LAPORAN PENELITIAN

WAWACAN JAKA ULA JAKA ULI SEBAGAI KARYA SASTRA TASAWUF SUNDA

Oleh: Kalsum

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS PADJADJARAN 2001

PRAKATA

Wawacan Jaka Ula Jaka Uli seba gai Karya Sastra Tasawuf Sunda. Wawacan ini merupakan judul mula yang kemudian dalam perjalanan transmisi (penyalinan) berjudul Wawacan Jasadiah, Wawacan Muslimin Muslimat, Layang Muslimin Muslimat yang sudah dicetak. Tentu dalam perjalanannya mengalami perombakan besar-besaran, tentu sangat perlu memunculkan bagaimana isi dalam tipe mula, karena dalam perjalanan keagamaan terjadi pelesapan hal-hal yang penting, umpamanya mengenai Sifat Dua Puluh Tuhan. Makalah ini relatif membahas s ecara keseluruhan yang bersumber dari teks tipe mula. Tulisan ini diterbitkan dalam Jurnal Kebudayaan Sunda Dangiang yang didukung oleh The Japan Foundation pada judul Lonceng Kematian Bahasa Sunda Edisi HI/2002. Bandung, 10 Agustus 2008

). Adanya unsur g cerita dalam WJU hanyalah sarana untuk menyajikan ajaran. Menurut berita. judul yang dikenal oleh m asyarakat. 1996.ipta. Teks yang memiliki bentuk muka. LMM penyebarannya lebih luas lagi. 1995.Wawasan Jaka Ula Jaka Uli Sebagai Karya Sastra Tasawuf Sunda Kalsum PENGANUT agama Islam yang hidup beber apa abad setelah masuknya Islam ke Nusantara mungkin tak dapat membayangkan bagaimana keberadaan Islam di Nusantara. WJU merupakan sastra kitab yan sepenuhnya menyajikan ajaran. Kartodirjo. IW2:35.Karya-karya snstrn Insnwvif tcrschar I mis di NusanUira (Uarusupr. dan perkembangannya kemudian sampai ke zaman yang dapat kita saksikan sekarang ini. Kemudian muncul lagi dengan judul Layan Muslimin Muslimat (disingkat LMM) dalam bentuk g cetakan. 1990. Wawacan Jaka Ula Jaka Uli (kemudian disingkat WJU) adalah sebuah karya sastra tasawuf Sunda yang tertulis. Agama Islam yang masuk ke Nusantara pada awal Islamisasi mengandung tasawuf (Baried. dkk.t.. 1995. yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan dalam masa hidupnya sendiri” (Soebadio. Bruinessen. dan tidak mustahil pula muncul nilai-nilai baru. Naskah merupakan dokumentasi yang penting dalam rangka penelusuran hal ini. 19H5. “Pada hakikatnya tidak ada peninggalan suatu bangsa y ang lebih memadai untuk keperl an peneliti sejarah dan u kebudayaan daripada kesaksian tertulis. Ternyata WUJ. 1995). dengan tertera “nama pengarang” Asep Martawidjaja. penduduk Pataruman Garut yang meninggal pada 1930. Setelah mengalami transmission (penyalinan/penurunan) teks berulang-ulang. Dalam rentang yang cukup panjang tersebut ada sejumlah nilai keagamaan yang hilang. 1991:1). Hadi. dan merupakan jendela untuk melihat serpihan-serpihan masa lampau. Lubis. naskah WMM terdapat pula di daerah Ciamis dan Cirebon. kemudian judul naskah p mengalami modifikasi menjad Wawacan un i Muslimin Muslimat (disingkat WMM). Naskah WJU dan WMM ditemukan di daerah seputar Kabupaten Bandung. awal Islamisasi. Hederanie. t. In tisari cerita WJU adalah . 1985. 1996:1 ). 1997. terutama bila ke saksian tangan pertama. Yunus. Zahari (ed. yaitu teks yang tertulis dalam naskah yang berjudul WJU.: 45. Dalam buku LMM terdapat keterangan bahwa buku tersebut digunakan untuk pegangan ikhwan tarekat Hakmaliyah. [Jimrd.Saksono. WMM dan LMM merupakan varian teks yang berasal dari naskah otograf (naskah asli yang ditulis oleh pengarang) yang sama.

1980: 1. Nama Nyi Raden Ratna Atiyah berasal dari kata ratna. Nyi Raden Hakekat. dan sa merupakan kela-ziman penamaan dalam konvensi masyarakat Sunda.sebagai berikut: Tersebutlah sebuah negara bernama Raga taya. Sedangkan Atiyah dari kata a yang berarti ‘hati’. WJU membahas wujud/ada hakiki yang bersifat kekal dan gaib dan wujud/ada-hawadis yang fana. 2). Nyi Raden Tarikaton. 1995:15). 1990. Raden Jaka Ula dan i Raden Jaka Uli inilah yang bertanya jawab tentang ajaran. Misalnya Nagri Raga Taya berasal dari kata raga. Secara keseluruhan WJU m enyajikan pembahasan tentang insan kamil (manusia yang sempurna) dan fa mil mufamil ( manusia paling sempurna). Penambahan ‘yah’ terhadap kata ‘ati’ menimbulkan efek istilah baha Sunda. Teknik tanya jawab inilah yang merupakan ciri dari karya sastra tasawuf Nusantara (Pigeaud dalam Darusuprapto. tt: 3 Kalabazdi. Raga Taya dalam konteks ini mengandung makna bahwa “raga yang tampak “ini pada hakikatnya bersifat tidak ada tak berwujud/fana/ada hawadis (memiliki sifat baru/ciptaan Tuhan). Jadi. Kedua patih tersebut masih saudara raja. . Nama-nama yang digunakan dalam WJU dimuati makna-makna pendukung terhadap ajaran. Pemegang tahta kerajaan bernama Raden Howasul Howas dengan permaisuri bernama Nyi Raden Sareat. Judul judul karya tasawuf lainnya ya ng menggunakan teknik tanya jawab dalam khasanah kesusastraan Sunda antara lain Wawacan Buana Wisesa. Jadi Raga Taya dalam pengertian yang lebih luas lagi yaitu bahwa dunia yang tampak/yang dapat diindra ini merupakan “ada hawadis” yang keberadaannya tidak kekal dan sesungguhnya tidak ada. nama Howasul Howas berfungsi sebagai foreshadowing untuk mengantar ke arah pembahasan masalah ten tang manusia sempurna. dkk. hakikat. yang berarti ‘raga/badan’ dan taya berarti ‘tidak ada’. ti. Raja memiliki dua orang putra yang sangat tampan bernama Raden Jaka Ula dan Raden Jaka Uli (dalam WMM dan LMM bernama Raden Musl min dan Raden Muslimat). dan Nyi Raden Maripat. Hati merupakan objek yang paling penting dalam tasawuf (Al-Ghazzali dalam Musthofa (ed. Wawacan Pulan Palin. Aboebakar Aceh. Patihnya bernama Raden Batara Suria Katon dan Raden Wulanyata.. Wawacan Ganda Sari dan Wawacan Dua Pandita/Pandita Sawang. Tarikaton dan Marifat. tarikat dan marifat. Nama Raden Howasul H owas (dalam WMM dan LMM bernama Raden Prebu Jasadiah) pengertian Jasadiah senada dengan pengertian raga taya) berasal dari khawwashul k hawwas yang memiliki makna manusia paling istimewa yang memiliki tingkatan keimanan yang tinggi.). merupakan arahan kepada istilah sareat. Hakekat. istilah dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘permata’. N ama-nama pengiring permaisuri yaitu Sareat.

Dikaulaan/dikawulaan berarti dilayani. Ground penanda persona pertama dalam bahasa Nusantara memiliki makna ‘abdi’. yaitu muslimin (jenis maskulin jamak) berarti para muslim (pria) dan muslimat (jenis feminim jamak) berarti para muslimah (wanita). semisal ‘kaula’. Raden Muslimin dan Raden Muslimat sebagai nama tokoh dalam WMM dan LMM menampakkan kerancuan. Tokoh wawacan ini kakak beradik bernama Raden Pulan dan Raden Palin. Aneh-nya. Raden Muslimat seorang laki-laki bukan perempuan. seperti terdapat pada naskah WMM: Sarta eta Kanjeng . kata ‘ulun’ terdapat dalam cranberry morphem ‘ulun kumawula’ yang berarti ‘mengabdi’. dalam karya tersebut. Kata ‘ulun’ kemungkinan besar memiliki makna yang selaras dengan ‘kumawula’ yang berarti mengabdi seperti halnya pengertian selaras pada struktur makna cranberry morphem lainnya. adalah Ratu Pandita (Kosoh. ula sec ara tersirat bermakna ‘abdi Tulum’. ‘mere maweh’ yang berarti memberi (‘mere’ berati memberi. sebagaimana tersampaikan lewat ungkapan dasar kudu nyaho kana sahadat (harus tahu sahadat). Pada masa lampau penggunaan julukan/nama masih menggunakan nama-nama Nusantara. Hal semacam ini terdapat pula pada Wawacan Gandasari yang diperkirakan digubah orang pada awal Islamisasi karena terdapat perilaku Islam yang paling mendasar.yang merupakan peringkat peribadatan dalam agama Islam yang selalu disebut-sebut dalam pembahasan karya-karya tasawuf. Hal seperti itu terdapat pul dalam wawacan tasawuf a lainnya antara lain Wawacan Pulan Palin. Jika dianalogikan dengan keterangan tersebut. ‘sabar darana’ (dharana Sanskerta berarti ke(sabar)an). ‘abdi’ (bahasa Sunda halus). Pulan d iperkirakan dari bahasa Arab fulan. Sebagai contoh pemeluk Islam pertama pada abad ke-14 adalah Haji Purwa. untuk menyebut seseorang. Di dalamnya terdapat nama Kiai Sabda Laksana. Adapun kata ‘ula’ dalam bahasa Sunda masa kini masih ada pada kata kaula/kawula (pronomina persona pertama). Julukan kepada Susuhunan Gunung Jati pada abad ke-15. 1979: Bab IV). Dalam bahasa Sunda. ‘Dilayani’ bersinonim dongan ‘diabdi’. ‘saya’/’sahaya’. ‘hamba’. Nama Ula dan Uli rupanya bernuansa Sunda. ‘maweh’ (bahasa Jawa Kuna) dari morfem dasar ‘weh’ yang berarti memberi). pangawulaan berarti orang yang diabdi/dilayani. Dalam WJU Jaka Ula adalah fi ur insan kamil (manusia sempurna) dalam g menghamba Tuhan. kata ‘ula’ kemungkinan besar bermakna ‘abdi’ atau ‘hamba’. Sedangkan ‘uli’ hanyalah Variasi vokal dari ‘ula’. Begitu pula istilah-istilah keagamaan banyak menggunakan istilah lokal seperti dalam WJU. ‘nghulun’ (bahasa Jawa Kuna . Jadi. Kata ‘muslimin’ dan ‘muslimat’ dalam bahasa Arab. masih dig unakan dalam bahasa Banjarmasin ‘ulun’).

Raden Muslimat). Jadi. Ada tiga hal yang menyebabkan kesulitan pemahaman. Raden Muslimin cikalnya ari jenengan nu bungsu nelah Raden Muslimat (Dan Sang Raja. Selain itu hal yang bersifat keseharian pada zaman karya ini digunakan sekarang sudah banyak ditinggalkan. ajaran tasawuf ini sekarang tidak dipahami lagi oleh masyarakat luas dan hal yang bersifat keseharian dari zamannya tidak diterangkan secara panjang lebar. Ketiga. memiliki putra dua orang. pemahaman masyarakat terhadap ajaran yang terdapat dalam WJU hanya sebagian saja (tidak lengkap). kesenj ngan antara n a penulisan dan pemahaman terlalu jauh. tunduk kepada stilistika yang berada dalam wilayah seni. Kedua. Di pihak lain terdapat ajaran yang bersifat ketat dan pasti. judul teks yang pertama muncul adalah Wawacan Jaka Ula Jaka Uli yang sesuai dengan nama tokoh. seperti yang dikemukakan juga oleh penyair Rusia Tyutcev bahwa “pikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan” (Zoest. Buktinya. . Wawacan terkait pada dua buah bentuk seni: seni sastra dan seni suara. Ajaran dalam WJU sekarang ini tidak diketahui lagi oleh masyarakat Sunda secara luas. bahasa dalam karya tasawuf menggunaka istilah-istilah khusus. materi yang disajikan cukup rumit: karya-karya tasawuf menyajikan realitas ke-Tuhan-an sehingga untuk memahaminya perlu mempersiapkan diri dengan karya-karya tasawuf Sunda lainnya. putra sulung Raden Muslimin dan nama putra bungsunya. walaupun merupakan sebuah ajaran WJU dikemas dalam bahasa artificial.Gusti. geus kagungan duwa putr . k a acatur jenenganana. Setelah nilai-nilai keagamaan makin mantap dirasakan oleh masyarakat. Di satu pihak terdapat dimensi seni yang bercirikan kreativitas bebas. 1990:1). Contohnya. Oleh karena itu. pameget sami karasep. judul tersebut tidak cocok lagi. WJU dan naskah-naskah tasawuf lainnya secara umum sangat sulit dipahami. tasawuf Nusantara dan tasawuf dunia. namun tidak diterangkan bahwa “sifat dua puluh” itu diemanasi juga pada manusia selaku khalifah Allah. Karya Seni dan Tasawuf Secara inherent WJU memiliki dua dimensi yang sifatnya berlawanan. “sifat dua puluh” Tuhan pada tahun 1950-an masih diajarkan di madrasah-madrasah. Karya tasawuf mengemukakan aspek batiniah yang sering kali tidak cukup terutarakan dalam bahasa verbal. Karena wadah yang dipilihnya berbentuk seni. Pertama. keduanya pria tampan. dan kemudian muncul Wawacan Muslimin Muslimat serta nama tokoh dalam teks diubah pula walaupun di antara petanda penanda terjadi kerancuan.

ada tradisi penulisan . Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi masyarakat masa lampau mengaitkan seni sastra dengan agama atau sebaliknya. ataukah kesenian yang dimuali oleh ajaran agama. Di wilayah Arab. Jadi..Pada zaman lampau kehidupan beragama dengan kehidupan kesenian berjalan secara berdampingan. Begitu eratnya hubungan antara agama dan seni pada masa lampau sehingga sulit menenrukan apakah yang kita hadapi ada lah ajaran agama yang disajikan dalam bentuk kesenian.t. di Nusantara telah berkembang sastra kekawin. Islam sangat berperan menentukan corak kesusastraan Melayu selama periode abad ke-17 hingga abad ke-19 (Braginsky. dan lunakkanlah suaramu. seorang kawi adalah a servant of beauty (abdi keindahan). Perkembangan sejarah sastra. Di daerah Jawa Barat. seperti aliran air. bentuk puisi tertulis Nusantara yang tertua. Gubahan nilai-nilai keislaman juga terdapat dalam bentuk gurindam karya Raja AH Haji atau Saraba Ampat gubahan Datuk Sanggul dari Kalimantan pada abad ke-18 (Haderanie: t. 1983). Sebelum periode Islam. 1955:33-38). Imam Al-Ghazali mengemukakan dalil tentang diperbolehkannya menyanyi. bentuk kekawin tidak ditemukan. dkk. antara lain Imam Al-Ghazali dan Imam Abu Daud Azh-Zhahiri. Denga demikian dapat a n dimengerti jika ditilik dari latar belakang sejarahnya karya keagamaan Islam lahir dalam bentuk seni sastra.. yang antara lain be rsumber dari firman Allah Ta’ala “. 1993: Chapter 1) sebagaimana yang terlihat dari syair-syair gubahan Hamzah Fansuri. melainkan keindahan dalam arti yang agung dan dalam. seni musik dan tarian (Abdurrahman Al-Baghdadi. Hidayat Suryalaga yang mengubah saritilawah Al-Quran dalam bentuk tembang Sunda. 1987). Penulisan kekawin dimotivasi oleh kegiatan agama. Pada zaman modern pun muncul kreativitas untuk menggelar ajaran Islam dalam bentuk tembang. Dan bukan sembarang keindahan. bagaimanapun kondisi karya sastra pada zaman tertentu tidak terlepas dari k rya-karya sastra sebelumnya.). ada di antara ketegangan antara konvensi dan inovasi (Teeuw.. yang dihubungkan dan terjalin dengan kehidupan keagamaan. S esungguhnya seburuk-buruk suara adalah bunyi keledai” (Luqman: 19). Menurul Zoetmulder (dalam Partini. Sisa-sisa masa lampau seperti itu yang m asih tampak pada masa kini antara lain berupa lantunan ‘pupujian’ di mesjid-mesjid ketika menanti tibanya saat sembahyang fardu dan kesenian nyalawat/nidat. Hamzah Fansuri hidup pada pertengahan abad ke-16 (Abdul Hadi: 1995). seperti yang diprakarsai oleh R. Ada golongan Islam yang memberi kelonggaran terhadap kegiatan kesenian. 1984: 8). Selain itu ada hadis-hadis yang membolehkan tarik suara. Karya ajaran dalam bentuk sastra sebelum Islam adalah naskah-naskah Ciburuy semisal Sewaka Darma (Partini. Gejala ini bukan hanya berkembang di daerah Sunda melainkan juga merata di seluruh Nusantara.

seperti kreativitas R. Kreativitas seni sastra di pesantren kini telah lenyap. Situasi ini ditunjang pula oleh lingkungan masyarakat p’enyebarnya yakni para bangsawa dan alim ulama. telah terjadi kesenjangan. sekarang ini adalah periode yang mengkotakkotakkan secara ketat perilaku Islam dan seni. Dengan demikian. Pada masa lampau rupanya pesantren menjadi pusat penciptaan dan pusat penyebaran wawacan. dkk. n golongan bangsawan dan alim ulama merupakan masyarakat elit yang berpengaruh” (Kosoh. Periode perkembangan wawacan memberikan peluang bagi perkembangan karya sastra tulis Sunda untuk maju pesat. 1979 :98). Jadi. kegiatan bersastra dan proses Islamisasi tak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Pengurus Pesantren Sukamiskin pun (tahun 1998) ketika ditemui tidak tahu-menahu lagi mengenai karya -karya yang telah dihasilkan oleh para pendahulunya. Men urut Ajengan Pesantren Al Fatah dari Gunung Halu.ilmu tasawuf dalam puisi seperti yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. 1993). Ajengan Ako dari Cijambu Gunung Halu selalu men yenandungkan wawacan tasawuf. sebagai contoh. Kecamatan Majalaya. Pada waktu penyebaran Islam. hukum Islam dan inovasi (dalam hal ini yaitu Islamisasi memberikan keleluasaan untuk ) menghadirkan ajaran Islam dalam bentuk gubahan sastra. Popularitas bentuk wawacan pada masanya terbukti dari jumlah nya yang sangat banyak. Sisa-sisanya. Rancaekek yang memiliki sangat banyak pesantren. sehingga perkembangan karya sastra tulis Sunda maju dengan pesat serta menghasilkan naskah-naskah wawacan berisi ajaran Islam. karena perkembangan wawacan bersamaan dengan perkembangan Islam. secara cermat mereka menyadurnya seperti yang . “Pada masa penyebaran Islam. di antara periode WJU yang memadukan agama dengan seni dan kreativitas seni sekarang ini. kegiatan keberaksaraan maju secara pesat. penyair tasawuf yang lahir tahun 1207 di Balkh (Nicholson. tempat dite mukannya Wawacan Sejarah Nabi gubahan Ajengan Sukamiskin milik Pak Usah.. wawacan-wawacan bernafaskan Islam dan cerita-cerita wawacan yang dilatarbel kangi a Islam. tradisi. saling mendukung. Hidayat Suryalaga. Penyajian karya-karya tasawuf di Nusantara rup anya sangat berhati-hati dalam menggubah kembali suatu topik bahasan. Wawacan merupakan pengaruh karya sastra Jawa yang ma suk ke daerah Sunda mclalui alim ulama dan para ba ngsawan. Kabupaten Bandung. Kegiatan keberaksaraan. l Cicalengka. pada masa lain para aj ngan mewarnai sendi kehidupan seni dengan e keislaman dan menyampaikan ajaran Islam dengan kegiatan bersastra. Dengan gambaran tersebut. Begitu pula keadaan di wiayah Pesantren Cileunyi. terdapat di Bojonggenggong.

Dalam Saraba Ampat: Api bayu tanah dan hawa itulah dia alam dunia menjadi awak berupa-rupa tulang sumsum daging dan darah dalam WJU X 534: Asupna oge opat deui ka jerona tangtu opat enya jadi buktina oge ‘Masuk pun empat pula’ ‘ke dalam pun tentu empat’ ‘begitulah buktinya’ . 1) Terdapat unsur kesamaan dengan Syair Saraba Ampat dari Kalimantan: Allah jadikan saraba ampat Syariat Tharikat Hakikat Makrifat. Rupanya WMM dan LMM merupakan penyimpangan dari patokan guru wilangan). Menjadi satu dalam khalwat Rasa nyamannya tiada tersurat Dalam WJU.terdapat pada number penelitian ini. istilah peringkat perilaku peribadatan dalam agama tersebut diselipkan pada nama tokoh. ada empat’ ‘pertama Nyi Raden Sareat’ ‘kedua Nyi Raden Tarikatan’ ‘ketiga Nyi Raden Harikat’ ‘keempat tersebutlah’ ‘Nyi Raden Mari’pat ‘lebih lucu’ (Catatan: Secara menyeluruh WJU tidak menaati patokan guru wilangan atau jumlah suku kata dalam setiap bait. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara WJU dan karya lainnya. Rencangna anu kawarta kapiasih aya opat hiji Nyi Raden Sareat dua Nyi Raden Tarikatan tilu Nyi Raden Harikat nu ka opatna kakocap Nyi Raden Ma’ripat leuwih lucu ‘Pengiring yang termashur’ ‘tercinta.

Minangkana mun manuk tea mah jangjangna baris diicis ngarenggebeng duanana dibeberkeun duanana samasakali ngan lianteu dikiplik-kiplik eta ete lir ibarat kitu ari perkara Miroj geus gulung atina garuda paksi ‘seumpamanya burung’ ‘sayapnya akan direntangkan (?)’ ‘merentanglah keduanya’ ‘dibeberkan keduanya sekaligus’ ‘hanya tidak digerakan’ ‘seperti itulah’ ‘adapun perkara Miroj’ ‘sudah bulat hati burung garuda’ istu buleud hanteu kagigir hanteu katukang ‘sungguh bulat tidaklah ke pinggir ataupun ke belakang’ . Dalam syair karya Hamzah Fansuri. di antaranya ada tamsil burung yang digunakan untuk menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh di dalam mencapai kehakikian seperti contoh di bawah ini: Arasy Allah akan pangkalannya Habib Allah akan taulannya Bait Allah akan sangkurannya Menghadap Tuhan dengan sopannya Dalam WJU. tamsil burung (dengan istilah paksi) diguna-kan pula dalam rangka menggambarkan Munajat dan Tubadil/Tajalli. yang makna atau maksud sama dengan syair Hamzah Fansuri.anu asal seuneu tea nya hana getih beureum jadina anu asal angin tangtu nya getih koneng jadina ‘asal api’ ‘ya. ada darah merah’ ‘asal angin pun tentu’ ‘ya darah kuning muncul’ Ari anu asalna bumi nya getih hideung jadina ari anu asal cai eta teh nya getih bodas jadina ‘Adapun asal bumi’ ‘darah hitam jadinya’ ‘yang asalnya air’ ‘itulah darah putih’ 2) Dengan syair karya Hamzah Fansuri.

melainkan memiliki mata rantai dengan karya-karya ajaran tasawuf Sunda lainnya. 1983: x). yaitu dimensi esoterik Islam. melainkan . Teosofi Tasawuf yaitu Ilmu Ketuhanan Tasawuf. Diperkirakan dalam khasanah naskah Sunda ada pula karya sastra tasawuf dalam bentuk simbol. Imanensi dan Transendensi Dalam sastra kitab terdapat ke lompok naskah yang isinya dapat digolongkan ke dalam kelompok karya sastra mistik. teosofi. Menurut Burckhadt (1984: 17) para guru sufi memiliki mata rantai atau silsilah yang tidak terputus mulai dari Nabi Muhammad SAW. dapat disimpulkan bahwa ajaran yang disampaikan dalam WJU tidak berdiri sendiri. Dalam agama Islam porilaku religius seperti itu lazim di deskripsikan dengan istilah tasawuf (Kamus Purwadarminta.WJU/WMM/LMM membahas tentang ‘ada’. dengan i tilah ‘martabat s tujuh’. Pengertian mistik antara lain mengacu pada perilaku religius yang merupakan suatu tingkat t rtinggi dalam penghayatan rel gius yang disebut juga e i ‘gnosis’. Burchardt (1985: 15) memberikan batasan tentang tasawuf. (Burckhardt. 19984:20. WJU termasuk karya sastra yang menyajikan Teosofi Tasawuf. Yunus (1995: 6. yaitu imanensi dan transendensi. Pembahasan tentang ‘ada’ dimulai dengan pembahasan alam (lihat uraian selanjutnya). Haderanie. tt). Bertitik tolak dari penggolongan tersebut.7) membedakan tasawuf menjadi tarekat dan teosofi tasawuf. Insan Kamil dan Kami! Mukamil yang merupakan topik dari WJU dibahas pula oleh Abdul Karim al-Jili dengan judul Al Insan al-Kamil. karya-karya tasawuf Nusantara lainnya. berupa perenungan terhadap realitas ketuhanan. Dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang dikemukakan sebelumnya. dan ajaran tasawuf dunia. khasanah tulisan tasawuf Sunda dapat dibedakan ke dalam tiga jenis: teks golongan tarekat. Tarekat (tariqoh) yaitu “jalan” yang dilalui para sufi dalam berkomunikasi dengan Tuhan (tarekat bersifat amalan). ‘Martabat tujuh’ dibahas pula pada kitab yang disusun Sayid Abdul Karim Ibnu Ibrohim al-Jaelani. 1985). yaitu pengenalan tanpa lewat indra dan rasio (Suraharjo. dan karya yang mengungkapkan pengalaman batin sufi seperti karya -karya Kiai Haji Hasan Mustapa. Dalam doktrin religius ada dua paham yang berlawanan. Dalam tanya jawab “Jalan Kama’rifatan ka Allah Taala” (yang terdapat pada uraian LMM) dinyatakan bahwa ilmu itu berasal dari Nabi Muhammad SAW. Paham imanensi berpendapat bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia. Pembahasan tentang alam ini memperlihatkan kesamaan dengan karya-karya tasawuf Melayu.

1993). Tunggal-Na Wujud memiliki makna “Wujud” (ada hakiki). Sedangkan a. Dalam teks dikemukakan bahwa “Wujud” (ada hakiki atau ada baqa) yaitu be rsifat gaib. jamak. Adapun penjelasan-penjelasan mengenai Tunggal-Na Wujud ini terdapat pada teks seperti berikut: Ari ieu nu digurit Lalakon alam ayeuna Tina hal salira nu jadi poko ngawincik Nu Aya Dina Salira sangkan manah bisa terbuka terbuka Tunggal-Na Wujud dipapay ti memehna aya ‘Adapun gubahan ini’ ‘lelakon alam ini’ ‘mengenai diri manusia menjadi pokok (bahasan)’ ‘menguraikan Yang Terkandung Dalam Diri manusia’ ‘supaya pikiran terbuka’ ‘memahami tentang Tunggal-Nya Wujud’ ‘ditelusuri sejak (badan) belum ada’ Kemudian dinyatakan. Menurut Afifi (1975:37) imanensi (mushabbih) adalah paham yang memberikan atr ibut terhadap kualitas-kualitas Tuhan dengan menganal gkan-Nya dengan kualitas-kualitas o manusia serta wujud-wujud ciptaan lainnya. Ia satu (Haniah. Ia banyak. yaitu badan kasar/materi yang bersifat fana. Imanensi dalam WJU mengungkapkan tentang Tunggal-Na Wujud (Wujud-Nya Wujud). jika seseorang meyakini bahwa “Ada Hakiki” tidak “Tunggal” maka ia kafir. Pembahasan imanensi inilah yang membeda-kan karya sastra Teosofi Tasawuf dengan karya sastra kitab lainnya. Sedangkan transendensi (munazzih) berpendapat bahwa Tuhan berada di atas seg alanya. materi yang bisa diindra. Pembahasan tentang imanensi dan transendensi merupakan hal yang selalu hadir dalam karya-karya Teosofi Tasawuf. sifat-Nya tidak terhingga. Jika Muhammad H akeki pada manusia dipandang masing-masing sebagai . tunggal. Dalam realitas yang ditilik dari sudut pandang universal yang merupakan sudut pandang Tuhan. Istilah ini dalam WJU. Tuhan adalah keseluruhan yang ada. Pengertian “Wujud” dalam pembahasan ini sama dengan pengertian “Ada”. dikenai kematian. Pengertian secara penuh dari klausa tersebut adalah bahwa “Wujud/Ada” itu adalah “Tunggal”.hadir di dalamnya. yaitu “Muhammad Hakeki” yang bersifat “baqa” yang “Hayun Baqin’“ (hidup kekal) yang “ina lillahi waina ilaihai rajiun “ (berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya) dan ada hawadis. tidak bisa diindr baqa. dibedakan atas “Wujud” (ada hakiki) dan “Wujud” (ada fana). “Wujud” (ada hawadis) bersifat fana. Dalam WJU dinyatakan bahwa manusia terdiri dari keduanya. Dalam penampakan dari sudut manusia yang terbatas.

pendapat seperti itu dianggap kufur.jamak. manusia seperti sebilah bambu’ lebah dinya tacan kaharti bet aya rokrak kudu kawasan Saupami kitu mah dua hirup rokrak hirup Gusti ‘pada masalah itu belum diterima’ ‘mengapalah sebilah ningal bambu harus bisa melihat?’ ‘jika begitu dua’ ‘hidup (Hidup Hakiki) sebilah bambu (dan) hidup Tuhan’ rakana enggal ngajawab Rai. Pernyataan tersebut dalam WJU tertuang seperti di bawah ini: Kapan parantos kapega kapiheulaan ku Dalil Laa hawla wala kuwwata tea Ilaa Billahi Aliyul Adzim cenah geuning sundana dalil hanteu daya hanteu upaya. kitu nyasat la haola kawas rokrak t‘Bukankah (manusia) sudah terkena’ ‘terdahului oleh Dalil’ ‘Laa hawla wala kuwwata’ ‘Ilaa Billahi Aliyul Adzim’ ‘konon arti dalil tersebut begini’ ‘tak memiliki daya dan upaya’ ‘seolah-olah “La Hawla”. ulah salah harti Urang soteh ceuk nu hirup ‘kakaknya cepat menjawab’ ‘Dinda jangan salah mengerti’ “kita” menurut Orang Yang Hidup’ (Maksudnya Muhammad Hakeki yan g terbungkus badan atau Muhamm ad Majaji/manusia hidup yang selalu menghadir-kan Tuhan dalam dirinya) Hurip nyaeta Nu Disebut Hirup Hirup teh nyaeta Cahaya ‘Hurip adalah Hidup’ ‘Hidup yaitu Cahaya’ Cahaya Padang Muhammad Hakeki ‘Cahaya Benderang Muhammad Hakeki’ Hirup teh nya Rasa Rasulullah Rasullah teh di mana naha kumaha ari mamanahan Rai upama nunjuk ka Mekah peuntas atuh meureun ka jabariyahi upama nuduh ka hawadis ‘Hidup yaitu Rasa Rasulullahi’ ‘Rasulullah di mana’ ‘Bagaimanakah pikiran Dinda’ ‘jika kita menunjuk ke Mekah diseberangsana’ ‘barangkali menunjukkan jabariyahi’ ‘jika menunjukkan hawadis (makhluk)’ atuh meureun ka wujudiyah tangtuna ‘jelaslah (menunjuk) ke Wujudiyah’ cenah euweuh Allah aala kapungkur ngarana ‘katanya meni-Ada-kan Allah .

Alam yang berhubungan dengan penciptaan manusia terbagi dalam tujuh periode.bilahil aliyyil adzhiim (tidak memiliki daya apapun kecuali atas pertolongan Allah Ta’ala). Juga ada dalil yang menyatakan: ruyatullahi Ta’ala fiddunya biainil qolbi. Menurut hadis yang berbunyi waman arofa nafsahu faqod arofa Rabbahu. ruyaiullahi ta’ala bilakhirati biainil arsi (di dunia. maka (menyadari) dirinya bodoh. Manusia dapat melihat Allah dengan mata hati/Rflsa Rasulullahi/Muhammad Hakeki. alam misal.Taala namanya kufur’ cenah aya Allah Taala kapir kade bisi nyorang kupur kapir tea ‘meng-Ada-kan Allah Taala kafir ‘berhati-hati janganlah menimbulkan kekupur-kafiran’ 1) Penciptaan Manusia Pembahasan berbagai masalah dalam WJU berpangkal pada hadis yang berbunyi awaludin marifatullah (perilaku awal dalam memahami agama yaitu mengetahui dzat Allah). Manusia dapat mengetahui badan rohani secara jelas jika ia menghilangkan (kesadaran akan) badan jasmaninya (isbat napi). Dzat Allah laisa kamistlihi (tak berwujud/tak bisa diindra dan tak bisa diumpamakan apapun) Untuk memahami dzat Allah haus . Adanya rasa Rasulullahi pada manusia adalah atas rahmat Tuhan. karena itu dzat laisa kamistlihi dan manusia itu sendiri laa hawla walaa quwwata ila bilahil aliyyil adzhiim. di akh irat Allah tak terhalang apapu sebab sudah menyatu). Jika manusia mengetahui Allah. r memahami diri sendiri terlebih dahulu. Alam ahdiyat yaitu alam gaib. maka akan mengetahui Tuhannya. Kemudian Tuhan menyinarkan nur yang bersifat gaib bernama Nurullah/Wahdat/Rasa Rasulullah/ Muhammad Hakeki/Hakekat Hirup (hakikat hidup)/Rasa Allah/ sajatining iman (inti ilmu)/sajatining hirup (inti hidup)/sajatining ilmu . alam ajsam. siapakah yang harus melihat. manusia melihat Allah dengan mata hati. waman arofa Robbahu faqod jahillan nafsahu (siapa yang mengetahui dirinya. alam wahdat. yaitu alam ahadiyat. alam arwah. hawaun. turobun dan maun. alam insan kamil dan alammukamil. siapa yang mengetahui Tuhannya maka dirinya bodoh). Untuk mengetahui dzat Allah bebeda dengan mengetahui hawadi (sifat baru/yang r s diciptakan Tuhan/yang dapat diindra/makhluk). n Kemudian pembahasan memunculkan pertanyaan. bukankah manusia itu laa hawla walaa quwwata ila. Hadis lain berbunyi: ila anna awwala nafsah fardu ain (manusia wajib mengetahui Sifat hirup/hakikat dirinya dengan jelas). Muhammad Hakeki yaitu badan rohani yang terdiri dari narun. belum ada ‘wujud’ ciptaan-Nya. alam luahidiyat. Pengertian Muhammad Hakeki terungkap dalam proses penciptaan manusia yang dipaparkan dalam pembahasan alam.

yaitu Allah ‘tidak sama dengan makhluk’. pada manusia rupa dan perangainya setiap orang berlainan. Istilahnur dapat disejajarkan dengan istilah dari Nurcholis Madjid mengenai “inti kedirian” atau “nurani”. Setelah beru 14/15 tahun manusia h sia menjalani alam misal. menjadikan ciptaan-Nya. Kamil mukamil (paling sempurna) adalah martabat paling tinggi yang dicapai oleh manusia. Kemudian tercipta-lah alam semesta dan manusia. e.(inti fimu)/badan rohani. pada manusia lahir tanpa kemauan ayah dan ibu. yakni yang mencapai martabat insan yang kamil. Sementara sifat maani yang terdapat pada tujuh buah lekukan telinga terdiri dari sifat: Ilmu dan Hayat (Hayyat).. b) B aqa. yaitu Allah ‘ada’. Dari alam arwa lahir ke dunia. Hanya manusia yang satuhu (taat kepada-Nya) yang bisa kembali kepada-Nya. yaitu Allah ‘kuasa’. bersifat cahaya (cahaya yang bersifat gaib dalam WJU). Menurut Nurcholis Madjid. Adapun sifat salbiah yang terdapat pada lima bagian mata. Muhammad Hakeki menyinarkan cahaya turobun (inti tanah). dalam Kuliah Ramadhan di RCT1. Tuhan menghendaki supaya Muhammad Hakeki ny ata. maun (inti air) dan narun (inti api). Manusia hidup karena ada nafas. hawaun (inti udara). d) Wahdaniat . sementara manusia hanya mampu berkehendak kemudian ia harus bekerja. pada manusia Muhammad Hakeki lebih dulu dari hawadis. Alam ahadiat lenyap berganti dengan alam wahdat. “inti kedirian” atau “nurani” adalah “modal pertama dari Tuhan. Sifat wujud pada manusia ialah nafas yang keluar masuk dari lubang hidung. Irodat (Iradhat). manusia mendapat emanasi “sifat dua puluh”.. sementara manusia mampu membuat segala sesuatu dengan alat. 2) Manusia Menjadi Khalifah Allah di Dunia Sebagai khalifah.5 Januari 2000. terdiri dari lima sifat: a) Kidam (Qidam). Kudrot(Qudrot). yaitu nafsiah salbiah. tanpa alat. pada manusia sajatining hirup/sajatining iman/Muhammad Hakeki. Muholafatulilhawadisi (Mukhalafatutilhawaditsi). yaitu Allah ‘lebih dahulu’. Ada-Nya Allah harus terasa oleh rasa Kasulullahi manusia. yaitu ‘Allah-itu hidup oleh sendiri Nya’. yaitu . Berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kewajiban paling utama manusia adalah harus berusaha untuk kembali kepada-Nya. Keberadaan-Nya terbungkus oleh Muhammad Hakeki. c) Kiyamuhubinafsihi (Qiyamuhubinafsihi). Wujud manusia berupa Muhammad Hakeki yang terbungkus oleh raga/badan yang dapat diindra disebut Muhammad Majaji. Inna lillahi wainna ilaihi rooji’un. Dalam alam ini manusia dibebani kewajiban. maani dan manawiyah. yaitu Allah ‘kekal’. Nafsiah adalah sifat wujud. Kemudian manusia masuk ke alam arwah selama sembilan bulan. yaitu Allah ‘berkehendak’ langsung jadi. berupa nurulllah. Sifat dua puluh pada Tuhan yang terpencar pada manusia dikelompokkan dalam empat bagian. Alam ini disebut alam wahadiat.

Kemampuan itu bukanlah kekuatan tangan itu sendiri. Samian (Sami’an). terdiri dari tujuh sifat sisanya. Sama dan Basor (Bashar). Sifat Muridan yang dianugerahkan kepada manusia. Muridan. disebutkan berulang-ulang sepanjang teks seperti di bawah ini: Eta teh kudu kaharti Atawa sing karasa nyata Sebab Allah Ta’ala tea Cek dnlilna Dzat Laesa tea Kamistlihi lajengna mah ‘itu harus dipahami’ ‘atau harus terasa nyata’ ‘sebab Allah Ta’ala’ ‘kata dalil Dzat Laisa’ ‘Kamistlihi lanjutannya’ Dzat Yang Agung teh teu ngawujud ‘Dzat Yang Agung tidak berwujud’ henteu aya keur ngupaya tah kitu Rai hartina bisi teu acan mangarti lain urang ceuk nu anyar nu anyar teh hawadis anu anu anyar moal ningali ‘tak ada sesuatu pun untuk dijadikan perumpamaannya’ ‘Nah begitulah Dinda’ ‘kalau belum paham’ ‘bukan “kita” kata yang bersifat Baruan/mahluk’ ‘yang berifat baruan “hawadis” yang Terbukti “wujud” ‘yang bersifat baruan tidak dapat melihat . “Ketahuilah betul-betul hidupmu. Af’ral jasmani tersebut bukanlah perilaku dari bagian jasmani semata. Basar Kolam menjadi satu seperti sungai. untuk bisa kembali kepada-Nya. Allah berkehendak. Allah hidup. Sifat Manawiyah terdapat dalam mulut. Allah kuasa. Basiron (Bashiran) dan Mutakaliman (Mutakalliman). mengetahui. Allah bersabda. pada manusia yaitu sifat cah aya yang terang benderang dalam kegaiban/ sajatining iman/sajatining caang. ma’ani. Tuhan Somesta Alam mewajibkan manusia untuk mengetahui. Sementara unsur transendensi diny atakan secara ek splisit. Allah bersabda. harus berusaha mencari. Tujuh sifat manawiyah terdapat pada badan jasmani manusia. melihat Alam Lahut/Muhammad Hakeki. pada manusia berupa kemampuan mengangkat tangan. Allah mendengar. sifat Kodiran (Qodiran) dan Muridan. Allah mengetahui.‘menjadi satu’. Aliman yaitu pengetahuan. Manusia harus benar pada nafsiah. dan ma’nawiyah. Allah melihat. sesungguhnya hidupmu berada pada pendengaran dan penglihatan-Ku”. Haliman. berada dalam badan rohani. y aitu Allah ‘mendengar dan melihat’ tanpa telinga dan mata. melainkan pada hakikatnya merupakan hasil perbuatan badan rohani juga. pada manusia mendengar dan melihat dengan kegaiban yang ada pada dirinya. Ketiga belas sifat tersebut. salbiah. melainkan timbul dari badan rohani. Sebagai contoh. mata dan telinga. Guru manusia yaitu sifat yang terdapat pada hidung. yaitu Kodiran (Qodiran). Hayan (Hayyan).

bahkan mempotes ikan diri untuk mencapai-Nya pun atas rahman Tuhan (tajali Tuhan). Pikiran yang sejalan dengan perenungan tersebut disampaikan oleh Ibnu al-Arabi dalam Fusiisu’I Hikam: Bila engkau monyatakan transendensi (murni) engkau batasi Tuhan. yang kekal. bukan’ ‘sesungguhnya Yang Gaiblah’ ‘melihat Kehakikian Hidup’ ‘yaitu Ahadiyat’ ‘disebut Yang Tidak Ada Sesuatu’ ‘Untuk Mengumpamakan-Nya’ Kesimpulan dari masalah transendensi dan imanensi tersebut di atas adalah bahwa ajaran tasawuf yang terdapat d alam WJU bukanlah panteisme ya hanya menganut ng imanensi. itulah Yang Kuasa’ Lain sipat anu anyar atawa sipat hawadis Anu Tiasa Awas Ningal kana Sipat Hirup teh lain seleresna mah Anu Goib ningali kana Sipat Hirup nyaeta Ahadiat tea anu disebut Dzat Teu Aya keur Ngupamana ‘Bukanlah yang bersifat baruan’ ‘atau sifat hawadis’ ‘Yang Mampu Melihat Jelas’ ‘kepada Kehakikian Hidup. Dalam WJU memang ter apat pandangan bahwa dalam se d tiap diri manusia terdapat nurullah yang suci. .(Yang Melihat) jelas’ tangtu Gusti anu leuwih weruh anu Dzat Laesa tea Dzat Laesa Kamitslihi Nyaeta Ahadiat Wahdat nyata Paingan atuh disebutnya anu geus terang ka Maha Suci disebut bodo dirina nya atuh paingan teuing La haola teh penning yakin bener Gusli teh Anu Agung anu Dzat Laesa tea Nu Teu Owah Nu Teu Gingsir Anu Daya Anu Upaya teh Kawasa ‘Allah Yang Maha Tahu’ ‘itulah Dzat Laesa’ ‘Dzat Laesa Kamitslihi’ ‘yaitu Ahadiat Wahdat’ ‘Benarlah dikatakan hadis. Tuhaii Yang Maha Agung’ ‘yang dinamakan Dzat Laesa’ ‘Yang Tidak Terkena Perubahan’ ‘pemilik Kekuatan dan Pemilik Kemampuan Berbuat. Namun WJU juga menganut paham transendensi yang menekankan bahwa manusia tak akan mampu mencapai keberadaan Tuhan secara mutlak. yang harus dipotensikan untuk kembali kepada-Nya. bahwa’ ‘yang sudah mengetahui kepada Yang Maha Suci’ ‘disebut bodoh’ ‘pantaslah’ ‘Laa hawla diyakinibetul’ ‘benarlah.

yang menekankan bahwa tujuan penyair yaitu memberikan . Firth. al qarib al-baid. dikontrol dan diprediksi oleh lingkungan (dalam Garna. bersumber dari Al-Quran Surat al-Baqarah ayat 115: Waiillahi mastriqu wamagribufaainama tuwallu pastamma wajhullahi (Timu dan Barat adalah r kepunyaan Allah. 1992). Adapun pengertian wujud i u tunggal diperoleh dari t naskah-naskah lainnya. bukan rupa. yang dapat mengontrol dan mempertajam tingkah laku manusia. akal budi dan tutur bahasa. Allah lebih dekat dari tenggorokan). 1995:40). Sejak zaman dahulu karya sastra sudah menjadi bahan perbincangan: apakah sastra memiliki fungsi bagi kehidupan manusia atau tidak? Pendapat-pendapat yang mengacu ke arah itu antara lain. oleh karena itu Dia disifati al-dharir al bhatin. bukan anggota. Horatius pada tahun ke-14 S. tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Manusia sebagai homo sapiens dengan akalnya mampu membenahi diri. atau memperbaiki kesejahteraan. dengan demikian Dia sanga tercegah dari segala kejadia yang t n menyerupainya dan menyamai-Nya. sebab ke mana kamu meng-hadapkan-mukamu maka di sanalah wajah Allah. Lebih luas lagi yaitu sebagai unsur pemilik keadaan bumi dan pembentuk pribadi sendiri. bukan pribadi (person). Dia nyata dalam ketidaknyataan-Nya. tindakan-tindakan manusia dapat dipertajam. Baik orang biadab maupun orang beradab mengubah keadaan alamnya (19966:45). bukan benda. bukan bentuk. dkk. dapat menerima ide-ide. dan Dia e a nampak (zahir) di dalam keters embunyian-Nya. pengeksisan idealisme. melainkan sebagai ageomorphologic agent. Tapi bila en gkau nyatakan kedua hal itu. tidak tergabung tidak terpisah. bukan bagian. Manusia dengan perlengkapan logon ekhon. dan engkau pemimpin dan penguasa dalam keyakinan (dalam Afifi. bukan unsur.bila engkau nyatakan imanensi (murni) engkau mendefinisikan Tuhan.M. Dia tersembunyi di al m kenyataan-Nya. pengungkapan cita-cita. dan dapat menerima ide manusia lain. ia juga dapat mempertajam apa-apa yang ingin dicapainya dan mengontrol apa-apa yang ingin ia hindari. tidak terpengaruh masa atau zaman. mengemukakan bahwa ahli-ahli ilmu bumi dan antropologi melihat manusia bukan sebagai makhluk yang tunduk/dikuasai oleh alam. Sastra merupakan hasil cipta. Dengan logon ekhon-nya manusia dapat menata dan mengendalikan roda ke arah masyarakat madani. pengurahan diri. tidak dapat diraba oleh pancaindra. Menurut Kalabadzi (1995). Dari keterangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungannya. tidak tinggal pada satu arah atau tempat. menghindari homo homini lupus (memangsa sesama manusia). realitas Tuhan adalah sebagai berikut: Dia bukan badan (jisim). engkau mengikuti jalan yang benar. dan tidak terlihat ol h mata. Menurut Learning Theory. tidak tertutup oleh tirai penutup. membenahi lingkungan. artinya Dia sangat dekat di dalam kejauhan-Nya.

Fungsi-fungsi yang akan diuraikan pada nomor selanjutnya berpusat pada masalah Tunggal-Nya Wujud (Tunggal-Nya Allah). mulih kajati mulang ka asal. 1984:220). yang dapat diindra. inna lillahi wainna illaihi rojiun. 1984: Bab VI. Dengan demikian. “art” masih dijunjung tinggi sebagai “yang menjadikan orang lebih manusiawi” (Hartoko. dengan melalui pemahaman yang jelas. melalui penerobosan gejala-gejala yang dapat diindra. 1983: 16). dan mengarahkan ke tujuan manusia paling lop yaitu membimbing manusia meraih the ultimate reality atau hakikat kenyataan. pada konsep “Ada” yang memerlukan penghayatan mendalam. Pembahasan tentang realitas . Fungsi seni begitu tinggi. ajaran yang cukup muskil. Misalnya di negara-negara berbahasa Inggris. asal dari Allah dan kembali kepada Allah. seperti di bawah ini: Sim kuring diajar ngagurit lalakon Alam ayeuna tina Hal salira nu jadi pokok sangkan manah bisa terbuka terbuka Tunggalna Wujud dipapay ti memehna aya ‘Hamba belajar menggubah’ ‘perihal Alam (mikrokosmos) kini’ ‘tentang badan yang menjadi pokok bahasan’ ‘agar pikiran jadi terbuka’ ‘memahami tentang Tunggal-Nya Yang Ada’ ‘ditelusuri sejak (badan) belum ada’ . Ketiga.utile dan dulce.. Ajaran disajikan secara sistematis. menjadi ajaran yang relatif dapat dicerna. kemudian penerobosan ke alam gaib. alam setelah wujud manusia terbentuk secara lahiriyah yaitu Zaman Kun Mutlak. nikmat dan manfaat (Teeuw.ketuhanan yang disajikan dalam WJU dalam garis besarnya menekankan. pertama. pengarahan manusia ke arah sifat manusiawi bukan tentang hakikat manusia. Dengan kat lain dari ‘Ada’ yang a sederhana. Hal-hal yang dapat disimak dari WJU secara garis besar adalah sebagai berikut: 1) Memberikan pengertian tentang Tunggal-Nya. VII). Lebih lagi dalam WJU. Tentang Tunggal Nya Allah merupakan tujuan dari penggubahan karya ini. yaitu dapat membimbing jiwa manusia ke arah yang lebih manusiawi. Para ahli kemudi n menyetujui pernyataan a tersebut. Pembahasan ini menimbulk an kesadaran yang sedalam -dalamnya mengenai kebesaran dan kekuasaan Allah. Kemudian abad ke-4 S. alam Ahadiayat/Allah yang ada sendiri-Nya/Alam Gaib/Dzat Laisa Kamitslilii/Zainun Kun Dzat.M. Adapun tujuan pokok tersebut diungkapkan pada pembukaan. Aristoteles mengemukakan bahwa seni dapat menyucikan jiwa ma usia lewat proses n katharsis atau penyucian (Teeuw. Ajaran dalam WJU sangat kompleks.Yang Ada (Yang Ada Hakiki/Tunggal-Nya Allah). Kedua alam proses penciptaan manusia (Zaman Kun Fayak).

yang ditinggikan dari makhluk lain. Salat dikerjakan karena ada naluri. seperti yang ditekankan pada hadis yang berbunyi: Waman arofa nafsahu. Menyadarkan untuk melupakan urusan n . mulut. menjaga kesucian hidung. g) Menumbuhkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan kepada manusia.Nepi ka aya bukti tina teu aya kana aya geus aya jadi cekcok nyorang kana karamean ngalaman di dunya ayeuna bade diatur urang tetek ti asal-Na ‘Sampai kepada bukti’ ‘dari tidak ada menjadi ada’ ‘sudah ada ramai berkata-kata’ ‘mengalami keramayan’ ‘mengalami (hidup) di alam dunia’ ‘sekarang akan dibahas’ ‘marilah (kita) uraikan dari asal-Nya’ 2) Memberikan pemahaman tentang ma’rifat kupada Allah.). hawaun ruku. pengampun. f) Menyadari dan menumbuhkan rasa syukur sedalamdalamnya bahwa manusia dianugerahi sifat ilmu dan sifat ilmu itu merupakan power. e) Menimbulkan kesadaran untuk menjaga kesucian Allah. dst. da maun duduk. b) Memberikan kesadaran pada manusia. mendoron untuk terus menerus g mencari ilmu. d) Menumbuhkan semangat untuk mengembangkan kemampuan anugerah dari Allah seoptimal mungkin. bahwa dirinya mengemban tugas untuk mendekatkan dirinya dengan “sifat-sifat Allah” (antara lain: pengasih. serta berusaha meninggikan martabatnya seoptimal mungkin atas anugerah tersebut. karena bagian tersebut men dapat emanasi dari “sifat dua puluh” Allah. Perilaku beragama yang paling awal adalah mengenal Alah seperti tercantum dalam da yang berbunyi: Awaludin l lil marifatullah. dengan demikian manusia dibatasi oleh keterbatasan. manusia harus memahami diri sendiri. c) Memberikan kesadaran yang sedalamdalamnya bahwa kemampuan manusia hanyalah Rahmat Allah. Untuk mengetahui Allah. penyayang. Dengan kesadaran manusia bahwa dirinya mendapat anugerah sifat ilmu. telinga. fakod arofa Robbahu. 4) Menyadarkan bahwa manusia memiliki tugas penting dalam peribadatan yaitu salat. yaitu Dzat yang tidak dapat diumpamakan oleh apapun. menimbulkan kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa diri manusia sebagai khalifah Allah memiliki kemampuan berupa pancaran (emanasi) dari “sifat dua puluh” Allah. turobun sujud. hawaun turobun dan maun pada manusia. Dzat Allah (Dzat Laisa Kamitslihi). mata. 3) Pembahasan “sifat dua puluh” memiliki fungsi-fungsi yang cukup luas sebagai berikut: a) Membangkitkan kesadaran sebagai khalifah Allah di dunia. Narun berdiri. tapi juga harus menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan apapun.

Oleh karena itu manusia bergantung pada Dia. kemudian menggantinya dengan badan rohani (Isbat Napi) seperti keberadaan Allah. t s Renungan filsafat yang terdapa pada WJU mengarahkan kesadar n pada jiwa yang t a optimistis. 8) Menumbuhkan kesadaran manusia bahwa dirinya dibatasi oleh keterbatasan. yaitu dengan mengenli “sifat dua puluh a ”-Nya. faqod arofa robbahu waman arofa robbahu. 11) WJU mengandung renungan -renungan filsafat yang tinggi. Rahman yaitu kasih sayang Allah untuk kehidupan dunia dan rahim yaitu kasih sayang Allah untuk kehidupan akhirat nanti. 5) Mengingatkan kepada manusia bahwa dirinya harus mendekatkan diri/melihat Allah secara kekal. Ada hadis yang berbunyi: Man arofa nafsahu. Allah memiliki sifat rahman ra him bagi manusia.faqod jahillan nafsahu (manusia yang mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya. 6) Pembahasan tentang proses penciptaan alam memberikan pemahaman mengenai ‘kejadian manusia’ supaya manusia memahami dirinya dan mengerti tugas apa yang diemban oleh dirinya. Dzat Laisa Kamitslihi. manusia yang mengetahui Tuhan-nya maka dirinya bodoh).jasmani ketika sembahyang. Menurut WJU. 7) Mengingatkan bahwa untuk mengetahui Muhammad Hakeki/ badan rohani supaya menjadi tajali kepada Allah dan ‘wajib’ berguru kepada guru mursid. “Ada” tetapi “Tidak Wujud” (tidak bisa diindra). 10) Menimbulkan kesadaran kepada manusia terhadap sifat rahman dan rahim Allah. hawaun. Manusia melihat Allah (ketika di dunia) dengan mata hati. namun ter atas karena Dzat Allah. dengan petunjuk dari guru mursid. Inna lillahi winna ilaihi rojiun. Bahasan di atas tidak dikelompokkan ke dalam filsafa metafisika sebab bahasan ter ebut termasuk ajaran. untuk tetap suci yaitu diisi dengan asma Allah supaya dirinya bisa kembali kepada-Nya. Pandangan demikian . narun. Manusia y ang mengetahui dirinya yaitu mengetahui Adam Hakeki dalam dirinya dan selamanya harus selalu menghadap/ melihat/ menyebut asma Allah. 9) Dalil bahwa diri manusia selalu ada dalam penglihatan-Nya yang melekat pada diri manusia menumbuhkan kesadaran pada manusia untuk menjaga diri pada tempat turobun. Pencapaian manusia baik untuk dunia maupun untuk akhirat tergantung dari kehendak manusia itu sendiri. maun. Manusia dapat melihat Allah dengan badan rohani. Tuhan telah membagikan rahman rahim kepada manusia dalam ukuran yang sama. manusia adalah sebagai penentu dirinya (self determining reality) baik untuk kehidupan masa kini maupun untuk kehidupan setelah kematian. serta b manusia terkena dalil laa hawla wala kuwwata ilia bilahil aliyyil adzim. Menyadarkan manusia untuk bekerja keras menuju pencapaian ter ingginya di t kehidupan akhir yang kekal setelah kematian. yakni berupa pengliha tan Muhammad Hakeki.

akan melahirkan . manusia akan didalangi oleh “ajal”. Permata berharga yang mengantar kita kepada kesejahteraan dunia tanpa ujung ini sering kita sisihkan dari pandangan karena kita terikat oleh rutinitas dalam pengejaran sebutir tanah. bahkan mungkin akan menimbulkan penolakan. Namun dalam WJU tersimpan permata-permata indah yang menggugah k esadaran kita untuk tidak sang terikat oleh at kefanaan. Penutup Hal mendasar yang dapat disimak dari WJU adalah b ahwa tujuan manusia yang paling utama kembali kepada-Nya. be rsabar. 14) Menyadarkan manusia untuk mencari rizki yang halal. maun dan turobun azali yang suci yang ada di dalam tubuh rohani Makanan yang tidak diridhoi Allah. tidak frustrasi jika menemu kegagalan. pada setiap hembusa nafas. H.menyadarkan manusia untuk tidak takabur baik dalam keduniawi n maupun peribadatan a untuk mencapai dunia kulak. De ngan demikian WJU menetapkan pijakan yang kokoh dalam kehidupan. turunan yang tidak diharapkan. Teriring permohonan yang sanga emosional.[] Kepustakaan Aceh. Ajaran yang terkandung dalam WJU ini mungkin tidak dikenal lagi oleh masyarakat masa kini. karena i manusia laa hawla wal kuwwata ila billahi atiyyil adziim. Abubakar. karena mani yang akan meregenarasi kehidupan berasal dari makanan. sepanj n ang pendengaran dan penglihatan. semoga Tuhan mengnugerahi t a pemimpin-pemimpin yang mengaktualisasikan potensi rasa Rasulullahi nya agar bangsa Indonesia segera keluar dari badai krisis yang dahsyat ini. setiap ucapan. Persoalan duniawi merupakan ketidakpastian. Amin. liawaun. Persoalan yang jelas pasti. . Pencapaiannya tergantung pada dirinya dalam mengaktualisasikan potensi Rasa Rasulluhi-Rahman dari Allah. yaitu menghadirkan Allah dalam mata hati. 12) Setiap manusia berkewajiban menghargai sesamanya. siapa pun “adanya” karena dalam setiap diri manusia terdapat 13) Menempatkan terminal akhir dari perjalanan hidup di tempat paling utama. karena jika rizki yang tidak diridhoi Allah akan tidak sesuai dengan narun.

Suatu Pendekatan Filologis. Sent Vocal. Edisi Pertama Bandung: Penerbit Mizan.H. Great Britain: The Aquarian Press. isi Buinessen. Edisi ketujuh. Wellingborough. Afifi. Oman 1999 Tanbih Al-Masyi. Ecole Francaise d’Extreme-Orient. Menyoal Wahdatul Wujud. : Darusuprapto. Gaya Media Pratama. 1979. Bintang Pelajar. Bandung: Penerbit Mizan. Misbah Zainul Musthofa. A. Musik & Tari. Ed kedua. Al. 1995 Filsafat Mistis Ibnu Arabi. Disunting oleh K. Edisi keempat. Edisi ketiga. . Abdurrahman 1995 Seni dalam Pandangan Islam. Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.V. Ahmad Fuad 1995 Filsafat Islam. Ekadjati. Jakarta Duma Pustaka Jaya. Fathurahman. Edisi kedua. Diterjemahkan dan penyunting oleh Sutardji Calzoum Bachri. Jakarta: Gema Insan Press. Titus 1984 Efendi Mengenal Ajaran Kaum Sufi. Djamaris. Second Impression . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Edi S. Daerah Istimewa Yogyakarta. Edisi Pertama. dkk.Baghdadi. Alghazali. dalam Buku Bahasa Sastra Budaya. 1988 Naskah Sunda. Edwar 1990 Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). Diterjemahkan oleh Sjahrir Mawi dan Nandi Rahman dari buku: A Mistical Philosofy of Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Bandung: Lembaga penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Al-Ahwani. Ihya Ulumuddin. Martin van 1995 Tarekat Naqsyabandiyah Di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Diterjemahkan oleh Azyumardi Azra dan Bachtiar dari buku: An Introduction to Sufi Doctri ne. 1991. H. Solo: Ramadhani. Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. Siti Baroroh 1985 Perkembangan Ilmu Tasawuf di Indonesia. Jakarta: PT. Jakarta: Pustaka Firdaus. Baried. 1990 Ajaran Moral dalam Susastra Suluk.1995 Pengantar Ilmu Hakikat & Marifat.E. Jakarta: Balai Pustaka. Tanpa kota: C. Imam tt. Inventarisasi dan Pendataan. Burckhardt. 1981.

1900 Dari Emperium Sampai Imperium. Ma ‘rifat.Press). Mentalitas dan Pembangunan.Ruhiyah. Micholson. 1998 Wawacan Jaka Ula Jaka Uli: Kajian Filologis. Edisi Kedua. Bandung: Penerbit Mizan. t. editing oleh AhsinMuhamad dari Buku: Al . Mukasyafah dan Muhabbah.Tashawwuf. Kartodirdjo. Lubis. Kairo: Maktaba Kulliyatu Uzhiriyyah. . 1980.I. Dick 1993 Manusia dan Seni. K. Edisi ketujuh.. Musyahadah. Hadi W. Edisi keempat. Abdul 1995 Haniah 1993 “Mistik Jawa Traditional Dalam Suluk Malang Sumirang” Suatu Kajian Filosofis Hamzah Famuri: Risalah Tasawufdan Puisi-Puisinya. Kalabadzi. Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (U.t. Sa’id 1996 Jalan Ruhani. Jilid I. Bandung: Penerbit Mizan. Bunga Rampai.Ta ‘arrufhMadzab AM at. Abu Bakar Muhammad al1995 Ajaran .M. Harun 1986 Teologi Islam. Amin. Diterbitkan kerjasama Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Ecole Francaise d’ Extreme . dan Ibnu Thaha AH dari buku: Tarbiyatunar .V.Haderanie H. Bandung. Diterjemahkan oleh Khairul Rafie’ M. Nabilah 1996 Syekh Yusuf Al-Taj Al Makasari: Menyingkap Intisari Segala Rahasia.Ajaran Sufi. Hartoko. .T. Mesir: Danis Salam.. (4 M) Surabaya: C. Hawwa. Diterjemahkan oleh Nasir Yusuf.Bandung: Penerbit Mizan. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: P.N. Reynold A. Ilmu Ketuhanan. Penerbit Pustaka.H. 1983. Nasution. Yogyakarta: Kanisius. Sartono 1992 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500. Koentjaraningrat 1983 Kebudayaan. Edisi Pertama. Gramedia. Disertasi. dalam Majalah Lembaran Sastra Universitas Indonesia tanggal 19Februari 1993. Edisi Kesepuluh.

Diterjemahkan oleh Rachmat Djoko Pradopo dan penyunting oleh Imran T. Y. A. Peursen.12 Januari 1991. van 1980 Orientasi di Alam Filsafat. Jakarta: Pradnya Paramita. Edisi kedua. Nomor Khusus. Tanggal 12 Januari 1991. tgl. SerilNIS XXIV Jakarta: Indonesian . Jakarta: Gramedia. 1983 Mistisisme. Sulastin 1981 Relevansi Studi Filologi. Nomor Khusus. A. A. Edisi Pertama. Edisi ketiga. Purwakdaksi.Netherlands Cooperation in Islamic Studies (IMS). dalam Majalah Lembaran Sastra “Naskah dan Kita”. Yunus. Surahardjo. 1977. Zahari. Selden. 1991 “Unsur Tasauf Islam dalam naskah Melayu Klasik”. . Jakarta: Gramedia.M.. Partini 1992 Pengantar Pengkajian Sastra. 1985 Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Diterjemahkan oleh Sutejo. Diterjemahkan oleh Dicek Hartoko dari buku: Filosofische Onentatie. Sardjono-Pr. editing Al Haj Sutarji Calzoum Bachri dari buku: Rumi Poet andMistics.1993 Ajaran dan Pengalaman Sufi/Jalaluddin Rumi. Teeuw. Abd. Subadio. Haryati 1991 Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu.P. Raman 1993 Panduan Pembaca teori sastra Masa kini. C. Bandung: Yayasan Pustaka Wina. Adullah dari buku A Reader Guide To : Contemporary Literary Theory. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Rahim 1995 Posisi Tasawuf Dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19. Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa Edisi kedua. dalam Majalah Lembaran Sastra Khusus “Naskah dan Kita “. Sutrisno. 1983 Membaca dan Menilai Sastra. (Ed). Yogyakarta: Liberty. Jakarta: Pustaka Firdaus. Simuh 1996 Sufisme Jawa.A. . Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Filologi pada Fakultas Sastra dan K ebudayaan Universitas Gadjah M ada.V.

1977 Sejarah dan A dat Fiy Darul Butuni (Buton). Aart van 1990 Fiksi dan Nonflksi dalam Kajian Semiologi. Jakarta: Intermasa . Zoest. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful