TUGAS MATA KULIAH PENGELOLAAN LINGKUNGAN (GEL 4808

)

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DI RUMAH SAKIT dr SARDJITO

Disusun Oleh: Fitriyani N.R. Yan Olif L. Dinky Satrio P. Ahdi A. Fajri Yoga Brahmantya Arief Wibowo Parana Ari Santi 6151 6169 6267 6296 6320 6321 6363

PROGRAM STUDI GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

31466 m3/hari. 1998). Bak penyaring juga berfungsi untuk melindungi pompa. Pengelolaan limbah rumah sakit merupakan bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit. tanah. Sardjito secara biologis yaitu pengolahan air limbah untuk mengurangi zat-zat organik yang terdapat dalam air lmbah itu sendiri.PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DI RUMAH SAKIT dr SARDJITO Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah dengan jenis cair. kayu untuk tidak masuk ke unit pengolahan selanjutnya. valve dan peralatan instalasi lainnya dari gangguan yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda kasar yang terbawa aliran. Dari produksi limbah cair tersebut yang diolah dengan metode lumpur aktif menghasilkan lumpur sebanyak 0. Pengolahan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah RSUP Dr. padat dan gas. Pengolahan semacam ini dikenal dengan nama proses lumpur aktif (sludge activated). Air limbah yang dihasilkan oleh unit-unit penghasil limbah ditampung di bak penampung sementara lalu dialirkan ke pipa pemasukan dengan debit rata-rata 8 liter/detik. yaitu limbah berupa virus dan kuman yang berasal dan Laboratorium Virologi dan Mikrobiologi yang sampai saat ini belum ada alat penangkalnya sehingga sulit untuk dideteksi.057 m3 per hari. pencemaran makanan dan minunian. Gangguan tersebut dapat berupa pencemaran udara. Produksi limbah cair yang dihasilkan pada IPAL RSUP Dr. Pencem aran tersebut merupakan agen agen kesehatan lingkungan yang dapat mempunyai dampak besar terhadap manusia (Agustiani dkk. Sardjito Yogyakarta sebesar 828. Dari inlet ini bak penyaring mulai berfungsi menyaring bahan-bahan kasar seperti plastik. pencemaran air. kertas. penderita maupun masyarakat. Bak . Bak penyaringan Bak penyaringan merupakan unit operasi yang dijumpai pertama dalam bangunan pengolahan air lmbah. Limbah cair dan Iimbah padat yang berasal dan rumah sakit dapat berfungsi sebagai media penyebaran gangguan atau penyakit bagi para petugas. Limbah yang dihasilkan rumah sakit dapat membahayakan kesehatan masyarakat. IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit) Dr. Sardjito meliputi: 1.

Sardjito terbuat dari anyaman besi stainless steel sebanyak dua buah yang dipasang secara vertikal dan sejajar. Bahan-bahan kasar yang tersangkut/tersaring diangkut secara manual dan dibuang sebagai sampah. Bak equalisasi Setelah melewati bak penangkap pasir.9m x 0. air limbah dengan debit antara 530 liter/detik dialirkan masuk ke bak equalisasi. Bak penyaringan 2. koral atau zat padat berat lainnya yang mengalami penurunan kecepatan atau mempunyai gaya berat lebih besar dari zat organik yang dapat membusuk dalam air limbah. Gambar 1. Volume Bak = P x L x T = 7m x 1. Pada bak penangkap pasir ini terdapat tiga bagian aliran air limbah. Bak penangkap pasir Bak penangkap pasir berfungsi untuk menghilangkan kerikil halus yang berupa pasir.8m = 10.64 m Gambar 2.penyaring yang ada pada instalasi Pengolahan air limbah RSUP Dr. Letak bak equalisasi berada . Dua bagian digunakan secara rutin dan satu lagi digunakan sebagai cadangan bila ada bagian yang dikuras atau dibersihkan. Bak penangkap pasir 3.

Bak equalisasi 4.5m x 5. Proses penambahan oksigen (aerasi) kedalam air limbah sangat menentukan keberhasilan pengolahan air limbah karena pada tahap ini kotoran-kotoran organik yang terkandung di dalam air limbah akan diurai dan dihilangkan secara biokimiawi dengan bantuan bakteri aerobik dan . Pencampuran juga dilakukan oleh pompa pengangkut air limbah dari bak equalisasi ke bak aerasi dengan cara mengembalikan sebagian dari debit yang diangkut ke bak aerasi. Fungsi utama dari bak equalisasi adalah untuk meratakan debit air limbah yang masuk ke unit pengolahan selanjutnya. Volume dari bak equalisasi = 200 m3. Sisanya 10 liter/detik dikembalikan ke bak equalisasi. Bak equalisasi juga berfungsi sebagai kolam pencampuran air limbah. sedangkan tenaga pompa pengangkut adalah 20 liter/detik. Bak aerasi Pengambilan zat pencemar yang terkandung dalam air limbah merupakan tujuan dari pengolahan air limbah. dengan dimensi = P x L x T = 5.5m x 7 m Gambar 3. Hal ini dilakukan karena bak aerasi mempunyai kapasitas pengolahan antara 10-12 liter/detik.lebih rendah dari bak penangkap pasir sehingga terjadi kontak antara oksigen dengan air limbah saat terjunan air dari bak penangkap pasir masuk ke kolam equalisasi. Pencampuran air limbah dalam bak equalisasi dilakukan dengan memompakan air limbah yang ada dalam bak equalisasi itu sendiri dan selanjutnya dimasukkan lagi. Pencampuran ini digunakan untuk menghomogenkan air limbah yang kemudian dipompa ke bak aerasi.

Gambar 4. Proses aerobik dan anaerobik dalam suatu bak aerasi terjadi secara bersama-sama. Dengan adanya penambahan oksigen dan lumpur ke dalam bak aerasi dapat meningkatkan penambahan mikroorganisme seiring dengan pembentukan sel-sel baru. H2S. sedangkan proses anaerobik terjadi pada bagian dasar/bawah kolam yang tidak mengandung oksigen. dan mikroorganisme baru. Bak Aerasi 5. Nozel diletakkan di bagian dasar bak sebanyak 15 buah yang disusun seri dalam tiga baris sehingga ada lima nozel dalam satu barisnya.anaerobik. Sardjito Yogyakarta memasukkan udara ke dalam air limbah melalui benda porous atau nozel. Waktu pengendapan pada bak sedimentasi berlangsung selama 6 jam. H2 O. Hasil dari penguraian zat organik yang terdapat dalam air limbah pada bak aerasi ini akan membentuk flok (biosolid) yang kemudian dialirkan ke dalam bak pengendapan (sedimentasi). NH3. N2. Reaksi kimia yang terjadi secara aerob oleh mikroorganisme aerob akan menghasilkan CO2. CH4. Bak aerasi pada instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr. Proses aerobik terjadi pada permukaan bak. Pada proses aerasi harus tersedia oksigen minimum 1-2 mg/liter air limbah atau secara teoritis banyaknya oksigen yang harus disediakan dibanding dengan derajat kekotoran air limbah yang ada adalah sebesar 40 -80 m3 udara untuk setiap 1 kg BOD. Bak pengendapan Biosolid atau flok-flok yang terbentuk dari proses perombakan zat organik dari limbah dari bak aerasi mengalir dan mengendap pada bak pengendap. Biosolid atau dapat dikatakan juga dengan lumpur yang dapat diendapkan dalam bak sedimentasi adalah sebanyak 10-25% dari jumlah air .

Lumpur yang mengendap ini 5 hari sekali dipompakan ke sludge drying bed dimana sebelumnya direcycle terlebih dahulu ke bak aerasi sebanyak 50 m3 sebagai nutrien dan mikroorganisme pengurai zat-zat organik dalam air limbah berikutnya. Bak penampung lumpur . Bak ini juga berfungsi untuk menampung lumpur sisa recycle untuk selanjutnya lima hari sekali dipompakan ke bak pengering lumpur (sludge drying bed).00 sebanyak 15 m3 dan pukul 17. pukul 14. Bak penampung lumpur Bak penampung lumpur berfungsi untuk menampung lumpur dari bak sedimentasi untuk selanjutnya dipompakan ke bak aerasi sebagai recycle.00 sebanyak 20 m3.limbah yang masuk. Permasalahan yang selalu timbul pada bak pengendap lumpur adalah adanya flok-flok yang mengapung diatas permukaan bak sedimentasi. Flok-flok ini terjadi di dasar bak yang menghasilkan gas-gas yang terbawa ke atas dan mengapungkan kembali flokflok yang akan mengendap. Lumpur yang dihasilkan sebanyak 15. Flok-flok yang mengapung di permukaan air ini dapat dihilangkan dengan pengadukkan secara mekanis dan dengan mengeluarkan melalui over flow masuk ke sumur penampungan flok untuk selanjutnya dipompakan kembali ke bak aerasi. 6.00 sebanyak 15 m3. Selanjutnya pada hari kelima. recycle juga dilakukan secara rutin setiap harinya selama tiga kali pemompaan pada pukul 08.66 m3/hari dibiarkan mengendap dalam bak sedimentasi. Volume dari bak penampung lumpur adalah 40 m3 dengan dimensi =P x L x T = 4m x 2m x 5m Gambar 5.

Bak uji biologis 8.3 mg/liter. Bak Desinfeksi . Pembunuhan bakteri bertujuan untuk mengurangi atau membunuh mikroorganisme patogen yang ada dalam air limbah. hal ini menunjukkan bahwa air limbah tersebut sudah layak dibuang ke badan air. Hal yang paling penting dalam pembunuhan mikroorganisme dalam air hasil pengolahan (efluen) minimal 0. Bak desinfeksi dan bak kontak chlor Tahap ini merupakan tahap pengolahan terakhir dalam instalasi pengolahan air. Untuk dapat menghasilkan sisa chlor sesuai dengan batas yang telah ditetapkan. Bahan desinfektan yang sering dipergunakan adalah chlorin yang berbentuk garam atau lebih dikenal dengan nama kaporit (Ca(Ocl)2 ). Dalam bak uji biologis ini dipelihara ikan dan tumbuhan azola sebagai indikator. Setelah itu effluen dialirkan ke badan air penerima. diperlukan waktu kontak antara titik pembubuhan sampai effluen selama 30-60 menit. Bak uji biologis Air limbah yang keluar dari bak sedimentasi mengalir melalui bak kontak chlor sementara masuk ke bak uji bak uji biologis. Gambar 8. Bak uji biologis ini berfungsi apakah air limbah hasil pengolahan sudah layak dibuang ke badan air atau belum. Ikan dan azola hidup dan tumbuh dengan baik. Gambar 6.7. Kebutuhan kaporit yang diperlukan untuk membunuh mikroorganisme pada instalasi pengolahan air limbah RSUP dr Sardjito Yogyakarta adalah ± 1 kg/hr.

Sardjito Yogyakarta dalam mengeringkan lumpur yang dihasilkan oleh proses pengolahan air limbah menggunakan delapan buah bak pengering lumpur. waktu pengeringan semakin lama. Bak pengering lumpur dilengkapi dengan media penyaring setebal 40 cm yang terdiri dari pasir halus. Semakin tebal lapisan lumpur. Bak pengering lumpur . dan koral besar. Instalasi pengolahan air limbah RSUP Dr.9. Keadaan cuaca juga sangat mempengaruhi lamanya waktu pengeringan lumpur. Waktu pengeringan lumpur biasanya 3-4 minggu dengan ketebalan lapisan lumpur dalam bak pengering antara 15-25 cm. Air yang meresap melewati lapisan penyaring masuk ke pipa unser drain dan sebagian lagi menguap ke udara. Pada Instalasi pengolahan air limbah yang menggunakan sistem lumpur aktif yang dihasilkan dalam bak sedimentasi sebagai recycle dan sebagian lagi dipompakan ke bak pengering lumpur (sludge drying bed) lumpur yang ditumpahkan ke bak pengering lumpur biasanya mengandung kadar solid 10 % dan air 90 %. Bak pengering lumpur Lumpur merupakan hasil akhir dari setiap instalasi pengolahan air limbah. pasir kasar. Gambar 9.

Pemanfaatan substrat padat untuk imobilisasi sel lumpur aktif pada pengolahan limbah cair rumah sakit. Agus. Slamet. Seminar Teknologi Pengelolaan Limbah II: prosiding. Efektivitas pengolahan limbah cair Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta terhadap pencemaran radioaktif . Nusa Idaman. 1999. Buletin Keslingmas . Surabaya: Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Said.DAFTAR PUSTAKA Giyatmi. Penambahan PAC pada proses lumpur aktif untuk pengolahan air limbah rumah sakit : laporan penelitian. Elly. 2000. Yogyakarta : Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Agustiani. Winarni. 1998. Media ISTA : 3 (2) 2000: 15-18 Christiani. Dyah. Teknologi pengolahan air limbah rumah sakit dengan sistem "biofilter anaerob-aerob". 16-17 Feb 1999. Andri. Arthono. Jakarta. Perencanaan pengolahan limbah cair untuk rumah sakit dengan metode lumpur aktif. 2003. 2002.

ALUR LIMBAH CAIR RSUP dr. SARDJITO Kontak disinfektan Kontak disinfektan Disinfektan RS Karbon filter Bak equalisasi Bak penangkap pasir Bak saringan Debit thomson Debit thomson Bak aerasi Sedimentasi I Lumpur aktif Sedimentasi II Blower udara Sand filter Drying bed Uji biologi I Uji biologi 2/ground Sunga i .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful