SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI PADA SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 9 TAHUN

2006/NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT Tanggal 17 April 2006

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saudara Menteri Dalam Negeri yang saya hormati Saudara Wakil Gubernur Seluruh Indonesia Saudara Kepala Kesbang Provinsi seluruh Indonesia Saudara Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama seluruh Indonesia Saudara Pejabat Eselon I dan II Departemen Dalam Negeri dan Departemen Agama Pusat Saudara-saudara undangan yang saya hormati,

Puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan rahmat-Nya yang senantiasa diberikan kepada kita semua. Selanjutnya saya ingin ikut mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara yang telah memenuhi undangan Saudara Menteri Dalam Negeri pada acara sosialisasi yang diselenggarakan bersama antara Departemen Agama dengan Departemen Dalam Negeri.

1

Seperti diketahui, sekitar akhir 2004 atau awal 2005 mencuat kembali pendapat pendapat dalam masyarakat yang menganjurkan untuk mencabut atau mempertahankan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-pemeluknya. Meresponi perkembangan tersebut, Pemerintah melalui Departemen Agama melakukan kajian ulang terhadap SKB tersebut. Pada tanggal 31 Maret 2005, pengkajian telah selesai. Diantara hasil kajian tersebut adalah bahwa kehadiran SKB relevan karena masalah pendirian rumah ibadat menjadi salah satu sebab yang dapat mengganggu hubungan antar umat beragama sehingga perlu diatur. Temuan lain adalah bahwa dalam SKB tersebut terdapat kalimat-kalimat yang multitafsir. Di samping itu karena singkatnya SKB, hanya terdiri dari 6 (enam) pasal, maka tidak ada penjelasan tentang standar pelayanan terukur untuk meresponi permohonan pendirian rumah ibadat. Sementara itu terdapat kenyataan yang perlu mendapat perhalian kita bersama bahwa ternyata jumlah rumah ibadat semua kelompok agama yang ada di Indonesia setelah SKB Nomor 1 Tahun 1969 diberlakukan, berkembang dengan pesat. Apabila kita bandingkan data keagamaan tahun 1977 dan 2004, ternyata rumah ibadat Islam bertambah jumlahnya dari 392.044 pada tahun 1977 menjadi 643.834 pada tahun 2004 (kenaikan sebesar 64%). Rumah ibadat Kristen bertambah jumlahnya dari 18.977 pada tahun 1977 menjadi 43.909 pada tahun 2004 (kenaikan sebesar 131%). Rumah ibadat Katholik bertambah jumlahnya dari 4.934 pada tahun 1977 bertambah jumlahnya menjadi 12.473 pada tahun 2004 (kenaikan sebesar 153%). Sedangkan rumah ibadat Buddha bertambah jumlahnya dari 1.523 pada tahun 1977 menjadi 7.129 pada tahun 2004 (kenaikan sebesar 368%). Data tersebut telah diverifikasi dengan Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, Dirjen Bimas Kristen, Dirjen Bimas Katholik, serta Dirjen Bimas Hindu dan Buddha. Meskipun demikian diakui pula bahwa di lapangan terkadang ada masalah yang mempengaruhi hubungan antar umat beragama akibat permasalahan rumah ibadat seperti tidak jelasnya syarat-syarat yang diatur dalam SKB, tidak jelasnya pelayanan terukur yang ditawarkan pemerintah dan kurangnya komunikasi antara pihak-pihak yang hendak mendirikan rumah ibadat dengan umat beragama dan pemeluk-pemeluk agama di sekitar lokasi rumah ibadat yang hendak dibangun. Karena itu perlu ada penyempurnaan terhadap SKB Nomor 1 Tahun 1969 tersebut. Terkait dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka masalah pengaturan pendirian rumah ibadat yang tertuang dalam SKB tersebut perlu diselaraskan agar mengacu pada Undang-Undang tersebut.

2

Selanjutnya, pada tanggal 7 September 2005 telah dilakukan rapat bersama antara Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, Jaksa Agung, Kapolri, Menteri Hukum dan HAM, dan sejumlah pejabat lainnya untuk membahas penyempurnaan SKB tersebut. Rapat menyimpulkan bahwa SKB tersebut perlu disempurnakan supaya mengacu kepada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Kemudian mulai tanggal 12 September 2005 diadakan rapat-rapat setingkat Eselon I pada Departemen Agama dan Menteri Dalam Negeri untuk menyusun draf penyempurnaan. Di lingkungan internal Departemen Agama sendiri telah dilakukan sejumlah pertemuan dengan seluruh pejabat Eselon I khususnya para Dirjen Bimas untuk menyiapkan draf awal tersebut. Pada awal Oktober 2005, draf penyempurnaan SKB yang dihasilkan Departemen Agama dan Depertemen Dalam Negeri telah siap untuk dibahas dengan majelis-majelis agama. Adapun pembahasan draf tersebut dengan wakil majelis agama sendiri berlangsung sebanyak sebelas kali, sepuluh kali diantaranya berlangsung mulai bulan Oktober 2005 sampai dengan 30 Januari 2006. Sedangkan pembahasan kesebelas (terakhir) dilakukan dengan majelis agama tanggal 21 Maret 2006 dan dihadiri langsung oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Secara umum dapat kami katakan bahwa proses pembahasan itu telah berjalan dengan intensif, terbuka, dan bersifat kekeluargaan. Semua rumusan yang dibahas mencapai titik temu sebagai jalan keluar berkat kelapangan dada dan kebesaran jiwa masing-masing pemuka agama yang mewakili majelismajelis. Perlu kami laporkan bahwa pada pembahasan pertama dan kedua, setiap majelis diwakili oleh 4 orang, sedangkan pada pembahasan ketiga sampai dengan kesebelas setiap majelis diwakili oleh 2 orang sebagai tim perumus. Majelis-majelis agama yang mengirimkan wakilnya untuk merumuskan draf itu adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Dapat kami laporkan pula bahwa sekitar 90% dari draf yang disiapkan pemerintah pada bulan September 2005, telah mengalami perubahan yang sangat mendasar, baik dari segi substansi maupun formulasi rumusannya, dibandingkan dengan hasil rumusan akhir yang disepakati tanggal 21 Maret 2006, yang kemudian ditandatangani oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tanggal itu juga. Berkenaan dengan proses penyusunan Peraturan Bersama Menteri ini, Pemerintah menyadari bahwa dalam era reformasi partisipasi masyarakat sangatlah penting. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan secara khusus mengatur tentang partisipasi masyarakat. 3

kewajiban Pemerintah untuk menampung masukan secara lisan dan tertulis dari masyarakat. Karena itu pengaturan ini sama sekali tidak mengurangi kebebasan beragama yang disebut dalam Pasal 29 UUD 1945. sesungguhnya hanya terhadap kedua bentuk peraturan perundang -undangan tersebut.Bab X Pasal 53 Undang-Undang tersebut berbunyi: "Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Daerah". Tetapi kehadiran sebuah Peraturan Bersama Menteri tidaklah dilarang dalam sistem peraturan perundangan di Indonesia. dan sebagainya. Inilah prinsip sekaligus tujuan dari Peraturan Bersama ini. Namun demikian. karena setiap peraturan memang pada dasarnya adalah lebih rendah dari pada peraturan perundangan yang ada di atasnya. kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggitingginya kepada seluruh pimpinan majelis agama atas kerjasama yang amat baik yang telah diberikan selama ini. Sedangkan membangun rumah ibadat adalah tindakan yang berhubungan dengan warga negara lainnya karena kepemilikan. Untuk itu dalam kesempatan ini. kedekatan lokasi. Beribadat dan membangun rumah ibadat adalah dua hal yang berbeda. Tentu saja Peraturan Bersama ini dari segi yuridis formal tidaklah sekuat Undang-Undang. Sebagian warga masyarakat memang ada yang mempertanyakan mengapa masalah agama diatur oleh pemerintah. maka dalam rangka bersama-sama masyarakat luas khususnya pimpinan majelis agama untuk membangun kerukunan nasional sebagaimana dicita-citakan oleh UUD 1945. karena Pemerintah memandang begitu pentingnya materi yang dimuat dalam Peraturan Bersama ini. Menurut ketentuan ini. kemudian dalam waktu yang sama harus tetap menjaga kerukunan umat beragama dan menjaga ketentraman serta ketertiban masyarakat. bukankah itu merupakan bagian dari kebebasan beragama. Karena itu maka prinsip yang dianut dalam Peraturan Bersama ini ialah bahwa pendirian sebuah rumah ibadat harus memenuhi peraturan perundang-undangan yang ada. Dalam kaitan ini ingin kami jelaskan bahwa yang diatur oleh Peraturan Bersama ini bukanlah aspek doktrin agama yang merupakan kewenangan masing-masing agama. Beribadat adalah ekspresi keagamaan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa. melainkan hal-hal yang terkait dengan lalu lintas para pemeluk agama yang juga warga negara Indonesia ketika mereka bertemu sesama warga negara Indonesia pemeluk agama lain dalam mengamalkan ajaran agama mereka. Semoga bangsa Indonesia semakin rukun dan kokoh dalam membangun masa depan. penyusunan Peraturan Bersama ini telah melibatkan secara penuh majelis-majelis agama bukan hanya dalam memberi masukan tetapi sekaligus menyusun dan menyelesaikan rancangan Peraturan Bersama Menteri ini. 4 .

Sedangkan pada aspek pelaksanaan pembangunan dan kehidupan beragama itu sendiri tentu saja dapat dilakukan oleh semua warga masyarakat Indonesia di seluruh tanah air termasuk oleh pemerintahan daerah. FKUB ini akan bertugas melakukan dialog dengan pemuka agama dan masyarakat. pengaturan dan pemberdayaan umat beragama. dan masalah pendirian rumah ibadat. Kemudian. Wadah ini disebut Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang akan menjadi tempat dimusyawarahkannya berbagai masalah keagamaan lokal dan dicarikan jalan keluamya. 5 . Saudara Menteri Dalam Negeri. sebagaimana dipahami sepintas dari Pasal 10 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. diperlukan adanya suatu wadah di tingkat lokal dalam hal ini kabupaten/kota dan provinsi untuk menghimpun para pemuka agama balk yang memimpin maupun tidak memimpin ormas keagamaan yang menjadi panutan masyarakat. Selanjutnya terkait dengan isi dari Peraturan Bersama tersebut ijinkan saya menegaskan bahwa intinya Peraturan Bersama itu memuat 3 (tiga) pedoman pokok yaitu pedoman tentang tugas-tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama sebagai bagian penting dari kerukunan nasional. masalah pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Substansi Peraturan Bersama ini secara tersirat menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kewenangan pemerintah pusat di bidang agama adalah pada aspek kebijakannya. maka umat beragama bukanlah objek melainkan adalah subjek di dalam upaya pemeliharaan kerukunan. Dengan demikian. Terkait dengan pemberdayaan FKUB dapat kami jelaskan bahwa prinsip yang dianut oleh Peraturan Bersama ini adalah bahwa pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan Pemerintah di bidang pelayanan. para Wakil Gubernur dan hadirin yang kami hormati. menampung dan menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dan melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan pemberdayaan masyarakat. Lebih jauh Peraturan Bersama ini juga menegaskan secara tersurat bahwa pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah bagian penting dari pembinaan kerukunan nasional yang menjadi tanggungjawab kita semua. Khusus FKUB tingkat kabupaten/kota salah satu tugasnya adalah memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah ibadat. agar pemberdayaan umat beragama dapat terlaksana dengan balk.Peraturan Bersama ini juga menghilangkan keraguan sementara orang yang menyatakan bahwa pemerintahan daerah tidak mempunyai kewenangan dan tanggung jawab di bidang kehidupan keagamaan.

Hanya saja memang ada rumah ibadat yang melayani umat dari suatu kelurahan/desa. dan apabila pada tingkat kabupaten/kota belum terwujud. maka Provinsi Bali sebenarnya selama ini telah menempuh persyaratan minimal 200 orang. maka penilaian keperluan nyata dan sungguh-sungguh itu dilakukan pada tingkat provinsi. Mengenai keharusan memiliki jumlah calon pengguna rumah ibadat sebanyak 90 orang. Terkait dengan syarat-syarat pendirian rumah ibadat yang dalam Peraturan Bersama Menteri termuat pada pasal 13 dan 14. atau 40 KK. Di Provinsi Riau misalnya diatur jumlah syarat minimal adalah 40 KK. Apabila sebuah KK minimal terdiri atas 2 orang. dapat kami jelaskan bahwa angka itu diperoleh setelah mempelajari kearifan lokal di tanah air. tetapi dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi oleh Pemerintah. Demikian pula apabila pada tingkat kecamatan pun keperluan nyata dan sungguh sungguh itu belum terwujud. kalau ada. Ini berarti bahwa yang disebut keperluan nyata dan sungguh-sungguh itu adalah apabila calon pengguna rumah ibadat mencapai angka 90 orang dewasa yang dapat berasal dari 20. di Sulawesi Tenggara diatur jumlah syarat minimal 50 KK. Ketentuan ini hanya berarti bahwa pada tahap sekarang hanya FKUB tingkat kabupaten/kota-lah yang diberi tugas untuk memberi rekomendasi atas permohonan pendirian rumah ibadat. Kami tegaskan pula bahwa ini tidak berarti di tingkat kecamatan dan desa tidak boleh dibentuk FKUB. Seperti diketahui sejumlah gubernur telah melakukan pengaturan tentang hal ini. dan di Bali diatur jumlah syarat minimal itu 100 KK. dapat ikut memberikan pertimbangannya. para wakil majelis agama menyepakati jumlah 90 orang tersebut. ada rumah ibadat yang melayani umat dari beberapa kelurahan/desa di satu kecamatan dan mungkin juga ada rumah ibadat yang melayani gabungan umat dari beberapa kecamatan dalam suatu kabupaten/kota. sementara Riau dan Sulawesi Tenggara masing-masing menerapkan persyaratan minimal 80 orang dan 100 orang. 30. dapat kami jelaskan bahwa Peraturan Bersama ini memandang pendirian rumah ibadat didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. Bertolak dari angkaangka tersebut dan setelah mengadakan musyawarah secara intensif. Hal ini berarti bahwa tidak akan ada umat beragama yang tidak terlayani untuk mendirikan rumah ibadat di negeri ini. 6 . maka penilaian keperluan nyata dan sungguh-sungguh dilakukan pada tingkat kecamatan.Perlu kami tegaskan bahwa FKUB bukan dibentuk oleh Pemerintah. maka penilaian dilakukan pada tingkat kabupaten/kota. Apabila keperluan nyata dan sungguh-sungguh itu tidak dapat terwujudkan pada tingkat kelurahan/desa. Dengan demikian pengaturan ini tidak melanggar kekebasan beragama sebagaimana tertuang pada pasal 29 UUD 1945. meskipun di dalam kenyataan tentu saja FKUB kecamatan dan desa.

Hanya saja bangunan gedung rumah ibadat yang telah dipergunakan secara permanen dan/atau memiliki nilai sejarah. Mengenai bangunan gedung untuk rumah ibadat yang telah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah sebelum berlakuknya Peraturan Bersama ini. Demikian beberapa tal yang perlu saya sampaikan dalam kesempatan ini. Sekali lagi. Khusus mengenai izin sementara pemanfaatan bangunan gedung. dapat kami jelaskan bahwa setiap gedung yang hendak digunakan sebagai rumah ibadat haruslah memenuhi kelaikan fungsi agar terjamin keselamatan para pengguna rumah ibadat. dinyatakan sah dan tetap berlaku. pelaporan tertulis kepada FKUB kabupaten/kota. Akhirnya izinkan saya menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada Saudara Menteri Dalam Negeri yang telah bersama kami memfinalisasi dan menandatangani Peraturan Bersama ini. Ini berarti bahwa sekelompok umat beragama yang telah memenuhi keperluan nyata dan sungguh sungguh tidak akan ditolak keinginannya untuk mendirikan rumah ibadat. karena pada bagian berikutnya dikatakan bahwa apabila dukungan masyarakat setempat yaitu 60 orang itu tidak terpenuhi sedangkan calon pengguna rumah ibadat sudah memenuhi keperluan nyata dan sungguhsungguh. dan pelaporan tertulis kepada kantor Departemen Agama kabupaten/kota. maka Bupati/Walikota membantu memfasilitasi penerbitan IMB untuk rumah ibadat dimaksud. 7 . Selanjutnya ditegaskan bahwa pemberian ijin tersebut meliputi izin tertulis pemilik bangunan. kami mengucapkan terima kasih kepada semua pimpinan majelis agama tingkat pusat yang telah mengirimkan wakil wakilnya untuk ikut andil dalam pembahasan dan perumusan Peraturan Bersama ini. dapat kami jelaskan bahwa angka itu sebenarnya menjadi tidak mutlak. Saudara Menteri Dalam Negeri.Terkait dengan persyaratan dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang. Jiwa dari ketentuan ini adalah untuk mendorong agar setiap bangunan termasuk bangunan yang telah dipergunakan sebagai rumah ibadat secara permanen tetap memiliki IMB rumah ibadat sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Surat keterangan pemberian izin sementara diberikan oleh Bupati/Walikota dan dapat dilimpahkan kepada Camat. hanya saja lokasinya mungkin digeser sedikit ke wilayah lain yang lebih mendapat dukungan masyarakat setempat. rekomendasi tertulis lurah/kepala desa. Saudara Wakil Gubernur serta hadirin yang terhormat. maka pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadat. tetapi yang belum memiliki IMB sebelum berlakunya Peraturan Bersama ini.

Harapan serupa kami tujukan juga kepada para pemuka agama baik di tingkat pusat maupun di daerah. Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kearifan dan melindungi bangsa Indonesia tercinta ini. saya instruksikan agar mempelajari dan memahami dengan sungguh sungguh Peraturan Bersama ini. Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. dan maju ke depan. Terima Kasih . kemudian membantu Gubernur/Wakil Gubernur. Semoga kearifan para pemuka agama panutan masyarakat itu akan memberikan kesejukan bagi pembangunan negeri ini. Demikianlah. Jakarta. Muhammad M. Khusus kepada jajaran Departemen Agama di seluruh Indonesia. semoga Allah SWT. 17 April 2006-04-17 Menteri Agama RI. damai. Kemudian kepada Gubernur dari Wakil Gubernur. Bupati/Walikota serta Wakil Bupati/Wakil Walikota kami berharap kiranya Peraturan Bersama ini dapat dipedomani dan disosialisasikan sebagaimana mestinya guna mewujudkan dan memelihara masyarakat Indonesia yang semakin rukun. Basyuni 8 .Kebesaran jiwa dan kenegarawanan mereka telah memberikan sumbangan besar bagi terumuskannya Peraturan Bersama yang ada sekarang ini. Bupati/Wakil Bupati serta Walikota/Wakil Walikota untuk mempedomani dan mensosialisasikan Peraturan Bersama ini dalam pelaksanaan bimbingan umat beragama di daerah masing-masing.

tugas dan wewenang serta hak dan kewajiban DPRD. saya ingin mengusulkan sebutan yang sing kat yaitu Sosialisasi PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 Tentang Kerukunan Umat Beragama bahkan untuk yang lebih singkat lagi sosialisasi PBM. UU 32/2004 juga telah membagi tugas-tugas dan kewenangan secara baik dan harmonis antara pihak-pihak ini. pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota. 9 . dan sebagainya. antara lain tercermin dari rumusan pembagian urusan pemerintahan. maupun masyarakat berkepentingan dan memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ketiga tujuan ini.SAMBUTAN MENTERI DALAM NEGERI PADA PEMBUKAAN SOSIALISASI PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI Jakarta. tugas dan wewenang serta kewajiban Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. dan (3) peningkatan daya saing daerah. Untuk memudahkan komunikasi. Ohm swasti astu Hadirin yang saya hormati. baik Pemerintah. (2) peningkatan pelayanan umum. Semua pihak. Pada hari ini kita akan memulai serangkaian kegiatan sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama. Salam sejahtera dan selamat pagi bagi kita semua. Untuk itulah. Dalam kesempatan ini saya ingin mengemukakan beberapa pokok pikiran tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah dan tugas kepala daerah/wakil kepala daerah terkait dengan keberadaan PBM tersebut. yaitu (1) peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pasal 2 ayat (3) UU 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah menegaskan tiga tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pemberdayaaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah. 17 April 2006 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

sepertinya tidak ada relevansinya terhadap penyelenggaraan desentralisasi yang menjadi tugas Kepa!a daerahlWakil Kepala Daerah. tetapi pemeliharaan atau penjagaan kerukunan umat beragama jelas menjadi kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. daerah mempunyai kewajiban melindungi masyarakat. Kedua. Tetapi sesungguhnya hal ini terkait dengan persoalan yang fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rumusan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah ini sangat relevan dan sejalan dengan rumusan kewajiban daerah sebagaimana diatur dalam pasa! 22 huruf a UU 32/2004 di atas. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah sama juga dengan menjalankan kewajiban daerah khususnya untuk menjaga kerukunan nasional. pada gilirannya saling berpengaruh dengan kondisi kententraman dan ketertiban masyarakat. Ketiga. kesatuan dan kerukunan nasional. Kerukunan nasional dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk termasuk di dalamnya kerukunan umat beragama. Karena itu. PBM Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 adalah berkenaan dengan Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Itulah sebabnya dalam kesempatan ini saya ingin mengajak perhatian kita terhadap beberapa pasal yang lain. Pertama. Sementara itu. Pasal ini menegaskan bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. menjaga persatuan. Pasa! ini menegaskan bahwa "Dalam menyelenggarakan otonomi. kita akan berpikir bahwa urusan bidang agama menjadi kewenangan Pemerintah bukan menjadi urusan pemerintahan daerah. Walaupun terkait dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang agama. Dengan kata lain.Hadirin yang saya hormati. Sepertinya hal ini merupakan rumusan yang sederhana. pasal ini menegaskan bahwa wakil kepala daerah mempunyai tugas membantu kepala daerah dalam mengoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah. Pasal 27 ayat (1) huruf c. Pasal 26 ayat (1) huruf b UU 32/2004. termasuk yang berkaitan dengan implementasi kerukunan antar umat beragama. Pasal 22 huruf a UU 32/2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Bahkan kinerja kepala daerah juga antara lain diukur dari keberhasilannya memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Bila hanya merujuk pasal ini saja. Kita menyadari bahwa dalam kenyataannya dinamika kemasyarakatan di berbagai daerah. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia". dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang agama sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3) UU 32/2004. Seringkali kita mengaitkan relevansi PBM in. 10 .

adalah Peraturan Menteri. Dengan kata lain. b. sesuai dengan Pasal 26 ayat (1) huruf b tersebut. sebenarnya diperlukan banyak sekali pedoman bagi kepala daerah/wakil kepala daerah. Dalam kerangka Undang Undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. dan (3 )pendirian rumah ibadat. diperlukan banyak lagi peraturan menteri atau peraturan bersama menteri. dan rasa! 26 ayat (1) huruf b. Peraturan Bersama Menteri. terdapat sejumlah instansi vertikal di daerah. Hal ini sepenuhnya dirumuskan dalam konsideran menimbang: a. bahwa setiap orang bebas memilih agama dan beribadat menurut agamanya . wakil kepala daerah membantu kepala daerah dalam mengoordinasikan instansi vertikal di daerah. (2) pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama. dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan atau urusan Pemerintah. keberadaan PBM ini terkait dengan Pasal 6 ayat (3). yaitu (1) pemeliharaan kerukunan umat beragama. sementara dalam kerangka UU 32/2004 PBM ini terkait dengan rasa! 22 huruf a. Itulah sebabnya mengapa PBM ini berjudul Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Adapun substansi atas pedoman ini mencakup tiga hal. atau bahkan peraturan perundangan-undangan yang lain seperti Peraturan Presiden bahkan Peraturan Pemerintah sebagai instrumen pelaksanaan otonomi daerah. Hadirin yang saya hormati. dan c. Tetapi terkait dengan ketiga substansi sebagaimana disebut di atas bentuk peraturan perundang-undangan yang dipilih adalah Peraturan Bersama Menteri. sebagaimana Surat Keputusan Bersama Menteri adalah Surat Keputusan Menteri. Kendatipun tidak dimaksudkan sebagai bentuk intervensi terhadap masing-masing instansi. bahwa hak beragama adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun . Pasal 27 ayat (1) huruf c. Pada hakekatnya.Rumusan pasal ini dapat dipandang merupakan jembatan yang sangat baik berkenaan dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan antara yang menjadi kewenangan Pemerintah dengan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Selain mengacu berbagai pasal tersebut di alas. koordinasi atas pelaksanaan tugas instansi vertikal ini di daerah menjadi tanggung jawab kepala daerah. Dalam hal ini. Dengan demikian sangat jelas bahwa keberadaan PBM ini merupakan salah satu bentuk hukum yang merupakan pelaksanaaan Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk 11 . Memperhatikan luasnya cakupan Pasal 22 huruf a dan Pasal 27 ayat (1) huruf c UU 32/2004. PBM ini juga mempertimbangkan masak-masak beberapa pasal dalam UUD 1945. Seperti diketahui.

dan (10) ketentuan penutup. selain menekuni bidang keagamaan sesuai dengan majelisnya. (9) ketentuan peralihan. Walaupun tidak termasuk peraturan perundangan yang memerlukan masukan dari masyarakat. Khususnya di daerah. Saya berharap kiranya para 12 . juga para pakar bidang hukum yang sangat dihormati di bidangnya masing-masing. Hadirin yang saya hormati. (3) forum kerukunan umat beragama. Bahkan di antara para wakil majelis agama tersebut. kepala kantor departemen Agama. Masih dalam kerangka UU 10/2004. khususnya dalam Pasal 54 ditegaskan bahwa "Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan Peraturan Daerah". tetapi dalam penyusunan PBM ini sepenuhnya melibatkan masyarakat yang diwakili oleh wakil-wakil dari majelis-majelis agama. (7) pengawasan dan pelaporan. (8) belanja. pemerintahan daerah dan masyarakat. Itulah sebabnya mengapa sosialisasi ini untuk pertama kalinya dilakukan bagi wakil gubernur. Keberhasilan pelaksanaan PBM ini tentu menjadi tugas dan tanggung jawab bersama antara pemerintah. Kepala Kanwil Departemen Agama. (2) tugas kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama. peranan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sangat menentukan dalam keberhasilan implementasi PBM ini. (5) ijin sementara pemanfatan bangunan gedung. (6) penyelesaian perselisihan. Tentu saja yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita semua mengawal implementasi PBM ini di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Beberapa pokok pikiran dalam PBM yang nanti akan dibahas secara rinci adalah tentang (1) ketentuan umum. (4) pendirian rumah ibadat. dan Kepala Badan Kesbangpol atau nama lainnya di provinsi.untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. dan Kepala Badan Kesbangpol atau nama lainnya di kabupaten/kota. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para wakil majelis agama yang telah dengan penuh dedikasi menyelesaikan PBM ini. perlu dirancang dan dilaksanakan sosialisasi serupa bagi wakil bupati/wakil walikota. Untuk selanjutnya. serta pada akhirnya kepada seluruh masyarakat.

Hadirin yang saya hormati. MOH MA’RUF 13 . Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. pemerintahan daerah maupun masyarakat. Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan dalam rangka mengawali kegiatan sosialisasi PBM yang merupakan upaya dan jerih payah kita bersama selama ini dalam rangka mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin baik. MENTERI DALAM NEGERI H. Akhirnya semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan jalan bagi upaya kita yang mulia ini. Sekian dan terima kasih. Ohm Santi-Santi Ohm.Gubernur segera memprakarsai sosialisasi PBM ini di provinsinya masingmasing. Hal ini semua hanya dapat dilakukan melalui kerja keras kita bersama baik pemerintah. bertanggungjawab dan transparan.semakin rukun.

bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. d. DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI. Menimbang : a. PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA. bahwa Pemerintah berkewajiban melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan ajaran agama dan ibadat pemeluk14 . bahwa setiap orang bebas memilih agama dan beribadat menurut agamanya. bahwa hak beragama adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. c.PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 9 TAHUN 2006 NOMOR : 8 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA. b.

k. huruf d. bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenangnya mempunyai kewajiban memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.pemeluknya. dan huruf j. e. huruf i. bahwa kerukunan umat beragama merupakan bagian penting dari kerukunan nasional. huruf e. tidak menyalahgunakan atau menodai agama. bahwa daerah dalam rangka rnenyelenggarakan otonomi. g. h. pemanfaatan. pengaturannya perlu mendasarkan dan menyesuaikan dengan ketentuan peraturan perundangundangan. huruf b. kesatuan. perlu menetapkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala 15 . mempunyai kewajiban melaksanakan urusan wajib bidang perencanaan. dan pengawasan tata ruang serta kewajiban melindungi masyarakat. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. j. f. lancar. i. kehidupan beragama. bahwa Pemerintah mempunyai tugas untuk memberikan bimbingan dan pelayanan agar setiap penduduk dalam melaksanakan ajaran agamanya dapat berlangsung dengan rukun. huruf f. huruf c. huruf h. bahwa arah kebijakan Pemerintah dalam pembangunan nasional di bidang agama antara lain peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama. dan kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. bahwa Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/BER/MDN-MAG/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-Pemeluknya untuk pelaksanaannya di daerah otonom. menjaga persatuan. serta tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. serta peningkatan kerukunan intern dan antar umat beragama. huruf g. dan tertib.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 44. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1986 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 24 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3331). 4. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886). 7. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53.Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3298). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. 16 . Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134. 6. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247). Undang-Undang Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 4 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4468). Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2726). 2.

Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1/BER/MDN-MAG/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan Dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-Pemeluknya. 11.8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri. Fungsi. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dan terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2005. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009. 9. Susunan Organisasi dan Tatakerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005. Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama. Tugas. 14. 15. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/WAKIL KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN 17 . Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1/BER/MDN-MAG/1979 tentang Tatacara Pelaksanaan Penylaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia. 13. Keputusan Menteri Agama Nomor 373 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi dan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. 12. 10. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan.

Organisasi Kemasyarakatan Keagamaan yang selanjutnya disebut Ormas Keagamaan adalah organisasi nonpemerintah bervisi kebangsaan yang dibentuk berdasarkan kesamaan agama oleh warga negara Republik Indonesia secara sukarela. 18 . pengaturan. Rumah ibadat adalah bangunan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen. saling pengertian. saling menghormati.KERUKUNAN UMAT BERAGAMA. adalah forum yang dibentuk oleh masyarakat dan difasilitasi oleh Pemerintah dalam rangka membangun. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Bersama in] yang dimaksud dengan: 1. Kerukunan umat beragama adalah keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi. berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. berbadan hukum. dan telah terdaftar di pemerintah daerah setempat serta bukan organisasi sayap partai politik. yang selanjutnya disingkat FKUB. dan pemberdayaan umat beragama. memelihara. Pemeliharaan kerukunan umat beragama adalah upaya bersama umat beragama dan Pemerintah di bidang pelayanan. menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. 5. 4. 6. dan memberdayakan umat beragama untuk kerukunan dan kesejahteraan. PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT. 2. Forum Kerukunan Umat Beragama. tidak termasuk tempat ibadat keluarga. Pemuka Agama adalah tokoh komunitas umat beragama baik yang memimpin ormas keagamaan maupun yang tidak memimpin ormas keagamaan yang diakui dan atau dihormati oleh masyarakat setempat sebagai panutan.

(2) Pasal 4 (1) Pemeliharaan kerukunan umat beragama di kabupaten/kota menjadi tugas dan kewajiban bupati/walikota. Pelaksanaan tugas dan kewajiban bupati/walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh kepala kantor departemen agama kabupaten/kota. Izin Mendirikan Bangunan rumah ibadat yang selanjutnya disebut IMB rumah ibadat. Panitia pembangunan rumah ibadat adalah panitia yang dibentuk oleh umat beragama. pemerintahan daerah dan Pemerintah. (2) 19 .7. 8. Pasal 3 (1) Pemeliharaan kerukunan umat beragama di provinsi menjadi tugas dan kewajiban gubernur. Pelaksanaan tugas dan kewajiban gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh kepala kantor wilayah departemen agama provinsi. ormas keagamaan atau pengurus rumah ibadat. adalah izin yang diterbitkan oleh bupati/walikota untuk pembangunan rumah ibadat. BAB II TUGAS KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Pasal 2 Pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi tanggung jawab bersama umat beragama.

memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di provinsi. mengoordinasikan kegiatan instansi vertikal pemeliharaan kerukunan umat beragama. 20 . e. menerbitkan IMB rumah ibadat. c. di provinsi dalam c. (2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. dan saling percaya di antara umat beragama. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di kabupaten/kota. huruf c. menghormati. saling pengertian. dan sating percaya di antara umat beragama.Pasal 5 (1) Tugas dan kewajiban gubernur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 meliputi: a. mengoordinasikan kegiatan instansi vertikal di kabupaten/kota dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama. lurch. b. menumbuh kembangkan keharmonisan. menumbuhkembangkan keharmonisan. Pasal 6 (1) Tugas dan kewajiban bupati/walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi: a. dan huruf d dapat didelegasikan kepada wakil gubernur. atau kepala desa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan beragama. b. membina dan mengoordinasikan bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan beragama. membina dan mengoordinasikan camat. dan d. saling d. saling pengertian. saling menghormati.

saling BAB III FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Pasal 8 (1) FKUB dibentuk di provinsi dan kabupaten/kota. saling pengertian. menumbuhkembangkan keharmonisan. dan c. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di wilayah kecamatan. sating pengertian. b. dan sating percaya di antara umat beragama. membina dan mengoordinasikan lurah dan kepala desa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan keagamaan. (3) Pasal 7 (1) Tugas dan kewajiban camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) meliputi: a. saling menghormati.(2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. dan saling percaya di antara umat beragama. 21 . dan b. Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c di wilayah kecamatan dilimpahkan kepada camat dan di wilayah kelurahan/desa dilimpahkan kepada lurah/kepala desa melalui camat. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di wilayah kelurahan/desa. menumbuhkembangkan keharmonisan. (2) Tugas dan kewajiban lurah/kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) meliputi: a. dan huruf d dapat didelegasikan kepada wakil bupati/wakil walikota. huruf c. menghorrnati.

b. menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat. (3) Pasal 9 (1) FKUB provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) mempunyai tugas: a.(2) Pembentukan FKUB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah daerah. memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah ibadat. FKUB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki hubungan yang bersifat konsultatif. menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan gubernur. c. dan e. melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan pemberdayaan masyarakat. menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat. dan d. c. melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat. Pasal 10 22 . melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat. (2) FKUB kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) mempunyai tugas: a. menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dalam bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan bupati/walikota. b. d. melakukan soslalisasi peraturan perundang-undangan dan kebijakan di bidang keagamaan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan pemberdayaan masyarakat.

dan b. Anggota : pimpinan instansi terkait. Ketua : wakil bupati/wakil walikota. (3) (4) Pasal 11 (1) Dalam memberdayakan FKUB. 23 . (4) Dewan Penasehat FKUB kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh bupati/walikota dengan susunan keanggotaan: a. 1 (satu) orang sekretaris. Sekretaris : kepala badan kesatuan bangsa dan politik provinsi. b. Wakil Ketua : kepala kantor wilayah departemen agama provinsi. (3) Keanggotaan Dewan Penasehat FKUB provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh gubernur dengan susunan keanggotaan: a. membantu kepala daerah dalam merumuskan kebijakan pemeliharaan kerukunan umat beragama. Dewan Penasihat mempunyai tugas: FKUB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) (2) a. c. Komposisi keanggotaan FKUB provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan berdasarkan perbandingan jumlah pemeluk agama setempat dengan keterwakilan minimal 1 (satu) orang dari setiap agama yang ada di provinsi dan kabupaten/kota. Ketua : wakil gubernur. b. Jumlah anggota FKUB provinsi paling banyak 21 orang dan jumlah anggota FKUB kabupaten/ kota paling banyak 17 orang. FKUB dipimpin oleh 1 (satu) orang ketua. d. memfasilitasi hubungan kerja FKUB dengan pemerintah daerah dan hubungan antar sesama instansi pemerintah di daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama.(1) (2) Keanggotaan FKUB terdiri atas pemuka-pemuka agama setempat. 1 (satu) orang wakil sekretaris. dibentuk Dewan Penasihat FKUB di provinsi dan kabupaten/kota. yang dipilih secara musyawarah oleh anggota. 2 (dua) orang wakil ketua. Wakil Ketua : kepala kantor departemen agama kabupaten/kota.

BAB IV PENDIRIAN RUMAH IBADAT Pasal 13 (1) Pendirian rumah ibadat didasarkan pada keperluan nyata dan sungguhsungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. (2) (3) Pasal 14 (1) (2) Pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung. tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. pertimbangan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota atau provinsi. daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat 24 .c. Sekretaris : kepala badan kesatuan bangsa dan politik kabupaten/kota. Anggota : pimpinan instansi terkait. Pasal 12 Ketentuan lebih lanjut mengenai FKUB dan Dewan Penasihat FKUB provinsi dan kabupaten/kota diatur dengan Peraturan Gubernur. Pendirian rumah ibadat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama. d. serta mematuhi peraturan perundang-undangan. Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pendirian rumah ibadat harus memenuhi persyaratan khusus meliputi: a. Dalam hal keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak terpenuhi.

rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota. 25 . c. Pasal 15 Rekomendasi FKUB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf d merupakan hasil musyawarah dan mufakat dalam rapat FKUB. Pasal 16 (1) Permohonan pendirian rumah ibadat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadat kepada bupati/walikota untuk memperoleh IMB rumah ibadat. pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadat.sesuai dengan tingkat batas wilayah sebagalmana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3). rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota. dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa. dan d. (3) Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terpenuhi sedangkan persyaratan huruf b belum terpenuhi. Bupati/walikota memberikan keputusan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonari pendirian rumah ibadat diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pasal 17 Pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan lokasi baru bagi bangunan gedung rumah ibadat yang telah memiliki IMB yang dipindahkan karena perubahan rencana tata ruang wilayah. b. dituangkan dalam bentuk tertulis.

pelaporan tertulis kepada FKUB kabupaten/kota. pelaporan tertulis kabupaten/kota.BAB V IZIN SEMENTARA PEMANFAATAN BANGUNAN GEDUNG Pasal 18 (1) Pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadat sebagai rumah ibadat sementara harus mendapat surat keterangan pemberian izin sementara dari bupati/walikota dengan memenuhi persyaratan: a. laik fungsi. pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat. izin tertulis pemilik bangunan. Persyaratan laik fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a mengacu pada peraturan perundang-undangan tentang bangunan gedung. Persyaratan pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. rekomendasi tertulis lurah/kepala desa. kepada kepala kantor departemen agama (2) (3) Pasal 19 (1) Surat keterangan pemberian izin sementara pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadat oleh bupati/walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) diterbitkan setelah mempertimbangkan pendapat 26 . c. dan d. meliputi: a. dan b. b.

penyelesaian perselisihan dilakukan oleh bupati/walikota dibantu kepala kantor departemen agama kabupaten/kota melalui musyawarah yang dilakukan secara adil dan tidak memihak dengan mempertimbangkan pendapat atau saran FKUB kabupaten/kota. BAB VI PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 21 (1) Perselisihan akibat pendirian rumah musyawarah oleh masyarakat setempat. (2) Surat keterangan pemberian izin sementara pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku paling lama 2 (dua) tahun. penyelesaian perselisihan dilakukan melalui Pengadilan setempat. (3) Pasal 22 27 . ibadat diselesaikan secara (2) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dicapai. Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dicapai. Pasal 20 (1) (2) Penerbitan surat keterangan pemberian izin sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dapat dilimpahkan kepada camat.tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota dan FKUB kabupaten/kota. Penerbitan surat keterangan pemberian izin sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah mempertimbangkan pendapat tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota dan FKUB kabupaten/kota.

dan pengaturan pendirian rumah ibadat di provinsi kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama dengan tembusan Menteri Koordinator Politik.Gubernur melaksanakan pembinaan terhadap bupati/walikota serta instansi terkait di daerah dalam menyelesaikan perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. (2) Bupati/walikota dibantu kepala kantor departemen agama kabupaten/kota melakukan pengawasan terhadap camat dan lurah/kepala desa serta instansi terkait di daerah atas pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama. Hukum dan Keamanan. dan Merited Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Pasal 24 (1) Gubernur melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama. Bupati/walikota melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama. pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan setiap 6 (enam) bulan pada bulan Januari dan Juli. dan pengaturan pendirian rumah ibadat di kabupaten/kota kepada gubernur dengan tembusan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama. dan pendirian rumah ibadat. pemberdayaan forum kerukunan umat beragama. pemberdayaan forum kerukunan umat beragama. pemberdayaan forum kerukunan umat beragama. BAB VII PENGAWASAN DAN PELAPORAN Pasal 23 (1) Gubernur dibantu kepala kantor wilayah departemen agama provinsi melakukan pengawasan terhadap bupati/walikota serta instansi terkait di daerah atas pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama. (2) (3) 28 . atau sewaktu-waktu jika dipandang perlu.

BAB VIII BELANJA Pasal 25 Belanja pembinaan dan pengawasan terhadap pemeliharaan kerukunan uma beragama serta pemberdayaan FKUB secara nasional didanai dari dan atas beba Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pasal 26 (1) Belanja pelaksanaan kewajiban menjaga kerukunan nasional dan memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat di bidang pemeliharaan kerukunan umat beragama. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 27 29 . pemberdayaan FKUB dan pengaturan pendirian rumah ibadat di provinsi didanai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah provinsi. (2) Belanja pelaksanaan kewajiban menjaga kerukunan nasional dan memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat di bidang pemeliharaan kerukunan umat beragama. pemberdayaan FKUB dan pengaturan pendirian rumah ibadat di kabupaten/kota didanai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota.

di provinsi dan kabupaten/kota dibentuk paling lambat 1 (satu) tahun sejak Peraturan Bersama ini ditetapkan. (2) FKUB atau forum sejenis yang sudah dibentuk di provinsi dan kabupaten/kota disesuaikan paling lambat 1(satu) tahun sejak Peraturan Bersama inl ditetapkan. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 30 Pada saat berlakunya Peraturan Bersama ini. ketentuan yang mengatur pendirian rumah ibadat dalam Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/BER/MDN-MAG/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran 30 . bupati/walikota membantu memfasilitasi penerbitan IMB untuk rumah ibadat dimaksud. Pasal 28 (1) Izin bangunan gedung untuk rumah ibadat yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah sebelum berlakunya Peraturan Bersama ini dinyatakan sah dan tetap berlaku.(1) FKUB dan Dewan Penasehat FKUB. Dalam hal bangunan gedung rumah ibadat yang telah digunakan secara permanen dan/atau memiliki nilai sejarah yang belum memiliki IMB untuk rumah ibadat sebelum berlakunya Peraturan Bersama ini. diproses sesuai dengan ketentuan IMB sepanjang tidak terjadi pemindahan lokasi. Renovasi bangunan gedung rumah ibadat yang telah mempunyal IMB untuk rumah ibadat. (2) (3) Pasal 29 Peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh pemerintahan daerah wajib disesuaikan dengan Peraturan Bersama ini paling lambat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun.

BASYUNI MENTERI DALAM NEGERI ttd H.Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-Pemeluknya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 31 Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. MOH. MA’RUF 31 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Maret 2006 MENTERI AGAMA ttd MUHAMMAD M.