ISSN 0216-1338

DAFTAR I S I
Dari Redaksi Editorial
.............. .............. ii iii

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008 KEP MEN KEHAKIMAN DAN HAM RI NO. M.01-HU.03.02 TAHUN 2004 Penanggung Jawab Abdul Wahid Masru, S.H.,M.H. Pemimpin Redaksi Made Kamini, S.H.,M.H. Dewan Redaksi Qomaruddin, S.H.,M.H. Suhariyono AR, S.H.,M.H. Dr. Wahiduddin Adams, M.A. Dr. Wicipto Setiadi, S.H.,M.H. Sofyan Sitompul, S.H.,M.H. Anggota Dewan Redaksi Linus Doludjawa, S.H. Drs. Hudiyono Ibnu Ghoffur Sutirah, S.H.,M.H. Dwi Ambar Lasmiasih, S.Pd. Mualimin Abdi, S.H.,M.H. Julkhaidir, S.H.,M.H. Nuryakin, S.H. Staf Redaksi Tri Wahyuningsih, S.H.,M.H. Dra. Mardiningsih Welastuti Slamet Kurniawan, S.H. I Nyoman Sukanadji Andi Batara, S.H.,M.H. Kristiyanto, S.H. Rizki Arfah, S.H. Sri Lisnawati, S.H. Khabiburohman, S.H. Satirah Atminah Lud Firdiansyah Penerbit Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan HAM RI Jl. HR. Rasuna Said Kav. 6-7 Jakarta Selatan Telp. / Fax. (021) 5264517 E-mail:legislasi@yahoo.com Website:http//www.djpp.depkumham.go.id

Artikel :
Sistem Multipartai di Indonesia Oleh: Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.IP.,M.Si. Sistem Multipartai, Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah Oleh: Partono, SIP,MA Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis Oleh: Dr. Wicipto Setiadi, S.H.,M.H. Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum Oleh: Prof. Dr. Jeane Neltje Saly, S.H.,M.H. Demokrasi dan Partai Politik Oleh: Zainal Abidin Saleh, S.H.,M.H. Paradigma Baru Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Oleh: A.A. Oka Mahendra, S.H. Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Oleh: Zainal Abidin, S.H. Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Oleh: Chudry Sitompul, S.H.,M.H. Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia Oleh: Drs. Zafrullah Salim, M.H.
..............

1

.............. 13

.............. 29

.............. 40

.............. 56

.............

81

............. 90

............. 102

............. 130

Informasi UU:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik

.............. 137 .............. 165

Biodata Penulis

DARI REDAKSI

DARI REDAKSI
Kaidah demokrasi adalah harus menjunjung kedaulatan rakyat, aspirasi, keterbukaan, keadilan, tanggung jawab dan perlakuan yang tidak diskriminatif dalam Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengakui dan menjamin tentang kemerdekaan berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia. Sejarah perkembangan partai politik di Indonesia sangat mewarnai perkembangan demokrasi di Indonesia. Hal ini sangat mudah dipahami, karena partai politik merupakan gambaran wajah peran rakyat dalam percaturan politik nasional atau dengan kata lain merupakan cerminan tingkat partisipasi politik masyarakat. Berawal dari keinginan untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan serta mengisi pembangunan, partai politik lahir dari berbagai aspirasi rakyat yang berkeinginan untuk bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Romantika kehidupan partai politik sejak kemerdekaan, ditandai dengan bermunculannya multipartai. Harapannya dengan multipartai politik memberikan kemungkinan yang lebih luas bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasinya dan meraih peluang untuk memperjuangkan hak-haknya serta menyumbangkan kewajibannya sebagai warga negara. Penerapan sistem multipartai di Indonesia dilaksanakan pada tahun 1955, 1999 dan tahun 2004 kemudian sistem tersebut akan diterapkan juga pada tahun 2009 nanti. Jurnal Legislasi Indonesia untuk Volume 5 Nomor 1 mengangkat tema “Sistem Multipartai di Indonesia”, yang bertujuan untuk menyambut pemilihan umum yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 lebih demokratis dan berjalan sesuai harapan rakyat Indonesia. Kami mengharapkan komentar, kritik, dan saran dari para pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan isi Jurnal Legislasi Indonesia. Sumbangan tulisan dari pembaca tetap kami harapkan.
Selamat membaca (Redaksi).

ii

Surat Keputusan Wakil Presiden M. Indonesia telah menjalankan sistem multipartai sejak Indonesia mencapai kemerdekaan. Tidak sedikit program-program pemerintah yang memerlukan persetujuan dari parlemen. 1999 dan 2004). 1982. iii . Sistem presidensial di Indonesia hingga saat ini belum dapat mewujudkan secara penuh pemerintahan yang kuat dan efektif. dan demokratis. Pemilu memiliki fungsi utama untuk menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mendekati kehendak rakyat dan mampu mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan dapat menyerap serta memperjuangkan aspirasi rakyat sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian program atau rencana kerja pemerintah tidak dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. 1992.” Dari pasal tersebut tersirat bahwa Indonesia menganut sistem multipartai karena yang berhak mencalonkan pasangan calon presiden dan wakil presiden adalah partai politik atau gabungan partai politik. Hal ini diperlukan sebagai upaya agar bisa tetap sejalan dengan prinsip check and balances dari sistem presidensial dalam rangka menciptakan pemerintahan yang kuat. dan efektif. legal. sistem pemilu menjadi sarana untuk menyeleksi jumlah partai politik dalam jangka panjang. 1977. stabil. Praktik yang sekarang terjadi adalah ketiadaan koalisi besar yang permanen. bahkan ditolak oleh DPR. 1971. yang perlu dilakukan adalah mendorong terbentuknya koalisi partai politik yang permanen. 1997. X/1949 merupakan tonggak dilaksanakannya sistem multipartai di Indonesia. Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan figur dan arah kepemimpinan negara atau daerah dalam periode tertentu. Bangsa Indonesia telah melaksanakan sembilan kali Pemilihan Umum (yaitu pada tahun 1955. Walaupun konstitusi kita (UUD 1945) tidak memberikan rambu-rambu yang jelas dan tegas mengenai sistem kepartaian apa yang hendak dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. yaitu pada Pasal 6A (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Pasangan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Oleh karena itu. sehingga setiap pengambilan keputusan oleh pemerintah tidak selalu mendapat dukungan penuh dari parlemen.E DITORIAL EDITORIAL Salah satu wujud pelibatan masyarakat dalam proses politik adalah pemilihan umum (pemilu). namun konstitusi mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia menerapkan sistem multipartai. Secara sah. 1987. Hatta No. Pembatasan partai politik dilakukan dengan menerapkan berbagai prosedur sistem pemilu. mendapatkan resistensi dari DPR.

Jadi. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. maka dia berhak menempatkan wakilnya di parlemen.Sejak pemilu 1999. DPD. untuk turut kembali dalam pemilihan umum berikutnya angka electoral threshold itu harus dicapai. masyarakat telah lama mendambakan peran nyata dari sebuah partai politik sebagai pilar utama demokrasi yang tidak sekedar hanya berorientasi pada perolehan dukungan suara dalam rangka memperoleh kekuasaan semata namun dapat memainkan peran sebagai penghubung antara pemerintahan negara (the state) dan warga negaranya (the citizen). setelah hasil jumlah suara masing-masing partai politik diketahui seluruhnya. Indonesia telah menerapkan electoral threshold sebesar 2% dari suara sah nasional. Hal ini dilakukan untuk lebih memperketat partaipartai yang mengikuti Pemilu berikutnya. iv . dan DPRD menggunakan sistem Parliamentary Threshold (PT) yaitu syarat ambang batas perolehan suara parpol untuk bisa masuk ke parlemen. tanpa mempermasalahkan berapa jumlah kursi hasil konversi suara yang dimiliki partai politik tersebut. lalu dibagi dengan jumlah suara secara nasional.5% dari jumlah suara nasional. Pemilu 2004 menerapkan angka electoral threshold sebesar 3% dari perolehan suara sah nasional. berapapun kursi yang diperoleh di parlemen. Electoral Threshold didefinisikan sebagai ambang batas syarat angka perolehan suara untuk bisa mengikuti pemilu berikutnya. Akhirnya sistem apapun yang dipilih. Semangat dari peningkatan threshold yang semakin besar adalah untuk membangun sistem multipartai sederhana dengan pendekatan yang lebih moderat. Jika suara partai politik itu mencapai angka 2. Artinya.

hlm. (hukumham. 3. Asesmen Terhadap Kelembagaan. oleh rakyat. hlm. DPRD dan Partai Politik. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan untuk rakyat. Oktober 2007). berkumpul. 1 . bangsa dan negara. Yang selanjutnya dijalankan melalui 1 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.Si. masyarakat.3 Indonesia menganut paham demokrasi yang artinya kekuasaan dari rakyat. 2008). Tidak ada negara demokrasi tanpa partai politik. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik1 mendefinisikan bahwa Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. karena mereka memainkan peran yang penting sebagai penghubung antara pemerintahan negara (the state) dengan warga negaranya (the citizen). FNS dan P3OD-UMM..ARTIKEL SISTEM MULTIPARTAI DI INDONESIA Oleh: Drs. dalam Sabastian Salang. 3 Sabastian Salang. bersatu. adil dan makmur. dan Sistem Kepartaian (Jakarta: Forum Politisi-Friedrich Naumann Stiftung. Bc. Kiprah. berkumpul. 2. berdaulat. serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia yang diakui dan dijamin oleh UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemerdekaan berserikat. Potret Partai Politik di Indonesia. Rainer Adam. Hak asasi tersebut terwujud dalam institusi partai politik. hlm. Dengan demikian. dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat. 3. serta demokratis dan berdasarkan hukum.info.2 Karena itu partai politik biasa disebut sebagai pilar demokrasi.M. dapat dikatakan bahwa partai politik itu pada pokoknya memiliki kedudukan dan peranan yang sentral dan penting dalam setiap sistem demokrasi.IP. Agun Gunandjar Sudarsa.

(iii) sarana rekrutmen politik (political recruitment). para ilmuan politik biasa menggambarkan adanya empat fungsi partai politik. jadi. dalam Sabastian Salang. dan (iv) pengatur konflik (conflict management). Government and Politics in Western Europe: britain. 6 Miriam Budiardjo. Artinya hak itu secara eksklusif hanya partai politik yang disebut UUD 1945-diberikan kepada partai politik. meliputi: (i) sarana komunikasi politik. Italy. 3.4 Sangat rasional argumentasinya jika upaya penguatan partai politik dibangun oleh kesadaran bahwa partai politik merupakan pilar yang perlu dan bahkan sangat penting untuk pembangunan demokrasi suatu bangsa. 2 . Keempat fungsi partai politik itu menurut Miriam Budiardjo6. semua demokrasi membutuhkan partai politik yang kuat dan mapan guna menyalurkan berbagai tuntutan warganya.5 Fungsi Partai Politik Pada umumnya. memerintah demi kemaslahatan umum serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. 163-164. Sementara dalam istilah Yves Meny dan Andrew Knapp7. hlm. Oxpord University Press. 2006). hlm. (Jakarta: Gramedia. France. Kemudian partai politik saling berkompetisi secara sehat untuk memperebutkan kekuasaan pemerintahan negara melalui mekanisme pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden. Pengantar Ilmu Politik. Sebagaimana dirumuskan dalam UUD 1945 Pasal 6A ayat (2). Karena itulah. 1998). (ii) sarana sosialisasi politik (political socialization). (Third Edition. 1 .Vol. partai politik merupakan pilar utama (bukan kedua atau ketiga). gemany. Kemerdekaan Berserikat. bahwa calon presiden dan calon wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. 59. hlm. fungsi partai politik mencakup (i) mobilisasi dan integrasi. 2000). 7 Yves Meny and Andrew Knapp. dalam Ibid. 5 No. 3. dan Mahkamah Konstituusi (Jakarta: Konstitusi Press. yaitu presiden dan wakil presiden. Dalam demokrasi. hlm. karena pucuk kendali roda pemerintahan ada di tangan eksekutif. Pembubaran Partai Politik. 5 Sabastian Salang.Maret 2008 mekanisme pelembagaan yang bernama partai politik. hlm. 59. 4 Institute For Multyparty Democracy (IMD). Suatu Kerangka Kerja Pengembangan Partai Politik yang Demokratis. dalam Jimly Asshiddiqie. derajat pelembagaan partai politik itu sangat menentukan kualitas demokratisasi kehidupan politik suatu negara.

berbangsa. Partai Politik. Partai Politik. hlm. penghimpun. dan kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik disosialisasikan kepada konstituen untuk mendapatkan feedback berupa dukungan dari masyarakat luas. visi. hlm. dan kebijakan partai politik yang bersangkutan. Berbagai kepentingan itu diserap sebaik-baiknya oleh partai politik menjadi ide. 6. Dalam UU No. Terkait dengan komunikasi politik itu. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. 2 Tahun 2008 tentang Ibid. 59. visi. (ii) penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. UU No. Ide. (iii) penyerap. UU No. Op. Partai dibentuk memang dimaksudkan menjadi kendaraan yang sah untuk menyeleksi kader-kader pemimpin12 dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan kesetaraan dan keadilan gender. 60. Sebagai sarana komunikasi politik. partai politik juga berperan penting dalam melakukan sosialisasi politik. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. ide dan kebijakan atau aspirasi kebijakan itu diadvokasikan sehingga dapat diharapkan mempengaruhi atau menjadi materi9 dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. Ibid. (iv) partisipasi politik warga negara Indonesia. Terkait dalam sosialisasi itu partai juga berperan sangat penting dalam rangka pendidikan politik10 bagi masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. hlm. 6. dan penyalur aspirasi politik masyarakat. dan bernegara. dan (iv) sarana elaborasi pilihan-pilihan kebijakan.8 Kesemua fungsi partai politik tersebut sama-sama terkait satu dengan yang lainnya. partai berperan sangat penting dalam upaya mengartikulasikan kepentingan atau political interests yang terdapat atau kadang-kadang tersembunyi dalam masyarakat. hlm. Setelah itu.. 3 .11 Fungsi selanjutnya partai politik adalah sebagai sarana rekrutmen politik.Sistem Multipartai di Indonesia (ii) sarana pembentukan pengaruh terhadap perilaku memilih (voting patterns). 2 Tahun 2008 tentang Jimly Asshiddiqie. 6.cit. bahwa fungsi Partai Politik adalah sebagai sarana: (i) pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas. hlm.13 8 9 10 11 12 13 UU No. 60. (iii) sarana rekrutmen politik. dan (v) rekrutmen politik. hlm.

. 122-123. yang dapat digolongkan menjadi tiga unit.Maret 2008 Fungsi keempat adalah pengatur dan pengelola konflik. Setiap partai merupakan bagian dari sistem kepartaian yang diterapkan di suatu negara. hlm.15 Untuk melihat sistem kepartaian suatu negara. Meneropong Indonesia 2020 (Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate. Pendekatan numerik ini pernah dikembangkan Maurice Duverger (1950-an). 16 FS. Sistem kepartaian memberikan gambaran tentang struktur persaingan di antara sesama partai politik dalam upaya meraih kekuasaan dalam pemerintahan. dalam Soegeng Sarjadi dan Sukardi Rinakit. Sartori juga mengklasifikasikan sistem kepartaian 14 15 Jimly Asshiddiqie. dalam suatu sistem tertentu. dan arah perilaku politiknya. 63. Peranan ini berupa sarana agregasi kepentingan yang berbeda-beda melalui saluran kelembagaan partai politik.14 Sistem Kepartaian Dalam demokrasi. partai berinteraksi dengan sekurang-kurangnya satu partai lain atau lebih sesuai dengan konstruksi relasi regulasi yang diberlakukan. fungsi pengelola konflik dapat dikaitkan dengan fungsi integrasi partai politik. Meneropong Sistem Kepartaian Indonesia 2020. melihat partai sebagai unit-unit dan sebagai satu kesatuan yang terlepas dari kesatuan-kesatuan lain. 1 . Swantoro. 2004). Yves Meny dan Andrew Knapp. Sabastian Salang. 4 . jarak diantara kutub (bipolar). ada dua pendekatan yang dikenal secara umum. hlm. Op. Menurut Duverger. yakni sistem partai tunggal.. Pertama. cara lain dapat dijadikan pendekatan yaitu teori yang dikembangkan Giovani Sartori (1976). 61. ilmuwan politik kebangsaan Prancis. yaitu jumlah kutub (polar).16 Selain itu. Op. Partai mengagregasikan dan mengintegrasikan beragam kepentingan itu dengan cara menyalurkannya dengan sebaik-baiknya untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik kenegaraan. sistem kepartaian dapat dilihat dari pola perilaku dan interaksi antarsejumlah partai dalam suatu sistem politik. hlm. sistem dwi partai. ilmuwan politik Italia. yang didasarkan pada tiga hal. Sistem kepartaian yang melembaga cenderung meningkatkan stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan.Vol. Menurut Sartori. dan sistem multipartai. melainkan jarak ideologi antara partai-partai yang ada. 5 No. sistem kepartaian tidak dapat digolongkan menurut jumlah partai atau unitunit.cit.cit. partai berada dan beroperasi dalam suatu sistem kepartaian tertentu.

di era demokrasi parlementer tersebut telah terjadi tingkat kompetisi yang tinggi. 17 Dalam sejarahnya.20 Memasuki dekade 1970-an sampai Pemiliu 1971. hlm. Dengan sistem pemilu proporsional. Sabastian Salang. Padahal kalangan partai tidak yakin akan memenangkan pemilu. Golkar menang mutlak lebih dari 63%.Sistem Multipartai di Indonesia menjadi tiga. pluralisme moderat..cit. Tetapi. hlm. Ibid. PKI. Waktu itu ada sembilan partai politik yang tersisa dari Pemilu 1955. 123. sistem kepartaian menerapkan sistem multipartai. yaitu ABRI tidak ikut pemilu dan Golkar belum berpengalaman dalam pemilu. dan pluralisme ekstrem. Op. NU. Kedua pendekatan ini bisa digunakan untuk melihat sistem kepartaian Indonesia di masa lalu. hlm. 67.18 Namun. hlm. Masyumi. yaitu pluralisme sederhana. Indonesia telah mempraktikkan sistem kepartaian berdasarkan pada sistem multipartai. Jumlah partai yang berlaga dalam pemilu itu lebih dari 29 partai. 17 18 19 20 Ibid. ikut berlaga dalam Pemilu 1971. Indonesia masih menganut sistem multipartai sederhana (pluralisme sederhana).19 Memasuki era demokrasi parlementer yang ditandai dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden yang tujuannya untuk mengakhiri konflik ideologi antarpartai. 67. yaitu Orde Baru. Kemenangan itu menandakan Indonesia memasuki era baru. Pada masa itu. Meski dalam derajat dan kualitas yang berbeda. 149. dan mendatang. Pemilu dekade 1950-an 1960-an adalah sistem multipartai tanpa ada pemenang mayoritas. Ibid. Pada pemilu pertama tahun 1955-sebagai tonggak kehidupan politik pasca kemerdekaan hingga sekarang menghasilkan lima partai besar: PNI. Fenomena menarik dalam Pemilu 1971 ini adalah faktor kemenangan Golkar yang sangat spektakuler di luar dugaan banyak orang. kini. namun tidak terjadi kompetisi. Hal itu didasari pada dua hal. 5 . Kesembilan partai ditambah Golkar. setelah pemilu digelar. dan PSI. menghasilkan anggota legislatif yang imbang antara Jawa dan Luar Jawa. ternyata justru bertolak belakang. ditambah independen.

Proses evaluasi diri perlu dilakukan. hlm. 1 . hlm..22 Pada masa reformasi. PAN. 6 . Indonesia kembali menerapkan sistem multipartai. Ibid. sistem kepartaian masih disebut sistem multipartai sederhana. 21 22 23 24 25 Ibid. Golkar. hlm. dan PBB. Sebagai sebuah proses pembelajaran.24 Setelah dua kali pemilihan umum paska reformasi dengan sistem multipartai. Ibid. Op. Dari jumlah itu. yang menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon tertutup (stelsel daftar) diikuti 48 partai peserta pemilu. Indonesia bisa belajar banyak. baik partai-partai politik. tetapi lolos verifikasi hanya 48 partai.21 Karena Golkar menjadi partai hegemoni. Jumlah partai sekitar 140 buah. maupun sistem yang diterapkan. Sistem kepartaiannya multipartai. hasrat para politisi untuk mendirikan partai politik tersalurkan. PKB. Kenapa? Karena Golkar hanya berjuang demi status quo. atau sebaliknya.cit. 67. maka tentu ada yang salah dengan sistem yang diterapkan. untuk pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan pemilu secara langsung. Sehingga ketika reformasi memberikan ruang kebebasan. yakni PDI-P. dan tidak ada partai pemenang pemilu yang memperoleh suara mayoritas. 157. 67 Ibid. hlm. Apakah partai-partai paska reformasi telah berperan sebagai pilar demokrasi yang mendorong demokrasi kita lebih efektif dan pemerintahan yang stabil. PPP. hlm.23 Pada Pemilu 1999. Bila tidak. 67. Keberhasilan pemilu secara langsung telah mendaulat Indonesia sebagai negara paling demokrasi ketiga di dunia setelah Amerika dan India. namun antarpartai tidak terjadi persaingan. Pasalnya.Maret 2008 Pada era orde baru. 5 No. Hal ini dapat dipahami karena selama puluhan tahun kebebasan berekspresi dan berserikat serta berkumpul dikekang. Sehingga ada pendapat bahwa secara riil sistem kepartaian menjurus ke sistem partai tunggal (single entry). 156. Sistem kepartaian secara ideal harus mendorong pemerintahan yang stabil dan demokrasi yang semakin efektif. FS. fenomena menjamurnya partai politik mestinya dilihat sebagai sesuatu yang wajar di tengah masyarakat yang sedang mengalami euforia politik.25 Pemilu 2004 adalah pesta rakyat yang sangat bersejarah bagi Indonesia. keluar enam partai besar pemenang pemilu. Swantoro.Vol.

7 . Secara sah. dan demokratis. maupun sistem yang diterapkan.27 Duverger berpendapat. Proses evaluasi diri perlu dilakukan. maka tentu ada yang salah dengan sistem yang diterapkan26 Penyederhanaan Partai Politik Sistem kepartaian yang kita bangun haruslah diarahkan untuk terwujudnya sebuah tata kelola sistem pemerintahan presidensil yang didukung oleh jumlah partai yang sedikit di tingkat suprastruktur. Alasannya karena sistem multipartai telah mengalami perluasan fragmentasi. 2006). sistem pemilu menjadi alat rekayasa yang dapat menyeleksi dan memperkecil jumlah partai politik dalam jangka panjang. Bila tidak. demokrasi Indonesia dengan sistem multipartai belum signifikan memberikan harapan bagi pengelolaan tata pemerintahan yang efektif dan efisien. Sistem kepartaian secara ideal harus mendorong pemerintahan yang stabil dan demokrasi yang semakin efektif. sehingga mempersulit proses pengambilan setiap keputusan di legislatif. hlm. Berkaca pada pengalaman hampir sepuluh tahun paska reformasi. hlm. Karena itu. tidak heran bila berbagai pihak mulai mendorong penerapan sistem multipartai sederhana. Sementara dalam sistem proporsional cenderung lebih mudah mendorong fragmentasi partai 26 27 Ibid. Denny JA. Dengan penerapan sistem distrik dapat mendorong ke arah integrasi partai-partai politik dan mendorong penyederhanaan partai tanpa harus melakukan paksaan. karena itu hak asasi yang harus dihormati. Apakah partai-partai paska reformasi telah berperan sebagai pilar demokrasi yang mendorong demokrasi kita lebih efektif dan pemerintahan yang stabil. Partai Politik pun Berguguran (Yogyakarta: LKIS. legal. atau sebaliknya. Persoalannya. bahwa upaya mendorong penyederhanaan partai politik dapat dilakukan dengan menggunakan sistem distrik. Pembatasan partai politik dilakukan dengan menerapkan berbagai prosedur sistem pemilu. Indonesia bisa belajar banyak. baik partaipartai politik. bagaimana mendorong proses penyederhanaan partai harus dilakukan? Alam demokrasi tentu tidak menggunakan larangan secara langsung bagi pendirian partai politik.Sistem Multipartai di Indonesia Setelah dua kali pemilu paska reformasi dengan sistem multipartai. 67. 16.

agar menjadi mayoritas. sistem distrik ini memang merangsang partai kecil untuk membubarkan diri... akan mendorong partai-partai untuk menyisihkan perbedaan-perbedaan dan mengadakan kerjasama. Dalam perjalanan waktu. Dengan berkurangnya partai. 68. distrik itu akan diwakili oleh tokoh partai A. Banyaknya jumlah distrik itu sebanyak jumlah anggota parlemen yang akan dipilih. Mengingat realitas sosial masyarakat Indonesia yang heterogen sehingga cukup 28 29 30 31 32 Sabastian Salang. Selain itu. namun untuk saat ini sistem tersebut belum menjadi pilihan bagi Indonesia. 1 . Sabastian Salang. 16. Tokoh dari Partai A hanya menang 25%. Partai minoritas tidak akan pernah mendapatkan wakilnya.30 Metode the winner takes all ini akibatnya menjadi insentif negatif bagi partai kecil.Maret 2008 dan timbulnya partai-partai politik baru. Op. pada gilirannya akan mempermudah terbentuknya pemerintahan yang stabil dan meningkatkan stabilitas nasional. Op. 16. dan dengan demikian ia akan mendorong untuk memperjuangkan aspirasi mereka. 8 . teritori sebuah negara dibagi menjadi sejumlah distrik.cit.29 Dalam sistem distrik berlaku prinsip the winner takes all. Ibid. Setiap distrik akan dipilih satu wakil rakyat.. sistem ini hanya menyisakan dua partai besar saja. hlm. Katakanlah.Vol. Sistem ini dianggap mempunyai akibat memperbanyak jumlah partai. Sembilan tokoh lainnya akan tersingkir.32 Meskipun sistem distrik diakui dapat menyederhanakan jumlah partai politik. 68. hlm. Op. Ibid.cit. 5 No. dalam sebuah distrik ada sepuluh partai yang ikut serta. Dalam studi perbandingan. atau menggabungkan diri dengan partai lain.28 Dalam sistem distrik. hlm.31 Kelebihan sistem distrik dalam menyederhanakan jumlah partai karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik (daerah pemilihan) hanya satu. Walau hanya mendapatkan suara 25% suara. hlm. namun tokoh partai lain memperoleh suara yang lebih kecil. 16. hlm. sistem distrik dapat meningkatkan kualitas keterwakilan karena wakil yang terpilih dapat dikenal oleh penduduk distrik sehingga hubungan dengan konstituen lebih erat. Denny JA.cit. Partai kecil lainnya terkubur dengan sendirinya.

karena partai lama mengubah namanya atau menambah satu kata di belakang nama partai sebelumnya. PPP. Peserta pemilu yang lolos berdasarkan perolehan suara ada enam partai. Ibid. Indonesia menerapkan electoral threshold sebesar 2% dari suara sah nasional. Dalam UU No. untuk turut kembali dalam pemilihan umum berikutnya harus mencapai angka Electoral Threshold itu. PAN. yakni PDI P. Ibid. Artinya. DPD. Artinya berapapun kursi yang diperoleh di parlemen. Tetapi. Karena itu. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum DPR. 70. dan DPRD. apakah dengan menerapkan sistem proporsional jumlah partai politik secara alami dapat terkurangi? Sistem proporsional memiliki mekanisme tersendiri untuk menyederhanakan jumlah partai politik. pilihan untuk tetap menerapkan sistem proporsional merupakan suatu keputusan yang relevan untuk konteks Indonesia saat ini. partai yang tidak memenuhi electoral threshold tetap ikut pemilu berikutnya dengan karakter partai serta pengurus partainya tidak berubah. dalam praktiknya tidak demikian. golongan minoritas dikhawatirkan tidak terakomodir. 69. hlm. partai politik yang gagal memperoleh batasan suara minimal berarti gagal untuk mengikuti pemilu berikutnya.Sistem Multipartai di Indonesia sulit menerapkan sistem distrik. 70. hanya keenam partai yang berhak mengikuti Pemilu 2004. Electoral Threshold didefinisikan sebagai ambang batas syarat angka perolehan suara untuk bisa mengikuti pemilu berikutnya. 9 .35 33 34 35 Ibid.34 Secara prosedural. Golkar. partai-partai di luar keenam partai itu tidak diperkenankan mengikuti Pemilu 2004. hlm. Karena dari golongan-golongan yang ada.33 Pertanyaannya. jadi. Pada pemilu 1999. dalam era reformasi ini perundang-undangan menerapkan Electoral Threshold pada Pemilu 1999 dan 2004. dan terbukti dari 48 partai politik peserta Pemilu 1999 berkurang menjadi 24 partai politik pada Pemilu 2004. Dengan demikian. Penyederhanaan partai politik dalam rangka menghasilkan parlemen dan pemerintahan yang efektif. dan PBB. PKB. hlm.

dan DPRD. DPD. partai yang bisa mengikuti Pemilu 2009 hanya tujuh partai. 10 . Jika kita lakukan simulasi dengan data Pemilu 2004. PKB. PPP. telah mengundang sejumlah pakar dan ahli untuk memberikan pemikiran-pemikiran yang menyatakan bahwa Electoral Threshold itu tidak dikenal di negara manapun.5% dari jumlah suara nasional. tanpa mempermasalahkan berapa jumlah kursi hasil konversi suara yang dimiliki partai politik tersebut. Sehingga secara teoritis. yaitu Golkar. sesungguhnya yang ada dalam sistem pemilu adalah Parliamentary Threshold yang artinya adalah syarat ambang batas perolehan suara parpol untuk bisa masuk ke parlemen. Dengan threshold 3%. Hal ini juga akan membuat fungsi-fungsi parpol yang dirumuskan dalam UU No. Artinya penerapan Electoral Threshold ternyata tidak membuat partai mengerucut dan mendukung tata kelola parlemen yang efektif . Hal ini yang mengurangi keefektifan parlemen dalam bekerja karena lambat. Jika suara partai politik itu mencapai angka 2. Sutradara Gintings dan Prof. hlm. Partai Demokrat. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik akan berjalan efektif karena sebelum parpol itu melakukan fungsi rekrutmen (penentuan calon legislatif). Inilah teori untuk menghasilkan parlemen yang efektif. Semangat dari peningkatan threshold yang semakin besar yaitu untuk membangun sistem multipartai sederhana dengan pendekatan yang lebih moderat. Sehingga dengan Parliamentary Threshold akan terjaring sejumlah partai yang betul-betul legitimate. atau menimbulkan anomali. saya kutip dari saudara Dr. dan PKS. 36 Ibid. 5 No. Jadi. maka di parlemen hanya akan ada 7 partai. Itulah latar belakang dari Panitia Khusus UU No. Dr. PAN. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. 71. lalu dibagi dengan jumlah suara secara nasional. dengan sendirinya partai politik akan mengukur diri sampai sejauh mana dukungan rakyat kepadanya. setelah hasil jumlah suara masing-masing partai politik diketahui seluruhnya.Maret 2008 Pemilu 2004 menerapkan angka electoral threshold menjadi 3% dari perolehan suara sah nasional. Sehingga sebelum pemilu diselenggarakan. maka dia berhak menempatkan wakilnya di parlemen. 1 . Hal ini dilakukan untuk lebih memperketat partaipartai yang mengikuti Pemilu berikutnya. PDI P.Vol.36 Tetapi faktanya di parlemen ada 17 partai. Ryaas rasyid saat pembahasan UU tersebut.

dan hak partai politik untuk ikut pemilu. Adalah hak rakyat untuk membuat partai politik. fungsi edukasi. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. Hal ini menjadi tidak mungkin terwujud jika pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada saat yang bersamaan karena isu keduanya berbeda sehingga perilaku pemilih juga tidak bisa dipastikan. adanya sequence (jeda waktu) antara keduanya. Karena hanya partai politik dan gabungan partai politik yang berhasil masuk parlemen-lah yang berhak mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. 11 . pemilihan umum merupakan rangkaian tak terpisahkan antara pemilihan legislatif dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Agar partai politik dibentuk tidak hanya sekadar untuk ikut pemilu tapi partai politik dibuat agar fungsi-fungsi partai politik dapat berjalan sebagaimana mestinya. dalam sistem multipartai di Indonesia. adalah untuk memastikan gambaran riil partai politik pendukung di parlemen terhadap pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih. DPD. karena persoalannya bukanlah di UUD 1945. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dengan UU No. dan DPRD. Tetapi untuk masuk ke parlemen ada mekanisme yang harus ditempuh yaitu Parliamentary Threshold. Selain itu mereka juga akan berkarya dan mengabdi kepada masyarakat. fungsi agregasi dan fungsi kaderisasi. Hal ini akan mengakibatkan tidak terjadinya hubungan yang signifikan antara parlemen dengan presiden dan wakil presiden sehingga tidak terwujud tata kelola sistem pemerintahan yang stabil. Disinilah adanya korelasi dan hubungan yang sangat signifikan antara UU No. Artinya.Sistem Multipartai di Indonesia partai politik pasti akan lebih dulu menjalankan fungsi sosialisasi. Dan rakyat pun akan kembali menghargai dan menghormati partai politik karena sesungguhnya demokrasi tidak akan mungkin tanpa adanya partai politik. sehingga parpol menjadi sarana dan wahana dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi keniscayaan. Sehingga keluhan yang menyatakan “presiden terbelenggu” menjadi tidak relevan. Kesimpulan Tujuan utama pemilihan umum adalah untuk menghasilkan parlemen yang legitimate dan pemerintahan yang kuat. tetapi lebih pada produk dari pemilihan umum yang belum secara signifikan memposisikan dan menempatkan sistem multipartai pada proporsi yang sebenarnya.

1 . 5 No. Karena dalam sistem presidensil itu tidak dikenal jumlah partai yang banyak.Vol.Maret 2008 Inilah sistem multipartai yang kita bangun untuk diarahkan menuju terbentuknya sebuah rezim pemerintahan presidensil yang efektif. sebuah keharusan bagi partai politik dan gabungan parpol di parlemen yang mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk masing-masing menyamakan visi dan misinya agar selanjutnya dijadikan dokumen negara yang harus dipertanggungjawabkan dan diumumkan kepada publik. 12 . Selain itu.

13 . PRESIDENSIAL DAN PERSOALAN EFEKTIVITAS PEMERINTAH Oleh: Partono. Sistem presidensial dapat mewujudkan pemerintah yang efektif dan stabil jika dikombinasikan dengan sistem kepartaian yang sederhana. tidak dapat dinafikan bahwa faktor personal pejabat presiden juga mempengaruhi efektivitas dan stabilitas pemerintahan yang dipimpinnya.SISTEM MULTIPARTAI. pemilu 2009. Contoh yang paling mudah diingat adalah ketika Presiden Abdurrahman Wahid diturunkan dari jabatannya oleh MPR. MA1 Abstrak Artikel ini berpendapat bahwa salah satu faktor utama permasalahan efektivitas dan stabilitas pemerintah saat ini disebabkan oleh kombinasi sistem pemerintahan dan sistem kepartaian. tidak mendukung terciptanya sebuah pemerintahan yang efektif dan stabil. adalah bagaimana melanjutkan reformasi di bidang politik. yang ditujukan untuk memperkuat stabilitas dan meningkatkan efektifitas dalam mengimplementasikan kebijakankebijakan pemerintah. bahkan pemerintah terpilih dapat diberhentikan ditengah masa kerjanya. Kebijakankebijakan pemerintah tidak efektif di implementasikan. Pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono tidak sedikit kebijakan-kebijakan atau program-program pemerintah mendapatkan 1 Penulis adalah Peneliti Senior CETRO. stabilitas dan efektivitas pemerintahan dinilai lemah. SIP. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat lembaga. Tidak sedikit ahli politik berpendapat bahwa pasca turunnya Presiden Suharto. sistem presidensial dan multipartai. Pendahuluan Perdebatan paling seru menjelang di selenggarakannya hajatan nasional. khususnya sistem pemilu dan pemerintahan. Meskipun demikian. Artikel ini kemudian menyimpulkan bahwa untuk menciptakan sebuah pemerintah yang efektif dan stabil maka diperlukan sebuah perubahan di dalam sistem politik di Indonesia.

misalnya pengangkatan Gubernur BI. dan sebagainya. Definisi Sistem Kepartaian Sistem multi partai adalah salah satu varian dari beberapa sistem kepartaian yang berkembang di dunia modern saat ini. Oleh karena itu dalam proses amandemen UUD 1945 kekuasaan presiden dikurangi. Kedua adalah personal dan kapasitas yang menjadi presiden. rencana meningkatkan BBM. Pertama adalah sistem politik yang diimplementasikan oleh Indonesia. Posisi presiden yang terlalu dominan di dalam sistem politik Indonesia dianggap sebagai salah satu faktor yang mendorong munculnya pemerintahan yang otoriter. disisi lain kekuasaan parlemen ditambah dan dipertegas. Penulis berpendapat bahwa masalah dari ketidakefektifan implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah karena terdapat hubungan yang tidak harmonis antara lembaga eksekutif dengan parlemen. Selain itu. 1 . 5 No. akibat dari amandemen adalah hubungan antara kedua lembaga ini menjadi disharmoni. tidak mendukung terciptanya pemerintahan yang stabil dan efektif. Akibat dari ketidakharmonisan hubungan antara kedua lembaga ini menyebabkan implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah tidak berjalan dengan efektif. Untuk mempermudah memahami sistem partai politik Heywood kemudian memberikan kata kunci untuk membedakan tipe-tipe sistem kepartaian. Amandemen ini sebenarnya dilakukan untuk menjamin terjadinya proses checks and balances antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Di dalam tulisan ini penulis bermaksud mengidentifikasi hubungan antara sistem multipartai dan sistem presidensial kaitannya dengan permasalahan efektivitas dan stabilitas pemerintah.Maret 2008 perlawanan bahkan penolakan dari DPR. Andrew Heywood (2002) berpendapat bahwa sistem partai politik adalah sebuah jaringan dari hubungan dan interakasi antara partai politik di dalam sebuah sistem politik yang berjalan. Kata kunci tersebut adalah jumlah partai politik yang tumbuh atau 14 . Berbaliknya pendulum politik di Indonesia pasca turunnya Presiden Suharto tidak lepas dari hasil amandemen UUD 1945. tulisan ini memberikan beberapa alternatif jawaban yang dapat diimplementasikan di Indonesia dan memberikan rekomendasi pilihan jawaban yang paling cocok dalam konteks Indonesia. Akar permasalahan ini paling tidak ada 2 (dua) faktor. Namun dalam kenyataanya.Vol. sistem presidensial dan sistem multipartai.

Sebaliknya. Sartori (1976) menyatakan bahwa yang paling terpenting dari sebuah sistem kepartaian adalah sebuah pengaturan mengenai hubungan partai politik yang berkaitan dengan pembentukan pemerintahan. jika di dalam negara tersebut tumbuh lebih dari dua partai politik maka dikatakan sebagai sistem multipartai. regional. Parameter “jumlah partai politik” untuk menentukan tipe sisem partai politik pertama kali dikenalkan dan dipopulerkan oleh Duverger pada tahun 1954 dimana Duverger membedakan tipe sitem politik menjadi 3 sistem. Praktek Sistem Kepartaian di Indonesia Konsititusi kita (UUD 1945) tidak mengamanatkan secara jelas sistem kepartaian apa yang harus diimplementasikan. Sedangkan dimensi horisontal ditentukan oleh pembedaan level pemerintahan dan level pemilu. Meski demikian. dan lokal). yaitu sistem partai tunggal. Selanjutnya Bardi dan Mair menjelaskan bahwa tipe partai politik dipengaruhi oleh 3 (tiga) dimensi.Sistem Multipartai. etinisitas. Pasal 15 . Dimensi fungsional disebabkan oleh karena pembedaan arena kompetisi (nasional. sistem dua partai. Namun jika terdapat dua partai politik maka sistem partainya adalah sitem dua partai. Kalau di negara tersebut hanya terdapat satu partai politik yang tumbuh atau satu partai politik yang dominan dalam kekuasaan maka dapat dipastikan bahwa sistem tersebut adalah sistem partai tunggal. Dimensi veritikal yang mempengaruhi sistem partai politik dicontohkan dengan adanya polarisasi dan segmentasi di dalam masyarakat pemilih (bahasa. pada perkembangan selanjutnya pendekatan yang hanya berdasarkan jumlah dan interaksi antar partai politik tersebut mendapat kritikan dan ketidaksetujuan dari beberapa ahli misalnya Bardi and Mair (2008) dan Blau (2008). Bardi dan Mair berpendapat bahwa sistem kepartaian tidak bisa ditentukan semata-mata oleh jumlah partai yang ikut dalam pemilu akan tetapi sebagai fenomena yang multi dimensi. agama dan lain-lain). horisontal dan fungsional. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah eksis yang mengikuti kompetisi mendapatkan kekuasaan melalui pemilu. dan sistem multipartai. Dari definisi yang diperkenalkan oleh Duverger tersebut kita dengan mudah menentukan sistem partai politik di sebuah negara. yaitu vertikal. Meskipun demikian konstitusi mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia menerapkan sistem multipartai. dan secara lebih specifik apakah kekuatan mereka memberikan prospek untuk memenangkan atau berbagi (sharing) kekuasaan pemerintah.

Masyumi (20. Keputusan Wapres ini juga ditujukan untuk mempersiapkan penyelenggaraan pemilu yang pertama pada tahun 1955. Surat Keputusan Wakil Presiden M. Sejak Suharto menjadi presiden pada tahun 1967 partai politik dianggap sebagai penyebab dari ketidakstabilan politik yang terjadi pada tahun 1950an .wikipedia. Pada tahun 1974 Presiden Suharto melakukan restrukturisasi partai politik.92%). Oleh karena itu agenda yang penting untuk menciptakan pemerintahan yang stabil adalah melakukan penyederhanaan partai politik. yaitu melakukan penyederhanaan partai melalui penggabungan partaipartai politik. Kenyataanya.Vol. PPP. PDI merupakan hasil penggabungan dari partai-partai nasionalis dan agama 2 Wikipedia yang diakses pada tanggal 12 Mei 2008. PPP merupakan hasil fusi dari beberapa partai politik yang berasaskan Islam (NU. NU (18. termasuk partai pemerintah (Golkar) ikut berkompetisi memperebutkan kekuasaan.04%). Pada pemilu pertama di masa Orde Baru.41%). dapat diakses di http://id. 16 . Parmusi. Parkindo (2.66%).Maret 2008 tersebut adalah pasal 6A (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Pasangan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.36%). PKI (16. Partai Katolik (2. PSI (1.43%)2. dan IPKI (1.89%). 1 .org/wiki/ Pemilu_1955.32%). Dari pasal tersebut tersirat bahwa Indonesia menganut sistem multipartai karena yang berhak mencalonkan pasangan calon presiden dan wakil presiden adalah partai politik atau gabungan partai politik. PSII dan Perti). Beberapa partai politik yang mendapatkan suara signifikan pada pemilu pertama antara lain PNI (22. Indonesia telah menjalankan sistem multi partai sejak Indonesia mencapai kemerdekaan. Hasil dari restrukturisasi partai politik tersebut adalah munculnya tiga partai politik (Golkar. terdapat 10 partai politik. 5 No. dan PDI). tahun 1971. Pada pemilu tersebut diikuti oleh 29 partai politik dan juga peserta independen (perseorangan).99%). Hatta No. Dengan demikian dari pasal tersebut di dalam pemilu presiden dan wakil presiden paling sedikit terdapat tiga partai politik.1960an. Kata “gabungan partai poltitik” artinya paling sedikit dua partai politik yang menggabungkan diri untuk mencalonkan presiden untuk bersaing dengan calon lainnya yang diusung oleh partai politik lain. PSII (2. X/1949 merupakan tonggak dilaksanakannya sistem multipartai di Indonesia.

Dari ratusan parpol tersebut hanya 48 partai yang berhak mengikuti pemilu 1999.Sistem Multipartai. Indonesia dikategorikan sebagai negara yang menganut sistem multipartai. PKB. Meskipun persentasi 17 . Meskipun dari sisi jumlah partai politik yang berkembang di Indonesia pada saat itu. Hal ini dikarenakan kondisi kompetisi antar partai politik yang ada pada saat itu. yaitu 24 partai politik. Berkurangnya jumlah parpol yang ikut serta di dalam pemilu 2004 karena pada pemilu tersebut telah diberlakukan ambang batas (threshold). Liberalisasi politik dilakukan karena partai politik warisan Orde Baru dinilai tidak merepresentasikan masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Namun jika dianalisis lebih mendalam ternyata kompetisi diantara ketiga partai politik di dalam pemilu tidak seimbang. Parkindo. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu diatur bahwa partai politik yang berhak untuk mengikuti pemilu berikutnya adalah partai politik yang mendapatkan sekurang-kurangnya 2% jumlah kursi DPR. banyak pengamat politik berpendapat bahwa sistem kepartaian yang dianut pada era Orde Baru adalah sistem partai tunggal. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah non-Islam (PNI. Partai politik yang tidak mencapai ambang batas tersebut dapat mengikuti pemilu berikutnya harus bergabung dengan partai lain atau membentuk partai politik baru. IPKI. Kalau pemilu 1999 hanya menghasilkan lima parpol yang mendapatkan suara signifikan dan mencapai Electoral Threshold (ET). Ada juga yang menyebut sistem kepartaian era Orde Baru adalah sistem partai dominan. Peserta pemilu tahun 2004 berkurang setengah dari jumlah partai politik pemilu 1999. Salah satu reformasi dibidang politik adalah memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendirikan partai politik yang dianggap mampu merepresentasikan politik mereka. Benar. Sedangkan Golkar adalah partai politik bentukan pemerintah Orde Baru. PPP. Gerakan reformasi 1998 membuahkan hasil liberalisasi disemua sektor kehidupan berbangasa dan bernegara. termasuk di bidang politik. Katolik). Di dalam UU No.Perjuangan. Ambang batas tersebut di Indonesia dikenal dengan Electoral Threshold. Pemilu 1999 menghasilkan beberapa partai politik yang mendapatkan suara yang signifikan dari rakyat Indonesia adalah PDI. jika jumlah partai politik yang ada adalah lebih dari dua parpol sehingga dapat dikategorikan sebagai sistem multipartai. Golkar mendapatkan “privelege” dari pemerintah untuk selalu memenangkan persaingan perebutan kekuasaan. Partai Golkar. dan PAN. Hasilnya tidak kurang dari 200 partai politik tumbuh di dalam masyarakat.

Selain kedua ciri utama yang dikemukakan oleh Mainwaring tersebut. Heywood memberikan beberapa ciri lain dari sebuah sistem presidensial. Ciri pertama adalah kepala pemerintahan (presiden) dipilih secara terpisah dengan pemilihan anggota parlemen. Ketujuh partai tersebut adalah Partai Golkar. Di beberapa negara yang menganut sistem presidensial parlemen memiliki hak impeachment. Namun demikian hak impeachment parlemen ini disertai dengan persyaratan yang sangat berat. PKS. PKB. Ciri-ciri tersebut antara lain kepala negara dan kepala pemerintahan dijabat oleh seorang presiden. di dalam sistem pemerintahan presidensial. Partai Demokrat. Ciri yang kedua adalah kepala pemerintah dipilih untuk memerintah dengan periode waktu yang tetap (misalnya 5 tahun). 1990). Pengaturan tersebut terdapat di dalam Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara dan Bab IV tentang Kementerian Negara. dan di dalam sistem presidensial terdapat pemisahan personel yang ada di parlemen dan di pemerintah. Pemilu 2004 menghasilkan lebih banyak partai politik yang mendapatkan suara signifikan dan lolos ET untuk pemilu 2009. Sistem Presidensialisme di Indonesia Sistem presidensial paling tidak memiliki 2 (dua) ciri utama (Mainwarring. dan PAN.Maret 2008 ET dinaikan dari 2% menjadi 3% jumlah kursi DPR. presiden tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen. Selain ciri-ciri utama yang telah disebutkan oleh dua ilmuwan politik tersebut masih ada ciri lain yang tidak kalah penting. sebaliknya parlemen tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan/ memberhentikan presiden. 18 . PPP.Vol. Pemilu 2004 menghasilkan tujuh partai yang mencapai ambang batas tersebut. Dengan demikian hasil pemilu legislatif tidak menentukan kekuasaan pemerintah (eksekutif) secara langsung. yaitu hubungan antara lembaga keprisidenan dan lembaga parlemen. Berbeda dengan sistem kepartaian yang tidak diatur secara tegas oleh konstitusi. 1 . UUD 1945 secara tegas dan rinci mengatur sistem pemerintahan yang mengacu pada sistem presidensial. kekuasaan eksekutif berada di tangan presiden sedangkan kabinet yang terdiri dari menteri-menteri adalah pembantu dan bertanggungjawab kepada presiden. PDI. Indonesia adalah salah satu negara yang menganut sistem pemerintahan presidensial. Perjuangan. 5 No.

Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dipilih melalui pemilu yang terpisah dengan pemilu legislatif. pada tahun 2004 rakyat Indonesia pertama kali memilih kepala negara secara langsung. Pada rejim Orde Baru pemilihan presiden seolah-olah tidak memberikan kesan yang berarti bagi republik karena setiap sidang umum untuk memilih presiden dapat dipastikan anggota MPR secara aklamasi memilih kembali Presiden Suharto. Sebelum dilakukan amandemen UUD 1945 presiden dan wakil presiden dipilih melalui pemilihan oleh anggota MPR. Tidak sedikit program-program pemerintah yang harus 19 . Sistem pemilihan presiden dan wakil presiden yang dilakukan oleh anggota MPR sampai tahun 1999 dinilai kurang demokratis dan tuntutan untuk pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung pada saat itu semakin kuat. Akhirnya. anggota parlemen. salah satu materi yang diamandemen adalah presiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Akhirnya pada tahun 2001 terjadi amandemen ketiga terhadap UUD 1945. Pemilu presiden dan wakil presiden 2004 menghasilkan pemerintahan yang memiliki legitimasi yang kuat. dan pengamat politik bahwa pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yodoyono dinilai kurang atau tidak efektif dalam mengimplementasikan program-program yang dihasilkan di tengah-tengah masyarakat. Namun persoalan lain yang muncul adalah pemerintah terpilih tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa. Pertama kalinya anggota MPR memilih presiden dan wakil presiden melalui pemungutan suara. kuat dan stabil. Pemilihan presiden dan wakil presiden yang terjadi di Gedung DPR/MPR pada tahun 1999 kembali menjadi sorotan publik masyarakat Indonesia dan internasional. Banyak ahli yang berpendapat bahwa tidak efektifnya pemerintahan SBY disebabkan karena hubungan antara lembaga kepresidenan dan lembaga parlemen tidak baik. Ketidakmampuan pemerintah mengimplementasikan kebijakan-kebijakan publik disebabkan karena pemilu presiden secara langsung tidak menghasilkan pemerintahan yang efektif. Pemilu presiden secara langsung ini ditujukan untuk mendapatkan pemimpin pemerintahan dan negara yang memiliki legitimasi yang kuat karena dipilih dan didukung secara langsung oleh mayoritas rakyat Indonesia.Sistem Multipartai. Presidensialisme – Multi Partai dan Efektivitas Pemerintah Banyak pernyataan yang disampaikan oleh akademisi.

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

mendapatkan persetujuan dari parlemen mendapatkan resistensi dari DPR, bahkan ditolak oleh DPR. Dengan demikian program atau rencana kerja pemerintah tidak dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Problem efektivitas pemerintah yang dialami oleh Indonesia saat ini juga banyak dialami negara-negara lain yang menganut sistem pemerintahan presidensial. Mainwaring (2008) berpendapat bahwa hanya empat negara penganut sistem presidensial yang berhasil dalam menciptakan pemerintah yang efektif dan stabil. Keempat negara tersebut adalah Amerika Serikat, Costa Rica, Columbia, dan Venezuela. Sebaliknya, mayoritas negara-negara yang menganut sistem parlementer dinilai sukses dalam hal menjaga stabilitas dan efektifitas pemerintahan. Beberapa negara tersebut antara lain; Australia, Austria, Belgia, Kanada, Denmark, Jerman, Irlandia, Belanda, Inggris, Selandia Baru, Italia, dan sebagainya. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kombinasi antara sistem presidensial dan sistem multi partai yang dipraktekkan di Indonesia tidak mendorong terjadinya pemerintahan yang efektif dan stabil? Penulis tidak ingin menyatakan bahwa sistem pemerintahan memiliki korelasi langsung terhadap efektivitas pemerintahan, karena terdapat bukti kalau kedua sistem pemerintahan mampu menciptakan pemerintahan yang efektif. Meskipun tidak ada hubungan yang langsung antara sistem pemerintahan dengan efektifitas pemerintah, akan tetapi ada beberapa hal di dalam sistem presidensialime yang mempengaruhi efektivitas pemerintah. Dari segi menjaga stabilitas politik dan pemerintahan, Indonesia memiliki pengalaman yang berharga dan mampu menjawab bahwa sistem presidensial ternyata mampu menghasilkan stabilitas politik dan pemerintahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan sistem parlemen. Pelaksanaan demokrasi parlemen pada tahun 1950an ternyata dinilai gagal di dalam menciptakan stabilitas pemerintah dan politik yang akhirnya dinilai gagal menyejahterakan rakyat Indonesia. Salah satu alasan Amerika dengan sistem presidensial mampu menghasilkan pemerintah yang efektif karena ditopang oleh sistem dwi-partai. Sedangkan Indonesia mempraktekan sistem presidensial dan sistem multi partai. Ada beberapa alasan mengapa sistem presidensial dan sistem multi partai kurang berhasil di dalam menciptakan pemerintahan yang efektif dan stabil dibandingkan dengan sistem parlementer yang dikombinasikan dengan sistem dua partai. Menurut Mainawrring (2008) terdapat beberapa alasan/kelemahan
20

Sistem Multpartai, Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah

sistem presidensial yang dikombinasikan dengan sistem multipartai. Pertama, karena pemilihan presiden dan parlemen diselenggarakan secara terpisah maka kemungkinan presiden yang terpilih adalah presiden yang tidak mendapatkan dukungan mayoritas di parlemen. Hal ini terjadi di Indonesia, Presiden SBY berasal dari partai politik yang memiliki suara dan kursi yang kecil, Partai Demokrat mendapatkan suara 7,45%. Padahal di dalam sistem presidensial dukungan parlemen kepada presiden sangat berpengaruh di dalam proses pembuatan undang-undang dan pelaksanaan kebijakan dan program – program pemerintah. Semakin besar dukungan parlemen kepada presiden maka implementasi kebijakan publik oleh pemerintah akan semakin efektif. Sebaliknya semakin kecil dukungan parlemen maka efektifitas pemerintah di dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan akan semakin berkurang. Kedua, personal presiden – termasuk kepribadian dan kapasitas– merupakan salah satu faktor yang penting. Di dalam sebuah situasi yang sulit seperti keadaan krisis ekonomi saat ini presiden dihadapkan pada pekerjaan yang sangat banyak dan rumit. Oleh karena itu presiden juga dituntut memiliki kapasitas yang baik untuk menangani berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. Selain dituntut untuk memiliki kapasitas dalam menangani permasalahan bangsa, karena presiden membutuhkan support/dukungan dari parlemen maka presiden juga dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dan lobby yang baik dengan parlemen. salah satu faktor kurang efektifnya pemerintahan SBY saat ini oleh beberapa kalangan dinilai disebabkan kelemahan SBY di dalam mengelola dukungan dari koalisi partai politik yang mendukung pemerintah dan lemahnya/ketidakmampuan presiden melakukan komunikasi dan lobby politik dengan parlemen. Ketiga, di dalam sebuah sistem presidensial dan multipartai membangun koalisi partai politik untuk memenangkan pemilu adalah hal yang sangat wajar dan umum terjadi. Koalisi partai politik terjadi karena untuk mendapatkan dukungan mayoritas dari parlemen merupakan sesuatu yang sangat sulit. Namun masalahnya adalah koalisi yang dibangun di dalam sistem presidensial – khususnya di Indonesia – tidak bersifat mengikat dan permanen. Partai politik yang tergabung di dalam sebuah koalisi mendukung pemerintah bisa saja menarik dukungannya. Contohnya adalah PAN sebagai partai pendukung SBY tibatiba menarik dukungannya ditengah perjalanan. Tidak adanya jaminan bahwa koalisi terikat untuk mendukung pemerintah sampai dengan berakhirnya masa
21

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

kerja presiden. Partai-partai politik yang tergabung di dalam koalisi cenderung mengambil keuntungan dari pemerintah. Jika kebijakan atau program yang diambil oleh pemerintah tidak populer partai politik cenderung melakukan oposisi. Selanjutnya koalisi partai politik yang dibangun untuk mendukung calon presiden tidak mencerminkan dan menjamin dukungan semua anggota parlemen dari masing-masing partai politik yang ada di dalam koalisi kepada presiden. Partai politik tidak mampu melakukan kontrol terhadap para anggotaanggotanya di parlemen untuk selalu mendukung pemerintah. Hal yang menarik adalah tidak sedikit anggota DPR dari partai Golkar, PPP, PKB, yang memiliki wakilnya di kabinet melakukan perlawanan terhadap program-program yang akan dilakukan oleh pemerintah yang notabene harus di dukungnya. Di dalam sistem parlementer koalisi partai politik lebih bersifat permanen dan disiplin. Koalisi partai politik dibangun atas dasar parlemen. Anggota parlemen dari koalisi partai politik pendukung pemerintah yang tidak mendukung kebijakan pemerintah akan dikeluarkan dari parlemen. Selain ancaman dikeluarkan dari keanggotan parlemen oleh partai politiknya, jika anggota tidak mendukung program-program pemerintah agar berhasil perolehan kursi partai mereka akan terancam pada pemilu berikutnya. Sehingga suksesnya pemerintah terbentuk juga mempengaruhi citra partai politik pendukungnya. Jika koalisi parpol dalam sistem parlementer dibangun setelah pemilu, koalisi parpol dalam sistem presidensial dibangun sebelum pemilu presiden dilaksanakan. Akibatnya beberapa partai politik mendukung di dalam pencalonan akan tetapi tidak mendukung ketika calon tersebut terpilih. Hal ini disebabkan, misalnya, tidak terwakilinya partai tersebut di kabinet. Kalaupun terdapat perwakilan partai di kabinet, partai politik tersebut tidak bertanggungjawab atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Keempat adalah lemahya penegakan fatsoen politik politisi yang ada di eksekutif maupun parlemen. Tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat beberapa politisi di parlemen yang tidak mengindahkan etika dalam berpolitik. Beberapa anggota DPR terkesan ingin mencari popularitas di hadapan publik dengan melakukan berbagai kritikan-kritikan terhadap semua kebijakan pemerintah, tidak peduli apakah program dan kebijakan tersebut baik atau tidak bagi masyarakat. Perilaku inilah yang menyebabkan pengambilan keputusan di parlemen sulit untuk dicapai secara efektif. Sebaliknya beberapa menteri di
22

akan memerlukan perdebatan yang panjang dan pasti akan mendapatkan resistensi yang sangat besar. Banyaknya partai politik yang ikut dalam pemilu menyebabkan koalisi yang dibangun untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden terlalu “gemuk” karena melibatkan 23 . 2. Pilihan Solusi Masalah Kalau kita sepakat bahwa tujuan utama penataan sistem politik Indonesia ditujukan untuk menciptakan pemerintahan yang efektif dan stabil maka ada beberapa alternatif jawaban yang patut dipertimbangkan oleh para pembuat kebijakan. untuk dilakukan. Selain pengalaman traumatis yang pernah dialami Indonesia pada masa demokrasi parlementer. Tidak bisa dipungkiri kabinet hasil koalisi ini sering terjadi conflict of interest karena pejabat partai politik yang ditunjuk sebagai menteri tidak mengundurkan diri dari jabatan di partai politik. Atau bahkan para pembantu presiden tersebut lebih disibukkan dengan kegiatan konsulidasi internal partai politik dibandingkan dengan membantu presiden mengimplementasikan program-program pemerintah. Tidak mudah untuk melakukan amandemen terhadap UUD. Mengurangi Jumlah Partai Politik Jumlah partai politik yang terlalu banyak juga merupakan salah satu faktor penyumbang tidak efektifnya sistem pemerintah di Indonesia. Beberapa alternatif tersebut adalah sebagai berikut. Kalau bangsa Indonesia ingin berkiblat kepada Amerika di dalam menata sistem politiknya maka sistem multipartai haruslah diubah menjadi sistem dwi – partai. 1.Sistem Multipartai. Masyarakat Indonesia yang sifatnya plural tidak akan bisa direpresentasikan oleh dua partai politik saja. UUD 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia adalah presidensial. kalau tidak dibilang mustahil. Mengubah Sistem Presidensial menjadi Sistem Parlemen Sepertinya pilihan pertama ini sangat sulit. Pilihan ini adalah tidak realistik untuk dipilih. Mengubah Sistem Kepartaian Contoh negara yang mengimplementasikan sistem presidensial yang sukses adalah Amerika dimana sistem presidensial di dukung oleh sistem dwi – partai. Tawaran solusi ini sepertinya juga sulit untuk direalisasikan karena akan melawan arus demokrasi. 3. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah kabinet lebih menunjukkan loyalitas kepada ketua partainya dibandingkan dengan kepada presiden.

Jika saja partai politik yang ikut serta pemilu tidak banyak. maka koalisi parpol yang dibangun juga tidak akan menjadi “gemuk”. Usulan solusi ini lebih moderat jika dibandingkan dengan pilihan 1 dan 2 karena masih mempertahankan sistem presidensial dan sistem multi partai. Presiden terpilih idealnya berasal dari koalisi yang sekurang-kurangnya mendapatkan dukungan parlemen 50% dari jumlah kursi DPR dan jumlah partai yang ikut berkoalisi tidak banyak.Maret 2008 banyak parpol. 1 . Penyederhanaan partai politik sebenarnya sudah dilakukan sejak pemilu 1999 dengan mengimplementasikan ambang batas bagi partai politik untuk ikut serta dalam pemilu berikutnya (Electoral Threshold) dan ambang batas bagi partai politik untuk mengirimkan wakilnya di parlemen (Parliamentary Threshold) – akan diberlakukan pada pemilu 2009. mengurangi jumlah partai dan dibarengi dengan koalisi partai yang disiplin dan mengikat.Vol. Solusi yang ditawarkan Alternatif solusi ketiga. Akibatnya partai politik yang mendukung calon presiden terpilih akan memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilu legislatif. 5 No. Berapa jumlah partai politik yang efektif dan ideal bagi bangsa Indonesia yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Menyelenggarakan Pemilu Presiden dan Legislatif secara Bersama-sama (Concurrent Elections) Beberapa pengamat politik berpendapat penyelenggaraan pemilu legislatif dan presiden secara bersama-sama. pemilih akan cenderung memilih partai poltitik yang mencalonkan presiden yang didukungnya. adalah solusi yang paling memungkinkan dalam konteks Indonesia. Dengan concurrent elections presiden terpilih akan mendapatkan legitimasi yang kuat dari rakyat dan mendapatkan dukungan yang kuat dari parlemen. Hanya saja jumlah partai di Indonesia yang terlalu banyak ini perlu disederhanakan. concurrent elections. Gemuknya koalisi ini mengakibatkan pemerintahan hasil koalisi tidak dapat berjalan efektif karena harus mempertimbangkan banyak kepentingan. cukup dua atau tiga partai saja. Dengan demikan mayoritas anggota parlemen berasal dari partai tersebut. akan menciptakan pemerintahan yang efektif. Di dalam masyarakat/negara yang menganggap pemilihan presiden lebih penting dibandingkan pemilihan legislatif. Beberapa pengamat mengatakan bahwa masyarakat Indonesia cukup diwakili oleh 5 partai politik 24 . 4.

Sedangkan partai kecil dan menengah akan kehilangan peluang untuk memenangkan persaingan. ET diberlakukan pada pemilu 2004 dan 2009. Sedangkan berdasarkan survey yang pernah diselenggarakan oleh salah satu lembaga survey jumlah partai politik yang dikehendaki oleh publik adalah 5 . Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah saja. Kedua. Dua metode terakhir akan lebih diterima dibandingkan dengan metode yang pertama. Hanya partai-partai besar saja yang berpeluang mendapatkan kursi. Ketiga adalah dengan memperkecil alokasi kursi di masing-masing daerah pemilihan (district magnitude). ET ternyata tidak efektif untuk menyederhanakan partai politik karena para pemimpin partai yang tidak lolos ET bisa mendirikan partai baru untuk ikut pemilu berikutnya. Beberapa mekanisme telah dipraktekan oleh bangsa kita.tersebut tentu akan lebih efektif kalau keduanya dilaksanakan secara berbarengan. Sehingga meskipun dengan menaikkan angka persentasi ET tetap saja tidak akan mengurangi jumlah partai politik peserta pemilu. Dengan demikian pengecilan alokasi kursi tersebut merupakan alat untuk menyeleksi partai politik yang benar-benar mendapat dukungan dari publik. Partai politik yang tidak mampu mencapai ambang batas yang telah ditetapkan tidak diperbolehkan untuk mengirimkan wakilnya di parlemen. Partai politik yang tidak mendapatkan suara signifikan secara alami didorong untuk melakukan koalisi dengan partai lain atau akan mati karena tidak mendapatkan suara dan kursi di parlemen. PT lebih efektif mengurangi jumlah partai politik peserta pemilu karena jelas “punishment” nya. di beberapa negara memiliki angka persentase yang berbedabeda. Pertama adalah melakukan restrukturisasi seperti yang dilakukan Presiden Suharto pada tahun 1974. Lantas mekanisme seperti apa yang diperlukan untuk mengurangi jumlah partai politik yang ada? Ada beberapa mekanisme yang bisa diberlakukan untuk melakukan penyederhanaan partai. Di Jerman ambang batasnya adalah 5%. Dengan ambang batas 10% Turki hanya memiliki 3 atau 4 partai politik yang memiliki wakilnya di parlemen. Yang efektif adalah meningkatkan angka persentasi PT.Sistem Multipartai. Semakin kecil alokasi kursi di setiap DP maka peluang partai untuk mendapatkan kursi semakin kecil. 25 . memberlakukan ambang batas (threshold). sedangkan di Turki sebesar 10%. Dua mekanisme penyederhanaan partai politik yang terakhir – menaikan ambang batas dan memperkecil district magnitude . sedangkan PT diberlakukan pada pemilu 2009.7 partai.

26 . Observasi dan kajian yang dilakukan oleh Mainwaring (2008) menunujukkan bahwa sistem presidensial yang dikombinasikan dengan sistem multi partai yang dilaksanakan di beberapa negara gagal untuk menciptakan pemerintahan yang ideal. dan menjaga dan mempertahankan dukungan dari parlemen oleh presiden sangat penting dalam menciptakan pemerintah yang efektif dan stabil. partai politik memberikan sanksi tegas kepada anggotanya di parlemen yang tidak mendukung program dan kebijakan pemerintah. disiplin dan mengikat. lobby. Meskipun demikian permasalahan efektifitas dan stabilitas pemerintah di Indonesia tidak saja dipengaruhi oleh personalitas pejabat presiden dan wakil presiden saja. Amerika Serikat berhasil menciptakan pemerintahan yang efektif dan stabil karena menggunakan kombinasi sistem presidensial dan dwi – partai. Persoalan efektivitas pemerintahan di Indonesia saat ini lebih disebabkan oleh karena disharmoni hubungan antara lembaga kepresidenan dengan parlemen. Para politisi yang ada di DPR dan kabinet harus sejalan dan seiring dengan program dan kebijakan presiden. faktor kemampuan berkomunikasi. Partai politik harus mampu mengontrol anggota-anggotanya di parlemen untuk mengikuti kebijakan partainya dalam mendukung pemerintahan. Pejabat partai politik yang dipilih di kabinet seharusnya mengundurkan diri dari jabatan di masing-masing partai untuk mengurangi conflict of interest. 1 . Efektivitas dan stabilitas pemerintah juga dipengaruhi oleh sistem pemerintahan dan sistem kepartaian yang dilaksanakan. Jika perlu. Kedua. 5 No. partai-partai politik di dalam koalisi harus berkomitmen kuat untuk terus mendukung sampai dengan pemilu presiden berikutnya. Sistem presidensial dan sistem multipartai dengan jumlah partai yang terlalu banyak ternyata merupakan faktor lain yang krusial. Bagaimana mekanisme untuk mendorong agar supaya partai politik membangun koalisi yang disiplin dan mengikat? Tentu yang pertama adalah memperbaiki disiplin internal partai politik masing-masing. Ketiga.Vol.Maret 2008 Dengan terciptanya sistem kepartaian yang lebih sederhana maka akan mendorong koalisi partai politik yang lebih ramping. fatsoen politik harus ditegakkan. Kesimpulan Faktor personalitas presiden dan wakil presiden berpengaruh dalam menciptakan efektivitas dan stabilitas pemerintahan.

Maka solusi yang ditawarkan adalah jalan tengah antara kombinasi sistem presidensial dengan multipartai yang sederhana.Sistem Multipartai. disiplin dan mengikat. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah Di Indonesia dengan masyarakat yang sangat heterogen tidak mungkin akan dibawa menuju sistem dwi – partai. Multi sistem partai yang sederhana harus didukung oleh koalisi partai yang ramping. Untuk menyederhanakan partai politik yang ada di Indonesia terdapat dua mekanisme yang dapat diimplementasikan secara bersamaan yaitu meningkatkan ambang batas (PT) dan memperkecil district magnitude. 27 .

Heywood. 2006. 1 . Luciano and Mair. August. Sage Publication Vol. UUD 1945 Hasil Amandemen. Cetakan Pertama. Sage Publication Vol.Maret 2008 DAFTAR PUSTAKA Blau Adrian. 2002. Andrew. 2. Peter. 2008. 2008. 5 No. Mellaz. Bardi. Mainwaring. 2002. Palgrave Foundations. Multy Party Systems. Presidensialism. Scott. 14 No. The Effective Number of Parties at Four Scales. Keserentakan Pemilu dan Penyederhanaan Kepartaian. Working Paper 144 – September 1990. 28 . 14 No. Politics.Vol. New York. Den Haag. Second Edition. Sinar Grafika. Position Paper yang tidak dipublikasikan. The Parameters of Party Sistem. 2. Buku Pegangan Pengembangan Institusional : Suatu Kerangka Kerja Pengembangan Partai Politik yang Demokratis. NIMD. NIMD. and Democracy : The Difficult Equation.

tidak di bawah tekanan. Ditjen Peraturan Perundang-undangan. Pemilu harus bersifat kompetitif.M. artinya semua kelompok masyarakat harus memiliki peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Dalam kedudukannya sebagai pilar demokrasi. Kelima. Jakarta. Kedua. Pemilu yang diselenggarakan secara berkala. dalam artian peserta Pemilu harus bebas dan otonom. Tidak ada satu pun kelompok yang diperlakukan secara diskriminatif dalam proses Pemilu. Departemen Hukum dan HAM. Keempat.PERAN PARTAI POLITIK DALAM PENYELENGGARAAN PEMILU YANG ASPIRATIF DAN DEMOKRATIS Oleh: Dr.. Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan figur dan arah kepemimpinan negara atau kepemimpinan daerah dalam periode tertentu. Pemilu harus inklusif. S2 (Magister Hukum) dari Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.H. Wicipto Setiadi. S. 29 . dalam artian Pemilu harus diselenggarakan secara teratur dengan jarak waktu yang jelas. Memperoleh gelar S1 (SH) dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada.H.1 A. Pengalaman dalam rangkaian penyelenggaraan seleksi kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah melalui Pemilu 1 Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. Pemilu memiliki fungsi utama untuk menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mendekati kehendak rakyat. Bandung. Ketiga. Pemilu merupakan salah satu sarana legitimasi kekuasaan. Oleh karena itu. pemilih harus diberi keleluasaan untuk mempertimbangkan dan mendiskusikan alternatif pilihannya dalam suasana bebas. penyelenggara Pemilu yang tidak memihak dan independen. Pendahuluan Salah satu wujud pelibatan masyarakat dalam proses politik adalah pemilihan umum (Pemilu). Yogyakarta. dan S3 (Doktor Ilmu Hukum) dari Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Indonesia. peran partai politik dalam sistem perpolitikan nasional merupakan wadah seleksi kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah. Pemilu dapat dikatakan aspiratif dan demokratis apabila memenuhi beberapa persyaratan. Pertama. Ketika demokrasi mendapat perhatian yang luas dari masyarakat dunia. dan akses memperoleh informasi yang luas. penyelenggaraan Pemilu yang demokratis menjadi syarat penting dalam pembentukan kepemimpinan sebuah negara.

akan segera dibahas di DPR pada masa sidang berikutnya. Dewan Perwakilan Rakyat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4836). yaitu: 1. Sisanya. Jika kapasitas dan kinerja partai politik dapat ditingkatkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4721). 2. dan 2. Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 2. Dewan Perwakilan Daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 59. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat.Vol. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4801). maka hal ini akan berpengaruh besar terhadap peningkatan kualitas demokrasi dan kinerja sistem politik. dan kinerjanya agar dapat mewujudkan aspirasi dan kehendak rakyat dan meningkatkan kualitas demokrasi. peran partai politik perlu ditingkatkan kapasitas. Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Dewan Perwakilan Daerah. Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 51. terutama dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang dinamis dan sedang berubah. 5 No. Pada saat ini sedang dirampungkan 5 (lima) paket Undang-Undang di bidang politik untuk menyongsong Pemilu Tahun 2009. yaitu: 1. Dengan gambaran ini dapat dikatakan bahwa sistem perpolitikan nasional dipandang mulai sejalan dengan penataan kehidupan berbangsa dan bernegara yang di dalamnya mencakup penataan partai politik. termasuk kalangan internasional. 1 . baru berhasil diselesaikan 3 (tiga) undang-undang.Maret 2008 membuktikan keberhasilan partai politik sebagai pilar demokrasi. 30 . Oleh karena itu. dan 3. Dari 5 (lima) paket Undang-Undang tersebut. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Penyelenggaraan Pemilu Tahun 2004 dinilai cukup berhasil oleh banyak kalangan. Peran partai politik telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi sistem perpolitikan nasional. kualitas.

legitimate. Dalam melaksanakan haknya. Pemilu yang bersifat bebas berarti bahwa setiap warga negara yang berhak memilih bebas untuk menentukan pilihannya tanpa tekanan dan paksaan dari siapa pun. anggota DPR. tanpa diskriminasi. umum. DPD. Yang dimaksud dengan Pemilu yang bersifat langsung adalah rakyat sebagai pemilih berhak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati nuraninya tanpa perantara. sistematis. rahasia. Sedangkan Pemilu yang bersifat umum mengandung makna terjaminnya kesempatan yang sama bagi semua warga negara. Terselenggaranya Pemilu secara demokratis menjadi dambaan setiap warga negara Indonesia. Pemilu yang bersifat rahasia berarti bahwa dalam memberikan suaranya. one vote. setiap warga negara dijamin keamanannya. bebas. Pemilu Demokratis Pemilu sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. Warga negara yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih berhak mengikuti Pemilu dan memberikan suaranya secara langsung. one value (opovov). dan semua pihak yang terkait harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan adil. yaitu satu suara. peserta Pemilu. dimaksudkan untuk memilih presiden dan wakil presiden. pengawas Pemilu. Pemilu diselenggarakan oleh penyelenggara Pemilu yang mempunyai integritas. Selanjutnya. DPRD. pemilih. Pelaksanaan Pemilu dikatakan berjalan secara demokratis apabila setiap warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih dapat menyalurkan pilihannya secara langsung.Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis B. sehingga dapat memilih sesuai dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya. pemilih dijamin pilihannya tidak akan diketahui oleh pihak mana pun dan dengan jalan apa pun. pemantau Pemilu. jujur. Penyelenggara Pemilu. serta kepala daerah dan wakil kepala daerah yang mampu mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan dapat menyerap serta memperjuangkan aspirasi rakyat sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. aparat pemerintah. Setiap pemilih hanya menggunakan hak pilihnya satu kali dan mempunyai nilai yang sama. profesionalitas. Hal ini yang sering disebut dengan prinsip one person. Pemilih dan peserta Pemilu mendapat perlakuan yang sama dan 31 . dan akuntabilitas yang dilaksanakan secara lebih berkualitas. dan akuntabel dengan partisipasi masyarakat seluas-luasnya.

Namun. gabungan partai politik (koalisi) sebetulnya sudah dilaksanakan. Oleh karena itu. C. Sistem Kepartaian Sederhana Sistem presidensial di Indonesia hingga saat ini belum dapat mewujudkan secara penuh pemerintahan yang kuat dan efektif. serta bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota. 1 . Pada Pemilu presiden Tahun 2004 dan terpilihnya beberapa kepala daerah dan wakil kepala daerah baru-baru ini. 32 . yang pada gilirannya dapat tercipta pengambilan keputusan yang tidak berlarut-larut. Pemilu harus dilaksanakan secara lebih berkualitas agar lebih menjamin kompetisi yang sehat. baik yang mendukung pemerintahan maupun koalisi partai politik dalam bentuk yang lain. karena banyaknya partai politik peserta Pemilu akan berakibat sulitnya tercapai pemenang mayoritas.Maret 2008 bebas dari kecurangan atau perlakuan yang tidak adil dari pihak mana pun. Munculnya banyak partai politik selama ini dikarenakan persyaratan pembentukan partai politik yang cenderung sangat longgar. 5 No.Vol. dan memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. dan efektif perlu didukung pula oleh sistem kepartaian yang sederhana. lebih berdasarkan pada kepentingan politik jangka pendek dan belum berdasarkan pada platform dan program politik yang disepakati bersama untuk jangka waktu tertentu dan bersifat permanen. stabil. gabungan (koalisi) tersebut lebih bersifat instan. Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang kuat. Jumlah partai yang terlalu banyak akan menimbulkan dilema bagi demokrasi. penyederhanaan sistem kepartaian juga terkendala oleh belum terlembaganya sistem gabungan partai politik (koalisi) yang terbangun di parlemen atau pada saat pencalonan presiden dan wakil presiden. Di sisi lain. Hal ini diperlukan sebagai upaya agar bisa tetap sejalan dengan prinsip check and balances dari sistem presidensial. sehingga setiap pengambilan keputusan oleh pemerintah hampir selalu mendapat hambatan dan tantangan dari parlemen. yang perlu dilakukan adalah mendorong terbentuknya koalisi partai politik yang permanen. Selain itu. ketiadaan partai politik yang mampu menguasai mayoritas di parlemen merupakan kendala bagi terciptanya stabilitas pemerintahan dan politik. Seperti kita ketahui bersama. Dengan sistem kepartaian sederhana akan dapat dihasilkan tingkat fragmentasi yang relatif rendah di parlemen. partisipatif. praktik yang sekarang terjadi adalah ketiadaan koalisi besar yang permanen. mempunyai derajat keterwakilan yang lebih tinggi. gubernur dan wakil gubernur.

terutama yang bersifat terfragmentasi. Berdasarkan pengalaman. tidak adanya disiplin partai politik membuat dukungan terhadap presiden menjadi sangat tidak pasti. Perdebatan yang terjadi diharapkan menjadi lebih fokus dan berkualitas. Logika yang digunakan seringkali berbeda satu dengan yang lainnya. Tawaran yang diberikan untuk memperkuat sistem presidensial agar mampu menjalankan pemerintahan dengan baik adalah dengan menyederhanakan jumlah partai politik.Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis Secara teori ada keterkaitan yang erat antara upaya penataan sistem politik yang demokratis dengan sistem pemerintahan yang kuat dan efektif. Alasan lain adalah bahwa komitmen anggota parlemen terhadap kesepakatan yang dibuat pimpinan partai politik jarang bisa dipertahankan. Pada saat yang sama partai politik dan gabungan partai politik yang mengantarkan presiden untuk memenangkan Pemilu tidak dapat dipertahankan untuk menjadi koalisi pemerintahan. Tidak ada mekanisme yang dapat mengikatnya. Publik juga akan mudah diinformasikan baik tentang keberadaan konstelasi partai politik maupun pilihan kebijakan bila jumlah kekuatan politik lebih sederhana. Dalam realitas. Multipartai. Jumlah partai politik yang lebih sederhana (efektif) akan mempersedikit jumlah veto dan biaya transaksi politik. seringkali penataan elemen sistem politik dan pemerintahan dilakukan secara terpisah. Alasannya adalah bahwa presiden akan mengalami kesulitan untuk memperoleh dukungan yang stabil dari legislatif sehingga upaya mewujudkan kebijakan akan mengalami kesulitan. Dengan kata lain. ada hubungan yang relatif konsisten antara sistem kepartaian dengan sistem presidensial. Dalam masa transisi politik. partai politik di Indonesia dewasa ini belum terlembaga sebagai organisasi moderen. Yang dimaksud dengan pelembagaan partai politik adalah proses pemantapan sikap dan perilaku partai politik yang terpola atau sistemik sehingga terbentuk suatu budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip 33 . semua elemen tersebut akan digunakan dan menimbulkan kemungkinan komplikasi satu dengan lainnya. Perubahan dukungan dari pimpinan partai politik juga ditentukan oleh perubahan kontekstual dari konstelasi politik yang ada. menyebabkan implikasi deadlock dan immobilism bagi sistem presidensial murni. D. pemahaman terhadap hubungan antara kedua proses itu menjadi sangat penting. Pelembagaan Partai Politik Problematik lain. Karena keterbatasan waktu dan tenaga.

melancarkan partisipasi politik melalui jalur partai politik. Apa pun kebijakan yang diambil harus dikomunikasikan kepada partai politik pada level akar rumput dan pada partai politik di pemerintahan. Pertama. dan negara. Pada level pemerintahan. komisi. yaitu: level akar rumput. partai-partai lain. Pengelolaan partai politik pada akar rumput ini pada akhirnya akan menentukan kuat atau lemahnya dukungan terhadap partai. dan negara. Persoalan memelihara loyalitas pendukung menjadi problema utama bagi partai politik di akar rumput. tetapi juga menjadi pendukung aktivitas pekerja partai dan koordinator berbagai kepentingan. dan level pemerintahan. 1 . Dengan demikian. sistem kepartaian yang kuat menyediakan organisasi partai politik yang mengakar dan prosedur yang melembaga guna mengasimilasikan kelompok baru ke dalam sistem politik. level pusat. merekalah yang secara langsung bersentuhan dengan basis sosial partai dan masyarakat secara umum. partai politik menghadapi konteks nasional. Peran partai politik dalam penyelenggaraan 34 . Pada level akar rumput. Penguatan juga harus dilakukan pada level partai di pusat. Pada level pusat. Partai di pusat bukan hanya menjadi payung bagi aktivitas partai pada level pemerintahan. Kedua. Penguatan partai politik pada level akar rumput merupakan ujung tombak partai. partai politik menghadapi konteks lokal. partai politik lokal. sehingga dapat mengalihkan segala bentuk aktivitas politik anomik dan kekerasan. apabila partai politik mampu menyerap dan menyatukan semua kekuatan sosial baru yang muncul sebagai akibat modernisasi. mencakup dan menyalurkan partisipasi sejumlah kelompok yang baru dimobilisasi.Vol. partai politik menghadapi konteks dalam pemerintahan. pendukung. fraksi-fraksi lain. Sistem kepartaian disebut kokoh dan adaptabel. yang dimaksudkan untuk mengurangi kadar tekanan yang dihadapi oleh sistem politik.Maret 2008 dasar sistem demokrasi. Sistem kepartaian yang kokoh sekurang-kurangnya harus memiliki dua kapasitas. Penguatan partai politik di Indonesia dapat dilakukan pada 3 level. Dari sudut pandang ini. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa peranan partai di akar rumput saat ini lebih banyak diambil oleh organisasi masyarakat sipil dan media massa. 5 No. serta masyarakat pemilih. melainkan sejauh mana kekokohan dan adaptabilitas sistem kepartaian yang berlangsung. jumlah partai politik hanya akan menjadi penting bila ia mempengaruhi kapasitas sistem untuk membentuk saluran-saluran kelembagaan yang diperlukan guna menampung partisipasi politik. yang terpenting bukanlah jumlah partai politik yang ada. Dalam konteks pembangunan politik.

Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis

pemerintahan yang diraih oleh partai politik kemudian harus ditransformasikan dalam berbagai kebijakan dengan mengedepankan kepentingan rakyat. Pelembagaan partai politik biasa dilakukan melalui penguatan 4 (empat) komponen kunci, yakni, pengakaran partai (party rooting), legitimasi partai (party legitimacy), aturan dan regulasi (rule and regulation), dan daya saing partai (competitiveness). Pengakaran partai politik dimaksudkan agar partai terikat secara organik dengan masyarakat, khususnya dengan konstituennya. Dengan ini partai politik dapat secara kontinyu menjalankan fungsi-fungsinya yang terhubung secara langsung dengan masyarakat, seperti pendidikan politik, sosialisasi dan komunikasi politik dan juga agregasi kepentingan yang lebih luas. Selanjutnya, pelembagaan kepartaian bisa juga dilakukan dengan menata aturan dan regulasi (rule and regulation) dalam partai politik. Maksudnya adalah penguatan partai politik dengan menciptakan kejelasan struktur dan aturan kelembagaan dalam berbagai aktivitas partai baik di pemerintahan, internal organisasi, maupun akar rumput. Dengan adanya aturan main yang jelas dan disepakati oleh sebagian besar anggota, dapat dicegah upaya untuk manipulasi oleh individu atau kelompok tertentu bagi kepentingan-kepentingan jangka pendek yang merusak partai. Kemudian, dalam perbaikan terhadap struktur dan aturan, dapat dilekatkan berbagai nilai demokrasi dalam pengelolaan partai. Pelembagaan partai politik juga dilakukan dengan menguatkan daya saing partai yakni yang berkaitan dengan kapasitas atau tingkat kompetensi partai untuk berkompetisi dengan partai politik lain dalam arena Pemilu maupun kebijakan publik. Daya saing yang tinggi dari partai politik ditunjukkan oleh kapasitasnya dalam mewarnai kehidupan politik yang didasari pada program dan ideologi partai sebagai arah perjuangan partai. Secara teoretik, daya saing partai berarti kapasitasnya untuk memperjuangkan program yang telah disusun. Partai politik yang demikian seringkali dianggap memiliki identitas partai programatik. Dengan demikian, secara keseluruhan pelembagaan partai dapat dilihat dari seberapa partai memperkuat dirinya dalam hal pengakaran, penguatan legitimasi, pembuatan aturan main, dan peningkatan daya saing. E. Fungsi Partai Politik Persoalan lain yang dihadapi sistem kepartaian adalah belum berjalannya secara maksimal fungsi yang dimiliki oleh partai politik, baik fungsi partai politik
35

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

terhadap negara maupun fungsi partai politik terhadap rakyat. Fungsi partai politik terhadap negara antara lain adalah menciptakan pemerintahan yang efektif dan adanya partisipasi politik terhadap pemerintahan yang berkuasa. Sedangkan fungsi partai politik terhadap rakyat antara lain adalah memperjuangkan kepentingan, aspirasi, dan nilai-nilai pada masyarakat serta memberikan perlindungan dan rasa aman. Kebanyakan partai politik pada saat ini belum sepenuhnya memberikan pendidikan politik dan melakukan pengkaderan serta rekrutmen politik yang efektif untuk menghasilkan keder-kader pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang politik. Sistem kepartaian yang ada juga masih menghadapi derajat kesisteman yang rendah serta kurang mengakar dalam masyarakat, struktur organisasi partai yang tidak stabil yang tidak mengacu pada AD/ART, dan citra partai di mata publik yang masih relatif buruk. Selain itu, partai politik yang ada pada umumnya cenderung mengarah pada tipe partai politik kharismatik dan klientelistik ketimbang partai programatik. Lemahnya pelembagaan partai politik di Indonesia, terutama disebabkan oleh belum munculnya pola partai kader. Partai politik cenderung membangun partai massa yang memiliki ciri-ciri: meningkatnya aktivitas hanya menjelang Pemilu, menganut sistem keanggotaan yang amat longgar, belum memiliki sistem seleksi dan rekrutmen keanggotaan yang memadai serta belum mengembangkan sistem pengkaderan dan kepemimpinan politik yang kuat. Kelemahan yang mencolok partai politik yang berorientasi pada massa adalah kurang intensif dan efektifnya kerja partai. Sepanjang tahun sebagian besar kantor partai politik hampir tidak memiliki agenda kegiatan yang berarti. Hal ini ditandai dengan tidak dimilikinya rencana kerja partai yang bersifat jangka panjang, menegah dan jangka pendek. Partai politik semestinya merupakan suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, serta cita-cita yang sama, dan yang mempunyai visi, misi, program dan tujuan untuk memperoleh kekuasaan politik dan melalui kekuasaan politik itu memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagai akibatnya, partai politik tidak memiliki program yang jelas dalam melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, melakukan artikulasi dan agregasi kepentingan, belum dapat membangun sosialisasi politik dan komunikasi politik untuk menjembatani rakyat dengan pemerintah.

36

Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis

Partai politik semacam ini hanya berorientasi pada perolehan dukungan suara di daerah pemilihannya dalam rangka memperoleh kekuasaan tanpa memperhatikan kepentingan dan pemenuhan hak konstituennya. Hal ini yang membuat partai gagal dalam mengembangkan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Dalam kondisi krisis kepercayaan masyarakat terhadap partai politik yang berakibatkan pada penurunan dukungan masyarakat terhadap perolehan suara, hal ini dapat menimbulkan frustasi bagi kader dan pengurus partai. Kondisi ini akan berakibat kader dan pengurus partai yang berdedikasi tinggi sekaligus memiliki karakter, dengan mudah mengubah garis politiknya. Bertolak dari sistem rekrutmen dan ketidakjelasan program kerja dan orientasi partai, pemenuhan hak dan kewajiban yang terabaikan, rendahnya kepercayaan masyarakat, kepemimpinan partai yang kurang responsif dan inovatif sehingga menimbulkan sejumlah problematik dan konflik yang sering tidak terselesaikan oleh internal partai. Konflik yang tidak terselesaikan tersebut disebabkan oleh terbatasnya pengaturan penyelesaian konflik yang dilakukan melalui prinsip musyawarah mufakat internal partai, maupun penyelesaian konflik/ perselisihan yang dilakukan melalui pengadilan. Tambahan lagi, tidak adanya kesadaran para pengurus untuk segera menyelesaikan konflik dan masing-masing mau menangnya sendiri akan mengakibatkan semakin berlarut-larutnya konflik tersebut. Faktor lain yang menyebabkan lemahnya pelembagaan sistem kepartaian adalah belum ada pengaturan yang dapat dijadikan pedoman untuk membekukan kepengurusan partai politik, baik untuk kepengurusan tingkat pusat, tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten/kota. Problem lain yang dihadapi adalah upaya untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik sekalipun masih menemukan kendala kultural dan struktural. F. Kemandirian Partai Politik Problematik lain yang dijumpai adalah gejala belum adanya kemandirian partai politik yang terkait dengan pendanaan yang tidak memadai di luar iuran anggota dan subsidi negara. Iuran anggota pada sebagian besar partai politik relatif tidak berjalan karena partai umumnya bersifat massa dan juga lemahnya mekanisme hadiah dan ganjaran di dalam internal partai. Hal ini mengakibatkan
37

antara lain ditandai oleh sentralisasi dalam pengambilan keputusan di tingkat pengurus pusat (DPP) dan pemimpin partai. terciptanya pelembagaan partai yang efektif dan kredibel. dan penguatan basis dan struktur kepartaian. Hal ini mendorong rendahnya tingkat kepercayaan anggota dan masyarakat terhadap partai politik dalam mengelola keuangan dan kekayaannya. Dari ketentuan itu terlihat bahwa pendirian atau pembentukan partai politik mudah dilakukan karena cukup mengumpulkan 50 (lima puluh) orang. Hal ini membuat kepengurusan partai politk di daerah sering kali tidak menikmati otonomi politik dan harus rela menghadapi berbagai bentuk intervensi dari pengurus pusat partai. 38 . terbentuknya kepemimpinan partai yang demokratis dan akuntabel. 1 .Vol. di masa depan perlu diupayakan adanya kenaikan jumlah warga negara yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun untuk mendirikan partai politik paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) orang. sehingga mendorong setiap orang atau kelompok orang untuk mendirikan partai politik. akuntabel dan auditable. partai politik sibuk mencari tambahan dana partai sedangkan pada saat yang bersamaan partai politik harus memperjuangkan kepentingan rakyat. Selain itu. Hampir sebagian besar partai politik menghadapi masalah sentralisasi yang terlalu kuat dalam organisasi partai. mengakibatkan tidak terwujudnya laporan pertanggungjawaban keuangan partai yang transparan. G. Akibatnya. perlu diatur ketentuan yang mengarah pada terbentuknya sistem multipartai sederhana. penyempurnaan sistem kepartaian dalam rangka mendukung penguatan sistem pemerintahan presidensial dan sistem perwakilan. 5 No. pengakuntansian dan pelaporan yang baik.Maret 2008 partai politik senantiasa tergantung atau berharap pada sumbangan dari pemerintah dan pihak lain baik pribadi atau perusahaan. mekanisme pengelolaan keuangan yang tidak didasarkan pada perencanaan dan penganggaran. Oleh karena itu. UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik menentukan bahwa “Partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) orang warga negara Republik Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akte notaris”. Dalam kaitan ini. Pembentukan Partai Politik Hal lain yang turut serta menyokong lemahnya pelembagaan partai politik adalah longgarnya syarat bagi pembentukan partai politik.

Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis H. dan evaluasi penyelenggaraan Pemilu. pelaksanaan. meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif warga negara. partisipatif. Kesimpulan Wilayah negara Indonesia yang luas dengan jumlah penduduk yang besar dan menyebar di seluruh nusantara serta memiliki kompleksitas nasional menuntut penyelenggara Pemilu yang profesional dan memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Agar tercipta derajat kompetisi yang sehat. maka penyelenggaraan Pemilu harus dilaksanakan secara lebih berkualitas dari waktu ke waktu. perlu dilakukan upaya untuk lebih meningkatkan fungsi perencanaan. Upaya tersebut antara lain dapat ditempuh melalui pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. serta memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. 39 . serta meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu. Oleh karena itu. pengawasan. dan mempunyai derajat keterwakilan yang lebih tinggi. Perlu dilakukan upaya untuk mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran partai politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan partai politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern. perlu diupayakan perubahan untuk memperkuat lembaga perwakilan rakyat melalui langkah untuk mewujudkan sistem multipartai sederhana yang selanjutnya akan menguatkan pula sistem pemerintahan presidensial sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Ada yang mengatakan multipartai bermanfaat untuk membangun demokrasi dalam kehidupan berbangsa.Maret 2008 PEMAHAMAN ATAS MULTIPARTAI PERKEMBANGAN MASYARAKAT DAN POLITIK HUKUM1 Oleh: Prof. Politik Hukum. S.M. 2 Makmur Makka. 24 April 2008. dalam jangka waktu 9 (sembilan) tahun. Demokrasi Pasar.Vol. Jakarta. http://www. Dr. Para pengamat politik beranggapan bahwa keberadaan partai setelah kemerdekaan tidak dapat menyelesaikan masalah sehingga dibubarkan. bahkan pernah ada di negara kita setelah kemerdekaan. 2 (dua) tahun. 1 .H. Wilayah Depok hanya menggunakan suara yang sangat minim dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Pengantar Multipartai yang merupakan wadah untuk mengeluarkan pendapat setelah reformasi sampai saat ini. Dr.H. Last Update: 07/07/2005. Sinar Harapan. 40 .31 Tahun 2002 tentang Parpol) karena dianggap multipartai yang sederhana lebih efisien dan sehat dalam proses pemilihan umum. bahkan ada pula yang mengatakan bahwa membangun partai-partai adalah kesalahan besar. hukum (peraturan perundang-undangan) yang mengatur kegiatan politik mengalami 3 (tiga) kali perubahan. misalnya Depok dalam rangka pemilihan Gubernur. A. dan Negara Berkembang. 14/06/ 2005. dan ada yang beranggapan bahwa multipartai belum saatnya dilaksanakan di Indonesia.html. 5 No. Hal itu disebabkan perkembangan kebutuhan masyarakat menimbulkan keragaman pandangan.. 2 Tahun 1999 tentang Parpol) hanya berlaku dalam jangka waktu yang singkat. Jeane Neltje Saly. dan Media elektronik. diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik (UU No.nl/~peace/pubind/mb/multipar. Jeane N Saly.3 Sejak reformasi sampai saat ini. awal April 2008.xs4all. Berlakunya UU ini hanya 6 1 Prof. baik dengan pihak asing maupun pihak nasional tentang Fungsi Hukum. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik (UU No. 3 Kompas. mengalami pasang surut dalam keberadaannya.2 Dan dari pihak anggota masyarakat kurang berminat memanfaatkan suaranya. Hal itu dapat dilihat dalam pemberitaan di media masa tentang penggunaan hak suara di wilayah Jawa Barat. Paper berisi kumpulan pandangan Penulis dalam beberapa Artikel dan pemaparan dalam seminar-seminar.

dan Hak Suara Anggota Masyarakat. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (UU No. karena dipandang perlu menampung kebutuhan masyarakat majemuk yang beragam yang menuntut peningkatan peran. Permasalahan 1 Bagaimana dinamika hukum partai politik dan pengaruhnya terhadap bidang lain dalam kehidupan berbangsa sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik? 2 Bagaimana pelaksanaan politik hukum dan kendalanya dalam memenuhi kebutuhan multipartai masyarakat Indonesia yang heterogen? C. antara lain Grafita. 41 . Hal ini disebabkan keadaan masyarakat Indonesia yang tidak setara dalam bidang pendidikan. Demokrasi. antara lain Bagir Manan. Surabaya. Asas demokrasi mengeluarkan pendapat/suara ternyata masih belum dipahami oleh masyarakat. hlm. Bandung.5 bahwa hukum saling mempengaruhi dalam diri hukum itu sendiri tetapi juga pada bidang-bidang lain di luar hukum. Perwujudan tujuan yang ingin dicapai masih mengalami kendala. maka bidang lain di luar hukum akan terpengaruh. Surabaya Post. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik). Universitas Padjadjaran. 5. Kegiatan parpol yang ditentukan dalam hukum/peraturan perundang-undangan apabila tidak berjalan sesuai dengan tujuan hukum itu.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum (enam) tahun diganti dengan UU No. Maret 2008. Para pengamat politik. B. Maret 1999.4 mengatakan bahwa belum saatnya prinsip demokrasi diterapkan pada pemilihan umum. Pembahasan 1. Bahan Kuliah Pascasarjana (S3). Hal itu benar karena hukum bukan hanya aturan (legal substance) saja tetapi juga ada aspek lain di luar hukum yang mempengaruhi tujuan dibentuknya hukum 4 Grafita. berakibat tidak dapat menilai kompetensi seorang pemimpin yang akan menjadi leader. fungsi dan tanggung jawab partai politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional. Dinamika Hukum Partai Politik dan Pengaruhnya Terhadap Bidang lain Dalam Pembangunan Negara Para pakar mengatakan. Pernyataan Kehendak Melalui Partai. baik atau buruknya. 5 Bagir Manan.

Sebagaimana dikatakan oleh Friedman.6 masih ada 2 aspek lain. UU No. USA. UU No. Hal itu terjadi pula dalam pembentukan hukum yang berkaitan dengan kegiatan politik di Indonesia. berkumpul. p. Melalui partai politik rakyat dapat mewujudkan hak untuk menyatakan pendapat berkaitan dengan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak Indonesia merdeka pengaturan hukum multipartai terus berkembang sesuai dengan berkembangnya masyarakat. Apabila tidak demikian keberadaan partai yang beragam akan mempengaruhi bidang-bidang dan menghambat pembangunan ekonomi. yang menentukan hak warga masyarakat untuk berserikat. Dinamika hukum sebagai dasar kegiatan multipartai terus diubah sesuai dengan berkembangnya masyarakat. dan legal culture.Maret 2008 itu dalam perwujudannya. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik yang merupakan dasar hukum pelaksanaannya dibentuk sebagai tanggapan atas ketentuan Pasal 28 UUD 1945. 1 . Ed Candy. Keragaman pendapat dalam masyarakat melahirkan keinginan untuk membentuk berbagai partai politik sesuai dengan ragam pendapat yang hidup dalam masyarakat. 42 . mekanisme yang baik. adalah legal culture. dan menyatakan pendapat. UU ini tidak membatasi jumlah partai yang dibentuk oleh rakyat. Harvard University. 5 No. Tentunya masih banyak pandangan pakar tentang terwujudnya tujuan hukum. Boston Masatchusstetts. 21 Tahun 1999 tentang Partai Politik dianggap tidak dapat menampung perkembangan masyarakat serta perubahan ketatanegaraan.Vol. dan sebagainya. dan oleh karena itu perlu 6 Friedman. How to Build Character to Implementation The Law. 121. Hukum yang mengatur kegiatan politik terus berkembang sesuai perkembangan dalam masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat arus globalisasi yang melanda kehidupan manusia saat ini. Dengan demikian pada hakekanya negara tidak membatasi jumlah partai politik yang dibentuk oleh rakyat. misalnya ditunjang oleh sarana prasarana. kesadaran akan tujuan hukum (UU parpol) tersebut. yaitu legal structur. Dalam kaitan dengan kegiatan multipartai yang perlu dibenahi agar tujuan dibentuknya UU parpol dapat terwujud disamping aspek sarana prasarana dan mekanisme pelaksanaannya. Saat reformasi kegiatan multipartai didasarkan pada pertimbangan untuk menanggapi ditegakkannya hak asasi manusia melalui pembentukan partai politik.

XXV/MPRS/1966. dan mengemukakan suara sebagai hak 43 . 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik belum optimal menampung dinamika masyarakat yang menuntut peran serta politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan partai politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern. Tap MPRS ini diberlakukan dengan memegang teguh prinsip berkeadilan dan menghormati hukum. antara lain kesadaran kebangsaan.MPRS No. berkumpul. melalui sejumlah pembaharuan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan partai politik. berbangsa dan bernegara. keluhuran budi pekerti dan keiklasan untuk berkorban bagi kepentingan bangsa. cinta tanah air. pendidikan politik terus ditingkatkan agar terbangun karakter bangsa yang merupakan watak atau kepribadian bangsa Indonesia yang terbentuk atas dasar kesepahaman bersama terhadap nilai-nilai kebangsaan yang lahir dan tumbuh dalam kehidupan bangsa. sebagaimana diamanatkan oleh Tap. dan 6 (enam) tahun kemudian dibentuk UU No. mengembangkan. Pengaturannya antara lain tentang pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan jender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. kebersamaan. Oleh sebab itu UU ini diganti dengan UU No. Dalam UU ini ditentukan larangan untuk menganut. Selanjutnya untuk mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dalam perkembangan masyarakat Indonesia yang majemuk. dan hak asasi manusia. demokratik. yang berkaitan dengan demokratisasi secara internal dari partai politik. dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan partai politik. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. UU ini mengakomodasi beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia. UU No. transparansi. Dibentuknya UU ini sebagai akibat perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut adanya dasar hukum bagi sarana partisipasi politik masyarakat. meningkatkan partisipasi politik. peningkatan kesetaraan jender dan kepemimpinan partai politik dalam sistem nasional. Tujuan pembentukannya yaitu untuk mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia dalam menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan. Atas pertimbangan tersebut. dan inisiatif warganegara serta meningkatnya kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum diperbaharui. dan menyebarkan ajaran komunisme/Marxisme Leninisme. Tujuan pembentukan undang-undang tersebut adalah untuk menjamin kemerdekaan berserikat. 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik.

Salah satu kelemahan utama partai politik setelah masa reformasi. dan tidak melarang jumlahnya. Partaipartai saling melakukan perlawanan dan tidak bisa menyelesaikan masalah. hlm. namun sangat disayangkan karena pada umumnya 7 Rauf Andika.. Setahun kemudian sesuai perkiraan. Op. terbentuklah UU No. Apabila diamati maka ternyata asas demokrasi yang diterapkan dalam pelaksanaan multipartai belum dapat dilakukan sebagai akibat kurangnya pendidikan berpartai dan berlapisnya taraf pendidikan anggota masyarakat.7 mengemukakan bahwa banyaknya partai menimbulkan masalah baru bagi pemerintah.cit.Maret 2008 asasi manusia untuk mewujudkan kehidupan berkebangsaan yang kuat dalam negara kesatuan yang merdeka.Makmur Makka. maka saat itu diadakan kampanye untuk “menguburkan partai-partai”. Sesuai dengan hasil pengkajian beberapa pengamat politik.8 karena kesalahan lahir.Vol. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. Diperlukan waktu minimal persiapan satu tahun. Pendidikan Politik dan Demokrasi Dalam Mengeluarkan Suara. Desember 2007. 1 . termasuk tokoh partai mendesak untuk menyelenggarakan pemilu dalam waktu paling lama tiga bulan. Partai politik hanya semata-mata muncul kurang lebih menjadi “perantara” bagi para elite partai atau siapa saja untuk menduduki kekuasaan. 3. Ketika pemerintahan Orde Baru “lengser keprabon” dan menyerahkan jabatannya kepada Wapres pada saat itu (tahun 1998). Surabaya. Hal ini bisa terjadi. sesuai dengan isi konstitusi negara. hlm. demikian pandangan sebagian besar tokoh politik yang tidak menginginkan hapusnya multipartai. Tantangan yang dihadapi adalah anggapan bahwa dengan dibubarkannya partaipartai maka terkuburlah demokrasi. Saat pemerintahan setelah kemerdekaan dianggap banyaknya partai hanya menimbulkan kesulitan dan mengganggu ketenangan masyarakat. sesuai ketentuan UUD 1945. UUD 1945. Surabaya Pagi. antara lain Rauf. sejumlah tokoh. Keadaan itu terjadi sejak kemerdekaan sampai saat ini. dan yang akan berkuasa kembali adalah kekuatan politik lama yakni partai yang besar. 8 A. 44 . adalah tidak berperan secara optimal sebagaimana fungsinya sebagai partai.1. UU ini memberi kebebasan berdirinya partai baru. karena orpol inilah yang sekarang memiliki infrastruktur partai yang kuat. Hal itu ditolak Kepala Negara dengan pertimbangan belum adanya UU politik baru yang merubah sistem kepartaian. 5 No.

bahkan partai seperti kehilangan inisiatif. hanyalah fungsi partai sebagai “mobilization of voters”. Surabaya Pagi. nasionalis. bahkan kalau perlu lahir pengurus kembar. hlm. Yang muncul pertama kali adalah inisiatif para calon. kemudian menduduki kursi kepresidenan dan membagi-bagi jabatan menteri-menteri. Bagaimana dengan segera mengganti presiden yang dikatakannya “transisi” dan “statusquo”. yang dinonjolkan adalah hanya perebutan jadi pimpinan partai. hlm. kongres. ketika para pimpinan partai itu akhirnya bisa berkuasa dan menduduki jabatan penting. dan Manfaatnya Bagi Pendidikan Politik. partai kemudian dikendalikan oleh para calon yang punya uang dan punya kharisma. Partai-partai dibentuk dengan kohesi berbagai ideologi dan agama yang jelas dan solid. antara lain Lukiman. Partai hanya memberikan stempel dan legitimasi yang bukan tidak mungkin melalui tawar-menawar materi. Partai yang dibentuk setelah reformasi itu pada umumnya kurang optimal melakukan lagi konsolidasi internal yang ketat. Ini setali tiga uang. 10 Embong Pranata.10 kegiatan partai yang menonjol dan sangat dominan. Surabaya. Fungsi Partai Dalam Membangun Bangsa dan Pelaksanaan Asas Demokrasi Berdasarkan UUD 45. Hal itu diindikasikan dengan hasil muktamar. 20 Oktober 2006. atau memelihara konsensus dalam masyarakat mengenai program dan cita-cita partai yang mungkin sedang berkuasa. kristen serta dipimpin oleh tokoh yang kharismatik yang sudah biasa dalam gerakan politik sebelum Indonesia merdeka. “platform” partai yang muluk-muluk hanya selesai di atas kertas. Para pengamat politik. seperti islam. komunis. baik menghadapi pemilu nasional yang lalu maupun dalam pilkada gubernur dan kepala daerah. atau calon yang sebenarnya tidak terpuji dalam masyarakat. Tidak ada “political sosialization”. Itulah sebabnya banyak muncul calon ganda dari satu partai. 3. Terkabul. urusan kekuasaan lagi. katholik. Dalam pilkada. Keberadaan Partai.9 mengatakan bahwa partai-partai didirikan hanya untuk memenuhi syarat administratif belaka. Surabaya. 45 . maka selesailah tugas partai itu.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum partai yang berdiri orientasinya hanya kekuasaan. menurut Embong Pranata. melenggang jadi calon. 3. sosialis. Saat ini. Bandingkan partai-partai yang didirikan sebelum pemilu 1955. Februari 2008. 9 Surabaya Pos.jika memiliki kader. Jarang partai yang melakukan fungsi pendidikan politik pada kader .

penyerapan tenaga kerja. Namun saat ini konglomerat merasa kurang berminat karena keberadaan parpol yang masih perlu dibenahi.html. manajemen. Hal itu dapat dilihat dalam pandangan yang dikutip dari Retno Yulianty. Kurang berminatnya pelaku ekonomi termasuk konglomerat tidak tertarik menggunakan peluang itu dapat dilihat dalam pernyataan-pernyataannya dalam media-media masa dan elektronik. Pelaku ekonomi sebagai salah satu aspek penunjang ekonomi nasional tidak akan ambil pusing dengan siapa yang akan menjadi pemimpin. Selain itu keadaan tersebut menimbulkan keengganan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam berpartai.nl/~peace/pubind/mb/multipar. seperti terhambatnya pembangunan di segala bidang.11 tentang adanya beberapa hal dalam pernyataan juru bicara kongklomerat. Multi Partai Adalah Jalan Keluar Demokratis Bagi Politik Indonesia. investasi ke luar dan yang datang di suatu negara sudah dihilangkan hambatannya melalui prinsip persamaan perlakuan (Artikel III WTO). siapapun yang menggantikan 11 Retno Yulianti. Dan tentunya akan mempengaruhi peningkatan ekonomi nasional. Padahal di era globalisasi saat ini. dan sumber daya manusia. terutama bidang ekonomi. Akibat dari keadaan ini akan mempengaruhi aspek lain yang ada. Investor akan kurang berminat menanamkan modalnya di Indonesia. 10 April 2008. Hukum cukup memadai. 1 . baik melalui transfer of technology.Vol.xs4all. http:// www. Padahal dalam kegiatan politik yang berasaskan demokrasi. Yang penting adalah terciptanya suasana politik dalam membangun bangsa ini secara aman dan damai. 46 .Maret 2008 Pandangan masyarakat di atas menunjukkan bagaimana kegiatan partai politik yang belum secara optimal melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan untuk membangun bangsa dan negara. namun aspek karakter para elit perlu dibangun (character building) untuk memahami keberadaan masyarakat yang heterogen dan bukan memanfaatkannya dan akan berakibat tidak kondusifnya bagi lancarnya perekonomian nasional. Jakarta. Konglomerat Indonesia tidak akan ambil pusing terhadap perubahan kepemimpinan nasional (presiden). semua memiliki peluang masuk dalam parpol termasuk para investor domestik. 5 No. Bahwa investor asing diperlakukan sama dengan investor domestik.

Padahal dalam prakteknya merekalah yang paling banyak terlibat terhadap kebijakan politik negara selama ini. menunjukkan bahwa kontradiksi di dalam negeri. Keadaan tersebut perlu dibenahi agar tidak terjadi sebagaimana di negaranegara lain seperti Uni Sovyet. Minggu. 47 . 3. Dari keadaan disintegrasi akibat permainan politik akan mempengaruhi disintegrasi bangsa. sistim pengupahan dan kesejahteraan kaum buruh. untuk mengembangkan modalnya. Taktik persekutuan dagang VOC. untuk memecah belah dan mengadu domba agar dapat menguasai baik bidang ekonomi. Sebenarnya pengalaman bangsa ini juga sudah cukup banyak. seperti Amerika dan Kapitalis Eropah Barat untuk mempercepat proses krisis dan memenangkannya. yang sudah terpecah sehingga mudah untuk dikuasai. dalam hal ini Kapitalis negara-negara maju. Kaum konglomerat memilih menjadi penonton saja dan tidak akan aktif dalam politik indonesia. Seperti yang dikemukakan oleh Intelektual dalam Media Indonesia (10 November 1996) juga. Setelah rezim Gorby (dan slogan glasnost perestroikanya) jatuh maka penggantinya adalah seorang yeltzin yang melempengkan jalan kapitalisme untuk menjarah setiap republik ex Soviet Union. sistem keamanan nasional (dari soal penyelundupan kayu.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum atau menjadi presiden tidak menjadi masalah sejauh dapat menjamin stabilitas ekonomi Indonesia. Masa tahun kolonial tersebut 12 Media Indonesia. Kaum konglomerat tersebut tidak akan melarikan diri ke luar negeri jika ada krisis. Berdasarkan pernyataan itu dapat digambarkan bahwa kaum kapitalis akan tetap menjauhi (keep distance) politik. dan kebudayaan. hlm. karena semua modal mereka ada di dalam negeri dan tidak mungkin dilarikan keluar negeri. eksistensi kapital dan pemiliknya yang tidak akan kemana-mana jika ada krisis. manuver terhadap partai-partai politik. seakan-akan kepentingan mereka (yang bersangkutan keamanan modal) diserahkan begitu saja pada politisi. politik. Padahal sudah juga menjadi rahasia umum bahwa kaum kapitalis secara diam-diam melempar modalnya dalam bentuk investasi di luar negeri jauh-jauh hari sebelumnya. miras sampai ekstasy ).12 Pimpinan nasional harus dapat menjaga keamanan konglomerat. dari soal perampasan tanah rakyat. penyogokan birokrasi. 10 November 1996. akan mengundang kepentingan Luar Negeri. Dari pengalaman Soviet Union.

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

mewariskan kebodohan, minder, irasionalitas, mental budak dan ketakutan untuk mengeluarkan suara, karena terlalu sering dipecah belah dan diadu domba oleh tuan-tuan pedagang dari negeri Belanda. Hukum yang mengatur kegiatan multipartai yang bertujuan membangun demokrasi di Indonesia dalam pelaksanaannya tidak semudah yang dibayangkan. Kebutuhan aneka ragam dari rakyat yang berasal dari latar belakang yang berbeda baik budaya, agama, maupun adat istiadat serta tingkat pendidikan akan beradu secara fair dan demokratis, dan akan menghasilkan pemerintahan yang semakin lama semakin baik, karena akan menunjuk pemimpin yang mewakili semua aspirasi dan kepentingan mayoritas rakyat. Multipartai akan mengangkat kepentingan setiap daerah. Karena desentralisasi ekonomi dan politik akan menemui jalan yang mudah, sehingga justru menjamin keutuhan kesatuan dan persatuan bangsa. Setiap sektor sosial, aliran dan keyakinan masyarakat akan diperjuangkan lewat partai partai di Dewan Perwakilan Rakyat. Negara hanyalah alat untuk melayani masyarakat dan untuk kepentingan rakyat. Hukum yang menjadi dasar berpolitik seyogyanya menampung kebutuhan masyarakat Indonesia yang heterogen. Politik hukum yang diprogramkan dalam pembangunan perlu memperhatikan perkembangan masyarakat yang semakin cepat dengan meningkatnya media komunikasi melalui elektronik. Disamping aturan juga penegakannya perlu dioptimalkan dalam kehidupan berbangsa kita demi mencegah disintegrasi bangsa. 2. Pengertian Hukum, Politik Hukum dan Perkembangan Masyarakat Pada umumnya, hukum dipandang oleh masyarakat saat ini sebagai peraturan, atau undang-undang. Dan masyarakat melihat hukum sebagai gambaran pemenuhan kebutuhan mereka dalam melakukan hubungannya dengan anggota masyarakat lainnya, serta patokan pelaksanaan keadilan oleh penguasa. Pandangan ini sebagian benar, karena hukum yang tidak mengandung aturan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tempat hukum tersebut berlaku, dipandang tidak efektif. Namun demikian, hukum tidak sekedar undang-undang atau peraturan tertulis. Para ahli hukum berpandangan bahwa hukum tidak hanya peraturan tertulis, tetapi juga peraturan tidak tertulis (kebiasaan yang mengikat anggota masyarakat tersebut).
48

Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum

Pandangan ahli hukum ini dipengaruhi oleh sistem hukum yang dianut, yaitu sistem hukum kontinental, dan hukum dasar negara yang tidak mengabaikan keberadaan kebiasaan yang hidup dan mengikat anggota masyarakat. Lain dengan pandangan penganut hukum murni bahwa hakekat hukum dapat dipahami apabila hukum dianggap sebagai seperangkat peraturan, dalam satu kesatuan yang berisi tata kehidupan manusia. Hal itu berarti bahwa teori hukum murni berusaha mencapai hasil-hasilnya semata-mata pada hukum positif. Austin,13 mengatakan bahwa hukum sebagai peraturan yang dibuat oleh penguasa bertujuan mengatur tingkah laku manusia. Padahal hukum tidak saja peraturan yang mengatur kegiatan manusia dan pergaulannya, baik tertulis maupun tidak tertulis, tetapi juga prinsip-prinsip hukum, prosedur hukum, lembaga-lembaga hukum yang terkait dengan peradilan, dan tindakan administrasi hukum, dan sebagainya.14 Roscoe Pound,15 mengemukakan bahwa hukum mengandung banyak aspek, baik aturan tertulis, maupun etika kehidupan, mencakup kesusilaan, keagamaan, petunjuk moral, mekanisme berpolitik, adat istiadat pada umumnya, dan pengawasan sosial sebagai suatu keseluruhan. Pengertian hukum semacam

John Austin, The Pure Theoy of Law and Analytical Jurisprudence, Harv .L Lev, USA, 1942. hlm. 44-70. 14 Bahkan pakar hukum senior,14 mengatakan bahwa hukum: “memiliki banyak aspek, terdiri dari jauh lebih banyak komponen atau unsur yang lain, seperti filsafat hukum, sumber hukum, kaedah hukum, yurisprudensi, hukum kebiasaan, penegakan hukum, pelayanan hukum, profesi hukum, lembaga hukum, pranata hukum, prosedur dan mekanisme hukum, hukum acara, pendidikan hukum, penelitian hukum, perilaku hukum masyarakat maupun pejabat hukum, atau perilaku profesi hukum, kesadaran hukum, dan sebagainya. Aspek-aspek di atas saling terkait dalam satu sistem untuk melaksanakan fungsi hukum, sesuai dengan kebutuhan di mana hukum itu diberlakukan”. Berdasarkan uraian di atas, maka terlihat bahwa hukum dipandang sebagai aturan yang berkaitan satu dengan lainnya secara konsisten termasuk mekanisme dan prosedurnya, dan kebiasaan yang mengikat. Hal tersebut berbeda dengan pandangan ahli hukum Amerika,14 yang melihat hukum pada pandangan hakim di pengadilan/keputusan di Pengadilan, dan peranannya sebagai lembaga hukum. Keputusan pengadilan merupakan peraturan yang dapat diikuti oleh hakim berikutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan,14 hukum Amerika yang mengatakan bahwa: Law is what the courts will do in fact. Pandangan ahli hukum Belanda,14 menekankan pada kehendak pemerintah yang harus dituruti. Dan apabila tidak dikenakan sanksi. Hukum dalam kaitan ini berfungsi sebagai mengatur kehendak pemerintah, sekaligus penegakannya. 15 Roscoe Pound, The Task of Law,Franklin and Marshal College, Lancaster, Pennsylvania, USA,1946, Terj. Muh. Radjab, Bhrata, Jakarta, 1965, p.35.

13

49

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

ini dikenal pada abad pertengahan, tatkala kontrol sosial,16 yaitu kesadaran bersama sebagai manusia yang dibatasi oleh kekuatan yang sepadan bagi intensitas (keadaan tingkatan, atau ukuran intensinya) untuk bertingkah laku dalam cara-cara tertentu tanpa memandang secara berlebih-lebihan kepentingan sendiri dengan lingkungan sekelilingnya — belum mengenal diferensiasi–yaitu proses pembedaan hak dan kewajiban warga masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin – ketika hanya satu istilah harus mencakup artian peraturan tertulis dan etika serta kebiasaan pada umumnya, kehidupan dalam masyarakat yang berorganisasi politik di dalam negara-negara kota, adat pada umumnya, dan pengawasan sosial, sebagai suatu keseluruhan. Pada akhir zaman pertengahan, hukum Romawi dipahami sebagai titah Raja yang diundangkan, bersifat mengikat (Codex Theodosius atau Peraturan perundang-undangan Kaisar Justinianus)-yang diajarkan di universitasuniversitas. Plato, pada abad 4 SM, mengatakan bahwa negara yang ideal hukum tidak dibutuhkan, karena keadilan yang berlaku sudah terdapat dalam titah raja yang juga sebagai filosof.17 Hukum dianggapnya merupakan pencerminan akal manusia yang paling sempurna dalam kehidupan bernegara sehingga dapat diartikan sama dengan ilmu pengetahuan yang dijadikan patokan bukanlah peraturan yang diundangkan, tetapi gagasan tentang urutan sebab akibat, berdasarkan observasi.18 Dinamika hukum terus berkembang sesuai dengan berkembangnya pergaulan masyarakat. Oleh karena itu hukum harus bersifat mengayomi, mengandung asas-asas yang dijadikan rambu-rambu dalam menentukan

16

Kontrol sosial diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 523, sebagai kesadaran bersama sebagai manusia yang dibatasi oleh kekuatan yang sepadan bagi intensitas (keadaan tingkatan, atau ukuran intensinya) untuk bertingkah laku dalam cara-cara tertentu tanpa memandang secara berlebih-lebihan kepentingan sendiri dengan lingkungan sekelilingnya. Belum mengenal diferensiasi (proses pembedaan hak dan kewajiban warga masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin). 17 Encyclopaedia Britannica, Britanica Inc. USA, hlm. 716. 18 Roscoe Pound, Op.cit., hlm. 37 Ahli filsafat positivis memikirkan tentang hakekat, seperti di dalam hukum yang mirip dengan hukum fisika, dan ilmu bintang, yang dapat diketemukan dengan observasi dan dibuktikan kebenarannya dengan observasi lebih lanjut yang terkait dengan perkembangan sosial dan terletak pada dasar-dasar ilmu kemasyarakatan. Jadi dalam ilmu-ilmu kemasyarakatan terdapat hukum. Oleh karena itu ada pandangan bahwa hukum dipengaruhi ilmu-ilmu lain dil luar hukum itu. Hukum yang adalah gagasan tentang aturan, mengandung apa yang benar yang ditegakkan oleh penguasa, yang mengatur kehidupan manusia, diundangkan dalam bentuk tulisan para ahli hukum tersebut, kemudian pada abad ke 17 mengandung hak yang dilindungi hukum, disahkan oleh Raja.

50

Disamping itu tantangan semakin bertambah dengan rumitnya ketertiban ekonomi.. Pensylvania. 20 Roscoe Pound. Abad ke 20 memasuki abad ke 21 menampilkan pemikiran para ahli hukum yang mengatakan dibutuhkannya ketertiban politik. 21 Kenichi Ohmae.20 selanjutnya mengatakan bahwa pada abad akhir abad ke 17 memasuki abad ke 18 pemikiran ahli hukum semakin bergeser pada pemikiran bahwa ketertiban hukum dianggap bertujuan memelihara itikad baik. Menurut pengertian ini. yang dilaksanakan dengan menggunakan pemikiran secara rasional oleh para ahli hukum dalam pelaksanaannya dengan dipagari asas-asas.19 Roscoe Pound. 53. dan oleh karenanya undang-undang sangat dibutuhkan. Pada Abad ke 19 hukum berfungsi untuk menciptakan ketertiban agar hak pribadi dilindungi sebebas-bebasnya.21 Hal ini sesuai dengan pandangan yang dikemukakan 19 Ibid. Ketertiban hukum menentukan bagaimana hukum memfungsikan dirinya agar niat pemerintah tercapai (misalnya dalam melaksanakan pembangunan) dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana hukum diberlakukan. Hukum tidak hanya berfungsi sebagai aturan tingkah laku antar anggota masyarakat. dan kesusilaan. dengan cara menerapkan keadilan melalui ganti rugi. disamping mengandung aturan tingkah laku manusia. Op. Whaton Scool Publishing. Apa yang dibenarkan dalam kaidah kesusilaan dibenarkan dalam hukum. Ketertiban politik mengatur bagaimana pemerintah mengimplementasikan rencananya dalam melaksanakan pemerintahan dengan menampung kebutuhan masyarakat yang kompleks. Keinginan manusia berkembang terus. Dengan demikian diharapkan hukum dapat menfungsikan dirinya agar tidak tertinggal dari perkembangan sekelilingnya. tidak sebagaimana pada abad pertengahan sebelum Masehi. pemikiran meningkat sehingga mulai memikirkan bahwa hukum. 121. Wharton University. tetapi juga tingkah laku perusahaan. 2002. 51 . Hukum di Indonesia sebagaimana di negara-negara lain yang bekas dijajah tidak hanya satu tetapi beberapa sistem hukum. Kontrol sosial difungsikan. Hukum terus berkembang seiring dengan berkembangnya masyarakat yang diindikasikan dengan bervariasinya pemanfaatan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum keputusan untuk memenuhi kepentingan masyarakat . dimulai dengan hukum untuk memelihara perdamaian. Government in The Post–National Era.cit. Hukum semacam ini mengandung kaidah atau norma yang menentukan akibat hukum tertentu dan terperinci bagi suatu keadaan atau situasi tertentu yang berkenaan dengan fakta. hlm. Dalam mencapai hukum yang otoritatif/berwenang memerintah atau berwibawa ini dicapai melalui tahapan. mengandung asas untuk menjadi pedoman dalam menafsirkan hukum. p. hukum yang berwibawa adalah sekumpulan penuntun yang berwibawa atau dasar-dasar kebijakan. Encyclopedia. Hukum harus menampilkan diri dapat menampung permasalahan yang terjadi. Hal ini dibutuhkan untuk memenuhi tujuan hukum tentang bagaimana anggota masyarakat memandangnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. dan ketertiban hukum yang berkeadilan. yang dikembangkan dan ditetapkan melalui teknik penyusunan yang baik dengan tujuan yang jelas yaitu mencapai ketertiban.

Keberadaan hukum menuntut adanya persyaratan yang merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan hakekat hukum dasar dalam negara tersebut. Bandung. Politik hukum lebih banyak mengarah pada perumusan konkrit tentang apa dan bagaimana seharusnya hukum yang akan datang akan dibentuk dan dirumuskan agar memenuhi kebutuhan masyarakat dan tujuan pemerintah dalam program-programnya untuk mensejahterakan rakyat.Maret 2008 ahli hukum. hlm. Bukan saja oleh lembagalembaga politik seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Pembinaan Dan Pembaharuan Hukum Dalam Pembangunan Nasional. atau tekanan- 22 23 Mochtar Kusumaatmadja.23 sebagai tindakan merombak. Fungsi Hukum Dalam Pembangunan Nasional. Bandung. 1 . tetapi peraturan perundang-undangan pada dasarnya akan mencerminkan berbagai pemikiran dan kebijaksanaan politik yang paling berpengaruh dalam negara yang bersangkutan. dan diolah oleh ilmu hukum. Majelis Permusyawaratan Rakyat. khususnya peraturan perundang-undangan (tertulis). Bina Cipta hlm. termasuk berinteraksi dengan dunia luar. 3. BinaCipta. Konsepsi umum mengatakan bahwa hukum.22 bahwa hukum dikatakan efektif apabila memenuhi kebutuhan pelaksanaan pembangunan yang diartikan. Agar hukum yang akan dibentuk ditaati dan memberi keamanan bagi masyarakat Indonesia. 1978. Mochtar Kusumaatmadja. yang mempunyai kekuatan saling tarik menarik. adalah produk politik. Hal itu menuntut adanya persyaratan. Pikiran politik dan kebijaksanaan politik yang berpengaruh tersebut dapat bersumber dari idiologi tertentu. 7. kepentingan tertentu (seperti kepentingan para konglomerat). 52 . maupun sistem hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai aspek kehidupan. baik yang terkait dengan perangkat hukum/peraturan perundang-undangan. memperbaiki atau menghapuskan. maka hukum tersebut hendaknya mengandung pesan yang tergambar dalam pembukaan UUD 45. dan Ilmu hukum.Vol. Filsafat hukum lebih banyak meramu ide-ide tentang hukum. atau Presiden. yaitu bagaimana agar rakyat Indonesia dapat melaksanakan kehidupan yang bebas sebagai suatu bangsa yang merdeka. 7. Politik Hukum dan Perkembangan serta Susunan Masyarakat Politik hukum adalah salah satu dari tiga aspek kerangka kajian hukum. 5 No. selain Filsafat hukum.

Dr.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum tekanan sosial yang kuat dari masyarakat. S. maka dasar pembentukan hukumpun ikut terpengaruh. Op.. Bandung. dan keadaan ini biasa terjadi di negara berkembang akibat penjajahan. hukum di bidang ekonomi di negara tersebut akan menerapkan dalam ketentuannya pemberian kewenangan kepada pemerintah untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi. dan yang dipakai sebagai patokan adalah idiologis negara untuk melindungi rakyat dan membuka diri menerima prinsip dari belahan dunia luar yang dikombinasikan. Di bidang politik di negara tersebut akan dipengaruhi oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat.H. Pembinaan Hukum. 232. dan tentunya berbeda dengan politik hukum negara yang didasarkan doktrin kapitalisme. 53 . karena bagi kebanyakan negara. Mochtar Kusumaatmadja. 231. Di bidang politik dengan cara multipartai politik hukumnya adalah menunjang pelaksanaan hak anggota masyarakat dalam menentukan haknya 24 Bagir Manan. dan pemerintah berperan mengkoordinasikannya.24 Pada umumnya doktrin yang dianut suatu negara akan mempengaruhi politik hukum negara tersebut. Demikian pula hukum di bidang ekonomi pada negara penganut doktrin kapitalisme akan banyak mengandung ketentuan mengenai ekonomi pasar.cit. Pelaksanaan hukum dari negara-negara yang melakukan hubungan perdagangan akan mempengaruhi sistem hukum masing-masing negara tersebut. Hukum yang dibentuk akan berbeda. Di negara yang memegang prinsip demokrasi akan berbeda pelaksanaannya.LL. Doktrin sosialisme akan mempengaruhi politik hukum negara yang menganutnya. Namun demikian secara seutuhnya prinsip itu akan dilakukan di negara-negara maju yang sifat masyarakatnya homogen.25 tidak tepat lagi untuk membedakan secara tajam antara ‘serba negara’ dan ‘serba pasar’. Saat ini. hlm. Kumpulan Karya Tulis Menghormati 70 tahun Prof. Unpad Prss. tidak sebagaimana di Indonesia yang masih bersifat heterogen (keanekaragaman). misalnya saja negara penganut doktrin sosialisme.. Disamping itu dengan semakin tipisnya batas teritorial negara-negara di dunia. 1999 hlm. Kemandirian rakyat akan diperhatikan.M. pendekatan yang serba idiologis sudah berangsur-angsur ditinggalkan. bergantung dari obyek-obyek yang diatur. 25 Bagir Manan.

1 . juga memperhatikan pendidikan berpolitik dan pendidikan dalam mempersiapkan anggota untuk menjadi pemimpin. D. misalnya bagaimana pengaturannya terhadap rakyat yang tingkat pendidikannya rendah (yang lebih banyak jumlahnya di daerah-daerah) dalam memanfaatkan peluang mengeluarkan suara agar tidak dijadikan komoditas oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingannya dalam mencari kekuasaan. 5 No. b Untuk mencapai efektivitas pelaksanaan prinsip demokrasi berpolitik dalam masyarakat yang heterogen. Saran a Seyogyanya pelaksanaan kegiatan partai politik disamping melakukan pemahaman dan usaha mencapai tujuan memajukan dan mempersatukan bangsa. Penutup 1. Kesimpulan a Pengaturan hukum yang menjadi patokan pelaksanaan Parpol dalam kehidupan berbangsa terus berubah sesuai perkembangan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Oleh karena itu dalam menentukan politik hukum unsur-unsur ini perlu diperhatikan. 54 . 2. juga hendaknya memperhatikan hak masyarakat yang tingkatan pendidikannya masih rendah dan sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai. terakhir ditampung dalam UU No. dan adat istiadat yang berbeda. agama. antara lain memperhatikan keberadaan masyarakat baik terhadap budaya. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.Vol.Maret 2008 dan juga tunduk pada kewajibannya yaitu mewujudkan cita-cita dalam kehidupan berbangsa dalam keberadaan masyarakat Indonesia yang beragam sangat rentan terhadap disintegrasi bangsa. b Politik hukum dalam memenuhi pelaksanaan multipartai masyarakat Indonesia yang heterogen dilakukan dengan memperhatikan keadilan terhadap rakyat. melalui sosialisasi dan praktek pelaksanaannya.

Franklin and Marshal College. Jakarta.M. Mochtar Kusumaatmadja. Kumpulan Karya Tulis Menghormati 70 tahun Prof. 10 April 2008. USA. Pensylvania. Government in The Post –National Era. Britanica Inc. 1999. Encyclopaedia Britannica. Bandung. Demokrasi. Ed Candy. Bhrata. How to Build Character to Implementation The Law.nl/~peace/pubind/mb/multipar. Kamus Besar Bahasa Indonesia. USA. 2002. Universitas Padjadjaran.LL. Media Indonesia.1946. Surabaya Pagi. ———— Pembinaan Dan Pembaharuan Hukum Dalam Pembangunan Nasional. Whaton Scool Publishing.nl/~peace/pubind/mb/ multipar. Bandung. USA. Pernyataan Kehendak Melalui Partai. USA. Februari 2008. 1942. Harv . Mochtar Kusumaatmadja. Grafita. Roscoe Pound. Desember 2007. Jakarta. Harvard University.html. ———— Bahan Kuliah Pascasarjana (S3). Surabaya. Demokrasi Pasar. BinaCipta. Bandung. Balai Pustaka.xs4all. Radjab.L Lev. http://www. Wharton University. Lancaster. Boston Masatchusstetts. 1978. Makmur Makka. Surabaya Pagi. Fungsi Partai Dalam Membangun Bangsa Dan Pelaksanaan Asas Demokrasi Berdasarkan UUD 45. Maret 1999.xs4all. Minggu. hlm.DAFTAR PUSTAKA Bagir Manan. Dan Hak Suara Anggota Masyarakat. Surabaya Post. http://www. Maret 2008. Unpad Prss. 3. p. The Task of Law. 7. Last Update: 07/07/2005. BinaCipta hlm. John Austin.SH. Pennsylvania. Pembinaan Hukum.Dr. Pendidikan Politik Dan Demokrasi Dalam Mengeluarkan Suara. 10 November 1996. 55 . 1965. Multi Partai Adalah Jalan Keluar Demokratis Bagi Politik Indonesia. 14/06/2005. Surabaya. Retno Yulianti. 121. Kenichi Ohmae. Fungsi Hukum Dalam Pembangunan Nasional.html. Muh. Bandung. Rauf Andika. Jakarta. Embong Pranata. Surabaya. The Pure Theoy of Law and Analytical Jurisprudence. Terj. Friedman.

Vol. dan 3. Setiap Partai Politik akan selalu berusaha untuk memperoleh dukungan rakyat yang besar pada saat Pemilihan Umum agar Badan Perwakilan Rakyat di dominasi oleh Partai Politik yang bersangkutan. Partai Politik. Sehubungan dengan hal tersebut cara yang dipergunakan untuk menentukan keanggotaan Badan Perwakilan Rakyat tersebut adalah : 1.Maret 2008 DEMOKRASI DAN PARTAI POLITIK Oleh: Zainal Abidin Saleh. kejujuran.H.M. A. pelaksanaan demokrasi dilakukan oleh wakil-wakil rakyat yang duduk sebagai anggota Badan Perwakilan Rakyat. Oleh sebab itu. jika demokrasi langsung itu akan dilaksanakan. Abstrak Menurut paham negara Demokrasi modern. Pemilihan Umum merupakan salah satu sendi untuk tegaknya sistem politik demokrasi. 5 No. Pendahuluan Pelaksanaan demokrasi dalam negara demokrasi modern sudah tidak mungkin lagi dilaksanakan dengan mempergunakan model demokrasi langsung. Kehendak rakyat ialah dasar kekuasaan pemerintah. S. Tujuan Pemilihan Umum tidak lain adalah untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip demokrasi. Dengan demikian kebebasan. Pemilihan Umum. 2. Kehendak itu akan dilahirkan dalam pemilihan-pemilihan berkala dan jujur yang dilakukan dalam pemilihan umum dan berkesamaan atas pengaturan suara yang rahasia. Pemilihan Umum dan Badan Perwakilan Rakyat merupakan tiga institusi yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. maka mulai saat itulah rakyat diberikan kebebasan dalam menentukan calon-calon wakil rakyat yang tergabung dalam Partai Politik.. Banyak kendala yang dihadapi. dengan cara pemungutan suara yang bebas dan yang sederajat dengan itu. Pengangkatan. rahasia dan berkesamaan merupakan hal yang esensial dalam penyelenggaraan pemilu. Pada saat pemilu dijadikan manifestasi prinsip kedaulatan rakyat. Campuran (Kombinasi antara Pemilihan Umum dan Pengangkatan). 1 .H. dengan cara memilih wakil56 .

Kedua. dalam Miriam Budiardjo. Penentuan Kepala Pemerintahan ini biasanya sangat dipengaruhi oleh komposisi perolehan suara dari Partai Politik Peserta Pemilu. Dasar-dasar Ilmu Politik. Dalam sistem Presidensiil yang murni. Dalam Pemilihan Umum tercakup dua macam hak pilih. Pemilu pada prinsipnya hanya dilaksanakan satu kali.Dekomrasi dan Partai Politik wakil rakyat di Badan Perwakilan Rakyat. Oleh sebab itu dalam bentuk dan jenis sistem pemerintahan apapun. Gramedia. 57 . Di dalam sistem parlementer. yaitu hak untuk dipilih menjadi Anggota Badan Perwakilan Rakyat. Seminar Sehari “Media Law & Election. Pemilu dan Rekruitmen Kepemimpinan Nasional2 Salah satu fungsi utama Pemilu dalam negara demokratis tidak lain adalah untuk menentukan Kepemimpinan Nasional secara konstitusional. yaitu: Hak pilih aktif atau sering dikenal sebagai Hak untuk memilih.M. Pemilu menduduki posisi yang sangat strategis dalam rangka melaksanakan tujuan tersebut. untuk menentukan Presiden (Kepala Pemerintahan) dalam rangka menyelenggarakan Pemerintahan Negara. SH. B. 1986. Menurut Henry B.1 Perlu diketahui pula. Bagi Partai 1 Henry B. untuk menentukan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Kepemimpinan Nasional yang dimaksud disini menyangkut juga kepemimpinan kolektif yang direfleksikan dalam diri para Wakil Rakyat. 2 Topik ini diambil dari Makalah B Hestu Ciptohandoyo. Dan pembentukan Parlemen inilah kemudian ditentukan Kepala Pemerintahan. Kerjasama FH-UAJ dan Indonesia Media Law & Policy Centre. yaitu pertama. hlm. Jakarta. Kesemuanya itu dilakukan dalam rangka mengikut sertakan rakyat dalam kehidupan ketatanegaraan. 29 Juni 2002. Pemilu diselenggarakan sebanyak dua kali. artinya terjadi perpindahan kekuasaan negara dari pemegang yang lama kepada pemegang yang baru secara damai. Yogyakarta. dan Hak pilih pasif.Hum yang berjudul Indonesia Menyongsong Pemilihan Umum 2004 “. Mayo. Pemilihan Umum juga dapat dipergunakan untuk menentukan orang-orang yang berhak menduduki jabatan Presiden dan Wakil Presiden. bahwa disamping untuk menentukan keanggotaan Badan Perwakilan Rakyat. yakni utamanya untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di Parlemen. Mayo dengan adanya Pemilihan Umum maka salah satu nilai demokrasi dapat terwujud. 61.

artinya para pemilih melakukan pemilihan orang atau kontestan (peserta) yang disukai. kelaziman tersebut ditolak melalui argumentasi konstitusional yang menegaskan bahwa Pemilihan Presiden merupakan wewenang MPR. 58 . Dari gambaran tersebut di atas. Konstitusional kasus3 semacam inilah yang mengakibatkan Megawati harus berlapang dada untuk memberikan kesempatan kepada KH. yaitu: 1. Oleh sebab itulah hasil Pemilu tahun 1999 tidak dapat dipergunakan sebagai ukuran untuk menentukan secara langsung jabatan Kepala Pemerintahan. Sedangkan jika ternyata dalam Pemilu tidak ada satupun Partai Politik yang mampu menduduki kursi mayoritas. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Sistem Presidensiil. dan 2. maka diberi kesempatan pertama untuk menentukan komposisi Pemerintahan Negara. maka korelasi antara Pemilu dan Pemilihan Kepala Pemerintahan sifatnya adalah tidak langsung. Pemilihan secara bertingkat (tidak langsung). Pemilihan secara langsung. Di dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Sidang Umum (SU) MPR tahun 1999. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden. Contoh cara seperti ini pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang dilakukan oleh MPR sebelum Amandemen UUD 1945. 3 Maksud Konstitusional Kasus disini adalah keadaan atau realitas konstitusi yang tidak sesuai dengan paradigma teori ketatanegaraan. Hal ini berarti antara Pemilu dan Pemilihan Presiden bukan merupakan “satu tarikan nafas” dalam penentuan rezim. 1 . dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan Pemilihan Umum guna menentukan seseorang menjadi pejabat negara (Presiden dan Wakil Presiden).Vol. yaitu para pemilih melakukan pemilihan orang-orang untuk menjadi anggota suatu lembaga kenegaraan yang mempunyai wewenang untuk memilih orang yang akan menjadi pejabat negara tersebut.Maret 2008 Politik yang menduduki kursi mayoritas. walaupun dalam Pemilu tahun 1999 Partai yang dipimpin oleh Megawati yakni PDIP memperoleh suara (kursi) di MPR lebih kurang 36%. dapat ditempuh melalui dua alternatif. maka penentuan komposisi Pemerintahan Negara dilakukan dengan cara koalisi. Dengan demikian dalam konteks sistem Parlementer. 5 No. yakni bergabungnya dua Partai Politik atau lebih untuk memperkuat suara di Parlemen.

yakni mengisi keanggotaan Lembaga Perwakilan Rakyat melalui pengangkatan atau penunjukan. dalam Bintan R. Persekutuan-persekutuan hidup inilah yang bertindak sebagai pengendali hak pilih. Menurut Wolhoff. lapisanlapisan sosial (buruh. tarn) dan lembaga-lembaga sosial (LSM/ORNOP). sistem pemilihan organis ini dilandasi oleh pokok pikiran bahwa :5 a. Kendatipun demikian dalam negara yang menganut prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat. Sistem ini sering disebut juga Pemilihan Umum. tentunya keberadaan anggota-anggota Lembaga Perwakilan Rakyat yang berasal dari Pemilihan Umum komposisinya harus lebih banyak ketimbang anggota-anggota Lembaga Perwakilan Rakyat yang berasal dari pengangkatan atau penunjukkan. Sistem Pemilihan Organis. Saragih. fungsional spesialis (cabang industri). Loc.cit. 2. Berkaitan dengan adanya dua sistem tersebut. 1. 5 Wolhoff. yaitu :4 1. teritorial (daerah). 171. Sistem Pemilihan Organis. hlm. dst. di bawah ini akan penulis sampaikan pokok-pokok pikiran yang dikembangkan oleh masmg-masing sistem di atas.Dekomrasi dan Partai Politik Pada umumnya Anggota Partai Politik dapat duduk di Lembaga Perwakilan Rakyat melalui Pemilihan Umum. 59 . b. Rakyat dalam suatu negara dipandang sebagai sejumlah individu yang hidup bersama dalam beraneka ragam persekutuan hidup. Artinya yang mempunyai kewenangan atau hak untuk mengutus wakil-wakilnya duduk sebagai anggota Lembaga Perwakilan Rakyat adalah Persekutuan-persekutuan hidup tersebut. Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum Indonesia. Saragih. tetapi karena ada kelompokkelompok fungsional yang hidup dan berkembang di dalam suatu masyarakat serta dibutuhkan keterwakilannya di dalam Lembaga Perwakilan Rakyat. Gaya Media Pratama. 4 Bintan R. maka dikenal pula adanya cara-cara pengangkatan maupun penunjukkan. 1988. Sistem Pemilihan mekanis. Sehubungan dengan pola pengisian keanggotaan Lembaga Perwakilan Rakyat tersebut. Jakarta. maka mekanisme untuk menentukan anggota-anggota di Lembaga Perwakilan Rakyat dapat digolongkan ke dalam dua sistem. seperti genealogi (keluarga).

6 Loc. 2. Oleh sebab itu apabila Lembaga Perwakilan jenis ini akan menetapkan suatu Undang-Undang yang menyangkut hak-hak rakyat. Hal ini disebabkan mekanisme pemilihan diselenggarakan dan dipimpin sendiri oleh masing-masing persekutuan hidup tersebut.Maret 2008 c. Dalam negara liberal mengutamakan individu-individu sebagai kesatuan otonom dan masyarakat dipandang sebagai suatu kompleks hubunganhubungan antar individu yang bersifat kontraktual. Dengan kata lain Lembaga Perwakilan yang hanya berfungsi untuk mengurus kepentingan-kepentingan khusus dari persekutuan-persekutuan hidup yang ada di dalam masyarakat suatu negara. Sistem Pemilihan Mekanis. Dengan demikian melalui sistem pemilihan organis ini kedudukan Lembaga Perwakilan menjadi lemah. d. dan tingkat representasinya sangat rendah. c. maka Undang-Undang tersebut dapat berlaku efektif jika rakyat telah menyetujui. Sedangkan di dalam negara sosialis-komunis lebih mengutamakan totaliteit kolektif masyarakat dan mengecilkan peranan individu-individu dalam totaliteit kolektif ini. Berdasarkan pokok pikiran inilah. 5 No. Individu-individu inilah yang bertindak sebagai pengendali hak pilih aktif. sistem pemilihan mekanis berpangkal tolak dari pemikiran bahwa :6 a. misalnya melalui referendum. Partai-partai Politik dalam struktur kehidupan kemasyarakatan seperti ini tidak dibutuhkan keberadaannya.Vol. maka keberadaan Lembaga Perwakilan Rakyat .menurut sistem pemilihan organis . Partai politik atau organisasi politik berperan dalam mengorganisir pemilih.cit 60 . Masing-masing individu berhak mengeluarkan satu suara dalam setiap pemilihan untuk satu Lembaga Perwakilan Rakyat. sehingga eksistensinya (keberadaannya) sangat diperlukan. baik menurut sistem satu partai. b. dua partai ataupun multipartai. e.tidak lebih hanya merupakan “Lembaga Perwakilan Persekutuan-persekutuan hidup”. 1 . Masih menurut Wolhoff. Rakyat di dalam suatu negara dipandang sebagai massa individu-individu yang sama.

Jikalau cara seperti ini mengakibatkan jumlah distrik terlalu banyak. 7 Ketika buku ini disusun RUU tentang Pemilihan Umum tersebut masih dalam tahap pembicaraan di DPR-RI 8 Pasal 5 ayat (l) UU tentang Pemilihan Umum. Sistem Pemilihan distrik. yaitu: a. Sistem Pemilihan Proporsional. Cara yang kedua ini mengakibatkan masing-masing distrik bisa mengirimkan wakil sebanyak 2 (dua) orang. Dalam perkembangan lebih lanjut. maka keberadaan Lembaga Perwakilan Rakyat yang terbentuk bersifat Lembaga yang merepresentasikan kepentingan-kepentingan politik rakyat secara menyeluruh yang dalam perkembangannya disebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau Parlemen.7 Sistem yang dimaksud adalah “Sistem Proporsional dengan daftar calon terbuka8 a. maka dikenal adanya dua sistem Pemilihan Umum. dan b. maka dapat juga dipergunakan cara penentuan distrik berdasarkan kursi di Parlemen di bagi dua. dibagi atas distrik-distrik pemilihan yang jumlahnya sama dengan kursi yang tersedia di parlemen (kursi di Parlemen yang diperebutkan dalam Pemilihan umum). maka dapat ditempuh dengan membagi wilayah negara menjadi 250 distrik. Tatanan Pemilihan umum seperti ini dapat digambarkan sebagai berikut. Contohnya: Jumlah Kursi di Parlemen adalah 500.Dekomrasi dan Partai Politik Berpangkal tolak dari pemikiran tersebut di atas. Dengan adanya sistem pemilihan mekanis inilah. sebagaimana tertuang di dalam UU No. 61 . Setiap distrik hanya memilih satu orang wakil untuk duduk di Parlemen dari beberapa calon untuk distrik tersebut. Sistem Pemilihan Distrik. Hal ini berarti untuk masing-masing distrik bisa mengirimkan dua calon untuk duduk di kursi Parlemen. Sistem Pemilihan yang mengkombinasikan antara sistem distrik dan Proporsional adalah sistem Pemilihan Umum yang dilaksanakan di Indonesia. Jikalau pembagian distrik dirasa terlalu banyak.10 Tahun 2008 tentang Pemilu. kedua sistem Pemilihan Umum ini membuka peluang adanya kombinasi antara keduanya. Untuk cara yang pertama dapat ditempuh dengan membagi wilayah negara menjadi 500 distrik. Wilayah suatu negara yang menyelenggarakan suatu pemilihan untuk wakilwakil di parlemen.

Bukan Partai Politik. Sistem ini mendorong penyatuan partai-partai (khususnya jika suatu negara itu mempergunakan sistem multi partai). Dengan mempergunakan sistem distrik. Artinya Calon yang menjadi wakil dari suatu distrik. Bahkan ada kemungkinan adalah calon independen dan non partisan. Sedangkan kelemahan dan sistem pemilihan distrik. pada hakikatnya hanya memperoleh suara minoritas (Low Representative) yang ada di distrik yang bersangkutan. Biayanya relatif lebih murah dan penyelenggaraannya relatif singkat. ketimbang kepentingan kelompok Partai yang justru kadangkala menyimpang dari kepentingan rakyat banyak. maka ada kemungkinan pertumbuhan Partai Politik yang cenderung sektarian. 5 No. 1 . maka keuntungan yang dapat diperoleh adalah : 1. karena dalam Pemilihan distrik. Hal ini mengingat tokoh-tokoh politik yang terpilih menjadi wakil masing-masing distrik lebih mengedepankan kepentingan rakyat di masing-masing distrik. dan terpilihnya mereka ini semata-mata hanya karena kepopuleran dan kredibilitasnya. ideologis/aliran. Tidak memerlukan banyak orang dan banyak birokrasi untuk menyusun kepanitiaan Pemilihan. dan primordialisme menjadi berkurang. jikalau dibandingkan jumlah total suara (High Representative) dari calon62 . Selain itu dalam perkembangan lebih lanjut sang wakil tidak akan mengatas namakan Partai Politik. Hal ini disebabkan calon yang terpilih di masing-masing distrik hanya satu atau lebih dari satu. rakyat memilih orang. dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Hubungan antara rakyat dengan “sang wakil” relatif dekat. 4. Oleh sebab itulah ada kemungkinan partai-partai politik itu bergabung untuk mencalonkan seseorang yang lebih “mumpuni” diantara mereka. Organisasi dari penyelenggaraan pemilihan dengan sistem distrik ini relatif sederhana. Calon yang mumpuni itu belum tentu berasal dari satu partai.Vol. Sisa suara yang terbuang tidak perlu diperhitungkan. Hal ini disebabkan partai-partai politik tidak mungkin mencalonkan calon wakil rakyat yang tidak populer di masing-masing distrik. 3.Maret 2008 Berdasarkan tatanan (sistem) Pemilihan distrik semacam ini. Banyak suara yang terbuang. 2. Bahkan ada kemungkinan terjadi fenomena Low representative Versus High representative.

Apalagi mereka ini terpencar dalam berbagai distrik pemilihan. maka representasi dari calon A di distrik tersebut adalah rendah (Low representative).dengan mempertimbangkan wilayah negara. Calon D : 20 Suara. Kemudian . Kendatipun negara dianggap satu daerah pemilihan. Dalam sistem ini. Sehingga besar kemungkinan setiap organisasi peserta Pemilihan Umum (Partai Politik/ Golongan Politik) memperoleh kursi/wakil di Parlemen Pusat. Calon E : 15 suara. Tatanan (sistem) pemilihan umum seperti ini adalah mempergunakan mekanisme sebagai berikut. Calon B : 39 suara. Calon C : 25 suara.000. Contohnya : Calon A : 40 suara. Berdasarkan suara tersebut maka Wakil Rakyat dari Distrik tersebut adalah A. dibagi kepada Partai-Partai Politik atau golongangolongan politik yang ikut serta dalam Pemilihan Umum sesuai dengan imbangan suara yang diperoleh dalam pemilihan yang bersangkutan. negara dianggap sebagai satu daerah pemilihan.000 pemilih mempunyai 1 (satu) orang wakil di Parlemen. b.000 rakyat pemilih yang berhak. Imbangan suara seperti ini.kursi yang tersedia di Parlemen 63 . artinya 1 (satu) orang wakil harus memperoleh dukungan suara 400. namun mengingat luas wilayah suatu negara serta jumlah penduduk yang besar. Akan tetapi bila dilihat jumlah total perolehan suara (B+C+D+E). Kursi yang tersedia di Parlemen Pusat diperebutkan dalam suatu Pemilihan Umum. Dalam arti bahwa suara yang diperoleh dari suatu daerah dapat ditambahkan dari suara yang diperoleh dari suatu daerah lainnya. maka pada umumnya dalam sistem pemilihan proporsional ini sering dibentuk daerah pemilihan (bukan distrik pemilihan). Menyulitkan bagi Partai-partai kecil dan golongan-golongan minoritas untuk mempunyai wakil di Lembaga Perwakilan Rakyat. dan tiap suara dihitung. Misalnya untuk kepentingan ini ditentukan suatu perimbangan 1 : 400. Sistem Pemilihan Proporsional (Multi member constituency). yaitu wilayah negara dibagi dalam daerahdaerah pemilihan. Dengan kata lain sejumlah 400. 2. jumlah penduduk dan faktor-faktor politik lainnya .Dekomrasi dan Partai Politik calon lain di distrik tersebut.

Maret 2008 Pusat yang akan diperebutkan dalam Pemilihan Umum harus lebih dulu dibagikan ke daerah-daerah pemilihan. maka ditentukan sebagai berikut : Daerah Pemilihan A: 10 kursi. Daerah Pemilihan B : 7 kursi. melainkan harus lebih dari satu. 1 .Vol. Secara ideal sistem pemilihan umum proporsional ini mengandung kebaikan-kebaikan. Tetapi jumlah kursi yang diperebutkan ini tidak boleh satu untuk satu daerah pemilihan. Kedua: dengan mempertimbangkan wilayah negara. jumlah penduduk dan sebagainya. Ketiga : misalnya kursi yang berada di daerah pemilihan A yang berjumlah 10 dibagikan kepada Partai politik/golongan politik peserta Pemilihan Umum sesuai dengan imbangan suara yang diperoleh dalam pemilihan umum yang bersangkutan. Daerah Pemilihan C: 7 kursi. Inilah yang sering disebut Multy member constituency. Keempat : dari hasil yang diperoleh tersebut.maka cara yang ditempuh adalah dengan membagi jumlah suara yang diperoleh masing-masing peserta Pemilihan Umum dengan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Sehingga pemenang dari satu daerah pemilihan terdiri dari lebih dari satu orang. Daerah Pemilihan D : 6 kursi. Partai politik/golongan politik dapat menentukan anggota-anggotanya yang akan duduk di Parlemen dengan berlandaskan pada stelsel daftar calon anggota Parlemen. Langkahlangkah yang harus ditempuh adalah : Pertama : dibagikan terlebih dahulu 30 kursi tersebut kepada daerahdaerah pemilihan. - - Dalam perhitungan suara .dalam rangka menentukan jumlah kursi yang diperoleh masing-masing Partai politik/golongan politik peserta Pemilihan Umum . 64 . 5 No. Stelsel daftar ini tersusun berdasarkan nomor urut. Oleh sebab itu nomor urut yang paling atas-lah yang memungkinkan untuk dapat dipilih oleh Partai politik yang bersangkutan sebagai wakil rakyat yang duduk di Parlemen. Contoh yang dapat dipergunakan untuk memperjelas sistem ini adalah : Misalnya suatu negara yang mempunyai 30 kursi di Parlemen akan menyelenggarakan Pemilihan Umum dengan sistem proporsional. Sedangkan sisa suara yang mungkin ada di suatu daerah pemilihan tidak dapat dipindahkan ke daerah pemilihan yang lain. seperti jumlah suara pemilih yang terbuang sangat sedikit. misalnya ada 4 (empat) daerah pemilihan.

Kurang memiliki loyalitas kepada rakyat pemilih. Rakyat hanya memilih Partai Politik. sehingga lebih mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada. 180 65 . sebab pada umumnya penentuan pemerintahan didasarkan pada koalisi dari dua partai atau lebih.Dekomrasi dan Partai Politik merangkum partai-partai kecil atau golongan minoritas untuk mendudukkan wakilnya di Parlemen. Kurang mendorong untuk dipergunakan dalam mencari dan memanfaatkan persamaan-persamaan. Wakil-wakil yang terpilih justru merasa lebih dekat dengan induk organisasinya. hlm. Hal ini 9 Ibid. Dengan membuka peluang munculnya banyak partai. Dengan mempergunakan sistem ini peta Politik justru mengarah pada politik aliran yang sarat dengan konflik ideologi. rakyat pemilih disamping “mencoblos” Partai Politik yang dikehendaki. maka sistem ini justru mempersulit terbentuknya pemerintahan yang stabil. Mekanisme dari sistem ini hampir sama dengan sistem proporsional. yaitu sistem Proporsional dengan daftar calon terbuka. maka dengan mempergunakan sistem proposional justru menjurus kearah munculnya bermacam-macam golongan. diharapkan wakil rakyat benar-benar mampu membawa aspirasi rakyat pemilih. Bukan nomor urut. yaitu Partai Politik. 2. Sehingga dengan mempergunakan cara semacam ini. yaitu :9 1. Partai Politik hanya mengajukan calon-calon dalam daftar yang disusun berdasarkan abjad. Akan tetapi sistem ini mengandung kelemahan yang cukup substansiil. 3. Disamping kedua sistem tersebut di atas. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai dan timbulnya partai-partai baru. Sistem semacam ini dikembangkan oleh Indonesia dalam melaksanakan Pemilu tahun 2004. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan bahwa keberadaan Partai Politik dalam menentukan seseorang menjadi wakil rakyat lebih dominan dari pada kemampuan individu dari sang wakil. mereka juga memilih nama-nama calon wakil yang diajukan oleh Partai Politik yang bersangkutan. Akan tetapi dalam penentuan wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR. Bukan memilih seorang wakil. Cara semacam ini dimunculkan sebagai respon atas keprihatinan rakyat terhadap kualitas wakil-wakil rakyat yang lebih condong mementingkan kepentingan Partai Politik. masih dijumpai adanya sistem lain. Kemudian dalam pelaksanaan pemungutan suara. Dengan keadaan yang demikian ini.

jujur. Perluasan asas pemilu semacam ini memang dirasa terlalu “membabi-buta”. pelaksanaan Pemilu berdasarkan asas langsung. dan Rahasia). langsung. 5 No. Berkaitan dengan ketentuan semacam inilah. C. rahasia. Akan tetapi. umum. penuh intimidasi.sebagaimana dirancang oleh KPU . tidak jujur. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004 dan ketentuan Pasal 22E UUD 1945 mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pemilihan umum dilaksanakan secara lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas dasar prinsip demokratis. rahasia. Tahap-tahap Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahapan Pemilihan Umum di Indonesia . 66 . bebas. Asas-asas semacam ini pada hakikatnya hanya dipergunakan pada saat pemungutan suara. maka Undang-undang tentang Pemilihan Umum mengembangkan asas Pemilihan Umum. Semasa Orde Baru asas-asas Pemilu yang dipergunakan hanyalah “LUBER” (Langsung.pada prinsipnya melalui 10 (sepuluh) tahapan teknis. jujur. Menurut Pasal 2 Undang-Undang tentang Pemilihan Umum. namun secara definitif dapat atau tidaknya orang tersebut duduk di DPR sangat tergantung pada hasil pilihan rakyat yang diambil dari daftar calon tersebut. maka memang masuk akal jika asas-asas Pemilihan umum tersebut dikembangkan sedemikian rupa. Bebas.10 Pengertian dan makna asas-asas Pemilu Indonesia yang sedemikian komplek tersebut di atas. Hal ini berbeda dengan asas-asas Pemilu yang pernah berlaku semasa Orde Baru. adil dan beradab. Masih berkaitan dengan asas Pemilihan Umum. umum. Secara singkat ke 10 Lihat Penjelasan Umum dalam Draft RUU tentang Pemilihan Umum. bebas. Umum.Maret 2008 mengingat walaupun seseorang dicalonkan oleh Partai Politik. berdasarkan pengalaman Pemilu di Indonesia yang selalu bernuansa manipulatif. 1 . adil. Sementara untuk memberikan landasan filosofis bagi seluruh rangkaian proses penyelenggaraan Pemilu belum ada asasnya.Vol. dan dapat dipertanggungjawabkan. sewenang-wenang. kalau diterjemahkan lebih singkat pada hakikatnya dipergunakan untuk memberikan landasan bagi seluruh rangkaian proses penyelenggaraan Pemilu. Di dalam Tap MPR No.

perkembangan untuk mencapai masyarakat yang demokratis masih nampak suram. Pencalonan anggota DPR. Penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan e. Kendatipun demikian. percekcokan antar Partai Politik serta bancinya pemerintahan dalam menghadapi urusan-urusan ekonomi. Pendaftaran peserta pemilu c. Penetapan peserta pemilu d.11 Kondisi sebagaimana digambarkan oleh 11 Herbert Feith. Herbert Feith mengemukakan bahwa penyelenggaraan Pemilu tahun 1955 sesungguhnya merupakan bentuk kompromi politik Sukarno terhadap berbagai tekanan yang muncul dari TNI soal otoritas pemerintahan yang korup dan nepotis. Kalaupun Pemilu tahun 1955 dan Pemilu tahun 1999 dikatakan banyak orang adalah Pemilu yang demokratis. D. Kilas Balik Pemilu di Indonesia Dalam catatan sejarah Indonesia telah menyelenggarakan 9 (sembilan) kali Pemilu. Sejak Pemilu tahun 1955. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih b. DPD. Pemungutan dan Penghitungan suara i. namun kenyataan menunjukkan bahwa hasil-hasil Pemilu dari kedua penyelenggaraan Pemilu tersebut tidak cukup signifikan untuk dipergunakan sebagai tolok ukur proses perjalanan sistem demokratis yang diidam-idamkan. Penetapan hasil Pemilu j. dan DPRD Kabupaten kota f. Dalam Pemilu tahun 1955 banyak analis politik dan pakar ketatanegaraan menganggap bahwa Pemilu tersebut merupakan Pemilu yang paling demokratis yang pernah dilakukan di Indonesia. The Indonesian Elections of 1955. Masa tenang h. DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota. DPRD Provinsi. Masa kampanye g. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu (1) Pemilu dilaksanakan setiap 5 tahun sekali (2) Tahapan penyelenggaraan Pemilu meliputi : a. 67 . Pengucapan sumpah janji anggota DPR.Dekomrasi dan Partai Politik sepuluh tahapan teknis sesuai Pasal 4 UU No.

untuk mempercepat pelaksanaan Pemilu pada tahun 1999. Berbagai kompromi politik pasca Pemilu tahun 1999 masih tetap mendominasi dalam penyelenggaraan sistem ketatanegaraan. Tidak hanya sekedar pertemuan-pertemuan informal antar elit Partai Politik yang sifatnya jelas ekstra-konstitusional. 1 . Bahkan disana-sini cenderung kearah anarkhis. Kolusi dan Nepotisme) secara sistemik yang pada gilirannya mengakibatkan terjadinya krisis multidimensional.Vol. Konflik antara Eksekutif dan Legislatif memuncak dan tak terkendali. Akan tetapi pelaksanaan yang demokratis tersebut tidak diimbangi dan dibarengi dengan kelanjutan mekanisme sistem ketatanegaraan yang demokratis pula. Contoh-contoh tersebut di atas mengakibatkan hasil Pemilu tahun 1999 hanya bermakna demokratis yang semu. Kondisi Politik menjelang Pemilu tahun 1999 ditandai dengan ambruknya legitimasi rezim Orde Baru sebagai akibat bobroknya moralitas para penyelenggara negara melalui penguatan KKN (Korupsi. Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid dan Era Megawati Soekarno Putri yang sarat dengan kompromi politik untuk bagi-bagi “kue” kekuasaan. Contoh lain adalah pertemuan-pertemuan elit Partai Politik yang dilakukan di luar Parlemen dan semakin marak guna mengambil kesepakatan-kesepakatan politik dalam rangka menghadapi suatu moment ketatanegaraan tertentu. Tidak dapat dipungkiri bahwa secara umum Pelaksanaan Pemilu tahun 1999 memang lebih demokratis ketimbang Pemilu-pemilu semasa Orde Baru. misalnya menghadapi Sidang Tahunan (ST) MPR. kompromi-kompromi politik seharusnya diletakkan dalam lingkup konstitusional (kelembagaan) demokratis secara konstitusional. Inilah gambaran kilas balik Pemilu yang dapat penulis kemukakan secara singkat. Semoga gambaran 68 . yang juga dianggap sebagai salah satu Pemilu di Indonesia yang demokratis.Maret 2008 Feith ini juga nampak jelas dalam realitas politik menjelang dan sesudah Pemilu tahun 1999. Rakyat sebagai subyek utama prinsip kedaulatan rakyat masih tetap diletakkan sebagai obyek dari Partai-partai Politik dalam menancapkan hegemoninya untuk melanggengkan kekuasaan. Kita bisa mengambil beberapa contoh. 5 No. Tragisnya proses pembodohan rakyat masih terus saja berlangsung. diantaranya adalah penentuan Kabinet di Era KH. Kondisi semacam ini yang kemudian mengakibatkan munculnya kompromi-kompromi dikalangan elit politik setelah jatuhnya Presiden Soeharto . Dalam negara demokratis.

maka secara spontan Partai Politik berkembang menjadi penghubung antara rakyat disatu pihak dan pemerintah di pihak lain. E. Soltou: Sekelompok warganegara yang sedikit banyak terorganisir.12 Dengan demikian dapat ditarik pengertian bahwa sebagai organisasi yang secara khusus dipakai sebagai penghubung antara rakyat dengan Pemerintah. hlm. Partai Politik Keberadaan Partai Politik dalam kehidupan ketatanegaraan pertama kali dijumpai di Eropa Barat.H. Jakarta. 69 . Definisi-definisi tersebut antara lain :13 1. 2. yang bertindak sebagai satu kesatuan politik. Sudah banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai pengertian Partai Politik tersebut. 159. Dasar-dasar Ilmu Politik.Dekomrasi dan Partai Politik ini dapat dipergunakan sebagai refleksi untuk menyusun sistem ketatanegaraan dan Pemilu yang lebih demokratis dan aspiratif. Gramedia. R. dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota Partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materiil. Ibid. hlm. Carl J. yang dengan memanfaatkan kekuasaan memilih. 1986. 160-161. yakni sejak adanya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang patut diperhitungkan serta diikut sertakan dalam proses politik. bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum mereka. Sigmund Neumann: Organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan melawan golongan atau golongan-golongan lain yang tidak sepaham. 3. keberadaan Partai Politik sejalan dengan munculnya pemikiran mengenai paham demokrasi dan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan sistem ketatanegaraan. Dengan adanya gagasan untuk melibatkan rakyat dalam proses politik (kehidupan dan aktifitas ketatanegaraan). Friedrich: Sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pemimpin Partainya. 12 13 Miriam Budiardjo.

Vol. tujuan maupun tata cara rekruitmen keanggotaan. Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas. maka pada hakikatnya Partai Politik adalah suatu kelompok manusia yang terorganisir secara teratur baik dalam hal pandangan. “Kasus Ken Arok” dalam sejarah Indonesia merupakan contoh yang dapat dipergunakan disini. Untuk merebut dan mempertahankan penguasaannya di dalam Pemerintahan tentunya dilakukan secara konstitusional. Tujuan pembentukan suatu Partai politik. 5 No. Oleh sebab itu. Hal ini mengingat sebelum dikenal adanya paham mengikut sertakan rakyat dalam sistem politik. dengan tujuan pokok yakni menguasai. 1 . dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijaksanaankebijaksanaan mereka. Setiap organisasi yang dibentuk oleh manusia tentunya memiliki tujuantujuan tertentu. Tujuan Partai Politik. nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya). mempertahankan ataupun menguasai kekuasaan dalam pemerintahan suatu negara .Maret 2008 4. Rusadi Kantaprawira mengemukakan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh Partai Politik 70 . Miriam Budiardjo: Suatu kelompok yang terorganisir yang anggotaanggotanya mempunyai orientasi. tidak ada salahnya jikalau Keberadaan partai Politik di negara modern dipergunakan untuk mewujudkan tatanan kehidupan kenegaraan yang lebih beradab. kita dapat melihat adanya “benang merah” hubungan pengertian antara pendapat yang satu dengan yang lain. Hal ini berarti keberadaan Partai Politik juga dimaksudkan sebagai sarana untuk meredam konflik kepentingan ataupun persaingan yang muncul di lingkungan masyarakat dalam mempengaruhi pemerintahan. yaitu bahwa tujuan Partai Politik itu didirikan adalah untuk merebut ataupun mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan guna melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah digariskan oleh masing-masing Partai Politik. Demikian pula organisasi yang disebut Partai Politik. merebut ataupun mempertahankan kekuasaannya dalam pemerintahan secara konstitusional. perebutan kekuasaan selalu dilakukan dengan cara kekerasan. disamping yang utama adalah merebut. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas.juga dapat diperlihatkan dari aktivitas yang dilakukan.

Klasifikasi Partai Politik. Oleh sebab itulah di dalam negara dengan struktur masyarakat yang masih paternalistik. Dengan melihat aktivitas dari Partai Politik tersebut di atas. Berkaitan dengan hal inilah. 15 Dirangkum dari Mirriam Budiano.15 Banyak jenis dan bentuk Partai Politik yang hidup dan berkembang di dalam suatu kehidupan ketatanegaraan. Berpartisipasi dalam sektor pemerintahan. Berusaha melakukan pengawasan. Kehidupan dan aktivitas Partai politik semacam ini masih dapat dikategorikan sebagai Partai Politik tradisionil. maka pada hakikatnya Klasifikasi Partai Politik dapat digambarkan sebagai berikut: 14 Rusadi Kantaprawira. Bandung. kebijaksanaan para pemegang otoritas (terutama dalam keadaan mayoritas pemerintahan tidak berada dalam tangan Partai Politik yang bersangkutan). 1988. maka rakyat sebagai subyek dalam sistem ketatanegaraan dapat melakukan pilihan-pilihan alternatif. tindakan. Partai Politik gemar untuk memainkan ideologi-ideologi Partai guna memperoleh dukungan massa rakyat. bahkan oposisi bila perlu terhadap kelakuan. 62. Op. b. dalam arti mendudukkan orang-orangnya menjadi pejabat pemerintah sehingga dapat turut serta mengambil atau menentukan keputusan politik atau output pada umumnya. Sistem Politik Indonesia suatu Model Pengantar. 166-167. Sehingga Partai Politik bertindak sebagai penafsir kepentingan dengan mencanangkan isu-isu politik (political issue) yang dapat dicerna dan diterima oleh masyarakat secara luas. 71 . Cet V. Penekanan mengenai program kehendak menjadi titik tolak utama untuk memperoleh dukungan massa rakyat. di dalam struktur masyarakat yang masih paternalistik. Berkaitan dengan hal ini. maka pilihan rakyat untuk berafiliasi kepada suatu Partai Politik tertentu sangat ditentukan oleh ideologi atau aliran yang dianut oleh suatu Partai Politik. c. hlm.Dekomrasi dan Partai Politik pada umumnya mengandung tujuan :14 a. yakni Partai Politik mana yang akan diikuti atau menjadi saluran politik mereka.. sehingga memperkuat posisi dalam kehidupan politik ketatanegaraan. Sinar Baru.cit. Berperan untuk dapat memadu (streamlining) tuntutan-tuntutan yang masih mentah (raw opinion). hlm.

Partai Politik dengan Klasifikasi semacam ini dapat dikelompokkan kedalam dua jenis.maka langkah yang paling mudah dan relatif berhasil untuk ditempuh adalah dengan melakukan koalisi Partai Politik yang sama-sama berjenis Partai Massa atau sama-sama Partai Lindungan. Partai Lindungan (Patronage Party). Oleh karena itu biasanya terdiri dari pendukung-pendukung dari berbagai aliran politik dalam masyarakat yang sepakat di bawahnya dalam memperjuangkan suatu program yang biasanya luas dan agak kabur. Klasifikasi semacam ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis Partai Politik. Disiplin yang lemah dan biasanya tidak terlalu mementingkan pemungutan iuran secara teratur. Pemimpin Partai biasanya menjaga kemurnian doktrin Partai yang dianut dengan jalan mengadakan saringan calon-calon anggotanya secara ketat. Partai Ideologi (Partai Asas). yaitu suatu Partai Politik yang pada umumnya memiliki organisasi nasional yang kendor (meskipun organisasi di tingkat lokal sering cukup ketat). Partai Massa. Berdasarkan dua klasifikasi besar mengenai Partai Politik tersebut di atas . yaitu suatu Partai Politik (biasanya) yang mempunyai pandangan hidup yang digariskan dalam kebijaksanaan pemimpin dan berpedoman pada disiplin Partai yang kuat dan mengikat Hampir sebagian besar Partai-partai Politik yang ada di Indonesia dapat dikategorikan sebagai Partai Ideologi.Maret 2008 1. b. Klasifikasi Partai Politik ditinjau Dari Sifat dan Orientasinya. 5 No. yaitu suatu Partai Politik yang lebih mementingkan keketatan organisasi dan disiplin kerja dan anggota-anggotanya. yaitu : a. yakni suatu Partai Politik yang lebih mengutamakan kekuatannya berdasarkan keunggulan jumlah anggota. Partai Kader. Oleh sebab itu Partai semacam ini hanya giat melaksanakan aktivitasnya menjelang Pemilu. Koalisi antar Partai Kader atau antar Partai Ideologi relatif 72 . Tujuan utama dari Partai Politik jenis ini adalah memenangkan Pemilihan Umum untuk anggota-anggota yang dicalonkannya. 1 . yaitu : a.Vol. b. Klasifikasi Partai Politik ditinjau dari Komposisi dan Fungsi Keanggotaannya. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Partai Demokrat dan Republik di AS. 2.jika Partai-partai Politik itu akan melakukan koalisi .

daerah. Ibid.cit. besar kemungkinan akan terjadi gejolak-gejolak sosial yang menghambat usaha-usaha pembangunan dan menimbulkan disintegrasi. karena Pimpinan negara-negara baru sering dihadapkan masalah bagaimana mengintegrasikan berbagai golongan. mengingat dalam pengertian sistem itu sendiri akan selalu mengandung lebih dari satu unsur atau komponen. Dikhawatirkan bahwa bila keanekaragaman sosial budaya ini dibiarkan tumbuh dan berkembang. Dalam sistem ini Partaipartai Politik dengan jelas dibagi kedalam Partai Politik yang berkuasa (karena menang dalam Pemilihan Umum) dan Partai Oposisi (karena kalah dalam Pemilihan Umum).dianggap merupakan bentuk penyangkalan diri (contradictio in terminis). Apalagi Koalisi antar Partai Politik dengan Ideologi yang jauh berseberangan. pada prinsipnya dikenal adanya tiga sistem kepartaian. Misal Koalisi antar Partai yang berideologikan keagamaan tertentu. Namun demikian .Dekomrasi dan Partai Politik sulit untuk dilakukan.oleh para sarjana . maupun untuk Partai Politik yang mempunyai kedudukan dominan di antara beberapa Partai politik lainnya.18 16 17 18 Lihat Ibid.17 c. sistem ini adalah khas Anglo Saxon (Amerika. hlm. Menurut Maurice Duverger. Pada umumnya sistem kepartaian semua ini muncul karena adanya keanekaragaman sosial budaya dan politik yang terdapat di dalam suatu negara. Sistem Partai Tunggal (the single party system). Dalam kehidupan Politik ketatanegaraan suatu negara. 169. suku bangsa yang berbeda corak sosial dan pandangan hidupnya. b. Sistem Kepartaian. Kecenderungan untuk mengambil sistem Partai Tunggal disebabkan. Loc. 167. Sistem dua Partai (two party system). yaitu :16 a. Filipina). hlm. Istilah ini dipergunakan untuk Partai Politik yang benar-benar merupakan satu-satunya Partai Politik dalam suatu Negara. Sistem Banyak Partai (multy party system). 73 .

19 1. di Bogor diselenggarakan pertemuan Partai-Partai Politik dan menghasilkan Deklarasi Bogor. PKI. Dengan adanya Politik Etis ini. Untuk mengatasi hal ini. Perkembangan Partai Politik Di Indonesia. yaitu PNI. Pelopor utama dari Organisasi kemasyarakat tersebut adalah Boedi Oetomo. . Tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 9 Partai Politik yang mendapat pengakuan. maka pada tanggal 12 Desember 1964. Perti. 1982. pengawasan dan pembubaran Partai-partai Politik. PSII. 190. 5. 7 Tahun 1959 dan Peraturan Presiden (Perpres) No. Strategi Pembangunan Nasional. Partai Katolik.Vol.Pada tanggal 17 Agustus 1960 PSI dan Masyumi dibubarkan. maka banyak kalangan cerdik pandai kaum Bumiputera yang mulai tergerak untuk ikut serta dalam kehidupan ketatanegaraan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan. Dengan keluarnya Maklumat Wk. Melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dilakukanlah penyederhanaan sistem Kepartaian di Indonesia. NU. Jakarta. Perlu diketahui bahwa Pemilu tahun 1955 dipergunakan untuk memilih anggota Konstituante yang bertugas untuk merumuskan UUD yang akan menggantikan UUDS 1950.Indonesia menganut sistem Multi Partai yang ditandai dengan munculnya 24 Partai Politik yang berbasis Aliran (ideologi). Get II. CSIS. X tahun 1945 tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945 setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 . yaitu : . 1 . dan Partindo.Maret 2008 F. 19 Dirangkum dari Ali Moertopo. tidak berarti konflik ideologi dalam masyarakat umum sebagai akibat pengaruh yang dibawa oleh Partai-partai Politik tersebut menjadi berkurang. 2. Murba. dst. Keberadaan Partai Politik di Indonesia dimulai sejak Pemerintah Hindia Belanda mencanangkan Politik Etis pada tahun 1908. Menjelang Pemilu tahun 1955 yang berdasarkan Demokrasi Liberal terdapat 70 Partai Politik maupun perseorangan yang mengambil bagian dalam Pemilu tersebut. 4. 3. Dengan berkurangnya jumlah Partai Politik tersebut. 5 No. Presiden No. PARKINDO. 13 Tahun 1960 mengatur tentang pengakuan. hlm. dan memilih DPR. 74 .Penpres No.

Pendukung dari Partai ini adalah Muhammadiyah. Gagasan penyederhanaan kehidupan kepartaian di Indonesia ini tidak hanya mengandung arti pengurangan jumlah Partai Politik. maka PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai Partai terlarang di Indonesia. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah melakukan penyederhanaan kehidupan kepartaian di Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh Tap MPRS No. Gasbindo. Kelompok Spirituil-materiil yaitu terdiri dari Partai-partai Politik yang lebih menekankan pada aspek pembangunan spirituil tanpa mengabaikan aspek meteriil. Partai Katolik. 2. Aliwasliyah. Gagasan Pengelompokkan Partai-partai Politik. Tanggal 27 Pebruari 1970. dan yang belum tersalurkan aspirasinya. Parmusi. PUI dan IPM). guna membahas gagasan untuk mengelompokkan Partai-partai Politik yang ada di Indonesia. PSII dan Peru. sebagai berikut : 1. HSBI. HMI. dan Parkindo. 7. Presiden Soeharto mengadakan konsultasi dengan Partai-partai Politik. 75 . tetapi juga melakukan perombakan sikap dan pola kerja dari Partai-partai politik menuju orientasi pada program. Kelompok materiil-spirituil yaitu terdiri dari Partai-partai Politik yang lebih menekankan pada pembangunan materiil tanpa mengabaikan aspek spirituil. Pengelompokkan jenis ini diikuti oleh PNI. Juga disarankan oleh Presiden Soeharto untuk mempergunakan asas Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan gagasan ini. Tanggal 12 Maret 1966 setelah terjadi Pemberontakan G/30/S PKI. PII. maka disarankan pembentukan dua kelompok Partai-partai Politik. IPKI. Tujuan jangka pendek adalah mempertahankan stabilitas nasional dan kelancaran pembangunan dalam rangka menghadapi Pemilihan Umum. Kemudian dimulailah usaha pembinaan Partai-partai Politik yang dilakukan oleh Orde Baru. 8. Pengelompokkan jenis ini diikuti oleh NU. Murba. Tanggal 20 Pebruari 1968 didirikan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) sebagai langkah peleburan dan penggabungan ormas-ormas Islam yang sudah ada.Dekomrasi dan Partai Politik 6. Gagasan pengelompokkan Partai-partai Politik (Fusi) di Indonesia mengandung tujuan jangka pendek dan jangka panjang. XXII/MPRS/1966.

76 .20 Akhirnya dalam Pemilihan Umum tahun 1971 hanya terdapat tiga bendera kekuatan Politik Peserta Pemilihan Umum. yaitu dua Partai Politik (PPP dan PDI) serta satu Golongan Karya (Golkar). praktis kehidupan kepartaian di Indonesia di era Orde Baru. Kita ambil contoh misalnya Partai Katolik dan Parkindo yang jelas-jelas bernafaskan spirituil keagamaan. Disamping kedua kelompok (hasil Fusi) Partai Politik tersebut. IPKI. 5 No. dan Murba. Golongan Karya adalah golongan-golongan dalam masyarakat yang masing-masing menyumbangkan peranan khusus bagi berfungsinya masyarakat. 1 . dibatasi. Dengan adanya Undang-undang tersebut. Kondisi semacam ini mungkin disebabkan adanya kesulitan-kesulitan ideologis untuk menggabungkan kedua Partai tersebut untuk masuk ke kelompok spirituil-materiil. Artinya Tidak diperkenankan munculnya 20 Ibid. Langkah terakhir adalah pada tanggal 5 dan 10 Januari 1973 terbentuklah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai fusi Kelompok Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia sebagai fusi Kelompok Demokrasi Pembangunan. yakni organisasi ekonomi. Parkindo. karena sebagaimana kita ketahui kelompok spirituil-materiil terdiri dari Partai-partai Politik yang basis ideologinya adalah Islam.Vol. Partai Katolik. PSII dan Perti. Menurut Ali Moertopo. Golongan-golongan tersebut kemudian membentuk satu kelompok tersendiri yang kemudian disebut sebagai Golongan Karya (Golkar). Keberadaan ketiga organisasi kekuatan sosial politik ini kemudian dikukuhkan dengan keluarnya UndangUndang No.Maret 2008 Dua pengelompokkan Partai Politik berdasarkan orientasi tersebut memang terasa janggal. 197. ternyata dimasukkan dalam pengelompokkan materiil-spirituil. terjadi pengelompokkan Partai-partai Politik dengan terbentuknya Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari PNI. kultural. Parmusi. sosial dan pertahanan. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Kemudian pada tanggal 13 Maret 1970 terbentuk kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri dari NU. ternyata dalam perkembangannya terdapat golongan-golongan fungsional yang tidak dapat dimasukkan kedalam salah satu dari Partai Politik yang berfusi tersebut di atas. hlm. Pada tanggal 9 Maret 1970.

di luar yang telah diatur oleh UU No. maka pelaksanaaan sistem ketatanegaraan Indonesia menjadi tidak sejalan alias menolakprinsip-prinsip Pemerintahan yang demokratis. Peristiwa ini disebabkan sikap dari aparat Keamanan yang bertindak sangat represif kepada massa pendukung PDI versi Megawati Sukamo Putri yang menduduki Kantor Pusat PDI di Jln. melainkan karena diberikannya fasilitas-fasilitas politik oleh Pemerintah. Pegawai Negeri Sipil dan TNI maupun Polri secara otomatis merupakan Keluarga Besar Golkar. dan hanya mengakui PDI yang dipimpin oleh Soerjadi. Walaupun Undang-Undang ini mengalami perubahan berulangkali. Dari “Peristiwa Sabtu Kelabu” inilah. Dengan “keterpasungan” kehidupan kepartaian selama rezim Orde Baru inilah. adalah ketika Partai Demokrasi Indonesia “dipecah” oleh Pemerintah Orde Baru dengan cara tidak mengakui kepemimpinan Megawatt Sukarno Putri. Bahkan dalam berbagai hal. namun kondisi kepartian di Indonesia berjalan tetap seperti semula. 3 Tahun 1975. yakni Presiden Soeharto (sebagai Dewan Pembina GOLKAR). Bahkan dalam konteks Floating Mass (massa mengambang) yang hanya diperkenankan untuk membentuk kepengurusan sampai ke tingkat Desa. sebenarnya tidak melulu karena kekuatan diri sendiri. menyampaikan pendapat baik tertulis maupun lisan. Ini berarti kehidupan demokrasi yang ditandai dengan adanya jaminan kebebasan masyarakat untuk berkumpul dan berserikat. Kemampuan Golkar yang demikian ini. muncul berbagai perlawanan susulan dari para aktivis gerakan Pro demokrasi 77 . Golkar sebagai kekuatan mayoritas dan selalu memegang posisi single majority selalu mendominasi peta kehidupan politik ketatanegaraan Indonesia. hanyalah Golkar melalui struktur Birokrasi yang ada. disebabkan oleh adanya tiga pilar utama sebagai penyangga. Birokrasi dan Militer (TNI/ Polri). Diponegoro Jakarta.Dekomrasi dan Partai Politik Organisasi atau Golongan Politik lainnya. Pemerintahan rezim Orde Baru membatasi ruang gerak dari kedua Partai Politik yang ada. Pada hakikatnya kekuatan GOLKAR dalam lingkup politik. Puncak dari “keterpasungan” kehidupan kepartaian di Indonesia tersebut mencapai titik kulminasi dan menimbulkan perlawanan-perlawanan politik. Perpecahan di tubuh PDI tersebut menimbulkan kemelut berkepanjangan yang pada akhimya mengakibatkan peristiwa berdarah yang sering disebut “Peristiwa Sabtu Kelabu” pada tanggal 27 Juli tahun 1996. sebagaimana diatur di dalam Pasal 28 UUD 1945 tidak terakomodasi dengan baik.

3. berserikat dan berkumpul. sangat tergantung dan perkembangan budaya politik dan masyarakat Indonesia. Perlawanan dari para aktivis pro demokrasi ini mencapai titik keberhasilan setelah Indonesia menghadapi krisis ekonomi di akhir tahun 1997 yang ditandai dengan merosotnya nilai tukar Rupiah atas Dolar AS sampai berkisar Rp. Penutup a. Partai Politik merupakan alat bagi rakyat dalam menjalankan kedaulatan rakyat. 15. Tidak ada demokrasi tanpa Partai Politik. sistem Kepartaian di Indonesia berubah menjadi sistem multi partai. Mampu memperkuat jajaran Pimpinan dan kepengurusan termasuk 78 . 4.Maret 2008 untuk menentang kezaliman rezim Orde Baru. 5 No.Vol. sebaiknya Partai-partai Politik : 1. tidak kurang dari 60 Partai Politik sebagai Peserta Pemilu. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. 2. Sistem seperti ini dikukuhkan dengan munculnya UU No. Dari sejarah perjalanan tersebut. b. merupakan konsekwensi kelirunya penilaian terhadap demokrasi Indonesia. Oleh karena itu demi mewujudkan demokrasi sejati dan bukan demokrasi semu yang mengatas-namakan rakyat. maka terbuka kesempatan untuk mengembangkan kehidupan kepartaian yang lebih demokratis.-/Dolarnya. Kesimpulan 1.000. Dengan tumbangnya Presiden Soeharto inilah. Pertanyaannya. G. Menyongsong Pemilu 2009 saja. Partai Politik adalah produk dari kebebasan berfikir berpendapat. 1 . Sehingga menjelang Pemilu tahun 1999. kapankah peta kehidupan politik Indonesia lebih menunjukkan pola egaliter? jawaban atas permasalahan ini. kecenderungan akan menguatnya politik aliran (ideologi) yang dibawa oleh masing-masing Partai Politik masih menunjukkan kekentalannya. Saran Banyaknya Partai Politik. Demikianlah perjalanan sejarah kehidupan kepartaian di Indonesia. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah mekanisme untuk menentukan pilihan rakyat terhadap Partai Politik. Kondisi ekonomi dan moneter ini kemudian menjadi titik tolak untuk menumbangkan Presiden Soeharto yang telah memegang kepemimpinan nasional yang kalau diakumulasikan berlangsung sepanjang kurang lebih 32 tahun.

Mampu menyelesaikan konflik internal secara damai sehingga tidak merusak citra dan keutuhan partai yang pada akhirnya akan memperoleh simpati rakyat dalam pemilu. 2. 3. Mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan partai sebagai sarana untuk pemberdayaan masyarakat karena pemberdayaan rakyat merupakan bagian tak terpisahkan dalam pembentukan kekuasaan. Oleh karena itu perlu adanya sejumlah kader Partai yang kaya dan dapat memberikan kontribusi kepada partainya secara maksimal. 4. Mampu mandiri dalam masalah keuangan sehingga tidak tergantung pada Pemerintah.Dekomrasi dan Partai Politik pendidikan politik bagi kader-kadernya sehingga dapat mengembangkan organisasi partai yang baik. 79 .

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

DAFTAR PUSTAKA

Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Studi Sosio-Legal atas Konsituante 1956-1959, Grafita, Jakarta, 1995. Arief Budiman, Teori Negara Negara, Kekuasaan dan Ideologi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996. Bintan R. Saragih, Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1988. B. Hestu Cipto Handoyo, Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan & Hak Asasi Manusia (Memahami Proses Konsolidasi Sistem Demokrasi di Indonesia), Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2003. Hamid S Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi Fakultas Pasca Sarjana UI, Jakarta,1990. Hasan Al Rasyid, Pengisian Jabatan Presiden, Grafiti, Jakarta, 1999. Ismail Suny, Mekanisme Demokrasi Pancasila, Cet. IV, Aksara Baru, Jakarta, 1987. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia-Jakarta, 1986 Moh. Kusnardi & Hasmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat Studi HTN-FHUI, Jakarta, 1983. Rusadi Kartaprawira, Sistem Politik Indonesia suatu Modal Pengantar, Cet. V, Sinar Baru, Bandung, 1988. Undang-Undang Dasar 1945, Amandemen I, II, III dan IV. Undang-Undang No. 22 Tahun 2007, tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Undang-Undang No. 2 Tahun 2008, tentang Partai Politik. Undang-Undang No.10, tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

80

PARADIGMA BARU UU NO. 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK
Oleh: A.A. Oka Mahendra, S.H.

Pendahuluan Sesudah amandemen ke-3 UUD Negara R.I. Tahun 1945 basis konstitusional eksistensi partai politik di Indonesia semakin kuat sebagai salah satu pilar pelaksanaan prinsip negara yang berkedaulatan rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD Negara R.I. Tahun 1945 dan Pasal 1 ayat (2) UUD Negara R.I. Tahun 1945. Sebelum amandemen ke-3 UUD Negara R.I. Tahun 1945, eksistensi partai politik memperoleh dasar konstitusionalnya dalam Pasal 28 UUD yang menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya. Sejak amandemen ke-3 UUD secara eksplisit ditentukan peranan partai politik dalam pengusulan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 6A ayat (2) untuk dipilih langsung oleh rakyat. Selain itu UUD menentukan pula peranan partai politik sebagai peserta pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan anggota DPRD (Pasal 22E ayat (3). Mengapa UUD menekankan pada salah satu fungsi partai politik saja yaitu sebagai sarana rekrutmen kepemimpinan politik? Padahal disamping itu partai politik mempunyai fungsi lainnya seperti fungsi sarana komunikasi politik, sarana sosialisasi politik dan sarana pengatur konflik (Mariam Budiardjo, 1981:14-17). Sebabnya ialah karena pembentuk UUD memandang soal kepemimpinan politik sangat strategis dalam penyelenggaraan negara. Melalui proses rekrutmen kepemimpinan yang demokratis diharapkan supra struktur politik akan diisi oleh pemimpin-pemimpin yang akseptabel dan kapabel melalui proses seleksi yang demokratis. Sudah tentu fungsi lainnya dari partai politik tetap dianggap penting dan secara lebih rinci akan diatur dalam UU sebagai pelaksanaan ketentuan konstitusi. Seperti diketahui sesudah amandemen ke-3 UUD Negara R.I. tahun 1945 pada tahun 2002 telah diundangkan UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik untuk menggantikan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik yang dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
81

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

perubahan ketatanegaraan serta sebagai pelaksanaan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/2001 dan Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2002. Dalam perkembangan selanjutnya UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik oleh pembentuk undang-undang dipandang perlu untuk diperbaharui sesuai dengan tuntutan dan dinamika masyarakat. Sehubungan dengan itu pada tanggal 4 Januari 2008 telah diundangkan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Permasalahannya ialah: a. Mengapa UU No. 31 Tahun 2002 dicabut, apa latar belakangnya? b. Perubahan apa saja yang dimuat dalam UU No. 2 Tahun 2008? c. Apakah UU No. 2 Tahun 2008 akan menjamin peningkatan kualitas partai politik dimasa yang akan datang? Latar belakang pencabutan UU No. 31 Tahun 2002 Jawaban atas permasalahan mengapa UU No. 31 Tahun 2002 dicabut dapat kita simak dari konsideran menimbang dan Penjelasan Umum UU No. 2 Tahun 2008. Ada 3 alasan pokok yang dikemukakan sebagai berikut: a. Untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat yang diakui dan dijamin oleh UUD Negara R.I. Tahun 1945. Prinsip kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat sebagai hak asasi manusia harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang kuat dalam Negara Kesatuan R.I. yang merdeka, berdasarkan hukum (konsideran menimbang huruf a dan b). b. Dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut peningkatan peran, fungsi dan tanggung jawab partai politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional sebagai sarana partisipasi politik masyarakat (Penjelasan Umum alinea ke-2) c. UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik belum optimal mengakomodasikan dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran partai politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan partai politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern. Pembentuk UU tampakya berkeinginan agar dibawah UU yang baru partai politik lebih beperan, berfungsi dan bertanggung jawab sebagai sarana
82

transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan partai politik. transparansi. akuntabilitas dan responsibilitas. melalui sejumlah pembaharuan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan partai politik yang menyangkut demokratisasi internal partai politik. Sebagai organisasi modern partai politik juga harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip keadilan. mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy)”. Untuk itu partai politik dibangun sebagai organisasi modern. Mariam Budiardjo (1981:1) mengemukakan “bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. Lebih lanjut pada alinea ke-5 dikemukakan antara lain: “Dalam UU ini diamanatkan perlunya pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan 83 . Partai politik diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif untuk turut menentukan kebijakan publik dan memilih pemimpin politik yang dipercaya untuk menjalankan kekuasaan untuk kepentingan rakyat. Perubahan yang dimuat dalam UU No. Dengan demikian partai politik akan menjadi organisasi yang sehat dan mampu memainkan peranannya dalam kehidupan politik. 2 Tahun 2008 mengemukakan: “UU ini mengakomodasikan beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia.Paradigma Baru UU No. Partai politik diharapkan tidak sekedar menjadi “mesin pengumpul suara” yang digerakkan menjelang dan pada saat pemilihan umum. 2 Tahun 2008 Penjelasan Umum alinea ke-4 UU No. Partai politik diharapkan menjadi sarana partisipasi politik masyarakat. Jadi partisipasi politik merupakan pengejawantahan dari penyelenggaraan kekuasaan politik yang absah oleh rakyat. maka partai politik mesti dibangun dengan visi kebangsaan dengan governance culture yang demokratis. yang melaksanakannya melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan orangorang yang akan memegang tampuk pimpinan untuk masa berikutnya. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik partisipasi politik masyarakat dalam kehidupan demokrasi. yaitu dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan partai politik dalam sistem nasional berbangsa dan bernegara”. Sebagai organisasi modern dan bersifat nasional. Lebih lanjut dikemukakan bahwa di negara-negara demokratis pemikiran yang mendasari konsep partisipasi politik ialah bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat.

2. 2 Tahun 2008 seperti juga UU No. meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”. tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota dan dapat dibentuk sampai tingkat kelurahan/desa atau sebutan lain dan organisasi partai politik tersebut memiliki hubungan kerja yang bersifat hierarkis. Selain itu ditentukan pula bahwa partai politik yang bersangkutan harus memiliki rekening atas nama partai politik (Pasal 3 ayat (2) huruf e).Vol. Kemudian dalam Pasal 12 huruf j ditentukan partai politik berhak membentuk dan memiliki organisasi sayap partai politik. 50% dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan dan 25% dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota pada daerah yang bersangkutan (Pasal 3 ayat (2) huruf d). Selanjutnya dalam Pasal 17 ditentukan bahwa kepengurusan partai politik terdiri atas organisasi tingkat pusat. 1.Maret 2008 kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. 1 . 5 No. UU No. Marilah kita simak satu persatu apa yang disebut dengan beberapa paradigma baru dalam UU No. 2 Tahun 2008. Sebab sesungguhnya yang memanfaatkan kedaulatan dan hak-hak anggota 84 . Kemudian dalam Pasal 27 dan Pasal 28 ditentukan pengambilan keputusan partai politik di setiap tingkatan dilakukan secara demokratis sesuai dengan AD dan ART. Dalam praktek kedaulatan anggota ini tidak benar-benar terwujud. Demokratisasi Internal Partai Politik Demokratisasi internal partai politik antara lain tercermin dalam Pasal 22 yang menentukan kepengurusan partai politik di setiap tingkatan dipilih secara demokratis sesuai dengan AD dan ART. Penguatan Sistem dan Kelembagaan Partai Politik Penguatan Sistem dan Kelembagaan Partai Politik antara lain tercermin dari persyaratan yang harus dipenuhi oleh partai politik untuk menjadi badan hukum khususnya yang berkaitan dengan syarat memiliki kepengurusan paling sedikit 60% dari jumlah provinsi. Partai politik menurut Pasal 30 berwenang membentuk dan menetapkan peraturan dan/atau keputusan partai politik berdasarkan AD dan ART serta tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan. Dan anggota partai politik mempunyai hak dalam menentukan kebijakan serta hak memilih dan dipilih. 31 Tahun 2002 sama-sama menentukan kedaulatan partai politik berada ditangan anggota yang dilaksanakan menurut AD dan ART.

Lebih-lebih lagi ketentuan Pasal 37 dan Pasal 38 tersebut tidak bersifat mewajibkan sehingga pelanggaran terhadap ketentuan tersebut tidak ada sanksinya. Pasal-Pasal Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 yang berkaitan dengan peningkatan kesetaraan gender dimulai dari Pasal 2 ayat (5) yang menentukan : “Kepengurusan partai politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dengan menyertakan paling rendah 30% keterwakilan perempuan . Undang-undang menentukan bahwa penerimaan dan pengeluaran keuangan partai politik dikelola melalui rekening kas umum partai politik dan pengurus partai politik di setiap tingkatan melakukan pencatatan atas semua penerimaan dan pengeluaran keuangan partai politik (Pasal 36 ayat (2) dan ayat (3). Bahkan tak jarang di kalangan partai politik tertentu pengambilan keputusannya bersifat top down ketimbang bottom up. Bahkan tak jarang elit politiklah yang sesungguhnya menentukan kebijakan partai termasuk kepemimpinan partai. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 2 dikenai 85 . Elit politiklah yang sesungguhnya menentukan kebijakan partai termasuk kepemimpinan partai. 4. Peningkatan Kesetaraan Gender Peningkatan kesetaraan gender tampaknya menjadi salah satu isu penting dalam perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. Menurut Maurice Duverger (1981:19) “Lingkungan dalam (inner circle) ini menyerupai sedikit banyak kepemimpinan partai tradisional yang seakanakan menyelinap di tengah-tengah jantung partai masa tersebut”. Lebihlebih lagi tipologi partai politik di Indonesia dekat dengan partai massa. Kemudian Pasal 38 menentukan hasil pemeriksaan dan pengeluaran keuangan partai politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 terbuka untuk diketahui masyarakat. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik tersebut adalah anggota yang termasuk dalam lingkaran elit partai. Transparansi dan Akuntabilitas dalam Pengelolaan Keuangan Partai Politik Mengenai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan partai politik diatur secara rinci dalam Bab XV mengenai keuangan yang terdiri dari Pasal 34 sampai dengan Pasal 39. Selanjutnya dalam Pasal 37 ditentukan bahwa pengurus partai politik di setiap tingkatan organisasi menyusun laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan setelah tahun anggaran berkenan berakhir.Paradigma Baru UU No. 3. Ketentuan yang cukup bagus tersebut dalam praktek sulit dilaksanakan. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa partai politik belum tertib mengelola keuangannya.

Meningkatkan kemandirian. tujuan dan fungsi. Menurut Almond dan Verba seperti dikutip oleh Affan & Gaffar (1999. b. Pasal 31 ayat (1) menentukan bahwa dalam melakukan pendidikan politik. kedewasaan.Vol. Meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. dan membangun kesatuan bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Pendidikan politik sangat penting sebagai wahana untuk membangun etika dan budaya politik. 5 No.101) “Negara-negara yang mempunyai civil cultur yang fungsi akan menopang demokrasi yang stabil. Pendidikan Politik Partai politik menurut Pasal 31 melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawabnya dengan memperhatikan kesetaraan gender dengan tujuan antara lain: a. 1 . sebaliknya negara-negara yang memiliki derajat civil cultur yang rendah tidak mendukung terwujudnya sebuah demokrasi yang stabil. partai politik memperhatikan kesetaraan gender. asas dan ciri. karena disibukkan dengan urusan pemilihan umum dan menyelesaikan konflik-konflik internal. 5. perubahan AD dan ART. keanggotaan dan kedaulatan anggota. hak dan kewajiban partai politik.Maret 2008 sanksi administratif berupa penolakan pendaftaran partai politik sebagai badan hukum oleh Departemen Hukum dan HAM. berbangsa dan bernegara. Partai politik juga belum mampu memberikan suri teladan bagi perilaku politik yang etis dan sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa yang bermartabat. organisasi dan 86 . Meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. Pasal 20 menentukan kepengurusan partai politik tingkat provinsi dan kabupaten / kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% yang diatur dalam AD dan ART partai politik masing-masing. Peningkatan Kualitas Partai Politik Undang-Undang tentang Partai Politk mengatur syarat pembentukan partai politik. c.” Meski pendidikan politik sangat strategis. namun tampaknya partai politk belum banyak melakukannya. Selanjutnya ditentukan bahwa pendidikan politik dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politk sesuai dengan Pancasila. berbangsa dan bernegara.

penghimpun dan penyalur aspirasi politik masyarakat. pembubaran dan penggabungan partai politk dan pengawasan. mempertahankan dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan politiknya : Doktrin Benjamin Disraeli seperti dikutip Whitman (2003:80) menyatakan “Real politics are the possession and distribution of power” tampaknya sangat relevan dengan kondisi kepartaian di Indonesia. struktur organisasinya mantap. larangan. Pengaturan yang cukup lengkap tersebut tidak dengan sendirinya meningkatkan kualitas partai politik. keuangan. jaminan sosial. Partai politik perlu melakukan konsolidasi organisasi. konflik horizontal/vertikal di beberapa daerah yang dapat mengancam keutuhan NKRI dan menurunnya peranan Indonesia dalam percaturan politik internasional. partisipasi politik dan rekrutmen politik. rekrutmen politik. Peningkatan kualitas partai politik dapat diwujudkan bila partai politik terkonsolidasi dengan baik. penyerap. pendidikan politik. Outcome yang diharapkan adalah stabilitas kehidupan politik dan semakin berkembangnya demokrasi.Paradigma Baru UU No. infrastruktur perekonomian. Partai politik dibelenggu oleh hukum besinya oligarki dan focus pada upaya memperoleh. Secara fungsional partai politik dapat dikatakan meningkat kualitasnya apabila partai politik semakin mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana pendidikan politk. Bahkan akhir-akhir ini partai politik sering menyuguhkan tontonan yang tidak bisa dijadikan tuntunan dalam menegakkan prinsip-prinsip demokrasi. pendidikan. 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik tempat kedudukan. konsolidasi 87 . pengangguran. pengambilan keputusan. kader-kadernya handal dan mekanisme demokrasi dalam tubuh partai berjalan dengan baik. penyelesaian perselisihan partai politik. karena partai politik merupakan bagian dari permasalahan ketimbang bagian dari solusi untuk memecahkan permasalahan krusial yang dihadapi bangsa Indonesia seperti masalah kemiskinan. Partai politik berebut untuk menggeggam kekuatan dan distribusi kekuasaan dijadikan salah satu sarana bargaining politik. Sudah tentu dukungan sumber daya yang memadai diperlukan untuk membangun organisasi partai politik yang efektif. Setidak-tidaknya kepemimpinnya di semua tingkatan cukup kuat. Dewasa ini kepercayaan rakyat kepada partai politik menurun. Partai politik memang perlu membenahi rumah tangganya. konsolidasi kader. peraturan dan keputusan partai politik. penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat.

kader dan programnya agar lebih aspiratif. 4. transparasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangannya. serta memelihara NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD Negara R. Penutup Dari uraian di atas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut: 1. yang menyangkut demokratisasi internal partai politik. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan partai politik dalam sistem nasional. bangsa dan negara. 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik mengakomodasikan paradigma baru antara lain penguatan sistem kelembagaan partai politik. Partai politik di masa mendatang diharapkan meningkatkan kualitasnya sehingga dapat memainkan peranan yang lebih positif untuk membangun demokrasi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat.I Tahun 1945. Partai politik diharapkan tidak hanya sibuk menjelang pemilihan umum atau kongres/musyawarah/muktamar partai politik yang bersangkutan.I. 5 No. kepemimpinan. 3. fungsi dan tanggung jawab partai politik dalam kehidupan demokrasi. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dibentuk antara lain dengan pertimbangan untuk menampung dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk guna meningkatkan peran. Untuk itu partai politik perlu melakukan konsolidasi organisasi. apabila undangundang tersebut dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Tahun 1945 sebagai salah satu pilar penyelenggaraan negara yang berkedaulatan rakyat. 1 . berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Sementara itu Undang-undang Partai Politik akan memberi sumbangan berharga untuk peningkatan kualitas partai politik di masa mendatang. masyarakat.Vol.Maret 2008 demokrasi internalnya dan konsolidasi program agar lebih aspirasif dan aplikatif. berbangsa dan bernegara dan perlunya pendidikan politik. Partai politik yang berfungsi secara efektif akan selalu bersama rakyat. Eksistensi partai politik memiliki basis konstitusional yang kuat dalam Undang-Undang Dasar Negara R. 88 . tetapi secara nyata memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota.

Bina Aksara Jakarta. 2003. Partisipasi dan Partai Politik. Partai-Partai Politik dan Kelompok-Kelompok Penekan.I. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Tahun 1945. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang Dasar Negara R. Pustaka Pelajar Yogyakarta. 89 . 1981. 1999. The Lyons Press. Miriam Budiardjo. Connecticut. Politik Indonesia. 1981. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. Maurice Duverger. Afan Gaffar. PT Gramedia. The Quotable Politician. William B Whitman.

90 . Pendahuluan Paska reformasi.2 1 2 Lihat Pasal 9 UU No. Lihat Permohonan Judicial Review 17 Partai Politik di Mahkamah Konstitusi dalam Perkara No. dan di Indonesia threshold menjadi bentuk pembatasan untuk mengikuti pemilu berikutnya bagi partai yang ikut pemilu yang tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah partai politik. 16/PUU-V/2007. 1.1 Pembatasan dengan ET ini kemudian dianggap sebagai cara untuk mengeliminasi partai-partai yang sesungguhnya tidak diinginkan kehadirannya. 1 . partai-partai politik yang tidak memenuhi ET tidak dapat mengikuti pemilu berikutnya.Maret 2008 PENYEDERHANAAN PARTAI DALAM SISTEM MULTIPARTAI: TIDAK KONSISTEN Oleh: Zainal Abidin. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ketentuan pembatasan peserta pemilu kemudian berlanjut dengan peningkatan 3% jumlah kursi di parlemen untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 sebagaimana diatur dalam UU No. Sistem multipartai ini diimbangi dengan adanya pembatasan jumlah partai politik yang dapat mengikuti pemilu berikutnya dengan adanya mekanisme electoral threshold (ET). 12 Tahun 2003. Sistem multipartai ini dimaksudkan untuk menjamin semua partai politik dapat berpartisipasi dalam demokrasi. Jumlah partai yang mengikuti pemilu ini jauh berbeda dengan masa Orde Baru yang hanya 3 pihak yang ikut pemilu yaitu Golongan Karya. sistem demokrasi di Indonesia memasuki era baru khususnya dengan munculnya sistem multipartai dalam pemilu di Indonesia. partai-partai politik yang tidak memenuhi jumlah kursi 2% di Parlemen tidak dapat mengikuti pemilu tahun 2004. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu.Vol. 5 No. Hal ini terlihat dari kehadiran partai politik dalam pemilu tahun 1999 sebanyak 48 partai politik yang mengikuti pemilu. Dalam pemilu Tahun 1999. No. Kondisi ini memunculkan gugatan bahwa mekanisme ET melanggar kontitusi yaitu UUD 1945 yang pada akhirnya ditolak oleh Mahkamah Konstitusi (MK). S.H. Akibatnya.

khususnya dalam melihat konsistensi kebijakan penyederhanaan partai politik dalam peraturan perudang-undangan dan perlindungan terhadap partai politik dalam konstitusi. kedudukan partai politik dan sistem pemilu kemudian dikuatkan dalam sejumlah undang-undang. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tulisan ini akan menguraikan tentang ketentuan ET dalam sistem Multipartai di Indonesia. Ketentuan tersebut berarti bahwa partai politik yang hanya mempunyai 1 (satu) kursi di DPR pun bisa langsung ikut pemilu tahun 2009. secara garis besar sama dengan ide penyederhanaan partai politik. 16/PUU-V/2007. Tulisan disusun berdasarkan analisis sejumlah UU terkait dengan Pemilu dan Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 316 (d) inilah yang bisa dianggap tidak menunjukkan suatu konsistensi sikap atas kebijakan penyederhanan partai politik peserta pemilu melalui ET. Namun. Demikian pula dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan “pasangan calon presiden dan wakil presiden diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sebelum pelaksanaan pemilihan umum”.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Pada tahun 2008. dalam aturan peralihannya di Pasal 316 huruf (d) terdapat ketentuan bahwa partai politik peserta pemilu 2004 yang tidak memenuhi 3% ET dapat mengikuti pemilu tahun 2009 asal mempunyai satu kursi di DPR. Demikian pula dalam pengaturan tentang partai politik yang dapat mengikuti pemilu tahun 2009. masih diperlukan UU untuk mengatur tentang pemilu sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 6A ayat (5) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “tatacara pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan UU” dan Pasal 22E ayat (6) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan UU”. Electoral Threshold Merupakan Legal Policy Pasal 22E ayat (3) UUD 1945 menegaskan posisi penting partai politik yakni “peserta pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan DPRD adalah partai politik”. 91 . UU ini juga masih memberikan batasan bagi partai politik untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya dengan parliamentary threshold (PT). Berdasarkan konstruksi dalam UUD 1945 tersebut. pemerintah dan DPR membahas revisi UU Pemilu yang menghasilkan UU No. Namun demikian. 2.

Partai Politik Peserta Pemilu harus: a. b.3 Hasil pemilu tahun 2004 tersebut ternyata tidak cukup memuaskan partaipartai kecil yang tidak memenuhi 3% persen jumlah kursi di DPR RI dan 3 Lihat Perolehan suara dan kursi Partai di DPR RI pada pemilu 1999/2004. memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Provinsi yang tersebar sekurang-kurangnya di ½ (setengah) jumlah provinsi seluruh Indonesia. Dalam UU tersebut.Vol. PAN. b. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan selanjutnya menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. dan PKS. Ketentuan dalam Pasal 9 UU No. (2) Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengikuti Pemilu berikutnya apabila: a. 1 . dari 24 partai politik yang ikut pemilu hanya 7 partai politik yang memenuhi ketentuan 3% dan dapat lolos secara langsung mengikuti pemilu 2009. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan membentuk partai politik baru dengan nama dan tanda gambar baru sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. 12 Tahun 2003 itulah yang kemudian digunakan sebagai acuan untuk menentukan peserta pemilu tahun 2009 mendatang. juga diatur ketentuan pembatasan partai politik untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya (tahun 2009) dengan ketentuan sebagaimana pasal 9: (1) Untuk dapat mengikuti Pemilu berikutnya. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu. sementara sisanya 17 partai politik tidak dapat mengikuti pemilu tahun 2009 kecuali bergabung dengan partai lain untuk memenuhi syarat 3%. memperoleh sekurang-kurangnya 3% (tiga persen) jumlah kursi DPR. PKB. memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota yang tersebar di ½ (setengah) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. PDIP. PPP. atau c. 7 (tujuh) partai politik yang memanuhi 3% adalah Partai Golkar. atau c. Hasil perolehan suara pemilu tahun 2004. bergabung dengan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 92 . 5 No.Maret 2008 diantara UU No. Partai Demokrat.

termasuk mengenai persyaratan untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya dengan ketentuan ET. Permohon untuk menguji Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. PPDK. 12 Tahun 2003 ke MK. atau bisa dikatakana bahwa berdasarkan para pemohon ketentuan mengenai electoral threshold tersebut telah melanggar hak konstitusional para pemohon. PDS.4 Para pemohon ini mendalilkan bahwa ketentuan Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. PKPI. PNBK. MK juga menyatakan bahwa persyaratan untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya berlaku untuk semua partai politik setelah melewati kompetisi secara demokratis melalui pemilu. PBSD. PPDI. Pasal 28C ayat (2). 93 . 4 Para pemohon ini terdiri dari 13 Parpol yakni PPD. Pasal 28D ayat (1) dan (3). PBR. Pasal 28. Pasal 28E ayat (3). MK menambahkan bahwa kebijakan hukum (legal policy) di bidang kepartaian dan pemilu tersebut bersifat objektif. Pasal 28H ayat (2) dan Pasal 28I ayat (2). MK berpendapat bahwa karena pasal tersebut hanya memuat tentang persyaratan obyektif kepada semua parpol tanpa kecuali apabila ingin mengikuti pemilu berikutnya dan tidak mengurangi kedudukan warga negara dalam hukum dan pemerintahan. PPIB. 12 Tahun 2003 bertentangan UUD 1945 khususnya terkait dengan hak asasi manusia yakni Pasal 27 ayat (1). Terpenuhi atau tidak terpenuhinya ketentuan ET yang menjadi syarat untuk ikut pemilu berikutnya tergantung dari partai politik yang bersangkutan dan dukungan dari pemilih. bukan kesalahan undangundangnya.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten kemudian mengajukan permohonan judicial review terhadap Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. PSI. MK pada akhirnya tidak mengabulkan permohonan tersebut dan menyatakan bahwa Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU Pemilu tidak bertentangan dengan UUD 1945. Kebijakan ET sebetulnya merupakan kebijakan hukum (legal policy) pembentuk undang-undang dan kebijakan hukum demikian tidak bertentangan dengan UUD 1945. dan PKPB. 12 Tahun 2003 tersebut sejatinya merupakan pengujian terhadap ketentuan electoral threshold. Partai Pelopor. karena UUD 1945 nyatanya memberikan mandat bebas kepada pembentuk UU untuk mengaturnya. PBB. dalam arti sebagai seleksi alamiah dan demokratis untuk menyederhanakan sistem multipartai yang hidup kembali di Indonesia di era refomasi. Pasal 28F.

diharapkan 5 Lihat Putusan MK Perkara No. 5 No. Berdasarkan Naskah Akademik RUU Pemilu versi Pemerintah. 83. 1 . Kebutuhan untuk menyederhanakan jumlah pelaku adalah sangat penting sehingga ide tentang penyederhaan jumlah pelaku inilah yang kemudian diangkat dalam penyempurnaan UU No. 94 . 12 Tahun 2003 pada prinsipnya ditujukan untuk menciptakan keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance). 3. penyempurnaan UU No. Agar tercapai keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance) harus dilakukan langkah-langkah regulasi yang salah satunya adalah melakukan penyederhanaan jumlah pelaku. telah jelas bahwa ketentuan pembatasan partai politik untuk mengikuti pemilu bukanlah pelanggaran terhadap konstitusi.Vol. MK menyimpulkan bahwa Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU Pemilu tidak mempengaruhi hak untuk berserikat dan berkumpul. 12 Tahun 2003 dalam UU pemilu yang direvisi. serta tidak ada unsur yang bersifat diskriminatif sehingga ketentuan dalam pasal tersebut tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.Maret 2008 Dari berbagai pertimbangan tersebut. Demikian pula dengan dokumen Daftar Inventaris Masalah (DIM) saat pembahasan RUU Pemilu di DPR. 12 Tahun 2003. hlm. Hal ini tercermin dalam serangkaian dokumen tentang persiapan untuk revisi UU No. 12 Tahun 2003 misalnya Naskah Akademis maupun RUU penyempurnaan UU Pemilu. yang antara lain diwujudkan dalam penentuan batasan threshold bagi partai politik untuk ikut serta dalam pemilihan umum. 10 Tahun 2008 Ketentuan mengenai ET untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 mendatang pada awalnya diasumsikan akan diatur dengan substansi yang sama dengan Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. No. Melalui penciutan peserta Pemilu secara wajar dan rasional. Partai-partai politik yang tidak memenuhi ET 3% kemudian mulai melakukan upaya-upaya untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 dengan menggabungkan diri ataupun membentuk partai baru. termasuk hak untuk mendirikan partai politik. 16/PUU-V/2007.5 Berdasarkan putusan MK. Ketidakkonsistenan dalam UU No.

12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. Memberlakukan persyaratan partai peserta Pemilu sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan sebelum Pemilu diselenggarakan. Dalam Naskah Akademis RUU tersebut juga dinyatakan adanya kesadaran bahwa terdapat berbagai problematika UU No. Menetapkan jumlah minimal anggota partai terdaftar sekurang-kurangnya 1000 (seribu) orang atau sekurang-kurangnya 1/1000 (satu permil) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota yang dibuktikan dengan kepemilikan KTA (Kartu Tanda Anggota). DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Ruang lingkup agenda pengetatan persyaratan peserta Pemilu yang dapat dilakukan adalah: a. Partai politik yang tidak lolos ET 3 persen dapat bergabung dengan partai yang lolos ET dan meleburkan diri. Mempertahankan persyaratan electoral threshold (ET) bagi partai peserta Pemilu legislatif berikutnya yang ditingkatkan secara bertahap. DPD. Walaupun 95 . DPD. Persyaratan ini diperlukan agar tersedia cukup waktu bagi calon partai peserta Pemilu memperluas jaringan organisasi serta dikenal oleh masyarakat. c. Cakupan penyempurnaan UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. DPRD yang salah satunya adalah persyaratan electoral threshold tidak diterapkan secara konsisten.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten pula isu-isu yang diusung oleh partai politik dalam pemilihan umum nasional adalah betul-betul isu nasional yang terpilih dan berbobot untuk ditangani lembaga perwakilan rakyat dan pemerintah tingkat nasional. kedua metode dimaksud sebagaimana dimaksud telah diatur dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. d. dari 3 (tiga) persen untuk Pemilu tahun 1999 menjadi 5 (lima) persen untuk Pemilu 2014. atau bergabung dengan partai-partai yang tidak lolos ET 3 % sehingga memenuhi ET 3%. b. Persyaratan ET 3 persen untuk Pemilu 2009 dan ET 5 persen untuk Pemilu 2014 diharapkan dapat mengurangi jumlah partai peserta Pemilu secara lebih signifikan lagi. 12 Tahun 2003 salah satu agendanya adalah pengetatan persyaratan bagi partai peserta Pemilu legislatif dalam rangka mengkondisikan sistem multipartai sederhana. Persyaratan ET 2 (dua) persen pada Pemilu 2004 memang berhasil mengurangi jumlah partai peserta Pemilu dari 48 partai peserta Pemilu 1999 menjadi separohnya (24 partai) pada Pemilu berikutnya.

Partai politik peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh kurang dari 3% (tiga perseratus) jumlah kursi DPR atau memperoleh kurang dari 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi atau DPRD kabupaten/kota yang tersebar paling sedikit di 50% (lima puluh perseratus) jumlah provinsi dan di 50% (lima puluh perseratus) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan perolehan kursi pada Pemilu tahun 2004 dengan menggunakan nama dan tanda gambar baru.Vol. sehingga kebutuhan akan hadirnya partai mayoritas tidak terjadi. dan perolehan sekurang-kurangnya 5 % (lima perseratus) jumlah kursi DPRD kabupaten/kota yang tersebar sekurang-kurangnya di ½ (setengah) jumlah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. DPRD salah satu materi penting yang diatur adalah partai politik dapat menjadi peserta Pemilu setelah memenuhi persyaratan umum dan persyaratan khusus. dalam RUU Pemilu Anggota DPR. b. 1 . DPD. 5 No. bergabung dengan partai politik peserta Pemilu tahun 2004. atau c.6 6 Lihat Naskah Akademis RUU tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan perolehan kursi pada Pemilu tahun 2004 dengan menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung. Oleh karenanya. namun UU No. tidak boleh ikut dalam Pemilu berikutnya kecuali bergabung dengan partai politik lain.Maret 2008 jumlah partai peserta Pemilu berkurang. 12 Tahun 2003 kurang dapat mendorong terjadinya pembatasan partai-partai yang memperoleh kursi di parlemen. Sedangkan persyaratan khusus berupa perolehan kursi bagi partai politik yang pernah mengikuti Pemilu sebelumnya berupa perolehan sekurang-kurangnya 5 % (lima perseratus) jumlah kursi DPR. Persyaratan umum bagi partai politik untuk menjadi peserta Pemilu ditingkatkan menjadi memiliki kepengurusan lengkap di seluruh jumlah provinsi. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (8 Mei 2007). perolehan sekurang-kurangnya 5 % (lima perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi yang tersebar sekurang-kurangnya di ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia. Apabila partai politik bergabung dengan partai politik lain dilakukan dengan cara: a. 96 . dan memiliki kepengurusan lengkap sekurang-kurangnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah kabupaten/kota di tiap provinsi.

97 . Berdasarkan dua dokumen yaitu Naskah Akademis dan RUU.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Pandangan dan paradigma tentang penyederhanaan partai politik yang mengikuti pemilu tersebut sejalan dengan pasal-pasal mengenai peserta Pemilu dalam RUU Pemilu versi Pemerintah yang tercantum dalam BAB XXI Ketentuan Peralihan dalam Pasal 286 dan Pasal 287. dengan menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung. b. paradigma dan kebijakan penyederhaan partai politik peserta Pemilihan Umum melalui threshold telah konsisten dengan upaya untuk mencapai keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance) dan sesuai dengan kesadaran bahwa UU No. 12 Tahun 2003 tidak dapat berlaku secara konsisten 7 Lihat RUU Pemilu versi pemerintah.7 Pasal 286 Partai politik peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh 3% (tiga perseratus) atau lebih dari jumlah kursi DPR atau memperoleh paling sedikit 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi atau DPRD kabupaten/kota yang tersebar paling sedikit di 50% (lima puluh perseratus) jumlah provinsi dan di 50% (lima puluh perseratus) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. Pasal 287 (1) Partai politik peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh kurang dari 3% (tiga perseratus) jumlah kursi DPR atau memperoleh kurang dari 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi atau DPRD kabupaten/kota yang tersebar paling sedikit di 50% (lima puluh perseratus) jumlah provinsi dan di 50% (lima puluh perseratus) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. bergabung dengan partai politik peserta Pemilu tahun 2004 sebagaimana ketentuan dalam Pasal 286. c. ditetapkan sebagai partai politik peserta Pemilu setelah Pemilu tahun 2004. (2) Bergabung dengan partai politik lain dilakukan untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan cara: a. tidak boleh ikut dalam Pemilu berikutnya kecuali bergabung dengan partai politik lain. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 286. dengan menggunakan nama dan tanda gambar baru. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 286.

12 Tahun 2003. 8 Lihat Daftar Inventaris Masalah (DIM) terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu Anggota DPR.8 Bahkan sampai dengan tahap-tahap akhir pembahasan RUU Pemilihan Umum. Bahwa sampai dengan pembahasan di DPR. atau 3) bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 dengan membentuk partai politik baru dengan nama dan tanda gambar baru sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 315 dan 316 UU No.Vol. Hal ini telah pula sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 10 Tahun 2008. 5 No. atau 2) bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan dan selanjutnya menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. rumusan dalam Pasal 286 dan 287 RUU Pemilihan Umum secara subtansi masih sama dengan Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. Rumusan Pasal 286 dan 287 RUU Pemilihan Umum tetap menjadi pembahasan yang terlihat dari Daftar Inventaris Masalah (DIM) terhadap RUU Pemilu.Maret 2008 sehingga perlu disempurnakan. atau memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD kabupaten/kota yang tersebar sekurang-kurangnya di 1/2 (setengah) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. 10 Tahun 2008) muncul ketentuan baru tentang dibolehkannya partai peserta Pemilihan Umum 2004 yang tidak memenuhi threshold sebagaimana disyaratkan dalam UU Pemilihan Umum namun mempunyai kursi di DPR dapat langsung mengikuti Pemilihan Umum 2009 tanpa harus 1) bergabung dengan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum yang memenuhi ketentuan. Namun kemudian dalam pengesahan RUU Pemilihan Umum menjadi UU Pemilihan Umum (yang menjadi UU No. 98 . Buku Keempat. DPD dan DPRD. ditetapkan sebagai Partai Politik Peserta Pemilu setelah Pemilu tahun 2004. 1 . Pasal 315 Partai Politik Peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh sekurangkurangnya 3% (tiga perseratus) jumlah kursi DPR atau memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi yang tersebar sekurangkurangnya di 1/2 (setengah) jumlah provinsi seluruh Indonesia. 16/PUU/V/2007.

PBR. PNI Marhaenisme. 4 Maret 2008. Electoral Threshold Aturan Peralihan. Partai Pelopor. 11 Suara Karya. PDS. PPDK.10 Bahkan ketentuan tersebut dianggap pula sebagai sebuah kemunduran dalam demokrasi dan merusak tatanan sistem pemilu. Hal ini tercermin dari kondisi awal bahwa berdasarkan hasil pemilu tahun 2004 yang seharusnya hanya 7 partai politik yang dapat mengikuti pemilu 2009 secara langsung menjadi 16 partai politik. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 dan selanjutnya menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. 1 Maret 2008. PKPI. 18:29. Penghapusan ET Sebuah Kemunduran Berdemokrasi. 10 Media Indonesia. peserta Pemilihan Umum tahun 2009 tidak akan sesuai dengan yang diharapkan karena dibuka kemungkinan adanya partai politik yang dapat mengikuti Pemilihan Umum tahun 2009 meskipun tanpa memenuhi threshold. atau c. Kemunculan Pasal 316 huruf (d) dalam UU No. UU Pemilu 2008 Kemunduran dari UU Pemililu 2003. dan PPDI. 98 . Tragedi Politik. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 dengan membentuk partai politik baru dengan nama dan tanda gambar baru sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. 00:35 WIB. atau b.9 Ketentuan sebagaimana dalam Pasal 316 huruf (d) UU No.11 9 Partai-partai yang langsung dapat mengikuti pemilu tahun 2009 meskipun tidak memenuhi 3% kursi di DPR adalah PBB. Lihat juga Okezone. memiliki kursi di DPR RI hasil Pemilu 2004. Selasa. 10 Tahun 2008 tersebut kembali menimbulkan pertanyaan mendasar tentang konsep penyederhanaan partai politik yang dapat mengikuti pemilu (khususnya tahun 2009). atau e. Akibatnya. bergabung dengan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315. 10 Tahun 2008 ini kemudian memunculkan banyak kritikan yang pada pokoknya menunjukkan bahwa tidak ada konsistensi mengenai konsep penyederhanaan partai peserta pemilu. Ketentuan ini justru mereduksi konsep penyederhanaan partai yang akan diupayakan di Indonesia. PKPB. atau d. memenuhi persyaratan verifikasi oleh KPU untuk menjadi Partai Politik Peserta Pemilu sebagaimana ditentukan dalam UndangUndang ini. 6 Maret 2008.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Pasal 316 Partai Politik Peserta Pemilu 2004 yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 315 dapat mengikuti Pemilu 2009 dengan ketentuan: a.

cita-cita untuk adanya keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance) dengan cara melakukan penyederhanaan jumlah peserta pemilu tidak tercapai. Kedepan. 5 No. 1 .Maret 2008 Bahkan ketentuan tersebut juga dianggap merupakan ketentuan yang memberikan perlakukan yang berbeda (diskriminatif) terhadap partai politik perserta pemilu tahun 2004 yang tidak mempunyai kursi di DPR. Penutup Sistem Multipartai dalam pemilu di Indonesia telah berkonsekuensi membludaknya partai politik yang ingin mengikuti pemilu. Namun demikian. pembatasan partai politik peserta pemilu memang perlu dilakukan untuk memperkuat dan memperdalam demokrasi. 10 Tahun 2008. Akibatnya. semua partai politik harus konsisten dengan regulasi yang dibuat dan tidak merubah kembali tujuan dilakukannya penyederhanaan jumlah peserta pemilu. 12 Lihat Permohonan Judicial Review 5 partai politik ke MK terhadap ketentuan Pasal 316 huruf (d) UU No. meskipun mendapatkan suara yang signifikan dan bahkan melebihi jumlah suara beberapa partai yang punya kursi di DPR. 10 Tahun 2008 dengan aturan peralihan Pasal 316 huruf (d) justru kembali mundur dengan ketentuan memberikan peluang partai politik yang tidak memenuhi threshold namun punyai kursi di DPR langsung ikut pemilu tahun 2009. Jika tidak.Vol. UU No. Pembatasan inipun bukan merupakan pelanggaran terhadap konstitusi. 100 . Hal ini wajar karena paska reformasi telah terbuka peluang untuk pendirian partai-partai politik baru diluar 3 partai politik yang hidup pada era Orde Baru.12 4. apalagi dengan terus menerus merubah aturan main pemilu yang hanya ditujukan untuk kepentingan sesaat maka akan mengancam kehidupan demokrasi di Indonesia. Ketentuan tersebut kembali meneguhkan sikap partai-partai politik di DPR yang lebih mendahulukan kepentingan partainya daripada kepentingan untuk penguatan sistem pemilu di Indonesia.

Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 10 Tahun 2008. UU Pemilu 2008 Kemunduran dari UU Pemililu 2003. Suara Karya. Okezone. Electoral Threshold Aturan Peralihan. Tragedi Politik. Putusan MK Perkara No. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (8 Mei 2007). 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Media Indonesia. Buku Keempat.DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang Dasar 1945. Penghapusan ET Sebuah Kemunduran Berdemokrasi. 18:29. DPD dan DPRD. Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. 00:35 WIB. 16/PUU-V/2007. No. Selasa. Permohonan Judicial Review 5 partai politik ke MK terhadap ketentuan Pasal 316 huruf (d) UU No. 101 . Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 6 Maret 2008. 4 Maret 2008. 1 Maret 2008. Daftar Inventaris Masalah (DIM) terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu Anggota DPR. Undang-Undang No. Permohonan Judicial Review 17 Partai Politik di Mahkamah Konstitusi dalam Perkara No. 16/PUU-V/2007. Perolehan suara dan kursi Partai di DPR RI pada pemilu 1999/2004. Naskah Akademis RUU tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

Vol. “Pemilu dan Partai Politik di Indonesia”.1 Oleh karena itu. Di dalam Penjelasan UUD 1945 (Asli) menyatakan bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum dan bukan negara kekuasaan (machtstaat). 20.M. I. Prof. S. tahun 2005.H.H. kedua: partisipasi rakyat dalam membuat peraturan-peraturan perundang-undangan. 1 . atau ikut menjadi anggota parpol mendirikan parpol. tetapi di dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Asli tidak menyebut (mengatur) secara eksplisit dan jelas mengenai parpol. dan Makmur Amir. kajian mengenai parpol akan terkait dengan studi mengenai pemilihan umum (pemilu) dan konsep negara hukum. dan HAM yang paling penting adalah keikutsertaan atau partisipasi rakyat dalam membuat peraturan-peraturan perundang-undangan yang akan mengatur kehidupannya. Kendati menurut teori ilmu hukum tata negara parpol merupakan suatu kajian yang penting. Bila kita berbicara mengenai parpol. yaitu pertama: partisipasi rakyat dalam menentukan arah kebijakan negara. 2 Ibid. Jakarta. hlm.Maret 2008 KONFLIK INTERNAL PARTAI SEBAGAI SALAH SATU PENYEBAB KOMPLEKSITAS SISTEM MULTIPARTAI DI INDONESIA Oleh: Chudry Sitompul. Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. atau mengakomodasi kepentingannya dalam kehidupan bernegara. dan dalam bentuk yang sederhana adalah dengan mengikuti pemilu. hlm. 62. 102 . berarti kita akan membicarakan mengenai partisipasi rakyat dalam dua hal. Latar Belakang Permasalahan Kajian mengenai partai politik (parpol) merupakan salah aspek penting di dalam ilmu hukum tatanegara. PENDAHULUAN A.2 Dan partisipasi rakyat untuk menyalurkan kepentingannya dengan ikut serta mengambil bagian dalam pembuatan kebijakan. Abdul Bari Azed berpandangan bahwa konsep negara hukum merupakan pemenuhan hak-hak asasi manusia (HAM) yang harus dilindungi. Dengan demikian pentingnya peranan partai politik di dalam paradigma UUD 1 Abdul Bari Azed.. 5 No.

kedaulatan rakyat.J. Habibie sebagai Presiden R.J. hlm. “Politik Hukum Pemerintahan Soeharto tentang Demokrasi Politik di Indonesia (1971-1997)”. Maraknya berdirinya partai-partai baru setelah berhentinya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 adalah bersamaan dengan adanya perubahan politik yang besar pada saat itu. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 2004. Kemudian baru lahir parpol-parpol yang lain sehingga berjumlah 48 parpol. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Golongan Karya (Golkar). Fakultas Hukum.J. Di dalam Pasal 6 A UUD 1945 (Amandemen Kedua) yang menyatakan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. B. tahun 2002. Universitas Indonesia.4 Prof.3 Pengangkatan Prof. di luar tiga parpol yang diakui pada saat itu. mendorong lahirnya Gerakan Reformasi di segala bidang. Gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1998 (Gerakan 1998) akan ditulis tinta emas di dalam sejarah Republik Indonesia. berhasil memaksa Presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun untuk berhenti. 103 . dan hak asasi manusia (HAM). memulihkan kehidupan di bidang sosial-ekonomi. yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP).5 Di dalam era Presiden Prof. Sekurang-kurangnya ada dua keberhasilan yang sangat fundamental dari Gerakan 1998. demokrasi. 197. Tesis. Habibie untuk menjadi Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 setelah Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia. 5 Ramly Hutabarat. yang pada akhirnya parpol-parpol tersebut mengikuti pemilihan umum yang pertama di era reformasi pada tanggal 7 Juni 1999.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia 1945 (Asli) hanya dapat disimpulkan dari analisa teori-teori hukum tata negara mengenai hubungannya antara negara hukum. yaitu: pertama. dan meningkatkan demokrasi. Universitas Indonesia. Habibie. termasuk di dalamnya mengenai wacana pendirian partai politik (parpol) yang baru.J.I merupakan tonggak awal periode reformasi. B. hlm. Depok. kehidupan bernegara menjadi demokratis. B. Program Pascasarjana. B. dan kedua. 4 Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia mengangkat sumpah Wakil Presiden Prof. Habibie melakukan reformasi di segala bidang. 3 Lelita Yunia. 46-47. “Sosialisasi Politik Mahasiswa : Partisipasi Politik Forum Kota (Forkot) dalam Gerakan 1998”. hingga pemerintahan otoriter Orde Baru menjadi. Jakarta. Sri Bintang Pamungkas mempelopori mendirikan parpol yang baru. Lain hal dengan UUD 1945 yang sudah dirubah (Amandemen Kedua) yang menyebut secara eksplisit mengenai parpol. Pascasarjana.

sehingga perolehan suara PDIP di dalam Pemilu 2004 menjadi menurun.Vol.325. Hasil perolehan suara di dalam Pemilu 2004 memperlihatkan terjadi perubahan. peran parpol di dalam kehidupan bernegara semakin menonjol. baik di tingkat pusat maupun di daerah. terutama mengenai pembatasan masa jabatan presiden. peranan partai politik sangat sentral dan strategis. baik pembuatan undang-undang di Dewan Perwakilan Perwakilan maupun oleh Presiden dalam mengeluarkan peraturan pelaksanaan undang-undang.689.565 Tidak ikut Pemilu 2004 21. Nepotisme (KKN) secara tuntas. Kebijakan-kebijakan negara. 5 No.629 8. Sebelum Pemilu 2004 dilaksanakan. terutama di dalam penyampaian aspirasi dan kontrol sosial. Peran parpol di dalam menyerap aspirasi masyarakat juga nampak dari hasil Pemilu 2004. banyak aspirasi masyarakat yang disalurkan melalui parpol. banyak masyarakat (terutama mahasiswa dan pemuda) yang tidak puas terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mempunyai kursi terbanyak di DPR tidak dapat memberantas Korupsi.173 1. Hal tersebut terlihat di dalam proses perubahan (amandemen) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Selain pelaksana Pemilu 1999.455. peranan parpol sangat signifikan. Kolusi. KPU juga yang membuat regulasi Pemilu 1999. Demikianpun juga dalam pelaksanaan roda pemerintahan.225 Dari tabel di atas menunjukan adanya peran parpol di dalam menyerap aspirasi masyarakat. pemilihan presiden secara langsung.Maret 2008 Semenjak itu. 1 . penjaminan hak azasi manusia (HAM). penetapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode tahun 1999-2004. diantaranya yang menonjol yaitu : Nama Partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera Partai Demokrat Sumber : Komisi Pemilihan Umum Pemilu 1999 35.020 8. banyak mendengar masukan dari parpol. Pelaksana pemilu tahun 1999 tersebut adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang beranggotakan dari seluruh unsur-unsur parpol yang ikut di dalam Pemilu 1999. Utusan Golongan dan Utusan Daerah untuk Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat periode tahun 1999-2004.026.436. 104 . Begitupun juga dalam melaksanakan pemilihan umum (pemilu) yang pertama di era reformasi pada tanggal 7 Juni 1999.

pemilihan Ketua Umum Dewan Tanfidz dilakukan melalui muktamar yang diselenggarakan lima tahun sekali. Ketua Dewan Tanfidz bertanggungjawab kepada Muktamar.6 Majelis Hakim Kasasi MA RI menilai pemecatan Alwi Shihab dari keanggotaan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) cacat hukum. Putusan MA RI tersebut bukan saja merupakan perkembangan baru semenjak Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik yang 6 Harian Kompas. timbul konflik-konflik di dalam tubuh parpol. disebabkan ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono yang ada dibelakang Partai Demokrat diharapkan masyarakat luas untuk dapat mengelola negara yang lebih baik. Salah satu konflik parpol yang menarik perhatian masyarakat adalah perselisihan di dalam tubuh Partai Kebangkitan Bangsa. Lebih jauh menjelaskan bahwa menurut AD/ART PKB. Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI) pada hari Rabu tanggal 16 November 2005 telah memutus perkara sengketa partai politik (parpol) antara Alwi Shihab melawan Muhaimin Iskandar di tingkat Kasasi. mendapat suara yang melebihi Partai Keadilan Sejahtera. 2.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Sedang Partai Keadilan atau Partai Keadilan Sejahtera (nama pada Pemilu 1999. Harifin A. 105 . hlm. melainkan hanya sebagian. Tumpa berharap putusan MA RI tersebut membuat para pihak berdamai. karena melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PKB. Sabtu 19 November 2005. Tumpa putusan MA RI tersebut tidak membawa konsekwensi apapun. Bersamaan dengan semakin berperannya parpol dalam kehidupan negara yang demokratis. Cacat hukum yang dimaksud adalah pemecatan Alwi tidak dilakukan melalui muktamar. Tumpa (salah satu Anggota Majelis Hakim Kasasi) mengatakan kepada Harian Kompas bahwa putusan tersebut diambil melalui mufakat bulat dan Majelis Hakim tidak mengabulkan seluruh gugatan. Menurut Harifin A. karena pengurus baru sekarang sudah ada. yang kemudian pada Pemilu 2004 berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera) mendapat penambahan suara yang besar (sekitar 7 juta suara) disebabkan kalangan mahasiswa dan pemuda menaruh harapan agar partai ini sanggup memberantas KKN secara tuntas. Sedang Partai Demokrat yang merupakan parpol yang baru ikut Pemilu 2004. Selanjutnya Harifin A.

Maret 2008 diundangkan pada tanggal 27 Desember 2002. Macridis: 7 parpol adalah suatu asosiasi yang mengaktifkan. Pada tahun 2002 PKB mengalami Dualisme Kepemimpinan antara PKB Batutulis yang dipimpin Matori Abd. tahun 1996. Djalil dan PKB Kuningan yang dipimpin Alwi Shihab. 17. antara lain seperti Haryanto Taslam yang merupakan tokoh pendiri PDIP pada akhirnya mendirikan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK). 106 . Tiara Wacana Yogya. Macridis. hlm. tapi ada juga perselisihan internal parpol hingga mengakibatkan parpol bersangkutan pecah. maka yang pokok permasalahan di dalam tulisan ini adalah : 1. Pokok Permasalahan Berdasarkan uraian-uraian di atas. dan 7 Roy C. Partai Bintang Reformasi (PBR). Partai Demokrat (PD). dan PDR belum sampai dengan tingkat kasasi. Penerbit : PT. 5 No. Konflik kepartaian seperti yang dialami oleh PKB tersebut. juga dialami oleh parpol-parpol besar lainnya seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). PBR. 1 . tetapi juga merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi di era reformasi yang kehidupan politiknya demokratis dan liberal. B. Faktor-faktor apa yang menyebabkan maraknya konflik internal parpol di awal-awal era reformasi ? 2. Apa akibat-akibat yang timbul dari adanya konflik internal parpol di awalawal era reformasi ? C. “Teori-Teori Mutakhir Partai Politik” (Editor : Ichlasul Amal). Sementara itu perselisihan kepartaian yang pada akhir berujung berpekara di pengadilan yang dialami PKB bukan hanya gugatan dari Alwi Shihab itu saja. Sesungguhnya perselisihan internal parpol bukan hanya berujung di pengadilan. antara lain Faisal Basri meninggalkan Partai Amanat Nasional (PAN).Vol. Partai politik menurut Roy C. Atau perselisihan internal parpol hingga menyebabkan tokoh-tokoh pendiri partai meninggalkan parpol yang dibentuknya semula. yang pada akhirnya berpekara sampai di pengadilan. Bahkan PBR sudah berdamai. Kerangka Teori 1. Namun perselisihan kepartaian yang pada akhir berujung berpekara di pengadilan yang dialami PDIP. memobilisasi rakyat. dan gugatannya sudah dicabut.

xv. Partai politik menurut Carl J. Gramedia Pustaka Utama. 12 Ichlasul Amal (Editor). Partai politik menurut Sigmund Neumann :11 adalah organisasi aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Partai politik menurut Mark N. 6. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijsaksanaan-kebijaksanaan mereka. Hagopian:13 adalah suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan Miriam Budiardjo. Tiara Wacana Yogya. Jakarta. nilai-nilai dan cita-cita yang sama. 3. Fiederich: 9 adalah sekelompok manusia yang terorganisiir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan. 1991. 9 Ibid hlm. yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan yang – dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih – bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijakanaan umum mereka. 8 107 . hlm. xv. memberikan jalan kompromi bagi pendapatpendapat yang bersaing. Partai politik menurut Ichlasul Amal :12 adalah suatu kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih oleh rakyat sehingga dapat mengontrol atau mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. 162. 160. 161. Penerbit : PT. 7. Penerbit : PT. dan memunculkan kepemimpinan politik. Partai politik menurut Miriam Budiardjo:8 adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi. tahun 1996. 5. Partai politik menurut Soltau :10 adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir. hlm. 10 Ibid hlm. 161. 13 Ibid hlm.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia 2. 4. “Dasar-Dasar Ilmu Politik”. mewakili kepentingan tertentu. “Teori-Teori Mutakhir Partai Politik”. berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materiil. 11 Ibid hlm.

personal atau kelompok. 11 Januari 2002. yaitu : a.Maret 2008 karakter kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip kepentingan ideologis tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan. 14 Nazuruddin Sjamsuddin. 15 H. hlm. Perbedaan ideologi dari para anggotanya. b. Menurut Nazuruddin Sjamsuddin. Persaingan kepemimpinan dalam partai. Penerbit : Karunika Jakarta. Karena partai tidak memeliki platform yang jelas. 1988. 16 Harian Kompas. 34. c. Ketika terjadi perpecahan yang bersifat klik. 10. Perbedaan pelaksanaan kebijaksanaan c. kegagalan muncul tokoh baru dalam partai politik menunjukan kegagalan partai politik melakukan reformasi internal. 126-127. No.Vol. dan Toto Pribadi. dalam Jurnal Analisis CSIS : Peran Masyarakat dan Demokrasi Lokal.6. Anto Djawamaku :15 Ada beberapa macam konflik internal dalam tubuh partai politik. Menurut Nurcholish Madjid : 16 Sampai saat ini belum ada kedewasaan berpolitik dalam partai politik. Faktor kepemimpinan tunggal dan manajemen yang buruk. Anto Djawamaku. Universitas Terbuka. sehingga mengakibatkan tidak adanya ikatan ideologis di antara anggota partai. Zukifli Hamid. Pemberantasan Korupsi dan Berbagai Masalah Politik Lainnya”. 8. b. 2005. terutama untuk revitalisasi dan regenerasi terutama karena figur petingginya menjadi simbol institusi. hlm. “Percehan Partai Politik. 1 . dan Toto Pribadi :14 Perpecahan dalam parpol bisa disebabkan tiga hal. Jakarta. 5. 9. Terlalu kuatnya figur pemimpin partai politik berpotensi mematikan kaderisasi di tubuh partai politik bersangkutan. Zukifli Hamid. 108 . Ketidakdewasaan partai juga ditunjukkan dengan ketidakberanian partai politik terkait untuk menjadi independen. a. Dipandang dari proses regenerasi yang harus dilakukan. 5 No.2. Figur yang kuat seringkali dianggap mampu menjadi perekat sementara pada saat bersamaan kader yang memiliki kualifikasi sepadan tidak pernah dipersiapkan sebagi calon pengganti. Perpecahan partai politik umumnya disebabkan oleh egoisme politik yang begitu besar yang merupakan indikasi ketidakdewasaan partai tersebut. dengan mudah hal itu memecah belah partai. Vol. “Sistem Politik Indonesia”. Menurut H.

Miriam Budiardjo. Macridis. memobilisasi rakyat. nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Sementara itu Miriam Budiardjo berpendapat bahwa Partai politik menurut adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi. partai politik merupakan suatu asosiasi yang mengaktifkan. dan mewakili kepentingan tertentu. 161. hlm. memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing.. dan memunculkan kepemimpinan politik. 109 . serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai. Ibid hlm. berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materiil. Op. partai politik menjadi fenomena umum dalam kehidupan politik di dalam masyarakat moderen. 17. Macridis. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijsaksanaankebijaksanaan mereka. Op.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia II.18 Partai politik menurut Carl J. pengecualiannya hanya pada masyarakat tradisional yang sistem politiknya otoritarian yang pemerintahannya bertumpu pada tentara atau polisi. mewakili kepentingan tertentu. memberikan jalan kompromi bagi pendapat-pendapat yang bersaing. hlm. Batasan dan Pengertian Partai Politik Roy C.19 17 18 19 Roy C. Partai politik telah digunakan untuk mempertahankan pengelompokan yang sudah mapan (seperti gereja) atau untuk menghancurkan status quo seperti yang dilakukan Bolsheviks pada tahun 1917 ketika menumbangkan kekaisaran Tsar. Oleh karena itu.cit.. TEORI-TEORI PARTAI POLITIK A. Macridis berpendapat bahwa partai politik (parpol) merupakan keharusan dalam kehidupan politik moderen yang demokratis.cit.17 Sebagai organisasi. 160. Fiederich adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan. Menurut Roy C. Partai politik adalah alat untuk memperoleh kekuasaan dan untuk memerintah. partai politik secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat.

Kepentingan dari dibentuknya suatu partai politik adalah usaha-usaha untuk memperoleh kekuasaan. Penerbit : PT. tahun 1996.22 Partai politik menurut Mark N. B.21 Partai politik menurut Ichlasul Amal adalah suatu kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih oleh rakyat sehingga dapat mengontrol atau mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. 24 Miriam Budiardjo. menurut Miriam Budiardjo.. Sebagai sarana komunikasi politik : parpol berfungsi menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpang-siuran pendapat dalam masyarakat berkurang. xv. 21 20 110 .20 Partai politik menurut Sigmund Neuman adalah organisasi aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau golongangolongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. maka dapat dikatakan bahwa : 1. 22 Ichlasul Amal (Editor). hlm. Dalam masyarakat moderen yang Ibid. xv. hlm. Dasar sosiologis dari suatu parpol adalah ideologi. “Teori-Teori Mutakhir Partai Politik”.Vol.cit. Hagopian adalah suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan karakter kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip kepentingan ideologis tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan. 5 No. yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan yang – dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih – bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijakanaan umum mereka.23 Berdasarkan batasan-batasan mengenai parpol seperti tersebut di atas. 23 Ibid hlm.Maret 2008 Partai politik menurut Soltau adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir. Tiara Wacana Yogya. Fungsi Partai Politik Di dalam negara moderen. hlm. 1 . Op. partai politik mempunyai beberapa fungsi :24 1. 161. 163. hlm. 2. Ibid. 162.

3. Rekrutmen politik. Sebagai sarana pengatur konflik. Di dalam ilmu politik. dan sebagainya. “Memahami Ilmu Politik”.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia begitu luas. pendapat dan aspirasi ini diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang teratur.25 Selain fungsi utama parpol seperti tersebut. Sosialisasi politik. pendapat dan aspirasi seseorang atau suatu kelompok akan hilang tak berbekas seperti suara di pandang pasir apabila tidak ditampung dan digabung dengan pendapat dan aspirasi orang lain yang senada. persaingan dan perbedaan pendapat merupakan soal yang wajar. sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses dari seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik di dalam lingkungan masyarakat dimana ia berada. Juga disuahakan untuk menarik golongan muda untuk dididik untuk menjadi kader yang di masa mendatang akan mengganti pimpinan lama (selection of leadership). Biasanya proses sosialisasi berjalan secara berangsur-angsur dari masa kanak-kanak sampai dewasa. 2. Gramedia Widiasarana Indonesia. Sementara itu Ramlan Surbakti berpendapat bahwa fungsi utama partai politik adalah mencari dan mempertahankan kekuasaan untuk mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan ideologi tertentu. Jakarta. 116. 4. 1992. yaitu : 1. Di dalam suasana demokrasi. “perumusan kepentingan” (interest articulation). Proses ini dinamakan. Dalam hal ini parpol berfungsi untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai (political recruitment). kursus-kursus kader. hlm. Proses sosialisasi politik diselenggarakan melalui ceramah-ceramah penerangan. Penerbit : PT. Sebagai sarana Sosialisasi Politik (Instrument of Political Socializzation). 111 . Sesudah digabung. 25 Ramlan Surbakti. parpol berusaha untuk mengatasinya. menurut Ramlan Surbakti masih ada fungsi parpol lainnya. Jika sampai terjadi konflik. Sebagai sarana Rekrutmen Politik. Dengan demikian partai turut memperluas partisipasi politik. 2. Proses ini dinamakan “penggabungan kepentingan” (interest aggregation). kursus penataran.

4. sekurang-kurangnya terdapat lima jenis parpol yang dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat komitmen parpol terhadap ideologi dan kepentingan. Keanggotaan partai kader terutama berasal dari golongan kelas menengah ke atas.Maret 2008 3. 6. C. 2. Ciri paling menonjol dari partai proto adalah pembedaan antara kelompok anggota (ins) dengan nonanggota (outs). ideologi yang dianut partai kader adalah konservatisme ekstrem 26 Ichlasul Amal. 4.. Kontrol Politik. Partai Proto adalah tipe awal partai politik sebelum mencapai tingkat perkembangan seperti dewasa ini. Partai ini muncul sebelum diterapkannya sistem hak pilih secara luas bagi rakyat hingga sangat bergantung pada masyarakat kelas menengah ke atas yang memiliki hak pilih. Pemandu Kepentingan. Tingkat organisasi dan ideologi partai kader sesungguhnya masih rendah karena aktivitasnya jarang didasarkan pada program dan organisasi yang kuat.cit. Pengendalian Konflik. hlm. Partai Kader. Jenis-Jenis Partai Politik Perbedaan jenis-jenis partai politik yang ada di berbagai negara pada dewasa ini pada hakekatnya karena perbedaan basis sosiologisnya. 1 . partai proto sesungguhnya adalah partai yang dibentuk berdasarkan pengelompokan ideologis masyarakat. 5. Partai Diktatorial. Op. kepemimpinan. 7. Partisipasi politik. Akibatnya. 5. 112 . Karena. Partai Proto. 3. partai ini belum menunjukan ciri sebagai parpol dalam pengertian moderen. Partai Catch-all. Partai Massa. Partai semacam ini muncul di Eropa Barat sekitar abad pertengahan hingga akhir abad ke-19. xv.Vol. Menurut Ichlasul Amal. Komunikasi Politik. Partai kader merupakan perkembangan lebih lanjut partai proto. Selebihnya. 5 No. serta para pemberi dana. yaitu :26 1. keanggotaan yang terbatas.

Karena itu partai kader tidak memerlukan organisasi besar yang dapat memobilasasi massa. petani. memiliki basis pendukung kelas menengah ke atas. misalnya : buruh. Partai massa muncul pada saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga dianggap sebagai suatu respon politis dan organisasional bagi perluasan hakhak pilih serta pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia atau maksimal reformisme moderat. 113 . aktivitas partai ini erat berkaitan dengan kelompok kepentingan dan kelompok penekan. berorientasi pada basis pendukung yang luas. Sebaliknya. partai massa dibentuk di luar lingkungan parlemen (ekstra parleementer). Tujuan utama partai ini adalah memenangkan pemilihan dengan cara menawarkan program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai ganti ideologi yang kaku. Dengan demikian. Partai proto dan partai kader terbentuk di dalam lingkungan parlemen (intra parlemen). Istilah Catch-all pertama kali dikemukakan oleh Otto Kirchheimer untuk memberikan tipologi pada kecenderungan perubahan karakteristik partai-partai politik di Eropa Barat pada massa pasca Perang Dunia Kedua. D. serta memiliki tingkat organisasial dan ideologis yang relatif rendah. Latar belakang muncul partai massa sangat bertolak belakang dengan kemunculan partai proto maupun partai kader. dan memiliki ideologi yang cukup jelas untuk memobilisasi massa serta mengembangkan organisasi yang cukup rapi untuk mencapai tujuan-tujuan ideologisnya. Catch-all dapat diartikan sebagai menampung kelompok-kelompok sosial sebanyak mungkin untuk dijadikan anggotanya. Dengan demikian. tetapi juga memberikan pendidikan politik bagi para anggotanya dalam rangka membentuk elit yang langsung direkrut dari massa. Konflik dan Perpecahan Partai Politik Di dalam masyarakat yang demokratis. Perbedaan pendapat dan persaingan itu sering kali mengakibatkan konflik. Partai Catch-all merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa. dalam pengertian ini partai kader lebih nampak sebagai suatu kelompok informal daripada sebagai organisasi yang didasarkan pada disiplin. perbedaan pendapat dan persaingan di antara warga masyarakat atau golongan-golongan merupakan hal yang wajar. dan kelompok agama. Tujuan utama partai massa tidak hanya memperoleh kemenangan dalam pemilihan. bahkan mengakibatkan terjadi perpecahan.

1988. Terlalu kuatnya figur pemimpin parpol berpotensi mematikan kaderisasi di tubuh partai politik bersangkutan. Berdirinya Partai Politik di Indonesia. Ketiga.2. hlm. pertentangan. Karena partai tidak memeliki platform yang jelas. 2. Pemberantasan Korupsi dan Berbagai Masalah Politik Lainnya”. 2) Perbedaan pelaksanaan kebijaksanaan.27 Menurut Nazuruddin Sjamsuddin. kegagalan muncul tokoh baru dalam parpol menunjukan kegagalan parpol melakukan reformasi internal. hlm. “Sistem Politik Indonesia”. 5 No. dan Toto Pribadi Perpecahan dalam parpol bisa disebabkan tiga hal:28 1) Perbedaan ideologi dari para anggotanya. Universitas Terbuka. 3. 2). Ketegangan atau pertentangan antara dua kekuatan atau dua tokoh. Dipandang dari proses regenerasi yang harus dilakukan. Penerbit : Karunika Jakarta. Zukifli Hamid. 114 . 34. dan Toto Pribadi. Faktor kepemimpinan tunggal dan manajemen yang buruk. KONFLIK PARTAI POLITIK DI INDONESIA A. Figur yang kuat seringkali dianggap mampun menjadi perekat sementara pada saat bersamaan kader yang memiliki kualifikasi sepadan tidak pernah dipersiapkan sebagi calon pengganti. Cet. Anto Djawamaku. No. Jakarta. dengan mudah hal itu memecah belah partai.Maret 2008 Konflik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah : 1). hlm. maka dapat dikatakan partai politik adalah merupakan alat yang pernah didesain 27 28 Kamus Besar Bahasa Indonesia. 126-127. “Percehan Partai Politik. Vol. Zukifli Hamid. 29 H. Nazuruddin Sjamsuddin. tahun 1990. 5.Vol.6. 2005. 1 . Sedangkan menurut H. terutama untuk revitaslisasi dan regenerasi terutama karena figur petingginya menjadi simbol institusi. III. Dari teori-teori ilmu poltik sebagaimana yang telah diuraikan di atas. 3) Persaingan kepemimpinan dalam partai. personal atau kelompok. Ketika terjadi perpecahan yang bersifat klik. Anto Djawamaku Ada beberapa macam konflik internal dalam tubuh parpol. Balai Pustaka. dalam Jurnal Analisis CSIS : Peran Masyarakat dan Demokrasi Lokal. Percecokan. 455. sehingga mengakibatkan tidak adanya ikatan ideologis di antara anggota partai. yaitu :29 1.

karena partai politik sangat diperlukan kehadirannya bagi negara-negara yang berdaulat. tetapi melalui berbagai konflik dan persaingan baik intern partai maupun antar partai yang terjadi secara melembaga dalam partai politik umumnya. Partai politik. partai politik berusaha untuk memperoleh kekuasaan dengan dua cara yaitu ikut serta dalam pelaksanaan pemerintah secara sah.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia oleh manusia dan paling ampuh untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Bagi negara-negara yang merdeka dan berdaulat eksistensi partai politik merupakan prasyarat baik sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Hubungan ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat yang melahirkannya. Bentuk perjuangan yang dilakukan oleh setiap partai politik tidak harus menggunakan kekerasan/kekuatan fisik. tempat seseorang/kelompok mencari dan memperjuangkan kedudukan politik dalam negara. Persaingan antar partai politik merupakan bagian intergral dalam proses politik. Kalau kelahiran partai politik sebagai pengejewantahan dari kedaulatan rakyat dalam politik formal. sampai munculnya pameo dalam masyarakat bahwa “politisi modern tanpa partai politik sama saja dengan ikan yang berada di luar air”. juga terlibat langsung dalam proses penyelenggaraan negara melalui wakilwakilnya yang duduk dalam badan-badan perwakilan rakyat. sering diasosiasikan sebagai organisasi perjuangan. maka semangat kebebasan selalu dikaitkan orang dalam membicarakan partai politik sebagai pengendali kekuasaan. Dengan suara 115 . atau mungkin bekerja secara tidak sah/subversif untuk memperoleh kekuasaan tertinggi dalam negara yaitu melalui revolusi atau coup d’etat. Karena demikian pentingnya keberadaan partai politik. Partai politik sebagai institusi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masyarakat dalam mengendalikan kekuasaan. Sebagaimana dikatakan oleh Huszar dan Stevenson dalam bukunya Political Science mengemukakan “Partai Politik ialah sekelompok orang yang terorganisir serta berusaha untuk mengendalikan pemerintahan agar supaya dapat melaksanakan progam-progamnya dan menempatkan/menundukkan anggota-anggotanya dalam jabatan pemerintah. dengan tujuan bahwa dalam pemilu memperoleh suara mayoritas dalam badan legislatif. dan tidak ada seorang ahlipun dapat membantahnya. Partai poltik sering dianggap sebagi salah satu atribut negara demokrasi modern. guna memperoleh kemenangan dala proses pemilu.

Kondisi konflik dan persaingan semacam ini merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa dielakkan dalam kehidupan sehari-hari. melakukan tata hubungan politik dan lain-lain. dimana rakyat dapat menentukan pilihannya dengan leluasa. Hasil pembangunan politiknya telah membatasi kekuasaan Monarchi absolut dan perluasan hak-hak warga negara. 1 . Kompetisi yang berkembangnya biasanya diliputi oleh tujuan-tujuan yang ingin dicapai. memperjuangkan kepentingannya. Telah banyak penelitian empiris menunjukkan perspektif baru di mana partai-partai politik bisa dianalisis dan 116 . partai yang bersangkutan akan dapat berbuat banyak dalam mengendalikan negara dan pemerintahan.Vol. dengan berbagai kelompok yang bertujuan mengejar kekuasaan dan pencapaian tujuan-tujuan dan kepentingannya. berbagai usaha telah dilakukan untuk menghubungkan partai–partai politik dengan lembaga-lembaga lain dalam masyarakat. tetap mengendalikan pemerintahan dan lebih jauh lagi memberikan keuntungan-keuntungan terhadap anggota partai baik keuntungan yang bersifat materiil maupun spirituiil. partai poltik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara mapan dengan tujuan untuk menjamin dan mepertahanlan pemimpin-pemimpinnya.Friederich bahwa. mempertahankan posisi elitnya dalam kekuasaan pemerintahan. Selain itu. status.yaitu mengawasi kebijaksanaan umum. 5 No. kekuasaan perasaan aman. Dan pada gilirannya menempatkan partai politik berfungsi menjadi penghubung antara rakyat dengan pemerintahan.J. Sebagaimana dikatakan Carl. merupakan suatu tahap agar pemerintahan yang dijalankan harus berdasarkan kontitusi dan perwakilan.Maret 2008 mayoritas dalam pemilu. mengkritik rezim yamg memerintah. bahkan membawa atribut-atribut kelompok yang berafiliasi untuk diperjuangkan kepentingannya. Keberhasilan inilah yang mendorong meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses politik. Sejarah mencatat untuk pertama kali partai politik tumbuh dan berkembang di negara-negara Eropa Barat. Telah banyak penelitian empiris menunjukkan perspektif biar di mana partai-partai politik dan sistem kepartainnya bisa dianalisis dan dipahami secara lebih mendalam dalam kehidupan masa kini. memperkuat dan memperjuangkan ideologi partainya. serta merealisir tujuan lebih lanjut. Dalam konteks ini masyarakat sering dipandang sebagai organisme yang dinamis tempat berkembangnya pelbagai persaingan guna memperoleh prestisi.

apalagi kalau menyangkut kepentingan bangsa dan negara. terutama dengan memperkenalkan analisa Lenin dan Bucharin tentang imperalisme sebagai tingkat terakhir dari kapitalisme. Bilamana pemberontakan PKI tahun 1926/1927 tidak terjadi. Dilihat dari sudut ideologi dasar. PKI yang lahir pada tahun 1920. telah timbul kecenderungan untuk mengatur kehidupan kepartaian. Konsitusi RIS dan UUDS”50. dan Marxisme/Sosialisme. tidak menutup kemungkinan PKI akan menjadi pelopor dalam perjuangan anti kolonialisme/imperalisme. hal ini tidak berarti bahwa partai politik tidak boleh ada/diatur. Pada tahun 1920-an dengan kelahiran PKI. Kesalahan PKI waktu itu membuat satu perjuangan “pemberontakan” tanpa persiapan yang matang. PNI. Hal yang menarik dari SI pada periode awal adalah mampu mengidentifikasikan dirinya dengan aspirasi politik Bumi Putera untuk memperjuangkan kemerdekaan. dalam tempo yang relatif singkat berkembang dengan pesat.S. membawa dampak wibawa SI menurun. juga berhasil memikat kaum intelektual. Partai Serikat Islam sering dianggap sebagai partai pelopor dan partai ini menjadi dinamis di bawah pimipinan H. tidak dijumpai kata-kata partai politik. Partai ini tidak saja berhasil mempengaruhi massa rakyat. 117 . Ketiga aliran itu ialah Islam. kedudukannya mampu digantikan oleh PNI sebagai partai radikal-revolusioner dan Soekarno mampu belajar dari pengalaman dan kelemahan SI dan PKI. sebagai partai politik pertama yang bercorak nasional. Nasionalisme.O. yang bercorak ideologi Marxisme dan Nasionalisme.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia dipahami secara lebih mendalam. munculnya partai politik di Indonesia pada masa pra kemerdekaan secara garis besar adalah sebagai aktualisasi dari tiga aliran atau pandanagan politik yang menemukan momentum kelahirannya pada dekade abad ke20. baik di bidang organisasi maupun dalam usaha memasyarakatkan Marxisme/Komunisme. dan tidak mampu bersaing dengan ideologi-ideologi modern yang berasal dari Barat dalam merebut massa rakyat. Aktualisasi aliran Islam muncul pertama dalam Serikat Islam (SI).Cokroaminoto. Berdasarkan pengalamanpengalaman perkembangan demokrasi di negara kita dalam hubungannya dengan pelaksanaan UUD 1945. Kalau kita lihat ketentuan UUD 1945. Kondisi seperti ini. Periode 1927 sampai dengan 1945 aktualisasi ideologi Marxis hilang dari arena gerakan politik Indonesia.

Isi Maklumat itu antara lain memuat keinginan pemerintah akan kehadiran partai politik. seperti bagaimana partai politik mengorganisir dirinya agar terbebas dari ancaman perpecahan. Nasionalisme dan Marxisme dalam melihat tuntutan untuk merdeka. misalnya dari non-kooperatif ke kooperatif. Hatta. PNI (1927). Rukun Minahasa dan Kaum Betawi (1923) dan lainlain.Maret 2008 Kalau kita perhatikan jalan pemikiran yang melandasi organisasiorganisasi politik seperti Serikat Islam (1912). bagaimana hubungan antara partai politik dengan rakyat pendukungnya. dengan pertimbangan bahwa “berbagai pendapat yang ada di dalam masyarakat akan tersalur secara tertib”. Hal lain yang menjadi dasar pertimbangan adalah “bahwa partai politik akan memperkokoh perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan pemeliharaan keamanan masyarakat”. Namun kalau dikualifikasi lebih lanjut. tidak ada satu ideologi yang dominan dalam pergerakan politik Indonesia. jelas membawa partai politik garis tempat berpijak yang kokoh. PSII (1930). Perjalanan kehidupan partai politik di Indonesia sering dihadapkan pada berbagai masalah. Dengan partai politik aliran paham yang ada di dalam masyarakat dapat disalurkan secara 118 . Achmad Syafe’i Ma’arif mengkonstanti. PKI (1921).Vol. tetapi kerena perbedaan pandangan dalam membawa ideologi itu menjadi aktual. Hal ini menyangkut sikap terhadap pemerintah Hindia Belanda. serta bagaimana peranan partai politik bagi kelancaran perputaran mesin partai. Setelah proklamasi kemerdekaan BP-KNIP terhitung mulai tanggal 30 Oktober 1945 bertindak sebagai parlemen sementara sebelum diadakan pemilu. akan menunjukkan beragam alasan dari aliran politik Islam. bagaimana peranan ideologi di dalam kehidupan partai untuk memperoleh sarana materiil. Partindo. 5 No. jelas perjuangan utama mereka adalah kemerdekaan dari kolonialisme/ imperalisme. Parindra. Pada pokoknya sesudah PNI dibubarkan sampai dengan kedatangan Jepang pada tahun 1942. bahwa perpecahan dalam partai politik bukan karena perbedaan penafsiran terhadap ideologi yang dianut. 1 . Serikat Ambon (1920). Dengan dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tertanggal 3 November 1945 yang ditandatangani oleh Wakil Presiden Moh. dan kelompok-kelompok yang berdasarkan suku kederahan seperti Paguyuban Pasundan (1914). berkeputusan untuk membentuk partai politik dengan konsep banyak partai (multyparty). Sedangkan pada pendudukan Jepang (1942-1945) seluruh kegiatan partai politik dihentikan. Serikat Sumatra (1918).

d) Partai Rakyat Indonesia (PRI). 119 . yakni harus sudah tersusun sebelum dilangsungkan pemilihan anggota-anggota badan perwakilan rakyat pada bulan Januari 1946. b) Persatuan Indonesia Raya (PIR). e) Partai Demokrasi Rakyat (Banteng). g) Partai Wanita Rakyat (PWR). 3.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia teratur. k) Ikatan Nasional Indonesia (INI). Partai politik yang berdiri sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tersebut diklasifikasikan dalam buku Kepartaian Indonesia/terbitan Kementerian Penerangan tahun 1951 sebagai berikut : 1. j) Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI). Lebih meyakinkan lagi. n) Wanita Demokrasi Indonesia (WDI). d) Partai Buruh. Dasar kebangsaan. berupa limit waktu pendirian partai politik. b) Partai Sjarikat Indonesia. f) Partai Rakyat Nasional (PRN). d) Partai Kristen Indonesia. c) Pergerakan Tarbiah Islamiah. Dasar Marxisme: a) Partai Komunis Indonesia (PKI). c) Partai Murba. i) Partai Kedaulatan Rakya (PKR). Dasar Ketuhanan: a) Masjumi. a) Partai Nasional Indonesia (PNI). lahirlah berbagai partai politik ditambah partai politik yang telah ada pada zaman penjajahan Belanda maupun partai politik pada masa pendudukan Jepang. h) Partai Kebangsaan Idonesia (Parki). c) Partai Indonesia Raya (Parindra). b) Partai Sosialis Indonesia. e) Partai Katholik. 2. l) Partai Rakyat Jelata (PRJ). Dengan dasar maklumat pemerintah ini. m) Partai Tani Indonesia (PTI).

c) PSII. 5 No.Maret 2008 e) Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai). 4. 5. Partai lain-lain: a) Partai Demokrat Tionghoa (PTDI). b) Partai Indonesia Nasional (PIN). 1. yang belum tercantum dalam daftar di atas yakni Nahdatul Ulama (NU) yang secara resmi berdiri sebagai partai politik yang bernafaskan Islam tahun 1952. dan partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) berdasarkan kebangsaan. g) PIR-Wongsonegoro. Adapun Alfian dalam mengelompokkan partai politik berdasarkan hasil pemilu 1955 yakni. f) SKI. d) Parindra. 120 . b) GTI. 2. e) Partai Buruh. b) PRN. 1 .Vol. b) SOBSI. Partai Islam : a) Masjumi. Aliran Kristen : a) Partai Katolik. Aliran Komunis : a) PKI. c) BTI 4. Aliran Sosialis : a) PSI. Aliran nasionalis : a) PNI. b) Parkindo. c) PIR Hazarin. b) NU. Disamping itu ada dua partai politik yang cukup besar pengaruhnya dalam masyarakat. d) Perti 3.

A. b) Nasionalis Islam. Itulah resiko multipartai yakni pertentangan yang tidak pernah berkesudahan antar elit politik terutama golongan nasionalis dan Islam. Karena tidak ada partai yang mayoritas dalam pemilu. jalan keluarnya dengan mendirikan partai baru yang juga mempunyai problem tersendiri dalam menghadapi pemerintah kolonial. Kalau pada zaman penjajahan konflik antar golongan dapat ditutupi dengan isu melawan penjajahan. Kondisi semacam ini menjadi salah satu penyebab sering terjadi 121 . Pemilu 1955 mengangkat posisi NU dan PKI ke panggung politik dan mendepak PSI ke luar.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Cara lain menurut Alfian dengan pengelompokkan partai politik. maka di dalam negara kita berkembang tiga aliran yakni. IPKI. nonagama. Yang perlu dicatat bahwa masa ini nampak sekali percaturan politik bercirikan militansi politisi sipil. Salah satu ciri utama kehidupan politik masa demokrasi liberal ditandai dengan kabinet yang berulang kali rata-rata berumur 8 bulan. dan c) Komunis/Sosialis. Hanya terdapat dua kabinet yang diperintah secara berimbang antara dua golongan tersebut. sehingga intrik politik diantara masing-masing golongan tidak menampilkan perpecahan intern. Dengan adanya anjuran dan jaminan penderian serta hak hidup partai politik. Islam dan Kristen. a) Nasionalis opportunis.Wahid Hasjim sebagai akibat dari pemerintahan diktator yang dilaksanakan oleh Jepang. dan beberapa partai kecil lainnya yang ikut duduk dalam kabinet sampai berakhirnya pemilu 1955. nampak semakin intensif upaya menanamkan ideologi dalam masyarakat dan masing-masing sebagai golongan politik menampakkan identitas sebagai golongan yang memang memiliki ambisi untuk mempertaruhkan segalanya demi mencapai tujuan dalam kekuasaan politik. Pengelompokkan ini nampaknya relevan dengan pemikiran K. membuka peluangnya adanya koalisi. Tetapi dalam perkembangan berikutnya setelah lepas dari penjajahan. NU. Adapun simbul kedua golongan itu adalah PNI dam Masjumi. karena partai ini sangat merosot dalam perolehan suara. PSII.H. maka tahun 1955 kita menyaksikan pertumbuhan partai politik yang subur dengan diselingi konflik yang terkadang berbau antagonis diantara berbagai golongan yang ada. Golongan lain adalah PSI. Ketiga golongan utama inilah yang mendominasi kehidupan politik kita melalui partai politik.

dalam bahasa Orde Baru tidak mungkin menyelenggarakan pembangunan ekonomi karena perhatian lebih banyak ditujukan kepada pembenahan bidang politik.Vol. tampak antara Soekarno. manakala suatu saat dilakukan pengambil alihan kekuasaan. PKI. guna mengatasi berbagai gejolak politik. Dengan kehancuran PKI. mendorong Presiden Soekarno menggunakan kekuasaan ekstrakonstitusional dengan Dekritnya dan melahirkan demokrasi terpimpin. Angkatan 66 dan umat Islam ditambah kekuatan sosial keagamaan lainnya ikut bergerak menumpas PKI. Inilah malapetaka yang dikenal dengan pemberontakkan G 30S/PKI dengan jatuhnya 7 korban perwira tinggi dan menengah TNI-AD. Kehancuran Orde Lama ditandai dengan surutnya politisi sipil dari gelanggang politik dan naiknya peranan militer. Dengan konflik yang berkepanjangan dalam tubuh badan Konstituante dalam merumuskan UUD yang bersifat tetap. memberikan keyakinan padanya bahwa kemenangan akan diraihnya. Dengan kelihaian PKI dalam memobilisasi massa sampai pelosok pedesaan dengan kader-kader yang disiapkan begitu intensif dan militan. Disamping cengkraman kekuasaan Soekarno. 1 . Awal kebangkitan Orde Baru dalam melakukan pembenahan intitusi politik. 5 No. dengan cara mengucilkan kekuatan TNI-AD. Dari malapetaka itulah segenap potensi bangsa terutama Militer. masa demokrasi terpimpin ditandai pula oleh adanya keinginan kuat kaum militer untuk tampil dalam gelanggang politik dan sejak itu pula muncul kesadaran untuk mengurangi jumlah partai politik. adalah menyusun UU tentang pemilu yang dianggap sesuai dengan perkembangan masyarakat saat itu. Dengan dikucilkannya PNI dan Masjumi oleh Presiden Soekarno. oleh Alfian memberi istilah dengan “formal politik baru”. dan TNI-AD saling bersaing. Dan pemilu 122 . Masa ini tampak kekuasaan Presiden Soekarno mengisap hampir seluruh kekuasaan yang ada disekelilingnya dan berakhirlah kekuasaan partai-partai politik. sedang partai lain kurang menunjukkan aset yang berarti dalam percaturan politik. menghantarkan militer berkiprah dalam gelanggang politik. tetap berpandangan bahwa jumlah partai yang terlalu banyak tidak menjamin adanya stabilitas politik. Usaha pertama disamping memulihkan partaipartai yang tidak secara resmi dilarang. Dalam kurun waktu 1959-1965.Maret 2008 pergantian kabinet. memberikan angin segar bagi PKI untuk berkiprah lebih leluasa dalam arena politik.

maka Pemilu 1977 dan 1982 hanya tiga peserta pemilu. yakni PPP. hanya kesan umum kekuasaan ABRI lebih kuat dari teknokrat. ternyata baru terlaksana tahun 1971. NU. dan PDI dimana masing-masing mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 123 . yakni memberi peluang cukup leluasa bagi Golkar untuk berusaha sekuat tenaga guna memenangkan pemilu dengan dibantu oleh pemerintah. Partai Murba. Dengan adanya partai mayoritas Golkar. Melalui proses fusi yakni partai-partai Islam seperti.Tidak jelas siapa menguasai siapa dalam menggambarkan hubungan ini. Partai Katolik. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975. dan PNI menunjukkan kekuatan formal partai dilihat dari suara yang didapat dalam pemilihan. dan Partai Islam.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia yang direncanakan dilaksanakan dalam waktu dekat. Murba dan IPKI. sangat mungkin melapangkan jalan untuk penyederhanaan kehidupan partai secara melembaga. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). PNI. Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) tergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adapun Partai Demokrasi Indonesia (PDI) merupakan gabungan dari Parkindo. Partai Nasional Indonesia (PNI). Kalau kita cermati kembali perjalanan partai politik di Indonesia pada masa Orde Baru. Hasil pemilu 1971 yang menunjukkan kemenangan Golkar. Parmusi. Golkar. Nahdatul Ulama (NU). Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). kemudian diikuti oleh Parmusi. Partai Katolik. nampak hubungan antara ABRI-teknokrat untuk memperkuat birokrasi pemerintahan demikian kuat. Dalam gelanggang percaturan politik Orde Baru. sebagai peserta pemilu tahun 1971 ada 10 partai politik yakni: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Golongan Karya (Golkar). Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan. Hal inipun tidak lepas dari jasa ABRI dalam mensukseskan pemilu pertama dalam masa Orde Baru. PSII. NU. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Maret 2008 1. alamat. ditetapkan agar semua parpol hanya menggunakan satu-satunya azas. 5 No. 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik. kebangsaan (nasionalisme) dan keadilan. Ke-50 partai yang lulus penyaringan tersebut kemudian mendaftarkan diri ke KPU untuk menjadi calon peserta Pemilu. DPD. dengan berlakunya UndangUndang Nomor 3 Tahun 1985 (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975). Di sini tujuan penyaringan adalah memberikan status atau pengesahan partai politik sebagai sebuah badan hukum sebagaimana ditetapkan oleh UU No. UU No. Untuk mengingat kembali partai-partai tersebut berikut ini bisa dibaca profil masing-masing partai tersebut. khususnya Pasal 7 – 10. yang kemudian dijabarkan di dalam Keputusan KPU No. 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. Golkar dengan ciri kekaryaan dan keadilan sosial. PPP dengan ciri ke-Islaman dan Ideologi Islam. 3. Sesuai dengan amanat UU No. Dengan demikian perlombaan pengaruh antar kontestan hanya berorientasi pada program kerja masing-masing parpol. Di dalam Pemilu 2004 terdaftar 24 partai politik yang berhak ikut serta Pemilu 2004. ketua umum dan sekretaris jenderal. Pada tahap ini ada 50 partai politik yang dinyatakan lulus penyaringan. Pemilu 1999 adalah Pemilu yang diikuti oleh paling banyak peserta setelah Pemilu 1955. Kalau hanya sekedar mendaftarkan diri ke pemerintah (Departemen Kehakiman dan HAM) pada waktu itu ada 141. Di dalamnya terdapat informasi mengenai nama partai.Vol. 12 Tahun 2003. Sedang dalam Pemilu 1987 dan 1992. PDI dengan ciri demokrasi. serta sejarah singkatnya. Ke-24 parpol merupakan hasil dari proses seleksi yang cukup panjang. yaitu azas Pancasila. sebuah 124 . 1 . Untuk diketahui. Ke-24 partai ini ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2004 setelah berhasil melalui 3 tahap penyaringan. 2. Penyaringan tahap kedua adalah verifikasi administratif oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). 105 Tahun 2003 sebagaimana diperbarui dengan Keputusan KPU No. dan DPRD menegaskan bahwa partai politik yang dibenarkan mengikuti Pemilu adalah partai yang sudah mendapat pengesahan sebagai badan hukum oleh Depkeh dan HAM. Ada 48 partai yang mengikuti Pemilu 3 tahun lalu. Di dalam sejarah politik Indonesia. tujuan dan asasnya. 615 Tahun 2003. Penyaringan tahap pertama dilakukan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM). Itu yang mengikuti Pemilu.

Partai Buruh Sosial Demokrat. 105 Tahun 2003 dan yang diperbarui dengan Keputusan KPU No. Sebuah catatan perlu ditekankan di sini bahwa 6 dari partai tersebut tidak melalui proses verifikasi yang dilakukan oleh KPU. 3. 125 . Partai Nasional Indonesia Marhaenisme. Pada tahap ini yang diteliti adalah memastikan apakah benar dokumen-dokumen mengenai kepengurusan dan keanggotaan sebagaimana di dalam verifikasi administratif tersebut mewujud di lapangan. Ketiga. Partai Persatuan Pembangunan. 2. yaitu : 1. semua kepengurusan tersebut harus mempunyai kantor. dan Partai Bulan Bintang. 615 Tahun 2003.000 orang atau 1/1. Partai Bulan Bintang. Pertama. Penyaringan tahap ketiga adalah verifikasi faktual. mempunyai anggota sekurang-kurangnya 1. Keempat. baik administratif maupun faktual. KPU menyusun ketentuan mengenai tata cara dan prosedur verifikasi tersebut di dalam Keputusan KPU No. Ditambah dengan 6 partai yang lulus threshold. mempunyai kepengurusan lengkap di sekurang-kurangnya 2/3 jumlah provinsi di Indonesia. Partai Amanat Nasional. Sedangkan menurut UU No. langsung ditetapkan menjadi peserta Pemilu 2004 apabila mendaftarkan diri sebagai calon peserta Pemilu ke KPU.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia partai politik berhak mengikuti Pemilu apabila memenuhi sejumlah persyaratan. Pembuktian setiap partai yang mendaftarkan diri tersebut dilakukan melalui proses verifikasi. ada 18 partai yang lulus. keenam partai tersebut telah lulus electoral threshold (mempunyai 2% dari jumlah kursi di DPR) di dalam Pemilu 1999. yaitu verifikasi administratif dan verifikasi faktual. Kedua. mempunyai pengurus lengkap di sekurangkurangnya 2/3 kabupaten/kota di setiap provinsi di mana ia mempunyai kepengurusan. Ada dua tahap verifikasi di sini. Keenam partai tersebut adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sebab. Setelah keseluruhan proses verifikasi selesai. jumlah keseluruhan partai yang berhak menjadi peserta Pemilu 2004 adalah 24. Hanya partai yang lulus verifikasi administratif yang bisa mengikuti penyaringan tahap selanjutnya (verifikasi faktual). Partai Kebangkitan Bangsa. Partai Golongan Karya. Oleh karena jumlah partai yang mengikuti proses verifikasi ada 44.000 dari jumlah penduduk di setiap daerah di mana ia mempunyai pengurus. 12 Tahun 2003 partai yang sudah memenuhi electoral threshold tersebut.

9. 10. 20. 1 . 24. 5. 8. Partai Merdeka Partai Persatuan Pembangunan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan Partai Perhimpunan Indonesia Baru Partai Nasional Banteng Kemerdekaan Partai Demokrat Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia Partai Penegak Demokrasi Indonesia Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia Partai Amanat Nasional Partai Karya Peduli Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa Partai Keadilan Sejahtera Partai Bintang Reformasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Damai Sejahtera Partai Golongan Karya Partai Patriot Pancasila Partai Sarikat Indonesia Partai Persatuan Daerah Partai Pelopor B. Fenomena kepengurusan kembar partai politik (parpol) di Indonesia sebagai imbas konflik internal partai sebenarnya merupakan fenomena klasik dalam politik kepartaian di Indonesia. 16.Maret 2008 4. 23. 22. 12.Vol. 19. 15. 13. 126 . 5 No. 11. 7. Sebelumnya soliditas kepemimpinan DPP PPP juga retak oleh konflik internal antara kaukus elite DPP pro-Silatnas (Silaturahmi Nasional) yang anti Hamzah Haz dengan yang anti Silatnas yang pro Hamzah Haz. Konflik Partai Politik di Era Reformasi Kecenderungan konflik internal hingga dualisme kepemimpinan partai politik pascakongres atau muktamar kembali terjadi. 17. Kongres PDIP di Bali membelah kepemimpinan PDIP menjadi dua poros kekuatan. 6. 18. 14. Muktamar PKB di Semarang membuat dualisme kepemimpinan: Gus Dur-Muhaimin Iskandar berhadapan dengan DPP PKB versi Alwi Shibah dan Syaifullah Yusuf yang didukung oleh poros Kiai Langitan-Lirboyo. 21. antara DPP PDIP Megawati di satu sisi dengan GP PDIP-nya Roy BB Janis di sisi lain.

Ketiga. partai kecil yang sempat menempatkan tujuh kadernya di DPR (periode 1999-2004) terpecah 127 . yang merupakan partai pendukung kaum Soekarnois di awal Orba di –pecah menjadi PNI ASU (Ali Sastroamidjojo-Surachman) dengan PNI Osa-Usep. pembelahan partai disebabkan oleh intervensi rezim berkuasa yang mencoba menghancurkan partai-partai yang diprasangkakan membahayakan kekuasaan. baca: pembelahan organisasi. Kedua. Orde Baru (Orba) sampai sekarang ini. sebelah di bawah Soerjadi yang direstui pemerintah. PNI. ataukah oleh sebab lain? Sepanjang era reformasi. PPP sempat terpecah menjadi PPP Reformasi sebelum akhirnya berganti nama menjadi PBR. Partai Nasional Indonesia (PNI) diperintahkan Soekarno untuk re-shaping semangat revolusionernya. Pembelahan parpol di awal berkuasanya Orde Baru yang militeristik diorientasikan untuk memandulkan fungsi kontrol partai atas pemerintahan. sebelah lagi yang pro-Megawati yang didukung arus bawah. intervensi kekuasaan dalam kerangka kepentingan deideologisasi dan de-parpolisasi. strategi resistensi sosial partai. pembelahan (perpecahan) parpol yang menghasilkan dualisme kepemimpinan struktural disebabkan oleh tiga faktor: Pertama. radikalisasi ideologi. Di awal 1990-an Orba melakukan pembelahan partai pewaris simbol Soekarnois PDI. atau karena proses radikalisasi ideologi. Sedangkan di masa Orba. Faktornya berbeda-beda.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Kepengurusan kembar partai. masa Soekarno. Di jaman kolonial. Lantas bagaimana kita menempatkan realitas ini di masa reformasi? Apakah bisa dikatakan konflik partai di era reformasi diakibatkan intervensi pemerintah. Di masa Soekarno. Perpecahan juga menimpa partai-partai gurem. telah mengakar dalam tradisi politik di Indonesia semenjak era kolonialisme hingga membudaya di alam kemerdekaan. dengan maksud mencegah konsolidasi barisan pendukung Soekarnois. seperti kasus perpecahan Syarikat Islam (SI) di tahun 1920-an menjadi SI “merah”-nya Semaoen dan SI “putih”-nya HOS Tjokroaminoto. Kemudian PKB pasca jatuhnya Gus Dur dari kursi kepresidenan terbelah menjadi PKB Batutulis di bawah komando matori Abdul Djalil dan PKB Kuningan di bawah komando Alwi Shihab dengan dukungan Gus Dur dan para kiai (ulama) kharismatik NU. dengan akibat mantan Wakil PM Hardi tergusur. terjadi akibat rivalitas atau proses radikalisasi ideologi. PDKB. Jaman Reformasi Bisa disimpulkan dalam lintasan sejarah kepartaian di Indonesia.

128 . Intervensi modal dan intervensi kekuasaan politik ini mendorong lahirnya budaya money politics. politik dagang sapi dalam arena kongres atau muktamar partai. Ini terjadi di partai-partai tradisional yang mengandalkan ikon kepemimpinan partai yang kharismatik dan berbasiskan loyalitas massa kepada figur pemimpin partai. Muncul pertanyaan: Mengapa partaipartai mudah sekali terbawa arus perpecahan yang menyulut lahirnya dualisme kepemimpinan? Perpecahan di tubuh partai yang kini marak juga dipengaruhi kondisi internal partai-partai yang pada umumnya masih merupakan partai tradisional. 5 No.Maret 2008 menjadi dua sebelum resmi mendaftarkan diri menjadi peserta Pemilu 2004. Kedua. pecah berkeping-keping menjadi PDS. feodalistik yang menjegal kompetisi demokratis dalam pergantian kepemimpinan partai. Watak tradisionalisme kepartaian di Indonesia inilah yang menjadikan partai gagal menjalankan fungsi normatif politik.Vol. Pepecahan ini dalam analisis sosiologis dan psikologis politik disebabkan oleh beberapa faktor: Pertama. partai radikal yang konsisten melawan Orba. bipolaritas kepentingan politik yang berpengaruh terhadap harmoni partai. sementara kekuatan reformis atau dekonstruksi di jajaran kader semakin kuat dan menuntut proses percepatan suksesi. Akhirnya PDIP pasca kongres Bali. intrik politik. Intervensi modal terjadi dan dilakukan oleh kekuatan bisnis yang menjadikan parpol sebagai kendaraan untuk mempermudah penguasaan aset politik yang dekat relasinya dengan sumber daya ekonomi. baik dalam hal edukasi politik massa konstituen. Ketiga. terhambatnya proses regenerasi akibat pola kepemimpinan yang patronatif. yang hanya aktif dan memiliki orientasi berkompetisi dalam pemilu. dsb. Karena tokoh yang kharismatik di dalam partai masih ingin mempertahankan otoritasnya. intervensi kekuasaan politik dan modal. kharismatik. yang mengandalkan ikatan perekat antara organisasi dan dukungan massa melalui kharisma ketokohan. 1 . serta yang merepresentasikan diri sebagai partai aliran. Bipolaritas antara pragmatisme yang menjangkiti kader/elite partai berhadapan dengan idealisme yang dipegang oleh kader/elite partai yang teguh mempertahankan jiwa ideologi dan garis konstitusional partai. PRD. PRP. yang pada umumnya dilakukan poros kepentingan yang merepresentasikan keinginan pemerintah untuk menumpulkan resistensi oposisional partai terhadap kebijakan pemerintah. rekruitmen kader kepemimpinan internal dan eksternal. Maret 2005 juga terbelah dua menjadi PDIP dan Gerakan Pembaruan PDIP.

Berarti karir politik mereka tamat. Para elite partai yang mayoritas bersikap-berfikir pragmatis. Karena figur pemimpin partai membawa kepentingan kaukus elite-nya. Mereka aktif di partai dengan tujuan berkarir di parlemen dan pemerintahan. Sehingga akhirnya terjadi rivalitas politik yang tujuannya untuk bertahan atau merebut kepemimpinan di dalam partai. sedangkan kaukus yang gagal menempatkan tokohnya menjadi ketua umum akan tersingkir dari kepengurusan partai. 129 . menjadikan partai sebagai alat meniti karir. bisa menyelamatkan masa depan karir politiknya. Kegagalan fungsi normatif partai akhirnya menumbuhkan pola pikir dan perilaku pragmatis di antara kaukus elite/kader pengurus partai.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia komunikasi politik serta aktifitas transformasi konflik. Untuk mempertahankan eksistensi dan karir politik. alat “cari makan dan jabatan”. serta dalam pemahaman bersama meletakkan partai sebagai kendaraan untuk meraih akses ke sumber daya ekonomi. akhirnya mereka—kaukus elite/kader—yang kalah terdorong membentuk struktur tandingan kepengurusan partai dengan harapan bisa melakukan posisi tawar sekaligus jika memenangkan pertikaian yuridis di pengadilan dalam persoalan absah-tidaknya kepengurusan kembar.

agar setiap orang dapat menggunakan secara wajar hak-hak demokratis. Bagir Manan melihat paling tidak ada empat agenda reformasi dalam rangka revitalisasi tatanan kehidupan bermasyarakat. dan 4. reformasi birokrasi atau administrasi negara (administrative reform). berbangsa dan bernegara yang perlu mendapat perhatian: 1. dan bernegara. 1 2 Direktur Publikasi. melainkan harus dipandang dan diperlakukan sebagai subsistem dalam proses dinamika mencapai tujuan. 3.H. reformasi diarahkan pada usaha pemberdayaan suprastruktur dan infrastruktur politik agar benar-benar menjadi wahana perjuangan mewujudkan dan melaksanakan tatanan demokrasi (antara lain yang telah diselenggarakan adalah pemilihan umum yang bebas (1999) serta kebebasan mendirikan partai). Kerjasama. Teori dan Politik Konstitusi. Bagir Manan. memulihkan. 2. hak-hak yang terkandung dalam prinsip negara konstitusional dan negara berdasarkan atas hukum.Vol. Zafrullah Salim.Maret 2008 DAMPAK SISTEM MULTIPARTAI DALAM KEHIDUPAN POLITIK INDONESIA Oleh: Drs. yaitu melepaskan birokrasi dari ikatan politik primordial dari kekuatan politik tertentu yang menimbulkan berbagai kecemburuan politik. 132 – 133. berbangsa. seperti peniadaan monopoli dan membangun sistem ekonomi kerakyatan. M. 2003). reformasi ekonomi. sebab pada waktu angkatan ‘66 mencetuskan tema tritura (tiga tuntutan rakyat) juga diilhami oleh semangat untuk menuntut “reformasi” menyeluruh (total) dalam segala segi kehidupan bermasyarakat.2 Pada awal reformasi jilid kedua (1998)3 yang ditandai dengan berakhirnya rezim pemerintahan orde baru. 5 No. FH – UII Press.1 I. 1 . hlm. 3 Reformasi tahun 1998 bukan yang pertama. 130 . (Yogyakarta. dan Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. Agenda Reformasi Reformasi sebagai bagian dari perjalanan historis bangsa Indonesia untuk mengembalikan cita-cita proklamasi seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tidak selalu berkaitan dengan penolakan akan kemapanan dan konservatisme.

4 Peraturan perundang-undangan bidang politik tentu menggunakan prinsip “kemerdekaan berserikat dan berkumpul”. menggantikan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. sehingga Ismail Sunny (guru besar em eritus FH UI) dalam suatu ceramahnya pernah mempersoalkan apakah masih tepat disebut sebagai UUD 1945? UUD 1945 lama hanya terdiri dari 71 butir. Sejak awal tahun ini (4 Januari 2008) berlaku Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. 5 Butir-butir perubahan UUD 1945 demikian banyak. sedangkan UUD 1945 baru (setelah perubahan) terdiri dari 199 butir. 31 Tahun 2002 mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran partai politik (parpol) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Alasan penggantian undang-undang lama antara lain adalah belum optimalnya UU No. 2 Tahun 2008 diharapkan pula pembaharuan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan parpol.5 II. yang menyangkut domokratisasi internal parpol. tidak diterbitkan. 2007). transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan parpol. yang diawali dengan perubahan dan penambahan terhadap Undang-Undang Dasar 1945. (lihat Machmud Aziz. Kedudukan Peraturan Menteri dalam Sistem Peraturan Perundang-undangan Indonesia. Hal itu sejalan pula dengan pengakuan terhadap hak-hak sipil dan politik (civil and political rights) dalam instrumen hukum internasional. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. yang berarti perubahan dan penambahan itu sebanyak 174 butir (88 %). Tujuan Pembaharuan Partai Politik Sejalan dengan dinamika politik terutama sejak reformasi. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan parpol dalam sistem nasional berbangsa dan bernegara. 131 . upaya pengaturan partai politik terus dilakukan. Melalui UU No. yang digariskan dalam konstitusi. yang kemudian dimasukkan dalam amendemen UUD 1945 dengan penyisipan Bab XA “Hak Asasi Manusia”. (makalah. 4 Pasal 28 UUD 1945: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. yang berarti penataan kembali legislasi partai politik dengan membentuk undang-undang partai politik yang baru merupakan keharusan yang tidak mungkin dihindari.Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia Kebebasan mendirikan partai politik adalah bagian esensial dari hak konstitusional yang telah dirumuskan oleh founding fathers dalam UUD 1945.

6 Meskipun dalam kajian tentang politik belum ada kesepakatan tentang definisi partai politik.”7 Perubahan regulasi yang menempatkan partai politik sebagai “organisasi yang bersifat nasional” diharapkan dapat mengubah paradigma politik sekelompok kecil masyarakat yang gemar mendirikan partai politik. (Jakarta. walaupun dalam pikiran para pendiri dan pegiat partai politik pada umumnya demikian. dalam hal ini tujuan regulasi partai politik dimaksudkan untuk membatasi kebebasan warga negara mendirikan partai dengan menetapkan persyaratan yang lebih ketat. Definisi itu berbeda dengan UU No. Pembentukan Partai Politik Infrastruktur politik terpenting dalam negara demokrasi adalah partai politik. 8 Dalam kajian politik. 2 Tahun 2008 mengharuskan kepengurusan partai politik harus mempunyai paling sedikit 60 % dari jumlah provinsi. Miriam Budiardjo mengartikan partai politik sebagai “kelompok yang terorganisir dengan tujuan memperoleh jabatan-jabatan pemerintahan. dan 25 % dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota daerah yang bersangkutan. (Jakarta. 1 . 132 .” (lihat Cummings dalam Encyclopedia Americana (1980). Reformasi Pembangunan Hukum dalam Perspektif Peraturan Perundang-undangan. 336). Persyaratan dimaksud antara lain melalui ketentuan mengenai “pembentukan partai politik”9 6 Oka Mahendra. 5 No. 31 Tahun 2002. hlm. III. memegang kendali pemerintahan atau mempengaruhi kebijakan pemerintahan. Rineka Cipta.8 Undangundang berfungsi sebagai “a tool of social engineering”. masyarakat. dan menghapus frasa “melalui pemilihan umum”. 232. namun hukum positif di Indonesia mengartikan partai politik sebagai “organisasi yang bersifat nasional yang dibentuk oleh sekelompok warga negara secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. 22. hlm.. bangsa dan negara. Pasal 1 angka 1. kelompok kepentingan. Pengantar Sosiologi Politik.” (Rafael Raga Maran. tanpa penerbit. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945. “organisasi politik” menjadi “organisasi yang bersifat nasional”. yaitu dengan mengubah frasa “kepentingan anggota” menjadi “kepentingan politik anggota”. 2 Tahun 2008 yang menarik untuk dianalisis adalah ketentuan mengenai pembentukan parpol yang mengokohkan kembali sistem multipartai yang telah diatur sebelumnya. 9 Pasal 2 UU No.Vol. 7 UU No. 2 Tahun 2008. Perubahan itu sangat signifikan yang mencerminkan arah reformasi di bidang regulasi partai politik. Tampaknya pembentuk undang-undang tidak berani menegaskan partai politik sebagai sarana untuk mengantarkan para kadernya memegang kekuasaan pemerintahan. 50 % dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan. 2007). vol. kelompok penekan dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.Maret 2008 Di antara substansi UU No. Definisi yang agak lebih luas dikemukakan oleh Milton C. 2005). Cummings yang mendefinisikan “political parties” sebagai “organized groups of individuals or other other groups who attempt to exercise power in political system by winning control of the the government or influencing governmental policy.

koalisi. system partai banyak. Mayoritas mutlak demikian tidak pernah terwujud tanpa melalui kerjasama. Dan. 12 UU No.10 Dengan demikian (calon) para deklarator politik harus benar-benar berusaha memperoleh dukungan publik secara nasional sebelum pembentukan partai diumumkan. multi partism.Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia serta organisasi dan kedudukan” partai politik. 133 .cit. Sistem Multipartai dan Instabilitas Negara Politik hukum yang mempertahankan sistem multipartai14 seperti tersirat dari pengaturan mengenai pembentukan partai politik tentu telah dipertimbangkan secara matang oleh pembentuk undang-undang. dari 84 partai politik yang diverifikasi itu. kabupaten/ kota. 84 di antaranya memenuhi syarat diverifikasi. 2 Tahun 2008 Pasal 2. hanya 50 yang memenuhi syarat untuk disahkan sebagai badan hukum. 13 Oka Mahendra. (ii) sistem dwi 10 Pasal 17 mengharuskan kepengurusan partai politik ada pada tingkat pusat. 67. 14 Secara sederhana system multipartai (system banyak partai. Op. atau eksekutifnya tidak homogen. IV. Dengan memperhatikan tipe partai politik yang dikenal. dengan kebijakan yang masih longgar dan liberal meskipun agak lebih ketat dibanding dengan UU No.12 Regulasi yang lebih ketat tersebut mungkin berdasarkan pengalaman sebelumnya tentang banyaknya kelompok masyarakat yang mengajukan pendaftaran partai politik. yaitu (i) sistem partai partai tunggal. atau aliansi. (lihat Rusadi Kantaprawira. (Bandung. Di samping itu. Pada tahun 2003 terdapat 112 partai politik yang mendaftar di Departemen Hukum dan HAM untuk diverifikasi. 2 Tahun 2008 Pasal 11. Algensiondo. multi-party sistem. hlm. pendaftaran partai politik ke Departemen Hukum dan HAM untuk memperoleh status sebagai badan hukum (rechtspersoon) mengharuskan partai politik menempuh proses penelitian dan/atau verifikasi kelengkapan dan kebenaran semua keterangan dalam Anggaran Dasar yang tercantum akta notaris11 dan persyaratan lain yang diperlukan untuk menetapkan status partai sebagai badan hukum... hal. 234. Sistem Politik Indonesia. provinsi. 11 UU No. Selanjutnya Pasal 20 susunan dan komposisi kepengurusan partai politik pada semua tingkat harus pula memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% yang diatur dalam AD/ART partai politik masing-masing. 31 Tahun 2002 yang telah dicabut. 2006). poly-partism) terwujud manakala mayoritas mutlak dalam lembaga perwakilan rakyat dibentuk atas dasar kerjasama dua kekuatan atau lebih.13 Jelaslah bahwa politik hukum nasional pengaturan partai politik memberikan kebebasan warga negara mendirikan partai.

dan Latin Amerika). sehingga instabilitas pemerintahan itu menyebabkan peluang untuk melaksanakan pembangunan menjadi terabaikan. Wakil-wakil rakyat yang duduk di legislatif dan pemerintahan akan memperjuangkan aspirasi para pendukungnya yang sangat bervariasi. yang dalam praktik di masa lalu banyak menimbulkan kesulitan bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakan stratejik karena mempertimbangkan banyak faktor. C. dan (iii) sistem multipartai. Asia. Presiden Soeharto menempuh kebijakan sistem multipartai terbatas.. PPP. 5 No. At one extreme. mengingatkan pula bahwa sistem multipartai yang dipakai sebagai sarana memodernisasikan 15 Milton C. hlm. and a country with a multiparty system may have three. Konsekuensi sistem multipartai tidak hanya mempengaruhi mekanisme dan efisiensi pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah di DPR atau DPRD. dengan mendorong fusi partai-partai politik (hasil pemilihan umum 1969) sehingga hanya ada tiga partai politik (Golkar.Maret 2008 partai. tampaknya pilihan yang ketiga ini paling banyak diterapkan di berbagai negara yang menganut paham demokrasi (Eropa. Afrika. or four. DPR dan DPRD melainkan juga sistem pemerintahan.cit. Betapa sering terjadi pergantian kabinet. 1 .15 Pada era demokrasi parlementer (1955 – 1959) apa yang dinyatakan Cumming terbukti benar. 339.” Selanjutnya. Op. Atas dasar pengalaman seperti itu pula. melainkan juga birokrasi pemerintahan yang harus dipegang oleh banyak orang sebagai representasi dari partai politik yang menang dalam pemilihan umum. “… such coalition are often fragile. 134 . Cumming. Sistem kepartaian jelas tidak hanya menentukan susunan dan kedudukan MPR. Di antara dampak sistem multipartai yang penting untuk dicatat adalah keharusan pembentukan pemerintahan koalisi (governing coalition). or more governments in one year. Cumming menulis: “The existence of several parties can make it more difficult to form a stable governing coalition than is the face in two-party sistems. Lebih jauh pandangan dan analisis ahli ilmu politik. governments fall repeteadly. pada masa orde baru. dan PDI) dan pada fraksi DPR/DPRD sederhana menjadi 4 fraksi saja (dengan mengangkat fraksi ABRI).Vol.

yang 16 Rusadi Kantaprawira. bangsa dan negara..Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia masyarakat di negara sedang berkembang. apakah yang berada di DPR/DPRD itu wakil partai politik atau wakil rakyat? Organ negara tersebut jelas bernama Dewan Perwakilan Rakyat/Daerah. hlm. Pertanyaan yang menggelitik. Representasi Partai atau Rakyat? Dampak dari sistem multipartai adalah kepentingan apa dan siapa yang diperjuangkan di parlemen dan pemerintahan? UU No. Jelas yang pertama diperjuangkan adalah kepentingan politik anggota. 182. seperti di bawah ini:16 Distribution of Coups and Coup Attempts in Modernizing Countries Since Independence Type of Political System Communist One-Party One-Party Dominant Two Party Multiparty No effective Parties Number of Countries 3 18 12 11 22 17 Country with Coups Number Per Cent 0 2 3 5 15 14 0 11 25 45 68 83 Hasil penelitian Huntington di atas mungkin tidak memasukkan kondisi partai politik dalam sample-nya. Huntington yang dikutip Rusadi Kantaprawira. V. memberikan gambaran tentang instabilitas akibat sistem-sistem politik yang dianut. 2 Tahun 2008 memasukkan kepentingan politik anggota. Pada hakekatnya sistem multipartai itu tidak banyak berbeda dengan tiadanya partai dalam masyarakat. masyarakat.cit. 135 . Op. bangsa dan negara nomor dua. relatif menumbuhkan instabilitas dari pada di negara yang menganut sistem dua partai. Penelitian seperti dkemukakan oleh Samuel P. Dari sosiologi politik hal itu berarti urusan masyarakat. bukan “dewan perwakilan partai”. karena dalam masa demokrasi parlementer dahulu dan bahkan sampai sekarang belum pernah terjadi kudeta (perebutan kekuasaan) seperti banyak terjadi di negara lain yang menganut sistem multipartai.

Vol. Lev. dan kekuasaan militer.M. keluarga. keadilan. tampaknya masih akan diuji. pengamat senior politik hukum Indonesia yang menyatakan bahwa politik tidak berjalan sesuai dengan aturan. aspirasi. MacIver. dengan mengutip pandangan Nicholas (penulis abad ke-15) mengatakan partai politik sebagai kendaraan politik paling utama dalam demokrasi moderen bermaksud untuk mengorganisasi pendapat masyarakat tentang negara dan memperjuangkannya melalui partai politik.Maret 2008 berarti mereka seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat secara keseluruhan. MacIver. 208 – 210. tetapi berlangsung sesuai dengan aturan pengaruh. 2 Tahun 2008 yang diharapkan dapat mewujudkan kaidah demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. tanggung jawab dan perlakuan yang tidak diskriminatif seperti yang diharapkan oleh pembentuk undang-undang. keterbukaan. MacMillan. The Web of Government. mereka sesungguhnya adalah wakil dari rakyat (in uno compendio repraesentivo). sejauhmana cita-cita yang demikian luhur itu terwujud? Nada pesimis tentang keampuhan regulasi politik mengatur kehidupan politik dalam tatananan budaya hukum. (New York. Namun setelah mereka berada di parlemen. status sosial. 5 No. uang. pernah diungkapkan oleh Daniel S. hlm.17 Pengukuhan sistem multipartai dengan UU No. 136 . 1958). 17 R. 1 .

aspirasi. f. huruf c. Pasal 22E ayat (3).ARTIKEL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. huruf d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. bahwa Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik perlu diperbarui sesuai dengan tuntutan dan dinamika perkembangan masyarakat. keadilan. e. serta demokratis dan berdasarkan hukum. Mengingat : Pasal 5 ayat (1). berkumpul. dan Pasal 28J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang tentang Partai Politik. 137 . bahwa kaidah demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Pasal 24C ayat (1). Menimbang : a. Pasal 20. Pasal 6A ayat (2). dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. d. adil dan makmur. b. serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia yang diakui dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat. bahwa Partai Politik merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan kehidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab. c. dan perlakuan yang tidak diskriminatif dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu diberi landasan hukum. huruf b. berdaulat. bahwa kemerdekaan berserikat. Pasal 28C ayat (2). berkumpul. Pasal 28. keterbukaan. bersatu. tanggung jawab.

Vol. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. selanjutnya disingkat AD. Keuangan Partai Politik adalah semua hak dan kewajiban Partai Politik yang dapat dinilai dengan uang. 6. 4. adalah peraturan dasar Partai Politik. bangsa dan negara. Anggaran Dasar Partai Politik. selanjutnya disingkat ART. 5. 5 No. atau barang serta segala bentuk kekayaan yang dimiliki dan menjadi tanggung jawab Partai Politik. 3. berupa uang. Pendidikan Politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak. 7. Menteri adalah Menteri yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia. kewajiban. masyarakat. adalah peraturan yang dibentuk sebagai penjabaran AD. Departemen adalah Departemen yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Anggaran Rumah Tangga Partai Politik. Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota.Maret 2008 Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PARTAI POLITIK. 1 . 2. 138 .

Partai Politik harus mempunyai: a. (2) (3) (4) (5) Pasal 3 (1) Partai Politik harus didaftarkan ke Departemen untuk menjadi badan hukum. f. asas dan ciri Partai Politik. visi dan misi Partai Politik. nama. (2) Untuk menjadi badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. pendidikan politik. b. dan 25% (dua puluh lima perseratus) 139 . dan i. 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan. lambang. lambang. c. kantor tetap. organisasi. atau tanda gambar yang telah dipakai secara sah oleh Partai Politik lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Akta notaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat AD dan ART serta kepengurusan Partai Politik tingkat pusat. atau tanda gambar yang tidak mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. tempat kedudukan. Pendirian dan pembentukan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyertakan 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik BAB II PEMBENTUKAN PARTAI POLITIK (1) Pasal 2 Partai Politik didirikan dan dibentuk oleh paling sedikit 50 (lima puluh) orang warga negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akta notaris. tujuan dan fungsi Partai Politik. kepengurusan Partai Politik. d. b. nama. dan pengambilan keputusan. e. Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dengan menyertakan paling rendah 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. c.UU RI No. kepengurusan paling sedikit 60% (enam puluh perseratus) dari jumlah provinsi. AD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memuat paling sedikit: a. dan tanda gambar Partai Politik. keuangan Partai Politik. g. peraturan dan keputusan Partai Politik. lambang. akta notaris pendirian Partai Politik. d.

(2) Pendaftaran perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyertakan akta notaris mengenai perubahan AD dan ART. (1) Pasal 4 Departemen menerima pendaftaran dan melakukan penelitian dan/atau verifikasi kelengkapan dan kebenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 ayat (2). Pasal 7 (1) Menteri mengesahkan perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak diterimanya dokumen persyaratan secara lengkap. dan e.Vol. (3) Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Menteri mengenai pengesahan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. BAB III PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA PARTAI POLITIK Pasal 5 (1) Perubahan AD dan ART harus didaftarkan ke Departemen paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak terjadinya perubahan tersebut. Penelitian dan/atau verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya dokumen persyaratan secara lengkap. 1 . memiliki rekening atas nama Partai Politik. Pengesahan Partai Politik menjadi badan hukum dilakukan dengan Keputusan Menteri paling lama 15 (lima belas) hari sejak berakhirnya proses penelitian dan/atau verifikasi. (2) Pengesahan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri. 5 No.Maret 2008 dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota pada daerah yang bersangkutan. 140 (2) (3) (4) . Pasal 6 Perubahan yang tidak menyangkut hal pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) diberitahukan kepada Menteri tanpa menyertakan akta notaris.

BAB V TUJUAN DAN FUNGSI Pasal 10 (1) Tujuan umum Partai Politik adalah: a. dan bernegara. berbangsa. (2) Tujuan khusus Partai Politik adalah: a.UU RI No. pengesahan perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) tidak dapat dilakukan oleh Menteri. BAB IV ASAS DAN CIRI Pasal 9 (1) Asas Partai Politik tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. memperjuangkan cita-cita Partai Politik dalam kehidupan bermasyarakat. dan d. b. (3) Asas dan ciri Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan penjabaran dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan. (2) Partai Politik dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita Partai Politik yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan 141 . c. mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 8 Dalam hal terjadi perselisihan Partai Politik. menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b.

lambang. (3) Tujuan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diwujudkan secara konstitusional. penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. b. b. 5 No. dan tanda gambar Partai Politik sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memperoleh perlakuan yang sama. d. membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat. penghimpun. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. membentuk fraksi di tingkat Majelis Permusyawaratan Rakyat. partisipasi politik warga negara Indonesia. serta kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. berbangsa. penyerap. Dewan Perwakilan Rakyat. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 12 Partai Politik berhak: a. dan bernegara. c. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. berbangsa. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Fungsi Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan secara konstitusional. 142 . dan e. dan adil dari negara. pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender. mengatur dan mengurus rumah tangga organisasi secara mandiri. Presiden dan Wakil Presiden. sederajat.Vol. c. 1 .Maret 2008 c. Pasal 11 (1) Partai Politik berfungsi sebagai sarana: a. dan bernegara. e. memperoleh hak cipta atas nama. ikut serta dalam pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat. d.

143 . memelihara dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.UU RI No. calon bupati dan wakil bupati. dan k. mengajukan calon untuk mengisi keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. calon gubernur dan wakil gubernur. demokrasi. h. melakukan pendaftaran dan memelihara ketertiban data anggota. menyukseskan penyelenggaraan pemilihan umum. mengusulkan pergantian antarwaktu anggotanya di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. menyosialisasikan program Partai Politik kepada masyarakat. berpartisipasi dalam pembangunan nasional. serta terbuka kepada masyarakat. melakukan pendidikan politik dan menyalurkan aspirasi politik anggotanya. g. memperoleh bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik f. c. h. mengamalkan Pancasila. memiliki rekening khusus dana kampanye pemilihan umum. j. Pasal 13 Partai Politik berkewajiban: a. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. e. membuat pembukuan. dan hak asasi manusia. i. g. menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan yang bersumber dari dana bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah secara berkala 1 (satu) tahun sekali kepada Pemerintah setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. menjunjung tinggi supremasi hukum. i. d. dan peraturan perundang-undangan. b. f. j. serta calon walikota dan wakil walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memelihara daftar penyumbang dan jumlah sumbangan yang diterima. dan k. mengusulkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. membentuk dan memiliki organisasi sayap Partai Politik. mengusulkan pemberhentian anggotanya di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan.

(2) Anggota Partai Politik mempunyai hak dalam menentukan kebijakan serta hak memilih dan dipilih. organisasi tingkat provinsi. menjadi anggota Partai Politik lain. Pasal 15 (1) Kedaulatan Partai Politik berada di tangan anggota yang dilaksanakan menurut AD dan ART. mengundurkan diri secara tertulis. atau d.Vol. meninggal dunia. organisasi tingkat kabupaten/kota. terbuka. organisasi tingkat pusat. pemberhentian dari keanggotaan Partai Politik diikuti dengan pemberhentian dari keanggotaan di lembaga perwakilan rakyat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan tidak diskriminatif bagi warga negara Indonesia yang menyetujui AD dan ART.Maret 2008 BAB VII KEANGGOTAAN DAN KEDAULATAN ANGGOTA Pasal 14 (1) Warga negara Indonesia dapat menjadi anggota Partai Politik apabila telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin. dan c. Pasal 16 (1) Anggota Partai Politik diberhentikan keanggotannya dari Partai Politik apabila: a. 144 . melanggar AD dan ART. c. BAB VIII ORGANISASI DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 17 (1) Organisasi Partai Politik terdiri atas: a. 1 . (2) Tata cara pemberhentian keanggotaan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Partai Politik. 5 No. (3) Anggota Partai Politik wajib mematuhi dan melaksanakan AD dan ART serta berpartisipasi dalam kegiatan Partai Politik. b. (3) Dalam hal anggota Partai Politik yang diberhentikan adalah anggota lembaga perwakilan rakyat. (2) Keanggotaan Partai Politik bersifat sukarela. b.

2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (2) Organisasi Partai Politik dapat dibentuk sampai tingkat kelurahan/desa atau sebutan lain.UU RI No. (3) Organisasi Partai Politik tingkat kabupaten/kota berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota. kedudukan kepengurusannya disesuaikan dengan wilayah yang bersangkutan. Pasal 18 (1) Organisasi Partai Politik tingkat pusat berkedudukan di ibu kota negara. 145 . (2) Organisasi Partai Politik tingkat provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi. (3) Organisasi Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai hubungan kerja yang bersifat hierarkis. Dalam hal kepengurusan Partai Politik dibentuk sampai tingkat kelurahan/ desa atau sebutan lain. Pasal 22 Kepengurusan Partai Politik di setiap tingkatan dipilih secara demokratis melalui musyawarah sesuai dengan AD dan ART. Pasal 23 (1) Pergantian kepengurusan Partai Politik di setiap tingkatan dilakukan sesuai dengan AD dan ART. Kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi. Pasal 21 Kepengurusan Partai Politik dapat membentuk badan/lembaga yang bertugas untuk menjaga kehormatan dan martabat Partai Politik beserta anggotanya. Kepengurusan Partai Politik tingkat kabupaten/kota berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota. Pasal 20 Kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% (tiga puluh perseratus) yang diatur dalam AD dan ART Partai Politik masing-masing. BAB IX KEPENGURUSAN (1) (2) (3) (4) Pasal 19 Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat berkedudukan di ibu kota negara.

Pasal 26 (1) Anggota Partai Politik yang berhenti atau yang diberhentikan dari kepengurusan dan/atau keanggotaan Partai Politiknya tidak dapat membentuk kepengurusan dan/atau Partai Politik yang sama. 146 . (2) Dalam hal dibentuk kepengurusan dan/atau Partai Politik yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengesahan perubahan kepengurusan belum dapat dilakukan oleh Menteri sampai perselisihan terselesaikan. (3) Susunan kepengurusan baru Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Menteri paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya persyaratan. Pasal 28 Pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sesuai dengan AD dan ART Partai Politik.Maret 2008 (2) Susunan kepengurusan hasil pergantian kepengurusan Partai Politik tingkat pusat didaftarkan ke Departemen paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak terjadinya pergantian kepengurusan. 5 No. Pasal 24 Dalam hal terjadi perselisihan kepengurusan Partai Politik hasil forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik. keberadaannya tidak diakui oleh Undang-Undang ini. 1 . BAB X PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 27 Pengambilan keputusan Partai Politik di setiap tingkatan dilakukan secara demokratis.Vol. Pasal 25 Perselisihan kepengurusan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 terjadi apabila pergantian kepengurusan Partai Politik yang bersangkutan ditolak oleh paling rendah 2/3 (dua pertiga) dari jumlah peserta forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik.

dan membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. bakal calon Presiden dan Wakil Presiden. meningkatkan kemandirian. dan c. dan bernegara. 147 . bakal calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. b. bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik BAB XI REKRUTMEN POLITIK Pasal 29 (1) Partai Politik melakukan rekrutmen terhadap warga negara Indonesia untuk menjadi: a. BAB XIII PENDIDIKAN POLITIK Pasal 31 (1) Partai Politik melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawabnya dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender dengan tujuan antara lain: a. b. (2) Rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan AD dan ART serta peraturan perundang-undangan. dan bernegara. dan d. anggota Partai Politik. berbangsa.UU RI No. (3) Penetapan atas rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan keputusan pengurus Partai Politik sesuai dengan AD dan ART. BAB XII PERATURAN DAN KEPUTUSAN PARTAI POLITIK Pasal 30 Partai Politik berwenang membentuk dan menetapkan peraturan dan/atau keputusan Partai Politik berdasarkan AD dan ART serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. kedewasaan. c.

dan c. (2) Putusan pengadilan negeri adalah putusan tingkat pertama dan terakhir.Maret 2008 (2) Pendidikan politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politik sesuai dengan Pancasila.Vol. atau arbitrase Partai Politik yang mekanismenya diatur dalam AD dan ART. Pasal 33 (1) Perkara Partai Politik berkenaan dengan ketentuan Undang-Undang ini diajukan melalui pengadilan negeri. 5 No. (3) Penyelesaian perselisihan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan melalui rekonsiliasi. b. (3) Bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diberikan secara proporsional kepada Partai Politik yang 148 . mediasi. 1 . bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. barang. (2) Sumbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. BAB XV KEUANGAN Pasal 34 (1) Keuangan Partai Politik bersumber dari: a. penyelesaian perselisihan Partai Politik ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan. dan/atau jasa. (3) Perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan oleh pengadilan negeri paling lama 60 (enam puluh) hari sejak gugatan perkara terdaftar di kepaniteraan pengadilan negeri dan oleh Mahkamah Agung paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak memori kasasi terdaftar di kepaniteraan Mahkamah Agung. iuran anggota. BAB XIV PENYELESAIAN PERSELISIHAN PARTAI POLITIK Pasal 32 (1) Perselisihan Partai Politik diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat. dan hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. dapat berupa uang. sumbangan yang sah menurut hukum. (2) Dalam hal musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai.

149 . dan c. paling banyak senilai Rp1.000. sukarela. tanggung jawab. keadilan. Pasal 38 Hasil pemeriksaan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 terbuka untuk diketahui masyarakat. perseorangan anggota Partai Politik yang pelaksanaannya diatur dalam AD dan ART. Pasal 36 (1) Sumber keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 merupakan pendapatan yang dapat digunakan untuk pengeluaran dalam pelaksanaan program. perusahaan dan/atau badan usaha.000.00 (satu miliar rupiah) per orang dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran.000. paling banyak senilai Rp4. Pasal 35 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) huruf b yang diterima Partai Politik berasal dari: a.UU RI No. terbuka.000. mencakup pendidikan politik. perseorangan bukan anggota Partai Politik.000. (2) Sumbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip kejujuran.00 (empat miliar rupiah) per perusahaan dan/atau badan usaha dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran. dan operasional sekretariat Partai Politik. (2) Penerimaan dan pengeluaran keuangan Partai Politik dikelola melalui rekening kas umum Partai Politik. (4) Bantuan keuangan kepada Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. serta kedaulatan dan kemandirian Partai Politik. Pasal 37 Pengurus Partai Politik di setiap tingkatan organisasi menyusun laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan setelah tahun anggaran berkenaan berakhir. b. (3) Pengurus Partai Politik di setiap tingkatan melakukan pencatatan atas semua penerimaan dan pengeluaran keuangan Partai Politik. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat.000. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/ kota yang penghitungannya berdasarkan jumlah perolehan suara.

c. (3) Partai Politik dilarang: a. menggunakan fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat. barang. menerima sumbangan berupa uang. lambang.Vol. atau tanda gambar Partai Politik lain. nama. yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. Dewan Perwakilan Rakyat. menerima dari atau memberikan kepada pihak asing sumbangan dalam bentuk apa pun yang bertentangan dengan peraturan perundangundangan. b. atau b. BAB XVI LARANGAN Pasal 40 (1) Partai Politik dilarang menggunakan nama. 5 No. menerima sumbangan dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha melebihi batas yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. 1 . d.atau e. 150 . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. dan badan usaha milik desa atau dengan sebutan lainnya. badan usaha milik daerah. bendera atau lambang negara Republik Indonesia. c. melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. lambang lembaga negara atau lambang Pemerintah. bendera. ataupun jasa dari pihak mana pun tanpa mencantumkan identitas yang jelas. bendera. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagai sumber pendanaan Partai Politik. atau f. e. meminta atau menerima dana dari badan usaha milik negara. d. nama atau gambar seseorang.Maret 2008 Pasal 39 Pengelolaan keuangan Partai Politik diatur lebih lanjut dalam AD dan ART. simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang. lambang negara lain atau lembaga/badan internasional. atau tanda gambar yang sama dengan: a. lambang. nama. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundangundangan. (2) Partai Politik dilarang: a.

Pasal 43 (1) Penggabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf b dapat dilakukan dengan cara: a. b. (3) Partai Politik yang menerima penggabungan Partai Politik lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak diwajibkan untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. menggabungkan diri dengan Partai Politik lain. menggabungkan diri membentuk Partai Politik baru dengan nama. BAB XVII PEMBUBARAN DAN PENGGABUNGAN PARTAI POLITIK Pasal 41 Partai Politik bubar apabila: a. lambang. dan tanda gambar baru. (5) Partai Politik dilarang menganut dan mengembangkan serta menyebarkan ajaran atau paham komunisme/Marxisme-Leninisme. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (4) Partai Politik dilarang mendirikan badan usaha dan/atau memiliki saham suatu badan usaha. membubarkan diri atas keputusan sendiri. dan tanda gambar salah satu Partai Politik. dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi. (2) Partai Politik baru hasil penggabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. menggabungkan diri dengan menggunakan nama. Pasal 45 Pembubaran Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia oleh Departemen. lambang. atau c. Pasal 42 Pembubaran Partai Politik atas keputusan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a dilakukan berdasarkan AD dan ART. atau b. (2) Menteri mencabut status badan hukum Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 151 .UU RI No. Pasal 44 (1) Pembubaran Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 diberitahukan kepada Menteri.

1 . Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf i dikenai sanksi administratif berupa penghentian bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sampai laporan diterima oleh Pemerintah dalam tahun anggaran berkenaan.Maret 2008 BAB XVIII PENGAWASAN Pasal 46 Pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang ini dilakukan oleh lembaga negara yang berwenang secara fungsional sesuai dengan undang-undang. Pasal 9 ayat (1).Vol. BAB XIX SANKSI (1) Pasal 47 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf e dikenai sanksi administratif yang ditetapkan oleh badan/ lembaga yang bertugas untuk menjaga kehormatan dan martabat Partai Politik beserta anggotanya. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf h dikenai sanksi administratif berupa teguran oleh Pemerintah. Pasal 3. 5 No. Pasal 48 (1) Partai politik yang telah memiliki badan hukum melanggar ketentuan Pasal 40 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan kepengurusan oleh pengadilan negeri. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf j dikenai sanksi administratif berupa teguran oleh Komisi Pemilihan Umum. (2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sementara Partai Politik yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri paling lama 1 (satu) tahun. (3) Partai Politik yang telah dibekukan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan melakukan pelanggaran lagi terhadap ketentuan sebagaimana 152 (2) (3) (4) (5) . dan Pasal 40 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa penolakan pendaftaran Partai Politik sebagai badan hukum oleh Departemen.

Pasal 50 Pengurus Partai Politik yang menggunakan Partai Politiknya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) dituntut berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan 153 . 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (4) (5) (6) (7) dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dibubarkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi. huruf c. (3) Sumbangan yang diterima Partai Politik dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha yang melebihi batas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan huruf c disita untuk negara.UU RI No. pengurus Partai Politik yang bersangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterimanya. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf a. pengurus Partai Politik yang bersangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterimanya. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf b. (2) Pengurus Partai Politik yang menerima sumbangan dari perseorangan dan/ atau perusahaan/badan usaha yang melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan huruf c dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterima. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) dikenai sanksi pembubaran Partai Politik oleh Mahkamah Konstitusi. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sementara kepengurusan Partai Politik yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri serta aset dan sahamnya disita untuk negara. Pasal 49 (1) Setiap orang atau perusahaan dan/atau badan usaha yang memberikan sumbangan kepada Partai Politik melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan huruf c dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang disumbangkannya. dan huruf d.

Vol. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. perkara dimaksud diperiksa dan diputus berdasarkan Undang-Undang ini. diproses sebagai badan hukum menurut Undang-Undang ini. Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) paling lama pada forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik pada kesempatan pertama sesuai dengan AD dan ART setelah Undang-Undang ini diundangkan. Perkara Partai Politik yang telah didaftarkan ke pengadilan sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan belum diproses. 1 . dan Partai Politiknya dapat dibubarkan. BAB XXI KETENTUAN PENUTUP Pasal 52 Pada saat berlakunya Undang-Undang ini.Maret 2008 Negara dalam Pasal 107 huruf c. atau huruf e. 5 No. BAB XX KETENTUAN PERALIHAN (1) Pasal 51 Partai Politik yang telah disahkan sebagai badan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik tetap diakui keberadaannya. (2) (3) (4) (5) 154 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 4251). Penyelesaian perkara Partai Politik yang sedang dalam proses pemeriksaan di pengadilan dan belum diputus sebelum Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 53 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. penyelesaiannya diputus berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 138. Partai Politik yang sudah mendaftarkan diri ke Departemen sebelum Undang-Undang ini diundangkan. huruf d.

DR. H. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Agar setiap orang mengetahuinya. Disahkan di Jakarta pada tanggal 4 Januari 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 2 155 . memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 4 Januari 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.UU RI No.

adil. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan Partai Politik dalam sistem nasional 156 . demokratis. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik belum optimal mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran Partai Politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan Partai Politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern sehingga Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik perlu diperbarui. dan tanggung jawab Partai Politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional sebagai sarana partisipasi politik masyarakat dalam upaya mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia. melalui sejumlah pembaruan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan Partai Politik. dan berdasarkan hukum.Vol. berdaulat. mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1 . berkumpul. transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan Partai Politik. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kemerdekaan berserikat. yang menyangkut demokratisasi internal Partai Politik.Maret 2008 PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK I. menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut peningkatan peran. fungsi. 5 No. dan mengeluarkan pendapat sebagai hak asasi manusia yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Undang-Undang ini mengakomodasi beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia. bersatu.

(16) Larangan. Untuk itu. (19) Sanksi. (10) Pengambilan Keputusan. (13) Pendidikan Politik. (11) Rekrutmen Politik. II. (12) Peraturan dan Keputusan Partai Politik. 157 . 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik berbangsa dan bernegara. (18) Pengawasan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. keluhuran budi pekerti. (8) Organisasi dan Tempat Kedudukan. (9) Kepengurusan. antara lain kesadaran kebangsaan. demokrasi.Penjelasan UU RI No. dan keikhlasan untuk berkorban bagi kepentingan bangsa. Dalam Undang-Undang ini diamanatkan perlunya pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. kebersamaan. serta meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (2) Pembentukan Partai Politik. mengembangkan. (7) Keanggotaan dan Kedaulatan Anggota. (17) Pembubaran dan Penggabungan Partai Politik. (3) Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. (14) Penyelesaian Perselisihan Partai Politik. (15) Keuangan. dan menyebarkan ajaran komunisme/ Marxisme-Leninisme sebagaimana diamanatkan oleh Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/Tahun 1966. (4) Asas dan Ciri. Ketetapan MPRS ini diberlakukan dengan memegang teguh prinsip berkeadilan dan menghormati hukum. Dalam Undang-Undang ini dinyatakan secara tegas larangan untuk menganut. meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif warga negara. dan (21) Ketentuan Penutup. (20) Ketentuan Peralihan. cinta tanah air. Seluruh pokok pikiran di atas dituangkan dalam Undang-Undang ini dengan sistematika sebagai berikut: (1) Ketentuan Umum. pendidikan politik terus ditingkatkan agar terbangun karakter bangsa yang merupakan watak atau kepribadian bangsa Indonesia yang terbentuk atas dasar kesepahaman bersama terhadap nilai-nilai kebangsaan yang lahir dan tumbuh dalam kehidupan bangsa. dan hak asasi manusia. (6) Hak dan Kewajiban. (5) Tujuan dan Fungsi.

Huruf b Yang dimaksud dengan “mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. Pasal 4 Ayat (1) Penelitian dan/atau verifikasi Partai Politik dilakukan secara administratif dan periodik oleh Departemen bekerja sama dengan instansi terkait. sewa. pinjam pakai. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. lambang. Huruf d Kota/kabupaten administratif di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta kedudukannya setara dengan kota/kabupaten di provinsi lain.Vol. 1 . dan tanda gambar Partai Politik lain. dan tanda gambar Partai Politik lain” adalah memiliki kemiripan yang menonjol dan menimbulkan kesan adanya persamaan. Ayat (3) Cukup jelas. serta mempunyai alamat tetap. cara penempatan. 5 No. baik mengenai bentuk. Huruf c Kantor tetap ialah kantor yang layak. lambang. Pasal 5 Cukup jelas. milik sendiri. cara penulisan maupun kombinasi antara unsur-unsur yang terdapat dalam nama. 158 . Huruf e Cukup jelas.Maret 2008 Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

159 . Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 6 Cukup jelas. Huruf j Organisasi sayap Partai Politik merupakan organisasi yang dibentuk oleh dan/atau menyatakan diri sebagai sayap Partai Politik sesuai dengan AD dan ART masing-masing Partai Politik. Huruf f Cukup jelas.Penjelasan UU RI No. Pasal 11 Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. Pasal 12 Huruf a Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota Pasal 13 Huruf a Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Huruf f Cukup jelas. 1 . Huruf e Cukup jelas. 160 .Maret 2008 Huruf k Yang memperoleh bantuan keuangan adalah Partai Politik yang mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Huruf b Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas.Vol. Huruf d Cukup jelas. Huruf i Laporan penggunaan dana bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Partai Politik kepada Departemen Dalam Negeri. Huruf j Rekening khusus dana kampanye pemilihan umum hanya diberlakukan bagi Partai Politik peserta pemilihan umum. Huruf c Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. Huruf g Cukup jelas. Huruf k Cukup jelas. 5 No.

muktamar. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas.Penjelasan UU RI No. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas . atau sebutan lainnya yang sejenis. 161 . Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. kongres. Pasal 24 Yang dimaksud dengan “forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik” adalah musyawarah nasional. Pasal 16 Cukup jelas. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas.

Vol. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas.Maret 2008 Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. (4) penyalahgunaan kewenangan. 162 . Pasal 32 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “perselisihan Partai Politik” meliputi antara lain: (1) perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan. (2) pelanggaran terhadap hak anggota Partai Politik. (5) pertanggung jawaban keuangan. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. (3) pemecatan tanpa alasan yang jelas. dan/atau (6) keberatan terhadap keputusan Partai Politik. 5 No. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. 1 .

Penjelasan UU RI No. atau organisasi kemasyarakatan asing. Huruf e Larangan dalam ketentuan ini tidak termasuk sumbangan dari anggota fraksi. 163 . Ayat (5) Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan “identitas yang jelas” dalam ketentuan ini adalah nama dan alamat lengkap perseorangan atau perusahaan dan/atau badan usaha. Pasal 42 Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. Ayat (3) Huruf a Yang dimaksud dengan “pihak asing” dalam ketentuan ini adalah warga negara asing. pemerintahan asing. Pasal 43 Ayat (1) Penggabungan Partai Politik dalam ketentuan ini bukan merupakan gabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Huruf d Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Ayat (2) Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota hasil pemilihan umum tahun 2004 tidak hilang bagi Partai Politik yang bergabung.

1 .Vol. 5 No. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 46 Yang dimaksud dengan “sesuai dengan undang-undang” dalam ketentuan ini adalah sesuai dengan undang-undang organik yang memberikan kewenangan kepada lembaga negara untuk melakukan pengawasan. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 4801 164 .Maret 2008 Ayat (2) Cukup jelas.

S2 di Universitas Tarumanegara-Jakarta. penulisan karya ilmiah. JEANE NELTJE SALY. Riwayat Pendidikan: Sekolah Hakim dan Jaksa Negeri Malang (1967). Refugees. diangkat oleh LIPI sebagai Peneliti di Bidang Penelitian Hukum Badan Pembinaan Nasional Departemen Hukum dan HAM RI. antara lain: bidang Hukum Dagang International dan Pembangunan Ekonomi Nasional Negara berkembang. S. RUU Merek Paten. Lahir di Kupang. seperti Universitas 17 Agustus 1945. Pemerintah Daerah dan Globalisasi Perdagangan. Pengkajian Hukum Asylum. juga Perlindungan Hukum terhadap Wanita dalam penerapan Convention on The Elimination of All Forms of 165 . Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan (1980-1998).H. Melakukan kegiatan penelitian. Pendidikan Peneliti Hukum Departemen Hukum (19811984). serta ceramah dalam bidang Hukum antara lain: Pembangunan Ekonomi dan Globalisasi Perdagangan Dunia. DR.. RUU Perseroan Terbatas. Penelitian Hukum Ekonomi Lemah. Peneliti Hukum di Badan Pembinaan Hukum Nasional (1998). Perlindungan Usaha Kecil di Wilayah Indonesia dalam Penerapan World Trade Organization (WTO). Malaysia (1990). Dumping dan Negara berkembang dalam Pembangunan Ekonomi. Universitas Bung Karno dan Universitas Nasional Jakarta. alih tugas ke Departemen Kehakiman (1972-1979). dan Perlindungan Wanita.BIODATA BIODATA PENULIS PROF. Den Haag Belanda (1985-1986). Riwayat Pekerjaan: Calon Hakim Muda pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang (19671969). dan AFTA/Asean Free Trade Area. serta aktif sebagai peserta seminar conferensi di negara lain (1979-2006). Hak Cipta. dipindahkan ke Pengadilan Negeri Bau-Bau Buton (1969-1972). Mengikuti Program Comporative Study Contract Law. dalam berbagai bidang ilmu hukum. dan memberikan seminar/loka karya dan penataran. pengkajian Hukum. Pendidikan Peneliti Hukum (1985-1986). RUU Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). S3 di Universitas Padjadjaran-Bandung. Legal Drafter/Perancang Peraturan Perundang-undangan. antara lain: Penelitian Asas-Asas Hukum Nasional Penelitian Hukum Asas-Asas Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Mengikuti Program Post Doctoral Legal Drafting di International Institut of Social Study. memberi kuliah hukum Dagang/Bisnis International di Beberapa Universitas Swasta.M.H. S1 Hukum (1978). dan di Badan Pembinaan Hukum Nasional. Pendidikan lainnya: Pendidikan Perancang Peraturan Perundang-undangan (1978-1979). dan Globalisasi Perdagangan Persaingan Curang dalam Perdagangan International dan Pengaruhnya terhadap Pembangunan Ekonomi Negara-Negara ASEAN khususnya bagi Indonesia dalam kaitannya dengan penerapan WTO. 1 Nopember 1947.

Pembicara/Narasumber dalam Lokakarya tentang Polri dan Pemilu yang diadakan oleh Reform for Governace. Staf pengajar AKIP. Tahun 2003 di Hotel Le Meridienn Jakarta. Sekretaris BAPEKADA GOLKAR Jakarta Selatan. Sekjen Persatuan Mahasiswa Administrasi Indonesia. Tahun 2004-2006. Tahun 1997-1999. Anggota Komisi II DPR RI. Anggota Komisi I DPR RI. Lulus Tahun 1991.. Lulus tahun 1973. Bc. Tahun 1982-1987.sekarang. STIA LAN Jakarta. Negara UI. Tahun 199-2004. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan PP GM FKPPI. Tahun 1997-2003. Tahun 1985-1996. Tahun 1993-sekarang. 13 November 1958. Tahun 1994-sekarang. Anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan Departemen Kehakiman (UU No. Anggota Komisi III DPR RI. Pekerjaan : Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI. Tahun 1981-1982. Kehakiman di Jakarta. 19771979. 5 No. Mahasiswa Teknik sipil STTN. Penasehat PP IKA AKIP. Tahun 2003 Jakarta.Maret 2008 Diskrimination Againts Konvensi/Elimination terhadap segala bentuk Diskriminasi Perempuan. AKIP Dept. Tahun 2003-2004. FKPPI DKI JAYA. SMP Negeri di Jakarta. Ketua Umum Komisariat HMI AKIP. Tahun 1978-1979.M.IP. 12 Tahun 1985). Ketua PP GM FKPPI. Mahasiswa Pasca Sarjana Kriminologi UI. Tahun19821984. Lulus tahun 1970. I Tangerang. Wakil Ketua Cabang FKPPI Kota Tangerang. Riwayat Organisasi: Ketua Umum Komisariat HMI Teknik Sipil. Tahun 1999-2004. Tahun 1994-1996. Riwayat Pendidikan: SD Negeri di Jakarta. STM Negeri di Jakarta. PUSDIKLAT Pegawai Departemen Kehakiman. Tahun 2004-sekarang: Anggota Forum Konstitusi. Tahun 1993-1997. Riwayat Pekerjaan: Pegawai Lembaga Pemasyarakatan Kls. Ketua Cabang FKPPI Jakarta Selatan. Tahun 2002. Tahun 1989-1990. Mahasiswa Pasca Sarjana Adm. Drs. serta penulisan buku/artikel tentang Bisnis Internasional serta aktif sebagai peserta seminar di negara-negara lain. AGUN GUNANDJAR SUDARSA. Anggota Badan Legislasi DPR RI. Tahun 1989-1991. Tahun 1982-1984. Tahun 1993sekarang. Anggota Panitia Ad-Hoc I Badan Pekerja MPRRI. Sekretaris Umum PP IKA STIA LAN. Sekretaris Daerah IX. Perlindungan Hukum terhadap Penjualan Perempuan dan Anak-Anak/The Elimination of Trafficking in Women and Children dalam kaitan Tindak Perlindungan Pemerintah. Wakil Sekjen FKPPI Pusat Tahun 1993 – 1997. Sekretaris UMUM PP AMPG. Pembicara/Narasumber dalam Seminar “Pemilu Berkah atau Bencana” diadakan oleh Senat Mahasiswa ITB. Lulus tahun 1982. Agama Islam.Vol. POKJA DPP Partai GOLKAR. Tahun 2002-2005.Si Lahir di Bandung. Tahun 2005-sekarang. Tahun 1997-sekarang. 1 . Ketua Umum SENAT Mahasiswa LAN. Ketua PP AMPG. Ketua Umum SENAT Mahasiswa AKIP. Kegiatan Ilmiah/Seminar/Talk Show Live: Pembicara/Narasumber dalam Seminar Sosialisasi UU Parpol danUU Pemilu Legislatif FKKN (Forum Kajian Kebijakan Negara) di Hotel Burnikarsa. Tahun 1979-1980. Lulus tahun 1976. Tahun 2003-2006. di Kampus 166 .

akuntabel dan berwibawa di Indonesia” di Universitas Parahiyangan Bandung (Kerjasama FH. Delta FM. Diklat Spala DEPKEH di Jakarta Tahun 1994. 2003 hingga awal tahun 2004. TPI dan Trans TV pada tahun 2002. ANTV. Unpar dengan Komisi Yudisial). Februari 2007. P4 tingkat Nasional di Jakarta Tahun 1987. Maret 2007. Diskusi Interaktif “Reformasi Kepolisian : Tantangan dan Prospek ke Depan”. Surabaya. OTDA. Pembicara/Narasumber “Kemauan Politik Membangung Negara Kepulauan” Diskusi Masyarakat Kelautan dan Perikanan Jawa Timur. REMACO. April 2007. Januari 2007. Pembicara/Narasumber “2007 Saatnya Wakil rakyat Pro Rakyat” Sarasehan di Hotel Nikko Internasional Jakarta. 2006. Kunjungan MPR RI dan Rumania Tahun 2003. Seminar Law and Justice: The Case For Parlianentary di Geneva – Swiss. Tahun 2003 Bandung. Trijaya Sakti. dan lain-lain sepanjang tahun 2002. Kunjungan Persahabatan Antar Parlemen ke Iran Tahun 2002. Pembicara/Narasumber dalam berbagi Seminar Sosialisasi UU Bidang Politik dan Seminar Amandemen UUD 1945 yang diadakan oleh Lembaga Informasi Nasional (LIN) diberbagai Provinsi di Indonesia sepanjang tahun 2003 hingga Awal tahun 2004. Desember 2006. Lain-lain. Sosialisasi Putusan MPR RI ke Turki dan Qatar. Studi Banding Pencucian Uang ke Australia Tahun 2003. Pembicara/Narasumber Seminar Nasional: “Urgensi Perubahan atas UU No. Metro TV. Penegakan Hukum dan UUD 1945 yang diadakan oleh berbagai Stasiun tv seperti TVRI. Desember 2006. SCTV. Pembicara/Narasumber dalam berbagai “Talk Show Live” tentang UU Bidang Politik. Pembicara/ Narasumber Sosialisasi /Pemasyarakatan UUD RI 1945 dan Ketetapan/ Keputusan MPR RI di Departemen Sosial RI. Kursus/Pelatihan/Studi Banding: Diklat Kesamaptaan di Cirebon Tahun 1982. Penegakan Hukum dan UUD 1945 yang diadakan oleh berbagai Stasiun radio seperti Elshinta. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dalam upaya mendorong kesinambungan proses reformasi peradilan demi terwujudnya system peradilan yang bersih. Orientasi Ketahanan Nasional di Bogor Tahun 1986. OTDA. Studi Banding Pansus RUU Dewan Pertimbangan Presiden dan RUU Kemetrian Negara ke Amerika. Lativi. Ke Taiwan Tahun 2001.Biodata Penulis ITB. Februari 2007. Hotel Le Grandeur Mangga Dua Jakarta. Pembicara/ Narasumber The Habibie Center Bincang-Bincang “Prokontra RUU Kementrian Negara dan RUU Lembaga Kepresidenan”. RCTI. 167 . Sept. Studi Banding Konstitusi (UDD) – ke Yunani dan Jerman tahun 2000. Pembicara/Narasumber dalam berbagai “Talk Show Live” tentang UU Bidang Politik. Ke RRC Tahun 2002. Pembicara/ Narasumber “Memperkokoh Visi NKRI sebagai Negara Kepulauan” di Rakornas Departemen Kelautan dan Perikanan. Cakrawala. Pembicara/ Narasumber di LIPI. Maret 2007. Diklat Menembak di Cirebon Tahun 1982. 2003 hingga awal tahun 2004.

Leiden University Tahun 1996. Legislative Drafing di Belanda Tahun 1985. Undang-undang tentang Kejaksaan. 11 September 1957. MA Lahir di Klaten. Kasubdit Hukum Internasional Dit. Riwayat pekerjaan. Departemen Kehakiman Tahun 1991. Dinamika Lembaga Perwakilan dan Kepemimpinan Nasional. 12 Juni 1946. Pegawai pada Ditjen Peradilan Umum dan TUN. S2 Hukum di Universitas Padjajaran Tahun 1991. Pj. dan Penulis di beberapa mass media. 168 .Maret 2008 DR. 20 April 1977. A. Tata Negara dan Hukum Internasional Tahun 1999.M. Menguak Masalah Pertanahan. Kepemimpinan Menurut Ajaran Hindu. S1/Sarjana Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (1996 – 2001)Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Tanah dan Pembangunan. Lain-lain. S. SMA N 2 Klaten. Anggota KPU. PARTONO. Pendidikan lain. Wakil Ketua Panitia Pemilihan Indonesia Pemilu Tahun 1999.Tata Negara dan Hukum Internasional Tahun 1995. 1 . Klaten. SIP. Jawa Tengah (1992 – 1995). Hukum. Dit. Menyelesaikan S1 Hukum di Universitas Gajahmada Tahun 1982. Gugatan dari Senayan. Calon Hakim pada Pengadilan Negeri Denpasar Tahun 1971. menyusun dan menerbitkan buku dan peraturan perundang-undangan antara lain Undang-undang Paten. Anggota DPRRI Tahun 1971. (2005 – 2006)Jurusan Kebijakan dan Manajemen Publik.H. Staf pada Pusat Dokumentasi Hukum.H. Riwayat pekerjaan. WICIPTO SETIADI. Monash University Tahun 2000. SMPN 2 Trucuk. Demokrasi dan Hukum. 5 No. Staf Ahli Menkeh dan HAM 1998. OKA MAHENDRA. The Hague.Vol. Lahir di Bangli. Staf Subdit Perancangan Direktorat Perundang-undangan Tahun 1989. Pemilu Tahun 1999.H. Riwayat Pendidikan : S2/ Master of Arts Institute of Social Studies (ISS). BPHN Tahun 1984. Ketua Tim Pendaftaran Ulang Parpol Tahun 2003. Kasubdit HTN.. Program Stage pada Van Vollenhoven Institute. dan Merajut Benang Kusut dalam Fragmentasi Etika Moral. sejak Maret 2005 menjabat Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan. The Netherlands. dan Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan Tahun 2004 sampai sekarang. S. dan Politik.A. dan S3 Hukum di Universitas Indonesia Tahun 2004. Jawa Tengah (1989 – 1992). Sekjen Mahkamah Konstitusi Januari sampai bulan Juli 2004. menyelesaikan S1 Hukum di UGM di Yogyakarta. International Law Course. Lahir di Purbalingga.

Jakarta. UGM (KMAN). KBRI Belanda dan PPI Belanda. Belanda. Januari 1996 – Des 1998 Ketua Ikatan Remaja Masjid Kalikebo (IRMAKA). Fajar Banten. Maret 2007 – sekarang. Training. Fajar Banten. Oktober 2004 – Maret 2005. Klaten. Jakarta. Agustus 2004. Jan 1999 – Oktober 2001 Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kalikebo. Mencermati Legitimasi Pilkada Jakarta. Quo Vadis Suara Pemilih Islam. Kursus TOEFL yang diselenggarakan oleh PPB UI. dapat di akses di www. Oktober 1999 – Oktober 2001 Ketua Departement Kaderisasi Pemuda Muhammadiyah Kec Trucuk. FISIPOL. Urgensi Pemilihan Presiden Dalam Penciptaan Good Governance.org . yang diselenggarakan oleh International Fellowship Program Ford Foundation (IFP FF). Suara Pembaruan 29 Agustus 2007. Fajar Banten. September 2004. Jogyakarta. Fajar Banten Juli 2004. Dosen Tidak Tetap STIA Mandala Indonesia. Trucuk. 169 . Pengalaman Organisasi: Nov 2005 – Nov 2006 Sekretaris Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Den Haag. Dosen STIA Mandala Indonesia. Oligarchy Maintained With New Political Party Bill. 21 – 24 Juni 2004.Biodata Penulis Pengalaman Kerja: Koordinator Peneliti CETRO (Center for Electoral Reform). Februari 2003 – September 2004. Traning dan Workshop Metodologi Penelitian Dosen Negeri dan Swasta se-Banten yang diselenggarakan oleh Departement Pendidikan Nasional. Trucuk. Mewaspadai Politisasi Birokrasi Dalam Pilpres 2004 . Jateng. Menyoal Kinerja Tim Seleksi KPU. A Commentary on the Performance National Election Commission’s (KPU’s) Selection Committee. Menunda Pilkada Jakarta?. Klaten. Agustus 2004. di Washington DC. Amerika. Oktober 2001 – Januari 2003. Publikasi: Dampak Korupsi dan Upaya Pencegahannya.aceproject. Kompas. 18 – 23 Juni 2006 Leadership and Social Justice Training. Jakarta. April 2007 – sekarang. 26 Juni 2007. Fajar Banten Juni 2004. Juli 1997 – Juni 1998 Anggota Presidium Permadi (Persatuan Mahasiswa Administrasi Yogjakarta). Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara STIA Banten. Media Indonesia. Juni 2001 – Agustus 2001. 26 Desember 2007. 18 April – 31 Juli 2005 Kursus IELTS yang diselenggarakan oleh Universitas Maastricht. Belanda. 8 Agustus 2007. Kursus dan Seminar: 14 Oktober 2006 Seminar dan Workshop “ Empowering Community – to – Community Cooperation: Indonesia – The Netherlands” yang diselenggarakan oleh ICMI Belanda. The Jakarta Post. September 2004. Klaten. Pemilu 2004: Berharap Munculnya Pemimpin Nasional Baru Fajar Banten. Relawan IRE (Institute of Research and Empowerment). Legitimasi Peran Militer Dalam Politik Indonesia . Kalikebo. Juli 1997 – Juni1998 Ketua Himpunana Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara.

Riwayat Pekerjaan: a. di Instansi Pemerintah: Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pendidikan terakhir Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia. Pasca Sarjana Universitas Indonesia Bidang Ilmu hukum.H.Vol. 1992Sekarang : Dosen Utama Mata Kuliah Praktek Hukum Fakultas Hukum 170 .H. Riwayat Pekerjaan: 2005Sekarang : Ketua Lembaga Pendidikan Lanjutan Ilmu Hukum (LPLIH) Fakultas Hukum Universitas Indonesia.H. Dep. 2006 : Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Riwayat Pendidikan: 1986 : Sarjana Hukum. Direktorat Sosial Politik DKI Jakarta.M. 2004-Sekarang: Anggota Senat Akademik Fakultas Hukum Universitas Indonesia. di Swasta: Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah. Widyaiswara Madya.M. Pemprov. Pekerjaan : Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketua MPM Universitas Indonesia. Care Taker DEMA Universitas Indonesia.H. Ketua HMI Cabang Jakarta. 5 No. Lahir di Rangkas Bitung Banten. S. 12 Desember 1955. Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya dan Pudek bidang Kemahasiswaan. Ass. 2004-Sekarang : Ketua Bidang Studi Hukum Acara/Jurusan Praktisi Hukum – Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Indonesia.Maret 2008 ZAINAL ABIDIN SALEH.. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Koordinator bidang Kemahasiswaan. Terlibat dalam berbagai koalisi NGO dan juga dalam penyusunan beberapa Naskah Akademis dan RUU Versi Masyarakat. S. DKI Jakarta.. PB-HMI. Lahir di Jakarta. 1995-Sekarang : Penasehat Lembaga Konsultasi & Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kantor Menpora. 28 Februari 1948. ZAINAL ABIDIN. 2004-Sekarang: Anggota Pengawasan Mutu Akademik Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 1 . 2004-Sekarang: Ketua Sub Komisi Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebagai Direktur Riset dan Pengembangan.H. Pengalaman Organisasi: Ketua Umum SEMA Fakultas Hukum Universitas Indonesia. b. CHUDRY SITOMPUL. Pendidikan: Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jurusan Hukum Tata Negara. S.

Pendidikan di bidang Perundang-undangan : Legislative Drafting – Indiana University. Drs. ZAFRULLAH SALIM. Riwayat Jabatan : Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Jawa Barat (2007-2008). Kerja Sama dan Pengundangan Peraturan Perundang-undangan (2008-sekarang).H. 2000-2004: Anggota Tim Pakar Kejaksaan Agung Republik Indonesia. 1987-1995 : Staff Penasehat Hukum Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 1988-1992 : Asisten Dosen Mata Kuliah Praktek Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 171 . Wetgevingstechniek – Leiden Universiteit. Direktur Publikasi. Pendidikan: S1 Syariah (Hukum Islam). 2000-2004: Sekretaris Bidang Studi Hukum Acara/Jurusan Praktisi Hukum – Fakultas Hukum Universitas Indonesia.Universitas Indonesia. Sumatera Barat 1 April 1953. Lahir di Sulit Air. 1988-Sekarang: Pegawai Negeri tetap Fakultas Hukum Universitas Indonesia. S2 Hukum Ekonomi. 1987 : Calon Pegawai Negeri Fakultas Hukum Universitas Indonesia. M.

10. daftar pustaka dan disertakan gambar atau foto. Sistimatika penulisan sesuai dengan aturan penulisan ilmiah. dan subtansi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. lugas. kajian teori. Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan HAM RI Jl. dan metodologi). analisis. seperti hasil penelitian lapangan. 8. Naskah yang dikirim berbentuk karya tulis ilmiah. 9. pendahuluan (latar belakang permasalahan. 5 No. 2.Jakarta Selatan Telepon (021) 5264517/Fax (021) 5205310. sederhana dan mudah dimengerti tidak mengandung makna ganda. 3. dengan kata-kata atau frasa kunci yang mencerminkan isi tulisan. yang secara garis besar memuat: abstrak (yang panjangnya antara 100 . 6.com. Naskah yang dikirim hendaknya merupakan karya tulis asli yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di media lain. tujuan ruang lingkup. data. tabel jika diperlukan. dan daftar pustaka ditulis berdasarkan abjad (alfabetis). 4. Pengiriman naskah dengan melampirkan softcopy berupa curriculum vitae beserta pas photo ukuran 4 x 6 cm sebanyak 1 (satu) lembar untuk dimuat di jurnal. HR. 7. 6-7 Kuningan . e-mail : legislasi@yahoo. dan deskriptif. Naskah diketik rangkap 2 (dua) spasi di atas kertas ukuran A4. 5. Isi. studi kepustakaan. survey. review buku. dan analisis). materi. Pokok pembahasan atau judul penulisan berupa kalimat yang singkat dan jelas. Redaksi berhak mengedit teknis penulisan (redaksional) tanpa mengubah arti.200 kata). sistimatis. 172 .Vol. Naskah dikirim ditujukan kepada : Redaksi Jurnal Legislasi Indonesia. 1 . dan gagasan kritis-konseptual yang bersifat obyektif. Rasuna Said Kav. hasil dan pembahasan (tinjauan pustaka. Penulisan hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baku. penutup (kesimpulan dan saran).Maret 2008 PANDUAN PENULISAN 1. Naskah yang dikirim disertakan disket dan disebutkan program yang dipakai. hipotesa. panjang naskah antara 8-25 halaman.