P. 1
Program Kreativitas Mahasiswa

Program Kreativitas Mahasiswa

|Views: 202|Likes:
Published by Zana Fauzillah

More info:

Published by: Zana Fauzillah on Nov 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2015

pdf

text

original

MAKALAH TUGAS AKHIR

KAJIAN NYAMPUNG (Calophyllum inophyllum L.) SEBAGAI BAHAN BIODIESEL

Diusulkan Oleh : R. Anisa Nurfitria Yulian Nugraha Budi Trisnowati Zana Fauzillah Dadan Jaya N (240110070046) (240110070059) (240110070062) (240110070065) (240110060007)

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSRTI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2009

potensi serta pengolahan nyamplung menjadi biodiesel.1. Kalimantan Tengah. Kepula uan Pasifik. Dengan demikian nyamplung sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi altenatif sumber biodiesel. dan Papua Nugini. Jambi. Salah satu bentuk energi alternatif yang saat ini mulai di kembangkan adalah biofuel yang mem puny ai tingkat ke layakan teknologi cukup tinggi. Afrika Timur.Filipina. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengenalan biodiesel dari nyampung.BAB I PENDAHALUAN 1. Nyamplung termasuk dalam marga Callophylum yang mempunyai sebaran cukup luas di dunia yaitu Madagaskar. Distribusi po hon nyamplung di Indonesia. Selain itu. Sumatera Se latan. Di Indonesia nyamplung tersebar mulai dari bagian Barat sampai Bagian Timur Indonesia. . Asia Selatan dan Tenggara. Thailand. Jawa. Kalimantan Barat. dan Amerika Selatan. pohon tersebut juga ditemui di wilayah Malaysia. Riau. lebih tinggi dari rendemen jarak (35%) dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan. Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah biji mempunyai rendemen yang tinggi (bisa mencapai 74%). mulai Sumatera Barat. telah mendorong pengembangan energi alternatif dengan pemanfaatan sumberdaya energi terbarukan (renewable resources). Salahsatu tanaman hutan yang mempunyai potensi sebagai bahan baku biofuel adalah Nyamplung (Calophyllum inophyllum L. Hindia Barat. Untuk me ndorong peng embangan biofuel. Latar Belakang Krisis energi dunia yang terjadi pada dekade terakhir memberikan dampak yang signifikan pada meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM). pemerintah telah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional diantaranya dengan menetapkan target produksi biofuel pada tahun 2025 sebesar 5 % dari total kebutuhan energi minyak nasional dan penugasan kepada Departemen Kehutanan untuk berperan dalam penyediaan bahan baku biofuel termasuk pemberian ijin pemanfaatan lahan hutan terutama lahan yang tidak produktif. hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua . Lampung. Maluku. Sulawesi.).

Memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang potensi nyamplung sebagai penghasil biodiesel.Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini. diantaranya : 1. Menganalisa sifat fisiko kimia biodiesel nyampung berkaitan dengan Standar Nasional Indonesia . 3.2. Memberikan penjelasan mengenai proses pembuatan bodiesel dari bahan biji nyamlung. 2.1.

bentuk tandan di ketiak daun yang teratas. daun mahkota empat. Bunga majemuk. lonjong. buah dan kulit batang) . beruk uran relatif besar berdiame ter 2.5-2. bunga. tepi rata.5 cm. diameter dapat mencapai 150 cm.kuningan.1. kepala putik berbentuk perisai. daun kelopak empat tidak beraturan. Daun tunggal bersilang-berhadapan bulat memanjang atau bulat telur. bulat seperti peluru dengan mancung kecil didepannya. tangkai 1. pada kulit kayu terdapat saluran getah berwarna kuning. pangkal membulat. Buah muda berwarna hi jau dan yang sudah tua berwarna kekuning. inti biji mengandung minyak berwarna kuning kecoklatan. putih. berkelamin dua.5-5 cm. Pohon bertajuk rimbun menghijau (evergreen trees) dengan akar tunjang. apabila dibiarkan lama buah berwarna seperti kayu. Gambar 1. kulit batang bagian luar berwarna kelabu atau putih. panjang 20-21 cm. Tinggi pohon dapat mencapai 25 m dengan tinggi bebas cabang 4 . Karakteristik Pohon Pada gambar 1 dapat dilihat ciri-ciri tegakan dan seluruh bagian pohon. daging daun seperti kulit/belulang. buah termasuk kategori buah batu. ujung tumpul. diameter antara 2. benangsari banyak . beralur dangkal dan mengelupas besar-besar tipis. daging biji tipis dan biji yang telah kering dapat tahan disimpan selama 1 bulan. Ciri pohon nyamplung (pohon. tangkai putik membengko. pertulangan menyirip. Biji berbentuk bulat tebal dan keras. lebar 6-11 cm.5-4 cm. warna hijau. diameter 2-3 cm.10 m. tujuh sampai tiga belas.BAB II DESKRIPSI UMUM NYAMPUNG 2. Batang berkayu dengan percabangan mendatar dan jarang berbanir.

Kawasan Wisata (KW) Batu Karas. TN Baluran.2. Sampai saat ini potensi alami nyamplung di Indonesia belum diketahui secara pasti. Rincian luasan di masing-masing wilayah tertera pada Tabel 1. Sebaran dan Potensi Alami Nyamplung tersebar di Asia Tenggara. TN Berbak (Pantai Barat Sumatera). Cagar Alam (CA) Pananjung Panga ndaran. Australia Utara. Halmahera dan Ternate (Maluku Utara). Biak. Pantai Carita Banten.000 ha. Sorong. India. diduga tegakan alami nyamplung mencapai total luasan 480. Queensland Utara dan lain-lain.2. Nabire. Di Indonesia dijumpai hampir di seluruh daerah terutama pada daerah pesisir pantai antara lain: Taman Nasional(TN) Alas Purwo . Fak fak (wilayah Papua). Tabel 1. TN Kepulauan Seribu. P. Ma nokwari. Luasan lahan pantai berindikasi tegakan nyamplung di masingmasing wilayah di Indonesia . namun dari hasil penafsiran tutupan lahan dari Citra Satelit Landsat 7 ETM+ seluruh pantai di Indonesia tiap provinsi (2003). Yapen. dan sebagian besar (± 60 %) berada dalam kawasan hutan. Afrika. TN Ujung Kulon. Jayapura.

Setelah 5 bulan bibit mencapai . maka besarnya dugaan produksi biji per ha sebesar 10 ton atau total produksi sebesar 500 ribu ton. Cara generatif Pembibitan secara generatif dilakukan dengan menggunakan benih yang telah masak secara fisiologis dengan beberapa cara. Dari pengalaman pembibitan KPH Kedu Selatan (2008).5 2 bulan dengan persen hidup 97 %. benih mulai berkecambah setelah 1. antara lain: rendam jemur. sedangkan tanpa dilepaskan dari tempurungnya akan berkecambah sete lah 1. Apa bila.3. meretakan tempurung benih atau melepaskan tempurung. Budidaya Nyampung 2.1. Percobaan oleh BPK Ciamis (2008). Peta Sebaran Nyampung di Indonesia 2. benih yang sudah dilepaskan dari tempurungnya akan berkecambah setelah 7 12 hari dengan persen kecambah sekitar 90%.Mengingat budidaya nyamplung masih dalam taraf awal. dari luasan indikatif total hutan alam sebesar 10 % bertegakan nyamplung produktif yaitu seluas 50. Gambar 2. maka diperkirakan seluruh produksi buah/biji selama lima tahun kedepan (2010-2015) hanya bisa diperoleh dalam jumlah besar dari hutan alam.000 ha (Tabel 1) dan produksi minimal perpohon sebesar 50 kg .3. pembibitan dengan benih bertempurung menggunakan campuran media tanah dan kompos (1:1).5 2 bulan dengan persen kecambah sekitar 60-80%.

Cara vegetatif Pembibitan vegetatif dapat dilakukan dengan cara makro (konvensional) dan mikro (kultur jaringan). Sampai saat ini tingkat keberhasilan teknik perbanyakan cara makro dengan stek batang masih rendah (sulit berakar) seperti yang pernah dilakukan di Purworejo. Di KPH Banyumas Barat. namun apa bila tidak segera dipindahkan ke persemaianan akan mati. Perakaran bibit secara generatif cukup panjang sehingga diperlukan polybag minimal dengan ukuran 10 x 15 cm. cabutan yang disemaikan menggunakan media campuran tanah kompos kotoran kelelawar (10:1) dengan persentase tumbuh mencapai 70-80 % (Gambar 3).2. Waktu yang diperlukan untuk perbanyakan secara generatif sekitar 6 bulan dengan tinggi bibit ±30 cm. Gambar 3. namun dengan menggunakan teknik kultur jaringan memungkinkan . Anakan alam yang dapat di gunakan untuk bibit ratarata tinggi antara 20-30 cm dengan media tanam berupa campuran tanah dan kompos (7: 3).2 cm dengan jumlah daun rata-rata 17 helai.3. Bibit hasil perbanyakan generatif dari benih dan cabutan (anakan alam) 2. Perbanyakan secara generatif dapat juga dilakukan denganmenggunakan anakan alam melalui cabutan dan puteran. Persen hidup bibit berkisar antara 60-80%. Persemaian dilakukan di bawah tegakan atau naungan dengan intensitas cahaya sekitar 50%. Ke dua teknik tersebut diatas sudah diterapkan di KPH Kedu Selatan dan KPH Banyuwangi Selatan.tinggi rata-rata 39. Cara ini digunakan karena pada musim penghujan anakan alam di bawah tegakan cukup berlimpah.

(A ) Stek batang (B ) Bibit pada media kultur (C) bibit hasil kultur jaringan Gambar 4. Setelah 8 minggu. namun tahapan yang paling penting adalah tahap aklimatisasi sebelum di tanam di lapang. Pada tahap aklimatisasi. Pada tahapan tersebut diperoleh tingkat keberhasilan 77%. media steril yang digunakan adalah campuran tanah.tanaman nyamplung diperbanyak secara masal dalam waktu yang cepat dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi. Teknik kultur jaringan terdiri dari beberapa tahap. cocopeat dan pasir (1:2:1). kemudian diletakkan dalam rumah kaca pada temperatur 25 ± 2oC dengan kelembaban 80%. bibit dipindahkan ke persemaian terbuka selanjutnya ditanam di lapang dengan pertumbuhan baik dan diperoleh persen hidup 72%. Teknik ini telah dikemba ngk an di India (Gambar 4). Bibit hasil perbanyakan vegetatif .

Penyimpanan Biji Penyimpanan biji Dilakukan pada biji yang telah dikuliti (daging biji dipisahkan dari tempurung) dan telah dikeringkan dan mencapai kadar air 812%.Pengeringan dengan mesin Pengeringan dilakukan sampai biji nyamplung berwarna coklat kemerahan. Karung berisi biji nyamplung di simpan didalam gudang dengan suhu 26-27oC dan kelembapan sekitar 60-70%. Pengeringan biji Pengeringan biji tanpa tempurung bisa dilakukan dengan berbagai cara.Dikeringkan di bawah sinar matahari . maka pada proses pengukusan lebih lama dan pemisahan getah (degumming) dilakukan pada konsentrasi tinggi Tahapan pengolahan biji nyamplung hingga menghasilkan minyak nyamplung: 1. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif yang tinggi.1.Digoreng tanpa minyak (sangrai) . Biji dimasukan kedalam karung goni dan ditutup rapat. kelapa dan jarak pagar.BAB III PENGOLAHAN NYAMPUNG MENJADI BIODIESEL 3. Mesin Pengering Biji . 2. yaitu : . Tahapan Proses Pengolahan Biodiesel Proses pengolahan biodiesel dari nyamplung hampir sama dengan pengolahan minyak sawit. Pengeringan yang tepat akan menentukan rendemen minyak yang dihasilkan Gambar 5.

sehingga akan terbentuk senyawa fosfasida yang mudah terpisah dari minyak. Tahapan pengolahan dari penelitian terbaru adalah sebagai berikut : a. residu. memberikan standar kualitas minyak nyamplung yang lebih baik. Proses selanjutnya adalah pemisahan getah (dugemming terhadap minyak nyamplung yang dihasilkan oleh mesin pres. khlorofil. kemudian dicuci dengan air hangat (suhu 60 oC) hingga jernih. yaitu : Mesin pres hidrolik manual dan mesin pres ekstruder (sistem ulir). yaitu berwarna jernih kemerah-merahan. Pengukusan biji tanpa tempurung dilakukan selama dua jam. karbohidrat. Hasil dari proses degumming akan memperlihatkan perbedaan warna yang jelas dari minyak asalnya. Selanjutnya air dipisahkan/diuapkan dari minyak dengan pengeringan vakum pada suhu 80 o C agar tidak terjadi reaksi oksidasi. Mesin pres hidrolik memerlukan energi listrik yang kecil (1000 watt) karena produksi minyaknya dalam satu hari juga kecil yaitu 10 liter.3. sampai terjadi endapan. Selanjutnya proses yang dilakukan adalah pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel. Namun hasil penelitian terbaru dengan tahapan pengolahan yang berbeda dari tahapan di atas.3-0. Pemipilan/pemisahan daging biji dengan tempurungnya. dan lain-lain. karotenoid. Degumming dilakukan untuk mengendapkan asam fosfat teknis pada konsentrasi 1%. Minyak yang keluar dari mesin pres berwarna hitam/gelap karena mengandung kotoran dari kulit dan senyawa kimia seperti : alkoloid. Degumming Degumming dilakukan pada suhu 80 oC selama 15 menit. . 4.5% (b/b) minyak. protein. Proses degumming dilakukan dengan penambahan asam fosfat 20% sebesar 0. c. air dan resin. Endapan dipoisah kan. Pengepresan biji Proses Pengepresan bisa dilakukan dengan dua macam mesin pres. fosfatida. b. Sedangkan mesin pres ekstruder memerlukan energi listrik hingga 5 KVA dengan produksi minyak 100 liter/hari. Degumming bertujuan untuk memisahkan minyak dari getah/lendir yang terdiri dari fostatida.

Proses pengolahan yang baru ini menghasilkan minyak yang standarnya sesuai dengan SNI hingga 100% karena semua parameter standar telah terpenuhi. Proses EsterifikasiTransesterifikasi (ET) Proses ini digunakan apa bila kadar FFA dari refined oil berkisar antara 10 -20%.5 jam disertai pengadukan didalam reaktor estrans yang terbuat stainless steel yang tertutup rapat dan dilengkapi dengan sistim destilasi metanol yang menguap. biodiesel yang dihasilkan diendapkan selama 3 4 jam untuk memisahkan gliserol yang terbentuk dari pembuatan biodiesel tersebut. pemisahan gliserol ini dapat dilakukan secara cepat dengan menggunakan alat sentrifuge. Setelah itu barulah dilakukan proses pengolahannya. 2. Sete lah proses selesai. dianalisi skadar asam lemak bebasnya (FFA) dan ditetapkan besaran jumlah preaksi metanol yang digunakan. dicuci dengan air . kemudian minyak tersebut diolah lanjut menjadi biodiesel. Proses pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel sangat tergantung dari kadar asam lemak bebas awal dari minyak nyamplung setelah deguming (refined oil). Ada 3 kate gori proses pengola han minyak nyamplung berdasarkan klasifikasi kompleks/ kerumitan pengolahannya yaitu : 1. 5. Pengolahan minyak nyamplung menjadi biod iesel Setelah minyak nyamplung dipisahkan getahnya. Dalam proses skala pabrik. perbandingan molar metanol terhadap kadar FFA minyak nyamplung hasil deguming yang optimum adalah 20:1. Proses EsterifikasiEsterifikasi Transesterifikasi (EET) Proses ini digunakan apabila kadar FFA refined oil lebih besar dari 20%. Proses Transesterifikasi (T) Proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil ” 1%. prinsipnya adalah mereaksikan refined oil dengan metanol teknis dalam perbandingan molar metanol terhadap berat refined oil 6:1 dengan menggunakan katalis Na OH/ KOH 0. 3. Proses transesterifkasi.5% dan dipa naskan pada suhu 60 oC selama 0. Hasil penelitian menunjukkan.01%. Air yang terbentuk dibawah permukaan biodiesel dicuci dengan menambahkan asam asetat glasia l sebesar 0. untuk proses esterifikasi.

dan kemudian sisaair diuapkan. Risiko proses netralisasi ini adalah menurunnya nilai rendemen. Proses esterifikasi dilakukan dengan menambahkan metanol teknis dalam perba ndingan molar metanol terhadap berat FFA 20:1. Proses esterifikasieste rifikasitranse sterifikasi (EET). dan menggunakan katalis HCl 1%. maka dilakukan proses netralisasi dengan NaOH teknis untuk mengubah asam lemak bebas menjadi sabun. Kadar asam lemak bebas tersebut harus diubah dahulu dengan proses esterifikasi sebanyak 2 kali. tetapi menjadi sabun. terhada prefined oil dilanjutkan dengan proses transesterifikasi seperti yang di terangkan dalam paragraf sebelumnya. Selanjutnya setelah selesai. trigliserida langsung diubah menjadi metil ester. proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil cukup tinggi. sehingga asam lemak bebas dapat terbentuk menjadi metil ester daripada terbentuk sabun. Dengan proses ini. Proses esterifikasitransesterifikasi (ET). Apabila dengan 2 kali esterifika sibelum berhasil (biasanya dalam keadaan ekstrim). Proses transesterifikasi dilakukan persis sama seperti dikemuk akan dalam paragraf sebelumnya. sedang asam lemak bebasakan tersabunkan dan bersatu dengan gliserol.hangat suhu 60 oC. sehingga kadarasam lemak bebasnya juga tinggi. dipanaskan pada suhu 60oC selama 1 jam dengan disertai pengadukan di dalam reaktor estrans yang te rbuat dari baja tahan karat (stainless steel) yang tertutup rapat dilengkapi dengan sistim destilasi untuk metanol yang menguap. . Prosedurnya sama de ngan proses ET hanya saja proses esterifikasi dilakukan sebany ak 2 kali. proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil sangat tinggi. Prinsip proses ini adalah melakukan terlebih dahulu proses esterifikasi sebelum proses transesterifikasi . karena apabila proses yang digunakan langsung transesterifikasi maka asam lemak bebas bukan diubah menjadi biodiesel. Metanol yang tersisa dikeluarkan dan disatukan dengan larutan metanol yang terdestilasi untuk digunakan dalam proses berikutnya.

Gambar 7.2. Mesin Press dan Reaktor Entrans Kualitas minyak yang telah dihasilkan dari proses ini telah mencakup parameter Densitas. Kadar esteralkil sebesar 96. gliserol total.94 mg KOH/g menjadi sangat rendah. AOCS dan SNI (Tabel 2). sehingga memenuhi persyaratan SNI. air dan sedimen. titik kabut. suhu distilasi. Minyak Nyampung dan Biodiesel Nyamplung 3. korosi kepingan tembaga.Gambar 6. bilangan asam. titik nyala. kadar ester alkil dan bilangan iodium. Residu Karbon dan Bilangan asam. Sifat-sifat biodiesel minyak nyamplung hampir seluruhnya telah memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006. Viskositas Tititk Kabut. Karakterisasi Biodiesel Nyamplung Analisis sifat fisiko kimia biodiesel terdiri dari massa jenis.99% . oleh karena itu 100% telah kualitasnya memenuhi SNI. belerang. viskositas kinematik. abu tersulfatkan. Khusus untuk bilangan asam dengan proses EET dapat diturunkan dari nilai yang sangat tinggi 59. bilangan setana. residu karbon. Metode uji menggunakan prosedur dari ASTM. fosfor.

karena nilainya lebih tinggi dari standar (96.secara langsung menunjukkan bahwa proses EET telah sesuai untuk pembuatan biodiesel minyak nyamplung. Sifat fisiko kimia biodiesel nyamplung dibandingkan dengan standar SNI 04. bilangan asam menentukan tingkat korositas biodiesel terhadap mesin.5%). ester alkali menunjukkan persentase asam lemak yang diubah menjadi metil ester. bilangan iod menunjukkan . titik nyala berhubungan dengan keamanan pengangkutan biodiesel karena kemudahannya terbakar. titik kabut.7182-2006 Beberapa parameter kualitas nyamplung yang memenuhi syarat SNI 047182-2006 adalah : Viskositas kinematik pada 40oC. bilangan asam. Bilangan setana menentukan suhu ruang pembakaran dan kemudahannya untuk mesin distarter. korosi kepingan tembaga. Tabel 2.

Sifat yang menonjol dari minyak nyamplung adalah dengan porsi 30% minyak nyamplung terhadap solar sudah memberikan bilangan setana yang sesuai dengan standar SNI. hal ini disebabkan kandungan asam lemak rantai panjang (C20) yaitu asam arachidat dan eurekat. Parameter lainnya berhubungan dengan emisi dan polusi. Titik kabut yang tinggi akan menyebabkan biodiesel mudah membeku pada suhu ruang. viskositas menunjukkan kekentalan biodiesel yang menentukan kelancaran aliran dalam permesinan. Artinya nilai kalor dari minyak tersebut pada porsi 100% tanpa pencampuran akan sangat tinggi. titik kabut berhubungan dengan kemudahannya biodiesel tersebut membeku. Kedua asam tersebut menyebabkan tingginya nilai kalor. tapi dipihak lain juga menyebabkan biodiesel mudah membeku. . Sifat ini akan menguntungkan bila minyak nyamplung digunakan untuk tujuan pembakaran langsung seperti pengganti minyak tanah (biokerosene). dianj urkan biodiesel nyamplung penggunaannya untuk sementara waktu hanya sebagaipencampur solar (< 30%). Oleh karena itu.banyaknya jumlah ikatan rangkap pada asam lemak .

Untuk menjamin keberhasil an pengembangan budidaya nyamplung. Untuk mendukung pengembangan usaha industri pengolahan minyak nyamplung yang berkesinambungan perlu kajian analisis finansial dan ekonomi lebih lanjut dengan skala objek kajian yang lebih luas.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 1. 3. Teknologi pengolahan minyak nyamplung dan hasil rekayasa alat pengolah minyak dan hasil sampingannya perlu disosialisasikan. namun untuk meningkatkan kualitas sumber benih perlu dilakukan program pemuliaan tanaman hutan dan bioteknologi. 4. . perlu didukung oleh penelitian teknik budidaya secara intensif termasuk teknik pembiakan generatif dan vegetatif (kultur jaringan) serta pengendalian hama/penyakit. Agar perluasan penanaman dapat di jamin keberhasilannya maka sebelum program penanaman dilakukan secara besar-be saran perlu kajian kemampuan dan kesesuaian lahan dari areal yang dialokasikan. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengguna dan berkembangnya industry pengolahan biofuel dari nyamplung. 2. Walaupun sumber benih dalam rangka pengembangan hutan tanaman biofuel cukup tersedia . 5.

SesuaiPeraturanPresidennomor 5 tahun2006. 2008. DepartemenKehutanan.Ed.3/XVII/Maret 2005.PotensipengembanganenergidaribiomassahutandiIndonesia.Vol.ppi.org (diakes : 19 Desember 2009) Sulaem an.2005.I. Jakarta.jepang. 2008.G.2006. http://macklin.DAFTAR PUSTAKA Anonim.Website: http://io. Heriansyah. Je nis-jenis Tanaman biofuel dan Karakteristiknya Calophyllum elatum.Jakarta.tmip-unpad. ESDM.net (Diakses : 19 Desember 2009) . Blueprint pengelolaanenerginasional2006 20025. Nyamplungsumberenergibiofuelyang potensial.IN OVASI online. A.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->