P. 1
Bab9-Persediaan Barang Dagangan

Bab9-Persediaan Barang Dagangan

|Views: 2,278|Likes:
Published by saka uchiha

More info:

Published by: saka uchiha on Nov 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN

PENTINGNYA PERSEDIAAN

Istilah persediaan adalah untuk rnenunjukkan adanya barang-barang yang tujuannya untuk dijual kern bali rnelalui kegiatan perusahaan yang normal serta barang yang masih dalam proses produksi (work in process). Pada bab ini hanya akan dibahas masalahmasalah yang timbul mengenai penetapan persediaan barang dagangan (merchandise inventory).

Barang dagangan adalah unsur yang paling penting didalam kegiatan sebuah perusahaan kecil. Penjualan barang dagangan merupakan sumber pendapatan pokok bagi perusahaan.

Untuk menetapkan laba bersih perusahaan, maka harga pokok penjualan merupakan unsur pengurangan yang besar dan kenyataannya unsur ini lebih besar dibandingkan unsur-unsur pengurang lainnya. Juga jumlah persediaan barang dagangan ini merupakan bagian yang cukup besar dari sumber-sumber perusahaan dagang yang berarti pula merupakan bagian terbesar dari harta lancar.

Nilai persediaan barang dagangan memegang peranan penting dalam proses mempertahankan pendapatan dan biaya untuk satu periode tertentu. Karena itu kesalahan didalam menetapkan nilai persediaan akhir mengakibatkan kesalahan yang penetapan laba kotor ataupun laba bersih. Di samping itu jumlah yang termasuk ke dalam harta

200

maupun modal dalam Neraca juga akan ikut salah dan jumlahnya relatip cukup besar. Akibat kelebihan penetapan atau kekurangan di dalam menetapkan persediaan barang dagangan pada akhir periode diperlihatkan seperti di bawah ini :

Perhitungan rugi laba didasarkan atas penetapan nilai persediaan yang betul. Dilaporkan persediaan barang dagangan kurang Rp.160.000,- pada laporan kedua. Laporan keuangan yang ketiga menggambarkan persediaan barang dagangan terlalu tinggi Rp.140.ooo,-

Pad a tiga hal tersebut diatas, harga pokok barang yang tersedia untuk dijual sama sebesar yaitu Rp.2.800.000,-.

Kondisi I

Nilai persediaan dilaporkan secara benar yaitu Rp.400.000,-.

Perhitungan rugi laba untuk satu tahun.

Penjualan bersih Rp. 4.000.000,-

Harga pokok penjualan

(2.800.000 - 400.0000) Rp. 2.400.000,-

Laba kotor .

Jumlah biaya-biaya lainnya .

Rp. 1.600.000,Rp. 1.100.000,

Laba bersih .

Rp. 500.000,-

Neraca pada akhir tahun

201

Persediaan barang dagangan Rp.

Harta-harta lainnya Rp.

400.000,- 1.600.000,-

Jumlah.......................................... Rp.

2.000.000,-

Hutang................................................ Rp. Modal................................................. Rp.

600.000, - 1.400.000,-

Jumlah.......................................... Rp.

2.000.000,-

Kondisi II

Persediaan barang dagangan dilaporkan pad a akhir periode dengan nilai yang salah yaitu Rp.240.ooo.- (dilaporkan kurang sebesar Rp.160.ooo.-).

Penjualan bersih Rp. 4.000.000.-

Hrga pokok penjualan

(2.800.000.-) Rp. 2.560.000.-

Laba kotor................................................................................... Rp.

Jumlah biaya-biaya lainnya Rp.

1.440.000.- 1.100.000.-

Laba bersih Rp.

340.000.-

Neraca pada akhir tahun:

Persediaan barang dagangan............. Rp.

Harta-harta 1ain.......... Rp.

240.000.- 1.600.000.-

Jumlah Rp.

1.840.000.-

Hutang Modal

Rp. Rp.

600.000.- 1.240.000.-

Jumlah Rp.

1.840.000.-

Kondisi III

Persediaan barang dagangan pada akhir periode salah dilapor kan sebesar Rp.540.000.(dilaporkan lebih sebesar Rp.140.000.-).

Penjua1an bersih Rp. 4.000.000.-

Harga pokok penjualan

(2.800.000-540.000.-) Rp. 2.260.000.-

Laba kotor .

Jum1ah biaya-biaya lainnya .

Rp. 1.740.000.Rp. 1.100.000.-

Laba bersih .

Rp. 640.000.-

202

Neraca pada akhir tahun:

Persediaan barang dagangan.......... Rp.

Harta-harta lain.......... Rp.

540.000,- 1.600.000,-

Jumlah......................................... Rp. 2.140.000,-

Utang Modal

Rp. Rp.

600.000,- 1.540.000,-

Jumlah Rp. 2.140.000,-

Dari contoh di atas jumlah harga pokok barang dagangan yang tersedia untuk dijual yang harus dipertanggung jawabkan adalah sarna sebesar Rp.2.800.0oo,-. Hanya cara pengeluaran harga pokok sajalah yang berbeda. Akibat perbedaan dalam harga pokok penjualan dapatlah diringkaskan sebagai berikut :

Barang yang siap dijual :

Total Persediaan Dijual
Rp Rp Rp
a. Persediaan di 2.800.000,- 400.000,- 2.400.000,-
laporkan secara benar.
b. Persediaan barang 2.800.000,- 240.000,- 2.560.000,-
dilaporkan kurang
Rp. 160.000,-. Seperti kita ketahui bahwa persediaan barang dagangan pada akhir peri ode berarti akan menjadi persediaan barang dagangan pada pada awal periode berikutnya. Bila persediaan barang dagangan dilaporkan salah pada suatu periode, maka rugi atau laba bersih dengan sendirinya akan menjadi salah pula.

Unsur-unsur analisa di atas berhubungan dengan berbagai sistem dan methode persediaan.

SISTEM PERSEDIAAN (INVENTORY SYSTEM)

Mengenai sistem persediaan di dalam akutansi terdapat dua sistem :

I). Periodik System (sistem periodik).

II). Perpetual System (sistem permanensi).

203

I. Periodik System

Setiap kali ada transaksi penjualan, maka hanya pendapatan dari penjualan tersebut yang dicatat. Disini tidak alat jumal untuk mengkredit rekening persediaan atau rekening pembelian harga pokok dari barang yang telah dijual itu.

Akibatnya harga pokok penjualan ditetapkan dengan membuat daftar yang terperinci tentang barang yang ada (persediaan pisik) pada akhir periode penjualan Perhitungan (physical inventory) dilakukan satu kali setahun yaitu pada akhir fiskal. Bila perhitungan phisik diadakan pada jangka waktu tertentu bagi persediaan barang, maka sistem perhitungan persediaan tersebut dinamakan sistem periodik ..

II. Perpetual System

Catatan persediaan barang dibuat secara kontinue. Setiap jenis harga dibuat daftar tersendiri dalam buku besar pembantu.

Pertambahan jumlah barang dagangan dicatat sebagai Debit pada perkiraan yang bersangkutan. sedangkan setiap ada pengurangan dicatat disebelah Kredit. Saldo dari perkiraan ini disebut Saldo buku persedian barang yang merupakan keharusan untuk dicocokkan dengan persediaan barang yang benar-benar ada (hasil inventarisasi).

Sistem periodik dipergunakan pada perusahaan perdagangan eceran yang menjual bermacam-macam barang dengan harga rendah.

Misalnya toko besi dan sebagainya. Tetapi untuk pedagang eceran yang menjual barangbarangnya dengan harga mahal serta jenisnya tidak terlalu banyak seperti peralatan kantor, mobil. biasanya akan dipergunakan sistem perpetual.

III. Cara menetapkan jumlah persediaan yang sebenarnya.

Tujuan utama perhitungan persediaan secara phisik dari masing-masing jenis barang yang dimiliki perusahaan.

Prosedur yang dijalankan untuk menetapkan persediaan dan cara mengumpulkan data pada setiap perusahaan biasanya berbeda-beda. Dalam praktek biasanya dilakukan oleh suatu team yang terdiri dari dua orang. Satu untuk menghitung, menimbang atau mengerjakan cara lain untuk menetapkan jumlah phisik, sedangkan yang seorang lagi mencatat keterangan serta jumlah ke dalam kertas persediaan (inventory sheets). Untuk ini dapat ditambahkan orang ketiga yang mencatat barang-barang yang harga pokoknya tinggi dan juga memeriksa jumlah persediaan barang atas dasar random.

IV. Menetapkan harga pokok persediaan

Harga pokok persediaan barang dagangan terdiri dari harga beli ditambah semua pengeluaran termasuk biaya-biaya pengangkutan. bea masuk, cukai serta asuransi. Biayabiaya yang jumlahnya kecil dapat dikeluarkan dari harga pokok barang yang merupakan biaya operasi periodik.

204

Potongan pernbelian sebagai jurn1ah pengurang nilai pembelian. berarti potongan ini rnengurangi harga pernbelian.

Misalnya jurn1ah potongan pembelian untuk satu periode dari pernbelian yang berjurn1ah Rp.40.000.000,- ada1ah Rp.6oo.000,- yang berarti potongan pernbelian rata-rata 1,5 % dari pernbelian bersih. Bila harga pokok persediaan Rp.40.000.000,- be1urn diperhitungkan potongan tunai (cash discount), maka jumlah ini dikurangi dcngan 1,5 % atau sebesar Rp.6oo.000,- rnaka harga pokoknya rnenjadi Rp.39.4oo.000,-.

Kesulitan akan tirnbul untuk rnenetapkan harga pokok bila pada pcriodc yang sarna diperoleh barang yang sarna tetapi dengan perbedaan harga beli. Untuk ini pcrlu ditentukan harga beli yang akan dipakai dalarn menetapkan barang yang ada.

Sifat rnasalah ini dalarn kaitannya untuk mcnctapkan laba bcrsih dan harga pokok persediaan akan dijelaskan sebagai bcrikut :

Barang X

Januari, persediaan awal .

Maret 4, pernbelian .

Mei 15, pembelian .

Unit 10 20 10

Harga pokok Rp. 1.800,Rp. 5.600,Rp. 2.600,-

Jurnlah

40

Rp. 10.000.Rp. 250.-

Harga pokok rata-rata .

Selarna periode tersebut terjual 30 unit dan tidak dikctahui barang-barang mana yang dijual dari ketiga puluh ini. Mengenai arus biaya (flow of cost) barang dalarn perusahaan yang paling sering dipakai untuk menetapkan harga pokok pcrscdiaan ada tiga cara yaitu:

a. Arus biaya sejajar dengan pengeluaran.

b. Arus biaya ber1awanan dengan penge1uaran.

c. Arus biaya adalah rata-rata dari penge1uaran untuk barang dagangan yang yang dike1uarkan.

Garnbaran dari ketiga cara ini masing-masing akan tampak sebagai berikut :

Harga pokok X

a. Sejajar dengan pengeluaran

Unit yang Unit yang Unit yang
tcrsedia dijual tinggal
Rp 100.000 (lOx180 lOx260
+20x280)
Rp 100.000 (20x280 lOx180
+lOx260)
Rp 100.000 (lOx250
+20x250) lOx250 b. Berlawanan dengan pengeluaran

c. Menurut rata-rata pengeluaran

205

Bila maeam barang dan persediaan relatif kecil maka unit yang dijual disamakan dengan pengeluaran yang berhubungan. Tetapi prosedur ini demikian sulitnya serta biaya yang besar bila bila dibandingkan dengan kegunaannya. Karena itu akan digunakan salah satu eara yang akan diuraikan seeara mendetail.

v. Metode First in-first out (FIFO)

Metode di atas telah menetapkan harga pokok persediaan atas dasar asumsi bahwa biaya yang dikeluarkan sesuai dengan urutan pemasukannya. Untuk jelasnya methode terse but digambarkan seperti berikut :

Perhitungan pisik persediaan pada tanggal 31 Desember menunjukan jumlah barang sebanyak 300 unit sesuai dengan harga pokok di atas.

Maka harga pokok untuk 300 unit tersebut :

Harga pokok paling akhir (2, Desember)

Harga pokok dari

(21, September)

Contoh:

Januari, 1 Maret, 10 September, 21 Desember,2

Pembelian

200 unit a Rp.450,- 300 unit a Rp.5oo,- 400 unit a Rp.550,- 100 unit a Rp.6oo,-

Tersedia untuk dijual

1.000 unit-

100 unit a Rp.600,-

200 unit a Rp.550,-

Nilai persediaan pada tanggal 31 Desember 300 unit

Harga

Rp. 90.000,Rp. 150.000,Rp. _220.000,Rp. 60.000,-

Rp. 520.000,-

= Rp. 60.000,-

= Rp.ll0.000,-

= Rp.170.000,-

Dengan mengetahui nilai akhir persediaan sebesar Rp.170.000,- berarti harga pokok barang dijual (Rp. 520.000,- dikurangi Rp. 170.000,- adalah sebesar Rp. 350.000,-. Untuk perusahaan yang menjual barang yang mudah rusak dan barang-barang yang eepat mengalami perubahan mode dan bentuk lebih eenderung untuk menerapkan methode ini karena methode ini umumnya sejalan dengan arus phisik dari barang. Akan tetapi penggunaan salah satu methode lebih banyak didasarkan atas pertimbangan ekonomi daripada alasan phisik.

206

VI. Last in-first out (LIFO)

Methode tersebut berdasarkan atas anggapan harga pokok terjadinya ditentukan dan dibebankan pada pendapatan. Sehingga barang yang tinggal dianggap terdiri dari harga pokok yang lalu. Atas dasar harga pokok persediaan ditetapkan sebagai berikut :

Harga pokok terdahulu yaitu :

Januari, 1................................................. 200 unita Rp.450,- = Rp. 90.000,Harga pokok berikutnya :

per 10 Maret 100 unit a Rp.500,- = Rp. 50.000,-

Nilai persediaan Desember,31 300 unit

= Rp. 140.000,-

Pengurangan harga pokok persediaan barang dagangan sebesar Rp.lO.000,- mengakibatkan harga pokok penjualan sebesar Rp.520.000,- dikurangi Rp.140.000,- = Rp.380.000,-.

Penggunaan methode ini terbatas sekali yaitu hanya pad a saat barang-barang tersebut dijual. Akhimya penggunaan methode ini mungkin meningkat walaupun tidak sesuai dengan arus pisik dari barang. Penggunaan methode ini secara sempuma barn dapat ditentukan secara memuaskan pada Perpetual Invetories system.

VII. Weighted average method (rata-rata ditimbang)

Didasarkan atas anggapan bahwa biaya-biaya yang dibebankan pada pendapatan harus didasarkan atas biaya rata-rata serta memperhatikan jumlah unit yang diperoleh dari masing-masing harga beli.

Harga pokok rata-rata yang sarna dipergunakan juga untuk menghitung harga pokok barang yang ada. Rata-rata yang ditimbang ditentukan dengan membagi jumlah harga pokok barang yang ada dengan jumlah unit barang yang sarna. Barga pokok rata-rata yang ditimbang untuk 1.000 unit ditetapkan sebagai berikut :

Harga pokok rata-rata = Rp.520.000,- : 1.000 = Rp.520,- per unit, berarti nilai persediaan barang dagangan tanggal 31 Desember = 300 unit a Rp.520,- = Rp.156.000,= Rp.364.000,-.

207

PENETAPAN HARGA POKOK PERSEDIAAN DENGAN METHODE ECERAN (RETAIL METHODE)

Retail inventory methode sering dipergunakan oleh perusahaan dagang eceran terutarna untuk toko serba ada. Methode ini berhubungan dengan sistern periodik untuk barang-barang dagangan yang sama. Harga eceran dari sernua barang dikurnpulkan ke dalam satu catatan tertentu dengan cara rnenentukan nilai persediaan harga eceran, kemudian mengurangi penjualan pada suatu periode dari barang yang dijual dan dinilai rnenurut harga eceran. Selanjutnya nilai dirubah menu rut nilai harga pokok dengan dasar prosentase dari harga pokok barang yang siap dijual pada harga eceran yang sarna. Cara penetapan methode eceran dijelaskan seperti di bawah ini :

Persediaan barang dagangan.

1 Januari .

Pembelian selama Januari .

Rp. Rp.

3.880.000.- 8.520.000.-

Rp. 7.200.000,Rp. 12.800.000.-

Pers. barang yang siap dijual

Rp.

12.400.000. -

Rp. 20.000.000.-

Prosentase harga pokok terhadap harga eceran : 12.400.000

---- x 100 % = 62 %

20.000.000

Penjualan bersih selama Januari Rp. 14.000.000,-

Persediaan 31 Januari, mcnurut harga eceran Rp. 6.000.000,-

Persediaan barang dagangan per 31 Januari menurut

harga pokok = Rp. 6.000.000.- x 62 % = Rp. 3.720.000,-

Bila barang terdiri dari kclompok yang berbeda dan tingkat margin laba kotor yang berbeda, rnaka prosentasi harga pokok dan persediaan bamg dagangan dihitung terpisah untuk setiap bagian.

Methode di atas bukanlah merupakan keharusan untuk dipakai dalarn menghitung nilai secara phisik pada akhir tahun. Waktu menghitung secara phisik jenis barang akan dicatat pada kertas persediaan menurut harga jual. Pcrhitungan persediaan secara phisik mcnurut harga jual dan kemudian tclah berubah mcnjadi harga pokok dapat diterapkan ratio dari harga pokok barang yang siap dijual kepada harga jual untuk barang dagangan yang sarna.

208

Satu keuntungan dari metode ini yaitu memberikan angka persediaan yang digunakan dalam penyusunan laporan sementara.

Perhitungan rugi laba perusahaan dagang dan toko serba ada dilakukan tiap bulan. tetapi perhitungan secara phisik akan dilakukan setahun sekali. Penetapan laba dan perhitungan phisik sering dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan juga untuk mengadakan koreksi dengan jalan membandingkan persediaan barang menurut perhitungan phisik dengan metode eceran.

SISTEM BALANS PERMANEN

Kegunaan dari sistem persediaan tetap untuk barang-barang dagangan yaitu sangat efektif dalam kontrol atas assets yang penting ini. Mungkin sistem ini dapat dibuat dalam bentuk catatan diluar pembukuan atau terbatas mengenai kwantitas saja. Catatan yang lengkap diintegrasikan dengan general ledger jika memungkinkan. Dasar sistem ini adanya pencatatan penambahan dan pengurangan barang dagangan seperti pencatatan kas.

Tidak seperti uang kas, barang dagangan mempunyai banyak jenis sehingga diperlukan buku besar pembantu untuk mencatat penambahan, pengurangan atau pengembali an. Karena itu mungkin untuk satu perusahaan barang dagangannya terdiri dari dua ratus jenis akan membutuhkan dua ratus perkiraan dalam buku persediaan (inventory ledger).

Perbandingan antara methode penetapan harga pokok persediaan.

Bila keadaan stabil maka ketiga methode di atas tidak akan mempunyai pengaruh atau perbedaan yang besar, tetapi bila harga mengalarni perubahan-perubahan maka hasilnya juga akan terpengaruh terhadap :

1. Persediaan barang dagangan pada akhir periode maupun.

2. Harga pokok penjualan dan laba bersih yang ditetapkan untuk periode tersebut.

Contoh-contoh dari efek penerapan ketiga methode ini telah dijelaskan di muka. Dengan melihat nilai hasil yang berbeda-beda dari contoh di muka, perlu diketahui baik jumlah laba maupun nilai persediaan akan terpengaruh jumlahnya. Untuk methode yang menghasilkan angka terendah dari harga pokok penjualan akan menghasilkan angka tertinggi untuk laba, dan sebaliknya angka nilai persediaan terendah akan menghasilkan angka terendah untuk laba kotor dan laba bersih.

Pemakaian methode FIFO untuk periode dim ana terjadi kenaikan harga terus menerus akan menghasilkan laba bersih tertinggi dibandingkan dengan methode lainnya. dan sebaliknya bila diterapkan methode LIFO efek yang terjadi akan mengurangi laba. Penerapan Weighted average methode merupakan pendekatan antara methode FIFO dan LIFO. Efek perkembangan harga akan berjalan baik, demikian juga dalam hal penetapan

209

laba bersih maupun harga pokok persediaan dari pembelian tertentu akan sama tanpa memperhatikan arah perkembangan harga. Hanya utnuk methode ini biaya tambahan perlu dikeluarkan bila pembelian dilakukan berkali-kali serta banyaknya macam barang.

Perbandingan ini menunjukkan akan pentingnya pemilihan methode penilaian. Setiap pemilikan methode hams digunakan secara konsisten dari tahun ke tahun, terkecuali ada alasan yang kuat untuk merubah salah satu methode ini. Efek dari setiap perubahan methode harus dijelaskan dalam laporan keuangan untuk periode fiskal dimana perubahan ini dilakukan.

Penilaian berdasarkan atas harga terendah antara harga pasar dan harga pokok.

Altematif lain adalah dengan cara membandingkan antara pokok dengan harga pasar dan dipilih yang terendah dari keduanya.

Hal ini akan mempengaruhi harga jual serta mengurangi laba kotor dan laba bersih untuk peri ode dim ana harga turun. Pada periode tersebut dijual dengan harga yang lebih rendah akan menghasilkan laba kotor yang lebih besar dari normal.

Sebagai contoh dianggap harga pokok per unit Rp.l.400,- dijual pada periode tertentu seharga Rp. 2.000,- yang berarti menghasilkan lab a kotor Rp. 600,- per unit atau 30 % dari harga jual. Bila harga pasar turun menjadi Rp. 1.800,- maka laba kotor akan berarti 30 % dari harga jual.

Karena itu penilaian barang dagangan dari persediaan sebesar Rp. 1.260,- akan mengurangi laba bersih pada periode sekarang sebesar Rp. 140,-. Sedangkan bila dinilai dengan harga pokok sebesar Rp. 1.400,- maka laba bersih tahun lalu sebesar RP. 140,berarti laba bersih pada periode berikutnya lebih kecil sebesar Rp. 140,-.

Methode penilaian harga yang terendah antara harga pokok dan harga pasar (Lower of cost or market atau Cost or market which ever is lower) dapat diterapkan pada :

a. Tiap-tiap jenis barang dalam persediaan.

b. Tiap-tiap kelompok besar barang dalam persediaan.

c. Persediaan barang secara keseluruhan.

210

Penerapan methode ini digambarkan di dalam tabel seperti di bawah ini :

Unit Unit Total
Description Quantity Cost Market Lower
Price Price Cost of Cor M
Commodity A 400 2.050 1.900 Rp. 820.000 Rp. 760.000
Commodity B 120 4.500 4.820 Rp.540.000 Rp.540.ooo
Commodity C 600 1.600 1.550 Rp.960.oo0 Rp.930.ooo
Commodity D 280 2.800 2.800 Rp. 784.000 Rp. 784.000
Rp.3. 104.000 Rp.3.014.oo Bentuk buku besar pembantu digambarkan sebagai bcrikut :

Jenis barang 65 BA
Pembelian Pcnjualan Saldo
Tanggal Jumlah Ban- Jumlah Ban- Jumlah Harga
Banyak harga pokok yak harga pokok yak harga pokok pokok unit
Jan. 1 - - - - 200 40.000 200
Feb. 4 - - 140 28.000 60 12.000 200
Mar. 10 160 33.600 - - 60 12.000 200
160 33.600 210
Apr. 22 - - 80 16.200 140 29.400 210
Mei 18 - - 40 8.400 100 21.000 210
Agus.30 200 46.000 - - 100 21.000 210
- - - 200 44.000 220
Okt. 7 - - 80 16.800 20 4.200 220
200 44.000 220
Nop. 11 - - 160 35.000 60 13.200 220
Des. 13 200 - - - 60 46.000 230
44.000 200 13.200 220
20 - 60 13.200 200 46.000 230 211

Dalam sistem balans pennanen penetapan harga pokok barang perlu diadakan identifikasi antara barang yang dijual dari kelompok barang tertentu apabila tidak dipergunakan arus biaya.

Dari contoh di atas digunakan methode FIFO setelah penjualan sebanyak 14 unit pada tanggal 4 Februan, persediaan tinggal 6 unit a Rp. 200.-. Pembelian tanggal 10 Maret = 16 unit a Rp. 210.- tidaklah dapat digabungkan dengan 3 x 6 unit.

6 unit harga pokok a Rp. 200.- per unit. 2 unit harga pokok a Rp. 210.- per unit.

Krena itu penjualan 8 unit (April 22) terdiri dari : 6 unit harga pokok a Rp. 200.- per unit. 2 unit harga pokok a Rp. 210.- per unit.

Sistem balans juga bisa diterapkan dengan arus biaya menurut methode rata-rata tertim bang walaupun dengan sedikit mengalami sedikit perubahan. Untuk sistem balans dengan harga pokok rata-rata tiap jenis barang tidak ditetapkan pada akhir tahun melainkan setiap terjadi pembelian dan cara ini disebut Moving Average.

Di samping untuk laporan sernentara, buku besar pembantu persediaan juga dapat digunakan untuk menentukan tingkat optimal dengan cara sering membandingkan saldo persediaan yang terlebih dahulu ditetapkan. Dengan sering membandingkan saldo persediaan dengan angka yang ditetapkan terlebih dahulu untuk tingkat maksimum dan minimum memberikan bantu an untuk :

1. Menentukan pemesanan kembali tepat pada waktunya, sehingga kerugian penjualan dapat dihindarkan.

2. Persediaan yang bertumpuk-tumpuk dapat dihindarkan.

MET ODE KOTOR DI DALAM MENAKSIR PERSEDIAAN

Apabila perpetual inventory diterapkan atau diterapkan metode retail inventory, persediaan yang dimiliki perusahaan dapat segera ditutup setiap saat dan tidak penting untuk menghitung persediaan secara phisik. Apabila kedua sistem di atas tidak ada, maka persediaan barang dapat ditaksir dengan menggunakan methode laba kotor (gross profit) yang berguna untuk menaksir realisasi gross profit dari penjualan selama peri ode yang bersangkutan.

Jika prosentase gross profit dari penjualan diketahui, maka jumlah penjualan selama

periode tersebut dapat dibagi dalam dua bagian : 1). Gross profit.

2). Harga pokok penjuaJan.

Yang terakhir ini dapat dikurangi dari harga pokok barang-barang yang siap dijual untuk menentukan taksiran nilai barang yang ada di dalam persediaan.

Contoh:

Ditetapkan bahwa gross profit ditaksir sebesar 30 % dari hasil penjualan bersih.

212

Merchandise inventory. Januari 1..................................................... Rp.

Purchases in January (net) Rp.

5.100.000.- 2.700.000.-

Merchandise available for sale Rp.

Sales in January Rp. 4.500.000.-

Less estimated gross profir

(Rp.4.500.000.- x 30 %) Rp. 1.350.000.-

7.800.000.-

Estimated cost of merchandise sold.......... Rp.

3.150.000.-

Estimated merchandise inventory,

Januari 31 Rp.

4.650.000.-

Taksiran mengenai prosentase laba kotor biasanya didasarkan atas prosentase sesungguhnya pada tahun yang lalu, kemudian disesuaikan dengan perubahan-perubahan mengenai"mark up" pada periode terse but.

Cara ini dapat pula dipakai untuk mengadakan taksiran tentang barang-barang dagangan yang terjual.

213

SO A L 9

( Soall - 9 )

Persediaan awal dari Perusahaan dagang Purnama dan transaksi pembelian-pembelian serta penjualan-penjualan selama 3 bulan. diperlihatkan seperti di bawah ini :

1 Jan Persediaan .......................................... 100 unit a Rp.280,- = Rp.28.000,-
10 Jan Pembelian ........................................... 200 unit a Rp.285,- = Rp.57.000,-
12 Jan Penjualan ............................................ 120 unit a RpAOO,- = RpA8.000,-
25 Jan Penjualan ............................................ 80 unit a RpAOO,- = Rp.32.000,-
4 Feb Pembelian .......................................... 160 unit a Rp.290,- = RpA6Aoo,-
6 Feb Penjualan ........................................... 100 unit a RpAoo,- = RpAO.OOO,-
12 Feb Penjualan ........................................... 60 unit a Rp.4oo,- = Rp.24.000,-
20 Feb Pembelian .......................................... 140 unit a Rp.3oo.- = RpA2.000,-
3 Mar Penjualan ........................................... 120 unit a RpA20.- = Rp.50AOO,-
11 Mar Penjualan ........................................... 60 unit a RpA20,- = Rp.25.2oo,-
16 Mar Pembelian .......................................... 200 unit a Rp.305,- = Rp.61.000,-
23 Mar Penjualan ........................................... 110 unit a RpAOO,- = RpA4.000,- Diminta :

1. Catatlah persediaan tersebut, pembelian dan harga pokok penjualan (cost of goods sold) dengan sistem pencatatan "perpetual inventory" (mencatat setiap ada perubahan persediaan) dengan menerapkan methode first in first out.

2. Hitunglah jumlah penjualan dan jumlah harga pokok penjualan untuk periode tersebut serta nyatakanlah hasilnya di dalam general journal dengan dua ayat.

3. Tentukanlah Gross profit dari penjualan barang-barang ini.

4. Tentukanlah nilai persediaan per 31 Maret dengan menganggap digunakan sistem periodik persediaan dan juga ditetapkan dengan methode "last-in, first our'.

( Soal 2 - 9 )

Toko "Sinar Jaya" memakai sistem persediaan periodik.

Keterangan-keterangan mengenai persediaan pesawat radio pada tanggal1 Januari, fakturfaktur pembelian (purchases invoice) selama tahun 1981 dan perhitungan jum1ah persediaan pada tangga1 31 Desember diikut sertakan berikut ini :

214

Persediaan Faktur-faktur Pembelian Jumlah
Model 1 Januari Pers.
Pertama Pertama Pertama 31 Des
TR.l 40 a 24.000 60 a 25.200 40 a 25.200 50 a 26.000 70
TR.3 70 a 43.600 80 a 43.600 50 a 44.800 60 a 45.600 60
CB.6 20 a 59.600 40 a 58.000 20 a 58.800 20 a 59.600 30
RB.2 40 a 80.000 40 a 82.000 60 a 83.200 40 a 84.000 40
AS.7 60 a 104.000 40 a 105.200 60 a 108.000 40 a 108.000 60
SE.4 - 20 a 120.000 20 a 124.000 - 25
DE.6 60 a 142.000 40 a 140.400 90 a 136.000 30 a 132.000 50 Diminta :

A. Tentukanlah harga persediaan (the cost of the inventory) pada tanggal 31 Desember 1981 dengan methode "first-in, first-out". Tempatkanlah perhitungan tersebut dengan bentuk kolom seperti di bawah ini.

Jika persediaan model tertentu terdiri dari suatu jumlah keseluruhan yang lain yang diperoleh dengan harga satuan yang berbeda maka gunakanlah baris yang terpisah untuk masing-masing jumlah tersebut.

Model

Quantity

Unit cost

Total cost

B. Tentukanlah harga persediaan pada tanggal 31 Desember 1981 dengan methode last-in, first-out dengan mengikuti prosedur seperti yang diterangkan dalam pertanyaan A.

C. Tentukanlah harga persediaan pada tanggal 31 Desember 1981 dengan methode "weighted average" dengan menggunakan judul-judul kolom seperti yang ditunjukkan dalam pertanyaan A.

( Soal 3 - 9 )

Suatu perusahaan pada permulaan pembukuan mempunyai perse diaan 400 unit dengan harga Rp.280,- per unit. Selama satu periode perusahaan telah melakukan transaksi pembelian-pembelian yang terlihat seperti berikut :

Membeli 1.000 unit a Rp.320,Membeli 800 unit a Rp.350,Membeli 800 unit a Rp.360,Membeli 600 unit a Rp.360,Membeli 400 unit a Rp.380,-

Akhir periode pembukuan, perusahaan mempunyai persediaan 600 unit.

215

Diminta:

1). Buatlah perhitungan agar didapatkan gambaran secara terperinci maupun total, unit yang dijual selama periode tersebut.

2). Dengan anggapan perusahaan menggunakan sistem persediaan periodik, buatlah perhitungan untuk menggambarkan bagian dari biaya unit yang dijual denganmemperhatikan nilai persediaan akhir dan bagian biaya penjual yang telah teIjadi apabila:

a. diterapkan methode FIFO.

b. diterapkan metode LIFO.

c. diterapkan average cost.

( Soal 4 - 9 )

Sebagian data yang dipilih mengenai persediaan barang dagangan, pembelian dan penjualan untuk perusahaan "Mekar Jaya dan Perseroan Terbatas "Merdeka Jaya digambarkan sebagai berikut

" MEKAR JAY A " Retail

Cost

Merchandise Inventory. June 158.995.000.-

Transaksi-transaksi selama bulan Juni :

Purchases .

Purchases discount .

Sales .

Sales return and allowance .

89.130.000.-

18.140.000.- 162.000,-

29.290.000.- 56.100.000,- 640.000.-

"PT. MERDEKA JAY A"

Merchandise inventory. July 1 .

Transaksi bulan Juli dan Agustus :

Purchases .

Purchases discount .

Sales ..

Sales return and allowance .

Estimated gross profit rate ..

216

39.180.000. -

62.180.000,- 580.000.- 94.000.000,- 820.000.- 34 %.

Diminta :

A. Tentukanlah "harga persediaan barang dagangan menurut taksiran (the estimated cost of the merchandise inventory) dari Perusahaan "Mekar Jaya" pada tanggal 30 Juni dengan metode eceran/retail method, seta buatlah perincian atas perhitungan tersebut.

B. Taksirlah nilai persediaan barang dagangan "PT. Mekar Jaya" pada tanggal 31 Juli dengan metode laba kotor, buatlah perincian perhitungannya.

( Soal 5 - 9 )

Trial Balance yang belum dilakukan penyesuaian dari perusahaan "Siliwangi Motor" perusahaan yang ditunjuk sebagai agen sepeda motor Honda dan Yamaha, pada akhir tahun yang sedang berjalan, digambarkan sebagi bcrikut :

"SILIW ANGI MOTOR" TRIAL BALANCE Desember 31, 1983.

Cash .

Accounts receivable .

Allowance for doubtful-accounts .

Merchandise inventory .

Equipment .

Accumulated depr-equipment .

Accounts payable .

Adiwijaya, Capital .

Adiwijaya, Drawing .

Sales .

Purchases .

Operating expense (control account) .

Interest income .

Interest expense .

3.978.000 5.505.000

13.710.000 9.990.000

360.000

44.520.000 14.040.000

292.500

97.000

9.990.000 8.595.000 11.658.000

68.220.500

75.000

92.395.500

92.395.500

Data yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian pada tanggal 31 Desembcr tergambar sebagai berikut :

a. Persediaan barang dagangan pad a tanggal 31 Desember dengan memakai metode "lower of cost (first, out) atau market, Rp. 14.925.000,-.

217

b. Uncollectible acounts expense ditaksir sebesar Rp. 326.100,- untuk tahun yang sedang berjalan.

c. Penyusutan equipment untuk tahun yang sedang berjalan Rp. 300.000,-.

d. Accrued wages pada tanggal 31 Desember, Rp. 120.000,-

Diminta :

Siapkan neraca lajur 10 kolom.

( 80al 6 - 9 )

Pembelian dan penjualan barang A 'yang dilakukan "PT. HORISON" selama tahun 1980 sebagai berikut :

Pembelian

Tanggal

Unit

Cost

Unit yang dijual

======

------

------

==========

=============

20 Januari 4 Maret 10 April 31 Mei

3 Juli

26 Agustus 10 Oktober 20 Nopember 21 Desember

150 900

Rp. 22.950,- 132.300,-

750 450 300 150 300

600 450

90.000,- 66.150,-

150 100

150

22.200,-

Persediaan barang A pada tanggal 1 Januari sebanyak 1500 unit dengan cost (a) Rp. 150,-.

Jika pembelian dan penjualan terjadi pada hari yang sarna, dianggap pembelian terjadi lebih dahulu.

Diminta :

a. Hitunglah persediaan barang A pada tanggal 31 Desember 1980 dengan metode :

1. Last in first out,

2. FIrst in first out.

b. Buatlah kartu persediaan barang-barang A dengan metode FIFO jika Pf "HORISON" menggunakan metode perpetual.

218

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->