P

JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

emberdayaan Komunita

S

ISSN 1412-6133 Volume 5, Nomor 2, Mei 2006 Hal. 117 – 231

DAFTAR ISI
Matias Siagian Ratih Utamaningsih & Hayaruddin Siagian Fahru Izhar & Edward Fronner M. D. S. Mulatua P. Silalahi Mai Yusra & Hairani Siregar Erika Revida Tuti Atika Masalah Ketenagakerjaan dan Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional...........................……………………. Implementasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Keluarga Karyawan PT Asam Jawa Medan.........…………………………..………................... Analisis Tingkat Kesejahteraan Pensiunan pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan.....……. Tinjauan Implementasi Hak Normatif dan Kesejahteraan Karyawan PT H. M. Sampoerna Sales Division Batam............ Pendidikan dan Pelatihan Entrepreneurship sebagai Alternatif Pembukaan Lapangan Kerja Seluas-luasnya.......... Program Pemberdayaan Anak Jalanan oleh Yayasan AKMI Medan...................................................................... Sistem Kekerabatan Masyarakat Suku Batak Toba Sumatera Utara........................................................…….... Pekerja Anak dan Kontribusinya dalam Ekonomi Rumah Tangga...........................................……….…….................

117 – 131

132 – 150 151 – 167 168 – 181 182 – 185 186 – 212 213 – 218 219 – 231

PK (JIKS)

Vol. 5

No. 2

Hal. 117 – 231

Medan, Mei 2006

ISSN 1412-6133

2

MASALAH KETENAGAKERJAAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL
Matias Siagian Abstract
The unemployment problem in Indonesia is the product of two contradictory conditions. The first, natural resources counted the widespread land and sea. The second, field of work is limited and it is not proportional to the employee which always grow very fast. This bad condition is very sad, especially know there are many islands in Indonesia still virgin and have not touched. The unemployment problem as macro problem and the root or source of many social problems in Indonesia is not only as a contribution of the small investation but also caused of unsuitability of competency and skill of employee to qualification demanded by employee user institutions. So Indonesia need the new education development policy. Keywords: education policy, unemployment, life skill

Pendahuluan
Masalah pengangguran merupakan masalah makro ketenagakerjaan. Selanjutnya masalah pengangguran berubah wujud sehingga bukan lagi sekadar masalah, melainkan menjadi akar permasalahan. Sebagai suatu akar permasalahan, maka pengangguran akan mengakibatkan kemiskinan, peningkatan angka kriminalitas seperti pencurian, perampokan, penodongan, bahkan pelacuran. Di samping itu pengangguran yang dialami orang tua dalam suatu keluarga sangat rentan terhadap terjunnya anak ke dunia kerja. Di Jawa Tengah saja, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) mencatat terdapat 10.477 orang anak dipekerjakan. Secara nasional, jumlah anak yang dipekerjakan bahkan mencapai setengah juta orang (Kompas, 19 September 2006: 24). Dari berbagai tayangan di televisi tentang demikian tragisnya nasib tenaga kerja Indonesia di luar negeri pada umumnya dan tenaga kerja wanita Indonesia pada khususnya terdeteksi bahwa kepergian mereka ke berbagai negara bukan merupakan pilihan utama, apalagi citacita, melainkan merupakan keterpaksaan. Pada umumnya mereka berasal dari daerah pedesaan.

Bekerja di negara lain merupakan jalan keluar terhadap permasalahan ketidakseimbangan antara luas lahan di pedesaan dengan penduduk di sana. Hal ini merupakan konsekuensi logis di mana sektor pertanian masih berada di urutan pertama penyerapan tenaga kerja di pedesaan. (Simanjuntak, 1994: 43). Pada tahun 2004 penulis dengan beberapa orang dosen FISIP USU berkunjung ke Malaysia. Selain mengunjungi beberapa Perguruan Tinggi di negeri jiran yang memang mengalami kemajuan yang teramat cepat dalam pendidikan, kami juga berkunjung ke KBRI di Kuala Lumpur. Di sana, selain melakukan seminar kecil dengan beberapa pejabat tinggi KBRI, tidak lupa kami juga mengunjungi tempat penampungan TKI bermasalah yang memang tempatnya di bagian belakang kompleks KBRI. Salah seorang TKI bermasalah dan terangkat ke permukaan melalui berbagai media adalah Nirmala Bonat. TKI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini mengalami penganiayaan yang luar biasa, terutama dari majikan perempuannya di Malaysia. Melalui perbincangan dan menyaksikan sendiri, diketahui bahwa di sekujur tubuh Nirmala, termasuk di dada dan punggungnya terdapat

Matias Siagian adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU

Koleksi BPAD Prov SU

117

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 117-131

luka bakar akibat disetrika dan mendapat siraman air panas dari majikan. Selain itu, di bagian kepalanya juga terdapat luka dan memar. Nirmala hanyalah salah seorang dari ribuan orang yang mengalami penderitaan di negeri orang. Harus diakui bahwa kisah TKI yang mendapat siksaan, dianiaya, diperkosa, ditipu, tidak dibayar gajinya, terjun dari gedung tinggi, hingga meninggal tanpa diketahui pasti penyebabnya sejak dahulu merupakan langganan berita yang ditayangkan di berbagai media massa. Berbagai pihak menunjuk keberadaan PJTKI nakal sebagai biang keladinya, di mana mereka tidak bertanggung jawab dan hanya mencari keuntungan (Kompas, 27 Juni 2004: 23). Terlepas dari tidak bertanggung jawabnya PJTKI dan tidak manusiawinya banyak majikan di negeri orang, terdapat suatu hal yang harus kita sadari sebagai suatu akar permasalahan, yakni ketidakseimbangan antara supply dan demand tenaga kerja nyata-nyata mengakibatkan tenaga kerja Indonesia, baik yang bekerja di dalam negeri maupun yang bekerja di luar negeri merupakan akar permasalahan dari masalah ketenagakerjaan sebagai suatu masalah besar dan kompleks di Indonesia. Kajian ilmiah tentang penyelesaian masalah menyatakan bahwa suatu masalah hanya dapat dipecahkan secara tuntas jika penyelesaian masalah itu menyentuh substansinya. Substansi sebuah masalah adalah “akar permasalahan” itu (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas, 2004: 31). Jika kita hanya menyelesaikan masalah, berarti penyelesaian masalah yang sama tidak akan pernah tuntas, bahkan akan terjadi akumulasi masalah di masa mendatang, karena kita hanya akan menyelesaikan masalah lama, sedangkan masalah yang baru datang terus, sehingga terjadi peningkatan jumlah masalah, karena pertumbuhan masalah selalu lebih tinggi dari penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dalam penyelesaian masalah tersebut. Oleh karena itu upaya penyelesaian masalah ketenagakerjaan di Indonesia harus menyentuh substansinya, yakni pengangguran. Selagi ada ketidakseimbangan antara penawaran dengan permintaan tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, maka para pekerja tidak akan memiliki bargaining power terhadap majikan. Akibatnya, majikan, baik dalam bentuk
118

keluarga maupun perusahaan akan selalu bebas melakukan apa saja terhadap para pekerja.

Konsep-Konsep Ketenagakerjaan
Sebelum kita memasuki wilayah masalah ketenagakerjaan di Indonesia, ada baiknya jika kita memahami terlebih dahulu tentang konsepkonsep yang ada dalam “ketenagakerjaan”, yang tergolong konsep-konsep makro dan umum. Bagaimanapun, dalam upaya melakukan pengukuran besarnya angkatan kerja, angka pengangguran, kesempatan kerja, maupun aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan konsep makro ketenagakerjaan, maka masalah konsep dan definisi yang dipakai perlu dipahami, karena terdapat peluang bagi perbedaan konsep dan definisi yang dianut atau dipakai di mana hal tersebut akan mengakibatkan perbedaan makna sebagai konsekuensi logis dari konsep-konsep yang berbeda tersebut. Referensi “waktu” yang dipakai untuk menilai apakah seseorang bekerja atau sedang mencari pekerjaan misalnya, akan mempengaruhi besarnya angka angkatan kerja dan reit partisipasi angkatan kerja, reit pengangguran, dan perimbangan antarsektor dari penduduk yang tergolong angkatan kerja. Angkatan kerja (labour force) merupakan konsep yang menunjukkan economically active population. Sebaliknya, yang bukan angkatan kerja adalah mereka yang tergolong noneconomically active population. Konsep man power juga menunjuk pada labour force. Konsep ini berbeda dengan konsep penduduk usia kerja, karena tidak semua penduduk usia kerja tergolong dalam konsep angkatan kerja. Penetapan usia kerja sendiri tidak lepas dari masalah-masalah, antara lain umpamanya di suatu masyarakat banyak anak yang tidak tergolong ke dalam usia kerja tetapi kenyataannya bekerja. Sebagai contoh terjunnya anak usia sekolah ke dunia kerja justru disebabkan oleh pengangguran orang tua, dengan tujuan untuk membantu keluarga. Sementara mungkin banyak orang yang tergolong usia pensiun, akan tetapi masih bekerja. Dalam perkembangan terminologi ketenagakerjaan di Indonesia antara lain istilah buruh yang diupayakan diganti dengan istilah pekerja. Hal ini sebagaimana diusulkan oleh

Koleksi BPAD Prov SU

Siagian, Masalah Ketenagakejaan...

Pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja pada saat Kongres Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) Ke-2 Tahun 1985. Alasan Pemerintah menggunakan istilah pekerja dan meninggalkan istilah buruh adalah karena istilah buruh dianggap kurang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Istilah buruh lebih cenderung menunjuk pada golongan yang selalu ditekan dan berada di bawah pihak lain, yakni majikan. Perubahan istilah ini memang sangat logis, namun jika perubahan istilah tersebut tidak diikuti dengan perubahan nasib, kebijakan, dan keberpihakan pemerintah terhadap buruh, maka perubahan istilah tersebut sesunguhnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Pada Ayat (1) Pasal 3 Undang-Undang No. 25 tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa “pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja di luar maupun di dalam hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah”. Dari pengertian pekerja tersebut jelaslah bahwa hanya angkatan kerja yang sudah bekerja yang dapat disebut sebagai pekerja. Di sisi lain, untuk jaminan kecelakaan kerja dalam perlindungan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) berdasarkan UndangUndang No. 3 Tahun 1992, maka pengertian “pekerja” diperluas, sehingga di dalamnya termasuk: 1) Magang dan murid yang bekerja pada perusahaan, baik yang menerima upah maupun yang tidak; 2) Mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah perusahaan; 3) Nara pidana yang dipekerjakan di Perusahaan (Husni, 2001: 23) Reit Partisipasi Angkatan Kerja dapat dinyatakan sebagai jumlah penduduk yang tergolong angkatan kerja per 100 penduduk usia kerja. Dalam hal ini, usia kerja dapat didefinisikan sebagai penduduk yang berusia 10 – 64 tahun. Selanjutnya Reit Partisipasi Angkatan Kerja dapat juga dihitung untuk tiap golongan umur dan jenis kelamin. Misalnya, untuk penduduk laki-laki, golongan umur 15 – 19 tahun. Di era modern, Reit Partisipasi Angkatan Kerja umumnya rendah pada usia muda dan tua. Masalahnya, sesuai dengan hak-hak anak, maka sebagian mereka yang berusia muda masih bersekolah, sementara sebagian mereka yang

berusia tua tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Biasanya Reit Partisipasi Angkatan Kerja untuk penduduk perempuan lebih rendah dari penduduk laki-laki. Hal ini terlihat dari hasil Sensus Penduduk 2001. Dengan demikian dapatlah kita ketahui bahwa Reit Partisipasi Angkatan Kerja merupakan hasil perbandingan antara angkatan kerja dengan penduduk usia kerja. Sebaliknya Reit Pengangguran hanya mempersoalkan komponen-komponen angkatan kerja, yaitu yang bekerja dan yang sedang mencari pekerjaan. Reit Pengangguran dapat didefinisikan sebagai jumlah penganggur per 100 orang yang tergolong angkatan kerja. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk, dapat diketahui jumlah penduduk yang bekerja biasanya dipandang sebagai fenomena yang mencerminkan jumlah kesempatan kerja yang ada. Dalam pengertian ini maka “kesempatan kerja” bukanlah “lapangan pekerjaan yang masih terbuka”, walaupun komponen yang terakhir ini akan menambah kesempatan kerja yang ada di masa mendatang. Memang dalam suatu waktu “lapangan pekerjaan yang masih terbuka” cukup banyak, sementara jumlah pencari kerja (penganggur) banyak pula. Hal ini dapat terjadi karena kurang baiknya distribusi “lapangan pekerjaan yang masih terbuka” yang mana hal seperti ini bertalian pada penyebaran penduduk yang tidak merata, atau karena alasan yang justru dominan saat ini, di mana keterampilan yang dituntut oleh pengguna angkatan kerja justru tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki para penganggur atau para pencari pekerjaan. Pada kenyataannya tidak semua negara melalui pemerintah mampu menyediakan kesempatan kerja atau lapangan kerja bagi semua angkatan kerja yang ada di negara tersebut. Akibatnya, migrasi tenaga kerja dari satu negara ke negara lain menjadi alternatif menarik. Di era perdagangan bebas ini tentu terjadi tingkat kebebasan yang lebih nyata yang didukung oleh sarana dan prasarana transformasi, komunikasi, dan informasi yang makin lancar dan canggih. Dengan demikian, migrasi tenaga kerja Indonesia, misalnya terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan dalam rangka memperoleh kesempatan di bidang ekonomi pada umumnya dan pekerjaan pada khususnya. Sebagai respons masyarakat terhadap sulit bahkan tertutupnya memperoleh
119

Koleksi BPAD Prov SU

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 117-131

pekerjaan di dalam negeri, maka banyak di antara angkatan kerja menyadari tekanan yang nyata, sehingga melakukan migrasi ke negara yang menjanjikan adanya kesempatan kerja bagi mereka dengan kesejahteraan yang baik pula. Pada umumnya migrasi tenaga kerja diawali dengan migrasi intern negara, dalam arti perpindahan angkatan kerja dari suatu daerah ke daerah yang kelebihan tenaga kerja dan berpenghasilan rendah menuju daerah yang kekurangan tenaga kerja dan dapat menawarkan upah yang lebih tinggi dari daerah asal (Bandiono, dalam Arief, 1999: 8). Dalam arti luas, migrasi adalah perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen. Dalam hal ini tidak ada pembatasan, baik pada jarak perpindahan maupun sifatnya, yakni apakah tindakan itu bersifat suka rela atau terpaksa. Juga tidak diadakan perbedaan antara migrasi dalam negeri dan migrasi ke luar negeri. Stahl membedakan manfaat migrasi internasional pada tingkat negara dan perusahaan pemakai tenaga kerja. Pada tingkat negara, migrasi internasional berpotensi untuk: 1) mengurangi pengangguran negara pengirim jasa tenaga kerja; 2) sumber devisa bagi negara pengirim tenaga kerja; 3) meningkatkan keterampilan bagi tenaga kerja, karena di samping memperoleh upah tentu juga memperoleh pengalaman kerja yang akan menjadikan mereka lebih terampil; 4) memperbaiki kesejahteraan material melalui peningkatan pendapatan per kapita. Sementara jika kita lakukan analisis yang sama di tingkat perusahaan, maka pekerja asing memungkinkan: 1) perusahaan merealisasi economics of scale, hal ini merupakan akibat kurangnya tenaga kerja di negara tempat di mana perusahaan itu berada atau kurangnya tenaga kerja terampil sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan yang bersumber dari angkatan kerja negara di mana perusahaan itu berada; 2) mencegah inflasi upah pada industri-industri yang mengalami kekurangan tenaga kerja, hal ini merupakan konsekuensi logis di mana jika permintaan tenaga kerja lebih besar dari penawaran tenaga kerja akan mengakibatkan peningkatan bargaining power bagi tenaga kerja sehingga mereka akan menuntut peningkatan upah; 3) memungkinkan investasi dengan menjamin bahwa suatu fasilitas dapat dijalankan oleh staf yang memadai, hal ini merupakan tuntutan kualifikasi spesifik tenaga kerja yang
120

dibutuhkan oleh suatu perusahaan dalam proses produksi barang maupun jasa; 4) memungkinkan negara-negara untuk menyesuaikan suplai tenaga kerja sesuai dengan dinamika kegiatan ekonomi, hal ini merupakan dampak dari fakta di mana pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan pertumbuhan investasi tidak selalu sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja di negara tersebut; dan 5) menyediakan labor services tanpa membiayai pembentukan human capital yang diperlukan, hal ini merupakan akibat kedatangan tenaga kerja terampil yang berasal dari negara lain, sehingga negara tersebut tidak perlu melakukan upaya besar untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja yang ada di negaranya.

Permasalahan Tenaga Kerja
Krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak akhir tahun 1997 melahirkan akibat negatif terhadap perekonomian nasional pada umumnya dan kesempatan kerja pada khususnya. Di samping itu dalam jangka panjang Indonesia mengalami instabilitas dalam bidang ekonomi. Kondisi negatif ini antara lain dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang defisit sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto. Kondisi mana menuntut Indonesia harus mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang minimal mencapai 6 persen. Hal ini merupakan tuntutan, di mana pertumbuhan ekonomi merupakan satu-satunya jawaban terhadap pengangguran yang angkanya makin membengkak, dan juga pertumbuhan angkatan kerja Indonesia yang tetap tinggi. Indonesia dituntut mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar dapat menyerap tenaga kerja yang sebesar-besarnya. Sebelum Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berlanjut pada krisis multidimensi, pengangguran sudah merupakan masalah besar nasional. Namun krisis ekonomi yang melanda Indonesia justru mengakibatkan masalah pengangguran tersebut makin parah. Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2003 misalnya hanya 3,3 persen, sementara setiap satu persen PDB hanya mampu menyerap 400 ribu tenaga kerja. Dengan demikian maka pada tahun 2003 tenaga kerja yang terserap hanya sekitar 1,6 juta orang. Padahal setiap tahun pertumbuhan angkatan kerja Indonesia mencapai 3 persen. Tingginya jumlah

Koleksi BPAD Prov SU

45 persen dari angkatan kerja yang ada.Siagian. Persewaan Jasa Kemasyarakatan Lainnya Jumlah Sumber: BPS. Di sisi lain.641. pemerintah sepertinya belum memiliki political will yang baik bagi para petani.497. Tahun 2004 angkatan kerja akan mencapai 102.83 juta orang.730 Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui bahwa sektor pertanian merupakan jumlah paling dominan. Suara Merdeka.83 juta orang. dan lain-lain.005 4. yang berarti bahwa semua departemen dan kementerian semestinyalah ikut bertanggung jawab untuk mengurangi jumlah pengangguran (Waspada.19 juta orang atau 10. Kondisi seperti ini terjadi karena pada umumnya penduduk usia kerja hanya memiliki kemampuan untuk bekerja di sektor pertanian.. sehingga lapangan kerja yang tercipta hanya untuk 1. yang rata-rata 3% per tahun. mencapai 40 juta orang lebih atau sekitar 45. “solidaritas”.837.560 89. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2004 dan 2005 masing-masing 4. Peningkatan angka pengangguran terbuka ini terus berlanjut hingga tahun 2005.756 3. Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2000. masalah pengangguran tak kentara di sektor pertanian sudah makin tinggi. Di sisi lain terjadi pertumbuhan angkatan kerja. di mana sektor ini tidak menuntut kualifikasi yang ketat dibandingkan dengan sektor lain. karena tidak akan tersedianya lapangan kerja yang cukup untuk angkatan kerja yang ada. pengangguran ini merupakan masalah lintas sektoral.009 522.574.498. Tabel 1. sektor pertanian masih tetap dominan dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Masalah Ketenagakejaan. sarana olah raga seperti lapangan golf. perkantoran. Kondisi mana tentu sangat kontradiktif dengan fakta yang ada di mana lahan yang tersedia justru menurun luasnya sebagai akibat dari pembangunan perumahan. bahwa dalam lima tahun ke depan gambaran soal angka pengangguran di Indonesia masih menunjukkan kondisi yang sangat suram. seperti sektor industri dan jasa. 12 Januari 2004). Disebut sangat suram. Hotel/ Restoran Angkutan.3 % dari jumlah tenaga kerja yang bekerja hampir 90 juta orang.. termasuk di dalamnya angkatan kerja baru berjumlah 2.32 persen dari angkatan kerja yang ada.88 juta orang.10 juta orang. Hal ini terjadi.676.75 juta orang (Djimanto.232 18. Kondisi ini menimbulkan proses pembagian kemiskinan di antara orang-orang miskin demi menjunjung tinggi satu semboyan. Bahkan kondisi di atas juga bertentangan dengan kondisi nyata saat ini. atau mencapai 10. Distribusi Pekerja Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2000 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Perdagangan. sehingga mengakibatkan angka pengangguran terbuka tahun 2004 meningkat manjadi 10. di mana angka pengangguran mencapai 11.855 882. Dominannya sektor pertanian dalam menampung tenaga kerja sebenarnya bukanlah karena sektor pertanian ini masih memiliki pesona bagi penduduk.713 11. sepakbola. ada baiknya kita ketahui distribusi tenaga kerja berdasarkan sektor di mana dia bekerja. Akibatnya. 29 April 2003: 12).553. di mana terjadi arus urbanisasi yang sangat tinggi. Sakernas 2000 Jumlah 40. Untuk membuka cakrawala kita terhadap permasalahan tenaga kerja ini. Unjuk rasa petani dan organisasi yang memberi perhatian pada nasib petani merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa sesunguhnya rasio lahan dengan jumlah penduduk di daerah pedesaan sudah makin mengkhawatirkan. Tambahan lapangan kerja yang tercipta hanya 10. Di bawah ini data jumlah pekerja menurut sektor ekonomi tahun 2000. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) misalnya memperkirakan. Asuransi.600 9. Hal ini berarti bahwa penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru.03 persen. karena seringnya kebijakan 121 Koleksi BPAD Prov SU .49 persen dan 5. Komunikasi Keuangan.

Nomor 2. terutama tenaga kerja wanita ke desa-desa yang dianggap minim informasi. Penyelesaian kasus PHK dan PHI dilakukan melalui Lembaga Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah (P4D) Sumatera Utara. Dengan demikian pidato para pejabat yang sering mengesankan sesungguhnya hanya lipstik politik yang tidak berdampak apapun bagi petani. Sementara itu tuntutan nonnormatif yang muncul dan terdeteksi tahun 2003 secara umum telah dapat diselesaikan secara tripatrit di tingkat perantaraan oleh pegawai perantara Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Mei 2006. dan bantuan uang transport. maka pengangguran dapat merugikan diri sendiri dan keluarga. kebijakan pupuk yang justru sering mencekik leher para petani. Pengusaha. sebagai bukti bahwa pemerintah belum berpihak pada petani yang justru merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Para calo ini mengiming-imingi gaji yang tinggi sebagai perbedaan utama antara bekerja di negara lain dengan bekerja di negeri sendiri. Volume 5. Jumlah kasus Pemutusan Hubungan Kerja selama 2003 meningkat sekitar 4. Halaman 117-131 pemerintah tidak sesuai dengan kepentingan para petani. seperti bantuan uang makan. Sedangkan tahun sebelumnya sebanyak 3. kebijakan impor beras. Di samping itu seringnya KUD hanya berupa plang nama.806 kasus. sebelum akhirnya ia dipecat dan menjadi pengangguran. dan Serikat Pekerja atau Serikat Buruh (SIB. Fakta mana mengundang berbagai pihak untuk memanfaatkan kondisi buruk perekonomian Indonesia untuk kepentingan diri sendiri. dan juga tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusiaan lainnya. Diperkirakan 90 persen angka kejahatan atau tindakan kriminal dilakukan oleh para penganggur. Dilihat dari segi sosial. Di samping itu. selama 2004 telah menyelesaikan 508 kasus Pemutusan Hubungan Kerja. sehingga tidak dapat lagi mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya jika akan bekerja. Menurut data di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Para calo tenaga kerja ini mengutamakan tenaga kerja yang minus keterampilan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merupakan fenomena yang sering terjadi sejak Indonesia mengalami krisis multidimensi.127 tenaga kerja. Hal ini antara lain terlihat dari. Pengangguran dalam jangka waktu yang lama juga akan mengakibatkan keterampilan kerja yag dimiliki seseorang lama kelamaan akan berkurang atau bahkan hilang. Pihak yang sering memanfaatkan kondisi tersebut adalah para calo tenaga kerja ke luar negeri yang berlomba-lomba merekrut calon tenaga kerja. sehingga berpeluang untuk diisi dengan kegiatan yang negatif. Pengangguran yang tinggi akan mengakibatkan timbulnya berbagai masalah sosial dan ekonomi. yang meliputi 101. Jika dilihat dari sisi ekonomi. Tindakan kriminal tersebut antara lain pemerkosaan. Artinya. pengrusakan. pencurian. pembunuhan. Sebagai contoh.421 tenaga kerja. Ketidakseimbangan antara luas lahan pertanian dengan penduduk di daerah pedesaan menjadikan informasi dari para calo TKI sebagai berita yang sangat menarik. Dalam hal ini terjadi kenaikan sebesar 18 persen kasus PHK dan 34 persen pada jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam kasus tersebut. si penganggur akan menjadi tanggungan dari anggota keluarga yang bekerja (angka ketergantungan) dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. pengangguran dapat menimbulkan dampak negatif. 3 Mei 2003: 9).486 kasus. Karena Koleksi BPAD Prov SU . yang meliputi 135. di mana mereka akan ditempatkan sebagai PRT. Buruknya rasio antara angkatan kerja dan lapangan kerja mengakibatkan mencari pekerjaan ke negara lain merupakan alternatif yang mau tidak mau harus ditempuh. yang terdiri dari unsur Pemerintah. Pemutusan Hubungan Kerja tentu akan menambah jumlah atau angka pengangguran di 122 Indonesia. karena kegiatannya tidak ada sehingga memiliki waktu senggang yang sangat lama. kepercayaan diri si penganggur akan hilang dan akan timbul rasa malas dan pesimis untuk mencari pekerjaan lagi (Sukirno. yang tidak melaporkan diri ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pemutusan Hubungan Kerja tersebut melibatkan 756 tenaga kerja serta 12 kasus merupakan Perselisihan Hubungan Industrial (PHI). Jumlah tersebut tentu belum termasuk pada kasus dan jumlah pekerja yang ter-PHK. pemerintah belum memiliki sikap yang benar-benar konsekuen dalam menampung produk pertanian dengan tingkat harga yang menjamin kesejahteraan petani itu sendiri.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. meskipun dengan risiko yang amat berat. dengan tidak memperhatikan nasib orang lain. 1991: 173). Tindakantindakan kriminal ini dilakukan oleh para penganggur. dengan tuntutan yang bersifat nonnormatif. Hal ini tentu sangat meresahkan masyarakat.

Permasalahan lain yang sering terjadi bahwa TKI ternyata ditipu oleh calo tenaga kerja yang sering gentayangan di desa-desa. maka calo TKI melakukan penipuan. karena saat melakukan prospek. Mini mnya pengetahuan tentang visa ini juga merupakan indikator rendahnya pengetahuan TKI. calon TKI menyatakan ingin bekerja di sektor industri.. menurut perjanjian. desakan ekonomi maka pencari kerja wanita mau saja menerima t a w a r a n p a r a c a l o T K I . Misalnya. Dalam kondisi seperti ini maka upah yang diterima masih berada di bawah upah tenaga kerja asing yang berasal dari negara lain. namun kenyataannya mereka justru ditempatkan di rumah penduduk di negeri jiran sebagai PRT. misalnya mereka berangkat dengan menggunakan visa kunjungan. ternyata sesampai di negara tempat bekerja.” Jika perbedaan yang ada hanya dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya atau dari sektor industri ke sektor informal seperti menjadi PRT tidak apalah. Misalnya. Kemampuan para calo dalam memikat calon TKI justru tidak diimbangi dengan profesionalisme mereka dalam mengelola pengiriman jasa TKI. t a n p a mempertimbangkan risiko yang ada. Hal ini terjadi karena kualitas yang dimiliki jauh di bawah kualitas yang dibutuhkan sektor formal dan pekerjaan yang menuntut keterampilan. kualitas TKI masih berada di bawah kualitas tenaga kerja yang berasal dari negara lain. Dirinya masuk ke dalam jebakan sindikat penjualan manusia untuk diterjunkan ke dunia maksiat. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Era Kabinet Gotong Royong. Permasalahan lain yang sering menimpa TKI di negara lain adalah banyaknya TKI yang berstatus ilegal.. Mereka tertipu tentang jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Namun agar calon TKI mau diberangkatkan. mereka yang berstatus ibu rumah tangga dan memiliki suami juga terpaksa tergiur dengan tingkat gaji yang dijanjikan para calo TKI. seperti PRT atau menjadi buruh perkebunan atau buruh bangunan. Ketidakprofesionalan PJTKI sangat merugikan TKI. Contoh. Namun masih banyak TKI yang mengalami nasib yang sangat tragis atau jauh lebih buruk lagi. Setidaknya dari sekitar 412 Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang ada hanya sekitar 20% yang dinilai profesional. khususnya dalam penempatan TKI ke luar negeri.com). tidak dilakukan secara profesional sebagaimana mestinya. Calon TKI yang seharusnya dibekali dengan pelatihan yang memadai sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dilakoni ternyata tidak dilakukan. Akibat tidak profesionalnya PJTKI pada umumnya TKI di negara lain bekerja di sektor informal. meskipun sesungguhnya hal semacam ini sudah merupakan masalah yang cukup besar. Hal ini antara lain terjadi karena TKI yang umumnya direkrut dari pedesaan tidak memiliki pengetahuan tentang visa. Hal ini sengaja dilakukan. Di samping itu kendala bahasa juga tidak mendapat perhatian atau diabaikan sama sekali sehingga sering terjadi permasalahan dari segi bahasa antara TKI dengan majikan. bahkan mereka dipaksa menjadi pekerja seks komersial. mereka akan ditempatkan bekerja di Perusahaan A. sebelumnya para calo TKI menjanjikan akan menempatkan mereka di sebuah perusahaan elektronik. atau jika dilakukan hanya sekedar. bukan sebagai PRT. karena potensi permasalahan tergolong sangat tinggi. Kondisi ini justru dimanfaatkan para calo TKI. mereka justru ditempatkan di Perusahaan B. dengan tujuan: “pokoknya calon TKI mau berangkat ke negeri jiran. Atau mereka dijanjikan akan bekerja di sebuah pabrik elektronik. karena mereka juga akan mendapat bagian dari majikan atau perusahaan tempat di mana TKI tersebut nantinya bekerja.Siagian. ternyata mereka dipaksa bekerja di sektor hiburan. Padahal biaya untuk pelatihan sudah dikeluarkan oleh para TKI itu sendiri. bukan visa untuk bekerja. Hasil survei yang dilakukan suatu lembaga internasional terhadap kualitas tenaga kerja yang berasal dari 12 negara di Asia menunjukkan bahwa kualitas tenaga kerja asal Indonesia menempati urutan terbawah. Hal ini antara lain pernah dialami seorang wanita muda yang justru memiliki pendidikan akademi atau perguruan tinggi. Hal ini antara lain disebabkan ketidaksesuaian visa. Hingga keberangkatannya. mereka ternyata tidak dilatih sama sekali oleh PJTKI. Masalah Ketenagakejaan. Mereka h a n y a ditampung untuk kemudian 123 Koleksi BPAD Prov SU . Dengan kata lain. (www. Mukminah adalah salah seorang di antara 10 orang TKI yang sudah berada di Bandara Internasional Dubai selama dua hari.jurnalindonesia. Jacob Nuwa Wea menemukan 10 TKI wanita yang ditempatkan secara ilegal oleh PJTKI yang justru memiliki Surat Ijin Usaha Penempatan resmi.

com) Dengan status tenaga kerja ilegal jelas mengakibatkan nilai tawar TKI terhadap majikan atau perusahaan mereka bekerja sangat rendah. Masa kanak-kanak seharusnya digunakan untuk bermain dan sekolah sehingga suatu ketika dapat melakukan aktivitas ekonomi. 7) pemerasan serta kekerasan pascapenempatan. Taiwan. 2) pemalsuan dokumen. sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. pendidikan dan pengetahuan yang sangat rendah. seperti: 1) rendahnya kualitas sistem pelatihan yang diterapkan PJTKI. Ketujuh masalah ini merupakan faktor penghambat bagi pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam menjadikan program penempatan TKI sebagai industri tenaga kerja yang modern. Misalnya. Dewasa ini jutaan anak-anak terlibat dalam berbagai jenis pekerjaan. Harus diakui. terutama di Indonesia. pekerja anak merupakan fenomena yang sangat mudah untuk ditemukan di negara-negara berkembang. upah yang mereka terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan sebelum berangkat. Singapura. jika tidak dikatakan nol sama sekali. Di samping itu. Hal ini terbukti dengan banyaknya kasus yang menimpa mereka. Anehnya tidak ada laporan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi maupun ke KBRI di Dubai perihal pemberangkatan TKI ini. khususnya negara-negara sedang berkembang. Hongkong. tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pengguna atau pemberi pekerjaan tidak dapat terpantau. (Wea. Hal ini diakibatkan karena PJTKI hanya berorientasi 124 pada kuantitas pengiriman yang mana hal ini berkorelasi positif dengan keuntungan yang mereka peroleh. perlindungan hukum terhadap mereka tidak mungkin dilakukan karena memang keberadaan mereka tidak terpantau. Pada umumnya PJTKI menyadari perlunya program perlindungan bagi TKI setelah tenaga kerja yang mereka kirim terkait dengan masalah di negara tempat mereka bekerja. baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. 31 Januari 2003). Akibatnya. seperti di Arab Saudi. Ada juga PJTKI yang baru menyadari perlunya perlindungan tersebut setelah perusahaan mereka mendapat teguran dari pemerintah. mengakibatkan mereka mendapat p e n o l a k a n dari m a j i k a n . Mereka yang seharusnya berada di bangku sekolah terpaksa harus meninggalkan sekolah dan akhirnya terlibat dalam bekerja. Artinya. Kondisi perekonomian Indonesia yang tidak kunjung baik secara signifikan mengakibatkan Koleksi BPAD Prov SU . atau bahkan setelah perusahaan mereka mendapat sanksi dari pemerintah.. anak jalanan. Mei 2006. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir. 4) penempatan yang ilegal. di sektor formal (anak yang bekerja di pabrik) maupun sektor informal (anak bekerja tidak dalam struktur atau hubungan proses produksi di pabrik). 5) minimnya perlindungan hukum yang dilakukan negara melalui KBRI. Hal ini juga akan berdampak negatif jika TKI ilegal tersebut mengalami nasib atau perlakuan yang tidak wajar dari majikan. Masalah keterlibatan anak bekerja merupakan fenomena global di berbagai negara. bahwa kondisi yang sangat tidak layak yang harus dihadapi oleh anak-anak Indonesia merupakan fakta yang menyedihkan. et al. Namun fakta menyatakan demikian banyaknya anakanak yang tidak dapat menikmati masa kanakkanak secara ideal sebagaimana dirumuskan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. masa kanakkanak seharusnya digunakan untuk memperoleh perlindungan dan belaian kasih sayang oleh orang tua. Di Indonesia. Masalah ketenagakerjaan lainnya adalah kasus tentang pekerja anak. sedikitnya 76 orang TKI wanita yang bekerja di negeri jiran justru tewas. Uni Emirat Arab. fenomena anak bekerja bukanlah suatu keanehan. 6) perjanjian kerja yang tidak selesai. Halaman 117-131 diberangkatkan ke UEA. seperti menjadi buruh. Nomor 2. 1997: 1). terjadi pelecehan terutama pada TKI wanita oleh majikan. Harus diakui bahwa masalah TKI di Indonesia dapat dirincikan menjadi tujuh masalah. mereka tidak perduli pada proses atau tahap-tahap yang harus dilalui dan dilakukan bagi calon TKI sebelum mereka dikirim ke negara tujuan. 3) penipuan yang dilakukan sejak rekruitmen. dan berbagai pekerjaan lainnya. Banyak di antara anak-anak yang ternyata terjun ke dunia kerja atau diharuskan bekerja oleh orang tua dan kondisi yang dialami. pemulung. Di berbagai sektor ekonomi. Dengan demikian. (Purwoko. Permasalahan di atas antara lain terjadi karena jumlah TKI yang diikutsertakan PJTKI dalam program perlindungan sejak mereka melakukan rekruitmen dan selama mereka bekerja di luar negeri masih sangat rendah. Di samping itu terdapat banyak TKI wanita yang mengalami pelecehan seksual maupun penganiayaan.suaramerdeka. Gatra. kemudian dikirim tanpa melalui pelatihan. dan Malaysia. Kondisi seperti ini dialami TKI wanita di berbagai negara. Volume 5. (www.

keluarga yang mengalami aib. Adapun permasalahan tersebut adalah: 1) kemiskinan dan kerawanan sosial ekonomi yang mengakibatkan anak mengalami kekurangan gizi (kalori. Akibatnya produktivitas dan prestasi kerja akan rendah. Hal ini berarti. dalam arti tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga mengakibatkan anak harus ikut menjadi pelaku ekonomi. di mana jumlah anak yang bekerja justru makin meningkat. anak jalanan. seperti daerah permukiman kumuh. kondisi. etnis. faktor lingkungan juga sangat menentukan peningkatan jumlah anak yang bekerja. Dengan alasan kemiskinan. 6) berada dalam situasi krisis dan membahayakan kelangsungan hidup anak serta hak-haknya rawan. seperti: berada terus-menerus di jalanan. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi di mana pendapatan orang tua yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. anggota keluarga. dijadikan sumber bisnis keluarga secara tidak wajar atau secara berlebihan). status sosial. Kedua. di mana kedua faktor yang disebut terakhir akan mengakibatkan pendapatan rendah. di mana pendidikan yang rendah akan mengakibatkan keterampilan juga rendah. pemulung. Sebaliknya. dan akhirnya pendapatan yang rendah akan mengakibatkan kemiskinan. Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat membawa masyarakat untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. dampak dari pandemik 125 Koleksi BPAD Prov SU . Bagi pengusaha pekerja anak sering dianggap alternatif terbaik. Sisi lain yang perlu dikaji sehubungan dengan masalah pekerja anak adalah permasalahan-permasalahan yang dialami anakanak Indonesia. dan sebagainya. bahwa di lingkungan tempat tinggal si anak ternyata sudah banyak anak-anak yang terjun ke dunia kerja. yodium. yang mana masalah ini menjadi katalisator terjunnya anak-anak Indonesia ke dunia kerja. dan 10) berada dalam lingkungan keluarga yang mengalami masalah sosial psikologis. banyaknya anak-anak yang sudah terjun ke dunia kerja mengakibatkan banyak anak-anak yang mendapat pengaruh dan bujukan dari anak-anak sebayanya yang sudah bekerja. Harus diakui bahwa antara kemiskinan dan pendidikan terdapat hubungan timbal balik. Hal ini antara lain disebabkan. karena di samping upah yang rendah juga dapat dieksploitasi demi kepentingan perusahaan. adanya kerusuhan sosial. seperti perbedaan gender.. 3) perlakuan salah atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang tua. Akibatnya. perang antarnegara. 8) mengalami cacat fisik dan mental. ekonomi. tindak kejahatan. 2) keterlantaran yang mengakibatkan kirang/tidak terpenuhinya dan tidak terjaminnya kebutuhan dasar anak sehingga kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak mengalami gangguan. daerah permukiman tuna sosial. 7) berada dalam lingkungan yang tidak layak huni baik secara fisik maupun sosial. Hal ini sering disebabkan majikan mereka memotivasi pekerja anak untuk mengajak teman mereka bekerja. yang dialami sejak lahir atau karena kecelakaan (cacat bawaan dan cacat bukan bawaan). dan lain-lain). Masalah Ketenagakejaan. Dalih seperti ini sepertinya sudah mendapat justifikasi bagi anak-anak untuk dipekerjakan. masalah anak terjun ke dunia kerja bukan lagi dianggap sebagai suatu poersoalan. Hal ini terjadi karena si anak belum memahami hak-haknya sebagai seorang pekerja. vitamin.. busung lapar. Setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan seorang anak terjun ke dunia kerja. tidak terlindungi. Pertama. kemiskinan pasti mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. dan sebagainya. dan masyarakat. politik. dan sebagainya. Kemiskinan dapat merupakan akibat pendidikan yang rendah. dijual. pendidikan yang memadai masih merupakan barang mahal di Indonesia. warna kulit. Harus diakui. Di samping itu. bahkan sekan-akan hal itu sudah lumrah dan dapat diterima masyarakat sekitar. 9) berada dalam situasi keluarga retak atau pecah (disorganisasi keluarga). anak-anak yang seharusnya menikmati masa belajar harus drop out dan berperan sebagai buruh. dan terhambatnya perkembangan psikologis anak. agama. faktor rendahnya tingkat pendidikan. sehingga anak harus ikut membantu ekonomi keluarga dengan cara bekerja. perang antarsuku. sehingga untuk memperoleh tingkat pendidikan yang tinggi dan berkualitas dibutuhkan pengorbanan ekonomi yang signifikan. Ketiga. kondisi ekonomi keluarga yang buruk.Siagian. adalah faktor kemiskinan. 5) perlakuan diskriminastif. 4) eksploitasi ekonomi dalam dunia kerja yang dilakukan oleh orang dewasa seperti eksploitasi anak-anak oleh orang tua/keluarga/masyarakat sebagai sumber penghasilan dengan tidak melindungi hak-hak anak (seperti: disuruh mengemis. daerah yang terisolasi/terasing.

Mei 2006. justru masih banyak perusahaan yang belum menerapkan UMP. Nomor 2. sehingga belum mampu menjadikan hidup pekerja secara layak. Melalui cara berpikir seperti ini diharapkan wilayah Indonesia yang terbentang amat luas dan benar-benar memiliki daya dukung terhadap komunitasnya sehingga tenaga kerja Indonesia tidak harus bersusah payah mencari pekerjaan ke berbagai negara yang sering hanya memperoleh penderitaan.000. bahwa investasi dapat dilakukan bukan hanya dalam bidang usaha seperti yang biasa dikenal. yakni Pasal 27 Ayat (2) yang menegaskan: bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. depresi. Justru tanggung jawab konstitusional ini ternyata belum disadari dengan sungguhsungguh oleh pemerintah. khususnya dalam menyediakan lapangan kerja yang dapat memenuhi penawaran tenaga kerja yang tinggi. yakni dengan menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP). Jika dengan upah menurut UMP pekerja dan keluarganya belum mampu menikmati hidup yang layak. bahwa pemerintah negara itu lemah dan tidak mampu menjalankan tanggung jawab konstitusionalnya. Kondisi seperti ini tentu sangat memprihatinkan. sehingga para pekerja merasa tidak mendapat perlindungan dari pemerintah. Hal ini 126 kemudian dijabarkan dalam Batang Tubuh UUD 1945. kita harus melihat sisi positif yang masih dimiliki Indonesia sebagai negara besar. yakni “memajukan kesejahteraan umum”. masalah ketenagakerjaan di Indonesia juga masih banyak. Pemerintah telah melakukan intervensi dalam sistem pengupahan. Sama halnya dengan investasi di bidang usaha tersebut. melainkan juga harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Di samping itu.mungkin hanya cukup untuk satu orang atau si pekerja. Pertama. Bagaimana jika si pekerja sudah berkeluarga atau memiliki istri dan anak-anak? Dalam penetapan pengupahan. akan tetapi juga dapat dilakukan dalam bidang sumber daya manusia.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dan bunuh diri. UMP yang hanya Rp 650. bagaimana pula jika upah yang mereka terima justru lebih kecil dari UMP? Penyediaan lapangan kerja dan kesejahteraan buruh sesungguhnya merupakan tangung jawab konstitusional negara melalui Pemerintah. Konsep welfare state menegaskan. maka dibangun suatu paradigma baru. terutama jika dikaitkan dengan kemampuan menampung tenaga kerja sesuai dengan pertumbuhan angkatan kerja yang masih tinggi. Untuk itu. ternyata pemerintah lebih mendengar aspirasi para pengusaha daripada aspirasi pekerja. Halaman 117-131 (HIV/AIDS). banyak pihak yang berpendapat bahwa UMP terlalu rendah. pendekatan melalui teori human capital mungkin sangat tepat dilakukan. walaupun UMP dianggap masih terlalu rendah. Oleh karena itu tingginya angka pengangguran dan rendahnya kesejahteraan buruh merupakan bukti sah. Ada dua permasalahan tentang UMP ini. Sebagai contoh. Tanggung jawab negara melalui pemerintah akan ketersediaan lapangan kerja dan kesejahteraan pekerja merupakan konsekuensi logis dari keberadaan negara kita yang tergolong ke dalam welfare state. Secara konstitusional hal ini ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 dan merupakan salah satu tujuan nasional. Jika kita ingin menjadikan bumi Indonesia bersahabat dengan manusia Indonesia sebagai penghuninya. Melalui pendekatan teori human capital. Salah satu di antaranya adalah rendahnya tingkat kesejahteraan pekerja sebagai dampak dari rendahnya upah. bahwa negara bukan hanya bertanggung jawab atas ketertiban dan keteraturan masyarakatnya. masih banyak perusahaan yang memberlakukan upah yang lebih rendah daripada UMP.. Permasalahan yang akut dalam ketenagakerjaan Indonesia adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia. Melalui investasi di bidang sumber daya manusia akan diperoleh Koleksi BPAD Prov SU . Kebijakan Pendidikan Jika kita berhenti pada kondisi ekonomi negara yang belum mengalami perbaikan yang cukup berarti. Selain masalah pengangguran. Prinsip investasi di bidang usaha adalah mengorbankan konsumsi pada saat investasi dilakukan dalam upaya memperoleh tingkat konsumsi di masa mendatang. kita akan bersikap pesimis dalam rangka melakukan perbaikan. Masalah kualitas sumber daya manusia harus dihadapi dan dicari solusi terbaik. maka investasi di bidang sumber daya manusia adalah dengan mengorbankan sejumlah dana yang akan dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi berlangsung. penyakit mental (jiwa). Artinya. Volume 5.

Namun demikian. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari arus globalisasi. maka perekonomian negara pun akan semakin meningkat pula. 2) migrasi.Siagian. di mana perubahan tersebut sangat tergantung pada pergantian pejabat di jajaran departemen yang mengelola pendidikan. di mana secara geografis menjadikan Indonesia harus ikut arus globalisasi tersebut. Mengapa kita harus hati-hati? Setidaknya ada dua hal yang dapat menjebak kita dalam menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan kondisi perekonomian makro dan mikro seperti telah dikemukakan di atas. 2004: 12). Dengan kata lain. di satu sisi iklan lowongan kerja di berbagai media massa di Indonesia sangat banyak. jurusan. perubahan konsep. Jika kita hanya berpijak pada aspek formalitas. sebagai suatu masalah yang berkepanjangan. sehingga Perguruan 127 Koleksi BPAD Prov SU . di mana konsentrasi mahasiswa misalnya akan lebih variatif dan dapat berubah setiap tahun sesuai dengan permintaan pasar dan pilihan mahasiswa. sistem pendidikan yang ada ternyata belum mampu memberi garansi akan adanya link dan match. Investasi yang demikian ini dinamakan dengan human capital. namun sering kali sistem pendidikan di suatu negara ternyata belum mendukung sepenuhnya human capital. Hal yang sangat perlu dipahami bahwa pengorbanan di awal akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertambahan nilai di masa mendatang. istilah konsentrasi ini belum tersosialisasi. Hanya saja kita tidak boleh perpijak hanya pada aspek formalitas. akan tetapi juga meningkatkan keterampilan bekerja. Pendidikan dan latihan merupakan faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Artinya. Masalah Ketenagakejaan. bahkan kurikulum yang dimiliki antara lain bersifat statis. dengan demikian akan berakibat pada peningkatan produktivitas kerja di masa mendatang. Terdapat sekitar 350 – 500 orang (jabatan/posisi) yang ditawarkan setiap hari melalui media. Hal ini dapat disimpulkan jika kita hanya berpijak pada aspek formalitasnya saja. Namun di sisi lain. Pertama.. semakin tinggi tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakat. hasil sebagai imbalannya adalah berupa tingkat penghasilan yang lebih tinggi dalam upaya memperoleh tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula di masa mendatang. Saat keluar izin program studi tersebut. tetapi juga mengelola konsentrasi. Hal ini antara lain dengan adanya temuan hasil penelitian tentang adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk dengan kondisi ekonomi negaranya. sementara tuntutan kualifikasi tenaga kerja oleh institusi pengguna tenaga kerja sangat dinamis. Konsep konsentrasi dianggap lebih dinamis. Dalam suatu seminar di FISIP USU 2005 yang lalu dikembangkan wacana agar sebuah jurusan jangan hanya mengelola program studi. Hal ini sangat menonjol di Indonesia. yakni dari segi izajah yang dimiliki masyarakat. bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia sesungguhnya meningkat sangat tajam. tanpa ada hasil perubahan yang dapat dirasakan. Pendidikan dan latihan bukan saja menambah pengetahuan. sehingga investasi di bidang sumber daya manusia tidak akan pernah mengalami kerugian. khususnya perguruan tinggi. Walaupun sistem pendidikan sudah dikenal sejak dahulu. dan 3) perbaikan gizi dan kesehatan. angka pengangguran tetap tinggi.. maka sering kali program studi itu sudah menuju kebasian. dan kurikulum yang dikembangkan dan diterapklan oleh lembaga pendidikan mengakibatkan adanya kontraversi angka-angka ketenagakerjaan di Indonesia. Ketidaksesuaian antara jurusan. maka kita akan terjebak dengan angka-angka yang dapat mengakibatkan kita kecewa. program studi. (Siagian. tidak pernah habis. Sekalipun sistem pendidikan sudah ada sejak dahulu. Terlebih jika pengelola pendidikan itu tidak melakukan terobosan dalam kurikulum. Lemahnya sistem pendidikan di Indonesia antara lain terlihat dari perubahan kurikulum. Adapun kontraversi ini antara lain. Hal ini antara lain karena tenaga kerja yang menawarkan diri tidak dapat memenuhi kualifikasi yang dituntut oleh institusi pengguna tenaga kerja atau mereka yang menjadi pemasang iklan tadi. Penerapan investasi human capital adalah dalam hal 1) pendidikan dan latihan. Bahkan nama departemennya pun berubah. Sifat statis program studi antara lain disebabkan oleh tidak mudahnya mengurus izin program studi oleh suatu lembaga pendidikan. program studi. namun barulah dua puluh tahun terakhir ini ada kesadaran tentang hubungan langsung antara sistem pendidikan dengan segala perangkatnya dengan perekonomian nasional maupun perekonomian mikro.

Untuk itu jenjang dan jenis pendidikan yang mengembangkan keterampilan spesifik lokal perlu dimulai. Sebagai contoh hingga saat ini rumpun pendidikan SMK sangat sedikit dan seragam untuk seluruh Indonesia. akan tetapi belum dikaitkan dengan potensi daerah yang dapat dikembangkan dalam rangka peningkatan kemajuan daerah dan kesejahteraan penduduknya. di mana lembar jawaban ujiannya diperiksa oleh Pusat Komputer Universitas Sumatera Utara. Ketika dilakukan investigasi. tanpa mempertimbangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Misalnya. Akibatnya. 128 Budaya schooling yang lebih parah lagi adalah yang berkembang di antara banyak PNS. yakni mendapatkan ijazah. Kebijakan pendidikan lainnya yang perlu dibangun adalah kebijakan pendidikan yang lebih mengutamakan pemanfaatan sumber daya daerah. Masyarakat lebih mengutamakan status formal daripada material. Hal ini antara lain menonjol dalam rangka mendapat kedudukan sebagai PNS di Indonesia. sehingga dapat tertutup celah KKN. namun sangat dangkal. terutama pejabat yang tugas belajar. sehingga mereka dapat menyelesaikan studi tanpa harus belajar secara keras dan sungguh-sungguh. Semestinya kurikulum SMK itu dipersempit dan diperdalam. Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan kebijakan khusus untuk mengakhiri tradisi schooling yang sedang meracuni generasi sekarang ini. Selain masalah link dan match yang memprihatinkan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. misalnya memiliki ijazah untuk tingkat pendidikan tertentu dan untuk jurusan atau program studi tertentu. Saat ini memang ada istilah muatan lokal dalam kurikulum sekolah. termasuk di hadapan para calon PNS dan langsung diumumkan saat itu juga. mereka tidak terampil dan jauh dari tenaga siap pakai. sebaliknya mereka yang memiliki ranking yang lebih tinggi justru dinyatakan sebagai pihak yang kalah pada seleksi tersebut. Masyarakat Indonesia lebih cenderung mengembangkan budaya schooling daripada budaya learning. Kondisi seperti ini tentu sangat kontraproduktif dengan arus globalisasi. maka lama kelamaan kualitas sumber daya manusia Indonesia akan terperosok jika dibandingkan dengan kualitas sumber daya manusia di negara lain. Banyak di antara mereka tidak memiliki motivasi untuk belajar. misalnya diperiksa dengan komputer di hadapan orang banyak. Mereka justru memilih institusi perguruan tinggi yang dapat meluluskan mereka dengan berbagai kemudahan. Mereka yang berada di ranking lebih rendah justru dinyatakan sebagai pemenang. bahwa banyaknya muncul persoalan ketika hasil tes masuk menjadi PNS diumumkan mengindikasikan adanya permainan atau KKN dalam proses seleksi calon PNS tersebut. Banyak mata pelajaran yang tidak berhubungan dengan keterampilan inti harus dipelajari oleh siswa. masalah yang lebih pelik lagi adalah budaya sekolah yang berkembang di masyarakat. Volume 5. Belum ada instansi yang melakukan seleksi yang demikian transparan. seorang PNS yang memiliki jenjang pendidikan S-1. Halaman 117-131 Tinggi masih tetap menempuh gaya pengelolaan pendidikan konvensional (Fahruddin. tanpa memperhatikan pentingnya belajar dan berlatih. Tujuan mereka hanya satu. Koleksi BPAD Prov SU . sebab yang diuji bukan itu. sehingga mereka tidak dapat berkonsentrasi pada bidang keterampilan yang harus ditekuni. Kondisi seperti ini jelas tidak mendidik. 2005: 7). Sepeti yang terjadi saat penerimaan calon PNS di Sumatera Utara. ternyata berbeda ranking yang dikeluarkan oleh Pusat Komputer Universitas Sumatera Utara dengan yang diumumkan oleh Pemda. Adapun budaya schooling ini ditandai dengan sikap mengutamakan aspek formalitas dari pendidikan. dan biasanya dikaitkan dengan bahasa dan budaya. Jika kondisi maraknya sikap mental budaya schooling ini tidak berubah menuju budaya learning. Mei 2006. Jadi jangan seperti selama ini di mana kurikulum SMK itu cenderung diperluas. ada orang kuliah. yang mana akan ditandai dengan persaingan bebas dan era keterbukaan. Hal ini terjadi karena banyaknya institusi pengguna tenaga kerja yang lebih mengutamakan aspek formal. Justru masalah seperti inilah yang kemudian mengembangkan budaya schooling tersebut. Dalam hal ini institusi pendidikan memikul dosa dari kondisi ini. Harus diakui. Nomor 2. Misalnya. namun hal itu hanya sedikit. di mana seleksinya belum dapat dipertanggungjawabkan kejujurannya. dalam upaya mendapat karier yang lebih cerah melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. Mahasiswa merasa tidak perlu memiliki keterampilan dan pengetahuan. Sungguh tragis nanti nasib manusia Indonesia jika budaya schooling itu tetap dipertahankan.

Untuk itulah sistem pendidikan harus diperkuat. Sistem pendidikan di Indonesia belum pas dan kuat. sehingga kebijakan pendidikan sering bersifat temporer tanpa perencanaan jangka panjang.Siagian. Di samping itu. Demikian halnya dengan seorang lulusan SMK Jurusan Mesin memiliki keterampilan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan seseorang yang mengikuti kursus montir hanya dalam tempo tiga bulan.. SMK Jurusan Penyuluhan Petani. Pengembangan kurikulum SMK melalui kebijakan pendidikan semestinya harus dilakukan dalam rangka pendayagunaan potensi daerah di mana sekolah itu berada. Dengan demikian. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas. Misalnya. SMK yang merupakan Jurusan Pertanian dirasa terlalu luas dan dangkal. SMK Jurusan Mesin Diesel. Sekali lagi.. SMK Jurusan Perikanan Laut. sehingga mereka tidak sia-sia memasuki suatu lembaga pendidikan dengan pengorbanan waktu. Oleh karena itu peningkatan keterampilan melalui pendidikan harus signifikan. budaya malu dan budaya tahu diri serta merasa gagal perlu dikembangkan di benak rezim penguasa. SMK Jurusan Tanaman Padi. kebijakan pendidikan harus fleksibel. SMK Jurusan Elektronik Audio. SMK Jurusan Coklat. Hal ini dapat dijadikan sebagai indikator apakah jurusan atau program studi dan atau konsentrasi tersebut masih layak dipertahankan atau lebih baik untuk ditutup. SMK Jurusan Mesin Premium. Masalah Ketenagakejaan. SMK Jurusan Perikanan Darat. Hal ini merupakan akibat dari kurikulum yang disusun terlalu melebar tetapi dangkal. akan tetapi melalui mekanisme yang teratur. dana. berapa lama seorang alumni mendapatkan pekerjaan yang layak dan atau sesuai dengan jurusan atau program studi atau keterampilan yang dimiliki. Hal ini tentu merupakan penerapan human capital yang sangat merugi. sehingga lapangan kerja yang tersedia tidak mampu menyerap seluruh angkatan kerja yang ada. dan termasuk sebagai indikator keberhasilan lembaga pendidikan tersebut dalam menjalankan fungsi dan mencapai tujuannya. Kedua. adanya ketidaksebandingan antara pertumbuhan lapangan kerja dengan pertumbuhan angkatan kerja. Mestinya dibangun dan dikembangkan SMK Jurusan Palawija. SMK Jurusan Kelapa Sawit. perlu dilakukan penelitian secara periodik menyangkut daya serap lulusan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan. belum adanya link and match antara lapangan kerja atau jenis pekerjaan dengan kualifikasi yang dituntut dengan kualifikasi tenaga kerja Indonesia sehingga tidak semua posisi jabatan dan pekerjaan yang ada atau ditawarkan dapat diduduki dan dilakoni oleh tenaga kerja Indonesia. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi terhadap tingginya angka pengangguran di Indonesia. 3. harus ada data tentang masa tunggu kerja lulusan. Pengangguran yang mencapai di atas sepuluh juta jiwa sungguh merupakan kondisi yang buruk dan memprihatinkan dari negara kita. jangka menengah. dan lain-lain. penulis merumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1. Bagaimanapun juga. terlalu sarat dengan mata pelajaran yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan keterampilan yang dilatih. dan kurikulumnya didesain sedemikian rupa sehingga bersifat menyempit dan dalam. Data tentang masa tunggu kerja lulusan artinya. Kebijakan mana harus dilengkapi dengan perencanaan strategis jangka panjang. Hal ini sangat penting dalam rangka memelihara kesesuaian kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia di suatu daerah dengan potensi yang dapat dikembangkan di daerah tersebut. Sebagai contoh. melainkan dapat membantu siswa dan mahasiswanya dalam mewujudkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan. tujuan lembaga pendidikan bukan hanya meluluskan siswa dan mahasiswanya. 2. Data ini harus dijadikan sebagai outcome sebuah lembaga pendidikan. dan jangka pendek. misalnya seorang lulusan SMK Jurusan Elektronik yang telah belajar selama tiga tahun memiliki keterampilan yang jauh lebih rendah dari seseorang yang hanya mengikuti kursus elektronik selama tiga bulan. Sangat tragis. dan tenaga yang teramat besar. semestinya SMK itu disesuaikan dengan potensi daerah. sehingga operasional dan penjabarannya tidak tergantung pada pribadi pejabat sebagaimana terjadi selama ini. belum kuatnya sistem pendidikan tersebut mengakibatkan arah pengembangan 129 Koleksi BPAD Prov SU . Selanjutnya semua institusi pendidikan diwajibkan melakukan pendataan tentang alumninya. Di samping itu. yakni: Pertama.

Kurikulum dan jenis jurusan maupun program studi masih bersifat statis dan tidak mengikuti perubahan yang mendasar dalam struktur ketenagakerjaan yang dibutuhkan oleh lapangan kerja yang justru bersifat dinamis. program studi sebaiknya diganti dengan konsentrasi. Artinya. Mereka merasa sia-sia untuk belajar keras karena tidak akan mendapat penghargaan nantinya. bahwa jenis dan tingkat pendidikan seseorang sering tidak tercermin dalam kualifikasinya sebagai tenaga kerja. orang tua. pendidikan di Indonesia sering sangat tergantung pada pejabat yang menduduki Departemen Pendidikan Nasional. Perlu dilakukan terobosan baru dalam schooling dan menghapus budaya mengubahnya menjadi budaya learning melalui transparansi dan penerapan prinsipprinsip keadilan dalam proses rekruitmen tenaga kerja. dalam arti mengikuti perubahan struktur ekonomi di Indonesia. 6. program studi serta kurikulum yang dikembangkan di suatu daerah belum sepenuhnya sesuai dengan potensi daerah. organisasi profesi. Sangat jarang lembaga pendidikan memperhatikan perkembangan ketenagakerjaan yang sangat dinamis untuk dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan kurikulum. Nomor 2. terutama calon PNS yang belum transparan dan belum menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran mengakibatkan peserta didik tidak memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar selama mengikuti pendidikan. dan kurikulum harus memiliki nilai-nilai dinamika yang tinggi. akibatnya meskipun banyak pengangguran. pengelola lembaga pendidikan. Oleh karena itu. Pengembangan pendidikan. Halaman 117-131 4) 5. Perlu dilakukan diskusi secara berkala yang melibatkan stockholder atau pemangku pendidikan. Hal ini mengakibatkan. 3. Pengembangan jurusan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dan jurusannya. baik sektor swasta maupun pemerintah. khususnya jurusan dan program studi dengan kurikulum yang ada masih bersifat konvensional. Rekruitmen tenaga kerja. di mana perencanaan tersebut harus bersifat akurat dan matang yang akan mengakibatkan pergantian pejabat pengelola pendidikan tidak mengakibatkan arah kebijakan pembangunan pendidikan yang sudah ada. Iklim investasi harus ditata sedemikian rupa sehingga Indonesia harus dianggap dan dirasakan sebagai surga oleh investor. yang memiliki link dan match dengan lapangan kerja yang tersedia dengan segala kualifikasi yang dituntut. 4. Dengan cara seperti ini maka peserta didik akan termotivasi untuk belajar dan berlatih menuju tenaga kerja yang memiliki kualitas yang dapat memenuhi tuntutan institusi pengguna tenaga kerja. program studi. sehingga mereka berlomba-lomba melakukan investasi di Indonesia sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan lapangan kerj a sehingga dapat mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. Pemerintah harus menyadari dan bertanggung jawab atas penyediaan lapangan pekerjaan bagi semua warga negaranya dan demikian juga dengan tingkat kesejahteraan pekerja di Indonesia. Saran 1. 8. 130 2. agar senantiasa memiliki peluang untuk diubah setiap saat sesuai dengan perubahan kualifikasi yang dituntut bagi tenaga kerja oleh institusiinstitusi pengguna tenaga kerja. prestasi studi dan ijazah sering tidak diikuti dan didukung oleh kompetensi lulusan. misalnya pemerintah. maupun institusi-institusi pengguna lulusan sehingga dapat dirumuskan kurikulum yang handal. Perlu penguatan sistem pendidikan yang didukung oleh perencanaan starategis. jangka menengah dan jangka pendek. namun potensi daerah tidak dapat digunakan secara maksimal untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Jurusan. Berkembangnya budaya schooling dalam melakoni pendidikan oleh masyarakat Indonesia menjadikan pendidikan belum dijadikan dan belum berfungsi sebagai proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Volume 5. program studi. baik jangka panjang. 5. 7. 6. Koleksi BPAD Prov SU . Mei 2006.

10 September 1993 Harian Waspada Medan. Emil. Pengembangan Pendidikan dan Pemecahan Masalah Pengangguran. Pekerja Anak Jermal di Sepanjang Pantai Timur Sumatera Utara. Terowosan Mendesain Kurikulum Perguruan Tinggi. Yogyakarta Pengantar Ilmu Rusli. Syarif. BPFE UGM. Jakarta Siagian.Siagian. Makalah Seminar. Matias. Sulaiman. 1995. J. Kekerasan terhadap Anak Dalam Wacana dan realitas. Ahmad. M. 1992. Menajemen Sumber Daya Manusia. Belton. Medan Simanjuntak. Gambaran Umum Mengenai Permasalahan Pekerja Anak di Indonesia dan Penanggulangannya. Sudarwan. Daftar Bacaan Danim. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. 27 juni 2004 Harian Sinar Indonesia Baru Medan. Prentice-Hall. Kekerasan Sesksual terhadap Anak Jermal. 1993. 1999 Harian Kompas Jakarta. Makalah Seminar. Medan Fleisher. 1996. LP3ES.. Jurnal Perlindungan Anak. 2001. Labor Economics: Theory and Evidence. Pandji. Rinaldi. Yogyakjarta Pengantar Muhidin. Jakarta. CV Mandar Maju. Bandung Purwoko. 19 September 2006 Harian Kompas Jakarta. Surakarta Putranto. Susilo. 1982. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Makalah pada Seminar Sehari Profil Pekerja Anak. Sinar Grafika. Kependudukan. Dirjen Dikti. Konvensi. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak. Payaman. 2. UGM Press. Widodo. jakarta Sofyan. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Kesejahteraan Sosial. Bandung Sumber-sumber lain: Hakiki. Adi. Volume 1 No. Social Analysis and Reseaqrch Institute (SARI). 1981. Yogyakarta Sudarmayanti. ____ . 1994. Program Hibah Kompetisi 2004. New Jersey Ikhsan. Jakarta. STKS. Perguruan Tinggi. 29 April 2003 Majalah Gatra Jakarta. 2002.. Medan Martono. Masalah Ketenagakejaan. 2005. Nopember. 1999. 12 Januari 2004 Harian Waspada Medan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Medan Manik. Edi. 2006. Said. 3 Mei 2004 Harian Suara Merdeka Jakarta. 1997. 1999. Jakarta Fahruddin. Undang-Undang Yang Baru Tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. 1999. Penyusunan Kurikulum Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Berbasis Kompetensi. 31 Januari 2004 Koleksi BPAD Prov SU 131 . Profil Buruh Anak di Sektor Industri. Transformasi Sumber Daya Manusia. ILO/USA Declaration Project Indonesia.

tenaga kerja merupakan modal dasar terlaksananya proses produksi serta memajukan perusahaan. cakupannya sangat luas dan sangat kompleks. Wajarlah apabila perhatian yang lebih Ratih Utamaningsih adalah Staf di Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi dan Gender Medan. Jamsostek dilandasi filosofi kemandirian dan harga diri untuk mengatasi risiko sosial ekonomi.IMPLEMENTASI JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA KARYAWAN PT ASAM JAWA MEDAN Ratih Utamaningsih & Hayaruddin Siagian Abstract The worker is very important in production process.id) Salah satu yang akan dibicarakan dalam masalah tenaga kerja adalah mengenai jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). pemutusan hubungan kerja (PHK). kehidupan di hari tua maupun keluarganya. kebebasan berserikat. di antaranya yang paling pelik adalah masalah tenaga kerja. The company has to do and fulfill the worker’s rights according to the law as the worker social safety. To get the best from the workers require the company give the best for them. In the fact there are many companies which have not fulfilled the worker’s rights. syarat-syarat kerja.nakertrans. Data analysis shows that Asam Jawa Medan Company has fulfilled the worker’s rights. cacat seumur hidup. Semuanya mengandung dimensi ekonomis. In a company the worker is primary element. Dengan kata lain. Semua risiko yang dialami kebanyakan diakibatkan dari hubungan kerja. Harga diri berarti jaminan tersebut diperoleh sebagai hak. This research studies how Asam Jawa Medan Company implementated the worker’s rights according to the law. serta hubungan kerja sama internasional dan jaminan sosial bagi tenaga kerja. Pada perusahaan tenaga kerja atau karyawan sebagai pelaksana utama tidak terlepas dari risiko yang dihadapinya. dan sosial. Researchers collected data from 40 officials of Asam Jawa Medan Company. perlindungan tenaga kerja. Hayaruddin Siagian adalah Peneliti LIPI bidang Budaya 132 Koleksi BPAD Prov SU . Risikorisiko yang menimpa para karyawan tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu baik pada waktu kerja maupun di luar kerja demi tuntutan perusahaan. penyelesaian perselisihan. bila meninggal dunia. bahkan dapat menimbulkan kematian.go. Risiko yang menimpa karyawan dapat menimbulkan cacat sebahagian. (www. dan bukan belas kasihan orang lain. tenaga kerja di bawah usia kerja. Keywords: worker’s right. Adapun risiko yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dihindari yang tentunya akan membutuhkan biaya. Dalam suatu perusahaan berskala besar dan berskala kecil. Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan yang tidak terlepas dari konsekuensinya. Dalam forum diskusi kompleksitas masalah tenaga kerja dikemukakan permasalahan-permasalahan yang masih hangat dibicarakan adalah ketentuan upah minimum yang disesuaikan dengan daerah masing-masing. Kemandirian berarti tidak bergantung pada orang lain dalam membiayai perawatan pada waktu sakit. social safety Pendahuluan Di Indonesia saat ini pembangunan menitikberatkan pada bidang ekonomi yang menjadi penggerak utama. masalah ketenagakerjaan tersebut mempunyai multidimensi. It is one of the problems in Indonesia. hubungan industrial.

papan dan kebutuhan fisiologinya. Implementasi Jaminan Sosial. Menurut Teori Abraham Maslow kebutuhan akan rasa aman merupakan tingkat kebutuhan yang kedua setelah kebutuhan psikologi seperti makan. kondisi pemberian kerja. sedangkan kewajiban peserta adalah tertib administrasi dan membayar iuran.(www. Kebutuhan rasa aman merupakan motif yang kuat di mana manusia menghadapi sejumlah ketidakpastian yang cukup besar dalam kehidupan. Pasalnya. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. sakit. salah satunya yakni rasa akan aman masa depan dan sebagainya (Siagian. Untuk menghadapi risiko ini diperlukan alat yang dapat mencegah atau mengurangi timbulnya risiko itu yang disebut jaminan sosial. lapangan kerja dan kemampuan tenaga kerja. sedangkan pelaksanaannya dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. Kesejahteraan yang perlu diberikan bukan hanya karyawan sendiri tetapi juga keluarga yang harus tetap terpelihara termasuk saat karyawan kehilangan sebagaian atau seluruh penghasilannya akibat risiko kerja seperti kecelakaan kerja.. Padahal dalam UU No. serius ditujukan kepada karyawan.05/Men/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepersertaan. Dengan terbentuknya landasan hukum tenaga kerja diharapkan akan menjamin ketentraman dan keselamatan kerja serta kehidupan yang layak bagi kesejahteraan keluarga tenaga kerja khususnya. Oleh karena itu perusahaan diwajibkan mengikutsertakan pekerjanya dalam program Jamsostek.000.. 1993: 77). meninggal dunia. (Christine. Jamsostek adalah program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu yang penyelenggaraannya menggunakan mekanisme Asuransi Sosial. berupa santunan tunai dan pelayanan medis. misalnya untuk memperoleh pekerjaan. 14 Tahun 1993. Untuk itu peneliti merasa tertarik mengkaji lebih dalam dengan mengangkat judul “Implementasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Keluarga Karyawan PT Asam Jawa Medan. Terutama karena sebagaian besar karyawan berasal dari lapisan kedudukan kondisi sosial ekonomi yang kebanyakan relatif rendah dan sudah menjadi kodrat bahwa manusia itu berkeluarga berkewaj iban menanggung kebutuhan keluarganya. Pembayaran Iuran. menjadi peserta program Jamsostek merupakan hak bagi karyawan yang dijamin oleh undang-undang. keselamatan dan kesehatan kerja. Sebagai program publik.Utamaningsih dan Siagian. sampai akhir 2005 mencapai 28. Program ini memberikan perlindungan yang bersifat dasar. untuk menjaga harkat dan martabat manusia jika mengalami risiko-risiko sosial ekonomi dengan pembiayaan yang terjangkau oleh perusahaan dan karyawan. Peserta Program Jamsostek diatur secara wajib melalui Undang-Undang No.Per. Jamsostek memberikan hak dan membebani kewajiban secara pasti (copulsory) bagi pengusaha dan karyawan berdasarkan Undang-Undang No.000 perusahaan dengan jumlah peserta yang pernah terdaftar dan menerima kartu peserta Jamsostek.” Manusia dalam hidupnya menghadapi ketidakpastian. baik itu ketidakpastian spekulatif maupun ketidakpastian murni yang selalu menimbulkan kerugian. Keputusan Presiden No. minum.. 1997: 127) 133 Koleksi BPAD Prov SU . dan hari tua.9 juta karyawan.3 Tahun 1992. dan untuk memperoleh jaminan kehidupan apabila karyawan tertimpa musibah.yahoi.000 karyawan. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul pada Hubungan Kerja dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. sandang.com). 1999: 287). dan jaminan sosial tenaga kerja yang mencakup jaminan hari tua. Ketidakpastian ini disebut dengan risiko (Asikin. et al. kesiapan sektor terkait. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek menyebutkan suatu perusahaan wajib menjadi peserta Jamsostek jika mereka mempekerjakan lebih dari 10 karyawan dengan upah di atas Rp1000. Namun dari jumlah itu yang diketahui sebagai peserta aktif hanya 7. dan jaminan kematian serta syarat-syarat kerja lainnya perlu dikembangkan secara terpadu dan bertahap dengan mempertimbangkan dampak ekonomi dan moneternya. Dengan demikian salah satu upaya pemberian perlindungan tenaga kerja adalah jaminan sosial tenaga kerja seperti yang terdapat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yang berbunyi sebagai berikut: “Perlindungan tenaga kerja yang meliputi hak berserikat dan berunding bersama.809. Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jamsostek. Di Indonesia sebanyak 115. jaminan terhadap kecelakaan. jaminan pemeliharaan kesehatan. Kebutuhan akan rasa aman ini bermacam-macam.

Volume 5. Di berbagai negara diatur pada umumnya melalui berbagai bentuk. ILO (Internasional Labour Organization) yang merupakan salah satu dari Badan Khusus PBB. pengacara (advokat). termasuk tenaga kerja yang melakukan pekerjaaan di luar hubungan kerja. Jelas di sini jaminan sosial menjamin santunan sehingga tenaga kerja terlindungi terhadap ketidakmampuan bekerja dalam penghasilan dan menjamin kebutuhan dasar bagi keluarganya sehingga memiliki sifat menjaga nilai-nilai manusia terhadap ketidakpastian dan keputusasaan. yang dimaksud dengan Jamsostek adalah sebagai berikut: “Suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti penghasilan yang hilang atau berkurang dalam pelayanan sebagaimana akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja. Di Indonesia hal ini dapat dilihat pada Undang-Undang No. Selain mempunyai dampak positif bagi usaha-usaha peningkatan disiplin kerja dan peningkatan produktivitas kerja juga salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. melalui berbagai usaha dalam menghadapi risiko-risiko ekonomi atau sosial yang dapat mengakibatkan terhentinya/sangat berkurangnya penghasilan (Husni.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. petani yang menggarap sawahnya sendiri dan lain-lain. Mei 2006. 2001: 3). Dengan terciptanya ketenangan kerja pada akhirnya mendukung kemandirian dan harga diri manusia dalam menerima dan menghadapi risiko sosial ekonomi. Memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja serta keluarganya. 3. Dari definisi di atas. 4. 5. Nomor 2. biasa disebut tenaga kerja bebas. 3 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat (1). hari tua dan meninggal dunia”(Manulang. dapat ditarik kesimpulan bahwa jaminan sosial mempunyai beberapa aspek. bersalin. sakit hamil. Dengan adanya upaya perlindungan dasar akan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan. 2001: 131). baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Manulang. Dari pengertian di atas. dapat lebih dipahami bahwa yang dimaksud dengan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja adalah tenaga kerja yang melakukan pekerjaan pada setiap bentuk usaha (perusahaan) atau perorangan dengan menerima upah. Keberadaan program Jamsostek sebagai upaya perlindungan hidup tenaga kerja di suatu perusahaan sangat besar manfaatnya. Menciptakan ketenangan kerja karena adanya upaya perlindungan terhadap risiko ekonomi maupun sosial. Pengertian Jamsostek yang tegas lagi dinyatakan dalam Undang-Undang No. 1993: 10). 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang merupakan langkah awal dalam memberikan landasan hukum penyelenggaraan jaminan sosial. Senada dengan hal ini Kertonegoro mengatakan bahwa: “Jaminan sosial merupakan konsepsi kesejahteraan yang melindungi risiko baik sosial maupun ekonomi masyarakat dan membantu perekonomian nasional dalam rangka mengoreksi ketidakadilan distribusi penghasilan dengan memberikan bantuan kepada golongan ekonomi rendah (Sentanoe. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan. antara lain: 1. 2003: 53). 134 Koleksi BPAD Prov SU . 4 Tahun 1969 tentang Pokok Ketenagakerjaan serta diperkuat dengan Undang-Undang No. sebagai pengganti atau seluruh penghasilan yang hilang. Halaman 132-150 Bertitik tolak dari hal tersebutlah mendorong lahirnya program yang memberikan jaminan perlindungan bagi tenaga kerja. juga memberikan pengertian jaminan sosial (Sosial Security) secara luas yaitu: “Social security pada prinsipnya adalah sistem perlindungan yang diberikan oleh masyarakat untuk warganya. misalnya dokter yang membuka praktik. Karena adanya upaya perlindungan dan terciptanya ketenangan tenaga kerja akan berdampak meningkatkan produktivitas kerja. 2. Sedangkan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja adalah orang yang bekerja sendiri tanpa ikatan dengan perusahaan atau perorangan.

Upaya perlindungan karyawan perusahaan dalam bentuk penaikan upah. tidak mampu menjalankan tugas dengan baik. perusahaan yang perlu dikembangkan dengan penuh tanggung jawab. dirasakan belum menunjukan suatu jaminan karyawan terutama dalam kelangsungan hidupnya dengan tingkat kesejahteraan yang memuaskan. tenaga kerja dan keluarga. berupa penghasilan yang layak dan jaminan-jaminan sosial tertentu. 1989: 7). Terciptanya suasana hal di atas akan membentuk hubungan kerja yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. seakan-akan mereka bekerja pada perusahaan miliknya. Meningkat kan peran serta sektor perusahaan swasta secara bergotong royong bersama-sama dengan pemerintah. 4. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang dapat menyebabkan kerugian harta benda dan atau hilangnya nyawa manusia yang akibatnya dapat merugikan tenaga kerja. Setiap kecelakaan selalu ada faktor penyebabnya dan penyebab itu tentunya dapat dicegah dan dikurangi. Terlaksananya pola pemeliharaan kesehatan yang efektif. Jamsostek juga sangat dibutuhkan oleh tenaga kerja untuk menjaga harga dirinya agar tidak terkesan untuk minta dikasihani bila terkena musibah. misalnya peralatan kerja tidak diberi pengamanan. Meningkatkan produktivitas pada karyawan perusahaan. Implementasi Jaminan Sosial. (Kartasaputra. perusahaan sangat perlu untuk memasukkan para karyawannya dalam program Jamsostek. c. b.Utamaningsih dan Siagian. ventilasi tidak cukup. upah yang disesuaikan dengan kondisi kebutuhan dan tersedianya Jamsostek. Program ini dikelolah oleh PT Jamsostek (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Jaminan Kematian. Selain itu setiap kecelakaan akan mengakibatkan kerugian. Sebagai langkah yang ditempuh dalam menjamin hidup karyawan. Mengingat gangguan mental akibat 135 Koleksi BPAD Prov SU . Dari penjelasan di atas menunjukan bahwa program Jamsostek berdasarkan UndangUndang Nomor 3 Tahun 1993 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya bersifat dan bertujuan untuk melindungi karyawan. Beberapa tujuan program jaminan sosial meliputi: 1. agar dengan demikian patnernya itu lebih terangsang untuk bekerja lebih produktif (berdaya guna dan berhasil guna). sehingga meni mbul kan peningkatan produksi perusahaan. Jaminan Hari Tua. Dengan demikian program Jamsostek. Sedangkan sebab-sebab manusia biasanya dikarenakan oleh sikap ceroboh. 1995: 42)... di samping menguntungkan bagi perusahaan karena bisa mengalihkan risiko yang harus ditanggung kepada pihak lain. baik berupa upah maupun waktu. Perusahaan dapat berkembang dan berjalan lancar apabila didukung oleh jumlah tenaga kerja yang cukup.. efisien dan rasional (Majalah JAMSOSTEK. dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. et al. Setiap kecelakaan menyebabkan penderitaan bagi keluarganya. juga dapat meningkatkan produksi perusahaan. Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1993 Pasal 6 ayat (1). Memberikan imbangan yang layak terhadap jasa-jasa yang sudah dikerahkan oleh patner yaitu. mengantuk dan sebagainya. Menganggap tenaga kerja sebagai patner yang aman membantu untuk mensukseskan tujuan usaha. mengurangi kesenjangan dalam bidang pemeliharaan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. bahwa ruang lingkup jaminan sosial meliputi: Jaminan Kecelakaan Kerja. Anggapan bahwa kecelakaan itu merupakan takdir adalah suatu pemikiran yang keliru. Apabila kecelakaan kerja itu mengakibatkan kematian atau cacat permanen maka keluarganya akan menderita kesusahan. serta pengusaha dan masyarakat pada umumnya. pemberian bonus dan program kesejahteraan lainnya. Mempercepat terjadinya proses pemerataan hasil pembangunan. 2. maka perlu adanya bantuan jaminan kecelakaan kerja. Sebab-sebab kecelakaan bisa dikelompokan menjadi dua sebab utama yaitu sebab teknis dan sebab manusia. Menjalin hubungan yang baik dengan para pekerjanya sehingga mereka merasa bahwa tenaga kerjanya itu perlu dikerahkan dengan baik. Oleh sebab itu perusahaan hendaknya: a. 3. Oleh karena itu untuk menanggulangi kecelakaan kerja yang berpengaruh terhadap hilangnya sebahagian atau seluruh penghasilan. Sebab-sebab teknis biasanya menyangkut masalah-masalah kondisi di pabrik.

5. Pnemokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (sisikosis. 4. termasuk kecelakaan kerja (Christine.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Kecelakaan kerja yang terjadi dalam perjalanan berangkat dan pulang ke dan dari tempat kerja. 2. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kecelakaan kerja. 4. tanpa sempat mengalami rawat inap atau mengalami rawat inap tetapi tidak melebihi 24 jam terhitung sejak pada jam di tangan dokter/para medis langsung meninggal dunia. Daftar penyakit yang timbul dalam hubungan kerja dapat dilihat dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja. baik yang terjadi pada waktu kerja atau di luar waktu kerja dan timbul penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu melakukan kerja lembur yang harus dibuktikan dengan surat perintah lembur. Volume 5. ant r akosi l i kosi s. Mei 2006. juga di luar waktu kerja dapat dikelompokan sebagai kecelakaan kerja. 1997: 135). Selain yang temasuk kecelakaan kerja pada waktu kerja di atas. 136 Di samping itu juga dapat disebut sebagai kecelakaan kerja UU No. 3 Tahun 1992 adalah sebagai berikut: 1. Suatu kasus meninggal mendadak dalam hubungan kerja karena suatu alasan. 1997: 137). 1997: 143). 3. Kecelakaan kerja yang terjadi di tempat lain dalam rangka tugas atau secara langsung bersangkut paut dengan penugasan dan tidak ada unsur kepentingan pribadi. Oleh sebab itu pembiayaan Koleksi BPAD Prov SU . Kecelakaan kerja yang terjadi di sebuah perkemahan yang berada di lokasi kerja. sepanjang melalui perjalanan yang wajar dan biasa dilakukan setiap hari. 2. seperti: 1. Kecelakaan kerja yang terjadi di luar jam kerja tetapi masih dalam waktu kerja seperti jam istirahat sebagaimana diatur oleh undang-undang. agar mudah dipahami dan dimengerti sehingga di kemudian hari tidak salah paham. Penyakit lainnya yang telah ditetapkan kepada keputusan ini (Christine. Kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu mengikuti pendidikan yang merupakan tugas dari perusahaan dan harus dibuktikan dengan surat tugas. 3. perusahaan maupun lembaga yang ditunjuk sebagai pengelola atas jaminan kecelakaan kerja. 6. Cacat akibat kecelakaan kerja (Christine. 3. Halaman 132-150 kecelakaan kerja relatif sifatnya sehingga sulit ditetapkan derajat cacatnya maka jaminan atau santunan hanya diberikan dalam hal terjadi cacat mental tetap yang mengakibatkan tenaga kerja yang bersangkutan tidak bekerja lagi. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras. Kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab perusahaan. 2. Penyakit yang timbul karena hubungan kerja yang terjadi secara tiba-tiba melalui proses dalam jangka waktu tertentu. Kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau di lingkungan tempat kerja. vlas. maka perlu disebutkan hal-hal apa saja yang merupakan kecelakaan kerja sebagai patokan baik karyawan. 3. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal dalam proses pekerjaan. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik. 1997: 140). henep. baik di lokasi kerja karena satu alasan. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan mengenai kecelakaan kerja. Perkelahian di tempat kerja. yaitu: 1. 2. di luar jam kerja dan di luar waktu kerja (waktu istirahat) serta bersangkutan bebas dari setiap urusan pekerjaan (Christine. Kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu melaksanakan kegiatan olah raga yang harus dibuktikan dengan surat tugas dari perusahaan. Begitu pula penyakit yang ditimbulkan adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja dan masyarakat umum biasanya tidak terkena. 5. 4. baik di lokasi kerja maupun dalam perjalanan dalam lokasi kerja. Hal-hal yang dapat dimasukan sebagai kecelakaan kerja dalam UU No. sisal (bissinosis). asbest osi s) dan silikotuberkolosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian. 3 1992: 13 adalah sebagai berikut: 1. Nomor 2. kesemua itu menimbulkan kerugian bagi karyawan dan berhak mendapat jaminan kecelakaan kerja.

Santunan cacat sebahagian untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus dengan besarnya % sesuai tabel x 60 % sesuai tabel x 60 bulan upah. 2001: 134). Dalam hal ahli waris atau wasiat lainnya tidak ada biaya pemakaman dibayarkan kepada pengusaha atau pihak lain yang mengurus pemakamannya. et al. 2. Pemeriksaan.(Kertonegoro. sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak terbebankan dengan putusnya nafkah keluarga. Dari pengertian di atas menunjukan bahwa karyawan dipandang sebagai insani yang perlu dibantu. Jaminan kematian dibayarkan sekaligus sebesar Rp 1. 14 1993 Pasal 9) dan sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan.. Dengan demikian karyawan yang mendapat kecelakaan kerja berhak mendapat jaminan kerja sesuai dengan Permenaker No: Per –04 /MEN/1993 yang terdiri dari: 1. atau anak. Biaya pemakaman sebesar Rp 200.(Sendjun. 2.000. Santunan kematian sebesar Rp 1000. Besarnya santunan jaminan kecelakaan kerja yang dialami karyawan sesuai dengan PP No. 2001: 96). d. orang yang berhak menerima warisan ditetapkan sebagai berikut: 1. 3.. Selain jaminan di atas. Santunan cacat: a. kepada tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja juga diberikan santunan berupa uang yang terdiri dari: a.000. Santunan cacat sebagaian untuk selamalamanya. karena pada usia tua umumnya kemampuan bekerja sudah berkurang sehingga karyawan diberhentikan dari pekerjaannya. Santunan sementara tidak mampu bekerja (STMB) 4 bulan pertama 100 % x upah sebulan dan bulan seterusnya 50 % x upah sebulan. Dengan demikian kesempatan tenaga kerj a untuk menyisihkan sebagai an penghasilannya kemungkinannya sangat kecil. Biaya pemakaman sebesar Rp 200.(dua puluh lima ribu rupiah) selama 24 bulan. c..000. 137 Koleksi BPAD Prov SU . Hari tua merupakan risiko kehidupan yang dapat mengakibatkan terputusnya upah. Dari uraian di atas dengan menetapkan yang berhak menjadi ahli waris dari jaminan kematian akan memberikan dampak yang positif.(satu juta dua ratus ribu rupiah) yang terdiri dari: 1. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993. Besarnya iuran menurut peraturan yang berlaku adalah sebesar 0. Dengan terputusnya pekerjaan dan upah dari perusahaan tentunya biaya hidup adalah hasil tabungan semasa kerja. b.14 tahun 1993 dapat dibagi sebagai: 1. Jaminan kematian dibayarkan sekaligus kepada janda/duda. Pengangkutan dari tempat kejadian ke rumah sakit yang terdekat ataupun ke rumahnya. Biaya pemakamam (Sendjun.000. Namun dapat dibayangkan kondisi tenaga kerja di Indonesia dengan upah yang belum begitu layak dengan kata lain hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Implementasi Jaminan Sosial.Utamaningsih dan Siagian..200. artinya orang yang sepatutnya menerima warisan tidak diklaim orang lain. dan warisan yang diterima kepada keluarga yang berhak menerimanya dapat dimanfaatkan untuk bekal hidup.30% dari upah sebulan (PP No. 1993: 36).2. Jaminan kematian adalah suatu jaminan bagi tenaga kerja yang meninggal dunia bukan diakibatkan kecelakaan kerja yang mengakibatkan terputusnya penghasilan dan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkan (Manulang. Diperlukan jaminan kematian dalam upaya meringankan beban keluarga. pengobatan dan perawatan di rumah sakit. 2. c. Tunjangan kematian yang diberikan terhadap karyawan diambil dari iuran setiap bulannya yang dibayarkan kepada PT Jamsostek. baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan dalam bentuk uang. Artinya iuran kecelakaan kerja dari setiap tenaga kerja ditanggung oleh pengusaha. b. program ini sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan.000. Santunan cacat total untuk selama-lamanya. 2001: 94). dan sebaliknya keluarga yang ditinggalkan dapat memanfaatkan santunan yang diberikan untuk mencari nafkah lain. 2001: 94). Santunan berskala sebesar Rp 25. Santunan kematian (Sendjun. Santunan sementara tidak mampu bekerja sebagai pengganti upah.

Bahkan dari waktu ke waktu mengalami peningkatan pembiayaan.000. 1993: 35). Pembayaran jaminan hari tua secara sekaligus atau berkala merupakan pilihan dari tenaga yang bersangkutan sendiri. Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992. maka sangat perlu diadakan program yang sangat berpengaruh bagi masa depan/hari tua bagi karyawan terutama yang penghasilannya rendah.70 %. Kepastian pembiayaan kesehatan tenaga kerja serta keluarganya. dan mendapat bunga setiap tahun. 3. besarnya iuran jaminan hari tua ditetapkan sebagai berikut: a. Mencapai umur 55 tahun. Terpeliharanya kesehatan bagi diri dan keluarga demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup Sementara itu. 3.7 % yang dihitung dari upah sebulan dari tenaga kerja.000.000. Pembayaran sekaligus dapat dilakukan apabila jumlah seluruh jaminan hari tua kurang dari Rp 3. Diperolehnya atau didapatkannya tenaga kerja yang sehat.. 2. sehingga 138 produktivitas menjadi rendah.atau lebih dilakukan paling lama 5 tahun (PP No. Pembayaran jaminan hari tua dapat dibayarkan sekaligus atau secara berkala. 2. di mana iuran dari pengusaha dan tenaga kerja setiap bulan dikredit pada rekening tenaga kerja secara individual. Mengalami PHK setelah peserta setidaktidaknya lima tahun. Mei 2006. 1996: 3). Berbagai program kesehatan kebijaksanaan dari perusahaan terhadap karyawannya menandakan bahwa pihak perusahaan. b. stabil dan produktif (Majalah Jamsostek. bukan saja untuk memelihara tingkat produktivitas atau disiplin tetapi juga memelihara eksistensi dan kualitas hidup tenaga kerja.. Dengan mengikuti jaminan pemeliharaan kesehatan manfaat yang diperoleh bagi karyawan adalah: 1. 5. sehingga iuran jaminan sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan. 2. Tidak lagi direpotkan dengan berbagai masalah kesehatan tenaga kerja serta keluarganya. Pergi keluar negeri atau pulang ke negeri asal untuk tidak kembali lagi (Kertonegoro. Jika dibandingkan dengan tingkat ratarata pendapatan tenaga kerja.. Volume 5. Pembayaran secara berkala dapat dilakukan apabila seluruh jaminan hari tua mencapai Rp 3. Meninggal dunia. 3. 4. Memperoleh kepastian pelayanan medis pada saat membutuhkan. Koleksi BPAD Prov SU . Program Jaminan hari tua diselenggarakan dengan cara atau sistem tabungan hari tua (provident fund). 14 1993 pasal 24). uang muka dan biaya rumah sakit/ dan bersalin.(tiga juta rupiah). biaya pelayanan kesehatan relatif cukup mahal. Jadi besarnya iuran yang harus dibayar pengusaha setiap bulannya adalah sebesar 5. Bagi yang masih lajang sebesar 3 % dari upah sebulan dan yang sudah berkeluarga sebesar 6 % dari upah sebulan. Tenaga kerja menanggung iuran sebesar 2 % (Christine. bunga dan masa kepesertaan. obat. Usaha ini hanya bisa dilakukan oleh badan penyelenggara yang khusus dan profesional serta bisa diperoleh efisiensi dan efektivitas yang tinggi melalui prinsip gotong-royong antara peserta yang jumlahnya besar dan merata. Mengalami cacat total dan tetap sehingga tidak bisa bekerja lagi.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Pengusaha menanggung iuran sebesar 3. Nomor 2. Halaman 132-150 Melihat permasalahan di atas. et al. bagi perusahaan juga memperoleh manfaat sebagai berikut: 1. Pemeliharaan kesehatan bagi karyawan perusahaan tidak dapat dilepaskan sebagai sarana penunjang dalam meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan karyawan yang buruk akan mengakibatkan kecenderungan tingkat absensi yang meningkat. 1997: 140). Program jaminan pemeliharaan kesehatan yang merupakan salah satu dari program Jamsostek. menyadari akan pentingnya faktor kesehatan dalam menunjang peningkatan produktivitas kerja karyawan. Kemanfaatan dari jaminan hari tua berupa pembayaran saldo tabungan pada saat timbul hak peserta yaitu: 1.000. Tidak lagi diperlukan pembiayaan dokter. Jaminan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan keluarganya memerlukan pelayanan medis dan spesifik dan pembiayaan yang rasional untuk menghindari berbagai penyalahgunaan dan biaya yang berlebihan. Besarnya saldo tabungan tersebut tergantung dari iuran.

pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan. Di samping itu JKK juga memberi prothetse anggota badan dan alat bantu seperti kursi roda bagi penderita cacat tenaga kerja. antara lain berupa: pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter. Kemanfaatan lainnya adalah seperti: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) ikut menunjang usaha-usaha pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja melalui Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Penunjang diagnosis. Rawat inap tingkat pertama. Ultrasonography (USG). Jaminan pemeliharaan kesehatan diberikan dalam bentuk pelayanan medis sebagai paket jaminan pemeliharaan kesehatan dasar. Di samping itu perusahaan ini telah melaksanakan program Jamsostek dengan memasukkan karyawannya sebagai peserta Jamsostek. pemeriksaan kehamilan. tetapi apabila lebih dari 100 orang maka diambil sampel sebesar 25% (Arikunto. Penelitian ini dilaksanakan di PT Asam Jawa yang berkantor pusat di Jalan Gajahmada No. Metode ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu objek yang diteliti dalam hal ini adalah menggambarkan implementasi jaminan sosial tenaga kerja dan kesejahteraan keluarga karyawan yang diberikan PT Asam Jawa Medan. Jamsostek tidak hanya memberi ganti rugi dan pelayanan penyembuhan semata-mata. kompensasi. prothese gigi Rp 80. prothese kaki Rp 150. Jika populasi kurang dari 100 maka sampel dapat diambil seluruhnya.000.-.000.. sudah termasuk perawatan khusus (ICCU/ICU) ditanggung maksimum 20 hari per kasus per tahun. 3. paket tersebut dari: 1. Jaminan pemeliharaan kesehatan bukan saja dilaksanakan terhadap tenaga kerja itu sendiri tentu juga keluarga tenaga kerja dengan 3 orang anak.-. Computerized Tomography (CT) Scaning sesuai tersedianya fasilitas tersebut. Implementasi Jaminan Sosial. 40 Medan. Menurut Arikunto. 4. Rawat jalan lanjutan. 6. Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti yang dianggap dapat menggambarkan populasinya. pengobatan. dan rehabilitasi. 7. menginap dan makan pada kelas II rumah sakit pemerintah atau kelas III rumah sakit swasta. radiologi. Dalam hal ini karena populasi kurang dari 100 orang maka seluruhnya dijadikan sampel.000. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) juga ikut membantu upaya-upaya pendidikan kesehatan. preventif pencegahan. terutama berupa: pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis. 2. Pelayanan khusus terutama berupa penggantian maksimum biaya kacamata Rp 50. Maka sampel dari penelitian ini adalah semua karyawan yang bekerja di kantor pusat PT Asam Jawa Medan. Lamanya hari rawat yang ditanggung maksimum 60 hari per kasus per tahun. Electro Cardiography (ECG). Metode Penelitian Tipe penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. prothese tangan Rp 125. Pelayanan gawat darurat. tindakan medis sederhana. prothese mata Rp 100.000. Sedangkan jaminan hari tua dan jaminan kematian dapat membantu biaya pendidikan anak-anak tenaga kerja secara selektif melalui pemberian beasiswa. terutama berupa: pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter umum dan dokter gigi. Dengan demikian kemanfaatan JKK meliputi usaha-usaha prevensi.-. alat Bantu dengan Rp 1. 2004: 35). terutama berupa: pemeriksaan laboraturium. Perusahaan ini bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan merupakan perusahaan perkebunan swasta nasional.-.000. JPK memberi pelayanan promotif (peningkatan).000.-. Rawat inap di rumah sakit..000. Pertolongan persalinan. Dengan demikian tenaga kerja dan keluarganya dapat meningkatkan kesehatannya tanpa harus memikirkan biaya kesehatan dan kesejahteraan keluarganya dapat tercapai. kuratif (penyembuhan dan rehabilitatif). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di Kantor Pusat PT Asam Jawa Medan yang berjumlah 40 orang. terutama berupa: tindakan medis oleh dokter atau bidan yang menginap di rumah sakit.Utamaningsih dan Siagian. terutama berupa: pemeriksaaan. tetapi lebih komprehensif. 1993: 36).-. 2002: 149). PT 139 Koleksi BPAD Prov SU . 5. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran atau melukiskan kenyataan yang ada tentang masyarakat atau kelompok orang tertentu di lapangan secara analisis yang prosesnya meliputi penguraian hasil observasi dari suatu gejala yang diteliti atau lebih (Irawan. Electro Encephalogy (EEG). tindakan medis dan rawat inap (jika perlu) ( Kertonegoro. tindakan medis.

Pendidikan Untuk meringankan beban tanggungan karyawan. biaya pengobatan dan rawat inap seluruhnya menjadi tanggung jawab perusahaan yang akan diklaim oleh PT Astek. atau dengan kata lain aspek kesehatan adalah salah satu indikator tingkat kesejahteraan. c. dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 334 Medan. yaitu dengan cara menjabarkan data yang diperoleh dari penelitian. Rantau Prapat atau Medan. Setiap bulannya karyawan yang telah ditunjuk oleh perusahaan sebagai pelaksana Jamsostek memberikan iuran kepada PT Astek (persero). Jamsostek yang telah dilaksanakan oleh perusahaan. Jaminan Kesehatan serta Jaminan Hari Tua yang juga dilaksanakan oleh perusahaan sendiri yakni yayasan perusahaan dana pensiun PT Asam Jawa Medan. Pembayaran Santunan. Perusahaan juga memberikan immunisasi hepatitis B kepada karyawan. Sedangkan untuk karyawan pusat perusahaan memberikan bantuan rumah dengan memberikan tunjangan tidak tetap berupa penggantian uang sewa rumah yang diperoleh setiap tahun. Di kebun semua karyawan mendapat perumahan yang layak huni dengan fasilitas listrik dan air. yaitu program Jaminan Kecelakaan Kerja. dengan ketentuan sebagai berikut: 1. juga di dalam keputusan kerja bersama antara karyawan dengan perusahaan menetapkan hal. diberi kompensasi rumah sebesar 25 % dari gaji tiap bulannya.hal yang berhubungan dengan pemberian kesejahteraan keluarga karyawan yaitu: a. berusia di bawah 19 tahun. Maksimal 3 (tiga) orang anak dari hasil perkawinan yang sah (termasuk anak angkat/tiri yang sah). Sedangkan untuk karyawan pusat perusahaan juga mempunyai rumah sakit rujukan seperti RSU Permata Bunda dan RSU Gleneagles Medan. Bagi karyawan yang belum memiliki rumah sendiri. maka perusahaan akan menanggung anggota keluarga karyawan dengan berupa tunjangan tetap pendidikan yang diperoleh setiap tahun. perusahaan telah mengadakan 1 unit kendaraan ambulans yang dapat mempercepat pelayanan darurat ke rumah sakit PTP IV Torgamba (45 km) dari lokasi kebun. keterangan atau fakta yang diperlukan peneliti dengan menggunakan teknik pengumpulan berupa observasi dan penyebaran angket. Iuran berdasarkan jumlah yang tercantum dalam formulir Daftaran Tenaga Kerja yang telah diisi oleh karyawan yang bertugas sebagai pelaksana Jamsostek atas keterangan karyawan yang akan menjadi peserta Jamsostek. Halaman 132-150 Asam Jawa juga telah melaksanakan berbagai bentuk pemberian kesejahteraan bagi karyawan juga keluarga karyawan tersebut. b. Volume 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada Perusahaan PT Asam Jawa Medan Jamsostek diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jamsostek yakni PT Astek (Asuransi Tenaga Kerja) yang berkantor di Jalan Patimura No. Sehubungan dengan hal tersebut. Selain pelaksanaan jaminan sosial yang dijelaskan sebelumnya. Mei 2006. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif. Jaminan Kematian. Untuk yang masih sekolah perusahaan juga memberikan 2 stel pakaian seragam sekolah setiap tahun. Secara periodik melaksanakan Medical Chek Up kepada karyawan dan staf. 2. huni. Nomor 2. Dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan. Pelayanan Kesehatan Pemeliharaan kesehatan karyawan beserta keluarganya merupakan faktor yang menentukan keluarga tersebut dapat dikatakan sejahtera. belum kawin dan tidak mempunyai penghasilan sendiri atau berusia di bawah 24 (dua puluh empat tahun) tetapi masih sekolah/ kuliah dengan dibuktikan surat keterangan dari sekolah/universitas. Rumah Tempat Tinggal Kebutuhan yang amat mendasar salah satunya adalah rumah tinggal yang layak 140 Koleksi BPAD Prov SU . Pembayaran Iuran. Untuk mengetahui data atau informasi. kemudian dilakukan analisis data dengan menggambarkan kenyataan yang ada di tempat penelitian yang tersusun dalam bentuk tabel tunggal untuk memberikan penjelasan dan komentar-komentar.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.

. lama bekerja. bela diri dan golf khusus untuk karyawan staf dan untuk tingkat asisten ke atas. dan jumlah anak. Setiap bulannya 5.0 g. Tempat Ibadah Untuk karyawan yang beragama Islam sebuah mesjid sudah dibangun permanen di emplasmen induk yang dapat menampung ±200 orang. Hal ini ditujukan untuk kesejahteraan karyawan yang purna tugas tersebut. 1. bulu tangkis.0 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 40 orang. Program Pensiun Pimpinan PT Asam Jawa tidak akan membiarkan karyawannya yang purna tugas akan kehilangan penghasilannya. 3. Bantuan Fasilitas Olah Raga Kegiatan olah raga bagi karyawan merupakan salah satu usaha peningkatan kesehatan karyawan. Banyaknya responden yang berjenis kelamin pria pada dasarnya tidak berpengaruh terhadap hasil penelitian ini.5 %) dan responden yang berjenis kelamin wanita sebanyak 15 orang (40 %).7 % dari saldo gaji akan disetor ke PT Astek sedangkan yayasan yang dimiliki perusahaan tidak memungut iuran dari karyawannya tetapi perusahaan memberikan 8. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin No. Prapat dan tempat lain. Tabel 2. 2. h. tenis meja. Menunaikan Ibadah Haji Karyawan diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya sendiri.5 100.0 15. Untuk mendapatkan cuti menunaikan ibadah haji seorang karyawan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. pendidikan formal. Implementasi Jaminan Sosial. d. bahwa pada saat sesudah purna tugas nanti hidupnya akan tetap terjamin. Olah raga yang menonjol di perusahaan ini adalah sepak bola. Distribusi Responden Berdasarkan Usia No. e. baik peralatan maupun lapangan dan waktu latihan. Karakteristik umum responden terbagi ke dalam 6 pertanyaan yang meliputi: jenis kelamin. status perkawinan. Sedangkan untuk karyawan yang beragama Kristen. di emplasmen induk di bangun gereja yang biasanya menampung 100 jemaat. Semua jenis olah raga tersebut mendapat fasilitas dari perusahaan. 4. 2. konsumsi dan transport ditanggung perusahaan.0 100. f. Olah raga massal biasanya diadakan pada saat menjelang 17 Agustus pada setiap tahunnya. Surat permohonan ibadah haji harus dilengkapi dengan surat resmi dari Departemen Agama mengenai quota yang diperoleh. Koleksi BPAD Prov SU 141 . Untuk karyawan pusat disediakan mushalla di kantor. catur.Utamaningsih dan Siagian. Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah Sumber: Data Primer F 25 15 40 % 62. Rekreasi Rekreasi bersama dilaksanakan setiap 1 tahun secara priodik dengan biaya akomodasi. bola voli.5 37. semua karyawan telah mengetahui. Tabel di atas menunjukkan responden yang berjenis kelamin pria lebih dominan daripada responden wanita. Dengan peranan yayasan ini. 3. Tabel 1.46 tahun >46 tahun Jumlah Sumber: Data Primer F 0 18 16 6 40 % 0 45. 2. 1. Program pensiun di PT Asam Jawa dilaksanakan oleh PT Astek dan juga oleh yayasan perusahaan sendiri.4 % dari gaji mereka untuk masa pensiun mereka tiba. Hanya untuk 1 (satu) kali naik haji. usia. karena itu ditetapkan program pensiun. Telah bekerja sekurang-kurangnya selama 3 tahun.0 40. Begitu pula dengan penginapan karyawan bebas memilih penginapan yang diinginkan di Berastagi. responden yang berjenis kelamin pria sebanyak 25 orang (62. Usia < 25 tahun 25-35 tahun 36..

Apalagi sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan. 2. Volume 5.5 100. Pada Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata responden bekerja di atas 11. Nomor 2. 3 1992 tentang Jamsostek meyebutkan suatu perusahaan wajib menjadi 142 Koleksi BPAD Prov SU . Dalam UU No. Pendidikan Sarjana Diploma SMU/ Sederajat Jumlah Sumber: Data Primer F 21 10 9 40 % 52. 2. 3.5 2. 4 Status Perkawinan Tidak Menikah Menikah Janda Duda Jumlah F 1 35 3 1 40 % 2. dan menyandang gelar diploma adalah 10 orang (25%). Ini membuktikan bahwa perusahaan juga sangat menuntut prestasi dan dedikasi karyawan mereka.5 25.5%) dari jumlah seluruh karyawan sebanyak 40 orang.5%).20 tahun yakni sebanyak 25 orang (62. Juga Terdapat sebanyak 7 orang (17. Rata-rata yang berpendidikan SMA merupakan karyawan yang telah bekerja cukup lama dan berada pada posisi di kantor pun cukup dihormati. Tabel 3.0 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat mayoritas responden PT Asam Jawa Medan dengan jumlah 21 orang (52. menanggapi hal ini perusahaan merasa bahwa untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.0 Tabel 4.5%). Lama Bekerja < 1 Tahun 1-10 tahun 11-20 tahun > 20 tahun Jumlah Sumber: Data Primer F 0 8 25 7 40 % 0 20. Distribusi Responden Berdasarkan Status Perkawinan No. 1. Tabel 5. Responden yang berumur kurang dari 25 tahun tidak ada. 3. akan tetapi difokuskan pada kemampuan responden menemukan ide-ide baru yang mampu meraih serta meningkatkan produksi perusahaan. Sedangkan yang belum menikah hanya satu orang saja (2. 4.5 7.5 87.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 3.5%) adalah sarjana. Kita tahu bahwa di atas umur 45 tahun adalah umur yang sangat produktif.5) responden yang telah mengabdi lama selama lebih dari 20 tahun.0 Sumber: Data Primer Pada Tabel 5 di atas dapat diamati bahwa jumlah responden PT Asam Jawa Medan yang sudah menikah cukup tinggi yakni berjumlah 35 orang (87. Sedangkan karyawan yang memiliki pendidikan SMA ternyata dapat memberikan dedikasi yang dapat disejajarkan dengan para karyawan yang sarjana ataupun diploma. hal ini disebabkan karena mereka baru bergabung dengan perusahaan.5 100. dalam hal ini perusahaan tidak memfokuskan pada usia produktif. Halaman 132-150 Pada Tabel 2 di atas dapat diketahui responden yang berusia 36-46 tahun berjumlah 16 orang (40 %) dan responden yang berumur 25-35 tahun sebanyak 18 orang (45%).5 100. Hal ini juga karena responden merasa aman dan nyaman bekerja. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan No. Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pendidikan formal mayoritas responden adalah sarjana. Meskipun gaji mereka terbatas namun gaji tersebut mampu mencukupi kebutuhan mereka. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Bekerja No. Para responden pada umumnya bekerja pada kurun waktu yang cukup lama disebabkan kemauan yang kuat dari dalam diri responden tersebut untuk meningkatkan karier melalui prestasi di perusahaan.0 62.5 17. 2. Sedangkan pendidikan formal minimal SMU/Sederajat berjumlah hanya 9 orang (2. Hal ini disebabkan perusahaan mengadakan penyaringan sumber daya manusianya guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas perusahaan. Sedangkan responden yang berumur > 46 tahun berjumlah hanya 6 orang. maka perusahaan harus mencari sumber daya manusia yang produktif. 1. 1. Mei 2006. Begitu pula terdapat 3 karyawan yang janda dan 1 karyawan duda. Sedangkan Pada jawaban responden diketahui hanya 8 orang (20%) yang bekerja di bawah 1-10 tahun.0 22.5%) dan bukanlah karyawan yang baru bekerja tetapi merupakan karyawan lama.

0 untuk dirinya dan keluarganya. 3. termasuk soal makanan.5 70. 2.0 Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa responden yang memiliki jumlah anak 34 anak adalah 11 orang (27. 3. Hal ini dimungkinkan karyawan yang akan menerima santunan seperti jaminan kesehatan yang disediakan karyawan tidak dipergunakan dengan alasan karyawan tersebut malas karena fasilitas 143 Koleksi BPAD Prov SU . sebaliknya perusahaan membantu dalam mengurus jaminan sosial yang harus diterima oleh responden. Bahkan sebanyak 9 orang (22. 1. Penerimaan Santunan oleh Responden No. Berdasarkan pendapat seorang responden perusahaan tidak pernah mempersulit responden untuk mendapatkan jaminan tersebut. lanjut usia. perumahan dan perawatan kesehatan serta usaha-usaha sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan di waktu mengalami pengangguran.5 0 100.0 0 0 100. Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kesehatan. Persepsi Responden tentang Prosedur Menjadi Peserta Jamsostek No. 3.0 27. Tanpa melihat status karyawan tersebut.5 0 100. Mereka mengutip iuran dari karyawan dan melaporkan kepada PT Astek. Kategori Sangat mudah Mudah Sulit Jumlah Sumber: Data Primer F 9 31 0 40 % 22.5 17. Di perusahaan diketahui bahwa bagian pelaksana Jamsostek adalah karyawan yang berada pada jabatan Pelaksana Administrasi Kesejahteraan Karyawan.5 %) menyatakan sangat mudah untuk mendapatkan jaminan sosial tersebut. Tabel 6. Tabel 8. peserta Jamsostek jika mereka mempekerjakan lebih dari 10 karyawan dengan upah di atas Rp 1000.0 Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden yang terdiri dari 40 orang telah menerima santunan sebanyak 31 orang (77. Jumlah Anak 0 1 –2 3-4 5-6 Jumlah F 1 28 11 0 40 % 2. 2. Juga anak-anak mereka telah duduk di bangku sekolah yang rata-rata masih SLTP. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak No. 1.000..5%) dan jumlah 1-2 anak sebanyak 28 orang (70%). Kategori Semua program Sebagian program Belum menjadi peserta Jumlah F 40 0 0 40 % 100. Rata-rata responden telah memiliki anak. Dengan demikian karyawan telah mempunyai hak untuk mendapatkan upah dan perlindungan kesehatan.Utamaningsih dan Siagian.-. 2. 3. Implementasi Jaminan Sosial. janda.5%) dan sebanyak 9 orang (22.5 %) bagi mereka memperoleh Jamsostek. Program Jamsostek yang diikuti yakni Jaminan Kecelakaan Kerja. atau mengalami kekurangan nafkah lain-lain karena diluar kekuasaannya”. Tabel 7. Karyawan dinyatakan menjadi peserta Jamsostek dihitung setelah menjadi pegawai PT Asam Jawa Medan. Hal ini terlihat dari jawaban responden (N = 40) yang menyatakan telah menjadi peserta Jamsostek dengan bukti memiliki kartu peserta Jamsostek dan saldo Jaminan Hari Tua.5 77. 2. pekerjaan. Jaminan Kematian.5%) hanya beberapa menerima santunan.. Distribusi Responden Berdasarkaan Kesertaan pada Program Jamsostek No 1. perlindungan kecelakaan kerja dan lainnya sesuai dengan pasal 25 ayat (1) Declaration of Human Right sebagai berikut: “Setiap warga negara berhak atas hidup yang menjamin kesehatan dan keadaan baik Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa mayoritas responden menyatakan mudah sebanyak 31 orang (77. 4.0 Sumber: Data Primer Berdasarkan distribusi jawaban responden pada Tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa karyawan telah menjadi peserta seluruh program Jamsostek. Tabel 9.5 0 100. 1. Kategori Pernah Beberapa jenis Jamsostek Tidak Pernah Jumlah Sumber: Data Primer F 31 9 0 40 % 82.

5 %). beberapa karyawan mengaku bersyukur karena tidak menerima santunan kematian . 1. Bagitu pula dengan biaya pemakaman. Mei 2006. 1.0 0 100. Volume 5.0 0 100. Tetapi perusahaan tetap memotong uang transport karyawan yang tidak dapat bekerja dikarenakan sakit. Terlihat dari data mayoritas responden menjawab perusahaan tetap membayar sebanyak 34 orang (90%).5 0 100. Karyawan yang mengalami kecelakaan kerja akan dirawat di rumah sakit rujukan dari perusahaan setelah itu fotokopi kuitansi tersebut akan menjadi bukti untuk mengajukan klaim ke Jamsostek yakni PT Astek.0 Tabel 11. Menurut beberapa responden mereka merasa perusahaan cukup memperhatikan sehingga kesejahteran karyawan tetap diutamakan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Santunan Bagi Karyawan yang Meninggal No. Begitu pula apabila karyawan mengalami kecelakaan yang cukup berat dan rumah sakit yang telah dirujuk tidak dapat menanganinya maka perusahaan pun bersedia memindahkan karyawan tersebut ke rumah sakit lain yang lebih baik. 3. Berdasarkan Tabel 11 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan memberikan perhatian yang besar kepada karyawan dengan tetap membayarkan gaji terhadap karyawan yang tidak dapat bekerja. Sedangkan responden yang menjawab hanya sebagian saja hal ini dikarenakan responden tersebut adalah karyawan yang baru masuk bekerja. 2. 3.0 Pada Tabel 12 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan memberikan informasi pada karyawan tentang pemberian tunjangan kematian tentunya perusahaan akan melaksanakan kewajibannya dengan memberikan santunan kematian kepada karyawannya. Selain santunan kesehatan juga salah satunya adalah santunan kemalangan atau kematian. Tabel 12. 1. 3.5%). Kategori Diberikan santunan Hanya orang tertentu Tidak diberikan Jumlah Sumber: Data Primer F 34 6 0 40 % 90. Kategori Memadai Kurang memadai Tidak memadai Jumlah Sumber: Data Primer F 35 5 0 40 % 87.. Tabel 10. Halaman 132-150 kesehatan jauh dari rumah/tempat tinggal karyawan. Perusahaan tidak tinggal diam membiarkan karyawannya yang terkena musibah atau yang sedang dalam kesulitan. Responden mengaku untuk biaya kesehatan bagi mereka perusahaan telah memberikan yang terbaik. Sehingga tidak dapat dipungkiri biaya kesehatan yang diberikan perusahaan telah mempengaruhi peningkatan kesejahteraan mereka dan ketentraman serta perasaan aman karyawan dalam bekerja pun dapat lebih produktif lagi. Perusahaan mengganti seluruh biaya akibat kecelakaan kerja. Penggantian Biaya dari Perusahaan Jika Responden Mengalami Kecelakaan Kerja No. Menurut pengakuan responden. Responden hanya perlu menunjukan bukti-bukti kecelakaan dengan memberikan fotokopi kuitansi dari rumah sakit dan apotek tempat mereka berobat. Dapat kita ketahui bahwa pengobatan kesehatan betul-betul mahal harganya apalagi di era seperti sekarang ini. Nomor 2. 2.5 12. Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga karyawan tentunya.0 10.0 Pada Tabel 10 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan sangat memperhatikan karyawannya ini dapat terlihat pada data di atas bahwa mayoritas responden menjawab memadai sebanyak 35 orang (87. Sedangkan responden yang menjawab kurang memadai hanya 5 orang (12. 2.0 10. Pembayaran Gaji Karyawan yang Belum Bekerja Karena Kecelakaan Kerja No. Mereka memberikan kepada pihak keluarga yang ditinggalkan. Hal ini dimungkinkan karyawan tersebut baru bekerja. pemberian santunan kematian tersebut sangat membantu keluarga yang ditinggalkan Hal ini diketahui 144 Koleksi BPAD Prov SU . Kategori Semua dibayar Sebagaian dibayar Tidak dibayar Jumlah Sumber: Data Primer F 34 6 0 40 % 90.

0 0 100. 2.5%) menjawab sangat memadai.0 Koleksi BPAD Prov SU 145 .000 Jumlah Sumber: Data Primer F 11 22 7 40 % 55.000 1. 3. Hal ini diketahui dari jawaban responden sebanyak 24 orang (60%). Distribusi Karyawan Berdasarkan Gaji per Bulan No.. Tabel 16. Implementasi Jaminan Sosial. Walaupun mereka juga mengakui bahwa responden itu sendiri tidak tahu berapa besar jumlah pesangon yang akan mereka terima. 3. Selain itu sebagai rasa bela sungkawa para karyawan memberikan sumbangan ala kadarnya untuk memberikan kepada ahli waris tanpa mengurus biaya pemakaman.5 47.000-1.0 0 100. 1.000. Pemberian Bantuan Bagi Keluarga Karyawan yang Meninggal No. 2.5 17. Selain itu sebagai rasa bela sungkawa para karyawan memberikan sumbangan ala kadarnya untuk memberikan kepada ahli waris tanpa mengurus biaya pemakaman. Hal ini dimungkinkan karyawan tersebut relatif baru bekerja dalam kata lain dalam proses masuk peserta jaminan kematian. Kategori Cukup Memadai Memadai Tidak Memadai Jumlah Sumber: Data Primer F 24 16 0 40 % 60.000-3. Anggota keluarga yang mendapatkan bantuan hanya istri/suami dan anak.5 0 100. Hal ini diketahui dari jawaban responden yang menjawab point 1 sebanyak 36 orang (90%). dari jawaban responden sebanyak 34 orang (90%) dan hanya 6 orang (10%) saja yang menjawab hanya orang tertentu saja. 1.0 Pada Tabel 15 dapat diketahui rata-rata responden mengaku bahwa jaminan hari tua yang akan mereka terima memadai sebanyak 19 orang (47. Hanya saja mayoritas responden tidak mengetahui secara pasti berapa besar jumlah biaya yang biasa diberikan kepada ahli waris sebagai santunan apabila ada karyawan yang meninggal dunia. 3.000. Kategori Semua mendapat Hanya orang tertentu Tidak diberikan Jumlah Sumber: Data Primer F 36 4 0 40 % 90. Bahkan 21 orang (52. Tabel 14. 2. 1. check up.0 Pada Tabel 13 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan juga turut serta membantu keluarga karyawan yang mengalami musibah sekalipun di luar hubungan kerja. 1. Kategori (Rp) > 3. Jaminan Hari Tua dari Perusahaan No. Responden yang menjawab memadai berjumlah hanya 16 orang (40 %). Ini berlaku bagi seluruh anggota keluarga karyawan. Tabel 15.5%).Utamaningsih dan Siagian. Tabel 13.0 27.0 Pada data Tabel 14 di atas dapat diketahui fasilitas yang disediakan oleh perusahaan cukup memadai.5 100. Kategori Cukup Memadai Memadai Tidak Memadai Jumlah Sumber: Data Primer F 21 19 0 40 % 52. Tetapi dengan pembayaran iuran yang berasal dari gaji mereka responden yakin perusahaan pasti memberikan yang terbaik kepada karyawannya.500.500. Tentunya dengan kesehatan yang cukup baik karyawan dapat bekerja lebih produktif lagi dan kesejahteraan keluarga mereka dapat terpenuhi. Sedangkan sebanyak 4 orang (10%) menjawab hanya orang tertentu saja. Masa kepesertaan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun semenjak pembayaran iuran pertama program jaminan hari tua.. Fasilitas yang diberikan perusahaan meliputi rawat inap. Responden mengaku bahwa saat ini biaya rumah sakit sangat mahal sehingga jelas fasilitas yang diberikan oleh perusahaan telah membantu karyawan untuk menjaga kesehatan mereka. Hal ini responden adalah karyawan yang baru bekerja. 2. berobat. penggantian lensa kaca mata setiap tahun serta perobatan dan perawatan gigi. 3.0 40. Fasilitas Kesehatan No.0 10.000 650. Pihak perusahaan akan mengurus klaim jaminan kematian segera sehingga pihak keluarga karyawan yang ditinggalkan tidak perlu mengurus jaminan kematian tersebut.

0 0 0 100. tunjangan jabatan. Ini berarti PT Asam Jawa telah menerapkan penghasilan karyawannya sesuai dengan UMR yang berlaku.000.berjumlah 7 orang (17. Tabel 19. Hal ini berarti perusahaan memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Kategori Sangat sering Sering Tidak pernah Jumlah Sumber: Data Primer F 0 40 0 40 % 0 100. Penerimaan Bonus oleh Karyawan No. Tabel 17. Kategori Bantuan perusahaan Bantuan keluarga dan Perusahaan Diperoleh sendiri Jumlah Sumber: Data Primer F 23 17 0 40 % 57.– Rp 1. Gaji pokok yang diberikan oleh PT Asam Jawa Medan kepada seluruh karyawanya adalah di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) yakni Rp 660. Selain bonus tunjangan tidak tetap yang diberikan perusahaan meliputi tunjangan sekolah anak karyawan. Nomor 2. Bantuan perusahaan dimasukkan ke dalam tunjangan perumahan.0 Berdasarkan data Tabel 18 di atas dapat diketahui responden yang menerima bonus sebanyak 40 (100%). 2.000.kadang Tidak menerima Jumlah Sumber: Data Primer F 40 0 0 40 % 100.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.. Responden yang menjawab poin 2 sebanyak 17 orang (42. 1. Halaman 132-150 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui responden yang berpenghasilan Rp 650.. Responden mengakui dengan pemberian tunjangan tersebut responden tidak terlalu terbebani dalam mencukupi kebutuhan menjelang perayaan hari besar meliputi uang belanja kebutuhan makanan dan baju baru yang tentunya sangat besar biayanya apalagi disangkutkan dengan gaji yang mereka peroleh sehingga mereka betul-betul merasa senang dengan tunjangan yang diberikan perusahaan. Menurut pengakuan responden mereka memperoleh bantuan keluarga berasal dari warisan. Tabel 18. Beberapa responden mengakui bahwa mereka juga sering menerima tunjangan tidak tetap berupa uang pengganti transportasi terutama apabila responden melakukan perjalanan dinas keluar kota maka perusahaan mengeluarkan Surat Perintah Perjalan Dinas (SPPD). Sedangkan Responden mengaku dengan pemberian berbagai tunjangan tidak tetap tersebut dapat meningkatkan serta mempertahankan kesejahteraan bagi keluarga karyawan. Volume 5. Tunjangan diberikan berdasarkan jabatan dan golongan reseponden masing-masing. Mei 2006.5 % atau sebanyak 23 orang bertempat tinggal sendiri atas bantuan dari perusahaan. tunjangan golongan dan natura dan tunjangan kehadiran yang diberikan saat penerimaan gaji pokok bulanan.5%).000. Kategori Menerima Kadang. 1. lembur.000. 1.0 0 100. Hal ini berarti perusahaan memperhatikan karyawan dari segi tunjangan-tunjangan hari besar seperti Idul Fitri. 3.hari mereka tanpa menggangu gaji yang mereka terima.berjumlah 22 orang (55%) dan di atas Rp 3.000.000. 3. Penerimaan Tunjangan Hari-Hari Besar Agama No. Natal dan hari besar keagamaan lainnya.5%) dan yang berpenghasilan Rp 1. 146 Koleksi BPAD Prov SU . Ini membuktikan adanya perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan keluarga karyawan. 3.0 Pada Tabel 17 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden menjawab menerima 40 orang (100%).500. Responden betul-betul merasa terbantu dalam mencukupi kebutuhan sehari..500.– Rp 3. 2. Tunjangan perumahan diberikan kepada responden berdasarkan jenjang dan golongan responden masing-masing.000.-perbulan Tahun 2005. Cara Karyawan Memperoleh Tempat Tinggal No.000 berjumlah 11 orang (17%).0 Berdasarkan Tabel 19 di atas dapat diketahui bahwa responden 57.5 0 100. Menurut responden apabila perusahaan telah mencapai target produksi yang telah ditentukan oleh perusahaan maka bonus yang diterima karyawan minimum sekali setahun dengan jumlah lebih besar dari gaji karyawan. Beberapa responden merasa gaji yang mereka terima dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka tetapi ada juga responden yang merasa gaji yang mereka terima saat ini walaupun sudah melebihi UMP tetap belum mencukupi kebutuhan mereka dikarena harga-harga yang terus naik dan sebagainya. 2.5 42.

Utamaningsih dan Siagian. ditabung Kadang. Dalam hal penerimaan Jamsostek pada Tabel 9 sebanyak 77. Dan beberapa karyawan mengaku bahwa tunjangan yang diberikan menambah gaji pokok yang diberikan dan selain itu tunjangan tersebut juga cukup untuk mendapatkan rumah yang layak dalam persepsi masing-masing.5 0 100. 3. 1. 3. Implementasi Jaminan Sosial. Pada Tabel 12 juga dapat dilihat bahwa 90 % mengaku bahwa perusahaan juga mengurus pemberian santunan biaya 147 Koleksi BPAD Prov SU . Hal ini diketahui dari jawaban responden yang menjawab poin 1 sebanyak 32 orang (80%). Kategori Optimis Kurang optimis Tidak optimis Jumlah Sumber: Data Primer F 40 0 0 40 % 100. Pelaksanaan Jamsostek telah seluruhnya diikuti oleh perusahaan seperti jaminan kecelakaan kerja. Hal ini diketahui dari jawaban responden di atas yang menjawab “ya” ada sebanyak 40 orang (100%) sehingga dimungkinkan kondisi kesejahteraan karyawan sudah membaik.5 % karyawan telah menerima santunan berupa santunan kesehatan dan santunan kematian sedangkan sisanya 22. Tabel 21.5%). jaminan hari tua dan jaminan kematian. Karena gaji yang mereka peroleh dapat dipergunakan untuk kebutuhan yang lain.0 0 0 100. Dalam hal mengenai Jamsostek dapat kita lihat pada Tabel 7 bahwa 100 % karyawan telah terdaftar menjadi peserta Jamsostek. Kategori Optimis Tidak terlalu optimis Pesimis Jumlah Sumber: Data Primer F 32 8 0 40 % 100.5 %) dimungkinkan gaji yang diterima karyawan dipergunakan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga kesempatan untuk menabung tidak kontinu. Jelas hampir seluruh responden merasa terbantu dengan pemberian beasiswa tersebut. Dilihat pada Tabel 8 Karyawan juga tidak merasa kesulitan memahami prosedur Jamsostek terbukti jawaban karyawan 77.0 Pada Tabel 20 di atas dapat diketahui bahwa gaji yang diberikan dapat memiliki rumah yang layak bagi mereka.5 22.0 20. Tabel 20. Sedangkan responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 9 orang (22. Hal ini berarti gaji yang diterima cukup layak dalam memenuhi kebutuhan. 2. 3. Tabel 22. 2. Responden mengaku pada saat ini biaya sekolah sangat besar dan mahal harganya. Sedangkan karyawan menjawab kurang mencukupi sebanyak 8 (20 %). Oleh karena itu karyawan dapat menyisihkan tabungan mereka untuk membeli rumah bagi mereka tinggal bersama dengan keluarga tercinta. Tunjangan perumahan yang diberikan kepada karyawan berdasarkan golongan dan jabatan masing-masing responden.5 % karyawan bersyukur belum pernah menerima santunan kematian. Perilaku Frekuensi Menabung Responden No. Kategori Ya.0 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai keinginan besar menyekolahkan anaknya sampai pada pendidikan yang lebih tinggi.0 bersekolah. Hal ini dikarenakan karyawan tersebut belum memiliki jabatan yang tinggi sehingga tunjangan perumahan yang diberikan tidak terlalu besar. Apalagi diketahui bahwa ratarata responden memiliki anak yang telah Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden setiap bulannya menyisihkan sebagian gaji yang diterima untuk ditabung sebanyak 31 orang (77. Seperti telah diketahui di atas bahwa perusahaan telah memberikan tunjangan perumahan kepada karyawan. 2.. jaminan kesehatan.kadang Tidak di tabung Jumlah Sumber: Data Primer F 31 9 0 40 % 77.. Harapan Memiliki Rumah yang Layak Huni No. 1.5 % hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya perusahaan betul-betul terlibat dalam memberikan keterangan mengenai Jamsostek.0 0 100. Dari hasil penelitian dengan menggunakan penyebaran kuesioner dan memberikan tabulasi ke dalam tabel tunggal maka dapat diambil kesimpulan umum bahwa implementasi Jamsostek dan kesejahteraan keluarga karyawan telah berjalan dengan baik di PT Asam Jawa Medan. Keinginan dan Optimisme Responden Menyekolahkan Anak No 1.

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 132-150

pemakaman dan juga hal ini berlaku bagi keluarga karyawan. Dalam hal penggantian biaya yang diberikan perusahaan terhadap karyawan yang mengalami kecelakaan juga cukup memadai pada Tabel 10 sebanyak 87 % karyawan mengatakan dengan tercukupinya biaya kesehatan yang diberikan tentunya mereka tidak perlu memikirkan biaya pengobatan sekarang yang begitu besar sehingga kebutuhan hidup tidak terganggu. Begitu juga pada Tabel 14 dapat dilihat karyawan mengaku dengan pemberian fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh perusahaan bagi keluarga mereka, sebanyak 40 % karyawan merasa senang karena fasilitas kesehatan yang diberikan perusahaan memadai bahkan 60 % karyawan mengatakan sangat memadai. Pada Tabel 15 sebanyak 47,5 % karyawan mengatakan bahwa jaminan hari tua yang akan mereka dapat kelak memadai bahkan yang menjawab cukup memadai sebanyak 52,5%. hal ini jelas membuktikan karyawan tidak perlu merasa kuatir apabila masa purna tugas itu tiba karena jaminan hari tua yang mereka dapat kelak dilaksanakan dengan baik dan jujur oleh perusahaaan. Selain J amsostek pemberian kesejahteraan keluarga karyawan oleh PT Asam Jawa Medan juga telah terlaksana dengan baik hal ini dapat kita lihat pada Tabel 16 bahwa perusahaan telah menetapkan pemberian upah di atas UMR yang berlaku. Pemberian tunjangantunjangan oleh perusahaan juga telah berjalan dengan baik dapat kita lihat pada Tabel 17 sebanyak 100 % karyawan telah menerima tunjangan hari besar. Karyawan mengaku bahwa tunjangan hari besar yang mereka terima sudah dapat membantu mencukupi kebutuhan menjelang hari raya. Pada Tabel 18 karyawan mengaku sebanyak 100 % karyawan menjawab sering menerima bonus. Selain bonus terlihat perusahaan juga memberikan kepada karyawan berupa tunjangan kehadiran, tunjangan golongan, natura, tunjangan jabatan, tunjangan perumahan. Karyawan mengaku dengan adanya banyak tunjangan yang diberikan dapat meningkatkan serta mempertahankan kesejahteraan bagi keluarga mereka. Dalam hal menerima tunjangan perumahan pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa 57 % karyawan memperoleh bantuan dari perusahaan sedangkan 42,4 % karyawan
148

mengaku selain bantuan perusahaan juga mendapatkan bantuan dari keluarga mereka yang merupakan hasil dari warisan. Pada Tabel 20 sebanyak 80 % karyawan merasa dapat mempunyai harapan memiliki rumah yang layak. Dalam hal menyekolahkan anak karyawan pada Tabel 21 karyawan 100 % berkeinginan menyekolahkan anak dan 90 % karyawan merasa sangat bersemangat untuk menyekolahkan anak mereka sampai keperguruan tinggi terlihat pada Tabel 22. Tetapi sebanyak 10 % karyawan kurang bersemangat hal ini dikarenakan bahwa dibandingkan perusahaan perkebunan swasta lainnya beasiswa yang mereka terima sangat minim. Pada Tabel 23 sebanyak 77,5 % karyawan dapat menabung sehingga ini membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan mereka telah tercukupi. Sedangkan sebanyak 22,5 % menjawab kadang-kadang ditabung, hal ini dimungkinkan kebutuhan yang mereka yang terlalu besar sehingga menabung pun tidak kontinu.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai Implementasi Jamsostek dan Kesejahteraan Keluarga Karyawan maka kesimpulan umum yang dapat diperoleh adalah: 1. Seluruh karyawan PT Asam Jawa telah memper oleh Jamsostek. Umumnya responden merasa dengan adanya Jamsostek perusahaan peduli terhadap kesejahteraan keluarga karyawan itu sendiri. Baik di saat terjadi kecelakaan kerja maupun kematian. Jamsostek juga merupakan penghargaan terhadap kar yawan yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada perusahaan tempat mereka bekerja. 2. Jaminan hari tua selain dilaksanakan oleh PT Astek juga dijalankan oleh Yayasan Dana Pensiun Perusahaan. Seluruh responden merasa pemberian jaminan hari tua mereka memadai sehingga mereka tidak perlu kuatir apabila masa purna tugas itu tiba. 3. Jaminan kesehatan juga sangat membantu karyawan dalam memperoleh kesehatan bagi keluarga mereka. Apalagi di saat ini biaya kesehatan yang sangat mahal sangat

Koleksi BPAD Prov SU

Utamaningsih dan Siagian, Implementasi Jaminan Sosial...

4.

5.

6.

7.

mempengaruhi karyawan dalam memenuhi kehidupan bagi keluarga mereka. Wujud kepedulian PT Asam Jawa Medan juga ditujukan oleh pemberian berbagai tunjangan dan fasilitas-fasilitas kerja bagi karyawannya seperti tunjangan tidak tetap yang diterima dalam bentuk tunjangan kehadiran, penggantian uang transport, upah lembur, dan lain- lain. Berdasarkan hasil penelitian responden mengaku karyawan merasa terbantu dalam mencukupi kehidupannya. Dalam hal kepemilikan rumah PT Asam Jawa Medan juga memberikan tunjangan perumahan bagi kar yawannya. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tunjangan perumahan yang diberikan dapat memberikan harapan kepada karyawan untuk memiliki rumah yang layak bagi keluarga tercinta. Berdasarkan hasil penelitian dengan adanya beasiswa yang diberikan oleh PT Asam Jawa terhadap keluarga karyawan dirasakan sangat membantu dalam menyekolahkan anak mereka sampai ke perguruan tinggi. Mereka juga sangat bersemangat dalam menyekolahkan anak mereka setinggitingginya walaupun didapatkan beberapa responden mengaku bahwa beasiswa yang diberikan perusahaan terhadap karyawannya sangat minim dibandingkan perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta lainnya. Implementasi Jamsostek dan kesejahteraan keluarga karyawan yang telah dilakukan oleh PT Asam Jawa Medan ternyata sangat membantu karyawannya dalam mencapai kesejahteraan bagi keluarga mereka

2. Pihak perusahaan PT Asam Jawa Medan sudah memberikan kebijakan yang arif tentang pelaksanaan Jamsostek begitu pula ditambah dengan pemberian tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap. Hal ini menunjukan bahwa PT Asam Jawa sudah memberikan contoh yang baik dalam usaha peningkatan kesej ahteraan karyawan. Untuk itu agar cara yang sudah ditempuh dapat dipertahankan dan dapat ditingkatkan. 3. Dalam tingkat mencapai tujuan kesejahteraan karyawan yang lebih optimal ternyata PT Asam Jawa Medan telah memberikan apa yang menjadi hak karyawan. Untuk itu kepada karyawan diharapkan dapat meningkat kan produktivitasnya agar pemberian kesej ahteraan dapat ditingkatkan dan dipertahankan.

Daftar Pustaka
Abud, Abdul Ghani, 1987, Keluarga Muslim dan Berbagai Macam Masalahnya, Pustaka Bandung. Arikunto, Suharsimi, 1993, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Yogyakarta, 1993 Asikin, Zainal, et al, 1993, Dasar-dasar Hukum Perburuhan, Raja Grafindo Persada Indonesia Cohen, Bruce C. 1992, Sosiologi Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta, 1992. Hasibuan, S.P. Malayu, H., 2003, Manjemen Sumber Day Manusia. Bumi Aksara. Jakarta. Husni, Lalu, 2003, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta. Kansil, Christine, 1997, Pokok- Pokok Hukum JAMSOSTEK, Pustaka Sinar Harapan. Kertonegoro, Sentanoe. Et al, 1993, Prinsip dan Praktik Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Jakarta.

Saran
Hasil penelitian ini pada akhirnya mencoba memberi masukan atau saran yang ditujukan kepada semua pihak yang berkepentingan, di sini penulis mencoba memberi saran antara lain: 1. Pemberian beasiswa yang minim dirasakan beberapa karyawan sehingga untuk menyekolahkan anak mereka tidak begitu dapat mencukupi biaya sekolah yang besar sehingga diharapkan kepada pihak PT Asam Jawa dapat lebih meningkatkan jumlah pemberian beasiswa tersebut agar semua karyawan merasa senang dan terbantu.

Koleksi BPAD Prov SU

149

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 132-150

Lanny, Ramli, 1997, Jaminan sosial tenaga kerja Indonesia, Airlangga Universitas Press. Manulang, Sendjun, 2001, Pokok Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta. Nawawi, Hadari, 1991, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta. Nurdin, Fahdi, 1989, Pengantar Studi Pekerjaan Sosial, Angkasa Bandung. Partowisastro, Koestoer, 1983, Dinamika Psikologi Sosial, Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta. Siagian S.P, 1999, Manajemen Sumber Daya Manusia, PTRajawali Press, Jakarta. Simanjuntak, Payaman, J, 1994, Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, LPFE Universitas Indonesia, Jakarta Singarimbun, Masri, 1995, Metode Penelitian Survei, LEP3S, Jakarta.

Soehartono,Irawan, 2004, Metode Penelitian Sosial, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Suharsimi, Arikunto, 1993, Prosedur Penelitian, Bina Aksara, Jakarta Wahab, Solichin Abdul, 1991, Analisis Kebijaksanaan Dari Formulasi Keimplementasi Kebijakan Negara, Bumi Aksara, Jakarta.. Sumber-sumber lain: Majalah Jamsostek, Edisi 4 April – Mei 1996 Majalah Jamsostek, Edisi September 1995 7 Oktober –

www.yahoi.com (Jamsostek, Jakarta), Suara Karya “Jamsostek TingkatkanTarget Laba dan Kepesertaan” Minggu, 19 Februari 2006.) www.nakertrans.go.id. (Prof. Dr. Payaman J. Simanjuntak.) Forum Diskusi Kerja. Kompleksitas Masalah Tenaga

150

Koleksi BPAD Prov SU

Di Indonesia. mereka yang produktivitasnya rendah ditentukan di kelompok umur 60-64 tahun (www. Teknologi maju telah menciptakan ribuan pekerjaan baru yang menuntut pendidikan dan keahlian. Setelah memasuki masa pensiun. Pekerja tua cenderung memiliki pendidikan dan keahlian yang terbatas dan keahlian mereka mungkin tidak sesuai dengan industri modern. good in social interaction and environment. The research data collected from 46 retired officials of centre office Pelabuhan Indonesia I in Medan. Dari segi umur dan produktivitas.depnaker. They have house good for lived. happiness Pendahuluan Kemajuan zaman yang diiringi dengan kemajuan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap generasi tua. have money enough. The life style of retired officials contribute to reach the happiness and welfare retired time for officials. penurunan produktivitas tersebut mengharuskan manusia untuk mengurangi. This is a descriptive research shows how are their condition in 5 years later. Jika diperhatikan pada saat ini. Hal ini dikarenakan para pekerja tua dianggap sebagai manusia yang memiliki produktivitas yang rendah. Keywords: welfare. bahkan sama sekali tidak produktif. Pada masa aktif bekerja karyawan memiliki jadwal kerja yang terencana dan ketat.id).ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN PENSIUNAN PADA KANTOR PUSAT PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I MEDAN Fahru Izhar & Edward Abstract The goal of research about retired state company officials welfare is shows the fact how is the level of welfare of retired state company in centre office of Pelabuhan Indonesia I PT in Medan. golongan karyawan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan di dalam gerak roda ekonomi bangsa. sehingga para pekerja tua sering menjadi hasil penolakan dari pasar tenaga kerja. and well in social interaction and their environment. Ini menunjukkan bahwa pada umur tersebut kekuatan manusia mulai berkurang untuk meneruskan aktivitas bekerja. kecenderungan yang terjadi adalah semakin meningkatnya penduduk berusia 55 tahun ke atas dan meningkatnya batas umur produktif. The research result shows that retired state company officials have economy activities in formal and informal field. aktivitas bekerja seorang karyawan akan berkurang. bahkan putus sama sekali. tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Data di atas menunjukkan bahwa pada umur tertentu manusia akan mengalami penurunan produktivitas. Setelah berhenti dari Fahru Izhar adalah Staf di Centra Mitra Remaja Medan. Pekerjaan dilakukan untuk kemajuan karier dan perusahaan serta demi mendapatkan upah atau gaji guna memenuhi kebutuhan hidup. menghabiskan waktu. Salah satunya adalah pekerja tua. data yang ada menunjukkan bahwa menurut kelompok umur. The happiness and welfare mention that they are good in health. tetapi teknologi maju juga membatasi dan menurunkan kebutuhan ribuan pekerjaan yang membutuhkan keahlian rendah.co. bahkan melepaskan keterlibatan diri dari berbagai pekerjaan. Edward adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Koleksi BPAD Prov SU 151 . and have two income resources are the company and new economy activity.

Setiap negara mempunyai batasan pengertian sendiri tentang kesejahteraan sosial dan penggunaannya dipengaruhi oleh sejarah. tetapi hanya sebagian kecil yang mengalami hal itu. Sebagian lagi karyawan “tidak makmur” pada masa pensiunnya (Coleman. pensiunan akan kehilangan aktivitas kesehariannya. sentosa. makmur atau selamat (terlepas dari sagala macam gangguan. 1990: 26) mengatakan: “Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk membantu individu dan kelompok untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan. Status dan peranan dalam lingkungan kerja pun ditinggalkan. rohani dan sosial. seperti istilah yang serupa yang dikaitkan dengan persoalan kemiskinan dan ketelantaran orang. A Ponsion mempunyai dua arti yang berbeda. J. kesukaran. yaitu: 1. seperti dana pensiun. kesejahteraan (sejahtera) mempunyai arti “aman. Sebagai suatu indikasi dari kehidupan bersama makhluk manusia. Mei 2006. kemudian berkembang dalam segala arah yang bersangkut paut dengan pembaharuan masyarakat yang bertujuan menanggulangi kemiskinan dan ketelantaran. pelayanan sosial. tanpa adanya paksaan dari luar. Perkembangan perikehidupan sosial yang sehat akan tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Kekhawatiran ini semakin besar. 1987: 253).” Undang-Undang Dasar 1945 merumuskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia antara lain bertujuan untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. yang dimaksudkan untuk mencari landasan yang jelas tentang pengertian kesejahteraan sosial. Tidak ada lagi rutinitas kerja yang padat dan terencana. sebagai contoh: pekerja sosial. lebih sentimental dan karena itu menjadi agak kabur. dan relasi-relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat. Dalam uraian ini akan dikutip beberapa definisi kesejahteraan sosial. nilai budaya dan faktor 152 lainnya yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat tersebut. dan lain-lain). 1982: 150). 2. 1987: 23).Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sedangkan istilah “sosial” menurut Dr. Usaha-usaha kesejahteraan sosial itu mewujudkan sarana utama untuk secara Koleksi BPAD Prov SU . dan sebagainya). tunjangan pribadi. pada umumnya meliputi jasmani. Sebaliknya pemerintah wajib memberikan pengarahannya serta menetapkan garis-garis kebijaksanaan yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu. umpama dalam kebersamaan rasa. ditambah lagi terdapatnya unsur pokok yang menjadikan dasar untuk tetap melakukan hubungan kerja. yang dituangkan dalam Undang-Undang No. Dari konotasi ini. Nomor 2. aksi sosial dan semacamnya (Coleman. Menurut Walter A. 6 Tahun 1974. bebas dari penindasan dan penghisapan. Sejak abad ke-19 istilah sosial mempunyai konotasi yang berbeda. berpikir. mengingat keadaan ekonomi dan tingkat ekonomi masyarakat tenaga kerja. Maka dalam hal ini usaha-usaha kesejahteraan sosial harus dilaksanakan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat secara bersama-sama atas dasar kekeluargaan. Friedlander (dalam Nurdin. Volume 5. bertindak dan dalam hubungan dengan manusia. Sebagian besar karyawan mengimpikan kebahagiaan di masa pensiunnya (adanya jaminan pendapatan dari berbagai sumber. jaminan sosial. bahwa setiap warga negara berhak hidup layak. Dalam penjelasan umum tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Permasalahan kesejahteraan sosial yang begitu luas dan kompleks telah menyebabkan timbulnya beraneka pemahaman konsepsi dan usaha perwujudan kesejahteraan itu dalam masyarakat setiap negara. Pada umumnya. bebas dari kehinaan dan kemiskinan. karena itu setiap warga negara Indonesia berhak atas kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya. Agar kesejahteraan sosial itu dapat dicapai. Ditinjau secara harfiah. Secara umum yang dimaksud dengan “kesejahteraan sosial” adalah keadaan sejahtera. maka setiap warga negara Indonesia berhak dan wajib menurut kemampuannya masing-masing untuk sebanyak mungkin ikut serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial. Halaman 151-167 pekerjaan. Karyawan yang tidak makmur masa pensiunnya merasa khawatir menghadapi masa pensiun. pemutusan hubungan kerja karena usia lanjut tidaklah diterima dengan gembira (Poerwono.

Pada masa aktif bekerja gaji yang diterima disesuaikan dengan golongan dan jabatan pada perusahaan yag bersangkutan. jaminan sosial.Izhar & Edward.” Gaji yang diterima pada masa aktif kerja pada umumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. 1985: 16). Juga. Kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi 4. Kebutuhan untuk bertingkah laku sosial 4. 1982: 150). Analisis Tingkat Kesejahteraan. sedangkan pada masa pensiun. Oleh karena itu maka usaha kesejahteraan sosial merupakan usaha serta strategi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. seperti kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan di atas. Berkurang atau berhentinya hasil-hasil yang diterima setelah terjadinya pemutusan hubungan kerja akan mempengaruhi juga kehidupannya (Poerwono. Hanya sebagian kecil penduduk di Indonesia yang menerima tunjangan di hari tua. Akan tetapi hanya sebagian kecil yang dari mereka mengalami hal itu. Tidak semua karyawan yang telah lanjut usianya telah selesai dengan tugas kemasyarakatannya. kebutuhan untuk mencapai sesuatu dan kebutuhan agar diterima dalam kelompok. 1982: 24). yaitu pegawai negeri dan sebagian kecil pegawai swasta. Untuk mengatasi keadaan dan tingkat ekonomi dari tenaga kerja terlihat pemerintah menetapkan upah minimum yang cenderung naik setiap tahun. Memasuki masa pensiun jumlah pendapatan yang diterima sejumlah karyawan mengalami pengurangan yang cukup besar. 153 Koleksi BPAD Prov SU . Kebutuhan melakukan pekerjaan yang disenangi Pengelompokan lain yang cukup dikenal adalah dari Maslow.” (Simanjuntak. Oleh karena itu usaha-usaha kesejahteraan sosial tersebut perlu diselenggarakan sebagai bagian integral dari usaha-usaha pembangunan nasional ke arah mempertinggi taraf hidup seluruh rakyat Indonesia. kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan untuk aktualisasi diri dan bertumbuh (Maslow. maka penghentian dari pekerjaan disertai dengan berkurangnya pendapatan dan terputusnya sumber hidup akan menempatkan buruh dan keluarganya dalam penghidupan yang sangat sulit.. Kebutuhan untuk hidup 2. langsung dapat memperbaiki syarat-syarat kehidupan dan penghidupan rakyat. Pendapatan yang rendah tersebut dapat dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup apabila ada penambahan dari berbagai sumber dana seperti dana pensiun. air. dan lain-lain. Kebutuhan untuk penghargaan 5. 2001). tabungan pribadi. yaitu: kebutuhan akan kasih sayang. Seperti yang dikatakan Hadi Poerwono (1982: 5): “Kalau pada umumnya upah yang diterima buruh di Indonesia belum merupakan upah buruh... Pemutusan hubungan kerja akan mempengaruhi tugas kemasyarakatannya. tidak semua karyawan karena mencapai usia lanjut berkurang kebutuhan hidupnya. Permasalahan dari segi lain adalah faktorfaktor sosial-ekonomis. Pada umumnya para karyawan pada Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang memasuki masa pensiun mendapatkan penghasilan yang jauh lebih rendah dibandingkan pada masa aktif bekerja. “. Kebutuhan merasa aman 3. gaji yang diterima oleh karyawan disesuaikan pada tingkat golongan di kalangan pegawai negeri (Peraturan Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan.. Kebutuhan-kebutuhan fisik (udara.. Bagaimanapun pemutusan hubungan kerja akan membuat perubahan-perubahan kemasyarakatan dan ekonomis dari karyawan yang bersangkutan. 1995: 217) menguraikan lima tingkat kebutuhan manusia sebagai berikut: 1. yaitu: 1. makan dan sebagainya) 2. Kebutuhan akan rasa aman 3. sehingga rakyat akan lebih mampu dan bersedia untuk aktif ikut serta dalam usaha-usaha pembangunan nasional. Sasarannya adalah paling sedikit cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup karyawan dan keluarganya. Kebutuhan untuk dihargai 5. Ada beberapa perusahaan yang hanya memberikan gaji tanpa ada penambahan sumber dana lain kepada karyawannya yang memasuki masa pensiun. Untuk golongan ini pun pendapatan yang diterima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. misalnya menyiapkan anak-anaknya menjadi anggota masyarakat sepenuhnya. Elizabeth Nicholds mengemukakan empat dasar kebutuhan manusia. Sedangkan Laird (dalam Ellinor. Usaha kesejahteraan sosial merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia.

Nomor 2. banyak pensiunan yang mengalami kekecewaan hidup depresi. Dengan demikian antisipasi dan penyesuaian diri terhadap masa pensiun dilakukan. Tahap Jauh (Remote) Pada tahap ini karyawan berada di beberapa tahun sebelum tibanya masa pensiun. 4. Tahap Dekat (Near) Di tahap ini. Di kalangan instansi pemerintah tahapan ini dikenal dengan Masa Persiapan Pensiun (MPP). meraih kebebasan untuk mengisi 154 waktunya dengan hal-hal yang digemari. Tahapan ini dibedakan atas dua. Beberapa pekerjaan dikurangi. Halaman 151-167 Berdasarkan uraian di atas. Peristiwa Pensiun a. maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai tingkat kesejahteraan pekerja pada masa pensiun. ditambah dengan lingkungan sosial baru yang membuat pensiunan merasa asing. Di dalam tahap ini ditandai dengan semakin bertambahnya umur. untuk sebagian pensiunan merupakan hal yang tidak diinginkan lagi. Pensiunan semakin dekat dengan kematiannya. Meskipun. Beberapa ahli sosiologi mencoba memahami tahap-tahap kehidupan setiap manusia. Tahap Reorientasi (Reorientation) Pada tahap ini pensiunan mulai mengadakan kaji ulang dan melakukan penyesuaian diri terhadap kehidupan yang baru. 1992: 285) Kelangsungan bekerja. Kegiatan rutin dalam tahap stabilitas berkurang yang berangsur-angsur lepas. Oleh sebab itu peneliti akan meneliti mengenai Analisis Tingkat Kesejahteraan Pensiunan pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan. Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai. Pensiunan akan melakukan rutinitas kegiatan yang baru. Tahap Kesengsaraan (Disenchantment) Tidak semua pensiunan melewati tahap ini. Akhir Pensiun (Termination) Tidak semua pensiunan mengalami tahap ini dikarenakan kematian. adakalanya diminta untuk melatih/membimbing penggantinya. Suatu kenyataan adalah tidak ada karyawan yang ingin lebih awal untuk pensiun.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Mei 2006. Setelah tahap bulan madu mulai membosankan. Pada tahap ini pensiunan merasakan masa pensiun sebagai suatu masa yang menyenangkan. Karena itu. Hidup yang tergantung pada orang lain atau lembaga. Adapun tahap-tahap tersebut adalah: 1. Bantuan yang diterima dari lingkungan sekitar dan lembagalembaga yang mempunyai program untuk itu. 3. 2. b. sebenarnya dapat dilakukan berbagai persiapan yang direncanakan sebelum masa pensiun (Flippo. Tahap Stabilitas (Stability) Pada tahap ini. Tahap Bulan Madu (Honeymoon) Tahap ini terjadi setelah pensiunan memasuki masa pensiun. Di dalam pikiran karyawan telah terlintas pikiran bahwa akan tiba saatnya bagi mereka untuk keluar dari tempat bekerja. Biasanya pensiunan akan melakukan aktivitas liburan dan bepergian. Tahap Masa Mempersiapkan Pensiun (preretirement) Tahapan ini adalah masa persiapan hingga sampai tibanya masa pensiun yang sesungguhnya. b. Dari tahap-tahap pensiun di atas terlihat bahwa masa pensiun tidaklah datang secara tiba-tiba. dan tidak ada karyawan yang tetap bekerja terus sampai mati. bahkan Koleksi BPAD Prov SU . kondisi fisik yang semakin lemah. pensiun adalah pemberhentian dengan hormat kepada pegawai atau karyawan yang telah mencapai batas ketentuan usia dan masa kerja sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. pensiunan mulai menyadari bahwa ia harus dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup dan peran-peran sosialnya yang baru. Volume 5. “post power sidrom” dan merasa tidak punya apaapa lagi. karyawan merasa teman-teman di sekeliling memandangnya dalam perspektif jangka pendek. b. karyawan berada di mana tibanya masa pensiun. mereka telah menyadari bahwa telah mencapai usia jauh di bawah batas produktivitasnya. yaitu: a. Pensiun a. Hanya mereka yang tidak mempersiapkan diri yang biasanya mengalami tahap ini.

James Coleman mengatakan cukuplah beralasan bagi sebagian besar orang untuk takut mengenai keuangan (Coleman.. pensiunan mengandalkan dari satu atau beberapa sumber pendapatan. Dalam hal ini bagaimanakah potensi dan kemampuan karyawan yang bekerja setelah pensiun? Alsop dan Wojahn mengatakan kita tidak perlu menghilangkan bakat dan produktivitas karyawan dan rencana pensiun di masa depan. Hubungan antar-pribadi dalam masa pensiunan artinya adalah bagaimana pensiunan membawa diri dalam hubungan dengan orang lain. Umumnya sebesar setengah dari pendapatan mereka sebelum pensiun (Coleman. 1987: 252). Pendapatan Pensiunan Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kendala utama dari seorang karyawan untuk pensiun salah satunya adalah pendapatan. Berarti pensiunan harus belajar untuk hidup sesuai dengan pendapatan beberapa tahun sebelum pensiun. 1984: 542). hadiah. Pertama. Logino. penampilan. 1987: 159). Menurut David Popenoe dan Robert C. 1986: 275) mengatakan : “Ditemukan bukti bahwa usia lanjut lebih sering senang berinteraksi dengan orang tua lain. Mc Celland dan Peterson (dalam Thio. Di mana pendapatan akan mempengaruhi faktor-faktor yang lain seperti aktivitas bekerja. Mungkin terlalu dini tidak perlu membebani dengan peningkatan jam kerja penuh. jarak rumah anak dan rumah orang tua tidak lebih dari satu jam perjalanan. Tiga. terlebih lagi dalam tugas-tugas pekerjaan yang memerlukan kemahiran dan keahlian. Hadi Poerwono mengatakan di dalam masyarakat bentuk-bentuk usaha di Indonesia kini tampak gejala-gejala untuk sedapat mungkin mempertahankan tenaga kerja lama. untuk sebagian besar pensiunan mengalami ketakutan. tabungan. mereka terpaksa mempertahankan untuk tetap bekerja. Tetapi demi mempertahankan kelangsungan sumber penghidupan. Atchly mengatakan sebagian besar interaksi yang dihargai untuk sebagian besar usia lanjut adalah dengan anggota keluarganya. terutama dengan mereka yang hampir selalu berada di dekatnya. biaya pengobatan. Menurut Bernard Benjamin rumah tangga pensiunan mengandalkan dari antara beberapa sumber yaitu pekerjaan.. 1984: 545). Dua. Hubungan Antar-pribadi Pensiun Salah satu unsur yang mempengaruhi dalam masa pensiun adalah hubungan antarpribadi. Keintiman antara anak dan orang tua dapat dilihat dalam beberapa cara. Biasanya pendapatan beberapa tahun sebelum pensiun merupakan titik puncak pendapatan masa kerja (Craig. Robert C. tetapi dibutuhkan untuk hidup setengah dari pendapatan mereka terakhir. James Coleman dan Donald Cressey mengemukakan mayoritas terbesar dari orang tua menerima sebagian besar pendapatan mereka dari tunjangan jaminan sosial dan pensiun pribadi atau pemerintah (Coleman. 1986: 272). 1987: 256). khususnya anak dewasa mereka. 6. tunjangan jaminan sosial (Benjamin. perlengkapan rumah. kadang-kadang telah segan untuk terus bekerja. sumber yang dimiliki.Izhar & Edward. pensiun tidaklah berarti benar-benar kehilangan secara ekonomis. bahkan uang (Thio. 1987: 26). sering mengunjungi untuk melihat dan berbicara pada anak cucu. Athcly bahwa pendapatan pensiunan akan berkurang dengan tibanya masa pensiun. 5. Dengan menciptakan pemecahan seperti pilihan pekerjaan yang sebagian waktu atau kurang mementingkan fisik (Craig. Bahkan tampak pula kecenderungan untuk menerima tenaga baru yang berasal dari perusahaan lain atau instansi pemerintah yang telah diberhentikan (Poerwono. Namun Grace Craig mengatakan untuk sebagian besar orang. Dengan adanya masalah yang dihadapi dalam hal pendapatan di masa pensiun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 1982: 153). orang tua sering memberi nasehat. Hubungan antar-pribadi merupakan gambaran dari status dan peranan seseorang. kebutuhan sandang dan pangan. Usia lanjut berinteraksi dengan kelompok seumur 155 Koleksi BPAD Prov SU . Pensiunan juga berhubungan dengan lingkungan sosialnya terutama dengan kelompok seumur. Analisis Tingkat Kesejahteraan.

dan lain-lain sesuai dengan masalah yang diteliti.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. penulis mencoba menganalisis data-data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan wawancara yang diajukan kepada responden. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan dan pada alamat pensiunan yang dijadikan sampel penelitian.0 100.70%) berada pada kelompok usia 58 – 62 tahun. Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber: Data Primer F 41 5 46 % 89.26%) berada pada kelompok usia 63 – 67 tahun. Untuk menjaring data dari responden dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari hasil kuesioner dan wawancara. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pensiunan di Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan. hubungan pribadi yang dilakukan dan kondisi rumah tempat tinggal di masa pensiun. melalui studi kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dan diperoleh dari buku-buku. Adapun data-data yang dianalisis dalam bab ini adalah: Tabel 1. dan 6 responden (13. Data penelitian dianalisis berdasarkan perhitungan persentase dari setiap tabel. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Volume 5. kemudian ditabulasikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan kemudian dianalisis.9 100. Dalam hal ini tidak dilakukan perhitungan yang bersifat uji statistik karena analisis ini hanya bersifat deskriptif. Adapun yang digambarkan dalam penelitian ini adalah gambaran beberapa faktor sosial dan ekonomi dari karyawan dalam masa pensiun. dan mengembangkan suatu kekuatan. membentuk orientasi kesadaran-kesadaran politis sebagai kelompok mereka sendiri. yaitu hanya para pensiunan yang berdomisili di Kota Medan. terhitung dari tahun 2000 – 2005. Gambaran pensiunan melakukan aktivitas bekerja. peneliti menggunakan teknik sebagai berikut: memperoleh data sekunder. surat kabar.0 Koleksi BPAD Prov SU . Nomor 2. di mana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan variabel penelitian (Singarimbun. di mana pengolahan data dilakukan dengan manual. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden didominasi pada kelompok usia 58 – 62 tahun. 1989: 155). yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan wawancara. 13 responden (28.3 13. Maka sampel yang diambil adalah 25% dari 187 orang. Tabel 2.7 28. maka dapat ditentukan sampel sebesar 25 – 30% dari jumlah subjek tersebut (Suharsini. menurut data dari pihak Pelabuhan Indonesia adalah sebanyak 187 orang. yaitu sebanyak 46 orang. Hasil Penelitian dan Pembahasan Dalam bagian ini. yang diwakili oleh 46 orang. Mei 2006. Jika peneliti mempunyai beberapa ratus subjek dalam populasi. yaitu para pensiunan Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan terhitung mulai 5 (lima) tahun terakhir yaitu dari tahun 2000 – 2005 yang berjumlah 187 orang. Identitas Responden Berdasarkan Usia No 1 2 3 58 – 62 63 – 67 68 – 72 Jumlah Sumber: Data Primer Usia F 27 13 6 46 % 58. pendapatan pada waktu pensiun. Memperoleh data primer dilakukan penelitian lapangan. gambaran diri yang lebih positif. yaitu suatu cara yang dilakukan dengan turun ke lapangan untuk 156 mengumpulkan data melalui wawancara yang juga dipandu dengan kuesioner dan observasi. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah dengan Teknik Purposive Sampling.0 Data dari Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa 27 responden (58. Dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang ada. 2003: 125). artikel.1 10. Halaman 151-167 mereka daripada dengan orang-orang dari usia lain.04%) berada pada kelompok usia 68 – 72 tahun.” Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif.

Izhar & Edward, Analisis Tingkat Kesejahteraan...

Data temuan jenis seperti yang digambarkan pada Tabel 2 di atas bahwa responden laki-laki terdapat sebanyak 41 orang (89,13%) dan hanya 5 orang perempuan (10,87%). Responden laki-laki merupakan jumlah terbanyak dibandingkan dengan perempuan dari keseluruhan responden.
Tabel 3. Identitas Responden Berdasarkan Tahun Pensiun

Tabel 5 menyajikan bahwa 100% dari responden mempunyai pendidikan formal. Responden yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi sebanyak 21,74%. Responden yang mempunyai tingkat pendidikan SMU sebanyak 78,26%.
Tabel 6. Identitas Responden Berdasarkan Kelas Terakhir No Kelas 1–5 6–9 10 - 16 Jumlah F 2 14 30 46 % 4,4 30,4 65,2 100,0

No 1. 2.

Tahun Pensiun 2000 – 2002 2003 – 2005 Jumlah

F 3 43 46

% 6,5 93,5 100,0

1 2 3

Sumber: Data Primer

Sumber: Data Primer

Data temuan tahun pensiun dari responden menggambarkan bahwa 3 orang (6,52%) berada pada kelompok tahun pensiun 2000 – 2002, sedangkan sebanyak 43 orang (93,48%) responden berada pada kelompok tahun pensiun 2003 – 2005.
Tabel 4. Identitas Responden Berdasarkan Masa Kerja No 1 2 Masa Kerja (tahun) 31 – 33 34 – 36 Jumlah Sumber: Data Primer F 9 37 46 % 19,6 80,4 100,0

Data pada Tabel 6 menyajikan kelas terakhir yang diduduki responden semasa aktif bekerja di PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan. Sebanyak 65,22% dari responden menjawab bahwa kelas terakhir pensiunnya adalah kelas 10 – 16. Responden yang menduduki kelas 6 – 9 sebanyak 30,43%. Responden yang menduduki kelas 1 – 5 sebanyak 4,35%.
Tabel 7. Identitas Responden Berdasarkan Status Perkawinan No 1 2 3 4 Status Kawin Belum Kawin Cerai Janda Jumlah F 45 1 46 % 97,8 2,2 100,0

Data pada Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa masa kerja responden berkisar antara 31 tahun sebagai masuknya yang paling singkat dan 36 tahun sebagai masa kerja yang paling panjang. Masa kerja 35 tahun sebagai masa kerja yang paling banyak dijalani responden. Masa kerja 31 – 33 tahun (19,57%) merupakan masa kerja yang paling sedikit dijalani responden.
Tabel 5. Identitas Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Sumber: Data Primer

Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa 98% responden masih didampingi pasangan perkawinannya. Hanya 2% dari responden yang tidak mempunyai pasangan perkawinannya lagi yaitu status janda.
Tabel 8. Lama Persiapan Menghadapi Pensiun No Waktu Sejak mulai bekerja 2-5 tahun < 2 tahun Tanpa persiapan Jumlah Sumber: Data Primer F 3 22 16 5 46 % 6,5 47,8 34,8 10,9 100,0

No 1 2 3 4

Tingkat Pendidikan Pendidikan Tinggi SMU SLTP SD Jumlah

F 10 36 46

% 21,7 78,3 100,0

1 2 3 4

Sumber: Data Primer

Koleksi BPAD Prov SU

157

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 151-167

Di dalam menjawab pertanyaan tentang lama mengadakan persiapan untuk menghadapi masa pensiun ada beberapa variasi jawaban yang diberikan. Terdapat 16 responden (34,78%) menyatakan melakukan persiapan kurang dari 2 tahun sebelum masa pensiun, 22 responden (47,83%) menyatakan melakukan persiapan 2–5 tahun sebelum pensiun, 5 responden (10,87%) menyatakan melakukan persiapan setelah pensiun dimulai, dan 3 responden (6,52%) menyatakan melakukan persiapan jauh hari sebelum masa pensiun atau sejak mulai bekerja. Dari hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Slamet A. Sumka, SE (55 tahun), Kelas: 12, Staf Ahli Bidang Administrasi dan Kesejahteraan SDM, beliau mengatakan bahwa sebagian besar responden melakukan persiapan pada Masa Persiapan Pensiun (MPP). Hal ini dilakukan karena pada Masa Persiapan Pensiun itulah responden baru benar-benar memikirkan masa pensiunnya.
Tabel 9. Jenis Persiapan yang Dilakukan No 1 2 3 Jenis Persiapan Menabung di bank Membeli tanah Membangun rumah Jumlah Sumber: Data Primer F 16 3 27 46 % 34,8 6,5 58,7 100,0

Tabel 10. Pendapat Umur Pensiun 56 Tahun No 1 2 3 Jawaban Responden Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Sumber: Data Primer F 45 1 46 % 97,8 2,2 100,0

Data pada Tabel 10 di atas menunjukkan pendapat responden mengenai peraturan perusahaan yang menetapkan umur 56 tahun sebagai batas usia pensiun. Tabel tersebut menggambarkan bahwa ada 2 pendapat responden mengenai penetapan umur pensiun. Sebanyak 45 responden (97,83%) di antaranya menyatakan setuju dengan peraturan tersebut, sedangkan hanya 1 responden (2,17%) saja yang menyatakan tidak setuju. Sebagai pertimbangan, menurut hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Slamet A. Sumka, SE (55 tahun), Kelas: 12, Staf Ahli Administrasi dan Kesejahteraan SDM, beliau mengatakan bahwa batas usia pensiun tersebut tergantung dari kondisi kesehatan karyawan. Jika kondisi kesehatan mereka tidak memungkinkan untuk pensiun pada usia yang telah ditetapkan, mereka dapat mengajukan pensiun dipercepat atau pensiun muda dengan alasan kesehatan.
Tabel 11. Perasaan Menjelang Pensiun No 1 2 3 Jawaban Responden Gelisah/takut Biasa-biasa saja Gembira Jumlah Sumber: Data Primer F 4 36 6 46 % 8,7 78,3 13,0 100,0

Data pada Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa 16 responden (34,78%) melakukan persiapan menabung di Bank untuk mempersiapkan masa pensiunnya, 3 responden (6,52%) membeli tanah, dan sebanyak 27 responden (58,70%) melakukan persiapan untuk rumah tempat tinggal. Tetapi persiapan yang paling dini yang dilakukan oleh responden adalah rumah tempat tinggal, sesuai dengan hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Drs. Ridwan Kadri (58 tahun), Kelas: 10, pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, beliau menyatakan bahwa rumah tempat tinggal lebih dini dipersiapkan. Hal ini terjadi karena, ada responden yang pada awal bekerja, tinggal beberapa lama di rumah perusahaan sebelum pindah ke rumah sendiri.

Data pada Tabel 11 di atas menunjukkan bahwa 4 responden (8,70%) memiliki perasaan gelisah/takut menjelang pensiun. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, hal ini terjadi karena mereka merasa belum memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi masa pensiun. Terutama bagi responden yang pada masa aktif bekerja menempati rumah dinas dari perusahaan lengkap dengan fasilitasnya. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa sebanyak 36 responden (78,26%) memiliki

158

Koleksi BPAD Prov SU

Izhar & Edward, Analisis Tingkat Kesejahteraan...

perasaan biasa-biasa saja, karena mereka tidak terlalu menghiraukan masa pensiun, dengan alasan masa pensiun dapat dipikirkan nanti setelah pensiun itu tiba. Sedangkan terdapat sebanyak 6 responden (13,04%) memiliki perasaan gembira menjelang datangnya masa pensiun. Hal ini dikarenakan oleh anggapan mereka akan segera bebas dari rutinitas seharihari di kantor yang menurut mereka sangat melelahkan, baik fisik maupun pikiran. Perasaan tersebut terutama dijumpai pada responden yang sewaktu aktifnya memegang jabatan penting di perusahaan atau yang menduduki kelas 1–5.
Tabel 12. Keikutsertaan dalam Program Persiapan Pensiun dari Perusahaan No 1 2 Jawaban Responden Mengikuti Tidak mengikuti Jumlah Sumber: Data Primer F 46 46 % 100,0 100,0

mengisi masa persiapan pensiun dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk masa pensiun seperti membangun rumah dan mencari peluang usaha. 8 responden (17,39%) menyatakan mengisi masa persiapan pensiun dengan melakukan rekreasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Martumpal Lumbangaol, SE (56 tahun) Kelas: 10, dan Bapak Drs. Ridwan Kadri (58 tahun) Kelas : 10, pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, mengatakan bahwa rekreasi dapat mereka lakukan karena mereka telah mempersiapkan hal-hal yang penting untuk masa pensiun sejak beberapa tahun setelah bekerja.
Tabel 14. Perasaan pada Minggu Pertama Pensiun No 1 2 3 Jawaban Responden Gembira Biasa-biasa saja Gelisah dan bingung Jumlah Sumber: Data Primer F 4 35 7 46 % 8,7 76,1 15,2 100,0

Data pada Tabel 12 di atas menunjukkan keikutsertaan responden dalam program persiapan pensiun dari perusahaan. Seluruh responden 100% menyatakan bahwa mereka mengikuti Program Persiapan Pensiun yang diselenggarakan oleh perusahaan. Hal itu berarti seluruh responden menyadari betapa pentingnya persiapan untuk menghadapi dan menjalani masa pensiun.
Tabel 13. Kegiatan pada Masa Persiapan Pensiun (MPP) No 1 2 3 Kegiatan Santai di rumah Mempersiapkan diri Rekreasi Jumlah Sumber: Data Primer F 11 27 8 46 % 23,9 58,7 17,4 100,0

Data pada Tabel 14 di atas menunjukkan bahwa pada minggu-minggu pertama masa pensiun, 4 responden (8,69%) menyatakan gembira, karena seperti yang telah disebutkan bahwa mereka telah terbebas dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan, 35 responden (76,09%) menyatakan biasa-biasa saja, dan 7 responden (15,22%) menyatakan gelisah dan bingung, karena mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan selanjutnya untuk mengisi hari-hari pensiun dan mengatasi masalah keuangan.
Tabel 15. Kegiatan yang Dilakukan pada Masa Pensiun No 1 2 3 Kegiatan Santai di rumah Keagamaan Menyalurkan hobi Jumlah Sumber: Data Primer F 3 17 26 46 % 6,5 37,0 56,5 100,0

Data pada Tabel 13 di atas menunjukkan kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan responden pada Masa Persiapan Pensiun (MPP). Jawaban responden terdapat 3 variasi, yaitu santai di rumah, mempersiapkan masa pensiun, dan melakukan rekreasi. Pada tabel di atas terdapat 11 responden (23,91%) melakukan kegiatan pada masa persiapan pensiun dengan santai di rumah saja, 27 responden (58,70%) menyatakan

Data pada Tabel 15 di atas menunjukkan bahwa 3 responden (6,52%) hanya santai di rumah, 17 responden (36,96%) menyatakan mengisi hari-hari pensiun dengan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, dan 26 responden
159

Koleksi BPAD Prov SU

Mereka hanya bekerja di sektor informal yang mana tidak membutuhkan terlalu banyak tenaga dan tidak terikat dengan waktu. dan ingin beristirahat sambil menikmati hari tua. dengan teman serta dengan masyarakat sekitar. Apakah Setelah Pensiun Bekerja Kembali dalam Sektor Formal No 1 2 Jawaban Responden Ya Tidak Jumlah Sumber: Data Primer F 46 46 % 100.8 47. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. seperti bercocok tanam. Kelas: 10.22%) menyatakan mereka mempunyai keterampilan dibidang elektronik. dengan pasangan.17%) tidak mempunyai keterampilan khusus. dengan anggota keluarga lainnya.4 34. yaitu Bapak Drs. Berinteraksi sosial bagi pensiunan artinya adalah bagaimana pensiunan membawa diri dalam hubungan dengan orang lain. Ridwan Kadri (58 tahun).52%) mengisi hari-hari pensiun dengan menyalurkan hobi mereka. Nomor 2. tetapi seperti yang telah dijelaskan pada tabel sebelumnya bahwa mereka tidak ingin bekerja kembali dengan alasan faktor usia dan hanya ingin beristirahat dan menikmati masa pensiun. beternak dan berkebun.000– 1. Mereka adalah yang pada Koleksi BPAD Prov SU . Walaupun sebagian dari mereka mempunyai keahlian khusus di bidang tertentu.26%) mempunyai keterampilan di bidang pertanian dan 24 responden (52.35%) mempunyai keterampilan di bidang otomotif.000 > 1.000.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.39%) lebih banyak melakukan interaksi dengan bekas teman sekerjanya. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I.00 Jumlah Sumber: Data Primer F 44 2 46 % 95.0 100.35%) yang mendapatkan uang pensiun per bulannya di atas Rp 1. Bagaimanapun juga. 16 responden (34. bukan sebagai sumber pendapatan. Tabel 19. sedangkan 22 responden (47. di mana kegiatan tersebut hanya sebatas untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang.000.0 Data pada Tabel 17 di atas dapat diketahui bahwa seluruh responden (100%) tidak ada yang bekerja kembali dalam sektor 160 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa sebanyak 2 responden (4. Tabel 18.4 28.00.78%) melakukan interaksi sosial lebih banyak dengan warga masyarakat sekitar tempat tinggal. Volume 5. mengatakan bahwa pada umumnya para pensiunan sudah jenuh dengan rutinitas di kantor.3 52.6 4.000.0 Data pada Tabel 18 di atas menggambarkan tentang keterampilan/keahlian khusus yang dimiliki oleh responden. terutama dengan mereka yang hampir selalu berada di sekitarnya. Sebanyak 8 responden (17. Rekan Berinteraksi Sosial Sehari-hari No 1 2 3 Jawaban Responden Bekas teman sekerja Warga sekitar rumah Anggota keluarga Jumlah Sumber: Data Primer F 8 16 22 46 % 17. Dari tabel di atas juga dapat dilihat bahwa 7 responden (15. dalam pensiun kemungkinan besar lebih dari separuh waktu akan dijalani dengan pasangan.000. Jumlah Uang Pensiun per Bulan No 1 2 Jumlah (Rp) 500.2 4. Aspek ini memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam kehidupan masa pensiun.000. Halaman 151-167 (56. Mei 2006.0 formal setelah mereka pensiun (misalnya bekerja di kantor dan lain-lain). Tabel 16. Keterampilan/Keahlian Khusus yang Dimiliki No 1 2 3 4 Keterampilan Bidang elektronik Bidang otomotif Bidang pertanian Tidak ada Jumlah Sumber: Data Primer F 7 2 13 24 46 % 15.8 100. responden perlu berinteraksi.83%) lebih banyak melakukan interaksi sosial sehari-hari dengan anggota keluarganya di rumah. 13 responden (28. seperti dengan istri. yang jika dimanfaatkan akan sangat membantu.00 Data dari Tabel 16 di atas menunjukkan bahwa untuk menjalani hari-hari pensiun. 2 responden (4. Tabel 17. anak dan cucu.4 100.1 100.

dan Bapak Drs.91%) memiliki pendapatan lain dari bantuan anak setiap bulannya. Kelas: 10.00.000 1. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Koleksi BPAD Prov SU 161 .000.0 Pada Tabel 21 di atas dapat dilihat berapa besarnya jumlah pengeluaran responden ratarata per bulan.5 100.9 4. Pendapatan dari Sumber Lain No 1 2 3 4 Sumber Keuangan Bantuan anak Dana pensiun Sewa rumah Angkutan kota Jumlah Sumber: Data Primer F 34 5 5 2 46 % 73..65%) mendapatkan uang pensiun per bulannya Rp 500.57%) menyatakan mereka memiliki pengeluaran rumah tangga Rp 1.87%) memiliki pendapatan lain dari hasil penyewaan rumah.Izhar & Edward. Oleh sebab itu sudah semestinya pensiunan memiliki sumber keuangan lain dalam masa pensiun. SE (56 tahun).00 – 1.00 ke atas. yang dapat menunjang pendapatan selain uang pensiun. masa aktif bekerjanya menduduki kelas 1 – 5. Berdasarkan wawancara dengan responden.4 19. dan Bapak Drs.4 100. yang telah mereka beli sebelum mereka pensiun. mengatakan bahwa mereka senang dengan adanya pendapatan lain ini. Kelas: 11. Ridwan Kadri (58 tahun). Analisis Tingkat Kesejahteraan. yaitu Bapak Binsar Marupa Sibuea (58 tahun).000 500. Jadi uang merupakan salah satu sumber kehidupan.6 100. karena semakin banyak kebutuhannya. Dapat dilihat bahwa 43 responden (93.000. yaitu Bapak Martumpal Lumbangaol.00 per bulan. Data pada Tabel 22 di atas menunjukkan bahwa seluruh responden telah memiliki rumah tempat tinggal pada masa pensiun dengan berbagai status.000.0 Data pada Tabel 20 di atas menunjukkan bahwa selain uang pensiun per bulannya. karena berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Jumlah Pengeluaran Rumah Tangga per Bulan No 1 2 3 Jumlah (Rp) 100. Status Kepemilikan Rumah Tempat Tinggal No 1 2 Status Milik sendiri Kontrak / sewa Jumlah Sumber: Data Primer F 43 3 46 % 93. 37 responden (80.35%) memiliki pendapatan lain dari hasil angkutan kota yang dimilikinya. 3 responden (6. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar pendapatan responden maka semakin besar pula pengeluarannya. Berdasarkan wawancara dengan responden.52%) menyatakan bahwa status kepemilikan rumah mereka adalah kontrak/sewa.000. responden juga memiliki pendapatan dari sumber lain.9 10.000 – 500.000.. Kelas: 10. Tabel 20. Ridwan Kadri (58 tahun). seperti tabungan. Uang merupakan syarat yang akan menopang kehidupan para pensiunan beserta keluarga.00 – 1.000.9 10. Dapat kita lihat dari data terdahulu. mereka lebih mementingkan biaya pendidikan anak-anak mereka yang cukup tinggi. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I.0 Tabel 21. yaitu Bapak Martumpal Lumbangaol.000.43%) menyatakan bahwa mereka memiliki pengeluaran Rp 500. beliau mengatakan selain uang pensiun per bulannya.48%) menyatakan bahwa status kepemilikan rumah mereka adalah milik sendiri. tetapi sumber ini pasti akan habis. deposito. investasi dan sebagainya.000 keatas Jumlah Sumber: Data Primer F 37 9 46 % 80. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. mereka mendapat bantuan keuangan dari sumber lain.5 6. Kelas: 10.000 – 1. dan 9 responden (19. Kelas: 10. dan sebanyak 2 responden (4. Sedangkan selebihnya sebanyak 44 responden (95. 5 responden (10.000. 5 responden (10. Sebanyak 34 responden (73. Tabel 22.000.87%) memiliki pendapatan lain dari uang pensiun suami/istrinya. SE (56 tahun).000.

35%) memiliki rumah semi permanen dan sebanyak 11 responden (23. yang dapat mengembangkan dan melanjutkan minat dan pengalaman mereka. dari hasil wawancara ada sebagian rumah yang sudah dimodifikasi dari bentuk awalnya sehingga jauh lebih besar. Luas Halaman yang Dimiliki No 1 2 3 Luas (m²) 500 – 1000 m² 1000 – 1500 m² > 1500 m² Jumlah Sumber: Data Primer F 12 31 3 46 % 26. dan sebanyak 32 responden (69. Selain memiliki tanah untuk rumah. dengan alasan sebagai sumber listrik cadangan jika PLN melakukan pemadaman aliran listrik di permukiman mereka. Responden yang 162 Untuk alat penarangan rumah. Tipe Rumah yang Dimiliki No 1 2 3 Bentuk Permanen Semi permanen Permanen bertingkat Jumlah Sumber: Data Primer F 33 2 11 46 % 71.74%) memiliki luas rumah 100 – 150 m².0 memiliki luas rumah cukup besar menyatakan bahwa mereka sangat kesepian karena satu per satu anak mereka mulai meninggalkan rumah untuk membina rumah tangga yang baru (menikah). Menurut responden. pusat hiburan. seluruh responden sudah berlangganan dengan PLN.6 4.7 21. semi permanen dan permanen bertingkat. ada beberapa responden yang memiliki tanah diluar tempat tinggal mereka. Tabel 25. Tabel 26. Tabel 24.0 Data pada Tabel 24 di atas menunjukkan bahwa 4 responden (8.70%) memiliki luas rumah 50 – 100 m2.6 100.91%) memiliki rumah permanen bertingkat.0 Dari data pada tabel di atas dapat dilihat terdapat bentuk-bentuk rumah responden.39%) memiliki luas halaman 1000 – 1500 m². 10 responden (21.65%). hal ini terlihat dari sebanyak 44 responden (95. Rumah tempat tinggal pada dasarnya tempat yang paling banyak waktu untuk menghabiskan sisa hidupnya. Tetapi sebagian responden ada yang menyewakan rumah mereka dan tinggal bersama anak mereka yang sudah menikah.74%) memiliki rumah permanen.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. luas tanah yang mereka miliki ada yang berasal dari warisan orang tua dan ada yang memang khusus dibeli untuk masa pensiun.0 Data di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki halaman rumah yang cukup untuk dikatakan sebagai tepat tinggal yang layak.4 23. Volume 5. Sebagian besar rumah yang dibutuhkan usia lanjut adalah jarak ke pelayanan. Sedangkan sebanyak 2 responden (4.7 69. 31 responden (67. Dapat diketahui bahwa 12 responden (26. Nomor 2. Alat Penerangan Rumah No 1 2 Alat Penerangan PLN PLN dan genset Jumlah Sumber: Data Primer F 44 2 46 % 95. dekat dengan fasilitas kesehatan. Mei 2006. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya hidup masa pensiun. Terlebih bagi pensiunan yang tidak beraktivitas bekerja kembali.56%) memiliki luas rumah di atas 150 m².1 67. Sebanyak 33 responden (71. Rumah tempat tinggal setelah pensiun merupakan salah satu unsur pokok yang mempengaruhi kesejahteraan diri.35%) memiliki mesin penbangkit listrik sendiri. yang dijadikan sebagai kebun atau sawah.52%) memiliki luas halaman rumah di atas 1500m². relatif aman dari tindakan kriminal. Luas Rumah yang Dimiliki No 1 2 3 Luas (m²) 50 – 100 m² 100 – 150 m² > 150 m² Jumlah Sumber: Data Primer F 4 10 32 46 % 8. Beberapa hal yang dipertimbangkan di dalam menentukan rumah tempat tinggal. Halaman 151-167 Tabel 23.7 4. dan sebanyak 3 responden (6.4 6.9 100.5 100.09%) memiliki luas halaman 500 – 1000 m². Rumah tempat tinggal erat hubungannya dengan kondisi pendapatan sebelum ataupun setelah pensiun. Koleksi BPAD Prov SU . 2 responden (4. Menurut responden. seperti permanen. pasar.4 100. transportasi.

Alasan mereka lebih memilih ke rumah anak atau famili adalah di sana mereka dapat bertemu dengan anggota keluarga mereka. hal ini terlihat pada Tabel 29.09%) menyatakan kadang-kadang/jarang melakukan perjalanan. Tujuan Perjalanan/Rekreasi No 1 2 Tujuan Tempat rekreasi Rumah anak/famili Jumlah Sumber: Data Primer F 9 37 46 % 19. Tabel 31. Frekuensi Memeriksakan Kesehatan No Jawaban Responden Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Sumber: Data Primer F 36 8 2 46 % 78. Sedangkan 8 responden (17. Analisis Tingkat Kesejahteraan.1 100. terutama dengan cucu-cucu mereka.57%) lebih sering ke tempattempat rekreasi sebagai tujuan perjalanan atau rekreasi.3 100. mereka hanya memeriksakan diri jika sudah mengalami suatu gejala penyakit tertentu.Izhar & Edward.0 100. tubuh mereka dapat mudah terserang penyakit. Tabel 27. Apalagi di usia mereka yang tergolong lanjut ini.6 80. hal ini dikarenakan dalam usaha untuk menekan biaya hidup.91%) menyatakan sering melakukan perjalanan. walaupun tidak ada gejala-gejala penyakit tertentu yang mereka alami.35%) yang tidak pernah memeriksakan kesehatannya dengan alasan kesehatan mereka sudah cukup baik.43%) menyatakan hal tersebut.4 4. Sedangkan bagi mereka yang memilih tempat-tempat rekreasi sebagai tujuan perjalanan dengan alasan di sana mereka dapat menikmati suasana yang tidak mereka dapatkan di rumah. Sedangkan 9 responden (19. 36 responden (78. dan tidak satupun responden yang menyatakan tidak pernah melakukan perjalanan/rekreasi. hal ini terlihat dari data pada Tabel 27 di atas.0 Keseluruhan dari responden telah menggunakan sumber air yang berasal dari PDAM. Tabel 28.0 Perjalanan ke rumah anak atau ke rumah famili merupakan tujuan yang paling banyak ditempuh oleh para responden.. Mereka menggunakan sumber air tersebut dengan alasan lebih bersih.4 6. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 30.3 17.39%) menyatakan kadangkadang/jarang memeriksakan kesehatan. Untuk itu pemeriksaan kesehatan sangatlah penting.26%) menyatakan sering memeriksakan kesahatan mereka.9 76. Frekuensi Rekreasi (80. melihat pemandangan indah.0 Bagi pensiunan yang memiliki gangguan kesehatan berat maupun ringan pasti selalu memeriksakan kesehatan mereka secara berkala. Sumber Air yang Digunakan No 1 2 Sumber Air Air PDAM Sumur bor Jumlah Sumber: Data Primer F 46 46 % 100. 35 responden (76. Tabel 30. sebanyak 37 orang responden Koleksi BPAD Prov SU 163 . Dengan melakukan perjalanan atau rekreasi dapat menenangkan pikiran. jiwa dan perasaan seseorang. Dari data pada Tabel 28 di atas dapat dilihat 11 responden (23. Menurut responden yang jarang melakukan perjalanan/rekreasi.. Berdasarkan data pada tabel di atas juga hanya 2 responden (4.0 No 1 2 3 Jawaban Responden Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah F 11 35 46 % 23. merupakan sesuatu yang mereka idamkan. Tempat Pemeriksaan Kesehatan/Berobat No 1 2 3 Tempat RS Perusahaan RS Swasta RS Pemerintah Jumlah Sumber: Data Primer F 37 3 6 46 % 80. Tabel 29.0 1 2 3 Sumber: Data Primer Rekreasi merupakan hal yang sangat penting dalam menjalani hidup.4 100. menghirup udara segar.1 100.5 13.

maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. dan 23 responden (50. Pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I lima tahun terakhir yaitu dari tahun 2000 – 2005. Data pada Tabel 32 di atas menunjukkan bahwa 26 responden (56.4 100.0 Data pada Tabel 34 di atas menunjukkan bahwa 39 responden (84.0 Data pada Tabel 33 menunjukkan bahwa 11 responden (23. Sebanyak 7 responden (15.2 100. 48% pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia di Medan telah melakukan persiapan 2 – 5 tahun sebelum pensiun. 3. 3 responden (6. Persiapan masa pensiun sedini mungkin sangatlah penting.91%) mengidap penyakit diabetes. berusia antara 58 – 62 tahun dan mempunyai masa kerja rata-rata 35 tahun. 4 responden (8.43%) memilih poliklinik/rumah sakit perusahaan sebagai tempat pemeriksaan kesehatan.52%) memilih rumah sakit swasta dan 6 responden (13. 8 responden (17.52%) memeriksakan kadar gula dalam darah mereka.09%) memeriksakan tekanan darah mereka. dan 8 responden (17. Apakah Sudah Merasa Bahagia pada Masa Pensiun No 1 2 3 Jawaban Responden Bahagia Kurang bahagia Tidak bahagia Jumlah Sumber: Data Primer F 39 7 46 % 84.0 100. poliklinik/rumah sakit perusahaan masih merupakan pilihan utama sebagai tempat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan/berobat.8 15. bahagia di sini artinya tidak mengalami gangguan. Hal ini terbukti dengan adanya Masa Persiapan Pensiun sebagai masa latihan untuk menghadapi pensiun. dikarenakan masalah keuangan dan kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa tingkat kesadaran akan kesehatan pada diri pensiunan sudah cukup tinggi. 12 responden (26. Jenis Penyakit yang Diderita No 1 2 3 4 Jawaban Responden Diabetes Tekanan darah tinggi Kolesterol tinggi Tidak ada penyakit Jumlah Sumber: Data Primer F 11 8 4 23 46 % 23.04%) memilih rumah sakit pemerintah sebagai tempat untuk memeriksakan kesehatan atau berobat. baik fisik.70%) menyatakan tingkat kolesterol tinggi. berstatus menikah.39%) mengidap 164 Koleksi BPAD Prov SU . Halaman 151-167 Berhubung para pensiunan masih diberikan fasilitas pengobatan gratis. dalam arti menjalani masa pensiun tanpa adanya sesuatu yang dirisaukan. Kesimpulan Berdasarkan analisis data yang telah diuraikan. Mei 2006. Tabel 34.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. jika pensiunan ingin menikmati masa pensiun yang bahagia. Volume 5.0 penyakit tekanan darah tinggi.5 26.4 8. hal ini terlihat pada data di atas sebanyak 37 responden (80. maka berdasarkan Tabel 31 di atas. Tabel 33. Jenis Pemeriksaan yang Dilakukan No 1 2 3 Jenis Pemeriksaan Gula darah Tekanan darah Kolesterol Jumlah Sumber: Data Primer F 26 12 8 46 % 56.9 17.78%) menyatakan bahagia pada masa pensiun. Responden yang memilih rumah sakit swasta beralasan bahwa di sana kualitas pengobatannya lebih baik. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I sebagai perusahaan pengelola pelabuhan aktif memberikan perhatian yang besar terhadap kesejahteraan karyawannya pada masa pensiun.22%) menyatakan masa pensiun mereka kurang bahagia. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan.1 17. 2. sedangkan responden yang memilih ke rumah sakit pemerintah beralasan di sana biaya lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah dibandingkan rumah sakit swasta.7 50. berdasarkan hasil penelitian lebih didominasi oleh kaum pria. keuangan maupun gangguan dalam bersosialisasi. mayoritas beragama islam.00%) menyatakan kondisi kesehatan mereka cukup baik. Nomor 2. Tabel 32.39%) memeriksakan kadar kolesterol dalam darah mereka.

menganalisisnya. Rumah tempat tinggal setelah pensiun merupakan salah satu unsur pokok yang mempengaruhi kesejahteraan diri. Dalam masa pensiun. Mereka hanya beraktivitas untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang. terutama dengan mereka yang di sekitar orang yang ada di sekitar lingkungannya. waktu dan energi mereka untuk mewujudkannya. beternak dan kegiatan lain yang sifatnya non-profit. Mencintai apa yang dimiliki artinya selalu menjaga dan memeliharanya. Mereka sering memeriksakan kesehatan. tidak ada yang disia-siakan. 4. 6.Izhar & Edward. Sikap positif sangat diperlukan terutama ketika seseorang menghadapi masa pensiun dan dalam kehidupannnya masa pensiun itu sendiri. 10. Interaksi sosial artinya di sini adalah bagaimana pensiunan membawa diri dalam hubungan dengan orang lain. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian bahwa tidak ada seorangpun pensiunan yang bekerja kembali. memperoleh gagasan dan informasi dari berbagai sumber. Hasil penelitian membuktikan bahwa tingginya kesadaran pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I akan kondisi kesehatannya. Hasil penelitian membuktikan pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah memiliki rumah sebelum mereka pensiun. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I di Medan tidak melakukan aktivitas bekerja kembali pada suatu instansi ataupun lembaga formal. memanfaatkan peluang yang mereka jumpai. Analisis Tingkat Kesejahteraan. Saran 1. 8. lebih sering berinteraksi dengan keluarga mereka. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui bahwa kondisi kesehatan bersifat dinamis bukan statis. aspek ini memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam kehidupan masa pensiun. Dimasa pensiun. Dengan demikian seseorang akan lebih mudah memandang segala sesuatunya lebih positif. dalam manjalani masa pensiun. menyusun menjadi suatu rencana masa pensiun lalu mengaplikasikannya. seperti berkebun. jadi kesehatan seseorang itu. tetapi hanya sebatas pemeriksaan bukan pengobatan. Rumah tempat tinggal erat hubungannya dengan kondisi pendapatan sebelum ataupun sesudah pensiun. persentase terbesar 48%. Uang merupakan salah satu syarat yang akan menopang kehidupan para pensiunan. 24% responden memiliki rumah permanen bertingkat dan hanya 4% responden yang memiliki rumah semi permanen. pensiunan harus memiliki sumber keuangan lain seperti dana bantuan dari anak. Pembekalan ini diberikan kepada para pensiunan pada 165 Koleksi BPAD Prov SU . Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan yang berpartisipasi aktif dalam peningkatan kesejahteraan para pensiunannya.. Kehidupan seseorang dalam masa pensiun sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan fisik dan mentalnya. berdasarkan hasil penelitian. bercocok tanam. lebih konstruktif artinya mengarah kesegi yang bermanfaat dan bermakna. hendaknya dapat memberikan pembekalan dalam persiapan menghadapi masa pensiun. karena itu perlu pengelolaan yang baik. Rumah tempat tinggal pada dasarnya tempat yang paling banyak waktu untuk menghabiskan sisa hidup. Pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Mereka yang berhasil menjalani masa pensiun yang bermakna dan bahagia karena mereka mempunyai tekad dan berupaya dengan sungguh-sungguh. Mereka mempunyai kemampuan untuk belajar terutama dari pengalaman orang lain. meyesuaikan dengan situasi dan kondisi.. Sebanyak 50% pensiunan tidak memiliki penyakit tertentu. Hubungan antarpribadi (interaksi sosial). Mereka yang bisa meraih usia 56 tahun dan pensiun haruslah disyukuri dan mencintai apa yang dimiliki. Jadi uang merupakan sumber kehidupan pensiunan dan sebagaimana yang kita ketahui sumber dapat habis. 9. 5. Keberhasilan para pensiunan disebabkan oleh kesungguhan hati mereka dalam mencapai apa yang diinginkan. Pandangan dan sikap positif sangat berguna dalam memandang dan merencanakan hari esok. dana pensiun pasangannya (bagi pasangan yang bekerja) dan hasil usaha mereka lainnya. semakin menurun dan renta terhadap penyakit. 72% responden memiliki rumah permanen. mengarahkan sepenuh daya dan upaya. terutama yang berusia 50 tahun keatas. 7.

Kekaryawanan. Edisi Enam. Poerwono Hadi. Jakarta.. 1990. Metode Penelitian Survay. James. Jr. Tata Administrasi Penerbit Djambatan. Gajah Mada University Press. Nomor 2. Untuk para pensiunan. Cetakan V. Jakarta. Tata Personalia. Suharsini. Fadhil. Erlangga. Hal ini dimaksudkan agar para pensiunan dapat berkarya pada masa pensiunnya dan dapat memenuhi kebutuhan dari hasil karyanya tersebut. Manajemen Personalia. 1995. Pensiun Yang Bermakna. jika kondisi kesehatan masih memungkinkan. Rustomji. Illnois. Soepomo. B. Thio. Craig. Hughes. 1985. Cetakan III. 1992. Allen & Unwin.. Angkasa. Hal ini dimaksudkan agar para pensiunan dapat mengisi masa pensiunnya dengan aktivitas yang bermanfaat dan tidak merasakan kebosanan. PT Pustaka Biman Pressindo. Grace. Harper & Row Publishers.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Yogyakarta. Jilid 2. Volume 5. LP3ES. Neppe. Nurdin. Gino. Jakarta. New Jersey. New York. Motivasi dan Kepribadian. Inc. West Publishing. Intervensi Hanindita. 1985. Jakarta. Jakarta. Jakarta. Djambatan. 1986. 166 Koleksi BPAD Prov SU . Northcote. "Undang-undang Republik Indonesia No. et al. 03 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Harper & Row Publishers. Ichsan Achmad. Everett J. Manajemen Penelitian. Fergus P. 1992. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Gramedia Pustaka Utama. Masri. Prentice Hall. 1984. Alex. Elinor Lenz & Adams Linda. Benjamin. Minnesota. A Cross Life Span. Rineka Cipta. 1987.. Sixth Edition. Coleman. Mei 2006. The Problem of Today and Tomorrow. 2002. “Pendirian Perusahaan”. Human Development. 2. LPFE VI. Soegiono. 1987. New York. Cressey. 1997. Pension Planning. Simanjuntak. Be Your Best. Pedoman Peraturan Perusahaan Bidang Sumber Daya Manusia (Administrasi & Kesejahteraan Sumber Daya Manusia PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan). PT Yogyakarta. Pensions . 1987. Binarupa Aksara. 1990. CV. 1988. Sociology an Introduction. tanpa tahun. Arikunto. 1989. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Medan. 1982. Parkison C. Pensiun Rimbow. Third Edition. 2003. Jakarta. Social Problem. Soemodiwirjo. Flippo. M K. Sistem Sumarnonugroho. Pengantar Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Haradi Nawawi. Masa Pensiun Yang Bahagia. Maslow A. London.. Fourth Edition. Walter E. Drs. Singarimbun. tanpa tahun. Adapun pembekalan yang dapat diberikan seperti: Pengembangan keterampilan dan potensi diri yang dimiliki para pensiunan. Bandung. Halaman 151-167 Program Persiapan Pensiun. Moyd D. Metode Penelitian Bidang Sosial. Bandung 1982 Sumber-sumber lain: Buku Kerja. Edwirn B. Kesejahteraan Sosial. hendaknya dapat memanfaatkan masa pensiun dengan melakukan berbagai aktivitas yang bisa menghasilkan. Daftar Pustaka Allen. Irwin. Payaman J. Jakarta. Human Development.. Donald. 1987. Tanpa Kegelisahan. et al. Jakarta.

Izhar & Edward.com Situs www..id Koleksi BPAD Prov SU 167 .depnaker. Analisis Tingkat Kesejahteraan. Profil Organisasi Perusahaan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I.inaport1.. “Daftar Pensiun Pegawai.co. 2004. 12 / 2001 PT (PERSERO) Pelabuhan Indonesia I. 2002 Situs http://www. Peraturan Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan & Pengerukan (DP4). Pensiun Janda/Duda/Yatim-Piatu PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I”.

. Kedua. dan welding mask.000. Keempat. Kesejahteraan pekerja/buruh pada tahun 2004 bila dilihat dari upah atau penghasilannya Fronner M. and worker’s social welfare is good. Sebelumnya pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Metal Indonesia di Batam telah melakukan aksi serupa dengan tuntutan serupa pula.(tujuh ratus dua puluh delapan ribu rupiah).. Sampoerna Company is the subject of research. di Gabion Belawan. especially about their social welfare.TINJAUAN IMPLEMENTASI HAK NORMATIF DAN KESEJAHTERAAN KARYAWAN PT H. karena tidak ada gunanya menaikkan upah. Sementara itu status perusahaan tersebut tidak dapat diketahui secara pasti. Batam. It is very important to know how in fact. SAMPOERNA SALES DIVISION BATAM Fronner M. This research is descriptive research and shows two issues. Keywords: worker right. Mereka menuntut Upah Minimum Provinsi (UMP) dan menolak dialihkannya status karyawan menjadi karyawan kontraktor. Akibatnya status karyawan tidak jelas (Analisis. turunkan harga sembilan bahan pokok di Batam. Sampoerna Company implement worker rights according to the law.M. ratusan karyawan PT Semen Andalas Indonesia yang tergabung dalam Gabungan Solidaritas Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo) berunjuk rasa di depan perusahaan tersebut.M. dengan alasan. Ketiga. Kemudian pihak perusahaan malah mengalihkan status karyawan kepada pihak koperasi dan kontraktor PT Rico. Selama ini karyawan hanya menerima gaji di bawah UMP sebanyak Rp 380. agar pemerintah mendesak perusahaan untuk memberikan pakaian keselamatan (safety) kepada pekerja seperti safety shoes. 12:24 WIB. Karyawan yang ingin bekerja tidak diperbolehkan masuk perusahaan tersebut. Pertama.M.). Second. The first. safety goggles.-. D. law. If H. S. D. Ada empat pokok yang menjadi tuntutan mereka. Keputusan pengalihan status karyawan dinilai sepihak. Sampoerna Company has implemented worker rights very well. adalah Staf di Yayasan Anak Jalanan AGAPE Medan 168 Koleksi BPAD Prov SU . Sampoerna Company implemented the worker right as taken in the law so the worker’s social welfare will be good. Abstract Implementation worker rights according to the law by H. hand glove. (Tempo Interaktif. According to the data analysis. dengan alasan karyawan yang tergabung dalam PT Rico saja yang boleh bekerja. how did H.M.(enam ratus tiga puluh lima ribu rupiah). menolak UMK yang ditetapkan Pemerintah Kota Batam sebesar Rp 635. M. sebab tanpa diketahui karyawan saat itu. usir tenaga kerja asing yang mengambil alih posisi pekerja Indonesia.000 per bulannya. bila harga terus merangkak naik. Rabu 23 April 2003: 2).000. social welfare Pendahuluan Ribuan pekerja berunjuk rasa mendatangi gedung Gubernur Provinsi Kepulauan Riau di Batam Center. S.000. Selasa 21 Desember 2004. H. how is life condition of the workers. Di lain pihak. Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) telah ditetapkan sebesar Rp728. because government put it to effect worker’s social welfare. Para demonstran menolak Ketetapan Pemerintah Kota soal Upah Minimum Kota (UMK) Batam sebesar Rp 635.

Secara minimum kebutuhan sebulan mencapai Rp 360. seperti aksi mogok ratusan staf dan manajer PT Tolan Tiga Indonesia yang menuntut hak-hak normatif seperti kenaikan upah dan pemberian fasilitas dengan menyetarakan dengan perusahaan PMA lainnya seperti PT Lonsum dan PT Socfin... hak asasi dibangun dan dikembangkan berdasarkan pengalamanpengalaman kemasyarakatan manusia itu sendiri. Seluruh karyawan memiliki kesempatan mendapat fasilitas rumah dengan pedoman tipe bangunan yang berbedabeda. Diskriminasi antarkaryawan pribumi dan karyawan nonpribumi sangat mencolok (SIB. masih relatif rendah atau tidak sesuai dengan kebutuhan pekerja atau buruh. yaitu rata-rata besarnya Upah Minimum Propinsi (UMP) Sumatera Utara sebesar Rp 600.000 sangat menyiksa perasaan buruh dalam menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Persoalan lain adalah kecenderungan perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak tanpa mempertimbangkan kondisi pekerja. artinya yang diperoleh pekerja setelah menutupi biaya hidup yang minimum hanya Rp 240. sehingga masalah pemenuhan kebutuhan pekerja/buruh sedikit teratasi.000. Upah yang layak bagi pekerja saat ini minimal Rp 900. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. Berbicara mengenai hak pekerja berarti kita membicarakan hak-hak asasi maupun hak yang bukan asasi. Dilihat dari tujuan pembangunan nasional maka negara RI menganut tipe negara kesejahteraan (welfare state). Pengalaman-pengalaman dari kelompokkelompok sosial dalam masyarakat bernegara itulah yang mewarnai konsep hak asasi. dapat dikatakan telah mengimplementasikan hak-hak normatif pekerja dengan baik. Dalam mewujudkan kesejahteraan kehidupan warganya. baik material maupun spiritual. Pemerintah menekankan pada terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur secara merata.. Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2003 sebesar Rp 537.000. Sabtu 3 Mei 2003: 9). Selasa 21 Desember 2004: 6). pekerja memperoleh pendapatan yang layak (Analisis. Untuk biaya hidup seharihari antara lain makan (dengan harga paling murah dan tanpa rokok). namun kenaikan ini sangat tidak wajar sehingga perlu ditinjau kembali upah yang dinilai layak agar semangat kerja pekerja meningkat. Memang jika dibandingkan. Pihak manajemen PTPN III melihat. Salah satunya adalah membangun perumahan karyawan Griya Nusantara yang bekerja sama dengan Developer Trisna yang dibiayai dengan dana kredit Bank Niaga Cabang Medan. dengan gaji atau upah yang standar untuk seorang karyawan biasa tidak akan dapat memenuhi seluruh kebutuhannya. Hal ini tercermin dari banyaknya aksiaksi dari pekerja. Pembangunan nasional merupakan pengamalan Pancasila dan UUD 1945 yang diarahkan pada peningkatan harkat. karena konsep utama perusahaan adalah untuk mensejahterakan karyawan dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada (Analisis. martabat dan kemampuan manusia serta kepercayaan pada diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur. S. PTPN III. Di Indonesia konsep hak asasi manusia telah secara tegas dan jelas diakui 169 Koleksi BPAD Prov SU . 23 Desember 2004: 6). maka dengan adanya fasilitas yang disediakan oleh perusahaan dapat meringankan beban ekonomi karyawan.73 persen.Fronner M. Banyak perusahaan yang belum memberikan hak-hak normatif sesuai ketentuan perundang-undangan menjadi salah satu pemicu munculnya tuntutan dari pekerja. D. transportasi dan biaya lainnya mencapai Rp 12. karena perusahaan ini peduli terhadap kesejahteraan karyawannya. sedangkan hak yang bukan asasi berupa hak pekerja yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang sifatnya nonasasi. Upah sejumlah Rp 600. Hak asasi adalah hak yang melekat pada diri pekerja itu sendiri yang dibawa sejak lahir dan jika hak tersebut terlepas dari diri pekerja akan menjadi turun derajat dan harkatnya sebagai manusia.000. Perusahaan ini dapat sebagai contoh bagi perusahaan yang lain. sesuai dengan kemauan dan kemampuan karyawan membayar kredit per bulan. yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan.000 terdapat kenaikan 11. Hak asasi sebagai konsep moral dalam bermasyarakat dan bernegara bukanlah suatu konsep yang lahir seketika dan bersifat menyeluruh. Ini berarti bahwa Indonesia bertekad untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh Bangsa Indonesia. Hak asasi lahir setahap demi setahap melalui periode-periode tertentu di dalam sejarah perkembangan masyarakat.000 per bulan.000 per bulan. bukan hanya bagi sekelompok atau sebahagian masyarakat tertentu saja. Sebagai suatu konsep moral. Dengan jumlah ini.

3. mendapatkan atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri (pasal 31). adil. pemogokan yang dilakukan pekerja yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan. namun ada kasus unjuk rasa. yaitu untuk meningkatkan harkat. Nomor 2. hal ini terbukti dengan banyaknya kasus unjuk rasa. 5. makmur dan merata baik material maupun spiritual. Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang No. Perlindungan tenaga kerja mendapat perhatian dalam Hukum Ketenagakerjaan. Maka suatu undang-undang tergantung pada pelaksanaannya. maka pelaksanaan undang-undang tersebut akan menjadi tidak baik. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan pengertian tenaga kerja yaitu setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 4. agama. Hal ini tercermin dalam beberapa pasal dalam Undang-Undang No. termasuk perlakuan yang sama terhadap penyandang cacat. walaupun suatu undangundang tidak begitu baik tetapi bila pelaksanaannya baik. untuk meningkatkan harkat. 6. makmur dan merata. Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan atau meningkatkan dan atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat. walaupun suatu undang-undang itu adalah baik tetapi pada pelaksanaannya tidak baik. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ditentukan bahwa pembangunan tenaga kerja dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia yang seluruhnya. para pelaksana Undang-Undang No. yaitu: 1. Begitu pula. Mei 2006. maka pelaksanaan undang-undang tersebut akan menjadi baik. martabat dan harga diri tenaga kerja serta mewujudkan masyarakat sejahtera. Bahkan di dalam negara hukum modern (negara kesejahteraan) negara berkewajiban untuk menjamin pelaksanaan hak konstitusional itu. Karena itu. agama dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan. 7. martabat dan harga diri tenaga kerja serta mewujudkan masyarakat adil.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. suku. Hak asasi pekerja yaitu hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan yang telah diakui keberadaannya dalam UUD 1945 merupakan hak konstitusional. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan harus menyadari jiwa atau azas dari undang-undang tersebut. Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin. Artinya. Pada kenyataannya usaha yang telah dilakukan dalam rangka perlindungan itu belum berjalan seperti yang diharapkan. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak perusahaan yang tidak bertanggung jawab atas kesejahteraan karyawannya dengan tidak mengimplementasikan dengan baik hak-hak normatif para pekerjanya. Pengusaha harus memberikan hak dan kewajiban pekerja tanpa membedakan jenis kelamin. moral dan kesusilaan dan lain-lain yang sesuai dengan harkat dan Koleksi BPAD Prov SU . minat dan kemampuannya melalui pelatihan kerja (pasal 11). ras. Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan (pasal 5). Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha (pasal 6). 2. Hak-hak normatif tenaga kerja telah diatur dan dilindungi negara dalam berbagai 170 peraturan dan perundangan-undangan. Itu berarti bahwa negara tidak diperkenankan mengeluarkan kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi substansi dari hak konstitusional. pemogokan tersebut yang berakhir dengan pemutusan hubungan kerja yang berakibat memperpanjang barisan pengangguran. Halaman 168-181 keberadaannya di dalam UUD 1945 dan dilaksanakan oleh negara di dalam masyarakat. ras. Demikian juga hak-hak yang bukan asasi mengalami proses sesuai dengan kepentingan dan perkembangan masyarakat diatur dalam peraturan perundang-undangan. Setiap pekerja berhak memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja. Setiap pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan kerja (pasal 12 ayat 3). Volume 5. Di dalam Undang-Undang No. suku. Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih. Salah satu tujuan pembangunan tenaga kerja adalah memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan (pasal 4 huruf c). warna kulit dan aliran politik.

bahan dan proses pengelolahannya. Pengupahan termasuk sebagai salah satu aspek penting dalam perlindungan pekerja (hak normatif pekerja). martabat manusia serta nilai-nilai agama (pasal 86 ayat 61). Setiap pekerja dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja (pasal 99 ayat 1). yang menderita penyakit akibat hubungan kerja berhak menerima Jaminan Kecelakaan Kerja (Pasal 8 Ayat 1 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Pasal 2 Keppres. 171 Koleksi BPAD Prov SU . Mogok kerja sebagai hak dasar pekerja dan serikat pekerja dilakukan secara sah. 3. baik fisik. Perlindungan Teknis. 8. bahwa setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 2. 1987: 1). Setiap tenaga kerja atau keluarganya berhak atas Jaminan Hari Tua (Pasal 14 dan 15 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). rekreasi dan jaminan hari tua. pesawat alat kerja. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 88 Ayat 1 UU Tenaga Kerja. yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk pengahasilan yang cukup. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan. Objek keselamatan kerja adalah segala tempat kerja. 3. Perlindungan Ekonomis. D. ahli warisnya berhak atas Jaminan Kematian (Pasal 12 Ayat 1 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Tinjauan Implementasi Hak Normatif. 1993: 76). Setiap perusahaan wajib melaksanakan program Jamsostek bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan berdasarkan hubungan kerja (Pasal 4 Ayat 1 dan pasal 17 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). tertib dan damai sebagai akibat gagalnya perundingan (pasal 137). Setiap tenaga kerja atau keluarganya berhak memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Pasal 16 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Untuk itu pengusaha wajib melaksanakan secara sistematis dan terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Upah minimum. Pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja yang meliputi (Hardijan Rusli. termasuk bila tenaga kerja tidak mampu bekerja diluar kehendaknya. hari tua dan meninggal dunia (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No. hamil. mental maupun sosial. 4. Perlindungan Sosial. 5. yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan kerja (Soepomo. yang meliputi makanan dan minuman. Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna. 2004: 115): 1. 10. sandang.Fronner M. 2. Pengertian jaminan sosial tenaga kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin. 4. Maksud dari penghidupan yang layak di mana jumlah pendapatan pekerja dari hasil pekerjaannya mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja dan keluarganya secara wajar. Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja. 1994/ 1995: 11). Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja (Pasal 3 Ayat 2 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 11. sakit. yaitu: 1.. papan. bersalin. S. landasan tempat kerja dan lingkungannya. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu hak dasar pekerja (pasal 86 ayat 1 huruf a UU Tenaga Kerja). Upah kerja lembur. RI No. sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal (Depnaker. Setiap tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja. Setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (pasal 88 ayat 1).. Perlindungan tenaga kerja dibagi menjadi 3 (tiga) macam. (Sumakmur. pendidikan. 6.. 22 Tahun 1993). 3. Beberapa hal penting berkenaan dengan hak normatif pekerja dalam jaminan sosial tenaga kerja adalah: 1. yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja dan kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi. 2. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya. 9. Setiap pekerja berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja atau serikat buruh (pasal 104 ayat 1). kesehatan.

7. Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi Pekerjaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Posisi Manajer Supervisor Administrasi Salesman Driver Security Gudang Helper Total Sumber: Data Primer F 1 2 8 15 6 3 3 1 39 % 2.4 7.5 15. yakni: bagaimana implementasi hak-hak normatif karyawan PT H.M. Pengetahuan Responden tentang Perlindungan terhadap Tenaga Kerja No 1 2 Ketagori Tahu Tidak tahu Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 (%) 100. 10.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya. yang terletak di kawasan industri Pulau Batam. Secara umum yang dimaksud dengan kesejahteraan sosial adalah keadaan sejahtera pada umumnya yang meliputi jasmani. 8. Friedlander. Semua populasi dijadikan sampel. Sampoerna Batam yang berjumlah 39 orang.0 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden mengetahui perihal perlindungan terhadap tenaga kerja. 1990: 63). 1-3 Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau. 9. Mei 2006. Upah untuk perhitungan pajak penghasilan. Alasan memilih lokasi tersebut di atas adalah karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan swasta nasional yang tergolong besar.7 7. Sturktur dan skala pengupahan yang proporsional. terlebih dahulu digambarkan secara umum identitas dari responden yang disajikan dalam bentuk tabel. Volume 5. menggunakan kuesioner. Halaman 168-181 5.M. Penelitian dilakukan di PT H. yaitu menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian lembaga seseorang dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya (Nawawi. Sampoerna Sales Division Batam ditinjau dari implementasi hak normatif tersebut? Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. kemudian dicari frekuensi dan persentasenya untuk disusun dalam bentuk tabel serta selanjutnya dijelaskan secara kualitatif.M. Bentuk dan cara pembayaran. digunakan sistem penskoran Skala Likert.7 2. Nomor 2. 6. Hal-hal yang diperhitungkan dengan upah. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. 1961). Hasil Penelitian dan Pembahasan Sebelum dilakukan analisis data. rohani dan sosial.1 20.6 5. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah wawancara dengan 172 Hal pertama yang perlu diketahui adalah pengetahuan karyawan perihal hak berupa perlindungan tenaga kerja. Upah untuk pembayaran pesangon. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan karyawan Sales Division PT H. Untuk memperoleh kesimpulan yang general.0 0 100. Sampoerna Sales Division Batam dalam mempengaruhi kesejahteraan karyawan tersebut dan bagaimana kesejahteraan karyawan PT H. Koleksi BPAD Prov SU . Sampoerna Sales Division Batam yang berlokasi di Blok Komplek Nagoya Center Batam No. Dapat dijelaskan bahwa pengetahuan responden dalam perlindungan tenaga kerja ini di dapat dari Buku Panduan Peraturan Perusahaan Sampoerna. Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk membantu individu dan kelompok untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan dan relasi-relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat (Walter A. Tabel 2. Tabel 1. 6 100.0 Metode Penelitian Penelitian ini mencoba menjawab masalah yang dirumuskan.5 38.M. dengan cara memeriksa data yang diperoleh dari penelitian.

0 0 100.4 100. dan dapat dijelaskan bahwa sebanyak 6 (enam) orang responden yang tidak menerima pelatihan kerja seperti data yang disajikan di atas dikarenakan posisi pekerjaan mereka sebagai driver (supir). Perlakuan Pengusaha atau Pimpinan No 1 2 Ketagori Sama Tidak sama Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100. Hak yang Sama dalam Memilih atau Pindah Bidang Pekerjaan No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. Bila ada lowongan pekerjaan. Tabel 7. yang pada hakikatnya tidak perlu untuk diberikan pelatihan kerja oleh perusahaan. sebab hanya membawa kendaraan pengangkut barang yang akan didrop ke pasar.0 Dari data di atas dapat diketahui bahwa keseluruhan responden dalam bekerja seharihari di perusahaan merasa diperlakukan dengan baik.0 0 100. Hak dan Peluang dalam Melamar Pekerjaan No 1 2 Ketagori Sama Diskriminasi Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100.. Tinjauan Implementasi Hak Normatif.0 Dalam melamar pekerjaan di PT H. Tabel 4.0 memberikan kontribusi terbaiknya demi kemajuan perusahaan. Dalam hal ini diharapkan terciptanya dan bertambahnya motivasi karyawan dalam bekerja yang pada akhirnya karyawan dapat Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden mengaku mendapatkan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi dalam memilih. seluruh responden merasa bahwa mereka diberikan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi. bagi salesman diberikan pelatihan yang berkala selama 6 (enam) bulan sekali untuk dapat menembus target pemasaran di pasar. sama tanpa diskriminasi oleh pimpinan PT H.6 13.M.0 0 100. mendapatkan atau pindah bidang pekerjaan tersebut memenuhi berbagai kriteria yang diperlukan untuk suatu bidang pekerjaan tersebut. perusahaan memberi kesempatan yang sama tanpa diskriminasi. Sampoerna.. Kenyamanan dalam bekerja diharapkan akan memberikan kontribusi terbaiknya demi kemajuan perusahaan.M. Standard Kompetisi dalam Pelatihan Kerja No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 33 6 39 % 84.0 Dari data tersebut di atas semua responden mengaku merasa mendapatkan perlakuan yang sama dari perusahaan dalam meniti karier di perusahaan ini. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu. maka perusahaan mengambil kebijakan memasang iklan lowongan pekerjaan di korankoran lokal. Koleksi BPAD Prov SU 173 .0 0 100. dan dalam melamar pekerjaan ini. Perlakuan dalam Karier No 1 2 Jawaban Sama Diskriminasi Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100. yaitu karyawan yang hendak memilih.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak semua karyawan memperoleh pelatihan kerja yang mengacu pada standar kompetensi kerja dengan tujuan untuk memaksimalkan kontribusi dalam bekerja yang dilakukan oleh karyawan.Fronner M. S. Contohnya. Tabel 5. Tabel 3. Sampoerna Sales Division Batam. Tabel 6. mendapatkan atau pindah bidang pekerjaan. D..

Salah satu langkah tersebut adalah dengan adanya SOP (Standard Operational Procedure) yang harus dilakukan karyawan untuk meminimalisir kecelakaan kerja. Adanya Ketentuan atau Langkah-Langkah Demi Keselamatan dan Kesehatan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak ada Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. larangan merokok di ruangan yang menggunakan pendingin udara dan di dalam gudang stok barang.0 Data di atas menginformasikan. ternyata terjadi perbedaan jawaban. 2) Sampoerna Human Resources Policy (sistem dan prosedur biaya pengobatan yang diberikan oleh PT H.0 0 0 100. Nomor 2. bahwa ada 2 orang responden yang menyatakan hanya kadang-kadang alat-alat perlindungan kerja di perusahaan dirasakan cukup memadai. Sampoerna kepada karyawan). demi kesehatan bersama dan keselamatan barang. Padahal pihak perusahaan mengaku telah semaksimal mungkin memberikan perlindungan kerja yang baik dan memadai kepada pekerjanya.0 Dalam hal hak mendapatkan fasilitas perlindungan kerja. Hak Mendapatkan Alat-Alat Perlindungan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 13 17 9 39 % 33. Koleksi BPAD Prov SU .Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dan untuk bagian administrasi.9 5. sedangkan 37 orang responden menganggap alat perlindungan kerja yang tersedia di perusahaan sudah memadai. suami/ istri karyawan dan 3 (tiga) orang anak karyawan.M. Halaman 168-181 Tabel 8. maka mematikan alat-alat elektronik ketika hendak pulang kerja. dan 5) tunjangan alat bantu koreksi penglihatan.0 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa semua responden mendapatkan fasilitas dan program kesehatan dari perusahaan.0 0 0 100. Tabel 12. Volume 5. Ketersediaan Fasilitas dan Program Kesehatan No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100.0 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa keseluruhan responden mengaku adanya ketentuan atau langkah-langkah yang diterapkan perusahaan gunna menjamin keselamatan dan kesehatan kerja. Adapun fasilitas dan program kesehatan tersebut adalah: 174 Berdasarkan data yang disajikan di atas. yaitu karyawan bagian gudang. diketahui bahwa responden secara keseluruhan mengetahui dengan jelas bahwa upah yang mereka dapatkan adalah lebih besar dari UMP Riau/Batam. Tabel 9. perangkat PPPK.0 1) poliklinik atau dokter perusahaan.6 23. tunjangan kesehatan dan fasilitas pengobatan untuk karyawan. Mei 2006.1 0 100. 4) perawatan gigi yang berkala. driver dan satpam. 3) bantuan dana untuk biaya melahirkan karyawan wanita. Ketersediaan Alat Perlindungan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak ada Total Sumber: Data Primer F 37 2 0 39 % 94. racun api dan kelengkapan satpam. Tabel 10. Tabel 11.1 100. demi mencegah kebakaran. Besarnya Upah Dibandingkan dengan UMR Kota Batam No 1 2 3 Jawaban Lebih besar Sama Lebih kecil Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100.0 0 0 100.3 43. Adapun alat-alat perlindungan kerja tersebut adalah seperti: helm dan sarung tangan untuk karyawan gudang.

Undang-Undang Tenaga Kerja mengatur bahwa yang membuat Perjanjian Kerja Bersama itu adalah pengusaha dengan perwakilan dari serikat pekerja perusahaan. sebagaimana yang diakui oleh seluruh responden. sedangkan 175 Koleksi BPAD Prov SU .0 100. karena keseluruhan responden tidak mengetahui perihal hak untuk mogok kerja bagi karyawan atau pekerja. Tabel 14. Hak untuk Istirahat Setiap Minggu sebagai Istirahat Mingguan No 1 2 3 Kategori Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. Tabel 16. sehingga tidak dilibatkan membuat Perjanjian Kerja Bersama. Tabel 15. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa memang ada peraturan di PT H. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. Dan hak untuk libur setiap minggu ini tak pernah disia-siakan oleh para karyawan untuk beristirahat setelah 6 hari kerja yang melelahkan. padahal hak tersebut adalah salah satu hak normatif tenaga kerja dan dengan jelas diatur dan dilindungi oleh pemerintah dalam UU Tenaga Kerja No. Tabel 13. Data yang disajikan di atas merupakan hal yang menarik. yaitu harus 2 kali ambil cuti tahunan.0 0 100.. sehingga dalam sekali Cuti Tahunan hanya boleh diambil sebanyak 6 hari cuti saja.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui.0 Dari data di atas menunjukkan bahwa.0 100. Dan seperti kebisaaan di seluruh dunia Hari Istirahat Mingguan tersebut adalah Hari Minggu. S. Sampoerna.0 Dan dapat dijelaskan bahwa perusahaan berhak membatalkan Hak Cuti Tahunan tersebut bila tidak diambil atau digunakan karyawan pada tahun tersebut.M.0 0 0 100.0 0 100. bahwa semua responden tidak pernah dilibatkan dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama.0 Diketahui bahwa seluruh responden selalu mendapatkan hak untuk libur setiap minggunya sebagai Hari Istirahat Mingguan. D. Tabel 17. Pengetahuan Perihal Hak untuk Mogok Kerja No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100.0 Perusahaan memberikan hak Cuti Tahunan kepada karyawannya.. tapi tidak boleh sekaligus digunakan oleh para karyawan. semua responden ikut serta dalam Program Jamsostek. Ditelusuri lebih lanjut bahwa responden hanya mengetahui hal-hal tentang perlindungan kerja dari Buku Pedoman Peraturan Perusahaan Sampoerna. Cuti Tahunan tersebut sebanyak 12 hari dalam setahun. Keterlibatan dalam Membuat Perjanjian Kerja Bersama No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100.. Seperti yang diketahui bahwa. Berarti dapat disimpulkan bahwa responden tidak ada yang menjadi pengurus Serikat Pekerja pada PT H. Selanjutnya para karyawan pun mengaku bahwa tidak akan mengambil Cuti Tahunan bila tidak ada keperluan penting di luar pekerjaan. Sampoerna untuk mewajibkan setiap karyawan permanen atau karyawan tetap untuk ikut serta dalam Program Jamsostek tersebut.Fronner M.M. Keikutsertaan dalam Program Jamsostek No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. Hak Cuti Tahunan No 1 2 Jawaban Ya Tidak Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100. 13 Tahun 2003.

000.000.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.6 20.Rp 3.M.200.Total Sumber: Data Primer F 1 3 1 8 2 1 10 8 2 2 1 39 % 2. keseluruhan responden mengaku sudah menerima gaji atau upah yang sudah layak dan mencukupi.000. Sedangkan tunjangan dan dana pendapatan lainnya tidak ada sama sekali diberikan oleh perusahaan.0 Berdasarkan data di atas.500. nyaman dan tertib agar perusahaan dapat berjalan dengan baik dengan mendapatkan income yang baik pula.000.000.500.000. Volume 5.0 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas.6 20.1 2.d.000. peraturan perusahaan tersebut dan diatur mengenai Hak Diyakini perusahaan memang menjelaskannya pada para demi kepentingan bisnis Tabel 18.000. Tabel 20.0 0 100. Jadi hal ini membuat seluruh responden mengakui adanya bonus setiap tiga bulannya selain upah atau gaji yang mereka terima setiap bulannya.6 7.500. Hal ini tentunya 176 Bonus selain upah yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya berdasarkan omzet dan target yang dicapai perusahaan.5 5.1 2.1 5. Sampoerna kepada karyawan).400.6 100.500.Rp 1. Adapun pihak perusahaan juga dengan sengaja membagi buku pedoman tersebut dengan gratis dengan tujuan untuk dapat memberikan pengetahuan tentang tata tertib perusahaan dan perlindungan kerja karyawan. kondusif. Ada kebijakan dari perusahaan bahwa setiap tahunnya gaji atau upah karyawan itu meningkat sebesar 8% (delapan persen) s. 13% (tiga belas persen).0 disebabkan oleh posisi pekerjaan yang berbeda dan lamanya masa kerja karyawan tersebut di perusahaan.000.Rp 1.000. Adanya Bonus Selain Upah No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100.000.Rp 1.0 0 100. Kecukupan dan Kelayakan Upah yang Diperoleh No 1 2 3 Jawaban Sudah cukup Tidak selalu cukup Tidak pernah cukup Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. Nomor 2. sebab bantuan dan tunjangan bagi karyawan semuanya telah diatur dalam Sampoerna Human Resources Policy (Sistem dan Prosedur Biaya Pengobatan.000. Perolehan Buku Pedoman tentang Peraturan Perusahaan No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100.600. semua responden mengaku mendapatkan Buku Pedoman Peraturan Perusahaan.Rp 2. Distribusi Jawaban Responden tentang Penghasilan atau Upah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jawaban Rp 1. Alasan diberikannya bonus adalah sebagai motivasi bagi karyawan untuk bekerja lebih baik dan diharapkan dapat mencapai target yang telah ditentukan perusahaan.0 0 0 100.800.Rp 4.000. Tabel 19. Dari gaji pokok setiap karyawan dipotong sebanyak 2% (dua persen) tiap bulannya untuk Asuransi Tenaga Kerja (Astek). Dan tidak lain tujuan dari hal tersebut adalah demi terciptanya suasana kerja yang aman.000.Rp 1. semata. Tabel 21. Bonus yang diberikan sesuai dengan target yang dicapai karyawan dan Koleksi BPAD Prov SU .7 2. Sampoerna Sales Division Batam sangat bervariatif.Rp 1. gaji atau upah para karyawan PT H.Rp 2.5 5.Rp 6.M. sengaja tidak karyawannya.6 25. Tunjangan Serta Dana Bantuan dan Kesejahteraan yang diberikan oleh PT H. Halaman 168-181 di dalam buku tidak dimuat Mogok Kerja. Mei 2006.

5% mengaku dapat menabung dari penghasilan atau upah yang mereka terima setiap bulannya. Medan. Dan rupanya tidak ada 177 Koleksi BPAD Prov SU . driver. Tabel 23.0 % 61. Peluang Menabung Karyawan No 1 2 3 Jawaban Dapat Kadang-kadang Tidak dapat Total Sumber: Data Primer F 24 11 4 39 100. Kecukupan Biaya untuk Perjalanan Dinas No 1 2 3 4 Jawaban Cukup Kadang-kadang Tidak cukup Tidak tahu Total Sumber: Data Primer F 24 0 0 15 39 % 61. Tabel 24. maka didapat data yang menjelaskan bahwa keseluruhan responden merasa puas atas bantuan dan bonus yang diberikan perusahaan kepada mereka. perusahaan dan bisa saja bonus tersebut sebesar gaji atau upah yang diterima oleh karyawan. Tabel 22.3% Bila jawaban responden dikaitkan dengan biaya hidup di Kota Batam yang relatif besar. D.M.8 100.0 sisa penghasilan atau upah yang dapat ditabung serta responden yang pandai berhemat.1% responden menyewa atau mengontrak rumah dan menyewa kamar kost.1 0 12.000.5 28.. gudang dan security.000. yaitu 61. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden. Tunjangan Serta Dana Bantuan dan Kesejahteraan yang diberikan oleh PT H. Sedangkan responden yang menjawab tidak tahu adalah mereka yang belum dan tidak pernah pergi untuk perjalanan dinas.2 10. dan yang dapat menabung adalah responden yang mempunyai Dapat diketahui dari data yang tersaji pada tabel di atas bahwa sebahagian besar.per malammya. Dapat dijelaskan bahwa biaya perjalanan dinas tersebut sebesar Rp 79. dapat ditarik gambaran bahwa responden yang tidak dapat menabung dari gaji tersebut adalah responden yang berpenghasilan pas-pasan dengan biaya hidupnya. yaitu bagian administrasi. yaitu 82.. yakni 10.5 0 0 38.per harinya dan biaya untuk menginap sebesar Rp 140.3 Dapat diketahui dari data yang tersaji pada tabel di atas yaitu sebanyak 61. dan Jakarta). Dapat digambarkan bahwa. Dumai. Tabel 25..1 82. supervisor sales dan manajer. Status Tempat Tinggal Karyawan No 1 2 3 4 Jawaban Milik sendiri Menyewa Rumah dinas Menumpang Total Sumber: Data Primer F 2 32 0 5 39 % 5. tetapi para pekerja yang mencari kerja ke Kota Batam dari luar Kota Batam (ada yang dari Pekanbaru.54% responden mengaku mendapatkan biaya perjalanan dinas dan penginapan yang cukup. S. Adapun responden yang pernah dan bahkan selalu melakukan perjalanan dinas adalah salesman. Sampoerna kepada karyawan) dan atas bonus yang memuaskan..5 100. Sedangkan yang memiliki tempat tinggal sendiri hanya sebanyak 2 orang responden saja dan yang menumpang (bisa pada tempat tinggal saudara atau masih bersama orang tua) ada sebanyak 5 orang responden. selebihnya.Fronner M. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. sebanyak 32 responden yang tempat tinggalnya menyewa atau mengontrak adalah bukan warga asli Kota Batam.0 Berdasarkan data yang tersaji pada tabel di atas. Sedangkan sebanyak 28.2% responden mengaku kadangkadang dapat menabung dari gaji atau penghasilan mereka.0 Dengan alasan bahwa bantuan atas kesejahteraan yang cukup melalui Sampoerna Human Resources Policy (Sistem dan Prosedur Biaya Pengobatan.0 0 0 100. Kepuasan Karyawan Atas Bantuan dan Bonus No 1 2 3 Jawaban Ya Tidak Perlu ditingkatkan Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100..

yaitu sebesar Rp 3.M.0 Dari distribusi jawaban responden di atas dapat diketahui bahwa PT H. Tapi bukan secara langsung perusahaan memberikannya dan menetapkan besarnya dana.000. Nomor 2.M.0 0 100. yaitu dalam hal biaya pengobatan dan perawatan medis.per tahun per orang. Volume 5. Tidak dapat diketahui dengan jelas apa alasan mereka sehingga merasa kadang-kadang saja terlindungi. Bantuan Perumahan No 1 2 Ada Tidak ada Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100. seperti mess ataupun rumah dinas kepada keseluruhan responden. Mendapatkan Dana Pensiun No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. Rasa Terlindungi dalam Hal Biaya Pengobatan dan Perawatan No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 37 2 0 39 % 94. Bantuan Sewa Tempat Tinggal No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100. yaitu sejumlah 2 orang responden. Tabel 27. Tabel 28. Tapi ada juga sedikit responden yang merasa belum sepenuhnya terlindungi kesehatannya. Sehingga bila seorang 178 Koleksi BPAD Prov SU . Halaman 168-181 satupun responden yang bertempat tinggal pada rumah dinas perusahaan. Perolehan Pakaian Seragam untuk Bekerja dari Perusahaan No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sampoerna yang lumayan besar jumlahnya.0 0 100. Adapun tujuan perusahaan memberikan pakaian seragam pada karyawannya adalah supaya identitas perusahaan tergambar pada karyawannya dan juga sebagai prasarana untuk menciptakan suasana kerja yang baik dan kondusif. Tabel 30. karyawan hanya dapat berharap dari gaji atau penghasilannya saja ditambah dengan bonus yang diterimanya.0 100. Adapun dana pensiun yang didapatkan kelak oleh para karyawan adalah dari pemotongan gaji setiap bulannya sesuai ketentuan perundangan tentang Jamsostek.0 Dari distribusi jawaban responden pada tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden mendapatkan dana pensiun dari pensiun. Sampoerna Sales Division Batam tidak memberikan bantuan perumahan. Rasa terlindunginya kesehatan responden ini bisa dipastikan karena budget untuk pengobatan dan kesehatan karyawan PT H. perusahaan tidak ada mengalokasikan dana untuk itu.9 5. Jadi bila menyewa atau mengontrak tempat tinggal.. sehingga sebagian besar karyawan menyewa atau mengontrak tempat tinggal atau bahkan menumpang di tempat tinggal saudara. Mei 2006.0 100.000. Hal ini dapat diketahui dari data yang disajikan pada tabel di atas. melainkan diberikan berdasarkan dana yang dikelola oleh Dana Pensiun Sampoerna. Dan memang pihak PT H. Dan memang perusahaan tidak ada memiliki rumah dinas perusahaan ataupun mess untuk para karyawannya. Tabel 29.1 0 100.M.0 Perusahaan tidak memberikan bantuan kepada karyawan dalam hal bantuan biaya perumahan bila karyawan menyewa atau mengontrak tempat tinggalnya.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sebanyak 37 orang responden mengaku merasa terlindungi dalam hal kesehatan.0 Semua responden mengaku mendapatkan pakaian seragam untuk bekerja dari perusahaan. Sampoerna Batam menjelaskan bahwa dalam hal bantuan biaya menyewa atau mengontrak tempat tinggal bagi karyawan. Tabel 26.

7 0 100.67% responden yang merasakannya. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. Nyaman dan Kondusif dalam Bekerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 29 10 0 39 % 74. 1).. maka diketahui secara umum dengan pengunaan Skala 179 Rasa terjamin dan terlindunginya keselamatan dan kesehatan kerja responden berdasarkan data yang tersaji di atas.M. Tabel 32. Merasa Aman.M.3 0 100. Sedangkan 33. sebab rata-rata sebahagian besar distribusi jawaban responden adalah memberikan keterangan tentang PT H. Sampoerna Sales Division Batam. nyaman dan kondusif. nyaman dan kondusif dapat dikatakan dikarenakan oleh suasana Kota Batam yang hiruk pikuk dengan aktivitas setiap warganya. Sampoerna Sales Division Batam yang telah mengimplementasikan dengan baik hak-hak normatif tenaga kerja sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang.M.M.2 12. Dan sisanya sejumlah 5 orang responden hanya kadang-kadang saja merasakan kepuasan dalam bekerja pada perusahaan tersebut. Tabel 33.M.33% responden merasa kadang-kadang saja terlindungi keselamatannya dan kesehatannya dalam bekerja.33 s.d.0 Dapat dilihat pada data yang tersaji pada tabel di atas. karena perusahaan berusaha semaksimal mungkin menciptakan suasana kerja yang aman. nyaman dan kondusif dalam bekerja. Rasa Terjamin dan Terlindunginya Keselamatan dan Kesehatan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer.0 driver. bahwa sebanyak 10 orang responden merasa hanya kadang-kadang saja merasa suasana yang aman. Kepuasan Bekerja No 1 2 3 Jawaban Puas Kadang-kadang Tidak puas Total Sumber: Data Primer F 34 5 0 39 % 87. Lebih jelas lagi bahwa responden yang merasa kadang-kadang saja aman.0 Pada distribusi jawaban responden di atas.Fronner M. security.18% karyawan merasa puas dalam bekerja di PT H. maka karyawan mendapatkan dana pensiun.7 33.. S. Sampoerna Sales Division Batam yang telah digambarkan dan dijelaskan di atas. D. Sampoerna Sales Division Batam. 2005 F 26 13 0 39 (%) 66. maka secara umum dapat dikatakan mempunyai pengakuan yang positif secara signifikan (bobot nilai = 0..8 0 100. apalagi bila dilihat dari segi penghasilan yang cukup. atau hanya sebagai batu loncatan dan mencari pengalaman kerja dan sebagainya. Nilai Skala Likert Setelah berbagai gambaran dan penjelasan yang disajikan di atas tentang implementasi hakhak normatif tenaga kerja di PT H. Atas dasar keseluruhan distribusi jawaban responden tentang kesejahteraan karyawaan PT H. Sampoerna dalam kesejahteraan karyawannya sudah cukup baik. diketahui bahwa 87. Sedangkan selebihnya sebanyak 29 orang responden mengaku merasakan suasana aman. yang didapat berdasarkan pemotongan terhadap gaji setiap bulannya sesuai ketentuan perundangan tentang Jamsostek. melihat usaha yang dilakukan oleh PT H. ditarik kesimpulan bahwa sebesar 66. Ditelusuri lebih lanjut bahwa. karyawan statusnya sudah sebagai karyawan tetap. helper gudang dan juga salesman. nyaman dan kondusif. Tapi meskipun begitu. responden yang hanya kadang-kadang saja merasa terjamin keselamatannya adalah karyawan yang di antaranya bekerja pada posisi Koleksi BPAD Prov SU . suasana kerja yang kondusif dan usaha menjamin keselamatan dan kesehatan karyawannya. Tabel 31. Adapun sebagian responden merasa hanya kadang-kadang saja puas bekerja adalah dikarenakan oleh responden yang memang tak berniat bekerja atau meniti karier pada perusahaan tersebut. sehingga mempengaruhi karyawan yang bekerja turun ke lapangan tidak mendapatkan suasana kerja yang kondusif seperti suasana kerja di kantor perusahaan.3 25.

Kesimpulan Implementasi hak normatif tenaga kerja oleh PT H. Sampoerna Sales Division Batam sudah berusaha memenuhi hak-hak dasar karyawannya. Sampoerna Sales Division Batam yang telah mengimplementasikan dengan baik hakhak normatif tenaga kerja sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang. Sampoerna Sales Division Batam juga sangat dirasakan sangat baik oleh karyawannya. Dengan adanya perlakuan-perlakuan yang sama tanpa diskriminasi oleh pengusaha atau pimpinan dalam kesempatan melamar. maka dapat diberikan saran yang ditujukan bagi karyawan PT H. Saran Melihat upaya-upaya PT H. Sampoerna Sales Division Batam secara umum bersifat positif secara signifikan (bobot nilai = 0. suasana kerja yang baik. Mei 2006. bahwa perusahaan tersebut telah berusaha dengan memberikan yang terbaik dalam hal kesejahteraan karyawannya sesuai kemampuan perusahaan tersebut. dan diketahui bahwa pengakuan keseluruhan responden dapat dikatakan sebagai pengakuan yang positif secara nilai = signifikan (dengan bobot 0.M. maka karyawan mendapatkan dana pensiun dari perusahaan.M. agar perusahaan pada tahun-tahun berikutnya dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang lebih lagi memperhatikan dan mengutamakan hak-hak normatif karyawannya tanpa membebani perusahaan lebih berat. Nomor 2. hal ini karena didukung oleh Sampoerna Human Resources Policy.M. tapi bukan secara langsung perusahaan memberikannya dan menetapkan besarnya dana. Memang penghasilan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya cukup besar dan diyakini telah mencukupi untuk biaya tempat tinggal. Kedua. Apalagi bila dilihat perwujudan kesejahteraan yang baik tersebut dari segi penghasilan yang cukup.d. perlakuan dalam berkarier yang sama dan lain-lain. bahwa perusahaan tersebut telah berusaha dengan memberikan yang terbaik dalam hal kesejahteraan karyawannya sesuai kemampuan perusahaan tersebut. Sampoerna Sales Division Batam juga telah memberikan fasilitas dan menjalankan program yang menunjang kesehatan para karyawannya. sehingga diharapkan tidak terjadinya aksi-aksi yang mengkritisi tajam Koleksi BPAD Prov SU . mencerminkan kebijakan-kebijakan perusahaan menyangkut hak normatif karyawan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. tapi alangkah baiknya bila fasilitas perumahan tersebut dapat terwujud demi lebih terjaminnya kesejahteraan karyawan. Implementasi hak-hak normatif tenaga kerja di PT H. sebab sebagian besar jawaban responden tentang PT H. Sedangkan untuk jaminan hari tua. pertama agar pihak perusahaan dapat memikirkan dan mewujudkan fasilitas perumahan (seperti mess atau rumah dinas) bagi karyawannya. PT H.M. Jaminan kesehatan bagi karyawan PT H.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. maka PT H. Sampoerna Sales Division Batam telah berjalan dengan baik.33 s. Adapun upah. Bagi pihak PT H. 1). Sampoerna Sales Division Batam yang telah dideskripsikan di atas dalam menciptakan kesejahteraan para karyawannya. atau paling tidak perusahaan dapat memberikan bantuan berupa dana untuk biaya tempat tinggal para karyawannya.M. melainkan diberikan berdasarkan dana yang berasal dari pemotongan terhadap penghasilan karyawan yang didapatkan setiap bulannya yang dikelola oleh Dana Pensiun Sampoerna. bonus dan biaya perjalanan yang diberikan oleh perusahaan tersebut sudah dirasakan cukup oleh seluruh responden dan bahkan sebahagian besar karyawannya dapat 180 menabung dari penghasilan tersebut. 1). Hal ini dapat diketahui dari pengakuan responden yang sebagian besar positif secara signifikan.33 s. Sampoerna Sales Division Batam agar meningkatkan mutu kerjanya sehingga perusahaan dapat memperoleh laba yang meningkat dari tahuntahun sebelumnya. tunjangan. Sampoerna Sales Division Batam dengan sangat baik. 1).M.M. dan diketahui bahwa pengakuan keseluruhan responden dapat dikatakan sebagai pengakuan yang positif secara signifikan (dengan bobot nilai = 0. Sampoerna Sales Division Batam dapat diberikan saran yaitu.M.d. suasana kerja yang kondusif dan usaha menjamin keselamatan dan kesehatan serta jaminan sosial karyawannya. Mengenai perlindungan keselamatan kerja dan kesehatan kerja. hal ini dapat dilihat melalui upayaupaya dalam hal kesejahteraan karyawannya yang dilakukan oleh PT H.d. Halaman 168-181 Likert. Volume 5.33 s.M. Kesejahteran karyawan telah terwujud dengan baik. Secara umum dengan pengunaan Skala Likert.M.

Jakarta. Englewood Cliffs. 1985. Medan. Walter A. Harian Sinar Indonesia Baru. Muhidin. Hadari. Azwar. Pengantar STKS. Depnakertrans Tahun 2004. Daftar Pustaka Abdul. Bandung. Perburuhan.. Gadjah Mada University Press. 13 Tahun 2003. Yogyakarta. Nurdin. Lalu. Harian Analisis. Nawawi. Sabtu. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. 2004. Saifuddin. 1996. Yogyakarta. Fadhil. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. S. Peraturan Perusahaan Sampoerna 2003-2005. Medan. Nasution.Fronner M. 1993. Sumakmur. Koleksi BPAD Prov SU 181 . Bahder. Yogyakarta. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Suharsini. Tempo Interaktif. 23 April 2003: 2. Avyrouz. Hardijan Rusli. 1987. Singarimbun. LP3S.M. Poedarminta. 1997. Metode Penelitian Survei. 23 Desember 2004: 6. Ghalia Indonesia. 1992. Pustaka Pelajar. Mandar Maju. Jakarta. Sumber-sumber lain: Harian Analisis. Kansil. 3 Mei 2003: 9. Jakarta. Husni. Selasa 21 Desember 2004. Prentice Hall Inc. Pengantar Studi Kesejahteraan Sosial. Sumarnonugroho. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Aneka Cipta. Sosial. RI. Johan. Hukum Soepomo. Djambatan. Hakim. 21 Desembrer 2004: 6. Rajawali Pers. Bagi pihak perusahaan dan karyawan agar lebih lagi meningkatkan suasana kerja yang lebih baik dan menjaga agar semangat kerja karyawannya meningkat dan terutama target perusahaan dapat tercapai. Metode Penelitian Bidang Sosial. yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesejahteraan karyawan dan kemajuan serta kesuksesan PT H. 1981. Syarif... Introduction to Social Welfare 3th Edition. Prosedur Penelitian. Haji Mas Agung. 12:24 WIB. yang bila pada akhirnya hal tersebut terjadi. Jakarta. Jakarta. Jakarta. Rabu. Kesejahteraan Bandung. T. Jakarta. Hukum Tenaga Kerja Berdasarkan UU No. 1968. Konstruksi Kearah Penelitian Deskriptif. Pokok-Pokok Hukum Jaminan Sosial Tenaga Kerja.. 1991. Sampoerna Sales Division Batam. 2005. Erna Widodo & Mukhtar. S. 1998. W. New Jersey. Jakarta. PT Angkasa. D. Medan. Harian Analisis. kebijakan perusahaan yang biasanya disertai dengan pemogokan kerja. Evaluasi Depnakertrans. Bandung. Yogyakarta. Arikunto. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja. Penerbit PT Hanindita. Friedlander. Jakarta. 1990. Citra Aditya Bakti. Hukum Tenaga Kerja 2003. 1987. Selasa. 2004. maka hanya mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi kedua belah pihak. 2000. 2004. Kamis. J. Pengantar Hukum Tenaga Kerja Indonesia. 2003. Masri. Penerbit Balai Pustaka. Hukum Tenaga Kerja Kebebasan Berserikat Bagi Pekerja. Medan. Pustaka Sinar Harapan.

maupun secara makro ekonomi. maka perlu dicari suatu terobosan yang tepat dan terarah serta berkesinambungan. dapat dipastikan tidak produktifnya sumber daya manusia akan menjadi beban bila diukur dari produktivitas nasional. agar lapangan pekerjaan dapat terbuka seluas-luasnya. Menyadari realitas yang ada. 7 – 8 percents curtained not enough to supply the need number of field of work. suku bunga yang kompetitif untuk membuat sektor riel bergairah melakukan usahanya. pada akhirnya dapat menjadi pemicu masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. job creation Pendahuluan Angka pengangguran yang mencapai puluhan juta orang saja bagi negara berpenduduk 200 juta jiwa lebih sesungguhnya sudah merupakan problema yang sangat besar. Silalahi Abstract The unemployment high level in Indonesia is the national big problem. Bagi pemerintah atau penguasa baru sesungguhnya kondisi buruk seperti ini bahkan dianggap sudah merupakan alasan kuat untuk mengajak jajaran kabinetnya untuk segera angkat koper. As we know that 1 percent economic grow can supply the new field of work for 300. Keywords: entrepreneur. Hal ini terjadi karena Pemerintah ternyata tidak mampu melakukan sesuatu yang merupakan kewajiban dasarnya. Pengangguran yang tidak segera dicarikan jalan keluar yang tepat. berakibat kondisi mental semakin tertekan dan cenderung untuk bertindak negatif.1 – 2. dan bukan berlomba-lomba untuk mencari lapangan pekerjaan.PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENTREPRENEURSHIP SEBAGAI ALTERNATIF PEMBUKAAN LAPANGAN KERJA SELUAS-LUASNYA Mulatua P. Pada akhirnya. Terowosan ini dilakukan untuk menciptakan suatu kondisi bahwa semua komponen bangsa harus bahu membahu untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Silalahi adalah Staf Pengajar Jurusan Manajemen STIE Tricom Medan 182 Koleksi BPAD Prov SU .4 millions workers in one year. Individu yang menganggur cukup lama. maka masalah pengangguran adalah prioritas yang harus diselesaikan oleh pemerintah sesegera mungkin. Economic growth planned by the government. Mengingat dampak pengangguran yang begitu luas. psikologis.000 – 400. Kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh rumah tangga yang mengalami pengangguran membuat retaknya harmonisasi hubungan keluarga.000 workers. This means that Indonesia only can supply the new field of work for 2. Kebijakan ini harus dapat dilaksanakan secara komprehensif dengan kebijakan makro ekonomi lainnya seperti pengendalian inflasi yang terukur. Pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri akan mengurangi Mulatua P. Adapun dampak buruk dari pengangguran dapat berpengaruh kepada kondisi sosial ekonomis. yakni untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi warga negaranya. We have to appreciate that 37 million unemployment is the large number and the government has to do something. iklim investasi yang transparan dan efisien. especially to solve the latest unemployment problem in Indonesia. Tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup akan membuat pengangguran menjadi pemicu masalah di tengah-tengah masyarakat. Salah satu kebijakan yang perlu dilakukan adalah melalui "pendidikan dan pelatihan entrepreneurship sebagai alternatif pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya".

Innovation Mampu menggunakan faktor produksi yang ada (land. produksinya. Growth Seorang entrepreneur akan berusaha semaksimal mungkin agar usahanya dapat terus mengalami pertumbuhan.. Ada dua faktor ekonomi yang perlu diidentifikasikan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi tumbuhnya entrepreneurship. Ada tiga komponen yang penting dari pengertian entrepreneurship ini. labor. mobil. 2. dan Singapura. Pengelolaan perusahaan yang banyak dilakukan oleh pihak swasta mampu memberikan kondisi yang positif kepada pemerintah. Economic factors (faktor ekonomi) Pada dasarnya entrepreneurship dapat tumbuh melalui promosi atas perubahan ekonomi ditinjau dari sudut pertumbuhan (growth) dan pengembangan (development). 3. diperlukan entrepreneurship yang tangguh. yang pada awalnya diproduksi oleh perusahaanperusahaan negara. material. hingga pengenalan atas produk dan jasa yang dihasilkan. telah memiliki banyak industri yang dapat menghasilkan pesawat. dan capital dapat secara optimal digunakan. Sedangkan manajemen adalah kemampuan untuk dapat mengkoordinasikan aktivitas/ proses produksi yang sedang berjalan. Pendidikan dan Pelatihan. Korea Selatan. seperti Inggris. Jadi jelaslah bahwa untuk dapat memberikan kesempatan perusahaan memenangkan kompetisi. labor. Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Tumbuhnya Entrepreneurship Beberapa negara maju khususnya Amerika Serikat. Beberapa negara di mana entrepreneurshipnya sudah mencapai tingkat yang mapan. Perbedaan Entrepreneurship Manajemen dengan Entrepreneurship adalah kemampuan mengkombinasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu produk/jasa baru. sebagai konsekuensi peran pemerintah di dalam pembangunan ekonomi. Bentuk yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah melalui insentif pasar (market incentives). Pada dasarnya seorang entrepreneur memerlukan dan mengusahakan agar manpower. The pursuit of opportunities Seorang entrepreneur adalah orang yang mencari peluang untuk dapat meningkatkan bisnisnya melalui perubahan dan transformasi. Pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri diharapkan dapat membuat bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat dan bermartabat. dan capital) untuk dapat menghasilkan produk yang baru. Noneconomic factors (faktor nonekonomi) Pada mulanya Uni Soviet begitu tertinggal jauh kesejahteraannya dibandingkan dengan Amerika Serikat.Silalahi. Entrepreneurship adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang yang dapat menggunakan faktor-faktor produksi yang ada untuk dapat menghasilkan suatu produk/jasa yang baru. karena pemerintah dapat lebih mudah melakukan bimbingan dan pengarahan. tetapi sejak Mikhail 183 Beberapa Konsep Entrepreneur adalah individu atau sekelompok individu yang memiliki kemampuan mengkombinasikan faktor-faktor produksi (land. tetapi pada akhirnya industri tersebut kini lebih didominasi oleh private ownership. dan negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand. tersedianya dana/modal yang cukup untuk mendukung berkembangnya aktivitas para entrepreneur. dapat membuat produk/jasa yang dihasilkan memberikan nilai tambah yang besar bagi perusahaan dan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap proses Koleksi BPAD Prov SU . Malaysia.. karena didukung oleh banyak entrepreneur yang cakap dan tangguh. dan capital) untuk menghasilkan produk dan jasa yang baru. Di sinilah peran lembaga perbankan sangat diharapkan untuk dengan cepat dan tanggap membuka akses yang lebih luas lagi agar talenta ataupun benih entrepreneurship terus digali dan ditumbuhkembangkan. sehingga perubahan apapun yang terjadi di masa yang akan datang. 2. Sementara Uni Soviet masih ketinggalan dalam pembangunan entrepreneurshipnya. yakni: 1. walaupun negara tersebut sudah berusaha memperbaiki undang-undang yang berkaitan dengan entrepreneurship. citra bahwa bangsa ini adalah bangsa kelas "kuli/budak" bagi bangsa lain. ternyata dapat mencapai perkembangan ekonomi yang tergolong sangat cepat. yaitu: 1.

Untuk dapat lebih banyak melahirkan pelaku bisnis yang lain. misalnya sebagai petani atau nelayan. percobaan. Persepsi mahasiswa Koleksi BPAD Prov SU . sebagai akibat dari proses entrepreneurship yang konsisten. maka pemerintah seharusnya memberikan peluang yang lebih luas lagi agar entrepreneurship dapat ditumbuhkembangkan lagi. sekolah calon juragan di Bantul.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. wilayah. Jika kita setuju bahwa entrepreneur mampu menghasilkan bisnis baru yang inovatif dan mampu meraih laba serta mampu meningkatkan skala pertumbuhan usahanya. Pada dasarnya ada 3 (tiga) hal yang membuat mengapa entrepreneurship itu menjadi penting. Halaman 182-185 Gorbachev melakukan pembaharuan (glasnost/perestroika). Saudara Rakhmat Sulistyobudi mampu menghidupkan budaya learning by doing di lingkungan sekolah tersebut untuk dapat menempa mental siswanya menjadi wirausahawan sejak dini. yang dipimpin oleh Rakhmat Sulistyobudi dapat dijadikan contoh. Di India. Volume 5. Number of New Start-Ups. Sekolah Calon Juragan di Bantul sebagai Model Pendidikan dan Pelatihan Entrepreneurship Untuk memberikan gambaran betapa pentingnya pendidikan dan pelatihan entrepreneurship sebagai alternatif pembukaan lapangan kerja yang seluas-luasnya. Seorang entrepreneur adalah juga sebagai "agent of change" untuk mempersiapkan suatu produk baru yang akan dihasilkan. Innovation Innovation (pembaharuan) adalah suatu proses perubahan. Dampak dari adanya kasta membuat seorang anak yang lahir dari ayah tukang kayu akan sulit untuk dapat dikembangkan menjadi seorang yang memiliki entrepreneurship tangguh. ataupun negara. Yogyakarta. Organisasi berskala kecil yang baru akan membuat 24 jam sebagai waktu melakukan inovasi produk-produk baru melalui suatu penelitian 184 dan pengembangan. dan Jobs Creation. Jadi dapat diperkirakan apabila struktur sosial masyarakat tidak akomodatif terhadap nilai entrepreneurship. Peran statistik pada tahapan ini menjadi sangat perlu dan penting. maka dapat diperkirakan sulit untuk mengembangkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi bagian gerakan nasional. Number of New Start-Ups Kehadiran entrepreneur akan menjadi pendorong lahirnya pelaku-pelaku bisnis yang baru. dan kebanyakan negara-negara maju lainnya. Data yang paling akhir menunjukkan bahwa dapat dilakukan perekrutan pegawai baru sebanyak 500 pegawai dengan lahirnya perusahaan baru. yang dikenal dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Pandak. Sedangkan bagi kelompok usaha kecil (yang mempekerjakan 20 orang pegawai) yang didirikan oleh entrepreneur. Job Creation Kita mengetahui bahwa job creation (penciptaan lapangan kerja) sangatlah penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang bagi suatu masyarakat. 1. Mei 2006.2%. Mengapa Penting Entrepreneurship? Entrepreneurship dalam kelanjutan perkembangannya adalah sangat penting bagi sektor industri khususnya di Amerika Serikat. yang masyarakatnya dikelompokkan atas kasta (tingkatan sosial). kesejahteraan masyarakat secara perlahan tetapi pasti mengalami peningkatan yang cukup berarti. Faktor nonekonomis lain yang dapat mempengaruhi pengembangan entrepreneurship adalah nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. mampu mengalami peningkatan pertumbuhan lebih kurang 77. 3. Nomor 2. 2. Mengapa Amerika begitu maju perekonomiannya? Jawabannya adalah karena di Amerika para politikus dan ekonom telah memiliki visi dan misi yang sama tentang pentingnya kemapanan entrepreneurship bagi kemapanan pertumbuhan ekonominya. sehingga masyarakatnya dibagi atas kegiatan ekonomi tertentu. Bantul. maka entrepreneurship secara keseluruhan telah memberikan kontribusi yang sangat luas untuk tumbuhnya pelaku-pelaku bisnis yang lain. dan pada praktiknya mampu memberikan hasil lebih dari 95% produk-produk terbaru yang dapat dikembangkan lebih lanjut. dan revolusi yang menjadi kunci utama dari proses entrepreneurship. karena entrepreneurship dapat meliputi Innovation. transformasi.

1995. dalam bentuk kebijakan yang dapat memihak kepada lahirnya entrepreneur yang cakap dan tangguh. Untuk anggrek misalnya siswa mendapat 70% dari hasil jual anggrek. unit produksi ayam potong dan sapi potong. sehingga output dari pendidikan nasional dapat mendorong aktivitas perekonomian secara komprehensif. 14 Oktober 2004. Mc Graw-Hill International Inc. Organizational Bahavior. Daftar Pustaka Robbins and Coulter. Pembinaan dan pengembangan entrepreneurship sangat tergantung dari goodwill pemerintah. Dengan biaya sekolah yang relatif tidak mahal (Rp 25. Samuelson and Nordhaus.. sirup. serta sangat tergantung kepada struktur sosial masyarakat yang terbuka akan pentingnya pengembangan nilai entrepreneurship. Adapun prestasi yang dicapai oleh sekolah juragan ini adalah mengembangkan 1000 ekor ayam. 2004 Harian Bisnis Indonesia.. Koleksi BPAD Prov SU 185 . Economics. biologi. Pendidikan dan pelatihan entrepreneurship penting untuk diperkenalkan sejak dini kepada siswa/masyarakat. hingga asrama siswa ini mampu memberikan insentif bagi siswanya secara proporsional. Dengan ini diharapkan siswa dapat "belajar" dari kegagalan berwirausaha. yang pada awalnya tidak berminat terhadap program kelas wirausaha. kimia. 7th Edition. 2002. Kebijakan dalam merencanakan pendidikan nasional seharusnya "match" dengan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi. Mc Graw-Hill International Inc. Pendidikan dan Pelatihan. namun bila setelah dievaluasi merugi. jahe. 25 ekor sapi. maka sekolah ini seharusnya dapat dijadikan model untuk membuka pendidikan dan pelatihan entrepreneurship yang lebih luas lagi. mampu diubah menjadi program yang bergengsi dan diminati oleh siswanya. Kesimpulan Pengangguran yang masih begitu besar jumlahnya perlu dijadikan prioritas yang penting untuk dapat diselesaikan oleh pemeritah. dan mampu menghasilkan 100 ton beras per tahunnya dengan merek Borobudur SMK Pandak. Pemerintah juga harus segera memberikan dukungan sepenuhnya kepada pendidikan dan pelatihan kewirausahaan seperti ini dalam rangka membuka lapangan kerja yang seluasluasnya.Silalahi.. peternakan. dengan pertimbangan bahwa siswa yang melakukan pembibitan dan perawatan. agar masyarakat mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Prentice Hall International Inc. Membangun Sekolah Calon Juragan di Bantul. Luthans. 7th Edition. kunyit putih.000/bulan). juga memproduksi minuman instan seperti temulawak. Management. maka kerugian tersebut ditanggung oleh sekolah.. 15000 tanaman anggrek. Perlu dicatat bahwa beras yang dihasilkan oleh sekolah juragan ini bebas pupuk kimia dan pestisida.. Juga diberikan pinjaman modal kepada siswa yang ingin mengembangkan usaha sendiri. Pendidikan dan pelatihan entrepreneurship perlu dijadikan alternatif kebijakan oleh pemerintah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Sekolah berbasis Broad Base Curriculum ini didukung dengan fasilitas laboratorium fisika.

3 juta jiwa ini tidak termasuk anak di bawah umur 10 tahun. there are some positive changes in the street children’s selves. tidak mempunyai kelompok sebaya di lingkungan rumahnya. Anak jalanan yang termarjinalkan ini dijadikan isu sebagai gambaran keadaan fungsi sosial mereka yang tidak terpenuhi. berkomunikasi. Menurut Sarjono dalam tulisannya. Pada umumnya mereka bekerja pada sektor informal.go. justru dipergunakan untuk bekerja.id). Dan akan bertambah banyak pula di tahun 2004 ini (www. Dan pada tahun 2003 pekerja anak di bawah 15 tahun mencapai 6 – 8 juta jiwa. Bagi yang bersangkutan.com). deviation Pendahuluan Keberadaan pekerja anak sudah lazim terlihat di kota-kota besar di Indonesia. tukang sapu. Secara empiris juga mengindikasikan peningkatan pekerja anak pada kondisi yang sangat berisiko yaitu mencari sisa makanan dan pemungut sampah dan juga pekerja anak di atas jermal perikanan lepas pantai yang sering dijumpai pada daerah pesisir pantai. hingga 2. Begitu pula anak jalanan yang masih tinggal dengan orang tua dan masih bersekolah.PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN OLEH YAYASAN AKMI MEDAN Mai Yusra & Hairani Siregar Abstract The economical poverty is very significant to social problem. Berdasarkan perbandingan data BPS dari tahun 2000 hingga 2002 jumlah pekerja anak di Indonesia naik dari 2183 juta jiwa. The street children are the social problem caused by the economical poverty. Anak jalanan merupakan suatu pribadi dan dunia tersendiri yang berbeda dengan dunia anak-anak lain.dipnakertransjateng. lap mobil. go. dan terutama mereka telah meninggalkan sekolah. Perubahan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia sejauh ini tampaknya belum memiliki pengaruh dan dampak bagi kehidupan pekerja anak khususnya anak-anak jalanan. tukang pakir. This research try to know how The YAKMI (foundation) help the poor children which have the street children status. This research especially to know how the change in the mind of the street children after got the treatment program which be done by YAKMI. berperilaku.dipnakertransjateng.id). dapat berisiko besar meninggalkan rumah dan sekolahnya (artikel: yanto_sagu@yahoo. Hairani Siregar adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU 186 Koleksi BPAD Prov SU . Jurnal tingkat dunia menyebutkan. Mai Yusra adalah Staf PT Satelindo Dumai. mengemukakan problematika pekerja anak dalam skala dunia merupakan masalah sosial yang cukup pelik bagi semua negara. Sebagai suatu dunia di dalamnya terdapat mekanisme hidup yang khas seperti cara berinteraksi. Sementara di Indonesia sendiri adanya peningkatan tajam jumlah pekerja anak. di usia mereka semestinya dipergunakan untuk menuntut ilmu dan menambah keterampilan bahkan untuk bermain. tahun 1999 dalam Laporan Situasi Anak-Anak terungkap keberadaan 80 juta anak menjadi pekerja anak dan di antara 30 juta dibiarkan oleh orang tuanya untuk mengurus dirinya sendiri dan menjadi anak jalanan (www. penyemir. Kebanyakan dari mereka sebagai pemulung. After got the treatment program by YAKMI they tried change their selves as good as they can and try to prepare their future. Mereka tidak lagi tinggal di rumah. dan pekerjaan lain yang menghasilkan uang. pedagang asongan. The result of this research shows. Keywords: street children. pengemis.

tempat bermain maupun lingkungan masyarakat. Sosok anak jalanan dianggap merupakan pekerjaan yang paling hina di mata masyarakat. 1996). dan lainlain. Karena mereka hidup pada lingkungan luar yang menerapkan kebebasan tanpa aturan (Proyek INS/94/007. dan malah ada beranggapan sebagai sampah masyarakat yang harus diasingkan (www. Kepribadian anak lambat laun akan membentuk perilaku yang tidak berbeda dengan orang-orang jalanan.id). Lingkungan internal seperti keluarga dan lingkungan eksternal yaitu sekolah. melainkan keterpaksaan hidup yang mereka harus terima karena adanya sebab tertentu. menggunakan teori pendekatan Behavioristik (teori lingkungan). Departemen Sosial RI mendefinisikan anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. mental. Bila dicermati terbentuknya perilaku anak jalanan. Kondisi ini terjadi karena hubungan dengan orang tua renggang bahkan sebahagian telah putus. Baik buruknya perkembangan anak baik secara fisik. suka mencuri. ekonomi keluarga yang miskin. 1995). H. Semakin lama anak di jalanan. tidak mau diatur. hendaknya kita harus mengetahui definisi anak jalanan tersebut. Anak jalanan sering diidentifikasikan sebagai anak yang bebas. dan psikologis sangat bergantung pada keluarga ketika menjalankan fungsinya. melakukan hubungan seks. Di mana labilitas emosi dan mental mereka ditunjang dengan penampilan yang kumuh sehingga melahirkan pencitraan negatif oleh sebagian besar masyarakat terhadap anak jalanan yang diindentifikasikan sebagai pembuat onar.bpk. 1987) dan di dalamnya mencangkup pula berbagai kasih sayang antara suami dan istri (Andayani.1997: 67). Hidup tanpa adanya orang tua memungkinkan anak bebas melakukan apa saja (Proyek INS/94/007 hal: 60) Minim bahkan tiada perhatian orang tua diperkuat oleh pengaruh jalanan. anak-anak kumuh. permukiman mereka yang kumuh atau bahkan sama sekali mereka tidak mempunyai tempat tinggal. secara psikologis mereka adalah anakanak pada taraf tertentu belum mempunyai bentuk mental emosional yang kokoh. Keluarga mempunyai beberapa fungsi yaitu reproduksi (Riddele. dan sumber dukungan sosial (Heristanti. dan bertahan hidup. Hidup menjadi anak jalanan bukanlah sebagai pilihan hidup yang menyenangkan. Program Pemberdayaan Anak. 2004: 27). menggunakan obat-obat terlarang. ketika anak tidak lagi memperoleh perhatian dari orang tua maka anak akan mudah 187 Koleksi BPAD Prov SU . Anak jalanan bagaimanapun telah menjadi fanomena yang menuntut perhatian kita semua. 1981). Khairuddin mengatakan bahwa keluarga adalah kelompok pertama yang mengenal nilai-nilai kebudayaan pada si anak dan di sinilah yang dialami antar-aksi dan disiplin pertama yang dikenakan kepadanya dalam kehidupan sosial (Khairuddin. Ini sangat berbeda dengan anak-anak kebanyakan lainnya yang tidak hidup di jalanan. Mekanisme tersebut terbentuk dari proses interaksi dengan cara hidup di jalanan dan umumnya berinteraksi dengan orang-orang yang berada di jalanan oleh karena itu.. semakin kuat pengaruh pada sikap dan perilakunya. sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan cenderung berpengaruh negatif bagi perkembangan dan pembentukan kepribadian mereka. 1997:13). melakukan kegiatan negatif seperti mencuri.. Perkembangan seorang anak akan tergantung pada fungsi keluarga (Zeithlin dkk. 1987). bahkan di antaranya ada yang justru diusir orang tua atau sengaja meninggalkan rumah. siapapun yang bekerja dengan anak jalanan dalam rangka mencapai perubahanperubahan yang diinginkan harus memahami mekanisme hidup mereka tersebut (UNDP. Penampilan mereka yang jorok. dll. fungsi penyedia kebutuhan dasar (Riddle 1987. berkelahi. Mereka berada di jalanan tanpa kontrol dan perhatian. 1997: 51). mabuk. Sebagaimana yang lebih lanjut diungkapkan oleh Zeitlin bahwa keluarga yang berfungsi secara sehat akan memberikan kesempatan besar bagi perkembangan anak (Zeithin dalam Siregar.Yusra & Siregar. berkelompok. Andayani 1998). Yaitu suatu pendekatan yang menitikberatkan pada pembentukan perilaku karena adanya proses belajar terhadap lingkungan baik dalam lingkungan internal maupun eksternal. seperti preman. Aspek psikologis ini berdampak kuat pada aspek sosial. Dari definisi tersebut kita tahu bahwa kehidupan anak jalanan tersebut rentan terhadap berbagai tindak kekerasan dan eksploitasi anak. Memahami anak jalanan secara utuh. liar. Menurut Arief..go. sosialisasi dan pendidikan anak (Riddele.

Demikian juga dengan kesejahteraan yang termasuk dalam ruang lingkup pemberian hak pada anak. karena hak asasi anak itu merupakan bagian dari hak asasi manusia. Namun seringkali hak anak tidak dipenuhi malah seakan-akan diabaikan. Jumlah anak jalanan di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2002 hingga 2003 tidak andanya perbedaan jumlah yang berarti hanya saja beberapa kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara sendiri. 188 Peningkatan jumlah anak jalanan yang pesat merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Sub kultur menjadi sebutan bagi budaya yang lahir tersebut sering menjadi pegangan bagi orang yang masih hidup dalam komunitas tersebut menjadi hukum tidak tertulis yang patut dipatuhi. Bahkan seringkali mereka menerima perlakuan kasar (tindak kekerasan). Ini yang menjadi dasar pertimbangan adanya pengesahan konvensi tersebut (Elvayani dalam Lintas Anak-PPAI. dan Keputusan Presiden RI No. Dari hasil wawancara mendalam yang dilakukan dengan beberapa pendamping di Medan. yaitu: 1) Kekerasan dalam keluarga. Pada kenyataannya ada banyak anak yang tidak dapat menerima haknya untuk merasakan pendidikan. Namun faktor yang paling dominan munculnya anak jalanan. 4) Ingin memiliki uang sendiri. apalagi idola yang dikenalkan di jalanan dan biasanya yang ditiru adalah sifat dan perilaku yang menentang dari aturan formal yang ada dalam masyarakat. Bila dicermati lebih teliti. keinginan akan kebebasan yang tinggi tanpa aturan formal yang mengikat (Ikhsan dkk. Hal tersebut menunjukkan kepekaan masyarakat kepada anak-anak jalanan itu nampaknya tidak begitu tajam. mandiri. Perhatian ini tidak semata-mata terdorong oleh besarnya jumlah anak jalanan. Pada dasarnya setiap manusia memiliki hak-hak tersendiri yang dilindungi oleh undangundang. 2) Dorongan keluarga. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak semakin meningkat dari tahun ke tahun khususnya di Kota Medan. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. melainkan karena situasi dan kondisi anak jalanan yang buruk. menyebutkan bahwa jumlah anak jalanan pada tahun 2003 berjumlah 2. berdasarkan penuturan mereka ada 5 faktor yang menjadi latar belakangnya. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak-Hak Anak. UU No. dan 5) Pengaruh teman. bila mana orang yang diimitasikan memiliki perilaku yang buruk maka perilaku buruk itu pula yang akan ditiru oleh anak tersebut. tidak perlu indentitas dalam bentuk formal. Ini dapat terlihat pada hasil monitoring PPAI yang dilakukan oleh pusat Data dan Informasi PPAI – Sumut tahun 2004.526 jiwa anak. rasa ingin tahu dan kreativitas yang tinggi. ulet dalam bekerja walaupun usia mereka masih tergolong muda. Dari data Dinas Sosial Kota Medan sendiri. perlindungan. 2004: 2). ialah banyaknya anak-anak jalanan di bawah umur yang bekerja mencari nafkah di jalan yang jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Banyak faktor yang menyebabkan anak pergi ke jalanan. Padahal sudah ada undang-undang yang mengatur secara tegas tentang hak-hak anak yang dikenal dengan hak asasi anak. ada beberapa sifat khas yang dimiliki oleh anak jalanan yaitu: rasa solidaritas yang tinggi. Pengamatan visual dalam keseharian utama anak jalanan Kota Medan. di mana kelompok ini belum mendapatkan hakhaknya bahkan sering terlanggar. adanya proses imitasi (peniruan) dalam diri anak jalanan sangat tinggi. Halaman 186-212 dipengaruhi perilakunya dengan lingkungan luar. yang menduduki tingkat tertinggi di Medan (Siregar. yang didapat dari berbagai sumber. Padahal anak merupakan karunia ilahi dan amanah yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. 2004: 27). Inilah yang akan lebih mengarah pada pembentukan perilaku anak jalanan. Volume 5. tidak terkecuali anak sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. Budaya dalam kehidupan anak jalanan terbangun dari interaksi mereka selama berada di jalanan yang sudah pasti berbeda dengan budaya yang ada di masyarakat “normal”. Tentu saja penanganan yang baik masalah anak jalanan diharapkan akan dapat memperkuat sendi-sendi kesejahteraan sosial serta stabilitas nasional di masa yang akan datang. Mei 2006. bahkan tempat tinggal yang layak untuk mereka tinggali.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.2004: 1). adalah faktor kondisi sosial ekonomi.. Nomor 2. Sedemikian seriusnya masalah ini dituangkan dalam suatu peraturan. 3) Ingin bebas. Data mencatat bentuk kekerasan yang paling tinggi jumlahnya adalah pencabulan sebanyak 66 kasus dari 227 Koleksi BPAD Prov SU .

dan khususnya anak yang diwarnai dengan upaya pendalaman di bidang pendidikan. Jenis perilaku anak jalanan yang sering dilakukan salah satunya adalah berkelahi. Menanggapi kompleksitas masalah tersebut. Sementara dalam mengkonsumsi rokok ditemukan sekitar 50% anak jalanan telah mengkonsumsinya. Pemberdayaan tidak hanya dilakukan dalam segi ekonomi (pekerjaan dan penghasilan) tapi juga pendidikan yang akan merupakan investasi bagi mereka dalam meraih pekerjaan yang lebih baik di masa dewasanya..8% dibandingkan diare dan penyakit kelamin (Kencana. 2004: 3)... Agar mereka dapat terhindar dari ancaman dan masalah penyalahgunaan dirinya di jalanan. di mana anak laki-laki yang berusia di atas 15 tahun umumnya mengkonsumsi rokok hingga 6 batang per hari. E. Sehingga anak jalanan menjadi lebih produktif dengan memanfaatkan peluang di jalan maupun di luar lingkungan jalanan sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan upaya pemberdayaan. maka diharapkan berpartisipasi LSM dalam penanganan masalah anak jalanan tersebut. Data ini diperoleh dari hasil survei yang dilakukan kepada anak jalanan dari empat LSM yang didanai oleh Save The Children. KARANG yang dilakukan pada masing-masing lokasi Rumah Singgah tersebut. Program Pemberdayaan Anak. Sweeting dkk.M. Dari data baseline survey (penelitian dasar) ditemukan. kesehatan. Program yang dilakukan antara lain meliputi pemberian bantuan kepada anak jalanan seperti pelayanan pendidikan dan keterampilan. intelektualitas. dimulai sedini mungkin agar dapat berpartisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan negara. Pada umumnya anak yang didampingi lembaga YAKMI adalah anak yang Vulnarabel yaitu 89. beasiswa. akademis dan masyarakat umum.8% dari jumlah anak dampingan (360 anak). keagamaan. PKPA.6%). kasus yang ada dari 12 bentuk kekerasan. Yayasan Kesejahtraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) sebagai salah satu organisasi non pemerintahan. Sementara penyakit yang paling banyak ditemukan pada anak jalanan adalah penyakit kulit sekitar 46. 22 anak memakai alasan ini (81%). Perilaku yang sering berkelahi pada anak jalanan dapat dilihat dari tabel di bawah ini. ini sangat penting dilakukan agar anak jalanan dapat keluar dari kondisi marjinal. Menindaklanjuti masalah di atas. organisasi non – pemerintah (NGO). LSM tersebut meliputi KKSP. Sehingga mereka terpaksa tidak memperdalam pendidikan mereka. Mereka tinggal bersama orang tua/ 189 Koleksi BPAD Prov SU . mengatakan bahwa rata-rata anak yang putus sekolah diperkirakan karena masalah ekonomi yang buruk. Dari data bahwa alasan berkelahi yang paling banyak karena diganggu (53. YAKMI. 2001: 32). Pendidikan yang dimaksud bisa berupa pendidikan formal maupun pendidikan informal berupa keterampilan. harus ada upaya-upaya konkret untuk melakukan perbaikan atas situasi anak jalanan atau bahkan – yang bersifat utopis – menghilangkan keberadaan anak jalanan. Tidak ada perempuan berkelahi karena membela teman. Upaya pengembangan dan peningkatan kualitas generasi bangsa (termasuk di dalamnya anak jalanan) tidak dapat dilepaskan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. secara berkelanjutan melakukan program pemberdayaan terhadap anak jalanan. Sedangkan bentuk kekerasan Konflik dengan Hukum berada di urutan kedua dengan 50 kasus (Elvayani dalam Lintas Anak-PPAI. Dari data pada tabel di atas terlihat bahwa anak yang tidak berkelahi adalah 8 % atau 20 orang anak.1998: 15). Menurut Dr. Upaya ini akan berdampak besar apabila ada keterlibatan dan jalinan kerja sama berbagai pihak seperti pemerintah. Anak merupakan potensi sumber daya insani bagi pembangunan nasional. pemberian bantuan modal. Pemberdayaan menjadi peluang untuk anak jalanan dapat berkembang menjadi lebih baik. perilaku buruk anak jalanan di Kota Medan dalam hal pemakaian napza pada anak jalanan yang paling umum adalah ngelem dan alkohol masing-masing sekitar 27%.Yusra & Siregar. Dari 27 anak perempuan. Namun kadang-kadang ada yang terus-menerus sakit dan malah ada pula anakanak yang berhenti dari sekolah karena membantu menambah penghasilan keluarga. Apalagi pembentukan perilaku mereka di jalan terutama perilaku buruk (Sweeting. Jumlah batang rokok bervariasi dari 1 sampai 24 batang per hari. bimbingan dan motivasi. organisasi sosial dan kemasyarakatan. kumudian ganja/cimeng 21%. Dari data ini terlihat bahwa lingkungan membentuk perilaku buruk pada anak.

Oleh karena itu masalah ini harus segera diteliti agar program tersebut memiliki dampak perubahan terhadap sasaran ataupun sebaliknya. akan mengadakan dialog secara langsung dengan mengajukan pertanyaan mengenai persoalan perilaku pada anak jalanan yang dibahas dalam penelitian ini kepada responden yaitu anak jalanan yang telah ditetapkan. Karena pada hakikatnya anak jalanan bagaimanapun merupakan generasi penerus sehingga perilaku buruk tersebut harus segera dirubah. Hasil Penelitian dan Pembahasan Yayasan kesejahteraan masyarakat Indonesia (YAKMI) merupakan lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial yang pada saaat ini memusatkan perhatian pada pembinaan. Di samping itu juga dilakukan wawancara yaitu peneliti dalam memperoleh dan mengumpulkan data. Data studi lapangan diperoleh melalui observasi (pengamatan).Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Dalam penelitian ini peneliti mengambil 10% dari 318 orang anak jalanan yang mendapat program pemberdayaan oleh YAKMI. Metode Penelitian Tipe penelitian tergolong penelitian penelitian deskriptif. 467. Jika didasari dari teori behavioralisme yaitu teori yang mengungkapkan bahwa perilaku sesorang terbentuk dari proses belajar terhadap lingkungan yang bersangkutan. yaitu teknik sampling yang tidak mendasarkan kepada strata atau daerah. tetapi mendasarkan diri pada jumlah yang sudah ditentukan. 1990: 63). Alasan pemilihan lokasi penelitian ini adalah karena Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) secara aktif terlibat dalam menangani perilaku anak jalanan dengan memberikan pemberdayaan guna merubah penyimpangan perilaku anak jalanan. 78/ Tanggal 22 Mei 2000 dan terdaftar pada Dinas Sosial Sumatera Utara No. dilakukan dengan memperhatikan dan mengamati kehidupan anak jalanan sehari-hari yang menjadi responden. Selain itu tambahan informasi dari wanwancara pendamping anak selama ini serta teman anak tersebut.8 dan Sanggar PKBM Ganesa di Jalan Sei Lepan No. Oleh sebab itu YAKMI sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada anak jalanan memiliki program untuk menekan perilaku buruk pada anak. Biasanya yang dihubungi adalah subjek yang mudah ditemui (Arikunto. Halaman 186-212 keluarga dan ada yang hidup mengontrak bersama teman-teman (5. yaitu suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang masyarakat dan lain-lain) pada saat ini berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi. Mereka yang mengontrak pada umumnya berasal dari luar Kota Medan. Maka perilaku anak jalanan terbentuk dari kehidupan mereka di jalanan karena hampir sebahagian waktu mereka habiskan di jalanan maka terbentuknya perilaku buruk dari proses peniruan. Yayasan ini berdiri pada tahun 1999 berdasarkan ide dan prakarsa murni pekerja sosial profesional sehingga kinerja kegiatannya berorientasi pada metode pekerja sosial. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. 09. Dengan demikian sampel yang diambil berjumlah 32 orang. Nomor 2. 1997: 119). Mei 2006. Hal inilah yang menimbulkan ketertarikan peneliti untuk mengakaji program tersebut terlaksana dalam kaitan merubah perilaku anak jalanan. LembagaYAKMI saat ini memusatkan pembina anak jalanan di wilayah pasar petisah Koleksi BPAD Prov SU . Landasan hukum lembaga YAKMI berakte notaris No. Sedangkan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel kuota. 190 Adapun populasi dalam penelitian ini adalah anak jalanan yang mendapat program pemberdayaan oleh Yayasan Kesejahtraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) yang berjumlah 318 Anak. pemberdayaan dan perlindungan anak jalanan melalui model sanggar belajar anak jalanan.5%).6/17 Tanggal 11 Januari 2001. yaitu kabupaten terdekat seperti Deli Serdang dan Langkat. Penelitian ini dilakukan di lembaga swadaya masyarakat yaitu Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) yang berada di jalan Gajah Mada/Jl. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa studi pustaka dan studi lapangan. Dalam hal ini menggunakan tipe penelitian deskriptif ingin membuat gambaran atau melukiskan secara sistematis aktual dan akurat tentang Program Pemberdayaan Anak Jalanan terhadap Perilaku Anak Jalanan yang dibimbing oleh YAKMI. Volume 5.8% dari jumlah anak dalam keadaan putus sekolah. Sekarang 48. Dame No.

Tabel 1. Pada usia ini anak dipandang sudah mampu melindungi diri dari Jika diperhatikan dari data sebelumnya bahwa responden didominasi oleh anak-anak yang berusia sekolah.20/1999 mengenai batas minimum anak yang bekerja minimal 15 tahun. sekitarnya.0 37. Batas usia minimum ini sangat jauh berbeda dengan fakta anak yang berada di jalanan.5 18. Yaitu di atas 4 tahun. dan advokasi pendidikan.5 50.Yusra & Siregar. khususnya kecelakaan lalu lintas”. bundaran golden..3 100. Simpang Seikambing dan Simpang Lampu Merah Brayan. diharapkan anak jalanan tetap terpelihara pendidikan mereka serta anak jalanan tersebut dapat meninggalkan kehidupan di jalanan di kemudian hari.0 6. keselamatan dan tidak mengganggu kehidupan mereka di sekolah/pelatihan/ kejuruan maka anak-anak yang berusia 15 tahun menurut mereka telah diperbolehkan untuk bekerja sementara pekerjaan yang mereka lakukan sangat membahayakan mental dan kesehatan moral mereka yang pada umumnya pekerjaan yang tidak boleh dilakukan di bawah umur 18 tahun ke bawah. Ada beberapa anak yang menjawab SLTP dan SMU. Anak-anak yang menjawab tidak tamat SD dan tidak tamat SLTP termasuk ke dalamnya yaitu anak-anak yang sebelumnya tidak sekolah dari awal atau anak yang tidak pernah duduk di bangku sekolah maupun anakanak yang telah bersekolah namun putus di tengah jalan karena sesuatu hal. anak diperbolehkan untuk bekerja dengan catatan tidak membahayakan kesehatan. Risiko ini secara tidak langsung membatasi umur anak mulai bekerja di jalan.0 Ditegaskan dalam UU No. Menurut Wiwid Trisnadi.0 ancaman jalanan.0 12. Ini berarti risiko kecelakaan tidak hanya pada anakanak usia di bawah 4 tahun tetapi usia di atas 4 tahun juga berisiko kecelakaan lalu lintas. budi pekerti yang baik. Dari hasil wawancara terhadap anak yang tidak tamat SD maupun SLTP. Program Pemberdayaan Anak. Tabel 2..5 50.5 100. Data tabel di atas menunjukan bahwa responden 50% lebih didominasi anak-anak yang memiliki usia sekolah. Tetapi tidak menutup kemungkinan anak-anak yang tidak bersekolah lagi. Distribusi Responden Menurut Pendidikan No 1 2 3 4 5 6 Pendidikan Tidak Tamat SD Tamat SD Tidak Tamat SLTP Tamat SLTP Tidak Tamat SMU Tamat SMU Jumlah Sumber: Data Primer F 4 16 4 6 0 2 32 (%) 12. Setia Luhur. terungkap bahwa mereka tidak menamatkan sekolah akibat dari 191 Koleksi BPAD Prov SU . Proses pemandirian pada anak jalanan juga dilakukan dengan memberikan keterampilan kepada anak jalanan menjelang usia 18 tahun agar mereka dapat mandiri. Ternyata anak-anak bekerja di jalanan tidak membatasi keinginan mereka untuk memperoleh pendidikan. Dari hasil wawancara diperoleh umumnya anak-anak jalanan tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ternyata di lapangan umumnya usia anak-anak mulai bekerja di atas 5 tahun Dalam kasus ini anak-anak jalanan yang berusia di atas 4 tahun juga memiliki risiko kecelakaan lalu lintas saat mereka bekerja. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur No 1 2 3 Kelompok Umur 5 – 9 tahun 9 – 13 tahun 13 – 18 tahun Jumlah Sumber: Data Primer F 4 16 12 32 (%) 12. Adapun pelayanan sosial yang diberikan YAKMI kepada anak jalanan berupa bimbingan sosial. Pelayanan sosial ini bertujuan memberikan alternatif bagi anak jalanan agar waktu yang dihabiskan di jalan semakin berkurang dan dengan modal keterampilan yang dimiliki oleh anak jalanan dan tetap terpeliharanya kelangsungan pendidikan mereka.8 0. terutama anak-anak yang pemula atau baru turun ke jalanan. maka dari tabel di atas anak-anak dampingan YAKMI umumnya masih sekolah dasar (SD). Dari hasil wawancara di lapangan terungkap bahwa beberapa anak mengaku pernah menjadi korban kecelakaan saat mereka mengamen dan meminta-minta. mengungkap tentang batas usia anak bekerja di jalan: “Kerja di jalan akan membawa risiko besar seperti ditabrak atau diserempet kendaraan yang lewat.

Tabel 4. Ini juga dibuktikan dari hasil penelitian Dinas Sosial Sumatera Utara dan Universitas Atmajaya pada tahun 2002. Perbedaan ini menunjukkan bahwa anak perempuan dipandang lebih cepat dewasa daripada anak laki-laki.0 1 2 3 4 5 Sumber: Data Primer Kenyataan di lapangan bahwa sering sekali terjadi penyimpangan dalam memperlakukan anak-anak jalanan. tidak adanya pengkhususan pekerjaan karena semua anak bebas memilih pekerjaan yang ada baik anak laki-laki maupun anak perempuan yang menurut mereka pekerjaan tersebut cocok. Namun pendapat dari Paramita Hapsari. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin daripada laki-laki. Jumlah anak jalanan laki-laki lebih banyak tidak terkait dengan persoalan jenis pekerjaan anak di jalan karena tidak ada peran gender pada pekerjaan anak jalanan. Usia dewasa ini jelas bersifat diskriminatif karena mendudukan anak perempuan sebagai individu yang masa kanak-kananya lebih pendek 192 Anak-anak yang bekerja di jalanan umumnya memilih tempat-tempat ramai.” (dalam Trisnadi. 2004: 72) Sehingga dalam hal ini jelas alasan anak jalanan perempuan lebih sedikit jumlahnya. Mei 2006. Nomor 2. Selain tidak adanya biaya ternyata kurangnya motivasi dari anak maupun lingkungan yang dibarengi dengan malas juga mempengaruhi anak untuk menamatkan sekolah. Hal ini terjadi karena anakanak merasa bosan pada tempat tersebut dan ada pula karena pengaruh ajakan teman namun kebanyakan anak-anak mengakui mereka pindah karena lokasi mereka sebelumnya telah banyak yang seprofesi dengan mereka sehingga menimbulkan persaingan. sedangkan perempuan berusia 16 tahun. bahwa anak jalanan di Kota Medan didominasi oleh anak laki-laki. Seperti yang diungkapkan responden yang mengaku sering berpindah-pindah: “kami kak gak tentu ngamenya. Pada undangundang perkawinan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.8 21.5 34. Anak jalanan perempuan lebih sering mengalami kondisi keterpakasaan di lingkungan kerjanya seperti pelecehan seksual malahan pemerkosaan sehingga dalam hal ini anak jalanan lebih didominasi oleh anak-anak laki-laki. Tabel 3. Volume 5. Daerah persimpangan jalan atau lampu merah termasuk: di Lampu Merah Seikambing. dan Simpang Titi Layang Brayan. Begitu juga anak jalanan dampingan YAKMI umumnya laki-laki. Dari hasil wawancara terhadap responden. Distribusi Daerah Titik Mangkal Responden No Daerah Mangkal Pajak Setia luhur Lampu Merah Seikambing Simpang Golden Belakang Petisah Baru Titi Layang Brayan Jumlah Sumber: Data Primer F 6 7 4 11 4 32 % 18.9 12. Salah satunya di persimpangan jalan (lampu merah). sedangkan di daerah pusat pasar meliputi: Belakang Petisah Baru. Kadangkadang kami di Seikambing kadangkadang-kadang kami di simpang guru patimpus. anak laki-laki boleh menikah setelah berusia 19 tahun. Pokoknya kak kalau udah ramai di sini kami pindah-pindah kak ” Koleksi BPAD Prov SU . Tetapi banyak pula anak-anak yang selalu berpindah-pindah. dan lokasi dekat dengan rumah mereka meliputi: Pajak Setia Luhur. Alasan ia tidak bersekolah karena ikut orang tuanya pindah dari Aceh. direktur LSM Anak mengatakan bahwa: “Pada iklim budaya timur tidak bisa disangkal bahwa relasi sosial antara anak laki-laki dan perempuan memiliki tingkat yang berbeda. Sebelumnya Muamar sekolah SD di Lansa tetapi sewaktu umur Muamar 9 tahun orang taunya pindah ke Medan. Halaman 186-212 tidak adanya biaya sekolah dari orang tua.4 12. Simpang Golden Petisah. misalnya. pusat pasar dan ada pula yang memilih dekat dengan lokasi rumah mereka. bahwa batas usia anak laki-laki dan perempuan. Muamar yang ngamen di Simpang Seikambing.5 100.5 100.0 No 1 2 Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah F 28 4 32 (%) 87. Hingga umur Amar 15 tahun saat ini Muamar tidak bersekolah lagi dan sekarang dia mengikuti program belajar kelompok yang dibuat oleh YAKMI. Dari persoalan pekerjaan.5 12. kadang-kadang kami di titi bobrok.

Anak-anak dampingan YAKMI didominasi oleh seringnya mereka pulang ke rumah karena mereka masih bersekolah. Seperti halnya Juli Opariani yang bekerja berdagang di Pajak Tradisional Setia Luhur. bangunan.5 100. Bagi anak yang bersekolah pagi hari.3 9. bermain. Namun dari koresponden yang memilih 2 kali dan 3 hingga 4 kali frekuensi pulang ke rumah adalah anak-anak yang remaja yang tidak bersekolah lagi sementara 4 hingga 5 kali adalah anak yang rumahnya jauh seperti Muamar yang rumahnya di Binjai dan dan Hesekharianto yang mengaku malas pulang. Sementara si bapak biasanya bekerja di sektor informal. Sedangkan anak-anak yang frekuensinya pulang ke rumah lebih dari 5 jam per hari dihabiskan untuk melaklukan aktivitas di jalan seperti bekerja. di mana orang tuanya ikut serta khususnya ibu. buruh. Mereka ikut serta tidak hanya mengontrol anak yang sedang bekerja di jalanan namun mereka juga terlibat bekerja di jalan. Anak yang bekerja dipusat kota umunya bekerja bersama-sama dengan keluarganya..5 62. Lama di Jalanan < 4 jam 4 sampai 5 jam 6-7 jam 8 sampai 10 jam > 11 jam Total Sumber: Data Primer F 2 22 3 2 3 32 % 6. dsb. mengaku bekerja selama kurang lebih 5 jam per hari dan sisanya “saya buat PR kak. Sianak bersama ibunya berangkat dari pagi hari dan pulang sore hari. Khusus daerah Belakang Petisah Baru dan Simpang Lampu Merah Seikambing. 1.4 100. seperti tukang beca.3 68.5 6. Waktu anak berada di rumah digunakan untuk belajar maupun beristirahat. Semakin jarang anak pulang maka semakin besar proses pembentukan perilaku yang muncul pada diri anak dari pengaruh lingkungan luar. maka ia akan bekerja sepulang sekolah. 4. Rumah adalah salah satu tempat ternyaman untuk mereka tinggali dan proses pendidikan berlangsung. Frekuensi Responden Pulang ke Rumah dalam Seminggu No.3 12. mejeng 193 Koleksi BPAD Prov SU . pemulung. Tabel 6. walaupun jualanya habis maupun tidak”. 5.. Sianak biasanya meletakkan peralatan sekolah dan berganti baju dan kemudian bergabung dengan anggota keluarganya yang lain di jalanan”(Trisnadi.4 6.3 12. perempatan di tengah kota dan perempatan di pinggir kota. biasanya kecuali bapaknya. 3. Jarangnya anak-anak pulang ke rumah akan membentuk perilaku tidak baik karena proses imitasi anak terbentuk dari apa Dari data tabel di atas terlihat bahwa sekitar 68% anak-anak yang dibimbing YAKMI berada di jalan selama 4 sampai 5 jam per hari.0 saja yang mereka pelajari dan mereka anggap baik di luar. Sementara yang memilih pulang 6 kali dalam seminggu alasan mereka karena malam minggu dan hari minggu mereka habiskan bersama teman-teman mereka di jalan maupun di kontrakan teman mereka dan di hari lain mereka pulang karena mereka masih sekolah. Distribusi Responden Menurut Lamanya Berada di Jalanan dalam Sehari No. bahwa adanya dua kategori lokasi tempat kerja anak-anak jalanan: “Lokasi kerja anak-anak jalanan dapat dipilah menjadi dua kelompok. Tabel 5. 2. Program Pemberdayaan Anak.Yusra & Siregar. Ini membuktikan bahwa anak-anak masih meluangkan waktu berada di rumah. 1 2 3 4 5 Pulang ke Rumah per Minggu 2 kali 3-4 kali 4-5 kali 6 kali setiap hari Total Sumber: Data Primer F 2 4 2 4 20 32 % 6. Hal ini dipertegas oleh Wiwied trisnadi. Frekuensi pulang ke rumah yang dimaksud pada tabel di atas adalah seberapa sering anak-anak tersebut pulang ke rumah orang tua mereka.0 Budaya dalam kehidupan anak jalanan terbangun dari interaksi mereka selama berada di jalan. Kehidupan di jalan indentik liar dan bebas sangat tidak cocok bagi anak seusia mereka.8 9. 2004: 37). Apalagi bahaya-bahaya yang kemungkinan akan menimpa mereka.

4 100. mereka lebih memilih berjualan plastik. Mei 2006.” Tabel 7. Karena faktor lingkungan memegang peran penting dalam pembentukan gaya hidup seseorang dan tidak terkecuali pada anak. Bagi anak yang pandai menyanyi dan main gitar maka mereka mengamen. Dari data pekerjaan yang banyak dilakukan adalah mengamen. sehingga seorang anak yang bekerja sebagai pengamen akan merasa “derajatnya” lebih tinggi dibandingkan bekerja sebagai pengemis yang hanya mengandalkan belas kasihan orang. Volume 5. Jika keluarga ini tidak lagi mampu.0 Pekerjaan anak-anak di jalanan bervariasi tergantung kemampuan masing-masing yang dimiliki anak. tentang sosialisasi keluarga terhadap anak: “Perubahan pola kerja jelas berpengaruh besar dalam sosialisasi anak. Anak-anak ini mempunyai modal sedikit dari orang tuanya seperti berjualan rokok.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sehingga dengan beberapa pertimbangan tersebut anak-anak jalanan bebas memilih pekerjaan apa saja. Orang tua tidak lagi dapat berperan penuh dalam sosialisasi anak. kadang-kadang juga penjual rokok adalah anak perempuan walaupun dengan alasan ia berjualan menggantikan abangnya. tukang minta maupun jualan rokok. Pada masyarakat tradisional peran keluarga begitu dominan dalam sosialisasi anak. yakni pekerjaan itu secara teknis mudah dilakukan. Sedangkan tukang semir selalu berpindah-pindah dan lebih banyak di kedai-kedai kopi maupun pasar. Di tempat inilah anak-anak menghabiskan sebahagian besar waktunya. dan fleksibel dalam waktu dan tempat” (Trisnadi. dan peer group. kadang-kadang juga pengamen pindah menjadi Tumin. Selain itu pemilihan pekerjaan juga tidak terlepas dari pengaruh lokasi kerja mereka seperti lokasi kerja di pasar tradisional misalnya. khususnya mengantar anak memasuki jenjang yang lebih dewasa. kadang-kadang anak Tumin pindah menjadi pengamen. sejauh mereka memperoleh uang yang banyak pekerjaan apa saja mereka lakukan. peran ini digantikan dengan keluarga luas. mudah menghasilkan uang. Nomor 2. menurut Wiwied Trisnadi bahwa ngamen yang serius seperti menggunakan gitar. cairan pemutih atau yang lainya dan ada juga mengumpul karton. Lamanya keberadaan anak di jalanan menentukan besarnya pengaruh buruk yang terbentuk kepada diri anak. atau plastik maka mereka memilih berjualan plastik sedangkan anak-anak yang pandai menyemir mereka memilih profesi sebagai penyemir dan juga bekerja sebagai tukang minta dan masih banyak pekerjaanpekerjaan lain yang mereka bisa tekuni. Disaat keluarga sudah disibukan dengan aktivitas ekonomi untuk mencukupi kebutuhan (ekonomi) maka sosialisasi anak tidak lagi sepenuhnya dapat dilakukan oleh keluarga. 1 2 3 4 Pekerjaan Anak Mengamen Berjualan Menyemir sepatu Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 11 9 1 11 32 % 34. Hal ini dapat dibuktikan 194 dengan keadaan di lapangan. Apalagi di jalan mereka tidak hanya memperoleh duit tetapi juga mereka bisa bermain bebas. Begitu juga berjualan rokok. Koleksi BPAD Prov SU . Bagi mereka yang lokasi kerjanya di simpang jalanan maka mereka bekerja sebagai pengamen. Pilihan atas suatu pekerjaan dengan beberapa pertimbangan. Selain ngamen ada juga anak-anak yang bekerja berjualan. Menurut Wiwied tentang jenis pekerjaan: “Jalan memberi peluang bagi anak-anak untuk mencari uang.4 28.1 3. Ini diperkuat oleh pendapat Wiwied Trisnadi. indentik dengan penguasaan keterampilan bermain musik. Sosialisasi keluarga kemudian perlahan-lahan mulai diambil alih oleh lembaga pendidikan (sekolah). Anak-anak selain bekerja mereka juga bersekolah sehingga keberadaan anak semakin lama di jalanan akan mengurangi aktivitas belajar mereka di rumah dan pembentukan perilaku di jalanan pun semakin besar. butut maupun makanan ternak. Halaman 186-212 maupun ngumpul-ngumpul bersama kawankawan. itu berarti di tempat inilah anak lebih banyak belajar untuk menjalani kehidupan menuju dewasa. aqua. Umumnya tidak butuh keterampilan khusus untuk mencari uang di jalan.1 34. 2004 hal: 37). Distribusi Responden Menurut Pekerjaanya No.

6 15. 8. 6. 2. Dari hasil wawancara dengan beberapa pengamen menjawab “ya lah kak.1 tahun 1 sampai 2 tahun 2 sampai 3 tahun 3 sampai 4 tahun tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 8 7 5 8 3 1 32 % 25. Penyakit ini hampir diderita anak-anak jalanan. 2. Lama Responden Bergabung dengan YAKMI No. mereka lebih bersih dibandingkan tukang minta. Saat pengalaman peneliti membagi angket.9 15. Menurut pendamping mereka sudah pernah dikenai program kesehatan khususnya pemeriksaan kesehatan terhadap anak-anak jalanan. Namun kebanyakan ibu dari anak melarang anaknya diperiksa kesehatannya. Lamanya Mengikuti Program YAKMI < 6 bulan 6 bulan . Tabel 9. 5.1 100. Bergabungnya anak dalam yayasan ini berarti anak-anak jalanan tersebut telah menerima program-program yang diberikan YAKMI kepada mereka.0 Seperti data-data sebelumnya. Program Pemberdayaan Anak. peneliti melihat fanomena unik di mana anak yang masih berumur 5 tahun dipaksa bekerja. Pada saat itu kondisi anak tersebut memprihatinkan karena di bahagian tubuhnya penuh kudis dan telinganya berlendir “tungkik” dan flu. lamanya anak berada di jalan mempengaruhi seberapa banyak perubahan yang terjadi pada anak. Ternyata anak tersebut dibawa ibunya untuk meminta. 4. Tabel 8. tetapi dari pengamatan peneliti ada juga beberapa pengamen yang dekil dan jorok. Variasinya pekerjaan mereka maka semakin variasi pula perilaku yang terbentuk diri mereka.. 5. 195 Koleksi BPAD Prov SU . Dari data tabel di atas dapat terlihat bahwa anak-anak yang didampingi YAKMI lebih banyak bekerja sebagai pengamen dan responden yang memilih lain-lain bekerja sebagai pemulung dan tukang minta. Semakin lama anak berada di jalanan maka semakin banyak pula peniruan pada anak yang ia dapat dari luar. Lamanya Turun ke Jalan < 1 tahun 1 – 2 tahun 2 – 3 tahun 3 – 4 tahun 4 – 5 tahun 5 – 6 tahun > 6 tahun tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 4 4 9 5 5 3 1 1 32 % 12.Yusra & Siregar. Ini dikarenakan perilaku anak berkaitan erat dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Adanya hubungan antara lamanya perilaku anak tersebut mendarah daging sehingga butuh waktu dalam merubah perilaku anak tersebut. 3.4 3.1 15. Distribusi Lamanya Responden Turun ke Jalan No. Anak tersebut dibebaskan di tengah jalan dengan membawa gelas plastik aqua.1 3.6 9.. 3. 6. anak lebih kelihatan memprihatinkan baik segi fisik maupun penampilan.4 3. Pada anak pemulung lebih kelihatan kumuh dan dekil daripada pengamen. 1. Tentunya semakin lama anak tersebut bergabung di YAKMI maka semakin mandiri anak-anak tersebut karena salah satu tujuan dari YAKMI terhadap anak jalanan adalah menciptakan kemandirian pada anak. Dari tabel di atas menunjukkan bahwa anak-anak yang didampingi YAKMI rata-rata di bawah 6 tahun dan kebanyakan sudah dua hingga tiga tahun berada di jalanan.0 21. 4. 1.0 Lamanya anak jalanan mengikuti YAKMI yang dimaksud dalam tabel ini adalah lamanya anak-anak jalanan bergabung dalam yayasan ini.5 12.6 25. Semula anak tersebut dan ibunya berpakain sedikit bersih lalu ia menukar pakaiannya dan pakaian anaknya yang koyak dan kotar lalu ibu pun berpakain seperti muslim yang menggunakan jilbab.5 28. 7. Namun berbeda dengan anak pengamen. kalo kami bauk mana ada orang yang mau kasi kami uang”.0 9. ini dikarenakan untuk menarik minat orang untuk memberi uang. Dari hasil wawancara terhadap pendamping mengenai fanomena tersebut ternyata banyak kejadian serupa yang terjadi pada anak jalanan tersebut. Tetapi bagi tukang minta.1 100.

Dari pengakuan anak-anak yang menjawab lainlain terlihat bahwa anak-anak yang mengaku menjawab sekitar 3 hingga 4 kali mengikuti pendidikan kesehatan dasar berjumlah 8 Koleksi BPAD Prov SU . Dari data di atas dapat diketahui bahwa hampir separuh anak-anak jalanan tahu mengenai pendidikan kesehatan dasar. Variasi anak-anak megikuti pendidikan kesehatan dasar dikarenakan oleh kurangnya motivasi anak untuk mengikuti pendidikan dan selain motivasi juga ketersediaan waktu anak-anak yang terbatas..6 15. Hal ini menjadi latar belakang diberikannya topik-topik penyuluhan kesehatan dasar dan umum bagi anak.4 100. Seperti pengakuan Muhamad Ridwan Chaniago bahwa ia tahu tentang adanya pendidikan kesehatan namun Ridwan tidak mengikuti pendidikan tersebut karena sibuk. Ada pula beberapa yang lainya mengaku “malas”.8 9. Ada lagi Kak itu.1 6. Semakin sering anak mengikuti pendidikan maka anak semakin mengerti tentang kesehatan dasar.0 Pendidikan kesehatan dasar yang dimaksud di atas adalah program pendidikan yang dibuat YAKMI tentang kesehatan guna memperkenalkan pentingnya hidup sehat kepada anak-anak jalanan sehingga anak-anak dapat berperilaku sehat dalam kesehariannya. 1 2 3 4 5 Frekuensi Mengikuti Tidak pernah Satu kali Dua kali Lain-lain Tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 5 5 5 14 3 32 % 15. Distribusi Frekuensi Responden tentang Pendidikan Kesehatan Dasar No.0 sebelum makan kan kak. Halaman 186-212 Lembaga ini sudah ada sejak tahun 2000 oleh karena itu anak paling lama ikut lembaga ini sekitar 4 tahun. Tapi sudah lupa berapa kali. bahkan dalam polanya yang sederhana seperti penggunaan lem sebagai pengganti napza membuat tema ini penting untuk diberikan pada anak. Tabel 10. Frekuensi anak mengikuti pendidikan kesehatan dasar ini bervariasi. Latar belakang program ini diadakan: Hasil observasi dan analisis yang dilakukan oleh pendampingpendamping YAKMI terhadap kondisi fisik dan sosial anak. Tetapi berbeda dengan Sakti yang berada di Simpang Jembatan Layang Brayan mengaku: “Saya kak pernah beberapa kali ikut.3 100. mandi. anak jalanan memiliki penampilan gadel/dekil dan kurang terawat dalam hal kebersihan tubuh serta kesehatannya. lingkungan tempat tinggal anak serta lingkungan di titik mangkal. Tabel 11.6 15.harus sering mandi. Nomor 2. yaitu diri anak. supaya gak cacingan. Mei 2006. Aku pernah juga ikut dari rumah singgah Harapan mulia kak. Seperti yang diungkapkan oleh koresponden yang bernama Yanti di Pajak Tradisional Setia Luhur: “Ooo.6 43. Namun ada beberapa responden yang tidak mengetahui pendidikan kesehatan dasar. Ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara terhadap anak di mana anak tersebut secara keseluruhan anak-anak dapat menyebutkan apa-apa saja yang berkaitan dengan kesehatan dasar seperti: mencuci tangan. sikat gigi eee…cuma itu yang ingat Kak” Begitulah ungkapan dari responden Yanti. 1 2 3 Pendidikan Kesehatan Dasar Tidak tahu Tahu tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 5 25 2 32 % 15. Volume 5. Secara umum.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.6 78. kesehatan dasar itu kak yang dibilang kak Rohtua (pendamping YAKMI) kita harus mencuci tangan 196 Frekuensi anak jalanan mengikuti pendidikan kesehatan dasar yang dimaksud pada tabel di atas adalah seberapa sering anak mengikuti pendidikan kesehatan dasar yang diberikan YAKMI.. Selain itu juga ancaman obatobatan terlarang yang tersebar bukan saja di kalangan pemadat dewasa tetapi juga pada anakanak di sekolah dan di jalanan.” Bagi anak-anak yang menjawab lain-lain maksudnya adalah anak-anak mengikuti pendidikan kesehatan dasar lebih dari dua kali. Ini berarti kurangnya motivasi dari anak maupun lingkungan untuk mengikuti program etika. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Kesehatan Dasar No. sikat gigi dan lain-lain dan ada juga menyebutkan pemeriksaan kesehatan.

responden sementara 6 responden lagi menjawab lebih dari 5 kali.” Kemudian Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia membuat program pendidikan kesehatan dasar tentang kebersihan tubuh anak-anak jalanan. jadi kalo aku nginap rumah kawan aku mandi di sana aja. Materi tentang pola mandi yang dijelaskan oleh YAKMI meliputi alasan keharusan mandi. Mamak aku gak marah kok. Anak-anak tersebut diminta untuk menceritakan kepada temantemanya tentang kondisi yang anak rasakan setelah mandi. Dari hasil wawancara terhadap beberapa anak jalanan mengenai mandi dalam setiap harinya terungkap bahwa: “Aku ingat kali kak.4%. mereka lebih kotor dan bau. Aktivitas anak jalanan yang hidup dan bekerja di jalan setiap saat tidak terlepas dari pengaruh keadaan yang kotor baik dari diri anak maupun dari lingkungan kerja anak. malahan Koleksi BPAD Prov SU 197 . lebih banyak orang yang mau ngasi kalau keadaan kami jorok. Ada banyak daki di lipatan-lipatan kulit anak. kadang mau pergi sekolah.” Namun ada juga anak yang menjawab: “Kadang-kadang kak jorok ini membawa rezeki.2 % bertambah anak-anak yang mandi 2 kali sehari. Jarangnya mereka mandi dalam sehari diungkapkan oleh anak karena kelelahan setelah mereka pulang dari kerja dan dibarengi kurangnya motivasi dari anak sendiri dan juga keluarga. lagian aku juga gak sekolah. Selain itu alasan mereka jarang mandi dalam sehari karena tidak memiliki sabun. Jadi kalo ingat aku mandi. habis kak di rumah aku tidaknya punya sabun. sementara anak-anak yang menjawab lain-lain yaitu anak-anak yang mengaku mandi tiga kali sehari.” Tetapi ada juga anak yang sebelumnya menjawab mandi 2 kali sehari kemudian setelah mengikuti program kesehatan dasar menjadi mandi 1 kali sehari. Penyampaikan materi ini kepada anak digunakan metode modeling. kadang aku lupa cape udah pulang kerja aku tidur aja. dan frekuensi mandi.” Namun berbeda pula dengan ungkapan Hesekharianto sebagai pengamen di simpang Seikambing: “Ah aku dari dulu sampai sekarang …aku malas pulang ke rumah.. juga ada seperti iritasi atau gatal-gatal pada kulit anak dan juga ada kudis dan luka malahan ada juga tungkik pada telinga mereka yang telah membau.. Saya selalu marahi kalau dia gak mandi. Setelah menerima program tersebut dari YAKMI frekuensi anak jalanan mandi dalam sehari dari tabel di atas terlihat bahwa hampir setengah jumlah anak-anak tersebut mengaku mandi dua kali sehari. Adapun materi yang dibuat adalah tentang kebersihan tubuh yang di dalamnya meliputi pola mandi dalam sehari. Di mana beberapa anak diminta untuk mandi dan memperagakan cara mandi yang benar. Tapi kak pernah lah aku pergi sekolah itu cuma cuci muka aja…he he. Dari hasil wawancara kepada anak mengaku alasannya: “He he…iya kak malas aku kak. cara mandi yang benar. Namun orang tua anak mengaku bahwa mereka selalu meminta anakaanak mereka mandi setiap hari seperti hasil wawancara kepada ibu anak pengumpul botot berikut ini: “Anak saya mandi kok. dulu aku kak malas kali mandi. Kadangkadang pulang malam. Dari data tabel di atas terlihat bahwa frekuensi anak jalanan mandi dalam sehari sebelum menerima program YAKMI menjawab hanya sekali dalam sehari malahan banyak juga anak jalanan yang tidak pernah sama sekali mandi dalam sehari.Yusra & Siregar. Keinginan anak untuk membersihkan diri salah satunya dapat diukur dengan frekuensi anak jalanan mandi minimal dua kali dalam sehari.. Program Pemberdayaan Anak. mamak aku pagi-pagi aja udah pergi cari makan babi. sementara anak-anak yang tidak pernah mandi menurun sekitar 25% setelah mengikuti program dan begitu juga anak-anak mandi satu kali sehari menurun sekitar 9. Dari tabel di atas terlihat bahwa ternyata adanya kemajuan frekuensi mandi anak jalanan yang dibimbingi YAKMI sekitar 31. Lain halnya pada anak-anak tukang botot dan pengumpul makan ternak. Ini berarti adanya kemajuan anak menjaga kebersihan diri. Jadi aku mandi kadang mau pergi sekolah aja. Namun dari pengamatan peneliti di lapangan masih banyak juga anak-anak yang mengaku mereka mandi dua kali sehari namun kondisi mereka tidak menunjukan kebersihan diri.tapi kalau paling sering aku mandi pagi karena kalau sore aku masih ngamen.

0 6. he.1% sementara yang menjawab lain-lain mengaku menyikat gigi lebih dari dua kali tetap 6.1 100. Distribusi Frekuensi Responden Menyikat Gigi dalam Sehari Sebelum Mengikuti Program No. Materi yang diberikan oleh YAKMI tentang kebersihan gigi yaitu membangun kesadaran anak tentang pentingnya menyikat gigi. karena aku masuk sekolah siang kak. Sekalian aku sampoan di sini. cara menyikat gigi yang benar dan penggunaan pasta gigi. langsung di jalan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Tapi ada juga anak yang menjawab dua kali seperti Novita mengaku: “Aku menyikat gigi dua kali dulu kak tapi sekarang tidak lagi kak. lebih enak lagi kak. Motivasi itu lebih banyak berasal dari diri mereka sendiri yang tidak mau peduli.3%.9 15. Alasan meraka menjawab tidak pernah dikarenakan malas..he. Sekalian nyari duit sekalian juga aku mandi..3 3. Kemudian masing-masing anak-anak dibagikan sikat gigi oleh pendamping dan diminta memperagakan menyikat gigi secara benar. Setelah anak-anak menerima program pendidikan kesehatan dasar.” Motivasi mereka untuk menyikat gigi sebenarnya kurang sehingga mereka cenderung tidak mau menyikat gigi. Nomor 2.1%. Dalam menyampaikan materi tentang kebersihan gigi pada anak dengan menggunakan alat peraga seperti: metaplan. Responden yang menjawab lebih dua kali ini mengaku menyikat gigi sebelum tidur dan sesudah makan. 1 2 3 4 5 Menyikat Gigi Tak pernah Satu kali Dua kali Lain-lain Ragu Total Sumber: Data Primer F 6 15 8 2 1 32 % 18. anak anak yang menyikat gigi satu kali naik 31.0 F 15 5 9 2 1 32 % 46. sikat gigi.6 28. Adapun materi yang diberikan yaitu kebersihan tubuh dengan topik pola kebersihan gigi. Volume 5. Dulu mamakku belum sibuk jualan jadi aku dimarahi kalau tidak sikat gigi tapi sekarang aku malas kak.. Mei 2006. hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi anak jalanan menyikat gigi lebih didominasi satu kali dalam sehari dan ada juga tidak pernah menyikat gigi dalam sehari. Menurut pengakuan mereka tidak pernahnya karena mereka kecapean setelah pulang kerja. mandi tanpa sabun dan mandi tanpa air yang cukup dan juga sengaja tidak mandi untuk meminta belas kasihan orang lain. mandi sore terus mandi hujan…kan tiga kali kak” “Aku kak suka mandi 3 kali dalam sehari. Selain dari kurang perhatian ada juga anak-anak yang mengaku mandi tetapi kondisi sebenarnya tidak menunjukan kebersihan diri yaitu disebabkan cara mandi anak yang tidak benar seperti tidak menggunakan air yang bersih.0 Tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah anak-anak jalanan yang tidak pernah menyikat gigi menurun sekitar 28.1 100.” Ada juga responden yang menjawab lainlain maksudnya adalah mereka mengaku mandi lebih dari 2 kali dalam sehari seperti anak-anak ini menjawab: “Kalau kami kak mandi lebih lah 3 kali sehari. Kemudian YAKMI memberikan program kebersihan tubuh.3%. pasta gigi. Distribusi Frekuensi Responden Menyikat Gigi dalam Sehari Sesudah Mengikuti Program No. trus pulang ngamen kak. Frekuensi menyikat gigi anak jalanan sebelum mengikuti program Pendidikan kesehatan dasar dari 32 responden lebih banyak mengaku tidak pernah.” Jadi alasan anak-anak jalan yang masih jarang mandi setelah menerima program pendidikan kesehatan dasar dari YAKMI yaitu dikarenakan kurangnya motivasi anak dan keluarga. Tabel 12a. Seperti yang diungkapkan oleh seorang responden: 198 Koleksi BPAD Prov SU . bangun pagi.8 46. mau pergi sekolah siang.3 3.9 25. ini membuktikan adanya kemajuan anak-anak setelah mengikuti program YAKMI. anak-anak yang mengaku menyikat gigi dua kali dalam sehari sedikit menurun 3. 1 2 3 4 5 Menyikat Gigi Tak pernah Satu kali Dua kali Lain-lain Ragu Total Sumber: Data Primer Tabel 12b. Halaman 186-212 kadang kala sengaja kami gak mandi supaya bisa cari banyak duit. mandi pagi.” Tapi berbeda dengan yang dijawab oleh responden yang satu ini: “Aku mandi kak kalau hujan.1 6.

Sedangkan jarang maksudnya responden pernah melakukan hubungan seks namun tidak dilakukan secara terus-menerus sedangkan responden sering maksudnya adalah responden berhubungan seks dilakukan secara teratur dan terus-menerus.3 100.6 31.4 15. Distribusi Responden Melakukan Hubungan Seks Bebas Sesudah Mengikuti Program No. Sementara responden yang menjawab sering berhubungan seks tidak ada. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah batang rokok yg dikonsumsi anak jalanan sebelum mengikuti program YAKMI mencapai satu hingga lima 199 Koleksi BPAD Prov SU . udah lupa kak. Tidak pernahnya responden melakukan hubungan seks dikarenakan mereka masih dalam pengawasan Merokok bagi anak jalanan merupakan hal yang biasa. 1 2 3 4 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah Jarang Sering Tidak menjawab Total Sumber: Data Primer F 29 1 2 32 % 90.1 6.0 F 26 2 2 2 32 % 81.3 12. anal seks dan oral seks bersama pasangan maupun bersama pekerja seks diluar pernikahan. “Kalau udah pulang kak mana ada ingat lagi mau menggosok gigi. Tabel di atas menunjukkan bahwa frekuensi anak jalanan sebelum dan sesudah mengikuti program kesehatan dasar menunjukan selisih yaitu anak-anak yang menjawab tidak pernah berhubungan seks sekitar 9. 1 2 3 4 5 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah 1-5 batang 5-10 batang 10-1 bks >1 bungkus Total Sumber: Data Primer F 13 10 4 3 2 32 % 40. Sedangkan responden yang menjawab jarang berkurang jumlahnya sekitar 3. Program Pemberdayaan Anak. 1 2 3 4 5 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah 1-5 batang 5-10 batang 10-1 bks >1 bungkus Total Sumber: Data Primer Tabel 14b.. Udah capek habisnya kak.5 100.6 3. Materi yang dibawa guna mencegah bahaya penyakit ini dengan memberi pemahaman kepada anak-anak tentang peyakit IMS..2% dari hasil wawancara mereka diketahui anak-anak jalanan telah mengetahui bahaya berhubungan seks yang menyimpang.3 100.9 34. 1 2 3 4 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah Jarang Sering Tidak menjawab Total Sumber: Data Primer Tabel 13b. Tabel 14a.0 orang tua sehingga menekan keinginan mereka dalam berhubungan seks. Program kesehatan dasar dengan topik penyakit IMS dilakukan YAKMI guna mengantisipasi anak-anak jalanan terinfeksi penyakit menular seksual.6 15.” Tabel 13a.” Sementara anak yang memilih jarang alasanya adalah kelupaan: “Aku rajin kan tapi kalau aku di rumah. Distribusi Frekuensi Jumlah Batang Rokok Responden Merokok dalam Sehari Sesudah Mengikuti Program No. upaya pencegahan dengan tidak melakukan seks menyimpang.6 12.0 F 7 11 5 5 4 32 % 21. akibat penyakit IMS. Hubungan seks yang dimaksud di sini meliputi melakukan hubungan seks sempurna.3 100.Yusra & Siregar.5 9.3 6. Distribusi Frekuensi Jumlah Batang Rokok Responden Merokok dalam Sehari Sebelum Mengikuti Program No. Ini dikarenakan anak-anak jalanan menganggap dirinya telah mampu mencari uang sendiri. Distribusi Responden Melakukan Hubungan Seks Bebas Sebelum Mengikuti Program No.0 Frekuensi responden tidak pernah berhubungan seks maksudnya adalah responden tidak sama sekali melakukan hubungan seks. melakukan petting. kalau udah keluar.3 6.4 6.3 6.3%. Metode yang dipakai oleh YAKMI sendiri adalah peer educator (pendidikan sebaya) dan penyuluhan.

cara mencuci rambut yang benar. frekuensi mencuci rambut. Ini dikarenakan anak tidak peduli dengan kebersihan tubuhnya dan ada juga anak yang mengaku tidak ada sampo di rumahnya serta ada beberapa anak yang mengaku dikarenakan kelelahan setelah bekerja dan langsung tidur.4%.” Selain itu maksud pilihan anak-anak ke lain-lain adalah bahwa anak-anak diberi kebebasan menjawab berapa kali mereka keramas dalam seminggu. 1 2 3 4 Frekuensi Keramas Dalam Seminggu Tak pernah Tiap hari Tiap minggu Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 5 10 11 6 32 % 15. Pola hidup sehat ini meliputi kebersihan rambut. Pengurangan ini kemajuan yang sangat berarti karena merokok merupakan suatu kebiasaan yang sulit dirubah. Anak-anak yang menjawab seminggu sekali dikarenakan kurangnya dukungan terhadap anak baik dari diri anak sendiri maupun dari keluarga anak tentang Koleksi BPAD Prov SU . Seperti yang diungkapkan oleh beberapa anak: “Di rumah aku kak gak ada sampo. Tabel 15a. Distribusi Frekuensi Responden Keramas dalam Seminggu Sesudah Mengikuti Program No. Program yang dibuat yaitu penyakit yang ditimbulkan dari merokok seperti penyakit TBC dan kesehatan paru-paru. Nomor 2. Distribusi Frekuensi Responden Keramas dalam Seminggu Sebelum Mengikuti Program No.0 43.8 100. Halaman 186-212 batang per hari. Sedangkan anak-anak yang mengaku mencuci rambut seminggu sekali pun masih banyak dan sedikit sekali mengalami perubahan ini dapat dilihat sekitar 9. Adapun metode yang digunakan adalah modeling di mana anak diminta keramas dengan menggunakan sampo dan air yang bersih lalu anak tersebut diminta mengungkapkan kesegaran yang anak rasakan setelah mencuci rambut kepada teman-teman yang lain. Kecenderungan anak-anak sebelum menerima program dari YAKMI. lagian pun udah ngantuknya kak kami pulang kerja.0 F 6 8 14 4 32 % 18. Materi pola kebersihan rambut meliputi: membangun kesadaran anak tentang pentingnya kebersihan rambut. Setelah program tersebut diberikan kepada anak-anak jalanan perubahan perilaku anak jalanan merokok sedikit berkurang.8 12. Setelah program diberikan maka hasil yang dicapai dapat diketahui dari tabel di atas yaitu anak-anak masih banyak yang menjawab seminggu sekali. Mei 2006.8 25. namun ada juga beberapa dari anak-anak jalanan yang merokok hingga satu bungkus dan lebih.6 31.4 18. Responden yang mengaku merokok mencapai satu bungkus per hari umumnya anak-anak jalanan yang tergolong remaja. Volume 5. Melihat kondisi anak-anak di atas maka Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia membuat program tentang pola hidup sehat pada anak jalanan. 1 2 3 4 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah Tiap hari Tiap minggu Lain-lain Total Sumber: Data Primer Tabel 15a. anak-anak mengaku jarang mencuci rambut dikarenakan kurangnya motivasi dari mereka ini dapat dilihat dari anak pada tabel di atas bahwa banyak anakanak yang mengaku mencuci rambut hanya satu kali dalam seminggu dengan alasan tidak ada sampo di rumah mereka.3% telah menyadari penting menjaga kebersihan rambut dikarenakan mereka yang sebahagian besar waktu berada di jalanan dengan kondisi penuh debu. Adapun dari hasil angket diketahui beberapa di antara responden menjawab 3 kali sampai 4 kali dalam seminggu mereka keramas.5 100. penyakit yang rentan paruparu dan penyuluhan tentang bahaya merokok.0 Dari tabel dapat diketahui bahwa anak jalanan keramas dalam seminggu mengalami sedikit kemajuan sekitar 3.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Kemudian pada 200 anak-anak yang keramas setiap hari sekitar 6.3 34. jadi kayak mana kami mau keramas seringsering. Metode yang dipakai adalah diskusi dan tanya jawab bersama anak-anak jalanan. kalau pagi udah buruburu mau kesekolah kak.2% dari anak yang sebelumnya mengaku tidak pernah keramas ini dikarenakan tidak ada keinginan mereka untuk menjaga kebersihan diri seperti diungkapkan oleh mereka: “males kak”. Materi yang disampaikan meliputi kesehatan paru-paru. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia mengadakan suatu program mengenai bahaya merokok bagi anak-anak.

“Kek mana aku mau pake sepatu kak.6 46.0 3. diskusi dan tanya jawab terhadap anak.” Kecenderungan anak jalanan jarang dan hampir tidak pernah memakai alas kaki dikarenakan kelalaian mereka dalam menjaga sendal sehingga sering hilang. Dari Tabel 16a dan 16b di atas dapat diketahui kesadaran anak memakai alas kaki dapat dilihat dari frekuensi mereka sebelum menerima program dengan setelah mengikuti program yang dibuat YAKMI.9 37. Selain kurangnya motivasi juga anak-anak mengaku pengaruh kesibukan anak diluar rumah sehingga mereka kelelahan setelah tiba di rumah.0 21. dan ada juga anak-anak yang tidak memakai sendal dikarenakan malas malahan ada beberapa anak yang mengaku tidak memiliki sendal maupun sepatu.Yusra & Siregar. Mending aku gak pake sendal. pantang di lepas sebentar udah hilang. sendal aja aku gak punya”.5 100. Seperti salah satu responden mengatakan: “Payah kali aku kak. Ini menunjukan kesadaran anak telah terbangun mengenai bahaya bila tidak memakai alas kaki saat keluar rumah. Setelah diberikan program hasil yang dicapai ternyata anak-anak masih jarang memakai alas kaki alasan mereka karena masih sering hilang. Habis uang ku aja beli sendal terus-terusan..0 Koleksi BPAD Prov SU 201 .9 50. apa lagi anak jalanan yang mereka setiap harinya berada di jalan. Melihat kondisi anak-anak jalanan yang jarang memakai alas kaki menyebabkan Yayasan Kesejahteraan Mayarakat Indonesia membuat penyuluhan memakai alas kaki saat keluar rumah terutama saat bekerja. 1 2 3 Frekuensi Memakai Alas Kaki Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 16b. Namun tidak sedikit juga anak-anak yang sering menggunakan alas kaki. Distribusi Frekuensi Responden Membersihkan Telinga dalam Seminggu Sebelum Mengikuti Program No. 1 2 3 Frekuensi Memakai Alas Kaki Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F 5 15 12 32 % 15. Materi yang dipakai adalah membangun kesadaran anak tentang bahaya ketika anak-anak tidak menggunakan alas kaki saat bekerja. apalagi bagi anak-anak pemulung yang mereka harus berada pada tong-tong sampah besar. Mana ada duit ku beli sepatu. Alas kaki dimaksud di sini termasuk sepatu maupun sendal.0 F 13 15 4 32 % 40. Alas kaki ini sangat membantu anak jalanan terhindar dari bahaya luka yang bisa disebabkan oleh pecahan kaca. paku maupun yang lainya.9 12. Dan bagi yang anak-anak yang mengaku sering memakai alas kaki mengalami kemajuan sekitar 25%. Distribusi Frekuensi Responden Memakai Alas Kaki Sebelum Mengikuti Program No. 1 2 3 4 Frekuensi Membersihkan Telinga Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 8 7 16 1 32 % 25.5 100.1 100. ungkap seorang responden. yaitu anak-anak menjawab tidak pernah memakai alas kaki berkurang sekitar 25% ini dikarenakan mereka telah menyadari bahaya mereka di jalanan tanpa alas kaki. kebersihan tubuh. Tabel 17a. Sedangkan anak yang masih tetap tidak mau memakai alas kaki mengaku bahwa mereka tidak memiliki sendal maupun sepatu. Metode yang dipakai adalah metaplan.0 Menggunakan alas kaki bagi setiap orang adalah hal yang sangat penting dan begitu juga pada anak. Distribusi Frekuensi Responden Memakai Alas Kaki Sesudah Mengikuti Program No.. Bagi anak yang jarang memakai alas kaki dikarenakan selalu hilang saat bekerja.6 46. Sedangkan bagi anak yang menjawab jarang tetap tidak mengalami kemajuan maupun kemunduran yang artinya tidak mengalami perubahan apapun. Program Pemberdayaan Anak. Tabel 16a.

1 46. Distribusi Frekuensi Responden Membersihkan Telinga dalam Seminggu Sesudah Mengikuti Program No. 1 2 3 Frekuensi Mengganti Pakaian dalam Sehari Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 18b. Setelah diberikan program ternyata hasilnya anak-anak yang membersihkan telinga semakin sedikit.6 56. jenis-jenis penyakit dan rujukan untuk pengobatan penyakit telinga.8 100. Halaman 186-212 Tabel 17b. Jika kita melihat kondisi anak bekerja di jalan.0 Frekuensi responden membersihkan telinga sebelum mengikuti program kesehatan dasar dapat dilihat pada tabel di atas hampir 50% sering membersihkan telinga. Adapun alasan mereka jarang mengganti pakaian adalah karena mereka “malas” ungkap mereka.0 3.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.3 25.4 18. Seperti hasil wawancara terhadap beberapa anak: “Jarang kak aku bersihkan telinga. Makanya jarangnya mereka mengganti pakaian akan mengganggu kesehatan mereka.” Dari hasil observasi terhadap anak-anak di lapangan ada beberapa anak yang sampai “tungkik” dan orang tuanya tidak mengizinkan 202 Jarangnya anak jalanan mengganti pakaian dalam sehari pada tabel di atas maksudnya adalah anak jalanan selalu memakai pakaian yang sama dengan hari sebelumnya. mereka harus mengais tongtong sampah untuk mencari botot begitu juga anak-anak pengumpul makanan ternak babi. Hal ini dikarenakan mereka juga bekerja tanpa memperdulikan lingkungan mereka.” “Kalau aku kak. Alasan anak-anak tidak membersihkan telinga karena dimarahi oleh orang tua dan beberapa anak mengaku karena mereka juga tidak punya kapas telinga. Khususnya pada anak pemulung. Alasan anak-anak yang jarang maupun tidak mau untuk membersihkan telinga karena motivasi mereka yang kurang. 1 2 3 Frekuensi Mengganti Pakaian dalam Sehari Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F 0 17 15 32 % 0 53. pola perawatan.0 anaknya untuk diperiksa maupun diberi rujukan berobat gratis oleh lembaga. Distribusi Frekuensi Responden Mengganti Pakaian dalam Sehari Sesudah Mengikuti Program No. Volume 5. kalau aku bersihkan mamak aku marah. namun juga ada hubungan antara gaya hidup yang tidak bersih dengan pekerjaana anak. tidak punya congkel telinga di rumah. namun tidak sedikit juga anak-anak yang jarang dan malah beberapa anak tidak mau membersihkan telinga. Materi penyuluhan kebersihan telinga yang diberikan meliputi pentingnya telinga sebagai salah satu indera pada tubuh. anak-anak mudah sekali mengotori pakaian yang mereka pakai.9 100. 1 2 3 4 Frekuensi Membersihkan Telinga Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 5 18 8 1 32 % 15.1 100. seperti hasil wawancara dari paa pendamping bahwa orang tua anak enggan anaknya diperiksa oleh pemeriksaan kesehatan yang disediakan oleh lembaga. Ada juga anak yang mengaku jarang mengganti pakaian dalam sehari dikarenakan orang tuanya malas mencuci sehingga ia terpaksa memakai pakain yang sama dengan yang sebelumnya.9 59. Program yang dibuat pihak lembaga yaitu pendidikan kesehatan di mana di dalamnya ada penyuluhan mengenai kebersihan telinga. Distribusi Frekuensi Responden Mengganti Pakaian dalam Sehari Sebelum Mengikuti Program No.0 F 7 19 6 32 % 21. Tabel 18a. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu responden yang bernama Gunawan (seorang pemulung): “Kek mana aku mau ganti pakain kak karena mamak aku malas mencuci jadi terpaksa aku Koleksi BPAD Prov SU . Oleh sebab itu para orang tua anak melarang anak-anak mereka untuk menjaga kebersihan khususnya telinga. misalnya di mana mereka duduk. Nomor 2. Mei 2006. Metode yang dipakai adalah penyuluhan kepada anak-anak jalanan. mereka mengelap keringat di baju bahkan mereka tidak mengelap tangan mereka di baju yang mereka pakai.

Selain itu responden juga menjawab penggunaan sendok membantu mereka untuk tidak perlu mencuci tangan. Namun ada beberapa anak yang menjawab memakai sendok. Distribusi Frekuensi Responden Ngelem Sebelum Mengikuti Program No.0 YAKMI ternyata hanya berkurang sekitar 3. Distribusi Frekuensi Responden Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Sesudah Mengikuti Program No.4 9.. 1 2 3 4 Frekuensi Ngelem Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 27 3 1 1 32 % 84.4%. pake baju ini lagi. Distribusi Frekuensi Responden Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Sebelum Mengikuti Program No. Seperti yang diungkapkan responden berikut ini: “Kek mana kak kami mau cuci tangan.0 Pada Tabel 19a dan 19b di atas dapat dilihat bahwa anak-anak yang tidak pernah mencuci tangan baik telah mendapat program maupun sebelum mendapat program dari Koleksi BPAD Prov SU 203 . Sedangkan anak jalanan yang jarang mencuci tangan hanya berkurang 6. Ini dikarenakn anak-anak masih menganggap sulit memperoleh air di jalan.1 100. Metode yang digunakan adalah modeling atau pemberian contoh langsung. Tabel 20a. Frekuensi Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 19b.2% karena ini dipengaruhi dari situasi anak di jalanan yang sulit mendapatkan air. jadi gak perlu aku cuci tangan kak. Program Pemberdayaan Anak.” “Aku makan kan kak pake sendok. Dari tabel 5.Yusra & Siregar.21 dapat dilihat hasilnya meliputi anakanak yang sebelumnya jarang mengganti pakaian mengalami penurunan drastis menjadi tidak ada sama sekali.1 3. Tapi kalo lupa bawa sendok aku pake plastik aja kak. Melihat kondisi anak jalanan maka dibuat program mengenai kebersihan diri meliputi kebersihan pakaian.4 3.3 100. Frekuensi Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F % F % 1 2 3 6 19 7 32 18.4 21. dalam hal ini anak lebih banyak menyadari pentingnya mencuci tangan. Kecenderungan anak jalanan jarang mencuci tangan dikarenakan kesulitan anak untuk memperoleh air yang bersih di jalan sehingga anak-anak mengaku sering menggunakan plastik untuk menutupi tangan yang kotor ketika makan. Salah satu penyebab penyakit itu melalui tangan.” Pengadaan program YAKMI mengenai mencuci tangan diberikan ketika pemeriksaan kesehatan di mana anak-anak dijelaskan mengenai penyakit yang sering diderita anak ketika makan tidak bersih. Setelah anak-anak diminta mandi kemudian anak-anak diminta memakai pakaian ganti yang bersih yang telah disediakan oleh lembaga. dan pada anak-anak yang sering mengganti pakaian naik sekitar 28. Metode penyampaian adalah ceramah dan gambar. dan juga pada anak-anak yang sering mencuci tangan naik menjadi 9.8 59. Ya udah aku makan aja kak yang penting udah aku lap pake baju aku sebelum makan.. Kadang aku bawa sendok dari rumah kak.3%. mana ada air di jalan ini kak. Pakaian yang disediakan berasal dari sumbangan masyarakat maupun gereja.9 100.3%. Sedangkan pada anakanak yang jarang mengganti pakaian berkurang sekitar 6. Tabel 19a. kan sama ajanya kak. paling kalu hujan aja baru ada air kak.0 1 2 3 5 17 10 32 15.” Hal ini di iyakan oleh kawan-kawanya pada saat itu berada di samping gunawan.6 53.1 31. Hasil yang dicapai setelah program tersebut dilaksanakan anak-anak masih jarang mencuci tangan.1% ini menunjukkan YAKMI berhasil membuka kesadaran anak jalanan untuk menjaga kebersihan diri mereka.

9 3. Sementara dari anakanak juga mengaku pernah menggunakan namun hanya sesekali. Nomor 2. Distribusi Frekuensi Responden Ngelem Sesudah Mengikuti Program No. Pemahaman anak tentang narkoba ini dilihat dengan kemampuan anak dapat menyebutkan bahaya-bahaya bagi pengguna penggunaan narkoba. tukang minta dan berjualan rokok maupun minuman. Mei 2006. mendingan aku pulang kalau udah ada orang kek gitu. Namun anak-anak mengetahui bahaya narkoba tersebut. mereka bilang itu gak apa-apa dan aku juga gak setia katanya kalau aku gak ikut ngerasain. Pada tabel 5. Seperti yang dikatakan oleh responden: “Dari dulu sampai sekarang aku gak pernah ngelem kak. Lembaga YAKMI membuat program mengenai bahaya narkoba dan di dalamnya ngelem. Selain itu dari hasil data sebelumnya bahwa anak-anak yang didampingi oleh YAKMI ini masih adanya hubungan teratur dengan orang tua mereka. anak-anak yang didampingi oleh 204 YAKMI tergolong tidak banyak karena mereka masih dalam keadaan pengontrolan orang tua. Responden yang mengaku ini adalah responden yang lebih remaja. Halaman 186-212 Tabel 20b. Mereka bekerja sebagai pengumpul botot..” Sedangkan anak-anak yang menjawab sering adalah anak-anak yang sudah ketagihan dan sulit lepas. sedangkan sering maksudnya adalah anak jalanan telah ketagihan dan dilakukan berulang-ulang.0 Koleksi BPAD Prov SU . “Dulu aku pernah kak beberapa kali ikutikutan sich tapi sekarang gak lagi. Responden yang memilih tidak pernah “ngelem” pada tabel di atas mengaku bahwa mereka tidak tertarik menggunakan zat tersebut. Metode yang digunakan adalah ceramah.” Selain itu responden yang mengaku jarang “ngelem” maksudnya bahwa mereka pernah menggunakannya namun tidak terusmenerus.1 0 100.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Setelah diberikan program tersebut kepada anak jalanan ternyata hasilnya yang dicapai adalah anak-anak tetap tidak menggunakan narkoba.23 juga terlihat bahwa frekuensi anak jalanan ngelem sebelum maupun sesudah mengikuti program YAKMI yang tergolong tidak pernah ini dapat dilihat dari perbedaan sekitar 0. 1 2 3 Frekuensi Menggunakan Narkoba Tak pernah Jarang Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 31 1 0 32 % 96. ini dikarenakan pada dasarnya anak jalanan sebelum masuk YAKMI cenderung tidak pernah “ngelem”. Kecenderungan anak jalanan tidak pernah “ngelem” karena mereka masih dimonitor keluarga secara teratur baik di jalanan maupun di rumah. Adapun materi yang disampaikan meliputi: bahaya narkoba. 1 2 3 4 Frekuensi Ngelem Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 28 1 0 3 32 % 87. Distribusi Frekuensi Responden Menggunakan Narkoba Sebelum Mengikuti Program No. Banyak orang tua anak jalanan yang bekerja di jalanan.0 Frekuensi anak jalanan tidak pernah ngelem maksudnya adalah anak jalanan sama sekali tidak menggunakan “ngelem”. Adapun alasan mereka pernah menggunakan karena pengaruh ajakan teman serta anak tidak mengetahui risiko akibat penggunaannya.5 3.4 100. Volume 5. Tabel 21a. Hubungan yang teratur terhadap orang tua akan memperkecil keinginan anak untuk “ngelem”. sedangkan jarang maksudnya adalah anak jalanan pernah ngelem namun tidak diteruskan.’ lagian aku juga tidak bergaul dengan orang-orang itu kak. pengumpul makanan ternak. menerangkan gambar dan memakai alat peraga.31%. aku takut ayah aku selalu bilang ‘awas ya kalau kau ngelem bapak libas kau. Habis aku dulu diajak kawan kak. Ini dibuktikan dari wawancara terhadap anak. jenis-jenis narkoba.1 0 9.

Anak ini mengaku keterlibatan ia menggunakan narkoba karena ajakan teman.0 Frekuensi anak jalanan tidak pernah menggunakan narkoba adalah anak jalanan sama sekali tidak mencoba menggunakan narkoba. Sedangkan jarang adalah anak jalanan pernah mencoba mabuk namun tidak dilakukan terus-menerus atau berulang-ulang.” “Kalau aku kak gak mau minumminuman kek gituan. sedangkan dimaksud sering yaitu anak jalanan menggunakan narkoba berulang-ulang hingga sekarang. Tabel 21a. 1 2 3 Frekuensi Menggunakan Narkoba Tak pernah Jarang Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 29 0 3 32 % 90. Distribusi Frekuensi Responden Menggunakan Narkoba Sebelum Mengikuti Program No.9 18.Yusra & Siregar.” Responden yang mengaku jarang minum. Nantik aku bisa ketagihan kak.” Responden yang mengaku sering minum. Ini dikarenakan mereka masih berhubungan teratur dengan orang tua dan juga mereka masih sekolah sehingga masih adanya peraturanperaturan yang melarang mereka menggunakan narkoba baik itu dari sekolah maupun dari orang tua. Mereka sering tidak pulang ke rumah setiap malam minggu. Nantik aku dimarahi pula sama mamak aku kalau udah pulang. tapi paling sering kalo natal dan tahun baru kak..23 terlihat bahwa anak yang menggunakan narkoba baik sebelum mengikuti program kesehatan dasar hingga setelah mengikuti pendidikan kesehatan dasar cenderung tidak berubah. Adapun anak mengaku jarang yaitu alasanya anak pernah sekali mencoba narkoba jenis ganja namun tidak diteruskan. Distribusi Frekuensi Responden Mabuk Sebelum Mengikuti Program No.4 100. aku gak beli kak bapak aku bawa minuman ke rumah trus aku coba sikit. hal ini dikarenakan anak-anak dampingan YAKMI sebelumnya tidak menggunakan narkoba dan begitu juga setelahnya.8 6. kan biasa ngumpul-ngumpul gitu lho”. Alasan mereka tidak pernah mabuk karena mereka tau kalau hal itu tidak baik bagi kesehatan mereka seperti yang diungkap kan mereka: “Untuk apa mabuk kak. Dari tabel di atas hampir semua anak-anak jalanan menjawab tidak pernah mabuk. Pada Tabel 5. 1 2 3 4 Frekuensi Mabuk Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 23 6 2 1 32 % 71. Pada umumnya yang menjawab ini adalah anak jalanan yang udah remaja. Dari tabel di atas terlihat bahwa hampir semua anak-anak jalanan dampingan YAKMI tidak menggunankan narkoba.6 0 9. Ini dikarenakan mereka terpengaruh teman sekeliling mereka yang peminum dan juga pengaruh orang tua yang peminum: “Aku kak pernah sekali minum tapi sekarang gak lagi.1 100. menurut pengakuan mereka pernah mencoba tetapi tidak dilakukan berulang-ulang. Sehingga masih ada pengontrolan orang tua yang ketat. mending aku main PS daripada habis uang ku beli kamput. Sedangkan frekuensi sering maksudnya adalah anak jalanan mabuk dilakukan terus-menerus hingga sekarang. Pada Tabel 22a dan 22b terlihat bahwa anak-anak jalanan yang tidak pernah mabuk baik sebelum mendapat pendidikan kesehatan 205 Koleksi BPAD Prov SU .0 Frekuensi anak-anak jalanan tidak pernah mabuk maksudnya yaitu dalam kehidupan anak sama sekali anak jalanan tersebut tidak pernah minum minuman beralkohol. Distribusi Frekuensi Responden Mabuk Sesudah Mengikuti Program No. menurut pengakuan mereka adalah “kalau udah malam minggu kak.0 Tabel 22b.1 0 0 100. kan gak bagus untuk kesehatan. Tabel 22a. Program Pemberdayaan Anak.3 3. 1 2 3 4 Frekuensi Mabuk Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 31 1 0 0 32 % 96..9 3. Seperti yang terlihat dari data-data pada tabel sebelumnya bahwa anak dampingan YAKMI masih berhubungan teratur dengan orang tua.

1 2 3 Frekuensi Memukul Orang Lain Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 23b.” “Aku mukul dia kak karena dia pukul aku dulu. Mana berani kami membalas kak. Namun umumnya konflik ini tidak berlangsung lama. 1 2 3 Frekuensi Memukul Orang Lain Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F 2 19 11 32 % 6. selisih perubahan perilaku anak-anak yang jarang memukul sebelum dan sesudah menerima program etika naik sekitar 18.6 53. Distribusi Frekuensi Responden Memukul Sesudah Mengikuti Program No.7%. kemudian anak-anak diminta untuk mempresentasikan bergaul yang baik sesama teman-temanya. Perubahan ini tidak begitu signifikan dikarenakan berkelahi merupakan kebiasaan yang sering dilakukan pada anak-anak jalanan. Kadang karena berebut.0 F 2 13 17 32 % 6. tapi kak paling sering kami ngomong jorok daripada mukul.8%.” Program yang diberikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia untuk menekan perilaku memukul pada anak yaitu etika bergaul. Anak-anak sering memukul dikarenakan konflik kecil dalam pergaulan anak-anak di jalanan. sedangkan yang sering yang sebelum masuk pendidikan kesehatan dasar mabuk namun setelah masuk pendidikan kesehatan dasar menjadi tidak ada sama sekali. seperti yang diungkapkan responden berikut ini: “Kami kak kalau memukul jarang tapi dipukul sama anak-anak yang besar itu kak.0 206 Koleksi BPAD Prov SU .3 59. Dari hasil wawancara terungkap bahwa: “Memang kak kami sering pukul-pukulan sebentar aja palingan besok udah kawanan lagi.4 0 100. Kadang mereka kompas kami terus ditokoknya kepala kami kak. Halaman 186-212 dasar maupun setelah mendapat pendidikan kesehatan dasar terlihat ada kemajuan sekitar 52% anak-anak yang tidak pernah mabuk. Mei 2006. Volume 5. Tabel 23a.1 100. Sedangkan anak-anak yang jarang mabuk sekitar berkurang sekitar 15. Distribusi Frekuensi Responden Berkelahi Sebelum Mengikuti Program No. ya…aku balas lah kak. dari ungkapan responden mengaku bahwa berkelahi merupakan kebiasaan sesama mereka. sedangkan untuk anak-anak yang tidak pernah memukul dalam jumlah yang tetap.3 40.0 Frekuensi responden memukul sebelum mengikuti program pendidikan etika didominasi oleh anak-anak yang mengaku sering memukul.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.4 34. 1 2 3 4 Frekuensi Berkelahi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 2 19 11 0 32 % 6. Tabel 24a. Materi yang disampaikan yaitu cara bergaul yang baik. Namun di kalangan anak-anak yang lebih kecil lebih sering dipukul oleh anakanak jalanan yang lebih besar namun mereka tidak membela maupun membalas.3 59.” Selisih perubahan anak-anak yang sering memukul sebelum dan sesudah menerima program etika berkurang sekitar 18. Nomor 2.4 100.7%. Metode yang dipakai untuk menyampaikan materi tersebut yaitu menonton tayangan dari VCD kartun yang mengandung nasehat berperilaku. Arti sering di sini yaitu anak-anak pernah memukul dalam setiap hari baik terhadap teman maupun terhadap saudara kandung. menghargai teman dan melarang anak melakukan kekerasan.4 34. Distribusi Frekuensi Responden Memukul Sebelum Mengikuti Program No. takut lah. Setelah mengikuti program etika hasilnya anak-anak jalanan menunjukan kemajuan yaitu di mana anak-anak yang sebelum mengikuti program tergolong sering namun setelah mengikuti anakanak menjadi jarang berkelahi. Konflik ini disebabkan adanya ketidaksenangan anak dalam perkawanan.

1 2 3 4 Frekuensi Bermain Judi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 25b. dan anak-anak yang tidak pernah sama sekali bertambah sekitar 21.8% ini menunjukan keberhasilan YAKMI dalam membentuk pola perilaku pada anak jalanan. Materi etika bergaul berisi cara bergaul yang baik. frekuensi anak-anak jalanan berjudi dapat 207 Koleksi BPAD Prov SU . Dari data tabel di atas terlihat bahwa frekuensi anak jalanan sebelum mengikuti program etika anak-anak lebih banyak mengaku jarang berkelahi.6 6.3 12. Sedangkan anak-anak yang sebelumnya sering berkelahi berkurang 21. Dari hasil wawancara terhadap responden pemulung berikuti ini: “Kalau kami kak jarang berkelahi.9%.0 43. Namun anak-anak yang mengaku jarang berkelahi masih tetap dengan jumlah yang sama. Metode yang dipakai untuk menyampaikan materi tersebut yaitu menonton tayangan dari VCD kartun yang mengandung nasehat berperilaku. Alasan mereka dikarenakan perkelahian antara mereka pernah dilakukan namun tidak sering.5 3. sampai nangis adiknya kak baru dia berhenti. 1 2 3 4 Frekuensi Berkelahi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 9 18 4 1 32 % 28. Sehingga untuk melihat pengukuran agar lebih jelas peneliti memisahkan antara memukul dan berkelahi.8 3.0 28. palingan soal duit atau berebut kotak. Sedangkan anak-anak yang sering berkelahi mengaku perkelahian antara saudara kandung misalnya abang berkelahi bersama adiknya maupun sebaliknya..” Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kemajuan anak-anak jalanan mengikuti program yaitu sebelumnya jarang berkelahi berkurang sedikit yaitu sekitar 3.3 100. Diadakan program etika bergaul yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia.” “Kalau dia kak sering kelahi sama adiknya.1 3.. Tabel 25a. artinya ini telah menunjukan kemajuan yang baik dalam pergaulan anak jalanan. Namun perkelahian mereka tidak berlangsung lama.1%.0 Sebelum anak-anak mendapat program etika. Setelah diadakan program tersebut maka kondisi anak-anak jalanan.1 15. Tapi besoknya kami baikan lagi kak. “Kami kalau dibilang tidak pernah kelahi kak tapi sering juga namun kalau sering. Distribusi Frekuensi Responden Bermain Judi Sesudah Mengikuti Program No. karena kami gak suka tapi sesekali pernah lah.” Pengakuan dari temanteman responden. menghargai teman dan melarang anak melakukan kekerasan. jarang juga kak.0 F 16 9 5 2 32 % 50. kemudian anak-anak diminta untuk mempresentasikan bergaul yang baik sesama teman-temanya.0 Peneliti memisahkan antara memukul dan berkelahi dengan pertimbangan anak-anak selalu mengaku memukul namun tidak sampai dalam perkelahian.1 100. Pernahlah kak dibuat tapi kadang-kadang kalau lagi membela teman yang sedang dipukul. adanya sedikit kemajuan di mana anak-anak yang sebelumnya sering berkelahi menjadi tidak pernah berkelahi.1 56. Tabel 24b. Program Pemberdayaan Anak. seperti dari hasil wawancara responden berikut ini.Yusra & Siregar.1 100. Distribusi Frekuensi Responden Bermain Judi Sebelum Mengikuti Program No. Dari pengakuan mereka alasan anak-anak jarang berkelahi dikarenakan kuatnya persahabatan di kalangan mereka walaupun ada beberapa kali konflik kecil namun bagi mereka itu bukan dikatakan perkelahian dan di kalangan mereka hanya sering beradu kata-kata kasar. 1 2 3 4 Frekuensi Bermain Judi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 16 14 1 1 32 % 50. Distribusi Frekuensi Responden Berkelahi Sesudah Mengikuti Program No.

dan bagi anakanak yang mengaku tidak pernah berjudi dalam jumlah yang tetap. Sehingga anak-anak mudah sekali menyebutkan kata-kata kasar. Dengan materi program yaitu mengajarkan tentang etika berbicara. aku ikut juga kak. kadang-kadang rokok. Anak-anak yang mengaku berbicara kotor lebih banyak dari yang mengaku jarang maupun tidak pernah.5 46. Kebiasaan sering berbicara kotor terbangun dalam lingkungan anak jalanan yang sudah lama.0 0 100. 208 Koleksi BPAD Prov SU . kalau kawan-kawan ada yang main.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. cabul atau tidak senonoh.” Diadakan program etika mengenai kerugian berjudi. Kesibukan aktivitas mereka dari sekolah pada pagi hari hingga kerja pada sore hari menekan keinginan anak-anak untuk bermain judi. Ini dapat dilihat pada tabel di atas bahwa anak-anak yang mengaku jarang berjudi setelah menerima program berkurang jumlahnya sekitar 15. Nomor 2. Metode yang digunakan adalah diskusi dan tanya jawab.5 62. Itupun kalau bergadangnya. mensosialisasikan kepada anak bahwa telah ada razia perjudian oleh aparat dan menjelaskan kepada anak tentang risiko anak apabila telah tertangkap oleh aparat. Taruhan yang sering dipakai anak-anak tersebut paling sedikit Rp 500.1 100. Seperti responden ini mengaku: “Aku kak sering juga kak. Sementara anak-anak yang mengaku sering bermain judi menggunakan kartu dengan taruhan kecilkecilan. Volume 5. sedangkan bagi anak yang mengaku sering berjudi berkurang sekitar 12. Taruhan kadang-kadang duit.9 3. kalau udah malam minggu.5 25.” Yayasan kesejahteraan Masyarakat Indonesia mengadakan program tentang sopan santun berbicara. Dari tabel terlihat bahwa anak-anak sebelum mengikuti program mengaku sering berbicara kotor. Materi terseut disampaikan dengan metode diskusi dan tanya jawab. Setelah dilakukan program tersebut ternyata anak-anak yang semula sering berbicara kasar telah berkurang frekuensinya.” “Aku kak pernah berjudi kak. Selain itu dipengaruhi pula dengan pengontrolan orang tua saat mereka berada di jalanan. 1 2 3 4 Frekuensi Berbicara Kasar Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 4 12 15 1 32 % 12. Materi mengenai kerugian berjudi meliputi menanamkan pemahan kepada anak tentang kerugian berjudi.000.5%. Setelah diadakan program etika tentang kerugian berjudi ternyata hasilnya anak-anak jalanan semakin berkurang bermain judi. Anak-anak yang mengaku tidak pernah berjudi dikarenakan mereka tidak ada waktu untuk bermain judi.0 Tabel 26b.9%.5 37. ini menunjkan kemajuan yang positip bagi anak adapun selisih kemajuan sekitar 21. Distribusi Frekuensi Responden Berbicara Kasar Sebelum Mengikuti Program No. Seperti yang diungkapkan oleh responden berikut ini: “Duh kak kalau kami kak sudah biasa itu kak. daripada kami kelahi baik kami kelahi mulut. Halaman 186-212 dikatakan tidak pernah. Berkata jorok atau ngomong jorok menurut kamus bahasa Indonesia yaitu perkataan kotor.0 Berbicara kotor yang dimaksud di sini adalah berbicara dengan mencela dan menggunakan bahasa kotor atau “ngomong jorok”. Mei 2006.7%. Kebiasaan ini juga dikarenakan pengaruh faktor imitasi dari lingkungan sekitar anak-anak. 1 2 3 4 Frekuensi Berbicara Kasar Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 4 20 8 0 32 % 12. Ada beberapa anak-anak jalanan yang mengaku jarang berjudi maksudnya yaitu mereka pernah berjudi namun hanya sesekali. melarang anak berbicara kotor. Tabel 26a..dan paling banyak Rp 10.-. Sedangkan untuk anak yang sebelumnya jarang berbicara kasar bertambah banyak sekitar 25% sementara bagi anak-anak yang mengaku tidak pernah dalam jumlahyang tetap. Distribusi Frekuensi Responden Berbicara Kasar Sebelum Mengikuti Program No. menghargai orang lain saat berbicara.

1 100.9 15. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang anak: “Kek mana kak mau sembahyang. Kecenderungan anak jalanan jarang melaksanakan sembahyang atau kebaktian sebelum mengikuti program pendidikan etika dikarenakan kesibukan anak-anak jalanan yang menghabiskan sebahagian besar di jalan sehingga anak-anak melupakan waktu ibadah dan juga banyak anak-anak yang mengaku menghabiskan waktu minggunya bermain bersama teman-teman dan ada beberapa anak yang bekerja. Program Pemberdayaan Anak.. ini maksudnya adalah anak-anak semakin rajin membaca alkitab dengan berkurangnya anak-anak yang mengaku jarang dan bertambahnya anak-anak yang mengaku sering.5 46.1% setelah mengikuti program etika. Menurut pengakuan mereka. Materi program etika beragama mengenai pola hidup yang mengasihi Tuhan.” Program yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia kepada anak-anak jalanan yaitu etika beragama. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa responden: “Kadang aku malas kak ikut PA. Tapi aku ikut PA (pendalaman alkitab) kak.2%. aku main-main aja bersama teman-teman aku. Pada anak-anak yang tidak pernah berkurang sekitar 18.” Program pendidikan etika mengenai etika beragama yang materi tentang pola hidup yang mengasihi Tuhan.Yusra & Siregar. Koleksi BPAD Prov SU 209 . kadang hari minggu aku main-main kak. sedangkan pada anakanak jalanan yang jarang membaca alkitab berkurang jumlahnya sekitar 53.” Frekuensi responden dalam membaca alkitab sebelum mendapat program etika beragama dapat dilihat pada tabel di atas yakni didominasi anak-anak yang mengaku sering membaca kitab suci.7%. 1 2 3 4 Frekuensi Sembahyang/Kabaktian Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 12 15 5 0 32 % 37.6 0 100.6 3. Metode yang dipakai dalam menyampaikan materi tersebut yaitu penyuluhan dan diskusi tanya jawab. Malas aku kak. Metode yang digunakan dalam menyampaikan materi tersebut diskusi tanya jawab. dan bagi yang islam mengaku mengaji. mengasihi sesama manusia dan diri sendiri. Mana ada ingat aku lagi. Distribusi Frekuensi Responden Sembahyang/Kebaktian Sebelum Mengikuti Program No. Distribusi Frekuensi Responden Sembahyang/Kebaktian Sesudah Mengikuti Program No.0 Pelaksanakan sembahyang atau kebaktian pada anak-anak Kristen mengaku mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) yang dilakukan pada masing-masing gereja mereka tetapi khusus anak-anak di Setia Luhur pendalaman alkitab diadakan oleh YAKMI sendiri.0 F 7 19 5 1 32 % 21. rajinnya mereka membaca kitab karena mereka bergabung dalam persatuan penelaah alkitab atau dikenal PA. Ini dikarenakan kurang motivasi atau dukungan terhadap anak-anak jalanan tersebut. 1 2 3 4 Frekuensi Sembahyang/Kabaktian Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 27b. Setelah program tersebut diberikan ternyata hasilnya anak-anak semakin bertambah dalam membaca alkitab yaitu naik sekitar 31. aku di jalanan. Namun anak-anak yang menjawab jarang dikarenakan kurangnya motivasi dari anak untuk membaca alkitab. Selain anak-anak selalu berada di jalan juga dipengaruhi kurangnya dukungan dari orang tua untuk menjalankan ibadah. Kadang-kadang aku nyari.9 59. Seperti yang diungkapkan oleh responden dari hasil wawancara: “Malas kali aku ke gereja kak. membaca alkitab serta kedisiplinan dalam menjalankan ibadah.” “Kadang-kadang hari minggu aku ke gereja tapi Kak aku sering main.4 15. Tabel 27a. Setelah anak-anak jalanan menerima program pendidikan etika beragama ternyata hasilnya anak-anak masih tetap jarang menjalankan ibadah.. membaca alkitab serta kedisiplinan dalam menjalankan ibadah. mengasihi sesama manusia dan diri sendiri. ini menunjukan kemajuan program dalam merubah perilaku anak jalanan.

210 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kecenderungan anak jalanan bolos sekolah lebih banyak menjawab tidak pernah.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.5%.3 12. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sebelum Mengikuti Program No. 1 2 3 4 Frekuensi Menabung Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 28b. 1 2 3 4 Frekuensi Bolos Sekolah Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 29b. Metode yang dipakai adalah peraturanperaturan yang dibuat saat kelompok belajar.3 9. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sebelum Mengikuti Program No. 1 2 3 4 Frekuensi Menabung Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 6 7 18 1 32 % 18.4 18.0 F 11 6 7 8 32 % 34.0 Anak-anak jalanan tidak terlepas dari pola perilaku yang konsumtif.8%. Mei 2006. Setelah adanya program dari yayasan Kesejahteraan masyarakat indonesia tentang program etika budi perkerti yang di dalamnya tentang tidak bolos sekolah.3 3. Sedangkan anak-anak yang mengaku sering dikarenakan ajakan teman. sedangkan untuk anak yang tidak pernah bolos masih dalam jumlah yang tetap. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sesudah Mengikuti Program No. Namun ada juga anak-anak jalanan yang rajin menabung dengan orang tuanya dan sewaktu-waktu dapat diminta kembali.8 21. Pembentukan pola perilaku konsumtif ini dipengaruhi oleh kemudahan anak-anak jalanan seusia mereka memperoleh duit.4 31.4 25.9 56.0 F 9 18 4 1 32 % 28. Nomor 2. 1 2 3 4 Frekuensi Bolos Sekolah Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 11 10 3 8 32 % 34.1 100. Dan anak-anak yang memilih tidak menjawab dikarenakan mereka tidak bersekolah lagi.0 100. Volume 5.0 Tabel 29a. Dan sewaktu-waktu mereka bisa mengambilnya kembali.0 100. Namun adanya juga anak-anak jalanan yang mengaku memberikan semua uang mereka kepada orang tua anak. Materi yang disampaikan pemberian pengarahan dalam masing-masing kelompok belajar yang mengandung makna bahwa tidak baik bolos sekolah. Halaman 186-212 Tabel 28a. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia mengadakan program giat menabung kepada anak-anak jalanan.8 21. Koleksi BPAD Prov SU . Sehingga tidak jarang anakanak jalanan membelajakan uang mereka tanpa adanya batasan.5 3. Hasil dari program tersebut ternyata anak jalanan yang sering bolos sekolah telah berkurang sekitar 12. Setelah program tersebut dilakukan ternyata hasilnya anak-anak yang menabung semakin bertambah 43.1 56. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sesudah Mengikuti Program No.9 25.1 100. Dari tabel di atas terlihat bahwa kecenderungan anak-anak jalanan jarang menabung sebelum mengikuti program dikarenakan anak-anak selalu menghabiskan uang untuk bermain game maupun berbelanja atau jajan. Sementara anakanak yang tidak pernah menabung 9.3% berkurang. Anak-anak jalanan tidak pernah bolos dikarenakan anakanak tersebut masih dalam pengontrolan orang tua sehingga anak-anak tidak pernah bolos. Metode yang dipakai adalah lembaga menyediakan celengan untuk masing-masing anak agar mereka menyisihkan pendapatan yang mereka terima setiap harinya.

Perubahan ini tidak terlalu signifikan karena pergaulan anak telah terbentuk dari anak kecil sehingga untuk merubah perilaku dalam pergaulan ini memerlukan waktu yang lebih lama. pendidikan etika dan pendidikan hukum. Program Pemberdayaan Anak. 1. Prosedur Penelitian. Nurlela. 1999 Psikologi Praktis: Anak. Program pemberdayaan perlu ditanamkan kepada anak sehingga menumbuhkan kesadaran anak akan pentingnya pendidikan kesehatan dasar. D. Tiga program tersebut yaitu.. Sehingga perubahan yang terjadi pada perilaku anak-anak sedikit tidak kentara. Bina Aksara. 2004. Edy. Ini dikarenakan metode yang dipakai adalah pendidikan sebaya atau (peer educator). Remaja dan Keluarga. dkk. Y. Dr. Singgih. Prof & Gunarsa. Kesimpulan 1. 3. Jakarta. Dan tidak salah bila program tersebut diadakan berulang-ulang dengan metode yang berbeda agar anak sadar betapa pentingnya program tersebut bagi anak. Gita. pendidi kan etika. Buku Saku Pendampingan Bagi Anak Jalanan Yang Berkonflik Yayasan Pusaka Dengan Hukum. Dra. Program yang berkelanjutan dibuat agar anak-anak dapat menyerap program tersebut secara sempuran selain itu sebaiknya dari lembaga mengadakan evaluasi tentang kebutuhan anak tentang program dan dilakukan monitoring setelah program tersebut diadakan. Dra. Program pemberdayaan tetang pendidikan etika yang dilakukan oleh YAKMI untuk mengubah perilaku dalam bergaul pada anak jalanan ternyata hasilnya anak-anak mengalami perubahan perilaku ke arah yan baik. Kepada Lembaga Yayayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia dalam membuat program kepada anak jalanan agar lebih bersifat kontinu atau berkelanjutan. Medan. Sedangkan pendidikan hukum adalah pendidikan yang diberikan kepada anak agar anak dapat berperilaku 2. cacingan. 3. USU PRESS. dan pendidikan hukum tidak hanya diberikan kepada anak tetapi juga kepada orang tua sehingga nantinya pemberian program tidak hanya diberikan oleh YAKMI namun juga dapat diberikan oleh orang tua kepada anak. PTBPK Gunung Mulia. Daftar Pustaka Arikunto. Indonesia & Save the Children-USAID. paru-paru dan lainlainya. Asas-Asas Manajemen. Program pemberdayaan yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia dalam merubah perilaku anak jalanan dapat dibagi menjadi tiga program. dan pendidikan hukum sehingga anak dapat merubah perilakunya atas keinginan anak sendiri. D. 1989. Program pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia untuk mengubah perilaku anak jalanan dalam hal pendidikan kesehatan dasar ternyata anak-anak mengalami kemajuan dalam perubahan perlaku ke arah yang lebih baik. Medan. Gunarsa. Kencana. Kataren. Program pemberdayaan tentang pendidikan hukum ternyata hasilnya anak-anak banyak yang tidak memahami tentang pendidikan hukum tersebut. Pendidikan etika adalah pendidikan tentang merubah perilaku kesaharian anak yang dalam pergaulanya. Ini dapat dibuktikan dengan adanya perhatian dari anak-anak dalam menjaga kebersihan diri dan kesehatan tubuhnya. Jakarta. pendidikan etika.. Pendidikan kesehatan dasar adalah pendidikan mengenai perubahan perilaku anak dalam menjaga kebersihan tubuh dan kesehatan dirinya. Program pemberdayaan seperti pendidikan kebersihan. pendidikan kesehatan dasar. Ny. Suharsimi. 2. Singgih. Ikhsan.Yusra & Siregar. 2001. Suatu Pendekatan Praktik. pendidikan ini dilakukan karena anak-anak jalanan dampingan YAKMI cenderung tidak perhatian akan kebersihan diri sehingga tidak jarang anak-anak berpenyakit seperti sakit kulit. 4. Baseline Survei Untuk Program Dukungan Dan 211 Saran Koleksi BPAD Prov SU .

Jakarta. Lintas Anak. Setia. Bandung. Pengubahan Perilaku dalam Pekerjaan Sosial. 2003. PPAI. Drs. 1997.M. E. H. James.I. Koeswara.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sudrajat. Proyek INS/94/077 Kerja sama UNDP & DEP Pedoman SOSIAL R. Jakarta. Jakarta. Pengantar Statistik.id 212 Koleksi BPAD Prov SU .bpk. Konvensi HakHak Anak. LP3S. Jakarta. 2000.Sos. Siregar. Pembinaan Arti Dan Metode Kanisus. Volume 5. Jakarta. 1993.Teori Kepribadian. Khairuddin.SS.com PPAI. Medan. Bandung. M. Z. Jakarta. A. E. PT Eresco. www. Liberty. Badan Penelitian Dan Pengembangan Sosial.go. Lembaga Studi Pembangunan LSP-STKS Bandung. Jakarta. 1983. Jakarta. 1999. Metode Penelitian Survay. Putus sekolah. Tokoh-Tokoh Psikologi Sosial. Beberapa Penyebab Murid Mengulan Kelas. H.disnakertransjateng. Teori. Mangunharjana. Spektrum pemikiran. Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan. UIP. 2004. Nono. Halaman 186-212 Pemberdayaan Anak Jalanan Di Perkotaan. 1998. SH. Singarimbun. Mei 2006. Penyelenggara Rumah Singgah Program Iji Coba Anak Jalanan Di 7 Propinsi. A. DRS. Hadari. Tunggal. Sweeting. Kebijakan Sosial & Pekerjaan Sosial. -. Cetakan kedua.Hairani. USU.Si. Direktorat jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. artikel: yanto_sagu@yahoo. M. Bumi Aksara.go. Harvarindo. Nawawi. Hadi. Suharto. E.S. Fauzi. 1984. Sosiologi Keluarga. Masri dan Sofyan Effendi. 1989. Ajat & Sutisna. Save The ChildreUSAID. Gajah Mada University Perss. 1997. Edi. Bandung. MEDAN. Walpole. Medan. 1997. PT Gramedia Pustaka Utama. FaktorFaktor Anak Menjadi Anak Jalanan. Muzaham.id www. Jogyakarta. Koperasi Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. 1995. Penelitian Anak Jalanan Di DKI Jakarta. Nomor 2. Sumber-sumber lain: Soedijar. Metode Penelitian Bidang sosial. Pembangungan. Schellenberg. Departemen pendidikan Dan kebudayaan.SC. Yogyakarta. Ronald. Medan. Dan Melanjutkan Sekolah Dari SD ke SLTP. 1991. LP3ES. H. 1997. Dr.1990.

Dengan perkataan lain bahwa marga itu merupakan suatu pertanda bahwa orang yang menggunakannya masih mempunyai kakek bersama atau percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang kakek menurut garis patrilineal (Bruner. Keywords: kinship system. aturan dan penerapan sistem kekerabatan.SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA SUMATERA UTARA Erika Revida Abstract Batak Toba people is one of some Batak ethnics in North Sumatra. masyarakat Batak Toba dapat hidup dalam situasi aman. Satu kelompok kerabat dihitung dari dari satu ayah disebut “sa ama”. hagabeon. Sa ompung dapat disebut klen. Ompu berarti kakek. Kelompok kekerabatan yang terkecil atau keluarga batih disebut ripe. The woman has been married came to her husband’s clan group. tenteram dan tertib. clan Pendahuluan Sistem kekerabatan dalam masyarakat Batak Toba termasuk satu hal yang amat penting dan menentukan serta berperan banyak dalam hal menentukan perilaku hidup orang Batak Toba sehari-hari. sada artinya satu. damai. Suku bangsa Batak Toba pada dasarnya menarik garis keturunan melalui garis ayah (patrilineal). The children are the best and highest property or the property which has highest price in Batak Toba people. moyang lelaki. society. Kaum laki-laki dalam masyarakat Batak Toba mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam meneruskan silsilah dan keturunan keluarga. Hubungan kekerabatan yang timbul sebagai akibat dari penarikan garis keturunan itu mempunyai nilai yang sangat penting. The work ethic in Batak Toba people are (1) Boras Pati Ni Tano (the land’s rice) and (2) Hamoraon. Mereka yang berasal dari nenek moyang yang satu (na sa ompu) dari generasi ke generasi akan menjadi satu marga. jadi merupakan titik temu mereka. because ti is specially for her brother. satu kakek disebut “sa ompung” dan kelompok kekerabatan yang besar adalah marga (Bangun dalam Koentjaraningrat. Laki-lakilah yang dapat meneruskan marga bagi keturunannya. Dengan ikatan. So. Apabila mereka berkumpul maka akan menyebut ayah tadi “Ompu parsadaan”. Erika Revida adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Administrasi Negara FISIP USU dan Program Pascasarjana USU Koleksi BPAD Prov SU 213 . atau setiap anak yang dilahirkan baik laki-laki maupun perempuan selalu mencantumkan marga bapaknya dan bukan marga dari ibunya. and honor). hasangapon (Property. 1980). karena dalam urutan generasi setiap ayah yang mempunyai anak laki-laki menjadi bukti nyata dalam silsilah kelompok patrilinealnya. 1990). sedangkan ibu sudah pasti dekat dengan anaknya karena ibulah yang melahirkan. they have motto: My children are my property. Dari seorang ayah lahir dua atau lebih kelompok keturunan yang masing-masing mempunyai identitas sendiri. descents. This ethnic professes patrilineal system who pull descent line from father. Batak Toba people prohibits the marriage with the same clan. So she does not have the right to get her parent’s property. Hal ini dimaksudkan agar anak lebih dekat dengan bapaknya. Istilah ripe dapat juga dipakai untuk menyebut keluarga luas patrilineal. They also do anything to reach their children’s success in life.

Jadi apabila orang Batak Toba bertemu. sehingga anak yang lahir dari perkawinan tersebut akan meneruskan marga si suami dengan anak menjadi ahli waris dari keluarga laki-laki tersebut. Perkawinan adalah suatu keharusan bagi setiap manusia. Harta peninggalan orang tua tidak beralih dari garis keturunan ayah kepada keluarga ibu. urusan masyarakat.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. maka yang pertama sekali ditanya adalah apa nama marganya dan bukan nama pribadinya atau tempat asalnya. Orang yang tidak mempunyai keturunan akan hilang dari rentetan dan jenjang silsilah yang ditarik sepanjang zaman dari satu klen atau marga. mereka akan mengikuti proses penelusuran silsilah untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. jujur itu disebut juga dengan istilah “sinamot”. perkawinan juga dianggap suci. karena selain panggilan alamiah. maka permasalahan yang diajukan dalam tulisan ini adalah “Bagaimana sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba Sumatera Utara?” Pembahasan 1. Mempererat kekeluargaan b. Proses seperti demikian disebut martutur atau martarombo. Dahulu kala pada masyarakat Batak Toba dianjurkan kawin dengan pariban atau “boruni tulang” (anak gadis paman). 214 Koleksi BPAD Prov SU . Dengan mengetahui nama marga. Dengan demikian fungsi uang jujur itu adalah sebagai berikut : 1) Syarat suatu perkawinan. sehingga dapat ditentukan kedudukan dalam hubungan tersebut. yaitu antara seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya (Bangun dalam Koentjaraningrat. Dengan demikian orang yang saling berkenalan dapat mengetahui apakah ia mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lainnya. sakral dan berbahagia untuk meneruskan keturunan. artinya harta yang diperoleh dari hasil manramot (bekerja dengan keras dan tekun). c. sehingga dengan demikian mereka mengetahui kedudukan masing-masing dan hal-hal yang tabu dapat dihindarkan. 3) Menjaga keseimbangan dalam keluarga perempuan. Ter Haar (dalam Koentjaraningrat. Karena itu pihak keluarga laki-laki harus menyerahkan sinamot kepada pihak keluarga wanita. Adapun tujuan perkawinan dengan boruni tulang (marpriban) menurut masyarakat suku Batak Toba adalah: a. Perkawinan jujur adalah suatu perkawinan yang pihak laki-laki menyerahkan jujur kepada pihak keluarga wanita yaitu berupa uang yang diserahkan sebelum mempelai wanita dibawa ke lingkungan keluarga laki-laki. Mei 2006. Ciri khas bentuk perkawinan masyarakat suku Batak Toba yang mengikuti garis bapak (patrilineal) adalah apa yang disebut perkawinan jujur. Ter Haar (1960) menyatakan bahwa perkawinan itu adalah urusan keluarga. 2) Uang pelepas wanita dari keluarga dan dimasukkan ke dalam keluarga suami. Volume 5. pembayaran uang jujur dari pihak laki-laki kepada pihak keluarga wanita untuk memasukkan perempuan ke dalam keluarga laki-laki. urusan derajat dan urusan pribadi satu sama lain dalam hubungannya yang sangat berbeda-beda. Ini menumbuhkan persaudaraan di kalangan masyarakat Batak Toba. 1990) berpendapat bahwa uang jujur adalah pembayaran dengan mata uang atau dengan barang sebagai syarat magis untuk melepaskan dan mengalihkan (bersama anaknya) dengan tidak mengganggu keseimbangan sosial. perkawinan dianggap masalah keluarga. akan tetapi juga terhadap keluarga jauh yang semarga. Nomor 2. Sistem perkawinan dalam masyarakat Batak Toba adalah perkawinan “eksogami”. Sistem dan Bentuk Perkaw inan Masyarakat Batak Toba Dalam masyarakat Indonesia. Perkawinan di luar klen atau marganya yang melarang kawin di dalam marganya sendiri. Pertalian dengan keluarga ibu tidak putus. Apabila terjadi perkawinan tersebut akan dikucilkan atau dikutuk oleh pemuka adat dan masyarakat Batak Toba. Permasalahan Berdasarkan hal-hal di atas. biasanya dalam bentuk uang atau barang yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak kedua orang tua pengantin sebelum perkawinan dilangsungkan. Nama panggilan seseorang adalah nama marganya dan bukan nama pribadinya. harus selalu memelihara kepribadian dan rasa kekeluargaan tetap terpupuk bukan saja terhadap keluarga dekat. 1990). Halaman 213-218 Masyarakat Batak Toba menurut ketentuan dalam kebudayaannya.

Harta dalam Perkawinan Masyarakat Suku Batak Toba Untuk dapat membina dan membangun satu rumah tangga yang bahagia. Pengadaan harta kekayaan/rumah tangga yang baru. 4) Punsu Tali. Pemberian ini adalah pemberian terakhir dan baru dapat diterima oleh si perempuan itu apabila orang tuanya sudah meninggal. maka pauseang istri tidak dapat dibawa olehnya. Dengan demikian. Apabila suatu perkawinan berakhir karena kematian salah satu pihak dan mereka mempunyai anak. maka terjadi penggeseran harta kekayaan. laki-laki ataupun wanita yang telah menjadi suami istri itu.. perhiasan emas dan sawah. Apabila laki-laki yang meninggal maka pauseang akan tetap milik wanita. Seorang wanita Batak Toba setelah kawin mungkin menerima harta dari ayahnya sendiri. atau demikian sebaliknya. 2. Dengan demikian harta mereka telah terpisah dari harta orang tua lakilaki. Biasanya wanita yang mau kawin membawa barang rumah tangga. Perkawinan menurut adat Batak Toba adalah merupakan semacam jembatan yang mempertemukan “Dalihan Na Tolu” dari orang tua penganten laki-laki dengan Dalihan Na Tolu dari penganten perempuan. harta tersebut disebut: 1) Indahan Arian. Suatu perkawinan yang bercerai dan perkawinan itu akibat kesalahan wanita. maka harta pauseang dari seorang wanita yang meninggal dunia akan menjadi milik suaminya. yaitu sebidang tanah yang diberikan oleh seorang ayah kepada anak perempuannya yang sudah kawin dan mempunyai anak.Revida. selama perkawinan berjalan.. 4) Menentukan kedudukan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu. 5) Menentukan kedudukan harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung. Sawah itu adalah untuk indahan arian (nasi siang) bagi cucunya. pinahan (ternak). yaitu sawah yang diberikan orang tua kepada anak perempuannya. yaitu sawah yang diberikan oleh seorang ayah kepada cucunya yang paling besar dari seorang anak perempuannya. Sistem Kekerabatan Masyarakat. dan hepeng (uang). Apabila dari perkawinan tersebut memperoleh anak. 3) Batu Ni Assimun. maka harta peninggalan istri menjadi milik anaknya dan harta peninggalan suami menjadi milik istri bersama anakanaknya. Dilihat dari sumbernya maka harta keluarga dalam masyarakat Batak Toba itu adalah: 1) Harta yang diperoleh laki-laki dari orang tuanya sendiri sebagai modal pertama yang diberikan pada saat ia berpisah rumah dengan orang tuanya. yaitu pihak 215 Koleksi BPAD Prov SU . Harta yang diperoleh bersama selama perkawinan diperoleh setelah “manjae” terdiri dari: a) harta hasil jerih payah suami istri berdua. Harta itu tetap milik anaknya. dapat bersumber dari kedua belah pihak. 2) Harta yang dibawa wanita. yaitu hewan piaraan atau emas yang diberikann oleh seorang ayah kepada seorang anak perempuannya yang sudah mempunyai anak atau untuk cucunya. jabu (rumah). selain itu setiap pihak juga menentukan pemberian dari orang tua mereka. Apabila istri itu mau kawin lagi bukan dengan anggota keluarga suaminya. bentuk harta kekayaan keluarga baru yang terpisah dari harta kekayaan orang tuanya adalah pada saat “manjae” artinya keluarga baru itu mempunyai tempat tinggal sendiri lepas dari rumah orang tuanya. sebelum kawin telah mempunyai harta sendiri yang kemudian setelah kawin dibawa ke dalam rumah tangga. Harta kekayaan pada masyarakat suku Batak toba terdiri dari: hauma (sawah). artinya sebagai akibat perkawinan. perkawinan suku Batak Toba haruslah diresmikan menurut adat Dalihan Na Tolu. 2) Don-don Tua. karena hanya orang yang sudah kawin yang berhak mengadakan upacara adat. Perkawinan adalah upacara adat yang terpenting bagi suku Batak Toba. maka Dalihan Na Tolu dari penganten laki-laki berkerabat dengan Dalihan Na Tolu penganten perempuan. b) harta yang diperoleh dari keluarga masing-masing. upacara agama dan catatan sipil hanyalah sebagai pelengkap. suami dan istri itu harus mempunyai modal berupa harta perkawinan yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupan mereka. sedangkan keluarga laki-laki tidak dapat menuntut kembali sinamot. pemberian orang tuanya disebut “pauseang”. Dalam masyarakat suku Batak Toba. omas (emas).

Masyarakat Batak Toba yang berdasarkan pada hubungan genealogik yang patrilineal. Harta kekayaan dari seorang yang tidak mempunyai anak laki-laki akan jatuh ke tangan bapaknya dan apabila sudah meninggal maka jatuh ke tangan saudara laki-laki bapaknya. Bekerja sebagai petani ladang dan sawah mempunyai tujuan yang luhur dalam hidupnya untuk memperoleh kekayaan (Hamoraon). Selain itu. Nomor 2. walaupun telah mempunyai harta banyak namun belum kaya apabila tidak mempunyai anak. maka dianggap tidak berketurunan dan kurang berarti dalam hidupnya. kekayaan dalam harta dan kekayaan dalam anak. Menurut pandangan masyarakat Batak Toba. 3. perempuan tersebut akan masuk pada golongan famili suaminya. Volume 5. berasal dari bahasa Sansekerta “brihan pati” yang menunjukkan sifat kedewaan. Tanpa anak akan merasa tidak kaya. Mei 2006. bentuk ekornya bercabang dua. badannya berloreng-loreng dengan warna gelap kemerah-merahan. 4. Pemberian seperti ini harus disertai upacara adat tertentu yang dihadiri oleh pihak keluarga. Hagabeon. pauseang harus kembali kepada pihak wanita. walaupun Koleksi BPAD Prov SU . 3 H dalam masyarakat Batak Toba adalah singkatan dari Hamoraon (kekayaan). Bahwa hanya anak laki-laki saja yang berhak mewarisi harta peninggalan orang tuanya. Hamoraon (Kekayaan) Kekayaan (Hamoraon) adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang. Sebaliknya jika laki-laki atau suami yang salah. Sistem Pew arisan Ideal dalam Masyarakat Batak Toba Warisan adalah hal peralihan dan penerus harta benda dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Kekayaan memperhatikan akan harga diri dan atas keberadaan anak dalam keluarga. konsep 3 H telah melekat pada pola pemikiran dan setiap tingkah laku masyarakat Batak Toba. Halaman 213-218 keluarga wanita harus mengembalikan sinamot dan tidak dapat pauseang (harta bawaan istri dari ayahnya).1. Hasangapon (3 H) Konsep tentang 3 H dalam masyarakat Batak Toba begitu mengkristal di dalam kehidupannya. maka laki-laki tidak dapat menuntut sinamot kembali. tuah sehingga mendapat hasil pertanian. kebahagian (Hagabeon) dan kehormatan (Hasangapon). yang sejak kawin telah melepaskan diri dari keluarga orang tuanya dan masuk menjadi keluarga anggota suaminya. bentuk kekayaan dalam harga diri. hanya anak laki-laki yang menjadi ahli waris. apabila tidak mempunyai keturunan anak laki-laki. dalam mana susunan kekeluargaan sangat erat hubungannya dengan sistem perwarisan. Kekayaan (Hamoraon) selalu identik dengan harta kekayaan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Susunan kekeluargaan memegang peranan penting dalam hal siapa yang berhak menjadi ahli waris. Ketentuan ahli waris hukum adat adalah berdasarkan sistem kekeluargaan. karena anak laki-lakilah yang meneruskan keturunan. Van Dijk (1960) mengatakan bahwa pada sistem patrilineal. 4. Anak perempuan bukan ahli waris dari orang tuanya.1 Lambang Boras Pati ni Tano (Dewa Tanah) Boras Pati ni Tano adalah dewa tanah yang wujudnya berupa kadal. Etos Kerja Masyarakat Batak Toba 4. Walaupun seorang anak perempuan bukan ahli waris. Konsep 3 H ini sekaligus merupakan tujuan hidup dari setiap masyarakat Batak Toba. namun menurut adat Batak Toba ada pemberian tertentu kepada anak perempuan sebelum atau pada saat perkawinan atau sesudah kawin dan mempunyai anak. Anak perempuan tidak berhak mendapat warisan. Hagabeon (kebahagiaan) dan Hasangapon (Kehormatan). Mereka dapat bercocok tanam di ladang. Boras Pati ni Tano melambangkan suatu kekuatan pelindung manusia dari marabahaya dan memberikan harta kekayaan kepada manusia atau melambangkan kemakmuran dan kesuburan tanah. 216 4. oleh karena anak perempuan keluar dari golongan famili patrilinealnya semula sesudah kawin. harga diri dan anak. Bekerja di lahan pertanian tidak terlepas dari perlindungan Boras Pati ni Tano ini.2.2 Konsep Hamoraon. Ini merupakan wujud dari kebudayaan sebagai ide dan gagasan yang terus-menerus mewarisi dan mendarah daging bagi masyarakat Batak Toba. penuh dengan semangat mengusahakan lahan adalah karena bantuan Boras Pati ni Tano yang memberikan berkat. Anak laki-laki mendapat warisan dari bapaknya maupun ibunya dan pada asasnya berhak atas semua harta benda.

Pada setiap pemberkatan perkawinan orang Batak Toba seringkali terdengar syair bahwa “Lak-lak ma tutu singkoru.2. Dalam masyarakat suku Batak Toba. orang kaya. omas (emas). 217 Koleksi BPAD Prov SU . Anak perempuan yang tidak mempunyai saudara lakilaki dianggap hambar dan kurang mendapat kehormatan di mata pemuda Batak Toba. Kelahiran anak lakilaki dan anak perempuan dalam suatu keluarga senantiasa merupakan kebahagiaan (Hagabeon) yang tumbuh dalam keluarga tersebut. Kedudukan sosial dapat dikatakan sebagai suatu kehormatan (hasangapon). Hal ini juga diungkap dalam syair lagu: “hugogoh pe mansari arian nang bodari laho pasingkolahkon gelengki” (kuatpun saya bekerja siang dan malam adalah untuk keperluan sekolah anakku). sebagi panutan masyarakat dianggap suatu kehormatan bagi dirinya. Hal ini diungkapkan dalam untaian lagu yaitu “Anakkonhi do Hamoraon di Ahu” (anakku adalah harta yang paling berharga bagiku). Harta dalam masyarakat Batak Toba yang telah kawin terpisah dari orang tuanya.3. dan hepeng (uang)”. yang menilai apakah seseorang itu dianggap baik dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan peran masyarakat menurut keinginan masyarakat. Sebenarnya pada semua lapisan masyarakat memiliki konsep Hasangapon. pengurus gereja atau tokoh-tokoh adat yang dapat dijadikan tauladan. karena itu segala pikiran. banyak harta. Perkawinan dari luar klen atau perkawinan yang melarang kawin dengan satu marganya sendiri. Hagabeon (Kebahagiaan) Hagabeon sama artinya dengan kebahagiaan atau kesejahteraan. sebab anak perempuan juga didambakan oleh keluarga Batak Toba. yang biasanya status perolehannya melalui proses belajar. dengan status tertentu harus berperilaku sesuai dengan statusnya. yaitu menarik garis keturunan melalui garis dari marga ayah. Harta dalam masyarakat Batak Toba terdiri dari “hauma (sawah). kerabat dan keluarga. konsep 3 H merupakan kepemilikan adat dalam kehidupan masyarakat yang harus menjadi milik setiap individu. Setelah panen selesai warga masyarakat suku Batak Toba melakukan berbagai kegiatan adat istiadat. yang sesuai dengan peran garis keturunan laki-laki pada sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba.. Keluarga yang tidak mempunyai keturunan anak laki-laki menganggap hidup ini tidak mempunyai kebahagian hidup. Sebagai tujuan hidup.Revida. Kesimpulan Sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba pada dasarnya menganut sistem kekerabatan “patrilineal”. Hal ini disebabkan tidak adanya tempat berlindung dan bertaut bagi anak perempuan. Karena itu. tenaga serta harga diri senantiasa dikorbankan demi anak-anaknya. kepala desa. dalam arti keturunan yang memberi harapan hidup. Keluarga yang mempunyai anak berhasil dalam sekolah dan pekerjaan adalah merupakan keberhasilan orang tua yang telah bersusah payah membesar kannya. Orang Batak Toba bekerja siang dan malam hari adalah demi untuk kepentingan dan keperluan anak-anaknya. Sistem perkawinan dalam masyarakat batak Toba adalah perkawinan “eksogami”. 4. seperti guru. Harkat dalam kehidupan sosial dalam masyarakat selalu diukur materi atau kekayaan. jabu (rumah). Harapan keluarga adalah kelahiran anak laki-laki. Demikianlah pengantin diharapkan dapat melahirkan anak laki-laki yang melekat dalam adat dan melahirkan anak perempuan yang mempunyai sifat keibuan. Manusia hidup untuk memperoleh Kekayaan (Hamoraon). Hasangapon (Kehormatan) Hasangapon atau kehormatan adalah suatu kedudukan seseorang yang dimiliki di dalam lingkungan masyarakat. 4. Sistem Kekerabatan Masyarakat. Orang yang dianggap terhormat itu adalah orang yang memiliki status tertentu. tubuan anak ma hamu jala tubuan boru” (bagaikan kulit kayu yang melekat pada batangnya dan bagaimana manik-manik yang dikalungkan di leher.. mereka merupakan kebanggaan orang tua dan sekaligus anak adalah harta yang dibangga-banggakan orang tua..2. Setiap pelaksanaan pesta adat yang dilakukan selalu memperhitungkan akan kesempurnaan material untuk melakukan pesta adat. maka setiap masyarakat Batak Toba dalam kehidupannya harus mencerminkan ketiga konsep ini. pinahan (ternak). karena keturunan itu adalah suatu kebahagian yang tidak ternilai bagi orang tua. Kebahagian (Hagabeon) dan Kehormatan (Hasangapon). yang berkaitan dengan harga diri. Kebahagian dalam hal ini adalah kebahagian dalam keturunan.2.

Sihombing. Daftar Pustaka Bruner. Jakarta. Jones. Gens. Konflik Dan Persesuaian Antar Etnik. Manusia dan kebudayaan Di Indonesia. Malau. Jakarta. Apabila tidak mempunyai anak laki-laki. Abner Cohen (Ed). Koentjaraningrat. Judistira. Halaman 213-218 Pengadaan harta untuk rumah tangga yang baru dapat bersumber dari kedua belah pihak. Jakarta. Nomor 2. Etos kerja dalam masyarakat Batak Toba terdiri dari dua hal yaitu Lambang Boras Pati ni Tano dan konsep 3 H yaitu Hamoraon.M. TM. Pelly. maka yang menjadi ahli waris adalah bapaknya sendiri. Volume 5. Sugihan. 1972. James. Pembauran Dan Batas Interaksi Antar Etnik.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 1996. Jakarta. ____ . Suzanne. Penerbit Jambatan. 1984. 2000. Bandung. Hagabeon dan Hasangapon. Jakarta. Usman. Pengantar Ilmu Antropologi. The Expression Of Tethnicity In Indonesia. Konsep 3 H merupakan tujuan hidup masyarakat Batak Toba dan selalu melekat dan mendarah daging dalam pola pemikiran masyarakat Batak Toba. Mei 2006. Keller. Barhein T. Penerbit Rajawali. Penerbit PT RajaGrafindo Persada. Prejudice And Racism. Sosiologi Pedesaan. Massachussets. Penguasa Dan Kelompok Elite. Pernanan Elite Penentu Dalam Masyarakat Modern. Kebudayaan Mentalitas Dan Pembangunan. 1990. Fajar Agung. Jakarta. Jakarta.1985. 1989. Addison Wilsley. Penerbit Rineka Cipta. 218 Koleksi BPAD Prov SU . 1990. Garna. Filsafat Batak. Pemerbit Balai Pustaka. Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran. Taviscook. 1996. Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Edward H. Dalam Urban Ethnicity. Lambang Boras Pati ni Tano adalah dianggap sebagai dewa pelindung dan pemberi berkat. ____ . 1990. 1977.London. dan kalau bapaknya sudah meninggal yang menjadi ahli waris adalah saudara kandung laki-laki dari bapaknya. Budaya Batak. Sistem pewarisan dalam masyarakat Batak Toba ditentukan oleh susunan kekeluargaan. Penerbit Yayasan BinaBudaya Nusantara TaoToba NusaBudaya.

But the fact shows that the child worker problem is not only the poor family’s problem.PEKERJA ANAK DAN KONTRIBUSINYA DALAM EKONOMI RUMAH TANGGA Tuti Atika Abstract The child worker is the common phenomenon in Indonesia. 25 September 2003). Kemudian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang mengatur tantang hak-hak anak. So the government must make the program how to up grade the poor people’s economy to make the children go to school and learning to prep ear their selves. konvensi hak-hak anak dengan Kepres Nomor 38 Tahun 1990. To understand about the children’s need. yang berbeda dengan dunia orang dewasa (Elizabeth dalam Kartono. seorang pendidik yang menaruh perhatian terhadap masalah dan perkembangan anak juga menyebutkan bahwa “anak bukan miniatur orang dewasa”. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. konvensi ILO nomor 182 tentang bentuk terburuk pekerja anak dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000. Namun Tuti Atika adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Koleksi BPAD Prov SU 219 . Jika pada orang dewasa sebagian besar dari perbuatannya diarahkan pada pencapaian tujuan dan prestasi dalam bentuk kegiatan kerja. The child worker is a human resources for a poor family. 1986: 2). UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang telah disahkan pada 22 oktober 2002 yang lalu ditambah dengan Permenaker dan surat edaran yang melarang keterlibatan anak dalam sektor berbahaya. 23 september dinyatakan “perlu selalu diingat bahwa dunia anak adalah dunia bermain. such in rural and especially in urban area. maka kegiatan anak sebagian besar berbentuk aktivitas bermain. especially their future make us aware that child worker is a big problem in the future. Indonesia sendiri telah memiliki ratifikasi ILO nomor 138 tentang batas usia minimum anak bekerja dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999. bukan sebaliknya memandang anak sebagai suatu komoditas yang siap dieksploitasi. Sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kepentingan anak. because there are many children who have not prepared to get the good future as a long run need. Pengertiannya yaitu anak mempunyai dunia masa anak-anaknya sendiri. dikembangkan dan dijamin kelangsungan hidupnya. sesungguhnya anak memiliki hak hidup yang sama dengan manusia lainnya. Bahkan seorang anak juga memiliki hak yang tidak dimiliki orang dewasa. but the national problem. They justificated that poverty is a reason to carry their children to economic activity and get family’s income. social problem Pendahuluan Sebagai manusia. Seorang anak haruslah dipandang sebagai makhluk yang harus dilindungi. Keywords: poverty. Generally the child worker phenomenon is a authentication that poverty still a big problem in Indonesia. Dengan demikian seharusnya waktu yang dimiliki anak-anak hanya dipergunakan dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. Pada wacana peringatan 1 tahun undangundang perlindungan anak. bukan dunia kerja mencari uang” (Kompas. child worker. Karena itu seharusnya semua elemen maupun keadaan harus berpihak pada kepentingan anak. seperti yang tercantum dalam UU No. Selanjutnya John Amos Comenius.

11 Juni 2003). jermal. hingga mencapai lebih 10 juta akibat krisis ekonomi yang mengharuskan anak bekerja. Menurut koordinator program nasional ILO untuk Indonesia. walaupun usia. Misalnya pekerjaan yang 220 menggunakan bahan-bahan kimia. menjual atau mengedarkan narkotika dan obat-obat terlarang atau memproduksi serta mengedarkan gambar porno. merusak fisiknya dan memanfaatkan usia mereka yang muda. Koleksi BPAD Prov SU . Dengan melihat kondisi di atas. Panji Putranto. anak-anak lebih banyak bekerja di sektor nonformal dibandingkan sektor formal. jam kerja yang panjang dan bekerja dalam kondisi suhu yang diluar batas normal. Semua pekerjaan yang bertentangan dengan hak-hak dasar anak. Bila dilihat menurut status pekerjaan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dapat tergambar bahwa begitu banyak anak-anak dalam usia yang relatif masih muda sudah bekerja dan tentunya hal ini akan membuat anak tidak dapat menikmati sepenuhnya masa anakanaknya dengan baik. Disebabkan berbagai faktor telah dipergunakan dalam kegiatan bekerja mencari nafkah. alat-alat dan mesin yang berbahaya atau mengangkat beban yang berat dan melakukan tugastugas yang sulit. Semua pekerjaan yang merusak tumbuh kembangnya atau merampas kehidupan masa kanak-kanaknya.1: 5 ) Dari temuan studi Semeru yang dirancang untuk mengetahui pilihan antara bersekolah dan bekerja dengan menggunakan data survei 100 desa tahun 1998 dan 1999 diperoleh kesimpulan bahwa pekerja anak yang tidak bersekolah berasal dari rumah tangga yang rata-rata pengeluaran riil rumah tangga per kapitanya terendah dibandingkan dengan pekerja anak yang bersekolah. pelecehan seksual. Seperti bagi anak-anak yang telah bekerja yang merupakan realitas dari masa kanak-kanak yang sama sekali berbeda. Meningkatnya jumlah pekerja anak bukanlah pembengkakan. Masa kanak-kanak mereka seharusnya dinikmati dalam suasana yang menyenangkan seperti bermain atau bersekolah. 4. Halaman 219-231 kenyataannya hampir selalu terdapat jurang yang lebar antara undang-undang ataupun peraturan tersebut dengan kanyataan yang ada. jenis-jenis pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan oleh anak: 1.IPEC memperkirakan bahwa di tahun 2003 jumlah pekerja anak di Indonesia yang berusia 15 tahun mencapai 6-8 juta jiwa anak. lebih jauh untuk masa-masa berikutnya Indonesia berpotensi kehilangan generasi (lost generation) disebabkan mereka tidak punya harapan bagi masa depan yang lebih baik. Semua pekerjaan berbahaya atau mengancam keselamatannya. pembantu rumah tangga atau menjadi anak jalanan. Mei 2006. diperkirakan jumlah tersebut lebih banyak lagi. Seperti menempatkan anak-anak pada risiko tindakan kekerasan fisik.net). lepas pantai. Angka itupun masih berupa estimasi yang angka riil nya bisa jadi jauh lebih besar. Tahun 1995 No. Semua pekerjaan itu seharusnya tidak dikerjakan oleh anak-anak. Sektor nonformal terdiri atas berusaha sendiri misalnya menjadi penjual makanan. penjual koran. ILO . bahkan mereka harus putus sekolah/ meninggalkan bangku sekolah. Nomor 2. Sayangnya hingga kini masih banyak anak yang terpaksa menghadapi bahaya itu.gloria. pabrik. melainkan karena faktor kondisi ekonomi yang turun (Waspada. tukang parkir atau jenis pekerjaan lain. Ahmad Sofyan dari pusat kajian dan pemberdayaan anak menyatakan jumlah pekerja anak di Indonesia yang meningkat hingga 8 juta orang. terisolasi atau bekerja malam hari. Volume 5. Seperti pekerja anak yang menjadi jaminan utang. semua sektor pekerjaan yang melibatkan anak-anak itu memiliki risiko bahaya yang sama (www. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satupun yang tidak membahayakan. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang termiskin di antara anak-anak yang miskin dan kemiskinan yang semakin parah adalah alasan utama anakanak terpaksa bekerja. Mereka dipekerjakan di perkebunan. 2. penyemir sepatu. menguras tenaga. kekuatan serta fisik dan mentalnya sebenarnya belum layak untuk memasuki dunia kerja. Dan yang jelas keberadaan pekerja anak tersebut sesungguhnya menggambarkan buruknya kesejahteraan masyarakat Indonesia (Majalah Kalingga. 3. anak-anak bekerja di bawah kondisi praktik kerja sejenis perbudakan. Volume 5. Semua pekerjaan yang menghalangi mereka untuk sekolah dan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk tumbuh kembang demi masa depan mereka. menyediakan atau memanfaatkan anak-anak untuk pelacuran. Menurut ILO IPEC (2002:4).

000 per hari. Jumlah ini mereka peroleh dengan bekerja dari pagi sampai sore. Ini merupakan hal yang menarik untuk diteliti mengapa mereka bekerja. sebenarnya pekerjaan yang mereka lakoni termasuk kategori yang berbahaya. tidak luput dari persoalan pekerja anak. Anggapan seperti ini juga dapat dijumpai dari fenomena pekerja anak di kota-kota besar di Indonesia. Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi termasuk salah satu yang terbesar setelah Stasiun Kereta Api Medan. Pekerja Anak dan Kontribusinya. biasanya mereka berjalan lebih sigap. Hal ini tentunya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2000 yang memberikan pengecualian anak yang terpaksa bekerja membantu orang tua maksimal 3 jam sehari. Kota Tebing Tinggi seperti halnya dengan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia. Dilihat dari sisi jam kerja. Ratarata dari mereka berdomisili di sekitar lingkungan stasiun kereta api. melompat dari satu gerbong ke gerbong lain. maka pekerja anak semakin banyak. Di Stasiun Tebing Tinggi inilah para pekerja anak melakukan aktivitas. Di samping itu. Meskipun jumlah pekerja anak tidak diketahui secara pasti.. maka kecelakaan akan menimpa mereka. Di dalam bekerja mereka juga mempunyai motivasi dan yang pasti keberadaan pekerja anak dilatarbelakangi oleh beberapa hal tertentu yang menyebabkan mereka harus beraktivitas sedemikian rupa yang terkadang bisa membahayakan keselamatan mereka. mereka mengisi waktu liburan dengan berjualan. Kisaran dan Rantau Prapat. beberapa di antara mereka beraktivitas sekitar 12 jam. Tentu saja selama selang waktu perjalanan pun pekerja dan penumpang di Stasiun Tebing Tinggi membutuhkan makanan kecil. Pematang Siantar. bahkan ada juga yang sampai malam hari. bagaimana kehidupan sosial ekonomi orang tua mereka sehari-hari menjalankan dunia kerjanya dengan berbagai masalah yang terkait di dalamnya. Gejala ini menunjukkan peluang pasar yang membuka kesempatan bagi penduduk termasuk anak-anak di sekitar stasiun untuk memperoleh penghasilan dari profesi penjaja makanan. Bila kondisi mereka kurang fit atau kurang hati-hati. Dalam kasus demikian anak akan ikut bekerja untuk menunjang ekonomi keluarga. Melihat dari situasi pekerjaan. Kemudian ada juga kereta api penumpang yang setiap harinya melayani masyarakat untuk bepergian. Tidak dapat dihindari bahwa para pekerja anak itu mempunyai kaitan yang erat dengan keluarganya masing-masing. Dan satu hal yang menarik lagi bila liburan tiba.. sawit dan lain sebagainya. Banyak anak-anak yang menawarkan jasa atau menawarkan dagangannya dengan harapan mendapatkan uang. misalnya di kawasan Terminal Bandar Kajum.id). berinteraksi dengan penumpang dan masyarakat yang berbaur di stasiun untuk menjajakan makanan. Menurut pra survei yang dilakukan penulis bahwa penjaja makanan ini memperoleh pendapatan rata-rata Rp 5. Bahkan yang menarik untuk diperhatikan dari fenomena pekerja anak adalah isu bahwa anak yang bekerja adalah wujud partisipasinya terhadap ekonomi orang tuanya (www. naik. Hal ini terlihat di beberapa tempat keramaian.go. Pada umumnya negara berkembang seperti Indonesia mempunyai kemampuan ekonomi yang terbatas dalam menghadapi masalah penduduknya. bahkan mereka berlari. Hal yang menarik dan membedakan mereka dengan penumpang kereta api. Ditinjau dari sisi usia. Pajak Mini dan stasiun kereta api. usia mereka bervariasi antara 6-18 tahun dan kebanyakan dari mereka sudah tidak bersekolah lagi. Hal ini sejalan dengan asumsi yang menyatakan bahwa anak-anak yang bekerja mencari nafkah mempunyai kaitan erat dengan keadaan sosial ekonomi rumah tangga suatu masyarakat. Stasiun Tebing Tinggi merupakan tempat berhenti (530 menit) bagi kereta api jurusan Medan. Kereta api dapat dibedakan atas dua jenis yaitu kereta api barang yang mengangkut hasil hutan dan produk perkebunan yang antara lain berupa kayu. karet. Dengan demikian ada semacam benang merah terhadap munculnya anggapan bahwa anak adalah tenaga kerja alias sebagai pemasok pendapatan bagi keluarga.000 sampai Rp 15. penelitian ini menarik karena 221 Koleksi BPAD Prov SU . Sebagai stasiun kereta api terbesar kedua. Beban ekonomi tidak hanya cukup dipikul oleh orang tua.depdiknas. Namun yang menjadi informan adalah pekerja anak yang tetap (yang keberadaannya tidak dipengaruhi musim liburan).Atika. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah menjajakan makanan di stasiun kereta api.

Volume 5. Mei 2006. menghambat tumbuh kembangnya dan kehilangan kesempatannya untuk memperoleh pendidikan dasar. dalam M. batasan usia seorang anak adalah 18 tahun. berbagai negara di dunia. dengan menerima imbalan maupun tidak (penelitian T.Bekerja yang melibatkan terlalu banyak tanggung jawab. karena pada umumnya diskursus mengenai pekerja anak dipahami oleh banyak orang sebagai anak-anak yang bekerja dalam keadaan buruk. pekerja anak adalah anak-anak yang bekerja kurang lebih seperti pekerja pada umumnya yang bertujuan untuk membiayai kehidupan ekonomi untuk dirinya dan keluarganya. “pekerja” (ILO. . . Nomor 2. sebagai contoh: . lebih dahulu berangkat dari definisi pekerja anak atau konsep pekerja anak itu. Membicarakan masalah pekerja anak. Pekerja Anak Masalah pekerja anak makin ramai dibicarakan dan menjadi program aksi pemerintah dan badan-badan nonpemerintah. Pengertian yang ekstrim menyebutkan bahwa semua anak pada usia tertentu yang tidak bersekolah. tidak mempunyai waktu yang luang dapat dihitung sebagai pekerja anak. Dalam konvensi hak anak yang telah diratifikasi dengan Kepres Nomor 36 Tahun 1990.Bekerja terlalu berat.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.Bekerja yang berhubungan dengan kekerasan dan kerja paksa. Yang dimaksud tumbuh kembang anak adalah tumbuh dalam arti bertambahnya ukuran dan masa yaitu tinggi. karena banyak anak-anak yang telah terintegrasi dengan kehidupan sosial ekonomi dan tradisi dari masa kanak-kanak (childhood) kepada masa dewasa (adulthood) berlangsung secara bertahap. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan di sebutkan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. belum ada peneliti yang melakukan penelitian terhadap pekerja anak di Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi. masalah yang muncul dari pendefinisian pekerja anak itu. Sektor Koleksi BPAD Prov SU . .Bekerja dengan jam kerja yang panjang. . mengikuti batasan yang diberikan hukum nasional mengenai usia pekerja anak sangat variatif. Jandraningsih memberi definisi anak tanpa menyebut batas usia.Bekerja karena ijon dan perbudakan. . sehingga menentukan berapa jumlah pekerja anak itupun sulit dan variatif. Secara juridis formal. berat badan. 4 Tahun 1979) memberikan definisi anak sebagai orang yang belum berusia 21 tahun dan belum pernah kawin.Bekerja yang berhubungan dengan eksploitasi seks. Halaman 219-231 dari beberapa sumber bacaan yang penulis baca. 222 Menurut karakteristik pekerjaan yang dilakukannya. penglihatan. Kemudian ILO berpendapat bahwa pekerja anak adalah anak-anak di bawah usia kerja yang melakukan pekerjaan yang membahayakan kesehatannya.Bekerja di tempat dan kondisi berbahaya. Bila merujuk pada Undang-Undang No. Sulit menentukan sejak kapan batasan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurutnya pekerja anak adalah anak-anak yang melakukan pekerjaan secara rutin untuk orang tuanya atau untuk orang lain yang membutuhkan sejumlah besar waktu. “bekerja” (work) dan. kecerdasan dan tanggung jawab. Jandraningsih 1995). tetapi adanya aktivitas ekonomi yang dilakukan anak-anak. banyak dan mendapatkan upah. Sementara itu. Sebab konsep pekerja anak meliputi batasan yang sulit mengenai: “anak” (child). . .Bekerja terlalu muda. Kemudian menurut keputusan menteri dalam negeri dan otonomi daerah tentang penanggulangan pekerja anak pasal 1 dinyatakan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang melakukan semua jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan dan menghambat proses belajar serta tumbuh kembang. Keadaan demikian menjadi salah satu alasan mengapa begitu sulit membuat definisi pekerja anak. 1996). dengan mencurahkan waktu yang besar. Joni. Definisi pekerja anak tidak sederhana dan bisa memperlihatkannya dengan terang begitu saja. Sementara ada yang menyatakan pekerja anak hanya anak yang melakukan aktivitas ekonomi dalam curahan waktu yang panjang (Grotaert dan Kanburt dalam Muhammad Joni. tulang dan pancaindra tumbuh sesuai dengan usia dan kembang dalam arti bertambahnya dalam kematangan fungsi tubuh yaitu pendengaran. anak-anak lebih banyak bekerja di sektor nonformal dibandingkan sektor formal. undang-undang kesejahteraan anak (UU No. T. Konteks anak dan pekerja anak batasannya masih bervariasi menurut rujukan tiap regulasi yang berlaku. Bila dilihat menurut status pekerjaan. 1996).

yaitu: 1. tetapi lebih pada pengaruh negatif yang tumbuh dan terpaksa dialami anak-anak akibat mereka terlalu dini bekerja (Konvensi edisi September 1997: 3). 4. Dilihat dari jam kerjanya. Dari dua jenis pekerjaan di atas dapat dikategorikan bahwa aktivitas yang dilakukan pekerja anak termasuk pekerjaan produksi. Bahkan banyak dari mereka yang melanjutkannya sampai pukul 21. penjaja makanan di Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi banyak yang digolongkan pada usia anak-anak. Sedangkan pekerjaan produksi adalah pekerjaan yang berimplikasi kepada penghasilan dan memperoleh imbalan/upah. karena risiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang. pekerjaan ini dapat tercipta karena kondisi dan situasi lingkungan pekerjaan yang mendesak dan memaksa dalam upaya memenuhi kebutuhan yang makin meningkat. bahkan dapat dikatakan mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang. 3. Wordhouse. sedangkan disebut eksploitatif karena mereka biasanya memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) yang sangat lemah. dengan membawa dagangannya. mereka tidak saja menjual makanan di sekitar stasiun kereta api tetapi terkadang mereka ikut kereta api ke jurusan lain misalnya ke Kisaran. yaitu mereka mulai beraktivitas sekitar pukul 09. terlepas apakah mereka itu bekerja dengan atau tanpa majikan. Rodger dan Standing membuat kerangka tipologi anak-anak yang bekerja. bila kereta api tersebut transit di stasiun kereta api Tebing Tinggi. tetapi memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan pekerjaan produksi. kerabat lainnya atau pihak lain). 2.. Sehubungan dengan hal yang di atas. banyak bukti menunjukkan bahwa keterlibatan anak-anak dalam aktivitas 223 Koleksi BPAD Prov SU . kepala perwakilan UNICEF untuk Indonesia dan Malaysia menyatakan bahwa isu sentral pekerja anak di Indonesia. Bila kita mengamati pekerjaan dan aktivitas pekerja anak sesungguhnya ada banyak masalah yang dihadapi pekerja anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pekerja Anak dan Kontribusinya. biasanya pendapatan mereka sangat tergantung dari seberapa giat mereka melakukan pekerjaan tersebut. yang terbagi atas 4 dimensi dari hubungan kerja anak. nonformal terdiri atas berusaha sendiri misalnya penjual makanan. Secara umum ciri yang menandai pekerja anak adalah marjinal. 1995: 8). terkoordinasi dan cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenangwenang dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Tjandraningsih membagi pekerjaan anak menjadi dua yaitu pekerjaan reproduksi dan produksi. Dalam pembagian dimensi kerangka tipologi pekerjaan anak yang ditawarkan oleh Rodgers dan Standing. penjual koran. Stephen J. Kemudian Grootear dan Kanbur (dalam Konvensi Vol III. industri rumah tangga maupun sektor bangunan. rentan dan eksploitatif.00 WIB. seperti anak yang bekerja di pabrik. 1991: 20). ternyata mereka bekerja dengan tidak mengenal waktu. Tanjung Balai. Pekerjaaan reproduksi yaitu kegiatan kerja yang tidak mempunyai implikasi langsung terhadap penghasilan. Untuk pekerja anak yang bekerja pada sektor seperti ini biasanya mereka telah mempunyai standar pendapatan sendiri. Berbicara mengenai pekerjaan anak.00 WIB. penyemir sepatu. Dalam melaksanakan pekerjaannya. dan Rantau Prapat. baik di sektor formal maupun informal dengan batasan usia 18 tahun ke bawah dan mendapatkan upah dari apa yang dikerjakannya. Kerja yang dibayar versus kerja yang tidak dibayar (Rodger dan Standing.Atika. Dalam kasus kerja bagi pihak lain untuk siapa anak bekerja (orang tua. Untuk pekerjaan anak yang bekerja di sektor informal. Dikatakan rentan. tukang parkir atau jenis pekerjaan lain.. Pekerjaan produksi yang dilakukan anak-anak bertujuan untuk menambah penghasilan keluarga atau rumah tangga (Tjandraningsih. Artinya pekerja anak ada yang bekerja berdasarkan sistem majikan. Berdasarkan pengamatan peneliti. benar-benar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan. Pada umumnya anak-anak penjaja makanan ini adalah anak-anak yang berjenis kelamin laki- laki.00 WIB. September 1999) menyatakan secara empirik. bukan terletak pada pekerjaannya. Kerja atas usaha sendiri versus kerja untuk pihak lain. Sebagian mengakhirinya pada pukul 16. Kerja “reproduksi” versus kerja “produksi”. Pekerjaan sebagai penjaja makanan lebih bersifat jasa. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum pekerja anak dapat didefinisikan sebagai anak yang bekerja. maka pekerjaan penjaja makanan termasuk dalam kerja usaha sendiri dengan penghasilan sendiri.

Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Menurut ILO-IPEC (2002:19). posisi mereka sangat rentan sekali. Pepatah tersebut menunjukkan bahwa anak masih dianggap modal yang besar untuk dapat membantu menjalankan perokonomian rumah tangga. pekerjaan yang mereka lakukan sering tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. 1995: XIII). pemulung. baik di sektor formal maupun informal yang terlalu dini cenderung rawan eksploitasi. Mereka tidak mendapat pendidikan dasar yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan dan mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dan ikut berpartisipasi aktif di tengah masyarakat dan menikmati hidup secara wajar. Sedangkan aktualisasi pada permukaan berupa tindakan-tindakan eksploitasi terhadap anak yang muncul hanya sedikit. dampak pekerjaan terhadap anak adalah perkembangan fisik. dan sebagainya. karena ternyata pekerjaan yang mereka lakukan itu justru menghambat tumbuh kembang mereka dan sama sekali tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. perikanan. Demikian juga halnya dengan anak yang bekerja menjual makanan di stasiun kereta api. Hal tersebut dilakukan dengan cara mencurahkan tenaga si anak membantu pekerjaan orang tuanya (Koentjaraningrat. Mereka sangat rawan dengan kecelakaan. Kegiatan seperti itu terpaksa mereka tinggalkan. budaya masyarakat lebih cenderung bersifat patrilineal dan kemiskinan struktural menciptakan suatu iklim yang permisif terhadap pekerja anak Indonesia. Dan yang sering terjadi bahwa anak-anak yang bekerja tidak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan penting yang merupakan bagian dari masa pertumbuhan seperti pergi sekolah dan bermain. Pekerja anak tersebar baik di pedesaan maupun di perkotaan. pertambangan maupun kegiatan ekonomi di lingkungan ekonomi keluarga. Umumnya ini terjadi pada masyarakat golongan bawah. banyak anak bekerja pada usia yang relatif masih muda yaitu pada usia enam atau tujuh tahun. Anakanak belajar bertanggung jawab dan merasa bangga dapat mengerjakan tugas-tugas orang dewasa dalam mempertahankan hidup keluarganya. Volume 5. kompleksitas pada dasar permasalahan tidak tampak. Kenyataannya. bahkan terkadang mereka harus melompat dari kereta api ketika kereta api telah mulai melaju. Dari kasus-kasus yang dialami pekerja anak. karena harus bekerja dan sebagai akibatnya mereka terdorong masuk ke dunia orang dewasa sebelum waktunya dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. penyemir sepatu. Halaman 219-231 ekonomi. Mei 2006. Sampai saat sekarang ini jumlah pekerja anak belum terdata secara pasti. Keadaan demikian tentu berbahaya bagi fisik. perkebunan. Sedangkan pekerja anak di daerah perkotaan dapat ditemukan di perusahaan. disebabkan jam kerja yang tidak menentu dan bahkan terlalu panjang tidak sesuai dengan usia mereka. Nomor 2. psikologis dan sosial anak. membantu di rumah atau membantu aktivitas orang tuanya di luar. mungkin mereka 224 Koleksi BPAD Prov SU . karena dengan menjajakan makanan mereka harus sigap berlari. karena hal itu dianggap akan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. penjual makanan. terkadang berbahaya dan bahkan tidak mustahil dapat mengganggu perkembangan fisik. 1990: 14). Saat ini Partisipasi Anak dalam Kegiatan Ekonomi Rumah Tangga Di seluruh dunia. Anggapan tersebut nantinya berimbas pada tidak optimalnya pemberian perhatian orang tua terhadap anaknya. psikologis dan sosial anak. dapat disimpulkan bahwa permasalahan pekerja anak sebenarnya hampir menyerupai gunung es. Pekerja anak di daerah pedesaan lebih banyak melakukan pekerjaan di bidang pertanian. Bekerja semacam itu dianggap sebagai pengenalan awal menuju dunia orang dewasa/dunia kerja dan merupakan bagian dari proses kehidupan dari masa anak-anak memasuki masa dewasa. emosi dan sosial. Adanya pepatah yang berkembang di sebagian masyarakat di Indonesia yang menyatakan “banyak anak banyak rezeki”. Aktivitas tersebut sering didukung oleh orang-orang dewasa dalam keluarga. rumah tangga (sebagai pembantu rumah tangga atau sebagai pekerja industri rumahan atau industri keluarga) maupun di jalanan seperti penjual koran. karena mereka dihadapkan pada adanya tuntutan pemenuhan ekonomi agar tetap bertahan dalam menjalani kehidupan ini (Tjondronegoro dalam Haryadi. melompat dari satu gerbong ke gerbong lain.

Ini menunjukkan bahwa lebih dari 25% anak yang secara ekonomi aktif sudah tidak bersekolah lagi (BPS dan ILO. Dan studi yang tergolong baru yang dilakukan pusat studi ketenagakerjaan Universitas Airlangga (1999) menemukan akibat tekanan kebutuhan hidup yang makin berat acapkali ditemui anak-anak di dalam usia di bawah 10 tahun atau bahkan baru berusia 6-7 tahun sudah terpaksa bekerja membantu orang tua dalam pekerjaan produktif yang menghasilkan uang. Beberapa di antara pekerjaan yang dilakukan anak tertentu dapat dikategorikan sebagai bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Walaupun belum ada data yang pasti namun diperkirakan bahwa tingginya persentase anak yang bekerja. Dan disebutkan juga bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak bekerja yaitu karena memenuhi kebutuhan ekonomi. selanjutnya 18. Mereka pada umumnya berasal dari keluarga buruh tani. Sementara itu studi yang dilakukan Manning Effendi dan Tukimin (1990) di sebuah kampung miskin di Yogyakarta menemukan bahwa sekitar 83% penduduk mulai bekerja pada saat berumur 10 . Ia mengungkapkan bahwa dalam usaha mencapai nafkah setiap anggota keluarga yang terlibat umumnya adalah istri dan anak. Selanjutnya Tjandranigsih (1995: 67) menyatakan bahwa dari sisi pasar tenaga kerja upahan. majikan dapat melipatgandakan keuntungan. Berkaitan dengan pekerja anak. anak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Seluruh anggota rumah tangga golongan ekonomi lemah dan menengah di daerah terlibat dalam membantu perokonomian keluarga. Bhutan. terminal. stasiun. India termasuk Indonesia merupakan tipikal negara seperti itu. sehingga dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan keluarga. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa anak-anak sangat membantu di dalam keluarga khususnya dalam mencari nafkah dapat kita lihat dari hasil penelitian yang dilaksanakan para ilmuwan misalnya Prijono Tjiproherianto. Penghasilan anak di sini diperoleh dari upah bekerja dari berbagai jenis pekerjaan. 2005: 8).15 tahun. Penelitian yang dilakukan White dan Tjandraningsih (1991) di Jawa Tengah menemukan bahwa anak-anak di bawah usia 14 tahun sudah bekerja pada industri kecil dan industri besar. hampir setiap perempatan jalan. Sedangkan teori yang berpijak pada sisi permintaan.Atika. Dengan bekerja. menyatakan bahwa dengan mempekerjakan anak yang dianggap sebagai pencari nafkah kedua. Tenaga anak merupakan sumber berharga bagi setiap keluarga. dijumpai pada negara-negara dengan tingkat pendapatan per kapita rendah serta distribusi pendapatan yang sangat timpang. mereka 225 Koleksi BPAD Prov SU . Kemudian survei yang dilaksanakan oleh BPS dan ILO/IPEC di Kabupaten Bandung dan Kotamadya Bandung menunjukkan bahwa hanya 22.4% untuk anak kedua yang termasuk bekerja (Prijono dalam Dini.. Selain teori-teori yang dikemukakan di atas.6% anak pertama dari 5. 1993). baik secara langsung maupun tidak langsung. sedangkan negaranegara di Afrika kendati pun distribusi pendapatannya relatif merata akan tetapi nyaris semua penduduk menghadapi masalah yang terkait dengan penyediaan kebutuhan hidup sehari-hari. Mendellavich (1995:15) menyatakan bahwa fenomena pekerja anak dalam setiap kehidupan masyarakat di suatu daerah ataupun negara merupakan hal yang selalu berkaitan dengan kondisi sosial. pelabuhan. terdapat lebih dari 53% keluarga yang terlibat mencari nafkah. Sedangkan pengertian ekonomi keluarga secara sederhana adalah seluruh penghasilan yang diterima oleh keluarga baik berupa uang maupun barang. dan mau dibayar murah. Penghasilan keluarga di sini artinya seluruh peneriman pendapatan yang diterima oleh keluarga ditambah dengan penghasilan anak. Pekerja Anak dan Kontribusinya..3% dari anak yang secara ekonominya aktif yang dapat bersekolah sekalipun bekerja. terdapat dua teori yang menjelaskan mengapa anak-anak bekerja. Secara sederhana partisipasi anak dalam bekerja dapat diartikan sebagai keikutsertaan anak dalam menyumbangkan penghasilan atau pendapatan keluarga yang diperolehnya dari upah kerja. ekonomi dan kebudayaan di mana anak itu berada. Ditinjau dari segi penawaran menyatakan bahwa kemiskinan merupakan sebab utama yang mendorong anakanak bekerja untuk menjamin kelangsungan hidup diri dan keluarganya. petani berlahan sempit atau buruh pabrik. banyak para ilmuwan yang tertarik pada gejala anak-anak yang bekerja. bahkan tempat-tempat lokalisasi pun banyak ditemukan pekerja anak.

orang tua dengan anak atau antara anak dengan anak. Jumlah anggota keluarga yang besar. Menurut laporan UNICEF (1990). Volume 5. menurut Talcott fakta bahwa lebih banyak anak yang bekerja karena alasan ekonomi dibandingkan alasan-alasan budaya. anakanak sering terdorong untuk bekerja pada bidang kerja yang mengganggu tumbuh kembangnya. Jakarta dan Surabaya yang menunjukkan kesusahan ekonomi merupakan faktor pendorong utama anak bekerja. pangan. Pandangan masyarakat mengenai kesiapan anak untuk bekerja Hal ini terjadi terutama pada pandangan orang tua yang menginginkan dan menentukan kapan seorang anak sudah layak bekerja. Tetapi terdapat faktor lainnya yang turut mendorong meningkatnya jumlah pekerja anak antara lain faktor budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang melatih anak bekerja secara dini. kurangnya pendidikan yang relevan. Sebab hanya dengan memperoleh upah mereka dapat meringankan beban orang tua. Menurut Irwanto dkk. sehingga ia justru belajar bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dalam berbagai tindakan yang selalu tidak sesuai dengan harapan lingkungan sosial pada umumnya (Sadly. Kejadian ini bisa disebabkan oleh adanya pertentangan orang tua. Hal ini terjadi karena ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah utama keluarga. serta tradisi dan pola sosial yang menempatkan anak pada posisi yang rentan. Mei 2006. (1995) yang mengutip pendapat Talcott menyebutkan banyak anak bekerja karena alasan ekonomi bukan karena budaya. misalnya karena budaya masyarakat setempat. Kosa dan IK Zole dalam bukunya Proverty and Health menyatakan bahwa kondisi miskin sebagai lingkungan sosial di mana anakanak dibesarkan tidak mendukung atau membantu terbentuknya watak atau sifat-sifat pribadi yang dapat mendobrak kemiskinannya. Wanita sebagai kepala rumah tangga. Halaman 219-231 memandang banyak faktor yang menyebabkan anak-anak bekerja. berikut ini. Karena situasi ekonomi yang tidak kondusif. Hal ini berhubungan dengan beberapa kondisi keluarga miskin bahwa pola sosialisasi di mana seseorang dibimbing khusus untuk mencari pekerjaan yang layak. seperti sandang. I. Pekerja anak di sektor 226 informal di kota bekerja keras untuk mendapatkan upah. 2. pendidikan yang kurang. dianggap sesuatu yang taken for granted (Nani Indriati. minimnya tingkat pengetahuan. Apapun latar belakang yang menyebabkan mereka menjadi pekerja anak. karena kemiskinan. sehingga keberadaan anak yang dipaksakan bekerja. faktor penting yang mempengaruhi tingkat upah kerja anak. Situasi keluarga bermasalah. Nomor 2. Situasi ini sebenarnya juga berkaitan dengan struktur pasar kerja. Bagi keluarga miskin. Situasi keluarga yang sarat masalah. perubahan yang relatif cepat serta gesekan-gesekan sosial. Namun demikian penelitian Irwanto juga menunjukkan faktor pendorong lain anak-anak bekerja yaitu: 1. Kompas 25 Juli 2001). atau suami yang tidak pernah memberikan uang belanja kepada istri.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 1986: 128). karena tiga faktor utama: eksploitasi yang lahir dari kemiskinan. anak-anak bekerja pada usia yang sangat muda justru belajar dan harus mengalami sesuatu bahwa yang penting adalah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. 3. Hanya dengan upah pula si anak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri yang nota bene selalu berkembang karena gesekan-gesekan sosial dan lingkungannya (Bali Post Perspektif 26 Maret 1997). Karena cara-cara mencari nafkah dari keluarga miskin ditandai ketidakpastian dan ketidak-mantapan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. karena mereka lebih muda dieksploitasi. Sejalan dengan hal di atas. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama seorang anak terpaksa bekerja. 4. Terjadinya hal tersebut disebabkan karena terjadinya perceraian orang tua. Akan dijalankan pendapat mereka mengenai faktor-faktor anak terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga. kesadaran dan kepedulian tentang hak-hak anak oleh orang tua dan masyarakat. yang pasti dalam bekerja mereka mempunyai motivasi masing- Koleksi BPAD Prov SU . anak-anak akan segera masuk kerja yang eksploitatif. dan papan. Orang tua sering kali menganggur dan dalam usaha mencari nafkah anak-anak disuruh bekerja. Kemiskinan akan mendorong anak-anak masuk bidang pekerjan yang membahayakan. Pernyataan Talcott ini diperkuat pada penelitian Irwanto dkk. situasi ekonomi yang mempengaruhi kalau banyak lapangan kerja untuk orang dewasa harus ditutup. (1995) di Medan.

Pertama : Di kalangan anak-anak dari keluarga miskin. Berhubungan dengan hal di atas. Orang tua responden sebagian besar hanya tamatan sekolah dasar (sekitar 43 persen) dan mencari nafkah sebagai buruh tidak terampil. tekanan dari orang tua agar tetap tinggal di rumah untuk melakukan pekerjaan domestik dan tak perlu sekolah atau memasuki pasar tenaga kerja menimbulkan persoalan khusus yang sering kali justru mendorong lahirnya keputusan yang diambil oleh anak perempuan itu sendiri untuk masuk ke pasar tenaga kerja. 4. Daerah perkotaan di setiap negara telah dijadikan tempat yang paling lumrah untuk menampung surplus penduduk. Adanya pembenaran budaya bahwa sejak kecil anak harus bekerja. Karena dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kasus pekerja anak di kota-kota besar merupakan “korban” urbanisasi. Keadaan ini 227 Koleksi BPAD Prov SU . menurut Tjandraningsih. Globalisasi ide tentang gaya hidup menyebarnya budaya konsumen menyebabkan pentingnya dimulai akses terhadap uang bagi anak Kenyataan yang menunjukkan begitu banyak pengangguran di kalangan orang tua menyebabkan anak segera terjun ke dunia kerja. khususnya anak-anak yang dilahirkan dalam tekanan kemiskinan. 6. Adanya asumsi dengan bekerja bisa digunakan sarana bermain. Seperti yang dijelaskan sebelumnya adanya seperangkat kebutuhan-kebutuhan. Pekerja Anak dan Kontribusinya. Hal ini sejalan dengan pendapat Terry (1986 : 132) yang mengatakan bahwa motivasi adalah keinginan-keinginan yang terdapat pada diri individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan. 2. dari anak itu sendiri maupun dari pihak lain. Adanya paksaan dari orang yang lebih dewasa. 5. maka ia akan mencari informasi tentang daerah lain yang bisa memberi atau memenuhi kebutuhannya. bahkan motivasi timbul karena adanya kebutuhan (Abu Ahmadi. motivasi sering diartikan sebagai faktor yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu. Kebutuhan dan dorongan tadi sebenarnya merangsang anak untuk berbuat atau bertingkah laku yaitu dengan bekerja. adanya berbagai masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan tersebut memunculkan dorongan dalam diri anak untuk memuaskan kebutuhan tersebut. bekerja adalah Kedua : Ketiga : Keempat : salah satu cara untuk tetap bersekolah. Motivasi erat kaitannya dengan kebutuhan.. maka manusia akan mencari alternatif untuk melaksanakan tindakan tertentu sama dengan motivasinya (Wijaya 1987: 24). Kegiatan Ekonomi Kaum Miskin di Daerah Perkotaan Berdasarkan penelitian Irwanto (1995) dinyatakan bahwa urbanisasi dipandang signifikan terhadap problema pekerja anak. Di mana motivasi anak dalam bekerja dapat dipengaruhi dari dalam keluarga. akan merangsang orang untuk bertingkah laku. yang menyatakan bahwa dorongan utama untuk berimigrasi ke kota adalah untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. menyebabkan orang-orang desa pindah ke daerah perkotaan. masing. Adanya paksaan orang tua. 3. keberadaan pekerja anak tersebut berkaitan dengan bekerja hal yaitu: 1. kemudian terbukanya kesempatan dan harapanharapan yang tinggi untuk meningkatkan kehidupan.. 1999: 191). Apabila di suatu daerah kebutuhan ekonomi maupun nonekonomi seseorang belum terpenuhi.000 per hari. Hal ini sejalan dengan pendapat Todaro dan Stilkind (dalam Manning dan Effendi.Atika. Adanya tekanan ekonomi orang tua. Khususnya untuk anak perempuan. tentunya anak tidak terlepas dari motivasinya. Dalam menjalankan pekerjaan tersebut. 1985: 35). Sebagaimana kita ketahui bahwa dengan semakin sempitnya lahan pertanian di pedesaan. Adanya keinginan anak untuk mencari uang sendiri. Secara umum. Dengan demikian semakin banyak kebutuhan manusia. hampir 60 persen dari orang tua responden berpenghasilan kurang dari Rp 4. Hal ini juga dialami oleh pekerja anak. Lebih jauh White dan Tjandraningsih (1998: XII) dalam studi mereka tentang pekerja anak di Indonesia secara lengkap menyimpulkan sejumlah hal kontradiktif yang menjadi dilema anak di Indonesia.

di mana terdapat gedung-gedung pemerintahan dan pusat-pusat agama. buruh. Penyerahan diri pada nasib. Perkawinan sering berdasarkan konsensus. Golongan inilah yang dimaksudkan golongan miskin di kota. Keluarga bertumpu pada ibu. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sumardi dan Hans Dieter ever yang menyatakan bahwa golongan berpenghasilan rendah atau golongan miskin adalah golongan yang memperoleh pendapatan atau penerimaan sebagai imbalan terhadap kerja Koleksi BPAD Prov SU . kelas atas memiliki kecenderungan yang kuat untuk mempertahankan posisi-posisi yang menguntungkan. tukang becak dan lain sebagainya. penjual asongan. Kehidupan mereka tanpa kerahasian pribadi. pencuci mobil. c. Kegiatan rumah tangga dan kegiatan mata pencaharian terpisah. Istri terkadang bekerja sebagai tukang masak bagi keluarga kelas atas. sehingga timbullah penonjolan-penonjolan perbedaan itu dengan jalan menciptakan simbolsimbol dan tanda-tanda yang membedakan kelas yang satu dengan kelas yang lainnya. Partisipasi yang rendah dalam organisasiorganisasi sosial seperti organisasi buruh. h. Pusat kota terutama menjadi tempat permukiman orang elite. Perbedaan-perbedaan khas itu tampak selanjutnya di dalam cara berperilaku. maka timbullah berbagai macam permasalahan. Anak-anak dalam kelas bawah mengambil kegiatan perekonomian dapat sebagai penjaja makanan. politik dan lain sebagainya. Tingkat pendidikan yang rendah. Fenomena yang menonjol pada masyarakat kota adalah dikotomi dalam struktur sosialnya. Tidak jarang pula terlihat dalam keluarga kelas bawah di kota mempergunakan potensi seluruh keluarga untuk melaksanakan kegiatan perekonomian di kota. tukang parkir. f.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. tukang becak dan sebagainya. masih saja terdapat kelompok masyarakat yang hidup dalam keadaan yang menyedihkan atau tidak sesuai dengan standar hidup yang layak. b. kebanyakan mereka ini adalah orang yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pegawai rendahan di kantor-kantor dan toko-toko kecil. museum dan bank. Singkatnya mereka itu adalah para pekerja yang mempunyai pendapatan yang sangat rendah. l. Tingkat mortalitas yang tinggi atau harapan hidup yang rendah. Tidak atau jarang ambil bagian dalam perawatan medis dan program-program kesejahteraan lainnya. Oscar Lewis mengemukakan bahwa kemiskinan itu mempunyai ciri-ciri: a. k. Sedangkan kelas bawah untuk mempertahankan hidup di kota cenderung bekerja sebagai buruh kasar bangunan. Tidak memiliki persediaan makanan dalam rumah untuk hari esok. Kehidupan keluarga adalah otoriter. Halaman 219-231 menimbulkan permasalahan yang besar bagi perkotaan. p. Kalau diperhatikan bahwa masyarakat kota yang digolongkan pada ciri-ciri di atas. Perbedaan itu juga tampak dalam pola permukiman dan perkampungan di kota. juga masing-masing kelas mengawasi anggotanya dalam hal demikian itu. Sering terjadi tindak kekerasan. g. Menno. Mei 2006. baik bagi diri sendiri maupun bagi anak cucu mereka. o. Besarnya hyper masculinity complex di kalangan pria dan marty complex di kalangan wanita (S. Volume 5. Upah yang rendah atau keamanan kerja yang rendah. Meskipun kota telah mempunyai hampir seluruh fasilitas untuk meningkatkan taraf hidup 228 masyarakatnya. sehingga sering terjadi perceraian dan pembuangan anak. penyewa payung dan lain sebagainya. memiliki pendidikan yang rendah dan sering menjadi korban dari majikan-majikan yang jahat atau organisasi-organisasi kejahatan. Di sini peran istri dan anak sangat menonjol untuk turut serta dalam kegiatan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendesak. termasuk pemukulan anak-anak. penyemir sepatu. i. m. d. Tidak memiliki tabungan. Dengan memasuki daerah perkotaan. pembantu rumah tangga. yakni adanya lapisan bawah dan lapisan atas. mulai dari mencari atap untuk tempat berteduh sampai bagaimana cara mempertahankan hidup di daerah perkotaan. cara bicara dan berpakaian. Tingkat keterampilan yang rendah. j. bisa juga sebagai tukang cuci dan juga penjaga anak. Nomor 2. n. Kelas bawah bermukim di tempat-tempat seputar kota itu juga. 1992:61). Begitu juga dengan keadaan anak-anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah atau sekolah sambil bekerja untuk memperoleh penghasilan sendiri atau membantu perekonomian keluarga. Mereka biasanya tidak mempunyai keterampilan khusus. Sedikit saja memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota seperti toko-toko. e.

Profil pekerja anak secara umum mencerminkan profil kemiskinan. Keluarga miskin terpaksa mengerahkan sumberdaya keluarga untuk secara kolektif memenuhi kebutuhan hidup. Dan hal yang penting dari temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin makmur kondisi ekonomi suatu rumah tangga. Bagi mereka sekolah adalah beban. rapuh dan jauh dari jangkauan pembangunan. Akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan lajunya pembangunan antara lain seperti penyediaan fasilitas kota. tidak memiliki patron yang kuat. ILO (International Labour Organization) memperkirakan akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan jumlah anak Indonesia telah menjadi enam sampai delapan juta (Waspada 29 Juni 2002). Akibat kerentanan yang diderita. istri-istri yang tidak berpendidikan turut dalam kegiatan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendesak. Anak-anak mau tidak mau terpaksa ikut andil dalam kegiatan ekonomi rumah tangga. lemah jasmani. Studi yang dilakukan Bagong Suyanto dkk. Dan hal ini cenderung terjadi terus-menerus akibat konsumsi yang kurang layak dan jauh dari syarat-syarat kesehatan dan gizi. bekerja tentu dapat menghambat proses sekolah/belajar. Achdian Aminuddin (1995: 15) menyatakan bahwa kemiskinan yang lekat dengan golongan lapisan bawah pada sebagian terbesar masyarakat Indonesia. mereka sulit untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Hasil studi “SMERU” yang dirancang untuk mengetahui pilihan antara bersekolah dan bekerja. 1995 : VI). Hasil studi mendukung pendapat bahwa ada lingkaran setan antara kemiskinan dan pekerja anak. tetapi dipihak lain karena tidak bersekolah. Kesemuanya ini membawa efek terhadap meningkatnya jumlah kemiskinan di kota. Akibatnya muncul “orang-orang miskin baru” (Suyanto dalam Konvensi edisi ketiga). anakanak mereka juga akan masuk dalam pasar kerja dengan tingkat keterampilan yang rendah dan upah yang rendah pula. mudah tergeser. Di satu sisi kemiskinan yang membuat mereka tidak bersekolah. pekerja anak sangat mungkin akan tumbuh dewasa sebagai orang yang kurang mengenyam pendidikan dan kemungkinan besar. Kelompok inilah yang lazim disebut massa rentan. Salah satu konsekuensi dari meningkatnya kemiskinan bagi dunia anak dan pendidikan adalah 229 Koleksi BPAD Prov SU . pasokan pekerja anak kebanyakan dari rumah tangga dan kepala rumah tangga yang tidak mempunyai atau hanya berpendidikan formal sangat rendah. jika dibandingkan dengan kebutuhan pokoknya (Sumardi dan Hans Dieter ever. Seandainya pun mereka sekolah. timbullah masalah seperti pengangguran. ketika pekerja anak ini dewasa dan berkeluarga. kelompok masyarakat miskin tersebut sering jatuh sakit. Seperti yang kita ketahui bahwa krisis ekonomi yang dialami Indonesia mengakibatkan Indonesia merosot kembali menjadi negara miskin di dunia. kelompok masyarakat yang diperkirakan paling terpukul dengan adanya situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan adalah mereka yang termasuk kelompok masyarakat yang tidak stabil. hal ini juga terjadi bagi pekerja anak dengan tingkat ekonomi keluarga yang rendah. kesempatan kerja dan tanah-tanah permukiman dikota. Sebagaimana telah ditunjukkan. Tingkat kemiskinan yang semula mengalami perbaikan dan mendekati angka 20 juta. sering dijadikan sebuah alasan pembenaran terhadap praktik mempekerjakan anak dalam usaha memenuhi kebutuhan keluarga. Begitu juga dengan keadaan anakanak. semakin rendah kemungkinan adanya pekerja anak dalam rumah tangga. mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit. kejahatan. Bila diamati sebenarnya kemiskinan ini merupakan masalah yang sangat pelik. jauh dari akses pelayanan publik. Secara teoretis. bagi anak-anak usia 5-14 tahun pada masa krisis ekonomi dengan menggunakan survei 100 desa tahun 1998-1999 menunjukkan bahwa terdapat kaitan erat antara pekerja anak dengan kemiskinan.. Di wilayah perkotaan keberadaan kelompok tersebut dengan mudah ditemui di permukiman kumuh atau perkampungan liar di sudut-sudut kota. baik oleh orang tuanya sendiri maupun pihak pengusaha. karena terlalu banyak biaya yang dikeluarkan dan kurang dapat memberikan jaminan akan masa depan yang lebih baik.. ternyata kemudian melonjak beberapa kali lipat kembali. pendidikan merupakan masalah/persoalan yang dilematis. Pekerja Anak dan Kontribusinya.Atika. (1997-1998) menunjukkan bahwa kelompok masyarakat miskin umumnya buta hukum. terisolasi dari informasi dan koneksi. kelompok marjinal atau masyarakat miskin. Kondisi demikian mendorong anak-anak yang belum mencapai usia untuk bekerja terpaksa harus bekerja. sehingga sangat tergantung pada sedikit penghasilan tertentu.

Bina Aksara. untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga. Penelitian Kualtatif. Sosiologi Perkotaan. Malang Fisip. Halaman 219-231 terjadinya penurunan angka partisipasi anak-anak yang bersekolah. Asih Asuh. Jakarta Faisal. 1990. dan adanya sejumlah besar orang miskin pedesaan yang bersedia menambah jumlah orang miskin di perkotaan. Peran seorang anak dalam keluarga miskin sebagai salah satu pencari nafkah dalam keluarga akan terganggu. Dieter Hans. Pemerintah perlu membentuk zona-zona bebas pekerja anak. sehingga kesadaran akan kedudukan anak sebagai generasi penerus yang harus dirintis masa depannya bagi orang tua meningkat. membeli alat-alat elektronik. dalam Konvensi edisi ketiga). Menurut perkiraan Bapenas. Tampaknya anak bekerja merupakan suatu pilihan dalam keadaan sosial ekonomi yang demikian. hasil kerja mereka. LP3ES. Alan.8 juta menjadi 8 juta pertahun (Tjandraningsih dkk. tentu masih ada masalah lain yang tersisa. diberikan kepada orang tua. Kendati kebiasaan untuk melatih anak bekerja sejak dini bukanlah hal yang baru. Sanafiah. dari 2. maka makin besar persentase dari seluruh penduduk kota yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan kata lain mungkin akan terjadi. potensi angka putus sekolah meningkat tajam. Nomor 2.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. karena krisis. 2003. 2. misalnya untuk membeli pakaian. biaya sekolah. Rapid Assesment Child Labour in Off Shore Fishing. Mei 2006. Motivasi anak untuk bekerja antara lain untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh orang tua. khususnya di kalangan keluarga miskin. Rineka Cipta. Pada dasarnya anak bekerja tidak terlepas dari kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah (miskin/serba kekurangan). memang mau tak mau harus tetap hidup di kota-kota besar untuk jangka waktu yang lama. Jakarta Ever. Penelitian. Seandainya biaya pendidikan dasar dibiayai pemerintah secara menyeluruh. menikmati hiburan. dan menabung (untuk beberapa/sedikit orang). Saran Kemiskinan sering sekali dijadikan alasan secara langsung dan tidak langsung untuk memaksa anak agar mau terjun ke dunia kerja. dan ingin mempunyai penghasilan sendiri. diperkirakan jumlahnya melonjak cukup besar. USU & ILO IPEC. kecuali apabila ada perkembangan yang cepat sekali dalam perluasan kesempatan kerja serta permukiman. 1985. Makin besar laju perpindahan dari desa ke kota. Arus urbanisasi di kota-kota besar sebagai proses perpindahan penduduk dari desa ke kota merupakan masalah yang perlu diperhatikan. mengingat biaya yang tidak dapat mereka jangkau. Dan yang memprihatinkan. Suharsimih. Sejumlah besar rakyat miskin. Psikologi Sosial. Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia cukup tinngi dan golongan ini merupakan penghuni terbesar di dalam masyarakat perkotaan. maka sulit rasanya keluarga mengirimkan anaknya ke sekolah. Jakarta Prosedur Arikunto. dasar-dasar dan Aplikasi. 1992. Kenyataan aspek demografi di Indonesia adalah cepatnya pertumbuhan penduduk. 1985. Jakarta Kesimpulan 1. bersamaan dengan makin tingginya kecenderungan anak putus sekolah adalah kemungkinan bertambahnya anak-anak usia sekolah yang terpaksa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Volume 5. Daftar Pustaka Ahmadi. kemampuan keluarga untuk memperoleh pendapatan akan berkurang. tetapi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pertengahan tahun 1997 lalu. Akibat dari kemiskinan. Hal ini menggambarkan bahwa diperlukan adanya koordinasi antara usaha-usaha pendidikan dengan usaha-usaha yang memberi perhatian pada masalah kemiskinan. bahwa daerah pedesaan akan mengekspor kemiskinannya ke kota melalui urbanisasi. Sehingga apabila si anak bersekolah. Hal ini merupakan jawaban pada fakta: demikian mudahnya orang tua menyuruh anak terjun ke dunia kerja dan begitu mudahnya orang tua mengabaikan sekolah anak. Motivasi ini terlihat dari alokasi uang 230 Koleksi BPAD Prov SU .

Surya. PT Gramedia.. Jakarta Sumarnonugroho. Psikologi Praktis. 1992. 1985. Children at Work. Rajawali Press. Pengangguran dan Sektor Informal di Kota. Anak. Pembangunan Bunga Rampai Antropologi Terapan. Koleksi BPAD Prov SU 231 . 1986. Jakarta Manning. Buruh Anak Jermal.Atika. Singgih. LP3ES. 1995. Jakarta Mendelevic. Geneva ILO. 1991. A. POusat Kajian dan Perlindungan Anak. 1990. Kemiskinan Perkotaan. Jakarta Gunawan. Psikologi Sosial. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. T. Parsudi. Gunung Mulia. LAAI. Gerungan. Eresco. Medan Kartono. Dehumanisasi Anak Marginal. 1984. PT Hanindita Graha Widya. Kartini. W. Yayasan Obor. Ahmad. 1986. Saparna. 1991. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Jakarta ILO IPEC. 1986. Jakarta Sofyan. 1985. Gelandangan. Rajawali. Psikologi nak dan Remaja. Yusuf. Urbanisasi. Bandung Rogers & Standing Guy. Pekerja Anak dan Kontribusinya. Yogyakarta Widyaja. Child Work Poverty and Underdevelopment. LP3ES.. Pressindo. 1996. Genewa. Mulandar. Akatiga. Bandung Gunarsa. 1991. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Sadly. 1986. Remaja. dan Keluarga. Kondisi Pekerja Anak Jermal di Kawasan Perairan Pantai Timur Sumatera Utara. Jakarta. Jakarta Masalah-masalah Kuntjaraningrat. Jakarta di Sumardi & Hans Dieter Ever. 1995. Medan Suparlan. Gramedia. Chris dan TN Effendi. Pernanan Motivasi dalam Kepemimpoinan Akademi.

.

08153136263 . Fax (061) 8211633 HP. Sofyan No.P JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL emberdayaan Komunita S INFORMASI BERLANGGANAN Biaya Berlangganan: (Termasuk Biaya Pengiriman) dengan pos udara Pulau Sumatera Rp 60. 20155 Telepon (061) 8211965.000 (enam puluh ribu rupiah) per tahun Luar Pulau Sumatera Rp 90. Matias Siagian No.n. 1 Medan. Rekening: 106-00-9302992-7 Informasi lebih jelas dan lengkap dapat diperoleh pada: Redaksi Pemberdayaan Komunitas (Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial) Kantor Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Jalan Dr.000 (sembilan puluh ribu rupiah) per tahun LEMBAR PEMESANAN LANGGANAN Nama Alamat Kota Telepon Instansi : _______________________________________________ : _______________________________________________ : ________________________ Kode Pos ____________ : ______________ Fax _____________ e-mail_________ : _______________________________________________ _______________________________________________ Pemesanan Tahun Terbitan : _________________________________ Pembayaran Tunai Transfer Transfer melalui: Bank Mandiri Cabang USU Medan A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful