P. 1
Konsep Dan Substansi Manajemen Pendidikan

Konsep Dan Substansi Manajemen Pendidikan

|Views: 3,511|Likes:
Published by algifery

More info:

Published by: algifery on Nov 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

Konsep dan Substansi Manajemen Pendidikan

Konsep Manajemen Sekolah
Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT MANAJEMEN SEKOLAH : Pengertian, Fungsi dan Bidang Manajemen oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. A. Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama. Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa : ³Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan ± tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan´. Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa: ³Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan´. Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam¶an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai ³keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien´. Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa ³administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian

usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal´. Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu. B. Fungsi Manajemen Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut: Menurut G.R. Terry terdapat empat (1) planning (2) organizing (3) actuating (4) controlling (pengawasan). manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (pelaksanaan); dan fungsi

Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) commanding (pengaturan); (4) coordinating (pengkoordinasian); dan (5) controlling (pengawasan). Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O¶ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan); dan (5) controlling (pengawasan). Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan (1) planning (2) organizing (3) staffing (4) directing (5) coordinating (6) reporting (7) budgeting (penganggaran). tujuh manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (penentuan staf); (pengarahan); (pengkoordinasian); (pelaporan); dan fungsi

Untuk memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan (controlling).

1. Perencanaan (planning) Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : ³ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.´ Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah -masalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha dan dana. Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu : 1. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan. 2. Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal. 3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis. Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi

falsafah dan tujuan. Penentuan misi dan tujuan. dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. 2. Pengembangan profil perusahaan. dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu´. Analisa lingkungan eksternal. sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri. Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi. 2. khususnya pada tingkat persekolahan. pasar tenaga kerja dan lembagalembaga keuangan. sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang. Nilainilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan. T. Disamping itu. Pada bagian lain. kapan dikerjakan. yang mencakup pernyataan umum tentang misi. seperti para penyedia. dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and acommplishment organizational obtective´. Boone dan David L. yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang. pasar organisasi. dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. George R. yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan. serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya sumber daya perusahaan yang tersedia. sebagai berikut: 1.yang sangat pesat. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah -langkah dalam penyusunan perencanaan strategik. perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus. pekerjaan manajerial yang semakin kompleks. Lousie E. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian : ³« as the act of planning and implementing organization structure. Dari kedua pendapat di atas. Terry (1986) mengemukakan bahwa : ³Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang. para pesaing. diantaranya adalah : (a) organisasi harus profesional. (b) pengelompokan satuan kerja . karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal. dan apa targetnya. 3. Pengorganisasian (organizing) Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan. dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya. di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan. Berkenaan dengan pengorganisasian ini.

Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian. dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. Pengawasan (controlling) Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. 4. Dalam hal ini. George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting. dan (f) organisasi harus fleksibel dan seimbang. atau mendesak. serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan -tujuan perusahaan. tugas dan tanggung jawabnya. (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan. dengan me lalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran.harus menggambarkan pembagian kerja. Sementara itu. (c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab. sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orangorang dalam organisasi Dalam hal ini. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan. pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk . (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol. menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan. pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan. (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang. (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah. Louis E. yaitu : (a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : ³« the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans´. bahwa : ³Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan ± tujuan perencanaan. Robert J. membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua fungsi terdahulu.´ Dengan demikian. Pelaksanaan (actuating) Dari seluruh rangkaian proses manajemen. 3. Boone dan David L. Ernest Dale seperti dikutip oleh T. merancang sistem informasi umpan balik. (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis. Dari pengertian di atas.

persiapan harian dan mingguan dan sebagainya. pengorganisasian yang efektif dan efisien. 3. Dengan demikian.mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. yang menyangkut kurikulum. Bidang kependidikan atau bidang edukatif. evaluasi dan sebagainya. mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah. yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/ bendabenda. seperti ketatausahaan sekolah. Administrasi material. Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu dengan lainnya. Bidang personil. 2. Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu : 1. seperti tugas mengajar guru-guru. Rifa¶i (1980) bahwa bidang-bidang administrasi pendidikan terdiri dari : 1. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang sangat penting. C. Administrasi kurikulum. Bidang Kegiatan Pendidikan Berbicara tentang kegiatan pendidikan. Administrasi personal. administrasi keuangan. Dengan demikian. dan (e) pengambilan tindakan koreksi. penyusunan sylabus atau rencana pengajaran tahunan. (b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan. yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya. (d) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan. dan personil lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. yaitu : (a) penetapan standar pelaksanaan. Bidang alat dan keuangan. 3. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan. 2. yang mengajar. yang mencakup unsur-unsur manusia yang belajar. agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. Hal serupa dikemukakan pula oleh M. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik. maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. Dalam perspektif persekolahan. di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan. juga administrasi murid. setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis. gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi. metode dan cara mengajar. sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen. dan pengawasan secara berkelanjutan. sebagai alat-alat pembantu untuk melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan pendidikan sebaik-baiknya. (c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata. proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen. bila diperlukan. .

(2) pupil personnel. yang didalamnya mengetengahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan. Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah. (2) perumusan visi. (2) manajemen personalia. (5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar. Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap : 1. dan tujuan. alat. dan (d) pengendalian. (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran. (5) school plant. berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang bidangbidang kegiatan pendidikan di sekolah. mencakup : (1) instruction and curriculum development. Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini. Kendati demikian. dan sarana belajar. (7) organization and structure dan (8) School finance and business management. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. (4) staff personnel. Thomas J. alat. (b) pengorganisasian dan koordinasi. (3) community school leadership. Di lain pihak. dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar. dan (4) membuat rencana induk (master plan): pengembangan. RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan. (5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah. misi. Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Manajemen kurikulum Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. (6) school trasportation. Dengan alasan tertentu. (c) pelaksanaan. dan sarana pembelajaran. pandangan Thomas J. Dari beberapa pendapat di atas. dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan. dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. agaknya yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J. meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis kebutuhan. (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis. Sergiovani. pelaksanaan. yang mencakup : 1. meliputi langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus. ke depannya pemikiran ini sangat menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2002) mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan. dan penilaian. Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah. (4) pemilihan dan pengorganisasian materi. Tahap pengembangan. meliputi: (1) manajemen kurikulum. kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. (4) penyediaan sumber. Sergiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. (6) pemilihan sumber. (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran. (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan). 2. terutama dalam bidang school transportation dan business management. (3) penentuan struktur dan isi program. meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional atau dasar pemikiran. (4) manajemen keuangan. Tahap implementasi atau pelaksanaan. (3) menentukan disain kurikulum. Tahap perencanaan.Sementara itu. 3. (3) manajemen kesiswaan. dan (6) setting lingkungan pembelajaran .

pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks. serta perilaku manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah. Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. jika mereka menyenangi apa yang diajarkan. baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif. kiat sekolah dalam mengelola dana. (c) siswa hanya termotivasi belajar. sosial ekonomi. yaitu : (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek. 5. dan (d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah.4. sumber daya manusia adalah komponen paling berharga. ditinjau dari kondisi fisik. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah . Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam. Oleh karena itu. 3. (b) sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik. sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka. Manajemen personalia Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu : (a) dalam mengembangkan sekolah. upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan. cara mengadministrasikan dana sekolah. hal yang amat penting dalam manajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di sekolah. dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif. kemampuan intelektual. sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal. kondisi aktual. Oleh karena itu. strategi pencapaian tujuan. (c) kultur dan suasana organisasi di sekolah. masalah-masalah dan peluang. pengendalian serta pemeriksaan. Manajemen Kesiswaan Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif) 2. input. Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem. disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah. minat dan seterusnya. dan psikomotor. sehingga mendukung tujuan institusional. dan cara melakukan pengawasan. juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah. masyarakat dan sumber-sumber lainnya. implementasi design dan cost benefit dari rancangan. (b) kondisi siswa sangat beragam. Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia. Tahap penilaian. terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan. produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada pendekatan sistem dan tujuan. 4. proses. Manajemen keuangan Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana. tetapi juga ranah afektif.

Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik. Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana. layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan. . Secara sosiologis. dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja. peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah. seperti gedung. Dalam sistem demikian. minat. membuat daftar sarana dan pra saran. mebeler. memperpanjang usia pakai. menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah. dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah. kebutuhan sampai ia matang di sekolah. Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik? Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan -kesamaan yang dipunyai oleh anak. dan peralatan sekolah lainnya. menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik Posted on 14 Februari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. menyiapkan jadwal kegiatan perawatan. Adanya kesamaankesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak -hak yang mereka punyai. mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana. yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). pendaftaran. pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan. menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah.

proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar. keterampilan dan psikomotor peserta didik. 4.Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang bersifat massal ini. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan). bakat dan minat peserta didik. segi sosialnya. berkaitan erat dengan pandangan psikologismengenai anak. 2. Meningkatkan pengetahuan. dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut. dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial . lebih lanjut. maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda. Menyalurkan aspirasi. kemudian digugat. 2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik. Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut: 1. Dengan terpenuhinya 1. tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan -kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik. segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. 3. Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut: 1. melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. dengan orang tua dan keluarganya. dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. dan kemampuan lainnya. 2. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan). B. ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik. Oleh karena berbeda. Gugatan demikian. baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya.± yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak±. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya. Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. sama sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. kemampuan khusus (bakat). segi aspirasinya. Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa. Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan.

Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik. disukai atau tidak disukai oleh peserta didik. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Oleh karena membimbing. maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. 2. C. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri. haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Pendekatan Manajemen Peserta Didik . Hobi. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. ialah agar peserta didik tersalur hobi. Ialah peserta didik sendiri. melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. berat. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kesejahteraa demikian sangat n penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik. kesenangan dan minatnya. 6. tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan. oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan. 5. D. kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan. baik itu ringan. Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya. Oleh karena itu. 3. 4. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.masyarakatnya. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik. Segala bentuk kegiatan. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. 3. 4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan.

tugas-tugas. jika peserta didik senang dan sejahtera. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal. Pertama. Dalam pendekatan demikian. penyelesaian tugas-tugas peserta didik. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Kepala Sekolah. pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Pendekatan demikian. penyediaan kesejahteraan. Asumsi dari pendekatan ini adalah. memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu. manakala dapat memenuhi aturan-aturan. Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya. pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. penuntutan disiplin yang tinggi. Direktorat Tenaga Kependidikan. atau sebutlah dengan pendekatan padu. Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah. tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Departemen Pendidikan Nasional. dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya. pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu. tentu dapat diambil jalan tengahnya. Pengertian Manajemen Keuangan . Kedua. 2007) Konsep Dasar Manajemen Keuangan Sekol ah Posted on 18 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. Dalam pendekatan padu demikian. 1994). jika dikemukakan dengan kalimat terbalik. iklim yang kondusif. memperketat pre sensi. bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya. maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Di antara kedua pendekatan tersebut. maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Atau. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager. Asumsi pendekatan ini adalah. peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak.

Pri i Pri i Manajemen Keuangan Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah. membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. 3. Transparansi . Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah. 1. pemeriksaan dan pertanggungjawaban i . Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah: 1. C. menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku. dan digunakan untuk ya. Untuk mencapai tujuan tersebut. pelaporan. efisiensi. it M t i ti t i / t t j i l j B T l j li l i ti it t t j ti i i t t j l l i i l ti l l t M l l i kegi t manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat di encanakan. Berikut ini dibahas masing tersebut. Meningkatkan efekti itas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah 2. maka dibutuhkan kreati itas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana. dan efisiensi.t t j i i il M t t i l l i t j t j li l j l i i i i i t i i t i t l i t i j j i i l i B i t j it mperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan. yaitu transparansi. dan akuntabilitas publik. Disamping itu prinsip -masing prinsip efekti itas juga perlu mendapat penekanan. transparansi. akuntabilitas. Undang -undang No 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan. diupayakan pengadaann dibukukan secara transparan. efekti itas. pemanfaatan dana.

2. yaitu (1) adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah . Disamping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah. Efektivitas Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan. dan pertanggungjawabannya harus jelas sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. (2) adanya standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah. fungsi dan wewenangnya. Beberapa informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa ditempel di papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkannya. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Garner(2004) mendefinisikan efektivitas lebih dalam lagi. orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Manajemen keuangan dikatakan memenuhi prinsip efektivitas kalau kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan dan kualitatif outcomesnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Efektivitas lebih menekankan pada kualitatif outcomes. yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. rincian penggunaan. Orang tua siswa bisa mengetahui berapa jumlah uang yang diterima sekolah dari orang tua siswa dan digunakan untuk apa saja uang itu. Effectiveness ´characterized by qualitative outcomes´.Transparan berarti adanya keterbukaan. Efisiensi . Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua. karena sebenarnya efektivitas tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Di lembaga pendidikan. Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua. 4. masyarakat. (3) adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat 3. masyarakat dan pemerintah. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab.

tenaga. waktu.Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. biaya. sedangkan penggunaan daya A dan hasil D menunjukkan paling tidak efisien. Efficiency´characterized by quantitative outputs´ (Garner. pikiran. b. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari dua hal: a. biaya dan hasil yang diharapkan Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan daya C dan hasil D yang paling efisien. biaya dan hasil yang diharapkan dapat dilihat pada gambar berikut ini: Hubungan penggunaan waktu. Dilihat dari segi hasil Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau dengan penggunaan waktu. tenaga dan biaya: Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau penggunaan waktu. Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran (out put) atau antara daya dan hasil.2004). Dilihat dari segi penggunaan waktu. tenaga. Ragam efisiensi tersebut dapat dilihat dari gambar berikut ini: . tenaga dan biaya yang sekecil kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan. Daya yang dimaksud meliputi tenaga. Ragam efisiensi dapat dijelaskan melalui hubungan antara penggunaan waktu. tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya.

dan Raphael O. 1991. dan Udaya. Brown Publishers Kadarman.M. Direktorat Tenaga Kependidikan. School-Based Leadership: Callenges and Opportunities. . 5th edition. & Schneider. 1983. Direktorat Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Pendidikan Dasar. 1995/1996.Hubungan penggunaan waktu.Nystrand.. Pengantar Ilmu Manajemen: Buku Panduan Mahasiswa. Introduction to Educational Administration. 2007) ===================== Daftar Rujukan Campbell. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. C. biaya A dan hasil D paling efisien. Tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi memungkinkan terselenggaranya pelayanan terhadap masyarakat secara memuaskan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab. Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar. Gail T. biaya A dan hasil B paling tidak efisien. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar. Boston: Allyn and Bacon. IA: Wm. Roald F. Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. 1992. Sedangkan penggunaan waktu. A. tenaga. Inc Departemen Pendidikan Nasional. Edwin M. Manajemen Keuangan. Dubuque. Departemen Pendidikan Nasional. biaya tertentu dan ragam hasil yang diperoleh Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan waktu. 2002. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Richard A. Ditdikdasmen Depdikbud Gorton.Bridges. tenaga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. tenaga. Jusuf.

Pengantar Manajemen Pendidikan. M. Harold dan O¶Donnel. New York: McGraw-Hill Book Company. Manajemen Keuangan Sekolah. Administrasi Keuangan Sekolah. Jakarta: CV Tamita Utama Koontz. dan Sahertian. Dasar-dasar Manajemen. Dedi. Maisyaroh. Pemerintah Kota Malang. 1996/1997. Basu. Kutipan Buku Pedoman Kerja dan Penekanan Tugas.Indonesia di Malang Konsep Dasar Manajemen Peran Serta Masyarakat Posted on 10 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Sekolah sebagai institusi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan sekolah tersebut berada. 2000. Malang: AP FIP Universitas Negeri Malang. Jakarta: Swastha. P. Azas-azas Manajemen Modern. Tanpa tahun. 1984. 2004.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 056/U/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah. Cicih. 2002. Jakarta: CV Tamita Utama Undang-undang No 22 tahun 1999. yang direvisi dengan Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Widjanarko. 1990. Yogyakarta: Liberty. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sutarsih. M. Agus. Manullang. Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Malang: Dinas Pendidikan Kota Malang Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Supriadi. Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala SMU se. Principles of Management: An Analysis of Managerial Functions. Djum Djum Noor Benty. Cryill. Third Edition. 1985. Timan.A. Jakarta: Ghalia Indonesia. Untuk memahami apa dan untuk apa program hubungan sekolah dan .

adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Apa sebenarnya kebutuhan masyarakat terhadap sekolah itu? Masyarakat (lebih khusus lagi orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat) 2. tetapi sekolah berusaha secara aktif (jemput bola). serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis. Hal terpenting dari pengertian di atas. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah. to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah) 3. berikut ini akan diuraikan beberapa hal pokok: pengertian. Arthur B. biaya. dan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat. 1. dengan segala keterbatasan yang dimilikinya (tenaga. yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah. Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti dikutip oleh Suriansyah (2000). Di sisi lain pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat.masyarakat perlu diaplikasikan secara intensif dalam pengelolaan pendidikan. nampaknya lebih mengarah pada pola hubungan satu arah. Ini berarti pihak sekolah kurang mendapatkan balikan dari pihak masyarakat. yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: 1. Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hakekat hubungan sekolah dan masyarakat. Apakah ini yang dimaksud dengan hubungan sekolah dengan masyarakat. tujuan. Persuasion directed at the public. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of public with the institution (suatu upaya untuk menyatukan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik. Pengertian Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak. Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan out put yang berkualitas pula. waktu dan sebagainya). yaitu kemauan sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan sekolah. tentunya yang dimaksudkan dalam uraian di sini tidak sesederhana pengertian tersebut. Apabila dicermati pengertian tersebut di atas. adalah adanya informasi yang . Dengan tuntutan yang demikian akan menjadi beban bagi sekolah. Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah.

Karena itu kebutuhan dan kepuasan pelanggan merupakan hal pokok yang harus diperhatikan oleh lembaga sekolah. Sebagai contoh: Bagaimana masyarakat mau membantu sekolah apabila sekolah di tengah masyarakat religius dan fanatik.L. and understanding is basic to appreciation. staf tata usaha dan lain -lain) tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci. Kenyataan selama ini tidak semua warga sekolah menghayati atau memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi dan misi sekolah. Hal ini akan memberikan kesan yang kurang baik kepada masyarakat. Bertolak dari pendapat yang diungkapkan Brownell tersebut di atas. Beberapa aktivitas tersebut adalah: Selalu memberikan penjelasan secara periodik kepada masyarakat ten tang program-program pendidikan di sekolah. Sekolah . Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh C. Atau dengan kata lain pelanggan sekolah itu pada hakekatnya adalah siswa dan orang tua siswa serta masyarakat. Dengan memahami dua pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat di atas. Tumbuhnya penghargaan inilah yang akan mendorong adanya dukungan dan bantuan mereka pada sekolah. Karena memang pelanggan dan pengguna hasil lulusan sekolah adalah masyarakat. maka harus dimulai dengan penjelasan tentang visi dan misi serta tujuan sekolah secara keseluruhan. sehingga pada saat masyarakat ingin mengetahui secara mendalam tentang hal tersebut warga sekolah (guru. sekolah tidak pernah memprogramkan kegiatan sekolah yang bersifat religius. Brownell seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) yang menyatakan bahwa: Knowledge of the program is essential to understanding. murid. Dengan demikian maka program sekolah harus seiring dengan kebutuhan masyarakat. kita dapat membuat suatu pengertian sederhana tentang hubungan sekolah dan masyarakat sebagai suatu ³proses kegiatan menumbuhkan dan membina saling pengertian kepada masyarakat dan orang tua murid tentang visi dan misi sekolah. masalah-masalah yang dihadapi dan kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai oleh sekolah (berfungsi sebagai akuntabilitas). appreciation is basic to support. program kerja sekolah. Agar pemahaman program oleh masyarakat menyentuh hal yang mendasar. bahwa sekolah perlu memiliki visi dan misi serta program kerja yang jelas. Pemahaman masyarakat yang mendalam.diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan. Pengertian ini memberikan dasar bagi sekolah. dapat dipahami bahwa ssekolah perlu melakukan beberapa aktivitas dalam melaksanakan manajemen peran serta masyarakat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan dan memberdayakan masyarakat dan stakeholders lainnya. agar masyarakat memahami apa yang ingin dicapai oleh sekolah dan masalah/kendala yang dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan. jelas dan konprehensip tentang sekolah merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya dukungan dan bantuan mereka terhadap sekolah. sehingga sekolah terisolir dari masyarakatnya. Apa yang dimaksud dengan visi dan misi sekolah anda dapat memperdalam pada buku-buku reference lain. maka penghargaan mereka terhadap sekolah akan tumbuh. melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dipahami masyarakat dan apa yang diinginkan serta program-program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian mereka dapat memikirkan tentang peranan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya untuk membantu sekolah. masalah -masalah yang dihadapi serta berbagai aktivitas sekolah lainnya´.

Yang menjadi pertanyaan adalah. para siswa secara langsung mengetahui bahwa mereka mendapat perhatian yang besar dari kedua belah pihak. Hal ini disebabkan adanya persepsi bahwa peningkatan mutu sekolah dan peningkatan proses pembelajaran cukup dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak pemerintah secara sepihak. Bertolak dari gambaran tersebut di atas. tujuan dan program kerja sekolah. Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua murid terhadap sekolah. apabila hubungan sekolah dengan masyarakat benar-benar dapat dikelola dan direalisasikan secara utuh sesuai dengan konsepsi di atas. 2. maupun warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau berperilaku tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. atau ada semacam persepsi seolah -olah sekolah yang bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. Di samping manfaat seperti diuraikan di atas. Apabila kondisi dia atas tercipta. maka sikap apatis. Keadaan ini juga turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab antar sekolah dengan pihak masyarakat. sudahkah sekolah mengenal harapan masyarakat? Atau sekarang justru sekolah memaksakan harapannya kepada masyarakat! Coba kita analisis kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dan penglihatan selama ini dalam praktek penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. 3. Nampak manfaat yang sangat besar bagi sekolah dan masyarakat. Apabila kita belum melakukan hal tersebut. Hal ini tentunya merupakan kartu kendali bagi sekolah untuk bersikap. misi. pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang baik akan memberikan manfaat lain seperti: 1. khususnya sekolah merupakan unsur penting guna menumbuhkan dukungan yang kuat dari masyarakat. keinginan dan harapanharapan masyarakat terhadap sekolah. Kendali/control yang dilakukan bersama antara sekolah dan masyarakat secara terpadu akan memberikan ruang sempit bagi siswa. Persepsi yang salah ini sebagai akibat dari kurangnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan juga pemahaman warga . Dalam kenyataan yang ditemui di lembaga-sekolah sekarang ini nampaknya masih sedikit ditemukan pola-pola hubungan yang dapat mendorong terciptanya keempat hal pokok di atas. baik pihak orang tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengetahui persoalanpersolan yang dihadapi atau mungkin dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan yang diinginkan sekolah. Keterlibatan orang tua/masyarakat sering diinterpretasikan atau dipersepsi sebagai bentuk intervensi yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Sedangkan orang tua (masyarakat) tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di sekolah. Dengan demikian mereka dapat melihat secara jelas dimana mereka dapat berpartisipasi untuk membantu sekolah. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengerti dengan jelas tentang visi. Sedangkan pihak masyarakat dan orang tua murid cukup dimintakan bantuannya dalam bentuk keuangan saja. Sekolah akan mengenal secara mendalam latar belakang. jelas dan akurat. maka sudah saatnya mulai sekarang sekolah berbenah diri untuk membangun kemitraan dengan masyarakat/ stakeholders untuk kemajuan sekolah.menjadi menara gading bagi lingkungan masyarakatnya sendiri. acuh tak acuh dan masa bodoh masyarakat akan hilang. Apabila hal ini tercipta. Kondisi ini yang mendorong masyarakat untuk tidak terlibat apalagi berpartisipasi membantu sekolah. kemajuan sekolah beserta masalah-masalah yang dihadapi sekolah secara lengakap. berperilaku dan bertindak di luar aturan sekolah yang ada.

sekolah tentang apa dan bagaimana harusnya pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun. Secara lebih lengkap Elsbree dan Mc Nelly seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) menyatakan bahwa kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk 1. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dukungan mereka akan pendidikan. To improve the quality of children¶s learning and growing. 2. Sebagai bahan perbandingan. gambaran pada pembahasan di atas sudah memperlihatkan kepada kita tentang apa yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. Kualitas lulusan sekolah dalam aspek kognitif. Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama yang erat. tetapi lebih jauh dari hal tersebut yaitu pengembangan kemampuan belajar anak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. dikelola dan dievaluasi secara baik. 3. Untuk memajukan program pendidikan. Untuk memperoleh bantuan dari orang tua murid/masyarakat. masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah. Proses pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk orang tua murid/masyarakat. Bantuan apa? Ingat bantuan ini bukan hanya sekedar uang! Untuk melaporkan perkembangan dan kemajuan. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu aktivitas yang mendapat kedudukan setara dengan kegiatan pengajaran. Di samping itu pemberdayaan masyarakat masih cenderung pada aspek pembiayaan. sehingga segala permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama dan dalam waktu yang tepat. Apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat?. Kapan sebenarnya laporan ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah ? 2. Kualitas pembelajaran. 2. Tanpa perencanaan dan pengelolaan serta evaluasi yang baik. tujuan yang hakiki dari kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak akan tercapai. To rise community goals and improve the quality of community living 3. Hagman sebagai berikut: 1. pengelolaan kesiswaan dan sebagainya (ingat substansi kegiatan management sekolah) juga harus direncanakan. pengelolaan keuangan. enthusiasm and support for community program of public educations Dari pendapat ini terlihat bahwa yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ini tidak hanya sekedar mendapat bantuan keuangan dari orang tua murid/masyarakat. anda dapat mempelajari tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L. To develop understanding. . afektif maupun psikomotor hanya akan dapat tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di luar kelas. Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan: 1.

maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat dibangun secara optimal. sedang dan akan dijalankan oleh sekolah. Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan dalam konteks peningkatan mutu hasil belajar. Kebersamaan ini terutama dalam memberikan arahan. Lulusan yang berkualitas merupakan modal utama dalam membangun kualitas masyarakat di masa depan. Kualitas pertumbuhan dan perkembangan peserta didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu sendiri. baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Karena dia tidak dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri. untuk menghindari salah persepsi serta kecurigaan terhadap sekolah. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi. kualitas hasil belajar dan kualitas pertumbuhan/perkembangan peserta didik. Apabila hal tersebut dapat kita lakukan. Kualitas masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan dan hasil pendidikan yang handal. . atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan. Ini berarti segala program yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran. masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah. Kualitas belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan tindakan antara sekolah. Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu. sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat dan valid. salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap. dalam arti apa yang dijelaskan. Integrity. Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang telah. akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebabkan hal yang negatif bagi sekolah.2. Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. 3. masyarakat dan orang tua siswa. lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini. 2. Kualitas hasil belajar siswa. bimbingan dan pengawasan pada anak/murid dalam belajar. disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik. 3. Continuity. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap sekolah.

Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan bahwa apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan minta bantuan uang. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap. harus dilakukan secara terus menerus. misalnya program ekstra kurikuler. kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat. Apabila ini terkondisi. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak datang atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah. remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Coverage Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek. disukai oleh masyarakat atau akrab bagi pendengar. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah yang sangat ilmiah. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa undangan kepada orang tua murid dari sekolah sering diwakilkan kehadirannya kepada orang lain. Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh masyarakat kepada sekolah.Perkembangan informasi. sehingga kehadiran mereka hanya berkisar antara 60% ± 70% bahkan tidak jarang kurang dari 30%. misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester/caturwulan. Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: y y y Informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat. Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan. permasalahan permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan tumbuh setiap saat. karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat/orang tua murid. Simplicity Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. 3. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu. 4. Informasi yang disajikan menggunakan pendekatan budaya setempat. maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat). Penggunaan kata-kata yang jelas. factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat. kegiatan kurikuler. sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya. akurat dan up to date. dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi . atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua/masyarakat.Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat. perkembangan kemajuan sekolah. oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang menjadi audience.

6. akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. obyektif berdasarkan datadata yang ada pada sekolah. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas. masalah dan pr stasi e sekolah terakhir. Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir bagi penerima informasi.yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya. 2007) ===================== . Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari. Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta faktor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi ke dalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah. kemajuan. budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Adaptability Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penjelasan yang konstruktif akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. 5. Untuk itu informasi yang ramah. hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. Constructiveness Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat. Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan. termasuk dalam hal ini memberitah ukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah. kebiasaan. Direktorat Tenaga Kependidikan. Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah.

Wm. Dikti. (2000). (1989).. London: Bidles Ltd.Z. P2LPTK. T. Soleh Soemirat. (2000). (2002). (1977). Trans. Dubuque. Toto Rahardja (Penyunting). Ahmad Suriansyah (1987). Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan SD Di Indonesia (Laporan Analisis Tahap Awal). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. (2002). Guildford and Kings Lynn. Mansour Fakih. Merubah Kebijakan Publik. Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Tinggi suatu Perbandingan di Beberapa Negara.. R. Pidarta.. (2002). Inovasi Pendidikan dalam upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Jakarta : Depdikbud. 1993) Total Quality Management in Education. Panduan Manajemen Berbasis Sekolah Di Kalimantan Selatan. Jakarta : Bina Aksara. Raja Grafindo Persada.. Edisi Pertama..Tubbs. Remaja Rosdakarya.School Administration. New York: Mc Grow Hill Book Company. Diktat Bahan Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan. (2001). Banjarmasin: FKIP Unlam Ahmad Suriansyah. Maroon T. M. Iowa. Remaja Rosdakarya Stewart L. Banjarmasin Ahmad Suriansyah. (1975). Dasar-dasar Public Relations. Learning Society. Humas. Manajemen Humas dan Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. Banjarmasin: Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan. Gorton. Kumars. Rosady Ruslan. (1988). Pusat Informatika. Amka. Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat.DAFTAR PUSTAKA Ace Suryadi (1991). Husen.A. Teori dan Praktek. Sylvia Moss.. Sallis. Jakarta: PT. Public Relation In Education. FKIP Unlam. (1999). Elvinaro Ardianto. (1955). Peran SDM dalam Penerapan ISO 9000 . . (terjemahan). L. Mutu Pendidikan di SLTP Kalsel ³Analisis Partisipasi Orang Tua Murid dalam Pendidikan. Edward. Bambang Siswanto. Jakarta: Grasindo Roem. (2002). D. Jakarta : Rajawali Pers. Bandung: PT. Bandung: Pustaka Setia. Mc Grow Company Publisher. Sudarwan Danim.L. Inc.. (1992). Pramudya Sunu. Jakarta: Bina Aksara Brownwll. Miarso (Ed) (1988). Human Communication. Gans. Manajemen Pendidikan Indonesia. Bandung: PT. T. C. Jakarta : Balitbangdikbud.

Begitu pula dengan sekolah. dan proaktif terhadap kehidupan individu. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan yang dapat berfungsi. Budaya Kerja.VIII Nopember 2001: Yogjakarta: FIP UNY. Dengan melalui kegiatan evaluasi dan riset ini akan diperoleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dal m pengambilan keputusan yang a berkenaan dengan usaha inovatif organisasi dan penyesuaiaian -penyesuaian terhadap berbagai perubahan. Golden Terayon Press Manajemen Sekolah dalam Upaya Mengantisipasi Perubahan Posted on26 Maret 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam kehidupan modern sekarang ini. Torsten Husen. (2001) Budaya Mutu dan Prospek Penerapannya Dalam Sekolah. Rajawali Pers.Sukardi. Jakarta: Pusat Antar Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Triguno. sebagai institusi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan akan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan. pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan yang sangat cepat dan kadang-kadang kehadirannya sulit diprediksikan. Dalam Dinamika Pendidikan Nomor 2/Th. Berbicara tentang sikap antisipatif ini. Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen. Untuk itu. lambat laun akan dapat menimbulkan ke terpurukan sekolah itu sendiri. percaya. sehingga menuntut setiap organisasi untuk dapat memiliki kemampuan antisipatif dan adaptif terhadap berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari adanya perubahan. Jakarta: PT. Jika kita mengacu pada konsep Total Quality Manajemen. Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah dalam mengaplikasikan TQ M adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan. Ketidakmampuan sekolah dalam mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. dan habis ditelan oleh perubahan. Dalam hal ini. (1977). kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya organisasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif merupakan sebuah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko. Ada . (1988). Masyarakat Belajar. maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya.

Integrative Preventive. and Process Manajemen Kinerja Guru Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh : Akhmad Sudrajat . (John P. sikap antisipatif dan adaptif terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah. Kotter dan James L. yang ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen. yang mencakup 4 fokus. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: Focus Plan Organize Control Communication Decisions Functional Management Quality Management From Traditional Sort range budget Hierarchi chain of command Variance Reporting Top Down Ad Hoc/ Crisis Management Parochial. dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang -peluang baru.49). Heskett: 17. functions. Continous. Rosabeth Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya in menghargai dan mendorong i kewiraswastaan. 2002:121) mengetengahkan tentang perubahan kultural dari kultur tradisional ke budaya mutu. satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. Dengan demikian. Kegairahan yang menyebar luas. Competitive Fixing/One Short Manifacturing To Quality Future Strategic Issue Participant/Empowerment Quality Measure and Information or Self Control Top Down and Bottom Up Planned Change Cross functional.suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki bersama. Ross (Sudarwan Danim. yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Berkenaan dengan perbaikan pada proses manajemen. Para anggotanya percaya. tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah baru dan peluang apa saja ya ng akan mereka temui. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi.

Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru. ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan. 1. Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja. menentukan bagaimana kinerja harus diukur. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan. Bagaimana prestasi kerja akan diukur. yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. 4. maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar.Dalam perspektif manajemen. mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala. kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi. manajer dan karyawan´. didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang : Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru. Dari ungkapan di atas. Artinya. ³ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?´. Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang. Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya. Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan. Selanjutnya. maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan. Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja. Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru. dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu. Metode apapun yang . sebagai : ³« sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya.melakukan pekerjaan dengan baik´ 2. komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja. Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang. Ini merupakan sebuah sistem. memperbaiki. 3. solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah. Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja. agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu.

Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar. dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru .C. pembinaan. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja. evaluator dalam menentukan . Pertama. pada gilirannya. dan evaluasi. Kemudian dalam fase evaluasi. kemudian diikuti Pembinaan. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator. sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat. yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain. Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Dalam hal ini. Kedua. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs). dan penghargaan. pengawas pendidkan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas. Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran. untuk memperoleh tujuan ini. atau ³selalu salahnya guru´. Karen Seeker dan Joe B. Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. Perencanaan harus dilakukan pertama kali. Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran yang . Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. serta organisasi terus belajar dan tumbuh. Sementara itu. dan guru. dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran. (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi. Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut. penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. umpan balik. Ronald T. seorang evaluator (baca: kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. Rencana terus dikembangkan. tanggung jawab. dan akhirnya Evaluasi. dan staf administrasi . Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Perencanaan tadi membawa pada fase pembinaan.dipergunakan untuk menilai kinerja. kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. kepala sekolah. (2) bersifat seobyektif mungkin. dan ekpektasi yang terukur. serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. tiada satu pun taksiran yang dapat memberika n gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. menjadi masukan fase berikutnya lagi. Untuk mencapai tujuan tersebut. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan. Kendati demikian. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja. yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan. siklus terus berulang. diantaranya : 1.± di mana guru dibimbing dan dikembangkan ± mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan.

Seeker. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator. (4) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik. seperti : siswa. Wilson. Planning Succesful Employee Performance (terj. . rekan sejawat. Terj. Robert. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan -tujuan pengajaran. Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan. beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator : (1) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak. Karen R. 2000. 2001. Ramelan). ERIC Digest. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable) 2. Dalam hal ini. Konferensi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Ronald T.Surya Darma dan Yanuar Irawan. M. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan ± catatan dalam kelas. (5) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Improving Teacher Evaluations. proses pengajaran dan testing (evaluasi). Performance Management.hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. 1989. 3. Jakarta : PPM. *)) Akhmad Sudrajat. Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Research& Evaluation´. Sumber Bacaan : Bacal. Practical Assessment. C. dan Joe B. (2) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru. (3) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas. Boyd. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi.Pd. adalah staf pengajar pada Program Studi PE FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Konsep Visi Sekolah Posted on 24 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . dan tenaga administrasi. seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran . Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas.

yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik dari cara yang sudah ada sebelumnya. baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah. Tetapi jika perumusannya menjadi seragam. hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya. organisasi dan orangorang di dalamnya tidak mempunyai arahan yang jelas. Tanpa visi. .Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut. Boleh jadi. Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar. Dalam perspektif manajemen. Menurut Block (1987). visi adalah masa depan yang dipilih. visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) organisasi sekolah itu sendiri. melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins. sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis. dan menarik. sayangnya upaya perumusan visi yang terjadi di sekolah -sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati. kredibel. Namun. tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman. pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu ³prestasi´ dan ³iman-taqwa´. 1998). Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah. hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya. kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali. 1996).

Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum. dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan. Pembuatan visi adalah tentang keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain. .al. tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam.Memperhatikan pendapat para ahli di atas. nilai-nilai. Kendati demikian. keluarga. Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini. Beare et. Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan. (b) tujuan pendidikan dalam sekolah. yaitu: 1. 2. 4. Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi. Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi. tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. 5. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah. Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai. (d) pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran. mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah. (c) peran pemerintah. masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah. 3. dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara ³top-down´ yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya . Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah. dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia.

2008. Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis (ter. Pencapaian tujuan pendidikan bermutu tersebut sesuai dengan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 5. Keleluasaan sekolah dalam mengembangkan KTSP tent u harus diikuti dengan analasis situasi sekolah untuk mencapai lingkup standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan. Sumber: Adaptasi dari Bush dan Coleman. yaitu ³Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu´. akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru (BSNP. Fahrurruzi). Hasil analisis tersebut merupakan dasar pijakan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target -target yang ditetapkan. serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan bermutu di seko lah tersebut. sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Tahap kegiat an penyusunan . nilai dan keyakinan. di antaranya Standar Isi (SI)dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Permendiknas no 23 tahun 2 006. Rasional Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing -masing sekolah. 2006: 33). sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada. KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan.Dengan demikian. Penyusunan dan pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. Akan tetapi. Jogjakarta: IRCiSoD. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesua i dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. tujuan yang ingin dicapai. budaya yang akan dibangun. Analisis Situasi Sekolah dalam Pengembangan KTS P Posted on 5 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT A.

(e) dunia industri dan dunia kerja. 2006: 32): 1. (2) pendidik dan tenaga kependidikan. (f) sumber daya alam dan sosial budaya. Deskripsi visi. dan tujuan sekolah 2. (5) program -program 4. realistis. 2006: 33). tujuan dinas pendidikan dan koheren dengan renstra depdiknas. ketercapaian tujuan dapat diamati. Adapun analisis konteks melalui SWOT terdiri atas hal -hal sebagai berikut (cf. (4) secara tersurat ada prioritas menghasilkan peserta didik yang be rmutu. penyiapan dan penyusunan draf. (2) mencerminkan dengan jelas kebutuhan lokal dan nasional atau bahkan internasional berkaitan dengan kemampuan lulusan. Identifikasi SI dan SKL 3. misi. misi. serta kajian lingkungan eksternal untuk mengungkap opportunities atau peluang dan threats atau tantangan. BSNP. tujuan seharusnya (1) tidak bertentangan dengan visi. (d) asosiasi profesi. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (strengths. Visi. B. dan Tujuan Sekolah Penetapan visi. dan tujuan sekolah akan sangat berperan bagi pengembangan sekolah di masa depan. Analisis Konteks Analisis konteks dalam pelaksanaan penyusunan KTSP berwujud evaluasi diri ( self evaluation ) terhadap sekolah. (4) biaya. Tujuan Tujuan Analisis Situasi Sekolah adalah (1) memperoleh gambaran ny ata kondisi sekolah dan (2) memperoleh gambaran nyata situasi sekolah C. (b) dewan pendidikan. Berikut ini adalah penjelasan masing -masing 1. Misi. reviu dan revisi. Misi (mission) ditetapkan dengan mempert imbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas ³dari luar´) dan keinginan ³dari dalam´ (yang antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Misi sebuah sekolah perlu mempertimbangkan misi induknya (dinas pen didikan kabupaten/kota). pemantapan dan penilaian (cf. (3) sarana dan prasarana. (3) jelas bagi pihak -pihak yang berminat. dan threats ). (c) dinas pendidikan. opportunities. Dalam hal ini dapat diterapkan kajian lingkungan internal untuk memahami strengths atau kekuatan dan weaknesses atau kelemahan. Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang sekoah yang diinginkan di masa jauh ke depan. Tujuan sekolah seharusnya tidak betentangan dengan visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan. weaknesses. Visi dan misi saling berkaitan. Visi. Kajian eksternal atau situasi sekolah (peluang dan tantangan) yang dilihat dari masyarakat dan lingkungan sekolah yang meliputi: (a) komite sekolah. ditunjukkan dan dapat diuji secara objektif. BSNP. Misi diperjelas dan dijabarkan dengan tujuan sekolah (goals). serta finalisasi. Perumusan tujuan harus nyata dan terukur. . misi. dipersepsi sebagai sesuatu yang berharga oleh seluruh pihak yang berminat.KTSP secara garis besar meliputi: analisis sekolah. misi. Kajian internal atau kondisi sekolah (kekuatan dan kelemahan) yang meliputi: (1) peserta didik.

ruang labora torium. gambar yang mendukung ketercapaian pembelajaran. buku dan sumber belajar lainnya. tempat bermain. latar belakang ten aga kependidikan. tempat beribadah. . peralatan pendidikan. ruang unit produksi. mengkaji. tempat berolahraga. dan minat tenaga kependidikan dalam pengembangan profesi. Peserta Didik Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajar an. Analisis ini perlu dilakukan agar KTSP yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara ma ksimal.2. lingkungan. laboratorium bahasa. kompetensi pendidik (pedagogik. ruang pendidik. serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. kelayakan. dan peralatan pembelajaran lain (cf. jumlah tenaga kependidikan dan rinciannya. tempat berkreasi. ruang pimpinan sekolah. Analisi ini meliputi rata -rata kemampuan akademik peserta didik. minat pendidik dalam pengembangan profesi. sosial). maupun referensi. OHP.(SNP pasal 42 ayat 1). kelayakan fisik dan mental tenaga kependidikan. dan kondisi sarana yang ada. Dalam melakukan identifikasi. Identifikasi dapat dilakukan melalui tahap -tahap sebagai berikut: membaca secara saksama. memahami. papan tulis yang ada di setiap kelas. dan membedah SI dan SKL. Analisis atas prasarana meliputi lahan. b. ruang bengkel kerja. narasumber. kepribadian. latar belakang pendidikan dan/atau sertifat keahlian. analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan nonakademik. LCD. buku teks. jenis keahlian. media pendidikan. ruang perpustakaan. Peralatan meliputi peralatan laboratorium i lmu pengetahuan alam (IPA). Jadi. jumlah. setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya. rasio banyaknya. c. Situasi Internal atau Kondisi Sekolah a. Sarana dan Prasarana Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot. Hal itu perlu dilaku kan supaya penerapan SI dan SKL di sekolah dan terutama dalam pembelajaran benar -benar baik. ruang tata usaha. bahan habis pakai . kelayakannya. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berk elanjutan (SNP pasal 42 ayat 2). SNP pasal 43). minat. media cetak maupun elektronik. Analisis terhad ap kekuatan dan kelemahan semua sarana itu meliputi kepemilikan. Identifikasi SI dan SKL Para pendidik di sekolah perlu melakukan identifikasi SI dan SKL. kelayakan fisik dan mental pendidik. Perabot di antaranya meliputi meja. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan prasarana di sekolah meliputi keberadaannya. dan kebersihannya. pro fesional. ruang kelas. Yang termasuk dalam buk u dan sumber belajar di antaranya adalah bahan cetakan baik jurnal. laboratorium komputer. dan bakat peserta didik. instalasi daya dan jasa. Media pendidikan di antaranya alat peraga. rasio pendidik dan peserta didik. rata -rata beban mengajar pendidik. Pendidik dan Tenaga Kependidikan Analisis terhadap pendidik dan ten aga kependidikan dimaksudkan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah. kursi. 3. ruang kantin. slide. Adapun bahan habis pakai meliputi bahan -bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran.

serta kesesuaian program dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/ daerah merupakan analisis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan KTSP. Selain itu. bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. Biaya operasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: y y y gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya. program remedial. Adapun tim penyusun KTSP terdiri atas pendidik. keterlaksanaan. dan biaya personal . Ada atau tidaknya program. Program-program KTSP disusun oleh s ekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global). penentuan pendidikan kecakapan hidup. Analisis terhadap pembiayaan di sekolah mengarah pada kelemahan dan kekuatan pembiayaan di sekolah tersebut terhadap pengembangan dan pelaksanaan KTSP e. komite sekolah juga memutuskan pedoman struktur organisasi sekolah dan biaya operasional sekolah.d. tenaga kependidikan dan peserta didik. Kondisi Masyarakat dan Lingkungan Sekolah a. Dalam BSNP (2006: 5) disebutkan. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan. air. Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana. Komite Sekolah Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang i kut berlibat dalam penyusunan KTSP di samping narasumber dan pihak lain yang terkait. pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. pajak. dan lain sebagainya. jasa telekomunikasi. 4. dan modal kerja tetap. pengembangan sumberdaya manusia. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Pada tahap akhir. dan program pengayaan. program pembelajaran. serta penggunaan dan pemeliharaan s arana dan prasarana. Komite sekolah juga memberikan masukan tentang tata tertib sekolah. konsumsi. yang minimal meliputi tata tertib pendidik. pemeliharaan sarana dan prasarana. uang lem bur. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. asuransi. Pimpinan sekolah dan komite sekolah juga melakukan . konselor. dalam SNP Pasal 51 ayat 2 dinyatakan bahwa pengambilan keputusan pada sekolah dasar dan menengah di bidang nonakademik dilakukan oleh komite sekolah yang dihadiri oleh kepala sekolah. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi. pemilihan kegiatan pengembangan diri. transportasi. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muata n lokal. Biaya Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. komite sekolah juga harus memberikan pert imbangan terhadap penyusunan KTSP. biaya operasi.

dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP. dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas para pendidik berpengal aman di bidangnya. 2006). secara lebih khusus. Akan tetapi. b. c. analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan KTSP. analisis terhadap peluang dan tantangan dari pihak komite sekolah/madrasah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. Dalam KTSP. Berdasarkan hal itulah. dan dunia kerja. Berdasarkan hal -hal itulah. dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan (BSNP. Adapun pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan o leh kepala sekolah kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. dunia indsutri di sekitar sekolah dapat diberdayakan untuk menunjang program pendidikan sekolah yang bersangkutan. pengembangan keterampilan pribadi.pemantauan untuk menilai efisiensi. d. analisis terhadap peluang dan tantangan dunia industri dan dunia kerja di lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk pengembangan KTSP. Dalam hal ini. Dinas Pendidikan Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan KTSP SMP. rencana kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Asosiasi Profesi Ada beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMP terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah. Selain itu. Peluang dan tantangan atas keberadaan MGMP perlu dianalisis untuk pengembangan KTSP. Dewan Pendidikan Dewan Pendidikaan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. . efektivitas. Oleh karena itu. peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi dasar sesuai konteks ind ustri kerajinan tersebut. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada pand uan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. dunia usaha. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan. e. Dalam hal ini. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Contoh: di dekat sekolah ada industri kerajinan. keterampilan sosial. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan KTSP. di an taranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. dan provinsi. keterampilan berpikir. KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal. Dalam penyusunan KTSP. dan akuntabilitas sekolah. Dalam hal ini. kabupaten/kota. Berdasarkan hal -hal itulah. pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. MGMP dapat berperan pula sebagai tim yang menyusun silabus mata pe lajaran tertentu. Keberadaan tim ini akan sangat membantu pengembangan KTSP. Dunia Industri dan Dunia Kerja Salah satu prinsip pengembangan KTSP adalah relevan dengan kebutuhan kehidupan. keterampilan akademik.

Selain itu. dan biaya. Pendidik dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik menanam bakau untuk menahan abrasi pantai. D. Satuan pendidikan harus menyiapkan instrumen tersebut sebagai panduan pengambilan data. KTSP juga harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender. 4. Sumber Daya Alam dan Sosial Budaya KTSP disusun dengan memperhati kan berbagai hal. di antaranya adalah keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Ini merupakan salah satu contoh pembelajaran untuk memahami alam sekitar dan sek aligus mengatasi tantangan alam. Pada dasarnya. ketersediaan dan kemampuan SDM dalam mengelola sekolah. Sekolah yang berada di daerah pantai. dapat memanfaatkan aspek kel autan sebagai peluang dan tantangan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Aspek yang Dianalisis Keberadaan dunia industri Kebermaknaan dunia industri dalam pengembangan kompetensi Kelayakan dunia industri sebagai sumber belajar Kedekatan jarak letak dunia industri dengan sekolah Hubungan baik dunia industri dengan pihak sekolah Ya Tidak . Pengembangan Instrumen Analisis terhadap situasi sekolah dilakukan dengan menggunakan instrumen analisis. kebermanfaat an aspek sosial budaya bagi peserta didik di masa kini dan yang akan datang. tantangan. KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. analisis terhadap peluang dan tantangan sumber daya alam dan sosial budaya lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksanaan penyusunan KTSP. antara lain: keterjangkauan jarak. kesetaraan gender. 3. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditum buhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. Masing -masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari -hari. Contoh Instrumen model check list Dunia Industri/kerajinan No 1. misi. Pada sisi lain. Oleh karena itu. 2. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dapat memberikan nilai tambah bagi perkemba ngan peserta didik. Berdasarkan hal itulah. setiap daerah memiliki potensi. KTSP harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. kondisi sosial budaya masyarakat setempat. kesesuaian dengan visi. dan tujuan sekolah. Instrumen yang digunakan bisa menggu nakan model check list ataupun skala. diperlukan upaya identifikasi dengan memperhatikan berbagai hal.f. Sumber daya alam yang ada di lingkungan serta aspek sosial budaya yang berlaku di tempat sekolah tersebut berada. dan keragaman karakteristik lingkungan. waktu. 5. kebutuhan.

satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi alternatif acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal. Jarak dunia industri/kerajinan jauh. 3. 2. dan program program lainnya. G. Selain itu. 2. . Hasil analisis tersebut diklasifikasi atas peluang atau tantangan yang akan menjadi kesimpulan pengambilan keputusan Contoh No 1. satuan pendidikan mempunyai tantangan untuk membina hubungan baik dengan dunia industri tersebut. dewan pendidikan. 3. Dalam pengembangan KTSP ini. tetapi dengan syarat -syarat yang harus dipenuhi. KTSP yang baik harus d ikembangkan atas dasar analisis peluang dan tantangan situasi eksternal yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. sarana prasarana. dan 3 Keterangan Peluang Tantangan Tantangan Bukan peluang Bukan peluang F. asosiasi profesi. 2. dunia industri dan dunia kerja. 4. dan 3 Jawaban Tidak 5 4 dan 5 Semua aspek 1. dinas pendidikan. KTSP untuk pendidikan dasar dikembangkan oleh setiap sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidi kan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. yang meliputi: komite sekolah. Pemanfaatan Hasil Instrumen Berdasarkan hasil analisis yang telah diperoleh . anal isis situasi sekolah sangat perlu dilakukan sehingga KTSP yang dikembangkan benar -benar didasarkan pada kondisi dan situasi sekolah (di samping didasarkan pula pada prinsip -prinsip pengembangan KTSP). Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. dan 4 1. KTSP yang dikembangkan berdasarkan analisis situasi sek olah diharapkan akan benar -benar mencerminkan upaya peningkatan kondisi internal yang ada di sekolah yang meliputi peserta didik. tentu tantangan satuan pendidikan untuk menyediakan biaya transportasi ke tempat dunia usaha/industri tersebut. 2. biaya.E. 5. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi tantangan. Di samping itu. Penutup Pada prinsipnya. pendidik dan tenaga kependidikan. Jawaban Ya Semua aspek 1. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi peluang. sumber d aya alam dan sosial budaya. Analisis Instrumen Data yang telah diperoleh dianalisis. satuan pendidikan mengembangkan program yang terkait dalam pengembangan KTSP. Contoh pemanfaatan 1. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal. 2.

perspektif. Tentukan kriteria yang terukur dengan fokus pada cita-cita masa depan organisasi. kemudian ikuti kemajuannya. Kembangkan sistem pengelolaan gagasan dan tangkaplah setiap gagasan untuk dikembangkan dan dievaluasi berbagai kemungkinannya . Tanyakan kepada mereka. Team Inovasi berbeda dengan team proyek regular. apa yang akan mereka ciptakan atau tingkatkan pada masa-masa yang akan datang. baik yang ada dalam organisasi maupun di luar organisasi. Belajarkan setiap orang untuk menghargai keragaman. Kesepuluh langkah tersebut adalah: 1. 3. Hilangkan rasa takut dalam organisasi. Kriteria yang ketat hanya akan menghambat terhadap pencapaian cita-cita dan melestarikan berbagai asumsi dan mindset masa lampau. karena keragaman seluruh aktivitas ini merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam proses men uju inovasi. Berikan keluasaan kepada setiap orang untuk dapat mengeksplorasi kemungkinankemungkinan baru (new possibilities) dan berkolaborasi dengan orang lain. 2. Innovasi artinya melakukan sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itu mungkin akan gagal. dibutuhkan perlengkapan dan mindset yang berbeda pula. baik dalam gaya berfikir. teknologi atau perubahan mindset pelanggan. seperti tentang trend baru. Sediakanlah pelatihan yang cukup sehingga setiap orang dapat bekerja dalam inovasi secara sukses. Pastikan setiap orang dapat memahami strategi organisasi dan pastikan pula bahwa semua usaha inovasi benar-benar sudah selaras dengan strategi yang ada. 7. jika orang-orang senantiasa diliputi ketakutan akan kegagalan. 6. Oleh karena itu. Dokumentasikan setiap proses inovasi dan pastikan setiap orang dapat me mahami peran didalamnya dengan sebaik-baiknya. 5. 8. 9. Belajarkan setiap orang untuk mampu memindai lingkungan. pengalaman maupun keahlian. 10. Jadikan inovasi sebagai bagian dari sistem penilaian kinerja setiap orang. 4. Curahkan waktu untuk pengembangan dan kesuksesan yang hendak organisasi pada masa yang akan datang.Sepuluh Langkah Menjaga Inovasi dalam Organisasi Posted on 23 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Joyce Wycoff (2004) mengemukakan tentang 10 langkah praktis untuk mempertahankan kehidupan inovasi dalam suatu organisasi.

Pembahasan pada bab 1 sampai dengan bab 11 masing-masing diberi judul (1) Unsur-unsur Difusi. N. praktek atau objek yang dipersepsi baru oleh seorang individu atau suatu unit adopter. penulisnya. Tradisi riset adalah sederet penelitian tentang topik sejenis di mana penelitian sebelumnya berpengaruh pada penelitian sesudahnya. Bab 2 diawali dengan komentar Elihu Katz dkk. Selanjutnya . (3) Kontribusi dan Kritik riset Difusi. (c) pergeseran studi difusi dari yang mendasarkan pada model komunikasi linier (proses di mana pesan ditransfer dari sumber ke penerima) ke yang mendasarkan pada model komunikasi konvergensi (proses saling tukar informasi diantara sesama partisipan) dan (d) definisi inovasi difusi sebagai pada dasarnya suatu proses sosial di mana informasi tentang gagasan baru yang dipersepsi secara subjektif dikomunikasikan. (7) Kategori Keinovatifan dan Kategori Adopter. Dalam Pengantar tersebut disajikan (a) kesamaan difusi dengan riset persuasi: (a1) bukan komunikasi satu kepada orang banyak.Sumber: Adaptasi dari: Joyce Wycoff .Floyd Shoemaker) terbit pada tahun 1972. (c) waktu dan (d) sistem sosial. Rogers. http://thinksmart. (1963) µberbagai tradisi riset ironisnya ditemukan secara sendiri-sendiri¶. Riset difusi dimulai di Perancis. 10 akan menyebar luas sementara 90 akan dilupakan¶. Di Perancis. The Free Press. (5) Proses Keputusan Inovasi. bukan pada implementasi aktual atau konsekuensi inovasi) dengan riset persuasi (fokus lebih pada pengubahan sikap. Bab 1 membahas empat unsur inovasi (a) inovasi (b) saluran komunikasi. (b) kontras difusi (fokus lebih pada adopsi/ keputusan untuk menggunakan dan mengimplementasikan gagasan baru. (9) Agen Perubahan.. Ten Practical Steps to Keep Your Innovation System Alive & Well. Tarde (1903) mengemukakan hukum imitasi µdari 100 inovasi. menjelaskan bahwa edisi pertama terbit tahun 1962 dan edisi kedua (dengan judul Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach dan dengan penulis kedua F. Tradisi riset pada dasarnya adalah suatu µuniversitas tidak terlihat¶. (8) Kepemimpinan Opini dan Network Difusi. Inovasi sering berupa cluster teknologi karena dengan demikian akan lebih mudah untuk diadopsi. (4) Lahirnya Inovasi. (2) Sejarah Riset Difusi. Inovasi dibedakan dari reinvensi: tingkat inovasi diubah atau dimodifikasi pengguna pada proses adopsi dan implementasi.2004. aksi atau kebijakan). Everet M. Inovasi -sering disinonimkan dengan teknologi. tapi juga menjual kredibilitas diri dan/atau orang lain. bukan perilaku). dan (a2) tidak semata berpusat pada aksi atau isu (menjual produk. (1983).suatu gagasan. (10) Inovasi dalam Organisasi dan (11) Konsekuensi-konsekuensi Inovasi. Bab 1 selanjutnya meringkas materi yang akan dibahas pada bab 4 sampai dengan bab 11.com/ Difusi Inovasi Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam Pengantar buku (edisi ketiga) Diffusion of Innovations. Inggris dan Jerman-Austria di awal abad 20. (6) Atribut Inovasi dan Tingkat Adopsinya. tapi sesuatu yang dikerjakan bersama orang lain.Y.

disajikan sembilan tradisi riset: antropologi, sosiologi awal, sosiologi pedesaan, pendidikan, sosiologi medis, komunikasi, pemasaran, geografi dan sosiologi umum. Akhirnya, disajikan delapan tipe riset difusi (1) kapan inovasi diketahui, (2) tingkat adopsi inovasi, (3) keinovatifan, (4) kepemimpinan opini, (5) jaringan difusi, (6) tingkat adopsi dalam berbagai sistem sosial, (7) saluran komunikasi dan (8) konsekuensi inovasi. Bab 3 menyajikan kontribusi riset difusi berupa (a) model difusi sebagai paradigma konseptual yang relevan dengan banyak disiplin ilmu, (b) sifat pragmatisnya dalam memecahkan masalah penggunaan hasil riset, (c) memungkinkan periset mengemas ulang temuan empirisinya dalam bentuk generalisasi lebih teoritis lagi dan (d) metodologinya yang jelas dan relatif facile. Selanjutnya,disajikan kritik pada riset difusi: (a) bias pro -inovasi: inovasi harus diadopsi semua anggota suatu sistem sosial dengan cara cepat dan inovasi tidak boleh ditolak atau direinvensi, (b) bias menyalahkan individu: kecenderungan menyalahkan individu, bukan sistem, (c) masalah ingatan: ketidakakuratan responden dalam mengingat proses adopsi inovasi dan (d) isu ekualitas: inovasi cenderung memperlebar kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, disajikan prosedur meta-riset, yaitu sintesis riset empiris menjadi kesimpulan umum yang lebih teoritis: (a) perumusan konsep (dimensi yang dinyatakan dalam istilah paling mendasar), (b) menyusun hubungan dua konsep dalam bentuk hipotesis teoritis, (c) menguji hipotesis teoritis dengan hipotesis empiris yang dinyatakan dalam postulat hubungan dua konsep operasional, (d) uji hipotesis empiris dengan uji signifikansi atau uji lainnya dan (e) hipotesis teoritis ditolak atau diterima berdasarkan ditolak atau diterimanya hipotesis empiris. Bab 4 menyajikan enam momen proses inovasi yang merupakan paduan dari (a) analisis kebutuhan (momen pertama: perumusan masalah atau analisis kebutuhan), (b) tracer study (momen kedua sampai ke lima: penelitian murni/terapan, pengembangan, komersialisasi/ sosialisasi serta difusi dan inovasi) dan (c) studi difusi klasik (momen ke lima dan ke enam: difusi/ inovasi dan konsekuensi inovasi). Masalah yang umumnya ditemukan adalah rendahnya penjualan hasil penelitian yang sudah dipatenkan (di Amerika mislanya adalah 1500 dari 30000 paten). Pengembangan teknologi mengalami empat tahap (a) trial and error dalam skala kecil, (b) imitasi, (c) kompetisi tekonologi dan (d) keluar dari kompetisi dan melakukan standarisasi produk. Beberapa konsekuensi inovasi adalah (a) ke enam momen difusi inovasi mungkin tidak semuanya ada dalam suatu inovasi, (b) kemungkinan ketidak sinkronan konsekuensi yang diharapkan dengan yang benar-benar terjadi, dan (c) pelebaran kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, dibahas (a) kelemahan tracer study: tergantung ada tidaknya publikasi, sedikitnya data fase difusi/ adopsi dan sifatnya rekonstruksi rasionalistik dan (b) inovasi organisasi yang muncul secara individual, kolektif, atas instruksi atasan atau didorong inovasi sebelumnya mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Bab 5 membahas lima proses keputusan inovasi (a) mengetahui inovasi, (b) peruasi, (c) keputusan, (d) implementasi (seutuhnya atau lewat reinvensi) dan (e) konfirmasi atau meniadakan/mengurangi disonansi, suatu ketidaksetimbangan internal yang disebabkan (e1) kebutuhan, (e2) belum mengadopsi sesuatu yang diinginkan atau (e3) setelah mengadopsi untuk meneruskan atau diskontinu. Inovasi dapat tidak dilanjutkan (diskontinu) karena (a) kecewa atau (b) diganti dengan invasi lainnya. Beberapa temuan proses keputusan inovasi adalah (a) Inovasi yang tingkat adopsinya tinggi tingkat diskontinu; (b) diskontinu cenderung dilakukan oleh adopter akhir; (c) riset selama ini kebanyakan riset variansi sehingga diperlukan riset proses; (d) beberapa saluran komunikasi difusi inovasi adalah media massa dan hubungan antar-pribadi serta saluran kosmopolit dan lokalit; (e) media massa dan saluran kosmopolit terutama penting pada tahap mengetahui inovasi; sementara hubungan antar-

pribadi dan saluran lokalit terutama penting pada tahap persuasi; (f) media massa dan saluran kosmopolit lebih penting bagi adopter awal; (g) tingkat mengetahui inovasi lebih cepat dari tingkat adopsi dan (h) adopter awal mengalami proses keputusan inovasi lebih cepat. Bab 6 menyatakan bahwa tingkat inovasi dipengaruhi oleh satu atau beberapa karakteristik berikut: (a) keuntungan relatif, (b) kompatibilitas atau kekonsistenannya dengan nilai yang dianut, (c) kompleksitas atau tingkat kemudahan untuk dipahami, (d) triabilitas atau kedapatdicobaannya dalam skala kecil dan (e) observabilitas atau keterlihatannya oleh orang/pihak lain. Tingkat adopasi dipengaruhi oleh (a) jenis keputusan inovasi (opsional, kolektif atau atas dasar otoritas), (b) jenis saluran komunikasi yang digunakan, (c) norma, sifat kesalingterhubungan individu, dst. dalam komunitas adopter dan (d) upaya agen perubahan. Selain itu, ditemukan bahwa (a) sampai tingkat kesadaran inovasi mencapai 20-30% tingkat adopsi rendah, sedangkan setelah ambang tersebut tingkat kesadaran dan tingkat adopsi meninggi dan (b) overadopsi adalah fenomena inovasi diadopsi padahal menurut para ahli sebaiknya tidak diadopsi. Bab 7 mencatat bahwa kontinum keinovatifan dapat dibagi menjadi lima kategori (a) invator, (b) adopter awal, (c) mayoritas awal, (d) mayoritas akhir dan (e) laggards. Masing-masing kategori tersebut mempunyai karakteristik (a) venturesome, (b) respectable, (c) deliberate, (d) skeptis dan (e) tradisional. Usia adopter awal relatif sama dengan adopter akhir hanya saja adopter awal cenderung lebih unggul dalam hal (a) pendidikan, (b) literasi, (c) status sosial, (d) mobilitas ke atas, (e) ukuran ladang, perusahaan, dst., (f) sikap terhadap kredit dan (g) tingkat spesialisasi pekerjaan. Selain itu, dalam hal kepribadian, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) empati lebih besar, (b) kurang dogmatis, (c) lebih mampu melakukan abstraksi, (d) lebih rasional, (e) lebih intelejen, (f) lebih mudah menerima perubahan, (g) lebih mampu mengangani ketidakpastian dan resiko, (h) lebih menghargai pendidikan dan sains, (i) kurang fatalis, (j) mempunyai motivasi pencapaian lebih besar, (k) aspirasi lebih tinggi pada pendidikan, pekerjaan, dst. Akhirnya, dalam hal perilaku komunikasi, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) partisipasi sosial lebih tinggi, (b) kontak sosial lebih banyak dengan sesamanya dan/atau dengan agen perubahan, (c) lebih kosmopolit, dan terekspose pada media massa, (d) leb aktif mencari ih informasi dan lebih banyak tahu tentang inovasi dan (e) lebih tinggi kepemimpinan opininya. Bab 8 membahas model kepemimpinan opini aliran dua-langkah: pesan mengalir dari sumber via media massa ke pemimpin opini yang pada gilirannya menyampaikannya pada para pengikutnya. Model tersebut ditentang oleh model µjarum hipodermik¶ di mana dipostulatkan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung, segera dan kuat pada individu-individu yang terkait dengan media massa, tapi tidak terkait satu dengan lainnya. Menurut teori Granovetter individu cenderung terkait dengan orang yang secara fisik dekat dan menurut atribut-atribut seperti kepercayaan, pendidikan dan status sosial relatif sama (homofili; kontras dengan heterofili di mana atribut-atribut tersebut relatif beda). Duff dan Liu (1975) menyatakan bahwa dalam satu network komunikasi, pertukaran informasi dari satu clique (yang ditandai dengan promiximitas komunikasi tinggi) ke clique lain dijembatani oleh proximitas komunikasi rendah yang heterofili (misal, dari clique berstatus sosial tinggi ke clique berstatus sosial lebih rendah). Beberapa temuan lainnya ialah (a) Dalam network heterofili, pengikut cenderung mencari pemimpin opini yang mempunyai status sosial, pendidikan, ekspose ke media massa, tingkat keinovatifan, tingkat kekosmopolitan dan tingkat kontak dengan agen perubahan lebih tinggi, (b) pemimpin opini lebih sejalan dengan norma sistem dibanding dengan pengikutnya, (c) pemimpin opini dapat dibedakan menjadi polimorfis (mempunyai opini dalam banyak bidang) atau monomorfis (mempunyai opini

hanya dalam satu bidang), dan (d) network personal radial (dari satu ke banyak orang) lebih penting untuk inovasi dibanding dengan network interlocking di mana individu saling berinteraksi. Bab 9 membahas masalah yang dihadapi agen perubahan adalah (a) sebagai penengah antara agensi perubahan dan klien dan (b) kemungkinan kesulitan mengolah informasi yang cenderung melimpah; sementara itu, masalah aide lebih parah lagi karena kredibiltas kompetensi atau profesionalismenya diragukan. Tujuh peran agen perubah adalah (a) menumbuhkan kebutuhan dalam diri klien, (b) membangun hubungan pertukaran informasi, (c) mendiagnosa masalah klien, (d) menumbuhkan niat berubah pada klien, (e) menerjemahkan niat klien ke dalam tindakan, (f) menstabilkan adopsi dan mencegah diskontinu adopsi dan (g) mencapai hubungan terminal dengan klien (yaitu ketika klien berubah menjadi agen perubahan). Kesuksesan agen perubahan tergantung pada (a) upayanya menghubungi klien, (b) orientasinya yang lebih kepada klien, bukan pada agensi perubahan,(c) tingkat kesesuaian inovasi dengan kebutuhan klien, (d) empatinya kepada klien, (e) homofilitasnya dengan klien, (f) kredibilitasnya di mata klien, (g) tingkat kesejalanannya dengan pemimpin opini dan (h) kemampuan klien mengevaluasi inovasi. Selanjutnya, hubungan agen perubahan secara positif tergantung pada lebih tingginya klien dalam hal (a) status sosial, (b) partispasi sosial, (c) pendidikan dan (d) kekosmoplitannya. Akhirnya, juga dibahas mengenai sistem difusi sentralistik dipadu dengan sistem difusi desentralistik dan/atau penerapan kedua sistem tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam sistem difusi sentralistik, difusi dilakukan oleh pemerintah dan/atau ahli; sementara itu, dalam sistem difusi desentralistik, inovasi datang dari ekpserimentasi lokal yang sering dilakukan oleh pengguna itu sendiri dan/atau atas dasar saling tukar informasi untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Difusi lewat network horizontal dilakukan unit lokal dengan tingkat kemungkin reinvensi yang tinggi. Bab 10 mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem stabil dari sejumlah individu yang bekerja sama untuk mecapai tujuan bersama lewat suatu hiearki jabatan dan pembagian tugas. Inovasi dilakukan secara opsional, kolektif atau didasarkan pada otoritas atau inovasi sebelumnya . Sampai tahun 1970-an, inovasi dalam organisasi diteliti dengan riset variansi, yaitu diteliti korelasinya dengan sejumlah variabel bebas. Variabel bebas dan sifat korelasinya dengan keinovatifan (+ atau -) tersebut adalah (a) karakteristik pemimpin: sikap pemimpin terhadap perubahan (+), dst.; (b) karakteristik internal struktur organisasi: sentralisasi (-), kompleksitas (+), formalitas (-), kesalingterkaitan (+), ketersediaan cadangan (+), dst. dan (c ) karakteristik eksternal organisasi: keterbukaan sistem (+), dst. Riset variansi sekarang diganti dengan riset proses inovasi yang mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Dalam inisiasi terdapat tahap agenda setting (perumusan masalah) dan matching (penyelarasan masalah dan solusi), sementara dalam implementasi ada tahap redefinisi/restruktrurisasi masalah, klarifikasi dan rutinisasi (hasil) inovasi. Akhirnya, bab 11 mendefinisikan konsekuensi inovasi sebagai perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial sebagai akibat dari adopsi suatu inovasi. Konsekuensi inovasi jarang diteliti karena (a) agensi perubahan memberi perhatian terlalu banyak pada adopsi dan mengasumsikan konsekuensi adopsi pasti positif, (b) metode riset survei mungkin tidak cocok untuk meneliti konsekuensi inovasi dan (c) sulitnya mengukur konsekuensi inovasi. Konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi (a) diinginkan vs. tidak diinginkan, (b) langsung vs. tidak langsung dan (c) diantisipasi vs. tidak diantisipasi; sementara itu, dari contoh penggunaan kappa besi di suku Aborijinal, diketahui tiga unsur intrinsik dari inovasi: (a) bentuk: penampakan fisik dan substansi inovasi; (b) fungsi: kontribusi inovasi pada cara

N. dan pengubahan fokus dari sasaran inovasi tradisional (yaitu pada kelompok yang paling berpotensi untuk berubah) ke kelompok yang paling tidak berpotensi untuk berubah.. Dengan demikian. The Free Press. hal lainnya lagi yang harus dikaji dalam konsekuensi inovasi adalah cara mengatasi kenyataan bahwa inovasi sering memperlebar kesenjangan sosio-ekonomik masyarakat. Beberapa cara tersebut adalah (a) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak dibanding orang miskin: pesan disampaikan lewat (a1) cara masal seperti lewat radio atau televisi. penggunaan multi-media yang didasarkan kondisi sosial budaya orang miskin.Universitas Pendidikan Indonesia. Rogers. pengembangan programdan/atau agensi yang diperuntukkan khusus orang miskin dan pergeseran dari difusi inovasi yang datang dari riset dan pengembangan (R & D) formal ke penyebaran informasi tentang gagasan yang didasarkan pada pengalaman lewat sistem difusi desentralistik: sering untuk ikatan intelektual dari kebijakan konvensional adalah eksperimen di lapangan. membangun organisasi (misalnya koperasi) di kalangan orang miskin. Hal lain yang berkaitan dengan konsekuensi inovasi adalah tingkat perubahan dalam sistem yang mungkin mengalami (a) kesetimbangan stabil (inovasi tidak menyebabkan perubahan dalam struktur dan/atau fungsi sistem sosial).Y).2004. penggunaan bahasa yang dimengerti orang miskin. memberi kesempatan orang miskin berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan inovasi. (b) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak pada hasil evaluasi inovasi dibanding orang miskin: pemimpin opini orang miskin harus ditemukan (meski pun relatif lebih sulit dibanding dengan menemukan pemimpin opini orang kaya) dan hubungan agen perubahan dikonsentrasikan pada mereka. atau (c) disequilibrium (perubahan yang disebabkan inovasi terlalu cepat untuk dapat ditangani sistem sosial). Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. tujuan dari inovasi adalah untuk mencapai kesetimbangan dinamis. Akhirnya. Makna Baru Perubahan Pendidikan (The New Meaning of Education Change) Posted on 8 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . Diffusion of Innovations. Bandung Program Pasca Sarjana. aide dari kalangan orang miskin digunakan untuk menghubungi kelompok homofilinya dan kelompok formal di kalangan orang miskin diperkuat dan/atau dibina serta ( c) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai sumber daya lebih dibanding orang miskin: pemilihan inovasi yang cocok untuk orang miskin.hidup adopter dan (c) makna: persepsi subjektif dan sering di bawah sadar dari adopter terhadap inovasi. (b) kesetimbangan dinamis (perubahan yang disebabkan inovasi setara dengan kemampuan sistem sosial untuk menanganinya). Diambil dari: Dodi Sukmayadi. Everet M. 3rd. (1983). penyampaian dalam kelompok kecil di mana orang miskin biasanya berkumpul.

(7) Guru. (14) Persiapan peofesional Guru. Apakah diimplemetasikan? Ya Apakah perubahan sangat menguntungkan dan secara teknis sangat baik? Ya Tidak I Tidak II III IV Dikatakan bahwa perubahan pendidikan pada tahun 1960-an dan reformasi berbasis kompetensi 1980an yang mencoba µto legislate learning¶ adalah tipe IV. (12) Orang Tua dan Komunitas. (4) Sebab dan Proses Inisiasi. Adapun judul-judul keenambelas bab tersebut adalah: (1) Tujuan dan Sistematika Buku. dan Stiegelbauer. Suzanne Tahun : 1991 edisi kedua Penerbit: Teacher College Press. Judul ketiga bagian tersebut adalah (I) Memahami Perubahan Pendidikan. yaitu: perubahan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas aktivitas yang dilakukan sekarang tanpa µmengubah fitur organisasional dasar. (8) Kepala Sekolah. Selanjutnya. (5) Sebab/Proses Implementasi dan Kontinuasi. 1970). Bab 1 membahas tujuan dan sistematika buku.Y Buku ini membahas tentang makna (baru) perubahan pendidikan dalam tiga bagian dan enam belas bab. Berikut adalah substansi tiap bab dimaksud. tanpa mengubah secara . (3) Makna Perubahan Pendidikan. Bab 2 menyajikan tiga sumber perubahan pendidikan yaitu: (a) bencana alam. Michael G. Melaksanakan dan Menangani Perubahan. Perubahan pendidikan menyentuh hanya perubahan tingkat pertama. (9) Siswa. (10) Administratur Distrik. (2) Sumber-Sumber Perubahan Pendidikan. (6) Merencanakan. dicatat opportunisme dalam perubahan pendidikan µsebagai ´ara murah´ untuk menyelesaikan tekanan birokratis atau politis«agar distrik nampak up-to-date dan progresif di mata masyarakat atau untuk ³melakukan sesuatu´ untuk suatu kelompok tertentu¶ (Berman dan McLaughlin. Inovasi gagal menyentuh hal pokok yang dituju perubahan pendidik-an: µBuat apa pendidikan sebenarnya? Manusia dan masyarakat seperti apa yang diinginkan? Metode dan organisasi kelas serta bahan ajar apa yang diperlukan? Pengetahuan mana yang paling berharga? (Silberman. (11) Konsultan. 1978). (II) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Lokal dan (III) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Regional dan Nasional. Atau. (13) Pemerintah. 1978). N. Tipologi perubahan pendidikan disajikan dalam gambar berikut.Judul Buku: The New Meaning of Education Change Penulis: Fullan. inovasi masih dilihat sebagai alat sekelompok orang untuk mengontrol kehidupan orang lain dan anak-anaknya menurut konsepsinya sendiri (Whiteside. (b) pengaruh faktor luar dan (c) kontradiksi internal. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan.

[1] (d) pengembangan staf dan asistensi sumber daya.tidak tersentuh: menurut peribahasa Cina. Reformer telah mengasimilasi perubahan «mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun« Jika mereka mengingkari orang lain kesempatan waktu setara. Bab 3 membahas makna perubahan secara umum. Dalam makna objektif dinyatakan tiga komponen program atau kebijakan: (a) materi baru atau revisi. (f) tekanan. (d) advokasi guru. (e) monitoring/pemecahan masalah > dan (f) restrukturisasi. 1982). misal. struktur dan peran baru diubah menjadi. ada empat tilikan tidak predictable yang ternyata penting dalam proses implementasi: (a) inisiasi dan partisipasi aktif. tekanan multidimensionalitas dan simultanitas. (e) agen perubah eksternal. (b) perencanaan evolusioner. mereka pada dasarnya memperlakukan orang lain seperti boneka yang dapat diatur sesuai kehendaknya (Marris. subjektif dan objektif serta implikasinya. Crandall et. (h) orientasi birokratis dan pemecahan masalah.). (b) pendekatan pembelajaran dan (c) kepercayaan (misal. Mereka harus percaya inovasi akan berhasil dan berguna. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inisiasi adalah (a) keberada-an dan kualitas inovasi. 1983. Dalam makna subjektif ditemukan. Model perubahan mempunyai empat komponen (a) inisiasi.substantif cara siswa dan pendidikan menjalankan peran mereka¶ (Cuban 1988). meski hasil segera tidak terlihat (House. komunitas. konsiderasi dalam perencanaan untuk adopsi paling baik jika mengkombinasikan 3R: (a) Relevansi: dilihat dari praktikalitas dan kebutuhan. tapi supnya tetap sama¶ (ibid. (c) kontinuasi. kejelasan. mobilisasi atau adopsi. diantaranya. berorientasi pada kultur kerja kolaboratif. Tentang implikasi perubahan pendidikan dikatakan ada enam aspek yang dapat diamati (a) the soundness dari perubahan yang diusulkan. starting small and thinking big. rutinisasi atau institusionalisasi dan (d) outcome. (b) implementasi (biasanya 2-3 tahun pertama sejak adopsi).. (c) advokasi dari atas(an). Inovasi adalah acts of faith. Dalam makna secara umum ditemukan bahwa µtiap upaya untuk pre-empt konflik. (b) tekanan dan dukungan. 1975). Bab 4 mencatat bahwa tekanan untuk perubahan menurun saat adopsi yang diikuti dengan implementasi (Berman dan mcLaughlin. Perubahan tingkat kedua ±dimana cara fundamental seperti tujuan. inkorporasi. (2) Karakteristik atau peranan lokal: distrik. 1974).000 pertemuan per tahunnya. (d) realitas status-quo. argumen atau protes dengan perencanaan rasional« seberapa rasionalnya pun « tetap harus memberi waktu untuk impuls penolakan. adaptasi kondisi selalu berubah atau unpredictability dan tekanan untuk terlibat dengan siswa¶ (Huberman. sekitar 200. kompleksitas dan kualitas/praktikalitas. kepala sekolah. negara bagian atau federal. bias untuk tindakan dan belajar sambil bekerja. (c) petunjuk untuk memahami hakekat dan feasibilitas suatu perubahan. (c) pengambilan inisiatif dan pemberdayaan. dan (3) faktor eksternal: pemerintah dan agensi lainnya. (b) memahami kegagalan perubahan yang direncanakan dengan baik. (b) Readiness: tergantung pada kapasitas dan kebutuhan dan (c) Resources/ketersediaan dukungan. (g) sumber dana: lokal. Akhirnya. Dalam Bab 6 disajikan alasan mengapa perencanaan perubahan gagal: asumsi dan cara berpikir keliru tentang perubahan. µmelompat¶ dari rencana pribadi ke . Selanjutnya. (c) pe rubahan perilaku dan kepercayaan dan (d) masalah kepemilikan perubahan pendidikan. µbahan berubah. (b) akses pada informasi. asumsi dan teori yang melandasi suatu program atau kebijakan). 1979). al. (e) kedalaman perubahan dan (e) pertanyaan tentang penilaian. dukungan atau apati masyarakat. Bab 5 menyajikan tiga kategori faktor dalam proses implementasi (1) karakteristik proyek inovasi atau perubahan: kebutuhan. tekanan kelas bagi guru µtekanan segera dan kongkrit.Tema-tema dalam proses implementasi adalah (a) membangun visi. guru.

yaitu bagian yang membahas perubahan pendidikan pada tingkat lokal. Kiat lain ialah (a) µsedikit kekaburan mungkin esensial agar kebijakan dapat diterima«mungkin lebih efektif dalam waktu pen dek untuk berkonsentrasi pada legislasi baru¶. (Bab 9) Siswa. . (Bab 10) Administratur Distrik. 1971). 1984. Kanada. satu dari lima guru memi-kirkan untuk tidak jadi guru lagi dan satu dari lima guru laki-laki SL mempertimbangkan untuk tidak jadi guru lagi. (1989) menemukan bahwa 71% guru wanita dan 64% guru lakilaki di SD menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. guru disalahkan. h. 56% guru wanita dan 37% guru laki-laki di SL menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. guru dilupakan. sementara itu. Model sekolah yang µideal¶ adalah sebagai berikut. 122). Dalam tiga dari empat kelompok guru tersebut. 1971) dan jika program berhasil. Sebagai indikator kualitas. mendominasi kepala sekolah (Cuban. 59% diantaranya diinterupsi.masuk ke dalam bagian II. 1973). (c) transfer informasi sesama guru cenderung personal. 1990. Alasan lain mengapa perencanaan gagal ialah menangani masalah tidak terpecahkan. 1981).implementasi publik (Lighthall. h. dan 17% berkaitan dengan pengajaran (Martin dan Willower. 84% diantaranya berlangsung antara 1-4 menit. 123). karena beda nilai yang dianut dan kesempurnaan teknis serta tidak memperhitungkan faktor yang berpengaruh. Bab 7 sampai dengan Bab 12 -[(bab 7) Guru. 1988: 84). 1982. tapi jika gagal. 1990). h. Bab 7 membahas kenyataan bahwa perubahan pendidikan tergantung pada yang dilakukan dan dipikirkan guru: persoalannya sesederhana dan sekompleks itu (Sarason. Beberapa kesulitan guru adalah (a) beban kerja multi-dimensi (Sarason. bukan profesional (House dan Lapan. Niat baik dan gagasan baik adalah perlu tapi tidak cukup untuk tindakan yang konsisten (Sarason. bukan kepemimpinan pembelajaran. Suatu faktor efektivitas kelas dan sekolah adalah kualitas guru. Untuk sukses menurut harry Truman dan Pierre Trudeau µwe need more one-armed economist«[when frus-trated by the advice] on the one hand « on the other hand¶. Rees dkk. h 141). Studi pada periode 1910 sampai 1980-an menunjukkan µmeskipun gaya kepemimpinan beda. 1971) dan fallacy rasionalisme: dunia social ingin diubah dengan argumen rasional. (Bab 12) Orang Tua dan Komunitas]. 126). (Bab Kepala Sekolah. 1978. operasi dan relasi distrik (34% vs 39%) dan perbaikan program instruksional (41% vs 27%). peran manajerial. Bab 8 mencatat beberapa hal tentang kepala sekolah sebagai berikut: y y jumlah tugas kepala sekolah lanjutan sebanyak rata-rata 149 tugas per hari. (b) lebih peduli pada identitas diri bukan pada kebersamaan dalam suatu komunitas« tidak dilibatkan dalam persoalan yang menyangkut sekolah umumnya (Goodlad. dan (b) menggunakan pendekatan developmental: mulai dari hal yang paling mungkin terus berkembang ke hal-hal lain (Sarason. dari sampel guru di Ontario. kekuasaan legal atau organisasional diandalkan sebagai motor perubahan (Sarason. Smith dan Andrews (1989) mendukung temuan Louis dan Miles (1990): tidak ada dikotomi waktu untuk manajerial. dan (d) perlu keluar dari µtugas¶ tradisional untuk menyatakan kepemimpinannya (Barth. (Bab 11) Konsultan.

1984). masing-masing 19%. µ mengapa dalam suatu masyarakat demokratis. 42. peserta didik cenderung mengalami resistensi. 16% dan 13% menyatakan mereka ditanya bagaimana atau materi yang harus diajarkan dan masing-masing 29%. rata-rata dan lemah masing-masing sebanyak 90%. 1986-87. (c) komunikator dan (d) µhanya untuk penampilan¶. Review Goldhammer (1977) dari 1954 sampai 1974 menunjukkan pergeseran peran superintenden dari juru bicara dan manajer eksekutif sistem sekolah homogen ke situasi di mana negosiasi dan manajemen konflik berbagai kelompok kepentingan.1982 dan 1986). 1988).. 1989. Bab 10 menyajikan karakteristik superintenden yang jumlahnya sekitar 95% laki-laki dan yang menangani sistem sekolah yang siswanya bervariasi dari 100 sampai 200. kontak riil pertama seorang individu dengan suatu lembaga formal bersifat sangat anti-demokratis¶. (b) keterkaitan dengan lingkungan sekitarnya. diikuti oleh kepala sekolah gaya manajerial dan kepala sekolah gaya perespon (Hall & Hord.18% dan 11% (Ontario. 23% dan 36. 47 % (studi 44 sekolah besar tahun 1972. Rating positif dari guru terhadap pemimpin kuat. µselama ini mereka memperlakukan kita seperti bayi. Kurang dari 10% kepala sekolah yang termasuk ke dalam µpemecahmasalah sistematik¶ (level tertinggi dari empat level efektivitas) (Leithwood dan Montgomery. Komitmen guru dan siswa juga dapat dipe -roleh dari inovasi baru-baru ini tentang pembelajaran kooperatif yang pada prakteknya adalah mengurangi metode ceramah sebanyak 20% (dari 48% menjadi 28% dari total waktu pembelajaran). siswa SD. sekarang mereka mencoba memperlakukan kita seperti seorang dewasa¶. 1989). 1990).76 dengan kesuksesan seluruhnya.dkk. Studi pada 137 kepala dan wakil kepala sekolah menunjukkan selama 5 tahun terakhir tuntutan tugas makin tinggi sementara keyakinan akan efektivitasnya makin menurun (Educon. 14. konsultasi dan penguatan (24%). sekolah dengan gaya inisiator paling sukses. 1989.. 33% dan 25% berpikir gurunya tidak memahami mereka. Firestone dan Rosenblum (1988) merinci lima faktor yang mempengaruhi komitmen guru dan siswa: (a) kebermaknaan program. Studi Duignan (1979) pada delapan superintenden di Alberta menemukan bahwa µtiap hari superin-tenden terlibat dalam rata-rata 26 diskusi yang .y y y y Studi Interaksi Kepala Sekolah-Guru (PTI) menunjukkan selama periode 3 tahun ada 1855 intervensi pada kepala sekolah yang berkenaan dengan masalah organisasi (36%). SMP dan SMA masing-masing 41%.000 siswa dan masa kerja rata-rata 3 tahun (di Amerika) dan 6-7 tahun di Kanada. monitoring dan evaluasi (22%). 1987). menunjukkan kepala sekolah terlibat dalam empat interaksi strategis dengan guru: (a) penyedia sumber daya. Dari sampel sebesar 3593 siswa. 19% dan 4% (Wisconsin. (d) ekspektasi guru dan siswa dan (e) rasa hormat dan perhatian guru dan siswa. Studi pada 2500 guru dan 1200 kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai fasilitator perubahan berkorelasi 0. Bab 9 diawali dengan pertanyaan Bowles dan Gintis (1976). Mertz. (c) kejelasan aturan dan peran guru dan siswa. 1988). pelatihan dan infor-masi (7%) dan lain-lain (11%). 1986). (b) sumber daya pembelajaran. Schneider. Schneider. 25% dan 8% (statistik nasional. Kalau pun program semacam itu ada. 26% dan 50% menyatakan kelas membosankan .. Ketika orang memikirkan perubahan pendidikan mereka memikirkan dampak perubahan tersebut pada peserta didik dari sudut pandang keterampilan. mereka jarang berpikir tentang bagaimana melibatkan mereka dalam kehidupan organisasi (termasuk organisasi sekolah). 52% dan 33% (Smith dan Andrews. 5. sikap dan pekerjaannya di masa yang akan datang. Porporsi kepala sekolah wanita di SD maupun di SL cenderung rendah: 20-50% dan 5-20% (Marshall dkk. Marshall dkk. 1989).

sederhana dan to the point. Evaluasi SDC (System De-velopment Corporation) atas 869 sekolah di 369 distrik menetapkan 34 sekolah dengan orang tua siswa asisten bayaran dan 17 sekolah dengan orang tua sebagai tutor dirumah. 1981). Atas studi pada lima sekolah (dua diantaranya dikategorikan berhasil). Louis (1989) menyusun diagram karaktersitik hubungan distrik dan sekolah sebagai berikut: Hubungan Distrik-Sekolah Fokus pada interaksi dan komunikasi. (1988.. kurikulum. kurang dari 7% dengan guru dan kurang dari 1% dengan siswa. (d) perhatian pada stakeholder. (b) tutor/ pembimbing di rumah. pengaruh dan koordinasi bersama dan beberapa kesamaan tujuan Fokus pada aturan dan regulasi Tinggi Rendah Konflik. agen perubahan. Namun. Studi Fullan dkk. interferensi. Gold dan Miles. dst. yang boleh jadi adalah konsultan distrik. terbatas dalamwaktu isolasi distrik-sekolah pendek. secara esensil «lewat konsensus pada tidak mengupayakan semua level. Studi LaRoque dan Coleman (1989a: 169) menyusun hipotesis etos distrik positif yang ditandai dengan enam fokus (a) pembelajaran. (c) perubahan. pengalaman kepelatihan. informal dan Manajemen bersama laissez-faire. networking dengan tim konsultan dan mengkoordinasikan dukungan atasan adalah kunci konsultan berpengalaman¶.merupakan 70% waktu kerjanya. (e) komitmen bersama dan (f) dukungan komunitas. keahlian kependidikan. Miles dkk. maka orang tua dan komunitas lebih sulit lagi memahaminya. makin orang tua siswa terlibat makin baik pencapaian belajar siswa (cf. 188) menyarankan seleksi konsultan didasarkan pada latar belakang pendidikan (broad based). kependidikan dan organisasi sebelumnya. Survey Becker (1981) terhadap 3700 guru SD dan 600 kepala sekolah menunjukkan se-dikitnya keterlibatan orang . Berhasil untuk tujuan tapi sanksi jarang diterapkan. (c) komunikator dan (d) dewan penasihat. guru. Menurut Epstein dan Dauber (1988) peran yang mungkin diperankan orang tua siswa adalah (a) sukarelawan. pengembangan organisasi. dst. asisten. 70% dari diskusi tersebut dilakukan dengan trusti sekolah. serta berpikir reflektif (bukan parsial) dan generalis (bukan spesialis). (1987) tentang 200 pejabat supervisi di 26 distrik sekolah (se-perempat jumlah di seluruh provinsi) menemukan mereka menekankan sistem (bukan sekolah). agen penghubung. program. jika guru dan ad-ministatur pendidikan yang terlibat masalah pendidikan 40-60 jam per minggunya sulit memahami perubahan pendidikan. guru hli dan adang-kadang wakil kepala sekolah) terlibat dalam interaksi lebih kompleks. padahal secara umum. direktur proyek. Bab 12 diawali dengan pernyataan implisit bahwa sekolah itu sebenarnya milik orang tua siswa dan komunitasnya (cf. Mortimore dkk. Studi Ross dan Reagan (1990) tentang dua be-las konsultan kurikulum distrikdi dua sekolah menyimpulkan bahwa µ perencanaan sistem. serta inisiatif dan energi. pejabat pusat dan administratur sekolah. dibanding kepala sekolah yang berinterkasi dengan cepat. Hall dan Hord (1984) menemukan bahwa CF (change facilitator. 1988). resistansi dan kegagalan. perubahan komprehensif Tinggi Rendah Bab 11 merangkum ke dalam istilah konsultan sejumlah pekerjaan/peran sebagai berikut: ahli materi. (b) akuntabiltas. Federasi longgar. Sering mengacu pada aturan. mudah menjalin hubungan interpersonal.

multi-faceted. NIE direorga-nisasi menjadi OERI (the Office of Educational Research and Improvement). Studi Schaffarzick (Boyd. pemerintah (bukan hanya menteri pendidikan) melaksanakan reformasi komprehensif dan fundamen-tal. Dalam bab 14 dicatat bahwa µmembantu orang lain berubah tanpa kita menyadari-nya sendiri sama halnya dengan penyajian produk atau pelayanan yang tidak atau sedikit signifikansinya untuk pertumbuhan intelektual kita¶ (Sarason.6% dan 17. Survey Kanada tahun 1979 pada 2000 orang tua siswa menunjukkan 63. tapi tetap masih signifikan misalnya lewat µsemboyan¶ A Nation at Risk dan (b) ±seperti ditekankan Elmore dan McLaughlin (1988). Di Kanada. rekomendasi hanya 4%-nya dan (c) orang tua sebagai inisiator topik diskusi di SD dan SL masing-masing adalah 27. Title IV. Pengembangan guru adalah belajar berkelanjutan dan tidak terpisahkan dari perkembangan sekolah dan dengan demikian lebih baik dari sekedar inovasi-inovasi yang berkesan tidak berkelanjut-an selain sama-sama memerlukan biaya. pedoman untuk pemerintah dalam melaksanakan perubahan pendidikan adalah (a) agar memperbaiki kapasitas age nsi untuk meng-implementasikan perubahan. (d) staf diberi kesempatan mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya selain memfasilitasi implementasi. Follow Through. ekspektasi dan kebutuhannya. Emergency School Aid Act.4% diantaranya tidak bersedia menjadi anggota komite penaihat rumah-sekolah. (b) menjelaskan dan bekerja sama dengan agensi lokal tentang makna. Sementara itu. Bureau of Education Handicapped dan Vocational Education dan (b) Riset. Development dan Diseminiasi (RDD) dilembagakan pada periode 1972-1985 dengan pendirian the National Institute of Education (NIE). Akhirnya. Menurut Hollingsworth (1989) setidaknya ada tiga basis pengetahuan yang diperlukan agar guru efektif (a) materi ±isi dan cara pembelajarannya. saling terkait. Studi Lucas. di Kanada keberadaan federal dalam dunia pendidikan diakui µsepanjang tidak ada seorang pun menamakannya kebijakan pendidikan dan sepanjang tidak ada tun-tutan eksplisit sebagai imbalan atas uang dari Ottawa tersebut¶. praktek dan organisasi pembelajaran serta pola dan pengalaman belajar peserta didik dan (f) menerapkan strategi komprehensif. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan ± masuk ke dalam bagian III. (e) menekankan pada perubahan mendasar profesi guru. dkk. Terdapat 1400-an lembaga pendidikan guru di Amerika dan 50-an fakultas pendidikan di Kanada yang didalam-nya ditemukan banyak mata kuliah yang tujuannya µkompleks dan tidak jelas¶. 12 prinsip kurikulum. yaitu bagian yang membahas tentang perubahan pendidikan pada tingkat regional dan nasional. Keterlibatan pemerintah federal di Amerika ada dua jalur (a) Beberapa program yang disponsori pemerintah fe-deral sejak 1965: Title I. 1978: 613) tentang 34 distrik di San Fransisco menunjukkan 62% keputusan kurikulum tidak melibatkan komunitas.9%. Bab 13 sampai dengan bab 16 -(13) Pemerintah. 1972). (14) Persiapan Profesional Guru. Sebagai contoh British Columbia merencanakan Year 2000: A Curriculum and Assessment Framework for the Future yang mengatur ulang sistem pendidikan dengan 3 prinsip pembelajar dan peserta didik. jangka pendek-menengah dan panjang secara persisten (serta tidak meminta perubahan segera dan total dalam waktu singkat). Tahun 1985. (b) diskusi sifatnya informasi. Basic Skills. ketidak-puasan pada sistem pendidikan dan lambatnya perubahan pendidikan. 5 prinsip asesmen dan evaluasi serta 3 prinsip pelaporan.ketidak-selarasan waktu perumusan kebijakan yang tergantung pada µelectoral time¶ dan implementasi kebijakan yang tergantung pada µadministrative or practice time¶.tua siswa. sementara guru/admi-nistrator sebagai inisiator masing-masing adalah 67.waktu dan tenaga besar. (c) fleksibel dalam implementasi. Title VII.2% dan 78%. (1978-79) tentang content analysis notulen komite dari sepuluh SD dan lima SL menunjukkan (a) isu pedagogi jarang dibicarakan. (b) manajemen umum dan pedagogi instruksional dan (c) ekologi kelas ± . Bab 13 membahas (a) peran pemerintah federal Amerika dalam dunia pendidikan yang makin menurun.

disajikan empat contoh kasus pengembangan profesional yang berhasil. Akhirnya. (b2) perubahan yang dilaksanakan dengan proses komunikasi. yaitu mentoring. dst. isi dan materi baku. Diantaranya untuk memberi bekal lebih dan menangani tingkat alih profesi guru ke pekerjaan lain (30% dalam dua tahun pertama. indoktrinasi dari atas. yaitu suatu program seksama untuk mendukung guru baru. resistensi kolektif. 4050% dalam tujuh tahun pertama dibanding dengan 6% secara keseluruhan). disajikan saran pengembangan profesional: (a) fakultas pendidikan dan sekolah sebaiknya menggunakan tiga strategi saling terkait ±penggantian staf.. kontrol dan kesibukan peserta didik« [bahwa] tidak ada justifikasi pada tilikan ³pengalaman praktis itu perlu´ «[maka harap diingat bahwa kata Dewey] keliru mengasumsikan tiap pengalaman mempunyai nilai instrinsik selain mampu untuk membangkitkan kualitas respon tertentu dari seseorang¶ (Tabachnick. sumber daya. dan (a2) mulai dari lingkungan terdekat. fakultas pendidikan kehilangan baik respektabilitas universitas mau pun efektivitas di lapangan. dst. sejak dua dekade lalu digulirkan program induksi. Akibatnya. berhadapan dengan pihak penerima perubahan dengan pintu lebih tertutup lagi. z. 1979-80). Sebagian besar pembahasan pada bab 15 masih tentang guru. Keenam karakteristik tersebut adalah: y y pergeseran dari politik negatif berupa resistensi dari bawah. Kenyataannya. kecuali dengan alasan µkarena kita sedang mengerjakan y. inovasi program dan produksi pengetahuan. Pengembangan profesional guru tergantung pada motivasi dan kesempatan (dalam arti ketersediaan program dan pengorganisasian secara struktural dan normatif yang memungkinkan berlang-sungnya pengembangan profesional). (b3) membangun . alternatif pengembangan profesionalisme lainnya adalah sertifikasi alternatif. dkk. Induksi pada giliran-nya memunculkan kesempatan pengembangan profesionalisme baru.yaitu sertifikasi yang diberikan oleh praktisi dan mempunyai kecenderungan standarnya dise-suaikan dengan kebutuhan employer (pihak yang memperkerjakan guru). program induksi dan mentoring menghadapi kendala biaya yang mahal. legislasi. yaitu bab 16 disajikan enam karakteristik perubahan pendidikan di masa depan diantaranya sebagai koreksi/alternatif atas model rasional di mana pihak otoritas perubahan meningkatkan advokasi.lebih disibukkan oleh (a) pendidikan yang sifatnya individualistik padahal kenyataan di lapangan memerlukan bukan hanya pendidikan yang invidualistik dan (b) oleh µstruktur hari sekolah. dst. Akhirnya. pergeseran dari solusi monolitik/seragam ke solusi-solusi alternatif/ variatif yang bercirikan (b1) sekolah sebagai pusat pembaharuan berkelanjutan. keluar dari dunia pendidikan. kurikulum.pengetahuan tentang bagaimana peserta didik belajar. negosiasi dan kolaborasi. Pertama disajikan beberapa alasan mengapa pengembangan profesional guru tidak berhasil. Selanjutnya. berkoordinasi dan terintegrasi pengembangannya dan (c) semua pengembangan profesional arus memenuhi dua syarat (c1) mengarah ke atribut pengembangan profesional yang berhasil pada sebanyak-banyak aktivitas yang dapat dilaksanakan dan (c2) tujuan akhir pengembangan profesional tidak semata pada mengimplementasikan inovasi tapi untuk menciptakan kebiasaan dan struktur individual dan organisasional yang membuat belajar berkelanjutan bagian berharga dan endemic dari kultur sekolah dan pembelajaran. dst. pada bab terakhir. isolasionisme. serta tekanan pada ketertiban. calon guru yang umumnya menganggap transisi menjadi guru pengalaman besar ±atau bahkan traumatik.¶. akuntabilitas. Akhirnya setelah pengembangan profesionalisme administatur dan konsultan disinggung. bagaimana mendiagnosa dan mengevaluasi proses dan outcome belajar. Namun. menjadi politik positif: (a1) fokus pada prioritas: µkita tidak dapat melaksanakan x¶ tidak dapat diterima lagi. (b) semua staf di lembaga dan pada level mana saja harus belajar.

sementara pengembangan kelembagaan berfokus pada peningkatan kinerja dan kapasitas kerja lembaga. pergeseran dari model rasional µif«then«¶ atau.Y. Bandung Program Pasca Sarjana. 2nd. Michael G. suatu inovasi sering ditujukan untuk menyelesaikan suatu masalah (µmemadamkan kebakaran¶) atau sekedar fashion saja. mengharapkan hasil vs. Suzanne (1991). Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. merasa puas. start small vs. sabar dan persisten. Teacher College Press. jika gagal µif«only «¶ ke µif I «¶ dan/atau µIf we «¶. dukungan. mengalami ketidak -pastian vs. pemberdayaan. (3) keterlibatan semua orang. thing big. The New Meaning of Education Change. dan Stiegelbauer.). N. peningkatan apresiasi pada dilemma-dilema pembaharuan: visi jelas vs. (2) visibilitas pengukuran.keunikan.2004. pergeseran dari inovasi ke pengembangan kelembagaan. bottom up.y y y y kapasitas sekolah untuk mampu terus berubah dan (b4) mengurangi atau bahkan meniadakan ketergantungan pada solusi yang ditawarkan pihak lain. pergeseran dari pengembangan profesional individual ke pengembangan profesional interaktif/ aliansi di mana ditekankan akses dan perhatian pada gagasan dan praktek rekan kerja/ lembaga lain. (b) saling cerita bagaimana orang lain pada berbagai level bereaksi pada situasi baru yang konsisten dengan visi dan penghargaan untuk pekerjaan yang baik. =========================== Diambil dari: Dodi Sukmayadi. pola umum vs. (5) mengukur hal penting dan (6) pencapaian rasa urgensi dan perbaikan terus-menerus yang menyeluruh. pikiran terbuka. top-down vs. tekanan vs.Universitas Pendidikan Indonesia Image Perubahan Pendidikan (The Images of Educational Change) Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT . (4) pengumpulan data primer yang tidak distortif. Fullan. inisiatif vs. Sementara itu. sistem paling baik untuk memastikan pilihan terbaik adalah (a) visi jelas. [1] Peters (1987) menyatakan bahwa organisasi berhasil µmengukur hal yang penting¶ karena dilakukan dengan cara (1) kesederhanaan presentasi.

Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber. kecuali bagian keempat yang berisi empat tulisan. komunitas. (2) Bagaimana Pendidikan Tidak Ditangani Lembaga Mana pun. Rusaknya peran lembaga-lembaga tradisional tersebut juga merusak basis dukungan . Penyusunan Kebijakan Pendidikan dan Peranan Negara.. 1991). Kebijakan µpemasaran¶ secara agresif makin meminta peran penting. Semua ada harganya. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker. Lawrence Ingvarson. Pasar merusak peran lembaga tradisional ±keluarga. (12) Ahli Masa Depan?. Masing-masing bagian terdiri atas tiga tulisan. Bridget Somekh. tenaga kerja dan semua faktor produksi menjadi komoditas untuk diperjual-belikan dan tergantung pada pasar. The Images of Educational Change. J. Perubahan Sekolah dan Networking Strategis. Marie Brennan dan Susan Noffke. (7) Perubahan Kultur Sekolah. dan (13) Kontrol Guru dan Reformasi Pengembangan Profesionalitas. (11) Studi Kasus dan Catatan Kasus: Suatu Percakapan tantang Proyek Hathaway. Open University Press. John (2000). kebijakan pendidikan dirumuskan dari sudut pandang kebutuhan sekolah menciptakan dan merespon µpasar¶. (III) Konseptualisasi Proses Perubahan Sekolah dan (IV) Menyiapkan Guru untuk Terlibat dalam Perubahan Pendidikan. penyajian tulisan dibagi menjadi empat bagian dan diakhiri dengan overview yang berjudul Menuju Visi Sinoptik Perubahan Pendidikan di Negera Maju ditulis oleh John Elliot. Peter Posch. (9) Perubahan Konsepsi Kaji Tindak. 1987). (c) pendidikan yang lebih baik menuntun pada kemampuan teknologi dan pekerjaan yang lebih baik dan (d) pemikiran ekonomi melanda dunia pendidikan. Adapun judul-judul dan penulis dari ketiga belas tulisan tersebut adalah: (1) Perubahan Ekonomi. (8) Beberapa Unsur Teori Mikro-Politik Perkembangan Sekolah. Tanah. Gagasan muncul dari elit di ibu kota yang didanai oleh sumber sumber non pendidikan (Ricci. Christine O¶Hanlon. µnilai itu dilihat dari harganya¶ (Gilpin. Bahan Ajar dan Guru. (b) tujuan kebijakan pendidikan tertentu menuntut sekolah lebih efisien dan lebih produktif. Berikut adalah substansi tiap tulisan dimaksud.Buku Altrichter. Buckingham merupakan kumpulan tulisan. Judul-judul keempat bagian tersebut adalah (I) Perubahan Pendidikan dan Penyusunan Kebijakan.(6) Perubahan Sosial. House. Setelah dibuka dengan Pengantar oleh Herbert Altrichter. Herbert dan Elliott. (10) Pendidikan Reflektif dan Kultur Sekolah: Sosialisasi Calon Guru. Ed. misalnya.(4) Komunitas. Barry MacDonald. Levin.(5) Individu dan Perubahan Sosial: Perubahan Pola Komunitas dan Tantangan Sekolah. House dalam bab 1 mengidentifikasi empat aspek ekonomi yang mempengaruhi kebijakan pendidikan. Keempat hal tersebut adalah (a) ekonomi mempengaruhi besar anggaran pendidikan dan menimbulkan konsekuensi sosial.(3) Mengembangkan Keadaan Muram: Perkembangan Personal dan Sosial Siswa dan Proses Sekolah. (II) Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Pendidikan. Christine Finnan dan Henry M. 1993). lembaga agama. John Schostak. Myron Atkin. Semua periset nampak seperti µtentara sewaan¶ dan semua think tanks nampak menggunakan semua sumber daya institusionalnya untuk mengajukan pandangannya (Smith. Ernest R. Angel Perez Gomez. seperti ketidakmerataan µkue ekonomi¶ yang memberi sekolah masalah.

kebijakan pemerintah sering counter-produktif. kebijakan sering tidak dirumuskan sesuai dengan bagaimana lembaga pendidikan berfungsi dalam prakteknya. belajar yang lebih didasarkan pada inkuiri dan pendekatan child-centered. yaitu tidak menghasilan pendidikan atau produktivitas lebih baik. sosial dan semua yang kondusif untuk pendidikan kewarganegaraan atau politik dimarjinalisasi. kurikulum nasional diberlakukan dan disupervisi oleh pejabat pusat yangtidak berpengalaman dan/atau tidak kompeten. Solusi-solusi manajerial untuk mencapai target nasional dan berkurangnya peran pemerintah lokal menyebabkan terlihatnya kelemahan kurikulum nasional. Studi psikoanalisis. antara ekonomi dan negara (Heilbroner. antisipasiyang mungkin dari D . yaitu sulitnya merekrut guru. pemerintah jatuh-bangun dilihat dari kemampuannya meningkatkan kesejahteraan warga negaranya dan dengan demikian pemerintah makin tergantung pada pebisnis. MacDonald dalam bab 2 menyatakan bahwa pendidikan masal yang umurnya sekitar seabad nampak tidak berperan mengubah gap kaya-miskin di Inggris yang sekarang ditandai dengan peran demokrasi sebagai alat mempertahankan kekuasaan. John Schostak dalam bab 3 menyatakan bahwa sejarah tahun 1980-an dan 1990-an merupakan reaksi pada tahun 1960-an dan 1970-an dengan Amerika dan Inggris masuk ke neo-konservatisme yang menuntut µback to basics¶ dan nilai-nilai keluarga serta menolak pendidikan dan politik trendi dan progresif dengan tekanan pada efisiensi sekolah. hanya µsentralisasi¶ berada pada level negara bagian. Semua hal tersebut disiapkan untuk menaikkan usia anak meninggalkan sekolah (sampai usia 16 tahun pada tahun 1972). Tahun 1987-88. (c) solusi radikal/ revolusioner/ subversif: membuat diskursus alternatif. yang menurut Small (1907) ±pengagum Adam Smith. Kurikulum sekolah dasar dikonsentrasikan secara sempit pada keterampilan dasar dan akuntabilitas penyampaiannya diuji dengan tes. Akhir tahun 1980-an.selalu menuntun pada resistensi. Dalam rangka mencari kepercayaan atau kepatuhan total. integrasi tematik disiplin ilmu di sekitar isu kemanusiaan. kurikulum adalah manifestasi dari bagaimana pengalaman subjektif orangorang lain dikemas dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. feminisme dan studi kultural menunjukkan bahwa proses rekayasa individu ±atas dasar efisiensi misalnya. sehingga dalam masyarakat timbul polarisasi individu/kelompok dominan (D) dan individu/kelompok yang didominasi atau disebut Orang lain (O). kurikulum adalah suatu proses yang memunculkan subjektivitas kultural. Pada saat sama. (e) solusi µhidup tenang¶: kamuflase yang menuntun pada apati bukan pada perubahan sosial yang riil. Meskipun banyak contoh reformasi yang berhasil. µisu politik sentral dalam kapitalisme« [adalah] hubungan antar bisnis dan pemerintah atau dari perspektif lebih jauh. (b) solusi hermeneutik: berusaha memahami D. atau dengan kata lain. Akibatnya diperlukan kurikulum dan pedagogi (terutama sekolah menengah) yang lebih relevan dengan kehidupan dan pada gilirannya sekolah perlu melakukan interpretasi lebih liberal tentang subject matter. 1993). Dalam keadaan tersebut. (f) solusi penolakan tersembunyi/ gerakan bawah tanah dan (g) solusi penolakan terbuka/ gerilya /perang terbuka. sementara itu dalam kurikulum sekolah menengah masalah personal.makin terpisah dari filosofi moral. yang melahirkan prinsip µeverything counts and nothing matters¶. Benang merah yang mendasari kondisi konservatif adalah ekonomi. kelemahan diatasi dengan pensiun awal. penolakan siswa recalcitrant dan teralienasi. Akhir tahun 90-an. dari banyak data empiris. Khusus dalam bidang pendidikan. sekolah diberi kebebasan mengelola keuangan sendiri. kondisi konservatif serupa juga terjadi di Amerika. (d) solusi menyerah/ kepatuhan total atau sebagian. Beberapa alternatif yang dapat ditempuh O terhadap D adalah (a) solusi fundamentalis atau kultus: percaya penuh D. dan atas persetujuan orang tua murid dapat melepaskan diri pengaruh pemerintah lokal.tradisional dari pemerintah. sehingga timbul masalah baru. makin seperti µtata bahasa tanpa bahasa¶.

ditambahkan lagi evaluasi partisipatorik (Brown. terbelakang. pembebasan dari ikatan tradisional juga meningkatkan harapan bebas dari interferensi industrial dan admnistratif. Tiga implikasi megatrend tersebut bagi sekolah adalah (a) delegasi keputusan kurikulum pada sekolah. fragmentasi dunia kerja: makin banyak tenaga paruh waktu atau µtenaga portfolio¶ (kontrak kerja dalam waktu tertentu). (b) menggunakan kontak dengan guru lain secara sistematis. (b) keseteraan cost-benefit. (c) berbagai jenis dukungan finansial dan (d) keterlibatan guru dalam kegiatan masyarakat setempat. seperti pendidikan. buta huruf. SIP mengekplorasi penggantian sistem inspeksi kualitas yang sentralistik dengan program partisipasi lokal dalam evaluasi. SIP menekankan pengembangan berlanjut kapasitas berbagai komunitas yang minat dan . pelaksanaan dan evaluatif dan (e) secara emosional menghayati pekerjaan. (c) komunikasi berlanjut. orientasi nilai dan perasaan. Jadi terhadap tiga jenis evaluasi yang dikemukakan macDonald (birokratik. kelompok dan orang dalam komunitas lokal yang harus dikonstruksi oleh sekolah dan (c) kurikulum beragam dan bekerja sama dengan lembaga lain sehingga bermacam kebutuhan peserta didik dapat dilayani (Elliot. Pertama. Dalam mengevaluasi hubungan D dan O ada tiga jenis evaluasi yang tersedia: (a) evaluasi birokratik: menerima nilai pejabat dan memberinya informasi yang membuatnya mencapai yang dicanangkannya. bukan atasan-bawahan. konsumsi. (b) evaluasi otokratik: menyediakan informasi pada lembaga pemerintah yang mengontrol alokasi sumber daya dan (c) evaluasi demokratis: pengaturan informasi sehingga timbul dialog rasional antara D dan O. Networks dinamik beda dengan dan mempunyai kelebihan dari struktur hiearkis. dan (f) pengetahuan tidak diterapkan secara instrumental untuk memecahkan masalah tapi secara holistik dengan melibatkan kognisi. (b) memakai kekuasaan. Marie Brennan dan Susan Noffke dalam bab 5 menyatakan bahwa sekolah di satu sisi dituntut untuk selalu mengikuti perubahan. di sisi lain. dan (d) sekolah makin dituntut memperjelas makna belajar dan hubungannya dengan kehidupan personal dan di masa depan. orang tua. Kutipan dari MacDonald (1996) menutup tulisan Schostak. (b) secara teknis berhadapan dengan alat kerja yang dikontrol program. individualisasi: (a) Di satu sisi. Peter Posch dalam bab 4 mengidentifikasi dua megatrend masyarakat. (d) masalah dan tujuan ditetapkan bersama. Eroupean Round Table Industrialist (1994) menyatakan tuntutan bahwa tenaga kerja (a) secara teoritis memahami hubungan kompleks. namun juga sejarah dalam menciptakan komunitas dan sebagai tempat perjuangan lokal. otokratik dan demokratik). tawaran produk (Beck. (f) dapat terlibat lebih dari satu networks. µlebih penting dari skor sains dan matematika adalah keterlibatan generasi akan datang dalam mempertahankan d emokrasi dan menolong orang lemah: anak-anak. Sekolah juga mempunyai sejarah mereproduksi inekualitas dalam masyarakat (apple.sehingga dapat mengembangkan diri. 1996). Kedua. ancama. (c) secara sosial mampu bekerja sama dalam tim. 1992) dan (b) pergeseran dari etika kewajiban dan tanggungjawab ke etika pengembangan diri. teror. (d) secara organisasional mampu melaksanakan tugastugas organisasi. 1982). (d) memakai diskursus salahkan/ puji diri sendiri. Kondisi yang mendukungnya ialah (a) penekanan pada pelatihan.adalah: (a) memakai diskursus kasih saying: D adalah (sepertinya) untuk kepentingan O. (c) peniadaan hak individu. makin tergantung pada pasar kerja dan cara hidup baku yang mendukungnya. Networks menjadi perhatian dalam tulisan ini. (b) network sosial dengan lembaga. (e) durasi keterlibatan bervariasi. sementara di sisi lain diharapkan menyediakan institusi relatif stabil yang atas dasar identitas dan komunitas dibentuk. Dalam network dinamik (a) terdapat hubungan simetris. orang sakit. 1979). Dua proyek yang diamati tulisan ini adalah (a) SIP (School Improvement Project) 1982-1990 di Victoria Australia dan (b) Proyek Kurikulum Afrika dan Afrika-Amerika (PKAA). tidak punya rumah dan orang yang lapar¶.

schooling). J. Secara formal upaya dimulai tahun 1987. mempunyai nilai estetik karena mengungkap pola dan keteraturan. kultural dan personal. (b) ekspektasi siswa terh adap sekolah: sebagian resisten karena mendapat pengaruh dari masyarakat sekitarnya. ada akhir abad 19 sains adalah untuk melatih pemikiran sejalan dengan populernya psikologi faculty. memahami implikasinya pada masyarakat. (c) guru sains yang mempersepsi dirinya µserba eksak¶ berhadapan dengan penerapan sains ±misalnya menentukan lokasi pembuangan sampah. masa k anakkanak. (b) perlu upaya menangani konflik dengan komunitas yang sebelumnya memang sedang konflik dan (c) bagi mereka yang terlibat dan identitasnya cukup berlainan (misal. Basil Bernstein (1996) yang mendiskusikan demokrasi dan hak pedagogis menyatakan tiga hal perlu ada agar tercipta sekolah demokratis: (a) pemberian kesempatan pada individu. (b) inklusi sosial. intelektual. Image sains pada abad 19 adalah mengagungkan Tuhan dan perlunya patuh pada orang tua. lokal (berdasarkan geografi.yang memerlukan pertimbangan berbagai aspek yang tidak µeksak¶. ada awal abad 20 sains adalah studi tentang alam yang dipersepsi setara alam rural murni dan indah. Lima kepercayaan dan asumsi yang mendasari kultur sekolah adalah (a) Ekspektasi sekolah pada siswa: sekolah miskin menekankan kepatuhan dan disiplin. Dua fitur kultur digunakan tulisan ini ialah (a) kultur berada pada level masyarakat/ kelompok orang (misal Barat. tempat kerja/sekolah. orang Eropa-Amerika dalam PKAA) perlu mengkaji identitas personalnya. Banyak waktu digunakan untuk merumuskan tujuan umum yang menekankan keberagaman kelompok dan komitmen bersama mengubah sistem pendidikan yang rasis menjadi yang fair dan ekuitabel bagi semua orang (1993). sosialisasi professional.. PKAA adalah upaya mengatasi kurikulum Amerika yang umumnya berssifat rasis dan mengatasinya dengan cara melengkapinya dengan sejarah dan peradaban Afrika dan Afrika-Amerika. dst. Levin dalam bab 7 mencatat pendapat Mead bahwa kultur itu seperti ikan yang tidak sadar hidupnya berada di air. susunan organisasi. status. Sekolah diperlakukan sebagai mikro-kosmos dari masyarakat dan sistem sekolah selalu berada dalam posisi mendukung perubahan mendasar dan sistemik. fokus awal diperumit dengan diskusi tentang pendidikan µmulti-kultural¶ yang oleh sebagian partisipan dianggap upaya membelokkan fokus awal. (c) karakteristik sekolah: sekolah miskin . jahat dan penuh dosa. dst. Dari sudut pandang perubahan pendidikan perlu dicatat (a) metodologi kaji tindak yang diimport dari luar pada konteks yang mengakui atau mendukungnya tidak mendukung upaya yang dilakukan. etnis. pada tahun 1920-1930-an sains adalah untuk mengurangi kerja kasar dan mengurangi penyakit dan selepas perang dunia II sains adalah bidang yang harus diwaspadai aplikasinya. (b) guru menghadapi siswa yang bervariasi latar belakangnya dibanding dengan 30 tahun lalu. keterampilan dan perspektif umum guru (yang pada dasarnya adalah tujuan semua perubahan pendidikan). khususnya sains dan implikasinya pada perubahan sosial dan (b) kepercayaan. dan (c) partisipasi (politis) bukan saja dalam hal diskursus tapi juga dalam hal outcome. otoritas. sebagian sukses karena percaya pendidikan jalan ke kesuksesan. Beberapa image kontemporer tentang sains (a) fokus pada sains yang dapat diterapkan dengan segera. agama.) dan personal (untuk memahami dan membentuk interaksi antar orang) dan (b) fitur yang nampak kontradiktif dari kultur yaitu di satu sisi konservatif namun di sisi lain selalu berubah. kontras dengan alam urban yang kotor. Christine Finnan dan Henry M. Tahun 1990-an. Tulisan ini menambahkan dua hal lagi (a) image bahan ajar.dst. Myron Atkin dalam bab 6 mencatat bahwa faktor di luar berpengaruh banyak pada apa yang terjadi di dalam kelas: kondisi kerja. sementara sekolah kaya menekankan berpikir kritis. okupasi.latarbelakangnya beda untuk terus sharing dan mempertanyakan nilai yang diberlakukan di sekolah. Guru memberikan alasan beda mengapa sains penting: untuk persiapan di dunia kerja.

Tahun 1970-an kaji tindak disempurnakan di Impington dan secara luas didukung Education Act tahun 1944. (c) tidak melihat politik semata sebagai pengkhianatan. desentralisasi dan devolusi baik di negara yang dulunya sentralistik (Austria dan negara Eropa lainnya) maupun di negara yang dulunya desentralistik (Inggris. sembari menekankan prinsip kepemilikan dan profesionalisme guru.). Menurut µteori strukturasi rasional-kontinjen. sementara pengembangan organisasi dilaksanakan oleh konstruktor organisasi atas dasar kalkulasi rasional (Turk. bilingual. dst. Doyle dan Ponder (1976) menafsirkan kesulitan yang dialami sekolah dasar ketika tugas pembelajaran makin kompleks dikenalkan sebagai proses negosiasi. (b) pelaku mengejar kepentingannya masing-masing sesuai nilai yang dianutnya. pre-emprif atau menutup-nutupi konflik. 1989).ditandai rendahnya percaya diri guru. menuntun ke praktek yang jelas. Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber dalam bab 8 mengamati dekade lalu ditandai oleh reformasi sekolah yang bertema otonomi sekolah. ekspektasi dan siswa rendah menuntun ke praktek memorisasi dan pengajaran keterampilan dasar. Kontinjen artinya tergantung variabel konteks. dst. cheating. menetapkan prioritas. Kaji tindak dirumuskan dari riset perilaku individu dan kelompok oleh Lewin. (b) pengaruh dari luar organisasi. Organisasi hampir tidak dapat dikonsepsi semata sebagai konglomerasi kekuasaan dan permainan (yang ditandai oleh resiko. konspirasi dan akumulasi pengaruh atau lawan dari kebenaran dan penalaran. Konsensus tidak semata diperoleh lewat negosiasi eksplisit. Kaji tindak adalah model perubahan yang tidak demikian. dan (e) tuntutan perubahan: jika keputusan diambil pada level birokrasi lebih tinggi. meskipun demikian teori (seharusnya) tidak menjelaskan konsensus se bagai suatu bentuk dominasi. sekolah kaya sebaliknya. Wales. Schon. Bridget Somekh dalam bab 9 mengawali tulisannya dengan parabel yang membawa pesan bagaimana seseorang dapat menikmati pendidikan/ pengembangan profesionalisme yang dikatakan bagus tapi kemudian setelah berhasil malah membuatnya menjadi budak orang lain. sistem pengelolaan yang melibatkan semua orang. pendapat pihak luar (orang tua. Tugas makin kompleks menyebabkan siswa tidak nyaman dan µmengancam¶ untuk tidak disiplin dan dengan demikian secara implisit melakukan negosiasi dengan pendidik: tugas lebih sederhana yang dikompensasi dengan disiplin di kelas. pemenangan. dst. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam kultur sekolah adalah sejarah sekolah. pendekatan sistematis pada kaji-tindak dan pemecahan masalah serta tentang pedagogi menyeluruh yang menyatakan semua sumberdaya sekolah dikerahkan untuk menghadapi tantangan proses belajar mengajar. (d) praktek sekolah: misi yang didasarkan filosofi jelas (Montesori.). Proyek bertujuan untuk mempercepat proses belajar terutama bagi siswa yang berisiko gagal dengan sekolah mengambil keputusan dalam hal-hal: eksplorasi semua dimensi sekolah. dst. konstruksi tujuan dan visi. Sejak 1986. organisasi itu sifatnya berorientasi tujuan dengan sistem perencanaan rasional dan dengan struktur objektif.dengan misalnya ucapan yang mengkultuskan individualisme lewat . open learning. ASP (Accelerated School Project) adalah suatu reformasi pendidikan yang mengakui pentingnya kultur sekolah. dst. ASP menyebar ke sekitar 1000 sekolah dasar dan lanjutan di 40 negara bagian. dan (c) perjuangan strategis dan penuh konflik terjadi atas definisi dan struktur organisasi. Sementara itu. tapi juga bersumber dalam lebenswelt yang dapat dipahamkan sebagai konsensus historis generasi terdahulu yang kurang lebih dikenal luas serta yang sekarang direproduksi lewat tindakan. tuntutan berubah rendah.). teori mikro-politik berpandangan (a) organisasi mempunyai beragam tujuan dan pengaruh. Tahun 1980-1990-an. pemerintahan Thatcher mempunyai posisi oposisional ±menekankan dualisme yang lekat dalam masyarakat Barat. Bebe rapa masalah teori mikro-politik adalah (a) harus dapat menjelaskan bagaimana organisasi relatif stabil dan bertahan suatu waktu tertentu.) dianggap penghambat dan resisten terhadap perubahan. eliminasi. dst. 12 pusat pendukung dan 300 tenaga terlatih yang memantau sekolah.

Organisasi kelas SDH didesain µterbuka¶: tiap hari berurusan dengan kebijakan dari atas dan dengan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya. Posisi oposisional tersebut tidak sejalan dengan tema kaji tindak yang menolak posisi oposisional. Studi SDH menyatakan perlunya bertanya secara eksplisit mengapa masalah tertentu saja yang dikaji dan mengapa masalah yang lainnya tidak dikaji. Hal lainnya lagi adalah terdapat dua makna author. Studi kasus merupakan tilikan sentral saat ini dalam kaji tindak.perkataannya µTidak ada yang disebut masyarakat itu¶. pengembangan kurikulum dan studi kebijakan. Angel Perez Gomez. (a) membuat deskripsi koheren bagi diri sendiri dan (b) membuat deskripsi µko-author¶ dengan periset. (b) ketidaknyamanan personal dalam menguasai situasi kompleks dan asing serta ketakutan tidak dihargai sebagai guru. riset naturalistik. studi kasus sering dianggap istilah pantechnicon yang setara dengan riset kualitatif dan secara longgar dikaitkan dengan istilahistilah evuvurncaluasi ilmunatif dan responsif. dalam bab 10 menyarikan studi kasus praktek mengajar (practicum) delapan calon guru di delapan universitas di Andalusia (Spanyol). evaluasi. Isu tersebut diberi tekanan oleh Stenhouse untuk membuat archives data yang padanya komunitas peneliti dapat menyumbang dan menggunakannya sebagai sumber analisis. Di dunia pendidikan.mengembangkan ortodoksi dan mekanisme untuk memaksakannya dan beliau menyarankan gagasan dalam bukunya µsebagai alat« untuk menghancurkan sistem kekuasaan. 1975). Tahun 1970an Lawrence Stenhouse mendesain penelitian membandingkan interview (µsejarah oral¶) yang datanya dicari oleh Lawrence Stenhouse dan Jean Rudduck dengan observasi (µetnografik¶) y ang datanya dicari oleh Stephen Ball dan Rob Walker. (d) kekurangan acuan dan laternatif teoritis/praktis untuk men¶judge¶ semua yang diamati dan dialami dan (e) tidak berfungsinya supervisor sebagai penyeimbang kultur sekolah dan kelas. Stephen selalu menyatakan bahwa interview sebagai suatu konstruksi sosial yang tidak dapat diperlakukan sebagai data yang lepas konteks (decontextualized data). etnografi pendidikan. Hal lain yang j ga u dikaji SDH adalah perlunya guru dapat mengembangkan kaleidoskop permasalahan: faktafakta dapat disusun berulang-ulang untuk sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan persisten adalah (a) tekanan kultur sekolah dan kelas yang harus diikuti jika ingin berhasil. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker dalam bab 11 menyajikan studi dan catatan kasus sekolah dasar Hathaway (SDH) yang terletak di daerah migran di Sidney. termasuk kekuasaan yang darinya bukunya tersebut terbit¶ (Foucault. Dengan mengacu ke Alfred Schutz. objektivitas dan subjektivitas. dst. dst.. Dari sudut pandang metodologi. pengaruh politik global dan legitimasi kulturalnya. Namun. Tiap studi kasus berlangsung selama empat bulan. dan malah mengeksplorasi serta membangun hubungan antara teori dan praktek. Christine O¶Hanlon dalam bab 12 mencatat bahwa sejak tahun 1970an Eropa dan Amerika turun pertumbuhan ekonomi. sehingga dengan demikian tema kaji tindak adalah µtugas dobel¶ yang dilaksanakan bersamasama/ kolektif atau apa yang dinamakan Gidden µdemokrasi dialogis¶. Hal tersebut . studi kasus dikembangkan sejalan dengan proyek untuk mengimplementasikan perubahan kurikulum dan organisasi. Studi SDH diinisiasi satu dekade lalu oleh Susan Groundwater Smith dengan tujuan untuk memperoleh catatan kasus untuk digunakan dalam program pendidikan guru. riset partisipan. Foucault memprediksi ketidak-terhindaran semua sistem ±seberapa besarnya pun niatnya untuk memberdayakan orang lain. (c) teori yang dipelajari ditemukan tidak berguna untuk dipraktekkan di lapangan. tetap harus diingat bahwa ketika mendeskripsikan diskursus sebagai µregimes of truth¶ yang dikonstruksi orang-orang sepemikiran. persoalan serupa juga diamati Stephen dan Walker dalam memisahkan etnografer dari etnogarfi yang dibuatnya.

Marxisme. tekanan critique ideologi dan pasca-empiris tersebut mempertanyakan pendidikan guru tradisional yang menekankan kemampuan akademis dan intelektual. tapi guru mempunyai kesempatan lebih sedikit dalam pengembangan profesi(onal)nya. Sekarang ini. Sekarang. aktivitas dibatasi oleh school charters yang prioritasnya ditetapkan negara bagian dan pendidikan in -service yang schoolfocused bergeser ke pengembangan staf yang dikontrol manajemen. Profesional dalam bidang pendidikan perlu mengenali bahwa pengetahuan pedagogi dan kurikulum selalu problematik dan dengan demikian selalu terbuka untuk dikaji. Tapi. hampir semua negara bagian mempunyai budget pengembangan profesi(onal). fenomenologi. Asesmen standar dan kinerja untuk sertifikasi dikembangkan NBPTS ( National Boards for Professional Teaching Standards) Amerika. dinilai dan direvisi secara seksama. federal labor government memberi dana 60 juta AUD untuk program nasional pengembangan professional (NPDP)«Tapi. kecuali dalam lingkup tujuan yang secara sentral ditetapkan dalam school charters dan kurikulum. eksistensialisme dan pasca-modernisme.menyebabkan munculnya diskursus-diskursus reflektif dan kritikal: teori kritikal. Dalam perspektif pasca-modern masyarakat dipandang sebagai text serta teks ilmiah dan akademik sendiri dipandang sebagai tindakan retorik yang tidak mempunyai legitimasi logis atau empiris (inheren) «. bukannya pada pengembangan keahlian yang dianggap tugas pemberi pekerjaan.(tapi adalah) representasi ideologi. Akhirnya. Tahun 1993. dana dapat digunakan hanya untuk tujuan yang ditetapkan pemerintah federal atau prioritas nasional seperti misalnya kurikulum nasional. Lawrence Ingvarson dalam bab 13 mencatat tahun1973 labor government mengeluarkan Karmel Report yang isinya mengenai pengembangan profesional menyatakan bahwa suatu tanda okupasi berketerampilan sangat tinggi adalah proses persiapannya sesuai standar dari praktisi itu sendiri dan pengembangan selanjutnya juga sebagian besar adalah tangungjawab profesi tersebut«Kenyataannya guru mempunyai sedikit kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan organisasi guru lebih peduli pada pelayanannya pada industri. kelompok dan kepentingan berbeda-beda. dekonstruksionisme dan pasca-modernisme. Diambil dari: . kurikulum nasional tidak mengijinkan prinsip atau bahan ajar yang disusunnya untuk didebat. etno-metodologi. debat tentang pedagogi « mengabaikan bentuk keseluruhan µkurikulum¶ dalam semua level dan gagal untuk menempatkannya dalam faktor sosio-kultural kompleks yang lebih luas yang berkaitan dengan concern ekonomi. Tematema tersebut dalam fokus akademis dipadukan dengan perspektif konstruksionisme sosial. Asesmen serupa hendaknya meliput sekurang-kurangnya (a) standar pembelajaran. sementara pengetahuan dan pengalaman praktis dianggap sebagai insidental dan bahkan ditiadakan k arena dianggap subjektif atau anekdotal jika digunakan sebagai bukti dalam karya tulis dan disertasi. Hanya dengan cara demikian guru memperoleh pengetahuan praktis dan standards of excellence yang dengannya kompetensi praktisnya dapat dievaluasi. (b) struktur insentif. Praktek tradisional menuntut praktisi patuh pada suatu µotoritas¶ yang dibangun dari pengalaman praktis. politik dan strategis dalam masyarakat Barat« Sayangnya. hanya detil-detilnya yang dapat dikaji ulang«[Padahal hal yang diperlukan adalah misalnya] pengembangan profesional guru menjadi pendidikan guru ketika teori kritikal tentang situasi pengajaran memberi kesempatan pada guru untuk menjelaskan dan memahami bagaimana pembelajaran dikontrol faktor-faktor di luar kelas dalam konteks masyarakat dan politik. Dalam dunia pendidikan. (c) infrastruktur pembelajaran profesional dan (d) sertifikasi profesional yang kredibel dan voluntary. kita mempunyai manajemen berbasis sekolah. sebagai bagian dari kampanye. di Victoria missalnya. Seperempat abad setelah Karmel Report.

Altrichter. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi. serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Open University Press. The Images of Educational Change... yakni: 1. Ed. .Dodi Sukmayadi. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya.2004. John (2000). Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report . maka setiap orang dalam organisasi ditun tut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan. Buckingham). 2. Memiliki visi untuk berubah Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif ap abila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Memerangi ketakutan akan perubahan Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi. 10 Cara Meningkatkan Inovasi Posted on10 Desember 2008byAKHMAD SUDRAJAT Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara -cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan.Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung Program Pasca Sarjana. Herbert dan Elliott. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi.

Oleh karena itu. sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan. sumber tersedia dengan baik. satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan. 5. 3. dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. Memiliki Suatu Rencana Usulan yang Dinamis Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat. kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi´. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan. ´ Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik. kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit. 7. sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal.Mereka akan berkata. mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra. setiap rencana mudah dilaksanakan. yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral. Berfikir Seperti Pemodal yang Berani Mengambil Resiko Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio. tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada. . tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni. baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan ³YA´. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dar peran i saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya. berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Oleh karena itu. responsif dan terbuka untuk semuanya. Tetapi. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima. 6. Kolaborasi Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Mereka memberikan gambaran menarik ten tang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. 4. Mematahkan Aturan Untuk mencapai inovasi yang radikal. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko.

Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata. kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. 9. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat. *)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane. pengarang The Innovative Leader. Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif.uk Pengembangan Budaya Sekolah Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan. termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan. Bersemangat Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai.co. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang -orang. Menerima kegagalan Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen.director.8. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas. Membangun prototipe Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata). dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja. www. bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya. 10. yang berjudul ³Ten Ways to Boost Innovation´ dipublikasikan oleh Kogan Page. dan untuk mencapai hasil yang luar biasa. setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi. merubah caracara yang biasa mereka lakukan. serta dilaksanakan .

Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. 1. dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki. (3) lebih terbuka dan transparan. (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif. keluarga. dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah. misi. termasuk dalam menyampaikan pesan -pesan pentingnya budaya sekolah. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan. (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi. manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja. Memiliki Strategi yang Jelas. Selain beberapa manfaat di atas. siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. (3) disiplin meningkat. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini. guru. Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah. staf. Berfokus pada Visi. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. (2) pergaulan lebih akrab. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. (6) belajar dan berprestasi terus serta. yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsu dan personil sekolah baik itu r kepala sekolah. . Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. 3. 4. diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. orang lain dan diri sendiri. Misi dan Tujuan Sekolah . Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. 2.dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat.

Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Kerjasama tim (team work). Sistem Evaluasi yang Jelas. Untuk itu. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. 4. Evaluasi Diri. Sistem Imbalan yang Jelas. Keinginan. 3. 10. 6. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. Kemampuan. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. 8. upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1. dan jangka panjang. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. 9. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. guru. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah masalah yang dihadapi di sekolah. Keputusan Berdasarkan Konsensus. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. 2. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. 7.5. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Berorientasi Kinerja. Dalam lingkungan pembelajaran. sedang. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Memiliki Komitmen yang Kuat. Kegembiraan (happiness). . nyaman. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah.

5. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Jujur (honesty). staf dan kepala sekolah tarmpil. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. 8. jujur dalam mengelola keuangan. Pengetahuan dan Kesopanan. Jujur dalam memberikan penilaian. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. ================= . baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. 7. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. orang tua dan masyarakat. Empati (empathy). kepercayaan tidak akan diperoleh. Jika perlu dibuat wilayah wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. nyaman. 9. Hormat (respect). bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. Tanpa kejujuran. Dimensi ini menuntut para guru. asri dan menyenangkan. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. guru dan staf. Disiplin (discipline). 6. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah.

yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). kesadaaran kerja adalah sikap sukarela . ketenteraman. kemauan dan kesediaan kerja orang lain agar dapat taat dan tunduk terhadap semua peraturan dan norma yang berlaku. Menurut Soegeng Prijodarminto (1992) bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan.2007. Unel. Sementara itu.Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Konsep Disiplin Kerja Posted on 5 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Disiplin merupakan kata yang sering kita ketentuan berupa peraturan -peraturan yang secara eksplisit perlu juga mecakup sangsi-sangsi yang akan diterima jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut. dan (3) adanya sanksi bagi pelanggar Pada bagian lain. menghargai patuh dan taat terhadap peraturan -peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Jerry Wyckoff dan Barbara C. Jerry Wyckoff dan Barbara C. (1990) menyebutkan bahwa disiplin kerja adalah kesadaran. kepatuhan. Unel. ketearturan. Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. dan ketertiban. Dalam kaitannya dengan disiplin kerja. Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati. kesetiaan. (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri. Jakarta. (2) adanya kepatuhan para pengikut.

Noe (1990) disiplin adalah status pengendalian diri seseorang karyawan. Karyawan harus memiliki prinsip dan memaksimalkan potensi kerja. 1996). Dalam hal ini terdapat tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen di dalam penerapan disiplin pribadi.dan merupakan panggilan akan tugas dan tanggung jawab bagi seorang karyawan. Siagaan. disiplin pada umumnya termasuk dalam aspek pengawasan yang sifatnya lebih keras dan tegas (hard and coherent). . Karyawan akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan bukan mematuhi tugasnya itu dengan paksaan. Kesediaan kerja adalah suatu sikap perilaku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan tugas pokok sebagai seorang karyawan. Keberhasilan penerapan pendisiplinan karyawan (disiplin preventif) terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. Dikatakan keras karena ada sanksi dan dikatakan tegas karena adanya tindakan sanksi yang harus dieksekusi bila terjadi pelanggaran. agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan. Menurut Wayne Mondy dan Robert M. 1991). sedangkan social dicipline adalah pelaksanaan disiplin dalam organisasi secara keseluruhan. yaitu : Triguno (2000) menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pendisiplinan preventif adalah untuk mendorong karyawan agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi. sebagai tanda ketertiban dan kerapian dalam melakukan kerjasama dari sekelompok unit kerja di dalam suatu organisasi (someone status selfcontrol as orderliness sign order and accuration in doing cooperation from a group of unit work in a organization) Jackclass (1991) membedakan disiplin dalan dua kategori. Terdapat dua jenis disiplin dalam organisasi. tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi. Self dicipline merupakan disiplin pribadi karyawan yang tercermin dari pribadinya dalam melakukan tugas kerja rutin yang harus dilaksanakan. yaitu : (1) disiplin preventif dan (2) disiplin korektif (Sondang P. yang dapat mematikan prakarsa. Colyer. untuk mencegah jangan sampai para karyawan berperilaku negatif. agar karyawan lain mengikutinya sehingga dapat menanamkan jiwa disiplin dalam bekerja. Menurut Daniel M. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap. kreativitas serta partisipasi sumber daya manusia. Disiplin preventif adalah tindakan yang mendorong para karyawan untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. yaitu self dicipline dan social dicipline.

Sayles dan Strauss menyebutkan empat tahap pemberian sanksi korektif. (2) kepada yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri dan (3) dalam hal pengenaan sanksi terberat. perlu dilakukan ³wawancara keluar´ (exit interview) pada waktu mana dijelaskan antara lain. mengapa manajemen terpaksa mengambil tindakan sekeras itu. Disiplin korektif adalah upaya penerapan disiplin kepada karyawan yang nyata-nyata telah melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan dan kepadanya dikenakan sanksi secara bertahap. mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. dan pimpinan memberikan kebijaksanaan kritikan dalam menjalankan tugasnya. sesuai aturan disiplin yang berlaku. agar mempunyai rasa memiliki organisasi. dan (4) pemecatan (discharge). Horald D. Para karyawan didorong. karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang menjadi miliknya. Para karyawan perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. dalam penerapan sanksi korektif hendaknya hati-hati jangan sampai merusak seseorang maupun suasana organisasi secara keseluruhan. Para anggota organisasi perlu didorong. dalam pemberian sanksi korektif seyogyanya memperhatikan tiga hal berikut: (1) karyawan yang diberikan sanksi harus diberitahu pelanggaran atau kesalahan apa yang telah diperbuatnya. namun seseorang karyawan tersebut masih tetap gagal untuk mencapai standar kriteria tata tertib. Penjelasan dimaksudkan seyogyanya disertai oleh informasi yang lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif. Tindakan sanksi korektif seyogyanya dilakukan secara bertahap. Garret.1. Untuk itu. maka sekalipun agak enggan. (3) disiplin pemberhentian sementara (discipline layoff). Di samping itu. (1994) menyebutkan bahwa bila dalam instruksinya seorang karyawan dari unit kelompok kerja memiliki tugas yang sudah jelas dan sudah mendengarkan masalah yang perlu dilakukan dalam tugasnya. (2) peringatan tulisan (written warning). yaitu pemberhentian. maka perlu untuk memaksa dengan menggunakan tindakan korektif. Dalam pemberian sanksi korektif . 3. 2. serta pimpinan sudah mencoba untuk membantu melakukan tugasnya secara baik. Burack (1993) mengingatkan bahwa pemberian sanksi korektif yang efektif terpusat pada sikap atau perilaku seseorang dalam unit kelompok kerja yang melakukan kesalahan dalam melakukan kegiatan kerja dan bukan karena kepribadiannya. yaitu: (1) peringatan lisan (oral warning). menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi.

11. baik pelanggan internal maupun eksternal. 13 Ciri-Ciri Sekolah Bermutu Posted on 8 Oktober 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Merujuk pada pemikiran Edward Sallis. fungsi dan tanggung jawabnya. sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya 6.harus mengikuti prosedur yang benar sehingga tidak berdampak negatif terhadap moral kerja anggota kelompok. dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal. Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang. 5. Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas. yaitu: 1. 4. mampu mencip takan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas. 3. jangka menengah maupun jangka panjang. Pengaruh negatif atas penerapan tindakan sanksi korektif yang tidak benar akan berpengaruh terhadap kewibawaan manajerial yang akan jadi menurun. sehingga terhindar dari berbagai ³kerusakan psikologis´ yang sangat sulit memperbaikinya. Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas. Ada beberapa pengaruh negatif bilamana tindakan sanksi korektif dilakukan secara tidak benar. (3) disiplin diri. Sekolah berfokus pada pelanggan. Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas. 7. yaitu: (1) disiplin manajerial. dimana kerja tim akan menjadi tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas kerja samanya. dan menjadi tercerai berai karena kesalahan tindakan disiplin tim. Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi 13 ciri -ciri sekolah bermutu. termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal. (2) disiplin tim. tenaga akademik. 10. Sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja. 2. demikian juga dalam tindakan sanksi korektif dalam tim yang tidak benar dapat berakibat terhadap kurangnya partisipasi karyawan terhadap organisasi. Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul . (Robert F. baik di tingkat pimpinan. Sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas. Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan . 12. Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok. 13. Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya. 8. Sekolah memnadang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut. 1996). ba ik untuk jangka pendek.. Hopkins. maupun tenaga administratif. 9.

Mencermati tulisan saudara M. walaupun tidak dapat kita pungkiri dilain sisi terdapat beberapa anak bangsa berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi kita semua. termasuk dalam dunia pendidikan kita. Di Nusa Tenggara Timur mutu pendidikan kita sangat rendah. yang salah siapa«. Siswa yang kurang belajar. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia diperhadapkan dengan sangat terpuruk nya mutu pendidikan. Perubahan terjadi dimana mana. Hal ini ditunjukkan dengan hasil ujian nasional yang sangat terpuruk dan merosot. menapaki hari hari yang penuh harapan..MM Pengantar Tidak terasa dalam bulan ini Republik-ku telah berulangtahun yang ke 63. Hamatara (Dosen Undana Kupang) Kamis tertanggal 7 AGUSTUS 2008 dibawah judul UNAS YANG KELABU Siapa Kambing Hitam? Membuat kita seakan perlu merefleksikan diri untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan . Tentunya kita tidak dapat berpuas diri dengan hanya mengandalkan beberapa orang saja dari sekian ratus juta jiwa anak bangsa yang hidup di republik ini dalam mencetak berbagai prestasi berkaliber dunia. 2006. lembaga pendidikan yang tidak mampu mengelola sebuah konsep pendidikan yang bermutu. bahkan pemerintah yang dinilai kurang cermat dalam menyusun kurikulum. sebuah perjalanan panjang bangsa ini. Jakarta: Bumi Aksara Mutu Pendidikan Kita Rendah. Berbagai kesalahan ditimpakan kepada Guru yang tidak cakap mengajar. Membangun kejayaan bangsa yang makin lama makin redup seiring perubahan yang terjadi.? Posted on5 September 2008byAKHMAD SUDRAJAT Oleh: Ricky Ekaputra Foeh. Orang tua yang tidak bisa mendidik. Dewasa ini Sumber Daya Manusia dituntut mampu berkompetisi dalam dalam dunia global. Membangun sumber daya manusia berkualitas tentu merupakan suatu tantangan tersendiri. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Masing-masing orang mulai mencari kambing hitam.Sumber: Sudarwan Danim. Kita hidup dalam dunia yang penuh perubahan. Jika kita kita mampu mengelola perubahan itu menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi kita maka dengan sendirinya kita akan tergilas didalam perubahan itu.

Tetapi harus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. karena anak lebih banyak didampingi orangtua. jasa. Mutu dalam ³proses pendidikan´ melibatkan berbagai input. Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan µ terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau ³kognitif´ dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar. dsb. Dapat pula berupa prestasi di bidang lain seperti cabang olah raga. metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru) sarana prasarana lembaga pendidikan. Oleh karenanya permasalahan ini harus segera diatasi. Jikalau kita baru berpikir bahwa kita harus berubah. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Mutu Pendidikan Kesadaran akan pentingnya mutu pendidikan sungguh merupakan tantangan yang tidak ringan. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan satu sama lainnya. Berbicara mengenai mutu pendidikan sebenarnya kita membicarakan tentang dua sisi yang sangat penting yaitu proses dan hasil. Bahkan prestasi lembaga pendidikan dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin. melainkan lebih dari pada itu adalah pada hasil yang dicapai. misalnya : NEM oleh PKG atau MGMP). agar output yang dihasilkan mampu bersaing di tengah masyarakat. berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang fair dan nyaman untuk belajar. dukungan administrasi. M. Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap lembaga pendidikan baik yang berdasarkan titik . Sedangkan guru dan komponen lainnya hanya beberapa saat saja. Pandangan lain yang mencuat adalah berasal pengamat pendidikan NTT Drs. bahwa untuk mengejar mutu pendidikan. tetapi harus didukung kuat oleh orangtua di rumah serta komponen pendidikan lainnya. MS mengaku sangat kecewa atas hasil seleksi SPMB Undana hal ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan di NTT di tingkat bawah tidak bermutu. keramahtamahan.Ed berpendapat bahwa Pengelola lembaga pendidikan di NTT diharapkan jangan mendidik peserta didik hanya sekadar untuk mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Dengan kata lain tanggung jawab lembaga pendidikan dalam memperbaiki mutu pendidikan bukan hanya pada proses pendidikan saja. Dr. kebersihan. Mutu dalam konteks ³hasil pendidikan´ mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester/cawu. afektif. seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer. August Benu. sesungguhnya kita sudah terlambat untuk itu. keakraban. 3 tahun. Mutu pendidikan yang terpuruk di negeri ini harus kita tekan. Prof. Lembaga Pendidikan wajib menetapkan target yang jelas untuk dicapai setiap tahun atau kurun waktu tertentu. atau psikomotorik).bukannya kecenderungan untuk saling mempersalahkan juga muncul ditengah tengah kita seperti pandangan para pengamat beberapa waktu lalu antara lain. bahkan 10 tahun). maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh Lembaga Pendidikan. akhir tahun. Lain lagi dengan pandangan saudara Lebe Laurensius (SMUN 2 Kupang) yang menambahkan. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum dan ujian nasional). bahan ajar (kognitif. saling menghormati. beragam jenis teknik. akan tetapi agar proses pendidikan dapat bermutu dan tepat sasaran. toleransi. John Manulangga. tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di lembaga pendidikan. seperti. ³Bermutu tidaknya pendidikan seorang siswa itu pertama terletak di tangan para orangtua. Setiap lembaga pendidikan yang ada di republik ini memiliki tanggung jawab besar terhadap mutu pendidikan yang dimulai dari proses pendidikan itu sendiri dan berakhir pada hasil pendidikan yang dicapai.

Di Nusa Tenggara Timur terdapat beberapa lembaga pendidikan unggulan salah satu diantaranya adalah SMA Kristen Mercusuar. Berbagai komponen dalam lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pendidikan antara lain kepala lembaga pendidikan. dan mengevaluasi hasilnya. Institusi pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan menjawab harapan bangsa. maka diyakini bahwa kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang agar kita tidak tergilas didalamnya. konsultan ahli dan staf lainnya sehingga akan menciptakan iklim lembaga pendidikan yang mempu membentuk keunggulan lembaga pendidikan. Lembaga Pendidikan ini berproses dengan mengacu dan menerapkan sepenuhnya kurikulum nasional serta menambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk memperluas wawasan peserta didik agar dapat berkompetisi secara global. Pengelola sebuah lembaga pendidikan harus mampu memahami konsep penting pendidikan yang diluncurkan oleh pemerintah sehingga mampu menjawab tuntutan publik akan pendidikan bermutu. pengawasan kemajuan belajar siswa oleh Pusat Informasi dan Pengendalian Mutu SMP-SMA Kristen Mercusuar secara teratur dan sistematis. Di dalam masyarakat yang komplek seperti sekarang dimana kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perubahan yang telah membawa kepada perubahan tata nilai yang bervariasi dan harapan yang lebih besar terhadap pendidikan terjadi begitu cepat. dan secara terus menerus menyempurnakan dirinya sehingga berakhir kepada peningkatan mutu siswa (lulusan).acuan standar (benchmarking) maupun kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan oleh individu lembaga pendidikan sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Kondisi ini telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional sehingga mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan. guru. wakil kepala lembaga pendidikan. prioritas pembangunan. Memasuki tahun ajaran 2008 / 2009 ini. pengawasan KBM yang ketat. SMA Kristen Mercusuar juga merupakan Sekolah Pertama dan Satu-satunya di NTT yang menerapkan Rombongan belajar per kelas 20 ± 25 siswa dengan di dampingi oleh 2 (dua) orang guru dalam 1 kelas. dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu sedangkan tanggung jawab individu lembaga pendidikan dan masyarakat pendukungnya untuk merancang mutu yang diinginkan. bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan atau owner lembaga pendidikan saja melainkan melibatkan seluruh komponen didalamnnya. & Penerapan Metode Pengajaran Moderen. melaksanakan. Lembaga ini juga menerapkan Full Day School. SMP ± SMA Kristen . Lembaga Pendidikan Unggulan Lembaga pendidikan unggulan itu sesungguhnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga lembaga pendidikan. Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis lembaga pendidikan ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro. Diperlukan adanya synergy dengan berbagai pihak antara lain lembaga pendidikan. masyarakat dan pemerintah deng tanggung an jawabnya masing ± masing ini. Tentunya banyak pihak yang bertanya dan ingin mengetahui tentang keunggulan lembaga pendidikan yang berprestasi luar biasa tersebut. Setiap peserta didik dibekali dengan penguasan IPTEK seperti: Manajemen informatika dan access internet yang terbuka sehingga dapat diakses kapan saja. SMA Kristen Mercusuar yang memiliki AKREDITASI A (Terbaik) dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Yang lebih parah lagi adalah para kepala sekolah terlihat sangat sibuk dengan urusan adm inistrasi dan keuangan sehingga kurang melakukan supervisi terhadap guru. dan keuangan. staf).Mercusuar mulai meluncurkan program E ± Learning. Selama ini pembangunan pendidikan kita hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan sedangkan faktor proses pendidikan kadang terabaikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan. Masalahnya sekarang adalah kebanyakan di berbagai lembaga pendidikan telah ada staf administrasi namun dalam jumlah yang terbatas sehingga memaksa guru dan kepala lembaga pendidikan terpaksa turun tangan menangani masalah administrasi dan keuangan. administratif (siswa. Informasi yang terangkum dengan sistematis tersebut selanjutnya diteruskan pihak lembaga pendidikan sehingga dapat memahami secara jelas pada posisi mana derajat kualitas pendidikan sebuah lembaga pendidikannya berada saat ini. Lembaga pendidikan sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik . 1979. kinerja personil lembaga pendidikan dalam kerangka mengembangkan dan mencapai target kurikulum. Para konsultan menyajikan data secara terperinci sehingga para pengambil kebijakan dilingkungan lembaga pendidikan dapat mengambil keputusan penting yang menyangkut pembangunan konsep pendidikan dan arah rencana pendidikan kedepan yang akan dicapai. guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan lembaga pendidikan. Semua proses ini harus dipantau secara teratur dan berkesinambungan sehingga akan terasa hasilnya. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya. Sebuah lembaga pendidikan itu sifatnya dinamis dan berirama alias tidak statis oleh karenanya tdak bisa disamakan i dengan institusi ekonomi dan industri. siswa. maka diperlukan partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua. Secara singkat semua upaya (proses) yang dilaksanakan secara terpadu tersebut sebagai upaya mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan masa depan para peserta didik sehingga dapat bersaing dalam kompetisi global.1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan. Kegiatan kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kadar keimanan seluruh komponen dalam lingkup SMP ± SMA KRISTEN MERCUSUAR menerapkan kegiatan kerohanian secara terpadu dalam lingkungan pendidikan berupa kegiatan ibadah bersama dan kegiatan pendalaman alkitab. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan antara lain: Lembaga Pendidikan perlu membentuk sebuah unit kerja yang bertugas melakukan penyusunan basis data dan profil lembaga pendidikan secara sistimatis yang menyangkut berbagai aspek akademis. sebuah proses pembelajaran yang berbasis teknologi wifi-hotspot memampukan siswa mengakses bahan belajar secara baik. guru. Unit kerja seperti Pusat Informasi dan pengendalian Mutu bertugas melakukan evaluasi internal (internal assesment) dalam sebuah lembaga pendidikan untuk menganalisa sumber daya lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan perlu memperhatikan secara seksama proses pendidikan sebab te rnyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek. Hal ini memudahkan bagi guru dan kepala lembaga pendidikan sehingga mereka hanya fokus pada KBM sedangkan urusan administrasi menjadi tugas dan tanggungjawab daripada Unit Informasi dan Pengendalian Mutu.

Upaya mengejar materi pelajaran ini memang sah -sah saja namun demikian kenyataan yang kita hadapi adalah kebanyakan peserta didik kesulitan dalam mengerjakan ujian akhir nasional. Kegagalan sekolah selama ini adalah menaikkan peserta didik yang sebenarnya harus µtahan kelas¶ ke kelas berikutnya. Selama lembaga pendidikan-lembaga pendidikan hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka lembaga pendidikan tidak akan pernah menjadi lembaga pendidikan unggulan.yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam. Kebanyakan guru-guru pada setiap lembaga pendidikan mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi hanya mengejar target untuk menyelesaikan muatan materi pembelajaran yang sangat padat itu dalam setahun.. PENUTUP Setiap lembaga pendidikan akan menjadi lembaga pendidikan unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Setiap lembaga pendidikan harus memiliki otonomi dan kewenangan untuk mengevaluasi sejauhmana kemampuan yang dimiliki peserta didik. akibatnya prosentasi kelulusan rendah sehingga yang oleh banyak pengamat dikatakan sebagai rendahnya mutu pendidikan.. orang tua. Ekaputra Oepura Memperbaiki Mutu Pendidikan melalui Team Work . Ini adalah kekeliruan yang dibuat oleh lembaga pendidikan. Proses perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dI Nusa Tenggara Timur saat ini sangat mendesak dan perlu segera dilakukan dengan synergy harmonis yang muncul dengan tidak saling mempersalahkan dari lembaga pendidikan. dan shareholder serta stakeholder yang ada demi kejayaan pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Kewenangan tegas untuk tidak membiarkan (let go) peserta didik yang tidak sanggup mengikuti pelajaran dikelas berikutnya perlu diterapkan sehingga siswa yang berada pada level berikutnya adalah benar-benar seorang peserta didik yang sanggup untuk mencerna pengetahuan dan mengakses informasi.MM Kupang ± NTT Ricky II/3 Kel.SPd. padahal sebuah lembaga pendidikan memiliki otoritas untuk menahan peserta didik yang tidak mampu sehingga memberinya kesempatan belajar dan memperbaiki diri agar kedepan prestasinya dapat meningkat. BIODATA PENULIS DATA Nama Lengkap : Alamat Rumah : Jalan Salak Telepon / HP : 081239416641 DIRI Foeh. maka lembaga pendidikan harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya.

dan 4. serta membuat notulen rapat-rapat. pengetahuan. Para anggota dapat memulai proses pengikatan ini pada saat pertemuan (rapat) pertama kali. Yadi Heryadi mengemukakan beberapa peran penting dalam suatu Team : 1. peran. Snyder and Robert H. sehingga isu isu yang ada dilihat dari berbagai sisi. Team memiliki bentuk. Penjaga Gawang yaitu anggota Team yang bertugas menyemangati anggota Team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota. 2. team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali. baik dalam perencanaan. keterampilan dan energi untuk mencapai tujuan team. Pencatat yaitu anggota Team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Team. termasuk mencatat hal-hal penting hasil rapat-rapat. Dalam hal ini. Devil¶s advocate yaitu anggota Team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota Team yang lain. Sedangkan. yang ditandai oleh adanya rasa memiliki dan keterkaitan diantara sesama anggota. Berikutnya. 3. Bonding akan memastikan bahwa anggota team memiliki komitmen yang kuat. menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota. Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team.Posted on 1 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Istilah³Team´ merujuk kepada suatukelompok yang bekerja sama untukmencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team. Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan ³ Mengapa saya berada disini´. yaitu: bonding (ikatan) dan cohesiveness (kesatupaduan). Team yang terikat akan lebih enthusias. Oswald (1996) mengemukakan dua faktor esensial dalam suatu team yang dapat semakin memantapkan budaya team culture ( team). pengimplementasian. . mereka menentukan tujuan. dan tanggunggjawab individu dan kelompok. Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. Pencatat Waktu yaitu anggota Team yang bertugas mengingatkan Team berjalan sesuai jadwal. Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. Dengan mengutip pemikiran Cunningham and Gresso. dan durasi yang beragam. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara. Cohesiveness (kesatupaduan) didefinsiikan oleh Cunningham dan Gresso sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok. misalnya terhadap waktu. yaitu team permanen dan team sementara. Karolyn J. loyal kepada organisasi dan team itu sendiri. setelah pekerjaan selesai. demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). misi.

Lesson Study. misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. . atau supervisi. khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah: y y y y y y y y Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berfkembang Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka Memperteam bangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain Membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalam melakukan kegiatan Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team. (2) anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya. Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan kepentingkan peningkatan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Yadi Haryadi mengetengahkan tentang ciri-ciri ketua dan anggota team yang baik. team bimbingan dan konseling dan sebagainya. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus. yang intinya team-team tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah. pemikiran. yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula. Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan. (3) anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team. seperti: team pengembang kurikulum. pendapat. Snyder and Anderson. opini. menyebutkan bahwa team work di sekolah. yaitu : (1) anggota tidak memahami tujuan dan misi team. (4) anggota menolak peran dan tanggung jawabnya. dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. Ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan. Ciri-ciri ketua team yang baik adalah: y y y y y y y Bekerja sesuai konsensus Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan. dan persepsi seluruh anggota Team terhadap masalah dan kondisi Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota Team Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya keteam bang menyalahkan orang lain Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain.maupun penilaian.

maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil.id/ Konsep Dasar Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional Posted on 1 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh: Depdiknas 1. dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok.uncwil. (1996) Work Teams in Schools.edu/cte/et/articles/howard/ Lori Jo Oswald. Online : http://www.gov/ERICWebPortal/Home Yadi Haryadi (tt). yaitusuatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team. (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom. Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di sekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan. Pengertian . (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah) M.depdiknas. Asrori. Sumber : Sandra A. Collaborative Teamwork Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Bekerja secara Kolaboratif dalam Tim. ERIC Digest 103 Online : http://www.go.eric.Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran. Team Work. (4) memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi.ed. (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus. yang dikenal dengan sebutan Collaborative Teamwork Learning. Online : http://www.

. Pada SMA/MA/SMLB. beban studi dinyatakan dengan satuan kredit semester. 2006). ada pertemuan rutin sekolah dengan orang tua. SKS adalah salah satu sistem penerapan program pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai subyek. 19 Tahun 2005 pasal 11 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah atau hampir memenuhi standar nasional ke dalam kategori mandiri. melaksanakan manajemen berbasis sekolah. Pembelajaran berpusat pada peserta didik. 2. memiliki panduan menjajagi potensi peserta didik dan memiliki pedoman penilaian. dengan indikator memiliki kurikulum Sekolah Kategori Mandiri. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. Pada Sistem Kredit Semester. satu jam kegiatan tatap muka berlangsung selama 45 menit. panduan/dokumen penyelenggaraan. kemampuan. rerata nilai UN tiga tahun terakhir minimum 7. sedangkan 25 menit kegiatan terstruktur dan 25 menit kegiatan mandiri. Mengacu pada konsep tersebut. Karakteristik Berdasarkan penjelasan PP No. animo tiga tahun terakhir > daya tampung. yaitu bagaimana peserta didik belajar. dan harapan masing-masing (Chandramohan. memiliki pedoman pemilihan mata pelajaran sesuai dengan potensi dan minat. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. persentase kelulusan UN • 90 % untuk tiga tahun terakhir. SKS dapat diterapkan untuk menunjang realisasi konsep belajar tuntas yang digunakan dalam menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan demikian. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa sekolah kategori mandiri (SKM) harus menerapkan sistem kredit semester (SKS). jumlah siswa per kelas maksimal 32 orang.00. Peserta didik diberi kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan minat. ada pertemuan rutin pimpinan dengan guru. setiap satu satuan kredit semester (1 SKS) berbobot dua jam kegiatan pembelajaran per minggu selama 16 minggu per semester. Dari ciri tersebut Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional memiliki profil sebagai persyaratan minimal yang meliputi : a. Dukungan Internal: y y Kinerja Sekolah indikator terakreditasi A. memiliki pedoman pembelajaran. penerapan SKS pada KTSP perlu dilakukan penyesuaian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tuntas di mana satuan kegiatan belajar peserta didik tidak diukur berdasarkan lama waktu kegiatan per minggu-semester tetapi pada satuan (unit) kompetensi yang dicapai. Kurikulum. prestasi akademik dan non akademik yang diraih. mata pelajaran yang ditawarkan ada yang wajib dan pilihan.Penjelasan PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 11 ayat (2) bahwa ciri Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional adalah terpenuhinya standar nasional pendidikan dan mampu menjalankan sistem kredit semester.

dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. tersedia guru bimbingan konseling/ karir. rasio guru dan siswa. komputer untuk administrasi. . Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. orang tua peserta didik. Biologi. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tujuh Sikap untuk Mencairkan Konflik di Sekolah Posted on7 Februari 2009byAKHMAD SUDRAJAT Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif. Siswa. Kemampuan staf administrasi akademik dalam menggunakan komputer. atau pun kepala sekolah dalam waktu waktu tertentu sangat mungkin dihadapkan dengan konflik. dengan indikator Sekolah menyatakan bersedia melaksanakan Sistem Kredit Semester. lapangan bermain. tempat Olah Raga. (e) Fasilitas di sekolah. Fisika. Sumber Daya Manusia. Dukungan Eksternal Untuk menyelenggarakan SKM/SSN berasal dari dukungan komite sekolah. Kimia. ruang wakil kepala sekolah. dukungan dari tenaga pendamping pelaksanaan SKS. ruang Unit Kesehatan. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun. IPS. relevansi guru setiap mata pelajaran dengan latar belakang pendidikan (90 %). keyakinan. termasuk oleh komunitas di sekolah. jumlah tenaga administrasi akademik memadai. dengan indiktor memiliki ruang kepala Sekolah. tempat ibadah. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Sumber: Depdiknas.2008. dengan indikator persentase guru memenuhi kualifikasi akademik • 75%. ruang bimbingan. ruang guru.y y Kesiapan sekolah. Teknologi informasi/komputer. Perpustakaan yang memiliki koleksi buku setiap mata pelajaran. Multimedia. memiliki laboratorium: Bahasa. Persentase guru yang menyatakan ingin melaksanakan SKS • 90%. memberikan Layananan bimbingan karir b. guru. nilai dan tujuan yang saling bertentangan. Pernyataan staf administrasi akademik bersedia melaksanakan SKS.

individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik. Tetapi sebaiknya ungkapkan ³Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?´ pertanyaan . jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik. Define what the conflict is about Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. bukan terletak pada orangnya. apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi. sekelompok guru tertentu berhadapan dengan sekelompok guru lainnya. Identify your shared concerns against your one shared separation. seorang guru berhadapan seorang guru. Jangan paksa orang untuk bertekuk lutut! 3. bisa dalam bentuk individu dengan individu. Adalah hal yang amat bodoh. maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang. It¶s not you versus me. lalu tanyakan pula ³Apa kepedulian Anda di sini? atau ³Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini´. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada. buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya). Misalnya. 4. Tanyakan pada setiap orang ³Ada issue apa?´. Sort out interpretations from facts. tidak dengan kelompok yang paling lemah.Konflik yang dialami individu di sekolah dapat hadir dalam berbagai bentuk. Secara berkala tanyakan pula ³Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?´ 2. Terkait dengan upaya mengelola konflik di sekolah. yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. yang harsus diselesaikan. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif.. dan sejenisnya. karena suatu saat setelah mereka dikalahkan. Jika dihadapkan pada suatu konflik. Memilah interpretasi berdasarkan fakta. karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang±orang yang justru berseberangan dengan Anda. seorang guru berhadapan dengan sekelompok guru. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri. meraka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus. Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup. 1. tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu´. juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Apabila konflik yang terjadi di sekolah tidak terkelola dan bersifat destruktif. Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik. it¶s you and me versus the problem Memiliki keyakinan bahwa ³Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya.

Kembangkan rasa untuk memaafkan. hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan! 6. yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik 3. Rasa benci. Oleh karena itu. orang lain mendengarkan´ menjadi ³Ketika saya mendengarkan. jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan. Yang lalu biar berlalu. Karakteristik1: Perencanaan dan Pengembangan Sekolah y y y y Perencanaan merupakan dasar bagi fungsi manajemen lain Perencanaan merupakan pernyataan mengenai kehendak di masa depan yang ingin dicapai Perencanaan meliputi jangka pendek. Setidaknya dengan cara ini. setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Putarlah paradigma dari ungkapan ³ Ketika saya bicara. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. Terakhir. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami.semacam ini akan lebih menggiring pada fakta. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami. orang lain berbicara kepada saya´. Learn to listen actively Belajar mendengar secara aktif. menengah dan panjang Sekolah yang efektif memiliki rencana pengembangan sekolah yang disepakati bersama . Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. 11 Karakteristik Manajemen Sekolah Posted on 2 Maret 2009 by AKHMAD SUDRAJAT 1. Purify your heart. berusaha mensucikan hati. Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain. iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik. Develop a sense of forgiveness. akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis) 7. kemudian menjadi dipahami.

Harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Karakteristik 4: Pemantauan terhadap Kemajuan Siswa y y y Pemberian pekerjaan rumah kepada siswa Terdapat prosedur penilaian yang dilakukan secara terprogram (formatif dan sumatif) Pemberian balikan yang segera kepada siswa Karakteristik 5: Kepemimpinan Kepala Sekolah y y y Sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah berperan penting.Karakteristik 2: Iklim dan Budaya Sekolah y y y Penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar Penciptaan norma dan kebiasaan yang positif Penciptaan hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain Karakteristik 3: Harapan yang Tinggi untuk Berprestasi y y y y Penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi Tanggung jawab yang tinggi bagi pembelajaran siswa. Pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan. Pendekatan kepemimpinan partisipatif Karakteristik 6: Pengembangan Guru dan Staf y y y Guru merupakan fasilitator pembelajaran yang perlu dijaga kualitasnya Pengembangan profesional guru menentukan hasil pembelajaran Perlu adanya program pengembangan guru dan staf Karakteristik 7: Penguatan Kapasitas Siswa y y y Tujuan akhir program pembelajaran adalah pada peningkatan kemampuan siswa Pemberian kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan potensi dirinya Penyediaan program dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar .

dengan lingkup terdiri 8 standar. (2006). dalam beberapa hal. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). (3) standar kompetensi lulusan. (2) standar proses. (5) standar sarana dan prasarana. (7) standar pembiayaan. (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan.Karakteristik 8: Keterlibatan Orangtua dan Masyarakat y y Keterlibatan orangtua merupakan stimulus eksternal yang berperan penting bagi peningkatan kualitas pembelajaran Kerjasama orangtua dan sekolah dalam pemberian bimbingan belajar dan dalam menumbuhkan kedisiplinan kepada anak mereka Karakteristik 9: Keterlibatan dan Tanggung Jawab Siswa y y Pembelajaran hanya mungkin terjadi bilamana siswa mempunyai pandangan yang positif terhadap sekolahnya dan peranan mereka di dalamnya Keterlibatan siswa menumbuhkan pada diri siswa rasa memiliki terhadap sekolah dan terhadap pembelajarannya sendiri Karakteristik 10: Penghargaan dan Insentif y y Pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dapat dipandang sebagai tonggak penting untuk menuju pendidikan nasional yang terstandarkan. Sistem Manajemen Sekolah (Materi Pelatihan Pengawas Sekolah) Tentang Standar Pendidikan Posted on13 Mei 2010byAKHMAD SUDRAJAT Kehadiran Peraturan Pemerintah No. yaitu: (1) standar isi. dan (8) standar penilaian pendidikan . (6) standar penge lolaan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dikatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karakteristik 11: Tata tertib dan Kedisiplinan y y Kesepakatan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah Dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. Sumber: Arismunandar.

. pelaksanaan. khususnya dalam konteks sekolah.Dilihat dari fungsi dan tujuannya. dan Standar Penilaian (V).yaitu: Standar Pendidik (II. Untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. tetapi saya hanya ingin menggambarkan secara garis besarnya keterkaitan dan interdependensi kedelapan standar pendidikan. Dengan demikian. Hingga akhir tahun 2009 pemerintah melalui Mendiknas (era kepemimpinan Bambang Sudibyo) telah berhasil menerbitkan sejumlah PERMENDIKNAS (bisa dilihat DISINI) Tulisan ini tidak bermaksud menganalisis secara detail isi yang terkandung dari setiap peraturan yang ada. Standar Nasional Pendidikan memiliki fungsi sebagai dasar dalam perencanaan. Dalam Peraturan Pemerintah ini terdapat pasal-pasal yang mengamanatkan perlunya dibuat Peraturan Menteri sebagai penjabaran lebih lanjut dari delapan standar penddikan dimaksud. yang menjadi komponen terpenting adalah Standar Pendidik. Standar Isi (III). dari kedelapan lingkup standar pendidikan. Melihat gambar di atas. Pada aras A ini. tetapi merupakan sebuah rangkaian yang utuh dan saling terkait. terdapat wilayah yang bersentuhan langsung yang berada pada aras A. segenap aktivitas pendidikan dari standar pendidikan lainnya harus tertuju pada pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Melalui pendidik yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras Asecara standar. Standar Proses (IV). karena kedelapan lingkup standar pendidikan ini pada dasarnya tidak berjalan sendiri-sendiri. dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar Kompetensi Lulusan (I) seyogyanya dapat dijadikan sebagai titik sentral sekaligus inti dari seluruh standar pendidikan yang ada. dan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.a).

sehingga pada akhirnya dapat berdampak pula pada bergeraknya inti pendidikan yakni pencapaian SKL. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada. Secara formal konselor digolongkan sebagai pendidik. dan Standar Tenaga Kependidikan (II. namun entah kenapa hingga saat ini tampaknya pemerintah belum tergoda untuk mensahkannya sebagai sebuah kebijakan resmi. 12 Tahun 2007). menurut Allen dan Glikman (1992).c). dimana kedudukannya dapat diletakkan bersama-sama dengan Standar Pengelolaan Pemerintah Pusat (PP No 19 pasal 60) dan Standar Pengelolaan Pemerintah Daerah (PP No 19 pasal 59) yang akan menopang pergerakan komponen-komponen yang berada pada Aras B mau pun Aras A. tetapi keberadaannya tidak mungkin untuk disentuhkan langsung dengan SKL. mungkin diantara Anda ada yang mempertanyakan dimana letak Pengawas Satuan Pendidikan? (Permendiknas No. 27 tahun 2008). Selain itu. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia telah menawarkan Draft Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang merupakan SKL-nya pelayanan konseling di sekolah. Proses ini . Sepengetahuan saya.Standar Pengelolaan (VI) . Standar Sarana dan Prasarana (VII) dan Standar Pembiayaan (VIII). terus terang saya mengalami kesulitan untuk memposisikan Standar Konselor (Permendiknas No. saya melihat tumpuan harapan terletak pada Standar Kepala Sekolah Melalui Kepala Sekolah yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras B dan juga aras A. Kita berharap pada era kepemimpinan pendidikan sekarang ini kiranya dapat melahirkan berbagai kebijakan dan regulasi yang semakin dapat menyempurnakan sekaligus memperkokoh upaya standarisasi pendidikan nasional yang telah dirintis sebelumnya. Pengambilan Keputusan Partisipatif di Sek olah Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Pengambilan keputusan partisipatif merupakan suatu pengembangan konsep to grasp.b). Kegiatan itu mencakup perubahan fundamental mengenai cara sekolah dikelola dan cara mengungkapkan peranan dan hubungan kepala sekolah dengan masyarakat sekolah. karena dalam Permendiknas No. Dari seluruh rangkaian standar pendidikan sebagaimana tampak dalam gambar di atas. kita harus akui bahwa era kepemimpinan Bambang Sudibyo bisa dipandang telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi upaya standarisasi pendidikan nasional. 23 tahun 2006 sama sekali tidak disinggung SKL yang bisa dicapai melalui pelayanan konseling. Pengambilan keputusan partisipatif adalah proses membuat keputusan sekolah dalam suasana kerjasama pada semua level. yaitu: Standar Kepala Sekolah (II. Dalam konteks ini. Dari berbagai komponen yang berada pada aras B.Aras A tidak akan berputar dengan baik apabila tidak ditopang oleh komponen-komponen yang berada pada aras B. saya berfikir bahwa posisi pengawas satuan pendidikan mungkin perlu dibuat Aras C.

2. 3. proses membangun keterampilan kelompok dan pengembangan kompetensi kepemimpinan. Menurut Newel (1992). Partisipasi dalam pembuatan keputusan mengurangi penolakan terhadap perubahan. melainkan dilakukan secara berkelanjutan. Barangkali. Temuan itu menunjukkan bahwa: 1. nilai yang paling besar dari keikutsertaan dalam pengambilan keputusan adalah kekuatan pengertian yang disampaikan kepada individu. Prosedur partisipasi dalam pembuatan keputusan membantu penyatuan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Berbagai penelitian menemukan bahwa orang memberikan respek dan memperoleh manfaat dari teknik pengambilan keputusan partisipatif. Partisipasi dalam pembuatan keputusan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepuasan guru di sekolah. Individu kehilangan kepentingan dalam pemecahan masalah jika tidak terlibat secara aktif. Peserta membutuhkan respek dari orang lain dalam rangka aktualisasi dirinya. Interaksi kelompok seringkali mengarahkan untuk mengambil risiko lebih besar atas bagian daripada anggota kelompok.berlangsung dalam pola membagi pengambilan keputusan yang ³tidak dilakukan sekali dan kemudian dilupakan´. Partisipasi dalam pembuatan keputusan bermakna bagi perkembangan individu dan bagi upaya fungsionalisasi diri. 4. Keterlibatan dalam pengawasan yang berhubungan dengan tugas dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja. bahwa kelompok pembuat keputusan memperkuat nilai perilaku anggota kelompok yang secara umum diterima dalam budaya tertentu. pembuatan keputusan partisipatif dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik sebab sejumlah pemikiran orang diperkenalkan dalam memecahkan suatu masalah. Jika orang dilibatkan dalam membuat keputusan maka orang tersebut lebih suka untuk melaksanakan keputusan itu secara efektif. 5. . karena kelompok dapat terus berfungsi secara efektif meskipun kehilangan kedudukan sebagai pemimpin jika kepemimpinan telah dibagi dengan anggota kelompok.

Temuan penelitian di atas meneguhkan asumsi bahwa peningkatan peranan individu dan kelompok dalam proses pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan diri yang lebih besar. Penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan peranan manajemen (level) bawah dalam pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas. Disamping temuan penelitian di atas, ada beberapa temuan berbeda yang diperoleh dalam penelitian Alutto dan Belasco (Newwel, 1978) yang telah mengidentifikasi tiga keadaan keputusan dari para guru, yaitu: (1) kehilangan (guru yang ingin lebih berpartisipasi); (2) keseimbangan (guru yang ingin tidak ada perubahan dalam partisipasinya sekarang); (3) kejenuhan (para guru yang ingin mengurangi partisipasinya). Temuan ini berdasarkan pandangan guru muda yang mengajar pada sekolah menengah di daerah pinggiran yang merasa kehilangan kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sedangkan guru yang lebih tua pada sekolah dasar di daerah pertanian cenderung mengalami rasa jenuh yang sangat besar dalam pengambilan keputusan. Singkatnya, temuan penelitian secara umum mengindikasikan bahwa keterlibatan dalam pengambilan keputusan sangat disukai, tetapi struktur pembuatan keputusan harus cukup fleksibel untuk membolehkan bagi keragaman tingkat partisipasi. Menurut Simon (1985: 177), aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah kewenangan, komunikasi, pelatihan, efisiensi dan loyalitas kepatuhan. Kelima aspek ini merupakan konsep yang dapat mendorong seseorang membuat dan melaksanakan keputusan organisasi. Di dalamnya ada premis nilai dan premis fakta. Oleh karena itu, kewenangan ada dalam struktur formal organisasi yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku seseorang sebagai anggota organisasi dibanding yang lainnya. Unity dan coordination membentuk group mind. Simon (1985: 179) selanjutnya menyatakan bahwa ³Authority is as the power to make decision which guide actions of anothers´. Dalam hal ini pola perilaku dari kewenangan menurutnya adalah perintah. Kewenangan ada dalam hubungan antara atasan dengan bawahan. Oleh karena itu, pimpinan membuat dan mengirimkan keputusan dengan harapan bawahan menerima. Sementara itu, bawahan berharap akan melakukan pekerjaan berdasarkan keputusan tersebut. Cara manajer menentukan saat yang tepat menggunakan wewenangnya adalah dengan cara mengomunikasikan keputusan yang dibuatnya kepada bawahan untuk memelihara koordinasi perilaku dalam satu kelompok dimana keputusan atasan dikomunikasikan kepada yang lain. Dalam hal ini fungsi keputusan menurut Simon (1997: 187) ada tiga, yaitu (1) it enforce responsibility of the individual to choose who wield the authority; (2) it secures expertise in the making of decisions; (3) it permits coordination of activity. Dengan demikian, jika semua warga sekolah memahami fungsi keputusan yang mencakup upaya memperkuat tanggung jawab individu kepala sekolah bersama warga sekolah untuk mau menjalankan kewenangan, memelihara keahlian dalam membuat keputusan dan memungkinkan adanya koordinasi aktivitas maka konflik dapat dihindarkan di antara anggota organisasi sekolah. Pertimbangan yang dijadikan sebagai premis dalam menggunakan wewenang adalah pertimbangan nilai dan pertimbangan fakta. Pertimbangan nilai menyangkut nilai, budaya, pandangan dan pengalaman seseorang yang dipakainya dalam menggunakan wewenang. Sedangkan pertimbangan fakta berdasarkan data dan informasi yang ada untuk digunakan dalam kewenangan organisasi. Kedua pertimbangan tersebut sangat penting difungsikan

dalam wewenang karena dengan begitu akan dapat melahirkan loyalitas bawahan melaksanakan keputusan. Menurut Bauer (1992), pengambilan keputusan partisipatif meliputi banyak bentuk dan menekankan beberapa keyakinan umum atau premis. Pertama,keputusan partisipatif berarti lebih dekat kepada anak didik dan tindakannya sehingga akan dibuat keputusan terbaik tentang pendidikan bagi anak-anak. Kedua, guru, orang tua dan staf sekolah memiliki lebih banyak pendapat tentang kebijakan dan program yang mempengaruhi sekolah dan anak didik. Ketiga, tanggung jawab pengambilan keputusan partisipatif memiliki kekuatan dalam menentukan keputusan. Akhirnya, perubahan yang dilakukan cocok dan efektif dan bila dilaksanakan maka keputusan tersebut menjadi milik bersama kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. Tujuan pengambilan keputusan partisipatif ialah untuk meningkatkan efektivitas sekolah dan pembelajaran murid dengan cara peningkatan komitmen staf dan menjamin bahwa sekolah lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak didik dan masyarakat. Keberhasilan anak didik dan prestasi yang dicapai dipelihara dalam pencerahan pemikiran kita sebagai alasan untuk mengimplementasikan pemikiran tentang pengambilan keputusan partisipatif. Penggunaan teknik pengambilan keputusan partisipatif ini bertujuan untuk pergantian akuntabilitas atau mengabaikan tanggung jawab dari atas kepada pusat kekuatan staf, membuat sederhana pembagian pengambilan keputusan kepada yang lain. Setiap orang yang berpartisipasi membuat keputusan harus dimintai tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai. Pengambilan keputusan partisipatif memiliki nilai potensial untuk meningkatkan mutu keputusan, mempermudah penerimaan keputusan dan pelaksanaannya, membangkitkan kekuatan moral staf, meneguhkan komitmen dan tim kerja, membangun kepercayaan, membantu staf dan administrator memperoleh keterampilan baru dan meningkatkan keefektifan sekolah. Sejumlah alternatif besar dapat diajukan dan dianalisis bila banyak orang dilibatkan. Hal itu seringkali menghasilkan pendekatan inovatif terhadap persoalan. Otonomi dapat dikembangkan, keputusan lebih baik dicapai dibandingkan dengan manajemen sekolah terpusat. Kepercayaan sekolah juga ditingkatkan sehingga staf memperoleh pengertian tentang kompleksitas manajemen dan kepala sekolah mempelajari penghargaan atas pertimbangan program. Ada beberapa petunjuk yang disarankan oleh para perintis pengambilan keputusan bersama (partisipatif) sebagai berikut: 1. Mulai dari yang kecil dan berjalan dengan pelan. Untuk hal ini banyak bukti yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam adopsi inovasi. Oleh karena itu, pengambilan keputusan partisipatif akan lebih berhasil jika diawali dengan langkah kecil daripada ³perubahan menyeluruh´ yang dianggap asing oleh warga sekolah. Caranya ialah menganalisis kebutuhan sekolah, kemudian mengadaptasi pemilihan proses yang memperhatikan situasi lokal. Komponennya dapat ditambahkan bila staf sudah siap. 2. Setuju atas penataan yang khusus. Tidak ada kebenaran ³tunggal´ dalam cara melakukan pengambilan keputusan bersama. Hal itu bergantung atas apa yang diinginkan dari kebersamaan. Banyak sekolah mengembangkan satu tim pengambilan keputusan atau menggunakan kelompok lain atau komite. Jika tidak ada mandat maka

dapat diputuskan orang yang akan terlibat (bisa saja guru, pelajar, orang tua, anggota masyarakat dan konsultan luar). Ukuran kelompok dapat bervariasi dari sembilan sampai tujuh belas orang yang penting ada jaminan bahwa kelompok terwakili. Selanjutnya, menentukan bagaimana keputusan akan dibuat (ambil suara terbanyak atau konsensus) dan siapa yang akan membuat keputusan akhir atas persoalan yang dihadapi. 3. Prosedur yang jelas mengenai peranan dan harapan. Staf membutuhkan pengertian akan langkah-langkah dan prosedur untuk diikuti sebelum keputusan dibuat. Ketidakjelasan proses menciptakan kebingungan yang menimbulkan fragmentasi tindakan. Sementara itu, kejelasan proses memberdayakan anggota kelompok juga membutuhkan pengertian apakah mereka diikutkan membuat batang tubuh keputusan atau sebagai pemberi masukan saja. Hal ini akan mengurangi moral kelompok untuk berpikir membuat keputusan hanya mengambil keputusan demi kepentingannya semata. 4. Berikan kesempatan setiap orang untuk melibatkan diri. Keputusan yang dibuat berdasarkan pemikiran administratif dalam menghadapi memilih atau kelompok sukarelawan mungkin mendahului sebagai keputusan dari atas ke bawah. Kedudukan para sukarelawan atau kekuatan tugas mereka memberikan peluang baginya untuk berpartisipasi sebanyak atau sesedikit mungkin sesuai yang diinginkan. Paling tidak, semua guru dan staf dapat mengaksesnya. 5. Bangun kepercayaan dan dukungan. Jika kurang kepercayaan dan penghargaan di antara administrator, guru dan staf maka dapat dipastikan pengambilan keputusan bersama kurang dapat diterima. Oleh karena itu, jangan menolak solusi kelompok atau lebih kuat memberikan keputusan kepada kelompok pengambil keputusan bersama. Derajat dukungan yang kurang juga menjadi gagal jika kultur luar sekolah tidak berubah. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 200. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif; Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah.

Pengambilan Keputusan
Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Para pakar memberikan pengertian keputusan sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang pemikirannya. Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan; (2) ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan (3) ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada

F. Pengambilan keputusan sebagai kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. maka tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan: (1) tujuan yang bersifat tunggal. artinya bersangkut paut dengan hari depan. masa yang akan datang. fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik. Setelah dipahami pengertian keputusan. artinya bahwa sekali . Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. menurut James A. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Dari pengertian keputusan tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. menurut Sondang P. Kemudian. Terkait dengan fungsi tersebut. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Di samping itu. dimana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah. Pengertian keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. Menurut George R.tujuan tersebut. selanjutnya dikutipkan pendapat para pakar mengenai pengertian pembuatan atau ± yang sering digunakan ± pengambilan keputusan. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Selanjutnya.

tetapi dapat menimbulkan sifat rutinitas. Agar pengambilan keputusan dapat lebih terarah. maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu. tidak ada kaitannya dengan masalah lain dan (2) tujuan yang bersifat ganda. mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan 4. Rasional. tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya. Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat. Sementara itu. Pengalaman. maka perlu diketahui unsur atau komponen pengambilan keputusan. (2) identifikasi alternatif keputusan yang memecahkan masalah. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. 2. Fakta. dan (4) sarana dan perlengkapan untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. solid dan baik. tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. 3. Terry menyebutkan 5 dasar (basis) dalam pengambilan keputusan. atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. (3) fakta. . 1. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. (3) perhitungan tentang faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia.diputuskan. meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek. Intuisi. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik). dan (5) rasional. sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. Unsur pengambilan keputusan itu adalah: (1) tujuan dari pengambilan keputusan. George R. Wewenang. (4) wewenang. Dengan fakta. karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang. Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini. yaitu: (1) intuisi. 5. dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan. artinya keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua (atau lebih) masalah yang bersifat kontradiktif atau yang bersifat tidak kontradiktif. (2) pengalaman. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah.

Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut: y y y y y Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah.Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio. di mana menyediakan makanan pilihan/sehat untuk siswa yang dilayani oleh petugas kantin. 200. sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. logis. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. keputusan yang dihasilkan bersifat objektif. Good (1959) dalam bukunya Dictionary of Education mengatakan bahwa: ³cafetaria a room or building in which public school pupuils or college student select prepared food and serve themselves´. Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah Tentang Kantin Sekolah Posted on 3 Juni 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Layanan kantin atau kafetaria merupakan salah satu bentuk layanan khusus di sekolah yang berusaha menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan siswa atau personil sekolah. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. . Departemen Pendidikan Nasional. Kantin adalah suatu ruang atau bangunan yang berada di sekolah maupun perguruan tinggi. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai. lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

6. 2. dalam bekerja. 5. menunjukan adanya koordinasi antara bidang pertanian dengan bidang industri. membantu pertumbuhan dan kesehatan siswa dengan jalan menyediakan makanan yang sehat.William H. 7. 4. menekankan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat. dan tempat menunggu apabila ada jam kosong. sebagai tempat untuk berdiskusi tentang pelajaran-pelajaran di sekolah. memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat. dan praktis. 4. 7. Roe dalam bukunya School Business Management menyebutkan beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penyediaan layanan kantin di sekolah: 1. menganjurkan kebersihan dan kesehatan. untuk memberikan pelajaran sosial kepada siswa. memberikan gambaran tentang manajemen yang praktis dan baik. 3. Dalam menyelenggarakan atau mendirikan kantin sekolah yang baik hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. maka kantin sekolah dapat berfungsi untuk: 1. 8. bergizi. dan kehidupan bersama. 2. 3. program kantin sekolah harus dipandang sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan . Dilihat dari tujuan kantin sekolah di atas. 2. menekankan kesopanan dalam masyarakat. menghindari terbelinya makanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya dan kesehatannya. memberikan batuan dalam mengajrkan ilmu gizi secara nyata. kantin sekolah hendaknya tidak dipandang sebagai suatu penciptaan keuntungan di sekolah. memberikan bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata. 5. 6. mendorong siswa untuk memilih makanan yang cukup dan seimbang. mengajarkan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlakudi masyarakat. memperlihatkan kepada siswa bahwa faktor emosi berpengaruh pada kesehatan seseorang.

6. Terkait dengan bentuk pelayanan kantin sekolah. poster-poster kesehatan. seperti: lukisan. memberikan kebijaksanaan keuangan (korting) dapat mendorong berkembangnya program kantin. gedung atau ruang kantin harus strategis karena akan sangat mempengaruhi keefektivan operasi dan koordinasi program-program kantin 6. karena dapat menarik pembeli 8. Tray service system. harga makanan dan minuman harus dapat dijangkau oleh daya beli siswa 4. namun juga dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendidik siswa tentang kesehatan. Kantin sekolah memberikan peluang untuk mengembangkan tingkah laku dan kebiasaan positif di kalangan siswa. mengatur dekorasi. 4. 3. yaitu: 1. Self service system. 7. dan penyajian makanannya dengan menggunakan baki atau nampan. disiplin dan nilai-nilai lainnya. mengatur anak-anak yang makan siang dengan membawa makanan sendiri. menyusun suatu aturan pembayaran yang tidak merugikan kantin. 3. saling menghargai. serta menjamin selera pembeli. membuat pengaturan tempat duduk yang serasi. Wait service system Sistem pelayanan dimana pembeli menunggu dilayani oleh petugas kantin sesuai dengan pesanan. 2. kebersihan. memperhatikan semua perilaku murid dalam kantin.3. 7. menentukan prosedur untuk menutup dan membuka kantin atau kapan anak-anak memasuki dan meninggalkan kantin. kejujuran. menyajikan musik selama jam makan siang. program kantin harus menyeimbangkan antara kapasitas makanan dan harga. 2. 5. Manajemen Layanan Khusus: materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). 8. Di sinilah letak arti penting manajemen kantin sekolah sebagai salah satu substansi manajemen sekolah. personil-personil kantin harus bertanggung jawab atas makanan yang bergizi dan menarik. menyusun prosedur pengembalian talam atau tempat makanan dan pada saat meninggalkan ruangan makan Dengan dimikian. tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum siswa semata. Sistem pelayanan dimana pembeli melayani dirinya sendiri makanan yang diingini. begitu juga gizi. keberadaan kantin di sekolah. . Jakarta. penyajian dan pelayanan makanan harus memadai dan cepat 5. Sumber: Disarikan dari : Depdiknas. Sistem pelayanan dimana pembeli dilayani petugas kantin. menentukan aturan-aturan bagi perilaku anak-anak di meja makan. Hal-hal berikut dapat diperhitungkan oleh kepala sekolah untuk memperbaiki lingkungan kantin sekolah: 1. terdapat 3 (tiga) alternatif bentuk layanan. 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->