P. 1
Pendekatan Penanaman Nilai Dalam Pendidikan Budi Pekerti Di Sekolah

Pendekatan Penanaman Nilai Dalam Pendidikan Budi Pekerti Di Sekolah

|Views: 700|Likes:
Published by Onime Kyo

More info:

Published by: Onime Kyo on Nov 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2014

pdf

text

original

PENDEKATAN PENANAMAN NILAI DALAM PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DI SEKOLAH Oleh: Trimo, S.Pd.,M.

Pd Abstrak: Secara substansial, pendidikan budi pekerti berorientasi pada pentingnya siswa memiliki sikap dan perilaku positif terhadap diri dan orang lain. Terkait dengan itu maka guru perlu mengenal berbagai pendekatan nilai, di antaranya: pendekatan penanaman nilai, pendekatan perkembangan kognitif, pendekatan analisis nilai, pendekatan klarifikasi nilai, dan pendekatan pembelajaran berbuat. Kelima pendekatan tersebut dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa sehingga dimungkinkan guru dapat menerapkan pendekatan secara kolaboratif. Penerapan pendidikan budi pekerti perlu dilakukan secara holistic dan didisain dalam proses pembelajaran yang menyenangkan. Kata-kata kunci: pendekatan nilai, budi pekerti PENDAHULUAN Pendidikan budi pekerti memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari Pendidikan Budi Pekerti dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian masal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, seperti Jakarta, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian siswa melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan budi pekerti. PENDEKATAN DALAM PENDIDIKAN NILAI Setidaknya ada lima pendekatan dalam penanaman nilai yakni: (1) Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) (Superka, et. al. 1976). 1. Pendekatan Penanaman Nilai Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan tradisional. Banyak kritik dalam berbagai literatur barat yang ditujukan kepada pendekatan ini. Pendekatan ini dipandang indoktrinatif, tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan demokrasi (Banks, 1985; Windmiller, 1976). Pendekatan ini dinilai mengabaikan hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas. Menurut Raths et al. (1978) kehidupan manusia berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. Kita tidak dapat meramalkan nilai yang sesuai untuk generasi yang akan datang. Menurut beliau, setiap generasi mempunyai hak untuk menentukan nilainya sendiri. Oleh karena itu, yang perlu diajarkan kepada generasi muda bukannya nilai, melainkan proses, supaya mereka dapat menemukan nilai-nilai mereka sendiri, sesuai dengan tempat dan zamannya. 2. Pendekatan Perkembangan Kognitif Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989). Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam

Bagi penganut pendekatan ini. Dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika bermain. 1976. 1989). Lebih tinggi tingkat berpikir adalah lebih baik.membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. berdasarkan kepada kriteria kelompoknya. 1980). tidak ditentukan oleh faktor luar. Kedua. Elias. Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Windmiller. al. et. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif. Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut: (1) Tahap "premoral" atau "preconventional". Tingkat-tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg dimulai dari konsekuensi yang sederhana. seperti agama. 1976). Seperti dijelaskan oleh Elias (1989). bagi penganut pendekatan ini isi nilai tidak terlalu penting. mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka. Dalam tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial. Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan kepada asumsi-asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. et. untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. dan sebagainya. nilai bersifat subjektif. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat perseorangan. Selanjutkan dikembangkan lagi oleh Peaget dan Kohlberg (Freankel. Oleh karena itu. 3. Pendekatan Analisis Nilai Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis. al. Ada enam langkah analisis nilai yang penting dan perlu diperhatikan dalam proses pendidikan nilai menurut pendekatan ini (Hersh. (3) Tahap "autonomous". Banks. Dalam tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis. Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan teorinya menjadi lebih rinci. 1977. et.. al. Hal yang sangat dipentingkan dalam program pendidikan adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai. 1977). sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. Dalam tiga proses tersebut terdapat tujuh subproses sebagai berikut: . 1985). salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku. tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya. Hersh. sebagai berikut: Langkah Analisis Nilai Tugas Penyelesaian Masalah Mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait Mengurangi perbedaan penafsiran tentang nilai yang terkait Mengumpulkan fakta yang berhubungan Mengurangi perbedaan dalam fakta yang berhubungan Menguji kebenaran fakta yang berkaitan Mengurangi perbedaan kebenaran tentang fakta yang berkaitan Menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan Mengurangi perbedaan tentang kaitan antara fakta yang bersangkutan Merumuskan keputusan moral sementara Mengurangi perbedaan dalam rumusan keputusan sementara Menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan Mengurangi perbedaan dalam pengujian prinsip moral yang diterima 4. dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan.. ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang pengalamannya sendiri. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. 1980. Ada tiga proses klarifikasi nilai menurut pendekatan ini. masyarakat. Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri. (2) Tahap "conventional". dan otonomi lebih baik daripada heteronomi. Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kohlberg 1971. dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilainilai sosial. Pendekatan Klarifikasi Nilai Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri. Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka.

yakni untuk mendukung dan menjadi dasar bagi pengembangan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ingin ditanamkan. namun tujuan yang paling penting adalah memberikan pengajaran kepada siswa. seperti dijelaskan oleh Prayitno (1994). terutama nilai- . al. et.. al. diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup (Raths. Menurut Elias (1989). untuk memilih nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakatnya. dapat diaplikasikan juga dalam pengajaran Pendidikan Budi Pekerti. Penggunaan metoda ini akan dapat menghidupkan suasana kelas. aspek perkembangan kognitif merupakan aspek yang dipentingkan juga. simulasi. yakni nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia lainnya. Pengajarannya bertitik tolak dari nilai-nilai sosial tertentu. Pendekatan Pembelajaran Berbuat Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral. penguatan positif dan negatif. dan lain-lain. dari berbagai alternatif 3. baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Misalnya mengangkat dan mendiskusikan kasus atau masalah Budi Pekerti dalam masyarakat yang mengandung dilemma. merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya 5. Hal ini sejalan dengan penegasan Haydon (1995) bahwa pengetahuan dan pemahaman konsep adalah penting dalam pendidikan moral. Metode yang digunakan dalam pendekatan penanaman nilai antara lain: keteladanan. Al. supaya tidak membuka kesempatan bagi siswa. bermanfaat jua untuk diaplikasikan sebagai salah satu strategi dalam proses pengajaran Pendidikan Budi Pekerti. pendekatan pembelajaran berbuat diprakarsai oleh Newmann. sesuai dengan nilai-nilai sosial tertentu. yang bersumber dari Pancasila dan budaya luhur bangsa Indonesia. (1976). setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya Kedua : Menghargai 4. Metoda pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Klarifikasi Nilai. permainan peranan. dalam mata pelajaran ini. dengan bebas 2. yang tumbuh dan berkembangan dalam masyarakat Indonesia. dengan memperhatikan faktor keadaan serta bahan pelajarannya yang relevan. et.. Namun berbeda dengan Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif di mana yang memberi kebebasan penuh kepada siswa untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang sesuai dengan tingkat perkembangan moral reasoning masing-masing. Metoda pengajaran yang digunakan Pendekatan Analisis Nilai. untuk didiskusikan dalam kelas. supaya mereka berkemampuan untuk mempengaruhi kebijakan umum sebagai warga dalam suatu masyarakat yang demokratis. walaupun pendekatan ini berusaha juga untuk meningkatkan keterampilan "moral reasoning" dan dimensi afektif. berbuat sesuatu sesuai dengan pilihannya 7. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI Tujuan Pendidikan Budi Pekerti adalah penanaman nilai-nilai tertentu dalam diri siswa. Menurut Elias (1989). Seperti telah dijelaskan. Metode yang digunakan dalam Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif. (1980) dan Superka. et. dengan memberikan perhatian mendalam pada usaha melibatkan siswa sekolah menengah atas dalam melakukan perubahan-perubahan sosial. dalam pengajaran Pendidikan Budi Pekerti siswa diarahkan sampai pada kesimpulan akhir yang sama. penggunaannya perlu hati-hati. mau mengakui pilihannya itu di depan umum Ketiga : Bertindak 6. 1978) 5. Hersh. Namun demikian.Pertama : Memilih 1. untuk membentuk sikap moral yang lebih stabil dalam diri seseorang. khususnya prosedur analisis nilai dan penyelesaian masalah yang ditawarkan.

baik dalam keluarga. Lingkungan sosial yang kondusif bagi para siswa. Para siswa pada peringkat ini lebih tepat untuk melakukan tugas-tugas di luar ruang kelas. dan psikomotor. . dan orang dewasa pada umumnya. di sekolah. khususnya pada peringkat sekolah lanjutan tingkat atas. Metoda pengajaran yang digunakan dalam Pendekatan Pembelajaran Berbuat bermanfaat juga untuk diaplikasikan dalam pengajaran "PPKn/PLPS" di Indonesia. PENUTUP Berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang mempunyai aspek penekanan yang berbeda. Hal tersebut sejalan dengan pemberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang proses pembelajarannya memadukan ranah kognitif. dan dalam masyarakat juga memberikan kontribusi positif dalam penerapan pendidikan budi pekerti secara holistik. orang tua. serta mempunyai kekuatan dan kelemahan yang relatif berbeda pula. afektif.nilai Agama dan nilai-nilai Pancasila yang ingin dibudayakan dan ditanamkan dalam diri mereka. seperti yang dituntut oleh pendekatan ini. Berbagai metode pendidikan dan pengajaran yang digunakan oleh berbagai pendekatan pendidikan nilai yang berkembang dapat digunakan juga dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti. yang dikembangkan untuk meningkatkan kompetensi yang berhubungan dengan lingkungan. Pelaksanaan program-program Pendidikan Budi Pekerti perlu disertai dengan keteladanan guru.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->