P. 1
Asas-Asas Dan Konsep-konsep Mengenai Organisasi Pada Taraf Komunitas

Asas-Asas Dan Konsep-konsep Mengenai Organisasi Pada Taraf Komunitas

|Views: 1,138|Likes:
Published by Fa Azzahra

More info:

Published by: Fa Azzahra on Nov 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

ASAS-ASAS DAN KONSEP-KONSEP MENGENAI ORGANISASI PADA TARAF KOMUNITAS

DISUSUN OLEH : SITI FATIMAH AZZAHRA ( FA AZZAHRA) RINNY WIDIAWATI URAI SITI WAHYUNA RAHMAN PAHWADI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2010

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Komunitas adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada waktu dan daerah tertentu yang saling bertinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila di bandingkan dengan populasi. Komunitas tidak hanya mempunyai kesatuan fungsional tertentu dengan struktur trofik dan arus energi khas saja, tetapi juga merupakan kesatuan yang di dalamnya terdapat peluang bagi jenis tertentu untuk dapat hidup dan berdampingan. walaupun demikian tetap masih ada kompetisi diantaranya, sehingga akan ditemukan populasi tertentu berperan sebagai dominansi suatu komunitas. Populasi yang mendominasi tersebut terutama adalah populasi yang dapat mengendalikan sebagian besar arus energi dan kuat sekali mempengaruhi lingkungan pada semua jenis yang ada di dalam komunitas yang sama. Ekotone adalah peralihan antara dua atau lebih komunitas yang berbeda. Daerah ini adalah daerah pertemuan yang dapat berbentuk bentangan luas tetapi masih lebih sempit/kecil jumlah populasinya dari komunitas sekitamya. Komunitas ekotone biasanya banyak mengandung organisme dari masing-masing komunitas yang saling tumpang tindih, dan sebagai tambahan, ataupun sebagai organisme yang khas tidak terdapat pada masing-masing komunitas pendampingnya. Seringkali terdapat kecenderungan jumlah jenis dan kepadatan organisme di wilayah ekotone lebih besar daripada komunitas sekitarnya Kecenderungan ini akhirnya akan meningkatkan keanekaragaman dan kepadatan wilayah ekotone dibanding komunitas pendampingnya. keadaan ini dikenal sebagai pengaruh tepi (edge effect).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Asas-Asas dan Konsep Mengenai Organisasi pada Taraf Komunitas
1. Konsep Komunitas Biotik

Komunitas biotik adalah kumpulan populasi apa saja yang hidup dalam daerah atau habitat fisik yang telah ditentukan, hal tersebut merupakan satuan yang diorganisir sedemikian bahwa dia mempunyai sifat-sifat tambahan terhadap komponen2 individu dan fungsi-fungsi sebagai suatu unit melalui metabolic yang bergandengan. Komunitas-komunitas utama adalah mereka yang cukup besar dan memiliki kelengkapan organisasinya sedemikian rupa sehingga mereka relative tidak dari masukan dan komunitas didekatnya. Komunitaskomunitas minor adalah mereka yang kurang lebih tergantug dari tetangganya. Konsep komunitas adalah salah satu dari asas-asas dalm pemikiran dan prktek ekologi yang pling penting. Konsep komunitas adalah penting di dalam praktek ekologi sebab apa yang terjadi dengan komunitas akan dialami juga oleh organism. Jadi sering merupkan cara yang terbaik untuk mengendalikan suatu organism tertentu apakah kita ingin mendukung atau ingin memusnahkannya, adalah dengan cara mengubah komunitasnya daripada menyerang langsung pad organismenya. Misalnya kita mempunyai polulasi burung puyuh yang lebih baik dnegna cara memelihara kmunitas biotic tertentu dimana burung paling berhasil hidupnya daripada memelihara dan melepaskan burung-burung atau memanipulasi seperangkat factor pembatasnya yang mana saja (misalnya pemangsa). Nyamuk-nyamuk sering kali dapat dikendalikan dengan lebih efisien dan murah dengan mengubah komunitas perairan (seperti dengan menurun dan naikan permukaan air) daripada dengan usaha meracuni organism-organisme secara langsung. Contoh untuk menggambarkan konsep komunitas: dibuat dari segi structural/Standing crop dan Metabolism organism. Semua komunitas: utama dan minor mempunyai batas yang agak tajam. Binatang besar terutama pemangsa dijumpai berkeliaran di komunitas utama yang satu ke tempa yang lain. Binatang yang lebih kecil dan banyak tumbuhan dilain pihak, terbatas atau mempunyai abundansi terbesar dalam komunitas minor atau utama tertentu.

2. Klasifikasi Intrakomunitas dan Konsep Dominan Ekologi

Tidak semua organism sama artinya atau pentingnya dalam menentukan alam dari seluruh komunitas. Dari ratusan atau ribuan organism yang mungkin terdapat dalam komunitas, relative sedikit yang mempengaruhi pengendalian utama berdasarkan jumlahnya, besarnya produksi atau kegiatan lainnya. Komunitas paling tidak yang utama mempunyai produsenprodusen, makro konsumen dan mokrokonsumen. Di dalam golongan jenis atau golongan yang sebagian mengendalikan arus energy dan kuat sekali mempengaruhi lingkungan dari semua jenis lainnya disebut dominan-dominan ekologi. Derajat dimana dominansi dipusatkan dalam satu, beberapa atau banyak jenis dapat dinyatakan dengan indeks dominansi yang menjumlahkan tiap spesies dalam hubungannya terhadap komunitas secara keseluruhan. Beberapa indeks struktur yang berguna dalam komunitas a. Indeks dominans (C) C=
2

ni = nilai kepentingan untuk tiap spesies N = total nilai kepentingan b. Indeks kesamaan (S) antara dua sample 2C S= A+B A = jumlah spesies dalam sample A B = jumlah spesies dalam sample B C = jumlah spesies yang sama dalam kedua sample c. Indks diversitas spesies

i.

Indeks untuk 3 spesies (d) S–1 d1 = log N S = jumlah spesies N = jumlah individu d2 = √N S d3 = S/1000

ii.

Indeks Evenness (e)

e= log S = indeks Shannon S = jumlah spesies

iii.

Indeks Shannon untuk diversitas umum ( )

=N = nilai kepentinga

atau –

Pi = peluang kepentingan untuk tiap spesies (ni/N)
3. Analisis Komunitas

Komunitas dapat diklasifikasikan menurut:

a. Bentuk atau sifat struktur utama seperti misalnya jenis dominan, bnetuk-bentuk hidup atau indikator2 b. Habitat fisik dari komunitas c. Sifat-sifat atau tanda2 fungsional seperti tipe metabolism komunitas. Klasifikasi didasarkan pada sifat-sifat strukural merupakan agak spsifik untuk lingkungan tertentu. klasifikasi di dasarkan pada sifat-sifat struktural merupakan agak spesifik untuk lingkungan tertentu, usaha-usaha untuk membuat klasifikasi yang bersifat universal berdasarkan dasar ini sebagian besar telah memuaskan. Analisis komunitas dalam daerah geografis tertentu dari bentang darat telah mengutamakan dua pendekatan yang berlawanan :
1. Pendekatan

secara zona, dalam mana komunitas yang terputus-putus dikenal,

diklasifikasikan, dan didaftarkan dalam suatu bentuk daftra tipe-tipe komunitas 2. Pendekatan analisis gradient, yang melibatkan penyusunan populasi-populasi sepanjang gradient atau sumbu lingkungan berdimensi satu atau banyak dengan pengenalan komunitas dasar pada penyebaran-penyebaran frekuensi, koefisien kesamaan, atau perbandingan statistic lainnya. Istilah ordinasi sering kali digunakan untuk menyatakan pengaturan jenis dan komunitaskomunitas sepanjang gradient, dan istilah continuum untuk menandakan gradien yang mengadung jenis atau komunitas-komunitas yang telah ditata. Contoh Jika pada puncak pewarnaan misim gugur di great Smoky Mountain National Park kita memilih tempat yang baik sepanjang jalan raya demikian rupa untuk memperoleh pandangan (panorama) mengenai gradien altitudal mulai dari dasar lembah hingga puncak bukit, kita akan mengamati 5 mintakat warna seperti berikut : 1. Hutan teluk berwarna warni 2. Hutan hemlock berwarna hijau tua 3. Hutan pasang merah tua

4. Vegetasi pasang gambut berwarna coklat kemerahan 5. Hutan tusam berwarna hijau muda di bukit-bukit. Kita dapat mengaanggap masing-masing dari 5 mintakat ini sebagai tipe komunitas yang belainan dan menganalisisnya sesuai dengan mereka itu, atau kita dapat menganggap semua kelima-limanya itu sebagai bagian dari satu continuum yang merupakan sasaran beberapa bentuk analisis gradient yang akan menegaskan penyebaran dalam respon populasi-populasi jenis secar individu terhadap keadaan lingkungan yang berubah dalam gradient tersebut.
4. Keanekaragaman Jenis dalam Komunitas

Dari seluruh jumlah jenis didalam kompenen tropik, atau didalam suatu komunitas sebagai keseluruhan secara relatif persen yang kecil biasanya banyak diwakili oleh jumlah besar individu, biomas besar, produktivitas, atau indikasi dari kepentingan lainnya dan persen besar adalah jenis jarang ( mempunyai nilai-nilai penting kecil ). Nisbah-nisbah antara jumlah jenis dan nilai-nilai penting ( jumlah, biomas, produktivitas dan sebaginya ) individu-individu disebut indeks-indeks keanekaragaman jenis. Keanekaragaman jenis cenderung akan rendah dalam ekosistem-ekosistem yang secara fisik terkendali ( yakni yang menjadi sasaran factor pembatas fisika-kim ia yang kuat ) dan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara biologi. Pada umunya keanekaragaman naik dengan penurunan dalam nisbah dari perawatan anti thermal terhadap biomas ( isbah R/B atau nisbah “Schrodinger”, atau pergantian ekologi ). Hal ini berhubungan langsung dengan kemantapan, tetapi belum tentu beberapa jauh hubungan ini merupakan sebab dan akibat. Dua cara pendekatan yang digunakan untuk menganaisis keragaman jenis dalam keadaan yang berlainan yakni : 1. Pembanding-pembanding yang didasarkan pada betuk, pola atau persamaan banyaknya jenis 2. Pembanding yang didasarkan pada indeks keanekragaman, yang merupakan nisbah atau pernyataan matematika lainnya, dari hubungan jenis kepentingan. Penting unutk diketahui bahwa keanekaragaman jenis mempunyai sejumlah komponen yang dapat memberi reaksi secara berbeda-beda terhadap factor-faktor geografis, perkembangan atau fisik. Satu komponen utama dapat disebut sebagai kekayaan jenis atau komponen kurva

varietas. Komponen utama kedua dari keanekragaman adalah kesama-rataan atau equitybilitas dalam pembagian individu yang merata diantara jenisnya. Margalef (1968) menyatakan “ pakar ekologi melihat dalam ukuran keanekragaman manapun ungkapan dari kemungkinan-kemungkina pembuatan system-sistem umpan balik (feedback). Karenanya keanekargaman yang lebih panjang dan lebih banyak kasus dari simbiosis ( mutualisme, paratisme, commensalisme, dan sebagainya) dan kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar untuk kendali umpan balik negative, yang mengurangi goyangan-goyangan dan karenanya mengingkatkan kemantapan. Paine (1966) menemukan bahwa keanekragaman jenis organism sessil daerah habitat pasang surut berbatu-batu ( dimana ruangan biasanya lebih membatasi daripada pangan) lebih tinggi didalam kedua daerah beiklim sedang dan daerah tropik ditempat-tempat dimana pemangsapemangsa dalam keadaan demikian telah mengurangi kenekaragaman jenis oragnismeorganisme sessil tadi baik yang lansung dimangsa atau yang tidak langsung di makan. Painen berkesimpulan bahwa “ keanekragamn jenis setempat berhubungan langsung dengan efisien dengan mana mangsa mempertahankan monopolisasi syarat-syarat lingkungan utama oleh stau jenis. Contoh Tramer (1969) yang menganalisi komponen-komponen itu didalam populasi burung menemukan bahwa perbedaan-perbedaan didalam komponen kekayaan jenis, komponen kelimpahan nisbi tetap mantap pada nilai tinggi ( barangkali karena perilaku territorial dari banyak jenis ) . selanjutnya Tramer menyarankan bahwa komunitas-komunitas dari lingkungan-lingkungan yang keras akan berubah-ubaha dalam keanekaragamannya menurut komponen kelimpahan nisbinya, sedangkan keanekargaman di dalam lingkungan yang tidak keras ( dikendalikan sevara biologi ) akam merupakan fungsi dari jumlah jenis.
5. Pola-Pola dalam Komunitas

Struktur yang diakibatka oleh penyebaran organism didalam dan interaksinya dengan lingkungannya dapat disebut pola ( Hutchinson,1953). Banyak macam pengaturan yang berbeda-beda dalam standing crop dari organism yang memberikan sumbangan kepada keanekaragaman pola didalam komunitas, seperti misalnya :
1. Pola stratifikasi (pelapisan tegak)

2. Pola-pola zonasi (pemisahan kearah mendatar)

3. Pola-pola kegiatan (periodisitas)
4. Pola-pola jaring-jaring (asosiasi-asosiasi jarring-jaring organisasi jaringan kerja didalam

rantai pangan)
5. Pola reproduktif (asosiasi-asosiasi orang anak-anak, klone-klone tanaman dan sebaginya) 6. Pola-pola social (kelompok-kelompok dan kwananan-kawanan)

7. Pola-pola koaktif (diakibatkan oleh persaingan, antibiosis, mutualisme dan sebagainya)
8. Pola-pola stochastic (diakibatkan oleh tenaga atau kakas acak)

Contoh Dowdy (1947) mengambil contoh populasi artropoda dari lima starata utama hutan pasanghickory di Missouri sepanjang tahun. Dia menmukan bahwa dari 240 jenis serangga, labalaba dan Myriapoda, 181 jenis ( atau kurang lebih 75%) dikumpulkan dari hanya satu lapisan, 32 dari dual lapisan, 19 dari tiga dan hanya 3 hanya 5 jenis telah ditemukan didalam sebanyak empat atau semua lima dari lapisan-lapisannya itu. Hal ini menunjukkan adakalanya kelekatan yang agak luar biasa kepada strata oleh kelompok organisme yang sangat bergerak. Bahkan burung yang dapat terbang dari tanah hingga pucuk pohon yang tinggi dalam beberapa detik kalau mau, sering memperlihatkan kesetian yang mendalam kepada lapisan tertentu, terutama selama musim berkembangbiak. Tidak juga sarangsarangnya tetapi juga seluruh daerah mencari makannya sering terbatas hingga kisaran vertical yang sempit. Periodisitas musiman adalah demikian juga hampir universal dalam komunitas-komunitas dan seringkali mengakibatkan perubahan hampir lengkap dalam struktur komunitas selam daur tahunan. Peranan-peranan temperatur, fotoperiode, musim-musim kering dan basah, kabakaran, dan nilai-nilai periodisitas musiman dalam mengatur strukturdan fungsi komunitas telah ditinjau berinteraksi dengan panjangnya hari. Jadi Leopold dan Jones (1947) menemukan bahwa variasi dari tahun ke tahun dalam waktu pembungaan dari tumbuhatumbuhan dan tibanya burung-burung berpindah lebih besar dalam awal musim semi ketika tempertur adalah kritis dari pada dalam akhir musim semi, meskipun percobaan-percobaan

( oleh penelitian-penelitian lain ) menunjukkan bahwa panjangnya hari adalah factor pengendali dalam banyak kasus.
6. Ekotone dan Konsep mengenai Pengaruh Tepi

Ekotone adalah peralihan antara dua atau lebih komunitas yang berbeda, misalnya antara hutan dan tanah rumput atu antara komunitas dasar habitat laut yang lunak dan yang keras. Komunitas ekotone biasanya banyak mengandung organism dari masing-masing komunitas yang saling tumpang tindih dan sebagai tambahan organism-organisme yang khas dan sering kali terbatasnya hanya pada ekotone. Kalau ekotone sangat sempit beberapa habitat, beberapa organisme ditemukan didaerah tumpang tindih yang tidak terdapat didalam kedua komunitas itu sendiri. Kerana komunitas ekotone yang telah berkembang dengan baik dapat mengadung organism yang khas unutk setiap komunitas yang tumpang tindih ditambah jenis yang hanya hidup didalam ekotone ( edge ef effect ). Contoh Ekotone dapat mempunyai jenis khas yang tidak dijumpai dalam komunitas komunitas yang membentuk ekotone. Contohnya dalam suatu pengkajian populasi burung disepanjang gradient perkembangan komunitas daerah-daerah pengkajian dipilih sedemikian dengan maksud meminimumkan pengaruh dari pertemuan-pertemuan dengan komunitas lain. Tiga puluh burung ditemukan mempunyai kerapatan paling sedikit 5 pasang per 100 acre dalam salah satu dari tingkat-tingkat ini. Meskipun demikian sekitar 20 jenis tambahan diketahui merupakn burung-burung berbiak biasa dari komunitas-komunitas dataran tinggi dari daerah itu sebgai keseluruhan 7 dari jenis-jenis ini ditemukan dalam jumlah-jumlah kecil sedangkan 13 jenis bahkan tidak tercatat pada daerah pengkajian yang seragam. Salah satu tipe-tipe umum mengenai ekotone yang paling penting sejauh yang diperhatikan manusia adalah tepian hutan. Tepian hutan dapat di definisikan sebagai ekotone hutan dan komunitas-komunitas rumput atau semak. Beberapa dari organism-organisme asli dari hutan dan dataran-dataran mampu hidup dalam tepian hutan buatan manusia, sedangkan organism-organisme yang terutama didapatkan

terhadap tepian hutan, khususnya banyak jenis “gulma”, burung, serangga, mamalia, seringkali meningkat dalam jumlah nya dan memperluas daerah-daerah kisarannya sebagai akibat ciptaan oleh manusia habitat-habitat tepi hutan baru yang luas.
7. Paleoekologi: Struktur Komunitas dalam Abad-Abad yang telah Silam

Karena kita mengetahui dari fosil-fosil dan lain-lain ahwa orgaisme-organisme abad yang telah silam berlainan dan telah memperkembangkan diri menjadi seperti yang ada sekarang maka wajar kalau kita beraggapan bahwa struktur komunitas dan lingkungannya berlainan juga. Anggapan dasar dari paleoekolohi sejauh hal itu dapat diterapkan atau lebih luas lagi sebagai kaji interaksi-interaksi dari bumi, atmosfir, dan biosfir pada masam lampau. Anggapan dasar dari paleokologi adalah : 1. Bahwa kerja atau operasi dari asas-asas ekologi adalah sama sepanjang berbagai periode geologi 2. Bahwa ekologi dari fosil-fosil dapat dianggapberasal dari apa yang diketahui sebagai jenis yng eukivalen atau yang ada hubungannya dengan jenis yang hidup sekarang. Anggapan-anggapan paleontology dasar lebih baik banyak sama seperti paleontonologi yakni bahwa “hukum-hukum alam” pada masa lalu sama seperti sekarang dan bahwa organismeorganisme yang hidup sekarang mempunyai pola-pola perilaku dan sifat-sifat ekologi yang serupa. Jadi, jika bukti fosil menunjukan bahwa hutan jenis spruce pernah terdapat 10.000 tahun yang lalu ditempat mana sekarang di duduki hutan oakhickory, kita mempunyai alas an kuat untuk berfikir bahwa iklim pada masa 10.000 tahun yang lalu itu lebih dingin, karena jenis spruce yang hidup sekarang dapat menyesuaikan diri I tempat-tempat beriklim lebih dingin dari tempat-tempat yang diduduki pasang-pasang dan hickory-hickory. Gambaran Fosil tepung sari merupakan bahan yang baik sekali untuk rekonstruksi komunitas-komunitas darat yang telah ada sejak periode pleistosin. Ketika glasterturun dia sering kali meninggalkan tempat-tempat yang terjadi yang menjadi danau-danau. Tepung sari dari tumbuhan-tumbuhan yang tumvuh disekitar danau tenggelam kedasar dan menjadi terfosilkan dalam lumpur dasar. Danau demikian itu dapat terisi dan menjadi “bag”. Contoh tepung sari yang “terna” terdiri terutama dari spruce, firlarch, birch, dan tusam menunjukkan

suatu iklim dingin. Menurut davis (1969) profil-profil tepung sari di Eropa

bahkan

menunjukkanpengaruh wabah hitam ketika pertanian menurun mengakibatkan penurunan tepungsari terna dalam lapisan-lapisan sedimen yang berlangsung bersamaan dengan kematian umat manusia yang tersebar luas.

BAB III

KESIMPULAN Komunitas adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada waktu dan daerah
tertentu yang saling bertinteraksi dan saling mempengaruhi.

Pada pembahasan tentang asas-asas dan konsep-konsep mengenai organisasi pada taraf komunitas terdiri atas 7 kategori: 1. Konsep komuniitas biotic Komunitas biotik adalah kumpulan populasi apa saja yang hidup dalam daerah atau habitat fisik yang telah ditentukan. Konsep komunitas adalah penting di dalam praktek ekologi sebab apa yang terjadi dengan komunitas akan dialami juga oleh organism. 2. Klasifikasi intrakomunitas dan konsep dominan ekologi 3. Analisis komunitas Komunitas dapat diklasifikasikan menurut: a. Bentuk atau sifat struktur utama seperti misalnya jenis dominan, bnetuk-bentuk hidup atau indikator2 b. Habitat fisik dari komunitas c. Sifat-sifat atau tanda2 fungsional seperti tipe metabolism komunitas. 4. Keanekaragaman jenis dalam komunitas Keanekaragaman jenis cenderung akan rendah dalam ekosistem-ekosistem yang secara fisik terkendali ( yakni yang menjadi sasaran factor pembatas fisika-kimia yang kuat ) dan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara biologi. Pada umunya keanekaragaman naik dengan penurunan dalam nisbah dari perawatan anti thermal terhadap biomas. 5. Pola-pola dalam komunitas
a. Pola stratifikasi (pelapisan tegak). b. Pola-pola zonasi (pemisahan kearah mendatar).

c. Pola-pola kegiatan (periodisitas). d. Pola-pola jaring-jaring (asosiasi-asosiasi jarring-jaring organisasi jaringan kerja

didalam rantai pangan).
e. Pola reproduktif (asosiasi-asosiasi orang anak-anak, klone-klone tanaman dan

sebaginya).
f. Pola-pola social (kelompok-kelompok dan kawananan-kawanan). g. Pola-pola koaktif (diakibatkan

oleh persaingan, antibiosis, mutualisme dan

sebagainya).
h. Pola-pola stochastic (diakibatkan oleh tenaga atau kakas acak).

6. Ekotone dan konsep mengenai pengaruh tepi Salah satu tipe-tipe umum mengenai ekotone yang paling penting sejauh yang diperhatikan manusia adalah tepian hutan. Tepian hutan dapat di definisikan sebagai ekotone hutan dan komunitas-komunitas rumput atau semak. 7. Paleoekologi: struktur komunitas dalam abad-abad yang telah silam Anggapan dasar dari paleoekolohi sejauh hal itu dapat diterapkan atau lebih luas lagi sebagai kaji interaksi-interaksi dari bumi, atmosfir, dan biosfir pada masam lampau. Anggapan dasar dari paleokologi adalah : a. Bahwa kerja atau operasi dari asas-asas ekologi adalah sama sepanjang berbagai periode geologi b. Bahwa ekologi dari fosil-fosil dapat dianggapberasal dari apa yang diketahui sebagai jenis yng eukivalen atau yang ada hubungannya dengan jenis yang hidup sekarang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->