Wawacan Tasawuf Sunda

LAPORAN PENELITIAN

WAWACAN JAKA ULA JAKA ULI SEBAGAI KARYA SASTRA TASAWUF SUNDA

Oleh: Kalsum

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS PADJADJARAN 2001

PRAKATA

Wawacan Jaka Ula Jaka Uli seba gai Karya Sastra Tasawuf Sunda. Wawacan ini merupakan judul mula yang kemudian dalam perjalanan transmisi (penyalinan) berjudul Wawacan Jasadiah, Wawacan Muslimin Muslimat, Layang Muslimin Muslimat yang sudah dicetak. Tentu dalam perjalanannya mengalami perombakan besar-besaran, tentu sangat perlu memunculkan bagaimana isi dalam tipe mula, karena dalam perjalanan keagamaan terjadi pelesapan hal-hal yang penting, umpamanya mengenai Sifat Dua Puluh Tuhan. Makalah ini relatif membahas s ecara keseluruhan yang bersumber dari teks tipe mula. Tulisan ini diterbitkan dalam Jurnal Kebudayaan Sunda Dangiang yang didukung oleh The Japan Foundation pada judul Lonceng Kematian Bahasa Sunda Edisi HI/2002. Bandung, 10 Agustus 2008

Naskah WJU dan WMM ditemukan di daerah seputar Kabupaten Bandung. yaitu teks yang tertulis dalam naskah yang berjudul WJU. Dalam rentang yang cukup panjang tersebut ada sejumlah nilai keagamaan yang hilang. Menurut berita. LMM penyebarannya lebih luas lagi. awal Islamisasi. dan perkembangannya kemudian sampai ke zaman yang dapat kita saksikan sekarang ini. 1995). 1991:1). Hederanie. WJU merupakan sastra kitab yan sepenuhnya menyajikan ajaran. dan tidak mustahil pula muncul nilai-nilai baru. Teks yang memiliki bentuk muka. terutama bila ke saksian tangan pertama. Lubis. 19H5. Hadi. yang disusun oleh bangsa yang bersangkutan dalam masa hidupnya sendiri” (Soebadio. naskah WMM terdapat pula di daerah Ciamis dan Cirebon. judul yang dikenal oleh m asyarakat. Ternyata WUJ. 1996. WMM dan LMM merupakan varian teks yang berasal dari naskah otograf (naskah asli yang ditulis oleh pengarang) yang sama.. Naskah merupakan dokumentasi yang penting dalam rangka penelusuran hal ini. Adanya unsur g cerita dalam WJU hanyalah sarana untuk menyajikan ajaran. Setelah mengalami transmission (penyalinan/penurunan) teks berulang-ulang. t. In tisari cerita WJU adalah . “Pada hakikatnya tidak ada peninggalan suatu bangsa y ang lebih memadai untuk keperl an peneliti sejarah dan u kebudayaan daripada kesaksian tertulis. Dalam buku LMM terdapat keterangan bahwa buku tersebut digunakan untuk pegangan ikhwan tarekat Hakmaliyah. Agama Islam yang masuk ke Nusantara pada awal Islamisasi mengandung tasawuf (Baried. 1985. Kartodirjo.). 1997. Yunus. IW2:35. dkk. 1995. Wawacan Jaka Ula Jaka Uli (kemudian disingkat WJU) adalah sebuah karya sastra tasawuf Sunda yang tertulis. kemudian judul naskah p mengalami modifikasi menjad Wawacan un i Muslimin Muslimat (disingkat WMM). Zahari (ed.Wawasan Jaka Ula Jaka Uli Sebagai Karya Sastra Tasawuf Sunda Kalsum PENGANUT agama Islam yang hidup beber apa abad setelah masuknya Islam ke Nusantara mungkin tak dapat membayangkan bagaimana keberadaan Islam di Nusantara.Karya-karya snstrn Insnwvif tcrschar I mis di NusanUira (Uarusupr. Kemudian muncul lagi dengan judul Layan Muslimin Muslimat (disingkat LMM) dalam bentuk g cetakan. [Jimrd. Bruinessen. 1996:1 ).: 45. 1995. dengan tertera “nama pengarang” Asep Martawidjaja.t.ipta. penduduk Pataruman Garut yang meninggal pada 1930. 1990. dan merupakan jendela untuk melihat serpihan-serpihan masa lampau.Saksono.

Nyi Raden Hakekat. 1990. dan Nyi Raden Maripat. Pemegang tahta kerajaan bernama Raden Howasul Howas dengan permaisuri bernama Nyi Raden Sareat. WJU membahas wujud/ada hakiki yang bersifat kekal dan gaib dan wujud/ada-hawadis yang fana. Jadi Raga Taya dalam pengertian yang lebih luas lagi yaitu bahwa dunia yang tampak/yang dapat diindra ini merupakan “ada hawadis” yang keberadaannya tidak kekal dan sesungguhnya tidak ada. 2). istilah dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘permata’. Misalnya Nagri Raga Taya berasal dari kata raga. merupakan arahan kepada istilah sareat. Nama-nama yang digunakan dalam WJU dimuati makna-makna pendukung terhadap ajaran. N ama-nama pengiring permaisuri yaitu Sareat. Secara keseluruhan WJU m enyajikan pembahasan tentang insan kamil (manusia yang sempurna) dan fa mil mufamil ( manusia paling sempurna). hakikat. Hati merupakan objek yang paling penting dalam tasawuf (Al-Ghazzali dalam Musthofa (ed. Sedangkan Atiyah dari kata a yang berarti ‘hati’. Raga Taya dalam konteks ini mengandung makna bahwa “raga yang tampak “ini pada hakikatnya bersifat tidak ada tak berwujud/fana/ada hawadis (memiliki sifat baru/ciptaan Tuhan). .. Aboebakar Aceh. Nama Raden Howasul H owas (dalam WMM dan LMM bernama Raden Prebu Jasadiah) pengertian Jasadiah senada dengan pengertian raga taya) berasal dari khawwashul k hawwas yang memiliki makna manusia paling istimewa yang memiliki tingkatan keimanan yang tinggi.sebagai berikut: Tersebutlah sebuah negara bernama Raga taya. Jadi. Penambahan ‘yah’ terhadap kata ‘ati’ menimbulkan efek istilah baha Sunda. Patihnya bernama Raden Batara Suria Katon dan Raden Wulanyata. Tarikaton dan Marifat. dan sa merupakan kela-ziman penamaan dalam konvensi masyarakat Sunda. yang berarti ‘raga/badan’ dan taya berarti ‘tidak ada’. 1995:15). 1980: 1. Nama Nyi Raden Ratna Atiyah berasal dari kata ratna. Raja memiliki dua orang putra yang sangat tampan bernama Raden Jaka Ula dan Raden Jaka Uli (dalam WMM dan LMM bernama Raden Musl min dan Raden Muslimat). tt: 3 Kalabazdi. Raden Jaka Ula dan i Raden Jaka Uli inilah yang bertanya jawab tentang ajaran. ti. Kedua patih tersebut masih saudara raja. Judul judul karya tasawuf lainnya ya ng menggunakan teknik tanya jawab dalam khasanah kesusastraan Sunda antara lain Wawacan Buana Wisesa. Nyi Raden Tarikaton. nama Howasul Howas berfungsi sebagai foreshadowing untuk mengantar ke arah pembahasan masalah ten tang manusia sempurna. Teknik tanya jawab inilah yang merupakan ciri dari karya sastra tasawuf Nusantara (Pigeaud dalam Darusuprapto. Hakekat. tarikat dan marifat. Wawacan Pulan Palin. dkk. Wawacan Ganda Sari dan Wawacan Dua Pandita/Pandita Sawang.).

sebagaimana tersampaikan lewat ungkapan dasar kudu nyaho kana sahadat (harus tahu sahadat). Ground penanda persona pertama dalam bahasa Nusantara memiliki makna ‘abdi’. Tokoh wawacan ini kakak beradik bernama Raden Pulan dan Raden Palin. ‘hamba’. Hal semacam ini terdapat pula pada Wawacan Gandasari yang diperkirakan digubah orang pada awal Islamisasi karena terdapat perilaku Islam yang paling mendasar. adalah Ratu Pandita (Kosoh. pangawulaan berarti orang yang diabdi/dilayani. Dalam WJU Jaka Ula adalah fi ur insan kamil (manusia sempurna) dalam g menghamba Tuhan. ula sec ara tersirat bermakna ‘abdi Tulum’. Hal seperti itu terdapat pul dalam wawacan tasawuf a lainnya antara lain Wawacan Pulan Palin. Kata ‘muslimin’ dan ‘muslimat’ dalam bahasa Arab. Jadi. Aneh-nya. Adapun kata ‘ula’ dalam bahasa Sunda masa kini masih ada pada kata kaula/kawula (pronomina persona pertama). Kata ‘ulun’ kemungkinan besar memiliki makna yang selaras dengan ‘kumawula’ yang berarti mengabdi seperti halnya pengertian selaras pada struktur makna cranberry morphem lainnya. Raden Muslimin dan Raden Muslimat sebagai nama tokoh dalam WMM dan LMM menampakkan kerancuan. seperti terdapat pada naskah WMM: Sarta eta Kanjeng . Di dalamnya terdapat nama Kiai Sabda Laksana. ‘saya’/’sahaya’. Pada masa lampau penggunaan julukan/nama masih menggunakan nama-nama Nusantara. ‘nghulun’ (bahasa Jawa Kuna . Dikaulaan/dikawulaan berarti dilayani. yaitu muslimin (jenis maskulin jamak) berarti para muslim (pria) dan muslimat (jenis feminim jamak) berarti para muslimah (wanita). Sedangkan ‘uli’ hanyalah Variasi vokal dari ‘ula’. untuk menyebut seseorang. Sebagai contoh pemeluk Islam pertama pada abad ke-14 adalah Haji Purwa. Raden Muslimat seorang laki-laki bukan perempuan. Jika dianalogikan dengan keterangan tersebut. 1979: Bab IV). kata ‘ulun’ terdapat dalam cranberry morphem ‘ulun kumawula’ yang berarti ‘mengabdi’. Julukan kepada Susuhunan Gunung Jati pada abad ke-15. masih dig unakan dalam bahasa Banjarmasin ‘ulun’). semisal ‘kaula’. ‘sabar darana’ (dharana Sanskerta berarti ke(sabar)an). kata ‘ula’ kemungkinan besar bermakna ‘abdi’ atau ‘hamba’. ‘abdi’ (bahasa Sunda halus). ‘Dilayani’ bersinonim dongan ‘diabdi’. Begitu pula istilah-istilah keagamaan banyak menggunakan istilah lokal seperti dalam WJU. Pulan d iperkirakan dari bahasa Arab fulan. ‘mere maweh’ yang berarti memberi (‘mere’ berati memberi. dalam karya tersebut. Dalam bahasa Sunda. ‘maweh’ (bahasa Jawa Kuna) dari morfem dasar ‘weh’ yang berarti memberi). Nama Ula dan Uli rupanya bernuansa Sunda.yang merupakan peringkat peribadatan dalam agama Islam yang selalu disebut-sebut dalam pembahasan karya-karya tasawuf.

. Ada tiga hal yang menyebabkan kesulitan pemahaman. “sifat dua puluh” Tuhan pada tahun 1950-an masih diajarkan di madrasah-madrasah. materi yang disajikan cukup rumit: karya-karya tasawuf menyajikan realitas ke-Tuhan-an sehingga untuk memahaminya perlu mempersiapkan diri dengan karya-karya tasawuf Sunda lainnya. Jadi. judul tersebut tidak cocok lagi. memiliki putra dua orang. dan kemudian muncul Wawacan Muslimin Muslimat serta nama tokoh dalam teks diubah pula walaupun di antara petanda penanda terjadi kerancuan. Karya tasawuf mengemukakan aspek batiniah yang sering kali tidak cukup terutarakan dalam bahasa verbal. putra sulung Raden Muslimin dan nama putra bungsunya. Wawacan terkait pada dua buah bentuk seni: seni sastra dan seni suara. Ketiga. tunduk kepada stilistika yang berada dalam wilayah seni. pemahaman masyarakat terhadap ajaran yang terdapat dalam WJU hanya sebagian saja (tidak lengkap). seperti yang dikemukakan juga oleh penyair Rusia Tyutcev bahwa “pikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan” (Zoest. tasawuf Nusantara dan tasawuf dunia. Kedua. Raden Muslimin cikalnya ari jenengan nu bungsu nelah Raden Muslimat (Dan Sang Raja. k a acatur jenenganana. walaupun merupakan sebuah ajaran WJU dikemas dalam bahasa artificial.Gusti. Selain itu hal yang bersifat keseharian pada zaman karya ini digunakan sekarang sudah banyak ditinggalkan. judul teks yang pertama muncul adalah Wawacan Jaka Ula Jaka Uli yang sesuai dengan nama tokoh. 1990:1). Karena wadah yang dipilihnya berbentuk seni. ajaran tasawuf ini sekarang tidak dipahami lagi oleh masyarakat luas dan hal yang bersifat keseharian dari zamannya tidak diterangkan secara panjang lebar. namun tidak diterangkan bahwa “sifat dua puluh” itu diemanasi juga pada manusia selaku khalifah Allah. bahasa dalam karya tasawuf menggunaka istilah-istilah khusus. WJU dan naskah-naskah tasawuf lainnya secara umum sangat sulit dipahami. kesenj ngan antara n a penulisan dan pemahaman terlalu jauh. Raden Muslimat). Pertama. Di satu pihak terdapat dimensi seni yang bercirikan kreativitas bebas. Oleh karena itu. Di pihak lain terdapat ajaran yang bersifat ketat dan pasti. geus kagungan duwa putr . keduanya pria tampan. pameget sami karasep. Ajaran dalam WJU sekarang ini tidak diketahui lagi oleh masyarakat Sunda secara luas. Karya Seni dan Tasawuf Secara inherent WJU memiliki dua dimensi yang sifatnya berlawanan. Setelah nilai-nilai keagamaan makin mantap dirasakan oleh masyarakat. Contohnya. Buktinya.

Ada golongan Islam yang memberi kelonggaran terhadap kegiatan kesenian. 1955:33-38). Hidayat Suryalaga yang mengubah saritilawah Al-Quran dalam bentuk tembang Sunda. Sebelum periode Islam. Perkembangan sejarah sastra. seperti aliran air. Jadi. Islam sangat berperan menentukan corak kesusastraan Melayu selama periode abad ke-17 hingga abad ke-19 (Braginsky. ataukah kesenian yang dimuali oleh ajaran agama. ada tradisi penulisan . dan lunakkanlah suaramu. Menurul Zoetmulder (dalam Partini. Karya ajaran dalam bentuk sastra sebelum Islam adalah naskah-naskah Ciburuy semisal Sewaka Darma (Partini. 1993: Chapter 1) sebagaimana yang terlihat dari syair-syair gubahan Hamzah Fansuri.. bagaimanapun kondisi karya sastra pada zaman tertentu tidak terlepas dari k rya-karya sastra sebelumnya. Penulisan kekawin dimotivasi oleh kegiatan agama. Gubahan nilai-nilai keislaman juga terdapat dalam bentuk gurindam karya Raja AH Haji atau Saraba Ampat gubahan Datuk Sanggul dari Kalimantan pada abad ke-18 (Haderanie: t. 1983). antara lain Imam Al-Ghazali dan Imam Abu Daud Azh-Zhahiri.Pada zaman lampau kehidupan beragama dengan kehidupan kesenian berjalan secara berdampingan.. S esungguhnya seburuk-buruk suara adalah bunyi keledai” (Luqman: 19). Dan bukan sembarang keindahan. seorang kawi adalah a servant of beauty (abdi keindahan). ada di antara ketegangan antara konvensi dan inovasi (Teeuw. Begitu eratnya hubungan antara agama dan seni pada masa lampau sehingga sulit menenrukan apakah yang kita hadapi ada lah ajaran agama yang disajikan dalam bentuk kesenian. dkk. di Nusantara telah berkembang sastra kekawin. 1984: 8). yang antara lain be rsumber dari firman Allah Ta’ala “. Selain itu ada hadis-hadis yang membolehkan tarik suara. melainkan keindahan dalam arti yang agung dan dalam. bentuk kekawin tidak ditemukan. seperti yang diprakarsai oleh R. seni musik dan tarian (Abdurrahman Al-Baghdadi. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi masyarakat masa lampau mengaitkan seni sastra dengan agama atau sebaliknya. Di daerah Jawa Barat. Imam Al-Ghazali mengemukakan dalil tentang diperbolehkannya menyanyi. bentuk puisi tertulis Nusantara yang tertua. Gejala ini bukan hanya berkembang di daerah Sunda melainkan juga merata di seluruh Nusantara. Denga demikian dapat a n dimengerti jika ditilik dari latar belakang sejarahnya karya keagamaan Islam lahir dalam bentuk seni sastra. Pada zaman modern pun muncul kreativitas untuk menggelar ajaran Islam dalam bentuk tembang. Sisa-sisa masa lampau seperti itu yang m asih tampak pada masa kini antara lain berupa lantunan ‘pupujian’ di mesjid-mesjid ketika menanti tibanya saat sembahyang fardu dan kesenian nyalawat/nidat. 1987). yang dihubungkan dan terjalin dengan kehidupan keagamaan. Di wilayah Arab..t.). Hamzah Fansuri hidup pada pertengahan abad ke-16 (Abdul Hadi: 1995).

telah terjadi kesenjangan.ilmu tasawuf dalam puisi seperti yang dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. Jadi. seperti kreativitas R. kegiatan keberaksaraan maju secara pesat. Situasi ini ditunjang pula oleh lingkungan masyarakat p’enyebarnya yakni para bangsawa dan alim ulama. Sisa-sisanya. Hidayat Suryalaga. secara cermat mereka menyadurnya seperti yang . Popularitas bentuk wawacan pada masanya terbukti dari jumlah nya yang sangat banyak. tempat dite mukannya Wawacan Sejarah Nabi gubahan Ajengan Sukamiskin milik Pak Usah. hukum Islam dan inovasi (dalam hal ini yaitu Islamisasi memberikan keleluasaan untuk ) menghadirkan ajaran Islam dalam bentuk gubahan sastra. sekarang ini adalah periode yang mengkotakkotakkan secara ketat perilaku Islam dan seni. Men urut Ajengan Pesantren Al Fatah dari Gunung Halu. Dengan demikian. n golongan bangsawan dan alim ulama merupakan masyarakat elit yang berpengaruh” (Kosoh. Kegiatan keberaksaraan. sehingga perkembangan karya sastra tulis Sunda maju dengan pesat serta menghasilkan naskah-naskah wawacan berisi ajaran Islam. dkk. saling mendukung. Begitu pula keadaan di wiayah Pesantren Cileunyi. wawacan-wawacan bernafaskan Islam dan cerita-cerita wawacan yang dilatarbel kangi a Islam. 1979 :98). pada masa lain para aj ngan mewarnai sendi kehidupan seni dengan e keislaman dan menyampaikan ajaran Islam dengan kegiatan bersastra. Periode perkembangan wawacan memberikan peluang bagi perkembangan karya sastra tulis Sunda untuk maju pesat. Wawacan merupakan pengaruh karya sastra Jawa yang ma suk ke daerah Sunda mclalui alim ulama dan para ba ngsawan. Kecamatan Majalaya. terdapat di Bojonggenggong.. penyair tasawuf yang lahir tahun 1207 di Balkh (Nicholson. Kabupaten Bandung. Penyajian karya-karya tasawuf di Nusantara rup anya sangat berhati-hati dalam menggubah kembali suatu topik bahasan. karena perkembangan wawacan bersamaan dengan perkembangan Islam. Pengurus Pesantren Sukamiskin pun (tahun 1998) ketika ditemui tidak tahu-menahu lagi mengenai karya -karya yang telah dihasilkan oleh para pendahulunya. Pada waktu penyebaran Islam. l Cicalengka. “Pada masa penyebaran Islam. Ajengan Ako dari Cijambu Gunung Halu selalu men yenandungkan wawacan tasawuf. kegiatan bersastra dan proses Islamisasi tak bisa dipisahkan satu sama lainnya. 1993). Pada masa lampau rupanya pesantren menjadi pusat penciptaan dan pusat penyebaran wawacan. Rancaekek yang memiliki sangat banyak pesantren. Dengan gambaran tersebut. di antara periode WJU yang memadukan agama dengan seni dan kreativitas seni sekarang ini. Kreativitas seni sastra di pesantren kini telah lenyap. tradisi. sebagai contoh.

terdapat pada number penelitian ini. Dalam Saraba Ampat: Api bayu tanah dan hawa itulah dia alam dunia menjadi awak berupa-rupa tulang sumsum daging dan darah dalam WJU X 534: Asupna oge opat deui ka jerona tangtu opat enya jadi buktina oge ‘Masuk pun empat pula’ ‘ke dalam pun tentu empat’ ‘begitulah buktinya’ . Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara WJU dan karya lainnya. Rencangna anu kawarta kapiasih aya opat hiji Nyi Raden Sareat dua Nyi Raden Tarikatan tilu Nyi Raden Harikat nu ka opatna kakocap Nyi Raden Ma’ripat leuwih lucu ‘Pengiring yang termashur’ ‘tercinta. Menjadi satu dalam khalwat Rasa nyamannya tiada tersurat Dalam WJU. ada empat’ ‘pertama Nyi Raden Sareat’ ‘kedua Nyi Raden Tarikatan’ ‘ketiga Nyi Raden Harikat’ ‘keempat tersebutlah’ ‘Nyi Raden Mari’pat ‘lebih lucu’ (Catatan: Secara menyeluruh WJU tidak menaati patokan guru wilangan atau jumlah suku kata dalam setiap bait. Rupanya WMM dan LMM merupakan penyimpangan dari patokan guru wilangan). 1) Terdapat unsur kesamaan dengan Syair Saraba Ampat dari Kalimantan: Allah jadikan saraba ampat Syariat Tharikat Hakikat Makrifat. istilah peringkat perilaku peribadatan dalam agama tersebut diselipkan pada nama tokoh.

tamsil burung (dengan istilah paksi) diguna-kan pula dalam rangka menggambarkan Munajat dan Tubadil/Tajalli. di antaranya ada tamsil burung yang digunakan untuk menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh di dalam mencapai kehakikian seperti contoh di bawah ini: Arasy Allah akan pangkalannya Habib Allah akan taulannya Bait Allah akan sangkurannya Menghadap Tuhan dengan sopannya Dalam WJU.anu asal seuneu tea nya hana getih beureum jadina anu asal angin tangtu nya getih koneng jadina ‘asal api’ ‘ya. Minangkana mun manuk tea mah jangjangna baris diicis ngarenggebeng duanana dibeberkeun duanana samasakali ngan lianteu dikiplik-kiplik eta ete lir ibarat kitu ari perkara Miroj geus gulung atina garuda paksi ‘seumpamanya burung’ ‘sayapnya akan direntangkan (?)’ ‘merentanglah keduanya’ ‘dibeberkan keduanya sekaligus’ ‘hanya tidak digerakan’ ‘seperti itulah’ ‘adapun perkara Miroj’ ‘sudah bulat hati burung garuda’ istu buleud hanteu kagigir hanteu katukang ‘sungguh bulat tidaklah ke pinggir ataupun ke belakang’ . ada darah merah’ ‘asal angin pun tentu’ ‘ya darah kuning muncul’ Ari anu asalna bumi nya getih hideung jadina ari anu asal cai eta teh nya getih bodas jadina ‘Adapun asal bumi’ ‘darah hitam jadinya’ ‘yang asalnya air’ ‘itulah darah putih’ 2) Dengan syair karya Hamzah Fansuri. yang makna atau maksud sama dengan syair Hamzah Fansuri. Dalam syair karya Hamzah Fansuri.

Haderanie. Dalam doktrin religius ada dua paham yang berlawanan. dengan i tilah ‘martabat s tujuh’. Diperkirakan dalam khasanah naskah Sunda ada pula karya sastra tasawuf dalam bentuk simbol. dan ajaran tasawuf dunia. dan karya yang mengungkapkan pengalaman batin sufi seperti karya -karya Kiai Haji Hasan Mustapa. khasanah tulisan tasawuf Sunda dapat dibedakan ke dalam tiga jenis: teks golongan tarekat. Insan Kamil dan Kami! Mukamil yang merupakan topik dari WJU dibahas pula oleh Abdul Karim al-Jili dengan judul Al Insan al-Kamil. Dalam tanya jawab “Jalan Kama’rifatan ka Allah Taala” (yang terdapat pada uraian LMM) dinyatakan bahwa ilmu itu berasal dari Nabi Muhammad SAW. teosofi. 1983: x). karya-karya tasawuf Nusantara lainnya.WJU/WMM/LMM membahas tentang ‘ada’. Paham imanensi berpendapat bahwa Tuhan tidak terpisah dari dunia. melainkan . tt). Tarekat (tariqoh) yaitu “jalan” yang dilalui para sufi dalam berkomunikasi dengan Tuhan (tarekat bersifat amalan). Dalam agama Islam porilaku religius seperti itu lazim di deskripsikan dengan istilah tasawuf (Kamus Purwadarminta. berupa perenungan terhadap realitas ketuhanan. Bertitik tolak dari penggolongan tersebut. Pengertian mistik antara lain mengacu pada perilaku religius yang merupakan suatu tingkat t rtinggi dalam penghayatan rel gius yang disebut juga e i ‘gnosis’. Pembahasan tentang ‘ada’ dimulai dengan pembahasan alam (lihat uraian selanjutnya). (Burckhardt. yaitu pengenalan tanpa lewat indra dan rasio (Suraharjo.7) membedakan tasawuf menjadi tarekat dan teosofi tasawuf. Menurut Burckhadt (1984: 17) para guru sufi memiliki mata rantai atau silsilah yang tidak terputus mulai dari Nabi Muhammad SAW. Teosofi Tasawuf yaitu Ilmu Ketuhanan Tasawuf. yaitu dimensi esoterik Islam. melainkan memiliki mata rantai dengan karya-karya ajaran tasawuf Sunda lainnya. Yunus (1995: 6. Imanensi dan Transendensi Dalam sastra kitab terdapat ke lompok naskah yang isinya dapat digolongkan ke dalam kelompok karya sastra mistik. 19984:20. dapat disimpulkan bahwa ajaran yang disampaikan dalam WJU tidak berdiri sendiri. ‘Martabat tujuh’ dibahas pula pada kitab yang disusun Sayid Abdul Karim Ibnu Ibrohim al-Jaelani. Pembahasan tentang alam ini memperlihatkan kesamaan dengan karya-karya tasawuf Melayu. Burchardt (1985: 15) memberikan batasan tentang tasawuf. 1985). Dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang dikemukakan sebelumnya. WJU termasuk karya sastra yang menyajikan Teosofi Tasawuf. yaitu imanensi dan transendensi.

Jika Muhammad H akeki pada manusia dipandang masing-masing sebagai . tunggal. Pengertian secara penuh dari klausa tersebut adalah bahwa “Wujud/Ada” itu adalah “Tunggal”. Dalam WJU dinyatakan bahwa manusia terdiri dari keduanya. jika seseorang meyakini bahwa “Ada Hakiki” tidak “Tunggal” maka ia kafir. materi yang bisa diindra. Dalam teks dikemukakan bahwa “Wujud” (ada hakiki atau ada baqa) yaitu be rsifat gaib. yaitu badan kasar/materi yang bersifat fana. tidak bisa diindr baqa. yaitu “Muhammad Hakeki” yang bersifat “baqa” yang “Hayun Baqin’“ (hidup kekal) yang “ina lillahi waina ilaihai rajiun “ (berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya) dan ada hawadis. Ia satu (Haniah. dibedakan atas “Wujud” (ada hakiki) dan “Wujud” (ada fana). Sedangkan transendensi (munazzih) berpendapat bahwa Tuhan berada di atas seg alanya. Dalam realitas yang ditilik dari sudut pandang universal yang merupakan sudut pandang Tuhan. Menurut Afifi (1975:37) imanensi (mushabbih) adalah paham yang memberikan atr ibut terhadap kualitas-kualitas Tuhan dengan menganal gkan-Nya dengan kualitas-kualitas o manusia serta wujud-wujud ciptaan lainnya. Tunggal-Na Wujud memiliki makna “Wujud” (ada hakiki). 1993).hadir di dalamnya. sifat-Nya tidak terhingga. Imanensi dalam WJU mengungkapkan tentang Tunggal-Na Wujud (Wujud-Nya Wujud). “Wujud” (ada hawadis) bersifat fana. Tuhan adalah keseluruhan yang ada. Pembahasan imanensi inilah yang membeda-kan karya sastra Teosofi Tasawuf dengan karya sastra kitab lainnya. Sedangkan a. Ia banyak. Adapun penjelasan-penjelasan mengenai Tunggal-Na Wujud ini terdapat pada teks seperti berikut: Ari ieu nu digurit Lalakon alam ayeuna Tina hal salira nu jadi poko ngawincik Nu Aya Dina Salira sangkan manah bisa terbuka terbuka Tunggal-Na Wujud dipapay ti memehna aya ‘Adapun gubahan ini’ ‘lelakon alam ini’ ‘mengenai diri manusia menjadi pokok (bahasan)’ ‘menguraikan Yang Terkandung Dalam Diri manusia’ ‘supaya pikiran terbuka’ ‘memahami tentang Tunggal-Nya Wujud’ ‘ditelusuri sejak (badan) belum ada’ Kemudian dinyatakan. dikenai kematian. Istilah ini dalam WJU. jamak. Pembahasan tentang imanensi dan transendensi merupakan hal yang selalu hadir dalam karya-karya Teosofi Tasawuf. Dalam penampakan dari sudut manusia yang terbatas. Pengertian “Wujud” dalam pembahasan ini sama dengan pengertian “Ada”.

Pernyataan tersebut dalam WJU tertuang seperti di bawah ini: Kapan parantos kapega kapiheulaan ku Dalil Laa hawla wala kuwwata tea Ilaa Billahi Aliyul Adzim cenah geuning sundana dalil hanteu daya hanteu upaya. manusia seperti sebilah bambu’ lebah dinya tacan kaharti bet aya rokrak kudu kawasan Saupami kitu mah dua hirup rokrak hirup Gusti ‘pada masalah itu belum diterima’ ‘mengapalah sebilah ningal bambu harus bisa melihat?’ ‘jika begitu dua’ ‘hidup (Hidup Hakiki) sebilah bambu (dan) hidup Tuhan’ rakana enggal ngajawab Rai.jamak. kitu nyasat la haola kawas rokrak t‘Bukankah (manusia) sudah terkena’ ‘terdahului oleh Dalil’ ‘Laa hawla wala kuwwata’ ‘Ilaa Billahi Aliyul Adzim’ ‘konon arti dalil tersebut begini’ ‘tak memiliki daya dan upaya’ ‘seolah-olah “La Hawla”. ulah salah harti Urang soteh ceuk nu hirup ‘kakaknya cepat menjawab’ ‘Dinda jangan salah mengerti’ “kita” menurut Orang Yang Hidup’ (Maksudnya Muhammad Hakeki yan g terbungkus badan atau Muhamm ad Majaji/manusia hidup yang selalu menghadir-kan Tuhan dalam dirinya) Hurip nyaeta Nu Disebut Hirup Hirup teh nyaeta Cahaya ‘Hurip adalah Hidup’ ‘Hidup yaitu Cahaya’ Cahaya Padang Muhammad Hakeki ‘Cahaya Benderang Muhammad Hakeki’ Hirup teh nya Rasa Rasulullah Rasullah teh di mana naha kumaha ari mamanahan Rai upama nunjuk ka Mekah peuntas atuh meureun ka jabariyahi upama nuduh ka hawadis ‘Hidup yaitu Rasa Rasulullahi’ ‘Rasulullah di mana’ ‘Bagaimanakah pikiran Dinda’ ‘jika kita menunjuk ke Mekah diseberangsana’ ‘barangkali menunjukkan jabariyahi’ ‘jika menunjukkan hawadis (makhluk)’ atuh meureun ka wujudiyah tangtuna ‘jelaslah (menunjuk) ke Wujudiyah’ cenah euweuh Allah aala kapungkur ngarana ‘katanya meni-Ada-kan Allah . pendapat seperti itu dianggap kufur.

alam wahdat. siapa yang mengetahui Tuhannya maka dirinya bodoh). Pengertian Muhammad Hakeki terungkap dalam proses penciptaan manusia yang dipaparkan dalam pembahasan alam. manusia melihat Allah dengan mata hati. siapakah yang harus melihat. hawaun. di akh irat Allah tak terhalang apapu sebab sudah menyatu). Juga ada dalil yang menyatakan: ruyatullahi Ta’ala fiddunya biainil qolbi. Alam ahdiyat yaitu alam gaib. Dzat Allah laisa kamistlihi (tak berwujud/tak bisa diindra dan tak bisa diumpamakan apapun) Untuk memahami dzat Allah haus . n Kemudian pembahasan memunculkan pertanyaan. Kemudian Tuhan menyinarkan nur yang bersifat gaib bernama Nurullah/Wahdat/Rasa Rasulullah/ Muhammad Hakeki/Hakekat Hirup (hakikat hidup)/Rasa Allah/ sajatining iman (inti ilmu)/sajatining hirup (inti hidup)/sajatining ilmu . alam ajsam. r memahami diri sendiri terlebih dahulu. maka akan mengetahui Tuhannya. alam insan kamil dan alammukamil. alam misal. Adanya rasa Rasulullahi pada manusia adalah atas rahmat Tuhan. bukankah manusia itu laa hawla walaa quwwata ila. waman arofa Robbahu faqod jahillan nafsahu (siapa yang mengetahui dirinya. ruyaiullahi ta’ala bilakhirati biainil arsi (di dunia. Muhammad Hakeki yaitu badan rohani yang terdiri dari narun. karena itu dzat laisa kamistlihi dan manusia itu sendiri laa hawla walaa quwwata ila bilahil aliyyil adzhiim.bilahil aliyyil adzhiim (tidak memiliki daya apapun kecuali atas pertolongan Allah Ta’ala). yaitu alam ahadiyat. Manusia dapat melihat Allah dengan mata hati/Rflsa Rasulullahi/Muhammad Hakeki. Untuk mengetahui dzat Allah bebeda dengan mengetahui hawadi (sifat baru/yang r s diciptakan Tuhan/yang dapat diindra/makhluk). turobun dan maun. Menurut hadis yang berbunyi waman arofa nafsahu faqod arofa Rabbahu. maka (menyadari) dirinya bodoh. Manusia dapat mengetahui badan rohani secara jelas jika ia menghilangkan (kesadaran akan) badan jasmaninya (isbat napi). Alam yang berhubungan dengan penciptaan manusia terbagi dalam tujuh periode. alam arwah.Taala namanya kufur’ cenah aya Allah Taala kapir kade bisi nyorang kupur kapir tea ‘meng-Ada-kan Allah Taala kafir ‘berhati-hati janganlah menimbulkan kekupur-kafiran’ 1) Penciptaan Manusia Pembahasan berbagai masalah dalam WJU berpangkal pada hadis yang berbunyi awaludin marifatullah (perilaku awal dalam memahami agama yaitu mengetahui dzat Allah). Jika manusia mengetahui Allah. belum ada ‘wujud’ ciptaan-Nya. alam luahidiyat. Hadis lain berbunyi: ila anna awwala nafsah fardu ain (manusia wajib mengetahui Sifat hirup/hakikat dirinya dengan jelas).

Sifat wujud pada manusia ialah nafas yang keluar masuk dari lubang hidung. yaitu ‘Allah-itu hidup oleh sendiri Nya’. tanpa alat.5 Januari 2000. pada manusia sajatining hirup/sajatining iman/Muhammad Hakeki. Menurut Nurcholis Madjid. Istilahnur dapat disejajarkan dengan istilah dari Nurcholis Madjid mengenai “inti kedirian” atau “nurani”. yaitu Allah ‘tidak sama dengan makhluk’. Keberadaan-Nya terbungkus oleh Muhammad Hakeki.(inti fimu)/badan rohani. maani dan manawiyah. Manusia hidup karena ada nafas. Sifat dua puluh pada Tuhan yang terpencar pada manusia dikelompokkan dalam empat bagian. dalam Kuliah Ramadhan di RCT1. yaitu Allah ‘berkehendak’ langsung jadi.. Dari alam arwa lahir ke dunia. Tuhan menghendaki supaya Muhammad Hakeki ny ata. b) B aqa. yaitu . sementara manusia hanya mampu berkehendak kemudian ia harus bekerja. Setelah beru 14/15 tahun manusia h sia menjalani alam misal. maun (inti air) dan narun (inti api). manusia mendapat emanasi “sifat dua puluh”. 2) Manusia Menjadi Khalifah Allah di Dunia Sebagai khalifah. yaitu Allah ‘kekal’. Dalam alam ini manusia dibebani kewajiban. Muholafatulilhawadisi (Mukhalafatutilhawaditsi). yaitu nafsiah salbiah. pada manusia rupa dan perangainya setiap orang berlainan. Muhammad Hakeki menyinarkan cahaya turobun (inti tanah). Ada-Nya Allah harus terasa oleh rasa Kasulullahi manusia. Irodat (Iradhat). sementara manusia mampu membuat segala sesuatu dengan alat. yaitu Allah ‘kuasa’. Alam ini disebut alam wahadiat. Kamil mukamil (paling sempurna) adalah martabat paling tinggi yang dicapai oleh manusia. pada manusia lahir tanpa kemauan ayah dan ibu. terdiri dari lima sifat: a) Kidam (Qidam). yaitu Allah ‘lebih dahulu’.. Berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kewajiban paling utama manusia adalah harus berusaha untuk kembali kepada-Nya. hawaun (inti udara). e. Kudrot(Qudrot). menjadikan ciptaan-Nya. Nafsiah adalah sifat wujud. Kemudian manusia masuk ke alam arwah selama sembilan bulan. c) Kiyamuhubinafsihi (Qiyamuhubinafsihi). Alam ahadiat lenyap berganti dengan alam wahdat. Kemudian tercipta-lah alam semesta dan manusia. Hanya manusia yang satuhu (taat kepada-Nya) yang bisa kembali kepada-Nya. Inna lillahi wainna ilaihi rooji’un. Adapun sifat salbiah yang terdapat pada lima bagian mata. bersifat cahaya (cahaya yang bersifat gaib dalam WJU). yakni yang mencapai martabat insan yang kamil. pada manusia Muhammad Hakeki lebih dulu dari hawadis. yaitu Allah ‘ada’. berupa nurulllah. “inti kedirian” atau “nurani” adalah “modal pertama dari Tuhan. d) Wahdaniat . Sementara sifat maani yang terdapat pada tujuh buah lekukan telinga terdiri dari sifat: Ilmu dan Hayat (Hayyat). Wujud manusia berupa Muhammad Hakeki yang terbungkus oleh raga/badan yang dapat diindra disebut Muhammad Majaji.

pada manusia berupa kemampuan mengangkat tangan. pada manusia mendengar dan melihat dengan kegaiban yang ada pada dirinya. Tuhan Somesta Alam mewajibkan manusia untuk mengetahui. Allah melihat. Ketiga belas sifat tersebut. Allah hidup. dan ma’nawiyah. mata dan telinga. harus berusaha mencari. Hayan (Hayyan). Sama dan Basor (Bashar). Guru manusia yaitu sifat yang terdapat pada hidung.‘menjadi satu’. pada manusia yaitu sifat cah aya yang terang benderang dalam kegaiban/ sajatining iman/sajatining caang. terdiri dari tujuh sifat sisanya. berada dalam badan rohani. Haliman. Samian (Sami’an). Sifat Muridan yang dianugerahkan kepada manusia. melainkan pada hakikatnya merupakan hasil perbuatan badan rohani juga. melainkan timbul dari badan rohani. Allah bersabda. Sifat Manawiyah terdapat dalam mulut. Allah bersabda. sesungguhnya hidupmu berada pada pendengaran dan penglihatan-Ku”. Tujuh sifat manawiyah terdapat pada badan jasmani manusia. Kemampuan itu bukanlah kekuatan tangan itu sendiri. mengetahui. Aliman yaitu pengetahuan. Allah mendengar. yaitu Kodiran (Qodiran). untuk bisa kembali kepada-Nya. Allah kuasa. Sementara unsur transendensi diny atakan secara ek splisit. salbiah. disebutkan berulang-ulang sepanjang teks seperti di bawah ini: Eta teh kudu kaharti Atawa sing karasa nyata Sebab Allah Ta’ala tea Cek dnlilna Dzat Laesa tea Kamistlihi lajengna mah ‘itu harus dipahami’ ‘atau harus terasa nyata’ ‘sebab Allah Ta’ala’ ‘kata dalil Dzat Laisa’ ‘Kamistlihi lanjutannya’ Dzat Yang Agung teh teu ngawujud ‘Dzat Yang Agung tidak berwujud’ henteu aya keur ngupaya tah kitu Rai hartina bisi teu acan mangarti lain urang ceuk nu anyar nu anyar teh hawadis anu anu anyar moal ningali ‘tak ada sesuatu pun untuk dijadikan perumpamaannya’ ‘Nah begitulah Dinda’ ‘kalau belum paham’ ‘bukan “kita” kata yang bersifat Baruan/mahluk’ ‘yang berifat baruan “hawadis” yang Terbukti “wujud” ‘yang bersifat baruan tidak dapat melihat . Allah mengetahui. Manusia harus benar pada nafsiah. Basiron (Bashiran) dan Mutakaliman (Mutakalliman). melihat Alam Lahut/Muhammad Hakeki. sifat Kodiran (Qodiran) dan Muridan. Sebagai contoh. Af’ral jasmani tersebut bukanlah perilaku dari bagian jasmani semata. Muridan. Allah berkehendak. ma’ani. y aitu Allah ‘mendengar dan melihat’ tanpa telinga dan mata. Basar Kolam menjadi satu seperti sungai. “Ketahuilah betul-betul hidupmu.

Namun WJU juga menganut paham transendensi yang menekankan bahwa manusia tak akan mampu mencapai keberadaan Tuhan secara mutlak. bahwa’ ‘yang sudah mengetahui kepada Yang Maha Suci’ ‘disebut bodoh’ ‘pantaslah’ ‘Laa hawla diyakinibetul’ ‘benarlah. Tuhaii Yang Maha Agung’ ‘yang dinamakan Dzat Laesa’ ‘Yang Tidak Terkena Perubahan’ ‘pemilik Kekuatan dan Pemilik Kemampuan Berbuat. yang harus dipotensikan untuk kembali kepada-Nya. itulah Yang Kuasa’ Lain sipat anu anyar atawa sipat hawadis Anu Tiasa Awas Ningal kana Sipat Hirup teh lain seleresna mah Anu Goib ningali kana Sipat Hirup nyaeta Ahadiat tea anu disebut Dzat Teu Aya keur Ngupamana ‘Bukanlah yang bersifat baruan’ ‘atau sifat hawadis’ ‘Yang Mampu Melihat Jelas’ ‘kepada Kehakikian Hidup. Dalam WJU memang ter apat pandangan bahwa dalam se d tiap diri manusia terdapat nurullah yang suci. Pikiran yang sejalan dengan perenungan tersebut disampaikan oleh Ibnu al-Arabi dalam Fusiisu’I Hikam: Bila engkau monyatakan transendensi (murni) engkau batasi Tuhan. bukan’ ‘sesungguhnya Yang Gaiblah’ ‘melihat Kehakikian Hidup’ ‘yaitu Ahadiyat’ ‘disebut Yang Tidak Ada Sesuatu’ ‘Untuk Mengumpamakan-Nya’ Kesimpulan dari masalah transendensi dan imanensi tersebut di atas adalah bahwa ajaran tasawuf yang terdapat d alam WJU bukanlah panteisme ya hanya menganut ng imanensi. yang kekal. bahkan mempotes ikan diri untuk mencapai-Nya pun atas rahman Tuhan (tajali Tuhan). .(Yang Melihat) jelas’ tangtu Gusti anu leuwih weruh anu Dzat Laesa tea Dzat Laesa Kamitslihi Nyaeta Ahadiat Wahdat nyata Paingan atuh disebutnya anu geus terang ka Maha Suci disebut bodo dirina nya atuh paingan teuing La haola teh penning yakin bener Gusli teh Anu Agung anu Dzat Laesa tea Nu Teu Owah Nu Teu Gingsir Anu Daya Anu Upaya teh Kawasa ‘Allah Yang Maha Tahu’ ‘itulah Dzat Laesa’ ‘Dzat Laesa Kamitslihi’ ‘yaitu Ahadiat Wahdat’ ‘Benarlah dikatakan hadis.

Dia tersembunyi di al m kenyataan-Nya. yang dapat mengontrol dan mempertajam tingkah laku manusia. pengeksisan idealisme. Manusia sebagai homo sapiens dengan akalnya mampu membenahi diri. bukan pribadi (person). menghindari homo homini lupus (memangsa sesama manusia). Manusia dengan perlengkapan logon ekhon. tidak tergabung tidak terpisah. Dari keterangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungannya. mengemukakan bahwa ahli-ahli ilmu bumi dan antropologi melihat manusia bukan sebagai makhluk yang tunduk/dikuasai oleh alam. Adapun pengertian wujud i u tunggal diperoleh dari t naskah-naskah lainnya. Baik orang biadab maupun orang beradab mengubah keadaan alamnya (19966:45). dan engkau pemimpin dan penguasa dalam keyakinan (dalam Afifi. al qarib al-baid. Sastra merupakan hasil cipta. Horatius pada tahun ke-14 S. Sejak zaman dahulu karya sastra sudah menjadi bahan perbincangan: apakah sastra memiliki fungsi bagi kehidupan manusia atau tidak? Pendapat-pendapat yang mengacu ke arah itu antara lain. bukan benda. ia juga dapat mempertajam apa-apa yang ingin dicapainya dan mengontrol apa-apa yang ingin ia hindari. 1992). bukan anggota. pengungkapan cita-cita. dapat menerima ide-ide.bila engkau nyatakan imanensi (murni) engkau mendefinisikan Tuhan. dan tidak terlihat ol h mata. akal budi dan tutur bahasa. realitas Tuhan adalah sebagai berikut: Dia bukan badan (jisim). bukan bagian. bukan unsur. bukan bentuk. tidak tertutup oleh tirai penutup. sebab ke mana kamu meng-hadapkan-mukamu maka di sanalah wajah Allah. dikontrol dan diprediksi oleh lingkungan (dalam Garna. atau memperbaiki kesejahteraan. engkau mengikuti jalan yang benar. oleh karena itu Dia disifati al-dharir al bhatin. melainkan sebagai ageomorphologic agent. dkk.M. Menurut Learning Theory. bukan rupa. Lebih luas lagi yaitu sebagai unsur pemilik keadaan bumi dan pembentuk pribadi sendiri. yang menekankan bahwa tujuan penyair yaitu memberikan . Menurut Kalabadzi (1995). Firth. dengan demikian Dia sanga tercegah dari segala kejadia yang t n menyerupainya dan menyamai-Nya. Dia nyata dalam ketidaknyataan-Nya. membenahi lingkungan. tidak tinggal pada satu arah atau tempat. dan Dia e a nampak (zahir) di dalam keters embunyian-Nya. bersumber dari Al-Quran Surat al-Baqarah ayat 115: Waiillahi mastriqu wamagribufaainama tuwallu pastamma wajhullahi (Timu dan Barat adalah r kepunyaan Allah. Tapi bila en gkau nyatakan kedua hal itu. Dengan logon ekhon-nya manusia dapat menata dan mengendalikan roda ke arah masyarakat madani. tidak terpengaruh masa atau zaman. 1995:40). Allah lebih dekat dari tenggorokan). tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. artinya Dia sangat dekat di dalam kejauhan-Nya. tindakan-tindakan manusia dapat dipertajam. pengurahan diri. dan dapat menerima ide manusia lain. tidak dapat diraba oleh pancaindra.

Lebih lagi dalam WJU.Yang Ada (Yang Ada Hakiki/Tunggal-Nya Allah). inna lillahi wainna illaihi rojiun. Ajaran disajikan secara sistematis. Fungsi seni begitu tinggi.M. Adapun tujuan pokok tersebut diungkapkan pada pembukaan. Tentang Tunggal Nya Allah merupakan tujuan dari penggubahan karya ini. Fungsi-fungsi yang akan diuraikan pada nomor selanjutnya berpusat pada masalah Tunggal-Nya Wujud (Tunggal-Nya Allah). pengarahan manusia ke arah sifat manusiawi bukan tentang hakikat manusia. Kedua alam proses penciptaan manusia (Zaman Kun Fayak). Dengan kat lain dari ‘Ada’ yang a sederhana. seperti di bawah ini: Sim kuring diajar ngagurit lalakon Alam ayeuna tina Hal salira nu jadi pokok sangkan manah bisa terbuka terbuka Tunggalna Wujud dipapay ti memehna aya ‘Hamba belajar menggubah’ ‘perihal Alam (mikrokosmos) kini’ ‘tentang badan yang menjadi pokok bahasan’ ‘agar pikiran jadi terbuka’ ‘memahami tentang Tunggal-Nya Yang Ada’ ‘ditelusuri sejak (badan) belum ada’ . alam setelah wujud manusia terbentuk secara lahiriyah yaitu Zaman Kun Mutlak. ajaran yang cukup muskil. pada konsep “Ada” yang memerlukan penghayatan mendalam. Hal-hal yang dapat disimak dari WJU secara garis besar adalah sebagai berikut: 1) Memberikan pengertian tentang Tunggal-Nya. Kemudian abad ke-4 S. dan mengarahkan ke tujuan manusia paling lop yaitu membimbing manusia meraih the ultimate reality atau hakikat kenyataan. alam Ahadiayat/Allah yang ada sendiri-Nya/Alam Gaib/Dzat Laisa Kamitslilii/Zainun Kun Dzat. melalui penerobosan gejala-gejala yang dapat diindra. 1983: 16). menjadi ajaran yang relatif dapat dicerna. pertama. Pembahasan tentang realitas . Ajaran dalam WJU sangat kompleks. kemudian penerobosan ke alam gaib. Aristoteles mengemukakan bahwa seni dapat menyucikan jiwa ma usia lewat proses n katharsis atau penyucian (Teeuw. “art” masih dijunjung tinggi sebagai “yang menjadikan orang lebih manusiawi” (Hartoko. 1984: Bab VI. Dengan demikian. mulih kajati mulang ka asal. Misalnya di negara-negara berbahasa Inggris.utile dan dulce.. asal dari Allah dan kembali kepada Allah. yang dapat diindra. yaitu dapat membimbing jiwa manusia ke arah yang lebih manusiawi. nikmat dan manfaat (Teeuw. dengan melalui pemahaman yang jelas. Ketiga. Para ahli kemudi n menyetujui pernyataan a tersebut.ketuhanan yang disajikan dalam WJU dalam garis besarnya menekankan. VII). Pembahasan ini menimbulk an kesadaran yang sedalam -dalamnya mengenai kebesaran dan kekuasaan Allah. 1984:220).

e) Menimbulkan kesadaran untuk menjaga kesucian Allah. hawaun ruku. mendoron untuk terus menerus g mencari ilmu. 3) Pembahasan “sifat dua puluh” memiliki fungsi-fungsi yang cukup luas sebagai berikut: a) Membangkitkan kesadaran sebagai khalifah Allah di dunia.Nepi ka aya bukti tina teu aya kana aya geus aya jadi cekcok nyorang kana karamean ngalaman di dunya ayeuna bade diatur urang tetek ti asal-Na ‘Sampai kepada bukti’ ‘dari tidak ada menjadi ada’ ‘sudah ada ramai berkata-kata’ ‘mengalami keramayan’ ‘mengalami (hidup) di alam dunia’ ‘sekarang akan dibahas’ ‘marilah (kita) uraikan dari asal-Nya’ 2) Memberikan pemahaman tentang ma’rifat kupada Allah. penyayang. g) Menumbuhkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan kepada manusia. da maun duduk. mata.). yang ditinggikan dari makhluk lain. Menyadarkan untuk melupakan urusan n . pengampun. menjaga kesucian hidung. yaitu Dzat yang tidak dapat diumpamakan oleh apapun. tapi juga harus menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan apapun. karena bagian tersebut men dapat emanasi dari “sifat dua puluh” Allah. serta berusaha meninggikan martabatnya seoptimal mungkin atas anugerah tersebut. b) Memberikan kesadaran pada manusia. menimbulkan kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa diri manusia sebagai khalifah Allah memiliki kemampuan berupa pancaran (emanasi) dari “sifat dua puluh” Allah. Salat dikerjakan karena ada naluri. c) Memberikan kesadaran yang sedalamdalamnya bahwa kemampuan manusia hanyalah Rahmat Allah. Narun berdiri. dengan demikian manusia dibatasi oleh keterbatasan. telinga. seperti yang ditekankan pada hadis yang berbunyi: Waman arofa nafsahu. turobun sujud. f) Menyadari dan menumbuhkan rasa syukur sedalamdalamnya bahwa manusia dianugerahi sifat ilmu dan sifat ilmu itu merupakan power. Dzat Allah (Dzat Laisa Kamitslihi). 4) Menyadarkan bahwa manusia memiliki tugas penting dalam peribadatan yaitu salat. fakod arofa Robbahu. mulut. Untuk mengetahui Allah. bahwa dirinya mengemban tugas untuk mendekatkan dirinya dengan “sifat-sifat Allah” (antara lain: pengasih. hawaun turobun dan maun pada manusia. d) Menumbuhkan semangat untuk mengembangkan kemampuan anugerah dari Allah seoptimal mungkin. manusia harus memahami diri sendiri. Dengan kesadaran manusia bahwa dirinya mendapat anugerah sifat ilmu. Perilaku beragama yang paling awal adalah mengenal Alah seperti tercantum dalam da yang berbunyi: Awaludin l lil marifatullah. dst.

Menyadarkan manusia untuk bekerja keras menuju pencapaian ter ingginya di t kehidupan akhir yang kekal setelah kematian. 10) Menimbulkan kesadaran kepada manusia terhadap sifat rahman dan rahim Allah. manusia adalah sebagai penentu dirinya (self determining reality) baik untuk kehidupan masa kini maupun untuk kehidupan setelah kematian. Manusia melihat Allah (ketika di dunia) dengan mata hati. 11) WJU mengandung renungan -renungan filsafat yang tinggi. manusia yang mengetahui Tuhan-nya maka dirinya bodoh). Pencapaian manusia baik untuk dunia maupun untuk akhirat tergantung dari kehendak manusia itu sendiri. yakni berupa pengliha tan Muhammad Hakeki. 6) Pembahasan tentang proses penciptaan alam memberikan pemahaman mengenai ‘kejadian manusia’ supaya manusia memahami dirinya dan mengerti tugas apa yang diemban oleh dirinya. Manusia y ang mengetahui dirinya yaitu mengetahui Adam Hakeki dalam dirinya dan selamanya harus selalu menghadap/ melihat/ menyebut asma Allah. yaitu dengan mengenli “sifat dua puluh a ”-Nya. serta b manusia terkena dalil laa hawla wala kuwwata ilia bilahil aliyyil adzim. 8) Menumbuhkan kesadaran manusia bahwa dirinya dibatasi oleh keterbatasan. hawaun. Bahasan di atas tidak dikelompokkan ke dalam filsafa metafisika sebab bahasan ter ebut termasuk ajaran. maun. 5) Mengingatkan kepada manusia bahwa dirinya harus mendekatkan diri/melihat Allah secara kekal. faqod arofa robbahu waman arofa robbahu. 9) Dalil bahwa diri manusia selalu ada dalam penglihatan-Nya yang melekat pada diri manusia menumbuhkan kesadaran pada manusia untuk menjaga diri pada tempat turobun. t s Renungan filsafat yang terdapa pada WJU mengarahkan kesadar n pada jiwa yang t a optimistis. Tuhan telah membagikan rahman rahim kepada manusia dalam ukuran yang sama. Ada hadis yang berbunyi: Man arofa nafsahu. Oleh karena itu manusia bergantung pada Dia. namun ter atas karena Dzat Allah. “Ada” tetapi “Tidak Wujud” (tidak bisa diindra). Inna lillahi winna ilaihi rojiun.jasmani ketika sembahyang. untuk tetap suci yaitu diisi dengan asma Allah supaya dirinya bisa kembali kepada-Nya. Menurut WJU. Dzat Laisa Kamitslihi. Pandangan demikian . dengan petunjuk dari guru mursid.faqod jahillan nafsahu (manusia yang mengetahui dirinya maka akan mengetahui Tuhannya. kemudian menggantinya dengan badan rohani (Isbat Napi) seperti keberadaan Allah. Manusia dapat melihat Allah dengan badan rohani. 7) Mengingatkan bahwa untuk mengetahui Muhammad Hakeki/ badan rohani supaya menjadi tajali kepada Allah dan ‘wajib’ berguru kepada guru mursid. Allah memiliki sifat rahman ra him bagi manusia. Rahman yaitu kasih sayang Allah untuk kehidupan dunia dan rahim yaitu kasih sayang Allah untuk kehidupan akhirat nanti. narun.

tidak frustrasi jika menemu kegagalan. . Teriring permohonan yang sanga emosional. H. siapa pun “adanya” karena dalam setiap diri manusia terdapat 13) Menempatkan terminal akhir dari perjalanan hidup di tempat paling utama. bahkan mungkin akan menimbulkan penolakan. Ajaran yang terkandung dalam WJU ini mungkin tidak dikenal lagi oleh masyarakat masa kini. karena jika rizki yang tidak diridhoi Allah akan tidak sesuai dengan narun. pada setiap hembusa nafas. 14) Menyadarkan manusia untuk mencari rizki yang halal. Namun dalam WJU tersimpan permata-permata indah yang menggugah k esadaran kita untuk tidak sang terikat oleh at kefanaan. karena i manusia laa hawla wal kuwwata ila billahi atiyyil adziim. karena mani yang akan meregenarasi kehidupan berasal dari makanan. setiap ucapan. Abubakar. sepanj n ang pendengaran dan penglihatan. Persoalan yang jelas pasti. liawaun. be rsabar. akan melahirkan . Pencapaiannya tergantung pada dirinya dalam mengaktualisasikan potensi Rasa Rasulluhi-Rahman dari Allah. De ngan demikian WJU menetapkan pijakan yang kokoh dalam kehidupan. turunan yang tidak diharapkan. Amin. yaitu menghadirkan Allah dalam mata hati. manusia akan didalangi oleh “ajal”. Penutup Hal mendasar yang dapat disimak dari WJU adalah b ahwa tujuan manusia yang paling utama kembali kepada-Nya. Permata berharga yang mengantar kita kepada kesejahteraan dunia tanpa ujung ini sering kita sisihkan dari pandangan karena kita terikat oleh rutinitas dalam pengejaran sebutir tanah. semoga Tuhan mengnugerahi t a pemimpin-pemimpin yang mengaktualisasikan potensi rasa Rasulullahi nya agar bangsa Indonesia segera keluar dari badai krisis yang dahsyat ini.[] Kepustakaan Aceh. maun dan turobun azali yang suci yang ada di dalam tubuh rohani Makanan yang tidak diridhoi Allah. 12) Setiap manusia berkewajiban menghargai sesamanya.menyadarkan manusia untuk tidak takabur baik dalam keduniawi n maupun peribadatan a untuk mencapai dunia kulak. Persoalan duniawi merupakan ketidakpastian.

V. Solo: Ramadhani. Edisi ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1991. Ed kedua. . Martin van 1995 Tarekat Naqsyabandiyah Di Indonesia. Great Britain: The Aquarian Press. 1988 Naskah Sunda. Tanpa kota: C. Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17. Edisi Pertama. 1981.H. Second Impression .1995 Pengantar Ilmu Hakikat & Marifat. isi Buinessen. Jakarta Duma Pustaka Jaya. Bintang Pelajar. Jakarta: PT.E. Inventarisasi dan Pendataan. Ecole Francaise d’Extreme-Orient. Gaya Media Pratama. Edisi Pertama Bandung: Penerbit Mizan. A. Menyoal Wahdatul Wujud. Daerah Istimewa Yogyakarta. Wellingborough. Disunting oleh K. Afifi. Edisi kedua. Ahmad Fuad 1995 Filsafat Islam. Diterjemahkan dan penyunting oleh Sutardji Calzoum Bachri. Alghazali. Burckhardt. Djamaris. Edi S. Edisi ketujuh. Al-Ahwani. Ekadjati.Baghdadi. Titus 1984 Efendi Mengenal Ajaran Kaum Sufi. H. dalam Buku Bahasa Sastra Budaya. Ihya Ulumuddin. 1995 Filsafat Mistis Ibnu Arabi. Diterjemahkan oleh Azyumardi Azra dan Bachtiar dari buku: An Introduction to Sufi Doctri ne. Abdurrahman 1995 Seni dalam Pandangan Islam. Sent Vocal. Misbah Zainul Musthofa. Suatu Pendekatan Filologis. Al. Fathurahman. Oman 1999 Tanbih Al-Masyi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Musik & Tari. Jakarta: Pustaka Firdaus. Imam tt. Jakarta: Balai Pustaka. Baried. Edisi keempat. Siti Baroroh 1985 Perkembangan Ilmu Tasawuf di Indonesia. Bandung: Lembaga penelitian Universitas Padjadjaran dan The Toyota Foundation. Bandung: Penerbit Mizan. 1990 Ajaran Moral dalam Susastra Suluk. : Darusuprapto. Diterjemahkan oleh Sjahrir Mawi dan Nandi Rahman dari buku: A Mistical Philosofy of Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Edwar 1990 Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). dkk. Jakarta: Gema Insan Press. 1979.

Bandung: Penerbit Mizan.Haderanie H. Diterbitkan kerjasama Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Ecole Francaise d’ Extreme . Gramedia. Edisi ketujuh. Dick 1993 Manusia dan Seni. 1983. 1980. . editing oleh AhsinMuhamad dari Buku: Al . Disertasi. (4 M) Surabaya: C. Edisi Kedua.M. Hartoko. Mentalitas dan Pembangunan. Bandung.Bandung: Penerbit Mizan. Reynold A. Kairo: Maktaba Kulliyatu Uzhiriyyah. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.Ajaran Sufi. Edisi kelima. Bandung: Penerbit Mizan. Abu Bakar Muhammad al1995 Ajaran . K. Hawwa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.1900 Dari Emperium Sampai Imperium. Lubis. Sa’id 1996 Jalan Ruhani.H. 1998 Wawacan Jaka Ula Jaka Uli: Kajian Filologis.Ruhiyah.Tashawwuf.V. Ma ‘rifat. Sartono 1992 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500. Ilmu Ketuhanan. Kartodirdjo.T. Bunga Rampai. Edisi Pertama. Jakarta: P. Harun 1986 Teologi Islam. . Mesir: Danis Salam. Nasution. Edisi keempat. Koentjaraningrat 1983 Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. Jilid I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (U. Diterjemahkan oleh Khairul Rafie’ M. Penerbit Pustaka. Diterjemahkan oleh Nasir Yusuf. t. dalam Majalah Lembaran Sastra Universitas Indonesia tanggal 19Februari 1993... dan Ibnu Thaha AH dari buku: Tarbiyatunar . Nabilah 1996 Syekh Yusuf Al-Taj Al Makasari: Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Edisi Kesepuluh. Micholson. Abdul 1995 Haniah 1993 “Mistik Jawa Traditional Dalam Suluk Malang Sumirang” Suatu Kajian Filosofis Hamzah Famuri: Risalah Tasawufdan Puisi-Puisinya.t. Musyahadah. Mukasyafah dan Muhabbah.I. Hadi W.Ta ‘arrufhMadzab AM at. Amin.Press). Kalabadzi.N.

Subadio. Adullah dari buku A Reader Guide To : Contemporary Literary Theory. Edisi ketiga. (Ed). Sulastin 1981 Relevansi Studi Filologi. 1983 Membaca dan Menilai Sastra. A. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Rachmat Djoko Pradopo dan penyunting oleh Imran T. 1991 “Unsur Tasauf Islam dalam naskah Melayu Klasik”. Zahari.M. van 1980 Orientasi di Alam Filsafat. SerilNIS XXIV Jakarta: Indonesian . C. 1985 Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Filologi pada Fakultas Sastra dan K ebudayaan Universitas Gadjah M ada. Sardjono-Pr. Sutrisno. Purwakdaksi.P. Jakarta: Gramedia.. Raman 1993 Panduan Pembaca teori sastra Masa kini. Nomor Khusus. . Surahardjo.V. Partini 1992 Pengantar Pengkajian Sastra. Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa Edisi kedua. A. Edisi Pertama. Teeuw. A. Tanggal 12 Januari 1991. Rahim 1995 Posisi Tasawuf Dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abad ke-19. dalam Majalah Lembaran Sastra “Naskah dan Kita”.12 Januari 1991. Jakarta: Pustaka Firdaus. Abd. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. . Y. Diterjemahkan oleh Sutejo. 1977.A. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Pradnya Paramita. Nomor Khusus.Netherlands Cooperation in Islamic Studies (IMS). Yunus. tgl. Peursen. Haryati 1991 Relevansi Pernaskahan dengan Berbagai Bidang Ilmu. dalam Majalah Lembaran Sastra Khusus “Naskah dan Kita “.1993 Ajaran dan Pengalaman Sufi/Jalaluddin Rumi. editing Al Haj Sutarji Calzoum Bachri dari buku: Rumi Poet andMistics. Bandung: Yayasan Pustaka Wina. Yogyakarta: Liberty. Selden. Simuh 1996 Sufisme Jawa. Diterjemahkan oleh Dicek Hartoko dari buku: Filosofische Onentatie. 1983 Mistisisme.

1977 Sejarah dan A dat Fiy Darul Butuni (Buton). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Intermasa . Zoest. Aart van 1990 Fiksi dan Nonflksi dalam Kajian Semiologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful