah pada sanad atau matan hadits. Ketelitian dan kecermatan dalam menyampaikan kata-kata selalu dipertahankannya secara optimal, sehingga apabila seorang rawi berbeda dengan rawi lain dalam penggunaan redaksi yang berbeda, padahal makna (substansi) dan tujuannya sama ;yang satu meriwayatkan dengan suatu redaksi dan rawi lain meriwayatkan dengan redaksi yang lain pula; maka dalam hal ini Imam Muslim menjelaskannya. Selain itu, beliau berusaha menampilkan hadits-hadits musnad (hadits yang sanad-nya Muttashil) dan marfu' (hadits yang dinisbahkan kepada Nabi saw). Karenanya, beliau tidak memasukkan perkataanperkataan sahabat dan tabiin. Imam Muslim juga tidak banyak meriwayatkan hadits muallaq (hadits yang sanad-nya tidak ditulis secara lengkap). Di dalam kitab Shahih-nya hanya memuat 12 Hadis muallaq yang kesemuanya difungsikan sebagai mutabi' atau penguat, bukan sebagai hadits utama (inti). Begitulah, akhirnya setelah mencapai usia 55 tahun, Imam Muslim menghembuskan nafas yang terakhir pada Ahad sore, 25 Rajab 261 H. Jenazahnya dikebumikan di salah satu daerah di luar Naisapur pada hari Senin. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah merahmati dan meridhainya, serta menerima jerih payahnya dalam menyebar luaskan ilmu-ilmu keislaman. Amin. Ali Mustofa Yaqub, Pengasuh Pesantren Darus-Sunnah, Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

15/11/107:15

sn

104 of 207

Kisah Sahabat
IMAM SYAFI'I

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris yang merupakan pendiri madzhab Syafi'i. Beliau termasuk golongan suku Quraisy, seorang Hasyimi yang merupakan keluarga jauh Nabi SAW. Lahir di Ghaza tahun 767 M. Ia ditinggal mati oleh ayahnya ketika masih kanak-kanak dan dibesarkan oleh ibunya dalam kemiskinan. Beliau menghafal Al-Qur'an di Makkah. Di samping mempunyai pengetahuan luas tentang syair-syair Arab. Beliau belajar hadits dan fiqh dari Muslim Abu Khalid dan Sufyan ibn Uyainah. Beliau telah hafal Muwatta pada usia 12 tahun. Ketika usia 20, ia menemui Imam Malik ibn Anas di Madinah dan membaca langsung Muwatta dengan ingatannya di depan Imam itu dan ini sangat dihargai oleh sang Imam. Beliau tinggal bersama Imam Malik sampai pada akhir hayat Imam tersebut, tahun 795 M. Karena keadaan keuangannya yang buruk, beliau terpaksa menjadi pejabat pemerintahan di Yaman. Lalu beliau pindah ke Baghdad. Di kota ini beliau akrab dengan ilmuwan madzhab Hanafi yang terkenal yaitu Muhammad ibn al-Hasan al-Syaibani. Tahun 804 M, beliau berangkat ke Suriah dan Mesir melalui Harran. Di Mesir kedatangannya dieluelukan para murid Imam Malik. Beliau mengajar fiqh selama enam tahun di Kairo dan kembali ke Baghdad tahun 810 M, tempat beliau sukses sebagai guru. Di Baghdad banyak ilmuwan Irak yang menjadi muridnya. Pada Tahun 814 M, beliau pulang ke Mesir, tetapi karena ada kerusuhan beliau terpaksa berangkat ke Makkah. Beliau kembali lagi ke Mesir tahun 814/816 M, dan seterusnya bermukim di situ. Beliau wafat pada 20 Januari 820 M (29 Rajab 204 H) dan dimakamkan di pemakaman Banu Abd. Seperti pendahulunya, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, Imam Syafi'i juga menolak menjadi qadi rezim Abbasiyah. Tahun-tahun kediamannya di Irak dan Mesir merupakan periode kegiatannya yang intensif. Waktunya dimanfaatkan untuk membaca dan berceramah. Kehidupan sehari-harinya amat teratur, dan beliau membagi waktunya secara sistematis sehingga jarang menyimpang dari rencana yang tetap. Menurut Encyclopedia of Islam, as-Syafi'i dapat digambarkan sebagai seorang penimbang yang baik sehingga menjadi penengah antara peneliti data hukum yang beraliran bebas dan ahli hadits. Beliau tidak saja menelaah data hukum yang ada, tetapi dalam risalahnya beliau juga menyelidiki prinsip dan metode fiqh. Beliau dianggap sebagai pencetus Usulul-Fiqh. Berbeda dengan kaum Hanafi, ia mencoba meletakkan aturan-aturan umum qiyas, namun ia tidak menyentuh istihsan. Prinsip istishhab tampaknya diperkenalkan untuk pertama kali oleh angkatan Syafi'i yang lebih muda. Dalam Madzhab as-Syafi'i, selalu dikenal adanya dua era kreatif, yaitu era awal di Irak, dan era belakangan yang dicetuskan di Mesir. Dalam karya tulisnya beliau memanfaatkan dialog dengan baik. Beliau menguraikan prinsip-prinsip fiqh dalam ar-Risalah, dan mencoba menjembatani fiqh Hanafi dan Maliki. Himpunan tulisan dan ceramahnya di Kitabul Umm merupakan bukti kecendekiaannya. Beliau memusatkan kegiatannya di Baghdad dan Kairo. Di atas segalanya beliau menaati Al-Qur'an, kemudian As-Sunnah. Hadits yang paling sahih diberikannya pertimbangan yang sama seperti Al-Qur'an. Dalam diri Imam Syafi'i tergabung keahlian prinsip-prinsip fiqh Islam dan penggunaan bahasa rakyat Hijaz dan Mesir dengan lancar, sehingga ia tidak tertandingi dalam percakapan maupun tulisan. Karya tulisnya lebih baik dari penulis Arab yang terbaik pada masanya. Ajaran Imam Syafi'i meluas dari Baghdad dan Kairo sampai ke seluruh Mesir, Irak, dan Hijaz. Muridnya yang terkemuka ialah al-Muzani, al-Humaidi, Ahmad ibn Hanbal, dan al-Karabasi. Pada abad ketiga dan keempat, penganut kaum Syafi'i semakin banyak di Baghdad dan Kairo. Pada abad keempat, Makkah dan Madinah menjadi pusat ajaran Syafi'i, di samping Mesir.

15/11/107:15

sn

105 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Di bawah Sultan Salahuddin Ayyubi, madzhab Syafi'i menjadi madzhab utama, meski Sultan Baibars mengakui juga madzhab fiqh yang lain dan mengangkat para hakim dari keempat madzhab yang ada. Sebelum kekuasaan Ottoman, kaum Syafi'i paling unggul di pusat wilayah Islam. Selama awal abad ke-16 M, Ottoman mengganti Syafi'i dengan Hanafi. Walau begitu, ajaran Syafi'i tetap unggul di Mesir, Suriah, Hijaz dan masih banyak dipelajari di universitas al-Azhar, Kairo. Fiqh Syafi'i masih banyak dianut oleh Muslimin di Arab Selatan, Bahrain, Kepulauan Melayu, sebagian Afrika Timur dan Asia Tengah.

15/11/107:15

sn

106 of 207

Kisah Sahabat
JABIR IBNU HAYYAN

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Jabir ibnu Hayyan (721-815 H) di Barat dikenal dengan nama Geber. Sampai akhir abad 17, ia bersama dengan Zakaria Razi sangat menonjol sebagai ahli kimia termasyhur yang dihasilkan abad pertengahan. Anak seorang penjual obat di Kufah (Irak) ini juga merupakan seorang sufi. Dalam penemuannya, Jabir membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Jabir pula menyiapkan tekniknya, mirip semua 'technique' kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dia pula yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan. Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke-18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Dalam bidang kimia, karya Jabir ibnu Hayyan mencapai lebih 500 buah, tapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfectionis. Dalam buku ini, antara lain dikemukakan reaksi kimia: ''Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama.'' ''Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.'' Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia.

15/11/107:15

sn

107 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
JAKFAR BIN ABU TALIB R.A.

Tokoh Muslim

Islam dari sejak dini: Nama lengkapnya adalah Jakfar bin Abu Talib bin Abdul Mutalib yang dijuluki dengan "Bapak Orang Miskin" mengingat kecintaan, kelemah lembutan dan kebaikannya kepada fakir miskin. Beliau ini adalah anak paman Nabi saw. Jakfar bin Abu Talib memeluk Islam bersama kelompok pertama. Dia termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam. Emigrasi ke Habsyah: Jakfar bin Abu Talib bersama istrinya Asma binti Umais termasuk orang yang mendapat cobaan paling berat dari kaum musyrikin, sehingga Rasulullah saw. memberi restu kepada mereka untuk ikut emigrasi ke negeri Habsyah (Eriteria) menemui raja negus bersama rombongan emigran muslimin. Ketika kaum quraisy mengutus Amru bin Ash (sebelum masuk Islam) dan Abdullah bin Abu Rabiah untuk menyampaikan hadiah kepada para tokoh agama di daerah tersebut agar mereka mengembalikan para emigram muslim yang datang ke negeri itu, terlihatlah peranan lobby yang dilakukan Jakfar terhadap Negus. Umu Salamah, selaku salah seorang peserta emigrasi, melukiskan hal tersebut lewat ucapannya, "... Negus mengirim utusan memanggil kami untuk menemui beliau, kami pun mengadakan rapat terlebih dahulu sebelum berangkat menemui beliau. Kami mendengar sebuah selentingan, 'Sang Negus bakal menanyakan kepada kalian tentang agama kalian, oleh sebab itu sampaikanlah dengan tegas apa hakikat iman kalian. Sebaiknya Jakfar sendirilah yang bertindak sebagai juru bicara, tidak ada orang lain yang boleh angkat bicara selain dia." Dia meneruskan, "Kemudian kami berangkat menemui Negus, ternyata beliau sudah memanggil tokoh agama, mereka duduk di samping kanan dan kirinya berpakaian jubah lengkap dengan topi kebesaran, mereka semua sama-sama memegang buku, malah kami melihat Amru bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabiah pun ada bersama mereka. Setelah kami duduk dengan tenang, Negus melihat kepada kami dan mengatakan, 'Agama apa gerangan yang kamu buat sendiri untuk diri kamu, yang mengakibatkan kamu meninggalkan agama warga kamu, kamu tidak masuk memeluk agama saya atau agama lain?'. Jakfar bin Abu Talib pun langsung maju dan menjawab, 'Wahai Sang Raja! Dulu, kami adalah warga jahiliah, kami menyembah berhala, makan bangkai, melakukan maksiat yang paling durjana, kami saling memutuskan silaturahmi, suka mengganggu tetangga, malah orang kuat di antara kami memakan orang lemah. Demikianlah keadaan kami sampai datang kepada kami seorang rasul yang kami tahu persis keturunan, kejujuran, kepercayaan dan kezuhudannya. Dia mengajak kami untuk mengesakan dan menyembah Allah serta meninggalkan semua sesembahan kami dan orang tua kami sebelumnya seperti batu atau pun berhala. Dia juga menyuruh kami untuk berkata jujur, menunaikan amanat, menghubungkan silaturahmi, berbuat baik dengan tetangga, meninggalkan semua perbuatan tercela dan menumpahkan darah. Di samping itu beliau juga melarang kami berbuat perbuatan yang keji, sumpah palsu, makan harta anak yatim, menuduh orang baik berbuat curang. Beliau menyuruh kami untuk menyembah Allah semata tanpa menyekutuhan apapun dengan-Nya, melaksanakan salat, membayar zakat dan puasa pada bulan Ramadan, lalu kami menerima ajakannya lalu beriman kepadanya serta kami ikuti semua ajaran yang dibawanya dari Allah, sehingga kami mengharamkan apa yang diharamkan Allah kepada kami dan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah kepada kami. Wahai Sang raja! Oleh karena inilah maka kaum kami memusuhi dan menyiksa kami dengan sekeras-kerasnya dengan harapan agar kami dapat tertipu dan kembali menyembah berhala. Setelah nereka melalimi, memaksa, mendesak dan menghalangi kami melaksanakan ajaran agama kami, kami datang ke negaramu. Kami memilih negara kamu ini dari negara-negara lain dan kami ingin untuk hidup berdampingan dengan kamu dengan harapan semoga kami tidak akan dilalimi di samping mu.' Mendengar itu, negus memperhatikan Jakfar bin Abu Talib r.a. lalu mengatakan, 'Apakah engkau membawa sesuatu yang dibawa oleh Nabi kamu dari Allah?' Jakfar menjawab, 'Ya, ada.' Lalu dia meminta bacakan kepada Ali, Ali pun membacakan, sampai selesai bagian depan dari surah tersebut. Umu Salamah meneruskan ceritanya, 'Setelah mendengarkan kalam Ilahi tersebut, Negus langsung mengucurkan air mata, sehingga semua jenggotnya basah, demikian juga para tokoh agama yang ada di sampingnya pada menangis, sehingga buku mereka

15/11/107:15

sn

108 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

pada basah.' Ketika itu, Negus mengatakan kepada kami, 'Ajaran yang dibawa oleh Nabi kamu ini dan yang dibawa oleh Isa a.s. berasal dari satu obor.' Kemudian beliau menghadap kepada Amru bin Ash dan temannya, sambil berkata, 'Pergilah kalian, Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian untuk selama-lamanya.'" Amru berusaha memisah antara kami dengan Negus, Jakfar menepasnya: Umu Salamah mengatakan, "Setelah kami keluar dari istana Negus, Amru bin Ash mengecam kami dan mengatakan kepada temannya, 'Sungguh, besok hari saya akan menjumpai Negus dan menceritakan kepadanya tentang orang-orang ini dan membuat hatinya benci kepada mereka. Saya akan berusaha meyakinkannya untuk bersedia menumpas mereka dari akar-akar-nya.' Abdullah bin Abu Rabiah menjawab, 'Hai Amru! Jangan lakukan, mereka itu masih keluarga kita, walaupun mereka berbeda pendapat dengan kita.' Amru menjawab, 'Lupakan hubungan itu! Sungguh saya akan katakan kepada beliau, sehingga mereka merasa guncang. Sungguh besok akan saya katakan kepada beliau, karena mereka berkeyakinan bahwa Isa a.s. adalah hamba Allah.' Keesokan harinya Amru bin Ash mendatangni sang Negus dan mengatakan kepadanya, 'Hai Sang Raja! Sungguh orang yang telah engkau ampuni dan lindungi itu, mempunyai persepsi yang cukup berat terhadap Isa. Tuan panggillah mereka dan tanyakan langsung pada mereka bagaimana keyakinan mereka tentang Isa.'" Ummu Salamah meneruskan, "Setelah kami mendengar berita itu, kami merasa gerah dan kebingungan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Kami bicara antara sesama kami, 'Apa persepsi kita tentang Isa, bila ditanya oleh sang raja?' Kami sepakat untuk tidak mengatakan sesuatu pendapat kecuali seperti yang dikatakan oleh Allah, kami tidak akan melencengkan pembicaraan sedikitpun dari apa yang dikatakan oleh Rasulullah, apa pun yang akan terjadi. Kami juga sepakat menunjuk Jakfar bin Abu Talib sebagai juru bicara kami. Ketika kami dipanggil oleh Negus, kami mendatangi beliau dan kami lihat para tokoh agama talah berada di samping beliau dalam keadaan rapi seperti sebelumnya. Amru bin Ash dan temannya juga ada bersama beliau. Ketika kami lewat di hadapan beliau, beliau langsung menanyakan kepada kami, 'Bagaimana persepsi kamu tentang Isa bin Maryam?' Jakfar bin Abu Talib langsung menjawabnya, 'Kami akan mengatakan sesuai dengan yang disampaikan oleh Nabi saw.' Negus menanyakan, 'Apa kata Nabi tentang dia?' Jakfar menjawab, 'Beliau mengatakan bahwa dia adalah seorang hamba dan rasulullah, dia adalah rokh dan kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam, sang perawan.' Ketika mendengar jawaban itu, Negus langsung memukul lantai dan mengatakan, 'Demi Allah, Putra Maryam tidak lebih dari apa yang disampaikan oleh Nabi kamu.' Kemudian sang raja menoleh kepada kami dan mengatakan, 'Pergilah! Kalian semua aman di negeriku ini. Siapa yang memaki kamu, akan kena denda, siapa yang melanggar hak kamu, akan mendapat sanksi. Demi Allah, saya tidak berkeinginan untuk mendapatkan sebuah gunung yang terbuat dari emas untuk menyakiti kalian.' Kemudian beliau menoleh kepada Amru dan temannya dan mengatakan, 'Kembalikan hadiah yang telah diberikan oleh kedua orang ini, saya tidak menginginkannya.'" Ummu Salamah meneruskan ceritanya, "Amru bin Ash dan temannya pun keluar dengan muka masam dan hina, sedangkan kami tinggal di negeri Negus dengan baik dan terhormat." Jakfar meninggalkan negeri Habsyah bersama rombongannya menuju Madinah pada tahun ke tujuh hijrah, setelah Rasulullah saw. kembali dari perang Khaibar dan berhasil menaklukkannya. Rasulullah saw. sangat gembira menerima kedatangan mereka itu. Wafatnya: Jakfar bin Abu Talib r.a. menghembuskan nafas yang terakhir dalam perang Muktah bersama Zaid bin Harisah dan Abdullah bin Rawahan. Rasulullah sangat bersedih atas peristiwa tersebut.

15/11/107:15

sn

109 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

JUWARIYAH binti AL-HARITS Telah lama kita ketahui bahwa setiap istri Nabi SAW itu memiliki suatu kelebihan. Demikian juga halnya dengan Juwairiyah yang telah membawa berkah besar bagi kaumnya, Bani-Musthaliq. Bagaimana tidak, setelah dia memeluk Islam, Banil-Musthaliq mengikrarkan diri menjadi pengikut Nabi SAW. Juwairiyah adalah seorang putri pemimpin Bani Musthaliq yang bernama al-Harits bin Abi Dhiraar yang sangat memusuhi Islam. Tentunya dia memiliki sifat dan kehormatan sebagai keluarga seorang pemimpin. Dia adalah gadis cantik yang paling luas ilmunya dan paling baik budi pekertinya di antara kaumnya. Rasulullah SAW memerangi mereka sehingga banyak kalangan mereka yang terbunuh dan wanita-wanitanya menjadi tawanan perang. Di antara tawanan tersebut terdapat Juwairiyah yang kemudian memeluk Islam, dan keislamannya itu merupakan awal kebaikan bagi kaumnya. Tentang Juwairiyah, Aisyah mengemukan cerita sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Saad dalam Thabaqatnya, "Rasulullah SAW menawan wanita-wanita Bani Musthaliq, kemudian beliau menyisihkan seperlima dari mereka dan membagikannya kepada kaum muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain mendapat satu bagian. Juwairiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas al-Anshari. Sebelumnya Juwairiyah menikah dengan anak pamannya, yaitu Musafi bin Shafwan bin Malik bin Juzaimah, yang tewas dalam pertempuran melawan kaum muslimin. Ketika Rasulullah SAW tengah berkumpul denganku, Juwairiyah datang menanyakan tentang perjanjian pembebasannya. Aku sangat membencinya ketika dia menemui beliau. Kemudian dia berkata, "Ya Rasulullah SAW, aku Juwairiyah binti al-Harits, pemimpin kaumnya. Sekarang aku kini tengah berada dalam kekuasaan Tsabit bin Qais. Dia membebaniku dengan sembilan keping emas, padahal aku sangat menginginkan kebebasanku.' Beliau bertanya,'Apakah engkau menginginkan sesuatu yang lebih dari itu ?' Dia balik bertanya,'Apakah gerangan itu ?' Beliau menjawab,'Aku penuhi permintaanmu dalam membayar sembilan keping emas dan aku akan menikahimu.' Dia menjawab,'Baiklah,ya Rasulullah SAW !' Beliau bersabda,'Aku akan melaksanakannya.' lalu tersebarlah kabar itu, dan para sahabat Rasulullah SAW berkata, 'Ipar-ipar Rasulullah SAW tak layak menjadi budak-budak.' Mereka membebaskan tawanan Bani Musthaliq yang jumlahnya hingga seratus keluarga karena perkawinan Juwairiyah dengan Rasulullah SAW. Aku tidak pernah menemukan seorang wanita yang lebih banyak memiliki berkah daripada Juwairiyah." Selain itu Aisyah sangat memperhatikan kecantikan Juwairiyah, dan itulah di antaranya yang menyebabkan Rasulullah SAW menawarkan untuk menikahinya. Rasulullah SAW meminang Juwairiyah dengan mas kawin 400 dirham. Aisyah sangat cemburu dengan keadaan seperti itu. Padahal Rasulullah SAW berbuat baik kepada Juwairiyah bukan semata karena kecantikan wajahnya, melainkan karena rasa belas kasih beliau kepadanya. Ketika Juwairiyah menikah dengan Rasulullah SAW, beliau mengubah namanya, yang asalnya Burrah menjadi Juwairiyah, sebagaimana disebutkan dalam Thabaqatnya Ibnu Saad, "Nama Juwairiyah binti al-Harits merupakan perubahan dari Burrah. Rasulullah SAW menggantinya menjadi Juwairiyah,…karena khawatir disebut bahwa beliau keluar dari rumah burrah." Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, Juwairiyah mengasingkan diri serta memperbanyak ibadah dan bersedekah di jalan Allah SWT dengan harta yang diterimanya dari Baitul-Mal. Ketika terjadi fitnah besar berkaitan dengan Aisyah, dia banyak berdiam diri, tidak berpihak kemanapun. Juwairiyah wafat pada masa kekhalifahan Mu`awiyah bin Abu Sufyan, pada usianya yang keenam puluh. Dia dikuburkan di Baqi`, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Rasulullah SAW yang lain. Semoga Allah SWT rela kepadanya dan kepada semua istri Rasulullah SAW.

15/11/107:15

sn

110 of 207

Kisah Sahabat
KHABAB bin ARATS

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Panasnya api tak membuat luluh keimanannya. Justru ia kian merasa bahagia atas luka-lukanya membela Nabi Allah. Direlakannya lehernya sebagai jaminan kebenaran dan kemuliaan risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Dialah Khabbab bin Arats, seorang pandai besi yang meskipun tadinya ia seorang budak, ia bisa bergaul dengan semua kalangan. Pemuka-pemuka Quraisy pun seringkali memesan pedang kepadanya. Suatu hari, datang ke rumahnya beberapa orang Quraisy mengambil pesanan senjata. Kebetulan Khabbab sedang tidak ada. Setelah ditunggui beberapa lama, akhirnya Khabbab datang. dengan penuh suka cita, ia langsung saja bercerita bahwa ia baru saja pulang dari rumah Arqam, di sana ia bertemu dengan Rasulullah. Dengan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya, diceritakannya perilaku Rasulullah yang begitu menarik hingga membuatnya terkagum-kagum dan mendorongnya untuk masuk Islam. Khabbab pun sempat mengucapkan syahadat di hadapan teman-teman Quraisy-nya itu. Kegembiraannya ini menjadikannya lupa sedang berada dimana dirinya. Ia tidak sadar dengan apa yang terjadi dengannya. Tahu-tahu ia telah terkapar pingsan. Begitu terbangun, didapatinya sekujur tubuhnya telah bersimbah darah karena luka. Sambil menahan nyeri ia bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang akan dihadapinya setelah itu. Sya'bi, salah satu kawan sependeritaan Khabbab, menggambarkan kegilaan orang-orang Quraisy yang menyiksa Khabbab. 'Orang-orang kafir itu datang kepada Khabbab dan menyeretnya keluar kemudian menindihnya dengan batu yang membara, hingga meluluhkan dagingnya. Namun hati Khabbab tak sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan kebenaran risalah yang diikutinya.' Sahabatnya yang lain menceritakan bahwa orang-orang kafir itu datang ke rumah Khabbab. Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian setelah membara mereka gunakan untuk tiang mengikat tangan, kaki, berikut tubuh Khabbab. Rasulullah pernah menyaksikan kekejaman orang kafir terhadap Khabbab, namun pada saat itu tidak ada yang bisa diperbuat mengingat umat Islam masih sangat minoritas. Rasulullah SAW hanya bisa berdo'a agar Allah memberikan pertolongan-Nya sambil meminta yang bersangkutan bersabar. Harapan Rasulullah terbukti. Ummi Ammar yang seperti kesetanan menyiksa Khabbab, tak lama kemudian terkena penyakit panas yang aneh. Penyakit itu bisa berkurang kalau setiap pagi dan petang punggung dan kepalanya disetrika dengan besi yang membara. Khabbab termasuk salah satu generasi pertama sahabat Rasul. Selain ahli ibadah, ia juga seorang guru ngaji yang Rasulullah sendiri pernah mengatakan, "Barang siapa ingin membaca al Qur'an, hendaklah ia meniru bacaan Khabbab Ibnu Ummi Abdin". Khabbab mendapatkan kelebihannya itu untuk mengajar orang-orang yang masuk Islam. Khabbab jugalah yang mengajar Fatimah binti Khattab (saudara perempuan Umar bin Khattab) dan suaminya membaca Al Qur'an. Sampai akhir hayat Rasulullah, Khabbab tidak pernah ketinggalan untuk pergi berperang. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dimana saat itu keadaan baitul maal sudah membaik, Khabbab mendapatkan gaji yang cukup besar. Walaupun begitu ia tidak pernah lupa untuk bersedekah. sampaisampai ia membuat tempat untuk menyimpan uang tepat di ruang tamu dan tidak pernah ia tutup dengan selembar benang pun, karena memang disediakannya untuk para tamu yang membutuhkannya.

Ada kebiasaan aneh yang tetap tak bisa dihindarinya dalam kondisi banyak harta seperti itu. Ia begitu sering menangis. Masih kurangkah gajinya? "Sesungguhnya saya tidak merasa kekurangan. Justru kelebihan itulah yang mengingatkan saya kepada para sahabat yang telah meninggalkan kita dengan membawa semua amalnya, sebelum mendapatkan ganjaran di dunia. Sedangkan kita masih hidup dan mendapat kekayaan yang melimpah hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali di tanah..."

15/11/107:15

sn

111 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Subhanallaah... kalau iman yang berkata, seolah dunia ini tidak ada apa-apanya, yang ada hanya Allah dan Rasul-Nya. [Tabloid MQ EDISI 2/TH.II/JUNI 2001]

15/11/107:15

sn

112 of 207

Kisah Sahabat
KHADIJAH AL-KUBRA

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Nabi Muhammad saw mengorbankan sebagian besar waktunya dengan meditasi di dalam kesunyian gua Hira. Pada suatu hari, ketika beliau sedang tekun bermeditasi, beliau menerima wahyu yang pertama. Malaikat Jibril mewahyukan kepadanya firman Tuhan yang pertama , yang termaktub dalam Qurtan, surah Iqra. Nabi Muhammad menjadi sangat gelisah mendapatkan pengalaman baru itu, dan sampai di rumah beliau menggigil ketakutan, lalu berbaring di tempat tidur, suhu badannya sangat tinggi. Istrinya, Khadijah, menjadi sangat khawatir dengan keadaan yang luar biasa itu. Kemudian, Nabi dirawat dan ditanya sebab kegelisahan itu. Nabi Muhammad saw menceritakan seluruh kejadian tentang pengalamannya dengan wahyu pertama yang aneh itu. Dengan sangat gembira Khadijah memberikan selamat karena suaminya telah diangkat ke posisi yang tertinggi, menjadi utusan Tuhan. Ia berkata, "Bergembiralah, karena Tuhan tidak akan meninggalkanmu." Khadijah-lah orang pertama yang memeluk Islam, agama baru itu. Khadijah binti Khuwailid, tergolong dalam keluarga Quraisy, Abd-alUzza, menduduki tempat terhormat sebagai istri pertama Nabi Muhammad saw. Khadijah adalah seorang janda yang kaya, yang dianugerahi sifat-sifat mulia. Karena kehidupannya yang berbudi luhur itu, beliau terkenal dengan nama Tahira. Menurut Tabaqot ibu Saad, beliau adalah wanita terkaya di Mekkah kala itu . Muhammad berniaga dan terkenal di seluruh Hijaz karena kejujuran, kesetiaan dan moralnya. Karena sifat yang mulia ini, beliau dijuluki "alamin" (yang dapat dipercaya) . Khadijah juga tertarik pada sifat-sifat cemerlang pemuda Muhammad, dan menerimanya bekerja pada usaha dagangnya. Muhammad dikirim ke Basrah membawa barang dagangan Khadijah. Setelah tiga bulan sekembalinya dari Basrah - Khadijah mengajukan lamaran untuk nikah. Waktu itu Muhammad berusia 25 tahun, dan Khadijah 40 tahun. Pada zaman itu wanita Arab bebas menentukan kehendaknya sendiri dalam hal pernikahan, oleh karena itu Khadijah langsung membicarakan lamarannya dengan Muhammad. Pada hari yang telah ditentukan, sanak keluarga Muhammad, termasuk pamannya Abu Thalib dan Hamzah, berkumpul di rumah Khadijah. Abu Thalib-lah yang memberikan kata sambutan dalam upacara pernikahan mereka. Nabi Muhammad tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Khadijah sempat mendampingi Muhammad 25 tahun lamanya setelah perkawinan, dan meninggal dunia tiga tahun sebelum Hijrah. Khadijah memberikan enam anak, dua laki-laki: Qasim dan Abdullah, keduanya meninggal waktu masih bayi - dan empat orang anak wanita: Fatima az-Zahra, Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum. Karena Qasim-lah kadang-kadang Nabi disebut Abul Qasim (ayah Qasim). Anak Khadijah - Zainab - dikawinkan dengan sepupu Zaenab. Kedua anak perempuan lainnya, Ruqaya dengan Usman - yang kemudian menjadi khalifah ketiga - dan Ummi Kalsum juga dengan Usman setelah Ruqaya meninggal dunia. Fatima az-Zahra, anak yang paling disayang Nabi, dinikahkan dengan Ali. Keturunan penerus Nabi ialah melalui anak lakilaki Fatima Zahra, Hasan dan Husain. Kecuali Ibrahim yang juga meninggal dunia dalam usia muda, semua anak Nabi diperoleh dari perkawinan beliau dengan Khadijah. Rumah kediaman Khadijah kemudian dibeli oleh Amir Muawiya dan diubah menjadi masjid. Sampai sekarang, masjid itu masih menggunakan nama wanita agung itu. Nabi Muhammad saw sangat menghormati dan mencintai Khadijah. Bahkan setelah Khadijah wafat pun Nabi masih sering mengenang dengan rasa sayang, syukur serta terima kasih. "Waktu semua orang lain menentang aku," katanya, "Khadijah pendukungku; waktu semua orang masih kafir, ia telah memeluk Islam; waktu tidak seorang pun yang menolong aku, dialah penolongku." Kekayaan dan kedudukan Khadijah yang tinggi di dalam masyarakat ternyata sangat bermanfaat untuk syiar Islam. Para ulama kebanyakan mengatakan bahwa Khadijah, Fatima, dan Aisyah adalah tiga wanita Islam yang terbesar. Menurut mereka, Fatima sebagai wanita pertama, Khadijah yang kedua, dan Aisyah ketiga dalam urutan wanita-wanita terbesar di dalam Islam.

15/11/107:15

sn

113 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Menurut Hafiz ibnu Qayyim, murid pengikut imam ibn Taimiya, jika orang memandang atas dasar hubungan darah dengan Nabi, maka Fatimalah berada di urutan atas. Tapi kaiau orang meiihat siapa yang mula-mula memeluk agama Islam, dan siapa yang memberikan dukungan moril maupun materiil kepada agama baru ini, maka Khadijah-lah yang pertama dalam posisi itu dan kalau dalam hal ilmu serta pengabdiannya dalam penyebaran agama Nabi, Aisyah tidak ada tandingnya. Beberapa hadits Nabi memuji Khadijah. Menurut Sahih Muslim terdapat dua orang wanita yang menempati posisi tertinggi di dalam pandangan Tuhan: Mariam dan Khadijah.

15/11/107:15

sn

114 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

KHAULAH binti MALIK bin TSA'LABAH Dia seorang wanita yang fasih dan indah perkataannya. Dia selalu berhubungan dengan Allah SWT. tidak kehilangan imannya kepada Allah di saat-saat yang paling sulit. Akan tetapi dia mengadukan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kami ketengahkan kisah Khaulah bersama suaminya di hadapan para suami dan isteri ketika terjadi perselisihan, perdebatan, perbantahan dan pertengkaran. Khaulah berkata :"Demi Allah, mengenai aku dan Aus bin Shamit, Allah Azza wa Jalla menurunkan awal surah Al Mujaadilah. Dia berkata : "Ketika itu aku sedang berada di dekatnya. Dia adalah orang tua yang buruk kelakuannya dan sudah jemu." Khaulah berkata :"Pada suatu hari dia masuk kepadaku, lalu aku membantahnya karena sesuatu hal sehingga dia marah dan berkata :"Engkau terhadapku seperti punggung ibuku." Kemudian dia keluar, lalu duduk di tempat pertemuan kaumnya sesaat, setelah itu dia masuk dan menginginkan diriku. Maka aku katakan : Sekali-kali jangan. Demi Allah yang menguasai nyawaku, jangan lolos kepadaku sementara engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan, hingga Allah dan Rasul-Nya memberi keputusan tentang kita." Khaulah berkata : "Dia memaksaku, namun aku menolak. Aku berhasil mengalahkannya, sebagaimana halnya wanita yang berhasil mengalahkan laki-laki tua, maka aku berhasil menyingkirkannya dariku. Kemudian aku keluar menemui Rasulullah SAW, lalu duduk di hadapan beliau dan aku ceritakan kepada beliau perlakuan sang suami terhadap diriku. Aku adukan kepada beliau perlakuan buruk yang aku terima dari suamiku." Khaulah berkata :"Rasulullah SAW hanya bersabda :"Wahai, Khaulah, putera pamanmu seorang tua yang sudah lanjut usianya, maka takutlah engkau kepada Allah." Khaulah berkata :"Demi Allah, begitu aku pergi, turun Al-Qur'an mengenai diriku. Rasulullah SAW mengalami sesuatu yang biasa dialaminya, kemudian terbebas darinya. Maka beliau bersabda :"Wahai Khaulah, Allah telah menurunkan wahyu mengenai dirimu dan temanmu. Kemudian beliau membacakan surah Al Mujaadilah : "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguh nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, mereka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukumhukum Allah; bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." (Q.S. Al-Mujaadilah, 58:1-4) Khaulah berkata :"Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Suruhlah dia membebaskan seorang budak. Maka aku katakan : Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak punya budak untuk dibebaskan. Nabi SAW bersabda : Suruhlah dia berpuasa dua bulan berturut-turut. Maka aku katakan : Demi Allah, sesungguhnya dia seorang tua renta yang tidak berdaya. Nabi SAW bersabda : Suruhlah dia memberi makan orang miskin sebanyak 60 sha' kurma. Maka aku katakan : Wahai, Rasulullah, dia tidak mempunyai makanan sebanyak itu. Maka Rasulullah SAW bersabda : Kami akan membantumu dengan serangkai kurma. Maka aku katakan : Wahai Rasulullah, aku akan membantunya dengan serangkai kurma

15/11/107:15

sn

115 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

lagi. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Engkau berbuat benar dan baik. Pergilah dan sedekahkan kurma itu baginya, kemudian perlakukan putera pamanmu dengan baik. Maka aku pun melakukannya." ["Al-Ishaabah, juz 8, halaman 618-620] Inilah dia, Khaulah. Di dalam kisahnya terdapat pelajaran tentang kerukunan hidup suami isteri dan keikutsertaan dalam memperbaiki perpecahan dan pemeliharaan hubungan kerabat serta ketuaan usia antara suami isteri. Diriwayatkan, bahwa Umar bin Khaththab r.a. berjumpa dengannya di masa khilafahnya, ketika dia sedang menunggang seekor keledai dan orang-orang di sekelilingnya. Kemudian Khaulah menyuruhnya berhenti dan menasihatinya. Lalu dikatakan kepada Umar r.a. :"Apakah engkau bersikap demikian terhadap perempuan tua ini ?" Umar berkata :"Tahukah kalian, siapa wanita tua ini ? Dia adalah Khaulah binti Tsa'labah. Allah SWT mendengar perkataannya dari atas tujuh lapis langit. Apakah Tuhan semesta alam mendengar perkataannya, sedangkan Umar tidak mendengarnya ?" [Husnul Uswah bimaa Tsabata Minallaahi wa Rasuulihi fin Niswah] Khaulah tidak mengandalkan kekerasan dan tidak berpikir mengenai kejahatan, karena itu bukan akhlaq Islam. Akan tetapi dia mencari penyelesaian di sisi Allah dan Rasul-nya, dan mengadukan perkaranya kepada Allah SWT yang menciptakannya, agar menghilangkan kesusahannya dan memberi kemudahan sesudah kesulitan. Jika Anda ingin mendengarnya ketika menyampaikan keluhan kepada Rasulullah SAW, maka marilah kita baca hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan disahihkannya, dan Baihaqi serta lainnya dari 'Aisyah r.a., dia berkata : "Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya mendengar segala sesuatu. Sungguh aku mendengar perkataan Khaulah binti Tsa'labah dan sebagiannya tidak bisa kudengar ketika dia mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW dan berkata : Wahai Rasulullah, dia menghabiskan masa mudaku dan aku banyak melahirkan anak untuknya. Setelah usiaku menjadi tua dan aku berhenti melahirkan, dia melakukan zihar terhadapku. Ya, Allah, aku mengeluh kepada-Mu." Khaulah berkata :"Begitu aku pergi, Jibril a.s. turun membawa ayat-ayat ini." [Surah Al-Mujaadilah] Nabi SAW telah berwasiat agar memperlakukan para wanita dengan baik dan beliau adalah teladan tertinggi dalam memperlakukan isteri-isterinya. Nabi SAW bersabda mengenai hal itu : "Tidaklah orang Mu'min mendapat faedah sesudah taqwa kepada Allah yang lebih baik daripada isteri yang sholeh. Jika dia menyuruhnya, maka sang isteri menaatinya. Jika dia memandang kepadanya, sang isteri menyenangkannya. Jika dia bersumpah kepadanya, maka sang isteri melakukannya. Jika dia tidak ada di rumah, sang isteri memelihara harta dan kehormatan suaminya." Nabi SAW bersabada : "Orang Mu'min yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap isterinya." ["Kanzul 'Ummaal (9/258-261)] Nabi SAW juga bersabda dalam akhir sebuah khotbahnya :"Perlakukan para wanita dengan baik." Dari Amru Ibnul Ahwash di sebuah hadits panjang dalam menceritakan haji Wada', dari Nabi SAW, beliau bersabda :"Perlakukanlah para isteri dengan baik, karena mereka adalah tawanan pada kalian. Kalian tidak berkuasa sedikit pun atas mereka selain itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji. Jika mereka melakukannya, maka jauhilah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkannya. Jika mereka taat kepada kalian, maka janganlah mencari jalan untuk menyakiti hati mereka. Ketahuilah, bahwa kamu mempunyai hak pada isteri isterimu dan isteri-isterimu mempunyai hak kepada kalian. Adapun hak kalian pada isteri-isterimu, maka mereka tidak boleh mengizinkan orang-orang yang tidak kalian sukai menginjak tempat tidurnya dan tidak boleh mengizinkan orang-orang yang tidak kamu sukai memasuki rumah-rumah kalian. Ketahuilah, sesungguhnya hak mereka pada kalian adalah kalian beri pakaian dan makanan yang baik kepada mereka." (HR. Tirmidzi dan disahihkannya) Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

116 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
KHANSA' BINTI KHIDZAM

Tokoh Muslim

Islam meletakkan wanita di tempat yang patut. Dia adalah pemimpin rumah tangga dan pelaksana urusan serta penanggungjawabnya. Orang laki-laki membantunya dalam urusan itu, sedang dia membantu orang laki-laki dalam urusan selain itu. Adapun kemerdekaannya, maka hal itu tampak dalam kemerdekaan perkawinan dan kebebasan menyatakan pendapatnya. Itu adalah urusan haknya. Tidak seorang pun boleh merampas haknya untuk berpendapat atau melanggar izinnya. Kemerdekaannya dalam hal itu lebih jauh jangkauan dan lebih sempurna kedudukannya daripada orang laki-laki. Apabila dia menikah dengan seorang laki-laki, kemudian orang laki-laki itu tidak menyukai lalu meninggalkannya sebelum menggauli, maka baginya setengah dari mahar. Jika dia meninggalkannya sesudah menggauli, maka isteri berhak atas mahar seluruhnya. Suami tidak boleh berkata : Nasab itu derajatnya di bawah aku. Semua wanita sepadan dengan laki-laki, hanya ketakwaannya saja yang menentukan perbedaan derajat di sisi Allah SWT. Wanita boleh memutuskan ikatan perkawinan, jika dia tertipu atau dipaksa melakukannya. Orang lakilaki tidak boleh memaksanya menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya. Rasulullah SAW telah membatalkan pernikahan Khansa' binti Khidzam Al-Anshariah, karena ayahnya menikahkan, sedang dia tidak suka. Khansa' binti Khidzam adalah dari Bani Amru bin Auf bin Aus. Dia berjumpa dengan Nabi SAW ketika beliau datang ke Madinah. Pada waktu itu Khansa' masih kecil dan mendengar tentang Nabi SAW. Dia lalu dipinang oleh dua orang : Yang pertama adalah Abu Lubabah Ibnul Mundzir, seorang pahlawan tersohor di antara para shahabat Rasulullah SAW. Sedang kedua adalah seorang laki-laki dari Bani Amru bin Auf, familinya. Dia lebih menyukai Abu Lubabah, sedangkan ayahnya memilih putera pamannya. Kemudian sang ayah tetap melangsungkan pernikahannya tanpa memperdulikan persetujuan puterinya. Maka pergilah Khansa' kepada Rasulullah SAW dan berkata : "Ayahku telah memaksaku untuk menikah dan tidak mempedulikan perasaanku." Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :"Tidak sah nikahnya. Nikahilah orang yang engkau kehendaki." [Sahih Bukhari, juz 7 halaman 18 dan Al-Ishaabah juz 8, halaman 65]. Kemudian dia menikah dengan Abu Lubabah. Para muhaddis berselisih tentang keadaannya ketika dia menikah. Dalam riwayat Muwaththa' dan AtsTsauri disebutkan, bahwa dia masih perawan. Dalam riwayat Bukhari dan Ibnu Sa'ad disebutkan, bahwa dia sudah janda dan berkata :"Wahai, Rasulullah, sesungguhnya paman anakku lebih aku sukai." Maka Nabi SAW menyuruhnya memilih. Syamsul Aimmah As-Sarkhasin meriwayatkan dalam Al-Mabsuth hadits Khansa' binti Khidzam dengan versi berikut : Khansa' berkata :"Ayahku menikahkan aku dengan putera saudaranya, sedangkan aku tidak menyukai hal itu." Maka Nabi SAW menjawab :"Setujuilah apa yang diperbuat ayahmu." Aku berkata :"Aku tidak menyukai apa yang dilakukan ayahku." Nabi SAW bersabda :"Pergilah. Nikahnya tidak sah. Nikahilah orang yang engkau sukai." Khansa' berkata : "Aku setuju dengan apa yang dilakukan ayahku, tetapi aku ingin semua orang mengetahui, bahwa para ayah tidak boleh sewenang-wenang dalam urusan puteri-puteri mereka." Penulis Al-Mabsuth berkata :"Nabi SAW tidak mempersalahkan perkataannya itu." [Al-Mabsuth juz 5, halaman 2] Pembicaraan tentang Khansa' beralih pada pembicaraan tentang Bariroh. Siapakah Bariroh itu ? Dia adalah sahaya perempuan dari Habasyah yang dimiliki oleh Utbah bin Abu Lahab. Dia mengawinkannya dengan sahaya laki-laki Mughirah. Tidaklah dia menyukainya, kalau boleh dia memilih. Maka Ummul Mu'minin Aishah r.a. merasa kasihan, lalu membeli dan membebaskannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya :"Engkau telah menguasai dirimu, maka pilihlah." Suaminya berjalan di belakangnya sambil menangis, sementara Bariroh menolaknya. Maka Nabi SAW bersabda kepada para shahabatnya :

15/11/107:15

sn

117 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

"Tidakkah kalian merasa heran atas cintanya yang sangat kepada isterinya dan kebencian sang isteri kepada suaminya ?" Kemudian beliau bersabda kepada Bariroh :"Takutlah kepada Allah, karena dia adalah suami dan ayah anakmu." Bariroh berkata :"Apakah engkau menyuruhku ?" Nabi SAW menjawab: "Sesungguhnya aku adalah pemberi syafa'at." Bariroh berkata :"Kalau begitu, aku tidak membutuhkannya." [Al-Mabsuth, juz 5, halaman 99 yang disusun oleh Syamsul Aimmah As-Sarakhasii, salah satu Imam Hanafiah dan kadhi terkemuka] Apakah orang-orang merasa heran setelah itu, melihat penentangan wanita-wanita Arab terhadap kesewenang-wenangan para bapak dan wali mereka? Betapa banyak kejahatan dilakukan dengan sebab pengabaian pendapat anak-anak perempuan dan karena mereka dinikahkan dengan laki-laki yang tidak sepadan dalam hal tabiah dan akhlaq, demi mengejar materi dan mengharapkan harta suami. Tidakkah para bapak mengingat penderitaan psikologis dan jasmani yang dialami oleh anak-anak perempuannya itu ? Inilah seorang wanita muda yang dikawinkan ayahnya tanpa izin. Dia menulis surat kepada ayahnya : Wahai, Ayahku, engkau aniaya aku dan engkau timpakan cobaan padaku dan engkau serahkan diriku ke tangan orang yang menghinakannya Wahai, Ayahku, kalau tidak takut dosa tentulah engkau telah didoakan yang dikabulkan karena kesalahanmu. Seorang wanita lain berkata ketika ayahnya mengawinkannya dengan putera pamannya : Sungguh mengherankan wanita cantik yang dikawinkan dengan seorang tua; Ia menyuruhnya kawin dengan orang itu karena masih kerabatnya. Hati-hatilah wanita cantik terhadap putera pamannya.

Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

118 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

KHUBAIB bin BA'AD Keteguhan Seorang Khubaib bin Ba'ad Khubaib bin Ba'ad adalah seorang yang cukup dikenal di Madinah, termasuk sahabat Anshor. Ia beriman kepada Rasul dengan jiwa yang bersih, terbuka, teguh hati dan mulia. Ringkasnya kebesaran yang luar biasa telah dikalungkan oleh keimanan yang sempurna. Pada suatu hari Rasulullah SAW, bermaksud hendak menyelidiki rahasia orang-orang Quraisy. Untuk itu, dipilihkan sepuluh orang dari para sahabatnya, dan termasuklah Khubaib diantaranya. Namun hal ini tercium oleh orang-orang Quraisy, maka mereka mengejar para sahabat ini, mereka dapat ditemukan lantaran biji kurma yang berjatuhan di pasir. Akhirnya, Ashim Bin Tsabit pimpinan rombongan memerintahkan kawan-kawannya untuk menaiki bukit, sementara di bawah telah dikepung oleh para pemanah musuh yang jumlahnya ratusan. Para pengepung meminta agar kaum muslin menyerahkan diri. Namun dengan lantang ‘Ashim berkata “Adapun aku , demi Allah, aku tak akan turun, mengemis perlindungan orang musyrik…! Ya Allah sampaikankanlah keadaan kami ini kepada Nabi-Mu…!”. Perkataan ‘Ashim ini disambut oleh anak panah musuh dan syahidlah tujuh orang sahabat seketika. Akhirnya mereka meminta Khubaib turun bersama dua orang sahabatnya, dan Khubaib pun turun, namun satu orang sahabat tetap bertahan dan juga segera menemui syahidnya. Khubaib dan Zaid bin Ditsinnah dibawa keMekkah dan dikeluarga Harits bin ‘Amir pun membeli Khubaib sebagai budak utuk disiksa, begitu juga dengan Zaid. Penyiksaan, demi penyiksaan terus berlanjut, bahkan Zaid mendapat tindakan yang kejam yaitu dengan menusukkan dari dubur hingga tembus kebagian atas dadanya, Khubaib pun tak luput dari penyiksaan, ia tak diberi makan dan minum. Akhirnya keluarga Harits pun membujuk Khubaib untuk mengingkari Muhammad, namun usaha mereka sia-sia. Orang-orang musyrik itu pun menjadi buas, mengikat tubuh Khubaib ketiang salib, para pemanahpun berlomba-lomba melepaskan anak panahnya. Tapi ia tidak memicingkan mata dan tidak pernah kehilangan sakinah yang terus memberikan cahaya kepada wajahnya. Untuk terakhir kalinya orang-orang musryik membujuk Khubaib, akan tetapi dengan suara laksana angin kencang, ia berseru: “Demi Allah tak sudi akan bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedangkan Rasulullah kena musibah walau oleh sepotong duri pun !”. Ungkapan Khubaib ini membuat musuh menjadi murka, maka ia pun menemui syahidnya disana.

Disarikan dari buku Karakteristik 60 Sahabat Rasulullah.

15/11/107:15

sn

119 of 207

Kisah Sahabat
MAJA'AH AS-SADUSI Prajurit All-Round

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Pahlawan Islam yang satu ini. Kepahlawanannya diceritakan secara lengkap oleh Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya "Enam Puluh Sahabat RasuluLlah." Kalau kita boleh terkagum-kagum dengan kehebatan tokoh-tokoh fiktif semacam Rambo dan puluhan tokoh khayali lain dari Hollywood, maka selayaknya kita akan lebih berdecak kagum dengan ke"all-round"an tokoh nyata Maja'ah As-Sadusi ini. Selayaknya pula kita mengenalkan pahlawan-pahlawan Islam ini kepada anak-anak kita dan juga kita sendiri. Sehingga dengan demikian kita dapat memperoleh ibroh dari para sahabat yang mendapat binaan dan tarbiyah langsung dari RasuluLlah SAW. Siapakah Maja'ah As-Sadusi? Ia adalah seorang prajurit biasa, tapi lebih dari itu ia adalah seorang prajurit teladan kesayangan khalifah Umar bin Khattab. Maja'ah memang mulai aktif dalam berbagai pertempuran menegakkan al-Haq pada masa akhir kekhalifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq. Kesholehan dan keberanian serta kehandalannya, membuat Khalifah Umar bin Khattab selalu mempercayainya untuk melakukan tugas-tugas berat dalam setiap ekspedisi. Maja'ah memang seorang prajurit "all-round". Dr. Muhammad Khalid menulis bahwa Maja'ah adalah seorang intel yang mampu menyusup ke dalam benteng pertahanan musuh tanpa dikenali identitasnya, dalam hal ini setara dengan Hudzaifah Ibnul Yaman, intel dalam perang Khandak. Disamping itu, ia juga merupakan penunggang kuda dan pemanah yang ahli yang mampu memanah suatu sasaran dari jarak jauh dengan tepat, sambil memacu kuda dengan kecepatan tinggi, dalam hal ini setara dengan sahabat Rasulullah yang lebih senior yaitu: Al-Barra ibnul Malik. Tidak itu saja, Maja'ah pun seorang prajurit yang ahli memainkan pedang dan mampu melakukan duel simultan hingga membunuh 200 tentara musuh dalam sebuah pertempuran. Dalam hal ini setara dengan SyaifuLlah: Khalid bin Walid. Dan keahliannya yang lain ini yang tidak tertandingi oleh sahabat lain adalah dalam hal menyelam. Ia adalah seorang penyelam ulung di dalam arus air yang kuat tanpa menggunakan peralatan selam. Maja'ah lah yang pertama kali membentuk "pasukan katak" dalam sejarah Islam, yaitu saat melakukan serangan ke benteng terakhir imperium Persia: Tustar. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

120 of 207

Kisah Sahabat
MIQDAD bin 'AMR

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Miqdad bin 'Amr termasuk golongan yang pertama kali masuk Islam. Beliau juga adalah orang ke tujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan dari murka dan kekejaman kaum Quraisy. Keberanian dan perjuangannya di medan perang Badar akan selalu diingat oleh kaum muslimin sampai saat ini. Bahkan Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini..." Miqdad bin "Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar karena kakuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, "Ya Rasulullah... Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda! Demi Allah kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, "Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah", sedang kami akan mengatakan kepada Engkau, "Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu". Demi yang telah mengutus Engkau membawa kebenaran! Seandainya Engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan..." Kata-katanya mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan do'a yang terbaik untuk Miqdad. Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Beliau seorang filosof dan ahli fikir. Hikmat dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus. Diantara manifestasi filsafatnya adalah beliau tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjatuhkan putusan atas sesuatu persoalan. Dan ini dipelajari dari Rasulullah SAW. Dari percakapannya dengan seorang sahabat dan seorang tabiin berikut ini, menunjukkan kemahirannya dalam berfilsafat dan ia berhak menyandang gelar seorang filosof. Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk ke dekat Miqdad. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki, dan berkata kepada Miqdad, "Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah SAW! Demi Allah, andainya aku bisa melihat apa yang Engkau lihat, dan menyaksikan apa yang Engkau saksikan". Miqdad berkata, "Apa yang mendorong kalian untuk menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya? Demi Allah bukankah pada masa Rasulullah SAW banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya di neraka jahanam...? Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebgai orang-orang yang beriman kepada Allah dan nabi kalian?" Inilah suatu hikmah yang diungkapkan Miqdad, memang tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali ia dapat hidup di masa Rasulullah dan hidup bersamanya. Tetapi pandangan Miqdad tajam dan dalam, pemikirannya dapat menembus sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang sedikitpun. Itulah pandangan Miqdad, yang memancarkan hikmah dan filsafat. Tidak diragukan lagi Miqdad memang seorang filosof dan pemikir ulung. [Tabloid MQ EDISI

8/TH.II/DESEMBER 2001]

15/11/107:15

sn

121 of 207

Kisah Sahabat
MUAZ BIN JABAL

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Kelahiran dan perkembangannya: Muaz bin Jabal lahir di kota Madinah. Dia terkenal sebagai seorang yang genius, punya keinginan yang kuat dan obsessi yang tinggi. Beliau dikaruniai oleh Allah pintar bicara, indah rupa dan tutur katanya. Dia masuk Islam ketika masih kecil, ketika datangnya Musab bin Umair, delegasi yang dikirimkan oleh Rasulullah saw. untuk mengajari warga Madinah. Membaiat Rasulullah: Muaz bin Jabal termasuk dalam kelompok 72 orang Madinah yang datang membaiat Rasulullah saw. Seusai membaiat, Muaz bin Jabal kembali ke Madinah menjadi dai Islam di kalangan masyarakat Madinah, beliau berhasil mengislamkan beberapa sahabat besar, seperti; Amru bin Jumukh. Biografi: Setibanya Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Muaz bin Jabal selalu mendampinginya, sehingga dia berhasil memahami Alquran dan mendapat pengajaran Islam. Konon dia termasuk sahabat yang paling pakar dalam Alquran, paling baik bacaannya dan paling memahami syariat Islam. Rasulullah saw, sendiri pernah memujinya lewat sebuah hadis Yang artinya, "Umatku yang paling memahami halal dan haram adalah Muaz bin Jabal." H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah. Setelah penaklukan kota Mekah, warga Mekah memerlukan guru tetap yang dapat mengajari mereka tentang syariat Islam. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. meminta agar Muaz bin Jabal tinggal bersama warga Mekah untuk mengajari mereka Alquran dan pemahaman terhadap agama Islam. Ketika delegasi raja-raja Yaman datang menemui Rasulullah saw. untuk mengumumkan keislaman mereka, serta memohon ditunjuk beberapa orang guru buat mereka, Rasulullah saw. memilih Muaz bin Jabal salah seorang dari sahabat yang akan berangkat mengajari warga Yaman, bahkan dia adalah ketua delegasinya. Ketika mau berangkat, Rasulullah saw. datang melepas mereka seraya bersabda, Yang artinya, "Hai Muaz! Kemungkinan Anda tidak akan menjumpai saya lagi tahun ini, mungkin Anda hanya akan lintas dan melihat mesjid dan kuburan saya..." Ketika itu Muaz bin Jabal mencucurkan air mata karena keterharuan untuk berpisah dengan Rasulullah saw. Nyatanya, Rasulullah saw. berpulang ke rahmatullah dan tidak sempat bertemu dengan Muaz bin Jabal lagi. Sepeninggal Rasulullah saw. Muaz bin Jabal kembali ke Madinah. Karena tidak sanggup menahan emosinya berpisah dengan Rasulullah saw. Muaz bin Jabal langsung menangis. Ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah, beliau sempat menunjuk Muaz bin Jabal menjadi pendamai dalam persengketaan yang terjadi di antara suku Kilab. Berangkat ke Syam untuk mengajarkan Alquran: Masih di masa pemerintahan Umar bin Khatab r.a. Yazin bin Abu Sofyan, Gubernur Syam mengirim surat kepada khalifah Umar bin Khatab meminta dikirim seorang guru untuk mengajari warga Syam. Khalifah langsung menemui Muaz bin Jabal, Ubadah bin Shamit, Abu Ayub Al-Anshari, Ubai bin Kaab dan Abu Darda. Ketika itu Khalifah mengatakan, "Saudara kita di Syam meminta kita untuk mengajari mereka Alquran dan ajaran agama, tolonglah saya dibantu untuk menentukan tiga orang dari kalian. Jika perlu, kalian bisa lakukan undian, kalau tidak, saya akan menentukan langsung tiga dari kalian. Mereka menjawab, "Kenapa kami harus melakukan undian. Abu Ayub sudah tua bangka, Ubai bin Kaab sudah sakit-sakitan, tinggal tiga orang." Khalifah Umar r.a. mengatakan, "Kalau begitu, mulailah dari Khams, jika kalian tertarik dengan kondisi warganya, maka tinggalkanlah seorang dari kalian di sana, seorang pergi ke Damaskus dan yang seorang lagi ke Palestina. Mereka bertiga pun berangkat ke Khams dan mereka meninggalkan Ubadah bin Samit di kota itu, Abu Darda berangkat ke Damaskus sedangkan Muaz bin Jabal pergi ke Palestina. Wafatnya: Muaz bin Jabal tinggal dan menetap untuk seterusnya di Palestina. Suatu waktu beliau kena serangan penyakit, ketika itu dia mengatakan, "Selamat datang hai kematian! Selamat datang kepada pendatang yang tak kunjung datang! Selamat datang sang kekasih yang datang setelah kerinduan!" Kemudian dia menatap ke angkasa dan mengatakan, "Ya Allah! Engkau tahu, bahwa saya tidak senang dengan dunia ini dan tidak senang hidup lama di dalamnya untuk menanam pohon dan mengalirkan sungai, tetapi hanya

15/11/107:15

sn

122 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

sekadar untuk menahankan kehausan di padang jihad dan mengharungi kondisi-kodisi susah dan mendekati para ulama dengan mengadakan forum-forum zikir. Oleh sebab itu Ya Allah! Terimalah jiwa saya dengan penerimaan yang sebaik-baiknya sebagaimana Engkau menerima jiwa orang mukmin." Kemudian beliau pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

15/11/107:15

sn

123 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
MUHAMMAD BIN SIRIN

Tokoh Muslim

Lahir dan perkembangannya: Muhammad bin Sirin lahir pada masa pemerintahahan Usman r.a. Ayahnya, Sirin adalah seorang hamba milik Anas Bin Malik, seorang sahabat terhormat. Diperoleh dari kemenangan dalam peperangan ‘Ainut Tamr (sebuah daerah di sebelah barat Kufah) yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, pada masa pemerintahan Abu Bakar Sidik. Dia dimerdekakan oleh Tuannya, Anas. Ibunya bernama Sofia, seorang hamba milik Abu Bakar Sidik r.a. dan dimerdekakan juga. Kedua orang tuanya, terkenal mempunyai sifat saleh dan berkelakuan baik. Menuntut ilmu: Ibnu Sirin tumbuh dalam keluarga yang penuh ketakwaan dan berhati-hati dalam menjaga diri terhadap dosa serta banyak bergaul dengan sahabat terkemuka, seperti: Zaid bin Tsabit, Imran bin Hushain, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Dari mereka ini, Ibnu Sirin menimba ilmu, fikih dan meriwayatkan hadis Nabi saw. Popularitasnya: Muhammad bin Sirin terkenal di seluruh negeri Islam, sebagai orang yang mempunyai banyak ilmu dan berhati-hati dalam menjaga diri dari dosa. Dia mempunyai banyak cerita terkenal dengan para penguasa Bani Umaiyah. Dia tidak segan-segan menyampaikan kebenaran dan nasihat dengan terang-terangan. Salah satu di antaranya, dia pernah ditanya oleh Umar bin Hubairah, Gubernur Bani Umaiyah untuk Irak, “Bagaimana keadaan penduduk kotamu saat engkau tinggalkan wahai Abu Bakar (panggilan Ibnu Sirin)?” Ibnu Sirin menjawab, “Saya tinggalkan mereka pada saat kelaliman merajalela dan kamu lalaikan.” Dia lalu disenggol oleh pundak keponakannya, tetapi malah mengatakan, “Bukan kamu yang ditanya tetapi saya dan hal itu benar-benar suatu kesaksian yang apabila disembunyikan oleh seseorang, hatinya telah berdosa.” Setelah itu Ibnu Hubairah hendak memberikan sesuatu tetapi ditolaknya. Keponakannya menyayangkan hal itu sambil mengatakan, “Apa yang menghalangimu untuk tidak menerima pemberian gubernur?” Dia menjawab, “Dia memberikan itu karena mengira bahwa saya orang baik. Jika saya betul-betul baik seperti yang dia duga, maka tidak pantas bagiku untuk menerimanya. Jika tidak, maka lebih baik bagiku untuk tidak mengijinkan diriku untuk menerimanya.” Kehati-hatiannya dalam menjaga diri dari dosa: Di antara sikap hati-hati Ibnu Sirin dalam menjaga diri dari dosa, dia pernah mengatakan saat mendengar seseorang yang menjelekkan Hajaj setelah meninggal, “Diam kau, hai keponakanku! Hajaj telah berlalu menemui Tuhan. Kamu saat dihadapkan kepada Allah akan mendapatkan bahwa dosa paling kecil yang pernah engkau lakukan di dunia menjadi lebih berat atas dirimu daripada dosa paling besar yang pernah dilakukan Hajaj. Pada hari itu kalian berdua akan mendapatkan bagian masing-masing. Ketahuilah wahai keponakan! Bahwa Allah Yang Mahaperkasa akan mengambil kisas orang-orang yang pernah dilalimi Hajaj dari dirinya. Sebaliknya Allah juga akan mengambil kisasnya dari orang-orang yang pernah menzaliminya. Dari itu mulai hari ini janganlah engkau sibukkan dirimu untuk mencela seseorang!” Allah mengaruniai Ibnu Sirin sifat baik dan dapat diterima oleh orang banyak. Apabila orang-orang berada di pasar dan tenggelam dalam kelalaian kemudian melihat Ibnu Sirin, mereka langsung ingat, berzikir kepada Allah, bertahlil (mengucapkan La ilaha illa Allah), dan bertakbir. Dia mempunyai usaha dagang di pasar. Setiap kali pulang ke rumah dia langsung melakukan salat, membaca Alquran, dan menangis. Dalam berdagang, dia sangat hati-hati menjaga diri dari perbuatan dosa. Pernah suatu ketika dia membeli minyak seharga 4000 dengan pembayaran di belakang. Pada saat membuka salah satu botol minyak itu dia mendapatkan bangkai tikus yang sudah mengembung. Dia berkata dalam hati, “Semua minyak ini pada mulanya berada dalam satu tempat pemerasan dan najisnya

15/11/107:15

sn

124 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

tidak hanya dalam botol ini saja. Jika saya kembalikan kepada si penjual, bisa jadi dia akan menjualnya kepada orang lain.” Akhirnya minyak itu dia tumpahkan semuanya. Pujian ulama terhadap dirinya: Muwarraq al-‘Ijli mengatakan, “Saya tidak pernah mendapatkan orang yang lebih pandai dalam fikih sekaligus hati-hati dalam menjaga diri dari dosa daripada Muhammad bin Sirin. Juga tidak mendapatkan orang yang lebih berhati-hati dalam menjaga diri dan mengerti fikih daripada dirinya.” Wafatnya: Muhammad bin Sirin wafat pada usia 77 tahun. Semoga Allah memberinya rahmat.

15/11/107:15

sn

125 of 207

Kisah Sahabat
MUSH'AB BIN 'UMAIR Utusan Sang Utusan

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Sepulang dari mengikat janji dengan RasuluLlah di lembah Aqabah, ummat Islam Yastrib segera pulang kembali ke kotanya dan mulai menyusun strategi da'wah yang akan diterapkan di Yastrib. Situasi "ipoleksus" Yastrib saat itu benar-benar memerlukan pemikiran dan kerja bersama untuk menghadapinya. Saat itu jalur ekonomi dan politik dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Sistem riba yang diterapkan Yahudi sangat mengganggu roda perekonomian, dimana kesenjangan antara kaya dan miskin teramat kentara. Sementara itu kesatuan masyarakat Yastrib yang terdiri dari berbagai suku, selalu dalam kondisi terpecah dan saling curiga, ditambah dengan intrik-intrik Yahudi yang selalu meniupkan rasa permusuhan di antara mereka. Opini umum saat itu juga dikuasai Yahudi. Kedaan diperparah dengan kepercayaan tradisi leluhur dan animisme yang membelenggu cara berpikir masyarakat. Singkatnya, jalan da'wah di Yastrib masih terasa teramat sulit. Hasil pengamatan lapangan ini semua memerlukan analisis dan penyusunan strategi yang briliant, dan juga sekaligus "bil hikmah" serta "istiqomah". Perlu pendekatan kompromistis tanpa harus menyelewengkan nilai-nilai al-Islam. Mereka berpikir keras dan menyusun strategi. Akhirnya diputuskan untuk menempuh jalan da'wah sirriyyah (da'wah secara diam-diam). Dalam musyawarah pasca Aqabah itu, diputuskan juga untuk menugaskan seseorang untuk menghadap Rasulullah, meminta kepada beliau untuk mengirimkan seorang da'i dan instruktur ke Yastrib. Da'i ini dipandang sangat perlu untuk mengajar "alif-ba-ta"nya ajaran-ajaran Al-Qur'an, sekaligus menjadi "uswah" mereka dalam cara hidup yang Islami. Menurut mereka inilah cara terbaik untuk meningkatkan akselerasi da'wah di Yastrib, tanpa harus kehilangan arah. Rasulullah sangat menghargai nilai strategis yang telah diputuskan oleh kaum muslimin Yastrib, beliau juga sangat memahami obsesi yang mereka miliki saat itu. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mengabulkan permohonan delegasi Yastrib, serta menunjuk Mush'ab al Khair bin 'Umair RA. Tentunya bukan tanpa alasan RasuluLlah memilih pemuda pendiam yang satu ini. Beberapa sisi kehidupan yang ada pada diri Mush'ab sangat menentukan dalam mengantarkannya menduduki jabatan penting ini. Ia adalah kader Rasulullah hasil binaan dan tempaan madrasah Arqom bin Arqom. Dengan begitu kualitas dan taat asasnya sangat terjamin. Mush'ab adalah tipe muslim yang mengutamakan banyak kerja. Dengan sikap "sami'na wa atho'na", Mush'ab menerima tugas yang diamanahkan RasululuLlah ke atas pundaknya. Jadilah ia seorang utusan dari Sang Utusan. Dengan segera, sesampainya di Yastrib, Mush'ab menemui para naqib (pimpinan kelompok) yang ditunjuk Rasulullah di Aqabah. Dengan mereka, Mush'ab membuat outline langkahlangkah da'wah yang akan mereka lakukan. Untuk menghindari benturan langsung dengan masyarakat Yahudi, yang saat itu sangat geram karena mengetahui bahwa Nabi Terakhir ternyata bukan dari kalangan mereka, Mush'ab menetapkan untuk mempertahankan jalan da'wah secara sirriyyah. Disamping itu, ditetapkan untuk mempertinggi intensitas da'wah kepada beberapa kabilah, terutama Aus dan Khajraj, karena kedua kabilah ini dinilai sangat potensial dan merupakan kunci dalam memudahkan jalan da'wah. Mush'ab bin Umair terjun langsung memimpin para naqib dalam berda'wah. Beliau berda'wah tanpa membagi-bagikan roti dan nasi atau jampi-jampi. Ia meyakini Islam ini adalah dienul-haq, dan harus disampaikan dengan haq (benar) pula, bukan dengan bujukan apalagi paksaan. Mush'ab terkenal sangat lembut namun tegas dalam menyampaikan da'wahnya, termasuk ketika ia diancam dengan pedang oleh

15/11/107:15

sn

126 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Usaid bin Khudzair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka Bani Abdil Asyhal. Dengan tenang, Mush'ab berkata: "Mengapa anda tidak duduk dulu bersama kami untuk mendengarkan apa yang saya sampaikan? Bila tertarik, alhamduliLlah, bila tidak, kami pun tidak akan memaksakan apa-apa yang tidak kalian sukai." Keduanya terdiam dan menerima tawaran Mush'ab, duduk mendengarkan apa yang dikatakannya. Mereka ternyata tidak hanya sekedar tertarik, dengan seketika keduanya bersyahadat dan tidak itu saja mereka kembali kepada kelompok masyarakatnya dan mengajak mereka semua memeluk Islam. Demikianlah, satu persatu kabilah-kabilah di Yastrib menerima Islam. Hampir semua anggota kedua kabilah besar: Aus dan Khajraj, mau dan mampu menerima Islam. Gaya hidup terasa mulai berubah di Yastrib. Lingkaran jamaah muslim semakin melebar, hampir di setiap perkampungan ditemui halaqahhalaqah Al-Qur'an. Potensi ummat telah tergalang, namun demikian Mush'ab tidak lantas merasa berwenang untuk memutuskan langkah da'wah selanjutnya. Untuk itu Mush'ab mengirim utusan kepada Rasulullah untuk meminta pendapat beliau mengenai langkah da'wah selanjutnya, apakah perlu diadakan "show of force" dengan sholat berjamaah. Musim haji tiba! Mush'ab bersama tujuh puluhan muslim Yastrib menuju Makkah dengan tujuan utama menemui pimpinannya: Rasulullah SAW, untuk melaporkan hasil dan problema da'wah di Yastrib, serta mengantarkan para muslimin Yastrib untuk berbai'ah kepada Rasulullah SAW. Mush'ab tidak berlamalama di kampung halamannya, karena tugasnya di Yastrib telah menanti. Beliau segera kembali bersama rombongan menuju ke Yastrib untuk semakin menggiatkan aktifitas da'wah, serta mempersiapkan kondisi bila sewaktu-waktu Rasulullah dan muslimin Makkah berhijrah ke Yastrib. Penerapan nilai-nilai Islam di Yastrib berjalan mulus, murni dan konsekuen. Kaum Yahudi tidak banyak berbicara, mereka melihat kekuatan muslimin yang semakin besar, sulit untuk dipecah. Singkatnya, saat itu, kota Yastrib dan mayoritas penduduknya telah siap secara aqidah dan siyasah (politik). Mereka dengan antusias menantikan kedatangan Rasulullah dan muslimin Makkah. Akhirnya, sampailah para muhajirrin dari Makkah di Madinah Islam berkembang semakin luas dan kuat. Pada titik ini, bukan berarti Mush'ab minta pensiun, karena beliau menyadari bahwa tugas seorang da'i tak kenal henti. Beliau tetap terlibat aktif dalam da'wah dan peperangan. Beliau mendapatkan syahid-nya di medan pertempuran Uhud. RasuluLlah sangat terharu sampai menitikkan air mata ketika melihat jenazah Mush'ab. Kain yang dipakai untuk mengkafaninya tidak cukup, bila ditarik untuk menutupi kepalanya, tersingkaplah bagian kakinya, dan bila di tarik ke bawah, tersingkaplah bagian kepalanya. Rasulullah terkenang dengan masa muda pemuda Quraisy ini yang mempunyai puluhan pasang pakaian yang indah-indah. Saat itulah Rasulullah membaca bagian dari surat al-Ahzab ayat 23: "Sebagian mu'min ada yang telah menepati janji mereka kepada Allah, sebagian mereka mati syahid, sebagian lainnya masih menunggu, dan mereka memang tidak pernah mengingkari janji." Mush'ab bin 'Umair wafat dalam usia belum lagi 40 tahun. Ia masih muda, tidak sempat melihat hasil positif dari kerja akbar yang telah dilakukannya. Semoga ALlah Rabbul Jalil merahmati Mush'ab alKhair bin 'Umair. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

127 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

MUSTAPHA AKKAD (Melawan Zionis dan Amerika Melalui Film) Pernahkah Anda menyaksikan film The Message, yang menuturkan kisah perjuangan Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya? Atau pernah menyaksikan film Omar Mukhtar: The Lion of the Desert, yang mengisahkan perjuangan heroik Omar Mukhtar seorang tokoh muslim Libya melawan tentara pendudukan Italia, yang dibintangi sederet aktor dan artis Barat seperti: Anthony Quin, Irene Papas, Oliver Reed, dan Rod Steiger? Keberhasilan dan ketenaran kedua film tersebut tidak lepas dari tangan dingin sutradaranya yaitu Musthapa Akkad. Keberhasilan gemilang Mustapha Akkad dalam bidang perfilman diraihnya melalui perjalanan panjang yang berat dan keras. Pada usia 19 tahun ia meninggalkan negerinya Syiria menuju Amerika. Ia sangat tertarik terhadap industri film Holywood. Awal perjuangannya ia mulai dengan mengumpulkan biaya sekolah di Los Angeles dengan bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran. Di sela waktu luang bekerjanya itulah ia mengambil studi bidang teater dan film. Setelah menyelesaikan studinya di Los Angeles Mustapha Akkad mencoba masuk industri film Hollywood. Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerah ia berhasil menembus Holywood dan diangkat oleh Sam Peckinpas sebagai asisten produksi. Sejak itu namanya dikenal oleh insan perfilman Amerika. Suatu saat Akkad menyaksikan program tentang Islam di televisi. Betapa perih hatinya melihat gambaran buruk yang ditampilkan oleh program tersebut tentang agama yang ia peluk dengan teguh. Meledaklah gugatannya: "Tidak boleh tidak, harus lahir karya-karya film besar tentang Islam dan para tokoh muslim". Segeralah tahun 1974 ia memulai langkah membuat film The Message di Maroko. Setelah sukses film perdananya menyusulah kemudian karya-karyanya yang lain antara lain Omar Muktar: The Lion of the Desert dan The Princess of Al-hambra. Perjalanan hidup Akkad di Los Angeles dimulai dengan menjadi mahasiswa yang belum tahu apa-apa. Sambutan pertama yang diberikan kota itu kepadanya ialah 'tempaan' untuk bekerja keras dan sanggup untuk menaklukan segala tantangan yang menghadang. Semua tantangan-tantangan itu mampu ia taklukan. Akkad berasumsi bahwa tangguh tidaknya suatu bangsa tergantung pada para tokoh dan pemimpinanya. Ketika Islam baru pertama kali muncul misalnya, sosok Muhammad mengenal bagaimana kepribadian beliau yang tangguh dan mulia. Andaikan kepribadian beliau lemah, niscaya orang-orang tidak akan mengikutinya. Kondisi seperti itu salah satunya bisa ditampilkan melalui film. Hal inilah yang memacunya untuk membuat film Tarik bin Ziad. Ketertarikan Akkad terhadap Tarik bin Ziad dilatarbelaknagi oleh keadaan Andalusia (kini Spanyol) mirip dengan kondisi sejarah modern dunia Arab, walaupun diakuinya ia tidak begitu perhatian terhadap isi. Film dokumentar lain yang masih dalam perencanaanya adalah adalah film tentang figur Salahudin al-Ayyubi. Perjalanan karya Akkad terus dibayangi oleh kejaran agen-agen mafia perfilman zionis dan Amerika sendiri, akibatnya ia banyak tertekan dan senantiasa berjuang keras mewujudkan film-film Islam yang berkualitas. Salah satunya tantangannya adalah ketika ia membuat film dokumenter tentang Gamel Abdul Nasher yang berdurasi sekitar tiga jam. Ketika film dokumenter ini laris dan bebas tayang di Eropa, justru di AS sendiri dihambat sedemikian rupa. AS memberi syarat kalau film ini ingin tayang yaitu menghilangkan dua babak terpenting dalam film tersebut. Salah satu babak diantaranya adalah peristiwa peledakan yang dilakukan Mossad (dinas rahasia Israel)terhadap lembaga-lembaga AS di Mesir dengan tujuan memperburuk hubungan AS dan Mesir. Ketika pelakunya ditangkap terbongkarlah kasus ini, sehingga Perdana Israel harus mundur. Babak lain yang disensor tv AS adalah tenggelamnya kapal AS Liberty akibat tembakan pesawat-pesawat Israel, akibat ketakutan Israel, yang padahal temennya sendiri, akan merugikan Israel. Musthapa Akkad bukanlah satu-satunya penegak kebenaran Islam melalui dunia film, namun masih ada ribuan orang potensial yang belum termaksimalkan karyanya. Siapa lagi yang menyusul dan 'berjihad' lewat dunia media dan film, khususnya membendung ekspedesi zionis Yahudi yang senantiasa mengintai dan mengalahkan manusia. Siapa lagi menyusul !

15/11/107:15

sn

128 of 207

Kisah Sahabat
RABI'AH bin KA'AB

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Rabi'ah bin Ka'ab bercerita tentang riwayat hidupnya dalam Islam. Katanya, "Dalam usia muda jiwaku sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hati kecilku sudah penuh berisi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama kali aku berjumpa dengan Rasulullah SAW, aku langsung jatuh cinta kepada beliau dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat tertarik kepadanya, sehingga aku berpaling kepada beliau seorang dari yang lain. Pada suatu hari hati kecilku berkata, "Hai Rabi'ah! Mengapa engkau tidak berusaha untuk berkhidmat menjadi pelayan kepada Rasulullah SAW? Cobalah usahakan. Jika beliau menyukaimu engkau pasti akan bahagia berada di samping beliau dalam mencintainya dan akan beroleh keuntungan di dunia dan akhirat." Berkat desakan hati, aku segera mendatangi Rasulullah SAW dengan penuh harapan semoga beliau menerimaku untuk berkhidmat kepadanya. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Beliau menyukai dan menerimaku menjadi pelayannya. Sejak hari itu aku senantiasa di samping beliau, selalu berada di bawah bayang-bayangnya. Aku ikut kemana beliau pergi dan selalu siap dalam lingkungan tempat beliau berada. Bila beliau mengedipkan mata ke arahku, aku segera berada di hadapannya. Bila beliau membutuhkan sesuatu, aku sudah siap sedia melayaninya. Aku melayani beliau sepanjang hari sampai habis waktu Isya' yang terakhir. Ketika beliau pulang ke rumahnya hendak tidur, barulah aku berpisah dengannya. Tetapi, hatiku selalu berkata, "Hendak ke mana engkau hai Rabi'ah? Mungkin Rasulullah membutuhkanmu tengah malam." Karena itu aku duduk di muka pintu beliau dan tidak pergi jauh dari bendul rumahnya. Tengah malam beliau bangun untuk shalat. Sering kali aku mendengar beliau membaca surat Al-Fatihah. Beliau senantiasa membacanya berulang-ulang sejak dari pertengahan malam ke atas. Setelah mataku mengantuk benar, barulah aku pergi tidur. Sering pula aku mendengar beliau membaca, "Sami'allaahu liman hamidah." Kadang-kadang beliau membacanya ulang dengan tempo yang lebih lama daripada jarak ulangan membaca Al-Fatihah. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, jika seorang berbuat baik kepadanya, beliau lebih suka membalasnya dengan yang paling baik. Begitulah, beliau membalas pula pelayananku kepadanya dengan yang paling baik. Pada suatu hari beliau memanggilku seraya berkata, "Hai Rabi'ah bin Ka'ab!" "Saya, ya Rasulullah!" jawabku sambil bersiap-siap menerima perintah beliau. "Katakanlah permintaanmu kepadaku, nanti kupenuhi," kata beliau. Aku diam seketika sambil berpikir. Sesudah itu aku berkata, "Ya Rasulallah, berilah aku sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu akan kuberitahukan kepada Anda." "Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah. Aku seorang pemuda miskin, tidak berkeluarga, tidak punya harta dan tidak punya rumah tinggal di shuffatul masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasib, yaitu orang-orang fakir kaum muslimin. Masyarakat menyebut kami "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila seorang muslim memberi sedekah kepada Rasulullah, sedekah itu diberikan beliau kepada kami seluruhnya. Bila ada yang memberikan hadiah kepada beliau, diambilnya sedikit dan lebihnya diberikan beliau kepada kami. Nafsuku mendorong supaya aku meminta kekayaan dunia kepada beliau, agar aku terbebas dari kefakiran seperti orang-orang lain yang menjadi kaya, punya harta, istri, dan anak. Tetapi, hati kecilku berkata, "Celaka engkau, hai Rabi'ah bin Ka'ab! Dunia akan hilang lenyap dan rezkimu di dunia sudah dijamin Allah, pasti ada. Padahal, Rasulullah SAW yang berada dekat Rabnya, permintaannya tak pernah ditolak. Mintalah supaya beliau mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu." Hatiku mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian aku datang kepada Rasulullah,

15/11/107:15

sn

129 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

lalu beliau bertanya, "Apa permintaanmu, wahai Rabi'ah?" Jawabku, "Ya Rasulullah! aku memohon semoga Anda sudi mendoakan kepada Allah Taala agar aku teman Anda di surga." Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, "Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?" Jawabku, "Tidak, ya Rasulullah! rasanya tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaan tersebut bagiku." "Kalau begitu bantulah saya dengan dirimu sendiri. Banyak-banyaklah kamu sujud," kata Rasulullah. Sejak itu aku bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntunganku melayani beliau di dunia. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilku, katanya, "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" Jawabku, "Aku tidak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, aku tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup atau tegaknya rumah tangga. Rasulullah diam saja mendengar jawabanku. Tidak lama kemudian beliau memanggilku kali yang kedua. Kata beliau, "Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?" Aku menjawab seperti jawaban yang pertama. Tetapi setelah aku duduk sendiri, aku menyesal. Aku berkata kepada diri sendiri, "Celaka engkau hai Rabi'ah! Mengapa engkau menjawab begitu? Bukankah Rasulullah lebih tahu apa yang baik bagimu mengenai agama maupun dunia, dan beliau lebih tahu daripada kamu tentang dirimu sendiri? Demi Allah jika Rasulullah memanggilku lagi dan bertanya masalah kawin, akan kujawab, ya." Memang tidak berapa lama kemudian Rasululah SAW menanyakan kembali, "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" Jawabku, "Tentu, ya Rasulullah! Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi." Kata Rasululah SAW, "Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka Rasulullah menyuruh kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau." Dengan malu-malu aku datang ke rumah mereka. Lalu kukatakan, "Rasulullah mengutusku ke sini, agar kalian mengawinkan denganku anak perempuan kalian si Fulanah." Jawabku, "Ya, si Fulanah?" Kata mereka, "Marahaban, bi Rasulilah, wa marhaban bi rasuli Rasulillah!" (Selamat datang ya Rasulullah dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah! Utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!" Lalu, mereka nikahkan aku dengan anak gadisnya. Sesudah itu aku datang menemui Rasulullah SAW. Kataku, "Ya Rasulullah! aku telah kembali dari rumah keluarga yang baik. Mereka mempercayaiku, menghormatiku, dan menikahkan anak gadisnya denganku. Tetapi, bagaimana aku harus membayar mahar mas kawinnya?" Rasulullah memanggil Buraidah ibnu al-Kasib, seorang sayyid di antara beberapa sayyid dalam kaumku, Bani Aslam. Kata beliau, "Hai, Buraidah! kumpulkan emas seberat biji kurma, untuk Rabi'ah bin Ka'ab!" Mereka segera melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Emas sudah terkumpul untukku. Kata Rasulullah kepadaku, "Berikan emas ini kepada mereka. Katakan, "Ini mahar kawin anak perempuan kalian." Aku pergi mendapatkan mereka, lalu kuberikan emas itu sebagaimana dikatakan Rasulullah. Mereka sangat senang dan berkata, "Bagus, banyak sekali!" Aku kembali menemui Rasulullah SAW. Kataku, "Belum pernah kutemui suatu kaum yang sebaik itu. Mereka senang sekali menerima emas yang aku berikan. Walaupun sedikit, mereka mengatakan, "Bagus, banyak sekali!" Sekarang, bagaimana pula caranya aku mengadakan kenduri, sebagai pesta perkawinanku? Dari mana aku akan mendapatkan biaya, ya Rasulullah?" Rasulullah berkata kepada Buraidah, "Kumpulkan uang seharga seekor kibasy, beli kibasy yang besar dan gemuk!" Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Temui Aisyah Minta kepadanya gandum seberapa ada padanya." Aku datang menemui ''Aisyah Ummul Mukminin. Kataku, "Ya, Ummul Mukminin! Rasulullah menyuruhku minta gandum seberapa yang ada pada ibu." ''Aisyah menggantangi gandum yang tersedia itu di rumahnya. Katanya, "Inilah yang ada pada kami, hanya ada tujuh gantang. Demi Allah! tidak ada lagi selain ini, bawalah!" Aku pergi ke rumah istriku membawa kibasy dan gandum. Kata mereka, "Biarlah kami yang memasak gandum. Tetapi kibasy, sebaiknya Anda serahkan kepada kawan-kawan Anda memasaknya." Aku dan beberapa orang suku Aslam mengambil kibasy tersebut, lalu kami sembelih dan kuliti, sesudah itu kami masak bersama-sama. Kini sudah tersedia roti dan daging untuk kenduri perkawinanku, beliau

15/11/107:15

sn

130 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

datang memenuhi undanganku. Alhamdulillah. Kemudian, Rasulullah menghadiahkan sebidang kebun kepadaku, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Shidiq. Dunia kini memasuki kehidupanku. Sehingga, aku sempat berselisih dengan sahabat senior Abu Bakar Shidiq, mengenai sebatang pohon kurma. Kataku kurma itu berada dalam kebunku, jadi milikku. Kata Abu bakar, tidak, kurma itu berada dalam kebunnya dan menjadi miliknya. Aku tetap ngotot dan membantahnya, sehingga dia mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah dia sadar atas keterlanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, dia menyesal dan berkata kepadaku, "Hai Rabi'ah! Ucapkan pula kata-kata seperti yang saya lontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!" Jawabku, "Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!" Kata Abu Bakar, "Saya adukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!" Lalu dia pergi menemui Rasulullah SAW. Aku mengikutinya dari belakang. Kaumku Bani Aslam mencela sikapku. Kata mereka, "Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?" Jawabku kepada mereka, "Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah "Ash-Shidiq", sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Karena kemarahan beliau berdua, Allah akan marah pula, akhirnya si Rabi'ah yang celaka?" Mendengar kata-kataku mereka pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW, lalu diceritakannya kepada beliau apa yang terjadi antarku dengannya, sesuai dengan fakta. Rasulullah mengangkat kepala seraya berkata padaku, "Apa yang terjadi antaramu dengan Shiddiq?" Jawabku, "Ya Rasulullah! Beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya." Kata Rasulullah, "Bagus!" Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi, katakanlah, "Ghaffarallaahu li abi bakar." (Semoga Allah mengampuni Abu Bakar). Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, "Jazaakallaahu khairan, ya Rabi'ah bin Ka'ab." (Semoga Allah membalas engkau dengan kebajikan, hai Rabi'ah bin Ka'ab).

(Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Dr. Abdur Rahman Ra'fat Basya)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

131 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

RAMLAH binti ABI SUFYAN (Ummu Habibah) Tiada pernah terlintas dalam pikiran Abu Sufyan bin Harab akan ada orang Quraisy yang berani keluar dari genggaman kekuasaannya, terutama mengenai soal-soal yang sangat prinsipil. Karena, dia penguasa dan pemimpin Mekkah. Segala peraturan yang digariskannya dilaksanakan dengan patuh. Tetapi putrinya sendiri, Ramlah alias Ummu Habibah, telah mematahkan kekuasaan dan kepemimpinan tersebut secara terang-terangan. Ramlah keluar dari agama berhala yang dianut bapaknya, lalu dia dan suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, serta membenarkan kerasulan Nabi-Nya, Muhammad bin Abdullah. Abu Sufyan telah berupaya dengan segala kekuasaan dan kekuatan yang ada padanya untuk mengembalikan putrinya suami-istri ke agama nenek moyang mereka yang menyembah berhala. Tetapi, dia tidak pernah berhasil. Karena iman yang terhujam ke dalam kalbu Ramlah sangat dalam dan terlalu kokoh untuk dapat dicabut atau digoyahkan oleh angin puting beliung dan badai kemarahan Abu Sufyan. Abu Sufyan mendapat kesulitan besar karena Ramlah masuk Islam. Dia bingung bagaimana seharusnya menghadapi kaum Quraisy. Padahal, putrinya sendiri tidak dapat ditundukkannya di bawah kemauannya. Dan, bagaimana seharusnya menetapkan garis demarkasi antara Quraisy dan kaum muslimin pengikut Muhammad. Tatkala kaum Quraisy mengetahui Abu Sufyan marah terhadap putrinya suami istri, mereka pun ikut-ikutan memarahi keduanya. Mereka malah bertindak mengejek, menghina, bahkan menyakiti keduanya. Sehingga, akhirnya mereka berdua tidak betah tinggal di Mekkah. Setelah Rasulullah SAW mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Habasyah, Ramlah dan anak perempuannya, Habibah, yang masih kecil, beserta suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, termasuk rombongan yang pertama-tama hijrah. Mereka pergi meninggalkan kampung halaman, membawa iman dan agamanya ke bawah perlindungan Najasy, raja Habasyah. Abu Sufyan bin Harb dan para pemimpin Quraisy lainnya merasa mendapat pukulan berat dengan lolosnya kaum muslimin dari tangan mereka. Karena di Habasyah kaum muslimin dapat menikmati kebebasan dan ketenteraman melaksanakan ajaran agama tanpa suatu gangguan. Lalu, dikirimnya suatu delegasi menghadap Najasyi untuk mempengaruhi raja tersebut, dan menuntut supaya menyerahkan kembali kepada Quraisy kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah. Mereka mengatakan kepada Najasyi, kaum muslimin menghina Isa Al-Masih dan ibunya dengan penghinaan yang menyakitkan. Najasyi memanggil para pemimpin muhajirin, menanyakan kepada mereka hakikat ajaran Islam, terutama mengenai Isa Al-Masih dan ibunya, Maryam. Bahkan, raja meminta supaya dibacakan kepada baginda ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah hakikat Islam dan beberapa ayat Al-Qur'an dibacakan, Najasyi menangis bercucuran air mata hingga membasahi jenggotnya. Kemudian Najasyi berkata, "Agama yang diturunkan kepada Nabi kalian dan yang diturunkan kepada Isa Ibnu Maryam, kedua-duanya, berasal dari satu sumber." Lalu, dia menyatakan dirinya beriman kepada Allah Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, serta mengakui kenabian Muhammad SAW. Tetapi sayang, para pemimpin Habasyah lainnya masih enggan menerima Islam menjadi agama mereka, walaupun mereka dengan ikhlas melindungi kaum muslimin tinggal di Habasyah. Mereka tetap menganut agama Nasrani menjadi agama mereka. Setelah tiba di Habasyah, Ummu Habibah optimis akan segera menikmati masa cerah, sesudah lama mengalami hari-hari nan suram. Perjalanan berat penuh kesulitan telah membawanya ke tempat yang aman. Namun, dia tidak tahu apa yang bakal terjadi di hadapannya. Kebijakan Allah yang penuh barakah dan kebajikan menghendaki untuk menguji iman Ummu Habibah dengan ujian-ujian yang maha berat. Orang-orang pintar sekalipun sulit menebaknya. Kemudian, Allah mengeluarkannya dari ujian tersebut sebagai pemenang, dan akan menempatkannya di puncak tertinggi.

15/11/107:15

sn

132 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Pada suatu malam Ummu Habibah bermimpi dalam tidurnya. Dia melihat suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, mendapat kecelakaan di lautan nan gelap dan bergelombang besar gulung-bergulung. Keadaannya sangat menghawatirkan. Ummu Habibah terbangun dari tidurnya dengan ketakutan. Namun, dia tidak menceritakan mimpinya kepada suami atau kepada siapa pun. Tidak lama kemudian mimpi itu terbukti benar. Suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, murtad dari Islam, lalu masuk Nasrani. Kemudian dia terseret ke warung-warung minuman keras, sehingga dia menjadi pemabuk yang tidak kenal puas. Suaminya memberikan dua pilihan yang sama-sama pahit kepada istrinya, Ummu Habibah: cerai atau ikut menjadi orang Nasrani. Ummu Habibah dengan tiba-tiba mendapati dirinya berada di tengah jalan bersimpang tiga. Pertama, memperkenankan ajakan suaminya yang dengan nyinyir mendesaknya masuk Nasrani. Dengan begitu dia murtad dari Islam, dan kembali kepada kehinaan dunia dan siksa akhirat. Dia telah bertekad tidak akan melakukan hal itu, sekalipun dagingnya akan habis disikat dari tulang belulangnya. Kedua, kembali ke rumah bapaknya di Mekah. Padahal, rumah bapaknya merupakan kubu pertahanan kaum musyrikin. Sudah pasti di sana dia dengan agamanya akan hidup tertindas. Ketiga, tetap tinggal di Habasyah seorang diri sebagai pelarian, tanpa famili, kampung halaman, dan tanpa ada yang membantu dan melindungi. Ternyata Ummu Habibah memilih yang diridhai Allah dari segala-galanya. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di Habsyah, sampai Allah memberi jalan keluar baginya. Ummu Habibah tidak lama menunggu. Sesudah 'iddahnya habis dari suaminya yang tidak lama hidup setelah menjadi Nasrani, dia memperoleh jalan keluar. Tanpa diduga kebahagiaan datang mengunjunginya sambil menari-nari menggerakkan sayap yang bagaikan zamrud di atas rumahnya yang penuh duka. Pada suatu hari nan cerah, pintu rumahnya diketuk orang. Setelah dibukakan, kiranya yang datang bertamu adalah Abrahah, ajudan khusus baginda Najasyi. Abrahah memberi hormat kepadanya dengan sopan santun dan muka manis, sambil meminta izin masuk. Ummu Habibah menyilakannya masuk penuh kekuatiran. Kata Abrahah, "Baginda raja mengirim salam untuk Anda. Baginda bertitah, Muhammad Rasulullah melamar Anda untuk pribadinya. Beliau berkirim surat mewakilkan kepada baginda untuk melakukan akad nikahnya dengan Anda. Karena itu, tunjuklah wakil yang Anda sukai untuk melakukan akad nikah ini." Ummu Habibah seperti hendak terbang kegirangan berteriak sambil berucap dengan suka cita, "Semoga Allah membahagiakan engkau dengan segala kebaikan ...," katanya kepada Abrahah. Mula-mula ditanggalkannya gelang tangan, kemudian gelang kaki, menyusul pula anting dan cincin. Seandainya Ummu Habibah memiliki perbendaharaan dunia, mungkin diberikannya semua kepada Abrahah ketika itu. Kata Ummu Habibah, "Aku menunjuk Khalid bin Sa'id bin Ash mewakiliku. Karena, dialah keluarga terdekat bagiku." Istana Najasyi terletak di tempat ketinggian berpohon-pohon yang berbaris rapi, menghadap ke sebuah taman Habasyah nan indah menawan. Dalam sebuah aula yang luas berhias ukiran dan lukisan elok, diterangi lampu-lampu cemerlang, berhamparkan permadani bulu yang indah, telah berkumpul wajah-wajah para sahabat yang bermukim di Habasyah. Di antaranya terdapat pemimpinpemimpin seperti Ja'far bin Abi Thalib, Khalid bin Sa'id bin Ash, Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy, dan lain-lain untuk menyaksikan upacara mulia dan suci, yaitu akad nikah Ummu Habibah binti Abu Sufyan dengan Muhammad Rasulullah SAW. Setelah semua lengkap hadir, Najasyi muncul ke majelis. Baginda berkata, "Aku memuji Allah Yang Maha Qudus, Al-Mukminul Jabar, dan aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang kerasulannya telah diberitakan oleh Isa Ibnu Maryam. Kemudian, bahwasanya Rasulullah SAW memintaku untuk mewakilinya dalam pernikahannya dengan

15/11/107:15

sn

133 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dengan maharnya empat ratus dinar emas, memenuhi sunah Allah dan Rasul-Nya!" Baginda Najasyi mencurahkan uang dinar ke hadapan Khalid bin Sa'id bin Ash. Khalid berdiri dan berkata, "Segala puji bagi Allah; Aku memuji-Nya; memohon pertolongan-Nya; memohon ampun dan tobat kepada-Nya. Aku mengakui sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan agama yang hak, mengatasi segala agama, sekalipun tidak disukai orang-orang kafir." Kemudian, selaku wakil dari Ummu Habibah aku penuhi permintaan Rasulullah SAW. Aku kawinkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Semoga Allah melimpahkan barakah-Nya bagi perkawinan Rasulullah dengannya. Dan, semoga Ummu Habibah berbahagia dengan kebajikan yang telah ditetapkan Allah baginya." Sesudah itu Khalid memungut uang yang tercurah di hadapannya, dan bermaksud hendak pergi, untuk menyampaikan uang tersebut kepada Ummu Habibah. Melihat Khalid hendak pergi, para sahabat yang lain berdiri hendak pergi bersama-sama dengan Khalid. Maka bertitah Najasyi, "Silahkan Tuan-Tuan duduk lebih dahulu. Telah menjadi sunah para nabi apabila melakukan upacara perkawinan, mereka mengadakan kenduri dan makan-makan ala kadarnya." Najasyi menyilakan mereka makan, sesudah makan barulah mereka pergi. Kata Ummu Habibah, "Setelah uang mahar kuterima, maka kukirimkan kepada Abrahah yang menyampaikan berita gembira ini kepadaku sebanyak lima puluh mitsqal. Aku berkata kepadanya, "Telah kuberikan kepadamu segala perhiasanku ketika engkau menyampaikan berita gembira ini kepadaku. Sekarang aku tidak mempunyai harta lagi yang dapat kuberikan kepadamu selain uang ini." "Tidak lama kemudian Abrahah datang kepadaku mengembalikan uang yang baru kuberikan kepadanya. Kemudian dikeluarkannya sebuah kotak yang bagus berisi perhiasan yang telah kuberikan kepadanya. Lalu, kotak itu diberikannya kepadaku."

(Sumber : Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Abdulrahman Ra'fat Basya.)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

134 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

RUQAYYAH binti ROSULULLAH SAW, Isteri Utsman Rombongan muhajir ke Habasyah membawa 11 orang wanita. Ini berarti bahwa wanita Muslim adalah bagian dari da'wah dan jihad dijalan Allah SWT. Mereka tinggalkan kesenangan hidup yang hanya sebentar, berupa harta, anak dan keluarga serta negeri demi Allah. Mereka tinggalkan tanah airnya yang mahal dan berangkat menuju Habasyah, sebuah negeri yang jauh dengan penduduk yang berlainan bangsa, warna dan suku, demi membela aqidah yang diimaninya. Tatkala fajar da'wah memancar dari Mekkah, maka muhajir pertama bukanlah dua orang laki-laki, tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua muhajir ini adalah Utsman bin Affan dan isterinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW. Ruqayyah lahir sesudah kakaknya, Zainab. Sesudah kedua orang itu, muncullah Ummu Kultsum yang menemani dalam hidupnya setelah Zainab menikah. Ketika keduanya mendekati usia perkawinan, Abu Thalib meminang mereka berdua untuk kedua putera Abu Lahab. Allah SWT menghendaki perkawinan ini tidak berlangsung lama, karena melihat sikap Abu Lahab terhadap Islam. Akan tetapi Allah SWT menampilkan Utsman bin Affan kepada kedua puteri itu. Maka dia pun menikah dengan Ruqayyah dan hijrah bersamanya ke Habasyah. Ummu Kultsum tetap tinggal bersama ayah dan ibunya menunggu sesuatu yang ditakdirkan baginya. Imam Adz-Dzahabi berkata :"Ruqayyah hijrah ke Habasyah bersama Utsman dua kali. Nabi SAW bersabda :"Sesungguhnya kedua orang itu (Utsman dan Ruqayyah) adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Allah sesudah Luth."[ "Siyar A'laamin Nubala'"; juz 2, halaman 78] Anas bin Malik r.a. berkata : Utsman bin Affan keluar bersama isterinya, Ruqayyah, puteri Rasulullah SAW menuju negeri Habasyah. Lama Rasulullah SAW tidak mendengar kabar kedua orang itu. Kemudian datang seorang wanita Quraisy berkata :"Wahai, Muhammad, aku telah melihat menantumu bersama isterinya." Nabi SAW bertanya :"Bagaimanakah keadaan mereka ketika kau lihat ?" Wanita itu menjawab :"Dia telah membawa isterinya ke atas seekor keledai yang berjalan pelahan, sementara ia memegang kendalinya." Maka Rasulullah SAW bersabda :"Allah menemani keduanya. Sesungguhnya Utsman adalah laki-laki pertama yang hijrah membawa isterinya, sesudah Luth a.s." Ruqayyah kembali bersama Utsman ke Mekkah dan mendapati ibunya telah berpulang kepada Ar-Rafiiqil A'laa. Kemudian kaum Muslimin pindah dari Mekkah ke Madinah semuanya. Ruqayyah juga ikut hijrah bersama suaminya, Utsman, sehingga dia menjadi wanita yang hijrah dua kali. Penyebab hijrah ke Habasyah adalah takut fitnah dan menyelamatkan agama mereka menuju Allah. Bukan menyebarkan agama Islam, karena negeri Habasyah pada waktu itu menganut agama Masehi dan agama Masehi di sana tidak akan menerima agama baru yang menyainginya, meskipun Habasyah diperintah oleh raja yang tidak menganiaya seseorang. Hijrah ke Habasyah merupakan bagian dari peralihan dan kelanjutan perjuangan, karena hasil yang diharapkan oleh kaum muhajirin dari hijrah mereka ke Habasyah adalah menyelamatkan agamanya ke negeri yang memberi ketenangan bagi mereka di sana. Di negeri itu mereka tidak mengalami kekerasan dan gangguan, sampai ketika saudara-saudara mereka di Mekkah ditakdirkan binasa hingga orang terakhir, membawa panji da'wah sebagai penerus. Adapun hijrah ke Madinah, maka penyelamatan agama adalah salah satu sebabnya, tetapi bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah perubahan dan kelanjutan perjuangan di mana para muhajirin dapat mendirikan sebuah tanah air tempat hijrah mereka. Selama 13 tahun Islam merupakan agama tanpa tanah air dan rakyat tanpa negara. Hijrah yang merupakan tahap kedua di antara tahaptahap da'wah adalah tahap perjuangan yang paling rumit. Apabila tahap perjuangan ini telah memiliki sifat petualangan, maka sesungguhnya petualangan itu hanyalah semacam perjuangan, bahkan macam

15/11/107:15

sn

135 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

perjuangan heroik tertinggi. Tahap perjuangan ini berhasil mendapat kemenangan. Iman mengalahkan kekuatan, roh mengalahkan materi dan kebenaran mengalahkan kebathilan. Sesungguhnya kebesaran dari kemenangan itu sulit digambarkan dan dinilai. Kebebasan dari ketakutan dan perjuangan menuju keamanan. Kebebasan dari perbudakan dan perjuangan menuju kemerdekaan. Kebebasan dari kehinaan dan perjuangan menuju kemuliaan. Kebebasan dari kesempitan dan perjuangan menuju kelapangan. Kebebasan dari kelumpuhan dan perjuangan menuju keaktifan. Kebebasan dari kelemahan dan perjuangan menuju kekuatan. Dan kebebasan dari ikatan-ikatan bicara dan perjuangan menuju kebebasan berbicara. Ruqayyah kembali kepada Tuhannya setelah menderita sakit demam. Kemudian Rasulullah SAW mengawinkan Utsman dengan Ummu Kultsum. Semoga Allah SWT merahmati Ruqayyah yang hijrah dua kali dan Utsman yang mempunyai dua cahaya, dan semoga Allah SWT membalas keduanya atas jihad dan kesabarannya dengan sebaik-baik balasan. Amiin yaa Robbal'aalamiin. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

136 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
SA'AD bin ABI WAQASH

Tokoh Muslim

Diantara dua pilihan. Itulah mungkin kata yang tepat mewakili awal kisah dari Sa'ad bin Malik za-Zuhri alias Sa'ad bin Abi Waqash. Menurut Sa'ad bin Abi Waqash, mencintai orang tua bukan berarti harus mengorbankan prinsip hidup. Itu dilakukannya saat dia telah menerima Islam yang diajarkan oleh Rasulullah, kemudian dia yakini, bahwa hanya Islamlah yang bisa membuat dirinya dan hidupnya bahagia ketimbang kembali menyembah berhala. Lihatlah statementnya, yang sering dijumpai di sirah-sirah "Duhai bunda, meskipun ada seratus nyawa dalam diri bunda, dan terurai nyawa itu satu per satu, aku akan tetap pada agamaku. Sekarang terserah bunda, apakah hendak meneruskan perbuatan bunda atau hendak makan." Ibu Sa'ad yang sangat mencintai Sa'ad juga, merasa kehilangan ketika anaknya lari meninggalkan sesembahan nenek moyang, dan menyembah Allah serta mentaati Rasulullah. Untuk meluluhkan hati Sa'ad, ibundanya mengambil sikap untuk mogok makan, tapi nyatanya tak berkutik sedikitpun sikap Sa'ad untuk meninggalkan Agama Islam yang dibawa Rasulullah, mesikipun ia juga mencintai Ibundanya. Selain itu, Sa'ad juga dikenal sebagai anggota pasukan berkuda yang lihai dan gagah berani. Soal memanah, dia adalah nomor satu. Ada dua peristiwa yang menjadikan Sa'ad selalu dikenang dan istimewa, pertama dialah yang pertama melepas anak panah untuk membela Agama Allah, sekaligus orang pertama yang tertembus anak panah dalam membela Agama Allah. Kedua, Sa'ad adalah satusatunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Sabda Rasulullah SAW pada saat perang Uhud : "Panahlah hai Sa'ad! Ibu Bapakku menjadi jaminan bagimu...." Dalam setiap peperangan, siapapun panglimanya, jika ada Sa'ad didalamnya maka pasukan akan merasa tenang. Bukan hanya karena kehebatannya dalam peperangan yang menciutkan hati musuh, tapi juga ketaqwaanya yang luhurlah, yang menjadi hati sahabat lain menjadi tenang. Pada saat perang Qadishiyyah, Amirul mukminin Umar bin Khaththab ra mengangkat Sa'ad sebagai Panglima perang untuk melawan adidaya Persia pada saat itu, ketika Sa'ad mengirim utusan untuk berdiplomasi dengan Rustum (panglima perang persia) yang akhirnya negoisasi itu berlangsung alot, dan muncullah pernyataan dari delegasi kaum muslimin. "Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan dari kedhaliman penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediannya dan kami biarkan mereka. Tapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah...!" "Apa yang dijanjikan oleh Allah itu?" tanya Rustum. "Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi kami yang hidup", timpal Sa'ad. Sa'ad pun bangkit dan menggelorakan semangat jihad kaum muslimin, peperanganpun terjadi. Rustum dan pasukannya menuai kekalahan, Persia yang adidaya itu akhirnya jatuh juga di tangan kaum muslimin. [diedit dari islamuda.com]

15/11/107:15

sn

137 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

SAID BIN MUSAYAB (Seorang Tabiin merdeka) Bertipe sangat langka. Puasa di siang hari, salat tahajud di waktu malam. Dia sempat menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali. Tidak pernah ketinggalan takbiratul Ihram dalam salat jemaah selama empat puluh tahun dan tidak pernah ditemukan melihat tengkuk seseorang pada waktu salat, selama itu juga, karena selalu berada di baris pertama. Lebih memilih kawin dengan putri Abu Hurairah, meski mampu mengawini wanita Quraisy yang dia kehendaki. Sejak kecil telah bernazar untuk mengabdikan dirinya kepada ilmu pengetahuan. Banyak menimba ilmu dari istri-istri Nabi dan dari para Sahabat seperti Abdullah bin Abbas, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Umar, Usman, Ali, dan Shuhaib. Mempunyai etika dan tingkah laku seperti yang dicontohkan oleh para sahabat. Orang yang paling zuhud terhadap kehidupan. Pernah suatu ketika dia menolak lamaran putra mahkota, Walid bin Abdul Malik, putra khalifah, Abdul Malik bin Marwan untuk mengawini putrinya. Dia malah mengawinkan putrinya itu dengan seorang penuntut ilmu bernama Abu Wada‘ah. Ketika banyak yang menyayangkan hal itu dia malah mengatakan, “Putriku adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.” Seorang penduduk Madinah mengatakan tentang dirinya, “Dia adalah seorang yang menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat dan membeli yang abadi dengan yang fana untuk diri dan keluarganya. Demi Allah, dia bukan tidak mau mengawinkan putrinya dengan putra khalifah, atau memandangnya tidak berimbang, tetapi hanya khawatir putrinya akan tertimpa fitnah keduniaan. Suatu ketika pernah ditanya oleh seorang sahabat, ‘Apakah engkau menolak lamaran khalifah, lalu mengawinkan putrimu dengan warga muslim biasa?’ Dia menjawab, ‘Putriku adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.’ Dia ditanya lagi, ‘Apa maksudmu?’ Dia menjawab, ‘Coba pikirkan jika dia berpindah ke istana Bani Umaiyah, kemudian dikelilingi oleh perabot mewah, para pembantu dan dayang-dayang, lalu suatu saat nanti dia akan menjadi istri khalifah, bagaimana kira-kira nasib agamanya?’”

15/11/107:15

sn

138 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
SALMAN AL-FARISI R.A.

Tokoh Muslim

Kelahiran dan pertumbuhannya: Salman Al-Farisi r.a. lahir di suatu desa bernama Jiyan di wilayah kota Aspahan - Iran, yaitu antara kota Teheran dengan Syiraz. Setelah Salman r.a. mendengar kebangkitan Rasulullah saw. dia langsung berangkat meninggalkan Persia mencari Nabi saw. untuk menyatakan keislamannya. Dalam suatu kisah, Salman menceritakan otobiografinya sbb. "Saya adalah anak muda Persia yang berasal dari suatu desa di kota Aspahan yang bernama Jiyan. Ayah saya adalah kepala desa dan orang terkaya serta terhormat di desa itu. Dari sejak lahir, saya adalah orang yang paling disayanginya, kasih sayangnya kepada saya semakin hari semakin kental, sehingga saya di kurung di rumah bagaikan gadis pingitan. Saya termasuk orang yang takwa dalam agama majusi, sehingga saya merasakan nilai api yang kami sembah itu dan saya diberi tanggungjawab menyalakannya, jangan sampai padam sepanjang hari dan sepanjang malam. Ayah saya mempunyai ladang yang luas yang memberi kami penghidupan yang cukup. Ayah saya selalu mengurusi dan memanennya sendiri. Di suatu hari, dia tidak bisa pergi ke ladang, lalu dia mengatakan kepada saya, 'Anakku! Saya sibuk dan tidak bisa pergi ke ladang hari ini, sebab itu pergilah urusi ladang tersebut menggantikan saya.' Lalu saya berangkat menuju ladang kami. Di tengah perjalanan, saya melewati sebuah gereja Kristen dan mendengar suara mereka yang sedang beribadah di dalam. Hal itu menarik perhatian saya karena saya tidak pernah tahu sedikitpun tentang agama Kristen dan agama lainnya, karena sepanjang usia saya selalu dipingit di dalam rumah oleh orang tua saya. Setelah mendengar suara itu, saya masuk ingin mengetahui secara dekat apa yang sedang mereka lakukan. Setelah saya memperhatiakan apa yang mereka kerjakan, saya merasa tertarik dengan cara mereka beribadah, malah saya tertarik dengan agama mereka. Saya mengatakan dalam hati saya, 'Sungguh agama mereka ini lebih baik dari agama kami.' Saya tidak keluar dari gereja tersebut sampai matahari terbenam sehingga saya tidak jadi pergi ke ladang kami. Saya menayakan kepada mereka, 'Dari mana asal agama ini?' Mereka menjawab, 'Dari daerah Syam.' Setelah malam menjelang, saya pulang ke rumah. Ayah saya langsung menanyakan kepada saya apa yang telah saya lakukan. Saya menjawab, 'Hai Ayahku! Saya melewati sekelompok orang yang sedang beribadah di dalam gereja, lalu saya tertarik dengan cara mereka beribadah. Saya berada bersama mereka sampai matahari terbenam.' Ayah saya langsung marah mendengar tindakan saya dan dia mengatakan, 'Hai anakku! Agama mereka itu tidak baik, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik dari agama itu.' Saya menjawab, 'Tidak ayah! Agama mereka lebih baik dari agama kita.' Dari perkataan saya itu, syah saya takut kalau-kalau saya akan murtad, lalu dia mengurung saya di rumah dengan mengekang kaki saya." Berangkat ke negeri Syam: Ketika saya mendapat kesempatan, saya mengirim pesan kepada kaum Kristen itu. Saya mengatakan, "Bila ada rombongan yang akan berangkat ke negeri Syam, tolong saya diberi tahu." Ternyata tidak berapa lama ada satu rombongan yang akan berangkat ke negeri Syam. Mereka pun langsung memberitahukannya kepada saya. Saya berusaha membuka kekang kaki saya dan saya berhasil membukanya. Saya berangkat bersama mereka secara sembunyi dan akhirnya kami sampai di negeri Syam. Setibanya di negeri Syam, saya mengatakan, "Siapa orang nomor satu dalam agama ini?" Mereka menjawab, "Uskup pengasuh gereja." Saya mendatanginya dan mengatakan kepadanya, "Saya tertarik dengan agama Kristen ini dan saya ingin mengikuti dan membantumu sekaligus belajar dari kamu dan beribadah bersama kamu." Dia menjawab, "Silakan masuk!" Saya pun masuk dan menjadi pembantunya. Belum berlangsung lama, saya menilai bahwa orang tersebut adalah orang jahat, dia menyuruh pengikutnya untuk berderma dan mengiming-imingi mereka dengan pahala yang sangat besar. Setelah mereka memberikannya dengan niat fi sabilillah, ternyata dia monopoli untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada fakir miskin sedikitpun. Dia berhasil mengumpulkan sebanyak tujuh karung emas. Melihat keadaan itu, saya menaruh kebencian yang luar biasa terhadapnya. Ketika dia meninggal, kaum Kristen berkumpul untuk menguburkannya, ketika itu saya mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya teman kamu ini adalah orang jahat, dia menyuruh kamu bersedekah dan mengiming-imingkan pahala

15/11/107:15

sn

139 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

besar, setelah kalian kumpulkan, dia monopoli untuk dirinya sendiri, dia tidak berikan sedikitpun kepada fakir miskin." Mereka menjawab, "Dari mana kamu tahu?" Saya menjawab, "Mari saya tunjukkan kepada kamu sekarang juga tempat penyimpanan harta itu" Mereka mengatakan, "Ayo tunjukkan kepada kami tempatnya." Saya pun menunjukkannya dan mereka menemukan tujuh karung emas dan perak. Setelah mereka melihat secara langsung, mereka mengatakan, "Demi Allah kita tidak akan menguburkannya, kita harus menyalib dan melemparinya dengan batu." Tidak lama kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya, lalu saya mengikutinya. Sungguh saya belum pernah mendapatkan orang yang paling zuhud dan mengharap akhirat melebihi orang itu. Ibadahnya yang berlangsung siang malam membuat saya mnyenanginya, lalu saya hidup bersama dia beberapa tahun. Ketika menjelang wafatnya, saya mengatakan kepadanya, "Ya Polan! Kepada siapa engkau pesankan saya dan dengan siapa saya akan hidup sepeninggal kamu?" Dia menjawab, "Ya anakku! Terus terang saya tidak melihat ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita, kecuali satu orang di kota Musol yang bernama Polan. Dia tidak merubah-rubah dan mengganti-ganti ayat Allah. Oleh sebab itu carilah orang itu." Sepeninggal teman saya itu, saya pergi menyusul orang tersebut ke kota Musol. Setibanya di rumah beliau saya menceritakan kisah saya dan mengatakan kepadanya, "Ketika si Polan hendak meninggal dunia dia memesankan kepada saya untuk menyusul kamu, dia memberitahukan kepada saya bahwa kamu berpegang kuat dengan kebenaran. Dia mengatakan kepada saya, kalau begitu, tinggallah bersama saya. Saya pun tinggal bersama beliau, dan memang betul dia adalah orang baik. Tidak lama kemudian, diapun menemui ajalnya. Ketika hendak meninggal saya bertanya kepadanya, "Ya Polan! Janji Tuhan sudah dekat kepada Anda, Anda tahu kondisi saya sebenarnya, oleh sebab itu kepada siapa Anda memesankan saya dan siapa yang harus saya ikuti?" Dia menjawab, "Hai anakku! Terus terang saya tidak melihat ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita kecuali seorang di Nasibin yang bernama Polan, susullah dia ke sana" Setelah orang itu bersemayam di liang lahad, saya berangkat ke Nasibin mencari orang yang disebutkan itu. Saya menceritakan kepadanya kisah saya dan pesan teman saya sebelumnya. Dia mengatakan, "Tinggallah bersama saya." Saya pun tinggal bersama dia dan ternyata memang dia adalah orang baik seperti dua orang teman saya sebelumnya. Akan tetapi tidak lama kemudian dia pun menemui ajalnya. Ketika menjelang maut, saya bertanya kepadanya, "Engkau telah mengetahui kondisi saya sebenarnya. Oleh sebab itu kepada siapa engkau memesankan saya?" Dia menjawab, "Ya anakku! Terus terang saya tidak menemukan ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita kecuali seorang di kota Amuriah yang bernama Polan, carilah orang itu." Saya pun mencarinya dan saya menceritakan kisah saya kepadanya. Dia menjawab, "Tinggallah bersama saya." Saya pun tinggal bersama dia. Ternyata memang dia orang baik seperti yang dikatakan orang sebelumnya. Selama saya tinggal bersama dia saya berhasil mendapatkan beberapa ekor sapi dan harta kekayaan lainnya. Pendeta Kristen memesan Salman mengikuti Nabi: Kemudian orang tersebut pun menemui ajalnya seperti yang sebelumnya. Ketika menjelang kematiannya, saya mengatakan kepadanya, "Anda mengetahui kondisi saya sebenarnya, oleh sebab itu kepada siapa engkau akan pesankan saya atau apa pesan Anda untuk saya lakukan?" Dia menjawab, "Hai anakku! Terus terang saya tidak menemukan seorang-pun di muka bumi ini yang masih berpegang dengan agama kita, namun waktunya sudah tiba, seorang nabi yang akan membawa agama Nabi Ibrahim akan muncul di tanah Arab, dia akan hijrah dari tanah tumpah darahnya ke daerah yang penuh dengan pohon kurma di antara dua gunung, dia mempunyai tanda kenabian yang sangat jelas, dia mau memakan hadiah tapi tidak mau memakan sedekah, di antara bahunya terdapat cap kenabian. Jika Anda bisa menyusul ke negeri itu, silakan." Tidak lama kemudian dia pun meninggal dunia, saya pun tinggal di kota Amuriah untuk beberapa waktu. Datang ke jazirah Arabia: Ketika rombongan pedagang dari Suku Kalb -Arab- lintas di Amuriah, saya berkata kepada mereka, "Jika kalian sanggung membawa saya ke tanah Arab, saya berikan kepada kalian sapi dan harta kekayaan saya ini." Mereka menjawab, "Ya, kami sanggup membawa kamu." Saya pun memberikan sapi dan kekayaan saya tersebut kepada mereka dan mereka pun membawa saya. Ketika saya sampai di Wadil qura, mereka menipu saya dan menjual saya kepada kepada seorang yahudi dan memperlakukan saya

15/11/107:15

sn

140 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

sebagai hambanya. Suatu ketika, saudaranya dari suku Quraizah datang menemuinya, lalu dia membeli dan membawa saya pergi ke Yasrib (Madinah). Di sana saya melihat pohon kurma yang disebut oleh teman saya yang di Amuria, dari diskripsi yang disampaikan teman saya itu, saya tahu persis bahwa inilah kota yang dimaksudkan itu. Saya pun tinggal brsama tuan saya di kota itu. Ketika itu Nabi saw. sudah mulai mengajak kaumnya di Mekah untuk masuk Islam, namun saya tidak mendengar apa-apa dari kegiatan Nabi itu karena kesibukan saya sehari-hari sebagai budak. Memeluk Islam: Tidak berapa lama, Rasulullah saw. pun hijrah ke Yasrib. Demi Allah ketika saya berada di atas sebatang pohon kurma milik tuan saya, sedang memberesi kurma itu, sedangkan tuan saya duduk di bawah, seorang saudaranya datang dan mengatakan kepadanya, "Celaka besar atas bani Qilah, mereka sekarang sedang berkumpul di Kuba, menunggu seorang yang mengklaim dirinya sebagai seorang nabi akan datang hari ini." Setelah saya mendengar pembicaraan mereka itu, saya langsung merinding kayak demam, saya gemetar, sehingga saya khawatir akan jatuh ke tuan saya. Saya segera turun dari pohon kurma tersebut lalu mengatakan kepada tamu itu, "Apa tadi yang Anda katakan? Tolong ulangi katakan kepada saya!" Tuan saya langsung marah dan memukul saya sekuat-kuatnya lalu mengatakan, "Urusan apa kamu dengan berita itu? Kembali teruskan pekerjaanmu!" Di sore harinya, saya mengambil sedikit kurma yang telah saya kumpulkan sebelumnya, lalu saya berangkat ke tempat Nabi tinggal. Ketika itu saya mengatakan kepada Rasulullah, "Saya mendengar bahwa Anda adalah orang saleh, datang bersama teman-teman dari kejauhan memerlukan sesuatu. Di tangan saya ada sedikit sedekah, nampaknya kamu lebih pantas menerimanya." Lalu saya dekatkan kurma itu kepada mereka. Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, "Makanlah" sedangkan dia sendiri tidak memakannya. Saya mengatakan dalam hati saya, "Ini dia satu tanda kenabiannya." Kemudian saya kembali ke rumah dan mengambil beberapa buah kurma, ketika Nabi saw. berangkat dari Quba ke Madinah, saya mendatanginya dan mengatakan kepadanya, "Tampaknya Anda tidak memakan sedekah, ini ada sedikit hadiah saya bawa sebagai penghormatan kepada Anda." Rasululullah pun memakannya dan menyuruh sahabat untuk ikut memakannya, lalu mereka makan bersama-sama. Dalam hati saya berkata, "Ini dia tanda kenabian kedua" Ketika Nabi berada di Baqi Gargad, ingin menguburkan seorang sahabat, saya mendatangi beliau dan melihat beliau sedang duduk memakai dua selendang. Saya mengucapkan salam kepadanya, kemudian saya berjalan berputar sekeliling beliau untuk melihat punggungnya, barang kali saja saya dapat melihat cap seperti yang dikatakan oleh teman saya di Amuriah. Setelah Nabi melihat bahwa saya memperhatikan punggung beliau, dia mengerti tujuan saya, lalu dia mengangkat selendangnya, ketika itu saya melihat ada cap, lalu saya yakin bahwa itulah cap kenabian, lalu saya memeluk dan mencium beliau sambil menangis. Melihat hal itu Rasulullah saw. bertanya, "Apa gerangan yang terjadi pada kamu?" Saya pun menceritakan kisah saya dan beliau sangat kagum dan beliau menginginkan agar saya perdengarkan kepada para sabahat, lalu saya memperdengarkannya. Mereka semua kagum dan gembira yang tiada taranya. Salman masuk Islam dan dimerdekakan, seterusnya menjadi seorang sahabat yang sangat mulia. Dia sempat menjabat gubernur di zaman khulafaur Rasyidun di beberapa negeri. Mudahmudahan Allah meridai beliau. Biografinya: Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah meletakkan tangannya di atas Salman, lalu bersabda, "Seandainya iman berada nun jauh di planet Tsuraya, pasti akan dicapai oleh orang-orang mereka ini." sambil beliau menunjuk kepada Salman r.a.

15/11/107:15

sn

141 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
SAUDAH binti ZUM`AH r.a

Tokoh Muslim

Walaupun Saudah binti Zum`ah tidak terlalu populer dibandingkan dengan istri Rasulullah SAW lainnya, dia tetap termasuk wanita yang memiliki martabat yang mulia dan kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW menikahinya bukan semata-mata karena harta dan kecantikannya, karena memang dia tidak tergolong wanita cantik dan kaya. Yang dilihat Rasulullah SAW adalah semangat jihadnya di jalan Allah SWT, kecerdasan otaknya, perjalanan hidupnya yang senantiasa baik, keimanan, serta keikhlasannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam keadaan kesepian sesudah kematian Khadijah, terjadilah peristiwa Isra` Mi`raj, dan disana beliau menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Kaum musyrikin yang mendengar kisah itu tidak mempercayainya, bahkan mengolok-olok beliau. Dalam kondisi seperti itu, tampillah Saudah binti Zum`ah yang ikut berjuang dan senantiasa mendukung Rasulullah SAW, kemudian dia menjadi istri Rasulullah SAW yang kedua setelah Khadijah. Tersebutlah Khaulah binti Hakim, salah seorang mujahid wanita yang pertama masuk Islam. Khaulah adalah istri Ustman bin Madh`um. Melalui kehalusan perasaan dan kelembutan fitrahnya, Khaulah sangat memahami kondisi Rasulullah SAW yang sangat mendambakan pendamping, yang nantinya akan menjaga dan mengawasi urusan beliau serta mengasuh Ummu Kultsum dan Fathimah setelah Zainab dan Ruqayah menikah. Kemudian Khaulah menemui dan bertanya langsung kepada Rasulullah SAW tentang orang yang akan mengurus rumah tangga beliau. Beliau melihat bahwa apa yang diungkapkan Khaulah mengandung kebenaran, sehingga beliau pun bertanya, "Siapakah yang engkau pilih untukku ?" Dia menjawab, "Jika engkau menginginkan seorang gadis dialah Aisyah binti Abu Bakar, dan jika engkau inginkan seorang janda, dia adalah Saudah binti Zum`ah." Rasulullah mengingat nama Saudah binti Zum`ah yang sejak keislamannya begitu banyak memikul beban perjuangan menyebarkan Islam, sehingga pilihan beliau jatuh pada Saudah. Pernikahan beliau dengannya tidak didorong oleh keinginan untuk memenuhi nafsu duniawi, tetapi lebih karena Rasulullah SAW yakin bahwa Saudah dapat ikut serta menjaga keluarga dan rumah tangga beliau setelah Khadijah wafat. Saudah adalah seorang wanita yang tinggi besar, berbadan gemuk, tidak cantik, juga tidak kaya. Dia adalah janda yang ditinggal mati suaminya. Pertama kali dia menikah dengan anak pamannya, Syukran bin Amr, dan menjadi istri yang setia dan tulus. Suaminya, Syukran termasuk orang yang pertama kali menerima hidayah Allah SWT. Rasulullah SAW memilihnya sebagai istri karena kadar keimanannya yang kokoh dan mampu menjadi pemimpin dirumah ayahnya yang masih musyrik. Khaulah menemui Saudah dan menyampaikan kabar gembira bahwa tidak semua wanita dianugrahi Allah SWT menjadi istri Rasulullah SAW. Ketika bertemu dengan Saudah, Khaulah berteriak, "Apa gerangan yang engkau perbuat sehingga Allah SWT memberkahimu dengan nikmat yang sebesar ini ? Rasulullah SAW mengutusku untuk meminang engkau baginya." Sungguh, hal itu merupakan berita besar. Saudah tidak pernah memimpikan kehormatan sebesar itu, terutama setelah orang-orang mencampakkannya setelah kematian suaminya. Saudah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah SAW. Dia merawat Ummu Kultsum dan Fathimah seperti merawat anaknya sendiri. Saudah memiliki kelembutan dan kesabaran yang dapat menghibur hati Rasulullah SAW, sekaligus memberi semangat. Dia tidak terlalu berharap dirinya dapat sejajar dengan Khadijah dihati Rasulullah SAW. Akan tetapi, pada dasarnya, dia belum mampu mengisi kekosongan hati Rasulullah SAW, walaupun dia telah memperoleh limpahan kasih dari beliau, sehingga beberapa saat kemudian turun wahyu Allah SWT yang memerintahkan Rasulullah SAW menikahi Aisyah binti Abu Bakar yang masih sangat belia. Lantas, sikap apa yang dilakukan Saudah ketika mengetahui pertunangan tersebut ? Dia rela dan tidak sedikitpun memiliki perasaan cemburu. Dia merelakan madunya berada ditengah keluarga Rasulullah SAW. Dia merasa cukup bangga menyandang gelar Ummul-Mukminin, dapat menyayangi Rasulullah SAW, dan dapat meyakini ajarannya, sehingga dia tidak terpengaruh oleh kepentingan duniawi.

15/11/107:15

sn

142 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Wajahnya senantiasa ceria dan tutur katanya selalu lemah lembut, bahkan dia sering membantu menyelesaikan urusan-urusan Aisyah. Sehingga Aisyah sangat mencintai Saudah. Aisyah berkata, "Tidak ada wanita yang aku cintai untuk berkumpul bersamanya selain Saudah binti Zum`ah, karena dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki wanita lain." Saudah merelakan malam-malam gilirannya untuk Aisyah semata-mata untuk memperoleh keridhaan Rasulullah SAW. Saudah mendampingi Rasulullah SAW dalam perang Khaibar, pada peperangan ini pula Rasulullah SAW menikahi Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab. Mendengar hal itu pun Saudah tetap rela dan menerima kehadiran Shafiyyah, karena hatinya bersih dari sifat iri dan cemburu. Saudah menunaikan haji wada` bersama istri-istri Rasul yang lainnya. Beberapa saat setelah haji wada`, Rasulullah SAW sakit keras dan meminta persetujuan istri-istri beliau yang lain untuk tinggal dirumah Aisyah. Ketika Nabi SAW sakit, Saudah tak pernah putus-putusnya menjenguk beliau dan membantu Aisyah sampai beliau wafat. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Saudah tetap menyendiri untuk beribadah hingga ajal menjemputnya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa dia meninggal pada th ke-19 H. Hal istimewa yang dimilki Saudah adalah kekuatannya dan keteguhannya dalam menanggung derita, seperti pengusiran, penganiayaan, dan bentuk kedzaliman lainnya, baik yang datangnya dari kaum Quraisy maupun dari keluarganya sendiri. Sifat mulia juga menonjol darinya adalah kesabaran dan keridhaannya menerima taqdir Allah SWT ketika suaminya meninggal, harus kembali kerumah orangtuanya yang masih musyrik, hingga Rasulullah SAW memilihnya menjadi istri. Didalam hatinya tidak pernah ada perasaan cemburu terhadap istri-istri Rasulullah SAW lainnya.Saudah pun dikenal dengan kemurahan hatinya dan suka bersedekah. Semoga rahmat Allah SWT senantiasa menyertai Sayyidah Saudah binti Zum`ah dan semoga Allah SWT memberinya tempat yang layak disisi-Nya. Amin.

15/11/107:15

sn

143 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

SHUHAIB bin SINAN r.a ( Sahabat, wafat pada syawwal 30 H, dalam usia 70 tahun ) Penggadai yang beruntung Ketika kanak-kanak, ia ditawan dan dibawa ke Ruum, kemudian tinggal disana. Ia dibeli oleh Ibnu Jud`an, lalu dimerdekakan olehnya, sehingga akhirnya ia masuk Islam. Kulitnya merah, postur tubuhnya sedang; tidak terlalu tinggi atau terlalu pendek. Rambutnya lebat. Ia termasuk salah seorang Mustadzafiin ( orang-orang lemah ), yang banyak mengalami penderitaan dijalan Allah SWT. Beberapa waktu kemudian, ia ikut hijrah ke Madinah. Semua peperangan ia ikuti bersama Rasulullah SAW , termasuk perang Badar. Ia termasuk salah seorang Assabiquna Al Awwalun. Sa`id bin Musayyib menceritakan : "Ketika pergi hijrah ke Madinah, beberapa orang menguntitnya ( Suhaib bin Sinan ). Kemudian Suhaib turun dari kudanya, sambil mencabut anak panah dari kinanah ( tempat penyimpanan anak panah ), dan berkata," Hai orang-orang Quraisy, kalian telah tahu, aku adalah pemanah jitu. Demi Allah SWT , kalian tidak akan sampai kepadaku ( menyentuh ), sehingga kulemparkan semua anak panah yang ada dikinanah, lalu akan kutebas semua yang ada didepanku dengan pedangku tanpa kecuali. Sekarang lakukanlah apa yang kalian mau…tapi kalau kalian mau, akan aku berikan harta dan pakaianku diMakkah kepada kalian, dengan syarat jangan halangi jalan saya". Orangorang Quraisy menyetujui tawarannya. Ketika berjumpa Rasulullah SAW diMadinah, ia disambut dengan sabdanya:"Beruntunglah perdagangan Abu Yahya…. beruntunglah perdagangan Abu Yahya ( Suhaib )". Ketika itu turunlah ayat 207 surat Al Baqarah, yang artinya :" Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hambahamba-Nya". Demikianlah Suhaib…sejak awal ia buktikan kesetiaannya pada Islam, sampai-sampai ia gadaikan hartanya agar bisa selamat hijrah sampai keMadinah. Pun dengan setia ia kawal Rasulullah SAW . Ia berkata:" Rasulullah SAW tidak pernah pergi berperang kecuali aku bersamanya. Tidak pernah mengadakan bai`at kecuali aku bersamanya. Demikian pula ia tidak pernah ikut ghozwah, kecuali aku berada disamping kiri atau kanannya. Ketika mereka (pasukan Islam ) merasa takut akan musuh yang ada dihadapannya, aku berada didepan. Ketika mereka takut akan apa yang ada dibelakang mereka, aku ada dibelakang mereka. Aku tidak pernah membiarkan musuh berada diantara aku dan Rasulullah SAW, sampai beliau wafat". Itulah Suhaib, yang Allah SWT telah ridho kepadaNya, dan ia pun ridho kepada Allah SWT".

15/11/107:15

sn

144 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

SULAIMAN & ATHO’ ibnaa YASAR (tabi`at - tabi`in) - Cermin bagi lelaki yang tergoda fitnah Sulaiman Bin Yasar ra, nama panggilannya adalah Abu Ayub. Beliau bekas budak Maimunah ra, binti Alharits, istri Rosulullah. Diriwayatkan bahwa beliau menebus dirinya dari Maimunah, kemudian mereka. Diriwayatkan pula oleh Atho' bin yasar saudara Sulaiman bin yasar, berkata Mus'ab bin Usman. "Sulaiman bin Yasar adalah seorang yang tampan. Pada suatu hari, seorang perempuan cantik masuk kerumahnya, dan mengajak beliau berbuat maksiat. Tetapi Sulaiman bin Yasar menolak. Perempuan itu berkata : 'Marilah mendekat kepadaku'. Maka Sulaiman lari keluar dari rumahnya, Meninggalkan perempuan tersebut. Ia berkata , 'Setelah itu saya melihat Yusuf sebagaimana seorang yang sedang bermimpi. Seakan-akan aku berkata kepadanya, 'benarkah engkau Yusuf?' Ia menjawab, 'ya, saya Yusuf, yang sewaktu digoda isri Al-Aziz, hatiku tergerak, tetapi engkau sama sekali tidak'. Diriwayatkan oleh Abdurrohmaan bin Zaid bin Aslam, ia berkata, 'suatu hari mereka berdua (Sulaiman dan Atho) kembali dari menunaikan ibadah haji. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat di suatu tempat di daerah Anwa'. Sulaiman dan teman-temannya pergi dari tempat itu untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan Atho' sendirian, lalu ia sholat. Tiba-tiba datang seorang perempuan Badui ke tempat itu. Setelah mengetahui ada orang perempuan datang, Atho' mempercepat sholatnya. Lalu bertanya kepadanya, 'Apakah anda ada keperluan?'. Perempuan tersebut menjwab,'Berdirilah, dan berbuatlah kepadaku dengan perbuatan yang memuaskan nafsuku, karena saya tidak punya suami'. Alangkah terkejutnya Atho'. Lalu ia berkata, 'Janganlah engkau membakar diriku dan dirimu dengan api neraka! Tetapi perempuan tersebut tetap saja merayunya, dan Atho tetap menolaknya. Akhirnya Atho'menangis sambil berkata kepada perempuan tersebut, 'Celakalah engkau, menjauhlah dariku! 'Kemudian tangisnya menjadi-jadi, sampai-sampai karena melihat tangisnya tersedu-sedan, perempuan itu ikut menangis. Di saat keduanya menangis, datanglah sulaiman dari memenuhi hajatnya. Melihat saudaranya menangis, ia pun ikut menangis. Lalu teman-temannya berdatangan. Satu persatu seorang dari mereka ikut menangis, setelah melihat keduanya menangis, sehingga ramailah tempat itu dengan tangis. Melihat banyak orang-orang yang menangis, perempuan itu bangkit dan pergi. Setelah reda tangis mereka, Sulaiman tidak berani bertanya kepada saudaranya tentang peristiwa yang dialami tersebut. Sesampainya mereka singgah disesuatu tempat. Pada malam harinya, Atho ra. tidur, dan ketika bangun ia menangis. Sulaiman ra. bertanya kepadanya, ' apa yang menyebabmu menangis?". Bertambahlah tangis Atho. Atho ra. baru menjawab pertanyaan, setelah Sulaiman ra. mengulanginya kedua kali, 'yang menyebabku menangis adalah mimpiku dimalam tadi". " Mimpi apa ?" tanya Sulaiman ra. Jawab Atho, " Hai adikku, jangan kau cerita mimpiku ini kepada orang lain, selama aku masih hidup. Tadi malam saya melihat Nabi Yusuf. Saya mendatanginya. Ketika saya melihat ketampanannya, saya ,menangis. Nabi Yusuf bertanya kepadaku, " Apa yang membuatmu menangis ?". Aku menjawab," Saya teringat peristiwa antara kamu dan istri Al Aziz dan apa yang menimpamu, yaitu engkau dipenjara dan dibuang oleh saudara-saudaramu". Nabi Yusuf berkata kepadaku, " Tidakkah Engkau kagum pada seorang laki-laki yang digoda perempuan didaerah Abwa` ?" Maka Atho` ra. pun mengetahui siapa yang dimaksud oleh nabi Yusuf, maka ia menangis dan terjaga dari tidurnya". Sulaiman ra. pernah juga meminta saudaranya supaya menceritakan peristiwa yang menimpanya sewaktu berada di Abwa`, lalu ia menceritakan itu kepadanya. Semasa hidup Atho` ra., Sulaiman ra. tidak pernah menceritakan peristiwa yang dialami oleh saudaranya. Setelah meninggal, barulah ia berani menceritakan itu kepada istrinya. Istri Sulaiman berkata, "Peristiwa itu tidak tersebar, kecuali setelah Sulaiman wafat". Keterangan dari Ibnu Abi Zinad, dari bapaknya, ia berkata, "Sulaiman semasa hidupnya berpuasa Dahr, sedangkan Atho berpuasa Daud. Sulaiman wafat pada tahun 103 dan Atho` pada tahun 104. Sedangkan pangggilannya adalah Abu Muhammad. Beliau juga bekas budak Maimunnah." ( disarikan dari Shifatu asShofwah II/58-60 )

15/11/107:15

sn

145 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Keterangan ; Puasa Dahr adalah puasa terus menerus setiap hari. Sedangkan puasa Daud adalah puasa yang dilaksanakan secara bergantian dengan buka ( hari ini puasa, besok tidak, dst ) Terdapat beberapa hadits Nabi SAW yang melarang seorang Muslim untuk melaksanakan puasa seperti ini. Namun Ulama berbeda pendapat tentang tingkat pelarangannya. Intinya, maksimal mereka menganggap puasa Dahr ini makruh ( dibenci ), tidak sampai haram. Ada juga yang memperbolehkannya, selama tidak membahayakan kesehatan diri pelakunya, serta tidak melupakan hak-hak pihak lain, seperti hak istri, hak badan dsb.

15/11/107:15

sn

146 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

SYAFIYAH BINTI ABDUL MUTHTHALIB Kita mengetahui, bahwa dia berusaha menyatukan barisan dan bekerja demi kesatuan pendapat setiap kali terjadi perselisihan. Dia berusaha mengobarkan semangat para pahlawan dan mengasah tekad mereka. Dia pun berusaha mengangkat senjata ketika terdengar seruan untuk berjihad. Keunggulan akal dan kekuatan pribadinya telah menyebabkan pengaturan segala urusan dan perencanaannya bergantung pada pendapat dan nasihatnya. Dia membawa obor cahaya dan petunjuk bagi orang-orang di sekitarnya, dan dia adalah wanita yang sabar, yang mengharap pahala dapat mempersembahkan segala yang murah dan mahal, karena ridho dengan sesuatu yang diperolehnya di jalan Allah SWT ketika mengibarkan bendera kebenaranya. Dia adalah saudara ayah Rasulullah SAW dan ibu Az-Zubair bin Awwam serta saudara kandung Hamzah, Singa Allah, paman Nabi SAW dan orang yang dicintainya. Dia masuk Islam bersama kelompok pertama yang beriman kepada Nabi SAW yang mulia dan ikut hijrah ke Yatsrib (Madinah). Wanita yang Sabar dan Mengharapkan Pahala Sedikit di antara wanita-wanita Arab yang dapat menandinginya dalam hal kemuliaan asal atau kemuliaan cabang. Allah SWT memberinya kekuatan iman dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, dan kesediaan berkorban di jalan-Nya. Dia adalah contoh bagi saudara perempuan yang sabar dan mengharap pahala serta ridho dengan keputusan Allah SWT. Dalam perang Uhud, ketika para juru panah meninggalkan posisi mereka untuk mengambil harta rampasan perang dengan melanggar perintah Nabi SAW, datanglah musuh mereka dari belakang menyerangnya. Pada waktu itu Hind binti Utbah, suami Abi Sufyan dan ibu Khalifah Muawiyah telah keluar bersama pasukan musyrikin untuk membalas dendam atas kematian ayah dan pamannya yang dibunuh Hamzah dalam Perang Badr. Dia membujuk budaknya, bernama Wahsyi, bahwa jika dia berhasil membunuh Hamzah, maka dia akan mendapat imbalan harta sebanyak yang disukainya. Maka terjadilah apa yang diinginkan oleh Hind. Wahsyi dapat berhasil melempar Hamzah dengan tombaknya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Habasyah, sehingga Hamzah rebah dan tewas. Kemudian Wahsyi berlari menemui majikannya yang menari bersama rombongan wanita Quraisy, sementara mereka memukul rebana untuk memberi semangat kepada kaum laki-laki Quraisy. Lalu Hind bergegas pergi bersama Wahsyi yang telah menyampaikan kabar gembira itu kepadanya. Dia mulai membelah dada Hamzah dan mencabut hatinya, kemudian mengunyahnya dengan gigi-giginya untuk memuaskan diri dan membalas dendam. [Astaghfirullaahal adziim, Naudzubillaahimin dzaalik] Shafiyah, saudara sang syahid Singa Allah, mendengar berita ini. Maka dia pun datang ke medan pertempuran mencarinya. Rasul SAW melihat dan mengetahui bahwa bibinya akan menghadapi situasi yang sulit bila melihat Hamzah dalam keadaan itu. Maka beliau berkata kepada puteranya, Az-Zubair :"Suruhlah dia kembali, agar tidak menyaksikan keadaan saudaranya itu." Kemudian Az-Zubair pergi dan berkata kepadanya dengan suara tenang namun sedih :"Wahai, Ibuku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruhmu kembali." Shafiyah menjawab dengan segera dalam ketenangan dan keyakinan : "Mengapa ? Aku telah mendengar bahwa saudaraku itu telah dirusak tubuhnya dan hal itu demi Allah. Maka kami ridho atas kejadian itu dan aku akan bersabar dengan baik dan akan mengharap pahala, insyaAllah." Az-Zubair kembali mengabari Rasulullah SAW tentang kesabaran dan ketabahan yang ditunjukkan Shafiyah, dan dia sampaikan perkataan ibunya itu kepada Nabi SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya :"Biarkan dia pergi."

15/11/107:15

sn

147 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Shafiyah bersikap tabah dan teguh. Dia memandang sang syahid dengan pandangan perpisahan seraya berkata :"Semoga Allah melimpahkan sholawat kepadamu, wahai, Abu Ammaroh dan mengampuni dosamu. Kita adalah kaum yang terbiasa mengalami pembunuhan dan mati syahid. Tiada daya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah. Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Cukuplah Allah sebagai pelindungku dan Dia-lah sebaikbaik Pelindung. Semoga Allah mengampuni dosamu dan dosaku serta membalasmu dengan balasan bagi hamba hamba-Nya yang mukhlis." Hari-hari berlalu dan keteguhan Shafiyah dalam perang Uhud tetap menjadi contoh yang tinggi dalam hal kesabaran dan ketabahan. Sesungguhnya kehidupan Shafiyah seluruhnya adalah pelajaran. Kepahlawanan Wanita dan Laki-laki Dalam Perang Khandaq, Shafiyah berada bersama para wanita dan anak-anak di dalam benteng yang dijaga Hassan bin Tsabit, penyair Nabi SAW. Situasi di Madinah sangat gawat, karena dikepung dari segenap penjuru. Yahudi Bani Quraidhah telah mengkhianati janji. Medinah terancam dari dalam dan dari luar. Di sinilah kemudian Shafiyah melihat orang Yahudi berkeliling di benteng dan melewati parit pertahanan. Maka Shafiyah berkata kepada Hassan :"Hai, Hassan, orang Yahudi itu mengelilingi benteng. Aku khawatir dia akan menunjukkan rahasia kita kepada orang-orang Yahudi yang di belakang kita." Tahukah Anda, apa yang dilakukan oleh Hassan ? Hassan takut perang dan menghindari pertempuran. Dia berkata :"Semoga Allah mengampuni dosamu, wahai, puteri Abdul Muththalib. Demi Allah, engkau tentu sudah lama tahu aku bukanlah orang yang bertugas melakukan hal ini dan tidak mempunyai kekuatan untuk itu." Wanita-wanita keluarga Rasulullah SAW termasuk Shafiyah, berada dalam bahaya. Maka bagaimana dia bisa berdiam diri ? Shafiyah mengambil sebatang tiang kemah dan keluar dari benteng, lalu menyerang orang Yahudi itu. Dia memukul kepala orang itu dengan tiang hingga roboh ke bumi. Ketika itu Shafiyah memukulnya berulang-ulang hingga menewaskannya. Lalu dia kembali ke benteng dan melemparkan tiang itu dari tangannya, dan dia kembali kepada Hassan serta berkata :"Hai, Hassan, aku telah membunuh orang Yahudi itu. Turunlah dan rampaslah harta bendanya. Aku tidak bisa melakukannya karena dia seorang laki-laki, sedang aku seorang wanita." Penyair itu menjawab :"Demi Allah, aku tidak punya keperluan (hak) untuk merampasnya, wahai, puteri Abdul Muththalib." Adalah Shafiyah mengabdi pada da'wah di sekitar Rasulullah SAW dengan kekuatan, kesabaran dan keberanian serta ketepatan pendapat dan membela kehormatan. Takdir telah menghendaki adanya penimbangan antara kepahlawanan wanita dan laki-laki dalam satu peristiwa. Dalam suatu sikap, orang laki-laki meninggalkan keberanian yang justru diharapkan darinya. Dia relah meninggalkan sikap pahlawan untuk diberikannya kepada seorang wanita yang mestinya kurang keberaniannya dibandingkan laki-laki. Di sini, sejarah tidak ketinggalan sedikit pun untuk mencatat keberanian orang wanita dalam suatu keadaan, di mana orang laki-laki tidak melakukannya. Marilah kita buka kembali buku sejarah, siirah, khabar-khabar (hadits), cerita peperangan atau biografi dan kitab Thabaqaat, pastilah kita temukan kisah Shafiyah binti Abul Muththalib bersama mata-mata Yahudi yang memata-matai untuk mengetahui rahasia kaum Muslimin. Ibnu Hisyam mencatat peristiwa Shafiyah dengan orang Yahudi itu sebagai nukilan dari sejarawan Ibnu Ishaq.

15/11/107:15

sn

148 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Sejarah memelihara kehebatan Shafiyah ini, agar dapat diikuti oleh wanita dari tahun ke tahun, sepanjang zaman. Mata-mata Yahudi selalu berada di setiap tempat untuk mengawasi kita. Mereka menyiapkan segala persiapan untuk mendirikan negara di atas tulang-belulang korban-korban kita. Apakah sejarah akan mengulangi dirinya sehingga kita bisa menemukan seseorang di antara wanitawanita kita yang menghadapi para mata-mata itu ? Kita harapkan adanya seorang "Shafiyah" dalam setiap pertempuran yang dicatat dalam sejarah mengenai keberaniannya. Sejarah Shafiyah ini menyerukan kepada setiap laki-laki dan wanita Arab :"Bukalah mata kalian dan waspadalah terhadap bahaya-bahaya di sekeliling kalian." Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

149 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

SYAIKH MUHAMMAD AL-MUNQADIR SYEH Muhammad al-Munqadir terkenal akan kehidupan membujangnya yang sangat lama. Bukan apa-apa, ia sangat miskin. Ia tidak memiliki harta untuk membayar mahar pernikahannya. Bayangkan, ia hanya memiliki pakaian yang melekat di badannya dan sebuah tempat tidur yang usang. Tetapi, ia ridha dan menjalaninya sebagai ujian dari Allah SWT. “Terima kasih, ya Allah. Aku masih selalu diberi kesehatan yang membuatku bisa terus-menerus beribadah dan bermunajat kepada-Mu,” doa Syeh Muhammad alMunqadir suatu kali. Hamba Allah yang masih mempunyai kekerabatan dengan Abu bakar ash-Shiddiq ini adalah orang yang sangat dekat dengan Allah SWT. Tapi, tampaknya tak seorang pun yang tahu bagaimana gerangan kedekatan lelaki tersebut. Suatu hari, karena kelaparan yang sangat, ia datang ke rumah Aisyah binti Abu Bakar. Ia berharap Aisyah dapat memberinya sedikit makanan untuk mengganjal perutnya yang sudah meronta-ronta. Namun, alangkah sedihnya beliau ketika Aisyah mengatakan bahwa ia pun tidak mempunyai apapun untuk diberikan. “Wahai Muhammad, aku pun hidup di dalam keadaan serba kekurangan. Andaikata aku mempunyai uang 10.000 dinar sekarang, niscaya akan kuberikan kepadamu,” ujar Aisyah. Dengan lunglai Muhammad al-Munqadir pun pergi. Ia mafhum bahwa Aisyah pun hidup tidak lebih sulit daripadanya. Atas takdir Allah SWT, tiba-tiba datang utusan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan kepada Aisyah. Ia membawa 10.000 dinar titipan Khalifah dan menyerahkannya kepada Aisyah sebagai hadiah. Aisyah terus-terang merasa takjub atas hal ini. “Alhamdulillah, alangkah cepatnya apa yang aku angan-angankan. Ini sudah dikabulkan Allah.” Sebagaimana yang ia ucapkan tadi, Aisyah segera mengutus orang untuk mencari Muhammad al-Munqadir. Alangkah gembiranya Muhammad al-Munqadir ketika mendapat uang sebanyak itu. Tidak hanya cukup untuk mengganjal rasa laparnya, di kemudian hari, ia menggunakan pemberian Aisyah itu untuk menikahi seorang budak wanita yang dibelinya. Maka, berakhirlah kehidupan membujang Muhammad al-Munqadir yang sangat lama itu. Oleh Allah SWT, mereka dikarunia tiga orang anak laki-laki. Ketiganya diberi nama Muhammad, Abu bakar dan Umar. Waktu pun berlalu, ketiga anak lelaki itu tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang sangat gagah berani dan tidak berbeda dengan ayahnya. Pada suatu malam, Muhammad al-Munqadir mengurung dirinya di dalam bilik bersendirian. Tidak ada yang tahu apa gerangan yang dilakukannya saat itu. Keluarganya telah terbiasa melihat Muhammad seperti itu. Mereka mengira, paling Muhammad al-Munqadir menyendiri untuk beribadat, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Setelah beberapa lama, terdengar suara menangis dan meraung sangat kuat dari dalam bilik itu. Tentu suara Muhammad al-Munqadir. Tetapi kenapa, dan apa yang menyebabkannya? Muhammad menangis sangat keras dan tanpa henti sehingga keluarganya merasa cemas. Akhirnya mereka memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Ketika masuk, tidak ada siapa-siapa lagi di tempat itu selain Muhammad alMunqadir. Mereka bertanya kepadanya mengapa dia menangis. Tetapi, tidak ada jawaban. Malah tangisannya bertambah kuat sehingga mereka menyangka dia sedang mendapat suatu musibah. Akhirnya mereka memanggil seorang sahabat yang bernama Abu Hazim. Setelah mendapat izin, maka Abu Hazim pun masuk dan bertanya, “Wahai Muhammad, apa yang menyebabkan engkau menangis?” Alih-alih menjawab, tangis Muhammad semakin menjadi-jadi, walau suaranya sudah tidak terlalu keras. Abu Hazim sampai harus berkali-kali menanyainya dan berusaha menyabarkan dirinya sendiri. Akhirnya, mau juga Muhammad al-Munqadir menjawab. “Aku menangis karena takut setelah membaca ayat Al-Qur'an yang

15/11/107:15

sn

150 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

berbunyi, ‘Dan telah nyata kepada mereka azab yang mereka tidak pernah pikirkan.” Mendengar hal itu, Abu Hazim ikut menangis bersamanya sehingga mereka yang menunggu di luar menegur Abu Hazim mengapa pula dia yang menangis, padahal dia dipanggil untuk menenteramkan hati Muhammad alMunqadir. Abu Hazim memberitahu mereka tentang sesuatu yang menyebabkan mereka menangis. Menurut anak-anaknya beberapa tahun setelah itu, setiap kali membaca ayat-ayat Al-Qur'an, Muhammad al-Munqadir semakin sering menangis hingga kedua matanya buta. Menjelang hari kematiannya, wajah Muhammad al-Munqadir tampak gelisah. Ketika ditanya, “Mengapa kamu kelihatan gelisah?” Sekali lagi jawabannya tetap sama, “Aku takut pada ayat Al-Qur'an yang bunyinya, ‘Dan telah jelas nyata kepada mereka azab yang mereka tidak pernah pikirkan.” Sambungnya lagi, “Aku takut siksaan Allah yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya.” Ketika ajalnya sudah hampir tiba, Muhammad al-Munqadir kelihatan tenang sehingga sahabatnya telah melihat wajah Muhammad ketika itu bersinar seperti bulan purnama. Muhammad al-Munqadir sempat berkata pada hadirin dengan suara yang tersekat-sekat, “Andai engkau dapat melihat tempatku seperti yang aku lihat sekarang, niscaya kamu akan senang dan tersenyum.” Kemudian dia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 131 hijriah. [agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

151 of 207

Kisah Sahabat
RABI'AH bin KA'AB

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Rabi'ah bin Ka'ab bercerita tentang riwayat hidupnya dalam Islam. Katanya, "Dalam usia muda jiwaku sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hati kecilku sudah penuh berisi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama kali aku berjumpa dengan Rasulullah SAW, aku langsung jatuh cinta kepada beliau dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat tertarik kepadanya, sehingga aku berpaling kepada beliau seorang dari yang lain. Pada suatu hari hati kecilku berkata, "Hai Rabi'ah! Mengapa engkau tidak berusaha untuk berkhidmat menjadi pelayan kepada Rasulullah SAW? Cobalah usahakan. Jika beliau menyukaimu engkau pasti akan bahagia berada di samping beliau dalam mencintainya dan akan beroleh keuntungan di dunia dan akhirat." Berkat desakan hati, aku segera mendatangi Rasulullah SAW dengan penuh harapan semoga beliau menerimaku untuk berkhidmat kepadanya. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Beliau menyukai dan menerimaku menjadi pelayannya. Sejak hari itu aku senantiasa di samping beliau, selalu berada di bawah bayang-bayangnya. Aku ikut kemana beliau pergi dan selalu siap dalam lingkungan tempat beliau berada. Bila beliau mengedipkan mata ke arahku, aku segera berada di hadapannya. Bila beliau membutuhkan sesuatu, aku sudah siap sedia melayaninya. Aku melayani beliau sepanjang hari sampai habis waktu Isya' yang terakhir. Ketika beliau pulang ke rumahnya hendak tidur, barulah aku berpisah dengannya. Tetapi, hatiku selalu berkata, "Hendak ke mana engkau hai Rabi'ah? Mungkin Rasulullah membutuhkanmu tengah malam." Karena itu aku duduk di muka pintu beliau dan tidak pergi jauh dari bendul rumahnya. Tengah malam beliau bangun untuk shalat. Sering kali aku mendengar beliau membaca surat Al-Fatihah. Beliau senantiasa membacanya berulang-ulang sejak dari pertengahan malam ke atas. Setelah mataku mengantuk benar, barulah aku pergi tidur. Sering pula aku mendengar beliau membaca, "Sami'allaahu liman hamidah." Kadang-kadang beliau membacanya ulang dengan tempo yang lebih lama daripada jarak ulangan membaca Al-Fatihah. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, jika seorang berbuat baik kepadanya, beliau lebih suka membalasnya dengan yang paling baik. Begitulah, beliau membalas pula pelayananku kepadanya dengan yang paling baik. Pada suatu hari beliau memanggilku seraya berkata, "Hai Rabi'ah bin Ka'ab!" "Saya, ya Rasulullah!" jawabku sambil bersiap-siap menerima perintah beliau. "Katakanlah permintaanmu kepadaku, nanti kupenuhi," kata beliau. Aku diam seketika sambil berpikir. Sesudah itu aku berkata, "Ya Rasulallah, berilah aku sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu akan kuberitahukan kepada Anda." "Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah. Aku seorang pemuda miskin, tidak berkeluarga, tidak punya harta dan tidak punya rumah tinggal di shuffatul masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasib, yaitu orang-orang fakir kaum muslimin. Masyarakat menyebut kami "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila seorang muslim memberi sedekah kepada Rasulullah, sedekah itu diberikan beliau kepada kami seluruhnya. Bila ada yang memberikan hadiah kepada beliau, diambilnya sedikit dan lebihnya diberikan beliau kepada kami. Nafsuku mendorong supaya aku meminta kekayaan dunia kepada beliau, agar aku terbebas dari kefakiran seperti orang-orang lain yang menjadi kaya, punya harta, istri, dan anak. Tetapi, hati kecilku berkata, "Celaka engkau, hai Rabi'ah bin Ka'ab! Dunia akan hilang lenyap dan rezkimu di dunia sudah dijamin Allah, pasti ada. Padahal, Rasulullah SAW yang berada dekat Rabnya, permintaannya tak pernah ditolak. Mintalah supaya beliau mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu." Hatiku mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian aku datang kepada Rasulullah,

15/11/107:15

sn

152 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

lalu beliau bertanya, "Apa permintaanmu, wahai Rabi'ah?" Jawabku, "Ya Rasulullah! aku memohon semoga Anda sudi mendoakan kepada Allah Taala agar aku teman Anda di surga." Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, "Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?" Jawabku, "Tidak, ya Rasulullah! rasanya tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaan tersebut bagiku." "Kalau begitu bantulah saya dengan dirimu sendiri. Banyak-banyaklah kamu sujud," kata Rasulullah. Sejak itu aku bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntunganku melayani beliau di dunia. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilku, katanya, "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" Jawabku, "Aku tidak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, aku tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup atau tegaknya rumah tangga. Rasulullah diam saja mendengar jawabanku. Tidak lama kemudian beliau memanggilku kali yang kedua. Kata beliau, "Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?" Aku menjawab seperti jawaban yang pertama. Tetapi setelah aku duduk sendiri, aku menyesal. Aku berkata kepada diri sendiri, "Celaka engkau hai Rabi'ah! Mengapa engkau menjawab begitu? Bukankah Rasulullah lebih tahu apa yang baik bagimu mengenai agama maupun dunia, dan beliau lebih tahu daripada kamu tentang dirimu sendiri? Demi Allah jika Rasulullah memanggilku lagi dan bertanya masalah kawin, akan kujawab, ya." Memang tidak berapa lama kemudian Rasululah SAW menanyakan kembali, "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" Jawabku, "Tentu, ya Rasulullah! Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi." Kata Rasululah SAW, "Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka Rasulullah menyuruh kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau." Dengan malu-malu aku datang ke rumah mereka. Lalu kukatakan, "Rasulullah mengutusku ke sini, agar kalian mengawinkan denganku anak perempuan kalian si Fulanah." Jawabku, "Ya, si Fulanah?" Kata mereka, "Marahaban, bi Rasulilah, wa marhaban bi rasuli Rasulillah!" (Selamat datang ya Rasulullah dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah! Utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!" Lalu, mereka nikahkan aku dengan anak gadisnya. Sesudah itu aku datang menemui Rasulullah SAW. Kataku, "Ya Rasulullah! aku telah kembali dari rumah keluarga yang baik. Mereka mempercayaiku, menghormatiku, dan menikahkan anak gadisnya denganku. Tetapi, bagaimana aku harus membayar mahar mas kawinnya?" Rasulullah memanggil Buraidah ibnu al-Kasib, seorang sayyid di antara beberapa sayyid dalam kaumku, Bani Aslam. Kata beliau, "Hai, Buraidah! kumpulkan emas seberat biji kurma, untuk Rabi'ah bin Ka'ab!" Mereka segera melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Emas sudah terkumpul untukku. Kata Rasulullah kepadaku, "Berikan emas ini kepada mereka. Katakan, "Ini mahar kawin anak perempuan kalian." Aku pergi mendapatkan mereka, lalu kuberikan emas itu sebagaimana dikatakan Rasulullah. Mereka sangat senang dan berkata, "Bagus, banyak sekali!" Aku kembali menemui Rasulullah SAW. Kataku, "Belum pernah kutemui suatu kaum yang sebaik itu. Mereka senang sekali menerima emas yang aku berikan. Walaupun sedikit, mereka mengatakan, "Bagus, banyak sekali!" Sekarang, bagaimana pula caranya aku mengadakan kenduri, sebagai pesta perkawinanku? Dari mana aku akan mendapatkan biaya, ya Rasulullah?" Rasulullah berkata kepada Buraidah, "Kumpulkan uang seharga seekor kibasy, beli kibasy yang besar dan gemuk!" Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Temui Aisyah Minta kepadanya gandum seberapa ada padanya." Aku datang menemui ''Aisyah Ummul Mukminin. Kataku, "Ya, Ummul Mukminin! Rasulullah menyuruhku minta gandum seberapa yang ada pada ibu." ''Aisyah menggantangi gandum yang tersedia itu di rumahnya. Katanya, "Inilah yang ada pada kami, hanya ada tujuh gantang. Demi Allah! tidak ada lagi selain ini, bawalah!" Aku pergi ke rumah istriku membawa kibasy dan gandum. Kata mereka, "Biarlah kami yang memasak gandum. Tetapi kibasy, sebaiknya Anda serahkan kepada kawan-kawan Anda memasaknya." Aku dan beberapa orang suku Aslam mengambil kibasy tersebut, lalu kami sembelih dan kuliti, sesudah itu kami masak bersama-sama. Kini sudah tersedia roti dan daging untuk kenduri perkawinanku, beliau

15/11/107:15

sn

153 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

datang memenuhi undanganku. Alhamdulillah. Kemudian, Rasulullah menghadiahkan sebidang kebun kepadaku, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Shidiq. Dunia kini memasuki kehidupanku. Sehingga, aku sempat berselisih dengan sahabat senior Abu Bakar Shidiq, mengenai sebatang pohon kurma. Kataku kurma itu berada dalam kebunku, jadi milikku. Kata Abu bakar, tidak, kurma itu berada dalam kebunnya dan menjadi miliknya. Aku tetap ngotot dan membantahnya, sehingga dia mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah dia sadar atas keterlanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, dia menyesal dan berkata kepadaku, "Hai Rabi'ah! Ucapkan pula kata-kata seperti yang saya lontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!" Jawabku, "Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!" Kata Abu Bakar, "Saya adukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!" Lalu dia pergi menemui Rasulullah SAW. Aku mengikutinya dari belakang. Kaumku Bani Aslam mencela sikapku. Kata mereka, "Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?" Jawabku kepada mereka, "Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah "Ash-Shidiq", sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Karena kemarahan beliau berdua, Allah akan marah pula, akhirnya si Rabi'ah yang celaka?" Mendengar kata-kataku mereka pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW, lalu diceritakannya kepada beliau apa yang terjadi antarku dengannya, sesuai dengan fakta. Rasulullah mengangkat kepala seraya berkata padaku, "Apa yang terjadi antaramu dengan Shiddiq?" Jawabku, "Ya Rasulullah! Beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya." Kata Rasulullah, "Bagus!" Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi, katakanlah, "Ghaffarallaahu li abi bakar." (Semoga Allah mengampuni Abu Bakar). Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, "Jazaakallaahu khairan, ya Rabi'ah bin Ka'ab." (Semoga Allah membalas engkau dengan kebajikan, hai Rabi'ah bin Ka'ab).

(Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Dr. Abdur Rahman Ra'fat Basya)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

154 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

RAMLAH binti ABI SUFYAN (Ummu Habibah) Tiada pernah terlintas dalam pikiran Abu Sufyan bin Harab akan ada orang Quraisy yang berani keluar dari genggaman kekuasaannya, terutama mengenai soal-soal yang sangat prinsipil. Karena, dia penguasa dan pemimpin Mekkah. Segala peraturan yang digariskannya dilaksanakan dengan patuh. Tetapi putrinya sendiri, Ramlah alias Ummu Habibah, telah mematahkan kekuasaan dan kepemimpinan tersebut secara terang-terangan. Ramlah keluar dari agama berhala yang dianut bapaknya, lalu dia dan suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, serta membenarkan kerasulan Nabi-Nya, Muhammad bin Abdullah. Abu Sufyan telah berupaya dengan segala kekuasaan dan kekuatan yang ada padanya untuk mengembalikan putrinya suami-istri ke agama nenek moyang mereka yang menyembah berhala. Tetapi, dia tidak pernah berhasil. Karena iman yang terhujam ke dalam kalbu Ramlah sangat dalam dan terlalu kokoh untuk dapat dicabut atau digoyahkan oleh angin puting beliung dan badai kemarahan Abu Sufyan. Abu Sufyan mendapat kesulitan besar karena Ramlah masuk Islam. Dia bingung bagaimana seharusnya menghadapi kaum Quraisy. Padahal, putrinya sendiri tidak dapat ditundukkannya di bawah kemauannya. Dan, bagaimana seharusnya menetapkan garis demarkasi antara Quraisy dan kaum muslimin pengikut Muhammad. Tatkala kaum Quraisy mengetahui Abu Sufyan marah terhadap putrinya suami istri, mereka pun ikut-ikutan memarahi keduanya. Mereka malah bertindak mengejek, menghina, bahkan menyakiti keduanya. Sehingga, akhirnya mereka berdua tidak betah tinggal di Mekkah. Setelah Rasulullah SAW mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Habasyah, Ramlah dan anak perempuannya, Habibah, yang masih kecil, beserta suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, termasuk rombongan yang pertama-tama hijrah. Mereka pergi meninggalkan kampung halaman, membawa iman dan agamanya ke bawah perlindungan Najasy, raja Habasyah. Abu Sufyan bin Harb dan para pemimpin Quraisy lainnya merasa mendapat pukulan berat dengan lolosnya kaum muslimin dari tangan mereka. Karena di Habasyah kaum muslimin dapat menikmati kebebasan dan ketenteraman melaksanakan ajaran agama tanpa suatu gangguan. Lalu, dikirimnya suatu delegasi menghadap Najasyi untuk mempengaruhi raja tersebut, dan menuntut supaya menyerahkan kembali kepada Quraisy kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah. Mereka mengatakan kepada Najasyi, kaum muslimin menghina Isa Al-Masih dan ibunya dengan penghinaan yang menyakitkan. Najasyi memanggil para pemimpin muhajirin, menanyakan kepada mereka hakikat ajaran Islam, terutama mengenai Isa Al-Masih dan ibunya, Maryam. Bahkan, raja meminta supaya dibacakan kepada baginda ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah hakikat Islam dan beberapa ayat Al-Qur'an dibacakan, Najasyi menangis bercucuran air mata hingga membasahi jenggotnya. Kemudian Najasyi berkata, "Agama yang diturunkan kepada Nabi kalian dan yang diturunkan kepada Isa Ibnu Maryam, kedua-duanya, berasal dari satu sumber." Lalu, dia menyatakan dirinya beriman kepada Allah Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, serta mengakui kenabian Muhammad SAW. Tetapi sayang, para pemimpin Habasyah lainnya masih enggan menerima Islam menjadi agama mereka, walaupun mereka dengan ikhlas melindungi kaum muslimin tinggal di Habasyah. Mereka tetap menganut agama Nasrani menjadi agama mereka. Setelah tiba di Habasyah, Ummu Habibah optimis akan segera menikmati masa cerah, sesudah lama mengalami hari-hari nan suram. Perjalanan berat penuh kesulitan telah membawanya ke tempat yang aman. Namun, dia tidak tahu apa yang bakal terjadi di hadapannya. Kebijakan Allah yang penuh barakah dan kebajikan menghendaki untuk menguji iman Ummu Habibah dengan ujian-ujian yang maha berat. Orang-orang pintar sekalipun sulit menebaknya. Kemudian, Allah mengeluarkannya dari ujian tersebut sebagai pemenang, dan akan menempatkannya di puncak tertinggi.

15/11/107:15

sn

155 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Pada suatu malam Ummu Habibah bermimpi dalam tidurnya. Dia melihat suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, mendapat kecelakaan di lautan nan gelap dan bergelombang besar gulung-bergulung. Keadaannya sangat menghawatirkan. Ummu Habibah terbangun dari tidurnya dengan ketakutan. Namun, dia tidak menceritakan mimpinya kepada suami atau kepada siapa pun. Tidak lama kemudian mimpi itu terbukti benar. Suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, murtad dari Islam, lalu masuk Nasrani. Kemudian dia terseret ke warung-warung minuman keras, sehingga dia menjadi pemabuk yang tidak kenal puas. Suaminya memberikan dua pilihan yang sama-sama pahit kepada istrinya, Ummu Habibah: cerai atau ikut menjadi orang Nasrani. Ummu Habibah dengan tiba-tiba mendapati dirinya berada di tengah jalan bersimpang tiga. Pertama, memperkenankan ajakan suaminya yang dengan nyinyir mendesaknya masuk Nasrani. Dengan begitu dia murtad dari Islam, dan kembali kepada kehinaan dunia dan siksa akhirat. Dia telah bertekad tidak akan melakukan hal itu, sekalipun dagingnya akan habis disikat dari tulang belulangnya. Kedua, kembali ke rumah bapaknya di Mekah. Padahal, rumah bapaknya merupakan kubu pertahanan kaum musyrikin. Sudah pasti di sana dia dengan agamanya akan hidup tertindas. Ketiga, tetap tinggal di Habasyah seorang diri sebagai pelarian, tanpa famili, kampung halaman, dan tanpa ada yang membantu dan melindungi. Ternyata Ummu Habibah memilih yang diridhai Allah dari segala-galanya. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di Habsyah, sampai Allah memberi jalan keluar baginya. Ummu Habibah tidak lama menunggu. Sesudah 'iddahnya habis dari suaminya yang tidak lama hidup setelah menjadi Nasrani, dia memperoleh jalan keluar. Tanpa diduga kebahagiaan datang mengunjunginya sambil menari-nari menggerakkan sayap yang bagaikan zamrud di atas rumahnya yang penuh duka. Pada suatu hari nan cerah, pintu rumahnya diketuk orang. Setelah dibukakan, kiranya yang datang bertamu adalah Abrahah, ajudan khusus baginda Najasyi. Abrahah memberi hormat kepadanya dengan sopan santun dan muka manis, sambil meminta izin masuk. Ummu Habibah menyilakannya masuk penuh kekuatiran. Kata Abrahah, "Baginda raja mengirim salam untuk Anda. Baginda bertitah, Muhammad Rasulullah melamar Anda untuk pribadinya. Beliau berkirim surat mewakilkan kepada baginda untuk melakukan akad nikahnya dengan Anda. Karena itu, tunjuklah wakil yang Anda sukai untuk melakukan akad nikah ini." Ummu Habibah seperti hendak terbang kegirangan berteriak sambil berucap dengan suka cita, "Semoga Allah membahagiakan engkau dengan segala kebaikan ...," katanya kepada Abrahah. Mula-mula ditanggalkannya gelang tangan, kemudian gelang kaki, menyusul pula anting dan cincin. Seandainya Ummu Habibah memiliki perbendaharaan dunia, mungkin diberikannya semua kepada Abrahah ketika itu. Kata Ummu Habibah, "Aku menunjuk Khalid bin Sa'id bin Ash mewakiliku. Karena, dialah keluarga terdekat bagiku." Istana Najasyi terletak di tempat ketinggian berpohon-pohon yang berbaris rapi, menghadap ke sebuah taman Habasyah nan indah menawan. Dalam sebuah aula yang luas berhias ukiran dan lukisan elok, diterangi lampu-lampu cemerlang, berhamparkan permadani bulu yang indah, telah berkumpul wajah-wajah para sahabat yang bermukim di Habasyah. Di antaranya terdapat pemimpinpemimpin seperti Ja'far bin Abi Thalib, Khalid bin Sa'id bin Ash, Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy, dan lain-lain untuk menyaksikan upacara mulia dan suci, yaitu akad nikah Ummu Habibah binti Abu Sufyan dengan Muhammad Rasulullah SAW. Setelah semua lengkap hadir, Najasyi muncul ke majelis. Baginda berkata, "Aku memuji Allah Yang Maha Qudus, Al-Mukminul Jabar, dan aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang kerasulannya telah diberitakan oleh Isa Ibnu Maryam. Kemudian, bahwasanya Rasulullah SAW memintaku untuk mewakilinya dalam pernikahannya dengan

15/11/107:15

sn

156 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dengan maharnya empat ratus dinar emas, memenuhi sunah Allah dan Rasul-Nya!" Baginda Najasyi mencurahkan uang dinar ke hadapan Khalid bin Sa'id bin Ash. Khalid berdiri dan berkata, "Segala puji bagi Allah; Aku memuji-Nya; memohon pertolongan-Nya; memohon ampun dan tobat kepada-Nya. Aku mengakui sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan agama yang hak, mengatasi segala agama, sekalipun tidak disukai orang-orang kafir." Kemudian, selaku wakil dari Ummu Habibah aku penuhi permintaan Rasulullah SAW. Aku kawinkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Semoga Allah melimpahkan barakah-Nya bagi perkawinan Rasulullah dengannya. Dan, semoga Ummu Habibah berbahagia dengan kebajikan yang telah ditetapkan Allah baginya." Sesudah itu Khalid memungut uang yang tercurah di hadapannya, dan bermaksud hendak pergi, untuk menyampaikan uang tersebut kepada Ummu Habibah. Melihat Khalid hendak pergi, para sahabat yang lain berdiri hendak pergi bersama-sama dengan Khalid. Maka bertitah Najasyi, "Silahkan Tuan-Tuan duduk lebih dahulu. Telah menjadi sunah para nabi apabila melakukan upacara perkawinan, mereka mengadakan kenduri dan makan-makan ala kadarnya." Najasyi menyilakan mereka makan, sesudah makan barulah mereka pergi. Kata Ummu Habibah, "Setelah uang mahar kuterima, maka kukirimkan kepada Abrahah yang menyampaikan berita gembira ini kepadaku sebanyak lima puluh mitsqal. Aku berkata kepadanya, "Telah kuberikan kepadamu segala perhiasanku ketika engkau menyampaikan berita gembira ini kepadaku. Sekarang aku tidak mempunyai harta lagi yang dapat kuberikan kepadamu selain uang ini." "Tidak lama kemudian Abrahah datang kepadaku mengembalikan uang yang baru kuberikan kepadanya. Kemudian dikeluarkannya sebuah kotak yang bagus berisi perhiasan yang telah kuberikan kepadanya. Lalu, kotak itu diberikannya kepadaku."

(Sumber : Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Abdulrahman Ra'fat Basya.)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

157 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

RUQAYYAH binti ROSULULLAH SAW, Isteri Utsman Rombongan muhajir ke Habasyah membawa 11 orang wanita. Ini berarti bahwa wanita Muslim adalah bagian dari da'wah dan jihad dijalan Allah SWT. Mereka tinggalkan kesenangan hidup yang hanya sebentar, berupa harta, anak dan keluarga serta negeri demi Allah. Mereka tinggalkan tanah airnya yang mahal dan berangkat menuju Habasyah, sebuah negeri yang jauh dengan penduduk yang berlainan bangsa, warna dan suku, demi membela aqidah yang diimaninya. Tatkala fajar da'wah memancar dari Mekkah, maka muhajir pertama bukanlah dua orang laki-laki, tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua muhajir ini adalah Utsman bin Affan dan isterinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW. Ruqayyah lahir sesudah kakaknya, Zainab. Sesudah kedua orang itu, muncullah Ummu Kultsum yang menemani dalam hidupnya setelah Zainab menikah. Ketika keduanya mendekati usia perkawinan, Abu Thalib meminang mereka berdua untuk kedua putera Abu Lahab. Allah SWT menghendaki perkawinan ini tidak berlangsung lama, karena melihat sikap Abu Lahab terhadap Islam. Akan tetapi Allah SWT menampilkan Utsman bin Affan kepada kedua puteri itu. Maka dia pun menikah dengan Ruqayyah dan hijrah bersamanya ke Habasyah. Ummu Kultsum tetap tinggal bersama ayah dan ibunya menunggu sesuatu yang ditakdirkan baginya. Imam Adz-Dzahabi berkata :"Ruqayyah hijrah ke Habasyah bersama Utsman dua kali. Nabi SAW bersabda :"Sesungguhnya kedua orang itu (Utsman dan Ruqayyah) adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Allah sesudah Luth."[ "Siyar A'laamin Nubala'"; juz 2, halaman 78] Anas bin Malik r.a. berkata : Utsman bin Affan keluar bersama isterinya, Ruqayyah, puteri Rasulullah SAW menuju negeri Habasyah. Lama Rasulullah SAW tidak mendengar kabar kedua orang itu. Kemudian datang seorang wanita Quraisy berkata :"Wahai, Muhammad, aku telah melihat menantumu bersama isterinya." Nabi SAW bertanya :"Bagaimanakah keadaan mereka ketika kau lihat ?" Wanita itu menjawab :"Dia telah membawa isterinya ke atas seekor keledai yang berjalan pelahan, sementara ia memegang kendalinya." Maka Rasulullah SAW bersabda :"Allah menemani keduanya. Sesungguhnya Utsman adalah laki-laki pertama yang hijrah membawa isterinya, sesudah Luth a.s." Ruqayyah kembali bersama Utsman ke Mekkah dan mendapati ibunya telah berpulang kepada Ar-Rafiiqil A'laa. Kemudian kaum Muslimin pindah dari Mekkah ke Madinah semuanya. Ruqayyah juga ikut hijrah bersama suaminya, Utsman, sehingga dia menjadi wanita yang hijrah dua kali. Penyebab hijrah ke Habasyah adalah takut fitnah dan menyelamatkan agama mereka menuju Allah. Bukan menyebarkan agama Islam, karena negeri Habasyah pada waktu itu menganut agama Masehi dan agama Masehi di sana tidak akan menerima agama baru yang menyainginya, meskipun Habasyah diperintah oleh raja yang tidak menganiaya seseorang. Hijrah ke Habasyah merupakan bagian dari peralihan dan kelanjutan perjuangan, karena hasil yang diharapkan oleh kaum muhajirin dari hijrah mereka ke Habasyah adalah menyelamatkan agamanya ke negeri yang memberi ketenangan bagi mereka di sana. Di negeri itu mereka tidak mengalami kekerasan dan gangguan, sampai ketika saudara-saudara mereka di Mekkah ditakdirkan binasa hingga orang terakhir, membawa panji da'wah sebagai penerus. Adapun hijrah ke Madinah, maka penyelamatan agama adalah salah satu sebabnya, tetapi bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah perubahan dan kelanjutan perjuangan di mana para muhajirin dapat mendirikan sebuah tanah air tempat hijrah mereka. Selama 13 tahun Islam merupakan agama tanpa tanah air dan rakyat tanpa negara. Hijrah yang merupakan tahap kedua di antara tahaptahap da'wah adalah tahap perjuangan yang paling rumit. Apabila tahap perjuangan ini telah memiliki sifat petualangan, maka sesungguhnya petualangan itu hanyalah semacam perjuangan, bahkan macam

15/11/107:15

sn

158 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

perjuangan heroik tertinggi. Tahap perjuangan ini berhasil mendapat kemenangan. Iman mengalahkan kekuatan, roh mengalahkan materi dan kebenaran mengalahkan kebathilan. Sesungguhnya kebesaran dari kemenangan itu sulit digambarkan dan dinilai. Kebebasan dari ketakutan dan perjuangan menuju keamanan. Kebebasan dari perbudakan dan perjuangan menuju kemerdekaan. Kebebasan dari kehinaan dan perjuangan menuju kemuliaan. Kebebasan dari kesempitan dan perjuangan menuju kelapangan. Kebebasan dari kelumpuhan dan perjuangan menuju keaktifan. Kebebasan dari kelemahan dan perjuangan menuju kekuatan. Dan kebebasan dari ikatan-ikatan bicara dan perjuangan menuju kebebasan berbicara. Ruqayyah kembali kepada Tuhannya setelah menderita sakit demam. Kemudian Rasulullah SAW mengawinkan Utsman dengan Ummu Kultsum. Semoga Allah SWT merahmati Ruqayyah yang hijrah dua kali dan Utsman yang mempunyai dua cahaya, dan semoga Allah SWT membalas keduanya atas jihad dan kesabarannya dengan sebaik-baik balasan. Amiin yaa Robbal'aalamiin. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

159 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

TSA’LABAH bin ABDURRAHMAN Seorang pemuda dari kaum Anshar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melalui rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah SAW menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur. Dia menuju ke sebuah gunung yang berada di antara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Selama empat puluh hari Rasulullah SAW kehilangan dia. Lalu Jibril AS turun kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, "Sesungguhnya seorang laki-laki dari ummatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku."" Maka Nabi SAW berkata, "Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa'labah bin Aburrahman, lalu bawa kemari." Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah. Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?" Penggembala itu menjawab, "Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?" "Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar. Dzaufafah menjawab, "Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!" "Ya, dialah yang kami maksud," tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama. Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!" Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?" "Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu." Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat." Ketika mereka menemukan Rasulullah SAW tengah melakukan shalat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa'labah mendengar bacaan Nabi SAW, dia tersungkur pingsan. Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, "Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa'labah?" Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah SAW!" Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa'labah yang membuatnya tersadar. Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Mengapa engkau menghilang dariku?" Tsa'labah menjawab, "Dosaku, ya Rasulullah!" Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?" "Benar, wahai Rasulullah." Rasulullah SAW bersabda, "Katakan: Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagian di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS AlBaqarah : 201). Tsa'labah berkata, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar." Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar." Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang ke rumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah SAW lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa'labah? Dia sekarang sedang sakit keras." Maka Rasulullah SAW datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa'labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau. "Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah SAW. "Karena penuh dengan dosa." Jawabnya. Beliau bertanya lagi, "Bagaimana yang engkau rasakan?" "Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa'labah.

15/11/107:15

sn

160 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?" "Ampunan Tuhanku," Jawabnya. Maka turunlah Jibril dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula." Maka segera Rasulullah SAW memberitahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung ia meninggal. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai dishalatkan, Rasulullah SAW berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, "Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena, banyaknya malaikat yang turut menziarahi Tsa'labah." (agus-haris.net)

15/11/107:15

sn

161 of 207

Kisah Sahabat
UBAY bin KA'AB

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Pada suatu hari Rasulullah SAW menanyainya, "Hai Abul Mundzir, ayat manakah dari kitabullah yang teragung?" Orang itu menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi SAW mengulangi pertanyaannya, "Abul Mundzir, ayat manakah dari kitabullah yang teragung?" Maka ia menjawab, "Allah, tiada tuhan melainkan Ia, Yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur." (Al-Baqarah : 255). Rasulullah SAW pun menepuk dadanya. Dan, dengan rasa bangga yang tercermin pada wajahnya, ia berkata, "Hai Abul Mundzir, selamat bagimu atas ilmu yang kamu capai." Abul Mundzir yang mendapat ucapan selamat dari Rasulullah SAW yang mulia atas ilmu dan pengertian yang dikaruniakan Allah kepadanya itu tiada lain adalah Ubay bin Ka'ab, seorang sahabat yang mulia. Ia seorang warga Anshar dari suku Khajraj, ikut mengambil bagian dalam perjanjian Aqabah, Perang Badar, dan peperangan-peperangan lainnya. Ia mencapai kedudukan yang tinggi dan derajat mulia di kalangan kaum muslimin angkatan pertama, hingga amirul mukminin Umar pernah mengatakan tentangnya, "Ubay adalah pemimpin kaum muslimin ...." Ubay bin Ka'ab merupakan salah seorang perintis dari penulis-penulis wahyu dan penulis-penulis surat. Begitu juga dalam menghafal Alquran, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka. Pada suatu hari Rasulullah SAW mengatakan kepadanya, "Hai Ubay bin Ka'ab, saya dititahkan untuk menyampaikan Alquran kepadamu." Ubay maklum bahwa Rasulullah SAW hanya menerima perintah-perintah itu dari wahyu, maka dengan harap-harap cemas ia menanyakan kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah SAW, ibu dan bapakku menjadi tebusan Anda, apakah kepada Anda disebut namaku?" Ujar Rasulullah SAW, "Benar, namamu dan turunanmu di tingkat tertinggi." Seorang muslim yang mempunyai kedudukan seperti ini di hati Nabi SAW pastilah seorang muslim yang sangat agung. Selama bertahun-tahun persahabatan, yaitu ketika Ubay bin Ka'ab selalu berdekatan dengan Nabi SAW, ia tidak putus-putusnya mereguk air yang manis dari telaga yang dalam itu. Setelah berpulangnya Rasulullah SAW, Ubay bin Ka'ab menepati janjinya dengan tekun dan setia, baik dalam beribadah, dalam keteguhan beragama, maupun keluhuran budi. Disamping itu, tiada henti-hentinya ia menjadi pengawas bagi kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah SAW masih hidup, diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai, dan budi pekerti mereka. Di antara ucapan-ucapannya yang mengagumkan yang selalu didengungkan kepada sahabat-sahabatnya adalah, "Selagi kita bersama Rasulullah SAW, tujuan kita satu. Tetapi setelah ditinggalkan beliau, tujuan kita bermacam-macam. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan." Ia selalu berpegang pada takwa dan menetapi zuhud terhadap dunia, hingga tidak dapat terpengaruh dan terpedaya. Karena, ia selalu menilik sesuatu pada akhir kesudahannya. Sebagaimana juga corak hidup manusia, betapa pun ia berenang dalam lautan kesenangan, dan kancah kemewahan, tetapi pasti ia akan menemui maut yang segalanya akan berubah menjadi debu, sedang di hadapannya tiada terlihat, kecuali hasil perbuatannya yang baik atau yang buruk. Mengenai dunia, Ubay pernah melukiskannya sebagai berikut, "Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri, dapat diambil sebagai perumpamaan bagi dunia, biar dikatakannya enak atau tidak, tetapi yang penting apa nantinya ...." Bila Ubay berbicara di depan khalayak ramai, semua leher akan terulur dan semua telinga akan terpasang, disebabkan apabila ia berbicara mengenai agama Allah, tiada seorang pun yang ditakutinya dan tiada udang di balik batu. Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum muslimin menyeleweng dengan menjilat pada penguasa-penguasa mereka, ia tampil dan melepas kata-katanya yang tajam, "Celaka mereka, demi Tuhan, mereka celaka dan mencelakakan. Tetapi, saya tidak menyesal melihat nasib

15/11/107:15

sn

162 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

mereka, hanya saya sayangkan adalah kaum muslimin yang celaka disebabkan mereka." Karena kesalehan dan ketakwaannya, Ubay selalu menangis setiap teringat Allah dan hari akhir. Ayat-ayat Alquran, baik yang ia baca atau yang didengarnya, semua menggetarkan hati dan persendiannya. Tetapi, suatu ayat di antara ayat-ayat yang mulia itu, jika dibaca atau terdengar olehnya, akan menyebabkan diliputi oleh rasa duka yang tidak dapat dilukiskan. Ayat itu ialah, "Katakanlah, Ia Kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan-Nya kepada kalian perbuatan kawannya sendiri ...." (Al-An'am : 65). Yang paling dicemaskan Ubay adalah datangnya suatu generasi umat bercakar-cakaran sesama mereka. Ia selalu memohon keselamatan kepada Allah, berkat, karunia, serta rahmat-Nya. Hal itu diperolehnya, dan ditemuinya Tuhannya dalam keadaan beriman, aman tenteram, dan beroleh pahala.

(Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid)[agus-haris.net]

15/11/107:15

sn

163 of 207

Kisah Sahabat
UMAR BIN ABDUL AZIZ

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Posisinya: Seorang Tabiin terhormat. Dia mendapat gelar Khalifah Rasyid yang ke lima karena memerintah sesuai dengan sistem Khulafaur Rasyidin. Dia naik tahta setelah Sulaiman bin Abdul Malik. Muhammad bin Ali bin Husain mengatakan tentang dirinya, “Kalian tahu bahwa setiap kaum memiliki orang yang yang menonjol? Yang menonjol dari Bani Umaiyah adalah Umar bin Abdul Aziz. Saat dibangkitkan di hari kiamat kelak, merupakan satu kelompok tersendiri.” Menuntut ilmu: Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu pada saat usia masih kecil. Walapun begitu dia sudah bergaul dengan para pemuka ahli fikih dan ulama. Pada masa itu juga pernah menjabat gubernur Madinah sebentar. Dibaiat menjadi khalifah: Dia dibaiat menjadi khalifah setelah wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik, sedang dia tidak menyukainya. Oleh karena itu dia mengumpulkan orang-orang di mesjid untuk salat berjamaah lalu berpidato. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah dan bersalawat kepada Nabi, dalam pidatonya dia mengatakan, “Wahai manusia! Saya telah diuji untuk mengemban tugas ini tanpa dimintai pendapat, permintaan dari saya, atau musyawarah kaum Muslimin. Maka sekarang ini saya membatalkan baiat yang kalian berikan kepada diri saya dan untuk selanjutnya pilihlah khalifah yang kalian suka!” Tetapi orang-orang yang hadir dengan serempak mengatakan, “Kami telah memilih engkau wahai Amirul Mukminin. Perintahlah kami dengan kebahagiaan dan keberkatan!” Setelah itu dia lalu menyuruh semua orang untuk bertakwa, untuk tidak menyukai dunia dan menyukai akhirat, kemudian berkata, “Wahai manusia! Barang siapa menaati Allah, wajib ditaati, siapa yang mendurhakai-Nya tidak boleh ditaati oleh seorangpun. Wahai manusia! Taatilah saya selama saya menaati Allah dalam memerintamu dan jika saya mendurhakai-Nya tidak ada seorangpun yang boleh mentaati saya.” Lalu dia turun dari mimbar. Percakapan antara dia dengan putranya setelah menjadi khalifah: Sesampainya di rumah, Umar pergi ke tempat tidur untuk istirahat. Tetapi belum sempat membaringkan badannya, putranya, Abdul Malik datang menghampirinya. Ketika itu berumur 17 tahun. Dia mengatakan, “Apa yang hendak engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?” “Oh putraku, aku hendak istirahat sebentar, dalam tubuhku tidak ada kekuatan lagi.” jawab Umar. Abdul Malik berkata lagi, “Apakah engkau istirahat sebelum mengembalikan hak yang dirampas dengan jalan curang kepada yang punya?” Umar menjawab, “Putraku, tadi malam saya bergadang untuk mengurus pamanmu, Sulaiman dan nanti waktu Zuhur saya akan salat bersama orang-orang dan insya Allah akan mengembalikan hak-hak yang diambil secara curang itu kepada yang punya.” Abdul Malik berkata lagi, “Siapa yang bisa menjamin dirimu akan hidup sampai Zuhur wahai Amirul Mukminin?” Serta merta Umar berdiri, lalu mencium dan merangkul anaknya, serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku seseorang yang menolongku dalam beragama.” Seketika itu juga dia memerintahkan untuk menyeru semua orang, bahwa barang siapa pernah dicurangi oranglain, agar melapor. Umar pun mengembalikan hak-hak yang dirampas dengan curang itu kepada yang punya. Keadilannya: Umar pernah mengumpulkan sekolompok ahli fikih dan ulama dan mengatakan, “Saya mengumpulkan tuan-tuan ini untuk meminta pendapat mengenai hasil tindak curang yang berada pada keluargaku.” Mereka mengatakan, “Itu semua terjadi sebelum masa pemerintahanmu. Maka dosanya berada pada yang merampasnya.” Umar tidak puas dengan pendapat itu dan mengambil pendapat kelompok lain, di dalamnya termasuk putranya Abdul Malik yang mengatakan kepadanya, “Saya berpendapat, hasil-hasil itu harus dikembalikan kepada yang berhak, selama engkau mengetahuinya. Jika tidak dikembalikan

15/11/107:15

sn

164 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

engkau telah menjadi patner mereka yang merampasnya dengan curang.” Mendengar itu Umar puas dan langsung berdiri untuk mengembalikan hasil-hasil tindak kecurangan itu. Wafatnya: Masa pemerintahannya hanya berlangsung sebentar. Hanya dua tahun setengah. Dia menemui Tuhan dalam keadaan adil kepada rakyatnya.

15/11/107:15

sn

165 of 207

Kisah Sahabat
UMAR BIN KHATTAB

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Seorang pemuda yang gagah perkasa berjalan dengan langkah yang mantap mencari Nabi hendak membunuhnya. Ia sangat membenci Nabi, dan agama baru yang dibawanya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang bernama Naim bin Abdullah yang menanyakan tujuan perjalanannya tersebut. Kemudian diceritakannya niatnya itu. Dengan mengejek, Naim mengatakan agar ia lebih baik memperbaiki urusan rumah tangganya sendiri terlebih dahulu. Seketika itu juga pemuda itu kembali ke rumah dan mendapatkan ipar lelakinya sedang asyik membaca kitab suci Al-Qur'an. Langsung sang ipar dipukul dengan ganas, pukulan yang tidak membuat ipar maupun adiknya meninggalkan agama Islam. Pendirian adik perempuannya yang teguh itu akhirnya justru menentramkan hatinya dan malahan ia memintanya membaca kembali baris-baris Al-Qur'an. Permintaan tersebut dipenuhi dengan senang hati. Kandungan arti dan alunan ayat-ayat Kitabullah ternyata membuat si pemuda itu begitu terpesonanya, sehingga ia bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk agama Islam. Begitulah pemuda yang bernama Umar bin Khattab, yang sebelum masuk Islam dikenal sebagai musuh Islam yang berbahaya. Dengan rahmat dan hidayah Allah, Islam telah bertambah kekuatannya dengan masuknya seorang pemuda yang gagah perkasa. Ketiga bersaudara itu begitu gembiranya, sehingga mereka secara spontan mengumandangkan "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar). Gaungnya bergema di pegunungan di sekitarnya. Umar masuk agama Islam pada usia 27 tahun. Beliau dilahirkan di Makkah, 40 tahun sebelum hijrah. Silsilahnya berkaitan dengan garis keturunan Nabi pada generasi ke delapan. Moyangnya memegang jabatan duta besar dan leluhurnya adalah pedagang. Ia salah satu dari 17 orang Makkah yang terpelajar ketika kenabian dianugerahkan kepada Muhammad SAW. Dengan masuknya Umar ke dalam agama Islam, kekuatan kaum Muslimin makin bertambah tangguh. Ia kemudian menjadi penasehat utama Abu Bakar selama masa pemerintahan dua setengah tahun. Ketika Abu Bakar mangkat, ia dipilih menjadi khalifah Islam yang kedua, jabatan yang diembannya dengan sangat hebat selama sepuluh setengah tahun. Ia meninggal pada tahun 644 M, dibunuh selagi menjadi imam sembahyang di masjid Nabi. Pembunuhnya bernama Feroz alias Abu Lu'lu, seorang Majusi yang tidak puas. Ajaran-ajaran Nabi telah mengubah suku-suku bangsa Arab yang suka berperang menjadi bangsa yang bersatu, dan merupakan suatu revolusi terbesar dalam sejarah manusia. Dalam masa tidak sampai 30 tahun, orang-orang Arab yang suka berkelana telah menjadi tuan sebuah kerajaan terbesar di waktu itu. Prajurit-prajuritnya melanda tiga benua terkenal di dunia, dan dua kerajaan besar Caesar (Romawi) dan Chesroes (Parsi) bertekuk lutut di hadapan pasukan Islam yang perkasa. Nabi telah meninggalkan sekelompok orang yang tidak mementingkan diri, yang telah mengabdikan dirinya kepada satu tujuan, yakni berbakti kepada agama yang baru itu. Salah seorang di antaranya adalah Umar al-Faruq, seorang tokoh besar, di masa perang maupun di waktu damai. Tidak banyak tokoh dalam sejarah manusia yang telah menunjukkan kepintaran dan kebaikan hati yang melebihi Umar, baik sebagai pemimpin tentara di medan perang, maupun dalam mengemban tugas-tugas terhadap rakyat serta dalam hak ketaatan kepada keadilan. Kehebatannya terlihat juga dalam mengkonsolidasikan negeri-negeri yang telah di taklukkan. Islam sempat dituduh menyebarluaskan dirinya melalui ujung pedang. Tapi riset sejarah modern yang dilakukan kemudian membuktikan bahwa perang yang dilakukan orang Muslim selama kekhalifahan Khulafaurrosyidin adalah untuk mempertahankan diri. Sejarawan Inggris, Sir William Muir, melalui bukunya yang termasyur, Rise, Decline and Fall of the Caliphate, mencatat bahwa setelah penaklukan Mesopotamia, seorang jenderal Arab bernama Zaid memohon izin Khalifah Umar untuk mengejar tentara Parsi yang melarikan diri ke Khurasan. Keinginan jenderalnya itu ditolak Umar dengan berkata, "Saya ingin agar antara Mesopotamia dan negara-negara di sekitar pegunungan-pegunungan menjadi semacam batas penyekat, sehingga orang-orang Parsi tidak akan mungkin menyerang kita. Demikian pula kita, kita tidak bisa menyerang mereka. Dataran Irak

15/11/107:15

sn

166 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

sudah memenuhi keinginan kita. Saya lebih menyukai keselamatan bangsaku dari pada ribuan barang rampasan dan melebarkan wilayah penaklukkan. Muir mengomentarinya demikian: "Pemikiran melakukan misi yang meliputi seluruh dunia masih merupakan suatu embrio, kewajiban untuk memaksakan agama Islam melalui peperangan belum lagi timbul dalam pikiran orang Muslimin." Umar adalah ahli strategi militer yang besar. Ia mengeluarkan perintah operasi militer secara mendetail. Pernah ketika mengadakan operasi militer untuk menghadapi kejahatan orang-orang Parsi, beliau yang merancang komposisi pasukan Muslim, dan mengeluarkan perintah dengan detailnya. Saat beliau menerima khabar hasil pertempurannya beliau ingin segera menyampaikan berita gembira atas kemenangan tentara kaum Muslimin kepada penduduk, lalu Khalifah Umar berpidato di hadapan penduduk Madinah: "Saudara-saudaraku! Aku bukanlah rajamu yang ingin menjadikan Anda budak. Aku adalah hamba Allah dan pengabdi hamba-Nya. Kepadaku telah dipercayakan tanggung jawab yang berat untuk menjalankan pemerintahan khilafah. Adalah tugasku membuat Anda senang dalam segala hal, dan akan menjadi hari nahas bagiku jika timbul keinginan barang sekalipun agar Anda melayaniku. Aku berhasrat mendidik Anda bukan melalui perintah-perintah, tetapi melalui perbuatan." Pada tahun 634 M, pernah terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Islam dan Romawi di dataran Yarmuk. Pihak Romawi mengerahkan 300.000 tentaranya, sedangkan tentara Muslimin hanya 46.000 orang. Walaupun tidak terlatih dan berperlengkapan buruk, pasukan Muslimin yang bertempur dengan gagah berani akhirnya berhasil mengalahkan tentara Romawi. Sekitar 100.000 orang serdadu Romawi tewas sedangkan di pihak Muslimin tidak lebih dari 3000 orang yang tewas dalam pertempuran itu. Ketika Caesar diberitakan dengan kekalahan di pihaknya, dengan sedih ia berteriak: "Selamat tinggal Syria," dan dia mundur ke Konstantinopel. Beberapa prajurit yang melarikan diri dari medan pertempuran Yarmuk, mencari perlindungan di antara dinding-dinding benteng kota Yerusalem. Kota dijaga oleh garnisun tentara yang kuat dan mereka mampu bertahan cukup lama. Akhirnya uskup agung Yerusalem mengajak berdamai, tapi menolak menyerah kecuali langsung kepada Khalifah sendiri. Umar mengabulkan permohonan itu, menempuh perjalanan di Jabia tanpa pengawalan dan arak-arakan kebesaran, kecuali ditemani seorang pembantunya. Ketika Umar tiba di hadapan uskup agung dan para pembantunya, Khalifah menuntun untanya yang ditunggangi pembantunya. Para pendeta Kristen lalu sangat kagum dengan sikap rendah hati Khalifah Islam dan penghargaannya pada persamaan martabat antara sesama manusia. Uskup agung dalam kesempatan itu menyerahkan kunci kota suci kepada Khalifah dan kemudian mereka bersamasama memasuki kota. Ketika ditawari bersembahyang di gereja Kebaktian, Umar menolaknya dengan mengatakan: "Kalau saya berbuat demikian, kaum Muslimin di masa depan akan melanggar perjanjian ini dengan alasan mengikuti contoh saya." Syarat-syarat perdamaian yang adil ditawarkan kepada orang Kristen. Sedangkan kepada orang-orang Yahudi, yang membantu orang Muslimin, hak milik mereka dikembalikan tanpa harus membayar pajak apa pun. Penaklukan Syria sudah selesai. Seorang sejarawan terkenal mengatakan: "Syria telah tunduk pada tongkat kekuasaan Khalifah, 700 tahun setelah Pompey menurunkan tahta raja terakhir Macedonia. Setelah kekalahannya yang terakhir, orang Romawi mengaku takluk, walaupun mereka masih terus menyerang daerah-daerah Muslimin. Orang Romawi membangun sebuah rintangan yang tidak bisa dilalui, antara daerahnya dan daerah orang Muslim. Mereka juga mengubah sisa tanah luas miliknya di perbatasan Asia menjadi sebuah padang pasir. Semua kota di jalur itu dihancurkan, benteng-benteng dibongkar, dan penduduk dipaksa pindah ke wilayah yang lebih utara. Demikianlah keadaannya apa yang dianggap sebagai perbuatan orang Arab Muslim yang biadab sesungguhnya hasil kebiadaban Byzantium." Namun kebijaksanaan bumi hangus yang sembrono itu ternyata tidak dapat menghalangi gelombang maju pasukan Muslimin. Dipimpin Ayaz yang menjadi panglima, tentara Muslim melewati Tarsus, dan maju sampai ke pantai Laut Hitam. Menurut sejarawan terkenal, Baladhuri, tentara Islam seharusnya telah mencapai Dataran Debal di Sind. Tapi, kata Thabari, Khalifah menghalangi tentaranya maju lebih ke timur dari Mekran. Suatu penelitian pernah dilakukan untuk menunjukkan faktor-faktor yang menentukan kemenangan

15/11/107:15

sn

167 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

besar operasai militer Muslimin yang diraih dalam waktu yang begitu singkat. Kita ketahui, selama pemerintahan khalifah yang kedua, orang Islam memerintah daerah yang sangat luas. Termasuk di dalamnya Syria, Mesir, Irak, Parsi, Khuzistan, Armenia, Azerbaijan, Kirman, Khurasan, Mekran, dan sebagian Baluchistan. Pernah sekelompok orang Arab yang bersenjata tidak lengkap dan tidak terlatih berhasil menggulingkan dua kerajaan yang paling kuat di dunia. Apa yang memotivasikan mereka? Ternyata, ajaran Nabi SAW. telah menanamkan semangat baru kepada pengikut agama baru itu. Mereka merasa berjuang hanya demi Allah semata. Kebijaksanaan khalifah Islam kedua dalam memilih para jenderalnya dan syarat-syarat yang lunak yang ditawarkan kepada bangsa-bangsa yang ditaklukan telah membantu terciptanya serangkaian kemenangan bagi kaum Muslimin yang dicapai dalam waktu sangat singkat. Bila diteliti kitab sejarah Thabari, dapat diketahui bahwa Umar al-Faruq, kendati berada ribuan mil dari medan perang, berhasil menuntun pasukannya dan mengawasi gerakan pasukan musuh. Suatu kelebihan anugerah Allah yang luar biasa. Dalam menaklukan musuhnya, khalifah banyak menekankan pada segi moral, dengan menawarkan syarat-syarat yang lunak, dan memberikan mereka segala macam hak yang bahkan dalam abad modern ini tidak pernah ditawarkan kepada suatu bangsa yang kalah perang. Hal ini sangat membantu memenangkan simpati rakyat, dan itu pada akhirnya membuka jalan bagi konsolidasi administrasi secara efisien. Ia melarang keras tentaranya membunuh orang yang lemah dan menodai kuil serta tempat ibadah lainnya. Sekali suatu perjanjian ditandatangani, ia harus ditaati, yang tersurat maupun yang tersirat. Berbeda dengan tindakan penindasan dan kebuasan yang dilakukan Alexander, Caesar, Atilla, Ghengiz Khan, dan Hulagu. Penaklukan model Umar bersifat badani dan rohani. Ketika Alexander menaklukan Sur, sebuah kota di Syria, dia memerintahkan para jenderalnya melakukan pembunuhan massal, dan menggantung seribu warga negara terhormat pada dinding kota. Demikian pula ketika dia menaklukan Astakher, sebuah kota di Parsi, dia memerintahkan memenggal kepala semua laki-laki. Raja lalim seperti Ghengiz Khan, Atilla dan Hulagu bahkan lebih ganas lagi. Tetapi imperium mereka yang luas itu hancur berkeping-keping begitu sang raja meninggal. Sedangkan penaklukan oleh khalifah Islam kedua berbeda sifatnya. Kebijaksanaannya yang arif, dan administrasi yang efisien, membantu mengonsolidasikan kerajaannya sedemikian rupa. Sehingga sampai masa kini pun, setelah melewati lebih dari 1.400 tahun, negara-negara yang ditaklukannya masih berada di tangan orang Muslim. Umar al-Faruk sesungguhnya penakluk terbesar yang pernah dihasilkan sejarah. Sifat mulia kaum Muslimin umumnya dan Khalifah khususnya, telah memperkuat kepercayaan kaum non Muslim pada janji-janji yang diberikan oleh pihak Muslimin. Suatu ketika, Hurmuz, pemimpin Parsi yang menjadi musuh bebuyutan kaum Muslimin, tertawan di medan perang dan di bawa menghadap Khalifah di Madinah. Ia sadar kepalanya pasti akan dipenggal karena dosanya sebagai pembunuh sekian banyak orang kaum Muslimin. Dia tampaknya merencanakan sesuatu, dan meminta segelas air. Permohonannya dipenuhi, tapi anehnya ia tidak mau minum air yang dihidangkan. Dia rupanya merasa akan dibunuh selagi mereguk minuman, Khalifah meyakinkannya, dia tidak akan dibunuh kecuali jika Hurmuz meminum air tadi. Hurmuz yang cerdik seketika itu juga membuang air itu. Ia lalu berkata, karena dia mendapatkan jaminan dari Khalifah, dia tidak akan minum air itu lagi. Khalifah memegang janjinya. Hurmuz yang terkesan dengan kejujuran Khalifah, akhirnya masuk Islam. Khalifah Umar pernah berkata, "Kata-kata seorang Muslim biasa sama beratnya dengan ucapan komandannya atau khalifahnya." Demokrasi sejati seperti ini diajarkan dan dilaksanakan selama kekhalifahan ar-rosyidin hampir tidak ada persamaannya dalam sejarah umat manusia. Islam sebagai agama yang demokratis, seperti digariskan Al-Qur'an, dengan tegas meletakkan dasar kehidupan demokrasi dalam kehidupan Muslimin, dan dengan demikian setiap masalah kenegaraan harus dilaksanakan melalui konsultasi dan perundingan. Nabi SAW. sendiri tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa melakukan konsultasi. Pohon demokrasi dalam Islam yang ditanam Nabi dan dipelihara oleh Abu Bakar mencapai puncaknya pada jaman Khalifah Umar. Semasa pemerintahan Umar telah dibentuk dua badan penasehat. Badan penasehat yang satu merupakan sidang umum yang diundang bersidang bila negara menghadapi bahaya. Sedang yang satu lagi adalah badan khusus yang terdiri dari

15/11/107:15

sn

168 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

orang-orang yang integritasnya tidak diragukan untuk diajak membicarakan hal rutin dan penting. Bahkan masalah pengangkatan dan pemecatan pegawai sipil serta lainnya dapat dibawa ke badan khusus ini, dan keputusannya dipatuhi. Umar hidup seperti orang biasa dan setiap orang bebas menanyakan tindakan-tindakannya. Suatu ketika ia berkata: "Aku tidak berkuasa apa pun terhadap Baitul Mal (harta umum) selain sebagai petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat." Suatu kali dalam sebuah rapat umum, seseorang berteriak: "O, Umar, takutlah kepada Tuhan." Para hadirin bermaksud membungkam orang itu, tapi Khalifah mencegahnya sambil berkata: "Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukan oleh rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka." Suatu kebebasan menyampaikan pendapat telah dipraktekan dengan baik.

Ketika berpidato suatu kali di hadapan para gubernur, Khalifah berkata: "Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda."

Pada saat pengangkatannya, seorang gubernur harus menandatangani pernyataan yang mensyaratkan bahwa "Dia harus mengenakan pakaian sederhana, makan roti yang kasar, dan setiap orang yang ingin mengadukan suatu hal bebas menghadapnya setiap saat." Menurut pengarang buku Futuhul-Buldan, di masa itu dibuat sebuah daftar barang bergerak dan tidak bergerak begitu pegawai tinggi yang terpilih diangkat. Daftar itu akan diteliti pada setiap waktu tertentu, dan penguasa tersebut harus mempertanggung-jawabkan terhadap setiap hartanya yang bertambah dengan sangat mencolok. Pada saat musim haji setiap tahunnya, semua pegawai tinggi harus melapor kepada Khalifah. Menurut penulis buku Kitab ul-Kharaj, setiap orang berhak mengadukan kesalahan pejabat negara, yang tertinggi sekalipun, dan pengaduan itu harus dilayani. Bila terbukti bersalah, pejabat tersebut mendapat ganjaran hukuman. Muhammad bin Muslamah Ansari, seorang yang dikenal berintegritas tinggi, diangkat sebagai penyelidik keliling. Dia mengunjungi berbagai negara dan meneliti pengaduan masyarakat. Sekali waktu, Khalifah menerima pengaduan bahwa Sa'ad bin Abi Waqqash, gubernur Kufah, telah membangun sebuah istana. Seketika itu juga Umar memutus Muhammad Ansari untuk menyaksikan adanya bagian istana yang ternyata menghambat jalan masuk kepemukiman sebagian penduduk Kufah. Bagian istana yang merugikan kepentingan umum itu kemudian dibongkar. Kasus pengaduan lainnya menyebabkan Sa'ad dipecat dari jabatannya. Seorang sejarawan Eropa menulis dalam The Encyclopedia of Islam: "Peranan Umar sangatlah besar. Pengaturan warganya yang non-Muslim, pembentukan lembaga yang mendaftar orang-orang yang mendapat hak untuk pensiun tentara (divan), pengadaan pusat-pusat militer (amsar) yang dikemudian hari berkembang menjadi kota-kota besar Islam, pembentukan kantor kadi (qazi), semuanya adalah hasil karyanya. Demikian pula seperangkat peraturan, seperti sembahyang tarawih di bulan Ramadhan, keharusan naik haji, hukuman bagi pemabuk, dan hukuman pelemparan dengan batu bagi orang yang berzina." Khalifah menaruh perhatian yang sangat besar dalam usaha perbaikan keuangan negara, dengan menempatkannya pada kedudukan yang sehat. Ia membentuk "Diwan" (departemen keuangan) yang dipercayakan menjalankan administrasi pendapatan negara. Pendapatan persemakmuran berasal dari sumber : Zakat atau pajak yang dikenakan secara bertahap terhadap Muslim yang berharta. Kharaj atau pajak bumi Jizyah atau pajak perseorangan.

15/11/107:15

sn

169 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Dua pajak yang disebut terakhir, yang membuat Islam banyak dicerca oleh sejarawan Barat, sebenarnya pernah berlaku di kerajaan Romawi dan Sasanid (Parsi). Pajak yang dikenakan pada orang non Muslim jauh lebih kecil jumlahnya dari pada yang dibebankan pada kaum Muslimin. Khalifah menetapkan pajak bumi menurut jenis penggunaan tanah yang terkena. Ia menetapkan 4 dirham untuk satu Jarib gandum. Sejumlah 2 dirham dikenakan untuk luas tanah yang sama tapi ditanami gersb (gandum pembuat ragi). Padang rumput dan tanah yang tidak ditanami tidak dipungut pajak. Menurut sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya, pendapatan pajak tahunan di Irak berjumlah 860 juta dirham. Jumlah itu tak pernah terlampaui pada masa setelah wafatnya Umar. Ia memperkenalkan reform (penataan) yang luas di lapangan pertanian, hal yang bahkan tidak terdapat di negara-negara berkebudayaan tinggi di zaman modern ini. Salah satu dari reform itu ialah penghapusan zamindari (tuan tanah), sehingga pada gilirannya terhapus pula beban buruk yang mencekik petani penggarap. Ketika orang Romawi menaklukkan Syria dan Mesir, mereka menyita tanah petani dan membagi-bagikannya kepada anggota tentara, kaum ningrat, gereja, dan anggota keluarga kerajaan. Sejarawan Perancis mencatat: "Kebijaksanaan liberal orang Arab dalam menentukan pajak dan mengadakan land reform sangat banyak pengaruhnya terhadap berbagai kemenangan mereka di bidang kemiliteran." Ia membentuk departemen kesejahteraan rakyat, yang mengawasi pekerjaan pembangunan dan melanjutkan rencana-rencana. Sejarawan terkenal Allamah Maqrizi mengatakan, di Mesir saja lebih dari 20.000 pekerja terus-menerus dipekerjakan sepanjang tahun. Sejumlah kanal di bangun di Khuzistan dan Ahwaz selama masa itu. Sebuah kanal bernama "Nahr Amiril Mukminin," yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah, dibangun untuk menjamin pengangkutan padi secara cepat dari Mesir ke Tanah Suci. Selama masa pemerintahan Umar diadakan pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif. Von Hamer mengatakan, "Dahulu hakim diangkat dan sekarang pun masih diangkat. Hakim ush-Shara ialah penguasa yang ditetapkan berdasarkan undang-undang, karena undang-undang menguasai seluruh keputusan pengadilan, dan para gubernur dikuasakan menjalankan keputusan itu. Dengan demikian dengan usianya yang masih sangat muda, Islam telah mengumandangkan dalam kata dan perbuatan, pemisahan antara kekuasaan pengadilan dan kekuasaan eksekutif." Pemisahan seperti itu belum lagi dicapai oleh negara-negara paling maju, sekalipun di zaman modern ini. Umar sangat tegas dalam penegakan hukum yang tidak memihak dan tidak pandang bulu. Suatu ketika anaknya sendiri yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Khalifah memanggilnya menghadap dan ia sendiri yang mendera anak itu sampai meninggal. Cemeti yang dipakai menghukum Abu Syahma ditancapkan di atas kuburan anak itu. Kebesaran Khalifah Umar juga terlihat dalam perlakuannya yang simpatik terhadap warganya yang non Muslim. Ia mengembalikan tanah-tanah yang dirampas oleh pemerintahan jahiliyah kepada yang berhak yang sebagian besar non Muslim. Ia berdamai dengan orang Kristen Elia yang menyerah. Syarat-syarat perdamaiannya ialah: "Inilah perdamaian yang ditawarkan Umar, hamba Allah, kepada penduduk Elia. Orang-orang non Muslim diizinkan tinggal di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah tidak boleh dihancurkan. Mereka bebas sepenuhnya menjalankan ibadahnya dan tidak dianiaya dengan cara apa pun." Menurut Imam Syafi'i ketika Khalifah mengetahui seorang Muslim membunuh seorang Kristen, ia mengijinkan ahli waris almarhum menuntut balas. Akibatnya, si pembunuh dihukum penggal kepala. Khalifah Umar juga mengajak orang non Muslim berkonsultasi tentang sejumlah masalah kenegaraan. Menurut pengarang Kitab al-Kharaj, dalam wasiatnya yang terakhir Umar memerintahkan kaum Muslimin menepati sejumlah jaminan yang pernah diberikan kepada non Muslim, melindungi harta dan jiwanya, dengan taruhan jiwa sekalipun. Umar bahkan memaafkan penghianatan mereka, yang dalam sebuah pemerintahan beradab di zaman sekarang pun tidak akan mentolerirnya. Orang Kristen dan Yahudi di Hems bahkan sampai berdoa agar orang Muslimin kembali ke negeri mereka. Khalifah memang

15/11/107:15

sn

170 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

membebankan jizyah, yaitu pajak perlindungan bagi kaum non Muslim, tapi pajak itu tidak dikenakan bagi orang non Muslim, yang bergabung dengan tentara Muslimin. Khalifah sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika menjawab Khalifah, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan. Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasakkannya sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya. Khalifah yang agung itu hidup dengan cara yang sangat sederhana. Tingkat kehidupannya tidak lebih tinggi dari kehidupan orang biasa. Suatu ketika Gubernur Kufah mengunjunginya sewaktu ia sedang makan. Sang gubernur menyaksikan makanannya terdiri dari roti gersh dan minyak zaitun, dan berkata, "Amirul mukminin, terdapat cukup di kerajaan Anda; mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?" Dengan agak tersinggung dan nada murung, Khalifah bertanya, "Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?" "Tidak," Jawab gubernur. "Lalu, bagaimana aku dapat makan roti dari gandum? Kecuali bila itu bisa dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku." Tambah Umar. Dalam kesempatan lain Umar berpidato di hadapan suatu pertemuan. Katanya, "Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?" Seorang laki-laki bangkit dan berkata, "Anda akan kami pancung." Umar berkata lagi untuk mengujinya, "Beranikah anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?" "Ya, berani!" jawab laki-laki tadi. Umar sangat gembira dengan keberanian orang itu dan berkata, "Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani itu di negeri kita ini, sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku." Seorang filosof dan penyair Muslim tenar dari India menulis nukilan seperti berikut untuk dia: Jis se jigar-i-lala me thandak ho who shabnam Daryaan ke dil jis se dabel jaen who toofan (Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily, dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai). Sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zaidan terhadap prestasi Umar berkomentar: "Pada zamannya, berbagai negara ia taklukkan, barang rampasan kian menumpuk, harta kekayaan raja-raja Parsi dan Romawi mengalir dengan derasnya di hadapan tentaranya, namun dia sendiri menunjukkan kemampuan menahan nafsu serakah, sehingga kesederhanaannya tidak pernah ada yang mampu menandingi. Dia berpidato di hadapan rakyatnya dengan pakaian bertambalkan kulit hewan. Dia mempraktekkan satunya kata dengan perbuatan. Dia mengawasi para gubernur dan jenderalnya dengan cermat dan dengan cermat pula menyelidiki perbuatan mereka. Bahkan Khalid bin Walid yang perkasa pun tidak terkecuali. Dia berlaku adil kepada semua orang, dan bahkan juga bagi orang non-Muslim. Selama masa pemerintahannya, disiplin baja diterapkan secara utuh."

15/11/107:15

sn

171 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
UMMI UMARAH ANSYARIAH

Tokoh Muslim

Semangat berjihad untuk mempertahankan agama telah merasuki seluruh jiwa sahabat Rasulullah SAW. Semangat yang terus bergelora dalam dada mereka baik kalangan laki-laki maupun wanita. Semangat mereka berkobar-kobar tanpa henti. Bahkan usia bukan lagi penghalang bagi mereka untuk berjihad melawan kaum kuffar. Mereka berlomba-lomba untuk senantiasa berada di front terdepan dalam setiap kancah pertempuran. Ummi Umarah Ansyariah R.A. merupakan salah satu contoh mujahidah yang pantang menyerah di medan laga. Kisah kepahlawanan beliau merupakan pancaran dari akidah yang kokoh kuat, dan kecintaannya pada Rasul dan Islam yang sedemikian menghujam di hatinya. Ummi Umarah masuk Islam pada permulaan dakwah Rasulullah. Mujahidah ini tergabung dalam rombongan ketiga orang-orang yang datang dari Madinah ke Mekkah. Beliau juga tercatat sebagai salah seorang yang hadir pada baiatul Aqabah pertama. Seperti halnya kaum muslimin pada awal-awal Islam, Ummi Umarah harus menyembunyikan keislamannya. Semua ini demi keamanan dari gangguan kaum kuffar. Seperti telah menjadi rahasia umum, intimidasi orang-orang kafir terhadap pengikut Rasulullah yang jumlahnya masih terbatas terus merajalela. Ketika perang Uhud meletus, ibu berusia 41 tahun itu berlari-lari dengan kendi berisi penuh air. Di bawah panggangan padang pasir yang panas beliau dengan telaten memberi minum pasukan Islam yang kehausan dan merawat mereka yang terluka. Usia yang mulai tua bukanlah halangan baginya untuk tetap berjuang. Dari peperangan ini, beliau mendapatkan oleh-oleh sekitar 13 atau 13 luka di sekujur tubuhnya. Lukaluka tersebut dapat disembuhkan, namun ada sebuah luka ditangannya yang tidak dapat diobati. Luka itu akibat sabetan pedang musuh saat perang Uhud. Kala itu, perang tengah berkecamuk, seorang kafir bernama Ibnu Qamyah berteriak sambil melancarkan serangan, "Di manakah Muhammad? Siapa yang bersedia memberitahukannya padaku?!" Mendengar itu, Mush'ab bin Umair dan beberapa sahabat, termasuk diantaranya Ummu Umarah, bergerak melawan Ibnu Qamyah. saat itulah kilatan pedang Ibnu Qamyah menyabet tangan Ummi Umarah. Darah pun mengucur deras, dan Ibnu Qamyah berhasil meloloskan diri, karena dia menggunakan baju besi rangkap dua. Luka yang diderita Ibu abdullah bin Zaid ini sangat serius. Dalam keadaan ini, Rasulullah mengumumkan perang Hamraul Hasad. Sayang dalam peperangan kali ini Ummi Umarah tidak dapat berpartisipasi. Rasulullah SAW tahu persis bagaimana semangat juang Ummi Umarah yang tak pernah padam. Pernah dalam sebuah pertempuran, Abdullah bin Zaid, putranya, mengalami luka cukup parah di tangannya. sang Ibu segera membalut luka tersebut dan setelah itu beliau berkata, "Kembalillah berjuang!" Melihat hal tersebut, Rasulullah pun berkata, "Ya Ummi Umarah semangatmu begitu besar, adakah semangatnya yang lebih besar semangatnya selain Ummu Umarah?" Saat kembali dari perang Hamraul Hasad pun maka hal pertama yang ditanyakan Rasulullah adalah kabar Ummi Umarah. Ini menunjukkan penghargaan beliau kepada ibu mujahidah tersebut. Pejuang dari Madinah ini masih dianugerahi umur panjang sampai sepeninggalan Rasulullah SAW. Sebagaimana diketahui, banyak peperangan yang terjadi setelah Rasulullah wafat. Salah satu diantaranya perang Yamamah. Ketika peperangan ini berlangsung, usia Ummi Umarah telah mencapai 52 tahun. Namun kembali beliau membuktikan keteguhannya. Di usia senja ini beliau tetap ikut terjun dalam peperangan. Akibatnya tangan beliau terpotong dan sebelas luka mengenai tubuhnya.

15/11/107:15

sn

172 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Namun semuanya bukan luka yang tiada guna, luka-luka itu adalah sebagian taman syurgawi bagi seorang mujahidah sejati. [Tabloid MQ EDISI 7/TH.II/NOVEMBER 2001]

15/11/107:15

sn

173 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

UMMU HAKIM binti AL-HARITS AL-MAKHZUMIYAH, Isteri Ikrimah bin Abu Jahal Sebuah figur dari iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW serta lambang dari pengorbanan dan pembelaan di jalan Allah SWT. Sesungguhnya dia adalah wanita mujahid yang agung. Sebelum masuk Islam, dia keluar bersama suaminya untuk ikut dalam perang Uhud. Suaminya adalah Ikrimah bin Abu Jahal, dan dia harus berdiri dalam barisan Musyrikin. Akan tetapi pada waktu penaklukan Mekkah, dia sendiri yang masuk Islam, tanpa suaminya. Adapun suaminya, Ikrimah bin Abu Jahal, maka dia telah minta perlindungan kepadanya. Maka kaum Muslimin pun melindunginya, akan tetapi Ikrimah telah kabur. Ummu Hakim keluar mencarinya, padahal Ikrimah telah kabur ke Yaman. Ummu Hakim menemukannya di Pesisir Tihamah. Ikrimah sudah berada di kapal. Maka Ummu Hakim meneriakinya :"Hai, putera pamanku, aku datang kepadamu dari orang yang paling pemurah, paling banyak berbuat kebajikan dan sebaik-baik manusia. Jangan binasakan dirimu ! Aku telah minta perlindungan bagimu dan dia telah melindungimu." Ikrimah berkata :"Engkau lakukan itu ?" Ummu Hakim menjawab, "Ya, aku berbicara kepadanya, lalu dia melindungimu." Kemudian Ikrimah kembali bersamanya, Ikrimah datang dan berhenti di pintu Rasulullah SAW bersama isterinya. Ummu Hakim minta izin kepada Rasulullah SAW, lalu masuk. Umar r.a. mengabari Rasulullah SAW tentang kedatangan Ikrimah yang telah masuk Islam. Ummu Hakim termasuk wanita-wanita yang berada di sekitar Rasulullah SAW dalam menjalankan da'wah dan membelanya. Dia ikut dalam Perang Yarmuk dan menunjukkan keberanian yang baik di sana. Dia bertempur dengan sengit dalam Perang Marj Ash-Shafar (di dekat Damsyik). Dia keluar memegang tiang kemah dan membunuh 7 orang tentara Romawi dengan tiang itu. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

174 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

UMMU KULTSUM BINTI UQBAH BIN ABI MU'AITH Kehidupannya (Ummu Kultsum) adalah contoh pengorbanan dan jihad fi sabilillah (di jalan Allah). Dalam Thabaqaat Ibnu Sa'ad berkata :"Dia adalah wanita pertama yang hijrah ke Madinah setelah hijrah Nabi SAW dan para shahabatnya. Kami tidak mengetahui seorang wanita Muslim Quraisy yang keluar dari kedua orang tuanya dan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Ummu Kultsum." Dia keluar dari Mekkah sendirian dan ditemani oleh seorang laki-laki dari Khuza'ah hingga tiba di Madinah pada waktu gencatan senjata. Dia dikejar oleh kedua orang saudaranya. Kedua orang itu tiba pada hari kedua setelah kedatangannya. Keduanya berkata :"Hai Muhammad, kami menuntut syarat, maka penuhilah syarat itu." Maka Ummu Kultsum berkata :"Wahai, Rasulullah, aku seorang wanita. Wanita itu lemah. Aku khawatir mereka mengganggu dalam agamaku,sedangkan aku tidak sabar, sehingga Allah membatalkan janji pada wanita." Kemudian Allah SWT menurunkan ayat Imtihan (ujian) dan memutuskan dengan keputusan yang mereka sama-sama menyepakatinya. Disebutkan :"Hai, orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita yang beriman, maka hendaklah kami uji (keimanan) mereka...." dan seterusnya, dua ayat (QS. Al-Mumtahanah, 60:10-11) Kemudian Rasulullah SAW menguji dia dan wanita-wanita sesudahnya : "Tidaklah kalian keluar, kecuali karena cinta Allah dan Rasul-Nya serta Islam, bukan karena cinta suami dan harta." Apabila mereka mengatakan hal itu, maka mereka tidak dikembalikan. Ibnu Sa'ad berkata : Karena tidak mempunyai suami di Mekkah, maka dia pun dinikahi oleh Zaid, AzZubair, Abdurrahman bin Auf, lalu Amru bin Ash, kemudian wafat sebagai isterinya. Sesungguhnya, ketika masih muda dan belum menikah, dia tidak pernah berpisah dari ayah-bundanya. Kemudian iman memasuki hatinya, maka dia keluar dari Mekkah sendirian dan hijrah kepada Allah dan RasulNya SAW. Kedua saudaranya mengejar untuk mengajak dia kembali. Pada waktu itu Rasulullah SAW telah berdamai dengan Quraisy pada persetujuan Hudaibiah dengan syarat beliau setuju mengembalikan orang-orang Muslim yang datang kepada mereka. Ketika para wanita datang kepadanya, Allah tidak setuju Nabi SAW mengembalikan kepada kaum Musyrikin, maka turunlah ayat-ayat yang menyuruh menguji mereka :(Maka ujilah keimanan mereka) dengan bersumpah :Apakah mereka wanita Muslim yang sebenarnya atau tidak ? "Adalah Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'aith termasuk orang-orang yang keluar kepada Rasulullah SAW dan waktu itu dia masih muda belia. Kemudian keluarganya datang meminta kepada Rasulullah SAW agar mengembalikan kepada mereka, sehingga Allah SWT menurunkan ayat-ayat tentang wanita-wanita beriman." (HR Bukhari dari Al-Miswar bin Makhramah) Dalam Siyar A'laamin Nubala', Imam Adz-Dzahabi berkata :Ummu Kultsum bin Uqbah bin Abi Mu'aith masuk Islam dan berbai'at. Dia tidak sempat hijrah hingga tahun 7 Hijriah, dan keluarnya di jaman perdamaian Hudaibiah. Kedua saudaranya adalah :"Al-Walid dan Ammaroh. Ummu Kultsum lulus dalam ujian dan berhasil menyelamatkan agamanya dari kaumnya. Diriwayatkan :Ujian itu dilakukan dengan cara mengucapkan sumpah :"Aku tidak keluar,kecuali karena mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan aku tidak keluar untuk mencari dunia maupun membenci suami." Ada yang mengatakan :"Kami bersaksi dengan perkataan yang baik. Aku telah bersaksi di hadapan beberapa saksi : Sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah SAW."

15/11/107:15

sn

175 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Ummu Kultsum mempunyai kedudukan mulia di antara kaum Muslimin. Hal itu menjadi jelas dari riwayat sebagaimana dalam Al-Ishaabah dan diriwayatkan oleh Ibnu Mandah, bahwa Umar bin Khaththab r.a. bertanya kepada Ummu Kultsum binti Uqbah, isteri Abdurrahman bin Auf :"Apakah Rasulullah SAW berkata kepadamu :"Nikahilah pemimpin kaum Muslimin, Abdurrahman bin Auf ?"Ummu Kultsum menjawab:"Ya." Haditsnya terdapat dalam Shahihain dan ketiga kitab Sunan, dia berkata :"Aku tidak mendengar Nabi SAW mengizinkan suatu dusta dalam perkataan yang diucapkan orang-orang, kecuali dalam tiga perkara....alhadits." Nasai meriwayatkan sebuah haditsnya yang lain dalam Al-Kubra, mengenai keutamaan :"Qul huwallaahu ahad." Ummu Kultsum meriwayatkan dari Nabi SAW 10 hadits, di antaranya sebuah hadits diriwayatkan adalah shahihain, yang disepakati Bukhari dan Muslim. Ummu Kultsum binti Uqbah telah beriman sendirian, tanpa seorang laki-laki pun di rumahnya. Dia tinggalkan tempat pingitan dan keamanan serta ketenangannya di bawah kegelapan seorang diri. Kedua kakinya berjalan melalui gunung-gunung dan padang pasir di antara Mekkah dan Madinah, menuju tempat perlindungan agama dan negeri hijrahnya. Dia berhijrah kepada Rasul Allah SAW kemudian disusul oleh ibunya yang mengikuti jejak dan berhijrah seperti dia. Dia tinggalkan para pemuda dalam keluarganya dan orang-orang tua mereka yang tetap terombang-ambing dalam kesesatannya. [Al-Ishaabah, juz 8, halaman 275]. Kata-kata Ummu Kultsum kepada Rasulullah SAW akan tetap menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi setiap wanita muda yang beriman kepada Tuhannya :"Wahai, Rasulullah, apakah Anda akan kembalikan aku kepada orang-orang kafir yang menggangguku, supaya aku tinggalkan agamaku, sedangkan aku tidak bisa bersabar ? Dan bukankah telah Anda ketahui keadaan wanita yang lemah ? Sesungguhnya ada perjanjian yang menyebutkan syarat untuk menolak setiap orang yang masuk Islam dari Mekkah dan berhijrah ke Medinah, baik laki-laki maupun perempuan." Maka turunlah ayat Al-Qur'an :"Apabila datang kepadamu wanita-wanita beriman yang berhijrah, maka ujilah (keimanan) mereka." Maka Nabi SAW bersabda :"Demi Allah, tidaklah kalian keluar, kecuali karena mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya SAW serta Islam. Kalian tidak keluar karena suami maupun harta. Apabila mereka ucapkan itu, maka mereka tidak kembali kepada orang-orang kafir."

Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

176 of 207

Kisah Sahabat
UMMU SALAMAH

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Lembaran sejarah hijrah Ummat Islam ke Madinah, barangkali tidak bisa melupakan torehan tinta seorang ibu dengan putrinya yang masih balita. Keduanya, hanya dengan mengendarai unta dan tidak ada seorang lelakipun yang menemaninya, meski kemudian ditengah jalan ada orang yang iba dan kemudian mengantarnya, berani menembus kegelapan malam, melewati teriknya siang dan melawan ganasnya padang sahara, mengarungi perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, kurang lebih 400 km. Dialah Salamah dan ibunya, Hindun bin Abi Umayyah atau sejarah lebih sering menyebutnya dengan Ummu Salamah. Ummu Salamah adalah putri dari pemuka kaum kaya dibani Mughirah, Abi Umayyah. Parasnya jelita dan ia adalah seorang yang cerdas. Setelah menginjak usia remaja ia dinikahkan dengan Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Lalu keduanya berkat hidayah Allah SWT menyatakan keislamannya. Ketika kaum Muslimin berhijrah ke Madinah, keduanya ikut pula didalamnya, meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Abdullah (Abu Salamah) berangkat terlebih dahulu, setelah itu Ummu Salamah menyusul seorang diri dengan anaknya. Lalu mulailah mereka berdua menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya dikota Madinah tercinta. Tapi tak lama kemudian Abu Salamah akibat luka yang dideritanya semenjak perang Uhud meninggal dunia. Akhirnya Ummu Salamahpun seorang diri mengasuh dan mendidik anak-anaknya.Kemudian datanglah Abu Bakar r.a untuk melamarnya, juga Umar bin Khattab r.a. Namun dengan lemah lembut kedua lamaran tersebut ia kembalikan. Setelah itu datang pula utusan Rasulullah SAW untuk meminangnya. Ummu Salamahpun menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Namun setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah SAW akhirnya ia menerima lamaran tersebut. Diantara para istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah adalah istri yang tertua. Dan untuk menghormatinya, Rasulullah SAW sebagaimana kebiasaannya sehabis sholat Ashar, beliau mengunjungi istri-istrinya maka beliau memulainya dengan Ummu Salamah r.a dan mengakhirinya dengan Aisyah r.a Ummu Salamah wafat pada usia 84 th, bulan Dzul-Qo`dah,tahun 59 Hijrah atau 62 Hijrah dan dikebumikan diBaqi`. Wallahu a`lam bish-Showab.

15/11/107:15

sn

177 of 207

Kisah Sahabat
USAID bin HUDHAIR

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Kedatangan seorang pemuda Makkah, Mush'ab bin Umair ke Yatsrib (Madinah) pada awal kemunculan dakwah Islamiah, tercatat dalam sejarah Islam. Mush'ab bin Umair tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, seorang bangsawan suku Khazraj. Disamping menjadi tempat tinggalnya, rumah tersebut dijadikannya pula tempat menebarkan dakwah Islamiah dan menyampaikan berita gembira mengenai Muhammad Rasulullah SAW. Penduduk Yatsrib mendatangi majelis dakwah Mush'ab dalam jumlah besar. Mereka terpikat dengan gaya bicaranya yang menawan, keterangan-keterangan yang jelas dan masuk akal, kehalusan budi pekertinya dan sinar iman yang selalu memancar dari wajahnya. Tetapi di atas segalanya itu, yang lebih menarik hati mereka ialah ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan Mush'ab disela-sela pembicaraannya, yang dibacakannya ayat demi ayat. Dengan suaranya yang empuk dan merdu, serta alunannya yang manis menawan, lunaklah hati yang kasar dan bercucuran air mata penyesalan orang-orang jahat. Akhirnya tidak ada yang meninggalkan majelis itu, melainkan setelah menyerah (masuk Islam) dan bergabung dengan kelompok orang-orang mukmin. Pada suatu hari As'ad bin Zurarah pergi dengan tamunya, Mush'ab bin Umair, menemui kelompok Bani Abd Asyhal, lalu duduk di pinggir sebuah telaga yang indah dibawah pepohonan kurma. Mush'ab dikelilingi orang-orang yang sudah masuk Islam dan orang-orang yang ingin mendengarkannya berbicara. Mush'ab berbicara mengenai dakwah dan tabsyir (memberi kabar gembira). Orang-orang mendengarkan dengan tenang dan diam. Mereka bagaikan terpesona karena pembicaraannya yang mengagumkan. Usaid bin Hudhair dan Sa'ad bin Mu'adz adalah dua pemimpin Aus. Mereka memperoleh berita bahwa seorang dai dari Makkah tinggal dekat kampung mereka. Yang melindungi dai tersebut ialah As'ad bin Zurarah, keluarga dekat Sa'ad bin Mu'adz, yaitu anak bibinya sendiri. Kata Sa'ad bin Mu'adz, "Hai Usaid! Sebaiknya engkau datangi pemuda Makkah itu. Dia telah mempengaruhi rakyat kita yang bodohbodoh dan menghina Tuhan kita. Cegahlah dia, beri peringatan supaya jangan menginjak negeri kita lagi sejak hari ini." Kemudian Sa'ad melanjutkan bicaranya, "Seandainya dia bukan tamu anak bibiku, "As'ad bin Zurarah, sungguh aku lakukan sendiri." Usaid mengambil tombaknya, lalu pergi ke kebun dimana Mush'ab berdakwah. Ketika As'ad bin Zurarah melihat kedatangan Usaid, dia berkata kepada Mush'ab, "Kebetulan hai Mush'ab! Itu pimpinan kaumnya datang. Seorang yang sangat cemerlang otaknya dan sangat sempurna akalnya. Itulah Usaid bin Hudhair. Jika dia masuk Islam, akan banyak orang mengikutinya. Mohonlah kepada Allah dan bijaksanalah menghadapinya!" Usaid bin Hudhair berdiri ditengah-tengah jamaah. Dia memandang kepada Mush'ab dan sahabatnya, As'ad bin Zurarah, seraya berkata, "Apa maksud tuan-tuan datang kesini? Tuan-tuan hendak mempengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh. Pergilah tuan-tuan sekarang juga, jika tuan-tuan masih ingin hidup." Mush'ab menoleh kepada Usaid dengan wajah berseri-seri memantulkan cahaya iman. Dia berbicara dengan gayanya yang simpatik dan menawan, "Wahai pemimpin! Maukah anda mendengarkan yang lebih baik dari itu?" Tanya Usaid, "Apa itu?" Kata Mush'ab, "Silakan duduk bersama-sama kami mendengarkan apa yang kami perbincangkan, silakan ambil, dan jika anda tidak suka, kami akan meninggalkan anda dan tidak kembali lagi ke kampung anda." Kata Usaid, "Anda memang pintar!" Lalu ditancapkannya lembingnya ke tanah, kemudian dia duduk. Mush'ab mengarahkan pembicaran kepadanya tentang hakikat Islam, sambil membaca ayat-ayat Al-Qur'an di sela-sela pembicarannya. Rasa gembira terpancar di muka Usaid. Lalu dia berkata, "Alangkah bagusnya apa yang kamu katakan. Dan alangkah indahnya apa yang kamu baca. Apa yang kamu lakukan jika kamu hendak masuk Islam?" Jawab Mush'ab, "Mandi (bersihkan badan), bersihkan pakaian, ucapkan syahadatain (bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah), sesudah itu shalat dua rakaat."

15/11/107:15

sn

178 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Usaid langsung berdiri dan pergi ke telaga mensucikan badan, kemudian diucapkannya syahadatain, dan sesudah itu dia shalat dua rakaat. Mulai hari itu bergabunglah ke dalam pasukan berkuda Islam seorang bangsa Arab, penunggang kuda yang terkenal mengagumkan, pemimpin suku Aus yang diperhitungkan. Usaid digelari kaumnya "Al Kamil" (yang sempurna), karena otaknya yang cemerlang, dan kebangsawananya yang murni. Dia menguasai pedang dan qalam(pena). Sebagai penunggang kuda yang cekatan dia memiliki ketepatan memanah. Di samping itu dia dikenal sebagai pembaca dan penulis dalam masyarakat. Dengan Islamnya Usaid, menyebabkan Sa'ad bin Mu'adz masuk Islam pula. Dan dengan Islamnya ke dua tokoh ini, menyebabkan pula seluruh masyarakat Aus masuk Islam. Maka jadilah Madinah sesudah itu menjadi tempat hijrah Rasulullah SAW, dan tempat berdirinya pusat pemerintahan Islam yang besar. Usaid bin Hudhair sangat mencintai Al-Qur'an sejak pertama kali dia mendengar Mush'ab bin Umair membacanya, bagaikan cinta seorang kekasih terhadap kekasihnya. Di hadapinya Al-Qur'an seperti orang kehausan dipanas terik menghadapi jalan yang membawanya ke telaga sejuk, sehingga Al-Qur'an menjadi kesibukan baginya setiap waktu. Jika tidak pergi berperang, tentu dia itikaf di masjid membaca Kitabulah. Suaranya empuk, jelas dan merdu. Menyebabkan bacaan Al-Qur'an-nya indah dan menawan. Lebih-lebih bila dia membaca di tengah malam, saat orang sedang tidur, ketika hati sedang jernih. Para sahabat yang mulia senantiasa menunggu-nunggu waktu Usaid membaca Al-Qur'an. Bila dia membaca mereka berebut mendengarkan bacaannya. Berbahagialah orang dapat kesempatan mendengarkan bacaan AlQur'an dari padanya dengan lidahnya yang patah seperti yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad SAW. Bahkan penduduk langit merasa sejuk dan sedap mendengarkan bacaannya seperti halnya penduduk bumi. Pada suatu tengah malam, Usaid bin Hudhair duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur disampingnya. Kuda yang selalu siap sedia untuk berperang fi sabilillah, ditambat tidak jauh dari tempatnya duduk. Suasana malam tenang, lembut, dan hening. Permukaan langit jernih dan bersih. Bintang-bintang melayangkan pandangannya ke permukan bumi yang sedang tidur dengan perasaan kasihan dan penuh simpati. Terpengaruh oleh suasana malam hening dan kudus itu, hati Usaid tergerak hendak menyebarkan harum-haruman ke udara lembab dan bersih berupa harum-haruman Al-Qur'an yang suci. Maka dibacanyalah Al-Qur'an dengan suaranya yang empuk dan merdu membangkit kasih : "Alif, Lam, Mim, Inilah kitab (Al-Qur'an) yang tidak ada keraguan padanya: menjadi petunjuk bagi orang-orang yang iman kepada yang ghaib, yang menegakkan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat." (Al-Baqarah : 1-4). Mendengar bacaan tersebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Ketika Usaid diam, kuda itu diam dan tenang pula. Usaid melanjutkan membaca : "Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang menang." (Al Baqarah : 5). Kudanya lari dan berputar-putar pula lebih hebat dari semula. Usaid diam, maka diam pula kuda tersebut. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Bila dia membaca, kudanya lari dan berontak. Bila dia diam, maka tenang pula kuda itu kembali. Usaid khawatir anaknya akan terinjak oleh kuda, lalu dibangunkannya. Ketika dia melihat ke langit, terlihat olehnya awan seperti payung yang mengagumkan, dan belum pernah terlihat olehnya sebelumnya. Payung itu sangat indah berkilat-kilat, tergantung seperti lampu-lampu memenuhi ufuk dengan sinarnya yang terang. Awan itu bergerak naik hingga hilang dari pemandangan. Setelah hari pagi, Usaid pergi menemui Rasulullah SAW. Diceritakannya kepada beliau peristiwa yang dialami dan dilihatnya semalam.

15/11/107:15

sn

179 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Kata Rasulullah SAW, "Itu malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Al-Qur'an, hai Usaid. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka." Sebagaimana Usaid bin Hudhair mencintai Al-Qur'an, seperti itu pula cintanya pada Rasulullah SAW. Rasulullah pernah berkata tentang pribadi Usaid, "Dia sangat bersih dari yang bersih, sangat halus dari yang halus, penuh iman ketika membaca Al-Qur'an atau ketika mendengarkannya." Ketika Rasulullah berpidato atau berbicara, dia sangat rindu hendak menyentuh tubuh Rasulullah SAW, merangkul dan mencium pipi beliau. Maka pada suatu ketika dia mendapat kesempatan melepaskan kerinduannya. Pada suatu hari, Usaid mengejutkan orang banyak dengan ujung tombaknya. Karena itu Rasulullah mencubit perut Usaid yang telanjang dengan tangan beliau, untuk memperingatkan Usaid agar jangan bertindak kasar. Lalu kata Usaid kepada Beliau, "Mengapa Anda menyakitiku, ya Rasulullah!" Jawab Rasulullah,"Balaslah, hai Usaid!" Kata Usaid, "Anda pakai baju. Sedangkan aku Anda cubit tanpa memakai baju." Rasululah menyingkapkan bajunya, sehingga kelihatan perut Beliau. Lalu dipeluk oleh Usaid dan diciuminya antara perut dan ketiak Beliau. Sesudah itu Usaid berkata, "Ya Rasulullah! Kini terlaksanalah keinginanku yang terpendam sejak aku mengenal Anda." Rasulullah membalas cinta kasih Usaid kepadanya dengan cinta kasih pula. Rasulullah memelihara cintanya kepada Usaid, sebagai rombongan yang pertama-tama masuk Islam, dan yang membela beliau dalam perang Uhud, sehingga pada hari itu Usaid mendapat tujuh luka besar. Rasulullah pun tahu derajat dan kedudukan Usaid di kalangan rakyatnya. Karena itu apabila Rasulullah memohonkan syafa'at bagi seseorang, beliau tidak lupa memohonkannya pula bagi Usaid. Usaid pernah bercerita, "Suatu ketika aku datang kepada Rasulullah SAW. Lalu kuceritakan kepada beliau seorang ahli rumah kaum Anshar yang miskin dan membutuhkan santunan. Apalagi ahli rumah itu seorang wanita." Jawab Rasululah, "Ya, Usaid! Engkau datang kepada ketika harta kami telah habis kami nafkahkan. Tunggulah, apabila engkau dengar rezeki datang kepada kami, ingatkanlah kami akan ahli rumah tersebut." Tidak lama sesudah itu harta rampasan dari Khaibar datang kepada Rasulullah. Beliau membagi-bagikannya kepada kaum muslimin. Kaum Anshar dibaginya pula dan dilebihkannya. Ahli rumah tersebut dibaginya pula dan dilebihkannya. Kataku kepada beliau, "Semoga Allah membalasi kebaikan Anda terhadap mereka dengan kebaikan berlipat ganda, ya Nabiyallah!" Jawab Rasulullah, "Semoga kalian kaum Anshar dibalasi Allah pula dengan balasan yang lebih baik. Setahuku, sesungguhnya kalian adalah kelompok awan suci. Kalian akan menemui orang-orang yang mementingkan diri sendiri sepeninggalku. Karena itu bersabarlah kalian sampai kalian menemuiku nanti di telaga surga." Kata Usaid, "ketika pucuk pucuk pemerintahan pindah ke tangan Khalifah Umar bin Khatthab, beliau membagi-bagikan harta kekayaan kepada kaum muslimin. Beliau mengirim pakaian, tetapi pakaian itu sempit bagiku. Ketika aku berada di masjid, aku melihat seorang pemuda Quraisy berpakaian serupa dengan pakaian yang dikirimkan Khalifah kepadaku. Pakaian itu sangat lapang dan panjang baginya hingga menyapu tanah. Maka kuingatkan kepada orang yang disampingku sabda Rasulullah, "Sesungguhnya kalian akan menemui orang-orang yang mementingkan diri tanpa mempedulikan orang lain sepeninggalku." Kemudian kataku kepada orang itu, "Ucapan Rasulullah tersebut sekarang telah terbukti." Orang yang di sampingku itu pergi menemui Khalifah Umar dan menyampaikan ucapanku kepada beliau. Khalifah Umar buru-buru mendatangiku ketika aku sedang shalat. Katanya, "Apa sebetulnya yang telah Anda ucapkan?" Maka kuceritakan kepada beliau apa yang kulihat dan apa yang kuucapkan. Kata Khalifah Umar, "Semoga Allah memaafkan Anda! Pakaian itu sesungguhnya aku kirimkan kepada si Fulan dari golongan Anshar yang ikut bersumpah di Aqabah dan ikut pula berperang di Badar dan di Uhud. Kemudian pakaian itu dijualnya kepada pemuda Quraisy tersebut lalu dipakainya. Apakah karena itu Anda mengira hadits Rasulullah SAW tersebut sudah terjadi pada zaman Anda!" Tidak lama sesudah itu Usaid bin Hudhair dipanggil Allah ke sisi-Nya. Dia meninggal pada masa Umar ra memerintah. Justru dia

15/11/107:15

sn

180 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

meninggalkan hutang empat ribu dirham. Ahli warisnya bermaksud menjual tanah untuk membayar hutang tersebut. Ketika Khalifah Umar mengetahui hal itu, beliau berkata, "jangan dibiarkan anak-anak saudaraku Usaid ditinggalkannya hidup miskin. Khalifah Umar meminta kesediaan orang yang berpiutang agar dia sudi dibayar dengan hasil panen selama empat tahun, dengan cicilan seribu dirham setahun.

[fosmil.org]

15/11/107:15

sn

181 of 207

Kisah Sahabat
USAMAH bin ZAID

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Kita sekarang kembali ke Makkah, tahun ketujuh sebelum hijriah. Ketika itu Rasulullah SAW sedang susah karena tindakan kaum Quraisy yang menyakiti beliau dan para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berdakwah menyebabkan beliau senantiasa harus bersabar. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada beliau, "Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki." Wajah Rasulullah berseri karena gembira menyambut berita tersebut. Siapakah bayi yang sangat berbahagia itu? Sehingga kelahirannya dapat mengobat hati Rasulullah yang sedang duka, berubah jadi gembira? Itulah dia USAMAH BIN ZAID! Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah bersuka cita dengan kelahiran bayi yang baru itu. Karena mereka tahu kedudukan kedua orang tuanya di sisi Rasulullah. Ibu bayi tersebut seorang wanita Habsy yang diberkati, terkenal dengan panggilan "Ummu Aiman". Sesungguhnya Ummu Aiman adalah bekas sahaya Ibunda Rasulullah, Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dan dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibundanya yang mulia selain Ummu Aiman. Rasulullah menyayangi Ummu Aiman sebagaimana layaknya sayang anak kepada ibu. Dan beliau sering berucap, "Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada." Itulah ibu bayi yang beruntung ini. Adapun bapaknya adalah kesayangan (Hibb) Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkat beliau sebelum ia Islam. Dia menjadi sahabat beliau tempat mempercayakan segala rahasia. Dan dia menjadi salah seorang anggota yang beliau kasihi dalam Islam. Kaum muslimin turut gembira dengan kelahiran Usamah bin Zaid, melebihi kegembiraan mereka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu bisa terjadi, karena tiap-tiap sesuatu yang disukai Rasulullah adalah juga mereka sukai. Dan beliau gembira mereka pun turut gembira pula. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil "Al Hibb wa Ibnil Hibb" (Kesayangan, anak kesayangan). Kaum muslimin tidak berlebih-lebihan memanggil Usamah yang masih bayi itu dengan panggilan tersebut. Karena memang Rasulullah sangat menyayangi Usamah, sehingga dunia seluruhnya sangat menyayangi Usamah, sehingga dunia seluruhnya agaknya iri hati karenanya. Usamah sebaya dengan cucu Rasulullah "Hasan bin Ali bin Abu Thalib." Hasan berkulit putih, tampan bagaikan bunga yang mengagumkan. Dia sangat mirip dengan kakeknya, Rasulullah SAW. Usamah kulitnya hitam, hidung pesek, sangat mirip dengan ibunya wanita Habsy. Namun begitu, kasih sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeda. Beliau sering mengambil Usamah, lalu beliau letakkan di salah satu paha beliau. Kemudian beliau ambil pula Hasan, maka diletakkannya pula di paha yang satu lagi. Kemudian kedua anak itu dirangkulnya bersama-sama ke dadanya, seraya berkata, "Wahai Allah! Saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pula mereka." Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah, pada suatu kali Usamah tersandung di bendul pintu, sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah menyuruh 'Aisyah, tetapi tidak mampu melakukannya. Karena itu beliau berdiri menghampiri Usamah, lalu beliau hisap darah yang keluar dari luka Usamah, kemudian beliau ludahkan, sesudah itu beliau bujuk Usamah dengan kata-kata manis yang menyejukkan, sehingga Usamah merasa tentram kembali. Sebagaimana Rasulullah menyayangi Usamah waktu kecil, begitu pula sayang beliau kepadanya tatkala dia sudah besar. Hakam bin Hazam, seorang pemimpin Quraisy pernah menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah. Pakaian itu dibeli Hakam di Yaman, dengan harga lima puluh dinar emas, dari Yazan seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah Hakam, sebab ketika itu dia masih musyrik. Lalu pakaian itu dibeli oleh beliau kepadanya. Beliau memakainya hanya satu kali ketika hari

15/11/107:15

sn

182 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Jum'at. Kemudian pakaian itu beliau berikan kepada Usamah. Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang di tengah-tengah pemuda-pemuda Muhajirin dan Anshar sebayanya. Sejak Usamah meningkat remaja, sudah kelihatan pada dirinya sifat-sifat dan pekerti yang mulia, yang memang pantas menjadikannya kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, berani luar biasa, bijaksana dan pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tahu menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela, pengasih dan dikasihi orang, taqwa, wara' dan mencintai Allah SWT. Waktu terjadi perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah beserta serombongan anakanak sebayanya, putera-putera para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima oleh Rasulullah dan sebagian lagi ditolak oleh beliau, karena usia mereka yang masih sangat muda. Usamah bin Zaid termasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu Usamah pulang sambil menangis. Dia sangat sedih tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah. Dalam perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawannya anak-anak remaja putera para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu beliau mengizinkannya. Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun. Ketika terjadi perang Hunain, tentara muslim terdesak sehingga barisan mereka menjadi kacau balau. Tetapi Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama 'Abbas, paman Rasulullah, Sufyan bin Harits anak paman Usamah, dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengan jumlah kecil yang terdiri dari orang-orang mukmin yang berani ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelamatkan kaum muslim yang lari dari kejaran kaum musyrikin. Dalam perang Mut'ah, Usamah turut berperang di bawah pimpinan komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Umurnya ketika itu kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala, bapaknya syahid di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja'far bin Abi Thalib, sehingga Ja'far syahid pula di hadapan matanya. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah, sampai pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu. Kemudian komando dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum. Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah SWT. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syiria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum yang telah diperagakannya di hadapan anaknya, Usamah. Pada tahun ke sebelas Hijriah, Rasulullah menurunkan perintah supaya menyiapkan bala tentara untuk memerangi Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain: Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khatthab, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abu 'Ubaidah bin Jarrah, dan sahabat-sahabat lain yang tertua. Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang muda remaja menjadi Panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau memerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa' dan Qal'atut Daarum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum. Ketika balatentara sedang bersiap-siap menunggu perintah berangkat, Rasulullah SAW sakit, dan

15/11/107:15

sn

183 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

semakin hari sakit beliau bertambah keras. Karena itu keberangkatan pasukan ditangguhkan menunggu keadaan Rasulullah membaik. Kata Usamah, "Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat, saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak. Setelah saya masuk, saya dapati beliau sedang diam tidak berkata-kata, karena sangat kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku." Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah pulang ke Rahmatullah. Abu Bakar Shiddiq terpilih dan dilantik menjadi Khalifah. Khalifah Abu Bakar memerintahkan supaya meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sesuai dengan rencana yang telah digariskan Rasulullah. Tetapi sekelompok kaum Anshar menghendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta 'Umar bin Khatthab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar. Kata mereka, "Jika Khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya, kami mengusulkan Panglima pasukan, Usamah, yang masih muda remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman." Mendengar ucapan 'Umar menyampaikan usul kaum Anshar itu. Abu Bakar bangun menghadapi 'Umar. Lalu ditariknya baju 'Umar seraya berkata dengan marah. "Hai putera Khatthab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasulullah. Demi Allah! Tidak ada cara begitu!" Tatkala Umar kembali kepada orang banyak, mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dengan Khalifah tentang usul mereka. Kata 'Umar, "Setelah saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah, beliau menolak dan malahan saya kena marah. Saya dikatakan berani membatalkan keputusan Rasulullah!" Pasukan muslimin berangkat di bawah pimpinan Panglimanya yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki. Sedangkan Usamah menunggang kendaraan. Kata Usamah, "Wahai Khalifah Rasulullah! Silahkan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki!" Jawab Abu Bakar, "Demi Allah! Jangan turun! Demi Allah! Saya tak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fi sabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!" Kemudian Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, "Jika engkau setuju biarlah 'Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya." Usamah mengizinkan 'Umar tinggal untuk membantu Khalifah Abu Bakar. Usamah terus maju membawa pasukan tentara yang dipimpinnya. Segala perintah Rasulullah kepadanya dilaksanakan sebaik-baiknya. Tiba di Balqa' dan Qal'atut Daarum, termasuk daerah Palestina, Usamah berhenti dan memerintahkan tentaranya berkemah. Kehebatan Rum dapat dihapuskan dari hati kaum muslimin. Lalu dibentangkannya jalan raya di hadapan mereka bagi penaklukan Syam (Syiria) dan Mesir. Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gilang gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga dikatakan orang, "Belum pernah terjadi suatu pasukan tempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid." Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Karena dia senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah dengan sempurna, serta memuliakan pribadi Rasul. Khalifah Umar bin Khattab pernah diprotes oleh puteranya Abdullah bin 'Umar, karena melebihi jatah Usamah dari jatah 'Abdullah sebagai putera Khalifah. Kata 'Abdullah bin 'Umar, "Wahai Bapak! Bapak menjatahkan untuk Usamah empat ribu, sedangkan kepada saya hanya tiga ribu. Padahal jasa bapaknya, agaknya tidak akan lebih banyak daripada jasa Bapak sendiri. Begitu pula pribadi Usamah, agaknya tidak ada keistimewaannya daripada saya." Jawab Khalifah 'Umar, "Wah! Jauh sekali! Bapaknya lebih

15/11/107:15

sn

184 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

disayangi Rasulullah daripada bapak kamu. Dan pribadi Usamah lebih disayangi Rasulullah daripada dirimu." Mendengar keterangan ayahnya, 'Abdullah bin 'Umar kemudian menyapa Usamah dengan ucapan "Marhaban yaa amiri!" (Selamat wahai komandanku!). Jika ada orang yang heran dengan sapaan Abdullah bin Umar tersebut, maka dia menjelaskan. "Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komandan saya." Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada para sahabat yang memiliki jiwa dan kepribadian agung seperti mereka ini. [fosmil.org]

15/11/107:15

sn

185 of 207

Kisah Sahabat
UTSMAN BIN AFFAN

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Utsman bin Affan, dikenal sebagai Abu Abdillah, dilahirkan di Makkah. Dzunnurrain julukan kehormatannya karena mengawini dua putri Nabi berturut-turut. Ia termasuk keluarga besar Umayyah dari suku Quraisy, dan silsilah pertaliannya dengan Nabi adalah generasi kelima. Setelah melalui pendidikan dasarnya, Utsman menjalankan usaha nenek moyangnya yang menjadi pedagang Arab terkemuka. Ia sahabat dekat Abu Bakar, khalifah Islam pertama. Adalah Abu Bakar yang membawa berita pertama kali tentang Islam kepadanya. Bersama dengan Thalhah bin Ubaidillah, ia masuk Islam langsung melalui Nabi. Ia sempat disiksa dengan kejam oleh pamannya sendiri, Hakim, karena masuk agama baru itu, namun Utsman tetap pada pendiriannya. Atas perintah Nabi, Utsman hijrah ke Abessinia bersama kaum Muslimin lainnya. Ia berada di bawah Abu Bakar dan membantu dana keuangan kepada Islam di masa-masa awalnya. Ia mengabdikan diri dengan sepenuhnya walaupun harus mengorbankan perdagangannya. Ia berperan aktif dalam dewan inti agama Islam. Meninggalkan harta bendanya kemudian hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin lainnya. Pada waktu itu, di Madinah hanya ada sebuah sumur sumber air minum bernama Bir Rumah milik seorang non Muslim yang memungut pembayaran yang tinggi dari kaum Muslimin yang memerlukannya. Karena Nabi menginginkan kaum Muslimin membeli sumur tersebut, seketika itu Utsman tampil menyatakan kesediaannya. Ia membelinya dengan harga 30.000 dirham, lalu menjadikan sumur itu milik umum. Utsman juga membeli tanah yang berbatasan dengan masjid Nabi di Madinah, karena bangunan ibadah tidak lagi mampu menampung orang yang sholat. Dari uangnya sendiri pula Utsman membiayai perluasan masjid itu. Semasa hidup Nabi, kecuali dalam perang Badar, Utsman senantiasa berperan serta dalam setiap peperangan mempertahankan agama Islam yang baru berkembang. Pada perang Badar, Nabi meminta Utsman menjaga isterinya, Ruqayyah, yang sedang dalam sekaratul maut. Selama masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar, Utsman menjadi pejabat yang dipercayai sebagai anggota terkemuka dewan inti, dan pendapatnya tentang masalah kenegaraan yang penting-penting selalu didengarkan. Ia satu di antara dua orang yang diajak berunding oleh Abu Bakar menjelang wafatnya, untuk membicarakan soal pengangkatan Umar sebagai penggantinya. Saat akan meninggal Umar mengajukan enam calon khalifah yang salah satu di antaranya akan dipilih menggantikan dirinya. Empat calon mengundurkan diri, sehingga tinggal Utsman dan Ali sebagai kontestan. Kedua orang itu setuju menerima keputusan Abdur Rahman ibn 'Auf, yang pada hari ketiga memberikan suaranya untuk Utsman sebagai khalifah Islam ketiga. Terpilihnya Utsman diikuti dukungan dan sumpah setia penduduk Madinah kepadanya. Enam tahun pertama pemerintahan Utsman ditandai dengan perluasan khilafah Islam yang besar sekali, di samping tercapainya prestasi besar di bidang kehidupan lainnya. Hanya enam bulan setelah pemilihan khalifah ketiga, orang Parsi memberontak melawan kekuasaan Islam. Bekas raja Parsi, Yezdejird, yang berada di pembuangan, ada di balik pemberontakan ini, yang didukung agen-agennya yang sangat aktif di seluruh negeri itu. Utsman langsung menanggulangi pemberontakan itu dengan tangan besi, dengan mengirimkan bala bantuan untuk memadamkan kerusuhan. Ia mengejar pemberontak sampai ke luar perbatasan Parsi, sehingga mendapatkan daerah tambahan baru. Menjelang tahun 30 H, daerah-daerah di utara dan timur Parsi, termasuk Balkh, Turkistan, Heart, Kabul, Ghazni, Khorasan, Tus, Meashapur, dan Merv jatuh ke tangan tentara Islam, dan dimasukkan ke dalam kerajaan Islam. Sementara Yezdejird yang menyelamatkan diri, meninggal dalam pembuangan pada tahun 32 H. kematiannya membawa perdamaian abadi di Parsi. Bahkan orang Turki dan Romawi di barat laut Parsi dapat ditaklukkan. Orang Romawi dikejar sampai jauh melewati sebelah barat perbatasan Parsi. Bendera Islam dipancangkan dengan perkasa di pantai-pantai Laut Hitam. Pada tahun kedua kekhalifahan Utsman, orang Romawi menyerang Syiria melalui Asia Kecil. Garnisun yang dikomandoi Muawiyyah, gubernur Syiria, jumlahnya lebih kecil dari pasukan pihak penyerbu, sehingga hampir saja mereka tidak dapat mengatasi situasi. Datangnya bala bantuan baru mempercepat hancurnya pasukan Romawi dan musuh dikejar sampai ke pantai Laut Hitam, Armenia, Azerbaijan, dan

15/11/107:15

sn

186 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Asia Kecil jatuh ke tangan kaum Muslimin, seperti juga Tiflis di Laut Hitam. Pada tahun 32 H, Muawiyyah mengepung Konstantinopel. Di perbatasan dibangun benteng-benteng kuat untuk menahan gerak maju tentara Romawi ke daerah kaum Muslimin. Orang Romawi memasang batu loncatan di Mesir dan Afrika Barat dalam upaya menduduki daerah Muslimin. Mereka merebut Alexandria dalam tahun 25 H (646 M), tapi tentara Muslimin di bawah pimpinan Amr ibn al-Ash segera merebut kembali Alexandria. Gregorius, panglima pasukan Romawi di Tripoli mempunyai 120.000 prajurit. Mereka merupakan ancaman yang terus-menerus bagi negara Muslimin di sekitarnya. Sepasukan tentara yang kuat, termasuk veteran besar seperti Abdullah ibn Zubair, segera dikirim dari Madinah untuk menghadapi situasi rawan itu. Tentara Romawi memberikan perlawanan gigih, tapi dengan tewasnya panglima perang mereka di tangan Abdullah bin Zubair, perlawanan musuh menjadi porak poranda dan kalah dengan menderita banyak korban jiwa. Di bawah pemerintahan Utsman, kaum Muslimin pertama kalinya melancarkan perang laut. Pada mulanya Khalifah melarang Muawiyyah menyerang Cyprus, kubu Romawi di sepanjang perbatasan Syiria, sehingga merupakan bahaya laten bagi wilayah Muslimin. Dari pulau yang strategis itulah orang Romawi melancarkan serangan beruntun ke pantai Syiria. Dengan syarat-syarat tertentu, Utsman kemudian mengizinkan Muawiyyah menyerbu pulau itu. Muawiyyah membangun sebuah armada laut yang kuat, armada pertama bagi Islam. Cukup aneh juga dapat didudukinya Cyprus oleh Syiria tanpa banyak perlawanan. Pada tahun 31 H (654 M) Romawi menyerbu Mesir dengan mengerahkan 500 kapal. Gubernur Muslimin di Mesir menghadapi musuh dengan armada yang kecil. Dia mengikatkan kapal-kapalnya satu sama lainnya, dan dengan perang jarak dekat armada Romawi dapat dikalahkan. Sukses ini mengukuhkan reputasi angkatan laut Muslimin di timur Laut Tengah. Banyak alasan yang menjadi penyebab lahirnya pertikaian di antara kaum Muslimin, yang memuncak dengan timbulnya pemberontakan terbuka terhadap kekuasaan Khalifah. Tapi faktornya yang utama di balik persengkongkolan ini ialah kebencian kepada kekuatan Muslimin, yang mendorong Ibn Saba dan para pengikutnya ingin membakarnya dari dalam. Prinsip-prinsip demokrasi yang diterapkan dalam Islam, serta kesederhanaan dan kesalehan Utsman yang tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah di antara sesama Muslimin, memberi keleluasaan kepada komplotan jahat memfitnah dan merusak rezimnya. Permintaan para penguasa lokal, yang daerahnya dilanda kerusuhan, agar diizinkan menumpas para agitator sampai ke akar-akarnya, tidak menggoyahkan Khalifah yang tulus itu. Selama enam tahun pertama kekhalifahan Utsman, administrasi pemerintahannya tidak kehilangan efektifitas, sama seperti para pendahulunya. Sedang kegiatan pembangunaan bangsa tetap berlanjut. Setelah huru-hara di Parsi dipatahkan dengan tangan besi, batas-batas negara diperluas. Perang laut yang diperkenalkan mendapat sukses besar, sedangkan negara tidak kehilangan tenaga dan vitalitasnya. Semua itu merupakan ciri-ciri pertumbuhan luar biasa kerajaan Islam selama pemerintahan Khalifah kedua. Tapi fiil buruk sejumlah bekas orang Kristen dan Yahudi yang memeluk agama Islam dengan sikap mental yang reserve, hanya demi mereguk keuntungan dari prinsip demokrasi Islam tapi menolak diberlakukannya pembatasan terhadap penyelewengan dan kelemahan moralnya, bertemu secara utuh dalam diri pemimpin mereka yang pandai, Ibn Saba, seorang Yahudi Yaman yang baru memeluk agama Islam. Daerah Arab di Basrah, Kufa dan Fustat (Cairo), yang dihuni orang non Hejaz, menjadi mangsa yang empuk bagi intrik keji Ibn Saba dan antek-anteknya. Ia menyebarluaskan intrik-intriknya ke seluruh Irak, Mesir, Kufa dan Fustat yang menjadi pusat komplotannya terhadap Khalifah. Sejauh batas kemampuan manusia, ia menerapkan disiplin dengan keras dan tidak memihak dalam menyelenggarakan keadilan. Ini terbukti dari hukuman cambuk yang dijatuhkannya kepada Gubernur Walid yang ada hubungan keluarga dengannya, karena dituduh pemabuk. Utsman juga memecat beberapa gubernur dari suku Umayyah, padahal mereka terbukti administrator yang pandai. Yang dijalankannya adalah menarik unsur-unsur yang berintegritas, mampu dan dinamis, serta senantiasa mengikuti contoh pendahulunya. Usahanya menjauhi nepotisme terbukti dengan tidak membiarkan putranya yang berbakat, Abdullah bin Umar, mengisi sebuah jabatan pemerintahan. Maka hilanglah

15/11/107:15

sn

187 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

sebuah senjata yang hendak ditodongkan pengacau kepada Khalifah. Namun ini tidak membuat mereka berhenti. Nasehat-nasehat yang menyesatkan dari sekretarisnya, Marwan, juga menjadi salah satu sumber malapetaka bagi Utsman. Akhirnya saat yang genting itu pun tiba. Para pemberontak mengepung Madinah, toh tekad penduduk kota ingin membela khalifahnya sampai titik darah penghabisan tidak disetujui Utsman. Ia tidak menginginkan timbulnya pertumpahan darah di kalangan kaum Muslimin. Tapi larangan itu tidak diindahkan Ali, yang menempatkan dua putranya berjaga-jaga di pintu depan rumah Khalifah, yang siap mengorbankan nyawanya sendiri. Tindakan ini juga dilakukan sejumlah orang lainnya. Di antara tuntutan beberapa pemberontak, Khalifah menyetujui mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur Mesir. Dengan ini pemberontak merasa puas dan lalu mereka menarik diri sehingga rendah topan keributan yang siap melanda Madinah. Tapi beberapa hari kemudian, para pemberontak muncul lagi dan kembali mengepung Madinah. Ketika ditanya kenapa mereka mengulangi perbuatan itu lagi, para pemberontak mengaku telah menemukan sepucuk surat rahasia Khalifah yang memerintahkan gubernur Mesir memenggal kepala Muhammad bin Abu Bakar segera setelah ia tiba di sana. Mereka tidak menunjukkan siapa kurir pembawa surat rahasia tersebut. Khalifah dengan keras membantah adanya surat seperti itu. Para pemberontak kemudian memang menerima pernyataan Khalifah, tapi mereka kini giliran mereka menuduh sekretaris Khalifah, Marwan, sebagai yang bertanggung jawab atas pemalsuan surat keji tadi. Pemberontak menuntut agar Marwan diserahkan kepada mereka, tapi Khalifah menolaknya sebelum ada bukti yang pasti tentang perbuatannya. Para pemberontak tidak dapat menjawab dengan memuaskan pertanyaan Ali, "Bagaimana mereka kembali bersama-sama pada waktu yang bersamaan, sedangkan arah jalan mereka berlawanan?" Ali lalu menganggap surat tersebut palsu. Khalifah yang saleh dan arif itu, dalam pidatonya di hadapan para pemberontak, berkata, "Adapun perkara maut, aku tidak takut, dan soal mati bagiku hal yang mudah. Soal bertempur, kalau aku menginginkannya, ribuan orang akan datang mendampingiku berjuang. Tapi aku tidak mau menjadi penyebab tertumpahnya darah, walau setetespun, darah kaum Muslimin." Akhirnya puncak krisis datang juga. Banyak orang Madinah pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Para pemberontak menganggapnya sebagai kesempatan yang baik untuk melancarkan rencana jahat mereka. Mereka menyerang rumah Khalifah. Waktu itu, karena tidak berani masuk melalui pintu gerbang yang di jaga putra-putra Ali yang gagah berani, mereka memanjat dinding rumah di bagian belakang dan membunuh Khalifah tua ketika ia sedang membaca kitab suci Al-Qur'an. Toh Utsman berpulang dengan sangat tenang. Jari manis isterinya terpotong ketika membela suaminya. Khalifah mati syahid pada tanggal 17 Juni 656 M. itulah caranya mati. Ia memberikan jiwanya sebagai "pengorbanan bagi solidaritas Muslimin." Pada waktu itu Utsman berumur 82 tahun, dan kekhalifahannya berlangsung selama 12 tahun. Sebelum maupun sesudah terpilihnya ia sebagai khalifah, Utsman telah menyumbangkan sejumlah uang yang sangat berharga bagi perkembangan agama Islam. Seluruh harta bendanya diserahkan untuk digunakan Nabi. Kedermawaannya luar biasa. Ketika terpilih menduduki jabatan khalifah, ia tidak mengambil apa pun dari Baitul Mal. Ia malahan melayani rakyatnya dengan hasil usaha dagangnya sendiri. Sejarawan Islam yang ternama, Thabari, mengutip pidato khalifah Islam yang ketiga itu sebagai berikut: "Ketika kendali pemerintahan dipercayakan kepadaku, aku pemilik unta dan kambing paling besar di Arab. Sekarang aku tidak mempunyai kambing atau unta lagi, kecuali dua ekor untuk menunaikan ibadah haji. Demi Allah tidak ada kota yang aku kenakan pajak di luar kemampuan penduduknya sehingga aku dapat disalahkan. Dan apa pun yang telah aku ambil dari rakyat aku gunakan untuk kesejahteraan mereka sendiri. Hanya seperlima bagian yang aku ambil untuk keperluan pribadi (yaitu yang dari Baitul Mal). Di luar itu tidak ada. Uang itu dibelanjakan untuk orang yang pantas menerimanya, bukan untukku, tapi untuk kaum Muslimin sendiri. Tidak satu sen pun dana masyarakat disalahgunakan. Aku tidak mengambil apa pun dari dana tersebut. Bahkan apa yang aku makan, dari nafkahku sendiri." Prestasi tertinggi Utsman ialah berhasil dihimpun dan distandarkannya Al-Qur'an. Semasa pemerintahannya, Islam tersebar luas ke daerah-daerah yang jauh, yang dihuni oleh berbagai bangsa

15/11/107:15

sn

188 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

yang berbeda. Perbedaan pengucapan dan dialek di Arab membuat lahirnya keanekaragaman cara membaca Al-Qur'an. Inilah yang membuat ia menganggap perlunya menyusun Al-Qur'an standar, yang dapat memberikan tuntunan kesatuan pengucapan ayat-ayatya secara baik dan benar di seluruh dunia. Khalifah pertamalah, Abu Bakar, yang menyusun salinan Al-Qur'an standar setelah membandingbandingkannya dengan memakai bantuan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Salinan Al-Qur'an tersebut ada pada isteri Nabi. Beberapa salinan dari jilid ini dipersiapkan Khalifah setelah berkonsultasi dengan para sahabat Nabi yang terkenal, lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan Islam untuk dijadikan bahan yang standar. Untuk menghindari perbedaan versi, semua salinan yang tidak otentik dibakar. Tindakan ini diambil atas persetujuan semua sahabat dekat Nabi SAW, yang merupakan sebuah dewan yang menjamin penyebarluasan salinan yang standar tersebut. Tindakan tersebut diambil juga sesuai dengan keinginan Nabi, yang menghendaki adanya penyusunan Al-Qur'an secara standar. Khalifah yang ketiga ini terutama terkenal karena integritas dan kesederhanaannya, kesalehan, dan sikapnya yang rendah hati. Dalam hal kejujurannya, tak seorang pun meragukannya bahkan musuhnya sekalipun. Tak syak lagi, beberapa orang tertentu telah memanfaatkan kesederhanaan Utsman, toh apapun yang ia perbuat, itu dilakukannya dengan maksud dan tujuan yang baik.

15/11/107:15

sn

189 of 207

Kisah Sahabat
ZAID AL-KHIAR

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Diceritakan dalam buku-buku sastra. Imam Syaibani menceritakan dari seorang tua Bani 'Amir, katanya : "Pada suatu ketika kami dapat musibah mengalami kemarau sehingga tanaman dan ternak kami binasa. Seorang laki-laki diantara kami pergi dengan keluarga ke Hirah lalu ditinggalkannya keluarganya disana. Katanya, 'Tunggu aku di sini sampai aku kembali!'" Kemudian dia bersumpah tidak akan kembali kepada mereka, kecuali setelah berhasil memperoleh harta untuk mereka, atau dia mati. Maka disiapkannya perbekalan, lalu dia berjalan sepanjang hari. Ketika hari sudah malam dia sampai ke sebuah kemah, di dekat kemah itu terdapat seekor anak kuda. Katanya, "Inilah rampasanku yang pertama." Lalu dihampirinya anak kuda itu dan dilepaskan ikatannya. Ketika dia hendak mengendarainya, tiba-tiba terdengar olehnya suatu suara memanggil. "Lepaskan anak kuda itu, dan pergilah kamu!" Maka ditinggalkannya kuda itu kemudian dia terus pergi meninggalkan tempat itu. Tujuh hari tujuh malam lamanya berjalan. Akhirnya dia sampai ke sebuah tempat peristirahatan unta. Tidak jauh dari situ terdapat sebuah kemah besar bertenda kulit. Menunjukkan kekayaan dan kemewahan pemiliknya. Laki-laki musafir itu berkata kepada dirinya sendiri, "Di sini tentu ada unta, dan di dalam sebuah kemah itu tentu ada penghuninya." Ketika hari hampir maghrib. Dia masuk ke dalam kemah, dan didapatinya seorang tua yang sudah udzur (jompo). Lalu dia duduk di belakang orang tua itu dengan sembunyi-sembunyi. Tidak berapa lama kemudian, hari pun mulai gelap. Seorang penunggang kuda (Al-Faris) bertubuh tinggi besar datang ke kemah. Dua orang hamba sahayanya mengikuti dari kiri dan kanan dengan berjalan kaki. Mereka menggiring kira-kira seratus ekor unta yang didahului oleh seekor unta jantan yang besar. Bila unta jantan berlutut di tempat peristirahatan, berlutut pula seluruh unta betina. Sambil menunjuk seekor unta betina yang gemuk, Al-Faris berkata kepada sahayanya, "Perah susu unta ini, kemudian suguhkan kepada Syekh (orang tua)!" Sahaya itu segera memerah susu unta tersebut semangkuk penuh, lalu di hidangkannya kepada Syekh. Sesudah itu dia pergi. Orang tua itu meneguk susu tersebut seteguk dua teguk, sesudah itu diletakkannya kembali. Kata si Musafir, "Saya merangkak perlahan-lahan mendekati Syekh. Saya ambil bejana di hadapannya, lalu saya habiskan semua isinya." Kemudian sahaya datang mengambil mangkuk susu. Dia berkata kepada majikannya, "Syekh telah menghabiskan minumannya." Al-Faris (si penunggang kuda) gembira seraya berkata kepada sahayanya, "Perah lagi susu unta ini!", sambil menunjuk seekor unta yang lain. Sahaya itu segera melakukan perintah majikannya dan menghidangkan lagi semangkuk susu kepada Syekh. Syekh meminum susu seteguk lalu diletakkannya. Kemudian mangkuk susu itu diambil oleh si musafir dan diminumnya separuh, Katanya, "Saya enggan menghabiskannya, karena saya khawatir si penunggang kuda menaruh curiga." Kemudian Al-Faris memerintahkan sahaya yang lain menyembelih domba. Al-Faris memasak domba itu, kemudian memberi makan Syekh dengan tangannya sendiri sampai dia kenyang. Sesudah Syekh kenyang, barulah Al-Faris makan bersama-sama dengan kedua sahayanya. Tidak lama kemudian, mereka semua pergi tidur. Sedang mereka tidur nyenyak, aku pergi ke tempat unta jantan. Lalu kulepas ikatannya, aku kendarai lalu pergi. Unta-unta lainnya mengikuti unta jantan pergi dan aku terus pergi tengah malam itu. Setelah hari mulai siang, aku melihat sekeliling. Ternyata tidak ada tampak orang menyusulku. Aku terus berjalan sampai tengah hari. Pada suatu ketika aku menoleh ke belakang. Tiba-tiba terlihat olehku di kejauhan suatu bayangan bergerak cepat menuju ke arahku, bagaikan seekor burung yang amat besar. Semakin lama, bayangan itu tambah dekat kepadaku dan tambah nyata. Akhirnya jelas bagiku, bayangan itu tak lain adalah Al-Faris (si penunggang kuda) mencari untanya yang kubawa pergi. Aku segera turun

15/11/107:15

sn

190 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

menambatkan unta jantan. Kemudian kukeluarkan anak panah dari tabung dan kupasang pada busur. Aku berdiri dengan posisi membelakangi unta-unta. Agak jauh di hadapanku berdiri Al-Faris. Dia berkata kepadaku, "Lepaskan unta jantan!" Jawabku, "Tidak! Keluargaku kutinggalkan di Hirah sedang kelaparan. Aku telah bersumpah tidak akan kembali kepada mereka sebelum berhasil membawakan mereka makanan atau aku mati karenanya." Kata Al Faris, "Jika tidak kamu lepaskan, kubunuh kamu. Lepaskan! Terkutuklah kamu!" Jawabku, "Tidak! Tidak akan kulepaskan walau apa yang akan terjadi!." Kata Al Faris, "Celakalah kamu! Kamu Pencuri!" Katanya pula melanjutkan, "Rentangkan tali buhul yang ditengah. Dia membidik, lalu melepaskan anak panahnya tepat mengenai sasaran bagai ditancapkan dengan tangan layaknya. Kemudian dipanahnya pula buhul kedua dan ketiga tanpa meleset sedikit juapun. Melihat kenyatan itu, anak panahku kumasukkan kembali ke dalam tabung. Aku berdiri dan menyerah. Dia datang menghampiriku, lalu diambilnya pedang dan anak panahku. Katanya memerintahku "Bonceng di belakangku!" Aku naik membonceng di belakangnya. Dia bertanya, "Menurutmu hukuman apa yang akan kujatuhkan terhadap dirimu?" Jawabku, "Tentu hukuman berat!" Dia bertanya pula, "Mengapa!" Jawabku, "Karena perbuatanku yang tidak terpuji dan menyusahkan engkau. Tuhan memenangkan engkau dan mengalahkanku!" Katanya, "Mengapa kamu menyangka begitu? Bukankah kamu telah menemui 'Muhailil' (bapakku) makan, minum dan tidur semalam dengannya?" Mendengar dia berkata 'Muhailil', aku bertanya kepadanya, "Apakah engkau ini Zaid al-Khail?" Jawabnya, "Ya!" Kataku, "Engkau penawan yang baik." Jawabnya, "Jangan kuatir!" Dia membawaku kembali ke perkemahanya. Katanya, "Demi Tuhan! Seandainya unta-unta ini milikku sendiri, sungguh kuberikan semuanya kepadamu. Tetapi sayang, unta ini milik saudara perempuanku. Tinggallah disini barang dua tiga hari. Tidak lama lagi akan terjadi peperangan, dimana aku akan menang dan memperoleh rampasan." Hari ketiga dia menyerang bani Numair. Dia menang dan memperoleh rampasan hampir seratus ekor unta. Unta rampasan itu diberikannya semua kepadaku. Kemudian ditugaskannya dua orang pengawal untuk mengawal unta-unta itu selama dalam perjalanan sampai ke Hirah. Itulah karakter Zaid al-Khail pada masa Jahiliyah. Adapun bentuk kehidupannya dalam Islam, banyak ditulis orang dalam buku-buku sejarah. Ketika berita mengenai munculnya nabi SAW. Dengan dakwah yang didakwahkannya terdengar oleh Zaid al-Khail, maka disiapkannya kendaraannya. Kemudian diajaknya para pemimpin terkemuka dari kaumnya berkunjung ke Yatsrib (Madinah) menemui Nabi Muhammad SAW. Satu delegasi besar terdiri dari pemimpin kaum pergi bersama-sama dengannya menemui Nabi yang mulia. Antara lain terdapat Zur bin Sadus, Malik bin Jubair, Amir bin Juwain dan lain-lain. Setibanya di Madinah, mereka terus menuju ke masjid Nabawi yang mulia dan memberhentikan unta mereka di depan pintu masjid. Ketika mereka masuk ke Masjid, kebetulan Rasulullah SAW sedang berkhutbah di atas mimbar. Mereka tergugah mendengar ucapan-ucapan Rasulullah, dan kagum melihat kaum muslimin diam mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ketika Rasulullah SAW melihat mereka, beliau mengucapkan pidatonya kepada kaum muslimin : "Aku lebih baik bagi tuan-tuan sekalian daripada berhala 'Uza dan sekalian berhala yang tuan-tuan sembah. Aku lebih baik bagi tuan-tuan daripada unta hitam dan daripada segala yang tuan-tuan sembah selain Allah." Ucapan-ucapan Rasulullah SAW dalam pidatonya itu, sangat berkesan di hati Zaid al-Khair. Orang-orang serombongannya terbagi dua. Sebagian menerima panggilan yang hak, dan sebagian yang lain menolak dengan sombong. Sebagian mendambakan surga dan sebagian pasrah ke neraka. Melihat Rasulullah SAW yang berpidato mempesona pendengarnya, dikelilingi orang-orang mukmin yang mencucurkan air mata kesedihan, timbul rasa benci dalam hati Zur bin Sardus yang penuh ketakutan. Dia berkata kepada kawan-kawannya, "Demi Tuhan! Orang ini pasti akan menguasai seluruh bangsa Arab. Demi Tuhan! Saya tidak akan membiarkan kuduk saya dikuasainya selama-lamanya." Kemudian dia pergi ke negeri Syam. Disana dia mencukur rambutnya seperti pendeta, kemudian dia masuk agama Nasrani.

15/11/107:15

sn

191 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Zaid al-Khail lain lagi. Ketika Rasulullah SAW selesai berpidato, ia berdiri diantara jamaah kaum muslimin. Zaid seorang laki-laki ganteng, cakap dan berperawakan tinggi. Kalau menunggang kuda, kakinya tergontai hampir sampai tanah. Dia berdiri dengan tubuhnya yang tegap dan berbicara dengan suaranya yang lantang. Katanya, "Ya, Muhammad! Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya engkau Rasulullah." Rasulullah menoleh kepadanya seraya bertanya, "Siapa Anda?" Jawab Zaid, "Saya Zaid al-Khail bin Muhailil." Kata Rasulullah SAW, "Tentunya Anda Zaid al-Khair, bukan lagi Zaid al-Khail. Segala puji bagi Allah yang membawa Anda ke sini dari kampung Anda, dan melunakkan hati Anda menerima Islam. Sejak itu Zaid al-Khail terkenal dengan nama Zaid al-Khair. Kemudian Rasulullah membawanya ke rumah beliau, diikuti Umar bin Khatthab dan beberapa sahabat lain. Sesampainya di rumah Rasulullah, beliau melepaskan alas duduknya kepada Zaid. Tetapi Zaid al-Khair segan menerima dan mengembalikannya kepada beliau. Rasulullah melemparkannya sampai tiga kali, tetapi Zaid al-Khair tetap menolak, karena merasa rikuh duduk di alas duduk Rasulullah yang mulia. Setelah Zaid duduk dengan tenang di dalam majelis, Rasulullah berkata, "Belum pernah saya mengenal seseorang yang ciri-cirinya berlainan daripada yang disebutkan orang kepadaku melainkan Anda seorang. Hai Zaid! Dalam diri Anda terdapat dua sifat yang disukai Allah dan Rasul-Nya." "Apa itu, ya Rasulullah?" tanya Zaid. Jawab Rasululah, "Kesabaran dan penyantun." Kata Zaid, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku memiliki sifat-sifat yang disukai Allah dan Rasul-Nya." Kemudian dia berkata lebih lanjut, "Berilah saya tiga ratus penunggang kuda yang cekatan. Saya berjanji kepada Anda akan menyerang negeri Rum dan mengambil negeri itu dari tangan mereka." Rasulullah mengagumi cita-cita Zaid itu. Kata beliau, "Alangkah besarnya cita-cita Anda, hai Zaid. Belum ada orang yang seperti Anda." Sebagian orang menemani Zaid, masuk Islam bersamanya. Ketika Zaid dan orang-orang yang sepaham dengannya hendak kembali ke Nejed, Rasulullah berkata, "Alangkah baiknya dia. Banyak keuntungan yang mungkin terjadi seandainya dia selamat dari wabah yang berjangkit di Madinah." Saat itu Madinah Al-Munawarah sedang dilanda wabah demam panas. Pada suatu malam Zaid al-Khair diserang penyakit tersebut. Zaid al-Khair berkata kepada pengikutnya, "Singkirkan saya ke kampung Qais! Sesungguhnya antara kita dengan mereka tidak ada permusuhan Jahiliyah. Tetapi demi Allah! Saya tidak ingin membunuh kaum muslimin sehingga mereka mati kena wabah penyakitku ini." Zaid al-Khair meneruskan perjalanan ke kampungnya di Nejed. Tetapi sayang demamnya makin menjadijadi. Dia ingin menemui kaumnya di Nejed dan mengharapkan agar mereka masuk Islam di tangannya. Dia telah bercita-cita yang baik. Tetapi suatu cobaan mendahuluinya sebelum cita-citanya terlaksana. Tidak lama kemudian dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di perjalanan. Sedikit sekali waktu terluang baginya sesudah dia masuk Islam, sehingga tidak ada peluang untuk berbuat dosa. Dia meninggal tidak lama sesudah dia menyatakan Islamnya dihadapan Rasulullah SAW. [fosmil.org]

15/11/107:15

sn

192 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
ZAID bin HARITSAH R.A.

Tokoh Muslim

Pertumbuhannya: Nama lengkapnya Zaid bin Haritsah bin Syurahil Kakbi. Pada umur 8 tahun, Zaid dibawa ibunya, Sa‘di bint Tsa‘labah mengunjungi kaumnya, Bani Ma‘n. Saat hampir sampai, kaumnya diserbu oleh pasukan berkuda dari keluarga Bani Qain. Mereka merampas harta, unta dan menawan anak-anak kecil.Setelah kehilangan Zaid, ibunya tidak pernah berhenti menangis. Kisah dia dijual: Kemudian Zaid dijajakan di pasar Ukaz, pasar yang dibuat bangsa Arab di Mekah pada bulan-bulan haram untuk berjual-beli dan mempresentasikan syair. Dia dibeli oleh salah seorang pemuka bangsa Quraisy, yaitu; Hakim bin Hizam bin Khuwailid, keponakan Khadijah binti Khuwailid r.a, yang di kemudian hari akan menjadi istri Nabi saw.Hakim menghibahkan zaid kepada bibinya, Khadijah, setelah kawin dengan Rasul Zaid dihibahkan lagi kepada beliau, sebelum beliau menjadi Nabi. Zaid gembira sekali tinggal bersama Nabi. Antara mereka berdua terjalin hubungan kasih sayang yang erat sekali. Dia lebih memilih tinggal bersama Nabi dari pada kembali ke ibu bapaknya: Bapaknya, Haritsah bin Syurahil mengetahui bahwa anaknya berada di Mekah. Dari itu dia pergi ke Mekah membawa banyak harta untuk menebus Zaid. Dia pergi bersama saudaranya, Kaab. Tetapi Rasul saw. tidak mau mengambil harta atau materi lain. Beliau mengatakan kepada mereka berdua, "Apakah kalian berdua mempunyai sesuatu yang lebih baik daripada tebusan?" Mereka balik bertanya, "Apa itu?" Nabi mengatakan, "Jika dia memilihmu maka dia adalah milikmu tanpa tebusan sekalipun, jika memilih saya, maka demi Allah, saya bukanlah orang yang tidak menyenangi orang yang memilihnya." Mereka lalu mengatakan, "Engkau telah memberi pilihan yang sangat tepat." Zaid kemudian memilih hidup bersama Nabi. Ayah dan pamannya heran mendapatkan keputusan Zaid itu. Ayahnya lalu mengatakan, "Bodoh sekali kamu ini Zaid, apakah engkau memilih menjadi budak daripada hidup bersama ibu bapakmu?" Zaid menjawab, "Saya mendapatkan pada diri orang ini sesuatu yang tidak dapat saya tinggalkan." Setelah mengatakan itu, tangannya ditarik oleh Rasul lalu dibawanya ke Masjidilharam. Dengan berdiri di atas batu dia mengatakan kepada pemuka bangsa Quraisy, "Wahai bangsa Quraisy! Saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku, ahli waris dan pewarisku." Pada saat itu hati ayah dan pamannya menjadi lega. Dia lalu pulang ke kampung halaman dan Zaid dibiarkan tinggal bersama Rasul saw. Sejak itu Zaid dikenal dengan anak Muhammad hingga Islam datang dan turun firman Allah, "Panggillah mereka dengan nama bapaknya!" menjadi Zaid bin Haritsah kembali. Perjuangannya di jalan Allah: Ketika Nabi Muhammad diutus, Zaid termasuk salah seorang yang pertama-tama memeluk Islam. Dan selama hidupnya dalam pangkuan Islam itu dia pernah menjadi panglima perang pada beberapa pertempuran dan pernah juga menjadi wakil Nabi di Madinah saat beliau pergi berperang. Wafatnya: Pada tahun 8 H. Zaid bin Haritsah pergi memimpin 3000 orang tentara kaum Muslimin dalam perang Muktah. Pada saat pasukan telah sampai di Ma‘an (Yordan sekarang) Heraclius, raja Romawi dengan tiba-tiba menyerang mereka dengan 100.000 orang tentara, ditambah lagi dengan 100.000 orang tentara Musyrik Arab yang bergabung dengan mereka. Dalam pertempuran itu Zaid bin Haritsah gugur. Tampuk pimpinan lalu dipegang oleh Jakfar bin Abi Thalib, diapun gugur juga. Selanjutnya tampuk pimpinan dipegang oleh Abdullah bin Rawahah, diapum gugur juga, hingga pasukan Muslimin memilih Khalid bin Walid yang kemudian menarik mundur tentara dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Kematian Zaid itu membuat Nabi sangat sedih dan menangis.

15/11/107:15

sn

193 of 207

Kisah Sahabat
ZAID bin TSABIT Sekretaris Rasulullah

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Zaid bin Tsabit termasuk "group sahabat junior". Ia 10 tahun lebih muda dari pada Ali ibn Abi Thalib. Zaid dilahirkan 10 tahun sebelum hijrah. Orang tuanya, yang berasal dari kabilah Bani an-Najjar, adalah termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas. Ia mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang melebihi rekan-rekan seusianya saat itu. Pada saat-saat penantian kedatangan RasuluLlah dan Abu Bakar di Madinah dari Makkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sebentar-bentar pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang. Betapa berbunganya hati kaum muslimin Madinah melihat Rasulullah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada Rasulullah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada Rasulullah, untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa dalam bidang ini. Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini, dapat membantu dan selalu berdekatan dengan Utusan Allah yang ia cintai. RasuluLlah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. Rasulullah sangat mencintai sahabat ciliknya yang ketika itu baru berusia 11 tahun. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan Rasulullah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat AlQur'an. Disamping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima Rasulullah, Zaid pun mendapat assignment dari RasuluLlah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering dipergunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai oleh Zaid dalam waktu sangat singkat, 32 hari! Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Al-Qur'an. Abu Bakar RA memanggilnya dan mengatakan, "Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan Rasulullah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya. Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dan membukukannya." Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Al-Qur'an: "Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak Rasulullah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini." Akhirnya dengan melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Al-Qur'an, adalah mengingat banyaknya hafidz Qur'an yang syahid. Dalam pertempuran "Harb Ridah" melawan Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Qur'an menemui syahid. Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk team khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Ketiga persyaratan tersebut adalah: Ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit 2 orang. Harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk "hardcopy" lainnya). Untuk yang tertulis, paling tidak harus ada 2 orang saksi yang melihat saat dituliskannya.

15/11/107:15

sn

194 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Dengan persyaratan tersebut, dimulailah pekerjaan yang berat ini oleh Zaid bin Tsabit yang membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa kekhalifahan Abu Bakar. Sumber isnet.org

15/11/107:15

sn

195 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

ZAINAB binti JAHSY bin RI`AB r.a (Istri Nabi yang paling banyak sedekahnya) Zainab binti Jahsy adalah putri dari bibi Rasulullah yang bernama Umaymah binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Zainab adalah seorang wanita yang cantik jelita dari kaum bangsawan yang terhormat. Dipandang dari ayahnya, Zainab adalah keturunan suku Faras yang berdarah bangsawan tinggi. Ia dinikahkan Rasulullah dengan anak angkat kesayangannya Zaid bin Haritsah. Tetapi pernikahan itu tidak berlangsung lama, mereka akhirnya bercerai. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Muhammad S.A.W untuk menikahi Zainab. "Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya ( menceraikannya ). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu`min untuk ( mengawini ) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adapun ketetapan Allah itu pasti terjadi." (Q.S.33:37 ) Bukhori meriwayatkan dari Anas, Zainab sering berkata, "Aku berbeda dari istri-istri Rasulullah S.A.W yang lainnya. Mereka dikawinkan oleh ayahnya, atau saudaranya, atau keluarganya, tetapi aku dikawinkan Allah dari langit." Zainab adalah seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang, suka menolong fakir miskin dan kaum lemah. Dia senang sekali memberi sedekah, terutama kepada anak yatim. Rasulullah pernah bersabda kepada istrinya, "Yang paling dahulu menyusulku kelak adalah yang paling murah tangannya." Maka berlomba-lombalah istri beliau memberikan sedekah kepada fakir miskin. Namun tak ada yang bisa mengalahkan Zainab dalam memberikan sedekah. Dari Aisyah r.a berkata, "Zainab binti Jahsy adalah seorang dari istri-istri Nabi yang aku muliakan. Allah S.W.T menjaganya dengan ketaqwaan dan saya belum pernah melihat wanita yang lebih baik dan lebih banyak sedekahnya dan selalu menyambung silaturahmi dan selalu mendekatkan dirinya kepada Allah selain Zainab." Mengapa ?, apakah karena Rasulullah memberikan belanja yang berlebih terhadap Zainab ? Tidak, Rasulullah S.A.W tidak pernah berbuat seperti itu. Lalu dari manakah Zainab mendapatkan uang untuk sedekah ? Ia memiliki berbagai macam keahlian. Ia bisa menyamak kulit, memintal serta menenun kain sutra, hasilnya dijual dan disedekahkan. Hal itulah yang menyebabkan wanita cantik istri Rasulullah ini bersedekah lebih banyak dari yang lainnya. Setelah Rasulullah wafat, Zainab memperbanyak usahanya, agar bisa melipat gandakan uang yang diterimanya. Ketika ia mendapat bagian harta dari Baitul Mal dimasa kholifah Umar r.a dia berdoa, "Ya Allah janganlah harta ini penyebab fitnah." Segera ia bagikan harta itu kepada yatim piatu dan fakir miskin. Mendengar itu Umar r.a mengirim lagi, tetapi Zainab membagi - bagikannya lagi kepada yatim piatu dan fakir miskin. Wanita pemurah itu wafat pada tahun 44 H pada masa Kholifah Muawiyah. Wallahu a`lam.

15/11/107:15

sn

196 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad
Zainab binti Rasulullah SAW

Tokoh Muslim

Zainab adalah putri tertua Rasulullah SAW. Rasulullah telah menikahkannya dengan sepupu beliau, yaitu Abul 'Ash bin Rabi' sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, atau ketika Islam belum tersebar di tengahtengah mereka. lbu Abul 'Ash adalah Halah binti Khuwaylid, bibi Zainab dari pihak ibu. Dari pernikahannya dengan Abul 'Ash mereka mempunyai dua orang anak, Ali dan Umamah. Ali meninggal ketika masih kanak-kanak dan Umamah tumbuh dewasa dan kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra. setelah wafatnya Fatimah ra. Setelah berumah tangga, Zainab tinggal bersama Abul 'Ash bin Rabi' suaminya. Hingga pada suatu ketika, pada saat suaminya pergi bekerja, Zainab mengunjungi ibunya. Dan ia dapatkan keluarganya telah mendapatkan suatu karunia dengan diangkatnya, ayahnya, Muhammad SAW menjadi Nabi akhir jaman. Zainab mendengarkan keterangan tentang Islam dari ibunya, Khadijah ra. Keterangan ini membuat hatinya lembut dan menerima hidayah Islam. Dan keislamannya ini ia pegang dengan teguh, walaupun ia belum menerangkan keislamannya kepada suaminya, Abul 'Ash. Sedangkan Abul 'Ash bin Rabi' adalah termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai pedagang. Ia sering meninggalkan Zainab untuk keperluan dagangnya. la sudah mendengar tentang pengakuan Muhammad sebagai Nabi SAW. Namun, ia tidak mengetahui bahwa istrinya, Zainab sudah memeluk Islam. Pada tahun ke-6 setelah hijrah Nabi SAW ke Madinah. Abul 'Ash bin Rabi' pergi ke Syria beserta kafilah-kafilah Quraisy untuk berdagang. Ketika Rasulullah SAW mendengar bahwa ada kafilah Quraisy yang sedang kembali dari Syria, beliau mengirim Zaid bin Haritsah ra. bersama 313 pasukan muslimin untuk menyerang kafilah Quraisy ini. Mereka menghadang kafilah ini di Badar pada bulan Jumadil Awal. Mereka menangkap kafilah itu dan barang-barang yang dibawanya serta menahan beberapa orang dari kafilah itu, termasuk Abul 'Ash bin Rabi'. Ketika penduduk Mekkah datang untuk menebus para tawanan, maka saudara laki-laki Abul 'Ash, yaitu Amar bin Rabi', telah datang untuk menebus dirinya. Ketika itu, Zainab istri Abul 'Ash masih tinggal di Mekkah. la pun telah mendengar berita serangan kaum Muslimin atas kafilah-kafilah Quraisy termasuk berita tertawannya Abul 'Ash. Berita ini sangat meiiyedihkannya. Lalu ia mengirimkan kalungnya yang terbuat dari batu onyx Zafar hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwaylid ra.. Zafar adalah sebuah gunung di Yaman. Khadijah binti Khuwaylid telah memberikan kalung itu kepada Zainab ketika ia akan menikah dengan Abul 'Ash bin Rabi'. Dan kali ini, Zainab mengirimkan kalung itu sebagai tebusan atas suaminya, Abul 'Ash. Kalung itu sampai di tangan Rasulullah SAW. Ketika Beliau melihat kalung itu, beliau segera mengenalinya. Dan kalung itu mengingatkan beliau kepada istrinya yang sangat ia sayangi, Khadijah. Beliau berkata, 'Seorang Mukmin adalah penolong bagi orang Mukmin lainnya. Setidaknya mereka memberikan perlindungan. Kita lindungi orang yang dilindungi oleh Zainab. Jika kalian bisa mencari jalan untuk membebaskan Abul 'Ash kepada Zainab dan mengembalikan kalungnya itu kepadanya, maka lakukaniah.' Mereka menjawab, "Baik, ya Rasulullah SAW." Maka mereka segera membebaskan Abul 'Ash dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab. Kemudian Rasulullah SAW menyuruh Abul 'Ash agar berjanji untuk membiarkan Zainab bergabung bersama Rasulullah SAW. Dia pun berjanji dan memenuhi janjinya itu. Ketika Rasulullah SAW pulang ke rumahnya, Zainab datang menemuinya dan meminta untuk mengembalikan kepada Abul 'Ash apa yang pernah diambil darinya. Beliau mengabulkannya. Pada kesempatan itu, Beliau pun telah melarang Zainab agar tidak mendatangi Abul 'Ash, karena dia tidak halal bagi Zainab selama dia masih kafir. lalu Abul

15/11/107:15

sn

197 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

'Ash kembali ke Mekkah dan menyelesaikan semua kewajibannya. Kemudian dia masuk Islam dan kembali kepada Rasulullah SAW sebagai seorang Muslim. Dia berhijrah pada bulan Muharram, 7 Hijriyah. Maka Rasulullah SAW pun mengembalikan Zainab kepadanya, berdasarkan pernikahannya yang pertama. Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah. Orang-orang yang memandikan jenazahnya ketika itu, antara lain ialah; Ummu Aiman, Saudah binti Zam'ah, Ummu Athiyah dan Ummu Salamah ra.. Rasulullah SAW. berpesan kepada mereka yang akan memandikan jenazahnya ketika itu, 'Basuhiah dia dalam jumlah yang ganjil, 3 atau 5 kali atau lebih jika kalian merasa lebih baik begitu. Mulailah dari sisi kanan dan anggotaanggota wudhu. Mandikan dia dengan air dan bunga. Bubuhi sedikit kapur barus pada air siraman yang terakhir. Jika kalian sudah selesai beritahukaniah kepadaku.' Ketika itu, rambut jenazah dikepang menjadi tiga kepangan, di samping dan di depan lalu di kebelakangkan. Setelah selesai dari memandikan jenazah, Ummu Athiyah memberitahukan kepada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW memberikan selimutnya dan berkata, 'Kafanilah dia dengan kain ini.' (Hayatush Shahabah)

15/11/107:15

sn

198 of 207

Kisah Sahabat
Hadis

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Hadis atau sunnah, adalah sesuatu yang dirujukkan pada Nabi Muhammad (saw), baik dalam bentuk kata-kata, perbuatan, isyarat, pendiaman, keadaan, sifat, dan sebagainya. Berbeda dengan Al-Qur`an, tidak diberikan jaminan eksplisit bahwa hadis akan terus terjaga kevalidannya sepanjang zaman. Maka pada masa kini, kita menggolongkan hadis-hadis dalam tingkatan kualitas kevalidan, dari hadis yang sangat kuat [sahih], hadis yang cukup kuat [hasan], hingga hadis lemah [dha`if], dan bahkan hadis palsu [maudhu`]. Sebagian dari hadis disebut hadis ilahiah atau hadis qudsi. Hadis ini merupakan titah atau wahyu Allah kepada Rasulullah yang dinyatakan berbeda dan bukan merupakan bagian dari Al-Qur`an. Lafal pengucapannya juga dapat berasal dari nabi sendiri. Estafet pengajaran hadis dimulai sejak zaman para sahabat. Mereka aktif mendidik para murid, yang disebut tabi`in, dan pada selang gilirannya, para tabi`in meneruskan pengajaran kepada muridnya masing-masing, yang disebut tabi`it-tabi`in. Pada saat itu, yaitu memasuki abad II hijriyah, hadishadis mulai dikumpulkan dan dituliskan, sehingga terkumpul ribuan hadis. Pekerjaan berikutnya adalah menyaring hadis berdasar kevalidannya, kemudian penghimpunannya ke dalam tema-tema dan berbagai keperluan lainnya. Di dalam pekerjaan itu, terlingkup juga kegiatan pentafsiran terhadap hadis-hadis. Kumpulan-kumpulan hadis pada abad ke-2 diantaranya : 1. 2. 3. 4. 5. Al-Muwatha`, oleh Imam Malik Al Aghazi was Siyar, oleh Muhammad ibn Ishaq Al-Jami`, oleh Abdur Razaq ibn Hamman As-San`ani Al-Masad, oleh Imam Abu Hanifah, Imam Syafi`i, Zaid bin Ali, dan Syu`bah bin Hajjaj Al-Mushannaf, oleh Syu`bah bin Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, dan Al-Laits bin Sa`ad

Pada abad ke-3, muncul pula kitab-kitab hadis berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Kitab-kitab As-Musnad, a.l. oleh At-Tamimi, An-Nasa`i, Al-Anbari, Imam Hanbali, As-Syaibani, Al-Abasy, Al-Humaidy, dll Jami`us-Shalihain, oleh Imam Bukhari dan Muslim Kitab empat sunan: Turmudzi, Abu Daud, Nasa`i, dan Ibnu Majah Al-Muntaqa, oleh Ibnu Jarud Al-Thabawat, oleh Ibnu Sa`ad

Hingga kini, banyak kumpulan-kumpulan dan telaah-telaah hadis telah ditulis. Tokoh-tokoh yang banyak disebut dalam penulisan hadis antara lain adalah : 1. Imam Bukhari (194-256 H), berasal dari Bukhara, Uzbekistan, dengan nama Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbeh Al-Ja`fi. Karyanya a.l. Shahih Bukhari yang berisi 8122 hadis shahih yang dikumpulkan dengan menyaring 600 000 hadis selama 16 tahun. Imam Muslim (204-261 H), bernama Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, berasal dari Naisabur, Iran. Karyanya a.l. Shahih Muslim yang berisi 7273 hadis sahih yang disaring dari 300 000 hadis selama 15 tahun. Hadis ini paling tertib dan sistematis susunannya.

2.

15/11/107:15

sn

199 of 207

Kisah Sahabat
3.

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

4. 5. 6. 7.

Imam Abu Daud (202-275 H), bernama Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy`ats bin Ishaq alSijistani, dari Sijistan, antara Iran-Afghanistan. Karyanya a.l. Sunan Abu Daud, berisi 4800 hadis sahih hasil saringan dari 500 000 hadis. Imam Turmudzi (209-279 H), dari Turmudz, Iran, dengan nama Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah. Karyanya a.l. Sunan Turmudzi yang berisi 3956 hadis. Imam Nasa`i (215-303 H), bernama Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu`aib bin Bahr, dari Nasa, Khurasan. Karyanya a.l. Al-Kubra yang berisi 5761 hadis. Imam Ibnu Majah (209-273 H) dari Qazwin, dengan nama Imam Abu Abdillah bin Yazid bin Majah, menyususn Sunan Ibnu Majah yang berisi 4341 hadis selektif. Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) dengan nama lengkap Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal As-Syaibani, dari Baghdad. Masterpiecenya adalah Musnad AlKabir yang berisi 30000 hadis sebagai hasil menyaring lebih dari 750 000 hadis. Tetapi sebagian ulama menyebut bahwa di dalamnya ada juga hadis-hadis yang lemah.

15/11/107:15

sn

200 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

PERKEMBANGAN MAZHAB DALAM ISLAM Al-Quran Agama Islam diutus oleh Allah S.W.T. kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini. Sumber atau pokok ajarannya ialah Al-Quran AlKarim, yaitu sebuah kitab yang tidak ada sedikit pun kebatilan dan kepalsuan di dalamnya, yang diturunkan oleh Allah dari langit. Firman Allah :" Kitab Al-Quran ini, tidak

ada keraguan padanya , pentunjuk bagi mereka yang bertakwa."(Al-Baqarah : 2)

Al-Quran adalah sebuah kitab yang mengandung aqidah (kepercayaan) dan Syariah (undang-undang). Ia membicarakan tentang amal ibadah dan juga membicarakan tentang pemerintahan atau sistem hidup duniaw, seperti undang-undang keluarga, hukum jual-beli, peraturan-peraturan, hukum-hukum yang berhubungan dengan jenazah dan balasannya, dan juga sistem berhubungan antara satu sama lain serta berhubungan antara bangsa. Al-Hadith Di samping Al-Quran sebagai sumber pertama bagi segala hukum-hakam, terdapat pula hadith-hadith Rasulullah S.A.W. yang merupakan sebagai pengurai dan penafsir dari Al-Quran. Tiap-tiap bab atau fasal hukum fiqh, yang di dapati hadith-hadith yang menerangkan apa-apa yang perlu diterangkan dan dijelaskan sebagaimana firman Allah : "Dan kami turunkan pula kepadamu (wahai Muhammad) Al-Quran

yang memberi peringatan, supaya engkau menerangkan kepada manusia akan apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya." (An-Nahl : 44)

diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya"(An-Najm : 2-3)

Rasulullah menerangkan ajaran-ajaran Islam kepada manusia dengan perkataan-perkataan, perbuatanperbuatan dan contoh-contoh. Di zaman Rasulullah manakala orang-orang Islam menghadapi sesuatu masalah tentang hukum-hukum, mereka terus menemui Rasulullah dan bertanya kepada junjungan apa yang dimusykilkan. Rasulullah menjawab pertanyaan mereka dengan wahyu yang diturunkan kepada junjungan. Firman tuhan : " kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang

Al-Ijtihad Rasulullah S.A.W. mengajar sahabat-sahabatnya perkara-perkara yang berhubung dengan agama. Mereka adalah orang yang baik penerimaan, halus pemahamannya, benar, jujur dan ikhlas. Dari itu maka segala percakapan dan perbuatan mereka dapat diterima dan dijadikan pedoman. Rasulullah membenarkan mereka berijtihad, jika tidak ada nas atau hukum dari Al-Quran dan hadith-hadith. Dengan syarat tidak terkeluar dari prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan agama yang telah ditetapkan. Kebenaran dan Permulaan Ijtihad Rasulullah telah mengutuskan sahabatnya yang bernama Muaz Bin Jabal ke negeri Yaman sebagai pendakwah, juga sebagai kadi. Sebelum pemergiannya, Rasulullah telah menemuduganya dengan sabdanya : "Wahai Muaz, bagaimanakah engkau menyelesaikan suatu masalah, jika engkau ditanya

orang?" Jawab Muaz ,"Aku akan menghukum dengan hukuman yang didapati di dalam kitab Al-Quran." Tanya Rasulullah lagi; "Jika tidak ada hukuman dalam Al-Quran?" Kata Muaz; "Aku akan hukum dengan sunnah Rasulullah(Al-Hadith). "Rasulullah bersabda lagi : "Jika sekiranya tidak ada dalam hadith?", Jawabnya; "Aku akan berijtihad." Kemudian Rasulullah S.A.W. menepuk-nepuk dada Muaz sambil bersabda : "Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah ( Muaz ) dengan perkara yang diridhai oleh Allah dan Rasulnya." (Riwayat Imam Ahmad & Tirmidzi)

15/11/107:15

sn

201 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

"Barangsiapa berijtihad dan betul ijtihad maka ia memperolehi dua pahala. Dan barangsiapa berijtihad dan salah ijtihadnya, maka ia dapat satu pahalanya sahaja".
Perlunya Kepada Ijtihad Manakala kehidupan manusia semakin hari semakin luas dan bercabang-cabang, dan manusia sendiri bertambah-tambah ramai dari semasa ke semasa, maka bidang ilmu fiqh dengan sendirinya menjadi luas, kehidupan orang-orang Islam semakin maju. Ajaran-ajaran Islam telah tersebar luas ke seluruh dunia. Maka banyaklah peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang berlaku, sedangkan nas-nas hukum dari Al-Quran dan hadith-hadith nabi ada masa dan batas-batasnya. Tetapi peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian tetap berkembang dengan luasnya tanpa berhenti-henti. Justeru itu maka tidak dapat tidak, perlu adanya perbincangan hukum dan ijtihad. Di Zaman Khulafa Ar-Rasyiddin Di zaman khulafa Ar-Rasyiddin telah zahir perkara-perkara perumpamaan ijtihad. Di antara mereka yang telah tampil kemuka dalam konteks ini, ialah Saidina Umar Al-Khattab, dan masa inilah bidang ilmu fiqh telah menonjol beberapa langkah maju ke hadapan. Tiap-tiap sahabat nabi mengambil kesimpulan dari Al-Quran dan hadith sekadar yang mereka dapat, dan memberitahu kepada orang lain pendapat-pendapat mereka. Dari itu perjalanan ilmu fiqh terus maju kehadapan lagi. Di antara sahabat-sahabat nabi yang berijtihad di Madinah : Saidina Umar Al-Khattab, Saidina Ali, Abdullah Bin Umar, Zaid Bin Tsabit, Ubai Bin Kaab, Abu Musa As-Asyari dan lain-lain. Sementara di Mekah pula : Abdullah Bin Abbas. Di Kufah : Abdullah Bin Utbah. Di Mesir : Abdullah Bin Umar Al-Aash dan lain-lain. Pepecahan mereka di beberapa negeri adalah diibaratkan bintang-bintang yang bertaburan di langit, dan mereka adalah menjadi ikutan umat Islam kerana sifat-sifat mulia dan peribadi yang tinggi yang dimiliki oleh mereka. Pengiktirafan Rasulullah S.A.W. terhadap mereka adalah jelas dan tegas. Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud :

Inilah pengakuan Rasulullah mengenai ijtihad. Mengenai penerimaan tuhan dengan hasil ijtihad, jelas dalam sabdanya yang bermaksud :

"Sahabat-sahabatku adalah laksana bintang-bintang di langit, siapa dari mereka yang kamu ikut nescaya kamu dapat petunjuk."

Ilmu fiqh di kalangan sahabat dan tabiin tidak beku dengan berpegang kepada lafaz-lafaz nas sahaja, tetapi mengambil kira sama tentang hukum-hukum untuk menimbang sebab-sebab (alat) masa hendak menghukum atau memberi fatwa. Perundangan Terus Berkembang : Sahabat-sahabat Rasulullah S.A.W. ada mempunyai ramai murid-murid yang belajar dari mereka. Muridmurid itu digelar tabiin kerana mereka tidak sempat bertemu dengan Rasulullah, tetapi cuma berjumpa dengan sahabat-sahabat nabi sahaja, mereka mengikut ajaran-ajaran Rasulullah dan jalan-jalan sahabat nabi. Apa yang jelas bahawasanya perpindahan tabiin ke seluruh negeri dan bandar-bandar pada masa itu menyebabkan ramai menghadapi bermacam-macam peristiwa dan kejadian yang belum dilalui oleh sahabat-sahabat sebelumnya. Maka sudah menjadi kewajipan kepada mereka mencari, membahas dan mengkaji hukum-hukum untuk menghadapi peristiwa itu. Maka dengan itu bertambah luaslah lagi bidang ilmu fiqh. Patut disebut bahawa ilmu fiqh sahabat-sahabat para tabiin tidak beku dengan berpegang kepada lafaz-lafaz nas sahaja, tetapi ia mengambil kira sama tentang hukum-hukum untuk menimbang akan sebab-sebab (ilah) masa hendak menghukum itu atau untuk memberi fatwa. Sebagaimana yang jelas diketahui, bahawa pendapat mereka bermacam-macam dan berlainan. Ini disebabkan berlainan tempat dan kedudukan negeri masing-masing. Disamping berlebih kurang tentang memahami maksud ayat-ayat Al-Quran dan hadith-hadith nabi. Oleh demikian terhasilah berlainan pendapat di antara satu dengan yang lain maka inilah yang dinamakan mazhab.

15/11/107:15

sn

202 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Di antara tabiin yang berijtihad diwaktu itu ialah : Said Al-Musayyab dan Abdullah bin Umar di Madinah. Yahya bin Said, Rabiah bin Abdul Rahman, Atha bin Rabah di Mekah. Hassan Al-Basri di Basrah, Thowas bin Kasan di Yaman, Makhul di Syam. Di Zaman Umar bin Abdul Aziz. Pada tahun 100 Hijrah di zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, beliau telah menghantar ulama dan fuqaha ke seluruh negera. Selanjutnya kerajaan Bani Umayyah telah hilang, timbul pula kerajaan bani Abasiyah, disamping itu timbul pula pertelingkahan di antara orang-orang Alawiyyin dengan orang-orang Abasiyyin. Dan pertelingkahan di antara Syiah dan Khawarij. Turut berlaku pada masa itu penyambungan di antara pemikiran orang Arab dan Yunani (Grik Tua), iaitu sebagai natijah dari terjemahan dan pemindahan ilmu pengetahuan. Di masa itu juga mula disusun sunnah-sunnah nabi, fatwa-fatwa dan pendapat ulama. Dan ilmu fiqh di waktu itu telah masyhur ke seluruh pelusuk negeri dan ramailah orang yang mengikutnya dan beramal dengannya, sebagai natijahnya terdirilah beberapa golongan atau pengikut fuqaha. Di zaman inilah nama imam-imam empat serangkai telah muncul dan temasyhur. Mereka adalah diumpamakan bulan purnama yang dikelilingi oleh bintang-bintang yang berselerak di sekelilingnya. Al-Ijma dan Al-Qiyas. Al-Quran dan Al-Hadith adalah sumber asasi bagi ilmu fiqh Islam, yang mana pada permulaannya ialah di zaman Rasulullah S.A.W. , sumber-sumber ini bertambah mengikut peredaran masa dan bidang luas ilmu fiqh. Selain daripada Al-Quran dan Al-Hadith ialah pendapat Rasulullah S.A.W. yang sama dinamakan ijma. Maksud dengan ijma ialah persetujuan atau permuafakatan ulama di atas satu perkara atau hukum yang tidak ada nas dari Al-Quran dan Al-Hadith pada satu-satu masa. Di sana terdapat juga "Al-Qiyas" kerana bahawasanya hukum syara pada gholibnya mempunyai beberapa ilah atau sebab-sebab yang boleh diketahui, apabila terdapat hukum yang dinaskan, maka bolehlah dipindahkan hukum itu kepada perkara yang tidak ada nas jika terdapat sama ilahnya. Seperti wajib zakat pada padi adalah diqiyaskan daripada gandum, kerana terdapat sama pada ilatnya, iaitu mengeyangkan dan tahan disimpan. Maka dapat dibuat kesimpulan, bahawasanya Al-Quran, Al-Hadith, Al-Ijma dan Al-Qiyas merupakan sumber-sumber hukum yang terus hidup subur dan menjadi perbendaharaan yang besar yang membuka luas pintu-pintu bidang ilmu fiqh Islam, ia menambah perbendaharaan, kekuatan dalam hukum-hukum Islam. Mazhab-Mazhab Yang Muktabar Dalam Islam. Sebenarnya mazhab-mazhab dalam Islam adalah banyak, kerana ulama-ulama yang bekemampuan terdiri daripada sahabat-sahabat Nabi, para tabiin dan tabi Al-Tabiin yang mempunyai cukup syarat-syarat dan keperluan berijtihad adalah ramai, tetapi mengikut pendapat ulama, bahawasanya mazhab yang muktabar yang boleh dibuat pendapat dan beramal untuk umum cuma empat mazhab sahaja, mengikut qaul yang rajih. Iaitu : Mazhab Syafie, Maliki, Hanafi dan Hanbali kerana keempat-empat mazhab ini ada mempunyai peraturan-peraturan, kaedah-kaedah dan panduan-panduan yang sempurna lagi lengkap yang ditulis oleh mereka dalam kitab-kitab mereka. Yang mana menjadi bahan-bahan yang tak ternilai dalam perbendaharaan undan-undang Islam. Adapun mazhab-mazhab yang lain, maka tidak ada mempunyai kaedah-kaedah yang cukup yang dibukukan untuk dijadikan panduan dalam bidang perundangan sebagaimana yang empat tadi. Ada juga mazhab-mazhab yang lain lagi selain daripada mazhab yang empat, tetapi tidaklah begitu terkenal dan lengkap dan tidak mempunyai kaedah-kaedah usul-usul yang dibukukan. Mazhab Hanafi Adalah diasaskan oleh Nu`man Bin Tsabit. Lahir pada tahun 80 Hijrah. Beliau adalah seorang berjiwa besar dan berakhlak tinggi. Juga beliau seorang yang bijak dalam ilmu pengetahuan. Cekap memberikan satu-satu keputusan bagi masalah-masalah atau problem yang dihadapi. Oleh kerana beliau seorang yang berpengetahuan, bijak dan berakhlak mulia, maka beliau dapat membuat perhubungan yang rapat

15/11/107:15

sn

203 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

dengan pembesar negara. Ia mendapat tempat yang baik dalam masyarakat dan berjaya menyandang jawatan yang tinggi dalam pemerintahan. Iman Abu Hanifah terkenal sebagai seorang alim dalam ilmu fiqh di negeri Iraq. Dan beliau juga sebagai ketua ahli fikir (ahli ra`u). Golongan cerdik pandai pada masa itu menyifatkan beliau sebagai "akal dalam ilmu pengetahuan". Semasa hidupnya, beliau dapat menuruti bermacam-macam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan, baik di bidang ilmu dan politik mahupun ilmu agama. Zaman beliau memang dikenali sebagai zaman pertumbuhan politik, agama dan ideologi-ideologi dan ism-ism yang bermacam-macam. Beliau dapat hidup dalam dua zaman pemerintahan Umaiyah dan juga di zaman pemerintahan `Abasiyah. Sesungguhnya Abu Hanifah seorang yang luas pemikiran dan banyak ilmu. Tetapi beliau sangat merendah diri. Beliau tidak terpedaya dengan fikirannya sendiri. Dan beliau pernah berkata "Bahawasanya pendapat kami adalah salah satu dari pendapat dan jika didapati pendapat yang lebih baik dan tepat maka pendapat itu lebih benar dan utama". Abu Hanifah seorang yang berperibadi tinggi dalam majlis perbahasan. Beliau tidak sekali-kali menghina mereka yang berbahas dengan mereka. Mereka tidak pernah mengkafirkan sesiapa yang berbahas dengannya, kerana beliau berpendapat : "Sesiapa yang mengkafirkan seseorang maka ia terlebih dahulu kafir dari orang itu." Mazhab Maliki Pengasas mazhab Maliki ialah Malik Bin Anas, lahirnya di kota Madinah dalam tahun 93 hijrah. Beliau dilahirkan 13 tahun selepas lahirnya Iman Abu Hanifah. Semasa hidupnya, Iman Malik dapat menurut dua corak pemerintahan : Umaiyah dan Abasiyah, di mana perlingkahan sengit dua pemerintahan sering terjadi. Di masa itu juga pengaruh ilmu pengetahuan Arab, Parsi dan Hindi tumbuh dengan suburnya dikalangan masyarakat di waktu itu. Iman Malik menghafaz Al-Quran dan hadith-hadith Rasulullah S.A.W. Ingatannya sangat kuat dan menjadi adat kepadanya. Manakala beliau mendengar hadith-hadith daripada guru-guru, terus disimpulkan tali bagi menyenangkan perhitungan bilangan hadith-hadtih yang sudah beliau pelajari. Pada permulaan hidup Imam Malik bercita-cita menjadi biduan tetapi ibunya menasihatkan supaya beliau meninggalkan cita-cita itu, dan meminta beliau supaya mempelajari ilmu fiqh, beliau menerima nasihat ibunya dengan baik. Iman Malik adalah seorang guru yang miskin, pernah satu hari kayu bumbungnya rumahnya telah roboh, terus beliau menjual kayu itu untuk mendapat sedikit wang untuk perbelanjaan hidupnya, tetapi pada akhirnya beliau dimurahkan Allah akan rezekinya sehingga beliau menjadi seorang kaya. Setelah baliau menjadi seorang kaya, beliau memakai pakaian yang mahal dan memakai bau-bauan yang baik. Imam Malik adalah seorang yang aktif dalam menuntut ilmu. Beliau banyak membuat perhubungan dengan ahliahli hadith dan ulama. Imam Malik dianggap sebagai ketua atau imam bagi ilmu hadith. Sanad-sanad (sandararan-sandaran) yang dibawa oleh beliau termasuk salah satu sanad-sanad yang terbaik dan benar. Beliau seorang yang dipercayai, adil dan kuat ingatannya, cermat dan halus memilih rawi-rawi hadith. Pendek kata Imam Malik adalah orang yang tidak diragui dalam konteks ini. Imam Malik tetap berpegang teguh S.A.W. dalam menganggap hadith-hadith itu petunjuk, penyuluh kepada manusia. Tidak harus seseorang meninggalkan dan membelakangkannya. Sebelum Imam Malik menjadi guru, beliau lebih dahulu mendalami dalam bidang pelajaran sehingga kadang-kala beliau tidak tidur. Setelah fikiran beliau matang dan benar-benar berkebolehan barulah beliau mengajar. Hukum-hukum fiqh yang diberikan oleh Imam Malik adalah berdasarkan Al-Quran dan hadith. Imam Malik menjadikan hadith sebagai pembantu bagi memahami Al-Quran, Imam Malik sangat cermat dalam memberi penerangan dan hukum-hukum. Beliau berfikir panjang sebelum memberi satu-satu hukum atau fatwa. Beliau pernah berkata : "Kadang-kala aku berjaga satu malam suntuk untuk mencari jawapan bagi satu-satu soalan yang dikemukakan kepada aku". Apabila beliau ditanya satu-satu hukum, beliau terus berkata kepada penanya "Pulanglah dahulu supaya aku dapat berfikir". Ramai manusia merendah-

15/11/107:15

sn

204 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

rendahkan Imam Malik dengan sebab beliau melewatkan menjawab sebarang pertanyaan. Imam Malik menangis dan berkata "Aku bimbang kerana aku akan disoal satu hari nanti dalam ( hari kiamat)". Mazhab Syafie Mazhab Syafie adalah diasaskan oleh Muhamad bin Idris Al-Syafie. Beliau dilahirkan pada tahun 105 hijrah, sebuah bandar yang bernama Ghizah di Palestin . Beliau seorang miskin, tetapi kaya dengan semangat dan bercita-cita tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau banyak mengembara dalam menceduk dan menimba ilmu. Imam Syafie dianggap seorang yang dapat memadukan antara hadith dan fikiran dan membentuk undang-undang fiqh. Pada permulaannya beliau cenderung dalam bidang sastera dan syairsyair, tetapi beliau mengubah pendiriannya kepada mempelajari ilmu fiqh dan hadith hingga sampailah beliau ke kemuncak yang paling tinggi dalam bidang tersebut. Imam Syafie ialah imam yang ketiga mengikut susunan tarikh kelahiran. Beliau adalah penyokong kepada ilmu hadith dan pembaharu agama (mujaddid) bagi abad yang ke-2 hijrah. Imam Ahmad Bin Hanbal pernah berkata : diceritakan kepada nabi muhamad S.A.W. bahawa Allah menghantar kepada umat ini seorang pembaharu kepada agama, Umar Bin Abdul Aziz dihantar untuk abad yang pertama dan aku harap Imam Syafie merupakan mujadid abad yang kedua. Nama asalnya ialah Muhamad Bin Idris, lahir di bandar ghizah di Palestin pada tahun 105 hijrah, inilah tarikh paling masyur dikalangan ahli sejarah. Beliau adalah keturunan Bani Hashim dan Abdul Mutalib. Keturunannya bertemu dengan keturunan Rasulullah S.A.W. pada datuk Rasulullah iaitu Abdul Manaf. Semasa muda Imam Syafie, hidup dalam kemiskinan, hingga beliau terpaksa mengumpul batu-batu, belulang, pelepah tamar dan tulang-tulang untuk ditulis di atasnya, terkadang-kadang beliau terpaksa pergi ke tempat-tempat perhimpunan orang ramai meminta kertas untuk menulis pelajarannya. Imam Syafie menghafaz Al-Quran dengan mudah, iaitu semasa beliau masih kecil lagi, beliau menghafaz dan menulis hadith-hadith. Beliau sangat tekun mempelajari kaedah-kaedah dan nahu bahasa Arab. Untuk tujuan itu beliau pernah mengembara ke kampung dan tinggal bersama dengan puak Hazyal selama 10 tahun. Kerana puak ( kabilah ) Hazyl terkenal suatu kabilah yang paling baik bahasa Arabnya. Imam Syafie banyak menghafaz syair-syair dan qasidah dari puak Hazyl, begitu juga beliau banyak menumpukan masa dan tenaganya kepada sastera dan sejarah pada masa mudanya, tetapi Allah menghendaki dan melorongkan kepadanya dalam bidang ilmu fikah. Di antara sebabnya, pada suatu hari Imam Syafie bersyair sambil menunggang kuda bersama-sama beliau seorang lelaki. Lalu berkata lelaki itu, tidak sesuai engkau bersyair kerana itu boleh menjatuhkan maruah. Alangkah baiknya belajar ilmu fiqh? Kata-kata itu sangat memberi kesan kepada Imam Syafie. Dari sejak itu beliau menumpukan masa dan tenaga kepada ilmu fiqh. Salah seorang guru Imam Syafie dalam pelajaran ilmu fiqh dan hadith ialah Imam Malik. Ilmu fiqh yang dibawa oleh Imam Syafie adalah merupakan satu zaman perkembangan ilmu fiqh dalam sejarah perundangan Islam kerana beliaulah yang menghimpunkan atau menyatukan ilmu fiqh ahli-ahli akal dan fikir dengan ilmu fiqh ahli-ahli akal dan hadith. Ilmu fiqh Imam Syafie juga merupakan ikatan sunnah dan qias, dan pemikiran dengan beberapa pertimbangan dan sekatan sebagaimana ia juga ilmu fiqh yang menetapkan cara-cara atau peraturan untuk memahami Al-Quran dan Al-Hadith. Juga ia menetapkan kaedah-kaedah pengeluaran hukum dan kesimpulannya. Lantaran itulah beliau berhak dianggap penaja bagi ilmu usul fiqh. Mazhab Hanbali Nama bagi pengasas Imam Hanbali ialah Ahmad Bin Mohamad Bin Hanbal. Lahir di bandar Baghdad pada tahun 164 hijrah. Ibnu Hanbal adalah dari keluarga miskin, kerana bapanya tidak meninggalkan di waktu matinya melainkan sebuah rumah yang kecil yang didiaminya. Untuk menampung kehidupannya, belaiu terpaksa bekerja di kedai jahit untuk mengambil upah. Ibnu Hanbal menuntut ilmu sepanjang hayatnya. Beliau tetap mempelajari hadith sehingga beliau menjadi seorang imam, orang pernah berkata kepadanya: "Sampai bilakah engkau nak menuntut ilmu? Padahal engkau sudah mencapai darjat paling tinggi dan engkau telah menjadi imam bagi seluruh umat Islam?" Imam Ibnu Hanbal menjawab: "Aku menuntut ilmu dari hujung dunia hinggalah ke pintu kubur."

15/11/107:15

sn

205 of 207

Kisah Sahabat

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

Memang benar beliau tidak pernah jemu menuntut ilmu sepanjang hayatnya. Imam Syafie adalah salah seorang dari guru Ahmad Bin Hanbal. Ibnu Hanbal bertemu Imam Syafie semasa di Hijaz, sewaktu beliau menunaikan fardu haji, Imam Syafie mengajar di Masjidil Haram. Ibnu Hanbal mempelajari daripadanya, kemudian mereka bertemu pula pada kali kedua di Baghdad, Imam Syafie menasihatinya supaya beliau mengikutnya ke Mesir. Imam Ibnu Hanbal bercadang mengikutinya tetapi niatnya tak sampai.

15/11/107:15

sn

206 of 207

Kisah Sahabat
AL Asmaul Husna

dan

Disusun menurut abdjad

Tokoh Muslim

1. Allah 2. Ar-Rahman - Maha Pemurah 3. Ar-Rahim - Maha Penyayang 4. Al-Malik - Maha Merajai/Pemerintah 5. Al-Quddus - Maha Suci 6. As-Salam - Maha Penyelamat 7. Al-Mu'min - Maha Pengaman 8. Al-Muhaymin - Maha Pelindung/Penjaga 9. Al-‘Aziz - Maha Mulia/Perkasa 10. Al-Jabbar - Maha Pemaksa 11. Al-Mutakabbir - Maha Besar 12. Al-Khaliq - Maha Pencipta 13. Al-Bari' - Maha Perancang 14. Al-Musawwir - Maha Menjadikan Rupa Bentuk 15. Al-Ghaffar - Maha Pengampun 16. Al-Qahhar - Maha Menundukkan 17. Al-Wahhab - Maha Pemberi 18. Ar-Razzaq - Maha Pemberi Rezeki 19. Al-Fattah - Maha Pembuka 20. Al-‘Alim - Maha Mengetahui 21. Al-Qabid - Maha Penyempit Hidup 22. Al-Basit - Maha Pelapang Hidup 23. Al-Khafid - Maha Penghina 24. Ar-Rafi’ - Maha Tinggi 25. Al-Mu’iz - Maha Pemberi Kemuliaan/Kemenangan 26. Al-Muthil - Maha Merendahkan 27. As-Sami’ - Maha Mendengar 28. Al-Basir - Maha Melihat 29. Al-Hakam - Maha Menghukum 30. Al-‘Adl - Maha Adil 31. Al-Latif - Maha Halusi 32. Al-Khabir - Maha Waspada 33. Al-Halim - Maha Penyantun 34. Al-‘Azim - Maha Agong 35. Al-Ghafur - Maha Pengampun 36. Ash-Shakur - Maha Pengampun 37. Al-‘Aliyy - Maha Tinggi Martabat-Nya 38. Al-Kabir - Maha Besar 39. Al-Hafiz - Maha Pelindung 40. Al-Muqit - Maha Pemberi Keperluan 41. Al-Hasib - Maha Mencukupi 42. Aj-Jalil - Maha Luhur 43. Al-Karim - Maha Mulia 44. Ar-Raqib - Maha Pengawas 45. Al-Mujib - Maha Mengabulkan 46. Al-Wasi’ - Maha Luas Pemberian-Nya 47. Al-Hakim - Maha Bijaksana 48. Al-Wadud - Maha Pencinta 49. Al-Majid - Maha Mulia 50. Al-Ba’ith - Maha Membangkitkan 51. Ash-Shahid - Maha Menyaksikan 52. Al-Haqq - Maha Benar 53. Al-Wakil - Maha Berserah 54. Al-Qawiyy - Maha Memiliki Kekuatan

55. Al-Matin - Maha Sempurna Kekuatan-Nya 56. Al-Waliyy - Maha Melinuingi 57. Al-Hamid - Maha Terpuji 58. Al-Muhsi - Maha Menghitung 59. Al-Mubdi' - Maha Memulai/Pemula 60. Al-Mu’id - Maha Mengembalikan 61. Al-Muhyi - Maha Menghidupkan 62. Al-Mumit - Maha Mematikan 63. Al-Hayy - Maha Hidup 64. Al-Qayyum - Maha Berdiri Dengan Sendiri-Nya 65. Al-Wajid - Maha Menemukan 66. Al-Majid - Maha Mulia 67. Al-Wahid - Maha Esa 68. As-Samad - Maha Diminta 69. Al-Qadir - Maha Kuasa 70. Al-Muqtadir - Maha Menentukan 71. Al-Muqaddim - Maha Mendahulukan 72. Al-Mu'akhkhir - Maha Melambat-lambatkan 73. Al-'Awwal - Maha Pemulaan 74. Al-'Akhir - Maha Penghabisan 75. Az-Zahir - Maha Menyatakan 76. Al-Batin - Maha Tersembunyi 77. Al-Wali - Maha Menguasai Urusan 78. Al-Muta’ali - Maha Suci/Tinggi 79. Al-Barr - Maha Bagus (Sumber Segala Kelebihan) 80. At-Tawwab - Maha Penerima Taubat 81. Al-Muntaqim - Maha Penyiksa 82. Al-‘Afuww - Maha Pemaaf 83. Ar-Ra'uf - Maha Mengasihi 84. Malik Al-Mulk - Maha Pemilik Kekuasaan 85. Thul-Jalali wal-Ikram - Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan 86. Al-Muqsit - Maha Mengadili 87. Aj-Jami’ - Maha Mengumpulkan 88. Al-Ghaniyy - Maha Kaya Raya 89. Al-Mughni - Maha Penberi Kekayaan 90. Al-Mani’ - Maha Membela/Menolak 91. Ad-Darr - Maha Pembuat Bahaya 92. An-Nafi’ - Maha Pemberi Manfaat 93. An-Nur - Maha Pemberi Cahaya 94. Al-Hadi - Maha Pemberi Petunjuk 95. Al-Badi’ - Maha Indah/Tiada Bandingan 96. Al-Baqi - Maha Kekal 97. Al-Warith - Maha Membahagi/Mewarisi 98. Ar-Rashid - Maha Pandai/Bijaksana 99. As-Sabur - Maha Penyabar

15/11/107:15

sn

207 of 207

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->