Konsep dan Substansi Manajemen Pendidikan

Konsep Manajemen Sekolah
Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT MANAJEMEN SEKOLAH : Pengertian, Fungsi dan Bidang Manajemen oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. A. Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama. Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa : ³Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan ± tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan´. Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa: ³Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan´. Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam¶an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai ³keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien´. Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa ³administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian

usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal´. Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu. B. Fungsi Manajemen Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut: Menurut G.R. Terry terdapat empat (1) planning (2) organizing (3) actuating (4) controlling (pengawasan). manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (pelaksanaan); dan fungsi

Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) commanding (pengaturan); (4) coordinating (pengkoordinasian); dan (5) controlling (pengawasan). Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O¶ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan); dan (5) controlling (pengawasan). Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan (1) planning (2) organizing (3) staffing (4) directing (5) coordinating (6) reporting (7) budgeting (penganggaran). tujuh manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (penentuan staf); (pengarahan); (pengkoordinasian); (pelaporan); dan fungsi

Untuk memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan (controlling).

1. Perencanaan (planning) Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : ³ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.´ Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah -masalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha dan dana. Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu : 1. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan. 2. Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal. 3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis. Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi

karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and acommplishment organizational obtective´. atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan. dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. T. falsafah dan tujuan. seperti para penyedia. dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Terry (1986) mengemukakan bahwa : ³Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang. Disamping itu. yang mencakup pernyataan umum tentang misi. Penentuan misi dan tujuan. 3. yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang.yang sangat pesat. Pengorganisasian (organizing) Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah -langkah dalam penyusunan perencanaan strategik. 2. Nilainilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika. namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian : ³« as the act of planning and implementing organization structure. sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien. 2. Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi. yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. dan apa targetnya. Boone dan David L. Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis. di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan. khususnya pada tingkat persekolahan. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Lousie E. pasar tenaga kerja dan lembagalembaga keuangan. Analisa lingkungan eksternal. Dari kedua pendapat di atas. dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu´. serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya sumber daya perusahaan yang tersedia. sebagai berikut: 1. pekerjaan manajerial yang semakin kompleks. kapan dikerjakan. pasar organisasi. para pesaing. diantaranya adalah : (a) organisasi harus profesional. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang. George R. dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri. Pengembangan profil perusahaan. (b) pengelompokan satuan kerja . Berkenaan dengan pengorganisasian ini. Pada bagian lain. dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya. perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus.

Pengawasan (controlling) Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan -tujuan perusahaan. dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk . dengan me lalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran. dan (f) organisasi harus fleksibel dan seimbang. pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan. (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah. (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya. bahwa : ³Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan ± tujuan perencanaan. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian. 4. (c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab. Robert J. sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orangorang dalam organisasi Dalam hal ini. pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : ³« the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans´. tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Pelaksanaan (actuating) Dari seluruh rangkaian proses manajemen. membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.harus menggambarkan pembagian kerja. Sementara itu. Dalam hal ini. merancang sistem informasi umpan balik. Dari pengertian di atas. 3. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan. Boone dan David L. Ernest Dale seperti dikutip oleh T. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. yaitu : (a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis. (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan. tugas dan tanggung jawabnya. menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan. (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang.´ Dengan demikian. George R. (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol. atau mendesak. Louis E. Semua fungsi terdahulu. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen.

Bidang kependidikan atau bidang edukatif. Dengan demikian. agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis. yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya. (d) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan. metode dan cara mengajar. di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan. 3. Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu : 1. Administrasi personal. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Hal serupa dikemukakan pula oleh M. seperti tugas mengajar guru-guru. dan personil lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. yang mengajar. boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi. penyusunan sylabus atau rencana pengajaran tahunan. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik. maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. yaitu : (a) penetapan standar pelaksanaan. dan pengawasan secara berkelanjutan. Administrasi kurikulum.mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. (c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata. bila diperlukan. yang mencakup unsur-unsur manusia yang belajar. proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen. dan (e) pengambilan tindakan koreksi. Bidang personil. sebagai alat-alat pembantu untuk melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan pendidikan sebaik-baiknya. (b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan. sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen. mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah. Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Dengan demikian. gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain. yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/ bendabenda. 2. . yang menyangkut kurikulum. Bidang Kegiatan Pendidikan Berbicara tentang kegiatan pendidikan. 3. pengorganisasian yang efektif dan efisien. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang sangat penting. administrasi keuangan. evaluasi dan sebagainya. persiapan harian dan mingguan dan sebagainya. 2. Administrasi material. Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu dengan lainnya. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan. Rifa¶i (1980) bahwa bidang-bidang administrasi pendidikan terdiri dari : 1. C. seperti ketatausahaan sekolah. Bidang alat dan keuangan. Dalam perspektif persekolahan. juga administrasi murid. pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.

Sergiovani. (4) pemilihan dan pengorganisasian materi. (5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar. Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). dan (4) membuat rencana induk (master plan): pengembangan. Dari beberapa pendapat di atas. (2) manajemen personalia. dan tujuan. (5) school plant. agaknya yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2002) mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan. ke depannya pemikiran ini sangat menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia. berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang bidangbidang kegiatan pendidikan di sekolah. Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini. dan (d) pengendalian. (6) school trasportation. Thomas J.Sementara itu. terutama dalam bidang school transportation dan business management. (7) organization and structure dan (8) School finance and business management. (3) penentuan struktur dan isi program. 3. meliputi: (1) manajemen kurikulum. dan sarana belajar. 2. Tahap pengembangan. (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran. (5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah. (3) community school leadership. dan sarana pembelajaran. Manajemen kurikulum Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. meliputi langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus. (3) menentukan disain kurikulum. meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis kebutuhan. (2) pupil personnel. dan penilaian. alat. (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis. dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran. yang didalamnya mengetengahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan. Kendati demikian. (3) manajemen kesiswaan. Tahap perencanaan. yang mencakup : 1. pelaksanaan. Sergiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. mencakup : (1) instruction and curriculum development. Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah. (2) perumusan visi. (4) penyediaan sumber. (4) staff personnel. Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap : 1. dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar. meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional atau dasar pemikiran. (c) pelaksanaan. misi. dan (6) setting lingkungan pembelajaran . alat. pandangan Thomas J. Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan. Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah. (6) pemilihan sumber. Tahap implementasi atau pelaksanaan. dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan. RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). (b) pengorganisasian dan koordinasi. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Dengan alasan tertentu. Di lain pihak. (4) manajemen keuangan. kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan).

pengendalian serta pemeriksaan. dan (d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah. upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan. kondisi aktual. Oleh karena itu. masalah-masalah dan peluang. kemampuan intelektual. hal yang amat penting dalam manajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di sekolah. sosial ekonomi. juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah. disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah. input. (c) kultur dan suasana organisasi di sekolah. Tahap penilaian. ditinjau dari kondisi fisik. dan psikomotor. 4. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif) 2. terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan. jika mereka menyenangi apa yang diajarkan. 3. sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal. pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah. implementasi design dan cost benefit dari rancangan. yaitu : (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek. (b) kondisi siswa sangat beragam. proses. Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem. minat dan seterusnya. (c) siswa hanya termotivasi belajar. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam. dan cara melakukan pengawasan. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah . sumber daya manusia adalah komponen paling berharga. cara mengadministrasikan dana sekolah. Oleh karena itu. Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. Manajemen Kesiswaan Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar. Manajemen keuangan Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana. (b) sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik. dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif. sehingga mendukung tujuan institusional. tetapi juga ranah afektif. 5. strategi pencapaian tujuan. Manajemen personalia Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu : (a) dalam mengembangkan sekolah. produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada pendekatan sistem dan tujuan. baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif.4. kiat sekolah dalam mengelola dana. serta perilaku manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah. Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia. masyarakat dan sumber-sumber lainnya.

menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah. Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik Posted on 14 Februari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah. pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan. mebeler. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah. layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan -kesamaan yang dipunyai oleh anak. minat. pendaftaran. . Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual.Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik. membuat daftar sarana dan pra saran. dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah. Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana. memperpanjang usia pakai. Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan. Secara sosiologis. dan peralatan sekolah lainnya. yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Dalam sistem demikian. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana. mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana. menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah. menyiapkan jadwal kegiatan perawatan. Adanya kesamaankesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak -hak yang mereka punyai. seperti gedung. layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan. dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja. kebutuhan sampai ia matang di sekolah. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik? Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.

keterampilan dan psikomotor peserta didik. dengan orang tua dan keluarganya. dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial . 2. dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut. 3. Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut: 1. ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Dengan terpenuhinya 1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik. segi aspirasinya. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. 4. 2. Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut: 1. Menyalurkan aspirasi. bakat dan minat peserta didik. lebih lanjut. Meningkatkan pengetahuan. baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya. dan kemampuan lainnya.± yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak±. Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa. segi sosialnya. proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar. berkaitan erat dengan pandangan psikologismengenai anak. harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik. dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. kemudian digugat. Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan). 2. Gugatan demikian. maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang bersifat massal ini. melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. sama sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. B. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan -kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan). Oleh karena berbeda. kemampuan khusus (bakat). Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan.

Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. 3. Pendekatan Manajemen Peserta Didik . Oleh karena itu. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah. Ialah peserta didik sendiri. 5. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. kesenangan dan minatnya. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik. ialah agar peserta didik tersalur hobi. Segala bentuk kegiatan. maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik. Oleh karena membimbing. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah. 4. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik. Hobi. prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut: 1. kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan. haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. baik itu ringan. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. 2. Kesejahteraa demikian sangat n penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya. 3. 4. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. berat. ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. disukai atau tidak disukai oleh peserta didik. melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik. D. C. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.masyarakatnya. 6. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi. tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai. oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.

tugas-tugas. Dalam pendekatan padu demikian. pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). Asumsi pendekatan ini adalah. Dalam pendekatan demikian. peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak. Direktorat Tenaga Kependidikan. Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. jika dikemukakan dengan kalimat terbalik. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. jika peserta didik senang dan sejahtera. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu. memperketat pre sensi. Pendekatan demikian. Kedua. 1994). peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal. penuntutan disiplin yang tinggi. penyelesaian tugas-tugas peserta didik. Departemen Pendidikan Nasional.Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager. pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Kepala Sekolah. maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. atau sebutlah dengan pendekatan padu. menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. manakala dapat memenuhi aturan-aturan. Atau. maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. tentu dapat diambil jalan tengahnya. pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya. memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu. Asumsi dari pendekatan ini adalah. Pengertian Manajemen Keuangan . 2007) Konsep Dasar Manajemen Keuangan Sekol ah Posted on 18 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. Di antara kedua pendekatan tersebut. Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah. iklim yang kondusif. Pertama. penyediaan kesejahteraan. tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut. transparansi. yaitu transparansi.t t j i i il M t t i l l i t j t j li l j l i i i i i t i i t i t l i t i j j i i l i B i t j it mperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan. 1. efisiensi. Transparansi . Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah: 1. dan efisiensi. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah. membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. dan akuntabilitas publik. pelaporan. pemanfaatan dana. pemeriksaan dan pertanggungjawaban i . Disamping itu prinsip -masing prinsip efekti itas juga perlu mendapat penekanan. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah. 3. menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Undang -undang No 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan. Meningkatkan efekti itas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah 2. efekti itas. it M t i ti t i / t t j i l j B T l j li l i ti it t t j ti i i t t j l l i i l ti l l t M l l i kegi t manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat di encanakan. Berikut ini dibahas masing tersebut. Pri i Pri i Manajemen Keuangan Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. diupayakan pengadaann dibukukan secara transparan. maka dibutuhkan kreati itas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana. dan digunakan untuk ya. akuntabilitas. C.

Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah. Efektivitas lebih menekankan pada kualitatif outcomes. Effectiveness ´characterized by qualitative outcomes´. Garner(2004) mendefinisikan efektivitas lebih dalam lagi. Manajemen keuangan dikatakan memenuhi prinsip efektivitas kalau kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan dan kualitatif outcomesnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua. Di lembaga pendidikan. Disamping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah. fungsi dan wewenangnya. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat 3. masyarakat.Transparan berarti adanya keterbukaan. bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan. Efisiensi . dan pertanggungjawabannya harus jelas sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. rincian penggunaan. Orang tua siswa bisa mengetahui berapa jumlah uang yang diterima sekolah dari orang tua siswa dan digunakan untuk apa saja uang itu. Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Efektivitas Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. karena sebenarnya efektivitas tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab. Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua. orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. 2. (3) adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya. (2) adanya standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Beberapa informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa ditempel di papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkannya. yaitu (1) adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah . masyarakat dan pemerintah. 4.

tenaga. b. Efficiency´characterized by quantitative outputs´ (Garner. tenaga dan biaya yang sekecil kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan. biaya dan hasil yang diharapkan dapat dilihat pada gambar berikut ini: Hubungan penggunaan waktu. biaya dan hasil yang diharapkan Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan daya C dan hasil D yang paling efisien. biaya. Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran (out put) atau antara daya dan hasil. tenaga. sedangkan penggunaan daya A dan hasil D menunjukkan paling tidak efisien.Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan.2004). Dilihat dari segi penggunaan waktu. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari dua hal: a. waktu. Dilihat dari segi hasil Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau dengan penggunaan waktu. Ragam efisiensi dapat dijelaskan melalui hubungan antara penggunaan waktu. pikiran. Ragam efisiensi tersebut dapat dilihat dari gambar berikut ini: . tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya. tenaga dan biaya: Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau penggunaan waktu. Daya yang dimaksud meliputi tenaga.

Boston: Allyn and Bacon. 2007) ===================== Daftar Rujukan Campbell. biaya A dan hasil B paling tidak efisien. Edwin M. dan Udaya. Departemen Pendidikan Nasional.. Roald F. 1991. 5th edition. Gail T. IA: Wm. Manajemen Keuangan.Nystrand. tenaga. 2002. Jusuf. 1983. Pengantar Ilmu Manajemen: Buku Panduan Mahasiswa. Sedangkan penggunaan waktu.Bridges. biaya tertentu dan ragam hasil yang diperoleh Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan waktu. Richard A. Dubuque. A. Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. C. Direktorat Tenaga Kependidikan. . School-Based Leadership: Callenges and Opportunities.Hubungan penggunaan waktu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi memungkinkan terselenggaranya pelayanan terhadap masyarakat secara memuaskan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab. & Schneider. Brown Publishers Kadarman. 1992. Inc Departemen Pendidikan Nasional. tenaga.M. dan Raphael O. Direktorat Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Pendidikan Dasar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. biaya A dan hasil D paling efisien. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. Ditdikdasmen Depdikbud Gorton. Introduction to Educational Administration. 1995/1996. Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar. tenaga.

Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Harold dan O¶Donnel. New York: McGraw-Hill Book Company. Yogyakarta: Liberty. Tanpa tahun. 1990. Azas-azas Manajemen Modern. M. Pemerintah Kota Malang. 2000. Third Edition. 2004. Manullang. Pengantar Manajemen Pendidikan. Jakarta: Swastha. Kutipan Buku Pedoman Kerja dan Penekanan Tugas. Jakarta: Ghalia Indonesia.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 056/U/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah. Malang: AP FIP Universitas Negeri Malang. dan Sahertian. Cryill. 1985. 1984. M. Jakarta: CV Tamita Utama Koontz. Dasar-dasar Manajemen. Malang: Dinas Pendidikan Kota Malang Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Supriadi.A.Indonesia di Malang Konsep Dasar Manajemen Peran Serta Masyarakat Posted on 10 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Sekolah sebagai institusi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan sekolah tersebut berada. Basu. Administrasi Keuangan Sekolah. Agus. Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Maisyaroh. Dedi. Manajemen Keuangan Sekolah. Timan. yang direvisi dengan Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Widjanarko. Djum Djum Noor Benty. 1996/1997. Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala SMU se. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sutarsih. 2002. Cicih. Principles of Management: An Analysis of Managerial Functions. Untuk memahami apa dan untuk apa program hubungan sekolah dan . Jakarta: CV Tamita Utama Undang-undang No 22 tahun 1999. P.

Hal terpenting dari pengertian di atas. tetapi sekolah berusaha secara aktif (jemput bola). tujuan. Dengan tuntutan yang demikian akan menjadi beban bagi sekolah. Di sisi lain pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat. pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah. waktu dan sebagainya). Apakah ini yang dimaksud dengan hubungan sekolah dengan masyarakat. Ini berarti pihak sekolah kurang mendapatkan balikan dari pihak masyarakat. Apa sebenarnya kebutuhan masyarakat terhadap sekolah itu? Masyarakat (lebih khusus lagi orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. tentunya yang dimaksudkan dalam uraian di sini tidak sesederhana pengertian tersebut. yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah. Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan out put yang berkualitas pula. Apabila dicermati pengertian tersebut di atas. dengan segala keterbatasan yang dimilikinya (tenaga. Pengertian Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak. serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis. biaya. yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: 1. Persuasion directed at the public. Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti dikutip oleh Suriansyah (2000). adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. adalah adanya informasi yang . dan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat. Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hakekat hubungan sekolah dan masyarakat. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of public with the institution (suatu upaya untuk menyatukan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik. 1. berikut ini akan diuraikan beberapa hal pokok: pengertian. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat) 2. yaitu kemauan sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan sekolah.masyarakat perlu diaplikasikan secara intensif dalam pengelolaan pendidikan. nampaknya lebih mengarah pada pola hubungan satu arah. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Arthur B. to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah) 3.

Pengertian ini memberikan dasar bagi sekolah. bahwa sekolah perlu memiliki visi dan misi serta program kerja yang jelas. Dengan demikian maka program sekolah harus seiring dengan kebutuhan masyarakat. melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. jelas dan konprehensip tentang sekolah merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya dukungan dan bantuan mereka terhadap sekolah.diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan. Atau dengan kata lain pelanggan sekolah itu pada hakekatnya adalah siswa dan orang tua siswa serta masyarakat. appreciation is basic to support. Sekolah . dapat dipahami bahwa ssekolah perlu melakukan beberapa aktivitas dalam melaksanakan manajemen peran serta masyarakat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan dan memberdayakan masyarakat dan stakeholders lainnya. Agar pemahaman program oleh masyarakat menyentuh hal yang mendasar. sekolah tidak pernah memprogramkan kegiatan sekolah yang bersifat religius. Brownell seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) yang menyatakan bahwa: Knowledge of the program is essential to understanding. and understanding is basic to appreciation. maka penghargaan mereka terhadap sekolah akan tumbuh. Apa yang dimaksud dengan visi dan misi sekolah anda dapat memperdalam pada buku-buku reference lain. Dengan demikian mereka dapat memikirkan tentang peranan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya untuk membantu sekolah. sehingga pada saat masyarakat ingin mengetahui secara mendalam tentang hal tersebut warga sekolah (guru. Pemahaman masyarakat yang mendalam. murid. Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dipahami masyarakat dan apa yang diinginkan serta program-program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Beberapa aktivitas tersebut adalah: Selalu memberikan penjelasan secara periodik kepada masyarakat ten tang program-program pendidikan di sekolah.L. Bertolak dari pendapat yang diungkapkan Brownell tersebut di atas. Dengan memahami dua pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat di atas. Sebagai contoh: Bagaimana masyarakat mau membantu sekolah apabila sekolah di tengah masyarakat religius dan fanatik. program kerja sekolah. Kenyataan selama ini tidak semua warga sekolah menghayati atau memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi dan misi sekolah. masalah -masalah yang dihadapi serta berbagai aktivitas sekolah lainnya´. masalah-masalah yang dihadapi dan kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai oleh sekolah (berfungsi sebagai akuntabilitas). staf tata usaha dan lain -lain) tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci. sehingga sekolah terisolir dari masyarakatnya. Hal ini akan memberikan kesan yang kurang baik kepada masyarakat. agar masyarakat memahami apa yang ingin dicapai oleh sekolah dan masalah/kendala yang dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan. Tumbuhnya penghargaan inilah yang akan mendorong adanya dukungan dan bantuan mereka pada sekolah. Karena memang pelanggan dan pengguna hasil lulusan sekolah adalah masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh C. Karena itu kebutuhan dan kepuasan pelanggan merupakan hal pokok yang harus diperhatikan oleh lembaga sekolah. kita dapat membuat suatu pengertian sederhana tentang hubungan sekolah dan masyarakat sebagai suatu ³proses kegiatan menumbuhkan dan membina saling pengertian kepada masyarakat dan orang tua murid tentang visi dan misi sekolah. maka harus dimulai dengan penjelasan tentang visi dan misi serta tujuan sekolah secara keseluruhan.

Apabila kondisi dia atas tercipta. 2. jelas dan akurat. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengerti dengan jelas tentang visi. atau ada semacam persepsi seolah -olah sekolah yang bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. acuh tak acuh dan masa bodoh masyarakat akan hilang. Apabila hal ini tercipta. baik pihak orang tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Kondisi ini yang mendorong masyarakat untuk tidak terlibat apalagi berpartisipasi membantu sekolah. tujuan dan program kerja sekolah. Yang menjadi pertanyaan adalah. 3. Sedangkan orang tua (masyarakat) tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di sekolah. khususnya sekolah merupakan unsur penting guna menumbuhkan dukungan yang kuat dari masyarakat. Dengan demikian mereka dapat melihat secara jelas dimana mereka dapat berpartisipasi untuk membantu sekolah. sudahkah sekolah mengenal harapan masyarakat? Atau sekarang justru sekolah memaksakan harapannya kepada masyarakat! Coba kita analisis kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dan penglihatan selama ini dalam praktek penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Sekolah akan mengenal secara mendalam latar belakang. Nampak manfaat yang sangat besar bagi sekolah dan masyarakat. Sedangkan pihak masyarakat dan orang tua murid cukup dimintakan bantuannya dalam bentuk keuangan saja.menjadi menara gading bagi lingkungan masyarakatnya sendiri. maka sikap apatis. para siswa secara langsung mengetahui bahwa mereka mendapat perhatian yang besar dari kedua belah pihak. Hal ini disebabkan adanya persepsi bahwa peningkatan mutu sekolah dan peningkatan proses pembelajaran cukup dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak pemerintah secara sepihak. berperilaku dan bertindak di luar aturan sekolah yang ada. Keterlibatan orang tua/masyarakat sering diinterpretasikan atau dipersepsi sebagai bentuk intervensi yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengetahui persoalanpersolan yang dihadapi atau mungkin dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan yang diinginkan sekolah. maka sudah saatnya mulai sekarang sekolah berbenah diri untuk membangun kemitraan dengan masyarakat/ stakeholders untuk kemajuan sekolah. Hal ini tentunya merupakan kartu kendali bagi sekolah untuk bersikap. Keadaan ini juga turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab antar sekolah dengan pihak masyarakat. misi. pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang baik akan memberikan manfaat lain seperti: 1. Persepsi yang salah ini sebagai akibat dari kurangnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan juga pemahaman warga . apabila hubungan sekolah dengan masyarakat benar-benar dapat dikelola dan direalisasikan secara utuh sesuai dengan konsepsi di atas. keinginan dan harapanharapan masyarakat terhadap sekolah. Dalam kenyataan yang ditemui di lembaga-sekolah sekarang ini nampaknya masih sedikit ditemukan pola-pola hubungan yang dapat mendorong terciptanya keempat hal pokok di atas. Di samping manfaat seperti diuraikan di atas. maupun warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau berperilaku tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Apabila kita belum melakukan hal tersebut. Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua murid terhadap sekolah. kemajuan sekolah beserta masalah-masalah yang dihadapi sekolah secara lengakap. Bertolak dari gambaran tersebut di atas. Kendali/control yang dilakukan bersama antara sekolah dan masyarakat secara terpadu akan memberikan ruang sempit bagi siswa.

Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama yang erat.sekolah tentang apa dan bagaimana harusnya pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun. masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah. Secara lebih lengkap Elsbree dan Mc Nelly seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) menyatakan bahwa kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk 1. gambaran pada pembahasan di atas sudah memperlihatkan kepada kita tentang apa yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. 3. Untuk memperoleh bantuan dari orang tua murid/masyarakat. afektif maupun psikomotor hanya akan dapat tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di luar kelas. To improve the quality of children¶s learning and growing. pengelolaan keuangan. dikelola dan dievaluasi secara baik. tujuan yang hakiki dari kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak akan tercapai. Kualitas pembelajaran. pengelolaan kesiswaan dan sebagainya (ingat substansi kegiatan management sekolah) juga harus direncanakan. 2. 2. enthusiasm and support for community program of public educations Dari pendapat ini terlihat bahwa yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ini tidak hanya sekedar mendapat bantuan keuangan dari orang tua murid/masyarakat. . Sebagai bahan perbandingan. Bantuan apa? Ingat bantuan ini bukan hanya sekedar uang! Untuk melaporkan perkembangan dan kemajuan. Proses pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk orang tua murid/masyarakat. To develop understanding. Di samping itu pemberdayaan masyarakat masih cenderung pada aspek pembiayaan. sehingga segala permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama dan dalam waktu yang tepat. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dukungan mereka akan pendidikan. Apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat?. Tanpa perencanaan dan pengelolaan serta evaluasi yang baik. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu aktivitas yang mendapat kedudukan setara dengan kegiatan pengajaran. Untuk memajukan program pendidikan. Hagman sebagai berikut: 1. Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan: 1. Kapan sebenarnya laporan ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah ? 2. tetapi lebih jauh dari hal tersebut yaitu pengembangan kemampuan belajar anak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. To rise community goals and improve the quality of community living 3. anda dapat mempelajari tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L. Kualitas lulusan sekolah dalam aspek kognitif.

lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini. sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. Integrity. maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. Continuity. 3. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap sekolah. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat dan valid. salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap. Ini berarti segala program yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran. Lulusan yang berkualitas merupakan modal utama dalam membangun kualitas masyarakat di masa depan. Kualitas masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan dan hasil pendidikan yang handal. kualitas hasil belajar dan kualitas pertumbuhan/perkembangan peserta didik. bimbingan dan pengawasan pada anak/murid dalam belajar. untuk menghindari salah persepsi serta kecurigaan terhadap sekolah. Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan dalam konteks peningkatan mutu hasil belajar. disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik. 3. Kualitas belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan tindakan antara sekolah. Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi. Kualitas hasil belajar siswa. maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat dibangun secara optimal. akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. dalam arti apa yang dijelaskan. . Kebersamaan ini terutama dalam memberikan arahan. Karena dia tidak dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri. Apabila hal tersebut dapat kita lakukan. baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan.2. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebabkan hal yang negatif bagi sekolah. 2. sedang dan akan dijalankan oleh sekolah. atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan. masyarakat dan orang tua siswa. Kualitas pertumbuhan dan perkembangan peserta didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu sendiri. Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang telah. masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah. Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu.

Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap. Informasi yang disajikan menggunakan pendekatan budaya setempat. sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah.Perkembangan informasi. remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh masyarakat kepada sekolah. Apabila ini terkondisi. atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua/masyarakat. factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat. kegiatan kurikuler. permasalahan permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan tumbuh setiap saat. Coverage Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek. Simplicity Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah yang sangat ilmiah. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa undangan kepada orang tua murid dari sekolah sering diwakilkan kehadirannya kepada orang lain. misalnya program ekstra kurikuler. disukai oleh masyarakat atau akrab bagi pendengar. maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu.Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat. harus dilakukan secara terus menerus. misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester/caturwulan. Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. sehingga kehadiran mereka hanya berkisar antara 60% ± 70% bahkan tidak jarang kurang dari 30%. kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat. 4. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan bahwa apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan minta bantuan uang. 3. perkembangan kemajuan sekolah. Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat. oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang menjadi audience. karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat/orang tua murid. Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: y y y Informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat). Penggunaan kata-kata yang jelas. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak datang atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah. dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi . Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan. akurat dan up to date. padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar.

budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. kemajuan.yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif. akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Untuk itu informasi yang ramah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu. obyektif berdasarkan datadata yang ada pada sekolah. hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. 5. masalah dan pr stasi e sekolah terakhir. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta faktor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi ke dalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah. kebiasaan. Adaptability Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas. Departemen Pendidikan Nasional. Constructiveness Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat. tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari. Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu. Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan. Penjelasan yang konstruktif akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu. 2007) ===================== . ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. termasuk dalam hal ini memberitah ukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah. 6. Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir bagi penerima informasi.

Jakarta : Balitbangdikbud. Inovasi Pendidikan dalam upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Edward. (1988). Pusat Informatika. Bandung: PT. Manajemen Humas dan Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. (2000). Banjarmasin: FKIP Unlam Ahmad Suriansyah.School Administration. (1989). Remaja Rosdakarya Stewart L. FKIP Unlam. Peran SDM dalam Penerapan ISO 9000 . Banjarmasin Ahmad Suriansyah. (1999). (1992). Elvinaro Ardianto. Sylvia Moss. Ahmad Suriansyah (1987). (2002). Iowa. Mc Grow Company Publisher. Inc. . Jakarta : Rajawali Pers. M.. London: Bidles Ltd. (2002). Bambang Siswanto. Dasar-dasar Public Relations. Pramudya Sunu. Husen. P2LPTK. Panduan Manajemen Berbasis Sekolah Di Kalimantan Selatan. Bandung: PT. Edisi Pertama. Dikti. Jakarta: Grasindo Roem. Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan SD Di Indonesia (Laporan Analisis Tahap Awal). (terjemahan). Mansour Fakih. Jakarta : Depdikbud. D. Amka. Maroon T. New York: Mc Grow Hill Book Company. Diktat Bahan Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan.L. Gans. (2002). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Jakarta: PT. Jakarta: Bina Aksara Brownwll. Kumars. Learning Society. Teori dan Praktek.. Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. T. Public Relation In Education. Merubah Kebijakan Publik. Jakarta : Bina Aksara.. Dubuque. Trans.. Manajemen Pendidikan Indonesia. Mutu Pendidikan di SLTP Kalsel ³Analisis Partisipasi Orang Tua Murid dalam Pendidikan. Sudarwan Danim. (2001).Tubbs. Wm. Sallis.Z. L. Guildford and Kings Lynn. Banjarmasin: Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan. C. Humas. Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Tinggi suatu Perbandingan di Beberapa Negara.. Soleh Soemirat. 1993) Total Quality Management in Education. Human Communication. Pidarta. (2000). T. Rosady Ruslan. (1955). Miarso (Ed) (1988). (1977).DAFTAR PUSTAKA Ace Suryadi (1991).. (2002).A.. Bandung: Pustaka Setia. Remaja Rosdakarya. Raja Grafindo Persada. Gorton. (1975). Toto Rahardja (Penyunting). R.

Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen.Sukardi. Rajawali Pers. kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya. Budaya Kerja. Jakarta: Pusat Antar Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Masyarakat Belajar. pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan yang sangat cepat dan kadang-kadang kehadirannya sulit diprediksikan. (1977). Golden Terayon Press Manajemen Sekolah dalam Upaya Mengantisipasi Perubahan Posted on26 Maret 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam kehidupan modern sekarang ini. dan proaktif terhadap kehidupan individu. Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah dalam mengaplikasikan TQ M adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan. dan habis ditelan oleh perubahan. Untuk itu. Ada . Ketidakmampuan sekolah dalam mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan yang dapat berfungsi. percaya. maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. Berbicara tentang sikap antisipatif ini. sebagai institusi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan akan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan. Dalam hal ini. kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya organisasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif merupakan sebuah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko. (1988).VIII Nopember 2001: Yogjakarta: FIP UNY. Torsten Husen. Triguno. Begitu pula dengan sekolah. Jakarta: PT. Dalam Dinamika Pendidikan Nomor 2/Th. lambat laun akan dapat menimbulkan ke terpurukan sekolah itu sendiri. sehingga menuntut setiap organisasi untuk dapat memiliki kemampuan antisipatif dan adaptif terhadap berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari adanya perubahan. Jika kita mengacu pada konsep Total Quality Manajemen. Dengan melalui kegiatan evaluasi dan riset ini akan diperoleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dal m pengambilan keputusan yang a berkenaan dengan usaha inovatif organisasi dan penyesuaiaian -penyesuaian terhadap berbagai perubahan. (2001) Budaya Mutu dan Prospek Penerapannya Dalam Sekolah.

Rosabeth Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya in menghargai dan mendorong i kewiraswastaan.suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki bersama. and Process Manajemen Kinerja Guru Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh : Akhmad Sudrajat . yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: Focus Plan Organize Control Communication Decisions Functional Management Quality Management From Traditional Sort range budget Hierarchi chain of command Variance Reporting Top Down Ad Hoc/ Crisis Management Parochial. satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. Continous. yang ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen. Ross (Sudarwan Danim. functions. Kotter dan James L. dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang -peluang baru. (John P. 2002:121) mengetengahkan tentang perubahan kultural dari kultur tradisional ke budaya mutu. Integrative Preventive. Competitive Fixing/One Short Manifacturing To Quality Future Strategic Issue Participant/Empowerment Quality Measure and Information or Self Control Top Down and Bottom Up Planned Change Cross functional. Para anggotanya percaya. yang mencakup 4 fokus. Berkenaan dengan perbaikan pada proses manajemen.49). tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah baru dan peluang apa saja ya ng akan mereka temui. sikap antisipatif dan adaptif terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah. Kegairahan yang menyebar luas. Dengan demikian. Heskett: 17.

Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang. didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang : Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru. maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang. menentukan bagaimana kinerja harus diukur. Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. 1. dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. Bagaimana prestasi kerja akan diukur. kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi. Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan. Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya.Dalam perspektif manajemen. solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah. maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). 3. ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan. Metode apapun yang . Ini merupakan sebuah sistem. maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan. ³ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?´.melakukan pekerjaan dengan baik´ 2. Artinya. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru. Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja. yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar. Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja. komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja. Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja. Selanjutnya. serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu. Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja. memperbaiki. mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala. sebagai : ³« sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu. Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru. 4. melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul. manajer dan karyawan´. Dari ungkapan di atas.

Untuk mencapai tujuan tersebut. Rencana terus dikembangkan. kemudian diikuti Pembinaan. (2) bersifat seobyektif mungkin. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Kemudian dalam fase evaluasi. yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan. Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. umpan balik. evaluator dalam menentukan . Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. dan evaluasi. (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi. Sementara itu. Kedua. dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru . yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. serta organisasi terus belajar dan tumbuh. dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran. Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran yang . Perencanaan tadi membawa pada fase pembinaan. serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah. siklus terus berulang. dan ekpektasi yang terukur. diantaranya : 1.dipergunakan untuk menilai kinerja. Pertama. kepala sekolah. atau ³selalu salahnya guru´. tanggung jawab. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs). Perencanaan harus dilakukan pertama kali. Ronald T. Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran. pengawas pendidkan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas. untuk memperoleh tujuan ini.± di mana guru dibimbing dan dikembangkan ± mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan. Kendati demikian. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja. dan akhirnya Evaluasi. Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut. Dalam hal ini. Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru. Karen Seeker dan Joe B. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar. dan staf administrasi . pada gilirannya. sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan. menjadi masukan fase berikutnya lagi. Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. tiada satu pun taksiran yang dapat memberika n gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. pembinaan. dan guru. penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain. seorang evaluator (baca: kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. dan penghargaan.C.

. dan Joe B. Boyd. Research& Evaluation´. *)) Akhmad Sudrajat. M. Ramelan). Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi. Practical Assessment. Jakarta : PPM. seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran . C. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan -tujuan pengajaran. 1989. Ronald T. rekan sejawat. 2000. Improving Teacher Evaluations. pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas. (5) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan. 3. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan ± catatan dalam kelas. Karen R. proses pengajaran dan testing (evaluasi). Terj. (2) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru. dan tenaga administrasi. Planning Succesful Employee Performance (terj. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator. (4) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik. seperti : siswa. Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Konferensi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Wilson. Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan. Robert.hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. (3) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable) 2. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator : (1) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak. Sumber Bacaan : Bacal.Surya Darma dan Yanuar Irawan. 2001. ERIC Digest. adalah staf pengajar pada Program Studi PE FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Konsep Visi Sekolah Posted on 24 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . Performance Management. Dalam hal ini. Seeker.Pd.

sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. 1996). Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis. pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu ³prestasi´ dan ³iman-taqwa´. baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah. Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar. .Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. kredibel. kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali. Dalam perspektif manajemen. melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins. 1998). Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut. organisasi dan orangorang di dalamnya tidak mempunyai arahan yang jelas. Boleh jadi. visi adalah masa depan yang dipilih. Namun. hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya. sayangnya upaya perumusan visi yang terjadi di sekolah -sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. Menurut Block (1987). Tetapi jika perumusannya menjadi seragam. hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya. tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman. Tanpa visi. dan menarik. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati. visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) organisasi sekolah itu sendiri. yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik dari cara yang sudah ada sebelumnya.

(1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi. (b) tujuan pendidikan dalam sekolah. 3. 4. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah. agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah. Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. keluarga. masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah. (c) peran pemerintah. 2.al. 5. Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini. Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai. . Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi. tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. (d) pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran. Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi. yaitu: 1. Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan. dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia. Beare et. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. nilai-nilai. Pembuatan visi adalah tentang keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain.Memperhatikan pendapat para ahli di atas. tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah. Kendati demikian. Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum. mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah. dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan. dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara ³top-down´ yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya .

Keleluasaan sekolah dalam mengembangkan KTSP tent u harus diikuti dengan analasis situasi sekolah untuk mencapai lingkup standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan. serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan bermutu di seko lah tersebut. sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. tujuan yang ingin dicapai. Pencapaian tujuan pendidikan bermutu tersebut sesuai dengan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 5. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru (BSNP. yaitu ³Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu´. Akan tetapi. Rasional Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing -masing sekolah. 2006: 33). Fahrurruzi). Analisis Situasi Sekolah dalam Pengembangan KTS P Posted on 5 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT A. Tahap kegiat an penyusunan . KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan. Hasil analisis tersebut merupakan dasar pijakan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target -target yang ditetapkan. Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis (ter.Dengan demikian. Penyusunan dan pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi. budaya yang akan dibangun. nilai dan keyakinan. Jogjakarta: IRCiSoD. 2008. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesua i dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. Sumber: Adaptasi dari Bush dan Coleman. di antaranya Standar Isi (SI)dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Permendiknas no 23 tahun 2 006. sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada.

Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang sekoah yang diinginkan di masa jauh ke depan. Perumusan tujuan harus nyata dan terukur. dan tujuan sekolah 2. (3) jelas bagi pihak -pihak yang berminat. Analisis Konteks Analisis konteks dalam pelaksanaan penyusunan KTSP berwujud evaluasi diri ( self evaluation ) terhadap sekolah. penyiapan dan penyusunan draf. (b) dewan pendidikan. dan tujuan sekolah akan sangat berperan bagi pengembangan sekolah di masa depan. Kajian eksternal atau situasi sekolah (peluang dan tantangan) yang dilihat dari masyarakat dan lingkungan sekolah yang meliputi: (a) komite sekolah. Misi diperjelas dan dijabarkan dengan tujuan sekolah (goals). tujuan seharusnya (1) tidak bertentangan dengan visi. dipersepsi sebagai sesuatu yang berharga oleh seluruh pihak yang berminat. (c) dinas pendidikan. Visi. (2) mencerminkan dengan jelas kebutuhan lokal dan nasional atau bahkan internasional berkaitan dengan kemampuan lulusan. BSNP. opportunities. (4) biaya. misi. dan threats ). B. Dalam hal ini dapat diterapkan kajian lingkungan internal untuk memahami strengths atau kekuatan dan weaknesses atau kelemahan. pemantapan dan penilaian (cf. misi. Tujuan Tujuan Analisis Situasi Sekolah adalah (1) memperoleh gambaran ny ata kondisi sekolah dan (2) memperoleh gambaran nyata situasi sekolah C. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (strengths. realistis. Deskripsi visi. Berikut ini adalah penjelasan masing -masing 1. misi. Kajian internal atau kondisi sekolah (kekuatan dan kelemahan) yang meliputi: (1) peserta didik. Adapun analisis konteks melalui SWOT terdiri atas hal -hal sebagai berikut (cf. ketercapaian tujuan dapat diamati. serta finalisasi. serta kajian lingkungan eksternal untuk mengungkap opportunities atau peluang dan threats atau tantangan. Identifikasi SI dan SKL 3. Misi (mission) ditetapkan dengan mempert imbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas ³dari luar´) dan keinginan ³dari dalam´ (yang antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. (d) asosiasi profesi. (e) dunia industri dan dunia kerja. (3) sarana dan prasarana. ditunjukkan dan dapat diuji secara objektif. Tujuan sekolah seharusnya tidak betentangan dengan visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan. 2006: 33). Misi. (2) pendidik dan tenaga kependidikan. (f) sumber daya alam dan sosial budaya. BSNP.KTSP secara garis besar meliputi: analisis sekolah. Visi. (4) secara tersurat ada prioritas menghasilkan peserta didik yang be rmutu. . Visi dan misi saling berkaitan. dan Tujuan Sekolah Penetapan visi. misi. Misi sebuah sekolah perlu mempertimbangkan misi induknya (dinas pen didikan kabupaten/kota). tujuan dinas pendidikan dan koheren dengan renstra depdiknas. 2006: 32): 1. reviu dan revisi. (5) program -program 4. weaknesses.

ruang bengkel kerja. ruang kelas. tempat berkreasi. dan minat tenaga kependidikan dalam pengembangan profesi. minat. latar belakang ten aga kependidikan. setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya. ruang tata usaha. Jadi. ruang unit produksi. memahami. Pendidik dan Tenaga Kependidikan Analisis terhadap pendidik dan ten aga kependidikan dimaksudkan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah. mengkaji. LCD. papan tulis yang ada di setiap kelas. b. laboratorium bahasa. jenis keahlian. Dalam melakukan identifikasi. Peralatan meliputi peralatan laboratorium i lmu pengetahuan alam (IPA). c. Yang termasuk dalam buk u dan sumber belajar di antaranya adalah bahan cetakan baik jurnal. pro fesional. Hal itu perlu dilaku kan supaya penerapan SI dan SKL di sekolah dan terutama dalam pembelajaran benar -benar baik. kompetensi pendidik (pedagogik. kelayakan fisik dan mental tenaga kependidikan. serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Analisis atas prasarana meliputi lahan. Analisis terhad ap kekuatan dan kelemahan semua sarana itu meliputi kepemilikan. kursi. ruang kantin. peralatan pendidikan. latar belakang pendidikan dan/atau sertifat keahlian.2. bahan habis pakai . tempat bermain. ruang labora torium. narasumber. dan bakat peserta didik. buku dan sumber belajar lainnya. Situasi Internal atau Kondisi Sekolah a. media cetak maupun elektronik. slide. Adapun bahan habis pakai meliputi bahan -bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran. dan membedah SI dan SKL. Identifikasi SI dan SKL Para pendidik di sekolah perlu melakukan identifikasi SI dan SKL. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan prasarana di sekolah meliputi keberadaannya. lingkungan. ruang perpustakaan. jumlah tenaga kependidikan dan rinciannya. buku teks. . kelayakannya. kepribadian. kelayakan fisik dan mental pendidik. jumlah. rata -rata beban mengajar pendidik. Analisi ini meliputi rata -rata kemampuan akademik peserta didik. tempat beribadah. sosial). Peserta Didik Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajar an. rasio pendidik dan peserta didik. SNP pasal 43). instalasi daya dan jasa. kelayakan. analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan nonakademik. dan kondisi sarana yang ada. media pendidikan. OHP. laboratorium komputer. dan peralatan pembelajaran lain (cf. 3. gambar yang mendukung ketercapaian pembelajaran. minat pendidik dalam pengembangan profesi. Sarana dan Prasarana Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot. maupun referensi. Identifikasi dapat dilakukan melalui tahap -tahap sebagai berikut: membaca secara saksama. rasio banyaknya. Media pendidikan di antaranya alat peraga. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berk elanjutan (SNP pasal 42 ayat 2). dan kebersihannya. ruang pimpinan sekolah. tempat berolahraga.(SNP pasal 42 ayat 1). Analisis ini perlu dilakukan agar KTSP yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara ma ksimal. ruang pendidik. Perabot di antaranya meliputi meja.

Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Adapun tim penyusun KTSP terdiri atas pendidik. Komite sekolah juga memberikan masukan tentang tata tertib sekolah. komite sekolah juga harus memberikan pert imbangan terhadap penyusunan KTSP. Biaya Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. dan program pengayaan. serta penggunaan dan pemeliharaan s arana dan prasarana. Selain itu. pemeliharaan sarana dan prasarana. penentuan pendidikan kecakapan hidup. Pimpinan sekolah dan komite sekolah juga melakukan . Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi. dan lain sebagainya. Ada atau tidaknya program. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muata n lokal. program pembelajaran. Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana. bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan. Komite Sekolah Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang i kut berlibat dalam penyusunan KTSP di samping narasumber dan pihak lain yang terkait.d. program remedial. air. Dalam BSNP (2006: 5) disebutkan. Analisis terhadap pembiayaan di sekolah mengarah pada kelemahan dan kekuatan pembiayaan di sekolah tersebut terhadap pengembangan dan pelaksanaan KTSP e. biaya operasi. dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya. transportasi. konsumsi. Program-program KTSP disusun oleh s ekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Biaya operasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: y y y gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. dalam SNP Pasal 51 ayat 2 dinyatakan bahwa pengambilan keputusan pada sekolah dasar dan menengah di bidang nonakademik dilakukan oleh komite sekolah yang dihadiri oleh kepala sekolah. 4. keterlaksanaan. uang lem bur. pajak. penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global). pemilihan kegiatan pengembangan diri. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. komite sekolah juga memutuskan pedoman struktur organisasi sekolah dan biaya operasional sekolah. dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. dan biaya personal . dan modal kerja tetap. Pada tahap akhir. pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. yang minimal meliputi tata tertib pendidik. jasa telekomunikasi. konselor. Kondisi Masyarakat dan Lingkungan Sekolah a. serta kesesuaian program dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/ daerah merupakan analisis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan KTSP. pengembangan sumberdaya manusia. tenaga kependidikan dan peserta didik. asuransi.

pengembangan keterampilan pribadi. Dalam hal ini. pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. Contoh: di dekat sekolah ada industri kerajinan. di an taranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. Dalam hal ini. peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi dasar sesuai konteks ind ustri kerajinan tersebut. keterampilan berpikir. Dunia Industri dan Dunia Kerja Salah satu prinsip pengembangan KTSP adalah relevan dengan kebutuhan kehidupan.pemantauan untuk menilai efisiensi. analisis terhadap peluang dan tantangan dari pihak komite sekolah/madrasah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMP terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah. Dinas Pendidikan Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan KTSP SMP. kabupaten/kota. keterampilan sosial. secara lebih khusus. efektivitas. KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal. Berdasarkan hal -hal itulah. analisis terhadap peluang dan tantangan dunia industri dan dunia kerja di lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk pengembangan KTSP. Dalam hal ini. Peluang dan tantangan atas keberadaan MGMP perlu dianalisis untuk pengembangan KTSP. Dewan Pendidikan Dewan Pendidikaan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Keberadaan tim ini akan sangat membantu pengembangan KTSP. Berdasarkan hal -hal itulah. rencana kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. . dan dunia kerja. Adapun pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan o leh kepala sekolah kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. keterampilan akademik. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Oleh karena itu. dan provinsi. dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas para pendidik berpengal aman di bidangnya. b. Asosiasi Profesi Ada beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. Dalam KTSP. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan. dan akuntabilitas sekolah. Berdasarkan hal itulah. 2006). MGMP dapat berperan pula sebagai tim yang menyusun silabus mata pe lajaran tertentu. Selain itu. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan KTSP. dunia indsutri di sekitar sekolah dapat diberdayakan untuk menunjang program pendidikan sekolah yang bersangkutan. dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP. e. dunia usaha. c. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada pand uan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Dalam penyusunan KTSP. analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan KTSP. Akan tetapi. d. dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan (BSNP.

ketersediaan dan kemampuan SDM dalam mengelola sekolah. analisis terhadap peluang dan tantangan sumber daya alam dan sosial budaya lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. setiap daerah memiliki potensi. D. Oleh karena itu. Selain itu. dan tujuan sekolah. 5. KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. dan keragaman karakteristik lingkungan. diperlukan upaya identifikasi dengan memperhatikan berbagai hal. KTSP juga harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender. Pengembangan Instrumen Analisis terhadap situasi sekolah dilakukan dengan menggunakan instrumen analisis. kebermanfaat an aspek sosial budaya bagi peserta didik di masa kini dan yang akan datang. kesesuaian dengan visi. misi. antara lain: keterjangkauan jarak. dan biaya. kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Satuan pendidikan harus menyiapkan instrumen tersebut sebagai panduan pengambilan data. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditum buhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. 4. Pada sisi lain. kesetaraan gender. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dapat memberikan nilai tambah bagi perkemba ngan peserta didik. Aspek yang Dianalisis Keberadaan dunia industri Kebermaknaan dunia industri dalam pengembangan kompetensi Kelayakan dunia industri sebagai sumber belajar Kedekatan jarak letak dunia industri dengan sekolah Hubungan baik dunia industri dengan pihak sekolah Ya Tidak . Masing -masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari -hari. Sumber daya alam yang ada di lingkungan serta aspek sosial budaya yang berlaku di tempat sekolah tersebut berada. Sumber Daya Alam dan Sosial Budaya KTSP disusun dengan memperhati kan berbagai hal. Sekolah yang berada di daerah pantai. kebutuhan. Pendidik dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik menanam bakau untuk menahan abrasi pantai. waktu. Pada dasarnya.f. dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksanaan penyusunan KTSP. Berdasarkan hal itulah. KTSP harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. tantangan. Ini merupakan salah satu contoh pembelajaran untuk memahami alam sekitar dan sek aligus mengatasi tantangan alam. Contoh Instrumen model check list Dunia Industri/kerajinan No 1. 2. dapat memanfaatkan aspek kel autan sebagai peluang dan tantangan untuk mengembangkan potensi peserta didik. di antaranya adalah keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Instrumen yang digunakan bisa menggu nakan model check list ataupun skala. 3.

3. dewan pendidikan.E. G. KTSP yang dikembangkan berdasarkan analisis situasi sek olah diharapkan akan benar -benar mencerminkan upaya peningkatan kondisi internal yang ada di sekolah yang meliputi peserta didik. 2. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi alternatif acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal. Jawaban Ya Semua aspek 1. Contoh pemanfaatan 1. Hasil analisis tersebut diklasifikasi atas peluang atau tantangan yang akan menjadi kesimpulan pengambilan keputusan Contoh No 1. 2. biaya. satuan pendidikan mengembangkan program yang terkait dalam pengembangan KTSP. 4. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Analisis Instrumen Data yang telah diperoleh dianalisis. Dalam pengembangan KTSP ini. KTSP yang baik harus d ikembangkan atas dasar analisis peluang dan tantangan situasi eksternal yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. yang meliputi: komite sekolah. sumber d aya alam dan sosial budaya. dinas pendidikan. satuan pendidikan mempunyai tantangan untuk membina hubungan baik dengan dunia industri tersebut. dunia industri dan dunia kerja. Penutup Pada prinsipnya. asosiasi profesi. KTSP untuk pendidikan dasar dikembangkan oleh setiap sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidi kan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. . 3. tentu tantangan satuan pendidikan untuk menyediakan biaya transportasi ke tempat dunia usaha/industri tersebut. 2. tetapi dengan syarat -syarat yang harus dipenuhi. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi peluang. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Pemanfaatan Hasil Instrumen Berdasarkan hasil analisis yang telah diperoleh . 2. Jarak dunia industri/kerajinan jauh. Selain itu. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi tantangan. dan 4 1. dan program program lainnya. pendidik dan tenaga kependidikan. sarana prasarana. Di samping itu. dan 3 Jawaban Tidak 5 4 dan 5 Semua aspek 1. 2. dan 3 Keterangan Peluang Tantangan Tantangan Bukan peluang Bukan peluang F. 5. anal isis situasi sekolah sangat perlu dilakukan sehingga KTSP yang dikembangkan benar -benar didasarkan pada kondisi dan situasi sekolah (di samping didasarkan pula pada prinsip -prinsip pengembangan KTSP).

Kembangkan sistem pengelolaan gagasan dan tangkaplah setiap gagasan untuk dikembangkan dan dievaluasi berbagai kemungkinannya . 9. Sediakanlah pelatihan yang cukup sehingga setiap orang dapat bekerja dalam inovasi secara sukses. karena keragaman seluruh aktivitas ini merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam proses men uju inovasi. Pastikan setiap orang dapat memahami strategi organisasi dan pastikan pula bahwa semua usaha inovasi benar-benar sudah selaras dengan strategi yang ada. Berikan keluasaan kepada setiap orang untuk dapat mengeksplorasi kemungkinankemungkinan baru (new possibilities) dan berkolaborasi dengan orang lain. seperti tentang trend baru. jika orang-orang senantiasa diliputi ketakutan akan kegagalan. 6. dibutuhkan perlengkapan dan mindset yang berbeda pula. 4. kemudian ikuti kemajuannya. Tentukan kriteria yang terukur dengan fokus pada cita-cita masa depan organisasi. Innovasi artinya melakukan sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itu mungkin akan gagal. pengalaman maupun keahlian. Belajarkan setiap orang untuk mampu memindai lingkungan. 7. baik dalam gaya berfikir. teknologi atau perubahan mindset pelanggan. perspektif. 10. baik yang ada dalam organisasi maupun di luar organisasi. 5. 2. Curahkan waktu untuk pengembangan dan kesuksesan yang hendak organisasi pada masa yang akan datang. Oleh karena itu. 8.Sepuluh Langkah Menjaga Inovasi dalam Organisasi Posted on 23 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Joyce Wycoff (2004) mengemukakan tentang 10 langkah praktis untuk mempertahankan kehidupan inovasi dalam suatu organisasi. Team Inovasi berbeda dengan team proyek regular. Tanyakan kepada mereka. Hilangkan rasa takut dalam organisasi. Jadikan inovasi sebagai bagian dari sistem penilaian kinerja setiap orang. Belajarkan setiap orang untuk menghargai keragaman. Dokumentasikan setiap proses inovasi dan pastikan setiap orang dapat me mahami peran didalamnya dengan sebaik-baiknya. Kesepuluh langkah tersebut adalah: 1. Kriteria yang ketat hanya akan menghambat terhadap pencapaian cita-cita dan melestarikan berbagai asumsi dan mindset masa lampau. apa yang akan mereka ciptakan atau tingkatkan pada masa-masa yang akan datang. 3.

(2) Sejarah Riset Difusi. Inovasi sering berupa cluster teknologi karena dengan demikian akan lebih mudah untuk diadopsi. penulisnya. (5) Proses Keputusan Inovasi. Bab 1 membahas empat unsur inovasi (a) inovasi (b) saluran komunikasi. (b) kontras difusi (fokus lebih pada adopsi/ keputusan untuk menggunakan dan mengimplementasikan gagasan baru. http://thinksmart. Inovasi -sering disinonimkan dengan teknologi. Tradisi riset pada dasarnya adalah suatu µuniversitas tidak terlihat¶. (9) Agen Perubahan. bukan perilaku). (c) waktu dan (d) sistem sosial. Inovasi dibedakan dari reinvensi: tingkat inovasi diubah atau dimodifikasi pengguna pada proses adopsi dan implementasi. The Free Press. (10) Inovasi dalam Organisasi dan (11) Konsekuensi-konsekuensi Inovasi. Selanjutnya . menjelaskan bahwa edisi pertama terbit tahun 1962 dan edisi kedua (dengan judul Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach dan dengan penulis kedua F. (1983). Tradisi riset adalah sederet penelitian tentang topik sejenis di mana penelitian sebelumnya berpengaruh pada penelitian sesudahnya. tapi sesuatu yang dikerjakan bersama orang lain.Floyd Shoemaker) terbit pada tahun 1972.com/ Difusi Inovasi Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam Pengantar buku (edisi ketiga) Diffusion of Innovations.suatu gagasan. praktek atau objek yang dipersepsi baru oleh seorang individu atau suatu unit adopter. Rogers. Ten Practical Steps to Keep Your Innovation System Alive & Well. Di Perancis. (4) Lahirnya Inovasi.Y. (3) Kontribusi dan Kritik riset Difusi. Bab 2 diawali dengan komentar Elihu Katz dkk. aksi atau kebijakan). (1963) µberbagai tradisi riset ironisnya ditemukan secara sendiri-sendiri¶. N. (c) pergeseran studi difusi dari yang mendasarkan pada model komunikasi linier (proses di mana pesan ditransfer dari sumber ke penerima) ke yang mendasarkan pada model komunikasi konvergensi (proses saling tukar informasi diantara sesama partisipan) dan (d) definisi inovasi difusi sebagai pada dasarnya suatu proses sosial di mana informasi tentang gagasan baru yang dipersepsi secara subjektif dikomunikasikan. Pembahasan pada bab 1 sampai dengan bab 11 masing-masing diberi judul (1) Unsur-unsur Difusi. 10 akan menyebar luas sementara 90 akan dilupakan¶. (7) Kategori Keinovatifan dan Kategori Adopter. Everet M. bukan pada implementasi aktual atau konsekuensi inovasi) dengan riset persuasi (fokus lebih pada pengubahan sikap. (8) Kepemimpinan Opini dan Network Difusi. Tarde (1903) mengemukakan hukum imitasi µdari 100 inovasi.Sumber: Adaptasi dari: Joyce Wycoff . dan (a2) tidak semata berpusat pada aksi atau isu (menjual produk.. Riset difusi dimulai di Perancis. Dalam Pengantar tersebut disajikan (a) kesamaan difusi dengan riset persuasi: (a1) bukan komunikasi satu kepada orang banyak. Bab 1 selanjutnya meringkas materi yang akan dibahas pada bab 4 sampai dengan bab 11.2004. (6) Atribut Inovasi dan Tingkat Adopsinya. Inggris dan Jerman-Austria di awal abad 20. tapi juga menjual kredibilitas diri dan/atau orang lain.

disajikan sembilan tradisi riset: antropologi, sosiologi awal, sosiologi pedesaan, pendidikan, sosiologi medis, komunikasi, pemasaran, geografi dan sosiologi umum. Akhirnya, disajikan delapan tipe riset difusi (1) kapan inovasi diketahui, (2) tingkat adopsi inovasi, (3) keinovatifan, (4) kepemimpinan opini, (5) jaringan difusi, (6) tingkat adopsi dalam berbagai sistem sosial, (7) saluran komunikasi dan (8) konsekuensi inovasi. Bab 3 menyajikan kontribusi riset difusi berupa (a) model difusi sebagai paradigma konseptual yang relevan dengan banyak disiplin ilmu, (b) sifat pragmatisnya dalam memecahkan masalah penggunaan hasil riset, (c) memungkinkan periset mengemas ulang temuan empirisinya dalam bentuk generalisasi lebih teoritis lagi dan (d) metodologinya yang jelas dan relatif facile. Selanjutnya,disajikan kritik pada riset difusi: (a) bias pro -inovasi: inovasi harus diadopsi semua anggota suatu sistem sosial dengan cara cepat dan inovasi tidak boleh ditolak atau direinvensi, (b) bias menyalahkan individu: kecenderungan menyalahkan individu, bukan sistem, (c) masalah ingatan: ketidakakuratan responden dalam mengingat proses adopsi inovasi dan (d) isu ekualitas: inovasi cenderung memperlebar kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, disajikan prosedur meta-riset, yaitu sintesis riset empiris menjadi kesimpulan umum yang lebih teoritis: (a) perumusan konsep (dimensi yang dinyatakan dalam istilah paling mendasar), (b) menyusun hubungan dua konsep dalam bentuk hipotesis teoritis, (c) menguji hipotesis teoritis dengan hipotesis empiris yang dinyatakan dalam postulat hubungan dua konsep operasional, (d) uji hipotesis empiris dengan uji signifikansi atau uji lainnya dan (e) hipotesis teoritis ditolak atau diterima berdasarkan ditolak atau diterimanya hipotesis empiris. Bab 4 menyajikan enam momen proses inovasi yang merupakan paduan dari (a) analisis kebutuhan (momen pertama: perumusan masalah atau analisis kebutuhan), (b) tracer study (momen kedua sampai ke lima: penelitian murni/terapan, pengembangan, komersialisasi/ sosialisasi serta difusi dan inovasi) dan (c) studi difusi klasik (momen ke lima dan ke enam: difusi/ inovasi dan konsekuensi inovasi). Masalah yang umumnya ditemukan adalah rendahnya penjualan hasil penelitian yang sudah dipatenkan (di Amerika mislanya adalah 1500 dari 30000 paten). Pengembangan teknologi mengalami empat tahap (a) trial and error dalam skala kecil, (b) imitasi, (c) kompetisi tekonologi dan (d) keluar dari kompetisi dan melakukan standarisasi produk. Beberapa konsekuensi inovasi adalah (a) ke enam momen difusi inovasi mungkin tidak semuanya ada dalam suatu inovasi, (b) kemungkinan ketidak sinkronan konsekuensi yang diharapkan dengan yang benar-benar terjadi, dan (c) pelebaran kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, dibahas (a) kelemahan tracer study: tergantung ada tidaknya publikasi, sedikitnya data fase difusi/ adopsi dan sifatnya rekonstruksi rasionalistik dan (b) inovasi organisasi yang muncul secara individual, kolektif, atas instruksi atasan atau didorong inovasi sebelumnya mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Bab 5 membahas lima proses keputusan inovasi (a) mengetahui inovasi, (b) peruasi, (c) keputusan, (d) implementasi (seutuhnya atau lewat reinvensi) dan (e) konfirmasi atau meniadakan/mengurangi disonansi, suatu ketidaksetimbangan internal yang disebabkan (e1) kebutuhan, (e2) belum mengadopsi sesuatu yang diinginkan atau (e3) setelah mengadopsi untuk meneruskan atau diskontinu. Inovasi dapat tidak dilanjutkan (diskontinu) karena (a) kecewa atau (b) diganti dengan invasi lainnya. Beberapa temuan proses keputusan inovasi adalah (a) Inovasi yang tingkat adopsinya tinggi tingkat diskontinu; (b) diskontinu cenderung dilakukan oleh adopter akhir; (c) riset selama ini kebanyakan riset variansi sehingga diperlukan riset proses; (d) beberapa saluran komunikasi difusi inovasi adalah media massa dan hubungan antar-pribadi serta saluran kosmopolit dan lokalit; (e) media massa dan saluran kosmopolit terutama penting pada tahap mengetahui inovasi; sementara hubungan antar-

pribadi dan saluran lokalit terutama penting pada tahap persuasi; (f) media massa dan saluran kosmopolit lebih penting bagi adopter awal; (g) tingkat mengetahui inovasi lebih cepat dari tingkat adopsi dan (h) adopter awal mengalami proses keputusan inovasi lebih cepat. Bab 6 menyatakan bahwa tingkat inovasi dipengaruhi oleh satu atau beberapa karakteristik berikut: (a) keuntungan relatif, (b) kompatibilitas atau kekonsistenannya dengan nilai yang dianut, (c) kompleksitas atau tingkat kemudahan untuk dipahami, (d) triabilitas atau kedapatdicobaannya dalam skala kecil dan (e) observabilitas atau keterlihatannya oleh orang/pihak lain. Tingkat adopasi dipengaruhi oleh (a) jenis keputusan inovasi (opsional, kolektif atau atas dasar otoritas), (b) jenis saluran komunikasi yang digunakan, (c) norma, sifat kesalingterhubungan individu, dst. dalam komunitas adopter dan (d) upaya agen perubahan. Selain itu, ditemukan bahwa (a) sampai tingkat kesadaran inovasi mencapai 20-30% tingkat adopsi rendah, sedangkan setelah ambang tersebut tingkat kesadaran dan tingkat adopsi meninggi dan (b) overadopsi adalah fenomena inovasi diadopsi padahal menurut para ahli sebaiknya tidak diadopsi. Bab 7 mencatat bahwa kontinum keinovatifan dapat dibagi menjadi lima kategori (a) invator, (b) adopter awal, (c) mayoritas awal, (d) mayoritas akhir dan (e) laggards. Masing-masing kategori tersebut mempunyai karakteristik (a) venturesome, (b) respectable, (c) deliberate, (d) skeptis dan (e) tradisional. Usia adopter awal relatif sama dengan adopter akhir hanya saja adopter awal cenderung lebih unggul dalam hal (a) pendidikan, (b) literasi, (c) status sosial, (d) mobilitas ke atas, (e) ukuran ladang, perusahaan, dst., (f) sikap terhadap kredit dan (g) tingkat spesialisasi pekerjaan. Selain itu, dalam hal kepribadian, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) empati lebih besar, (b) kurang dogmatis, (c) lebih mampu melakukan abstraksi, (d) lebih rasional, (e) lebih intelejen, (f) lebih mudah menerima perubahan, (g) lebih mampu mengangani ketidakpastian dan resiko, (h) lebih menghargai pendidikan dan sains, (i) kurang fatalis, (j) mempunyai motivasi pencapaian lebih besar, (k) aspirasi lebih tinggi pada pendidikan, pekerjaan, dst. Akhirnya, dalam hal perilaku komunikasi, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) partisipasi sosial lebih tinggi, (b) kontak sosial lebih banyak dengan sesamanya dan/atau dengan agen perubahan, (c) lebih kosmopolit, dan terekspose pada media massa, (d) leb aktif mencari ih informasi dan lebih banyak tahu tentang inovasi dan (e) lebih tinggi kepemimpinan opininya. Bab 8 membahas model kepemimpinan opini aliran dua-langkah: pesan mengalir dari sumber via media massa ke pemimpin opini yang pada gilirannya menyampaikannya pada para pengikutnya. Model tersebut ditentang oleh model µjarum hipodermik¶ di mana dipostulatkan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung, segera dan kuat pada individu-individu yang terkait dengan media massa, tapi tidak terkait satu dengan lainnya. Menurut teori Granovetter individu cenderung terkait dengan orang yang secara fisik dekat dan menurut atribut-atribut seperti kepercayaan, pendidikan dan status sosial relatif sama (homofili; kontras dengan heterofili di mana atribut-atribut tersebut relatif beda). Duff dan Liu (1975) menyatakan bahwa dalam satu network komunikasi, pertukaran informasi dari satu clique (yang ditandai dengan promiximitas komunikasi tinggi) ke clique lain dijembatani oleh proximitas komunikasi rendah yang heterofili (misal, dari clique berstatus sosial tinggi ke clique berstatus sosial lebih rendah). Beberapa temuan lainnya ialah (a) Dalam network heterofili, pengikut cenderung mencari pemimpin opini yang mempunyai status sosial, pendidikan, ekspose ke media massa, tingkat keinovatifan, tingkat kekosmopolitan dan tingkat kontak dengan agen perubahan lebih tinggi, (b) pemimpin opini lebih sejalan dengan norma sistem dibanding dengan pengikutnya, (c) pemimpin opini dapat dibedakan menjadi polimorfis (mempunyai opini dalam banyak bidang) atau monomorfis (mempunyai opini

hanya dalam satu bidang), dan (d) network personal radial (dari satu ke banyak orang) lebih penting untuk inovasi dibanding dengan network interlocking di mana individu saling berinteraksi. Bab 9 membahas masalah yang dihadapi agen perubahan adalah (a) sebagai penengah antara agensi perubahan dan klien dan (b) kemungkinan kesulitan mengolah informasi yang cenderung melimpah; sementara itu, masalah aide lebih parah lagi karena kredibiltas kompetensi atau profesionalismenya diragukan. Tujuh peran agen perubah adalah (a) menumbuhkan kebutuhan dalam diri klien, (b) membangun hubungan pertukaran informasi, (c) mendiagnosa masalah klien, (d) menumbuhkan niat berubah pada klien, (e) menerjemahkan niat klien ke dalam tindakan, (f) menstabilkan adopsi dan mencegah diskontinu adopsi dan (g) mencapai hubungan terminal dengan klien (yaitu ketika klien berubah menjadi agen perubahan). Kesuksesan agen perubahan tergantung pada (a) upayanya menghubungi klien, (b) orientasinya yang lebih kepada klien, bukan pada agensi perubahan,(c) tingkat kesesuaian inovasi dengan kebutuhan klien, (d) empatinya kepada klien, (e) homofilitasnya dengan klien, (f) kredibilitasnya di mata klien, (g) tingkat kesejalanannya dengan pemimpin opini dan (h) kemampuan klien mengevaluasi inovasi. Selanjutnya, hubungan agen perubahan secara positif tergantung pada lebih tingginya klien dalam hal (a) status sosial, (b) partispasi sosial, (c) pendidikan dan (d) kekosmoplitannya. Akhirnya, juga dibahas mengenai sistem difusi sentralistik dipadu dengan sistem difusi desentralistik dan/atau penerapan kedua sistem tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam sistem difusi sentralistik, difusi dilakukan oleh pemerintah dan/atau ahli; sementara itu, dalam sistem difusi desentralistik, inovasi datang dari ekpserimentasi lokal yang sering dilakukan oleh pengguna itu sendiri dan/atau atas dasar saling tukar informasi untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Difusi lewat network horizontal dilakukan unit lokal dengan tingkat kemungkin reinvensi yang tinggi. Bab 10 mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem stabil dari sejumlah individu yang bekerja sama untuk mecapai tujuan bersama lewat suatu hiearki jabatan dan pembagian tugas. Inovasi dilakukan secara opsional, kolektif atau didasarkan pada otoritas atau inovasi sebelumnya . Sampai tahun 1970-an, inovasi dalam organisasi diteliti dengan riset variansi, yaitu diteliti korelasinya dengan sejumlah variabel bebas. Variabel bebas dan sifat korelasinya dengan keinovatifan (+ atau -) tersebut adalah (a) karakteristik pemimpin: sikap pemimpin terhadap perubahan (+), dst.; (b) karakteristik internal struktur organisasi: sentralisasi (-), kompleksitas (+), formalitas (-), kesalingterkaitan (+), ketersediaan cadangan (+), dst. dan (c ) karakteristik eksternal organisasi: keterbukaan sistem (+), dst. Riset variansi sekarang diganti dengan riset proses inovasi yang mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Dalam inisiasi terdapat tahap agenda setting (perumusan masalah) dan matching (penyelarasan masalah dan solusi), sementara dalam implementasi ada tahap redefinisi/restruktrurisasi masalah, klarifikasi dan rutinisasi (hasil) inovasi. Akhirnya, bab 11 mendefinisikan konsekuensi inovasi sebagai perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial sebagai akibat dari adopsi suatu inovasi. Konsekuensi inovasi jarang diteliti karena (a) agensi perubahan memberi perhatian terlalu banyak pada adopsi dan mengasumsikan konsekuensi adopsi pasti positif, (b) metode riset survei mungkin tidak cocok untuk meneliti konsekuensi inovasi dan (c) sulitnya mengukur konsekuensi inovasi. Konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi (a) diinginkan vs. tidak diinginkan, (b) langsung vs. tidak langsung dan (c) diantisipasi vs. tidak diantisipasi; sementara itu, dari contoh penggunaan kappa besi di suku Aborijinal, diketahui tiga unsur intrinsik dari inovasi: (a) bentuk: penampakan fisik dan substansi inovasi; (b) fungsi: kontribusi inovasi pada cara

Dengan demikian. penggunaan multi-media yang didasarkan kondisi sosial budaya orang miskin. (b) kesetimbangan dinamis (perubahan yang disebabkan inovasi setara dengan kemampuan sistem sosial untuk menanganinya).2004. Rogers. Hal lain yang berkaitan dengan konsekuensi inovasi adalah tingkat perubahan dalam sistem yang mungkin mengalami (a) kesetimbangan stabil (inovasi tidak menyebabkan perubahan dalam struktur dan/atau fungsi sistem sosial). aide dari kalangan orang miskin digunakan untuk menghubungi kelompok homofilinya dan kelompok formal di kalangan orang miskin diperkuat dan/atau dibina serta ( c) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai sumber daya lebih dibanding orang miskin: pemilihan inovasi yang cocok untuk orang miskin. Bandung Program Pasca Sarjana. Diffusion of Innovations. Akhirnya. Makna Baru Perubahan Pendidikan (The New Meaning of Education Change) Posted on 8 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . pengembangan programdan/atau agensi yang diperuntukkan khusus orang miskin dan pergeseran dari difusi inovasi yang datang dari riset dan pengembangan (R & D) formal ke penyebaran informasi tentang gagasan yang didasarkan pada pengalaman lewat sistem difusi desentralistik: sering untuk ikatan intelektual dari kebijakan konvensional adalah eksperimen di lapangan. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. The Free Press.Y). N.Universitas Pendidikan Indonesia. penyampaian dalam kelompok kecil di mana orang miskin biasanya berkumpul. (b) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak pada hasil evaluasi inovasi dibanding orang miskin: pemimpin opini orang miskin harus ditemukan (meski pun relatif lebih sulit dibanding dengan menemukan pemimpin opini orang kaya) dan hubungan agen perubahan dikonsentrasikan pada mereka. Beberapa cara tersebut adalah (a) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak dibanding orang miskin: pesan disampaikan lewat (a1) cara masal seperti lewat radio atau televisi. Everet M. 3rd. membangun organisasi (misalnya koperasi) di kalangan orang miskin. hal lainnya lagi yang harus dikaji dalam konsekuensi inovasi adalah cara mengatasi kenyataan bahwa inovasi sering memperlebar kesenjangan sosio-ekonomik masyarakat. tujuan dari inovasi adalah untuk mencapai kesetimbangan dinamis. memberi kesempatan orang miskin berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan inovasi. dan pengubahan fokus dari sasaran inovasi tradisional (yaitu pada kelompok yang paling berpotensi untuk berubah) ke kelompok yang paling tidak berpotensi untuk berubah. penggunaan bahasa yang dimengerti orang miskin. atau (c) disequilibrium (perubahan yang disebabkan inovasi terlalu cepat untuk dapat ditangani sistem sosial). Diambil dari: Dodi Sukmayadi.hidup adopter dan (c) makna: persepsi subjektif dan sering di bawah sadar dari adopter terhadap inovasi. (1983)..

(8) Kepala Sekolah. Adapun judul-judul keenambelas bab tersebut adalah: (1) Tujuan dan Sistematika Buku. Judul ketiga bagian tersebut adalah (I) Memahami Perubahan Pendidikan.Judul Buku: The New Meaning of Education Change Penulis: Fullan. Melaksanakan dan Menangani Perubahan. Suzanne Tahun : 1991 edisi kedua Penerbit: Teacher College Press.Y Buku ini membahas tentang makna (baru) perubahan pendidikan dalam tiga bagian dan enam belas bab. (12) Orang Tua dan Komunitas. (II) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Lokal dan (III) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Regional dan Nasional. dan Stiegelbauer. Selanjutnya. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan. (2) Sumber-Sumber Perubahan Pendidikan. (7) Guru. (10) Administratur Distrik. (11) Konsultan. (9) Siswa. (13) Pemerintah. 1978). inovasi masih dilihat sebagai alat sekelompok orang untuk mengontrol kehidupan orang lain dan anak-anaknya menurut konsepsinya sendiri (Whiteside. 1978). yaitu: perubahan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas aktivitas yang dilakukan sekarang tanpa µmengubah fitur organisasional dasar. Perubahan pendidikan menyentuh hanya perubahan tingkat pertama. Bab 2 menyajikan tiga sumber perubahan pendidikan yaitu: (a) bencana alam. Tipologi perubahan pendidikan disajikan dalam gambar berikut. Bab 1 membahas tujuan dan sistematika buku. 1970). (14) Persiapan peofesional Guru. (4) Sebab dan Proses Inisiasi. N. (6) Merencanakan. (b) pengaruh faktor luar dan (c) kontradiksi internal. (5) Sebab/Proses Implementasi dan Kontinuasi. Apakah diimplemetasikan? Ya Apakah perubahan sangat menguntungkan dan secara teknis sangat baik? Ya Tidak I Tidak II III IV Dikatakan bahwa perubahan pendidikan pada tahun 1960-an dan reformasi berbasis kompetensi 1980an yang mencoba µto legislate learning¶ adalah tipe IV. (3) Makna Perubahan Pendidikan. Inovasi gagal menyentuh hal pokok yang dituju perubahan pendidik-an: µBuat apa pendidikan sebenarnya? Manusia dan masyarakat seperti apa yang diinginkan? Metode dan organisasi kelas serta bahan ajar apa yang diperlukan? Pengetahuan mana yang paling berharga? (Silberman. tanpa mengubah secara . Atau. Berikut adalah substansi tiap bab dimaksud. Michael G. dicatat opportunisme dalam perubahan pendidikan µsebagai ´ara murah´ untuk menyelesaikan tekanan birokratis atau politis«agar distrik nampak up-to-date dan progresif di mata masyarakat atau untuk ³melakukan sesuatu´ untuk suatu kelompok tertentu¶ (Berman dan McLaughlin.

konsiderasi dalam perencanaan untuk adopsi paling baik jika mengkombinasikan 3R: (a) Relevansi: dilihat dari praktikalitas dan kebutuhan. rutinisasi atau institusionalisasi dan (d) outcome. (e) kedalaman perubahan dan (e) pertanyaan tentang penilaian. Dalam Bab 6 disajikan alasan mengapa perencanaan perubahan gagal: asumsi dan cara berpikir keliru tentang perubahan.Tema-tema dalam proses implementasi adalah (a) membangun visi. guru. (b) akses pada informasi. sekitar 200. [1] (d) pengembangan staf dan asistensi sumber daya. (g) sumber dana: lokal. (c) advokasi dari atas(an). tekanan kelas bagi guru µtekanan segera dan kongkrit. mereka pada dasarnya memperlakukan orang lain seperti boneka yang dapat diatur sesuai kehendaknya (Marris. misal. kejelasan. (b) perencanaan evolusioner. ada empat tilikan tidak predictable yang ternyata penting dalam proses implementasi: (a) inisiasi dan partisipasi aktif. Bab 4 mencatat bahwa tekanan untuk perubahan menurun saat adopsi yang diikuti dengan implementasi (Berman dan mcLaughlin. (c) kontinuasi. argumen atau protes dengan perencanaan rasional« seberapa rasionalnya pun « tetap harus memberi waktu untuk impuls penolakan. meski hasil segera tidak terlihat (House. µmelompat¶ dari rencana pribadi ke . Model perubahan mempunyai empat komponen (a) inisiasi. (d) realitas status-quo. (e) agen perubah eksternal. Bab 5 menyajikan tiga kategori faktor dalam proses implementasi (1) karakteristik proyek inovasi atau perubahan: kebutuhan. Dalam makna objektif dinyatakan tiga komponen program atau kebijakan: (a) materi baru atau revisi. bias untuk tindakan dan belajar sambil bekerja. (b) pendekatan pembelajaran dan (c) kepercayaan (misal. µbahan berubah. Tentang implikasi perubahan pendidikan dikatakan ada enam aspek yang dapat diamati (a) the soundness dari perubahan yang diusulkan. (d) advokasi guru. adaptasi kondisi selalu berubah atau unpredictability dan tekanan untuk terlibat dengan siswa¶ (Huberman. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inisiasi adalah (a) keberada-an dan kualitas inovasi. dukungan atau apati masyarakat. Dalam makna subjektif ditemukan. (f) tekanan. Akhirnya. asumsi dan teori yang melandasi suatu program atau kebijakan). al. kompleksitas dan kualitas/praktikalitas.000 pertemuan per tahunnya. (b) implementasi (biasanya 2-3 tahun pertama sejak adopsi). 1975). berorientasi pada kultur kerja kolaboratif. (b) memahami kegagalan perubahan yang direncanakan dengan baik. negara bagian atau federal. kepala sekolah.. diantaranya. (e) monitoring/pemecahan masalah > dan (f) restrukturisasi. subjektif dan objektif serta implikasinya.). dan (3) faktor eksternal: pemerintah dan agensi lainnya.tidak tersentuh: menurut peribahasa Cina. Crandall et. tapi supnya tetap sama¶ (ibid. Bab 3 membahas makna perubahan secara umum. 1982). inkorporasi. (c) pe rubahan perilaku dan kepercayaan dan (d) masalah kepemilikan perubahan pendidikan.substantif cara siswa dan pendidikan menjalankan peran mereka¶ (Cuban 1988). (h) orientasi birokratis dan pemecahan masalah. struktur dan peran baru diubah menjadi. tekanan multidimensionalitas dan simultanitas. Mereka harus percaya inovasi akan berhasil dan berguna. 1974). Inovasi adalah acts of faith. (2) Karakteristik atau peranan lokal: distrik. komunitas. mobilisasi atau adopsi. Dalam makna secara umum ditemukan bahwa µtiap upaya untuk pre-empt konflik. Perubahan tingkat kedua ±dimana cara fundamental seperti tujuan. Reformer telah mengasimilasi perubahan «mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun« Jika mereka mengingkari orang lain kesempatan waktu setara. Selanjutnya. 1983. (b) Readiness: tergantung pada kapasitas dan kebutuhan dan (c) Resources/ketersediaan dukungan. starting small and thinking big. (c) pengambilan inisiatif dan pemberdayaan. (b) tekanan dan dukungan. (c) petunjuk untuk memahami hakekat dan feasibilitas suatu perubahan. 1979).

(Bab 11) Konsultan. 1990). . (c) transfer informasi sesama guru cenderung personal. 1978. karena beda nilai yang dianut dan kesempurnaan teknis serta tidak memperhitungkan faktor yang berpengaruh. 1971) dan fallacy rasionalisme: dunia social ingin diubah dengan argumen rasional. mendominasi kepala sekolah (Cuban. Kanada. 84% diantaranya berlangsung antara 1-4 menit. (Bab 9) Siswa. guru disalahkan. 1990. 122). kekuasaan legal atau organisasional diandalkan sebagai motor perubahan (Sarason. satu dari lima guru memi-kirkan untuk tidak jadi guru lagi dan satu dari lima guru laki-laki SL mempertimbangkan untuk tidak jadi guru lagi. yaitu bagian yang membahas perubahan pendidikan pada tingkat lokal. 1984. guru dilupakan. h. 59% diantaranya diinterupsi. 1971). 123). dan (d) perlu keluar dari µtugas¶ tradisional untuk menyatakan kepemimpinannya (Barth. Bab 7 sampai dengan Bab 12 -[(bab 7) Guru. Beberapa kesulitan guru adalah (a) beban kerja multi-dimensi (Sarason. (Bab Kepala Sekolah. (Bab 12) Orang Tua dan Komunitas]. Niat baik dan gagasan baik adalah perlu tapi tidak cukup untuk tindakan yang konsisten (Sarason. Model sekolah yang µideal¶ adalah sebagai berikut. Smith dan Andrews (1989) mendukung temuan Louis dan Miles (1990): tidak ada dikotomi waktu untuk manajerial. h. h. 1973). Untuk sukses menurut harry Truman dan Pierre Trudeau µwe need more one-armed economist«[when frus-trated by the advice] on the one hand « on the other hand¶. peran manajerial.implementasi publik (Lighthall. Dalam tiga dari empat kelompok guru tersebut. (b) lebih peduli pada identitas diri bukan pada kebersamaan dalam suatu komunitas« tidak dilibatkan dalam persoalan yang menyangkut sekolah umumnya (Goodlad. Suatu faktor efektivitas kelas dan sekolah adalah kualitas guru. sementara itu. (Bab 10) Administratur Distrik. Studi pada periode 1910 sampai 1980-an menunjukkan µmeskipun gaya kepemimpinan beda. Bab 7 membahas kenyataan bahwa perubahan pendidikan tergantung pada yang dilakukan dan dipikirkan guru: persoalannya sesederhana dan sekompleks itu (Sarason. h 141). (1989) menemukan bahwa 71% guru wanita dan 64% guru lakilaki di SD menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. dan 17% berkaitan dengan pengajaran (Martin dan Willower. 126). 56% guru wanita dan 37% guru laki-laki di SL menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. Alasan lain mengapa perencanaan gagal ialah menangani masalah tidak terpecahkan. bukan profesional (House dan Lapan. operasi dan relasi distrik (34% vs 39%) dan perbaikan program instruksional (41% vs 27%).masuk ke dalam bagian II. dari sampel guru di Ontario. 1982. dan (b) menggunakan pendekatan developmental: mulai dari hal yang paling mungkin terus berkembang ke hal-hal lain (Sarason. Sebagai indikator kualitas. bukan kepemimpinan pembelajaran. Rees dkk. 1988: 84). 1971) dan jika program berhasil. 1981). Kiat lain ialah (a) µsedikit kekaburan mungkin esensial agar kebijakan dapat diterima«mungkin lebih efektif dalam waktu pen dek untuk berkonsentrasi pada legislasi baru¶. tapi jika gagal. Bab 8 mencatat beberapa hal tentang kepala sekolah sebagai berikut: y y jumlah tugas kepala sekolah lanjutan sebanyak rata-rata 149 tugas per hari.

Firestone dan Rosenblum (1988) merinci lima faktor yang mempengaruhi komitmen guru dan siswa: (a) kebermaknaan program. siswa SD. SMP dan SMA masing-masing 41%. Mertz. 23% dan 36. Studi pada 137 kepala dan wakil kepala sekolah menunjukkan selama 5 tahun terakhir tuntutan tugas makin tinggi sementara keyakinan akan efektivitasnya makin menurun (Educon. 5. 47 % (studi 44 sekolah besar tahun 1972. sikap dan pekerjaannya di masa yang akan datang. Marshall dkk.1982 dan 1986). peserta didik cenderung mengalami resistensi. 19% dan 4% (Wisconsin. Schneider. 42. µselama ini mereka memperlakukan kita seperti bayi. 52% dan 33% (Smith dan Andrews. (d) ekspektasi guru dan siswa dan (e) rasa hormat dan perhatian guru dan siswa. Dari sampel sebesar 3593 siswa. 26% dan 50% menyatakan kelas membosankan . (b) sumber daya pembelajaran. diikuti oleh kepala sekolah gaya manajerial dan kepala sekolah gaya perespon (Hall & Hord. Porporsi kepala sekolah wanita di SD maupun di SL cenderung rendah: 20-50% dan 5-20% (Marshall dkk.dkk. 1988). Kepala sekolah sebagai fasilitator perubahan berkorelasi 0. 25% dan 8% (statistik nasional. Ketika orang memikirkan perubahan pendidikan mereka memikirkan dampak perubahan tersebut pada peserta didik dari sudut pandang keterampilan. 1990). 14. sekarang mereka mencoba memperlakukan kita seperti seorang dewasa¶. Rating positif dari guru terhadap pemimpin kuat.. Bab 10 menyajikan karakteristik superintenden yang jumlahnya sekitar 95% laki-laki dan yang menangani sistem sekolah yang siswanya bervariasi dari 100 sampai 200. 1989. µ mengapa dalam suatu masyarakat demokratis.76 dengan kesuksesan seluruhnya. Bab 9 diawali dengan pertanyaan Bowles dan Gintis (1976). Kalau pun program semacam itu ada. 1989.. rata-rata dan lemah masing-masing sebanyak 90%. Kurang dari 10% kepala sekolah yang termasuk ke dalam µpemecahmasalah sistematik¶ (level tertinggi dari empat level efektivitas) (Leithwood dan Montgomery. 1984). 16% dan 13% menyatakan mereka ditanya bagaimana atau materi yang harus diajarkan dan masing-masing 29%.y y y y Studi Interaksi Kepala Sekolah-Guru (PTI) menunjukkan selama periode 3 tahun ada 1855 intervensi pada kepala sekolah yang berkenaan dengan masalah organisasi (36%).. 1989). konsultasi dan penguatan (24%). kontak riil pertama seorang individu dengan suatu lembaga formal bersifat sangat anti-demokratis¶. sekolah dengan gaya inisiator paling sukses. 1986).18% dan 11% (Ontario. mereka jarang berpikir tentang bagaimana melibatkan mereka dalam kehidupan organisasi (termasuk organisasi sekolah). Schneider. (c) kejelasan aturan dan peran guru dan siswa. pelatihan dan infor-masi (7%) dan lain-lain (11%). 1986-87. 1989). (b) keterkaitan dengan lingkungan sekitarnya. masing-masing 19%. 33% dan 25% berpikir gurunya tidak memahami mereka. 1988). (c) komunikator dan (d) µhanya untuk penampilan¶. Studi Duignan (1979) pada delapan superintenden di Alberta menemukan bahwa µtiap hari superin-tenden terlibat dalam rata-rata 26 diskusi yang .000 siswa dan masa kerja rata-rata 3 tahun (di Amerika) dan 6-7 tahun di Kanada. monitoring dan evaluasi (22%). Studi pada 2500 guru dan 1200 kepala sekolah. Review Goldhammer (1977) dari 1954 sampai 1974 menunjukkan pergeseran peran superintenden dari juru bicara dan manajer eksekutif sistem sekolah homogen ke situasi di mana negosiasi dan manajemen konflik berbagai kelompok kepentingan. menunjukkan kepala sekolah terlibat dalam empat interaksi strategis dengan guru: (a) penyedia sumber daya. Komitmen guru dan siswa juga dapat dipe -roleh dari inovasi baru-baru ini tentang pembelajaran kooperatif yang pada prakteknya adalah mengurangi metode ceramah sebanyak 20% (dari 48% menjadi 28% dari total waktu pembelajaran). 1987).

padahal secara umum. dibanding kepala sekolah yang berinterkasi dengan cepat. Atas studi pada lima sekolah (dua diantaranya dikategorikan berhasil). Federasi longgar. Evaluasi SDC (System De-velopment Corporation) atas 869 sekolah di 369 distrik menetapkan 34 sekolah dengan orang tua siswa asisten bayaran dan 17 sekolah dengan orang tua sebagai tutor dirumah. kurikulum. Studi LaRoque dan Coleman (1989a: 169) menyusun hipotesis etos distrik positif yang ditandai dengan enam fokus (a) pembelajaran. resistansi dan kegagalan. 1981). (b) tutor/ pembimbing di rumah. pengembangan organisasi. informal dan Manajemen bersama laissez-faire. Mortimore dkk. networking dengan tim konsultan dan mengkoordinasikan dukungan atasan adalah kunci konsultan berpengalaman¶. dst. (e) komitmen bersama dan (f) dukungan komunitas. guru. interferensi. serta inisiatif dan energi. maka orang tua dan komunitas lebih sulit lagi memahaminya.. Miles dkk. jika guru dan ad-ministatur pendidikan yang terlibat masalah pendidikan 40-60 jam per minggunya sulit memahami perubahan pendidikan. Louis (1989) menyusun diagram karaktersitik hubungan distrik dan sekolah sebagai berikut: Hubungan Distrik-Sekolah Fokus pada interaksi dan komunikasi. secara esensil «lewat konsensus pada tidak mengupayakan semua level. Bab 12 diawali dengan pernyataan implisit bahwa sekolah itu sebenarnya milik orang tua siswa dan komunitasnya (cf. pengaruh dan koordinasi bersama dan beberapa kesamaan tujuan Fokus pada aturan dan regulasi Tinggi Rendah Konflik. yang boleh jadi adalah konsultan distrik. (b) akuntabiltas. (c) komunikator dan (d) dewan penasihat. keahlian kependidikan. serta berpikir reflektif (bukan parsial) dan generalis (bukan spesialis). (1988. 1988). agen penghubung. Berhasil untuk tujuan tapi sanksi jarang diterapkan. Hall dan Hord (1984) menemukan bahwa CF (change facilitator. kependidikan dan organisasi sebelumnya. makin orang tua siswa terlibat makin baik pencapaian belajar siswa (cf. 70% dari diskusi tersebut dilakukan dengan trusti sekolah. Studi Fullan dkk. dst. terbatas dalamwaktu isolasi distrik-sekolah pendek. kurang dari 7% dengan guru dan kurang dari 1% dengan siswa. guru hli dan adang-kadang wakil kepala sekolah) terlibat dalam interaksi lebih kompleks. sederhana dan to the point. mudah menjalin hubungan interpersonal. direktur proyek. (c) perubahan. (d) perhatian pada stakeholder. asisten. Gold dan Miles. 188) menyarankan seleksi konsultan didasarkan pada latar belakang pendidikan (broad based). program. Menurut Epstein dan Dauber (1988) peran yang mungkin diperankan orang tua siswa adalah (a) sukarelawan. agen perubahan. pejabat pusat dan administratur sekolah. Survey Becker (1981) terhadap 3700 guru SD dan 600 kepala sekolah menunjukkan se-dikitnya keterlibatan orang . (1987) tentang 200 pejabat supervisi di 26 distrik sekolah (se-perempat jumlah di seluruh provinsi) menemukan mereka menekankan sistem (bukan sekolah). pengalaman kepelatihan. perubahan komprehensif Tinggi Rendah Bab 11 merangkum ke dalam istilah konsultan sejumlah pekerjaan/peran sebagai berikut: ahli materi.merupakan 70% waktu kerjanya. Studi Ross dan Reagan (1990) tentang dua be-las konsultan kurikulum distrikdi dua sekolah menyimpulkan bahwa µ perencanaan sistem. Namun. Sering mengacu pada aturan.

Tahun 1985.9%. Follow Through. (14) Persiapan Profesional Guru. Title VII. (b) menjelaskan dan bekerja sama dengan agensi lokal tentang makna. Keterlibatan pemerintah federal di Amerika ada dua jalur (a) Beberapa program yang disponsori pemerintah fe-deral sejak 1965: Title I. pemerintah (bukan hanya menteri pendidikan) melaksanakan reformasi komprehensif dan fundamen-tal. Bab 13 membahas (a) peran pemerintah federal Amerika dalam dunia pendidikan yang makin menurun. ekspektasi dan kebutuhannya. (b) manajemen umum dan pedagogi instruksional dan (c) ekologi kelas ± . sementara guru/admi-nistrator sebagai inisiator masing-masing adalah 67. 5 prinsip asesmen dan evaluasi serta 3 prinsip pelaporan. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan ± masuk ke dalam bagian III. Studi Lucas. Menurut Hollingsworth (1989) setidaknya ada tiga basis pengetahuan yang diperlukan agar guru efektif (a) materi ±isi dan cara pembelajarannya.2% dan 78%. di Kanada keberadaan federal dalam dunia pendidikan diakui µsepanjang tidak ada seorang pun menamakannya kebijakan pendidikan dan sepanjang tidak ada tun-tutan eksplisit sebagai imbalan atas uang dari Ottawa tersebut¶.waktu dan tenaga besar. Di Kanada. Basic Skills. praktek dan organisasi pembelajaran serta pola dan pengalaman belajar peserta didik dan (f) menerapkan strategi komprehensif. tapi tetap masih signifikan misalnya lewat µsemboyan¶ A Nation at Risk dan (b) ±seperti ditekankan Elmore dan McLaughlin (1988). NIE direorga-nisasi menjadi OERI (the Office of Educational Research and Improvement). Akhirnya. pedoman untuk pemerintah dalam melaksanakan perubahan pendidikan adalah (a) agar memperbaiki kapasitas age nsi untuk meng-implementasikan perubahan. (e) menekankan pada perubahan mendasar profesi guru. 1978: 613) tentang 34 distrik di San Fransisco menunjukkan 62% keputusan kurikulum tidak melibatkan komunitas. (d) staf diberi kesempatan mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya selain memfasilitasi implementasi. Pengembangan guru adalah belajar berkelanjutan dan tidak terpisahkan dari perkembangan sekolah dan dengan demikian lebih baik dari sekedar inovasi-inovasi yang berkesan tidak berkelanjut-an selain sama-sama memerlukan biaya. Bureau of Education Handicapped dan Vocational Education dan (b) Riset. Sebagai contoh British Columbia merencanakan Year 2000: A Curriculum and Assessment Framework for the Future yang mengatur ulang sistem pendidikan dengan 3 prinsip pembelajar dan peserta didik. Sementara itu. Title IV. Development dan Diseminiasi (RDD) dilembagakan pada periode 1972-1985 dengan pendirian the National Institute of Education (NIE). Studi Schaffarzick (Boyd.6% dan 17. Dalam bab 14 dicatat bahwa µmembantu orang lain berubah tanpa kita menyadari-nya sendiri sama halnya dengan penyajian produk atau pelayanan yang tidak atau sedikit signifikansinya untuk pertumbuhan intelektual kita¶ (Sarason. Bab 13 sampai dengan bab 16 -(13) Pemerintah. 12 prinsip kurikulum. rekomendasi hanya 4%-nya dan (c) orang tua sebagai inisiator topik diskusi di SD dan SL masing-masing adalah 27. Terdapat 1400-an lembaga pendidikan guru di Amerika dan 50-an fakultas pendidikan di Kanada yang didalam-nya ditemukan banyak mata kuliah yang tujuannya µkompleks dan tidak jelas¶.ketidak-selarasan waktu perumusan kebijakan yang tergantung pada µelectoral time¶ dan implementasi kebijakan yang tergantung pada µadministrative or practice time¶. Survey Kanada tahun 1979 pada 2000 orang tua siswa menunjukkan 63. jangka pendek-menengah dan panjang secara persisten (serta tidak meminta perubahan segera dan total dalam waktu singkat). multi-faceted. ketidak-puasan pada sistem pendidikan dan lambatnya perubahan pendidikan. (1978-79) tentang content analysis notulen komite dari sepuluh SD dan lima SL menunjukkan (a) isu pedagogi jarang dibicarakan. (c) fleksibel dalam implementasi. saling terkait. 1972). Emergency School Aid Act. (b) diskusi sifatnya informasi.tua siswa.4% diantaranya tidak bersedia menjadi anggota komite penaihat rumah-sekolah. yaitu bagian yang membahas tentang perubahan pendidikan pada tingkat regional dan nasional. dkk.

calon guru yang umumnya menganggap transisi menjadi guru pengalaman besar ±atau bahkan traumatik. pada bab terakhir. Akhirnya setelah pengembangan profesionalisme administatur dan konsultan disinggung. z. Pengembangan profesional guru tergantung pada motivasi dan kesempatan (dalam arti ketersediaan program dan pengorganisasian secara struktural dan normatif yang memungkinkan berlang-sungnya pengembangan profesional). kontrol dan kesibukan peserta didik« [bahwa] tidak ada justifikasi pada tilikan ³pengalaman praktis itu perlu´ «[maka harap diingat bahwa kata Dewey] keliru mengasumsikan tiap pengalaman mempunyai nilai instrinsik selain mampu untuk membangkitkan kualitas respon tertentu dari seseorang¶ (Tabachnick. dst. Akhirnya. isolasionisme. Kenyataannya.lebih disibukkan oleh (a) pendidikan yang sifatnya individualistik padahal kenyataan di lapangan memerlukan bukan hanya pendidikan yang invidualistik dan (b) oleh µstruktur hari sekolah. 4050% dalam tujuh tahun pertama dibanding dengan 6% secara keseluruhan). kurikulum. menjadi politik positif: (a1) fokus pada prioritas: µkita tidak dapat melaksanakan x¶ tidak dapat diterima lagi. negosiasi dan kolaborasi. Pertama disajikan beberapa alasan mengapa pengembangan profesional guru tidak berhasil. yaitu bab 16 disajikan enam karakteristik perubahan pendidikan di masa depan diantaranya sebagai koreksi/alternatif atas model rasional di mana pihak otoritas perubahan meningkatkan advokasi. keluar dari dunia pendidikan. sumber daya. kecuali dengan alasan µkarena kita sedang mengerjakan y. berhadapan dengan pihak penerima perubahan dengan pintu lebih tertutup lagi. berkoordinasi dan terintegrasi pengembangannya dan (c) semua pengembangan profesional arus memenuhi dua syarat (c1) mengarah ke atribut pengembangan profesional yang berhasil pada sebanyak-banyak aktivitas yang dapat dilaksanakan dan (c2) tujuan akhir pengembangan profesional tidak semata pada mengimplementasikan inovasi tapi untuk menciptakan kebiasaan dan struktur individual dan organisasional yang membuat belajar berkelanjutan bagian berharga dan endemic dari kultur sekolah dan pembelajaran. Keenam karakteristik tersebut adalah: y y pergeseran dari politik negatif berupa resistensi dari bawah.¶. yaitu mentoring. sejak dua dekade lalu digulirkan program induksi. pergeseran dari solusi monolitik/seragam ke solusi-solusi alternatif/ variatif yang bercirikan (b1) sekolah sebagai pusat pembaharuan berkelanjutan. 1979-80). dst. yaitu suatu program seksama untuk mendukung guru baru. Induksi pada giliran-nya memunculkan kesempatan pengembangan profesionalisme baru. (b2) perubahan yang dilaksanakan dengan proses komunikasi..pengetahuan tentang bagaimana peserta didik belajar. Diantaranya untuk memberi bekal lebih dan menangani tingkat alih profesi guru ke pekerjaan lain (30% dalam dua tahun pertama. Akhirnya. disajikan saran pengembangan profesional: (a) fakultas pendidikan dan sekolah sebaiknya menggunakan tiga strategi saling terkait ±penggantian staf. isi dan materi baku. (b3) membangun . resistensi kolektif. (b) semua staf di lembaga dan pada level mana saja harus belajar. Selanjutnya. alternatif pengembangan profesionalisme lainnya adalah sertifikasi alternatif. dkk. Akibatnya. indoktrinasi dari atas. disajikan empat contoh kasus pengembangan profesional yang berhasil. Namun. dst. program induksi dan mentoring menghadapi kendala biaya yang mahal. bagaimana mendiagnosa dan mengevaluasi proses dan outcome belajar.yaitu sertifikasi yang diberikan oleh praktisi dan mempunyai kecenderungan standarnya dise-suaikan dengan kebutuhan employer (pihak yang memperkerjakan guru). dst. inovasi program dan produksi pengetahuan. dan (a2) mulai dari lingkungan terdekat. akuntabilitas. serta tekanan pada ketertiban. Sebagian besar pembahasan pada bab 15 masih tentang guru. legislasi. fakultas pendidikan kehilangan baik respektabilitas universitas mau pun efektivitas di lapangan.

(3) keterlibatan semua orang. pola umum vs.y y y y kapasitas sekolah untuk mampu terus berubah dan (b4) mengurangi atau bahkan meniadakan ketergantungan pada solusi yang ditawarkan pihak lain. peningkatan apresiasi pada dilemma-dilema pembaharuan: visi jelas vs. (5) mengukur hal penting dan (6) pencapaian rasa urgensi dan perbaikan terus-menerus yang menyeluruh. (2) visibilitas pengukuran. The New Meaning of Education Change. suatu inovasi sering ditujukan untuk menyelesaikan suatu masalah (µmemadamkan kebakaran¶) atau sekedar fashion saja. 2nd. thing big. inisiatif vs. bottom up. mengalami ketidak -pastian vs. Sementara itu. Fullan.2004. sabar dan persisten. sistem paling baik untuk memastikan pilihan terbaik adalah (a) visi jelas.keunikan.). pemberdayaan. tekanan vs. pergeseran dari pengembangan profesional individual ke pengembangan profesional interaktif/ aliansi di mana ditekankan akses dan perhatian pada gagasan dan praktek rekan kerja/ lembaga lain. merasa puas. pikiran terbuka. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. pergeseran dari inovasi ke pengembangan kelembagaan. dukungan. Teacher College Press. Suzanne (1991). mengharapkan hasil vs.Y. sementara pengembangan kelembagaan berfokus pada peningkatan kinerja dan kapasitas kerja lembaga. top-down vs. jika gagal µif«only «¶ ke µif I «¶ dan/atau µIf we «¶. (4) pengumpulan data primer yang tidak distortif.Universitas Pendidikan Indonesia Image Perubahan Pendidikan (The Images of Educational Change) Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT . dan Stiegelbauer. [1] Peters (1987) menyatakan bahwa organisasi berhasil µmengukur hal yang penting¶ karena dilakukan dengan cara (1) kesederhanaan presentasi. pergeseran dari model rasional µif«then«¶ atau. Bandung Program Pasca Sarjana. (b) saling cerita bagaimana orang lain pada berbagai level bereaksi pada situasi baru yang konsisten dengan visi dan penghargaan untuk pekerjaan yang baik. N. start small vs. Michael G. =========================== Diambil dari: Dodi Sukmayadi.

John (2000). kecuali bagian keempat yang berisi empat tulisan. (c) pendidikan yang lebih baik menuntun pada kemampuan teknologi dan pekerjaan yang lebih baik dan (d) pemikiran ekonomi melanda dunia pendidikan. Adapun judul-judul dan penulis dari ketiga belas tulisan tersebut adalah: (1) Perubahan Ekonomi.(5) Individu dan Perubahan Sosial: Perubahan Pola Komunitas dan Tantangan Sekolah. (10) Pendidikan Reflektif dan Kultur Sekolah: Sosialisasi Calon Guru. Ed. Masing-masing bagian terdiri atas tiga tulisan. lembaga agama. John Schostak. µnilai itu dilihat dari harganya¶ (Gilpin. (b) tujuan kebijakan pendidikan tertentu menuntut sekolah lebih efisien dan lebih produktif. Ernest R. 1993). Judul-judul keempat bagian tersebut adalah (I) Perubahan Pendidikan dan Penyusunan Kebijakan. misalnya. The Images of Educational Change. Gagasan muncul dari elit di ibu kota yang didanai oleh sumber sumber non pendidikan (Ricci. Pasar merusak peran lembaga tradisional ±keluarga. penyajian tulisan dibagi menjadi empat bagian dan diakhiri dengan overview yang berjudul Menuju Visi Sinoptik Perubahan Pendidikan di Negera Maju ditulis oleh John Elliot. (III) Konseptualisasi Proses Perubahan Sekolah dan (IV) Menyiapkan Guru untuk Terlibat dalam Perubahan Pendidikan. Marie Brennan dan Susan Noffke. Barry MacDonald. seperti ketidakmerataan µkue ekonomi¶ yang memberi sekolah masalah. Peter Posch. Angel Perez Gomez. (9) Perubahan Konsepsi Kaji Tindak. House dalam bab 1 mengidentifikasi empat aspek ekonomi yang mempengaruhi kebijakan pendidikan. House. (II) Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Pendidikan.(6) Perubahan Sosial. Christine O¶Hanlon.(3) Mengembangkan Keadaan Muram: Perkembangan Personal dan Sosial Siswa dan Proses Sekolah. Semua ada harganya. Lawrence Ingvarson. Levin. Bahan Ajar dan Guru.(4) Komunitas. Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber.. Berikut adalah substansi tiap tulisan dimaksud. 1987). Myron Atkin. komunitas. Bridget Somekh. (2) Bagaimana Pendidikan Tidak Ditangani Lembaga Mana pun. Semua periset nampak seperti µtentara sewaan¶ dan semua think tanks nampak menggunakan semua sumber daya institusionalnya untuk mengajukan pandangannya (Smith. Christine Finnan dan Henry M. kebijakan pendidikan dirumuskan dari sudut pandang kebutuhan sekolah menciptakan dan merespon µpasar¶. Keempat hal tersebut adalah (a) ekonomi mempengaruhi besar anggaran pendidikan dan menimbulkan konsekuensi sosial.Buku Altrichter. Rusaknya peran lembaga-lembaga tradisional tersebut juga merusak basis dukungan . J. Buckingham merupakan kumpulan tulisan. (11) Studi Kasus dan Catatan Kasus: Suatu Percakapan tantang Proyek Hathaway. (7) Perubahan Kultur Sekolah. Setelah dibuka dengan Pengantar oleh Herbert Altrichter. 1991). Perubahan Sekolah dan Networking Strategis. tenaga kerja dan semua faktor produksi menjadi komoditas untuk diperjual-belikan dan tergantung pada pasar. Open University Press. Kebijakan µpemasaran¶ secara agresif makin meminta peran penting. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker. dan (13) Kontrol Guru dan Reformasi Pengembangan Profesionalitas. (12) Ahli Masa Depan?. Tanah. Penyusunan Kebijakan Pendidikan dan Peranan Negara. Herbert dan Elliott. (8) Beberapa Unsur Teori Mikro-Politik Perkembangan Sekolah.

sehingga timbul masalah baru. (c) solusi radikal/ revolusioner/ subversif: membuat diskursus alternatif. kurikulum nasional diberlakukan dan disupervisi oleh pejabat pusat yangtidak berpengalaman dan/atau tidak kompeten. belajar yang lebih didasarkan pada inkuiri dan pendekatan child-centered. sementara itu dalam kurikulum sekolah menengah masalah personal. Dalam rangka mencari kepercayaan atau kepatuhan total. feminisme dan studi kultural menunjukkan bahwa proses rekayasa individu ±atas dasar efisiensi misalnya. Beberapa alternatif yang dapat ditempuh O terhadap D adalah (a) solusi fundamentalis atau kultus: percaya penuh D. Akhir tahun 90-an. dan atas persetujuan orang tua murid dapat melepaskan diri pengaruh pemerintah lokal. dari banyak data empiris. Khusus dalam bidang pendidikan. kurikulum adalah manifestasi dari bagaimana pengalaman subjektif orangorang lain dikemas dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. sekolah diberi kebebasan mengelola keuangan sendiri. Meskipun banyak contoh reformasi yang berhasil. antisipasiyang mungkin dari D . atau dengan kata lain. Akibatnya diperlukan kurikulum dan pedagogi (terutama sekolah menengah) yang lebih relevan dengan kehidupan dan pada gilirannya sekolah perlu melakukan interpretasi lebih liberal tentang subject matter.tradisional dari pemerintah. Dalam keadaan tersebut. pemerintah jatuh-bangun dilihat dari kemampuannya meningkatkan kesejahteraan warga negaranya dan dengan demikian pemerintah makin tergantung pada pebisnis. kondisi konservatif serupa juga terjadi di Amerika. (e) solusi µhidup tenang¶: kamuflase yang menuntun pada apati bukan pada perubahan sosial yang riil. yaitu tidak menghasilan pendidikan atau produktivitas lebih baik. Benang merah yang mendasari kondisi konservatif adalah ekonomi. Kurikulum sekolah dasar dikonsentrasikan secara sempit pada keterampilan dasar dan akuntabilitas penyampaiannya diuji dengan tes. (b) solusi hermeneutik: berusaha memahami D. Pada saat sama. John Schostak dalam bab 3 menyatakan bahwa sejarah tahun 1980-an dan 1990-an merupakan reaksi pada tahun 1960-an dan 1970-an dengan Amerika dan Inggris masuk ke neo-konservatisme yang menuntut µback to basics¶ dan nilai-nilai keluarga serta menolak pendidikan dan politik trendi dan progresif dengan tekanan pada efisiensi sekolah. Semua hal tersebut disiapkan untuk menaikkan usia anak meninggalkan sekolah (sampai usia 16 tahun pada tahun 1972). Studi psikoanalisis. sehingga dalam masyarakat timbul polarisasi individu/kelompok dominan (D) dan individu/kelompok yang didominasi atau disebut Orang lain (O). integrasi tematik disiplin ilmu di sekitar isu kemanusiaan. kelemahan diatasi dengan pensiun awal. kebijakan pemerintah sering counter-produktif. yang melahirkan prinsip µeverything counts and nothing matters¶. (f) solusi penolakan tersembunyi/ gerakan bawah tanah dan (g) solusi penolakan terbuka/ gerilya /perang terbuka. penolakan siswa recalcitrant dan teralienasi. sosial dan semua yang kondusif untuk pendidikan kewarganegaraan atau politik dimarjinalisasi. makin seperti µtata bahasa tanpa bahasa¶. 1993). antara ekonomi dan negara (Heilbroner. Tahun 1987-88. (d) solusi menyerah/ kepatuhan total atau sebagian.makin terpisah dari filosofi moral. kebijakan sering tidak dirumuskan sesuai dengan bagaimana lembaga pendidikan berfungsi dalam prakteknya. yang menurut Small (1907) ±pengagum Adam Smith.selalu menuntun pada resistensi. yaitu sulitnya merekrut guru. µisu politik sentral dalam kapitalisme« [adalah] hubungan antar bisnis dan pemerintah atau dari perspektif lebih jauh. Solusi-solusi manajerial untuk mencapai target nasional dan berkurangnya peran pemerintah lokal menyebabkan terlihatnya kelemahan kurikulum nasional. Akhir tahun 1980-an. MacDonald dalam bab 2 menyatakan bahwa pendidikan masal yang umurnya sekitar seabad nampak tidak berperan mengubah gap kaya-miskin di Inggris yang sekarang ditandai dengan peran demokrasi sebagai alat mempertahankan kekuasaan. hanya µsentralisasi¶ berada pada level negara bagian. kurikulum adalah suatu proses yang memunculkan subjektivitas kultural.

dan (d) sekolah makin dituntut memperjelas makna belajar dan hubungannya dengan kehidupan personal dan di masa depan. (c) berbagai jenis dukungan finansial dan (d) keterlibatan guru dalam kegiatan masyarakat setempat. SIP mengekplorasi penggantian sistem inspeksi kualitas yang sentralistik dengan program partisipasi lokal dalam evaluasi. (f) dapat terlibat lebih dari satu networks. (e) durasi keterlibatan bervariasi. Pertama. 1992) dan (b) pergeseran dari etika kewajiban dan tanggungjawab ke etika pengembangan diri. seperti pendidikan. 1979). buta huruf. Tiga implikasi megatrend tersebut bagi sekolah adalah (a) delegasi keputusan kurikulum pada sekolah. 1982). Dua proyek yang diamati tulisan ini adalah (a) SIP (School Improvement Project) 1982-1990 di Victoria Australia dan (b) Proyek Kurikulum Afrika dan Afrika-Amerika (PKAA). (c) secara sosial mampu bekerja sama dalam tim. (b) keseteraan cost-benefit. (b) memakai kekuasaan. orientasi nilai dan perasaan. (b) secara teknis berhadapan dengan alat kerja yang dikontrol program. pelaksanaan dan evaluatif dan (e) secara emosional menghayati pekerjaan. Marie Brennan dan Susan Noffke dalam bab 5 menyatakan bahwa sekolah di satu sisi dituntut untuk selalu mengikuti perubahan. dan (f) pengetahuan tidak diterapkan secara instrumental untuk memecahkan masalah tapi secara holistik dengan melibatkan kognisi. Kutipan dari MacDonald (1996) menutup tulisan Schostak. makin tergantung pada pasar kerja dan cara hidup baku yang mendukungnya. Sekolah juga mempunyai sejarah mereproduksi inekualitas dalam masyarakat (apple. sementara di sisi lain diharapkan menyediakan institusi relatif stabil yang atas dasar identitas dan komunitas dibentuk. bukan atasan-bawahan. (b) evaluasi otokratik: menyediakan informasi pada lembaga pemerintah yang mengontrol alokasi sumber daya dan (c) evaluasi demokratis: pengaturan informasi sehingga timbul dialog rasional antara D dan O.adalah: (a) memakai diskursus kasih saying: D adalah (sepertinya) untuk kepentingan O. 1996). Kondisi yang mendukungnya ialah (a) penekanan pada pelatihan. ditambahkan lagi evaluasi partisipatorik (Brown. Kedua. µlebih penting dari skor sains dan matematika adalah keterlibatan generasi akan datang dalam mempertahankan d emokrasi dan menolong orang lemah: anak-anak. pembebasan dari ikatan tradisional juga meningkatkan harapan bebas dari interferensi industrial dan admnistratif. individualisasi: (a) Di satu sisi. orang tua. (c) komunikasi berlanjut. Networks menjadi perhatian dalam tulisan ini. Networks dinamik beda dengan dan mempunyai kelebihan dari struktur hiearkis. orang sakit. ancama. otokratik dan demokratik). di sisi lain.sehingga dapat mengembangkan diri. tidak punya rumah dan orang yang lapar¶. tawaran produk (Beck. (d) masalah dan tujuan ditetapkan bersama. Dalam network dinamik (a) terdapat hubungan simetris. teror. (b) network sosial dengan lembaga. Peter Posch dalam bab 4 mengidentifikasi dua megatrend masyarakat. (c) peniadaan hak individu. (d) memakai diskursus salahkan/ puji diri sendiri. kelompok dan orang dalam komunitas lokal yang harus dikonstruksi oleh sekolah dan (c) kurikulum beragam dan bekerja sama dengan lembaga lain sehingga bermacam kebutuhan peserta didik dapat dilayani (Elliot. (b) menggunakan kontak dengan guru lain secara sistematis. Eroupean Round Table Industrialist (1994) menyatakan tuntutan bahwa tenaga kerja (a) secara teoritis memahami hubungan kompleks. terbelakang. Dalam mengevaluasi hubungan D dan O ada tiga jenis evaluasi yang tersedia: (a) evaluasi birokratik: menerima nilai pejabat dan memberinya informasi yang membuatnya mencapai yang dicanangkannya. namun juga sejarah dalam menciptakan komunitas dan sebagai tempat perjuangan lokal. SIP menekankan pengembangan berlanjut kapasitas berbagai komunitas yang minat dan . (d) secara organisasional mampu melaksanakan tugastugas organisasi. konsumsi. fragmentasi dunia kerja: makin banyak tenaga paruh waktu atau µtenaga portfolio¶ (kontrak kerja dalam waktu tertentu). Jadi terhadap tiga jenis evaluasi yang dikemukakan macDonald (birokratik.

sementara sekolah kaya menekankan berpikir kritis. Myron Atkin dalam bab 6 mencatat bahwa faktor di luar berpengaruh banyak pada apa yang terjadi di dalam kelas: kondisi kerja.. otoritas. (b) perlu upaya menangani konflik dengan komunitas yang sebelumnya memang sedang konflik dan (c) bagi mereka yang terlibat dan identitasnya cukup berlainan (misal. Tahun 1990-an. ada awal abad 20 sains adalah studi tentang alam yang dipersepsi setara alam rural murni dan indah. etnis. fokus awal diperumit dengan diskusi tentang pendidikan µmulti-kultural¶ yang oleh sebagian partisipan dianggap upaya membelokkan fokus awal. lokal (berdasarkan geografi. Basil Bernstein (1996) yang mendiskusikan demokrasi dan hak pedagogis menyatakan tiga hal perlu ada agar tercipta sekolah demokratis: (a) pemberian kesempatan pada individu. sebagian sukses karena percaya pendidikan jalan ke kesuksesan. Banyak waktu digunakan untuk merumuskan tujuan umum yang menekankan keberagaman kelompok dan komitmen bersama mengubah sistem pendidikan yang rasis menjadi yang fair dan ekuitabel bagi semua orang (1993). masa k anakkanak. Secara formal upaya dimulai tahun 1987. memahami implikasinya pada masyarakat. agama. (b) guru menghadapi siswa yang bervariasi latar belakangnya dibanding dengan 30 tahun lalu. Lima kepercayaan dan asumsi yang mendasari kultur sekolah adalah (a) Ekspektasi sekolah pada siswa: sekolah miskin menekankan kepatuhan dan disiplin. keterampilan dan perspektif umum guru (yang pada dasarnya adalah tujuan semua perubahan pendidikan). orang Eropa-Amerika dalam PKAA) perlu mengkaji identitas personalnya. susunan organisasi. Dua fitur kultur digunakan tulisan ini ialah (a) kultur berada pada level masyarakat/ kelompok orang (misal Barat. Sekolah diperlakukan sebagai mikro-kosmos dari masyarakat dan sistem sekolah selalu berada dalam posisi mendukung perubahan mendasar dan sistemik. Tulisan ini menambahkan dua hal lagi (a) image bahan ajar.) dan personal (untuk memahami dan membentuk interaksi antar orang) dan (b) fitur yang nampak kontradiktif dari kultur yaitu di satu sisi konservatif namun di sisi lain selalu berubah. PKAA adalah upaya mengatasi kurikulum Amerika yang umumnya berssifat rasis dan mengatasinya dengan cara melengkapinya dengan sejarah dan peradaban Afrika dan Afrika-Amerika. Christine Finnan dan Henry M. dst. jahat dan penuh dosa. tempat kerja/sekolah. (c) karakteristik sekolah: sekolah miskin . Levin dalam bab 7 mencatat pendapat Mead bahwa kultur itu seperti ikan yang tidak sadar hidupnya berada di air. mempunyai nilai estetik karena mengungkap pola dan keteraturan. (c) guru sains yang mempersepsi dirinya µserba eksak¶ berhadapan dengan penerapan sains ±misalnya menentukan lokasi pembuangan sampah. kultural dan personal.dst. kontras dengan alam urban yang kotor.yang memerlukan pertimbangan berbagai aspek yang tidak µeksak¶. Beberapa image kontemporer tentang sains (a) fokus pada sains yang dapat diterapkan dengan segera. status. okupasi. intelektual. dst. (b) ekspektasi siswa terh adap sekolah: sebagian resisten karena mendapat pengaruh dari masyarakat sekitarnya. pada tahun 1920-1930-an sains adalah untuk mengurangi kerja kasar dan mengurangi penyakit dan selepas perang dunia II sains adalah bidang yang harus diwaspadai aplikasinya. J. (b) inklusi sosial. Dari sudut pandang perubahan pendidikan perlu dicatat (a) metodologi kaji tindak yang diimport dari luar pada konteks yang mengakui atau mendukungnya tidak mendukung upaya yang dilakukan. khususnya sains dan implikasinya pada perubahan sosial dan (b) kepercayaan. sosialisasi professional. dan (c) partisipasi (politis) bukan saja dalam hal diskursus tapi juga dalam hal outcome. Guru memberikan alasan beda mengapa sains penting: untuk persiapan di dunia kerja. Image sains pada abad 19 adalah mengagungkan Tuhan dan perlunya patuh pada orang tua. ada akhir abad 19 sains adalah untuk melatih pemikiran sejalan dengan populernya psikologi faculty. schooling).latarbelakangnya beda untuk terus sharing dan mempertanyakan nilai yang diberlakukan di sekolah.

dan (c) perjuangan strategis dan penuh konflik terjadi atas definisi dan struktur organisasi. Schon. Tahun 1980-1990-an. Kaji tindak dirumuskan dari riset perilaku individu dan kelompok oleh Lewin. 1989). bilingual. Bridget Somekh dalam bab 9 mengawali tulisannya dengan parabel yang membawa pesan bagaimana seseorang dapat menikmati pendidikan/ pengembangan profesionalisme yang dikatakan bagus tapi kemudian setelah berhasil malah membuatnya menjadi budak orang lain. Sementara itu.dengan misalnya ucapan yang mengkultuskan individualisme lewat . tuntutan berubah rendah. desentralisasi dan devolusi baik di negara yang dulunya sentralistik (Austria dan negara Eropa lainnya) maupun di negara yang dulunya desentralistik (Inggris. dst.) dianggap penghambat dan resisten terhadap perubahan. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam kultur sekolah adalah sejarah sekolah. (d) praktek sekolah: misi yang didasarkan filosofi jelas (Montesori. Bebe rapa masalah teori mikro-politik adalah (a) harus dapat menjelaskan bagaimana organisasi relatif stabil dan bertahan suatu waktu tertentu. organisasi itu sifatnya berorientasi tujuan dengan sistem perencanaan rasional dan dengan struktur objektif. Kontinjen artinya tergantung variabel konteks. pre-emprif atau menutup-nutupi konflik. ASP (Accelerated School Project) adalah suatu reformasi pendidikan yang mengakui pentingnya kultur sekolah. pemenangan. pendapat pihak luar (orang tua. Organisasi hampir tidak dapat dikonsepsi semata sebagai konglomerasi kekuasaan dan permainan (yang ditandai oleh resiko. dst. (c) tidak melihat politik semata sebagai pengkhianatan.). dst. Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber dalam bab 8 mengamati dekade lalu ditandai oleh reformasi sekolah yang bertema otonomi sekolah. Tugas makin kompleks menyebabkan siswa tidak nyaman dan µmengancam¶ untuk tidak disiplin dan dengan demikian secara implisit melakukan negosiasi dengan pendidik: tugas lebih sederhana yang dikompensasi dengan disiplin di kelas. ASP menyebar ke sekitar 1000 sekolah dasar dan lanjutan di 40 negara bagian. sekolah kaya sebaliknya. (b) pengaruh dari luar organisasi. Menurut µteori strukturasi rasional-kontinjen. meskipun demikian teori (seharusnya) tidak menjelaskan konsensus se bagai suatu bentuk dominasi. eliminasi. Doyle dan Ponder (1976) menafsirkan kesulitan yang dialami sekolah dasar ketika tugas pembelajaran makin kompleks dikenalkan sebagai proses negosiasi. menetapkan prioritas. menuntun ke praktek yang jelas. konstruksi tujuan dan visi. sementara pengembangan organisasi dilaksanakan oleh konstruktor organisasi atas dasar kalkulasi rasional (Turk. Konsensus tidak semata diperoleh lewat negosiasi eksplisit. dst. dst. Tahun 1970-an kaji tindak disempurnakan di Impington dan secara luas didukung Education Act tahun 1944. pendekatan sistematis pada kaji-tindak dan pemecahan masalah serta tentang pedagogi menyeluruh yang menyatakan semua sumberdaya sekolah dikerahkan untuk menghadapi tantangan proses belajar mengajar. tapi juga bersumber dalam lebenswelt yang dapat dipahamkan sebagai konsensus historis generasi terdahulu yang kurang lebih dikenal luas serta yang sekarang direproduksi lewat tindakan. teori mikro-politik berpandangan (a) organisasi mempunyai beragam tujuan dan pengaruh.ditandai rendahnya percaya diri guru. open learning. Proyek bertujuan untuk mempercepat proses belajar terutama bagi siswa yang berisiko gagal dengan sekolah mengambil keputusan dalam hal-hal: eksplorasi semua dimensi sekolah. dan (e) tuntutan perubahan: jika keputusan diambil pada level birokrasi lebih tinggi. sembari menekankan prinsip kepemilikan dan profesionalisme guru. ekspektasi dan siswa rendah menuntun ke praktek memorisasi dan pengajaran keterampilan dasar. konspirasi dan akumulasi pengaruh atau lawan dari kebenaran dan penalaran. Wales. Kaji tindak adalah model perubahan yang tidak demikian. pemerintahan Thatcher mempunyai posisi oposisional ±menekankan dualisme yang lekat dalam masyarakat Barat.). cheating. 12 pusat pendukung dan 300 tenaga terlatih yang memantau sekolah.). (b) pelaku mengejar kepentingannya masing-masing sesuai nilai yang dianutnya. Sejak 1986. sistem pengelolaan yang melibatkan semua orang. dst.

Posisi oposisional tersebut tidak sejalan dengan tema kaji tindak yang menolak posisi oposisional. termasuk kekuasaan yang darinya bukunya tersebut terbit¶ (Foucault. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker dalam bab 11 menyajikan studi dan catatan kasus sekolah dasar Hathaway (SDH) yang terletak di daerah migran di Sidney. pengembangan kurikulum dan studi kebijakan. Tahun 1970an Lawrence Stenhouse mendesain penelitian membandingkan interview (µsejarah oral¶) yang datanya dicari oleh Lawrence Stenhouse dan Jean Rudduck dengan observasi (µetnografik¶) y ang datanya dicari oleh Stephen Ball dan Rob Walker. Dengan mengacu ke Alfred Schutz. Hal tersebut . Tiap studi kasus berlangsung selama empat bulan. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan persisten adalah (a) tekanan kultur sekolah dan kelas yang harus diikuti jika ingin berhasil. persoalan serupa juga diamati Stephen dan Walker dalam memisahkan etnografer dari etnogarfi yang dibuatnya. Studi kasus merupakan tilikan sentral saat ini dalam kaji tindak. Isu tersebut diberi tekanan oleh Stenhouse untuk membuat archives data yang padanya komunitas peneliti dapat menyumbang dan menggunakannya sebagai sumber analisis. tetap harus diingat bahwa ketika mendeskripsikan diskursus sebagai µregimes of truth¶ yang dikonstruksi orang-orang sepemikiran. Studi SDH diinisiasi satu dekade lalu oleh Susan Groundwater Smith dengan tujuan untuk memperoleh catatan kasus untuk digunakan dalam program pendidikan guru. Angel Perez Gomez.mengembangkan ortodoksi dan mekanisme untuk memaksakannya dan beliau menyarankan gagasan dalam bukunya µsebagai alat« untuk menghancurkan sistem kekuasaan. Dari sudut pandang metodologi. studi kasus sering dianggap istilah pantechnicon yang setara dengan riset kualitatif dan secara longgar dikaitkan dengan istilahistilah evuvurncaluasi ilmunatif dan responsif. dan malah mengeksplorasi serta membangun hubungan antara teori dan praktek. (a) membuat deskripsi koheren bagi diri sendiri dan (b) membuat deskripsi µko-author¶ dengan periset. sehingga dengan demikian tema kaji tindak adalah µtugas dobel¶ yang dilaksanakan bersamasama/ kolektif atau apa yang dinamakan Gidden µdemokrasi dialogis¶. dalam bab 10 menyarikan studi kasus praktek mengajar (practicum) delapan calon guru di delapan universitas di Andalusia (Spanyol). Hal lain yang j ga u dikaji SDH adalah perlunya guru dapat mengembangkan kaleidoskop permasalahan: faktafakta dapat disusun berulang-ulang untuk sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda. (b) ketidaknyamanan personal dalam menguasai situasi kompleks dan asing serta ketakutan tidak dihargai sebagai guru. studi kasus dikembangkan sejalan dengan proyek untuk mengimplementasikan perubahan kurikulum dan organisasi. dst. objektivitas dan subjektivitas. Foucault memprediksi ketidak-terhindaran semua sistem ±seberapa besarnya pun niatnya untuk memberdayakan orang lain. riset naturalistik. pengaruh politik global dan legitimasi kulturalnya. (c) teori yang dipelajari ditemukan tidak berguna untuk dipraktekkan di lapangan. Christine O¶Hanlon dalam bab 12 mencatat bahwa sejak tahun 1970an Eropa dan Amerika turun pertumbuhan ekonomi. dst. Studi SDH menyatakan perlunya bertanya secara eksplisit mengapa masalah tertentu saja yang dikaji dan mengapa masalah yang lainnya tidak dikaji. Di dunia pendidikan. etnografi pendidikan. Namun. Stephen selalu menyatakan bahwa interview sebagai suatu konstruksi sosial yang tidak dapat diperlakukan sebagai data yang lepas konteks (decontextualized data). Hal lainnya lagi adalah terdapat dua makna author. Organisasi kelas SDH didesain µterbuka¶: tiap hari berurusan dengan kebijakan dari atas dan dengan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya. riset partisipan..perkataannya µTidak ada yang disebut masyarakat itu¶. (d) kekurangan acuan dan laternatif teoritis/praktis untuk men¶judge¶ semua yang diamati dan dialami dan (e) tidak berfungsinya supervisor sebagai penyeimbang kultur sekolah dan kelas. 1975). evaluasi.

hanya detil-detilnya yang dapat dikaji ulang«[Padahal hal yang diperlukan adalah misalnya] pengembangan profesional guru menjadi pendidikan guru ketika teori kritikal tentang situasi pengajaran memberi kesempatan pada guru untuk menjelaskan dan memahami bagaimana pembelajaran dikontrol faktor-faktor di luar kelas dalam konteks masyarakat dan politik. politik dan strategis dalam masyarakat Barat« Sayangnya. federal labor government memberi dana 60 juta AUD untuk program nasional pengembangan professional (NPDP)«Tapi. bukannya pada pengembangan keahlian yang dianggap tugas pemberi pekerjaan. Profesional dalam bidang pendidikan perlu mengenali bahwa pengetahuan pedagogi dan kurikulum selalu problematik dan dengan demikian selalu terbuka untuk dikaji. kita mempunyai manajemen berbasis sekolah. Praktek tradisional menuntut praktisi patuh pada suatu µotoritas¶ yang dibangun dari pengalaman praktis. Sekarang ini. Tapi. sementara pengetahuan dan pengalaman praktis dianggap sebagai insidental dan bahkan ditiadakan k arena dianggap subjektif atau anekdotal jika digunakan sebagai bukti dalam karya tulis dan disertasi. (b) struktur insentif. Diambil dari: . di Victoria missalnya. Hanya dengan cara demikian guru memperoleh pengetahuan praktis dan standards of excellence yang dengannya kompetensi praktisnya dapat dievaluasi. aktivitas dibatasi oleh school charters yang prioritasnya ditetapkan negara bagian dan pendidikan in -service yang schoolfocused bergeser ke pengembangan staf yang dikontrol manajemen. Tahun 1993. debat tentang pedagogi « mengabaikan bentuk keseluruhan µkurikulum¶ dalam semua level dan gagal untuk menempatkannya dalam faktor sosio-kultural kompleks yang lebih luas yang berkaitan dengan concern ekonomi. eksistensialisme dan pasca-modernisme. dinilai dan direvisi secara seksama. Marxisme.menyebabkan munculnya diskursus-diskursus reflektif dan kritikal: teori kritikal. (c) infrastruktur pembelajaran profesional dan (d) sertifikasi profesional yang kredibel dan voluntary. Asesmen standar dan kinerja untuk sertifikasi dikembangkan NBPTS ( National Boards for Professional Teaching Standards) Amerika. fenomenologi. Seperempat abad setelah Karmel Report. Dalam dunia pendidikan. Lawrence Ingvarson dalam bab 13 mencatat tahun1973 labor government mengeluarkan Karmel Report yang isinya mengenai pengembangan profesional menyatakan bahwa suatu tanda okupasi berketerampilan sangat tinggi adalah proses persiapannya sesuai standar dari praktisi itu sendiri dan pengembangan selanjutnya juga sebagian besar adalah tangungjawab profesi tersebut«Kenyataannya guru mempunyai sedikit kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan organisasi guru lebih peduli pada pelayanannya pada industri. kecuali dalam lingkup tujuan yang secara sentral ditetapkan dalam school charters dan kurikulum. Asesmen serupa hendaknya meliput sekurang-kurangnya (a) standar pembelajaran. Tematema tersebut dalam fokus akademis dipadukan dengan perspektif konstruksionisme sosial. etno-metodologi. Sekarang.(tapi adalah) representasi ideologi. sebagai bagian dari kampanye. tapi guru mempunyai kesempatan lebih sedikit dalam pengembangan profesi(onal)nya. kurikulum nasional tidak mengijinkan prinsip atau bahan ajar yang disusunnya untuk didebat. Dalam perspektif pasca-modern masyarakat dipandang sebagai text serta teks ilmiah dan akademik sendiri dipandang sebagai tindakan retorik yang tidak mempunyai legitimasi logis atau empiris (inheren) «. hampir semua negara bagian mempunyai budget pengembangan profesi(onal). Akhirnya. dekonstruksionisme dan pasca-modernisme. tekanan critique ideologi dan pasca-empiris tersebut mempertanyakan pendidikan guru tradisional yang menekankan kemampuan akademis dan intelektual. kelompok dan kepentingan berbeda-beda. dana dapat digunakan hanya untuk tujuan yang ditetapkan pemerintah federal atau prioritas nasional seperti misalnya kurikulum nasional.

Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. 2.2004. yakni: 1. tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report .Dodi Sukmayadi. Ed. The Images of Educational Change. maka setiap orang dalam organisasi ditun tut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara -cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan. Buckingham). . Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi. serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Altrichter. 10 Cara Meningkatkan Inovasi Posted on10 Desember 2008byAKHMAD SUDRAJAT Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri.Universitas Pendidikan Indonesia. John (2000).. Open University Press. Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan. Memerangi ketakutan akan perubahan Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan.. Memiliki visi untuk berubah Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif ap abila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. Bandung Program Pasca Sarjana. Herbert dan Elliott. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi.

sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team. Berfikir Seperti Pemodal yang Berani Mengambil Resiko Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio. setiap rencana mudah dilaksanakan.Mereka akan berkata. mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra. 6. Memiliki Suatu Rencana Usulan yang Dinamis Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat. sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan. 4. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko. sumber tersedia dengan baik. Mematahkan Aturan Untuk mencapai inovasi yang radikal. dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit. satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan. baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan ³YA´. Kolaborasi Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. Tetapi. responsif dan terbuka untuk semuanya. tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dar peran i saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya. Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. ´ Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik. tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan. kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu. Mereka memberikan gambaran menarik ten tang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang. . berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral. kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi´. 5. 3. 7. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal.

Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat.8. 9. yang berjudul ³Ten Ways to Boost Innovation´ dipublikasikan oleh Kogan Page. dan untuk mencapai hasil yang luar biasa. bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya. Membangun prototipe Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata). Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. merubah caracara yang biasa mereka lakukan. kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama. seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah.director. kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang -orang. setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi. Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. Menerima kegagalan Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata. Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif. 10. www. Bersemangat Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. pengarang The Innovative Leader. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang.co. dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja. *)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane. termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan. Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas.uk Pengembangan Budaya Sekolah Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan. maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. serta dilaksanakan . Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri.

Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Selain beberapa manfaat di atas. diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik. (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. (3) disiplin meningkat. siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. termasuk dalam menyampaikan pesan -pesan pentingnya budaya sekolah. Memiliki Strategi yang Jelas. Fungsi visi. Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja.dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan. Misi dan Tujuan Sekolah . Visi tentang keunggulan mutu misalnya. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki. yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsu dan personil sekolah baik itu r kepala sekolah. dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah. (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi. (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. (3) lebih terbuka dan transparan. 4. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Berfokus pada Visi. staf. keluarga. . Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah. (6) belajar dan berprestasi terus serta. misi dan tujuan sekolah. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. 1. (2) pergaulan lebih akrab. orang lain dan diri sendiri. 3. guru. 2. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. misi. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah.

Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. 2. 6. 3. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. nyaman. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. guru. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. Keinginan. upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. Sistem Imbalan yang Jelas. 4. Evaluasi Diri. Keputusan Berdasarkan Konsensus. Dalam lingkungan pembelajaran. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. Memiliki Komitmen yang Kuat. 8. 10. Kemampuan. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. 7. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas. sedang. Berorientasi Kinerja. Kegembiraan (happiness). nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah.5. . Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Kerjasama tim (team work). Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah masalah yang dihadapi di sekolah. Untuk itu. Sistem Evaluasi yang Jelas. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. dan jangka panjang. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. 9.

9. jujur dalam mengelola keuangan.5. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Disiplin (discipline). Empati (empathy). guru dan staf. kepercayaan tidak akan diperoleh. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Hormat (respect). nyaman. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Jujur dalam memberikan penilaian. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami. Tanpa kejujuran. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. asri dan menyenangkan. Dimensi ini menuntut para guru. bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik. staf dan kepala sekolah tarmpil. Jujur (honesty). Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. orang tua dan masyarakat. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. 7. 8. Pengetahuan dan Kesopanan. 6. Jika perlu dibuat wilayah wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. ================= . baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain.

ketearturan. Jerry Wyckoff dan Barbara C.2007. kesadaaran kerja adalah sikap sukarela . kemauan dan kesediaan kerja orang lain agar dapat taat dan tunduk terhadap semua peraturan dan norma yang berlaku. Sementara itu. Jerry Wyckoff dan Barbara C. Jakarta. dan ketertiban. kepatuhan. yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan. Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri. menghargai patuh dan taat terhadap peraturan -peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Menurut Soegeng Prijodarminto (1992) bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan. (1990) menyebutkan bahwa disiplin kerja adalah kesadaran. dan (3) adanya sanksi bagi pelanggar Pada bagian lain. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah).Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Konsep Disiplin Kerja Posted on 5 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Disiplin merupakan kata yang sering kita ketentuan berupa peraturan -peraturan yang secara eksplisit perlu juga mecakup sangsi-sangsi yang akan diterima jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut. kesetiaan. (2) adanya kepatuhan para pengikut. Unel. Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati. Dalam kaitannya dengan disiplin kerja. Unel. ketenteraman.

1991). yang dapat mematikan prakarsa. agar karyawan lain mengikutinya sehingga dapat menanamkan jiwa disiplin dalam bekerja. Terdapat dua jenis disiplin dalam organisasi. kreativitas serta partisipasi sumber daya manusia. yaitu : (1) disiplin preventif dan (2) disiplin korektif (Sondang P. sebagai tanda ketertiban dan kerapian dalam melakukan kerjasama dari sekelompok unit kerja di dalam suatu organisasi (someone status selfcontrol as orderliness sign order and accuration in doing cooperation from a group of unit work in a organization) Jackclass (1991) membedakan disiplin dalan dua kategori. Disiplin preventif adalah tindakan yang mendorong para karyawan untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. yaitu self dicipline dan social dicipline. Keberhasilan penerapan pendisiplinan karyawan (disiplin preventif) terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. . Karyawan akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan bukan mematuhi tugasnya itu dengan paksaan. Menurut Wayne Mondy dan Robert M. tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi. yaitu : Triguno (2000) menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pendisiplinan preventif adalah untuk mendorong karyawan agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi. untuk mencegah jangan sampai para karyawan berperilaku negatif. Colyer. Self dicipline merupakan disiplin pribadi karyawan yang tercermin dari pribadinya dalam melakukan tugas kerja rutin yang harus dilaksanakan. Siagaan. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap. Karyawan harus memiliki prinsip dan memaksimalkan potensi kerja. 1996). disiplin pada umumnya termasuk dalam aspek pengawasan yang sifatnya lebih keras dan tegas (hard and coherent). Menurut Daniel M. Dikatakan keras karena ada sanksi dan dikatakan tegas karena adanya tindakan sanksi yang harus dieksekusi bila terjadi pelanggaran. Kesediaan kerja adalah suatu sikap perilaku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan tugas pokok sebagai seorang karyawan. sedangkan social dicipline adalah pelaksanaan disiplin dalam organisasi secara keseluruhan.dan merupakan panggilan akan tugas dan tanggung jawab bagi seorang karyawan. Dalam hal ini terdapat tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen di dalam penerapan disiplin pribadi. Noe (1990) disiplin adalah status pengendalian diri seseorang karyawan. agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan.

Garret. Horald D. menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi. 2. yaitu pemberhentian. yaitu: (1) peringatan lisan (oral warning). Untuk itu. Penjelasan dimaksudkan seyogyanya disertai oleh informasi yang lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif. namun seseorang karyawan tersebut masih tetap gagal untuk mencapai standar kriteria tata tertib. 3. (2) peringatan tulisan (written warning). Para karyawan perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. dalam pemberian sanksi korektif seyogyanya memperhatikan tiga hal berikut: (1) karyawan yang diberikan sanksi harus diberitahu pelanggaran atau kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Para karyawan didorong. karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang menjadi miliknya.1. Disiplin korektif adalah upaya penerapan disiplin kepada karyawan yang nyata-nyata telah melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan dan kepadanya dikenakan sanksi secara bertahap. perlu dilakukan ³wawancara keluar´ (exit interview) pada waktu mana dijelaskan antara lain. (3) disiplin pemberhentian sementara (discipline layoff). agar mempunyai rasa memiliki organisasi. Dalam pemberian sanksi korektif . Sayles dan Strauss menyebutkan empat tahap pemberian sanksi korektif. dalam penerapan sanksi korektif hendaknya hati-hati jangan sampai merusak seseorang maupun suasana organisasi secara keseluruhan. dan (4) pemecatan (discharge). (2) kepada yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri dan (3) dalam hal pengenaan sanksi terberat. maka perlu untuk memaksa dengan menggunakan tindakan korektif. maka sekalipun agak enggan. dan pimpinan memberikan kebijaksanaan kritikan dalam menjalankan tugasnya. (1994) menyebutkan bahwa bila dalam instruksinya seorang karyawan dari unit kelompok kerja memiliki tugas yang sudah jelas dan sudah mendengarkan masalah yang perlu dilakukan dalam tugasnya. sesuai aturan disiplin yang berlaku. Di samping itu. serta pimpinan sudah mencoba untuk membantu melakukan tugasnya secara baik. mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. mengapa manajemen terpaksa mengambil tindakan sekeras itu. Para anggota organisasi perlu didorong. Burack (1993) mengingatkan bahwa pemberian sanksi korektif yang efektif terpusat pada sikap atau perilaku seseorang dalam unit kelompok kerja yang melakukan kesalahan dalam melakukan kegiatan kerja dan bukan karena kepribadiannya. Tindakan sanksi korektif seyogyanya dilakukan secara bertahap.

Sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja. baik pelanggan internal maupun eksternal. 9. 12. 4. Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul . Hopkins. sehingga terhindar dari berbagai ³kerusakan psikologis´ yang sangat sulit memperbaikinya. Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang. Sekolah berfokus pada pelanggan. tenaga akademik. Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya. baik di tingkat pimpinan. dan menjadi tercerai berai karena kesalahan tindakan disiplin tim. 8. 13 Ciri-Ciri Sekolah Bermutu Posted on 8 Oktober 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Merujuk pada pemikiran Edward Sallis. 7. Ada beberapa pengaruh negatif bilamana tindakan sanksi korektif dilakukan secara tidak benar. dimana kerja tim akan menjadi tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas kerja samanya. Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok.harus mengikuti prosedur yang benar sehingga tidak berdampak negatif terhadap moral kerja anggota kelompok. (2) disiplin tim. 2. sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya 6. (Robert F. (3) disiplin diri. 3. mampu mencip takan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas. 1996). 10. Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas. termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal. ba ik untuk jangka pendek. Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan . Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi 13 ciri -ciri sekolah bermutu. 11. yaitu: (1) disiplin manajerial.. demikian juga dalam tindakan sanksi korektif dalam tim yang tidak benar dapat berakibat terhadap kurangnya partisipasi karyawan terhadap organisasi. Sekolah memnadang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut. dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal. Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas. Sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas. 5. yaitu: 1. fungsi dan tanggung jawabnya. maupun tenaga administratif. Pengaruh negatif atas penerapan tindakan sanksi korektif yang tidak benar akan berpengaruh terhadap kewibawaan manajerial yang akan jadi menurun. jangka menengah maupun jangka panjang. Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas. 13.

yang salah siapa«. Membangun sumber daya manusia berkualitas tentu merupakan suatu tantangan tersendiri. lembaga pendidikan yang tidak mampu mengelola sebuah konsep pendidikan yang bermutu. Perubahan terjadi dimana mana. Jika kita kita mampu mengelola perubahan itu menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi kita maka dengan sendirinya kita akan tergilas didalam perubahan itu. bahkan pemerintah yang dinilai kurang cermat dalam menyusun kurikulum. menapaki hari hari yang penuh harapan.MM Pengantar Tidak terasa dalam bulan ini Republik-ku telah berulangtahun yang ke 63. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia diperhadapkan dengan sangat terpuruk nya mutu pendidikan. Orang tua yang tidak bisa mendidik. Berbagai kesalahan ditimpakan kepada Guru yang tidak cakap mengajar. Tentunya kita tidak dapat berpuas diri dengan hanya mengandalkan beberapa orang saja dari sekian ratus juta jiwa anak bangsa yang hidup di republik ini dalam mencetak berbagai prestasi berkaliber dunia. Di Nusa Tenggara Timur mutu pendidikan kita sangat rendah. Siswa yang kurang belajar.. Hal ini ditunjukkan dengan hasil ujian nasional yang sangat terpuruk dan merosot. Mencermati tulisan saudara M. Dewasa ini Sumber Daya Manusia dituntut mampu berkompetisi dalam dalam dunia global.Sumber: Sudarwan Danim. walaupun tidak dapat kita pungkiri dilain sisi terdapat beberapa anak bangsa berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi kita semua.? Posted on5 September 2008byAKHMAD SUDRAJAT Oleh: Ricky Ekaputra Foeh. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Kita hidup dalam dunia yang penuh perubahan. Membangun kejayaan bangsa yang makin lama makin redup seiring perubahan yang terjadi. Masing-masing orang mulai mencari kambing hitam. Hamatara (Dosen Undana Kupang) Kamis tertanggal 7 AGUSTUS 2008 dibawah judul UNAS YANG KELABU Siapa Kambing Hitam? Membuat kita seakan perlu merefleksikan diri untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan . sebuah perjalanan panjang bangsa ini. Jakarta: Bumi Aksara Mutu Pendidikan Kita Rendah. termasuk dalam dunia pendidikan kita.

Oleh karenanya permasalahan ini harus segera diatasi.Ed berpendapat bahwa Pengelola lembaga pendidikan di NTT diharapkan jangan mendidik peserta didik hanya sekadar untuk mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Dengan kata lain tanggung jawab lembaga pendidikan dalam memperbaiki mutu pendidikan bukan hanya pada proses pendidikan saja. atau psikomotorik). maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh Lembaga Pendidikan. jasa. MS mengaku sangat kecewa atas hasil seleksi SPMB Undana hal ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan di NTT di tingkat bawah tidak bermutu. tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di lembaga pendidikan. bahkan 10 tahun). beragam jenis teknik. toleransi. saling menghormati. afektif. akan tetapi agar proses pendidikan dapat bermutu dan tepat sasaran. Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap lembaga pendidikan baik yang berdasarkan titik . seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer. Prof. keakraban. akhir tahun. kebersihan. Mutu pendidikan yang terpuruk di negeri ini harus kita tekan. seperti. Sedangkan guru dan komponen lainnya hanya beberapa saat saja. Mutu dalam konteks ³hasil pendidikan´ mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester/cawu. ³Bermutu tidaknya pendidikan seorang siswa itu pertama terletak di tangan para orangtua. sesungguhnya kita sudah terlambat untuk itu. Mutu dalam ³proses pendidikan´ melibatkan berbagai input. keramahtamahan. Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan µ terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau ³kognitif´ dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan satu sama lainnya. misalnya : NEM oleh PKG atau MGMP). bahan ajar (kognitif. metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru) sarana prasarana lembaga pendidikan. berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang fair dan nyaman untuk belajar. Dr. Lain lagi dengan pandangan saudara Lebe Laurensius (SMUN 2 Kupang) yang menambahkan. melainkan lebih dari pada itu adalah pada hasil yang dicapai. Pandangan lain yang mencuat adalah berasal pengamat pendidikan NTT Drs. Mutu Pendidikan Kesadaran akan pentingnya mutu pendidikan sungguh merupakan tantangan yang tidak ringan. dsb. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai.bukannya kecenderungan untuk saling mempersalahkan juga muncul ditengah tengah kita seperti pandangan para pengamat beberapa waktu lalu antara lain. dukungan administrasi. Lembaga Pendidikan wajib menetapkan target yang jelas untuk dicapai setiap tahun atau kurun waktu tertentu. agar output yang dihasilkan mampu bersaing di tengah masyarakat. tetapi harus didukung kuat oleh orangtua di rumah serta komponen pendidikan lainnya. 3 tahun. karena anak lebih banyak didampingi orangtua. M. Bahkan prestasi lembaga pendidikan dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin. bahwa untuk mengejar mutu pendidikan. Berbicara mengenai mutu pendidikan sebenarnya kita membicarakan tentang dua sisi yang sangat penting yaitu proses dan hasil. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum dan ujian nasional). August Benu. Tetapi harus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Setiap lembaga pendidikan yang ada di republik ini memiliki tanggung jawab besar terhadap mutu pendidikan yang dimulai dari proses pendidikan itu sendiri dan berakhir pada hasil pendidikan yang dicapai. John Manulangga. Jikalau kita baru berpikir bahwa kita harus berubah. Dapat pula berupa prestasi di bidang lain seperti cabang olah raga.

SMP ± SMA Kristen . konsultan ahli dan staf lainnya sehingga akan menciptakan iklim lembaga pendidikan yang mempu membentuk keunggulan lembaga pendidikan. Tentunya banyak pihak yang bertanya dan ingin mengetahui tentang keunggulan lembaga pendidikan yang berprestasi luar biasa tersebut. Memasuki tahun ajaran 2008 / 2009 ini. Institusi pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan menjawab harapan bangsa. SMA Kristen Mercusuar juga merupakan Sekolah Pertama dan Satu-satunya di NTT yang menerapkan Rombongan belajar per kelas 20 ± 25 siswa dengan di dampingi oleh 2 (dua) orang guru dalam 1 kelas. maka diyakini bahwa kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang agar kita tidak tergilas didalamnya. dan secara terus menerus menyempurnakan dirinya sehingga berakhir kepada peningkatan mutu siswa (lulusan). dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu sedangkan tanggung jawab individu lembaga pendidikan dan masyarakat pendukungnya untuk merancang mutu yang diinginkan. Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis lembaga pendidikan ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro. Lembaga Pendidikan Unggulan Lembaga pendidikan unggulan itu sesungguhnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga lembaga pendidikan. SMA Kristen Mercusuar yang memiliki AKREDITASI A (Terbaik) dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Lembaga ini juga menerapkan Full Day School. pengawasan kemajuan belajar siswa oleh Pusat Informasi dan Pengendalian Mutu SMP-SMA Kristen Mercusuar secara teratur dan sistematis. Setiap peserta didik dibekali dengan penguasan IPTEK seperti: Manajemen informatika dan access internet yang terbuka sehingga dapat diakses kapan saja. dan mengevaluasi hasilnya. masyarakat dan pemerintah deng tanggung an jawabnya masing ± masing ini. & Penerapan Metode Pengajaran Moderen. wakil kepala lembaga pendidikan. bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan atau owner lembaga pendidikan saja melainkan melibatkan seluruh komponen didalamnnya. Di Nusa Tenggara Timur terdapat beberapa lembaga pendidikan unggulan salah satu diantaranya adalah SMA Kristen Mercusuar. Lembaga Pendidikan ini berproses dengan mengacu dan menerapkan sepenuhnya kurikulum nasional serta menambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk memperluas wawasan peserta didik agar dapat berkompetisi secara global. Diperlukan adanya synergy dengan berbagai pihak antara lain lembaga pendidikan. pengawasan KBM yang ketat. Di dalam masyarakat yang komplek seperti sekarang dimana kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perubahan yang telah membawa kepada perubahan tata nilai yang bervariasi dan harapan yang lebih besar terhadap pendidikan terjadi begitu cepat. prioritas pembangunan. melaksanakan. Kondisi ini telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional sehingga mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan.acuan standar (benchmarking) maupun kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan oleh individu lembaga pendidikan sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. guru. Pengelola sebuah lembaga pendidikan harus mampu memahami konsep penting pendidikan yang diluncurkan oleh pemerintah sehingga mampu menjawab tuntutan publik akan pendidikan bermutu. Berbagai komponen dalam lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pendidikan antara lain kepala lembaga pendidikan.

Kegiatan kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kadar keimanan seluruh komponen dalam lingkup SMP ± SMA KRISTEN MERCUSUAR menerapkan kegiatan kerohanian secara terpadu dalam lingkungan pendidikan berupa kegiatan ibadah bersama dan kegiatan pendalaman alkitab. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya. staf). sebuah proses pembelajaran yang berbasis teknologi wifi-hotspot memampukan siswa mengakses bahan belajar secara baik.Mercusuar mulai meluncurkan program E ± Learning. dan keuangan.1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik . Semua proses ini harus dipantau secara teratur dan berkesinambungan sehingga akan terasa hasilnya. maka diperlukan partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua. Selama ini pembangunan pendidikan kita hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan sedangkan faktor proses pendidikan kadang terabaikan. Sebuah lembaga pendidikan itu sifatnya dinamis dan berirama alias tidak statis oleh karenanya tdak bisa disamakan i dengan institusi ekonomi dan industri. kinerja personil lembaga pendidikan dalam kerangka mengembangkan dan mencapai target kurikulum. administratif (siswa. Masalahnya sekarang adalah kebanyakan di berbagai lembaga pendidikan telah ada staf administrasi namun dalam jumlah yang terbatas sehingga memaksa guru dan kepala lembaga pendidikan terpaksa turun tangan menangani masalah administrasi dan keuangan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan. guru. siswa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan antara lain: Lembaga Pendidikan perlu membentuk sebuah unit kerja yang bertugas melakukan penyusunan basis data dan profil lembaga pendidikan secara sistimatis yang menyangkut berbagai aspek akademis. Para konsultan menyajikan data secara terperinci sehingga para pengambil kebijakan dilingkungan lembaga pendidikan dapat mengambil keputusan penting yang menyangkut pembangunan konsep pendidikan dan arah rencana pendidikan kedepan yang akan dicapai. guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan lembaga pendidikan. Secara singkat semua upaya (proses) yang dilaksanakan secara terpadu tersebut sebagai upaya mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan masa depan para peserta didik sehingga dapat bersaing dalam kompetisi global. Lembaga pendidikan perlu memperhatikan secara seksama proses pendidikan sebab te rnyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek. Yang lebih parah lagi adalah para kepala sekolah terlihat sangat sibuk dengan urusan adm inistrasi dan keuangan sehingga kurang melakukan supervisi terhadap guru. Unit kerja seperti Pusat Informasi dan pengendalian Mutu bertugas melakukan evaluasi internal (internal assesment) dalam sebuah lembaga pendidikan untuk menganalisa sumber daya lembaga pendidikan. Hal ini memudahkan bagi guru dan kepala lembaga pendidikan sehingga mereka hanya fokus pada KBM sedangkan urusan administrasi menjadi tugas dan tanggungjawab daripada Unit Informasi dan Pengendalian Mutu. Informasi yang terangkum dengan sistematis tersebut selanjutnya diteruskan pihak lembaga pendidikan sehingga dapat memahami secara jelas pada posisi mana derajat kualitas pendidikan sebuah lembaga pendidikannya berada saat ini. 1979.

Setiap lembaga pendidikan harus memiliki otonomi dan kewenangan untuk mengevaluasi sejauhmana kemampuan yang dimiliki peserta didik. Selama lembaga pendidikan-lembaga pendidikan hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka lembaga pendidikan tidak akan pernah menjadi lembaga pendidikan unggulan. PENUTUP Setiap lembaga pendidikan akan menjadi lembaga pendidikan unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Ekaputra Oepura Memperbaiki Mutu Pendidikan melalui Team Work .SPd. dan shareholder serta stakeholder yang ada demi kejayaan pendidikan di Nusa Tenggara Timur. padahal sebuah lembaga pendidikan memiliki otoritas untuk menahan peserta didik yang tidak mampu sehingga memberinya kesempatan belajar dan memperbaiki diri agar kedepan prestasinya dapat meningkat.MM Kupang ± NTT Ricky II/3 Kel. orang tua. Kegagalan sekolah selama ini adalah menaikkan peserta didik yang sebenarnya harus µtahan kelas¶ ke kelas berikutnya. Kebanyakan guru-guru pada setiap lembaga pendidikan mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi hanya mengejar target untuk menyelesaikan muatan materi pembelajaran yang sangat padat itu dalam setahun..yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam. Kewenangan tegas untuk tidak membiarkan (let go) peserta didik yang tidak sanggup mengikuti pelajaran dikelas berikutnya perlu diterapkan sehingga siswa yang berada pada level berikutnya adalah benar-benar seorang peserta didik yang sanggup untuk mencerna pengetahuan dan mengakses informasi. BIODATA PENULIS DATA Nama Lengkap : Alamat Rumah : Jalan Salak Telepon / HP : 081239416641 DIRI Foeh. kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya.. Proses perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dI Nusa Tenggara Timur saat ini sangat mendesak dan perlu segera dilakukan dengan synergy harmonis yang muncul dengan tidak saling mempersalahkan dari lembaga pendidikan. akibatnya prosentasi kelulusan rendah sehingga yang oleh banyak pengamat dikatakan sebagai rendahnya mutu pendidikan. Upaya mengejar materi pelajaran ini memang sah -sah saja namun demikian kenyataan yang kita hadapi adalah kebanyakan peserta didik kesulitan dalam mengerjakan ujian akhir nasional. Ini adalah kekeliruan yang dibuat oleh lembaga pendidikan. maka lembaga pendidikan harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan.

Snyder and Robert H. serta membuat notulen rapat-rapat. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team. sehingga isu isu yang ada dilihat dari berbagai sisi.Posted on 1 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Istilah³Team´ merujuk kepada suatukelompok yang bekerja sama untukmencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. yaitu: bonding (ikatan) dan cohesiveness (kesatupaduan). pengimplementasian. Pencatat Waktu yaitu anggota Team yang bertugas mengingatkan Team berjalan sesuai jadwal. menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota. Dengan mengutip pemikiran Cunningham and Gresso. Cohesiveness (kesatupaduan) didefinsiikan oleh Cunningham dan Gresso sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok. Pencatat yaitu anggota Team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Team. Para anggota dapat memulai proses pengikatan ini pada saat pertemuan (rapat) pertama kali. loyal kepada organisasi dan team itu sendiri. misi. Devil¶s advocate yaitu anggota Team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota Team yang lain. Oswald (1996) mengemukakan dua faktor esensial dalam suatu team yang dapat semakin memantapkan budaya team culture ( team). misalnya terhadap waktu. pengetahuan. Dalam hal ini. Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team. demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). termasuk mencatat hal-hal penting hasil rapat-rapat. . Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan ³ Mengapa saya berada disini´. peran. dan tanggunggjawab individu dan kelompok. Berikutnya. setelah pekerjaan selesai. Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. yaitu team permanen dan team sementara. Team yang terikat akan lebih enthusias. mereka menentukan tujuan. 2. baik dalam perencanaan. yang ditandai oleh adanya rasa memiliki dan keterkaitan diantara sesama anggota. Karolyn J. Team memiliki bentuk. keterampilan dan energi untuk mencapai tujuan team. 3. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara. dan durasi yang beragam. dan 4. Bonding akan memastikan bahwa anggota team memiliki komitmen yang kuat. team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali. Yadi Heryadi mengemukakan beberapa peran penting dalam suatu Team : 1. Penjaga Gawang yaitu anggota Team yang bertugas menyemangati anggota Team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota. Sedangkan.

. Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan. Ciri-ciri ketua team yang baik adalah: y y y y y y y Bekerja sesuai konsensus Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan. khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. dan persepsi seluruh anggota Team terhadap masalah dan kondisi Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota Team Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya keteam bang menyalahkan orang lain Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain. Yadi Haryadi mengetengahkan tentang ciri-ciri ketua dan anggota team yang baik. misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. pendapat. berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah: y y y y y y y y Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berfkembang Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka Memperteam bangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain Membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalam melakukan kegiatan Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team. Snyder and Anderson. team bimbingan dan konseling dan sebagainya. yang intinya team-team tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah. (3) anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team. Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan kepentingkan peningkatan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus. pemikiran. dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. yaitu : (1) anggota tidak memahami tujuan dan misi team. seperti: team pengembang kurikulum. atau supervisi. Ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan. Lesson Study. (2) anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya. (4) anggota menolak peran dan tanggung jawabnya.maupun penilaian. opini. menyebutkan bahwa team work di sekolah. yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula.

Asrori. dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok. yang dikenal dengan sebutan Collaborative Teamwork Learning.ed.go. (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus.depdiknas. Online : http://www. (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam. Team Work.edu/cte/et/articles/howard/ Lori Jo Oswald. (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah) M. (4) memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi. yaitusuatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team. (1996) Work Teams in Schools. maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom. Sumber : Sandra A. Collaborative Teamwork Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Bekerja secara Kolaboratif dalam Tim.id/ Konsep Dasar Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional Posted on 1 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh: Depdiknas 1.gov/ERICWebPortal/Home Yadi Haryadi (tt).Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran. Online : http://www. Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di sekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan. ERIC Digest 103 Online : http://www.eric.uncwil. Pengertian .

Pada SMA/MA/SMLB. Dukungan Internal: y y Kinerja Sekolah indikator terakreditasi A. Dari ciri tersebut Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional memiliki profil sebagai persyaratan minimal yang meliputi : a. memiliki pedoman pembelajaran. rerata nilai UN tiga tahun terakhir minimum 7. memiliki panduan menjajagi potensi peserta didik dan memiliki pedoman penilaian. ada pertemuan rutin sekolah dengan orang tua. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. animo tiga tahun terakhir > daya tampung. jumlah siswa per kelas maksimal 32 orang. beban studi dinyatakan dengan satuan kredit semester. Dengan demikian. prestasi akademik dan non akademik yang diraih. dan harapan masing-masing (Chandramohan. SKS adalah salah satu sistem penerapan program pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai subyek. 19 Tahun 2005 pasal 11 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah atau hampir memenuhi standar nasional ke dalam kategori mandiri. kemampuan. Pembelajaran berpusat pada peserta didik. satu jam kegiatan tatap muka berlangsung selama 45 menit. 19 Tahun 2005 Pasal 11 ayat (2) bahwa ciri Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional adalah terpenuhinya standar nasional pendidikan dan mampu menjalankan sistem kredit semester.00. mata pelajaran yang ditawarkan ada yang wajib dan pilihan. .Penjelasan PP No. sedangkan 25 menit kegiatan terstruktur dan 25 menit kegiatan mandiri. SKS dapat diterapkan untuk menunjang realisasi konsep belajar tuntas yang digunakan dalam menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). panduan/dokumen penyelenggaraan. 2006). Karakteristik Berdasarkan penjelasan PP No. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. setiap satu satuan kredit semester (1 SKS) berbobot dua jam kegiatan pembelajaran per minggu selama 16 minggu per semester. dengan indikator memiliki kurikulum Sekolah Kategori Mandiri. memiliki pedoman pemilihan mata pelajaran sesuai dengan potensi dan minat. ada pertemuan rutin pimpinan dengan guru. penerapan SKS pada KTSP perlu dilakukan penyesuaian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tuntas di mana satuan kegiatan belajar peserta didik tidak diukur berdasarkan lama waktu kegiatan per minggu-semester tetapi pada satuan (unit) kompetensi yang dicapai. persentase kelulusan UN • 90 % untuk tiga tahun terakhir. melaksanakan manajemen berbasis sekolah. Pada Sistem Kredit Semester. Mengacu pada konsep tersebut. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa sekolah kategori mandiri (SKM) harus menerapkan sistem kredit semester (SKS). yaitu bagaimana peserta didik belajar. Peserta didik diberi kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan minat. 2. Kurikulum.

memberikan Layananan bimbingan karir b. orang tua peserta didik. Biologi. guru. dengan indikator Sekolah menyatakan bersedia melaksanakan Sistem Kredit Semester. Multimedia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Fisika. ruang bimbingan. rasio guru dan siswa. dukungan dari tenaga pendamping pelaksanaan SKS. tersedia guru bimbingan konseling/ karir. Siswa. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun. komputer untuk administrasi. Sumber Daya Manusia. lapangan bermain. ruang wakil kepala sekolah. Teknologi informasi/komputer. jumlah tenaga administrasi akademik memadai. relevansi guru setiap mata pelajaran dengan latar belakang pendidikan (90 %). dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. tempat ibadah. nilai dan tujuan yang saling bertentangan. Dukungan Eksternal Untuk menyelenggarakan SKM/SSN berasal dari dukungan komite sekolah. tempat Olah Raga. Sumber: Depdiknas. atau pun kepala sekolah dalam waktu waktu tertentu sangat mungkin dihadapkan dengan konflik. dengan indiktor memiliki ruang kepala Sekolah. Kemampuan staf administrasi akademik dalam menggunakan komputer. ruang guru. Persentase guru yang menyatakan ingin melaksanakan SKS • 90%. keyakinan. ruang Unit Kesehatan. (e) Fasilitas di sekolah. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. memiliki laboratorium: Bahasa. termasuk oleh komunitas di sekolah. Perpustakaan yang memiliki koleksi buku setiap mata pelajaran. Pernyataan staf administrasi akademik bersedia melaksanakan SKS.y y Kesiapan sekolah. . dengan indikator persentase guru memenuhi kualifikasi akademik • 75%.2008. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tujuh Sikap untuk Mencairkan Konflik di Sekolah Posted on7 Februari 2009byAKHMAD SUDRAJAT Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif. Kimia. IPS.

individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Secara berkala tanyakan pula ³Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?´ 2. yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. bukan terletak pada orangnya. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada. Identify your shared concerns against your one shared separation. buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya). sekelompok guru tertentu berhadapan dengan sekelompok guru lainnya. Apabila konflik yang terjadi di sekolah tidak terkelola dan bersifat destruktif. dan sejenisnya. Jika dihadapkan pada suatu konflik. Tetapi sebaiknya ungkapkan ³Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?´ pertanyaan . Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup. lalu tanyakan pula ³Apa kepedulian Anda di sini? atau ³Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini´.Konflik yang dialami individu di sekolah dapat hadir dalam berbagai bentuk. tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu´. Sort out interpretations from facts. Adalah hal yang amat bodoh. seorang guru berhadapan seorang guru. maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri. meraka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus. bisa dalam bentuk individu dengan individu. 4. yang harsus diselesaikan. Memilah interpretasi berdasarkan fakta. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik. Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik. juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Jangan paksa orang untuk bertekuk lutut! 3. seorang guru berhadapan dengan sekelompok guru. It¶s not you versus me. Tanyakan pada setiap orang ³Ada issue apa?´. Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang±orang yang justru berseberangan dengan Anda. jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik. karena suatu saat setelah mereka dikalahkan.. karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. Terkait dengan upaya mengelola konflik di sekolah. tidak dengan kelompok yang paling lemah. terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi. Misalnya. Define what the conflict is about Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. 1. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif. it¶s you and me versus the problem Memiliki keyakinan bahwa ³Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya.

Yang lalu biar berlalu. Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. Terakhir. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami. kemudian menjadi dipahami. Rasa benci. Purify your heart. setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Learn to listen actively Belajar mendengar secara aktif. Putarlah paradigma dari ungkapan ³ Ketika saya bicara. Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain. yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik 3. berusaha mensucikan hati.semacam ini akan lebih menggiring pada fakta. Setidaknya dengan cara ini. menengah dan panjang Sekolah yang efektif memiliki rencana pengembangan sekolah yang disepakati bersama . jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan. bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami. orang lain mendengarkan´ menjadi ³Ketika saya mendengarkan. 11 Karakteristik Manajemen Sekolah Posted on 2 Maret 2009 by AKHMAD SUDRAJAT 1. akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis) 7. orang lain berbicara kepada saya´. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. Karakteristik1: Perencanaan dan Pengembangan Sekolah y y y y Perencanaan merupakan dasar bagi fungsi manajemen lain Perencanaan merupakan pernyataan mengenai kehendak di masa depan yang ingin dicapai Perencanaan meliputi jangka pendek. Oleh karena itu. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. Kembangkan rasa untuk memaafkan. iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik. hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan! 6. Develop a sense of forgiveness.

Karakteristik 2: Iklim dan Budaya Sekolah y y y Penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar Penciptaan norma dan kebiasaan yang positif Penciptaan hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain Karakteristik 3: Harapan yang Tinggi untuk Berprestasi y y y y Penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi Tanggung jawab yang tinggi bagi pembelajaran siswa. Harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Karakteristik 4: Pemantauan terhadap Kemajuan Siswa y y y Pemberian pekerjaan rumah kepada siswa Terdapat prosedur penilaian yang dilakukan secara terprogram (formatif dan sumatif) Pemberian balikan yang segera kepada siswa Karakteristik 5: Kepemimpinan Kepala Sekolah y y y Sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah berperan penting. Pendekatan kepemimpinan partisipatif Karakteristik 6: Pengembangan Guru dan Staf y y y Guru merupakan fasilitator pembelajaran yang perlu dijaga kualitasnya Pengembangan profesional guru menentukan hasil pembelajaran Perlu adanya program pengembangan guru dan staf Karakteristik 7: Penguatan Kapasitas Siswa y y y Tujuan akhir program pembelajaran adalah pada peningkatan kemampuan siswa Pemberian kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan potensi dirinya Penyediaan program dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar . Pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan.

(2006). dengan lingkup terdiri 8 standar. (5) standar sarana dan prasarana. (7) standar pembiayaan. dan (8) standar penilaian pendidikan . dalam beberapa hal. Karakteristik 11: Tata tertib dan Kedisiplinan y y Kesepakatan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah Dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah. (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dikatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. (6) standar penge lolaan. Sistem Manajemen Sekolah (Materi Pelatihan Pengawas Sekolah) Tentang Standar Pendidikan Posted on13 Mei 2010byAKHMAD SUDRAJAT Kehadiran Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dapat dipandang sebagai tonggak penting untuk menuju pendidikan nasional yang terstandarkan.Karakteristik 8: Keterlibatan Orangtua dan Masyarakat y y Keterlibatan orangtua merupakan stimulus eksternal yang berperan penting bagi peningkatan kualitas pembelajaran Kerjasama orangtua dan sekolah dalam pemberian bimbingan belajar dan dalam menumbuhkan kedisiplinan kepada anak mereka Karakteristik 9: Keterlibatan dan Tanggung Jawab Siswa y y Pembelajaran hanya mungkin terjadi bilamana siswa mempunyai pandangan yang positif terhadap sekolahnya dan peranan mereka di dalamnya Keterlibatan siswa menumbuhkan pada diri siswa rasa memiliki terhadap sekolah dan terhadap pembelajarannya sendiri Karakteristik 10: Penghargaan dan Insentif y y Pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. (3) standar kompetensi lulusan. (2) standar proses. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). yaitu: (1) standar isi. Sumber: Arismunandar.

Hingga akhir tahun 2009 pemerintah melalui Mendiknas (era kepemimpinan Bambang Sudibyo) telah berhasil menerbitkan sejumlah PERMENDIKNAS (bisa dilihat DISINI) Tulisan ini tidak bermaksud menganalisis secara detail isi yang terkandung dari setiap peraturan yang ada. Dalam Peraturan Pemerintah ini terdapat pasal-pasal yang mengamanatkan perlunya dibuat Peraturan Menteri sebagai penjabaran lebih lanjut dari delapan standar penddikan dimaksud. Standar Kompetensi Lulusan (I) seyogyanya dapat dijadikan sebagai titik sentral sekaligus inti dari seluruh standar pendidikan yang ada.Dilihat dari fungsi dan tujuannya. Melalui pendidik yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras Asecara standar.yaitu: Standar Pendidik (II. segenap aktivitas pendidikan dari standar pendidikan lainnya harus tertuju pada pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. dari kedelapan lingkup standar pendidikan. Melihat gambar di atas. Untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. karena kedelapan lingkup standar pendidikan ini pada dasarnya tidak berjalan sendiri-sendiri. khususnya dalam konteks sekolah. Pada aras A ini. Standar Nasional Pendidikan memiliki fungsi sebagai dasar dalam perencanaan. Standar Isi (III).a). pelaksanaan. terdapat wilayah yang bersentuhan langsung yang berada pada aras A. Dengan demikian. . yang menjadi komponen terpenting adalah Standar Pendidik. dan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. tetapi saya hanya ingin menggambarkan secara garis besarnya keterkaitan dan interdependensi kedelapan standar pendidikan. Standar Proses (IV). tetapi merupakan sebuah rangkaian yang utuh dan saling terkait. dan Standar Penilaian (V). dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

12 Tahun 2007). Pengambilan Keputusan Partisipatif di Sek olah Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Pengambilan keputusan partisipatif merupakan suatu pengembangan konsep to grasp. mungkin diantara Anda ada yang mempertanyakan dimana letak Pengawas Satuan Pendidikan? (Permendiknas No. Selain itu. Proses ini . 27 tahun 2008).Standar Pengelolaan (VI) .Aras A tidak akan berputar dengan baik apabila tidak ditopang oleh komponen-komponen yang berada pada aras B. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada. saya melihat tumpuan harapan terletak pada Standar Kepala Sekolah Melalui Kepala Sekolah yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras B dan juga aras A. Kita berharap pada era kepemimpinan pendidikan sekarang ini kiranya dapat melahirkan berbagai kebijakan dan regulasi yang semakin dapat menyempurnakan sekaligus memperkokoh upaya standarisasi pendidikan nasional yang telah dirintis sebelumnya. terus terang saya mengalami kesulitan untuk memposisikan Standar Konselor (Permendiknas No.b). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia telah menawarkan Draft Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang merupakan SKL-nya pelayanan konseling di sekolah. Dalam konteks ini. sehingga pada akhirnya dapat berdampak pula pada bergeraknya inti pendidikan yakni pencapaian SKL. Standar Sarana dan Prasarana (VII) dan Standar Pembiayaan (VIII). Secara formal konselor digolongkan sebagai pendidik. yaitu: Standar Kepala Sekolah (II. Dari seluruh rangkaian standar pendidikan sebagaimana tampak dalam gambar di atas. kita harus akui bahwa era kepemimpinan Bambang Sudibyo bisa dipandang telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi upaya standarisasi pendidikan nasional. dimana kedudukannya dapat diletakkan bersama-sama dengan Standar Pengelolaan Pemerintah Pusat (PP No 19 pasal 60) dan Standar Pengelolaan Pemerintah Daerah (PP No 19 pasal 59) yang akan menopang pergerakan komponen-komponen yang berada pada Aras B mau pun Aras A. 23 tahun 2006 sama sekali tidak disinggung SKL yang bisa dicapai melalui pelayanan konseling. Pengambilan keputusan partisipatif adalah proses membuat keputusan sekolah dalam suasana kerjasama pada semua level. Kegiatan itu mencakup perubahan fundamental mengenai cara sekolah dikelola dan cara mengungkapkan peranan dan hubungan kepala sekolah dengan masyarakat sekolah. menurut Allen dan Glikman (1992). namun entah kenapa hingga saat ini tampaknya pemerintah belum tergoda untuk mensahkannya sebagai sebuah kebijakan resmi. tetapi keberadaannya tidak mungkin untuk disentuhkan langsung dengan SKL.c). dan Standar Tenaga Kependidikan (II. Dari berbagai komponen yang berada pada aras B. karena dalam Permendiknas No. saya berfikir bahwa posisi pengawas satuan pendidikan mungkin perlu dibuat Aras C. Sepengetahuan saya.

Partisipasi dalam pembuatan keputusan bermakna bagi perkembangan individu dan bagi upaya fungsionalisasi diri. Menurut Newel (1992). Individu kehilangan kepentingan dalam pemecahan masalah jika tidak terlibat secara aktif. . Keterlibatan dalam pengawasan yang berhubungan dengan tugas dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja. Interaksi kelompok seringkali mengarahkan untuk mengambil risiko lebih besar atas bagian daripada anggota kelompok. Berbagai penelitian menemukan bahwa orang memberikan respek dan memperoleh manfaat dari teknik pengambilan keputusan partisipatif. 3. proses membangun keterampilan kelompok dan pengembangan kompetensi kepemimpinan. 2. Partisipasi dalam pembuatan keputusan mengurangi penolakan terhadap perubahan. karena kelompok dapat terus berfungsi secara efektif meskipun kehilangan kedudukan sebagai pemimpin jika kepemimpinan telah dibagi dengan anggota kelompok. Partisipasi dalam pembuatan keputusan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepuasan guru di sekolah. nilai yang paling besar dari keikutsertaan dalam pengambilan keputusan adalah kekuatan pengertian yang disampaikan kepada individu. Peserta membutuhkan respek dari orang lain dalam rangka aktualisasi dirinya. pembuatan keputusan partisipatif dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik sebab sejumlah pemikiran orang diperkenalkan dalam memecahkan suatu masalah. bahwa kelompok pembuat keputusan memperkuat nilai perilaku anggota kelompok yang secara umum diterima dalam budaya tertentu. Jika orang dilibatkan dalam membuat keputusan maka orang tersebut lebih suka untuk melaksanakan keputusan itu secara efektif. 4. Prosedur partisipasi dalam pembuatan keputusan membantu penyatuan tujuan individu dengan tujuan organisasi. melainkan dilakukan secara berkelanjutan.berlangsung dalam pola membagi pengambilan keputusan yang ³tidak dilakukan sekali dan kemudian dilupakan´. Temuan itu menunjukkan bahwa: 1. 5. Barangkali.

Temuan penelitian di atas meneguhkan asumsi bahwa peningkatan peranan individu dan kelompok dalam proses pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan diri yang lebih besar. Penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan peranan manajemen (level) bawah dalam pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas. Disamping temuan penelitian di atas, ada beberapa temuan berbeda yang diperoleh dalam penelitian Alutto dan Belasco (Newwel, 1978) yang telah mengidentifikasi tiga keadaan keputusan dari para guru, yaitu: (1) kehilangan (guru yang ingin lebih berpartisipasi); (2) keseimbangan (guru yang ingin tidak ada perubahan dalam partisipasinya sekarang); (3) kejenuhan (para guru yang ingin mengurangi partisipasinya). Temuan ini berdasarkan pandangan guru muda yang mengajar pada sekolah menengah di daerah pinggiran yang merasa kehilangan kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sedangkan guru yang lebih tua pada sekolah dasar di daerah pertanian cenderung mengalami rasa jenuh yang sangat besar dalam pengambilan keputusan. Singkatnya, temuan penelitian secara umum mengindikasikan bahwa keterlibatan dalam pengambilan keputusan sangat disukai, tetapi struktur pembuatan keputusan harus cukup fleksibel untuk membolehkan bagi keragaman tingkat partisipasi. Menurut Simon (1985: 177), aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah kewenangan, komunikasi, pelatihan, efisiensi dan loyalitas kepatuhan. Kelima aspek ini merupakan konsep yang dapat mendorong seseorang membuat dan melaksanakan keputusan organisasi. Di dalamnya ada premis nilai dan premis fakta. Oleh karena itu, kewenangan ada dalam struktur formal organisasi yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku seseorang sebagai anggota organisasi dibanding yang lainnya. Unity dan coordination membentuk group mind. Simon (1985: 179) selanjutnya menyatakan bahwa ³Authority is as the power to make decision which guide actions of anothers´. Dalam hal ini pola perilaku dari kewenangan menurutnya adalah perintah. Kewenangan ada dalam hubungan antara atasan dengan bawahan. Oleh karena itu, pimpinan membuat dan mengirimkan keputusan dengan harapan bawahan menerima. Sementara itu, bawahan berharap akan melakukan pekerjaan berdasarkan keputusan tersebut. Cara manajer menentukan saat yang tepat menggunakan wewenangnya adalah dengan cara mengomunikasikan keputusan yang dibuatnya kepada bawahan untuk memelihara koordinasi perilaku dalam satu kelompok dimana keputusan atasan dikomunikasikan kepada yang lain. Dalam hal ini fungsi keputusan menurut Simon (1997: 187) ada tiga, yaitu (1) it enforce responsibility of the individual to choose who wield the authority; (2) it secures expertise in the making of decisions; (3) it permits coordination of activity. Dengan demikian, jika semua warga sekolah memahami fungsi keputusan yang mencakup upaya memperkuat tanggung jawab individu kepala sekolah bersama warga sekolah untuk mau menjalankan kewenangan, memelihara keahlian dalam membuat keputusan dan memungkinkan adanya koordinasi aktivitas maka konflik dapat dihindarkan di antara anggota organisasi sekolah. Pertimbangan yang dijadikan sebagai premis dalam menggunakan wewenang adalah pertimbangan nilai dan pertimbangan fakta. Pertimbangan nilai menyangkut nilai, budaya, pandangan dan pengalaman seseorang yang dipakainya dalam menggunakan wewenang. Sedangkan pertimbangan fakta berdasarkan data dan informasi yang ada untuk digunakan dalam kewenangan organisasi. Kedua pertimbangan tersebut sangat penting difungsikan

dalam wewenang karena dengan begitu akan dapat melahirkan loyalitas bawahan melaksanakan keputusan. Menurut Bauer (1992), pengambilan keputusan partisipatif meliputi banyak bentuk dan menekankan beberapa keyakinan umum atau premis. Pertama,keputusan partisipatif berarti lebih dekat kepada anak didik dan tindakannya sehingga akan dibuat keputusan terbaik tentang pendidikan bagi anak-anak. Kedua, guru, orang tua dan staf sekolah memiliki lebih banyak pendapat tentang kebijakan dan program yang mempengaruhi sekolah dan anak didik. Ketiga, tanggung jawab pengambilan keputusan partisipatif memiliki kekuatan dalam menentukan keputusan. Akhirnya, perubahan yang dilakukan cocok dan efektif dan bila dilaksanakan maka keputusan tersebut menjadi milik bersama kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. Tujuan pengambilan keputusan partisipatif ialah untuk meningkatkan efektivitas sekolah dan pembelajaran murid dengan cara peningkatan komitmen staf dan menjamin bahwa sekolah lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak didik dan masyarakat. Keberhasilan anak didik dan prestasi yang dicapai dipelihara dalam pencerahan pemikiran kita sebagai alasan untuk mengimplementasikan pemikiran tentang pengambilan keputusan partisipatif. Penggunaan teknik pengambilan keputusan partisipatif ini bertujuan untuk pergantian akuntabilitas atau mengabaikan tanggung jawab dari atas kepada pusat kekuatan staf, membuat sederhana pembagian pengambilan keputusan kepada yang lain. Setiap orang yang berpartisipasi membuat keputusan harus dimintai tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai. Pengambilan keputusan partisipatif memiliki nilai potensial untuk meningkatkan mutu keputusan, mempermudah penerimaan keputusan dan pelaksanaannya, membangkitkan kekuatan moral staf, meneguhkan komitmen dan tim kerja, membangun kepercayaan, membantu staf dan administrator memperoleh keterampilan baru dan meningkatkan keefektifan sekolah. Sejumlah alternatif besar dapat diajukan dan dianalisis bila banyak orang dilibatkan. Hal itu seringkali menghasilkan pendekatan inovatif terhadap persoalan. Otonomi dapat dikembangkan, keputusan lebih baik dicapai dibandingkan dengan manajemen sekolah terpusat. Kepercayaan sekolah juga ditingkatkan sehingga staf memperoleh pengertian tentang kompleksitas manajemen dan kepala sekolah mempelajari penghargaan atas pertimbangan program. Ada beberapa petunjuk yang disarankan oleh para perintis pengambilan keputusan bersama (partisipatif) sebagai berikut: 1. Mulai dari yang kecil dan berjalan dengan pelan. Untuk hal ini banyak bukti yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam adopsi inovasi. Oleh karena itu, pengambilan keputusan partisipatif akan lebih berhasil jika diawali dengan langkah kecil daripada ³perubahan menyeluruh´ yang dianggap asing oleh warga sekolah. Caranya ialah menganalisis kebutuhan sekolah, kemudian mengadaptasi pemilihan proses yang memperhatikan situasi lokal. Komponennya dapat ditambahkan bila staf sudah siap. 2. Setuju atas penataan yang khusus. Tidak ada kebenaran ³tunggal´ dalam cara melakukan pengambilan keputusan bersama. Hal itu bergantung atas apa yang diinginkan dari kebersamaan. Banyak sekolah mengembangkan satu tim pengambilan keputusan atau menggunakan kelompok lain atau komite. Jika tidak ada mandat maka

dapat diputuskan orang yang akan terlibat (bisa saja guru, pelajar, orang tua, anggota masyarakat dan konsultan luar). Ukuran kelompok dapat bervariasi dari sembilan sampai tujuh belas orang yang penting ada jaminan bahwa kelompok terwakili. Selanjutnya, menentukan bagaimana keputusan akan dibuat (ambil suara terbanyak atau konsensus) dan siapa yang akan membuat keputusan akhir atas persoalan yang dihadapi. 3. Prosedur yang jelas mengenai peranan dan harapan. Staf membutuhkan pengertian akan langkah-langkah dan prosedur untuk diikuti sebelum keputusan dibuat. Ketidakjelasan proses menciptakan kebingungan yang menimbulkan fragmentasi tindakan. Sementara itu, kejelasan proses memberdayakan anggota kelompok juga membutuhkan pengertian apakah mereka diikutkan membuat batang tubuh keputusan atau sebagai pemberi masukan saja. Hal ini akan mengurangi moral kelompok untuk berpikir membuat keputusan hanya mengambil keputusan demi kepentingannya semata. 4. Berikan kesempatan setiap orang untuk melibatkan diri. Keputusan yang dibuat berdasarkan pemikiran administratif dalam menghadapi memilih atau kelompok sukarelawan mungkin mendahului sebagai keputusan dari atas ke bawah. Kedudukan para sukarelawan atau kekuatan tugas mereka memberikan peluang baginya untuk berpartisipasi sebanyak atau sesedikit mungkin sesuai yang diinginkan. Paling tidak, semua guru dan staf dapat mengaksesnya. 5. Bangun kepercayaan dan dukungan. Jika kurang kepercayaan dan penghargaan di antara administrator, guru dan staf maka dapat dipastikan pengambilan keputusan bersama kurang dapat diterima. Oleh karena itu, jangan menolak solusi kelompok atau lebih kuat memberikan keputusan kepada kelompok pengambil keputusan bersama. Derajat dukungan yang kurang juga menjadi gagal jika kultur luar sekolah tidak berubah. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 200. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif; Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah.

Pengambilan Keputusan
Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Para pakar memberikan pengertian keputusan sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang pemikirannya. Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan; (2) ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan (3) ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada

dimana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Di samping itu. Pengambilan keputusan sebagai kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Pengertian keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. Menurut George R. selanjutnya dikutipkan pendapat para pakar mengenai pengertian pembuatan atau ± yang sering digunakan ± pengambilan keputusan.tujuan tersebut. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah. menurut James A. Selanjutnya. Kemudian. Terkait dengan fungsi tersebut. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. F. artinya bersangkut paut dengan hari depan. Dari pengertian keputusan tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. Setelah dipahami pengertian keputusan. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik. artinya bahwa sekali . maka tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan: (1) tujuan yang bersifat tunggal. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. masa yang akan datang. menurut Sondang P.

Dengan fakta. Rasional. tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya. . (2) pengalaman. George R. (3) fakta. dan (4) sarana dan perlengkapan untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan. Pengalaman. 1. karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang. yaitu: (1) intuisi. (4) wewenang. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah. atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. tidak ada kaitannya dengan masalah lain dan (2) tujuan yang bersifat ganda. tetapi dapat menimbulkan sifat rutinitas.diputuskan. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan 4. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. Sementara itu. (2) identifikasi alternatif keputusan yang memecahkan masalah. tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. 5. Terry menyebutkan 5 dasar (basis) dalam pengambilan keputusan. maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu. Wewenang. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik). Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini. maka perlu diketahui unsur atau komponen pengambilan keputusan. meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek. dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Agar pengambilan keputusan dapat lebih terarah. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Intuisi. artinya keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua (atau lebih) masalah yang bersifat kontradiktif atau yang bersifat tidak kontradiktif. dan (5) rasional. solid dan baik. Fakta. 3. Unsur pengambilan keputusan itu adalah: (1) tujuan dari pengambilan keputusan. (3) perhitungan tentang faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia. sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. 2. Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat.

Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. Departemen Pendidikan Nasional. lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu. 200. di mana menyediakan makanan pilihan/sehat untuk siswa yang dilayani oleh petugas kantin. Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut: y y y y y Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah. logis.Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio. sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal. Kantin adalah suatu ruang atau bangunan yang berada di sekolah maupun perguruan tinggi. Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah Tentang Kantin Sekolah Posted on 3 Juni 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Layanan kantin atau kafetaria merupakan salah satu bentuk layanan khusus di sekolah yang berusaha menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan siswa atau personil sekolah. keputusan yang dihasilkan bersifat objektif. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal. Good (1959) dalam bukunya Dictionary of Education mengatakan bahwa: ³cafetaria a room or building in which public school pupuils or college student select prepared food and serve themselves´. . Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.

mendorong siswa untuk memilih makanan yang cukup dan seimbang.William H. 2. menghindari terbelinya makanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya dan kesehatannya. kantin sekolah hendaknya tidak dipandang sebagai suatu penciptaan keuntungan di sekolah. memberikan gambaran tentang manajemen yang praktis dan baik. mengajarkan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlakudi masyarakat. 8. membantu pertumbuhan dan kesehatan siswa dengan jalan menyediakan makanan yang sehat. 2. menekankan kesopanan dalam masyarakat. memperlihatkan kepada siswa bahwa faktor emosi berpengaruh pada kesehatan seseorang. 4. menekankan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat. 3. memberikan batuan dalam mengajrkan ilmu gizi secara nyata. untuk memberikan pelajaran sosial kepada siswa. 3. dan praktis. Roe dalam bukunya School Business Management menyebutkan beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penyediaan layanan kantin di sekolah: 1. sebagai tempat untuk berdiskusi tentang pelajaran-pelajaran di sekolah. maka kantin sekolah dapat berfungsi untuk: 1. bergizi. 6. 5. Dilihat dari tujuan kantin sekolah di atas. Dalam menyelenggarakan atau mendirikan kantin sekolah yang baik hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat. memberikan bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata. 6. dan kehidupan bersama. menganjurkan kebersihan dan kesehatan. 2. dalam bekerja. 7. 5. 4. dan tempat menunggu apabila ada jam kosong. program kantin sekolah harus dipandang sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan . menunjukan adanya koordinasi antara bidang pertanian dengan bidang industri. 7.

Tray service system. namun juga dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendidik siswa tentang kesehatan. kebersihan. Sistem pelayanan dimana pembeli dilayani petugas kantin. memperhatikan semua perilaku murid dalam kantin. Sumber: Disarikan dari : Depdiknas. menentukan prosedur untuk menutup dan membuka kantin atau kapan anak-anak memasuki dan meninggalkan kantin. 6. 2. begitu juga gizi. memberikan kebijaksanaan keuangan (korting) dapat mendorong berkembangnya program kantin. Self service system. Jakarta. 3. Hal-hal berikut dapat diperhitungkan oleh kepala sekolah untuk memperbaiki lingkungan kantin sekolah: 1. 2. Wait service system Sistem pelayanan dimana pembeli menunggu dilayani oleh petugas kantin sesuai dengan pesanan. mengatur dekorasi. menyusun prosedur pengembalian talam atau tempat makanan dan pada saat meninggalkan ruangan makan Dengan dimikian. menyajikan musik selama jam makan siang. saling menghargai. kejujuran. seperti: lukisan. 7. . serta menjamin selera pembeli. harga makanan dan minuman harus dapat dijangkau oleh daya beli siswa 4.3. poster-poster kesehatan. Kantin sekolah memberikan peluang untuk mengembangkan tingkah laku dan kebiasaan positif di kalangan siswa. penyajian dan pelayanan makanan harus memadai dan cepat 5. mengatur anak-anak yang makan siang dengan membawa makanan sendiri. terdapat 3 (tiga) alternatif bentuk layanan. 3. 4. 7. 2007. yaitu: 1. personil-personil kantin harus bertanggung jawab atas makanan yang bergizi dan menarik. program kantin harus menyeimbangkan antara kapasitas makanan dan harga. Sistem pelayanan dimana pembeli melayani dirinya sendiri makanan yang diingini. membuat pengaturan tempat duduk yang serasi. disiplin dan nilai-nilai lainnya. dan penyajian makanannya dengan menggunakan baki atau nampan. keberadaan kantin di sekolah. karena dapat menarik pembeli 8. 8. menentukan aturan-aturan bagi perilaku anak-anak di meja makan. tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum siswa semata. Manajemen Layanan Khusus: materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). 5. Di sinilah letak arti penting manajemen kantin sekolah sebagai salah satu substansi manajemen sekolah. gedung atau ruang kantin harus strategis karena akan sangat mempengaruhi keefektivan operasi dan koordinasi program-program kantin 6. menyusun suatu aturan pembayaran yang tidak merugikan kantin. Terkait dengan bentuk pelayanan kantin sekolah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful