P. 1
Demokrasi Terpimpin & Liberal (Zakky)

Demokrasi Terpimpin & Liberal (Zakky)

|Views: 329|Likes:
Published by Rishang Saniscara

More info:

Published by: Rishang Saniscara on Nov 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

³Kegagalan´ dan ³Keberhasilan´ Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin serta Mengapa Demokrasi Liberal Adalah Masa Paling

Demokratis
Setelah masa revolusi, Indonesia memasuki masa percobaan demokasi atau lebih sering dikatakan sebagai masa demokrasi liberal. Masa ini dikatakan sebagai masa percobaan demokrasi karena Indonesia telah mendapatkan pengakuan secara de facto maupun de jure dari dunia internasional. Itu juga berarti kekuatan asing mulai melemah di Indonesia sehingga Negara ini bisa menatur segala urusan dalam dan luar negerinya tanpa campur tangan Negara lain. Hal ini tentunya tidak mudah karena banyak permasalahan yang dihadapi oleh Negara yang baru saja merdeka. Masalah-masalah itu antara lain kemiskinan, tingakat pendidikan serta fasilitas kesehatan yang rendah, dan belum tersedianya sistem pemerintahan yang betul-betul telah teruji. Namun demikian masa ini bisa dikatakan sebagai masa paling demokratis selama republik ini berdiri. Indonesia telah mengalami enam kali pergantian kepala Negara dan beberapa kali pergantian sistem pemerintahan. Kita bisa menilik berbagai macam periodesasi sejarah di Indonesia dan membandingkannya satu sama lain. Dari berbagai macam perbandingan tersebut tentunya kita bisa menilai masa mana yang paling demokratis meskipun penilaian kita entah bersifat subjektif atau objektif. Perbandingan bisa dilakukan antara Orde Lama (demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin), Orde Baru, dan masa reformasi. Kedemokratisan masa demokrasi liberal tercermin pada banyaknya partai, aliran kebatinan, dan berbagai macam ideologi berkembang dengan pesat. Selain itu setiap partai atau individu mempunyai kesempatan yang sama dalam pemerintahan, meskipun masih ada pengecualian terhadap PKI. Dimasa itu kebebasan berdemokrasi benar-benar nyata karena setiap golongan atau elemen bangsa ada perwakilan di parlemen tidak terkecuali golongan komunis. Keikutsertaan partai yang berhaluan komunis dalam pemilu dan parlemen inilah yang mungkin menjadikan masa ini disebut sebagai masa paling demokratis selama republik ini berdiri. Selain juga karena kebebasan sistem multipartai dimana campur tangan Negara bisa dikatakan tidak ada. Pada masa demokrasi terpimpin partai yang berhaluan komunis memang juga ikut dalam parlemen bahkan kedudukannya lebih kuat dari masa demokrasi liberal. Namun, dimasa ini terjadi banyak tekanan dari pemerintah (Soekarno) pada partai yang tidak sesuai dengan keinginan Soekarno. Adapun keberhasilan yang telah dicapai pada masa demokrasi liberal ada berbagai macam hal. Pertama, September 1955 penyelenggaraan pemilu demokratis pertama pada masa kabinet Burhanudin Harahap. Keberhasilan penyelenggaraan pemilu ini juga menjadi alasan yang kuat bahwa masa demokrasi liberal merupakan masa yang paling demokratis. Penyelenggaraan pemilu dimana proses pelaksanaannya Kedua, berhasil menyelenggarakan Konferensi Bandung pada bulan April 1955 sehingga Indonesia bisa mendapatkan peranan penting di dunia AsiaAfrika. Ketiga, pencapaian kehidupan bernegara yang paling demokratis selama republik ini berdiri. Selain pencapaian keberhasilan tentunya kegagalan juga mengiringi. Pertama, instabilitas Negara karena terlalu sering terjadi pergantian kabinet. Hal ini menjadikan pemerintah tidak berjalan

secara efisien sehingga perekonomian Indonesia sering jatuh dan terinflasi. Kedua, praktik korupsi meluas. Pada masa ini tidak tindak pidana korupsi tidak bisa ditangani karena dari oknum partai maupun oknum pemerintahan tidak luput dari melakukan korupsi, bahkan mentri luar negri kala itu yang sekaligus sebagai arsitek demokrasi terpimpin juga melakukan korupsi. Ketiga, kesejahteraan rakyat terbengkalai karena pemerintah hanya terfokus pada pengembangan bidang politik bukan pada ekonomi. Masa demokrasi terpimpin (1957-1965) dimulai dengan tumbangnya demokrasi parlementer atau demokrasi liberal yang ditandai pengunduran Ali Sastroamidjojo sebagai perdana mentri. Namun begitu, penegasan pemberlakuan demokrasi terpimpin dimulai setelah dibubarkannya badan konstituante dan dikeluarkannya dekrit presiden 5 Juli 1959. Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang dipimpin oleh sila keempat Pancasila. Namun oleh Presiden Soekarno diartikan terpimpin mutlak oleh presiden (penguasa). Hal yang paling mendasari pembentukan demokrasi terpimpin adalah kepribadian Soekarno dan militer yang dituangkan dalam suatu konsepsi. Konsepsi tentang suatu sistem yang asli Indonesia. Namun sistem ini ditolak oleh Hatta karena dikawatirkan bahwa hal ini akan kembali pada sistem tradisional yang feodal, otokratis, dan hanya dipakai demi kepentingan raja.
Benar saja kekhawatiran Hatta, Soekarno seperti lepas kontrol. Soekarno melakukan segala sesuatu menurut penafsirannya sendiri. Lawan politik yang menentangnya dibungkam dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan mengeluarkan penetapan No. 28 tahun 1963 tentang penetapan Presiden Republik Indonesia dan penetapan No. 5 tahun 1963 tentang kegiatan politik (Penjelasan dalam Tambahan-Negara tahun 1963 No. 2544). Penetapan-penetapan tersebut bertujuan untuk meredam (membungkam) lawan-lawan politik yang tidak setuju dengan apa yang dikatakan Soekarno, contoh Syahrir yang dipenjarakan setelah terlibat dalam PRRI.

Tidak cukup sampai disitu, Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden No.200/1960 yang menetapkan bahwa Masyumi harus membubarkan diri. Kemudian jika dalam waktu tenggat tiga puluh hari sejak ditetapkan Masyumi tidak dibubarkan, maka akan dinyatakan sebagai ³partai terlarang´. Dengan dikeluarkannya berbagai macam penetapan yang mengekang hak setiap orang untuk berpolitik, sesungguhnya demokrasi telah mati kala itu. Pada masa demokrasi terpimpin inilah terjadi manuver kebijakan pemerintah karena dari yang semula bebas aktif sedikit kebarat-baratan menjadi berorientasi pada komunis. Dimana hal ini mencapai puncaknya saat terbentuk poros Jakarta-Bejing. Politik konfontasi dengan Malaysia mebuat kesejahteraan Indonesia serta stabilitas pangan berkurang karena banyak tenaga yang dimobilisasi ke perbatasan Kalimantan Utara (Malaysia). Keluarnya Indonesia dari PBB membuat Negara ini kehilangan banyak dukungan baik yang bersifat materiil maupun nonmateriil dari Negara-negara yang notabene adalah Negara liberal (barat). Perubahan yang drastis juga terjadi didalam negeri karena DPR dibubarkan, presiden mengeluarkan penetapan diamana yang seharusnya berupa undang-undang, dan pengekangan partai-partai yang tidak mendukungnya. Sistem politik demokrasi terpimpin ini mampu meningkatkan dan menampung ledakan pendidikan. Peningkatan ini merupakan suatu dampak positif dari sistem politik Demokrasi Terpimpin dikarenakan mobilisasi politik menyebabkan peningkatan secara kualitatif maupun

kuantitatif organisasi-organisasi mas ayang berafiliasi maupun tidak dengan partai politik. Menurut Rocamora, anggota GMNI sudah 75 ribu orang sedangkan menurut Harsya Bachtiar anggota HMI pada akhir periode Demokrasi Terpimpin sudah mencapai seratus ribu orang dan CGMI sebanyak 32 ribu orang. Data-data kuantitaif ini menunjukan bahwa periode Demokrasi Terpimpin mampu meningkatkan peran pemuda dan masyarakat untuk turut serta berperan dalam politik. Beberapa hal yang menjadi catatan tentang keberhasilan Soekarno. Keberhasilan yang paling cemerlang adalah penyerahan Papua Barat oleh Belanda pada tahun 1963. Hal ini bukan sematamata atas kegigihan Soekarno melakukan aksi-aksi militer, tetapi juga terdapat usaha diplomasi yang dilakukan oleh Soebandrio, Adam Malik, dan Achmad Soebardjo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->