Multi Partai

ISSN 0216-1338

DAFTAR I S I
Dari Redaksi Editorial
.............. .............. ii iii

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008 KEP MEN KEHAKIMAN DAN HAM RI NO. M.01-HU.03.02 TAHUN 2004 Penanggung Jawab Abdul Wahid Masru, S.H.,M.H. Pemimpin Redaksi Made Kamini, S.H.,M.H. Dewan Redaksi Qomaruddin, S.H.,M.H. Suhariyono AR, S.H.,M.H. Dr. Wahiduddin Adams, M.A. Dr. Wicipto Setiadi, S.H.,M.H. Sofyan Sitompul, S.H.,M.H. Anggota Dewan Redaksi Linus Doludjawa, S.H. Drs. Hudiyono Ibnu Ghoffur Sutirah, S.H.,M.H. Dwi Ambar Lasmiasih, S.Pd. Mualimin Abdi, S.H.,M.H. Julkhaidir, S.H.,M.H. Nuryakin, S.H. Staf Redaksi Tri Wahyuningsih, S.H.,M.H. Dra. Mardiningsih Welastuti Slamet Kurniawan, S.H. I Nyoman Sukanadji Andi Batara, S.H.,M.H. Kristiyanto, S.H. Rizki Arfah, S.H. Sri Lisnawati, S.H. Khabiburohman, S.H. Satirah Atminah Lud Firdiansyah Penerbit Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan HAM RI Jl. HR. Rasuna Said Kav. 6-7 Jakarta Selatan Telp. / Fax. (021) 5264517 E-mail:legislasi@yahoo.com Website:http//www.djpp.depkumham.go.id

Artikel :
Sistem Multipartai di Indonesia Oleh: Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.IP.,M.Si. Sistem Multipartai, Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah Oleh: Partono, SIP,MA Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis Oleh: Dr. Wicipto Setiadi, S.H.,M.H. Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum Oleh: Prof. Dr. Jeane Neltje Saly, S.H.,M.H. Demokrasi dan Partai Politik Oleh: Zainal Abidin Saleh, S.H.,M.H. Paradigma Baru Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Oleh: A.A. Oka Mahendra, S.H. Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Oleh: Zainal Abidin, S.H. Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Oleh: Chudry Sitompul, S.H.,M.H. Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia Oleh: Drs. Zafrullah Salim, M.H.
..............

1

.............. 13

.............. 29

.............. 40

.............. 56

.............

81

............. 90

............. 102

............. 130

Informasi UU:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik

.............. 137 .............. 165

Biodata Penulis

DARI REDAKSI

DARI REDAKSI
Kaidah demokrasi adalah harus menjunjung kedaulatan rakyat, aspirasi, keterbukaan, keadilan, tanggung jawab dan perlakuan yang tidak diskriminatif dalam Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengakui dan menjamin tentang kemerdekaan berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia. Sejarah perkembangan partai politik di Indonesia sangat mewarnai perkembangan demokrasi di Indonesia. Hal ini sangat mudah dipahami, karena partai politik merupakan gambaran wajah peran rakyat dalam percaturan politik nasional atau dengan kata lain merupakan cerminan tingkat partisipasi politik masyarakat. Berawal dari keinginan untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan serta mengisi pembangunan, partai politik lahir dari berbagai aspirasi rakyat yang berkeinginan untuk bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Romantika kehidupan partai politik sejak kemerdekaan, ditandai dengan bermunculannya multipartai. Harapannya dengan multipartai politik memberikan kemungkinan yang lebih luas bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasinya dan meraih peluang untuk memperjuangkan hak-haknya serta menyumbangkan kewajibannya sebagai warga negara. Penerapan sistem multipartai di Indonesia dilaksanakan pada tahun 1955, 1999 dan tahun 2004 kemudian sistem tersebut akan diterapkan juga pada tahun 2009 nanti. Jurnal Legislasi Indonesia untuk Volume 5 Nomor 1 mengangkat tema “Sistem Multipartai di Indonesia”, yang bertujuan untuk menyambut pemilihan umum yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 lebih demokratis dan berjalan sesuai harapan rakyat Indonesia. Kami mengharapkan komentar, kritik, dan saran dari para pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan isi Jurnal Legislasi Indonesia. Sumbangan tulisan dari pembaca tetap kami harapkan.
Selamat membaca (Redaksi).

ii

dan efektif. Praktik yang sekarang terjadi adalah ketiadaan koalisi besar yang permanen. Pembatasan partai politik dilakukan dengan menerapkan berbagai prosedur sistem pemilu. 1971. yang perlu dilakukan adalah mendorong terbentuknya koalisi partai politik yang permanen. sehingga setiap pengambilan keputusan oleh pemerintah tidak selalu mendapat dukungan penuh dari parlemen. 1987. Bangsa Indonesia telah melaksanakan sembilan kali Pemilihan Umum (yaitu pada tahun 1955. Dengan demikian program atau rencana kerja pemerintah tidak dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Surat Keputusan Wakil Presiden M.” Dari pasal tersebut tersirat bahwa Indonesia menganut sistem multipartai karena yang berhak mencalonkan pasangan calon presiden dan wakil presiden adalah partai politik atau gabungan partai politik.E DITORIAL EDITORIAL Salah satu wujud pelibatan masyarakat dalam proses politik adalah pemilihan umum (pemilu). namun konstitusi mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia menerapkan sistem multipartai. stabil. iii . mendapatkan resistensi dari DPR. Indonesia telah menjalankan sistem multipartai sejak Indonesia mencapai kemerdekaan. 1997. 1992. yaitu pada Pasal 6A (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Pasangan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. 1999 dan 2004). Secara sah. bahkan ditolak oleh DPR. Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan figur dan arah kepemimpinan negara atau daerah dalam periode tertentu. 1982. sistem pemilu menjadi sarana untuk menyeleksi jumlah partai politik dalam jangka panjang. Sistem presidensial di Indonesia hingga saat ini belum dapat mewujudkan secara penuh pemerintahan yang kuat dan efektif. legal. 1977. dan demokratis. X/1949 merupakan tonggak dilaksanakannya sistem multipartai di Indonesia. Pemilu memiliki fungsi utama untuk menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mendekati kehendak rakyat dan mampu mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan dapat menyerap serta memperjuangkan aspirasi rakyat sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun konstitusi kita (UUD 1945) tidak memberikan rambu-rambu yang jelas dan tegas mengenai sistem kepartaian apa yang hendak dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak sedikit program-program pemerintah yang memerlukan persetujuan dari parlemen. Oleh karena itu. Hatta No. Hal ini diperlukan sebagai upaya agar bisa tetap sejalan dengan prinsip check and balances dari sistem presidensial dalam rangka menciptakan pemerintahan yang kuat.

Akhirnya sistem apapun yang dipilih. maka dia berhak menempatkan wakilnya di parlemen. lalu dibagi dengan jumlah suara secara nasional. tanpa mempermasalahkan berapa jumlah kursi hasil konversi suara yang dimiliki partai politik tersebut. berapapun kursi yang diperoleh di parlemen. Hal ini dilakukan untuk lebih memperketat partaipartai yang mengikuti Pemilu berikutnya. Pemilu 2004 menerapkan angka electoral threshold sebesar 3% dari perolehan suara sah nasional. Jadi. Electoral Threshold didefinisikan sebagai ambang batas syarat angka perolehan suara untuk bisa mengikuti pemilu berikutnya. untuk turut kembali dalam pemilihan umum berikutnya angka electoral threshold itu harus dicapai. dan DPRD menggunakan sistem Parliamentary Threshold (PT) yaitu syarat ambang batas perolehan suara parpol untuk bisa masuk ke parlemen.Sejak pemilu 1999. Artinya. Indonesia telah menerapkan electoral threshold sebesar 2% dari suara sah nasional.5% dari jumlah suara nasional. Semangat dari peningkatan threshold yang semakin besar adalah untuk membangun sistem multipartai sederhana dengan pendekatan yang lebih moderat. Jika suara partai politik itu mencapai angka 2. setelah hasil jumlah suara masing-masing partai politik diketahui seluruhnya. masyarakat telah lama mendambakan peran nyata dari sebuah partai politik sebagai pilar utama demokrasi yang tidak sekedar hanya berorientasi pada perolehan dukungan suara dalam rangka memperoleh kekuasaan semata namun dapat memainkan peran sebagai penghubung antara pemerintahan negara (the state) dan warga negaranya (the citizen). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. DPD. iv .

dan untuk rakyat.info. berkumpul. Untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat. 1 . FNS dan P3OD-UMM. masyarakat. 3. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia yang diakui dan dijamin oleh UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Si. dan Sistem Kepartaian (Jakarta: Forum Politisi-Friedrich Naumann Stiftung. Kemerdekaan berserikat.2 Karena itu partai politik biasa disebut sebagai pilar demokrasi. berdaulat. Oktober 2007). Rainer Adam. dalam Sabastian Salang. bersatu. Tidak ada negara demokrasi tanpa partai politik. berkumpul. serta demokratis dan berdasarkan hukum. Yang selanjutnya dijalankan melalui 1 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. hlm. dapat dikatakan bahwa partai politik itu pada pokoknya memiliki kedudukan dan peranan yang sentral dan penting dalam setiap sistem demokrasi. DPRD dan Partai Politik. (hukumham. dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. oleh rakyat.3 Indonesia menganut paham demokrasi yang artinya kekuasaan dari rakyat. hlm. Hak asasi tersebut terwujud dalam institusi partai politik. hlm. Asesmen Terhadap Kelembagaan. karena mereka memainkan peran yang penting sebagai penghubung antara pemerintahan negara (the state) dengan warga negaranya (the citizen). 3 Sabastian Salang. bangsa dan negara. adil dan makmur.M. Dengan demikian. Kiprah. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik1 mendefinisikan bahwa Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota.. Agun Gunandjar Sudarsa.ARTIKEL SISTEM MULTIPARTAI DI INDONESIA Oleh: Drs. Bc.IP. 3. 2. Potret Partai Politik di Indonesia. 2008).

(Third Edition. para ilmuan politik biasa menggambarkan adanya empat fungsi partai politik. Sebagaimana dirumuskan dalam UUD 1945 Pasal 6A ayat (2). yaitu presiden dan wakil presiden. (Jakarta: Gramedia. dalam Jimly Asshiddiqie. 5 No. 59. (ii) sarana sosialisasi politik (political socialization). partai politik merupakan pilar utama (bukan kedua atau ketiga). meliputi: (i) sarana komunikasi politik. hlm. 3. Oxpord University Press. Kemudian partai politik saling berkompetisi secara sehat untuk memperebutkan kekuasaan pemerintahan negara melalui mekanisme pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden. 59. Sementara dalam istilah Yves Meny dan Andrew Knapp7. 6 Miriam Budiardjo. 7 Yves Meny and Andrew Knapp. France. Suatu Kerangka Kerja Pengembangan Partai Politik yang Demokratis. Kemerdekaan Berserikat. 2 . Pengantar Ilmu Politik. gemany. 1998).Maret 2008 mekanisme pelembagaan yang bernama partai politik. Artinya hak itu secara eksklusif hanya partai politik yang disebut UUD 1945-diberikan kepada partai politik. 2006). Karena itulah. dalam Ibid. hlm. 163-164. fungsi partai politik mencakup (i) mobilisasi dan integrasi. 5 Sabastian Salang. (iii) sarana rekrutmen politik (political recruitment). 1 . dalam Sabastian Salang. 2000).Vol. 4 Institute For Multyparty Democracy (IMD). hlm.5 Fungsi Partai Politik Pada umumnya. memerintah demi kemaslahatan umum serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Italy.4 Sangat rasional argumentasinya jika upaya penguatan partai politik dibangun oleh kesadaran bahwa partai politik merupakan pilar yang perlu dan bahkan sangat penting untuk pembangunan demokrasi suatu bangsa. 3. bahwa calon presiden dan calon wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Pembubaran Partai Politik. hlm. jadi. semua demokrasi membutuhkan partai politik yang kuat dan mapan guna menyalurkan berbagai tuntutan warganya. Government and Politics in Western Europe: britain. Dalam demokrasi. derajat pelembagaan partai politik itu sangat menentukan kualitas demokratisasi kehidupan politik suatu negara. dan (iv) pengatur konflik (conflict management). Keempat fungsi partai politik itu menurut Miriam Budiardjo6. dan Mahkamah Konstituusi (Jakarta: Konstitusi Press. hlm. karena pucuk kendali roda pemerintahan ada di tangan eksekutif.

Partai Politik. UU No. 60.13 8 9 10 11 12 13 UU No.cit. Terkait dalam sosialisasi itu partai juga berperan sangat penting dalam rangka pendidikan politik10 bagi masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. Partai Politik. Dalam UU No. UU No. bahwa fungsi Partai Politik adalah sebagai sarana: (i) pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas. dan kebijakan partai politik yang bersangkutan. partai berperan sangat penting dalam upaya mengartikulasikan kepentingan atau political interests yang terdapat atau kadang-kadang tersembunyi dalam masyarakat. ide dan kebijakan atau aspirasi kebijakan itu diadvokasikan sehingga dapat diharapkan mempengaruhi atau menjadi materi9 dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. hlm. Sebagai sarana komunikasi politik.. Berbagai kepentingan itu diserap sebaik-baiknya oleh partai politik menjadi ide.Sistem Multipartai di Indonesia (ii) sarana pembentukan pengaruh terhadap perilaku memilih (voting patterns). Ibid. dan penyalur aspirasi politik masyarakat. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. (ii) penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. dan (iv) sarana elaborasi pilihan-pilihan kebijakan. hlm. Ide.11 Fungsi selanjutnya partai politik adalah sebagai sarana rekrutmen politik. visi. visi. 60. (iii) sarana rekrutmen politik. 59. Terkait dengan komunikasi politik itu. 6. penghimpun. 6. partai politik juga berperan penting dalam melakukan sosialisasi politik. 2 Tahun 2008 tentang Ibid. hlm. 2 Tahun 2008 tentang Jimly Asshiddiqie. (iv) partisipasi politik warga negara Indonesia. Op. 3 . dan (v) rekrutmen politik. 6. dan bernegara. hlm. Partai dibentuk memang dimaksudkan menjadi kendaraan yang sah untuk menyeleksi kader-kader pemimpin12 dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan kesetaraan dan keadilan gender. Setelah itu.8 Kesemua fungsi partai politik tersebut sama-sama terkait satu dengan yang lainnya. (iii) penyerap. dan kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik disosialisasikan kepada konstituen untuk mendapatkan feedback berupa dukungan dari masyarakat luas. hlm. hlm. berbangsa.

sistem dwi partai. ilmuwan politik kebangsaan Prancis. Peranan ini berupa sarana agregasi kepentingan yang berbeda-beda melalui saluran kelembagaan partai politik. 1 . Pendekatan numerik ini pernah dikembangkan Maurice Duverger (1950-an). Sartori juga mengklasifikasikan sistem kepartaian 14 15 Jimly Asshiddiqie. ilmuwan politik Italia. Pertama. Menurut Duverger. hlm. Op. Sistem kepartaian yang melembaga cenderung meningkatkan stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan. 16 FS. yakni sistem partai tunggal. melihat partai sebagai unit-unit dan sebagai satu kesatuan yang terlepas dari kesatuan-kesatuan lain. 2004). 122-123. Swantoro. 4 . Meneropong Sistem Kepartaian Indonesia 2020. jarak diantara kutub (bipolar). dalam Soegeng Sarjadi dan Sukardi Rinakit. Menurut Sartori. partai berada dan beroperasi dalam suatu sistem kepartaian tertentu.cit.16 Selain itu. sistem kepartaian tidak dapat digolongkan menurut jumlah partai atau unitunit. Setiap partai merupakan bagian dari sistem kepartaian yang diterapkan di suatu negara. dan sistem multipartai.cit. yang didasarkan pada tiga hal.. dalam suatu sistem tertentu. Partai mengagregasikan dan mengintegrasikan beragam kepentingan itu dengan cara menyalurkannya dengan sebaik-baiknya untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik kenegaraan. 5 No. hlm. fungsi pengelola konflik dapat dikaitkan dengan fungsi integrasi partai politik.Vol.. yaitu jumlah kutub (polar). ada dua pendekatan yang dikenal secara umum. melainkan jarak ideologi antara partai-partai yang ada. Meneropong Indonesia 2020 (Jakarta: Soegeng Sarjadi Syndicate. Sabastian Salang. sistem kepartaian dapat dilihat dari pola perilaku dan interaksi antarsejumlah partai dalam suatu sistem politik. dan arah perilaku politiknya.14 Sistem Kepartaian Dalam demokrasi. hlm. 61. Sistem kepartaian memberikan gambaran tentang struktur persaingan di antara sesama partai politik dalam upaya meraih kekuasaan dalam pemerintahan. yang dapat digolongkan menjadi tiga unit. Yves Meny dan Andrew Knapp. cara lain dapat dijadikan pendekatan yaitu teori yang dikembangkan Giovani Sartori (1976).15 Untuk melihat sistem kepartaian suatu negara. 63.Maret 2008 Fungsi keempat adalah pengatur dan pengelola konflik. partai berinteraksi dengan sekurang-kurangnya satu partai lain atau lebih sesuai dengan konstruksi relasi regulasi yang diberlakukan. Op.

hlm. ditambah independen. Padahal kalangan partai tidak yakin akan memenangkan pemilu. hlm.. Hal itu didasari pada dua hal. dan pluralisme ekstrem. Kesembilan partai ditambah Golkar. Ibid. Fenomena menarik dalam Pemilu 1971 ini adalah faktor kemenangan Golkar yang sangat spektakuler di luar dugaan banyak orang. hlm.18 Namun. yaitu ABRI tidak ikut pemilu dan Golkar belum berpengalaman dalam pemilu. Dengan sistem pemilu proporsional. 67.19 Memasuki era demokrasi parlementer yang ditandai dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden yang tujuannya untuk mengakhiri konflik ideologi antarpartai. Kedua pendekatan ini bisa digunakan untuk melihat sistem kepartaian Indonesia di masa lalu. Pemilu dekade 1950-an 1960-an adalah sistem multipartai tanpa ada pemenang mayoritas. namun tidak terjadi kompetisi. Kemenangan itu menandakan Indonesia memasuki era baru. Ibid. PKI. Golkar menang mutlak lebih dari 63%. Masyumi.20 Memasuki dekade 1970-an sampai Pemiliu 1971. menghasilkan anggota legislatif yang imbang antara Jawa dan Luar Jawa. 17 18 19 20 Ibid. sistem kepartaian menerapkan sistem multipartai. Jumlah partai yang berlaga dalam pemilu itu lebih dari 29 partai. yaitu pluralisme sederhana. Pada pemilu pertama tahun 1955-sebagai tonggak kehidupan politik pasca kemerdekaan hingga sekarang menghasilkan lima partai besar: PNI. kini. hlm. Indonesia telah mempraktikkan sistem kepartaian berdasarkan pada sistem multipartai. Tetapi. pluralisme moderat. Pada masa itu. ternyata justru bertolak belakang. Sabastian Salang. 5 . ikut berlaga dalam Pemilu 1971. 17 Dalam sejarahnya. dan PSI. Op. NU. Meski dalam derajat dan kualitas yang berbeda. 149. Waktu itu ada sembilan partai politik yang tersisa dari Pemilu 1955. dan mendatang. setelah pemilu digelar.Sistem Multipartai di Indonesia menjadi tiga. 67. yaitu Orde Baru. Indonesia masih menganut sistem multipartai sederhana (pluralisme sederhana). di era demokrasi parlementer tersebut telah terjadi tingkat kompetisi yang tinggi.cit. 123.

FS. Ibid.21 Karena Golkar menjadi partai hegemoni. 21 22 23 24 25 Ibid. PAN. Sistem kepartaiannya multipartai.Maret 2008 Pada era orde baru. hlm. Ibid. Proses evaluasi diri perlu dilakukan. dan tidak ada partai pemenang pemilu yang memperoleh suara mayoritas.25 Pemilu 2004 adalah pesta rakyat yang sangat bersejarah bagi Indonesia. Bila tidak. Hal ini dapat dipahami karena selama puluhan tahun kebebasan berekspresi dan berserikat serta berkumpul dikekang. Op. Dari jumlah itu. Sehingga ketika reformasi memberikan ruang kebebasan. maupun sistem yang diterapkan. Pasalnya. maka tentu ada yang salah dengan sistem yang diterapkan. 67 Ibid. Sistem kepartaian secara ideal harus mendorong pemerintahan yang stabil dan demokrasi yang semakin efektif. Indonesia kembali menerapkan sistem multipartai. Apakah partai-partai paska reformasi telah berperan sebagai pilar demokrasi yang mendorong demokrasi kita lebih efektif dan pemerintahan yang stabil. yakni PDI-P. 67. baik partai-partai politik. hlm. Indonesia bisa belajar banyak. Jumlah partai sekitar 140 buah.cit. keluar enam partai besar pemenang pemilu. hlm. Kenapa? Karena Golkar hanya berjuang demi status quo. namun antarpartai tidak terjadi persaingan. 5 No. hlm. 67. fenomena menjamurnya partai politik mestinya dilihat sebagai sesuatu yang wajar di tengah masyarakat yang sedang mengalami euforia politik. yang menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon tertutup (stelsel daftar) diikuti 48 partai peserta pemilu. untuk pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan pemilu secara langsung. dan PBB. 1 . hasrat para politisi untuk mendirikan partai politik tersalurkan. tetapi lolos verifikasi hanya 48 partai.24 Setelah dua kali pemilihan umum paska reformasi dengan sistem multipartai. Sehingga ada pendapat bahwa secara riil sistem kepartaian menjurus ke sistem partai tunggal (single entry).22 Pada masa reformasi.. hlm. sistem kepartaian masih disebut sistem multipartai sederhana. 6 . 156.23 Pada Pemilu 1999. 157.Vol. Keberhasilan pemilu secara langsung telah mendaulat Indonesia sebagai negara paling demokrasi ketiga di dunia setelah Amerika dan India. Sebagai sebuah proses pembelajaran. atau sebaliknya. Swantoro. Golkar. PPP. PKB.

2006). Apakah partai-partai paska reformasi telah berperan sebagai pilar demokrasi yang mendorong demokrasi kita lebih efektif dan pemerintahan yang stabil. maka tentu ada yang salah dengan sistem yang diterapkan26 Penyederhanaan Partai Politik Sistem kepartaian yang kita bangun haruslah diarahkan untuk terwujudnya sebuah tata kelola sistem pemerintahan presidensil yang didukung oleh jumlah partai yang sedikit di tingkat suprastruktur. Proses evaluasi diri perlu dilakukan. Sistem kepartaian secara ideal harus mendorong pemerintahan yang stabil dan demokrasi yang semakin efektif. Dengan penerapan sistem distrik dapat mendorong ke arah integrasi partai-partai politik dan mendorong penyederhanaan partai tanpa harus melakukan paksaan. baik partaipartai politik. tidak heran bila berbagai pihak mulai mendorong penerapan sistem multipartai sederhana. sehingga mempersulit proses pengambilan setiap keputusan di legislatif. 16. 67. 7 . hlm. bagaimana mendorong proses penyederhanaan partai harus dilakukan? Alam demokrasi tentu tidak menggunakan larangan secara langsung bagi pendirian partai politik. Partai Politik pun Berguguran (Yogyakarta: LKIS. Sementara dalam sistem proporsional cenderung lebih mudah mendorong fragmentasi partai 26 27 Ibid. Bila tidak. bahwa upaya mendorong penyederhanaan partai politik dapat dilakukan dengan menggunakan sistem distrik.Sistem Multipartai di Indonesia Setelah dua kali pemilu paska reformasi dengan sistem multipartai. Secara sah. Indonesia bisa belajar banyak. demokrasi Indonesia dengan sistem multipartai belum signifikan memberikan harapan bagi pengelolaan tata pemerintahan yang efektif dan efisien. dan demokratis. karena itu hak asasi yang harus dihormati. Karena itu. Denny JA. maupun sistem yang diterapkan. hlm. Berkaca pada pengalaman hampir sepuluh tahun paska reformasi. atau sebaliknya. Alasannya karena sistem multipartai telah mengalami perluasan fragmentasi. legal. Persoalannya. sistem pemilu menjadi alat rekayasa yang dapat menyeleksi dan memperkecil jumlah partai politik dalam jangka panjang. Pembatasan partai politik dilakukan dengan menerapkan berbagai prosedur sistem pemilu.27 Duverger berpendapat.

Walau hanya mendapatkan suara 25% suara.. Sembilan tokoh lainnya akan tersingkir. Setiap distrik akan dipilih satu wakil rakyat. 68. atau menggabungkan diri dengan partai lain.29 Dalam sistem distrik berlaku prinsip the winner takes all. Tokoh dari Partai A hanya menang 25%. 8 .Vol. Ibid. distrik itu akan diwakili oleh tokoh partai A.28 Dalam sistem distrik. hlm.cit. hlm.cit. hlm. agar menjadi mayoritas. 5 No. namun untuk saat ini sistem tersebut belum menjadi pilihan bagi Indonesia. sistem ini hanya menyisakan dua partai besar saja. Sistem ini dianggap mempunyai akibat memperbanyak jumlah partai. Denny JA. 16.. namun tokoh partai lain memperoleh suara yang lebih kecil. 16. dalam sebuah distrik ada sepuluh partai yang ikut serta.30 Metode the winner takes all ini akibatnya menjadi insentif negatif bagi partai kecil. 16. Op. Ibid.cit. sistem distrik dapat meningkatkan kualitas keterwakilan karena wakil yang terpilih dapat dikenal oleh penduduk distrik sehingga hubungan dengan konstituen lebih erat. Dengan berkurangnya partai.Maret 2008 dan timbulnya partai-partai politik baru. Partai minoritas tidak akan pernah mendapatkan wakilnya. pada gilirannya akan mempermudah terbentuknya pemerintahan yang stabil dan meningkatkan stabilitas nasional. Dalam perjalanan waktu. Dalam studi perbandingan.31 Kelebihan sistem distrik dalam menyederhanakan jumlah partai karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik (daerah pemilihan) hanya satu. Partai kecil lainnya terkubur dengan sendirinya. sistem distrik ini memang merangsang partai kecil untuk membubarkan diri. Mengingat realitas sosial masyarakat Indonesia yang heterogen sehingga cukup 28 29 30 31 32 Sabastian Salang. 1 . Banyaknya jumlah distrik itu sebanyak jumlah anggota parlemen yang akan dipilih. 68. akan mendorong partai-partai untuk menyisihkan perbedaan-perbedaan dan mengadakan kerjasama. Katakanlah. dan dengan demikian ia akan mendorong untuk memperjuangkan aspirasi mereka..32 Meskipun sistem distrik diakui dapat menyederhanakan jumlah partai politik. hlm. hlm. Sabastian Salang. teritori sebuah negara dibagi menjadi sejumlah distrik. Op. Selain itu. Op.

hanya keenam partai yang berhak mengikuti Pemilu 2004. Penyederhanaan partai politik dalam rangka menghasilkan parlemen dan pemerintahan yang efektif. partai politik yang gagal memperoleh batasan suara minimal berarti gagal untuk mengikuti pemilu berikutnya. Ibid. hlm. dalam praktiknya tidak demikian. 69. jadi. Pada pemilu 1999. Artinya.Sistem Multipartai di Indonesia sulit menerapkan sistem distrik. golongan minoritas dikhawatirkan tidak terakomodir. 70. Ibid. Dalam UU No. dan PBB. 9 . Artinya berapapun kursi yang diperoleh di parlemen. DPD. partai yang tidak memenuhi electoral threshold tetap ikut pemilu berikutnya dengan karakter partai serta pengurus partainya tidak berubah. partai-partai di luar keenam partai itu tidak diperkenankan mengikuti Pemilu 2004. Tetapi. pilihan untuk tetap menerapkan sistem proporsional merupakan suatu keputusan yang relevan untuk konteks Indonesia saat ini. hlm.33 Pertanyaannya. apakah dengan menerapkan sistem proporsional jumlah partai politik secara alami dapat terkurangi? Sistem proporsional memiliki mekanisme tersendiri untuk menyederhanakan jumlah partai politik. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum DPR. dan terbukti dari 48 partai politik peserta Pemilu 1999 berkurang menjadi 24 partai politik pada Pemilu 2004. Peserta pemilu yang lolos berdasarkan perolehan suara ada enam partai.34 Secara prosedural. yakni PDI P. Golkar. untuk turut kembali dalam pemilihan umum berikutnya harus mencapai angka Electoral Threshold itu. Electoral Threshold didefinisikan sebagai ambang batas syarat angka perolehan suara untuk bisa mengikuti pemilu berikutnya. karena partai lama mengubah namanya atau menambah satu kata di belakang nama partai sebelumnya. Indonesia menerapkan electoral threshold sebesar 2% dari suara sah nasional. PAN. 70. Karena dari golongan-golongan yang ada. hlm. dalam era reformasi ini perundang-undangan menerapkan Electoral Threshold pada Pemilu 1999 dan 2004. PPP. PKB. Dengan demikian. Karena itu. dan DPRD.35 33 34 35 Ibid.

Sehingga dengan Parliamentary Threshold akan terjaring sejumlah partai yang betul-betul legitimate. dan PKS. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik akan berjalan efektif karena sebelum parpol itu melakukan fungsi rekrutmen (penentuan calon legislatif). atau menimbulkan anomali. Jadi. telah mengundang sejumlah pakar dan ahli untuk memberikan pemikiran-pemikiran yang menyatakan bahwa Electoral Threshold itu tidak dikenal di negara manapun. Ryaas rasyid saat pembahasan UU tersebut. lalu dibagi dengan jumlah suara secara nasional. Hal ini yang mengurangi keefektifan parlemen dalam bekerja karena lambat. Sehingga secara teoritis. Inilah teori untuk menghasilkan parlemen yang efektif. PAN.36 Tetapi faktanya di parlemen ada 17 partai. maka di parlemen hanya akan ada 7 partai. Partai Demokrat. Artinya penerapan Electoral Threshold ternyata tidak membuat partai mengerucut dan mendukung tata kelola parlemen yang efektif . Semangat dari peningkatan threshold yang semakin besar yaitu untuk membangun sistem multipartai sederhana dengan pendekatan yang lebih moderat. yaitu Golkar. 36 Ibid. Jika suara partai politik itu mencapai angka 2. sesungguhnya yang ada dalam sistem pemilu adalah Parliamentary Threshold yang artinya adalah syarat ambang batas perolehan suara parpol untuk bisa masuk ke parlemen. Sehingga sebelum pemilu diselenggarakan. dengan sendirinya partai politik akan mengukur diri sampai sejauh mana dukungan rakyat kepadanya. PDI P. 1 .5% dari jumlah suara nasional. Hal ini dilakukan untuk lebih memperketat partaipartai yang mengikuti Pemilu berikutnya. 5 No. Itulah latar belakang dari Panitia Khusus UU No. tanpa mempermasalahkan berapa jumlah kursi hasil konversi suara yang dimiliki partai politik tersebut. Sutradara Gintings dan Prof. PPP. maka dia berhak menempatkan wakilnya di parlemen. setelah hasil jumlah suara masing-masing partai politik diketahui seluruhnya. hlm. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. Hal ini juga akan membuat fungsi-fungsi parpol yang dirumuskan dalam UU No.Vol. 71. saya kutip dari saudara Dr. Jika kita lakukan simulasi dengan data Pemilu 2004. 10 .Maret 2008 Pemilu 2004 menerapkan angka electoral threshold menjadi 3% dari perolehan suara sah nasional. Dengan threshold 3%. dan DPRD. DPD. Dr. partai yang bisa mengikuti Pemilu 2009 hanya tujuh partai. PKB.

10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. adalah untuk memastikan gambaran riil partai politik pendukung di parlemen terhadap pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih. Dan rakyat pun akan kembali menghargai dan menghormati partai politik karena sesungguhnya demokrasi tidak akan mungkin tanpa adanya partai politik. 11 . dan DPRD.Sistem Multipartai di Indonesia partai politik pasti akan lebih dulu menjalankan fungsi sosialisasi. sehingga parpol menjadi sarana dan wahana dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi keniscayaan. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dengan UU No. Disinilah adanya korelasi dan hubungan yang sangat signifikan antara UU No. Karena hanya partai politik dan gabungan partai politik yang berhasil masuk parlemen-lah yang berhak mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. dan hak partai politik untuk ikut pemilu. DPD. tetapi lebih pada produk dari pemilihan umum yang belum secara signifikan memposisikan dan menempatkan sistem multipartai pada proporsi yang sebenarnya. Sehingga keluhan yang menyatakan “presiden terbelenggu” menjadi tidak relevan. Agar partai politik dibentuk tidak hanya sekadar untuk ikut pemilu tapi partai politik dibuat agar fungsi-fungsi partai politik dapat berjalan sebagaimana mestinya. karena persoalannya bukanlah di UUD 1945. Hal ini akan mengakibatkan tidak terjadinya hubungan yang signifikan antara parlemen dengan presiden dan wakil presiden sehingga tidak terwujud tata kelola sistem pemerintahan yang stabil. fungsi edukasi. Hal ini menjadi tidak mungkin terwujud jika pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada saat yang bersamaan karena isu keduanya berbeda sehingga perilaku pemilih juga tidak bisa dipastikan. pemilihan umum merupakan rangkaian tak terpisahkan antara pemilihan legislatif dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. fungsi agregasi dan fungsi kaderisasi. Kesimpulan Tujuan utama pemilihan umum adalah untuk menghasilkan parlemen yang legitimate dan pemerintahan yang kuat. Selain itu mereka juga akan berkarya dan mengabdi kepada masyarakat. Adalah hak rakyat untuk membuat partai politik. Tetapi untuk masuk ke parlemen ada mekanisme yang harus ditempuh yaitu Parliamentary Threshold. Artinya. dalam sistem multipartai di Indonesia. adanya sequence (jeda waktu) antara keduanya.

Maret 2008 Inilah sistem multipartai yang kita bangun untuk diarahkan menuju terbentuknya sebuah rezim pemerintahan presidensil yang efektif. 5 No. 12 . Karena dalam sistem presidensil itu tidak dikenal jumlah partai yang banyak. Selain itu. 1 .Vol. sebuah keharusan bagi partai politik dan gabungan parpol di parlemen yang mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk masing-masing menyamakan visi dan misinya agar selanjutnya dijadikan dokumen negara yang harus dipertanggungjawabkan dan diumumkan kepada publik.

Meskipun demikian. stabilitas dan efektivitas pemerintahan dinilai lemah. Pendahuluan Perdebatan paling seru menjelang di selenggarakannya hajatan nasional.SISTEM MULTIPARTAI. tidak mendukung terciptanya sebuah pemerintahan yang efektif dan stabil. tidak dapat dinafikan bahwa faktor personal pejabat presiden juga mempengaruhi efektivitas dan stabilitas pemerintahan yang dipimpinnya. Pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono tidak sedikit kebijakan-kebijakan atau program-program pemerintah mendapatkan 1 Penulis adalah Peneliti Senior CETRO. SIP. adalah bagaimana melanjutkan reformasi di bidang politik. Artikel ini kemudian menyimpulkan bahwa untuk menciptakan sebuah pemerintah yang efektif dan stabil maka diperlukan sebuah perubahan di dalam sistem politik di Indonesia. sistem presidensial dan multipartai. khususnya sistem pemilu dan pemerintahan. bahkan pemerintah terpilih dapat diberhentikan ditengah masa kerjanya. PRESIDENSIAL DAN PERSOALAN EFEKTIVITAS PEMERINTAH Oleh: Partono. Contoh yang paling mudah diingat adalah ketika Presiden Abdurrahman Wahid diturunkan dari jabatannya oleh MPR. yang ditujukan untuk memperkuat stabilitas dan meningkatkan efektifitas dalam mengimplementasikan kebijakankebijakan pemerintah. Sistem presidensial dapat mewujudkan pemerintah yang efektif dan stabil jika dikombinasikan dengan sistem kepartaian yang sederhana. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili pendapat lembaga. Kebijakankebijakan pemerintah tidak efektif di implementasikan. pemilu 2009. 13 . Tidak sedikit ahli politik berpendapat bahwa pasca turunnya Presiden Suharto. MA1 Abstrak Artikel ini berpendapat bahwa salah satu faktor utama permasalahan efektivitas dan stabilitas pemerintah saat ini disebabkan oleh kombinasi sistem pemerintahan dan sistem kepartaian.

Vol. Di dalam tulisan ini penulis bermaksud mengidentifikasi hubungan antara sistem multipartai dan sistem presidensial kaitannya dengan permasalahan efektivitas dan stabilitas pemerintah. rencana meningkatkan BBM. disisi lain kekuasaan parlemen ditambah dan dipertegas. Berbaliknya pendulum politik di Indonesia pasca turunnya Presiden Suharto tidak lepas dari hasil amandemen UUD 1945.Maret 2008 perlawanan bahkan penolakan dari DPR. Kata kunci tersebut adalah jumlah partai politik yang tumbuh atau 14 . Andrew Heywood (2002) berpendapat bahwa sistem partai politik adalah sebuah jaringan dari hubungan dan interakasi antara partai politik di dalam sebuah sistem politik yang berjalan. Amandemen ini sebenarnya dilakukan untuk menjamin terjadinya proses checks and balances antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif. Akibat dari ketidakharmonisan hubungan antara kedua lembaga ini menyebabkan implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah tidak berjalan dengan efektif. tulisan ini memberikan beberapa alternatif jawaban yang dapat diimplementasikan di Indonesia dan memberikan rekomendasi pilihan jawaban yang paling cocok dalam konteks Indonesia. Definisi Sistem Kepartaian Sistem multi partai adalah salah satu varian dari beberapa sistem kepartaian yang berkembang di dunia modern saat ini. 5 No. sistem presidensial dan sistem multipartai. Kedua adalah personal dan kapasitas yang menjadi presiden. tidak mendukung terciptanya pemerintahan yang stabil dan efektif. Penulis berpendapat bahwa masalah dari ketidakefektifan implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah karena terdapat hubungan yang tidak harmonis antara lembaga eksekutif dengan parlemen. Untuk mempermudah memahami sistem partai politik Heywood kemudian memberikan kata kunci untuk membedakan tipe-tipe sistem kepartaian. Posisi presiden yang terlalu dominan di dalam sistem politik Indonesia dianggap sebagai salah satu faktor yang mendorong munculnya pemerintahan yang otoriter. Oleh karena itu dalam proses amandemen UUD 1945 kekuasaan presiden dikurangi. dan sebagainya. Selain itu. Akar permasalahan ini paling tidak ada 2 (dua) faktor. misalnya pengangkatan Gubernur BI. akibat dari amandemen adalah hubungan antara kedua lembaga ini menjadi disharmoni. Pertama adalah sistem politik yang diimplementasikan oleh Indonesia. 1 . Namun dalam kenyataanya.

Parameter “jumlah partai politik” untuk menentukan tipe sisem partai politik pertama kali dikenalkan dan dipopulerkan oleh Duverger pada tahun 1954 dimana Duverger membedakan tipe sitem politik menjadi 3 sistem. regional. Dimensi veritikal yang mempengaruhi sistem partai politik dicontohkan dengan adanya polarisasi dan segmentasi di dalam masyarakat pemilih (bahasa. Dimensi fungsional disebabkan oleh karena pembedaan arena kompetisi (nasional. Meskipun demikian konstitusi mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia menerapkan sistem multipartai. Namun jika terdapat dua partai politik maka sistem partainya adalah sitem dua partai. dan secara lebih specifik apakah kekuatan mereka memberikan prospek untuk memenangkan atau berbagi (sharing) kekuasaan pemerintah. agama dan lain-lain). Sebaliknya.Sistem Multipartai. Sartori (1976) menyatakan bahwa yang paling terpenting dari sebuah sistem kepartaian adalah sebuah pengaturan mengenai hubungan partai politik yang berkaitan dengan pembentukan pemerintahan. etinisitas. yaitu vertikal. Praktek Sistem Kepartaian di Indonesia Konsititusi kita (UUD 1945) tidak mengamanatkan secara jelas sistem kepartaian apa yang harus diimplementasikan. jika di dalam negara tersebut tumbuh lebih dari dua partai politik maka dikatakan sebagai sistem multipartai. sistem dua partai. Dari definisi yang diperkenalkan oleh Duverger tersebut kita dengan mudah menentukan sistem partai politik di sebuah negara. horisontal dan fungsional. dan sistem multipartai. Pasal 15 . pada perkembangan selanjutnya pendekatan yang hanya berdasarkan jumlah dan interaksi antar partai politik tersebut mendapat kritikan dan ketidaksetujuan dari beberapa ahli misalnya Bardi and Mair (2008) dan Blau (2008). dan lokal). Meski demikian. Selanjutnya Bardi dan Mair menjelaskan bahwa tipe partai politik dipengaruhi oleh 3 (tiga) dimensi. Bardi dan Mair berpendapat bahwa sistem kepartaian tidak bisa ditentukan semata-mata oleh jumlah partai yang ikut dalam pemilu akan tetapi sebagai fenomena yang multi dimensi. Kalau di negara tersebut hanya terdapat satu partai politik yang tumbuh atau satu partai politik yang dominan dalam kekuasaan maka dapat dipastikan bahwa sistem tersebut adalah sistem partai tunggal. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah eksis yang mengikuti kompetisi mendapatkan kekuasaan melalui pemilu. Sedangkan dimensi horisontal ditentukan oleh pembedaan level pemerintahan dan level pemilu. yaitu sistem partai tunggal.

04%). PPP. Pada pemilu tersebut diikuti oleh 29 partai politik dan juga peserta independen (perseorangan). tahun 1971. dan IPKI (1. Hasil dari restrukturisasi partai politik tersebut adalah munculnya tiga partai politik (Golkar. PKI (16.Vol.1960an. PSII dan Perti). Indonesia telah menjalankan sistem multi partai sejak Indonesia mencapai kemerdekaan. Pada tahun 1974 Presiden Suharto melakukan restrukturisasi partai politik.43%)2. 1 . Oleh karena itu agenda yang penting untuk menciptakan pemerintahan yang stabil adalah melakukan penyederhanaan partai politik.org/wiki/ Pemilu_1955. Dari pasal tersebut tersirat bahwa Indonesia menganut sistem multipartai karena yang berhak mencalonkan pasangan calon presiden dan wakil presiden adalah partai politik atau gabungan partai politik. PPP merupakan hasil fusi dari beberapa partai politik yang berasaskan Islam (NU. dan PDI).99%). Pada pemilu pertama di masa Orde Baru. Kenyataanya. terdapat 10 partai politik.41%). Surat Keputusan Wakil Presiden M.92%). X/1949 merupakan tonggak dilaksanakannya sistem multipartai di Indonesia.32%).66%). Sejak Suharto menjadi presiden pada tahun 1967 partai politik dianggap sebagai penyebab dari ketidakstabilan politik yang terjadi pada tahun 1950an . Keputusan Wapres ini juga ditujukan untuk mempersiapkan penyelenggaraan pemilu yang pertama pada tahun 1955. termasuk partai pemerintah (Golkar) ikut berkompetisi memperebutkan kekuasaan. 16 . PSII (2. PSI (1. Parmusi.36%). Hatta No. yaitu melakukan penyederhanaan partai melalui penggabungan partaipartai politik.Maret 2008 tersebut adalah pasal 6A (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Pasangan Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Masyumi (20. PDI merupakan hasil penggabungan dari partai-partai nasionalis dan agama 2 Wikipedia yang diakses pada tanggal 12 Mei 2008. 5 No. NU (18. dapat diakses di http://id. Parkindo (2.89%).wikipedia. Kata “gabungan partai poltitik” artinya paling sedikit dua partai politik yang menggabungkan diri untuk mencalonkan presiden untuk bersaing dengan calon lainnya yang diusung oleh partai politik lain. Partai Katolik (2. Beberapa partai politik yang mendapatkan suara signifikan pada pemilu pertama antara lain PNI (22. Dengan demikian dari pasal tersebut di dalam pemilu presiden dan wakil presiden paling sedikit terdapat tiga partai politik.

Dari ratusan parpol tersebut hanya 48 partai yang berhak mengikuti pemilu 1999. Indonesia dikategorikan sebagai negara yang menganut sistem multipartai. Hasilnya tidak kurang dari 200 partai politik tumbuh di dalam masyarakat. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah non-Islam (PNI. Ambang batas tersebut di Indonesia dikenal dengan Electoral Threshold. Berkurangnya jumlah parpol yang ikut serta di dalam pemilu 2004 karena pada pemilu tersebut telah diberlakukan ambang batas (threshold). Partai politik yang tidak mencapai ambang batas tersebut dapat mengikuti pemilu berikutnya harus bergabung dengan partai lain atau membentuk partai politik baru. banyak pengamat politik berpendapat bahwa sistem kepartaian yang dianut pada era Orde Baru adalah sistem partai tunggal. Parkindo. Meskipun dari sisi jumlah partai politik yang berkembang di Indonesia pada saat itu. PKB. Golkar mendapatkan “privelege” dari pemerintah untuk selalu memenangkan persaingan perebutan kekuasaan. Liberalisasi politik dilakukan karena partai politik warisan Orde Baru dinilai tidak merepresentasikan masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Kalau pemilu 1999 hanya menghasilkan lima parpol yang mendapatkan suara signifikan dan mencapai Electoral Threshold (ET). Benar. Meskipun persentasi 17 .Sistem Multipartai. Hal ini dikarenakan kondisi kompetisi antar partai politik yang ada pada saat itu. yaitu 24 partai politik. Di dalam UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu diatur bahwa partai politik yang berhak untuk mengikuti pemilu berikutnya adalah partai politik yang mendapatkan sekurang-kurangnya 2% jumlah kursi DPR. termasuk di bidang politik. dan PAN.Perjuangan. Pemilu 1999 menghasilkan beberapa partai politik yang mendapatkan suara yang signifikan dari rakyat Indonesia adalah PDI. Sedangkan Golkar adalah partai politik bentukan pemerintah Orde Baru. Partai Golkar. IPKI. Namun jika dianalisis lebih mendalam ternyata kompetisi diantara ketiga partai politik di dalam pemilu tidak seimbang. Ada juga yang menyebut sistem kepartaian era Orde Baru adalah sistem partai dominan. Salah satu reformasi dibidang politik adalah memberikan ruang bagi masyarakat untuk mendirikan partai politik yang dianggap mampu merepresentasikan politik mereka. Katolik). jika jumlah partai politik yang ada adalah lebih dari dua parpol sehingga dapat dikategorikan sebagai sistem multipartai. PPP. Gerakan reformasi 1998 membuahkan hasil liberalisasi disemua sektor kehidupan berbangasa dan bernegara. Peserta pemilu tahun 2004 berkurang setengah dari jumlah partai politik pemilu 1999.

Selain ciri-ciri utama yang telah disebutkan oleh dua ilmuwan politik tersebut masih ada ciri lain yang tidak kalah penting. Namun demikian hak impeachment parlemen ini disertai dengan persyaratan yang sangat berat. presiden tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan parlemen.Maret 2008 ET dinaikan dari 2% menjadi 3% jumlah kursi DPR. sebaliknya parlemen tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan/ memberhentikan presiden. Perjuangan. Di beberapa negara yang menganut sistem presidensial parlemen memiliki hak impeachment. 18 . 5 No. 1990). 1 . Heywood memberikan beberapa ciri lain dari sebuah sistem presidensial. di dalam sistem pemerintahan presidensial. Ketujuh partai tersebut adalah Partai Golkar. Selain kedua ciri utama yang dikemukakan oleh Mainwaring tersebut. Indonesia adalah salah satu negara yang menganut sistem pemerintahan presidensial. dan di dalam sistem presidensial terdapat pemisahan personel yang ada di parlemen dan di pemerintah. yaitu hubungan antara lembaga keprisidenan dan lembaga parlemen. PPP. Pemilu 2004 menghasilkan lebih banyak partai politik yang mendapatkan suara signifikan dan lolos ET untuk pemilu 2009. Berbeda dengan sistem kepartaian yang tidak diatur secara tegas oleh konstitusi. PDI. Sistem Presidensialisme di Indonesia Sistem presidensial paling tidak memiliki 2 (dua) ciri utama (Mainwarring. kekuasaan eksekutif berada di tangan presiden sedangkan kabinet yang terdiri dari menteri-menteri adalah pembantu dan bertanggungjawab kepada presiden.Vol. Dengan demikian hasil pemilu legislatif tidak menentukan kekuasaan pemerintah (eksekutif) secara langsung. Pemilu 2004 menghasilkan tujuh partai yang mencapai ambang batas tersebut. UUD 1945 secara tegas dan rinci mengatur sistem pemerintahan yang mengacu pada sistem presidensial. Pengaturan tersebut terdapat di dalam Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara dan Bab IV tentang Kementerian Negara. Ciri yang kedua adalah kepala pemerintah dipilih untuk memerintah dengan periode waktu yang tetap (misalnya 5 tahun). PKB. Partai Demokrat. Ciri-ciri tersebut antara lain kepala negara dan kepala pemerintahan dijabat oleh seorang presiden. dan PAN. PKS. Ciri pertama adalah kepala pemerintahan (presiden) dipilih secara terpisah dengan pemilihan anggota parlemen.

Pertama kalinya anggota MPR memilih presiden dan wakil presiden melalui pemungutan suara. Presidensialisme – Multi Partai dan Efektivitas Pemerintah Banyak pernyataan yang disampaikan oleh akademisi. Ketidakmampuan pemerintah mengimplementasikan kebijakan-kebijakan publik disebabkan karena pemilu presiden secara langsung tidak menghasilkan pemerintahan yang efektif. Pemilu presiden dan wakil presiden 2004 menghasilkan pemerintahan yang memiliki legitimasi yang kuat. Pada rejim Orde Baru pemilihan presiden seolah-olah tidak memberikan kesan yang berarti bagi republik karena setiap sidang umum untuk memilih presiden dapat dipastikan anggota MPR secara aklamasi memilih kembali Presiden Suharto. Pemilihan presiden dan wakil presiden yang terjadi di Gedung DPR/MPR pada tahun 1999 kembali menjadi sorotan publik masyarakat Indonesia dan internasional. Pemilu presiden secara langsung ini ditujukan untuk mendapatkan pemimpin pemerintahan dan negara yang memiliki legitimasi yang kuat karena dipilih dan didukung secara langsung oleh mayoritas rakyat Indonesia. Banyak ahli yang berpendapat bahwa tidak efektifnya pemerintahan SBY disebabkan karena hubungan antara lembaga kepresidenan dan lembaga parlemen tidak baik. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dipilih melalui pemilu yang terpisah dengan pemilu legislatif. anggota parlemen. kuat dan stabil. pada tahun 2004 rakyat Indonesia pertama kali memilih kepala negara secara langsung.Sistem Multipartai. Akhirnya pada tahun 2001 terjadi amandemen ketiga terhadap UUD 1945. Namun persoalan lain yang muncul adalah pemerintah terpilih tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa. Tidak sedikit program-program pemerintah yang harus 19 . Akhirnya. Sebelum dilakukan amandemen UUD 1945 presiden dan wakil presiden dipilih melalui pemilihan oleh anggota MPR. salah satu materi yang diamandemen adalah presiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. dan pengamat politik bahwa pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yodoyono dinilai kurang atau tidak efektif dalam mengimplementasikan program-program yang dihasilkan di tengah-tengah masyarakat. Sistem pemilihan presiden dan wakil presiden yang dilakukan oleh anggota MPR sampai tahun 1999 dinilai kurang demokratis dan tuntutan untuk pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung pada saat itu semakin kuat.

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

mendapatkan persetujuan dari parlemen mendapatkan resistensi dari DPR, bahkan ditolak oleh DPR. Dengan demikian program atau rencana kerja pemerintah tidak dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Problem efektivitas pemerintah yang dialami oleh Indonesia saat ini juga banyak dialami negara-negara lain yang menganut sistem pemerintahan presidensial. Mainwaring (2008) berpendapat bahwa hanya empat negara penganut sistem presidensial yang berhasil dalam menciptakan pemerintah yang efektif dan stabil. Keempat negara tersebut adalah Amerika Serikat, Costa Rica, Columbia, dan Venezuela. Sebaliknya, mayoritas negara-negara yang menganut sistem parlementer dinilai sukses dalam hal menjaga stabilitas dan efektifitas pemerintahan. Beberapa negara tersebut antara lain; Australia, Austria, Belgia, Kanada, Denmark, Jerman, Irlandia, Belanda, Inggris, Selandia Baru, Italia, dan sebagainya. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kombinasi antara sistem presidensial dan sistem multi partai yang dipraktekkan di Indonesia tidak mendorong terjadinya pemerintahan yang efektif dan stabil? Penulis tidak ingin menyatakan bahwa sistem pemerintahan memiliki korelasi langsung terhadap efektivitas pemerintahan, karena terdapat bukti kalau kedua sistem pemerintahan mampu menciptakan pemerintahan yang efektif. Meskipun tidak ada hubungan yang langsung antara sistem pemerintahan dengan efektifitas pemerintah, akan tetapi ada beberapa hal di dalam sistem presidensialime yang mempengaruhi efektivitas pemerintah. Dari segi menjaga stabilitas politik dan pemerintahan, Indonesia memiliki pengalaman yang berharga dan mampu menjawab bahwa sistem presidensial ternyata mampu menghasilkan stabilitas politik dan pemerintahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan sistem parlemen. Pelaksanaan demokrasi parlemen pada tahun 1950an ternyata dinilai gagal di dalam menciptakan stabilitas pemerintah dan politik yang akhirnya dinilai gagal menyejahterakan rakyat Indonesia. Salah satu alasan Amerika dengan sistem presidensial mampu menghasilkan pemerintah yang efektif karena ditopang oleh sistem dwi-partai. Sedangkan Indonesia mempraktekan sistem presidensial dan sistem multi partai. Ada beberapa alasan mengapa sistem presidensial dan sistem multi partai kurang berhasil di dalam menciptakan pemerintahan yang efektif dan stabil dibandingkan dengan sistem parlementer yang dikombinasikan dengan sistem dua partai. Menurut Mainawrring (2008) terdapat beberapa alasan/kelemahan
20

Sistem Multpartai, Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah

sistem presidensial yang dikombinasikan dengan sistem multipartai. Pertama, karena pemilihan presiden dan parlemen diselenggarakan secara terpisah maka kemungkinan presiden yang terpilih adalah presiden yang tidak mendapatkan dukungan mayoritas di parlemen. Hal ini terjadi di Indonesia, Presiden SBY berasal dari partai politik yang memiliki suara dan kursi yang kecil, Partai Demokrat mendapatkan suara 7,45%. Padahal di dalam sistem presidensial dukungan parlemen kepada presiden sangat berpengaruh di dalam proses pembuatan undang-undang dan pelaksanaan kebijakan dan program – program pemerintah. Semakin besar dukungan parlemen kepada presiden maka implementasi kebijakan publik oleh pemerintah akan semakin efektif. Sebaliknya semakin kecil dukungan parlemen maka efektifitas pemerintah di dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan akan semakin berkurang. Kedua, personal presiden – termasuk kepribadian dan kapasitas– merupakan salah satu faktor yang penting. Di dalam sebuah situasi yang sulit seperti keadaan krisis ekonomi saat ini presiden dihadapkan pada pekerjaan yang sangat banyak dan rumit. Oleh karena itu presiden juga dituntut memiliki kapasitas yang baik untuk menangani berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. Selain dituntut untuk memiliki kapasitas dalam menangani permasalahan bangsa, karena presiden membutuhkan support/dukungan dari parlemen maka presiden juga dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dan lobby yang baik dengan parlemen. salah satu faktor kurang efektifnya pemerintahan SBY saat ini oleh beberapa kalangan dinilai disebabkan kelemahan SBY di dalam mengelola dukungan dari koalisi partai politik yang mendukung pemerintah dan lemahnya/ketidakmampuan presiden melakukan komunikasi dan lobby politik dengan parlemen. Ketiga, di dalam sebuah sistem presidensial dan multipartai membangun koalisi partai politik untuk memenangkan pemilu adalah hal yang sangat wajar dan umum terjadi. Koalisi partai politik terjadi karena untuk mendapatkan dukungan mayoritas dari parlemen merupakan sesuatu yang sangat sulit. Namun masalahnya adalah koalisi yang dibangun di dalam sistem presidensial – khususnya di Indonesia – tidak bersifat mengikat dan permanen. Partai politik yang tergabung di dalam sebuah koalisi mendukung pemerintah bisa saja menarik dukungannya. Contohnya adalah PAN sebagai partai pendukung SBY tibatiba menarik dukungannya ditengah perjalanan. Tidak adanya jaminan bahwa koalisi terikat untuk mendukung pemerintah sampai dengan berakhirnya masa
21

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

kerja presiden. Partai-partai politik yang tergabung di dalam koalisi cenderung mengambil keuntungan dari pemerintah. Jika kebijakan atau program yang diambil oleh pemerintah tidak populer partai politik cenderung melakukan oposisi. Selanjutnya koalisi partai politik yang dibangun untuk mendukung calon presiden tidak mencerminkan dan menjamin dukungan semua anggota parlemen dari masing-masing partai politik yang ada di dalam koalisi kepada presiden. Partai politik tidak mampu melakukan kontrol terhadap para anggotaanggotanya di parlemen untuk selalu mendukung pemerintah. Hal yang menarik adalah tidak sedikit anggota DPR dari partai Golkar, PPP, PKB, yang memiliki wakilnya di kabinet melakukan perlawanan terhadap program-program yang akan dilakukan oleh pemerintah yang notabene harus di dukungnya. Di dalam sistem parlementer koalisi partai politik lebih bersifat permanen dan disiplin. Koalisi partai politik dibangun atas dasar parlemen. Anggota parlemen dari koalisi partai politik pendukung pemerintah yang tidak mendukung kebijakan pemerintah akan dikeluarkan dari parlemen. Selain ancaman dikeluarkan dari keanggotan parlemen oleh partai politiknya, jika anggota tidak mendukung program-program pemerintah agar berhasil perolehan kursi partai mereka akan terancam pada pemilu berikutnya. Sehingga suksesnya pemerintah terbentuk juga mempengaruhi citra partai politik pendukungnya. Jika koalisi parpol dalam sistem parlementer dibangun setelah pemilu, koalisi parpol dalam sistem presidensial dibangun sebelum pemilu presiden dilaksanakan. Akibatnya beberapa partai politik mendukung di dalam pencalonan akan tetapi tidak mendukung ketika calon tersebut terpilih. Hal ini disebabkan, misalnya, tidak terwakilinya partai tersebut di kabinet. Kalaupun terdapat perwakilan partai di kabinet, partai politik tersebut tidak bertanggungjawab atas kebijakan-kebijakan pemerintah. Keempat adalah lemahya penegakan fatsoen politik politisi yang ada di eksekutif maupun parlemen. Tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat beberapa politisi di parlemen yang tidak mengindahkan etika dalam berpolitik. Beberapa anggota DPR terkesan ingin mencari popularitas di hadapan publik dengan melakukan berbagai kritikan-kritikan terhadap semua kebijakan pemerintah, tidak peduli apakah program dan kebijakan tersebut baik atau tidak bagi masyarakat. Perilaku inilah yang menyebabkan pengambilan keputusan di parlemen sulit untuk dicapai secara efektif. Sebaliknya beberapa menteri di
22

Tawaran solusi ini sepertinya juga sulit untuk direalisasikan karena akan melawan arus demokrasi. Tidak bisa dipungkiri kabinet hasil koalisi ini sering terjadi conflict of interest karena pejabat partai politik yang ditunjuk sebagai menteri tidak mengundurkan diri dari jabatan di partai politik. 1. Pilihan ini adalah tidak realistik untuk dipilih. Beberapa alternatif tersebut adalah sebagai berikut. kalau tidak dibilang mustahil. Pilihan Solusi Masalah Kalau kita sepakat bahwa tujuan utama penataan sistem politik Indonesia ditujukan untuk menciptakan pemerintahan yang efektif dan stabil maka ada beberapa alternatif jawaban yang patut dipertimbangkan oleh para pembuat kebijakan. Banyaknya partai politik yang ikut dalam pemilu menyebabkan koalisi yang dibangun untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden terlalu “gemuk” karena melibatkan 23 . Tidak mudah untuk melakukan amandemen terhadap UUD. Selain pengalaman traumatis yang pernah dialami Indonesia pada masa demokrasi parlementer. 3. Mengubah Sistem Presidensial menjadi Sistem Parlemen Sepertinya pilihan pertama ini sangat sulit. UUD 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia adalah presidensial. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah kabinet lebih menunjukkan loyalitas kepada ketua partainya dibandingkan dengan kepada presiden. Masyarakat Indonesia yang sifatnya plural tidak akan bisa direpresentasikan oleh dua partai politik saja. 2. Atau bahkan para pembantu presiden tersebut lebih disibukkan dengan kegiatan konsulidasi internal partai politik dibandingkan dengan membantu presiden mengimplementasikan program-program pemerintah. Mengubah Sistem Kepartaian Contoh negara yang mengimplementasikan sistem presidensial yang sukses adalah Amerika dimana sistem presidensial di dukung oleh sistem dwi – partai. akan memerlukan perdebatan yang panjang dan pasti akan mendapatkan resistensi yang sangat besar. Mengurangi Jumlah Partai Politik Jumlah partai politik yang terlalu banyak juga merupakan salah satu faktor penyumbang tidak efektifnya sistem pemerintah di Indonesia. untuk dilakukan. Kalau bangsa Indonesia ingin berkiblat kepada Amerika di dalam menata sistem politiknya maka sistem multipartai haruslah diubah menjadi sistem dwi – partai.Sistem Multipartai.

Usulan solusi ini lebih moderat jika dibandingkan dengan pilihan 1 dan 2 karena masih mempertahankan sistem presidensial dan sistem multi partai. Presiden terpilih idealnya berasal dari koalisi yang sekurang-kurangnya mendapatkan dukungan parlemen 50% dari jumlah kursi DPR dan jumlah partai yang ikut berkoalisi tidak banyak. maka koalisi parpol yang dibangun juga tidak akan menjadi “gemuk”.Vol. Berapa jumlah partai politik yang efektif dan ideal bagi bangsa Indonesia yang perlu didiskusikan lebih lanjut. 1 . Hanya saja jumlah partai di Indonesia yang terlalu banyak ini perlu disederhanakan. 4. Dengan concurrent elections presiden terpilih akan mendapatkan legitimasi yang kuat dari rakyat dan mendapatkan dukungan yang kuat dari parlemen. mengurangi jumlah partai dan dibarengi dengan koalisi partai yang disiplin dan mengikat. Penyederhanaan partai politik sebenarnya sudah dilakukan sejak pemilu 1999 dengan mengimplementasikan ambang batas bagi partai politik untuk ikut serta dalam pemilu berikutnya (Electoral Threshold) dan ambang batas bagi partai politik untuk mengirimkan wakilnya di parlemen (Parliamentary Threshold) – akan diberlakukan pada pemilu 2009. concurrent elections. Beberapa pengamat mengatakan bahwa masyarakat Indonesia cukup diwakili oleh 5 partai politik 24 . adalah solusi yang paling memungkinkan dalam konteks Indonesia. Di dalam masyarakat/negara yang menganggap pemilihan presiden lebih penting dibandingkan pemilihan legislatif. cukup dua atau tiga partai saja.Maret 2008 banyak parpol. Dengan demikan mayoritas anggota parlemen berasal dari partai tersebut. pemilih akan cenderung memilih partai poltitik yang mencalonkan presiden yang didukungnya. Gemuknya koalisi ini mengakibatkan pemerintahan hasil koalisi tidak dapat berjalan efektif karena harus mempertimbangkan banyak kepentingan. Jika saja partai politik yang ikut serta pemilu tidak banyak. Akibatnya partai politik yang mendukung calon presiden terpilih akan memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilu legislatif. Menyelenggarakan Pemilu Presiden dan Legislatif secara Bersama-sama (Concurrent Elections) Beberapa pengamat politik berpendapat penyelenggaraan pemilu legislatif dan presiden secara bersama-sama. 5 No. Solusi yang ditawarkan Alternatif solusi ketiga. akan menciptakan pemerintahan yang efektif.

Pertama adalah melakukan restrukturisasi seperti yang dilakukan Presiden Suharto pada tahun 1974. Ketiga adalah dengan memperkecil alokasi kursi di masing-masing daerah pemilihan (district magnitude). memberlakukan ambang batas (threshold). sedangkan PT diberlakukan pada pemilu 2009. Yang efektif adalah meningkatkan angka persentasi PT.Sistem Multipartai. 25 . Hanya partai-partai besar saja yang berpeluang mendapatkan kursi. Di Jerman ambang batasnya adalah 5%. Partai politik yang tidak mendapatkan suara signifikan secara alami didorong untuk melakukan koalisi dengan partai lain atau akan mati karena tidak mendapatkan suara dan kursi di parlemen. Partai politik yang tidak mampu mencapai ambang batas yang telah ditetapkan tidak diperbolehkan untuk mengirimkan wakilnya di parlemen.tersebut tentu akan lebih efektif kalau keduanya dilaksanakan secara berbarengan. Beberapa mekanisme telah dipraktekan oleh bangsa kita. Kedua.7 partai. Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah saja. Dengan ambang batas 10% Turki hanya memiliki 3 atau 4 partai politik yang memiliki wakilnya di parlemen. ET ternyata tidak efektif untuk menyederhanakan partai politik karena para pemimpin partai yang tidak lolos ET bisa mendirikan partai baru untuk ikut pemilu berikutnya. PT lebih efektif mengurangi jumlah partai politik peserta pemilu karena jelas “punishment” nya. Sedangkan berdasarkan survey yang pernah diselenggarakan oleh salah satu lembaga survey jumlah partai politik yang dikehendaki oleh publik adalah 5 . Sehingga meskipun dengan menaikkan angka persentasi ET tetap saja tidak akan mengurangi jumlah partai politik peserta pemilu. Dua mekanisme penyederhanaan partai politik yang terakhir – menaikan ambang batas dan memperkecil district magnitude . di beberapa negara memiliki angka persentase yang berbedabeda. Dua metode terakhir akan lebih diterima dibandingkan dengan metode yang pertama. ET diberlakukan pada pemilu 2004 dan 2009. sedangkan di Turki sebesar 10%. Semakin kecil alokasi kursi di setiap DP maka peluang partai untuk mendapatkan kursi semakin kecil. Sedangkan partai kecil dan menengah akan kehilangan peluang untuk memenangkan persaingan. Lantas mekanisme seperti apa yang diperlukan untuk mengurangi jumlah partai politik yang ada? Ada beberapa mekanisme yang bisa diberlakukan untuk melakukan penyederhanaan partai. Dengan demikian pengecilan alokasi kursi tersebut merupakan alat untuk menyeleksi partai politik yang benar-benar mendapat dukungan dari publik.

disiplin dan mengikat. Pejabat partai politik yang dipilih di kabinet seharusnya mengundurkan diri dari jabatan di masing-masing partai untuk mengurangi conflict of interest. partai politik memberikan sanksi tegas kepada anggotanya di parlemen yang tidak mendukung program dan kebijakan pemerintah. partai-partai politik di dalam koalisi harus berkomitmen kuat untuk terus mendukung sampai dengan pemilu presiden berikutnya. Persoalan efektivitas pemerintahan di Indonesia saat ini lebih disebabkan oleh karena disharmoni hubungan antara lembaga kepresidenan dengan parlemen. fatsoen politik harus ditegakkan. 1 . Jika perlu. Kesimpulan Faktor personalitas presiden dan wakil presiden berpengaruh dalam menciptakan efektivitas dan stabilitas pemerintahan. Bagaimana mekanisme untuk mendorong agar supaya partai politik membangun koalisi yang disiplin dan mengikat? Tentu yang pertama adalah memperbaiki disiplin internal partai politik masing-masing. Sistem presidensial dan sistem multipartai dengan jumlah partai yang terlalu banyak ternyata merupakan faktor lain yang krusial. Ketiga. Para politisi yang ada di DPR dan kabinet harus sejalan dan seiring dengan program dan kebijakan presiden. lobby. Observasi dan kajian yang dilakukan oleh Mainwaring (2008) menunujukkan bahwa sistem presidensial yang dikombinasikan dengan sistem multi partai yang dilaksanakan di beberapa negara gagal untuk menciptakan pemerintahan yang ideal. dan menjaga dan mempertahankan dukungan dari parlemen oleh presiden sangat penting dalam menciptakan pemerintah yang efektif dan stabil. faktor kemampuan berkomunikasi. Amerika Serikat berhasil menciptakan pemerintahan yang efektif dan stabil karena menggunakan kombinasi sistem presidensial dan dwi – partai.Maret 2008 Dengan terciptanya sistem kepartaian yang lebih sederhana maka akan mendorong koalisi partai politik yang lebih ramping. Meskipun demikian permasalahan efektifitas dan stabilitas pemerintah di Indonesia tidak saja dipengaruhi oleh personalitas pejabat presiden dan wakil presiden saja. Kedua. Efektivitas dan stabilitas pemerintah juga dipengaruhi oleh sistem pemerintahan dan sistem kepartaian yang dilaksanakan. 5 No. 26 . Partai politik harus mampu mengontrol anggota-anggotanya di parlemen untuk mengikuti kebijakan partainya dalam mendukung pemerintahan.Vol.

Presidensial dan Persoalan Efektivitas Pemerintah Di Indonesia dengan masyarakat yang sangat heterogen tidak mungkin akan dibawa menuju sistem dwi – partai. Untuk menyederhanakan partai politik yang ada di Indonesia terdapat dua mekanisme yang dapat diimplementasikan secara bersamaan yaitu meningkatkan ambang batas (PT) dan memperkecil district magnitude. Maka solusi yang ditawarkan adalah jalan tengah antara kombinasi sistem presidensial dengan multipartai yang sederhana.Sistem Multipartai. Multi sistem partai yang sederhana harus didukung oleh koalisi partai yang ramping. 27 . disiplin dan mengikat.

Heywood. 2. NIMD. Den Haag. Position Paper yang tidak dipublikasikan. Sage Publication Vol. Luciano and Mair. UUD 1945 Hasil Amandemen. New York. Presidensialism. Keserentakan Pemilu dan Penyederhanaan Kepartaian. Sinar Grafika. Working Paper 144 – September 1990. Mellaz. 2. Second Edition. The Effective Number of Parties at Four Scales. and Democracy : The Difficult Equation. 5 No. NIMD. Cetakan Pertama. 2008. Andrew. 2002. Sage Publication Vol. The Parameters of Party Sistem. 14 No. Peter. Politics. 14 No. Multy Party Systems.Vol. Palgrave Foundations. Buku Pegangan Pengembangan Institusional : Suatu Kerangka Kerja Pengembangan Partai Politik yang Demokratis. 2006. Mainwaring. Bardi. 28 .Maret 2008 DAFTAR PUSTAKA Blau Adrian. 1 . 2002. August. 2008. Scott.

Ketika demokrasi mendapat perhatian yang luas dari masyarakat dunia. dan akses memperoleh informasi yang luas. Departemen Hukum dan HAM. Pemilu merupakan salah satu sarana legitimasi kekuasaan. tidak di bawah tekanan. Oleh karena itu. pemilih harus diberi keleluasaan untuk mempertimbangkan dan mendiskusikan alternatif pilihannya dalam suasana bebas. Kedua. Memperoleh gelar S1 (SH) dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. dan S3 (Doktor Ilmu Hukum) dari Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Indonesia. dalam artian Pemilu harus diselenggarakan secara teratur dengan jarak waktu yang jelas. Pemilu harus inklusif. S. Bandung. dalam artian peserta Pemilu harus bebas dan otonom.M. artinya semua kelompok masyarakat harus memiliki peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Kelima. Ketiga. Pemilu yang diselenggarakan secara berkala. Pengalaman dalam rangkaian penyelenggaraan seleksi kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah melalui Pemilu 1 Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan. Pemilu dapat dikatakan aspiratif dan demokratis apabila memenuhi beberapa persyaratan. Pemilu memiliki fungsi utama untuk menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mendekati kehendak rakyat.H. Keempat. 29 . peran partai politik dalam sistem perpolitikan nasional merupakan wadah seleksi kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah. Pemilu harus bersifat kompetitif..PERAN PARTAI POLITIK DALAM PENYELENGGARAAN PEMILU YANG ASPIRATIF DAN DEMOKRATIS Oleh: Dr. Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan figur dan arah kepemimpinan negara atau kepemimpinan daerah dalam periode tertentu. Wicipto Setiadi.1 A. Dalam kedudukannya sebagai pilar demokrasi. Pertama. Ditjen Peraturan Perundang-undangan. S2 (Magister Hukum) dari Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Yogyakarta. Pendahuluan Salah satu wujud pelibatan masyarakat dalam proses politik adalah pemilihan umum (Pemilu). penyelenggaraan Pemilu yang demokratis menjadi syarat penting dalam pembentukan kepemimpinan sebuah negara. Tidak ada satu pun kelompok yang diperlakukan secara diskriminatif dalam proses Pemilu. Jakarta. penyelenggara Pemilu yang tidak memihak dan independen.H.

dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4801).Maret 2008 membuktikan keberhasilan partai politik sebagai pilar demokrasi. Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 51. baru berhasil diselesaikan 3 (tiga) undang-undang. dan 3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 59. dan kinerjanya agar dapat mewujudkan aspirasi dan kehendak rakyat dan meningkatkan kualitas demokrasi. 2. 1 . Sisanya. yaitu: 1. Dewan Perwakilan Daerah. Peran partai politik telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi sistem perpolitikan nasional. Dari 5 (lima) paket Undang-Undang tersebut. Oleh karena itu. termasuk kalangan internasional.Vol. peran partai politik perlu ditingkatkan kapasitas. akan segera dibahas di DPR pada masa sidang berikutnya. Jika kapasitas dan kinerja partai politik dapat ditingkatkan. 30 . Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Penyelenggaraan Pemilu Tahun 2004 dinilai cukup berhasil oleh banyak kalangan. Pada saat ini sedang dirampungkan 5 (lima) paket Undang-Undang di bidang politik untuk menyongsong Pemilu Tahun 2009. terutama dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang dinamis dan sedang berubah. kualitas. yaitu: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 2. Dengan gambaran ini dapat dikatakan bahwa sistem perpolitikan nasional dipandang mulai sejalan dengan penataan kehidupan berbangsa dan bernegara yang di dalamnya mencakup penataan partai politik. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4836). Dewan Perwakilan Daerah. dan 2. 5 No. Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4721). Dewan Perwakilan Rakyat. maka hal ini akan berpengaruh besar terhadap peningkatan kualitas demokrasi dan kinerja sistem politik. Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.

pengawas Pemilu. pemilih. Yang dimaksud dengan Pemilu yang bersifat langsung adalah rakyat sebagai pemilih berhak untuk memberikan suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati nuraninya tanpa perantara. bebas. pemantau Pemilu.Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis B. Penyelenggara Pemilu. Warga negara yang memenuhi persyaratan sebagai pemilih berhak mengikuti Pemilu dan memberikan suaranya secara langsung. Pemilu yang bersifat rahasia berarti bahwa dalam memberikan suaranya. yaitu satu suara. Pemilih dan peserta Pemilu mendapat perlakuan yang sama dan 31 . Pelaksanaan Pemilu dikatakan berjalan secara demokratis apabila setiap warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih dapat menyalurkan pilihannya secara langsung. serta kepala daerah dan wakil kepala daerah yang mampu mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan dapat menyerap serta memperjuangkan aspirasi rakyat sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan Pemilu yang bersifat umum mengandung makna terjaminnya kesempatan yang sama bagi semua warga negara. Terselenggaranya Pemilu secara demokratis menjadi dambaan setiap warga negara Indonesia. jujur. sehingga dapat memilih sesuai dengan kehendak hati nurani dan kepentingannya. Pemilu diselenggarakan oleh penyelenggara Pemilu yang mempunyai integritas. Pemilu Demokratis Pemilu sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. dimaksudkan untuk memilih presiden dan wakil presiden. dan akuntabilitas yang dilaksanakan secara lebih berkualitas. Pemilu yang bersifat bebas berarti bahwa setiap warga negara yang berhak memilih bebas untuk menentukan pilihannya tanpa tekanan dan paksaan dari siapa pun. pemilih dijamin pilihannya tidak akan diketahui oleh pihak mana pun dan dengan jalan apa pun. profesionalitas. legitimate. dan adil. dan semua pihak yang terkait harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundangundangan. sistematis. rahasia. one value (opovov). Selanjutnya. anggota DPR. aparat pemerintah. setiap warga negara dijamin keamanannya. one vote. Hal ini yang sering disebut dengan prinsip one person. dan akuntabel dengan partisipasi masyarakat seluas-luasnya. tanpa diskriminasi. Setiap pemilih hanya menggunakan hak pilihnya satu kali dan mempunyai nilai yang sama. DPD. Dalam melaksanakan haknya. peserta Pemilu. umum. DPRD.

partisipatif. Pada Pemilu presiden Tahun 2004 dan terpilihnya beberapa kepala daerah dan wakil kepala daerah baru-baru ini. yang perlu dilakukan adalah mendorong terbentuknya koalisi partai politik yang permanen. gabungan (koalisi) tersebut lebih bersifat instan. Selain itu. 1 .Vol. praktik yang sekarang terjadi adalah ketiadaan koalisi besar yang permanen. gubernur dan wakil gubernur. Di sisi lain. mempunyai derajat keterwakilan yang lebih tinggi. 32 . Pemilu harus dilaksanakan secara lebih berkualitas agar lebih menjamin kompetisi yang sehat. yang pada gilirannya dapat tercipta pengambilan keputusan yang tidak berlarut-larut.Maret 2008 bebas dari kecurangan atau perlakuan yang tidak adil dari pihak mana pun. ketiadaan partai politik yang mampu menguasai mayoritas di parlemen merupakan kendala bagi terciptanya stabilitas pemerintahan dan politik. Munculnya banyak partai politik selama ini dikarenakan persyaratan pembentukan partai politik yang cenderung sangat longgar. Hal ini diperlukan sebagai upaya agar bisa tetap sejalan dengan prinsip check and balances dari sistem presidensial. gabungan partai politik (koalisi) sebetulnya sudah dilaksanakan. Seperti kita ketahui bersama. 5 No. sehingga setiap pengambilan keputusan oleh pemerintah hampir selalu mendapat hambatan dan tantangan dari parlemen. dan efektif perlu didukung pula oleh sistem kepartaian yang sederhana. Oleh karena itu. stabil. Jumlah partai yang terlalu banyak akan menimbulkan dilema bagi demokrasi. baik yang mendukung pemerintahan maupun koalisi partai politik dalam bentuk yang lain. karena banyaknya partai politik peserta Pemilu akan berakibat sulitnya tercapai pemenang mayoritas. dan memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Sistem Kepartaian Sederhana Sistem presidensial di Indonesia hingga saat ini belum dapat mewujudkan secara penuh pemerintahan yang kuat dan efektif. lebih berdasarkan pada kepentingan politik jangka pendek dan belum berdasarkan pada platform dan program politik yang disepakati bersama untuk jangka waktu tertentu dan bersifat permanen. serta bupati/walikota dan wakil bupati/wakil walikota. Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang kuat. C. Dengan sistem kepartaian sederhana akan dapat dihasilkan tingkat fragmentasi yang relatif rendah di parlemen. Namun. penyederhanaan sistem kepartaian juga terkendala oleh belum terlembaganya sistem gabungan partai politik (koalisi) yang terbangun di parlemen atau pada saat pencalonan presiden dan wakil presiden.

Multipartai. partai politik di Indonesia dewasa ini belum terlembaga sebagai organisasi moderen. Pada saat yang sama partai politik dan gabungan partai politik yang mengantarkan presiden untuk memenangkan Pemilu tidak dapat dipertahankan untuk menjadi koalisi pemerintahan. ada hubungan yang relatif konsisten antara sistem kepartaian dengan sistem presidensial. tidak adanya disiplin partai politik membuat dukungan terhadap presiden menjadi sangat tidak pasti. Alasannya adalah bahwa presiden akan mengalami kesulitan untuk memperoleh dukungan yang stabil dari legislatif sehingga upaya mewujudkan kebijakan akan mengalami kesulitan. Pelembagaan Partai Politik Problematik lain. menyebabkan implikasi deadlock dan immobilism bagi sistem presidensial murni. Karena keterbatasan waktu dan tenaga. Publik juga akan mudah diinformasikan baik tentang keberadaan konstelasi partai politik maupun pilihan kebijakan bila jumlah kekuatan politik lebih sederhana. Berdasarkan pengalaman. Perdebatan yang terjadi diharapkan menjadi lebih fokus dan berkualitas. semua elemen tersebut akan digunakan dan menimbulkan kemungkinan komplikasi satu dengan lainnya. Dengan kata lain. Perubahan dukungan dari pimpinan partai politik juga ditentukan oleh perubahan kontekstual dari konstelasi politik yang ada. Logika yang digunakan seringkali berbeda satu dengan yang lainnya. terutama yang bersifat terfragmentasi. Alasan lain adalah bahwa komitmen anggota parlemen terhadap kesepakatan yang dibuat pimpinan partai politik jarang bisa dipertahankan. Yang dimaksud dengan pelembagaan partai politik adalah proses pemantapan sikap dan perilaku partai politik yang terpola atau sistemik sehingga terbentuk suatu budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip 33 . pemahaman terhadap hubungan antara kedua proses itu menjadi sangat penting. Tawaran yang diberikan untuk memperkuat sistem presidensial agar mampu menjalankan pemerintahan dengan baik adalah dengan menyederhanakan jumlah partai politik. Tidak ada mekanisme yang dapat mengikatnya. seringkali penataan elemen sistem politik dan pemerintahan dilakukan secara terpisah. D.Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis Secara teori ada keterkaitan yang erat antara upaya penataan sistem politik yang demokratis dengan sistem pemerintahan yang kuat dan efektif. Jumlah partai politik yang lebih sederhana (efektif) akan mempersedikit jumlah veto dan biaya transaksi politik. Dalam masa transisi politik. Dalam realitas.

Penguatan partai politik di Indonesia dapat dilakukan pada 3 level. sehingga dapat mengalihkan segala bentuk aktivitas politik anomik dan kekerasan. 1 . dan negara. Peran partai politik dalam penyelenggaraan 34 . Pengelolaan partai politik pada akar rumput ini pada akhirnya akan menentukan kuat atau lemahnya dukungan terhadap partai. tetapi juga menjadi pendukung aktivitas pekerja partai dan koordinator berbagai kepentingan. sistem kepartaian yang kuat menyediakan organisasi partai politik yang mengakar dan prosedur yang melembaga guna mengasimilasikan kelompok baru ke dalam sistem politik. partai politik menghadapi konteks nasional. merekalah yang secara langsung bersentuhan dengan basis sosial partai dan masyarakat secara umum. serta masyarakat pemilih. Dari sudut pandang ini. Dalam konteks pembangunan politik. Persoalan memelihara loyalitas pendukung menjadi problema utama bagi partai politik di akar rumput. level pusat. 5 No. partai politik menghadapi konteks lokal.Vol. Apa pun kebijakan yang diambil harus dikomunikasikan kepada partai politik pada level akar rumput dan pada partai politik di pemerintahan. Partai di pusat bukan hanya menjadi payung bagi aktivitas partai pada level pemerintahan. Penguatan partai politik pada level akar rumput merupakan ujung tombak partai. pendukung. Pada level akar rumput. mencakup dan menyalurkan partisipasi sejumlah kelompok yang baru dimobilisasi. komisi. apabila partai politik mampu menyerap dan menyatukan semua kekuatan sosial baru yang muncul sebagai akibat modernisasi. Sistem kepartaian disebut kokoh dan adaptabel. Pertama. yang terpenting bukanlah jumlah partai politik yang ada. Sistem kepartaian yang kokoh sekurang-kurangnya harus memiliki dua kapasitas.Maret 2008 dasar sistem demokrasi. partai-partai lain. Dengan demikian. Kedua. melainkan sejauh mana kekokohan dan adaptabilitas sistem kepartaian yang berlangsung. dan level pemerintahan. fraksi-fraksi lain. partai politik menghadapi konteks dalam pemerintahan. dan negara. jumlah partai politik hanya akan menjadi penting bila ia mempengaruhi kapasitas sistem untuk membentuk saluran-saluran kelembagaan yang diperlukan guna menampung partisipasi politik. Pada level pemerintahan. Penguatan juga harus dilakukan pada level partai di pusat. Pada level pusat. yang dimaksudkan untuk mengurangi kadar tekanan yang dihadapi oleh sistem politik. yaitu: level akar rumput. partai politik lokal. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa peranan partai di akar rumput saat ini lebih banyak diambil oleh organisasi masyarakat sipil dan media massa. melancarkan partisipasi politik melalui jalur partai politik.

Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis

pemerintahan yang diraih oleh partai politik kemudian harus ditransformasikan dalam berbagai kebijakan dengan mengedepankan kepentingan rakyat. Pelembagaan partai politik biasa dilakukan melalui penguatan 4 (empat) komponen kunci, yakni, pengakaran partai (party rooting), legitimasi partai (party legitimacy), aturan dan regulasi (rule and regulation), dan daya saing partai (competitiveness). Pengakaran partai politik dimaksudkan agar partai terikat secara organik dengan masyarakat, khususnya dengan konstituennya. Dengan ini partai politik dapat secara kontinyu menjalankan fungsi-fungsinya yang terhubung secara langsung dengan masyarakat, seperti pendidikan politik, sosialisasi dan komunikasi politik dan juga agregasi kepentingan yang lebih luas. Selanjutnya, pelembagaan kepartaian bisa juga dilakukan dengan menata aturan dan regulasi (rule and regulation) dalam partai politik. Maksudnya adalah penguatan partai politik dengan menciptakan kejelasan struktur dan aturan kelembagaan dalam berbagai aktivitas partai baik di pemerintahan, internal organisasi, maupun akar rumput. Dengan adanya aturan main yang jelas dan disepakati oleh sebagian besar anggota, dapat dicegah upaya untuk manipulasi oleh individu atau kelompok tertentu bagi kepentingan-kepentingan jangka pendek yang merusak partai. Kemudian, dalam perbaikan terhadap struktur dan aturan, dapat dilekatkan berbagai nilai demokrasi dalam pengelolaan partai. Pelembagaan partai politik juga dilakukan dengan menguatkan daya saing partai yakni yang berkaitan dengan kapasitas atau tingkat kompetensi partai untuk berkompetisi dengan partai politik lain dalam arena Pemilu maupun kebijakan publik. Daya saing yang tinggi dari partai politik ditunjukkan oleh kapasitasnya dalam mewarnai kehidupan politik yang didasari pada program dan ideologi partai sebagai arah perjuangan partai. Secara teoretik, daya saing partai berarti kapasitasnya untuk memperjuangkan program yang telah disusun. Partai politik yang demikian seringkali dianggap memiliki identitas partai programatik. Dengan demikian, secara keseluruhan pelembagaan partai dapat dilihat dari seberapa partai memperkuat dirinya dalam hal pengakaran, penguatan legitimasi, pembuatan aturan main, dan peningkatan daya saing. E. Fungsi Partai Politik Persoalan lain yang dihadapi sistem kepartaian adalah belum berjalannya secara maksimal fungsi yang dimiliki oleh partai politik, baik fungsi partai politik
35

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

terhadap negara maupun fungsi partai politik terhadap rakyat. Fungsi partai politik terhadap negara antara lain adalah menciptakan pemerintahan yang efektif dan adanya partisipasi politik terhadap pemerintahan yang berkuasa. Sedangkan fungsi partai politik terhadap rakyat antara lain adalah memperjuangkan kepentingan, aspirasi, dan nilai-nilai pada masyarakat serta memberikan perlindungan dan rasa aman. Kebanyakan partai politik pada saat ini belum sepenuhnya memberikan pendidikan politik dan melakukan pengkaderan serta rekrutmen politik yang efektif untuk menghasilkan keder-kader pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang politik. Sistem kepartaian yang ada juga masih menghadapi derajat kesisteman yang rendah serta kurang mengakar dalam masyarakat, struktur organisasi partai yang tidak stabil yang tidak mengacu pada AD/ART, dan citra partai di mata publik yang masih relatif buruk. Selain itu, partai politik yang ada pada umumnya cenderung mengarah pada tipe partai politik kharismatik dan klientelistik ketimbang partai programatik. Lemahnya pelembagaan partai politik di Indonesia, terutama disebabkan oleh belum munculnya pola partai kader. Partai politik cenderung membangun partai massa yang memiliki ciri-ciri: meningkatnya aktivitas hanya menjelang Pemilu, menganut sistem keanggotaan yang amat longgar, belum memiliki sistem seleksi dan rekrutmen keanggotaan yang memadai serta belum mengembangkan sistem pengkaderan dan kepemimpinan politik yang kuat. Kelemahan yang mencolok partai politik yang berorientasi pada massa adalah kurang intensif dan efektifnya kerja partai. Sepanjang tahun sebagian besar kantor partai politik hampir tidak memiliki agenda kegiatan yang berarti. Hal ini ditandai dengan tidak dimilikinya rencana kerja partai yang bersifat jangka panjang, menegah dan jangka pendek. Partai politik semestinya merupakan suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, serta cita-cita yang sama, dan yang mempunyai visi, misi, program dan tujuan untuk memperoleh kekuasaan politik dan melalui kekuasaan politik itu memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagai akibatnya, partai politik tidak memiliki program yang jelas dalam melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, melakukan artikulasi dan agregasi kepentingan, belum dapat membangun sosialisasi politik dan komunikasi politik untuk menjembatani rakyat dengan pemerintah.

36

Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis

Partai politik semacam ini hanya berorientasi pada perolehan dukungan suara di daerah pemilihannya dalam rangka memperoleh kekuasaan tanpa memperhatikan kepentingan dan pemenuhan hak konstituennya. Hal ini yang membuat partai gagal dalam mengembangkan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Dalam kondisi krisis kepercayaan masyarakat terhadap partai politik yang berakibatkan pada penurunan dukungan masyarakat terhadap perolehan suara, hal ini dapat menimbulkan frustasi bagi kader dan pengurus partai. Kondisi ini akan berakibat kader dan pengurus partai yang berdedikasi tinggi sekaligus memiliki karakter, dengan mudah mengubah garis politiknya. Bertolak dari sistem rekrutmen dan ketidakjelasan program kerja dan orientasi partai, pemenuhan hak dan kewajiban yang terabaikan, rendahnya kepercayaan masyarakat, kepemimpinan partai yang kurang responsif dan inovatif sehingga menimbulkan sejumlah problematik dan konflik yang sering tidak terselesaikan oleh internal partai. Konflik yang tidak terselesaikan tersebut disebabkan oleh terbatasnya pengaturan penyelesaian konflik yang dilakukan melalui prinsip musyawarah mufakat internal partai, maupun penyelesaian konflik/ perselisihan yang dilakukan melalui pengadilan. Tambahan lagi, tidak adanya kesadaran para pengurus untuk segera menyelesaikan konflik dan masing-masing mau menangnya sendiri akan mengakibatkan semakin berlarut-larutnya konflik tersebut. Faktor lain yang menyebabkan lemahnya pelembagaan sistem kepartaian adalah belum ada pengaturan yang dapat dijadikan pedoman untuk membekukan kepengurusan partai politik, baik untuk kepengurusan tingkat pusat, tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten/kota. Problem lain yang dihadapi adalah upaya untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik sekalipun masih menemukan kendala kultural dan struktural. F. Kemandirian Partai Politik Problematik lain yang dijumpai adalah gejala belum adanya kemandirian partai politik yang terkait dengan pendanaan yang tidak memadai di luar iuran anggota dan subsidi negara. Iuran anggota pada sebagian besar partai politik relatif tidak berjalan karena partai umumnya bersifat massa dan juga lemahnya mekanisme hadiah dan ganjaran di dalam internal partai. Hal ini mengakibatkan
37

Hal ini membuat kepengurusan partai politk di daerah sering kali tidak menikmati otonomi politik dan harus rela menghadapi berbagai bentuk intervensi dari pengurus pusat partai. G. akuntabel dan auditable. pengakuntansian dan pelaporan yang baik. 1 . mekanisme pengelolaan keuangan yang tidak didasarkan pada perencanaan dan penganggaran.Maret 2008 partai politik senantiasa tergantung atau berharap pada sumbangan dari pemerintah dan pihak lain baik pribadi atau perusahaan. penyempurnaan sistem kepartaian dalam rangka mendukung penguatan sistem pemerintahan presidensial dan sistem perwakilan.Vol. 5 No. partai politik sibuk mencari tambahan dana partai sedangkan pada saat yang bersamaan partai politik harus memperjuangkan kepentingan rakyat. perlu diatur ketentuan yang mengarah pada terbentuknya sistem multipartai sederhana. dan penguatan basis dan struktur kepartaian. Akibatnya. mengakibatkan tidak terwujudnya laporan pertanggungjawaban keuangan partai yang transparan. 38 . di masa depan perlu diupayakan adanya kenaikan jumlah warga negara yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun untuk mendirikan partai politik paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) orang. Oleh karena itu. UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik menentukan bahwa “Partai politik didirikan dan dibentuk oleh sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) orang warga negara Republik Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akte notaris”. antara lain ditandai oleh sentralisasi dalam pengambilan keputusan di tingkat pengurus pusat (DPP) dan pemimpin partai. Pembentukan Partai Politik Hal lain yang turut serta menyokong lemahnya pelembagaan partai politik adalah longgarnya syarat bagi pembentukan partai politik. sehingga mendorong setiap orang atau kelompok orang untuk mendirikan partai politik. Hampir sebagian besar partai politik menghadapi masalah sentralisasi yang terlalu kuat dalam organisasi partai. Dalam kaitan ini. Selain itu. terbentuknya kepemimpinan partai yang demokratis dan akuntabel. Dari ketentuan itu terlihat bahwa pendirian atau pembentukan partai politik mudah dilakukan karena cukup mengumpulkan 50 (lima puluh) orang. Hal ini mendorong rendahnya tingkat kepercayaan anggota dan masyarakat terhadap partai politik dalam mengelola keuangan dan kekayaannya. terciptanya pelembagaan partai yang efektif dan kredibel.

perlu diupayakan perubahan untuk memperkuat lembaga perwakilan rakyat melalui langkah untuk mewujudkan sistem multipartai sederhana yang selanjutnya akan menguatkan pula sistem pemerintahan presidensial sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan mempunyai derajat keterwakilan yang lebih tinggi. serta meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. partisipatif. dan evaluasi penyelenggaraan Pemilu. 39 . Kesimpulan Wilayah negara Indonesia yang luas dengan jumlah penduduk yang besar dan menyebar di seluruh nusantara serta memiliki kompleksitas nasional menuntut penyelenggara Pemilu yang profesional dan memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif warga negara. Oleh karena itu. pengawasan. Agar tercipta derajat kompetisi yang sehat. Upaya tersebut antara lain dapat ditempuh melalui pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. maka penyelenggaraan Pemilu harus dilaksanakan secara lebih berkualitas dari waktu ke waktu.Peran Partai Politik Dalam Penyelenggaraan Pemilu Yang Aspiratif dan Demokratis H. perlu dilakukan upaya untuk lebih meningkatkan fungsi perencanaan. Oleh karena itu. pelaksanaan. serta memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Perlu dilakukan upaya untuk mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran partai politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan partai politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern.

. 5 No. 24 April 2008. dan Media elektronik. Pengantar Multipartai yang merupakan wadah untuk mengeluarkan pendapat setelah reformasi sampai saat ini. bahkan ada pula yang mengatakan bahwa membangun partai-partai adalah kesalahan besar. 40 . dalam jangka waktu 9 (sembilan) tahun. Hal itu dapat dilihat dalam pemberitaan di media masa tentang penggunaan hak suara di wilayah Jawa Barat.nl/~peace/pubind/mb/multipar.3 Sejak reformasi sampai saat ini. A. Last Update: 07/07/2005.xs4all. Berlakunya UU ini hanya 6 1 Prof.H. Dr. Paper berisi kumpulan pandangan Penulis dalam beberapa Artikel dan pemaparan dalam seminar-seminar. 2 Tahun 1999 tentang Parpol) hanya berlaku dalam jangka waktu yang singkat.2 Dan dari pihak anggota masyarakat kurang berminat memanfaatkan suaranya.M. Sinar Harapan. Jeane Neltje Saly. Jeane N Saly. Para pengamat politik beranggapan bahwa keberadaan partai setelah kemerdekaan tidak dapat menyelesaikan masalah sehingga dibubarkan. diganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik (UU No. mengalami pasang surut dalam keberadaannya.Vol. 3 Kompas. awal April 2008. S. dan ada yang beranggapan bahwa multipartai belum saatnya dilaksanakan di Indonesia. hukum (peraturan perundang-undangan) yang mengatur kegiatan politik mengalami 3 (tiga) kali perubahan. Dr. Hal itu disebabkan perkembangan kebutuhan masyarakat menimbulkan keragaman pandangan. 14/06/ 2005. Wilayah Depok hanya menggunakan suara yang sangat minim dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Ada yang mengatakan multipartai bermanfaat untuk membangun demokrasi dalam kehidupan berbangsa. http://www. dan Negara Berkembang. Jakarta.Maret 2008 PEMAHAMAN ATAS MULTIPARTAI PERKEMBANGAN MASYARAKAT DAN POLITIK HUKUM1 Oleh: Prof. Politik Hukum. misalnya Depok dalam rangka pemilihan Gubernur. bahkan pernah ada di negara kita setelah kemerdekaan.html. baik dengan pihak asing maupun pihak nasional tentang Fungsi Hukum. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik (UU No. 2 Makmur Makka.31 Tahun 2002 tentang Parpol) karena dianggap multipartai yang sederhana lebih efisien dan sehat dalam proses pemilihan umum.H. Demokrasi Pasar. 2 (dua) tahun. 1 .

fungsi dan tanggung jawab partai politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional. 5 Bagir Manan. Maret 1999. 41 . Maret 2008. antara lain Bagir Manan. Hal ini disebabkan keadaan masyarakat Indonesia yang tidak setara dalam bidang pendidikan. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (UU No. dan Hak Suara Anggota Masyarakat. 5. Permasalahan 1 Bagaimana dinamika hukum partai politik dan pengaruhnya terhadap bidang lain dalam kehidupan berbangsa sesuai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik? 2 Bagaimana pelaksanaan politik hukum dan kendalanya dalam memenuhi kebutuhan multipartai masyarakat Indonesia yang heterogen? C. Demokrasi. Bahan Kuliah Pascasarjana (S3). Pernyataan Kehendak Melalui Partai. Pembahasan 1. baik atau buruknya. Para pengamat politik. Perwujudan tujuan yang ingin dicapai masih mengalami kendala.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum (enam) tahun diganti dengan UU No. Bandung.4 mengatakan bahwa belum saatnya prinsip demokrasi diterapkan pada pemilihan umum.5 bahwa hukum saling mempengaruhi dalam diri hukum itu sendiri tetapi juga pada bidang-bidang lain di luar hukum. hlm. Dinamika Hukum Partai Politik dan Pengaruhnya Terhadap Bidang lain Dalam Pembangunan Negara Para pakar mengatakan. maka bidang lain di luar hukum akan terpengaruh. berakibat tidak dapat menilai kompetensi seorang pemimpin yang akan menjadi leader. antara lain Grafita. Asas demokrasi mengeluarkan pendapat/suara ternyata masih belum dipahami oleh masyarakat. karena dipandang perlu menampung kebutuhan masyarakat majemuk yang beragam yang menuntut peningkatan peran. Surabaya Post. Hal itu benar karena hukum bukan hanya aturan (legal substance) saja tetapi juga ada aspek lain di luar hukum yang mempengaruhi tujuan dibentuknya hukum 4 Grafita. B. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik). Universitas Padjadjaran. Kegiatan parpol yang ditentukan dalam hukum/peraturan perundang-undangan apabila tidak berjalan sesuai dengan tujuan hukum itu. Surabaya.

Dengan demikian pada hakekanya negara tidak membatasi jumlah partai politik yang dibentuk oleh rakyat. Saat reformasi kegiatan multipartai didasarkan pada pertimbangan untuk menanggapi ditegakkannya hak asasi manusia melalui pembentukan partai politik. Keragaman pendapat dalam masyarakat melahirkan keinginan untuk membentuk berbagai partai politik sesuai dengan ragam pendapat yang hidup dalam masyarakat. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik yang merupakan dasar hukum pelaksanaannya dibentuk sebagai tanggapan atas ketentuan Pasal 28 UUD 1945. 42 . 5 No.Vol. Melalui partai politik rakyat dapat mewujudkan hak untuk menyatakan pendapat berkaitan dengan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. adalah legal culture. 21 Tahun 1999 tentang Partai Politik dianggap tidak dapat menampung perkembangan masyarakat serta perubahan ketatanegaraan. p. Dinamika hukum sebagai dasar kegiatan multipartai terus diubah sesuai dengan berkembangnya masyarakat. dan sebagainya. yaitu legal structur. yang menentukan hak warga masyarakat untuk berserikat. Harvard University. Sejak Indonesia merdeka pengaturan hukum multipartai terus berkembang sesuai dengan berkembangnya masyarakat. UU No. Boston Masatchusstetts. Tentunya masih banyak pandangan pakar tentang terwujudnya tujuan hukum. Sebagaimana dikatakan oleh Friedman. dan menyatakan pendapat. UU ini tidak membatasi jumlah partai yang dibentuk oleh rakyat. misalnya ditunjang oleh sarana prasarana. Hal itu terjadi pula dalam pembentukan hukum yang berkaitan dengan kegiatan politik di Indonesia. USA. UU No. 121. 1 .Maret 2008 itu dalam perwujudannya. kesadaran akan tujuan hukum (UU parpol) tersebut. How to Build Character to Implementation The Law. Hukum yang mengatur kegiatan politik terus berkembang sesuai perkembangan dalam masyarakat yang sangat cepat sebagai akibat arus globalisasi yang melanda kehidupan manusia saat ini. Dalam kaitan dengan kegiatan multipartai yang perlu dibenahi agar tujuan dibentuknya UU parpol dapat terwujud disamping aspek sarana prasarana dan mekanisme pelaksanaannya. dan legal culture. Ed Candy. dan oleh karena itu perlu 6 Friedman. mekanisme yang baik. Apabila tidak demikian keberadaan partai yang beragam akan mempengaruhi bidang-bidang dan menghambat pembangunan ekonomi.6 masih ada 2 aspek lain. berkumpul.

kebersamaan. Tujuan pembentukannya yaitu untuk mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia dalam menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan. UU ini mengakomodasi beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia. berbangsa dan bernegara. cinta tanah air. Dibentuknya UU ini sebagai akibat perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut adanya dasar hukum bagi sarana partisipasi politik masyarakat. keluhuran budi pekerti dan keiklasan untuk berkorban bagi kepentingan bangsa. transparansi. UU No. Atas pertimbangan tersebut. dan mengemukakan suara sebagai hak 43 .Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum diperbaharui. melalui sejumlah pembaharuan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan partai politik. sebagaimana diamanatkan oleh Tap. dan inisiatif warganegara serta meningkatnya kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. yang berkaitan dengan demokratisasi secara internal dari partai politik. XXV/MPRS/1966. Oleh sebab itu UU ini diganti dengan UU No. mengembangkan.MPRS No. 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik. antara lain kesadaran kebangsaan. dan menyebarkan ajaran komunisme/Marxisme Leninisme. peningkatan kesetaraan jender dan kepemimpinan partai politik dalam sistem nasional. Tujuan pembentukan undang-undang tersebut adalah untuk menjamin kemerdekaan berserikat. pendidikan politik terus ditingkatkan agar terbangun karakter bangsa yang merupakan watak atau kepribadian bangsa Indonesia yang terbentuk atas dasar kesepahaman bersama terhadap nilai-nilai kebangsaan yang lahir dan tumbuh dalam kehidupan bangsa. demokratik. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. Dalam UU ini ditentukan larangan untuk menganut. dan 6 (enam) tahun kemudian dibentuk UU No. dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan partai politik. Pengaturannya antara lain tentang pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan jender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. berkumpul. meningkatkan partisipasi politik. Tap MPRS ini diberlakukan dengan memegang teguh prinsip berkeadilan dan menghormati hukum. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik belum optimal menampung dinamika masyarakat yang menuntut peran serta politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan partai politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern. dan hak asasi manusia. Selanjutnya untuk mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dalam perkembangan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Makmur Makka. Ketika pemerintahan Orde Baru “lengser keprabon” dan menyerahkan jabatannya kepada Wapres pada saat itu (tahun 1998). Hal ini bisa terjadi.1. 44 . UU ini memberi kebebasan berdirinya partai baru. Apabila diamati maka ternyata asas demokrasi yang diterapkan dalam pelaksanaan multipartai belum dapat dilakukan sebagai akibat kurangnya pendidikan berpartai dan berlapisnya taraf pendidikan anggota masyarakat. Sesuai dengan hasil pengkajian beberapa pengamat politik. dan yang akan berkuasa kembali adalah kekuatan politik lama yakni partai yang besar.8 karena kesalahan lahir. terbentuklah UU No.Vol. termasuk tokoh partai mendesak untuk menyelenggarakan pemilu dalam waktu paling lama tiga bulan. karena orpol inilah yang sekarang memiliki infrastruktur partai yang kuat. Tantangan yang dihadapi adalah anggapan bahwa dengan dibubarkannya partaipartai maka terkuburlah demokrasi. Surabaya. antara lain Rauf.. Diperlukan waktu minimal persiapan satu tahun. Keadaan itu terjadi sejak kemerdekaan sampai saat ini. maka saat itu diadakan kampanye untuk “menguburkan partai-partai”. Pendidikan Politik dan Demokrasi Dalam Mengeluarkan Suara. Surabaya Pagi. namun sangat disayangkan karena pada umumnya 7 Rauf Andika.Maret 2008 asasi manusia untuk mewujudkan kehidupan berkebangsaan yang kuat dalam negara kesatuan yang merdeka. hlm. sesuai ketentuan UUD 1945. Salah satu kelemahan utama partai politik setelah masa reformasi.cit. Desember 2007. sejumlah tokoh. Partaipartai saling melakukan perlawanan dan tidak bisa menyelesaikan masalah. dan tidak melarang jumlahnya. Op. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. 3. adalah tidak berperan secara optimal sebagaimana fungsinya sebagai partai. Saat pemerintahan setelah kemerdekaan dianggap banyaknya partai hanya menimbulkan kesulitan dan mengganggu ketenangan masyarakat. Setahun kemudian sesuai perkiraan. sesuai dengan isi konstitusi negara. 5 No. 1 .7 mengemukakan bahwa banyaknya partai menimbulkan masalah baru bagi pemerintah. hlm. Partai politik hanya semata-mata muncul kurang lebih menjadi “perantara” bagi para elite partai atau siapa saja untuk menduduki kekuasaan. Hal itu ditolak Kepala Negara dengan pertimbangan belum adanya UU politik baru yang merubah sistem kepartaian. UUD 1945. 8 A. demikian pandangan sebagian besar tokoh politik yang tidak menginginkan hapusnya multipartai.

hanyalah fungsi partai sebagai “mobilization of voters”. Yang muncul pertama kali adalah inisiatif para calon. 3. Surabaya Pagi.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum partai yang berdiri orientasinya hanya kekuasaan. sosialis. yang dinonjolkan adalah hanya perebutan jadi pimpinan partai. katholik. Surabaya. seperti islam. Februari 2008.10 kegiatan partai yang menonjol dan sangat dominan. Itulah sebabnya banyak muncul calon ganda dari satu partai. kongres. maka selesailah tugas partai itu. Keberadaan Partai. atau calon yang sebenarnya tidak terpuji dalam masyarakat. hlm.jika memiliki kader. komunis. 9 Surabaya Pos. melenggang jadi calon. dan Manfaatnya Bagi Pendidikan Politik. kristen serta dipimpin oleh tokoh yang kharismatik yang sudah biasa dalam gerakan politik sebelum Indonesia merdeka. bahkan partai seperti kehilangan inisiatif. Partai-partai dibentuk dengan kohesi berbagai ideologi dan agama yang jelas dan solid. hlm. 10 Embong Pranata. ketika para pimpinan partai itu akhirnya bisa berkuasa dan menduduki jabatan penting. Dalam pilkada. 45 . Ini setali tiga uang. antara lain Lukiman. urusan kekuasaan lagi. “platform” partai yang muluk-muluk hanya selesai di atas kertas. Bandingkan partai-partai yang didirikan sebelum pemilu 1955. bahkan kalau perlu lahir pengurus kembar. Partai yang dibentuk setelah reformasi itu pada umumnya kurang optimal melakukan lagi konsolidasi internal yang ketat. Jarang partai yang melakukan fungsi pendidikan politik pada kader . nasionalis. partai kemudian dikendalikan oleh para calon yang punya uang dan punya kharisma. Fungsi Partai Dalam Membangun Bangsa dan Pelaksanaan Asas Demokrasi Berdasarkan UUD 45.9 mengatakan bahwa partai-partai didirikan hanya untuk memenuhi syarat administratif belaka. 3. Hal itu diindikasikan dengan hasil muktamar. menurut Embong Pranata. Partai hanya memberikan stempel dan legitimasi yang bukan tidak mungkin melalui tawar-menawar materi. 20 Oktober 2006. kemudian menduduki kursi kepresidenan dan membagi-bagi jabatan menteri-menteri. Bagaimana dengan segera mengganti presiden yang dikatakannya “transisi” dan “statusquo”. Tidak ada “political sosialization”. atau memelihara konsensus dalam masyarakat mengenai program dan cita-cita partai yang mungkin sedang berkuasa. baik menghadapi pemilu nasional yang lalu maupun dalam pilkada gubernur dan kepala daerah. Terkabul. Surabaya. Saat ini. Para pengamat politik.

5 No. investasi ke luar dan yang datang di suatu negara sudah dihilangkan hambatannya melalui prinsip persamaan perlakuan (Artikel III WTO). Jakarta. terutama bidang ekonomi.Vol. penyerapan tenaga kerja. 46 .11 tentang adanya beberapa hal dalam pernyataan juru bicara kongklomerat. http:// www. siapapun yang menggantikan 11 Retno Yulianti. Multi Partai Adalah Jalan Keluar Demokratis Bagi Politik Indonesia. Bahwa investor asing diperlakukan sama dengan investor domestik.nl/~peace/pubind/mb/multipar. manajemen.Maret 2008 Pandangan masyarakat di atas menunjukkan bagaimana kegiatan partai politik yang belum secara optimal melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan untuk membangun bangsa dan negara. Pelaku ekonomi sebagai salah satu aspek penunjang ekonomi nasional tidak akan ambil pusing dengan siapa yang akan menjadi pemimpin. namun aspek karakter para elit perlu dibangun (character building) untuk memahami keberadaan masyarakat yang heterogen dan bukan memanfaatkannya dan akan berakibat tidak kondusifnya bagi lancarnya perekonomian nasional. Namun saat ini konglomerat merasa kurang berminat karena keberadaan parpol yang masih perlu dibenahi. Investor akan kurang berminat menanamkan modalnya di Indonesia. Hukum cukup memadai. Konglomerat Indonesia tidak akan ambil pusing terhadap perubahan kepemimpinan nasional (presiden). Dan tentunya akan mempengaruhi peningkatan ekonomi nasional. Kurang berminatnya pelaku ekonomi termasuk konglomerat tidak tertarik menggunakan peluang itu dapat dilihat dalam pernyataan-pernyataannya dalam media-media masa dan elektronik. Padahal dalam kegiatan politik yang berasaskan demokrasi.xs4all. Padahal di era globalisasi saat ini. Hal itu dapat dilihat dalam pandangan yang dikutip dari Retno Yulianty.html. seperti terhambatnya pembangunan di segala bidang. dan sumber daya manusia. 10 April 2008. Yang penting adalah terciptanya suasana politik dalam membangun bangsa ini secara aman dan damai. baik melalui transfer of technology. semua memiliki peluang masuk dalam parpol termasuk para investor domestik. Selain itu keadaan tersebut menimbulkan keengganan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam berpartai. Akibat dari keadaan ini akan mempengaruhi aspek lain yang ada. 1 .

miras sampai ekstasy ). menunjukkan bahwa kontradiksi di dalam negeri. Dari pengalaman Soviet Union. seakan-akan kepentingan mereka (yang bersangkutan keamanan modal) diserahkan begitu saja pada politisi. Keadaan tersebut perlu dibenahi agar tidak terjadi sebagaimana di negaranegara lain seperti Uni Sovyet. Dari keadaan disintegrasi akibat permainan politik akan mempengaruhi disintegrasi bangsa. seperti Amerika dan Kapitalis Eropah Barat untuk mempercepat proses krisis dan memenangkannya. sistim pengupahan dan kesejahteraan kaum buruh. Berdasarkan pernyataan itu dapat digambarkan bahwa kaum kapitalis akan tetap menjauhi (keep distance) politik. Padahal sudah juga menjadi rahasia umum bahwa kaum kapitalis secara diam-diam melempar modalnya dalam bentuk investasi di luar negeri jauh-jauh hari sebelumnya. yang sudah terpecah sehingga mudah untuk dikuasai. Padahal dalam prakteknya merekalah yang paling banyak terlibat terhadap kebijakan politik negara selama ini. dari soal perampasan tanah rakyat. karena semua modal mereka ada di dalam negeri dan tidak mungkin dilarikan keluar negeri. Setelah rezim Gorby (dan slogan glasnost perestroikanya) jatuh maka penggantinya adalah seorang yeltzin yang melempengkan jalan kapitalisme untuk menjarah setiap republik ex Soviet Union. Kaum konglomerat memilih menjadi penonton saja dan tidak akan aktif dalam politik indonesia. untuk memecah belah dan mengadu domba agar dapat menguasai baik bidang ekonomi. manuver terhadap partai-partai politik. penyogokan birokrasi.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum atau menjadi presiden tidak menjadi masalah sejauh dapat menjamin stabilitas ekonomi Indonesia. hlm. 47 . dan kebudayaan. Kaum konglomerat tersebut tidak akan melarikan diri ke luar negeri jika ada krisis. 10 November 1996. 3. Masa tahun kolonial tersebut 12 Media Indonesia.12 Pimpinan nasional harus dapat menjaga keamanan konglomerat. dalam hal ini Kapitalis negara-negara maju. akan mengundang kepentingan Luar Negeri. sistem keamanan nasional (dari soal penyelundupan kayu. politik. Seperti yang dikemukakan oleh Intelektual dalam Media Indonesia (10 November 1996) juga. untuk mengembangkan modalnya. Minggu. Sebenarnya pengalaman bangsa ini juga sudah cukup banyak. Taktik persekutuan dagang VOC. eksistensi kapital dan pemiliknya yang tidak akan kemana-mana jika ada krisis.

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

mewariskan kebodohan, minder, irasionalitas, mental budak dan ketakutan untuk mengeluarkan suara, karena terlalu sering dipecah belah dan diadu domba oleh tuan-tuan pedagang dari negeri Belanda. Hukum yang mengatur kegiatan multipartai yang bertujuan membangun demokrasi di Indonesia dalam pelaksanaannya tidak semudah yang dibayangkan. Kebutuhan aneka ragam dari rakyat yang berasal dari latar belakang yang berbeda baik budaya, agama, maupun adat istiadat serta tingkat pendidikan akan beradu secara fair dan demokratis, dan akan menghasilkan pemerintahan yang semakin lama semakin baik, karena akan menunjuk pemimpin yang mewakili semua aspirasi dan kepentingan mayoritas rakyat. Multipartai akan mengangkat kepentingan setiap daerah. Karena desentralisasi ekonomi dan politik akan menemui jalan yang mudah, sehingga justru menjamin keutuhan kesatuan dan persatuan bangsa. Setiap sektor sosial, aliran dan keyakinan masyarakat akan diperjuangkan lewat partai partai di Dewan Perwakilan Rakyat. Negara hanyalah alat untuk melayani masyarakat dan untuk kepentingan rakyat. Hukum yang menjadi dasar berpolitik seyogyanya menampung kebutuhan masyarakat Indonesia yang heterogen. Politik hukum yang diprogramkan dalam pembangunan perlu memperhatikan perkembangan masyarakat yang semakin cepat dengan meningkatnya media komunikasi melalui elektronik. Disamping aturan juga penegakannya perlu dioptimalkan dalam kehidupan berbangsa kita demi mencegah disintegrasi bangsa. 2. Pengertian Hukum, Politik Hukum dan Perkembangan Masyarakat Pada umumnya, hukum dipandang oleh masyarakat saat ini sebagai peraturan, atau undang-undang. Dan masyarakat melihat hukum sebagai gambaran pemenuhan kebutuhan mereka dalam melakukan hubungannya dengan anggota masyarakat lainnya, serta patokan pelaksanaan keadilan oleh penguasa. Pandangan ini sebagian benar, karena hukum yang tidak mengandung aturan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tempat hukum tersebut berlaku, dipandang tidak efektif. Namun demikian, hukum tidak sekedar undang-undang atau peraturan tertulis. Para ahli hukum berpandangan bahwa hukum tidak hanya peraturan tertulis, tetapi juga peraturan tidak tertulis (kebiasaan yang mengikat anggota masyarakat tersebut).
48

Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum

Pandangan ahli hukum ini dipengaruhi oleh sistem hukum yang dianut, yaitu sistem hukum kontinental, dan hukum dasar negara yang tidak mengabaikan keberadaan kebiasaan yang hidup dan mengikat anggota masyarakat. Lain dengan pandangan penganut hukum murni bahwa hakekat hukum dapat dipahami apabila hukum dianggap sebagai seperangkat peraturan, dalam satu kesatuan yang berisi tata kehidupan manusia. Hal itu berarti bahwa teori hukum murni berusaha mencapai hasil-hasilnya semata-mata pada hukum positif. Austin,13 mengatakan bahwa hukum sebagai peraturan yang dibuat oleh penguasa bertujuan mengatur tingkah laku manusia. Padahal hukum tidak saja peraturan yang mengatur kegiatan manusia dan pergaulannya, baik tertulis maupun tidak tertulis, tetapi juga prinsip-prinsip hukum, prosedur hukum, lembaga-lembaga hukum yang terkait dengan peradilan, dan tindakan administrasi hukum, dan sebagainya.14 Roscoe Pound,15 mengemukakan bahwa hukum mengandung banyak aspek, baik aturan tertulis, maupun etika kehidupan, mencakup kesusilaan, keagamaan, petunjuk moral, mekanisme berpolitik, adat istiadat pada umumnya, dan pengawasan sosial sebagai suatu keseluruhan. Pengertian hukum semacam

John Austin, The Pure Theoy of Law and Analytical Jurisprudence, Harv .L Lev, USA, 1942. hlm. 44-70. 14 Bahkan pakar hukum senior,14 mengatakan bahwa hukum: “memiliki banyak aspek, terdiri dari jauh lebih banyak komponen atau unsur yang lain, seperti filsafat hukum, sumber hukum, kaedah hukum, yurisprudensi, hukum kebiasaan, penegakan hukum, pelayanan hukum, profesi hukum, lembaga hukum, pranata hukum, prosedur dan mekanisme hukum, hukum acara, pendidikan hukum, penelitian hukum, perilaku hukum masyarakat maupun pejabat hukum, atau perilaku profesi hukum, kesadaran hukum, dan sebagainya. Aspek-aspek di atas saling terkait dalam satu sistem untuk melaksanakan fungsi hukum, sesuai dengan kebutuhan di mana hukum itu diberlakukan”. Berdasarkan uraian di atas, maka terlihat bahwa hukum dipandang sebagai aturan yang berkaitan satu dengan lainnya secara konsisten termasuk mekanisme dan prosedurnya, dan kebiasaan yang mengikat. Hal tersebut berbeda dengan pandangan ahli hukum Amerika,14 yang melihat hukum pada pandangan hakim di pengadilan/keputusan di Pengadilan, dan peranannya sebagai lembaga hukum. Keputusan pengadilan merupakan peraturan yang dapat diikuti oleh hakim berikutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan,14 hukum Amerika yang mengatakan bahwa: Law is what the courts will do in fact. Pandangan ahli hukum Belanda,14 menekankan pada kehendak pemerintah yang harus dituruti. Dan apabila tidak dikenakan sanksi. Hukum dalam kaitan ini berfungsi sebagai mengatur kehendak pemerintah, sekaligus penegakannya. 15 Roscoe Pound, The Task of Law,Franklin and Marshal College, Lancaster, Pennsylvania, USA,1946, Terj. Muh. Radjab, Bhrata, Jakarta, 1965, p.35.

13

49

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

ini dikenal pada abad pertengahan, tatkala kontrol sosial,16 yaitu kesadaran bersama sebagai manusia yang dibatasi oleh kekuatan yang sepadan bagi intensitas (keadaan tingkatan, atau ukuran intensinya) untuk bertingkah laku dalam cara-cara tertentu tanpa memandang secara berlebih-lebihan kepentingan sendiri dengan lingkungan sekelilingnya — belum mengenal diferensiasi–yaitu proses pembedaan hak dan kewajiban warga masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin – ketika hanya satu istilah harus mencakup artian peraturan tertulis dan etika serta kebiasaan pada umumnya, kehidupan dalam masyarakat yang berorganisasi politik di dalam negara-negara kota, adat pada umumnya, dan pengawasan sosial, sebagai suatu keseluruhan. Pada akhir zaman pertengahan, hukum Romawi dipahami sebagai titah Raja yang diundangkan, bersifat mengikat (Codex Theodosius atau Peraturan perundang-undangan Kaisar Justinianus)-yang diajarkan di universitasuniversitas. Plato, pada abad 4 SM, mengatakan bahwa negara yang ideal hukum tidak dibutuhkan, karena keadilan yang berlaku sudah terdapat dalam titah raja yang juga sebagai filosof.17 Hukum dianggapnya merupakan pencerminan akal manusia yang paling sempurna dalam kehidupan bernegara sehingga dapat diartikan sama dengan ilmu pengetahuan yang dijadikan patokan bukanlah peraturan yang diundangkan, tetapi gagasan tentang urutan sebab akibat, berdasarkan observasi.18 Dinamika hukum terus berkembang sesuai dengan berkembangnya pergaulan masyarakat. Oleh karena itu hukum harus bersifat mengayomi, mengandung asas-asas yang dijadikan rambu-rambu dalam menentukan

16

Kontrol sosial diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 523, sebagai kesadaran bersama sebagai manusia yang dibatasi oleh kekuatan yang sepadan bagi intensitas (keadaan tingkatan, atau ukuran intensinya) untuk bertingkah laku dalam cara-cara tertentu tanpa memandang secara berlebih-lebihan kepentingan sendiri dengan lingkungan sekelilingnya. Belum mengenal diferensiasi (proses pembedaan hak dan kewajiban warga masyarakat berdasarkan usia, jenis kelamin). 17 Encyclopaedia Britannica, Britanica Inc. USA, hlm. 716. 18 Roscoe Pound, Op.cit., hlm. 37 Ahli filsafat positivis memikirkan tentang hakekat, seperti di dalam hukum yang mirip dengan hukum fisika, dan ilmu bintang, yang dapat diketemukan dengan observasi dan dibuktikan kebenarannya dengan observasi lebih lanjut yang terkait dengan perkembangan sosial dan terletak pada dasar-dasar ilmu kemasyarakatan. Jadi dalam ilmu-ilmu kemasyarakatan terdapat hukum. Oleh karena itu ada pandangan bahwa hukum dipengaruhi ilmu-ilmu lain dil luar hukum itu. Hukum yang adalah gagasan tentang aturan, mengandung apa yang benar yang ditegakkan oleh penguasa, yang mengatur kehidupan manusia, diundangkan dalam bentuk tulisan para ahli hukum tersebut, kemudian pada abad ke 17 mengandung hak yang dilindungi hukum, disahkan oleh Raja.

50

Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum keputusan untuk memenuhi kepentingan masyarakat . Keinginan manusia berkembang terus. hukum yang berwibawa adalah sekumpulan penuntun yang berwibawa atau dasar-dasar kebijakan. dimulai dengan hukum untuk memelihara perdamaian. Dalam mencapai hukum yang otoritatif/berwenang memerintah atau berwibawa ini dicapai melalui tahapan. Hukum tidak hanya berfungsi sebagai aturan tingkah laku antar anggota masyarakat. Hukum terus berkembang seiring dengan berkembangnya masyarakat yang diindikasikan dengan bervariasinya pemanfaatan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini dibutuhkan untuk memenuhi tujuan hukum tentang bagaimana anggota masyarakat memandangnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. 20 Roscoe Pound.. yang dikembangkan dan ditetapkan melalui teknik penyusunan yang baik dengan tujuan yang jelas yaitu mencapai ketertiban.21 Hal ini sesuai dengan pandangan yang dikemukakan 19 Ibid. 2002. 53. dan oleh karenanya undang-undang sangat dibutuhkan. Dengan demikian diharapkan hukum dapat menfungsikan dirinya agar tidak tertinggal dari perkembangan sekelilingnya. tidak sebagaimana pada abad pertengahan sebelum Masehi. Abad ke 20 memasuki abad ke 21 menampilkan pemikiran para ahli hukum yang mengatakan dibutuhkannya ketertiban politik.20 selanjutnya mengatakan bahwa pada abad akhir abad ke 17 memasuki abad ke 18 pemikiran ahli hukum semakin bergeser pada pemikiran bahwa ketertiban hukum dianggap bertujuan memelihara itikad baik. Menurut pengertian ini. Whaton Scool Publishing. Op. 121. Ketertiban politik mengatur bagaimana pemerintah mengimplementasikan rencananya dalam melaksanakan pemerintahan dengan menampung kebutuhan masyarakat yang kompleks. Hukum semacam ini mengandung kaidah atau norma yang menentukan akibat hukum tertentu dan terperinci bagi suatu keadaan atau situasi tertentu yang berkenaan dengan fakta.cit.19 Roscoe Pound. disamping mengandung aturan tingkah laku manusia. Hukum di Indonesia sebagaimana di negara-negara lain yang bekas dijajah tidak hanya satu tetapi beberapa sistem hukum. dan kesusilaan. 51 . Wharton University. Pensylvania. hlm. Disamping itu tantangan semakin bertambah dengan rumitnya ketertiban ekonomi. Encyclopedia. yang dilaksanakan dengan menggunakan pemikiran secara rasional oleh para ahli hukum dalam pelaksanaannya dengan dipagari asas-asas. 21 Kenichi Ohmae. dengan cara menerapkan keadilan melalui ganti rugi. mengandung asas untuk menjadi pedoman dalam menafsirkan hukum. p. dan ketertiban hukum yang berkeadilan. pemikiran meningkat sehingga mulai memikirkan bahwa hukum. Pada Abad ke 19 hukum berfungsi untuk menciptakan ketertiban agar hak pribadi dilindungi sebebas-bebasnya. Kontrol sosial difungsikan. Hukum harus menampilkan diri dapat menampung permasalahan yang terjadi. Apa yang dibenarkan dalam kaidah kesusilaan dibenarkan dalam hukum. Ketertiban hukum menentukan bagaimana hukum memfungsikan dirinya agar niat pemerintah tercapai (misalnya dalam melaksanakan pembangunan) dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di mana hukum diberlakukan. tetapi juga tingkah laku perusahaan. Government in The Post–National Era.

Pikiran politik dan kebijaksanaan politik yang berpengaruh tersebut dapat bersumber dari idiologi tertentu. khususnya peraturan perundang-undangan (tertulis). termasuk berinteraksi dengan dunia luar. yaitu bagaimana agar rakyat Indonesia dapat melaksanakan kehidupan yang bebas sebagai suatu bangsa yang merdeka. 3. tetapi peraturan perundang-undangan pada dasarnya akan mencerminkan berbagai pemikiran dan kebijaksanaan politik yang paling berpengaruh dalam negara yang bersangkutan. Fungsi Hukum Dalam Pembangunan Nasional. Bandung. Politik Hukum dan Perkembangan serta Susunan Masyarakat Politik hukum adalah salah satu dari tiga aspek kerangka kajian hukum. 1978. Keberadaan hukum menuntut adanya persyaratan yang merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan hakekat hukum dasar dalam negara tersebut.Vol. Bina Cipta hlm.Maret 2008 ahli hukum.22 bahwa hukum dikatakan efektif apabila memenuhi kebutuhan pelaksanaan pembangunan yang diartikan. baik yang terkait dengan perangkat hukum/peraturan perundang-undangan. Pembinaan Dan Pembaharuan Hukum Dalam Pembangunan Nasional. 7. atau tekanan- 22 23 Mochtar Kusumaatmadja. kepentingan tertentu (seperti kepentingan para konglomerat). yang mempunyai kekuatan saling tarik menarik. selain Filsafat hukum. memperbaiki atau menghapuskan. Konsepsi umum mengatakan bahwa hukum. Mochtar Kusumaatmadja. dan diolah oleh ilmu hukum. Filsafat hukum lebih banyak meramu ide-ide tentang hukum. atau Presiden. dan Ilmu hukum. BinaCipta. Agar hukum yang akan dibentuk ditaati dan memberi keamanan bagi masyarakat Indonesia. 52 .23 sebagai tindakan merombak. Majelis Permusyawaratan Rakyat. adalah produk politik. 1 . 7. Hal itu menuntut adanya persyaratan. Bukan saja oleh lembagalembaga politik seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Bandung. hlm. maupun sistem hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai aspek kehidupan. maka hukum tersebut hendaknya mengandung pesan yang tergambar dalam pembukaan UUD 45. 5 No. Politik hukum lebih banyak mengarah pada perumusan konkrit tentang apa dan bagaimana seharusnya hukum yang akan datang akan dibentuk dan dirumuskan agar memenuhi kebutuhan masyarakat dan tujuan pemerintah dalam program-programnya untuk mensejahterakan rakyat.

Mochtar Kusumaatmadja. 53 . Op. tidak sebagaimana di Indonesia yang masih bersifat heterogen (keanekaragaman).cit. hukum di bidang ekonomi di negara tersebut akan menerapkan dalam ketentuannya pemberian kewenangan kepada pemerintah untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi. Di bidang politik dengan cara multipartai politik hukumnya adalah menunjang pelaksanaan hak anggota masyarakat dalam menentukan haknya 24 Bagir Manan.. Di negara yang memegang prinsip demokrasi akan berbeda pelaksanaannya.25 tidak tepat lagi untuk membedakan secara tajam antara ‘serba negara’ dan ‘serba pasar’. Kumpulan Karya Tulis Menghormati 70 tahun Prof. Unpad Prss.H. Kemandirian rakyat akan diperhatikan. Disamping itu dengan semakin tipisnya batas teritorial negara-negara di dunia..LL. dan keadaan ini biasa terjadi di negara berkembang akibat penjajahan. pendekatan yang serba idiologis sudah berangsur-angsur ditinggalkan.Pemahaman Atas Multipartai Perkembangan Masyarakat dan Politik Hukum tekanan sosial yang kuat dari masyarakat. Namun demikian secara seutuhnya prinsip itu akan dilakukan di negara-negara maju yang sifat masyarakatnya homogen. 231. Saat ini. dan pemerintah berperan mengkoordinasikannya. S. dan yang dipakai sebagai patokan adalah idiologis negara untuk melindungi rakyat dan membuka diri menerima prinsip dari belahan dunia luar yang dikombinasikan. 25 Bagir Manan.Dr. dan tentunya berbeda dengan politik hukum negara yang didasarkan doktrin kapitalisme. 1999 hlm. hlm. Pembinaan Hukum.24 Pada umumnya doktrin yang dianut suatu negara akan mempengaruhi politik hukum negara tersebut. Di bidang politik di negara tersebut akan dipengaruhi oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat. Pelaksanaan hukum dari negara-negara yang melakukan hubungan perdagangan akan mempengaruhi sistem hukum masing-masing negara tersebut. karena bagi kebanyakan negara. Bandung. Hukum yang dibentuk akan berbeda. Demikian pula hukum di bidang ekonomi pada negara penganut doktrin kapitalisme akan banyak mengandung ketentuan mengenai ekonomi pasar. bergantung dari obyek-obyek yang diatur. misalnya saja negara penganut doktrin sosialisme. Doktrin sosialisme akan mempengaruhi politik hukum negara yang menganutnya. maka dasar pembentukan hukumpun ikut terpengaruh.M. 232.

b Untuk mencapai efektivitas pelaksanaan prinsip demokrasi berpolitik dalam masyarakat yang heterogen.Maret 2008 dan juga tunduk pada kewajibannya yaitu mewujudkan cita-cita dalam kehidupan berbangsa dalam keberadaan masyarakat Indonesia yang beragam sangat rentan terhadap disintegrasi bangsa. terakhir ditampung dalam UU No. Kesimpulan a Pengaturan hukum yang menjadi patokan pelaksanaan Parpol dalam kehidupan berbangsa terus berubah sesuai perkembangan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. agama. antara lain memperhatikan keberadaan masyarakat baik terhadap budaya. juga hendaknya memperhatikan hak masyarakat yang tingkatan pendidikannya masih rendah dan sering dimanfaatkan untuk kepentingan partai.Vol. Oleh karena itu dalam menentukan politik hukum unsur-unsur ini perlu diperhatikan. Saran a Seyogyanya pelaksanaan kegiatan partai politik disamping melakukan pemahaman dan usaha mencapai tujuan memajukan dan mempersatukan bangsa. 1 . D. 5 No. dan adat istiadat yang berbeda. misalnya bagaimana pengaturannya terhadap rakyat yang tingkat pendidikannya rendah (yang lebih banyak jumlahnya di daerah-daerah) dalam memanfaatkan peluang mengeluarkan suara agar tidak dijadikan komoditas oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingannya dalam mencari kekuasaan. Penutup 1. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. b Politik hukum dalam memenuhi pelaksanaan multipartai masyarakat Indonesia yang heterogen dilakukan dengan memperhatikan keadilan terhadap rakyat. juga memperhatikan pendidikan berpolitik dan pendidikan dalam mempersiapkan anggota untuk menjadi pemimpin. melalui sosialisasi dan praktek pelaksanaannya. 54 . 2.

John Austin. Maret 1999. Surabaya. Mochtar Kusumaatmadja. 3. Rauf Andika. 2002. hlm. Last Update: 07/07/2005. Bandung. Bandung. Media Indonesia. BinaCipta hlm. 14/06/2005. Grafita. Surabaya Pagi. http://www. USA. Boston Masatchusstetts. Bandung. USA.DAFTAR PUSTAKA Bagir Manan. 1999. Kumpulan Karya Tulis Menghormati 70 tahun Prof. Radjab. Surabaya. Embong Pranata. 10 April 2008. Fungsi Hukum Dalam Pembangunan Nasional. Ed Candy.nl/~peace/pubind/mb/ multipar. Lancaster. Bhrata. Surabaya. Surabaya Post. The Pure Theoy of Law and Analytical Jurisprudence. 10 November 1996.L Lev. 1965.html. http://www. Wharton University. USA. Pernyataan Kehendak Melalui Partai.nl/~peace/pubind/mb/multipar. Pensylvania. Makmur Makka. Dan Hak Suara Anggota Masyarakat. Demokrasi. ———— Bahan Kuliah Pascasarjana (S3). Government in The Post –National Era. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 7.M. Februari 2008. Minggu. Universitas Padjadjaran. Bandung. Encyclopaedia Britannica. ———— Pembinaan Dan Pembaharuan Hukum Dalam Pembangunan Nasional. BinaCipta. 55 . Muh.Franklin and Marshal College. Whaton Scool Publishing. Friedman. Unpad Prss. Pembinaan Hukum. The Task of Law. Harv . How to Build Character to Implementation The Law. Jakarta. Pendidikan Politik Dan Demokrasi Dalam Mengeluarkan Suara. Jakarta. Desember 2007.Dr.html.xs4all. Kenichi Ohmae. 1942. Fungsi Partai Dalam Membangun Bangsa Dan Pelaksanaan Asas Demokrasi Berdasarkan UUD 45. Balai Pustaka. Retno Yulianti. Pennsylvania. Harvard University. Roscoe Pound. Surabaya Pagi. p. Demokrasi Pasar.LL. USA. Multi Partai Adalah Jalan Keluar Demokratis Bagi Politik Indonesia. Terj. 121.SH. Britanica Inc. Maret 2008. Jakarta. Mochtar Kusumaatmadja.xs4all. 1978.1946.

5 No.H. A.H. pelaksanaan demokrasi dilakukan oleh wakil-wakil rakyat yang duduk sebagai anggota Badan Perwakilan Rakyat. 1 . Oleh sebab itu. Pemilihan Umum merupakan salah satu sendi untuk tegaknya sistem politik demokrasi. S. Banyak kendala yang dihadapi. Kehendak itu akan dilahirkan dalam pemilihan-pemilihan berkala dan jujur yang dilakukan dalam pemilihan umum dan berkesamaan atas pengaturan suara yang rahasia. Dengan demikian kebebasan. 2. Pada saat pemilu dijadikan manifestasi prinsip kedaulatan rakyat. Kehendak rakyat ialah dasar kekuasaan pemerintah. jika demokrasi langsung itu akan dilaksanakan.Maret 2008 DEMOKRASI DAN PARTAI POLITIK Oleh: Zainal Abidin Saleh. Campuran (Kombinasi antara Pemilihan Umum dan Pengangkatan). dengan cara memilih wakil56 . Pemilihan Umum dan Badan Perwakilan Rakyat merupakan tiga institusi yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. maka mulai saat itulah rakyat diberikan kebebasan dalam menentukan calon-calon wakil rakyat yang tergabung dalam Partai Politik. Sehubungan dengan hal tersebut cara yang dipergunakan untuk menentukan keanggotaan Badan Perwakilan Rakyat tersebut adalah : 1. Setiap Partai Politik akan selalu berusaha untuk memperoleh dukungan rakyat yang besar pada saat Pemilihan Umum agar Badan Perwakilan Rakyat di dominasi oleh Partai Politik yang bersangkutan. rahasia dan berkesamaan merupakan hal yang esensial dalam penyelenggaraan pemilu. kejujuran. Partai Politik. dengan cara pemungutan suara yang bebas dan yang sederajat dengan itu.. dan 3. Pemilihan Umum. Pendahuluan Pelaksanaan demokrasi dalam negara demokrasi modern sudah tidak mungkin lagi dilaksanakan dengan mempergunakan model demokrasi langsung. Tujuan Pemilihan Umum tidak lain adalah untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip demokrasi. Abstrak Menurut paham negara Demokrasi modern. Pengangkatan.M.Vol.

Pemilihan Umum juga dapat dipergunakan untuk menentukan orang-orang yang berhak menduduki jabatan Presiden dan Wakil Presiden. yaitu: Hak pilih aktif atau sering dikenal sebagai Hak untuk memilih. Seminar Sehari “Media Law & Election. Dalam Pemilihan Umum tercakup dua macam hak pilih. 2 Topik ini diambil dari Makalah B Hestu Ciptohandoyo. Menurut Henry B. Penentuan Kepala Pemerintahan ini biasanya sangat dipengaruhi oleh komposisi perolehan suara dari Partai Politik Peserta Pemilu. Gramedia. dan Hak pilih pasif. untuk menentukan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Kedua.Dekomrasi dan Partai Politik wakil rakyat di Badan Perwakilan Rakyat. 57 . 29 Juni 2002. 61. Dalam sistem Presidensiil yang murni. dalam Miriam Budiardjo.Hum yang berjudul Indonesia Menyongsong Pemilihan Umum 2004 “. Pemilu pada prinsipnya hanya dilaksanakan satu kali. yaitu hak untuk dipilih menjadi Anggota Badan Perwakilan Rakyat. Mayo. bahwa disamping untuk menentukan keanggotaan Badan Perwakilan Rakyat. Pemilu dan Rekruitmen Kepemimpinan Nasional2 Salah satu fungsi utama Pemilu dalam negara demokratis tidak lain adalah untuk menentukan Kepemimpinan Nasional secara konstitusional. yaitu pertama. Pemilu diselenggarakan sebanyak dua kali. Kepemimpinan Nasional yang dimaksud disini menyangkut juga kepemimpinan kolektif yang direfleksikan dalam diri para Wakil Rakyat. B. Dan pembentukan Parlemen inilah kemudian ditentukan Kepala Pemerintahan.1 Perlu diketahui pula. Oleh sebab itu dalam bentuk dan jenis sistem pemerintahan apapun. Mayo dengan adanya Pemilihan Umum maka salah satu nilai demokrasi dapat terwujud. Dasar-dasar Ilmu Politik. Kerjasama FH-UAJ dan Indonesia Media Law & Policy Centre. SH. Pemilu menduduki posisi yang sangat strategis dalam rangka melaksanakan tujuan tersebut. Di dalam sistem parlementer. yakni utamanya untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di Parlemen.M. untuk menentukan Presiden (Kepala Pemerintahan) dalam rangka menyelenggarakan Pemerintahan Negara. 1986. Kesemuanya itu dilakukan dalam rangka mengikut sertakan rakyat dalam kehidupan ketatanegaraan. artinya terjadi perpindahan kekuasaan negara dari pemegang yang lama kepada pemegang yang baru secara damai. Yogyakarta. hlm. Jakarta. Bagi Partai 1 Henry B.

3 Maksud Konstitusional Kasus disini adalah keadaan atau realitas konstitusi yang tidak sesuai dengan paradigma teori ketatanegaraan. 5 No. maka korelasi antara Pemilu dan Pemilihan Kepala Pemerintahan sifatnya adalah tidak langsung. 58 . Pemilihan secara bertingkat (tidak langsung). walaupun dalam Pemilu tahun 1999 Partai yang dipimpin oleh Megawati yakni PDIP memperoleh suara (kursi) di MPR lebih kurang 36%. dan 2. artinya para pemilih melakukan pemilihan orang atau kontestan (peserta) yang disukai. kelaziman tersebut ditolak melalui argumentasi konstitusional yang menegaskan bahwa Pemilihan Presiden merupakan wewenang MPR. Dengan demikian dalam konteks sistem Parlementer. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Sistem Presidensiil. Di dalam sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Sidang Umum (SU) MPR tahun 1999. Konstitusional kasus3 semacam inilah yang mengakibatkan Megawati harus berlapang dada untuk memberikan kesempatan kepada KH. Pemilihan secara langsung. yakni bergabungnya dua Partai Politik atau lebih untuk memperkuat suara di Parlemen. Sedangkan jika ternyata dalam Pemilu tidak ada satupun Partai Politik yang mampu menduduki kursi mayoritas. maka diberi kesempatan pertama untuk menentukan komposisi Pemerintahan Negara.Vol. Oleh sebab itulah hasil Pemilu tahun 1999 tidak dapat dipergunakan sebagai ukuran untuk menentukan secara langsung jabatan Kepala Pemerintahan. maka penentuan komposisi Pemerintahan Negara dilakukan dengan cara koalisi.Maret 2008 Politik yang menduduki kursi mayoritas. dapat ditempuh melalui dua alternatif. yaitu para pemilih melakukan pemilihan orang-orang untuk menjadi anggota suatu lembaga kenegaraan yang mempunyai wewenang untuk memilih orang yang akan menjadi pejabat negara tersebut. yaitu: 1. dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan Pemilihan Umum guna menentukan seseorang menjadi pejabat negara (Presiden dan Wakil Presiden). Abdurrahman Wahid menjadi Presiden. Contoh cara seperti ini pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang dilakukan oleh MPR sebelum Amandemen UUD 1945. Hal ini berarti antara Pemilu dan Pemilihan Presiden bukan merupakan “satu tarikan nafas” dalam penentuan rezim. 1 . Dari gambaran tersebut di atas.

Sistem ini sering disebut juga Pemilihan Umum. tentunya keberadaan anggota-anggota Lembaga Perwakilan Rakyat yang berasal dari Pemilihan Umum komposisinya harus lebih banyak ketimbang anggota-anggota Lembaga Perwakilan Rakyat yang berasal dari pengangkatan atau penunjukkan. Sistem Pemilihan Organis. 171.cit. Saragih. Menurut Wolhoff. Saragih. 1988. Artinya yang mempunyai kewenangan atau hak untuk mengutus wakil-wakilnya duduk sebagai anggota Lembaga Perwakilan Rakyat adalah Persekutuan-persekutuan hidup tersebut. hlm. Jakarta. sistem pemilihan organis ini dilandasi oleh pokok pikiran bahwa :5 a. b. dalam Bintan R. Rakyat dalam suatu negara dipandang sebagai sejumlah individu yang hidup bersama dalam beraneka ragam persekutuan hidup. maka dikenal pula adanya cara-cara pengangkatan maupun penunjukkan. tetapi karena ada kelompokkelompok fungsional yang hidup dan berkembang di dalam suatu masyarakat serta dibutuhkan keterwakilannya di dalam Lembaga Perwakilan Rakyat. Kendatipun demikian dalam negara yang menganut prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat.Dekomrasi dan Partai Politik Pada umumnya Anggota Partai Politik dapat duduk di Lembaga Perwakilan Rakyat melalui Pemilihan Umum. Sistem Pemilihan mekanis. Gaya Media Pratama. 5 Wolhoff. Berkaitan dengan adanya dua sistem tersebut. 4 Bintan R. Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum Indonesia. 59 . Persekutuan-persekutuan hidup inilah yang bertindak sebagai pengendali hak pilih. Sistem Pemilihan Organis. seperti genealogi (keluarga). yaitu :4 1. dst. tarn) dan lembaga-lembaga sosial (LSM/ORNOP). Loc. 2. Sehubungan dengan pola pengisian keanggotaan Lembaga Perwakilan Rakyat tersebut. yakni mengisi keanggotaan Lembaga Perwakilan Rakyat melalui pengangkatan atau penunjukan. di bawah ini akan penulis sampaikan pokok-pokok pikiran yang dikembangkan oleh masmg-masing sistem di atas. lapisanlapisan sosial (buruh. 1. maka mekanisme untuk menentukan anggota-anggota di Lembaga Perwakilan Rakyat dapat digolongkan ke dalam dua sistem. teritorial (daerah). fungsional spesialis (cabang industri).

sistem pemilihan mekanis berpangkal tolak dari pemikiran bahwa :6 a. Dalam negara liberal mengutamakan individu-individu sebagai kesatuan otonom dan masyarakat dipandang sebagai suatu kompleks hubunganhubungan antar individu yang bersifat kontraktual. Masing-masing individu berhak mengeluarkan satu suara dalam setiap pemilihan untuk satu Lembaga Perwakilan Rakyat. Masih menurut Wolhoff. dan tingkat representasinya sangat rendah.menurut sistem pemilihan organis . Partai politik atau organisasi politik berperan dalam mengorganisir pemilih.Vol. d. Partai-partai Politik dalam struktur kehidupan kemasyarakatan seperti ini tidak dibutuhkan keberadaannya. maka Undang-Undang tersebut dapat berlaku efektif jika rakyat telah menyetujui. Oleh sebab itu apabila Lembaga Perwakilan jenis ini akan menetapkan suatu Undang-Undang yang menyangkut hak-hak rakyat.tidak lebih hanya merupakan “Lembaga Perwakilan Persekutuan-persekutuan hidup”. Berdasarkan pokok pikiran inilah. 6 Loc.cit 60 . Rakyat di dalam suatu negara dipandang sebagai massa individu-individu yang sama. 2. Dengan demikian melalui sistem pemilihan organis ini kedudukan Lembaga Perwakilan menjadi lemah. b. Dengan kata lain Lembaga Perwakilan yang hanya berfungsi untuk mengurus kepentingan-kepentingan khusus dari persekutuan-persekutuan hidup yang ada di dalam masyarakat suatu negara. Individu-individu inilah yang bertindak sebagai pengendali hak pilih aktif. Hal ini disebabkan mekanisme pemilihan diselenggarakan dan dipimpin sendiri oleh masing-masing persekutuan hidup tersebut. c. maka keberadaan Lembaga Perwakilan Rakyat . Sistem Pemilihan Mekanis. Sedangkan di dalam negara sosialis-komunis lebih mengutamakan totaliteit kolektif masyarakat dan mengecilkan peranan individu-individu dalam totaliteit kolektif ini. 5 No. sehingga eksistensinya (keberadaannya) sangat diperlukan. baik menurut sistem satu partai.Maret 2008 c. e. misalnya melalui referendum. 1 . dua partai ataupun multipartai.

dibagi atas distrik-distrik pemilihan yang jumlahnya sama dengan kursi yang tersedia di parlemen (kursi di Parlemen yang diperebutkan dalam Pemilihan umum). Sistem Pemilihan distrik. kedua sistem Pemilihan Umum ini membuka peluang adanya kombinasi antara keduanya. maka keberadaan Lembaga Perwakilan Rakyat yang terbentuk bersifat Lembaga yang merepresentasikan kepentingan-kepentingan politik rakyat secara menyeluruh yang dalam perkembangannya disebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau Parlemen. yaitu: a. Dengan adanya sistem pemilihan mekanis inilah. Sistem Pemilihan Distrik. maka dapat juga dipergunakan cara penentuan distrik berdasarkan kursi di Parlemen di bagi dua. Jikalau pembagian distrik dirasa terlalu banyak. sebagaimana tertuang di dalam UU No.10 Tahun 2008 tentang Pemilu. Contohnya: Jumlah Kursi di Parlemen adalah 500. Setiap distrik hanya memilih satu orang wakil untuk duduk di Parlemen dari beberapa calon untuk distrik tersebut. maka dapat ditempuh dengan membagi wilayah negara menjadi 250 distrik. Dalam perkembangan lebih lanjut. Cara yang kedua ini mengakibatkan masing-masing distrik bisa mengirimkan wakil sebanyak 2 (dua) orang. Sistem Pemilihan Proporsional. maka dikenal adanya dua sistem Pemilihan Umum. Hal ini berarti untuk masing-masing distrik bisa mengirimkan dua calon untuk duduk di kursi Parlemen. 61 . dan b. Sistem Pemilihan yang mengkombinasikan antara sistem distrik dan Proporsional adalah sistem Pemilihan Umum yang dilaksanakan di Indonesia. Untuk cara yang pertama dapat ditempuh dengan membagi wilayah negara menjadi 500 distrik.Dekomrasi dan Partai Politik Berpangkal tolak dari pemikiran tersebut di atas. Wilayah suatu negara yang menyelenggarakan suatu pemilihan untuk wakilwakil di parlemen.7 Sistem yang dimaksud adalah “Sistem Proporsional dengan daftar calon terbuka8 a. Jikalau cara seperti ini mengakibatkan jumlah distrik terlalu banyak. 7 Ketika buku ini disusun RUU tentang Pemilihan Umum tersebut masih dalam tahap pembicaraan di DPR-RI 8 Pasal 5 ayat (l) UU tentang Pemilihan Umum. Tatanan Pemilihan umum seperti ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Bukan Partai Politik. Selain itu dalam perkembangan lebih lanjut sang wakil tidak akan mengatas namakan Partai Politik. Sedangkan kelemahan dan sistem pemilihan distrik. Sisa suara yang terbuang tidak perlu diperhitungkan. Hal ini disebabkan partai-partai politik tidak mungkin mencalonkan calon wakil rakyat yang tidak populer di masing-masing distrik. 1 . dan primordialisme menjadi berkurang. Bahkan ada kemungkinan adalah calon independen dan non partisan. Sistem ini mendorong penyatuan partai-partai (khususnya jika suatu negara itu mempergunakan sistem multi partai). Artinya Calon yang menjadi wakil dari suatu distrik. Hal ini mengingat tokoh-tokoh politik yang terpilih menjadi wakil masing-masing distrik lebih mengedepankan kepentingan rakyat di masing-masing distrik. 3. Organisasi dari penyelenggaraan pemilihan dengan sistem distrik ini relatif sederhana. Banyak suara yang terbuang. 5 No. Oleh sebab itulah ada kemungkinan partai-partai politik itu bergabung untuk mencalonkan seseorang yang lebih “mumpuni” diantara mereka. jikalau dibandingkan jumlah total suara (High Representative) dari calon62 . maka keuntungan yang dapat diperoleh adalah : 1. dan terpilihnya mereka ini semata-mata hanya karena kepopuleran dan kredibilitasnya.Vol. dapat dirumuskan sebagai berikut : 1.Maret 2008 Berdasarkan tatanan (sistem) Pemilihan distrik semacam ini. Hal ini disebabkan calon yang terpilih di masing-masing distrik hanya satu atau lebih dari satu. Tidak memerlukan banyak orang dan banyak birokrasi untuk menyusun kepanitiaan Pemilihan. maka ada kemungkinan pertumbuhan Partai Politik yang cenderung sektarian. Calon yang mumpuni itu belum tentu berasal dari satu partai. 2. karena dalam Pemilihan distrik. 4. Dengan mempergunakan sistem distrik. ideologis/aliran. pada hakikatnya hanya memperoleh suara minoritas (Low Representative) yang ada di distrik yang bersangkutan. Hubungan antara rakyat dengan “sang wakil” relatif dekat. Bahkan ada kemungkinan terjadi fenomena Low representative Versus High representative. Biayanya relatif lebih murah dan penyelenggaraannya relatif singkat. rakyat memilih orang. ketimbang kepentingan kelompok Partai yang justru kadangkala menyimpang dari kepentingan rakyat banyak.

Dekomrasi dan Partai Politik calon lain di distrik tersebut.dengan mempertimbangkan wilayah negara. Dengan kata lain sejumlah 400. Kendatipun negara dianggap satu daerah pemilihan. Contohnya : Calon A : 40 suara. Calon E : 15 suara. Sistem Pemilihan Proporsional (Multi member constituency). Misalnya untuk kepentingan ini ditentukan suatu perimbangan 1 : 400. Sehingga besar kemungkinan setiap organisasi peserta Pemilihan Umum (Partai Politik/ Golongan Politik) memperoleh kursi/wakil di Parlemen Pusat. negara dianggap sebagai satu daerah pemilihan. maka representasi dari calon A di distrik tersebut adalah rendah (Low representative). Kursi yang tersedia di Parlemen Pusat diperebutkan dalam suatu Pemilihan Umum. b. Apalagi mereka ini terpencar dalam berbagai distrik pemilihan. dibagi kepada Partai-Partai Politik atau golongangolongan politik yang ikut serta dalam Pemilihan Umum sesuai dengan imbangan suara yang diperoleh dalam pemilihan yang bersangkutan. Berdasarkan suara tersebut maka Wakil Rakyat dari Distrik tersebut adalah A. Dalam arti bahwa suara yang diperoleh dari suatu daerah dapat ditambahkan dari suara yang diperoleh dari suatu daerah lainnya. jumlah penduduk dan faktor-faktor politik lainnya . Calon D : 20 Suara. yaitu wilayah negara dibagi dalam daerahdaerah pemilihan. Akan tetapi bila dilihat jumlah total perolehan suara (B+C+D+E). namun mengingat luas wilayah suatu negara serta jumlah penduduk yang besar. maka pada umumnya dalam sistem pemilihan proporsional ini sering dibentuk daerah pemilihan (bukan distrik pemilihan). 2. Kemudian . Calon C : 25 suara.000 pemilih mempunyai 1 (satu) orang wakil di Parlemen.kursi yang tersedia di Parlemen 63 . artinya 1 (satu) orang wakil harus memperoleh dukungan suara 400.000.000 rakyat pemilih yang berhak. Tatanan (sistem) pemilihan umum seperti ini adalah mempergunakan mekanisme sebagai berikut. dan tiap suara dihitung. Calon B : 39 suara. Imbangan suara seperti ini. Menyulitkan bagi Partai-partai kecil dan golongan-golongan minoritas untuk mempunyai wakil di Lembaga Perwakilan Rakyat. Dalam sistem ini.

Secara ideal sistem pemilihan umum proporsional ini mengandung kebaikan-kebaikan. Tetapi jumlah kursi yang diperebutkan ini tidak boleh satu untuk satu daerah pemilihan. Sedangkan sisa suara yang mungkin ada di suatu daerah pemilihan tidak dapat dipindahkan ke daerah pemilihan yang lain.dalam rangka menentukan jumlah kursi yang diperoleh masing-masing Partai politik/golongan politik peserta Pemilihan Umum . Stelsel daftar ini tersusun berdasarkan nomor urut. Partai politik/golongan politik dapat menentukan anggota-anggotanya yang akan duduk di Parlemen dengan berlandaskan pada stelsel daftar calon anggota Parlemen. Daerah Pemilihan C: 7 kursi. 64 . jumlah penduduk dan sebagainya. Keempat : dari hasil yang diperoleh tersebut. Oleh sebab itu nomor urut yang paling atas-lah yang memungkinkan untuk dapat dipilih oleh Partai politik yang bersangkutan sebagai wakil rakyat yang duduk di Parlemen. Langkahlangkah yang harus ditempuh adalah : Pertama : dibagikan terlebih dahulu 30 kursi tersebut kepada daerahdaerah pemilihan. Ketiga : misalnya kursi yang berada di daerah pemilihan A yang berjumlah 10 dibagikan kepada Partai politik/golongan politik peserta Pemilihan Umum sesuai dengan imbangan suara yang diperoleh dalam pemilihan umum yang bersangkutan.maka cara yang ditempuh adalah dengan membagi jumlah suara yang diperoleh masing-masing peserta Pemilihan Umum dengan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Sehingga pemenang dari satu daerah pemilihan terdiri dari lebih dari satu orang. Contoh yang dapat dipergunakan untuk memperjelas sistem ini adalah : Misalnya suatu negara yang mempunyai 30 kursi di Parlemen akan menyelenggarakan Pemilihan Umum dengan sistem proporsional. misalnya ada 4 (empat) daerah pemilihan. melainkan harus lebih dari satu. Kedua: dengan mempertimbangkan wilayah negara. Inilah yang sering disebut Multy member constituency.Maret 2008 Pusat yang akan diperebutkan dalam Pemilihan Umum harus lebih dulu dibagikan ke daerah-daerah pemilihan. seperti jumlah suara pemilih yang terbuang sangat sedikit. 1 . - - Dalam perhitungan suara . maka ditentukan sebagai berikut : Daerah Pemilihan A: 10 kursi. 5 No. Daerah Pemilihan D : 6 kursi.Vol. Daerah Pemilihan B : 7 kursi.

180 65 . 3. Cara semacam ini dimunculkan sebagai respon atas keprihatinan rakyat terhadap kualitas wakil-wakil rakyat yang lebih condong mementingkan kepentingan Partai Politik. yaitu :9 1. sehingga lebih mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada. Wakil-wakil yang terpilih justru merasa lebih dekat dengan induk organisasinya. Partai Politik hanya mengajukan calon-calon dalam daftar yang disusun berdasarkan abjad. Disamping kedua sistem tersebut di atas. rakyat pemilih disamping “mencoblos” Partai Politik yang dikehendaki. Akan tetapi dalam penentuan wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR. Hal ini 9 Ibid. Dengan mempergunakan sistem ini peta Politik justru mengarah pada politik aliran yang sarat dengan konflik ideologi. Sehingga dengan mempergunakan cara semacam ini. Mekanisme dari sistem ini hampir sama dengan sistem proporsional. yaitu sistem Proporsional dengan daftar calon terbuka. hlm. Rakyat hanya memilih Partai Politik. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan bahwa keberadaan Partai Politik dalam menentukan seseorang menjadi wakil rakyat lebih dominan dari pada kemampuan individu dari sang wakil. masih dijumpai adanya sistem lain.Dekomrasi dan Partai Politik merangkum partai-partai kecil atau golongan minoritas untuk mendudukkan wakilnya di Parlemen. maka sistem ini justru mempersulit terbentuknya pemerintahan yang stabil. Bukan nomor urut. 2. maka dengan mempergunakan sistem proposional justru menjurus kearah munculnya bermacam-macam golongan. Akan tetapi sistem ini mengandung kelemahan yang cukup substansiil. yaitu Partai Politik. Bukan memilih seorang wakil. Kurang mendorong untuk dipergunakan dalam mencari dan memanfaatkan persamaan-persamaan. Dengan membuka peluang munculnya banyak partai. Dengan keadaan yang demikian ini. mereka juga memilih nama-nama calon wakil yang diajukan oleh Partai Politik yang bersangkutan. Kurang memiliki loyalitas kepada rakyat pemilih. Kemudian dalam pelaksanaan pemungutan suara. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai dan timbulnya partai-partai baru. Sistem semacam ini dikembangkan oleh Indonesia dalam melaksanakan Pemilu tahun 2004. diharapkan wakil rakyat benar-benar mampu membawa aspirasi rakyat pemilih. sebab pada umumnya penentuan pemerintahan didasarkan pada koalisi dari dua partai atau lebih.

sewenang-wenang. Secara singkat ke 10 Lihat Penjelasan Umum dalam Draft RUU tentang Pemilihan Umum. namun secara definitif dapat atau tidaknya orang tersebut duduk di DPR sangat tergantung pada hasil pilihan rakyat yang diambil dari daftar calon tersebut.pada prinsipnya melalui 10 (sepuluh) tahapan teknis. Di dalam Tap MPR No. Akan tetapi. bebas. jujur. berdasarkan pengalaman Pemilu di Indonesia yang selalu bernuansa manipulatif. Hal ini berbeda dengan asas-asas Pemilu yang pernah berlaku semasa Orde Baru. dan Rahasia). 5 No. Menurut Pasal 2 Undang-Undang tentang Pemilihan Umum. Umum. Sementara untuk memberikan landasan filosofis bagi seluruh rangkaian proses penyelenggaraan Pemilu belum ada asasnya. pelaksanaan Pemilu berdasarkan asas langsung. C. maka Undang-undang tentang Pemilihan Umum mengembangkan asas Pemilihan Umum. rahasia. rahasia. adil dan beradab. penuh intimidasi. Berkaitan dengan ketentuan semacam inilah. Perluasan asas pemilu semacam ini memang dirasa terlalu “membabi-buta”.sebagaimana dirancang oleh KPU . Semasa Orde Baru asas-asas Pemilu yang dipergunakan hanyalah “LUBER” (Langsung. Bebas. Masih berkaitan dengan asas Pemilihan Umum. jujur.Vol. tidak jujur. dan dapat dipertanggungjawabkan.10 Pengertian dan makna asas-asas Pemilu Indonesia yang sedemikian komplek tersebut di atas. adil. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999-2004 dan ketentuan Pasal 22E UUD 1945 mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pemilihan umum dilaksanakan secara lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas dasar prinsip demokratis. kalau diterjemahkan lebih singkat pada hakikatnya dipergunakan untuk memberikan landasan bagi seluruh rangkaian proses penyelenggaraan Pemilu. langsung. Tahap-tahap Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahapan Pemilihan Umum di Indonesia . bebas. Asas-asas semacam ini pada hakikatnya hanya dipergunakan pada saat pemungutan suara. umum. 66 .Maret 2008 mengingat walaupun seseorang dicalonkan oleh Partai Politik. maka memang masuk akal jika asas-asas Pemilihan umum tersebut dikembangkan sedemikian rupa. 1 . umum.

Masa tenang h.Dekomrasi dan Partai Politik sepuluh tahapan teknis sesuai Pasal 4 UU No. Pendaftaran peserta pemilu c. D.11 Kondisi sebagaimana digambarkan oleh 11 Herbert Feith. Kendatipun demikian. Penetapan peserta pemilu d. Pengucapan sumpah janji anggota DPR. Dalam Pemilu tahun 1955 banyak analis politik dan pakar ketatanegaraan menganggap bahwa Pemilu tersebut merupakan Pemilu yang paling demokratis yang pernah dilakukan di Indonesia. perkembangan untuk mencapai masyarakat yang demokratis masih nampak suram. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih b. The Indonesian Elections of 1955. DPD. 67 . Penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan e. DPRD Provinsi. Pencalonan anggota DPR. DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota. Sejak Pemilu tahun 1955. namun kenyataan menunjukkan bahwa hasil-hasil Pemilu dari kedua penyelenggaraan Pemilu tersebut tidak cukup signifikan untuk dipergunakan sebagai tolok ukur proses perjalanan sistem demokratis yang diidam-idamkan. Pemungutan dan Penghitungan suara i. Kilas Balik Pemilu di Indonesia Dalam catatan sejarah Indonesia telah menyelenggarakan 9 (sembilan) kali Pemilu. Masa kampanye g. Kalaupun Pemilu tahun 1955 dan Pemilu tahun 1999 dikatakan banyak orang adalah Pemilu yang demokratis. Penetapan hasil Pemilu j. Herbert Feith mengemukakan bahwa penyelenggaraan Pemilu tahun 1955 sesungguhnya merupakan bentuk kompromi politik Sukarno terhadap berbagai tekanan yang muncul dari TNI soal otoritas pemerintahan yang korup dan nepotis. dan DPRD Kabupaten kota f. percekcokan antar Partai Politik serta bancinya pemerintahan dalam menghadapi urusan-urusan ekonomi. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu (1) Pemilu dilaksanakan setiap 5 tahun sekali (2) Tahapan penyelenggaraan Pemilu meliputi : a.

kompromi-kompromi politik seharusnya diletakkan dalam lingkup konstitusional (kelembagaan) demokratis secara konstitusional. Berbagai kompromi politik pasca Pemilu tahun 1999 masih tetap mendominasi dalam penyelenggaraan sistem ketatanegaraan. 1 .Vol.untuk mempercepat pelaksanaan Pemilu pada tahun 1999. yang juga dianggap sebagai salah satu Pemilu di Indonesia yang demokratis. Rakyat sebagai subyek utama prinsip kedaulatan rakyat masih tetap diletakkan sebagai obyek dari Partai-partai Politik dalam menancapkan hegemoninya untuk melanggengkan kekuasaan. misalnya menghadapi Sidang Tahunan (ST) MPR. 5 No. Tragisnya proses pembodohan rakyat masih terus saja berlangsung. Semoga gambaran 68 .Maret 2008 Feith ini juga nampak jelas dalam realitas politik menjelang dan sesudah Pemilu tahun 1999. Dalam negara demokratis. Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid dan Era Megawati Soekarno Putri yang sarat dengan kompromi politik untuk bagi-bagi “kue” kekuasaan. Kondisi semacam ini yang kemudian mengakibatkan munculnya kompromi-kompromi dikalangan elit politik setelah jatuhnya Presiden Soeharto . Akan tetapi pelaksanaan yang demokratis tersebut tidak diimbangi dan dibarengi dengan kelanjutan mekanisme sistem ketatanegaraan yang demokratis pula. Bahkan disana-sini cenderung kearah anarkhis. Tidak dapat dipungkiri bahwa secara umum Pelaksanaan Pemilu tahun 1999 memang lebih demokratis ketimbang Pemilu-pemilu semasa Orde Baru. Kita bisa mengambil beberapa contoh. Inilah gambaran kilas balik Pemilu yang dapat penulis kemukakan secara singkat. Contoh lain adalah pertemuan-pertemuan elit Partai Politik yang dilakukan di luar Parlemen dan semakin marak guna mengambil kesepakatan-kesepakatan politik dalam rangka menghadapi suatu moment ketatanegaraan tertentu. Konflik antara Eksekutif dan Legislatif memuncak dan tak terkendali. Kondisi Politik menjelang Pemilu tahun 1999 ditandai dengan ambruknya legitimasi rezim Orde Baru sebagai akibat bobroknya moralitas para penyelenggara negara melalui penguatan KKN (Korupsi. Tidak hanya sekedar pertemuan-pertemuan informal antar elit Partai Politik yang sifatnya jelas ekstra-konstitusional. diantaranya adalah penentuan Kabinet di Era KH. Kolusi dan Nepotisme) secara sistemik yang pada gilirannya mengakibatkan terjadinya krisis multidimensional. Contoh-contoh tersebut di atas mengakibatkan hasil Pemilu tahun 1999 hanya bermakna demokratis yang semu.

Dasar-dasar Ilmu Politik. maka secara spontan Partai Politik berkembang menjadi penghubung antara rakyat disatu pihak dan pemerintah di pihak lain. Soltou: Sekelompok warganegara yang sedikit banyak terorganisir. Gramedia. bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum mereka. Partai Politik Keberadaan Partai Politik dalam kehidupan ketatanegaraan pertama kali dijumpai di Eropa Barat. 3. hlm. Jakarta.Dekomrasi dan Partai Politik ini dapat dipergunakan sebagai refleksi untuk menyusun sistem ketatanegaraan dan Pemilu yang lebih demokratis dan aspiratif. Definisi-definisi tersebut antara lain :13 1. Sudah banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai pengertian Partai Politik tersebut. 12 13 Miriam Budiardjo.H. R. Friedrich: Sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pemimpin Partainya. Sigmund Neumann: Organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan melawan golongan atau golongan-golongan lain yang tidak sepaham. yang bertindak sebagai satu kesatuan politik. 2. 159. keberadaan Partai Politik sejalan dengan munculnya pemikiran mengenai paham demokrasi dan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan sistem ketatanegaraan. E. yakni sejak adanya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang patut diperhitungkan serta diikut sertakan dalam proses politik. hlm.12 Dengan demikian dapat ditarik pengertian bahwa sebagai organisasi yang secara khusus dipakai sebagai penghubung antara rakyat dengan Pemerintah. yang dengan memanfaatkan kekuasaan memilih. dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota Partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materiil. Dengan adanya gagasan untuk melibatkan rakyat dalam proses politik (kehidupan dan aktifitas ketatanegaraan). Ibid. Carl J. 69 . 1986. 160-161.

Untuk merebut dan mempertahankan penguasaannya di dalam Pemerintahan tentunya dilakukan secara konstitusional. merebut ataupun mempertahankan kekuasaannya dalam pemerintahan secara konstitusional. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas. Demikian pula organisasi yang disebut Partai Politik. Miriam Budiardjo: Suatu kelompok yang terorganisir yang anggotaanggotanya mempunyai orientasi. Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas.juga dapat diperlihatkan dari aktivitas yang dilakukan. maka pada hakikatnya Partai Politik adalah suatu kelompok manusia yang terorganisir secara teratur baik dalam hal pandangan. Hal ini mengingat sebelum dikenal adanya paham mengikut sertakan rakyat dalam sistem politik. dengan tujuan pokok yakni menguasai.Maret 2008 4. Setiap organisasi yang dibentuk oleh manusia tentunya memiliki tujuantujuan tertentu. tujuan maupun tata cara rekruitmen keanggotaan. Hal ini berarti keberadaan Partai Politik juga dimaksudkan sebagai sarana untuk meredam konflik kepentingan ataupun persaingan yang muncul di lingkungan masyarakat dalam mempengaruhi pemerintahan. disamping yang utama adalah merebut. yaitu bahwa tujuan Partai Politik itu didirikan adalah untuk merebut ataupun mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan guna melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah digariskan oleh masing-masing Partai Politik. mempertahankan ataupun menguasai kekuasaan dalam pemerintahan suatu negara . nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya).Vol. 1 . tidak ada salahnya jikalau Keberadaan partai Politik di negara modern dipergunakan untuk mewujudkan tatanan kehidupan kenegaraan yang lebih beradab. perebutan kekuasaan selalu dilakukan dengan cara kekerasan. Rusadi Kantaprawira mengemukakan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh Partai Politik 70 . Oleh sebab itu. dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijaksanaankebijaksanaan mereka. 5 No. Tujuan Partai Politik. “Kasus Ken Arok” dalam sejarah Indonesia merupakan contoh yang dapat dipergunakan disini. kita dapat melihat adanya “benang merah” hubungan pengertian antara pendapat yang satu dengan yang lain. Tujuan pembentukan suatu Partai politik.

Bandung. Berperan untuk dapat memadu (streamlining) tuntutan-tuntutan yang masih mentah (raw opinion).Dekomrasi dan Partai Politik pada umumnya mengandung tujuan :14 a.. b. Oleh sebab itulah di dalam negara dengan struktur masyarakat yang masih paternalistik. yakni Partai Politik mana yang akan diikuti atau menjadi saluran politik mereka. sehingga memperkuat posisi dalam kehidupan politik ketatanegaraan. 1988. Klasifikasi Partai Politik. Berusaha melakukan pengawasan. Partai Politik gemar untuk memainkan ideologi-ideologi Partai guna memperoleh dukungan massa rakyat. 166-167. Sistem Politik Indonesia suatu Model Pengantar. Sehingga Partai Politik bertindak sebagai penafsir kepentingan dengan mencanangkan isu-isu politik (political issue) yang dapat dicerna dan diterima oleh masyarakat secara luas. Cet V. maka pilihan rakyat untuk berafiliasi kepada suatu Partai Politik tertentu sangat ditentukan oleh ideologi atau aliran yang dianut oleh suatu Partai Politik. 15 Dirangkum dari Mirriam Budiano. maka pada hakikatnya Klasifikasi Partai Politik dapat digambarkan sebagai berikut: 14 Rusadi Kantaprawira. Op. hlm. hlm. 71 . c. maka rakyat sebagai subyek dalam sistem ketatanegaraan dapat melakukan pilihan-pilihan alternatif. Berkaitan dengan hal inilah. Kehidupan dan aktivitas Partai politik semacam ini masih dapat dikategorikan sebagai Partai Politik tradisionil. dalam arti mendudukkan orang-orangnya menjadi pejabat pemerintah sehingga dapat turut serta mengambil atau menentukan keputusan politik atau output pada umumnya.15 Banyak jenis dan bentuk Partai Politik yang hidup dan berkembang di dalam suatu kehidupan ketatanegaraan. 62. Berpartisipasi dalam sektor pemerintahan. tindakan. di dalam struktur masyarakat yang masih paternalistik. Sinar Baru. Berkaitan dengan hal ini. bahkan oposisi bila perlu terhadap kelakuan. Penekanan mengenai program kehendak menjadi titik tolak utama untuk memperoleh dukungan massa rakyat. kebijaksanaan para pemegang otoritas (terutama dalam keadaan mayoritas pemerintahan tidak berada dalam tangan Partai Politik yang bersangkutan).cit. Dengan melihat aktivitas dari Partai Politik tersebut di atas.

b. Koalisi antar Partai Kader atau antar Partai Ideologi relatif 72 . Tujuan utama dari Partai Politik jenis ini adalah memenangkan Pemilihan Umum untuk anggota-anggota yang dicalonkannya. Partai Politik dengan Klasifikasi semacam ini dapat dikelompokkan kedalam dua jenis. Klasifikasi semacam ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis Partai Politik. Klasifikasi Partai Politik ditinjau dari Komposisi dan Fungsi Keanggotaannya.jika Partai-partai Politik itu akan melakukan koalisi . yaitu suatu Partai Politik yang lebih mementingkan keketatan organisasi dan disiplin kerja dan anggota-anggotanya. yaitu : a. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Partai Demokrat dan Republik di AS. b. Partai Ideologi (Partai Asas). 2. yaitu suatu Partai Politik yang pada umumnya memiliki organisasi nasional yang kendor (meskipun organisasi di tingkat lokal sering cukup ketat). Oleh sebab itu Partai semacam ini hanya giat melaksanakan aktivitasnya menjelang Pemilu.Maret 2008 1. yaitu : a. Partai Lindungan (Patronage Party).maka langkah yang paling mudah dan relatif berhasil untuk ditempuh adalah dengan melakukan koalisi Partai Politik yang sama-sama berjenis Partai Massa atau sama-sama Partai Lindungan. Disiplin yang lemah dan biasanya tidak terlalu mementingkan pemungutan iuran secara teratur. Berdasarkan dua klasifikasi besar mengenai Partai Politik tersebut di atas . Klasifikasi Partai Politik ditinjau Dari Sifat dan Orientasinya. Pemimpin Partai biasanya menjaga kemurnian doktrin Partai yang dianut dengan jalan mengadakan saringan calon-calon anggotanya secara ketat. Partai Kader. Oleh karena itu biasanya terdiri dari pendukung-pendukung dari berbagai aliran politik dalam masyarakat yang sepakat di bawahnya dalam memperjuangkan suatu program yang biasanya luas dan agak kabur. 1 .Vol. Partai Massa. 5 No. yaitu suatu Partai Politik (biasanya) yang mempunyai pandangan hidup yang digariskan dalam kebijaksanaan pemimpin dan berpedoman pada disiplin Partai yang kuat dan mengikat Hampir sebagian besar Partai-partai Politik yang ada di Indonesia dapat dikategorikan sebagai Partai Ideologi. yakni suatu Partai Politik yang lebih mengutamakan kekuatannya berdasarkan keunggulan jumlah anggota.

Istilah ini dipergunakan untuk Partai Politik yang benar-benar merupakan satu-satunya Partai Politik dalam suatu Negara. Pada umumnya sistem kepartaian semua ini muncul karena adanya keanekaragaman sosial budaya dan politik yang terdapat di dalam suatu negara.17 c. Menurut Maurice Duverger. Dalam kehidupan Politik ketatanegaraan suatu negara. maupun untuk Partai Politik yang mempunyai kedudukan dominan di antara beberapa Partai politik lainnya. hlm. besar kemungkinan akan terjadi gejolak-gejolak sosial yang menghambat usaha-usaha pembangunan dan menimbulkan disintegrasi. sistem ini adalah khas Anglo Saxon (Amerika. Dalam sistem ini Partaipartai Politik dengan jelas dibagi kedalam Partai Politik yang berkuasa (karena menang dalam Pemilihan Umum) dan Partai Oposisi (karena kalah dalam Pemilihan Umum). Misal Koalisi antar Partai yang berideologikan keagamaan tertentu. suku bangsa yang berbeda corak sosial dan pandangan hidupnya. Namun demikian . Loc. daerah. yaitu :16 a.oleh para sarjana . 73 . Sistem Banyak Partai (multy party system).dianggap merupakan bentuk penyangkalan diri (contradictio in terminis). Dikhawatirkan bahwa bila keanekaragaman sosial budaya ini dibiarkan tumbuh dan berkembang.Dekomrasi dan Partai Politik sulit untuk dilakukan. karena Pimpinan negara-negara baru sering dihadapkan masalah bagaimana mengintegrasikan berbagai golongan. mengingat dalam pengertian sistem itu sendiri akan selalu mengandung lebih dari satu unsur atau komponen. b. pada prinsipnya dikenal adanya tiga sistem kepartaian. Sistem Partai Tunggal (the single party system). 167. 169. Apalagi Koalisi antar Partai Politik dengan Ideologi yang jauh berseberangan. Kecenderungan untuk mengambil sistem Partai Tunggal disebabkan.cit. Sistem Kepartaian. Ibid. Sistem dua Partai (two party system). hlm. Filipina).18 16 17 18 Lihat Ibid.

yaitu PNI. X tahun 1945 tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945 setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 . Melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dilakukanlah penyederhanaan sistem Kepartaian di Indonesia. dan Partindo. Perlu diketahui bahwa Pemilu tahun 1955 dipergunakan untuk memilih anggota Konstituante yang bertugas untuk merumuskan UUD yang akan menggantikan UUDS 1950. 4. tidak berarti konflik ideologi dalam masyarakat umum sebagai akibat pengaruh yang dibawa oleh Partai-partai Politik tersebut menjadi berkurang. 3. Strategi Pembangunan Nasional. 5 No.19 1. dst. Perti.Maret 2008 F. PARKINDO. CSIS. Dengan berkurangnya jumlah Partai Politik tersebut. 19 Dirangkum dari Ali Moertopo. . 2. maka pada tanggal 12 Desember 1964. dan memilih DPR. Tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 9 Partai Politik yang mendapat pengakuan.Indonesia menganut sistem Multi Partai yang ditandai dengan munculnya 24 Partai Politik yang berbasis Aliran (ideologi).Penpres No. 190. 74 . Get II. yaitu : . Untuk mengatasi hal ini. 1982. PKI. maka banyak kalangan cerdik pandai kaum Bumiputera yang mulai tergerak untuk ikut serta dalam kehidupan ketatanegaraan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan. Dengan keluarnya Maklumat Wk. Perkembangan Partai Politik Di Indonesia.Vol. Partai Katolik. PSII. 13 Tahun 1960 mengatur tentang pengakuan. 7 Tahun 1959 dan Peraturan Presiden (Perpres) No. hlm. 5. Pelopor utama dari Organisasi kemasyarakat tersebut adalah Boedi Oetomo. 1 . Menjelang Pemilu tahun 1955 yang berdasarkan Demokrasi Liberal terdapat 70 Partai Politik maupun perseorangan yang mengambil bagian dalam Pemilu tersebut. Presiden No. Murba. Keberadaan Partai Politik di Indonesia dimulai sejak Pemerintah Hindia Belanda mencanangkan Politik Etis pada tahun 1908. Dengan adanya Politik Etis ini. NU.Pada tanggal 17 Agustus 1960 PSI dan Masyumi dibubarkan. Jakarta. di Bogor diselenggarakan pertemuan Partai-Partai Politik dan menghasilkan Deklarasi Bogor. pengawasan dan pembubaran Partai-partai Politik.

IPKI. HSBI.Dekomrasi dan Partai Politik 6. Gagasan pengelompokkan Partai-partai Politik (Fusi) di Indonesia mengandung tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah melakukan penyederhanaan kehidupan kepartaian di Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh Tap MPRS No. Kelompok materiil-spirituil yaitu terdiri dari Partai-partai Politik yang lebih menekankan pada pembangunan materiil tanpa mengabaikan aspek spirituil. Tujuan jangka pendek adalah mempertahankan stabilitas nasional dan kelancaran pembangunan dalam rangka menghadapi Pemilihan Umum. Kemudian dimulailah usaha pembinaan Partai-partai Politik yang dilakukan oleh Orde Baru. 7. Pengelompokkan jenis ini diikuti oleh PNI. maka disarankan pembentukan dua kelompok Partai-partai Politik. Gagasan penyederhanaan kehidupan kepartaian di Indonesia ini tidak hanya mengandung arti pengurangan jumlah Partai Politik. Pendukung dari Partai ini adalah Muhammadiyah. Tanggal 12 Maret 1966 setelah terjadi Pemberontakan G/30/S PKI. tetapi juga melakukan perombakan sikap dan pola kerja dari Partai-partai politik menuju orientasi pada program. Presiden Soeharto mengadakan konsultasi dengan Partai-partai Politik. PII. PUI dan IPM). Pengelompokkan jenis ini diikuti oleh NU. HMI. sebagai berikut : 1. Tanggal 27 Pebruari 1970. maka PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai Partai terlarang di Indonesia. Juga disarankan oleh Presiden Soeharto untuk mempergunakan asas Pancasila dan UUD 1945. dan yang belum tersalurkan aspirasinya. Aliwasliyah. Berdasarkan gagasan ini. Kelompok Spirituil-materiil yaitu terdiri dari Partai-partai Politik yang lebih menekankan pada aspek pembangunan spirituil tanpa mengabaikan aspek meteriil. Partai Katolik. 75 . Murba. Gasbindo. PSII dan Peru. Gagasan Pengelompokkan Partai-partai Politik. 2. XXII/MPRS/1966. dan Parkindo. Tanggal 20 Pebruari 1968 didirikan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) sebagai langkah peleburan dan penggabungan ormas-ormas Islam yang sudah ada. guna membahas gagasan untuk mengelompokkan Partai-partai Politik yang ada di Indonesia. 8. Parmusi.

Maret 2008 Dua pengelompokkan Partai Politik berdasarkan orientasi tersebut memang terasa janggal. ternyata dimasukkan dalam pengelompokkan materiil-spirituil. Keberadaan ketiga organisasi kekuatan sosial politik ini kemudian dikukuhkan dengan keluarnya UndangUndang No. 197. dibatasi. Partai Katolik. Pada tanggal 9 Maret 1970. terjadi pengelompokkan Partai-partai Politik dengan terbentuknya Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari PNI. sosial dan pertahanan. dan Murba. Menurut Ali Moertopo. PSII dan Perti. yakni organisasi ekonomi. Parmusi. 76 . Parkindo. Artinya Tidak diperkenankan munculnya 20 Ibid. kultural. yaitu dua Partai Politik (PPP dan PDI) serta satu Golongan Karya (Golkar). 1 . Kita ambil contoh misalnya Partai Katolik dan Parkindo yang jelas-jelas bernafaskan spirituil keagamaan. Kemudian pada tanggal 13 Maret 1970 terbentuk kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri dari NU. karena sebagaimana kita ketahui kelompok spirituil-materiil terdiri dari Partai-partai Politik yang basis ideologinya adalah Islam. hlm.20 Akhirnya dalam Pemilihan Umum tahun 1971 hanya terdapat tiga bendera kekuatan Politik Peserta Pemilihan Umum.Vol. Disamping kedua kelompok (hasil Fusi) Partai Politik tersebut. Golongan Karya adalah golongan-golongan dalam masyarakat yang masing-masing menyumbangkan peranan khusus bagi berfungsinya masyarakat. Golongan-golongan tersebut kemudian membentuk satu kelompok tersendiri yang kemudian disebut sebagai Golongan Karya (Golkar). Kondisi semacam ini mungkin disebabkan adanya kesulitan-kesulitan ideologis untuk menggabungkan kedua Partai tersebut untuk masuk ke kelompok spirituil-materiil. Dengan adanya Undang-undang tersebut. 5 No. ternyata dalam perkembangannya terdapat golongan-golongan fungsional yang tidak dapat dimasukkan kedalam salah satu dari Partai Politik yang berfusi tersebut di atas. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya. IPKI. Langkah terakhir adalah pada tanggal 5 dan 10 Januari 1973 terbentuklah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai fusi Kelompok Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia sebagai fusi Kelompok Demokrasi Pembangunan. praktis kehidupan kepartaian di Indonesia di era Orde Baru.

namun kondisi kepartian di Indonesia berjalan tetap seperti semula. Birokrasi dan Militer (TNI/ Polri). Pada hakikatnya kekuatan GOLKAR dalam lingkup politik. Perpecahan di tubuh PDI tersebut menimbulkan kemelut berkepanjangan yang pada akhimya mengakibatkan peristiwa berdarah yang sering disebut “Peristiwa Sabtu Kelabu” pada tanggal 27 Juli tahun 1996. Peristiwa ini disebabkan sikap dari aparat Keamanan yang bertindak sangat represif kepada massa pendukung PDI versi Megawati Sukamo Putri yang menduduki Kantor Pusat PDI di Jln. melainkan karena diberikannya fasilitas-fasilitas politik oleh Pemerintah. Pegawai Negeri Sipil dan TNI maupun Polri secara otomatis merupakan Keluarga Besar Golkar. Bahkan dalam berbagai hal.Dekomrasi dan Partai Politik Organisasi atau Golongan Politik lainnya. disebabkan oleh adanya tiga pilar utama sebagai penyangga. Bahkan dalam konteks Floating Mass (massa mengambang) yang hanya diperkenankan untuk membentuk kepengurusan sampai ke tingkat Desa. dan hanya mengakui PDI yang dipimpin oleh Soerjadi. menyampaikan pendapat baik tertulis maupun lisan. Golkar sebagai kekuatan mayoritas dan selalu memegang posisi single majority selalu mendominasi peta kehidupan politik ketatanegaraan Indonesia. Dari “Peristiwa Sabtu Kelabu” inilah. Dengan “keterpasungan” kehidupan kepartaian selama rezim Orde Baru inilah. Diponegoro Jakarta. sebagaimana diatur di dalam Pasal 28 UUD 1945 tidak terakomodasi dengan baik. Puncak dari “keterpasungan” kehidupan kepartaian di Indonesia tersebut mencapai titik kulminasi dan menimbulkan perlawanan-perlawanan politik. maka pelaksanaaan sistem ketatanegaraan Indonesia menjadi tidak sejalan alias menolakprinsip-prinsip Pemerintahan yang demokratis. Kemampuan Golkar yang demikian ini. di luar yang telah diatur oleh UU No. muncul berbagai perlawanan susulan dari para aktivis gerakan Pro demokrasi 77 . Ini berarti kehidupan demokrasi yang ditandai dengan adanya jaminan kebebasan masyarakat untuk berkumpul dan berserikat. Walaupun Undang-Undang ini mengalami perubahan berulangkali. yakni Presiden Soeharto (sebagai Dewan Pembina GOLKAR). adalah ketika Partai Demokrasi Indonesia “dipecah” oleh Pemerintah Orde Baru dengan cara tidak mengakui kepemimpinan Megawatt Sukarno Putri. hanyalah Golkar melalui struktur Birokrasi yang ada. sebenarnya tidak melulu karena kekuatan diri sendiri. Pemerintahan rezim Orde Baru membatasi ruang gerak dari kedua Partai Politik yang ada. 3 Tahun 1975.

1 . G. 4. Partai Politik adalah produk dari kebebasan berfikir berpendapat. Sehingga menjelang Pemilu tahun 1999. 2. Mampu memperkuat jajaran Pimpinan dan kepengurusan termasuk 78 . 3. sistem Kepartaian di Indonesia berubah menjadi sistem multi partai. kapankah peta kehidupan politik Indonesia lebih menunjukkan pola egaliter? jawaban atas permasalahan ini. 5 No. Sistem seperti ini dikukuhkan dengan munculnya UU No. sebaiknya Partai-partai Politik : 1. Pemilihan Umum (Pemilu) adalah mekanisme untuk menentukan pilihan rakyat terhadap Partai Politik.000. Pertanyaannya. Oleh karena itu demi mewujudkan demokrasi sejati dan bukan demokrasi semu yang mengatas-namakan rakyat. Dari sejarah perjalanan tersebut. Partai Politik merupakan alat bagi rakyat dalam menjalankan kedaulatan rakyat. Kesimpulan 1.Vol. Perlawanan dari para aktivis pro demokrasi ini mencapai titik keberhasilan setelah Indonesia menghadapi krisis ekonomi di akhir tahun 1997 yang ditandai dengan merosotnya nilai tukar Rupiah atas Dolar AS sampai berkisar Rp. 15. berserikat dan berkumpul. kecenderungan akan menguatnya politik aliran (ideologi) yang dibawa oleh masing-masing Partai Politik masih menunjukkan kekentalannya. Penutup a. tidak kurang dari 60 Partai Politik sebagai Peserta Pemilu.Maret 2008 untuk menentang kezaliman rezim Orde Baru. Kondisi ekonomi dan moneter ini kemudian menjadi titik tolak untuk menumbangkan Presiden Soeharto yang telah memegang kepemimpinan nasional yang kalau diakumulasikan berlangsung sepanjang kurang lebih 32 tahun. sangat tergantung dan perkembangan budaya politik dan masyarakat Indonesia. Demikianlah perjalanan sejarah kehidupan kepartaian di Indonesia. Saran Banyaknya Partai Politik. merupakan konsekwensi kelirunya penilaian terhadap demokrasi Indonesia. maka terbuka kesempatan untuk mengembangkan kehidupan kepartaian yang lebih demokratis. Menyongsong Pemilu 2009 saja. b.-/Dolarnya. Tidak ada demokrasi tanpa Partai Politik. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik. Dengan tumbangnya Presiden Soeharto inilah.

3. 79 .Dekomrasi dan Partai Politik pendidikan politik bagi kader-kadernya sehingga dapat mengembangkan organisasi partai yang baik. 2. Mampu mandiri dalam masalah keuangan sehingga tidak tergantung pada Pemerintah. Mampu menyelesaikan konflik internal secara damai sehingga tidak merusak citra dan keutuhan partai yang pada akhirnya akan memperoleh simpati rakyat dalam pemilu. Oleh karena itu perlu adanya sejumlah kader Partai yang kaya dan dapat memberikan kontribusi kepada partainya secara maksimal. Mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan partai sebagai sarana untuk pemberdayaan masyarakat karena pemberdayaan rakyat merupakan bagian tak terpisahkan dalam pembentukan kekuasaan. 4.

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

DAFTAR PUSTAKA

Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Studi Sosio-Legal atas Konsituante 1956-1959, Grafita, Jakarta, 1995. Arief Budiman, Teori Negara Negara, Kekuasaan dan Ideologi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996. Bintan R. Saragih, Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1988. B. Hestu Cipto Handoyo, Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan & Hak Asasi Manusia (Memahami Proses Konsolidasi Sistem Demokrasi di Indonesia), Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2003. Hamid S Attamimi, Peranan Keputusan Presiden Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Disertasi Fakultas Pasca Sarjana UI, Jakarta,1990. Hasan Al Rasyid, Pengisian Jabatan Presiden, Grafiti, Jakarta, 1999. Ismail Suny, Mekanisme Demokrasi Pancasila, Cet. IV, Aksara Baru, Jakarta, 1987. Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia-Jakarta, 1986 Moh. Kusnardi & Hasmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat Studi HTN-FHUI, Jakarta, 1983. Rusadi Kartaprawira, Sistem Politik Indonesia suatu Modal Pengantar, Cet. V, Sinar Baru, Bandung, 1988. Undang-Undang Dasar 1945, Amandemen I, II, III dan IV. Undang-Undang No. 22 Tahun 2007, tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Undang-Undang No. 2 Tahun 2008, tentang Partai Politik. Undang-Undang No.10, tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

80

PARADIGMA BARU UU NO. 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK
Oleh: A.A. Oka Mahendra, S.H.

Pendahuluan Sesudah amandemen ke-3 UUD Negara R.I. Tahun 1945 basis konstitusional eksistensi partai politik di Indonesia semakin kuat sebagai salah satu pilar pelaksanaan prinsip negara yang berkedaulatan rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD Negara R.I. Tahun 1945 dan Pasal 1 ayat (2) UUD Negara R.I. Tahun 1945. Sebelum amandemen ke-3 UUD Negara R.I. Tahun 1945, eksistensi partai politik memperoleh dasar konstitusionalnya dalam Pasal 28 UUD yang menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya. Sejak amandemen ke-3 UUD secara eksplisit ditentukan peranan partai politik dalam pengusulan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 6A ayat (2) untuk dipilih langsung oleh rakyat. Selain itu UUD menentukan pula peranan partai politik sebagai peserta pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan anggota DPRD (Pasal 22E ayat (3). Mengapa UUD menekankan pada salah satu fungsi partai politik saja yaitu sebagai sarana rekrutmen kepemimpinan politik? Padahal disamping itu partai politik mempunyai fungsi lainnya seperti fungsi sarana komunikasi politik, sarana sosialisasi politik dan sarana pengatur konflik (Mariam Budiardjo, 1981:14-17). Sebabnya ialah karena pembentuk UUD memandang soal kepemimpinan politik sangat strategis dalam penyelenggaraan negara. Melalui proses rekrutmen kepemimpinan yang demokratis diharapkan supra struktur politik akan diisi oleh pemimpin-pemimpin yang akseptabel dan kapabel melalui proses seleksi yang demokratis. Sudah tentu fungsi lainnya dari partai politik tetap dianggap penting dan secara lebih rinci akan diatur dalam UU sebagai pelaksanaan ketentuan konstitusi. Seperti diketahui sesudah amandemen ke-3 UUD Negara R.I. tahun 1945 pada tahun 2002 telah diundangkan UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik untuk menggantikan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik yang dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
81

Vol. 5 No. 1 - Maret 2008

perubahan ketatanegaraan serta sebagai pelaksanaan Ketetapan MPR Nomor X/MPR/2001 dan Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2002. Dalam perkembangan selanjutnya UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik oleh pembentuk undang-undang dipandang perlu untuk diperbaharui sesuai dengan tuntutan dan dinamika masyarakat. Sehubungan dengan itu pada tanggal 4 Januari 2008 telah diundangkan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Permasalahannya ialah: a. Mengapa UU No. 31 Tahun 2002 dicabut, apa latar belakangnya? b. Perubahan apa saja yang dimuat dalam UU No. 2 Tahun 2008? c. Apakah UU No. 2 Tahun 2008 akan menjamin peningkatan kualitas partai politik dimasa yang akan datang? Latar belakang pencabutan UU No. 31 Tahun 2002 Jawaban atas permasalahan mengapa UU No. 31 Tahun 2002 dicabut dapat kita simak dari konsideran menimbang dan Penjelasan Umum UU No. 2 Tahun 2008. Ada 3 alasan pokok yang dikemukakan sebagai berikut: a. Untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat yang diakui dan dijamin oleh UUD Negara R.I. Tahun 1945. Prinsip kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat sebagai hak asasi manusia harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang kuat dalam Negara Kesatuan R.I. yang merdeka, berdasarkan hukum (konsideran menimbang huruf a dan b). b. Dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut peningkatan peran, fungsi dan tanggung jawab partai politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional sebagai sarana partisipasi politik masyarakat (Penjelasan Umum alinea ke-2) c. UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik belum optimal mengakomodasikan dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran partai politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan partai politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern. Pembentuk UU tampakya berkeinginan agar dibawah UU yang baru partai politik lebih beperan, berfungsi dan bertanggung jawab sebagai sarana
82

yang melaksanakannya melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan orangorang yang akan memegang tampuk pimpinan untuk masa berikutnya. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik partisipasi politik masyarakat dalam kehidupan demokrasi. transparansi. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan partai politik dalam sistem nasional berbangsa dan bernegara”. mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy)”. yaitu dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung. transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan partai politik.Paradigma Baru UU No. Perubahan yang dimuat dalam UU No. Untuk itu partai politik dibangun sebagai organisasi modern. Sebagai organisasi modern partai politik juga harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip keadilan. Partai politik diharapkan menjadi sarana partisipasi politik masyarakat. Partai politik diharapkan tidak sekedar menjadi “mesin pengumpul suara” yang digerakkan menjelang dan pada saat pemilihan umum. melalui sejumlah pembaharuan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan partai politik yang menyangkut demokratisasi internal partai politik. Dengan demikian partai politik akan menjadi organisasi yang sehat dan mampu memainkan peranannya dalam kehidupan politik. Lebih lanjut pada alinea ke-5 dikemukakan antara lain: “Dalam UU ini diamanatkan perlunya pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan 83 . 2 Tahun 2008 mengemukakan: “UU ini mengakomodasikan beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia. 2 Tahun 2008 Penjelasan Umum alinea ke-4 UU No. Mariam Budiardjo (1981:1) mengemukakan “bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. maka partai politik mesti dibangun dengan visi kebangsaan dengan governance culture yang demokratis. akuntabilitas dan responsibilitas. Lebih lanjut dikemukakan bahwa di negara-negara demokratis pemikiran yang mendasari konsep partisipasi politik ialah bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat. Sebagai organisasi modern dan bersifat nasional. Partai politik diharapkan dapat menjadi sarana yang efektif untuk turut menentukan kebijakan publik dan memilih pemimpin politik yang dipercaya untuk menjalankan kekuasaan untuk kepentingan rakyat. Jadi partisipasi politik merupakan pengejawantahan dari penyelenggaraan kekuasaan politik yang absah oleh rakyat.

tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota dan dapat dibentuk sampai tingkat kelurahan/desa atau sebutan lain dan organisasi partai politik tersebut memiliki hubungan kerja yang bersifat hierarkis. 1 . UU No.Vol. 50% dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan dan 25% dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota pada daerah yang bersangkutan (Pasal 3 ayat (2) huruf d). Demokratisasi Internal Partai Politik Demokratisasi internal partai politik antara lain tercermin dalam Pasal 22 yang menentukan kepengurusan partai politik di setiap tingkatan dipilih secara demokratis sesuai dengan AD dan ART. Selain itu ditentukan pula bahwa partai politik yang bersangkutan harus memiliki rekening atas nama partai politik (Pasal 3 ayat (2) huruf e). meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”. Marilah kita simak satu persatu apa yang disebut dengan beberapa paradigma baru dalam UU No. Kemudian dalam Pasal 27 dan Pasal 28 ditentukan pengambilan keputusan partai politik di setiap tingkatan dilakukan secara demokratis sesuai dengan AD dan ART. 1. Dan anggota partai politik mempunyai hak dalam menentukan kebijakan serta hak memilih dan dipilih.Maret 2008 kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban. Dalam praktek kedaulatan anggota ini tidak benar-benar terwujud. Kemudian dalam Pasal 12 huruf j ditentukan partai politik berhak membentuk dan memiliki organisasi sayap partai politik. Selanjutnya dalam Pasal 17 ditentukan bahwa kepengurusan partai politik terdiri atas organisasi tingkat pusat. 2 Tahun 2008 seperti juga UU No. Partai politik menurut Pasal 30 berwenang membentuk dan menetapkan peraturan dan/atau keputusan partai politik berdasarkan AD dan ART serta tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan. Sebab sesungguhnya yang memanfaatkan kedaulatan dan hak-hak anggota 84 . 2. 2 Tahun 2008. Penguatan Sistem dan Kelembagaan Partai Politik Penguatan Sistem dan Kelembagaan Partai Politik antara lain tercermin dari persyaratan yang harus dipenuhi oleh partai politik untuk menjadi badan hukum khususnya yang berkaitan dengan syarat memiliki kepengurusan paling sedikit 60% dari jumlah provinsi. 5 No. 31 Tahun 2002 sama-sama menentukan kedaulatan partai politik berada ditangan anggota yang dilaksanakan menurut AD dan ART.

Pasal-Pasal Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 yang berkaitan dengan peningkatan kesetaraan gender dimulai dari Pasal 2 ayat (5) yang menentukan : “Kepengurusan partai politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dengan menyertakan paling rendah 30% keterwakilan perempuan . Transparansi dan Akuntabilitas dalam Pengelolaan Keuangan Partai Politik Mengenai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan partai politik diatur secara rinci dalam Bab XV mengenai keuangan yang terdiri dari Pasal 34 sampai dengan Pasal 39. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik tersebut adalah anggota yang termasuk dalam lingkaran elit partai. Bahkan tak jarang elit politiklah yang sesungguhnya menentukan kebijakan partai termasuk kepemimpinan partai. 3. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa partai politik belum tertib mengelola keuangannya. Kemudian Pasal 38 menentukan hasil pemeriksaan dan pengeluaran keuangan partai politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 terbuka untuk diketahui masyarakat. Ketentuan yang cukup bagus tersebut dalam praktek sulit dilaksanakan. Selanjutnya dalam Pasal 37 ditentukan bahwa pengurus partai politik di setiap tingkatan organisasi menyusun laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan setelah tahun anggaran berkenan berakhir. Undang-undang menentukan bahwa penerimaan dan pengeluaran keuangan partai politik dikelola melalui rekening kas umum partai politik dan pengurus partai politik di setiap tingkatan melakukan pencatatan atas semua penerimaan dan pengeluaran keuangan partai politik (Pasal 36 ayat (2) dan ayat (3).Paradigma Baru UU No. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 2 dikenai 85 . Peningkatan Kesetaraan Gender Peningkatan kesetaraan gender tampaknya menjadi salah satu isu penting dalam perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. Lebih-lebih lagi ketentuan Pasal 37 dan Pasal 38 tersebut tidak bersifat mewajibkan sehingga pelanggaran terhadap ketentuan tersebut tidak ada sanksinya. Elit politiklah yang sesungguhnya menentukan kebijakan partai termasuk kepemimpinan partai. Lebihlebih lagi tipologi partai politik di Indonesia dekat dengan partai massa. 4. Menurut Maurice Duverger (1981:19) “Lingkungan dalam (inner circle) ini menyerupai sedikit banyak kepemimpinan partai tradisional yang seakanakan menyelinap di tengah-tengah jantung partai masa tersebut”. Bahkan tak jarang di kalangan partai politik tertentu pengambilan keputusannya bersifat top down ketimbang bottom up.

Pendidikan Politik Partai politik menurut Pasal 31 melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawabnya dengan memperhatikan kesetaraan gender dengan tujuan antara lain: a. Selanjutnya ditentukan bahwa pendidikan politik dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politk sesuai dengan Pancasila. b. Meningkatkan kemandirian. organisasi dan 86 . berbangsa dan bernegara. 1 . Peningkatan Kualitas Partai Politik Undang-Undang tentang Partai Politk mengatur syarat pembentukan partai politik. Partai politik juga belum mampu memberikan suri teladan bagi perilaku politik yang etis dan sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa yang bermartabat. kedewasaan. keanggotaan dan kedaulatan anggota. 5. perubahan AD dan ART.Maret 2008 sanksi administratif berupa penolakan pendaftaran partai politik sebagai badan hukum oleh Departemen Hukum dan HAM. namun tampaknya partai politk belum banyak melakukannya. Pasal 31 ayat (1) menentukan bahwa dalam melakukan pendidikan politik.Vol. Meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. asas dan ciri. partai politik memperhatikan kesetaraan gender. berbangsa dan bernegara. karena disibukkan dengan urusan pemilihan umum dan menyelesaikan konflik-konflik internal. Pendidikan politik sangat penting sebagai wahana untuk membangun etika dan budaya politik. dan membangun kesatuan bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. hak dan kewajiban partai politik.101) “Negara-negara yang mempunyai civil cultur yang fungsi akan menopang demokrasi yang stabil. Meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. c. Pasal 20 menentukan kepengurusan partai politik tingkat provinsi dan kabupaten / kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% yang diatur dalam AD dan ART partai politik masing-masing.” Meski pendidikan politik sangat strategis. tujuan dan fungsi. 5 No. Menurut Almond dan Verba seperti dikutip oleh Affan & Gaffar (1999. sebaliknya negara-negara yang memiliki derajat civil cultur yang rendah tidak mendukung terwujudnya sebuah demokrasi yang stabil.

penghimpun dan penyalur aspirasi politik masyarakat. kader-kadernya handal dan mekanisme demokrasi dalam tubuh partai berjalan dengan baik. Peningkatan kualitas partai politik dapat diwujudkan bila partai politik terkonsolidasi dengan baik. Setidak-tidaknya kepemimpinnya di semua tingkatan cukup kuat. peraturan dan keputusan partai politik. karena partai politik merupakan bagian dari permasalahan ketimbang bagian dari solusi untuk memecahkan permasalahan krusial yang dihadapi bangsa Indonesia seperti masalah kemiskinan. partisipasi politik dan rekrutmen politik. penyerap. pengambilan keputusan. Dewasa ini kepercayaan rakyat kepada partai politik menurun. Secara fungsional partai politik dapat dikatakan meningkat kualitasnya apabila partai politik semakin mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana pendidikan politk. Pengaturan yang cukup lengkap tersebut tidak dengan sendirinya meningkatkan kualitas partai politik. larangan. Partai politik berebut untuk menggeggam kekuatan dan distribusi kekuasaan dijadikan salah satu sarana bargaining politik. infrastruktur perekonomian. penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Sudah tentu dukungan sumber daya yang memadai diperlukan untuk membangun organisasi partai politik yang efektif. rekrutmen politik. pendidikan politik. Partai politik memang perlu membenahi rumah tangganya. pendidikan. penyelesaian perselisihan partai politik. konflik horizontal/vertikal di beberapa daerah yang dapat mengancam keutuhan NKRI dan menurunnya peranan Indonesia dalam percaturan politik internasional. pembubaran dan penggabungan partai politk dan pengawasan. struktur organisasinya mantap. 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik tempat kedudukan. keuangan. Partai politik perlu melakukan konsolidasi organisasi. Bahkan akhir-akhir ini partai politik sering menyuguhkan tontonan yang tidak bisa dijadikan tuntunan dalam menegakkan prinsip-prinsip demokrasi. jaminan sosial. Outcome yang diharapkan adalah stabilitas kehidupan politik dan semakin berkembangnya demokrasi. konsolidasi 87 . pengangguran. konsolidasi kader.Paradigma Baru UU No. mempertahankan dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan politiknya : Doktrin Benjamin Disraeli seperti dikutip Whitman (2003:80) menyatakan “Real politics are the possession and distribution of power” tampaknya sangat relevan dengan kondisi kepartaian di Indonesia. Partai politik dibelenggu oleh hukum besinya oligarki dan focus pada upaya memperoleh.

Tahun 1945 sebagai salah satu pilar penyelenggaraan negara yang berkedaulatan rakyat. yang menyangkut demokratisasi internal partai politik. 88 . 1 . serta memelihara NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD Negara R. berbangsa dan bernegara dan perlunya pendidikan politik. Untuk itu partai politik perlu melakukan konsolidasi organisasi. kader dan programnya agar lebih aspiratif. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dibentuk antara lain dengan pertimbangan untuk menampung dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk guna meningkatkan peran. kepemimpinan. Penutup Dari uraian di atas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut: 1. Eksistensi partai politik memiliki basis konstitusional yang kuat dalam Undang-Undang Dasar Negara R. 2. 4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik mengakomodasikan paradigma baru antara lain penguatan sistem kelembagaan partai politik. 5 No.I. Partai politik di masa mendatang diharapkan meningkatkan kualitasnya sehingga dapat memainkan peranan yang lebih positif untuk membangun demokrasi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat. transparasi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangannya. apabila undangundang tersebut dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.I Tahun 1945. bangsa dan negara. berjuang untuk kesejahteraan rakyat.Vol. Partai politik yang berfungsi secara efektif akan selalu bersama rakyat.Maret 2008 demokrasi internalnya dan konsolidasi program agar lebih aspirasif dan aplikatif. Partai politik diharapkan tidak hanya sibuk menjelang pemilihan umum atau kongres/musyawarah/muktamar partai politik yang bersangkutan. Sementara itu Undang-undang Partai Politik akan memberi sumbangan berharga untuk peningkatan kualitas partai politik di masa mendatang. fungsi dan tanggung jawab partai politik dalam kehidupan demokrasi. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan partai politik dalam sistem nasional. tetapi secara nyata memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. 3. masyarakat.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Maurice Duverger. Bina Aksara Jakarta. The Lyons Press. Miriam Budiardjo.I. Pustaka Pelajar Yogyakarta. Partisipasi dan Partai Politik. 1999. Connecticut. Partai-Partai Politik dan Kelompok-Kelompok Penekan. Tahun 1945. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. 1981. William B Whitman. Jakarta. Afan Gaffar. 1981. The Quotable Politician. 2003. PT Gramedia. Politik Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang Dasar Negara R. 89 .

Vol. partai-partai politik yang tidak memenuhi ET tidak dapat mengikuti pemilu berikutnya. 1. dan di Indonesia threshold menjadi bentuk pembatasan untuk mengikuti pemilu berikutnya bagi partai yang ikut pemilu yang tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah partai politik. S. Akibatnya. 12 Tahun 2003. Sistem multipartai ini diimbangi dengan adanya pembatasan jumlah partai politik yang dapat mengikuti pemilu berikutnya dengan adanya mekanisme electoral threshold (ET).H. 16/PUU-V/2007. 5 No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu.1 Pembatasan dengan ET ini kemudian dianggap sebagai cara untuk mengeliminasi partai-partai yang sesungguhnya tidak diinginkan kehadirannya. Dalam pemilu Tahun 1999. 90 . Pendahuluan Paska reformasi. Jumlah partai yang mengikuti pemilu ini jauh berbeda dengan masa Orde Baru yang hanya 3 pihak yang ikut pemilu yaitu Golongan Karya. 1 . Kondisi ini memunculkan gugatan bahwa mekanisme ET melanggar kontitusi yaitu UUD 1945 yang pada akhirnya ditolak oleh Mahkamah Konstitusi (MK). No. partai-partai politik yang tidak memenuhi jumlah kursi 2% di Parlemen tidak dapat mengikuti pemilu tahun 2004. Lihat Permohonan Judicial Review 17 Partai Politik di Mahkamah Konstitusi dalam Perkara No.2 1 2 Lihat Pasal 9 UU No. Sistem multipartai ini dimaksudkan untuk menjamin semua partai politik dapat berpartisipasi dalam demokrasi.Maret 2008 PENYEDERHANAAN PARTAI DALAM SISTEM MULTIPARTAI: TIDAK KONSISTEN Oleh: Zainal Abidin. Ketentuan pembatasan peserta pemilu kemudian berlanjut dengan peningkatan 3% jumlah kursi di parlemen untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 sebagaimana diatur dalam UU No. sistem demokrasi di Indonesia memasuki era baru khususnya dengan munculnya sistem multipartai dalam pemilu di Indonesia. Hal ini terlihat dari kehadiran partai politik dalam pemilu tahun 1999 sebanyak 48 partai politik yang mengikuti pemilu. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

16/PUU-V/2007. dalam aturan peralihannya di Pasal 316 huruf (d) terdapat ketentuan bahwa partai politik peserta pemilu 2004 yang tidak memenuhi 3% ET dapat mengikuti pemilu tahun 2009 asal mempunyai satu kursi di DPR. pemerintah dan DPR membahas revisi UU Pemilu yang menghasilkan UU No. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Pada tahun 2008. 2. Pasal 316 (d) inilah yang bisa dianggap tidak menunjukkan suatu konsistensi sikap atas kebijakan penyederhanan partai politik peserta pemilu melalui ET. Ketentuan tersebut berarti bahwa partai politik yang hanya mempunyai 1 (satu) kursi di DPR pun bisa langsung ikut pemilu tahun 2009. kedudukan partai politik dan sistem pemilu kemudian dikuatkan dalam sejumlah undang-undang. Tulisan disusun berdasarkan analisis sejumlah UU terkait dengan Pemilu dan Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara No. Electoral Threshold Merupakan Legal Policy Pasal 22E ayat (3) UUD 1945 menegaskan posisi penting partai politik yakni “peserta pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan DPRD adalah partai politik”. Namun. secara garis besar sama dengan ide penyederhanaan partai politik. khususnya dalam melihat konsistensi kebijakan penyederhanaan partai politik dalam peraturan perudang-undangan dan perlindungan terhadap partai politik dalam konstitusi. Tulisan ini akan menguraikan tentang ketentuan ET dalam sistem Multipartai di Indonesia. Namun demikian. Demikian pula dalam pengaturan tentang partai politik yang dapat mengikuti pemilu tahun 2009. UU ini juga masih memberikan batasan bagi partai politik untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya dengan parliamentary threshold (PT). Berdasarkan konstruksi dalam UUD 1945 tersebut. Demikian pula dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan “pasangan calon presiden dan wakil presiden diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sebelum pelaksanaan pemilihan umum”. 91 . masih diperlukan UU untuk mengatur tentang pemilu sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 6A ayat (5) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “tatacara pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan UU” dan Pasal 22E ayat (6) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan UU”. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota yang tersebar di ½ (setengah) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. PKB. juga diatur ketentuan pembatasan partai politik untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya (tahun 2009) dengan ketentuan sebagaimana pasal 9: (1) Untuk dapat mengikuti Pemilu berikutnya. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan selanjutnya menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi.3 Hasil pemilu tahun 2004 tersebut ternyata tidak cukup memuaskan partaipartai kecil yang tidak memenuhi 3% persen jumlah kursi di DPR RI dan 3 Lihat Perolehan suara dan kursi Partai di DPR RI pada pemilu 1999/2004. Partai Demokrat. 1 . memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat persen) jumlah kursi DPRD Provinsi yang tersebar sekurang-kurangnya di ½ (setengah) jumlah provinsi seluruh Indonesia. Ketentuan dalam Pasal 9 UU No. memperoleh sekurang-kurangnya 3% (tiga persen) jumlah kursi DPR. atau c. bergabung dengan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dari 24 partai politik yang ikut pemilu hanya 7 partai politik yang memenuhi ketentuan 3% dan dapat lolos secara langsung mengikuti pemilu 2009. b.Maret 2008 diantara UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu. PPP. dan PKS. b. sementara sisanya 17 partai politik tidak dapat mengikuti pemilu tahun 2009 kecuali bergabung dengan partai lain untuk memenuhi syarat 3%. PAN. 12 Tahun 2003 itulah yang kemudian digunakan sebagai acuan untuk menentukan peserta pemilu tahun 2009 mendatang. 5 No.Vol. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan membentuk partai politik baru dengan nama dan tanda gambar baru sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. PDIP. 7 (tujuh) partai politik yang memanuhi 3% adalah Partai Golkar. (2) Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat mengikuti Pemilu berikutnya apabila: a. Dalam UU tersebut. Hasil perolehan suara pemilu tahun 2004. 92 . atau c. Partai Politik Peserta Pemilu harus: a.

karena UUD 1945 nyatanya memberikan mandat bebas kepada pembentuk UU untuk mengaturnya. bukan kesalahan undangundangnya. 93 . MK pada akhirnya tidak mengabulkan permohonan tersebut dan menyatakan bahwa Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU Pemilu tidak bertentangan dengan UUD 1945.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten kemudian mengajukan permohonan judicial review terhadap Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. dalam arti sebagai seleksi alamiah dan demokratis untuk menyederhanakan sistem multipartai yang hidup kembali di Indonesia di era refomasi. 12 Tahun 2003 ke MK. PBR. PPDI. Kebijakan ET sebetulnya merupakan kebijakan hukum (legal policy) pembentuk undang-undang dan kebijakan hukum demikian tidak bertentangan dengan UUD 1945.4 Para pemohon ini mendalilkan bahwa ketentuan Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. termasuk mengenai persyaratan untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya dengan ketentuan ET. Pasal 28. PPDK. PSI. PKPI. Terpenuhi atau tidak terpenuhinya ketentuan ET yang menjadi syarat untuk ikut pemilu berikutnya tergantung dari partai politik yang bersangkutan dan dukungan dari pemilih. Partai Pelopor. PNBK. Pasal 28H ayat (2) dan Pasal 28I ayat (2). MK menambahkan bahwa kebijakan hukum (legal policy) di bidang kepartaian dan pemilu tersebut bersifat objektif. PBB. 4 Para pemohon ini terdiri dari 13 Parpol yakni PPD. Permohon untuk menguji Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. PDS. Pasal 28E ayat (3). 12 Tahun 2003 bertentangan UUD 1945 khususnya terkait dengan hak asasi manusia yakni Pasal 27 ayat (1). dan PKPB. PPIB. MK juga menyatakan bahwa persyaratan untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya berlaku untuk semua partai politik setelah melewati kompetisi secara demokratis melalui pemilu. MK berpendapat bahwa karena pasal tersebut hanya memuat tentang persyaratan obyektif kepada semua parpol tanpa kecuali apabila ingin mengikuti pemilu berikutnya dan tidak mengurangi kedudukan warga negara dalam hukum dan pemerintahan. Pasal 28D ayat (1) dan (3). atau bisa dikatakana bahwa berdasarkan para pemohon ketentuan mengenai electoral threshold tersebut telah melanggar hak konstitusional para pemohon. Pasal 28F. 12 Tahun 2003 tersebut sejatinya merupakan pengujian terhadap ketentuan electoral threshold. PBSD. Pasal 28C ayat (2).

3. termasuk hak untuk mendirikan partai politik. Partai-partai politik yang tidak memenuhi ET 3% kemudian mulai melakukan upaya-upaya untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 dengan menggabungkan diri ataupun membentuk partai baru. Berdasarkan Naskah Akademik RUU Pemilu versi Pemerintah. Demikian pula dengan dokumen Daftar Inventaris Masalah (DIM) saat pembahasan RUU Pemilu di DPR. Hal ini tercermin dalam serangkaian dokumen tentang persiapan untuk revisi UU No. Melalui penciutan peserta Pemilu secara wajar dan rasional.5 Berdasarkan putusan MK. hlm. yang antara lain diwujudkan dalam penentuan batasan threshold bagi partai politik untuk ikut serta dalam pemilihan umum. penyempurnaan UU No. No.Maret 2008 Dari berbagai pertimbangan tersebut. serta tidak ada unsur yang bersifat diskriminatif sehingga ketentuan dalam pasal tersebut tidak bertentangan dengan hak asasi manusia. telah jelas bahwa ketentuan pembatasan partai politik untuk mengikuti pemilu bukanlah pelanggaran terhadap konstitusi. 12 Tahun 2003 dalam UU pemilu yang direvisi. 12 Tahun 2003. 12 Tahun 2003 pada prinsipnya ditujukan untuk menciptakan keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance). 16/PUU-V/2007. 94 . 1 .Vol. 12 Tahun 2003 misalnya Naskah Akademis maupun RUU penyempurnaan UU Pemilu. Ketidakkonsistenan dalam UU No. MK menyimpulkan bahwa Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU Pemilu tidak mempengaruhi hak untuk berserikat dan berkumpul. 83. Agar tercapai keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance) harus dilakukan langkah-langkah regulasi yang salah satunya adalah melakukan penyederhanaan jumlah pelaku. 5 No. diharapkan 5 Lihat Putusan MK Perkara No. 10 Tahun 2008 Ketentuan mengenai ET untuk dapat mengikuti pemilu tahun 2009 mendatang pada awalnya diasumsikan akan diatur dengan substansi yang sama dengan Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. Kebutuhan untuk menyederhanakan jumlah pelaku adalah sangat penting sehingga ide tentang penyederhaan jumlah pelaku inilah yang kemudian diangkat dalam penyempurnaan UU No.

Dalam Naskah Akademis RUU tersebut juga dinyatakan adanya kesadaran bahwa terdapat berbagai problematika UU No. DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Cakupan penyempurnaan UU No. Memberlakukan persyaratan partai peserta Pemilu sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan sebelum Pemilu diselenggarakan. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. d. dari 3 (tiga) persen untuk Pemilu tahun 1999 menjadi 5 (lima) persen untuk Pemilu 2014. Persyaratan ET 2 (dua) persen pada Pemilu 2004 memang berhasil mengurangi jumlah partai peserta Pemilu dari 48 partai peserta Pemilu 1999 menjadi separohnya (24 partai) pada Pemilu berikutnya. Persyaratan ET 3 persen untuk Pemilu 2009 dan ET 5 persen untuk Pemilu 2014 diharapkan dapat mengurangi jumlah partai peserta Pemilu secara lebih signifikan lagi. Partai politik yang tidak lolos ET 3 persen dapat bergabung dengan partai yang lolos ET dan meleburkan diri. 12 Tahun 2003 salah satu agendanya adalah pengetatan persyaratan bagi partai peserta Pemilu legislatif dalam rangka mengkondisikan sistem multipartai sederhana. Walaupun 95 . atau bergabung dengan partai-partai yang tidak lolos ET 3 % sehingga memenuhi ET 3%. Ruang lingkup agenda pengetatan persyaratan peserta Pemilu yang dapat dilakukan adalah: a. DPD. Persyaratan ini diperlukan agar tersedia cukup waktu bagi calon partai peserta Pemilu memperluas jaringan organisasi serta dikenal oleh masyarakat. b. Menetapkan jumlah minimal anggota partai terdaftar sekurang-kurangnya 1000 (seribu) orang atau sekurang-kurangnya 1/1000 (satu permil) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota yang dibuktikan dengan kepemilikan KTA (Kartu Tanda Anggota). 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR. kedua metode dimaksud sebagaimana dimaksud telah diatur dalam Pasal 9 ayat (2) UU No. c. DPD. Mempertahankan persyaratan electoral threshold (ET) bagi partai peserta Pemilu legislatif berikutnya yang ditingkatkan secara bertahap. DPRD yang salah satunya adalah persyaratan electoral threshold tidak diterapkan secara konsisten.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten pula isu-isu yang diusung oleh partai politik dalam pemilihan umum nasional adalah betul-betul isu nasional yang terpilih dan berbobot untuk ditangani lembaga perwakilan rakyat dan pemerintah tingkat nasional.

atau c. sehingga kebutuhan akan hadirnya partai mayoritas tidak terjadi. Apabila partai politik bergabung dengan partai politik lain dilakukan dengan cara: a. tidak boleh ikut dalam Pemilu berikutnya kecuali bergabung dengan partai politik lain.Vol. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan perolehan kursi pada Pemilu tahun 2004 dengan menggunakan nama dan tanda gambar baru. DPD. DPRD salah satu materi penting yang diatur adalah partai politik dapat menjadi peserta Pemilu setelah memenuhi persyaratan umum dan persyaratan khusus. 96 . 5 No. 1 . dan perolehan sekurang-kurangnya 5 % (lima perseratus) jumlah kursi DPRD kabupaten/kota yang tersebar sekurang-kurangnya di ½ (setengah) jumlah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan perolehan kursi pada Pemilu tahun 2004 dengan menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (8 Mei 2007). namun UU No. 12 Tahun 2003 kurang dapat mendorong terjadinya pembatasan partai-partai yang memperoleh kursi di parlemen. Persyaratan umum bagi partai politik untuk menjadi peserta Pemilu ditingkatkan menjadi memiliki kepengurusan lengkap di seluruh jumlah provinsi.6 6 Lihat Naskah Akademis RUU tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. bergabung dengan partai politik peserta Pemilu tahun 2004. b. Partai politik peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh kurang dari 3% (tiga perseratus) jumlah kursi DPR atau memperoleh kurang dari 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi atau DPRD kabupaten/kota yang tersebar paling sedikit di 50% (lima puluh perseratus) jumlah provinsi dan di 50% (lima puluh perseratus) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sedangkan persyaratan khusus berupa perolehan kursi bagi partai politik yang pernah mengikuti Pemilu sebelumnya berupa perolehan sekurang-kurangnya 5 % (lima perseratus) jumlah kursi DPR. dan memiliki kepengurusan lengkap sekurang-kurangnya 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah kabupaten/kota di tiap provinsi. perolehan sekurang-kurangnya 5 % (lima perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi yang tersebar sekurang-kurangnya di ½ (setengah) jumlah provinsi di Indonesia.Maret 2008 jumlah partai peserta Pemilu berkurang. dalam RUU Pemilu Anggota DPR. Oleh karenanya.

(2) Bergabung dengan partai politik lain dilakukan untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan cara: a. 97 . Berdasarkan dua dokumen yaitu Naskah Akademis dan RUU. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 286. bergabung dengan partai politik peserta Pemilu tahun 2004 sebagaimana ketentuan dalam Pasal 286. 12 Tahun 2003 tidak dapat berlaku secara konsisten 7 Lihat RUU Pemilu versi pemerintah.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Pandangan dan paradigma tentang penyederhanaan partai politik yang mengikuti pemilu tersebut sejalan dengan pasal-pasal mengenai peserta Pemilu dalam RUU Pemilu versi Pemerintah yang tercantum dalam BAB XXI Ketentuan Peralihan dalam Pasal 286 dan Pasal 287. b. tidak boleh ikut dalam Pemilu berikutnya kecuali bergabung dengan partai politik lain.7 Pasal 286 Partai politik peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh 3% (tiga perseratus) atau lebih dari jumlah kursi DPR atau memperoleh paling sedikit 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi atau DPRD kabupaten/kota yang tersebar paling sedikit di 50% (lima puluh perseratus) jumlah provinsi dan di 50% (lima puluh perseratus) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. dengan menggunakan nama dan tanda gambar baru. paradigma dan kebijakan penyederhaan partai politik peserta Pemilihan Umum melalui threshold telah konsisten dengan upaya untuk mencapai keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance) dan sesuai dengan kesadaran bahwa UU No. dengan menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung. ditetapkan sebagai partai politik peserta Pemilu setelah Pemilu tahun 2004. c. Pasal 287 (1) Partai politik peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh kurang dari 3% (tiga perseratus) jumlah kursi DPR atau memperoleh kurang dari 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi atau DPRD kabupaten/kota yang tersebar paling sedikit di 50% (lima puluh perseratus) jumlah provinsi dan di 50% (lima puluh perseratus) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. bergabung dengan partai politik lain yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 286.

Maret 2008 sehingga perlu disempurnakan. atau 2) bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan dan selanjutnya menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. DPD dan DPRD. Pasal 315 Partai Politik Peserta Pemilu tahun 2004 yang memperoleh sekurangkurangnya 3% (tiga perseratus) jumlah kursi DPR atau memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD provinsi yang tersebar sekurangkurangnya di 1/2 (setengah) jumlah provinsi seluruh Indonesia. Hal ini telah pula sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 98 . rumusan dalam Pasal 286 dan 287 RUU Pemilihan Umum secara subtansi masih sama dengan Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. Bahwa sampai dengan pembahasan di DPR.Vol. atau 3) bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 dengan membentuk partai politik baru dengan nama dan tanda gambar baru sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 315 dan 316 UU No. atau memperoleh sekurang-kurangnya 4% (empat perseratus) jumlah kursi DPRD kabupaten/kota yang tersebar sekurang-kurangnya di 1/2 (setengah) jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia. 1 .8 Bahkan sampai dengan tahap-tahap akhir pembahasan RUU Pemilihan Umum. Namun kemudian dalam pengesahan RUU Pemilihan Umum menjadi UU Pemilihan Umum (yang menjadi UU No. 8 Lihat Daftar Inventaris Masalah (DIM) terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu Anggota DPR. ditetapkan sebagai Partai Politik Peserta Pemilu setelah Pemilu tahun 2004. 12 Tahun 2003. 10 Tahun 2008) muncul ketentuan baru tentang dibolehkannya partai peserta Pemilihan Umum 2004 yang tidak memenuhi threshold sebagaimana disyaratkan dalam UU Pemilihan Umum namun mempunyai kursi di DPR dapat langsung mengikuti Pemilihan Umum 2009 tanpa harus 1) bergabung dengan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum yang memenuhi ketentuan. Buku Keempat. 10 Tahun 2008. 16/PUU/V/2007. Rumusan Pasal 286 dan 287 RUU Pemilihan Umum tetap menjadi pembahasan yang terlihat dari Daftar Inventaris Masalah (DIM) terhadap RUU Pemilu. 5 No.

Kemunculan Pasal 316 huruf (d) dalam UU No.11 9 Partai-partai yang langsung dapat mengikuti pemilu tahun 2009 meskipun tidak memenuhi 3% kursi di DPR adalah PBB. 4 Maret 2008. 1 Maret 2008. atau c. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 dan selanjutnya menggunakan nama dan tanda gambar salah satu partai politik yang bergabung sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. memiliki kursi di DPR RI hasil Pemilu 2004. atau b. 11 Suara Karya. 10 Tahun 2008 ini kemudian memunculkan banyak kritikan yang pada pokoknya menunjukkan bahwa tidak ada konsistensi mengenai konsep penyederhanaan partai peserta pemilu. Partai Pelopor. UU Pemilu 2008 Kemunduran dari UU Pemililu 2003. PNI Marhaenisme. Hal ini tercermin dari kondisi awal bahwa berdasarkan hasil pemilu tahun 2004 yang seharusnya hanya 7 partai politik yang dapat mengikuti pemilu 2009 secara langsung menjadi 16 partai politik. 00:35 WIB. Electoral Threshold Aturan Peralihan. atau e. 98 . 10 Tahun 2008 tersebut kembali menimbulkan pertanyaan mendasar tentang konsep penyederhanaan partai politik yang dapat mengikuti pemilu (khususnya tahun 2009). PKPB. bergabung dengan partai politik yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 dengan membentuk partai politik baru dengan nama dan tanda gambar baru sehingga memenuhi perolehan minimal jumlah kursi. 18:29. Selasa. 6 Maret 2008. memenuhi persyaratan verifikasi oleh KPU untuk menjadi Partai Politik Peserta Pemilu sebagaimana ditentukan dalam UndangUndang ini. PBR.9 Ketentuan sebagaimana dalam Pasal 316 huruf (d) UU No. Akibatnya. atau d.10 Bahkan ketentuan tersebut dianggap pula sebagai sebuah kemunduran dalam demokrasi dan merusak tatanan sistem pemilu. PPDK. peserta Pemilihan Umum tahun 2009 tidak akan sesuai dengan yang diharapkan karena dibuka kemungkinan adanya partai politik yang dapat mengikuti Pemilihan Umum tahun 2009 meskipun tanpa memenuhi threshold. Tragedi Politik. PDS. dan PPDI. Lihat juga Okezone. bergabung dengan Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315. Penghapusan ET Sebuah Kemunduran Berdemokrasi.Penyederhanaan Partai dalam Sistem Multipartai: Tidak Konsisten Pasal 316 Partai Politik Peserta Pemilu 2004 yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 315 dapat mengikuti Pemilu 2009 dengan ketentuan: a. 10 Media Indonesia. Ketentuan ini justru mereduksi konsep penyederhanaan partai yang akan diupayakan di Indonesia. PKPI.

Namun demikian. UU No. meskipun mendapatkan suara yang signifikan dan bahkan melebihi jumlah suara beberapa partai yang punya kursi di DPR.Maret 2008 Bahkan ketentuan tersebut juga dianggap merupakan ketentuan yang memberikan perlakukan yang berbeda (diskriminatif) terhadap partai politik perserta pemilu tahun 2004 yang tidak mempunyai kursi di DPR. Jika tidak. Hal ini wajar karena paska reformasi telah terbuka peluang untuk pendirian partai-partai politik baru diluar 3 partai politik yang hidup pada era Orde Baru. apalagi dengan terus menerus merubah aturan main pemilu yang hanya ditujukan untuk kepentingan sesaat maka akan mengancam kehidupan demokrasi di Indonesia. Penutup Sistem Multipartai dalam pemilu di Indonesia telah berkonsekuensi membludaknya partai politik yang ingin mengikuti pemilu. 100 . cita-cita untuk adanya keseimbangan antara pendalaman demokrasi (deepening democracy) dengan pengembangan kepemimpinan yang efektif (effective governance) dengan cara melakukan penyederhanaan jumlah peserta pemilu tidak tercapai. 12 Lihat Permohonan Judicial Review 5 partai politik ke MK terhadap ketentuan Pasal 316 huruf (d) UU No. 10 Tahun 2008. 5 No.12 4. Kedepan. semua partai politik harus konsisten dengan regulasi yang dibuat dan tidak merubah kembali tujuan dilakukannya penyederhanaan jumlah peserta pemilu. 10 Tahun 2008 dengan aturan peralihan Pasal 316 huruf (d) justru kembali mundur dengan ketentuan memberikan peluang partai politik yang tidak memenuhi threshold namun punyai kursi di DPR langsung ikut pemilu tahun 2009. 1 . Pembatasan inipun bukan merupakan pelanggaran terhadap konstitusi.Vol. Akibatnya. Ketentuan tersebut kembali meneguhkan sikap partai-partai politik di DPR yang lebih mendahulukan kepentingan partainya daripada kepentingan untuk penguatan sistem pemilu di Indonesia. pembatasan partai politik peserta pemilu memang perlu dilakukan untuk memperkuat dan memperdalam demokrasi.

10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. 1 Maret 2008. 00:35 WIB. DPD dan DPRD. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (8 Mei 2007). Buku Keempat. Daftar Inventaris Masalah (DIM) terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Pemilu Anggota DPR. Permohonan Judicial Review 5 partai politik ke MK terhadap ketentuan Pasal 316 huruf (d) UU No. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Electoral Threshold Aturan Peralihan. Undang-Undang No. 4 Maret 2008. Perolehan suara dan kursi Partai di DPR RI pada pemilu 1999/2004. 6 Maret 2008.DAFTAR PUSTAKA Undang-Undang Dasar 1945. 16/PUU-V/2007. Okezone. Penghapusan ET Sebuah Kemunduran Berdemokrasi. 16/PUU-V/2007. No. Suara Karya. 18:29. Tragedi Politik. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. UU Pemilu 2008 Kemunduran dari UU Pemililu 2003. Putusan MK Perkara No. 10 Tahun 2008. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Permohonan Judicial Review 17 Partai Politik di Mahkamah Konstitusi dalam Perkara No. Selasa. Naskah Akademis RUU tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Media Indonesia. 101 . Undang-Undang No.

hlm. Dengan demikian pentingnya peranan partai politik di dalam paradigma UUD 1 Abdul Bari Azed. Prof. Jakarta. Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Abdul Bari Azed berpandangan bahwa konsep negara hukum merupakan pemenuhan hak-hak asasi manusia (HAM) yang harus dilindungi.H. 5 No. tetapi di dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Asli tidak menyebut (mengatur) secara eksplisit dan jelas mengenai parpol. atau mengakomodasi kepentingannya dalam kehidupan bernegara. yaitu pertama: partisipasi rakyat dalam menentukan arah kebijakan negara.2 Dan partisipasi rakyat untuk menyalurkan kepentingannya dengan ikut serta mengambil bagian dalam pembuatan kebijakan. Latar Belakang Permasalahan Kajian mengenai partai politik (parpol) merupakan salah aspek penting di dalam ilmu hukum tatanegara. Bila kita berbicara mengenai parpol. dan HAM yang paling penting adalah keikutsertaan atau partisipasi rakyat dalam membuat peraturan-peraturan perundang-undangan yang akan mengatur kehidupannya. tahun 2005. dan dalam bentuk yang sederhana adalah dengan mengikuti pemilu. “Pemilu dan Partai Politik di Indonesia”. Di dalam Penjelasan UUD 1945 (Asli) menyatakan bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum dan bukan negara kekuasaan (machtstaat). kedua: partisipasi rakyat dalam membuat peraturan-peraturan perundang-undangan. hlm.1 Oleh karena itu. PENDAHULUAN A. S.Maret 2008 KONFLIK INTERNAL PARTAI SEBAGAI SALAH SATU PENYEBAB KOMPLEKSITAS SISTEM MULTIPARTAI DI INDONESIA Oleh: Chudry Sitompul. I.Vol. Kendati menurut teori ilmu hukum tata negara parpol merupakan suatu kajian yang penting. 2 Ibid. kajian mengenai parpol akan terkait dengan studi mengenai pemilihan umum (pemilu) dan konsep negara hukum. 62. 1 . berarti kita akan membicarakan mengenai partisipasi rakyat dalam dua hal. 20.M.. dan Makmur Amir.H. atau ikut menjadi anggota parpol mendirikan parpol. 102 .

Pascasarjana. 103 . Gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1998 (Gerakan 1998) akan ditulis tinta emas di dalam sejarah Republik Indonesia. yaitu: pertama. kedaulatan rakyat.J. 197. memulihkan kehidupan di bidang sosial-ekonomi. berhasil memaksa Presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun untuk berhenti. di luar tiga parpol yang diakui pada saat itu. demokrasi. hlm. “Sosialisasi Politik Mahasiswa : Partisipasi Politik Forum Kota (Forkot) dalam Gerakan 1998”. Habibie melakukan reformasi di segala bidang. Sekurang-kurangnya ada dua keberhasilan yang sangat fundamental dari Gerakan 1998. Kemudian baru lahir parpol-parpol yang lain sehingga berjumlah 48 parpol. Habibie.5 Di dalam era Presiden Prof.4 Prof. dan kedua. Jakarta. Universitas Indonesia. hlm. dan hak asasi manusia (HAM). Sri Bintang Pamungkas mempelopori mendirikan parpol yang baru. 2004. yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP). dan meningkatkan demokrasi.3 Pengangkatan Prof. 4 Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia mengangkat sumpah Wakil Presiden Prof. 3 Lelita Yunia. Depok.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia 1945 (Asli) hanya dapat disimpulkan dari analisa teori-teori hukum tata negara mengenai hubungannya antara negara hukum. Habibie untuk menjadi Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 setelah Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia. Program Pascasarjana. “Politik Hukum Pemerintahan Soeharto tentang Demokrasi Politik di Indonesia (1971-1997)”. Fakultas Hukum. B.J.J. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Golongan Karya (Golkar). tahun 2002. Habibie sebagai Presiden R. Lain hal dengan UUD 1945 yang sudah dirubah (Amandemen Kedua) yang menyebut secara eksplisit mengenai parpol. B. 5 Ramly Hutabarat.J. B. kehidupan bernegara menjadi demokratis. Di dalam Pasal 6 A UUD 1945 (Amandemen Kedua) yang menyatakan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. hingga pemerintahan otoriter Orde Baru menjadi. Universitas Indonesia. B. Maraknya berdirinya partai-partai baru setelah berhentinya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 adalah bersamaan dengan adanya perubahan politik yang besar pada saat itu. Tesis. mendorong lahirnya Gerakan Reformasi di segala bidang. 46-47. termasuk di dalamnya mengenai wacana pendirian partai politik (parpol) yang baru.I merupakan tonggak awal periode reformasi. yang pada akhirnya parpol-parpol tersebut mengikuti pemilihan umum yang pertama di era reformasi pada tanggal 7 Juni 1999.

KPU juga yang membuat regulasi Pemilu 1999. sehingga perolehan suara PDIP di dalam Pemilu 2004 menjadi menurun. Nepotisme (KKN) secara tuntas. Pelaksana pemilu tahun 1999 tersebut adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang beranggotakan dari seluruh unsur-unsur parpol yang ikut di dalam Pemilu 1999. 104 .565 Tidak ikut Pemilu 2004 21. peran parpol di dalam kehidupan bernegara semakin menonjol.Maret 2008 Semenjak itu. terutama mengenai pembatasan masa jabatan presiden. 1 . terutama di dalam penyampaian aspirasi dan kontrol sosial.020 8. banyak aspirasi masyarakat yang disalurkan melalui parpol. baik di tingkat pusat maupun di daerah.436. Demikianpun juga dalam pelaksanaan roda pemerintahan. Peran parpol di dalam menyerap aspirasi masyarakat juga nampak dari hasil Pemilu 2004.Vol. Kolusi.173 1. diantaranya yang menonjol yaitu : Nama Partai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Keadilan/Partai Keadilan Sejahtera Partai Demokrat Sumber : Komisi Pemilihan Umum Pemilu 1999 35.455. Utusan Golongan dan Utusan Daerah untuk Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat periode tahun 1999-2004. Sebelum Pemilu 2004 dilaksanakan. Hal tersebut terlihat di dalam proses perubahan (amandemen) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). baik pembuatan undang-undang di Dewan Perwakilan Perwakilan maupun oleh Presiden dalam mengeluarkan peraturan pelaksanaan undang-undang. Selain pelaksana Pemilu 1999.325. banyak mendengar masukan dari parpol. penjaminan hak azasi manusia (HAM). peranan parpol sangat signifikan. pemilihan presiden secara langsung.629 8. banyak masyarakat (terutama mahasiswa dan pemuda) yang tidak puas terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mempunyai kursi terbanyak di DPR tidak dapat memberantas Korupsi. 5 No. penetapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode tahun 1999-2004. peranan partai politik sangat sentral dan strategis. Kebijakan-kebijakan negara.689.026.225 Dari tabel di atas menunjukan adanya peran parpol di dalam menyerap aspirasi masyarakat. Hasil perolehan suara di dalam Pemilu 2004 memperlihatkan terjadi perubahan. Begitupun juga dalam melaksanakan pemilihan umum (pemilu) yang pertama di era reformasi pada tanggal 7 Juni 1999.

yang kemudian pada Pemilu 2004 berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera) mendapat penambahan suara yang besar (sekitar 7 juta suara) disebabkan kalangan mahasiswa dan pemuda menaruh harapan agar partai ini sanggup memberantas KKN secara tuntas. karena melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PKB. Lebih jauh menjelaskan bahwa menurut AD/ART PKB. Sedang Partai Demokrat yang merupakan parpol yang baru ikut Pemilu 2004. karena pengurus baru sekarang sudah ada. Sabtu 19 November 2005. Ketua Dewan Tanfidz bertanggungjawab kepada Muktamar. Bersamaan dengan semakin berperannya parpol dalam kehidupan negara yang demokratis.6 Majelis Hakim Kasasi MA RI menilai pemecatan Alwi Shihab dari keanggotaan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) cacat hukum. Cacat hukum yang dimaksud adalah pemecatan Alwi tidak dilakukan melalui muktamar. Putusan MA RI tersebut bukan saja merupakan perkembangan baru semenjak Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik yang 6 Harian Kompas. Tumpa (salah satu Anggota Majelis Hakim Kasasi) mengatakan kepada Harian Kompas bahwa putusan tersebut diambil melalui mufakat bulat dan Majelis Hakim tidak mengabulkan seluruh gugatan. Salah satu konflik parpol yang menarik perhatian masyarakat adalah perselisihan di dalam tubuh Partai Kebangkitan Bangsa. 105 . Tumpa berharap putusan MA RI tersebut membuat para pihak berdamai. Selanjutnya Harifin A. Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI) pada hari Rabu tanggal 16 November 2005 telah memutus perkara sengketa partai politik (parpol) antara Alwi Shihab melawan Muhaimin Iskandar di tingkat Kasasi. Harifin A. Tumpa putusan MA RI tersebut tidak membawa konsekwensi apapun. mendapat suara yang melebihi Partai Keadilan Sejahtera. hlm. 2. timbul konflik-konflik di dalam tubuh parpol. disebabkan ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono yang ada dibelakang Partai Demokrat diharapkan masyarakat luas untuk dapat mengelola negara yang lebih baik. Menurut Harifin A. pemilihan Ketua Umum Dewan Tanfidz dilakukan melalui muktamar yang diselenggarakan lima tahun sekali.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Sedang Partai Keadilan atau Partai Keadilan Sejahtera (nama pada Pemilu 1999. melainkan hanya sebagian.

106 . Pada tahun 2002 PKB mengalami Dualisme Kepemimpinan antara PKB Batutulis yang dipimpin Matori Abd. Partai Bintang Reformasi (PBR). tahun 1996. juga dialami oleh parpol-parpol besar lainnya seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sementara itu perselisihan kepartaian yang pada akhir berujung berpekara di pengadilan yang dialami PKB bukan hanya gugatan dari Alwi Shihab itu saja. Sesungguhnya perselisihan internal parpol bukan hanya berujung di pengadilan. tapi ada juga perselisihan internal parpol hingga mengakibatkan parpol bersangkutan pecah. Faktor-faktor apa yang menyebabkan maraknya konflik internal parpol di awal-awal era reformasi ? 2.Maret 2008 diundangkan pada tanggal 27 Desember 2002. 1 . dan 7 Roy C.Vol. dan PDR belum sampai dengan tingkat kasasi. antara lain seperti Haryanto Taslam yang merupakan tokoh pendiri PDIP pada akhirnya mendirikan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK). Tiara Wacana Yogya. Penerbit : PT. Atau perselisihan internal parpol hingga menyebabkan tokoh-tokoh pendiri partai meninggalkan parpol yang dibentuknya semula. maka yang pokok permasalahan di dalam tulisan ini adalah : 1. Apa akibat-akibat yang timbul dari adanya konflik internal parpol di awalawal era reformasi ? C. Macridis. Partai Demokrat (PD). B. Kerangka Teori 1. hlm. Partai politik menurut Roy C. Pokok Permasalahan Berdasarkan uraian-uraian di atas. PBR. dan gugatannya sudah dicabut. “Teori-Teori Mutakhir Partai Politik” (Editor : Ichlasul Amal). Macridis: 7 parpol adalah suatu asosiasi yang mengaktifkan. antara lain Faisal Basri meninggalkan Partai Amanat Nasional (PAN). 17. Konflik kepartaian seperti yang dialami oleh PKB tersebut. Bahkan PBR sudah berdamai. memobilisasi rakyat. Namun perselisihan kepartaian yang pada akhir berujung berpekara di pengadilan yang dialami PDIP. yang pada akhirnya berpekara sampai di pengadilan. Djalil dan PKB Kuningan yang dipimpin Alwi Shihab. 5 No. tetapi juga merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi di era reformasi yang kehidupan politiknya demokratis dan liberal.

xv. hlm. 160. Hagopian:13 adalah suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan Miriam Budiardjo. Partai politik menurut Miriam Budiardjo:8 adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi. xv. 161. 11 Ibid hlm. Gramedia Pustaka Utama. mewakili kepentingan tertentu. Jakarta. 1991. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijsaksanaan-kebijaksanaan mereka. dan memunculkan kepemimpinan politik. Penerbit : PT. 162. 3.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia 2. nilai-nilai dan cita-cita yang sama. 6. Partai politik menurut Ichlasul Amal :12 adalah suatu kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih oleh rakyat sehingga dapat mengontrol atau mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materiil. Partai politik menurut Carl J. 7. Tiara Wacana Yogya. 9 Ibid hlm. 8 107 . 12 Ichlasul Amal (Editor). 161. yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan yang – dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih – bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijakanaan umum mereka. 10 Ibid hlm. “Dasar-Dasar Ilmu Politik”. 4. memberikan jalan kompromi bagi pendapatpendapat yang bersaing. “Teori-Teori Mutakhir Partai Politik”. Penerbit : PT. Partai politik menurut Soltau :10 adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir. 5. hlm. Partai politik menurut Sigmund Neumann :11 adalah organisasi aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Fiederich: 9 adalah sekelompok manusia yang terorganisiir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan. Partai politik menurut Mark N. tahun 1996. 13 Ibid hlm.

15 H. “Percehan Partai Politik. Zukifli Hamid. Menurut H. 2005. dan Toto Pribadi :14 Perpecahan dalam parpol bisa disebabkan tiga hal. Menurut Nazuruddin Sjamsuddin. terutama untuk revitalisasi dan regenerasi terutama karena figur petingginya menjadi simbol institusi. 1988. 108 . sehingga mengakibatkan tidak adanya ikatan ideologis di antara anggota partai. Universitas Terbuka. Perpecahan partai politik umumnya disebabkan oleh egoisme politik yang begitu besar yang merupakan indikasi ketidakdewasaan partai tersebut. 11 Januari 2002. c.Maret 2008 karakter kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip kepentingan ideologis tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan. Zukifli Hamid. a. 126-127. Dipandang dari proses regenerasi yang harus dilakukan. 1 . Perbedaan ideologi dari para anggotanya. 5 No.6. b. 10. Pemberantasan Korupsi dan Berbagai Masalah Politik Lainnya”. Perbedaan pelaksanaan kebijaksanaan c. Penerbit : Karunika Jakarta. Ketika terjadi perpecahan yang bersifat klik. hlm. hlm. Ketidakdewasaan partai juga ditunjukkan dengan ketidakberanian partai politik terkait untuk menjadi independen. Menurut Nurcholish Madjid : 16 Sampai saat ini belum ada kedewasaan berpolitik dalam partai politik. 8. 5. Terlalu kuatnya figur pemimpin partai politik berpotensi mematikan kaderisasi di tubuh partai politik bersangkutan. “Sistem Politik Indonesia”. Faktor kepemimpinan tunggal dan manajemen yang buruk. Jakarta. yaitu : a. Karena partai tidak memeliki platform yang jelas. 9. dan Toto Pribadi. No. dalam Jurnal Analisis CSIS : Peran Masyarakat dan Demokrasi Lokal.2. Figur yang kuat seringkali dianggap mampu menjadi perekat sementara pada saat bersamaan kader yang memiliki kualifikasi sepadan tidak pernah dipersiapkan sebagi calon pengganti. Persaingan kepemimpinan dalam partai. Vol. 34. Anto Djawamaku :15 Ada beberapa macam konflik internal dalam tubuh partai politik. personal atau kelompok. Anto Djawamaku. kegagalan muncul tokoh baru dalam partai politik menunjukan kegagalan partai politik melakukan reformasi internal. 16 Harian Kompas. dengan mudah hal itu memecah belah partai. b. 14 Nazuruddin Sjamsuddin.Vol.

memobilisasi rakyat. dan mewakili kepentingan tertentu. partai politik merupakan suatu asosiasi yang mengaktifkan. 109 .. TEORI-TEORI PARTAI POLITIK A.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia II. Macridis berpendapat bahwa partai politik (parpol) merupakan keharusan dalam kehidupan politik moderen yang demokratis. partai politik menjadi fenomena umum dalam kehidupan politik di dalam masyarakat moderen. hlm. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijsaksanaankebijaksanaan mereka.cit. berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materiil. Miriam Budiardjo. Op. mewakili kepentingan tertentu. Oleh karena itu. Fiederich adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan. Partai politik adalah alat untuk memperoleh kekuasaan dan untuk memerintah. dan memunculkan kepemimpinan politik. 161. Menurut Roy C. Macridis. nilai-nilai dan cita-cita yang sama. pengecualiannya hanya pada masyarakat tradisional yang sistem politiknya otoritarian yang pemerintahannya bertumpu pada tentara atau polisi.18 Partai politik menurut Carl J. 160. Partai politik telah digunakan untuk mempertahankan pengelompokan yang sudah mapan (seperti gereja) atau untuk menghancurkan status quo seperti yang dilakukan Bolsheviks pada tahun 1917 ketika menumbangkan kekaisaran Tsar.17 Sebagai organisasi. memberikan jalan kompromi bagi pendapat-pendapat yang bersaing. Ibid hlm.cit. hlm. Sementara itu Miriam Budiardjo berpendapat bahwa Partai politik menurut adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi. Macridis. Batasan dan Pengertian Partai Politik Roy C. partai politik secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat. Op. 17.. serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai. memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing.19 17 18 19 Roy C.

Hagopian adalah suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan karakter kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip kepentingan ideologis tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan. “Teori-Teori Mutakhir Partai Politik”. hlm. Fungsi Partai Politik Di dalam negara moderen. hlm. tahun 1996.cit. 162. 1 . menurut Miriam Budiardjo.22 Partai politik menurut Mark N. Penerbit : PT. xv.21 Partai politik menurut Ichlasul Amal adalah suatu kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih oleh rakyat sehingga dapat mengontrol atau mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. 23 Ibid hlm. partai politik mempunyai beberapa fungsi :24 1. Op. maka dapat dikatakan bahwa : 1. Dalam masyarakat moderen yang Ibid. 5 No. 2. 22 Ichlasul Amal (Editor). xv. Tiara Wacana Yogya.23 Berdasarkan batasan-batasan mengenai parpol seperti tersebut di atas. B. yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan yang – dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih – bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijakanaan umum mereka. 163. hlm. 21 20 110 . 24 Miriam Budiardjo. hlm. Ibid. 161..20 Partai politik menurut Sigmund Neuman adalah organisasi aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau golongangolongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Dasar sosiologis dari suatu parpol adalah ideologi.Vol. Sebagai sarana komunikasi politik : parpol berfungsi menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpang-siuran pendapat dalam masyarakat berkurang. Kepentingan dari dibentuknya suatu partai politik adalah usaha-usaha untuk memperoleh kekuasaan.Maret 2008 Partai politik menurut Soltau adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir.

“Memahami Ilmu Politik”. Jakarta. Sebagai sarana Rekrutmen Politik. 2. Biasanya proses sosialisasi berjalan secara berangsur-angsur dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Dalam hal ini parpol berfungsi untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai (political recruitment). 2. Di dalam ilmu politik. 1992. 116. kursus-kursus kader. Penerbit : PT. parpol berusaha untuk mengatasinya. Jika sampai terjadi konflik. Dengan demikian partai turut memperluas partisipasi politik. “perumusan kepentingan” (interest articulation). 4. Sesudah digabung. Juga disuahakan untuk menarik golongan muda untuk dididik untuk menjadi kader yang di masa mendatang akan mengganti pimpinan lama (selection of leadership). pendapat dan aspirasi seseorang atau suatu kelompok akan hilang tak berbekas seperti suara di pandang pasir apabila tidak ditampung dan digabung dengan pendapat dan aspirasi orang lain yang senada. persaingan dan perbedaan pendapat merupakan soal yang wajar. Sebagai sarana pengatur konflik. 111 . Proses sosialisasi politik diselenggarakan melalui ceramah-ceramah penerangan. sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses dari seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik di dalam lingkungan masyarakat dimana ia berada. Sementara itu Ramlan Surbakti berpendapat bahwa fungsi utama partai politik adalah mencari dan mempertahankan kekuasaan untuk mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan ideologi tertentu.25 Selain fungsi utama parpol seperti tersebut. yaitu : 1. Rekrutmen politik. hlm. 3. Sebagai sarana Sosialisasi Politik (Instrument of Political Socializzation). Gramedia Widiasarana Indonesia. Di dalam suasana demokrasi. Proses ini dinamakan “penggabungan kepentingan” (interest aggregation). kursus penataran. menurut Ramlan Surbakti masih ada fungsi parpol lainnya. Proses ini dinamakan.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia begitu luas. Sosialisasi politik. dan sebagainya. pendapat dan aspirasi ini diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang teratur. 25 Ramlan Surbakti.

C. Karena. Partai Proto. xv. Partai Diktatorial. Pemandu Kepentingan.cit. kepemimpinan. 5. Partai ini muncul sebelum diterapkannya sistem hak pilih secara luas bagi rakyat hingga sangat bergantung pada masyarakat kelas menengah ke atas yang memiliki hak pilih. 5 No. Partai Massa. Partai Catch-all. 6. Ciri paling menonjol dari partai proto adalah pembedaan antara kelompok anggota (ins) dengan nonanggota (outs). partai ini belum menunjukan ciri sebagai parpol dalam pengertian moderen. Kontrol Politik. 3. Tingkat organisasi dan ideologi partai kader sesungguhnya masih rendah karena aktivitasnya jarang didasarkan pada program dan organisasi yang kuat. Menurut Ichlasul Amal. keanggotaan yang terbatas. 4. Akibatnya. ideologi yang dianut partai kader adalah konservatisme ekstrem 26 Ichlasul Amal. hlm.. Partai Proto adalah tipe awal partai politik sebelum mencapai tingkat perkembangan seperti dewasa ini. Partai semacam ini muncul di Eropa Barat sekitar abad pertengahan hingga akhir abad ke-19. Partai kader merupakan perkembangan lebih lanjut partai proto. 112 .Vol. yaitu :26 1. Selebihnya. 4. Komunikasi Politik. Partisipasi politik. serta para pemberi dana. sekurang-kurangnya terdapat lima jenis parpol yang dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat komitmen parpol terhadap ideologi dan kepentingan. 7. Pengendalian Konflik.Maret 2008 3. 5. Keanggotaan partai kader terutama berasal dari golongan kelas menengah ke atas. 1 . Jenis-Jenis Partai Politik Perbedaan jenis-jenis partai politik yang ada di berbagai negara pada dewasa ini pada hakekatnya karena perbedaan basis sosiologisnya. partai proto sesungguhnya adalah partai yang dibentuk berdasarkan pengelompokan ideologis masyarakat. 2. Op. Partai Kader.

Tujuan utama partai massa tidak hanya memperoleh kemenangan dalam pemilihan. Istilah Catch-all pertama kali dikemukakan oleh Otto Kirchheimer untuk memberikan tipologi pada kecenderungan perubahan karakteristik partai-partai politik di Eropa Barat pada massa pasca Perang Dunia Kedua. dalam pengertian ini partai kader lebih nampak sebagai suatu kelompok informal daripada sebagai organisasi yang didasarkan pada disiplin.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia atau maksimal reformisme moderat. Perbedaan pendapat dan persaingan itu sering kali mengakibatkan konflik. bahkan mengakibatkan terjadi perpecahan. tetapi juga memberikan pendidikan politik bagi para anggotanya dalam rangka membentuk elit yang langsung direkrut dari massa. berorientasi pada basis pendukung yang luas. perbedaan pendapat dan persaingan di antara warga masyarakat atau golongan-golongan merupakan hal yang wajar. Partai massa muncul pada saat terjadi perluasan hak pilih rakyat sehingga dianggap sebagai suatu respon politis dan organisasional bagi perluasan hakhak pilih serta pendorong bagi perluasan lebih lanjut hak-hak pilih tersebut. 113 . Catch-all dapat diartikan sebagai menampung kelompok-kelompok sosial sebanyak mungkin untuk dijadikan anggotanya. Tujuan utama partai ini adalah memenangkan pemilihan dengan cara menawarkan program-program dan keuntungan bagi anggotanya sebagai ganti ideologi yang kaku. dan kelompok agama. petani. aktivitas partai ini erat berkaitan dengan kelompok kepentingan dan kelompok penekan. Latar belakang muncul partai massa sangat bertolak belakang dengan kemunculan partai proto maupun partai kader. misalnya : buruh. partai massa dibentuk di luar lingkungan parlemen (ekstra parleementer). serta memiliki tingkat organisasial dan ideologis yang relatif rendah. Konflik dan Perpecahan Partai Politik Di dalam masyarakat yang demokratis. memiliki basis pendukung kelas menengah ke atas. D. Sebaliknya. Partai proto dan partai kader terbentuk di dalam lingkungan parlemen (intra parlemen). Dengan demikian. Partai Catch-all merupakan gabungan dari partai kader dan partai massa. Dengan demikian. dan memiliki ideologi yang cukup jelas untuk memobilisasi massa serta mengembangkan organisasi yang cukup rapi untuk mencapai tujuan-tujuan ideologisnya. Karena itu partai kader tidak memerlukan organisasi besar yang dapat memobilasasi massa.

dalam Jurnal Analisis CSIS : Peran Masyarakat dan Demokrasi Lokal. Pemberantasan Korupsi dan Berbagai Masalah Politik Lainnya”. 2005. tahun 1990. dan Toto Pribadi. 5 No. dengan mudah hal itu memecah belah partai. 455. Anto Djawamaku. 3. III. 2. terutama untuk revitaslisasi dan regenerasi terutama karena figur petingginya menjadi simbol institusi. Zukifli Hamid. hlm. Karena partai tidak memeliki platform yang jelas. 126-127. Faktor kepemimpinan tunggal dan manajemen yang buruk. Figur yang kuat seringkali dianggap mampun menjadi perekat sementara pada saat bersamaan kader yang memiliki kualifikasi sepadan tidak pernah dipersiapkan sebagi calon pengganti. 1 . Cet. “Sistem Politik Indonesia”.Vol. Anto Djawamaku Ada beberapa macam konflik internal dalam tubuh parpol. Balai Pustaka. Terlalu kuatnya figur pemimpin parpol berpotensi mematikan kaderisasi di tubuh partai politik bersangkutan. Berdirinya Partai Politik di Indonesia. Nazuruddin Sjamsuddin. kegagalan muncul tokoh baru dalam parpol menunjukan kegagalan parpol melakukan reformasi internal. 2). 114 . 5. 2) Perbedaan pelaksanaan kebijaksanaan. Penerbit : Karunika Jakarta. Vol. Zukifli Hamid. hlm. Universitas Terbuka.2. Ketiga. 3) Persaingan kepemimpinan dalam partai. No. 29 H. Jakarta. Ketika terjadi perpecahan yang bersifat klik.6. 1988. dan Toto Pribadi Perpecahan dalam parpol bisa disebabkan tiga hal:28 1) Perbedaan ideologi dari para anggotanya. sehingga mengakibatkan tidak adanya ikatan ideologis di antara anggota partai. Sedangkan menurut H. personal atau kelompok. hlm. pertentangan. Ketegangan atau pertentangan antara dua kekuatan atau dua tokoh. Dari teori-teori ilmu poltik sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Dipandang dari proses regenerasi yang harus dilakukan.27 Menurut Nazuruddin Sjamsuddin. KONFLIK PARTAI POLITIK DI INDONESIA A. maka dapat dikatakan partai politik adalah merupakan alat yang pernah didesain 27 28 Kamus Besar Bahasa Indonesia.Maret 2008 Konflik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah : 1). “Percehan Partai Politik. 34. Percecokan. yaitu :29 1.

tetapi melalui berbagai konflik dan persaingan baik intern partai maupun antar partai yang terjadi secara melembaga dalam partai politik umumnya. Bentuk perjuangan yang dilakukan oleh setiap partai politik tidak harus menggunakan kekerasan/kekuatan fisik. dengan tujuan bahwa dalam pemilu memperoleh suara mayoritas dalam badan legislatif. guna memperoleh kemenangan dala proses pemilu. Dengan suara 115 . Partai poltik sering dianggap sebagi salah satu atribut negara demokrasi modern. Sebagaimana dikatakan oleh Huszar dan Stevenson dalam bukunya Political Science mengemukakan “Partai Politik ialah sekelompok orang yang terorganisir serta berusaha untuk mengendalikan pemerintahan agar supaya dapat melaksanakan progam-progamnya dan menempatkan/menundukkan anggota-anggotanya dalam jabatan pemerintah. Persaingan antar partai politik merupakan bagian intergral dalam proses politik. juga terlibat langsung dalam proses penyelenggaraan negara melalui wakilwakilnya yang duduk dalam badan-badan perwakilan rakyat. sampai munculnya pameo dalam masyarakat bahwa “politisi modern tanpa partai politik sama saja dengan ikan yang berada di luar air”. karena partai politik sangat diperlukan kehadirannya bagi negara-negara yang berdaulat. Kalau kelahiran partai politik sebagai pengejewantahan dari kedaulatan rakyat dalam politik formal. dan tidak ada seorang ahlipun dapat membantahnya. Hubungan ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat yang melahirkannya. tempat seseorang/kelompok mencari dan memperjuangkan kedudukan politik dalam negara. Partai politik. sering diasosiasikan sebagai organisasi perjuangan. partai politik berusaha untuk memperoleh kekuasaan dengan dua cara yaitu ikut serta dalam pelaksanaan pemerintah secara sah. maka semangat kebebasan selalu dikaitkan orang dalam membicarakan partai politik sebagai pengendali kekuasaan.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia oleh manusia dan paling ampuh untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Bagi negara-negara yang merdeka dan berdaulat eksistensi partai politik merupakan prasyarat baik sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Partai politik sebagai institusi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masyarakat dalam mengendalikan kekuasaan. atau mungkin bekerja secara tidak sah/subversif untuk memperoleh kekuasaan tertinggi dalam negara yaitu melalui revolusi atau coup d’etat. Karena demikian pentingnya keberadaan partai politik.

5 No. berbagai usaha telah dilakukan untuk menghubungkan partai–partai politik dengan lembaga-lembaga lain dalam masyarakat. mengkritik rezim yamg memerintah. Kompetisi yang berkembangnya biasanya diliputi oleh tujuan-tujuan yang ingin dicapai. mempertahankan posisi elitnya dalam kekuasaan pemerintahan. melakukan tata hubungan politik dan lain-lain. bahkan membawa atribut-atribut kelompok yang berafiliasi untuk diperjuangkan kepentingannya. Selain itu. serta merealisir tujuan lebih lanjut.Vol. Hasil pembangunan politiknya telah membatasi kekuasaan Monarchi absolut dan perluasan hak-hak warga negara. tetap mengendalikan pemerintahan dan lebih jauh lagi memberikan keuntungan-keuntungan terhadap anggota partai baik keuntungan yang bersifat materiil maupun spirituiil. Sejarah mencatat untuk pertama kali partai politik tumbuh dan berkembang di negara-negara Eropa Barat. Kondisi konflik dan persaingan semacam ini merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa dielakkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dikatakan Carl. dimana rakyat dapat menentukan pilihannya dengan leluasa. dengan berbagai kelompok yang bertujuan mengejar kekuasaan dan pencapaian tujuan-tujuan dan kepentingannya. kekuasaan perasaan aman. Dalam konteks ini masyarakat sering dipandang sebagai organisme yang dinamis tempat berkembangnya pelbagai persaingan guna memperoleh prestisi. partai poltik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara mapan dengan tujuan untuk menjamin dan mepertahanlan pemimpin-pemimpinnya. Telah banyak penelitian empiris menunjukkan perspektif biar di mana partai-partai politik dan sistem kepartainnya bisa dianalisis dan dipahami secara lebih mendalam dalam kehidupan masa kini. Dan pada gilirannya menempatkan partai politik berfungsi menjadi penghubung antara rakyat dengan pemerintahan. status. merupakan suatu tahap agar pemerintahan yang dijalankan harus berdasarkan kontitusi dan perwakilan. memperkuat dan memperjuangkan ideologi partainya. memperjuangkan kepentingannya.Friederich bahwa. 1 .yaitu mengawasi kebijaksanaan umum. Telah banyak penelitian empiris menunjukkan perspektif baru di mana partai-partai politik bisa dianalisis dan 116 . partai yang bersangkutan akan dapat berbuat banyak dalam mengendalikan negara dan pemerintahan. Keberhasilan inilah yang mendorong meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses politik.J.Maret 2008 mayoritas dalam pemilu.

Konsitusi RIS dan UUDS”50. Bilamana pemberontakan PKI tahun 1926/1927 tidak terjadi. PNI. dan Marxisme/Sosialisme. Periode 1927 sampai dengan 1945 aktualisasi ideologi Marxis hilang dari arena gerakan politik Indonesia. juga berhasil memikat kaum intelektual. kedudukannya mampu digantikan oleh PNI sebagai partai radikal-revolusioner dan Soekarno mampu belajar dari pengalaman dan kelemahan SI dan PKI. tidak menutup kemungkinan PKI akan menjadi pelopor dalam perjuangan anti kolonialisme/imperalisme.Cokroaminoto. dalam tempo yang relatif singkat berkembang dengan pesat. Berdasarkan pengalamanpengalaman perkembangan demokrasi di negara kita dalam hubungannya dengan pelaksanaan UUD 1945. apalagi kalau menyangkut kepentingan bangsa dan negara. telah timbul kecenderungan untuk mengatur kehidupan kepartaian. Dilihat dari sudut ideologi dasar. Nasionalisme. munculnya partai politik di Indonesia pada masa pra kemerdekaan secara garis besar adalah sebagai aktualisasi dari tiga aliran atau pandanagan politik yang menemukan momentum kelahirannya pada dekade abad ke20.O. tidak dijumpai kata-kata partai politik. terutama dengan memperkenalkan analisa Lenin dan Bucharin tentang imperalisme sebagai tingkat terakhir dari kapitalisme. Kesalahan PKI waktu itu membuat satu perjuangan “pemberontakan” tanpa persiapan yang matang. Ketiga aliran itu ialah Islam. Pada tahun 1920-an dengan kelahiran PKI. Partai Serikat Islam sering dianggap sebagai partai pelopor dan partai ini menjadi dinamis di bawah pimipinan H. sebagai partai politik pertama yang bercorak nasional. baik di bidang organisasi maupun dalam usaha memasyarakatkan Marxisme/Komunisme. Kalau kita lihat ketentuan UUD 1945. Aktualisasi aliran Islam muncul pertama dalam Serikat Islam (SI). 117 . Hal yang menarik dari SI pada periode awal adalah mampu mengidentifikasikan dirinya dengan aspirasi politik Bumi Putera untuk memperjuangkan kemerdekaan. Kondisi seperti ini.S. yang bercorak ideologi Marxisme dan Nasionalisme. Partai ini tidak saja berhasil mempengaruhi massa rakyat. dan tidak mampu bersaing dengan ideologi-ideologi modern yang berasal dari Barat dalam merebut massa rakyat. hal ini tidak berarti bahwa partai politik tidak boleh ada/diatur. membawa dampak wibawa SI menurun. PKI yang lahir pada tahun 1920.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia dipahami secara lebih mendalam.

jelas membawa partai politik garis tempat berpijak yang kokoh. Serikat Ambon (1920). tetapi kerena perbedaan pandangan dalam membawa ideologi itu menjadi aktual. dan kelompok-kelompok yang berdasarkan suku kederahan seperti Paguyuban Pasundan (1914). Sedangkan pada pendudukan Jepang (1942-1945) seluruh kegiatan partai politik dihentikan. Dengan partai politik aliran paham yang ada di dalam masyarakat dapat disalurkan secara 118 . Pada pokoknya sesudah PNI dibubarkan sampai dengan kedatangan Jepang pada tahun 1942. Namun kalau dikualifikasi lebih lanjut. 5 No. bagaimana hubungan antara partai politik dengan rakyat pendukungnya. bagaimana peranan ideologi di dalam kehidupan partai untuk memperoleh sarana materiil. akan menunjukkan beragam alasan dari aliran politik Islam. Hatta. berkeputusan untuk membentuk partai politik dengan konsep banyak partai (multyparty). misalnya dari non-kooperatif ke kooperatif. Serikat Sumatra (1918). PKI (1921). bahwa perpecahan dalam partai politik bukan karena perbedaan penafsiran terhadap ideologi yang dianut. tidak ada satu ideologi yang dominan dalam pergerakan politik Indonesia. Achmad Syafe’i Ma’arif mengkonstanti. Perjalanan kehidupan partai politik di Indonesia sering dihadapkan pada berbagai masalah. PNI (1927). Setelah proklamasi kemerdekaan BP-KNIP terhitung mulai tanggal 30 Oktober 1945 bertindak sebagai parlemen sementara sebelum diadakan pemilu. Isi Maklumat itu antara lain memuat keinginan pemerintah akan kehadiran partai politik. 1 . serta bagaimana peranan partai politik bagi kelancaran perputaran mesin partai. Hal ini menyangkut sikap terhadap pemerintah Hindia Belanda. Partindo. jelas perjuangan utama mereka adalah kemerdekaan dari kolonialisme/ imperalisme. dengan pertimbangan bahwa “berbagai pendapat yang ada di dalam masyarakat akan tersalur secara tertib”. seperti bagaimana partai politik mengorganisir dirinya agar terbebas dari ancaman perpecahan. Parindra.Vol. Rukun Minahasa dan Kaum Betawi (1923) dan lainlain. Nasionalisme dan Marxisme dalam melihat tuntutan untuk merdeka.Maret 2008 Kalau kita perhatikan jalan pemikiran yang melandasi organisasiorganisasi politik seperti Serikat Islam (1912). Dengan dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tertanggal 3 November 1945 yang ditandatangani oleh Wakil Presiden Moh. Hal lain yang menjadi dasar pertimbangan adalah “bahwa partai politik akan memperkokoh perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan pemeliharaan keamanan masyarakat”. PSII (1930).

c) Pergerakan Tarbiah Islamiah.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia teratur. Lebih meyakinkan lagi. e) Partai Demokrasi Rakyat (Banteng). e) Partai Katholik. i) Partai Kedaulatan Rakya (PKR). m) Partai Tani Indonesia (PTI). g) Partai Wanita Rakyat (PWR). l) Partai Rakyat Jelata (PRJ). j) Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI). Dengan dasar maklumat pemerintah ini. 2. yakni harus sudah tersusun sebelum dilangsungkan pemilihan anggota-anggota badan perwakilan rakyat pada bulan Januari 1946. d) Partai Kristen Indonesia. d) Partai Buruh. b) Persatuan Indonesia Raya (PIR). b) Partai Sosialis Indonesia. n) Wanita Demokrasi Indonesia (WDI). a) Partai Nasional Indonesia (PNI). berupa limit waktu pendirian partai politik. d) Partai Rakyat Indonesia (PRI). Dasar kebangsaan. c) Partai Murba. Dasar Marxisme: a) Partai Komunis Indonesia (PKI). 3. Partai politik yang berdiri sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tersebut diklasifikasikan dalam buku Kepartaian Indonesia/terbitan Kementerian Penerangan tahun 1951 sebagai berikut : 1. f) Partai Rakyat Nasional (PRN). lahirlah berbagai partai politik ditambah partai politik yang telah ada pada zaman penjajahan Belanda maupun partai politik pada masa pendudukan Jepang. h) Partai Kebangsaan Idonesia (Parki). Dasar Ketuhanan: a) Masjumi. k) Ikatan Nasional Indonesia (INI). c) Partai Indonesia Raya (Parindra). 119 . b) Partai Sjarikat Indonesia.

2. 120 . Aliran nasionalis : a) PNI. g) PIR-Wongsonegoro. Aliran Sosialis : a) PSI. 5 No. Aliran Komunis : a) PKI. Adapun Alfian dalam mengelompokkan partai politik berdasarkan hasil pemilu 1955 yakni. d) Parindra. f) SKI. dan partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) berdasarkan kebangsaan.Vol. b) Partai Indonesia Nasional (PIN). b) SOBSI. 4. Partai lain-lain: a) Partai Demokrat Tionghoa (PTDI). b) Parkindo. b) GTI. c) PIR Hazarin. Disamping itu ada dua partai politik yang cukup besar pengaruhnya dalam masyarakat. 1. d) Perti 3. Aliran Kristen : a) Partai Katolik. 5. e) Partai Buruh. b) NU.Maret 2008 e) Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai). 1 . b) PRN. c) BTI 4. Partai Islam : a) Masjumi. yang belum tercantum dalam daftar di atas yakni Nahdatul Ulama (NU) yang secara resmi berdiri sebagai partai politik yang bernafaskan Islam tahun 1952. c) PSII.

Hanya terdapat dua kabinet yang diperintah secara berimbang antara dua golongan tersebut. IPKI.H.Wahid Hasjim sebagai akibat dari pemerintahan diktator yang dilaksanakan oleh Jepang.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Cara lain menurut Alfian dengan pengelompokkan partai politik. b) Nasionalis Islam. Yang perlu dicatat bahwa masa ini nampak sekali percaturan politik bercirikan militansi politisi sipil. a) Nasionalis opportunis.A. karena partai ini sangat merosot dalam perolehan suara. Karena tidak ada partai yang mayoritas dalam pemilu. Islam dan Kristen. Kalau pada zaman penjajahan konflik antar golongan dapat ditutupi dengan isu melawan penjajahan. Adapun simbul kedua golongan itu adalah PNI dam Masjumi. Ketiga golongan utama inilah yang mendominasi kehidupan politik kita melalui partai politik. Kondisi semacam ini menjadi salah satu penyebab sering terjadi 121 . nampak semakin intensif upaya menanamkan ideologi dalam masyarakat dan masing-masing sebagai golongan politik menampakkan identitas sebagai golongan yang memang memiliki ambisi untuk mempertaruhkan segalanya demi mencapai tujuan dalam kekuasaan politik. NU. Pemilu 1955 mengangkat posisi NU dan PKI ke panggung politik dan mendepak PSI ke luar. Pengelompokkan ini nampaknya relevan dengan pemikiran K. Tetapi dalam perkembangan berikutnya setelah lepas dari penjajahan. jalan keluarnya dengan mendirikan partai baru yang juga mempunyai problem tersendiri dalam menghadapi pemerintah kolonial. Golongan lain adalah PSI. maka tahun 1955 kita menyaksikan pertumbuhan partai politik yang subur dengan diselingi konflik yang terkadang berbau antagonis diantara berbagai golongan yang ada. sehingga intrik politik diantara masing-masing golongan tidak menampilkan perpecahan intern. Itulah resiko multipartai yakni pertentangan yang tidak pernah berkesudahan antar elit politik terutama golongan nasionalis dan Islam. Dengan adanya anjuran dan jaminan penderian serta hak hidup partai politik. membuka peluangnya adanya koalisi. PSII. nonagama. dan beberapa partai kecil lainnya yang ikut duduk dalam kabinet sampai berakhirnya pemilu 1955. dan c) Komunis/Sosialis. maka di dalam negara kita berkembang tiga aliran yakni. Salah satu ciri utama kehidupan politik masa demokrasi liberal ditandai dengan kabinet yang berulang kali rata-rata berumur 8 bulan.

Dalam kurun waktu 1959-1965. 1 . Awal kebangkitan Orde Baru dalam melakukan pembenahan intitusi politik. Inilah malapetaka yang dikenal dengan pemberontakkan G 30S/PKI dengan jatuhnya 7 korban perwira tinggi dan menengah TNI-AD. dalam bahasa Orde Baru tidak mungkin menyelenggarakan pembangunan ekonomi karena perhatian lebih banyak ditujukan kepada pembenahan bidang politik. Masa ini tampak kekuasaan Presiden Soekarno mengisap hampir seluruh kekuasaan yang ada disekelilingnya dan berakhirlah kekuasaan partai-partai politik. sedang partai lain kurang menunjukkan aset yang berarti dalam percaturan politik. mendorong Presiden Soekarno menggunakan kekuasaan ekstrakonstitusional dengan Dekritnya dan melahirkan demokrasi terpimpin. 5 No.Vol. dengan cara mengucilkan kekuatan TNI-AD. tampak antara Soekarno. memberikan angin segar bagi PKI untuk berkiprah lebih leluasa dalam arena politik. Dari malapetaka itulah segenap potensi bangsa terutama Militer. dan TNI-AD saling bersaing. PKI. Usaha pertama disamping memulihkan partaipartai yang tidak secara resmi dilarang. manakala suatu saat dilakukan pengambil alihan kekuasaan. memberikan keyakinan padanya bahwa kemenangan akan diraihnya. menghantarkan militer berkiprah dalam gelanggang politik. Angkatan 66 dan umat Islam ditambah kekuatan sosial keagamaan lainnya ikut bergerak menumpas PKI. masa demokrasi terpimpin ditandai pula oleh adanya keinginan kuat kaum militer untuk tampil dalam gelanggang politik dan sejak itu pula muncul kesadaran untuk mengurangi jumlah partai politik. oleh Alfian memberi istilah dengan “formal politik baru”.Maret 2008 pergantian kabinet. Dengan kehancuran PKI. Dan pemilu 122 . Dengan dikucilkannya PNI dan Masjumi oleh Presiden Soekarno. guna mengatasi berbagai gejolak politik. adalah menyusun UU tentang pemilu yang dianggap sesuai dengan perkembangan masyarakat saat itu. tetap berpandangan bahwa jumlah partai yang terlalu banyak tidak menjamin adanya stabilitas politik. Dengan konflik yang berkepanjangan dalam tubuh badan Konstituante dalam merumuskan UUD yang bersifat tetap. Disamping cengkraman kekuasaan Soekarno. Kehancuran Orde Lama ditandai dengan surutnya politisi sipil dari gelanggang politik dan naiknya peranan militer. Dengan kelihaian PKI dalam memobilisasi massa sampai pelosok pedesaan dengan kader-kader yang disiapkan begitu intensif dan militan.

Dengan adanya partai mayoritas Golkar. ternyata baru terlaksana tahun 1971. PNI. nampak hubungan antara ABRI-teknokrat untuk memperkuat birokrasi pemerintahan demikian kuat. Partai Nasional Indonesia (PNI). dan Partai Islam. sangat mungkin melapangkan jalan untuk penyederhanaan kehidupan partai secara melembaga. dan PDI dimana masing-masing mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 123 . Golkar. yakni PPP. Hasil pemilu 1971 yang menunjukkan kemenangan Golkar. NU. Melalui proses fusi yakni partai-partai Islam seperti. kemudian diikuti oleh Parmusi. Partai Katolik. Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Partai Murba. PSII. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975. maka Pemilu 1977 dan 1982 hanya tiga peserta pemilu. Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). sebagai peserta pemilu tahun 1971 ada 10 partai politik yakni: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Golongan Karya (Golkar). Hal inipun tidak lepas dari jasa ABRI dalam mensukseskan pemilu pertama dalam masa Orde Baru. Dalam gelanggang percaturan politik Orde Baru. Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) tergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adapun Partai Demokrasi Indonesia (PDI) merupakan gabungan dari Parkindo. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan. hanya kesan umum kekuasaan ABRI lebih kuat dari teknokrat. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). yakni memberi peluang cukup leluasa bagi Golkar untuk berusaha sekuat tenaga guna memenangkan pemilu dengan dibantu oleh pemerintah. Kalau kita cermati kembali perjalanan partai politik di Indonesia pada masa Orde Baru.Tidak jelas siapa menguasai siapa dalam menggambarkan hubungan ini. dan PNI menunjukkan kekuatan formal partai dilihat dari suara yang didapat dalam pemilihan. Nahdatul Ulama (NU). Murba dan IPKI.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia yang direncanakan dilaksanakan dalam waktu dekat. NU. Parmusi. Partai Katolik.

1 . Ke-24 parpol merupakan hasil dari proses seleksi yang cukup panjang. Pemilu 1999 adalah Pemilu yang diikuti oleh paling banyak peserta setelah Pemilu 1955. tujuan dan asasnya. Ada 48 partai yang mengikuti Pemilu 3 tahun lalu. Ke-50 partai yang lulus penyaringan tersebut kemudian mendaftarkan diri ke KPU untuk menjadi calon peserta Pemilu. PDI dengan ciri demokrasi. 12 Tahun 2003. Sedang dalam Pemilu 1987 dan 1992. Pada tahap ini ada 50 partai politik yang dinyatakan lulus penyaringan. sebuah 124 . Dengan demikian perlombaan pengaruh antar kontestan hanya berorientasi pada program kerja masing-masing parpol. PPP dengan ciri ke-Islaman dan Ideologi Islam. dan DPRD menegaskan bahwa partai politik yang dibenarkan mengikuti Pemilu adalah partai yang sudah mendapat pengesahan sebagai badan hukum oleh Depkeh dan HAM. 2. Penyaringan tahap kedua adalah verifikasi administratif oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). 3. ketua umum dan sekretaris jenderal. kebangsaan (nasionalisme) dan keadilan. 615 Tahun 2003. Itu yang mengikuti Pemilu. Di sini tujuan penyaringan adalah memberikan status atau pengesahan partai politik sebagai sebuah badan hukum sebagaimana ditetapkan oleh UU No. 105 Tahun 2003 sebagaimana diperbarui dengan Keputusan KPU No. 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR.Maret 2008 1. yaitu azas Pancasila. Untuk mengingat kembali partai-partai tersebut berikut ini bisa dibaca profil masing-masing partai tersebut. Sesuai dengan amanat UU No. Di dalam sejarah politik Indonesia. 5 No. dengan berlakunya UndangUndang Nomor 3 Tahun 1985 (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975). alamat. ditetapkan agar semua parpol hanya menggunakan satu-satunya azas. khususnya Pasal 7 – 10. Di dalam Pemilu 2004 terdaftar 24 partai politik yang berhak ikut serta Pemilu 2004. Penyaringan tahap pertama dilakukan oleh Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM). Untuk diketahui. serta sejarah singkatnya. DPD. 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik.Vol. Di dalamnya terdapat informasi mengenai nama partai. UU No. Golkar dengan ciri kekaryaan dan keadilan sosial. Ke-24 partai ini ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2004 setelah berhasil melalui 3 tahap penyaringan. Kalau hanya sekedar mendaftarkan diri ke pemerintah (Departemen Kehakiman dan HAM) pada waktu itu ada 141. yang kemudian dijabarkan di dalam Keputusan KPU No.

ada 18 partai yang lulus.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia partai politik berhak mengikuti Pemilu apabila memenuhi sejumlah persyaratan.000 orang atau 1/1. baik administratif maupun faktual. Pertama. Penyaringan tahap ketiga adalah verifikasi faktual. mempunyai anggota sekurang-kurangnya 1. Ada dua tahap verifikasi di sini. Ditambah dengan 6 partai yang lulus threshold. Sebab. Partai Golongan Karya. 12 Tahun 2003 partai yang sudah memenuhi electoral threshold tersebut. Keenam partai tersebut adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. jumlah keseluruhan partai yang berhak menjadi peserta Pemilu 2004 adalah 24. Partai Buruh Sosial Demokrat. yaitu verifikasi administratif dan verifikasi faktual. Partai Amanat Nasional. Kedua. Oleh karena jumlah partai yang mengikuti proses verifikasi ada 44. semua kepengurusan tersebut harus mempunyai kantor. Pembuktian setiap partai yang mendaftarkan diri tersebut dilakukan melalui proses verifikasi. Sebuah catatan perlu ditekankan di sini bahwa 6 dari partai tersebut tidak melalui proses verifikasi yang dilakukan oleh KPU. mempunyai pengurus lengkap di sekurangkurangnya 2/3 kabupaten/kota di setiap provinsi di mana ia mempunyai kepengurusan. 3. 2. mempunyai kepengurusan lengkap di sekurang-kurangnya 2/3 jumlah provinsi di Indonesia.000 dari jumlah penduduk di setiap daerah di mana ia mempunyai pengurus. Pada tahap ini yang diteliti adalah memastikan apakah benar dokumen-dokumen mengenai kepengurusan dan keanggotaan sebagaimana di dalam verifikasi administratif tersebut mewujud di lapangan. Ketiga. langsung ditetapkan menjadi peserta Pemilu 2004 apabila mendaftarkan diri sebagai calon peserta Pemilu ke KPU. Partai Persatuan Pembangunan. 125 . KPU menyusun ketentuan mengenai tata cara dan prosedur verifikasi tersebut di dalam Keputusan KPU No. dan Partai Bulan Bintang. Sedangkan menurut UU No. Hanya partai yang lulus verifikasi administratif yang bisa mengikuti penyaringan tahap selanjutnya (verifikasi faktual). Setelah keseluruhan proses verifikasi selesai. 615 Tahun 2003. yaitu : 1. Partai Bulan Bintang. Keempat. 105 Tahun 2003 dan yang diperbarui dengan Keputusan KPU No. keenam partai tersebut telah lulus electoral threshold (mempunyai 2% dari jumlah kursi di DPR) di dalam Pemilu 1999. Partai Nasional Indonesia Marhaenisme. Partai Kebangkitan Bangsa.

11. 16. 15. antara DPP PDIP Megawati di satu sisi dengan GP PDIP-nya Roy BB Janis di sisi lain. 7. 19. 10. 21. 5 No. 9. 22. 5. 12. 18. 20. Konflik Partai Politik di Era Reformasi Kecenderungan konflik internal hingga dualisme kepemimpinan partai politik pascakongres atau muktamar kembali terjadi. Kongres PDIP di Bali membelah kepemimpinan PDIP menjadi dua poros kekuatan. 13.Vol. 23. Sebelumnya soliditas kepemimpinan DPP PPP juga retak oleh konflik internal antara kaukus elite DPP pro-Silatnas (Silaturahmi Nasional) yang anti Hamzah Haz dengan yang anti Silatnas yang pro Hamzah Haz. 1 . 6. 8. 24. 17. 126 . 14. Fenomena kepengurusan kembar partai politik (parpol) di Indonesia sebagai imbas konflik internal partai sebenarnya merupakan fenomena klasik dalam politik kepartaian di Indonesia.Maret 2008 4. Muktamar PKB di Semarang membuat dualisme kepemimpinan: Gus Dur-Muhaimin Iskandar berhadapan dengan DPP PKB versi Alwi Shibah dan Syaifullah Yusuf yang didukung oleh poros Kiai Langitan-Lirboyo. Partai Merdeka Partai Persatuan Pembangunan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan Partai Perhimpunan Indonesia Baru Partai Nasional Banteng Kemerdekaan Partai Demokrat Partai Keadilan Dan Persatuan Indonesia Partai Penegak Demokrasi Indonesia Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia Partai Amanat Nasional Partai Karya Peduli Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa Partai Keadilan Sejahtera Partai Bintang Reformasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Damai Sejahtera Partai Golongan Karya Partai Patriot Pancasila Partai Sarikat Indonesia Partai Persatuan Daerah Partai Pelopor B.

Lantas bagaimana kita menempatkan realitas ini di masa reformasi? Apakah bisa dikatakan konflik partai di era reformasi diakibatkan intervensi pemerintah. Ketiga. Perpecahan juga menimpa partai-partai gurem. ataukah oleh sebab lain? Sepanjang era reformasi. baca: pembelahan organisasi. terjadi akibat rivalitas atau proses radikalisasi ideologi. partai kecil yang sempat menempatkan tujuh kadernya di DPR (periode 1999-2004) terpecah 127 . sebelah lagi yang pro-Megawati yang didukung arus bawah.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia Kepengurusan kembar partai. Faktornya berbeda-beda. atau karena proses radikalisasi ideologi. Pembelahan parpol di awal berkuasanya Orde Baru yang militeristik diorientasikan untuk memandulkan fungsi kontrol partai atas pemerintahan. PPP sempat terpecah menjadi PPP Reformasi sebelum akhirnya berganti nama menjadi PBR. strategi resistensi sosial partai. Di masa Soekarno. radikalisasi ideologi. dengan akibat mantan Wakil PM Hardi tergusur. pembelahan (perpecahan) parpol yang menghasilkan dualisme kepemimpinan struktural disebabkan oleh tiga faktor: Pertama. PDKB. Di jaman kolonial. Kemudian PKB pasca jatuhnya Gus Dur dari kursi kepresidenan terbelah menjadi PKB Batutulis di bawah komando matori Abdul Djalil dan PKB Kuningan di bawah komando Alwi Shihab dengan dukungan Gus Dur dan para kiai (ulama) kharismatik NU. dengan maksud mencegah konsolidasi barisan pendukung Soekarnois. Orde Baru (Orba) sampai sekarang ini. Sedangkan di masa Orba. sebelah di bawah Soerjadi yang direstui pemerintah. telah mengakar dalam tradisi politik di Indonesia semenjak era kolonialisme hingga membudaya di alam kemerdekaan. pembelahan partai disebabkan oleh intervensi rezim berkuasa yang mencoba menghancurkan partai-partai yang diprasangkakan membahayakan kekuasaan. yang merupakan partai pendukung kaum Soekarnois di awal Orba di –pecah menjadi PNI ASU (Ali Sastroamidjojo-Surachman) dengan PNI Osa-Usep. Kedua. Jaman Reformasi Bisa disimpulkan dalam lintasan sejarah kepartaian di Indonesia. seperti kasus perpecahan Syarikat Islam (SI) di tahun 1920-an menjadi SI “merah”-nya Semaoen dan SI “putih”-nya HOS Tjokroaminoto. Partai Nasional Indonesia (PNI) diperintahkan Soekarno untuk re-shaping semangat revolusionernya. Di awal 1990-an Orba melakukan pembelahan partai pewaris simbol Soekarnois PDI. intervensi kekuasaan dalam kerangka kepentingan deideologisasi dan de-parpolisasi. masa Soekarno. PNI.

128 . PRD.Maret 2008 menjadi dua sebelum resmi mendaftarkan diri menjadi peserta Pemilu 2004. Ketiga. serta yang merepresentasikan diri sebagai partai aliran. rekruitmen kader kepemimpinan internal dan eksternal. Pepecahan ini dalam analisis sosiologis dan psikologis politik disebabkan oleh beberapa faktor: Pertama. pecah berkeping-keping menjadi PDS. politik dagang sapi dalam arena kongres atau muktamar partai. yang hanya aktif dan memiliki orientasi berkompetisi dalam pemilu. Watak tradisionalisme kepartaian di Indonesia inilah yang menjadikan partai gagal menjalankan fungsi normatif politik. feodalistik yang menjegal kompetisi demokratis dalam pergantian kepemimpinan partai.Vol. sementara kekuatan reformis atau dekonstruksi di jajaran kader semakin kuat dan menuntut proses percepatan suksesi. kharismatik. Ini terjadi di partai-partai tradisional yang mengandalkan ikon kepemimpinan partai yang kharismatik dan berbasiskan loyalitas massa kepada figur pemimpin partai. intrik politik. yang pada umumnya dilakukan poros kepentingan yang merepresentasikan keinginan pemerintah untuk menumpulkan resistensi oposisional partai terhadap kebijakan pemerintah. dsb. Kedua. intervensi kekuasaan politik dan modal. Intervensi modal dan intervensi kekuasaan politik ini mendorong lahirnya budaya money politics. partai radikal yang konsisten melawan Orba. bipolaritas kepentingan politik yang berpengaruh terhadap harmoni partai. Maret 2005 juga terbelah dua menjadi PDIP dan Gerakan Pembaruan PDIP. yang mengandalkan ikatan perekat antara organisasi dan dukungan massa melalui kharisma ketokohan. Muncul pertanyaan: Mengapa partaipartai mudah sekali terbawa arus perpecahan yang menyulut lahirnya dualisme kepemimpinan? Perpecahan di tubuh partai yang kini marak juga dipengaruhi kondisi internal partai-partai yang pada umumnya masih merupakan partai tradisional. 5 No. baik dalam hal edukasi politik massa konstituen. Bipolaritas antara pragmatisme yang menjangkiti kader/elite partai berhadapan dengan idealisme yang dipegang oleh kader/elite partai yang teguh mempertahankan jiwa ideologi dan garis konstitusional partai. terhambatnya proses regenerasi akibat pola kepemimpinan yang patronatif. PRP. Karena tokoh yang kharismatik di dalam partai masih ingin mempertahankan otoritasnya. Intervensi modal terjadi dan dilakukan oleh kekuatan bisnis yang menjadikan parpol sebagai kendaraan untuk mempermudah penguasaan aset politik yang dekat relasinya dengan sumber daya ekonomi. Akhirnya PDIP pasca kongres Bali. 1 .

bisa menyelamatkan masa depan karir politiknya. Karena figur pemimpin partai membawa kepentingan kaukus elite-nya. Sehingga akhirnya terjadi rivalitas politik yang tujuannya untuk bertahan atau merebut kepemimpinan di dalam partai. Kegagalan fungsi normatif partai akhirnya menumbuhkan pola pikir dan perilaku pragmatis di antara kaukus elite/kader pengurus partai. sedangkan kaukus yang gagal menempatkan tokohnya menjadi ketua umum akan tersingkir dari kepengurusan partai.Konflik Internal Partai Sebagai Salah Satu Penyebab Kompleksitas Sistem Multipartai di Indonesia komunikasi politik serta aktifitas transformasi konflik. Mereka aktif di partai dengan tujuan berkarir di parlemen dan pemerintahan. 129 . Berarti karir politik mereka tamat. Untuk mempertahankan eksistensi dan karir politik. serta dalam pemahaman bersama meletakkan partai sebagai kendaraan untuk meraih akses ke sumber daya ekonomi. Para elite partai yang mayoritas bersikap-berfikir pragmatis. menjadikan partai sebagai alat meniti karir. akhirnya mereka—kaukus elite/kader—yang kalah terdorong membentuk struktur tandingan kepengurusan partai dengan harapan bisa melakukan posisi tawar sekaligus jika memenangkan pertikaian yuridis di pengadilan dalam persoalan absah-tidaknya kepengurusan kembar. alat “cari makan dan jabatan”.

dan 4. 3 Reformasi tahun 1998 bukan yang pertama.1 I. reformasi ekonomi. yaitu melepaskan birokrasi dari ikatan politik primordial dari kekuatan politik tertentu yang menimbulkan berbagai kecemburuan politik. berbangsa. Bagir Manan melihat paling tidak ada empat agenda reformasi dalam rangka revitalisasi tatanan kehidupan bermasyarakat. seperti peniadaan monopoli dan membangun sistem ekonomi kerakyatan. 132 – 133. Zafrullah Salim.2 Pada awal reformasi jilid kedua (1998)3 yang ditandai dengan berakhirnya rezim pemerintahan orde baru. FH – UII Press. berbangsa dan bernegara yang perlu mendapat perhatian: 1. 2. Agenda Reformasi Reformasi sebagai bagian dari perjalanan historis bangsa Indonesia untuk mengembalikan cita-cita proklamasi seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tidak selalu berkaitan dengan penolakan akan kemapanan dan konservatisme.Vol.H. 3. reformasi diarahkan pada usaha pemberdayaan suprastruktur dan infrastruktur politik agar benar-benar menjadi wahana perjuangan mewujudkan dan melaksanakan tatanan demokrasi (antara lain yang telah diselenggarakan adalah pemilihan umum yang bebas (1999) serta kebebasan mendirikan partai). sebab pada waktu angkatan ‘66 mencetuskan tema tritura (tiga tuntutan rakyat) juga diilhami oleh semangat untuk menuntut “reformasi” menyeluruh (total) dalam segala segi kehidupan bermasyarakat. hlm. melainkan harus dipandang dan diperlakukan sebagai subsistem dalam proses dinamika mencapai tujuan.Maret 2008 DAMPAK SISTEM MULTIPARTAI DALAM KEHIDUPAN POLITIK INDONESIA Oleh: Drs. reformasi birokrasi atau administrasi negara (administrative reform). 2003). M. dan bernegara. 1 2 Direktur Publikasi. (Yogyakarta. hak-hak yang terkandung dalam prinsip negara konstitusional dan negara berdasarkan atas hukum. 5 No. agar setiap orang dapat menggunakan secara wajar hak-hak demokratis. Teori dan Politik Konstitusi. dan Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. memulihkan. 1 . Bagir Manan. 130 . Kerjasama.

yang kemudian dimasukkan dalam amendemen UUD 1945 dengan penyisipan Bab XA “Hak Asasi Manusia”. sedangkan UUD 1945 baru (setelah perubahan) terdiri dari 199 butir. Hal itu sejalan pula dengan pengakuan terhadap hak-hak sipil dan politik (civil and political rights) dalam instrumen hukum internasional. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. (makalah. yang berarti penataan kembali legislasi partai politik dengan membentuk undang-undang partai politik yang baru merupakan keharusan yang tidak mungkin dihindari. Alasan penggantian undang-undang lama antara lain adalah belum optimalnya UU No. 4 Pasal 28 UUD 1945: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. Tujuan Pembaharuan Partai Politik Sejalan dengan dinamika politik terutama sejak reformasi. 2007). yang digariskan dalam konstitusi. Sejak awal tahun ini (4 Januari 2008) berlaku Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan parpol dalam sistem nasional berbangsa dan bernegara. Melalui UU No. Kedudukan Peraturan Menteri dalam Sistem Peraturan Perundang-undangan Indonesia. 31 Tahun 2002 mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran partai politik (parpol) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. upaya pengaturan partai politik terus dilakukan.5 II. 2 Tahun 2008 diharapkan pula pembaharuan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan parpol. (lihat Machmud Aziz.4 Peraturan perundang-undangan bidang politik tentu menggunakan prinsip “kemerdekaan berserikat dan berkumpul”. 131 . yang diawali dengan perubahan dan penambahan terhadap Undang-Undang Dasar 1945. yang menyangkut domokratisasi internal parpol. yang berarti perubahan dan penambahan itu sebanyak 174 butir (88 %). sehingga Ismail Sunny (guru besar em eritus FH UI) dalam suatu ceramahnya pernah mempersoalkan apakah masih tepat disebut sebagai UUD 1945? UUD 1945 lama hanya terdiri dari 71 butir. 5 Butir-butir perubahan UUD 1945 demikian banyak. menggantikan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. tidak diterbitkan.Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia Kebebasan mendirikan partai politik adalah bagian esensial dari hak konstitusional yang telah dirumuskan oleh founding fathers dalam UUD 1945. transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan parpol.

5 No. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 9 Pasal 2 UU No.Vol. 2007). 1 . hlm. 50 % dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan.. Rineka Cipta.” (Rafael Raga Maran. Tampaknya pembentuk undang-undang tidak berani menegaskan partai politik sebagai sarana untuk mengantarkan para kadernya memegang kekuasaan pemerintahan. Persyaratan dimaksud antara lain melalui ketentuan mengenai “pembentukan partai politik”9 6 Oka Mahendra.6 Meskipun dalam kajian tentang politik belum ada kesepakatan tentang definisi partai politik. vol.Maret 2008 Di antara substansi UU No. kelompok kepentingan.” (lihat Cummings dalam Encyclopedia Americana (1980). 8 Dalam kajian politik. III.8 Undangundang berfungsi sebagai “a tool of social engineering”. 2 Tahun 2008 mengharuskan kepengurusan partai politik harus mempunyai paling sedikit 60 % dari jumlah provinsi. Cummings yang mendefinisikan “political parties” sebagai “organized groups of individuals or other other groups who attempt to exercise power in political system by winning control of the the government or influencing governmental policy. Pembentukan Partai Politik Infrastruktur politik terpenting dalam negara demokrasi adalah partai politik. 132 . Definisi yang agak lebih luas dikemukakan oleh Milton C. yaitu dengan mengubah frasa “kepentingan anggota” menjadi “kepentingan politik anggota”. 336). 7 UU No. dan 25 % dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota daerah yang bersangkutan. 2005).”7 Perubahan regulasi yang menempatkan partai politik sebagai “organisasi yang bersifat nasional” diharapkan dapat mengubah paradigma politik sekelompok kecil masyarakat yang gemar mendirikan partai politik. (Jakarta. 232. namun hukum positif di Indonesia mengartikan partai politik sebagai “organisasi yang bersifat nasional yang dibentuk oleh sekelompok warga negara secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. bangsa dan negara. kelompok penekan dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. tanpa penerbit. Pengantar Sosiologi Politik. memegang kendali pemerintahan atau mempengaruhi kebijakan pemerintahan. (Jakarta. masyarakat. 31 Tahun 2002. walaupun dalam pikiran para pendiri dan pegiat partai politik pada umumnya demikian. 2 Tahun 2008 yang menarik untuk dianalisis adalah ketentuan mengenai pembentukan parpol yang mengokohkan kembali sistem multipartai yang telah diatur sebelumnya. Miriam Budiardjo mengartikan partai politik sebagai “kelompok yang terorganisir dengan tujuan memperoleh jabatan-jabatan pemerintahan. 22. Pasal 1 angka 1. “organisasi politik” menjadi “organisasi yang bersifat nasional”. hlm. Perubahan itu sangat signifikan yang mencerminkan arah reformasi di bidang regulasi partai politik. dan menghapus frasa “melalui pemilihan umum”. Definisi itu berbeda dengan UU No. Reformasi Pembangunan Hukum dalam Perspektif Peraturan Perundang-undangan. dalam hal ini tujuan regulasi partai politik dimaksudkan untuk membatasi kebebasan warga negara mendirikan partai dengan menetapkan persyaratan yang lebih ketat. 2 Tahun 2008.

14 Secara sederhana system multipartai (system banyak partai. (ii) sistem dwi 10 Pasal 17 mengharuskan kepengurusan partai politik ada pada tingkat pusat.12 Regulasi yang lebih ketat tersebut mungkin berdasarkan pengalaman sebelumnya tentang banyaknya kelompok masyarakat yang mengajukan pendaftaran partai politik. dengan kebijakan yang masih longgar dan liberal meskipun agak lebih ketat dibanding dengan UU No. Dan. 31 Tahun 2002 yang telah dicabut. hanya 50 yang memenuhi syarat untuk disahkan sebagai badan hukum. Dengan memperhatikan tipe partai politik yang dikenal.Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia serta organisasi dan kedudukan” partai politik. atau eksekutifnya tidak homogen. yaitu (i) sistem partai partai tunggal. Op. 11 UU No. hlm. poly-partism) terwujud manakala mayoritas mutlak dalam lembaga perwakilan rakyat dibentuk atas dasar kerjasama dua kekuatan atau lebih. Sistem Multipartai dan Instabilitas Negara Politik hukum yang mempertahankan sistem multipartai14 seperti tersirat dari pengaturan mengenai pembentukan partai politik tentu telah dipertimbangkan secara matang oleh pembentuk undang-undang. multi-party sistem.10 Dengan demikian (calon) para deklarator politik harus benar-benar berusaha memperoleh dukungan publik secara nasional sebelum pembentukan partai diumumkan. Mayoritas mutlak demikian tidak pernah terwujud tanpa melalui kerjasama. provinsi. 133 . kabupaten/ kota. multi partism. atau aliansi.cit. pendaftaran partai politik ke Departemen Hukum dan HAM untuk memperoleh status sebagai badan hukum (rechtspersoon) mengharuskan partai politik menempuh proses penelitian dan/atau verifikasi kelengkapan dan kebenaran semua keterangan dalam Anggaran Dasar yang tercantum akta notaris11 dan persyaratan lain yang diperlukan untuk menetapkan status partai sebagai badan hukum. hal. 234. 12 UU No. 67. Pada tahun 2003 terdapat 112 partai politik yang mendaftar di Departemen Hukum dan HAM untuk diverifikasi. 13 Oka Mahendra. Algensiondo. system partai banyak. Sistem Politik Indonesia.13 Jelaslah bahwa politik hukum nasional pengaturan partai politik memberikan kebebasan warga negara mendirikan partai. 2 Tahun 2008 Pasal 2.. 2 Tahun 2008 Pasal 11.koalisi. IV. dari 84 partai politik yang diverifikasi itu. (Bandung. 2006). (lihat Rusadi Kantaprawira. 84 di antaranya memenuhi syarat diverifikasi.. Di samping itu. Selanjutnya Pasal 20 susunan dan komposisi kepengurusan partai politik pada semua tingkat harus pula memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% yang diatur dalam AD/ART partai politik masing-masing.

Presiden Soeharto menempuh kebijakan sistem multipartai terbatas. tampaknya pilihan yang ketiga ini paling banyak diterapkan di berbagai negara yang menganut paham demokrasi (Eropa. 1 . Di antara dampak sistem multipartai yang penting untuk dicatat adalah keharusan pembentukan pemerintahan koalisi (governing coalition). Konsekuensi sistem multipartai tidak hanya mempengaruhi mekanisme dan efisiensi pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah di DPR atau DPRD. hlm. 5 No. Cumming menulis: “The existence of several parties can make it more difficult to form a stable governing coalition than is the face in two-party sistems. Sistem kepartaian jelas tidak hanya menentukan susunan dan kedudukan MPR. DPR dan DPRD melainkan juga sistem pemerintahan. Asia.cit. yang dalam praktik di masa lalu banyak menimbulkan kesulitan bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakan stratejik karena mempertimbangkan banyak faktor. 339. Lebih jauh pandangan dan analisis ahli ilmu politik. and a country with a multiparty system may have three. At one extreme.Maret 2008 partai.” Selanjutnya. melainkan juga birokrasi pemerintahan yang harus dipegang oleh banyak orang sebagai representasi dari partai politik yang menang dalam pemilihan umum. or more governments in one year. Op. pada masa orde baru. or four. PPP. dengan mendorong fusi partai-partai politik (hasil pemilihan umum 1969) sehingga hanya ada tiga partai politik (Golkar. Wakil-wakil rakyat yang duduk di legislatif dan pemerintahan akan memperjuangkan aspirasi para pendukungnya yang sangat bervariasi. Cumming. 134 . dan PDI) dan pada fraksi DPR/DPRD sederhana menjadi 4 fraksi saja (dengan mengangkat fraksi ABRI). Betapa sering terjadi pergantian kabinet. dan Latin Amerika). governments fall repeteadly.. sehingga instabilitas pemerintahan itu menyebabkan peluang untuk melaksanakan pembangunan menjadi terabaikan.15 Pada era demokrasi parlementer (1955 – 1959) apa yang dinyatakan Cumming terbukti benar. Atas dasar pengalaman seperti itu pula. “… such coalition are often fragile.Vol. dan (iii) sistem multipartai. Afrika. C. mengingatkan pula bahwa sistem multipartai yang dipakai sebagai sarana memodernisasikan 15 Milton C.

Pertanyaan yang menggelitik. relatif menumbuhkan instabilitas dari pada di negara yang menganut sistem dua partai. 182. apakah yang berada di DPR/DPRD itu wakil partai politik atau wakil rakyat? Organ negara tersebut jelas bernama Dewan Perwakilan Rakyat/Daerah. Op. 2 Tahun 2008 memasukkan kepentingan politik anggota. masyarakat. V.cit. seperti di bawah ini:16 Distribution of Coups and Coup Attempts in Modernizing Countries Since Independence Type of Political System Communist One-Party One-Party Dominant Two Party Multiparty No effective Parties Number of Countries 3 18 12 11 22 17 Country with Coups Number Per Cent 0 2 3 5 15 14 0 11 25 45 68 83 Hasil penelitian Huntington di atas mungkin tidak memasukkan kondisi partai politik dalam sample-nya.Dampak Sistem Multipartai Dalam Kehidupan Politik Indonesia masyarakat di negara sedang berkembang.. bangsa dan negara nomor dua. Penelitian seperti dkemukakan oleh Samuel P. memberikan gambaran tentang instabilitas akibat sistem-sistem politik yang dianut. bangsa dan negara. Pada hakekatnya sistem multipartai itu tidak banyak berbeda dengan tiadanya partai dalam masyarakat. karena dalam masa demokrasi parlementer dahulu dan bahkan sampai sekarang belum pernah terjadi kudeta (perebutan kekuasaan) seperti banyak terjadi di negara lain yang menganut sistem multipartai. bukan “dewan perwakilan partai”. hlm. 135 . Huntington yang dikutip Rusadi Kantaprawira. Representasi Partai atau Rakyat? Dampak dari sistem multipartai adalah kepentingan apa dan siapa yang diperjuangkan di parlemen dan pemerintahan? UU No. yang 16 Rusadi Kantaprawira. Dari sosiologi politik hal itu berarti urusan masyarakat. Jelas yang pertama diperjuangkan adalah kepentingan politik anggota.

keluarga. tanggung jawab dan perlakuan yang tidak diskriminatif seperti yang diharapkan oleh pembentuk undang-undang.Vol. dan kekuasaan militer. tetapi berlangsung sesuai dengan aturan pengaruh.Maret 2008 berarti mereka seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat secara keseluruhan.17 Pengukuhan sistem multipartai dengan UU No. pengamat senior politik hukum Indonesia yang menyatakan bahwa politik tidak berjalan sesuai dengan aturan. 1 . MacIver. 17 R. The Web of Government. MacIver. tampaknya masih akan diuji. (New York. status sosial. 5 No. uang. hlm. 1958). 2 Tahun 2008 yang diharapkan dapat mewujudkan kaidah demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Lev. mereka sesungguhnya adalah wakil dari rakyat (in uno compendio repraesentivo). 208 – 210. aspirasi. 136 . MacMillan. keadilan. pernah diungkapkan oleh Daniel S. Namun setelah mereka berada di parlemen.M. keterbukaan. sejauhmana cita-cita yang demikian luhur itu terwujud? Nada pesimis tentang keampuhan regulasi politik mengatur kehidupan politik dalam tatananan budaya hukum. dengan mengutip pandangan Nicholas (penulis abad ke-15) mengatakan partai politik sebagai kendaraan politik paling utama dalam demokrasi moderen bermaksud untuk mengorganisasi pendapat masyarakat tentang negara dan memperjuangkannya melalui partai politik.

dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang tentang Partai Politik. f. dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. keterbukaan. adil dan makmur. Menimbang : a. Pasal 24C ayat (1). aspirasi. bahwa Partai Politik merupakan sarana partisipasi politik masyarakat dalam mengembangkan kehidupan demokrasi untuk menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab. e. c. Pasal 28C ayat (2). Pasal 22E ayat (3). keadilan. huruf b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. Pasal 28.ARTIKEL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat. Pasal 6A ayat (2). 137 . huruf c. berkumpul. bahwa kemerdekaan berserikat. bahwa kaidah demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. tanggung jawab. bersatu. b. dan Pasal 28J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. d. bahwa Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik perlu diperbarui sesuai dengan tuntutan dan dinamika perkembangan masyarakat. Pasal 20. berdaulat. Mengingat : Pasal 5 ayat (1). huruf d. serta demokratis dan berdasarkan hukum. dan perlakuan yang tidak diskriminatif dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu diberi landasan hukum. serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia yang diakui dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. berkumpul.

adalah peraturan yang dibentuk sebagai penjabaran AD. Keuangan Partai Politik adalah semua hak dan kewajiban Partai Politik yang dapat dinilai dengan uang.Vol. 2. kewajiban. 5 No. 6.Maret 2008 Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PARTAI POLITIK. Departemen adalah Departemen yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia. 1 . masyarakat. atau barang serta segala bentuk kekayaan yang dimiliki dan menjadi tanggung jawab Partai Politik. selanjutnya disingkat AD. 5. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pendidikan Politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak. selanjutnya disingkat ART. Menteri adalah Menteri yang membidangi urusan hukum dan hak asasi manusia. 3. serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 7. 4. Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota. adalah peraturan dasar Partai Politik. 138 . berupa uang. Anggaran Rumah Tangga Partai Politik. Anggaran Dasar Partai Politik. dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. bangsa dan negara.

c. (2) (3) (4) (5) Pasal 3 (1) Partai Politik harus didaftarkan ke Departemen untuk menjadi badan hukum. dan pengambilan keputusan. b. kepengurusan Partai Politik. e. lambang. 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah kabupaten/kota pada setiap provinsi yang bersangkutan. AD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memuat paling sedikit: a. nama. Partai Politik harus mempunyai: a. b. lambang. dan 25% (dua puluh lima perseratus) 139 . keuangan Partai Politik. Akta notaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat AD dan ART serta kepengurusan Partai Politik tingkat pusat. d. organisasi. atau tanda gambar yang tidak mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. c. h. Pendirian dan pembentukan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyertakan 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. kantor tetap. dan i. atau tanda gambar yang telah dipakai secara sah oleh Partai Politik lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan tanda gambar Partai Politik. tujuan dan fungsi Partai Politik. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik BAB II PEMBENTUKAN PARTAI POLITIK (1) Pasal 2 Partai Politik didirikan dan dibentuk oleh paling sedikit 50 (lima puluh) orang warga negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun dengan akta notaris.UU RI No. (2) Untuk menjadi badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tempat kedudukan. peraturan dan keputusan Partai Politik. f. akta notaris pendirian Partai Politik. kepengurusan paling sedikit 60% (enam puluh perseratus) dari jumlah provinsi. d. Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dengan menyertakan paling rendah 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. nama. asas dan ciri Partai Politik. g. pendidikan politik. lambang. visi dan misi Partai Politik.

Vol.Maret 2008 dari jumlah kecamatan pada setiap kabupaten/kota pada daerah yang bersangkutan. memiliki rekening atas nama Partai Politik. Keputusan Menteri mengenai pengesahan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pengesahan Partai Politik menjadi badan hukum dilakukan dengan Keputusan Menteri paling lama 15 (lima belas) hari sejak berakhirnya proses penelitian dan/atau verifikasi. Pasal 7 (1) Menteri mengesahkan perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak diterimanya dokumen persyaratan secara lengkap. 1 . 140 (2) (3) (4) . Pasal 6 Perubahan yang tidak menyangkut hal pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) diberitahukan kepada Menteri tanpa menyertakan akta notaris. (1) Pasal 4 Departemen menerima pendaftaran dan melakukan penelitian dan/atau verifikasi kelengkapan dan kebenaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 ayat (2). 5 No. BAB III PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA PARTAI POLITIK Pasal 5 (1) Perubahan AD dan ART harus didaftarkan ke Departemen paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak terjadinya perubahan tersebut. (2) Pengesahan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri. dan e. Penelitian dan/atau verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya dokumen persyaratan secara lengkap. (2) Pendaftaran perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyertakan akta notaris mengenai perubahan AD dan ART. (3) Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia.

BAB IV ASAS DAN CIRI Pasal 9 (1) Asas Partai Politik tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (2) Tujuan khusus Partai Politik adalah: a.UU RI No. memperjuangkan cita-cita Partai Politik dalam kehidupan bermasyarakat. dan d. meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 8 Dalam hal terjadi perselisihan Partai Politik. (2) Partai Politik dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita Partai Politik yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan 141 . berbangsa. b. BAB V TUJUAN DAN FUNGSI Pasal 10 (1) Tujuan umum Partai Politik adalah: a. mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Asas dan ciri Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan penjabaran dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan bernegara. menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. pengesahan perubahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) tidak dapat dilakukan oleh Menteri. b. mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

5 No. dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender. Dewan Perwakilan Rakyat. dan e. dan adil dari negara. dan bernegara. 1 . membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. d. penyerap. ikut serta dalam pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Fungsi Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan secara konstitusional. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. c.Maret 2008 c. 142 . berbangsa. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. memperoleh perlakuan yang sama. dan bernegara. serta kepala daerah dan wakil kepala daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. d. c. memperoleh hak cipta atas nama. dan tanda gambar Partai Politik sesuai dengan peraturan perundang-undangan. berbangsa. (3) Tujuan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diwujudkan secara konstitusional. mengatur dan mengurus rumah tangga organisasi secara mandiri. Presiden dan Wakil Presiden. b. penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. e.Vol. sederajat. BAB VI HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 12 Partai Politik berhak: a. penghimpun. partisipasi politik warga negara Indonesia. membentuk fraksi di tingkat Majelis Permusyawaratan Rakyat. b. lambang. Pasal 11 (1) Partai Politik berfungsi sebagai sarana: a.

membentuk dan memiliki organisasi sayap Partai Politik. i. memelihara dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. d. i. menyukseskan penyelenggaraan pemilihan umum.UU RI No. demokrasi. memiliki rekening khusus dana kampanye pemilihan umum. memelihara daftar penyumbang dan jumlah sumbangan yang diterima. e. berpartisipasi dalam pembangunan nasional. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik f. melakukan pendidikan politik dan menyalurkan aspirasi politik anggotanya. c. f. calon bupati dan wakil bupati. serta calon walikota dan wakil walikota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. h. menyosialisasikan program Partai Politik kepada masyarakat. dan hak asasi manusia. h. 143 . b. mengajukan calon untuk mengisi keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. mengamalkan Pancasila. calon gubernur dan wakil gubernur. mengusulkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. j. menjunjung tinggi supremasi hukum. serta terbuka kepada masyarakat. dan peraturan perundang-undangan. menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan yang bersumber dari dana bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah secara berkala 1 (satu) tahun sekali kepada Pemerintah setelah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. dan k. melakukan pendaftaran dan memelihara ketertiban data anggota. Pasal 13 Partai Politik berkewajiban: a. mengusulkan pergantian antarwaktu anggotanya di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. g. dan k. j. g. membuat pembukuan. mengusulkan pemberhentian anggotanya di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan. memperoleh bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(3) Anggota Partai Politik wajib mematuhi dan melaksanakan AD dan ART serta berpartisipasi dalam kegiatan Partai Politik. dan c. (2) Keanggotaan Partai Politik bersifat sukarela. (2) Tata cara pemberhentian keanggotaan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan Partai Politik. mengundurkan diri secara tertulis. c. 1 . BAB VIII ORGANISASI DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 17 (1) Organisasi Partai Politik terdiri atas: a. 5 No. melanggar AD dan ART. organisasi tingkat provinsi. pemberhentian dari keanggotaan Partai Politik diikuti dengan pemberhentian dari keanggotaan di lembaga perwakilan rakyat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 15 (1) Kedaulatan Partai Politik berada di tangan anggota yang dilaksanakan menurut AD dan ART. b. (3) Dalam hal anggota Partai Politik yang diberhentikan adalah anggota lembaga perwakilan rakyat. (2) Anggota Partai Politik mempunyai hak dalam menentukan kebijakan serta hak memilih dan dipilih. organisasi tingkat pusat. Pasal 16 (1) Anggota Partai Politik diberhentikan keanggotannya dari Partai Politik apabila: a. b.Vol. menjadi anggota Partai Politik lain. dan tidak diskriminatif bagi warga negara Indonesia yang menyetujui AD dan ART. organisasi tingkat kabupaten/kota.Maret 2008 BAB VII KEANGGOTAAN DAN KEDAULATAN ANGGOTA Pasal 14 (1) Warga negara Indonesia dapat menjadi anggota Partai Politik apabila telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin. meninggal dunia. atau d. 144 . terbuka.

Pasal 21 Kepengurusan Partai Politik dapat membentuk badan/lembaga yang bertugas untuk menjaga kehormatan dan martabat Partai Politik beserta anggotanya.UU RI No. (2) Organisasi Partai Politik tingkat provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi. Pasal 20 Kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% (tiga puluh perseratus) yang diatur dalam AD dan ART Partai Politik masing-masing. Kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi. Dalam hal kepengurusan Partai Politik dibentuk sampai tingkat kelurahan/ desa atau sebutan lain. (3) Organisasi Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai hubungan kerja yang bersifat hierarkis. BAB IX KEPENGURUSAN (1) (2) (3) (4) Pasal 19 Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat berkedudukan di ibu kota negara. 145 . Kepengurusan Partai Politik tingkat kabupaten/kota berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota. (3) Organisasi Partai Politik tingkat kabupaten/kota berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (2) Organisasi Partai Politik dapat dibentuk sampai tingkat kelurahan/desa atau sebutan lain. Pasal 18 (1) Organisasi Partai Politik tingkat pusat berkedudukan di ibu kota negara. Pasal 23 (1) Pergantian kepengurusan Partai Politik di setiap tingkatan dilakukan sesuai dengan AD dan ART. Pasal 22 Kepengurusan Partai Politik di setiap tingkatan dipilih secara demokratis melalui musyawarah sesuai dengan AD dan ART. kedudukan kepengurusannya disesuaikan dengan wilayah yang bersangkutan.

(2) Dalam hal dibentuk kepengurusan dan/atau Partai Politik yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 146 .Vol. Pasal 26 (1) Anggota Partai Politik yang berhenti atau yang diberhentikan dari kepengurusan dan/atau keanggotaan Partai Politiknya tidak dapat membentuk kepengurusan dan/atau Partai Politik yang sama. (3) Susunan kepengurusan baru Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Menteri paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya persyaratan. Pasal 25 Perselisihan kepengurusan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 terjadi apabila pergantian kepengurusan Partai Politik yang bersangkutan ditolak oleh paling rendah 2/3 (dua pertiga) dari jumlah peserta forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik. pengesahan perubahan kepengurusan belum dapat dilakukan oleh Menteri sampai perselisihan terselesaikan. Pasal 28 Pengambilan keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sesuai dengan AD dan ART Partai Politik. keberadaannya tidak diakui oleh Undang-Undang ini. BAB X PENGAMBILAN KEPUTUSAN Pasal 27 Pengambilan keputusan Partai Politik di setiap tingkatan dilakukan secara demokratis. Pasal 24 Dalam hal terjadi perselisihan kepengurusan Partai Politik hasil forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik. 5 No.Maret 2008 (2) Susunan kepengurusan hasil pergantian kepengurusan Partai Politik tingkat pusat didaftarkan ke Departemen paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak terjadinya pergantian kepengurusan. 1 .

meningkatkan kemandirian. (2) Rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan AD dan ART serta peraturan perundang-undangan. meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. b. (3) Penetapan atas rekrutmen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan keputusan pengurus Partai Politik sesuai dengan AD dan ART. BAB XII PERATURAN DAN KEPUTUSAN PARTAI POLITIK Pasal 30 Partai Politik berwenang membentuk dan menetapkan peraturan dan/atau keputusan Partai Politik berdasarkan AD dan ART serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. berbangsa. berbangsa. 147 .UU RI No. dan membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. kedewasaan. bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan bernegara. anggota Partai Politik. dan bernegara. c. bakal calon Presiden dan Wakil Presiden. BAB XIII PENDIDIKAN POLITIK Pasal 31 (1) Partai Politik melakukan pendidikan politik bagi masyarakat sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawabnya dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender dengan tujuan antara lain: a. b. dan d. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik BAB XI REKRUTMEN POLITIK Pasal 29 (1) Partai Politik melakukan rekrutmen terhadap warga negara Indonesia untuk menjadi: a. dan c. bakal calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.

b. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. penyelesaian perselisihan Partai Politik ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan. Pasal 33 (1) Perkara Partai Politik berkenaan dengan ketentuan Undang-Undang ini diajukan melalui pengadilan negeri. dan/atau jasa. (3) Penyelesaian perselisihan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan melalui rekonsiliasi. barang. dapat berupa uang. 1 . 5 No. BAB XV KEUANGAN Pasal 34 (1) Keuangan Partai Politik bersumber dari: a. iuran anggota. dan hanya dapat diajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. mediasi. (2) Putusan pengadilan negeri adalah putusan tingkat pertama dan terakhir. (3) Bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c diberikan secara proporsional kepada Partai Politik yang 148 . dan c. (2) Sumbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. (3) Perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselesaikan oleh pengadilan negeri paling lama 60 (enam puluh) hari sejak gugatan perkara terdaftar di kepaniteraan pengadilan negeri dan oleh Mahkamah Agung paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak memori kasasi terdaftar di kepaniteraan Mahkamah Agung. BAB XIV PENYELESAIAN PERSELISIHAN PARTAI POLITIK Pasal 32 (1) Perselisihan Partai Politik diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat.Vol. (2) Dalam hal musyawarah mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai. atau arbitrase Partai Politik yang mekanismenya diatur dalam AD dan ART. sumbangan yang sah menurut hukum.Maret 2008 (2) Pendidikan politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politik sesuai dengan Pancasila.

b. sukarela. perseorangan anggota Partai Politik yang pelaksanaannya diatur dalam AD dan ART. perusahaan dan/atau badan usaha.000.000. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/ kota yang penghitungannya berdasarkan jumlah perolehan suara. Pasal 37 Pengurus Partai Politik di setiap tingkatan organisasi menyusun laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan setelah tahun anggaran berkenaan berakhir.000. dan operasional sekretariat Partai Politik. 149 . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. perseorangan bukan anggota Partai Politik.000. paling banyak senilai Rp4.000. (2) Penerimaan dan pengeluaran keuangan Partai Politik dikelola melalui rekening kas umum Partai Politik. Pasal 38 Hasil pemeriksaan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 terbuka untuk diketahui masyarakat. dan c. (2) Sumbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada prinsip kejujuran. keadilan.00 (satu miliar rupiah) per orang dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran. (4) Bantuan keuangan kepada Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. paling banyak senilai Rp1. Pasal 36 (1) Sumber keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 merupakan pendapatan yang dapat digunakan untuk pengeluaran dalam pelaksanaan program.UU RI No.00 (empat miliar rupiah) per perusahaan dan/atau badan usaha dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran. mencakup pendidikan politik.000. terbuka. tanggung jawab. (3) Pengurus Partai Politik di setiap tingkatan melakukan pencatatan atas semua penerimaan dan pengeluaran keuangan Partai Politik. serta kedaulatan dan kemandirian Partai Politik. Pasal 35 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) huruf b yang diterima Partai Politik berasal dari: a.

Dewan Perwakilan Rakyat. meminta atau menerima dana dari badan usaha milik negara. menerima sumbangan dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha melebihi batas yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. 1 . (2) Partai Politik dilarang: a. bendera atau lambang negara Republik Indonesia. dan badan usaha milik desa atau dengan sebutan lainnya. b. atau tanda gambar yang sama dengan: a. bendera.atau e. d. e. lambang lembaga negara atau lambang Pemerintah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. atau f. 150 . lambang negara lain atau lembaga/badan internasional. bendera. BAB XVI LARANGAN Pasal 40 (1) Partai Politik dilarang menggunakan nama. c. menggunakan fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat. lambang. melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ataupun jasa dari pihak mana pun tanpa mencantumkan identitas yang jelas. barang. atau tanda gambar Partai Politik lain. nama. yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama. menerima sumbangan berupa uang. menerima dari atau memberikan kepada pihak asing sumbangan dalam bentuk apa pun yang bertentangan dengan peraturan perundangundangan. badan usaha milik daerah.Maret 2008 Pasal 39 Pengelolaan keuangan Partai Politik diatur lebih lanjut dalam AD dan ART. nama. atau b. lambang. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundangundangan. b. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagai sumber pendanaan Partai Politik. d. nama atau gambar seseorang. (3) Partai Politik dilarang: a. c. 5 No.Vol. simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang.

atau b. dan tanda gambar baru. membubarkan diri atas keputusan sendiri. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (4) Partai Politik dilarang mendirikan badan usaha dan/atau memiliki saham suatu badan usaha. menggabungkan diri dengan menggunakan nama. Pasal 42 Pembubaran Partai Politik atas keputusan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a dilakukan berdasarkan AD dan ART. Pasal 44 (1) Pembubaran Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 diberitahukan kepada Menteri. lambang. Pasal 45 Pembubaran Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia oleh Departemen. 151 . (2) Partai Politik baru hasil penggabungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. menggabungkan diri dengan Partai Politik lain. b. dan tanda gambar salah satu Partai Politik. lambang. Pasal 43 (1) Penggabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf b dapat dilakukan dengan cara: a. atau c. menggabungkan diri membentuk Partai Politik baru dengan nama.UU RI No. BAB XVII PEMBUBARAN DAN PENGGABUNGAN PARTAI POLITIK Pasal 41 Partai Politik bubar apabila: a. dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi. (5) Partai Politik dilarang menganut dan mengembangkan serta menyebarkan ajaran atau paham komunisme/Marxisme-Leninisme. (3) Partai Politik yang menerima penggabungan Partai Politik lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak diwajibkan untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. (2) Menteri mencabut status badan hukum Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 3. Pasal 48 (1) Partai politik yang telah memiliki badan hukum melanggar ketentuan Pasal 40 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan kepengurusan oleh pengadilan negeri. (3) Partai Politik yang telah dibekukan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan melakukan pelanggaran lagi terhadap ketentuan sebagaimana 152 (2) (3) (4) (5) . 5 No. BAB XIX SANKSI (1) Pasal 47 Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sementara Partai Politik yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri paling lama 1 (satu) tahun. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf e dikenai sanksi administratif yang ditetapkan oleh badan/ lembaga yang bertugas untuk menjaga kehormatan dan martabat Partai Politik beserta anggotanya. Pasal 9 ayat (1). dan Pasal 40 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa penolakan pendaftaran Partai Politik sebagai badan hukum oleh Departemen.Maret 2008 BAB XVIII PENGAWASAN Pasal 46 Pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang ini dilakukan oleh lembaga negara yang berwenang secara fungsional sesuai dengan undang-undang. 1 . Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf j dikenai sanksi administratif berupa teguran oleh Komisi Pemilihan Umum. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf i dikenai sanksi administratif berupa penghentian bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sampai laporan diterima oleh Pemerintah dalam tahun anggaran berkenaan.Vol. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf h dikenai sanksi administratif berupa teguran oleh Pemerintah.

pengurus Partai Politik yang bersangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterimanya. (3) Sumbangan yang diterima Partai Politik dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha yang melebihi batas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan huruf c disita untuk negara. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sementara kepengurusan Partai Politik yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri serta aset dan sahamnya disita untuk negara. dan huruf d. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf a. Pasal 49 (1) Setiap orang atau perusahaan dan/atau badan usaha yang memberikan sumbangan kepada Partai Politik melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan huruf c dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang disumbangkannya. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) dikenai sanksi pembubaran Partai Politik oleh Mahkamah Konstitusi. pengurus Partai Politik yang bersangkutan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterimanya. (2) Pengurus Partai Politik yang menerima sumbangan dari perseorangan dan/ atau perusahaan/badan usaha yang melebihi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) huruf b dan huruf c dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda 2 (dua) kali lipat dari jumlah dana yang diterima. huruf c.UU RI No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (4) (5) (6) (7) dimaksud dalam Pasal 40 ayat (2) dibubarkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi. Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) huruf b. Pasal 50 Pengurus Partai Politik yang menggunakan Partai Politiknya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) dituntut berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap Keamanan 153 .

BAB XX KETENTUAN PERALIHAN (1) Pasal 51 Partai Politik yang telah disahkan sebagai badan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik tetap diakui keberadaannya. dan Partai Politiknya dapat dibubarkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4251). 1 . huruf d. Partai Politik yang sudah mendaftarkan diri ke Departemen sebelum Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 53 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (2) (3) (4) (5) 154 . penyelesaiannya diputus berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. diproses sebagai badan hukum menurut Undang-Undang ini. BAB XXI KETENTUAN PENUTUP Pasal 52 Pada saat berlakunya Undang-Undang ini. Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) paling lama pada forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik pada kesempatan pertama sesuai dengan AD dan ART setelah Undang-Undang ini diundangkan.Vol. Penyelesaian perkara Partai Politik yang sedang dalam proses pemeriksaan di pengadilan dan belum diputus sebelum Undang-Undang ini diundangkan. atau huruf e.Maret 2008 Negara dalam Pasal 107 huruf c. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. perkara dimaksud diperiksa dan diputus berdasarkan Undang-Undang ini. Perkara Partai Politik yang telah didaftarkan ke pengadilan sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan belum diproses. 5 No. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 138.

memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 4 Januari 2008 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.UU RI No. H. ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 2 155 . DR. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Agar setiap orang mengetahuinya. Disahkan di Jakarta pada tanggal 4 Januari 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

demokratis. Dinamika dan perkembangan masyarakat yang majemuk menuntut peningkatan peran. yang menyangkut demokratisasi internal Partai Politik. 5 No. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kemerdekaan berserikat. mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan tanggung jawab Partai Politik dalam kehidupan demokrasi secara konstitusional sebagai sarana partisipasi politik masyarakat dalam upaya mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia. melalui sejumlah pembaruan yang mengarah pada penguatan sistem dan kelembagaan Partai Politik. adil. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik belum optimal mengakomodasi dinamika dan perkembangan masyarakat yang menuntut peran Partai Politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta tuntutan mewujudkan Partai Politik sebagai organisasi yang bersifat nasional dan modern sehingga Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik perlu diperbarui. dan berdasarkan hukum. 1 . peningkatan kesetaraan gender dan kepemimpinan Partai Politik dalam sistem nasional 156 . dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Undang-Undang ini mengakomodasi beberapa paradigma baru seiring dengan menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia. bersatu.Maret 2008 PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK I.Vol. dan mengeluarkan pendapat sebagai hak asasi manusia yang harus dilaksanakan untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. berkumpul. fungsi. berdaulat. menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan Partai Politik.

keluhuran budi pekerti. Dalam Undang-Undang ini dinyatakan secara tegas larangan untuk menganut. Untuk itu. (13) Pendidikan Politik. dan menyebarkan ajaran komunisme/ Marxisme-Leninisme sebagaimana diamanatkan oleh Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/Tahun 1966. (8) Organisasi dan Tempat Kedudukan. (2) Pembentukan Partai Politik. antara lain kesadaran kebangsaan. (5) Tujuan dan Fungsi. (11) Rekrutmen Politik. (12) Peraturan dan Keputusan Partai Politik. (18) Pengawasan. (19) Sanksi. (9) Kepengurusan. (3) Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. (15) Keuangan. pendidikan politik terus ditingkatkan agar terbangun karakter bangsa yang merupakan watak atau kepribadian bangsa Indonesia yang terbentuk atas dasar kesepahaman bersama terhadap nilai-nilai kebangsaan yang lahir dan tumbuh dalam kehidupan bangsa. demokrasi. Pasal 2 Cukup jelas. Dalam Undang-Undang ini diamanatkan perlunya pendidikan politik dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban.Penjelasan UU RI No. (4) Asas dan Ciri. dan keikhlasan untuk berkorban bagi kepentingan bangsa. (6) Hak dan Kewajiban. (14) Penyelesaian Perselisihan Partai Politik. meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif warga negara. (17) Pembubaran dan Penggabungan Partai Politik. (10) Pengambilan Keputusan. (7) Keanggotaan dan Kedaulatan Anggota. (20) Ketentuan Peralihan. cinta tanah air. kebersamaan. dan (21) Ketentuan Penutup. II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik berbangsa dan bernegara. Ketetapan MPRS ini diberlakukan dengan memegang teguh prinsip berkeadilan dan menghormati hukum. mengembangkan. Seluruh pokok pikiran di atas dituangkan dalam Undang-Undang ini dengan sistematika sebagai berikut: (1) Ketentuan Umum. 157 . (16) Larangan. serta meningkatkan kemandirian dan kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. dan hak asasi manusia.

Pasal 5 Cukup jelas. 1 . sewa. Huruf d Kota/kabupaten administratif di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta kedudukannya setara dengan kota/kabupaten di provinsi lain. milik sendiri. cara penempatan. Ayat (4) Cukup jelas. lambang. baik mengenai bentuk. dan tanda gambar Partai Politik lain. Ayat (3) Cukup jelas. lambang. 158 . pinjam pakai. Pasal 4 Ayat (1) Penelitian dan/atau verifikasi Partai Politik dilakukan secara administratif dan periodik oleh Departemen bekerja sama dengan instansi terkait. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas.Maret 2008 Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan tanda gambar Partai Politik lain” adalah memiliki kemiripan yang menonjol dan menimbulkan kesan adanya persamaan. serta mempunyai alamat tetap. Huruf c Kantor tetap ialah kantor yang layak. 5 No. cara penulisan maupun kombinasi antara unsur-unsur yang terdapat dalam nama. Huruf b Yang dimaksud dengan “mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama.Vol. Huruf e Cukup jelas.

Pasal 9 Cukup jelas. Huruf i Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Huruf j Organisasi sayap Partai Politik merupakan organisasi yang dibentuk oleh dan/atau menyatakan diri sebagai sayap Partai Politik sesuai dengan AD dan ART masing-masing Partai Politik. Huruf g Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas.Penjelasan UU RI No. 159 . Huruf f Cukup jelas. Pasal 12 Huruf a Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 6 Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas.

160 . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. 1 . Pasal 14 Cukup jelas. Huruf g Cukup jelas.Vol. Huruf i Laporan penggunaan dana bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan disampaikan oleh Partai Politik kepada Departemen Dalam Negeri. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota Pasal 13 Huruf a Cukup jelas.Maret 2008 Huruf k Yang memperoleh bantuan keuangan adalah Partai Politik yang mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Huruf f Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf j Rekening khusus dana kampanye pemilihan umum hanya diberlakukan bagi Partai Politik peserta pemilihan umum. Huruf k Cukup jelas. Huruf h Cukup jelas. 5 No.

muktamar. Pasal 22 Cukup jelas.Penjelasan UU RI No. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. 161 . Pasal 28 Cukup jelas. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas . Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. atau sebutan lainnya yang sejenis. kongres. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 24 Yang dimaksud dengan “forum tertinggi pengambilan keputusan Partai Politik” adalah musyawarah nasional. Pasal 23 Cukup jelas.

Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. (3) pemecatan tanpa alasan yang jelas. Pasal 32 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “perselisihan Partai Politik” meliputi antara lain: (1) perselisihan yang berkenaan dengan kepengurusan. Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. 162 . (4) penyalahgunaan kewenangan. (2) pelanggaran terhadap hak anggota Partai Politik. Pasal 34 Cukup jelas.Maret 2008 Pasal 30 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. 1 . Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. dan/atau (6) keberatan terhadap keputusan Partai Politik. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. (5) pertanggung jawaban keuangan.Vol. Ayat (2) Cukup jelas. 5 No.

Ayat (4) Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. 163 . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi. Ayat (3) Huruf a Yang dimaksud dengan “pihak asing” dalam ketentuan ini adalah warga negara asing. Ayat (5) Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan “identitas yang jelas” dalam ketentuan ini adalah nama dan alamat lengkap perseorangan atau perusahaan dan/atau badan usaha. Huruf d Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota hasil pemilihan umum tahun 2004 tidak hilang bagi Partai Politik yang bergabung. Pasal 41 Cukup jelas. pemerintahan asing. Perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 43 Ayat (1) Penggabungan Partai Politik dalam ketentuan ini bukan merupakan gabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Huruf e Larangan dalam ketentuan ini tidak termasuk sumbangan dari anggota fraksi. atau organisasi kemasyarakatan asing.Penjelasan UU RI No. Pasal 42 Cukup jelas.

Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 46 Yang dimaksud dengan “sesuai dengan undang-undang” dalam ketentuan ini adalah sesuai dengan undang-undang organik yang memberikan kewenangan kepada lembaga negara untuk melakukan pengawasan. Pasal 51 Cukup jelas. 5 No. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas.Maret 2008 Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. 1 . TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 4801 164 . Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas.Vol.

Penelitian Hukum Ekonomi Lemah. dan Perlindungan Wanita. dan memberikan seminar/loka karya dan penataran.M. S3 di Universitas Padjadjaran-Bandung. seperti Universitas 17 Agustus 1945. 1 Nopember 1947. Hak Cipta. Legal Drafter/Perancang Peraturan Perundang-undangan. Pengkajian Hukum Asylum. Pendidikan Peneliti Hukum Departemen Hukum (19811984). dan di Badan Pembinaan Hukum Nasional.. S2 di Universitas Tarumanegara-Jakarta. RUU Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). juga Perlindungan Hukum terhadap Wanita dalam penerapan Convention on The Elimination of All Forms of 165 . S. dan AFTA/Asean Free Trade Area. Pendidikan lainnya: Pendidikan Perancang Peraturan Perundang-undangan (1978-1979). S1 Hukum (1978). pengkajian Hukum. memberi kuliah hukum Dagang/Bisnis International di Beberapa Universitas Swasta. Mengikuti Program Comporative Study Contract Law.BIODATA BIODATA PENULIS PROF. Mengikuti Program Post Doctoral Legal Drafting di International Institut of Social Study. Malaysia (1990). dalam berbagai bidang ilmu hukum. dipindahkan ke Pengadilan Negeri Bau-Bau Buton (1969-1972). diangkat oleh LIPI sebagai Peneliti di Bidang Penelitian Hukum Badan Pembinaan Nasional Departemen Hukum dan HAM RI. Melakukan kegiatan penelitian. Universitas Bung Karno dan Universitas Nasional Jakarta. Pendidikan Peneliti Hukum (1985-1986). serta ceramah dalam bidang Hukum antara lain: Pembangunan Ekonomi dan Globalisasi Perdagangan Dunia. Dumping dan Negara berkembang dalam Pembangunan Ekonomi. dan Globalisasi Perdagangan Persaingan Curang dalam Perdagangan International dan Pengaruhnya terhadap Pembangunan Ekonomi Negara-Negara ASEAN khususnya bagi Indonesia dalam kaitannya dengan penerapan WTO. Riwayat Pendidikan: Sekolah Hakim dan Jaksa Negeri Malang (1967). JEANE NELTJE SALY. Den Haag Belanda (1985-1986). Perlindungan Usaha Kecil di Wilayah Indonesia dalam Penerapan World Trade Organization (WTO). RUU Perseroan Terbatas. antara lain: bidang Hukum Dagang International dan Pembangunan Ekonomi Nasional Negara berkembang. Refugees.H. Pemerintah Daerah dan Globalisasi Perdagangan. serta aktif sebagai peserta seminar conferensi di negara lain (1979-2006). DR. penulisan karya ilmiah. Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan (1980-1998). antara lain: Penelitian Asas-Asas Hukum Nasional Penelitian Hukum Asas-Asas Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Lahir di Kupang. alih tugas ke Departemen Kehakiman (1972-1979). Peneliti Hukum di Badan Pembinaan Hukum Nasional (1998). Riwayat Pekerjaan: Calon Hakim Muda pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang (19671969).H. RUU Merek Paten.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan PP GM FKPPI. Kegiatan Ilmiah/Seminar/Talk Show Live: Pembicara/Narasumber dalam Seminar Sosialisasi UU Parpol danUU Pemilu Legislatif FKKN (Forum Kajian Kebijakan Negara) di Hotel Burnikarsa. Ketua Cabang FKPPI Jakarta Selatan. Tahun 1985-1996. 12 Tahun 1985). Tahun 1994-sekarang. AKIP Dept. Ketua Umum SENAT Mahasiswa AKIP. Anggota Badan Legislasi DPR RI. STIA LAN Jakarta. Anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan Departemen Kehakiman (UU No. Pekerjaan : Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI. Ketua PP AMPG. Wakil Ketua Cabang FKPPI Kota Tangerang. Tahun 2003 Jakarta.M. Tahun 1982-1984. POKJA DPP Partai GOLKAR. Bc. Negara UI. Tahun 2003-2006. Sekjen Persatuan Mahasiswa Administrasi Indonesia. Lulus Tahun 1991. Tahun 1993-1997. Tahun 2004-sekarang: Anggota Forum Konstitusi. Tahun 1989-1990. 1 . Penasehat PP IKA AKIP. Tahun 2003-2004. Sekretaris Umum PP IKA STIA LAN. Mahasiswa Pasca Sarjana Kriminologi UI. Tahun 2004-2006. Staf pengajar AKIP. SMP Negeri di Jakarta. Drs. Tahun 2003 di Hotel Le Meridienn Jakarta.Maret 2008 Diskrimination Againts Konvensi/Elimination terhadap segala bentuk Diskriminasi Perempuan.Vol. Pembicara/Narasumber dalam Lokakarya tentang Polri dan Pemilu yang diadakan oleh Reform for Governace. Tahun 2005-sekarang. Tahun 1997-1999. Lulus tahun 1973. Sekretaris BAPEKADA GOLKAR Jakarta Selatan. Mahasiswa Teknik sipil STTN. I Tangerang. AGUN GUNANDJAR SUDARSA. Sekretaris UMUM PP AMPG. Tahun 1993-sekarang. Lulus tahun 1976.Si Lahir di Bandung. PUSDIKLAT Pegawai Departemen Kehakiman. STM Negeri di Jakarta. Anggota Komisi II DPR RI. Kehakiman di Jakarta. Lulus tahun 1970. Tahun 1993sekarang. Pembicara/Narasumber dalam Seminar “Pemilu Berkah atau Bencana” diadakan oleh Senat Mahasiswa ITB. Tahun 1999-2004. Wakil Sekjen FKPPI Pusat Tahun 1993 – 1997. Sekretaris Daerah IX. Riwayat Organisasi: Ketua Umum Komisariat HMI Teknik Sipil. di Kampus 166 . Tahun 1981-1982. Anggota Komisi III DPR RI. Tahun 1997-2003. Tahun 2002. Anggota Panitia Ad-Hoc I Badan Pekerja MPRRI. Tahun 1979-1980. Mahasiswa Pasca Sarjana Adm. Tahun 1982-1987. Tahun 1978-1979. Anggota Komisi I DPR RI. FKPPI DKI JAYA. 13 November 1958. Tahun19821984. Tahun 1997-sekarang. Ketua PP GM FKPPI. Perlindungan Hukum terhadap Penjualan Perempuan dan Anak-Anak/The Elimination of Trafficking in Women and Children dalam kaitan Tindak Perlindungan Pemerintah. 5 No. Tahun 2002-2005. Tahun 199-2004. serta penulisan buku/artikel tentang Bisnis Internasional serta aktif sebagai peserta seminar di negara-negara lain. Riwayat Pendidikan: SD Negeri di Jakarta. Ketua Umum SENAT Mahasiswa LAN.sekarang.IP. Agama Islam. Tahun 1994-1996. Riwayat Pekerjaan: Pegawai Lembaga Pemasyarakatan Kls. Lulus tahun 1982. 19771979. Tahun 1989-1991. Ketua Umum Komisariat HMI AKIP..

Cakrawala. Kunjungan MPR RI dan Rumania Tahun 2003. Kunjungan Persahabatan Antar Parlemen ke Iran Tahun 2002. Desember 2006. Februari 2007. Kursus/Pelatihan/Studi Banding: Diklat Kesamaptaan di Cirebon Tahun 1982.Biodata Penulis ITB. Maret 2007. RCTI. Orientasi Ketahanan Nasional di Bogor Tahun 1986. Pembicara/Narasumber dalam berbagai “Talk Show Live” tentang UU Bidang Politik. Penegakan Hukum dan UUD 1945 yang diadakan oleh berbagai Stasiun tv seperti TVRI. Seminar Law and Justice: The Case For Parlianentary di Geneva – Swiss. Februari 2007. Pembicara/Narasumber dalam berbagai “Talk Show Live” tentang UU Bidang Politik. Diklat Menembak di Cirebon Tahun 1982. Pembicara/Narasumber Seminar Nasional: “Urgensi Perubahan atas UU No. SCTV. OTDA. Penegakan Hukum dan UUD 1945 yang diadakan oleh berbagai Stasiun radio seperti Elshinta. Diskusi Interaktif “Reformasi Kepolisian : Tantangan dan Prospek ke Depan”. Pembicara/Narasumber “Kemauan Politik Membangung Negara Kepulauan” Diskusi Masyarakat Kelautan dan Perikanan Jawa Timur. akuntabel dan berwibawa di Indonesia” di Universitas Parahiyangan Bandung (Kerjasama FH. 2003 hingga awal tahun 2004. REMACO. Tahun 2003 Bandung. 2003 hingga awal tahun 2004. Lain-lain. Unpar dengan Komisi Yudisial). 2006. Desember 2006. Lativi. Ke RRC Tahun 2002. Diklat Spala DEPKEH di Jakarta Tahun 1994. Delta FM. Hotel Le Grandeur Mangga Dua Jakarta. April 2007. 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dalam upaya mendorong kesinambungan proses reformasi peradilan demi terwujudnya system peradilan yang bersih. dan lain-lain sepanjang tahun 2002. Januari 2007. Trijaya Sakti. Studi Banding Pansus RUU Dewan Pertimbangan Presiden dan RUU Kemetrian Negara ke Amerika. Sept. Pembicara/ Narasumber di LIPI. Pembicara/Narasumber dalam berbagi Seminar Sosialisasi UU Bidang Politik dan Seminar Amandemen UUD 1945 yang diadakan oleh Lembaga Informasi Nasional (LIN) diberbagai Provinsi di Indonesia sepanjang tahun 2003 hingga Awal tahun 2004. ANTV. Ke Taiwan Tahun 2001. P4 tingkat Nasional di Jakarta Tahun 1987. Sosialisasi Putusan MPR RI ke Turki dan Qatar. Pembicara/ Narasumber “Memperkokoh Visi NKRI sebagai Negara Kepulauan” di Rakornas Departemen Kelautan dan Perikanan. Surabaya. Maret 2007. Studi Banding Pencucian Uang ke Australia Tahun 2003. Studi Banding Konstitusi (UDD) – ke Yunani dan Jerman tahun 2000. Pembicara/Narasumber “2007 Saatnya Wakil rakyat Pro Rakyat” Sarasehan di Hotel Nikko Internasional Jakarta. Metro TV. Pembicara/ Narasumber Sosialisasi /Pemasyarakatan UUD RI 1945 dan Ketetapan/ Keputusan MPR RI di Departemen Sosial RI. TPI dan Trans TV pada tahun 2002. Pembicara/ Narasumber The Habibie Center Bincang-Bincang “Prokontra RUU Kementrian Negara dan RUU Lembaga Kepresidenan”. 167 . OTDA.

The Hague. Program Stage pada Van Vollenhoven Institute. Kasubdit Hukum Internasional Dit. Kasubdit HTN. Staf pada Pusat Dokumentasi Hukum. The Netherlands. Monash University Tahun 2000. International Law Course. S2 Hukum di Universitas Padjajaran Tahun 1991. dan Merajut Benang Kusut dalam Fragmentasi Etika Moral. 5 No.Tata Negara dan Hukum Internasional Tahun 1995. Tanah dan Pembangunan. menyusun dan menerbitkan buku dan peraturan perundang-undangan antara lain Undang-undang Paten. Lahir di Purbalingga. Gugatan dari Senayan. Lain-lain. Riwayat pekerjaan. (2005 – 2006)Jurusan Kebijakan dan Manajemen Publik. Calon Hakim pada Pengadilan Negeri Denpasar Tahun 1971. Wakil Ketua Panitia Pemilihan Indonesia Pemilu Tahun 1999. dan Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan Tahun 2004 sampai sekarang.H. Riwayat pekerjaan. 12 Juni 1946. Kepemimpinan Menurut Ajaran Hindu. Pemilu Tahun 1999. Leiden University Tahun 1996. Sekjen Mahkamah Konstitusi Januari sampai bulan Juli 2004.Vol. 168 . Anggota KPU. Demokrasi dan Hukum. Menyelesaikan S1 Hukum di Universitas Gajahmada Tahun 1982. SMA N 2 Klaten. dan Politik. dan Penulis di beberapa mass media. S. dan S3 Hukum di Universitas Indonesia Tahun 2004. Staf Subdit Perancangan Direktorat Perundang-undangan Tahun 1989. 1 . Staf Ahli Menkeh dan HAM 1998.H. Tata Negara dan Hukum Internasional Tahun 1999. menyelesaikan S1 Hukum di UGM di Yogyakarta. Riwayat Pendidikan : S2/ Master of Arts Institute of Social Studies (ISS). SIP.M. 11 September 1957. Dit. Jawa Tengah (1989 – 1992). A.A. MA Lahir di Klaten. Dinamika Lembaga Perwakilan dan Kepemimpinan Nasional. Hukum. Klaten. 20 April 1977. Anggota DPRRI Tahun 1971. Pj.Maret 2008 DR. BPHN Tahun 1984. Jawa Tengah (1992 – 1995). PARTONO. S1/Sarjana Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (1996 – 2001)Jurusan Ilmu Administrasi Negara. sejak Maret 2005 menjabat Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan. S. Pendidikan lain. Lahir di Bangli. Undang-undang tentang Kejaksaan. WICIPTO SETIADI. SMPN 2 Trucuk. Ketua Tim Pendaftaran Ulang Parpol Tahun 2003.H. Legislative Drafing di Belanda Tahun 1985. Pegawai pada Ditjen Peradilan Umum dan TUN. Menguak Masalah Pertanahan. Departemen Kehakiman Tahun 1991. OKA MAHENDRA..

April 2007 – sekarang. 26 Desember 2007. 26 Juni 2007. Menyoal Kinerja Tim Seleksi KPU. Jan 1999 – Oktober 2001 Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kalikebo. Menunda Pilkada Jakarta?. Juli 1997 – Juni 1998 Anggota Presidium Permadi (Persatuan Mahasiswa Administrasi Yogjakarta). Januari 1996 – Des 1998 Ketua Ikatan Remaja Masjid Kalikebo (IRMAKA). Dosen Tidak Tetap STIA Mandala Indonesia. Februari 2003 – September 2004. The Jakarta Post. Maret 2007 – sekarang. Kursus dan Seminar: 14 Oktober 2006 Seminar dan Workshop “ Empowering Community – to – Community Cooperation: Indonesia – The Netherlands” yang diselenggarakan oleh ICMI Belanda. Dosen STIA Mandala Indonesia. Amerika. Legitimasi Peran Militer Dalam Politik Indonesia . Kursus TOEFL yang diselenggarakan oleh PPB UI. A Commentary on the Performance National Election Commission’s (KPU’s) Selection Committee. Kompas. Media Indonesia. 8 Agustus 2007. 18 April – 31 Juli 2005 Kursus IELTS yang diselenggarakan oleh Universitas Maastricht. Fajar Banten Juli 2004. Training. Oktober 2001 – Januari 2003. Relawan IRE (Institute of Research and Empowerment). FISIPOL. September 2004.Biodata Penulis Pengalaman Kerja: Koordinator Peneliti CETRO (Center for Electoral Reform). Trucuk. Fajar Banten. Oktober 2004 – Maret 2005. 18 – 23 Juni 2006 Leadership and Social Justice Training. Klaten. Jogyakarta. dapat di akses di www. Pengalaman Organisasi: Nov 2005 – Nov 2006 Sekretaris Umum Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Den Haag. Mewaspadai Politisasi Birokrasi Dalam Pilpres 2004 . Belanda. Urgensi Pemilihan Presiden Dalam Penciptaan Good Governance. yang diselenggarakan oleh International Fellowship Program Ford Foundation (IFP FF). Quo Vadis Suara Pemilih Islam. Klaten. Kalikebo. Mencermati Legitimasi Pilkada Jakarta. Oligarchy Maintained With New Political Party Bill.aceproject. Jateng. Trucuk. KBRI Belanda dan PPI Belanda. Belanda. Agustus 2004. di Washington DC. UGM (KMAN). Fajar Banten. Jakarta. Juli 1997 – Juni1998 Ketua Himpunana Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Fajar Banten Juni 2004. Jakarta. Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara STIA Banten. 21 – 24 Juni 2004. 169 . Oktober 1999 – Oktober 2001 Ketua Departement Kaderisasi Pemuda Muhammadiyah Kec Trucuk. Agustus 2004. Jakarta. Publikasi: Dampak Korupsi dan Upaya Pencegahannya. Suara Pembaruan 29 Agustus 2007. Juni 2001 – Agustus 2001. Traning dan Workshop Metodologi Penelitian Dosen Negeri dan Swasta se-Banten yang diselenggarakan oleh Departement Pendidikan Nasional. Klaten.org . September 2004. Pemilu 2004: Berharap Munculnya Pemimpin Nasional Baru Fajar Banten. Fajar Banten.

. Pasca Sarjana Universitas Indonesia Bidang Ilmu hukum. b.H. 2004-Sekarang: Anggota Senat Akademik Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketua HMI Cabang Jakarta. S. 2004-Sekarang: Anggota Pengawasan Mutu Akademik Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. 28 Februari 1948. Kantor Menpora. Fakultas Hukum Universitas Indonesia.H. Pekerjaan : Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lahir di Rangkas Bitung Banten. Saat ini bekerja di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. 1992Sekarang : Dosen Utama Mata Kuliah Praktek Hukum Fakultas Hukum 170 . Pemprov. Koordinator bidang Kemahasiswaan. Pendidikan terakhir Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia. 5 No. Widyaiswara Madya. 1 . DKI Jakarta. Riwayat Pendidikan: 1986 : Sarjana Hukum. 2006 : Pasca Sarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia.M. Ketua MPM Universitas Indonesia. Riwayat Pekerjaan: a. Lahir di Jakarta.. S.Maret 2008 ZAINAL ABIDIN SALEH. Terlibat dalam berbagai koalisi NGO dan juga dalam penyusunan beberapa Naskah Akademis dan RUU Versi Masyarakat. 2004-Sekarang : Ketua Bidang Studi Hukum Acara/Jurusan Praktisi Hukum – Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Direktorat Sosial Politik DKI Jakarta.H.Vol. ZAINAL ABIDIN. Pendidikan: Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jurusan Hukum Tata Negara. Ass. 1995-Sekarang : Penasehat Lembaga Konsultasi & Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Indonesia.H. S.M. Riwayat Pekerjaan: 2005Sekarang : Ketua Lembaga Pendidikan Lanjutan Ilmu Hukum (LPLIH) Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya dan Pudek bidang Kemahasiswaan. Dep. CHUDRY SITOMPUL. Pengalaman Organisasi: Ketua Umum SEMA Fakultas Hukum Universitas Indonesia. di Instansi Pemerintah: Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia. PB-HMI. di Swasta: Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah. 12 Desember 1955.H. Care Taker DEMA Universitas Indonesia. 2004-Sekarang: Ketua Sub Komisi Pengabdian Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

171 . 1988-1992 : Asisten Dosen Mata Kuliah Praktek Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lahir di Sulit Air.H. Wetgevingstechniek – Leiden Universiteit. 1987 : Calon Pegawai Negeri Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2000-2004: Sekretaris Bidang Studi Hukum Acara/Jurusan Praktisi Hukum – Fakultas Hukum Universitas Indonesia.Universitas Indonesia. 1987-1995 : Staff Penasehat Hukum Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kerja Sama dan Pengundangan Peraturan Perundang-undangan (2008-sekarang). Pendidikan di bidang Perundang-undangan : Legislative Drafting – Indiana University. Drs. Sumatera Barat 1 April 1953. Direktur Publikasi. Riwayat Jabatan : Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Jawa Barat (2007-2008). 2000-2004: Anggota Tim Pakar Kejaksaan Agung Republik Indonesia. 1988-Sekarang: Pegawai Negeri tetap Fakultas Hukum Universitas Indonesia. M. S2 Hukum Ekonomi. ZAFRULLAH SALIM. Pendidikan: S1 Syariah (Hukum Islam).

dan metodologi). data. panjang naskah antara 8-25 halaman. Isi.Jakarta Selatan Telepon (021) 5264517/Fax (021) 5205310. Pengiriman naskah dengan melampirkan softcopy berupa curriculum vitae beserta pas photo ukuran 4 x 6 cm sebanyak 1 (satu) lembar untuk dimuat di jurnal. Pokok pembahasan atau judul penulisan berupa kalimat yang singkat dan jelas. sistimatis. Penulisan hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baku. pendahuluan (latar belakang permasalahan. Naskah dikirim ditujukan kepada : Redaksi Jurnal Legislasi Indonesia. 8. hasil dan pembahasan (tinjauan pustaka. penutup (kesimpulan dan saran). Sistimatika penulisan sesuai dengan aturan penulisan ilmiah. Naskah yang dikirim disertakan disket dan disebutkan program yang dipakai. e-mail : legislasi@yahoo. 2. 5 No. dan daftar pustaka ditulis berdasarkan abjad (alfabetis). Rasuna Said Kav. Naskah diketik rangkap 2 (dua) spasi di atas kertas ukuran A4.Maret 2008 PANDUAN PENULISAN 1. 4. 3. dengan kata-kata atau frasa kunci yang mencerminkan isi tulisan. daftar pustaka dan disertakan gambar atau foto. seperti hasil penelitian lapangan.Vol. Naskah yang dikirim berbentuk karya tulis ilmiah. hipotesa. Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan HAM RI Jl. 1 . 172 .200 kata). 6-7 Kuningan . yang secara garis besar memuat: abstrak (yang panjangnya antara 100 . dan gagasan kritis-konseptual yang bersifat obyektif. analisis. materi. dan subtansi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. tabel jika diperlukan. review buku. 9. dan deskriptif.com. tujuan ruang lingkup. dan analisis). 5. 6. HR. 10. sederhana dan mudah dimengerti tidak mengandung makna ganda. Naskah yang dikirim hendaknya merupakan karya tulis asli yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di media lain. Redaksi berhak mengedit teknis penulisan (redaksional) tanpa mengubah arti. kajian teori. 7. studi kepustakaan. lugas. survey.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful