MAKALAH TUGAS AKHIR

KAJIAN NYAMPUNG (Calophyllum inophyllum L.) SEBAGAI BAHAN BIODIESEL

Diusulkan Oleh : R. Anisa Nurfitria Yulian Nugraha Budi Trisnowati Zana Fauzillah Dadan Jaya N (240110070046) (240110070059) (240110070062) (240110070065) (240110060007)

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSRTI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2009

Asia Selatan dan Tenggara. telah mendorong pengembangan energi alternatif dengan pemanfaatan sumberdaya energi terbarukan (renewable resources). Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengenalan biodiesel dari nyampung. Riau.). dan Papua Nugini. pemerintah telah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional diantaranya dengan menetapkan target produksi biofuel pada tahun 2025 sebesar 5 % dari total kebutuhan energi minyak nasional dan penugasan kepada Departemen Kehutanan untuk berperan dalam penyediaan bahan baku biofuel termasuk pemberian ijin pemanfaatan lahan hutan terutama lahan yang tidak produktif. Nyamplung termasuk dalam marga Callophylum yang mempunyai sebaran cukup luas di dunia yaitu Madagaskar. Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah biji mempunyai rendemen yang tinggi (bisa mencapai 74%). pohon tersebut juga ditemui di wilayah Malaysia.BAB I PENDAHALUAN 1.1. Afrika Timur. Jambi. dan Amerika Selatan. Selain itu. Dengan demikian nyamplung sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi altenatif sumber biodiesel. Kepula uan Pasifik. Distribusi po hon nyamplung di Indonesia. Thailand. Jawa. Untuk me ndorong peng embangan biofuel. potensi serta pengolahan nyamplung menjadi biodiesel. Lampung. Kalimantan Tengah. lebih tinggi dari rendemen jarak (35%) dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan. Maluku. mulai Sumatera Barat. Sulawesi. Kalimantan Barat. Salahsatu tanaman hutan yang mempunyai potensi sebagai bahan baku biofuel adalah Nyamplung (Calophyllum inophyllum L. Hindia Barat.Filipina. Di Indonesia nyamplung tersebar mulai dari bagian Barat sampai Bagian Timur Indonesia. Latar Belakang Krisis energi dunia yang terjadi pada dekade terakhir memberikan dampak yang signifikan pada meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM). Salah satu bentuk energi alternatif yang saat ini mulai di kembangkan adalah biofuel yang mem puny ai tingkat ke layakan teknologi cukup tinggi. Sumatera Se latan. . hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua .

Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini. Memberikan penjelasan mengenai proses pembuatan bodiesel dari bahan biji nyamlung.1. Menganalisa sifat fisiko kimia biodiesel nyampung berkaitan dengan Standar Nasional Indonesia . 3. diantaranya : 1.2. Memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang potensi nyamplung sebagai penghasil biodiesel. 2.

berkelamin dua. Buah muda berwarna hi jau dan yang sudah tua berwarna kekuning. Daun tunggal bersilang-berhadapan bulat memanjang atau bulat telur.10 m.5-5 cm. Pohon bertajuk rimbun menghijau (evergreen trees) dengan akar tunjang. bulat seperti peluru dengan mancung kecil didepannya. buah dan kulit batang) . tujuh sampai tiga belas. bentuk tandan di ketiak daun yang teratas. pertulangan menyirip. lebar 6-11 cm. Karakteristik Pohon Pada gambar 1 dapat dilihat ciri-ciri tegakan dan seluruh bagian pohon. kepala putik berbentuk perisai.1. tangkai putik membengko. daging daun seperti kulit/belulang.kuningan. Tinggi pohon dapat mencapai 25 m dengan tinggi bebas cabang 4 . diameter 2-3 cm. warna hijau.5-4 cm. lonjong. panjang 20-21 cm. diameter antara 2. daun kelopak empat tidak beraturan. bunga. pada kulit kayu terdapat saluran getah berwarna kuning. diameter dapat mencapai 150 cm. buah termasuk kategori buah batu. kulit batang bagian luar berwarna kelabu atau putih. putih. beruk uran relatif besar berdiame ter 2. Bunga majemuk. daging biji tipis dan biji yang telah kering dapat tahan disimpan selama 1 bulan.BAB II DESKRIPSI UMUM NYAMPUNG 2.5 cm. Ciri pohon nyamplung (pohon. tangkai 1. tepi rata. ujung tumpul. pangkal membulat. Biji berbentuk bulat tebal dan keras. benangsari banyak . beralur dangkal dan mengelupas besar-besar tipis. daun mahkota empat. apabila dibiarkan lama buah berwarna seperti kayu. inti biji mengandung minyak berwarna kuning kecoklatan. Gambar 1. Batang berkayu dengan percabangan mendatar dan jarang berbanir.5-2.

Jayapura. Nabire. Luasan lahan pantai berindikasi tegakan nyamplung di masingmasing wilayah di Indonesia .2. Yapen. Di Indonesia dijumpai hampir di seluruh daerah terutama pada daerah pesisir pantai antara lain: Taman Nasional(TN) Alas Purwo . TN Ujung Kulon. Tabel 1.2. Sorong. Kawasan Wisata (KW) Batu Karas. Cagar Alam (CA) Pananjung Panga ndaran. TN Baluran. Queensland Utara dan lain-lain. Fak fak (wilayah Papua). dan sebagian besar (± 60 %) berada dalam kawasan hutan. Pantai Carita Banten.000 ha. diduga tegakan alami nyamplung mencapai total luasan 480. Sampai saat ini potensi alami nyamplung di Indonesia belum diketahui secara pasti. Halmahera dan Ternate (Maluku Utara). TN Kepulauan Seribu. Biak. P. TN Berbak (Pantai Barat Sumatera). Australia Utara. Ma nokwari. Rincian luasan di masing-masing wilayah tertera pada Tabel 1. namun dari hasil penafsiran tutupan lahan dari Citra Satelit Landsat 7 ETM+ seluruh pantai di Indonesia tiap provinsi (2003). India. Afrika. Sebaran dan Potensi Alami Nyamplung tersebar di Asia Tenggara.

Budidaya Nyampung 2.5 2 bulan dengan persen kecambah sekitar 60-80%. Dari pengalaman pembibitan KPH Kedu Selatan (2008). Apa bila. Cara generatif Pembibitan secara generatif dilakukan dengan menggunakan benih yang telah masak secara fisiologis dengan beberapa cara. benih yang sudah dilepaskan dari tempurungnya akan berkecambah setelah 7 12 hari dengan persen kecambah sekitar 90%.Mengingat budidaya nyamplung masih dalam taraf awal. maka diperkirakan seluruh produksi buah/biji selama lima tahun kedepan (2010-2015) hanya bisa diperoleh dalam jumlah besar dari hutan alam. Setelah 5 bulan bibit mencapai . meretakan tempurung benih atau melepaskan tempurung.3.000 ha (Tabel 1) dan produksi minimal perpohon sebesar 50 kg . benih mulai berkecambah setelah 1. Percobaan oleh BPK Ciamis (2008). pembibitan dengan benih bertempurung menggunakan campuran media tanah dan kompos (1:1). Gambar 2. antara lain: rendam jemur. maka besarnya dugaan produksi biji per ha sebesar 10 ton atau total produksi sebesar 500 ribu ton. dari luasan indikatif total hutan alam sebesar 10 % bertegakan nyamplung produktif yaitu seluas 50. sedangkan tanpa dilepaskan dari tempurungnya akan berkecambah sete lah 1.3.5 2 bulan dengan persen hidup 97 %.1. Peta Sebaran Nyampung di Indonesia 2.

cabutan yang disemaikan menggunakan media campuran tanah kompos kotoran kelelawar (10:1) dengan persentase tumbuh mencapai 70-80 % (Gambar 3). Persen hidup bibit berkisar antara 60-80%. Ke dua teknik tersebut diatas sudah diterapkan di KPH Kedu Selatan dan KPH Banyuwangi Selatan. namun apa bila tidak segera dipindahkan ke persemaianan akan mati. Waktu yang diperlukan untuk perbanyakan secara generatif sekitar 6 bulan dengan tinggi bibit ±30 cm. Cara ini digunakan karena pada musim penghujan anakan alam di bawah tegakan cukup berlimpah. namun dengan menggunakan teknik kultur jaringan memungkinkan . Anakan alam yang dapat di gunakan untuk bibit ratarata tinggi antara 20-30 cm dengan media tanam berupa campuran tanah dan kompos (7: 3). Bibit hasil perbanyakan generatif dari benih dan cabutan (anakan alam) 2.tinggi rata-rata 39.3. Perakaran bibit secara generatif cukup panjang sehingga diperlukan polybag minimal dengan ukuran 10 x 15 cm. Cara vegetatif Pembibitan vegetatif dapat dilakukan dengan cara makro (konvensional) dan mikro (kultur jaringan). Di KPH Banyumas Barat.2.2 cm dengan jumlah daun rata-rata 17 helai. Perbanyakan secara generatif dapat juga dilakukan denganmenggunakan anakan alam melalui cabutan dan puteran. Persemaian dilakukan di bawah tegakan atau naungan dengan intensitas cahaya sekitar 50%. Sampai saat ini tingkat keberhasilan teknik perbanyakan cara makro dengan stek batang masih rendah (sulit berakar) seperti yang pernah dilakukan di Purworejo. Gambar 3.

Setelah 8 minggu. (A ) Stek batang (B ) Bibit pada media kultur (C) bibit hasil kultur jaringan Gambar 4. namun tahapan yang paling penting adalah tahap aklimatisasi sebelum di tanam di lapang. Teknik ini telah dikemba ngk an di India (Gambar 4). Bibit hasil perbanyakan vegetatif . Pada tahap aklimatisasi. media steril yang digunakan adalah campuran tanah.tanaman nyamplung diperbanyak secara masal dalam waktu yang cepat dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi. Teknik kultur jaringan terdiri dari beberapa tahap. kemudian diletakkan dalam rumah kaca pada temperatur 25 ± 2oC dengan kelembaban 80%. cocopeat dan pasir (1:2:1). Pada tahapan tersebut diperoleh tingkat keberhasilan 77%. bibit dipindahkan ke persemaian terbuka selanjutnya ditanam di lapang dengan pertumbuhan baik dan diperoleh persen hidup 72%.

BAB III PENGOLAHAN NYAMPUNG MENJADI BIODIESEL 3. Pengeringan yang tepat akan menentukan rendemen minyak yang dihasilkan Gambar 5. Tahapan Proses Pengolahan Biodiesel Proses pengolahan biodiesel dari nyamplung hampir sama dengan pengolahan minyak sawit.Digoreng tanpa minyak (sangrai) . Penyimpanan Biji Penyimpanan biji Dilakukan pada biji yang telah dikuliti (daging biji dipisahkan dari tempurung) dan telah dikeringkan dan mencapai kadar air 812%. maka pada proses pengukusan lebih lama dan pemisahan getah (degumming) dilakukan pada konsentrasi tinggi Tahapan pengolahan biji nyamplung hingga menghasilkan minyak nyamplung: 1. Biji dimasukan kedalam karung goni dan ditutup rapat.Pengeringan dengan mesin Pengeringan dilakukan sampai biji nyamplung berwarna coklat kemerahan. Mesin Pengering Biji .1. kelapa dan jarak pagar. 2. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif yang tinggi.Dikeringkan di bawah sinar matahari . Karung berisi biji nyamplung di simpan didalam gudang dengan suhu 26-27oC dan kelembapan sekitar 60-70%. yaitu : . Pengeringan biji Pengeringan biji tanpa tempurung bisa dilakukan dengan berbagai cara.

3-0.sehingga akan terbentuk senyawa fosfasida yang mudah terpisah dari minyak.5% (b/b) minyak. khlorofil. karbohidrat. b. Degumming bertujuan untuk memisahkan minyak dari getah/lendir yang terdiri dari fostatida. Degumming dilakukan untuk mengendapkan asam fosfat teknis pada konsentrasi 1%. Sedangkan mesin pres ekstruder memerlukan energi listrik hingga 5 KVA dengan produksi minyak 100 liter/hari. kemudian dicuci dengan air hangat (suhu 60 oC) hingga jernih. Proses selanjutnya adalah pemisahan getah (dugemming terhadap minyak nyamplung yang dihasilkan oleh mesin pres. Namun hasil penelitian terbaru dengan tahapan pengolahan yang berbeda dari tahapan di atas. Hasil dari proses degumming akan memperlihatkan perbedaan warna yang jelas dari minyak asalnya. protein. Endapan dipoisah kan. Pemipilan/pemisahan daging biji dengan tempurungnya. sampai terjadi endapan. residu.3. 4. yaitu berwarna jernih kemerah-merahan. yaitu : Mesin pres hidrolik manual dan mesin pres ekstruder (sistem ulir). karotenoid. Selanjutnya proses yang dilakukan adalah pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel. Degumming Degumming dilakukan pada suhu 80 oC selama 15 menit. Tahapan pengolahan dari penelitian terbaru adalah sebagai berikut : a. dan lain-lain. c. fosfatida. . memberikan standar kualitas minyak nyamplung yang lebih baik. Selanjutnya air dipisahkan/diuapkan dari minyak dengan pengeringan vakum pada suhu 80 o C agar tidak terjadi reaksi oksidasi. Pengukusan biji tanpa tempurung dilakukan selama dua jam. Mesin pres hidrolik memerlukan energi listrik yang kecil (1000 watt) karena produksi minyaknya dalam satu hari juga kecil yaitu 10 liter. air dan resin. Proses degumming dilakukan dengan penambahan asam fosfat 20% sebesar 0. Minyak yang keluar dari mesin pres berwarna hitam/gelap karena mengandung kotoran dari kulit dan senyawa kimia seperti : alkoloid. Pengepresan biji Proses Pengepresan bisa dilakukan dengan dua macam mesin pres.

Proses Transesterifikasi (T) Proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil ” 1%. Ada 3 kate gori proses pengola han minyak nyamplung berdasarkan klasifikasi kompleks/ kerumitan pengolahannya yaitu : 1.01%. kemudian minyak tersebut diolah lanjut menjadi biodiesel. Proses EsterifikasiEsterifikasi Transesterifikasi (EET) Proses ini digunakan apabila kadar FFA refined oil lebih besar dari 20%.5% dan dipa naskan pada suhu 60 oC selama 0. 5. prinsipnya adalah mereaksikan refined oil dengan metanol teknis dalam perbandingan molar metanol terhadap berat refined oil 6:1 dengan menggunakan katalis Na OH/ KOH 0.5 jam disertai pengadukan didalam reaktor estrans yang terbuat stainless steel yang tertutup rapat dan dilengkapi dengan sistim destilasi metanol yang menguap. 2. Proses transesterifkasi. pemisahan gliserol ini dapat dilakukan secara cepat dengan menggunakan alat sentrifuge. dianalisi skadar asam lemak bebasnya (FFA) dan ditetapkan besaran jumlah preaksi metanol yang digunakan. Sete lah proses selesai. Hasil penelitian menunjukkan. perbandingan molar metanol terhadap kadar FFA minyak nyamplung hasil deguming yang optimum adalah 20:1. dicuci dengan air . Proses EsterifikasiTransesterifikasi (ET) Proses ini digunakan apa bila kadar FFA dari refined oil berkisar antara 10 -20%. untuk proses esterifikasi. 3. biodiesel yang dihasilkan diendapkan selama 3 4 jam untuk memisahkan gliserol yang terbentuk dari pembuatan biodiesel tersebut. Proses pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel sangat tergantung dari kadar asam lemak bebas awal dari minyak nyamplung setelah deguming (refined oil). Air yang terbentuk dibawah permukaan biodiesel dicuci dengan menambahkan asam asetat glasia l sebesar 0. Setelah itu barulah dilakukan proses pengolahannya. Pengolahan minyak nyamplung menjadi biod iesel Setelah minyak nyamplung dipisahkan getahnya.Proses pengolahan yang baru ini menghasilkan minyak yang standarnya sesuai dengan SNI hingga 100% karena semua parameter standar telah terpenuhi. Dalam proses skala pabrik.

karena apabila proses yang digunakan langsung transesterifikasi maka asam lemak bebas bukan diubah menjadi biodiesel. Kadar asam lemak bebas tersebut harus diubah dahulu dengan proses esterifikasi sebanyak 2 kali. terhada prefined oil dilanjutkan dengan proses transesterifikasi seperti yang di terangkan dalam paragraf sebelumnya. Dengan proses ini. maka dilakukan proses netralisasi dengan NaOH teknis untuk mengubah asam lemak bebas menjadi sabun. Apabila dengan 2 kali esterifika sibelum berhasil (biasanya dalam keadaan ekstrim). proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil cukup tinggi. dan kemudian sisaair diuapkan. trigliserida langsung diubah menjadi metil ester.hangat suhu 60 oC. proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil sangat tinggi. Proses esterifikasitransesterifikasi (ET). Prinsip proses ini adalah melakukan terlebih dahulu proses esterifikasi sebelum proses transesterifikasi . Proses esterifikasieste rifikasitranse sterifikasi (EET). tetapi menjadi sabun. Metanol yang tersisa dikeluarkan dan disatukan dengan larutan metanol yang terdestilasi untuk digunakan dalam proses berikutnya. dipanaskan pada suhu 60oC selama 1 jam dengan disertai pengadukan di dalam reaktor estrans yang te rbuat dari baja tahan karat (stainless steel) yang tertutup rapat dilengkapi dengan sistim destilasi untuk metanol yang menguap. . Risiko proses netralisasi ini adalah menurunnya nilai rendemen. sedang asam lemak bebasakan tersabunkan dan bersatu dengan gliserol. Proses esterifikasi dilakukan dengan menambahkan metanol teknis dalam perba ndingan molar metanol terhadap berat FFA 20:1. sehingga asam lemak bebas dapat terbentuk menjadi metil ester daripada terbentuk sabun. Prosedurnya sama de ngan proses ET hanya saja proses esterifikasi dilakukan sebany ak 2 kali. Proses transesterifikasi dilakukan persis sama seperti dikemuk akan dalam paragraf sebelumnya. sehingga kadarasam lemak bebasnya juga tinggi. Selanjutnya setelah selesai. dan menggunakan katalis HCl 1%.

gliserol total.99% . viskositas kinematik. bilangan setana. Khusus untuk bilangan asam dengan proses EET dapat diturunkan dari nilai yang sangat tinggi 59. titik kabut. residu karbon. fosfor. sehingga memenuhi persyaratan SNI. bilangan asam. Viskositas Tititk Kabut. Gambar 7. Karakterisasi Biodiesel Nyamplung Analisis sifat fisiko kimia biodiesel terdiri dari massa jenis. AOCS dan SNI (Tabel 2). Minyak Nyampung dan Biodiesel Nyamplung 3.94 mg KOH/g menjadi sangat rendah. Mesin Press dan Reaktor Entrans Kualitas minyak yang telah dihasilkan dari proses ini telah mencakup parameter Densitas. oleh karena itu 100% telah kualitasnya memenuhi SNI. kadar ester alkil dan bilangan iodium. abu tersulfatkan. belerang. korosi kepingan tembaga. air dan sedimen. Metode uji menggunakan prosedur dari ASTM. titik nyala.2. suhu distilasi.Gambar 6. Kadar esteralkil sebesar 96. Sifat-sifat biodiesel minyak nyamplung hampir seluruhnya telah memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006. Residu Karbon dan Bilangan asam.

bilangan asam menentukan tingkat korositas biodiesel terhadap mesin. Bilangan setana menentukan suhu ruang pembakaran dan kemudahannya untuk mesin distarter. ester alkali menunjukkan persentase asam lemak yang diubah menjadi metil ester. titik kabut.secara langsung menunjukkan bahwa proses EET telah sesuai untuk pembuatan biodiesel minyak nyamplung. korosi kepingan tembaga.7182-2006 Beberapa parameter kualitas nyamplung yang memenuhi syarat SNI 047182-2006 adalah : Viskositas kinematik pada 40oC. karena nilainya lebih tinggi dari standar (96. Sifat fisiko kimia biodiesel nyamplung dibandingkan dengan standar SNI 04. titik nyala berhubungan dengan keamanan pengangkutan biodiesel karena kemudahannya terbakar. bilangan asam. Tabel 2. bilangan iod menunjukkan .5%).

Artinya nilai kalor dari minyak tersebut pada porsi 100% tanpa pencampuran akan sangat tinggi. viskositas menunjukkan kekentalan biodiesel yang menentukan kelancaran aliran dalam permesinan. hal ini disebabkan kandungan asam lemak rantai panjang (C20) yaitu asam arachidat dan eurekat. Oleh karena itu. Parameter lainnya berhubungan dengan emisi dan polusi. dianj urkan biodiesel nyamplung penggunaannya untuk sementara waktu hanya sebagaipencampur solar (< 30%). . titik kabut berhubungan dengan kemudahannya biodiesel tersebut membeku.banyaknya jumlah ikatan rangkap pada asam lemak . Titik kabut yang tinggi akan menyebabkan biodiesel mudah membeku pada suhu ruang. Sifat ini akan menguntungkan bila minyak nyamplung digunakan untuk tujuan pembakaran langsung seperti pengganti minyak tanah (biokerosene). Sifat yang menonjol dari minyak nyamplung adalah dengan porsi 30% minyak nyamplung terhadap solar sudah memberikan bilangan setana yang sesuai dengan standar SNI. tapi dipihak lain juga menyebabkan biodiesel mudah membeku. Kedua asam tersebut menyebabkan tingginya nilai kalor.

Teknologi pengolahan minyak nyamplung dan hasil rekayasa alat pengolah minyak dan hasil sampingannya perlu disosialisasikan. namun untuk meningkatkan kualitas sumber benih perlu dilakukan program pemuliaan tanaman hutan dan bioteknologi. perlu didukung oleh penelitian teknik budidaya secara intensif termasuk teknik pembiakan generatif dan vegetatif (kultur jaringan) serta pengendalian hama/penyakit. 5. 4. . Walaupun sumber benih dalam rangka pengembangan hutan tanaman biofuel cukup tersedia . Untuk mendukung pengembangan usaha industri pengolahan minyak nyamplung yang berkesinambungan perlu kajian analisis finansial dan ekonomi lebih lanjut dengan skala objek kajian yang lebih luas. 3. 2. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengguna dan berkembangnya industry pengolahan biofuel dari nyamplung.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 1. Agar perluasan penanaman dapat di jamin keberhasilannya maka sebelum program penanaman dilakukan secara besar-be saran perlu kajian kemampuan dan kesesuaian lahan dari areal yang dialokasikan. Untuk menjamin keberhasil an pengembangan budidaya nyamplung.

ESDM. SesuaiPeraturanPresidennomor 5 tahun2006. Nyamplungsumberenergibiofuelyang potensial. Jakarta. A.PotensipengembanganenergidaribiomassahutandiIndonesia.2006. Blueprint pengelolaanenerginasional2006 20025. 2008. Heriansyah.Jakarta.ppi. DepartemenKehutanan.G. Je nis-jenis Tanaman biofuel dan Karakteristiknya Calophyllum elatum.Vol.3/XVII/Maret 2005.tmip-unpad.I.IN OVASI online.jepang. 2008.2005.org (diakes : 19 Desember 2009) Sulaem an.Ed.Website: http://io.DAFTAR PUSTAKA Anonim.net (Diakses : 19 Desember 2009) . http://macklin.