P. 1
Ontologi, Epistemologi Dan Aksiologi Ilmu

Ontologi, Epistemologi Dan Aksiologi Ilmu

5.0

|Views: 41,949|Likes:
Published by wahyu.n

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: wahyu.n on Nov 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2015

pdf

text

original

Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Ilmu

Makalah Filsafat Ilmu Dosen: Prof. Dr. Wuryadi

Disusun Oleh: Jamil Suprihatiningrum Ali Imran Cita Indira Sri Wahyu Widyastuti (08708251009) (08708251013) (08708251021) (08708251023)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2008

Pengantar .....
Perkembangan zaman berlangsung begitu cepat. Masyarakat berjalan secara dinamis mengiringi perkembangan zaman tersebut. Seiring dengan hal itu, filsafat sebagai suatu kajian ilmu juga berkembang dan melahirkan tiga dimensi utama sekaligus sebagai obyek kajiannya. Ketiga dimensi utama filsafat ilmu ini adalah ontologi (apa yang menjadi obyek suatu imu), epistemologi (cara mendapatkan ilmu), dan aksiologi (untuk apa ilmu tersebut). Ontologi merupakan hakikat yang ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran. Epistemologi adalah sarana, sumber, tatacara untuk menggunakannya dengan langkah-langkah progresinya menuju pengetahuan (ilmiah). Adapun aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normatif dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu.1 Adapun ruang lingkup filsafat ilmu meliputi:2 1. komparasi kritis sejarah perkembangan ilmu; 2. sifat dasar ilmu pengetahuan; 3. metode ilmiah; 4. praanggapan-praanggapan ilmiah; 5. sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hubungan antara persoalan, aktivitas, dan pengetahuan filsafati dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Hubungan antara persoalan, aktivitas, dan pengetahuan filsafati Persoalan Filsafati Metafisis Epistemologis Aksiologis Proses Akal Budi Komprehensif, spekulatif Analisis, Interpretasi Deskripsi, Preskripsi Pengetahuan Filsafati Pandangan dunia Sistem pemikiran, kebenaran filsafat Kearifan hidup

Filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofik untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmiah. Secara substantif fungsi
1

2

Wibisono, 2001 Rizal Mustansyir, 2001: 49-50

1

pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dari disiplin ilmu masingmasing, agar dapat menampilkan teori substantif. Selanjutnya, secara teknis diharapkan dengan dibantu metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoperasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masingmasing.3 Makalah ini mengupas tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi filsafat ilmu. Tujuan penulisan makalah ini antara lain: 1. mengkaji secara mendalam berbagai pengertian ontologi ilmu; 2. mengkaji salah satu konsep ontologi: the study of the nature of existence and being in the abstract” atau the science of being and universal order”; 3. mengkaji ontologi sebagai dasar pemikiran filsafat; 4. mengkaji persoalan epistemologi; 5. mengkaji kaitan epistemologi dan cara memperoleh kebenaran/ilmu; 6. mengkaji kaitan epistemologi dengan alur pengetahuan (divergen maupun konvergen); 7. mengkaji epistemologi sebagai kunci pengembangan ilmu; 8. mengkaji pengertian aksiologi; 9. mengkaji kaitan antara aksiologi dan implementasi sebuah ilmu; 10. mengkaji nilai kemanfaatan sebuah ilmu.

3

Noeng Muhadjir, 1998: 2

2

Pembahasan .....
A. Pengertian Ontologi Ilmu (Hakikat Ilmu) Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan (Suparlan Suhartono, 2007). Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ontology is the theory of being qua being”, artinya ontologi adalah teori tentang wujud. Obyek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang

3

meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa obyek formal dari ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Hal senada juga dilontarkan oleh Jujun Suriasumantri (2000: 34 – 35), bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Berdasarkan obyek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris, karena obyeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berlainan dengan agama dan bentuk-bentuk pengetahuan lain, ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang bersifat empiris, selalu berorientasi terhadap dunia empiris. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang ) “ada” itu (being, sein, het zijn). Paham monism yang terpecah menajdi idealism atau spiritualisme, paham dualism, pluralism dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhirnya menentukan pendapa bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang) “ada” sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.4 Dengan demikian, penulis mendapatkan sebuah simpulan bahwa ontologi merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan mengenai hakikat kenyataan. Kita harus memahami dengan baik masalah-masalah ontologi agar dapat memahami dengan baik masalah dunia, tempat kita tinggal.

B. Beberapa Konsep Mengenai Ontologi Ilmu Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu? Apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak?”. Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain: 1. Filsafat Materialisme
4

Tim Dosen Filsafat Ilmu, (2000: 12)

4

2. Filsafat Idealisme 3. Filsafat Dualisme 4. Filsafat Skeptisisme 5. Filsafat Agnostisisme Jujun S. Suriasumantri (2000: 34 – 35) menyatakan bahwa pokok permasalahan yang menjadi obyek kajian filsafat mencakup tiga segi, yakni (a) logika (BenarSalah), (b) etika (Baik-Buruk), dan (c) estetika (Indah-Jelek). Ketiga cabang utama filsafat ini lanjut Suriasumantri, kemudian bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika; kedua, kajian mengenai organisasi sosial/ pemerintahan yang ideal, terangkum dalam politik. Kelima cabang filsafat ini – logika, etika, estetika, metafisika dan politik – menurut Suriasumantri, kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian lebih spesifik lagi yang disebut filsafat ilmu. Berbeda dengan Kattsoff (1996: 212), ia menyatakan bahwa masalah ontologi terdiri dari hakikat “yang ada” dan hakikat kenyataan. Adapun hakikat eksistensi merupakan bidang garapan filsafat alam (kosmologi). Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. Menurut Plato, tiap-tiap yang ada di alam nyata ini mesti ada ideanya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu. Plato mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau konsep universal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik itu kuda yang berwarna hitam, putih ataupun belang, baik yang hidup ataupun sudah mati. Idea kuda itu adalah faham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda yang berada di benua manapun di dunia ini. Demikian pula manusia punya idea. Idea manusia menurut Plato adalah badan hidup yang kita kenal dan bisa berpikir. Dengan kata lain, idea manusia adalah ”binatang berpikir”. Konsep binatang berpikir ini bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan, manusia Eropa, Asia, India, China, dan sebagainya. Tiap-tiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Idea inilah yang merupakan hakikat sesuatu dan menjadi dasar wujud sesuatu itu. Ideaidea itu berada dibalik yang nyata dan idea itulah yang abadi. Benda-benda yang

5

kita lihat atau yang dapat ditangkap dengan panca indera senantiasa berubah. karena itu, ia bukanlah hakikat, tetapi hanya bayangan, kopi atau gambaran dari idea-ideanya. Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indera ini hanyalah khayal dan illusi belaka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ontologi mengkaji tentang “the study of the nature of existence and being in the abstract” atau “the science of being and universal order”. Argumen ontologis kedua dimajukan oleh St. Augustine (354 – 430 M). Menurut Augustine, manusia mengetahui dari pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun, akal manusia terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang pula merasa ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu kebenaran. Menurutnya, akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran tetap (kebenaran yang tidak berubah-ubah), dan itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam usahanya mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan kekal itulah kebenaran yang mutlak. Kebenaran mutlak inilah oleh Augustine disebut Tuhan. Ontologi dapat mendekati masalah hakikat kenyataan dari dua macam sudut pandang. Orang dapat mempertanyakan “kenyataan itu tunggal atau jamak”? yang demikian ini meripakan pendekatan kuantitatif. Atau orang dapat juga mengajukan pertanyaan, “Dalam babak terakhir apakah yang merupakan jenis kenyataan itu?” yang demikian itu merupakan pendekatan secara kualitatif.5 Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya). Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu? apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak?”. Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam persoalan keberadaan, yaitu:

5

Soejono Soemargono (1996: 192)

6

1. Keberadaan dipandang dari segi jumlah (kuantitas) a. Monisme, aliran yang menyatakan bahwa hanya satu keadaan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui. b. Dualisme (serba dua), aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing berdiri sendiri. Misal dunia indera (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia ide). c. Pluralisme (serba banyak), aliran yang tidak mengakui adanya sesuatu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, misalnya hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu udara, api, air dan tanah (empedogles). 2. Keberadaan dipandang dari segi sifat, menimbulkan beberapa aliran, yaitu: a. Spiritualisme, mengandung arti ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh yaitu roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. b. Materialisme, adalah pandangan yang menyatakan bahwa tidak ada hal yang nyata kecuali materi. 3. Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan a. Mekanisme (serba mesin), menyatakan bahwa semua gejala atau peristiwa dapat dijelaskan berdasarkan asas mekanik (mesin). b. Teleologi (serba tujuan), berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah sebab akibat tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan. c. Vitalisme, memandang bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika, kimia, karena hakikatnya berbeda dengan yang tak hidup. d. Organisisme (lawannya mekanisme dan vitalisme). Menurut organisisme, hidup adalah suatu struktur yang dinamik, suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, akan tetapi yang utama adalah adanya sistem yang teratur. Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existence) bersangkutan dengan cabang filsafat metafisika. Istilah metafisika berasal dari kata yunani meta ta physika yang dapat diartikan sesuatu yang ada di balik atau di belakang benda fisik. Aristoteles tidak memakai istilah metafisika melainkan proto philosophia (filsafat

7

pertama). Filsafat pertama ini memuat uraian tentang sesuatu yang ada dibelakang gejala-gejala fisik seperti gerak, berubah, hidup, mati.6 Metafisika merupakan telaahan atau teori tentang yang ada, istilah metafisika ini terkadang dipadankan dengan ontologi jika demikian, karena sebenarnya metafisika juga mencakup telaahan lainnya seperti telaahan tentang bukti-bukti adanya Tuhan. Metafisika dapat didefinisikan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan.7 Persoalan-persoalan metafisik dibedakan menjadi tiga yaitu persoalan ontologi, persoalan kosmologi, dan persoalan antropologi.8 1. Persoalan-persoalan ontologi diantaranya: a. Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan atau eksistensi itu? b. Bagaimana penggolongan dari ada, keberadaan atau eksistensi? c. Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan? 2. Persoalan-persoalan kosmologi (alam) diantaranya: a. Apa jenis keraturan yang ada di dalam alam? b. Apakah keteraturan dalam alam seperti halnya sebuah mesin atau keteraturan yang bertujuan? c. Apakah hakikat hubungan sebab dan akibat? d. Apakah ruang dan waktu itu? 3. Persoalan-persoalan antropologi (manusia) diantaranya: a. Bagaimana terjadi hubungan antara badan dan jiwa? b. Manusia sebagai mahluk bebas atau tak bebas? C. Hakikat “ada” dan “eksistensi” Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata “ada” berarti hadir, telah sedia, sedangkan “keberadaan” berarti hal berada, kehadiran. Hakikat “ada” dan “keberadaan” diperoleh melalui alur berikut.

6 7

Tim Dosen Filsafat Ilmu (2000: 31) Ibid, hal 31 – 32 8 Ibid, hal 31 – 32

8

MANUSIA (Subjek)

SENSE/ PENGINDERAAN

DATA INDERA/ PENAMPAKAN

REALITAS (Objek))

Gambar 1. Alur hakikat “ada” dan “keberadaan”

Manusia sebagai subjek yang dapat berpikir dan melihat lewat penginderaan dapat melihat realitas kehidupan sebagai obyek. Dari obyek inilah akan muncul data indera atau penampakan. Dengan menggunakan data penampakan, manusia sampai pada suatu intinya yang terdalam yaitu substansi hakikat “ada” dan “keberadaan”. D. Hakikat “Ada” dan “Eksistensi” Suatu Ilmu Melalui Proses Abstraksi Yang Mendasar Untuk Suatu Kebenaran Spekulatif Untuk memperoleh pemahaman tentang hakikat segala sesuatu dilakukan dengan suatu metode analisis yang disebut analisis abstraksi. Metode analisis abstraksi dilakukan setingkat demi setingkat untuk akhirnya sampai pada suatu pemahaman pengertian “hakikat”. Begitu juga dalam memahami hakikat “ada” dan “keberadaan” suatu ilmu bisa diperoleh melalui proses analisis abstraksi tersebut. Metode abstraksi digunakan ontologi untuk mencari kejelasan tentang dunia fakta seluruhnya sampai pada pengertian yang fundamental. Pengetahuan fundamental yang dihasilkan oleh ontologi dapat dijadikan dasar untuk membahas kembali asumsi dasar yang oleh ilmu pengetahuan telah dianggap mapan kebenarannya. Filsafat spekulatif sesungguhnya hanyalah merupakan sebutan lain dari metafisika. Menurut perumusan Alfred North Whitehead, filsafat spekulatif adalah usaha untuk menyusun sebuah system ide-ide umum yang berpautan dan perlu yang dalam kerangka system itu setiap unsur dari pengalaman dapat ditafsirkan (Speculative Philosophy is the endeavour to frame a coherent, logic, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be

9

interpreted). Dengan demikian, kebenaran spekulasi adalah kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang, dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trialerror. Dengan metode analisis abstraksi kita coba untuk menelaah hakikat ”ada” dan “eksisitensi” ilmu. Sebelum manusia memiliki berbagai ilmu, peristiwa alam yang terjadi tak dapat dimengerti apalagi diramalkan dan dikuasai. Untuk dapat menerangkan peristiwa tersebut, manusia lari kepada aneka penjelasan tahyul atau uraian serba gaib. Misal bila gunung berapi meletus dan mendatangkan malapetaka maka dia menjelaskan bahwa dewa gunung sedang marah. Dengan berkembangnya ilmu seperti vulcanology, geografi fisis manusia dapat menerangkan secara tepat dan cermat berbagai peristiwa yang dijumpai dan bisa meramalkan peristwa yang belum terjadi. Pada tahap awal perkembangan filsafat di Yunani, pertanyaan tentang ke-ada-an atau eksistensi cukup mendomisasi dalam pemikiran para Filsuf dengan pembahasannya mengenai Bahan dasar dari alam. Ke-ada-an yang mengelilingi kehidupan manusia banyak sekali, ada yang dapat disentuh oleh pancaindera, ada juga yang tidak, ada benda mati, tumbuhan, hewan, manusia, pikiran, jiwa yang beragam perwujudannya. Apakah esensi ke-ada-an semua itu merupakan realitas sendiri-sendiri, atau hanya penampakan saja dari suatu esensi ke-ada-annya yang tunggal?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para filsuf menelaah melalui filsafati sampai memperoleh hakikat ”ada” dan “eksisitensi” ilmu. Jika ditinjau dari segi ontologi yang berarti persoalan tentang hakikat keberadaan ilmu menunjukkan bahwa ilmu selalu berada dalam hubungannya dengan eksistensi kehidupan manusia, karena ilmu berdasar pada beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan tentang fenomena yang nampak dalam kehidupan. Asumsi-asumsi dasar tersebut meliputi: 1. dunia itu ada dan kita dapat mengetahui bahwa dunia itu benar ada; 2. dunia empiris itu dapat diketahui oleh manusia melalui pancaindera;

10

3. fenomena-fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu sama lain secara kausal. Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa ontologi ilmu berarti ilmu dalam hubungannya dengan asal mula, eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia. Tanpa manusia ilmu tak pernah ada. Tetapi bagaimana halnya dengan keberadaan manusia tanpa ilmu? Mungkinkah itu ada? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan pernyataan Deskrates yang menekankan pentingya kecakapan berpikir dalam skeptisimanya yang radikal, yang diungkap dalam “Cogito ergosom” (saya bepikir maka saya ada). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ontologi merupakan dasar pemikiran filsafat. E. Pengertian Epistemologi Ontologi berupaya secara reflektif tentang “yang ada”. Adapun epistemologis membahas tentang terjadinya dan kesahihan atau kebenaran ilmu. Ilmu-ilmu yang dimiliki oleh manusia berhubungan satu sama lain, dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbeda-beda. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain, yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu, dan dari sisi ini, ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar. Sebagai contoh, dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat, dengan demikian, filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. Begitu pula, ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar, diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain, maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. Namun, epistemologi (teori pengetahuan), karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia, termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu manusia yang bersifat gamblang, merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi, akan tetapi, ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar, diletakkan setelah epistemologi. Hingga tiga abad sebelum abad ini, epistemologi bukanlah suatu ilmu yang dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. Akan tetapi, pada dua abad

11

sebelumnya, khususnya di barat, epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri, akan tetapi, begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam, misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa, kenon-materian jiwa, dan makrifat jiwa. Penginderaan, persepsi, dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal, obyek akal, akal teoritis dan praktis, wujud pikiran, dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. "Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran". Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titik kulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan vice-versa. Akan tetapi, bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia, sebagai makhluk dinamis dan progresif, manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan, tentang ada dan keberadaan, tentang perkara-perkara eksistensial. Penulusuran, penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalahmasalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Till death do us apart, manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya." perjalanan sejarah umat manusia, sebagai makhluk dinamis dan progresif, manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan, tentang ada dan keberadaan, tentang perkara-perkara eksistensial. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini. Karena metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal.

12

Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan, filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. Sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrumen yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. Dengan kata lain, akal yang digunakan sebagai instrumen berfilsafat harus diuji dulu validitasnya, apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. Betapa tidak, dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. Pembahasan epistemologi adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Tentu saja, harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. Pembahasan epistemologi sebagai ilmu yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. Epistomologi berasal dari bahasa Yunani ”episteme” dan ”logos”. ”Episteme” berarti pengetahuan (knowledge),”logos” berarti teori. Dengan demikian epistomologi secara etimologis berarti teori pengetahuan. (Rizal, 2001: 16). Epistomologi mengkaji mengenai apa sesungguhnya ilmu, dari mana sumber ilmu, serta bagaimana proses terjadinya. Dengan menyederhanakan batasan tersebut, Brameld (dalam Mohammad Noor Syam, 1984: 32) mendefinisikan epistomologi sebagai “it is epistemologi that gives the teacher the assurance that he is conveying the truth to his student”. Definisi tersebut dapat diterjemahkan sebagai “epistomologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya”. Disamping itu banyak sumber yang mendefinisikan pengertian Epistomologi diantarannya: 1. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.

13

2. Epistomologi

adalah

pengetahuan

sistematis

yang

membahas

tentang

terjadinnya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (Ilmiah). 3. Epistomologi adalah cabang atau bagian filsafat yang membicarakan tentang pengetahuan yaitu tentang terjadinnya pengetahuan dan kesahihan atau kebenaran pengetahuan. 4. Epistomologi adalah cara bagaimana mendapatkan pengetahuan, sumbersumber pengetahuan, ruang lingkup pengetahuan. Manusia dengan latar belakang, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingankepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. 2. 3. 4. Hakikat itu ada dan nyata; kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu; hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami; manusia bisa memiliki ilmu, pengetahuan, dan makrifat atas hakikat itu. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru, misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada, lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa

14

yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya, keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indera lahir dan kontradiksi-kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia?Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda dengan persoalanpersoalan sebelumnya, yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada, akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini, keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda, lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Dengan perantara teropong itu sendiri, ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. Namun, apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna, bentuk, dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin bendabenda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. Dengan ungkapan lain, tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal, akan tetapi, yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (obyek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan kebenaran, mengenai hal yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Manusia dengan latar belakang, kebutuhan-kebutuhan dan

15

kepentingan-kepentingan

yang

berbeda

mesti

akan

berhadapan

dengan

pertanyaan-pertanyaan seperti: 1. Dari manakah saya berasal? 2. Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? 3. Apa hakikat manusia? 4. Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? 5. Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? 6. Mana pemerintahan yang benar dan adil? 7. Mengapa keadilan itu ialah baik? 8. Pada derajat berapa air mendidih? 9. Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? 10. dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: Hakikat itu ada dan nyata dan Hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran, persepsipersepsi pikiran, nilai dan keabsahan pikiran, kualitas pencerapan pikiran terhadap obyek dan realitas eksternal, tolok ukur kebenaran hasil pikiran, dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indera mencapai hakikat dan mencerap obyek eksternal, masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal, dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indera. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. Dengan demikian, definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia. Pokok Bahasan Epistemologi dengan memperhatikan definisi epistemologi, bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu, makrifat, dan pengetahuan.

16

F. Cakupan Epistomologi Dalam hal ini, ada dua poin penting akan dijelaskan: 1. Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan penginderaan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. Terdapat tiga persoalan pokok dalam epistomologi yaitu: a. Apakah sumber-sumber pengetahuan? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang? b. Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia yang real di luar akal dan kalau ada dapatkah kita mengatahui? Ini adalah problem penampilan (appearance) terhadap realitas. c. Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah persoalan menguji kebenaran (verivication). (Titus, 1984: 20-21 dalam Kaelan, 1991:27-28). 2. Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi, logika, dan psikologi. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan di bidang ontologi dan filsafat. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya penginderaan adalah dibahas dalam ilmu logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan observasi ilmu, dan batasan-batasan pengetahuan. Dengan

17

demikian,

ilmu

yang

diartikan

sebagai

keumuman

penyingkapan

dan

penginderaan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi.

G. Sejarah epistomologis Keberadaan epistemologi sebagai cabang mandiri dari filsafat tidak terlalu banyak menyisakan alur sejarah yang panjang. Secara historis hal itu hanya dapat dilacak hingga abad ke-17 atau 18 M. Akan tetapi kehadiran tema dan persoalan epistemologi memiliki jejak yang sangat sepuh setua usia tradisi filsafat di Yunani kuno. bermula dari sini setidaknya perkembangan epistemilogi hingga saat ini dapat kita bagi dalam tiga perspektif utama: 1. perspektif klasik 2. perspektif modern 3. perspektif kontemporer Munculnya perspektif klasik pada ranah epistemologi ini dapat dirunut semenjak masa pemikiran falsafi yunani kuno, khususnya pada mazhab filsafat Sokrates, Plato dan Aristoteles serta para pengikutnya. Perspektif ini sempat berkembang hingga abad pertengahan dan amat diminati oleh para filosof skolastik. Di sisi lain pandangan klasik ini sempat diadopsi oleh para filosof muslim bahkan hingga saat ini keabsahannya masih dipertahankan. Sebaliknya di Barat dengan lahirnya perspketif modern gubahan Descartes, cara pandang klasik tersebut tak lagi diperdulikan. Kendati demikian secara substantif tidak banyak perbedaan yang mendasari kedua perspektif di atas. Perbedaan yang ada sekedar menyangkut persoalan metode dan cara pandang. Karena keduanya sepakat bahwa keyakinan falsafi dan matematis merupakan epistem yang diperlukan manusia pada seluruh ranah pengetahuannya. Bahkan kedua perspektif ini sama-sama berpendapat bahwa kemestian untuk mencapai derajat yakin, tafsir mengenai yakin dan karakteristiknya merupakan perkara yang telah diakui dan tak dapat diragukan lagi. Dalam perspektif klasik, prolog wacana epistemologi dimulai dengan pengakuan atas keberadaan realitas, eksistensi alam nyata, kumungkinan untuk memperoleh pengetahuan yakin tentangnya, wujudnya kesalahan dan kemampuan

18

manusia untuk membedakan betul dan salah, benar dan bohong merupakan hal yang aksiomatis. Oleh karena itu dalam pandangan klasik, persoalan pokok yang dihadapi adalah permasalahan nilai epistem, yakni bagaimana mewujudkan kriteria yang sah guna menguji dan menilai setiap proposisi dan memperoleh suatu neraca yang mampu memisahkan antara yang benar dengan yang salah. Implikasi pandangan semacam ini melazimkan kita untuk menerima bahwa pengetahuan manusia atas realitas adalah perkara yang tak dapat diingkari. Paling tidak manusia meyakini akan wujud diirinya, keberadaan fakultas kognisi dan mekanis dirinya, kondisi psikis dan perasaan yang dimilikinya serta kemampuan inderawinya merupakan sekian hal yang tak mungkin diragukan. Di lain pihak, perspektif modern epistemologi menjadikan keraguan normatif sebagai titik tolak kajian epistemologinya. Descartes sebagai arsitek pandangan ini menjadikan keraguan disegala hal termasuk meragukan eksistensi diri sendiri sebagai upaya untuk mencapai keyakinan. "Cogito, ergo sum; aku berpikir (ragu) maka aku ada". Berpegang pada pernyataan inilah Descartes mencapai pada simpulan bahwa keraguan pada setiap hal meniscayakan kita untuk meyakini adanya ragu yang tak bisa dipungkiri dan adalah mustahil adanya ragu tanpa wujudnya peragu. Karena itu menurut Descartes di sinilah pengetahuan yang meyakinkan akan dijumpa. Kendati demikian perbedaan kedua perspektif di atas bukan hanya terbatas pada persoalan metode epistemik yang ditawarkan. Tapi yang lebih mendasar lagi adalah perbedaan dalam menafsirkan hakikat dan kriteria kebenaran. Di mata para pemikir klasik hakikat diartikan sebagai kesesuaian antara nalar dengan realitas. Akan tetapi menurut Descartes terjemahan klasik semacam ini harus ditolak. Descartes beranggapan bahwa manusialah yang merupakan neraca yang menentukan benar tidaknya suatu pengetahuan. Dengan kata lain, melalui pemilahan biner antara obyek dan subjek, perspektif modern menganggap bahwa epistem yakin dapat dicapai melalui subjektisasi obyek. Artinya, obyek di luar diri kita tak lain adalah tayangan nalar yang dimunculkan oleh subjek (aku) dan bukan suatu pengungkapan nyata obyek sebagai mana adanya. Berbeda halnya dengan kedua perspektif di atas. Perspektif kontemporer merupakan cara pandang epistemik yang lahir dalam tradisi filsafat analitik anglosaxon. dalam perspektif kontemporer secara metodologis gaya penyajian dan

19

kajian epistemogis yang diajukan melazimkan adanya analisa bahasa atas setiap terminus yang dipakai. kerena itu telaah epistemologi mereka diawali dengan definisi dan analisa kata epistemik. Bersandar pada metode analitik, epistemologi kontemporer berupaya untuk menafsirkan hakikat pengetahuan dengan cara mengkaji setiap rukun dari definisi epistem yang dihasilkan. Umumnya mereka membongkar secara analitis term epistemik ke dalam formula TBJ (True, Believe, Justification). Di samping itu persoalan semacam skeptisme dan kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan yang telah terdefinisikan sebelumnya, merupakan beberapa tema pokok lain dalam epistemologis kontemporer. Secara substansial, terdapat perbedaan yang tajam antara perspektif

kontemporer dengan dua perspektif sebelumnya. Hampir seluruh pendukung pandangan kontemporer telah berputus asa untuk mencapai suatu keyakinan dan berusaha untuk menjustifikasi dan melogiskan pengetahuan manusia lepas dari bingkai yakin. Sebagai solusinya mereka menjadikan wujud realitas sebagai praasumsi yang harus diakui. Sebaliknya para pendahulu perspektif kontemporer beranggapan bahwa pencapaian pada derajat yakin dan meyakini adanya realitas merupakan suatu keniscayaan yang tak dapat diragukan. Epistemologi ilmu, meliputi sumber, sarana, tatacara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenai pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (verstand), akal budi (vernuft), pengalaman, atau kombinasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologi, sehingga dikenal model-model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme, dan positivisme. Ditunjukkan pula bagaimana kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seperti teori koherensi, korespondensi, pragmatis, dan teori intersubjektif.9 Berikut adalah aliran-aliran dalam epistemologis. 1. Rationalisme Aliran ini berpendapat semua pengetahuan bersumber dari akal pikiran atau ratio. Tokohnya antara lain: Rene Descrates (1596 – 1650), yang membedakan
9

Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM (2000: 12)

20

adanya tiga idea, yaitu: innate ideas (idea bawaan), yaitu sejak manusia lahir, adventitinous ideas, yaitu idea yang berasal dari luar manusia, dan faktitinous ideas, yaitu idea yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri. Tokoh lain yaitu: Spinoza (1632-1677), Leibniz (1666-1716). 2. Empirisme Aliran ini berpendirian bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman indera. Indera memperoleh pengalaman (kesan-kesan) dari alam empiris, selanjutnya kesan-kesan tersebut terkumpul dalam diri manusia menjadi pengalaman. Tokohnya antara lain: a. John Locke (1632-1704), berpendapat bahwa pengalaman dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: (a) pengalaman luar (sensation), yaitu pengalaman yang diperoleh dari luar, dan (b) pengalaman dalam, batin (reflexion). Kedua pengalaman tersebut merupakan idea yang sederhana yang kemudian dengan proses asosiasi membentuk idea yang lebih kompleks. b. David Hume (1711-1776), yang meneruskan tradisi empirisme. Hume berpendapat bahw ide yang sederhana adalah salinan (copy) dari sensasisensasi sederhana atau ide–ide yang kompleks dibentuk dari kombinasi ideide sederhana atau kesan–kesan yang kompleks. Aliran ini kemudian berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abad 19 dan 20. 3. Realisme Realisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-obyek yang kita serap lewat indera adalah nyata dalam diri obyek tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak tergantung pada subjek yang mengetahui atau dengan kata lain tidak tergantung pada pikiran subjek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar dunia tersebut. Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari serta akan tetap ada setelah pikiran berhenti menyadari. Tokoh aliran ini antara lain: Aristoteles (384-322 SM), menurut Aristoteles, realitas berada dalam benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses perkembangannya. Dunia yang nyata adalah dunia yang kita cerap. Bentuk (form)

21

atau idea atau prinsip keteraturan dan materi tidak dapat dipisahkan. Kemudian aliran ini terus berkembang menjadi aliran realisme baru dengan tokoh George Edward Moore, Bertrand Russell, sebagai reaksi terhadap aliran idealisme, subjektivisme dan absolutisme. Menurut realisme baru : eksistensi obyek tidak tergantung pada diketahuinya obyek tersebut. 4. Kritisisme Kritisisme menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiri (yang meliputi indera dan pengalaman). Kemudian akal akan menempatkan, mengatur, dan menertibkan dalam bentuk-bentuk pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pengetahuan sedangkan pengolahan akal merupakan pembentukannya. Tokoh aliran ini adalah Immanuel Kant (17241804). Kant mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme. 5. Positivisme Tokoh aliran ini diantaranya adalah August Comte,yang memiliki pandangan sejarah perkembangan pemikiran umat manusia dapat dkelompokkan menjadi tiga tahap, yaitu: a. Tahap Theologis, yaitu manusia masih percaya pengetahuan atau

pengenalan yang mutlak. Manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh tahyultahyul sehingga subjek dengan obyek tidak dibedakan. b. Tahap Metafisis, yaitu pemikiran manusia berusaha memahami dan memikirkan kenyataan akan tetapi belum mampu membuktikan dengan fakta. c. Tahap Positif, yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukan hukum-hukum dan saling hubungan lewat fakta. Maka pada tahap ini pengetahuan manusia dapat berkembang dan dibuktikan lewat fakta (Harun H, 1983: 110 dibandingkan dgn Ali Mudhofir, 1985: 52, dlm Kaelan, 1991: 30) 6. Skeptisisme Menyatakan bahwa pencerapan indera adalah bersifat menipu atau

menyesatkan. Namun pada zaman modern berkembang menjadi skeptisisme

22

medotis (sistematis) yang mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengalaman diakui benar. Tokoh skeptisisme adalah Rene Descrates (1596-1650). 7. Pragmatisme Aliran ini tidak mempersoalkan tentang hakikat pengetahuan atau namun dari

mempertanyakan

tentang

pengetahuan

dengan

manfaat

guna

pengetahuan tersebut. Dengan kata lain kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Tokoh aliran ini, antara lain: C.S Pierce (1839- 1914), menyatakan bahwa yang terpenting adalah manfaat apa (pengaruh apa) yang dapat dilakukan suatu pengetahuan dalam suatu rencana. Pengetahuan kita mengenai sesuatu hal tidak lain merupakan gambaran yang kita peroleh mengenai akibat yang dapat kita saksikan. (Ali Mudhofir, 1985: 53, dalam Kaelan 1991: 30). Tokoh lain adalah William James (1824-1910, dalam Kaelan 1991: 30), menyatakan bahwa ukuran kebenaran sesuatu hal adalah ditentukan oleh akibat praktisnya. H. Metodologi memperoleh pengetahuan Jenis–jenis pengetahuan dapat dibedakan menjadi: 1. Dari keilmiahannya a. pengetahuan ilmiah, yang memiliki beberapa ciri pengenal sebagai berikut: 1) berlaku umum, 2) mempunyai kedudukan mandiri, 3) mempunyai dasar pembenaran, 4) sistematik, dan 5) intersubjektif. b. pengetahuan nir ilmiah. dari jenis pengetahuan yang dibangun dapat dibedakan menjadi: 1) Pengetahuan biasa (ordinary knowledge,common sense knowledge) Pengetahuan ini bersifat subjektif, artinya amat terikat pd subjek yang mengenal. Sehingga memiliki sifat selalu benar sejauh sarana untuk memperolehnya bersifat normal, tidak ada penyimpangan. 2) Pengetahuan ilmiah Pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan menerapkan pendekatan metodologis yang khas. Kebenarannya

23

bersifat relatif, karena selalu mendapatkan revisi dan diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. Dengan kata lain kebenarannya selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian paling akhir dan mendapatkan persetujuan (agreement) oleh para ilmuwan di bidangnya. 3) Pengetahuan filsafati Pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati. Sifat pengetahuannya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenarannya adalah absolut inter-subjektif. Maksud absolut inter-subjektif adalah nilai kebenaran yang terkandung pada jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang melekat pada pandangan seorang filsuf serta mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama. 4) Pengetahuan agama Pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan dan ajaran agama tertentu. Sifat dari pengetahuan ini adalah dogmatis, artinya pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya. Kandungan kebenaran maksud dari ayat dalam kitab suci bersifat absolut, meskipun dalam implikasi pemaknaannya mungkin berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu dan pemahaman orang yang memaknakannya. Karakteristik pengetahuan dapat dibedakan menjadi:     pengetahuan inderawi, yaitu pengetahuan yang didasarkan atas sense (indera) atau pengalaman manusia sehari-hari. pengetahuan akal budi, yaitu pengetahuan yang didasarkan atas kekuatan ratio. pengetahuan intuitif, yaitu pengetahuan yang memuat pemahaman secara cepat. pengetahuan kepercayaan/pengetahuan otoritatif, yaitu pengetahuan yang dibangun atas dasa kredibilitas seorang tokoh atau sekelompok orang yang dianggap profesional dalam bidangnya.

24

Dengan memperhatikan definisi dan pengertian epistemologi, maka menjadi jelaslah bahwa metode ilmu ini adalah menggunakan akal dan rasio, karena untuk menjelaskan pokok-pokok bahasannya memerlukan analisa akal. Yang dimaksud metode akal di sini adalah meliputi seluruh analisa rasional dalam koridor ilmu-ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dan dari dimensi lain, untuk menguraikan sumber kajian epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah.

I. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu-Ilmu Lain 1. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar, yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. Dengan memperhatikan definisi ini, bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah, karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan, maka mustahil kita membahas tentang metode akal untuk mengungkap suatu hakikat dan bahkan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu logika masih perlu dipertanyakan dan rekonstruksi, walhasil masih menjadi hal yang diragukan. 2. Hubungan epistemologi dengan Filsafat. Pengertian umum filsafat adalah pengenalan terhadap eksistensi (ontologi), realitas eksternal, dan hakikat keberadaan. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. Dalam dua pengertian tersebut, telah diasumsikan mengenai kemampuan, kodrat, dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Jadi, epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. 3. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisi-proposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. Jadi, epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu

25

tersebut, khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama, atau akal dan agama, atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik, karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi.

J. Syarat Ilmu Pengetahuan Syarat ilmu pengetahuan merupakan pembatas atau ukuran suatu penelitian dapat dipertanggungjawabkan sebagai ilmu. Beberapa syarat pokok ilmu pengetahuan, adalah: 1. Ada obyeknya, obyek tertentu yang diselidiki sebagaimana adanya (obyektif). 2. Obyek tersebut diselidiki dengan menggunakan metode atau cara tertentu. Jadi syarat yang kedua adalah metodis. 3. Penelitian demi penelitian akan selalu menghasilkan kesimpulan, yang telah diketahui, disusun, diorganisasi, diklasifikasi, digolong-golongkan. Dari kesimpulan muncullah asas umum, asas khusus (berupa dalil, thesis, prinsip, aksioma, hukum). Semua ini merupakan satu sistematika. Jadi syarat ketiga adalah adanya sistematika keilmuan (sistematis) 4. Semua aktivitas penelitian ilmiah dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Syarat keempat adalah kecenderungan berkembang, dinamis, dan manfaat. Jadi hasrat penelitian ilmu pengetahuan bukan semata-mata di dorong oleh hasrat ingin tahu (science for the seek of science atau intellect par excellence). Manusia terdorong melakukan penelitian untuk kesejahteraan manusia lahir dan batin, untuk mengembangkan kepribadian. Kepribadian orang berilmu seperti pepatah: seperti padi, makin berisi makin menunduk, semakin berilmu, makin sabar, rendah hati, makin baik, arif bijaksana. Dapat pula dikatakan syarat keempat adalah tujuan yang luhur. Dari keempat syarat diatas, menunjukkan perwujudan ilmiah berlaku bagi semua jenis ilmu. K. Obyek Epistomologi Obyek material epistomologi adalah pengetahuan, sedangkan obyek formalnya adalah hakikat pengetahuan. Setiap perangkat aturan untuk menguji berbagai

26

tuntutan yang dapat menjadikan kita memilliki pengetahuan harus benar-benar mapan, karena definisi tentang ”kepercayaan”, ”kebenaran” merupakan masalah yang tetap dan terus ada, sehingga teori pengetahuan merupakan suatu bidang utama dalam penyelidikan filsafat. Definisi ilmu pengetahuan, beberapa pengertian/definisi mengenai ilmu pengetahuan: 1. Webster’s New Word Dictionary, yang artinya: ”Ilmu pengetahuan: semua yang telah diamati atau dimengerti oleh jiwa (pikiran) belajar, dan sesuatu yang telah jelas”. 2. Runes dalam ”Dictionary of Philosophy”: “Ilmu pengetahuan berhubungan dengan “tahu” (yang diketahui), kebenaran yang dimengerti. Lawan dari pendapat, tetapi di bawah tarafnya jika dibandingkan dengan kebenaran”. 3. ”American Peoples Encyclopedia”: ”Ilmu pengetahuan, suatu kesadaran penuh dan terbuktikan dari suatu kebenaran mengenai sesuatu: bersifat praktis, suatu kesadaran yang teratur, tersusun tentang apa pun yang secara definitif dapat diterima sebagai realita”. Ilmu pengetahuan meliputi, baik yang ada dalam perbendaharaan kebudayaan manusia maupun dalam pribadi-pribadi cendekiawan. Ilmu akan selalu mengalami proses perkembangan sejalan dengan perkembangan kepribadian manusia cendekiawan itu melalui segala usaha penelitian dan pengembangan yang mereka laksanakan. Antara ilmu pengetahuan dan kepribadian ada aksi positif saling membina. Semakin banyak tantangan sosial, alamiah, hidup dan sebagainya, semakin berkembang pula ilmu pengetahuan, sebab pada hakikatnya pengetahuan adalah usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidup lahir dan batin. Ilmu yang telah dimiliki seseorang akan mendorong pribadi untuk lebih dinamis, energik dalam menjelajahi ”lautan ilmu yang tak terbatas”, semakin berilmu pribadi seseorang semakin haus, semakin tahu manusia, semakin manusia tersebut merasa bodoh. Dengan demikian menunjukkan ilmu memiliki watak dinamis, progresif, menjadi asas pembina kepribadian. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa epistemologis merupakan kunci pengembangan ilmu. Ilmu yang berkembang di dalam masyarakat dapat menjadi faktor luar yang membantu perkembangan potensi pribadi manusia. Dengan pengertian (teoretis) dan penguasaan (praktik) ilmu pengetahuan, sebagai prestasi manusia yang ideal

27

tercapai. Masuk dalam kategori ini adalah kemampuan kreatif, karya kebudayaan dan ilmiah merupakan prestasi kepribadian. Pengetahuan dan manusia merupakan satu integritas, pengetahuan adalah fungsi kepribadian manusia.

L. Landasan Aksiologi Ilmu Landasan aksiologi ilmu menyangkut permasalahan pertama, apakah ilmu mendekatkan manusia pada kebenaran Tuhan itu sendiri. Kedua, apakah ilmu bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri. Ketiga, apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak bebas nilai, sebab nilai-nilai menyatu dengan ilmu itu sendiri.

M. Makna Aksiologi Ilmu Makna aksiologi ilmu bisa diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Seperti diketahui setiap pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah, mempunyai tiga dasar, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Aksiologi ilmu ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dangan mempelajari atom kita dapat memanfaatkan untuk sumber energi bagi keselamatan manusa, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom atom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.10

N. Hakikat dan Makna Nilai Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara: orang dapat mengatakan bahwa:11

10 11

Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM (2000: 91) Kattsoff, (1996: 331)

28

1. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif Ditinjau dari sudut pandangan ini, nilai-nilai merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung pada pengalaman-pengalaman mereka. Yang demikian ini dapat dinamakan “subjektivitas”. 2. Nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melaui akal. Pendirian ini dinamakan “obyektivitas logis”. 3. Nilai merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan Pendirian ini disebut “obyektivitas metafisik”. Secara singkat dapat dikatakan bahwa “nilai” memiliki bermacam makna, diantaranya:12 1. Mengandung nilai (artinya berguna) 2. Merupakan nilai (artinya “baik” atau “benar” atau “indah”) 3. Mempunyai nilai (artinya, merupakan obyek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap “menyetujui”, atau mempunyai sifat nilai tertentu) 4. Memberi nilai (artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu). O. Kegunaan dan Nilai Ilmu Kegunaan ilmu secara moral harus ditujukan untk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Tiap ilmu terutama dalam implementasinya selalu terkait dengan aksiologinya. Dalam hal ini akan dijelaskan seberapa jauh ilmu mempunyai peranan dalam membatu mencapai kehidupan manusia yang sejahtera di dunia ini atau apakah manfaat ilmu bagi kehidupan manusia di dunia ini. Manusia belajar dari pengalamannya dan berasumsi bahwa alam mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturannya. Ilmu merupakan hasil kebudayaan manusia, dimana lebih mengutamakan kuantitas yang obyektif dan mengesampingkan kualitas subjektif yang berhubungan dengan

12

Ibid (1996: 332)

29

keinginan pribadi sehingga dengan ilmu, manusia tidak akan mementingkan dirinya sendiri. Ilmu merupakan wahana dalam menjawab semua permasalahan (sampai batas tertentu), berdasarkan pemahaman yang dimiliki sekaligus ilmu mampu memprediksikan masa depan walaupun banyak hal yang kadang terjadi di luar dugaan. Peradaban manusia sekarang ini tak lepas dari perkembangan ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan ilmu dan teknologi, pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah di samping penciptaan kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan, dan komunikasi. Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang

mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal Carl Gustav Jung,” melainkan faust yang menciptakan Goethe.” Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat dielakkan. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Ada pertentangan sengit yang dilontarkan oleh kaum ilmuwan dan humanis. Kalangan humanis mengajukan beberapa pertanyaan yang penting, antara lain: untuk apa ilmu digunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan itu tidak urgen lagi bagi beberapa ilmuwan dan tidak merupakan

30

tanggung jawab bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini tentunya tidak berarti bahwa perkembangan ilmu berhenti cukup di situ saja, namun ruang gerak prospek ilmu pengetahuan hendaknya dibatasi. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalahmasalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (14731543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilainilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (15641642), oleh pengadilan agama tersebut, dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Sejarah kemanusiaan dihiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib, “asalkan kau mampu menemukannya.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap; keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keimuan suatu pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Hal ini dimungkinkan karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Kepentingan manusia sangat ditentukan oleh motif dan kesadaran yang ada pada manusia itu sendiri. Jadi fokus persoalan ilmu pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada

31

manusia. Oleh karena itu, maka tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengetahuan dan teknologi diteruskan pengembangannya dalam tataran aksiologis. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang aksiologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?13 Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pemahaman tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai menyangkut etika, moral, dan tanggung jawab manusia itu sendiri. Oleh karena dalam penerapannya ilmu pengetahuan juga mempunyai efek negatif dan desktruktif, maka diperlukan aturan nilai dan norma untuk mengendalikan potensi nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan ilmu pengetahuan. Di sininlah etika menjadi ketentuan mutlak yang akan menjadi penyemangat yang baik bagi pengetahuan untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Etika adalah pembahasan mengenai baik, buruk, semestinya, benar atau salah. Hal ini bertalian dengan hati nurani, bernaung di bawah filsafat moral. Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban, dengan asumsi bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia.

13

Jujun S. Suriasumantri (1996: 34-35)

32

Penutup .....
Ontologi membahas tentang apa yang diketahui oleh manusia. Karena tak mungkin yang tiada memberikan efek pada pikiran manusia, maka pasti yang tercermin dalam pikiran manusia adalah suatu realitas. Realitas (kenyataan) adalah segala sesuatu yang ada. Untuk memudahkan pemahaman manusia, kenyataan diidentifikasi menjadi dua hal yaitu kenyataan yang bisa diukur oleh manusia dan yang tidak bisa diukur oleh manusia. Yang bisa diukur secara kuantitatif oleh manusia disebut sebagai kenyataan materi, sedangkan kenyataan yang tidak bisa diukur secara kuantitatif manusia disebut sebagai kenyataan nonmateri. Dengan kata lain materi adalah kenyataan yang bisa diindera dan nonmateri adalah sebaliknya. Realitas materi mempunyai banyak ciri-ciri yaitu; 1. terbatas ruang dan waktu; 2. dapat dibagi; 3. tersusun oleh sesuatu yang lain; 4. memiliki ukuran kuantitatif (dapat diukur secara kuantitatif). Contoh dari realitas materi adalah kursi, mobil, pesawat, darah, atom dan lain sebagainya. Realitas non-materi mempunyai ciri kebalikan dari materi. Contoh dari realitas nonmateri adalah akal, jiwa, pikiran dll. Pentingnya pembahasan ontologis berkaitan dengan pembuktian kebenaran pikiran dari isi yang dikandung oleh pikiran. Apakah sebuah pengetahuan sesuai dengan realitas atau tidak. Jika tidak, maka pengetahuan tersebut bernilai salah. Selain itu ontologi juga digunakan untuk menetapkan batas-batas dari obyek pengetahuan atau ilmu yang sedang dibahas. Jika obyeknya adalah materi, maka batasannya juga harus materi. Jika obyeknya nonmateri, maka batasannya juga nonmateri. Dengan mengetahui hakikat dari apa yang kita bahas maka kita dapat menghukumi bahasan kita dengan hakikat yang kita ketahui. Jika kita membahas tentang kursi misalnya, maka kita dapat menghukumi kursi dengan hakikat-hakikat kursi itu, misalnya bahwa kursi mempunyai berat, luas, dapat dibagi dan lain sebagainya.

33

Epistemologi membahas tentang bagaimana seorang manusia mendapatkan pengetahuan. Pentingnya pembahasan ini berkaitan dengan apakah suatu ilmu apakah ia diperoleh dengan cara yang bisa didapatkan orang lain atau tidak. Jika tidak dapat diketahui orang lain maka pengetahuannya tidak dapat dipelajari oleh orang lain. Secara garis besar, dalam epistemologi cara mendapatkan pengetahuan ada dua yaitu secara ilmiah dan secara tidak ilmiah. Pengetahuan secara ilmiah bukan berarti lebih benar dari pengetahuan secara tidak ilmiah. Pembagian ini hanya didasarkan pada dapat atau tidaknya semua orang memperoleh pengetahuan tersebut. Pengetahuan secara ilmiah didapat melalui dua hal yaitu secara rasional dan secara empiris. Pengetahuan secara rasional berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan berdasarkan kaidah-kaidah berpikir. Adapun pengetahuan secara empiris berkaitan dengan apakah suatu pengetahuan sesuai dengan kenyataan empirik. Semua manusia dapat melakukan kedua hal tersebut karena semua manusia memiliki potensi akal sekaligus potensi inderawi. Potensi akal manusia mutlak sama, sedangkan potensi inderawi manusia tidak mutlak sama tetapi mempunyai kemiripan yang erat. Pengetahuan yang didapatkan secara tidak ilmiah bisa terjadi dengan berbagai cara seperti melalui wahyu, intuisi, perasaan dan informasi dari orang yang dipercaya. Pengetahuan yang didapatkan dengan cara ini tidak dapat dipelajari oleh semua orang. Ia membutuhkan kebenaran ilmiah untuk meyakinkan orangorang yang tidak mengalami hal yang sama dengan orang yang mempercayainya. Aksiologi membahas tentang nilai suatu pengetahuan. Nilai dari sesuatu tergantung pada tujuannya. Maka pembahasan tentang nilai pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari tujuannya. Masing-masing manusia memang mempunyai tujuan sendiri. Namun pasti ada kesamaan tujuan secara obyektif bagi semua manusia. Begitu juga dengan pengetahuan. Semua pengetahuan memiliki tujuan obyektif. Tujuan dari pengetahuan adalah untuk mendapatkan kebenaran. Maka nilai dari pengetahuan atau ilmu adalah untuk mendapatkan kebenaran. Hal ini terlepas dari

34

kebenaran yang didapatkan untuk tujuan apa. Apakah untuk memperbaiki atau untuk merusak diri. Dalam penilaian sebuah kebenaran ada dua pandangan yang berbeda. Pertama adalah pandangan bahwa kebenaran bersifat mutlak. Pandangan ini disebut sebagai absolutisme. Pandangan kedua menyatakan bahwa kebenaran bersifat relatif (Relativisme). Pembahasan tentang aksiologi begitu penting karena jika pengetahuan yang didapatkan manusia tidak dapat dipastikan atau dimutlakkan kebenarannya, maka bagaimana mungkin manusia dapat menyusun sebuah ilmu. Bagaimana pula manusia akan menentukan pilihan jika antara satu pilihan dengan pilihan lain bernilai sama, yaitu relatif. Pengertian relatif adalah jika sesuatu memiliki nilai yang berubah-ubah jika dibandingkan dengan sesuatu yang berbeda-beda. Misalnya 5 meter akan relatif panjang jika dibandingkan dengan 1 meter dan juga relatif pendek jika dibandingkan dengan 10 meter. Ketika manusia berpikir, maka pembanding dari pikiran tidak berubah-ubah yaitu kenyataan itu sendiri. Sehingga suatu pengetahuan hanya akan dihukumi dengan nilai benar atau salah. Jika suatu pengetahuan sesuai dengan realitasnya maka pengetahuan tersebut benar, begitu juga sebaliknya. Pembandingan kebenaran suatu pengetahuan dengan pengetahuan lain yang berbeda-beda akan bernilai relatif.

35

Referensi .....
Jujun S. Suriasumantri. (2003). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Kattsoff, Louis O. (1996). Pengantar Filsafat, Alih Bahasa oleh Soedjono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana. Mohammad Noor Syam. (1984). Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan. Surabaya: Pancasila Usaha Nasional. Noeng Muhadjir. (2001). Filsafat Ilmu: Telaah Sistematis Fungsional Komparatif. Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin. Rizal Mustansyir dan Misnal Munir. (2001). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. S. Burhanudin. (1997). Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Suparlan Suhartono. (2007). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kelompok Penerbit ArRuzz Media. Surajiyo. (2005). Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara. The Liang Gie. (2000). Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. (2000) . Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty Yogyakarta bekerjasama dengan YP Fakultas filsafat.

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->