P. 1
Ringkasan Disertasi

Ringkasan Disertasi

|Views: 277|Likes:
Published by denny KARWUR
Rancangbangun Hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara
Rancangbangun Hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: denny KARWUR on Nov 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2015

pdf

text

original

1

RINGKASAN DISERTASI

RANCANGBANGUN HUKUM DALAM PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR KASUS PULAU MARORE DAN PULAU MIANGAS PROVINSI SULAWESI UTARA

DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

2

Judul Disertasi Rancangbangun Hukum dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar: Kasus Pulau Marore dan Pulau Miangas, Provinsi Sulawesi Utara Denny Benjamin Albrecht Karwur NRP : C261030051 Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA (Ketua) Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS (Anggota) Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja (Anggota) Dr. Ir. Victor Ph. Nikiluluw, MSc (Anggota) Prof. Dr. Maria F. Indrati, SH, MH (Anggota)

Penguji Luar Komisi : Prof. Dr. Hasjim Djalal, SH., MA Prof. Dr.Ir. Alex S.W. Retraubun, MSc

Pimpinan Sidang: Prof.Dr.Ir. Muladno, MSA

Ujian Terbuka pada : Hari/tanggal : Jumat, 13 Agustus 2010 Pukul : 09.00 sampai selesai Tempat : Ruang Sidang Lantai VI IPB Bogor

3

ABSTRACT DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR. Law Design in Managing Outermost Small Islands: Case Marore Island and Miangas Island, North Sulawesi Province. Under the supervision DIETRIECH G. BENGEN, ROKHMIN DAHURI, DANIEL R. MONINTJA, VICTOR PH. NIKIJULUW, and MARIA F. INDRATI. Small islands border region has a tremendous potential in supporting national development. The determination of management policy is very important because of the strategic of border marine resources existence. The islands in the border regions of the country are vulnerable to the intervention of other countries and transnational crimes. The concept of development policy of small islands in Indonesia must be planned and implemented in an integrated manner for the development and welfare of the nation. The northern regions, i.e. the North Sulawesi Province, that locates next to the Philippines is important for the integrity of the management of small islands and border areas and of law enforcement in Indonesia. Target elements, elements and strategies explain the delimitation of the nation borders between Indonesia and the Philippines, in particular the Exclusive Economic Zone (EEZ) that overlaps each other, to optimize the management of natural resources. Draft of Law of Small Islands State Border and the provision of local government authority to carry out assistance duty of border management and stating Small Islands in the border regions as state islands and given a special certificate. Keywords: Coastal Law, Delimitation of EEZ of Indonesia, Law Enforcement, Management for Small Island State Border, Defense and security of state border, Conservation, Environmental Preservation and Certificate of State Island

4

RINGKASAN DENNY BENJAMIN ALBRECHT KARWUR, Rancangbangun hukum dan Pelaksanaannya dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara, Dibimbing oleh DIETRIECH G. BENGEN, ROKHMIN DAHURI, DANIEL R. MONINTJA, VICTOR PH. NIKIJULUW, dan MARIA F. INDRATI. Pulau-pulau kecil wilayah perbatasan memiliki potensi sangat besar dalam menunjang pembangunan nasional. Penentuan kebijakan pengelolaan merupakan hal yang sangat penting, karena keberadaan (eksistensi) sumberdaya kelautan perbatasan sangat strategis. Pulau-pulau di daerah perbatasan wilayah negara rentan terhadap intervensi negara lain, dan kejahatan transnasional. Konsep kebijakan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia harus direncanakan dan dilaksanakan secara terpadu untuk pembangunan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Indonesia bagian utara yang perbatasan dengan negara Filipina, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini mengkaji keterpaduan pengelolaan pulau kecil didaerah perbatasan dan penegakan hukum Indonesia dengan perangkat peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan elemen sasaran, elemen dan strategi menunjukkan bahwa penetapan batas negara (delimitasi) khususnya Zona Ekonomi Eksklusif, antara negara Indonesia dan Filipina yang tumpang tindih sehingga mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam dapat maksimal. Rancangbangun hukum dan pelaksanaannya diarahkan pada hubungan diplomatik antar kedua negara dengan pertemuan bilateral menyelesaikan batas wilayah negara, pengakuan wilayah secara bersama dan melaporkan kepada Perserikatab Bangsa-Bangsa dalam bentuk Undang-Undang Perbatasan Negara dan lampiran Peta Batas Negara. Pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah melaksanakan tugas pembantuan pengelolaan wilayah perbatasan. Pulau-Pulau Kecil di perbatasan wilayah negara di tuangkan dalam bentuk Sertifikat Pulau Negara. Nilai skor faktor eksternal pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara adalah 2.339. Menurut David (2004), nilai skor di bawah 2.5 mengindikasikan bahwa pemanfaatan peluang dan mengatasi ancaman belum efektif. Tingkat kepentingan yang paling atas dari faktor eksternal adalah respon pengawasan perbatasan laut antar negara, yaitu mendapat bobot 0.126. Respon pengawasan yang masih lemah ini perlu diperbaiki dengan penegakan perangkat hukum dan peningkatan kapasitas kelembagaan pada unit kerja pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, sampai tingkat Nasional. Pengawasan dan penegakan hukum sangat dibutuhkan agar dapat diperoleh suatu kepastian hukum dalam menjaga kepentingan negara dari gangguan asing. Bidang kelembagaan penegakan hukum pengelolaan pulaupulau kecil terluar perlu ditingkatkan sehingga terwujud penegakan peraturan perUndang-Undangan, pengawasan, pemantauan, pengamanan, dan pertahanan keamanan baik wilayah maupun sumberdaya. Faktor eksternal didukung oleh kebijakan pemerintah untuk membentuk kelembagaan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang merupakan prioritas kedua dari faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara dengan bobot 0.121. Dengan kelembagaan yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 diharapkan setiap lembaga yang terkait mampu melakukan koordinasi kelembagaan yang efektif dan mampu memainkan peran

5

sesuai kewenangannya. Faktor eksternal lain yang merupakan peluang dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar perbatsan negara antara lain kebijakan nasional mendorong investasi, kebijakan pemerintah dalam pemberian otoritas pengelolaan wilayah, meningkatnya kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil sumberdaya alam, konvensi Internasional terhadap hukum laut Indonesia dan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga. Faktor-faktor lain sebagai peluang dan pendukung bagi peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, adalah peranan langsung aspek hukum dan kelembagaan. Kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga Filipina mampu mengkoordinasikan permasalahan wilayah perbatasan yang menjadi hak masing-masing negara. Ancaman dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar adalah belum ada penetapan batas laut yang disepakati bersama (ZEE) dengan bobot 0.113. Hal ini perlu untuk segera diselesaikan dan disepakati dengan upaya-upaya politis dan diplomatis. Namun demikian adanya konflik kepentingan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan bobot 0.099 dapat menjadi ancaman dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar sehingga sering menimbulkan konflik yang sulit diselesaikan karena tidak jelasnya kewenangan antar lembaga maupun antar pemerintahan pusat dan daerah. Oleh karena itu, diperlukan keterpaduan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Kondisi nyata dari pulau-pulau kecil perbatasan negara, saat ini adalah pemanfaatan sumberdaya alam hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masih adanya permasalahan di bidang hukum dan kelembagaan. Bukti nyatanya adalah maraknya pencurian ikan di kawasan tersebut dan sampai saat ini diakibatkan belum ada kepastian garis batas laut dan darat antara Indonesia dan Filipina. Pada aspek sosial ekonomi juga belum menunjukkan pertumbuhan, pulau-pulau tersebut masih mengalami keterisolasian dan tingkat kesejahteraan yang rendah. Begitu juga dengan lemahnya sistem pendanaan sehingga pelaksanaan program-program pembangunan belum bisa dilaksanakan secara kontinu. Komitmen pemerintah mengeluarkan kebijakan membentuk kelembagaan baru dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Berdasarkan Peraturan Presiden No 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Dalam pengelolaan perlu kelembagaan yang merupakan wadah koordinasi non struktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kelembagaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dilaksanakan oleh tim koordinasi yang telah dibentuk yang terdiri dari ketua Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) dan wakil ketua I merangkap Anggota Menteri Perikanan dan Kelautan dan Wakil Ketua II merangkap Anggota Menteri Dalam Negeri, sedangkan Sekretaris adalah Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Polhukam. Keanggotaan kelembagaan terdiri dari TNI, kepolisian, badan intelijen dan kementerian yang lain. Keberhasilan pengelolaan pulau-pulau kecil di perbatasan negara adalah pengembangan sebuah mekanisme prosedural untuk mengkoordinasikan kebijakan anggaran dan kebijakan pengelolaan. Pelaksanaan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara, telah ditetapkan organisasi Badan Nasional Pengelola Perbatasan dalam Peraturan Presiden. Menurut Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). BNPP sesuai Pasal 3, mempunyai tugas : penyusunan dan penetapan rencana induk dan rencana aksi pembangunan Batas Wilayah Negara dan Kawasan

6

Perbatasan; pengoordinasian penetapan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, pengelolaan serta pemanfaatan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan; pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan dan pengamanan Batas Wilayah Negara; inventarisasi potensi sumber daya dan rekomendasi penetapan zona pengembangan ekonomi, pertahanan, sosial budaya, lingkungan hidup dan zona lainnya di Kawasan Perbatasan; penyusunan program dan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan dan sarana lainnya di Kawasan Perbatasan; penyusunan anggaran pembangunan dan pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan sesuai dengan skala prioritas; pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan serta evaluasi dan pelapora pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. Mekanisme koordinasi dalam pembuatan keputusan mengenai pengelolaan perbatasan negara dan konservasi sumberdaya pulau-pulau kecil perbatasan negara: (1) koordinasi antara pemerintah dan kalangan swasta; (2) koordinasi vertikal antara berbagai tingkatan pemerintah, kabupaten/kota, provinsi dan pusat; dan (3) koordinasi horizontal antara berbagai sektor pada tiap tingkatan pemerintahan. Kata Kunci : Hukum Pesisir, Delimitasi ZEEI, Penegakan Hukum, Pengelolaan Pulau Kecil Perbatasan Negara, Pertahan dan Keamanan Perbatasan Negara, Sertifikat Pulau Negara.

7

PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Tuhan Allah, Yang Maha Esa, karena hanya kemurahan dan bimbinganNya sehingga saya dapat menyelesaikan disertasi sebagai karya ilmiah, dengan judul : Rancangbangun Hukum dan Pelaksanaannya dalam Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Provinsi Sulawesi Utara. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Pulau Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Pulau Miangas Kabupaten Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara. Data primer, sekunder dan informasi dari ekspert yang berasal dari berbagai sumber yaitu Pemerintahan, Swasta, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lain. Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya penulis ucapkan kepada : 1 Prof. Dr. Ir. Dietricht G. Bengen, DEA, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Prof.Dr. Ir. Daniel R. Monintja, Dr. Victor Ph. Nikijuluw, MSc, dan Prof.Dr.Maria F. Indrati, SH,MH, selaku Komisi Pembimbing, atas segala bimbingan, arahan selama penulis melakukan penelitian dan penulisan disertasi ini 2 Prof.Dr. Mennofatria Boer, DEA, dan Dr.Ir. Luky Adrianto, M.Sc selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, semua staf pengajar yang telah memberikan pendidikan dan pengajaran. 3 Dr.Ir. Luky Adrianto, MSc dan Dr. Ir. Achmad Fahrudin, MSi selaku penguji luar komisi pada ujian tertutup, dan Prof.Dr. Hasjim Djalal, SH, MA dan Prof.Dr.Ir. Alex S.W Retraubun, MSc selaku penguji luar komisi pada ujian terbuka. 4 Drs. Sinyo H. Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara, Dr. Elly E. Lasut, MM, selalu Bupati Kepulauan Talaud, Drs. Winsulangi Salindeho, selaku Bupati Kepulauan Sangihe yang telah membantu dana, data dan informasi 5 Dirjen Pendidikan Tinggi yang telah memberikan kesempatan dan biaya pendidikan (BPPS) dan Hibah Doktor untuk melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan Strata 3 di Institut Pertanian Bogor 6 Pimpinan Rektor, Dekan Fakultas Hukum dan Staf Universitas Sam Ratulangi 7 Ineke Togas, S.Sos, Istri, dengan penuh kesabaran mendampingi dan mendorong, dan tercinta anak-anak Arthur L.M. Karwur, SE, MSi dan Fera D. Mait, S.Pi (menantu), Mercy C.B. Karwur, SE dan Audy Opit SE (menantu), Grace M.F. Karwur, SH, MH dan Lucky Tompunu, ST (menantu) serta cucucucu Kenneth dan Rogelio, Adik Leenda, adik ipar Drs. Tonny Rasuh, anakanak Daryl dan Kevyn, kalian semua dengan setia selalu mendorong, mendoakan keberhasilan menyeselesaikan studi. 8 Para nara sumber di Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Dalam Negeri RI, Kementerian Sumberdaya Energi dan Mineral RI, Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud yang telah membantu data dan informasi 9 Teman-teman angkatan ke-8 dan teman-teman pada Program Studi SPL serta semua mahasiswa asal Sulawesi Utara yang menempuh pendidikan di IPB Bogor 10 Serta semua pihak yang tidak dapat penulis disebutkan satu persatu yang telah membantu mengumpulkan data dan informasi serta membantu menganalisis data

8

Penulis menyadari hasil karya disertasi ini perlu masukan demi penyempurnaannya, kiranya karya tulis ini bermanfaat dan memperkaya literatur ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Hukum dan Ilmu Pengelolaan Pesisir dan Lautan di Indonesia. Bogor, Juli 2010 Denny Benjamin Albrecht Karwur

9

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tomohon, Sulawesi Utara pada tanggal 28 November 1955 sebagai anak pertama dari ayah John Robert Karwur (almarhum) dan bunda Dety Neltje Jansje Raintung (almarhumah), menikah pada tanggal 22 September 1977 dengan Ineke Togas, dan dikaruniai tiga orang anak yaitu Arthur, Mercy dan Grace. Pendidikan Strata Satu (S1) di tempuh pada Fakultas Teknik Sipil Unsrat tahun 1975-1978 (tidak dilanjutkan) kemudian pindah tahun 1980 pada Program Studi Ilmu Hukum/ Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, lulus tahun 1987. Melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Strata Dua (S2) pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pembangunan / Hukum Lingkungan, Pesisir dan Lautan, Universitas Sam Ratulangi, lulus pada tahun 1998. Membantu Program UCE/CEPI – Indonesia-Canada tahun 1995-1997 dalam Program Lingkungan Hidup di Manado, selanjutnya sebagai Konsultan Hukum pada Proyek Pesisir/Mitra Pesisir/ CRMP I-II /USAID, tahun 2003-2005 dengan kegiatan penyusunan Rancangan/Penetapan Peraturan Kampung/Desa Pesisir dan Peraturan Daerah Kabupate Minahasa / Provinsi Sulawesi Utara tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Berbasis Masyarakat, dan pada tahun 2005-2007 membantu Program MCRMP dan COREMAP/DKP, tahun 2005-2007, dalam kegiatan penyusunan Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang No. 27 Tahun 2007, serta membantu di 15 Provinsi dan 42 Kabupaten Kota dalam penyusunan Rancangan/Penetapan Peraturan Daerah Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut. Tahun 2003 diterima untuk melanjutkan Pendidikan Strata Tiga (S3) pada Program Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor, dengan biaya pendidikan dari Kementerian Pendidikan Nasional (BPPS). Penulis diangkat sebagai Staf Pengajar / Pegawai Negeri Sipil sejak tahun 1988 sampai saat ini, pada Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado.

10

DAFTAR ISI ABSTRACT RINGKASAN PRAKATA RIWAYAT HIDUP PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Umum Penelitian Pendekatan Pemecahan Masalah Kerangka Pemikiran METODE Tempat dan Waktu Penelitian Rancangan Penelitian TAHAPAN PENELITIAN Analisis Data Analytical hierarchy process (AHP) Analisis SWOT Analisis Diagnosa dan Terapi Hukum (Diagnosis and Therapy Analisys of Law) HASIL DAN PEMBAHASAN Batas Maritim Negara Indonesia –Filipina Hirarki Rancangbangun Hukum Pesisir Kriteria Expert Judgment Hasil Analisis DTAL Harmonisasi Hasil analisis AHP Skenario Strategi Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Sintesis Sensivitas Analisis Sensivitas Dinamis Hasil Analisis Head to head Rancangbangun Hukum menurut Pemerintah Rancangbangun Hukum menurut Akademisi 15 18 18 19 20 20 21 45 47 51 55 55 56 56 57 58 i ii v vii 1 1 3 4 5 7 7 7 8 11 11 14

11

Rancangbangun Hukum menurut Strategi Perwilayahan Rancangbangun Hukum menurut Budaya Lokal Rekomendasi Peran bagi Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota Kajian Faktor Eksternal dan Internal Faktor Eksternal Faktor Internal Hasil Evaluasi Eksternal dan Internal Evaluasi Faktor Eksternal Evaluasi Faktor Internal Evaluasi Gabungan Faktor Strategis Eksternal dan Internal Hasil Analisis SWOT Strategi Kekuatan – Peluang: (Strengths – Opportunities (S-O) Strategi Kekuatan – Ancaman: Strength – Threats (S-T Strategi Kelemahan – Peluang: Weakness – Opportunities (W-O) Strategi Kelemahan – Ancaman: Weakness – Threats (W-T) KESIMPULAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

58 58

59 61 61 61 64 64 66 69 70 72 74 75 76 77 80 82 90

12

DAFTAR TABEL 1. Daftar ekspert dan instansi responden 2. Skala pendapat (nilai dan definisi) 3. Nilai konsistensi random 4. Penetapan alternatif sasaran rancangbangun hukum dan pelaksanaannya 5. Informasi untuk analisis expert 6. Hasil analisis faktor AHP 7. Prioritas elemen factor 8. Prioritas elemen alternatif strategi 9. Analisis skenario 10. Alternatif skenario 11. Hasil kuesioner responden 12. Sosial ekonomi 13. Peran Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota 14. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal 15. Matriks Evaluasi Faktor Strategis Internal 13 20 48 48 49 52 53 54 54 59 65 67 10 12 13

13

DAFTAR GAMBAR 1. Kerangka pemikiran 2. Peta Perbatasan Negara Indonesia – Filipina 3. Diagram tahapan penelitian 4. Analisis SWOT 5. Peta lokasi penelitian perbatasan negara Indonesia dan Filipina 6. Rancangbangun hukum pulau-pulau kecil terluar 7. Rancangbangun hukum dan pelaksanaannya pengelolaan pulau kecil terluar 8. Hasil analisis faktor 9. Prioritas elemen alternatif strategi 10. Hasil analisis faktor sosial ekonomi 11. Sintesis rancangbangun penataan wilayah 12. Dinamik sensitif 46 48 49 54 55 56 57 71 6 7 9 14 18 19

13. Analisis head to head penataan batas wilayah dan pemerintah 14. Matriks SWOT

14

PENDAHULUAN Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) yang berciri nusantara mempunyai kedaulatan atas wilayah serta memiliki hak-hak berdaulat di luar wilayah kedaulatannya untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 25A mengamanatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batasbatas secara geografis berada pada posisi silang antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dengan panjang pantai 95.181 km2 dan dengan wilayah laut seluas 5,8 juta km2 serta terdiri dari sekitar 17.480 pulau (Numberi 2009), beserta semua ekosistem laut tropis produktif yang terurai, dikelilingi oleh pulaupulau kecil. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia memiliki

keanekaragaman habitat yang sangat tinggi, memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan kelautan yang sangat besar, yang terdiri atas

sumberdaya alam dapat pulih (renewable resouces), dan sumberdaya alam tidak dapat pulih (non-renewable resouces). Sumberdaya alam dapat pulih

diantaranya berbagai jenis ikan, terumbu karang, lamun dan mangrove. Sumberdaya alam tidak dapat pulih meliputi minyak bumi, gas, mineral, bahan tambang/galian seperti biji besi, pasir, timah, bauksit serta bahan tambang lainnya; sedangkan jasa lingkungan pulau kecil yang sangat prospektif adalah kegiatan pariwisata bahari. Pulau-pulau kecil memiliki potensi sangat besar dalam menunjang pembangunan nasional sehingga penentuan kebijakan pemanfaatan merupakan hal yang sangat penting, karena dengan keberadaan pulau-pulau kecil inilah maka keberadaan (eksistensi) sumberdaya kelautan menjadi strategis. Dengan demikian, penting untuk dipahami seberapa besar dukungan keberadaan pulaupulau kecil terhadap keberlangsungan sumberdaya kelautan secara umum. Oleh karena itu konsep kebijakan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia yang direncanakan, hendaknya berdasarkan azas kelestarian alam dan keberlanjutan lingkungan yang ada; sehingga pada akhirnya pengembangan berbagai aktivitas pembangunan secara terpadu di pulau-pulau kecil sebagai wujud pemanfaatan

15

sumberdaya alam dan jasa-jasa kelautan, diharapkan dapat menjadi faktor pendukung pulau-pulau kecil Indonesia secara berkelanjutan (Bengen 2006). Kegiatan pengelolaan pulau-pulau kecil menghadapi berbagai ancaman baik dari aspek ekologi yaitu terjadinya penurunan kualitas lingkungan, seperti pencemaran, perusakan ekosistem dan penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing) maupun dari aspek sosial yaitu rendahnya aksesibilitas dan kurangnya penerimaan masyarakat lokal. dan Oleh karena itu, di dalam

mengantisipasi

perubahan-perubahan

ancaman-ancaman

tersebut,

pengelolaan pulau-pulau kecil harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Kebijakan dan Strategi Nasional pengelolaan pulau-pulau kecil dapat berfungsi sebagai referensi nasional (national reference) atau pedoman bagi kegiatan lintas sektor baik pusat maupun daerah dalam mengembangkan dan memanfaatkan pulau-pulau kecil, sehingga kebijakan dan strategi hukum penetapan batas wilayah negara dan pengelolaan pulau-pulau kecil perbatasan, sangat penting sehingga menyebabkan upaya pengelolaan pulau-pulau kecil menjadi optimal. Kegiatan pembangunan pesisir dan laut khususnya pulau-pulau kecil di daerah perbatasan negara, dinyatakan berkelanjutan, jika kegiatan tersebut mencapai tiga tujuan pembangunan berkelanjutan, yakni berkelanjutan secara ekonomis, ekologis, dan sosial politik. Pulau-pulau kecil terluar dalam pencapaian pembangunan dapat ditinjau dari 5 (lima) aspek yaitu : Sumberdaya Alam, Sosial Budaya, Sosial Politik, Sosial Ekonomi dan Pertahanan Keamanan, yang merupakan bagian dari pembangunan berlanjutan. Pencapaian keterpaduan pengelolaan pulau-pulau kecil harus

mengetahui karakteristik pulau kecil yaitu karakteristik pulau-pulau kecil yang biogeofisiknya menonjol menurut Bengen dan Retraubun (2006) yaitu : (1) Terpisah dari habitat atau pulau induk (main land), sehingga bersifat insuler, (2) Sumberdaya air tawar yang terbatas, dimana daerah tangkapan airnya relatif kecil, (3) Peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia, misalnya badai dan gelombang besar serta

pencemaran,

16

(4) Memiliki sejumlah jenis endemik yang bernilai ekologis tinggi, (5) Area perairan yang lebih luas dari area daratannya dan relatif terisolasi dari daratan utama (benua atau pulau besar). Jika pulau tersebut berada di batas suatu negara, maka keberadaan pulau tersebut mempunyai nilai yang sangat strategis untuk penentuan teritorial suatu negara, (6) Tidak mempunyai hinterland yang jauh dari pantai. Berdasarkan karakteristik pulau-pulau kecil di atas maka pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, yang merupakan bagian dan tidak terpisahkan dari pemanfaatan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, sehingga perlu dilakukan zonasi oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten kota dalam wilayah hukum dan administrasi. Penyusunan rencana zonasi harus diserasikan, diselaraskan dan diseimbangkan dengan rencana tata ruang wilayah. Perencanaan dilakukan dengan mempertimbangkan : (1) keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dengan daya dukung

ekosistem, fungsi pemanfaatan dan fungsi perlindungan, dimensi ruang dan waktu, dimensi teknologi dan sosial budaya, serta fungsi pertahanan dan keamanan; (2) keterpaduan pemanfaatan berbagai jenis sumber daya, fungsi, estetika lingkungan, dan kualitas lahan pesisir; dan (3) kewajiban untuk mengalokasikan ruang dan akses masyarakat dalam pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil yang mempunyai fungsi sosial dan ekonomi. Pencapaian keterpaduan fungsi dari pulau-pulau kecil terluar harus dituangkan dalam rencana zonasi dalam kurun waktu berlakunya yaitu selama 20 (dua puluh) tahun dan dapat ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun, dan dituangkan dalam Peraturan Daerah. Tujuan Umum Penelitian Tujuan umum penelitian adalah merancangbangun hukum dan

pelaksanaannya dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di perbatasan negara, dengan mempertimbangkan keterpaduan pengelolaan pulau kecil di wilayah pesisir bagi keberlanjutan pengelolaan sumberdaya, kesejahteraan masyarakat dan pengakuan wilayah negara Republik Indonesia. Keterpaduan

17

mencakup aspek sumberdaya alam, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan kelembagaan. Secara spesifik tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi coastal problems/coastal disease di daerah perbatasan negara dan menyelesaikan problem yang sudah sejak dahulu dan hingga saat ini berlangsung terus-menerus antara lain: pencurian ikan oleh nelayan asing, jalur laut pelintasan kapal asing, perusakan dan pencemaran lingkungan, perdagangan illegal antar negara, penyelundupan, pelintas batas masyarakat lokal, termasuk kejahatan transnasional seperti jalur terorisme, perdagangan senjata, perdagangan ikan di tengah laut, narkotika, woman traficking dan lainnya (2) Mengidentifikasi dan upaya penegakan hukum internasional yang telah di ratifikasi serta hukum nasional di wilayah pesisir dan laut sebagai upaya strategi dan harmonisasi hukum dalam pengelolaan pulau-pulau kecil di perbatasan negara, (3) Merumuskan alternatif kebijakan penetapan kembali batas wilayah negara (delimitasi) pulau perbatasan sebagai titik dasar (TD), dan titik referensi (TR) pengukuran dan pemanfaatan sumberdaya di Zona Ekonomi Eksklusif

Indonesia, dalam meningkatan pendapatan negara dan daerah pada sektor perikanan serta meningkatkan sosial ekonomi untuk kesejahteraan

masyarakat lokal. (4) Merancangbangun hukum sebagai alternatif kebijakan nasional dan regional yang sudah berlaku untuk pelaksanaan pengelolaan pulau-pulau kecil di perbatasan negara.

Pendekatan Pemecahan Masalah Karakteristik wilayah pesisir dan laut yang kompleks, terjadi konflik pemanfaatan pesisir dan pulau-pulau kecil masih terus berlangsung, hal ini dapat disebabkan karena laju peningkatan penduduk, peningkatan teknologi

mengakibatkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil semakin rusak dan berdampak negatif pada keberlanjutan sumberdaya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Permasalahan di wilayah pesisir sangat kompleks sehingga

menggambarkan keadaan pesisir dalam keadaan “sakit” yang telah berlangsung terus menerus sejak dahulu hingga saat ini seperti: tindakan penambangan

18

terumbu karang, pasir, penanggkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak atau racun, pencemaran lingkungan dengan membuang limbah dari kegiatan rumah-tangga, pabrik, pelabuhan laut, pertambangan, pemanfaatan ruang laut untuk reklamasi, kegiatan budidaya perikanan, mutiara, rumput laut, serta pemanfaatan pulau-pulau kecil untuk pariwisata dan lain-lain, sehingga kegiatan-kegiatan tersebut berdampak positif akan terjadi penurunan fungsi lingkungan dan konflik kepentingan antara pemerintah dengan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, sehinga apabila kegiatan-kegiatan tersebut yang sudah berlangsung sejak dahulu kala telah menjadi penyakit pesisir (coastal disease), dimana suatu keadaan dari lingkungan pesisir yang menyebabkan tidak alamiah, disfungsi atau kesukaran terhadap lingkungan yang dipengaruhi. Untuk menyembuhkan penyakit perlu kebijakan dan program bersama pemerintah dan masayrakat. Semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, moral, hak milik, kekeluargaan, kerukunan, disiplin, lingkungan hidup, kemanusiaan, adat istiadat dan hukum formal perlu untuk penanggulangannya secara komperehensif dan dipertangungjawabkan secara ilmiah adalah patologi pesisir (coastal pathology). Secara umum permasalahan yang ada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sudah sangat memperihatinkan sehingga dapat disebut sebagai suatu penyakit yang kronis karena tingginya kegiatan eksploitasi sumberdaya dan pemanfaatannya yang berlangsung lama, dan terus menerus dilakukan untuk berbagai kepentingan pemanfaatan pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan sumberdaya dan lingkungan, antara lain: sektor perikanan laut, pertambangan, pemukiman, kepelabuhanan, kepariwisataan dan lain-lain, sehingga kegiatan yang melampaui daya dukung lingkungan menyebabkan masalah pesisir (coastal problems) sehinga dapat menjadi penyakit pesisir (coastal disease) dan perlu perhatian dan penangganan penanggulan (terapi) secara khusus berdasarkan hasil penelitian (diagnosa). Kerangka Pemikiran Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbatasan dengan 10 negara di wilayah laut, dengan demikian Indonesia mempunyai peran dalam politik luar negeri/internasional untuk menentukan persepsi kewilayahan dalam konteks negara maritim, sehingga kepastian pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, yang adalah batas negara merupakan suatu kajian yang harus segera

19

diselesaikan melalui berbagai pertemuan dan pembahasan internasional bilateral maupun multilateral. Kerangka pemikiran pengelolaan adalah untuk

keberlanjutan sumberdaya, kesejahteraan masyarakat dan kepastian hukum.

Internal

Eksternal

Masalah Hukum di Pulau-Pulau Kecil Terluar (coastal desease) RANCANG BANGUN HUKUM YANG SUDAH ADA (Peraturan per UU yang berlaku) RANCANG BANGUN HUKUM YANG RELEVAN (Peraturan
per UU yang dicitacitakan)

KEBIJAKAN TERPADU PENGELOLAAN PULAU – PULAU KECIL TERLUAR DI PERBATASAN NEGARA

ANALISIS PERELEVAN SIAN

AHP

SWOT

DTAL

Gambar 1 Kerangka pemikiran Coastal disease / Coastal conflict 1. Batas wilayah negara 2. Hak berdaulat di ZEE & Landas Kontinen 3. Hukum, sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat 4. Keterpencilan 5. Kesenjangan ekonomi 6. Transnational crimes , illegal fishing, illegal logging, illegal imigrant, trafficking, terorims, people smuggling, narcotics, politic problem 7. Sarana dan prasarana terbatas 8. Pemanfaatan sumberdaya belum optimal 9. Pertahanan dan keamanan (security)

20

METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilakukan di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud di Provinsi Sulawesi Utara. Lokasi yang dipilih untuk penelitian sangat menarik karena berbatasan langsung dengan negara

Sumber : Microsoft Encarta 2009

Gambar 1 Peta perbatasan Indonesia – Filipina di Sulawesi Utara Filipina. Waktu penelitian pengambilan data primer telah dilakukan pada bulan Mei dan Juni, karena keadaan cuaca dan laut di wilayah penelitian sangat menunjang untuk penelitian, sedangkan pengambilan data sekunder dilakukan sejak penyusunan usulan penelitian hingga proses pengolahan data. Rancangan Penelitian Berpijak dari kerangka pemikiran bahwa pengelolaan pulau-pulau kecil terluar sangat strategis sehingga penelitan tentang perbatasan negara serta pengelolaan pulau kecil dikaitkan dengan kebijakan dan penegakan hukum, perlu diteliti dengan menganalisis potensi dan permasalahannya yang mencakup aspek sumberdaya alam, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan kelembagaan termasuk pertahanan dan keamanan. Hasil yang ditemukan dari penelitian yaitu konsep tentang pengelolaan pulau-pulau kecil di daerah perbatasan negara dan konsep peraturan perundangundangan yang khusus mengatur tentang perbatasan negara.

21

Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud ditetapkan sebagai lokasi penelitian setelah memperhatikan aspek-aspek yang spesifik yaitu: (1) Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud

merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Filipina. (2) Dari sekitar 124 pulau yang terdiri atas tiga gugusan kepulauan, maka terdapat 11 pulau yang posisinya tercatat sebagai pulau-pulau terluar, baik berpenghuni maupun tidak berpenghuni. (3) Terdapatnya potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan seperti: perikanan laut, pertanian tanaman kelapa pala dan cengkih; pariwisata bahari, sehingga penanganan serta pemanfaatan pulau-pulau kecil terluar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, harus segera

diimplementasikan. (4) Perhatian pemerintah terhadap pulau-pulau kecil terluar harus lebih ditingkatkan, karena sangat rentan terjadinya permasalahan: perusakan lingkungan, pencurian ikan, pelintas batas, penyelundupan, dan perdagangan manusia, pertahanan keamanan. (5) Kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar belum tersedia secara lengkap, sehingga penelitian ini dapat menghasilkan konsep formulasi hukum dan pelaksanaannya serta informasi terkait untuk pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. TAHAPAN PENELITIAN Berdasarkan kriteria di atas maka kegiatan penelitian telah dilakukan dengan tahap persiapan yang mencakup penetapan lokasi, penyusunan kuesioner, penentuan responden/key person untuk menjawab tujuan penelitian. Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data yang meliputi: data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dari responden/key person dengan menggunakan kuesioner dan wawancara yang mendalam/indept interview. Pengumpulan data dilakukan di tiga lokasi, yaitu: Jakarta, Provinsi Sulawesi Utara, dan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data dan analisis, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan disertasi sebagai tahap akhir. Tahapan penelitian pengumpulan data sekunder menggunakan metode partipafory appraisal dalam bentuk field research. Menurut Babbie (1991), bahwa field

22

research merupakan metode penelitian sosial yang menggunakan pengamatan langsung terhadap status subjek penelitian pada kondisi yang sebenarnya. Field research rnerupakan gabungan dari pengamatan partisipasi, pengamatan langsung dan studi kasus, dan secara umum adalah metode penelitian sosial yang bersifat kualitatif.

Persiapan penelitian

Pengumpulan data

Perumusan dan penyusunan proposal penelitian

Penyusunan kuesioner

Data Primer Pusat

Data Sekunder

Studi Pustaka an

Provinsi
Kabupaten Pengolahan dan validasi data Analisis Data

Penulisan
Disertasi

Gambar 2 Diagram tahapan penelitian

Teknik untuk melihat hubungan antar stakeholder dari berbagai lembaga yang dijadikan expert berdasarkan analisis AHP, menggunakan teknik dengan diagram Venn, yaitu merupakan teknik yang bermanfaat untuk melihat hubungan masyarakat dengan berbagai lembaga yang terdapat di dalam lingkup penelitian. Diagram venn memfasilitasi diskusi untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang berkaitan secara langsung maupun tak langsung terhadap permasalahan yang dihadapi, serta menganalisa dan mengkaji perannya, kepentingannya untuk masyarakat dan kelembagaan. Lembaga yang dikaji meliputi lembaga-lembaga lokal, lembaga-lembaga pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga swasta termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan orang-orang yang berpengaruh. Diagram Venn bisa sangat umum atau topikal; mengenai orang atau lembaga-lembaga tertentu yang menjadi objek informasi (expert), dan

23

kegiatannya berhubungan dengan kebijakan nasional, daerah dan hal-hal yang besifat khusus. Untuk kebutuhan penelitian diperlukan data primer dan data sekunder. Data sekunder berupa data akurat (valid) dari instansi terkait dalam penelitian, berupa data dan informasi yang langsung diperoleh melalui pengamatan lapangan dan wawancara dengan expert pejabat pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk masyarakat di lokasi penelitian. Data dan informasi diperlukan untuk memperoleh pemikiran key person dan responden sebagai bahan formulasi kebijakan rancangbangun hukum dan pelaksanaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di daerah perbatasan negara. Secara rinci key person yang dipilih yang memiliki relevansi tugas dan fungsi secara langsung maupun tidak langsung ditetapkan sebagai responden penelitian adalah yang memiliki peran strategis tertera pada Tabel 1 berikut ini :

Tabel 1 Daftar ekspert dan instansi responden No Expert 1 Kementerian Luar Negeri, Jabatan Kasubdit Perjanjian Politik, Keamanan dan Kewilayahan, Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional Kasubdit Pesisir, Laut, dan Pulaupulau Kecil Ditjen Bina Bangda (Pembangunan Daerah) Direktur Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau Kecil Kasubdit Pembinaan Pemanfaatan dan Pengendalian Penataan Ruang Direktorat Penataan Ruang Wilayah II Kasi Hukum Lantamal VIII Manado Anggota Dewan Fungsi Penyelesaian Perbatasan

2

Kementerian Dalam Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan Kementerian Pekerjaan Umum

3

4

Pengelolaan Wilayah Pesisir Daerah Pengelolaan Wilayah Pesisir & PPK Pembangunan Infrastruktur

5

TNI AL

6

DPR RI

7

DPRD SULUT

Wakil Ketua DPRD Sulut

8

Pemerintah RI

Diplomat / Ahli Hukum Laut

9

Pemerintah Filipina

Konsulat Jenderal (Konjen) Filipina, di Manado

Pertahanan Keamanan Negara Penetapan Kebijakan Nasional Penetapan Kebijakan Daerah Peran Internasional di PBB Peran Internasional di PBB

24

10

Pemerintah Provinsi SULUT Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud Akademisi Investor Tokoh Masyarakat/Adat

Kabid Pengembangan Wilayah Bappeda Sulut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bupati Kepulauan Talaud

11

12

13 14 15

Dosen UNSRAT/UNPATI Ketua HNSI Sulut Ketua Pusat Kajian Komunitas Adat dan Budaya Bahari Yayasan Marin-CRC Manado

Pelaksanaan tugas pembantuan Pelaksanaan tugas pembantuan Pelaksanaan tugas pembantuan Kajian Akademik Pengembangan Investasi Informasi Sejarah dan Adat Istiadat

Tahapan analisis data rancanganbangun hukum dan pelaksanaan pengelolaan pulau kecil terluar di perbatasan negara disajikan pada Gambar 2. Analis data dilakukan dengan analisis kondisi awal dan kebijakan yang telah dilakukan tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di perbatasan negara dengan teknik field research / survey. Analisis Data Sebagai bagian untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini maka dilakukan beberapa metode analisis yaitu : Analytical hierarchy process (AHP) Analisis kebijakan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk pengambilan keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Metode ini menstrukturkan masalah dalam bentuk hirarki dan memasukkan pertimbangan-pertimbangan untuk menghasilkan skala prioritas relatif. (Saaty 2003). Analisis kebijakan menggabungkan 5 (lima) prosedur umum yang lazim dipakai dalam pemecahan permasalah, yaitu perumusan masalah (definisi), peramalan (prediksi) rekomendasi (preskripsi), pemantauan, dan evaluasi (Dunn 2000). Perumusan masalah menghasilkan informasi mengenai kondisi-kondisi yang menimbulkan masalah kebijakan. AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan system, Prosedur yang diwajibkan pada penggunaan metode AHP adalah:

25

(1)

Perumusan tujuan (sasaran), kriteria dan alternatif yang merupakan unsurunsur dari permasalahan yang dikaji,

(2) (3)

Penyusunan struktur hirarki, Penentuan prioritas bagi setiap kriteria dan alternatif dengan bantuan skala nilai yang memadai, nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh kriteria dan alternatif, dan

(4)

Konsistensi logis dengan menggunakan kriteria nilai consistency ratio (CR).

Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty (1993) seperti dalam tabel skala pendapat sebagai berikut: Tabel 2 Skala pendapat (nilai dan definisi)
Nilai 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 1 / (1 – 9) Pembobotan kriteria Definisi Sama penting (equal) Sedikit lebih penting (moderate) Jelas lebih penting (strong) Sangat jelas penting (very strong) Mutlak lebih penting (extreme) Apabila ragu antara dua nilai yang berdekatan Kebalikan nilai tingkat kepentingan dari skala 1 – 9

Kepentingan relatif dari tiap faktor dari setiap baris dari matrik dapat dinyatakan sebagai bobot relatif yang dinormalkan (normalized relative) Rasio Konsistensi AHP menurut Saaty bahwa di tentukan dengan menggunakan nilai eigen dengan rumus :
max,

dalam indeks konsistensi dari matriks berordo N,

CI Dimana: CI
max

=

Maximum - n n -1

= Indeks Konsistensi = Nilai eigen terbesar dari matriks berordo n

Nilai konsistensi dapat di cek melalui rasio konsistensi (CR) dengan menggunakan table dibawah ini :

26

CR

=

CI RI
= Indeks Konsistensui = Nilai random

dimana

CI RI

Table 3 Nilai konsistensi random Matriks 1 2 3 4

5

6

7

8

9

10 1.49

Konsistensi 0 0 0.58 0.9 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 Random

Pada akhirnya inkonsistensi yang merupakan bagian dari nilai konsistensi yang di hasilkan tidak dapat melebihi 10%, sehingga hasil yang dihasilkan dapat di katakan valid, jika nilai inkonsistensi di atas 10% maka kriteria dan rekomendasi keputusan yang dihasilkan harus di perbaharui kembali. Tabel 4 Penetapan alternatif sasaran rancang bangun hukum dan pelaksanaannya No SASARAN ALTERNATIF 1 Pilihan rancang bangun hukum dan 1.1 Perundang-undangan pelaksanaannya 1.1.1 Internasional 1.1.2 Nasional 1.1.3 regional 1.2 Kearifan lokal, adat / tradisional 2 Pilihan pengelolaan pulau-pulau kecil 2.1 Pola konservasi 2.2 Pola adat istiadat 2.3 Pola usaha 3 Pilihan target pengelolaan sumberdaya 3.1 Pasar lokal / nasional 3.2 Swadaya masyarakat 3.3 Investasi 3.4. Swakelola 4. 1 Pola konservasi 4.2 Pola pemberdayaan 4.3 Pola kemitraan 5.1 Kebijakan nasional 5.2 Kebijakan regional 5.3 Kebijakan sektoral 5.4 Adat kebiasaan/tradisional

4

Pilihan kelembagaan

5

Pilihan hukum

27

Analisis SWOT Analisa SWOT sebagai alat formulasi strategis, Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan pemerintah dalam bidang hukum. Dengan demikian perencana strategis (strategic planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis pemerintah (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT (Rangkuti, 1997).

Gambar 3 Analisis SWOT Kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah dalam menentukan strategi kebijakan pulau-pulau kecil terluar di wilayah perbatasan Negara, berdasarkan analisa SWOT, dapat mengambil keputusan penentuan Strategi Wilayah Negara di Zona Ekonomi Eksklusif, khususnya antara negara Indonesia dan Filipina. (1) Kuadran pertama merupakan kondisi yang paling baik, dimana

pemerintah memiliki banyak peluang dan kekuatan, dan strategi yang paling sesuai adalah Strategi Pertumbuhan (Growth Oriented Strategy) atau Strategi Agresif (Agresif Strategy) (2) Kuadran kedua merupakan kondisi dimana pemerintah memiliki cukup kekuatan, akan tetapi kondisi lingkungan kurang menguntungkan karena

28

banyaknya ancaman, sehingga strategi yang sesuai adalah Stragegi Divesifikasi (Diversification Strategy) (3) Kuadran ketiga merupakan kondisi dimana pemerintah memiliki cukup peluang, akan tetapi tidak didukung kekuatan sehingga strategi yang digunakan adalah Strategi Mengubah Haluan (Turn Around Strategy) (4) Kuadran keempat merupakan kondisi yang paling tidak menguntungkan dimana pemerintah memiliki banyak kelemahan dan ancaman sehingga strategi yang sesuai adalah Strategi Bertahan (Defense Strategy) Analisis Diagnosa dan Terapi Hukum (Diagnosis and Therapy Analisys of Law) Permasalahan pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil berpotensi terjadinya disharmoni hukum pengelolaan, dicerminkan oleh adanya faktor-faktor sebagai berikut: (1) Jumlah peraturan perundang-undangan yang begitu banyak yang berlaku untuk pengelolaan wilayah pesisir. (2) Keberadaan hukum adat yang semakin termarjinalkan dalam pengelolaan wilayah pesisir. (3) Pluralisme dalam penerapan dan penegakan hukum di bidang

pengelolaan wilayah pesisir. (4) Perbedaan kepentingan dan perbedaan penafsiran dari para stakeholders sumber daya alam wilayah pesisir. (5) Kesenjangan antara pemahaman teknis dan pemahaman hukum tentang pengelolaan pesisir. (6) Kendala hukum yang dihadapi dalam penerapan peraturan perundangundangan, yang terdiri atas mekanisme pengaturan, administrasi pengaturan, antisipasi terhadap perubahan, dan penegakan hukum. (7) Hambatan hukum yang dihadapi dalam penerapan peraturan perundangundangan, yaitu yang berupa tumpang tindih kewenangan dan benturan kepentingan. (8) Penerapan peraturan perundang-undangan dapat menimbulkan empat kemungkinan dampak terhadap stakeholders, yaitu: diffused cost diffused benefit, diffused cost - concentrated benefit, concentrated cost diffused benefit, dan concentrated cost - concentrated benefit.

29

Berdasarkan

disharmonisasi

hukum

maka

permasalahan

hukum

dilakukan dengan menggunakan analisis: Diagnosis and Therapy Analisys of Law (DTAL), secara kualitatif terhadap peraturan perundang-undangan

nasional, regional dan adat (tradisonal) termasuk hukum internasional yang diratifikasi. Permasalahan di pulau-pulau kecil dijabarkan sebagai penyakit pesisir, di diagnosa untuk mencari akar permasalahannya, kemudian dianalisis dengan pendekatan sosio-yuridis, kemudian hasil yang diperoleh dilakukan terapi sebagai peraturan. Data hukum yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dengan DTAL melalui pendekatan-pendekatan, yaitu: (1) Pendekatan historis (historical approach), (2) Pendekatan undang-undang (statue approach), (3) Pendekatan kasus (case approach), (4) Pendekatan komparatif (comparative approach) dan (5) Pendekatan konseptual (conceptual approach). Analisis Pendekatan hukum meliputi: (1) Pendekatan historis, (historical approach), dilakukan dengan menelaah latar belakang apa yang dipelajari dan perkembangan mengenai isu yang dihadapi dan relevan dengan masa kini (2) Pendekatan Undang-Undang (statue approach) dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi bersangkut-paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Dengan Pendekatan undang-undang akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara undang-undang dan UUD atau antara regulasi dan UU. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argumen untuk memecahkan isu yang dihadapi (3) Pendekatan kasus (case approach) dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi keputusan yang tetap apakah di pengadilan atau di luar pengadilan. Kasus ini baik yang terjadi di Indonesia atau di negara lain. Di dalam pendekatan kasus, beberapa kasus ditelaah untuk referensi bagi suatu isu hukum. Studi kasus (case study) merupakan yang terjadi dari berbagai aspek upaya penanggulangan dan mengharmonisaikan pemberlakuan

30

hukum seperti hukum internasional, hukum pidana, hukum perdata, hukum administrasi, hukum lingkungan dan hukum tata negara (4) Pendekatan komparatif, (comparative approach), dilakukan dengan

membandingkan undang-undang suatu negara dengan undang-undang negara lain. Disamping undang-undang yang dapat diperbandingkan adalah putusan pengadilan dan perjanjian-perjanjian negara bertetangga. Kegunaan pendekatan ini adalah untuk memperoleh persamaan dan perbedaan di antara undang-undang tersebut (5) Pendekatan konseptual, (conceptual approach), dilakukan beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. Dengan mempelajari pandangan dan doktrin, maka peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsepkonsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi. (Marzuki 2005).

Mekanisme dalam mengharmonisasikan peraturan perundang-undangan dengan pendekatan historis, undang-undang, kasus, komparatif dan konseptual maka pertama-tama perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan “peraturan perundang-undangan” yang dikenal dalam cabang ilmu hukum yang bernama “Hukum Tata Pengaturan” (Regelingsrecht; Regelungsrecht), di luar “peraturan perundang-undangan” (wettelijke regels), ada lagi jenis peraturan lain yang disebut “peraturan kebijakan” (beleidsregels; pseudo wetgeving). Peraturan perundang-undangan adalah suatu keputusan dari suatu lembaga negara atau lembaga pemerintahan yang dibentuk berdasarkan atribusian dan delegasian. Atribusi kewenangan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan ialah pemberian kewenangan membentuk peraturan perundangan-undang oleh Undang-Undang Dasar atau Undang-Undang kepada lembaga

negara/pemerintah. Kewenangan tersebut melekat terus-menerus dan dapat dilaksanakan atas prakarsa sendiri setiap waktu diperlukan, sesuai dengan batas-batas yang diberikan.

31

HASIL DAN PEMBAHASAN Pulau-pulau kecil terluar di Indonesia ditinjau dari aspek pengelolaan sumberdaya alam sangat kompleks keberadaannya, terutama apabila

dihubungkan dengan kegiatan pengembangan pembangunan pulau-pulau kecil terluar di perbatasan negara. Potensi-potensi yang dimiliki oleh pulau-pulau kecil terluar sangatlah baik, unik, sehingga apabila tidak mengikuti prosedur pengelolaan dan tidak dilindungi, maka sangat berpotensi terjadinya degradasi lingkungan dan konflik antar masyarakat, kabupaten/kota, provinsi dan bahkan antar negara. Penatataguna dan kelola penyusunan suatu pola rancangbangun hukum dan pelaksanaan pulau-pulau kecil terluar di wilayah Indonesia menjadi fokus dalam penelitian ini, yaitu penelitian yang dilakukan di wilayah perbatasan Negara Indonesia bagian utara, yang secara geografis berbatasan langsung antara Negara Indonesia dan Negara Filipina, di Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud.

Gambar 4 Peta Lokasi penelitian perbatasan negara Indonesia dan Filipina Batas Maritim Negara Indonesia -Filipina Batas maritim Indonesia – Filipina sampai saat ini belum ditetapkan, pertemuan-pertemuan bilateral yang melibatkan kedua negara dalam rangka batas maritim masih terus dilakukan, dengan agenda-agenda yang resmi untuk mecapai kesepakatan bersama. Kedudukan geografis negara Indonesia dan Filipina masih bermasalah, sehingga perjanjian perbatasan yang harus di buat

32

adalah Zona Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen. Hal ini disebabkan jarak pulau terluar kedua negara lebih dari 24 mil laut. Pada umumnya batas maritim antara Indonesia dan Filipina hampir seluruhnya terletak di Laut Sulawesi dan hanya sebagian terletak di Laut Mindanao dan Laut Maluku Utara. Panjang garis batas landas kontinen maupun garis batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia - Filipina di Laut Sulawesi lebih kurang 510 mil laut, dan luas Zona Ekonomi Eksklusifnya sekitar 81.980 mil laut persegi. Jarak terlebar antara pantai yang berhadapan sekitar 315 mil laut dan jarak terpendek 39 mil laut antara Pulau Marore di Indonesia dan Pulau Sarangani di Filipina. Hirarki Rancangbangun Hukum Pesisir Dalam Analytical Hierarchy Process (AHP), hirarki Rancangbangun Hukum Pesisir yang sudah di susun (gambar ) menjelaskan bahwa terdapat 3 level di dalamnya, yaitu Level 1 adalah representative dari tujuan penelitian yaitu untuk merancang suatu produk Hukum Pesisir pulau-pulau terluar Indonesia, dan level 2 adalah menunjukan faktor-faktor yang diperlukan dalam merancang produk hukum pesisir dimana faktor tersebut adalah : sumber daya alam, sosial ekonomi, pendanaan, hukum dan kelembagaan. Dalam faktor-faktor tersebut terdapat pula sub-sub factor. Sedangkan level 3 adalah menununjukan beberapa alternativ rancangbangun Hukum Pesisir menurut prespetif tiap-tiap bidang pendukung yakni pemerintah, akademisi, perwilayahan, batas wilayah dan budaya. Seperti pada Gambar 5
Rancang Bangun Hukum Pulau-Pulau Kecil Terluar

Sumber Daya Alam
@Perikanan @Perkebunan

Sosial Ekonomi
@Pendidikan @Transportasi @Adat-Istiadat @Pemasaran

Pendanaan
@APBN @APBD @LOAN/GRANT

Hukum
@Nasional @International

Kelembagaan
@Nasional @Daerahl

Rancang Bangun Hukum Menurut Pemerintah

Rancang Bangun Hukum Menurut Akademisi

Rancang Bangun Hukum Menurut
Strategi Perwilayaan

Rancang Bangun Hukum Menurut
Penataan Batas Wilayah Negara

Rancang Bangun Hukum Menurut Budaya Lokal

Gambar 5 Rancangbangun hukum pulau-pulau kecil terluar

33

Kriteria Berdasarkan hirarki yang sudah tersusun, kriteria yang ada di ukur dengan membandingkan dari sisi mana yang merupakan prioritas utama dalam menunjang tujuan (goal) yang di tetapkan, sebagai contoh perbandingan antara level 2 yaitu factor-faktor seperti sumber daya alam, social ekonomi, pendanaan, kelembagaan dan hukum. Untuk menunjang pembuatan rancangabangun hukum pesisir, dibandingkan manakah yang lebih penting, apakah faktor sumber daya alam - sosial ekonomi, atau sosial ekonomi - hukum, atau hukum - pendanaan, atau kelembagaan - pendanaan, dan seterusnya berdasarkan faktor dan sub faktor hirarki. Expert Judgment Berdasarkan informasi-informasi di atas dan tujuan dari penelitian ini diperlukan langkah-langkah akurat untuk mencapai tujuan akhir hasil penelitian. Kriteria/faktor dan alternativ tersebut, akan saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan (goal). Penilaian untuk Expert dapat di identifikasikan melalui pengisian matriks dengan angka-angka sebagaimana dalam teori AHP yang ada (1-10), berdasarkan hasil dari interview atau kuisioner yang sudah dijalankan bagi para expert (1)Kementerian Luar Negeri, (2)Kementerian Dalam Negeri

(3)Kementerian Kelautan dan Perikanan, (4)Kementerian Pekerjaan Umum, (5)TNI AL, (6)DPR-RI, (7)DPRD SULUT, (8)Pemerintah RI, (9)Pemerintah Filipina, (10)Pemerintah Provinsi SULUT, (11)Pemerintah Kepulauan Sangihe, (12)Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, [13)Akademisi, (14)Investor, (15)Tokoh Masyarakat/Adat, seperti dalam Tabel 5 Tabel 5 Informasi untuk analisis expert No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

EXPERT
Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan Kementerian Pekerjaan Umum, TNI AL, DPR RI, DPRD SULUT, Pemerintah RI, Pemerintah Filipina, Pemerintah Provinsi SULUT, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, Akademisi, Investor, Tokoh Masyarakat/Adat

FUNGSI
Penyelesaian Perbatasan Pengelolaan Wilayah Pesisir Daerah Pengelolaan Wilayah Pesisir & PPK Pembangunan Infrastruktur Pertahanan Keamanan Negara Penetapan Kebijakan Nasional Penetapan Kebijakan Daerah Peran Internasional di PBB Peran Internasional di PBB Pelaksanaan tugas pembantuan Pelaksanaan tugas pembantuan Pelaksanaan tugas pembantuan Kajian Akademik Pengembangan Investasi Informasi Sejarah dan Adat Istiadat

34

Hasil analisis Diagnosa dan Terapi Hukum Dalam merancangbangun hukum dan pelaksanaanya di pulau-pulau terluar perlu menganalisis dengan peraturan perUndang-Undangan dan

kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia berdasrkan permasalahan yang terjadi di wilayah tersebut. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS 1982 dan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, merupakan landasan hukum untuk melakukan rancangbangun hukum di perbatasan negara. Nilai dasar dan landasan konstitusional dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara serta kebijakan pembangunan nasional mengacu kepada Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dalam UUD 1945 tersebut dijabarkan dalam pasal demi pasal. Indonesia sebagai Negara kepulauan yang bercirikan nusantara dinyatakan secara eksplisit dalam Pasal 25A (UUD 1945 hasil amandemen) merupakan landasan sekaligus acuan pemikiran dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Demikian pula dengan Pasal 33 yang secara eksplisit mengamanatkan bahwa sumber kekayaan alam yang dimiliki pulau-pulau terluar harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi

kemakmuran rakyat. Oleh karena itu pengelolaan pulau-pulau kecil terluar harus menjamin bahwa Dalam Pasal 25a Undang-Undang Dasar 1945 (hasil amandemen) disebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hakhaknya ditetapkan dengan Undang-Undang. Hal ini semakin mengukuhkan eksistensi Negara Indonesia sebagai Negara maritim yang terdiri dari beberapa pulau besar dan kecil yang tersebar di garis khatulistiwa. Pengaturan tentang wilayah negara seperti yang tertian dalam Bab IXA, Pasal 25A yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hakhaknya ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 25A, telah diimplementasikan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008, dimana dalam undang undang tersebut disebutkan bahwa wilayah negara adalah salah satu unsur negara yang merupakan satu kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial beserta dasar laut dan tanah di bawahnya, serta

35

ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian maka pengaturan wilayah negara mempunyai tujuan tertentu, dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Pasal 3 menyebutkan bahwa Pengaturan Wilayah Negara bertujuan: (1) menjamin keutuhan Wilayah Negara, kedaulatan negara, dan ketertiban di Kawasan Perbatasan demi kepentingan kesejahteraan segenap bangsa; (2) menegakkan kedaulatan dan hak-hak berdaulat; dan (3) mengatur pengelolaan dan pemanfaatan Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan, termasuk pengawasan batas-batasnya. Secara jelas dan tegas disebutkan dalam angka (1) dan angka (2), bahwa perlunya ketertiban di kawasan perbatasan dan pengelolaan pemanfaatan wilayah negara dan kawasan perbatasan termasuk batas-batasnya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat, seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 33 Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pengelolaan sumberdaya di pulau-pulau kecil terluar di perbatasan negara merupakan bagian dari kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang harus di kelola dan dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat, dimana pemanfaatannya harus juga mempertimbangkan akan keberlanjutan dari sumberdaya. Dalam hal landas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di landas Kontinen Indonesia, berbatasan dengan negara lain, penetapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai suatu persetujuan. Landas Kontinen Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973. Dalam ketentuan umum, Pasal 1 huruf a sampai huruf c bahwa Landas Kontinen Indonesia adalah dasar laut dan tanah di bawahnya di luar perairan wilayah Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Prp. Tahun 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam. Selanjutnya kekayaan alam adalah mineral dan sumber yang tak bernyawa lainnya di dasar

36

laut dan/atau di dalam lapisan tanah di bawahnya bersama-sama dengan organisme hidup yang termasuk dalam jenis sedinter yaitu organisme yang pada masa perkembangannya tidak bergerak baik diatas maupun dibawah dasar laut atau tak dapat bergerak kecuali dengan cara selalu menempel pada dasar laut atau lapisan tanah di bawahnya. Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi adalah usaha-usaha pemanfaatan kekayaan alam dilandas kontinen. Dengan demikian maka pengelolaan sumberdaya pulau-pulau kecil terluar di perbatasan negara termasuk yang diatur dalam Undang-Undang Landas Kontinen, dalam Pasal 3 disebutkan bahwa, dalam hal landas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di landas Kontinen Indonesia, termasuk berbatasan dengan negara lain, dimana penetapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat dan sudah dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai suatu persetujuan, maka pengelolaan dapat dilakukan untuk kepentingan negara. Hak berdaulat Indonesia dalam zona ekonomi eksklusif yaitu Hak berdaulat Indonesia yang dimaksud oleh undang-undang ini tidak sama atau tidak dapat disamakan dengan kedaulatan penuh yang dimiliki dan dilaksanakan oleh Indonesia atas laut wilayah, perairan Nusantara dan perairan pedalaman Indonesia. Berdasarkan hal tersebut diatas maka sanksi-sanksi yang diancam di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia berbeda dengan sanksi-sanksi yang diancam di perairan yang berada dibawah kedaulatan Republik Indonesia tersebut. Hak-hak lain berdasarkan hukum internasional adalah hak Republik Indonesia untuk melaksanakan penegakan hukum dan hot pursuit terhadap kapal-kapal asing yang melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan Indonesia mengenai zona ekonomi eksklusif. Kewajiban lainnya berdasarkan hukum internasional adalah kewajiban Republik Indonesia untuk menghormati hak-hak negara lain, misalnya kebebasan pelayaran dan penerbangan (freedom of navigation and overflight) dan kebebasan pemasangan kabel-kabel dan pipa-pipa bawah laut (freedom of the laying of submarine cables and pipelines). Bahwa sepanjang menyangkut sumber daya alam hayati dan non hayati di dasar laut dan tanah di bawahnya yang terletak di dalam batas-batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia hak berdaulat Indonesia dilaksanakan dan diatur

37

berdasarkan peraturan perundang-undangan Indonesia yang berlaku di bidang landas kontinen serta persetujuan- persetujuan internasional tentang landas kontinen yang menentukan batas-batas landas kontinen antara Indonesia dengan negara-negara tetangga yang pantainya saling berhadapan atau saling berdampingan dengan Indonesia. Dengan adanya sifat-sifat dalam melaksanakan pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati, Pemerintah Republik Indonesia

menetapkan tingkat pemanfaatan baik di sebagian atau keseluruhan daerah di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dimana dalam rangka konservasi sumber daya alam hayati, Indonesia berkewajiban untuk menjamin batas panen lestari (maximum sustainable yield) sumber daya alam hayatinya di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan memperhatikan batas panen lestari tersebut, Indonesia berkewajiban pula menetapkan jumlah tangkapan sumber daya alam hayati yang diperbolehkan (allowable catch). Dalam hal usaha perikanan Indonesia belum dapat sepenuhnya memanfaatkan seluruh jumlah tangkapan yang diperbolehkan tersebut, maka selisih antara jumlah tangkapan yang diperbolehkan dan jumlah kemampuan tangkap (capacity to harvest). Di samping itu Indonesia mempunyai yurisdiksi eksklusif atas pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan tersebut termasuk yurisdiksi yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang bea cukai, fiskal, kesehatan, keselamatan dan imigrasi. Demikian juga Indonesia mempunyai yurisdiksi eksklusif tetapi pulau-pulau buatan, instalasi dan bangunan-bangunan tersebut tidak memiliki status sebagai pulau dalam arti wilayah negara dan oleh karena itu tidak memiliki laut teritorial sendiri dan kehadirannya tidaklah mempengaruhi batas laut teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia atau Landas Kontinen Indonesia. Selanjutnya sebagai konsekuensi hukum atas diratifikasinya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982 dengan UndangUndang Nomor 17 Tahun 1985 Tentang Pengesahan United Nations Convention on The Law of the Sea 1982 menempatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki hak untuk melakukan pemanfaatan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya ikan di zona ekonomi eksklusif Indonesia dan laut lepas yang dilaksanakan berdasarkan persyaratan atau standar internasional yang berlaku.

38

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985 Tentang Perikanan sudah tidak dapat mengantisipasi perkembangan pembangunan perikanan, telah di ganti dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 (dan perubahannya) menjadi Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan di bidang perikanan telah terjadi perubahan yang sangat besar, baik yang berkaitan dengan ketersediaan sumber daya ikan, kelestarian lingkungan sumber daya ikan, maupun perkembangan metode pengelolaan perikanan yang semakin efektif, efisien, dan modern, sehingga pengelolaan perikanan perlu dilakukan secara berhati-hati pemerataan, dengan berdasarkan asas manfaat, efisiensi, keadilan, dan kemitraan, yang

keterpaduan,

keterbukaan,

kelestarian

berkelanjutan. Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya ikan secara optimal dan berkelanjutan perlu ditingkatkan peranan pengawas perikanan dan peran serta masyarakat dalam upaya pengawasan di bidang perikanan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pelaksanaan penegakan hukum di bidang perikanan menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka menunjang pembangunan perikanan secara terkendali dan sesuai dengan asas pengelolaan perikanan, sehingga

pembangunan perikanan dapat berjalan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, adanya kepastian hukum merupakan suatu kondisi yang mutlak diperlukan. Undang-Undang ini lebih memberikan kejelasan dan kepastian hukum terhadap penegakan hukum atas tindak pidana di bidang perikanan, yang mencakup penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan demikian perlu diatur secara khusus mengenai kewenangan penyidik, penuntut umum, dan hakim dalam menangani tindak pidana di bidang perikanan. Dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini terjadi penurunan yang tajam sediaan sumber daya ikan sehingga perikanan berada dalam kondisi kritis. Pada tahun 1994 penurunan sediaan jenis ikan yang memiliki nilai komersial tinggi, khususnya sediaan jenis ikan yang beruaya terbatas (straddling fish stocks) dan jenis ikan yang beruaya jauh (highly migratory fish stocks), telah menimbulkan keprihatian dunia. Jenis ikan yang beruaya terbatas merupakan jenis ikan yang beruaya antara Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) suatu negara dan ZEE negara lain sehingga pengelolaannya melintasi batas yurisdiksi beberapa negara. Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua

39

urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Seiring dengan prinsip itu penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat. Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus di daerah otonom untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus dan untuk kepentingan nasional/berskala nasional, misalnya dalam bentuk kawasan cagar budaya, taman nasional, pengembangan industri strategis, pengembangan teknologi tinggi seperti pengembangan tenaga nuklir, peluncuran peluru kendali, pengembangan prasarana komunikasi, telekomunikasi, transportasi, pelabuhan dan daerah Peraturan Daerahgangan bebas, pangkalan militer, serta wilayah eksploitasi, konservasi bahan galian strategis, penelitian dan pengembangan sumber daya nasional, laboratorium sosial, lembaga pemasyarakatan spesifik. Pemerintah wajib mengikutsertakan pemerintah daerah dalam pembentukan kawasan khusus tersebut. Di samping itu terdapat bagian urusan pemerintahan yang bersifat concurrent artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dapat

dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan pemerintah daerah. Dengan demikian setiap urusan pemerintahan yang bersifat concurrent senantiasa ada urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah, ada urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Provinsi, dan ada urusan yang diserahkan kepada Kabupaten/Kota. Tugas pembantuan pada dasarnya merupakan keikutsertaan Daerah atau Desa termasuk masyarakatnya atas penugasan atau kuasa dari Pemerintah atau pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah di bidang tertentu. Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang rentan mengalami kerusakan akibat aktivitas orang dalam memanfaatkan sumber dayanya atau akibat bencana alam. Selain itu, akumulasi dari berbagai kegiatan eksploitasi yang bersifat parsial/sektoral di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil atau dampak kegiatan lain di hulu wilayah pesisir yang didukung peraturan perUndang-

40

Undangan yang ada sering menimbulkan kerusakan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Peraturan perundang-undangan yang ada lebih berorientasi pada eksploitasi Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tanpa memperhatikan kelestarian sumber daya. Sementara itu, kesadaran nilai strategis dari pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan, terpadu, dan berbasis masyarakat relatif kurang. Kurang dihargainya hak masyarakat adat/lokal dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil seperti sasi, mane’e, panglima laot, awig-awig, terbatasnya ruang untuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil terpadu belum terintegrasi dengan kegiatan pembangunan dari berbagai sektor dan daerah. Sistem pengelolaan pesisir tersebut belum mampu mengeliminasi faktorfaktor penyebab kerusakan dan belum memberi kesempatan kepada sumber daya hayati untuk dapat pulih kembali secara alami atau sumber daya nonhayati disubstitusi dengan sumber daya lain. Keunikan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan

berkembangnya konflik dan terbatasnya akses pemanfaatan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, perlu dikelola secara baik agar dampak aktivitas manusia dapat dikendalikan dan sebagian wilayah pesisir dapat dipertahankan untuk konservasi. Masyarakat perlu didorong untuk mengelola wilayah pesisirnya dengan baik dan yang telah berhasil perlu diberi insentif, tetapi yang merusak perlu diberi sanksi. Norma-norma Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tersebut disusun dalam lingkup perencanaan, pemanfaatan, pengelolaan, pengendalian, dan pengawasan, dengan memperhatikan norma-norma yang diatur dalam peraturan perUndang-Undangan lainnya Negara berkepentingan untuk ikut mengatur pengelolaan dan

pemanfaatan di laut bebas dan dasar laut internasional sesuai dengan hukum internasional. Pemanfaatan di laut bebas dan di dasar laut meliputi pengelolaan kekayaan alam, perlindungan lingkungan laut dan keselamatan navigasi. Pengelolaan Wilayah Negara dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan, keamanan dan kelestarian lingkungan secara bersama-sama. Pendekatan kesejahteraan dalam arti upaya-upaya pengelolaan Wilayah Negara hendaknya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan

masyarakat yang tinggal di Kawasan Perbatasan. Pendekatan keamanan dalam

41

arti pengelolaan Wilayah Negara untuk menjamin keutuhan wilayah dan kedaulatan negara serta perlindungan segenap bangsa, sedangkan pendekatan kelestarian lingkungan dalam arti pembangunan Kawasan Perbatasan yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan yang merupakan wujud dari pembangunan yang berkelanjutan. Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi sangat penting terkait dengan pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan sesuai dengan prinsip otonomi daerah dalam mengelola pembangunan Kawasan Perbatasan. Dalam rangka menjaga keutuhan wilayah Negara, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan, perlu dilakukan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan memperhatikan keterpaduan pembangunan di bidang social, ekonomi, budaya, hukum, sumber daya manusia, pertahanan dan keamanan; pulau-pulau kecil terluar Indonesia memiliki nilai strategis sebagai Titik Dasar dari Garis Pangkal Kepulauan Indonesia dalam penetapan wilayah Perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia; Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi sumber daya pulau-pulau kecil terluar dari wilayah Republik Indonesia untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau Kecil Terluar adalah pulau dengan luas areal kurang atau sama dengan 2000 km2 (dua ribu kilomenter persegi) yang memiliki titik-titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum

internasional dan nasional. Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dilakukan dengan tujuan: (1) menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan; (2) memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan; (3) memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan. Prinsip pengelolaan pulau-pulau kecil terluar: a. Wawasan Nusantara; b. berkelanjutan; c. berbasis masyarakat.

42

Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah. Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dilakukan secara terpadu antara Pemerintah, dan Pemerintah Daerah, meliputi bidang-bidang: a. sumberdaya alam dan lingkungan hidup; b. infrastruktur dan perhubungan; c. pembinaan wilayah; d. pertahanan dan keamanan; e. ekonomi, sosial, dan budaya Sasaran pembangunan pulau-pulau kecil antara lain : (1) Terarahnya pengembangan kebijakan operasional pengelolaan pulau-pulau kecil di daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota. (2) Terwujudnya mekanisme pengelolaan pulau-pulau kecil, baik yang dilakukan oleh Pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan tetap memperhatikan kaidahkaidah kelestarian lingkungan. (3) Tertatanya perencanaan dan implementasi kegiatan pengelolaan pulaupulau kecil yang sedang berjalan dan yang masih dalam tahap perencanaan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Mekanisme pelaksanaan pengelolaan pulau-pulau kecil diatur sebagai berikut: (1) Pengelolaan pulau-pulau kecil sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bekerja sama dengan masyarakat dan dunia usaha sesuai dengan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku. (2) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat melakukan inventarisasi dan penamaan untuk pulau-pulau kecil yang belum mempunyai nama dengan tetap memperhatikan penamaan pulau yang telah digunakan masyarakat, dan sesuai dengan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku. (3) Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota menyusun rencana strategis dan rencana permintakatan (zonasi) untuk pengelolaan pulau-pulau kecil di wilayahnya. (4) Dalam perencanaan pengelolaan pulau-pulau tersebut, para pihak yang berkepentingan harus menyusun rencana pengelolaan pulau-pulau kecil dan membuat mintakat (zona) sesuai dengan tujuan pemanfaatannya.

43

(5)

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat memberikan izin pengelolaan pulau-pulau kecil dan wilayah perairannya kepada pihak ketiga sesuai dengan hukum adat dan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku.

(6)

Khusus untuk pengelolaan pulau kecil oleh pihak ketiga dari luar negeri, sebelum izin dikeluarkan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota terlebih dahulu mengkonsultasikannya kepada Pemerintah.

(7)

Pihak ketiga yang akan melakukan pengelolaan wajib menyusun rencana investasi dan rencana aksi yang sejalan dengan rencana strategis pembangunan daerah (Propeda) secara transparan yang akan dinilai oleh Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/kota.

(8)

Pihak ketiga dari luar negeri yang akan melakukan pengelolaan perlu menyusun rencana investasi dan rencana aksi yang sejalan dengan rencana strategis pembangunan daerah (Propeda) secara transparan yang dinilai oleh Pemerintah.

(9)

Pihak ketiga bersama Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota diwajibkan melakukan dialog awal dengan masyarakat untuk mendapatkan kesepakatan ide pengelolaan. Setelah mendapatkan kesepakatan, maka dilakukan perencanaan pengelolaan pulau-pulau kecil dengan melibatkan masyarakat setempat.

(10) Sebagai tindak lanjut pelaksanaan pengelolaan pulau-pulau kecil, pihak ketiga harus melakukan Studi Amdal, termasuk Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan Rencana (11) Pengelolaan Lingkungan (RKL) untuk kegiatan-kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. (12) Dalam pelaksanaan pengelolaan pulau-pulau kecil, pihak ketiga disarankan dapat memanfaatkan potensi energi yang tersedia sebagai sumber energi baru yaitu angin, pasut, gelombang, Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), dan tenaga surya. (13) Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota menetapkan pulau-pulau kecil yang akan dipergunakan sebagai tempat usaha industri strategis sesuai dengan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku. (14) Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota bila diperlukan, dapat menunjuk lembaga/dinas teknis yang membidangi kelautan dan perikanan sebagai instansi di daerah yang bertanggung jawab dalam perencanaan,

44

pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan pengelolaan pulau-pulau kecil dengan luas kurang atau sama dengan 2.000 km2. (15) Masyarakat berperan serta dalam pengawasan pengelolaan pulau-pulau kecil sejak dari tahap perencanaan sampai pelaksanaan. (16) Dalam rangka pengendalian pengelolaan pulau-pulau kecil baik yang sedang dan akan berjalan, Pemerintah Daerah Provinsi dan

Kabupaten/Kota wajib memberikan laporan secara berkala kepada Menteri Kelautan dan Perikanan. (17) Apabila pengelolaan pulau tersebut akan dikerjasamakan dengan pihak ketiga, harus ada jaminan pengelolaan dan asuransi lingkungan

(environmental insurance) kepada Pemerintah. (18) Dalam hal pengelolaan pulau-pulau kecil yang dilakukan oleh pihak ketiga, yang aktivitas fisiknya dapat mengorbankan/menghilangkan fungsi dan nilai-nilai ekosistem bioma penyangga setempat, maka Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota mempunyai hak untuk mencairkan jaminan pengelolaan pulau-pulau kecil secara langsung tanpa persetujuan dari pihak ketiga.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, sebagai produk hukum nasional yang melanjutkan dan mengembangkan isi dari pada Pengumuman Pemerintah 21 Maret 1980 tentang Zona Ekonomi Eksklusif. Kajian terhadap Undang-Undang ini hanya membahas pasal-pasal yang penting yang terkait dengan penelitian serta relevan dengan rancangbangun hukum. Rumusan Zona Ekonomi Eksklusif sebagaimana tertuang dalam Pasal 2 berbunyi: “Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan Undang-Undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluas 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia". Rumusan Zona Ekonomi Esklusif ini menyatakan bahwa suatu jalur laut yang berada di luar laut wilayah yang meliputi antara dasar laut dan air di atasnya dengan batas terluar 200 mii laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. Sedangkan yang berhubungan dengara dasar laut dan tanah di bawahnya,

45

termasuk hak-hak berdaulat dan hak-hak lain serta yurisdiksi dan kewajibankewajiban Indonesia (Pasal 4 ayat 2) dilakukan menurut peraturan perUndangUndangan landas Kontinen Indonesia, persetujuan-persetujuan antara Republik Indonesia dengan negara-negara tetangga dan ketentuanketentuan hukurn internasional yang berlaku. Hal yang penting lainnya adalah ketentuan yang menyangkut penetapan garis batas Zona Ekonomi Eksklusif dengan negara tetangga, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 ayat (1 ) yang berbunyi: "Apabila Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia tumpang tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif negara-negara yang pantainya saling berhadapan atau berdampingan dengan Indonesia, maka batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik Indonesia dengan negara yang bersangkutan".

Rumusan tentang batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang tumpang tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif negara-negara yang pantainya saling berhadapan atau berdampingan akan ditetapkan melalui suatu persetujuan, dan untuk kasus Indonesia dan Filipina sampai saat ini masih terus dilakukan pertemuan bilateral. Konvensi Hukum Laut 1982 yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985 mengatur berbagai cara untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif antar negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan berdasarkan Pasal 74 Konvensi yang menetapkan sebagai berikut : (1) Penetapan batas zona ekonomi eksklusif antara negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan harus diadakan dengan persetujuan atas dasar hukum internasional, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional, untuk mencapai suatu pemecahan yang adil. (2) Apabila tidak dapat dicapai persetujuan dalam jangka waktu yang pantas, negara-negara yang bersangkutan harus menggunakan prosedur

penyelesaian sengketa yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 Tentang Pengesahan United Nations Convention on The Law of the Sea, pada Bab XV. (3) Sambil menunggu suatu persetujuan sebagaimana ditentukan dalam

Bab XV Bagian 1, Bagian 2 dan Bagian 3, Pasal 279 sampai dengan Pasal

46

299,

negara-negara yang bersangkutan, dengan semangat saling dan kerjasama, harus melakukan setiap usaha untuk

pengertian

mengadakan pengaturan sementara yang bersifat praktis dan, selama masa peralihan ini, tidak membahayakan atau menghalangi dicapainya suatu persetujuan akhir. Pengaturan demikian tidak boleh merugikan bagi tercapainya penetapan akhir mengenai perbatasan. (4) Dalam hal adanya suatu persetujuan yang berlaku antara negara-negara yang bersangkutan, maka masalah yang bertalian dengan penetapan batas zona ekonomi eksklusif harus ditetapkan sesuai dengan ketentuan persetujuan itu. Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif ini penting sekali artinya untuk menentukan batas-batas kelautan sebagai akibat dari klaim negaranegara pantai, seperti halnya klaim atas ZEE yang beberapa dasawarsa terakhir ini menjadi bahan perbincangan luas di kalangan masyarakat internasional. Suatu perkembangan bagi Indonesia, bahwa dengan mengacu pada Pasal 74 dan Pasal 83 Konvensi Hukum Laut 1982, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia pada tanggal 14 Maret 1997 telah berhasil menandatangani suatu Perjanjian tentang "Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif dan Batasbatas Dasar Laut Tertentu". Dengan telah ditandatanganinya perjanjian batas ZEE antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia, maka bagi Indonesia hal ini merupakan suatu kemajuan di bidang hukum laut. Karena dengan demikian makin berkurang batas-batas ZEE Indonesia yang tumpang tindih dengan negara-negara tetangga yang belum terselesaikan. Dalam upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah batas ZEE yang tumpang tindih yang belum terselesaikan, maka sudah sepatutnya untuk dipikirkan mengenai garis batas ZEE yang tumpang tindih seperti antara Indonesia (di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara) dan Filipina (di kepulauan Mindanao bagian Selatan). Adapun yang menentukan tumpang tindihnya garis batas ZEE ke dua negara tersebut adalah karena jarak antara pulau-pulau terluar yang ada di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud dengan pulaupulau terluar di Filipina Selatan adalah sebagai berikut :

47

"Antara Pulau Marore (Sangihe) dengan Pulau Balut (Filipina), jaraknya adalah 35 mil laut; antara Pulau Kawio (Talaud) dengan Pulau Balut (Filipina), jaraknya adalah 37 mil laut; dan antara Pulau Miangas (Talaud) dengan San Agustin (Filipina), jaraknya adalah 50 mil laut". ZEE mempunyai arti yang penting dalam rejim hukum laut yang baru ini. Pentingnya ZEE ini dapat dilihat dari perhitungan-perhitungan berikut: Zona yang lebarnya 200 mil laut itu akan meliputi kira-kira 13 juta mil laut persegi dari luas daratan bumi dan mencakup lebih 80% dari persediaan ikan dunia dan 90% sumber-sumber minyak lepas pantai. Pembentukan ZEE merupakan jawaban atas keprihatinan dunia tentang ancaman bagi menipisnya sumber kekayaan alam yang ada di darat. Potensi ekonomi dari sumber kekayaan alam hayati yang terdapat pada ZEE ini nampaknya merupakan suatu alasan baik bagi negara pantai untuk menetapkan ZEE ini sebagai Zona yang mempunyai arti bagi kepentingan semua Negara. Peranan yang sangat penting dari ZEE ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan sumber-sumber kekayaan alam hayati di ZEE. Negara pantai mempunyai kewajiban untuk menggalakkan tujuan pemanfaatan sumber kekayaan hayati secara optimal di ZEE dengan memperhatikan tentang konservasi sumber daya alam yang terdapat di ZEE tersebut. Ketentuan Pasal 56 ayat (1) Konvensi dinyatakan bahwa negara pantai menjalankan hak berdaulat di ZEE untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolahan sumber kekayaan alam. Hak berdaulat ini dinyatakan sebagai hak eksklusif negara pantai, dalam arti bahwa apabila negara pantai tidak mengeksplorasi ZEE atau mengeksplorasi sumber kekayaan alamnya, maka tiada seorangpun dapat melakukan kegiatan itu tanpa persetujuan negara pantai yang bersengketa. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi masalah dalam hal eksplorasi dan eksploitasi serta untuk menghilangkan potensi perselisihan antara negara-negara terutama yang menyangkut penetapan garis batas ZEE, maka perlu mendapat perhatian yang serius untuk penyelesaiannya. Berdasarkan Pasal 55 Konvensi, ZEE berada di bawah rejim hukum khusus. Rejim hukum ZEE berbeda dengan rejim laut teritorial dan rejim laut lepas. ZEE merupakan zona yang memiliki kesamaan ciri dari kedua rejim tersebut, namun tidak termasuk pada salah satu diantaranya. Secara horizontal batas ZEE dapat dilihat sebagai berikut; batas bagian dalam ZEE adalah batas

48

luar laut territorial, sedangkan batas terluar ZEE adalah tidak boleh melebihi jarak sejauh 200 mil laut. Selanjutnya di bagian luar ZEE adalah laut lepas, yang menurut Pasal 86 Konvensi, laut lepas berlaku bagi semua bagian dari laut yang tidak termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif, dalam laut teritorial atau dalam perairan pedalaman suatu negara dan atau dalam perairan kepulauan suatu negara kepulauan. Dalam hal ZEE antara negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan, maka penetapan garis batas ZEE tersebut harus dilakukan melalui suatu perjanjian atas dasar hukum internasional untuk mencapai suatu pemecahan yang adil. Dalam penetapan batas ZEE tersebut negara negara yang bersangkutan wajib membuat peta dengan skala yang memadai untuk menentukan posisinya dimana perlu. Daftar titik-titik koordinat-koordinat

geografis, yang merinci datum geodetik, dapat menggantikan garis batas terluar atas garis-garis penetapan batas tersebut. Negara pantai harus mengumumkan sebagaimana mestinya peta atau daftar koordinat geografis dan harus mendepositkan satu copy setiap peta atau daftar demikian pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa. Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, adalah jalur di luar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang yang berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah di bawahnya dan air di atasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. Demikian juga menurut ketentuan Pasal 1 Keputusan Presiden Filipina Nomor 1599 Tahun 1978 tentang ZEE Filipina, menyebutkan "The economic exclusive zone shall extend to a distance of two hundred nautical miles beyond and from the baselines from which the territorial sea is measured. Sedangkan pengertian Zona Ekonomi Ekslusif menurut Pasal 55 Konvensi Hukum Laut 1982 menyebutkan bahwa : "Zona Ekonomi Ekslusif adalah suatu daerah di luar dan berdampingan dengan laut teritorial yang tunduk pada rejim hukum khusus yang ditetapkan dalam Bab ini berdasarkan mana hak-hak dan yuridiksi Negara

49

pantai dan hak-hak serta kebebasan-kebebasan Negara lain, diatur oleh ketentuan-ketentuan yang relevan dan Konvensi ini". Menurut Pasal 57 Konvensi Hukum Laut tahun 1982, lebar ZEE ditetapkan sebagai berikut: "Zona Ekonomi Ekslusif tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial diukur". Dari rumusan Pasal 55 dan Pasal 57 tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa yang dimaksud dengan ZEE adalah suatu daerah laut yang berdampingan atau berbatasan dengan laut teritorial suatu negara pantai, dengan lebar ZEE sejauh 200 mil laut yang dihitung dari garis pangkal, dari mana negara pantai mengukur lebar laut teritorialnya. Dengan ditetapkannya pula lebar laut teritorial negara pantai sejauh 12 mil laut maka dengan demikian lebar ZEE sebenarnya adalah 200 mil laut

dikurangi lebar laut teritorial 12 mil laut sehingga menjadi 188 mil laut. Hak dan kewajiban Negara pantai di ZEE, sesuai konvensi yaitu Negara pantai mempunyai hak-hak dan kewajiban kewajiban seperti yang telah ditetapkan dalam Pasal 56 ayat (1) Konvensi, yaitu bahwa dalam Zona Ekonomi Ekslusif Negara pantai mempunyai : "(a) Hak-hak berdaulat untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam, baik hayati maupun non hayati, dari perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah di bawahnya dan berkenaan dengan kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi ekonomi zona tersebut, seperti produksi energi dari air, arus dan angin." Di samping dari hak-hak berdaulat tersebut Negara pantai mempunyai yurisdiksi yang berhubungan dengan: "(b) (i) pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi dan bangunan, (ii) riset ilmiah kelautan; dan (iii) perlindungan dan pelestarian lingkungan laut"

50

Dalam Pasal 58 dijelaskan bahwa disamping melaksanakan hak-hak, negara pantai juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk

memperhatikan kepentingan-kepentingan negara lain berkenaan dengan hakhak untuk melakukan kebebasan pelayaran, kebebasan penerbangan dan kebebasan untuk memasang kabel dan pipa di bawah laut, serta penggunaan laut lainnya berdasarkan ketentuan Konvensi ini dan ketentuan lain dari hukum internasional. Di samping itu pula Negara pantai tetap menghormati ketentuanketentuan hukum mengenai laut lepas dan ketentuan-ketentuan hukum internasional lainnya untuk menjamin kepentingan atau hak-hak negara lain dalam melaksanakan kebebasan-kebebasan di laut sepanjang ketentuan hukum (laut) internasional tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan hukum negara pantai di ZEE tersebut. Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, hak-hak berdaulat atas kekayaan alam serta yurisdiksi-yurisdiksi tertentu yang berhubungan dengan hak-hak tersebut tunduk pada ketentuan Negara Pantai, sedangkan pelayaran kapalkapal dan penerbangan pesawat adalah bebas bagi tiap negara. Oleh karena itu status hukum ZEE tunduk pada rezim hukum khusus ("sui generis"). Wilayah ZEE Filipina ditetapkan dalam Keputusan Presiden (Presidential Decree) Nomor 1599 tahun 1978. Dalam konsideran Keputusan Presiden tersebut dinyatakan bahwa wilayah ZEE yang membentang sampai 200 mil laut dari garis dasar darimana laut teriorial diukur adalah vital bagi kelangsungan dan perkembangan ekonomi Republik Filipina. Pemagaran yuridis atas wilayah ZEE tersebut adalah sah oleh karena zona demikian pada saat sekarang ini merupakan suatu konsepsi hukum internasional yang diakui. Berdasarkan Pasal 1 disebutkan bahwa ZEE Filipina adalah suatu wilayah yang membentang sampai sejauh 200 mil laut yang berada diluar garis dasar darimana laut teritorial diukur. Jika batas-batas luar (outer limit) wilayah ZEE Filipina dalam posisi tumpang tindih dengan ZEE dari negara yang berdekatan atau bertetangga, maka batas-batas bersama (common boundaries) akan ditentukan dengan perjanjian dengan negara yang bersangkutan atau sesuai dengan azas-azas hukum internasional tentang perbatasan yang umumnya diakui.

51

Penetapan batas ZEE Filipina dengan negara lain, sejalan dengan teori dan praktek penetapan batas (termasuk wilayah ZEE) antar negara yang memungkinkan bagi dua negara yang memiliki wilayah ZEE dalam posisi berhadapan persetujuan. atau berdampingan tersebut untuk menyelesaikannya pada berdasarkan hukum

Persetujuan

didasarkan

azas-azas

internasional tentang penetapan batas yang diakui secara umum, sebagaimana yang tercermin dalam Pasal 74 ayat (1) Konvensi Hukum Laut tahun 1982. Selanjutnya didalam Pasal 2 Keputusan Presiden tersebut dikemukakan bahwa Negara Republik Filipina mempunyai kedaulatan atas laut wilayah, hakhak berdaulat atas Landas Kontinen dan ZEE yang dimilikinya, sekaligus memiliki dan menjalankan hak-hak sebagai berikut : (1) Hak berdaulat untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber-sumber alam baik yang hidup ataupun yang tidak (living or non-living), baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui, dari dasar laut, termasuk lapisan tanah sebelah bawah dan yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan lain untuk eksploitasi ekonomi dan eksplorasi sumber-sumber alam di zona tersebut, seperti produksi energi dari air, arus dan angin; (2) Hak eksklusif dan yurisdiksi sehubungan dengan didirikannya dan dimanfaatkannya pulau-pulau buatan, terminal lepas pantai, instalasi dan bangunan, pemeliharaan lingkungan kelautan, termasuk pencegahan dan pengendalian pencemaran, dan penelitian ilmiah; (3) Hak-hak lain sebagaimana diakui oleh hukum internasional atau praktek negara. Sedangkan dalam Pasal 3 menetapkan adanya persyaratan perjanjian yang diadakan dengan Republik Filipina atau ijin yang diberikan olehnya atau di bawah wewenang Republik Filipina. Ijin yang diberikan tersebut mengecualikan hal-hal sebagai berikut: (1) Mengekspolarasi atau mengeksploitir sumber-sumber alam apapun; (2) Melakukan pencarian, penggalian atau operasi pengeboran terhadap sumber-sumber alam; (3) Melakukan penelitian; (4) Mendirikan bangunan, memelihara atau mengoperasikan pulau buatan, terminal lepas pantai, instalasi, atau bangunan atau cara lain; atau

52

(5) Melaksanakan suatu tindakan atau terlibat di dalam suatu kegiatan yang bertentangan dengan atau merugikan hak-hak berdaulat dan yurisdiksi yang ditetapkan disini. Ketentuan-ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 tersebut sama dengan ketentuan angka (b sampai g) dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 dan Pasal 56 Konvensi Hukum Laut tahun 1982 yang berkaitan dengan hak-hak, yurisdiksi dan kewajiban negara pantai dalam wilayah ZEE. Selanjutnya dalam Pasal 3 Keputusan Presiden tersebut dinyatakan bahwa Neqara-negara lain akan merikmati di ZEE kebebasan hubungan dengan navigasi dan penerbangan, pemasangan Kabel-kabel dan saluran pipa-pipa dibawah laut, dan pemakaian lain yang secara internasional sah dari laut yang berhubungan dengan navigasi dan komunikasi. Ketentuan tersebut sama dengan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1983 dan Pasal 58 Konvensi Hukum Laut tahun 1982 yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban negara lain di wilayah ZEE.

Melalui Perjanjian hukum dan praktek penetapan batas wilayah (termasuk ZEE) tersebar dalam berbagai konvensi Internasional, putusan mahkamah internasional maupun ketentuan hukum nasional negara-negara yang

menyatakan bahwa penetapan batas wilayah ZEE antara dua negara yang berdampingan atau berhadapan, dapat ditempuh melalui persetujuan atau perjanjian antara kedua negara. Dengan kata lain, praktek penetapan batas wilayah ZEE antara negara-negara sudah menjadi aturan kebiasaan

internasional, sehingga Indonesia dan Filipina dapat mencontohnya. Praktek antar negara membenarkan bahwa selama ini sejumlah 70 atau lebih negara yang telah menetapkan ketentuan tentang ZEE, dan lebih dari sepertiganya memasukkan dalam perUndang-Undangannya yang merujuk pada prinsip sama jarak seperti suatu solusi sementara sambil menunggu penyelesaian penetapan batas melalui persetujuan. Ketentuan hukum nasional Indonesia, juga mengatur mengenai

kemungkinan adanya penetapan batas antara Indonesia dengan negara lain, rnelalui perjanjian. Dalam Pengumuman Pemarintah Republik Indonesia mengenai ZEE Indonesia tanggal 21 Maret tahun 1980 menyebutkan bahwa

53

dalam hal garis batas ZEE Indonesia menimbulkan masalah penentuan batas dengan negara lain yang letaknya berhadapan atau berdampingan dengan Indonesia, Pemerintah Indonesia bersedia pada waktu yang tepat mengadakan perundingan-perundingan dengan negara yang bersangkutan guna mencapai persetujuan. Ketentuan yang sama juga dikodifisir dalam Pasal 3 ayat (1) UndangUndang Nomor 5 Tahun 1983 yang menyebutkan bahwa apabila wilayah ZEE Indonesia tumpang tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif neaara yang pantainya saling berhadapan atau berdampingan dengan Indonesia, maka batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik Indonesia dengan negara yang

bersangkutan. Penetapan batas ZEE berdasarkan persetujuan juga diatur dalam Perjanjian antara Indonesia dan Australia tentang Penetapan Batas ZEE dan Batas-batas Laut Tertentu. Di dalam konsiderans perjanjian tersebut

dikemukakan bahwa Republik Indonesia dan Australia terikat oleh Konvensi Hukum Laut PBB tahun 1982, khususnya berdasarkan ketentuan Pasal 74 dan Pasal 83 yang menentukan bahwa batas ZEE dan landas kontinen antara kedua negara yang pantainya berhadapan harus diatur dengan persetujuan

berdasarkan hukum internasional untuk mencapai suatu penyelesaian yang adil (the delimitation of the economic exclusive zone and continental shelf between States with opposite coasts shall be effected by agreement on the basis of international law in order to achieve an equitable solution). Ketentuan hukum nasional Filipina, khususnya yang berkaitan dengan penetapan batas ZEE, juga mencantumkan penetapan wilayah berdasarkan persetujuan. Dalam Pasal 1 Keputusan Presiden Nomor 1599 Tahun 1978 menyebutkan bahwa ZEE Filipina adalah suatu wilayah yang membentang sampai sejauh 200 mil laut yang berada diluar garis dasar darimana laut teritorial diukur. Jika batas-batas luar (outer limit) wilayah ZEE Filipina dalam posisi tumpang tindih dengan ZEE dari negara yang berdekatan atau bertetangga, maka batas-batas umum (common boundaries) akan ditentukan dengan perjanjian dengan negara yang bersangkutan dan sesuai dengan azas-azas hukum internasional tentang perbatasan yang umumnya diakui.

54

Penetapan batas wilayah ZEE antara Indonesia dan Filipina, harus sejalan dengan ketentuan hukum internasional, dan bukan menurut ketentuan hukum nasional semata-mata dari suatu negara. Dengan kata lain, ketentuan hukum dan metode penatapan batas antara Indonesia dan Filipina, tidak boleh dilakukan dengan menggunakan hukum nasional Indonesia atau Filipina, melainkan penetapan didasarkan batas, pada ketentuan-ketentuan diatur dalam internasional tentang dan

sebagaimana

berbagai

konvensi

yurisprudensi internasional yang ada. Penetapan batas wilayah ZEE secara permanen (persetujuan akhir) antara kedua negara (termasuk Indonesia dan Filipina) juga dapat ditempuh melalui pengaturan sementara yang bersifat praktis berdasarkan semangat saling pengertian dan kerjasama antara kedua negara, mendahului persetujuan akhir. Hal ini diatur dalam Pasal 74 ayat (3) Konvensi Hukum Laut yang menyatakan bahwa sambil menunggu suatu persetujuan sebagaimana

ditentukan dalam ayat (1) dari Pasal ini, negara negara yang bersangkutan dengan semangat saling pengertian dan kerjasama, harus melakukan setiap usaha untuk mengadakan pengaturan sementara yang bersifat praktis dan selama masa peralihan ini tidak membahayakan atau menghalangi dicapainya suatu persetujuan akhir. Menurut Churchill dan Lowe, sambil memutuskan penyelesaian sengketa, negara-negara yang berbatasan tersebut dapat

mengadakan usaha-usaha awal dalam bentuk memberlakukan perjanjian sementara yang bersifat praktis berdasarkan ketentuan Pasal 74 ayat (3) dan Pasai 83 ayat (3) Konvensi Hukum Laut. Contoh-contoh perjanjian tersebut antara lain persetujuan Perancis-Tuvalu berdasarkan garis sama jarak yang digunakan sebagai persetujuan perbatasan sementara atas suatu perbatasan yang permanen, persetujuan Denmark-Swedia yang menetapkan bahwa selama perbatasan disetujui (sebagai ditanda tangani pada tahun 1984) zona perikanan eksklusif dalam wilayah Kattegat terletak diluar 12 mil dari pantai akan ditempatkan berdasarkan yurisdiksi perikanan bersama Denmark-Swedia, dan persetujuan Jepang Korea Selatan tahun 1974 berdasarkan Konvensi yang mengeksploitir sumber daya alam dalam suatu wilayah yang disengketakan didasar laut untuk kepentingan kedua negara. Sama seperti ketentuan hukum nasional Indonesia, Filipina juga telah mengumumkan wilayah ZEE sejauh 200 mil pada bulan Juni tahun 1978. Sistim

55

yang dianut Filipina dalam penetapan batas ZEE negaranya adalah sama dengan yang dianut oleh Indonesia yakni "median line atau equidistance". Baik Indonesia maupun Filipina keduanya juga adalah negara kepulauan. Dengan terjadinya penetapan batas ZEE 200 mil laut oleh kedua belah pihak yang diukur dari garis-garis pangkal darimana diukur laut teritorial masing-masing yang mengelilingi kepulauannya, maka di bagian Selatan Pilipina (bagian selatan Mindanao) dan bagian utara Indonesia (Sangihe dan Talaud Sulawesi Utara) perlu diadakan penetapan batas-batasnya. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia dan Filipina merupakan negara kepulauan. Sebagai konsekwensi dari eksistensinya sebagai negara kepulauan, maka setiap hak dan kewajiban yang berkaitan dengan konsepsi negara kepulauan, akan berlaku terhadap kedua negara tersebut. Termasuk di dalamnya mengenai penetapan batas bagi suatu negara kepulauan yang berhadapan atau bersampingan dengan negara lain. Dalam Pasal 15 Konvensi Hukum Laut tahun 1982 disebutkan bahwa dalam hal pantai dua negara yang letaknya berhadapan atau berdampingan satu sama lain, tidak satupun diantaranya berhak, kecuali ada persetujuan yang sebaliknya antara mereka, untuk menetapkan batas laut teritorialnya melebihi garis tengah yang titik-titiknya sama jaraknya dari titik-titik terdekat pada garisgaris pangkal darimana lebar laut teritorial masing-masing negara diukur. Tetapi ketentuan diatas tidak berlaku, apabila terdapat alasan historis atau keadaan khusus lain yang menyebabkan perlunya menetapkan batas laut teritorial antara kedua negara menurut suatu cara yang berlainan dengan ketentuan diatas. Walaupun bukan dalam konteks Bab V Konvensi Hukum Laut 1982 mengenai ZEE, akan tetapi ketentuan Pasal 15 tersebut mengandung substansi bahwa apabila suatu negara kepulauan memiliki pantai yang berhadapan atau berdampingan dengan negara lain, maka negara tersebut harus mengadakan penetapan wilayahnya dengan berdasarkan pada garis tengah. Pengaturan mengenai prinsip sama jarak, juga ditetapkan dalam Konvensi Jenewa tahun 1958 tentang Landas Kontinen yang menetapkan bahwa batas landas kontinen akan ditentukan melalui persetujuan diantara negaranegara yang berkepentinpan. Karena itu dalam hal tidak adanya persetujuan dan kecuaii kalau garis batas iainnya dibenarkan oleh keadaan-keadaan khusus,

56

perbatasan akan ditentukan melalui penerapan dari prinsip sama jarak (Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 6 ayat (2). Pemakaian prinsip sama jarak (equidistance principle) sebagaimana disebutkan diatas yang ditetapkan menurut garis sama jarak dari titik-titik yang paling dekat dari pantai negara-negara (sebagaimana yang ditetapkan Komisi Hukum Internasional selama tahun 1950-an) merupakan solusi yang mempunyai keuntungan-keuntungan mengenai kesederhanaan dan kepastian. Hal ini dibandingkan dengan penetapan batas berdasarkan kondisi suatu pulau (pulau utama) di lepas pantai yang ternyata menciptakan penyimpangan besar-besaran terhadap garis sama jarak. Penetapan batas wilayah ZEE antara Indonesia dan Filipina dinilai akan lebih mudah dibandingkan dengan penetapan batas wilayah ZEE antara Indonesia dan Australia. Hal ini disebabkan bahwa tidak adanya keadaankeadan khusus (special circumstances) diantara pulau-pulau Indonesia dan Filipina. Sebagai contoh, diantara pulau Marore (suatu pulau yang berada di wilayah Sangihe Indonesia) dengan Pulau Balut (yang berada di Mindanao Selatan-Filipina) yang jaraknya hanya 35 mil laut, tidak ada satupun pulau yang berada pada posisi diantara kedua pulau tersebut. Hal yang sama juga antara Pulau Kawio (yang ada di wilayah Sangihe Indonesia) dengan Pulau Balut (di bagian selatan Filipina), yang hanya berjarak 37 mil laut. Demikian juga dengan kondisi geografis antara Pulau Miangas (di Indonesia bagian utara Kabupaten Kepulauan Talaud Indonesia) yang berhadapan dengan pulau San Agustin Filipina yang berjarak 50 mil laut. Dengan kata lain, diantara ketiga posisi ketiga pulau-pulau yang berdampingan atau berdekatan tersebut, tidak ada satu pun pulau atau karang yang diklaim sebagai milik, baik dari Indonesia maupun dari Filipina, untuk dapat dijadikan dasar pengukuran sekaligus penetapan batas wilayah ZEE,

berdasarkan keadaan-keadaan tertentu. Setiap pembentukan peraturan perUndang-Undangan harus

memperhitungkan efektifi tas Peraturan Perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis. Kedayagunaan dan kehasilgunaan adalah bahwa setiap peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kejelasan rumusan

57

adalah

bahwa

setiap

peraturan

perUndang-Undangan

harus

memenuhi

persyaratan teknis penyusunan peraturan perUndang-Undangan, sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Keterbukaan adalah bahwa dalam proses pembentukan peraturan perUndang-Undangan mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perUndang-Undangan. Selanjutnya dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dijabarkan juga bahwa materi muatan peraturan perundangan harus memenuhi asas sebagai berikut, yaitu pengayoman; kemanusiaan; kebangsaan; kekeluargaan; kenusantaraan; bhineka tunggal ika; keadilan; kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; ketertiban dan kapastian hukum; dan atau keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (1) Pengayoman adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndangUndangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. (2) Kemanusiaan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndangUndangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. (3) Kebangsaan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndangUndangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. (4) Asas kekeluargaan” adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndang-Undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. (5) Kenusantaraan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndangUndangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perUndang-Undangan yang dibuat

58

di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. (6) Bhinneka tunggal ika adalah bahwa materi muatan peraturan perUndangUndangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (7) Keadilan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndangUndangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. (8) Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndang-Undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial. (9) Ketertiban dan kepastian hukum adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perUndang-Undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. (10) Keseimbangan, keserasian, dan keselarasan adalah bahwa setiap materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. Harmonisasi Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang ditegaskan dalam pasal 17 ayat (3) menentukan bahwa “Dalam keadaan tertentu, Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional (Prolegnas).” Ketentuan ini kemudian digunakan secara bersama-sama oleh DPR-RI dan Pemerintah untuk melakukan pembahasan suatu rancangan peraturan perundang-undang di luar Prolegnas. Maksud dari pengharmonisasian peraturan perundang-undangan adalah sebagai upaya untuk menyelaraskan, menyesuaikan, memantapkan dan membulatkan konsepsi suatu rancangan peraturan perundang-undangan dengan peraturan perundang-undangan lain, baik yang lebih tinggi, sederajat, maupun yang lebih rendah, dan hal-hal lain selain peraturan perundang-undangan,

59

sehingga tersusun secara sistematis, tidak saling bertentangan atau tumpang tindih (overlaping). Hal ini merupakan konsekuensi dari adanya hierarki peraturan perundang-undangan.

Implementasi Hukum & Kelembagaan Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Daerah

Undang- Undang Konservasi

Undang- Undang Perikanan

Undang- Undang Pemerintahan Daerah

Undang- Undang Wilayah Negara

Landasan Formil dan Materil UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Gambar 6 Rancangbangun hukum dan pelaksanaannya pengelolaan pulau kecil terluar Rancangbangun hukum dan pelaksanaannya menginventarisasi sejumlah peraturan perUndang-Undangan yang mempunyai hubungan dengan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di perbatasan termasuk pengelolaan wilayah pesisir. Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan Perundangundangan merupakan conditio sine quanon bagi Perancang agar peraturan perundang-undangan yang dibuatnya tidak mudah dibatalkan melalui pengujian ke Mahkamah Konstitusi (undang-undang) atau ke Mahkamah Agung (peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang). Landasan Formil dan Materiil Konstitusional Peraturan Perundangundangan adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sebagai sumber hukum yang utama dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Dengan memahami konstitusi maka pembentukan

peraturan perundang-undangan mendapatkan landasan konstitusional yang benar yang dipandu oleh nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam alinea

Undang- Undang Sumberdaya Alam

KONVENSI INTERNASIONAL YANG DIRATIVIKASI : UNCLOS 1982

60

keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-undang juga dapat diuji terhadap Undang-Undang Dasar, namun pengujiannya bukanlah pengujian secara judicial melainkan pengujian secara legislatif atau secara politis (legislative/Political Review) karena yang mengujinya adalah lembaga politik atau lembaga legislatif yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagaimana dimuat dalam Pasal 5 ayat (1) TAP MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundangundangan. TAP MPR ini sebagai pengganti TAP MPRS No. XX/MPRS/1966. Dengan dibentuknya Mahkamah Konstitusi yang diberikan kewenangan konstitusional menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar dan kewenangan Mahkamah Agung yang semula didasarkan kepada undang-undang sekarang diangkat ke dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi kewenangan konstitusional untuk menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, pemahaman landasan formil dan materiil konstitusional peraturan perundangundangan menjadi suatu conditio sine quanon bagi para Perancang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya menyusun/membuat peraturan perundangundangan agar peraturan perundang-undangan tersebut tidak mudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi atau Mahkamah Agung. Hasil analisis AHP Susunan hirarki penetapan strategi merupakan penggambaran dari analisis AHP yang mengaitkan sasaran, faktor, dan alternatif strategi. rancangbangun hukum pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara. Hasil analisis AHP dijelaskan lebih lanjut berikut ini : (1) Prioritas elemen faktor Faktor yang mempengaruhi dalam pembuatan rancangbangun hukum peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar terdiri 5 faktor. Hasil analisis faktor dalam AHP dari beberapa pendapat pakar dengan bantuan pengolah data expert choice 2000 dapat dilihat pada Tabel 6 dan hasil

prioritas analisis faktor tersebut dapat dilihat pada Gambar 7

61

Tabel 6 Hasil analisis faktor AHP

Gambar 7 Hasil analisis faktor Dari kriteria/faktor-faktor penunjang, setelah di masukan dalam suatu program computer maka dapat di lihat melalui Table 8 Faktor hukum memiliki nilai yang lebih tinggi (0.289) dibandingkan dengan ke-3 faktor lain sumber daya alam (0.255), kelembagaan (0.231), pendanaan (0.144) dan sosial ekonomi (0.081). dengan angka rasio inkonsistensi dari para expert adalah 0.08, rasio ini dianggap masih dalam batas toleransi karena angka inkonsistensi harus dibawah angka 0.1. Tabel 7 Prioritas elemen faktor No 1 2 3 4 5 FAKTOR Hukum Sumber Daya Alam Kelembagaan Pendanaan Sosial Ekonomi BOBOT 0.289 0.255 0.231 0.144 0.081 PRIORITAS 1 2 3 4 5

Berdasarkan Tabel 7 faktor yang menduduki prioritas pertama yang mempengaruhi pembuatan rancangbangun hukum adalah faktor hukum dengan bobot 0.289. Bobot ini menunjukkan bahwa faktor hukum memiliki peranan yang sangat besar dalam pembuatan rancangbangun hukum

pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya permasalahan hukum dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, baik dari sisi eksternal ataupun internal (dalam negeri). Dari sisi ekternal,

62

permasalahan hukum yang terkait dengan negara tetangga adalah belum adanya penetapan batas negara antara Indonesia dengan Filipina khususnya untuk pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil terluar. Permasalahan hukum dari sisi internal (dalam negeri) adalah masih kurangnya dukungan perangkat hukum dan peraturan dalam penyelenggaraan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar provinsi Sulawesi Utara. Aspek Hukum menjadi titik tolak dari keseluruhan faktor pembuatan rancangbangun hukum pengelolaan pulau-pulau kecil terluar Provinsi Sulawesi Utara baik aspek sumber daya alam, kelembagaan, pendanaan dan sosial ekonomi. Penegakan hukum merupakan salah satu pilar utama untuk menegakkan kedudukan dan kewenangan kelembagaan. Penegakan hukum yang efektif juga akan menjamin sistem dan mekanisme hubungan kelembagaan yang efektif. (2) Prioritas elemen strategi Alternatif strategi perumusan rancangbangun hukum pulau-pulau kecil terluar dalam rangka peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara terdiri dari 5, yaitu [1]rancangbangun hukum menurut pemerintah, [2]rancangbangun hukum menurut akademisi,

[3]rancangbangun hukum menurut strategi perwilayahan, [4]rancangbangun hukum menurut penataan batas wilayah negara, dan [5]rancangbangun hukum menurut budaya lokal. Kelima strategi tersebut dianalisis dan hasil analisis strategi dalam AHP dari beberapa pendapat pakar dengan bantuan pengolah data expert choice dapat dilihat pada Tabel 7 dan hasil prioritas elemen alternatif strategi tersebut dapat dilihat pada Tabel 8 dan analisis alternatif strategi pada Gambar 8 Tabel 8 Prioritas elemen alternatif strategi No 1 2 3 4 5 STRATEGI RANCANGBANGUN BOBOT Rancangbangun Hukum Menurut Penataan 0.226 Batas Wilayah Negara Rancangbangun Hukum Menurut Pemerintah 0.222 Rancangbangun Hukum Menurut Strategi 0.211 Perwilayahan Rancangbangun Hukum Menurut Akademisi 0.180 Rancangbangun Hukum Menurut Budaya Lokal 0.161 PRIORITAS 1 2 3 4 5

63

Gambar 8 Hasil analisis alternatif strategi Berdasarkan Tabel 8 strategi prioritas yang harus pertama kali dilakukan adalah pembuatan rancangbangun hukum menurut penataan batas wilayah negara. Implementasi rancangbangun hukum tersebut adalah dengan cara penetapan batas wilayah yang disepakati Indonesia dan Filipina serta peningkatan kerjasama bilateral dan internasional. Penetapan batas wilayah ini menjadi prioritas pertama karena penetapan batas laut negara di daerah perbatasan akan menjamin kepastian hukum untuk pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara. Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di bidang sumber daya alam, sosial ekonomi, pendanaan, hukum dan kelembagaan akan lebih efektif jika penetapan batas negara jelas dan diakui oleh negara tetangga. Oleh karena itu batas laut zona ekonomi eksklusif negara antara Indonesia dan Filipina segera diselesaikan melalui pertemuan dan pembahasan internasional bilateral maupun multilateral dan mendapat pengakuan masyarakat internasional terhadap batas pengelolaan negara di wilayah laut, demi kepentingan pengelolaan negara pantai di wilayah pesisir dan laut, keberlanjutan sumber daya, kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, keamanan pangan di laut, keamanan dan pertahanan, serta kesatuan wilayah negara Republik Indonesia. Kedua negara sepakat membahas permasalahan perbatasan negara dalam forum bilateral, yaitu Joint Border Committee (JBC) RI-Filipina. Indonesia diketuai oleh Pangdam VII Wirabuana dan Filipina diketuai oleh Philippines South Commander. Forum ini melakukan pertemuan setiap tahun guna membahas dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul di perbatasan kedua negara. Selain isu koordinasi dalam pengembangan kawasan perbatasan, komitmen dan kebijakan Pemerintah untuk memberikan prioritas lebih tinggi

64

dalam pembangunan wilayah perbatasan telah mengalami reorientasi yaitu dari orientasi keamanan (security approach) menjadi orientasi pembangunan (prosperity/ development approach). Reorientasi ini, pada kasus kawasan perbatasan di Provinsi Sulawesi Utara, dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut: Pendekatan keamanan (security approach) yang diterapkan Mabes ABRI di dalam penanganan KK Sosek Malindo, walaupun berbeda namun diharapkan dapat saling menunjang dengan pendekatan pembangunan (prosperity/ development approach). Terkait dengan beberapa upaya yang telah disepakati di dalam pengembangan kawasan perbatasan antar negara, diperlukan pertimbangan terhadap upaya percepatan pengembangan kawasan perbataan tersebut melalui penanganan yang bersifat lintas sektor dan lintas pendanaan. Skenario Strategi Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Strategi pembuatan rancangbangun hukum menurut penataan batas wilayah negara (hasil analisis AHP) merupakan prioritas utama yang

dipertimbangkan untuk pencapaian tujuan, namun bukan berarti strategi tersebut menjadi strategi tunggal dalam pencapain tujuan, karena masih ada prioritas rancangbangun hukum lain yang memiliki unsur-unsur strategi yang juga menjadi pertimbangan dalam pencapaian tujuan. Penggunaan metode analisis prospektif diperlukan untuk memprediksi kejadian di masa depan, sehingga dapat disusun alternatif skenario untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Faktor dalam menganalisis alternatif skenario adalah unsur strategi dari kelima rancangbangun hukum yang dihasilkan dari analisis AHP karena setiap unsur strategi merupakan kumpulan usaha yang komprehensif untuk mencapai tujuan dalam rangka peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara. Unsur strategi yang sama dari kelima rancangbangun digabungkan sehingga menghasilkan 9 unsur strategi yang menjadi faktor dalam menganalisis alternatif skenario. Berdasarkan pendapat pakar, prediksi kejadian di masa depan untuk kurun waktu 5 – 10 tahun dapat dilihat pada Tabel 10

65

Tabel 9 Analisis skenario
FAKTOR Penetapan Batas wilayah yang disepakati Indonesia dan Filipina 1A Penetapan batas wilayah justru akan merugikan Indonesia SKENARIO 1B Penetapan batas wilayah masih berbelit-belit dan tidak menghasilkan sebuah kesepakatan 1C Batas Wilayah laut antara Indonesia dan Filipina menjadi semakin jelas dan menghasilkan kesepakatan yang win-win solution

Kerjasama bilateral dan Internasional

2A Tetap dan kurang memiliki pengaruh dalam memperkuat posisi geografis Indonesia

2B Semakin berkembang dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam memperkuat posisi geografis Indonesia 3B Pelaksanaan program tetap atau statis 3C Pelaksanaan program berjalan efektif dan efisien

Program Pengelolaan SDA dan jasa lingkungan kelautan

Sinergi kelembagaan

Sistem pendanaan

Hukum dan Peraturan Pengelolaan

Penataan ruang wilayah

3A Pelaksanaan program kurang mendukung kelestarian sumber daya alam 4A Tetap dalam arti masih adanya tumpang tindih wewenang dan antar lembaga kurang bersinergi dalam mencapai tujuan 5A Semakin lemah karena tidak adanya keseriusan dalam pengontrolan dana 6A Gagal karena kesadaran hukum masih rendah 7A Tetap

4B Semakin kuat dan efektif dalam menjalankan masing-masing perannya

5B Tetap

5C Semakin kuat

6B Tetap

6C Mendukung dalam penyelenggaraan pengelolaan

Sarana dan Prasarana Wilayah

8A Memberikan dampak negatif terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakat karena ketidakbijakan dalam pemanfaatan sarana dan prasarana

7B Mendukung dalam penyelenggaraan pengelolaan 8B Tetap dalam arti tidak berpengaruh

8C Semakin meningkatkan aksesbilitas yang memberikan dampak positif terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakat

66 tersebut Keterpaduan antar stakeholder 9A Semakin buruk karena tidak adanya prinsip keterbukaan dan tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah terhadap pemerintah 9B Tetap 9C Semakin terpadu karena adanya prinsip keterbukaan dan peran serta antar stake holder dalam pengelolaan

Berdasarkan alternatif kejadian pada masing-masing faktor, responden pakar menyusun alternatif skenario yang mungkin terjadi dalam kurun waktu 5 tahun kaitannya dengan penyusunan dasar rekomendasi yang harus dilakukan. Alternatif skenario yang mungkin terjadi terhadap peningkatan

pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara. Tabel 10 Alternatif skenario
No 1 Skenario Sangat Optimistik Uraian Keadaan Penyusunan Rancangbangun hukum di wilayah perbatasan negara dan penetapan batas negara termasuk ZEE Penyusunan Rancangbangun hukum dan menyelesaikan perundingan bilateral batas negara dan ZEE Penyelesaian Perundingan Bilateral mengenai Batas Negara dan Nota kesepakatan ZEE Perundingan Bilateral penetapan ZEE Penyelesaian Mahkamah Internasional

2

Cukup Optimisrtik

3

Optimistik dengan syarat pertama

4 5

Optimistik dengan syarat kedua Pesimistik

Dari kriteia/faktor-faktor penunjang, setelah di masukan dalam suatu program computer maka dapat di lihat melalui Tabel 7, faktor hukum memiliki nilai yang lebih tinggi (0.289) dibandingkan dengan ke-3 faktor lain yaitu sumber daya alam (0.255), kelembagaan (0.231), pendanaan (0.144) dan sosial ekonomi (0.081). dengan angka rasio inkonsistensi dari para expert adalah 0.08, rasio ini dianggap masih dalam batas toleransi karena angka inkonsistensi harus dibawah angka 0.1. Bertitik tolak dari hasil kuisioner yang dijalankan dalam penelitian ini maka dapat dilihat hasilnya yang sudah dimasukan dalam program expert choice 2000. Sebagai contoh dapat di jelaskan dengan mengambil responden dari pihak Kementerian Luar Negeri RI Tabel 11 dan Tabel 12 Sosial Ekonomi.

67

Tabel 11 Hasil kuesioner responden

Tabel 12 Sosial ekonomi

Dengan kriteria sosial ekonomi berdasarkan alternatif rancangbangun produk hukum menurut pemerintah, akademisi, strategi perwilayahan, penataan batas wilayah dan budaya lokal, setalah diisii nilai yang didapat dari para expert dan dengan mengkalkulsikan angka-angka yang ada dalam matrik maka di dapat : berdasarkan kriteria sumber daya alam, nilai terbesar yang didapat adalah rancangbangun hukum menurut pemerintah (0.232), diikuti rancangbangun

hukum menurut strategy perwilayahan (0.223), rancangbangun menurut penataan batas wilayah (0.200), rancangbangun hukum menurut akademisi (0.193) dan rancangbangun hukum menurut budaya dengan nilai yang terkecil 0.154). Untuk rasio inkonsistensi adalah 0.04.

Gambar 9 Hasil analisis faktor sosial ekonomi

68

Sintesis Sistesis adalah merupakan proses dari pembobotan dan kombinasi prioritas dari model setelah dibuatnya penilaian dengan tujuan akhir yang sudah ditetapkan. Penilaian dikombinasikan terhadap model dengan menggunakan pembobotan dan proses dalam mencapai tujuan menggunakan semua nilai untuk alternativ-alternatif rancangbangun produk hukum pesisir. Alternativ yang terbaik adalah merupakan prioritas tertinggi yang dihasilkan dari Gambar 11 sintesis yang dihasilkan menunjukan bahwa rancangbangun hukum menurut penataan batas wilayah mendapatkan prioritas tertinggi untuk di pilih dalam menghasilkan produk rancangbangun hukum pesisir. Rancangbangun hukum menurut penataan wilayah mendapatkan nilai 0.226, diikuti oleh RH menurut pemerintah (0.222), RH strategi perwilayahan (0.211), RH menurut akademisi (180), dan rancangbangun menurut biaya (0.161), sedangkan rasio inskonsitensi adalah 0.04 yang masih dalam batas rasio normal.

Gambar 10 Sintesis rancangbangun penataan wilayah Sensitivitas Analisis Tujuan dari analisis sensitive adalah menujukan secara grafis bagaimana perubahan-perubahan alternativ terhadap besarnya kepentingan dari tujuan yang ingin di capai. Setiap analisa sensitiv bisa dihasilkan melalui tujuan atau criteria/faktor yang ada dan dapat di bandingkan satu sama lainnya. Dalam merancang produk rancangbangun hukum pesisir digunakan beberapa analisa sensitif diantaranya adalah Sytem Dinamik dan System Head to Head.

69

Sensitivitas dinamis Dalam analisis dari sisi akademisi dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai maka sensitive dinamik berdasarkan kriteria/faktor yang ada didapat nilai presentasi tertinggi (sisi kiri graph) yaitu criteria Hukum (28.9%), Sumber Daya Alam (25.5%), Kelembagaan (23.1%), Pendanaan (14.4%). Sensitive dinamik berdasarkan alternatif rancangbangun (sisi kanan graphic) yaitu nilai tertinggi yang merupakan prioritas utama adalah RH. Menurut penataan batas wilayah (23.9%), diikuti oleh RH menurut strategi perwilayahan (22%), RH menurut pemerintah (20.9%), RH menurut akademisi (19.4%), RH menurut budaya (13.8%)

Gambar 11 Dinamik sensitive Analisis head to head Sensitifitas Head to Head menunjukan perbandingan yang objektif dari setiap alternativ yang ada dalam mencapai tujuan penelitian dalam hal ini membandingkan semua produk Rancang Hukum yang di siapkan. Perbandingan ini lebih fair karena membandingkan satu per satu alternativ pilihan, sehingga keuntungan dan kekurangan alternativ bisa dilihat melalui score yang ada.

70

Gambar 12 Analisis head to head penataan batas wilayah dan pemerintah Analisis head to head RH menurut penataan batas wilayah negara dengan RH menurut Pemerintah maka dengan membandingkan bobot-bobot dari kriteria yang ada di dapat hasil secara keseluruhan RH menurut penataan wilayah negara mempunyai skala prioritas utama. Dalam perbandingan dengan Rancangbangun Hukum lainnya juga disimpulkan bahwa RH menurut Penataan Batas Wilayah Negara menjadi skala prioritas utama. Rancangbangun Hukum Menurut Pemerintah Rancangbangun hukum menurut pemerintah terdiri dari empat unsur strategi yang memadukan kekuatan, kelemahan, peluang serta ancaman dari peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Unsur dari rancangbangun hukum menurut pemerintah adalah sebagai berikut : (1) Pelaksanaan program Pengelolaan SDA dan jasa lingkungan kelautan (S1,S3, O1,O2,O3) (2) Pembangunan sistem dan sinergi kelembagaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (W4,O6) (3) Peningkatan kekuatan sistem pendanaan (W5, O1) (4) Perumusan Hukum dan Peraturan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar (W6,T2)

71

Rancangbangun Hukum Menurut Akademisi Rancangbangun hukum menurut akademisi terdiri dari dua unsur strategi yang memadukan kelemahan, peluang serta ancaman dari peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Unsur dari rancangbangun hukum menurut akademisi adalah sebagai berikut : (1) Pembangunan sistem dan sinergi kelembagaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (W4,O6) (2) Perumusan Hukum dan Peraturan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar (W6,T2) Rancangbangun Hukum Menurut Strategi Perwilayahan Rancangbangun hukum menurut strategi perwilayahan terdiri dari dua unsur strategi yang memadukan kekuatan, kelemahan, dan peluang dari peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Unsur dari rancangbangun hukum menurut strategi perwilayahan adalah sebagai berikut : (1) Penataan ruang wilayah pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara (S1,S2, O1-3) (2) Pembangunan Sarana dan Prasarana Wilayah (W1-3,O1-3) Rancangbangun Hukum Menurut Penataan Batas Wilayah Negara Rancangbangun hukum menurut penataan batas wilayah negara terdiri dari dua unsur strategi yang memadukan kekuatan dan peluang dari peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Unsur dari rancangbangun hukum menurut penataan batas wilayah negara adalah sebagai berikut : (2) Penetapan Batas wilayah yang disepakati Indonesia dan Filipina (S2, O4, O5) (3) Peningkatan kerjasama bilateral dan Internasional (S2, O4, O5) Rancangbangun Hukum Menurut Budaya Lokal Rancangbangun hukum menurut budaya lokal terdiri dari satu unsur strategi yang memadukan kelemahan dan ancaman dari peningkatan

pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Unsur dari rancangbangun hukum menurut budaya lokal hanyalah peningkatan keterpaduan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (W4, T3)

72

Rekomendasi Peran bagi Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota Dalam menentukan kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di perbatasan, maka perlu mempertimbangkan akan pemberian kewenangan pemerintah kepada pemerintah daerah khususnya menyangkut tugas

pembantuan yang berhubungan dengan perencanaan, pengelolaan keuangan, pembinaan, pengawasan dan pertanggungjawaban. Berikut ini merupakan rekomendasi identifikasi peran pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan implementasi

desentralisasi pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir kepada pemerintah daerah: Tabel 13 Peran Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota Pusat Membuat UU dan PP tentang pengelolaan pulau kecil terluar bagi kepentingan nasional. •Menetapkan strategi pengelolaan tingkat makro. •Membuat kebijakan teknis dan pedoman umum yang memuat prinsip-prinsip pengelolaan pulau perbatasan negara. • Menetapkan standar kriteria dan aturan umum lain bagi program pengelolaan pulau perbatasan. • Memberi masukan bagi program pengelolaan pulau di daerah perbatasan. • Koordinasi masalah strategis menyangkut lintas provinsi dan lintas negara. • Melakukan pengawasan dan evaluasi pengelolaan wilayah pesisir nasional. •Merespon dan mengkoordinasi kebutuhan bantuan Provinsi Mempersiapkan strategi pengelolaan dan kebijakan regional. •Membuat Petunjuk Teknis Pengelolaan. •Menyusun dan mengkoordinasi Tata Ruang Pulau-Pulau Kecil di perbatasan negara. • Menyusun inventarisasi atau atlas sumberdaya pulau kecil perbatasan negara. •Membuat aturan berdasarkan usulan kabupaten. •Mengkoordinasi kebijakan atau masalah lintas kabupaten/kota. • Monitoring dan evaluasi pengelolaan wilayah pesisir di provinsi. Kabupaten/Kota Bertanggung jawab langsung dengan menjadi pelaksana pengelolaan pulaupulau kecil di perbatasan negara. • Menyusun Master Plan dan menjabarkan petunjuk teknis pengelolaan pulau kecil perbatsan negara. • Membuat perencanaan spesifik kawasan berdasarkan karakteristik khusus wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat. • Melakukan koordinasi masalah operasional dalam wilayah provinsi. • Pelaksana perijinan peman-faatan wilayah atau sumberdaya pesisir, melalui sertifikasi. • Melakukan pengawasan langsung pulau kecil perbatasan negara. • Melakukan penegakan hukum berdasarkan peraturan yang berlaku. • Memajukan pendidikan masyarakat bagi

73

teknis dan pembiayaan daerah perbatasan. •Menetapkan dan menyalurkan bantuan dana bagi program pengelolaan daerah. •Menetapkan kawasan khusus bagi konservasi perbatasan.

pengelolaan berkelanjutan. • Memberikan bantuan teknis kemasyarakatan.

Rekomendasi rancangabangun hukum hendaknya lebih terfofus pada: Pertama, merevisi kembali Undang-Undang Nomor.1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen, agar Indonesia mempunyai dasar hukum yang lebih kuat untuk mengatur Landas Kontinen Indonesia. Hal ini disebabkan pengertian landas kontinen berdasarkan kedalaman air 200 meter (UNCLOS 1958) dengan pengertian hukum landas kontinen yang berlaku sekarang (UNCLOS 1982) adalah berbeda, yaitu kini sampai kelanjutan alamiah wilayah darat Indonesia. Sementara Undang-Undang Landas Kontinen tersebut masih berdasarkan UNCLOS 1958. Kedua, merevisi dan meningkatkan status hukum Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia menjadi Undang-undang serta

mendepositkannya kepada Sekjen PBB. Pemerintah Indonesia sampai saat ini belum mendepositkan titik-titik pangkal tersebut kepada PBB. Padahal hal tersebut sangat penting bagi Indonesia ketika akan melakukan penentuan titiktitik perbatasan laut Indonesia. Ketiga, menetapkan dan mendepositkan batasbatas wilayah laut Indonesia, termasuk batas landas kontinen. Khusus batas lantas kontinen, Indonesia masih diberikan batas waktu sampai 2009, namun hingga saat ini belum terselesaikan, untuk melakukan klaimnya di luar 200 mil dari garis pangkal kepulauan nusantara. Karena apabila sampai batas waktu tersebut belum menentukan, maka Indonesia hanya bisa mengklaim batas landas kontinen sampai jarak 200 mil saja. Sampai saat ini baru tiga negara yang sudah mengajukan klaim landas kontinennya ke PBB dari 148 negara yang sudah meratifikasi UNCLOS 1982, yaitu Rusia (2001), Brasil (2004) dan Australia (2004). Konflik di wilayah perbatasan laut Indonesia hendaknya diselesaikan secara lebih komprehensif. Selain itu juga dalam pelaksanaan pengelolaan

74

sumber daya di wilayah perbatasan, khususnya di pulau-pulau kecil hendaknya tidak melanggar prinsip-prinsip otonomi seperti yang diatur dalam UndangUndang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah serta jangan sampai menghilangkan pulau-pulau kecil tersebut dari wilayah negara Indonesia. Kajian Faktor Eksternal dan Internal Kajian faktor eksternal dan internal ditujukan untuk mengetahui existing condition (kondisi saat ini) dari aspek sumber daya alam, sosial ekonomi, pendanaan, hukum, kelembagaan, dan internasional tentang pengelolaan pulaupulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara. Faktor-faktor eksternal dan internal ini diidentifikasi berdasarkan hasil wawancara dan kuisioner oleh responden yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing berkaitan dengan permasalahan pulau-pulau kecil terluar. Responden yang terlibat terdiri dari unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat lokal. Hasil yang diperoleh dijelaskan sebagai berikut : Faktor eksternal Faktor eksternal ini dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu peluang dan ancaman. Peluang adalah existing condition dari segi eksternal yang dapat

dimanfaatkan untuk peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara, sedangkan ancaman adalah existing condition dari segi eksternal yang harus diantisipasi dan ditanggulangi agar tujuan peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar tercapai. Faktor internal Faktor internal dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kekuatan dan kelemahan. Kekuatan dalam hal ini adalah existing condition dari segi internal yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara, sedangkan kelemahan adalah existing

condition dari segi internal yang harus diantisipasi agar tujuan peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar tercapai. 1 Kekuatan dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (1) Sumber daya alam dan jasa lingkungan kelautan yang besar.

75

Pulau-pulau kecil memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar terutama sumber daya kelautan yaitu berbagai jenis ikan, terumbu karang, lamun dan mangrove, sedangkan jasa lingkungan pulau kecil yang sangat prospektif adalah kegiatan pariwisata bahari. Keberadaan potensi ini menjadi strategis sebagai wujud pemanfaatan sumber daya alam dan jasa-jasa kelautan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam rangka peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara. (2) Posisi geografis yang cukup strategis. Pulau-pulau kecil memiliki posisi geografis yang cukup strategis karena berada di daerah perbatasan. Posisi strategis ini berpotensi dijadikan kawasan pengembangan pelabuhan yaitu sebagai pintu masuk dan keluar bagi Peraturan Daerahgangan barang dan jasa dari negara-negara tetangga. Posisi yang strategis ini juga berpotensi sebagai basis pertahanan dan keamanan negara. Potensi ini memegang peranan penting dalam rangka pembangunan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara. (3) Adanya program dari pemerintah daerah untuk pembangunan pulau-pulau kecil terluar. Program pembangunan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJMD) tahun 2005-2010. Adanya program ini yang disertai dukungan anggaran dari APBD merupakan bagian dari faktor kekuatan dalam meningkatkan pengelolaan sumber daya pesisir, laut dan pulau-pulau kecil. 2 Kelemahan dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil Terluar (1) Keterpencilan pulau-pulau kecil terluar. Wilayah pulau-pulau terluar di Provinsi Sulawesi Utara yaitu Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan wilayah terpencil yang menyebabkan kendali pengawasan pemerintah menjadi sulit untuk dilaksanakan sehingga menimbulkan potensi kerawanan sosial, budaya, politik, hukum, dan pertahanan keamanan. (2) Terbatasnya sarana dan prasarana perekonomian. Wilayah pulau-pulau kecil terluar memiliki keterbatasan sarana dan prasarana perekonomian seperti jalan raya, pelabuhan, pasar, penerangan listrik, lembaga perbankan, sehingga berakibat pada kesejahteraan dan

76

pendapatan masyarakat yang rendah. Terbatasnya sarana dan prasarana ini merupakan penghambat dalam pengelolaan wilayah pulau-pulau terluar. (3) Terbatasnya sarana prasarana sosial. Keterbatasan sarana dan prasarana sosial seperti kurangnya fasilitas pendidikan, tidak tersedianya informasi dan komunikasi serta fasilitas kesehatan mengakibatkan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. Rendahnya kualitas SDM, berpengaruh terhadap pengelolaan wilayah pulau-pulau terluar. (4) Lemahnya koordinasi antar lembaga. Koordinasi antar lembaga dalam mengelola wilayah pulau-pulau terluar masih lemah dan tidak jelas karena masing-masing lembaga menjalanlan perannya sendiri-sendiri bukan berdasar kebijakan bersama. Kelemahan ini menyebabkan kurangnya integrasi perencanaan pengelolaan wilayah pulaupulau kecil (5) Kontrol Pendanaan yang lemah. Pendanaan yang tercakup dalam APBN, APBD, atau loan/grant dari pemerintah ataupun lembaga donor untuk pelaksanaan program-program pengelolaan wilayah pulau-pulau kecil belum memiliki pengontrolan yang cukup baik sehingga diperlukan penegakan akuntabilitas publik dari pelaksanaan program-program tersebut. (6) Batas Maritim yang belum selesai. Penetapan batas-batas maritim yang belum selesai masih diupayakan percepatannya melalui kebijakan border diplomacy dan peningkatan hubungan bilateral. Penegasan batas-batas pasti di lapangan dan di atas peta belum dilaksanakan sehingga tidak diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia dan pembinaan batas dan wilayah perbatasan kurang tersentuh pembangunan wilayah sehingga terjadi kesenjangan

pembangunan di perbatasan dari berbagai sektor.

(1) Belum tersosialisasinya Hukum Laut kepada masyarakat luas termasuk pada
pejabat eksekutif dan legislatif, serta implikasinya secara komprehensif. Belum meningkatnya pengetahuan dan pemahaman aspek teknis dari hukum laut 1982 dalam meningkatkan serta memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai perundingan perbatasan dan batas-batas maritim dengan negara tetangga yang didukung oleh kekuatan-kekuatan para ahli hukum laut.

77

(2) Belum terencananya perencanaan nasional terpadu yang mengintegrasikan
kebijakan yang berbasis kelautan dengan juridiksi maritim dalam suatu sistem Marine Space Database yang berwawasan Nusantara, merupakan perspektif sosial politik dan pertahanan keamanan yang memancarkan keutuhan dan kewibawaan negara-bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

(3) Belum adanya UU yang mengatur secara khusus mengenai pulau
perbatasan negara. Karakteristik pulau-pulau kecil yang unik, tingkat keterpencilannya dan fungsi pertahanan dan keamanan yang menonjol menyebabkan penanganan pulaupulau di perbatasan negara perlu mendapat perhatian khusus. UndangUndang yang telah di tetapkan, belum mengakomodasikan secara lengkap untuk dijadikan sebagai pedoman pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Hasil Evaluasi Faktor Eksternal dan Internal Faktor eksternal dan internal yang telah dijelaskan sebelumnya perlu dievaluasi agar dapat mengetahui posisi internal dan eksternal pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara. Evaluasi dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu evaluasi faktor eksternal dan evaluasi internal. Evaluasi faktor eksternal Evaluasi faktor eksternal dilakukan dengan memberikan bobot, peringkat dan skor pada masing-masing faktor. Berdasarkan Tabel 14, nilai skor faktor eksternal pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara adalah 2.339. Menurut David (2004), nilai skor di bawah 2.5 mengindikasikan bahwa pemanfaatan peluang dan mengatasi ancaman belum efektif. Tingkat

kepentingan yang paling atas dari faktor eksternal adalah respon pengawasan perbatasan laut antar negara, yaitu mendapat bobot 0.126. Respon pengawasan yang masih lemah ini perlu diperbaiki dengan penegakan perangkat hukum dan peningkatan kapasitas kelembagaan pada unit kerja pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, sampai tingkat Nasional.

78

Tabel 14 Matriks Evaluasi Faktor Eksternal FAKTOR INTERNAL PELUANG (5) Kebijakan nasional mendorong investasi (6) Kebijakan pemerintah dalam pemberian otoritas pengelolaan wilayah (7) Meningkatnya kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil sumber daya alam (8) Konvensi Internasional terhadap hukum laut Indonesia (9) Kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga (10) Kebijakan pemerintah untuk membentuk kelembagaan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Jumlah ANCAMAN (2)Belum ada penetapan batas laut yang disepakati bersama (ZEE) (3)Masih lemahnya respon pengawasan perbatasan laut antar negara (4)Adanya konflik kepentingan antar stakeholer dalam pengelolaan pulaupulau kecil terluar. Total BOBOT 0.107 0.115 0.099 PERINGKAT 0.533 2.133 2.267 SKOR 0.272 0.246 0.225

0.105 0.113 0.121

2.733 2.933 3.000

0.288 0.332 0.363

1.726

0.113 0.126

1.733 1.733

0.197 0.218

0.099

2.000

0.199 0.613 2.339

1

Pengawasan dan penegakan hukum sangat dibutuhkan agar dapat diperoleh suatu kepastian hukum dalam menjaga kepentingan negara dari gangguan asing. Sementara itu kapasitas pada bidang kelembagaan penegakan hukum pengelolaan pulau-pulau kecil terluar perlu ditingkatkan sehingga terwujud penegakan peraturan perUndang-Undangan, pengawasan,

pemantauan, pengamanan, dan pertahanan keamanan baik wilayah maupun sumberdaya. Faktor eksternal di atas juga didukung oleh kebijakan pemerintah untuk membentuk kelembagaan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang merupakan prioritas kedua dari faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara dengan bobot 0.121. Dengan kelembagaan yang dibentuk berdasarkan

Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 diharapkan setiap lembaga yang

79

terkait mampu melakukan koordinasi kelembagaan yang efektif dan mampu memainkan peran sesuai kewenangannya. Faktor eksternal lain yang merupakan peluang dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar antara lain kebijakan nasional mendorong investasi, kebijakan pemerintah dalam pemberian otoritas pengelolaan wilayah, meningkatnya kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil

sumberdaya alam, konvensi Internasional terhadap hukum laut Indonesia dan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga. Faktor-faktor ini dapat dimanfaatkan jadi peluang dan pendukung bagi peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, namun peranan untuk langsung adalah dari aspek hukum dan kelembagaan. Kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga khususnya Filipina diharapkan mampu mengkoordinasikan

permasalahan wilayah perbatasan yang menjadi hak masing-masing negara. Disamping itu yang menjadi ancaman dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar adalah belum ada penetapan batas laut yang disepakati bersama (ZEE) dengan bobot 0.113. Hal ini perlu untuk segera diselesaikan dan disepakati dengan upaya-upaya politis dan diplomatis. Namun demikian adanya konflik kepentingan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan bobot 0.099 dapat menjadi ancaman dalam pengelolaan pulaupulau kecil terluar sehingga sering menimbulkan konflik yang sulit diselesaikan karena tidak jelasnya kewenangan antar lembaga maupun antar pemerintahan pusat dan daerah. Oleh karena itu, diperlukan keterpaduan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Evaluasi faktor internal Evaluasi faktor internal dilakukan dengan memberikan bobot, peringkat dan skor terbobot pada masing-masing faktor. Bobot menunjukkan tingkat kepentingan, peringkat menunjukkan kekuatan utama atau kecil dan kelemahan utama atau kecil, dan skor menunjukkan posisi kekuatan faktor strategis internal. Matriks evaluasi faktor internal dapat dilihat pada Tabel 15 berikut :

80

Tabel 15 Matriks Evaluasi Faktor Strategis Internal FAKTOR INTERNAL KEKUATAN 1. Adanya program dari pemerintah daerah untuk pembangunan pulaupulau kecil terluar 2. Posisi geografis yang cukup strategis 3. Sumber daya alam dan jasa lingkungan kelautan yang besar Jumlah KELEMAHAN 1. Keterpencilan pulau-pulau kecil terluar 2. Terbatasnya sarana dan prasarana perekonomian. 3. Terbatasnya sarana prasarana sosial 4. Lemahnya koordinasi antar lembaga 5. Belum adanya UU yang khusus mengenai pulau-pulau kecil terluar 6. Kontrol Pendanaan yang lemah Jumlah Total BOBOT 0.119 PERINGKAT 3.133 SKOR 0.373

0.105 0.105

3.200 2.667

0.335 0.279 0.987

0.100 0.115 0.113 0.116 0.103 0.125

2.200 2.133 2.067 2.200 2.133 2.067

0.220 0.245 0.234 0.256 0.219 0.258 1.431 2.418

Berdasarkan Tabel 15, total skor faktor strategis internal mendapatkan angka 2.418. Menurut David (2004), nilai skor di bawah 2.5 menunjukkan bahwa faktor strategis internal berada pada posisi lemah. Dengan demikian keadaan faktor internal pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara lemah. Faktor kekuatan internal yang dipandang memiliki peran yang besar dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar adalah adanya program dari pemerintah daerah untuk pembangunan pulau-pulau kecil terluar dengan bobot 0.119. Program dari pemerintah yang telah ditetapkan untuk pembangunan pulau-pulau kecil menjadi pendorong dan dukungan bagi lembaga terkait dalam meningkatkan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar secara berkelanjutan. Faktor kekuatan internal di atas sangat terkait dengan faktor kelemahan internal yang memiliki tingkat kepentingan pertama yaitu kontrol pendanaan yang lemah dengan bobot 0.125. Faktor pendanaan menjadi penting karena merupakan anggaran bagi kegiatan-kegiatan pengelolaan wilayah pulau-pulau kecil terluar dan pembangunan sarana dan prasarana. Pendanaan yang

81

diperoleh

dari

berbagai

sumber

perlu

dilakukan

pengontrolan

dalam

penggunaannya agar terwujud hasil yang nyata dan efektif dalam meningkatkan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Jika dana tidak terkontrol maka peluang terjadi penyalahgunaan dana semakin besar sehingga program pengelolaan wilayah sulit dilaksanakan secara kontinu. Keterbatasan sarana dan prasarana baik sosial dan ekonomi menjadi faktor kelemahan yang cukup dominan dengan bobot 0.113 dan 0.115. Adanya sarana dan prasarana yang dilakukan dengan penyediaan perangkat-perangkat infrastruktur merupakan pendukung pengembangan pulau-pulau kecil terluar dan sangat berpengaruh terhadap kelancaran terlaksananya program-program pembangunan. Pembangunan infrastruktur seperti sarana perhubungan

mempermudah arus barang dan penumpang dalam memanfaatkan akses pasarpasar lokal, nasional dan internasional (Dahuri, 2003) Rendahnya kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di pulau-pulau kecil terluar adalah akibat dari keterbatasan sarana dan prasarana sosial. Kualitas SDM merupakan hal yang sangat penting dan mendasar dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar karena SDM tersebut adalah masyarakat lokal yang akan terlibat langsung dalam program-program pembangunan sedangkan mereka belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang baik tentang arti pentingnya pembangunan pulau-pulau kecil terluar. Sebagian besar penduduk di kawasan itu kurang mendapatkan pendidikan yang layak dan tidak tersentuh pemberdayaan SDM. Faktor lain yang menjadi unsur kelemahan adalah lemahnya koordinasi antar lembaga dengan bobot 0.116 dan belum adanya UU yang khusus mengenai pulau-pulau kecil terluar dengan bobot 0.103. Kedua faktor ini adalah permasalahan dalam aspek hukum dan kelembagaan. Kondisi ini menyebabkan rendahnya kapasitas kelembagaan dan penegakan hukum sehingga sistem dan operasional pengelolaan pulau-pulau kecil terluar menjadi kurang kondusif. Faktor internal yang memiliki tingkat kepentingan cukup rendah adalah posisi geografis yang cukup strategis dengan bobot 0.105, sumber daya alam dan jasa lingkungan kelautan yang besar dengan bobot 0.105 dan keterpencilan pulau-pulau kecil terluar dengan bobot 0.100. Faktor-faktor ini adalah bagian dari keunikan dan menjadi ciri khas pulau-pulau tersebut baik dari sisi kelebihan maupun kekurangannya yang tidak bisa diubah sehingga membuat tingkat kepentingan faktor ini menjadi rendah. Namun demikian, faktor ini khususnya

82

sumberdaya alam dan jasa lingkungan kelautan dan posisi geografis yang cukup strategis merupakan kekuatan yang besar di pulau-pulau terluar tersebut yang ditandai dengan peringkat yang besar yaitu 3.200 untuk posisi geografis dan 2.667 untuk sumber daya dan jasa kelautan karena ke dua faktor tersebut adalah potensi yang dimiliki oleh pulau yang bersangkutan. Jika lembaga-lembaga terkait mampu mengelola pulau-pulau tersebut sesuai dengan potensinya maka akan didapat hasil yang efektif dalam peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar perbatasan negara. Pengelolaan di tujukan pada sektor perikanan yang berpotensi untuk peningkatan devisa negara melalui eksport hasil penangkapan di laut teritorial dan dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Eksport dapat dilakukan di Kota General Santos Filipina berhubung pertimbangan biaya transportasi apabila wilayah penangkapan di perbatasan dan lokasi pengumpul di Kota Bitung, maka waktu dan jarak tempuh menjadi pertimbangan. Oleh karena itu perlu peningkatan kerjasama Peraturan Daerahgangan dengan mengacu pada harga kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Evaluasi Gabungan Faktor Strategis Eksternal dan Internal Hasil evaluasi faktor eksternal dan internal kemudian dievaluasi secara bersama-sama untuk menentukan arah strategi selanjutnya. Evaluasi gabungan ini menggunakan matriks IE (Internal dan Eksternal) yang dapat dilihat pada Gambar 15. Pada matriks tersebut, total skor evaluasi faktor eksternal dan internal diplotkan sehingga dapat diketahui posisi kuadran pengelolaan pulaupulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara. Total skor evaluasi faktor eksternal adalah 2.339 dan total skor evaluasi faktor internal adalah 2.418. Posisi ini ditunjukkan oleh titik hitam yang berada dalam matriks kuadran V. Berdasarkan dari matriks IE di atas, posisi peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di provinsi Sulawesi Utara pada saat ini berada pada kuadran V artinya pengelolaan pulau-pulau tersebut berada pada kondisi yang stabil atau tetap yang menunjukkan bahwa pengelolaan di pulau tersebut masih belum mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan baik dari aspek sumber daya alam, sosial ekonomi, pendanaan, hukum dan kelembagaan. Hal ini merupakan kondisi nyata dari pulau-pulau tersebut saat ini seperti pemanfaatan sumber daya alam hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

83

saat ini saja, masih adanya permasalahan di bidang hukum dan kelembagaan. Salah satu bukti nyatanya antara lain maraknya pencurian ikan di kawasan tersebut dan sampai saat ini masih belum ada kepastian garis batas laut dan darat antara Indonesia dan Filipina. Pada aspek sosial ekonomi juga belum menunjukkan pertumbuhan, pulau-pulau tersebut masih mengalami

keterisolasian dan tingkat kesejahteraan yang rendah. Begitu juga dengan lemahnya sistem pendanaan sehingga pelaksanaan program-program

pembangunan belum bisa dilaksanakan secara kontinu. Strategi yang harus dilakukan pada kondisi ini adalah melakukan perbaikan secara internal dan menguatkan posisi eksternal sehingga skor dari faktor internal dan eksternal meningkat. Faktor internal ditingkatkan dengan cara membuat kelemahan-kelemahan utama menjadi kelemahan kecil dan kekuatankekuatan kecil diusahakan menjadi kekuatan-kekuatan utama. Faktor eksternal ditingkatkan skornya dengan membuat strategi yang dapat secara efektif merespon dari faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi.

Hasil Matriks SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi beberapa faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi pengelolaan pulau kecil terluar. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strenghts) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis

peengelolaan pulau kecil terluar dalam kondisi yang ada pada saat ini. Matriks SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, and Threats) ditujukan untuk memformulasikan strategi-strategi peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara atas dasar keterangan matriks IE (Internal dan Eksternal) di atas. Faktor eksternal, peluang dan ancaman akan disintesakan dengan faktor internal, kekuatan dan kelemahan sehingga dapat menghasilkan beberapa strategi. Beberapa alternatif strategi yang menjadi keterkaitan dengan penelitian berdasarkan analisis SWOT akan menggambarkan keadaan dan situasi saat ini di lokasi penelitian yang telah disusun dalam bentuk matriks.

84

Matriks SWOT dapat dilihat pada Gambar 13 Matriks SWOT yang menghasilkan beberapa alternatif-alternatif strategi yang dapat dipilih.
Internal 1 2 3 Kekuatan (S) SDA dan jasa lingkungan 4 kelautan yang besar (S1) Posisi geografis cukup 5 tinggi (S2) Adanya program dari pemerintah daerah untuk 6 pembangunan pulau-pulau kecil terluar (S3) 7 8 Eksternal Kelemahan (W) Keterpencilan pulaupulau kecil terluar (W1) Terbatasnya sarana dan prasarana perekonomian. (W2) Terbatasnya sarana prasarana sosial (W3) Lemahnya koordinasi antar lembaga (W4) Kontrol Pendanaan yang lemah (W5) Belum adanya UU yang khusus mengenai pulaupulau kecil terluar (W6) WO Pembangunan sistem dan sinergi kelembagaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (W4,O6) Pembangunan Sarana dan Prasarana Wilayah (W1-3,O1-3) Peningkatan kekuatan sistem pendanaan (W5, O1)

9 10

11

12

13

14

15

16

17

Peluang (O) Kebijakan nasional mendorong investasi (O1) Kebijakan pemerintah dalam pemberian otoritas pengelolaan wilayah (O2) Meningkatnya kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil sumber daya alam (O3) Konvensi Internasional terhadap hukum laut Indonesia (O4) Kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga (O5) Kebijakan pemerintah untuk membentuk kelembagaan dalam pengelolaan pulaupulau kecil terluar (O6) Ancaman (T) Belum ada penetapan batas laut yang disepakati bersama (ZEE) (T1) Masih lemahnya respon pengawasan perbatasan laut antar negara (T2) Adanya konflik kepentingan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (T3)

SO Pelaksanaan program Pengelolaan SDA dan jasa lingkungan kelautan (S1,S3, O1,O2,O3) Penetapan Batas wilayah yang disepakati Indonesia dan Filipina (S2, O4, O5) Peningkatan kerjasama bilateral dan Internasional (S2, O4, O5) Penataan ruang wilayah pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara (S1,S2, O1-3) ST Penetapan Batas wilayah yang disepakati Indonesia dan Filipina (S2, T1, T2)

WT Perumusan Hukum dan Peraturan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar (W6,T2) Peningkatan Keterpaduan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (W4, T3)

Gambar 13 Matriks SWOT

85

Berdasarkan Gambar 13, alternatif strategi yang dapat dipilih untuk peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar di Sulawesi Utara terdiri dari 10 pilihan. Strategi-strategi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : Strategi Kekuatan – Peluang: (Strengths – Opportunities (S-O) Kolom strategi S – O adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengambil keuntungan dari peluang yang ada. Strategi tersebut antara lain : Pelaksanaan program pengelolaan SDA dan jasa lingkungan kelautan Strategi ini memanfaatkan kekuatan SDA dan jasa lingkungan kelautan yang besar dan adanya program dari pemerintah daerah untuk pembangunan pulau-pulau kecil terluar serta memanfaatkan peluang kebijakan nasional mendorong investasi, kebijakan pemerintah dalam pemberian otoritas

pengelolaan wilayah dan meningkatnya kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil sumber daya alam. Sumber daya alam dan jasa lingkungan merupakan bagian dari potensi yang dimiliki oleh pulau-pulau perbatasan. Program pengelolaan SDA dan jasa lingkungan kelautan dilaksanakan dengan penyusunan rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Peraturan tersebut pemerintah daerah menetapkan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai dan meningkatkan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Pengelolaan secara berkelanjutan adalah suatu upaya

pemanfaatan sumber daya alam dan jasa lingkungan yang terdapat di pulau untuk kesejahteraan manusia, artinya pemanfaatan tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja, tetapi juga menjamin generasi yang akan datang. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain : pembangunan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dan berbasis masyarakat, sosialisasi peringatan dini bencana alam, manajemen kawasan pesisir secara terpadu, rencana tata ruang pesisir secara terpadu, pengelolaan kawasan konservasi laut sebagai reservoir, pengendalian pencemaran, bersih pantai dan laut, rehabilitasi ekosistem mangrove, rehabilitasi ekosistem karang, pembuatan daerah perlindungan laut dan kawasan konservasi laut daerah, cagar alam laut dan identifikasi penamaan laut.

86

Program

pengelolaan

SDA

dan

jasa

lingkungan

kelautan

juga

dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan pasar lokal dan internasional terhadap hasil sumber daya alam dan jasa lingkungan yang semakin meningkat. Kebutuhan ini merupakan peluang mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti pemanfaatan jasa lingkungan untuk kegiatan pariwisata, budidaya perairan, yang apabila dikembangkan secara optimal mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan perekonomian masyarakat sekitarnya.

Peningkatan kerjasama bilateral dan internasional Peningkatan kerjasama bilateral dan internasional sangat penting guna meningkatkan dukungan dari dunia internasional dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Mengingat pulau-pulau terluar di Provinsi Sulawesi Utara memiliki posisi geografis yang strategis sebagai pintu masuk dan keluar bagi Peraturan Daerahgangan barang dan jasa dari negara-negara tetangga dan memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terjadinya konflik pemanfaatan antar negara maka salah satu upaya untuk mendukung stabilitas politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan kawasan adalah dengan melakukan kerjasama bilateral dan internasional. Penataan ruang wilayah pulau-pulau kecil terluar SDA dan jasa lingkungan kelautan yang besar serta posisi geografis yang cukup tinggi merupakan kekuatan yang dimiliki oleh pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara. Kekuatan internal ini perlu ditingkatkan nilainya untuk menjadi kekuatan utama dengan cara melakukan penataan ruang wilayah terhadap pemanfaatan SDA dan jasa lingkungan kelautan di pulau tersebut. Penataan ruang wilayah pulau-pulau kecil terluar bertujuan untuk menentukan lokasi atau wilayah yang dijadikan sebagai tempat penangkapan ikan, budidaya perairan, wisata dan konservasi. Hal ini sangat penting dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan dan konflik pengelolaan. Sebelum dilakukan penataan ruang, perlu diidentifikasi terlebih dahulu potensi dan keunggulan pulau tersebut sehingga pemanfaatan ruang wilayah didasarkan pada potensi pulau yang bersangkutan. Kebijakan pemerintah dalam mendorong investasi dan pemberian otonomi daerah menjadi motivasi pada pelaksanaan strategi ini. Dengan penataan ruang wilayah, maka calon investor akan lebih tertarik

87

menginvestasikan dana karena melihat prospek yang cukup menguntungkan. Begitu juga dengan pemberian otonomi daerah akan membuat pemerintah daerah menjadi lebih leluasa menggunakan perannya dalam mengatur kepentingan pengelolaan daerah masing-masing. Penetapan batas wilayah yang disepakati Indonesia dan Filipina (S2, O4, O5) Batas wilayah darat dan laut antara Indonesia dan Filipina perlu

ditetapkan terutama berkaitan dengan masih banyak segmen kawasan pesisir yang belum ditetapkan yang berkaitan dengan batas negara seperti pulau-pulau terluar yang belum bernama, hal ini memiliki dimensi strategis kewilayahan terutama penataan ruang laut yang berdampak sangat luas terhadap keamanan dan kesejahteraan. Penetapan batas wilayah ini memanfaatkan peluang Konvensi

Internasional terhadap hukum laut Indonesia dan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan negara tetangga khususnya Filipina. Adanya konvensi internasional menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan dukungan yang besar dari dunia internasional. Konvensi Hukum Laut 1982 telah memberikan hak kepada Indonesia untuk menetapkan batas-batas terluar dari berbagai zona maritim dengan batas-batas maksimum yang sudah ditetapkan. Penyelesaian permasalahan batas wilayah juga harus dilakukan dengan peningkatan intensitas dialog antara Indonesia dan Filipina melalui kerjasama bilateral dengan upaya-upaya politis dan diplomatis sehingga terwujud kepastian garis batas wilayah laut dan darat antara Indonesia dan Filipina. Strategi Kekuatan – Ancaman: Strength – Threats (S-T) Strategi S-T merupakan strategi untuk menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh pulau-pulau terluar di Provinsi Sulawesi Utara dengan cara menghindari ancaman. Strategi yang dapat dilakukan adalah : Strategi penetapan batas wilayah Strategi ini berusaha untuk meningkatkan nilai posisi geografis sebagai kekuatan internal yang dimiliki oleh pulau tersebut dengan cara mengatasi ancaman berupa belum adanya batas laut yang disepakati bersama dan masih lemahnya respon pengawasan perbatasan laut antar negara. Strategi ini juga ada di dalam strategi SO, namun dilihat dari faktor yang berbeda.

88

Penetapan batas yang disepakati Indonesia dan Filipina Penetapan batas merupakan sebuah kepastian hukum yang dapat menunjang berbagai kegiatan yang terkait dengan kewenangan pengelolaan pulau pulau kecil terluar di bidang sumber daya alam, sosial ekonomi, hukum dan kelembagaan seperti perikanan, pariwisata, pelayaran, pertambangan, serta peraturan yang mengawasi kegiatan di bidang tersebut agar tidak terjadi kesalahan wewenang dan tindakan illegal yang menyebabkan kerugian negara. Strategi Kelemahan – Peluang: Weakness – Opportunities (W-O) Strategi W-O dalam konteks peningkatan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar terbagi menjadi dua definisi, yang pertama adalah strategi W-O untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki, dengan memanfaatkan berbagai peluang yang ada, yang kedua adalah strategi W-O untuk memanfaatkan peluang dengan cara mengatasi kelemahan-kelamahan yang dimiliki.

Pembangunan sistem dan sinergi kelembagaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Meskipun sebelumnya sudah terdapat lembaga-lembaga yang

mempunyai kewenangan pengelolaan seperti Dewan Kelautan Indonesia, Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta DKP, namun lembaga ini belum mampu mengakomodir permasalahan di pulau tersebut dan masih banyak lembagalembaga lainnya yang memiliki wewenang tumpang tindih dan kurang berfungsi dengan sinkronasi yang baik. Akibatnya sulit melakukan koordinasi dalam pelaksanaan di lapangan. Dengan adanya komitmen yang kuat dari pemerintah maka pemerintah mengeluarkan kebijakan membentuk kelembagaan baru dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Berdasarkan Peraturan Presiden No 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar, disebutkan bahwa dalam pengelolaan perlu kelembagaan yang merupakan wadah koordinasi non struktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kelembagaan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dilaksanakan oleh tim koordinasi yang telah dibentuk yang terdiri dari ketua Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) dan wakil ketua I merangkap Anggota Menteri Perikanan dan Kelautan dan Wakil Ketua II merangkap Anggota

89

Menteri Dalam Negeri, sedangkan Sekretaris adalah Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Polhukam. Keanggotaan kelembagaan terdiri dari TNI, kepolisian, badan intelijen dan kementerian yang lain. Dengan adanya kelembagaan baru ini, diharapkan lembaga tersebut mampu menjalankan wewenangnya sesuai dengan fungsinya dan mampu bersinergi dalam sistem pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang terintegrasi sehingga terwujud pengelolaan yang efektif dan efisien. Strategi Kelemahan – Ancaman: Weakness – Threats (W-T) Strategi WT adalah strategi yang ditujukan untuk meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Perumusan hukum dan peraturan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar (W6,T2) Strategi ini ditujukan untuk mengatasi kelemahan belum adanya UU yang khusus mengenai pulau-pulau kecil terluar dan ancaman masih lemahnya respon pengawasan perbatasan laut antar negara. Dukungan perangkat hukum dan peraturan sangat diperlukan guna menjamin kepastian hukum dalam

penyelenggaraan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar provinsi Sulawesi Utara. Perangkat hukum dan peraturan dapat dirumuskan secara terintegrasi yang mencakup keseluruhan aspek pengelolaan pulau-pulau kecil terluar provinsi Sulawesi Utara baik aspek sumber daya alam dan lingkungan, pertahanan dan keamanan, sosial ekonomi serta budaya dalam bentuk Undang-Undang, peraturan pemerintah pusat dan daerah. Keberadaan perangkat hukum dan peraturan ini akan menjadi pedoman bagi setiap institusi baik di pusat maupun daerah dalam pemanfaatan pulau-pulau kecil terluar provinsi Sulawesi Utara. Peningkatan keterpaduan antar stakeholder dalam pengelolaan pulaupulau kecil terluar (W4, T3) Strategi ini ditujukan untuk mengatasi kelemahan koordinasi antar lembaga dan mengatasi ancaman konflik kepentingan antar stakeholder dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Stakeholder perlu dilibatkan pada proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengontrolan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Dengan keterlibatan semua stakeholder baik dari lembaga pemerintah pusat, daerah, instansi swasta, dan masyarakat dapat mengurangi konflik akibat kepentingan yang berbeda antar stakeholder tersebut.

90

KESIMPULAN Rancangbangun hukum pulau-pulau perbatasan merupakan bagian penting dari ketahanan negara. Untuk itu setiap negara mempunyai kewenangan menentukan batas wilayah yurisdiksinya masing-masing. Namun karena batas terluar wilayah negara senantiasa berbatasan dengan wilayah kedaulatan negara lain maka penetapan tersebut harus juga memperhatikan kewenangan otoritas negara lain melalui suatu kerjasama dan pernjanjian, misalnya dalam bidang survei dan penentuan batas wilayah darat maupun wilyah laut antara NKRI dengan negara lain yang selama ini tertuang dalam bentuk MoU maupun perjanjian-perjanjian penetapan garis batas laut. UUD 1945 hasil amandemen dalam pasal 25A telah mengamanatkan pembuatan UU untuk menetukan batas wilayah negara yang dijadikan pedoman dalam mempertahankan kedaulatan NKRI, memperjuangkan kepentingan nasional dan keselamatan bangsa, memperkuat potensi, memberdayakan dan mengembangkan sumberdaya alam bagi kemakmuran seluruh bangsa

Indonesia. Dasar hukum wilayah negara telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara yang menjadi dasar hukum untuk diketahui masyarakat internasional, terutama negara-negara yang berbatasan dengan Indonesia, bahwa wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah salah satu unsur negara yang merupakan satu kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial beserta dasar laut dan tanah di bawahnya, serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya. Permasalahan pulau-pulau kecil di perbatasan negara karena letaknya yang strategis serta karakteristiknya yang unik, sehingga permasalahannya sangat kompleks, oleh karena pihak pemerintah dan pemerintah daerah harus melakukan tindakan yang cepat dan tepat serta konperenhensif dan berkelanjutan bagi sumberdaya alamnya, sekaligus membahas suatu naskah akademis dan rancangan undang-undang khusus pulau perbatasan negara. Hasil analisis menunjukkan bahwa penetapan batas wilayah menjadi prioritas utama dan dengan meningkatkan konsultasi regional dalam bidang ekonomi negara tetangga, serta meningkatkan intensitas pertemuan bilateral antar kedua negara (Indonesia dan Filipina), untuk mencari titik temu posisi titik dasar dan

91

titik referensi di laut, sebagai acuan batas dalam peta wilayah negara, kemudian hasil kesepakatan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Pulau-pulau kecil terluar di perbatasan negara mempunyai tingkat kerawanan terhadap pertahanan dan keamanan negara, terutama terhadap kejahatan transnasional, namun fasilitas untuk menunjang sistem pengawasan

masih kurang terutama sarana dan prasarana, termasuk personil yang terlatih khusus untuk menangkal aktivitas ancaman masuknya terorisme dan perdagangan illegal seperti senjata dan bahan makanan. Kondisi sosial ekonomi masyarakat masih tergantung pada hasil sumberdaya alam yang tersedia, sedangkan dalam musim-musim tertentu masyarakat terperangkap tidak bisa keluar dari pulau akibat cuaca dan musim gelombang laut yang tinggi. Sehingga ketergantungan masyarakat terhadap kebutuhan pangan harus di suplai dari negara tetangga karena jarak antar pulau terluar dan pulau ibukota kabupaten sangat jauh. Pelintas batas masih terus berlangsung karena hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin sejak dahulu, sehingga para pelintas batas terutama masyarakat Pulau Marore dan Pulau Miangas yang telah kawin-mawin dengan penduduk / masyarakat Filipina hingga saat ini tetap melakukan perkunjungan. Ketidak mampuan pemerintah daerah untuk memulangkan masyarakat Indonesia yang tinggal di Pulau Mindanao, karena penghasilan mereka lebih memadai dan lebih banyak apabila dibandingkan dengan hasil pendapatan apabila bekerja di pulaupulau di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud. Karena penetapan kembali batas (delimitasi) ZEE sebagai konsep yang dikembangkan oleh negara-negara kepulauan sejauh 200 mil yang menjadi hak yurisdiksi belum ada kesepakatan, maka konsultasi bilateral dapat dilaksanakan sekaligus antara penetapan ZEE dengan wilayah landas kontinen, sebagaimana diatur dalam Konvensi Hukum Laut tahun 1982. Indonesia dan Filipina merupakan dua negara kepulauan yang berbatasan, dan telah meratifikasi UNCLOS 1982 sebagai perundang-undangan negara masingmasing, sehingga mensyaratkan adanya ZEE masing-masing negara kepulauan. Wilayah ZEE yang terletak di antara negara Indonesia dan Filipina sering terjadi

92

pelanggaran, terutama pencurian ikan, penyeludupan, dan kejahatan transnasional, Oleh karenanya perlu dilakukan penanganan khusus oleh kedua negara. Dalam penentuan batas yang berdasarkan konvensi, yurisprudensi dan praktek negara tentang penetapan batas (delimitasi) maka penetapan batas wilayah ZEE antara Indonesia dan Filipina dapat dilakukan dengan persetujuan dan berpedoman pada prinsip sama jarak (equitable principles). Kendala-kendala akibat belum adanya penetapan batas wilayah ZEE antara Indonesia dan Filipina, adalah masalah teknis yuridis, hak -hak perikanan tradisional, rute navigasi (ALKI), faktor sosio-kultural. Dalam bidang kelautan dihadapi (1) masih adanya konflik antar sektor dalam

pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut yang menyebabkan belum optimalnya manfaat sumber daya ini jika dibandingkan dengan potensinya; (2) pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan terhadap illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing yang masih tumpang tindih antarsektor karena banyaknya lembaga pengawas (TNI AL, Polair, DKP, Bakorkamla), masih lemahnya penegakan hukum, serta kurang memadainya sarana dan prasarana yang ada; (3) masih adanya pelanggaran dalam pemanfaatan sumber daya alam dan aktivitas ekonomi yang tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup yang menimbulkan kerusakan, pencemaran, dan penurunan kualitas sumber daya alam dan lingkungan hidup; (4) kurang memadainya kegiatan mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan; (5) kurangnya pemahaman pentingnya tata ruang laut dan pulau-pulau kecil; (6) belum memadainya sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil dan masih adanya kesenjangan sosial-ekonomi antara pulau besar dan pulau kecil, serta belum optimalnya pengelolaan pulau-pulau kecil terdepan; (7) belum memadainya produk riset dan pemanfaatan hasil riset; serta (8) belum memadainya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia. Peraturan Daerah di Provinsi Sulawesi Utara belum diadopsi oleh Kabupaten Kelautan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud, khusus tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Berbasis Masyarakat, walaupun Peraturan Daerah tersebut sudah disahkan sejak tahun 2003.

93

SARAN Berdasarkan sejumlah simpulan tersebut, dikemukakan beberapa saran sebagai berikut : (1) Praktek illegal fishing sangat merugikan masyarakat nelayan setempat dan nelayan kapal perikanan Indonesia. Oleh karena itu perlu peningkatan pengawasan dan penegakan hukum oleh pihak TNI AL dan TNI AU termasuk peran serta pemerintah daerah dan masyarakat lokal. (2) Menjaga kerukunan kekeluargaan antara masyarakat lokal pulau-pulau terluar dengan masyarakat lokal Pulau Mindanao dan sekitarnya yang telah menetap di Filipina, dengan mengindentifikasi jumlah dan status kewarganegaraan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah warga, pekerjaan, dan status kewarganegaraannya. (3) Sebagai tindakan sementara menunggu ditetapkannya perjanjian batas wilayah ZEE antara Indonesia dan Filipina, pemerintah Indonesia dan Filipina memperketat penjagaan keamanan wilayah tersebut dari tindakan-tindakan pelanggaran yang terjadi. (4) Pemerintah Indonesia dan pemerintah Filipina menangani secara serius mengenai status para warga negara yang berada atau tinggal di masingmasing negara lain, dengan tanpa alasan yang sah. Tindakan ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran di wilayah masingmasing negara. (5) Pelanggaran di wilayah ZEE tersebut sangat merugikan kedua negara, maka jalan keluar atas kondisi tersebut adalah merintis kembali dilakukannya pembahasan tentang penetapan batas ZEE oleh

pemerintah Indonesia dan Filipina. (6) Apabila diperlukan untuk penyusunan naskah akademis dan rancangan undang-undangan khusus tentang pulau-pulau di perbatasan negara dan peraturan pelaksanaannya seperti Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), Keputusan Menteri (KepMen), Peraturan Daerah (Perda) dan sebagainya, sebagai payung hukum yang berlaku secara vertikal maupun secara horizontal. (7) Perubahan status hukum dari Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau Terluar menjadi Undang-Undang.

94

(8) Penyusunan

Rencana

Tata Ruang

Pulau-Pulau

Kecil

terluar

di

perbatasan negara harus berdasarkan peta yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal, dan tidak mengacu pada peta elektronik yang disajikan lewat internet oleh Google yang salah mencantumkan informasi nama pulau Miangas dalam peta, padahal dalam peta seharusnya pulau Sarangani dan pulau Balut di Filipina (Gambar 12). Oleh karena itu perlu usulan perbaikan dari pemerintah supaya peta elektronik dari perusahan Google di Amerika Serikat agar di perbaiki sesuai yang benar, agar tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari karena data dan informasi yang salah. (9) Status semua pulau-pulau terluar di Provinsi Sulawesi Utara dibuatkan Sertifikat khusus sebagai Pulau Negara.

95

DAFTAR PUSTAKA Abubakar A. 2004. Analisis Kebijakan Pemenfaatan Pulau-Pulau Kecil Perbatasan (Kasus Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur) Desertasi Doktor, Sekolah Pascasarjana IPB Bogor. Agoes ER. 2002. Status Perbatasan Wilayah Negara Republik Indonesia dengan Negara Tetangga, Makalah Dialog Kebijakan Kelautan dan Perikanan Internasional : Masa depan Perbatasan Indonesia – Singapura. Direktorat Kelembangaan Internasional DKP. Agoes ER. 2004. Praktik Negara-Negara Atas Konsepsi Negara Kepulauan. Jurnal Hukum Internasional Marine Law Affair Vol.1 No.3 April 2004. Hal. 441-463. Analytic Hierarchy Processhttp://www.sli.unimelb.edu.au/subjects/451/418_2000/ lecture10/slides/mef1.pdf http:\\www.cdo.unimelb.edu.au\cdo. Aqorau T. 2000. Illegal Fishing and Fisheries Law Enforcement in Small Island Developing States: The Pacific Islands Experience. The International Journal of Marine and Coastal Law. Vol 15, No 1 Kluwer Law International. Arsana IMA. 2007. Batas Maritim Antar Negara, Sebuah Tinjauan Teknis dan Yuridis. Gajah Mada University Press, Jogyakarta. Baldacchino G.2008. Islands in Between: Martín García and other Geopolitical Flashpoints. Island Studies Journal Vol. 3, No. 2, pp. 211-224 Bengen DG. 2004. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB Bogor. Bengen D. dan Retraubun A. 2006. Menguak Realitas dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosio Sistem Pulau-Pulau Kecil P4L, Bogor. Beller W. 1990. How to Sustain Small Island. In Beller, d’Ayala and P. Hein (Eds). Sustainable Development and Environmental Management of Small Island. Unesco, Paris. Bess R, Rallapudi R. 2007. Spatial conflicts in New Zealand fisheries: The rights of fishers and protection of the marine environment,.Marine Policy 31 : 719– 729 Billiana CS, Robert KW. 1998. Integrated Coastal and Ocean Management : Concepts and Practices. Island Press, Washington DC. Botchway F. 2001. Good Governance: Th e Old, the New, the Principle, and the Elements, Florida Journal of International Law, Vol 13, pp. 159, 161. Brookfield HC. 1990. An Approach to Islands. In W.P. d’Ayala and P. Hein (Eds). Sustainable Development and Environmental Management. Man and Biopher series. Vol. 5.

96

Christie P. 2005. Is Integated Coastal Management Sustainale?. Ocean and Coastal Management 48 : 208-232. Churchill RR. and Lowe AV. 1991. The Law of The Sea. Manchester University Press. Clark JR. 1996. Coastal Zone Management. Handbook. Lewis Publishers. CRC Press LLC. Boca Raton, Florida USA. Cosquer G, Hangoüet JF. 2003. Delimitation of Land and Maritime Boundaries: Geodetic and Geometric Bases. TS20 New Professional Tasks - Marine Cadastres and Coastal Management, FIG Working Week Paris, France, April 13-17, 2003 Dahl C. 1997. Integrated costal resources management and community participation in a small island setting. Ocean and Coastal Management 36 : 23 – 45. Dahuri R. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu, IPB Bogor Dahuri R. Rais J, Ginting SP, Sitepu MJ. 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita, Jakarta. Dahuri R. 2003. Keanekaragaman hayati laut, Aset pembangunan berkelanjutan Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Danusaputro M. 1978. Wawasan Nusantara (dalam Ilmu, Politik dan Hukum). Alumni. Bandung. Direktorat Kelembagaan Internasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran, 2003. Batas-batas Maritim Indonesia – Negara Tetangga, Departemen Kelautan dan Perikanan. Dirhamsyah D. 2006. Indonesian legislative framework for coastal resources management: A critical review and recommendation. Ocean & Coastal Management 49 : 68–92 Djalal H. 1979. Perjuangan Indonesia di Bidang Hukum Laut. BPHN. Jakarta [DKP]. 2003. Batas-Batas Maritim Indonesia–Negara Tetangga. Direktorat Kelembagaan Internasional. Draft Akhir Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan Negara di Provinsi Sulawesi Utara, Bappenas.t.t Estache A. (ed). 1995. Decentralizing Infrastructure: Advantages and Limitations, World Bank Discussion Paper 290, Washington D.C. p. 18. Fanning L, ed. all. 2007. A large marine ecosystem governance framework. Marine Policy 31 : 434–443

97

Ginting SP. 2006. Pengelolaan Perbatasan Laut, Prosiding Konferensi Nasional 2006 Pengelolaan Pesisir Lautan untuk meningkatkan Marwah Negeri, Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil DKP, Griffith, Innis. 1992. Small Island Charateristics and their constrain is Sustainable Development. Griggs L, Lugten G. 2007. Veil over the nets (unravelling corporate liability for IUU fishing offences.) Marine Policy 31 : 159–168 Hamzah A. 1988. Laut Teriritorial dan Perairan Indonesia, Akademi Presindo Jakarta. Harrison J. 2007. Judicial Law-Making and the Developing Order of the Oceans. The International Journal of Marine and Coastal Law 22 : 283 Harte M, Barton J. 2007. Reforming management of commercial fisheries in a small island territory. Marine Policy 31 : 371–378 Heazle M, Butcher JG.2007. Fisheries depletion and the state in Indonesia: Towards a regional regulatory regime. Marine Policy 31 : 276–286 Herrera GE, Hoagland P. 2006. Commercial whaling, tourism, and boycotts: An economic perspective. Marine Policy 30 : 261–269 Hilborn R. 2007. Defining success in fisheries and conflicts in objectives. Marine Policy 31 : 153–158 Hyvättinen H, Hildén M. 2004. Environmental policies and marine engines effects on the development and adoption of innovations. Marine Policy 28 : 491–502 Jentoft S. 2005. Fisheries co-management as empowerment. Marine Policy 29 : 1–7 Jentoft S. 2007. Limits of governability: Institutional implications for fisheries and coastal governance. Marine Policy 31 : 360–370 Kartasaspoetra, G dan Kartasaputra, R.G 1984. Indonesia dalam lingkaran Hukum Internasional (dari abad ke abad), Sumur Bandung. Kay, R dan J. Alder. 1999. Coastal Planning and Management, Routiedge. New York. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, DKP, Dep. Hukum dan Ham, CRMP/Mitra Pesisir, 2005. Buku Narasi : Menuju Harmonisasi Sistem Hukumsebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Keyuan Z. 2005. Implementing The United Nations Convention on The Law of The Sea in East Asia : Issues and Trends. Singapore Year Book of International Law and Contributors.

98

Keyuan Z. 2008. Law of the Sea Issues Between the United States and East Asian States. Ocean Development & International Law 39 : 69–93. [KM] Keputusan Menteri KP Nomor 41 Tahun 2000 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Koers WA. 1991. Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum laut, Suatu. Ringkasan. Penerjemah Rusi M, M.Rizki & Wahyuni Bahar, Gajah Mada University Press.Yogyakarta. Kusumaatmadja M. 1978. Bunga Rampai Hukum laut, Binacipta Jakarta. Kusumaatmadja M, Purwaka TH. 1996. Legal and Institutional Aspects of Coastal Zone Management in Indonesia. Marine Policy. VOl. 20 No. 1. Pp. 63-86. Laporan Bupati Kepulauan Talaud, 2005. Gambaran Umum dan Isu Strategis Kabupaten Kepulauan Talaud 2005 pada kunjungan kerja Menteri Perikanan dan Kelautan 14 Desember 2005. Lembaga Pengkajian Hukum Internasional. Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2004. Jurnal Hukum Internasional [Indonesian Journal of International Law]. Vol.1 Nomor 3. Luntungan R. 2000. Pengaturan Konvensi Hukum Laut 1982 dalam kaitannya dengan Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dan Filipina. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung. Maarif MS. 2007. Pulau-Pulau Kecil Terluar: Ancaman dan Tantangan. Humas Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan. Manurung RM, 1982. Penegakan Hukum Di Perairan Yurisdiksi Nasional Indonesia. Penerbit Surya Indah. Jakarta. Marimin. 1999. Penyelesaian persoalan AHP dengan Criterium Decision Plus. Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian. IPB Bogor. Marimin. 2002. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial IPB Press Bogor. Marpaung L. 1993. Tindak Pidana Wilayah Perairan Grafika. Jakarta. (Laut) Indonesia. Sinar

Mauna B. 2005. Hukum Internasional, Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Penerbit PT. Alumni Bandung. Marzuki PM. 2005. Penelitian Hukum. Prenada Media. Jakarta. Miclat EFB, Ingles JA, 2006. Dumaup JNB. 2006. Planning across boundaries for the conservation of the Sulu-Sulawesi Marine Ecoregion. Ocean & Coastal Management 49 : 597–609

99

Mikalsen KH, Hernes HK, Jentoft S. 2007. Leaning on user-groups: The role of civil society in fisheries governance. Marine Policy 31 : 201–209 Mirah AD. 2007. Manajemen Stratejik Pengembangan Agroindustri Berbasis Unggulan Wilayah, Draft Desertasi Institut Pertanian Bogor. Monintja DR. 1996 Pemenfaatan Ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia : Suatu Tantangan Nasional, Orasi Ilmiah, IPB Bogor. Nainggolan PP. ed. 2004. Batas Wilayah dan Situasi Perbatasan Indonesia, Ancaman terhadap Integritas Teritorial. Tiga Putra Utama. Jakarta. Nakajima, T and M. Machida. 1990. Island in Japan. In W.P. d’Ayala and P. Hein (Eds). Sustainable Development and Environmental Management. Man and Biopher series. Vol. 5. Nikijuluw PH. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, P3R. PT. Pustaka Cidesindo Jakarta. Nikijuluw PH. 2008. Blue Water Crime: Dimensi Sosial Ekonomi Perikanan Ilegal. PT. Pustaka Cidesindo Jakarta. Numberi F. 2006. Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Dalam Buletin Kelautan P3K. Departemen Kelautan dan Perikanan. Vol. IV. No.1 Maret 2006. Hal.12-25. Ostrom, E and Schlager, E. 1996. The Formation of Property Rights in Henna, S, Folke, C, Maler, K.G.1996. Rights to Nature: Ecological, Economic, Cultural, and Political Principles of lnstitufions for the Environment [Editor]. Island Press. Washington DC Patlis JM. Knight M and Benoit J.2003. in press. Integrated Coastal Management in Decentralizing Developing Countries: The General Paradigm, the U.S. Model and the Indonesian Example, The Ocean Yearbook, Vol. 17, U. Chicago Press, Chicago, IL. Patlis JM. 2005. The role of law and legal institutions in determining the sustainability of integrated coastal management project in Indonesia. Ocean and Coastal Management 48 : 450-467. Patlis JM. Purwaka TM. Perdanahardja WGH, editor. 2005. Menuju Harmonisasi Sistem Hukum sebagai Pilar Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Hukum dan HAM, bekerjasama dengan Coastal Resources Management Project II [USAID]. Jakarta. Pedoman Penyajian Karya Ilmiah. 2008. Edisi Kedua Cetakan Pertama. IPB Press. Bogor. Penataan Ruang Kawasan Perbatasan di Pulau Miangas Kabupaten Talaud Provinsi Sulawesi Utara. 2007. Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Direktorat Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan.

100

Penyusunan Rencana Tata Ruang Terpadu di Pulau-Pulaui Kecil Terluar (Marore, Miangas dan Marampit) Provinsi Sulawesi Utara. 2007. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Departemen Pekerjaan Umum. Prasad N. 2003. Small Island Quest for Economics Development, Asia-Pacific Development Journal Vol. 10, No. 1. Pratt M (tt) Geographical analysis in maritime boundary delimitation, International Boundaries. Research Unit, Department of Geography, Durham University, Durham DH1 3LE, UK. Web: www.dur.ac.uk/ibru Purwaka T. 2003. Pokok-pokok pikiran untuk Mengembangkan Grand Design Kelembagaan Kelautan dan Perikanan. Materi Kuliah Program Pascasarjana. PS. Teknologi Kelautan IPB. [PP] Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. [PP] Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan PulauPulau Kecil Terluar. Queffelec B, Cummins V, Bailly D. 2009. Integrated management of marine biodiversity in Europe: Perspectives from ICZM and the evolving EU Maritime Policy framework. Marine Policy 33 : 871-877. Rangkuti. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis.Gramedia. Jakarta Rayfuse R, Warner R. 2008. Securing a Sustainable Future for the Oceans Beyond National Juridiction : The Legal Basis for an Integrated CrossSectoral Regime for High Seas Governance for 21st Century. The International Journal of Marine and Coastal Law 23 : 399-421. Retraubun ASW. 2006a. Pengelolaan Wilayah Perbatasan dan Pulau-Pulau Kecil. Dalam Prosiding Konferensi Nasional (KONAS) V Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil. Direktorat Jenderal, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan. Retraubun ASW. 2006b. Pengelolaan Wilayah Perbatasan dan Pulau-Pulau Kecil. Buletin Kelautan P3K. Departemen Kelautan dan Perikanan. Vol.VI.Khusus September 2006. Rutherford RJ, Herbert GJ, Coffen-Smout SS. 2005. Integrated ocean management and the collaborative planning process: the Eastern Scotian Shelf Integrated Management (ESSIM) Initiative. Marine Policy 29 : 75–83 Saaty TL. 1982. Decision Making for Leaders. Belmont California : Lifetime Learning Publications. Saaty TL. 2003. Pengambilan Keputusan bagi para pemimpin, Proses Hirarki Analitik untuk pegambilan keputusan dalam situasi dan kompleks. PT. Pustaka Binaman Pressindo Jakarta.

101

Sabarno 2003. Arti Penting Penataan Batas Wilayah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Majalah Perbatasan Januari 2003. Sarundajang, S.H. 2006. Kebijakan Pengembangan Pulau-pulau kecil terluar di Provinsi Sulawesi Utara, Dalam Prosiding Konferensi Nasional (KONAS) V Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil. Direktorat Jenderal, Pesisir dan PulauPulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan. Satria A, Matsuda Y. 2004. Decentralization of fisheries management in Indonesia. Marine Policy 28 : 437–450 Seidman A. Seidman. RB and Abeyesekere N. 2001. Legislative Draft ing for Democratic Social Change: A Manual for Drafters. Boston, Mass.: Kluwer Law International. Singarimbun M, Effendi S. (Editor) 1989. Metode Penelitian Survey. LP3ES Jakarta. Sutisna S. 2006. Pandangan Wilayah Perbatasan Indonesia: Aspek Permasalahan Batas Maritim Indonesia. Pusat Pemetaan Batas Wilayah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Soeprapto M.I. 1998. Ilmu Perundang-undangan, Pembentukannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Dasar-dasar dan

Subagyo PJ. 1993. Hukum laut Indonesia, Rineka Cipta Jakarta. Sugiyono 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung Syahmin AK. 1988. Beberapa Perkembangan dan Masalah Hukum laut Internasional. Binacipta. Bandung. SWOT Analysis. http://www.quickmba.com/strategy/swot/ Turner M and Hulme D. 1997. Governance, Administration and Development: Making the State Work. Kumarian Press, West Hartford, CT., p. 122-124. Thorpe A, Reid C, van Anrooy R, Brugere C. 2005. When fisheries influence national policy-making: an analysis of the national development strategies of major fish-producing nations in the developing world. Marine Policy 29 : 211– 222 [UU] Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. [UU] Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia. [UU] Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. [UU] Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nation Convention on the Law of the Sea 1982.

102

[UU] Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. [UU] Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. [UU] Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. [UU] Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. [UU] Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. [UU] Undang-undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. [UU] Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2009 tentang Persetujuan Pelaksanaan Ketentuan Ketentuan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 yang berkaitan dengan Konservasi dan Pengelolaan Sediaan Ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh. Valencia MJ, Danusaputro SM. 1984. Indonesia: Law of the Sea and Foreign Policy Issues. Indonesian Guarterly. Vol. XII No. 4. p 486. Verlaan PA. 2007. Experimental activities that intentionally perturb the marine environment: Implications for the marine environmental protection and marine scientific research provisions of the 1982 United Nations Convention on the Law of the Sea. Marine Policy 31 : 210–216 Wila MRC. 2006. Konsepsi Hukum dalam Pengaturan dan Pengelolaan Wilayah Perbatasan Antarnegara, Penerbit PT Alumni Bandung. Wolff M. 2009. (Edited). Propical Water and their Livinf Resources : Ecology, Assessment and Management. H.M. Hauschild GmbH, Bremen, Germany.

103

Daftar Peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terluar.

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Peraturan PerundangNomor dan Tahun undangan Undang Undang Dasar Negara Tahun 1945 Undang Undang Nomor 4 Tahun 1960 Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Nomor 1 Tahun 1962 Nomor 16 Tahun 1964 Nomor 11 Tahun 1967 Nomor 1 Tahun 1973 Nomor 8 Tahun 1981 Nomor 5 Tahun 1983 Nomor 2 Tahun 1986 Nomor 5 Tahun 1986 Nomor 5 Tahun 1990 Nomor 9 Tahun Nomor 5 Tahun Nomor 12 Tahun Nomor 14 Tahun Nomor 15 Tahun Nomor 16 Tahun Nomor 21 Tahun Nomor 23 Tahun Nomor 24 Tahun Nomor 10 Tahun Nomor 4 Tahun 1990 1991 1992 1992 1992 1992 1992 1992 1992 1995 1996

Tentang Perubahan Ke IV Perairan Indonesia Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Karantina Laut Bagi Hasil Perikanan Ketentuan Pokok Pertambangan Landas Kontinen Indonesia Hukum Acara Pidana Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia Peradilan Umum Peradilan Tata Usaha Negara Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Kepariwisataan Kejaksaan Sistem Budidaya Tanaman Lalulintas dan Angkutan Jalan Penerbangan Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Pelayaran Kesehatan Penataan Ruang Kepabeanan Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-benda yang berkaitan dengan Tanah. Perairan Indonesia Pangan Ketransmigrasian Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Penerimaan Negara Bukan Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Pengelolaan Lingkungan Hidup Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan

24 25 26 27 28 29 30 31

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 6 Tahun Nomor 7 Tahun Nomor 15 Tahun Nomor 18 Tahun

1996 1996 1997 1997

Nomor 20 Tahun 1997 Nomor 21 Tahun 1997 Nomor 23 Tahun 1997 Nomor 4 Tahun 1999

104

No.

Peraturan Perundangundangan

Nomor dan Tahun

Tentang Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwaklikan Rakyat Daerah Pemerintahan Daerah Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Telekomunikasi Kehutanan Pokok Pokok Kepegawaian Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pajak Penghasilan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Minyak Bumi Yayasan Pertanahan Negara Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bangunan Gedung Keuangan Negara Panas Bumi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Kekuasaan Kehakiman Sumber Daya Air Peradilan Umum Peradilan Tata Usaha Negara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Perkebunan Kehutanan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Perikanan Pemerintahan Daerah

32 33 34

Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 22 Tahun 1999 Nomor 25 Tahun 1999 Nomor 28 Tahun 1999

35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 30 Tahun 1999 Nomor 31 Tahun 1999 Nomor 36 Tahun 1999 Nomor 41 Tahun 1999 Nomor 43 Tahun 1999 Nomor 16 Tahun 2000 Nomor 17 Tahun 2000 Nomor 34 Tahun 2000 Nomor 22 Tahun 2001 Nomor 16 Tahun 2002 Nomor 3 Tahun 2002 Nomor 18 Tahun 2002

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 56 59 60

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang Undang

Nomor 28 Tahun 2002 Nomor 17 Tahun 2003 Nomor 27 Tahun 2003 Nomor 2 Tahun 2004 Nomor 4 Tahun 2004 Nomor 7 Tahun 2004 Nomor 8 Tahun 2004 Nomor 9 Tahun 2004 Nomor 10 Tahun 2004 Nomor 18 Tahun 2004 Nomor 19 Tahun 2004 Nomor 25 Tahun 2004 Nomor 31 Tahun 2004 Nomor 32 Tahun 2004

105

No. 61

Peraturan Perundangundangan Undang Undang

Nomor dan Tahun Nomor 33 Tahun 2004

Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Penataan Ruang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Negara Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Pengololaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Pengendalian Pencemaran Dan/Atau Perusakan Laut Badan Nasional Pengelola Perbatsan Pengelolaan Kawasan Lindung Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-pulau Kecil yang berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Badan Nasional Pengelola Perbatasan Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir Terpadu Berbasis Masyarakat Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Terpadu Berbasis Masyarakat

62 63 64 65 66 67 68 69 70

Undang Undang Undang Undang Undang Undang Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Keputusan Presiden Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah

Nomor 26 Tahun 2007 Nomor 27 Tahun 2007 Nomor 43 Tahun 2008 Nomor 47 Tahun 1997 Nomor 19 Tahun 1999 Nomor 82 Tahun 2001 Nomor 12 Tahun 2010 Nomor 32 Tahun 1990 Nomor 41 Tahun 2000

71

Nomor 10 Tahun 2002

72

Nomor 38 Tahun 2002

73

Nomor 37 Tahun 2008

74

Peraturan Menteri Kelautan Peraturan Presiden Peraturan Presiden Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Utara

Nomor Per.16/Men/2008 Nomor 78 Tahun 2005 Nomor 12 Tahun 2010 Nomor 2 Tahun 2002

75 76 77

78

Nomor 38 Tahun 2003

106

CATATAN :

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->