P. 1
Permasalahan Sosial Di Indonesia

Permasalahan Sosial Di Indonesia

|Views: 295|Likes:
Published by amad39

More info:

Published by: amad39 on Nov 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2010

pdf

text

original

Permasalahan sosial di Indonesia

Permasalanan sosial di Indonesia sangat banyak .contoh dari permasalahan sosial tersebut adalah: ‡ Kemiskinan ‡ Tingkat pendidikan rendah ‡ Tindakan kriminal ‡ Pengangguran Apa penyebab dari semua permasalahan itu ? banyak sekali penyebabnya. kemiskinan: Penyebab : 1. banyaknya pengangguran 2. kebutuuhan pokok mahal Imbas: R tingkat pendidikan rendah. o Tingkat pendidikan rendah : Penyebab: Kemiskinan ( banyak orang miskin tidak bisa menyekolahkan anaknya) Imbas: Banyak pengangguran o Tindakan kriminal: Penyebab: Kemiskinan (tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga melakukan tindakan kriminal berupa mencuri / merampok ). Imbas: Banyak yang dirugikan. Contoh:mencuri, merampok, penipuan, dan lain-lain o Pengangguran: Penyebab: 1. tingkat pendidikan rendah 2. tidak seimbang antara lapangan kerja dengan warga usia produktif. Imbas: Kemiskinan.

Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin. walaupun mengalami pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. Penyebab kegagalan Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia.Dan jika semua masalah sosial tersebut ingin diselesaikan.4 persen. Angka. partai-partai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 juga mencantumkan program pengentasan kemiskinan sebagai program utama dalam platform mereka. bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Pertama. PADA umumnya. yaitu 37. persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi. yaitu sebesar 17. masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan.5 juta orang. Meskipun demikian.5 persen atau 34. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).07 persen. Pada masa Orde Baru. yaitu rata-rata sebesar 7. berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001. Maka yang pertama dibenahi adalah pendidikan karena tingkat pendidikan rendah adalah masalah utama sehingga mempengaruhimasalah lainnya. 2010 Related Filed Under SEJAK awal kemerdekaan. persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52. persentase penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi. Meskipun demikian. dengan jumlah penduduk yang lebih besar.5 persen selama tahun 1970-1996. Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan? January 3rd.angka ini mengindikasikan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. program. penduduk miskin di Indonesia tetap tinggi. Bahkan. sebesar 17. berdasarkan penghitungan BPS.program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang .4 juta orang.

Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi di Kabupaten Sumba Timur. dengan asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator dampak. yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal. seperti dibebaskannya biaya sekolah. sifat budaya. organisasi sosial. bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Kedua angka ini cukup menyulitkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan-bantuan karena data yang digunakan untuk target sasaran rumah tangga adalah data BKKBN. Di lain pihak.miskin. Bisa saja terjadi bahwa angka-angka kemiskinan tersebut tidak realistis untuk kepentingan lokal. programprogram bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya. data dan informasi yang digunakan untuk program-program penanggulangan kemiskinan selama ini adalah data makro hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di satu pihak angka kemiskinan Sumba Timur yang dihasilkan BPS pada tahun 1999 adalah 27 persen. Kedua data ini pada dasarnya ditujukan untuk kepentingan perencanaan nasional yang sentralistik. dan bahkan bisa membingungkan pemimpin lokal (pemerintah kabupaten/kota).biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). sementara angka kemiskinan (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) yang dihasilkan BKKBN pada tahun yang sama mencapai 84 persen. Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur merasa kesulitan dalam menyalurkan beras untuk orang miskin karena adanya dua angka kemiskinan yang sangat berbeda antara BPS dan BKKBN pada waktu itu. maupun bentuk ekonomi yang berlaku secara lokal. data dan informasi seperti ini tidak akan dapat mencerminkan tingkat keragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara besar yang mencakup banyak wilayah yang sangat berbeda. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan. sementara alokasi bantuan didasarkan pada angka BPS. antara lain. baik dari segi ekologi. berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. serta dibebaskannya biaya. .Hal itu. Sebagaimana diketahui. Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan. Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pada kenyataannya. seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

selain data tersebut belum tentu relevan untuk kondisi daerah atau komunitas.Secara konseptual. data dan informasi kemiskinan yang ada sekarang perlu dicermati lebih lanjut. data makro yang dihitung BPS selama ini dengan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) pada dasarnya (walaupun belum sempurna) dapat digunakan untuk memantau perkembangan serta perbandingan penduduk miskin antardaerah. unit-unit sosial yang lebih besar. diperlukan data mikro yang dapat menjelaskan penyebab kemiskinan secara lokal. indikator-indikator tersebut selain tidak bisa menjelaskan penyebab kemiskinan. terutama terhadap manfaatnya untuk perencanaan lokal. tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal. beberapa lembaga pemerintah telah berusaha mengumpulkan data keluarga atau rumah tangga miskin secara lengkap. Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan kemiskinan. indikatorindikator yang dihasilkan masih terbatas pada identifikasi rumah tangga. juga masih bersifat sentralistik dan seragam-tidak dikembangkan dari kondisi akar rumput dan belum tentu mewakili keutuhan sistem sosial yang spesifik-lokal. Masalah utama yang muncul sehubungan dengan data mikro sekarang ini adalah. Untuk target sasaran rumah tangga miskin. Di samping itu. Meski demikian. . data tersebut juga hanya dapat digunakan sebagai indikator dampak dan belum mencakup indikator-indikator yang dapat menjelaskan akar penyebab kemiskinan di suatu daerah atau komunitas. Indikator tersebut harus sensitif terhadap fenomena-fenomena kemiskinan atau kesejahteraan individu. Untuk data mikro. perlu dilakukan. bukan secara agregat seperti melalui model-model ekonometrik. Data dan informasi kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan serta pencapaian tujuan atau sasaran dari kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan adanya indikator-indikator yang realistis yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan program yang perlu dilaksanakan untuk penanggulangan kemiskinan. Namun. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. tingkat kabupaten/kota. Strategi ke depan Berkaitan dengan penerapan otonomi daerah sejak tahun 2001. maupun di tingkat komunitas. tetapi tidak dapat digunakan untuk target sasaran individu rumah tangga atau keluarga miskin. keluarga. baik di tingkat nasional. dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. seperti faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan dan indikator-indikator dalam pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari kemiskinan itu sendiri. antara lain data keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN dan data rumah tangga miskin oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. data makro tersebut mempunyai keterbatasan karena hanya bersifat indikator dampak yang dapat digunakan untuk target sasaran geografis. dan wilayah. Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja (pendekatan ekonomi).

Selain itu. ilmu antropologi. perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pemanfaatan informasi untuk kebijakan program. dinas-dinas pemerintahan terkait. perlu juga diperoleh data kemiskinan (mikro) yang spesifik daerah. baik pemerintah daerah. Belum memadai Ukuran-ukuran kemiskinan yang dirancang di pusat belum sepenuhnya memadai dalam upaya pengentasan kemiskinan secara operasional di daerah. Keuntungan yang diperoleh dari ketersediaan data dan informasi statistik tersebut bahkan bisa jauh lebih besar dari biaya yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan pengumpulan data tersebut. Sebagai wujud dari pemanfaatan informasi untuk proses pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan pembangunan di daerah. Sebaliknya. perlu adanya koordinasi dan kerja sama antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). pemerintah kabupaten/kota dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan sendiri sistem pemantauan kemiskinan di daerahnya. dan lainnya. diusulkan agar dilakukan pemberdayaan pemerintah daerah. informasi-informasi yang dihasilkan dari pusat tersebut dapat menjadikan kebijakan salah arah karena data tersebut tidak dapat mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya yang terjadi di tingkat daerah yang lebih kecil.Oleh karena itu. Ketersediaan informasi tidak selalu akan membantu dalam pengambilan keputusan apabila pengambil keputusan tersebut kurang memahami makna atau arti dari informasi itu. Kegiatan ini dimaksudkan agar para pengambil keputusan. khususnya dalam era otonomi daerah sekarang. dan para LSM. Dengan adanya dana daerah untuk pengelolaan data dan informasi kemiskinan. Para peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis dari pemimpin daerah dalam hal penggunaan informasi untuk manajemen. baik lokal maupun nasional atau internasional. dan sebaliknya membantu mempercepat proses pembangunan melalui kebijakan dan program yang lebih tepat dalam pembangunan. perguruan tinggi. instansi terkait. Namun. tetapi juga disiplin ilmu sosiologi. di samping data kemiskinan makro yang diperlukan dalam sistem statistik nasional. perlu adanya komitmen dari pemerintah daerah dalam penyediaan dana secara berkelanjutan. sistem statistik yang dikumpulkan secara lokal tersebut perlu diintegrasikan dengan sistem statistik nasional sehingga keterbandingan antarwilayah. . Dalam membangun suatu sistem pengelolaan informasi yang berguna untuk kebijakan pembangunan kesejahteraan daerah. pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi pemborosan dana dalam pembangunan sebagai akibat dari kebijakan yang salah arah. agar penyaluran dana dan bantuan yang diberikan ke masyarakat miskin tepat sasaran dan tidak tumpang tindih. dapat menggali informasi yang tepat serta menggunakannya secara tepat untuk membuat kebijakan dan melaksanakan program pembangunan yang sesuai. khususnya keterbandingan antarkabupaten dan provinsi dapat tetap terjaga. Oleh karena itu.

sudah saatnya dikembangkan pula mekanisme pengumpulan data untuk kebutuhan komunitas dan kabupaten. "Artinya. dianalisis. Perlu pembentukan tim teknis yang dapat menyarankan dan melihat pengembangan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah.Tingkat pendidikan pelajar di Indonesia terlihat masih rendah dan kalah jauh dibandingkan siswa negara lain (luar negeri). dan bakal merasa malu kalau kurang. ibarat tingkat Dasar dan Diploma. Painan. dan peneliti lokal maupun nasional.5 Tahun. berkelanjutan. . serta kompromi ekologi yang meningkat Mutu Pendidikan di Indonesia Masih Rendah Kamis. ucap Gamawan. memberikan pemahaman kalau pendidikan minimal dimiliki idealnya sampai SLTA. Untuk itu. secara umum masyarakat menghabiskan waktu mengisi ilmu (pendidikan) sekitar tujuh tahun. Pembentukan tim teknis ini diharapkan mencakup pemerintah daerah dan instansi terkait. Kalau dilakukan uji kemampuan. sedang di luar negeri mencapai 18. di Indonesia. saat meresmikan pencanangan Program Wajib Belajar Gratis 12 Tahun untuk Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) di GOR Zaini Zein. kata Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi. dipastikan masih kalah jauh." katanya. diadministrasikan. dan didanai pusat masih penting dan perlu dipertahankan." katanya. dan mampu secara cepat merefleksikan keberagaman pola pertumbuhan ekonomi dan pergerakan sosial budaya di antara komunitas pedesaan dan kota. Rabu. "Setidaknya. sangat penting rasanya menumbuh kembangkan kepedulian terhadap dunia pendidikan. perlu disadari bahwa walaupun kebutuhan sistem pengumpulan data yang didesain. dapat dipercaya.Pemerintah daerah perlu membangun sistem pengelolaan informasi yang menghasilkan segala bentuk informasi untuk keperluan pembuatan kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan yang sesuai. pihak perguruan tinggi. . mereka (luar negeri) sudah benar-benar menganggap pendidikan sebagai kebutuhan yang wajib dimiliki. Berkaitan dengan hal tersebut. Dia mengatakan. Mekanisme pengumpulan data ini harus berbiaya rendah. agar secara kontinu dapat dikembangkan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah. 18 Juni 2009 04:25 WIB | Peristiwa | Pendidikan/Agama | Dibaca 5252 kali Pesisir Selatan (ANTARA News) . salah satu langkah adalah menerapkan program pendidikan gratis 12 Tahun ditengah masyarakat.

673 kasus." katanya. jelas butuh keseriusan seluruh kabupaten/kota dalam menjalankan program yang sama.594 kasus menjadi 94. Angka pengangguran 2010 diprediksi capai 10 persen By Ahmad Mufid Aryono on 2 Agustus 2009 Jakarta±Angka pengangguran tahun 2010 diperkirakan masih akan tinggi. seperti korupsi mengalami peningkatan.000 penduduk pertahun. Persentase penyelesaian kasus. Korupsi di tahun 2003 masih sebanyak 180 kasus yang terungkap. di antaranya Kota Padang Panjang. tambah Gamawan. kalau tidak. "Pencapaian ini. Namun. rata-rata potensi orang terkena kejahatan sama dalam 3 tahun terakhir. sedangkan tahun lalu 196. yaitu 86 orang per 100." katanya. Tahun ini. "Harapannya. diprediksikan kejahatan yang terjadi sekitar 209. supaya dapat terciptanya pemerataan pendidikan. tentunya bagaimana bisa terciptanya kemungkinan dana sharing antara pemprov dan Pemkab/pemko. pengakumulasian dipastikan tidak dapat terlaksana. dinilai tidak akan cukup untuk menyerap seluruh tenaga kerja yang memasuki usia kerja.(*) TINGKAT KRIMINAL Tingkat kejahatan di Indonesia meningkat dibanding tahun lalu. dari 99. berkisar antara 810%. pemprov bakal mencoba membicarakan bersama jajaran DPRD Sumbar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 yang diproyeksikan sebesar 5 persen. sementara tahun 2004 sebanyak 191 kasus.Program pendidikan 12 Tahun sudah dilakukan tiga daerah Kabupaten/Kota di Sumbar. Untuk anggaran pelaksanaan. menurut Kapolri.931 kasus.16 persen.´ ujar . yaitu sebesar 8 persen hingga 10 persen untuk pengangguran dan 12 persen sampai 14 persen untuk tingkat kemiskinan.448 kasus atau turun 5. Kabupaten/Kota lain dapat mengikuti pelaksanaan program yang sama di tahun depan. untuk kejahatan transnasional. masih sama karena berkisar pada 55 persen dibandingkan dengan tahun lalusebesar 56 persen. ³Tingkat pengangguran dan kemiskinan masih sangat tinggi. Kejahatan konvensional seperti pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor mengalami penurunan. Menurut Da¶i. Kota Pariaman dan Kabupaten Pessel.

Dengan kestabilan kondisi ekonomi seperti yang diutarakan diatas. Sunarsip mengatakan. ³Selain itu.´ paparnya . Sunarsip mengatakan bahwa pemerintah harus menjaga agar nilai tukar rupiah Rp 9. kemudian Defisit APBN yang mencapai 1 persen sampai 2 persen. dalam acara Monthly Evonomic Review di kantor IEI Jakarta.´ jelasnya. Sunarsip menjelaskan bahwa tingkat pengangguran dan kemiskinan dapat ditekan.200 per USD. Disamping itu juga.Ekonom Kepada The Indonesia Economic Intellegience (IEI). ³Kemudain strategi pembangunan pemerintah perlu diarahkan untuk penyediaan lapangan kerja yang masih. untuk menjaga tingkat kemiskinan dan pengagguran pemerintah harus memperhatikan beberapa hal. suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang harus relatif rendah. Minggu (2/8). yakni salah satunya inflasi harus berkisar antara 4 persen sampai 6 persen.700 ± Rp 10. Sunarsip. yakni 5-7 persen. sehingga masalah kemiskinan dan pengangguran yang masih diatas 8 persen saat ini dapat diatasi secara mendasar dan martabat bangsa bisa benar-benar ditegakkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->