Konsep dan Substansi Manajemen Pendidikan

Konsep Manajemen Sekolah
Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT MANAJEMEN SEKOLAH : Pengertian, Fungsi dan Bidang Manajemen oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd. A. Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensi dalam penggunaan istilah manajemen. Di satu pihak ada yang tetap cenderung menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan. Dalam studi ini, penulis cenderung untuk mengidentikkan keduanya, sehingga kedua istilah ini dapat digunakan dengan makna yang sama. Selanjutnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa : ³Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan ± tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin (leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan´. Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa: ³Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan´. Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam¶an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai ³keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien´. Sementara itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa ³administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian

usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal´. Meski ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu. B. Fungsi Manajemen Dikemukakan di atas bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud tak lain adalah tindakan-tindakan yang mengacu kepada fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H. Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut: Menurut G.R. Terry terdapat empat (1) planning (2) organizing (3) actuating (4) controlling (pengawasan). manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (pelaksanaan); dan fungsi

Sedangkan menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) commanding (pengaturan); (4) coordinating (pengkoordinasian); dan (5) controlling (pengawasan). Sementara itu, Harold Koontz dan Cyril O¶ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup : (1) planning (perencanaan); (2) organizing (pengorganisasian); (3) staffing (penentuan staf); (4) directing (pengarahan); dan (5) controlling (pengawasan). Selanjutnya, L. Gullick mengemukakan (1) planning (2) organizing (3) staffing (4) directing (5) coordinating (6) reporting (7) budgeting (penganggaran). tujuh manajemen, yaitu : (perencanaan); (pengorganisasian); (penentuan staf); (pengarahan); (pengkoordinasian); (pelaporan); dan fungsi

Untuk memahami lebih jauh tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan, di bawah akan dipaparkan tentang fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan, dengan merujuk kepada pemikiran G.R. Terry, meliputi : (1) perencanaan (planning); (2) pengorganisasian (organizing); (3) pelaksanaan (actuating) dan (4) pengawasan (controlling).

1. Perencanaan (planning) Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : ³ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.´ Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a) membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah -masalah utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu, usaha dan dana. Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu : 1. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan. 2. Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal. 3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu : (1) rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang, (2) rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis. Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan. khususnya pada tingkat persekolahan.yang sangat pesat. yang mencakup pernyataan umum tentang misi. dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Penentuan misi dan tujuan. yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang. para pesaing. Berkenaan dengan pengorganisasian ini. (b) pengelompokan satuan kerja . Nilainilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika. dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya. sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien. 2. Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi. kapan dikerjakan. pekerjaan manajerial yang semakin kompleks. Pengorganisasian (organizing) Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). Disamping itu. namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan. seperti para penyedia. karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal. sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Lousie E. yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan. Terry (1986) mengemukakan bahwa : ³Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang. falsafah dan tujuan. atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan. dan apa targetnya. dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah -langkah dalam penyusunan perencanaan strategik. dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu´. Pada bagian lain. George R. Kurtz (1984) mengartikan pengorganisasian : ³« as the act of planning and implementing organization structure. Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis. serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya sumber daya perusahaan yang tersedia. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and acommplishment organizational obtective´. Pengembangan profil perusahaan. pasar tenaga kerja dan lembagalembaga keuangan. 2. sebagai berikut: 1. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang. 3. Dari kedua pendapat di atas. dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. T. perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus. di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan. pasar organisasi. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Boone dan David L. diantaranya adalah : (a) organisasi harus profesional. Analisa lingkungan eksternal.

Boone dan David L. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan. Dalam hal ini. (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang. menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan. Pengawasan (controlling) Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen. dengan me lalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran. pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan. Semua fungsi terdahulu. (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting. merancang sistem informasi umpan balik. 3. dan (f) organisasi harus fleksibel dan seimbang. yaitu : (a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi. Sementara itu. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian. 4. (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis. Louis E. membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya.´ Dengan demikian. (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya. (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol. Dari pengertian di atas.harus menggambarkan pembagian kerja. tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk . Ernest Dale seperti dikutip oleh T. (c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab. dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : ³« the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans´. tugas dan tanggung jawabnya. bahwa : ³Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan ± tujuan perencanaan. serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan -tujuan perusahaan. Robert J. pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Pelaksanaan (actuating) Dari seluruh rangkaian proses manajemen. George R. atau mendesak. sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orangorang dalam organisasi Dalam hal ini. (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Bidang alat dan keuangan. (b) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan. Hal serupa dikemukakan pula oleh M. di bawah ini beberapa pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan. yang menyangkut kurikulum. pengorganisasian yang efektif dan efisien. sebagai alat-alat pembantu untuk melancarkan siatuasi belajar mengajar dan untuk mencapai tujuan pendidikan sebaik-baiknya. 3. persiapan harian dan mingguan dan sebagainya. yang mencakup unsur-unsur manusia yang belajar. proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen. penyusunan sylabus atau rencana pengajaran tahunan. dan pengawasan secara berkelanjutan. yang mengajar. Administrasi material. metode dan cara mengajar. juga administrasi murid. Bidang kependidikan atau bidang edukatif. Administrasi personal. yaitu : (a) penetapan standar pelaksanaan. Bidang Kegiatan Pendidikan Berbicara tentang kegiatan pendidikan. Dengan demikian. administrasi keuangan. evaluasi dan sebagainya. sehingga menghasilkan apa yang disebut dengan proses manajemen. setiap kegiatan pendidikan di sekolah harus memiliki perencanaan yang jelas dan realisitis. 2. yang pada gilirannya tujuan pendidikan pun tidak akan pernah tercapai secara semestinya. (d) pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan. dan personil lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. boleh jadi hanya akan menghasilkan kesemrawutan lajunya organisasi. 3. bila diperlukan. maka proses manajemen pendidikan memiliki peranan yang amat vital. 2. mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah.mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. C. Fungsi-fungsi manajemen ini berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengkait antara satu dengan lainnya. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan memegang peranan yang sangat penting. gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain. Sekolah tanpa didukung proses manajemen yang baik. seperti tugas mengajar guru-guru. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan. Ngalim Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu : 1. Karena bagaimana pun sekolah merupakan suatu sistem yang di dalamnya melibatkan berbagai komponen dan sejumlah kegiatan yang perlu dikelola secara baik dan tertib. . Dengan demikian. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. seperti ketatausahaan sekolah. Dalam perspektif persekolahan. agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/ bendabenda. Administrasi kurikulum. Bidang personil. dan (e) pengambilan tindakan koreksi. Rifa¶i (1980) bahwa bidang-bidang administrasi pendidikan terdiri dari : 1. pengerahan dan pemotivasian seluruh personil sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. (c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata.

dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. dan (7) penentuan cara mengukur hasil belajar. (6) pemilihan sumber. dan sarana pembelajaran. 3. dan (d) pengendalian. Manajemen kurikulum Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap : (a) perencanaan. Sergiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. dalam kerangka peningkatkan mutu pendidikan. (4) penyediaan sumber. Dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini. (b) pengorganisasian dan koordinasi. (2) pupil personnel. Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Merujuk kepada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah. dan sarana belajar. agaknya yang perlu digarisbawahi yaitu mengenai bidang administrasi pendidikan yang dikemukakan oleh Thomas J. dan (4) membuat rencana induk (master plan): pengembangan. (5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil belajar. (3) menentukan disain kurikulum. Tahap perencanaan. yang mencakup : 1. (4) pemilihan dan pengorganisasian materi. Thomas J. kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau ke arah sana. RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). terutama dalam bidang school transportation dan business management. (4) staff personnel. mencakup : (1) instruction and curriculum development. yang didalamnya mengetengahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan. (5) school plant. berikut ini akan diuraikan secara ringkas tentang bidangbidang kegiatan pendidikan di sekolah. ke depannya pemikiran ini sangat menarik untuk diterapkan menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia. meliputi langkah-langkah : (1) perumusan rasional atau dasar pemikiran. (2) manajemen personalia. (5) manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah. Kendati demikian. (5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran. misi. meliputi langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran (Silabus. alat. (c) pelaksanaan. (3) community school leadership. (3) penentuan strategi dan metode pembelajaran. Tahap implementasi atau pelaksanaan. (7) organization and structure dan (8) School finance and business management. (6) school trasportation. dan penilaian. Tahap pengembangan. Dari beberapa pendapat di atas. (2) perumusan visi. (2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofis. pelaksanaan. (3) manajemen kesiswaan. Dengan alasan tertentu. alat.Sementara itu. (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan). (3) penentuan struktur dan isi program. (4) manajemen keuangan. Prinsip dasar manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Sergiovani sebagimana dikutip oleh Uhar Suharsaputra (2002) mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan. dan tujuan. 2. dan (6) setting lingkungan pembelajaran . Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas (1999) telah menerbitkan buku Panduan Manajemen Sekolah. Sergiovani. Di lain pihak. pandangan Thomas J. Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap : 1. meliputi: (1) manajemen kurikulum. meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis kebutuhan.

masalah-masalah dan peluang. produk (CIPP) : Penilaian konteks: memfokuskan pada pendekatan sistem dan tujuan. pengendalian serta pemeriksaan. yaitu : (a) siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek. (c) kultur dan suasana organisasi di sekolah. Tahap penilaian. 5. implementasi design dan cost benefit dari rancangan. sosial ekonomi. Oleh karena itu. sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka. tetapi juga ranah afektif. Oleh karena itu. 4. dan (d) manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah.4. Penilaian proses memiliki fokus yaitu pada penyediaan informasi untuk pembuatan keputusan dalam melaksanakan program. Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah . kondisi aktual. kemampuan intelektual. sehingga mendukung tujuan institusional. minat dan seterusnya. jika mereka menyenangi apa yang diajarkan. proses. sumber daya manusia adalah komponen paling berharga. dan psikomotor. juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah. masyarakat dan sumber-sumber lainnya. dan (d) pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif. strategi pencapaian tujuan. serta perilaku manajerial sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah. Disamping faktor ketersediaan sumber daya manusia. cara mengadministrasikan dana sekolah. hal yang amat penting dalam manajamen personalia adalah berkenaan penguasaan kompetensi dari para personil di sekolah. Penilaian product berfokus pada mengukur pencapaian proses dan pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif) 2. dan cara melakukan pengawasan. (b) kondisi siswa sangat beragam. Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektivitas. kiat sekolah dalam mengelola dana. (c) siswa hanya termotivasi belajar. disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah. Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam. ditinjau dari kondisi fisik. pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah. Manajemen Kesiswaan Dalam manajemen kesiswaan terdapat empat prinsip dasar. baik bentuk penilaian formatif maupun sumatif. Manajemen keuangan Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan dengan kiat sekolah dalam menggali dana. (b) sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik. Penilaian Input: memfokuskan pada kemampuan sistem. input. Manajemen personalia Terdapat empat prinsip dasar manajemen personalia yaitu : (a) dalam mengembangkan sekolah. 3. upaya pengembangan kompetensi dari setiap personil sekolah menjadi mutlak diperlukan. sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal. terutama dilakukan untuk melihat sejauhmana kekuatan dan kelemahan dari kurikulum yang dikembangkan. Penilailain kurikulum dapat mencakup Konteks.

dan membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah. menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian dan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat sarana dan prasarana sekolah. Adanya kesamaankesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak -hak yang mereka punyai. Dalam sistem demikian. Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan : pengarahan kepada tim pelaksana. menyebarluaskan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah. menurunkan biaya perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan pra sarana sekolah. . pendaftaran. minat. seperti gedung. pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan. layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan -kesamaan yang dipunyai oleh anak. mebeler. peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. memperpanjang usia pakai. Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik Posted on 14 Februari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan. menyiapkan jadwal kegiatan perawatan. kebutuhan sampai ia matang di sekolah. layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik? Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah. dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja. Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana.Manajemen perawatan preventif sarana dan prasana sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana dan prasarana. dan peralatan sekolah lainnya. membuat daftar sarana dan pra saran. yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Secara sosiologis.

segi aspirasinya. Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik. 4. Menyalurkan aspirasi. sama sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar. Gugatan demikian. lebih lanjut. tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan -kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda.± yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak±. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan). ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik. Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut: 1. Meningkatkan pengetahuan. maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda. kemudian digugat. Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa. dan kemampuan lainnya. Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan. bakat dan minat peserta didik. dengan orang tua dan keluarganya. dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut. keterampilan dan psikomotor peserta didik. segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan). baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya. segi sosialnya. 3. 2. Dengan terpenuhinya 1. B. 2. dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka. kemampuan khusus (bakat).Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak yang bersifat massal ini. Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena berbeda. dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial . berkaitan erat dengan pandangan psikologismengenai anak. 2.

D. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. C. haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik. 6. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. 2. Ialah peserta didik sendiri. 4. Oleh karena membimbing. berat. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena itu. ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi. disukai atau tidak disukai oleh peserta didik. Kesejahteraa demikian sangat n penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik. haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. ialah agar peserta didik tersalur hobi. Hobi. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri. 3. Segala bentuk kegiatan.masyarakatnya. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. 3. Pendekatan Manajemen Peserta Didik . Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. baik itu ringan. 4. 5. prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial. melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. kesenangan dan minatnya. tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan. maka akan tanggal sebagai suatu prinsip.

penyelesaian tugas-tugas peserta didik. penuntutan disiplin yang tinggi.Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager. tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu. Asumsi dari pendekatan ini adalah. Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Dalam pendekatan padu demikian. Di antara kedua pendekatan tersebut. Pertama. Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah. tugas-tugas. maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Kepala Sekolah. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya. Atau. menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu. 2007) Konsep Dasar Manajemen Keuangan Sekol ah Posted on 18 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT A. Kedua. dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya. peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. atau sebutlah dengan pendekatan padu. Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. 1994). iklim yang kondusif. pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik. jika dikemukakan dengan kalimat terbalik. maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. penyediaan kesejahteraan. Direktorat Tenaga Kependidikan. bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya. pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). Pendekatan demikian. tentu dapat diambil jalan tengahnya. Departemen Pendidikan Nasional. Asumsi pendekatan ini adalah. Dalam pendekatan demikian. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal. manakala dapat memenuhi aturan-aturan. peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak. Pengertian Manajemen Keuangan . jika peserta didik senang dan sejahtera. memperketat pre sensi.

it M t i ti t i / t t j i l j B T l j li l i ti it t t j ti i i t t j l l i i l ti l l t M l l i kegi t manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat di encanakan. maka dibutuhkan kreati itas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana. Untuk mencapai tujuan tersebut. efisiensi. dan digunakan untuk ya. Transparansi . dan akuntabilitas publik. 1. pemeriksaan dan pertanggungjawaban i . Berikut ini dibahas masing tersebut.t t j i i il M t t i l l i t j t j li l j l i i i i i t i i t i t l i t i j j i i l i B i t j it mperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan. 3. yaitu transparansi. Undang -undang No 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan. diupayakan pengadaann dibukukan secara transparan. Disamping itu prinsip -masing prinsip efekti itas juga perlu mendapat penekanan. akuntabilitas. efekti itas. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah. pelaporan. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah. membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. dan efisiensi. menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku. C. transparansi. Pri i Pri i Manajemen Keuangan Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. pemanfaatan dana. Meningkatkan efekti itas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah 2. Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah: 1.

Transparansi keuangan sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan dukungan orangtua. bidang manajemen keuangan yang transparan berarti adanya keterbukaan dalam manajemen keuangan lembaga pendidikan. Orang tua siswa bisa mengetahui berapa jumlah uang yang diterima sekolah dari orang tua siswa dan digunakan untuk apa saja uang itu. yaitu (1) adanya transparansi para penyelenggara sekolah dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai komponen dalam mengelola sekolah . rincian penggunaan. Transparan di bidang manajemen berarti adanya keterbukaan dalam mengelola suatu kegiatan. masyarakat dan pemerintah. karena sebenarnya efektivitas tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang dikaitkan dengan pencapaian visi lembaga. Manajemen keuangan dikatakan memenuhi prinsip efektivitas kalau kegiatan yang dilakukan dapat mengatur keuangan untuk membiayai aktivitas dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan dan kualitatif outcomesnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. 2. Effectiveness ´characterized by qualitative outcomes´. (2) adanya standar kinerja di setiap institusi yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. Garner(2004) mendefinisikan efektivitas lebih dalam lagi. dan pertanggungjawabannya harus jelas sehingga bisa memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahuinya. Disamping itu transparansi dapat menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah. masyarakat dan pemerintah dalam penyelenggaraan seluruh program pendidikan di sekolah. Efektivitas lebih menekankan pada kualitatif outcomes. orang tua siswa dan warga sekolah melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. (3) adanya partisipasi untuk saling menciptakan suasana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Akuntabilitas di dalam manajemen keuangan berarti penggunaan uang sekolah dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Di lembaga pendidikan. Perolehan informasi ini menambah kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah. Akuntabilitas Akuntabilitas adalah kondisi seseorang yang dinilai oleh orang lain karena kualitas performansinya dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang menjadi tanggung jawabnya. Beberapa informasi keuangan yang bebas diketahui oleh semua warga sekolah dan orang tua siswa misalnya rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) bisa ditempel di papan pengumuman di ruang guru atau di depan ruang tata usaha sehingga bagi siapa saja yang membutuhkan informasi itu dapat dengan mudah mendapatkannya. Efektivitas Efektif seringkali diartikan sebagai pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan dan peraturan yang berlaku maka pihak sekolah membelanjakan uang secara bertanggung jawab. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat 3. yaitu keterbukaan sumber keuangan dan jumlahnya. Ada tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Efisiensi . 4. fungsi dan wewenangnya.Transparan berarti adanya keterbukaan. Pertanggungjawaban dapat dilakukan kepada orang tua. masyarakat.

Ragam efisiensi tersebut dapat dilihat dari gambar berikut ini: . tenaga dan biaya yang sekecil kecilnya dapat mencapai hasil yang ditetapkan. waktu. tenaga. sedangkan penggunaan daya A dan hasil D menunjukkan paling tidak efisien. tenaga dan biaya: Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau penggunaan waktu.2004). Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara masukan (input) dan keluaran (out put) atau antara daya dan hasil. biaya. Efficiency´characterized by quantitative outputs´ (Garner. Dilihat dari segi penggunaan waktu. biaya dan hasil yang diharapkan dapat dilihat pada gambar berikut ini: Hubungan penggunaan waktu.Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. pikiran. Ragam efisiensi dapat dijelaskan melalui hubungan antara penggunaan waktu. Daya yang dimaksud meliputi tenaga. biaya dan hasil yang diharapkan Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan daya C dan hasil D yang paling efisien. b. tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya. Perbandingan tersebut dapat dilihat dari dua hal: a. tenaga. Dilihat dari segi hasil Kegiatan dapat dikatakan efisien kalau dengan penggunaan waktu.

Edwin M. dan Udaya. Sedangkan penggunaan waktu. 1992. Introduction to Educational Administration. dan Raphael O.Nystrand. Manajemen Keuangan. Jusuf. tenaga. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. 1991. 1983. A. Ditdikdasmen Depdikbud Gorton. . biaya A dan hasil B paling tidak efisien. 2002. Pengantar Ilmu Manajemen: Buku Panduan Mahasiswa. Direktorat Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Pendidikan Dasar. Brown Publishers Kadarman. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Boston: Allyn and Bacon. Departemen Pendidikan Nasional. Tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggi memungkinkan terselenggaranya pelayanan terhadap masyarakat secara memuaskan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.M. 1995/1996. tenaga. Gail T. Roald F. Dubuque. Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Sekolah. biaya A dan hasil D paling efisien. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. Inc Departemen Pendidikan Nasional.. C. Pengelolaan Sekolah di Sekolah Dasar. Richard A. & Schneider. IA: Wm. tenaga. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar.Hubungan penggunaan waktu. Direktorat Tenaga Kependidikan. biaya tertentu dan ragam hasil yang diperoleh Pada gambar di atas menunjukkan penggunaan waktu. School-Based Leadership: Callenges and Opportunities. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 5th edition. 2007) ===================== Daftar Rujukan Campbell.Bridges.

P. Yogyakarta: Liberty.Indonesia di Malang Konsep Dasar Manajemen Peran Serta Masyarakat Posted on 10 Januari 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Sekolah sebagai institusi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan sekolah tersebut berada. Jakarta: Ghalia Indonesia. dan Sahertian. Bahan Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala SMU se. Jakarta: Swastha. Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Untuk memahami apa dan untuk apa program hubungan sekolah dan . yang direvisi dengan Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Widjanarko. Maisyaroh. Malang: Dinas Pendidikan Kota Malang Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Supriadi. Cicih. New York: McGraw-Hill Book Company. M. M. Manajemen Keuangan Sekolah. Harold dan O¶Donnel. Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. Dedi. 2004. Azas-azas Manajemen Modern.A. 1984. 1985. Manullang. Kutipan Buku Pedoman Kerja dan Penekanan Tugas. Jakarta: CV Tamita Utama Koontz. 2000. 1996/1997. 1990. Dasar-dasar Manajemen. 2002. Principles of Management: An Analysis of Managerial Functions. Administrasi Keuangan Sekolah. Malang: AP FIP Universitas Negeri Malang. Timan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sutarsih. Pemerintah Kota Malang.Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 056/U/2001 tentang Pedoman Pembiayaan Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah. Pengantar Manajemen Pendidikan. Djum Djum Noor Benty. Third Edition. Jakarta: CV Tamita Utama Undang-undang No 22 tahun 1999. Agus. Cryill. Tanpa tahun. Basu.

Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hakekat hubungan sekolah dan masyarakat. dan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat. dengan segala keterbatasan yang dimilikinya (tenaga. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of public with the institution (suatu upaya untuk menyatukan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik. Di sisi lain pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat. tentunya yang dimaksudkan dalam uraian di sini tidak sesederhana pengertian tersebut. yaitu kemauan sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan sekolah. biaya. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat) 2. tetapi sekolah berusaha secara aktif (jemput bola). yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah. Dengan tuntutan yang demikian akan menjadi beban bagi sekolah. Apa sebenarnya kebutuhan masyarakat terhadap sekolah itu? Masyarakat (lebih khusus lagi orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. Arthur B. nampaknya lebih mengarah pada pola hubungan satu arah. tujuan. yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: 1. Persuasion directed at the public. adalah adanya informasi yang . Hal terpenting dari pengertian di atas. serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis. Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. berikut ini akan diuraikan beberapa hal pokok: pengertian. Apakah ini yang dimaksud dengan hubungan sekolah dengan masyarakat. to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah) 3. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. waktu dan sebagainya). Apabila dicermati pengertian tersebut di atas. 1. Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan out put yang berkualitas pula. Pengertian Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak. adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Ini berarti pihak sekolah kurang mendapatkan balikan dari pihak masyarakat. Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti dikutip oleh Suriansyah (2000).masyarakat perlu diaplikasikan secara intensif dalam pengelolaan pendidikan. pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah.

bahwa sekolah perlu memiliki visi dan misi serta program kerja yang jelas. Bertolak dari pendapat yang diungkapkan Brownell tersebut di atas. Karena memang pelanggan dan pengguna hasil lulusan sekolah adalah masyarakat. Hal ini akan memberikan kesan yang kurang baik kepada masyarakat. kita dapat membuat suatu pengertian sederhana tentang hubungan sekolah dan masyarakat sebagai suatu ³proses kegiatan menumbuhkan dan membina saling pengertian kepada masyarakat dan orang tua murid tentang visi dan misi sekolah. Dengan memahami dua pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat di atas. Sebagai contoh: Bagaimana masyarakat mau membantu sekolah apabila sekolah di tengah masyarakat religius dan fanatik. melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. dapat dipahami bahwa ssekolah perlu melakukan beberapa aktivitas dalam melaksanakan manajemen peran serta masyarakat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan dan memberdayakan masyarakat dan stakeholders lainnya. agar masyarakat memahami apa yang ingin dicapai oleh sekolah dan masalah/kendala yang dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan. sekolah tidak pernah memprogramkan kegiatan sekolah yang bersifat religius. Tumbuhnya penghargaan inilah yang akan mendorong adanya dukungan dan bantuan mereka pada sekolah. maka penghargaan mereka terhadap sekolah akan tumbuh.diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan. Agar pemahaman program oleh masyarakat menyentuh hal yang mendasar. murid. program kerja sekolah. Kenyataan selama ini tidak semua warga sekolah menghayati atau memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi dan misi sekolah.L. and understanding is basic to appreciation. jelas dan konprehensip tentang sekolah merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya dukungan dan bantuan mereka terhadap sekolah. sehingga pada saat masyarakat ingin mengetahui secara mendalam tentang hal tersebut warga sekolah (guru. masalah -masalah yang dihadapi serta berbagai aktivitas sekolah lainnya´. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh C. Sekolah . sehingga sekolah terisolir dari masyarakatnya. Beberapa aktivitas tersebut adalah: Selalu memberikan penjelasan secara periodik kepada masyarakat ten tang program-program pendidikan di sekolah. appreciation is basic to support. Karena itu kebutuhan dan kepuasan pelanggan merupakan hal pokok yang harus diperhatikan oleh lembaga sekolah. Dengan demikian maka program sekolah harus seiring dengan kebutuhan masyarakat. Pengertian ini memberikan dasar bagi sekolah. maka harus dimulai dengan penjelasan tentang visi dan misi serta tujuan sekolah secara keseluruhan. Atau dengan kata lain pelanggan sekolah itu pada hakekatnya adalah siswa dan orang tua siswa serta masyarakat. Apa yang dimaksud dengan visi dan misi sekolah anda dapat memperdalam pada buku-buku reference lain. Pemahaman masyarakat yang mendalam. staf tata usaha dan lain -lain) tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci. Dengan demikian mereka dapat memikirkan tentang peranan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya untuk membantu sekolah. Brownell seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) yang menyatakan bahwa: Knowledge of the program is essential to understanding. Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dipahami masyarakat dan apa yang diinginkan serta program-program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat. masalah-masalah yang dihadapi dan kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai oleh sekolah (berfungsi sebagai akuntabilitas).

Sekolah akan mengenal secara mendalam latar belakang. Yang menjadi pertanyaan adalah. misi. acuh tak acuh dan masa bodoh masyarakat akan hilang. baik pihak orang tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Hal ini disebabkan adanya persepsi bahwa peningkatan mutu sekolah dan peningkatan proses pembelajaran cukup dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak pemerintah secara sepihak. Kondisi ini yang mendorong masyarakat untuk tidak terlibat apalagi berpartisipasi membantu sekolah. Sedangkan pihak masyarakat dan orang tua murid cukup dimintakan bantuannya dalam bentuk keuangan saja.menjadi menara gading bagi lingkungan masyarakatnya sendiri. apabila hubungan sekolah dengan masyarakat benar-benar dapat dikelola dan direalisasikan secara utuh sesuai dengan konsepsi di atas. maka sudah saatnya mulai sekarang sekolah berbenah diri untuk membangun kemitraan dengan masyarakat/ stakeholders untuk kemajuan sekolah. 2. pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang baik akan memberikan manfaat lain seperti: 1. Apabila hal ini tercipta. kemajuan sekolah beserta masalah-masalah yang dihadapi sekolah secara lengakap. tujuan dan program kerja sekolah. Nampak manfaat yang sangat besar bagi sekolah dan masyarakat. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengetahui persoalanpersolan yang dihadapi atau mungkin dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan yang diinginkan sekolah. Dalam kenyataan yang ditemui di lembaga-sekolah sekarang ini nampaknya masih sedikit ditemukan pola-pola hubungan yang dapat mendorong terciptanya keempat hal pokok di atas. sudahkah sekolah mengenal harapan masyarakat? Atau sekarang justru sekolah memaksakan harapannya kepada masyarakat! Coba kita analisis kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dan penglihatan selama ini dalam praktek penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. berperilaku dan bertindak di luar aturan sekolah yang ada. Hal ini tentunya merupakan kartu kendali bagi sekolah untuk bersikap. Kendali/control yang dilakukan bersama antara sekolah dan masyarakat secara terpadu akan memberikan ruang sempit bagi siswa. maka sikap apatis. Apabila kita belum melakukan hal tersebut. jelas dan akurat. Di samping manfaat seperti diuraikan di atas. Dengan demikian mereka dapat melihat secara jelas dimana mereka dapat berpartisipasi untuk membantu sekolah. maupun warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau berperilaku tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua murid terhadap sekolah. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengerti dengan jelas tentang visi. Persepsi yang salah ini sebagai akibat dari kurangnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan juga pemahaman warga . Bertolak dari gambaran tersebut di atas. atau ada semacam persepsi seolah -olah sekolah yang bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. para siswa secara langsung mengetahui bahwa mereka mendapat perhatian yang besar dari kedua belah pihak. khususnya sekolah merupakan unsur penting guna menumbuhkan dukungan yang kuat dari masyarakat. 3. Sedangkan orang tua (masyarakat) tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di sekolah. keinginan dan harapanharapan masyarakat terhadap sekolah. Keterlibatan orang tua/masyarakat sering diinterpretasikan atau dipersepsi sebagai bentuk intervensi yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Apabila kondisi dia atas tercipta. Keadaan ini juga turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab antar sekolah dengan pihak masyarakat.

To develop understanding. Secara lebih lengkap Elsbree dan Mc Nelly seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) menyatakan bahwa kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk 1. To improve the quality of children¶s learning and growing. pengelolaan kesiswaan dan sebagainya (ingat substansi kegiatan management sekolah) juga harus direncanakan. tujuan yang hakiki dari kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak akan tercapai. sehingga segala permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama dan dalam waktu yang tepat.sekolah tentang apa dan bagaimana harusnya pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun. yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dukungan mereka akan pendidikan. dikelola dan dievaluasi secara baik. Apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat?. afektif maupun psikomotor hanya akan dapat tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di luar kelas. anda dapat mempelajari tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L. Untuk memajukan program pendidikan. Sebagai bahan perbandingan. masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah. pengelolaan keuangan. Kualitas pembelajaran. To rise community goals and improve the quality of community living 3. Untuk memperoleh bantuan dari orang tua murid/masyarakat. gambaran pada pembahasan di atas sudah memperlihatkan kepada kita tentang apa yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. 2. tetapi lebih jauh dari hal tersebut yaitu pengembangan kemampuan belajar anak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. enthusiasm and support for community program of public educations Dari pendapat ini terlihat bahwa yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ini tidak hanya sekedar mendapat bantuan keuangan dari orang tua murid/masyarakat. Di samping itu pemberdayaan masyarakat masih cenderung pada aspek pembiayaan. Hagman sebagai berikut: 1. . Kapan sebenarnya laporan ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah ? 2. Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan: 1. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu aktivitas yang mendapat kedudukan setara dengan kegiatan pengajaran. 3. Bantuan apa? Ingat bantuan ini bukan hanya sekedar uang! Untuk melaporkan perkembangan dan kemajuan. Tanpa perencanaan dan pengelolaan serta evaluasi yang baik. 2. Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama yang erat. Proses pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk orang tua murid/masyarakat. Kualitas lulusan sekolah dalam aspek kognitif.

Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. 3. Ini berarti segala program yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran. Kualitas pertumbuhan dan perkembangan peserta didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu sendiri. masyarakat dan orang tua siswa. Kebersamaan ini terutama dalam memberikan arahan. Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan dalam konteks peningkatan mutu hasil belajar. baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan. kualitas hasil belajar dan kualitas pertumbuhan/perkembangan peserta didik. Kualitas hasil belajar siswa. . sedang dan akan dijalankan oleh sekolah. Karena dia tidak dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri. Kualitas belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan tindakan antara sekolah. Apabila hal tersebut dapat kita lakukan. disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik. dalam arti apa yang dijelaskan. Kualitas masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan dan hasil pendidikan yang handal. salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap. untuk menghindari salah persepsi serta kecurigaan terhadap sekolah. lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat dan valid. atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan. maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat dibangun secara optimal. Integrity. Continuity. 2. Lulusan yang berkualitas merupakan modal utama dalam membangun kualitas masyarakat di masa depan. sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. bimbingan dan pengawasan pada anak/murid dalam belajar. masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah. 3. Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu.2. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap sekolah. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebabkan hal yang negatif bagi sekolah. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran. akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang telah.

maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat. 4. atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua/masyarakat. padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar. remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan bahwa apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan minta bantuan uang. Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: y y y Informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. Apabila ini terkondisi. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah. Informasi yang disajikan menggunakan pendekatan budaya setempat. dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi . Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat. kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat. Coverage Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek. perkembangan kemajuan sekolah. Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan. sehingga kehadiran mereka hanya berkisar antara 60% ± 70% bahkan tidak jarang kurang dari 30%. sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya. misalnya program ekstra kurikuler. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah yang sangat ilmiah. disukai oleh masyarakat atau akrab bagi pendengar. akurat dan up to date. 3. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa undangan kepada orang tua murid dari sekolah sering diwakilkan kehadirannya kepada orang lain.Perkembangan informasi. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak datang atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat). Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap. Simplicity Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat/orang tua murid. Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penggunaan kata-kata yang jelas. harus dilakukan secara terus menerus. factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat. oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang menjadi audience. Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh masyarakat kepada sekolah.Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat. misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester/caturwulan. kegiatan kurikuler. permasalahan permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan tumbuh setiap saat.

kemajuan. masalah dan pr stasi e sekolah terakhir. Direktorat Tenaga Kependidikan. Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir bagi penerima informasi. obyektif berdasarkan datadata yang ada pada sekolah. tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari. akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Departemen Pendidikan Nasional. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah. kebiasaan. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas. termasuk dalam hal ini memberitah ukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Adaptability Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 6. Constructiveness Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti. 2007) ===================== . budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan. ===================== Diambil dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Kepala Sekolah/Madrasah. Penjelasan yang konstruktif akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. 5. Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu. Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta faktor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi ke dalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah. Untuk itu informasi yang ramah. hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah.yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif.

(2002). Diktat Bahan Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan. Merubah Kebijakan Publik. (1989). Humas. T. New York: Mc Grow Hill Book Company.School Administration. Learning Society. Iowa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Pramudya Sunu. Guildford and Kings Lynn. Kumars.. Edward. Panduan Manajemen Berbasis Sekolah Di Kalimantan Selatan.A. Banjarmasin: Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan. (2000). Soleh Soemirat. P2LPTK.Z. (2002). Toto Rahardja (Penyunting). Banjarmasin Ahmad Suriansyah. Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan SD Di Indonesia (Laporan Analisis Tahap Awal). . (1992). (2002). Jakarta : Rajawali Pers. Trans. D.. Human Communication. Gans. Peran SDM dalam Penerapan ISO 9000 . Jakarta: Bina Aksara Brownwll... Jakarta : Bina Aksara. (2001). Sallis. Wm. (terjemahan). Mansour Fakih. Miarso (Ed) (1988). (1999).. Amka. Bandung: PT. Banjarmasin: FKIP Unlam Ahmad Suriansyah. 1993) Total Quality Management in Education. Pidarta. Jakarta : Balitbangdikbud. M. London: Bidles Ltd. Raja Grafindo Persada. (1988). Pusat Informatika. Gorton. Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. (1955). Dubuque. Dasar-dasar Public Relations. Ahmad Suriansyah (1987). Inc. Remaja Rosdakarya Stewart L. Bandung: Pustaka Setia. Mc Grow Company Publisher. Sudarwan Danim. Edisi Pertama. Public Relation In Education. Dikti. C. Bandung: PT. Maroon T. Mutu Pendidikan di SLTP Kalsel ³Analisis Partisipasi Orang Tua Murid dalam Pendidikan. Sylvia Moss. Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Tinggi suatu Perbandingan di Beberapa Negara. R... Manajemen Humas dan Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya. Husen.DAFTAR PUSTAKA Ace Suryadi (1991). FKIP Unlam.L. Jakarta : Depdikbud. L. Inovasi Pendidikan dalam upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. (1977). (2000). Jakarta: PT. (1975). Elvinaro Ardianto. Manajemen Pendidikan Indonesia. (2002). Rosady Ruslan. Bambang Siswanto. T. Jakarta: Grasindo Roem.Tubbs.

maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. sebagai institusi yang bergerak dalam bidang jasa pendidikan akan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan. Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen. Ketidakmampuan sekolah dalam mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Rajawali Pers. Jakarta: PT. dan habis ditelan oleh perubahan. Begitu pula dengan sekolah.VIII Nopember 2001: Yogjakarta: FIP UNY. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan yang dapat berfungsi. Ada . Dengan melalui kegiatan evaluasi dan riset ini akan diperoleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dal m pengambilan keputusan yang a berkenaan dengan usaha inovatif organisasi dan penyesuaiaian -penyesuaian terhadap berbagai perubahan. (1977). pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan yang sangat cepat dan kadang-kadang kehadirannya sulit diprediksikan. Dalam Dinamika Pendidikan Nomor 2/Th. kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya. Torsten Husen. Dalam hal ini. Jika kita mengacu pada konsep Total Quality Manajemen. Budaya Kerja. lambat laun akan dapat menimbulkan ke terpurukan sekolah itu sendiri. (2001) Budaya Mutu dan Prospek Penerapannya Dalam Sekolah. Berbicara tentang sikap antisipatif ini.Sukardi. Triguno. sehingga menuntut setiap organisasi untuk dapat memiliki kemampuan antisipatif dan adaptif terhadap berbagai kemungkinan sebagai konsekwensi dari adanya perubahan. Jakarta: Pusat Antar Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Golden Terayon Press Manajemen Sekolah dalam Upaya Mengantisipasi Perubahan Posted on26 Maret 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam kehidupan modern sekarang ini. dan proaktif terhadap kehidupan individu. percaya. Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah dalam mengaplikasikan TQ M adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan. Masyarakat Belajar. kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya organisasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif merupakan sebuah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko. (1988). Untuk itu.

Competitive Fixing/One Short Manifacturing To Quality Future Strategic Issue Participant/Empowerment Quality Measure and Information or Self Control Top Down and Bottom Up Planned Change Cross functional. yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Continous. yang ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen. sikap antisipatif dan adaptif terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah. functions. Ross (Sudarwan Danim.suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki bersama. Para anggotanya percaya. sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: Focus Plan Organize Control Communication Decisions Functional Management Quality Management From Traditional Sort range budget Hierarchi chain of command Variance Reporting Top Down Ad Hoc/ Crisis Management Parochial. tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah baru dan peluang apa saja ya ng akan mereka temui. (John P. yang mencakup 4 fokus. Integrative Preventive. satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. Dengan demikian. and Process Manajemen Kinerja Guru Posted on 3 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh : Akhmad Sudrajat . Kegairahan yang menyebar luas.49). dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang -peluang baru. 2002:121) mengetengahkan tentang perubahan kultural dari kultur tradisional ke budaya mutu. Rosabeth Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya in menghargai dan mendorong i kewiraswastaan. Berkenaan dengan perbaikan pada proses manajemen. Heskett: 17. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi. Kotter dan James L.

Bagaimana prestasi kerja akan diukur. maupun mengembangkan kinerja guru yang sudah ada sekarang. Ini merupakan sebuah sistem. didalamnya harus dapat membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang : Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para guru. Komunikasi yang berkesinambungan merupakan proses di mana kepala sekolah dan guru bekerja sama untuk saling berbagi informasi mengenai perkembangan kerja. ia memiliki sejumlah bagian yang semuanya harus diikut sertakan. Metode apapun yang . 3.Dalam perspektif manajemen. hambatan dan permasalahan yang mungkin timbul. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Bagaimana guru dan kepala sekolah bekerja sama untuk mempertahankan.melakukan pekerjaan dengan baik´ 2. maka manajemen kinerja guru terutama berkaitan erat dengan tugas kepala sekolah untuk selalu melakukan komunikasi yang berkesinambungan. Dari ungkapan di atas. serta mencapai pemahaman bersama tentang pekerjaan itu. Ini dipakai untuk menjawab pertanyaan. Robert Bacal mengemukakan pula bahwa dalam manajemen kinerja diantaranya meliputi perencanaan kinerja. Dengan mengacu pada pemikiran Robert Bacal (2001) dalam bukunya Performance Management di bawah ini akan dibicarakan tentang manajemen kinerja guru. Selanjutnya. melalui jalinan kemitraan dengan seluruh guru di sekolahnya. Evaluasi kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja. dan bagaimana kepala sekolah dapat membantu guru. maka dibutuhkan suatu manajemen kinerja (performance management). Artinya. Arti pentingnya terletak pada kemampuannya mengidentifikasi dan menanggulangi kesulitan atau persoalan sebelum itu menjadi besar. 4. sebagai : ³« sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan penyelia langsungnya. solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah. Dalam mengembangkan manajemen kinerja guru. Robert Bacal mengemukakan bahwa manajemen kinerja. memperbaiki. menentukan bagaimana kinerja harus diukur. komunikasi kinerja yang berkesinambungan dan evaluasi kinerja. ³ Seberapa baikkah kinerja seorang guru pada suatu periode tertentu ?´. Mengenali berbagai hambatan kinerja dan berupaya menyingkirkannya. kalau sistem manajemen kinerja ini hendak memberikan nilai tambah bagi organisasi. Perencanaan kinerja merupakan suatu proses di mana guru dan kepala sekolah bekerja sama merencanakan apa yang harus dikerjakan guru pada tahun mendatang. Seberapa besar kontribusi pekerjaan guru bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. manajer dan karyawan´. 1. mengenali dan merencanakan cara mengatasi kendala. yang merupakan proses di mana kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. agar kinerja guru dapat selalu ditingkatkan dan mencapai standar tertentu.

Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Wilson (2000) memberikan gambaran tentang proses manajemen kinerja dengan apa yang disebut dengan siklus manajemen kinerja. Di bawah ini akan dipaparkan tentang evaluasi kinerja guru. Penetapan standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar. dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran. Setiap fase didasarkan pada masukan dari fase sebelumnya dan menghasilkan keluaran yang . pengawas pendidkan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas. (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi. (2) bersifat seobyektif mungkin.C. kemudian diikuti Pembinaan. yaitu : (1) untuk mengukur kompetensi guru dan (2) mendukung pengembangan profesional. Semua dari ketiga fase Siklus Manajemen Kinerja sama pentingnya bagi mutu proses dan ketiganya harus diperlakukan secara berurut. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs). Karen Seeker dan Joe B. Ronald T. tanggung jawab. dan ekpektasi yang terukur.dipergunakan untuk menilai kinerja. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan arti penting perencanaan kinerja dan pembinaan atau komunikasi kinerja. kinerja guru dikaji dan dibandingkan dengan ekspektasi yang telah ditetapkan dalam rencana kinerja. Perencanaan merupakan fase pendefinisian dan pembahasan peran. Pertama. seorang evaluator (baca: kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. dan akhirnya Evaluasi. menjadi masukan fase berikutnya lagi. Kendati demikian. penting sekali bagi kita untuk menghindari dua perangkap. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan. kepala sekolah. dan evaluasi. Perencanaan tadi membawa pada fase pembinaan. yang terdiri dari tiga fase yakni perencanaan. Dalam hal ini. serta organisasi terus belajar dan tumbuh. Kedua. tidak mengasumsikan masalah kinerja terjadi secara terpisah satu sama lain. Beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator. tiada satu pun taksiran yang dapat memberika n gambaran keseluruhan tentang apa yang terjadi dan mengapa. dan guru. untuk memperoleh tujuan ini. Untuk mencapai tujuan tersebut. umpan balik. pembinaan. Kemudian dalam fase evaluasi.± di mana guru dibimbing dan dikembangkan ± mendorong atau mengarahkan upaya mereka melalui dukungan. Rencana terus dikembangkan. Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Bahwa agar kinerja guru dapat ditingkatkan dan memberikan sumbangan yang siginifikan terhadap kinerja sekolah secara keseluruhan maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja guru. sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat. evaluator dalam menentukan . Para evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. siklus terus berulang. dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru . serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah. dan penghargaan. pada gilirannya. Sementara itu. dan staf administrasi . Penilaian kinerja hanyalah sebuah titik awal bagi diskusi serta diagnosis lebih lanjut. diantaranya : 1. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru. Perencanaan harus dilakukan pertama kali. atau ³selalu salahnya guru´.

Surya Darma dan Yanuar Irawan. Seeker. (3) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi. Practical Assessment. proses pengajaran dan testing (evaluasi). beberapa hal yang harus diperhatikan oleh evaluator : (1) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. M. seperti : siswa. 1989. Jakarta : PPM. 2000. . Terj. Ramelan). Karen R. C. Wilson. rekan sejawat.Pd. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator. Research& Evaluation´. Ronald T. Improving Teacher Evaluations. dan Joe B. Performance Management. Konferensi pasca-observasi dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Planning Succesful Employee Performance (terj. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Peninjauan catatan-cataan dalam kelas. Boyd. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi. pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas. dan tenaga administrasi. *)) Akhmad Sudrajat. 2001. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan ± catatan dalam kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan -tujuan pengajaran. Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan. (5) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan. Robert. Dalam hal ini. Sumber Bacaan : Bacal. 3. adalah staf pengajar pada Program Studi PE FKIP-UNIKU dan Pengawas Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Konsep Visi Sekolah Posted on 24 Agustus 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . (2) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru. ERIC Digest.hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauhmana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran . Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable) 2. (4) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik.

Tanpa visi. 1998). Namun. Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar. hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya. hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati. kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali. Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut. dan menarik. Tetapi jika perumusannya menjadi seragam. Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah. Menurut Block (1987). tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman. 1996). Dalam perspektif manajemen. pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu ³prestasi´ dan ³iman-taqwa´. visi adalah masa depan yang dipilih. organisasi dan orangorang di dalamnya tidak mempunyai arahan yang jelas. melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins. . sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis. baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah. kredibel. sayangnya upaya perumusan visi yang terjadi di sekolah -sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik dari cara yang sudah ada sebelumnya.Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) organisasi sekolah itu sendiri. Boleh jadi.

mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. 2. (d) pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran. 5. (b) tujuan pendidikan dalam sekolah. tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah.al. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah. nilai-nilai. . dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia. Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan.Memperhatikan pendapat para ahli di atas. Kendati demikian. yaitu: 1. Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum. Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi. Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi. masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah. Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini. tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. 3. keluarga. Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara ³top-down´ yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya . Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi. Beare et. Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai. 4. dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan. (c) peran pemerintah. Pembuatan visi adalah tentang keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain. Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah.

Pencapaian tujuan pendidikan bermutu tersebut sesuai dengan UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 5. yaitu ³Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu´. sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada. KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan. sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Fahrurruzi). 2008.Dengan demikian. budaya yang akan dibangun. 2006: 33). Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis (ter. di antaranya Standar Isi (SI)dalam Permendiknas no 22 tahun 2006 dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam Permendiknas no 23 tahun 2 006. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesua i dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi. Sumber: Adaptasi dari Bush dan Coleman. Kegiatan ini dapat berbentuk rapat kerja dan/atau lokakarya sekolah/madrasah dan/atau kelompok sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru (BSNP. Rasional Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing -masing sekolah. Hasil analisis tersebut merupakan dasar pijakan untuk menentukan kedalaman dan keluasan target -target yang ditetapkan. Penyusunan dan pengembangan KTSP merupakan bagian dari kegiatan perencanaan sekolah/madrasah. Jogjakarta: IRCiSoD. Tahap kegiat an penyusunan . tujuan yang ingin dicapai. Analisis Situasi Sekolah dalam Pengembangan KTS P Posted on 5 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT A. nilai dan keyakinan. Akan tetapi. Keleluasaan sekolah dalam mengembangkan KTSP tent u harus diikuti dengan analasis situasi sekolah untuk mencapai lingkup standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan. serta isi dan bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan bermutu di seko lah tersebut.

B. (4) secara tersurat ada prioritas menghasilkan peserta didik yang be rmutu. (3) jelas bagi pihak -pihak yang berminat. Misi diperjelas dan dijabarkan dengan tujuan sekolah (goals). tujuan dinas pendidikan dan koheren dengan renstra depdiknas. Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang sekoah yang diinginkan di masa jauh ke depan. Tujuan sekolah seharusnya tidak betentangan dengan visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan. ketercapaian tujuan dapat diamati. dan Tujuan Sekolah Penetapan visi. 2006: 32): 1. Hal itu dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan SWOT (strengths. misi. dan tujuan sekolah akan sangat berperan bagi pengembangan sekolah di masa depan. Visi. (3) sarana dan prasarana. (d) asosiasi profesi. ditunjukkan dan dapat diuji secara objektif. Kajian internal atau kondisi sekolah (kekuatan dan kelemahan) yang meliputi: (1) peserta didik. penyiapan dan penyusunan draf. (2) mencerminkan dengan jelas kebutuhan lokal dan nasional atau bahkan internasional berkaitan dengan kemampuan lulusan. realistis. Misi sebuah sekolah perlu mempertimbangkan misi induknya (dinas pen didikan kabupaten/kota). dan threats ). (5) program -program 4. Misi. 2006: 33). Adapun analisis konteks melalui SWOT terdiri atas hal -hal sebagai berikut (cf. Deskripsi visi. serta kajian lingkungan eksternal untuk mengungkap opportunities atau peluang dan threats atau tantangan. Misi (mission) ditetapkan dengan mempert imbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas ³dari luar´) dan keinginan ³dari dalam´ (yang antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Tujuan Tujuan Analisis Situasi Sekolah adalah (1) memperoleh gambaran ny ata kondisi sekolah dan (2) memperoleh gambaran nyata situasi sekolah C. misi. opportunities. (4) biaya. (c) dinas pendidikan. reviu dan revisi. Identifikasi SI dan SKL 3. pemantapan dan penilaian (cf. Kajian eksternal atau situasi sekolah (peluang dan tantangan) yang dilihat dari masyarakat dan lingkungan sekolah yang meliputi: (a) komite sekolah. BSNP. (f) sumber daya alam dan sosial budaya. Perumusan tujuan harus nyata dan terukur.KTSP secara garis besar meliputi: analisis sekolah. misi. dan tujuan sekolah 2. Visi. weaknesses. (2) pendidik dan tenaga kependidikan. Visi dan misi saling berkaitan. (b) dewan pendidikan. tujuan seharusnya (1) tidak bertentangan dengan visi. dipersepsi sebagai sesuatu yang berharga oleh seluruh pihak yang berminat. . BSNP. serta finalisasi. Analisis Konteks Analisis konteks dalam pelaksanaan penyusunan KTSP berwujud evaluasi diri ( self evaluation ) terhadap sekolah. Dalam hal ini dapat diterapkan kajian lingkungan internal untuk memahami strengths atau kekuatan dan weaknesses atau kelemahan. misi. Berikut ini adalah penjelasan masing -masing 1. (e) dunia industri dan dunia kerja.

memahami. LCD. Analisis terhad ap kekuatan dan kelemahan semua sarana itu meliputi kepemilikan. kepribadian. lingkungan. latar belakang pendidikan dan/atau sertifat keahlian. dan kondisi sarana yang ada. Adapun bahan habis pakai meliputi bahan -bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran. ruang tata usaha. dan peralatan pembelajaran lain (cf. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan prasarana di sekolah meliputi keberadaannya. . kursi. Sarana dan Prasarana Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot. jenis keahlian. minat. ruang unit produksi. c. ruang perpustakaan. minat pendidik dalam pengembangan profesi. SNP pasal 43). Pendidik dan Tenaga Kependidikan Analisis terhadap pendidik dan ten aga kependidikan dimaksudkan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah. kelayakan fisik dan mental pendidik. ruang kelas. Situasi Internal atau Kondisi Sekolah a. Identifikasi dapat dilakukan melalui tahap -tahap sebagai berikut: membaca secara saksama.(SNP pasal 42 ayat 1). OHP. Peserta Didik Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajar an. peralatan pendidikan. rasio banyaknya. Perabot di antaranya meliputi meja. dan kebersihannya. serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. media cetak maupun elektronik. ruang pendidik. tempat berkreasi. Analisis ini perlu dilakukan agar KTSP yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara ma ksimal. dan minat tenaga kependidikan dalam pengembangan profesi. buku dan sumber belajar lainnya. bahan habis pakai . analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan nonakademik. pro fesional. Jadi. tempat beribadah. buku teks. narasumber. jumlah tenaga kependidikan dan rinciannya. Peralatan meliputi peralatan laboratorium i lmu pengetahuan alam (IPA). Analisi ini meliputi rata -rata kemampuan akademik peserta didik. b. gambar yang mendukung ketercapaian pembelajaran. laboratorium bahasa. Hal itu perlu dilaku kan supaya penerapan SI dan SKL di sekolah dan terutama dalam pembelajaran benar -benar baik. 3. ruang pimpinan sekolah. jumlah. Dalam melakukan identifikasi.2. rasio pendidik dan peserta didik. laboratorium komputer. kompetensi pendidik (pedagogik. instalasi daya dan jasa. maupun referensi. Identifikasi SI dan SKL Para pendidik di sekolah perlu melakukan identifikasi SI dan SKL. media pendidikan. dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berk elanjutan (SNP pasal 42 ayat 2). tempat bermain. dan membedah SI dan SKL. latar belakang ten aga kependidikan. ruang bengkel kerja. kelayakan fisik dan mental tenaga kependidikan. sosial). kelayakannya. Yang termasuk dalam buk u dan sumber belajar di antaranya adalah bahan cetakan baik jurnal. papan tulis yang ada di setiap kelas. setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya. Analisis atas prasarana meliputi lahan. rata -rata beban mengajar pendidik. tempat berolahraga. ruang labora torium. dan bakat peserta didik. ruang kantin. kelayakan. Media pendidikan di antaranya alat peraga. mengkaji. slide.

pengembangan sumberdaya manusia. serta kesesuaian program dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/ daerah merupakan analisis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan KTSP. komite sekolah juga memutuskan pedoman struktur organisasi sekolah dan biaya operasional sekolah. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. pemeliharaan sarana dan prasarana. Pada tahap akhir. Ada atau tidaknya program. Analisis terhadap pembiayaan di sekolah mengarah pada kelemahan dan kekuatan pembiayaan di sekolah tersebut terhadap pengembangan dan pelaksanaan KTSP e. Pimpinan sekolah dan komite sekolah juga melakukan . tenaga kependidikan dan peserta didik. uang lem bur. penentuan pendidikan kecakapan hidup. dan modal kerja tetap. dan program pengayaan. pajak. asuransi. konselor. jasa telekomunikasi. air. Program-program KTSP disusun oleh s ekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. serta penggunaan dan pemeliharaan s arana dan prasarana. konsumsi. bahan atau peralatan pendidikan habis pakai. pemilihan kegiatan pengembangan diri. transportasi. penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global). Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana. keterlaksanaan. program pembelajaran. Biaya operasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: y y y gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji. komite sekolah juga harus memberikan pert imbangan terhadap penyusunan KTSP. dalam SNP Pasal 51 ayat 2 dinyatakan bahwa pengambilan keputusan pada sekolah dasar dan menengah di bidang nonakademik dilakukan oleh komite sekolah yang dihadiri oleh kepala sekolah. Biaya Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muata n lokal. Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan. 4. yang minimal meliputi tata tertib pendidik. biaya operasi. program remedial. dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya. Dalam BSNP (2006: 5) disebutkan. Adapun tim penyusun KTSP terdiri atas pendidik. Komite Sekolah Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang i kut berlibat dalam penyusunan KTSP di samping narasumber dan pihak lain yang terkait. pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. dan biaya personal . serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Komite sekolah juga memberikan masukan tentang tata tertib sekolah. Kondisi Masyarakat dan Lingkungan Sekolah a. dan lain sebagainya. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi.d. Selain itu.

pengembangan keterampilan pribadi. Selain itu. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada pand uan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Dalam hal ini. Contoh: di dekat sekolah ada industri kerajinan. . Keberadaan tim ini akan sangat membantu pengembangan KTSP. Dewan Pendidikan Dewan Pendidikaan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Akan tetapi. secara lebih khusus. Oleh karena itu. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan KTSP. dan provinsi. pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. Dalam penyusunan KTSP. keterampilan sosial. KTSP disusun dengan memperhatikan berbagai hal. dan dunia kerja. Adapun pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan o leh kepala sekolah kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. Dalam hal ini. d. Dalam KTSP. analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan KTSP. Dalam hal ini. keterampilan berpikir. Peluang dan tantangan atas keberadaan MGMP perlu dianalisis untuk pengembangan KTSP. e. dunia usaha. Berdasarkan hal itulah. Berdasarkan hal -hal itulah. peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi dasar sesuai konteks ind ustri kerajinan tersebut. Asosiasi Profesi Ada beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. efektivitas. c. analisis terhadap peluang dan tantangan dunia industri dan dunia kerja di lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk pengembangan KTSP. kabupaten/kota. analisis terhadap peluang dan tantangan dari pihak komite sekolah/madrasah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. dunia indsutri di sekitar sekolah dapat diberdayakan untuk menunjang program pendidikan sekolah yang bersangkutan. dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut memantau dan mengevaluasi pelaksanaan KTSP. di an taranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. dan akuntabilitas sekolah. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. 2006). Dinas Pendidikan Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan KTSP SMP. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan. Berdasarkan hal -hal itulah. b. keterampilan akademik. rencana kegiatan pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. MGMP dapat berperan pula sebagai tim yang menyusun silabus mata pe lajaran tertentu. asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMP terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah. dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan (BSNP. dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas para pendidik berpengal aman di bidangnya. Dunia Industri dan Dunia Kerja Salah satu prinsip pengembangan KTSP adalah relevan dengan kebutuhan kehidupan.pemantauan untuk menilai efisiensi.

kesesuaian dengan visi. tantangan. 4. waktu. Oleh karena itu. kesetaraan gender. kondisi sosial budaya masyarakat setempat. kebutuhan. 5. dapat memanfaatkan aspek kel autan sebagai peluang dan tantangan untuk mengembangkan potensi peserta didik. dan biaya. KTSP harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Instrumen yang digunakan bisa menggu nakan model check list ataupun skala. Pada dasarnya. Masing -masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari -hari. analisis terhadap peluang dan tantangan sumber daya alam dan sosial budaya lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan KTSP. Sumber daya alam yang ada di lingkungan serta aspek sosial budaya yang berlaku di tempat sekolah tersebut berada. ketersediaan dan kemampuan SDM dalam mengelola sekolah. antara lain: keterjangkauan jarak. kebermanfaat an aspek sosial budaya bagi peserta didik di masa kini dan yang akan datang. diperlukan upaya identifikasi dengan memperhatikan berbagai hal. 3. Pendidik dapat mengajarkan dan mengajak peserta didik menanam bakau untuk menahan abrasi pantai. D. Pengembangan Instrumen Analisis terhadap situasi sekolah dilakukan dengan menggunakan instrumen analisis. di antaranya adalah keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditum buhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. Contoh Instrumen model check list Dunia Industri/kerajinan No 1. KTSP harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. misi. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dapat memberikan nilai tambah bagi perkemba ngan peserta didik. dan tujuan sekolah. Sekolah yang berada di daerah pantai. setiap daerah memiliki potensi.f. dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksanaan penyusunan KTSP. dan keragaman karakteristik lingkungan. KTSP juga harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender. Selain itu. Pada sisi lain. Ini merupakan salah satu contoh pembelajaran untuk memahami alam sekitar dan sek aligus mengatasi tantangan alam. 2. Berdasarkan hal itulah. Aspek yang Dianalisis Keberadaan dunia industri Kebermaknaan dunia industri dalam pengembangan kompetensi Kelayakan dunia industri sebagai sumber belajar Kedekatan jarak letak dunia industri dengan sekolah Hubungan baik dunia industri dengan pihak sekolah Ya Tidak . Satuan pendidikan harus menyiapkan instrumen tersebut sebagai panduan pengambilan data. Sumber Daya Alam dan Sosial Budaya KTSP disusun dengan memperhati kan berbagai hal.

3. 2. Pemanfaatan Hasil Instrumen Berdasarkan hasil analisis yang telah diperoleh . anal isis situasi sekolah sangat perlu dilakukan sehingga KTSP yang dikembangkan benar -benar didasarkan pada kondisi dan situasi sekolah (di samping didasarkan pula pada prinsip -prinsip pengembangan KTSP). dan 3 Keterangan Peluang Tantangan Tantangan Bukan peluang Bukan peluang F. dunia industri dan dunia kerja. Jawaban Ya Semua aspek 1. sumber d aya alam dan sosial budaya. satuan pendidikan mempunyai tantangan untuk membina hubungan baik dengan dunia industri tersebut. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi tantangan. pendidik dan tenaga kependidikan. Di samping itu. Selain itu. 2. yang meliputi: komite sekolah. sarana prasarana. G. 2. dan 3 Jawaban Tidak 5 4 dan 5 Semua aspek 1. . 2. dinas pendidikan. tentu tantangan satuan pendidikan untuk menyediakan biaya transportasi ke tempat dunia usaha/industri tersebut. Contoh pemanfaatan 1. 2. KTSP yang dikembangkan berdasarkan analisis situasi sek olah diharapkan akan benar -benar mencerminkan upaya peningkatan kondisi internal yang ada di sekolah yang meliputi peserta didik. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal. Jarak dunia industri/kerajinan jauh. dan 4 1. Dalam pengembangan KTSP ini. 4. serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. dan program program lainnya. biaya. tetapi dengan syarat -syarat yang harus dipenuhi.E. dewan pendidikan. KTSP untuk pendidikan dasar dikembangkan oleh setiap sekolah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidi kan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota. 3. satuan pendidikan dapat memutuskan bahwa dunia industri/kerajinan menjadi alternatif acuan kompetensi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai sumber belajar dalam pendidikan berbasis keunggulan lokal. asosiasi profesi. 5. Analisis Instrumen Data yang telah diperoleh dianalisis. satuan pendidikan mengembangkan program yang terkait dalam pengembangan KTSP. Bila kesimpulan dunia industri/kerajinan menjadi peluang. Hasil analisis tersebut diklasifikasi atas peluang atau tantangan yang akan menjadi kesimpulan pengambilan keputusan Contoh No 1. Penutup Pada prinsipnya. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. KTSP yang baik harus d ikembangkan atas dasar analisis peluang dan tantangan situasi eksternal yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Belajarkan setiap orang untuk mampu memindai lingkungan. 10. Tanyakan kepada mereka. dibutuhkan perlengkapan dan mindset yang berbeda pula. 6. baik dalam gaya berfikir. Kriteria yang ketat hanya akan menghambat terhadap pencapaian cita-cita dan melestarikan berbagai asumsi dan mindset masa lampau. Kembangkan sistem pengelolaan gagasan dan tangkaplah setiap gagasan untuk dikembangkan dan dievaluasi berbagai kemungkinannya . 4.Sepuluh Langkah Menjaga Inovasi dalam Organisasi Posted on 23 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Joyce Wycoff (2004) mengemukakan tentang 10 langkah praktis untuk mempertahankan kehidupan inovasi dalam suatu organisasi. Berikan keluasaan kepada setiap orang untuk dapat mengeksplorasi kemungkinankemungkinan baru (new possibilities) dan berkolaborasi dengan orang lain. Hilangkan rasa takut dalam organisasi. perspektif. Sediakanlah pelatihan yang cukup sehingga setiap orang dapat bekerja dalam inovasi secara sukses. baik yang ada dalam organisasi maupun di luar organisasi. 2. teknologi atau perubahan mindset pelanggan. 3. 8. Tentukan kriteria yang terukur dengan fokus pada cita-cita masa depan organisasi. pengalaman maupun keahlian. Curahkan waktu untuk pengembangan dan kesuksesan yang hendak organisasi pada masa yang akan datang. Team Inovasi berbeda dengan team proyek regular. Innovasi artinya melakukan sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru itu mungkin akan gagal. Dokumentasikan setiap proses inovasi dan pastikan setiap orang dapat me mahami peran didalamnya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu. Kesepuluh langkah tersebut adalah: 1. 7. kemudian ikuti kemajuannya. Pastikan setiap orang dapat memahami strategi organisasi dan pastikan pula bahwa semua usaha inovasi benar-benar sudah selaras dengan strategi yang ada. karena keragaman seluruh aktivitas ini merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam proses men uju inovasi. 5. 9. seperti tentang trend baru. jika orang-orang senantiasa diliputi ketakutan akan kegagalan. apa yang akan mereka ciptakan atau tingkatkan pada masa-masa yang akan datang. Jadikan inovasi sebagai bagian dari sistem penilaian kinerja setiap orang. Belajarkan setiap orang untuk menghargai keragaman.

Riset difusi dimulai di Perancis. Bab 1 selanjutnya meringkas materi yang akan dibahas pada bab 4 sampai dengan bab 11. aksi atau kebijakan). (10) Inovasi dalam Organisasi dan (11) Konsekuensi-konsekuensi Inovasi. Everet M. Di Perancis. tapi sesuatu yang dikerjakan bersama orang lain.2004. Inovasi dibedakan dari reinvensi: tingkat inovasi diubah atau dimodifikasi pengguna pada proses adopsi dan implementasi. bukan perilaku). Tradisi riset pada dasarnya adalah suatu µuniversitas tidak terlihat¶. The Free Press.Sumber: Adaptasi dari: Joyce Wycoff . (5) Proses Keputusan Inovasi.Y. (c) waktu dan (d) sistem sosial. praktek atau objek yang dipersepsi baru oleh seorang individu atau suatu unit adopter. Dalam Pengantar tersebut disajikan (a) kesamaan difusi dengan riset persuasi: (a1) bukan komunikasi satu kepada orang banyak. N. Selanjutnya . (c) pergeseran studi difusi dari yang mendasarkan pada model komunikasi linier (proses di mana pesan ditransfer dari sumber ke penerima) ke yang mendasarkan pada model komunikasi konvergensi (proses saling tukar informasi diantara sesama partisipan) dan (d) definisi inovasi difusi sebagai pada dasarnya suatu proses sosial di mana informasi tentang gagasan baru yang dipersepsi secara subjektif dikomunikasikan. menjelaskan bahwa edisi pertama terbit tahun 1962 dan edisi kedua (dengan judul Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach dan dengan penulis kedua F. (4) Lahirnya Inovasi. Inggris dan Jerman-Austria di awal abad 20. (7) Kategori Keinovatifan dan Kategori Adopter. (8) Kepemimpinan Opini dan Network Difusi. penulisnya. Pembahasan pada bab 1 sampai dengan bab 11 masing-masing diberi judul (1) Unsur-unsur Difusi. Inovasi sering berupa cluster teknologi karena dengan demikian akan lebih mudah untuk diadopsi. Tradisi riset adalah sederet penelitian tentang topik sejenis di mana penelitian sebelumnya berpengaruh pada penelitian sesudahnya. 10 akan menyebar luas sementara 90 akan dilupakan¶. (3) Kontribusi dan Kritik riset Difusi. (b) kontras difusi (fokus lebih pada adopsi/ keputusan untuk menggunakan dan mengimplementasikan gagasan baru. (9) Agen Perubahan. (6) Atribut Inovasi dan Tingkat Adopsinya.suatu gagasan. tapi juga menjual kredibilitas diri dan/atau orang lain. http://thinksmart. bukan pada implementasi aktual atau konsekuensi inovasi) dengan riset persuasi (fokus lebih pada pengubahan sikap.Floyd Shoemaker) terbit pada tahun 1972.com/ Difusi Inovasi Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT Dalam Pengantar buku (edisi ketiga) Diffusion of Innovations. dan (a2) tidak semata berpusat pada aksi atau isu (menjual produk. (1963) µberbagai tradisi riset ironisnya ditemukan secara sendiri-sendiri¶. Rogers. Tarde (1903) mengemukakan hukum imitasi µdari 100 inovasi. Inovasi -sering disinonimkan dengan teknologi. (1983). Ten Practical Steps to Keep Your Innovation System Alive & Well. Bab 1 membahas empat unsur inovasi (a) inovasi (b) saluran komunikasi. (2) Sejarah Riset Difusi.. Bab 2 diawali dengan komentar Elihu Katz dkk.

disajikan sembilan tradisi riset: antropologi, sosiologi awal, sosiologi pedesaan, pendidikan, sosiologi medis, komunikasi, pemasaran, geografi dan sosiologi umum. Akhirnya, disajikan delapan tipe riset difusi (1) kapan inovasi diketahui, (2) tingkat adopsi inovasi, (3) keinovatifan, (4) kepemimpinan opini, (5) jaringan difusi, (6) tingkat adopsi dalam berbagai sistem sosial, (7) saluran komunikasi dan (8) konsekuensi inovasi. Bab 3 menyajikan kontribusi riset difusi berupa (a) model difusi sebagai paradigma konseptual yang relevan dengan banyak disiplin ilmu, (b) sifat pragmatisnya dalam memecahkan masalah penggunaan hasil riset, (c) memungkinkan periset mengemas ulang temuan empirisinya dalam bentuk generalisasi lebih teoritis lagi dan (d) metodologinya yang jelas dan relatif facile. Selanjutnya,disajikan kritik pada riset difusi: (a) bias pro -inovasi: inovasi harus diadopsi semua anggota suatu sistem sosial dengan cara cepat dan inovasi tidak boleh ditolak atau direinvensi, (b) bias menyalahkan individu: kecenderungan menyalahkan individu, bukan sistem, (c) masalah ingatan: ketidakakuratan responden dalam mengingat proses adopsi inovasi dan (d) isu ekualitas: inovasi cenderung memperlebar kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, disajikan prosedur meta-riset, yaitu sintesis riset empiris menjadi kesimpulan umum yang lebih teoritis: (a) perumusan konsep (dimensi yang dinyatakan dalam istilah paling mendasar), (b) menyusun hubungan dua konsep dalam bentuk hipotesis teoritis, (c) menguji hipotesis teoritis dengan hipotesis empiris yang dinyatakan dalam postulat hubungan dua konsep operasional, (d) uji hipotesis empiris dengan uji signifikansi atau uji lainnya dan (e) hipotesis teoritis ditolak atau diterima berdasarkan ditolak atau diterimanya hipotesis empiris. Bab 4 menyajikan enam momen proses inovasi yang merupakan paduan dari (a) analisis kebutuhan (momen pertama: perumusan masalah atau analisis kebutuhan), (b) tracer study (momen kedua sampai ke lima: penelitian murni/terapan, pengembangan, komersialisasi/ sosialisasi serta difusi dan inovasi) dan (c) studi difusi klasik (momen ke lima dan ke enam: difusi/ inovasi dan konsekuensi inovasi). Masalah yang umumnya ditemukan adalah rendahnya penjualan hasil penelitian yang sudah dipatenkan (di Amerika mislanya adalah 1500 dari 30000 paten). Pengembangan teknologi mengalami empat tahap (a) trial and error dalam skala kecil, (b) imitasi, (c) kompetisi tekonologi dan (d) keluar dari kompetisi dan melakukan standarisasi produk. Beberapa konsekuensi inovasi adalah (a) ke enam momen difusi inovasi mungkin tidak semuanya ada dalam suatu inovasi, (b) kemungkinan ketidak sinkronan konsekuensi yang diharapkan dengan yang benar-benar terjadi, dan (c) pelebaran kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, dibahas (a) kelemahan tracer study: tergantung ada tidaknya publikasi, sedikitnya data fase difusi/ adopsi dan sifatnya rekonstruksi rasionalistik dan (b) inovasi organisasi yang muncul secara individual, kolektif, atas instruksi atasan atau didorong inovasi sebelumnya mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Bab 5 membahas lima proses keputusan inovasi (a) mengetahui inovasi, (b) peruasi, (c) keputusan, (d) implementasi (seutuhnya atau lewat reinvensi) dan (e) konfirmasi atau meniadakan/mengurangi disonansi, suatu ketidaksetimbangan internal yang disebabkan (e1) kebutuhan, (e2) belum mengadopsi sesuatu yang diinginkan atau (e3) setelah mengadopsi untuk meneruskan atau diskontinu. Inovasi dapat tidak dilanjutkan (diskontinu) karena (a) kecewa atau (b) diganti dengan invasi lainnya. Beberapa temuan proses keputusan inovasi adalah (a) Inovasi yang tingkat adopsinya tinggi tingkat diskontinu; (b) diskontinu cenderung dilakukan oleh adopter akhir; (c) riset selama ini kebanyakan riset variansi sehingga diperlukan riset proses; (d) beberapa saluran komunikasi difusi inovasi adalah media massa dan hubungan antar-pribadi serta saluran kosmopolit dan lokalit; (e) media massa dan saluran kosmopolit terutama penting pada tahap mengetahui inovasi; sementara hubungan antar-

pribadi dan saluran lokalit terutama penting pada tahap persuasi; (f) media massa dan saluran kosmopolit lebih penting bagi adopter awal; (g) tingkat mengetahui inovasi lebih cepat dari tingkat adopsi dan (h) adopter awal mengalami proses keputusan inovasi lebih cepat. Bab 6 menyatakan bahwa tingkat inovasi dipengaruhi oleh satu atau beberapa karakteristik berikut: (a) keuntungan relatif, (b) kompatibilitas atau kekonsistenannya dengan nilai yang dianut, (c) kompleksitas atau tingkat kemudahan untuk dipahami, (d) triabilitas atau kedapatdicobaannya dalam skala kecil dan (e) observabilitas atau keterlihatannya oleh orang/pihak lain. Tingkat adopasi dipengaruhi oleh (a) jenis keputusan inovasi (opsional, kolektif atau atas dasar otoritas), (b) jenis saluran komunikasi yang digunakan, (c) norma, sifat kesalingterhubungan individu, dst. dalam komunitas adopter dan (d) upaya agen perubahan. Selain itu, ditemukan bahwa (a) sampai tingkat kesadaran inovasi mencapai 20-30% tingkat adopsi rendah, sedangkan setelah ambang tersebut tingkat kesadaran dan tingkat adopsi meninggi dan (b) overadopsi adalah fenomena inovasi diadopsi padahal menurut para ahli sebaiknya tidak diadopsi. Bab 7 mencatat bahwa kontinum keinovatifan dapat dibagi menjadi lima kategori (a) invator, (b) adopter awal, (c) mayoritas awal, (d) mayoritas akhir dan (e) laggards. Masing-masing kategori tersebut mempunyai karakteristik (a) venturesome, (b) respectable, (c) deliberate, (d) skeptis dan (e) tradisional. Usia adopter awal relatif sama dengan adopter akhir hanya saja adopter awal cenderung lebih unggul dalam hal (a) pendidikan, (b) literasi, (c) status sosial, (d) mobilitas ke atas, (e) ukuran ladang, perusahaan, dst., (f) sikap terhadap kredit dan (g) tingkat spesialisasi pekerjaan. Selain itu, dalam hal kepribadian, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) empati lebih besar, (b) kurang dogmatis, (c) lebih mampu melakukan abstraksi, (d) lebih rasional, (e) lebih intelejen, (f) lebih mudah menerima perubahan, (g) lebih mampu mengangani ketidakpastian dan resiko, (h) lebih menghargai pendidikan dan sains, (i) kurang fatalis, (j) mempunyai motivasi pencapaian lebih besar, (k) aspirasi lebih tinggi pada pendidikan, pekerjaan, dst. Akhirnya, dalam hal perilaku komunikasi, dibandingkan dengan adopter akhir, adopter awal mempunyai (a) partisipasi sosial lebih tinggi, (b) kontak sosial lebih banyak dengan sesamanya dan/atau dengan agen perubahan, (c) lebih kosmopolit, dan terekspose pada media massa, (d) leb aktif mencari ih informasi dan lebih banyak tahu tentang inovasi dan (e) lebih tinggi kepemimpinan opininya. Bab 8 membahas model kepemimpinan opini aliran dua-langkah: pesan mengalir dari sumber via media massa ke pemimpin opini yang pada gilirannya menyampaikannya pada para pengikutnya. Model tersebut ditentang oleh model µjarum hipodermik¶ di mana dipostulatkan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung, segera dan kuat pada individu-individu yang terkait dengan media massa, tapi tidak terkait satu dengan lainnya. Menurut teori Granovetter individu cenderung terkait dengan orang yang secara fisik dekat dan menurut atribut-atribut seperti kepercayaan, pendidikan dan status sosial relatif sama (homofili; kontras dengan heterofili di mana atribut-atribut tersebut relatif beda). Duff dan Liu (1975) menyatakan bahwa dalam satu network komunikasi, pertukaran informasi dari satu clique (yang ditandai dengan promiximitas komunikasi tinggi) ke clique lain dijembatani oleh proximitas komunikasi rendah yang heterofili (misal, dari clique berstatus sosial tinggi ke clique berstatus sosial lebih rendah). Beberapa temuan lainnya ialah (a) Dalam network heterofili, pengikut cenderung mencari pemimpin opini yang mempunyai status sosial, pendidikan, ekspose ke media massa, tingkat keinovatifan, tingkat kekosmopolitan dan tingkat kontak dengan agen perubahan lebih tinggi, (b) pemimpin opini lebih sejalan dengan norma sistem dibanding dengan pengikutnya, (c) pemimpin opini dapat dibedakan menjadi polimorfis (mempunyai opini dalam banyak bidang) atau monomorfis (mempunyai opini

hanya dalam satu bidang), dan (d) network personal radial (dari satu ke banyak orang) lebih penting untuk inovasi dibanding dengan network interlocking di mana individu saling berinteraksi. Bab 9 membahas masalah yang dihadapi agen perubahan adalah (a) sebagai penengah antara agensi perubahan dan klien dan (b) kemungkinan kesulitan mengolah informasi yang cenderung melimpah; sementara itu, masalah aide lebih parah lagi karena kredibiltas kompetensi atau profesionalismenya diragukan. Tujuh peran agen perubah adalah (a) menumbuhkan kebutuhan dalam diri klien, (b) membangun hubungan pertukaran informasi, (c) mendiagnosa masalah klien, (d) menumbuhkan niat berubah pada klien, (e) menerjemahkan niat klien ke dalam tindakan, (f) menstabilkan adopsi dan mencegah diskontinu adopsi dan (g) mencapai hubungan terminal dengan klien (yaitu ketika klien berubah menjadi agen perubahan). Kesuksesan agen perubahan tergantung pada (a) upayanya menghubungi klien, (b) orientasinya yang lebih kepada klien, bukan pada agensi perubahan,(c) tingkat kesesuaian inovasi dengan kebutuhan klien, (d) empatinya kepada klien, (e) homofilitasnya dengan klien, (f) kredibilitasnya di mata klien, (g) tingkat kesejalanannya dengan pemimpin opini dan (h) kemampuan klien mengevaluasi inovasi. Selanjutnya, hubungan agen perubahan secara positif tergantung pada lebih tingginya klien dalam hal (a) status sosial, (b) partispasi sosial, (c) pendidikan dan (d) kekosmoplitannya. Akhirnya, juga dibahas mengenai sistem difusi sentralistik dipadu dengan sistem difusi desentralistik dan/atau penerapan kedua sistem tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam sistem difusi sentralistik, difusi dilakukan oleh pemerintah dan/atau ahli; sementara itu, dalam sistem difusi desentralistik, inovasi datang dari ekpserimentasi lokal yang sering dilakukan oleh pengguna itu sendiri dan/atau atas dasar saling tukar informasi untuk mencapai suatu pemahaman bersama. Difusi lewat network horizontal dilakukan unit lokal dengan tingkat kemungkin reinvensi yang tinggi. Bab 10 mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem stabil dari sejumlah individu yang bekerja sama untuk mecapai tujuan bersama lewat suatu hiearki jabatan dan pembagian tugas. Inovasi dilakukan secara opsional, kolektif atau didasarkan pada otoritas atau inovasi sebelumnya . Sampai tahun 1970-an, inovasi dalam organisasi diteliti dengan riset variansi, yaitu diteliti korelasinya dengan sejumlah variabel bebas. Variabel bebas dan sifat korelasinya dengan keinovatifan (+ atau -) tersebut adalah (a) karakteristik pemimpin: sikap pemimpin terhadap perubahan (+), dst.; (b) karakteristik internal struktur organisasi: sentralisasi (-), kompleksitas (+), formalitas (-), kesalingterkaitan (+), ketersediaan cadangan (+), dst. dan (c ) karakteristik eksternal organisasi: keterbukaan sistem (+), dst. Riset variansi sekarang diganti dengan riset proses inovasi yang mempunyai dua momen, yaitu inisiasi dan implementasi. Dalam inisiasi terdapat tahap agenda setting (perumusan masalah) dan matching (penyelarasan masalah dan solusi), sementara dalam implementasi ada tahap redefinisi/restruktrurisasi masalah, klarifikasi dan rutinisasi (hasil) inovasi. Akhirnya, bab 11 mendefinisikan konsekuensi inovasi sebagai perubahan yang terjadi pada individu atau sistem sosial sebagai akibat dari adopsi suatu inovasi. Konsekuensi inovasi jarang diteliti karena (a) agensi perubahan memberi perhatian terlalu banyak pada adopsi dan mengasumsikan konsekuensi adopsi pasti positif, (b) metode riset survei mungkin tidak cocok untuk meneliti konsekuensi inovasi dan (c) sulitnya mengukur konsekuensi inovasi. Konsekuensi inovasi dapat dibagi menjadi (a) diinginkan vs. tidak diinginkan, (b) langsung vs. tidak langsung dan (c) diantisipasi vs. tidak diantisipasi; sementara itu, dari contoh penggunaan kappa besi di suku Aborijinal, diketahui tiga unsur intrinsik dari inovasi: (a) bentuk: penampakan fisik dan substansi inovasi; (b) fungsi: kontribusi inovasi pada cara

(b) kesetimbangan dinamis (perubahan yang disebabkan inovasi setara dengan kemampuan sistem sosial untuk menanganinya). penggunaan multi-media yang didasarkan kondisi sosial budaya orang miskin.Universitas Pendidikan Indonesia. penyampaian dalam kelompok kecil di mana orang miskin biasanya berkumpul. (1983).2004. aide dari kalangan orang miskin digunakan untuk menghubungi kelompok homofilinya dan kelompok formal di kalangan orang miskin diperkuat dan/atau dibina serta ( c) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai sumber daya lebih dibanding orang miskin: pemilihan inovasi yang cocok untuk orang miskin. 3rd.hidup adopter dan (c) makna: persepsi subjektif dan sering di bawah sadar dari adopter terhadap inovasi. (b) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak pada hasil evaluasi inovasi dibanding orang miskin: pemimpin opini orang miskin harus ditemukan (meski pun relatif lebih sulit dibanding dengan menemukan pemimpin opini orang kaya) dan hubungan agen perubahan dikonsentrasikan pada mereka. Makna Baru Perubahan Pendidikan (The New Meaning of Education Change) Posted on 8 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT . Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report.. penggunaan bahasa yang dimengerti orang miskin. Akhirnya. Diambil dari: Dodi Sukmayadi. Hal lain yang berkaitan dengan konsekuensi inovasi adalah tingkat perubahan dalam sistem yang mungkin mengalami (a) kesetimbangan stabil (inovasi tidak menyebabkan perubahan dalam struktur dan/atau fungsi sistem sosial). Rogers. Dengan demikian.Y). hal lainnya lagi yang harus dikaji dalam konsekuensi inovasi adalah cara mengatasi kenyataan bahwa inovasi sering memperlebar kesenjangan sosio-ekonomik masyarakat. tujuan dari inovasi adalah untuk mencapai kesetimbangan dinamis. The Free Press. membangun organisasi (misalnya koperasi) di kalangan orang miskin. N. dan pengubahan fokus dari sasaran inovasi tradisional (yaitu pada kelompok yang paling berpotensi untuk berubah) ke kelompok yang paling tidak berpotensi untuk berubah. Everet M. atau (c) disequilibrium (perubahan yang disebabkan inovasi terlalu cepat untuk dapat ditangani sistem sosial). Beberapa cara tersebut adalah (a) menangani kecenderungan orang kaya mempunyai akses lebih banyak dibanding orang miskin: pesan disampaikan lewat (a1) cara masal seperti lewat radio atau televisi. memberi kesempatan orang miskin berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan inovasi. pengembangan programdan/atau agensi yang diperuntukkan khusus orang miskin dan pergeseran dari difusi inovasi yang datang dari riset dan pengembangan (R & D) formal ke penyebaran informasi tentang gagasan yang didasarkan pada pengalaman lewat sistem difusi desentralistik: sering untuk ikatan intelektual dari kebijakan konvensional adalah eksperimen di lapangan. Diffusion of Innovations. Bandung Program Pasca Sarjana.

Atau.Judul Buku: The New Meaning of Education Change Penulis: Fullan. Melaksanakan dan Menangani Perubahan. (7) Guru. Tipologi perubahan pendidikan disajikan dalam gambar berikut. Suzanne Tahun : 1991 edisi kedua Penerbit: Teacher College Press. (b) pengaruh faktor luar dan (c) kontradiksi internal. 1978). dan Stiegelbauer. dicatat opportunisme dalam perubahan pendidikan µsebagai ´ara murah´ untuk menyelesaikan tekanan birokratis atau politis«agar distrik nampak up-to-date dan progresif di mata masyarakat atau untuk ³melakukan sesuatu´ untuk suatu kelompok tertentu¶ (Berman dan McLaughlin. Inovasi gagal menyentuh hal pokok yang dituju perubahan pendidik-an: µBuat apa pendidikan sebenarnya? Manusia dan masyarakat seperti apa yang diinginkan? Metode dan organisasi kelas serta bahan ajar apa yang diperlukan? Pengetahuan mana yang paling berharga? (Silberman. Apakah diimplemetasikan? Ya Apakah perubahan sangat menguntungkan dan secara teknis sangat baik? Ya Tidak I Tidak II III IV Dikatakan bahwa perubahan pendidikan pada tahun 1960-an dan reformasi berbasis kompetensi 1980an yang mencoba µto legislate learning¶ adalah tipe IV. Michael G. inovasi masih dilihat sebagai alat sekelompok orang untuk mengontrol kehidupan orang lain dan anak-anaknya menurut konsepsinya sendiri (Whiteside. (5) Sebab/Proses Implementasi dan Kontinuasi. (6) Merencanakan. Selanjutnya. (8) Kepala Sekolah. tanpa mengubah secara . Bab 1 membahas tujuan dan sistematika buku.Y Buku ini membahas tentang makna (baru) perubahan pendidikan dalam tiga bagian dan enam belas bab. (14) Persiapan peofesional Guru. (2) Sumber-Sumber Perubahan Pendidikan. (9) Siswa. (13) Pemerintah. (II) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Lokal dan (III) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Regional dan Nasional. N. yaitu: perubahan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas aktivitas yang dilakukan sekarang tanpa µmengubah fitur organisasional dasar. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan. 1978). Berikut adalah substansi tiap bab dimaksud. (10) Administratur Distrik. Bab 2 menyajikan tiga sumber perubahan pendidikan yaitu: (a) bencana alam. (4) Sebab dan Proses Inisiasi. (3) Makna Perubahan Pendidikan. (12) Orang Tua dan Komunitas. 1970). Judul ketiga bagian tersebut adalah (I) Memahami Perubahan Pendidikan. (11) Konsultan. Adapun judul-judul keenambelas bab tersebut adalah: (1) Tujuan dan Sistematika Buku. Perubahan pendidikan menyentuh hanya perubahan tingkat pertama.

Crandall et. starting small and thinking big. mereka pada dasarnya memperlakukan orang lain seperti boneka yang dapat diatur sesuai kehendaknya (Marris. subjektif dan objektif serta implikasinya. kompleksitas dan kualitas/praktikalitas. Dalam makna subjektif ditemukan. (b) implementasi (biasanya 2-3 tahun pertama sejak adopsi). Bab 5 menyajikan tiga kategori faktor dalam proses implementasi (1) karakteristik proyek inovasi atau perubahan: kebutuhan. (c) advokasi dari atas(an). Tentang implikasi perubahan pendidikan dikatakan ada enam aspek yang dapat diamati (a) the soundness dari perubahan yang diusulkan. tapi supnya tetap sama¶ (ibid. tekanan kelas bagi guru µtekanan segera dan kongkrit. negara bagian atau federal.Tema-tema dalam proses implementasi adalah (a) membangun visi. (c) pengambilan inisiatif dan pemberdayaan. Bab 3 membahas makna perubahan secara umum. (g) sumber dana: lokal. (b) Readiness: tergantung pada kapasitas dan kebutuhan dan (c) Resources/ketersediaan dukungan. [1] (d) pengembangan staf dan asistensi sumber daya. (b) tekanan dan dukungan. (b) perencanaan evolusioner. al. 1983. (d) advokasi guru. Model perubahan mempunyai empat komponen (a) inisiasi. Selanjutnya.000 pertemuan per tahunnya.substantif cara siswa dan pendidikan menjalankan peran mereka¶ (Cuban 1988). (e) agen perubah eksternal. ada empat tilikan tidak predictable yang ternyata penting dalam proses implementasi: (a) inisiasi dan partisipasi aktif. 1975). 1974). sekitar 200. misal. asumsi dan teori yang melandasi suatu program atau kebijakan). (c) kontinuasi. konsiderasi dalam perencanaan untuk adopsi paling baik jika mengkombinasikan 3R: (a) Relevansi: dilihat dari praktikalitas dan kebutuhan. Akhirnya. Reformer telah mengasimilasi perubahan «mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun« Jika mereka mengingkari orang lain kesempatan waktu setara. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inisiasi adalah (a) keberada-an dan kualitas inovasi. Dalam makna objektif dinyatakan tiga komponen program atau kebijakan: (a) materi baru atau revisi. µmelompat¶ dari rencana pribadi ke . inkorporasi. struktur dan peran baru diubah menjadi. (b) akses pada informasi. dan (3) faktor eksternal: pemerintah dan agensi lainnya.tidak tersentuh: menurut peribahasa Cina.). dukungan atau apati masyarakat. (c) petunjuk untuk memahami hakekat dan feasibilitas suatu perubahan. (e) kedalaman perubahan dan (e) pertanyaan tentang penilaian. berorientasi pada kultur kerja kolaboratif. (2) Karakteristik atau peranan lokal: distrik. Dalam Bab 6 disajikan alasan mengapa perencanaan perubahan gagal: asumsi dan cara berpikir keliru tentang perubahan. (d) realitas status-quo. Bab 4 mencatat bahwa tekanan untuk perubahan menurun saat adopsi yang diikuti dengan implementasi (Berman dan mcLaughlin. argumen atau protes dengan perencanaan rasional« seberapa rasionalnya pun « tetap harus memberi waktu untuk impuls penolakan. rutinisasi atau institusionalisasi dan (d) outcome. diantaranya. Dalam makna secara umum ditemukan bahwa µtiap upaya untuk pre-empt konflik. meski hasil segera tidak terlihat (House. µbahan berubah. bias untuk tindakan dan belajar sambil bekerja. (h) orientasi birokratis dan pemecahan masalah. 1979). tekanan multidimensionalitas dan simultanitas. kepala sekolah. adaptasi kondisi selalu berubah atau unpredictability dan tekanan untuk terlibat dengan siswa¶ (Huberman. kejelasan. Perubahan tingkat kedua ±dimana cara fundamental seperti tujuan. 1982). komunitas. Inovasi adalah acts of faith. (c) pe rubahan perilaku dan kepercayaan dan (d) masalah kepemilikan perubahan pendidikan. guru. (e) monitoring/pemecahan masalah > dan (f) restrukturisasi. mobilisasi atau adopsi. (b) pendekatan pembelajaran dan (c) kepercayaan (misal. (f) tekanan. (b) memahami kegagalan perubahan yang direncanakan dengan baik. Mereka harus percaya inovasi akan berhasil dan berguna..

123). 1981). Suatu faktor efektivitas kelas dan sekolah adalah kualitas guru. guru disalahkan. dan (b) menggunakan pendekatan developmental: mulai dari hal yang paling mungkin terus berkembang ke hal-hal lain (Sarason. (Bab 11) Konsultan. Studi pada periode 1910 sampai 1980-an menunjukkan µmeskipun gaya kepemimpinan beda. dari sampel guru di Ontario. (b) lebih peduli pada identitas diri bukan pada kebersamaan dalam suatu komunitas« tidak dilibatkan dalam persoalan yang menyangkut sekolah umumnya (Goodlad. 59% diantaranya diinterupsi. dan (d) perlu keluar dari µtugas¶ tradisional untuk menyatakan kepemimpinannya (Barth. yaitu bagian yang membahas perubahan pendidikan pada tingkat lokal. h. Bab 8 mencatat beberapa hal tentang kepala sekolah sebagai berikut: y y jumlah tugas kepala sekolah lanjutan sebanyak rata-rata 149 tugas per hari. (Bab 9) Siswa. 1988: 84). h. satu dari lima guru memi-kirkan untuk tidak jadi guru lagi dan satu dari lima guru laki-laki SL mempertimbangkan untuk tidak jadi guru lagi. 126). h. Untuk sukses menurut harry Truman dan Pierre Trudeau µwe need more one-armed economist«[when frus-trated by the advice] on the one hand « on the other hand¶. Alasan lain mengapa perencanaan gagal ialah menangani masalah tidak terpecahkan. (Bab 12) Orang Tua dan Komunitas]. Kiat lain ialah (a) µsedikit kekaburan mungkin esensial agar kebijakan dapat diterima«mungkin lebih efektif dalam waktu pen dek untuk berkonsentrasi pada legislasi baru¶. Kanada. 1971) dan fallacy rasionalisme: dunia social ingin diubah dengan argumen rasional. (Bab 10) Administratur Distrik. 1978. bukan profesional (House dan Lapan. Sebagai indikator kualitas. 1990. 84% diantaranya berlangsung antara 1-4 menit. Beberapa kesulitan guru adalah (a) beban kerja multi-dimensi (Sarason. dan 17% berkaitan dengan pengajaran (Martin dan Willower. 122). guru dilupakan. 1984. kekuasaan legal atau organisasional diandalkan sebagai motor perubahan (Sarason.masuk ke dalam bagian II. (1989) menemukan bahwa 71% guru wanita dan 64% guru lakilaki di SD menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. operasi dan relasi distrik (34% vs 39%) dan perbaikan program instruksional (41% vs 27%). Bab 7 membahas kenyataan bahwa perubahan pendidikan tergantung pada yang dilakukan dan dipikirkan guru: persoalannya sesederhana dan sekompleks itu (Sarason.implementasi publik (Lighthall. 1971) dan jika program berhasil. 56% guru wanita dan 37% guru laki-laki di SL menyatakan guru sebagai pilihan pertama untuk berkarir. 1971). peran manajerial. Dalam tiga dari empat kelompok guru tersebut. mendominasi kepala sekolah (Cuban. h 141). karena beda nilai yang dianut dan kesempurnaan teknis serta tidak memperhitungkan faktor yang berpengaruh. (Bab Kepala Sekolah. (c) transfer informasi sesama guru cenderung personal. bukan kepemimpinan pembelajaran. Rees dkk. . Smith dan Andrews (1989) mendukung temuan Louis dan Miles (1990): tidak ada dikotomi waktu untuk manajerial. Niat baik dan gagasan baik adalah perlu tapi tidak cukup untuk tindakan yang konsisten (Sarason. Model sekolah yang µideal¶ adalah sebagai berikut. 1990). sementara itu. 1973). 1982. Bab 7 sampai dengan Bab 12 -[(bab 7) Guru. tapi jika gagal.

1989. peserta didik cenderung mengalami resistensi. Komitmen guru dan siswa juga dapat dipe -roleh dari inovasi baru-baru ini tentang pembelajaran kooperatif yang pada prakteknya adalah mengurangi metode ceramah sebanyak 20% (dari 48% menjadi 28% dari total waktu pembelajaran). (b) sumber daya pembelajaran. Mertz. Studi pada 2500 guru dan 1200 kepala sekolah. 1986). 1984). masing-masing 19%. 23% dan 36.18% dan 11% (Ontario. diikuti oleh kepala sekolah gaya manajerial dan kepala sekolah gaya perespon (Hall & Hord. mereka jarang berpikir tentang bagaimana melibatkan mereka dalam kehidupan organisasi (termasuk organisasi sekolah). µselama ini mereka memperlakukan kita seperti bayi. kontak riil pertama seorang individu dengan suatu lembaga formal bersifat sangat anti-demokratis¶.000 siswa dan masa kerja rata-rata 3 tahun (di Amerika) dan 6-7 tahun di Kanada. Schneider. konsultasi dan penguatan (24%). Dari sampel sebesar 3593 siswa.y y y y Studi Interaksi Kepala Sekolah-Guru (PTI) menunjukkan selama periode 3 tahun ada 1855 intervensi pada kepala sekolah yang berkenaan dengan masalah organisasi (36%). 33% dan 25% berpikir gurunya tidak memahami mereka. 47 % (studi 44 sekolah besar tahun 1972. 1988). Porporsi kepala sekolah wanita di SD maupun di SL cenderung rendah: 20-50% dan 5-20% (Marshall dkk. monitoring dan evaluasi (22%). 5. Ketika orang memikirkan perubahan pendidikan mereka memikirkan dampak perubahan tersebut pada peserta didik dari sudut pandang keterampilan. rata-rata dan lemah masing-masing sebanyak 90%. Marshall dkk. sekolah dengan gaya inisiator paling sukses. Kepala sekolah sebagai fasilitator perubahan berkorelasi 0. SMP dan SMA masing-masing 41%. sikap dan pekerjaannya di masa yang akan datang.76 dengan kesuksesan seluruhnya. 1990). Bab 9 diawali dengan pertanyaan Bowles dan Gintis (1976). Kalau pun program semacam itu ada. 1989). (c) komunikator dan (d) µhanya untuk penampilan¶. 26% dan 50% menyatakan kelas membosankan . Bab 10 menyajikan karakteristik superintenden yang jumlahnya sekitar 95% laki-laki dan yang menangani sistem sekolah yang siswanya bervariasi dari 100 sampai 200. Kurang dari 10% kepala sekolah yang termasuk ke dalam µpemecahmasalah sistematik¶ (level tertinggi dari empat level efektivitas) (Leithwood dan Montgomery.dkk. (b) keterkaitan dengan lingkungan sekitarnya. menunjukkan kepala sekolah terlibat dalam empat interaksi strategis dengan guru: (a) penyedia sumber daya. 16% dan 13% menyatakan mereka ditanya bagaimana atau materi yang harus diajarkan dan masing-masing 29%. Review Goldhammer (1977) dari 1954 sampai 1974 menunjukkan pergeseran peran superintenden dari juru bicara dan manajer eksekutif sistem sekolah homogen ke situasi di mana negosiasi dan manajemen konflik berbagai kelompok kepentingan. Firestone dan Rosenblum (1988) merinci lima faktor yang mempengaruhi komitmen guru dan siswa: (a) kebermaknaan program. sekarang mereka mencoba memperlakukan kita seperti seorang dewasa¶. 42. 14. Studi Duignan (1979) pada delapan superintenden di Alberta menemukan bahwa µtiap hari superin-tenden terlibat dalam rata-rata 26 diskusi yang . 1989. 1986-87. (d) ekspektasi guru dan siswa dan (e) rasa hormat dan perhatian guru dan siswa. Rating positif dari guru terhadap pemimpin kuat. (c) kejelasan aturan dan peran guru dan siswa. 1988). pelatihan dan infor-masi (7%) dan lain-lain (11%). µ mengapa dalam suatu masyarakat demokratis. siswa SD.. 25% dan 8% (statistik nasional.. 52% dan 33% (Smith dan Andrews.. 1987). Studi pada 137 kepala dan wakil kepala sekolah menunjukkan selama 5 tahun terakhir tuntutan tugas makin tinggi sementara keyakinan akan efektivitasnya makin menurun (Educon.1982 dan 1986). Schneider. 19% dan 4% (Wisconsin. 1989).

asisten. (b) akuntabiltas. resistansi dan kegagalan. terbatas dalamwaktu isolasi distrik-sekolah pendek. direktur proyek. dst. Studi Ross dan Reagan (1990) tentang dua be-las konsultan kurikulum distrikdi dua sekolah menyimpulkan bahwa µ perencanaan sistem. dibanding kepala sekolah yang berinterkasi dengan cepat. sederhana dan to the point. yang boleh jadi adalah konsultan distrik. Studi Fullan dkk.merupakan 70% waktu kerjanya. interferensi. dst. Sering mengacu pada aturan. agen penghubung. perubahan komprehensif Tinggi Rendah Bab 11 merangkum ke dalam istilah konsultan sejumlah pekerjaan/peran sebagai berikut: ahli materi. 70% dari diskusi tersebut dilakukan dengan trusti sekolah. Namun. Bab 12 diawali dengan pernyataan implisit bahwa sekolah itu sebenarnya milik orang tua siswa dan komunitasnya (cf. Miles dkk. (d) perhatian pada stakeholder. Louis (1989) menyusun diagram karaktersitik hubungan distrik dan sekolah sebagai berikut: Hubungan Distrik-Sekolah Fokus pada interaksi dan komunikasi. 1981).. Survey Becker (1981) terhadap 3700 guru SD dan 600 kepala sekolah menunjukkan se-dikitnya keterlibatan orang . keahlian kependidikan. secara esensil «lewat konsensus pada tidak mengupayakan semua level. serta inisiatif dan energi. guru. (c) perubahan. (1987) tentang 200 pejabat supervisi di 26 distrik sekolah (se-perempat jumlah di seluruh provinsi) menemukan mereka menekankan sistem (bukan sekolah). Evaluasi SDC (System De-velopment Corporation) atas 869 sekolah di 369 distrik menetapkan 34 sekolah dengan orang tua siswa asisten bayaran dan 17 sekolah dengan orang tua sebagai tutor dirumah. jika guru dan ad-ministatur pendidikan yang terlibat masalah pendidikan 40-60 jam per minggunya sulit memahami perubahan pendidikan. Hall dan Hord (1984) menemukan bahwa CF (change facilitator. pengalaman kepelatihan. 188) menyarankan seleksi konsultan didasarkan pada latar belakang pendidikan (broad based). mudah menjalin hubungan interpersonal. (b) tutor/ pembimbing di rumah. makin orang tua siswa terlibat makin baik pencapaian belajar siswa (cf. (1988. networking dengan tim konsultan dan mengkoordinasikan dukungan atasan adalah kunci konsultan berpengalaman¶. (c) komunikator dan (d) dewan penasihat. guru hli dan adang-kadang wakil kepala sekolah) terlibat dalam interaksi lebih kompleks. Mortimore dkk. program. pejabat pusat dan administratur sekolah. kurang dari 7% dengan guru dan kurang dari 1% dengan siswa. (e) komitmen bersama dan (f) dukungan komunitas. kependidikan dan organisasi sebelumnya. pengembangan organisasi. Berhasil untuk tujuan tapi sanksi jarang diterapkan. Menurut Epstein dan Dauber (1988) peran yang mungkin diperankan orang tua siswa adalah (a) sukarelawan. serta berpikir reflektif (bukan parsial) dan generalis (bukan spesialis). padahal secara umum. Studi LaRoque dan Coleman (1989a: 169) menyusun hipotesis etos distrik positif yang ditandai dengan enam fokus (a) pembelajaran. 1988). pengaruh dan koordinasi bersama dan beberapa kesamaan tujuan Fokus pada aturan dan regulasi Tinggi Rendah Konflik. Gold dan Miles. maka orang tua dan komunitas lebih sulit lagi memahaminya. kurikulum. Atas studi pada lima sekolah (dua diantaranya dikategorikan berhasil). Federasi longgar. agen perubahan. informal dan Manajemen bersama laissez-faire.

Bab 13 membahas (a) peran pemerintah federal Amerika dalam dunia pendidikan yang makin menurun. Basic Skills. (b) diskusi sifatnya informasi. Title IV. Bureau of Education Handicapped dan Vocational Education dan (b) Riset. Bab 13 sampai dengan bab 16 -(13) Pemerintah. Emergency School Aid Act.waktu dan tenaga besar. Development dan Diseminiasi (RDD) dilembagakan pada periode 1972-1985 dengan pendirian the National Institute of Education (NIE). Sebagai contoh British Columbia merencanakan Year 2000: A Curriculum and Assessment Framework for the Future yang mengatur ulang sistem pendidikan dengan 3 prinsip pembelajar dan peserta didik.9%. di Kanada keberadaan federal dalam dunia pendidikan diakui µsepanjang tidak ada seorang pun menamakannya kebijakan pendidikan dan sepanjang tidak ada tun-tutan eksplisit sebagai imbalan atas uang dari Ottawa tersebut¶. Tahun 1985. 1978: 613) tentang 34 distrik di San Fransisco menunjukkan 62% keputusan kurikulum tidak melibatkan komunitas. Survey Kanada tahun 1979 pada 2000 orang tua siswa menunjukkan 63. NIE direorga-nisasi menjadi OERI (the Office of Educational Research and Improvement). dkk. pedoman untuk pemerintah dalam melaksanakan perubahan pendidikan adalah (a) agar memperbaiki kapasitas age nsi untuk meng-implementasikan perubahan. Pengembangan guru adalah belajar berkelanjutan dan tidak terpisahkan dari perkembangan sekolah dan dengan demikian lebih baik dari sekedar inovasi-inovasi yang berkesan tidak berkelanjut-an selain sama-sama memerlukan biaya. yaitu bagian yang membahas tentang perubahan pendidikan pada tingkat regional dan nasional.2% dan 78%. multi-faceted. Keterlibatan pemerintah federal di Amerika ada dua jalur (a) Beberapa program yang disponsori pemerintah fe-deral sejak 1965: Title I. Menurut Hollingsworth (1989) setidaknya ada tiga basis pengetahuan yang diperlukan agar guru efektif (a) materi ±isi dan cara pembelajarannya. (c) fleksibel dalam implementasi. (d) staf diberi kesempatan mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya selain memfasilitasi implementasi. pemerintah (bukan hanya menteri pendidikan) melaksanakan reformasi komprehensif dan fundamen-tal. jangka pendek-menengah dan panjang secara persisten (serta tidak meminta perubahan segera dan total dalam waktu singkat).tua siswa. saling terkait. (b) manajemen umum dan pedagogi instruksional dan (c) ekologi kelas ± . (1978-79) tentang content analysis notulen komite dari sepuluh SD dan lima SL menunjukkan (a) isu pedagogi jarang dibicarakan. Studi Schaffarzick (Boyd.6% dan 17. Sementara itu. Dalam bab 14 dicatat bahwa µmembantu orang lain berubah tanpa kita menyadari-nya sendiri sama halnya dengan penyajian produk atau pelayanan yang tidak atau sedikit signifikansinya untuk pertumbuhan intelektual kita¶ (Sarason.4% diantaranya tidak bersedia menjadi anggota komite penaihat rumah-sekolah. Akhirnya. praktek dan organisasi pembelajaran serta pola dan pengalaman belajar peserta didik dan (f) menerapkan strategi komprehensif. ekspektasi dan kebutuhannya. Title VII. sementara guru/admi-nistrator sebagai inisiator masing-masing adalah 67. rekomendasi hanya 4%-nya dan (c) orang tua sebagai inisiator topik diskusi di SD dan SL masing-masing adalah 27. Di Kanada. (b) menjelaskan dan bekerja sama dengan agensi lokal tentang makna. Terdapat 1400-an lembaga pendidikan guru di Amerika dan 50-an fakultas pendidikan di Kanada yang didalam-nya ditemukan banyak mata kuliah yang tujuannya µkompleks dan tidak jelas¶. 5 prinsip asesmen dan evaluasi serta 3 prinsip pelaporan. (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan ± masuk ke dalam bagian III. tapi tetap masih signifikan misalnya lewat µsemboyan¶ A Nation at Risk dan (b) ±seperti ditekankan Elmore dan McLaughlin (1988). ketidak-puasan pada sistem pendidikan dan lambatnya perubahan pendidikan. Follow Through. 12 prinsip kurikulum. (e) menekankan pada perubahan mendasar profesi guru.ketidak-selarasan waktu perumusan kebijakan yang tergantung pada µelectoral time¶ dan implementasi kebijakan yang tergantung pada µadministrative or practice time¶. 1972). Studi Lucas. (14) Persiapan Profesional Guru.

sejak dua dekade lalu digulirkan program induksi. Akhirnya. dkk. yaitu suatu program seksama untuk mendukung guru baru. Induksi pada giliran-nya memunculkan kesempatan pengembangan profesionalisme baru. Namun. bagaimana mendiagnosa dan mengevaluasi proses dan outcome belajar. dan (a2) mulai dari lingkungan terdekat. Akhirnya setelah pengembangan profesionalisme administatur dan konsultan disinggung. dst. alternatif pengembangan profesionalisme lainnya adalah sertifikasi alternatif. kecuali dengan alasan µkarena kita sedang mengerjakan y. Pengembangan profesional guru tergantung pada motivasi dan kesempatan (dalam arti ketersediaan program dan pengorganisasian secara struktural dan normatif yang memungkinkan berlang-sungnya pengembangan profesional). z. berkoordinasi dan terintegrasi pengembangannya dan (c) semua pengembangan profesional arus memenuhi dua syarat (c1) mengarah ke atribut pengembangan profesional yang berhasil pada sebanyak-banyak aktivitas yang dapat dilaksanakan dan (c2) tujuan akhir pengembangan profesional tidak semata pada mengimplementasikan inovasi tapi untuk menciptakan kebiasaan dan struktur individual dan organisasional yang membuat belajar berkelanjutan bagian berharga dan endemic dari kultur sekolah dan pembelajaran. indoktrinasi dari atas. sumber daya. isi dan materi baku.lebih disibukkan oleh (a) pendidikan yang sifatnya individualistik padahal kenyataan di lapangan memerlukan bukan hanya pendidikan yang invidualistik dan (b) oleh µstruktur hari sekolah. yaitu bab 16 disajikan enam karakteristik perubahan pendidikan di masa depan diantaranya sebagai koreksi/alternatif atas model rasional di mana pihak otoritas perubahan meningkatkan advokasi. Akhirnya. serta tekanan pada ketertiban. 1979-80). berhadapan dengan pihak penerima perubahan dengan pintu lebih tertutup lagi. calon guru yang umumnya menganggap transisi menjadi guru pengalaman besar ±atau bahkan traumatik. Diantaranya untuk memberi bekal lebih dan menangani tingkat alih profesi guru ke pekerjaan lain (30% dalam dua tahun pertama. dst. dst. program induksi dan mentoring menghadapi kendala biaya yang mahal. Keenam karakteristik tersebut adalah: y y pergeseran dari politik negatif berupa resistensi dari bawah.pengetahuan tentang bagaimana peserta didik belajar. disajikan empat contoh kasus pengembangan profesional yang berhasil. Pertama disajikan beberapa alasan mengapa pengembangan profesional guru tidak berhasil.. menjadi politik positif: (a1) fokus pada prioritas: µkita tidak dapat melaksanakan x¶ tidak dapat diterima lagi. legislasi. negosiasi dan kolaborasi. pergeseran dari solusi monolitik/seragam ke solusi-solusi alternatif/ variatif yang bercirikan (b1) sekolah sebagai pusat pembaharuan berkelanjutan.yaitu sertifikasi yang diberikan oleh praktisi dan mempunyai kecenderungan standarnya dise-suaikan dengan kebutuhan employer (pihak yang memperkerjakan guru). kontrol dan kesibukan peserta didik« [bahwa] tidak ada justifikasi pada tilikan ³pengalaman praktis itu perlu´ «[maka harap diingat bahwa kata Dewey] keliru mengasumsikan tiap pengalaman mempunyai nilai instrinsik selain mampu untuk membangkitkan kualitas respon tertentu dari seseorang¶ (Tabachnick. fakultas pendidikan kehilangan baik respektabilitas universitas mau pun efektivitas di lapangan. (b3) membangun . keluar dari dunia pendidikan. dst. kurikulum. disajikan saran pengembangan profesional: (a) fakultas pendidikan dan sekolah sebaiknya menggunakan tiga strategi saling terkait ±penggantian staf. Kenyataannya. Sebagian besar pembahasan pada bab 15 masih tentang guru. pada bab terakhir. yaitu mentoring. (b2) perubahan yang dilaksanakan dengan proses komunikasi. inovasi program dan produksi pengetahuan. 4050% dalam tujuh tahun pertama dibanding dengan 6% secara keseluruhan).¶. resistensi kolektif. isolasionisme. Akibatnya. (b) semua staf di lembaga dan pada level mana saja harus belajar. Selanjutnya. akuntabilitas.

sementara pengembangan kelembagaan berfokus pada peningkatan kinerja dan kapasitas kerja lembaga. =========================== Diambil dari: Dodi Sukmayadi.). 2nd.2004. (2) visibilitas pengukuran. (5) mengukur hal penting dan (6) pencapaian rasa urgensi dan perbaikan terus-menerus yang menyeluruh. pikiran terbuka. mengharapkan hasil vs. inisiatif vs.y y y y kapasitas sekolah untuk mampu terus berubah dan (b4) mengurangi atau bahkan meniadakan ketergantungan pada solusi yang ditawarkan pihak lain.Universitas Pendidikan Indonesia Image Perubahan Pendidikan (The Images of Educational Change) Posted on8 November 2008byAKHMAD SUDRAJAT . pergeseran dari inovasi ke pengembangan kelembagaan. thing big. top-down vs. peningkatan apresiasi pada dilemma-dilema pembaharuan: visi jelas vs. pergeseran dari pengembangan profesional individual ke pengembangan profesional interaktif/ aliansi di mana ditekankan akses dan perhatian pada gagasan dan praktek rekan kerja/ lembaga lain. [1] Peters (1987) menyatakan bahwa organisasi berhasil µmengukur hal yang penting¶ karena dilakukan dengan cara (1) kesederhanaan presentasi. Bandung Program Pasca Sarjana. The New Meaning of Education Change.Y. Sementara itu. merasa puas. Suzanne (1991). pemberdayaan. start small vs. jika gagal µif«only «¶ ke µif I «¶ dan/atau µIf we «¶. pola umum vs. (4) pengumpulan data primer yang tidak distortif. (3) keterlibatan semua orang. suatu inovasi sering ditujukan untuk menyelesaikan suatu masalah (µmemadamkan kebakaran¶) atau sekedar fashion saja. tekanan vs. dukungan. Michael G. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report. mengalami ketidak -pastian vs. sistem paling baik untuk memastikan pilihan terbaik adalah (a) visi jelas. sabar dan persisten. N. bottom up. pergeseran dari model rasional µif«then«¶ atau. (b) saling cerita bagaimana orang lain pada berbagai level bereaksi pada situasi baru yang konsisten dengan visi dan penghargaan untuk pekerjaan yang baik. dan Stiegelbauer. Fullan. Teacher College Press.keunikan.

. Keempat hal tersebut adalah (a) ekonomi mempengaruhi besar anggaran pendidikan dan menimbulkan konsekuensi sosial. Setelah dibuka dengan Pengantar oleh Herbert Altrichter. kecuali bagian keempat yang berisi empat tulisan. (8) Beberapa Unsur Teori Mikro-Politik Perkembangan Sekolah. Barry MacDonald. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker. Masing-masing bagian terdiri atas tiga tulisan. penyajian tulisan dibagi menjadi empat bagian dan diakhiri dengan overview yang berjudul Menuju Visi Sinoptik Perubahan Pendidikan di Negera Maju ditulis oleh John Elliot. kebijakan pendidikan dirumuskan dari sudut pandang kebutuhan sekolah menciptakan dan merespon µpasar¶. Myron Atkin. (c) pendidikan yang lebih baik menuntun pada kemampuan teknologi dan pekerjaan yang lebih baik dan (d) pemikiran ekonomi melanda dunia pendidikan. lembaga agama.(6) Perubahan Sosial. Judul-judul keempat bagian tersebut adalah (I) Perubahan Pendidikan dan Penyusunan Kebijakan. (II) Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Pendidikan. Kebijakan µpemasaran¶ secara agresif makin meminta peran penting.(3) Mengembangkan Keadaan Muram: Perkembangan Personal dan Sosial Siswa dan Proses Sekolah.Buku Altrichter. Rusaknya peran lembaga-lembaga tradisional tersebut juga merusak basis dukungan . Semua ada harganya. Peter Posch. (10) Pendidikan Reflektif dan Kultur Sekolah: Sosialisasi Calon Guru.(5) Individu dan Perubahan Sosial: Perubahan Pola Komunitas dan Tantangan Sekolah. Tanah. 1993). Gagasan muncul dari elit di ibu kota yang didanai oleh sumber sumber non pendidikan (Ricci. Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber. J. seperti ketidakmerataan µkue ekonomi¶ yang memberi sekolah masalah. Lawrence Ingvarson. Open University Press. (2) Bagaimana Pendidikan Tidak Ditangani Lembaga Mana pun. Buckingham merupakan kumpulan tulisan. The Images of Educational Change. House. John (2000). Berikut adalah substansi tiap tulisan dimaksud. Marie Brennan dan Susan Noffke. Pasar merusak peran lembaga tradisional ±keluarga. Levin. (b) tujuan kebijakan pendidikan tertentu menuntut sekolah lebih efisien dan lebih produktif. komunitas. Christine Finnan dan Henry M. (7) Perubahan Kultur Sekolah. (III) Konseptualisasi Proses Perubahan Sekolah dan (IV) Menyiapkan Guru untuk Terlibat dalam Perubahan Pendidikan. dan (13) Kontrol Guru dan Reformasi Pengembangan Profesionalitas. House dalam bab 1 mengidentifikasi empat aspek ekonomi yang mempengaruhi kebijakan pendidikan. 1991). Ed. Ernest R. µnilai itu dilihat dari harganya¶ (Gilpin. John Schostak. Adapun judul-judul dan penulis dari ketiga belas tulisan tersebut adalah: (1) Perubahan Ekonomi. Penyusunan Kebijakan Pendidikan dan Peranan Negara. (11) Studi Kasus dan Catatan Kasus: Suatu Percakapan tantang Proyek Hathaway. tenaga kerja dan semua faktor produksi menjadi komoditas untuk diperjual-belikan dan tergantung pada pasar. Christine O¶Hanlon. Herbert dan Elliott.(4) Komunitas. misalnya. 1987). Angel Perez Gomez. Perubahan Sekolah dan Networking Strategis. Bridget Somekh. Bahan Ajar dan Guru. (9) Perubahan Konsepsi Kaji Tindak. Semua periset nampak seperti µtentara sewaan¶ dan semua think tanks nampak menggunakan semua sumber daya institusionalnya untuk mengajukan pandangannya (Smith. (12) Ahli Masa Depan?.

kondisi konservatif serupa juga terjadi di Amerika. Akhir tahun 1980-an. sementara itu dalam kurikulum sekolah menengah masalah personal. dan atas persetujuan orang tua murid dapat melepaskan diri pengaruh pemerintah lokal. pemerintah jatuh-bangun dilihat dari kemampuannya meningkatkan kesejahteraan warga negaranya dan dengan demikian pemerintah makin tergantung pada pebisnis. kurikulum adalah suatu proses yang memunculkan subjektivitas kultural. dari banyak data empiris. sehingga dalam masyarakat timbul polarisasi individu/kelompok dominan (D) dan individu/kelompok yang didominasi atau disebut Orang lain (O). MacDonald dalam bab 2 menyatakan bahwa pendidikan masal yang umurnya sekitar seabad nampak tidak berperan mengubah gap kaya-miskin di Inggris yang sekarang ditandai dengan peran demokrasi sebagai alat mempertahankan kekuasaan. antisipasiyang mungkin dari D . Semua hal tersebut disiapkan untuk menaikkan usia anak meninggalkan sekolah (sampai usia 16 tahun pada tahun 1972). hanya µsentralisasi¶ berada pada level negara bagian. penolakan siswa recalcitrant dan teralienasi. Benang merah yang mendasari kondisi konservatif adalah ekonomi. kebijakan sering tidak dirumuskan sesuai dengan bagaimana lembaga pendidikan berfungsi dalam prakteknya. Akibatnya diperlukan kurikulum dan pedagogi (terutama sekolah menengah) yang lebih relevan dengan kehidupan dan pada gilirannya sekolah perlu melakukan interpretasi lebih liberal tentang subject matter. Khusus dalam bidang pendidikan. Akhir tahun 90-an. Dalam rangka mencari kepercayaan atau kepatuhan total. (f) solusi penolakan tersembunyi/ gerakan bawah tanah dan (g) solusi penolakan terbuka/ gerilya /perang terbuka. kelemahan diatasi dengan pensiun awal. sekolah diberi kebebasan mengelola keuangan sendiri. yaitu sulitnya merekrut guru. Dalam keadaan tersebut.makin terpisah dari filosofi moral. yang melahirkan prinsip µeverything counts and nothing matters¶. Solusi-solusi manajerial untuk mencapai target nasional dan berkurangnya peran pemerintah lokal menyebabkan terlihatnya kelemahan kurikulum nasional. Tahun 1987-88. yaitu tidak menghasilan pendidikan atau produktivitas lebih baik. (b) solusi hermeneutik: berusaha memahami D. integrasi tematik disiplin ilmu di sekitar isu kemanusiaan.selalu menuntun pada resistensi. kurikulum adalah manifestasi dari bagaimana pengalaman subjektif orangorang lain dikemas dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. makin seperti µtata bahasa tanpa bahasa¶. 1993). Pada saat sama. (d) solusi menyerah/ kepatuhan total atau sebagian. µisu politik sentral dalam kapitalisme« [adalah] hubungan antar bisnis dan pemerintah atau dari perspektif lebih jauh. kebijakan pemerintah sering counter-produktif. yang menurut Small (1907) ±pengagum Adam Smith. (c) solusi radikal/ revolusioner/ subversif: membuat diskursus alternatif. (e) solusi µhidup tenang¶: kamuflase yang menuntun pada apati bukan pada perubahan sosial yang riil.tradisional dari pemerintah. Kurikulum sekolah dasar dikonsentrasikan secara sempit pada keterampilan dasar dan akuntabilitas penyampaiannya diuji dengan tes. John Schostak dalam bab 3 menyatakan bahwa sejarah tahun 1980-an dan 1990-an merupakan reaksi pada tahun 1960-an dan 1970-an dengan Amerika dan Inggris masuk ke neo-konservatisme yang menuntut µback to basics¶ dan nilai-nilai keluarga serta menolak pendidikan dan politik trendi dan progresif dengan tekanan pada efisiensi sekolah. Beberapa alternatif yang dapat ditempuh O terhadap D adalah (a) solusi fundamentalis atau kultus: percaya penuh D. feminisme dan studi kultural menunjukkan bahwa proses rekayasa individu ±atas dasar efisiensi misalnya. atau dengan kata lain. Meskipun banyak contoh reformasi yang berhasil. Studi psikoanalisis. sehingga timbul masalah baru. belajar yang lebih didasarkan pada inkuiri dan pendekatan child-centered. antara ekonomi dan negara (Heilbroner. sosial dan semua yang kondusif untuk pendidikan kewarganegaraan atau politik dimarjinalisasi. kurikulum nasional diberlakukan dan disupervisi oleh pejabat pusat yangtidak berpengalaman dan/atau tidak kompeten.

fragmentasi dunia kerja: makin banyak tenaga paruh waktu atau µtenaga portfolio¶ (kontrak kerja dalam waktu tertentu). (b) menggunakan kontak dengan guru lain secara sistematis. (c) berbagai jenis dukungan finansial dan (d) keterlibatan guru dalam kegiatan masyarakat setempat. (f) dapat terlibat lebih dari satu networks. pembebasan dari ikatan tradisional juga meningkatkan harapan bebas dari interferensi industrial dan admnistratif. pelaksanaan dan evaluatif dan (e) secara emosional menghayati pekerjaan. di sisi lain. orientasi nilai dan perasaan. kelompok dan orang dalam komunitas lokal yang harus dikonstruksi oleh sekolah dan (c) kurikulum beragam dan bekerja sama dengan lembaga lain sehingga bermacam kebutuhan peserta didik dapat dilayani (Elliot. 1979). Dalam mengevaluasi hubungan D dan O ada tiga jenis evaluasi yang tersedia: (a) evaluasi birokratik: menerima nilai pejabat dan memberinya informasi yang membuatnya mencapai yang dicanangkannya. Pertama. ditambahkan lagi evaluasi partisipatorik (Brown. (d) memakai diskursus salahkan/ puji diri sendiri. konsumsi. 1992) dan (b) pergeseran dari etika kewajiban dan tanggungjawab ke etika pengembangan diri. otokratik dan demokratik). ancama. buta huruf. (b) keseteraan cost-benefit. Eroupean Round Table Industrialist (1994) menyatakan tuntutan bahwa tenaga kerja (a) secara teoritis memahami hubungan kompleks. Marie Brennan dan Susan Noffke dalam bab 5 menyatakan bahwa sekolah di satu sisi dituntut untuk selalu mengikuti perubahan. (c) peniadaan hak individu. µlebih penting dari skor sains dan matematika adalah keterlibatan generasi akan datang dalam mempertahankan d emokrasi dan menolong orang lemah: anak-anak. teror. (d) secara organisasional mampu melaksanakan tugastugas organisasi. 1982). (b) network sosial dengan lembaga. Networks dinamik beda dengan dan mempunyai kelebihan dari struktur hiearkis. Dalam network dinamik (a) terdapat hubungan simetris. individualisasi: (a) Di satu sisi. Kedua. dan (d) sekolah makin dituntut memperjelas makna belajar dan hubungannya dengan kehidupan personal dan di masa depan. Peter Posch dalam bab 4 mengidentifikasi dua megatrend masyarakat.adalah: (a) memakai diskursus kasih saying: D adalah (sepertinya) untuk kepentingan O. (d) masalah dan tujuan ditetapkan bersama. (b) memakai kekuasaan.sehingga dapat mengembangkan diri. 1996). dan (f) pengetahuan tidak diterapkan secara instrumental untuk memecahkan masalah tapi secara holistik dengan melibatkan kognisi. Kondisi yang mendukungnya ialah (a) penekanan pada pelatihan. terbelakang. (c) komunikasi berlanjut. bukan atasan-bawahan. Dua proyek yang diamati tulisan ini adalah (a) SIP (School Improvement Project) 1982-1990 di Victoria Australia dan (b) Proyek Kurikulum Afrika dan Afrika-Amerika (PKAA). Kutipan dari MacDonald (1996) menutup tulisan Schostak. Sekolah juga mempunyai sejarah mereproduksi inekualitas dalam masyarakat (apple. orang tua. SIP menekankan pengembangan berlanjut kapasitas berbagai komunitas yang minat dan . (b) secara teknis berhadapan dengan alat kerja yang dikontrol program. makin tergantung pada pasar kerja dan cara hidup baku yang mendukungnya. Tiga implikasi megatrend tersebut bagi sekolah adalah (a) delegasi keputusan kurikulum pada sekolah. (b) evaluasi otokratik: menyediakan informasi pada lembaga pemerintah yang mengontrol alokasi sumber daya dan (c) evaluasi demokratis: pengaturan informasi sehingga timbul dialog rasional antara D dan O. Networks menjadi perhatian dalam tulisan ini. sementara di sisi lain diharapkan menyediakan institusi relatif stabil yang atas dasar identitas dan komunitas dibentuk. seperti pendidikan. tidak punya rumah dan orang yang lapar¶. Jadi terhadap tiga jenis evaluasi yang dikemukakan macDonald (birokratik. (e) durasi keterlibatan bervariasi. tawaran produk (Beck. orang sakit. SIP mengekplorasi penggantian sistem inspeksi kualitas yang sentralistik dengan program partisipasi lokal dalam evaluasi. (c) secara sosial mampu bekerja sama dalam tim. namun juga sejarah dalam menciptakan komunitas dan sebagai tempat perjuangan lokal.

memahami implikasinya pada masyarakat. jahat dan penuh dosa. dan (c) partisipasi (politis) bukan saja dalam hal diskursus tapi juga dalam hal outcome. Image sains pada abad 19 adalah mengagungkan Tuhan dan perlunya patuh pada orang tua.latarbelakangnya beda untuk terus sharing dan mempertanyakan nilai yang diberlakukan di sekolah. agama. Tulisan ini menambahkan dua hal lagi (a) image bahan ajar. (c) guru sains yang mempersepsi dirinya µserba eksak¶ berhadapan dengan penerapan sains ±misalnya menentukan lokasi pembuangan sampah. fokus awal diperumit dengan diskusi tentang pendidikan µmulti-kultural¶ yang oleh sebagian partisipan dianggap upaya membelokkan fokus awal. etnis. Christine Finnan dan Henry M. Beberapa image kontemporer tentang sains (a) fokus pada sains yang dapat diterapkan dengan segera. pada tahun 1920-1930-an sains adalah untuk mengurangi kerja kasar dan mengurangi penyakit dan selepas perang dunia II sains adalah bidang yang harus diwaspadai aplikasinya. schooling). keterampilan dan perspektif umum guru (yang pada dasarnya adalah tujuan semua perubahan pendidikan). kultural dan personal. orang Eropa-Amerika dalam PKAA) perlu mengkaji identitas personalnya. (c) karakteristik sekolah: sekolah miskin .dst. Dua fitur kultur digunakan tulisan ini ialah (a) kultur berada pada level masyarakat/ kelompok orang (misal Barat. Basil Bernstein (1996) yang mendiskusikan demokrasi dan hak pedagogis menyatakan tiga hal perlu ada agar tercipta sekolah demokratis: (a) pemberian kesempatan pada individu. (b) inklusi sosial. okupasi. Myron Atkin dalam bab 6 mencatat bahwa faktor di luar berpengaruh banyak pada apa yang terjadi di dalam kelas: kondisi kerja. (b) ekspektasi siswa terh adap sekolah: sebagian resisten karena mendapat pengaruh dari masyarakat sekitarnya. PKAA adalah upaya mengatasi kurikulum Amerika yang umumnya berssifat rasis dan mengatasinya dengan cara melengkapinya dengan sejarah dan peradaban Afrika dan Afrika-Amerika. tempat kerja/sekolah. masa k anakkanak. Sekolah diperlakukan sebagai mikro-kosmos dari masyarakat dan sistem sekolah selalu berada dalam posisi mendukung perubahan mendasar dan sistemik. Dari sudut pandang perubahan pendidikan perlu dicatat (a) metodologi kaji tindak yang diimport dari luar pada konteks yang mengakui atau mendukungnya tidak mendukung upaya yang dilakukan. Guru memberikan alasan beda mengapa sains penting: untuk persiapan di dunia kerja. status. sementara sekolah kaya menekankan berpikir kritis. kontras dengan alam urban yang kotor. dst.) dan personal (untuk memahami dan membentuk interaksi antar orang) dan (b) fitur yang nampak kontradiktif dari kultur yaitu di satu sisi konservatif namun di sisi lain selalu berubah. sebagian sukses karena percaya pendidikan jalan ke kesuksesan. dst. ada awal abad 20 sains adalah studi tentang alam yang dipersepsi setara alam rural murni dan indah. J. (b) guru menghadapi siswa yang bervariasi latar belakangnya dibanding dengan 30 tahun lalu. Banyak waktu digunakan untuk merumuskan tujuan umum yang menekankan keberagaman kelompok dan komitmen bersama mengubah sistem pendidikan yang rasis menjadi yang fair dan ekuitabel bagi semua orang (1993). Secara formal upaya dimulai tahun 1987. sosialisasi professional. mempunyai nilai estetik karena mengungkap pola dan keteraturan. intelektual. susunan organisasi. lokal (berdasarkan geografi. (b) perlu upaya menangani konflik dengan komunitas yang sebelumnya memang sedang konflik dan (c) bagi mereka yang terlibat dan identitasnya cukup berlainan (misal. khususnya sains dan implikasinya pada perubahan sosial dan (b) kepercayaan. Tahun 1990-an. otoritas.yang memerlukan pertimbangan berbagai aspek yang tidak µeksak¶. Levin dalam bab 7 mencatat pendapat Mead bahwa kultur itu seperti ikan yang tidak sadar hidupnya berada di air. Lima kepercayaan dan asumsi yang mendasari kultur sekolah adalah (a) Ekspektasi sekolah pada siswa: sekolah miskin menekankan kepatuhan dan disiplin. ada akhir abad 19 sains adalah untuk melatih pemikiran sejalan dengan populernya psikologi faculty..

tapi juga bersumber dalam lebenswelt yang dapat dipahamkan sebagai konsensus historis generasi terdahulu yang kurang lebih dikenal luas serta yang sekarang direproduksi lewat tindakan. (b) pengaruh dari luar organisasi.ditandai rendahnya percaya diri guru. Proyek bertujuan untuk mempercepat proses belajar terutama bagi siswa yang berisiko gagal dengan sekolah mengambil keputusan dalam hal-hal: eksplorasi semua dimensi sekolah. Bridget Somekh dalam bab 9 mengawali tulisannya dengan parabel yang membawa pesan bagaimana seseorang dapat menikmati pendidikan/ pengembangan profesionalisme yang dikatakan bagus tapi kemudian setelah berhasil malah membuatnya menjadi budak orang lain. cheating. organisasi itu sifatnya berorientasi tujuan dengan sistem perencanaan rasional dan dengan struktur objektif. konstruksi tujuan dan visi.) dianggap penghambat dan resisten terhadap perubahan. konspirasi dan akumulasi pengaruh atau lawan dari kebenaran dan penalaran. ekspektasi dan siswa rendah menuntun ke praktek memorisasi dan pengajaran keterampilan dasar.). dst. bilingual. (b) pelaku mengejar kepentingannya masing-masing sesuai nilai yang dianutnya. Bebe rapa masalah teori mikro-politik adalah (a) harus dapat menjelaskan bagaimana organisasi relatif stabil dan bertahan suatu waktu tertentu. pendapat pihak luar (orang tua. pre-emprif atau menutup-nutupi konflik. sekolah kaya sebaliknya. Tahun 1980-1990-an. dst. menuntun ke praktek yang jelas. sembari menekankan prinsip kepemilikan dan profesionalisme guru. Sementara itu.dengan misalnya ucapan yang mengkultuskan individualisme lewat . Konsensus tidak semata diperoleh lewat negosiasi eksplisit. Kaji tindak adalah model perubahan yang tidak demikian. Tahun 1970-an kaji tindak disempurnakan di Impington dan secara luas didukung Education Act tahun 1944. open learning. (d) praktek sekolah: misi yang didasarkan filosofi jelas (Montesori. Schon. sistem pengelolaan yang melibatkan semua orang. pemerintahan Thatcher mempunyai posisi oposisional ±menekankan dualisme yang lekat dalam masyarakat Barat. teori mikro-politik berpandangan (a) organisasi mempunyai beragam tujuan dan pengaruh.). Herbert Altrichter dan Stefan Salzgeber dalam bab 8 mengamati dekade lalu ditandai oleh reformasi sekolah yang bertema otonomi sekolah. 12 pusat pendukung dan 300 tenaga terlatih yang memantau sekolah. dan (e) tuntutan perubahan: jika keputusan diambil pada level birokrasi lebih tinggi. Kaji tindak dirumuskan dari riset perilaku individu dan kelompok oleh Lewin. ASP menyebar ke sekitar 1000 sekolah dasar dan lanjutan di 40 negara bagian. Doyle dan Ponder (1976) menafsirkan kesulitan yang dialami sekolah dasar ketika tugas pembelajaran makin kompleks dikenalkan sebagai proses negosiasi. pemenangan. pendekatan sistematis pada kaji-tindak dan pemecahan masalah serta tentang pedagogi menyeluruh yang menyatakan semua sumberdaya sekolah dikerahkan untuk menghadapi tantangan proses belajar mengajar. meskipun demikian teori (seharusnya) tidak menjelaskan konsensus se bagai suatu bentuk dominasi. dst. tuntutan berubah rendah. Organisasi hampir tidak dapat dikonsepsi semata sebagai konglomerasi kekuasaan dan permainan (yang ditandai oleh resiko. sementara pengembangan organisasi dilaksanakan oleh konstruktor organisasi atas dasar kalkulasi rasional (Turk. eliminasi. Kontinjen artinya tergantung variabel konteks. dst. dst. dan (c) perjuangan strategis dan penuh konflik terjadi atas definisi dan struktur organisasi. (c) tidak melihat politik semata sebagai pengkhianatan. Tugas makin kompleks menyebabkan siswa tidak nyaman dan µmengancam¶ untuk tidak disiplin dan dengan demikian secara implisit melakukan negosiasi dengan pendidik: tugas lebih sederhana yang dikompensasi dengan disiplin di kelas. Sejak 1986. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam kultur sekolah adalah sejarah sekolah. ASP (Accelerated School Project) adalah suatu reformasi pendidikan yang mengakui pentingnya kultur sekolah. Menurut µteori strukturasi rasional-kontinjen. dst. 1989).). desentralisasi dan devolusi baik di negara yang dulunya sentralistik (Austria dan negara Eropa lainnya) maupun di negara yang dulunya desentralistik (Inggris. Wales. menetapkan prioritas.

studi kasus sering dianggap istilah pantechnicon yang setara dengan riset kualitatif dan secara longgar dikaitkan dengan istilahistilah evuvurncaluasi ilmunatif dan responsif. Organisasi kelas SDH didesain µterbuka¶: tiap hari berurusan dengan kebijakan dari atas dan dengan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya. dalam bab 10 menyarikan studi kasus praktek mengajar (practicum) delapan calon guru di delapan universitas di Andalusia (Spanyol). dan malah mengeksplorasi serta membangun hubungan antara teori dan praktek. (d) kekurangan acuan dan laternatif teoritis/praktis untuk men¶judge¶ semua yang diamati dan dialami dan (e) tidak berfungsinya supervisor sebagai penyeimbang kultur sekolah dan kelas. pengembangan kurikulum dan studi kebijakan. Isu tersebut diberi tekanan oleh Stenhouse untuk membuat archives data yang padanya komunitas peneliti dapat menyumbang dan menggunakannya sebagai sumber analisis. Studi SDH diinisiasi satu dekade lalu oleh Susan Groundwater Smith dengan tujuan untuk memperoleh catatan kasus untuk digunakan dalam program pendidikan guru.perkataannya µTidak ada yang disebut masyarakat itu¶. pengaruh politik global dan legitimasi kulturalnya. Susan Groundwater Smith dan Rob Walker dalam bab 11 menyajikan studi dan catatan kasus sekolah dasar Hathaway (SDH) yang terletak di daerah migran di Sidney. Posisi oposisional tersebut tidak sejalan dengan tema kaji tindak yang menolak posisi oposisional. etnografi pendidikan. Tahun 1970an Lawrence Stenhouse mendesain penelitian membandingkan interview (µsejarah oral¶) yang datanya dicari oleh Lawrence Stenhouse dan Jean Rudduck dengan observasi (µetnografik¶) y ang datanya dicari oleh Stephen Ball dan Rob Walker. dst. Angel Perez Gomez. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan persisten adalah (a) tekanan kultur sekolah dan kelas yang harus diikuti jika ingin berhasil. riset naturalistik. objektivitas dan subjektivitas. tetap harus diingat bahwa ketika mendeskripsikan diskursus sebagai µregimes of truth¶ yang dikonstruksi orang-orang sepemikiran. Christine O¶Hanlon dalam bab 12 mencatat bahwa sejak tahun 1970an Eropa dan Amerika turun pertumbuhan ekonomi. Tiap studi kasus berlangsung selama empat bulan. Studi kasus merupakan tilikan sentral saat ini dalam kaji tindak. dst. Foucault memprediksi ketidak-terhindaran semua sistem ±seberapa besarnya pun niatnya untuk memberdayakan orang lain. riset partisipan. studi kasus dikembangkan sejalan dengan proyek untuk mengimplementasikan perubahan kurikulum dan organisasi. Dari sudut pandang metodologi. (a) membuat deskripsi koheren bagi diri sendiri dan (b) membuat deskripsi µko-author¶ dengan periset. termasuk kekuasaan yang darinya bukunya tersebut terbit¶ (Foucault. Di dunia pendidikan..mengembangkan ortodoksi dan mekanisme untuk memaksakannya dan beliau menyarankan gagasan dalam bukunya µsebagai alat« untuk menghancurkan sistem kekuasaan. sehingga dengan demikian tema kaji tindak adalah µtugas dobel¶ yang dilaksanakan bersamasama/ kolektif atau apa yang dinamakan Gidden µdemokrasi dialogis¶. (b) ketidaknyamanan personal dalam menguasai situasi kompleks dan asing serta ketakutan tidak dihargai sebagai guru. Studi SDH menyatakan perlunya bertanya secara eksplisit mengapa masalah tertentu saja yang dikaji dan mengapa masalah yang lainnya tidak dikaji. Dengan mengacu ke Alfred Schutz. Namun. Hal lain yang j ga u dikaji SDH adalah perlunya guru dapat mengembangkan kaleidoskop permasalahan: faktafakta dapat disusun berulang-ulang untuk sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda. Stephen selalu menyatakan bahwa interview sebagai suatu konstruksi sosial yang tidak dapat diperlakukan sebagai data yang lepas konteks (decontextualized data). persoalan serupa juga diamati Stephen dan Walker dalam memisahkan etnografer dari etnogarfi yang dibuatnya. Hal tersebut . Hal lainnya lagi adalah terdapat dua makna author. evaluasi. 1975). (c) teori yang dipelajari ditemukan tidak berguna untuk dipraktekkan di lapangan.

Profesional dalam bidang pendidikan perlu mengenali bahwa pengetahuan pedagogi dan kurikulum selalu problematik dan dengan demikian selalu terbuka untuk dikaji. eksistensialisme dan pasca-modernisme. kurikulum nasional tidak mengijinkan prinsip atau bahan ajar yang disusunnya untuk didebat. hanya detil-detilnya yang dapat dikaji ulang«[Padahal hal yang diperlukan adalah misalnya] pengembangan profesional guru menjadi pendidikan guru ketika teori kritikal tentang situasi pengajaran memberi kesempatan pada guru untuk menjelaskan dan memahami bagaimana pembelajaran dikontrol faktor-faktor di luar kelas dalam konteks masyarakat dan politik. sebagai bagian dari kampanye. Asesmen standar dan kinerja untuk sertifikasi dikembangkan NBPTS ( National Boards for Professional Teaching Standards) Amerika. Lawrence Ingvarson dalam bab 13 mencatat tahun1973 labor government mengeluarkan Karmel Report yang isinya mengenai pengembangan profesional menyatakan bahwa suatu tanda okupasi berketerampilan sangat tinggi adalah proses persiapannya sesuai standar dari praktisi itu sendiri dan pengembangan selanjutnya juga sebagian besar adalah tangungjawab profesi tersebut«Kenyataannya guru mempunyai sedikit kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan organisasi guru lebih peduli pada pelayanannya pada industri. dana dapat digunakan hanya untuk tujuan yang ditetapkan pemerintah federal atau prioritas nasional seperti misalnya kurikulum nasional. Dalam perspektif pasca-modern masyarakat dipandang sebagai text serta teks ilmiah dan akademik sendiri dipandang sebagai tindakan retorik yang tidak mempunyai legitimasi logis atau empiris (inheren) «. politik dan strategis dalam masyarakat Barat« Sayangnya. etno-metodologi. Akhirnya. Tahun 1993. Sekarang. tapi guru mempunyai kesempatan lebih sedikit dalam pengembangan profesi(onal)nya. Asesmen serupa hendaknya meliput sekurang-kurangnya (a) standar pembelajaran. fenomenologi. Diambil dari: . kelompok dan kepentingan berbeda-beda. di Victoria missalnya. Marxisme. (b) struktur insentif. sementara pengetahuan dan pengalaman praktis dianggap sebagai insidental dan bahkan ditiadakan k arena dianggap subjektif atau anekdotal jika digunakan sebagai bukti dalam karya tulis dan disertasi. aktivitas dibatasi oleh school charters yang prioritasnya ditetapkan negara bagian dan pendidikan in -service yang schoolfocused bergeser ke pengembangan staf yang dikontrol manajemen. dinilai dan direvisi secara seksama. kecuali dalam lingkup tujuan yang secara sentral ditetapkan dalam school charters dan kurikulum. debat tentang pedagogi « mengabaikan bentuk keseluruhan µkurikulum¶ dalam semua level dan gagal untuk menempatkannya dalam faktor sosio-kultural kompleks yang lebih luas yang berkaitan dengan concern ekonomi. Hanya dengan cara demikian guru memperoleh pengetahuan praktis dan standards of excellence yang dengannya kompetensi praktisnya dapat dievaluasi. tekanan critique ideologi dan pasca-empiris tersebut mempertanyakan pendidikan guru tradisional yang menekankan kemampuan akademis dan intelektual. kita mempunyai manajemen berbasis sekolah.(tapi adalah) representasi ideologi. dekonstruksionisme dan pasca-modernisme. Praktek tradisional menuntut praktisi patuh pada suatu µotoritas¶ yang dibangun dari pengalaman praktis. federal labor government memberi dana 60 juta AUD untuk program nasional pengembangan professional (NPDP)«Tapi. bukannya pada pengembangan keahlian yang dianggap tugas pemberi pekerjaan. hampir semua negara bagian mempunyai budget pengembangan profesi(onal).menyebabkan munculnya diskursus-diskursus reflektif dan kritikal: teori kritikal. (c) infrastruktur pembelajaran profesional dan (d) sertifikasi profesional yang kredibel dan voluntary. Sekarang ini. Tematema tersebut dalam fokus akademis dipadukan dengan perspektif konstruksionisme sosial. Dalam dunia pendidikan. Tapi. Seperempat abad setelah Karmel Report.

Memiliki visi untuk berubah Jangan berharap suatu tim akan menjadi inovatif ap abila mereka tidak mengetahui tujuan yang hendak dicapai ke depan. 10 Cara Meningkatkan Inovasi Posted on10 Desember 2008byAKHMAD SUDRAJAT Untuk menghadapi dinamika perubahan dan kompetisi yang sangat tajam dan ketat dan demi keberangsungan hidup organisasi itu sendiri. Altrichter. The Images of Educational Change. Paul Sloane dalam sebuah tulisannya mengetengahkan 10 cara untuk meningkatkan inovasi dalam suatu organisasi. Mereka berusaha meyakinkan setiap orang akan peran pentingnya dalam upaya mencapai visi dan tujuan. Inovasi harus memiliki tujuan dan seorang pemimpin harus mampu menyatakan dan mendefinisikan tujuan secara jelas sehingga setiap orang dapat memahami dan mengingatnya. 2.2004.. tujuan dan tantangan masa depan kepada setiap orang . Ed. Mereka berusaha menggantikan kepuasan atas kemapanan yang ada dengan kehausan akan ambisi. .Universitas Pendidikan Indonesia. Buckingham). Bandung Program Pasca Sarjana. Para pemimpin besar banyak meluangkan waktu untuk menggambarkan dan menjelaskan visi. Herbert dan Elliott. Memerangi ketakutan akan perubahan Para pemimpin inovatif senantiasa mengobarkan semangat pentingnya perubahan. yakni: 1. Cakrawala Inovasi Pendidikan: Upaya Mencari Model Inovasi (Book Report . John (2000). serta dalam menghadapi berbagai tantangan. Open University Press.. maka setiap orang dalam organisasi ditun tut untuk dapat berfikir dan bertindak secara inovatif.Dodi Sukmayadi. Mereka mengilhami kepada setiap orang untuk menjadi enterpreneur yang bersemangat dan menemukan cara -cara yang inovatif untuk memperoleh kesuksesan.

sumber tersedia dengan baik. Oleh karena itu. . Mereka senang mempertimbangkan berbagai usulan atau gagasan tetapi tetap merasa nyaman dengan berbagai pemikiran yang menggambarkan tentang kegagalan-kegagalan yang mungkin akan diterima. 5. Berikan penghargaan dan respons yang wajar kepada karyawan serta para senior harus memliki komitmen agar karyawan tetap dapat menjaga kesegarannya dalam melaksanakan setiap pekerjaan. Tetapi. sehingga mampu menciptakan cara-cara baru tentang aneka benda dan jasa yang diinginkan para pelanggan. Oleh karena itu. Beri Setiap Orang Dua Pekerjaan Berikan setiap orang dua pekerjaan pokok. Mintalah kepada mereka untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka secara efektif dan pada saat yang bersamaan kepada mereka diminta pula untuk menemukan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaannya. satu-satunya cara menuju ke arah sana yaitu dengan berusaha memeluk perubahan. kita harus melakukan hal-hal yang lebih baik lagi´. 3. Memiliki Suatu Rencana Usulan yang Dinamis Anda harus memfokus pada rencana usulan yang benar-benar hebat. Mereka menyadari bahwa tidak semua dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan pada sumber-sumber internal. baik internal maupun eksternal? Apakah ada cara yang lebih baik untuk memberikan dan mencapai nilai atau tujuan tersebut? Dan jawabannya selalu mengatakan ³YA´. mereka melihat dunia luar dan mengajak organisasi lain sebagai mitra. Bisnis bukan seperti permainan olah raga yang selalu terikat dengan aturan dan keputusan wasit. tetapi bisnis tak ubahnya seperti seni. Anda harus memiliki keberanian manantang berbagai asumsi aturan yang ada di sekitar lingkungan. setiap rencana mudah dilaksanakan. Mematahkan Aturan Untuk mencapai inovasi yang radikal. sehingga bisa saling bertukar pengalaman dan keterampilan dalam team. berusaha mencari keseimbangan antara kegagalan dengan kesuksesan. Kolaborasi Beberapa eksekutif perusahaan memandang kolaborasi sebagai kunci sukses dalam inovasi. 4. 7. responsif dan terbuka untuk semuanya. Mereka menyampaikan pula bahwa saat ini kita sedang melakukan suatu spekulasi baru yang penuh resiko. kebanyakan orang tidak pernah atau jarang menanyakan hal-hal seperti itu. Berfikir Seperti Pemodal yang Berani Mengambil Resiko Seorang pemodal yang berani mengambil resiko akan menggunakan pendekatan portofolio.Mereka akan berkata. 6. tetapi kita tidak boleh berhenti dan berpuas diri dengan kemenangan yang ada. dan jika kita tidak bergerak maka akan jauh lebih berbahaya. Doronglah mereka untuk bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya tujuan esensial dar peran i saya? Hasil dan nilai riil apa yang bisa saya berikan kepada klien saya. ´ Saat ini kita memang sedang melakukan hal yang baik. yang di dalamnya memiliki banyak kesempatan untuk berfikir secara lateral. Mereka memberikan gambaran menarik ten tang segala sesuatu yang hendak diraih pada masa mendatang.

Setiap orang harus dibelajarkan bahwa setiap kegagalan merupakan langkah awal dari perjalanan jauh menunju kesuksesan. *)) terjemahan bebas dari tulisan Paul Sloane. www.8. serta dilaksanakan . Untuk menjadi orang benar-benar cerdas dan tangkas. bereksperimen dan memperoleh kesuksesan dalam melakukan pekerjaannya. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai.director. Anda membutuhkan dan menghendaki orang-orang dan para pendukung Anda dengan semangat yang berkobar-kobar. Tak ada gunanya jika Anda mengisi bus dengan penumpang yang selalu merasa asyik dengan dirinya sendiri. termasuk didalamnya mereka juga harus diberi kebebasan akan kemungkinan terjadinya kegagalan. kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama. dan untuk mencapai hasil yang luar biasa. Membangun prototipe Anda harus berani mencobakan suatu ide baru yang biaya dan resikonya relatif rendah ke dalam pasar (dunia nyata). kemudian lihat apa reaksi dari pelanggan dan orang -orang. Energi dan semangat yang Anda miliki akan menular dan mengilhami setiap orang. 9. Jika Anda menghendaki setiap orang dapat terinpirasi untuk menjadi inovatif. Bersemangat Anda harus fokus terhadap segala sesuatu yang ingin dirubah. maka Anda mutlak harus memiliki semangat yang menyala-nyala tentang apa yang Anda yakini dan Anda harus dapat mengkomunikasikannya setiap saat ketika Anda berbicara dengan orang. 10. setiap orang harus diberi kebebasan berinovasi. Menerima kegagalan Pemimpin inovatif mendorong terbentuknya budaya eksperimen. dibandingkan jika Anda hanya melakukan uji coba dalam laboratorium atau terfokus pada sekelompok orang saja. pengarang The Innovative Leader.uk Pengembangan Budaya Sekolah Posted on 4 Maret 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan. Di sana sesungguhnya Anda akan lebih banyak belajar tentang dunia nyata. Siap dan senantiasa bergairah dan bersemangat dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai tantangan. Anda mengharapkan setiap orang dapat meyakini bahwa upaya mencapai tujuan merupakan sesuatu yang amat penting dan bermanfaat. merubah caracara yang biasa mereka lakukan.co. seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. yang berjudul ³Ten Ways to Boost Innovation´ dipublikasikan oleh Kogan Page.

(3) disiplin meningkat. Selain beberapa manfaat di atas.dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami. (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal. guru. harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah. (2) pergaulan lebih akrab. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Memiliki Strategi yang Jelas. diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik. Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini. manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuasan kerja. staf. dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. termasuk dalam menyampaikan pesan -pesan pentingnya budaya sekolah. keluarga. orang lain dan diri sendiri. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsu dan personil sekolah baik itu r kepala sekolah. Fungsi visi. misi. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien. (3) lebih terbuka dan transparan. Berfokus pada Visi. (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki. Visi tentang keunggulan mutu misalnya. misi dan tujuan sekolah. (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan. (6) belajar dan berprestasi terus serta. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah. Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. 4. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. 3. Misi dan Tujuan Sekolah . Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan. 1. Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi. siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. 2. (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif. . dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan. dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah.

5. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Memiliki Komitmen yang Kuat. Keinginan. dan jangka panjang. Untuk itu. Berorientasi Kinerja. Kerjasama tim (team work). 6. Sistem Imbalan yang Jelas. 2. Keputusan Berdasarkan Konsensus. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah. 4. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan. kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek. dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat. siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan. Dalam lingkungan pembelajaran. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik. 7. Sistem Evaluasi yang Jelas. Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah. upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini: 1. Kegembiraan (happiness). Kemampuan. nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah. sedang. 9. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. 3. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah masalah yang dihadapi di sekolah. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. 8. Evaluasi Diri. 10. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. guru. namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut. . Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan. Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah. nyaman.

Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya. nyaman. staf dan kepala sekolah tarmpil. Tanpa kejujuran. profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa. Disiplin (discipline). bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik. Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. orang tua dan masyarakat. 8. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut. Jujur dalam memberikan penilaian. Dimensi ini menuntut para guru. Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. asri dan menyenangkan. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. kepercayaan tidak akan diperoleh. tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. jujur dalam mengelola keuangan. 7. Jujur (honesty). ================= . baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. 9. Jika perlu dibuat wilayah wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Empati (empathy). Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya. 6. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah. Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. guru dan staf. Hormat (respect). Pengetahuan dan Kesopanan. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami.5.

kepatuhan. yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan. Unel. Jakarta. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah).Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. ketenteraman. (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri. kemauan dan kesediaan kerja orang lain agar dapat taat dan tunduk terhadap semua peraturan dan norma yang berlaku. Sementara itu. dan (3) adanya sanksi bagi pelanggar Pada bagian lain. Menurut Soegeng Prijodarminto (1992) bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan. dan ketertiban. kesadaaran kerja adalah sikap sukarela .2007. menghargai patuh dan taat terhadap peraturan -peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Dalam kaitannya dengan disiplin kerja. Jerry Wyckoff dan Barbara C. kesetiaan. Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Unel. Jerry Wyckoff dan Barbara C. ketearturan. Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati. (2) adanya kepatuhan para pengikut. (1990) menyebutkan bahwa disiplin kerja adalah kesadaran. Konsep Disiplin Kerja Posted on 5 November 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Disiplin merupakan kata yang sering kita ketentuan berupa peraturan -peraturan yang secara eksplisit perlu juga mecakup sangsi-sangsi yang akan diterima jika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut.

1996). Noe (1990) disiplin adalah status pengendalian diri seseorang karyawan. Siagaan. Menurut Daniel M. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap. Karyawan akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan bukan mematuhi tugasnya itu dengan paksaan. Dalam hal ini terdapat tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen di dalam penerapan disiplin pribadi. agar karyawan lain mengikutinya sehingga dapat menanamkan jiwa disiplin dalam bekerja. yaitu self dicipline dan social dicipline. Self dicipline merupakan disiplin pribadi karyawan yang tercermin dari pribadinya dalam melakukan tugas kerja rutin yang harus dilaksanakan. kreativitas serta partisipasi sumber daya manusia. Karyawan harus memiliki prinsip dan memaksimalkan potensi kerja. Kesediaan kerja adalah suatu sikap perilaku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan tugas pokok sebagai seorang karyawan. disiplin pada umumnya termasuk dalam aspek pengawasan yang sifatnya lebih keras dan tegas (hard and coherent). untuk mencegah jangan sampai para karyawan berperilaku negatif. 1991).dan merupakan panggilan akan tugas dan tanggung jawab bagi seorang karyawan. Menurut Wayne Mondy dan Robert M. . Colyer. sebagai tanda ketertiban dan kerapian dalam melakukan kerjasama dari sekelompok unit kerja di dalam suatu organisasi (someone status selfcontrol as orderliness sign order and accuration in doing cooperation from a group of unit work in a organization) Jackclass (1991) membedakan disiplin dalan dua kategori. sedangkan social dicipline adalah pelaksanaan disiplin dalam organisasi secara keseluruhan. yang dapat mematikan prakarsa. tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi. yaitu : Triguno (2000) menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pendisiplinan preventif adalah untuk mendorong karyawan agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi. Dikatakan keras karena ada sanksi dan dikatakan tegas karena adanya tindakan sanksi yang harus dieksekusi bila terjadi pelanggaran. agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan. Terdapat dua jenis disiplin dalam organisasi. Keberhasilan penerapan pendisiplinan karyawan (disiplin preventif) terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. Disiplin preventif adalah tindakan yang mendorong para karyawan untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. yaitu : (1) disiplin preventif dan (2) disiplin korektif (Sondang P.

3. dalam pemberian sanksi korektif seyogyanya memperhatikan tiga hal berikut: (1) karyawan yang diberikan sanksi harus diberitahu pelanggaran atau kesalahan apa yang telah diperbuatnya. (2) peringatan tulisan (written warning). karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang menjadi miliknya. mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Sayles dan Strauss menyebutkan empat tahap pemberian sanksi korektif. Para anggota organisasi perlu didorong. (1994) menyebutkan bahwa bila dalam instruksinya seorang karyawan dari unit kelompok kerja memiliki tugas yang sudah jelas dan sudah mendengarkan masalah yang perlu dilakukan dalam tugasnya.1. yaitu: (1) peringatan lisan (oral warning). Tindakan sanksi korektif seyogyanya dilakukan secara bertahap. dan (4) pemecatan (discharge). serta pimpinan sudah mencoba untuk membantu melakukan tugasnya secara baik. (3) disiplin pemberhentian sementara (discipline layoff). Di samping itu. Untuk itu. yaitu pemberhentian. agar mempunyai rasa memiliki organisasi. Burack (1993) mengingatkan bahwa pemberian sanksi korektif yang efektif terpusat pada sikap atau perilaku seseorang dalam unit kelompok kerja yang melakukan kesalahan dalam melakukan kegiatan kerja dan bukan karena kepribadiannya. Horald D. sesuai aturan disiplin yang berlaku. dan pimpinan memberikan kebijaksanaan kritikan dalam menjalankan tugasnya. perlu dilakukan ³wawancara keluar´ (exit interview) pada waktu mana dijelaskan antara lain. Dalam pemberian sanksi korektif . namun seseorang karyawan tersebut masih tetap gagal untuk mencapai standar kriteria tata tertib. Disiplin korektif adalah upaya penerapan disiplin kepada karyawan yang nyata-nyata telah melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan dan kepadanya dikenakan sanksi secara bertahap. Para karyawan didorong. 2. Garret. (2) kepada yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri dan (3) dalam hal pengenaan sanksi terberat. mengapa manajemen terpaksa mengambil tindakan sekeras itu. maka perlu untuk memaksa dengan menggunakan tindakan korektif. dalam penerapan sanksi korektif hendaknya hati-hati jangan sampai merusak seseorang maupun suasana organisasi secara keseluruhan. Para karyawan perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi. maka sekalipun agak enggan. Penjelasan dimaksudkan seyogyanya disertai oleh informasi yang lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif.

ba ik untuk jangka pendek. 13. 9. Sekolah memiliki strategi dan kriteria evaluasi yang jelas. baik pelanggan internal maupun eksternal. fungsi dan tanggung jawabnya. (Robert F. sehingga terhindar dari berbagai ³kerusakan psikologis´ yang sangat sulit memperbaikinya. 12. Sekolah memiliki investasi pada sumber daya manusianya. 2. Pengaruh negatif atas penerapan tindakan sanksi korektif yang tidak benar akan berpengaruh terhadap kewibawaan manajerial yang akan jadi menurun. Sudarwan Danim (2006) mengidentifikasi 13 ciri -ciri sekolah bermutu.harus mengikuti prosedur yang benar sehingga tidak berdampak negatif terhadap moral kerja anggota kelompok. 11. Hopkins. dimana kerja tim akan menjadi tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas kerja samanya. maupun tenaga administratif. termasuk kejelasan arah kerja secara vertikal dan horozontal.. mampu mencip takan kualitas dan merangsang yang lainnya agar dapat bekerja secara berkualitas. yaitu: (1) disiplin manajerial. baik di tingkat pimpinan. 8. Sekolah berfokus pada upaya untuk mencegah masalah yang muncul . tenaga akademik. Sekolah mendorong orang dipandang memiliki kreativitas. yaitu: 1. (2) disiplin tim. (3) disiplin diri. jangka menengah maupun jangka panjang. dengan komitmen untuk bekerja secara benar dari awal. Sekolah memnadang atau menempatkan kualitas yang telah dicapai sebagai jalan untuk untuk memperbaiki kualitas layanan lebih lanjut. 1996). sekolah mengelola atau memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk mencapai kualitas dan memposisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya 6. Ada beberapa pengaruh negatif bilamana tindakan sanksi korektif dilakukan secara tidak benar. Sekolah memiliki strategi untuk mencapai kualitas. Sekolah mengupayakan proses perbaikan dengan melibatkan semua orang sesuai dengan tugas pokok. Sekolah menempatkan peningkatan kualitas secara terus menerus sebagai suatu keharusan . 7. Sekolah memiliki kebijakan dalam perencanaan untuk mencapai kualitas. 4. Sekolah berfokus pada pelanggan. demikian juga dalam tindakan sanksi korektif dalam tim yang tidak benar dapat berakibat terhadap kurangnya partisipasi karyawan terhadap organisasi. 13 Ciri-Ciri Sekolah Bermutu Posted on 8 Oktober 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Merujuk pada pemikiran Edward Sallis. Sekolah memperjelas peran dan tanggung jawab setiap orang. 5. dan menjadi tercerai berai karena kesalahan tindakan disiplin tim. Sekolah memandang kualitas sebagai bagian integral dari budaya kerja. 3. 10.

Kita hidup dalam dunia yang penuh perubahan. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia diperhadapkan dengan sangat terpuruk nya mutu pendidikan.Sumber: Sudarwan Danim. walaupun tidak dapat kita pungkiri dilain sisi terdapat beberapa anak bangsa berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi kita semua. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. bahkan pemerintah yang dinilai kurang cermat dalam menyusun kurikulum. Siswa yang kurang belajar. Jakarta: Bumi Aksara Mutu Pendidikan Kita Rendah. Dewasa ini Sumber Daya Manusia dituntut mampu berkompetisi dalam dalam dunia global. Jika kita kita mampu mengelola perubahan itu menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi kita maka dengan sendirinya kita akan tergilas didalam perubahan itu.MM Pengantar Tidak terasa dalam bulan ini Republik-ku telah berulangtahun yang ke 63. Perubahan terjadi dimana mana. Hamatara (Dosen Undana Kupang) Kamis tertanggal 7 AGUSTUS 2008 dibawah judul UNAS YANG KELABU Siapa Kambing Hitam? Membuat kita seakan perlu merefleksikan diri untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada dan . Tentunya kita tidak dapat berpuas diri dengan hanya mengandalkan beberapa orang saja dari sekian ratus juta jiwa anak bangsa yang hidup di republik ini dalam mencetak berbagai prestasi berkaliber dunia. Di Nusa Tenggara Timur mutu pendidikan kita sangat rendah. menapaki hari hari yang penuh harapan. Mencermati tulisan saudara M.? Posted on5 September 2008byAKHMAD SUDRAJAT Oleh: Ricky Ekaputra Foeh. Orang tua yang tidak bisa mendidik. lembaga pendidikan yang tidak mampu mengelola sebuah konsep pendidikan yang bermutu. sebuah perjalanan panjang bangsa ini. termasuk dalam dunia pendidikan kita. Hal ini ditunjukkan dengan hasil ujian nasional yang sangat terpuruk dan merosot. Berbagai kesalahan ditimpakan kepada Guru yang tidak cakap mengajar. yang salah siapa«. Membangun kejayaan bangsa yang makin lama makin redup seiring perubahan yang terjadi. Masing-masing orang mulai mencari kambing hitam.. Membangun sumber daya manusia berkualitas tentu merupakan suatu tantangan tersendiri.

Dengan kata lain tanggung jawab lembaga pendidikan dalam memperbaiki mutu pendidikan bukan hanya pada proses pendidikan saja. Oleh karenanya permasalahan ini harus segera diatasi. seperti. Mutu dalam ³proses pendidikan´ melibatkan berbagai input. Dr. ³Bermutu tidaknya pendidikan seorang siswa itu pertama terletak di tangan para orangtua. sesungguhnya kita sudah terlambat untuk itu. bahkan 10 tahun). Pandangan lain yang mencuat adalah berasal pengamat pendidikan NTT Drs. Jikalau kita baru berpikir bahwa kita harus berubah. akhir tahun. dukungan administrasi. toleransi. Mutu dalam konteks ³hasil pendidikan´ mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester/cawu. tetapi harus didukung kuat oleh orangtua di rumah serta komponen pendidikan lainnya. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan satu sama lainnya. Sedangkan guru dan komponen lainnya hanya beberapa saat saja. Prof. Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan µ terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau ³kognitif´ dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar. jasa. Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap lembaga pendidikan baik yang berdasarkan titik . August Benu. bahwa untuk mengejar mutu pendidikan. saling menghormati. Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum dan ujian nasional). M. bahan ajar (kognitif. keramahtamahan. 3 tahun. berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang fair dan nyaman untuk belajar. akan tetapi agar proses pendidikan dapat bermutu dan tepat sasaran. seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer. keakraban. Dapat pula berupa prestasi di bidang lain seperti cabang olah raga. kebersihan. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. dsb. melainkan lebih dari pada itu adalah pada hasil yang dicapai. John Manulangga. MS mengaku sangat kecewa atas hasil seleksi SPMB Undana hal ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan di NTT di tingkat bawah tidak bermutu. Mutu Pendidikan Kesadaran akan pentingnya mutu pendidikan sungguh merupakan tantangan yang tidak ringan. maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh Lembaga Pendidikan. beragam jenis teknik. agar output yang dihasilkan mampu bersaing di tengah masyarakat. Lembaga Pendidikan wajib menetapkan target yang jelas untuk dicapai setiap tahun atau kurun waktu tertentu. Lain lagi dengan pandangan saudara Lebe Laurensius (SMUN 2 Kupang) yang menambahkan. Bahkan prestasi lembaga pendidikan dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin. Berbicara mengenai mutu pendidikan sebenarnya kita membicarakan tentang dua sisi yang sangat penting yaitu proses dan hasil. karena anak lebih banyak didampingi orangtua. tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di lembaga pendidikan. afektif. atau psikomotorik).Ed berpendapat bahwa Pengelola lembaga pendidikan di NTT diharapkan jangan mendidik peserta didik hanya sekadar untuk mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB).bukannya kecenderungan untuk saling mempersalahkan juga muncul ditengah tengah kita seperti pandangan para pengamat beberapa waktu lalu antara lain. misalnya : NEM oleh PKG atau MGMP). Tetapi harus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Setiap lembaga pendidikan yang ada di republik ini memiliki tanggung jawab besar terhadap mutu pendidikan yang dimulai dari proses pendidikan itu sendiri dan berakhir pada hasil pendidikan yang dicapai. metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru) sarana prasarana lembaga pendidikan. Mutu pendidikan yang terpuruk di negeri ini harus kita tekan.

pengawasan KBM yang ketat. & Penerapan Metode Pengajaran Moderen. prioritas pembangunan. guru. Kondisi ini telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional sehingga mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu pendidikan. Di Nusa Tenggara Timur terdapat beberapa lembaga pendidikan unggulan salah satu diantaranya adalah SMA Kristen Mercusuar. Berbagai komponen dalam lembaga pendidikan yang ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pendidikan antara lain kepala lembaga pendidikan. Pengelola sebuah lembaga pendidikan harus mampu memahami konsep penting pendidikan yang diluncurkan oleh pemerintah sehingga mampu menjawab tuntutan publik akan pendidikan bermutu. dan secara terus menerus menyempurnakan dirinya sehingga berakhir kepada peningkatan mutu siswa (lulusan). Di dalam masyarakat yang komplek seperti sekarang dimana kita hidup dalam dunia yang penuh dengan perubahan yang telah membawa kepada perubahan tata nilai yang bervariasi dan harapan yang lebih besar terhadap pendidikan terjadi begitu cepat. SMA Kristen Mercusuar yang memiliki AKREDITASI A (Terbaik) dari Dinas Pendidikan & Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Institusi pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan menjawab harapan bangsa. wakil kepala lembaga pendidikan. Lembaga Pendidikan ini berproses dengan mengacu dan menerapkan sepenuhnya kurikulum nasional serta menambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk memperluas wawasan peserta didik agar dapat berkompetisi secara global. Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis lembaga pendidikan ini membawa isu desentralisasi dalam manajemen (pengelolaan) pendidikan dimana birokrasi pusat hanya berperan sebagai penentu kebijakan makro. maka diyakini bahwa kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang agar kita tidak tergilas didalamnya. Diperlukan adanya synergy dengan berbagai pihak antara lain lembaga pendidikan. Lembaga ini juga menerapkan Full Day School. pengawasan kemajuan belajar siswa oleh Pusat Informasi dan Pengendalian Mutu SMP-SMA Kristen Mercusuar secara teratur dan sistematis. bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan atau owner lembaga pendidikan saja melainkan melibatkan seluruh komponen didalamnnya. dan standar secara keseluruhan melalui sistem monitoring dan pengendalian mutu sedangkan tanggung jawab individu lembaga pendidikan dan masyarakat pendukungnya untuk merancang mutu yang diinginkan. Memasuki tahun ajaran 2008 / 2009 ini. SMP ± SMA Kristen . konsultan ahli dan staf lainnya sehingga akan menciptakan iklim lembaga pendidikan yang mempu membentuk keunggulan lembaga pendidikan. Tentunya banyak pihak yang bertanya dan ingin mengetahui tentang keunggulan lembaga pendidikan yang berprestasi luar biasa tersebut. Setiap peserta didik dibekali dengan penguasan IPTEK seperti: Manajemen informatika dan access internet yang terbuka sehingga dapat diakses kapan saja. masyarakat dan pemerintah deng tanggung an jawabnya masing ± masing ini. SMA Kristen Mercusuar juga merupakan Sekolah Pertama dan Satu-satunya di NTT yang menerapkan Rombongan belajar per kelas 20 ± 25 siswa dengan di dampingi oleh 2 (dua) orang guru dalam 1 kelas. dan mengevaluasi hasilnya. melaksanakan. Lembaga Pendidikan Unggulan Lembaga pendidikan unggulan itu sesungguhnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga lembaga pendidikan.acuan standar (benchmarking) maupun kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan oleh individu lembaga pendidikan sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya.

Lembaga pendidikan perlu memperhatikan secara seksama proses pendidikan sebab te rnyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek. Kegiatan kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kadar keimanan seluruh komponen dalam lingkup SMP ± SMA KRISTEN MERCUSUAR menerapkan kegiatan kerohanian secara terpadu dalam lingkungan pendidikan berupa kegiatan ibadah bersama dan kegiatan pendalaman alkitab. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia umumnya dan di Nusa Tenggara Timur khususnya. Para konsultan menyajikan data secara terperinci sehingga para pengambil kebijakan dilingkungan lembaga pendidikan dapat mengambil keputusan penting yang menyangkut pembangunan konsep pendidikan dan arah rencana pendidikan kedepan yang akan dicapai. Lembaga pendidikan sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik . Hal ini memudahkan bagi guru dan kepala lembaga pendidikan sehingga mereka hanya fokus pada KBM sedangkan urusan administrasi menjadi tugas dan tanggungjawab daripada Unit Informasi dan Pengendalian Mutu. administratif (siswa. guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan lembaga pendidikan. Unit kerja seperti Pusat Informasi dan pengendalian Mutu bertugas melakukan evaluasi internal (internal assesment) dalam sebuah lembaga pendidikan untuk menganalisa sumber daya lembaga pendidikan. 1979. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan antara lain: Lembaga Pendidikan perlu membentuk sebuah unit kerja yang bertugas melakukan penyusunan basis data dan profil lembaga pendidikan secara sistimatis yang menyangkut berbagai aspek akademis. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan. Sebuah lembaga pendidikan itu sifatnya dinamis dan berirama alias tidak statis oleh karenanya tdak bisa disamakan i dengan institusi ekonomi dan industri. Secara singkat semua upaya (proses) yang dilaksanakan secara terpadu tersebut sebagai upaya mempersiapkan dan memenuhi kebutuhan masa depan para peserta didik sehingga dapat bersaing dalam kompetisi global. guru. maka diperlukan partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua. dan keuangan. siswa. Selama ini pembangunan pendidikan kita hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan sedangkan faktor proses pendidikan kadang terabaikan. Semua proses ini harus dipantau secara teratur dan berkesinambungan sehingga akan terasa hasilnya.Mercusuar mulai meluncurkan program E ± Learning. staf). sebuah proses pembelajaran yang berbasis teknologi wifi-hotspot memampukan siswa mengakses bahan belajar secara baik. kinerja personil lembaga pendidikan dalam kerangka mengembangkan dan mencapai target kurikulum. Masalahnya sekarang adalah kebanyakan di berbagai lembaga pendidikan telah ada staf administrasi namun dalam jumlah yang terbatas sehingga memaksa guru dan kepala lembaga pendidikan terpaksa turun tangan menangani masalah administrasi dan keuangan. Informasi yang terangkum dengan sistematis tersebut selanjutnya diteruskan pihak lembaga pendidikan sehingga dapat memahami secara jelas pada posisi mana derajat kualitas pendidikan sebuah lembaga pendidikannya berada saat ini.1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan. Yang lebih parah lagi adalah para kepala sekolah terlihat sangat sibuk dengan urusan adm inistrasi dan keuangan sehingga kurang melakukan supervisi terhadap guru.

Ekaputra Oepura Memperbaiki Mutu Pendidikan melalui Team Work . akibatnya prosentasi kelulusan rendah sehingga yang oleh banyak pengamat dikatakan sebagai rendahnya mutu pendidikan. Proses perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan dI Nusa Tenggara Timur saat ini sangat mendesak dan perlu segera dilakukan dengan synergy harmonis yang muncul dengan tidak saling mempersalahkan dari lembaga pendidikan. Setiap lembaga pendidikan harus memiliki otonomi dan kewenangan untuk mengevaluasi sejauhmana kemampuan yang dimiliki peserta didik. BIODATA PENULIS DATA Nama Lengkap : Alamat Rumah : Jalan Salak Telepon / HP : 081239416641 DIRI Foeh. Kegagalan sekolah selama ini adalah menaikkan peserta didik yang sebenarnya harus µtahan kelas¶ ke kelas berikutnya. Upaya mengejar materi pelajaran ini memang sah -sah saja namun demikian kenyataan yang kita hadapi adalah kebanyakan peserta didik kesulitan dalam mengerjakan ujian akhir nasional. orang tua.SPd.. Ini adalah kekeliruan yang dibuat oleh lembaga pendidikan. Kebanyakan guru-guru pada setiap lembaga pendidikan mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi hanya mengejar target untuk menyelesaikan muatan materi pembelajaran yang sangat padat itu dalam setahun. PENUTUP Setiap lembaga pendidikan akan menjadi lembaga pendidikan unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. maka lembaga pendidikan harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan..yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam. padahal sebuah lembaga pendidikan memiliki otoritas untuk menahan peserta didik yang tidak mampu sehingga memberinya kesempatan belajar dan memperbaiki diri agar kedepan prestasinya dapat meningkat. kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya. Kewenangan tegas untuk tidak membiarkan (let go) peserta didik yang tidak sanggup mengikuti pelajaran dikelas berikutnya perlu diterapkan sehingga siswa yang berada pada level berikutnya adalah benar-benar seorang peserta didik yang sanggup untuk mencerna pengetahuan dan mengakses informasi. dan shareholder serta stakeholder yang ada demi kejayaan pendidikan di Nusa Tenggara Timur.MM Kupang ± NTT Ricky II/3 Kel. Selama lembaga pendidikan-lembaga pendidikan hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka lembaga pendidikan tidak akan pernah menjadi lembaga pendidikan unggulan.

keterampilan dan energi untuk mencapai tujuan team. Snyder and Robert H. peran. Yadi Heryadi mengemukakan beberapa peran penting dalam suatu Team : 1. menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota. Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan ³ Mengapa saya berada disini´. Dalam hal ini. pengimplementasian. Bonding akan memastikan bahwa anggota team memiliki komitmen yang kuat. . pengetahuan. sehingga isu isu yang ada dilihat dari berbagai sisi. Team yang terikat akan lebih enthusias. termasuk mencatat hal-hal penting hasil rapat-rapat. loyal kepada organisasi dan team itu sendiri. mereka menentukan tujuan. misi. 2. 3. misalnya terhadap waktu. setelah pekerjaan selesai. Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. Sedangkan. dan durasi yang beragam. Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team. Team memiliki bentuk. yaitu team permanen dan team sementara. Pencatat Waktu yaitu anggota Team yang bertugas mengingatkan Team berjalan sesuai jadwal. yaitu: bonding (ikatan) dan cohesiveness (kesatupaduan). Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara. baik dalam perencanaan. Pencatat yaitu anggota Team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Team. serta membuat notulen rapat-rapat. Devil¶s advocate yaitu anggota Team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota Team yang lain. dan 4. Para anggota dapat memulai proses pengikatan ini pada saat pertemuan (rapat) pertama kali. dan tanggunggjawab individu dan kelompok. Berikutnya. demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali. Dengan mengutip pemikiran Cunningham and Gresso. Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. yang ditandai oleh adanya rasa memiliki dan keterkaitan diantara sesama anggota. Penjaga Gawang yaitu anggota Team yang bertugas menyemangati anggota Team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota. Cohesiveness (kesatupaduan) didefinsiikan oleh Cunningham dan Gresso sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok.Posted on 1 April 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Istilah³Team´ merujuk kepada suatukelompok yang bekerja sama untukmencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team. Oswald (1996) mengemukakan dua faktor esensial dalam suatu team yang dapat semakin memantapkan budaya team culture ( team). Karolyn J.

atau supervisi.maupun penilaian. team bimbingan dan konseling dan sebagainya. misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus. yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula. Ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan. . seperti: team pengembang kurikulum. dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. yaitu : (1) anggota tidak memahami tujuan dan misi team. opini. Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan kepentingkan peningkatan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru. berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah: y y y y y y y y Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berfkembang Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka Memperteam bangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain Membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalam melakukan kegiatan Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team. Snyder and Anderson. (3) anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team. Lesson Study. dan persepsi seluruh anggota Team terhadap masalah dan kondisi Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota Team Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya keteam bang menyalahkan orang lain Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain. pemikiran. (2) anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya. pendapat. Yadi Haryadi mengetengahkan tentang ciri-ciri ketua dan anggota team yang baik. Ciri-ciri ketua team yang baik adalah: y y y y y y y Bekerja sesuai konsensus Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan. (4) anggota menolak peran dan tanggung jawabnya. yang intinya team-team tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah. Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan. menyebutkan bahwa team work di sekolah.

depdiknas. (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah) M.uncwil.ed. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom.Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran.go. Sumber : Sandra A. Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di sekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan. Asrori.id/ Konsep Dasar Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional Posted on 1 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT Oleh: Depdiknas 1. (4) memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi.edu/cte/et/articles/howard/ Lori Jo Oswald. Online : http://www. ERIC Digest 103 Online : http://www. yang dikenal dengan sebutan Collaborative Teamwork Learning. maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil. (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus. dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok. (1996) Work Teams in Schools. yaitusuatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team. (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam. Pengertian . Collaborative Teamwork Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Bekerja secara Kolaboratif dalam Tim. Team Work.gov/ERICWebPortal/Home Yadi Haryadi (tt). Online : http://www.eric.

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. dan harapan masing-masing (Chandramohan. setiap satu satuan kredit semester (1 SKS) berbobot dua jam kegiatan pembelajaran per minggu selama 16 minggu per semester. jumlah siswa per kelas maksimal 32 orang. penerapan SKS pada KTSP perlu dilakukan penyesuaian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran tuntas di mana satuan kegiatan belajar peserta didik tidak diukur berdasarkan lama waktu kegiatan per minggu-semester tetapi pada satuan (unit) kompetensi yang dicapai. 19 Tahun 2005 pasal 11 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah atau hampir memenuhi standar nasional ke dalam kategori mandiri.Penjelasan PP No. Peserta didik diberi kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan minat. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. Dari ciri tersebut Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional memiliki profil sebagai persyaratan minimal yang meliputi : a. mata pelajaran yang ditawarkan ada yang wajib dan pilihan. 2006). persentase kelulusan UN • 90 % untuk tiga tahun terakhir. beban studi dinyatakan dengan satuan kredit semester. Dengan demikian. kemampuan. ada pertemuan rutin pimpinan dengan guru. sedangkan 25 menit kegiatan terstruktur dan 25 menit kegiatan mandiri. dengan indikator memiliki kurikulum Sekolah Kategori Mandiri. animo tiga tahun terakhir > daya tampung. Pembelajaran berpusat pada peserta didik. satu jam kegiatan tatap muka berlangsung selama 45 menit. Pada SMA/MA/SMLB. rerata nilai UN tiga tahun terakhir minimum 7. melaksanakan manajemen berbasis sekolah. memiliki panduan menjajagi potensi peserta didik dan memiliki pedoman penilaian. memiliki pedoman pembelajaran. SKS adalah salah satu sistem penerapan program pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai subyek. 2. Mengacu pada konsep tersebut.00. prestasi akademik dan non akademik yang diraih. ada pertemuan rutin sekolah dengan orang tua. . Kurikulum. Karakteristik Berdasarkan penjelasan PP No. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa sekolah kategori mandiri (SKM) harus menerapkan sistem kredit semester (SKS). yaitu bagaimana peserta didik belajar. SKS dapat diterapkan untuk menunjang realisasi konsep belajar tuntas yang digunakan dalam menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). memiliki pedoman pemilihan mata pelajaran sesuai dengan potensi dan minat. panduan/dokumen penyelenggaraan. Dukungan Internal: y y Kinerja Sekolah indikator terakreditasi A. 19 Tahun 2005 Pasal 11 ayat (2) bahwa ciri Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional adalah terpenuhinya standar nasional pendidikan dan mampu menjalankan sistem kredit semester. Pada Sistem Kredit Semester.

tersedia guru bimbingan konseling/ karir. relevansi guru setiap mata pelajaran dengan latar belakang pendidikan (90 %). Perpustakaan yang memiliki koleksi buku setiap mata pelajaran. dengan indiktor memiliki ruang kepala Sekolah. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. ruang bimbingan. Fisika. tempat ibadah. dukungan dari tenaga pendamping pelaksanaan SKS. memiliki laboratorium: Bahasa. keyakinan. Sumber: Depdiknas. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Kimia. Biologi. Multimedia. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun. ruang Unit Kesehatan. ruang wakil kepala sekolah. . (e) Fasilitas di sekolah. Pernyataan staf administrasi akademik bersedia melaksanakan SKS. Persentase guru yang menyatakan ingin melaksanakan SKS • 90%. jumlah tenaga administrasi akademik memadai. Sumber Daya Manusia. termasuk oleh komunitas di sekolah. nilai dan tujuan yang saling bertentangan. ruang guru. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Tujuh Sikap untuk Mencairkan Konflik di Sekolah Posted on7 Februari 2009byAKHMAD SUDRAJAT Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif.y y Kesiapan sekolah. Dukungan Eksternal Untuk menyelenggarakan SKM/SSN berasal dari dukungan komite sekolah. orang tua peserta didik. komputer untuk administrasi. rasio guru dan siswa. lapangan bermain. Siswa. atau pun kepala sekolah dalam waktu waktu tertentu sangat mungkin dihadapkan dengan konflik. dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Teknologi informasi/komputer. guru. tempat Olah Raga. IPS. dengan indikator Sekolah menyatakan bersedia melaksanakan Sistem Kredit Semester.2008. memberikan Layananan bimbingan karir b. dengan indikator persentase guru memenuhi kualifikasi akademik • 75%. Kemampuan staf administrasi akademik dalam menggunakan komputer.

bukan terletak pada orangnya. Apabila konflik yang terjadi di sekolah tidak terkelola dan bersifat destruktif. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri. buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya). maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang. Memilah interpretasi berdasarkan fakta. karena suatu saat setelah mereka dikalahkan. tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu´. Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang±orang yang justru berseberangan dengan Anda. tidak dengan kelompok yang paling lemah. yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. 1. Jangan paksa orang untuk bertekuk lutut! 3. seorang guru berhadapan dengan sekelompok guru. Secara berkala tanyakan pula ³Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?´ 2. jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik. Adalah hal yang amat bodoh.. Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik. 4. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada. apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. Jika dihadapkan pada suatu konflik. dan sejenisnya. seorang guru berhadapan seorang guru. Sort out interpretations from facts. individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.Konflik yang dialami individu di sekolah dapat hadir dalam berbagai bentuk. Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup. karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. it¶s you and me versus the problem Memiliki keyakinan bahwa ³Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya. Identify your shared concerns against your one shared separation. Define what the conflict is about Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif. Terkait dengan upaya mengelola konflik di sekolah. It¶s not you versus me. terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi. Misalnya. Tetapi sebaiknya ungkapkan ³Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?´ pertanyaan . meraka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik. Tanyakan pada setiap orang ³Ada issue apa?´. bisa dalam bentuk individu dengan individu. sekelompok guru tertentu berhadapan dengan sekelompok guru lainnya. yang harsus diselesaikan. lalu tanyakan pula ³Apa kepedulian Anda di sini? atau ³Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini´.

iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. berusaha mensucikan hati. kemudian menjadi dipahami. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami. Putarlah paradigma dari ungkapan ³ Ketika saya bicara. Setidaknya dengan cara ini. 11 Karakteristik Manajemen Sekolah Posted on 2 Maret 2009 by AKHMAD SUDRAJAT 1. Kembangkan rasa untuk memaafkan. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami. Oleh karena itu. Learn to listen actively Belajar mendengar secara aktif. menengah dan panjang Sekolah yang efektif memiliki rencana pengembangan sekolah yang disepakati bersama . Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain. yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik 3. Rasa benci. orang lain mendengarkan´ menjadi ³Ketika saya mendengarkan. akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis) 7. jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan.semacam ini akan lebih menggiring pada fakta. Terakhir. Develop a sense of forgiveness. setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. Purify your heart. orang lain berbicara kepada saya´. Yang lalu biar berlalu. hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan! 6. Karakteristik1: Perencanaan dan Pengembangan Sekolah y y y y Perencanaan merupakan dasar bagi fungsi manajemen lain Perencanaan merupakan pernyataan mengenai kehendak di masa depan yang ingin dicapai Perencanaan meliputi jangka pendek.

Pendekatan kepemimpinan partisipatif Karakteristik 6: Pengembangan Guru dan Staf y y y Guru merupakan fasilitator pembelajaran yang perlu dijaga kualitasnya Pengembangan profesional guru menentukan hasil pembelajaran Perlu adanya program pengembangan guru dan staf Karakteristik 7: Penguatan Kapasitas Siswa y y y Tujuan akhir program pembelajaran adalah pada peningkatan kemampuan siswa Pemberian kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan potensi dirinya Penyediaan program dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar . Pemberian perhatian pribadi kepada siswa perorangan.Karakteristik 2: Iklim dan Budaya Sekolah y y y Penciptaan dan pemeliharaan iklim yang kondusif untuk belajar Penciptaan norma dan kebiasaan yang positif Penciptaan hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghargai satu sama lain Karakteristik 3: Harapan yang Tinggi untuk Berprestasi y y y y Penciptaan etos positif yang dapat mendorong siswa berprestasi Tanggung jawab yang tinggi bagi pembelajaran siswa. Harapan yang tinggi akan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Karakteristik 4: Pemantauan terhadap Kemajuan Siswa y y y Pemberian pekerjaan rumah kepada siswa Terdapat prosedur penilaian yang dilakukan secara terprogram (formatif dan sumatif) Pemberian balikan yang segera kepada siswa Karakteristik 5: Kepemimpinan Kepala Sekolah y y y Sejauhmana tanggung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah berperan penting.

(2) standar proses. dan (8) standar penilaian pendidikan . (7) standar pembiayaan. (6) standar penge lolaan. Karakteristik 11: Tata tertib dan Kedisiplinan y y Kesepakatan kepala sekolah dan guru terhadap kebijakan disiplin sekolah Dukungan yang diberikan kepada guru bilamana mereka melaksanakan peraturan disiplin sekolah.Karakteristik 8: Keterlibatan Orangtua dan Masyarakat y y Keterlibatan orangtua merupakan stimulus eksternal yang berperan penting bagi peningkatan kualitas pembelajaran Kerjasama orangtua dan sekolah dalam pemberian bimbingan belajar dan dalam menumbuhkan kedisiplinan kepada anak mereka Karakteristik 9: Keterlibatan dan Tanggung Jawab Siswa y y Pembelajaran hanya mungkin terjadi bilamana siswa mempunyai pandangan yang positif terhadap sekolahnya dan peranan mereka di dalamnya Keterlibatan siswa menumbuhkan pada diri siswa rasa memiliki terhadap sekolah dan terhadap pembelajarannya sendiri Karakteristik 10: Penghargaan dan Insentif y y Pemberian penghargaan jauh lebih penting ketimbang menghukum atau menyalahkan siswa Penghargaan dan insentif mendorong munculnya perilaku positif dan. dalam beberapa hal. dengan lingkup terdiri 8 standar. mengubah perilaku siswa (dan juga guru). (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan. (3) standar kompetensi lulusan. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dikatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dapat dipandang sebagai tonggak penting untuk menuju pendidikan nasional yang terstandarkan. (2006). Sistem Manajemen Sekolah (Materi Pelatihan Pengawas Sekolah) Tentang Standar Pendidikan Posted on13 Mei 2010byAKHMAD SUDRAJAT Kehadiran Peraturan Pemerintah No. (5) standar sarana dan prasarana. yaitu: (1) standar isi. Sumber: Arismunandar.

Melalui pendidik yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras Asecara standar. Standar Proses (IV). khususnya dalam konteks sekolah. Untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. . Pada aras A ini. Hingga akhir tahun 2009 pemerintah melalui Mendiknas (era kepemimpinan Bambang Sudibyo) telah berhasil menerbitkan sejumlah PERMENDIKNAS (bisa dilihat DISINI) Tulisan ini tidak bermaksud menganalisis secara detail isi yang terkandung dari setiap peraturan yang ada. Dalam Peraturan Pemerintah ini terdapat pasal-pasal yang mengamanatkan perlunya dibuat Peraturan Menteri sebagai penjabaran lebih lanjut dari delapan standar penddikan dimaksud. terdapat wilayah yang bersentuhan langsung yang berada pada aras A. pelaksanaan. dari kedelapan lingkup standar pendidikan. dan Standar Penilaian (V). tetapi saya hanya ingin menggambarkan secara garis besarnya keterkaitan dan interdependensi kedelapan standar pendidikan. yang menjadi komponen terpenting adalah Standar Pendidik. dan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Standar Nasional Pendidikan memiliki fungsi sebagai dasar dalam perencanaan.yaitu: Standar Pendidik (II. Standar Isi (III). Melihat gambar di atas.a). segenap aktivitas pendidikan dari standar pendidikan lainnya harus tertuju pada pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Dengan demikian. tetapi merupakan sebuah rangkaian yang utuh dan saling terkait.Dilihat dari fungsi dan tujuannya. Standar Kompetensi Lulusan (I) seyogyanya dapat dijadikan sebagai titik sentral sekaligus inti dari seluruh standar pendidikan yang ada. karena kedelapan lingkup standar pendidikan ini pada dasarnya tidak berjalan sendiri-sendiri.

mungkin diantara Anda ada yang mempertanyakan dimana letak Pengawas Satuan Pendidikan? (Permendiknas No.c). Pengambilan keputusan partisipatif adalah proses membuat keputusan sekolah dalam suasana kerjasama pada semua level. sehingga pada akhirnya dapat berdampak pula pada bergeraknya inti pendidikan yakni pencapaian SKL. Selain itu. namun entah kenapa hingga saat ini tampaknya pemerintah belum tergoda untuk mensahkannya sebagai sebuah kebijakan resmi. kita harus akui bahwa era kepemimpinan Bambang Sudibyo bisa dipandang telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi upaya standarisasi pendidikan nasional. yaitu: Standar Kepala Sekolah (II. saya berfikir bahwa posisi pengawas satuan pendidikan mungkin perlu dibuat Aras C. Kegiatan itu mencakup perubahan fundamental mengenai cara sekolah dikelola dan cara mengungkapkan peranan dan hubungan kepala sekolah dengan masyarakat sekolah. Kita berharap pada era kepemimpinan pendidikan sekarang ini kiranya dapat melahirkan berbagai kebijakan dan regulasi yang semakin dapat menyempurnakan sekaligus memperkokoh upaya standarisasi pendidikan nasional yang telah dirintis sebelumnya. 23 tahun 2006 sama sekali tidak disinggung SKL yang bisa dicapai melalui pelayanan konseling. dan Standar Tenaga Kependidikan (II. Dari seluruh rangkaian standar pendidikan sebagaimana tampak dalam gambar di atas. dimana kedudukannya dapat diletakkan bersama-sama dengan Standar Pengelolaan Pemerintah Pusat (PP No 19 pasal 60) dan Standar Pengelolaan Pemerintah Daerah (PP No 19 pasal 59) yang akan menopang pergerakan komponen-komponen yang berada pada Aras B mau pun Aras A. tetapi keberadaannya tidak mungkin untuk disentuhkan langsung dengan SKL. terus terang saya mengalami kesulitan untuk memposisikan Standar Konselor (Permendiknas No. Pengambilan Keputusan Partisipatif di Sek olah Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Pengambilan keputusan partisipatif merupakan suatu pengembangan konsep to grasp.Standar Pengelolaan (VI) . Secara formal konselor digolongkan sebagai pendidik.Aras A tidak akan berputar dengan baik apabila tidak ditopang oleh komponen-komponen yang berada pada aras B. saya melihat tumpuan harapan terletak pada Standar Kepala Sekolah Melalui Kepala Sekolah yang terstandarkan diharapkan dapat menjalankan komponen-komponen yang berada pada aras B dan juga aras A. Dalam konteks ini. Dari berbagai komponen yang berada pada aras B. 12 Tahun 2007). Proses ini . karena dalam Permendiknas No.b). menurut Allen dan Glikman (1992). Sepengetahuan saya. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada. 27 tahun 2008). Standar Sarana dan Prasarana (VII) dan Standar Pembiayaan (VIII). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia telah menawarkan Draft Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang merupakan SKL-nya pelayanan konseling di sekolah.

pembuatan keputusan partisipatif dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik sebab sejumlah pemikiran orang diperkenalkan dalam memecahkan suatu masalah. Partisipasi dalam pembuatan keputusan mengurangi penolakan terhadap perubahan. Peserta membutuhkan respek dari orang lain dalam rangka aktualisasi dirinya. Jika orang dilibatkan dalam membuat keputusan maka orang tersebut lebih suka untuk melaksanakan keputusan itu secara efektif. 2. proses membangun keterampilan kelompok dan pengembangan kompetensi kepemimpinan. Menurut Newel (1992).berlangsung dalam pola membagi pengambilan keputusan yang ³tidak dilakukan sekali dan kemudian dilupakan´. Temuan itu menunjukkan bahwa: 1. bahwa kelompok pembuat keputusan memperkuat nilai perilaku anggota kelompok yang secara umum diterima dalam budaya tertentu. Berbagai penelitian menemukan bahwa orang memberikan respek dan memperoleh manfaat dari teknik pengambilan keputusan partisipatif. 3. Individu kehilangan kepentingan dalam pemecahan masalah jika tidak terlibat secara aktif. . 4. melainkan dilakukan secara berkelanjutan. nilai yang paling besar dari keikutsertaan dalam pengambilan keputusan adalah kekuatan pengertian yang disampaikan kepada individu. Prosedur partisipasi dalam pembuatan keputusan membantu penyatuan tujuan individu dengan tujuan organisasi. karena kelompok dapat terus berfungsi secara efektif meskipun kehilangan kedudukan sebagai pemimpin jika kepemimpinan telah dibagi dengan anggota kelompok. Barangkali. Interaksi kelompok seringkali mengarahkan untuk mengambil risiko lebih besar atas bagian daripada anggota kelompok. 5. Keterlibatan dalam pengawasan yang berhubungan dengan tugas dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja. Partisipasi dalam pembuatan keputusan bermakna bagi perkembangan individu dan bagi upaya fungsionalisasi diri. Partisipasi dalam pembuatan keputusan merupakan faktor utama yang mempengaruhi kepuasan guru di sekolah.

Temuan penelitian di atas meneguhkan asumsi bahwa peningkatan peranan individu dan kelompok dalam proses pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan diri yang lebih besar. Penelitian ini juga menemukan bahwa peningkatan peranan manajemen (level) bawah dalam pembuatan keputusan dapat meningkatkan produktivitas. Disamping temuan penelitian di atas, ada beberapa temuan berbeda yang diperoleh dalam penelitian Alutto dan Belasco (Newwel, 1978) yang telah mengidentifikasi tiga keadaan keputusan dari para guru, yaitu: (1) kehilangan (guru yang ingin lebih berpartisipasi); (2) keseimbangan (guru yang ingin tidak ada perubahan dalam partisipasinya sekarang); (3) kejenuhan (para guru yang ingin mengurangi partisipasinya). Temuan ini berdasarkan pandangan guru muda yang mengajar pada sekolah menengah di daerah pinggiran yang merasa kehilangan kesempatan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan. Sedangkan guru yang lebih tua pada sekolah dasar di daerah pertanian cenderung mengalami rasa jenuh yang sangat besar dalam pengambilan keputusan. Singkatnya, temuan penelitian secara umum mengindikasikan bahwa keterlibatan dalam pengambilan keputusan sangat disukai, tetapi struktur pembuatan keputusan harus cukup fleksibel untuk membolehkan bagi keragaman tingkat partisipasi. Menurut Simon (1985: 177), aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah kewenangan, komunikasi, pelatihan, efisiensi dan loyalitas kepatuhan. Kelima aspek ini merupakan konsep yang dapat mendorong seseorang membuat dan melaksanakan keputusan organisasi. Di dalamnya ada premis nilai dan premis fakta. Oleh karena itu, kewenangan ada dalam struktur formal organisasi yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap perilaku seseorang sebagai anggota organisasi dibanding yang lainnya. Unity dan coordination membentuk group mind. Simon (1985: 179) selanjutnya menyatakan bahwa ³Authority is as the power to make decision which guide actions of anothers´. Dalam hal ini pola perilaku dari kewenangan menurutnya adalah perintah. Kewenangan ada dalam hubungan antara atasan dengan bawahan. Oleh karena itu, pimpinan membuat dan mengirimkan keputusan dengan harapan bawahan menerima. Sementara itu, bawahan berharap akan melakukan pekerjaan berdasarkan keputusan tersebut. Cara manajer menentukan saat yang tepat menggunakan wewenangnya adalah dengan cara mengomunikasikan keputusan yang dibuatnya kepada bawahan untuk memelihara koordinasi perilaku dalam satu kelompok dimana keputusan atasan dikomunikasikan kepada yang lain. Dalam hal ini fungsi keputusan menurut Simon (1997: 187) ada tiga, yaitu (1) it enforce responsibility of the individual to choose who wield the authority; (2) it secures expertise in the making of decisions; (3) it permits coordination of activity. Dengan demikian, jika semua warga sekolah memahami fungsi keputusan yang mencakup upaya memperkuat tanggung jawab individu kepala sekolah bersama warga sekolah untuk mau menjalankan kewenangan, memelihara keahlian dalam membuat keputusan dan memungkinkan adanya koordinasi aktivitas maka konflik dapat dihindarkan di antara anggota organisasi sekolah. Pertimbangan yang dijadikan sebagai premis dalam menggunakan wewenang adalah pertimbangan nilai dan pertimbangan fakta. Pertimbangan nilai menyangkut nilai, budaya, pandangan dan pengalaman seseorang yang dipakainya dalam menggunakan wewenang. Sedangkan pertimbangan fakta berdasarkan data dan informasi yang ada untuk digunakan dalam kewenangan organisasi. Kedua pertimbangan tersebut sangat penting difungsikan

dalam wewenang karena dengan begitu akan dapat melahirkan loyalitas bawahan melaksanakan keputusan. Menurut Bauer (1992), pengambilan keputusan partisipatif meliputi banyak bentuk dan menekankan beberapa keyakinan umum atau premis. Pertama,keputusan partisipatif berarti lebih dekat kepada anak didik dan tindakannya sehingga akan dibuat keputusan terbaik tentang pendidikan bagi anak-anak. Kedua, guru, orang tua dan staf sekolah memiliki lebih banyak pendapat tentang kebijakan dan program yang mempengaruhi sekolah dan anak didik. Ketiga, tanggung jawab pengambilan keputusan partisipatif memiliki kekuatan dalam menentukan keputusan. Akhirnya, perubahan yang dilakukan cocok dan efektif dan bila dilaksanakan maka keputusan tersebut menjadi milik bersama kepala sekolah dan seluruh warga sekolah. Tujuan pengambilan keputusan partisipatif ialah untuk meningkatkan efektivitas sekolah dan pembelajaran murid dengan cara peningkatan komitmen staf dan menjamin bahwa sekolah lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan anak didik dan masyarakat. Keberhasilan anak didik dan prestasi yang dicapai dipelihara dalam pencerahan pemikiran kita sebagai alasan untuk mengimplementasikan pemikiran tentang pengambilan keputusan partisipatif. Penggunaan teknik pengambilan keputusan partisipatif ini bertujuan untuk pergantian akuntabilitas atau mengabaikan tanggung jawab dari atas kepada pusat kekuatan staf, membuat sederhana pembagian pengambilan keputusan kepada yang lain. Setiap orang yang berpartisipasi membuat keputusan harus dimintai tanggung jawab terhadap hasil yang dicapai. Pengambilan keputusan partisipatif memiliki nilai potensial untuk meningkatkan mutu keputusan, mempermudah penerimaan keputusan dan pelaksanaannya, membangkitkan kekuatan moral staf, meneguhkan komitmen dan tim kerja, membangun kepercayaan, membantu staf dan administrator memperoleh keterampilan baru dan meningkatkan keefektifan sekolah. Sejumlah alternatif besar dapat diajukan dan dianalisis bila banyak orang dilibatkan. Hal itu seringkali menghasilkan pendekatan inovatif terhadap persoalan. Otonomi dapat dikembangkan, keputusan lebih baik dicapai dibandingkan dengan manajemen sekolah terpusat. Kepercayaan sekolah juga ditingkatkan sehingga staf memperoleh pengertian tentang kompleksitas manajemen dan kepala sekolah mempelajari penghargaan atas pertimbangan program. Ada beberapa petunjuk yang disarankan oleh para perintis pengambilan keputusan bersama (partisipatif) sebagai berikut: 1. Mulai dari yang kecil dan berjalan dengan pelan. Untuk hal ini banyak bukti yang dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam adopsi inovasi. Oleh karena itu, pengambilan keputusan partisipatif akan lebih berhasil jika diawali dengan langkah kecil daripada ³perubahan menyeluruh´ yang dianggap asing oleh warga sekolah. Caranya ialah menganalisis kebutuhan sekolah, kemudian mengadaptasi pemilihan proses yang memperhatikan situasi lokal. Komponennya dapat ditambahkan bila staf sudah siap. 2. Setuju atas penataan yang khusus. Tidak ada kebenaran ³tunggal´ dalam cara melakukan pengambilan keputusan bersama. Hal itu bergantung atas apa yang diinginkan dari kebersamaan. Banyak sekolah mengembangkan satu tim pengambilan keputusan atau menggunakan kelompok lain atau komite. Jika tidak ada mandat maka

dapat diputuskan orang yang akan terlibat (bisa saja guru, pelajar, orang tua, anggota masyarakat dan konsultan luar). Ukuran kelompok dapat bervariasi dari sembilan sampai tujuh belas orang yang penting ada jaminan bahwa kelompok terwakili. Selanjutnya, menentukan bagaimana keputusan akan dibuat (ambil suara terbanyak atau konsensus) dan siapa yang akan membuat keputusan akhir atas persoalan yang dihadapi. 3. Prosedur yang jelas mengenai peranan dan harapan. Staf membutuhkan pengertian akan langkah-langkah dan prosedur untuk diikuti sebelum keputusan dibuat. Ketidakjelasan proses menciptakan kebingungan yang menimbulkan fragmentasi tindakan. Sementara itu, kejelasan proses memberdayakan anggota kelompok juga membutuhkan pengertian apakah mereka diikutkan membuat batang tubuh keputusan atau sebagai pemberi masukan saja. Hal ini akan mengurangi moral kelompok untuk berpikir membuat keputusan hanya mengambil keputusan demi kepentingannya semata. 4. Berikan kesempatan setiap orang untuk melibatkan diri. Keputusan yang dibuat berdasarkan pemikiran administratif dalam menghadapi memilih atau kelompok sukarelawan mungkin mendahului sebagai keputusan dari atas ke bawah. Kedudukan para sukarelawan atau kekuatan tugas mereka memberikan peluang baginya untuk berpartisipasi sebanyak atau sesedikit mungkin sesuai yang diinginkan. Paling tidak, semua guru dan staf dapat mengaksesnya. 5. Bangun kepercayaan dan dukungan. Jika kurang kepercayaan dan penghargaan di antara administrator, guru dan staf maka dapat dipastikan pengambilan keputusan bersama kurang dapat diterima. Oleh karena itu, jangan menolak solusi kelompok atau lebih kuat memberikan keputusan kepada kelompok pengambil keputusan bersama. Derajat dukungan yang kurang juga menjadi gagal jika kultur luar sekolah tidak berubah. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 200. Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif; Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah.

Pengambilan Keputusan
Posted on 16 Mei 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Para pakar memberikan pengertian keputusan sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang pemikirannya. Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan; (2) ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan (3) ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada

Setelah dipahami pengertian keputusan. Dari pengertian keputusan tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif. Pengertian keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. menurut Sondang P. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah. Menurut George R. selanjutnya dikutipkan pendapat para pakar mengenai pengertian pembuatan atau ± yang sering digunakan ± pengambilan keputusan. Di samping itu. masa yang akan datang. Terkait dengan fungsi tersebut. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. maka tujuan pengambilan keputusan dapat dibedakan: (1) tujuan yang bersifat tunggal. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. dimana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Pengambilan keputusan sebagai kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. artinya bersangkut paut dengan hari depan. Selanjutnya. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah. menurut James A. F.tujuan tersebut. fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik. Kemudian. artinya bahwa sekali .

dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Sementara itu. (3) perhitungan tentang faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di luar jangkauan manusia. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik). (3) fakta. Dengan fakta. artinya keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua (atau lebih) masalah yang bersifat kontradiktif atau yang bersifat tidak kontradiktif. Unsur pengambilan keputusan itu adalah: (1) tujuan dari pengambilan keputusan. yaitu: (1) intuisi. Agar pengambilan keputusan dapat lebih terarah. Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah. sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada. karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang. tidak ada kaitannya dengan masalah lain dan (2) tujuan yang bersifat ganda. Intuisi. solid dan baik. tetapi dapat menimbulkan sifat rutinitas. . mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan 4. George R. Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini. maka perlu diketahui unsur atau komponen pengambilan keputusan. 1. maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu. 3. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif. Wewenang. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. (2) pengalaman. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek. Rasional. dan (5) rasional.diputuskan. Fakta. tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya. atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. 5. (4) wewenang. 2. Pengalaman. Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat. (2) identifikasi alternatif keputusan yang memecahkan masalah. Terry menyebutkan 5 dasar (basis) dalam pengambilan keputusan. dan (4) sarana dan perlengkapan untuk mengevaluasi atau mengukur hasil dari suatu pengambilan keputusan.

Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio. logis. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. . Perubahan dan Pengembangan Sekolah Menengah sebagai Organisasi Belajar yang Efektif. di mana menyediakan makanan pilihan/sehat untuk siswa yang dilayani oleh petugas kantin. Good (1959) dalam bukunya Dictionary of Education mengatakan bahwa: ³cafetaria a room or building in which public school pupuils or college student select prepared food and serve themselves´. keputusan yang dihasilkan bersifat objektif. 200. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal. Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai. Materi Diklat Pembinaan Kompetensi Calon Kepala Sekolah/Kepala Sekolah Tentang Kantin Sekolah Posted on 3 Juni 2010 by AKHMAD SUDRAJAT Layanan kantin atau kafetaria merupakan salah satu bentuk layanan khusus di sekolah yang berusaha menyediakan makanan dan minuman yang dibutuhkan siswa atau personil sekolah. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria. Departemen Pendidikan Nasional. Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik berdasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal. sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu. Sumber : Modifikasi dan disarikan dari: Direktorat Tenaga Kependidikan. Pada pengambilan keputusan secara rasional terdapat beberapa hal sebagai berikut: y y y y y Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah. Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya. Kantin adalah suatu ruang atau bangunan yang berada di sekolah maupun perguruan tinggi.

6. 4. 8. 5. 2. bergizi. Roe dalam bukunya School Business Management menyebutkan beberapa tujuan yang dapat dicapai melalui penyediaan layanan kantin di sekolah: 1. memberikan bantuan dalam mengajarkan ilmu gizi secara nyata. Dilihat dari tujuan kantin sekolah di atas. untuk memberikan pelajaran sosial kepada siswa. 4.William H. membantu pertumbuhan dan kesehatan siswa dengan jalan menyediakan makanan yang sehat. menekankan kesopanan dalam masyarakat. menganjurkan kebersihan dan kesehatan. memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar memilih makanan yang baik atau sehat. memberikan gambaran tentang manajemen yang praktis dan baik. 3. 5. memberikan batuan dalam mengajrkan ilmu gizi secara nyata. maka kantin sekolah dapat berfungsi untuk: 1. menekankan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlaku di masyarakat. mengajarkan penggunaan tata krama yang benar dan sesuai dengan yang berlakudi masyarakat. 2. 7. 2. Dalam menyelenggarakan atau mendirikan kantin sekolah yang baik hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini: 1. dalam bekerja. 7. program kantin sekolah harus dipandang sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan . mendorong siswa untuk memilih makanan yang cukup dan seimbang. menghindari terbelinya makanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebersihannya dan kesehatannya. menunjukan adanya koordinasi antara bidang pertanian dengan bidang industri. kantin sekolah hendaknya tidak dipandang sebagai suatu penciptaan keuntungan di sekolah. sebagai tempat untuk berdiskusi tentang pelajaran-pelajaran di sekolah. memperlihatkan kepada siswa bahwa faktor emosi berpengaruh pada kesehatan seseorang. 3. dan tempat menunggu apabila ada jam kosong. 6. dan kehidupan bersama. dan praktis.

2. serta menjamin selera pembeli. 2. 4. . kebersihan. mengatur dekorasi. Manajemen Layanan Khusus: materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Terkait dengan bentuk pelayanan kantin sekolah. gedung atau ruang kantin harus strategis karena akan sangat mempengaruhi keefektivan operasi dan koordinasi program-program kantin 6. 5. yaitu: 1. Wait service system Sistem pelayanan dimana pembeli menunggu dilayani oleh petugas kantin sesuai dengan pesanan. namun juga dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendidik siswa tentang kesehatan. 7. Self service system. poster-poster kesehatan. terdapat 3 (tiga) alternatif bentuk layanan. menyusun suatu aturan pembayaran yang tidak merugikan kantin. Kantin sekolah memberikan peluang untuk mengembangkan tingkah laku dan kebiasaan positif di kalangan siswa. tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum siswa semata. seperti: lukisan. memberikan kebijaksanaan keuangan (korting) dapat mendorong berkembangnya program kantin. saling menghargai. menentukan prosedur untuk menutup dan membuka kantin atau kapan anak-anak memasuki dan meninggalkan kantin. karena dapat menarik pembeli 8. 3. harga makanan dan minuman harus dapat dijangkau oleh daya beli siswa 4. kejujuran. keberadaan kantin di sekolah. mengatur anak-anak yang makan siang dengan membawa makanan sendiri. membuat pengaturan tempat duduk yang serasi. 6. disiplin dan nilai-nilai lainnya. Jakarta. menyusun prosedur pengembalian talam atau tempat makanan dan pada saat meninggalkan ruangan makan Dengan dimikian.3. dan penyajian makanannya dengan menggunakan baki atau nampan. Tray service system. program kantin harus menyeimbangkan antara kapasitas makanan dan harga. penyajian dan pelayanan makanan harus memadai dan cepat 5. 2007. 7. personil-personil kantin harus bertanggung jawab atas makanan yang bergizi dan menarik. menentukan aturan-aturan bagi perilaku anak-anak di meja makan. menyajikan musik selama jam makan siang. memperhatikan semua perilaku murid dalam kantin. Hal-hal berikut dapat diperhitungkan oleh kepala sekolah untuk memperbaiki lingkungan kantin sekolah: 1. Sistem pelayanan dimana pembeli dilayani petugas kantin. 8. Sumber: Disarikan dari : Depdiknas. Di sinilah letak arti penting manajemen kantin sekolah sebagai salah satu substansi manajemen sekolah. 3. begitu juga gizi. Sistem pelayanan dimana pembeli melayani dirinya sendiri makanan yang diingini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful