P. 1
Tarekat Naqsabandiyah

Tarekat Naqsabandiyah

5.0

|Views: 678|Likes:

More info:

Published by: Muhamad Khaerul Anwar on Nov 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2015

pdf

text

original

Tarekat Naqsyabandiyah April 17, 2007 Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya

, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim (meskipun sedikit di antara orang-orang Arab) serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alf-i Tsani (“Pembaru Milenium kedua”, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten). Sejarah Kebanyakan orang Naqsyabandiyah Mujaddidiyah dalam dua abad ini menelusuri keturunan awal mereka melalui Ghulam Ali (Syekh Abdullah Dihlavi [m. 1824]), karena pada awal abad ke-19 India adalah pusat organisasi dan intelektual utama dari tarekat ini. Khanaqah (pondok) milik Ghulam Ali di Delhi menarik pengikut tidak hanya dari seluruh India, tetapi juga dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Hingga kini Khanaqah masih tetap (pernah mengalami masa tidak aktif akibat perampasan Delhi oleh orang Inggris pada tahun 1857). Namun fungsi Pan-Islami-nya sebagian besar diwarisi oleh para wakil dan pengganti Ghulam Ali yang menetap di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. Yang terpenting adalah para syekh yang tinggal di Makkah dan Madinah: kedua kota suci ini menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah di banyak tanah Muslim sampai terjadinya penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah pada 1925, yang mengakibatkan dilarangnya seluruh aktivitas sufi. Demikianlah, Muhammad Jan Al-Makki (w. 1852), wakil Ghulam Ali di Makkah, menerima banyak peziarah Turki dan Basykir, yang kemudian mendirikan cabang-cabang baru Naqsyabandiyah di kampung halamannya. Pengganti Ghulam Ali yang pertama di Khanaqah Delhi, Abi Sa’id, melewatkan beberapa waktu di Hijaz untuk menerima pengikut baru. Anak dan pengganti Abu Sa’id, Syekh Ahmad Sa’id, memilih tinggal di Madinah setelah suatu peristiwa besar pada tahun 1857, memindahkan arah Naqsyahbandiyah India ke Hijaz untuk sementara. Ketiga putra Ahmad Sa’id sama-sama memperoleh warisannya: dua orang pergi ke Mekkah dan menarik pengikut dari India serta Turki di sana. Sementara yang ketiga, Muhammad Mazhhar, tetap di Madinah dan mengelola pengikut yang terdiri dari ulama dan pengikut dari India, Turki Daghestan, Kazan, dan Asia Tengah. Namun, yang paling penting dari pengikut Muhammad Mazhhar adalah seorang Arab, Muhammad Salih al-Zawawi dan murid-muridnya yang tidak merasakan kebencian, yang umumnya ditujukan kepada Ulama Pribumi terhadap orang-orang non Arab dalam masyarakat mereka. Sebagai guru fiqih Syafi’i, dia memiliki akses khusus terhadap orang-orang Indonesia dan orang-orang Melayu yang berkumpul di Hijaz, serta berkat al-Zawawi dan murid-muridnyalah Naqsyabandiyah dikenal secara serius di Asia Tenggara. Di Pontianak di pantai barat Kalimantan, masih terdapat berbagai jejak garis Naqsyabandiyah yang terpancar dari Hijaz ini. Dorongan yang membawa Naqsyabandiyah ke zaman modern berasal dari pengganti Ghulam Ali yang lainnya. Maulana Khalid al-Bagdhadi (w. 1827). Beliau mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan tarekat ini sehinga keturunan dari para pengikutnya dikenal sebagai kaum Khalidiyah, dan dia kadang-kadang dipandang sebagai “Pemburu” (Mujaddid) Islam pada abad ke-13, sebagaimana Srihindi dipandang sebagai pemburu Milenium kedua. Khalidiyah tidak terlalu berbeda dengan para leluhurnya Mujaddidiyah. Yang baru adalah usaha Maulana Khalid untuk menciptakan tarekat yang terpusat dan disiplin, terfokus pada dirinya pribadi, dengan cara ibadah yang disebut Rabithah (“petautan”) atau konsentrasi pada citra Maulana Khalid sebelum berdzikir. Usaha ini selanjutnya terkait dengan sikap politik, aktivitas, yang bertujuan untuk mengamankan supremasi syari’at dalam masyarakat Muslim dan

Lahir di Distrik Syahrazur di Kurdistan Selatan pata 1776. Sebaliknya Syamil. dari tiga tempat tinggalnya setelah itu Sulaimaniyah. yang kemudian mengambil kepemimpinan gerakan itu. mewakili puncak sastra sufi Utsmaniyah besar yang terakhir. Penekanan ganda Khalidiyah di Daghestan adalah penggantian hukum-kebiasaan (cotumary law) non Islam menjadi syari’at dan perlawanan terhadap pemerintah Rusia. yang berteman dengan Khalidiyah terkemuka di Istambul. dan memunculkan sejumlah keluarga sebagai pemimpin turunan tarekat itu. Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak di kampung halamannya. yang sebelumnya merupakan tarekat paling menonjol di wilayah Kurdistan. Semula Rasulev adalah pengikut garis mujaddidiyah yang pergi ke Bukhara. dia mempropagandakan Khalidiyah sehingga membangkitkan . yang merekrut Makkizada Musthafa Asim. tidak ada kepemimpinan yang terpusat. Syekh Zainullah Rasulev dari Troisk. Abdullah Makki (Erzincani). menerima seorang murid dari Kazan. Keluarga Barzani juga mampu mendominasi ungkapan nasionalisme Irak selama beberapa puluh tahun melalui wibawa Naqsabandiyah yang diwarisinya. Muhamad As’ad dari Ibril wilayah Irak Utara. 1893). dan kemudian nasionalisme. wilayah pegunungan yang terletak di pertemuan Kaukasus dan Rusia Selatan. yang meninggal dibunuh oleh orang Rusia pada 1832. Kepentingan Gumushanevi jauh mentransendenkan yang politis: tulisannya yang dimiliki banyak mengenai sufisme pada umumnya dan Naqsyabandiyah pada khususnya. Setelah kematian Maulana Khalid. untuk sementara. mampu menahan Rusia hingga 159. Adbulhamid sangat ditentang oleh Syekh Naqsyabandiyah yang menonjol lainnya. kaum Naqsyabandiyah aktif dalam pemberontakan 1877 oleh Daghestan dan Chechenia yang berjaya pada rentang waktu antara runtuhnya tsar Rusia dan pembentukan pemerintahan Soviet. syekh al-Islam masa itu ke dalam tarekat ini. Sebelum meninggalkan Delhi. Usaha untuk meraih pengaruh atas kebijakan Utsmaniyah yang disiratkan oleh berbagai upaya ini tidak pernah benar-benar berhasil. Ahmed Ziyauddin Gumushanevi (w. Kurdistan. tetapi sikap politik yang mendasari upaya tersebut tetap hidup. yang masing-masing dengan tanggung jawab yang jelas batas geografisnya. terjadi semacam penyejajaran antara Khalidiyah dengan negara Utsmaniyah pada masa pemeritahan Abdulhamid II. sebagian besar orang Kurdistan Iran dari kendali Iran. yang pengaruhnya terbukti menentukan adalah pengikut Ghumushaveni asal Basykar. Maulana Khalid memberi tahu gurunya bahwa tujuan utamanya adalah untuk “mencari dunia ini demi agama”. Khalidiyah juga mengakar dengan cepat dan tepat di Daghestan. Namun. kemudian mengalihkan kesetiaanya kepada Gumushaveni setelah berkunjung ke Istambul pada 1870. salah satu perlawanan Muslim terhadap imperialisme Eropa yang terlama dan terkenal. tetapi juga sejumlah gubernur provinsi dan tokoh militer yang sangat penting dalam memajukan wibawa Khalidiyah adalah wakil kedua Maulana Khalid di Istambul. Cabang Naqsyabandiyah yang beliau perkenalkan di sana sepenuhnya memudarkan pengaruh “Qadiriyah”. Hubungan keturunan Naqsyabandiyah dengan separatisme Kurdistan. Murid-muridnya mencakup tidak hanya anggota-anggota hierarki agama pemerintahan “Utsmaniyah”. beliau mendirikan jaringan 116 wakil. namun. tetapi kedatangan Khalidiyah yang membuat wilayah itu menjadi daerah Naqsyabandi semasa hidup Maulana Khalid. Bagdad dan Damaskus. Ketika kembali. dan penggantinya dua tahun kemudian mengalami nasib yang sama. Pengaruh Naqsyabandiyah di Daghestan ternyata sulit dicabut. yang berhasil membebaskan diri. serta memegang kepemimpinan dalam urusan negara Kurdistan. Maulana Khalid melewatkan waktu sekitar satu tahun bersama Ghulam Ali di Delhi sebelum kembali ke kampung halamannya pada 1881 dengan “wewenang lengkap dan mutlak” sebagai wakilnya. Pemimpin Naqsyabandiyah pertama untuk orang Daghestan adalah Ghazi Muhammad. Wilayah populasi Muslim lain yang diperintah oleh Rusia yang ternyata menerima Khalidiyah adalah Volga-Ural (sekarang Tatarstan dan Baskira). Wilayah ini pertama kali diperkenalkan dengan Naqsyabandiyah pada akhir abad ke-18. Abdul al-Wahhab al-Susi. pertama kali terlihat dalam pemberontakan besar Kurdistan 1880 yang dipimpim oleh Ubaidillah dari Syamdinan.menolak agresi Eropa. Sebaliknya. Wakil Maulana Khalid di Makkah. Fatsullah Menavusi.

Mehmed Zahid Kotku (w. Naqsyabandiyah juga memimpin pemberontakan melawan pemerintah Cina di Xinjing pada tahun 1863 dan 1864 dan di Shannxi serta Gunsu antara 1862 dan 1873. mereka tidak hanya tersebar diwilayah Volga-Ural. tempat dia tinggal. dan memungkinkan dia untuk memperluas pengaruhnya lebih jauh ke Semenanjung Malaya. Beliau dikirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi untuk menyebarkan Khalidiyah di seluruh Sumatera. Kemudian bebas lagi pada 1881 dia memperkukuh dan memperkuat pengikutnya sehingga ratusan murid berada di bawah pengaruhnya. Putusnya hubungan dengan Makkah akibat penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah makin menambah ciri khas bagi kaum Naqsyabandiyah di Melayu Indonesia. Peran Politik Tidak semua perkembangan formatik yang berkenaan dengan Naqsyabandiyah berkaitan dengan Ghulam Ali Dihlavi dan keturunannya. Dalam jangka panjang. mempropagandakan Khalidiyah ke mana pun ia pergi. Jawa dan Sulawesi. saling menuduh bahwa yang lainnya adalah menyimpang dari prinsip Naqsyabandiyah. Di antara murid ini banyak yang mendirikan Khalidiyah di berbagai tempat di Sumatera. dari Aceh sampai Palembang — misi yang beliau dilaksanakan dengan sukses besar adalah dari pesantrennya di Bab Al-Salam. Kenyataan bahwa kedua orang ini adalah pesaing. keturunan spiritual dari Gumushanevi bersama penggantinya Esad Gosan (sampai sekarang masih hidup) dan Resit Erol (w. Dengan demikian pertahanan Goktepe oleh para Turkmen Akhel-Tekke diarahkan oleh seorang pengikut Naqysabandiyah. Tatkala kematian tiba pada 1917. yang paling penting adalah Abdil Wahab Rokan (w. hingga Jabal Abi Qubais di Makkah. dan para anggota cabang ini memainkan peranan penting dalam urusan negara Afghanistan hingga pembentukan negara pasca Komunis pertama pada tahun 1991. 1984). Setelah lama menetap di Makkah. Penggambaran peristiwa Menemen 1931 sebagai konspirasi Naqsyabandiyah yang menyebabkan Syekh Muhammad As’ad (Mehmed Esad) dihukum mati secara adil. Praktik Naqsyabandiyah di Dunia Melayu Indonesia sejak dini sangat berbeda dengan adanya ritual yang disebut dengan suluk. Khalidiyah memastikan pula penanaman pengaruh Naqsyabandiyah secara permanen di dunia Melayu Indonesia. menyiratkan betapa dunia Melayu Indonesia menjadi sumber pengikut yang kaya untuk Naqsyabandiyah. Dia juga pergi ke Melayu hingga Kedah. Ciri khas yang ditunjukan oleh kelompok Naqyabandiyah ini sering digambarkan dalam negara modern. sekarang diragukan. di Turkli perlawanan Naqsyabandiyah terhadap sekulerisme selalu bersifat pasif (kecuali pemberontakan Sa’id). terutama di Turki. yang sudah mulai diperkenalkan pada Naqsyabandiyah oleh Duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammad Mazhhar. dia disebut sebagai “raja spiritual rakyatnya”. Minangkabawi menetap di Penyengat wilayah kepulauan Riau. Penting dicatat bahwa . Lengkat-Tinggal menetap selama tiga tahun di Johor. Namun. dan bukan penolakan terhadap struktur tersebut.1980). Namun usahanya merupakan rintisan. Sejumlah pemimpin Naqsyabandiyah menjadi orang penting sebagai guru spiritual dan intelektual: Mahmud Sami Ramazanoglu (w. Salah satu keturunan dari Ahmad Sirhindi didirikan di Syur Bazar di pinggiran Kabul pada pertengahan abad ke-19. Asal usul praktik ini sangat berbeda dengan tradisi Naqsyabandiyah yang tidak diketahui. yakni menyendiri dengan jangka waktu yang berbeda-beda dan sebagian diiringi dengan puasa. 1926). Kegiatan mengajar para syekh ini beserta syekh lainnya secara alamiah memiliki pengaruh politik. pengganti Syekh Muhammad As’ad. ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan. namun cenderung mengarah pada pengintegrasian Naqsyabandiyah ke dalam struktur Republik Turki. Sulaiman Zuhdi lebih berhasil dari pada pesaingya.permusuhan dari para pesaingnya dan menimbulkan kecurigaan dari pihak berwenang Rusia. dan setelah kematiannya wibawa Rasulev tetap terus bergaung sampai pada periode Soviet: tiga kepala Direktorat Spiritual untuk kaum Muslim Rusia Eropa dan Siberia yang berfungsi di bawah pengawasan Soviet adalah murid-murid Rasulev. Di sana. Akhirnya. dan digantikan oleh kegiatan dua Khalidiyah yang tinggal di Makkah yaitu Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi. Di tempat lain di Asia Tengah. Naqsyabandiyah dari berbagai keturunan menonjol dalam perlawanannya terhapap Rusia dan sesudahnya. Abdullah Makki mempunyai murid dari Sumatera yaitu Ismail Minangkabawi. yaitu Muhammad Ali Ihsan (Dukchi Ikhsan). dipandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. 1994). tetapi juga di Kazakhstan dan Siberia. hal ini mengakibatkan Rasulev dipenjara dan diasingkan.

Sewaktu berjalan. Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi (bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India). memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah. Safar dar watan: “melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”. dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua. Jami al-’Ushul Fi al-’Auliya. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar dan ritual berikut. teknik dan ritual. [Atau.beberapa pemimpin Naqsyabandiyah hadir secara menonjol di pemakaman Presiden Turki. Kitab karya Ahmad Dhiya’ al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. hendaknya selalu diingat bahwa dalam pengamalannya sehari-hari variasinya tidak sedikit. Asas-asas ini disebutkan satu per satu dalam banyak risalah. termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah. sang murid haruslah menjaga langkahlangkahnya. untuk mencari mursyid yang sejati. “jalan” atau “marga”. Kitab yang satu lagi. yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. tidak dapat digambarkan secara seragam dalam Dunia Islam sekarang ini. dan guru-guru yang berbeda telah memberikan penekanan pada aspek yang berbeda dari asas yang sama. teknik spiritual dan ritual tersendiri. Memang dapat juga dikatakan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah terdiri atas ibadah. Suatu latihan konsentrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas. Uraian dalam karya-karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Taj al-Din Zakarya (“Kakek” spiritual dari Yusuf Makassar) sebagaimana dikutip Trimingham. sebagai tarekat terorganisasi. Asas-asas Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah. Pada masa pemerintahan Soviet. dan yang paling lemah adalah di Pakistan. Adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah. Hanya saja kemudian istilah itu pun mengacu kepada perkumpulan orang-orang yang mengamalkan “jalan” tadi. . Melakukan perjalanan batin. sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha’ al-Din Naqsyaband. yaitu Tanwir al-Qulub oleh Muhammad Amin al-Kurdi dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya. Namun. kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah (Gumusykhanawi)]. pada akhirnya pemerintahan Soviet tidak diikuti perkembangan Naqsyabandiyah di permukaan. pengaruh Naqsyabandiyah sangat terasa pada gerakan “Islam bawah tahan” di Kaukasus Asia Tengah. Maka tidaklah mengherankan apabila warna dan tata cara Naqsyabandiyah menunjukkan aneka variasi mengikuti masa dan tempat tumbuhnya. Tarekat Naqsyabandiyah itu pun mempunyai sejumlah tata-cara peribadatan. Berbagai Ritual dan Teknik Spiritual Naqsyabandiyah Seperti tarekat-tarekat yang lain. melintasi sekian negeri. dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Asas-asasnya ‘Abd al-Khaliq adalah: 1. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abd alKhaliq Ghuzdawani. Hush dar dam: “sadar sewaktu bernafas”. 2. 3. Nazar bar qadam: “menjaga langkah”. Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah. lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi). dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik. Turgut Ozal pada 1993. sewaktu duduk memandang lurus ke depan. serta para pembaharu menghapuskan pola pikir tertentu atau amalan-amalan tertentu dan memperkenalkan sesuatu yang lain. dan masih dipakai secara luas. punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam abad. Naqsyabandiyah. Kaum Naqsyabandiyah dalam jumlah dan kekuatan intelektualnya. menghembuskan nafas. demikianlah agar supaya tujuan-tujuan (ruhani)-nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan. Pengaruh mereka mungkin paling kuat di Turki dan wilayah Kurdistan. sebab demikianlah makna asal dari istilah thariqah.

Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mulah yang kuharapkan). dzikir tauhid (berisi formula la ilaha illallah). . sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas. untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan. Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran. Jika seseorang secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir. hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa. yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya. Zikir dan Wirid Teknik dasar Naqsyabandiyah. Wuquf-i zamani: “memeriksa penggunaan waktu seseorang”. seperti kebanyakan tarekat lainnya. “menyebut”. 2. sebagai lawan dari dzikir keras (dhahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Wuquf-I qalbi: “menjaga hati tetap terkontrol”. Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah. Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya. untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata. Terus-menerus mengulangi nama Allah. atau qalbi. 7. Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya. dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya. Khalwat dar anjuman: “sepi di tengah keramaian”. Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur). anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain. mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Dengan hati-hati beberapa kali seseorang mengulangi kalimat dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana-mana). Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid. atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh guru seseorang. dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat. Nigah dasyt: “waspada”. Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya. Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi: 1. “tersembunyi”. 8. Baz gasyt: “kembali”. Wuquf-i ‘adadi: “memeriksa hitungan dzikir seseorang”. formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku. 3. tetapi harus terus-menerus. 5. Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi. Kedua. arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang. dan melakukan perbuatan terpuji. jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa. ” dalam hati”). Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Zat Allah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen. agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen. Al-Kurdi mengutip seorang guru (anonim): “Kujaga hatiku selama sepuluh hari. yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara’. 6. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.” Yad dasyt: “mengingat kembali”. adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. ” memperbarui”. kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun. Oleh sebab itu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai “menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang”. Sewaktu mengucapkan dzikir. dalam hati atau dengan lisan. Yad kard: “ingat”.4. dan untuk memlihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut. (Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam). Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai. Pertama sekali. maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah. bagi penganut Naqsyabandiyah. hendaklah berterimakasih kepada Allah. beberapa dekat pada konsep “innerweltliche Askese” dalam sosiologi agama Max Weber.

keduanya biasanya diamalkan pada pertemuan yang sama. Dengan dzikir ini. Seorang murid dapat saja diberikan wirid khusus untuk dirinya sendiri oleh syekhnya. Aurad merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Tuhan dan atau memuji Nabi Muhammad.com/2007/04/17/tarekat-naqsyabandiyah/ . Pengenalan dzikir latha’if umumnya dalam kepustakaan Naqsyabandiyah dihubungkan dengan nama Ahmad Sirhindi. kebanyakan titik-titik itu disusun berdasarkan kehalusannya dan kaitannya dengan pengembangan spiritual. Kumpulan-kumpulan yang dibuat kalangan lain bebas saja dipakai. dua yang pertama seluruhnya sesuai dengan asas-asas yang diletakkan oleh ‘Abd Al-Khaliq Al-Ghujdawani. Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati. Naqsyabandiyah tidak mempunyai kumpulan aurad yang unik. sering memakai Al-Aurad Al-Fathiyyah. Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas. selebar dua jari di atas susu kanan. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. kata berikutnya. atau bahkan lebih awal. sangatlah dianjurkan. khafi (kedalaman tersembunyi). sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan semata. dihimpun oleh Ali Hamadani. lathifah (jamak latha’if). adalah qalb (hati). Memang. seorang sufi yang tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kaum Naqsyabandiyah. akhfa (kedalaman paling tersembunyi). pembacaan aurad (Indonesia: wirid). dan kaum Naqsyabandiyah di tempat yang lain dan pada masa yang berbeda memakai aurad yang berbeda-beda. dua jari di atas puting susu kanan. Dua dzikir dasar Naqsyabandiyah. titik-titik itu letaknya berbeda pada tubuh. dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Banyak penganut Naqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri. meskipun tidak wajib. di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi. dan muntik sudah diamalkan sejak pada zamannya. “mengingat yang Haqiqi” dan dzikir tauhid. Di situ. selebar dua jari di atas putting susu kanan. Titik-titik ini. Konsep latha’if — dibedakan dari teknik dzikir yang didasarkan padanya — bukanlah khas Naqsyabandiyah saja tetapi terdapat pada berbagai sistem psikologi mistik. atau paling tidak secara psikologis akan mendatangkan manfaat. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara. Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini. umpamanya. Variasi lain yang diamalkan oleh para pengikut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha’if. seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan. Pembacaan tidaklah berhenti pada dzikir. Asal-usul ketiga macam dzikir ini sukar untuk ditentukan. Jumlah latha’if dan nama-namanya bisa berbeda. tetapi peranan dalam psikologi dan teknik meditasi seluruhnya sama saja. http://syafii. ribuan kali (dihitung dengan tasbih). sirr (nurani terdalam). tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjamaah. dan membacanya dalam hitungan sekian kali pada jam-jam yang sudah ditentukan dipercayai akan memperoleh keajaiban. yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh.Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Ternyata latha’if pun persis serupa dengan cakra dalam teori yoga. di tengah dada. Kelihatannya sudah digunakan dalam Tarekat Kubrawiyah sebelumnya. jika ini benar. kalimat la ilaha illa llah. di otak belahan pertama. ruh (jiwa). maka penganut Naqsyabandiyah di Asia Tengah sebetulnya sudah mengenal teknik tersebut sebelum dilegitimasikan oleh Ahmad Sirhindi. orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh. sampai ke jantung. Penganut Naqsyabandiyah di Turki. terletak selebar dua jari di bawah puting susu kiri. pada malam Jum’at dan malam Selasa. illa dimulai dengan turun melewati bidang dada. Lathifah ketujuh. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan.wordpress. memusnahkan segala kotoran. untuk diamalkan secara rahasia (diam-diam) dan tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. adalah dzikir ism al-dzat. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu. atau seseorang dapat memakai kumpulan aurad yang sudah diterbitkan. dan nafs nathiqah (akal budi). ” mengingat keesaan”. kull jasad sebetulnya tidak merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh.

Mesir. Ghawtsiyah (1517). Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes. Khulusiyah. Mushariyyah. Sayidina Al-Imam Ali Zainal Abidin ra. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh. Sayidina Muhammad Baqir ra. Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi. semuanya berasal dari India. Syaikh Al-Imam Musa Al Kazhim. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah. Tarekat Bakka'iyah. ini adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat. Afrika dan Asia. Kamaliyah (1584 M).dal lain-lain. Rekaman suara tausiahnya pada setiap pelaksanaan kholaqoh dzikirnya dapat didengarkan melalui http://www. Syaikh Abu Bakar As-Syibli. Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman. Dan di Yaman ada tarekat Ahdaliyah. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13. Terus berlanjut ke Syaikh Nur Annaum Suryadipraja bin Haji Agus Tajudin yang berkedudukan di Pabuaran Bogor. Kemudian garis salsilahnya yang salah satunya melalui Syaikh Abdul Karim Tanara Al-Bantani berkembang pesat di seluruh Indonesia. Di Indonesia. Garis Salsilah tarekat Qodiriyah ini berasal dari Sayidina Muhammad Rasulullah SAW. Di Makkah. Selanjutnya jalur salsilahnya berlanjut ke Syaikh Abdullah Mubarok Cibuntu atau lazim dikenal sebagai Syaikh Abdul Khoir Cibuntu Banten. Syaikh Al Waasi Achmad Syaechudin selain mempunyai sanad dari tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah juga khirkoh dari tarekat Naqsyabandiyah dari garis salsilah Syaikh Jalaludin. pencabangan tarekat Qodiriyah ini secara khusus oleh Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi digabungkan dengan tarekat Naqsyabandiyah menjadi tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah . Ia sampai dengan hari ini meneruskan tradisi tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah dengan kholaqoh dzikirnya yang bertempat di Bogor Baru kotamadya Bogor propinsi Jawa Barat. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13. Junaidiyah (1515 M). Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS. Syaikh Abul Faraj Altartusi. India.org/wiki/Qodiriyah t Qodiriyah Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi QS.org/wiki/Qodiriyah . Syaikh Abul Fadli Abdul Wahid AtTamimi. Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hakkari. tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. tarekat Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M. Syaikh Abu Sa'id Mubarok Al Makhhzymi.org http://id. Sedangkan di Afrika diantaranya terdapat tarekat Ammariyah. maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. dan lain sebagainya. Syaikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi QS. Selanjutnya garis salsilah ini saat ini berlanjut ke Syaikh Al Waasi Achmad Syaechudin. dan lain-lain. Syaikh Abul Hasan Sarri As-Saqoti. Seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19. Sayidina AlImam Abu Abdullah Al-Husein ra. maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya. Syaikh Al-Imam Abul Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi.wikipedia." Mungkin karena keluwesannya tersebut. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya.SyaikhAchmadSyaechudin.wikipedia. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri. Syaikh Al-Imam Abul Hasan Ali bin Musa Al Rido. "Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya. kemudian turun temurun berlanjut melalui Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Sayidina Al-Imam Ja'far As Shodiq ra. sehingga terdapat puluhan tarekat yang masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Turki. Syaikh Abdul Karim Tanara Al-Bantani ini berasal dari Banten dan merupakan ulama Indonesia pertama yang menjadi Imam Masjidil Haram.Tareka http://id. Asadiyah.

yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara. atau khanaqah. (5) tiang tempat berteduh. ensiklopedia bebas Tarekat (bahasa Arab: Ṭarīqah ‫ . Seorang penuntut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam. Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. yaitu: sistem kerahasiaan. barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru. pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. (3) mazhab. yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut.ةةة‬ṭuruq) berarti "jalan" atau "metode". Kedua. Tarekat Naksibandiyah. sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk. Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja. Arti tarekat Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah. Tarekat Qadiriyah. syekh atau mursyid. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian. ribath. payung (‘amud al-mizalah). Tarekat Samaniyah dll. tongkat.Tarekat Dari Wikipedia bahasa Indonesia. dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk ṭarīqah. dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. system (al-uslub). Melalui praktek spiritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor). Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thariqah al-Mu'tabarah al-Ahadiyyah.ةةةةة‬jamak ‫ . Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M). yaitu praktek eksoteris atau duniawi Islam. tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya. Tarekat Rifa'iah. haluan (al-mazhab). Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. aliran. atau kebenaran hakiki). Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem. (2) Metode. tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah. (4) keadaan (alhalah). wali atau qutub. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau "kebenaran sejati". Empat tingkatan spiritual . calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai ḥaqīqah (hakikat. dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. jamaknya tharaiq.

seperti Afrika.. India. misalnya. Ada dua wirid yang diajarkannya. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut. Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. tariqah. seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M. Perbedaan itu. haqiqah. Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara. Tarekat Alawiyyah dikenal . akhlak. Juga dapat dikatakan. yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. yaitu syari'at. Namun dalam perkembangannya kemudian.Bagan yang menggambarkan kedudukan tarekat dalam empat tingkatan spiritual (syari'ah. melainkan lebih menekankan pada amal. dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) dan kezuhudan. Tarekat-tarekat di dunia Berikut ini adalah tarekat-tarekat tradisional yang utama: • • • • • Tarekat Idrisiyah Tarekat Khalwatiyah Tarekat Naqsyabandiyah Tarekat Rifa'iah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah • • • • • Tarekat Samaniyah Tarekat Shiddiqiyyah Tarekat Syadziliyah Tarekat Syattariyah Tarekat Tijaniyah • Tarekat Qodiriyah http://id. Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir -. bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)]. sebagai esensi dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut. dan tingkatan keempat ma'rifat yang merupakan tingkatan yang 'tak terlihat'.wikipedia. Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat. dan beberapa wirid serta dzikir ringan. Tarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia.org/wiki/Tarekat Oleh: Asy-Syaikh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini Tarekat Alawiyyah berbeda dengan tarekat sufi lain pada umumnya. tariqah. haqiqah. dan ma'rifah yang dianggap tidak terlihat) Kaum sufi berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam.

dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya. Irak. yakni Tarekat ‘Aidarusiyyah dan Tarekat ‘Aththahisiyyah. Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya. terutama semasa Syekh Abdullah al-Haddad – Tarekat Alawiyyah yang diperbaharui – tarekat ini memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak seperti di Indonesia. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. tepatnya tahun 317 H. ia pergi menuju Hadhramaut. biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai kedhaliman dan khurafat. Tarekat Alawiyyah memiliki dua cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak. Pada saat itu. Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan. Imam Ahmad ditemani oleh istrinya. Oleh karena itu dalam perkembangan lebih lanjut. pada tahun 317 H Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Hijaz. Biografi Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad) adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW. Dalam perjalanan hijrahnya ini. akhlaqi). Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah—red). Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah. Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan. Sadar bahwa kehidupan dan gerak dakwahnya tak kondusif di Basrah. Mekkah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. dan putra terkecilnya. berdakwah. ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. namun karena berbagai pergolakan politik. Isa bin Muhammad. atau yang akrab dikenal dengan panggilan Al-Faqih al-Muqaddam (seorang ahli agama yang terpandang) pada abad ke-6 dan ke-7 H. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah. Abdullah. Dan setelah itu ia kemudian hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad. ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Basrah. pada masa-masa awal tarekat ini didirikan. semakin ia kaya semakin intens pula aktivitas keruhanian dan sosialnya. sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawarrah. selaku generasi penerusnya. Sehingga pada tahun 318 H. adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi. kota Hadhramaut kemudian lebih dikenal dan mengalami puncak . Karena itu. Barulah setelah itu. dan berbuat amal shaleh. pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami). secara umum.juga dengan Tarekat Haddadiyah. Ayahnya. tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji. sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. Selain itu. Demikian pula. Awal Perkembangan Tarekat Alawiyyah Tonggak perkembangan Tarekat Alawiyyah dimulai pada masa Muhammad bin Ali. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. atau kaum Ba Alawi. dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami. ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadhramaut. karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali. Selama di Basrah. Sementara dalam tarekat lain. pada tahun 260 H. Sebaliknya. Bahkan dari waktu ke waktu jumlah pengikutnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Ia lahir di Basrah. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Tarekat Alawiyyah. Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Irak. Pada masanya. Sejak kecil hingga dewasanya Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya.

“Kalian telah bosan kepadanya. Di samping itu. berkembangnya tradisi para sufi kalangan khawwash (elite).” Dikatakan lagi.” Setelah wafatnya Muhammad bin Ali. “Semua yang berada di atasnya (dunia) akan musnah. Al-Faqih al-Muqaddam. Seandainya kalian biarkan dia tidak makan. Semua yang ada di hadapannya sirna dan yang ada hanya Allah. juga dikenal dengan al-khumul dan al-faqru-nya. dalam sejarah Ba Alawi. di kemudian hari ternyata telah banyak mewarnai terhadap perkembangan tarekat itu sendiri. yang selalu membutuhkan nikmat-Nya.” Setelah keadaan fana’-nya berlangsung lama. para syekh meriwayatkan bahwa syekh syuyukh kita. sebagaimana yang dialami oleh Muhammad bin Ali (Al-Faqih al-Muqaddam) dan Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf. yaitu Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf (739). sedang kami menerimanya. Abu Yazid al-Busthami dengan fana’-nya. seperti Al-Quthbaniyyah. Al-Faqih al-Muqaddam tenggelam dalam lautan Asma. Dan setelah makanan tersebut masuk mereka mendengar suara (hatif).” Dia menjawab. Al-khumul berarti membebaskan seseorang dari sikap riya’ dan ‘ujub. al-fana’ bahkan al-wahdah. Pertama. seperti Hasan al-Bashri dengan zuhd-nya. “Aku bagian dari cahaya wajah-Nya. hal ini bisa dilihat dari ciri-ciri melalui para tokoh maupun berbagai ajarannya dari masa para imam hingga masa syekh di Hadhramaut. Secara horizontal. dan sebutan Imam Ali sebagai AlWashiy. al-Khatib pernah menggambarkan sebagai berikut: (“Pada suatu hari. Adapun al-faqru adalah suatu sikap yang secara vertikal penempatan diri seseorang sebagai hamba di hadapan Khaliq (Allah) sebagai zat yang Ghani (Maha Kaya) dan makhluk sebagai hamba-hamba yang fuqara. selama itu dikenal dengan kaum fuqara-nya. lalu para putranya memintanya untuk makan walaupun sesuap.” Dia menjawab.kemasyhurannya. Rabi’ah al-Adawiyah dengan mahabbah dan al-isyq al-Ilahi-nya. sikap tersebut dipahami dalam pengertian komunal bahwa rahmat Tuhan akan diberikan bila seseorang mempunyai kepedulian terhadap kaum fakir miskin. .” Dia mengatakan. Kedua. Syekh Umar al-Muhdhar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (833 H). “Aku tidak mempunyai nafs. pada akhirnya hidupnya tidak makan dan tidak minum. Dan secara umum. Menjelang akhir hayatnya. Keempat. berkembang suatu usaha pembaharuan dalam mengembalikan tradisi tarekat sebagai Thariqah (suatu madzhab kesufian yang dilakukan oleh seorang tokoh sufi) hingga mampu menghilangkan formalitas yang kaku dalam tradisi tokoh para sufi. “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya (Dia). di antaranya soal fiqih dan tasawuf. Selama masa para syekh ini. Sifat dan Dzat Yang Suci”). adanya sikap elastis terhadap pemikiran yang berkembang yang mempermudah kelompok ini untuk membaur dengan masyarakatnya. atau keterikatan daur sejarah Alawi dan Ba Alawi. Al. Kelima.” Dia mengatakan lagi. al-farq. selain memiliki kelebihan-kelebihan itu. al-Hallaj dengan wahdah alwujud-nya.mereka memaksakan untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya. Di antaranya ada empat syekh yang cukup terkenal. konon ia pun memiliki pengalaman spiritual tinggi hingga ke Maqam al-Quthbiyyah (puncak maqam kaum sufi) maupun khirqah shufiyyah (legalitas kesufian). maka dia akan tetap bersama kalian. Termasuk masalah wasiat dari Rasulullah untuk Imam Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW. “Aku tidak berada di atasnya. bila pada para tokoh sufi. yang juga merupakan bagian dari zuhud. Ketiga. Muhammad bin Ali adalah seorang ulama besar yang memiliki kelebihan pengetahuan bidang agama secara mumpuni. Penghayatan ajaran tauhid seperti ini menjadukan kehidupan mereka tidak bisa dilepaskan dari kaum kelas bawah maupun kaum tertindas (mustadl’afin). Mengenai keadaan spiritual Muhammad bin Ali ini. Pada hikayat ke-24. dan Syekh Abu Bakar al-Sakran (821 H). Dalam keadaan fana’ seperti ini datang Khidir dan lainnya mengatakan kepadanya: “Segala sesuatu yang mempunyai nafs (ruh) akan merasakan mati . perjalanan Tarekat Alawiyyah lalu dikembangkan oleh para syekh. dalam Tarekat Alawiyyah. Syekh Abdullah al-‘Aidarus bin Abu Bakar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (880 H). adanya suatu tradisi pemikiran yang berlangsung dengan tetap mempertahankan beberapa ajaran para salaf mereka dari kalangan tokoh Alawi. serta mendapatkan status sosial yang terhormat hingga mudah mempengaruhi warna pemikiran masyarakat. sedangkan istri Muhammad bin Ali terkenal dengan dengan ummul fuqara-nya. Syekh Abd al-Rahman al-Saqqaf misalnya. maka para tokoh Tarekat Alawiyyah. seperti al-jam’u.

kelompok ‘ammah (umum).com/ . Ayahnya. Dalam hal suluk. Syarifah Salma. ia di antaranya telah memberikan dasar-dasar pengertian Tarekat Alawiyyah. yakni mereka yang baru memulai perjalanannya dengan mengamalkan serangkaian perintah-perintah as-Sunnah. Kedua. Karena itu. Pertama.Syekh Abdullah al-Haddad dan Tarekat Alawiyyah Nama lengkapnya Syekh Abdullah bin Alwi al-Haddad atau Syekh Abdullah al-Haddad. http://www. Pertama. seorang ahli ma’rifah dan wilayah (kewalian).alawiyyah9. Hadhramaut pada 5 Safar 1044 H. Al-Haddad sendiri lahir dan besar di kota Tarim dan lebih banyak diasuh oleh ibunya. Safar adalah siyahah ruhaniyyah (perjalanan rekreatif yang bersifat ruhani). Ia mengatakan. dan untuk itu diperlukan suatu tarekat yang ajarannya mudah dipahami oleh masyarakat awam. kedua. mengosongkan diri baik lahir maupun batin dari selain Allah di samping membersihkan diri dari segala perangai tak terpuji hingga sekecil-kecilnya dan menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. karena dialah yang banyak memberikan pemikiran baru tentang pengembangan ajaran tarekat ini di masa-masa mendatang. bahwa Tarekat Alawiyyah adalah Thariqah Ashhab al-Yamin. Oleh karena itu.blogspot. Peran al-Haddad itu misalnya. Al-Haddad juga mengajarkan bahwa hidup itu adalah safar (sebuah perjalanan menuju Tuhan). Amal shaleh dalam ajaran tarekat ini juga sangat ditekankan. dikenal sebagai seorang yang saleh. sehingga kelak tarekat ini dikenal juga dengan nama Tarekat Haddadiyyah. Ketiga. Peranan al-Haddad dalam mempopulerkan Tarekat Alawiyyah ke seluruh penjuru dunia memang tidak kecil. al-Haddad membaginya ke dalam dua bagian. atau tarekatnya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ingat dan selalu taat pada Allah dan menjaganya dengan hal-hal baik yang bersifat ukhrawi. dan membina batin dengan ibadah. semua ajaran salaf Ba Alawi menekankan adanya hubungan seorang syekh (musryid). Keempat. Sayyid Alwi bin Muhammad al-Haddad. perjalanan yang dilakukan untuk melawan hawa nafsu dan sebagai media pendidikan moral. yaitu bagi mereka yang sudah sampai pada tingkat muhajadah. nama al-Haddad ini tidak bisa dipisahkan. ilmu yang akan membantu untuk membuat strategi. Dalam sejarah Tarekat Alawiyyah. semangat yang menopangnya. moralitas yang baik yang menjaganya. sikap wara’ yang dapat mencegahnya dari perbuatan haram. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tarekat Alawiyyah adalah tarekat ‘ammah. para musafir setidaknya membutuhkan empat hal. kelompok khashshah (khusus). Ia lahir di Tarim. perhatian seksama dengan ajarannya. di dalam safar ini. atau sebagai jembatan awal menuju tarekat khashshah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->