Abu yazid bustomi, pemikiran tasawuf A.

Pendahuluan Dalam makalah sederhana ini, penulis mencoba membahas keadaan dan sejarah dua sufi besar terkenal hingga nama dan sejarahnya di masa kini masih sering di bahas para sejarawan. Adalah Abu Yazid Bustami dan mansur al Hallaj dua orang sufi yang pada masanya telah menambah goresan keanekaragaman bentuk tasawuf. Bustami dengan ajaran al ittihadnya telah dikembangkan oleh Al Hallaj melalui ajarannya al hulul. Kedua bentuk ajaran ini tidak memiliki banyak perbedaan, karena Al halaj meneruskan jejak seniornya Bustami. Ideology ini pernah menebar hingga ke Asia tenggara khususnya di Indonesia. Di Indonesia tasawuf bukanlah benda asing. Pada masa sejarah tertentu ia malah telah mempribumi dan anggun. Hamzah fanzuri dan Syeikh Siti Jenar di jawa adalah dua dari sekian banyak nama sufi yang selalu saja berada pada bibir sejarah Islam Indonesia. Riwayat Syeikh Siti Jenar malahan sering disejalurkan dengan kisah-kisah Mansur Al Hallaj, walaupun ada perbedaan bobot zaman dan ungkapan kesufiannya. Namun keduanya memiliki dimensi politik dalam menerima hukuman matinya. Jika Al Hallaj terlibat ke dalam gerakan syiah garis keras Al Qaramithah sebagaimana dibuktikan dalam pengadilannya, Syeikh Siti Jenar terlibat pada penghimpunan kekuatan unutk melawan Negara Islam Indonesia Demak. 1. Abu Yazid Bustami Abu Yazid al-Bustami (wafat 874 M) adalah seorang ahli sufi yang terkenal di Persia sekitar abad ketiga hijriyah. Ia disebut-sebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan faham fana¶ dan baqa¶ . Nama kecilnya adalah Thaifur. Sebelum ia mendalami tasawuf ia mempelajari ilmu fiqh terutama mazhab Hanafi. Ia memperingatkan manusia agar tidak terpedaya dengan seseorang sebelum melihat sebagaimana ia melakukan perintah dan meninggalkan larangan Tuhan, menjaga ketentuan-ketentuan dan melaksanakan syari¶at-Nya. Selengkapnya perkataan beliau adalah : ³Kalau kamu melihat seseorang mempunyai keramat yang besar-besar, walaupun dia sanggup terbang di udara maka janganlah kamu tertipu, sebelum kamu lihat bagaimana dia mengikuti perintah syari¶at dan menjauhi batas-batas yang dilarang syari¶at´. Setelah ia mendalami tasawuf, ia memunculkan faham baqa¶ dan fana¶, dimana apabila ia telah fana¶ dan mencapai baqa¶ maka keluarlah kata-kata yang ganjil yang jika tidak hati-hati memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai Tuhan . Ia sering

Ia selalu mendapat tekanan dari para ulama Mutakallimin (Teolog) serta Penduduk di kota kelahirannya yang tidak mengizinkan ia tinggal menyebabkan ia terusir dari negerinya sampai akhirnya wafat pada tahun 261 H bertepatan dengan tahun 875 M . Oleh sebab itu penulis merasa tertarik untuk membahas hal ini dalam sebuah makalah singkat yang fokusnya terutama pada tokoh pendiri. Setelah ia wafat para ahli sufi masih banyak mengunjungi makam al-Bustami. Bustomi dan Bastomi sering juga disebut Bayazid . Pengaruh terikat ini masih dapat dilihat dibeberapa dunia Islam seperti Zaousfana¶. Al Bustami mempelajari ilmu fiqh terutama mazhab Hanafi lalu kemudian mendalami tasawuf. Al-Bustami tidak meninggalkan karangan atau tulisan tetapi ia terkenal lantaran ucapanucapannya. Maghrib . Riwayat Hidup Bustami Al-Bustami atau dalam beberapa tulisan disebut juga Bistomi. Ia lahir diwilayah Qum di Persia Barat Laut tahun 188-261 H/804-875 M. B. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur ibn Surusyam. Pengikut al-Bustami kemuidian mengembangkan ajaran tasawufdengan membentuk suatu aliran tarikat bernama Taifuriyah yang diambil dari nisbah al-Bustami yakni Taifur. misalnya al-Hujwiri. Terkadang ungkapannya dipandang sebagai al-syathahat atau ungkapan ketuhanan misalnya ungkapannya : ³Maha suci Aku. Maha suci Aku.dipandang pula sebagai sufi ³yang mabuk´ lantaran ia terlalu jauh mengucapkan kalimat ketuhanan dalam dirinya. Ayahnya Isa ibn Surusyam adalah pemuka masyarakat di Biston dan ibunya dikenal sebgai zahid (orang yang meninggalkan keduniaan) dan kakaknya Surusyam sebelum memeluk Islam adalah penganut agama Majusi . bahkan sejumlah ahli sufi lainnya menaruh hormatterhadap al-Bustami meski bukan berarti mereka menerima kalimat-kalimatnya tanpa koreksi. Ia adalah putra seorang ayah yang menganut keyakinan Zoroastria. betapa besar keagungan-Ku´ yang belakangan dikumpulkan dalam kitab al-Luma (buku pancaran sinar) yang ditulis oleh al-Sarraj . Sebagian besar kehidupan ³sufi´ dan ³abid´nya dilaluinya di Biston. pokok-pokok ajaran dan beberapa analisa terhadap ajaran-ajarannya yang dikembangkannya. Perbedaan sikap ini terutama dikalangan ulama sufi dan dikalangan ulama fiqh. Banyak yang pro maupun kontra. Paham ini mendapat tanggapan yang berbeda dikalangan para ulama.

Mereka menumbuhkan konsep-konsep manusia melebur dengan Allah yang disebut ittihad ataupun hulul dan ciri-ciri aliran ini cenderung metafisis. dan alittihad. Chittagong dan Bangladesh. Pokok Ajaran Tasawuf al-Bustami : al-Fana¶. Fana¶ berbeda dengan al-Fasad (rusak). yaitu ucapan-ucapan ganjil yang dikeluarkan seorang sufi ketika ia berada digerbang ittihad . C. Diantara sufi yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan adalah Abu Yazid al-Bustami yang sekaligus dipandang sebagai pembawa faham al-Fana¶. Muhammad Khudabanda memberi kubahpada makamnya pada tahun 713 H / 1313 M atas saran penasehat agama sultan bernama Syaikh Syafaruddin . Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud Fana¶ adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan. Pertama. Fana¶ artinya tidak nampaknya sesuatu. al-Jazair.(meliputi Maroko. maka ia akan dikatakan Fana¶ dari alam cipta atau dari alam makhluk . sedangkan Fasad atau rusak adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain . Selain itu Fana¶ juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk lahir bathin. tasawufnya selalu merujuk kepada AlQur¶an dan al-Sunnah atau dengan kata lain tasawuf yang mengacu kepada syari¶at dan para sufinya adalah para ulama terkenal serta tasawufnya didominasi oleh ciri-ciri normal. Sebagian masyarakat mempercayai sebagai wali atau orang yang memiliki kekaramatan. adalah aliran sufi yang terpesona dengan keadaan-keadaan fana¶ sering mengucapkan kata-kata yang ganjil yang terkenal dengan nama syathahat. Dari segi bahasa al-Fana¶ berarti binasa . Baqa¶ adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Sultan Moghul. alam rupa dan alam wujud ini. Fana¶ dan Baqa¶ ini menurut ahli tasawuf . Sebagai akibat dari Fana¶ adalah Baqa¶. dan al-Ittihad Ahli sufi berpendapat bahwa terdapat dua aliran tasawuf pada abad ketiga hijriah. al-Baqa¶. Kedua. yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. al-Baqa¶. Fana¶juga berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat tercela .aliran sufi yang pendapat-pendapatnya moderat. Makam al-Bustami terletak ditengah kota Biston dan dijadikan objek ziarah oleh masyarakat. arti Fana¶ adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazimnya digunakan pada diri. sehingga tiada lagi melihat alam baharu. Tunisia). Menurut ahli sufi. Karena sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) telah lenyap maka yang kekal dan tinggal adalah sifat-sifat ilahiyah atau ketuhanan. secara harfiah Baqa¶ berarti kekal sedangkan dalam pandangan kaum sufi. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan.

Menurut al-Qusyairi. demikianlah juga alam sekitarnya. yang hilang atau hancur hanya kesadaran dirinya sebagai manusia. maka yang tinggal adalah wujud rohaniahnya dan ketika itu ia bersatu dengan Tuhan secara ruhani. sama sekali tidak hancur. Abu Yazid al-Bustami berpendapat bahwa manusia hakikatnya se-esensi dengan Allah. Dari berbagai uraian tersebut diketahui bahwa yang dituju dengan Fana¶ dan Baqa¶ adalah mencapai persatuan secara rohaniah dan bathiniah dengan Tuhan. maka Fana¶lah yang tiada dan Baqa¶lah yangkekal´. karena kehadiran mereka bersama Allah´. tetapi ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya . maka yang ada adalah sifat-sifat Tuhan´ . Fana¶ dan Baqa¶ menurut sufi adalah kembar dan tak terpisahkan sebagaimana ungkapan mereka : ³Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya. Juga ungkapan mereka : ³Tasawuf itu adalah mereka Fana¶ dari dirinya dan Baqa¶ dengan Tuhannya.datang beriringan sebgaimana ungkapan mereka :´Apabila nampak nur ke Baqa¶an. . Diantara kaum sufi ada yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Dengan demikian materimanusianya tetap ada. Bila seseorang telah Fana¶ atau tidak sadar lagi tentanmg wujudnya sendiri dan wujud lain disekitarnya pada saat itulah ia sampai kepada Baqa¶ dan berlanjut kepada Ittihad. sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. ia tidak lagi merasakan jasad kasarnya. Al-Kalabazi (wafat 380 H) menjelaskan bahwa keadaan Fana¶ itu tidak bisa berlangsung terusmenerus sebab kelangsungannya yang terus-menerus akan menghentikan organ-organ tubuh untuk melaksanakan fungsinya sebagai hamba Allah dan peranannya sebagain khalifah di muka bumi . Apabila seorang sufi telah sampai kepada Fana¶ al-nafs yaitu tidak disadarinya wujud jasmaniyah. dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu melebur eksitensi keberadaan-Nya sebagi suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari dirinya. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula mahkluk lain ada. Seorang sufi yang sampai pada tingkat ma¶rifah akan melihat Tuhan dengaqn mata sanubarinya . Menurut al-Syathi. proses penghancuran sifat-sifat basyariah. disebut Fana¶ al-sifat dan proses penghancuran tentang irodah dirinya disebut Fana¶ al-irodah serta proses penghancuran tentang adanya wujud dirinya dan zat yang lain disekitarnya disebut Fana¶ al-nafs . terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang mahkluk lain itu. Fana¶ yang dimaksud adalah : Fana¶nya seseorang dari dirinya dan makhluk lain.

suatu tingkatan dimana antara yang mencinta dan yang dicintai telah menjadi satu.Dengan tercapainya Fana¶ dan Baqa¶ maka seorang sufi dianggap telah sampai kepada tingkat ittihad atau menyatu dengan yang Maha Tunggal (Tuhan) yang oleh Bayazid disebut ³Tajrid Fana¶ fi at. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud maka dalam ittihad ini bisa jadi pertukaran peranan antara manusia dengan Tuhan. jasad al-hallaj tidak lebur sedangkan dalam ittihad dalam diri al-Bustami lebur dan yang ada hanya diri Allah. dirumah ini tidak ada kecuali Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi´ . Al-Bustami ketika telah Fana¶ dan mencapai Baqa¶ maka dia mengucapkan kata-kata ganjil seperti : ³ Tidak ada Tuhan melainkan aku. Maha suci aku. Dan dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud dan dalam hulul ada dua wujud yang bersatu dalam satu tubuh. Abu Yazid bertanya : ³Siapa yang engkau cari ?´ jawabnya : ³Abu Yazid´. Konsep wahdat . Maha besar aku´. Maha suci aku. c) inkarnasi suatu aksiden dalam substansinya. Selanjutnya diceritakan bahwa seorang lelaki lewat rumah Abu Yazid (al-Bustami) dan mengetok pintu. sembahlah aku. Dalam ajaran ittihad. yang dilihat hanya satu wujud meskipun sebenarnya ada dua wujud yaitu Tuhan dan manusia. Ittihad juga adalah hal yang sama yang dijadikan faham oleh al-Hallaj (lahir 224 H / 858 M) dengan fahamnya al-Hulul yang berarti penyatuan meliputi : a) penyatuan substansial antara jasad dan ruh. sehingga salah satu memanggil yang lain dengan kata-kata ³Hai Aku´ . b) penyatuan ruh dengan Tuhan dalam diri manusia. Faham sufi yang juga dekat dengan faham Ittihad ini adalah dengan faham wahdat alwujud yang diperkenalkan oleh Ibn Araby wafat tahun 638 H/ 1240 M). akan tetapi bagi orang yang keras berpegang pada agama hal ini dipandang sebagai suatu kekufuran. Lalu Abu Yazid mengatakan : ³Pergilah. Faham ittihad ini selanjutnya dapat mengambil bentuk hulul dan wahdat al-wujud. Dalam suasana seperti ini mereka merasa bersatu dengan Tuhan.Tauhid´ yaitu dengan perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai oleh sesuatu apapun . Meskipun demikian terdapat perbedaan al-Hulul dengan ittihad yaitu dalam hulul. Dalam keadaan Fana¶ si sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi sehingga ia berbicara atas nama Tuhan. Faham wahdat al-wujud ini menurut Harun Nasution adalah merupakan kelanjutan dari faham al-Hulul. Ittihad ini dipandang sebagai penyelewengan (inhiraf) bagi orang yang toleran. d) penyatuan bentuk dengan materi pertama dan e) hubungan antara suatu benda dengan tempatnya .

mahkluk-Ku ingin melihatmu. maka dapat dipahami bahwa al-Bustami dalam tasawuf tidaklah keluar dari garis-garis syari¶at. aku menjawab. Beberapa Analisa Terhadap Ungkapan-ungkapan al-Bustami Apabila dilihat sepintas. Ia berkata. tetapi gambaran Tuhan. dan Ittihad menurut kaum sufi sejalan dengan konsep pertemuan dengan Allah. maka dari ungkapan-ungkapan al-Bustami dapat dikategorikan sebagai paham yang menyimpang dari ketentuan agama seperti pernyataannya ³Aku ini adalah Allah tiada Tuhan selain aku.walaupun dia sanggup terbang di udara maka janganlahkamu tertipu. Secara harfiah al-Bustami seakan-akan mengaku sebagai Tuhan pada saat Fana¶. al-Kahfi. bukan hanya manusia sebagaimana yang dikatakan al-Hallaj . D. Fana¶ dan Baqa¶ juga dianggap merupakan jalan menuju pertemuan dengan Tuhan sesuai dengan Firman Allah SWT yang bunyinya : ³Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya. sehingga apabila mahkluk itu melihatku mereka akan berkata :³Kami tetap melihat engkau. ³Hai Abu Yazid. maka sembahlah aku´ yang telah dikemukakan diatas. aku pun berkata : Aku adalah engkau. Memang ungkapan-ungkapan al-Bustami seakan-akan beliau mengaku dirinya Tuhan. Namun kalau kita perhatikan kata-kata beliau dalam keadaan biasa (tidak dalam keadaan Fana¶) yang mengatakan ³kalau kamu lihat seseorang mempunyai keramat yang besar-besar. namun sebenarnya .S. Paham fana¶. Demikian juga dalam ungkapan Abu Yazid : ³Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah mahklukku. sebelum kamu lihat bagaimana dia mengikuti perintah syari¶at dan dan menjauhi batas-batas yang dilarang syari¶at´. hiasilah aku dengan keesaan itu. karena ia telah bersatu dengan Tuhan sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan bicara melalui lidah Abu Yazid sedang Abu Yazid tidak mengetahui dirinya Tuhan. engkau adalah aku dan aku adalah engkau . Baqa¶. maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya´ (Q. sebenarnya kata-kata ³Aku´ bukanlah sebagai gambaran dari diri Abu Yazid. 18 : 110) Hal yang lebih jelas mengenai proses Ittihad dapat pula kita simak melalui ungkapan alBustami : ³Pada suatu hari ketika saya dinaikkan ke hadirat Allah. maka yang demikian adalah engkau dan aku tidak ada disana´ .al-wujud ini memahami bahwa aspek ketuhanan ada dalam tiap mahkluk. Hal ini merupakan ilustrasi proses terjadinya Ittihad.

Semantara itu ulama yang berpegang teguh kepada syari¶at secara zhahir menuduhnya sebagai sufi kafir karena menyamakan dirinya dengan Allah dan ulama yang lain mentolerir ucapan semacam itu dianggap sebagai penyelewengan dan bukan kekafiran . . bila seorang sufi sedang Fana¶ dari hal-hal yang berkenaan dengan dirinya. bukan untuk dituturkan dan dilaksanakan. Dalam hal ini beliau menjelaskan : ³Sesungguhnya yang berbicara melalui lidahku adalah dia sementara aku telah Fana¶´. Al-Tusi mengatakan : Ucapan ganji (al-Syaht) adalah ungkapan yang ditafsirkan lidah atas limpahan intuisi dari dalam relung hatinya dan dibarengi seruan . Akan sangat berbahaya dari keyakinan seorang muslim jika menganggap kefana¶an adalah kefana¶an sifat-sifat manusia dan ia bersifatkan sifat-sifat ketuhanan.bukan itu yang dimaksudnya. Oleh sebab itu menurut al-Tusi. Al-Junaid mengatakan bahwa seorang sufi yang dalam keadaan trance tidak mengucapkan tentang dirinya sendiri tapi tentang apa yang disaksikannya yaitu Allah. Jadi sebenarnya Abu Yazid tidaklah mengaku dirinya sebagai Tuhan. Menurut pendapat yang mengatakan ketika Fana¶ hilang sifat-sifat mereka dan masuk sifat-sifat Yang Maha Benar adalah keliru. sehingga ia mengucap dalam kalam Yang Maha Benar dan bukan ucapannya sendiri dan perkataan tersebut tidak akan terucap dalam kondisi normal bahkan akan ditolak oleh dirinya sendiri . bukan berarti ia kehilangan sifat-sifat basyariahnya sebab sifat itu tidak dapat sirna dari diri manusia. Al-Junaidi menilai bahwa al-Bustami adalah termasuk para sufi yang tidak bisa mengendalikan diri serta tunduk pad intiusi sehingga tidak bisa menjadi panutan sufi lainnya. Louis Massignon menyatakan bahwa ungkapan yang muncul pada seorang sufi diluar sadarnya berarti telah Fana¶ dari dirinya sendiri serta kekal dalam zat Yang Maha Benar. Seorang sufi yang sedang trance tidak bisa mengendalikan diri sepenuhnya sehingga sulit untuk bisa mengendalikan apa yang bergejolak dalam kalbunya dan membuat seseorang mengungkapkan kata-kata yang sulit dipahami oleh pendengarnya. namun perkataanya menimbulkan berbagai tanggapan. Sebab Tuhan tidak Hulul dalam kalbu tetapi yang bertempat dalam kalbu adalah keimanan kepada-Nya. Demikian pula menurut Ibn Taimiyah bahwa seorang sufi yang trance dihapus saja. karena kata-kata itu adalah firman Tuhan yang disalurkan lewat lidah al-Bustami yang sedang dalam keadaan Fana¶al-nafs. Ia sangat terbuai sehingga tidak ada yang disaksikan kecuali Allah. karena dapat mengantar mereka kepada Hulul atau penyatuan manusia dengan Tuhan. pembenaran kepada-Nya dan pengenalan akan dia.

1. kemudian aku tahu padaNYA melalui diriNya. Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT pada surah Al-Kahfi ayat 110 diatas. Dalam memahami al-Qur¶an dan Hadits kaum sufi mengambil makna bathin yang diyakininya sebagai makna yang dimaksud oleh Allah swt. a. yakni hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. maka akupun hidup. tidaklah tepat kalau ia dituduh sebagai seorang sufi yang kafir. PEMAHAMAN SUMBER AJARAN : AL-QUR¶AN DAN HADITS. Hal ini terlihat dari kata-katanya : ³ Aku tahu Tuhan melalui diriku. Lagi pula faham Fana¶ dan Baqa¶ yang ditujukan untuk mencapai ittihad itu dapat dipandang sejalan dengan konsep liqa al-arabbi. oleh sebab itu. Karena dibalik dalil-dalil yang berupa kata-kata dan kalimat terdapat beberapa makna yang sangat dalam dan sangat halus. Faham fana dan baqa ini sebagai salah satu prasyarat seseorang dapat bersatu dengan Tuhan. 874 M) Beliau dipandang sebagai sufi pertama yang mempunyai faham fana dan baqa. Al-Rahman. (QS. Konasep Fana¶ dan Baqa¶ ini juga di ilhami dari isyarat ayat yang berbunyi : ³Semua yang ada di bumi ini adalah binasa (26) dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27)´. sehingga yang tinggal wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan. hingga aku hancur. Pemahaman Ahli Tasawuf. 55 : 26-27) Abu Yazid al-Bustomi (w. Fana yang dicari sufi adalah penghancuran diri. ia tak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Hakekat al-Qur¶an tidak hanya terbatas pada pengertian yang bersifat lahiriah saja tetapi tersirat makna bathin yang .Berdasarkan pendapat-pendapat diatas ternyata ungkapan-ungkapan al-Bustami disampaikan dalam keadaan Fana¶ dan tidak dapat dijadikan pedoman karena diucapkan dalam keadaan tidak sadar atau tidak dalam keadaan mukallaf yangb sempurna. karena selama belum dapat menghancurkan dirinya. ayat tersebut memberi isyarat bahwa Allah SWT telah memberi peluang kepada manusia untuk menemuinya.Fana¶ dan Baqa¶ merupakan jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan. bahkan karena sudah merasa terlalu dekat dengan Tuhan al-Bustami telah merasa berittihad dengan-Nya.

Para Fuqaha mengutamakan pemahaman / penafsiran al-Qur¶an dan Hadits terhadap ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum dan menetapkan hukum-hukum fiqih daripadanya. 2. a. dan menggunakan pendekatan bil al-ma¶tsur sepanjang memungkinkan. b. seperti : Al-Farabi. . Metode muqorin kadangkala mereka gunakan dalam pemahamannya terhadap al-Qur¶an dengan mengemukakan pendapat-pendapat madzhabnya. 3. Pemahaman Failosof. hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Dalam memahami al-Qur¶an mereka terikat pada asbab al-nuzul. baik amal lahir maupun amal bathin. Ibnu µAraby dan Al-Jashshash dengan bukunya Ahkam al-Qur¶an dapat mewakili bagaimana pemahaman mereka terhadap al-Qur¶an. Dan pemahaman ini dilakukan agar hikmah. AlQurthubi dengan bukunya Jami¶ ahkam al-Qur¶an . sehingga Allah akan melimpahkan ilmu Ladunni.merupakan makna yang terpenting. Al-Qur¶an dan Hadits dipahami dengan menggunakan pendekatan filosofis baik yang berusaha untuk mengadakan sintesis atau sinkretisasi antara teori filsafat dengan ayat al-Qur¶an maupun berupaya untuk menolak teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur¶an. Pemahaman Fuqaha. kaidah bahasa Arab. Fahr al-Razi. Namun mereka menyatakan. c. Pengetahuan tentang rahasia di dalam al-Qur¶an dapat diketahui oleh kaum sufi melalui ilmu isyarat dan melalui pengamalan ajaran al-Qur¶an dan Hadits. a. Karena failosof menyakini akal bersesuaian dengan wahyu. karyanya Mafatih al-Ghaib. karyanya Fusus al-Hukm. yakni ilmu yang belum pernah mereka ketahui. bahwa makna bathin tidak akan tercapai sebelum menetapkan makna lahir. c. Tokoh dan karyanya. d. b. b. Pemahaman akal melalui filsafat terhadap al-Qur¶an adalah tidak bertentangan dengan ajaran Islam.. Ta¶wil merupakan salah satu cara yang banyak ditempuh oleh failosof dalam memahami nashnash al-Qur¶an dan hakekat syara¶.

geografis dan demografis serta perkembangan ilmu dan teknologi yang secara tidak langsung telah memberikan dampak positif dan negatif yang perlu dengan segera mendapat pemecahan. . Sehingga ajaran Islam tidak dilihat sebagai sesuatu yang formalistik tetapi menjadi lebih bermakna dan mampu menangkap hikmah serta inti dari ajaran Islam itu sendiri. bahwa tarekatnya yang paling benar dan mampu membawa kepada Tuhan. perkawinan. kiranya kajian kalam akan lebih murni dan bebas fanatik. seperti lembaga peradilan. Dalam bidang hukum yang telah memunculkan berbagai pranata sosial. Model kajian filsafat seperti M. Dalam Bidang Filsafat mengakibatkan tumbuhnya sikap kritis di kalangan ummat Islam dan pemahaman yang seksama terhadap ajaran Islam. Dan kiranya kajian filsafat tidak terjebak pada kajian sejarah filsafat dan perlu diperkenalkan sejak SLTA. Hanya saja sikap pro dan kontra terhadap filsafat sebagaimana terjadi pada masa lampau hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana. budaya dan politik. wakaf. yang telah melahirkan banyak aliran telah menjerumuskan kita pada kajian masa lalu yang banyak dipengaruhi oleh politik dan fanatisme. sehingga filsafat Islam mempunyai bentuknya yang utuh.Amin Abdullah. tetapi dapat dijadikan sebagai khazanah ummat Islam dalam upayanya untuk selalu ingin sedekat mungkin dengan Tuhan. walaupun kajian kritis. Kajian sejarah aliran dan perbandingannya juga dapat dijadikan salah satu tangga untuk mencapai kesempurnaan dengan dapat disimpulkannya kelebihan dan kekurangan masingmasing aliran. baik pada obyek materialnya maupun pada objek formalnya. mana yang mu¶tabar dan tidak perlu terus dikembangkan agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang bersifat penalaran atau pengamalan tanpa dasar syari¶at. Ahmad Fu¶ad al-Ahwani. 2. Harun Nasution. 3. 4. Otto Horrasowitz. Dalam bidang tasawuf yang telah melahirkan tarekat sebagai organisasi sufi hendaknya tidak membawa ummat kepada saling mengklaim. Majid Fakhry. Dalam bidang kalam. sehingga filsafat ditempatkan pada proporsi yang benar sebagai pisau analisa ajaran Islam.Praja perlu terus dikembangkan. Masa kini dan masa mendatang dengan telah dipahaminya metode berpikir setiap aliran. negara dan mu¶amalah perlu terus dikembangkan karena melihat sifat dari hukum atau fiqih itu yang terikat oleh situasi dan kondisi sosialkemasyarakatan. Kajian kalam yang telah dilaksanakan oleh ulama dulu dapat dijadikan model untuk kajian mendatang. dan Juhaya S.AKIBAT-AKIBAT DAN PREDIKSI PEMIKIRAN ISLAM 1. Sehingga harapan Islam yang satu. ummat yang satu dan tercapai.

metode dan corak penafsiran. Metode Maudhu¶iy perlu terus dikembangkan. juga mampu memecahkan persoalan kehidupan dengan sinar al-Qur¶an.5. . telah melahirkan berbagai macam pendekatan. karena untuk saat ini dapat disebut sebagai metode yang mampu menangkap pesan Allah yang ada dalam al-Qur¶an. Dalam bidang pemahaman al-Qur¶an dan Hadits. terbebas dari pandangan aliran dan madzhab serta pembahasan yang berteletele.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful