P. 1
Laporan 3_Satuan Operasi Industri

Laporan 3_Satuan Operasi Industri

|Views: 209|Likes:
Published by Siska Dwi Carita
Siska Dwi Carita
Fakultas Pertanian
Teknik Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman
Siska Dwi Carita
Fakultas Pertanian
Teknik Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman

More info:

Published by: Siska Dwi Carita on Nov 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Di seluruh Indonesia tersebar sekitar 40 jenis (spesies) tanaman atsiri yang berpotensi dikembangkan seperti akar wangi, nilam, serai wangi, kenanga, daun cengkeh, jahe, dan pala. Namun, sampai kini yang bisa diolah untuk diekspor baru 12 jenis. Di seluruh pasar dunia terdapat sekitar 80 jenis minyak untuk berbagai bahan baku. Nilam termasuk tumbuhan semak yang mempunyai tinggi mencapai satu meter. Nilam akan tumbuh subur pada keadaan lingkungan yang teduh, hangat dan lembab. Nilam biasanya dikembangbiakan dengan cara vegetatif. Untuk mendapatkan minyak atsiri dilakukan penyulingan pada tanaman yang mengandung minyak atsiri. Penyulingan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu cara direbus, dikukus, dan penyulingan dengan uap. Kegunaan essential oil ini boleh dibilang sangat luas mulai sebagai bahan baku parfum, antiseptik, kosmetik, obat-obatan, flavour agent dalam makanan atau minuman, serta pencampur rokok kretek. Beberapa jenis di antaranya digunakan sebagai bahan analgesic, haemolitic atau sebagai antizymatic, serta sedavita dan stimulan untuk obat sakit perut.

B. Tujuan 1. Untuk mengetahui proses penyulingan minyak atsiri dari nilam. 2. Untuk mengetahui kandungan yang tersimpan dalam minyak atsiri terutama nilam.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya. . Tanaman nilam sendiri termasuk famili Labiatea yaitu kelompok tanaman yang mempunyai aroma mirip satu sama lain. Dan tanaman yang ditemukan oleh orang Perancis (1845) dan disebut sebagai Pagostemon Patcholi sesuai dengan nama mereka, awalnya diusahakan di Malaysia, kemudian di Sumatera Utara khususnya di Aceh. Tapi nilam yang dari Aceh ketika ditanam di Jawa tidak memberikan hasil yang sama. Sifat-sifat minyak yang dihasilkan menurun dan mirip dengan nilam yang ada di Jawa Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif. Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.

Minyak Atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri dapat diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga terpen yang merupakan senyawaan hidrokarbon yang bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat disabunkan. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan dan lain-lain. Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadangkadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri. Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda. Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil. Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga

disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa (Pogostemon heyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah. Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%, berwarna kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan. Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan ke dalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan bahan baku lain). Karena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam industri parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini, termasuk lebih dari separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan pengusir serangga perusak pakaian. Aroma minyak nilam dianggap 'mewah' menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.

III. METODELOGI

A. Alat Dan Bahan 1. Kertas 2. Alat tulis

B. Prosedur Kerja 1. 2. dicatat 3. 4. Alat-alat penyulingan digambar pada kertas Jika ada yang kurang jelas mengenai proses Tempat penyulingan minyak nilam dikunjungi Proses penyulingan minyak nilam diamati dan

penyulingan, menanyakan kepada pekerja setempat

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil -terlampir-

B. Pembahasan Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Ditilik dari segi botani tanaman, nilam termasuk tanaman herba semusim. Tumbuh tegak setinggi 0,5m – 1 m. Percabangannya banyak dan bertingkat mengitari batang (ada 3 – 5 cabang tiap tingkat), dan berbulu. Radius cabang melebar sekitar 60 cm. Batangnya berkayu dan berbentuk segi empat dengan diameter 10 – 20 cm, berwarna keungu-unguan. Sedangkan daunnya hijau tersusun dalam pasangan berlawanan. Berbentuk bulat lonjong, panjang 10 cm, lebar 8 cm, dengan ujung agak meruncing. Tangkai daun sekitar 4 cm berwarna hijau kemerahan. Nilam bisa tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi (0 – 1.200 m dpl). Tapi ia akan tumbuh baik pada ketinggian 10 m – 400 m dpl. Nilam tidak haus air, tapi juga tidak tahan kering. Menghendaki suhu 24°C – 28°C, tapi lembab (lebih dari 75%). Curah hujan merata sepanjang tahun (2.000 – 3.500 mm per tahun). Untuk pertumbuhan optimal, nilam perlu cukup sinar matahari. Namun bisa tumbuh baik di tempat yang agak terlindung. Karena itu bisa saja ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain.Biasanya ditumpangsarikan dengan tanaman jagung, tapi juga masih dapat tumbuh di sela-sela lamtoro gung, kelapa, atau karet. Kondisi tanah datar atau miring (lereng) tidak masalah bagi pertumbuhan nilam. Yang penting subur dan berdrainase baik. Tanah liat, tanah berpasir, dan

berkapur kurang disukai. Tanah tergenang memudahkan tanaman nilam diserang cendawan Phytoptora. Musuh lainnya yakni serangga perusak daun, nematoda, penyakit buduk, busuk batang, luka batang, dan gejala defisiensi. Juga ulat pemakan daun, ulat penggulung daun, dan belalang. Nilam diperbanyak dengan stek yang diambil dari batang atau cabang cukup tua, berdiameter 0,8 – 1 cm. Panjang stek 15 – 23 cm. Setidaknya berisi 3 – 5 mata tunas atau tiga helai daun. Stek bisa langsung ditanam di kebun. Lebih baik ditanam dulu di tempat pembibitan, baru dipindahkan ke kebun begitu muncul akar dan tunas baru (3 – 4 minggu). Satu lubang tanam diisi 1 – 3 stek (bibit). Jarak tanamnya mulai dari 30 x 100 cm, 50 x 100 cm, hingga 100 x 100 cm, tergantung kesuburan dan jenis tanah. Sebaiknya, dilakukan pada awal musim hujan. Tanaman dianggap matang dan siap panen kalau sudah berumur enam bulan atau 5 – 8 bulan. Bagian yang dipanen, cabang dari tingkat dua ke atas. Sekitar 20 cm di atas tanah. Biasanya disisakan satu cabang di tingkat pertama untuk mempercepat tumbuhnya tunas baru. Tiga bulan kemudian (bulan ke-9), cabang dan anakan baru dipanen kedua kalinya. Periode panen berikutnya setiap selang tiga bulan. Hasil panen bisa mencapai 3,5 – 4 ton daun nilam kering, kalau kondisi tanaman bagus. Pemanenan daun nilam sebaiknya dilakukan pagi hari, atau menjelang petang, ketika musim kering. Maksudnya agar daun tetap mengandung minyak atsiri tinggi (2,5 – 5%). Pemetikan siang hari membuat daun kurang elastis dan mudah robek. Juga transpirasi (penguapan air) daun lebih cepat sehingga kadar minyak atsirinya berkurang. Alatnya bisa berupa sabit, gunting, atau parang tajam. Nilam yang sudah dipanen dipotong-potong 3 – 5 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam (pukul 10.00 – 14.00). Setelah itu diangin-anginkan di atas para-para yang teduh, sambil dibolak-balik 2 – 3 kali sehari selama 3– 4 hari hingga kadar airnya tinggal 15%. Pengeringan tidak

terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat membuat daun rapuh dan sulit disuling. Terlambat kering, daun menjadi lembap dan mudah ditumbuhi jamur. Akibatnya, rendemen atau mutu minyak yang dihasilkan menurun.

gambar penjemuran nilam Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara direbus, penyulingan dikukus, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Kapasitas ketel penyulingan bervariasi, mulai dari 200 liter - 2.000 liter. Ketel dibuat dari bahan antikarat, seperti stainless steel, besi, atau tembaga berlapis aluminium. Dari ketel akan keluar uap, kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya, dilakukan proses pemisahaan sehingga diperoleh minyak nilam murni. Penyulingan cara kedua, mirip cara pertama, hanya saja antara daun nilam dan air dibatasi saringan berlubang. Daun nilam diletakkan di atas saringan, sementara air berada di bawahnya. Sementara sistem penyulingan uap menjamin kesempurnaan produksi minyak atsiri. Pada sistem ini bahan tidak kontak langsung dengan air maupun api. Prinsipnya, uap bertekanan tinggi dialirkan dari ketel perebus air ke ketel berisi daun nilam (ada dua ketel). Uap air yang keluar dialirkan lewat pipa menuju kondensor hingga mengalami proses kondensasi. Cairan (campuran air dan minyak) yang menetes ditampung, selanjutnya dipisahkan untuk mendapatkan minyak nilam.

Pengusaha minyak nilam biasanya memakai cara pertama, karena biayanya relatif murah. Sedang cara yang kedua memerlukan modal besar dan teknologi yang rumit. Prosesnya, daun nilam dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam ketel penyulingan dan dipanaskan dengan brander melalui dapur dialirkan melalaui celah-celah daun kering, dimana uap tersebut membawa serta uap minyak yang berasal dari daun kedalam sebuah pendingin. Tempat penyulingan minyak nilam biasanya berada tidak jauh dari tempat pembudidayaan tanaman nilam. hal ini dikarenakan efisiensi dalam pengangkutan dan pegolahan hasil panenan. Semakin cepat diolah, maka kadar hasil minyak nilam akan semakin baik. Praktikum satuan opersi industri acara ketiga ini dilakukan di tempat penyulingan minyak nilam dan minyak cengkeh yang berlokasi di Kedung Banten, Kebumen. Dikawasan ini penyulinagn dilakukan dengan cara penyulingan uap karena memang biayanya yang relatif murah. Tempat ini berlokasi strategis karena dekat dengan jalan raya dan ketersediaan air yang melimpah. Ketersediaan air merupakan salah astu faktor yang penting dalam penyulingan minyak nilam karena air yang bersih dan banyak akan mempengaruhi kualitas minyak.

gambar tempat penyulingan minyak atsiri Penyulingan uap merupakan proses pisahkan komponen yang berupa cairan berdasarkan perbedaan titik uapnya. Awal penyulingan, menghasilkan komponen minyak yang bertitik didih rendah, lalu disusul dengan komponen yang bertitik didih lebih tinggi. Jumlah minyak yang menguap bersama-sama dengan

uap air ditentukan oleh tiga faktor, besarnya tekanan uap yang digunakan, bobot molekul dari masing-masing komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak yang keluar dari bahan yang disuling. Pertama-tama, nilam dikeringkan dengan cara dijemur hingga mempunyai basis basah 15% yaitu basis basah standar untuk suap disuling. Semua bagian tanaman nilam dapat disuling, akan tetapi kandungan yang terbesar adalah pada daun nilam. Tanaman nilam kering dimasukkan kedalam ketel yang dipanaskan menggunakan bahan bakar kayu.

gambar ketel penguapan nilam Ketel terus dipanaskan selama beberapa jam. Ketel ini dihubungkan dengan bak pendinginan melalui pipa-pipa. Air dalam ketel yang menguap akan masuk kedalam pipa yang kemudian menuju bak pendinginan. Didalam bak pendingin, uap air akan mengalami kondensasi karena perbedaan suhu didalam pipa dan diluar pipa.

gambar bak pendingin dan pipa penghubung Dari alat pendingin campuran air dan minyak pada tempertur 40 – 50° C (suam-suam kuku) mengalir ke alat pemisah minyak dari air. Minyak nilam yang lebih ringan dari air akan mengapung di atas air dan dialirkan melalui bagian atas alat pemisah kealat pengumpul minyak. Sedangkan air yang dihasilkan dari proses penyulingan dapat digunakan kembali pada proses penyulingan berikutnya, dengan memasukkan kembali ke dalam ketel uap, agar minyak yang masih terdapat dalam air dapat diambil kembali.

gambar proses pemisahan air dan minyak nilam Limbah dari proses penyulingan adalah air sisa penyulingan dan ampas penyulingan. Air penyulingan ini dapat dibuang aatu dapat juga digunakan

sebagai campuran air mandi jika wangi nilam masih ada. Sedangkan ampas yang kering, dapat dipakai untuk pupuk. Pada pengolahan minyak atsiri dengan menggunakan cengkeh sendiri, ampasnya dapat diolah lagi untuk keperluan lain.

gambar limbah dari proses penyulingan minyak atsiri cengkeh Minyak atsiri ini terbentuk melalui proses metabolisme di dalam tanaman. Bagi tanaman nilam, minyak atsiri ibarat feromon yang mampu menarik kehadiran serangga penyerbuk. Sekaligus aromanya dapat mengusir serangga perusak tanaman. Yang pasti, ia berfungsi sebagai makanan cadangan bagi tanaman itu. Pada dasarnya semua bagian tanaman nilam, sejak dari akar, batang, cabang, dan daun mengandung minyak atsiri (Ketaren dan Mulyono, 1987).

Minyak nilam terdiri dari campuran persenyawaan terpen dengan alkoholalkohol, aldehid, dan ester-ester yang memberikan bau khas, misalnya patchaoli alkohol, dimana patchaoli alkohol ini merupakan senyawa yang menentukan bau minyak nilam(Albert, 1980) dan merupakan komponen terbesar (Hardjono, 2002). Menurut Trifilieff yang memberikan bau pada minyak nilam adalah norpatchoulenol yang terdapat dalam jumlah sedikit. Kandungan yang terdapat di dalam minyak nilam meliputi : patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehyde, kariofilen, α-patchaolena, dan bulnessen (Santoso, 1990). Menurut suryono (2003), kadar minyak atsiri nilam bervariasi, tergantung pada varietasnya. Nilam Aceh (Pogostemon cablin), karena tidak berbunga, kadar minyaknya tinggi (2,5 – 5%). Begitu pula sifat minyaknya disukai pasar. Nilam Jawa (P. heyneanus) karena berbunga, kadar minyaknya rendah (0,5 – 1,5%). Komposisi minyak atsirinya kurang diminati. Sedangkan nilam sabun (P. hortensis), kadar minyaknya 0,5 – 1,5%, dan jenis ini kurang disukai pasar. Kadar Patchouli alkohol dalam minyak nilam ± 50-60% (Guenther, 1949). Komponen penyusun nilam dari beberapa penelitian Penelitian Department of Pharmaceutical Biology University of Hamburg Komponen senyawa Alpha-Patchoulene Caryophyllene Alpha-Guaiene Alpha-humulene Patchouli alcohol Beta-pathoulene Alpha Bulnesene Menurut Penelitian Hermani dan Budi caryophyllene Tangandjaja (1988) Alpha-Patchoulene Patchouli alcohol Bulnesen Minyak nilam punya sifat susah dicuci sekalipun dengan air sabun, tapi

larut dalam alkohol hanya saja sukar menguap. Karena sifat-sifatnya itu, minyak nilam digunakan sebagai bahan baku dalam industri wangi-wangian (parfum), kosmetik, dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Selain itu minyak nilam juga dapat digunakan sebagai fiksatif terhadap bahan pewangi lain,

sehingga sering dicampurkan dalam pembuatan suatu kompond. Pemakaian minyak nilam sebagai fiksatif (unsur pengikat) wangi-wangian dalam dunia parfum tidak bisa digantikan dengan minyak lain, sehingga minyak ini merupakan salah satu minyak atsiri yang cukup berperan dalam dunia parfum. Di Eropa dan Amerika, minyak nilam digunakan sebagai bahan baku industri pembuatan minyak wangi sebagai pengikat bau atau fikative parfum, kosmetik, dll. Sebuah referensi menyebutkan, minyak nilam bisa untuk bahan antiseptik, antijamur, antijerawat, obat eksem dan kulit pecah-pecah, serta ketombe. Juga bisa mengurangi peradangan. Bahkan dapat juga membantu mengurangi kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur). Makanya minyak ini sering dipakai untuk bahan terapi aroma. Juga bersifat afrodisiak: meningkatkan gairah seksual. Bukan cuma minyak nilamnya yang bermanfaat. Di India daun kering nilam juga digunakan sebagai pengharum pakaian dan permadani. Air rebusan atau jus daun nilam, kabarnya, dapat diminum sebagai obat batuk dan asma. Remasan akarnya untuk obat rematik, dengan cara dioleskan pada bagian yang sakit. Bahkan juga manjur untuk obat bisul dan pening kepala. Remasan daun nilam dioleskan pada bagian yang sakit.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam 2. Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara direbus, penyulingan dikukus, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Dari ketel akan keluar uap, kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya, dilakukan proses pemisahaan sehingga diperoleh minyak nilam murni. 3. Kandungan utama minyak nilam berupa pachoully alcohol 45-50%, sedangkan kandungan yang lain adalah Alpha-Patchoulene, Caryophyllene, Alpha-Guaiene, Alpha-humulene, Patchouli alcohol, Betapathoulene, dan Alpha Bulnesene. 4. Manfaat utama minyak nilam adalah sebagai bahan baku dalam industri parfum. Selain itu, minyak nilam bermanfaat juga dalam bidang obatobatan.

B. Saran

Sebaiknya ada lebih dari dua orang yang bertugas menjelaskan penyulingan minyak secara terperinci di tempat pengamatan mengingat jumlah praktikan yang cukup banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1986. Penelitian dan Pengembangan Minyak Atsiri Indonesia. Bogor : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Balitro.2002. Perkembangan Minyak Atsiri di Indonesia Berikut Alat Pegolahannya. Diskusi Minyak Atsiri. Jakarta : Departemen Pertanian. Wikandi. E.A, Ariful Asman dan Pasril Wahid, 1990. Perkembangan Penelitian Nilam. Edisi Khusus Littro. Vol. VI.9 Firdaus, Ikhsan. 2009. Analisis Total Minyak Atsiri. www.chem-istry.org/author/ikhsan-firdaus www.wikipedia.org/nilam www.wikipedia.org/minyak_atsiri

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->