P. 1
TEORI PENAWARAN UANG

TEORI PENAWARAN UANG

|Views: 6,912|Likes:

More info:

Published by: Farah Sabila Khasani on Nov 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

1

TEORI PENAWARAN UANG

A. Pendahuluan
Yang dimaksud dengan penawaran uang disini adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Perubahan jumlah uang yang beredar secara garis besar dipengaruhi oleh uang inti dan pelipat uang.
Besarnya uang inti sangat tergantung pada tindakan-tindakan yang ditentukan oleh pemerintah
khususnya bank sentral. Pelipat uang, di lain pihak, disamping dipengaruhi oleh perilaku bank sentral
juga ditentukan oleh perilaku agen-agen ekonomi lainnya seperti bank umum dan masyarakat domestic.
Oleh karena itu, selain bank sentral, bank-bank umum dan masyarakat domestic juga memberikan andil
dalam proses penciptaan uang.

B. Pengertian Dasar
Sangat perlu dipahami bahwa konsep uang sangat terkait pada konsep likuiditas. Suatu asset
likuid adalah asset yang dengan mudah dapat diuangkan dengantanpa kehilangan risiko rugi. Pada satu
sisi ekstrim dari spectrum likuiditas, uang tunai adalah asset yang paling likuid dengan daya beli penuh.
Pada tingkat spektrum likuiditas moderat kita mengenal uang kuasi yang secara definitive tidak secara
langsung berfungsi sebagai medium of exchange. Pada sisi ekstrim lainnya kita mengenal asset-aset fisik
yang sangat tidak likuid sebagai alat pertukaran seperti rumah, tanah, obligasi jangka panjang dan
sebagainya. Berdasarka spectrum likuiditasnya, berikut ini adalah bentuk-bentuk uang yang secara resmi
berlaku di Indonesia.

1. Uang Kartal (Currency)
Uang kartal adalah uang yang dijadikan sebagai alat transaksi sah dan wajib diterima
seluruh masyarakat pada perekonomian. Uang kartal umumnya berbentuk uang kertas dan
uang logam yang di Indonesia dibuat oleh Bank Indonesia selaku bank sentral yang diberi hak
tunggal mencetak uang (hak oktroi). Sebelum tahun 1968, pemerintah (otoritas fiskal)
mengeluarkan uang kertas dan uang logam pemerintah yang terdiri dari pecahan-pecahan kecil.
Uang dilindungi oleh Undang-Undang di mana pelaku pemalsuan uang diancam oleh hukuman
denda dan kurungan penjara. Contoh uang kartal seperti uang logam Rp. 100,- uang kertas Rp.
1.000,- dan lain sebagainya.
2. Uang Giral
Uang giral adalah simpanan pada bank-bank pencipta uang giral (BPUG) dan BI yang setiap
dapat ditarik (bahkan seluruh saldonya) untuk ditukarkan denagn uang kartalsebesar jumlah
2

nominalnya dan tidak dikenakan penalty. Uang giral dapat dibilang mudah, aman dan praktis
karena dalam melakukan transaksi di mana seseorang tidak perlu menghitung dan membawa
banyak uang kontan, jika hilang atau jatuh ke tangan orang jahat dapat segera diblokir dan
mudah dalam penggunaannya. Termasuk dalam uang giral adalah:
y Saldo giro rupiah penduduk
y Pengiriman uang (transfer)
y Deposito berjangka yang sudah jatuh tempo
y Simpana lainnya yang sudah jatuh tempo
3. Uang Kuasi
Uang kuasi adalah surat atau sertifikat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat
pembayaran yang sah. Fungsi yang tidak sepenuhnya adalah fungsi alat tukar menukar.
Termasuk uang kuasi:
y Deposito berjangka rupiah, termasuk sertifikat deposito
y Tabungan-tabungan
y Rekening giro dalam valuta sing
y Deposito berjangka dalam valuta asing
y Tabungan dalam valuta asing

4. Uang Primer atau Uang Inti (Primary money, base money , high powered money)
Uang primer adalah seluruh kewajiban moneter dari otoritas moneter terhadap BPUG dan sektor
swasta domestik. Komponen uang primer adalah:
y Uangkartal pada sektor swasta domestic (diluar BPUG, BI, & Pemerintah)
y Uang kartal pada BPUG (kas BPUG)
y Simpanan giro BPUG pada BI
y Simpanan giro sektor swasta domestik pada BI

5. Sistem Moneter
Sistem moneter adalah lembaga-lembaga yang dapat menciptakan uang atau lembaga-lembaga
yang kewajibannya sebagian besar berupa uang. Sistem moneter di indoesia terdiri dari:
a. Otoritas moneter
1. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral
2. Pemerintah
b. Bank pencipta uang giral (BPUG)
BPUG adalah semua bank yang diperbolehkan menerima simpanan giro. Termasuk bank-bank
yang dipersamakan dengan bank umum adalah Bapindo, BPD, danBank Pembangunan Swasta.
3


C. Uang Beredar
Jumlah Uang Beredar (JUB) tidak seluruhnya ditentukan oleh Pemerintah. Perilaku bank-
bank dan masyarakat umum ikut menentukan pula proses timbulnya uang beredar, meskipun
pemerintah masih tetap merupakan pelaku yang paling menentukan.
Dua pengertian tentang uang beredar;
Narrow money, uang kartal dan uang giral
Broad money, narrow money ditambah uang quasi
Quasi money mencakup saldo deposito berjangka dan simpanan tabungan di bank.

Dilihat dari jenisnya: meliputi Narrow Money & Broad Money
a. Narrow Money: M1 = UK + UG
Dalam hal ini:
UK = Uang Kartal atau Currency (uang kertas dan logam) milik/pada/dipegang/dikuasai oleh
swasta domestic (berada di liar sistim moneter).
Sistim moneter = otoritas moneter + BPUG
Otorites moneter = BI + pemerintah
UG = uang giral; saldo rekening Koran milik swasta domestic pada BPUG dan BI (sistim
perbankan).
b. Broad Money: M2 = M1 + (Tabungan, Deposito Berjangka pada BPUG)
= M1 + Uang Kartal pada BPUG
M3 = M2 + ( Tabungan, Deposito Berjangka pada LTNB)
= M2 + Uang kuasi pada LTNB (Lembaga Tabungan Non Bank; mutual saving
banks & postal saving banks)
M4 = M3 + savings & loan shares pada LKBB
UKs = Uang Kuasi; terdiri dari tabungan dan deposito berjangka milik swasta domestic pada
BPUG.
Dilihat dari neraca konsolidasi sistim moneter:
4

Uang beredar adalah kewajiban sistim moneter [otoritas moneter (BI + Pemerintah) + BPUG] terhadap
sektor swasta domestik.

Oleh karena itu tidak termasuk Uang Beredar (M1):
y Kas dan saldo rekening Koran milik pemerintah pada BI & BPUG
y Cadangan resmi pemerintah danbank sentral Negara lain (untuk mata uang yang dipakai sebagai
cadangan devisa yaitu trading currency/reserve currency/convertible currency
y Kas BI dan kas BPUG
y Saldo rekening koran milik BPUG pada BPUG lainnya dan saldo rekening koran milik BPUG pada
BI

D. Uang inti (Reserve Money)
Proses penciptaan uang beredar berawal dari timbulnya uang inti (reserve money), uang inti
adalah seluruh uang yang dikeluarkan oleh pemerintah (bank sentral) ditambah saldo rekening
koran milik bank-bank (atau masyarakat) pada bank sentral. Uang inti bisa pula dilihat sebagai
penjumlahan antara uang kartal dengan cadangan bank (bank reserve).
Jumlah uang inti di masyarakat meningkat karena tiga sebab;
Surplus neraca pembayaran,
Defisit APBN yang dibiayai dengan pencetakan uang baru,
Kenaikan kredit bank sentral kepada bank-bank dan kepada lembaga-lembaga lain.
Keadaan sebaliknya menyebabkan kondisi jumlah uang inti berkurang.
Dalam proses penciptaan uang, bagian dari uang inti yang dipegang oleh masyarakat umum
langsung menjadi uang kartal, sedangkan sisanya yang dipegang oleh bank-bank umum sebagai
cadangan bank kemudian ͞melipatkan diri͟ menjadi uang giral.






5














E. Pelipat Uang (Money Multiplier)
Proses penciptaan uang beredar dari uang inti tersebut diringkas dalam konsep money
multiplier yang menghubungkan antara jumlah uang inti dengan jumlah uang beredar. Nilai dari
money multiplier tergantung kepada;
Kecenderungan masyarakat memegang uangnya dalam bentuk uang kartal (u = K/M
s
).
Berapa besar cadangan yang dipegang bank untuk menjamin uang giral (v = R/D).
Semakin besar u dan v semakin kecil nilai money multiplier. Nilai money multiplier biasanya
lebih besar dari satu, artinya setiap Rp. 1 uang inti bisa menimbulkan lebih dari Rp.1 uang beredar.
Money multiplier (angka pengganda uang) diturunkan dari hubungan antara uang inti atau uang
primer (Money/Monetary Base) denga jumlah uang yang beredar, secara matematis sebagai berikut di
bawah.

MS = UK + UG
6


MB = UK + CD

Dimana,
MS = Jumlah uang yang beredar (M1)
UK = Uang kartal milik swasta domestik
UG = Uang giral milik swasta domestik
MB = Uang Inti
CD = Cadangan Bank Umum yang terdiri dari Kas dan S/O RK pada BI

NS
NB

NS
0K ൅ CB

atau,
NS
NB

ͳ
0KȀNS ൅ CBȀNS

atau,
NS
NB

ͳ
0K
NS
൅ ቀ
CB
0u
ቁ ሺ
0u
NS


Umpamakan
UK/MS = u
CD/UG = v
Kemudian dapat diketahui,
1 = UK/MS + UG/MS
atau,
UG/MS = 1 ʹ u
Jadi (5) dapat dinyatakan kembali sebagai,
NS
NB

ͳ
u ൅ v ሺͳ െ uሻ

atau,
7

NS ൌ
ͳ
u ൅ v ሺͳ െ uሻ
NB
atau,
οNS ൌ
ͳ
u ൅ v ሺͳ െ uሻ
οNB
dimana,
0 < u + v (1 ʹ u) < 1, oleh karena itu

ͳ
u ൅ v ሺͳ െ uሻ
൐ ͳ
Dari persamaan (8) jelas bahwa:
y MB mempunyai pengaruh positif terhadap MS, yaitu jika MB naik maka MS naik (ceteris
paribus), dan sebaliknya.
y u dan v mempunyai pengaruh negative terhadap MS, yaitu jika u naik maka MS turun (ceteris
paribus), dan sebaliknya.

Penyebab perubahan uang inti (ѐMB) adalah net ekspor (X-M), APBN, kredit yang diberika pada
sector swasta domestic (KR), operasi pasar terbuka (jual beli SBI dan SBPU), sehingga (8) menjadi,
οNS ൌ
ͳ
u ൅ v ሺͳ െ uሻ
ሾሺAPBNሻ ൅ ሺX െ Nሻ ൅ KR ൅ 0N0ሿ
dimana,
X ʹ M = ekspor neto dalam neraca perdagangan (pembayaran)
APBN = Anggaran Pendapatan & Belanja Negara
KR = Kredit yang diberikan
OMO = Open Market Operation (jual beli SBI & SBPU)
NOI = Net other item (lainnya bersih)


F. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan untuk mempengaruhi proses penciptaan uang beredar
tersebut. Pemerintah (Bank Sentral) bisa melakukan hal ini dengan mempengaruhi secara tidak
8

langsung nilai money multiplier dan secara langsung besarnya uang inti. Berbagai instrumen
kebijakan moneter tersedia untuk ini.
Menurut Keynes, kebijakan moneter bisa mempengaruhi situasi makro lewat jumlah uang
beredar, tingkat bunga, pengeluaran investasi dan selanjutnya permintaan agregat. Akhir-akhir
ini ekonom mulai memberikan perhatian mereka kepada kebijakan ͞Supply Side͟, yaitu
kebijakan (moneter) yang bisa mempunyai pengaruh lansung terhadap penawaran agregat
(menggeser kurva penawaran agregat). Tetapi sampai sekarang belum ada teori yang mantap
mengenai ͞Sisi Penawaran͟ ini.
Instrument Kebijakan Moneter:
Mempengaruhi Money Multiplier (secara kuantitatif);
Cash-Ratio
Discount-rate
Bunga Giro dan Deposito
Yang mempengaruhi Uang Inti;
Pajak Ekspor
Sertipikat Ekspor
Bea Masuk
Pajak lain
Pengeluaran Pemerintah
Bunga Kredit Bank
Pengawasan Kuantitatif
Credit Ceiling

Efektifitas Kebijakan Moneter
Ada dua kritik mengenai keampuhan kebijakan moneter dalam praktek;
Keynes mengatakan bahwa kebijakan moneter tidak efektif dalam masa depresi karena
adanya ͞liquidity trap͟, hal ini timbul karena tingkat bunga menjadi tidak elastis
terhadap perubahan jumlah uang beredar.
9

Milton Friedman dkk berpendapat bahwa pengaruh kebijakan moneter sulit diterka
(kapan dan berapa besar) sehingga menyulitkan penggunaannya dalam praktek. Mereka
menyarankan agar pemerintah secara otomatis dan teratur menaikkan jumlah uang
beredar sesuai dengan kenaikan kebutuhan uang rata-rata sebagai ganti dari kebijakan
moneter.

Faktor-faktor yang menetukan perubahan jumlah uang yang beredar
Dari persamaan (8) di atas, jela sbahwa perubahan jumlah uang beredar pada dasarnya
ditentuka oleh dua factor yaitu:
y pelipat uang,
y perubahan dalam uang inti

Faktor-faktor yang menentukan perubahan uang inti
Seperti disebut di atas, perubahan dalam uang inti (ѐMB) disebabkan oleh APBN, net ekspor (X-
M), kredit yang diberikan pada sector swasta domestic (KR), operasi pasa terbuka (jual beli SBI dan
SBPU), dan net other items (NOI = lainnya bersih ). Pada prinsipnya, perubahan (kenaikan
ataupenurunan) jumlah uang inti yang beredar dapat terjadi selama terjadi perubahan posisi passive
neraca BI (dan Depkeu).
1. APBN
Tanpa dukungan bantuan luar negeri, deficit APBN yang dibiayai oleh pencetakan uang
melalui BI akan meningkatkan jumlah uang inti (ceteris paribus). Hal itu dapat dijelaska sebagai
berikut. Ketika uang tersebut dicetak, uang kartal yang diedarkan (UYD) bertambah. UYD
tersebut akan dicatat pada sisi passive sebagai pos UYD atau sebagai rekening koran
pemerintah,karena uang tersebut menjadi klaim pemerintah pada BI. Pada saat yang sama,
sejumlah yang sama, uang yang diberikan (dipinjamkan) kepada pemerintah merupakan tagihan
BI kepada pemerintah. Dilihat dari neraca kas Negara, pinjaman uang tersebut akan dicatat
sebagai kas kalau tunai atau sebagai pos tagihan pada BI jika masih berupa saldo giro rekening
pemerintah. Tentu, pada saat yang sama pada sisi passive neraca kas Negara, sejumlah uang
tersebut akan dicata sebagai pos hutang pada BI. Ilustrasi di atas menunjukkan peristiwa saling
berhutang diantara sesame otoritas moneter, dan oleh karena itupada tahap ini belum tercipta
uang inti, karena uangasih beredar di tangan otoritas moneter (BI dan kas negara) . apabila
selanjutnyauang tersebut dibelanjakan oleh kas Negara melalui saluran bank umum atau
langsung kepada masyarakat, maka uang tersebut beralih penguasaannya kepada sistim
perbankan sebagai sebagaipos kas pada aktiva mereka atau langsung menjadi penerimaan
pendapatan uang oleh sektor swasta domestik. Pertambahanuang yang dikuasai oleh sistim
perbankan dan masyarakat berarti kenaikan kewajiban moneter BI kepada sistim perbankan dan
masyarakat, dan tu berarti kenaikan jumlah uang (inti) yang beredar. Surplus APBN yang berasal
10

dari pajak, di lain pihak, berarti telah terjadi pengalihan penguasaan uang dari masyarakat
kepada pemerintah, dan perdefinisi telah terjadi penurunan kewajiban moneter BI kepada
sektor swasta domestik. Ini bearti secara relative telah terjadi penuruna uang (inti) yang
beredar. Pinjaman luar negeri, selama belum dikonversikan ke dalam rupiah dan belum
dibelanjakandi dalam negeri ukanlah kewajiban moneter BI kepada masyarakat luar negeri, dan
oleh karena itu belum mempunyai pengaruh terhadap perubahan uang (inti) beredar.

2. Neraca Pembayaran
Angka-angka pada neraca pembayaran merupakan cerminan aktifitas ekspor dan impor.
Terutama dalam sistim pengawasan devisa atau sistim mengambang terkendali(the managed
float exchange rate), selisih lebih nilai ekspor atas nilai impor (surplus neraca
pembayaran/perdagangan) cenderung memberikan nilai posotif pada kenaikan jumlah uanginti
dan akhirnya pada jumlah uang yang beredar, dan sebaliknya. Hal itu terjadi karena dalam sistim
pengawasan kurs dan sistim kurs mengambang tekendali penerimaan ekspor berupa valuta
asing harus ditukarkan kepada BI dengan sejumlah rupiah. Hal itu dapat dijelaskan sebagai
berikut. Umpamakan si A eksportir Indonesia menjual barang kepada seorang importir di USA.
Dari hasil penjualanbarang tersebut tentu ia akan menerima sejumlah uang dollar. Seperti
lazimnya dalam perdagangan internasional, proses transaksi pembayaran dilakukan melalaui
transfer bank di USA ke bank di Indonesia. Selanjutnya, dalam sistim kurs tetap, bank domestic
harus merupiahkan valuta asing (dalam hal ini dollar) ke BI. Pada pembukuan BI, pada akhirnya,
sejumlah dolar akan di debit dan senagai pos lawannya sejumlah rupiah (setelah konevrsi
dangan kurs yang berlaku) akan dikredit untuk rekening bank domestik. Pencatatan pos kredit
atas sejumlah rupiah oleh BI untuk keuntungan bank domestic berarti timbulnyakewajiban
rupiah otoritas moneter pada bank domestic; itu secara definitive berarti penciptaan uang inti.
Gambar 1 berikut bias menjelaskan proses tersebut.


11

Gambar 1: Aliran pembayaran transaksi ekspor/impor pada sistim kurs tetap dan mengambang
terkendali dalam kasus pertambahan uang inti yang beredar
(1)
Ekspor barang
Senilai US $1000

Rekening B di debet
Rekenig A di kredit seniali US $1000 oleh
oleh bank D senilai Bank C USA (bank
Rp. 2.250.000 impotir B)

Rekening Bank D (bank eksportir
A di Indonesia) di kredit oleh
Bank C senilai US $1000

Rp. 2.250.000,-
di kredit US $1000 disetor ke BI
oleh BI untuk dan dicatat sebagai pos
rekening Bank D debet oleh BI
(bank eksportir A)




3. Kredit yang diberikan
Menurut teori moneterterjadap neraca pembayaran, selama tidak terjadi substitusi
sempurna dengan net foreign asset (tagihan luar negeri bersih), kenaikan kredit yang diberikan
kepad sektor swasta domestic merupakan cerminan dari kelebihan permintaan akan uang
domestic, oleh karena itu harus dipenuhi dengan penambahan jumlah uang inti agar tercapai
keseimbangan di pasar uang khusunya dan kelancaran produksi pada umumnya.
Penambahanuang inti tersebut tercermin pada penambahan jumlah UYD atau rekening BU pada
sisi passiva neraca BI.

4. Open Market Operation
Operasi pasar terbuka adalah aktifitas jual beli surat berharga (SBI dan SBPU) oleh BI.
Penjualan surat berharga oleh BI akan mengurangi jumlah uang inti yang beredar, dan
pembelian surat berharga oleh BI akanmenamnah jumlah uang inti yang beredar. Jadi penjualan
A
Eksportir
Indonesia
B
Importir
USA
Bank D
Indonesia
Bank Indonesia selaku bank sentral menerima
penukaran dollar untuk rupiah pada kurs yang
berlaku (misal US $1 = Rp. 2.250,-)
Bank C
USA
12

surat berharga dapat dimaksudkanuntuk kebijakan kontraksi moneter, dan pembelian surat
berharga untuk kebijakan ekspansi moneter. Sama seperti sebelumnya, perubahan uang inti
tersebut tercermin pada perubahan jumlah UYD atau rekening BU pada sisi passiva neraca BI.

Faktor-faktor yang menentukan perubahan pelipat uang
Faktor-faktor yang menentukan perubahan uang inti (ѐMB) sudah dijelaskan pad abutir
penjelasan sebelumnya (1 s/d 5), dengan catatan bahwa faktor-faktor tersebut akanmempengaruhi
secara dominan jika money multiplier dianggap tetap atau tidak berubah banyak. Dalam kenyataan
money multiplier mungkin berubah-ubah dipengaruhi oleh perilaku agen-agen ekonomi lainnya
selainotorita moneter sepertiperilaku bank-bank umum danpara individu. Sebagai contoh, u
mencerminkan proporsi jumlah uang yang beredar (M1) yang dipegang oleh para individu dalam bentuk
uang kas (u = C/M1) dimana otoritas moneter tidak dapat mempengaruhi secaralangsung atas perilaku
mereka. Perilaku memegang uang kas oleh para individu antara lain ditentukan oleh preferensinya atas
pertimbanagn pilihan likuiditas dan hasil bunga. Umpamanya, jika tingkat bunga naik, maka orang
barangkali akanlebih suka untuk menyimpan uang tunai dalam bentuk tabungan atau deposito
berjangka sehingga u akan turun. Tingkat pendapatan seseorang juga memepengaruhi perilaku untuk
memengan uang kas diaman umumnya semakin makmur orang akan semakin relative lebih banyak
memegang uang giral dan uang kuasi daripada memegang uang tunai, oleh karena itu u akan turun.
Berbeda dengan u, faktor v ditentukan oleh perilaku sektor perbankan dan bank sentral. Seperti
kita maklum bank sentral dapat mempengaruhi secara langsung besarnya ketentuan cadangan wajib
minimum yang akan menentukan kemampuan penciptaan uang gial dan oleh karena itu jumlahuang
beredar oleh abnk0bank umum. Penurunan cadangan wajib minimum oleh bank sentral msalnya berabti
akan memperkecil rasio v = CD/UG yang berarti menambah kemampuan bank-bank umum untuk
menciptakan uang giral. Meskipun begitu, kemampuan untuk meningkatkan uang giral tidak
sepenuhnya dapat ditentukan oleh bank sentral sebab meskipun bank sentral sudah menurunkan
cadangan wajib minimum, tidak ada batasan bagi sebuah bank umu untuk memelihara kelebihan
cadangannya (excess reserves) relative besar di atas cadangan wajib minimum. Oleh karena itu
penurunan cadangan wajib minimum yang semula dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bank-
bank umum dalam menciptakan uang giral menjadi mandul jika bank-bank umum justru menambah
excess reserves mereka.

aman dan praktis karena dalam melakukan transaksi di mana seseorang tidak perlu menghitung dan membawa banyak uang kontan. 2 . Fungsi yang tidak sepenuhnya adalah fungsi alat tukar menukar. Otoritas moneter 1. danBank Pembangunan Swasta. BPD. Termasuk uang kuasi: y y y y y Deposito berjangka rupiah. Uang giral dapat dibilang mudah. termasuk sertifikat deposito Tabungan-tabungan Rekening giro dalam valuta sing Deposito berjangka dalam valuta asing Tabungan dalam valuta asing 4.nominalnya dan tidak dikenakan penalty. Komponen uang primer adalah: y y y y Uangkartal pada sektor swasta domestic (diluar BPUG. Pemerintah b. base money . Uang Primer atau Uang Inti (Primary money. high powered money) Uang primer adalah seluruh kewajiban moneter dari otoritas moneter terhadap BPUG dan sektor swasta domestik. jika hilang atau jatuh ke tangan orang jahat dapat segera diblokir dan mudah dalam penggunaannya. Bank pencipta uang giral (BPUG) BPUG adalah semua bank yang diperbolehkan menerima simpanan giro. Termasuk dalam uang giral adalah: y y y y Saldo giro rupiah penduduk Pengiriman uang (transfer) Deposito berjangka yang sudah jatuh tempo Simpana lainnya yang sudah jatuh tempo 3. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral 2. Uang Kuasi Uang kuasi adalah surat atau sertifikat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah. BI. Sistem Moneter Sistem moneter adalah lembaga-lembaga yang dapat menciptakan uang atau lembaga-lembaga yang kewajibannya sebagian besar berupa uang. Termasuk bank-bank yang dipersamakan dengan bank umum adalah Bapindo. & Pemerintah) Uang kartal pada BPUG (kas BPUG) Simpanan giro BPUG pada BI Simpanan giro sektor swasta domestik pada BI 5. Sistem moneter di indoesia terdiri dari: a.

Sistim moneter = otoritas moneter + BPUG Otorites moneter = BI + pemerintah UG = uang giral. Perilaku bankbank dan masyarakat umum ikut menentukan pula proses timbulnya uang beredar. Dua pengertian tentang uang beredar. saldo rekening Koran milik swasta domestic pada BPUG dan BI (sistim perbankan). Dilihat dari jenisnya: meliputi Narrow Money & Broad Money a. uang kartal dan uang giral  Broad money. Dilihat dari neraca konsolidasi sistim moneter: 3 . mutual saving banks & postal saving banks) M4 = M3 + savings & loan shares pada LKBB UKs = Uang Kuasi. Deposito Berjangka pada LTNB) = M2 + Uang kuasi pada LTNB (Lembaga Tabungan Non Bank. Deposito Berjangka pada BPUG) = M1 + Uang Kartal pada BPUG M3 = M2 + ( Tabungan.C. meskipun pemerintah masih tetap merupakan pelaku yang paling menentukan. narrow money ditambah uang quasi Quasi money mencakup saldo deposito berjangka dan simpanan tabungan di bank. Broad Money: M2 = M1 + (Tabungan. Narrow Money: M1 = UK + UG Dalam hal ini: UK = Uang Kartal atau Currency (uang kertas dan logam) milik/pada/dipegang/dikuasai oleh swasta domestic (berada di liar sistim moneter).  Narrow money. terdiri dari tabungan dan deposito berjangka milik swasta domestic pada BPUG. b. Uang Beredar Jumlah Uang Beredar (JUB) tidak seluruhnya ditentukan oleh Pemerintah.

Oleh karena itu tidak termasuk Uang Beredar (M1): y y y y Kas dan saldo rekening Koran milik pemerintah pada BI & BPUG Cadangan resmi pemerintah danbank sentral Negara lain (untuk mata uang yang dipakai sebagai cadangan devisa yaitu trading currency/reserve currency/convertible currency Kas BI dan kas BPUG Saldo rekening koran milik BPUG pada BPUG lainnya dan saldo rekening koran milik BPUG pada BI D. 4 .  Defisit APBN yang dibiayai dengan pencetakan uang baru. uang inti adalah seluruh uang yang dikeluarkan oleh pemerintah (bank sentral) ditambah saldo rekening koran milik bank-bank (atau masyarakat) pada bank sentral.  Kenaikan kredit bank sentral kepada bank-bank dan kepada lembaga-lembaga lain. Uang inti bisa pula dilihat sebagai penjumlahan antara uang kartal dengan cadangan bank (bank reserve). Dalam proses penciptaan uang. sedangkan sisanya yang dipegang oleh bank-bank umum sebagai cadangan bank kemudian melipatkan diri menjadi uang giral. bagian dari uang inti yang dipegang oleh masyarakat umum langsung menjadi uang kartal.Uang beredar adalah kewajiban sistim moneter [otoritas moneter (BI + Pemerintah) + BPUG] terhadap sektor swasta domestik.  Surplus neraca pembayaran. Keadaan sebaliknya menyebabkan kondisi jumlah uang inti berkurang. Uang inti (Reserve Money) Proses penciptaan uang beredar berawal dari timbulnya uang inti (reserve money). Jumlah uang inti di masyarakat meningkat karena tiga sebab.

Money multiplier (angka pengganda uang) diturunkan dari hubungan antara uang inti atau uang primer (Money/Monetary Base) denga jumlah uang yang beredar. Nilai money multiplier biasanya lebih besar dari satu.E. 1 uang inti bisa menimbulkan lebih dari Rp.  Berapa besar cadangan yang dipegang bank untuk menjamin uang giral (v = R/D).  Kecenderungan masyarakat memegang uangnya dalam bentuk uang kartal (u = K/Ms). MS = UK + UG 5 . secara matematis sebagai berikut di bawah. Semakin besar u dan v semakin kecil nilai money multiplier. artinya setiap Rp. Nilai dari money multiplier tergantung kepada. Pelipat Uang (Money Multiplier) Proses penciptaan uang beredar dari uang inti tersebut diringkas dalam konsep money multiplier yang menghubungkan antara jumlah uang inti dengan jumlah uang beredar.1 uang beredar.

UG/MS = 1 u Jadi (5) dapat dinyatakan kembali sebagai.MB = UK + CD Dimana. 1 = UK/MS + UG/MS atau. 6 .       atau.         Umpamakan UK/MS = u CD/UG = v Kemudian dapat diketahui. MS = Jumlah uang yang beredar (M1) UK = Uang kartal milik swasta domestik UG = Uang giral milik swasta domestik MB = Uang Inti CD = Cadangan Bank Umum yang terdiri dari Kas dan S/O RK pada BI      atau.   — ˜ — atau.

u dan v mempunyai pengaruh negative terhadap MS. yaitu jika MB naik maka MS naik (ceteris paribus). 0 < u + v (1 u) < 1.  — ˜ —       dimana. X M = ekspor neto dalam neraca perdagangan (pembayaran) APBN = Anggaran Pendapatan & Belanja Negara KR = Kredit yang diberikan OMO = Open Market Operation (jual beli SBI & SBPU) NOI = Net other item (lainnya bersih) F. Kebijakan Moneter  Kebijakan moneter adalah kebijakan untuk mempengaruhi proses penciptaan uang beredar tersebut. Pemerintah (Bank Sentral) bisa melakukan hal ini dengan mempengaruhi secara tidak 7 .  — ˜ —  dimana. oleh karena itu — ˜ — Dari persamaan (8) jelas bahwa: y y MB mempunyai pengaruh positif terhadap MS. yaitu jika u naik maka MS turun (ceteris paribus). Penyebab perubahan uang inti ( MB) adalah net ekspor (X-M). kredit yang diberika pada sector swasta domestic (KR). dan sebaliknya. operasi pasar terbuka (jual beli SBI dan SBPU). sehingga (8) menjadi. — ˜ —  atau. dan sebaliknya. APBN.

Berbagai instrumen kebijakan moneter tersedia untuk ini.  Keynes mengatakan bahwa kebijakan moneter tidak efektif dalam masa depresi karena adanya liquidity trap .  Cash-Ratio  Discount-rate  Bunga Giro dan Deposito Yang mempengaruhi Uang Inti. Instrument Kebijakan Moneter: Mempengaruhi Money Multiplier (secara kuantitatif). yaitu kebijakan (moneter) yang bisa mempunyai pengaruh lansung terhadap penawaran agregat (menggeser kurva penawaran agregat).langsung nilai money multiplier dan secara langsung besarnya uang inti. hal ini timbul karena tingkat bunga menjadi tidak elastis terhadap perubahan jumlah uang beredar. kebijakan moneter bisa mempengaruhi situasi makro lewat jumlah uang beredar. tingkat bunga. Tetapi sampai sekarang belum ada teori yang mantap mengenai Sisi Penawaran ini.  Menurut Keynes.  Pajak Ekspor  Sertipikat Ekspor  Bea Masuk  Pajak lain  Pengeluaran Pemerintah  Bunga Kredit Bank  Pengawasan Kuantitatif  Credit Ceiling Efektifitas Kebijakan Moneter Ada dua kritik mengenai keampuhan kebijakan moneter dalam praktek. 8 . Akhir-akhir ini ekonom mulai memberikan perhatian mereka kepada kebijakan Supply Side . pengeluaran investasi dan selanjutnya permintaan agregat.

jela sbahwa perubahan jumlah uang beredar pada dasarnya ditentuka oleh dua factor yaitu: y y pelipat uang. Pada prinsipnya. kredit yang diberikan pada sector swasta domestic (KR). Ketika uang tersebut dicetak. uang kartal yang diedarkan (UYD) bertambah. net ekspor (XM). karena uangasih beredar di tangan otoritas moneter (BI dan kas negara) . operasi pasa terbuka (jual beli SBI dan SBPU). Mereka menyarankan agar pemerintah secara otomatis dan teratur menaikkan jumlah uang beredar sesuai dengan kenaikan kebutuhan uang rata-rata sebagai ganti dari kebijakan moneter. Hal itu dapat dijelaska sebagai berikut. maka uang tersebut beralih penguasaannya kepada sistim perbankan sebagai sebagaipos kas pada aktiva mereka atau langsung menjadi penerimaan pendapatan uang oleh sektor swasta domestik. pinjaman uang tersebut akan dicatat sebagai kas kalau tunai atau sebagai pos tagihan pada BI jika masih berupa saldo giro rekening pemerintah. perubahan dalam uang inti ( MB) disebabkan oleh APBN. sejumlah uang tersebut akan dicata sebagai pos hutang pada BI. Dilihat dari neraca kas Negara. dan net other items (NOI = lainnya bersih ). Surplus APBN yang berasal 9 . 1. perubahan dalam uang inti Faktor-faktor yang menentukan perubahan uang inti Seperti disebut di atas. Tentu. uang yang diberikan (dipinjamkan) kepada pemerintah merupakan tagihan BI kepada pemerintah. Faktor-faktor yang menetukan perubahan jumlah uang yang beredar Dari persamaan (8) di atas. Pertambahanuang yang dikuasai oleh sistim perbankan dan masyarakat berarti kenaikan kewajiban moneter BI kepada sistim perbankan dan masyarakat. dan oleh karena itupada tahap ini belum tercipta uang inti. Pada saat yang sama. APBN Tanpa dukungan bantuan luar negeri. sejumlah yang sama. UYD tersebut akan dicatat pada sisi passive sebagai pos UYD atau sebagai rekening koran pemerintah. dan tu berarti kenaikan jumlah uang (inti) yang beredar. Ilustrasi di atas menunjukkan peristiwa saling berhutang diantara sesame otoritas moneter.karena uang tersebut menjadi klaim pemerintah pada BI. deficit APBN yang dibiayai oleh pencetakan uang melalui BI akan meningkatkan jumlah uang inti (ceteris paribus). apabila selanjutnyauang tersebut dibelanjakan oleh kas Negara melalui saluran bank umum atau langsung kepada masyarakat. Milton Friedman dkk berpendapat bahwa pengaruh kebijakan moneter sulit diterka (kapan dan berapa besar) sehingga menyulitkan penggunaannya dalam praktek. pada saat yang sama pada sisi passive neraca kas Negara. perubahan (kenaikan ataupenurunan) jumlah uang inti yang beredar dapat terjadi selama terjadi perubahan posisi passive neraca BI (dan Depkeu).

Hal itu terjadi karena dalam sistim pengawasan kurs dan sistim kurs mengambang tekendali penerimaan ekspor berupa valuta asing harus ditukarkan kepada BI dengan sejumlah rupiah. 2. dan oleh karena itu belum mempunyai pengaruh terhadap perubahan uang (inti) beredar. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Dari hasil penjualanbarang tersebut tentu ia akan menerima sejumlah uang dollar. dan sebaliknya. bank domestic harus merupiahkan valuta asing (dalam hal ini dollar) ke BI. itu secara definitive berarti penciptaan uang inti. dalam sistim kurs tetap. 10 .dari pajak. Seperti lazimnya dalam perdagangan internasional. sejumlah dolar akan di debit dan senagai pos lawannya sejumlah rupiah (setelah konevrsi dangan kurs yang berlaku) akan dikredit untuk rekening bank domestik. Terutama dalam sistim pengawasan devisa atau sistim mengambang terkendali(the managed float exchange rate). pada akhirnya. Pada pembukuan BI. Selanjutnya. Gambar 1 berikut bias menjelaskan proses tersebut. Neraca Pembayaran Angka-angka pada neraca pembayaran merupakan cerminan aktifitas ekspor dan impor. proses transaksi pembayaran dilakukan melalaui transfer bank di USA ke bank di Indonesia. di lain pihak. Umpamakan si A eksportir Indonesia menjual barang kepada seorang importir di USA. Ini bearti secara relative telah terjadi penuruna uang (inti) yang beredar. Pencatatan pos kredit atas sejumlah rupiah oleh BI untuk keuntungan bank domestic berarti timbulnyakewajiban rupiah otoritas moneter pada bank domestic. berarti telah terjadi pengalihan penguasaan uang dari masyarakat kepada pemerintah. Pinjaman luar negeri. selama belum dikonversikan ke dalam rupiah dan belum dibelanjakandi dalam negeri ukanlah kewajiban moneter BI kepada masyarakat luar negeri. selisih lebih nilai ekspor atas nilai impor (surplus neraca pembayaran/perdagangan) cenderung memberikan nilai posotif pada kenaikan jumlah uanginti dan akhirnya pada jumlah uang yang beredar. dan perdefinisi telah terjadi penurunan kewajiban moneter BI kepada sektor swasta domestik.

250.000. Penambahanuang inti tersebut tercermin pada penambahan jumlah UYD atau rekening BU pada sisi passiva neraca BI. Open Market Operation Operasi pasar terbuka adalah aktifitas jual beli surat berharga (SBI dan SBPU) oleh BI.-) 3.Gambar 1: Aliran pembayaran transaksi ekspor/impor pada sistim kurs tetap dan mengambang terkendali dalam kasus pertambahan uang inti yang beredar (1) A Eksportir Indonesia Ekspor barang Senilai US $1000 B Importir USA Rekenig A di kredit oleh bank D senilai Rp. dan pembelian surat berharga oleh BI akanmenamnah jumlah uang inti yang beredar. oleh karena itu harus dipenuhi dengan penambahan jumlah uang inti agar tercapai keseimbangan di pasar uang khusunya dan kelancaran produksi pada umumnya.250.250.000 Rekening B di debet seniali US $1000 oleh Bank C USA (bank impotir B) Bank D Indonesia Rekening Bank D (bank eksportir A di Indonesia) di kredit oleh Bank C senilai US $1000 Bank C USA Rp. 2. kenaikan kredit yang diberikan kepad sektor swasta domestic merupakan cerminan dari kelebihan permintaan akan uang domestic. selama tidak terjadi substitusi sempurna dengan net foreign asset (tagihan luar negeri bersih). Penjualan surat berharga oleh BI akan mengurangi jumlah uang inti yang beredar. Jadi penjualan 11 . Kredit yang diberikan Menurut teori moneterterjadap neraca pembayaran. 2. 4.di kredit US $1000 disetor ke BI oleh BI untuk dan dicatat sebagai pos rekening Bank D debet oleh BI (bank eksportir A) Bank Indonesia selaku bank sentral menerima penukaran dollar untuk rupiah pada kurs yang berlaku (misal US $1 = Rp. 2.

Umpamanya. Sama seperti sebelumnya. Dalam kenyataan money multiplier mungkin berubah-ubah dipengaruhi oleh perilaku agen-agen ekonomi lainnya selainotorita moneter sepertiperilaku bank-bank umum danpara individu. Oleh karena itu penurunan cadangan wajib minimum yang semula dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bankbank umum dalam menciptakan uang giral menjadi mandul jika bank-bank umum justru menambah excess reserves mereka. kemampuan untuk meningkatkan uang giral tidak sepenuhnya dapat ditentukan oleh bank sentral sebab meskipun bank sentral sudah menurunkan cadangan wajib minimum. Tingkat pendapatan seseorang juga memepengaruhi perilaku untuk memengan uang kas diaman umumnya semakin makmur orang akan semakin relative lebih banyak memegang uang giral dan uang kuasi daripada memegang uang tunai. Penurunan cadangan wajib minimum oleh bank sentral msalnya berabti akan memperkecil rasio v = CD/UG yang berarti menambah kemampuan bank-bank umum untuk menciptakan uang giral. jika tingkat bunga naik. Sebagai contoh. dengan catatan bahwa faktor-faktor tersebut akanmempengaruhi secara dominan jika money multiplier dianggap tetap atau tidak berubah banyak. Berbeda dengan u. u mencerminkan proporsi jumlah uang yang beredar (M1) yang dipegang oleh para individu dalam bentuk uang kas (u = C/M1) dimana otoritas moneter tidak dapat mempengaruhi secaralangsung atas perilaku mereka. oleh karena itu u akan turun. tidak ada batasan bagi sebuah bank umu untuk memelihara kelebihan cadangannya (excess reserves) relative besar di atas cadangan wajib minimum.surat berharga dapat dimaksudkanuntuk kebijakan kontraksi moneter. Perilaku memegang uang kas oleh para individu antara lain ditentukan oleh preferensinya atas pertimbanagn pilihan likuiditas dan hasil bunga. Seperti kita maklum bank sentral dapat mempengaruhi secara langsung besarnya ketentuan cadangan wajib minimum yang akan menentukan kemampuan penciptaan uang gial dan oleh karena itu jumlahuang beredar oleh abnk0bank umum. perubahan uang inti tersebut tercermin pada perubahan jumlah UYD atau rekening BU pada sisi passiva neraca BI. Faktor-faktor yang menentukan perubahan pelipat uang Faktor-faktor yang menentukan perubahan uang inti ( MB) sudah dijelaskan pad abutir penjelasan sebelumnya (1 s/d 5). faktor v ditentukan oleh perilaku sektor perbankan dan bank sentral. 12 . Meskipun begitu. dan pembelian surat berharga untuk kebijakan ekspansi moneter. maka orang barangkali akanlebih suka untuk menyimpan uang tunai dalam bentuk tabungan atau deposito berjangka sehingga u akan turun.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->