P. 1
Kitab Solo

Kitab Solo

|Views: 4,139|Likes:
Published by XXX_X

More info:

Published by: XXX_X on Nov 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

KITAB SOLO

Oleh Arswendo Atmowiloto

Diterbitkan PEMERINTAH KOTA SURAKARTA Badan Informasi dan Komunikasi Jalan Jenderal Sudirman 2 Surakarta
KITAB SOLO 2 KITAB SOLO 3

KITAB SOLO
Oleh: Arswendo Atmowiloto
XX XXXXXX Copyright c 2008, KITAB SOLO Desain Sampul dan Isi : Dito Sugito Foto: Luax Mawardi, Ichwan Gembeng

Dicetak oleh Percetakan xxxxxx Isi di luar tanggung jawab Percetakan

Catatan Penyusun 10 KITAB SOLO: Sebuah Pengantar 26 Babad 33 Pilihan Tanah 35 Mbokmenawa 38 Ningrat 49 Seluruh Dunia 55 Bandha Laksana 59 Sekaten 60 Tirakatan 66 Kalender Baru 67 Kreativitas Kompromi 70 Punakawan 74 Sastra Jawa 80 Jumat Kliwon 84 Manunggaling kawula-Gusti 88 BOTHEKAN 89 NARLON KAWIT 90 WALJINAH 92 MBAH LATIF 94 SERABI NOTOSUMAN 96 TENGKLENG KLEWER 100 HIK 102 GUSTI MOENG 104 YU SARWI 106
KITAB SOLO 5

KITAB SOLO 4

BAKSO (di)KALILARANGAN 108 GESANG MARTOHARTONO 110 GUDEG CEKER (di) MARGOYUDAN 112 DR LO 114 PASOPATI 116 TAMAN JURUG 118 DIDI KEMPOT 120 SOLO BALAPAN 122 ANOM SUROTO 126 SUPRAPTO SURYODARMO 128 HARIADI SAPTONO dan ENDANG KUSUMA ASTUTI 130 GENDHON HUMARDANI 132 RW 09 134 Gladag Langen Bogan 138 Bangkok 150 London 154 Ratu Kidul 156 Sangga Buwono 164 W.O. Sriwedari 166 W.O. RRI 170 Wow 172 Taman Balekambang 176 WHCCE 182
KITAB SOLO 6 KITAB SOLO 7

FOTO LUAX MAWARDI

KITAB SOLO 8

Kumpulan tukang becak, juga ciri khas senyumam ramah, selama 24 jam KITAB SOLO 9

Catatan Penyusun

KITAB SOLO 10

KITAB SOLO 11

Judul buku ini, Kitab Solo, terjadi karena salah dengar. Tadinya saya menjuduli Kirab Solo, namun dalam pembicaraan, yang diajak bicara menangkap sebagai Kitab Solo. Sebagai “warga negara” Solo, berarti dua-duanya bisa dipakai. Karena ini buku (kitab) mengenai Solo, dan terutama mengenai momentum kirab. Ada dua kirab yang menyejarah. Yaitu ketika Keraton Kartasura terpaksa dipindah ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Suatu kesibukan, juga pelaksaan proyek besar sekali. Terbesar pada zamannya—dan sesudahnya, karena sejak itu Keraton tak pernah pindah, walau terpecah dan terbelah. Yang kedua, perpindahan para pedagang kaki lima di Banjarsari menuju pasar klitikan Nitihardjo di Semanggi. Suatu kesibukan, juga pelaksanaan proyek kemanusiaan yang cemerlang. Di mana pun penggusuran atau pemindahan pedagang kaki lima menimbulkan congkrah, menimbulkan dredah, ada kalanya sampai berdarah-darah. Tapi kali ini berjalan aman damai, bahkan ada spanduk yang menyatakan kesediaan berpindah. Apa yang luar biasa di tempat lain, kelihatannya seperti biasa-biasa saja di Solo. Sehingga seolah di Solo-lah segala yang aneh bisa berlangsung secara wajar. Penjual makanan yang buka selewat tengah malam, pertunjukkan wayang orang dengan penonton tak lebih dari seperempat jumlah pemain, pasar kain terbesar yang salah ucapan—mungkin juga termasuk nama Solo itu sendiri, upaya menggiatkan anak-anak bersekolah dengan membangun Taman Sriwedari, atau menyebut nama sungai terbesarnya Bengawan Solo— pun ketika air sungai itu mengalir sampai Jawa Timur, sampai dengan stadion sepak bola
KITAB SOLO 13

KITAB SOLO 12

LUAX MAWARDI

yang pertama kali bisa dipakai bertanding malam hari, panggung gamelan komplit di halaman masjid Agung, atau juga … apa saja. Kita tinggal menyebutkan. Karena setiap batu, setiap debu di Solo menyimpan seribu cerita. Tergantung siapa yang ditanya. Kadang riwayat yang satu berbeda dengan riwayat oleh penutur kedua. Kadang bahkan bertentangan. Tapi, inilah eloknya. Kedua pengertian yang bisa sama, bisa berbeda itu, pada dasarnya bisa saling melengkapi. Makanya boleh saja buku itu disebut Kitab Solo, atau Kirab Solo, atau Kitab Kirab Solo, atau bahkan Solo saja, atau yang lain lagi—Ini Bukan Solo Lagi, misalnya. Solo sendiri, bukanlah definisi yang selesai. Bahkan juga dalam kepentingan geografis sekali pun. Ia bisa berarti “hanya” seluas pemerintah kota Surakarta, atau berikut kabupaten-kabupaten yang mengitari, atau bahkan lebih luas dari itu semua, yaitu Jawa. Dalam kaitan budaya ini menjadi menarik, menggelitik, mungkin juga mendidik bagi warganya. Hubungan warga Solo satu dengan yang lain sedemikian akrab, sedemikian nostalgis, terutama jika mereka berada di perantauan—meskipun itu hanya Jakarta, atau kota lain. Istilah yang dipergunakan dalam percakapan adalah :“Kapan pulang ke Solo?”. Seolah dengan demikian pergantian kartu tanda penduduk, waktu yang sudah puluhan tahun tak membuatnya menjadi bukan Solo. Seolah keberadaan di kota lain semacam perantauan, semacam diaspora, dan nantinya pulang ke rumah yang sebenarnya. Dua tata nilai sekaligus juga tata krama yang bisa paradoksal, bisa saling bertentangan ternyata bisa diterima dalam satu pengertian. Ternyata juga, dalam banyak hal ini bisa dikatakan menjadi salah satu ciri sikap masyarakat Solo. Dalam percakapan di warung hik, dalam pertemuan resmi, gaya Solo ini—dalam kesenian disebut gagrak, muncul dalam guyonan, dalam plesetan. Antau gurau dan serius menyatu. Antara dua, atau bahkan tiga tata nilai dijadikan pegangan bersama, tanpa mengalahkan satu dengan yang lainnya. Tanpa menanggalkan salah satunya. Permulaan kalender Jawa yang menyatu dengan kalender Hijriah merupakah contoh jenius, bagaimana tata nilai baru ini disepakati, dan bagaimana tahun Saka tetap dipergunakan. Sekurangnya ada tiga wilayah budaya, Hindu, Jawa, juga Islam yang menemukan kalender yang sama.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 14

KITAB SOLO 15

Sesungguhnya ini suatu kreativitas kompromi yang tiada taranya dalam sejarah, sebagaimana jas Belanda menjadi beskap atau sepatu dipotong bagian belakangnya sehingga selop. Dan ketika itulah kita menerima sebagai busana Jawa.
ILL.REPRO DITO SUGITO

KITAB SOLO 16

KITAB SOLO 17

Konsep komunikasi yang di masyarakat luar negeri dicoba dengan susah payah, konsep to whom I must speak today, kepada siapa saya berbicara hari ini, ternyata sudah menjadi bagian dalam kehidupan keseharian.

Konsep ini pula yang mulus ketika akhirnya Keraton Surakarta dibangun dari tanah rakyat yang diberi pengganti, dan juga ketika Pasar Klithikan menemukan bentuknya.
Peristiwa-peristiwa itulah yang mendasari buku ini. Memang bukan buku tentang pariwisata atau petunjuk tempat-tempat menarik dan bersejarah—semua batu mempunyai seribu satu cerita, melainkan mengenai mengapa tempat itu menjadi menarik. Dan begitulah susunan buku ini, lebih merupakan personal esai dibandingkan penulisan yang menukik dalam penelitian, atau pembabaran yang melebar. Materi utama beberapa kali sudah pernah saya tuliskan terpisah dalam beberapa artikel di surat kabar, terutama harian Seputar Indonesia, beberapa dari makalah dalam berbagai pertemuan dan ceramah budaya. Tapi yang paling besar adalah ketika saya berusaha berada di dalam budaya Solo, dengan bertemu banyak orang, dengan ngobrol, dengan rerasanan, dengan guyonan, dengan celelekan. Dari sudut pendekatan ini, beberapa tokoh yang kita tampilkan, kita wawancarai, kita tunggui, tidak lagi mewakili profesi tertentu, atau jabatan, atau bahkan “kasta” tertentu. Tak ada strategi tertentu memilih atau tidak memilih, melainkan seperti tengah berjalan menuju pasar, dan siapa yang kita temui kita ajak bercakap, dengan bahan apa saja yang terlintas. Seperti juga percakapan yang terjadi kala kita bertemu seseorang dalam perjalanan, atau ketika sama-sama dalam perjalanan menuju suatu tujuan.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 18

KITAB SOLO 19

Dalam penyusunan dituliskan bersama dengan Begog Djoko Winarso yang mengawani ke seluruh sudut , Leo Tejakusumo yang melakukan wawancara, foto oleh Luax Mawardi, Ichwan Gembeng dan desain oleh Dito Sugito, dan beberapa dokumen dari berbagai perpustakaan yang ada di Solo, termasuk dari pemerintah daerah, terutamna dari Badan Informasi dan Komunikasi. Meskipun demikian, ini bukan buku mengenai para pejabat, dan atau strategi rinci pembangunan. Saya sepenuhnya memperoleh kebebasan dalam menuliskan—sebagaimana kebebasan kreatif kalau saya menoleh novel atau opini. Selama ini saya telah menulis puluhan buku, mungkin ratusan buku yang telah diterbitkan, mungkin ribuan kalau dihitung dengan skenario, namun dalam proses penulisan baru kali ini saya merasa tak bisa menyelesaikan dengan tuntas. Mungkin karena saya terlalu bodoh, mungkin karena Solo bukanlah definisi yang selesai, closed caption, mungkin dua-duanya, mungkin bukan dua-duanya.

Solo telah banyak berubah, tapi selalu teraba benang merah, ungkapan :Solo ya , tetep, Solo. Kita bisa datang dan pergi ke Solo, tapi kita tak pernah meninggalkan.
Judul Kitab Solo, juga bukan sebuah promosi. Karena yang selama ini berpromosi dengan bangga, sudah banyak dan masih terus berlangsung. Mereka yang mengadakan arisan bukan di Solo tapi berlatar belakang kekerabatan Solo, mereka yang patungan menonton wayang orang, atau menelusuri jalanan pelosok untuk menemukan makanan, atau penganan, yang pernah memanjakan lidahnya, atau juga berburu barang-barang antik yang dulu dimiliki, atau benar-benar pulang dan membangun kampung kelahirannya. Termasuk di zaman sekarang ini, ketika internet menguasai komunikasi dunia maya. Ada selalu situs, ada selalu blog yang mengisahkan Solo. Juga, pembicaraan ketika terjadi pertemuan tanpa perencanaan.
KITAB SOLO 20 KITAB SOLO 21

Kepada mereka jugalah, dan dari mereka jugalah, Kitab Solo ini dituliskan, sebagai bagian dari debu, bagian dari batu.

KITAB SOLO 22

KITAB SOLO 23

Sebagai pengantar— dan seluruh isi buku ini sebenarnya hanyalah sebuah pengantar.

KITAB SOLO 24

KITAB SOLO 25

KITAB SOLO Sebuah Pengantar

ISTIMEWA

KITAB SOLO 26

KITAB SOLO 27

Di Solo, setiap batu punya cerita, barang kali seribu cerita.

KITAB SOLO 28

KITAB SOLO 29

Atau bahkan setitik debu, bisa menjadi seribu satu cerita yang seru, lucu, haru, mungkin agak-agak tabu. Bahkan untuk kata Solo itu sendiri bisa panjang riwayatnya, bisa luas cakupannya. Mulai apakah dituliskan Solo atau Sala, berasal dari nama pohon atau nama seseorang, apakah ada batas geografis atau batas budaya dengan wilayah yang “bukan Solo”, atau apakah ini sebuah pemerintahan kota, karesidenan, atau sebuah komunitas yang lebih menyeluruh dari budaya Jawa, atau pertanyaan yang saling bertentangan. Jawabannya bisa lebih panjang, karena jawaban yang mana pun bisa benar. Paling tidak, bukan jawaban yang salah. Itulah yang mengembangkan cerita, kisah, sejarah, yang tak pernah berhenti. Sambung menyambung menjadi satu, itulah… Solo. Kita bisa menceritakan Solo dari mana pun, dari apa pun, tapi hampir pasti mengalami kesulitan mengakhiri. Kita bisa menarik kesimpulan dari pendekatan yang kita lakukan, tapi hampir pasti pula, kesimpulannya bisa berbeda. Tanpa perlu kecewa, karena kesimpulan mana pun bisa diterima. Kita bisa merumuskan identitas Solo, dari segi apa pun, tapi tak akan sepenuhnya mewadahi. Bahkan kalau mencoba bertanya : Solo ki jan-jane apa lan piye to, Solo itu sebenarnya apa dan bagaimana, jawabannya adalah Solo ya Solo, Solo adalah Solo. Solo sebuah pertanyaan, sekaligus sebuah jawaban.
KITAB SOLO 30 KITAB SOLO 31

BABAD
Saya menggunakan sebutan Solo—bukan Sala, juga bukan Surakarta—dalam tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelum dan sesudah ini, tanpa harus menjelaskan alasannya. Suka-suka saja, kalaupun ada alasan lebih sentimental sifatnya. Selama ini nama Solo lebih punya karakter (toh tak ada kota lain bernama Solotiga, yang ada Salatiga), toh nama sungai terbesar adalah Bengawan Solo, nama stasiun kereta api yang tercetak juga Solo Balapan, dan lebih dulu ada istilah wong Solo, atau priyayi Solo. Adapun asal usul nama Solo sendiri, ada beberapa cerita : · Nama orang. Ini yang paling sering diceritakan, bahwa dulunya ada penduduk awal bernama Ki, atau Kiai (yang dilafalkan dengan huruf kental, menjadi Kiyai) Solo, atau Ki Ageng Solo. Nama inilah yang kemudian dipakai sampai sekarang. Sesuatu yang masuk akal, dan ada jejak makam Ki Ageng Solo. Meskipun sebenarnya, yang disebut sebagai Kiai Solo, bukanlah satu orang saja, melainkan terdiri dari tiga generasi. Ada Kiai Solo I, II, dan tiga. Akan halnya nama itu sendiri, sebenarnya merupakan pengucapan yang salah kaprah. Kata awalnya konon soroh bahu. Ini jenis pekerjaan, di mana kelompok orang yang memberi tenaga secara suka rela. Nama soroh bahu sendiri bisa diartikan pemberi (soroh) tenaga (bahu), atau sukarelawan, atau persembahan tenaga dari rakyat sebagai tanda bakti untuk raja. Penduduk yang menempati suatu wilayah, menyetorkan tenaganya untuk membantu pihak Keraton. Menurut penulisan R.M. Sajid ( Babad Sala, Rekso Pustaka, Mangkunegaran, tahun 1984), tenaga kerja, atau bausuku ini diberikan selama satu minggu. Mereka ini tenaga kerja yang akan melakukan pekerjaan, membantu apa yang menjadi keperluan pihak Keraton, waktu itu zaman Keraton Pajang. Adalah wajar jika nama orang pun disebutkan dengan jenis pekerjaan. Sehingga pemimpin kelompok ini, disebut sebagai Ki Soroh Bahu, atau singkatnya Ki Soroh. Dalam pengucapan terjadi pergeseran, kalentuning pangucap, menjadi terdengar sebagai Ki Sala. Dari sinilah nama itu terdengar, dengan asal usul sebutan untuk tenaga kerja. · Nama tumbuhan. Jenis pohon Sala Pinus Merkusii, adalah jenis pepohonan pinus
KITAB SOLO 33

Sungai kecil, tanpa nama inilah yang menjadi sumber air sungai yang melegenda, Bengawan Solo

KITAB SOLO 32

FOTO ATOK SUGIRTO

atau mirip pohon cemara. Jenis pohon yang getahnya bisa diolah menjadi bahan cat, atau juga untuk gondorukem ini banyak terdapat di lereng-lereng daerah itu. Ada beberapa jenis tanaman Sala, namun Pinus Merkusii yang paling dekat, karena dalam penjelasannya disebutkan ditebang, ditegor. Pastilah jenis pohon yang tinggi dan bukan sebangsa rerumputkan. G.P.H. Hadiwidjaja, dalam salah satu tulisannya (Sala, terbitan Radyapustaka, 1960) berkesimpulan bahwa Sala berasal dari nama desa, dan di desa itu banyak pohon Sala, atau bahkan hutan Sala. Dua pendekatan yang sangat berbeda, di samping ada pendekatan-pendekatan lain, yang tetap bisa diterima tanpa menyalahkan atau mengalahkan yang lain. Atau bahkan bisa ditemukan kompromi kreatif. Misalnya saja, memang daerah yang sekarang bernama Solo itu dulunya banyak pohon-pohon pinus yang menghasilkan minyak terpentin. Kamituwa, penguasa wilayah itu yang juga abdi dalem, meskipun bernama Ki Bau Rekso, lebih dikenal sebagai Ki Sala. “Kebetulan” tokoh ini juga menjadi penyedia tenaga kerja bagi pihak Keraton, ketua dari barisan soroh bahu. Klop. Gothak gathuk, manthuk.

bukan yang memakai taling tarung, tanda penutup. Barang kali keterbukaan tata nilai dan tata krama ini, mendominasi warna Solo, dan warganya.
PILIHAN TANAH
Pendekatan sejarah, juga meninggalkan banyak cerita. Baik yang dicatat dengan indah, dengan gagah, dengan megah—walau kadang menyembunyikan kesan kurang menggugah.Suasana saat itu, pertengahan abad 18, tanah Jawa sedang mengalami peperangan di berbagai bidang. Dinasti Keraton Mataram yang pernah sakti mandraguna sedang merana. Juga terluka. Di Keraton Kartasura Hadiningrat, bertahta Sinuwun Paku Buwana II, pada usia yang muda, baru 16 tahun. Pengendali pemerintahan adalah ibunda Ratu Ageng dan Patih Danurejo yang anti Kumpeni/ VOC. Sikap politik pun diwarnai ini, dan ikut berubah ketika Danurejo diselong—kata yang berasal dari dibuang ke Ceylon, Sri Langka. Politik bergeser dan bergoyang. Sementara suasana keseluruhan juga amburadul. Di Batavia, tahun 1740, Belanda membinasakan lebih dari sepuluh ribu keturunan Tionghoa. Pelarian yang selamat, mengadakan perlawanan di Jawa Tengah, termasuk Kartasura. Pada saat yang sama, perebutan tahta Mataram tengah berlangsung terbuka. Sinuwun yang relatif muda usia, sekali lagi berada dalam tekanan dari berbagai jurusan. Dari bersekutu dengan pasukan Tionghoa sampai memusuhi, dari memusuhi Pangeran Cakraningat kemudian bersekutu, dari memusuhi VOC alias Kumpeni, menjadi peminta bantuan. Apalagi setelah Geger Pecinan, yang membuat Sinuhun mengungsi. Walau kemudian akhirnya bisa kembali menempati Keraton Kartasura Hadidingrat.
KITAB SOLO 35

Memang ini akan menjadi cerminan sikap warganya yang bisa terbuka. Termasuk penulisan Solo atau Sala. Yang penting dituliskan dalam huruf Jawa “ sa legena dan la legena”. Huruf sa dan huruf la yang nglegena, yang telanjang,
KITAB SOLO 34

Namun keadaan Keraton sudah porak poranda. Kekuasaan Dinasti Mataram agaknya memang temaram. Peta kekuasaan sedang ruwet, dan memerlukan biaya kelewat mahal untuk akhirnya Paku Buwono kembali bertahta. Dan berduka. Juga luka kuasa, luka karisma. Bangunan Keraton, ibarat kata telah diinjak-injak, kehormatan dan kebesaran Dinasti Mataram yang gagah perkasa telah rata dengan tanah. Jalan terbaik untuk membangun citra baru adalah mendirikan Keraton baru. Begitulah yang biasanya terjadi para kerajaan-kerajaan zaman dulu. Kita lupakan sejenak konflik pelik yang mencekik kekuasaan Mataram. Sudah banyak telaah yang dituliskan dengan cermat, teliti. Kita rerasanan mengenai dimulainya tempat baru. Di sinilah permulaan pencarian tanah untuk mendirikan Keraton baru. Pastilah peristiwa yang rumit, berbelit, juga ada campur tangan Kumpeni. Sebelum akhirnya ada tiga pilihan. Yang menarik di sini adalah proses pemilihan dan berbagai pertimbangan sebelum akhirnya diambil keputusan. Pilihan pertama desa Talangwangi, atau kini dikenal sekitar Kadipala. Tanahnya bagus, konon berbau wangi. Beberapa bagian masih berupa perbukitan kecil, gumuk, dengan kemungkinan perluasan wilayah kurang bawera., kurang luas. Menurut perhitungan spiritual, Keraton yang didirikan di sini tak akan berusia lama. Pilihan kedua, desa Solo, termasuk tanah yang sudah jadi—sudah ada penghuni. Dekat dengan sungai besar yang menjadi urat nadi perdagangan. Ketika itu pelabuihan Beton dan Nusupan sudah disinggahi perahu-perahu dari Gresik maupun Surabaya. Hanya saja tanah sekitar termasuk rendah, berupa rawa-rawa, selalu berair, dan sebagian masih berupa hutan belukar. Perhitungan spiritual mengatakan bahwa Keraton yang dibangun di situ akan berjaya, dan berusia panjang. Pilihan ketiga, desa Sanasewu, sebelah timur Bengawan Solo, masih sebelah barat desa Bekonang. Tempat itu akan bertambah besar, jaya, makmur, serta mulya. Namun perhitungan spiritual mengatakan bahwa masyarakatnya akan kembali memeluk agama Buddha.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 36

KITAB SOLO 37

Bahwa pilihan kemudian jatuh ke desa Solo—dengan segala kesulitan menimbun rawarawa, begitulah catatan sejarah. Tapi bahwa perhitungan spiritual—pastilah dengan berpuasa, dengan manekung, dengan semedi, dengan segala kemampuan batin yang tiada taranya, sekaligus juga diimbangi dengan berbagai pertimbangan yang rasional. Pertimbangan geografis tak terlalu jauh dengan bengawan yang merupakan jalan utama perdagangan, misalnya. Atau perluasan wilayah untuk masa depan.—membawa tanah perbukitan di dusun Talangwangi untuk menimbun rawa-rawa yang menurut cerita bersambung ke Segara Kidul yang dikuasai Ratu Pantai Selatan, sehingga airnya tak akan pernah habis. Demikian juga kalau diingat bahwa pihak Keraton tidak serta merta datang dan membangun. Ada ganti untung, dengan segala perhitungan yang rumit. Menurut catatan, sekurangnya penduduk asli sudah bertempat tinggal di situ selama lebih dari 160 tahun. Sedikitnya tiga generasi, kalau dilihat dari sudut Kiai Solo generasi ketiga yang melaksanakan persetujuan pemindahan tempat warga sebelumnya. Ini semua memerlukan manajemen yang luar biasa rumit, repot dan ruwet.. Proses yang luar biasa panjaaaaaang dan mencengangkan.

menghadapi masalah yang seolah tak bisa diselesaikan. “Mbokmenawa bae” adalah ungkapan harapan, kepercayaan bahwa ada sesuatu yang bisa terjadi, walau sepertinya tidak mungkin. Dalam bahasa percakapan, kata ini disusul dengan ungkapan, sapa ngerti, atau siapa tahu. Ya, siapa yang tahu pasti? Jalan pikiran dan sikap hidup yang terbuka dan membuka. Ini mungkin bentuk-bentuk atau sikap diri, yang mampu bertahan dari gempuran keadaan, mampu melihat satu titik di ujung terowongan gelap, satu modal sosial yang tak pernah habis. Dalam bentuk mistisnya, keberadaan Nyi Roro Kidul misalnya, masih akan selalu ada. Dalam bentuk lainnya, kedatangan dan kemunculan Ratu Adil, masih bisa kita dengar. Tidak selalu dalam pembicaraan yang serius—meskipun ada, namun juga bukan dalam guyonan yang asal-asalan. Sebagai “warga negara” Solo dan dibesarkan di tempat ini dan masih selalu “pulang” (ini istilah yang dipakai jika mudik, atau pergi ke Solo, seakan selama ini hanya bertamu ke kota lain), suasana ini terhayati, bukan hanya terasakan.

MBOKMENAWA
Kadang terbersit pikiran, andai—hanya berandai-andai, kalau benar Keraton Surakarta Hadiningrat—namanya akan tetap begitu dibangun di mana pun, dibangun di Sanasewu peta sosial dan warna keagamaan akan berubah? Atau kalau dibangun di daerah Kadipala, akan lebih cepat surut? Akan pendek usianya? Penggandaian ini adalah penggandaian yang tidak mungkin. Karena sejarah berjalan, dan bukan jenis games anak-anak yang bisa restart lagi dari awal. Penggandaian ini seperti berucap :”andai aku jadi kupu-kupu”, sesuatu yang belum pernah terjadi manusia menjadi kupu-kupu, walau ia bersedia menjadi kepompong. Namun dalam alam pikiran, pengandaian atau perumpamaan ini bisa hidup dalam alam pikiran masyarakat. Kata “mbokmenawa” atau “mbokmenawa bae”, adalah sikap hebat masyarakat ketika
KITAB SOLO 38

Dalam pembicaraan di warung angkringan, di hik, obrolan mengenai apa saja bisa terjadi, mengalir “ngalor ngidul, ngetan bali ngulon”, baik masalah besar atau masalah rumah tangga. Waktu seakan berhenti, tak ada persoalan yang benar gawat. Kalau pun “gawat keliwat-liwat”, tetap bisa diobrolkan dengan selingan tawa.
KITAB SOLO 39

Idiom-idiom yang menjadi bahan pembicaraan dimengerti satu dengan yang lainnya. Teori komunikasi yang susah payah diterangkan dan dicoba diterapkan para pakar, sudah mengalir dengan sendirinya. Sehingga tuntutan to whom I must speak today, kepada siapa saya bicara, yang menjadi syarat utama terjadinya komunikasi yang efektif, menjadi tidak relevan. Karena satu dengan yang lain telah sama-sama mengetahui maksud dan tujuannya.
Cerita dibangunnya Keraton bisa menjadi contoh ilustrasi. Alkisah setelah ditentukan tempat untuk pembangunan Keraton, mulailah tanah diratakan, pepohonan liar ditebang dan daerah rawa ditutup. Para Bupati dari wilayah Barat maupun Timur semua menyediakan balok-balok kayu untuk menutup rawa. Semua usaha pembangunan berjalan lancar, kecuali di tengah sumber air. Berapa pun balok dimasukkan, tak ada hasilnya. Bahkan air yang keluar makin banyak. Pangeran Wijil, Kiai Kalipah Buyut, Pengulu Pekik Ibrahim, yang mendapat tugas utama tak bisa berbuat banyak. Segala upaya telah dilakukan, namun hasilnya sia-sia. Air tetap tak bisa dibendung. Bahkan kemudian dari rawa itu muncul jenis ikan dan binatang yang biasanya hidup di laut. Ini kejadian yang luar biasa dan menggetarkan. Setelah semua upaya tidak berhasil, Panggeran Wijil serta Kiai Yasadipura bersemedi, manekung di sebelah timur rawa. Mereka berdua bertapa, selama seminggu, tidak makan tidak tidur. Sampai akhirnya terdengar suara :
KITAB SOLO 40

“Heh kang mangun subrata. Wruhanira, teleng iku mulane ora bisa mampet, amarga tembusane Segara Kidul. Dene yen sira udi pampete teleng mau, kang dadi saranane : Tambalen gong Kiyai Sekar Delima, karo roning lumbu lawan sirahing taledhek. Ing kono bisa pampet telenge, ananging ing tembe dadi kedhung ora mili ora asat, ajeg banyune, ora kena dipampet salawase.”
KITAB SOLO 41

Terjemahan harafiahnya, kira-kira : “Hai yang tengah bertapa, ketahuilah, bahwa sumber air itu tak bisa berhenti, karena sumbernya dari Laut Selatan. Kalau kalian ingin menghentikan, ini caranya : masukkan gong (alat musik) Kiai Sekar Delima, serta daun lumbu, dan tanamlah kepala ledhek ( pesinden, perempuan yang nembang atau menari). Di situ akan berakhir airnya. Besoknya tempat itu masih ada airnya, tapi tak membuat banjir dan tak akan kering. Tak akan bisa ditutup selamanya.” Wisik atau sasmita suara gaib itu dicatat terjadi pada malam Anggara Kasih, bulan Sapar tanggal 29 tahun Jimawal, angka 1669. Dalam bahasa harafiah, untuk menghentikan air dari pusatnya adalah dengan menanam gong, daun lumbu, serta kepala ledhek, kepala manusia. Namun bukan itu makna sesungguhnya. Melalui uraian yang susah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, makna dibalik arti harafiahnya adalah : bahwa taledhek berarti duit, kata lain ringgit, jumlahnya saleksa, atau sepuluh ribu uang ringgit. Gong itu kependekan dari gangsa, yang artinya bibir. Bibir itu berarti ucapan. Ucapan adalah janji. Janji harus ditepati. Dengan kata lain, ada ganti rugi sebesar sepuluh ribu ringgit, sebagai ganti untung—bukan ganti rugi, bagi Kiai Solo dan semua penghuni yang akan dipindahkan. Begitu banyak nama benda yang bisa berarti lain, kemudian diartikan lain lagi, sampai kemudian jelas apa yang dimaksud. Inilah yang kemudian terjadi. Daerah rawa itu bisa ditutup, airnya tak lagi mengalir, dan tempat di mana daun lumbu itu ditebarkan sekarang menjadi nama tempat, Kedung Lumbu. Terlepas dari suara gaib ( yang sebenarnya sangat mungkin terjadi, karena hanya didengar yang bersangkutan, sebagaimana seseorang mendapatkan ilham), serta upaya mendengar suara itu ( yang sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa untuk berpuasa selama tujuh hari tanpa tidur sekalipun), idiom gong bisa terkomunikasikan sebagai gangsa, sebagai bibir, sebagai ucapan, sebagai janji, sebagai komitmen, adalah luar biasa. Idiom “kepala taledhek”, yang berarti ringgit, atau bisa berarti wayang bisa berarti uang, sampai ke sasaran dengan tepat, sungguh mengagumkan.
KITAB SOLO 42

Ada dua tata nilai yang tersampaikan dengan cara seperti ini. Nilai spiritual atau mistis— termasuk kisah yang gaib, termasuk nama asal usul Kedung Lumbu, tapi sekaligus juga juga nilai praktis dan rasional. Yaitu warga mendapatkan ganti untung atas tanahnya, warga dibayar untuk membiayai berdirinya Keraton. Pola komunikasi ini terbukti sakti, boleh dikatakan sukses lahir batin.
Yang batin tidak menggantikan yang lahir, sebaliknya yang lahir tidak meninggalkan atau menanggalkan yang batin. Dengan “komunikasi Gong”, barang kali kita akan lebih memahami, lebih mengerti, lebih menemukan sesuatu ketika berada di Solo. Karena memang setiap bangunan, setiap jengkal tanah menyimpan kisah yang basah untuk dimaknai. Kita ambil contoh Pasar Klewer. Pusat perbelanjaan tekstil yang pernah dijuluki terbesar di Indonesia karena volume perdagangannya ini, adalah contoh berkembangnya industri lokal, industri yang melibatkan masyarakat secara luas. Berada di sebelah barat, agak ke selatan Alun-alun Utara, berdampingan dengan Masjid Agung. Jalan di samping itu adalah jalan tertua, kalau diingat perpindahan rombongan dari Keraton Kartasura melewati itu pertama kalinya. Kemudian tempat itu menjadi pakretan, pa-kreta-an, atau tempat parkir kereta. Pada abdi dalem atau juga terutama para pembesar dari Delanggu, Kartasura, Boyolali, menempatkan kendaraan utama saat itu di situ. Dari nama pakretan, berubah menjadi slompretan, dan jadilah nama Pasar Slompretan. Berbeda dengan pasar-pasar yang lain, Pasar Slomperan merupakan pasar yang
KITAB SOLO 43

FOTO LUAX MAWARDI

KITAB SOLO 44

KITAB SOLO 45

tumbuh bersamaan dengan dinamika masyarakat. Setidaknya dibandingkan dengan Pasar Gedhe, atau Pasar Gede, atau Peken Ageng, yang ada di tengah daerah Pecinan. Bangunan, los-los pasar relatif teratur, tertata. Pada tahun 1927 sudah dibangun bertingkat dua, mungkin sekali pasar pertama di Indonesia yang bertingkat. Pasar Gede Hardjanagoro, menjadi yang pertama – seperti juga banyak hal terjadi pertama kali terjadi di Solo. Begitu juga pasar yang hanya ramai pada hari pasaran—Pasar Pon, Pasar Kliwon (pasar khusus hewan), Pasar Legi, (banyak transaksi dengan warga dari “luar” Solo), atau juga Pasar Kembang—yang secara khusus menjaul bunga untuk keperluan ritual seperti untuk kembang setaman, kembang boreh, kembang campur untuk ditebar di makam, juga kembang untuk keperluan pemakaman. Sebagai pasar rakyat, Pasar Slompretan, mengalami masa surut di zaman Jepang. Pedagang tak mampu lagi menyewa kios, sehingga berada di jalanan. Barang dagangannya dibawa dengan tangan, seperti para pengasong atau penjaja jalanan. Dagangannya pun bisa diperkirakan adalah pakaian atau barang bekas. Keberadaan para penjaja pun, kleweran, di jalanan. Itu pun selalu diusir, karena mengganggu ketertiban. Keadaan yang serba kleweran itulah yang membuat nama Pasar Slompretan kemudian menjadi Pasar Klewer. Untunglah nama itu tidak diubah lagi. Bukan karena apa, nama Pasar Klewer dalam artian tertentu mempunyai riwayat, mempunyai cerita yang panjang. Di samping nilai-nilai penjualan-pembelian yang terjadi, di samping transaksi tanpa henti, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bisa dikisahkan dengan gagah. Karena bukan pasar atau plaza yang tiba-tiba dan menggusur pedagang sebelumnya, atau semacam itu. Inilah saya maksudkan dengan setiap debu memiliki seribu satu cerita. Yang bisa membuat kita ceria kala mendengar, atau kala menuturkan kembali. Terutama karena di dalamnya ada inspirasi, ada dinamika, ada kegagahan, yang menjadi penanda.
KITAB SOLO 46

Pada titik inilah sesungguhnya nilai-nilai budaya itu menemukan kekuatannya yang utama, menjadi sejarah, dan menggugah. Pasar Klewer bukan sekadar pasar tekstil semata, bukan pasar kelontong belaka, melainkan pasar rakyat yang sesungguhnya. Yang sampai kapan pun, akan terus menggemakan kehadirannya.
Bagaimana membuat nilai-nilai itu tetap relevan dan aktual, adalah bagaimana mensosialisasikan, sehingga bisa terus terpahami getarannya. Pasar Klewer bisa menjadi contoh yang pas, justru karena ia bukan bangunan purba dan kuno, bukan petilasan raja atau gubernur Kumpeni, bukan karena nilai-nilai seni yang tersimpan di dalamnya. Pasar Klewer adalah pasar, tempat jual beli seketika, yang tidak dimaksudkan sebagai warisan sejarah. Belum lagi kalau kita kaitkan dengan keberadaan Sarekat Dagang Islam, yang didirikan 16 Oktober 1905, tiga tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo. Adalah Sarekat Dagang Islam, yang melihat perlunya mengembangkan perekonomian rakyat, sekaligus juga nasional dan religius. Dalam perjalanannya berubah menjadi Sarekat Islam, namun pastilah ada bekas-bekas sikapnya sehingga Pasar Klewer lebih banyak menampilkan para pedagang pribumi—ketika persaingan dengan pedagang Tionghoa menjadi masalah besar. Para juragan batik, para mbokmase—sebutan untuk kaum perempuan yang mengendalikan usaha batik, bisa turut merasakan berkahnya. Dan Pasar Klewer juga bukan satu-satunya. Sebanyak batu, sebanyak debu, sebanyak itulah Solo memiliki warisan budaya yang berharga.
KITAB SOLO 47

NINGRAT
Kembali ke pengandaian, kalau saja Keraton dibangun di Kadipolo, akankah usianya lebih pendek dari sekarang ini? Tidak ada yang bisa memastikan, dan mungkin juga tidak perlu. Yang jelas dan pasti, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak selalu utuh seperti yang diperkirakan. Belum usai seorang raja berkuasa telah terjadi perpecahan, peperangan, perebutan kekuasaan. Sampai akhirnya wilayah dibagi dua, dengan seorang Sultan bertahta di Ngayogyakarta Hadiningrat. Dengan kekuasaan yang sama. Dan kemudian di Surakarta, juga akhirnya dibagi dua, dengan Keraton Mangkunegaran. Sekarang ini mungkin dengan ringan kita menceritakan bahwa Keraton dibagi dua, lalu dibagi dua lagi, atau menyebutkan tahun-tahun perjanjian, tahun-tahun perdamaian. Namun di balik semua itu, saya hanya membayangkan dengan pedih, dengan perih, betapa menyakitkan hati peristiwa semacam itu terjadi. Baik Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, Paku Alaman, masih bersaudara. Sangat-sangat dekat, sama-sama keturunan raja gung binatara. Ikatan darah, ikatan tata nilai dan tata karma ternyata tak cukup kuat untuk mengikat dan menyatukan diri. Sehingga yang terjadi adalah perpecahan, juga pemisahan, dan bukan tidak mungkin permusuhan. Adalah sangat mungkin sekali adanya perbedaan-perbedaan dalam tata nilai dan tata krama. Apa yang sakral di Kasunanan Solo adalah hal yang biasa atau malah profan di Kasultanan Yogya. Demikian juga tercermin dalam cara berbusana, cara merias pengantin dengan segala atribut-atributnya. Jangan lupa bahwa pada masa-masa itu, tanda-tanda kebesaran, tanda-tanda kehormatan, tata krama adalah nilai utama. Sehingga perbedaan menjadi pemisah dalam arti yang sebenarnya. Tercermin dalam bentuk-bentuk kesenian, sampai kehidupan sehari-hari. Perbedaan yang tajam dari tata nilai ini mewarnai perjalanan tumbuhnya Keraton-keraton yang ada. Makin terasa menyakitkan mana kala diingat bahwa untuk menjadi raja baru, restu yang diperlukan dari VOC atau Kumpeni. Para pembesar ‘sabrang’ inilah yang menyetujui
ISTIMEWA

KITAB SOLO 48

KITAB SOLO 49

atau tidak menyetujui, merestui atau tidak merestui kapan Keraton baru diresmikan. Termasuk penentuan waktu pelantikan, dan tentu saja batas-batas wilayah. Menyakitkan dan sungguh merendahkan harga diri sampai rata dengan tanah. Justru di tanah tumpah darah sendiri, seorang raja yang berkuasa penuh dengan gelar tertinggi sebagai panglima perang dan wakil Allah di buminya, untuk menggapai itu harus berseteru dengan sanak saudara sendiri, harus meminta restu Belanda. Saya membayangkan masa-masa itu sebagai masa yang suram, sulit, menyesakkan dada, membuat ‘unjal ambegan’, menghela napas setiap kali. Bagaimana hal semacam ini bisa terjadi? Bagaimana masyarakat hidup dalam perpecahan, juga persaingan, dalam perbedaan tata nilai dan tata krama, ketika sama-sama masih mengakui sebagai ‘wong Jawa’? Bagaimana masyarakat yang Jawa ini merasa Jawa dengan mengabdi ke raja yang mana? Betapa membingungkan, mengingat bahwa para raja, untuk Solo, antara Kasunanan dan Mangkunegaran, juga ada pertalian leluhur yang sama, di samping juga ada perkawinan antar sentana dalem, antarkerabat dekat raja? Sedemikian tajam perbedaan itu, sehingga sepasang rel kereta api yang berada di jalan Slamet Riyadi sekarang ini, pernah dianggap sebagai batas pemisah, antara Kasunanan dan Mangkunegaran. Sedemikian berlanjut perbedaan ini, sehingga sampai saat ini pun, ada “dua sinuwun” di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dalam prosesnya ada demontrasi segala? Tak terbayangkan bahwa itu bisa terjadi. Bahkan sasmita yang paling buruk pun, mungkin tidak menggambarkan akhir yang demikian tragis. Tapi, di sinilah keunggulan dan daya tahan masyarakat Solo dan sekitarnya. Dalam keadaan begitu rancu, dalam perpecahan yang membelah makin memisahkan, mereka tetap bisa menjalani. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, antara Kasunanan dan Mangkunegaran seolah tak ada perbedaan. Dua tata nilai – atau lebih, bisa diterima dengan sabar dan tenang.
KITAB SOLO 50

Tapi, di sinilah uniknya. Bahkan dalam kekuasaan yang nyaris putus pun, kesetiaan para abdi dalem tidak surut karenanya. Berita bahwa abdi dalem yang menjaga pintu, atau yang tugur—berjaga dan berdoa semalaman, adalah contoh-contoh yang mentakjubkan. Bahwa Keraton yang telah coreng moreng, telah berada dalam situasi “ ora cetha alang ujure”, tidak jelas posisi politis, ekonomis, maupun sosialnya, masih dianggap membawa berkah. Masih menjadi acuan moral, etika maupun estetika.
Secara pribadi saya merasakan ini, karena berada di dalam pusaran ini. Ketika masih SMP, di SMP Negeri 4, ketika teman sekelas main ke rumah, ibu saya menemui dan menyembah. Teman sekolah saya ini adalah putri dokter Padmanegoro—nama ini sudah turun temurun sejak awal Keraton, dan bagi almarhumah ibu, merupakan bentuk kekuasaan Keraton. Ibu bisa bercerita mengenai garis keturunan, hubungan terdengar dengan Sinuwun yang mana, yang keberapa, juga dari garis istri yang mana. Bahwa saat itu menjadi teman sekolah anaknya, tidak menghalangi ibu untuk dengan tulus melakukan itu. Untuk generasi ibu, tata nilai dan tata krama itu masih terangkat kental. Dan bisa
KITAB SOLO 51

dimengerti karena kakek—ayah dari ibu, adalah abdi dalem. Dari namanya, Atmolelewo—itu sebabnya nama tua ibu-bapak adalah Atmowiloto, terlihat jelas bahwa almarhum kakek adalah abdi dalem bagian lelewo, menari. Atau lebih khusus lagi termasuk dalam canthang balung, yang menari di jalanan mendahului iringan para pembesar Keraton yang akan berjalan. Sebagai pemeriah adanya iring-iringan. Barang kali mirip cheer leader sekarang ini. Bukan sebagai prajurit yang maju perang. Pangkat terakhirnya lurah. Namun agaknya ini pangkat anumerta, karena lebih dikenal sebagai bekel—satu tingkat di bawahnya. Meskipun demikian, meskipun pangkatnya berada di golongan bawah, derajat dan kewibawaan almarhum kakek cukup disegani. Setidaknya dibandingkan sanak keluarga yang lain yang bukan abdi dalem. Setidaknya secara ekonomis juga lumayan, karena meskipun sebagai abdi dalem, hidupnya lumayan sukses. Kalau ukuran sukses adalah mempunyai rumah sendiri, dan istrinya bekerja, dan anakanaknya bisa sekolah.

Saya tidak mengalami zaman keemasan Ki Lurah Atmolelewo, karena beliau sudah meninggal dunia ketika saya lahir. Tapi saya kenyang dengan cerita yang membuat senang, juga bangga yang selalu dituturkan oleh nenek, oleh ibu, oleh kerabatnya. Betapa semua perhatian tertuju ke beliau menjelang menghadap ke Keraton, jangan sampai keliru apa yang dipakai atau terlambat atau lupa berpuasa. Betapa keramat hari-hari yang dilalui sebagai abdi dalem.
KITAB SOLO 52

Saya tidak mengalami itu, sebagaimana Ki Lurah Atmolelewo juga tidak mengalami— atau bahkan membayangkan, bahwa salah satu cucunya yang “durung Jawa” ini suatu ketika memperoleh gelar Kanjeng Raden Tumenggung—dengan nama baru, Wilotodipura. Untunglah beliau tidak mengalami, kalau tidak, kakek akan melakukan sembah ke saya—yang “pngkatnya” tiga empat tingkat di atasnya. Saya tidak sedang bergurau, karena ketika selesai upacara, mertua saya melakukan hal yang sama. Sanak keluarga—dari pihak keluarga, dari pihak mertua, dari yang “sudah jauh”, memerlukan datang memberi selamat dengan tulus dan bersungguh-sungguh. Ketika saya memenangkan Asean Awards dalam bidang penulisan, dan hadiah itu diberikan oleh Raja Muangthai, jangan kata memberi selamat, menanyakan juga tidak. Kalau pun tahu, dianggap biasa. Akan tetapi menjadi seorang KRT adalah something dan penting. Belum pernah saya menerima kehormatan yang begitu hangat, begitu hormat seperti ketika itu. Termasuk dirasakan oleh istri saya, yang boleh disebut sebagai Ibu Menggung—Ibu Tumenggung. Termasuk kalau saya memakai hiasan di rumah dengan payung—yang tidak terbuka, menjadi sah. Ilustrasi nyata ini menunjukkan betapa sesungguhnya, ketika puing-puing kuasa Keraton telah berkeping, masih mempunyai makna. Masih ada tata nilai yang dihormati. Dan masih relevan. Bagi saya mendapat gelar kehormatan—apa pun gelar yang dianugerahkan, bukan sekadar menjadi terhormat atau merasa diakui. Juga bukan merasa memasuki daerah baru yang feodal, masuk kasta ningrat. Karena justru ketika berada dalam sebutan ningrat, dituntut untuk berperi laku yang bertanggung jawab. Dari segi ucapan ningrat diartikan sebagai ‘ning Rat’, atau di jalan Tuhan. Pemahaman seperti inilah yang dibutuhkan di saat kita menjadi kritis, atau mengritisi sesuatu. Karena tanpa itu, selalu sesuatu yang berbau tradisi seakan menjadi masa lalu tanpa relevansi aktual—baik aktual waktu maupun aktual masalah. Dan bisa dicampakkan begitu saja karena menjadi penghalang. Padahal justru karena memiliki nilai-nilai tradisi itulah, kita belajar memahami dan membantu menentukan langkah.
KITAB SOLO 53

SELURUH DUNIA
Dengan memiliki tradisi kehidupan Keraton dengan segala liku-liku sejarahnya, masyarakat Solo menjadi berbeda—dibandingkan yang tidak memiliki, atau memiliki kemudian, atau pernah memiliki dalam jangka waktu yang jauh. Gambaran ini sangat memungkinkan melirik kepada asal usul, atau sekaligus posisi sosial yang disandang, dibandingkan dengan orang lain. Ambil misal nama kakek, Atmolelewa. Kata depan Atmo, dalam tatanan Keraton Kasunanan—yang bisa berbeda dengan Keraton Mangunegaran, menunjukkan pekerjaan dan kepangkatan tertentu, dalam hal ini berkaitan dengan tari. Dalam gabungan dengan nama Lewa, menunjukkan pekerjaan sebagai penari. Penari kelas tertentu, yang bukan penari “dalem Keraton”. Atau lebih dekat dengan sebutan badhut, atau juga canthang balung. Dengan demikian kalau kakek atau orang yang bernama Gunalewa, Wignyolelewa, akan ditertawakan misalnya mengaku sebagai penari utama di Keraton, atau prajurit perang, atau berpangkat tinggi. Demikian pula pemberian nama Wilotodipuro, menunjukkan kelas tersendiri, dibandingkan dengan misalnya pemberian nama menjadi Wilotodiningrat, atau Wilotonegara. Kelas ini tidak selalu berarti lebih tinggi atau lebih rendah, tapi dengan demikian terbedakan, juga karena profesinya. Hal yang sama bila kita mendengar nama besar, misalnya Ngabehi Maesawira. Berarti pangkat kebangsawanannya tingkat ngabehi, sementara profesinya sebagai tukang jagal.Atau nama Ngabehi Kudadipraja, berurusan dengan kuda, atau gamel. Sebanyak profesi yang ada—termasuk juru khitan, atau pemain gamelan, tukang ukir, pemelihara kuda, juru selam, juru pandhe, pembuat peralatan dari besi, juru ukir kayu, juru ukir besi, juru pembersih perhiasan, pemandi pusaka, dan tak mungkin disebutkan sepersekiannya pun—sebanyak itulah nama yang ada. Di Mangkunegaran mempunyai cara penamaan yang bisa sama bisa berbeda. Dengan tatanan dan tingkat pengaturan kelas sosial atau juga jenis pekerjaan yang ada, yang demikian banyak dan beragam, sebenarnya juga menunjukkan bahwa sampai titik tertentu, pencapaian dalam menempatkan seseorang atau kelompok telah
KITAB SOLO 54 KITAB SOLO 55

Taman Banjarsari dan sekitarnya pada zaman dulu. Dengan tempat rekreasi air mancur untuk berpotret, asrama tentara, sebelum menjadi pasar pedagang kaki lima

menemukan bentuknya. Kalau dikatakan sangat ruwet, itu semata-mata karena idiomidiom yang melatar belakangi penamaan itu tak sepenuhnya diketahui. Padahal dengan nama, Atmolelewa, semuanya telah terjelaskan. Jauh lebih dahulu dengan nomor sosial atau nomor kartu tanda penduduk, atau kartu kredit sekali pun. Sebuah identifikasi yang, bia dikatakan, sempurna. Yang jauh lebih menarik adalah bahwa pakem penamaan ini sangat baku, akan tapi juga terbuka kemungkinan yang dinamis. Misal, ini hanya misal, saya berhasil menyunting Putri Keraton, pangkat dan nama saya berubah. Status sosial dan keberadaan saya menjadi berbeda. Hal yang sebenarnya juga sudah terjadi, ketika cucu lurah mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung. Dengan adanya dinamika ini kemungkinan menjadi terbuka lebar. Bukan hanya untuk bersangkutan, yang mendapat nama dan pangkat atau identitas baru, melainkan juga istrinya—atau juga sebaliknya, suaminya, sampai ke anak turun. Secara bercanda saya pernah mengatakan bahwa suatu hari nanti, seluruh Indonesia ini akan mempunyai gelar, mempunyai pangkat tinggi. Bahkan bisa jadi seluruh dunia. Baik karena pemberian gelar atau karena perkawinan.
KITAB SOLO 56

Melihat ke arah belakang, sebenarnya bukan hanya nama orang, melainkan, jika kita melihat nama kampung yang ada. Untuk tidak terlihat Kasunanan sentris, kita ambil dua nama kampung yang ada dalam wilayah Mangkunegaran. · Nama kampung Setabelan dan kampung Kestalan. Syahdan pada zaman dahulu, daerah di sebelah utara Keraton Mangkunegaran, sekitar 300 meter dari Kali Pepe, ada alun-alun yang lebar, luas. Dibelah oleh jalan terbuka, arah ke stasiun Solo Balapan. (Masyarakat menyebut lengkap sebagai stasiun Solo Balapan, dan bukan Balapan saja). Di sebelah barat, adalah prajurit “dragonder” , pasukan berkuda, lengkap dengan kestal, atau kandang kuda. Penempatan di situ merupakan perpindahan dari depan pura Mangkunegaran, sekitar tahun 1784. dari nama istal, atau kestal inilah lahir nama Kestalan, dan menjadi kampung Kestalan. Sedangkan di sebelah timur digunakan sebagai asrama oleh prajurit meriam, yang dalam lidah Jawa disebut setabel. Dari sinilah kemudian ada nama Kampung Setabelan. Alun-alun itu sendiri kemudian didirikan perumahan elit pada masa itu, dengan bangunan loji, diberi nama Villapark, sebelum, kemudian berubah lagi menjadi Banjarsari.
KITAB SOLO 57

BANDHA LAKSANA
Yang mengasyikan, selain bisa menelusur ke belakang, kita bisa bagian-bagian yang menarik. Kestalan atau Setabelan—sama seperti kampung lain yang mempunyai riwayat, mempunyai kisah cerita yang bisa menerangkan diri. Sebagian, kini menjadi bagian dongeng masa lalu, atau terhenti sebagai cerita. Namun bukan tidak mungkin, ada kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. Yang ini bukan nama jalan, bukan nama orang, melainkan nama suatu organisasi, nama suatu kempalan. Namanya, salah satunya, adalah Bandha Laksana. Dalam organisasi ini tiap kelompok bisa terdiri dari 10 atau 25 orang. Mereka mengumpulkan duit seperti arisan. Pada giliran duit yang terkumpul bisa dipinjam oleh anggota. Dengan pengembalian yang ringan, disertai “bunga”. Kelebihan pengembalian ini, setelah dipotong untuk administrasi yang tak seberapa, pada gilirannya dikembalikan kepada anggota. Perputaran yang sekarang lebih dikenal sebagai Koperasi Simpan-Pinjam. Yang lebih menarik lagi, agaknya juga tercermin dalam sikap dasar, bahwa segala urusan diselesaikan di antara para anggota. Boleh dikatakan tak pernah ada masalah yang harus diselesaikan secara hukum, kalau ada anggota yang tak mampu membayar— atau terlalu terlambat. Dalam “Bandha Laksana”, ada perputaran uang, tapi juga ada perhitungan yang menjadi pertimbangan selain soal bunga-berbunga. Ada unsur persaudaraan, ada unsur saling mengetahui kekuatan ekonomi masing-masing anggota, dan ada unsur persoalan yang ada dipecahkan secara bersama. Dalam hal tertentu, kempalan ini jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan berhutang kepada lintah darat atau mindring, bahkan juga tetap lebih manusiawi dibandingkan berhubungan dengan bank sekalipun. Ada unsur kebersamaan, baik pengelolaan, keanggotaan, juga dalam berbagi keuntungan—atau kerugian. Barang kali saja, keluwesannya masih lebih unggul dibandingkan dengan Koperasi Simpan-Pinjam antarkaryawan di perusahaan-perusahaan terutama dalam jumlah pinjaman dan jaminan tetap. Sebagaimana nama kampung Kestalan atau Setabelan yang sayup-sayup, demikian juga bentuk-bentuk kempalan yang ada.
KITAB SOLO 58 KITAB SOLO 59

FOTO LUAX MAWARDI

Sekaten
Salah satu monumen budaya yang masih hidup dan terus berlangsung sampai saat ini, ada pasamuan Sekaten. Kata pasamuan, menunjuk kepada suasana pesta, suasana pertemuan yang boleh dikatakan resmi. Menurut beberapa sumber dari para penulis Jawa sendiri, pasamuan Sekaten sudah diadakan sejak zaman Keraton Demak. Raja pertama Keraton Demak, yang dikenal dengan nama Raden Patah, mengumpulkan para wali, untuk mengadakan Sekatenan, setahun sekali. Peringatan yang dikenal sebagai Maulud Nabi Muhamad SAW. Dalam acara yang diadakan setahun sekali, berlangsung selama tujuh hari. Bagian utama dari acara itu adalah para wali, para ulama, memberikan khotbah pengajaran agama Islam. Juga bagi mereka yang baru memeluk agama Islam dengan mengucapkan kalimat Sahadat. Namanya menjadi Pasamuan Sahadaten—artinya dalam suasana pesta gembira mengucapkan kalimat Sahadat. Seperti kisah nama yang lain, dari Sahadaten, berubah menjadi Sekaten— lebih mudah diucapkan. (Meskipun tetap saja versi lain asal usul nama Sekaten) Pada waktu itu, urutan upacara sama dengan yang sekarang ini. Raja penggede di daerah
KITAB SOLO 60 KITAB SOLO 61

berdatangan ke Keraton untuk menyatakan pengakuan kekuasaan Keraton, di samping memberi persembahan, sebagaimana lazimnya wilayah yang ada di bawah kekuasaan Keraton. Tradisi ini sudah dicatat sejak zaman Keraton Majapahit—hanya waktu pada tahun baru. Dengan masuknya agama Islam, hari pertemuan para petinggi daerah berubah menjadi saat Maulud Nabi. Ketika itu sudah memakai gamelan, dan dibunyikan. Sekurangnya ada catatan bahwa seperangkat gamelan yang ada dibawa ke Keraton Cirebon—karena permaisuri Raja Demak kedua, Pangeran Sabrang Lor, berasal dari Cirebon. Dengan demikian tradisi gamelan saat Sekaten, turut boyong dan menjadi tradisi di Keraton Kanoman Cirebon. Surutnya Keraton Demak, tidak menyurutkan tradisi yang ada. Yang terus bergema dan dilakukan, sampai kemudian di Pajang, dan kemudian dari Kartasura pindah ke Surakarta. Pada zaman “Pajang Mataram” itulah Ingkang Sinuwun Prabu Anyakrawati atau dikenal sebagai Pangeran Seda Krapyak, membuat seperangkat gamelan secara khusus untuk dibunyikan saat Sekaten. Nama gamelan itu—seperti benda lain, pusaka lain yang diberi nama, Kiai Guntursari, di tahun 1613. Menurut buku, atau serat, Sri Radya Laksana, pada masa pemerintahan Paku Buwono ke III, di halaman masjid Agung Solo, didirikan panggung, bangsal pradangga, khusus untuk tempat gamelan, letaknya di sebelah selatan. Tercatat penggunaan panggung gamelan ketika Muludan tahun Wawu angka 1713, atau tahun 1786 Masehi. Pada masa Paku Buwono ke IV, satu perangkat gamelan lagi ditambahkan, ukurannya lebih kecil, diletakkan di sebelah utara. Nama gamelan itu adalah Kiai Guntur Madu. Memang namanama yang diberikan bernada maskulin. Tapi begitulah harmoni itu terjadi, dan dua perangkat gamelan ini dibunyikan bergantian. Panbuh gamelan sebelah selatan oleh kelompok Pangrawit, sedangkan di sebelah utara oleh kelompok Mlaya. Sekadar mengingatkan kembali kalau seseorang bernama Mlayakusuma, misalnya, pastilah ia penabuh gamelan yang ada utara. Penggunaan kedua gamelan bergantian itu ditandai dimulai pada hari Selasa, tanggal 6 Mulud tahun Dal angka 1807, atau 17 Maret 1878. Surat kabar Tjakrawati, terbitan Jimawal angka 1837 atau tahun 1907, mencatat dengan
KITAB SOLO 62

teliti upacara Sekaten dengan urut. Mulai dari malam sebelumnya, mulai kapan gamelan diberangkatkan dari Keraton—sampai nanti dikembalikan lagi, tak boleh lebih dari pukul 24.00, urutan siapa yang datang antara Mangkunegaran dan Kasunanan, atau pembesar Belanda, seorang Residen muncul saat kapan dan berdiri di mana, kapan gunungan dimunculan, jenis gending pembuka yang mana—di hari pertama berebda dengan hari kedua dan seterusnya, termasuk iringan para prajurit yang harus rinci dengan segala break down nya. Semua rencana upacara yang rumit, boleh dikatakan rincian menit demi menit, yang akan berlangsung sedikitnya satu minggu. Dengan ratusan, untuk mengatakan ribuan, “panitia inti” yang menyiapkan dan mengawasi kegiatan yang melibatkan masyarakat secara massal. Bagi saya ini suatu perhelatan yang mencengangkan. Lebih dari itu, sungguh mengangumkan. Terutama perubahan kreatif yang berlangsung secara dinamis.
KITAB SOLO 63

Dimulai dari tradisi zaman Majapahit, di mana para bawahan sowan ke pusat Keraton saat tahun baru, menurut kalender perhitungan Jawa. Kemudian ketika pengaruh Islam masuk dan menguat, tradisi ini mengalami perubahan. Waktu yang tepat bukan lagi tahun baru, melainkan saat Maulud Nabi. Tema dan inti kegiatan pun bergeser. Lebih kepada syiar agama Islam.
Pada titik ini, menjadi pasamuan. Unsur budaya lokal diberi tempat, dengan masuknya gamelan. Yang diciptakan secara khusus dan hanya diperdengarkan untuk saat itu. Bahkan kemudian diberi panggung khusus. Nama-nama gendhing dan tata kramanya pun bukan gendhing yang biasa diperdengarkan. Serentak dengan dinamika ini, peralatan gamelan pun mengalami perubahan. Ukuran kayu yang dipergunakan lebih besar, sehingga terdengar nyaring. Perangkat gamelan seperti kendang—juga kethuk, kenong, kempul, menjadi surut, serta tak ada irama suwukan. Padahal dalam karawitan Jawa, kendang memegang peran sangat penting. Karena alat
KITAB SOLO 64

ini memberi komanda awal, biasanya juga akhir, untuk menentukan irama. Peran ini diganti dengan bedhug. Irama, ritme pukulan, disesuaikan dengan kemampuan dan medium bedhug. Sehingga diawalinya dengan alat musik bonang, kemudian disampung dengan demung, untuk menjadikan orkestrasi. Dengan kata lain, bukan sekadar memindah seperangkat gamelan ke halaman masjid semata, melainkan juga penyesuaian dengan penambahan dan penggantian beberapa peralatan, termasuk yang utama, yaitu kendang. Ada perubahan mendasar, namun juga masih bersinambungan dengan sebelumnya. Gendhing Rambu atau Bangkung yang dipersembahkan di hari pertama misalnya, mempunyai makna tersendiri. Demikian juga iramanya untuk gendhing yang lain. Dengan legitimasi para niyaga, yang memainkan gamelan berbeda untuk di panggung selatan dan utara, dengan laku puasa sebelum memainkan—dan juga selama memainkan, dengan hanya ditampilkan satu tahun sekali, semua menuju ke arah standar yang ditetapkan. Dan diberikan sebagai yang terbaik. Pasamuan Sekaten tidak hanya terdiri dari upacara resmi semata. Melainkan, pada saat yang bersamaan, di Alun-alun Utara, sebelah timur masjid, juga ada kegiatan yang dikenal dengan Pasar Malam. Di sini segala kebutuhan pasar, segala kemampuan ekonomi masyarakat menemukan bentuknya. Segala apa yang tak biasa dijual ada di situ, dan semua pembeli datang dari berbagai daerah. Benar-benar menjadi kegiatan yang positif, di mana syiar agama berlangsung, adat istiadat Keraton dilestarikan, dan roda perekomomian masyarakat digerakkan. Sekaten adalah peristiwa yang indah, gabungan kegiatan spiritual, legitimasi Keraton, serta dinamika pasar. Semuanya dikemas dalam satu pasamuan, tanpa menghilangkan atau merendahkan satu dengan yang lain. Seluruh masyarakat ikut merasakan, ikut merayakan, tanpa terganggu dan saling mengganggu. Sekaten adalah bukti kreativitas kompromi yang luar biasa nenek moyang kita, yang begitu arif, begitu cendekia bisa mempersatukan antara lahir dan batin.
KITAB SOLO 65

Tirakatan
Di awal tahun 1970an, saya masih ingat betul, ketika Sekaten dibayarkan. Artinya oleh pemerintah kota waktu itu, untuk masuk ke dalam Sekaten diharuskan membayar. Alun-alun diberi pagar, juga penjaga. Saya ikutan dengan beberapa seniman yang sudah senior—juga yang masih yunior, melakukan aksi demontrasi menentang peraturan tersebut. Dengan alasan, bahwa Sekaten bukan hanya peristiwa dagang semata, bukan cara pemerintah—atau sebenarnya segelintir orang, mengkomersialkan peristiwa yang sarat makna. Dengan menarik tiket masuk, peristiwa budaya menjadi urusan duit semata. Demonstrasi itu sebenarnya hanya dilakukan belasan orang, dengan membawa spanduk seadanya. Menjadi peristiwa “besar”, karena kemudian terjadi penangkapan, pemeriksaan, dan penahanan. Di sini terjadi pemaksaan, dan komunikasi menjadi buntu. Para pendemo mengalihkan tempat demonstrasi ke Taman Jurug di tepi Bengawan Solo, kali ini dengan acara tirakatkan. Melakukan permenungan, melakukan refleksi, sampai pada kesimpulan bahwa “kebudayaan Solo dimatikan.” Agaknya bentuk tirakatan, gaya prihatin ini lebih kena. Karena kemudian koran-koran Jakarta memuat.Bukan kebetulan kalau peserta tirakatan atau peserta demo adalah wartawan, atau koresponden dari media yang terbit di pusat. Nyatanya sangat ampuh. Tiket untuk masuk Sekaten dihapus.

Kalender Baru
Pendekatan budaya ini bisa dilacak jauh ke belakang. Untuk memudahkan ingatan dan memberi rasa bangga baik bagi masyarakat maupun kalangan Keraton, adalah satu nama bergaransi, sekaligus bergengsi : Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Inilah Sultan Mataram yang banyak dicatat sejarah, dengan segala kegagahan, keberanian, dan rasa hormat. Kediddayaannya berani menyerang markas kuat VOC di Batavia, pada tahun 1628 dan 1629, merupakan pertanda tidak mau mengakui kekuasaan Belanda. Konsep Keraton harus agung binatara—berdaulat, utuh, tidak berbagi dengan musuh, wiujudkan dengen tekad besar. Kisah yang dramatis, persiapan panjang untuk berani menggebrak Belanda di bentengnya yang paling kuat. Kalau kita lihat dalam catatan sejarah, keunggulan mengirimkan prajurit untuk menggempur musuh, tak bisa berdiri sendiri. Ada kerangka pemikiran, ada persiapan, juga perhitungan rumit. Ini semua hanya mungkin jika Keraton cukup kuat, berwibawa, dan bersatu. Kemajuan yang diperoleh dengan menyiapkan prajurit, tidak mungkin kalau perekonomian lemah. Tak mungkin kalau tidak bersatu di bawah pemimpin yang dikagumi. Prestasi penyerbuan hanyalah salah satu dari prestasi unggul. Pada titik yang sama, Sultan Agung mampu menggalang kekuatan dengan prajurit lain, Keraton lain—di sepanjang jalan yang dilalui, juga kekuatan-kekuatan lain di luar Jawa, atau Jawa bagian timur. Ke dalam dengan masyarakat yang mayoritas memeluk agama Islam, Sultan Agung juga melakukan pendekatan yang jempolan. Untuk pertama kali dalam sejarah Keraton, Sultan Agung memberi tempat yang proposional dalam kelembagaan Keraton, mengembangkan karya sastra Islam, mengadakan pembaharuan dalam bidang hukum
KITAB SOLO 67

Peristiwa budaya ini menegaskan bahwa dengan idiom-idiom budaya pula, yang sama-sama dikenali, bisa membuahkan saling pengertian.
KITAB SOLO 66

yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam. Masa bulan madu indah ini bahkan meninggalkan tonggak sejarah yang tetap dipergunakan sampai masa kini. Ketika itu masyarakat Islam menggunakan perhitungan kalender berdasarkan tahun Hijriah, sementara masyarakat “Kejawen”, memperhitungan tahun Saka. Dua perhitungan menurut kalendar bulan ini disatukan. Sehingga sejak tahun 1633—setelah perang berdarah darah di Batavia, masyarakat Jawa menggunakan sistem kalender yang sama. Kalender Jawa mengikuti tanggal kalender Hijriah. Dengan tetap mempertahunkan tahun Saka, atau kalau dimasehikan menjadi tahun 78. Maka sejak hari Jumat Legi 1 Muharam 1046 Hijriah, hari baru dimulai dengan perhitungan yang sama, walau berbeda angka tahun. Sungguh suatu mahakarya budaya yang agung dan wicaksana, bijaksana. Suatu pendekatan budaya yang benar-benar mendekatkan dua tradisi yang berbeda.Atau lebih tepatnya tiga budaya yang berbeda. Budaya Hindu, budaya Jawa, juga budaya Islam. Yang masing-masing memiliki tata nilai dan tata krama yang tidak sama, atau berbeda atau bertentangan. Betapa elok dan jenius, bisa dibandingkan dalam perhitungan waktu, bahkan zaman Keraton Demak pun hal ini tidak, atau belum, terjadi. Sulit dibayangkan bagaimana masyarakat Kejawen kemudian bisa dengan rela mengikuti kalender yang sama, yang berarti mengubah pola yang selama ini. Pada titik yang sama, perhitungan tahun masih memakai tahun Saka—yang memang lebih mempunyai akar sejarah dalam masyarakat Jawa.

sama, memungkin lahirnya karya-karya sastra yang linuwih, melahirkan ajaran-ajaran atau panduan yang menjadi pegangan bersama. Seperti kitab Sastra Gending, yang berisi ajaran budi pekerti luhur, keselarasan lahir batin, harmonisasi dengan kehidupan. Atau juga Kitab Nitipraja, yang berisi mengenai tata krama hubungan antara penguasa dalam menjalankan tugas kewajibannya, hubungan dengan sesama penguasa, terutama bagaimana hubungan itu diatur secara baku dengan masyarakat luas.
Di tangan dan di masa Sultan Agung Hanyakra Kusuma—yang menurut babad memang keturunan Panembahan Senopati yang adalah generasi ke 52 dari dari Nabi Adam—segala pembaharuan dan pembakuan bisa terjadi. Kalau disinggung nama Panembahan Senopati, karena sesungguhnyalah kebesaran Mataram yang ini, tidak muncul begitu saja, tidak ujug-ujug. Ada proses sebelumnya, yang mendorong terciptanya suasana kreatif. Menurut catatan, sebelum bergelar Sultan, gelar yang dipergunakan adalah Susuhunan. Yang bagi masyarakat Jawa berarti senada dengan Wali Allah. Barang kali, untuk menghindarkan konflik yang bisa muncul, beliau memakai gelar Sultan. Walau kemudian kita tahu, para anak cucu, seperti Pabu Buwono memakai kembali gelar Susuhunan. Dan kalau masyarakat Solo merasa sebagai keturunan langsung Sultan Agung, bisa dimengerti dan mudah diterima. Terutama dari kisah yang ada, nama-nama tempat, masih ada hingga sekarang ini.
KITAB SOLO 69

Gambaran ini menempatkan pada posisi, bahwa kreativitas kompromi yang membuka atau membongkar tata krama lama, menggantikan dengan tata krama sekaligus tata nilai baru. Tanpa pergolakan yang berarti. Dengan kreativitas yang
KITAB SOLO 68

Kreativitas Kompromi
Kedigdayaan raja sekaligus pujangga Sultan Agung Hanyakra Kusuma masih melegenda, menumbuhkan rasa bangga setiap kali mengenangnya. Tentu bisa ada penilaian yang berbeda, namun tak pernah menghapus jejak dan posisinya sebagai sumber inspirasi. Inilah yang turut mewarnai perkembangan pribadi masyarakat Jawa pada umumnya, dan masyarakat Solo pada khususnya. Kalau kemudian ada semboyan Solo sebagai “The Spirit of Java”, barang kali spirit kreativitas ini menjadi salah satu unsur utama. Proses penyatuan kalender Jawa dengan kelender Islam, hanya mungkin terjadi karena visi ke depan yang jauh. Hanya mungkin terjadi karena memahami dengan arif dua budaya yang berlaku di masyarakat.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 70

KITAB SOLO 71

Saya menyebutkan sebagai kreativitas kompromi. Mungkin istilah ini kurang gagah, kurang mencerminkan sikap jawara, karena ada kata kompromi. Akan tapi, justru di sinilah letak keunggulannya. Dalam suartu seminar mengenai budaya Jawa di Surabaya, 29 Agustus 2002, saya menyebutnya sebagai “kemenangan ketika menyatu dengan semesta”. Di situ bukan budaya mana yang kalah atau budaya mana yang menang— dari dua budaya yang disatukan, melainkan kemenangan bersama. Istilah sederhanya, win-win solution, akhirnya sama-sama menang. Dalam contoh lain dengan mudah bisa dilihat pada potret-potret lama para raja. Di samping mengenakan pakaian kebesaran, di balik kain itu juga… mengenakan celana panjang, yang pastilah pengaruh budaya Barat atau Belanda. Bahkan beskap, pakaian tradisi Jawa yang identik dengan kejawaan seratus persen itu, modelnya adalah jas modern—Belanda, yang bagian punggung, terkerowok, karena untuk penempatan keris. Dengan memakai beskap, model jas modern bisa terlihat jelas, namun di belakang itu tetap ada keris—sebagai bagian dan identitas kejawaan. Hal yang sama pada alas kaki yang disebut selop. Pada dasarnya sama dengan model sepatu—ujungnya tertutup rapat. Namun, perubahan terjadi di bagian belakang yang terbuka. Yang menjadikan luwes, karena mudah dilepaskan—sesuatu yang harus dilakukan jika masuk ke dalam Keraton. Barang kali agak berlebihan, namun beskap maupun selop, bisa menjadi contoh hebat, betapa kreativitas kompromi itu menemukan bentuknya, yang jenius. Masyarakat Jawa merasa tetap menemukan pakaian—dan juga harga dirinya, identitas atau jati diri tanpa menjadi tidak kalah modern dengan budaya lain—dalam hal ini dengan jas atau sepatu Belanda. Kalau ini benar, kita menemukan salah satu jurus, bagaimana budaya Jawa masih akan terus bertahan di tengah perubahan dunia. Kalau ini benar, budaya Jawa menyediakan peluang, menyediakan ralat, menyediakan kompromi, menyediakan penciptaan kembali, datangnya tata nilai dan tata krama dari mana pun datangnya. Ada proses kreatif yang berlangsung. Ada kompromi kreatif yang bersambung.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 72

KITAB SOLO 73

Punakawan
Contoh lain, yang juga klasik adalah kisah-kisah dalam wayang, baik Ramayana maupun Mahabarata. Wayang—wayang kulit, adalah bentuk kesenian yang “Jawa banget”, sangat Jawa. Dibandingkan dengan kisah di India—boleh disebut aslinya, sebagian tetap ada yang menganggap aslinya dari tanah Jawa, wayang di Jawa memberi peluang adanya tokoh-tokoh punakawan. Yaitu para abdi dari dua buah pihak. Pihak yang benar, Pandawa atau Rama, mempunyai Panakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Sedangkan pihak yang jahat, Astina atau Alengkja, ada Togog dan Mbilung. Ada juga tokoh kelas masyarakat bawah yang lain seperti Limbuk yang subur atau Cangik yang bentuk tubuhnya menjadi idaman perempuan sedunia sekarang ini, kurus kerempeng. Dari sisi mana pun, penghadiran tokoh wayang yang mewakili kelas bawah ini— bukan ksatria, bukan pendeta, bukan bangsawan, bukan saudagar, sangat menyenangkan, menghibur. Tokoh-tokohnya pandai melucu, selalu bersenda gurau, tapi… nah ini yang luar biasa, sekaligus mistis. Mereka yang menyukai atau pernah menonton pertunjukkan wayang bukan hanya terpingkal dan terhibur, melainkan juga menemukan adanya tata nilai yang lain. Ambil contoh salah satu tokoh wayang kulit, Semar. Ia bisa berarti samar, ia bisa berarti “ora lanang ora wadon”, alias melewati batas jender karena bukan laki-laki bukan perempuan, ia hanya seorang abdi—pelayan, buruk rupa, sulit dibedakan mana, maaf, pantat, mana perut, matanya sipit—gambaran yang aneh dalam dunia pewayangan, menciptakan anak dari bayangan tubuhnya—lebih hebat dari sistem kloning, dan sederet
ISTIMEWA

KITAB SOLO 74

KITAB SOLO 75

atribut yang lain. Semakin wasis sang dalang, semakin variatif dan kaya narasi akan Ki Semar Badranaya ini. Yang luar biasa adalah, tokoh tanpa kasta ini—sudra pun, kasta terendah, bukan—ternyata sakti. Bahkan para dewa yang di kahyangan tak akan menang melawannya. Bahkan digambarkan kocar kancir hanya terkena, maaf, kentutnya! Dalam mitologi Hindu, dewa-dewa adalah penguasa tinggi dengan kesaktian dan pengaruhnya : Brahma, Indra, Wisnu. Di atas mereka masih ada yang tertinggi Batara Guru. Posisinya yang tinggi juga tergambar karena tokoh-tokoh ini memakai sepatu. Tapi bahkan mereka ini, satu-satu atau mengeroyok, tak bisa mengalahkan Semar. Di sinilah terjadi penjungkirbalikkan tata nilai dari wayang Hindu—kalau bisa disebut demikian. Di sinilah terjadi proses kreatif ketika tokoh-tokoh wayang diterima, dimunculkan tokoh-tokoh “Jawa”, yang tak punya kelas, tapi juga tak bisa dikalahkan.

Bisa dimengerti kalau kemudian proses identifikasi diri dengan tokoh Semar, terus melebar. Berbagai tafsiran dimunculkan, berbagai tanda, berbagai kajian tentang Semar tak pernah selesai. Sampai kepada kepercayaan bahwa Semar mempunyai tempat tinggal yang letaknya di tanah Jawa. Bahwa Semar masih hidup, bahwa Semar…. Dan lain sebagainya.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 76

KITAB SOLO 77

Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu aneh, karena tokoh Punakawan ini mengatasi masalah waktu. Rasanya tak ada lakon dalam wayang yang dipertunjukkan, terjadi masa kerajaan mana pun, tidak memunculkannya. Semar, juga para Punakawan Dinamika adanya tokoh wayang yang lebih “baru”, bisa ditunjukkan adanya tokoh bernama Butho Cakil atau Gendir Penjalin. Tokoh raksasa kurus yang rahang bawahnya lebih panjang dari rahang atas, yang selalu bergerak dan bicara cepat seperti penyiar televisi ini, juga ada di kisah Ramayana maupun Mahabarata. Seorang ahli dengan mudah bisa menjelaskan sejak kapan tokoh Cakil ini mulai tampil dalam pertunjukkan, hanya dengan menfasirkan nama, ketemu tahun “kelahirannya”. Buto Cakil dalam sengakalan berbunyi Tangan Jaksa Satataining Jalma, atau berarti 1552 tahun Jawa, atau 1670 Masehi. Demikian juga dengan “kakaknya, yang lahir belakangan”, yang bernama Buto Rambut Geni—yang model rambut kribo mendahului ratusan tahun sebelum dipopularkan para rocker, memakai sengakalan Urubing Wayang Gumulung Tunggul, atau berarti tahun Jawa1553, setahun setelah tokoh Cakil diintrodusir. Saya hanya mengambil contoh sekenanya berdasarkan ingatan, dan bukan membicarakan wayang itu sendiri. Terutama mengenai proses kreatif yang berlangsung dan berkembang.

Bukan hanya dari tokoh, melainkan juga dari pakem, atau babon, atau lakon-lakon yang demikian baku. Bentuknya pun berubah banyak, sehingga di sini lahir lakon-lakon carangan— pengembangan sendiri dengan tokoh-tokoh yang sama, atau model banjaran—kisah biografis seorang tokoh.
KITAB SOLO 78

Kelihatannya sekilas ini hal yang biasa. Namun bentuk-bentuk baru jauh melampaui zamannya ketika sekarang ini kita mengenal istilah sequel dari sebuah lakon—dalam film ataupun televisi, dalam sinetron atau sinetron seri. Atau juga ketika bentuk banjaran tak ditemui di dalam pakem. Karena tak pernah ada judul yang mengisahkan riwayat hidup seorang tokoh.
Perubahan bentuk tampilan—termasuk waktu pementasan, pastilah membawa perubahan mendasar yang lain. Yang pada gilirannya, akan membuka berbagai kemungkinan kreatif, ke arah penciptaan baru, lebih baru, dan lebih baru lagi. Saya hanya mau menekankan, ketika diintrodusir tokoh Cakil dalam wayang kulit, sequel tarian Bambangan—pertarungan Cakil dengan ksatria Bambang, bisa berdiri, bisa dinikmati sendiri, sebagai pethilan. Inilah roh sesungguhnya dari kebudayaan, sehingga tak pernah mati. Sehingga selalu nitis, selalu tumimbal lahir. Inilah spirit of Java.
KITAB SOLO 79

Sastra Jawa
Spirit atau roh ini, bisa diberikan contohnya dalam Sastra Jawa. Kebetulan di awal karier saya sebagai penulis, saya memulai dengan bahasa Jawa. Menulis cerita pendek, sampai cerita bersambung, di hampir semua majalah berbahasa Jawa saat itu, di akhir tahun 68an. (Tidak berarti saya sekarang sudah tua, hehehe). Keadaan Sastra Jawa secara umum menggelisahkan. Majalah yang ada hanya itu-itu saja. Pelajaran bahasa Jawa di sekolah mulai ditanggalkan. Ada beberapa sekolah masih mengajarkan , itu pun hanya sampai kelas tiga. Keprihatinan terasakan betul. Situasi sebenarnya sudah terasa sejak lama. Bahkan sebetulnya, sejak awal pun perubahan mendasar telah terjadi. Sejak zaman tembang-tembang ageng diciptakan, kemudian huruf Jawa mulai diganti huruf Latin, ketika tembang menjadi geguritan, atau kemudian dinarasikan. Dalam keadaan yang memedihkan itu, dalam suatu seminar Sastra Jawa di Solo, saya mempertanyakan : Apakah ada yang menangisi kalau benar Sastra Jawa berakhir? Apa masih ada yang merasa kehilangan? Mungkin akan berakhir dan pembicaraan dalam seminar atau diskusi atau rembugan apapun juga rasa-rasanya seperti nyekar, seperti membawa bunga ke makam. Tak membuat Sastra Jawa hidup kembali. Agaknya apa yang saya utarakan, juga naskahnya kemudian dimuat di Kompas Jakarta
Salah satu kegiatan macapatan yang berlangsung di Keraton

FOTO LUAX MAWARDI

KITAB SOLO 80

KITAB SOLO 81

menimbulkan polemik. Beberapa pengarang mengatakan saya sebagai Anggada, tokoh kera dari barisan Rama yang kemudian berpihak ke lawan, Rahwana. Saya dituduh mbalela—jauh sebelum istilah itu menjadi popular.

Realitas empiris menunjukkan itu. Sastra Jawa tanpa didukung penerbitan buku, atau majalah, apa jadinya? Bahasa Jawa masih akan muncul dalam sandiwara radio berbahasa Jawa, atau lirik-lirik lagu, atau bahasa percakapan lokal, tapi secara keseluruhan tidak ada fondasi yang kuat untuk tumbuh.
Tidak berarti mati-ti dan tak mempunyai arti atau gema lagi. Melainkan, roh Sastra Jawa akan menitis dalam bentuk yang lain, dalam ekspresi yang lain. Bisa jadi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa yang lain lagi. Saya memakai istilah tumimbal lahir, atau terlahir kembali. Realitas empiris memperlihatkan itu. Sastra Jawa, menurut perhitungan sudah habis ketika huruf –hurufnya ditanggalkan. Tak berbeda dengan sastra daerah lain, apalagi yang tak mempunyai huruf sendiri. Nyatanya tidak.. Pertanyaan kenapa begitu? Karena masih ada pengarang, sastrawan, yang setia,sampai mati. Karena ada pendukungnya, walau makin sedikit, makin terjepit. Karena roh memang tidak pernah bisa mati—atau dimatikan, selama masih ada raga yang mewadahi.
Mentakjubkan bahwa kegiatan seperti ini masih ada, juga di luar tembok Keraton, sampai ke perguruan tinggi.
FOTO: LUAX MAWARDI

FOTO LUAX MAWARDI

KITAB SOLO 82

KITAB SOLO 83

Jumat Kliwon
Roh Jawa dengan segala pergulatan yang kreatif dinamis, antara lain tercermin dalam penentuan kalender, dalam menyebut hari. Misalnya Jumat Kliwon. Pada awalnya kalender masyarakat Jawa, memakai siklus sepekan berarti lima hari. Paing, Pon,Wage, Kliwon dan Legi. Dasar perhitungan itu tergerus oleh perhitungan kalender dengan sistem lain, sehingga yang dipergunakan adalah perhitungan hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Secara teori, sebutan hari-hari yang berjumlah tujuh ini dipakai di sedluruh dunia, dan masyarakat Jawa pun tak bisa mengelak. Secara teori pula, nama-nama hari Jawa musnah. Tak berlaku lagi. Nyatanya tidak. Sebutan hari pasaran Jawa masih hidup. Masih dipergunakan, dengan cara menempel pada kalender matahari. Sehingga ada sebutan untuk Jumat Kliwon, atau Jumat yang lain. Serentak dengan itu varian hari mungkin hanya lima, bukan hanya tujuh, melainkan… 35 hari. Setiap 35 hari, siklus Jumat Kliwon akan ada lagi. Dengan sangat jenius, nenek moyang kita merumuskan sikap yang luar biasa. Pada satu titik, tak mungkin melawan “kalender matahari” yang dipakai di seluruh dunia, pada titik lain tak mau begitu saja kehilangan “kejawaannya”. Tidak mungkin juga melawan secara konfrontatif dengan ngotot mempertahankan perhitungan pasaran. Yang terjadi adalah kreativitas kompromi, sehingga hari pasaran masih menempel terus, dipergunakan terus. Dan sebutan itu hilang karenanya.
KITAB SOLO 84 KITAB SOLO 85

Bahkan, boleh dikatakan memperkaya apa yang ada dan dipergunakan. Dengan menyebut Jumat Kliwon, ada perbedaan – bukan hanya ruang dan waktu, dengan misalnya Jumat Legi, atau Jumat Paing atau Jumat Pon atau Jumat Wage. Jumat tetap Jumat, namun Jumat hari ini, “bobotnya” bisa berbeda dengan Jumat minggu depan atau Jumat minggu lalu. Bahwa kemudian Jumat Kliwon lebih angker atau lebih mistis adalah pembobotan kemudian. Tapi yang jelas, dengan menempel hidup, hari pasaran tetap dipergunakan. Sampai sekarang. Sampai kapan pun. Ini yang saya maksudkan dengan roh Jawa, the spirit of Java, yang akan selalu bisa menitis kembali, karena memiliki dinamika yang abadi untuk setiap zaman, setiap tantangan. Sulit menemukan padanan ada budaya lain yang bisa demikian kreatif, demikian luwes, bisa manjing ajur ajer, bisa kompromistis, bisa mancala putra mancala putri, sebagaimana budaya Jawa dalam soal pemberian nama hari.

Dan kalau sikap mendasar budaya ini mempunyai benang merah lurus dengan peristiwa munculnya tokoh Semar atau Butho Cakil dalam dunia wayang kulit, segaris dengan penemuan dan pemakaian selop, karakterisasi roh itu bisa agak teraba.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 86

KITAB SOLO 87

Manunggaling kawula-Gusti
Sebenarnya ada ungkapan lain yang sakti yang menandai sikap mendasar ini. Yaitu ungkapan “manunggaling kawula-Gusti”, menyatunya manusia ciptaan dengan Gusti Allah Sang Pencipta. Secara konsep, ini jauh berbeda dengan konsep agama dan atau kepercayaan yang menjadi mainstream, arus kuat dunia, saat ini. Tapi juga, ini hebatnya, tidak menjadikan bertentangan.

Bersamaan dengan ungkapan pertanyaan tanpa perlu jawaban, sangkan paraning dumadi, asal usul kehidupan dan ke mana jalannya, oleh para para ahli, para peneliti dianggap sebagai dasar utama dari Kejawen, kejawaan, Javanism, Javaneseness, atau apa saja istilahnya.
Barang kali agak berlebihan untuk mengatakan pandangan Kejawen ini ternyata memiliki paradigma yang berbeda, memiliki pendekatan yang tidak sama, dengan apa yang selama ini dikenal dan diyakini. Dan biar saja ini menjadi bahasan lain.
KITAB SOLO 88

b o t h e k a n

KITAB SOLO 89

FOTO ICHWAN GEMBENG

NARLON KAWIT,

FOTO ICHWAN GEMBENG

pelukis Solo dalam artian sebenarnya. Karyanya banyak dipamerkan di Jakarta, dikoleksi, tapi ia memilih tetap tinggal di Kratonan. Sketsa tentang kota kelahirannya banyak diburu para kolektor, tapi tak membebani jiwa senimannya. Bersikap biasa, sederhana, bergaul dengan warga sekitarnya, antar jemput istrinya yang berjualan di Pasar Gede, mengasuh cucu. Pernah membuat komik, melukis poster bioskop, sama pentingnya dengan mengadakan pameran tunggal. Pujian kritikus seni juga tak mengubah penampilannya. Saat jiwa seninya muncul, ia melukis, tanpa memperhitungkan pasar. Ia juga tak begitu peduli tahun kelahirannya. Nama Narlon adalah pemberian teman-temannya, menggeser nama Tristanto yang dimiliki. “Dulu yang menikmati dan menampilkan karya seni hanya orangorang tertentu. Kini kesempatan itu lebih terbuka.” Menurutnya kegiatan budaya yang berlangsung setingkat nasional atau internasional, sangat penting untuk Solo, untuk masyarakatnya. “Pertama mereka datang untuk bersenang-senang, lalu mereka akan tertarik karya seni yang ada.” Idealnya ada gedung khusus untuk menampung karya lukis seniman-seniman Solo. “Ada galeri khusus.” Ini untuk mengimbangi kalau nantinya banyak apartemen dan hotel. “Menjual Solo” dalam benak pelukis ini bisa dari sisi mana saja, termasuk dari hasil kesenian. Kawit merasa senang, setidaknya dua tahun terakhir ini, karena tempat-tempat bersejarah, kini difungsikan kembali. Termasuk ruang publik. “Itu ciri khas Solo.” Juga dari sinilah suasana kreatif itu terus terciptakan. “Seni di Solo itu tak ada matinya.” Ngandel… nyatanya ora ana kuburan seni..
KITAB SOLO 90 KITAB SOLO 91

FOTO ICHWAN GEMBENG

masih duduk di sekolah dasar ketika menjadi juara menyanyi keroncong. Sampai sekarang gelar “ratu Kembang Kacang” tak pernah bergeser. Namanya identik dengan Solo, dengan keroncong. Sebagaimana sang empu kampiun Gesang. “Kalau mau jujur, Solo dikenal di belahan dunia mana pun karena keroncong, bukan yang lain.” Tak terlalu keliru jika kota Solo ini menjadi ibu kota dunia keroncong. Ia melihat masa-masa tahun 7090 adalah masa emas keroncong. Setiap malam ada pentas keroncong di Taman Sriwedari. “Inginnya di setiap sudut kota ada panggung keroncong.” Ia bukan hanya menginginkan, tapi juga mewujudkan bersama Hamkri, Himpunan Artis Keroncong Indonesia, bersama mereka yang jatuh hati pada langgam musik ini. “Harus orang Solo yang membangkitkan keroncong. Sebab yang mencintai keroncong adalah orang Jawa dan Solo itu Jawa.” Ia gembira kini jenis pentas dan kegiatan mulai marak lagi, mulai bermunculan, terutama— meskipun masih sebatas harapan—adanya generasi baru dalam musik ini. “Kami merasa terbantu sekarang ini. Jangan mengaku sebagai wong Solo kalau tak bisa membangkitkan keroncong.” Cong!
KITAB SOLO 92 KITAB SOLO 93

WALJINAH,

MBAH LATIF, dua kali menunaikan ibadah haji. Sebagai pedagang
klithikan, ia salah satu yang ikut “kirab” dari tempat lama di Banjarsari. Kini spesialis penjual onderdil mobil di Pasar Nitihardjo, Semanggi, bisa berseri. “Lima atau sepuluh tahun lagi akan ada perubahan dahsyat di pasar ini.” Optimismenya punya dasar karena selama ini dunia jual beli barang bekas—juga barang baru dengan harga miring ini—dijalani bersama ribuan keluarga yang lain. Mengenang kembali perpindahkan yang aman-damailancar, kuncinya adalah .” Diuwongke”, atau dimanusiakan, diperlakukan sebagai manusia terhormat, walau hanya pedagang kaki lima, walau dianggap biang keruwetan dan kesemrawutan. “Diuwongke, dan dipermudah cara mencari makan. Orang Solo itu sebenarnya mau berkorban, demi cita-citanya.” Asal jangan dikecewakan. Kalau itu yang terjadi, suasana bisa berbalik arah. Dari dukungan menjadi penolakan. Mbah Latif, Muh. Latif Sirajt, yang mengelola enam kios yakin jika suasana terus berlangsung seperti saat perpindahan, “Akan aman dan kondusif.” Dari segi bisnis pasarnya, ia berharap para pembeli dari luar kota akan berdatangan lagi seperti dulu. Kan bagus jika Nitiharjo menjadi pusat klithikan di Jawa. Kalau ada yang dirasa berkurang atau hilang, yaitu bahwa generasi muda seperti kehilangan unggah-ungguh, etika dalam pergaulan. “Juga semangat juang. Dilandasi dengan kejujuran, kerja keras, pasti membuahkan hasil.” Mbah Latif mengalami itu. Bahkan kini ada kebanggaan lain. Kini statusnya bukan lagi pedagang kaki lima, melainkan saudagar. Karena memiliki kios, karena memiliki anak buah. Status sodagar, dalam kosa kata masyarakat Solo memang sangat terhormat. Dan itu yang dirasakan bersama para sodagar klithikan, hari ini. Benar-benar nglithik-lah.
KITAB SOLO 94 KITAB SOLO 95

FOTO ICHWAN GEMBENG

SERABI NOTOSUMAN, lebih dari sekadar nama. Termasuk nama pengelola,
yang kini sudah sudah berganti tiga keturunan, sejak usaha ini dirintis tahun 1923. Dimulai dari Ny. Hoo Geng Hok, turun ke Ny. Margohutomo, kini dikendalikan sang cucu, Ibu Handayani, penganan yang dibuat dari tepung beras, bentuknya seperti apem ini, telah memanjakan lidah banyak orang atau puluhan juta orang. Sukses makanan tradisi ini menjadikan serabi Notosuman, menyatu dengan nama Solo. Sehingga tak sedikit produk di kota lain yang memakai nama serabi Solo, kadang dituliskan srabi, atau bahkan memakai nama Notosuman, nama kampung, walau tidak buka cabang atau franchise. Tanpa berpromosi melalui media cetak atau elektronik, jaminan kegurihan membuatnya bertahan. Pengelolanya pun rendah hati, ketika ditanya di mana keistimewaan serabinya dibandingkan yang lain. “ Bahan yang digunakan sama, tepung beras, santan, gula. Cara memasaknya pun sama, di atas bara tungku dari cetakan besi. Hanya itu saja.” Dengan nama tenar sekian lama, pelanggannya bisa dari kelas mana saja. Dari berbagai kota mana saja. Baik yang berkunjung langsung ke “warungnya”, maupun menerima sebagai oleh-oleh. Atau dirinya “terbang” ke Cendana , ke tempat kediaman Presiden Soeharto. Kalau ada yang mencemaskan adalah peristiwa Mei 1998, di mana ada bakar-bakaran dan penjarahan. Tempat usahanya selamat, namun usaha dagangnya terpengaruh. Juga ada rasa ketakutan. Keinginannya sangat sederhana, dan baik serta benar adanya. “Kalau banyak kegiatan diusahakan Pemerintah Kota, banyak tamu yang datang, dengan sendirinya banyak yang memesan. “Dengan cara halus, pemerintah bisa menjaga agar warga Solo tertib. Dengan cara ini, warga yang ingin berbuat kerusuhan akan berpikir ulang.” Kota tenang, lumayan. Banyak kegiatan, menyenangkan. Serabi Notosuman, lebih dari maknyuuus tenan…Boleh kita katakan mbahnyuusss..
ISTIMEWA

KITAB SOLO 96

KITAB SOLO 97

TENGKLENG KLEWER,

FOTO ICHWAN GEMBENG

sesuai dengan tempatnya di Pasar Klewer, atau Tengkleng Gapura, karena tempatnya menempel dengan gapura Pasar Klewer tak banyak berubah. Sebuah warung terpal dengan ukuran 5 X 2,5 meter, dengan tiga deret bangku di belakang penjualnya, dan yang istimewa : jam kerjanya dua jam saja. Atau paling banyak tiga jam. Waktu yang teramat singkat untuk menyikat 6 panci besar hangat menu utama. Yaitu tengkleng, sejenis gulai dengan memakai santan, dengan bahan dasar tulang kambing. Edy Warsono, dan istrinya—sebagai pengusaha perempuan yang khas Solo serba ulet, luwes itu, sudah ditunggui pelanggan sebelum datang. Para pelanggan rela antre lebih dulu. Usaha ini, menurut Edy dimulai sejak ia ikut orang tuanya menjual produk yang sama. Berkeliling dan berhimpitan di tengah pasar, sebelum akhirnya mendirikan warung sederhana. Orang tuanya meneruskan usaha dari neneknya. Variasi yang dihidangkan seperti iga, jeroan, usus, otak atau pun buntut tak jauh berbeda dengan usaha semula. Agaknya resep klasik ini yang ngangeni buat penggemarnya. Nama besar tengkleng, keberadaannya yang menjadi ikon untuk keplek ilat—memanjakan lidah, tidak menjadi beban benar. Mereka melayani pembeli di tempat atau untuk dibawa pulang, mereka berkeringat dan tetap ceria. Tak ada beban yang terlihat, pun andai—hanya andai, tempat berjualan dipindahkan.”Asal bersama pedagang kaki lima yang lain, ya mangga…. Silahkan.” Kini mereka membuka cabang di pasar Jongke, juga di pusat jajanan di Gladag. Dan tempat awal yang sudah ditunggui selama 22 tahun, masih juga ramai. Padahal warung tengkleng yang
KITAB SOLO 99

KITAB SOLO 98

lain cukup banyak, cukup bertebaran, cukup gencar berpromosi, cukup menggoyang lidah bagi yang menggemari. Menariknya, yang berkembang bukan persaingan saling menyingkirkan atau mengganti, melainkan berkembang bersama—walau bisa tidak sama pertumbuhannya.

Bersama dengan puluhan pedagang “khas” yang lain—bisa bernama sega liwet, tahu guling atau tahu kupat, pecel, bakmi, tahu acar, selat, cacuk rambak, sate kere—just name it--dengan kekhasan masing-masing, dengan bumbu cerita yang berbeda atau sama, memberi warna dasar budaya Solo. Memberikan yang terbaik, disadari atau tidak, tanpa banyak menuntut.
Kecuali, tentu saja keamanan dan kenyamanan suasana berdagang. Karena peristiwa bakar-bakaran yang banyak disesalkan itu, ternyata “tidak membawa perubahan apaapa. Malah dampak kerugian yang terasakan.” Benar sekali. Tak perlu aneh-anehlah. Hidup bisa menjadi nikmat, berkeringat, sambil menyantap tengkleng… dan mensyukurinya. Mawi pincuk nggih Bu…
ISTIMEWA

KITAB SOLO 100

KITAB SOLO 101

HIK, tempat berjualan makanan serba ada, bisa dalam bentuk penjualnya menjajakan
berkeliling, dan atau kemudian lebih banyak menetap. Kelompok ini juga dikenal dengan sebutan tempat wedangan, minum-minum tanpa ada konotasi minuman keras, atau juga angkringan. Banyak juga yang menggunakan sebagian dari halaman rumahnya, atau menempati emperan toko. Jumlahnya bisa puluhan untuk satu jalan yang sama. Mereka menjadi sebuah komunitas tersendiri, dengan pelanggan tetap, dengan teman pelanggan, dengan keleluasaan waktu untung ngobrol. Ini memang lebih menekankan placement, penempatan, dibandingkan dengan makanan yang dijual. Karena dari satu hik dengan yang lain, satu wedangan dengan yang lain, satu tempat angkringan dengan yang lain, tak beda-beda amat. Suasana yang membedakan, dan keluasaan untuk berbicara apa saja. Dari soal politik negara sampai dengan nasib tetangga, dari soal janda muda sampai janda siapa. Komunitas kecil, tapi jumlahnya banyaaaak sekali, menjadikan malam tak pernah sepi, menjadikan jam tidur malam hari ke titik terendah. Salah hatinya yang dikelola Jembuk—begitulah, masing-masing punya nama akrab panggilan dari Rachmat Wahono, di jalan Ronggowarsito. Dan Jembuk pun dengan enteng bisa berkomentar.”Solo sudah menjadi kota mati.” Yang dimaksudkan dulu banyak pengamen cokekan, atau pengamen keroncong, kini tak ada lagi. Menurut cerita, hiknya merupakan “pionir”, karena berdiri 20 tahun lalu, dan masih sama, hingga kini. Jembuk banyak berkenalan dengan tamu penting yang mampir di tempatnya, — termasuk para calon bupati atau wali kota, atau siapa saja. Ia turut mendengarkan, turut berbicara dan merasa puas. Di komunitas ini sebenarnya kita bisa mendengarkan keluhan yang paling menyakitkan— disuarakan dengan keras atau guyonan, adu pendapat tentang topik apa saja, dan bisa berakhir tanpa harus ada kesimpulan. Untuk disambung di malam berikutnya. Dengan orang-orang yang sama dan topik yang berbeda, atau sebaliknya, topik yang sama dengan orang yang berbeda. Keleluasaan inilah yang membuatnya bertahan karena suasana ini tak akan ditemui di pub, di café, di mal, di plaza, atau rumah makan sekali pun. Secara keseluruhan bisa menjadi tumpahan semua uneg-uneg, baik masih gagasan atau harapan, atau keinginan. Yang datang bisa menjadi pembicara, bisa menjadi penyanggah, bisa menjadi moderator, bisa menjadi semuanya. Bisa juga menjadi pendengar. Dan selalu ada cerita di tempat semacam ini. Bersambung atau berdiri sendiri. Hik masih akan terus bertahan, dengan elusan dada atau kebanggaan, selama orang masing memerlukan ruang untuk bicara dengan leluasa. Lha mangga… ngersake punapa….
KITAB SOLO 102 KITAB SOLO 103

GUSTI MOENG, barang kali saja satu-satunya puteri dalem, trah langsung Keraton
yang bisa bergaul dengan masyarakat. Sebutan itu saja menunjukkan adanya idiom yang mendekatkan ini, dibandingkan nama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari. Putri Paku Bowono XII, mampu menyikapi peranan waktu, kaitannya dengan keberadaan Keraton. “Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah realita, hari besok adalah misteri.” Dan sejarah bukanlah sekadar tontonan, atau telah sepenuhnya berlalu. Tak bisa membicarakan masyarakat Solo, tanpa membicarakan peranan Keraton. Kadang memang terasakan, bahwa pembangunan kota, tidak selalu seiring dengan keberadaan Keraton. “Mau dibawa ke mana Solo ini? Menjadi kota metropolitan yang hingar bingar atau kota budaya yang penuh tuntunan edukatif berbudi luhur.” Pertanyaan refleksif yang patut direnungkan. Juga untuk kerabat dalem keraton sendiri. Apakah keberadaan keraton hanya menjadi beban, atau sebaliknya. Apakah kejayaan masa lampau bisa diaktualkan kembali, atau hanya bisa dikenang sebagaimana adanya bangunan lama yang dilihat sepintas saja dari mata seorang turis. Budaya Jawa, dan Solo bisa dianggap kiblatnya, harus bisa lebih dipahami. “Paham artinya mengerti jika meninggalkan budaya berarti meninggalkan leluhur. Jika meninggalkan leluhur, berarti meninggalkan Tuhan.” Masalah hubungan pemerintah (daerah) dengan Keraton, boleh dikatakan masalah sejarah masa lalu, yang tak selesai tuntas, sekaligus juga sejarah masa depan, bagaimana mengkomunikasikan kebutuhan kedua pihak, bagaimana memilah hak keduanya. Dan agaknya ini masih akan terus berlangsung. Dengan pasang surut, dengan kompromi di sana-sini, dengan harapan sama-sama bisa lebih memahami. Proses ke arah yang lebih ideal ini, mudah-mudahan terus terjadi. “Jika tak ada masa lalu, tak ada masa sekarang. Tak ada wong Solo tanpa nguri-uri budaya, hormat menghormati, budaya unggah-ungguh. Itu diajarkan di Keraton.” Sendika dawuh, Gusti Putri…
KITAB SOLO 105

Gusti moeng dan dubes asing

FOTO ICHWAN GEMBENG

KITAB SOLO 104

YU SARWI, belajar menari dari kecil, dan terus menari sampai kini. Nama panggilan
yu, kependekan dari mbakyu, atau kakak perempuan. Kadang berubah menjadi lik. Kependekan dari bulik, atau ibu cilik, panggilan dari generasi di bawahnya. Dan generasi di bawahnya lagi kalau generasi sekarang yang masih anak-anak belajar menari pada grup yang didirikan, Sarwi Reno Budaya di kediamannya, Serengan. Kecintaannya pada dunia tari, dimulai saat masih anak-anak. Situasi dan kondisi memungkinkan itu, karena mereka bisa melihat pentas-pentas kesenian, seperti wayang wong, ketoprak, atau pagelaran tari. “Lalu menjadi hobi.” Juga menjadi karier, dalam arti terus digeluti ketika zaman berubah. Barang kali inilah yang memantapkan langkahnya untuk melatih tari pada anak-anak, juga membuat pementasan. Meskipun diakui, bahwa peminatnya terbatas. “Yang penting saya seneng, saya tidak berhitung dari segi uang semata. Saya punya kepandaian kalau tidak , meh dienggo apa.” Kalau punya keahlian, kalau tidak dibagikan untuk apa. Kecintaan pada dunia seni bagi Sarwiyati Hartono, juga ada pada penari-penari seangkatannya, atau para pangrawit, atau lebih luas lagi, pada komumnitas budaya. Itu sebabnya mereka ini masih terus berpentas di panggung Radio Republik Indonesia, RRI, secara rutin, walau sebagian anggota sudah pensiun sebagai pegawai negeri. Kecintaan yang sama yang mampu mengatasi status kepegawaian, atau juga masalahmasalah keuangan yang menyertai, atau panggung di mana berkarya—bisa di RRI, di Sriwedari, panggung orang hajatan, atau juga kursus-kursus yang diberikan. Sesungguhnya juga, mereka inilah pendukung kesenian yang ada, yang setia, apa pun keadaannya. Pasti lebih baik jika pemerintah kota memperhatikan. “Kalau belum mencintai tari, disuruh urunan untuk mendukung kegiatan masih enggan. Tapi kalau ada stimulan dana, mereka tinggal tampil saja, saya kira lama kelamaan generasi anakanak akan mencintai seni tari.” Cocok, Yu.
KITAB SOLO 107

FOTO ICHWAN GEMBENG

FOTO: ICHWAN GEMBENG

KITAB SOLO 106

BAKSO (di) KALILARANGAN, memiliki kelebihan. Selain rasanya, juga nostalgia bagi pembelinya. Maklum ketika Kalilarangan masih benar-benar kali atau sungai, warung bakso itu sudah berdiri, sekitar tahun 1950. Hingga kini. Dimulai dengan warung dari bambu, Liem Tjiaw Hi, memperkenalkan jenis makanan ini. Dan tak banyak perubahan atas menu yang disajikan. Kini dilanjutkan oleh menantunya, Liem Tjie Ru, dan Anna Liliana, kakaknya. Ada dua cabang lain yang dikelola keturunan pionir bakso Solo. Menarik mengetahui keberadaan keluarga ini yang rukun dengan tetangga sekitar, sehingga terhindar dari huru hara yang terjadi beberapa blok warungnya, juga daya tahan menghadapi pesaing-pesaing baru yang bermunculan, yang memasang tarif lebih murah. Memang ana rega, ana rupa, yang artinya barang yang bagus lebih mahal.. Terutama karena daging bakso di sini tidak dicampur tepung, karena dulu pun digepuk agar halus— tidak memakai mesin penggiling. Sehingga tetap kenyal, sekaligus bisa empuk. “Dulu masih memakai kompor minyak tanah. Tapi harganya naik. Sekarang pakai kompor gas.” Dan harganya juga naik. Dan juga daging sapi pun juga naik. Pilihannya hanyalah mengurangi bahan atau menaikkan harga. Yang terakhir yang dipilih. Berbeda dengan serabi Notosuman, tengkleng Klewer yang menjadi ramai kala ada keramaian besar, Bakso Kalilarangan lebih tenang. Nostalgia yang menjadi daya tariknya adalah kala Lebaran. Ketika para perantau pulang kampung, ketika ingin mengenang saat pacaran dulu di tempat itu. Kunci kenangan ini makin lama makin dirindu, dan tak bakal hilang. So…bakso…
KITAB SOLO 108 KITAB SOLO 109

FOTO ICHWAN GEMBENG

Gesang dan titik puspa, ketika konser pada 2008 menghargai jasa-jasanya

GESANG MARTOHARTONO,

Gesang dapat kunjungan Yaysan Peduli Gesang tahun 2007 lalu

FOTO ICHWAN GEMBENG

lebih dari legenda hidup, ikon Solo yang menyatu padu, dalam kesederhanaan yang tulus. Simbah, begitu Gesang memanggil dirinya, kini 91 tahun, sudah menyolo ketika berusia 23 tahun, dengan karyanya keroncong Bengawan Solo. Hidup tanpa istri dan anak, hanya bersama ponakan tinggal di rumah tipe T-36, di Perumnas, Palur. Seperti halnya Narlon Kawit, Yu Sarwi, dan seniman “tulen”, simbah tetap berada di Solo, meskipun karyanya diagungkan di negeri lain, bahkan beberapa kali ada pertunjukkan khusus untuknya—terutama di Jepang. Monumen Gesang yang ada di Taman Jurug yang dibangun tahun 1983, kondisinya kurang terawat. Menyedihkan memang. Simbah sendiri tak sempat melihat, sudah lima tahun terakhir ini lebih banyak berada di rumahnya, tak bisa pergi ke mana-mana. Usia menua, kesehatan menurun, namun tak menyurutkan niatnya. Keinginan sederhana, melihat tempat yang bersejarah baginya : Taman Jurug, Balekambang, Tirtonasi, Pasar Gede. Di sana ilhamnya datang dan menjadi abadi dalam lagu keroncong ciptaannya. “Kalau bisa saya ingin nunggoni perbaikan museum Gesang di Jurug,” itu keinginannya. Masih tetap sederhana. Barang kali kita perlu mengantar beliau jalan-jalan, juga sampai ke tempat pasar klithikan yang baru, dan berharap beliau masih terkesima, masih tergugah, untuk setidaknya menciptakan satu lagu lagi. Ini sebuah permintaan terhormat atas kehormatan beliau. Sehingga keinginannya agar “ mudah-mudahan keroncong bisa menjadi irama nasional. Sehingga keroncong bisa lebih besar dan lebih berirama lagi.” Keroncong kanthi irah-irahan : Pasar Klitihikan……
KITAB SOLO 111

KITAB SOLO 110

GUDEG CEKER (di) MARGOYUDAN, melampaui batas lokasi maupun batas
waktu. Batas lokasi, karena poster warungnya tersebar sampai Ontario Kanada—yang dibuat oleh biro perjalanan di sana. Melewati batas waktu penjualan, karena warung tenda ini buka mulai pukul 01.30, sampai menjelang fajar. Warung yang buka lewat tengah malam adalah against the main stream, melawan arus, dan malah menjadi ciri suksesnya, juga uniknya. Bu Kasno, yang kini mengelola warung beken ini, contoh liat perempuan Solo. Menjanda sejak 33 tahun lalu, kini kelima anaknya bisa lulus sebagai sarjana. Satu anaknya sedang menempuh S-3 di Jerman. Dalam usia 63 tahun, Bu Kasno menyimpan kearifan lokal mengenai usahanya. “ Ndak ada susahnya. Mikir yang senang-senang saja, yang baikbaik saja, tak usah neka-neka. Pokoknya jualan dan layani pelanggan dengan baik.” Ia mewarisi berjaualan ceker (cakar ayam) yang empuk dan gurih dari ibundanya, Bu Kartowirono, yang sudah berjualan sejak tahun 1932. Warung yang ditempati, di jalan Walter Monginsidi atau lebih dikenal sebagai Margoyudan, adalah warung yang didirikan tengah malam, dibongkar lagi pagi hari, dan bisa ditempati pedagang yang lain. Mengenai mula-buka jualan selewat tengah malam, ada kisah menarik. Waktu itu di Solo sedang ramai “bisnis” buntutan, atau angka terakhir dari nalo, undian resmi berdasarkan angka-angka. Bukaan nomor itu tengah malam. Menjelang saat bukaan itu, para pemasang juga Bandar mencarinya, menggedor rumahnya untuk makan. Bu Kasno, takut mengganggu tetangga, akhirnya membuka warung dini hari. Sekarang buntutan yang mewabah di tahun 1975-an, sudah tak ada, tapi “manusia malam” masih banyak, dan jadilah warungnya tetap ditunggui pembeli, sebelum tenda dipasang. Kini, ada beberapa cabang yang dibuka, termasuk yang ada di Gladag. “Baru sekali ini Wali Kota memberi penghargaan seperti ini, memberikan tempat jualan. Wali Kota sebelumnya hanya menjadi pelanggan.” Dengan omzet 60 ekor ayam kampung, Bu Kasno telah memberikan yang terenak untuk lidah yang mencarinya. Dan terus jalan. “Saya tidak pernah diganggu. Paling ada preman yang makan dan tak mau membayar. Ya biarkan saja. Yang penting saya bis a terus jualan.” Itulah kesederhaan. Juga kesuksesan. Nambah cekernya , Bu…
KITAB SOLO 112 KITAB SOLO 113

FOTO ICHWAN GEMBENG

DOKTER LO, mirip hantu. Namanya menjadi bahan pembicaraan, juga kekaguman,
namun sosoknya jarang terlihat. Dokter Lo Siauw Ging, 74 tahun kadang memakai tongkat, identik dengan dokter gratis, bagi pasien-pasiennya. Membuka praktek di kediamannya di jalan Jagalan, Jebres, dari pukul 06 hingga pukul 08, pagi. Di sambung sore hari, pukul 16.00 hingga 20.00. Dengan bayaran gratis, atau semampu pasien. Berapa saja. Tidak jarang yang mendapat bantuan obat gratis, atau kadang bantuan untuk mondok di rumah sakit.”Ada donatur yang tak mau disebutkan identitasnya.” Dokter Lo sendiri juga menolak publikasi, bahkan tidak suka difoto. “Ini panggilan jiwa saya. Sebagai manusia, saya ingin membantu yang tidak mampu.” Ucapan sederhana, merendah, dan menjamah masalah yang mendasar. Bahwa sesungguhnya, kesehatan adalah hak semua umat manusia. Hak tersebut juga dilindungi undang-undang. Maka cukup menyedihkan kalau sampai ada warga yang tak bisa memperoleh hak untuk sehat. Bagi dokter Lo, bukan bayaran jasa konsultan medisnya yang penting.” Ada kepuasan tersendiri. Itu yang tak bisa dr. Lo diukur dengan uang.” Di tengah dunia yang begitu mengejar harta, di arus kuat “menjadi dokter agar kaya”, kehadiran dokter Lo tergolong luar biasa. Para pasien yang berobat kepadanya—yang juga diberi nasihat atau marah karena terlambat berobat, bisa bercerita panjang lebar. “Sang dewa penolong”, ini juga tak berniat memensiunkan diri. Karena, bisa ditebak, masih selalu ada yang memerlukan jasa baiknya. Dokter Lo seakan membuktikan bahwa sesungguhnya kebaikan tanpa pamrih masih bisa dilakukan. Pendahulunya, dokter Oen—yang kini diabadikan namanya menjadi rumah sakit besar dan masih tetap sosial, adalah contoh hidup, contoh kemanusiaan yang perkasa, yang berjalan diam-diam. Yang tak memerlukan hura-hura kekaguman, atau menjadi tenar karena perbuatan sosialnya. Ini yang monumental. Ini yang menyebabkan kita masih terus mempercayai bahwa masih banyak orang-orang yang baik, yang memperhatikan sesamanya, yang peduli, dan tak ingin dipuji secara berlebihan. Matur nuwun pak dokter, bahkan kata ini pun bisa jadi hanya diucapkan dalam hati.
KITAB SOLO 114 KITAB SOLO 115

FOTO ICHWAN GEMBENG

PASOEPATI, kelompok supporter sepak bola, bisa jadi
bentuk organisasi ala Solo: spontan, meriah, berbeda dengan yang lain, dan juga surut dengan mudah. Berbeda dengan yang lain, dibandingkan Arema Malang, Jakmania Jakarta, Viking Bandung, dan klub penggemar lain. Paling tidak komunitas ini tidak dibikin onar, malah bikin aman meskipun tetap “sorak-sorak bergembira.” Kelompok yang diprakarsai mayor Harostanto dan kawan-kawannya ini konon mencapai anggota lebih dari 7 ribu, pernah aman damai membawa pasukannya ke Surabaya dalam suatu pertandingan dengan menyewa 12 gerbong kereta api, 37 bis umum, dan mobil pribadi yang susah dihitung. Sebagai komunitas, yang didirikan 9 Februari 2000— dengan pergantian pimpinan, keberadaannya pantas dicatat. Setidaknya membuktikan bahwa kekuataan massa yang bisa diatur, diarahkan, bukan untuk tawuran atau adu keras. Dan relatif berhasil. Namun sebagaimana organisasi yang bersifat spontan, tak begitu saja bisa diubah menjadi— misalnya—organisasi usaha, atau menjadi salah satu kekuatan politik. Bahkan ketika kegiatan persepak bolaan di sini surut, — karena pindah markas, para pencintanya juga kehilangan gairah. Kalau dialihkan kepada kegiatan olah raga lain, seperti bola basket, belum tentu semangatnya sama. Mungkin ini cerminan lugas komunitas yang spontan, jujur, penuh semangat, apa adanya, dan nonpartisan. Lahir begitu, dan berkembang—atau terhenti secara alamiah. Horeeee…Lho, sih gol ngendi?
KITAB SOLO 117

PERSIS tahun 1951

FOTO ICHWAN GEMBENG

Koleksi piala PERSIS

KITAB SOLO 116

TAMAN JURUG, barangkali tempat wisata yang terbaik yang ada, juga sekaligus
paling merana. Pada lahan seluas 13 hektar ini, di pinggiran Bengawan Solo yang masyhur, di situlah Taman nJurug—pengucapannya dengan huruf n di depan berada. Sejak dulu pun ruang publik ini diperlukan. Baik mereka yang datang untuk pacaran— sampai menyewa perahu dan bermesraan di situ, atau bersama keluarga, atau beroase dalam kepenatan kota. Pengunjung keluarga muda, baik dari dalam maupun luar kota. Baru kemudian sekali kebon binatang dipindahkan ke tempat ini, juga monument. Gesang, juga kegiatan hiburan yang lain. Beberapa kali ganti pengelola, namun nasibnya juga tak banyak berubah—dalam artian menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Taman nJurug cerminan kerja sama yang pas-pasan, tak mampu mengangkat nostalgia masyarakat yang sebenarnya merupakan modal sosial yang besar dengan pengelolaan modern yang bernas. Sayang juga.
Nembe sepi….
ISTIMEWA

KITAB SOLO 118

KITAB SOLO 119

FOTO ICHWAN GEMBENG

tak lagi ngamen di jalanan. Panggungnya kini berbeda, demikian juga bayaran yang diterima. Terlahir dari keluarga seniman, ayahnya adalah pelawak kondang Ranto Edi Gudel— rangkaian nama bikinan yang unik, melihat bahwa Solo dalam bidang kesenian banyak mengalami kemajuan. Pemkot menjadi penyelenggara kesenian sampai tingkat internasional, seperti Solo International Ethnic Music, SIEM, atau International Keroncong Festival. Di samping dibangunnya kembali panggung kesenian seperti Ketoprak Balekambang. Impian dan tolok ukurnya masih di situ. “Tanda kalau kesenian di Solo maju, kalau masyarakat berbondong-bondong nonton wayang orang di Sriwedari, atau nonton panggung ketoprak. “Masyarakat kita sebenarnya bukan hanya membutuhkan hiburan, mereka memiliki apresiasi pada karya seni.” Artinya bekal untuk nguri-uri, untuk melestarikan tetap besar. Inilah yang harus bisa diwadahi, dengan fasilitas yang ada, terutama juga dari para senimannya sendiri. “Pada akhirnya kreativitas, hasil karya yang menentukan. Kalau tidak kreatif ya bakal ditinggal penonton.” Apalagi, persaingan dengan kota lain, apalagi hiburan dari televisi nyaris tak terbendung.” Kuncinya, kerja sama antara seniman dengan pemkot bisa berlangsung dengan baik dan terusmenerus. Rumusan agak-agak kuno, tapi perlu didengar, karena menuntut keterbukaan baik antara seniman maupun birokrat. Pemilik nama Didi Prasetyo yang tidak kempot ini, optimistis akan kembali kejayaan seni di Solo. “Terus berusaha dan jangan minder. Jangan kecil hati, tugas seniman adalah menghasilkan karya secara kreatif.” Ada benarnya, karena bentuk campur sari merupakan sesuatu pentas musik yang baru. Setidaknya tak ada ada di seribu kota lain, Sewu Kutho, dan Stasiun Balapan, masih terus bisa digali sebagai sumber imajinasi. Iki tenanan lho…
KITAB SOLO 120 KITAB SOLO 121

DIDI KEMPOT,

SOLO BALAPAN, nama stasiun kereta api, seperti halnya
Taman Sriwedari, Pasar Klewer, Pasar Gede, gedung RRI, bukan semata-mata harus dikagumi sebagai bangunan tua, melainkan – nah inilah makna utama dalam tamasya rohani, karena sejarah perubahan yang menyertainya. Di bangun di atas tanah sepuluh hektar kurang sedikit di tahun 1873 oleh Nedeherlands Indische Spuurwagen,NIS, pada masa Kasunanan dan Mangkunegaran masih berkuasa, dan masih berebut pengaruh. Sudarmono SU, pengamat budaya menyimpulkan dengan jitu. “Melalui pembangunan setasiun Solo Balapan, terjadi pergeseran-pergeseran besar. Yaitu perluasan wilayah dan terjadinya wilayah perkotaan dari “dua” keraton.” Tanah yang dijadikan stasiun tadinya lahan pacuan kuda, — maka namanya Balapan, yang dikuasai Mangkunegaran. Akibatnya lapangan baru dibuat, dan menghadap ke arah selatan. Dengan demikian, Mangkunegara VII bisa melebarkan wilayahnya ke arah barat—yang saat itu masih berwujud rawa dan tak diperhitungkan. Rel kereta api di sekitar Balapan, dari Purwasari ke Jebres, juga berlanjut dari Purwasari melalui tengah kota, Sriwedari sampai Gladag—yang merupakan wilayah Paku Buwono X,— terus sampai Sukoharjo dan Wonogiri, membuka transportasi yang membuka ke segala arah, dan mengubah wilayah kekuasaan. Pada satu pihak, rel di tengah kota yang masih ada hingga saat ini, bisa dilihat sebagai batas pemisah kekuasaan Kasunanan dan Mangkunegaran, namun juga bisa sebagai penanda bahwa keduanya sama-sama memiliki, sama-sama merasa terjaga kehormatannya. Semangat yang mendasari dan yang dihasilkan adalah semangat transformasi yang menyeluruh. “Kedua belah
KITAB SOLO 122 KITAB SOLO 123

FOTO LUAX MAWARDI

pihak”—kalau kata ini bisa digunakan, sama-sama diuntungkan. “Bukan pembangunan yang sifatnya parsial,” tutur Sudarmono SU yang sekaligus menekankan bahwa semangat itulah yang seharusnya berlanjut untuk Solo.

Stasiun Balapan pada akhirnya bukan sekadar bangunan dengan kontruksi baja sepenuhnya, dengan gaya arsitek yang masih bertahan sampai sekarang, dengan tulisan dan bentuk huruf yang dipertahankan, bukan hanya membuka transportasi dari berbagai daerah, bukan sekadar sebuah sejarah bangunan tua yang tersisa, bukan sekadar perubahan dari 3 spoor menjadi 13 spoor atau jalur, bukan hanya penggunaan sinyal elektrik, melainkan dan yang terutama adalah bagaimana semua itu bisa dilaksanakan tanpa menimbulkan perpecahan, kecemburuan, dan memihak pada kepentingan satu kelompok saja.
Ini yang luar biasa ketika kita berada di sana—untuk berangkat atau datang, ketika kita ini bagian dari penumpang yang mencapai 70.000 sebulan, yang mempunyai kenangan akan rel-rel, penjual buku Jawa di kios bagian tengah, juga penjual koran dan makanan serta kuli-kuli pengangkut bawaan, ataupun sopir becak dan kusir dokar di halaman parkir yang membungkuk sambil mengacungkan jempolnya. Kita masih bisa selalu saling mengenali, menyapa, dan merasakan serta merayakan semangat bahwa pada akhirnya ini memang menampung kepentingan bersama, sejak awalnya. Solo Balapan memang indah…juga gagah. Ing stasiun Balapan, tresnaku ora owah…
KITAB SOLO 124 KITAB SOLO 125

FOTO LUAX MAWARDI

ANOM SUROTO, ki dalang senior—tidak anom lagi, melihat bahwa pendekatan
budaya untuk mengembangkan kota Solo, merupakan langkah yang tepat. Bahkan yakin akan jaya. “Solo itu kaya dengan seniman-seniman handal. Kualitas mereka akan semakin terlihat jika diberi ruang gerak yang sama. Istilahnya mereka tinggal digosok dan diberi peluang. Mereka bisa menjadi bagian dari perubahan yang sedang terjadi.” Mereka ini, adalah seniman-seniman dalam arti yang luas. Bukan hanya wayang wong atau ketoprak saja, melainkan juga kelompok disiplin karawitan, pedalangan, tari atau pun bentuk-bentuk yang lain. Yang jika diberi ruang dan “digosok”, melalui eksplorasi dan penggalian akan menjadi identitas budaya Solo. “Kalau semua bentuk kesenian mendapat kesempatan yang sama, hasilnya pasti berbeda.” Memang iya, walau memang skala prioritas kadang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Untuk inilah peran warga masyarakat bisa terus berkomunikasi, menyampaikan gagasan dan menerima gagasan lain. Baik antarseniman ataupun dengan para pejabat atau birokrat. Karena bagaimana pun, birokrat pula yang menetapkan sebagai keputusan dan pengaturan langkah operasional di lapangan. Dalang kondang yang meneruskan tradisi nilai lebih dalam memainkan wayang ini merenungi bahwa : “Mengembalikan Solo sebagai kota budaya, kuncinya ada pada warga Solo.” Kunci itu antara lain adalah “adat ketimuran”—apapun pengertiannya. Termasuk dalam bertutur kata, tersenyum, menyapa dan disapa, sampai dengan tatapan mata. Tangan yang dipakai untuk menari pastilah lebih berbudaya dibandingkan untuk memukul, juga mata yang melotot dan wajah tengadah menantang, pastilah bukan bahasa tubuh yang bersahabat. “Demikian juga cara berpakaian sekarang ini.” Perubahan, atau juga pergeseran bisa terus terjadi, tanpa harus menggerus nilai-nilai yang mendasari sikap hidup budaya selama ini. Tuntutan yang sama pada hasil seni itu sendiri, yang harus terus menemukan dinamikanya untuk berkembang. “Jika hanya dipertunjukkan saat dibutuhkan, jadinya monoton.” Dengan kata lain sekadar standar, dan tidak menemukan terobosan. Lha nggih mangga, jejer malih….
ISTIMEWA

KITAB SOLO 126

KITAB SOLO 127

SUPRAPTO SURYODARMO,

Mbah Prapto tolak RUU APP

FOTO ICHWAN GEMBENG

bisa disejajarkan dengan Gesang, dengan pelukis A.S. Budiono, Narlon Kawit, sasatrawan dan pendidik N. Sakdani Darmopamujo, sastrawan Jawa Moch. Nursyahid P., Waljinah, dalam kesetiaan dan terus berkesenian di Solo. Bahkan “Mbah Prapto” ini mendirikan markas Padepokan Lemah Putih di tempat kelahirannya. Kekentalan dengan kehidupan di kampung, dengan masyarakat sekitar meneteskan kesimpulan bahwa :”Roh kesenian ada di kampung-kampung. Yang diperlukan adalah revitalisasi kesenian di kampung-kampung.” Jika semangat berkesadaran kesenian ini dihidupkan, serta merta akan muncul sanggar-sanggar, dan dari sinilah muncul bentuk-bentuk karya seni—tidak selalu terpakem pada bentuk yang sudah ada. Sebaliknya akan terjadi jika roh seni hanya diperlukan saat dibutuhkan. “Jangan jadikan kesenian dan hasil hasil budaya hanya sebagai tontonan, atau melibatkan dan memandang dari kacamata politik praktis atau agama.” Dengan kata lain, dinamika kesenian ada kalanya bisa berdampingan dengan kegiatan pariwisata, atau bahkan kampanye— tapi seharusnya tidak berhenti di situ. Karena kesenian juga mempunyai rohnya sendiri, juga dalam menghadapi dan menjalani kehidupan ini, kini dan pada masa mendatang. Pencerahan dari alam, dari sesama manusia, dan dari Tuhan, ada dalam kesenian. Caranya? “Menjadikan warga sadar akan kepemilikan atas kebudayaannya. Harus ada perubahan pendekatan. Dimulai dari kedidupan warga di kampung-kampung.” Ujarnya tetap bersemangat seperti juga kegiatan sehari-harinya yang menyatu antara berkesenian dengan kelompoknya ataupun bersama masyarakat dalam mengekspesikan diri. Wah, mathuk sanget Mbah… dilanjut…
KITAB SOLO 129

KITAB SOLO 128

HARIADI SAPTONO, dan ENDANG KUSUMA ASTUTI, anggota DPRD Solo periode 2004-2009, seperti warga Solo lainnya merasakan ganas dan kerasnya peristiwa Mei 1998, “akibat” dari dimulainya era reformasi. Kota serasa gelap—juga dalam artian sesungguhnya, karena asap dari kebakaran terlihat di mana-mana. Terjadi penjarahan, dan bahkan Balai Kota pun ter—atau di, bakar. Beginikah watak warga Solo yang disering disebut bersumbu pendek alias cepat meledak? Diperlukan penelitian panjang sebelum menyimpulkan sebabnya, atau menemukan jawabannya. Karena kini nampaknya suasana sudah kembali tenang, sudah lebih tertata, dan bisa diperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak harus mengejutkan. Seiring berlalu waktu, Hariadi Saptono melihat perubahan birokrat mempunyai pengaruh, dan bergerak ke perubahan yang baik. “Semangat kepemimpinan Jokowi dan Rudy lebih terlihat berkembang dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya.” Dalam pandangannya, Wali Kota Joko Widodo dan Wakil Wali Kota, mampu menciptakan pelayanan bagi warganya. Namun :”Ibarat naik kendaraan, Jokowi dan Rudy ngebut smpai kecepatan 90 kilometer per jam, sementara kecepatan birokrat di bawahnya hanya 40 kilometer per jam.” Yang terasakan eksekusi kebijakan baru sebatas memenuhi target . Dengan kata lain, kalau ada akselerasi atasan-bawahan di kalangan birokrat, wuaah, jalannya pembangunan akan lebih pas. Kalau ada yang disayangkan, adalah tidak terlihat munculnya generasi muda yang menjadi pemimpin. “Perlu dikenalkan dunia politik dan birokrasi pada generasi muda.” Endang Kusuma Astuti melihat bahwa salah sifat warga Solo seperti umumnya “orang Timur”. Tidak suka ribut di depan umum, lebih suka mengalah, tapi kemudian nggrundel belakangan. “Ini bisa menimbulkan masalah. Apalagi bagi yang kurang mengerti peri laku seperti ini dianggap cerminan kurang dewasa. “ Pada generasi muda, sikap kurang terbuka, kurang tegas ini pula sering memberi gambaran yang keliru. Seperti generasi muda yang terperangkap narkoba, atau tindak kriminalitas yang dilakukan mereka yang masih muda. Untuk itu perlu perda, peraturan daerah, tentang pembinaan kawula muda. Supaya ada program positif di hari libur dan waktu senggang. “Agar tidak terjerumus pada kegiatan yang melanggar norma agama dan susila.” Lhoo, lha mangga ketok palu… tok-tok-tok
KITAB SOLO 130 KITAB SOLO 131

FOTO-FOTO ICHWAN GEMBENG

GENDHON HUMARDANI, sudah meninggal 25 tahun lalu. Di awal tahun 70-an,
almarhum memulai gerakan kesadaran kesenian di Baluwerti Solo, dengan markas yang dikenal sebagai Pusat Kesenian Jawa Tengah, PKJT. Sampai sekarang nama itu masih terus diungkapkan dengan bangga. Atau juga melalui Akademi Seni Karawitan Surakarta, ASKI, yang bertumbuh menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan berubah mantap dengan Institut Seni Indonesia. Boleh dikatakan, semua ini jasa dan pergulatannya. Sulit dibayangkan pada saat, bahkan sampai hari ini, kini ada perguruan tinggi yang dipenuhi pengajar Doktor atau Profesor dari seniman tradisi. Dengan kaliber luar negeri. Sama sulitnya membayangkan, bahwa ketika terjadi dredah antara seniman dengan birokrat terjadi jarak sehingga saling memusuhi dan mencurigai. Sehingga yang muncul adalah berita yang tidak sedap. Termasuk penangkapan atau pelarangan. Adalah Sedyono Humardani yang muncul dan melatih sendiri, cara-cara berkomunikasi, cara-cara memandang seperti apa sebenarnya seni tradisi, apa itu seni modern, bagaimana keduanya bisa mempunyai hak hidup dan berkembang yang sama. Juga para cantrik—begitu anak buahnya menamakan diri, yang selama itu dipandang sebelah mata, kini bisa menjadi seniman sekaligus birokrat yang seimbang. Dari generasi di atasnya, sampai anak-anak—dalam pengertian sebenarnya, yang bisa dirangkul. Banyak kajian yang dilakukan, bagaimana pendekatannya melahirkan bibit-bibit unggul, dan tentu pertanyaan kritis : bagaimana dengan keadaan sekarang ini, setelah 25 tahun, setelah semuanya lebih terbuka. Pak Gendhon sebenarnya bukan menjadi dewa pelindung seniman tradisi—pedalangan, tari, karawitan sampai pembuat gamelan,abdi dalem dan pembuat topeng kayu. Pada saat memimpin PKJT, seniman modern—pelukis, sasrtawan, dramawan, demonstran, wartawan, penyair, dosen, pengajar, — pun diajak serta dalam berbagai diskusi, adu argumen, adu teriak. Sedemikian rupa sehingga untuk pertama kalinya ada pemimpin yang disegani sekaligus dicintai para seniman dari disiplin apa pun, dari tingkat lokal, nasional, bahkan internasional, yang berhasil dikumpulkan untuk saling memahami. Dan kalau sekarang kita melihat apa yang terjadi atau sedang berlangsung, dalam dunia kesenian, itu adalah bayangan dari jejak pendekatan langsung – bahkan secara phisik, tokoh yang agak terlupakan untuk dipetakan dalam nama resmi. Tak ada nama gedung, atau nama jalan, atau nama kehormatan yang mengabadikan. Padahal swargi adalah sumber inspirasi tanpa henti. Nyuwun pangapunten Pak Dhon..
ISTIMEWA

KITAB SOLO 132

KITAB SOLO 133

RW 09
Di antara sekian RW, rukun warga, di negara kita ini, ada yang istimewa. Tercatat RW 09, di daerah Kampung Sewu, kecamatan Jebres. Warga di situ sekitar 120 keluarga, dan memiliki kekerabatan yang unik. Selain, tentu saja merayakan Hari Kemerdekaan, tiap 17 Agustus, dan berhalal-bilalal setiap Lebaran, kesehariannya juga mempunyai apa yang disebut kas kecil. Dana yang terkumpul dijadikan modal sosial jika ada warga yang sakit, meninggal, atau… kesulitan membayar uang sekolah. Kekerabatan ini, konon sudah berjalan selama 10 tahun. Cukup rukun, berbaik-baik antara warga yang berpunya dan yang biasa, yang keturunan, yang asli, yang campuran— kalau istilah ini bisa digunakan. Bahkan di salah satu jalan, warung angkringan, tempat makan dan minum yang diusahakan warga yang jumlahnya bisa ratusan atau malah ribuan, dibuat “modern”. Tempat duduknya lumayan, ada atap tetap—sehingga tak repot kalau hujan, bahkan ada rak piring, diusahakan oleh seorang suami yang istrinya baru pulang menjadi Tenaga Kerja Wanita yang ketiga kalinya. Siang hari, tempat itu bisa digunakan untuk “pusat komunikasi” warga dan tetangga RW lain, juga untuk menjual barang-barang seken, second hand, barang bekas yang masih ada sisa kualitas. Kerukunan, keguyuban—kebersamaan yang dinamis, tercerminkan dalam masalah keamanan. Menurut
KITAB SOLO 134 KITAB SOLO 135

FOTO LUAX MAWARDI

Sumartono Hadinoto, 51 tahun, warga setempat yang aktif di berbagai organisasi—belum termasuk pengurus beneran dari sekitar 12 organisasi yang beragam, kerukunan dan kebersamaan masih bisa terus ditingkatkan. Kini sudah merambah untuk mengusahakan pengadaan air bersih, bahkan beberapa sudah merencanakan penghijauan. Kalau pendekatan budaya RW 09 bisa dijadikan model, rasa-rasanya akan banyak RW yang bisa berswasembada—setidaknya dari urusan sakit atau meninggal, atau uang sekolah anak-anak. Kalau model ini bisa juga dikerja samakan dengan RW-RW yang lain, bukan tidak mungkin akan mengubah wajah kebersamaan kita secara keseluruhan. Karena begitu banyak RW di seluruh Indonesia, karena kebutuhan untuk keamanan bersama, sejahtera bersama, masih akan didamba. Swasembada yang bisa lahir tanpa birokrasi, tanpa mengandalkan proteksi dan bantuan resmi, pada akhirnya bisa menciptakan komunitas yang saling mengerti. Menurut saya, komunitas semacam ini lebih pas, dibandingkan menciptakan kebersamaan dan kerukunan dalam menentang jalur bus way, atau mempertahankan portal di kompleks perumahannya. Barang kali saja, wajah-wajah seperti RW 09 juga perlu pemberitaaan, perlu dukungan, karena bisa memberi gambaran berbeda mengenai komunitas yang ada. Yang bukan unik, tapi masih tetap bisa dilirik.

“Anggere ana sing miwiti, apik, gampang ditiru,”
FOTO LUAX MAWARDI

ujar wong Solo memberi komentar. Maksudnya : kalau ada yang memulai, hasilnya bermanfaat, lebih mnudah ditiru. Sederhana. Dan ya.
KITAB SOLO 136 KITAB SOLO 137

Gladag Langen Bogan
Salah satu daya tarik bagi warga “Solo diaspora”, atau “Solo perantauan”, yang diakui sedang bebadra, berusaha di kota lain, adalah makanan khas. Sebenarnya ini hal yang biasa. Mereka yang berada di perantauan selalu kangen dengan makanan khas di daerahnya. Bedanya, jenis dan varian makanan yang dianggap khas untuk Solo, terlalu banyak namanya, dan selalu lebih original recipe, selalu lebih pas dinikmati di tempat aslinya. Untuk Jakarta misalnya, ada tempat-tempat tertentu yang menjual nasi liwet—dari hotel berbintang lima, sampai warung khusus—atau tengkleng, atau bahkan tumpang. Sebagian besar rasanya cukup mendekati, tapi ya itu tadi, tetap terasa kurang sesuai dengan keinginan. Barang kali ada benarnya : karena suasana juga menentukan. Pada akhirnya selera, rasa, juga berkaitan dengan suasana yang sampai kapan pun susah ditiru—karena memang suasana kota Solo berbeda dengan Jakarta, atau di luar negeri. Sebagai catatan di beberapa kota di Belanda—bukan di kedutaan, ada rumah makan yang menghidangkan makanan khas ini, termasuk nasi liwet dan .. nasi goreng. Maka saya sempatkan datang ke Gladag Langen Bogan, sebuah food court di ujung jalan Slamet Riyadi—jalan protokal utama. Malam itu—bukan “malem Minggu”, karena
KITAB SOLO 138 KITAB SOLO 139

FOTO-FOTO WWW.WISATASOLO.COM

kata Begog tak akan dapat tempat karena penuh—kami berangkat untuk “ngumbah mata”, sebelum memanjakan lidah. Lokasinya strategis. Antara perempatan Gladag yang ramai sampai ujung pertigaan Sangkrah. Mungkin sepanjang satu kilometer, di jalan beraspal yang bisa dilewati kendaraan empat jalur, dengan penerangan yang gemerlap. Sisi sebelah selatan masih ada rel kereta api—dan masih digunakan untuk jurusan sampai Wonogiri. Malam hari, kereta api tidak lewat, sehingga di atasnya bisa digelari tikar. Kiri kanan jalan dipenuhi penjual makanan yang jumlahnya lebih dari 70 kios. Kalau masing-masing kios gerobak ini menyajikan 10 menu, berarti ada 700 jenis makanan yang bisa dipilih. Malam itu, sata langsung menelepon istri yang biasa berburu makanan bila mudik, menceritakan ketersediaan makanan yang ada. “Brambang asem ana ora?” Ini jenis makanan yang aneh lagi : kangkung direbus, dimakan dengan sambal pakai kecap, pedaaaas sekali, dan biasa dibawa mbok-mbok penjual berkeliling. Harganya tak seberapa, dibanding menu yang lain. Saya telusuri, dan memang…. ada.

FOTO ICHWAN GEMBENG

Bukan hanya brambang asem, di sini juga ada sate kere—sate yang dari tempe gembus, atau kalau ada dagingnya sangat kecil—dan makanan yang menjadi kebanggaan : mulai dari gudeg ceker, nasi liwet, tengkleng, tumpang, dan segala jenis minuman yang aneh— yang tak dikenal lagi.
KITAB SOLO 140 KITAB SOLO 141

Penjual makanan di dibagi dua kelompok. Kelompok yang berjualan siang hari dengan kelompok yang berjualan malam hari—dibedakan dari warna gerobaknya. Malam hari, termasuk rapi jali, karena gerobaknya warna baja putih. Pada sore hari, sebelum mahgrib, terjadilah pemandangan yang mempesona, puluhan gerobak siang pulang kandang, sementara jumlah yang sama untuk edisi malam mulai menempati tempatnya. Untuk urusan makan, agaknya berlaku ungkapan lama “ Solo kota yang tak pernah tidur.” Selalu ada, jam berapa pun—kecuali kalau kehabisan. Rasanya kalau jenisnya sampai ratusan, tetap ada pilihan kedua. RUANG PUBLIK Untuk sebuah pusat jajanan, syarat utama adalah : variasi jumlah makanan yang tersedia, kebersihan, kenyamanan, harga yang relatif murah, dan suasana yang menyenangkan, bisa untuk bersantai. Untuk soal kebersihan, saya melakukan “inspeksi” dengan melihat air bersih yang dipergunakan, dan ternyata ada air pam yang mengalir. Pada beberapa tempat air untuk mencuci piring dan gelas biasanya seadanya. Untuk kenyamanan tak kalah dengan kotakota lain di kawasan Asia Tenggara. Tak ada pengamen, tak ada peminta-peminta, juga tak ada pedagang asongan, yang bernada memaksa. Di Bangkok, sebagai perbandingan, tempat untuk pengamen disediakan di salah satu sudut—sehingga tidak menganggu. Yang saya dengar di sini, para pengamen ke daerah pertokoan pun memiliki hari-hari ngamen tertentu. Juga untuk pengemis. Penataan ini termasuk sangat bagus—bagus untuk pengamen maupun dingameni—dan sama-sama menguntungkan.

KITAB SOLO 142

KITAB SOLO 143

FOTO ICHWAN GEMBENG

Peran lain yang menentukan adalah tempat seperti ini bisa menjadi ruang publik. Artinya masyarakat merasa memiliki, menggunakan dengan aman, dengan santai.

FOTO LUAX MAWARDI

Joko Wi, wali kota Solo

Itu pula yang langsung kami rasakan ketika berjalan menelusuri, berjalan dari barat ke timur dan ke barat lagi. Bertemu beberapa orang, bersapa dengan kenalan lama, dengan beberapa keluarga yang berdatangan bersama— ada rombongan mulai dari mertua sampai cucu, ada yang mengajak berpotret, ada yang menceritakan ia datang dari luar kota, dan berbagai basa-basi menyenangkan. Ada rombongan anak-anak muda dengan segala asesori dan kemeriahannya. Ada rombongan bule yang merasakan kebebasan berpakaian. Ada yang mendapat tempat strategis, di tengah jalan yang dijadikan lokasi utama bagi para pembeli, ada yang berbeda tempat untuk rombongan yang sama. Menyenangkan melihat sebagian besar datang bersama rombongan, dan lebih menyenangkan lagi melihat suasana malam itu yang hangat. Banyak senyum, banyak obrolan, dan peran sebagai ruang publik pun terasakan. Interaksi sesama warga terlihat secara jelas—pembicaraan apa kabar atau mungkin meneruslan masalah bisnis. Seakan menegaskan keberadaannya sebagai ruang publik, malam itu kami bertemu Jokowi—sebutan akrab bagi pak wali kota, yang sedang berada di salah satu tenda. Tubuhnya masih kurus, mengingatkan petenis dengan nama yang hamper sama Jokovic, memakai jaket. Kami duduk bersama, saya memesan minuman yang terdiri dari berbagai racikan : ada buah, ada roti, ada santan, ada isi yang lain. Saya tidak melakukan wawancara, juga untuk buku ini. Saya pernah saya meja ketika diskusi di rumah kediamannya. Juga ketika membuat dokumentasi kehidupan masyarakat Solo : di sini masih ada kelompok penembang macapat, masih ada kampung batik, masih ada ketoprak, masih banyak tokoh-tokoh seniman yang kasusra, kondang, secara nasional. Dokumentasi untuk ditayangkan ke seluruh sekolah di Indonesia, dan bukan hanya diputar sekali dua. Sebagai perbandingan untuk kota lain hanya satu item yang dikomentasikan, tapi untuk Solo, ada tujuh item. Dan itu belum semuanya. Malam itu bukan hanya saya yang memasuki tenda bersama Jokowi. Ada sedorang ibu-ibu yang mengenali—padahal lumayan
KITAB SOLO 145

KITAB SOLO 144

FOTO LUAX MAWARDI

remang di bawah tenda, dan menyempatkan diri mendekat. Untuk melaporkan bahwa di perempatan stasiun Purwasari masih banyak sampah. Pak Wali mendengarkan, menjawab akan mengecek. Si ibu berlalu, disusul warga yang lain, yang bersalaman, dan…. Mengatakan lampu lalu lintas di salah satu perempatan Banjarsari mati. Ada lagi yang mengusulkan agar pusat makanan ini lebih hidup : dengan panggung kesenian. Termasuk usulan : bagaimana kalau para pelayan memakai seragam tertentu pada hari tertentu. Bahkan sudah merencanakan desainnya. Ruang publik menjadi sempurna ketika keleluasan ada, ketika tanya jawab terjadi, ketika uneg-uneg tersampaikan. Ketika itulah komunikasi terjalin, saling bertanya, sekaligus saling mendengar. Ketika makin banyak warga yang mendatangi, saya memilih melanjutkan berjalan, mencari makanan yang lain. SUMBU SRAWUNG Malam makin larut, pengunjung tak juga surut. Langkah terus berlanjut, dan benar saja, tanpa rencana tanpa agenda, di salah satu sudut bertemu dengan Rudy, Wakil Wali Kota, yang kumisnya menawan dan nampak masih segar. F.X. Rudy Hadiatmo memang selalu terlihat segar, semangat, dengan berbagai kesibukan yang seabrek. “Untuk menyelesaikan persoalan, tidak butuh waktu lama.” Itulah yang pernah dikatakan pada pertemuan lain. Wakil wali kota yang menolak menempati rumah dinas, dan menolak menerima santunan untuk rumah dinas, serta memilih menempati rumah lama yang kadang masih terkena banjir ini, memang dikenal “berada di mana-mana”, dari tingkat RT hingga RW. Ia sendiri pernah menjabat sebagai ketua RT di usia 21 tahun, menjabat secara berturut-turut. Dan aktif di organisasi yang membuat terus bergerak. Malam itu saya sempat bertanya, apakah sedang mengkontrol sesuatu yang gawat. Dijawab melakukan kerja rutin, karena mendengar ada remaja mabuk di hari-hari sebelumnya. Suatu antisipasi yang terkoordinir, juga bentuk komunikasi dini yang selama ini terbukti ampuh. Duetnya sebagai pimpinan, sehingga media menyebutkan dalam satu tarikan napas—Jokowi-Rudy,— termasuk utuh dalam menciptakan komunikasi antar warga.
KITAB SOLO 147

FOTO ICHWAN GEMBENG

Wakil walikota, F.X. Rudy Hadiatmo memimpin upacara pemberangkatan kirab budaya boyongan PKL di Monumen’45 Banjarsari

KITAB SOLO 146

Kegaiatan srawung—gaul, terjadi pada tingkat dan antar RT, juga pada tingkat desa masih diteruskan. Dengan cara inilah, warga yang pernah dijuluki bersumbu pendek, ini bisa dieliminir. Beberapa persoalan mendasar bisa diatasi. Yang mencapai puncaknya dengan kirab klithikan yang mengagumkan itu. Mereka berdua, sebagai pimpinan, nampaknya berhasil memperjemahkan semboyan :”birokrat untuk rakyat”. Yang pada akhirnya akan menjadikan dinamika rakyat untuk rakyat. Bahwa keduanya dinilai melangkah terlalu cepat dan birokrasi di bawahnya masih lambat, itu hanya soal waktu. Dan juga kesabaran. Contoh konkret lebih efektif. Setidaknya malam itu, sudah larut, masih ada pembicaraan. Dengan bagian keamanan, dengan petugas resmi atau setengah resmi, untuk mendengar lebih dini apa yang menjadi rerasan masyarakat. Pendekatan yang efektif, walau dituntut kerja keras, secara konsisten. Sumbu srawung sebagai pendekatan barang kali memang paling tepat untuk diteruskan. Malam makin larut. Saya masih menyempatkan diri ke Alun-alun Utara, karena di situ ada Pesta Rakyat. Semacam pasar malam. Dan memang ada. Dengan kegiatan seperti umumnya pasar malam—walau kini dengan banyak pengeras suara. Masih ada penjual angkrok, mainan dari kartun yang ditarik untuk menggerakkan, masih ada tukang ramal, masih ada penjual obat, masih ada seniman yang memamerkan karyanya—baik yang naturalis maupun abstrak. Masih banyak penjual makanan, atau dawet khas, dan di salah satu tempat masih ada yang menjual obat tetes mata. Di papan iklannya berbunyi : “jual obat tetes mata, Insya Allah menyembuhkan mata positif, mata negatif, dan sebagainya.” Kehidupan ini masih ada. Tidak hilang atau tergusur karena adanya Langen Bogan di sebelahnya. Dengan kata lain banyak pentas untuk tampil, banyak kesempatan untuk dipakai bersama. Kalau malam itu bisa menjadi salah satu ukuran, rasa-rasanya perubahan Solo berada di jalan yang tepat. Yang menyenangkan. Membanggakan.
KITAB SOLO 148 KITAB SOLO 149

Bangkok
Saya sedang berada di kota Bangkok, ketika di Solo sedang ada perebutan tahta, ketika kabar bahwa dua pengikut Susuhunan berebut pintu masuk. Saya tak tahu apakah sedih atau biasa-biasa. Keraton Muangthai ini dulu pernah berhubungan dengan Keraton di Jawa, sangat erat. Raja-raja di sini turun temurun datang ke tanah Jawa, juga ke Borobudur, menghormati dan berziarah. Di sini masih ada raja. Tapi keadaannya berbeda. Bangkok, sejak saya kecil, telah menjadi idiom bahasa kita dengan arti bagus, ok. Ayam Bangkok, artinya ayam yang lebih ok. Betinanya seksi dan cepat betelor, jantannya pilihan untuk aduan. Belakangan merambah ke istilah durian, juga tanaman jenis kantung semar, dan berbagai hasil buah-buahan. Artinya secara budaya, jenis ayam yang hidup di sana maupun di sini sama, tapi kualitas berbeda. Kota Bangkok sendiri, , juga ibu kota yang sama dengan Jakarta. Tentu banyak macet— di sana macet tertahan karena patuh pada rambu lalu lintas, ada juga tilang damai di jalanan—saya mengalami di tengah malam ketika naik taksi, banyak pengamen di tempat penjual makanan—pengamen dipusatkan di satu tempat sehingga tidak menganggu pengunjung, dan bis kota sampai malam—yang memberi rasa aman meskipun jendela dibuka. Yang berbeda dengan tahun sebelumnya adalah kibaran bendera warna kuning, yang kalau diperhatikan ada ikon kerajaan. Bendera ini dikibarkan di samping bendera nasional. Di kantor-kantor resmi pemerintahan—jangan heran kalau di sana juga dipajang foto Raja, atau – ini lebih menarik, di kantor-kantor perusahaan. Umbul-umbul kuning ini serta merta juga ada di sepanjang jalanan, di kapal sungai, atau kendaraan lain. Dalam bentuk kaos, dalam bentuk jaket—dipakai untuk pengojek, pegawai negeri, pegawai kantoran, karyawan, atau juga pelajar. Menurut cerita ini akan berlangsung selama satu tahun, merajakan Raja yang berulang tahun ke- 80. Yang lebih menarik lagi
KITAB SOLO 150

adalah bahwa bendera “Raja”, atau umbul-umbul atau asesori kuning ini merupakan kesadaran masyarakat. Bukan karena diberi seperti di sini saat-saat kampanye. Bahkan untuk memproduksi dan memperbanyak, konon harus memperoleh izin terlebih dahulu. Di beberapa tempat, tagline : We Love The King, memaksa orang membacanya, terutama yang tak mengerti huruf-huruf lokal di sebelahnya.

Kesadaran budaya memasang bendera dan umbul-umbul tanpa dipaksa, tanpa diperintah, tanpa diawasi dan tanpa sanksi, adalah sikap dasar yang menemukan bentuknya pada kegiatan lain.
Misalnya saja, kotanya relatif bersih dari sampah, tempat sampah berada dalam halaman rumah—bukan setengah ke jalanan, calo dan sopir kendaraan umum tidak merecoki penumpang, baik di bandara atau stasiun kereta atau atau depan mal. Tak terlihat ada “pak ogah”, dan di gang pengojek antri dengan motornya dengan rapi. Bahkan di sungai dengan waterway yang sedang dicoba di Jakarta, terlihat jelas. Bukan hanya perahu berbendera kuning yang mengangkut para turis, atau kapal-kapal mengangkut barang, melainkan juga kapal yang wara-wiri, untuk mengambili sampah yang masih saja ada. Penilaian saya bisa salah. Saya hanya melihat sekilas, itu pun di permukaan yang terlihat. Akan tapi saya merasa hal-hal semacam ini tidak terjadi dengan sendirinya. Spontanitas yang berlangsung berawal dari sikap dan peri laku yang tertata sebelumnya. Seperti peristiwa yang saya ulas dengan “Kirab Pedagang Kaki Lima” di Solo. Kepindahan hampir seribu pedagang kaki lima beserta keluarganya untuk menempati
KITAB SOLO 151

lokasi baru dengan damai—bahkan mirip pesta, adalah buah dari sekian banyak komunikasi, dialog dan rerasanan- dari hati ke hati.

Barang kali pula ini yang harus diperhatikan mana kala kita menemukan hal-hal sederhana yang tak bisa diselesaikan.
Atau malah dianggap penyelesaian—seperti kehadiran pak ogah, — sampai hal-hal yang keenganan seperlima warga pemilih pilkada gubernur di DKI. Atau malah dianggap kalau tidak begitu tidak seru—seperti pelanggaran lalu lintas habis-habisan ketika para fans sepak bola berarakan, atau menutup jalan umum untuk keperluan pribadi. Seolah ini sudah benar adanya dan mempertanyakan hanya menimbulkan persoalan baru. Atau malah dianggap lahirnya kreativitas baru. Seperti kasus-kasus peraturan “three in one”, yang melahirkan joki jalanan, dengan berbagai ekses mengenaskan. Atau yang kemudian menjadi tradisi menutup jalan raya, membakar ban mobil, menghentikan laju kereta api, membakar tempat publik yang sebenarnya milik bersama. Saya tidak sedang menyalahkan para joki, pak ogah, pembuntu jalan, tapi saya juga tak bisa membenarkan karnaval yang menabraki semua peraturan lalu lintas hanya karena mau menonton pertandingan sepak bola, dan menjadikan kerusuhan ketika kalah atau seri, atau bahkan menang. Saya mencoba memahami bahwa peri laku yang kita lihat sehari-hari di jalanan ini mempunyai akar sikap yang mendasari. Sehingga ketika jalan keluar dengan menangkapi para joki, bukan menyelesaikan masalah. Atau membiarkan para mania bola seenaknya di jalanan adalah apresiasi besar kepada dunia olah raga. Karena ada dua hal yang berbeda antara mendukung kesebelasan dengan naik di atap mobil dengan mengibarkan bendera dan berteriak-teriak.
KITAB SOLO 152

Barang kali ini yang seharusnya menjadi pendekatan budaya mana kala kita masuk ke dalam peri laku keseharian. Ada yang harus ditekankan, diajarkan dengan contohcontoh yang terlihat, di mana pada akhirnya bisa menjadi sikap masing-masing pribadi. Ini adalah usaha yang panjang, dan tidak menarik perhatian sebagai kisah sukses, karena bukan suatu gerakan atau gebrakan, melainkan rerasanan, obrolan dan saling mendengarkan.
Bendera Raja berwarna kuning itu tak serta merta dikibarkan dengan khidmat, para tukang ojek tak serta memakai jaket kutung – lebih praktis karena udara panas, juga para pelajar atau karyawan-karyawati, kalau peran Raja tidak berwibawa, tidak memberi rasa aman, tidak memberi panutan. Ketika kesadaran masyarakat menjadi kebutuhan yang tergerakkan dengan sendirinya, itulah sesungguhnya kemenangan. Kibaran bendera yang membanggakan. Ok, bang? Nggih! Saya masih di Bangkok, dan suara hati menjawab dalam bahasa daerah. Apa yang salah dengan semua ini? Titik mana yang menjadikan beda dalam perjalanan waktu, ketika sang raja masih dielu-elukan rakyatnya, di zaman yang setiap artis bisa menjadi superstar?
KITAB SOLO 153

London
Saya pernah ke Inggris, bersama istri, di awal karier sebagai penulis. Sebenarnya saya nebeng, karena yang diundang adalah istri saya. Ini pertama kalinya naik pesawat terbang—selain pertama kali ke luar negeri. Mengatur jadual penerbangan dari Solo saja susahnya minta ampun—yaaaah, terutama karena tidak mengerti. Di London yang dingin untuk ukuran “wong Solo”, walau sudah mengenakan jaket tebal, terasakan betul pengaruh Keraton Inggris ini. Bukan hanya istananya—kita berpotret pun di luar pagar, melainkan juga dalam keseharian. Simbol-simbol Keraton terlihat di mana-mana, sebagian menjadi barang souvenir.

Dari segi makna symbol, sebenarnya tak jauh berbeda. Lambang Keraton, wapen, coat of arms, mirip dengan logo Kasunanan. Radya Laksana Surakarta yang memakai simbol Sura , matahari, Sasangka, rembulan Sudama, bintang, di bawah satu mahkota.
KITAB SOLO 154

Konon wapen di Surakarta Hadiningrat ini menyimbolkan bersatunya tiga keluarga besar dinasti Mataram. Bersatu padunya trah, anak cucu Sultan Agung. Di dalamnya tersimpan kata dari trah Surya, Sasangka, Sudama. Nama-nama yang dipertalikan dalam pernikahan. Ada juga simbol gula-klapa, merah putih, ada simbol padi kapas, boleh dikatakan memenuhi semua unsur yang menyatukan juga menyejahterakan. Lebih artistik, lebih menarik dari sekadar bendera kuning—yang pada masyarakat tertentu berarti bendera tanda adanya kematian. Di Bangkok, saya sadar bahwa gambar, simbol, segala apa telah berubah. Juga pengertian akan Keraton, atau raja. Meskipun tak mengurangi kemungkinan bahwa dua negeri itu masih bisa meneriakkan kecintaan kepada raja. Tapi, kalau kita kembalikan di sini, ke raja yang mana? Pertanyaan yang akan terus tergema. Mungkin agak lama. Dalam satu diskusi di radio BBC, kami bertuikar pikiran. Kurang lebihnya kenapa raja-raja di Eropa—termasuk Belanda, masih bertahan, sementara di Jawa hancur? Tak usah heran kalau orang Indonesia yang ada di sana menjadi kritis—kadang juga sinis, akan keadaan di Indonesia. Kadang “wong Solo” sendiri juga begitu ketika baru berada di Jakarta. Dari semua perbantahan saya menjawab : sebenarnya di Inggris, atau Belanda masih bertahan, karena yang memerintah adalah ratu, bukan raja. Kalau saja Keraton-keraton di Jawa diperintah oleh ratu, pasti akan lebih luwes dan bertahan terus. Nyatanya begitu. Ratu? Tak ada keturunan Mataram yang menjadi ratu. Padahal ada. Yaitu Gusti Kanjeng Ratu Kidul, yang sedemikian unggul kisahnya, sehingga masih terus tergemakan hingga saat ini. Dengan segala pandangan yang mempercayai, sangat mempercayai, meragukan, menyepelekan, memusuhi. Sikap apa saja. Itu sebabnya masih terus bertahta, masih terus ada.
KITAB SOLO 155

Ratu Kidul

Dalam salah satu diskusi yang diselenggarakan di Loji Gandrung – tempat kediaman resmi Wali Kota, ada yang bertanya apa sebaiknya yang menjadi ikon kota Solo. Selama ini sudah ada beberapa kesepakatan, dan itu benar adanya. Batik. Solo memang pernah dijuluki kota batik, dan sebagai pusat kegiatan, produksi dan penemuan motif-motif baru masih berlangsung. Keris. Solo memang identik dengan keris—yang kalau dibahas tak akan pernah habis. Bahkan kata “keris” itu sendiri bisa menghabiskan waktu panjang. Rajamala. Patung kepala raksasa yang dipasang di atas perahu Keraton yang sangat khas dan dianggap keramat. Sego liwet. Makanan khas Solo bukan hanya nasi liwet melainkan juga tongseng, juga tengkleng, juga serabi, juga timlo, juga dan lain sebagainya. Ada puluhan nama makanan yang dianggap khas.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 156

KITAB SOLO 157

Panggung Sangga Buwono. Menara Keraton ini sudah sejak dibangun zaman Paku Buwono menjadi ciri utama, dengan bangunan yang tak ditemukan di Keraton lain. Apa saja. Bisa sungai Bengawan Solo, Taman Sriwedari atau Taman Balekambang, bisa Pasar Gede, atau pasar yang baru, pasar klithikan Nitiharjo di Semanggi. Pada waktu itu, tanpa ragu saya menyebutkan bahwa Nyi Roro Kidul, nama popularnya di masyarakat, pantas menjadi ikon Solo. Pembicaraan menjadi ramai. Dan sesungguhnya, inilah yang juga khas, rerasanan dan atau nguda rasa berlanjut di wedangan, lesehan, di depan Loji Gandrung, setelah acara resmi selesai. Semua duduk di tikar, memesan minuman dan makanan, tidak kikuk, lutut bisa ditekuk atau diselonjorkan, melewati jam-jam kantuk. Juga berlanjut pada hari berikutnya, di tempat berbeda.

Kurang lebihnya saya mengatakan, bahwa simbol keris, atau batik, atau bahkan wajah Rajamala sangat bisa diterima. Hanya kekhasannya tak ada. Boleh dikatakan semua kota dengan latar belakang Keraton—Yogya, Cirebon, atau bahkan luar Jawa, juga menggunakan wesi yang sama— dengan sedikit perbedaan luknya.
Demikian juga karakter Rajamala lebih dikenal sebagai topeng dari tarian reyog Ponorogo, atau tarian kuda lumping di wilayah Magelang dan sekitarnya. Sementara Gusti Kanjeng Ratu Kidul, sebutan hormat dengan panggilan gusti,
ISTIMEWA

KITAB SOLO 158

KITAB SOLO 159

sekaligus kanjeng, merupakan sosok yang terbuka. Karena dinamika yang terkandung di dalamnya. Mulai hari riwayat yang dituturkan, sampai dengan pemahaman terhadap beliau. Kontroversi yang akan selalu muncul, justru karena begitu terbukanmya tafsiran juga penerimaan. Rasanya tak ada tokoh lain yang begitu sempurna dalam membuka wawasan seperti beliau. Bahwa banyak kisah tentang putri ratu yang kelewat cantik dan “terbuang” ke Laut Selatan, tidak hanya ada di Jawa Tengah. Di tanah Pasundan kisah ratu cantik yang berpenyakit kulit dan “bunuh diri” ke laut juga ada, sebelum akhirnya menjelma menjadi putri cantik jelita. Bahwa kadang dicampur adukkan dengan Nyi Blorong atau sejenisnya—menyerap kisah manca negara ala ikan duyung, di mana di sini bagian bawah tubuh adalah tubuh ular, atau ada yang membedakan antara Ratu Kidul dengan abdinya yang bernama Nyi Roro Kidul—atau ada abdi-abdi lain lagi, tidak mengurangi keberadaannya, sekaligus keterbukaan untuk dikreatifkan kembali. Bahwa dengannya dikaitkan segala yang gaib, tak masuk akal, gugon tuhon, mistik, tidak rasional, klenik, memang di situlah yang menjadi salah satu daya tarik.

Bahwa dengan memilih ikon “seorang” tokoh perempuan adalah pemihakan jender, itulah keunggulan, juga keberanian mengakui peranan perempuan yang menentukan.
Juga bukan kebetulan bahwa kehadirannya sejak awal, dalam dongengan yang terdengar di Solo, beliau bukanlah putri yang sakit ragawi atau patah hati, melainkan karena keinginannya menjadi abadi, dan itu hanya dimungkinkan dengan menjelma sebagai makhluk halus—atau apapun sebutannya. Bahwa pemunculannya pertama menemui Panembahan Senopati, untuk ikut menjaga tanah Jawa dan menjagai anak cucu semuanya, adalah berawal dari niat baik untuk memayu hayuning buwana. Bahwa
KITAB SOLO 160

kisahnya berlanjut ke Sultan Agung dan kepada raja-raja anak keturunannya yang mempermaisurikan— memang begitulah kisahnya. Konon kepermaisurian ini hanya sampai dengan Paku Buwono X. Dari sini Ratu Kidul bergeser perannya, menjadi ibunda, karena menyebut sinuwun dengan sebutan ngger, kependekan dari angger, sebutan untuk anak—adalah legitimasi yang tidak mengganggu siapapun. Bahwa seorang Pramudya Ananta Tour, pengarang besar yang menuliskan ini sebagai pembodohan masyarakat, tidak mengurangi kebesarannya. Sebagaimana juga banyak karya besar yang lahir dari inspirasi tokoh dan kisah yang sama. Baik dalam tarian adi luhung yang sangat terkenal, Bedaya Ketawang, yang hanya dipanggungkan setahun sekali, atau juga dalam karya lukis seperti Basuki Abdullah. Bahwa sampai detik ini pun, masih ada ratusan blog di internet, bukan hanya dari dalam negeri, tetap ramai dikunjungi peminat. Baik yang menceritakan pengalaman pribadi, menggali mithos-mithos, sampai dengan yang tak terkirakan. Bahwa ada komunitas tertentu yang memerangi, yang ingin menghapus takhayul terhadapnya, menandai keberadaannya. Bahwa masih akan ada selalu perbincangan seru, menandai keberadaannya. Atau ketidak beradaannya. Bahwa ini sudah berlangsung sejak abad 16 tanpa henti, menandai dinamika yang menyertai.

Bahwa, pada akhirnya ini sebuah permulaan, bagaimana pertarungan antara yang rasional dengan klenik menemukan bentuknya, juga bagaimana menemukan harmoni baru. Bagaimana yang serba lahir, serba wadag, bersinggungan dengan dengan yang serba batin, serba rasa, serba alam pikiran. Begitulah kompromi dalam parakdoksal terus berlangsung.
KITAB SOLO 161

Inilah dinamika yang masih akan bisa digali dari Gusti Kanjeng Ratu Kidul sebagai inspirasi, sebagai tafsiran, sebagai perlawanan mengemohi, yang kesemuanya menjadikan tetap ada, tetap hidup, tetap tak berhenti.
Solo, memiliki dinamika yang sama. Berarti Ratu Kidul menjadi ikon Solo? Dalam dinamika yang ada, bisa iya, bisa tidak. Bisa resmi, bisa pula tidak. Inilah yang akan selalu terjadi. Tak ada satu pengertian, satu tafsiran, dan berhenti di situ. Sebagaimana juga sang ratu penguasa laut selatan, yang angin asinnya bertiup sampai ke daratan. Sebagaimana sarang burung walet yang dinikmati jauh dari tempat asalnya, di antara karang terjal sunyi sekaligus bergelora oleh debur ombak. Sebagaimana pantangan mengenakan pakaian hijau, gadhung mlati, bisa dipatuhi bisa pula tidak. Sebagaimana adat melarung di laut, sebagaimana adat lainnya, bisa dijalankan dengan gempita atau perorangan. Semua tak pernah menghilangkan keberadaan Ratu Kidul sebagai ikon yang terbuka.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 162

KITAB SOLO 163

Sangga Buwono
Salah satu tempat peraduan Ratu Kidul dengan para raja di Kasunanan adalah Panggung Sangga Buwono. Bangunan setinggi 30 meter yang dibangun masa Paku Buwono III ini strategis untuk melihat ke arah benteng-benteng Belanda di arah utara, juga ke selatan, ke laut selatan di mana Ratu Kidul bertahta. Bangunan ini ditandai berdirinya dengan Naga Muluk Tinitihan Janma, atau berarti 1708 tahun Jawa, 1198 tahun Hijriah, 1782 tahun Masehi. Pada bagian atas ada hiasan sosok manusia mengendarai naga yang tengah memanah. Ujung panahnya, juga bagian dari penangkal petir. Sosok pemanah di atas naga itu sendiri bisa diartikan sebagai Tri Buwono Kiblat, atau kalau dikonversi ke tahun Masehi adalah tahun 1945. Tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Dan itu sudah menjadi ramalan, menjadi perhitungan, jauh sebelumnya, ketika pasukan Belanda masih sangat berkuasa. Kebetulan? Gothak-gathik, gathuk—dipas-paskan sehingga pas? Ini semua bukan pertanyaan dengan satu jawaban pasti. Barang kali jawabannya justru pertanyaan itu sendiri. Dan ketika pertanyaan adalah jawaban, ketika itulah kita memasuki wilayah yang sesungguhnya—sangkan paraning dumadi, kembali ke asal penciptaan. Hanya dengan menyebut nama Ratu Kidul, semua asal usul, semua pemikiran dimungkinkan untuk muncul, dan lebih penting dari semua itu : dialog berkelanjutan, rerasan bisa terus terjadi. Dalam berbagai bentuknya.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 164

KITAB SOLO 165

W.O. Sriwedari
Wayang Orang Sriwedari, bisa disebutkan sebagai bagian dari keuletan yang mengagumkan, atau juga pertahanan budaya yang memedihkan. Dua tata nilai ini yang berbeda ini, semuanya bisa pas untuk menggambarkan keberadaannya saat ini. Kenyataan paradoksal ini tidak hanya berlaku untuk grup kesenian ini sendiri, melainkan juga bentuk-bentuk kesenian, organisasi, atau tempat-tempat keramat lainnya, ikon yang pernah menjadi kebanggaan dan menyatu dengan identitas Solo. Membicarakan Wayang Orang Sriwedari, tak bisa dilepaskan dari keberadaannya di tengah setting lokasinya, yaitu Taman Sriwedari. Suatu wilayah kotak di tengah kota yang megah, di suatu tempat yang pernah dilirik untuk mendirikan Keraton. Batas geografis sebelah utara adalah Puwasari—sekarang jalan Slamet Riyadi, sebelah barat jalan Mangunjayan—sekarang jalan Bayangkara, sebelah timur Pasar Kembang— sekarang jalan Honggowongso, sebelah selatan, jalan Baron—sekarang jalan Dr. Rajiman.
ISTIMEWA

KITAB SOLO 166

KITAB SOLO 167

Di sinilah dibangun pusat rekreasi, pusat pemanggungan, pusat pentas dan pesta rakyat yang mengagumkan. Beberapa orang masih melafalkan sebagai Kebon Raja, atau kebun Raja, untuk kebun binatang yang ada. Ada juga bangunan untuk museum Radyapustaka, yang menjadi museum tertua di Indonesia. Pada salah satu bangunan di halaman Sriwedari ada gedung pertunjukkan khusus untuk wayang orang. Pada awalnya hanya hanya hari Jumat dan Minggu ada pementasan, sebelum akhirnya, juga diadakan pentas pada Minggu siang. Ini saja sebenarnya merupakan terobosan yang luar biasa. Bagaimana waktu siar, broadcast time, mengalami perubahan mendasar, karena kepentingan pasar. Harus diingatkan, pada awal-awalnya, Taman Sriwedari merupakan pusat hiburan yang tiada taranya. Di situ juga diputar film, pertunjukkan seni yang lain, dan segala kegiatan pasar. Bukan hanya masyarakat sekitar, tapi juga orang asing—Belanda, Inggris, Spanyol, Arab, ikut menikmati. Menurut catatan, Taman Sriwedari resmi dibuka dengan “sengkalan”, Luwih Katon Esthining Wong, (ada juga yang mengatakan sengkalan Janmo Guna Ngesti Ratu), walau artinya sama, yang berarti tahun Dal 1831, atau tahun 1899 kalender sekarang ini. Yang menarik adalah taman itu dulunya diprioritaskan untuk anak-anak sekolah. Dalam catatan penulis Yasaharjana (Babad Taman Sriwedari, penerbit Liem Gwan Bie, 1926), yang masih memakai huruf Jawa, dikisahkan pada saat liburan digratiskan untuk anak-anak sekolah. Sedangkan anak-anak yang tidak atau belum sekolah, harus membayar. Sekali lagi ini juga merupakan jurus yang ampuh untuk membuat anakanak ingin bersekolah, membuat orang tua tak bisa menolak anaknya yang mendesak. Pada titik yang sama, pengakuan akan anak-anak yang bersekolah menempatkan pada posisi yang membanggakan. Sedemikian rupa kebanggaan itu, sehingga mereka yang bersekolah di siang hari pun ingin mendapat persamaan. Sehingga selain dikawal guru, anak-anak yang “baru mau masuk sekolah” pun bisa diikutkan dengan surat keterangan khusus. Dengan kata lain, pusat hiburan yang didirikan mempunyai makna yang lain dalam
KITAB SOLO 168

memajukan pendidikan. Bahkan boleh dikatakan sangat sakti. Sekaligus menjadi tempat yang mengistimewakan anak-anak sekolah, menjadi promosi budaya agar anakanak menempuh pendidikan di sekolah. Bahwa yang merasakan keistiwaan para orang tua yang datang berbondong-bondong dan merasakan keteduhan tempat yang sejak awal dirancang dengan penghijauan, itu sudah dengan sendirinya. Juga, terutama para muda-mudi yang melakukan “dugem”, dunia gemerlap, abis. Banyak novel-novel Jawa masih memperlihatkan suasana pacaran di Taman Sriwedari. Bahkan di tahun 1925, masih ada kisah—bukan karangan fiksi, yang menceritakan seorang lelaki bertemu gadis cantik di Taman Sriwedari, yang ternyata adalah makhluk halus. Kisah itu menjadi klasik dan masih terus diceritakan, seakan mengukuhkan bahwa daerah itu memang angker sejak awal, sehingga urung dijadikan Keraton. Bagaimana keberadaan masyarakat yang terpikat dengan Taman Sriwedari—yang datang dengan berjalan kaki, karena kendaraan masih sangat terbatas, terlihat dari ungkapan Yasaharjana ini. Untabipun tiyang ingkang ningali panda sulung ngroyok dilah, selur jaler estri enom sepuh tanapi lare saking wetan kilen ler kidul andeledeg kados ilining toya tuk tanpa wonten pedhotipun, tupleng datang Sriwedari. Masyarakat yang datang seperti laron mendekat ke sinar, baik lelaki maupun perempuan juga anak-anak dari arah timur barat utara selatan, mengalir bagai air sumber tanpa terputus, semua menuju ke Sriwedari.

Dalam gegap gempita Maleman Sriwedari, yang berlangsung di bulan Puasa yang di era Ingkang Sinuhun Paku Buwono X dimulai tanggal 21, selikuran, inilah ada panggung wayang orang.
KITAB SOLO 169

W.O. RRI
Dengan menyebutkan wayang orang, atau wayang wong yang ada di Sriwedari, kita mau tak mau akan melihat wayang orang dari awalnya. Atau bahkan wayang itu sendiri, yang menjadi identitas masyarakat Jawa. Konon wayang ini sudah dikenal masyarakat Jawa di abad 11, ketika Keraton Prambanan pindah ke Kediri. Pada masa pemerintahan Jenggala inilah berbagai jenis wayang mengalami perkembangan. Wayang Orang , adalah satu dari sekian jenis pertunjukkan wayang, pentas tradisi yang pernah jaya. Ada wayang kulit—diperagakan dengan “boneka” dari kulit hewan, ada wayang beber—selembar kain dibeber untuk menceritakan adegan, ada wayang gedog— dimainkan dengan golek (kayu), mengambil era sesudah Mahabharata, ada wayang golek,— dari kayu dengan kostum lebih modern, ada wayang keling—yang ceritanya berawal dari kisah Adam-Hawa, ada wayang topeng—pemainnya menggunakan topeng, ada wayang krucil—boneka dari kayu tapi dibuat pipih seperti wayang kulit, dan jenis lain yang hanya ada dalam catatan, bukan dalam ingatan. Wayang Orang, di Jawa disebut wayang wong, (wong artinya orang, manusia), barang kali yang paling susah dipentaskan. Karena sedikitnya didukung 50- 80 pemain, dengan kostum yang rumit, pengiring gamelan komplet, dengan durasi waktu bisa dua kali kalau kita nonton film, dengan pilihan cerita yang sangat banyak, sejak Ramayana hingga Mahabharata. Jumlahnya bisa ribuan dengan varian-varian yang berbeda, atau sampai dengan bentuk carangan—cerita di luar dari pakem, tapi tak bertentangan, atau yang bersifat banjaran—berbentuk biografi satu tokoh, atau campuran dengan keinginan pemesan atau sponsor. Menurut catatan, wayang wong adalah yasan, hasil kreativitas Sultan Amangkurat I, pada tahun 1731. Untuk pertama kalinya dipertunjukkan diperagakan oleh manusia, tanpa memakai topeng. Kalau tadinya dialog diucapkan oleh dalang, kini para pemain yang langsung mengucapkan, dan tentu saja menari, dengan koreografi dan komposisi, dalam perpaduan harmonis dengan perangkat gamelan.
KITAB SOLO 170

Dalam perkembangannya yang kemudian, wayang orang gagrak, gaya atau jenis atau aliran Solo lebih berkembang, terutama ketika para seniwati masuk ke dalam dan memainkan peran-peran alusan, bambangan. Ketika para pemain perempuan memainkan tokoh Arjuna atau ksatria alus. Tarian alus merupakan satu dari gaya dari jenis tari lain, yaitu gagah, kasar serta gecul, atau jenaka. Dasar-dasar tarian ini masih terasakan sampai sekarang. Puncak pentas wayang orang Sriwedari terjadi di tahun 50-an hingga 60an, ketika sekitar 1500 tempat duduk terjual habis, ketika para calo juga mendapatkan pekerjaan. Itu semua bisa berlangsung setiap malam. Mengalahkan pentas Broadway atau Off Broadway atau Off-off Broadway di New York, Amerika Serikat, yang dibanggakan di seluruh dunia. Pada titik kulminasi itu, Solo bukan satu-satunya. Kota-kota lain juga memiliki pentas, walau tidak setiap hari mengadakan pertunjukkan, punya nama besar dengan pemeranpemeran yang legendaris. Di antara di Semarang ada Ngesti Pandawa yang beruntung ditangani Ki Narto Sabda—pujangga tradisi terbesar dan terakhir, di Yogya ada Wiromo Budaya dan di Jakarta ada Bharata. Panggung-panggung ini, tidak terbatas pada gedung sebagai bangunan, menciptakan sistem komunikasi, juga dinamika ekonomi, sampai dengan bagaimana masyarakat mengatur waktu untuk menonton. Memilih lakon yang dimainkan, menyatu dengan bintang-bintang pujaan yang menjadi super star pada saatnya, menjadi idola dalam artian sebenarnya.

Tentu banyak kisah asmara, kisah keberhasilan dan juga kedodoran dari para peraga—tidak hanya artisnya, yang barang kali akan menjadi wayang wongtainment kalau terus berjalan sampai sekarang.
KITAB SOLO 171

Namun kemudian memang terjadi apa yang disebut sebagai wolak-walinging jaman, berubahnya selera, beralihnya pilihan. Wayang Orang Sriwedari mulai sepi, dan makin sepi.
Hanya pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada pergantian Tahun Baru, atau harihari besar lainnya, atau ketika ada “warganegara Solo yang tinggal di perantauan” pulang bersama, dan memborong pertunjukkan. Nasib ini sedikit berbeda, dengan wayang orang RRI, atau wayang orang yang digelar di gedung Radio Republik Indonesia. Pada suatu malam, hari Selasa awal Januari 2008, saya menyempatkan menonton dua pertunjukkan dan meraba-raba gambaran yang ada.

WOW
Kalau w.o., singkatan dari wayang orang sudah terlepas dari ingatan, bisa dimengerti. Karena kini dalam istilah politik wo, lebih dikenal sebagai walk out, atau meninggalkan sidang, memboikot persidangan. Masyarakat Solo tak sepenuhnya meninggalkan wayang orang. Masih akan terdengar wow—tanda kekaguman. Begini ceritanya. Dalam kondisi yang seperti ini, rasanya boleh meneriakkan wow sebagai tanda kagum, ketika pentas wayang orang dengan penonton penuh. Kejadiannya di gedung RRI, Radio Republik Indonesia, di Solo, yang jatuh pada hari Selasa 8 Januari 2008 kemaren. Hari Selasa perlu disebutkan, sebab ini adalah waktu tetap diadakan pentas wayang orang, pada minggu kedua setiap bulan. Sedangkan pada hari lain, di minggu keempat,
KITAB SOLO 172

dipentaskan ketoprak—bentuk pertunjukkan dimainkan sejumlah orang dengan materi cerita lebih ke masa kerajaan. Wow karena penonton memenuhi kursi yang tersedia, wow, karena pentas ini gratis—tidak dipungut bayaran. Hanya ada kotak bertulisan : sumbangan budaya, yang biasa diisi, bisa dilewati. Saya bisa menyelundup ke belakang panggung, bertemu dan mengobrol dengan pemain yang sebagian masih saya kenali, sebagian saya kenali sebagaian pemain lama, sebagian dari profesinya yang berbeda, juga dari “generasi muda”, yang namanya berkibar dalam pentas teater modern. Sebagian dari mereka pegawai negeri, sebagian lagi sudah pensiun tapi tetap datang dan pentas bersama—dengan biaya sendiri untuk kostum, tata rias atau transportasinya. Hal yang sama, dalam soal pentas, juga terjadi di gedung wayang orang Sriwedari, yang berjarak tak sampai 5 kilometer. Di sana, malam yang sama itu, juga ada pentas seperti yang berlaku setiap hari—ya setiap hari, beberapa pemainnya ada yang seharusnya sudah pensiun. Di sini penonton lebih sedikit, karena harus membayar tiket. Saya juga menelusup ke belakang panggung, bertemu dengan tokoh-tokoh dengan nama besar ketika saya masih remaja, sebagian lagi menunggu naik pentas—sudah dengan kostum lengkap, bergerombol menonton pesawat televisi.

Ada semangat yang menggetarkan dari dua panggung ini. Semangat berkesenian yang begitu bersungguhsungguh, kegigihan yang tak tersisih, pilihan atau bahasa tingginya panggilan hidup yang tak meredup.
KITAB SOLO 173

Sulit membayangkan bagaimana grup wayang orang itu mampu bertahan. Lebih sulit memperkirakan bagaimana interaksi para pendukung satu sama lain, bagaimana mengorganisir diri, bagaimana mengatur waktu, sehingga bisa terus pentas. Kesetiaan macam apa yang membuat mereka ini—juga grup wayang orang Bharata di Jakarta, masih bisa menemukan bentuknya seperti ini? Kekuatan apa yang masih menyatukan dan mempertemukan mereka ini?

Kalau jawabannya karena tak ada pilihan lain, rasa-rasanya meragukan. Karena mereka yang mempunyai profesi lain—atau bahkan pensiun, masih menyempatkan diri untuk bersama. Kalau jawabannya karena ini bentuk kesenian yang memang memiliki daya sihir untuk keberadaan diri mereka, barang kali kita masih bisa berharap, bahwa peristiwa budaya ini masih akan terus berlangsung, walau generasi muda makin menjauh dan tak tersentuh.
Ini benar-benar wow, ketika perkembangan berkesenian atau masyarakat secara luas seakan tidak memperdulikan mereka. Bahkan ketika acara televisi menyiarkan program seni tradisi pun, sama sekali tak bersentuhan dengan mereka, atau kisah-kisah yang mereka pentaskan. Nyatanya mereka masih bertahan.
KITAB SOLO 174

Entah sampai kapan, kalau tak ada campur tangan yang memberi kemungkinan, juga kemudahan. Yang mentakjubkan bukan kapan bantuan itu datang, atau ada perubahan zaman. Yang mentakjubkan adalah mereka ini, memang, masih bertahan. Masih berpentas, masih berdiskusi, masih saling memaklumi satu dengan yang lain, tidak saling menyalahkan, dan terus menjalani. Apa yang saya saksikan malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya ketika mencoba membuat dokumentasi budaya yang disiarkan TVRI adalah kegigihan tanpa pedih, keberadaan tanpa bergeser. Apa yang saya saksikan malam itu, tak berbeda dengan malam-malam yang lain ketika saya menonton Ketoprak Bale Bambang, yang juga nyaris tanpa penonton. Para pemain yang sebagian menempati bagian belakang, siang hari ada yang memperbaiki dekor, ada yang bekerja – sebagai penarik beca, malamnya berperan sebagai raja, ada yang hidup dengan keluarga dan anak-anaknya yang bersekolah.

Pentas yang lain juga berlangsung di Solo. Ketika sekelompok komunitas menembangkan macapat—baik di dalam bangunan Keraton atau di rumah-rumah warga. Di sana masih ditembangkan dengan tekun, dengan tulus tentang sifat-sifat mulia, tentang berbakti kepada negeri, tentang penyadari diri sebagai umat dari Sang Pencipta.
KITAB SOLO 175

Taman Balekambang
Taman Balekambang, sebuah kenangan, tapi sekaligus juga kebangkitan. Barang kali bisa menjadi potret bagus bagaimana perubahan dan tuah pembangunan berlangsung. Dibangun pada tahun 1921 oleh Kanjeng Gusti Adipati Mangkunegoro VII untuk dua putrinya— yang dijadikan nama bagian dari taman, Partini Tuin serta Partinah Bosch, — sebagai tempat hiburan yang menawan. Dengan konsep penghijauan, juga rekreasi dan hiburan. Pertunjukkan ketoprak pernah berjaya di sini—dan masih dirindukan. Grup lawak tenar Srimulat, juga pernah memakai tempat ini sebelum—dan sesudah, berjaya di Jakarta. Teguh Srimulat bukan warga asing untuk Balekambang, karena sejak masih grup ketoprak bernama Sri Bedoyo, telah berkarier di situ. Ini bisa menunjukkan bahwa pertalian emosi masa lalu, bisa berlaku.
KITAB SOLO 176 KITAB SOLO 177

Namun juga tak berbeda dengan tempat lain, kemudian merana, dan berbau mesum. Saya pernah membuat dokumentasi budaya mengenai ketoprak yang sangat sepi pengunjung. Sebagian pemainnya masih mengenal dan saya kenal, karena ketika membuat sinetron—beberapa kali, saya mengajak bersama. Di sini juga ada grup ketoprak yang seluruh pemainnya perempuan. Pernah menjelang pentas terpaksa tertunda, karena pemainnya ada yang ditangkap polisi. Karena tempat sekitar gedung pertunjukan memang ada panti pijat, tempat berdisko, ada juga yang bersliweran di sekitar keremangan. Di tempat itu juga ada perkumpulan pencak silat yang saya dokumentasikan. Termasuk kehidupan keseharian para pemain, sutradara, kru di belakang panggung. Boleh dikatakan semua memakai gedung itu, sekaligus sebagai rumah kediaman. Agak memilukan, bahkan jika dibandingkan nasib wayang orang di Sriwedari, yang sebenarnya juga memrihatinkan.

Namun sebagai tempat, Balekambang masih menjadi menampung keinginan berkreasi. Pernah terkumpul 8.899 orang antre untuk mencium bendera pusaka, Sang Merah Putih. Sehingga masuk rekor Muri, Museum Rekor Indonesia.
KITAB SOLO 178 KITAB SOLO 179

FOTO ICHWAN GEMBENG

Sebagian peserta bahkan datang dengan enggrang. Kegiatan yang sehat, bermanfaat, dan menyertakan nilai-nilai mencintai tanah air. Bahkan di saat sedang sulit sekalipun. Keadaan berubah dengan cepat, ketika tahun lalu saya melihat adanya upaya Pemerintah Kota, Pemkot, yang mengembalikan kejayaan dan fungsi Taman Balekambang. Juga dengan damai, karena seniman-seniman menempati rumah baru, yang tidak sementara. Taman Balekambang kini bahkan disiapkan sebagai salah satu pusat kegiatan kesenian, sekaligus taman, sekaligus paru-paru kota. Yang cukup besar dan prestisius. Taman Balekambang—nama ini juga ada di Keraton Yogya, atau Bali atau tempat lain—di Solo ini menjadi contoh mengagumkan akan pendekatan pembangunan. Lokasi yang mempunyai sejarah, setelah melalui masa-masa tak terurus, akhirnya bisa dibangun kembali. Tanpa melupakan peran lama, tanpa penggusuran begitu saja. Juga tanpa ribut ruwet, berebut hak. Semua ini proses yang melegakan, dan lebih dari itu memberi harapan bagaimana perkembangan selanjutnya.

Berada di antara bangunan yang tengah disiapkan, di daerah berpohon tinggi di Balekambang, saya merasakan semangat seorang ayah kepada putrinya ketika taman ini diciptakan, menyaksikan kekerabatan seorang pamong kepada kebutuhan masyarakat, yang adalah anak-anaknya yang dicintai.
FOTO LUAX MAWARDI

Cinta dua pihak, dan pastilah berkembang, di Balekambang.
KITAB SOLO 180 KITAB SOLO 181

WHCCE
Kirab Dunia. Dan saya berada di dalamnya. Ketika itu Minggu sore, 26 Oktober 2008, saya berada di antara ribuan warga Solo yang menunggu kirab yang lain. Kali ini bisa dikatakan Kirab Dunia. Karena yang terlibat ikut kirab adalah warga dari berbagai belahan dunia. Seharinya sebelumnya pembukaan World Heritage Cities Conference and Expo, WHCCE, Konperensi dan Ekspo Kota-kota Pusaka Dunia, wilayah Eropa-Asia, saya nimbrung dan numpang beken karena diwawancarai, termasuk media dari luar negeri. Peserta mewakili 156 kota di dunia, sekurangnya ada wali kota dari 37 negara, dalam satu rombongan besar lain yang jumlahnya bisa mencapai 2. 500 peserta. Mereka ini akan melihat, dan berada di Solo sampai akhir bulan. Serangkaian acara dipersiapkan—dan kirab termasuk salah satu daya tarik—karena mereka tampil dengan pakaian tradisi, naik kuda atau kereta. Minggu sore itu hujan rintik-rintik, makin membasah. Sebagian penonton jalanan berteduh, sebaiknya membuka payung, sebagian lagi seperti tak terpengaruh. Apa yang terlihat di jalan Slamet Riyadi sepanjang 4, 5 kilometer adalah permukaan dari sebuah perencanaan yang sama njlimetnya. Upaya untuk bisa menjadi tuan rumah saja, pastilah bukan perkara yang gampang. Meyakinkan organisasi dunia dengan saingan negaranegara yang lebih maju, pastilah butuh keuletan. Apalagi Solo, yang barang kali belum tergema benar. Indonesia pun baru sekali ini menjadi tuan rumah. Belum lagi mengatur para tamu undangan dengan seabrek acara di beberapa tempat. Salah satunya di
KITAB SOLO 182 KITAB SOLO 183

FOTO ICHWAN GEMBENG

Mangkunegaran, untuk memperkenalkan segala keunggulan yang akan diperkenalkan. Setengah bercanda saya mengatakan , para wali kota dunia kini sowan ke wali kota Solo. Para “raja” dari 37 negara kini, sowan, kini menghadap ke “raja” Solo, Jokowi. Akan berlebihan mungkin, namun ini adalah peristiwa yang barang kali tak terulang lagi. Meskipun kegiatan yang bersifat internasional masih akan digelar. Nyatanya begitu, dengan deretan acara sampai akhir tahun. Pada saat yang sama, juga digelar untuk kedua kalinya, Solo International Ethnic Music, SIEM 2008, juga dengan beberapa peserta dari luar negeri—di samping kiprah musisi dalam negeri, dari berbagai provinsi atau perorangan. Daftar ini bisa bertambah dengan Festival Keroncong, atau Campur Sari, atau Batik, atau Keris, atau Gamelan, atau sebenarnya bisa apa saja – termasuk barang kali nantinya batu akik. Ini untuk menggambarkan bahwa apa saja bisa dilakukan, dengan baik dan tetap unik, selama kerja sama bisa dimaksimalkan.

Bahwa ini melibatkan mesin birokrasi untuk bekerja keras untuk jangka waktu lama, tak bisa dipungkiri lagi. Tapi bahwa Solo bisa menyelenggarakan dengan aman, dengan memukau, itu suatu prestasi yang sulit dicari tandingannya.
Karena peristiwa budaya tingkat internasional yang terjadi bukan semata-mata peristiwa itu sendiri, melainkan dinamika yang terjadi berikutnya. Sehingga Solo menjadi bagian yang diperhitungkan sebagai tempat penyelenggara, sebagai tempat hajatan kelas dunia. Bukan hanya Jakarta dan Bali saja. Baik untuk kegiatan budaya maupun hajatan yang lain. Harus segera saya tambahan, keberhasilan ini bisa berasal dari inisiatif satu orang,
KITAB SOLO 184 KITAB SOLO 185

FOTO ICHWAN GEMBENG

namun dalam pelaksanaan yang melibatkan hampir semua sektor patut diacungi jempol. Media dalam dan luar negeri juga mengangkat sebagai berita di halaman satu. Ini merupakan langkah awal yang menunggu langkah-langkah berikutnya. Sebagaimana dulu stadion Sriwedari bisa menjadi tempat lahir dan diadakan Pesta Olah Raga Nasional, PON, pertama kali. Karena prasarana sudah siap, dan masyarakatnya juga siap. Sebagaimana lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia, atau juga pasar pertamaq bertingkat, dan hal-hal yang serba pertama, mempelopori.

Ada yang terasa menghangatkan, membanggakan, ketika hujan makin menderas. Kedigdayaan Solo sebagai pelopor, sebagai yang pertama, terasakan kembali. Solo masa lalu, kini sedang mewujud kembali.
Mewujud dalam kebersamaan, dan terasakan seluruh anggota masyarakat. Dalam pembukaan, ada tarian reyog yang gegap gempita, dan ternyata pemainnya adalah anggota sopir taksi. Ada prajurit berseragam yang membawa bendera, berada di panggung dengan gagah, dan ternyata pegawai Perusahaan Daerah Air Minum. Ada, dan banyak yang tergerak dan mengambil peran—termasuk beberapa penulis, wartawan, budayawan yang selama ini berada di “perantauan”, mudik untuk terlibat bersama. Dan ketika kegiatan ini terasakan bersama, bukan hanya hotel, toko-toko batik, toko-toko oleh-oleh besar yang ikut panen. Karena mereka yang berdiri kehujanan, meneduh di warung-warung, makan, minum, atau nanti pulang naik becak atau taksi. Hujan, sementara terhenti. Hanya tersisa di tanah, bagian dari berkah. Iringan masih panjang. Sayup-sayup terdengar drum-band mendendangkan lagu Bengawan Solo, dalam irama mars yang gagah. Mata airmu dari Solo….
KITAB SOLO 186 KITAB SOLO 187

FOTO ICHWAN GEMBENG

FOTO ICHWAN GEMBENG

KITAB SOLO 188

KITAB SOLO 189

Inilah yang mentakjubkan. Seperti juga pentas wayang orang yang masih berlangsung, hingga sekarang.

KITAB SOLO 190

KITAB SOLO 191

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->