Sekularisasi Gereja Suatu Tinjuan Peran Gereja di dalam Pelayanan Holistik dan Implikasinya kepada Pola Penggembalaan di STT

/Seminari. Pendahuluan “Siapakah yang akan ibu pilih nanti waktu nyoblos?” “Wah, gak tahu nih. Bingung mau milih siapa?” Percakapan singkat ini adalah percakapan yang terjadi pada saat persiapan PEMILU beberapa waktu yang lalu. Orang tidak tahu harus memilih siapa, berdasarkan apa, dan untuk tujuan apa. Bahkan sempat beredar rumor kemenangan SBY (Bp. Susilo Bambang Yudhoyono) itu dikarenakan ke-ganteng-annya. Tentu saja banyak suara yang masuk itu dari pihak wanita. Namun tidak dapat disangkali, wawasan orang Indonesia di dalam dunia politik masih sangat minim. Hal ini juga terjadi di kalangan orang-orang percaya. Tidak sedikit orang-orang Kristen yang buta politik. Bahkan bukan hanya buta politik, tetapi juga buta sosial, hukum, lingkungan hidup, dan aspek-aspek lain. Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah kurangnya peran gereja di dalam membentuk wawasan anggota-anggota jemaatnya secara holistik. Gereja-gereja, terutama yang beraliran Injili, lebih banyak terjun di dalam dunia yang rohani dan kurang memperhatikan bidang-bidang yang sekular.1 Pada akhirnya hal ini menimbulkan suatu dikotomi di dalam pemikiran orangorang percaya.2 Maka tidak heran jika kita banyak menemui jemaat-jemaat hidup secara baik, giat melayani, ramah di dalam gereja, sedangkan kehidupan di luar gereja sangat rusak. Ia melakukan praktek-praktek korupsi, nepotisme dan lain-lain. Dampak lebih global, pemikiran dikotomi ini akan merusak peran dan tanggung jawab gereja dan orang-orang percaya di dalam dunia ini.3 Di dalam Kejadian 1:28, Tuhan memberikan perintah bagi manusia untuk bertambah banyak dan memenuhi serta menguasai bumi. Hal ini seringkali dikenal sebagai mandat kultural
Yang dimaksudkan bidang “rohani” adalah bidang-bidang yang berkaitan dengan Tuhan dan hal-hal keagamaan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan bidang-bidang “secular” adalah bidang-bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan hal-hal keagamaan dan segala macam ritualnya. 2 Pemikiran dikotomi ini menyebabkan orang-orang percaya bahkan juga yang belum percaya merasa bahwa teologi Kristen adalah teologi bayangan. Teologi Kristen tidak mampu diterapkan di dalam praktik kehidupan langsung. Teologi Kristen hanya berupa teori tentang Tuhan saja. Berbeda dengan agama lain, seperti Islam. Islam mengakui bahwa perbuatan-perbuatan sosial adalah suatu perwujudan dari iman mereka. Hal ini umumnya kita kenal dengan salogan “kebersihan adalah sebagian dari iman” dan banyak lagi yang lain. 3 Yang dimaksudkan dengan gereja adalah kumpulan orang-orang yang sudah menerima karya keselamatan di dalam Yesus Krsitus. Sedangkan yang dimaksud dengan orang percaya, adalah pribadi-pribadi yang menerima karya keselamatan.
1

1

untuk kembali bangkit dan melihat akan panggilan zaman ini. Chicago: Moody. Ironisnya adalah Tuhan yang memberikan mandat kultural itu adalah Tuhan yang membentuk gereja. Warna-warna dari agama dan kepercayaan lain justru mendominasi. 7:38. Gereja yang kurang atau belum mampu mengaplikasikan pengetahuan teologianya ke dalam kehidupan nyata. Dietrich Bonhoeffer. tetap konsep dasar tentang gereja sudah ada di dalam PL. 5 Kata lxq yang diterjemahkan sebagai ekklesia ada pada Kis. Waltke. Hal ini mengakibatkan tidak adanya warna iman Kristen di dalam pemenuhan mandat budaya itu. kata Bdk. Tuhan yang memberi perintah itu adalah Tuhan yang disembah dan diakui oleh orang-orang percaya.4 Kemudian di dalam PB5. yang memiliki arti an assembly for religious purposes. Secara khusus. kata yang digunakan untuk menggambarkan gereja adalah kata lxq. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah gereja-gereja yang ada sekarang ini adalah gerejagereja yang sedang timpang. Jika kita tarik lebih lanjut. Definisi Gereja Konsep tentang gereja ini bukan dimulai di kitab PB.. Perintah Tuhan ini merupakan perintah yang diberikan kepada Adam sebagai representatif seluruh umat manusia. Laird Harris. Pandangan yang diangkat berdasarkan sejarah gereja dan dunia di masa modern yang mempengaruhi banyak teolog-teolog modern. Theological Wordbook of the Old Testament (one volume. Di dalam PL. gereja-gereja kurang memperhatikan akan panggilan Tuhan ini. yang ditulis di dalam konteks Keluaran 20:18-21. Tidak peduli itu orang percaya (termasuk gereja) ataupun itu orang yang belum percaya. R.atau mandat budaya. 1980) 1991. secara khusus ditujukan untuk hamba-hamba Tuhan. Melihat semua fenomena-fenomena ini. maka penulis ingin menyajikan suatu pandangan yang ingin mengembalikan peranan gereja di dalam dunia sekular saat ini. Gleason L. Harapan dari penulis adalah bahwa makalah ini dapat membantu pemimpin-pemimpin gereja. 4 2 . Terlalu berfokus kepada satu peran dan mengabaikan peran lainnya. Semua orang mempunyai tanggung jawab yang sama di dalam menjalankan mandat Tuhan ini. Hal ini juga berarti bahwa tugas dan madat kultural ini diberikan juga kepada gereja. Bruce K. Namun sayangnya. yaitu untuk mewarnai dunia sekular ini dengan pemahaman iman Kristen berdasarkan firman Tuhan. yang lebih umum dikenal dengan sekularisasi. maka perintah atau mandat kultural ini juga diberikan kepada semua orang yang ada di dalam dunia ini. Archer. Jr. yang melihat pentingnya peranan gereja di dalam hal sekular.

Walter A. Bdk. gereja. Christian Theology (Oxford: Blackwell.” Veritas 1 (2000) 39. 1996) 346. Bdk. Systematic.477. city state. Gereja berdiri didasarkan kepada karya penebusan Kristus di atas kayu salib. Dengan kata lain. Elwell (ed. Namun berbeda dengan gereja. Tugas ini dilukiskan di dalam suatu pertemuan yang biasa untuk dilakukan (popular assembly). Dan gereja adalah perwakilan dari kehadiran kerajaan Sorga di bumi. “Indonesia” 42. All God’s People (Illinois: A Bridge Point. maka dapat terlihat satu pemahamn teologia Paulus mengenai konsep orang Kristen. gereja dipanggil keluar untuk beribadah kepada Allah dan bersekutu di dalam anggota ‘polis’. 11 Bdk. yaitu worship11 dan fellowship12. 2001). Prayogi menggunakan istilah ibadah. 2000) 170. 9 Dan pengertian ini sekaligus menyatakan adanya perbedaan antara gereja dengan dunia. Dan orang-orang percaya ini bersekutu membentuk satu unit yang lebih besar. Bdk. karena Allah yang memanggil adalah suci (I Ptr. 2001) 247. 9 The Church is a spiritual society. Orang percaya adalah bagian dari satu tubuh Kristus yaitu gereja. Jika I Korintus 12:12-31 dan Efesus 2:10 itu digabung. Theology.). 170. Church. Verlyn D. Bdk. 1991. Verbrugge (ed. yaitu gereja. Paul: An Outline of His Thought (Grand Rapids: Eerdmans. New International Dictionary of New Testament Theology (abridged edition. Herman Ridderbos. 12 Yang dimaksudkan di dalam bagian ini adalah unsur persekutuan bagian-bagian di dalam tubuh Kristus.8 Di dalam konteks PB. “Mencari Esensi dan Misi Gereja dalam Konteks Indonesia Awal Abad 21. 8 Tentu saja panggilan untuk keluar ini dilihat dari sejarah bangsa Isreal yang dibebaskan dari penjajahan Mesir. Prayogi. Waltke. denotes the popular assembly of the competent citizens of a ‘polis’.ini diterjemahkan sebagai ekklesia yang memiliki arti to call out. Foundation of Christian Faith (Downers Grove: InterVarsity. Clowney. Bdk. Evangelical Dictionary of Theology (Grand Rapids: Baker. Testament. 16. Inilah yang disebutkan sebagai competente citizen. Alister McGrath. di mana panggilan mereka sebagai orang-orang pilihan juga telah ditetapkan satu tugas khusus yang nantinya akan juga terkait dengan misi kerajaan Sorga. Yang pertama. 858. Pandangan ini diperkuat dengan pengertian ekklesia yang hanya ditujukkan bagi competent citizens. Verbrugge.6 Dari pengertian ini dapat diperoleh dua pengertian dasar tentang gereja. 1996) 331. dunia yang penuh dengan dosa dan melawan Allah. dan gereja ambil bagian di dalam pemenuhan dari misi kerajaan sorga. Smith. gereja adalah sebuah kumpulan orang. Seluruh orang percaya adalah bagian-bagian di dalam tubuh Kristus. 1:16). Bdk. Grand Rapids: Zondervan. Orang-orang percaya. Bdk. pertemuan-pertemuan ibadah gereja harus mencakup dua hal ini. Kerajaan Sorga memiliki misi kekal. Winfrid Prayogi. Bdk. Maka natur gereja itu suci. Bdk. Grudem. 10 Dalam Alkitab.). dan Kerajaan Sorga. maka gereja dapat didefinisikan sebagai berikut : 6 Bdk.7 Yang menjadi prasyarat untuk menjadi anggota dari kumpulan itu adalah panggilan untuk keluar dan beribadah kepada Tuhan. which replaces Israel as the people of God in the world. 3 . panggilan keluar itu dimengerti sebagai suatu panggilan untuk kembali kepada Tuhan melalui penebusan Kristus Yesus yang membebaskan mereka yang percaya dari dosa. 7 Pengertian ini diperoleh dari kata lxq yang lebih menggambarkan sebuah kumpulan daripada totalitas orang Israel. James Montgomery Boice. Bdk. I Korintus 12:12-31. Dari dua hal ini. tetapi tetap dapat digunakan juga di dalam konteks teologia. dunia ini digambarkan sebagai dunia yang jahat dan kotor. 1986) 568. Walaupun pengertian ini ditulis di dalam konteks politik. David L. 10 Yang kedua. Bdk.

antara lain pujian. Prayogi. 16 Bdk. yang mengalami penderitaan.“Gereja adalah komunitas orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus dari dunia ini. 341. yaitu melayani Tuhan.15 Intinya kedua pelayanan ini ditujukan kepada anggota gereja. Bdk. Smith. Sedangkan pelayanan koinonia adalah pelayanan yang dilakukan di dalam suatu persekutuan di antara saudara-saudara seiman.. melayani gereja (anggota gereja yang lain) dan melayani dunia ini. untuk dapat melayani satu dengan yang lain.” Tugas atau Peran Gereja Secara umum. Bdk. Bapa!” Ibid. Bdk.14 Gereja dipanggil untuk melayani Tuhan. untuk beribadah dan menyembah Dia. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. “Indonesia” 42. 15 Bdk. doa. 342-346. dan persembahan. Prayogi menggunakan istilah pembinaan. 14 13 4 . Prayogi. 209 Bdk. 346. Pelayanan diakonia bersifat pelayanan bagi orang-orang. Pelayanan ini disebut juga leitourgia. Prayogi.. Smith.’ bagi kemuliaan Allah. “Indonesia” 42-43. Prayogi menggunakan istilah ibadah. “Indonesia” 42-43. dijadikan satu di dalam ikatan tubuh Kristus di dalam kedaulatan Allah untuk hidup bagi Allah. Melayani gereja (Ministry to Church) Pelayanan ini meliputi dua pelayanan yaitu pelayanan “diakonia” (service) dan pelayanan “koinonia” (fellowship). People. Paryogi membagi pelayanan ini menjadi dua bidang yaitu pelayanan pengabaran injil dan pelayanan social kemasyarakatan. People. dan segala lidah mengaku “‘Yesus Kristus adalah Tuhan. People.. Melayani dunia (Ministry to the World) Pelayanan kepada dunia ini memiliki satu tujuan utama yaitu untuk menyaksikan kepada dunia ini akan cinta kasih dan kasih karunia Tuhan kepada dunia supaya dunia kembali kepadaNya. Smith.16 Tugas pelayanan ini didasarkan kepada Filipi 2:10-11 yang mengatakan ‘.13 Melayani Tuhan (Ministry to God) Yang disebut ministry to God adalah pelayanan yang dilakukan oleh gereja untuk menyembah dan memuliakan Tuhan. gereja itu dipanggil untuk melakukan tiga tugas utamanya. Pelayanan ini terdiri dari beberapa bagian. yang merupakan anggota jemaat.

Georg Huntemann. dan tidak adanya kebebasan untuk beragama (karena wajib mengikuti doktrin dari Nazi).18 Latar Belakang Sekularisasi Gereja Di dalam sejarah. Dietrich Bonhoeffer (Michigan: Baker. 19 Di dalam tekanan Nazi. Gereja bukan hanya untuk menyembah Tuhan saja (aspek rohani). 18 Grudem. 1957) 247. begitu banyak penderitaan. Pada masa itu. Dietrich Bonhoeffer adalah seorang pendeta dan teolog yang hidup di Jerman pada masa pemerintahan Nazi.19 Melihat semua kondisi yang tidak wajar itu Bonhoeffer berusaha untuk menyuarakan kembali peran dan tanggung jawab yang ada pada gereja. Sehingga gereja harus dapat melakukan semua tugas dan perannya ini dengan seimbang. maka hanya gereja yang dapat memainkan peranan untuk memperkenalkan Yesus di dalam segala aspek kehidupan manusia. namun gereja yang sesungguhnya adalah hadir untuk sesama. ketidak-adilan. dan menentang ketidak adilan. The Cost of Discipleship (New York: Macmilan. Pengertian Tuhan di dalam bagian ini adalah tuan (kurios). Tuan di dalam segala bidang aspek kehidupan manusia. Gereja yang seharusnya juga memiliki peran sebagai nabi Tuhan untuk menyuarakan suara Tuhan tidak mengumandangkan suaranya. dan Ia-lah sentral dari segala sesuatu. Ketiga tugas dan peran gereja ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. “Let the Christian remain in the world to engage in frontal assault on it. Ini merupakan panggilan misi gereja di dalam secular calling.Penekanan utamanya ada pada kata segala lidah mengaku “Yesus Kristus adalah Tuhan”. Namun melihat semuanya itu gereja hanya diam saja dan tidak berkutik. sehingga untuk bidang-bidang yang lain gereja tidak mau ikut campur. Gereja cenderung hanya mendekam di dalam tempurung aspek kerohanian dan kehidupan spiritual saja. Systematic. Grudem menekankan sekali bahwa gereja perlu untuk menjalankan ketiga perannya ini dengan seimbang. gereja tidak berani melawan karena gereja tersebut dapat ditutup. Salah satu contohnya adalah kegagalan gereja untuk berperan holistik di dalam zaman Bonhoeffer.17 Gereja hadir untuk menyatakan bahwa tuan dari segala sesuatu yang ada adalah Kristus. 867-868. Sehingga gereja seakan-akan sudah mati dan tidak lagi dapat berpartisipasi untuk mengubah dunia saat itu. Dietrich Bonhoeffer. penganiayaan (secara khusus kepada orang Yahudi). gereja terbukti gagal dalam memainkan ketiga peranan itu secara seimbang dan holistik.20 Gereja juga harus menyuarakan kebenaran dan keadilan. 1989) 304 21 Bdk.21 Hal ini juga berarti bahwa gereja harus memberikan warna di dalam setiap aspek kehidupan dunia ini. Karena hanya gereja yang mengenal siapakah itu Yesus Kristus. 20 Bdk. and let him live the life of his secular calling in 17 5 .

memiliki arti sebuah kumpulan murid Tuhan yang sudah diangkat dari kuasa dunia. Yesus yang dituliskan di dalam Alkitab itu adalah Yesus yang melayani secara luas. Maka gerejapun harus melakukan yang sama dengan yang Tuhan Yesus lakukan. Discipleship. mempercayai bahwa gereja itu adalah tubuh Kristus itu sendiri yang nyata di dalam dunia sekarang. dijadikan satu di dalam tubuh Kristus.25 Di dalam keempat Injil. Yesus mengajar orang tentang firman Allah. di dalam benak Bonhoeffer. Gereja harus memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia. order to show himself as a stranger in this world all the more. Bonhoeffer yang dipengaruhi dan menganut Lutheran. 25 Christus pro me.23 Dan murid itu berkumpul menjadi satu kesatuan tubuh Kristus. Bonhoeffer.24 Dengan konsep gereja yang demikian. Christus pro mundi. Yesus memberi 5000 orang (laki-laki tidak termasuk perempuan) makan setelah mendengarkan kotbah-Nya. Bonhoeffer. Bdk.” Kata yang dicetak miring ditambahkan oleh penulis.Konsep Sekularisasi Gereja Bonhoeffer Gereja. dan disentuh. 6 . 343. Yesus digambarkan sebagai anak Manusia yang melayani bukan hanya di dalam satu aspek saja. Tidak ada bagian yang diabaikan. Yesus memperhatikan keseluruhan aspek manusia di dalam pelayanan yang Ia lakukan. mental. Yesus juga menyembuhkan orang sakit (yang berarti Yesus membantu orang itu untuk hidup secara normal). Gereja harus melayani secara holistik dan menyeluruh. Di dalam bukunya ini Bonhoffer menyebutnya dengan ecclesia Christi. Ecclesia pro nobis. menyatakan diri sebagai jalan keselamatan. namun Yesus juga memperhatikan kebutuhan fisik. holistik dan menyeluruh. Seluruh aspek kehidupan manusia diperhatikan. Yesus juga menangis bersama dengan Maria dan Marta yang kehilangan akan Lazarus saudara mereka. dijangkau. Christus pro nobis. 305. 23 Ibid.22 Dikatakan murid Tuhan karena orang yang ada di dalam kumpulan itu adalah orang yang sudah ditransform menjadi sesuai dengan image Tuhan (being transformed into his image). 24 “Communicatio idiomatum” atau the sharing of identity. Bonhoeffer meyakini bahwa gereja berperan sebagai Yesus. Ecclesia pro mundi. Di dalam bagian itu dituliskan demikian : “We (church) be drawn into his image and identified with his form and become a reflection of him. dan psikologi manusia. Discipleship. Yesus tidak memandang rendah Zakheus yang tertolak oleh lingkungan (karena ia adalah pemungut cukai). Ecclesia pro me.” 22 Bdk. Gereja harus melakukan pekerjaan yang Yesus lakukan di dalam dunia. Lebih jauh lagi.

di mana setiap sekolah wajib mengajarkan pelajaran agama menurut dengan agama yang dianut oleh siswa yang bersangkutan. Stanley J. Semuanya benar bagi diri mereka sendiri. Dan tidak perlu dicari dan dibandingkan manakah kebenaran yang sesungguhnya. 2001) 29 Di lihat sebagai suatu bahaya karena paham posmo tentang kebenaran itu sangat bertentangan dengan paham ke-Kristenan tentang kebenaran. maka tentu saja ada banyak paham dan ajaran yang hadir di Indonesia ini dan mewarnai pola pergerakan dan kehidupan di Indonesia. menentukan pilihan. Setiap individu bebas menentukan pilihan. A Primer on Postmodernism (Surabaya: Momentum. kebebasan individu itu tidak boleh diganggu gugat. Dengan kata lain.27 Pilihan agama akan semakin terbuka lebar dan sangat sulit Bdk. Di dalam iman Kristen. ini memberikan dampak yang besar bagi kehidupan agaman-agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. kebenaran itu tidak mungkin mengandung hal-hal yang berkontradiksi atau bertentangan satu dengan yang lain. ke-Kristenan. kaum muslim telah masuk dengan bebas untuk mememberikan pengaruhnya melalui pemberlakuan Undang-Undang Sisdiknas. Hal ini dikarenakan tiap-tiap agama tidak lagi perlu memusingkan persoalan agama manakah yang benar. Masing-masing agama adalah benar dan kebenarannya tidak boleh digugat. Dengan standart kebenaran yang seperti ini. Contoh lainnya adalah gerakan orang Budha yang mulai mengadakan perkumpulan-perkumpulan untuk tujuan sosial dan kemanusiaan. Bisa jadi kebenaran yang satu berbeda dengan kebenaran yang lain. 27 26 7 . Dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Grenz. Namun. maka pasti ada yang benar dan pasti ada yang salah. Sebagai contoh di dalam dunia pendidikan. dengan kebebasannya yang mutlak. maka setiap agama bebas mengembangkan ajaran mereka dengan seluas-luasnya dan bebas mengekspresikan seluas-luasnya juga. yang sangat menjunjung tinggi relatifisme dan pluralisme26. Karena setiap agama dan kepercayaan bebas menyatakan kebenaran menurut versi mereka.Aplikasi Kondisi Indonesia yang pluralis ini telah menjadi tempat yang subur untuk bertumbuh kembangnya paham post-modern (posmo). secara khusus gereja. Paham posmo ini memperkokoh eksistensi tiap-tiap agama dan kepercayaan. manakah yang mau dianggap benar olehnya. tidak atau kurang melihat hal ini sebagai suatu ancaman yang berbahaya. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah. kebenaran yang diakui adalah kebenaran yang objektif dan universal. Tinggal setiap orang. Jika bertentangan. Paham. Dan sekali lagi. artinya yang disebut sebagai kebenaran adalah sesuatu yang harus benar diatas segala yang lain dan menjadi suatu patokan.

8 . tetapi di dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia. yang melayani bukan melayani Tuhan tetapi melayani gereja. Gereja-gereja tidak bertindak dan tidak bergerak untuk bangkit dan berkarya di tengah-tengah Indoensia ini. Hal ini seharusnya merupakan tantangan tersendiri bagi gereja.28 Indonesia akan semakin sulit untuk dibawa kepada Tuhan (yang benar). Maka itu sangatlah penting untuk menyadarkan pemimpin-pemimpin gereja akan hal ini. demikian juga gereja.untuk melakukan penginjilan. Padahal seharusnya. Cara yang perlu diambil untuk melakukan reformasi saat ini adalah dengan mendidik calon-calon pemimpin-pemimpin gereja untuk memiliki wawasan dunia yang utuh dan menyeluruh (holistik). Banyak hambahamba Tuhan sekarang ini memiliki pandangan dan wawasan dunia yang sempit. orang-orang percaya dan gereja sebagai tubuh Kristus di zaman ini berperan aktif dan berttindak bagi dunia. Bagaimana untuk bisa menjadi garam dan terang di tengah dunia yang banyak model “garam” dan “terang”. Gereja harus peduli akan aspek28 Karena setiap agama harus diakui memiliki kebenaran bagi mereka sendiri. tidaklah fair jika tudingan kesalahan itu hanya ditujukan kepada gereja. Dan hal ini menjadi tugas dan tanggung-jawab sekolah-sekolah teologi dan seminari-seminari. secara khusus hamba-hamba Tuhan yang menjadi panutan. sama seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Namun. Mereka terbiasa hidup di dalam area “rohani” di dalam gereja tanpa mau turut campur dengan kehidupan gereja di dalam lingkungan sekuler. Kesimpulan Gereja dipanggil untuk menjalankan peran dan tanggung jawab. Akibatnya ke-Kristenan menjadi sesuatu yang tidak peka akan kebutuhan dunia. Gereja menutup diri seperti ini sebagai suatu akibat dari ketidak-pekaan dan ketidak-sadaran pemimpinpemimpin gereja. Kegagalan gereja untuk melihat ancaman dan tantangan ini menyebabkan gereja memiliki iman kepercayaan yang pasif. tidak peduli dengan apapun yang terjadi. Seperti Kristu sudah melayani manusia di dalam keseluruhan aspeknya. Ini adalah panggilan yang sesuai dengan natur gereja sebagai tubuh Kristus. dan akhirnya mati. yang bukan hanya di dalam area “rohani”. Bagaimana harus menyampaikan kebenaran di tengah kekacauan konsep tentang kebenaran.

Bonhoeffer. Maka itu. Act and Being. Ini adalah pergerakan reformasi. langkah awal yang perlu diambil adalah membekali mahasiswa-mahasiswa teologi dengan wawasan dunia Kristen yang utuh dan holistik. Bonhoeffer. Dietrich. Maka. Pergerakan yang penting dan mendasar. sekaranglah waktunya untuk berubah. 1957. Pergerakan yang akan membawa pembaharuan. Ini tugas sekolah-sekolah teologi dan seminari-seminari. 9 . seluas tangan Yesus yang dibuka untuk disalib. Dan untuk hal itu. perlu pemimpin-pemimpin gereja yang memiliki wawasan dunia yang luas dan terbuka. 1996. Pergerakan yang memimpin ke arah yang lebih baik. Illinois: IVP. yang akan dapat menggerakan dan mengarahkan gereja untuk menjalankan fungsi dan panggilannya. Sekaranglah waktunya untuk REFORMASI! Daftar Pustaka Boice. Dietrich. James Montgomery. New York: Macmilan. 1986. Foundation of Christian Faith. Minneapolis: Fortress Press. Gereja harus membuka diri dengan luas.aspek kehidupan manusia yang lain. The Cost of Discipleship. untuk dapat melihat pekerjaan Tuhan di dalam dunia ini secara utuh.

Verbrugge. 2000. Ridderbos. Prayogi. Jr. A Primer on Postmodernism. 1989. 2001. Theological Wordbook of the Old Testament. Gleason L. Grand Rapids: Eerdmans. (ed.” Veritas. 1996.). Georg. Harris. Surabaya: Momentum. Grand Rapids: Zondervan. Archer.Elwell. One volume. Bruce K. 1996. 1980.. Systematic Theology.). Alister. McGrath. Verlyn D. 2001. Michigan: Baker. Abridged edition. R. Laird. Malang: SAAT. 2000. Herman. UK: Blackwell. Paul: An Outline of His Thought. Grudem. (ed. 2001. Downers Grove: IVP. David L. “Mencari Esensi dan Misi Gereja dalam Konteks Indonesia Awal Abad 21. 10 . Smith. 1994. Walter A. Chicago: Moody. Huntemann. Stanley J. Grenz. Dietrich Bonhoeffer. Evangelical Dictionary of Theology. Wayne. Christian Theology. All God’s People. Grand Rapids: Baker. Waltke. Winfrid. Illinois: A Bridge Point. New International Dictionary of New Testament Theology.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful