P. 1
SKRIPSI DAN PROPOSAL

SKRIPSI DAN PROPOSAL

|Views: 10,673|Likes:
Published by Ode Putra Interisti

More info:

Published by: Ode Putra Interisti on Nov 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2015

pdf

text

original

Rumput laut merupakan salah satu komoditas budidaya laut yang

prospektif dan bahkan budidaya rumput laut telah dijadikan salah satu program

utama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan

Perikanan. Lembaga yang terkait dengan riset perikanan laut dan oseanotogi

telah juga mengintensifkan riset budidaya rumput laut sejak tahun 60-an, bahkan

pengenalan sebanyak 555 jenis rumput laut telah tercatat oleh Van Bosse pada

ekspedisi Siboga tahun 1899-1900 dan pada ekspedisi Danish sebanyak 25 jenis

alga merah, 28 jenis alga hijau dan 11 jenis alga coklat. Ada berbagai alasan

kenapa rumput laut bisa menjadi tumpuan harapan masyarakat pesisir di masa

kini dan yang akan datang : Pertama, berbagai jenis rumput laut potensial bisa

dan relatif mudah dibudidayakan karena teknologinya sederhana dan relatif

murah, tidak memerlukan panti benih, tidak memerlukan pakan dalam

pembudidayaannya tetapi cukup dengan kondisi kesuburan perairan dan

berlangsungnya proses fotosintesa. Kedua, beberapa jenis rumput digunakan

sebagai bahan pangan dan sebagai bahan industri sehingga mempunyai

kesempatan untuk dijadikan komoditas yang bernilai tambah. Ketiga, peluang

pasar baik untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun permintaan

ekspor cukup tinggi. Keempat budidaya rumput laut menjadi sumber

penghasilan dan sekaligus menjadi peluang usaha serta kesempatan kerja bagi

masyarakat pesisir dan terutama pembudidaya golongan kecil. Selain itu

hamparan budidaya rumput laut bisa memperbaiki keseimbangan ekologi

perairan.

Dengan potensi sumberdaya alam tersebut, tidak berlebihan jika rumput laut

dijadikan salah satu andalan tidak hanya menawarkan peluang bisnis yang

2

menjajikan untuk ikut membantu mempercepat terciptanya tujuan pembangunan

nasional pada umumnya dan pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia

pada khususnya. Lebih jauh lagi, pembangunan kelautan dan perikanan tidak

hanya bertumpu pada pendekatan eksploitasi tetapi sudah lebih diarahkan

kepada upaya untuk meningkatkan nilai tambah melalui budidaya (Fuad Choliq,

dkk. 2006).

Kegiatan budidaya rumput laut merupakan lapangan kerja baru yang

bersifat padat karya dan semakin banyak peminatnya karena teknologi budidaya

dan pascapanen yang sederhana dan mudah dilaksanakan serta pemakaian

modal yang relatif rendah sehingga dapat dengan mudah dilakukan oleh

pembudidaya beserta keluarganya (Soebarini, 2003). Kondisi ini didukung pula

oleh harga jual rumput laut yang memperlihatkan kecenderung permintaan yg

signifikan baik di pasar nasional maupun pasar global. Disamping itu, tingkat

pertumbuhan yang tinggi dan waktu pemeliharaan yang singkat menyebabkan

pembudidaya dapat meraup pendapatan enam kali dalam setahun (Anggadiredja

dkk, 2006). Faktor kemudahan-kemudahan usaha yang digambarkan diatas telah

menjadi tumpuan harapan nelayan yang bermodal kecil sehingga banyak

diantaranya telah beralih dari usaha penangkapan ikan ke usaha budidaya

rumput laut di perairan pantai.

Namun demikian, perkembangan usaha budidaya rumput laut tidak

terlepas pula dari berbagai permasalahan. Berdasarkan hasil pengamatan awal,

yang dilakukan, sejumlah permasalahan yang dapat diidentifikasi antara lain; (1)

keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dasar pembudidaya tentang teknis

budidaya yang sesuai anjuran, (2)keterbatasan modal dan akses ke sumber

permodalan yang layak, mudah, cepat, dan tepat, (3) kurangnya pemahaman

tentang pengelolaan atau manajemen usaha, (4) harga yang fluktuatif, (5)

3

serangan penyakit ”ice-ice”, dan (6) konflik pemanfaatan wilayah perairan antara

pembudidaya, nelayan, alur pelayaran, dan pariwisata.

Kabupaten Bone yang merupakan salah satu daerah yang cukup

potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut. Memiliki 10 kecamatan

yang terletak di pesisir Teluk Bone dengan panjang garis pantai 138 km dengan

luas perairan 93.929 Ha (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone,

2008). Kesepuluh kecamatan pesisir di Kabupaten Bone tersebut merupakan

daerah potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut. Berdasarkan

potensi, volume produksi dan nilai produksi rumput laut Eucheuma cottonii di

Kabupaten Bone tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Potensi, volume produksi, dan nilai rumput laut Eucheuma cottonii di
Kabupaten Bone tahun 2008 (Asumsi harga Rp 2.500,-/kg basah)

No.

Kecamatan

Panjang Grs.
Pantai (Km)

Luas
(Ha)

Produksi
(Ton)

Nilai
(x Rp 1.000,)

1.Kajuara

12,50

9,000

2.850

7.125.000,-

2.Tonra

12,00

8,640

2.890

7.225.000,-

3.Mare

16,25

11,700

2.750

6.875.000,-

4.Sibulue

28,25

17,069

2.950

7.375.000,-

5.Salomekko

12,60

9,072

3.070

7.675.000,-

6.Cenrana

30,00

19,440

450

1.125.000,-

7.Barebbo

4,20

3,024

1.900

4.750.000,-

8

Awangpone

7,80

5,616

2.100

5.250.000,-

9

T. Riattang Timur

10,80

7,776

3.060

7.650.000,-

10.Tellu Siattinge

3,60

2,592

880

2.200.000,-

Jumlah

138

93.929

22.900

57.250.000,-

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bone, 2008

Gambaran kuantitatif data pada Tabel 1, memperlihatkan bahwa salah

satu kecamatan di Kabupaten Bone yang terletak di bagian timur berbatasan

langsung dengan Teluk Bone dan berpotensi untuk pengembangan budidaya

rumput laut adalah Kecamatan Tanete Riattang Timur. Berdasarkan data pada

Tabel 1 tertampilkan pula bahwa dengan panjang garis pantai 10,80 km dan luas

perairan 7.776 Ha mampu menghasilkan produksi rumput laut sebanyak 3.060

ton/tahun, lebih tinggi dibanding wilayah yang memiliki panjang garis pantai dan

perairan yang lebih luas. Wilayah Kecamatan Tanete Riattang Timur terdiri dari

4

8 kelurahan dan 6 kelurahan diantaranya berada di sepanjang pesisir Teluk

Bone. Jumlah penduduk Kecamatan Tanete Riattang Timur tercatat sebanyak

37.381 jiwa atau 8.028 kepala keluarga, atau sekitar 5,4 % dari total jumlah

penduduk Kabupaten Bone sebanyak 688.080 jiwa (Dinas Kelautan dan

Perikanan dan BPS Kabupaten Bone, 2008).

Berdasarkan fakta dilapangan memperlihatkan bahwa kegiatan budidaya

rumput laut telah memberikan peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan

dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat di wilayah pesisisr. Kontewks ini

dilhat dari jumlah pembudidaya setiap tahun yang mengalami peningkatan.

Faktor yang mendorong meningkatnya minat pembudidaya rumput laut di

asumsikan akibat harga rumput laut yang cukup tinggi sehingga dianggap sangat

menguntungkan sebagai aktivitas mata pencaharian. Berdasarkan temuan

Mustapa (2009) disebutkan bahwa peningkatan harga komoditi tersebut pada

pertengahan tahun 2007 yang sempat mencapai harga Rp 15.000,-/kg kering,

telah memacu berkembangnya usaha budidaya rumput laut sekaligus

menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir serta meningkatkan peran

serta anggota keluarga dan masyarakat dalam kegiatan tersebut. Karena adanya

desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sulitnya mencari lapangan kerja

yang sesuai maka pembudidaya memanfaatkan rumput laut untuk mendapatkan

penghasilan.

Dari penelitian pendahuluan yang dilakukan di Kelurahan Pallete,

ditremukan bahwa pada awalnya bermata pencaharian masyarakat didominasi

sebagai nelayan, namun dalam perkembangan terakhir nampak bahwa sudah

banyak nelayan yang beralih profesi sebagai pembudidaya yang ditenggerai

akibat perolehan keuntungan yang lebih menjanjikan dengan proses produksi

yang mudah dilakukan. Asumsi lain yang diduga dari fenomena ini adalah

keterlibatan keluarga dalam kegiatan produksi lebih terdistribusi dengan normal

5

disbanding ketika hanya menggantungkan pekerjaan mereka hanya menjadi

nelayan yang hanya didominasi oleh kontribusi pendapatan oleh kepala rumah

tangga atau laki-laki yang termasuk dalam keluarga inti (nuclear family). Lain

halnya dalam aktivitas budidaya rumput laut, keterlibatan keluarga inti nampak

merata seperti; isteri, suami dan anak yang juga dapat ikut serta

menyumbangkan tenaganya dalam proses praproduksi sampai produksi bahkan

sampai pada proses panen dan pasca panen. Dengan demikian, keterlibatan

keluarga inti tersebut diasumsikan mendukung perolehan jumlah penerimaan

atau pendapatan dari usaha budidaya rumput laut yang dilakukan. Berangkat

dari fenomena ini, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang

Analisis Pendapatan Usaha Budidaya Rumput Laut (Euchema cottonii) di

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->