Laporan Praktikum Biokimia

LIPID
Tanggal 25 Oktober 2010

Disusun oleh: KELOMPOK IX
1. Anindita Ratnawati Aditya (0906531172)

2. Andrianto Agung Gunawan (0906531166)
3. Astri Maulidina (0906531203)

DEPARTEMEN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK

tetapi larut dalam pelarut-pelarut lemak seperti eter. bermacam-macam sterol dan senyawa-senyawa lain yang terbentuk sebagai hidrolisa zat-zat tersebut diatas. alkohol panas dan benzene. dipalmitostearin. Teori Lipid adalah segolongan senyawa organik yang terdapat di dalam alam dan mempunyai sifat-sifat: 1. wax. Lemak netral dan minyak Ialah ester asam-asam lemak dengan gliserol. kloroform. glikolipid. Berhubunagn erat dengan asam lemak. 2. yang termasuk simple lipid yaitu: a. distearopalmitin. Trigliserida. Simple Lipid Merupakan ester asam-asam lemak dengan bermacam-macam alkohol. Prinsip dan Tujuan II. Lipid dapat diekstraksi oleh jaringan binatang maupun tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan pelarut lemak. Klasifikasi Menurut Bloor. . Minyak ialah lemak yang berbentuk cair pada suhu kamar. 3. Hasil ekstraksi merupakan campuran yang kompleks diantaranya: trigliserida.2010 I. lipid dapat dibagi dalam tiga golongan yaitu: 1. Dapat digunakan oleh organisme hidup. Tidak larut dalam air. kolesterol dan ester kolesterol dinamakan juga lipid netral karena tidak bermuatan. tripalmitin. Contoh: Tristerin. fosfolipid.

mengandung asam fosfat dan kolin. 3. . Asam fosfatidat (fosfatidil gliserol).b. tidak mengandung gliserol. 5. Derivat Lipid Derivat lipid ialah semua senyawa yang dihasilkan pada hidrolisa simple dan compound lipid yang masih mempunyai sifat-sifat seperti lemak dimasukkan dalam golongan ini. hanya mengandung gliserol. Gangliosida mengandung. asam lemak dan asam fosfat. Wax Ialah ester asam-asam lemak dengan alkohol alifatik yang mempunyai rantai karbon panjang. Fosfatidilkolin (lesitin). Difosfatidilgliserol dikenal dengan nama kardiolipin dan terdapat di dalam mitokondria. mengandung asam fosfatidat dan etanolamin. b. 8. a. asam lemak dan sfingosin juga mengandung asam N-asetilneraminat dan hexosamin. mengandung asam fosfatidat dan asam amino serin. Compound Lipid Compound lipid merupakan ester asam-asam lemak yang pada hidrolisa menghasilkan asam lemak. alkohol. Fosfatidil inositol (lipositil). 6. Sfingomielin. Sulfatida ialah serebrosida yang mengandung sulfat. menyerupai lesitin dan sefalin. kecuali ikatan ester asam lemak pada posisi pada karbon gliserol diganti oleh ikatan ester dengan suatu alkohol tak jenuh. Fosfatidiletanolamin (sefalin). 2. Glikolipid (Serebrosida) Glikolipid mengandung asam lemak. dan suatu alkohol yang mengandung gugus amina yang disebut sfingosin. Pada hidrolisa akan dihasilkan asam lemak. Fosfolipid Hidrolisa fosfolipid menghasilkan asam lemak. disamping glukosa/galaktosa. gliserol (atau alkohol lain yang bukan gliserol). mengandung asam fosfatidat dan inositol. Contoh fosfolipid: 1. Fosfatidil serin. dan juga zat-zat lain. asam folat dan senyawa-senyawa lain. 4. 7. asam fosfat. kolin. Plasmalogen. 2. sfingofusin dan karbohidrat (galaktosa/glukosa).

Sebagai contoh: Titik lebur tristearin 71°C dan trielin -5°C. 2. Berdasarkan sifat ini. pada umumnya lemak tidak mengandung rasa. dan tidak berbau. asam sterat dan asam arachidat). Yang tiga terakhir digolongkan dalam asam lemak essensial. Umumnya sam-asam lemak yang terdapat di alam mengandung jumlah atom C genap (asam asetat. Tipe lemak mempunyai titik lebur yang ditentukan oleh asam lemaknya. asam kaproat. Sifat ini dapat dipakai untuk memisah-misahkan campuran bermacam-macam lemak. tidak berwarna. Contoh: asam oleat. . sedangkan asam lemak tak jenuh lebih banyak didalam minyak tumbuh-tumbuhan Dalam keadaan murni. Warna lemak atau minyak yang terdapat dialam disebabkan oleh bermacam-macam pigmen. Umumnya asam lemak jenuh lebih banyak terdapat didalam lemak hewan. Asam-asam lemak tak jenuh dapat menghilangkan warna iodium. Untuk mencegah lemak menjadi tengik. Dengan rantai karbon yang mengandung ikatan rangkap. karena diperlukan untuk pertumbuhan optimum dan tidak dibentuk didalam tubuh dalam jumlah yang cukup untuk keprluan jaringan. asam laurat. asam linoleat dan asam arachidonat. Dengan rantai karbon jenuh. iodium dapat dipakai untuk menmentukan banyaknya ikatan rangkap di dalam sejumlah tertentu lemak (Angka Iodium= jumlah gram yang dapat diadisi oleh 100 gram lemak). Asam-asam lemak tak jenuh yang terdapat dialam mudah mengalami oksidasi dan membentuk bermacam-macam zat yang menyebabkan lemak berbau tengik. Zat-zat tersebut tidak dapat dicernakan dan diantaranya ada yang bersifat racun. dapat ditambahkan antioksidan misalnya hidroquinon. asam butirat. Hal ini disebabkan karena adisi iodium pada ikatan rangkap.Asam-asam Lemak 1.

Aquadest .Larutan Iodium .HCL 0.Beaker glass .Spatel .5 N .Eter . Alat dan Bahan Alat: -Tabung reaksi .Labu Erlenmeyer .Gelas ukur .1 N .NaOH 0.KBrO3 0.Penangas air .Pipet tetes .Kertas saring.KOH-Etanol 0.Indikator PP .Kloroform .Margarin .Tabung sentrifugasi Bahan: Adeps lanae .5 N .Minyak kelapa .III.Batang penagduk .Buret dan statif .Erlenmeyer bertutup glass .2 N .

KOH dlm etanol 10% . Dapat juga larutan dituang perlahan-lahan (atau disaring dengan kertas saring kering) ke dalam sebuah gelas arloji.1 N .H2SO4 (p) IV. alkohol dingin.HCL 4 N .Merah telur . Perhatikan bercak lemak setelah eter menguap. Taruhlah setetes larutan dalam eter pada sehelai kertas saring. Pelarut dapat diuapkan dengan pertolongan penangas uap. Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan lemak domba: Pelarut Kelarutan Air Tidak larut Alkohol panas Tidak larut Alkohol dingin Tidak larut Eter Larut .Asam asetat anhidrat ..Na-tiosulfat 0. dan kloroform.Aseton .Etanol .05% dlm CHCl3 .5 % . Percobaan daya larut Untuk memeriksa daya larut suatu zat terutama lipid sejumlah kecil zat tersebut dilarutkan dalam beberapa ml pelarut. Percobaan dan Hasil Pengamatan 1.Na2CO3 0. Derajat kelarutan dapat dilihat secara langsung. alkohol panas.KBr . Jumlah residu menunjukkan jumlah zat yang larut dalam larutan yang diperiksa.Larutan kolesterol 0. Periksalah daya larut lemak domba dalam air. eter.Larutan KI 16 % . a.

Larutan akan menjadi jernih. terbentuk busa. Percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh Ambillah 3 buah tabung reaksi kering. Tambahkanlah beberapa ml NaOH dalam alkohol.Kelarutan . eter dan kloroform. alkohol dingin.Bercak transparan Alkohol panas . Kedalam tabung yang pertama masukkanlah sedikit minyak kelapa.Tidak ada bercak Eter . alkohol panas. Lakukan test bercak lemak. kemudian→dikocok busa tersebut cepat menghilang. Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan lemak padat: Setelah ditambahkan NaOH dalam alkohol. Masukkanlah kedalam tabung reaksi 1 ml minyak dan 3 ml air. Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan minyak kelapa: Pelarut . kedalam tabung kedua margarin dan kedalam tabung yang . Pengaruh Na karbonat terhadap emulsi adalah menjadikan emulsi tidak stabil.Kloroform Larut ada bercak transparan (+)→Test bercak lemak b. Kocok dan perhatikan pembentukkan busa yang cepat.Bercak transparan Test Pengamatan kocok + 1 ml larutan Na karbonat 0.Bercak transparan Kloroform . Terangkan.Tidak larut . kocok dan tambahkanlah 1 ml larutan natrium karbonat 0. Periksalah daya larut minyak kelapa dalam air.Larut . Panaskan kembali.Tidak larut . Mula-mula terlihat lemak mengapung. c.Larut . Masukkanlah sedikit lemak padat ke dalam tabung reaksi. Bagaimana pengaruh natrium karbonat terhadap kestabilan emulsi. Tambahkanlah 2 ml air dan hangatkanlah dalam penangas uap Perhatikan bahwa lemak akan mencair dan terapung pada permukaan air.5 % dan kocok lagi.5 %→1 ml minyak kelapa + 3 ml air Warna larutan menjadi putih susu. lalu diangkat. dipanaskan.Pengamatan Bercak Air .Bercak transparan Alkohol dingin -Tidak larut . 2.

tambahkanlah 25 ml larutan KOH-Etanol 0. Kemudian teteskan kedalam tiap tabung larutan iodium.05 /2 = 29.4525/gr lemak domba Pada percobaan penentuan bilangan penyabunan ini.5 N yang dibutuhkan untuk titrasi blangko g adalah berat minyak yang digunakan Berikut merupakan penentuan bilangan penyabunan lemak domba: • Jumlah HCl 0. Hitung angka penyabunan dengan rumus: Angka penyabunan: a adalah jumlah HCL 0.8 ml Jadi.5 N yang dibutuhkan titrasi zat uji b adalah jumlah HCL 0. Penetapan angka penyabunan Timbanglah lebih kurang 2 gram minyak kedalam Labu Erlenmeyer. minyak kelapa. . angka penyabunannya: ( 12.5 N yang dibutuhkan untuk titrasi zat uji (a) = 10.7 ) x 28.5 N yang dibutuhkan untuk titrasi blanko (b) = 12. Kedalam tiap tabung ditambahkan kloroform dalam jumlah sama.8 – 10. Terangkan apa yang terjadi.ketiga lemak padat. Hal ini menyebabkan sedikit pergeseran angka penyabunan dibandingkan dengan penyabunan menggunakan KOH-etanol.5 N menggunakan indikator fenolftalein.7 ml • Jumlah HCl 0. Praktikan menggunakan NaOH-metanol sebagai ganti atas seijin dari asisten laboratorium. Titrasi dengan HCL 0.5 N dalam jumlah yang sama. Goyanglah tabung reaksi pada tiap penambahan iodium. Berikut merupakan hasil pengamatan ikatan tak jenuh pada margarin. dan lemak domba: Zat Uji Pengamatan Margarin Lemak padat Warna merah keunguan Warna merah jernih Warna merah kecokelatan (merah hati) Minyak kelapa 3. Kedua labu di reflux di atas penangas air selama 30 menit sambil diaduk sewaktu-waktu. praktikan tidak menggunakan KOH-etanol dikarenakan ketersediaan bahan pada awal percobaan.

1 N yang dibutuhkan untuk titrasi blanko (b) = 23. 1. lalu diaduk dan didiamkan selama 10 menit. Buka sumbat.9 ml Jadi bilangan Iodiumnya: (23. Ekstraksi kolesterol dari merah telur Mula-mula telur dipecahkan dan dikeluarkan isinya. kuning telur dimasukkan kedalam gelas piala 100 ml dan ditimbang beratnya. Kemudian larutan kloroform yang melarutkan kolesterol hasil ekstraksi diambil .1 N dan kocok kuat-kuat. tambahkan 7 ml larutan natrium tiosulfat 0.5 kloroform berturut-turut dituangkan kedalam gelas piala yang berisi kuning telur.1269 /2 = 10. Sebanyak 25 ml metanol dalam 12.1 N yang dibutuhkan untuk titrasi blangko g adalah berat zat yang digunakan Berikut merupakan penentuan bilangan Iodium: • Jumlah Na2S2O3 0. kemudian bagian kuning telur dipisahkan dari putihnya. Endapan yang terbentuk dibilas dengan 20 ml campuran metanol-kloroform 2:1 (v/v).2 N. dan ditampung ke dalam gelas piala kering. Hasil bilasan tersebut disatukan dengan filtrat.5 gram KBr yang telah dilarutkan dalam 5 ml air dan 7 ml HCL 4 N.1 N yang dibutuhkan untuk titrasi zat uji b adalah jumlah Na2S2O3 0. Seluruh campuran larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah lalu dikocok-kocok hingga terbentuk dua bagian larutan. larutan kloroform akan berada di bagian bawah corong pemisah.1 N yang dibutuhkan untuk titrasi zat uji (a) = 15. Simpan labu di tempat gelap selama 1 jam.1269/g a adalah jumlah Na2S2O3 0. Lakukan titrasi blangko.4. Bilangan Iodium : ( b – a) x N Na2S2O3 x 100 x 0.1 x 100 x 0.40 yang telah dibasahkan sebelumnya dengan alkohol. Larutan KCL 1 % kemudian ditambahkan kedalam campuran filtrat dan hasil bilasan dengan volume 1:1. Penetapan bilangan Iodium Timbang lebih kurang 2 gram zat dalam labu Erlenmeyer bertutup gelas.9134/gr mentega 5.3) x 0. larutkan dalam 10 ml CHCl3 dan berturut-turut tambahkan 25 ml KBrO3 0. Selanjutnya campuran tersebut disaring dengan kertas saring n0.9 – 15.3 ml • Jumlah Na2S2O3 0.

Berikut merupakan hasil pengamatan reaksi Liebermann-Buchard: Reaksi Liebermann-Burchard Pengamatan Larutan standar: terbentuk warna hijau→ + asam asetat anhidrat 10 tetes + 3 tetes . Reaksi Liebermann-Burchard Pengamatan Terbentuk dua lapisan cairan berwarna merah muda dan bening Terbentuk dua lapisan cairan berwarna merah cokelat dan Metode: 1 ml larutan kolesterol standar 0. lalu disimpan dalam lemari pendingin untuk analisis kadar kolesterol. Percobaan-percobaan dengan kolesterol a.05 % dalam kloroform ditambah dengan 1 ml pereaksi Liebermann-Buchard (asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat 10:2). Selai dari itu dalam lapisan asam akan tampak fluorosensi kuning. Kocoklah hati-hati dan perhatikan warna-warna yang timbul. ungu dalam lapisan kloroform. Metode: 1 ml larutan kolesterol 0. Reaksi Salkowski Percobaan ini memerlukan alat-alat yang kering benar.05 % dalam kloroform dicampur berhati-hati dengan 1 ml H2SO4 pekat.sebanyak 10 ml dan ditampung dalam vial 25 ml. diambil bagian bawahnya yang berwarna kuning kurang lebih volumenya 10 ml. 6. Berikut merupakan hasil pengamatan reaksi Salkowski: Reaksi Salkowski Larutan standar Larutan ekstrak merah keunguan b. Cairan tersebut kemudian dipisahkan dengan corong pemisah. biru. Berikut merupakan hasil pengamatan pada ekstraksi kolesterol dari merah telur: Terbentuk dua lapisan larutan yang bagian atasnya berwarna putih keruh dan pada bagian bawahnya berwarna kuning. Setelah kedua lapisan cairan berpisah lagi akan timbul berturutturut warna merah.

2. Hal ini dikarenakan adanya momen dipol pada zat atau pelarut sehingga dapat berikatan dan berinteraksi dengan sesamanya. ditandai dengan adanya kekeruhan / larutan berwarna putih. Begitu juga sebaliknya. Percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh . emulsi langsung pecah ditandai dengan adanya lapisan minyak (berwarna kuning) pada permukaan. Pada saat minyak dikocok bersama air akan terjadi emulsi minyak dalam air. lemak domba dan minyak kelapa tidak dapat larut.H2SO4(p) Ekstrak kolesterol: terbentuk warna hijau yang pekat→ + asam asetat anhidrat 10 tetes + 3 tetes H2SO4(p) V. adanya bercak transparan pada kertas saring menandakan adanya lemak pada zat tersebut. Setelah ditambah Na2CO3. Pembahasan 1. Pada zat dalam pelarut eter terdapat bercak karena lemak domba telah larut sehingga terbawa pada saat penetesan dan dapat membuat bercak pada kertas. Sedangkan pada pelarut nonpolar tidak memiliki momen dipol. namun tidak dapat larut dalam pelarut nonpolar. Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut ditentukan oleh banyak hal. Percobaan daya larut Pada tes kelarutan didapat hasil bahwa lemak domba dan minyak kelapa yang bersifat nonpolar larut dalam eter dan kloroform karena keduanya merupakan pelarut organik (nonpolar). dengan sedikit kekeruhan pada bagian tengah larutan. jadi tidak dapat larut. Pengaruh Na2CO3 terhadap kestabilan emulsi adalah: dengan adanya logam Na menyebabkan emulsi menjadi cepat pecah (terpisah menjadi dua komponennya kembali). lapisan air pada bagian bawah. antara lain adalah sifat kepolaran zat dan pelarutnya. Pada tes bercak lemak. Sedangkan pada pelarut polar seperti air dan alkohol. sehingga tidak bisa berinteraksi dengan zat yang polar. Umumnya zat yang polar dapat larut dalam pelarut yang bersifat polar.

Dengan adanya reaksi ini. bersama dengan berbagai ester lainnya. Bahan-bahan yang digunakan adalah minyak kelapa. maka warna larutan iod akan hilang. dan lemak padat berupa adeps lanae. alkohol dan isokolesterol. Setelah itu. lanolin) adalah zat serupa lemak yang dimurnikan. Selain itu. tetapi kurang dari 90 %) • Lemak susu (maksimum 3 % dari total lemak) • Vitamin A 940-960 IU per ounce (800-100 µg setiap 100 g) • Vitamin D 80-100 IU per ounce (7. Ketiga zat tersebut dilarutkan dalam kloroform karena tidak larut dalam air.25 % dan boleh mengandung antioksidan yang sesuai tidak lebih dari 0.82 µg setiap 100 g) Adeps lanae (lemak bulu domba. Komposisi dari margarin menurut British Nutrition Foundation adalah : • Lemak (minimum 80 %.Percobaan ini dilakukan untuk menyatakan adanya ikatan tak jenuh dalam suatu lemak atau minyak. Adeps lanae mengandung air tidak lebih dari 0. juga terdapat asam lanoserat. asam . Iod akan memutus ikatan rangkap yang terdapat molekul zat.05-8. minyak kelapa juga mengandung asam kaprilat. Minyak kelapa mengandung triasil gliserol dengan 80-85 % asam lemak jenuh. dan asam oleat.02 %. diperoleh dari bulu domba Ovis aries Linne (Familia Bovidae) yang dibersihkan dan dihilangakan warna dan baunya. Margarin dibuat melalui proses hidrogenasi asam lemak tak jenuh yang bersumber dari tanaman. Adeps lanae mengandung kolesterol. kemudian iod tersebut akan menggantikan posisi dari ikatan rangkap tersebut melalui reaksi adisi sehingga jumlah ikatan rangkap dalam molekul zat akan berkurang atau menjadi tidak ada sama sekali (jika teradisi semuanya oleh iod). ditambahkan larutan iodium sama banyak pada ketiga zat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi adisi oleh iod. Margarin merupakan salah satu produk makanan konsumsi sehari-hari yang dibuat dengan menggunakan bahan baku lemak nabati. Asam lemak utama yang terdapat dalam minyak kelapa adalah asam laurat dan asam miristat (merupakan asam lemak dengan bobot molekul rendah dan memiliki bilangan penyabunan yang tinggi). Margarin adalah emulsi air dalam minyak yang berbentuk padat. Selain itu. margarin. asam kaprat.

kemudian ditimbang 2 gram ke dalam labu erlenmeyer. maka untuk meningkatkan kelarutan margarin digunakan etanol. Caranya adalah dengan menentukan jumlah kelebihan KOH yang tersisa setelah saponifikasi. yang dihitung adalah angka sabun dari margarin. lalu tambahkan 25 ml larutan KOH-etanol 0. Hal itu berarti pada ketiga zat itu. terjadi reaksi adisi yang menyebabkan hilangnya warna larutan iod.5 N dan 1 ml phenolftalein sebagai indikator. Etanol digunakan karena margarin tidak dapat larut dalam air. 3. Titrasi HCl akan menetralkan KOH yang berlebih dan terbentuklah endapan putih garam netral KCl. Hal tersebut dapat disimpulkan dari intensitas warna yang terbentuk (jingga keruh > jingga jernih > kuning). Serta kelebihan HCl akan mengubah sabun menjadi asam lemaknya. dan mungkin asam serotat serta asam palmitat. minyak kelapa. Ikatan tak jenuh yang terdapat dalam margarin lebih banyak daripada ikatan tak jenuh dalam adeps lanae dan minyak kelapa (ikatan tak jenuh dalam margarin > minyak kelapa > adeps lanae). Dengan adanya pemanasan dan penambahan alkali (KOH) maka margarin akan membentuk gliserol dan sabun atau garam asam lemak.lanopalmitat. Proses ini lebih dikenal dengan nama saponifikasi. Penetapan Angka Penyabunan Menurut Farmakope edisi III. asam miristat. asam karnaubat. margarin menghasilkan warna jingga keruh. Minyak kelapa menghasilkan warna jingga jernih. Pada hasil percobaan. Larutan HCl . terdapat ikatan tak jenuh (ikatan rangkap) sehingga dengan penambahan larutan iodium. Lalu dimasukkan ke dalam penangas air selam 30 menit. asam oleat. Mula –mula margarin dilelehkan dahulu. Pada percobaan.5 N. Caranya adalah pada bagian atas labu erlenmeyer (yang telah berisi margarin yang dicampur dengan KOH-etanol) diberi corong yang ditutup dengan kaca arloji yang bagian atasnya diberi kapas basah. dan adeps lanae menghasilkan warna kuning. Setelah itu lakukan reflux. margarin dan adeps lanae memberikan hasil positif yaitu dengan hilangnya warna larutan iod (ungu). bilangan penyabunan adalah bilangan yang menunjukkan jumlah mg kalium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dan menyabunkan ester yang terdapat dalam 1 g zat uji. Kemudian dilakukan titrasi dengan HCl 0.

0 120-139 4.7-7.1 160-179 3.4 240-259 2.6 100-119 5.7 220-239 2.0 60-79 9. seperti tampak pada tabel berikut : Angka penyabunan yang diperkirakan Berat sample (gram) 0-59 10. Titik akhir titrasi diperoleh apabila warna larutan telah berubah dari merah muda menjadi tidak berwarna.tersebut digunakan untuk mengetahui sisa KOH yang tidak bereaksi. Atau dengan kata lain besarnya angka penyabunan tergantung pada berat molekul asam lemak tersebut.1 260-300 2.0-11. Makin besar berat molekul lemak maka makin makin kecil bilangan penyabunannya.7-3. Besar kecilnya angka penyabunan tergantung pada panjang pendeknya rantai karbon asam lemak.0-8. reaksinya : .5-3. Selisih antara titrasi blanko dengan larutan yang berisi zat uji adalah jumlah KOH yang digunakan untuk menyabunkan lemak.9 140-149 4.9-5.0-12.2-2.1 200-219 3.8 180-199 3.0 80-99 7. Prosedur ini dilakukan baik terhadap larutan yang berisi zat uji maupun terhadap blanko.3-4.7 Setelah semua asam lemak bereaksi dengan KOH akan terjadi reaksi : KOH + HCl → KCl + H2O Setelah semua KOH habis.9-4.0-3.2-5. Dari penentuan angka sabun ini dapat ditentukan atau diperkirakan panjang rantai karbon dalam gugus asam dari molekul minyak atau lemak dan dapat juga ditentukan jumlah asam yang terikat pada ester.

dapat dinyatakan bilangan iodium sebagai berikut: Asam Lemak Jumlah Ikatan Rangkap Bilangan Iodin Asam Palmitat 1 95 Asam Oleat 1 86 Asam Linoleat 2 173 Asam Linolenat 3 261 Asam Arakidonat 4 320 Pada zat uji.5 N untuk titrasi blanko Namun. o Bila bilangan iod 130 : drying oils Angka iodium dapat digunakan untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung di dalamnya. tetapi tidak dapat memberikan informasi yang signifikan mengenai jumlah ikatan tidak jenuh yang ada dalam sampel. Pada pendiaman selama 1 jam tersebut akan terbentuk Br2. praktikan tidak menggunakan KOH melainkan NaOH. namun pada prinsipnya adalah sama. setelah itu dilarutkan dalam 10 ml kloroform. Br2 dihasilkan dari proses reduksi BrO3. pada percobaan kali ini. Dari sumber yang praktikan dapatkan. dan dicampurkan dengan 25 ml KBrO3 0. Setelah itu ditambahkan larutan KI 16 % 7 ml yang akan membetuk warna larutan coklat.(Br yang berasal dari KBr dioksidasi oleh Br dari KBrO3 membentuk Br2). Penetapan Bilangan Iodium Menurut Farmakope Indonesia edisi III bilangan Iodium adalah bilangan yang menunjukkan jumlah gram Iodium yang diserap oleh 100 gram zat.5 gram KBr yang dilarutkan dalam 5 ml air dan 7 ml HCl 4 N. Br2 yang dihasilkan kemudian sebagian akan mengadisi margarin dan sebagian lagi akan bereaksi dengan larutan KI (I-) membentuk I2.H+ + PP → tidak berwarna Untuk menghitung angka penyabunan digunakan rumus : a = jumlah HCl 0.2 N dan 1. 4.5 N untuk titrasi larutan yang berisi zat uji b = jumlah HCl 0. yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 menjadi I. dalam hal ini margarin yang telah dilelehkan ditimbang 2 gram. .kembali. kemudian diamkan selama 1 jam di tempat gelap.

(larutan menjadi jernih)→I2 + 2 S2O32Titrasi dihentikan apabila telah terjadi perubahan warna larutan dari coklat menjadi tidak berwarna dan pada bagian bawah larutan terdapat endapan berwarna kuning muda.menjadi I2 menyebabkan larutan berwarna coklat. Maksud pendiaman di tempat gelap selama 1 jam setelah margarin dilarutkan dengan bermacam-macam pelarut dan sebelum bereaksi dengan KI adalah supaya BrO3.515 ml untuk larutan uji dan 54.5 ml eter. dengan reaksi : 2 I. Perhitungan bilangan iodium dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : (b-a) x N Na2S2O3 x 100 x 0.+ 10 Br – + 12 H+ Bagian Br2 lainnya akan bereaksi dengan penambahan larutan KI : I2 + 2 Br – (larutan menjadi berwarna coklat)→Br2 + 2 II2 yang terbentuk dititrasi denagn menggunakan larutan natrium tiosulfat. diamkan sambil dikocok sewaktu-waktu selama 10 menit.1 N untuk titrasi zat uji 5. Dari percobaan dibutuhkan larutan natrium tiosulfat sebanyak 7.1269/g b = jumlah ml Na2S2O3 0. praktikan memisahkan kuning telur dari putihnya. Reaksi lengkapnya adalah : 6 Br2 + 6 H2O→2 BrO3. makin banyak I2 direduksi menjadi I-. Titrasi dilakukan dengan menutup mulut erlenmeyer dengan plastik untuk menghindari penguapan I2. Semakin banyak volume Na2S2O3. Saring ke dalam beaker kering melalui kertas saring yang dibasahi dengan alcohol. Kemudian kuning telur dipisahkan dari putihnya. sehingga akan banyak bereaksi dengan zat dan larutan KI.Br2 yang mengoksidasi I. Merah telur diaduk dengan campuran 25 ml alcohol dan 12.1 N untuk titrasi blanko a = jumlah ml Na2S2O3 0. Ekstraksi kolesterol dari merah telur Pertama-tama. Cuci residu . Putih telur mengandung protein berupa albumin.+ S4O62.sebanyak mungkin tereduksi menjadi Br2.650 ml untuk larutan blanko. sehingga menjadi larutan tidak berwarna. Sedangkan kuning telur mengandung berbagai fosfolipid dalam jumlah yang sebanding dengan berat merah telur.

sedangkan filtratnya mengandung kolesterol yang berwarna kuning kemerahan/ kecoklatan (berupa sabun).tuang perlahan-lahan ke dalam 30 ml aseton sambil diaduk. Pemisahan fosfatidilkolin dari lemak dan kolesterol dilakukan dengan pelarut eter dan aseton. Kolin sangat penting dalam proses transmisi saraf dan sebagai simpanan. larutkan residu di dalam 10 ml eter. seperti kortikosteroid. asam empedu dan vitamin D. kuning telur. Endapannya adalah sabun. Lesitin atau fosfatidilkolin adalah senyawa fosfogliserol yang mengandung kolin (lesitin mengandung gliserol. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan lesitin (eter-aseton) diuapkan diatas waterbath sampai menghasilkan suatu pasta. Senyawa ini adalah fosfolipid kolin terdapat dengan jumlah terbanyak di dalam membran sel dan menunjukkan proporsi simpanan kolin yang besar pada tubuh. . ragi. Kolesterol merupakan lipid amfipatik dan merupakan komponen penting struktural yang membentuk membran sel serta lapisan eksternal lipoprotein plasma. Gugus hidroksil dari kolesterol membentuk ikatan hidrogen dengan gugus polar fosfolipid. Kemudian. dan kolin). Lesitin memiliki gugus kolin yang bermuatan positif sehingga lebih larut dalam eter dan kurang larut dalam aseton. Uapkan filtrat hingga kering diatas waterbath. dan kedelai. asam fosfat. Kolesterol terdapat dalam segala macam makanan yabg berasal dari hewan seperti kuning telur. dan otak. hormon seks. kecambah. gandum. gugus metil yang labil. ditambahkan 15 ml larutan KOH dalam etanol 10% lalu disaring. asam lemak. Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid dalam tubuh.di atas kertas saring dengan 10 ml larutan alcohol-eter segar yang dipakai untuk ekastraksi. Endapan yang terjadi adalah lesitin(fosfolipid). Kolesterol disintesis dari asetil-koA dalam banyak jaringan dan dikeluarkan dari tubuh lewat empedu. Hal ini disebabkan eter memiliki elektron bebas yang dapat diserang oleh muatan positif dari kolin sehingga kolin lebih larut dalam eter daripada aseton yang tidak memiliki elektron bebas. Kolesterol masuk ke dalam membran bilayer (membran sel) dengan gugus hidroksilnya mengarah ke fase air dan cincin hidrofobiknya berdekatan dengan gugus lemak dan fosfolipid. Lesitin dapat diperoleh dari hewan. daging hati.

Pada minyak kelapa. 5.9134/gr mentega 4. Bilangan Iodium = 10. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan warna.6. yaitu margarin. adeps lanae dan minyak kelapa. Angka penyabunan = 29. margarin. Kesimpulan 1. . Kolesterol dapat diuji dengan reaksi Liebermann-Burchard karena kolesterol mempunyai gugus kromofor yang memberikan warna dan mempunyai serapan pada panjang gelombang tertentu. dan lemak padat (adeps lanae) terdapat ikatan tak jenuh yang dapat dibuktikan dengan hilangnya warna iodium. Reaksi Liebermann-Burchard (blanko) Percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kolesterol dengn adanya pereaksi asam astat anhidrad dan H2SO4 (p) akan memberikan perubahan warna dari ungumerah menjadi biru dan kemudian hijau dengan sedikit endapan hitam yang melayang yang disebabkan adanya gugus kromofor dan auksokrom pada kolesterol. VI. Pada percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh terjadi reaksi adisi I2 dengan ketiga zat uji. Lipid (lemak) larut dalam pelarut organik yang bersifat nonpolar. 2.4525/gr lemak domba 3.

2003. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.nutrition. et al.html . http://www.uk/information/foodandingredients/marg. 564. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. halaman 57-58. Robert K.org. 277. Farmakope Indonesia edisi IV.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Biokimia Harper Edisi ke-25. halaman 156. 1995. Murray.