Konsep dan Substansi Manajemen Pendidikan

Konsep Manajemen Sekolah
Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT MANAJEMEN SEKOLAH : Pengertian, Fungsi dan Bidang Manajemen oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. A. Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama. Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa : ³Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan ± tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan´. Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa: ³Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan´. Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam¶an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai ³keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien´. Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa ³administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian

usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal´. Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu. B. Fungsi Manajemen Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut: Menurut G.R. Terry terdapat empat (1) planning (2) organizing (3) actuating (4) controlling (pengawasan). manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (pelaksanaan); dan fungsi

Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) commanding (pengaturan); (4) coordinating (pengkoordinasian); dan (5) controlling (pengawasan). Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O¶ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan); dan (5) controlling (pengawasan). Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan (1) planning (2) organizing (3) staffing (4) directing (5) coordinating (6) reporting (7) budgeting (penganggaran). tujuh manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (penentuan staf); (pengarahan); (pengkoordinasian); (pelaporan); dan fungsi

Untuk memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan (controlling).

1. Perencanaan (planning) Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : ³ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.´ Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah -masalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha dan dana. Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu : 1. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan. 2. Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal. 3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis. Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi

George R. dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. 2. dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya. di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan. sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. T. Terry (1986) mengemukakan bahwa : ³Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang. 3. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan. pasar tenaga kerja dan lembagalembaga keuangan. Analisa lingkungan eksternal. Pengembangan profil perusahaan. khususnya pada tingkat persekolahan. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. diantaranya adalah : (a) organisasi harus profesional. sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien. dan apa targetnya. kapan dikerjakan. dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. pekerjaan manajerial yang semakin kompleks. Pengorganisasian (organizing) Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah -langkah dalam penyusunan perencanaan strategik. serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya sumber daya perusahaan yang tersedia. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang. Disamping itu. sebagai berikut: 1. yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan. seperti para penyedia. namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan. Berkenaan dengan pengorganisasian ini. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian : ³« as the act of planning and implementing organization structure. 2. falsafah dan tujuan. Pada bagian lain. Penentuan misi dan tujuan. perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus.yang sangat pesat. Nilainilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika. Boone dan David L. dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu´. (b) pengelompokan satuan kerja . karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal. Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis. para pesaing. yang mencakup pernyataan umum tentang misi. Lousie E. Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi. pasar organisasi. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and acommplishment organizational obtective´. Dari kedua pendapat di atas. yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang. atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan.

(c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab. Dalam hal ini. Robert J. merancang sistem informasi umpan balik. Dari pengertian di atas. menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan. yaitu : (a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. George R. bahwa : ³Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan ± tujuan perencanaan. dengan me lalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran. 3. dan (f) organisasi harus fleksibel dan seimbang. (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan. Sementara itu. Pelaksanaan (actuating) Dari seluruh rangkaian proses manajemen. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian. (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis. (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting. pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk . Boone dan David L. (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah. atau mendesak. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang. membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. 4. pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan -tujuan perusahaan. tugas dan tanggung jawabnya.´ Dengan demikian. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : ³« the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans´. tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Louis E. Semua fungsi terdahulu. dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan. Ernest Dale seperti dikutip oleh T. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen. sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orangorang dalam organisasi Dalam hal ini.harus menggambarkan pembagian kerja. Pengawasan (controlling) Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol.

administrasi keuangan. Bidang kependidikan atau bidang edukatif. seperti tugas mengajar guru-guru. gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain. sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen. Dengan demikian. yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/ bendabenda. agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. Bidang personil. yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya. dan pengawasan secara berkelanjutan. proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang sangat penting. Hal serupa dikemukakan pula oleh M. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik. penyusunan sylabus atau rencana pengajaran tahunan. mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah. seperti ketatausahaan sekolah. boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi. Administrasi material. dan (e) pengambilan tindakan koreksi. Rifa¶i (1980) bahwa bidang-bidang administrasi pendidikan terdiri dari : 1. yang mengajar. Dalam perspektif persekolahan. 2. sebagai alat-alat pembantu untuk melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan pendidikan sebaik-baiknya.mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. 3. juga administrasi murid. . (d) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan. C. Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu dengan lainnya. bila diperlukan. Bidang alat dan keuangan. persiapan harian dan mingguan dan sebagainya. yang mencakup unsur-unsur manusia yang belajar. Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Administrasi personal. Bidang Kegiatan Pendidikan Berbicara tentang kegiatan pendidikan. 3. Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu : 1. pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan. evaluasi dan sebagainya. metode dan cara mengajar. yang menyangkut kurikulum. dan personil lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Administrasi kurikulum. Dengan demikian. (c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata. (b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan. setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis. 2. pengorganisasian yang efektif dan efisien. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan. yaitu : (a) penetapan standar pelaksanaan. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

(4) penyediaan sumber. (3) community school leadership. Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah. (5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah. pandangan Thomas J. (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan). meliputi: (1) manajemen kurikulum. (2) pupil personnel. Tahap implementasi atau pelaksanaan. Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap : 1. (3) menentukan disain kurikulum. agaknya yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J. 2. (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran. dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar. yang mencakup : 1.Sementara itu. dan (6) setting lingkungan pembelajaran . Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2002) mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan. Tahap perencanaan. (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran. (2) perumusan visi. (c) pelaksanaan. (b) pengorganisasian dan koordinasi. RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini. Dari beberapa pendapat di atas. ke depannya pemikiran ini sangat menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia. Dengan alasan tertentu. dan tujuan. (6) pemilihan sumber. dan sarana pembelajaran. Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan. Sergiovani. Tahap pengembangan. dan (d) pengendalian. (5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar. dan sarana belajar. meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis kebutuhan. (2) manajemen personalia. Kendati demikian. alat. Thomas J. (3) penentuan struktur dan isi program. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. yang didalamnya mengetengahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan. (5) school plant. (3) manajemen kesiswaan. kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. Sergiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. (4) manajemen keuangan. meliputi langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus. 3. (4) pemilihan dan pengorganisasian materi. (6) school trasportation. meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional atau dasar pemikiran. (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis. Manajemen kurikulum Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. dan (4) membuat rencana induk (master plan): pengembangan. dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. (4) staff personnel. Di lain pihak. pelaksanaan. mencakup : (1) instruction and curriculum development. berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang bidangbidang kegiatan pendidikan di sekolah. dan penilaian. misi. dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan. alat. Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). terutama dalam bidang school transportation dan business management. (7) organization and structure dan (8) School finance and business management.

4. input. Tahap penilaian. (c) siswa hanya termotivasi belajar. jika mereka menyenangi apa yang diajarkan. kiat sekolah dalam mengelola dana. sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal. Manajemen keuangan Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana. Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia. Manajemen Kesiswaan Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar. yaitu : (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek. produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada pendekatan sistem dan tujuan. cara mengadministrasikan dana sekolah. baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif. proses. Manajemen personalia Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu : (a) dalam mengembangkan sekolah. minat dan seterusnya. upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem. 3. pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah. dan (d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah. (b) kondisi siswa sangat beragam. dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif. 4. juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah . terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan. ditinjau dari kondisi fisik. sehingga mendukung tujuan institusional. sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka. Oleh karena itu. kondisi aktual. Oleh karena itu. masalah-masalah dan peluang. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks. serta perilaku manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah. implementasi design dan cost benefit dari rancangan. strategi pencapaian tujuan. Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. tetapi juga ranah afektif. hal yang amat penting dalam manajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di sekolah. dan cara melakukan pengawasan. disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif) 2. (b) sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik. Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. dan psikomotor. sumber daya manusia adalah komponen paling berharga. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam. pengendalian serta pemeriksaan. 5. masyarakat dan sumber-sumber lainnya. kemampuan intelektual. sosial ekonomi. (c) kultur dan suasana organisasi di sekolah.

. Adanya kesamaankesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak -hak yang mereka punyai. membuat daftar sarana dan pra saran. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah. dan peralatan sekolah lainnya. Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik Posted on 14 Februari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja. peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik? Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik. menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah. Dalam sistem demikian. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana. yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana. seperti gedung. dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah. mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana. menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah. memperpanjang usia pakai. layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan. Secara sosiologis. menyiapkan jadwal kegiatan perawatan. minat. pendaftaran. layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan -kesamaan yang dipunyai oleh anak. mebeler. Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan. menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah. kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

bakat dan minat peserta didik. dengan orang tua dan keluarganya. 2. harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik. Dengan terpenuhinya 1. segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. segi aspirasinya.± yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak±. berkaitan erat dengan pandangan psikologismengenai anak. 2. kemampuan khusus (bakat). 3. melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa. Gugatan demikian. tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. sama sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. keterampilan dan psikomotor peserta didik. Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan. segi sosialnya. Oleh karena berbeda. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan). lebih lanjut. Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut: 1. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan -kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik. Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut: 1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya. maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda. 4. dan kemampuan lainnya. Meningkatkan pengetahuan. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya. proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar. dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial . 2. dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. B. dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut. ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat.Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang bersifat massal ini. kemudian digugat. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan). Menyalurkan aspirasi.

disukai atau tidak disukai oleh peserta didik. 3. Ialah peserta didik sendiri. ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. C. 4. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah. Oleh karena membimbing. 5. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. 4. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut: 1. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik. Oleh karena itu. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan. Kesejahteraa demikian sangat n penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya. 3. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi.masyarakatnya. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial. berat. haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya. haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. kesenangan dan minatnya. 2. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah. oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik. ialah agar peserta didik tersalur hobi. D. kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan. Pendekatan Manajemen Peserta Didik . Segala bentuk kegiatan. 6. Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. Hobi. baik itu ringan. melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat.

Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu.Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager. tugas-tugas. 2007) Konsep Dasar Manajemen Keuangan Sekol ah Posted on 18 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Di antara kedua pendekatan tersebut. tentu dapat diambil jalan tengahnya. Pertama. Dalam pendekatan padu demikian. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Kepala Sekolah. menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. memperketat pre sensi. Asumsi dari pendekatan ini adalah. peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Direktorat Tenaga Kependidikan. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya. jika dikemukakan dengan kalimat terbalik. maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Dalam pendekatan demikian. Pengertian Manajemen Keuangan . maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak. penuntutan disiplin yang tinggi. Kedua. atau sebutlah dengan pendekatan padu. pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal. Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya. Pendekatan demikian. memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu. Atau. pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). jika peserta didik senang dan sejahtera. penyelesaian tugas-tugas peserta didik. 1994). penyediaan kesejahteraan. Departemen Pendidikan Nasional. bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya. Asumsi pendekatan ini adalah. Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah. tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. iklim yang kondusif. pendekatan kualitatif (the qualitative approach). manakala dapat memenuhi aturan-aturan.

menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Meningkatkan efekti itas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah 2. transparansi. diupayakan pengadaann dibukukan secara transparan. it M t i ti t i / t t j i l j B T l j li l i ti it t t j ti i i t t j l l i i l ti l l t M l l i kegi t manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat di encanakan. yaitu transparansi. dan efisiensi. C. pemeriksaan dan pertanggungjawaban i . 1. pemanfaatan dana.t t j i i il M t t i l l i t j t j li l j l i i i i i t i i t i t l i t i j j i i l i B i t j it mperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan. pelaporan. efisiensi. Transparansi . akuntabilitas. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah. dan akuntabilitas publik. Untuk mencapai tujuan tersebut. dan digunakan untuk ya. Undang -undang No 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan. efekti itas. membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Pri i Pri i Manajemen Keuangan Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. Berikut ini dibahas masing tersebut. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah. maka dibutuhkan kreati itas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana. Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah: 1. Disamping itu prinsip -masing prinsip efekti itas juga perlu mendapat penekanan. 3.

Beberapa informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa ditempel di papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkannya. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Manajemen keuangan dikatakan memenuhi prinsip efektivitas kalau kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan dan kualitatif outcomesnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua. bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat 3. rincian penggunaan. Efisiensi . masyarakat dan pemerintah. masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya. yaitu (1) adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah . (2) adanya standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. 4. Disamping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah. Effectiveness ´characterized by qualitative outcomes´. fungsi dan wewenangnya. karena sebenarnya efektivitas tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Garner(2004) mendefinisikan efektivitas lebih dalam lagi. masyarakat. Di lembaga pendidikan. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah. Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. (3) adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. dan pertanggungjawabannya harus jelas sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab. Orang tua siswa bisa mengetahui berapa jumlah uang yang diterima sekolah dari orang tua siswa dan digunakan untuk apa saja uang itu. 2. Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua.Transparan berarti adanya keterbukaan. Efektivitas lebih menekankan pada kualitatif outcomes. Efektivitas Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran (out put) atau antara daya dan hasil. Ragam efisiensi dapat dijelaskan melalui hubungan antara penggunaan waktu. biaya dan hasil yang diharapkan dapat dilihat pada gambar berikut ini: Hubungan penggunaan waktu.2004).Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya. waktu. tenaga. sedangkan penggunaan daya A dan hasil D menunjukkan paling tidak efisien. Daya yang dimaksud meliputi tenaga. Efficiency´characterized by quantitative outputs´ (Garner. tenaga dan biaya yang sekecil kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari dua hal: a. Ragam efisiensi tersebut dapat dilihat dari gambar berikut ini: . tenaga. pikiran. tenaga dan biaya: Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau penggunaan waktu. biaya. biaya dan hasil yang diharapkan Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan daya C dan hasil D yang paling efisien. Dilihat dari segi penggunaan waktu. b. Dilihat dari segi hasil Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau dengan penggunaan waktu.

Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Manajemen Keuangan. Pengantar Ilmu Manajemen: Buku Panduan Mahasiswa. IA: Wm. 1983. Dubuque. Sedangkan penggunaan waktu. Ditdikdasmen Depdikbud Gorton. biaya A dan hasil B paling tidak efisien. Brown Publishers Kadarman. 1992. A. Boston: Allyn and Bacon. 2002. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. 1991. Edwin M. 1995/1996. Jusuf. 5th edition.. tenaga. 2007) ===================== Daftar Rujukan Campbell. tenaga. School-Based Leadership: Callenges and Opportunities. Richard A. C. & Schneider. . Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. dan Raphael O. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar. biaya A dan hasil D paling efisien.Bridges.M. Roald F. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. Inc Departemen Pendidikan Nasional. Gail T. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Introduction to Educational Administration. tenaga.Hubungan penggunaan waktu. biaya tertentu dan ragam hasil yang diperoleh Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan waktu. Direktorat Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Pendidikan Dasar. Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar.Nystrand. dan Udaya. Tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi memungkinkan terselenggaranya pelayanan terhadap masyarakat secara memuaskan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.

M. 2002. Pemerintah Kota Malang. M. Dasar-dasar Manajemen. Azas-azas Manajemen Modern. Third Edition. Maisyaroh. 1985. Djum Djum Noor Benty. Manajemen Keuangan Sekolah. Cryill. Pengantar Manajemen Pendidikan. Jakarta: CV Tamita Utama Undang-undang No 22 tahun 1999. Malang: Dinas Pendidikan Kota Malang Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Supriadi. Administrasi Keuangan Sekolah. 2004. 1984. 1996/1997. Dedi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sutarsih. Jakarta: CV Tamita Utama Koontz. Yogyakarta: Liberty. 2000. 1990. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. New York: McGraw-Hill Book Company. Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Basu. yang direvisi dengan Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Widjanarko. Principles of Management: An Analysis of Managerial Functions. Agus. Kutipan Buku Pedoman Kerja dan Penekanan Tugas.Indonesia di Malang Konsep Dasar Manajemen Peran Serta Masyarakat Posted on 10 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Sekolah sebagai institusi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan sekolah tersebut berada. Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala SMU se. Cicih. P. dan Sahertian. Untuk memahami apa dan untuk apa program hubungan sekolah dan . Timan. Jakarta: Swastha. Harold dan O¶Donnel. Malang: AP FIP Universitas Negeri Malang. Tanpa tahun. Manullang.A. Jakarta: Ghalia Indonesia.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 056/U/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah.

dengan segala keterbatasan yang dimilikinya (tenaga. yaitu kemauan sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan sekolah. Hal terpenting dari pengertian di atas. Arthur B. Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hakekat hubungan sekolah dan masyarakat. dan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat. Persuasion directed at the public. tetapi sekolah berusaha secara aktif (jemput bola). to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah) 3. pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah. tujuan. tentunya yang dimaksudkan dalam uraian di sini tidak sesederhana pengertian tersebut. waktu dan sebagainya). Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan out put yang berkualitas pula. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat) 2. serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis. adalah adanya informasi yang . nampaknya lebih mengarah pada pola hubungan satu arah. Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti dikutip oleh Suriansyah (2000). 1. berikut ini akan diuraikan beberapa hal pokok: pengertian. Ini berarti pihak sekolah kurang mendapatkan balikan dari pihak masyarakat. Di sisi lain pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat. Dengan tuntutan yang demikian akan menjadi beban bagi sekolah. yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah. Apakah ini yang dimaksud dengan hubungan sekolah dengan masyarakat. adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Apabila dicermati pengertian tersebut di atas. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of public with the institution (suatu upaya untuk menyatukan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik. Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. biaya. Pengertian Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak. yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: 1.masyarakat perlu diaplikasikan secara intensif dalam pengelolaan pendidikan. Apa sebenarnya kebutuhan masyarakat terhadap sekolah itu? Masyarakat (lebih khusus lagi orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum.

Dengan memahami dua pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat di atas. sekolah tidak pernah memprogramkan kegiatan sekolah yang bersifat religius. Kenyataan selama ini tidak semua warga sekolah menghayati atau memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi dan misi sekolah. and understanding is basic to appreciation. masalah -masalah yang dihadapi serta berbagai aktivitas sekolah lainnya´.diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan. Pemahaman masyarakat yang mendalam. staf tata usaha dan lain -lain) tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci. Tumbuhnya penghargaan inilah yang akan mendorong adanya dukungan dan bantuan mereka pada sekolah. jelas dan konprehensip tentang sekolah merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya dukungan dan bantuan mereka terhadap sekolah. bahwa sekolah perlu memiliki visi dan misi serta program kerja yang jelas. Hal ini akan memberikan kesan yang kurang baik kepada masyarakat.L. Karena memang pelanggan dan pengguna hasil lulusan sekolah adalah masyarakat. sehingga pada saat masyarakat ingin mengetahui secara mendalam tentang hal tersebut warga sekolah (guru. maka harus dimulai dengan penjelasan tentang visi dan misi serta tujuan sekolah secara keseluruhan. Karena itu kebutuhan dan kepuasan pelanggan merupakan hal pokok yang harus diperhatikan oleh lembaga sekolah. program kerja sekolah. Sebagai contoh: Bagaimana masyarakat mau membantu sekolah apabila sekolah di tengah masyarakat religius dan fanatik. Sekolah . sehingga sekolah terisolir dari masyarakatnya. agar masyarakat memahami apa yang ingin dicapai oleh sekolah dan masalah/kendala yang dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan. masalah-masalah yang dihadapi dan kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai oleh sekolah (berfungsi sebagai akuntabilitas). Dengan demikian mereka dapat memikirkan tentang peranan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya untuk membantu sekolah. dapat dipahami bahwa ssekolah perlu melakukan beberapa aktivitas dalam melaksanakan manajemen peran serta masyarakat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan dan memberdayakan masyarakat dan stakeholders lainnya. Bertolak dari pendapat yang diungkapkan Brownell tersebut di atas. maka penghargaan mereka terhadap sekolah akan tumbuh. murid. appreciation is basic to support. Beberapa aktivitas tersebut adalah: Selalu memberikan penjelasan secara periodik kepada masyarakat ten tang program-program pendidikan di sekolah. melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. kita dapat membuat suatu pengertian sederhana tentang hubungan sekolah dan masyarakat sebagai suatu ³proses kegiatan menumbuhkan dan membina saling pengertian kepada masyarakat dan orang tua murid tentang visi dan misi sekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh C. Agar pemahaman program oleh masyarakat menyentuh hal yang mendasar. Pengertian ini memberikan dasar bagi sekolah. Brownell seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) yang menyatakan bahwa: Knowledge of the program is essential to understanding. Dengan demikian maka program sekolah harus seiring dengan kebutuhan masyarakat. Apa yang dimaksud dengan visi dan misi sekolah anda dapat memperdalam pada buku-buku reference lain. Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dipahami masyarakat dan apa yang diinginkan serta program-program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atau dengan kata lain pelanggan sekolah itu pada hakekatnya adalah siswa dan orang tua siswa serta masyarakat.

Nampak manfaat yang sangat besar bagi sekolah dan masyarakat. Sedangkan orang tua (masyarakat) tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di sekolah. kemajuan sekolah beserta masalah-masalah yang dihadapi sekolah secara lengakap. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengerti dengan jelas tentang visi. baik pihak orang tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Kendali/control yang dilakukan bersama antara sekolah dan masyarakat secara terpadu akan memberikan ruang sempit bagi siswa. atau ada semacam persepsi seolah -olah sekolah yang bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. Apabila kita belum melakukan hal tersebut. sudahkah sekolah mengenal harapan masyarakat? Atau sekarang justru sekolah memaksakan harapannya kepada masyarakat! Coba kita analisis kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dan penglihatan selama ini dalam praktek penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Sekolah akan mengenal secara mendalam latar belakang. acuh tak acuh dan masa bodoh masyarakat akan hilang. Hal ini tentunya merupakan kartu kendali bagi sekolah untuk bersikap. keinginan dan harapanharapan masyarakat terhadap sekolah. 2. Keterlibatan orang tua/masyarakat sering diinterpretasikan atau dipersepsi sebagai bentuk intervensi yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Dalam kenyataan yang ditemui di lembaga-sekolah sekarang ini nampaknya masih sedikit ditemukan pola-pola hubungan yang dapat mendorong terciptanya keempat hal pokok di atas. berperilaku dan bertindak di luar aturan sekolah yang ada. jelas dan akurat. Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua murid terhadap sekolah. Di samping manfaat seperti diuraikan di atas. 3. Apabila hal ini tercipta. para siswa secara langsung mengetahui bahwa mereka mendapat perhatian yang besar dari kedua belah pihak. tujuan dan program kerja sekolah. Bertolak dari gambaran tersebut di atas. maupun warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau berperilaku tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. maka sudah saatnya mulai sekarang sekolah berbenah diri untuk membangun kemitraan dengan masyarakat/ stakeholders untuk kemajuan sekolah. Keadaan ini juga turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab antar sekolah dengan pihak masyarakat. Yang menjadi pertanyaan adalah. Kondisi ini yang mendorong masyarakat untuk tidak terlibat apalagi berpartisipasi membantu sekolah. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengetahui persoalanpersolan yang dihadapi atau mungkin dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan yang diinginkan sekolah. Sedangkan pihak masyarakat dan orang tua murid cukup dimintakan bantuannya dalam bentuk keuangan saja. Hal ini disebabkan adanya persepsi bahwa peningkatan mutu sekolah dan peningkatan proses pembelajaran cukup dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak pemerintah secara sepihak. Dengan demikian mereka dapat melihat secara jelas dimana mereka dapat berpartisipasi untuk membantu sekolah. khususnya sekolah merupakan unsur penting guna menumbuhkan dukungan yang kuat dari masyarakat. maka sikap apatis. apabila hubungan sekolah dengan masyarakat benar-benar dapat dikelola dan direalisasikan secara utuh sesuai dengan konsepsi di atas.menjadi menara gading bagi lingkungan masyarakatnya sendiri. Persepsi yang salah ini sebagai akibat dari kurangnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan juga pemahaman warga . pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang baik akan memberikan manfaat lain seperti: 1. Apabila kondisi dia atas tercipta. misi.

To develop understanding. Tanpa perencanaan dan pengelolaan serta evaluasi yang baik. Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan: 1. To rise community goals and improve the quality of community living 3. 2. 2. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dukungan mereka akan pendidikan. pengelolaan keuangan. Untuk memajukan program pendidikan. 3. Bantuan apa? Ingat bantuan ini bukan hanya sekedar uang! Untuk melaporkan perkembangan dan kemajuan. Secara lebih lengkap Elsbree dan Mc Nelly seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) menyatakan bahwa kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk 1. tujuan yang hakiki dari kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak akan tercapai. Kualitas pembelajaran. sehingga segala permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama dan dalam waktu yang tepat. Hagman sebagai berikut: 1. Kualitas lulusan sekolah dalam aspek kognitif. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu aktivitas yang mendapat kedudukan setara dengan kegiatan pengajaran. afektif maupun psikomotor hanya akan dapat tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di luar kelas. tetapi lebih jauh dari hal tersebut yaitu pengembangan kemampuan belajar anak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Proses pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk orang tua murid/masyarakat. Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama yang erat. Apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat?. Sebagai bahan perbandingan. anda dapat mempelajari tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L.sekolah tentang apa dan bagaimana harusnya pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun. dikelola dan dievaluasi secara baik. gambaran pada pembahasan di atas sudah memperlihatkan kepada kita tentang apa yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah. . Untuk memperoleh bantuan dari orang tua murid/masyarakat. pengelolaan kesiswaan dan sebagainya (ingat substansi kegiatan management sekolah) juga harus direncanakan. Kapan sebenarnya laporan ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah ? 2. Di samping itu pemberdayaan masyarakat masih cenderung pada aspek pembiayaan. enthusiasm and support for community program of public educations Dari pendapat ini terlihat bahwa yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ini tidak hanya sekedar mendapat bantuan keuangan dari orang tua murid/masyarakat. To improve the quality of children¶s learning and growing.

untuk menghindari salah persepsi serta kecurigaan terhadap sekolah. Integrity. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat dan valid.2. maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat dibangun secara optimal. 3. Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang telah. Kualitas pertumbuhan dan perkembangan peserta didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu sendiri. dalam arti apa yang dijelaskan. Karena dia tidak dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri. Kualitas belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan tindakan antara sekolah. maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini. masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah. . Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap sekolah. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebabkan hal yang negatif bagi sekolah. sedang dan akan dijalankan oleh sekolah. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran. kualitas hasil belajar dan kualitas pertumbuhan/perkembangan peserta didik. bimbingan dan pengawasan pada anak/murid dalam belajar. 3. Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu. atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan. Lulusan yang berkualitas merupakan modal utama dalam membangun kualitas masyarakat di masa depan. Ini berarti segala program yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran. sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap. Continuity. 2. masyarakat dan orang tua siswa. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi. Kualitas hasil belajar siswa. Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan dalam konteks peningkatan mutu hasil belajar. Kualitas masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan dan hasil pendidikan yang handal. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Apabila hal tersebut dapat kita lakukan. baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan. disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik. akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. Kebersamaan ini terutama dalam memberikan arahan.

Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan. Simplicity Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa undangan kepada orang tua murid dari sekolah sering diwakilkan kehadirannya kepada orang lain. misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester/caturwulan. Penggunaan kata-kata yang jelas. Apabila ini terkondisi.Perkembangan informasi. padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah. permasalahan permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan tumbuh setiap saat. Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: y y y Informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. kegiatan kurikuler. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat). karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat/orang tua murid. factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap. disukai oleh masyarakat atau akrab bagi pendengar. remedial teaching dan lain-lain kegiatan. 3. misalnya program ekstra kurikuler. akurat dan up to date. dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi . Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu. Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat.Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat. sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya. Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh masyarakat kepada sekolah. maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat. kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat. Coverage Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek. oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang menjadi audience. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah yang sangat ilmiah. atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua/masyarakat. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak datang atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan bahwa apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan minta bantuan uang. perkembangan kemajuan sekolah. Informasi yang disajikan menggunakan pendekatan budaya setempat. sehingga kehadiran mereka hanya berkisar antara 60% ± 70% bahkan tidak jarang kurang dari 30%. 4. harus dilakukan secara terus menerus.

Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya. Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta faktor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi ke dalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Penjelasan yang konstruktif akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu. hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti. Departemen Pendidikan Nasional. 5. Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan. kebiasaan. masalah dan pr stasi e sekolah terakhir. Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir bagi penerima informasi. budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah. Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas. obyektif berdasarkan datadata yang ada pada sekolah. 2007) ===================== . Adaptability Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. 6. Untuk itu informasi yang ramah. kemajuan. termasuk dalam hal ini memberitah ukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah.yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif. Constructiveness Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu.

Husen. (1999). FKIP Unlam. (1975). Mansour Fakih.. Dasar-dasar Public Relations.Tubbs. D. M. Banjarmasin: Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan.. Guildford and Kings Lynn. T.School Administration. London: Bidles Ltd. Remaja Rosdakarya Stewart L. Trans. (2002). Raja Grafindo Persada. (2000). Bandung: Pustaka Setia. (1977). Jakarta: Bina Aksara Brownwll. Maroon T. Toto Rahardja (Penyunting). Bandung: PT. Wm. Dikti. Teori dan Praktek. Manajemen Humas dan Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. Mutu Pendidikan di SLTP Kalsel ³Analisis Partisipasi Orang Tua Murid dalam Pendidikan. (2001). Inovasi Pendidikan dalam upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan... Bandung: PT. (2002).L. Manajemen Pendidikan Indonesia. R. . C. Jakarta : Rajawali Pers. Edward.. Gans. Learning Society. Diktat Bahan Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan. L. Miarso (Ed) (1988). 1993) Total Quality Management in Education. Remaja Rosdakarya.. Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan SD Di Indonesia (Laporan Analisis Tahap Awal). Amka. Elvinaro Ardianto. (2002). Banjarmasin Ahmad Suriansyah. Kumars. Edisi Pertama. Banjarmasin: FKIP Unlam Ahmad Suriansyah.A. Peran SDM dalam Penerapan ISO 9000 . T. Pidarta. Human Communication. Mc Grow Company Publisher. Pramudya Sunu. Public Relation In Education. Sylvia Moss. (1955). P2LPTK. New York: Mc Grow Hill Book Company. Iowa. Jakarta : Bina Aksara. Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Tinggi suatu Perbandingan di Beberapa Negara. Jakarta: Grasindo Roem. Sudarwan Danim. Ahmad Suriansyah (1987). Dubuque. Humas. Gorton. Bambang Siswanto. (2002). (1992). Sallis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Jakarta: PT. Pusat Informatika.Z. (terjemahan). Soleh Soemirat. (2000). (1988). Merubah Kebijakan Publik. Jakarta : Depdikbud. Rosady Ruslan.DAFTAR PUSTAKA Ace Suryadi (1991).. Panduan Manajemen Berbasis Sekolah Di Kalimantan Selatan. Jakarta : Balitbangdikbud. Inc. (1989). Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat.

sehingga menuntut setiap organisasi untuk dapat memiliki kemampuan antisipatif dan adaptif terhadap berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari adanya perubahan. Jakarta: PT. (1988). pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan yang sangat cepat dan kadang-kadang kehadirannya sulit diprediksikan. kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya. Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah dalam mengaplikasikan TQ M adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan. Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen. Begitu pula dengan sekolah. Triguno. (1977). Jika kita mengacu pada konsep Total Quality Manajemen.VIII Nopember 2001: Yogjakarta: FIP UNY. maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. Dengan melalui kegiatan evaluasi dan riset ini akan diperoleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dal m pengambilan keputusan yang a berkenaan dengan usaha inovatif organisasi dan penyesuaiaian -penyesuaian terhadap berbagai perubahan. lambat laun akan dapat menimbulkan ke terpurukan sekolah itu sendiri. Dalam hal ini. Dalam Dinamika Pendidikan Nomor 2/Th. Torsten Husen. Untuk itu. percaya. dan habis ditelan oleh perubahan. Golden Terayon Press Manajemen Sekolah dalam Upaya Mengantisipasi Perubahan Posted on26 Maret 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam kehidupan modern sekarang ini. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan yang dapat berfungsi. kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya organisasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif merupakan sebuah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko. Budaya Kerja. (2001) Budaya Mutu dan Prospek Penerapannya Dalam Sekolah. Ketidakmampuan sekolah dalam mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Jakarta: Pusat Antar Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Masyarakat Belajar. sebagai institusi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan akan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan.Sukardi. dan proaktif terhadap kehidupan individu. Ada . Berbicara tentang sikap antisipatif ini. Rajawali Pers.

Berkenaan dengan perbaikan pada proses manajemen. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi.suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki bersama. sikap antisipatif dan adaptif terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah. (John P. satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. Para anggotanya percaya. 2002:121) mengetengahkan tentang perubahan kultural dari kultur tradisional ke budaya mutu. Heskett: 17. Continous. yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Rosabeth Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya in menghargai dan mendorong i kewiraswastaan.49). functions. Kegairahan yang menyebar luas. Dengan demikian. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: Focus Plan Organize Control Communication Decisions Functional Management Quality Management From Traditional Sort range budget Hierarchi chain of command Variance Reporting Top Down Ad Hoc/ Crisis Management Parochial. Competitive Fixing/One Short Manifacturing To Quality Future Strategic Issue Participant/Empowerment Quality Measure and Information or Self Control Top Down and Bottom Up Planned Change Cross functional. Integrative Preventive. Ross (Sudarwan Danim. yang mencakup 4 fokus. yang ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen. tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah baru dan peluang apa saja ya ng akan mereka temui. dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang -peluang baru. and Process Manajemen Kinerja Guru Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh : Akhmad Sudrajat . Kotter dan James L.

Bagaimana prestasi kerja akan diukur. menentukan bagaimana kinerja harus diukur. Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja. hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul. ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan. ³ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?´. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru. Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Metode apapun yang .Dalam perspektif manajemen. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan. maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). 4. serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu. Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja. Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan. Dari ungkapan di atas. Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja. Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja. Artinya. dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. 1. Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya. agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu. Selanjutnya. yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi.melakukan pekerjaan dengan baik´ 2. sebagai : ³« sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan. memperbaiki. komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja. solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah. Ini merupakan sebuah sistem. didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang : Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru. Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru. Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang. mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala. 3. kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi. manajer dan karyawan´. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar. maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang.

Perencanaan tadi membawa pada fase pembinaan. serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah. tanggung jawab. dan ekpektasi yang terukur. (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi. Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. kepala sekolah. Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. pembinaan. umpan balik. dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran. tiada satu pun taksiran yang dapat memberika n gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru . Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Karen Seeker dan Joe B. atau ³selalu salahnya guru´. Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator. pada gilirannya.C. Untuk mencapai tujuan tersebut. Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). diantaranya : 1. Ronald T. kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja.± di mana guru dibimbing dan dikembangkan ± mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan.dipergunakan untuk menilai kinerja. sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat. Sementara itu. Perencanaan harus dilakukan pertama kali. kemudian diikuti Pembinaan. yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan. Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. dan penghargaan. (2) bersifat seobyektif mungkin. menjadi masukan fase berikutnya lagi. Kemudian dalam fase evaluasi. Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran yang . Rencana terus dikembangkan. Kendati demikian. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru. seorang evaluator (baca: kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. pengawas pendidkan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas. untuk memperoleh tujuan ini. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs). evaluator dalam menentukan . Kedua. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja. tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain. Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran. dan guru. Pertama. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan. dan evaluasi. siklus terus berulang. penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. Dalam hal ini. dan staf administrasi . serta organisasi terus belajar dan tumbuh. yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. dan akhirnya Evaluasi.

hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. C. 1989. Seeker. Karen R. 3. Dalam hal ini. Practical Assessment. dan tenaga administrasi. Konferensi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Performance Management. seperti : siswa.Pd. Terj. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan ± catatan dalam kelas. (4) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik. ERIC Digest. Improving Teacher Evaluations. proses pengajaran dan testing (evaluasi). *)) Akhmad Sudrajat. M. (5) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan. Boyd. Ronald T. seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran . Research& Evaluation´. 2001. Ramelan). Jakarta : PPM. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable) 2. Sumber Bacaan : Bacal.Surya Darma dan Yanuar Irawan. (2) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi. 2000. rekan sejawat. (3) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi. pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas. Robert. Planning Succesful Employee Performance (terj. Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. dan Joe B. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan -tujuan pengajaran. . Wilson. Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan. adalah staf pengajar pada Program Studi PE FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Konsep Visi Sekolah Posted on 24 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator : (1) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak.

hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya. yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik dari cara yang sudah ada sebelumnya. . visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) organisasi sekolah itu sendiri. sayangnya upaya perumusan visi yang terjadi di sekolah -sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut. Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah. Dalam perspektif manajemen. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis. pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu ³prestasi´ dan ³iman-taqwa´. 1998). tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman. 1996). organisasi dan orangorang di dalamnya tidak mempunyai arahan yang jelas. Namun. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati. dan menarik. kredibel. kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali. visi adalah masa depan yang dipilih. Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar. hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya. baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah. sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Tetapi jika perumusannya menjadi seragam.Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. Boleh jadi. Menurut Block (1987). melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins. Tanpa visi.

Kendati demikian. 2. mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah. Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi. Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan. 3. nilai-nilai. . tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah. yaitu: 1.al. Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini. Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah. Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi. (b) tujuan pendidikan dalam sekolah. keluarga. Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum. (d) pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran.Memperhatikan pendapat para ahli di atas. dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan. 4. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai. Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah. tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi. Pembuatan visi adalah tentang keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain. 5. dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara ³top-down´ yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya . Beare et. (c) peran pemerintah. dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia. agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah.

Akan tetapi. sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. nilai dan keyakinan. Pencapaian tujuan pendidikan bermutu tersebut sesuai dengan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 5. Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis (ter. 2006: 33). di antaranya Standar Isi (SI)dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Permendiknas no 23 tahun 2 006. Sumber: Adaptasi dari Bush dan Coleman. Tahap kegiat an penyusunan . budaya yang akan dibangun. KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan. yaitu ³Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu´. 2008. Analisis Situasi Sekolah dalam Pengembangan KTS P Posted on 5 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT A. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru (BSNP. Rasional Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing -masing sekolah. serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan bermutu di seko lah tersebut. Keleluasaan sekolah dalam mengembangkan KTSP tent u harus diikuti dengan analasis situasi sekolah untuk mencapai lingkup standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan. akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesua i dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. Penyusunan dan pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. tujuan yang ingin dicapai. Hasil analisis tersebut merupakan dasar pijakan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target -target yang ditetapkan. Fahrurruzi). Jogjakarta: IRCiSoD.Dengan demikian. sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada.

Perumusan tujuan harus nyata dan terukur. Misi (mission) ditetapkan dengan mempert imbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas ³dari luar´) dan keinginan ³dari dalam´ (yang antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Visi dan misi saling berkaitan. weaknesses. (c) dinas pendidikan. realistis. pemantapan dan penilaian (cf. dan tujuan sekolah akan sangat berperan bagi pengembangan sekolah di masa depan. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (strengths. 2006: 33). misi. (4) biaya. reviu dan revisi. Misi. Berikut ini adalah penjelasan masing -masing 1. dan threats ). misi. Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang sekoah yang diinginkan di masa jauh ke depan. penyiapan dan penyusunan draf. opportunities. Tujuan sekolah seharusnya tidak betentangan dengan visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan. Tujuan Tujuan Analisis Situasi Sekolah adalah (1) memperoleh gambaran ny ata kondisi sekolah dan (2) memperoleh gambaran nyata situasi sekolah C. (b) dewan pendidikan. (e) dunia industri dan dunia kerja. (f) sumber daya alam dan sosial budaya. (5) program -program 4. serta kajian lingkungan eksternal untuk mengungkap opportunities atau peluang dan threats atau tantangan. (3) sarana dan prasarana. (d) asosiasi profesi. Kajian internal atau kondisi sekolah (kekuatan dan kelemahan) yang meliputi: (1) peserta didik. Misi diperjelas dan dijabarkan dengan tujuan sekolah (goals). . Misi sebuah sekolah perlu mempertimbangkan misi induknya (dinas pen didikan kabupaten/kota). tujuan seharusnya (1) tidak bertentangan dengan visi. Identifikasi SI dan SKL 3. (2) mencerminkan dengan jelas kebutuhan lokal dan nasional atau bahkan internasional berkaitan dengan kemampuan lulusan. (3) jelas bagi pihak -pihak yang berminat. misi. B. Visi. Analisis Konteks Analisis konteks dalam pelaksanaan penyusunan KTSP berwujud evaluasi diri ( self evaluation ) terhadap sekolah. Kajian eksternal atau situasi sekolah (peluang dan tantangan) yang dilihat dari masyarakat dan lingkungan sekolah yang meliputi: (a) komite sekolah. (2) pendidik dan tenaga kependidikan. misi. dipersepsi sebagai sesuatu yang berharga oleh seluruh pihak yang berminat. dan Tujuan Sekolah Penetapan visi. Visi. Dalam hal ini dapat diterapkan kajian lingkungan internal untuk memahami strengths atau kekuatan dan weaknesses atau kelemahan. Deskripsi visi. BSNP. Adapun analisis konteks melalui SWOT terdiri atas hal -hal sebagai berikut (cf. dan tujuan sekolah 2. serta finalisasi. ketercapaian tujuan dapat diamati. tujuan dinas pendidikan dan koheren dengan renstra depdiknas.KTSP secara garis besar meliputi: analisis sekolah. 2006: 32): 1. BSNP. (4) secara tersurat ada prioritas menghasilkan peserta didik yang be rmutu. ditunjukkan dan dapat diuji secara objektif.

latar belakang pendidikan dan/atau sertifat keahlian. tempat bermain. media cetak maupun elektronik. jenis keahlian. Analisis atas prasarana meliputi lahan. Peralatan meliputi peralatan laboratorium i lmu pengetahuan alam (IPA). dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berk elanjutan (SNP pasal 42 ayat 2). Dalam melakukan identifikasi. ruang bengkel kerja. kursi. latar belakang ten aga kependidikan. mengkaji. papan tulis yang ada di setiap kelas. c. ruang kelas. Media pendidikan di antaranya alat peraga. . minat pendidik dalam pengembangan profesi. ruang perpustakaan. dan kebersihannya. ruang tata usaha. Perabot di antaranya meliputi meja. buku dan sumber belajar lainnya. narasumber. sosial). memahami. SNP pasal 43). dan kondisi sarana yang ada. Adapun bahan habis pakai meliputi bahan -bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran. pro fesional. rasio pendidik dan peserta didik. instalasi daya dan jasa. bahan habis pakai . kepribadian.(SNP pasal 42 ayat 1). serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. lingkungan. gambar yang mendukung ketercapaian pembelajaran. rasio banyaknya. laboratorium komputer. peralatan pendidikan. analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan nonakademik. Analisis ini perlu dilakukan agar KTSP yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara ma ksimal. dan membedah SI dan SKL. Sarana dan Prasarana Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot. kelayakan fisik dan mental tenaga kependidikan. dan minat tenaga kependidikan dalam pengembangan profesi. setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya. ruang pimpinan sekolah. Analisis terhad ap kekuatan dan kelemahan semua sarana itu meliputi kepemilikan. Peserta Didik Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajar an. laboratorium bahasa. ruang kantin. Pendidik dan Tenaga Kependidikan Analisis terhadap pendidik dan ten aga kependidikan dimaksudkan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah. Identifikasi SI dan SKL Para pendidik di sekolah perlu melakukan identifikasi SI dan SKL. kelayakan. Analisi ini meliputi rata -rata kemampuan akademik peserta didik. dan peralatan pembelajaran lain (cf. tempat beribadah. buku teks. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan prasarana di sekolah meliputi keberadaannya. ruang labora torium. tempat berkreasi. Hal itu perlu dilaku kan supaya penerapan SI dan SKL di sekolah dan terutama dalam pembelajaran benar -benar baik.2. kelayakan fisik dan mental pendidik. media pendidikan. b. 3. ruang pendidik. LCD. jumlah tenaga kependidikan dan rinciannya. kompetensi pendidik (pedagogik. Situasi Internal atau Kondisi Sekolah a. dan bakat peserta didik. Identifikasi dapat dilakukan melalui tahap -tahap sebagai berikut: membaca secara saksama. Jadi. ruang unit produksi. jumlah. tempat berolahraga. slide. Yang termasuk dalam buk u dan sumber belajar di antaranya adalah bahan cetakan baik jurnal. minat. OHP. kelayakannya. rata -rata beban mengajar pendidik. maupun referensi.

dan program pengayaan. penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global). uang lem bur. serta penggunaan dan pemeliharaan s arana dan prasarana. biaya operasi. dan modal kerja tetap. Adapun tim penyusun KTSP terdiri atas pendidik. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. yang minimal meliputi tata tertib pendidik. pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Pada tahap akhir. konselor. serta kesesuaian program dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/ daerah merupakan analisis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan KTSP. 4. Biaya Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana. Dalam BSNP (2006: 5) disebutkan. Pimpinan sekolah dan komite sekolah juga melakukan . bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. Kondisi Masyarakat dan Lingkungan Sekolah a. penentuan pendidikan kecakapan hidup. keterlaksanaan. Ada atau tidaknya program. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muata n lokal. transportasi. Analisis terhadap pembiayaan di sekolah mengarah pada kelemahan dan kekuatan pembiayaan di sekolah tersebut terhadap pengembangan dan pelaksanaan KTSP e. Komite Sekolah Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang i kut berlibat dalam penyusunan KTSP di samping narasumber dan pihak lain yang terkait. asuransi. program pembelajaran. dan lain sebagainya. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi. program remedial. pemeliharaan sarana dan prasarana.d. jasa telekomunikasi. air. komite sekolah juga memutuskan pedoman struktur organisasi sekolah dan biaya operasional sekolah. Program-program KTSP disusun oleh s ekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Biaya operasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: y y y gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. konsumsi. pajak. pengembangan sumberdaya manusia. dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya. komite sekolah juga harus memberikan pert imbangan terhadap penyusunan KTSP. pemilihan kegiatan pengembangan diri. tenaga kependidikan dan peserta didik. Selain itu. dalam SNP Pasal 51 ayat 2 dinyatakan bahwa pengambilan keputusan pada sekolah dasar dan menengah di bidang nonakademik dilakukan oleh komite sekolah yang dihadiri oleh kepala sekolah. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan. Komite sekolah juga memberikan masukan tentang tata tertib sekolah. dan biaya personal .

analisis terhadap peluang dan tantangan dari pihak komite sekolah/madrasah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. Selain itu. Dalam KTSP. dan dunia kerja. dan akuntabilitas sekolah. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Asosiasi Profesi Ada beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. dunia indsutri di sekitar sekolah dapat diberdayakan untuk menunjang program pendidikan sekolah yang bersangkutan. pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan KTSP. Dalam penyusunan KTSP. 2006). Dinas Pendidikan Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan KTSP SMP. Dewan Pendidikan Dewan Pendidikaan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Adapun pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan o leh kepala sekolah kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. kabupaten/kota. Oleh karena itu. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan. Contoh: di dekat sekolah ada industri kerajinan.pemantauan untuk menilai efisiensi. Berdasarkan hal -hal itulah. Dalam hal ini. c. analisis terhadap peluang dan tantangan dunia industri dan dunia kerja di lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk pengembangan KTSP. rencana kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. efektivitas. d. keterampilan akademik. Akan tetapi. Peluang dan tantangan atas keberadaan MGMP perlu dianalisis untuk pengembangan KTSP. . dan provinsi. Keberadaan tim ini akan sangat membantu pengembangan KTSP. pengembangan keterampilan pribadi. dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan (BSNP. peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi dasar sesuai konteks ind ustri kerajinan tersebut. Dalam hal ini. b. di an taranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. keterampilan sosial. asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMP terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada pand uan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Dalam hal ini. KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal. Berdasarkan hal -hal itulah. dunia usaha. dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP. Dunia Industri dan Dunia Kerja Salah satu prinsip pengembangan KTSP adalah relevan dengan kebutuhan kehidupan. secara lebih khusus. MGMP dapat berperan pula sebagai tim yang menyusun silabus mata pe lajaran tertentu. Berdasarkan hal itulah. analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan KTSP. dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas para pendidik berpengal aman di bidangnya. keterampilan berpikir. e.

kebutuhan. 2. KTSP harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. dan biaya. Sumber Daya Alam dan Sosial Budaya KTSP disusun dengan memperhati kan berbagai hal. kondisi sosial budaya masyarakat setempat. kesesuaian dengan visi. 4. di antaranya adalah keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. 5. Aspek yang Dianalisis Keberadaan dunia industri Kebermaknaan dunia industri dalam pengembangan kompetensi Kelayakan dunia industri sebagai sumber belajar Kedekatan jarak letak dunia industri dengan sekolah Hubungan baik dunia industri dengan pihak sekolah Ya Tidak . kesetaraan gender. Satuan pendidikan harus menyiapkan instrumen tersebut sebagai panduan pengambilan data. waktu. Pada sisi lain. dan tujuan sekolah. Sumber daya alam yang ada di lingkungan serta aspek sosial budaya yang berlaku di tempat sekolah tersebut berada. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditum buhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. Selain itu. D. Instrumen yang digunakan bisa menggu nakan model check list ataupun skala. dapat memanfaatkan aspek kel autan sebagai peluang dan tantangan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Pengembangan Instrumen Analisis terhadap situasi sekolah dilakukan dengan menggunakan instrumen analisis. 3. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dapat memberikan nilai tambah bagi perkemba ngan peserta didik. tantangan. kebermanfaat an aspek sosial budaya bagi peserta didik di masa kini dan yang akan datang. dan keragaman karakteristik lingkungan. dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksanaan penyusunan KTSP. misi. Masing -masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari -hari. setiap daerah memiliki potensi. Oleh karena itu. KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. ketersediaan dan kemampuan SDM dalam mengelola sekolah. Ini merupakan salah satu contoh pembelajaran untuk memahami alam sekitar dan sek aligus mengatasi tantangan alam. diperlukan upaya identifikasi dengan memperhatikan berbagai hal.f. analisis terhadap peluang dan tantangan sumber daya alam dan sosial budaya lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. Pendidik dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik menanam bakau untuk menahan abrasi pantai. antara lain: keterjangkauan jarak. Pada dasarnya. Berdasarkan hal itulah. Sekolah yang berada di daerah pantai. KTSP juga harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender. Contoh Instrumen model check list Dunia Industri/kerajinan No 1.

5. KTSP yang dikembangkan berdasarkan analisis situasi sek olah diharapkan akan benar -benar mencerminkan upaya peningkatan kondisi internal yang ada di sekolah yang meliputi peserta didik. 2. Jarak dunia industri/kerajinan jauh. dinas pendidikan. KTSP yang baik harus d ikembangkan atas dasar analisis peluang dan tantangan situasi eksternal yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. KTSP untuk pendidikan dasar dikembangkan oleh setiap sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidi kan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Jawaban Ya Semua aspek 1. dan program program lainnya. sumber d aya alam dan sosial budaya. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi alternatif acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal.E. tetapi dengan syarat -syarat yang harus dipenuhi. dan 4 1. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Di samping itu. Selain itu. anal isis situasi sekolah sangat perlu dilakukan sehingga KTSP yang dikembangkan benar -benar didasarkan pada kondisi dan situasi sekolah (di samping didasarkan pula pada prinsip -prinsip pengembangan KTSP). Hasil analisis tersebut diklasifikasi atas peluang atau tantangan yang akan menjadi kesimpulan pengambilan keputusan Contoh No 1. tentu tantangan satuan pendidikan untuk menyediakan biaya transportasi ke tempat dunia usaha/industri tersebut. 2. . satuan pendidikan mempunyai tantangan untuk membina hubungan baik dengan dunia industri tersebut. Contoh pemanfaatan 1. asosiasi profesi. dunia industri dan dunia kerja. Analisis Instrumen Data yang telah diperoleh dianalisis. Penutup Pada prinsipnya. G. 2. 2. Pemanfaatan Hasil Instrumen Berdasarkan hasil analisis yang telah diperoleh . yang meliputi: komite sekolah. 3. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi tantangan. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi peluang. biaya. pendidik dan tenaga kependidikan. satuan pendidikan mengembangkan program yang terkait dalam pengembangan KTSP. dewan pendidikan. 3. dan 3 Jawaban Tidak 5 4 dan 5 Semua aspek 1. dan 3 Keterangan Peluang Tantangan Tantangan Bukan peluang Bukan peluang F. Dalam pengembangan KTSP ini. 2. sarana prasarana. 4. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal.

perspektif. kemudian ikuti kemajuannya. Dokumentasikan setiap proses inovasi dan pastikan setiap orang dapat me mahami peran didalamnya dengan sebaik-baiknya. 7. Tentukan kriteria yang terukur dengan fokus pada cita-cita masa depan organisasi. seperti tentang trend baru. Kembangkan sistem pengelolaan gagasan dan tangkaplah setiap gagasan untuk dikembangkan dan dievaluasi berbagai kemungkinannya . 8. baik yang ada dalam organisasi maupun di luar organisasi. Team Inovasi berbeda dengan team proyek regular. dibutuhkan perlengkapan dan mindset yang berbeda pula. 4. karena keragaman seluruh aktivitas ini merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam proses men uju inovasi. Jadikan inovasi sebagai bagian dari sistem penilaian kinerja setiap orang. Pastikan setiap orang dapat memahami strategi organisasi dan pastikan pula bahwa semua usaha inovasi benar-benar sudah selaras dengan strategi yang ada. Kesepuluh langkah tersebut adalah: 1. Oleh karena itu. baik dalam gaya berfikir. Berikan keluasaan kepada setiap orang untuk dapat mengeksplorasi kemungkinankemungkinan baru (new possibilities) dan berkolaborasi dengan orang lain. Belajarkan setiap orang untuk menghargai keragaman. pengalaman maupun keahlian. Sediakanlah pelatihan yang cukup sehingga setiap orang dapat bekerja dalam inovasi secara sukses. Hilangkan rasa takut dalam organisasi. Kriteria yang ketat hanya akan menghambat terhadap pencapaian cita-cita dan melestarikan berbagai asumsi dan mindset masa lampau. teknologi atau perubahan mindset pelanggan. Innovasi artinya melakukan sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itu mungkin akan gagal. Belajarkan setiap orang untuk mampu memindai lingkungan.Sepuluh Langkah Menjaga Inovasi dalam Organisasi Posted on 23 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Joyce Wycoff (2004) mengemukakan tentang 10 langkah praktis untuk mempertahankan kehidupan inovasi dalam suatu organisasi. 6. 5. 3. Curahkan waktu untuk pengembangan dan kesuksesan yang hendak organisasi pada masa yang akan datang. 10. apa yang akan mereka ciptakan atau tingkatkan pada masa-masa yang akan datang. jika orang-orang senantiasa diliputi ketakutan akan kegagalan. 9. 2. Tanyakan kepada mereka.

(8) Kepemimpinan Opini dan Network Difusi. bukan perilaku). tapi juga menjual kredibilitas diri dan/atau orang lain. (4) Lahirnya Inovasi. (3) Kontribusi dan Kritik riset Difusi.com/ Difusi Inovasi Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam Pengantar buku (edisi ketiga) Diffusion of Innovations. Rogers. Tarde (1903) mengemukakan hukum imitasi µdari 100 inovasi. menjelaskan bahwa edisi pertama terbit tahun 1962 dan edisi kedua (dengan judul Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach dan dengan penulis kedua F. http://thinksmart. tapi sesuatu yang dikerjakan bersama orang lain. Tradisi riset adalah sederet penelitian tentang topik sejenis di mana penelitian sebelumnya berpengaruh pada penelitian sesudahnya. (6) Atribut Inovasi dan Tingkat Adopsinya. Bab 2 diawali dengan komentar Elihu Katz dkk. Bab 1 selanjutnya meringkas materi yang akan dibahas pada bab 4 sampai dengan bab 11. N. (10) Inovasi dalam Organisasi dan (11) Konsekuensi-konsekuensi Inovasi.Floyd Shoemaker) terbit pada tahun 1972. Everet M. (1963) µberbagai tradisi riset ironisnya ditemukan secara sendiri-sendiri¶.Sumber: Adaptasi dari: Joyce Wycoff . Dalam Pengantar tersebut disajikan (a) kesamaan difusi dengan riset persuasi: (a1) bukan komunikasi satu kepada orang banyak. Bab 1 membahas empat unsur inovasi (a) inovasi (b) saluran komunikasi. (9) Agen Perubahan.Y. Inovasi sering berupa cluster teknologi karena dengan demikian akan lebih mudah untuk diadopsi. praktek atau objek yang dipersepsi baru oleh seorang individu atau suatu unit adopter. (c) waktu dan (d) sistem sosial. (1983). Di Perancis. Ten Practical Steps to Keep Your Innovation System Alive & Well. aksi atau kebijakan). (5) Proses Keputusan Inovasi.. bukan pada implementasi aktual atau konsekuensi inovasi) dengan riset persuasi (fokus lebih pada pengubahan sikap. Pembahasan pada bab 1 sampai dengan bab 11 masing-masing diberi judul (1) Unsur-unsur Difusi. (2) Sejarah Riset Difusi. Inovasi dibedakan dari reinvensi: tingkat inovasi diubah atau dimodifikasi pengguna pada proses adopsi dan implementasi. Inggris dan Jerman-Austria di awal abad 20. Tradisi riset pada dasarnya adalah suatu µuniversitas tidak terlihat¶. The Free Press. (b) kontras difusi (fokus lebih pada adopsi/ keputusan untuk menggunakan dan mengimplementasikan gagasan baru. (c) pergeseran studi difusi dari yang mendasarkan pada model komunikasi linier (proses di mana pesan ditransfer dari sumber ke penerima) ke yang mendasarkan pada model komunikasi konvergensi (proses saling tukar informasi diantara sesama partisipan) dan (d) definisi inovasi difusi sebagai pada dasarnya suatu proses sosial di mana informasi tentang gagasan baru yang dipersepsi secara subjektif dikomunikasikan. Riset difusi dimulai di Perancis.2004. 10 akan menyebar luas sementara 90 akan dilupakan¶. dan (a2) tidak semata berpusat pada aksi atau isu (menjual produk. Selanjutnya .suatu gagasan. (7) Kategori Keinovatifan dan Kategori Adopter. Inovasi -sering disinonimkan dengan teknologi. penulisnya.

disajikan sembilan tradisi riset: antropologi, sosiologi awal, sosiologi pedesaan, pendidikan, sosiologi medis, komunikasi, pemasaran, geografi dan sosiologi umum. Akhirnya, disajikan delapan tipe riset difusi (1) kapan inovasi diketahui, (2) tingkat adopsi inovasi, (3) keinovatifan, (4) kepemimpinan opini, (5) jaringan difusi, (6) tingkat adopsi dalam berbagai sistem sosial, (7) saluran komunikasi dan (8) konsekuensi inovasi. Bab 3 menyajikan kontribusi riset difusi berupa (a) model difusi sebagai paradigma konseptual yang relevan dengan banyak disiplin ilmu, (b) sifat pragmatisnya dalam memecahkan masalah penggunaan hasil riset, (c) memungkinkan periset mengemas ulang temuan empirisinya dalam bentuk generalisasi lebih teoritis lagi dan (d) metodologinya yang jelas dan relatif facile. Selanjutnya,disajikan kritik pada riset difusi: (a) bias pro -inovasi: inovasi harus diadopsi semua anggota suatu sistem sosial dengan cara cepat dan inovasi tidak boleh ditolak atau direinvensi, (b) bias menyalahkan individu: kecenderungan menyalahkan individu, bukan sistem, (c) masalah ingatan: ketidakakuratan responden dalam mengingat proses adopsi inovasi dan (d) isu ekualitas: inovasi cenderung memperlebar kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, disajikan prosedur meta-riset, yaitu sintesis riset empiris menjadi kesimpulan umum yang lebih teoritis: (a) perumusan konsep (dimensi yang dinyatakan dalam istilah paling mendasar), (b) menyusun hubungan dua konsep dalam bentuk hipotesis teoritis, (c) menguji hipotesis teoritis dengan hipotesis empiris yang dinyatakan dalam postulat hubungan dua konsep operasional, (d) uji hipotesis empiris dengan uji signifikansi atau uji lainnya dan (e) hipotesis teoritis ditolak atau diterima berdasarkan ditolak atau diterimanya hipotesis empiris. Bab 4 menyajikan enam momen proses inovasi yang merupakan paduan dari (a) analisis kebutuhan (momen pertama: perumusan masalah atau analisis kebutuhan), (b) tracer study (momen kedua sampai ke lima: penelitian murni/terapan, pengembangan, komersialisasi/ sosialisasi serta difusi dan inovasi) dan (c) studi difusi klasik (momen ke lima dan ke enam: difusi/ inovasi dan konsekuensi inovasi). Masalah yang umumnya ditemukan adalah rendahnya penjualan hasil penelitian yang sudah dipatenkan (di Amerika mislanya adalah 1500 dari 30000 paten). Pengembangan teknologi mengalami empat tahap (a) trial and error dalam skala kecil, (b) imitasi, (c) kompetisi tekonologi dan (d) keluar dari kompetisi dan melakukan standarisasi produk. Beberapa konsekuensi inovasi adalah (a) ke enam momen difusi inovasi mungkin tidak semuanya ada dalam suatu inovasi, (b) kemungkinan ketidak sinkronan konsekuensi yang diharapkan dengan yang benar-benar terjadi, dan (c) pelebaran kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, dibahas (a) kelemahan tracer study: tergantung ada tidaknya publikasi, sedikitnya data fase difusi/ adopsi dan sifatnya rekonstruksi rasionalistik dan (b) inovasi organisasi yang muncul secara individual, kolektif, atas instruksi atasan atau didorong inovasi sebelumnya mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Bab 5 membahas lima proses keputusan inovasi (a) mengetahui inovasi, (b) peruasi, (c) keputusan, (d) implementasi (seutuhnya atau lewat reinvensi) dan (e) konfirmasi atau meniadakan/mengurangi disonansi, suatu ketidaksetimbangan internal yang disebabkan (e1) kebutuhan, (e2) belum mengadopsi sesuatu yang diinginkan atau (e3) setelah mengadopsi untuk meneruskan atau diskontinu. Inovasi dapat tidak dilanjutkan (diskontinu) karena (a) kecewa atau (b) diganti dengan invasi lainnya. Beberapa temuan proses keputusan inovasi adalah (a) Inovasi yang tingkat adopsinya tinggi tingkat diskontinu; (b) diskontinu cenderung dilakukan oleh adopter akhir; (c) riset selama ini kebanyakan riset variansi sehingga diperlukan riset proses; (d) beberapa saluran komunikasi difusi inovasi adalah media massa dan hubungan antar-pribadi serta saluran kosmopolit dan lokalit; (e) media massa dan saluran kosmopolit terutama penting pada tahap mengetahui inovasi; sementara hubungan antar-

pribadi dan saluran lokalit terutama penting pada tahap persuasi; (f) media massa dan saluran kosmopolit lebih penting bagi adopter awal; (g) tingkat mengetahui inovasi lebih cepat dari tingkat adopsi dan (h) adopter awal mengalami proses keputusan inovasi lebih cepat. Bab 6 menyatakan bahwa tingkat inovasi dipengaruhi oleh satu atau beberapa karakteristik berikut: (a) keuntungan relatif, (b) kompatibilitas atau kekonsistenannya dengan nilai yang dianut, (c) kompleksitas atau tingkat kemudahan untuk dipahami, (d) triabilitas atau kedapatdicobaannya dalam skala kecil dan (e) observabilitas atau keterlihatannya oleh orang/pihak lain. Tingkat adopasi dipengaruhi oleh (a) jenis keputusan inovasi (opsional, kolektif atau atas dasar otoritas), (b) jenis saluran komunikasi yang digunakan, (c) norma, sifat kesalingterhubungan individu, dst. dalam komunitas adopter dan (d) upaya agen perubahan. Selain itu, ditemukan bahwa (a) sampai tingkat kesadaran inovasi mencapai 20-30% tingkat adopsi rendah, sedangkan setelah ambang tersebut tingkat kesadaran dan tingkat adopsi meninggi dan (b) overadopsi adalah fenomena inovasi diadopsi padahal menurut para ahli sebaiknya tidak diadopsi. Bab 7 mencatat bahwa kontinum keinovatifan dapat dibagi menjadi lima kategori (a) invator, (b) adopter awal, (c) mayoritas awal, (d) mayoritas akhir dan (e) laggards. Masing-masing kategori tersebut mempunyai karakteristik (a) venturesome, (b) respectable, (c) deliberate, (d) skeptis dan (e) tradisional. Usia adopter awal relatif sama dengan adopter akhir hanya saja adopter awal cenderung lebih unggul dalam hal (a) pendidikan, (b) literasi, (c) status sosial, (d) mobilitas ke atas, (e) ukuran ladang, perusahaan, dst., (f) sikap terhadap kredit dan (g) tingkat spesialisasi pekerjaan. Selain itu, dalam hal kepribadian, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) empati lebih besar, (b) kurang dogmatis, (c) lebih mampu melakukan abstraksi, (d) lebih rasional, (e) lebih intelejen, (f) lebih mudah menerima perubahan, (g) lebih mampu mengangani ketidakpastian dan resiko, (h) lebih menghargai pendidikan dan sains, (i) kurang fatalis, (j) mempunyai motivasi pencapaian lebih besar, (k) aspirasi lebih tinggi pada pendidikan, pekerjaan, dst. Akhirnya, dalam hal perilaku komunikasi, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) partisipasi sosial lebih tinggi, (b) kontak sosial lebih banyak dengan sesamanya dan/atau dengan agen perubahan, (c) lebih kosmopolit, dan terekspose pada media massa, (d) leb aktif mencari ih informasi dan lebih banyak tahu tentang inovasi dan (e) lebih tinggi kepemimpinan opininya. Bab 8 membahas model kepemimpinan opini aliran dua-langkah: pesan mengalir dari sumber via media massa ke pemimpin opini yang pada gilirannya menyampaikannya pada para pengikutnya. Model tersebut ditentang oleh model µjarum hipodermik¶ di mana dipostulatkan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung, segera dan kuat pada individu-individu yang terkait dengan media massa, tapi tidak terkait satu dengan lainnya. Menurut teori Granovetter individu cenderung terkait dengan orang yang secara fisik dekat dan menurut atribut-atribut seperti kepercayaan, pendidikan dan status sosial relatif sama (homofili; kontras dengan heterofili di mana atribut-atribut tersebut relatif beda). Duff dan Liu (1975) menyatakan bahwa dalam satu network komunikasi, pertukaran informasi dari satu clique (yang ditandai dengan promiximitas komunikasi tinggi) ke clique lain dijembatani oleh proximitas komunikasi rendah yang heterofili (misal, dari clique berstatus sosial tinggi ke clique berstatus sosial lebih rendah). Beberapa temuan lainnya ialah (a) Dalam network heterofili, pengikut cenderung mencari pemimpin opini yang mempunyai status sosial, pendidikan, ekspose ke media massa, tingkat keinovatifan, tingkat kekosmopolitan dan tingkat kontak dengan agen perubahan lebih tinggi, (b) pemimpin opini lebih sejalan dengan norma sistem dibanding dengan pengikutnya, (c) pemimpin opini dapat dibedakan menjadi polimorfis (mempunyai opini dalam banyak bidang) atau monomorfis (mempunyai opini

hanya dalam satu bidang), dan (d) network personal radial (dari satu ke banyak orang) lebih penting untuk inovasi dibanding dengan network interlocking di mana individu saling berinteraksi. Bab 9 membahas masalah yang dihadapi agen perubahan adalah (a) sebagai penengah antara agensi perubahan dan klien dan (b) kemungkinan kesulitan mengolah informasi yang cenderung melimpah; sementara itu, masalah aide lebih parah lagi karena kredibiltas kompetensi atau profesionalismenya diragukan. Tujuh peran agen perubah adalah (a) menumbuhkan kebutuhan dalam diri klien, (b) membangun hubungan pertukaran informasi, (c) mendiagnosa masalah klien, (d) menumbuhkan niat berubah pada klien, (e) menerjemahkan niat klien ke dalam tindakan, (f) menstabilkan adopsi dan mencegah diskontinu adopsi dan (g) mencapai hubungan terminal dengan klien (yaitu ketika klien berubah menjadi agen perubahan). Kesuksesan agen perubahan tergantung pada (a) upayanya menghubungi klien, (b) orientasinya yang lebih kepada klien, bukan pada agensi perubahan,(c) tingkat kesesuaian inovasi dengan kebutuhan klien, (d) empatinya kepada klien, (e) homofilitasnya dengan klien, (f) kredibilitasnya di mata klien, (g) tingkat kesejalanannya dengan pemimpin opini dan (h) kemampuan klien mengevaluasi inovasi. Selanjutnya, hubungan agen perubahan secara positif tergantung pada lebih tingginya klien dalam hal (a) status sosial, (b) partispasi sosial, (c) pendidikan dan (d) kekosmoplitannya. Akhirnya, juga dibahas mengenai sistem difusi sentralistik dipadu dengan sistem difusi desentralistik dan/atau penerapan kedua sistem tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam sistem difusi sentralistik, difusi dilakukan oleh pemerintah dan/atau ahli; sementara itu, dalam sistem difusi desentralistik, inovasi datang dari ekpserimentasi lokal yang sering dilakukan oleh pengguna itu sendiri dan/atau atas dasar saling tukar informasi untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Difusi lewat network horizontal dilakukan unit lokal dengan tingkat kemungkin reinvensi yang tinggi. Bab 10 mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem stabil dari sejumlah individu yang bekerja sama untuk mecapai tujuan bersama lewat suatu hiearki jabatan dan pembagian tugas. Inovasi dilakukan secara opsional, kolektif atau didasarkan pada otoritas atau inovasi sebelumnya . Sampai tahun 1970-an, inovasi dalam organisasi diteliti dengan riset variansi, yaitu diteliti korelasinya dengan sejumlah variabel bebas. Variabel bebas dan sifat korelasinya dengan keinovatifan (+ atau -) tersebut adalah (a) karakteristik pemimpin: sikap pemimpin terhadap perubahan (+), dst.; (b) karakteristik internal struktur organisasi: sentralisasi (-), kompleksitas (+), formalitas (-), kesalingterkaitan (+), ketersediaan cadangan (+), dst. dan (c ) karakteristik eksternal organisasi: keterbukaan sistem (+), dst. Riset variansi sekarang diganti dengan riset proses inovasi yang mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Dalam inisiasi terdapat tahap agenda setting (perumusan masalah) dan matching (penyelarasan masalah dan solusi), sementara dalam implementasi ada tahap redefinisi/restruktrurisasi masalah, klarifikasi dan rutinisasi (hasil) inovasi. Akhirnya, bab 11 mendefinisikan konsekuensi inovasi sebagai perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial sebagai akibat dari adopsi suatu inovasi. Konsekuensi inovasi jarang diteliti karena (a) agensi perubahan memberi perhatian terlalu banyak pada adopsi dan mengasumsikan konsekuensi adopsi pasti positif, (b) metode riset survei mungkin tidak cocok untuk meneliti konsekuensi inovasi dan (c) sulitnya mengukur konsekuensi inovasi. Konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi (a) diinginkan vs. tidak diinginkan, (b) langsung vs. tidak langsung dan (c) diantisipasi vs. tidak diantisipasi; sementara itu, dari contoh penggunaan kappa besi di suku Aborijinal, diketahui tiga unsur intrinsik dari inovasi: (a) bentuk: penampakan fisik dan substansi inovasi; (b) fungsi: kontribusi inovasi pada cara

Akhirnya. 3rd. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. Beberapa cara tersebut adalah (a) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak dibanding orang miskin: pesan disampaikan lewat (a1) cara masal seperti lewat radio atau televisi.Universitas Pendidikan Indonesia. (b) kesetimbangan dinamis (perubahan yang disebabkan inovasi setara dengan kemampuan sistem sosial untuk menanganinya). tujuan dari inovasi adalah untuk mencapai kesetimbangan dinamis. Hal lain yang berkaitan dengan konsekuensi inovasi adalah tingkat perubahan dalam sistem yang mungkin mengalami (a) kesetimbangan stabil (inovasi tidak menyebabkan perubahan dalam struktur dan/atau fungsi sistem sosial). Dengan demikian. pengembangan programdan/atau agensi yang diperuntukkan khusus orang miskin dan pergeseran dari difusi inovasi yang datang dari riset dan pengembangan (R & D) formal ke penyebaran informasi tentang gagasan yang didasarkan pada pengalaman lewat sistem difusi desentralistik: sering untuk ikatan intelektual dari kebijakan konvensional adalah eksperimen di lapangan. hal lainnya lagi yang harus dikaji dalam konsekuensi inovasi adalah cara mengatasi kenyataan bahwa inovasi sering memperlebar kesenjangan sosio-ekonomik masyarakat.. dan pengubahan fokus dari sasaran inovasi tradisional (yaitu pada kelompok yang paling berpotensi untuk berubah) ke kelompok yang paling tidak berpotensi untuk berubah. Makna Baru Perubahan Pendidikan (The New Meaning of Education Change) Posted on 8 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . Diambil dari: Dodi Sukmayadi.Y).2004. The Free Press. (b) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak pada hasil evaluasi inovasi dibanding orang miskin: pemimpin opini orang miskin harus ditemukan (meski pun relatif lebih sulit dibanding dengan menemukan pemimpin opini orang kaya) dan hubungan agen perubahan dikonsentrasikan pada mereka. memberi kesempatan orang miskin berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan inovasi. penggunaan multi-media yang didasarkan kondisi sosial budaya orang miskin. N. Bandung Program Pasca Sarjana. membangun organisasi (misalnya koperasi) di kalangan orang miskin. penggunaan bahasa yang dimengerti orang miskin. aide dari kalangan orang miskin digunakan untuk menghubungi kelompok homofilinya dan kelompok formal di kalangan orang miskin diperkuat dan/atau dibina serta ( c) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai sumber daya lebih dibanding orang miskin: pemilihan inovasi yang cocok untuk orang miskin. penyampaian dalam kelompok kecil di mana orang miskin biasanya berkumpul. Rogers. (1983).hidup adopter dan (c) makna: persepsi subjektif dan sering di bawah sadar dari adopter terhadap inovasi. Diffusion of Innovations. Everet M. atau (c) disequilibrium (perubahan yang disebabkan inovasi terlalu cepat untuk dapat ditangani sistem sosial).

Berikut adalah substansi tiap bab dimaksud. tanpa mengubah secara . Apakah diimplemetasikan? Ya Apakah perubahan sangat menguntungkan dan secara teknis sangat baik? Ya Tidak I Tidak II III IV Dikatakan bahwa perubahan pendidikan pada tahun 1960-an dan reformasi berbasis kompetensi 1980an yang mencoba µto legislate learning¶ adalah tipe IV. Michael G. (4) Sebab dan Proses Inisiasi. (3) Makna Perubahan Pendidikan. Inovasi gagal menyentuh hal pokok yang dituju perubahan pendidik-an: µBuat apa pendidikan sebenarnya? Manusia dan masyarakat seperti apa yang diinginkan? Metode dan organisasi kelas serta bahan ajar apa yang diperlukan? Pengetahuan mana yang paling berharga? (Silberman. dan Stiegelbauer.Y Buku ini membahas tentang makna (baru) perubahan pendidikan dalam tiga bagian dan enam belas bab. Suzanne Tahun : 1991 edisi kedua Penerbit: Teacher College Press. Melaksanakan dan Menangani Perubahan. Bab 1 membahas tujuan dan sistematika buku. (6) Merencanakan. (II) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Lokal dan (III) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Regional dan Nasional. (7) Guru. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan. Tipologi perubahan pendidikan disajikan dalam gambar berikut. Atau. (10) Administratur Distrik. (9) Siswa. (2) Sumber-Sumber Perubahan Pendidikan. Perubahan pendidikan menyentuh hanya perubahan tingkat pertama. yaitu: perubahan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas aktivitas yang dilakukan sekarang tanpa µmengubah fitur organisasional dasar. dicatat opportunisme dalam perubahan pendidikan µsebagai ´ara murah´ untuk menyelesaikan tekanan birokratis atau politis«agar distrik nampak up-to-date dan progresif di mata masyarakat atau untuk ³melakukan sesuatu´ untuk suatu kelompok tertentu¶ (Berman dan McLaughlin. (11) Konsultan. (8) Kepala Sekolah. N. (12) Orang Tua dan Komunitas. Bab 2 menyajikan tiga sumber perubahan pendidikan yaitu: (a) bencana alam. inovasi masih dilihat sebagai alat sekelompok orang untuk mengontrol kehidupan orang lain dan anak-anaknya menurut konsepsinya sendiri (Whiteside. Selanjutnya. (13) Pemerintah. 1978). 1970). Adapun judul-judul keenambelas bab tersebut adalah: (1) Tujuan dan Sistematika Buku. (b) pengaruh faktor luar dan (c) kontradiksi internal. Judul ketiga bagian tersebut adalah (I) Memahami Perubahan Pendidikan. (5) Sebab/Proses Implementasi dan Kontinuasi. 1978).Judul Buku: The New Meaning of Education Change Penulis: Fullan. (14) Persiapan peofesional Guru.

(h) orientasi birokratis dan pemecahan masalah. (e) monitoring/pemecahan masalah > dan (f) restrukturisasi. diantaranya. struktur dan peran baru diubah menjadi. guru.Tema-tema dalam proses implementasi adalah (a) membangun visi. Akhirnya. misal. (b) implementasi (biasanya 2-3 tahun pertama sejak adopsi). 1983. (c) petunjuk untuk memahami hakekat dan feasibilitas suatu perubahan. (b) perencanaan evolusioner.). tapi supnya tetap sama¶ (ibid. sekitar 200. 1979). µbahan berubah. Dalam makna secara umum ditemukan bahwa µtiap upaya untuk pre-empt konflik. tekanan kelas bagi guru µtekanan segera dan kongkrit.tidak tersentuh: menurut peribahasa Cina. Bab 5 menyajikan tiga kategori faktor dalam proses implementasi (1) karakteristik proyek inovasi atau perubahan: kebutuhan. Model perubahan mempunyai empat komponen (a) inisiasi. meski hasil segera tidak terlihat (House. rutinisasi atau institusionalisasi dan (d) outcome. (g) sumber dana: lokal. starting small and thinking big.. kepala sekolah. (b) akses pada informasi. adaptasi kondisi selalu berubah atau unpredictability dan tekanan untuk terlibat dengan siswa¶ (Huberman. Mereka harus percaya inovasi akan berhasil dan berguna. tekanan multidimensionalitas dan simultanitas. al. (e) kedalaman perubahan dan (e) pertanyaan tentang penilaian. dan (3) faktor eksternal: pemerintah dan agensi lainnya. konsiderasi dalam perencanaan untuk adopsi paling baik jika mengkombinasikan 3R: (a) Relevansi: dilihat dari praktikalitas dan kebutuhan. inkorporasi. Perubahan tingkat kedua ±dimana cara fundamental seperti tujuan. Reformer telah mengasimilasi perubahan «mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun« Jika mereka mengingkari orang lain kesempatan waktu setara. mereka pada dasarnya memperlakukan orang lain seperti boneka yang dapat diatur sesuai kehendaknya (Marris.000 pertemuan per tahunnya. subjektif dan objektif serta implikasinya. komunitas. 1982). µmelompat¶ dari rencana pribadi ke . kejelasan. asumsi dan teori yang melandasi suatu program atau kebijakan). Bab 4 mencatat bahwa tekanan untuk perubahan menurun saat adopsi yang diikuti dengan implementasi (Berman dan mcLaughlin. (b) Readiness: tergantung pada kapasitas dan kebutuhan dan (c) Resources/ketersediaan dukungan. kompleksitas dan kualitas/praktikalitas. bias untuk tindakan dan belajar sambil bekerja. ada empat tilikan tidak predictable yang ternyata penting dalam proses implementasi: (a) inisiasi dan partisipasi aktif. argumen atau protes dengan perencanaan rasional« seberapa rasionalnya pun « tetap harus memberi waktu untuk impuls penolakan. (c) pe rubahan perilaku dan kepercayaan dan (d) masalah kepemilikan perubahan pendidikan. Dalam Bab 6 disajikan alasan mengapa perencanaan perubahan gagal: asumsi dan cara berpikir keliru tentang perubahan. (b) tekanan dan dukungan. Dalam makna objektif dinyatakan tiga komponen program atau kebijakan: (a) materi baru atau revisi. mobilisasi atau adopsi. (d) advokasi guru. (2) Karakteristik atau peranan lokal: distrik. (b) pendekatan pembelajaran dan (c) kepercayaan (misal. (c) pengambilan inisiatif dan pemberdayaan. Bab 3 membahas makna perubahan secara umum. (c) advokasi dari atas(an). (d) realitas status-quo. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inisiasi adalah (a) keberada-an dan kualitas inovasi. 1975). Selanjutnya. dukungan atau apati masyarakat.substantif cara siswa dan pendidikan menjalankan peran mereka¶ (Cuban 1988). [1] (d) pengembangan staf dan asistensi sumber daya. Inovasi adalah acts of faith. Crandall et. (f) tekanan. (e) agen perubah eksternal. 1974). negara bagian atau federal. (b) memahami kegagalan perubahan yang direncanakan dengan baik. (c) kontinuasi. Tentang implikasi perubahan pendidikan dikatakan ada enam aspek yang dapat diamati (a) the soundness dari perubahan yang diusulkan. berorientasi pada kultur kerja kolaboratif. Dalam makna subjektif ditemukan.

mendominasi kepala sekolah (Cuban. bukan kepemimpinan pembelajaran. . 1984. 126). Kiat lain ialah (a) µsedikit kekaburan mungkin esensial agar kebijakan dapat diterima«mungkin lebih efektif dalam waktu pen dek untuk berkonsentrasi pada legislasi baru¶. Studi pada periode 1910 sampai 1980-an menunjukkan µmeskipun gaya kepemimpinan beda. Kanada. h. 1978. dan 17% berkaitan dengan pengajaran (Martin dan Willower. Beberapa kesulitan guru adalah (a) beban kerja multi-dimensi (Sarason. 123). 84% diantaranya berlangsung antara 1-4 menit. dari sampel guru di Ontario. Bab 8 mencatat beberapa hal tentang kepala sekolah sebagai berikut: y y jumlah tugas kepala sekolah lanjutan sebanyak rata-rata 149 tugas per hari. (Bab 12) Orang Tua dan Komunitas]. Bab 7 membahas kenyataan bahwa perubahan pendidikan tergantung pada yang dilakukan dan dipikirkan guru: persoalannya sesederhana dan sekompleks itu (Sarason. yaitu bagian yang membahas perubahan pendidikan pada tingkat lokal. (1989) menemukan bahwa 71% guru wanita dan 64% guru lakilaki di SD menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. (Bab 11) Konsultan. Niat baik dan gagasan baik adalah perlu tapi tidak cukup untuk tindakan yang konsisten (Sarason. 1990). tapi jika gagal.masuk ke dalam bagian II. 56% guru wanita dan 37% guru laki-laki di SL menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. bukan profesional (House dan Lapan. 1988: 84). 1990. karena beda nilai yang dianut dan kesempurnaan teknis serta tidak memperhitungkan faktor yang berpengaruh. sementara itu. 1971) dan fallacy rasionalisme: dunia social ingin diubah dengan argumen rasional. Suatu faktor efektivitas kelas dan sekolah adalah kualitas guru. peran manajerial. (b) lebih peduli pada identitas diri bukan pada kebersamaan dalam suatu komunitas« tidak dilibatkan dalam persoalan yang menyangkut sekolah umumnya (Goodlad. (c) transfer informasi sesama guru cenderung personal. guru dilupakan. 122). h. kekuasaan legal atau organisasional diandalkan sebagai motor perubahan (Sarason. Untuk sukses menurut harry Truman dan Pierre Trudeau µwe need more one-armed economist«[when frus-trated by the advice] on the one hand « on the other hand¶. (Bab 9) Siswa. operasi dan relasi distrik (34% vs 39%) dan perbaikan program instruksional (41% vs 27%). Alasan lain mengapa perencanaan gagal ialah menangani masalah tidak terpecahkan. (Bab Kepala Sekolah. Smith dan Andrews (1989) mendukung temuan Louis dan Miles (1990): tidak ada dikotomi waktu untuk manajerial. Rees dkk. 1971). guru disalahkan.implementasi publik (Lighthall. Bab 7 sampai dengan Bab 12 -[(bab 7) Guru. dan (b) menggunakan pendekatan developmental: mulai dari hal yang paling mungkin terus berkembang ke hal-hal lain (Sarason. Model sekolah yang µideal¶ adalah sebagai berikut. 59% diantaranya diinterupsi. Dalam tiga dari empat kelompok guru tersebut. Sebagai indikator kualitas. h. dan (d) perlu keluar dari µtugas¶ tradisional untuk menyatakan kepemimpinannya (Barth. 1982. satu dari lima guru memi-kirkan untuk tidak jadi guru lagi dan satu dari lima guru laki-laki SL mempertimbangkan untuk tidak jadi guru lagi. h 141). 1971) dan jika program berhasil. (Bab 10) Administratur Distrik. 1981). 1973).

Marshall dkk. Kurang dari 10% kepala sekolah yang termasuk ke dalam µpemecahmasalah sistematik¶ (level tertinggi dari empat level efektivitas) (Leithwood dan Montgomery. Firestone dan Rosenblum (1988) merinci lima faktor yang mempengaruhi komitmen guru dan siswa: (a) kebermaknaan program. masing-masing 19%. 33% dan 25% berpikir gurunya tidak memahami mereka. 47 % (studi 44 sekolah besar tahun 1972. Mertz. Komitmen guru dan siswa juga dapat dipe -roleh dari inovasi baru-baru ini tentang pembelajaran kooperatif yang pada prakteknya adalah mengurangi metode ceramah sebanyak 20% (dari 48% menjadi 28% dari total waktu pembelajaran). 1984). 1990). Review Goldhammer (1977) dari 1954 sampai 1974 menunjukkan pergeseran peran superintenden dari juru bicara dan manajer eksekutif sistem sekolah homogen ke situasi di mana negosiasi dan manajemen konflik berbagai kelompok kepentingan. Bab 10 menyajikan karakteristik superintenden yang jumlahnya sekitar 95% laki-laki dan yang menangani sistem sekolah yang siswanya bervariasi dari 100 sampai 200. Studi Duignan (1979) pada delapan superintenden di Alberta menemukan bahwa µtiap hari superin-tenden terlibat dalam rata-rata 26 diskusi yang . 1988). menunjukkan kepala sekolah terlibat dalam empat interaksi strategis dengan guru: (a) penyedia sumber daya. kontak riil pertama seorang individu dengan suatu lembaga formal bersifat sangat anti-demokratis¶. 52% dan 33% (Smith dan Andrews. 1988). 1989).. 1989. (b) keterkaitan dengan lingkungan sekitarnya. (c) kejelasan aturan dan peran guru dan siswa. pelatihan dan infor-masi (7%) dan lain-lain (11%). 1987). µselama ini mereka memperlakukan kita seperti bayi.dkk. monitoring dan evaluasi (22%). Dari sampel sebesar 3593 siswa.18% dan 11% (Ontario. 42. mereka jarang berpikir tentang bagaimana melibatkan mereka dalam kehidupan organisasi (termasuk organisasi sekolah). 26% dan 50% menyatakan kelas membosankan . 1989. 5. Rating positif dari guru terhadap pemimpin kuat. 19% dan 4% (Wisconsin. siswa SD. µ mengapa dalam suatu masyarakat demokratis.y y y y Studi Interaksi Kepala Sekolah-Guru (PTI) menunjukkan selama periode 3 tahun ada 1855 intervensi pada kepala sekolah yang berkenaan dengan masalah organisasi (36%). Kepala sekolah sebagai fasilitator perubahan berkorelasi 0. 1986-87. Porporsi kepala sekolah wanita di SD maupun di SL cenderung rendah: 20-50% dan 5-20% (Marshall dkk. konsultasi dan penguatan (24%). Studi pada 2500 guru dan 1200 kepala sekolah. (c) komunikator dan (d) µhanya untuk penampilan¶. 1986). 16% dan 13% menyatakan mereka ditanya bagaimana atau materi yang harus diajarkan dan masing-masing 29%.000 siswa dan masa kerja rata-rata 3 tahun (di Amerika) dan 6-7 tahun di Kanada. 14. (d) ekspektasi guru dan siswa dan (e) rasa hormat dan perhatian guru dan siswa. Bab 9 diawali dengan pertanyaan Bowles dan Gintis (1976). Schneider. SMP dan SMA masing-masing 41%. diikuti oleh kepala sekolah gaya manajerial dan kepala sekolah gaya perespon (Hall & Hord.. sikap dan pekerjaannya di masa yang akan datang. Studi pada 137 kepala dan wakil kepala sekolah menunjukkan selama 5 tahun terakhir tuntutan tugas makin tinggi sementara keyakinan akan efektivitasnya makin menurun (Educon.76 dengan kesuksesan seluruhnya. Schneider. 1989).1982 dan 1986). peserta didik cenderung mengalami resistensi.. 23% dan 36. rata-rata dan lemah masing-masing sebanyak 90%. sekolah dengan gaya inisiator paling sukses. Ketika orang memikirkan perubahan pendidikan mereka memikirkan dampak perubahan tersebut pada peserta didik dari sudut pandang keterampilan. (b) sumber daya pembelajaran. Kalau pun program semacam itu ada. 25% dan 8% (statistik nasional. sekarang mereka mencoba memperlakukan kita seperti seorang dewasa¶.

dst. direktur proyek. guru. sederhana dan to the point. secara esensil «lewat konsensus pada tidak mengupayakan semua level. kurikulum. program. (b) tutor/ pembimbing di rumah. pejabat pusat dan administratur sekolah. (d) perhatian pada stakeholder. pengembangan organisasi. pengalaman kepelatihan. Survey Becker (1981) terhadap 3700 guru SD dan 600 kepala sekolah menunjukkan se-dikitnya keterlibatan orang . (c) perubahan. yang boleh jadi adalah konsultan distrik. Atas studi pada lima sekolah (dua diantaranya dikategorikan berhasil). Menurut Epstein dan Dauber (1988) peran yang mungkin diperankan orang tua siswa adalah (a) sukarelawan. (b) akuntabiltas. dst. interferensi. kependidikan dan organisasi sebelumnya. Studi Ross dan Reagan (1990) tentang dua be-las konsultan kurikulum distrikdi dua sekolah menyimpulkan bahwa µ perencanaan sistem. Studi LaRoque dan Coleman (1989a: 169) menyusun hipotesis etos distrik positif yang ditandai dengan enam fokus (a) pembelajaran. 188) menyarankan seleksi konsultan didasarkan pada latar belakang pendidikan (broad based). informal dan Manajemen bersama laissez-faire. guru hli dan adang-kadang wakil kepala sekolah) terlibat dalam interaksi lebih kompleks. keahlian kependidikan. pengaruh dan koordinasi bersama dan beberapa kesamaan tujuan Fokus pada aturan dan regulasi Tinggi Rendah Konflik. Evaluasi SDC (System De-velopment Corporation) atas 869 sekolah di 369 distrik menetapkan 34 sekolah dengan orang tua siswa asisten bayaran dan 17 sekolah dengan orang tua sebagai tutor dirumah. jika guru dan ad-ministatur pendidikan yang terlibat masalah pendidikan 40-60 jam per minggunya sulit memahami perubahan pendidikan. perubahan komprehensif Tinggi Rendah Bab 11 merangkum ke dalam istilah konsultan sejumlah pekerjaan/peran sebagai berikut: ahli materi. Hall dan Hord (1984) menemukan bahwa CF (change facilitator. Sering mengacu pada aturan.merupakan 70% waktu kerjanya. Studi Fullan dkk. Mortimore dkk. terbatas dalamwaktu isolasi distrik-sekolah pendek. Berhasil untuk tujuan tapi sanksi jarang diterapkan. (1987) tentang 200 pejabat supervisi di 26 distrik sekolah (se-perempat jumlah di seluruh provinsi) menemukan mereka menekankan sistem (bukan sekolah). Bab 12 diawali dengan pernyataan implisit bahwa sekolah itu sebenarnya milik orang tua siswa dan komunitasnya (cf. 70% dari diskusi tersebut dilakukan dengan trusti sekolah. agen perubahan. agen penghubung. Federasi longgar. serta berpikir reflektif (bukan parsial) dan generalis (bukan spesialis). asisten. Miles dkk. mudah menjalin hubungan interpersonal. kurang dari 7% dengan guru dan kurang dari 1% dengan siswa. makin orang tua siswa terlibat makin baik pencapaian belajar siswa (cf.. networking dengan tim konsultan dan mengkoordinasikan dukungan atasan adalah kunci konsultan berpengalaman¶. serta inisiatif dan energi. (1988. 1981). 1988). (e) komitmen bersama dan (f) dukungan komunitas. maka orang tua dan komunitas lebih sulit lagi memahaminya. padahal secara umum. dibanding kepala sekolah yang berinterkasi dengan cepat. resistansi dan kegagalan. Louis (1989) menyusun diagram karaktersitik hubungan distrik dan sekolah sebagai berikut: Hubungan Distrik-Sekolah Fokus pada interaksi dan komunikasi. (c) komunikator dan (d) dewan penasihat. Gold dan Miles. Namun.

(b) menjelaskan dan bekerja sama dengan agensi lokal tentang makna. Akhirnya. ketidak-puasan pada sistem pendidikan dan lambatnya perubahan pendidikan. multi-faceted. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan ± masuk ke dalam bagian III. Bab 13 sampai dengan bab 16 -(13) Pemerintah. Development dan Diseminiasi (RDD) dilembagakan pada periode 1972-1985 dengan pendirian the National Institute of Education (NIE). (1978-79) tentang content analysis notulen komite dari sepuluh SD dan lima SL menunjukkan (a) isu pedagogi jarang dibicarakan.tua siswa. Bureau of Education Handicapped dan Vocational Education dan (b) Riset. (d) staf diberi kesempatan mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya selain memfasilitasi implementasi. ekspektasi dan kebutuhannya. Studi Schaffarzick (Boyd. Dalam bab 14 dicatat bahwa µmembantu orang lain berubah tanpa kita menyadari-nya sendiri sama halnya dengan penyajian produk atau pelayanan yang tidak atau sedikit signifikansinya untuk pertumbuhan intelektual kita¶ (Sarason. rekomendasi hanya 4%-nya dan (c) orang tua sebagai inisiator topik diskusi di SD dan SL masing-masing adalah 27. di Kanada keberadaan federal dalam dunia pendidikan diakui µsepanjang tidak ada seorang pun menamakannya kebijakan pendidikan dan sepanjang tidak ada tun-tutan eksplisit sebagai imbalan atas uang dari Ottawa tersebut¶. tapi tetap masih signifikan misalnya lewat µsemboyan¶ A Nation at Risk dan (b) ±seperti ditekankan Elmore dan McLaughlin (1988). (c) fleksibel dalam implementasi. Title VII. Sementara itu.9%. Menurut Hollingsworth (1989) setidaknya ada tiga basis pengetahuan yang diperlukan agar guru efektif (a) materi ±isi dan cara pembelajarannya. praktek dan organisasi pembelajaran serta pola dan pengalaman belajar peserta didik dan (f) menerapkan strategi komprehensif. Emergency School Aid Act.ketidak-selarasan waktu perumusan kebijakan yang tergantung pada µelectoral time¶ dan implementasi kebijakan yang tergantung pada µadministrative or practice time¶. 5 prinsip asesmen dan evaluasi serta 3 prinsip pelaporan. pemerintah (bukan hanya menteri pendidikan) melaksanakan reformasi komprehensif dan fundamen-tal. Tahun 1985. NIE direorga-nisasi menjadi OERI (the Office of Educational Research and Improvement). (b) diskusi sifatnya informasi. Follow Through. Studi Lucas.4% diantaranya tidak bersedia menjadi anggota komite penaihat rumah-sekolah.6% dan 17. Title IV. (b) manajemen umum dan pedagogi instruksional dan (c) ekologi kelas ± . Keterlibatan pemerintah federal di Amerika ada dua jalur (a) Beberapa program yang disponsori pemerintah fe-deral sejak 1965: Title I. Survey Kanada tahun 1979 pada 2000 orang tua siswa menunjukkan 63. 1978: 613) tentang 34 distrik di San Fransisco menunjukkan 62% keputusan kurikulum tidak melibatkan komunitas. sementara guru/admi-nistrator sebagai inisiator masing-masing adalah 67. Bab 13 membahas (a) peran pemerintah federal Amerika dalam dunia pendidikan yang makin menurun. pedoman untuk pemerintah dalam melaksanakan perubahan pendidikan adalah (a) agar memperbaiki kapasitas age nsi untuk meng-implementasikan perubahan. (e) menekankan pada perubahan mendasar profesi guru.2% dan 78%. (14) Persiapan Profesional Guru.waktu dan tenaga besar. Sebagai contoh British Columbia merencanakan Year 2000: A Curriculum and Assessment Framework for the Future yang mengatur ulang sistem pendidikan dengan 3 prinsip pembelajar dan peserta didik. Terdapat 1400-an lembaga pendidikan guru di Amerika dan 50-an fakultas pendidikan di Kanada yang didalam-nya ditemukan banyak mata kuliah yang tujuannya µkompleks dan tidak jelas¶. Di Kanada. dkk. 12 prinsip kurikulum. yaitu bagian yang membahas tentang perubahan pendidikan pada tingkat regional dan nasional. saling terkait. jangka pendek-menengah dan panjang secara persisten (serta tidak meminta perubahan segera dan total dalam waktu singkat). 1972). Pengembangan guru adalah belajar berkelanjutan dan tidak terpisahkan dari perkembangan sekolah dan dengan demikian lebih baik dari sekedar inovasi-inovasi yang berkesan tidak berkelanjut-an selain sama-sama memerlukan biaya. Basic Skills.

serta tekanan pada ketertiban.lebih disibukkan oleh (a) pendidikan yang sifatnya individualistik padahal kenyataan di lapangan memerlukan bukan hanya pendidikan yang invidualistik dan (b) oleh µstruktur hari sekolah. Namun. Induksi pada giliran-nya memunculkan kesempatan pengembangan profesionalisme baru. yaitu mentoring. (b) semua staf di lembaga dan pada level mana saja harus belajar. indoktrinasi dari atas. Pengembangan profesional guru tergantung pada motivasi dan kesempatan (dalam arti ketersediaan program dan pengorganisasian secara struktural dan normatif yang memungkinkan berlang-sungnya pengembangan profesional). 1979-80). keluar dari dunia pendidikan. fakultas pendidikan kehilangan baik respektabilitas universitas mau pun efektivitas di lapangan. isi dan materi baku. (b3) membangun . Akhirnya setelah pengembangan profesionalisme administatur dan konsultan disinggung. z.. disajikan saran pengembangan profesional: (a) fakultas pendidikan dan sekolah sebaiknya menggunakan tiga strategi saling terkait ±penggantian staf. Diantaranya untuk memberi bekal lebih dan menangani tingkat alih profesi guru ke pekerjaan lain (30% dalam dua tahun pertama. Keenam karakteristik tersebut adalah: y y pergeseran dari politik negatif berupa resistensi dari bawah. Akibatnya. kontrol dan kesibukan peserta didik« [bahwa] tidak ada justifikasi pada tilikan ³pengalaman praktis itu perlu´ «[maka harap diingat bahwa kata Dewey] keliru mengasumsikan tiap pengalaman mempunyai nilai instrinsik selain mampu untuk membangkitkan kualitas respon tertentu dari seseorang¶ (Tabachnick. dst. sumber daya. inovasi program dan produksi pengetahuan. dst. berhadapan dengan pihak penerima perubahan dengan pintu lebih tertutup lagi. Selanjutnya. (b2) perubahan yang dilaksanakan dengan proses komunikasi. disajikan empat contoh kasus pengembangan profesional yang berhasil. alternatif pengembangan profesionalisme lainnya adalah sertifikasi alternatif. yaitu suatu program seksama untuk mendukung guru baru. bagaimana mendiagnosa dan mengevaluasi proses dan outcome belajar.yaitu sertifikasi yang diberikan oleh praktisi dan mempunyai kecenderungan standarnya dise-suaikan dengan kebutuhan employer (pihak yang memperkerjakan guru). 4050% dalam tujuh tahun pertama dibanding dengan 6% secara keseluruhan). calon guru yang umumnya menganggap transisi menjadi guru pengalaman besar ±atau bahkan traumatik. Sebagian besar pembahasan pada bab 15 masih tentang guru. resistensi kolektif.¶. Akhirnya. dst. Pertama disajikan beberapa alasan mengapa pengembangan profesional guru tidak berhasil. pergeseran dari solusi monolitik/seragam ke solusi-solusi alternatif/ variatif yang bercirikan (b1) sekolah sebagai pusat pembaharuan berkelanjutan. yaitu bab 16 disajikan enam karakteristik perubahan pendidikan di masa depan diantaranya sebagai koreksi/alternatif atas model rasional di mana pihak otoritas perubahan meningkatkan advokasi. negosiasi dan kolaborasi.pengetahuan tentang bagaimana peserta didik belajar. Kenyataannya. kecuali dengan alasan µkarena kita sedang mengerjakan y. legislasi. kurikulum. menjadi politik positif: (a1) fokus pada prioritas: µkita tidak dapat melaksanakan x¶ tidak dapat diterima lagi. dan (a2) mulai dari lingkungan terdekat. akuntabilitas. dst. sejak dua dekade lalu digulirkan program induksi. Akhirnya. berkoordinasi dan terintegrasi pengembangannya dan (c) semua pengembangan profesional arus memenuhi dua syarat (c1) mengarah ke atribut pengembangan profesional yang berhasil pada sebanyak-banyak aktivitas yang dapat dilaksanakan dan (c2) tujuan akhir pengembangan profesional tidak semata pada mengimplementasikan inovasi tapi untuk menciptakan kebiasaan dan struktur individual dan organisasional yang membuat belajar berkelanjutan bagian berharga dan endemic dari kultur sekolah dan pembelajaran. isolasionisme. program induksi dan mentoring menghadapi kendala biaya yang mahal. pada bab terakhir. dkk.

pikiran terbuka. (b) saling cerita bagaimana orang lain pada berbagai level bereaksi pada situasi baru yang konsisten dengan visi dan penghargaan untuk pekerjaan yang baik. N. mengalami ketidak -pastian vs. Fullan. thing big. The New Meaning of Education Change.2004. sistem paling baik untuk memastikan pilihan terbaik adalah (a) visi jelas. start small vs. merasa puas.keunikan.y y y y kapasitas sekolah untuk mampu terus berubah dan (b4) mengurangi atau bahkan meniadakan ketergantungan pada solusi yang ditawarkan pihak lain. pergeseran dari pengembangan profesional individual ke pengembangan profesional interaktif/ aliansi di mana ditekankan akses dan perhatian pada gagasan dan praktek rekan kerja/ lembaga lain. mengharapkan hasil vs. Bandung Program Pasca Sarjana. jika gagal µif«only «¶ ke µif I «¶ dan/atau µIf we «¶. peningkatan apresiasi pada dilemma-dilema pembaharuan: visi jelas vs. dukungan. (5) mengukur hal penting dan (6) pencapaian rasa urgensi dan perbaikan terus-menerus yang menyeluruh. Teacher College Press. Michael G. Suzanne (1991). inisiatif vs. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. (2) visibilitas pengukuran. =========================== Diambil dari: Dodi Sukmayadi.Universitas Pendidikan Indonesia Image Perubahan Pendidikan (The Images of Educational Change) Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT . sementara pengembangan kelembagaan berfokus pada peningkatan kinerja dan kapasitas kerja lembaga. suatu inovasi sering ditujukan untuk menyelesaikan suatu masalah (µmemadamkan kebakaran¶) atau sekedar fashion saja. (4) pengumpulan data primer yang tidak distortif. pergeseran dari model rasional µif«then«¶ atau. sabar dan persisten. Sementara itu.). top-down vs. tekanan vs. pemberdayaan. (3) keterlibatan semua orang. pola umum vs. dan Stiegelbauer. [1] Peters (1987) menyatakan bahwa organisasi berhasil µmengukur hal yang penting¶ karena dilakukan dengan cara (1) kesederhanaan presentasi. pergeseran dari inovasi ke pengembangan kelembagaan.Y. 2nd. bottom up.

Herbert dan Elliott. seperti ketidakmerataan µkue ekonomi¶ yang memberi sekolah masalah. Tanah. Rusaknya peran lembaga-lembaga tradisional tersebut juga merusak basis dukungan . (9) Perubahan Konsepsi Kaji Tindak. Gagasan muncul dari elit di ibu kota yang didanai oleh sumber sumber non pendidikan (Ricci. Bahan Ajar dan Guru.Buku Altrichter. Perubahan Sekolah dan Networking Strategis. misalnya. (10) Pendidikan Reflektif dan Kultur Sekolah: Sosialisasi Calon Guru. Christine O¶Hanlon. Setelah dibuka dengan Pengantar oleh Herbert Altrichter. kebijakan pendidikan dirumuskan dari sudut pandang kebutuhan sekolah menciptakan dan merespon µpasar¶. (b) tujuan kebijakan pendidikan tertentu menuntut sekolah lebih efisien dan lebih produktif.(5) Individu dan Perubahan Sosial: Perubahan Pola Komunitas dan Tantangan Sekolah. (c) pendidikan yang lebih baik menuntun pada kemampuan teknologi dan pekerjaan yang lebih baik dan (d) pemikiran ekonomi melanda dunia pendidikan. Semua periset nampak seperti µtentara sewaan¶ dan semua think tanks nampak menggunakan semua sumber daya institusionalnya untuk mengajukan pandangannya (Smith. Angel Perez Gomez. Judul-judul keempat bagian tersebut adalah (I) Perubahan Pendidikan dan Penyusunan Kebijakan. (III) Konseptualisasi Proses Perubahan Sekolah dan (IV) Menyiapkan Guru untuk Terlibat dalam Perubahan Pendidikan. (7) Perubahan Kultur Sekolah. (II) Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Pendidikan. John Schostak. (8) Beberapa Unsur Teori Mikro-Politik Perkembangan Sekolah. (2) Bagaimana Pendidikan Tidak Ditangani Lembaga Mana pun. Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber. Ed. Pasar merusak peran lembaga tradisional ±keluarga.(4) Komunitas. Myron Atkin. Ernest R. Berikut adalah substansi tiap tulisan dimaksud. J. Open University Press. 1987).(6) Perubahan Sosial. (11) Studi Kasus dan Catatan Kasus: Suatu Percakapan tantang Proyek Hathaway. Peter Posch. Bridget Somekh. 1993). Kebijakan µpemasaran¶ secara agresif makin meminta peran penting. Adapun judul-judul dan penulis dari ketiga belas tulisan tersebut adalah: (1) Perubahan Ekonomi. Semua ada harganya.. House dalam bab 1 mengidentifikasi empat aspek ekonomi yang mempengaruhi kebijakan pendidikan. penyajian tulisan dibagi menjadi empat bagian dan diakhiri dengan overview yang berjudul Menuju Visi Sinoptik Perubahan Pendidikan di Negera Maju ditulis oleh John Elliot. Buckingham merupakan kumpulan tulisan.(3) Mengembangkan Keadaan Muram: Perkembangan Personal dan Sosial Siswa dan Proses Sekolah. tenaga kerja dan semua faktor produksi menjadi komoditas untuk diperjual-belikan dan tergantung pada pasar. (12) Ahli Masa Depan?. lembaga agama. Lawrence Ingvarson. Masing-masing bagian terdiri atas tiga tulisan. Penyusunan Kebijakan Pendidikan dan Peranan Negara. Barry MacDonald. House. Levin. kecuali bagian keempat yang berisi empat tulisan. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker. John (2000). komunitas. The Images of Educational Change. Keempat hal tersebut adalah (a) ekonomi mempengaruhi besar anggaran pendidikan dan menimbulkan konsekuensi sosial. Marie Brennan dan Susan Noffke. µnilai itu dilihat dari harganya¶ (Gilpin. Christine Finnan dan Henry M. dan (13) Kontrol Guru dan Reformasi Pengembangan Profesionalitas. 1991).

Akibatnya diperlukan kurikulum dan pedagogi (terutama sekolah menengah) yang lebih relevan dengan kehidupan dan pada gilirannya sekolah perlu melakukan interpretasi lebih liberal tentang subject matter. 1993). (d) solusi menyerah/ kepatuhan total atau sebagian. sementara itu dalam kurikulum sekolah menengah masalah personal. Solusi-solusi manajerial untuk mencapai target nasional dan berkurangnya peran pemerintah lokal menyebabkan terlihatnya kelemahan kurikulum nasional. Akhir tahun 90-an. Pada saat sama. makin seperti µtata bahasa tanpa bahasa¶. Dalam rangka mencari kepercayaan atau kepatuhan total. (e) solusi µhidup tenang¶: kamuflase yang menuntun pada apati bukan pada perubahan sosial yang riil. hanya µsentralisasi¶ berada pada level negara bagian. kebijakan pemerintah sering counter-produktif. kelemahan diatasi dengan pensiun awal. Meskipun banyak contoh reformasi yang berhasil. feminisme dan studi kultural menunjukkan bahwa proses rekayasa individu ±atas dasar efisiensi misalnya. integrasi tematik disiplin ilmu di sekitar isu kemanusiaan.makin terpisah dari filosofi moral. yaitu sulitnya merekrut guru. Beberapa alternatif yang dapat ditempuh O terhadap D adalah (a) solusi fundamentalis atau kultus: percaya penuh D. Benang merah yang mendasari kondisi konservatif adalah ekonomi.selalu menuntun pada resistensi. kebijakan sering tidak dirumuskan sesuai dengan bagaimana lembaga pendidikan berfungsi dalam prakteknya. antara ekonomi dan negara (Heilbroner. (b) solusi hermeneutik: berusaha memahami D. (c) solusi radikal/ revolusioner/ subversif: membuat diskursus alternatif. (f) solusi penolakan tersembunyi/ gerakan bawah tanah dan (g) solusi penolakan terbuka/ gerilya /perang terbuka. Tahun 1987-88. MacDonald dalam bab 2 menyatakan bahwa pendidikan masal yang umurnya sekitar seabad nampak tidak berperan mengubah gap kaya-miskin di Inggris yang sekarang ditandai dengan peran demokrasi sebagai alat mempertahankan kekuasaan. yang menurut Small (1907) ±pengagum Adam Smith. dan atas persetujuan orang tua murid dapat melepaskan diri pengaruh pemerintah lokal. Dalam keadaan tersebut. Akhir tahun 1980-an. µisu politik sentral dalam kapitalisme« [adalah] hubungan antar bisnis dan pemerintah atau dari perspektif lebih jauh. sekolah diberi kebebasan mengelola keuangan sendiri. sehingga timbul masalah baru. John Schostak dalam bab 3 menyatakan bahwa sejarah tahun 1980-an dan 1990-an merupakan reaksi pada tahun 1960-an dan 1970-an dengan Amerika dan Inggris masuk ke neo-konservatisme yang menuntut µback to basics¶ dan nilai-nilai keluarga serta menolak pendidikan dan politik trendi dan progresif dengan tekanan pada efisiensi sekolah. sosial dan semua yang kondusif untuk pendidikan kewarganegaraan atau politik dimarjinalisasi. yaitu tidak menghasilan pendidikan atau produktivitas lebih baik. kurikulum adalah suatu proses yang memunculkan subjektivitas kultural. antisipasiyang mungkin dari D . Studi psikoanalisis. Kurikulum sekolah dasar dikonsentrasikan secara sempit pada keterampilan dasar dan akuntabilitas penyampaiannya diuji dengan tes. Khusus dalam bidang pendidikan. kurikulum adalah manifestasi dari bagaimana pengalaman subjektif orangorang lain dikemas dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah.tradisional dari pemerintah. belajar yang lebih didasarkan pada inkuiri dan pendekatan child-centered. yang melahirkan prinsip µeverything counts and nothing matters¶. kurikulum nasional diberlakukan dan disupervisi oleh pejabat pusat yangtidak berpengalaman dan/atau tidak kompeten. penolakan siswa recalcitrant dan teralienasi. kondisi konservatif serupa juga terjadi di Amerika. sehingga dalam masyarakat timbul polarisasi individu/kelompok dominan (D) dan individu/kelompok yang didominasi atau disebut Orang lain (O). atau dengan kata lain. pemerintah jatuh-bangun dilihat dari kemampuannya meningkatkan kesejahteraan warga negaranya dan dengan demikian pemerintah makin tergantung pada pebisnis. dari banyak data empiris. Semua hal tersebut disiapkan untuk menaikkan usia anak meninggalkan sekolah (sampai usia 16 tahun pada tahun 1972).

konsumsi. namun juga sejarah dalam menciptakan komunitas dan sebagai tempat perjuangan lokal. Kedua. µlebih penting dari skor sains dan matematika adalah keterlibatan generasi akan datang dalam mempertahankan d emokrasi dan menolong orang lemah: anak-anak. orang sakit. orang tua. pembebasan dari ikatan tradisional juga meningkatkan harapan bebas dari interferensi industrial dan admnistratif. (c) secara sosial mampu bekerja sama dalam tim. tawaran produk (Beck. dan (d) sekolah makin dituntut memperjelas makna belajar dan hubungannya dengan kehidupan personal dan di masa depan. (d) masalah dan tujuan ditetapkan bersama. Eroupean Round Table Industrialist (1994) menyatakan tuntutan bahwa tenaga kerja (a) secara teoritis memahami hubungan kompleks. 1982). Dalam mengevaluasi hubungan D dan O ada tiga jenis evaluasi yang tersedia: (a) evaluasi birokratik: menerima nilai pejabat dan memberinya informasi yang membuatnya mencapai yang dicanangkannya. Marie Brennan dan Susan Noffke dalam bab 5 menyatakan bahwa sekolah di satu sisi dituntut untuk selalu mengikuti perubahan. terbelakang. (b) network sosial dengan lembaga. Tiga implikasi megatrend tersebut bagi sekolah adalah (a) delegasi keputusan kurikulum pada sekolah. otokratik dan demokratik). dan (f) pengetahuan tidak diterapkan secara instrumental untuk memecahkan masalah tapi secara holistik dengan melibatkan kognisi. ditambahkan lagi evaluasi partisipatorik (Brown. bukan atasan-bawahan. (c) peniadaan hak individu. SIP menekankan pengembangan berlanjut kapasitas berbagai komunitas yang minat dan . Kondisi yang mendukungnya ialah (a) penekanan pada pelatihan. 1979). (f) dapat terlibat lebih dari satu networks. seperti pendidikan. buta huruf. 1996). Dua proyek yang diamati tulisan ini adalah (a) SIP (School Improvement Project) 1982-1990 di Victoria Australia dan (b) Proyek Kurikulum Afrika dan Afrika-Amerika (PKAA).adalah: (a) memakai diskursus kasih saying: D adalah (sepertinya) untuk kepentingan O. ancama. (e) durasi keterlibatan bervariasi. (b) keseteraan cost-benefit. Networks menjadi perhatian dalam tulisan ini. pelaksanaan dan evaluatif dan (e) secara emosional menghayati pekerjaan. Sekolah juga mempunyai sejarah mereproduksi inekualitas dalam masyarakat (apple. (b) memakai kekuasaan. orientasi nilai dan perasaan. kelompok dan orang dalam komunitas lokal yang harus dikonstruksi oleh sekolah dan (c) kurikulum beragam dan bekerja sama dengan lembaga lain sehingga bermacam kebutuhan peserta didik dapat dilayani (Elliot. Jadi terhadap tiga jenis evaluasi yang dikemukakan macDonald (birokratik. Pertama. (b) menggunakan kontak dengan guru lain secara sistematis. (d) secara organisasional mampu melaksanakan tugastugas organisasi. Dalam network dinamik (a) terdapat hubungan simetris.sehingga dapat mengembangkan diri. individualisasi: (a) Di satu sisi. fragmentasi dunia kerja: makin banyak tenaga paruh waktu atau µtenaga portfolio¶ (kontrak kerja dalam waktu tertentu). (d) memakai diskursus salahkan/ puji diri sendiri. sementara di sisi lain diharapkan menyediakan institusi relatif stabil yang atas dasar identitas dan komunitas dibentuk. (c) berbagai jenis dukungan finansial dan (d) keterlibatan guru dalam kegiatan masyarakat setempat. makin tergantung pada pasar kerja dan cara hidup baku yang mendukungnya. (c) komunikasi berlanjut. 1992) dan (b) pergeseran dari etika kewajiban dan tanggungjawab ke etika pengembangan diri. teror. tidak punya rumah dan orang yang lapar¶. SIP mengekplorasi penggantian sistem inspeksi kualitas yang sentralistik dengan program partisipasi lokal dalam evaluasi. (b) evaluasi otokratik: menyediakan informasi pada lembaga pemerintah yang mengontrol alokasi sumber daya dan (c) evaluasi demokratis: pengaturan informasi sehingga timbul dialog rasional antara D dan O. (b) secara teknis berhadapan dengan alat kerja yang dikontrol program. Networks dinamik beda dengan dan mempunyai kelebihan dari struktur hiearkis. Peter Posch dalam bab 4 mengidentifikasi dua megatrend masyarakat. di sisi lain. Kutipan dari MacDonald (1996) menutup tulisan Schostak.

ada awal abad 20 sains adalah studi tentang alam yang dipersepsi setara alam rural murni dan indah. Secara formal upaya dimulai tahun 1987. Christine Finnan dan Henry M. Dua fitur kultur digunakan tulisan ini ialah (a) kultur berada pada level masyarakat/ kelompok orang (misal Barat. Tulisan ini menambahkan dua hal lagi (a) image bahan ajar. Beberapa image kontemporer tentang sains (a) fokus pada sains yang dapat diterapkan dengan segera. sosialisasi professional. ada akhir abad 19 sains adalah untuk melatih pemikiran sejalan dengan populernya psikologi faculty. status. Guru memberikan alasan beda mengapa sains penting: untuk persiapan di dunia kerja. (c) karakteristik sekolah: sekolah miskin . khususnya sains dan implikasinya pada perubahan sosial dan (b) kepercayaan. (b) ekspektasi siswa terh adap sekolah: sebagian resisten karena mendapat pengaruh dari masyarakat sekitarnya. memahami implikasinya pada masyarakat. mempunyai nilai estetik karena mengungkap pola dan keteraturan. susunan organisasi.yang memerlukan pertimbangan berbagai aspek yang tidak µeksak¶. okupasi. Image sains pada abad 19 adalah mengagungkan Tuhan dan perlunya patuh pada orang tua. dan (c) partisipasi (politis) bukan saja dalam hal diskursus tapi juga dalam hal outcome. (c) guru sains yang mempersepsi dirinya µserba eksak¶ berhadapan dengan penerapan sains ±misalnya menentukan lokasi pembuangan sampah. sementara sekolah kaya menekankan berpikir kritis.latarbelakangnya beda untuk terus sharing dan mempertanyakan nilai yang diberlakukan di sekolah. orang Eropa-Amerika dalam PKAA) perlu mengkaji identitas personalnya. (b) guru menghadapi siswa yang bervariasi latar belakangnya dibanding dengan 30 tahun lalu. fokus awal diperumit dengan diskusi tentang pendidikan µmulti-kultural¶ yang oleh sebagian partisipan dianggap upaya membelokkan fokus awal.. pada tahun 1920-1930-an sains adalah untuk mengurangi kerja kasar dan mengurangi penyakit dan selepas perang dunia II sains adalah bidang yang harus diwaspadai aplikasinya. agama. (b) perlu upaya menangani konflik dengan komunitas yang sebelumnya memang sedang konflik dan (c) bagi mereka yang terlibat dan identitasnya cukup berlainan (misal. Myron Atkin dalam bab 6 mencatat bahwa faktor di luar berpengaruh banyak pada apa yang terjadi di dalam kelas: kondisi kerja. Levin dalam bab 7 mencatat pendapat Mead bahwa kultur itu seperti ikan yang tidak sadar hidupnya berada di air. schooling). intelektual. Basil Bernstein (1996) yang mendiskusikan demokrasi dan hak pedagogis menyatakan tiga hal perlu ada agar tercipta sekolah demokratis: (a) pemberian kesempatan pada individu. dst. masa k anakkanak. Dari sudut pandang perubahan pendidikan perlu dicatat (a) metodologi kaji tindak yang diimport dari luar pada konteks yang mengakui atau mendukungnya tidak mendukung upaya yang dilakukan. keterampilan dan perspektif umum guru (yang pada dasarnya adalah tujuan semua perubahan pendidikan). Tahun 1990-an. otoritas. tempat kerja/sekolah. PKAA adalah upaya mengatasi kurikulum Amerika yang umumnya berssifat rasis dan mengatasinya dengan cara melengkapinya dengan sejarah dan peradaban Afrika dan Afrika-Amerika. Sekolah diperlakukan sebagai mikro-kosmos dari masyarakat dan sistem sekolah selalu berada dalam posisi mendukung perubahan mendasar dan sistemik. (b) inklusi sosial. kontras dengan alam urban yang kotor.dst. jahat dan penuh dosa.) dan personal (untuk memahami dan membentuk interaksi antar orang) dan (b) fitur yang nampak kontradiktif dari kultur yaitu di satu sisi konservatif namun di sisi lain selalu berubah. kultural dan personal. sebagian sukses karena percaya pendidikan jalan ke kesuksesan. dst. lokal (berdasarkan geografi. etnis. Banyak waktu digunakan untuk merumuskan tujuan umum yang menekankan keberagaman kelompok dan komitmen bersama mengubah sistem pendidikan yang rasis menjadi yang fair dan ekuitabel bagi semua orang (1993). J. Lima kepercayaan dan asumsi yang mendasari kultur sekolah adalah (a) Ekspektasi sekolah pada siswa: sekolah miskin menekankan kepatuhan dan disiplin.

dan (e) tuntutan perubahan: jika keputusan diambil pada level birokrasi lebih tinggi.dengan misalnya ucapan yang mengkultuskan individualisme lewat . ASP (Accelerated School Project) adalah suatu reformasi pendidikan yang mengakui pentingnya kultur sekolah.ditandai rendahnya percaya diri guru. open learning. pemerintahan Thatcher mempunyai posisi oposisional ±menekankan dualisme yang lekat dalam masyarakat Barat. dst. Konsensus tidak semata diperoleh lewat negosiasi eksplisit. dst. sementara pengembangan organisasi dilaksanakan oleh konstruktor organisasi atas dasar kalkulasi rasional (Turk. cheating. Menurut µteori strukturasi rasional-kontinjen. konstruksi tujuan dan visi. Schon. Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber dalam bab 8 mengamati dekade lalu ditandai oleh reformasi sekolah yang bertema otonomi sekolah. 12 pusat pendukung dan 300 tenaga terlatih yang memantau sekolah. pemenangan. dst. sistem pengelolaan yang melibatkan semua orang. Kaji tindak dirumuskan dari riset perilaku individu dan kelompok oleh Lewin. 1989). Bebe rapa masalah teori mikro-politik adalah (a) harus dapat menjelaskan bagaimana organisasi relatif stabil dan bertahan suatu waktu tertentu. dst. desentralisasi dan devolusi baik di negara yang dulunya sentralistik (Austria dan negara Eropa lainnya) maupun di negara yang dulunya desentralistik (Inggris.).). pre-emprif atau menutup-nutupi konflik. Sejak 1986. Kontinjen artinya tergantung variabel konteks. menuntun ke praktek yang jelas. Bridget Somekh dalam bab 9 mengawali tulisannya dengan parabel yang membawa pesan bagaimana seseorang dapat menikmati pendidikan/ pengembangan profesionalisme yang dikatakan bagus tapi kemudian setelah berhasil malah membuatnya menjadi budak orang lain.) dianggap penghambat dan resisten terhadap perubahan. dst. Organisasi hampir tidak dapat dikonsepsi semata sebagai konglomerasi kekuasaan dan permainan (yang ditandai oleh resiko. pendekatan sistematis pada kaji-tindak dan pemecahan masalah serta tentang pedagogi menyeluruh yang menyatakan semua sumberdaya sekolah dikerahkan untuk menghadapi tantangan proses belajar mengajar. organisasi itu sifatnya berorientasi tujuan dengan sistem perencanaan rasional dan dengan struktur objektif. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam kultur sekolah adalah sejarah sekolah. dst. Kaji tindak adalah model perubahan yang tidak demikian. konspirasi dan akumulasi pengaruh atau lawan dari kebenaran dan penalaran. Tahun 1980-1990-an. tuntutan berubah rendah. teori mikro-politik berpandangan (a) organisasi mempunyai beragam tujuan dan pengaruh. dan (c) perjuangan strategis dan penuh konflik terjadi atas definisi dan struktur organisasi. eliminasi. ekspektasi dan siswa rendah menuntun ke praktek memorisasi dan pengajaran keterampilan dasar. Doyle dan Ponder (1976) menafsirkan kesulitan yang dialami sekolah dasar ketika tugas pembelajaran makin kompleks dikenalkan sebagai proses negosiasi. (c) tidak melihat politik semata sebagai pengkhianatan. menetapkan prioritas.). pendapat pihak luar (orang tua. tapi juga bersumber dalam lebenswelt yang dapat dipahamkan sebagai konsensus historis generasi terdahulu yang kurang lebih dikenal luas serta yang sekarang direproduksi lewat tindakan. bilingual. sekolah kaya sebaliknya. sembari menekankan prinsip kepemilikan dan profesionalisme guru. (b) pengaruh dari luar organisasi. (d) praktek sekolah: misi yang didasarkan filosofi jelas (Montesori. Wales. Proyek bertujuan untuk mempercepat proses belajar terutama bagi siswa yang berisiko gagal dengan sekolah mengambil keputusan dalam hal-hal: eksplorasi semua dimensi sekolah. Tahun 1970-an kaji tindak disempurnakan di Impington dan secara luas didukung Education Act tahun 1944. (b) pelaku mengejar kepentingannya masing-masing sesuai nilai yang dianutnya. ASP menyebar ke sekitar 1000 sekolah dasar dan lanjutan di 40 negara bagian. Tugas makin kompleks menyebabkan siswa tidak nyaman dan µmengancam¶ untuk tidak disiplin dan dengan demikian secara implisit melakukan negosiasi dengan pendidik: tugas lebih sederhana yang dikompensasi dengan disiplin di kelas. meskipun demikian teori (seharusnya) tidak menjelaskan konsensus se bagai suatu bentuk dominasi. Sementara itu.

Hal tersebut . Organisasi kelas SDH didesain µterbuka¶: tiap hari berurusan dengan kebijakan dari atas dan dengan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya.perkataannya µTidak ada yang disebut masyarakat itu¶. Posisi oposisional tersebut tidak sejalan dengan tema kaji tindak yang menolak posisi oposisional. evaluasi. Hal lain yang j ga u dikaji SDH adalah perlunya guru dapat mengembangkan kaleidoskop permasalahan: faktafakta dapat disusun berulang-ulang untuk sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda. pengembangan kurikulum dan studi kebijakan. Stephen selalu menyatakan bahwa interview sebagai suatu konstruksi sosial yang tidak dapat diperlakukan sebagai data yang lepas konteks (decontextualized data). Hal lainnya lagi adalah terdapat dua makna author. sehingga dengan demikian tema kaji tindak adalah µtugas dobel¶ yang dilaksanakan bersamasama/ kolektif atau apa yang dinamakan Gidden µdemokrasi dialogis¶. dst. Angel Perez Gomez. (b) ketidaknyamanan personal dalam menguasai situasi kompleks dan asing serta ketakutan tidak dihargai sebagai guru. riset naturalistik. studi kasus sering dianggap istilah pantechnicon yang setara dengan riset kualitatif dan secara longgar dikaitkan dengan istilahistilah evuvurncaluasi ilmunatif dan responsif. Tahun 1970an Lawrence Stenhouse mendesain penelitian membandingkan interview (µsejarah oral¶) yang datanya dicari oleh Lawrence Stenhouse dan Jean Rudduck dengan observasi (µetnografik¶) y ang datanya dicari oleh Stephen Ball dan Rob Walker. Studi kasus merupakan tilikan sentral saat ini dalam kaji tindak. Foucault memprediksi ketidak-terhindaran semua sistem ±seberapa besarnya pun niatnya untuk memberdayakan orang lain. Studi SDH diinisiasi satu dekade lalu oleh Susan Groundwater Smith dengan tujuan untuk memperoleh catatan kasus untuk digunakan dalam program pendidikan guru. dalam bab 10 menyarikan studi kasus praktek mengajar (practicum) delapan calon guru di delapan universitas di Andalusia (Spanyol). 1975).mengembangkan ortodoksi dan mekanisme untuk memaksakannya dan beliau menyarankan gagasan dalam bukunya µsebagai alat« untuk menghancurkan sistem kekuasaan. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker dalam bab 11 menyajikan studi dan catatan kasus sekolah dasar Hathaway (SDH) yang terletak di daerah migran di Sidney. (c) teori yang dipelajari ditemukan tidak berguna untuk dipraktekkan di lapangan. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan persisten adalah (a) tekanan kultur sekolah dan kelas yang harus diikuti jika ingin berhasil. Isu tersebut diberi tekanan oleh Stenhouse untuk membuat archives data yang padanya komunitas peneliti dapat menyumbang dan menggunakannya sebagai sumber analisis. Dari sudut pandang metodologi. Christine O¶Hanlon dalam bab 12 mencatat bahwa sejak tahun 1970an Eropa dan Amerika turun pertumbuhan ekonomi. dst. riset partisipan. termasuk kekuasaan yang darinya bukunya tersebut terbit¶ (Foucault. studi kasus dikembangkan sejalan dengan proyek untuk mengimplementasikan perubahan kurikulum dan organisasi. Tiap studi kasus berlangsung selama empat bulan. pengaruh politik global dan legitimasi kulturalnya.. tetap harus diingat bahwa ketika mendeskripsikan diskursus sebagai µregimes of truth¶ yang dikonstruksi orang-orang sepemikiran. dan malah mengeksplorasi serta membangun hubungan antara teori dan praktek. (a) membuat deskripsi koheren bagi diri sendiri dan (b) membuat deskripsi µko-author¶ dengan periset. persoalan serupa juga diamati Stephen dan Walker dalam memisahkan etnografer dari etnogarfi yang dibuatnya. Studi SDH menyatakan perlunya bertanya secara eksplisit mengapa masalah tertentu saja yang dikaji dan mengapa masalah yang lainnya tidak dikaji. etnografi pendidikan. objektivitas dan subjektivitas. Namun. (d) kekurangan acuan dan laternatif teoritis/praktis untuk men¶judge¶ semua yang diamati dan dialami dan (e) tidak berfungsinya supervisor sebagai penyeimbang kultur sekolah dan kelas. Dengan mengacu ke Alfred Schutz. Di dunia pendidikan.

dekonstruksionisme dan pasca-modernisme. kita mempunyai manajemen berbasis sekolah. kelompok dan kepentingan berbeda-beda. etno-metodologi. Marxisme. kurikulum nasional tidak mengijinkan prinsip atau bahan ajar yang disusunnya untuk didebat. Sekarang. Lawrence Ingvarson dalam bab 13 mencatat tahun1973 labor government mengeluarkan Karmel Report yang isinya mengenai pengembangan profesional menyatakan bahwa suatu tanda okupasi berketerampilan sangat tinggi adalah proses persiapannya sesuai standar dari praktisi itu sendiri dan pengembangan selanjutnya juga sebagian besar adalah tangungjawab profesi tersebut«Kenyataannya guru mempunyai sedikit kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan organisasi guru lebih peduli pada pelayanannya pada industri. dana dapat digunakan hanya untuk tujuan yang ditetapkan pemerintah federal atau prioritas nasional seperti misalnya kurikulum nasional. eksistensialisme dan pasca-modernisme. federal labor government memberi dana 60 juta AUD untuk program nasional pengembangan professional (NPDP)«Tapi. Hanya dengan cara demikian guru memperoleh pengetahuan praktis dan standards of excellence yang dengannya kompetensi praktisnya dapat dievaluasi. tapi guru mempunyai kesempatan lebih sedikit dalam pengembangan profesi(onal)nya. bukannya pada pengembangan keahlian yang dianggap tugas pemberi pekerjaan. hampir semua negara bagian mempunyai budget pengembangan profesi(onal). Tapi.(tapi adalah) representasi ideologi. dinilai dan direvisi secara seksama. Asesmen serupa hendaknya meliput sekurang-kurangnya (a) standar pembelajaran. Sekarang ini. Dalam dunia pendidikan. Tematema tersebut dalam fokus akademis dipadukan dengan perspektif konstruksionisme sosial. debat tentang pedagogi « mengabaikan bentuk keseluruhan µkurikulum¶ dalam semua level dan gagal untuk menempatkannya dalam faktor sosio-kultural kompleks yang lebih luas yang berkaitan dengan concern ekonomi. (b) struktur insentif. Asesmen standar dan kinerja untuk sertifikasi dikembangkan NBPTS ( National Boards for Professional Teaching Standards) Amerika. Diambil dari: . sebagai bagian dari kampanye. fenomenologi. Dalam perspektif pasca-modern masyarakat dipandang sebagai text serta teks ilmiah dan akademik sendiri dipandang sebagai tindakan retorik yang tidak mempunyai legitimasi logis atau empiris (inheren) «. tekanan critique ideologi dan pasca-empiris tersebut mempertanyakan pendidikan guru tradisional yang menekankan kemampuan akademis dan intelektual. Seperempat abad setelah Karmel Report. Tahun 1993. aktivitas dibatasi oleh school charters yang prioritasnya ditetapkan negara bagian dan pendidikan in -service yang schoolfocused bergeser ke pengembangan staf yang dikontrol manajemen. (c) infrastruktur pembelajaran profesional dan (d) sertifikasi profesional yang kredibel dan voluntary. sementara pengetahuan dan pengalaman praktis dianggap sebagai insidental dan bahkan ditiadakan k arena dianggap subjektif atau anekdotal jika digunakan sebagai bukti dalam karya tulis dan disertasi.menyebabkan munculnya diskursus-diskursus reflektif dan kritikal: teori kritikal. kecuali dalam lingkup tujuan yang secara sentral ditetapkan dalam school charters dan kurikulum. Profesional dalam bidang pendidikan perlu mengenali bahwa pengetahuan pedagogi dan kurikulum selalu problematik dan dengan demikian selalu terbuka untuk dikaji. politik dan strategis dalam masyarakat Barat« Sayangnya. Akhirnya. Praktek tradisional menuntut praktisi patuh pada suatu µotoritas¶ yang dibangun dari pengalaman praktis. hanya detil-detilnya yang dapat dikaji ulang«[Padahal hal yang diperlukan adalah misalnya] pengembangan profesional guru menjadi pendidikan guru ketika teori kritikal tentang situasi pengajaran memberi kesempatan pada guru untuk menjelaskan dan memahami bagaimana pembelajaran dikontrol faktor-faktor di luar kelas dalam konteks masyarakat dan politik. di Victoria missalnya.

Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan. John (2000).. Memerangi ketakutan akan perubahan Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. 10 Cara Meningkatkan Inovasi Posted on10 Desember 2008byAKHMAD SUDRAJAT Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri. Memiliki visi untuk berubah Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif ap abila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi. Bandung Program Pasca Sarjana. maka setiap orang dalam organisasi ditun tut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . yakni: 1.Dodi Sukmayadi. Buckingham). Open University Press. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara -cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan. The Images of Educational Change. .Universitas Pendidikan Indonesia.. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report . Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi. serta dalam menghadapi berbagai tantangan.2004. 2. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. Herbert dan Elliott. Altrichter. Ed.

Mematahkan Aturan Untuk mencapai inovasi yang radikal. Mereka memberikan gambaran menarik ten tang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. 7. Oleh karena itu. Tetapi. setiap rencana mudah dilaksanakan. kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi´. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal. tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni. sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan. berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan. mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra. Berfikir Seperti Pemodal yang Berani Mengambil Resiko Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima. 3. Memiliki Suatu Rencana Usulan yang Dinamis Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. 6. Oleh karena itu. ´ Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik. kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu. . 5. responsif dan terbuka untuk semuanya. Kolaborasi Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan.Mereka akan berkata. yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral. sumber tersedia dengan baik. tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada. dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team. 4. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dar peran i saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya. baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan ³YA´. satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko.

Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas. 10. maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai. pengarang The Innovative Leader. bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya. setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. 9. yang berjudul ³Ten Ways to Boost Innovation´ dipublikasikan oleh Kogan Page. dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja. *)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata. kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang -orang. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. serta dilaksanakan . dan untuk mencapai hasil yang luar biasa. merubah caracara yang biasa mereka lakukan.director. seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Menerima kegagalan Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen.uk Pengembangan Budaya Sekolah Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan. Bersemangat Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah.co. kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama. Membangun prototipe Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata). Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif. termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan.8. www.

Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. (6) belajar dan berprestasi terus serta. 1. 3. dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi. 4. yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsu dan personil sekolah baik itu r kepala sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. (3) disiplin meningkat. misi dan tujuan sekolah. (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan. (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. misi.dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami. manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja. termasuk dalam menyampaikan pesan -pesan pentingnya budaya sekolah. (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan. keluarga. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. staf. diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik. siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. (3) lebih terbuka dan transparan. dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. Memiliki Strategi yang Jelas. Berfokus pada Visi. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. orang lain dan diri sendiri. Fungsi visi. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif. Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. 2. Misi dan Tujuan Sekolah . Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. . (2) pergaulan lebih akrab. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. guru. Selain beberapa manfaat di atas. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini.

2. Kemampuan. Untuk itu. 9. Kegembiraan (happiness). Sistem Imbalan yang Jelas. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. Memiliki Komitmen yang Kuat. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Dalam lingkungan pembelajaran. 4. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. 10. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. sedang. 7. Kerjasama tim (team work). Evaluasi Diri. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas.5. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. nyaman. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. 6. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah masalah yang dihadapi di sekolah. Sistem Evaluasi yang Jelas. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Keinginan. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. guru. dan jangka panjang. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Keputusan Berdasarkan Konsensus. 3. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. . Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. 8. Berorientasi Kinerja. upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1.

kepercayaan tidak akan diperoleh. 7. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Tanpa kejujuran. Empati (empathy). Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik. nyaman. Jika perlu dibuat wilayah wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. Pengetahuan dan Kesopanan. Jujur (honesty). Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. orang tua dan masyarakat. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. 8. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Dimensi ini menuntut para guru. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami.5. Hormat (respect). Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. Jujur dalam memberikan penilaian. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. staf dan kepala sekolah tarmpil. jujur dalam mengelola keuangan. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. 9. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Disiplin (discipline). ================= . 6. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. asri dan menyenangkan. guru dan staf. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya.

Jakarta. Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Dalam kaitannya dengan disiplin kerja. Unel. Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati. kepatuhan. (2) adanya kepatuhan para pengikut. ketenteraman. dan ketertiban. dan (3) adanya sanksi bagi pelanggar Pada bagian lain. Jerry Wyckoff dan Barbara C. menghargai patuh dan taat terhadap peraturan -peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Menurut Soegeng Prijodarminto (1992) bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan. kemauan dan kesediaan kerja orang lain agar dapat taat dan tunduk terhadap semua peraturan dan norma yang berlaku. (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri. ketearturan. kesetiaan. (1990) menyebutkan bahwa disiplin kerja adalah kesadaran. Sementara itu.Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Jerry Wyckoff dan Barbara C. Konsep Disiplin Kerja Posted on 5 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Disiplin merupakan kata yang sering kita ketentuan berupa peraturan -peraturan yang secara eksplisit perlu juga mecakup sangsi-sangsi yang akan diterima jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut. Unel.2007. kesadaaran kerja adalah sikap sukarela . yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan.

Self dicipline merupakan disiplin pribadi karyawan yang tercermin dari pribadinya dalam melakukan tugas kerja rutin yang harus dilaksanakan. Noe (1990) disiplin adalah status pengendalian diri seseorang karyawan. Karyawan harus memiliki prinsip dan memaksimalkan potensi kerja. Menurut Wayne Mondy dan Robert M. Terdapat dua jenis disiplin dalam organisasi. Colyer. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap. 1996). Keberhasilan penerapan pendisiplinan karyawan (disiplin preventif) terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. Disiplin preventif adalah tindakan yang mendorong para karyawan untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. disiplin pada umumnya termasuk dalam aspek pengawasan yang sifatnya lebih keras dan tegas (hard and coherent).dan merupakan panggilan akan tugas dan tanggung jawab bagi seorang karyawan. agar karyawan lain mengikutinya sehingga dapat menanamkan jiwa disiplin dalam bekerja. yang dapat mematikan prakarsa. kreativitas serta partisipasi sumber daya manusia. sedangkan social dicipline adalah pelaksanaan disiplin dalam organisasi secara keseluruhan. yaitu : (1) disiplin preventif dan (2) disiplin korektif (Sondang P. Kesediaan kerja adalah suatu sikap perilaku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan tugas pokok sebagai seorang karyawan. Menurut Daniel M. sebagai tanda ketertiban dan kerapian dalam melakukan kerjasama dari sekelompok unit kerja di dalam suatu organisasi (someone status selfcontrol as orderliness sign order and accuration in doing cooperation from a group of unit work in a organization) Jackclass (1991) membedakan disiplin dalan dua kategori. 1991). Karyawan akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan bukan mematuhi tugasnya itu dengan paksaan. Siagaan. . Dalam hal ini terdapat tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen di dalam penerapan disiplin pribadi. Dikatakan keras karena ada sanksi dan dikatakan tegas karena adanya tindakan sanksi yang harus dieksekusi bila terjadi pelanggaran. tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi. yaitu : Triguno (2000) menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pendisiplinan preventif adalah untuk mendorong karyawan agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi. untuk mencegah jangan sampai para karyawan berperilaku negatif. yaitu self dicipline dan social dicipline. agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan.

yaitu pemberhentian. maka sekalipun agak enggan.1. agar mempunyai rasa memiliki organisasi. 3. mengapa manajemen terpaksa mengambil tindakan sekeras itu. Tindakan sanksi korektif seyogyanya dilakukan secara bertahap. mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Dalam pemberian sanksi korektif . Para karyawan perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang menjadi miliknya. dan (4) pemecatan (discharge). Garret. Horald D. Para karyawan didorong. (2) peringatan tulisan (written warning). dan pimpinan memberikan kebijaksanaan kritikan dalam menjalankan tugasnya. Disiplin korektif adalah upaya penerapan disiplin kepada karyawan yang nyata-nyata telah melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan dan kepadanya dikenakan sanksi secara bertahap. (2) kepada yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri dan (3) dalam hal pengenaan sanksi terberat. 2. dalam pemberian sanksi korektif seyogyanya memperhatikan tiga hal berikut: (1) karyawan yang diberikan sanksi harus diberitahu pelanggaran atau kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Burack (1993) mengingatkan bahwa pemberian sanksi korektif yang efektif terpusat pada sikap atau perilaku seseorang dalam unit kelompok kerja yang melakukan kesalahan dalam melakukan kegiatan kerja dan bukan karena kepribadiannya. Di samping itu. Sayles dan Strauss menyebutkan empat tahap pemberian sanksi korektif. sesuai aturan disiplin yang berlaku. namun seseorang karyawan tersebut masih tetap gagal untuk mencapai standar kriteria tata tertib. dalam penerapan sanksi korektif hendaknya hati-hati jangan sampai merusak seseorang maupun suasana organisasi secara keseluruhan. (1994) menyebutkan bahwa bila dalam instruksinya seorang karyawan dari unit kelompok kerja memiliki tugas yang sudah jelas dan sudah mendengarkan masalah yang perlu dilakukan dalam tugasnya. serta pimpinan sudah mencoba untuk membantu melakukan tugasnya secara baik. maka perlu untuk memaksa dengan menggunakan tindakan korektif. Untuk itu. Penjelasan dimaksudkan seyogyanya disertai oleh informasi yang lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif. (3) disiplin pemberhentian sementara (discipline layoff). yaitu: (1) peringatan lisan (oral warning). menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi. perlu dilakukan ³wawancara keluar´ (exit interview) pada waktu mana dijelaskan antara lain. Para anggota organisasi perlu didorong.

Hopkins. Sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja. yaitu: 1. 11. Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas. Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul . Sekolah berfokus pada pelanggan. Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya.. baik di tingkat pimpinan. Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang. maupun tenaga administratif. dimana kerja tim akan menjadi tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas kerja samanya. Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok. Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi 13 ciri -ciri sekolah bermutu. mampu mencip takan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas. demikian juga dalam tindakan sanksi korektif dalam tim yang tidak benar dapat berakibat terhadap kurangnya partisipasi karyawan terhadap organisasi. dan menjadi tercerai berai karena kesalahan tindakan disiplin tim. 13 Ciri-Ciri Sekolah Bermutu Posted on 8 Oktober 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Merujuk pada pemikiran Edward Sallis. Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas. 9. fungsi dan tanggung jawabnya. ba ik untuk jangka pendek. sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya 6. dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal. termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal. (3) disiplin diri. 2. tenaga akademik. 7. Ada beberapa pengaruh negatif bilamana tindakan sanksi korektif dilakukan secara tidak benar. Pengaruh negatif atas penerapan tindakan sanksi korektif yang tidak benar akan berpengaruh terhadap kewibawaan manajerial yang akan jadi menurun. jangka menengah maupun jangka panjang. 1996). baik pelanggan internal maupun eksternal. 10. 5. Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan .harus mengikuti prosedur yang benar sehingga tidak berdampak negatif terhadap moral kerja anggota kelompok. (Robert F. Sekolah memnadang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut. sehingga terhindar dari berbagai ³kerusakan psikologis´ yang sangat sulit memperbaikinya. Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas. 8. 3. Sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas. 12. yaitu: (1) disiplin manajerial. (2) disiplin tim. 4. 13.

Jika kita kita mampu mengelola perubahan itu menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi kita maka dengan sendirinya kita akan tergilas didalam perubahan itu. Siswa yang kurang belajar. Di Nusa Tenggara Timur mutu pendidikan kita sangat rendah. lembaga pendidikan yang tidak mampu mengelola sebuah konsep pendidikan yang bermutu. Kita hidup dalam dunia yang penuh perubahan. Perubahan terjadi dimana mana. sebuah perjalanan panjang bangsa ini. Tentunya kita tidak dapat berpuas diri dengan hanya mengandalkan beberapa orang saja dari sekian ratus juta jiwa anak bangsa yang hidup di republik ini dalam mencetak berbagai prestasi berkaliber dunia. Hamatara (Dosen Undana Kupang) Kamis tertanggal 7 AGUSTUS 2008 dibawah judul UNAS YANG KELABU Siapa Kambing Hitam? Membuat kita seakan perlu merefleksikan diri untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan .? Posted on5 September 2008byAKHMAD SUDRAJAT Oleh: Ricky Ekaputra Foeh.. 2006.MM Pengantar Tidak terasa dalam bulan ini Republik-ku telah berulangtahun yang ke 63. yang salah siapa«.Sumber: Sudarwan Danim. Mencermati tulisan saudara M. bahkan pemerintah yang dinilai kurang cermat dalam menyusun kurikulum. Masing-masing orang mulai mencari kambing hitam. menapaki hari hari yang penuh harapan. Membangun sumber daya manusia berkualitas tentu merupakan suatu tantangan tersendiri. Berbagai kesalahan ditimpakan kepada Guru yang tidak cakap mengajar. Membangun kejayaan bangsa yang makin lama makin redup seiring perubahan yang terjadi. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara Mutu Pendidikan Kita Rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil ujian nasional yang sangat terpuruk dan merosot. termasuk dalam dunia pendidikan kita. walaupun tidak dapat kita pungkiri dilain sisi terdapat beberapa anak bangsa berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi kita semua. Orang tua yang tidak bisa mendidik. Dewasa ini Sumber Daya Manusia dituntut mampu berkompetisi dalam dalam dunia global. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia diperhadapkan dengan sangat terpuruk nya mutu pendidikan.

maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh Lembaga Pendidikan. seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer. melainkan lebih dari pada itu adalah pada hasil yang dicapai. ³Bermutu tidaknya pendidikan seorang siswa itu pertama terletak di tangan para orangtua. jasa. John Manulangga. agar output yang dihasilkan mampu bersaing di tengah masyarakat. Bahkan prestasi lembaga pendidikan dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin. akhir tahun. Dr.bukannya kecenderungan untuk saling mempersalahkan juga muncul ditengah tengah kita seperti pandangan para pengamat beberapa waktu lalu antara lain. M. bahan ajar (kognitif. seperti. karena anak lebih banyak didampingi orangtua. keakraban. saling menghormati. Oleh karenanya permasalahan ini harus segera diatasi. berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang fair dan nyaman untuk belajar. 3 tahun. tetapi harus didukung kuat oleh orangtua di rumah serta komponen pendidikan lainnya. tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di lembaga pendidikan. Dapat pula berupa prestasi di bidang lain seperti cabang olah raga. Mutu Pendidikan Kesadaran akan pentingnya mutu pendidikan sungguh merupakan tantangan yang tidak ringan. misalnya : NEM oleh PKG atau MGMP). akan tetapi agar proses pendidikan dapat bermutu dan tepat sasaran. afektif. Tetapi harus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.Ed berpendapat bahwa Pengelola lembaga pendidikan di NTT diharapkan jangan mendidik peserta didik hanya sekadar untuk mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Jikalau kita baru berpikir bahwa kita harus berubah. toleransi. keramahtamahan. Lembaga Pendidikan wajib menetapkan target yang jelas untuk dicapai setiap tahun atau kurun waktu tertentu. sesungguhnya kita sudah terlambat untuk itu. metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru) sarana prasarana lembaga pendidikan. Berbicara mengenai mutu pendidikan sebenarnya kita membicarakan tentang dua sisi yang sangat penting yaitu proses dan hasil. Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap lembaga pendidikan baik yang berdasarkan titik . bahkan 10 tahun). Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Prof. dsb. Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan µ terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau ³kognitif´ dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar. Mutu dalam konteks ³hasil pendidikan´ mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester/cawu. MS mengaku sangat kecewa atas hasil seleksi SPMB Undana hal ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan di NTT di tingkat bawah tidak bermutu. Dengan kata lain tanggung jawab lembaga pendidikan dalam memperbaiki mutu pendidikan bukan hanya pada proses pendidikan saja. Setiap lembaga pendidikan yang ada di republik ini memiliki tanggung jawab besar terhadap mutu pendidikan yang dimulai dari proses pendidikan itu sendiri dan berakhir pada hasil pendidikan yang dicapai. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum dan ujian nasional). dukungan administrasi. atau psikomotorik). kebersihan. beragam jenis teknik. Mutu dalam ³proses pendidikan´ melibatkan berbagai input. Pandangan lain yang mencuat adalah berasal pengamat pendidikan NTT Drs. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan satu sama lainnya. Sedangkan guru dan komponen lainnya hanya beberapa saat saja. Lain lagi dengan pandangan saudara Lebe Laurensius (SMUN 2 Kupang) yang menambahkan. bahwa untuk mengejar mutu pendidikan. August Benu. Mutu pendidikan yang terpuruk di negeri ini harus kita tekan.

dan secara terus menerus menyempurnakan dirinya sehingga berakhir kepada peningkatan mutu siswa (lulusan). SMA Kristen Mercusuar yang memiliki AKREDITASI A (Terbaik) dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur. masyarakat dan pemerintah deng tanggung an jawabnya masing ± masing ini. Pengelola sebuah lembaga pendidikan harus mampu memahami konsep penting pendidikan yang diluncurkan oleh pemerintah sehingga mampu menjawab tuntutan publik akan pendidikan bermutu. Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis lembaga pendidikan ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro. Memasuki tahun ajaran 2008 / 2009 ini. maka diyakini bahwa kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang agar kita tidak tergilas didalamnya. Di dalam masyarakat yang komplek seperti sekarang dimana kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perubahan yang telah membawa kepada perubahan tata nilai yang bervariasi dan harapan yang lebih besar terhadap pendidikan terjadi begitu cepat. bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan atau owner lembaga pendidikan saja melainkan melibatkan seluruh komponen didalamnnya. Lembaga ini juga menerapkan Full Day School. SMA Kristen Mercusuar juga merupakan Sekolah Pertama dan Satu-satunya di NTT yang menerapkan Rombongan belajar per kelas 20 ± 25 siswa dengan di dampingi oleh 2 (dua) orang guru dalam 1 kelas. dan mengevaluasi hasilnya. & Penerapan Metode Pengajaran Moderen. Kondisi ini telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional sehingga mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan. konsultan ahli dan staf lainnya sehingga akan menciptakan iklim lembaga pendidikan yang mempu membentuk keunggulan lembaga pendidikan. pengawasan kemajuan belajar siswa oleh Pusat Informasi dan Pengendalian Mutu SMP-SMA Kristen Mercusuar secara teratur dan sistematis. Lembaga Pendidikan Unggulan Lembaga pendidikan unggulan itu sesungguhnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga lembaga pendidikan. dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu sedangkan tanggung jawab individu lembaga pendidikan dan masyarakat pendukungnya untuk merancang mutu yang diinginkan. Setiap peserta didik dibekali dengan penguasan IPTEK seperti: Manajemen informatika dan access internet yang terbuka sehingga dapat diakses kapan saja. prioritas pembangunan. Diperlukan adanya synergy dengan berbagai pihak antara lain lembaga pendidikan. guru. Di Nusa Tenggara Timur terdapat beberapa lembaga pendidikan unggulan salah satu diantaranya adalah SMA Kristen Mercusuar. Berbagai komponen dalam lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pendidikan antara lain kepala lembaga pendidikan. SMP ± SMA Kristen . Lembaga Pendidikan ini berproses dengan mengacu dan menerapkan sepenuhnya kurikulum nasional serta menambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk memperluas wawasan peserta didik agar dapat berkompetisi secara global. pengawasan KBM yang ketat. Tentunya banyak pihak yang bertanya dan ingin mengetahui tentang keunggulan lembaga pendidikan yang berprestasi luar biasa tersebut. wakil kepala lembaga pendidikan. Institusi pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan menjawab harapan bangsa.acuan standar (benchmarking) maupun kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan oleh individu lembaga pendidikan sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. melaksanakan.

Selama ini pembangunan pendidikan kita hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan sedangkan faktor proses pendidikan kadang terabaikan. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya. Sebuah lembaga pendidikan itu sifatnya dinamis dan berirama alias tidak statis oleh karenanya tdak bisa disamakan i dengan institusi ekonomi dan industri. sebuah proses pembelajaran yang berbasis teknologi wifi-hotspot memampukan siswa mengakses bahan belajar secara baik. Hal ini memudahkan bagi guru dan kepala lembaga pendidikan sehingga mereka hanya fokus pada KBM sedangkan urusan administrasi menjadi tugas dan tanggungjawab daripada Unit Informasi dan Pengendalian Mutu. Informasi yang terangkum dengan sistematis tersebut selanjutnya diteruskan pihak lembaga pendidikan sehingga dapat memahami secara jelas pada posisi mana derajat kualitas pendidikan sebuah lembaga pendidikannya berada saat ini. Lembaga pendidikan perlu memperhatikan secara seksama proses pendidikan sebab te rnyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek. guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan lembaga pendidikan. siswa. Secara singkat semua upaya (proses) yang dilaksanakan secara terpadu tersebut sebagai upaya mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan masa depan para peserta didik sehingga dapat bersaing dalam kompetisi global. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan. dan keuangan. Unit kerja seperti Pusat Informasi dan pengendalian Mutu bertugas melakukan evaluasi internal (internal assesment) dalam sebuah lembaga pendidikan untuk menganalisa sumber daya lembaga pendidikan.Mercusuar mulai meluncurkan program E ± Learning. 1979. Semua proses ini harus dipantau secara teratur dan berkesinambungan sehingga akan terasa hasilnya. Yang lebih parah lagi adalah para kepala sekolah terlihat sangat sibuk dengan urusan adm inistrasi dan keuangan sehingga kurang melakukan supervisi terhadap guru. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan antara lain: Lembaga Pendidikan perlu membentuk sebuah unit kerja yang bertugas melakukan penyusunan basis data dan profil lembaga pendidikan secara sistimatis yang menyangkut berbagai aspek akademis. Lembaga pendidikan sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik . staf). Kegiatan kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kadar keimanan seluruh komponen dalam lingkup SMP ± SMA KRISTEN MERCUSUAR menerapkan kegiatan kerohanian secara terpadu dalam lingkungan pendidikan berupa kegiatan ibadah bersama dan kegiatan pendalaman alkitab. Para konsultan menyajikan data secara terperinci sehingga para pengambil kebijakan dilingkungan lembaga pendidikan dapat mengambil keputusan penting yang menyangkut pembangunan konsep pendidikan dan arah rencana pendidikan kedepan yang akan dicapai.1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan. Masalahnya sekarang adalah kebanyakan di berbagai lembaga pendidikan telah ada staf administrasi namun dalam jumlah yang terbatas sehingga memaksa guru dan kepala lembaga pendidikan terpaksa turun tangan menangani masalah administrasi dan keuangan. administratif (siswa. kinerja personil lembaga pendidikan dalam kerangka mengembangkan dan mencapai target kurikulum. guru. maka diperlukan partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua.

Ini adalah kekeliruan yang dibuat oleh lembaga pendidikan.SPd... akibatnya prosentasi kelulusan rendah sehingga yang oleh banyak pengamat dikatakan sebagai rendahnya mutu pendidikan. kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya. Upaya mengejar materi pelajaran ini memang sah -sah saja namun demikian kenyataan yang kita hadapi adalah kebanyakan peserta didik kesulitan dalam mengerjakan ujian akhir nasional. padahal sebuah lembaga pendidikan memiliki otoritas untuk menahan peserta didik yang tidak mampu sehingga memberinya kesempatan belajar dan memperbaiki diri agar kedepan prestasinya dapat meningkat. Proses perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dI Nusa Tenggara Timur saat ini sangat mendesak dan perlu segera dilakukan dengan synergy harmonis yang muncul dengan tidak saling mempersalahkan dari lembaga pendidikan. Setiap lembaga pendidikan harus memiliki otonomi dan kewenangan untuk mengevaluasi sejauhmana kemampuan yang dimiliki peserta didik. PENUTUP Setiap lembaga pendidikan akan menjadi lembaga pendidikan unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. BIODATA PENULIS DATA Nama Lengkap : Alamat Rumah : Jalan Salak Telepon / HP : 081239416641 DIRI Foeh. dan shareholder serta stakeholder yang ada demi kejayaan pendidikan di Nusa Tenggara Timur.MM Kupang ± NTT Ricky II/3 Kel. Selama lembaga pendidikan-lembaga pendidikan hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka lembaga pendidikan tidak akan pernah menjadi lembaga pendidikan unggulan. Kewenangan tegas untuk tidak membiarkan (let go) peserta didik yang tidak sanggup mengikuti pelajaran dikelas berikutnya perlu diterapkan sehingga siswa yang berada pada level berikutnya adalah benar-benar seorang peserta didik yang sanggup untuk mencerna pengetahuan dan mengakses informasi. Kebanyakan guru-guru pada setiap lembaga pendidikan mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi hanya mengejar target untuk menyelesaikan muatan materi pembelajaran yang sangat padat itu dalam setahun. maka lembaga pendidikan harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. Kegagalan sekolah selama ini adalah menaikkan peserta didik yang sebenarnya harus µtahan kelas¶ ke kelas berikutnya. Ekaputra Oepura Memperbaiki Mutu Pendidikan melalui Team Work . orang tua.yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam.

yaitu team permanen dan team sementara. team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali. Team yang terikat akan lebih enthusias. pengetahuan. peran. baik dalam perencanaan. 3. 2. Berikutnya. Snyder and Robert H. Yadi Heryadi mengemukakan beberapa peran penting dalam suatu Team : 1. dan 4. yang ditandai oleh adanya rasa memiliki dan keterkaitan diantara sesama anggota. loyal kepada organisasi dan team itu sendiri. Oswald (1996) mengemukakan dua faktor esensial dalam suatu team yang dapat semakin memantapkan budaya team culture ( team). demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara. serta membuat notulen rapat-rapat. termasuk mencatat hal-hal penting hasil rapat-rapat. dan durasi yang beragam. Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team. misalnya terhadap waktu. mereka menentukan tujuan. Para anggota dapat memulai proses pengikatan ini pada saat pertemuan (rapat) pertama kali. Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. dan tanggunggjawab individu dan kelompok. pengimplementasian. Bonding akan memastikan bahwa anggota team memiliki komitmen yang kuat. Devil¶s advocate yaitu anggota Team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota Team yang lain. sehingga isu isu yang ada dilihat dari berbagai sisi. Sedangkan.Posted on 1 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Istilah³Team´ merujuk kepada suatukelompok yang bekerja sama untukmencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Pencatat Waktu yaitu anggota Team yang bertugas mengingatkan Team berjalan sesuai jadwal. Pencatat yaitu anggota Team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Team. keterampilan dan energi untuk mencapai tujuan team. Penjaga Gawang yaitu anggota Team yang bertugas menyemangati anggota Team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota. Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan ³ Mengapa saya berada disini´. setelah pekerjaan selesai. Team memiliki bentuk. Karolyn J. . Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. misi. Cohesiveness (kesatupaduan) didefinsiikan oleh Cunningham dan Gresso sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team. yaitu: bonding (ikatan) dan cohesiveness (kesatupaduan). Dalam hal ini. Dengan mengutip pemikiran Cunningham and Gresso.

dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. seperti: team pengembang kurikulum. yaitu : (1) anggota tidak memahami tujuan dan misi team. pemikiran. atau supervisi. Ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan. menyebutkan bahwa team work di sekolah. pendapat. yang intinya team-team tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah. team bimbingan dan konseling dan sebagainya. (2) anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya. Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan. berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah: y y y y y y y y Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berfkembang Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka Memperteam bangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain Membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalam melakukan kegiatan Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team. Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan kepentingkan peningkatan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus. . dan persepsi seluruh anggota Team terhadap masalah dan kondisi Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota Team Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya keteam bang menyalahkan orang lain Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain. (4) anggota menolak peran dan tanggung jawabnya. misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. Lesson Study. opini. Snyder and Anderson. (3) anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team.maupun penilaian. khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula. Ciri-ciri ketua team yang baik adalah: y y y y y y y Bekerja sesuai konsensus Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan. Yadi Haryadi mengetengahkan tentang ciri-ciri ketua dan anggota team yang baik.

(1996) Work Teams in Schools. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom. (4) memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi. maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil. (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah) M.depdiknas. Asrori. Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di sekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan. Pengertian . Sumber : Sandra A. Team Work. yaitusuatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team.Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran. yang dikenal dengan sebutan Collaborative Teamwork Learning. Online : http://www. ERIC Digest 103 Online : http://www.id/ Konsep Dasar Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional Posted on 1 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh: Depdiknas 1.gov/ERICWebPortal/Home Yadi Haryadi (tt).edu/cte/et/articles/howard/ Lori Jo Oswald. dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok. Collaborative Teamwork Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Bekerja secara Kolaboratif dalam Tim. Online : http://www.uncwil.eric.go. (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus.ed. (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam.

kemampuan. sedangkan 25 menit kegiatan terstruktur dan 25 menit kegiatan mandiri. . Dari ciri tersebut Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional memiliki profil sebagai persyaratan minimal yang meliputi : a.Penjelasan PP No. Dukungan Internal: y y Kinerja Sekolah indikator terakreditasi A. 19 Tahun 2005 Pasal 11 ayat (2) bahwa ciri Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional adalah terpenuhinya standar nasional pendidikan dan mampu menjalankan sistem kredit semester. SKS dapat diterapkan untuk menunjang realisasi konsep belajar tuntas yang digunakan dalam menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). prestasi akademik dan non akademik yang diraih. beban studi dinyatakan dengan satuan kredit semester. 2006). 2. Pada Sistem Kredit Semester. Kurikulum. SKS adalah salah satu sistem penerapan program pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai subyek. memiliki pedoman pemilihan mata pelajaran sesuai dengan potensi dan minat. penerapan SKS pada KTSP perlu dilakukan penyesuaian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tuntas di mana satuan kegiatan belajar peserta didik tidak diukur berdasarkan lama waktu kegiatan per minggu-semester tetapi pada satuan (unit) kompetensi yang dicapai. mata pelajaran yang ditawarkan ada yang wajib dan pilihan. Peserta didik diberi kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan minat. Pada SMA/MA/SMLB. setiap satu satuan kredit semester (1 SKS) berbobot dua jam kegiatan pembelajaran per minggu selama 16 minggu per semester. jumlah siswa per kelas maksimal 32 orang. ada pertemuan rutin sekolah dengan orang tua. Pembelajaran berpusat pada peserta didik. memiliki panduan menjajagi potensi peserta didik dan memiliki pedoman penilaian. rerata nilai UN tiga tahun terakhir minimum 7. yaitu bagaimana peserta didik belajar. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. Karakteristik Berdasarkan penjelasan PP No. ada pertemuan rutin pimpinan dengan guru. panduan/dokumen penyelenggaraan. dengan indikator memiliki kurikulum Sekolah Kategori Mandiri. memiliki pedoman pembelajaran. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa sekolah kategori mandiri (SKM) harus menerapkan sistem kredit semester (SKS). dan harapan masing-masing (Chandramohan. Dengan demikian.00. 19 Tahun 2005 pasal 11 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah atau hampir memenuhi standar nasional ke dalam kategori mandiri. satu jam kegiatan tatap muka berlangsung selama 45 menit. melaksanakan manajemen berbasis sekolah. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. persentase kelulusan UN • 90 % untuk tiga tahun terakhir. animo tiga tahun terakhir > daya tampung. Mengacu pada konsep tersebut.

Pernyataan staf administrasi akademik bersedia melaksanakan SKS. Sumber: Depdiknas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tujuh Sikap untuk Mencairkan Konflik di Sekolah Posted on7 Februari 2009byAKHMAD SUDRAJAT Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif. tempat ibadah. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. dengan indikator Sekolah menyatakan bersedia melaksanakan Sistem Kredit Semester. keyakinan. orang tua peserta didik. ruang guru. dengan indiktor memiliki ruang kepala Sekolah. IPS. Kimia. dukungan dari tenaga pendamping pelaksanaan SKS. relevansi guru setiap mata pelajaran dengan latar belakang pendidikan (90 %). Dukungan Eksternal Untuk menyelenggarakan SKM/SSN berasal dari dukungan komite sekolah. dengan indikator persentase guru memenuhi kualifikasi akademik • 75%. Perpustakaan yang memiliki koleksi buku setiap mata pelajaran. Kemampuan staf administrasi akademik dalam menggunakan komputer. dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.y y Kesiapan sekolah. jumlah tenaga administrasi akademik memadai. Fisika. Siswa. atau pun kepala sekolah dalam waktu waktu tertentu sangat mungkin dihadapkan dengan konflik. ruang bimbingan. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. ruang wakil kepala sekolah. komputer untuk administrasi. memberikan Layananan bimbingan karir b. ruang Unit Kesehatan. termasuk oleh komunitas di sekolah. tersedia guru bimbingan konseling/ karir. lapangan bermain. Biologi. Multimedia. rasio guru dan siswa. memiliki laboratorium: Bahasa. nilai dan tujuan yang saling bertentangan. .2008. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun. Sumber Daya Manusia. guru. Persentase guru yang menyatakan ingin melaksanakan SKS • 90%. Teknologi informasi/komputer. tempat Olah Raga. (e) Fasilitas di sekolah.

4. yang harsus diselesaikan. lalu tanyakan pula ³Apa kepedulian Anda di sini? atau ³Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini´. 1. tidak dengan kelompok yang paling lemah. maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang. seorang guru berhadapan seorang guru. yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. Jika dihadapkan pada suatu konflik. Tetapi sebaiknya ungkapkan ³Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?´ pertanyaan . juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah secara keseluruhan. meraka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus. Sort out interpretations from facts. Tanyakan pada setiap orang ³Ada issue apa?´. it¶s you and me versus the problem Memiliki keyakinan bahwa ³Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya. apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. sekelompok guru tertentu berhadapan dengan sekelompok guru lainnya. bukan terletak pada orangnya. It¶s not you versus me. Identify your shared concerns against your one shared separation. karena suatu saat setelah mereka dikalahkan. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik. Memilah interpretasi berdasarkan fakta. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada. Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup. Secara berkala tanyakan pula ³Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?´ 2. dan sejenisnya. Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik. individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. bisa dalam bentuk individu dengan individu. Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang±orang yang justru berseberangan dengan Anda. Adalah hal yang amat bodoh.Konflik yang dialami individu di sekolah dapat hadir dalam berbagai bentuk. Misalnya. Define what the conflict is about Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik. buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya). seorang guru berhadapan dengan sekelompok guru. Apabila konflik yang terjadi di sekolah tidak terkelola dan bersifat destruktif. Jangan paksa orang untuk bertekuk lutut! 3. tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu´. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri.. terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi. Terkait dengan upaya mengelola konflik di sekolah. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif.

bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami. orang lain mendengarkan´ menjadi ³Ketika saya mendengarkan. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami. Oleh karena itu. jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan. hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan! 6. Putarlah paradigma dari ungkapan ³ Ketika saya bicara. Rasa benci. Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. Karakteristik1: Perencanaan dan Pengembangan Sekolah y y y y Perencanaan merupakan dasar bagi fungsi manajemen lain Perencanaan merupakan pernyataan mengenai kehendak di masa depan yang ingin dicapai Perencanaan meliputi jangka pendek. setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Setidaknya dengan cara ini. orang lain berbicara kepada saya´. Terakhir. Kembangkan rasa untuk memaafkan. akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis) 7. Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain. 11 Karakteristik Manajemen Sekolah Posted on 2 Maret 2009 by AKHMAD SUDRAJAT 1. Purify your heart. iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik. berusaha mensucikan hati. Develop a sense of forgiveness. Learn to listen actively Belajar mendengar secara aktif. Yang lalu biar berlalu. yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik 3. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. menengah dan panjang Sekolah yang efektif memiliki rencana pengembangan sekolah yang disepakati bersama .semacam ini akan lebih menggiring pada fakta. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. kemudian menjadi dipahami.

Harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Pendekatan kepemimpinan partisipatif Karakteristik 6: Pengembangan Guru dan Staf y y y Guru merupakan fasilitator pembelajaran yang perlu dijaga kualitasnya Pengembangan profesional guru menentukan hasil pembelajaran Perlu adanya program pengembangan guru dan staf Karakteristik 7: Penguatan Kapasitas Siswa y y y Tujuan akhir program pembelajaran adalah pada peningkatan kemampuan siswa Pemberian kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan potensi dirinya Penyediaan program dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar . Pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan.Karakteristik 2: Iklim dan Budaya Sekolah y y y Penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar Penciptaan norma dan kebiasaan yang positif Penciptaan hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain Karakteristik 3: Harapan yang Tinggi untuk Berprestasi y y y y Penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi Tanggung jawab yang tinggi bagi pembelajaran siswa. Karakteristik 4: Pemantauan terhadap Kemajuan Siswa y y y Pemberian pekerjaan rumah kepada siswa Terdapat prosedur penilaian yang dilakukan secara terprogram (formatif dan sumatif) Pemberian balikan yang segera kepada siswa Karakteristik 5: Kepemimpinan Kepala Sekolah y y y Sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah berperan penting.

Karakteristik 8: Keterlibatan Orangtua dan Masyarakat y y Keterlibatan orangtua merupakan stimulus eksternal yang berperan penting bagi peningkatan kualitas pembelajaran Kerjasama orangtua dan sekolah dalam pemberian bimbingan belajar dan dalam menumbuhkan kedisiplinan kepada anak mereka Karakteristik 9: Keterlibatan dan Tanggung Jawab Siswa y y Pembelajaran hanya mungkin terjadi bilamana siswa mempunyai pandangan yang positif terhadap sekolahnya dan peranan mereka di dalamnya Keterlibatan siswa menumbuhkan pada diri siswa rasa memiliki terhadap sekolah dan terhadap pembelajarannya sendiri Karakteristik 10: Penghargaan dan Insentif y y Pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. Sumber: Arismunandar. (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan. (2006). Karakteristik 11: Tata tertib dan Kedisiplinan y y Kesepakatan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah Dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. (5) standar sarana dan prasarana. yaitu: (1) standar isi. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). Sistem Manajemen Sekolah (Materi Pelatihan Pengawas Sekolah) Tentang Standar Pendidikan Posted on13 Mei 2010byAKHMAD SUDRAJAT Kehadiran Peraturan Pemerintah No. dalam beberapa hal. (6) standar penge lolaan. dan (8) standar penilaian pendidikan . dengan lingkup terdiri 8 standar. (3) standar kompetensi lulusan. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dapat dipandang sebagai tonggak penting untuk menuju pendidikan nasional yang terstandarkan. (2) standar proses. (7) standar pembiayaan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dikatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Standar Proses (IV).Dilihat dari fungsi dan tujuannya.a). Dengan demikian. . pelaksanaan. dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. dan Standar Penilaian (V). yang menjadi komponen terpenting adalah Standar Pendidik. segenap aktivitas pendidikan dari standar pendidikan lainnya harus tertuju pada pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. karena kedelapan lingkup standar pendidikan ini pada dasarnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Melihat gambar di atas. terdapat wilayah yang bersentuhan langsung yang berada pada aras A. Hingga akhir tahun 2009 pemerintah melalui Mendiknas (era kepemimpinan Bambang Sudibyo) telah berhasil menerbitkan sejumlah PERMENDIKNAS (bisa dilihat DISINI) Tulisan ini tidak bermaksud menganalisis secara detail isi yang terkandung dari setiap peraturan yang ada. tetapi merupakan sebuah rangkaian yang utuh dan saling terkait. Dalam Peraturan Pemerintah ini terdapat pasal-pasal yang mengamanatkan perlunya dibuat Peraturan Menteri sebagai penjabaran lebih lanjut dari delapan standar penddikan dimaksud. dari kedelapan lingkup standar pendidikan. Melalui pendidik yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras Asecara standar. Standar Nasional Pendidikan memiliki fungsi sebagai dasar dalam perencanaan. tetapi saya hanya ingin menggambarkan secara garis besarnya keterkaitan dan interdependensi kedelapan standar pendidikan. Pada aras A ini. Standar Kompetensi Lulusan (I) seyogyanya dapat dijadikan sebagai titik sentral sekaligus inti dari seluruh standar pendidikan yang ada. khususnya dalam konteks sekolah. Standar Isi (III). dan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.yaitu: Standar Pendidik (II.

namun entah kenapa hingga saat ini tampaknya pemerintah belum tergoda untuk mensahkannya sebagai sebuah kebijakan resmi. sehingga pada akhirnya dapat berdampak pula pada bergeraknya inti pendidikan yakni pencapaian SKL. yaitu: Standar Kepala Sekolah (II. 27 tahun 2008). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia telah menawarkan Draft Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang merupakan SKL-nya pelayanan konseling di sekolah. Pengambilan Keputusan Partisipatif di Sek olah Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Pengambilan keputusan partisipatif merupakan suatu pengembangan konsep to grasp. terus terang saya mengalami kesulitan untuk memposisikan Standar Konselor (Permendiknas No. Kegiatan itu mencakup perubahan fundamental mengenai cara sekolah dikelola dan cara mengungkapkan peranan dan hubungan kepala sekolah dengan masyarakat sekolah. menurut Allen dan Glikman (1992). Kita berharap pada era kepemimpinan pendidikan sekarang ini kiranya dapat melahirkan berbagai kebijakan dan regulasi yang semakin dapat menyempurnakan sekaligus memperkokoh upaya standarisasi pendidikan nasional yang telah dirintis sebelumnya. tetapi keberadaannya tidak mungkin untuk disentuhkan langsung dengan SKL. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada. 12 Tahun 2007). Dalam konteks ini. Dari seluruh rangkaian standar pendidikan sebagaimana tampak dalam gambar di atas. Secara formal konselor digolongkan sebagai pendidik. 23 tahun 2006 sama sekali tidak disinggung SKL yang bisa dicapai melalui pelayanan konseling. Dari berbagai komponen yang berada pada aras B. Standar Sarana dan Prasarana (VII) dan Standar Pembiayaan (VIII).c).Standar Pengelolaan (VI) .Aras A tidak akan berputar dengan baik apabila tidak ditopang oleh komponen-komponen yang berada pada aras B. Sepengetahuan saya. karena dalam Permendiknas No. saya berfikir bahwa posisi pengawas satuan pendidikan mungkin perlu dibuat Aras C. Proses ini . mungkin diantara Anda ada yang mempertanyakan dimana letak Pengawas Satuan Pendidikan? (Permendiknas No. saya melihat tumpuan harapan terletak pada Standar Kepala Sekolah Melalui Kepala Sekolah yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras B dan juga aras A. Pengambilan keputusan partisipatif adalah proses membuat keputusan sekolah dalam suasana kerjasama pada semua level. Selain itu. dan Standar Tenaga Kependidikan (II. kita harus akui bahwa era kepemimpinan Bambang Sudibyo bisa dipandang telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi upaya standarisasi pendidikan nasional.b). dimana kedudukannya dapat diletakkan bersama-sama dengan Standar Pengelolaan Pemerintah Pusat (PP No 19 pasal 60) dan Standar Pengelolaan Pemerintah Daerah (PP No 19 pasal 59) yang akan menopang pergerakan komponen-komponen yang berada pada Aras B mau pun Aras A.

3. proses membangun keterampilan kelompok dan pengembangan kompetensi kepemimpinan. Prosedur partisipasi dalam pembuatan keputusan membantu penyatuan tujuan individu dengan tujuan organisasi. melainkan dilakukan secara berkelanjutan. karena kelompok dapat terus berfungsi secara efektif meskipun kehilangan kedudukan sebagai pemimpin jika kepemimpinan telah dibagi dengan anggota kelompok. Temuan itu menunjukkan bahwa: 1. Berbagai penelitian menemukan bahwa orang memberikan respek dan memperoleh manfaat dari teknik pengambilan keputusan partisipatif. pembuatan keputusan partisipatif dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik sebab sejumlah pemikiran orang diperkenalkan dalam memecahkan suatu masalah. 4. Keterlibatan dalam pengawasan yang berhubungan dengan tugas dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja. Partisipasi dalam pembuatan keputusan mengurangi penolakan terhadap perubahan. Menurut Newel (1992). Jika orang dilibatkan dalam membuat keputusan maka orang tersebut lebih suka untuk melaksanakan keputusan itu secara efektif. Peserta membutuhkan respek dari orang lain dalam rangka aktualisasi dirinya. Partisipasi dalam pembuatan keputusan bermakna bagi perkembangan individu dan bagi upaya fungsionalisasi diri. Interaksi kelompok seringkali mengarahkan untuk mengambil risiko lebih besar atas bagian daripada anggota kelompok. .berlangsung dalam pola membagi pengambilan keputusan yang ³tidak dilakukan sekali dan kemudian dilupakan´. Partisipasi dalam pembuatan keputusan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepuasan guru di sekolah. nilai yang paling besar dari keikutsertaan dalam pengambilan keputusan adalah kekuatan pengertian yang disampaikan kepada individu. Individu kehilangan kepentingan dalam pemecahan masalah jika tidak terlibat secara aktif. 2. 5. bahwa kelompok pembuat keputusan memperkuat nilai perilaku anggota kelompok yang secara umum diterima dalam budaya tertentu. Barangkali.

Temuan penelitian di atas meneguhkan asumsi bahwa peningkatan peranan individu dan kelompok dalam proses pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan diri yang lebih besar. Penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan peranan manajemen (level) bawah dalam pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas. Disamping temuan penelitian di atas, ada beberapa temuan berbeda yang diperoleh dalam penelitian Alutto dan Belasco (Newwel, 1978) yang telah mengidentifikasi tiga keadaan keputusan dari para guru, yaitu: (1) kehilangan (guru yang ingin lebih berpartisipasi); (2) keseimbangan (guru yang ingin tidak ada perubahan dalam partisipasinya sekarang); (3) kejenuhan (para guru yang ingin mengurangi partisipasinya). Temuan ini berdasarkan pandangan guru muda yang mengajar pada sekolah menengah di daerah pinggiran yang merasa kehilangan kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sedangkan guru yang lebih tua pada sekolah dasar di daerah pertanian cenderung mengalami rasa jenuh yang sangat besar dalam pengambilan keputusan. Singkatnya, temuan penelitian secara umum mengindikasikan bahwa keterlibatan dalam pengambilan keputusan sangat disukai, tetapi struktur pembuatan keputusan harus cukup fleksibel untuk membolehkan bagi keragaman tingkat partisipasi. Menurut Simon (1985: 177), aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah kewenangan, komunikasi, pelatihan, efisiensi dan loyalitas kepatuhan. Kelima aspek ini merupakan konsep yang dapat mendorong seseorang membuat dan melaksanakan keputusan organisasi. Di dalamnya ada premis nilai dan premis fakta. Oleh karena itu, kewenangan ada dalam struktur formal organisasi yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku seseorang sebagai anggota organisasi dibanding yang lainnya. Unity dan coordination membentuk group mind. Simon (1985: 179) selanjutnya menyatakan bahwa ³Authority is as the power to make decision which guide actions of anothers´. Dalam hal ini pola perilaku dari kewenangan menurutnya adalah perintah. Kewenangan ada dalam hubungan antara atasan dengan bawahan. Oleh karena itu, pimpinan membuat dan mengirimkan keputusan dengan harapan bawahan menerima. Sementara itu, bawahan berharap akan melakukan pekerjaan berdasarkan keputusan tersebut. Cara manajer menentukan saat yang tepat menggunakan wewenangnya adalah dengan cara mengomunikasikan keputusan yang dibuatnya kepada bawahan untuk memelihara koordinasi perilaku dalam satu kelompok dimana keputusan atasan dikomunikasikan kepada yang lain. Dalam hal ini fungsi keputusan menurut Simon (1997: 187) ada tiga, yaitu (1) it enforce responsibility of the individual to choose who wield the authority; (2) it secures expertise in the making of decisions; (3) it permits coordination of activity. Dengan demikian, jika semua warga sekolah memahami fungsi keputusan yang mencakup upaya memperkuat tanggung jawab individu kepala sekolah bersama warga sekolah untuk mau menjalankan kewenangan, memelihara keahlian dalam membuat keputusan dan memungkinkan adanya koordinasi aktivitas maka konflik dapat dihindarkan di antara anggota organisasi sekolah. Pertimbangan yang dijadikan sebagai premis dalam menggunakan wewenang adalah pertimbangan nilai dan pertimbangan fakta. Pertimbangan nilai menyangkut nilai, budaya, pandangan dan pengalaman seseorang yang dipakainya dalam menggunakan wewenang. Sedangkan pertimbangan fakta berdasarkan data dan informasi yang ada untuk digunakan dalam kewenangan organisasi. Kedua pertimbangan tersebut sangat penting difungsikan

dalam wewenang karena dengan begitu akan dapat melahirkan loyalitas bawahan melaksanakan keputusan. Menurut Bauer (1992), pengambilan keputusan partisipatif meliputi banyak bentuk dan menekankan beberapa keyakinan umum atau premis. Pertama,keputusan partisipatif berarti lebih dekat kepada anak didik dan tindakannya sehingga akan dibuat keputusan terbaik tentang pendidikan bagi anak-anak. Kedua, guru, orang tua dan staf sekolah memiliki lebih banyak pendapat tentang kebijakan dan program yang mempengaruhi sekolah dan anak didik. Ketiga, tanggung jawab pengambilan keputusan partisipatif memiliki kekuatan dalam menentukan keputusan. Akhirnya, perubahan yang dilakukan cocok dan efektif dan bila dilaksanakan maka keputusan tersebut menjadi milik bersama kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. Tujuan pengambilan keputusan partisipatif ialah untuk meningkatkan efektivitas sekolah dan pembelajaran murid dengan cara peningkatan komitmen staf dan menjamin bahwa sekolah lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak didik dan masyarakat. Keberhasilan anak didik dan prestasi yang dicapai dipelihara dalam pencerahan pemikiran kita sebagai alasan untuk mengimplementasikan pemikiran tentang pengambilan keputusan partisipatif. Penggunaan teknik pengambilan keputusan partisipatif ini bertujuan untuk pergantian akuntabilitas atau mengabaikan tanggung jawab dari atas kepada pusat kekuatan staf, membuat sederhana pembagian pengambilan keputusan kepada yang lain. Setiap orang yang berpartisipasi membuat keputusan harus dimintai tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai. Pengambilan keputusan partisipatif memiliki nilai potensial untuk meningkatkan mutu keputusan, mempermudah penerimaan keputusan dan pelaksanaannya, membangkitkan kekuatan moral staf, meneguhkan komitmen dan tim kerja, membangun kepercayaan, membantu staf dan administrator memperoleh keterampilan baru dan meningkatkan keefektifan sekolah. Sejumlah alternatif besar dapat diajukan dan dianalisis bila banyak orang dilibatkan. Hal itu seringkali menghasilkan pendekatan inovatif terhadap persoalan. Otonomi dapat dikembangkan, keputusan lebih baik dicapai dibandingkan dengan manajemen sekolah terpusat. Kepercayaan sekolah juga ditingkatkan sehingga staf memperoleh pengertian tentang kompleksitas manajemen dan kepala sekolah mempelajari penghargaan atas pertimbangan program. Ada beberapa petunjuk yang disarankan oleh para perintis pengambilan keputusan bersama (partisipatif) sebagai berikut: 1. Mulai dari yang kecil dan berjalan dengan pelan. Untuk hal ini banyak bukti yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam adopsi inovasi. Oleh karena itu, pengambilan keputusan partisipatif akan lebih berhasil jika diawali dengan langkah kecil daripada ³perubahan menyeluruh´ yang dianggap asing oleh warga sekolah. Caranya ialah menganalisis kebutuhan sekolah, kemudian mengadaptasi pemilihan proses yang memperhatikan situasi lokal. Komponennya dapat ditambahkan bila staf sudah siap. 2. Setuju atas penataan yang khusus. Tidak ada kebenaran ³tunggal´ dalam cara melakukan pengambilan keputusan bersama. Hal itu bergantung atas apa yang diinginkan dari kebersamaan. Banyak sekolah mengembangkan satu tim pengambilan keputusan atau menggunakan kelompok lain atau komite. Jika tidak ada mandat maka

dapat diputuskan orang yang akan terlibat (bisa saja guru, pelajar, orang tua, anggota masyarakat dan konsultan luar). Ukuran kelompok dapat bervariasi dari sembilan sampai tujuh belas orang yang penting ada jaminan bahwa kelompok terwakili. Selanjutnya, menentukan bagaimana keputusan akan dibuat (ambil suara terbanyak atau konsensus) dan siapa yang akan membuat keputusan akhir atas persoalan yang dihadapi. 3. Prosedur yang jelas mengenai peranan dan harapan. Staf membutuhkan pengertian akan langkah-langkah dan prosedur untuk diikuti sebelum keputusan dibuat. Ketidakjelasan proses menciptakan kebingungan yang menimbulkan fragmentasi tindakan. Sementara itu, kejelasan proses memberdayakan anggota kelompok juga membutuhkan pengertian apakah mereka diikutkan membuat batang tubuh keputusan atau sebagai pemberi masukan saja. Hal ini akan mengurangi moral kelompok untuk berpikir membuat keputusan hanya mengambil keputusan demi kepentingannya semata. 4. Berikan kesempatan setiap orang untuk melibatkan diri. Keputusan yang dibuat berdasarkan pemikiran administratif dalam menghadapi memilih atau kelompok sukarelawan mungkin mendahului sebagai keputusan dari atas ke bawah. Kedudukan para sukarelawan atau kekuatan tugas mereka memberikan peluang baginya untuk berpartisipasi sebanyak atau sesedikit mungkin sesuai yang diinginkan. Paling tidak, semua guru dan staf dapat mengaksesnya. 5. Bangun kepercayaan dan dukungan. Jika kurang kepercayaan dan penghargaan di antara administrator, guru dan staf maka dapat dipastikan pengambilan keputusan bersama kurang dapat diterima. Oleh karena itu, jangan menolak solusi kelompok atau lebih kuat memberikan keputusan kepada kelompok pengambil keputusan bersama. Derajat dukungan yang kurang juga menjadi gagal jika kultur luar sekolah tidak berubah. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 200. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif; Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah.

Pengambilan Keputusan
Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Para pakar memberikan pengertian keputusan sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang pemikirannya. Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan; (2) ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan (3) ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada

Menurut George R. artinya bahwa sekali . fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik. artinya bersangkut paut dengan hari depan. Pengambilan keputusan sebagai kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. dimana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. maka tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan: (1) tujuan yang bersifat tunggal. Selanjutnya. Pengertian keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. Di samping itu.tujuan tersebut. selanjutnya dikutipkan pendapat para pakar mengenai pengertian pembuatan atau ± yang sering digunakan ± pengambilan keputusan. F. menurut James A. Terkait dengan fungsi tersebut. Dari pengertian keputusan tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. masa yang akan datang. Setelah dipahami pengertian keputusan. menurut Sondang P. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Kemudian.

Intuisi. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. (4) wewenang. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. maka perlu diketahui unsur atau komponen pengambilan keputusan. mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan 4. 5. dan (5) rasional. George R. Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini. (2) pengalaman. solid dan baik.diputuskan. (3) fakta. atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Fakta. Rasional. tidak ada kaitannya dengan masalah lain dan (2) tujuan yang bersifat ganda. Terry menyebutkan 5 dasar (basis) dalam pengambilan keputusan. Pengalaman. Agar pengambilan keputusan dapat lebih terarah. Sementara itu. . (2) identifikasi alternatif keputusan yang memecahkan masalah. meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek. 2. sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah. Wewenang. artinya keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua (atau lebih) masalah yang bersifat kontradiktif atau yang bersifat tidak kontradiktif. tetapi dapat menimbulkan sifat rutinitas. tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik). (3) perhitungan tentang faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia. karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang. maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu. Unsur pengambilan keputusan itu adalah: (1) tujuan dari pengambilan keputusan. Dengan fakta. 1. dan (4) sarana dan perlengkapan untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan. tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya. yaitu: (1) intuisi. 3. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya.

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 200. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal. lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu. sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. di mana menyediakan makanan pilihan/sehat untuk siswa yang dilayani oleh petugas kantin. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai. Good (1959) dalam bukunya Dictionary of Education mengatakan bahwa: ³cafetaria a room or building in which public school pupuils or college student select prepared food and serve themselves´. keputusan yang dihasilkan bersifat objektif. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif. Departemen Pendidikan Nasional. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal. . Kantin adalah suatu ruang atau bangunan yang berada di sekolah maupun perguruan tinggi.Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. logis. Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut: y y y y y Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah Tentang Kantin Sekolah Posted on 3 Juni 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Layanan kantin atau kafetaria merupakan salah satu bentuk layanan khusus di sekolah yang berusaha menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan siswa atau personil sekolah.

7. menunjukan adanya koordinasi antara bidang pertanian dengan bidang industri. memberikan gambaran tentang manajemen yang praktis dan baik. Dalam menyelenggarakan atau mendirikan kantin sekolah yang baik hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. 7. 6. 3. Dilihat dari tujuan kantin sekolah di atas. 4. bergizi. 8. menekankan kesopanan dalam masyarakat. dan tempat menunggu apabila ada jam kosong. dan kehidupan bersama. Roe dalam bukunya School Business Management menyebutkan beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penyediaan layanan kantin di sekolah: 1. kantin sekolah hendaknya tidak dipandang sebagai suatu penciptaan keuntungan di sekolah. menganjurkan kebersihan dan kesehatan. membantu pertumbuhan dan kesehatan siswa dengan jalan menyediakan makanan yang sehat. memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat. 6. memperlihatkan kepada siswa bahwa faktor emosi berpengaruh pada kesehatan seseorang. 2. sebagai tempat untuk berdiskusi tentang pelajaran-pelajaran di sekolah. 2. menghindari terbelinya makanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya dan kesehatannya. memberikan batuan dalam mengajrkan ilmu gizi secara nyata. program kantin sekolah harus dipandang sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan . dalam bekerja. 3. mengajarkan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlakudi masyarakat. 2. 5. mendorong siswa untuk memilih makanan yang cukup dan seimbang.William H. maka kantin sekolah dapat berfungsi untuk: 1. menekankan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat. untuk memberikan pelajaran sosial kepada siswa. memberikan bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata. 5. dan praktis. 4.

Sumber: Disarikan dari : Depdiknas. 3. 8. namun juga dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendidik siswa tentang kesehatan. disiplin dan nilai-nilai lainnya. Sistem pelayanan dimana pembeli melayani dirinya sendiri makanan yang diingini.3. penyajian dan pelayanan makanan harus memadai dan cepat 5. 7. Hal-hal berikut dapat diperhitungkan oleh kepala sekolah untuk memperbaiki lingkungan kantin sekolah: 1. Jakarta. karena dapat menarik pembeli 8. terdapat 3 (tiga) alternatif bentuk layanan. 6. Wait service system Sistem pelayanan dimana pembeli menunggu dilayani oleh petugas kantin sesuai dengan pesanan. yaitu: 1. seperti: lukisan. 7. dan penyajian makanannya dengan menggunakan baki atau nampan. 5. Kantin sekolah memberikan peluang untuk mengembangkan tingkah laku dan kebiasaan positif di kalangan siswa. Manajemen Layanan Khusus: materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Tray service system. program kantin harus menyeimbangkan antara kapasitas makanan dan harga. saling menghargai. Sistem pelayanan dimana pembeli dilayani petugas kantin. menyusun prosedur pengembalian talam atau tempat makanan dan pada saat meninggalkan ruangan makan Dengan dimikian. kejujuran. menentukan prosedur untuk menutup dan membuka kantin atau kapan anak-anak memasuki dan meninggalkan kantin. menyajikan musik selama jam makan siang. membuat pengaturan tempat duduk yang serasi. Di sinilah letak arti penting manajemen kantin sekolah sebagai salah satu substansi manajemen sekolah. 2. serta menjamin selera pembeli. 4. 2. mengatur anak-anak yang makan siang dengan membawa makanan sendiri. personil-personil kantin harus bertanggung jawab atas makanan yang bergizi dan menarik. 2007. kebersihan. . menyusun suatu aturan pembayaran yang tidak merugikan kantin. Terkait dengan bentuk pelayanan kantin sekolah. Self service system. keberadaan kantin di sekolah. 3. gedung atau ruang kantin harus strategis karena akan sangat mempengaruhi keefektivan operasi dan koordinasi program-program kantin 6. tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum siswa semata. begitu juga gizi. menentukan aturan-aturan bagi perilaku anak-anak di meja makan. poster-poster kesehatan. memberikan kebijaksanaan keuangan (korting) dapat mendorong berkembangnya program kantin. mengatur dekorasi. memperhatikan semua perilaku murid dalam kantin. harga makanan dan minuman harus dapat dijangkau oleh daya beli siswa 4.