P. 1
Jurnal PK Mei 2006

Jurnal PK Mei 2006

|Views: 374|Likes:
Published by hanturaya67

More info:

Published by: hanturaya67 on Nov 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

P

JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL

emberdayaan Komunita

S

ISSN 1412-6133 Volume 5, Nomor 2, Mei 2006 Hal. 117 – 231

DAFTAR ISI
Matias Siagian Ratih Utamaningsih & Hayaruddin Siagian Fahru Izhar & Edward Fronner M. D. S. Mulatua P. Silalahi Mai Yusra & Hairani Siregar Erika Revida Tuti Atika Masalah Ketenagakerjaan dan Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional...........................……………………. Implementasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Keluarga Karyawan PT Asam Jawa Medan.........…………………………..………................... Analisis Tingkat Kesejahteraan Pensiunan pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan.....……. Tinjauan Implementasi Hak Normatif dan Kesejahteraan Karyawan PT H. M. Sampoerna Sales Division Batam............ Pendidikan dan Pelatihan Entrepreneurship sebagai Alternatif Pembukaan Lapangan Kerja Seluas-luasnya.......... Program Pemberdayaan Anak Jalanan oleh Yayasan AKMI Medan...................................................................... Sistem Kekerabatan Masyarakat Suku Batak Toba Sumatera Utara........................................................…….... Pekerja Anak dan Kontribusinya dalam Ekonomi Rumah Tangga...........................................……….…….................

117 – 131

132 – 150 151 – 167 168 – 181 182 – 185 186 – 212 213 – 218 219 – 231

PK (JIKS)

Vol. 5

No. 2

Hal. 117 – 231

Medan, Mei 2006

ISSN 1412-6133

2

MASALAH KETENAGAKERJAAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL
Matias Siagian Abstract
The unemployment problem in Indonesia is the product of two contradictory conditions. The first, natural resources counted the widespread land and sea. The second, field of work is limited and it is not proportional to the employee which always grow very fast. This bad condition is very sad, especially know there are many islands in Indonesia still virgin and have not touched. The unemployment problem as macro problem and the root or source of many social problems in Indonesia is not only as a contribution of the small investation but also caused of unsuitability of competency and skill of employee to qualification demanded by employee user institutions. So Indonesia need the new education development policy. Keywords: education policy, unemployment, life skill

Pendahuluan
Masalah pengangguran merupakan masalah makro ketenagakerjaan. Selanjutnya masalah pengangguran berubah wujud sehingga bukan lagi sekadar masalah, melainkan menjadi akar permasalahan. Sebagai suatu akar permasalahan, maka pengangguran akan mengakibatkan kemiskinan, peningkatan angka kriminalitas seperti pencurian, perampokan, penodongan, bahkan pelacuran. Di samping itu pengangguran yang dialami orang tua dalam suatu keluarga sangat rentan terhadap terjunnya anak ke dunia kerja. Di Jawa Tengah saja, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) mencatat terdapat 10.477 orang anak dipekerjakan. Secara nasional, jumlah anak yang dipekerjakan bahkan mencapai setengah juta orang (Kompas, 19 September 2006: 24). Dari berbagai tayangan di televisi tentang demikian tragisnya nasib tenaga kerja Indonesia di luar negeri pada umumnya dan tenaga kerja wanita Indonesia pada khususnya terdeteksi bahwa kepergian mereka ke berbagai negara bukan merupakan pilihan utama, apalagi citacita, melainkan merupakan keterpaksaan. Pada umumnya mereka berasal dari daerah pedesaan.

Bekerja di negara lain merupakan jalan keluar terhadap permasalahan ketidakseimbangan antara luas lahan di pedesaan dengan penduduk di sana. Hal ini merupakan konsekuensi logis di mana sektor pertanian masih berada di urutan pertama penyerapan tenaga kerja di pedesaan. (Simanjuntak, 1994: 43). Pada tahun 2004 penulis dengan beberapa orang dosen FISIP USU berkunjung ke Malaysia. Selain mengunjungi beberapa Perguruan Tinggi di negeri jiran yang memang mengalami kemajuan yang teramat cepat dalam pendidikan, kami juga berkunjung ke KBRI di Kuala Lumpur. Di sana, selain melakukan seminar kecil dengan beberapa pejabat tinggi KBRI, tidak lupa kami juga mengunjungi tempat penampungan TKI bermasalah yang memang tempatnya di bagian belakang kompleks KBRI. Salah seorang TKI bermasalah dan terangkat ke permukaan melalui berbagai media adalah Nirmala Bonat. TKI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini mengalami penganiayaan yang luar biasa, terutama dari majikan perempuannya di Malaysia. Melalui perbincangan dan menyaksikan sendiri, diketahui bahwa di sekujur tubuh Nirmala, termasuk di dada dan punggungnya terdapat

Matias Siagian adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU

Koleksi BPAD Prov SU

117

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 117-131

luka bakar akibat disetrika dan mendapat siraman air panas dari majikan. Selain itu, di bagian kepalanya juga terdapat luka dan memar. Nirmala hanyalah salah seorang dari ribuan orang yang mengalami penderitaan di negeri orang. Harus diakui bahwa kisah TKI yang mendapat siksaan, dianiaya, diperkosa, ditipu, tidak dibayar gajinya, terjun dari gedung tinggi, hingga meninggal tanpa diketahui pasti penyebabnya sejak dahulu merupakan langganan berita yang ditayangkan di berbagai media massa. Berbagai pihak menunjuk keberadaan PJTKI nakal sebagai biang keladinya, di mana mereka tidak bertanggung jawab dan hanya mencari keuntungan (Kompas, 27 Juni 2004: 23). Terlepas dari tidak bertanggung jawabnya PJTKI dan tidak manusiawinya banyak majikan di negeri orang, terdapat suatu hal yang harus kita sadari sebagai suatu akar permasalahan, yakni ketidakseimbangan antara supply dan demand tenaga kerja nyata-nyata mengakibatkan tenaga kerja Indonesia, baik yang bekerja di dalam negeri maupun yang bekerja di luar negeri merupakan akar permasalahan dari masalah ketenagakerjaan sebagai suatu masalah besar dan kompleks di Indonesia. Kajian ilmiah tentang penyelesaian masalah menyatakan bahwa suatu masalah hanya dapat dipecahkan secara tuntas jika penyelesaian masalah itu menyentuh substansinya. Substansi sebuah masalah adalah “akar permasalahan” itu (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas, 2004: 31). Jika kita hanya menyelesaikan masalah, berarti penyelesaian masalah yang sama tidak akan pernah tuntas, bahkan akan terjadi akumulasi masalah di masa mendatang, karena kita hanya akan menyelesaikan masalah lama, sedangkan masalah yang baru datang terus, sehingga terjadi peningkatan jumlah masalah, karena pertumbuhan masalah selalu lebih tinggi dari penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dalam penyelesaian masalah tersebut. Oleh karena itu upaya penyelesaian masalah ketenagakerjaan di Indonesia harus menyentuh substansinya, yakni pengangguran. Selagi ada ketidakseimbangan antara penawaran dengan permintaan tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, maka para pekerja tidak akan memiliki bargaining power terhadap majikan. Akibatnya, majikan, baik dalam bentuk
118

keluarga maupun perusahaan akan selalu bebas melakukan apa saja terhadap para pekerja.

Konsep-Konsep Ketenagakerjaan
Sebelum kita memasuki wilayah masalah ketenagakerjaan di Indonesia, ada baiknya jika kita memahami terlebih dahulu tentang konsepkonsep yang ada dalam “ketenagakerjaan”, yang tergolong konsep-konsep makro dan umum. Bagaimanapun, dalam upaya melakukan pengukuran besarnya angkatan kerja, angka pengangguran, kesempatan kerja, maupun aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan konsep makro ketenagakerjaan, maka masalah konsep dan definisi yang dipakai perlu dipahami, karena terdapat peluang bagi perbedaan konsep dan definisi yang dianut atau dipakai di mana hal tersebut akan mengakibatkan perbedaan makna sebagai konsekuensi logis dari konsep-konsep yang berbeda tersebut. Referensi “waktu” yang dipakai untuk menilai apakah seseorang bekerja atau sedang mencari pekerjaan misalnya, akan mempengaruhi besarnya angka angkatan kerja dan reit partisipasi angkatan kerja, reit pengangguran, dan perimbangan antarsektor dari penduduk yang tergolong angkatan kerja. Angkatan kerja (labour force) merupakan konsep yang menunjukkan economically active population. Sebaliknya, yang bukan angkatan kerja adalah mereka yang tergolong noneconomically active population. Konsep man power juga menunjuk pada labour force. Konsep ini berbeda dengan konsep penduduk usia kerja, karena tidak semua penduduk usia kerja tergolong dalam konsep angkatan kerja. Penetapan usia kerja sendiri tidak lepas dari masalah-masalah, antara lain umpamanya di suatu masyarakat banyak anak yang tidak tergolong ke dalam usia kerja tetapi kenyataannya bekerja. Sebagai contoh terjunnya anak usia sekolah ke dunia kerja justru disebabkan oleh pengangguran orang tua, dengan tujuan untuk membantu keluarga. Sementara mungkin banyak orang yang tergolong usia pensiun, akan tetapi masih bekerja. Dalam perkembangan terminologi ketenagakerjaan di Indonesia antara lain istilah buruh yang diupayakan diganti dengan istilah pekerja. Hal ini sebagaimana diusulkan oleh

Koleksi BPAD Prov SU

Siagian, Masalah Ketenagakejaan...

Pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja pada saat Kongres Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) Ke-2 Tahun 1985. Alasan Pemerintah menggunakan istilah pekerja dan meninggalkan istilah buruh adalah karena istilah buruh dianggap kurang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Istilah buruh lebih cenderung menunjuk pada golongan yang selalu ditekan dan berada di bawah pihak lain, yakni majikan. Perubahan istilah ini memang sangat logis, namun jika perubahan istilah tersebut tidak diikuti dengan perubahan nasib, kebijakan, dan keberpihakan pemerintah terhadap buruh, maka perubahan istilah tersebut sesunguhnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Pada Ayat (1) Pasal 3 Undang-Undang No. 25 tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa “pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja di luar maupun di dalam hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah”. Dari pengertian pekerja tersebut jelaslah bahwa hanya angkatan kerja yang sudah bekerja yang dapat disebut sebagai pekerja. Di sisi lain, untuk jaminan kecelakaan kerja dalam perlindungan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) berdasarkan UndangUndang No. 3 Tahun 1992, maka pengertian “pekerja” diperluas, sehingga di dalamnya termasuk: 1) Magang dan murid yang bekerja pada perusahaan, baik yang menerima upah maupun yang tidak; 2) Mereka yang memborong pekerjaan kecuali jika yang memborong adalah perusahaan; 3) Nara pidana yang dipekerjakan di Perusahaan (Husni, 2001: 23) Reit Partisipasi Angkatan Kerja dapat dinyatakan sebagai jumlah penduduk yang tergolong angkatan kerja per 100 penduduk usia kerja. Dalam hal ini, usia kerja dapat didefinisikan sebagai penduduk yang berusia 10 – 64 tahun. Selanjutnya Reit Partisipasi Angkatan Kerja dapat juga dihitung untuk tiap golongan umur dan jenis kelamin. Misalnya, untuk penduduk laki-laki, golongan umur 15 – 19 tahun. Di era modern, Reit Partisipasi Angkatan Kerja umumnya rendah pada usia muda dan tua. Masalahnya, sesuai dengan hak-hak anak, maka sebagian mereka yang berusia muda masih bersekolah, sementara sebagian mereka yang

berusia tua tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Biasanya Reit Partisipasi Angkatan Kerja untuk penduduk perempuan lebih rendah dari penduduk laki-laki. Hal ini terlihat dari hasil Sensus Penduduk 2001. Dengan demikian dapatlah kita ketahui bahwa Reit Partisipasi Angkatan Kerja merupakan hasil perbandingan antara angkatan kerja dengan penduduk usia kerja. Sebaliknya Reit Pengangguran hanya mempersoalkan komponen-komponen angkatan kerja, yaitu yang bekerja dan yang sedang mencari pekerjaan. Reit Pengangguran dapat didefinisikan sebagai jumlah penganggur per 100 orang yang tergolong angkatan kerja. Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk, dapat diketahui jumlah penduduk yang bekerja biasanya dipandang sebagai fenomena yang mencerminkan jumlah kesempatan kerja yang ada. Dalam pengertian ini maka “kesempatan kerja” bukanlah “lapangan pekerjaan yang masih terbuka”, walaupun komponen yang terakhir ini akan menambah kesempatan kerja yang ada di masa mendatang. Memang dalam suatu waktu “lapangan pekerjaan yang masih terbuka” cukup banyak, sementara jumlah pencari kerja (penganggur) banyak pula. Hal ini dapat terjadi karena kurang baiknya distribusi “lapangan pekerjaan yang masih terbuka” yang mana hal seperti ini bertalian pada penyebaran penduduk yang tidak merata, atau karena alasan yang justru dominan saat ini, di mana keterampilan yang dituntut oleh pengguna angkatan kerja justru tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki para penganggur atau para pencari pekerjaan. Pada kenyataannya tidak semua negara melalui pemerintah mampu menyediakan kesempatan kerja atau lapangan kerja bagi semua angkatan kerja yang ada di negara tersebut. Akibatnya, migrasi tenaga kerja dari satu negara ke negara lain menjadi alternatif menarik. Di era perdagangan bebas ini tentu terjadi tingkat kebebasan yang lebih nyata yang didukung oleh sarana dan prasarana transformasi, komunikasi, dan informasi yang makin lancar dan canggih. Dengan demikian, migrasi tenaga kerja Indonesia, misalnya terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan dalam rangka memperoleh kesempatan di bidang ekonomi pada umumnya dan pekerjaan pada khususnya. Sebagai respons masyarakat terhadap sulit bahkan tertutupnya memperoleh
119

Koleksi BPAD Prov SU

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 117-131

pekerjaan di dalam negeri, maka banyak di antara angkatan kerja menyadari tekanan yang nyata, sehingga melakukan migrasi ke negara yang menjanjikan adanya kesempatan kerja bagi mereka dengan kesejahteraan yang baik pula. Pada umumnya migrasi tenaga kerja diawali dengan migrasi intern negara, dalam arti perpindahan angkatan kerja dari suatu daerah ke daerah yang kelebihan tenaga kerja dan berpenghasilan rendah menuju daerah yang kekurangan tenaga kerja dan dapat menawarkan upah yang lebih tinggi dari daerah asal (Bandiono, dalam Arief, 1999: 8). Dalam arti luas, migrasi adalah perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen. Dalam hal ini tidak ada pembatasan, baik pada jarak perpindahan maupun sifatnya, yakni apakah tindakan itu bersifat suka rela atau terpaksa. Juga tidak diadakan perbedaan antara migrasi dalam negeri dan migrasi ke luar negeri. Stahl membedakan manfaat migrasi internasional pada tingkat negara dan perusahaan pemakai tenaga kerja. Pada tingkat negara, migrasi internasional berpotensi untuk: 1) mengurangi pengangguran negara pengirim jasa tenaga kerja; 2) sumber devisa bagi negara pengirim tenaga kerja; 3) meningkatkan keterampilan bagi tenaga kerja, karena di samping memperoleh upah tentu juga memperoleh pengalaman kerja yang akan menjadikan mereka lebih terampil; 4) memperbaiki kesejahteraan material melalui peningkatan pendapatan per kapita. Sementara jika kita lakukan analisis yang sama di tingkat perusahaan, maka pekerja asing memungkinkan: 1) perusahaan merealisasi economics of scale, hal ini merupakan akibat kurangnya tenaga kerja di negara tempat di mana perusahaan itu berada atau kurangnya tenaga kerja terampil sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan yang bersumber dari angkatan kerja negara di mana perusahaan itu berada; 2) mencegah inflasi upah pada industri-industri yang mengalami kekurangan tenaga kerja, hal ini merupakan konsekuensi logis di mana jika permintaan tenaga kerja lebih besar dari penawaran tenaga kerja akan mengakibatkan peningkatan bargaining power bagi tenaga kerja sehingga mereka akan menuntut peningkatan upah; 3) memungkinkan investasi dengan menjamin bahwa suatu fasilitas dapat dijalankan oleh staf yang memadai, hal ini merupakan tuntutan kualifikasi spesifik tenaga kerja yang
120

dibutuhkan oleh suatu perusahaan dalam proses produksi barang maupun jasa; 4) memungkinkan negara-negara untuk menyesuaikan suplai tenaga kerja sesuai dengan dinamika kegiatan ekonomi, hal ini merupakan dampak dari fakta di mana pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan pertumbuhan investasi tidak selalu sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja di negara tersebut; dan 5) menyediakan labor services tanpa membiayai pembentukan human capital yang diperlukan, hal ini merupakan akibat kedatangan tenaga kerja terampil yang berasal dari negara lain, sehingga negara tersebut tidak perlu melakukan upaya besar untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja yang ada di negaranya.

Permasalahan Tenaga Kerja
Krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak akhir tahun 1997 melahirkan akibat negatif terhadap perekonomian nasional pada umumnya dan kesempatan kerja pada khususnya. Di samping itu dalam jangka panjang Indonesia mengalami instabilitas dalam bidang ekonomi. Kondisi negatif ini antara lain dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang defisit sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto. Kondisi mana menuntut Indonesia harus mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang minimal mencapai 6 persen. Hal ini merupakan tuntutan, di mana pertumbuhan ekonomi merupakan satu-satunya jawaban terhadap pengangguran yang angkanya makin membengkak, dan juga pertumbuhan angkatan kerja Indonesia yang tetap tinggi. Indonesia dituntut mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar dapat menyerap tenaga kerja yang sebesar-besarnya. Sebelum Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berlanjut pada krisis multidimensi, pengangguran sudah merupakan masalah besar nasional. Namun krisis ekonomi yang melanda Indonesia justru mengakibatkan masalah pengangguran tersebut makin parah. Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2003 misalnya hanya 3,3 persen, sementara setiap satu persen PDB hanya mampu menyerap 400 ribu tenaga kerja. Dengan demikian maka pada tahun 2003 tenaga kerja yang terserap hanya sekitar 1,6 juta orang. Padahal setiap tahun pertumbuhan angkatan kerja Indonesia mencapai 3 persen. Tingginya jumlah

Koleksi BPAD Prov SU

560 89. Di sisi lain terjadi pertumbuhan angkatan kerja. Bahkan kondisi di atas juga bertentangan dengan kondisi nyata saat ini. Data BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2000. Dominannya sektor pertanian dalam menampung tenaga kerja sebenarnya bukanlah karena sektor pertanian ini masih memiliki pesona bagi penduduk. karena seringnya kebijakan 121 Koleksi BPAD Prov SU .756 3. Sakernas 2000 Jumlah 40.03 persen. seperti sektor industri dan jasa. di mana terjadi arus urbanisasi yang sangat tinggi. sehingga lapangan kerja yang tercipta hanya untuk 1.009 522. 12 Januari 2004). di mana angka pengangguran mencapai 11. Akibatnya. termasuk di dalamnya angkatan kerja baru berjumlah 2. bahwa dalam lima tahun ke depan gambaran soal angka pengangguran di Indonesia masih menunjukkan kondisi yang sangat suram. Suara Merdeka.83 juta orang. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2004 dan 2005 masing-masing 4. atau mencapai 10. perkantoran.553.88 juta orang. sepakbola.83 juta orang. sehingga mengakibatkan angka pengangguran terbuka tahun 2004 meningkat manjadi 10.855 882.75 juta orang (Djimanto. pemerintah sepertinya belum memiliki political will yang baik bagi para petani. yang berarti bahwa semua departemen dan kementerian semestinyalah ikut bertanggung jawab untuk mengurangi jumlah pengangguran (Waspada. Hal ini terjadi. masalah pengangguran tak kentara di sektor pertanian sudah makin tinggi. yang rata-rata 3% per tahun.676. di mana sektor ini tidak menuntut kualifikasi yang ketat dibandingkan dengan sektor lain. sarana olah raga seperti lapangan golf. sektor pertanian masih tetap dominan dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) misalnya memperkirakan.49 persen dan 5.3 % dari jumlah tenaga kerja yang bekerja hampir 90 juta orang. “solidaritas”.837. Disebut sangat suram. ada baiknya kita ketahui distribusi tenaga kerja berdasarkan sektor di mana dia bekerja.713 11. Hotel/ Restoran Angkutan.498. Persewaan Jasa Kemasyarakatan Lainnya Jumlah Sumber: BPS.497..45 persen dari angkatan kerja yang ada. Di sisi lain. Hal ini menunjukkan bahwa sesunguhnya rasio lahan dengan jumlah penduduk di daerah pedesaan sudah makin mengkhawatirkan.574. 29 April 2003: 12). Peningkatan angka pengangguran terbuka ini terus berlanjut hingga tahun 2005.730 Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui bahwa sektor pertanian merupakan jumlah paling dominan. Masalah Ketenagakejaan. Asuransi. Di bawah ini data jumlah pekerja menurut sektor ekonomi tahun 2000. Komunikasi Keuangan. Untuk membuka cakrawala kita terhadap permasalahan tenaga kerja ini.232 18. mencapai 40 juta orang lebih atau sekitar 45. Kondisi ini menimbulkan proses pembagian kemiskinan di antara orang-orang miskin demi menjunjung tinggi satu semboyan.600 9. Unjuk rasa petani dan organisasi yang memberi perhatian pada nasib petani merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia.10 juta orang. pengangguran ini merupakan masalah lintas sektoral. Distribusi Pekerja Menurut Sektor Ekonomi Tahun 2000 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sektor Pertanian Industri Pengolahan Bangunan Perdagangan.32 persen dari angkatan kerja yang ada.Siagian. Tambahan lapangan kerja yang tercipta hanya 10. Tabel 1. karena tidak akan tersedianya lapangan kerja yang cukup untuk angkatan kerja yang ada.641.19 juta orang atau 10. Tahun 2004 angkatan kerja akan mencapai 102. Kondisi seperti ini terjadi karena pada umumnya penduduk usia kerja hanya memiliki kemampuan untuk bekerja di sektor pertanian. Hal ini berarti bahwa penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru.005 4.. dan lain-lain. Kondisi mana tentu sangat kontradiktif dengan fakta yang ada di mana lahan yang tersedia justru menurun luasnya sebagai akibat dari pembangunan perumahan.

Hal ini antara lain terlihat dari. dan Serikat Pekerja atau Serikat Buruh (SIB. kepercayaan diri si penganggur akan hilang dan akan timbul rasa malas dan pesimis untuk mencari pekerjaan lagi (Sukirno. Hal ini tentu sangat meresahkan masyarakat. dengan tuntutan yang bersifat nonnormatif. karena kegiatannya tidak ada sehingga memiliki waktu senggang yang sangat lama. 1991: 173). dan bantuan uang transport. pengangguran dapat menimbulkan dampak negatif. Dengan demikian pidato para pejabat yang sering mengesankan sesungguhnya hanya lipstik politik yang tidak berdampak apapun bagi petani. yang meliputi 101. Sebagai contoh. dan juga tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusiaan lainnya. Tindakantindakan kriminal ini dilakukan oleh para penganggur. dengan tidak memperhatikan nasib orang lain. Di samping itu seringnya KUD hanya berupa plang nama. Penyelesaian kasus PHK dan PHI dilakukan melalui Lembaga Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah (P4D) Sumatera Utara. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merupakan fenomena yang sering terjadi sejak Indonesia mengalami krisis multidimensi. yang meliputi 135. Jika dilihat dari sisi ekonomi. Pengangguran yang tinggi akan mengakibatkan timbulnya berbagai masalah sosial dan ekonomi. Pihak yang sering memanfaatkan kondisi tersebut adalah para calo tenaga kerja ke luar negeri yang berlomba-lomba merekrut calon tenaga kerja.486 kasus. Menurut data di Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. seperti bantuan uang makan. Karena Koleksi BPAD Prov SU . Nomor 2. Ketidakseimbangan antara luas lahan pertanian dengan penduduk di daerah pedesaan menjadikan informasi dari para calo TKI sebagai berita yang sangat menarik. Jumlah kasus Pemutusan Hubungan Kerja selama 2003 meningkat sekitar 4. sebagai bukti bahwa pemerintah belum berpihak pada petani yang justru merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Para calo tenaga kerja ini mengutamakan tenaga kerja yang minus keterampilan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. kebijakan pupuk yang justru sering mencekik leher para petani. sehingga tidak dapat lagi mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya jika akan bekerja. Sementara itu tuntutan nonnormatif yang muncul dan terdeteksi tahun 2003 secara umum telah dapat diselesaikan secara tripatrit di tingkat perantaraan oleh pegawai perantara Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 3 Mei 2003: 9). terutama tenaga kerja wanita ke desa-desa yang dianggap minim informasi. maka pengangguran dapat merugikan diri sendiri dan keluarga. pembunuhan. Pengangguran dalam jangka waktu yang lama juga akan mengakibatkan keterampilan kerja yag dimiliki seseorang lama kelamaan akan berkurang atau bahkan hilang. Mei 2006. pengrusakan. Pengusaha. Jumlah tersebut tentu belum termasuk pada kasus dan jumlah pekerja yang ter-PHK. Dalam hal ini terjadi kenaikan sebesar 18 persen kasus PHK dan 34 persen pada jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam kasus tersebut. pemerintah belum memiliki sikap yang benar-benar konsekuen dalam menampung produk pertanian dengan tingkat harga yang menjamin kesejahteraan petani itu sendiri.127 tenaga kerja. Pemutusan Hubungan Kerja tersebut melibatkan 756 tenaga kerja serta 12 kasus merupakan Perselisihan Hubungan Industrial (PHI). selama 2004 telah menyelesaikan 508 kasus Pemutusan Hubungan Kerja. Dilihat dari segi sosial.806 kasus. Fakta mana mengundang berbagai pihak untuk memanfaatkan kondisi buruk perekonomian Indonesia untuk kepentingan diri sendiri. di mana mereka akan ditempatkan sebagai PRT. Volume 5. yang terdiri dari unsur Pemerintah. Diperkirakan 90 persen angka kejahatan atau tindakan kriminal dilakukan oleh para penganggur. Halaman 117-131 pemerintah tidak sesuai dengan kepentingan para petani. Para calo ini mengiming-imingi gaji yang tinggi sebagai perbedaan utama antara bekerja di negara lain dengan bekerja di negeri sendiri. yang tidak melaporkan diri ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.421 tenaga kerja. kebijakan impor beras. sebelum akhirnya ia dipecat dan menjadi pengangguran. Artinya. Pemutusan Hubungan Kerja tentu akan menambah jumlah atau angka pengangguran di 122 Indonesia. sehingga berpeluang untuk diisi dengan kegiatan yang negatif. Di samping itu. pencurian. Buruknya rasio antara angkatan kerja dan lapangan kerja mengakibatkan mencari pekerjaan ke negara lain merupakan alternatif yang mau tidak mau harus ditempuh. Tindakan kriminal tersebut antara lain pemerkosaan. meskipun dengan risiko yang amat berat. si penganggur akan menjadi tanggungan dari anggota keluarga yang bekerja (angka ketergantungan) dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan tahun sebelumnya sebanyak 3.

com). karena mereka juga akan mendapat bagian dari majikan atau perusahaan tempat di mana TKI tersebut nantinya bekerja.. bukan sebagai PRT. meskipun sesungguhnya hal semacam ini sudah merupakan masalah yang cukup besar. calon TKI menyatakan ingin bekerja di sektor industri. Mukminah adalah salah seorang di antara 10 orang TKI yang sudah berada di Bandara Internasional Dubai selama dua hari.. Mereka tertipu tentang jenis pekerjaan yang akan dilakukan. kualitas TKI masih berada di bawah kualitas tenaga kerja yang berasal dari negara lain. Jacob Nuwa Wea menemukan 10 TKI wanita yang ditempatkan secara ilegal oleh PJTKI yang justru memiliki Surat Ijin Usaha Penempatan resmi. sebelumnya para calo TKI menjanjikan akan menempatkan mereka di sebuah perusahaan elektronik. Masalah Ketenagakejaan. Kemampuan para calo dalam memikat calon TKI justru tidak diimbangi dengan profesionalisme mereka dalam mengelola pengiriman jasa TKI.jurnalindonesia. Dalam kondisi seperti ini maka upah yang diterima masih berada di bawah upah tenaga kerja asing yang berasal dari negara lain. bahkan mereka dipaksa menjadi pekerja seks komersial. Permasalahan lain yang sering menimpa TKI di negara lain adalah banyaknya TKI yang berstatus ilegal. dengan tujuan: “pokoknya calon TKI mau berangkat ke negeri jiran. atau jika dilakukan hanya sekedar. Atau mereka dijanjikan akan bekerja di sebuah pabrik elektronik. Hingga keberangkatannya. namun kenyataannya mereka justru ditempatkan di rumah penduduk di negeri jiran sebagai PRT. Contoh. maka calo TKI melakukan penipuan. Permasalahan lain yang sering terjadi bahwa TKI ternyata ditipu oleh calo tenaga kerja yang sering gentayangan di desa-desa. ternyata mereka dipaksa bekerja di sektor hiburan. Hal ini antara lain terjadi karena TKI yang umumnya direkrut dari pedesaan tidak memiliki pengetahuan tentang visa. Hasil survei yang dilakukan suatu lembaga internasional terhadap kualitas tenaga kerja yang berasal dari 12 negara di Asia menunjukkan bahwa kualitas tenaga kerja asal Indonesia menempati urutan terbawah. mereka akan ditempatkan bekerja di Perusahaan A. Dengan kata lain.Siagian. Ketidakprofesionalan PJTKI sangat merugikan TKI. Mini mnya pengetahuan tentang visa ini juga merupakan indikator rendahnya pengetahuan TKI. mereka ternyata tidak dilatih sama sekali oleh PJTKI. khususnya dalam penempatan TKI ke luar negeri. Hal ini terjadi karena kualitas yang dimiliki jauh di bawah kualitas yang dibutuhkan sektor formal dan pekerjaan yang menuntut keterampilan. Mereka h a n y a ditampung untuk kemudian 123 Koleksi BPAD Prov SU . ternyata sesampai di negara tempat bekerja. misalnya mereka berangkat dengan menggunakan visa kunjungan. Kondisi ini justru dimanfaatkan para calo TKI. Misalnya. Setidaknya dari sekitar 412 Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang ada hanya sekitar 20% yang dinilai profesional. karena saat melakukan prospek. desakan ekonomi maka pencari kerja wanita mau saja menerima t a w a r a n p a r a c a l o T K I . Dirinya masuk ke dalam jebakan sindikat penjualan manusia untuk diterjunkan ke dunia maksiat. mereka yang berstatus ibu rumah tangga dan memiliki suami juga terpaksa tergiur dengan tingkat gaji yang dijanjikan para calo TKI. karena potensi permasalahan tergolong sangat tinggi. Di samping itu kendala bahasa juga tidak mendapat perhatian atau diabaikan sama sekali sehingga sering terjadi permasalahan dari segi bahasa antara TKI dengan majikan. menurut perjanjian. (www. Akibat tidak profesionalnya PJTKI pada umumnya TKI di negara lain bekerja di sektor informal. Hal ini sengaja dilakukan. Namun agar calon TKI mau diberangkatkan. mereka justru ditempatkan di Perusahaan B. bukan visa untuk bekerja. seperti PRT atau menjadi buruh perkebunan atau buruh bangunan. tidak dilakukan secara profesional sebagaimana mestinya. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Era Kabinet Gotong Royong. Hal ini antara lain pernah dialami seorang wanita muda yang justru memiliki pendidikan akademi atau perguruan tinggi.” Jika perbedaan yang ada hanya dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya atau dari sektor industri ke sektor informal seperti menjadi PRT tidak apalah. Hal ini antara lain disebabkan ketidaksesuaian visa. t a n p a mempertimbangkan risiko yang ada. Padahal biaya untuk pelatihan sudah dikeluarkan oleh para TKI itu sendiri. Misalnya. Calon TKI yang seharusnya dibekali dengan pelatihan yang memadai sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dilakoni ternyata tidak dilakukan. Namun masih banyak TKI yang mengalami nasib yang sangat tragis atau jauh lebih buruk lagi.

terutama di Indonesia. 5) minimnya perlindungan hukum yang dilakukan negara melalui KBRI. Harus diakui. seperti: 1) rendahnya kualitas sistem pelatihan yang diterapkan PJTKI. pendidikan dan pengetahuan yang sangat rendah. baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. mengakibatkan mereka mendapat p e n o l a k a n dari m a j i k a n . bahwa kondisi yang sangat tidak layak yang harus dihadapi oleh anak-anak Indonesia merupakan fakta yang menyedihkan. jika tidak dikatakan nol sama sekali. di sektor formal (anak yang bekerja di pabrik) maupun sektor informal (anak bekerja tidak dalam struktur atau hubungan proses produksi di pabrik). tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pengguna atau pemberi pekerjaan tidak dapat terpantau. sedikitnya 76 orang TKI wanita yang bekerja di negeri jiran justru tewas.suaramerdeka. Volume 5. perlindungan hukum terhadap mereka tidak mungkin dilakukan karena memang keberadaan mereka tidak terpantau. dan Malaysia. Mei 2006. kemudian dikirim tanpa melalui pelatihan. et al. Di berbagai sektor ekonomi. Akibatnya. masa kanakkanak seharusnya digunakan untuk memperoleh perlindungan dan belaian kasih sayang oleh orang tua. 6) perjanjian kerja yang tidak selesai. Pada umumnya PJTKI menyadari perlunya program perlindungan bagi TKI setelah tenaga kerja yang mereka kirim terkait dengan masalah di negara tempat mereka bekerja. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Kondisi perekonomian Indonesia yang tidak kunjung baik secara signifikan mengakibatkan Koleksi BPAD Prov SU . 1997: 1). Kondisi seperti ini dialami TKI wanita di berbagai negara. 2) pemalsuan dokumen. pekerja anak merupakan fenomena yang sangat mudah untuk ditemukan di negara-negara berkembang.. (www. 3) penipuan yang dilakukan sejak rekruitmen. Dengan demikian. Hal ini juga akan berdampak negatif jika TKI ilegal tersebut mengalami nasib atau perlakuan yang tidak wajar dari majikan. Harus diakui bahwa masalah TKI di Indonesia dapat dirincikan menjadi tujuh masalah. terjadi pelecehan terutama pada TKI wanita oleh majikan. Halaman 117-131 diberangkatkan ke UEA. Masalah ketenagakerjaan lainnya adalah kasus tentang pekerja anak. atau bahkan setelah perusahaan mereka mendapat sanksi dari pemerintah. Di samping itu. (Purwoko. Taiwan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 7) pemerasan serta kekerasan pascapenempatan. seperti menjadi buruh. Dewasa ini jutaan anak-anak terlibat dalam berbagai jenis pekerjaan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kasus yang menimpa mereka. anak jalanan. Di Indonesia. Masalah keterlibatan anak bekerja merupakan fenomena global di berbagai negara. Uni Emirat Arab. upah yang mereka terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan sebelum berangkat. pemulung. Ada juga PJTKI yang baru menyadari perlunya perlindungan tersebut setelah perusahaan mereka mendapat teguran dari pemerintah. 4) penempatan yang ilegal. Misalnya. Banyak di antara anak-anak yang ternyata terjun ke dunia kerja atau diharuskan bekerja oleh orang tua dan kondisi yang dialami. dan berbagai pekerjaan lainnya. mereka tidak perduli pada proses atau tahap-tahap yang harus dilalui dan dilakukan bagi calon TKI sebelum mereka dikirim ke negara tujuan. Anehnya tidak ada laporan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi maupun ke KBRI di Dubai perihal pemberangkatan TKI ini. Gatra. Hongkong. Mereka yang seharusnya berada di bangku sekolah terpaksa harus meninggalkan sekolah dan akhirnya terlibat dalam bekerja. Masa kanak-kanak seharusnya digunakan untuk bermain dan sekolah sehingga suatu ketika dapat melakukan aktivitas ekonomi. sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. (Wea. Artinya.com) Dengan status tenaga kerja ilegal jelas mengakibatkan nilai tawar TKI terhadap majikan atau perusahaan mereka bekerja sangat rendah. seperti di Arab Saudi. Nomor 2. Hal ini diakibatkan karena PJTKI hanya berorientasi 124 pada kuantitas pengiriman yang mana hal ini berkorelasi positif dengan keuntungan yang mereka peroleh. 31 Januari 2003). Ketujuh masalah ini merupakan faktor penghambat bagi pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam menjadikan program penempatan TKI sebagai industri tenaga kerja yang modern. khususnya negara-negara sedang berkembang. Di samping itu terdapat banyak TKI wanita yang mengalami pelecehan seksual maupun penganiayaan. fenomena anak bekerja bukanlah suatu keanehan. Namun fakta menyatakan demikian banyaknya anakanak yang tidak dapat menikmati masa kanakkanak secara ideal sebagaimana dirumuskan. Permasalahan di atas antara lain terjadi karena jumlah TKI yang diikutsertakan PJTKI dalam program perlindungan sejak mereka melakukan rekruitmen dan selama mereka bekerja di luar negeri masih sangat rendah. Singapura.

Adapun permasalahan tersebut adalah: 1) kemiskinan dan kerawanan sosial ekonomi yang mengakibatkan anak mengalami kekurangan gizi (kalori. 9) berada dalam situasi keluarga retak atau pecah (disorganisasi keluarga). agama. Harus diakui bahwa antara kemiskinan dan pendidikan terdapat hubungan timbal balik. anak jalanan. seperti perbedaan gender. dan sebagainya. pemulung. 3) perlakuan salah atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang tua. kemiskinan pasti mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. dijadikan sumber bisnis keluarga secara tidak wajar atau secara berlebihan). politik. faktor lingkungan juga sangat menentukan peningkatan jumlah anak yang bekerja. banyaknya anak-anak yang sudah terjun ke dunia kerja mengakibatkan banyak anak-anak yang mendapat pengaruh dan bujukan dari anak-anak sebayanya yang sudah bekerja. dan 10) berada dalam lingkungan keluarga yang mengalami masalah sosial psikologis. dan sebagainya. ekonomi. Ketiga. etnis.Siagian. di mana jumlah anak yang bekerja justru makin meningkat. faktor rendahnya tingkat pendidikan. Sebaliknya. perang antarnegara. status sosial. keluarga yang mengalami aib. Sisi lain yang perlu dikaji sehubungan dengan masalah pekerja anak adalah permasalahan-permasalahan yang dialami anakanak Indonesia. karena di samping upah yang rendah juga dapat dieksploitasi demi kepentingan perusahaan. 4) eksploitasi ekonomi dalam dunia kerja yang dilakukan oleh orang dewasa seperti eksploitasi anak-anak oleh orang tua/keluarga/masyarakat sebagai sumber penghasilan dengan tidak melindungi hak-hak anak (seperti: disuruh mengemis. anggota keluarga. sehingga anak harus ikut membantu ekonomi keluarga dengan cara bekerja. dan akhirnya pendapatan yang rendah akan mengakibatkan kemiskinan. busung lapar.. Hal ini terjadi karena si anak belum memahami hak-haknya sebagai seorang pekerja.. daerah permukiman tuna sosial. Akibatnya. tindak kejahatan. Setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan seorang anak terjun ke dunia kerja. dijual. Hal ini sering disebabkan majikan mereka memotivasi pekerja anak untuk mengajak teman mereka bekerja. yodium. Akibatnya produktivitas dan prestasi kerja akan rendah. Bagi pengusaha pekerja anak sering dianggap alternatif terbaik. 8) mengalami cacat fisik dan mental. seperti daerah permukiman kumuh. kondisi ekonomi keluarga yang buruk. Hal ini berarti. masalah anak terjun ke dunia kerja bukan lagi dianggap sebagai suatu poersoalan. daerah yang terisolasi/terasing. Kedua. Dalih seperti ini sepertinya sudah mendapat justifikasi bagi anak-anak untuk dipekerjakan. di mana kedua faktor yang disebut terakhir akan mengakibatkan pendapatan rendah. bahwa di lingkungan tempat tinggal si anak ternyata sudah banyak anak-anak yang terjun ke dunia kerja. vitamin. bahkan sekan-akan hal itu sudah lumrah dan dapat diterima masyarakat sekitar. 6) berada dalam situasi krisis dan membahayakan kelangsungan hidup anak serta hak-haknya rawan. Hal ini antara lain disebabkan. Masalah Ketenagakejaan. Pertama. adalah faktor kemiskinan. anak-anak yang seharusnya menikmati masa belajar harus drop out dan berperan sebagai buruh. dan masyarakat. Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat membawa masyarakat untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. kondisi. dampak dari pandemik 125 Koleksi BPAD Prov SU . Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi di mana pendapatan orang tua yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. yang mana masalah ini menjadi katalisator terjunnya anak-anak Indonesia ke dunia kerja. dan terhambatnya perkembangan psikologis anak. Di samping itu. seperti: berada terus-menerus di jalanan. 5) perlakuan diskriminastif. tidak terlindungi. dalam arti tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga mengakibatkan anak harus ikut menjadi pelaku ekonomi. adanya kerusuhan sosial. di mana pendidikan yang rendah akan mengakibatkan keterampilan juga rendah. Dengan alasan kemiskinan. yang dialami sejak lahir atau karena kecelakaan (cacat bawaan dan cacat bukan bawaan). dan sebagainya. Kemiskinan dapat merupakan akibat pendidikan yang rendah. warna kulit. pendidikan yang memadai masih merupakan barang mahal di Indonesia. Harus diakui. perang antarsuku. dan lain-lain). 7) berada dalam lingkungan yang tidak layak huni baik secara fisik maupun sosial. 2) keterlantaran yang mengakibatkan kirang/tidak terpenuhinya dan tidak terjaminnya kebutuhan dasar anak sehingga kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak mengalami gangguan. sehingga untuk memperoleh tingkat pendidikan yang tinggi dan berkualitas dibutuhkan pengorbanan ekonomi yang signifikan.

Justru tanggung jawab konstitusional ini ternyata belum disadari dengan sungguhsungguh oleh pemerintah. Permasalahan yang akut dalam ketenagakerjaan Indonesia adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia. bagaimana pula jika upah yang mereka terima justru lebih kecil dari UMP? Penyediaan lapangan kerja dan kesejahteraan buruh sesungguhnya merupakan tangung jawab konstitusional negara melalui Pemerintah. Ada dua permasalahan tentang UMP ini. Selain masalah pengangguran. banyak pihak yang berpendapat bahwa UMP terlalu rendah. Bagaimana jika si pekerja sudah berkeluarga atau memiliki istri dan anak-anak? Dalam penetapan pengupahan. Sebagai contoh. masih banyak perusahaan yang memberlakukan upah yang lebih rendah daripada UMP. Oleh karena itu tingginya angka pengangguran dan rendahnya kesejahteraan buruh merupakan bukti sah. Volume 5. yakni Pasal 27 Ayat (2) yang menegaskan: bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Melalui pendekatan teori human capital. Di samping itu. Untuk itu. Nomor 2. Konsep welfare state menegaskan. bahwa investasi dapat dilakukan bukan hanya dalam bidang usaha seperti yang biasa dikenal. akan tetapi juga dapat dilakukan dalam bidang sumber daya manusia. maka investasi di bidang sumber daya manusia adalah dengan mengorbankan sejumlah dana yang akan dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi berlangsung. Sama halnya dengan investasi di bidang usaha tersebut. ternyata pemerintah lebih mendengar aspirasi para pengusaha daripada aspirasi pekerja.mungkin hanya cukup untuk satu orang atau si pekerja. kita harus melihat sisi positif yang masih dimiliki Indonesia sebagai negara besar. maka dibangun suatu paradigma baru.. kita akan bersikap pesimis dalam rangka melakukan perbaikan. Hal ini 126 kemudian dijabarkan dalam Batang Tubuh UUD 1945. Masalah kualitas sumber daya manusia harus dihadapi dan dicari solusi terbaik. walaupun UMP dianggap masih terlalu rendah. sehingga belum mampu menjadikan hidup pekerja secara layak. Kebijakan Pendidikan Jika kita berhenti pada kondisi ekonomi negara yang belum mengalami perbaikan yang cukup berarti. Kondisi seperti ini tentu sangat memprihatinkan. UMP yang hanya Rp 650. Artinya.000. terutama jika dikaitkan dengan kemampuan menampung tenaga kerja sesuai dengan pertumbuhan angkatan kerja yang masih tinggi. yakni dengan menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP). masalah ketenagakerjaan di Indonesia juga masih banyak. khususnya dalam menyediakan lapangan kerja yang dapat memenuhi penawaran tenaga kerja yang tinggi. melainkan juga harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Prinsip investasi di bidang usaha adalah mengorbankan konsumsi pada saat investasi dilakukan dalam upaya memperoleh tingkat konsumsi di masa mendatang. Jika kita ingin menjadikan bumi Indonesia bersahabat dengan manusia Indonesia sebagai penghuninya. yakni “memajukan kesejahteraan umum”. depresi. Pertama. Pemerintah telah melakukan intervensi dalam sistem pengupahan. Secara konstitusional hal ini ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 dan merupakan salah satu tujuan nasional. dan bunuh diri. Jika dengan upah menurut UMP pekerja dan keluarganya belum mampu menikmati hidup yang layak. justru masih banyak perusahaan yang belum menerapkan UMP. Melalui cara berpikir seperti ini diharapkan wilayah Indonesia yang terbentang amat luas dan benar-benar memiliki daya dukung terhadap komunitasnya sehingga tenaga kerja Indonesia tidak harus bersusah payah mencari pekerjaan ke berbagai negara yang sering hanya memperoleh penderitaan. pendekatan melalui teori human capital mungkin sangat tepat dilakukan. bahwa pemerintah negara itu lemah dan tidak mampu menjalankan tanggung jawab konstitusionalnya. Halaman 117-131 (HIV/AIDS). penyakit mental (jiwa). Mei 2006. Melalui investasi di bidang sumber daya manusia akan diperoleh Koleksi BPAD Prov SU .Jurnal Pemberdayaan Komunitas. sehingga para pekerja merasa tidak mendapat perlindungan dari pemerintah. bahwa negara bukan hanya bertanggung jawab atas ketertiban dan keteraturan masyarakatnya. Salah satu di antaranya adalah rendahnya tingkat kesejahteraan pekerja sebagai dampak dari rendahnya upah. Tanggung jawab negara melalui pemerintah akan ketersediaan lapangan kerja dan kesejahteraan pekerja merupakan konsekuensi logis dari keberadaan negara kita yang tergolong ke dalam welfare state.

di mana perubahan tersebut sangat tergantung pada pergantian pejabat di jajaran departemen yang mengelola pendidikan. perubahan konsep. Pendidikan dan latihan merupakan faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Sifat statis program studi antara lain disebabkan oleh tidak mudahnya mengurus izin program studi oleh suatu lembaga pendidikan. Hal ini antara lain dengan adanya temuan hasil penelitian tentang adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk dengan kondisi ekonomi negaranya.. Mengapa kita harus hati-hati? Setidaknya ada dua hal yang dapat menjebak kita dalam menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan kondisi perekonomian makro dan mikro seperti telah dikemukakan di atas. dengan demikian akan berakibat pada peningkatan produktivitas kerja di masa mendatang. sementara tuntutan kualifikasi tenaga kerja oleh institusi pengguna tenaga kerja sangat dinamis. namun sering kali sistem pendidikan di suatu negara ternyata belum mendukung sepenuhnya human capital. Saat keluar izin program studi tersebut. khususnya perguruan tinggi. bahkan kurikulum yang dimiliki antara lain bersifat statis. Penerapan investasi human capital adalah dalam hal 1) pendidikan dan latihan. di mana konsentrasi mahasiswa misalnya akan lebih variatif dan dapat berubah setiap tahun sesuai dengan permintaan pasar dan pilihan mahasiswa. maka sering kali program studi itu sudah menuju kebasian. Pendidikan dan latihan bukan saja menambah pengetahuan. istilah konsentrasi ini belum tersosialisasi. di satu sisi iklan lowongan kerja di berbagai media massa di Indonesia sangat banyak. Hal ini sangat menonjol di Indonesia. tanpa ada hasil perubahan yang dapat dirasakan. bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia sesungguhnya meningkat sangat tajam. sistem pendidikan yang ada ternyata belum mampu memberi garansi akan adanya link dan match. yakni dari segi izajah yang dimiliki masyarakat.Siagian. tetapi juga mengelola konsentrasi. Artinya. Jika kita hanya berpijak pada aspek formalitas. Terdapat sekitar 350 – 500 orang (jabatan/posisi) yang ditawarkan setiap hari melalui media. Namun di sisi lain. tidak pernah habis. program studi. Dalam suatu seminar di FISIP USU 2005 yang lalu dikembangkan wacana agar sebuah jurusan jangan hanya mengelola program studi. Ketidaksesuaian antara jurusan. Namun demikian. dan 3) perbaikan gizi dan kesehatan. Masalah Ketenagakejaan. Bahkan nama departemennya pun berubah. sehingga Perguruan 127 Koleksi BPAD Prov SU . sebagai suatu masalah yang berkepanjangan. Walaupun sistem pendidikan sudah dikenal sejak dahulu. Adapun kontraversi ini antara lain. program studi. Lemahnya sistem pendidikan di Indonesia antara lain terlihat dari perubahan kurikulum. maka kita akan terjebak dengan angka-angka yang dapat mengakibatkan kita kecewa. Terlebih jika pengelola pendidikan itu tidak melakukan terobosan dalam kurikulum. maka perekonomian negara pun akan semakin meningkat pula. namun barulah dua puluh tahun terakhir ini ada kesadaran tentang hubungan langsung antara sistem pendidikan dengan segala perangkatnya dengan perekonomian nasional maupun perekonomian mikro. Pertama. jurusan. Hal ini antara lain karena tenaga kerja yang menawarkan diri tidak dapat memenuhi kualifikasi yang dituntut oleh institusi pengguna tenaga kerja atau mereka yang menjadi pemasang iklan tadi. hasil sebagai imbalannya adalah berupa tingkat penghasilan yang lebih tinggi dalam upaya memperoleh tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula di masa mendatang. 2004: 12). sehingga investasi di bidang sumber daya manusia tidak akan pernah mengalami kerugian. (Siagian. Sekalipun sistem pendidikan sudah ada sejak dahulu. Hal ini dapat disimpulkan jika kita hanya berpijak pada aspek formalitasnya saja. 2) migrasi. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari arus globalisasi. Dengan kata lain.. angka pengangguran tetap tinggi. Konsep konsentrasi dianggap lebih dinamis. akan tetapi juga meningkatkan keterampilan bekerja. semakin tinggi tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakat. Hal yang sangat perlu dipahami bahwa pengorbanan di awal akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertambahan nilai di masa mendatang. dan kurikulum yang dikembangkan dan diterapklan oleh lembaga pendidikan mengakibatkan adanya kontraversi angka-angka ketenagakerjaan di Indonesia. Hanya saja kita tidak boleh perpijak hanya pada aspek formalitas. di mana secara geografis menjadikan Indonesia harus ikut arus globalisasi tersebut. Investasi yang demikian ini dinamakan dengan human capital.

Mereka justru memilih institusi perguruan tinggi yang dapat meluluskan mereka dengan berbagai kemudahan. Adapun budaya schooling ini ditandai dengan sikap mengutamakan aspek formalitas dari pendidikan. misalnya memiliki ijazah untuk tingkat pendidikan tertentu dan untuk jurusan atau program studi tertentu. mereka tidak terampil dan jauh dari tenaga siap pakai. dan biasanya dikaitkan dengan bahasa dan budaya. Jadi jangan seperti selama ini di mana kurikulum SMK itu cenderung diperluas. tanpa mempertimbangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Misalnya. Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan kebijakan khusus untuk mengakhiri tradisi schooling yang sedang meracuni generasi sekarang ini.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sungguh tragis nanti nasib manusia Indonesia jika budaya schooling itu tetap dipertahankan. Misalnya. 128 Budaya schooling yang lebih parah lagi adalah yang berkembang di antara banyak PNS. 2005: 7). Kondisi seperti ini tentu sangat kontraproduktif dengan arus globalisasi. dalam upaya mendapat karier yang lebih cerah melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. Banyak mata pelajaran yang tidak berhubungan dengan keterampilan inti harus dipelajari oleh siswa. Mei 2006. Saat ini memang ada istilah muatan lokal dalam kurikulum sekolah. bahwa banyaknya muncul persoalan ketika hasil tes masuk menjadi PNS diumumkan mengindikasikan adanya permainan atau KKN dalam proses seleksi calon PNS tersebut. Belum ada instansi yang melakukan seleksi yang demikian transparan. Sebagai contoh hingga saat ini rumpun pendidikan SMK sangat sedikit dan seragam untuk seluruh Indonesia. Mereka yang berada di ranking lebih rendah justru dinyatakan sebagai pemenang. Justru masalah seperti inilah yang kemudian mengembangkan budaya schooling tersebut. akan tetapi belum dikaitkan dengan potensi daerah yang dapat dikembangkan dalam rangka peningkatan kemajuan daerah dan kesejahteraan penduduknya. Halaman 117-131 Tinggi masih tetap menempuh gaya pengelolaan pendidikan konvensional (Fahruddin. Ketika dilakukan investigasi. sehingga dapat tertutup celah KKN. termasuk di hadapan para calon PNS dan langsung diumumkan saat itu juga. Akibatnya. namun hal itu hanya sedikit. masalah yang lebih pelik lagi adalah budaya sekolah yang berkembang di masyarakat. Semestinya kurikulum SMK itu dipersempit dan diperdalam. maka lama kelamaan kualitas sumber daya manusia Indonesia akan terperosok jika dibandingkan dengan kualitas sumber daya manusia di negara lain. sebab yang diuji bukan itu. Hal ini antara lain menonjol dalam rangka mendapat kedudukan sebagai PNS di Indonesia. Banyak di antara mereka tidak memiliki motivasi untuk belajar. Dalam hal ini institusi pendidikan memikul dosa dari kondisi ini. Koleksi BPAD Prov SU . Selain masalah link dan match yang memprihatinkan. yang mana akan ditandai dengan persaingan bebas dan era keterbukaan. terutama pejabat yang tugas belajar. di mana lembar jawaban ujiannya diperiksa oleh Pusat Komputer Universitas Sumatera Utara. seorang PNS yang memiliki jenjang pendidikan S-1. sehingga mereka dapat menyelesaikan studi tanpa harus belajar secara keras dan sungguh-sungguh. sehingga mereka tidak dapat berkonsentrasi pada bidang keterampilan yang harus ditekuni. namun sangat dangkal. Kondisi seperti ini jelas tidak mendidik. Nomor 2. Mahasiswa merasa tidak perlu memiliki keterampilan dan pengetahuan. Sepeti yang terjadi saat penerimaan calon PNS di Sumatera Utara. Masyarakat Indonesia lebih cenderung mengembangkan budaya schooling daripada budaya learning. Harus diakui. sebaliknya mereka yang memiliki ranking yang lebih tinggi justru dinyatakan sebagai pihak yang kalah pada seleksi tersebut. Jika kondisi maraknya sikap mental budaya schooling ini tidak berubah menuju budaya learning. Volume 5. Untuk itu jenjang dan jenis pendidikan yang mengembangkan keterampilan spesifik lokal perlu dimulai. Kebijakan pendidikan lainnya yang perlu dibangun adalah kebijakan pendidikan yang lebih mengutamakan pemanfaatan sumber daya daerah. tanpa memperhatikan pentingnya belajar dan berlatih. Hal ini terjadi karena banyaknya institusi pengguna tenaga kerja yang lebih mengutamakan aspek formal. ada orang kuliah. misalnya diperiksa dengan komputer di hadapan orang banyak. di mana seleksinya belum dapat dipertanggungjawabkan kejujurannya. Tujuan mereka hanya satu. ternyata berbeda ranking yang dikeluarkan oleh Pusat Komputer Universitas Sumatera Utara dengan yang diumumkan oleh Pemda. yakni mendapatkan ijazah. Masyarakat lebih mengutamakan status formal daripada material.

2.. SMK Jurusan Tanaman Padi. Pengangguran yang mencapai di atas sepuluh juta jiwa sungguh merupakan kondisi yang buruk dan memprihatinkan dari negara kita. Hal ini sangat penting dalam rangka memelihara kesesuaian kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia di suatu daerah dengan potensi yang dapat dikembangkan di daerah tersebut. Data ini harus dijadikan sebagai outcome sebuah lembaga pendidikan. terlalu sarat dengan mata pelajaran yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan keterampilan yang dilatih. belum kuatnya sistem pendidikan tersebut mengakibatkan arah pengembangan 129 Koleksi BPAD Prov SU . Sistem pendidikan di Indonesia belum pas dan kuat. adanya ketidaksebandingan antara pertumbuhan lapangan kerja dengan pertumbuhan angkatan kerja. perlu dilakukan penelitian secara periodik menyangkut daya serap lulusan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan. dan kurikulumnya didesain sedemikian rupa sehingga bersifat menyempit dan dalam. yakni: Pertama. SMK Jurusan Mesin Premium. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas. Hal ini merupakan akibat dari kurikulum yang disusun terlalu melebar tetapi dangkal. Bagaimanapun juga. 3. SMK Jurusan Kelapa Sawit. Mestinya dibangun dan dikembangkan SMK Jurusan Palawija. dan termasuk sebagai indikator keberhasilan lembaga pendidikan tersebut dalam menjalankan fungsi dan mencapai tujuannya. kebijakan pendidikan harus fleksibel. belum adanya link and match antara lapangan kerja atau jenis pekerjaan dengan kualifikasi yang dituntut dengan kualifikasi tenaga kerja Indonesia sehingga tidak semua posisi jabatan dan pekerjaan yang ada atau ditawarkan dapat diduduki dan dilakoni oleh tenaga kerja Indonesia. sehingga kebijakan pendidikan sering bersifat temporer tanpa perencanaan jangka panjang. melainkan dapat membantu siswa dan mahasiswanya dalam mewujudkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan. Di samping itu. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi terhadap tingginya angka pengangguran di Indonesia. akan tetapi melalui mekanisme yang teratur. SMK Jurusan Perikanan Darat. tujuan lembaga pendidikan bukan hanya meluluskan siswa dan mahasiswanya. berapa lama seorang alumni mendapatkan pekerjaan yang layak dan atau sesuai dengan jurusan atau program studi atau keterampilan yang dimiliki. Kedua. Sebagai contoh. dan tenaga yang teramat besar. SMK Jurusan Coklat. harus ada data tentang masa tunggu kerja lulusan. Hal ini dapat dijadikan sebagai indikator apakah jurusan atau program studi dan atau konsentrasi tersebut masih layak dipertahankan atau lebih baik untuk ditutup. Sekali lagi. dana.. Dengan demikian. Demikian halnya dengan seorang lulusan SMK Jurusan Mesin memiliki keterampilan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan seseorang yang mengikuti kursus montir hanya dalam tempo tiga bulan. Kebijakan mana harus dilengkapi dengan perencanaan strategis jangka panjang. Untuk itulah sistem pendidikan harus diperkuat. misalnya seorang lulusan SMK Jurusan Elektronik yang telah belajar selama tiga tahun memiliki keterampilan yang jauh lebih rendah dari seseorang yang hanya mengikuti kursus elektronik selama tiga bulan. Masalah Ketenagakejaan. Di samping itu. Misalnya. dan jangka pendek. penulis merumuskan kesimpulan sebagai berikut: 1. SMK Jurusan Elektronik Audio. SMK yang merupakan Jurusan Pertanian dirasa terlalu luas dan dangkal. Sangat tragis. budaya malu dan budaya tahu diri serta merasa gagal perlu dikembangkan di benak rezim penguasa. sehingga lapangan kerja yang tersedia tidak mampu menyerap seluruh angkatan kerja yang ada. jangka menengah. SMK Jurusan Perikanan Laut. SMK Jurusan Mesin Diesel. SMK Jurusan Penyuluhan Petani. sehingga operasional dan penjabarannya tidak tergantung pada pribadi pejabat sebagaimana terjadi selama ini. Data tentang masa tunggu kerja lulusan artinya. semestinya SMK itu disesuaikan dengan potensi daerah. Selanjutnya semua institusi pendidikan diwajibkan melakukan pendataan tentang alumninya. Hal ini tentu merupakan penerapan human capital yang sangat merugi. sehingga mereka tidak sia-sia memasuki suatu lembaga pendidikan dengan pengorbanan waktu. dan lain-lain.Siagian. Pengembangan kurikulum SMK melalui kebijakan pendidikan semestinya harus dilakukan dalam rangka pendayagunaan potensi daerah di mana sekolah itu berada. Oleh karena itu peningkatan keterampilan melalui pendidikan harus signifikan.

program studi serta kurikulum yang dikembangkan di suatu daerah belum sepenuhnya sesuai dengan potensi daerah. akibatnya meskipun banyak pengangguran. pendidikan di Indonesia sering sangat tergantung pada pejabat yang menduduki Departemen Pendidikan Nasional. Artinya. 3. organisasi profesi. Saran 1. Nomor 2. 130 2. program studi. Halaman 117-131 4) 5. 6. Kurikulum dan jenis jurusan maupun program studi masih bersifat statis dan tidak mengikuti perubahan yang mendasar dalam struktur ketenagakerjaan yang dibutuhkan oleh lapangan kerja yang justru bersifat dinamis. namun potensi daerah tidak dapat digunakan secara maksimal untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Mereka merasa sia-sia untuk belajar keras karena tidak akan mendapat penghargaan nantinya. misalnya pemerintah. sehingga mereka berlomba-lomba melakukan investasi di Indonesia sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan lapangan kerj a sehingga dapat mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. dan kurikulum harus memiliki nilai-nilai dinamika yang tinggi. Iklim investasi harus ditata sedemikian rupa sehingga Indonesia harus dianggap dan dirasakan sebagai surga oleh investor. jangka menengah dan jangka pendek. terutama calon PNS yang belum transparan dan belum menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran mengakibatkan peserta didik tidak memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar selama mengikuti pendidikan. Jurusan. Pemerintah harus menyadari dan bertanggung jawab atas penyediaan lapangan pekerjaan bagi semua warga negaranya dan demikian juga dengan tingkat kesejahteraan pekerja di Indonesia. dan jurusannya. Rekruitmen tenaga kerja.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. khususnya jurusan dan program studi dengan kurikulum yang ada masih bersifat konvensional. Pengembangan pendidikan. di mana perencanaan tersebut harus bersifat akurat dan matang yang akan mengakibatkan pergantian pejabat pengelola pendidikan tidak mengakibatkan arah kebijakan pembangunan pendidikan yang sudah ada. agar senantiasa memiliki peluang untuk diubah setiap saat sesuai dengan perubahan kualifikasi yang dituntut bagi tenaga kerja oleh institusiinstitusi pengguna tenaga kerja. bahwa jenis dan tingkat pendidikan seseorang sering tidak tercermin dalam kualifikasinya sebagai tenaga kerja. Dengan cara seperti ini maka peserta didik akan termotivasi untuk belajar dan berlatih menuju tenaga kerja yang memiliki kualitas yang dapat memenuhi tuntutan institusi pengguna tenaga kerja. dalam arti mengikuti perubahan struktur ekonomi di Indonesia. Volume 5. orang tua. Koleksi BPAD Prov SU . Pengembangan jurusan. 4. Berkembangnya budaya schooling dalam melakoni pendidikan oleh masyarakat Indonesia menjadikan pendidikan belum dijadikan dan belum berfungsi sebagai proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. program studi sebaiknya diganti dengan konsentrasi. Oleh karena itu. Mei 2006. 8. yang memiliki link dan match dengan lapangan kerja yang tersedia dengan segala kualifikasi yang dituntut. pengelola lembaga pendidikan. Hal ini mengakibatkan. 7. baik sektor swasta maupun pemerintah. maupun institusi-institusi pengguna lulusan sehingga dapat dirumuskan kurikulum yang handal. 6. 5. Perlu penguatan sistem pendidikan yang didukung oleh perencanaan starategis. Perlu dilakukan terobosan baru dalam schooling dan menghapus budaya mengubahnya menjadi budaya learning melalui transparansi dan penerapan prinsipprinsip keadilan dalam proses rekruitmen tenaga kerja. baik jangka panjang. Perlu dilakukan diskusi secara berkala yang melibatkan stockholder atau pemangku pendidikan. prestasi studi dan ijazah sering tidak diikuti dan didukung oleh kompetensi lulusan. program studi. Sangat jarang lembaga pendidikan memperhatikan perkembangan ketenagakerjaan yang sangat dinamis untuk dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan kurikulum.

Prentice-Hall. Masalah Ketenagakejaan. 2002. Program Hibah Kompetisi 2004. J. Medan Simanjuntak. Makalah pada Seminar Sehari Profil Pekerja Anak. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. jakarta Sofyan. Susilo. Said. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. CV Mandar Maju. 1993. Bandung Sumber-sumber lain: Hakiki. Medan Martono. 1999 Harian Kompas Jakarta. Daftar Bacaan Danim. Belton.. Syarif. 27 juni 2004 Harian Sinar Indonesia Baru Medan. BPFE UGM. Konvensi. Emil. 2001. Pandji. Kekerasan terhadap Anak Dalam Wacana dan realitas. Dirjen Dikti. 1999. Jakarta. Makalah Seminar. 1982. 2.. 10 September 1993 Harian Waspada Medan. 1996. Kekerasan Sesksual terhadap Anak Jermal. 19 September 2006 Harian Kompas Jakarta. Edi. Gambaran Umum Mengenai Permasalahan Pekerja Anak di Indonesia dan Penanggulangannya. 1995. Jurnal Perlindungan Anak. Ahmad. Sudarwan. Terowosan Mendesain Kurikulum Perguruan Tinggi. Widodo. M. Jakarta Fahruddin. Yogyakarta Sudarmayanti. Sulaiman. Kesejahteraan Sosial. LP3ES. Transformasi Sumber Daya Manusia. Profil Buruh Anak di Sektor Industri. 31 Januari 2004 Koleksi BPAD Prov SU 131 . Rinaldi. 2005. Jakarta Siagian. Labor Economics: Theory and Evidence. ILO/USA Declaration Project Indonesia. Pengembangan Pendidikan dan Pemecahan Masalah Pengangguran. New Jersey Ikhsan. Bandung Purwoko. 1981. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. STKS. Social Analysis and Reseaqrch Institute (SARI). 1997. 2006. Payaman. Nopember. Makalah Seminar. Adi. 3 Mei 2004 Harian Suara Merdeka Jakarta. Jakarta. Matias. 1992. ____ . 1999. Yogyakarta Pengantar Ilmu Rusli. 12 Januari 2004 Harian Waspada Medan. Yogyakjarta Pengantar Muhidin. Medan Fleisher. 29 April 2003 Majalah Gatra Jakarta.Siagian. Kependudukan. Volume 1 No. Menajemen Sumber Daya Manusia. 1999. UGM Press. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak. Penyusunan Kurikulum Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Berbasis Kompetensi. Surakarta Putranto. Pekerja Anak Jermal di Sepanjang Pantai Timur Sumatera Utara. Medan Manik. Undang-Undang Yang Baru Tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1994. Sinar Grafika. Perguruan Tinggi.

syarat-syarat kerja. kebebasan berserikat. Dalam suatu perusahaan berskala besar dan berskala kecil.nakertrans. dan sosial. Risiko yang menimpa karyawan dapat menimbulkan cacat sebahagian. di antaranya yang paling pelik adalah masalah tenaga kerja. To get the best from the workers require the company give the best for them. cacat seumur hidup. bila meninggal dunia. Harga diri berarti jaminan tersebut diperoleh sebagai hak.id) Salah satu yang akan dibicarakan dalam masalah tenaga kerja adalah mengenai jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). This research studies how Asam Jawa Medan Company implementated the worker’s rights according to the law. hubungan industrial. kehidupan di hari tua maupun keluarganya. cakupannya sangat luas dan sangat kompleks. (www. Data analysis shows that Asam Jawa Medan Company has fulfilled the worker’s rights. The company has to do and fulfill the worker’s rights according to the law as the worker social safety. masalah ketenagakerjaan tersebut mempunyai multidimensi. Dalam forum diskusi kompleksitas masalah tenaga kerja dikemukakan permasalahan-permasalahan yang masih hangat dibicarakan adalah ketentuan upah minimum yang disesuaikan dengan daerah masing-masing. serta hubungan kerja sama internasional dan jaminan sosial bagi tenaga kerja. bahkan dapat menimbulkan kematian. Hayaruddin Siagian adalah Peneliti LIPI bidang Budaya 132 Koleksi BPAD Prov SU . penyelesaian perselisihan. Pada perusahaan tenaga kerja atau karyawan sebagai pelaksana utama tidak terlepas dari risiko yang dihadapinya. pemutusan hubungan kerja (PHK). Researchers collected data from 40 officials of Asam Jawa Medan Company. Risikorisiko yang menimpa para karyawan tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu baik pada waktu kerja maupun di luar kerja demi tuntutan perusahaan. Adapun risiko yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dihindari yang tentunya akan membutuhkan biaya. In the fact there are many companies which have not fulfilled the worker’s rights. tenaga kerja di bawah usia kerja. Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan yang tidak terlepas dari konsekuensinya. Semuanya mengandung dimensi ekonomis. In a company the worker is primary element. perlindungan tenaga kerja. Dengan kata lain.IMPLEMENTASI JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA KARYAWAN PT ASAM JAWA MEDAN Ratih Utamaningsih & Hayaruddin Siagian Abstract The worker is very important in production process. Keywords: worker’s right. It is one of the problems in Indonesia.go. social safety Pendahuluan Di Indonesia saat ini pembangunan menitikberatkan pada bidang ekonomi yang menjadi penggerak utama. tenaga kerja merupakan modal dasar terlaksananya proses produksi serta memajukan perusahaan. Semua risiko yang dialami kebanyakan diakibatkan dari hubungan kerja. Jamsostek dilandasi filosofi kemandirian dan harga diri untuk mengatasi risiko sosial ekonomi. dan bukan belas kasihan orang lain. Kemandirian berarti tidak bergantung pada orang lain dalam membiayai perawatan pada waktu sakit. Wajarlah apabila perhatian yang lebih Ratih Utamaningsih adalah Staf di Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi dan Gender Medan.

sedangkan kewajiban peserta adalah tertib administrasi dan membayar iuran. dan untuk memperoleh jaminan kehidupan apabila karyawan tertimpa musibah. (Christine. lapangan kerja dan kemampuan tenaga kerja.000 perusahaan dengan jumlah peserta yang pernah terdaftar dan menerima kartu peserta Jamsostek. jaminan terhadap kecelakaan. Jamsostek adalah program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu yang penyelenggaraannya menggunakan mekanisme Asuransi Sosial. et al.05/Men/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepersertaan.3 Tahun 1992. Kesejahteraan yang perlu diberikan bukan hanya karyawan sendiri tetapi juga keluarga yang harus tetap terpelihara termasuk saat karyawan kehilangan sebagaian atau seluruh penghasilannya akibat risiko kerja seperti kecelakaan kerja. Dengan demikian salah satu upaya pemberian perlindungan tenaga kerja adalah jaminan sosial tenaga kerja seperti yang terdapat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yang berbunyi sebagai berikut: “Perlindungan tenaga kerja yang meliputi hak berserikat dan berunding bersama. 1993: 77). dan jaminan sosial tenaga kerja yang mencakup jaminan hari tua.(www. Untuk itu peneliti merasa tertarik mengkaji lebih dalam dengan mengangkat judul “Implementasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Keluarga Karyawan PT Asam Jawa Medan.000. Dengan terbentuknya landasan hukum tenaga kerja diharapkan akan menjamin ketentraman dan keselamatan kerja serta kehidupan yang layak bagi kesejahteraan keluarga tenaga kerja khususnya..yahoi. sandang. misalnya untuk memperoleh pekerjaan. baik itu ketidakpastian spekulatif maupun ketidakpastian murni yang selalu menimbulkan kerugian. menjadi peserta program Jamsostek merupakan hak bagi karyawan yang dijamin oleh undang-undang.000 karyawan. meninggal dunia. kondisi pemberian kerja. berupa santunan tunai dan pelayanan medis. sakit. Namun dari jumlah itu yang diketahui sebagai peserta aktif hanya 7. Kebutuhan rasa aman merupakan motif yang kuat di mana manusia menghadapi sejumlah ketidakpastian yang cukup besar dalam kehidupan. 14 Tahun 1993. Implementasi Jaminan Sosial. Kebutuhan akan rasa aman ini bermacam-macam. sedangkan pelaksanaannya dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. Peserta Program Jamsostek diatur secara wajib melalui Undang-Undang No. dan jaminan kematian serta syarat-syarat kerja lainnya perlu dikembangkan secara terpadu dan bertahap dengan mempertimbangkan dampak ekonomi dan moneternya..Utamaningsih dan Siagian. jaminan pemeliharaan kesehatan. Ketidakpastian ini disebut dengan risiko (Asikin. 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul pada Hubungan Kerja dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Keputusan Presiden No.9 juta karyawan. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek menyebutkan suatu perusahaan wajib menjadi peserta Jamsostek jika mereka mempekerjakan lebih dari 10 karyawan dengan upah di atas Rp1000. Padahal dalam UU No.809. salah satunya yakni rasa akan aman masa depan dan sebagainya (Siagian. dan hari tua. 1999: 287). Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jamsostek.” Manusia dalam hidupnya menghadapi ketidakpastian. Untuk menghadapi risiko ini diperlukan alat yang dapat mencegah atau mengurangi timbulnya risiko itu yang disebut jaminan sosial. kesiapan sektor terkait. serius ditujukan kepada karyawan. Terutama karena sebagaian besar karyawan berasal dari lapisan kedudukan kondisi sosial ekonomi yang kebanyakan relatif rendah dan sudah menjadi kodrat bahwa manusia itu berkeluarga berkewaj iban menanggung kebutuhan keluarganya.com). Pasalnya. minum. keselamatan dan kesehatan kerja. papan dan kebutuhan fisiologinya. Jamsostek memberikan hak dan membebani kewajiban secara pasti (copulsory) bagi pengusaha dan karyawan berdasarkan Undang-Undang No. sampai akhir 2005 mencapai 28. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Menurut Teori Abraham Maslow kebutuhan akan rasa aman merupakan tingkat kebutuhan yang kedua setelah kebutuhan psikologi seperti makan. Pembayaran Iuran. Di Indonesia sebanyak 115. 1997: 127) 133 Koleksi BPAD Prov SU . Sebagai program publik. Program ini memberikan perlindungan yang bersifat dasar.Per. Oleh karena itu perusahaan diwajibkan mengikutsertakan pekerjanya dalam program Jamsostek.. untuk menjaga harkat dan martabat manusia jika mengalami risiko-risiko sosial ekonomi dengan pembiayaan yang terjangkau oleh perusahaan dan karyawan.

termasuk tenaga kerja yang melakukan pekerjaaan di luar hubungan kerja. Keberadaan program Jamsostek sebagai upaya perlindungan hidup tenaga kerja di suatu perusahaan sangat besar manfaatnya. petani yang menggarap sawahnya sendiri dan lain-lain. 2. Dengan terciptanya ketenangan kerja pada akhirnya mendukung kemandirian dan harga diri manusia dalam menerima dan menghadapi risiko sosial ekonomi. 2001: 131). Mei 2006. 1993: 10). Karena adanya upaya perlindungan dan terciptanya ketenangan tenaga kerja akan berdampak meningkatkan produktivitas kerja. Senada dengan hal ini Kertonegoro mengatakan bahwa: “Jaminan sosial merupakan konsepsi kesejahteraan yang melindungi risiko baik sosial maupun ekonomi masyarakat dan membantu perekonomian nasional dalam rangka mengoreksi ketidakadilan distribusi penghasilan dengan memberikan bantuan kepada golongan ekonomi rendah (Sentanoe. hari tua dan meninggal dunia”(Manulang. Volume 5. sebagai pengganti atau seluruh penghasilan yang hilang. Selain mempunyai dampak positif bagi usaha-usaha peningkatan disiplin kerja dan peningkatan produktivitas kerja juga salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. pengacara (advokat). 3 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat (1). baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Manulang. Di berbagai negara diatur pada umumnya melalui berbagai bentuk. misalnya dokter yang membuka praktik. dapat lebih dipahami bahwa yang dimaksud dengan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan kerja adalah tenaga kerja yang melakukan pekerjaan pada setiap bentuk usaha (perusahaan) atau perorangan dengan menerima upah. Halaman 132-150 Bertitik tolak dari hal tersebutlah mendorong lahirnya program yang memberikan jaminan perlindungan bagi tenaga kerja. bersalin. 4 Tahun 1969 tentang Pokok Ketenagakerjaan serta diperkuat dengan Undang-Undang No. 5. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan. Pengertian Jamsostek yang tegas lagi dinyatakan dalam Undang-Undang No. Memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi tenaga kerja serta keluarganya. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang merupakan langkah awal dalam memberikan landasan hukum penyelenggaraan jaminan sosial. antara lain: 1. melalui berbagai usaha dalam menghadapi risiko-risiko ekonomi atau sosial yang dapat mengakibatkan terhentinya/sangat berkurangnya penghasilan (Husni. 2003: 53). Dengan adanya upaya perlindungan dasar akan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan. 3. dapat ditarik kesimpulan bahwa jaminan sosial mempunyai beberapa aspek. yang dimaksud dengan Jamsostek adalah sebagai berikut: “Suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti penghasilan yang hilang atau berkurang dalam pelayanan sebagaimana akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja. ILO (Internasional Labour Organization) yang merupakan salah satu dari Badan Khusus PBB. Dari pengertian di atas. Menciptakan ketenangan kerja karena adanya upaya perlindungan terhadap risiko ekonomi maupun sosial. Nomor 2. 134 Koleksi BPAD Prov SU . Jelas di sini jaminan sosial menjamin santunan sehingga tenaga kerja terlindungi terhadap ketidakmampuan bekerja dalam penghasilan dan menjamin kebutuhan dasar bagi keluarganya sehingga memiliki sifat menjaga nilai-nilai manusia terhadap ketidakpastian dan keputusasaan. Sedangkan tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja adalah orang yang bekerja sendiri tanpa ikatan dengan perusahaan atau perorangan. biasa disebut tenaga kerja bebas. 4. Dari definisi di atas.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. sakit hamil. juga memberikan pengertian jaminan sosial (Sosial Security) secara luas yaitu: “Social security pada prinsipnya adalah sistem perlindungan yang diberikan oleh masyarakat untuk warganya. 2001: 3). Di Indonesia hal ini dapat dilihat pada Undang-Undang No.

et al. 1995: 42). ventilasi tidak cukup. perusahaan sangat perlu untuk memasukkan para karyawannya dalam program Jamsostek. Perusahaan dapat berkembang dan berjalan lancar apabila didukung oleh jumlah tenaga kerja yang cukup. Setiap kecelakaan selalu ada faktor penyebabnya dan penyebab itu tentunya dapat dicegah dan dikurangi. Sebab-sebab teknis biasanya menyangkut masalah-masalah kondisi di pabrik.. di samping menguntungkan bagi perusahaan karena bisa mengalihkan risiko yang harus ditanggung kepada pihak lain. Jaminan Hari Tua. (Kartasaputra. dirasakan belum menunjukan suatu jaminan karyawan terutama dalam kelangsungan hidupnya dengan tingkat kesejahteraan yang memuaskan. 2. baik berupa upah maupun waktu. Terlaksananya pola pemeliharaan kesehatan yang efektif.. Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1993 Pasal 6 ayat (1). 1989: 7). Implementasi Jaminan Sosial. tidak mampu menjalankan tugas dengan baik. tenaga kerja dan keluarga. pemberian bonus dan program kesejahteraan lainnya. Mempercepat terjadinya proses pemerataan hasil pembangunan. Jaminan Kematian. Dengan demikian program Jamsostek. 4. Anggapan bahwa kecelakaan itu merupakan takdir adalah suatu pemikiran yang keliru. dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. perusahaan yang perlu dikembangkan dengan penuh tanggung jawab. Selain itu setiap kecelakaan akan mengakibatkan kerugian. juga dapat meningkatkan produksi perusahaan. berupa penghasilan yang layak dan jaminan-jaminan sosial tertentu. Jamsostek juga sangat dibutuhkan oleh tenaga kerja untuk menjaga harga dirinya agar tidak terkesan untuk minta dikasihani bila terkena musibah.. Menganggap tenaga kerja sebagai patner yang aman membantu untuk mensukseskan tujuan usaha. Beberapa tujuan program jaminan sosial meliputi: 1. Setiap kecelakaan menyebabkan penderitaan bagi keluarganya. misalnya peralatan kerja tidak diberi pengamanan. Sedangkan sebab-sebab manusia biasanya dikarenakan oleh sikap ceroboh. Dari penjelasan di atas menunjukan bahwa program Jamsostek berdasarkan UndangUndang Nomor 3 Tahun 1993 beserta peraturanperaturan pelaksanaannya bersifat dan bertujuan untuk melindungi karyawan. 3. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang dapat menyebabkan kerugian harta benda dan atau hilangnya nyawa manusia yang akibatnya dapat merugikan tenaga kerja.Utamaningsih dan Siagian. Apabila kecelakaan kerja itu mengakibatkan kematian atau cacat permanen maka keluarganya akan menderita kesusahan. upah yang disesuaikan dengan kondisi kebutuhan dan tersedianya Jamsostek. agar dengan demikian patnernya itu lebih terangsang untuk bekerja lebih produktif (berdaya guna dan berhasil guna). Menjalin hubungan yang baik dengan para pekerjanya sehingga mereka merasa bahwa tenaga kerjanya itu perlu dikerahkan dengan baik. Oleh karena itu untuk menanggulangi kecelakaan kerja yang berpengaruh terhadap hilangnya sebahagian atau seluruh penghasilan. serta pengusaha dan masyarakat pada umumnya. Meningkatkan produktivitas pada karyawan perusahaan. b. Program ini dikelolah oleh PT Jamsostek (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Sebagai langkah yang ditempuh dalam menjamin hidup karyawan. Upaya perlindungan karyawan perusahaan dalam bentuk penaikan upah. maka perlu adanya bantuan jaminan kecelakaan kerja. Mengingat gangguan mental akibat 135 Koleksi BPAD Prov SU . mengurangi kesenjangan dalam bidang pemeliharaan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. bahwa ruang lingkup jaminan sosial meliputi: Jaminan Kecelakaan Kerja. efisien dan rasional (Majalah JAMSOSTEK. mengantuk dan sebagainya. Meningkat kan peran serta sektor perusahaan swasta secara bergotong royong bersama-sama dengan pemerintah. seakan-akan mereka bekerja pada perusahaan miliknya. Oleh sebab itu perusahaan hendaknya: a. Sebab-sebab kecelakaan bisa dikelompokan menjadi dua sebab utama yaitu sebab teknis dan sebab manusia. c. sehingga meni mbul kan peningkatan produksi perusahaan. Terciptanya suasana hal di atas akan membentuk hubungan kerja yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Memberikan imbangan yang layak terhadap jasa-jasa yang sudah dikerahkan oleh patner yaitu.

1997: 137). yaitu: 1. 3. 3. 1997: 140).Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 4. 2. 2. Oleh sebab itu pembiayaan Koleksi BPAD Prov SU . Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik. 2. 6. Pnemokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (sisikosis. baik di lokasi kerja karena satu alasan. sisal (bissinosis). Kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab perusahaan. 1997: 143). 1997: 135). Penyakit yang timbul karena hubungan kerja yang terjadi secara tiba-tiba melalui proses dalam jangka waktu tertentu. di luar jam kerja dan di luar waktu kerja (waktu istirahat) serta bersangkutan bebas dari setiap urusan pekerjaan (Christine. Kecelakaan kerja yang terjadi di sebuah perkemahan yang berada di lokasi kerja. Mei 2006. Kecelakaan kerja yang terjadi di tempat lain dalam rangka tugas atau secara langsung bersangkut paut dengan penugasan dan tidak ada unsur kepentingan pribadi. Kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu melaksanakan kegiatan olah raga yang harus dibuktikan dengan surat tugas dari perusahaan. sepanjang melalui perjalanan yang wajar dan biasa dilakukan setiap hari. termasuk kecelakaan kerja (Christine. Nomor 2. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal dalam proses pekerjaan. Kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau di lingkungan tempat kerja. 3 1992: 13 adalah sebagai berikut: 1. henep. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kecelakaan kerja. Penyakit lainnya yang telah ditetapkan kepada keputusan ini (Christine. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan mengenai kecelakaan kerja. Hal-hal yang dapat dimasukan sebagai kecelakaan kerja dalam UU No. agar mudah dipahami dan dimengerti sehingga di kemudian hari tidak salah paham. maka perlu disebutkan hal-hal apa saja yang merupakan kecelakaan kerja sebagai patokan baik karyawan. 5. Cacat akibat kecelakaan kerja (Christine. tanpa sempat mengalami rawat inap atau mengalami rawat inap tetapi tidak melebihi 24 jam terhitung sejak pada jam di tangan dokter/para medis langsung meninggal dunia. Suatu kasus meninggal mendadak dalam hubungan kerja karena suatu alasan. seperti: 1. Kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu melakukan kerja lembur yang harus dibuktikan dengan surat perintah lembur. 136 Di samping itu juga dapat disebut sebagai kecelakaan kerja UU No. Kecelakaan kerja yang terjadi dalam perjalanan berangkat dan pulang ke dan dari tempat kerja. baik di lokasi kerja maupun dalam perjalanan dalam lokasi kerja. Daftar penyakit yang timbul dalam hubungan kerja dapat dilihat dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja. Begitu pula penyakit yang ditimbulkan adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja dan masyarakat umum biasanya tidak terkena. 5. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas. juga di luar waktu kerja dapat dikelompokan sebagai kecelakaan kerja. 4. 3. 3 Tahun 1992 adalah sebagai berikut: 1. ant r akosi l i kosi s. Kecelakaan kerja yang terjadi di luar jam kerja tetapi masih dalam waktu kerja seperti jam istirahat sebagaimana diatur oleh undang-undang. vlas. Perkelahian di tempat kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi pada waktu mengikuti pendidikan yang merupakan tugas dari perusahaan dan harus dibuktikan dengan surat tugas. 4. Volume 5. baik yang terjadi pada waktu kerja atau di luar waktu kerja dan timbul penyakit akibat kerja. kesemua itu menimbulkan kerugian bagi karyawan dan berhak mendapat jaminan kecelakaan kerja. perusahaan maupun lembaga yang ditunjuk sebagai pengelola atas jaminan kecelakaan kerja. Selain yang temasuk kecelakaan kerja pada waktu kerja di atas. 3. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkhopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras. Halaman 132-150 kecelakaan kerja relatif sifatnya sehingga sulit ditetapkan derajat cacatnya maka jaminan atau santunan hanya diberikan dalam hal terjadi cacat mental tetap yang mengakibatkan tenaga kerja yang bersangkutan tidak bekerja lagi. asbest osi s) dan silikotuberkolosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian. 2.

. c.000. Santunan kematian (Sendjun. Biaya pemakaman sebesar Rp 200. Dalam hal ahli waris atau wasiat lainnya tidak ada biaya pemakaman dibayarkan kepada pengusaha atau pihak lain yang mengurus pemakamannya.000. 137 Koleksi BPAD Prov SU . Dengan demikian kesempatan tenaga kerj a untuk menyisihkan sebagai an penghasilannya kemungkinannya sangat kecil. Santunan cacat total untuk selama-lamanya. Besarnya santunan jaminan kecelakaan kerja yang dialami karyawan sesuai dengan PP No.(Sendjun. artinya orang yang sepatutnya menerima warisan tidak diklaim orang lain. Santunan sementara tidak mampu bekerja (STMB) 4 bulan pertama 100 % x upah sebulan dan bulan seterusnya 50 % x upah sebulan. 1993: 36).200.. dan warisan yang diterima kepada keluarga yang berhak menerimanya dapat dimanfaatkan untuk bekal hidup. program ini sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan. Dari uraian di atas dengan menetapkan yang berhak menjadi ahli waris dari jaminan kematian akan memberikan dampak yang positif.000. baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan dalam bentuk uang.. Selain jaminan di atas. Tunjangan kematian yang diberikan terhadap karyawan diambil dari iuran setiap bulannya yang dibayarkan kepada PT Jamsostek. Artinya iuran kecelakaan kerja dari setiap tenaga kerja ditanggung oleh pengusaha. 14 1993 Pasal 9) dan sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan. Dari pengertian di atas menunjukan bahwa karyawan dipandang sebagai insani yang perlu dibantu. 2001: 96). Santunan cacat sebagaian untuk selamalamanya.000.. Santunan kematian sebesar Rp 1000. dan sebaliknya keluarga yang ditinggalkan dapat memanfaatkan santunan yang diberikan untuk mencari nafkah lain. Santunan cacat sebahagian untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus dengan besarnya % sesuai tabel x 60 % sesuai tabel x 60 bulan upah. Jaminan kematian dibayarkan sekaligus sebesar Rp 1.2. Santunan sementara tidak mampu bekerja sebagai pengganti upah.(Kertonegoro. pengobatan dan perawatan di rumah sakit. 2.(satu juta dua ratus ribu rupiah) yang terdiri dari: 1. et al. karena pada usia tua umumnya kemampuan bekerja sudah berkurang sehingga karyawan diberhentikan dari pekerjaannya. d.Utamaningsih dan Siagian. Jaminan kematian dibayarkan sekaligus kepada janda/duda. Implementasi Jaminan Sosial. 2001: 134). 3. Santunan berskala sebesar Rp 25. Pemeriksaan. Besarnya iuran menurut peraturan yang berlaku adalah sebesar 0. Namun dapat dibayangkan kondisi tenaga kerja di Indonesia dengan upah yang belum begitu layak dengan kata lain hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Diperlukan jaminan kematian dalam upaya meringankan beban keluarga. Jaminan kematian adalah suatu jaminan bagi tenaga kerja yang meninggal dunia bukan diakibatkan kecelakaan kerja yang mengakibatkan terputusnya penghasilan dan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkan (Manulang. orang yang berhak menerima warisan ditetapkan sebagai berikut: 1. Dengan demikian karyawan yang mendapat kecelakaan kerja berhak mendapat jaminan kerja sesuai dengan Permenaker No: Per –04 /MEN/1993 yang terdiri dari: 1. sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak terbebankan dengan putusnya nafkah keluarga. Santunan cacat: a. c.(dua puluh lima ribu rupiah) selama 24 bulan.14 tahun 1993 dapat dibagi sebagai: 1.30% dari upah sebulan (PP No. 2001: 94). Biaya pemakamam (Sendjun. kepada tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja juga diberikan santunan berupa uang yang terdiri dari: a. b. 2001: 94). Biaya pemakaman sebesar Rp 200. 2. 2. Hari tua merupakan risiko kehidupan yang dapat mengakibatkan terputusnya upah.000. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993. b. Pengangkutan dari tempat kejadian ke rumah sakit yang terdekat ataupun ke rumahnya. Dengan terputusnya pekerjaan dan upah dari perusahaan tentunya biaya hidup adalah hasil tabungan semasa kerja. atau anak.

2.000. Program jaminan pemeliharaan kesehatan yang merupakan salah satu dari program Jamsostek. Mencapai umur 55 tahun. 4. Pembayaran sekaligus dapat dilakukan apabila jumlah seluruh jaminan hari tua kurang dari Rp 3. 2.. Pembayaran jaminan hari tua dapat dibayarkan sekaligus atau secara berkala. Besarnya saldo tabungan tersebut tergantung dari iuran. Tenaga kerja menanggung iuran sebesar 2 % (Christine. Kepastian pembiayaan kesehatan tenaga kerja serta keluarganya. menyadari akan pentingnya faktor kesehatan dalam menunjang peningkatan produktivitas kerja karyawan. bagi perusahaan juga memperoleh manfaat sebagai berikut: 1. Bahkan dari waktu ke waktu mengalami peningkatan pembiayaan. Pemeliharaan kesehatan bagi karyawan perusahaan tidak dapat dilepaskan sebagai sarana penunjang dalam meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan karyawan yang buruk akan mengakibatkan kecenderungan tingkat absensi yang meningkat. besarnya iuran jaminan hari tua ditetapkan sebagai berikut: a. Terpeliharanya kesehatan bagi diri dan keluarga demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup Sementara itu. sehingga 138 produktivitas menjadi rendah. Pembayaran jaminan hari tua secara sekaligus atau berkala merupakan pilihan dari tenaga yang bersangkutan sendiri. Program Jaminan hari tua diselenggarakan dengan cara atau sistem tabungan hari tua (provident fund). Jaminan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan keluarganya memerlukan pelayanan medis dan spesifik dan pembiayaan yang rasional untuk menghindari berbagai penyalahgunaan dan biaya yang berlebihan. Koleksi BPAD Prov SU . 1997: 140).000. 2. Volume 5. Mengalami cacat total dan tetap sehingga tidak bisa bekerja lagi. uang muka dan biaya rumah sakit/ dan bersalin. Tidak lagi diperlukan pembiayaan dokter. Pengusaha menanggung iuran sebesar 3. b. Halaman 132-150 Melihat permasalahan di atas. Usaha ini hanya bisa dilakukan oleh badan penyelenggara yang khusus dan profesional serta bisa diperoleh efisiensi dan efektivitas yang tinggi melalui prinsip gotong-royong antara peserta yang jumlahnya besar dan merata. Mei 2006.70 %.000. Berbagai program kesehatan kebijaksanaan dari perusahaan terhadap karyawannya menandakan bahwa pihak perusahaan. 5.(tiga juta rupiah). 1993: 35). stabil dan produktif (Majalah Jamsostek. sehingga iuran jaminan sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan. dan mendapat bunga setiap tahun. di mana iuran dari pengusaha dan tenaga kerja setiap bulan dikredit pada rekening tenaga kerja secara individual. bunga dan masa kepesertaan. Dengan mengikuti jaminan pemeliharaan kesehatan manfaat yang diperoleh bagi karyawan adalah: 1. Nomor 2. Memperoleh kepastian pelayanan medis pada saat membutuhkan. Meninggal dunia. Bagi yang masih lajang sebesar 3 % dari upah sebulan dan yang sudah berkeluarga sebesar 6 % dari upah sebulan. Tidak lagi direpotkan dengan berbagai masalah kesehatan tenaga kerja serta keluarganya. obat..Jurnal Pemberdayaan Komunitas. biaya pelayanan kesehatan relatif cukup mahal. Jadi besarnya iuran yang harus dibayar pengusaha setiap bulannya adalah sebesar 5. Pergi keluar negeri atau pulang ke negeri asal untuk tidak kembali lagi (Kertonegoro. 1996: 3). Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992. 3. Pembayaran secara berkala dapat dilakukan apabila seluruh jaminan hari tua mencapai Rp 3. Diperolehnya atau didapatkannya tenaga kerja yang sehat..7 % yang dihitung dari upah sebulan dari tenaga kerja. bukan saja untuk memelihara tingkat produktivitas atau disiplin tetapi juga memelihara eksistensi dan kualitas hidup tenaga kerja. 3.000. Mengalami PHK setelah peserta setidaktidaknya lima tahun.atau lebih dilakukan paling lama 5 tahun (PP No. et al. 3. 14 1993 pasal 24). Kemanfaatan dari jaminan hari tua berupa pembayaran saldo tabungan pada saat timbul hak peserta yaitu: 1. Jika dibandingkan dengan tingkat ratarata pendapatan tenaga kerja. maka sangat perlu diadakan program yang sangat berpengaruh bagi masa depan/hari tua bagi karyawan terutama yang penghasilannya rendah.

7. terutama berupa: pemeriksaan laboraturium. Electro Cardiography (ECG). Sedangkan jaminan hari tua dan jaminan kematian dapat membantu biaya pendidikan anak-anak tenaga kerja secara selektif melalui pemberian beasiswa.Utamaningsih dan Siagian.-. Kemanfaatan lainnya adalah seperti: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) ikut menunjang usaha-usaha pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja melalui Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). prothese gigi Rp 80.-. 2. Lamanya hari rawat yang ditanggung maksimum 60 hari per kasus per tahun. 4. 3. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran atau melukiskan kenyataan yang ada tentang masyarakat atau kelompok orang tertentu di lapangan secara analisis yang prosesnya meliputi penguraian hasil observasi dari suatu gejala yang diteliti atau lebih (Irawan. Dengan demikian kemanfaatan JKK meliputi usaha-usaha prevensi. tindakan medis sederhana. sudah termasuk perawatan khusus (ICCU/ICU) ditanggung maksimum 20 hari per kasus per tahun. Pertolongan persalinan.000. tindakan medis. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) juga ikut membantu upaya-upaya pendidikan kesehatan. alat Bantu dengan Rp 1. Dengan demikian tenaga kerja dan keluarganya dapat meningkatkan kesehatannya tanpa harus memikirkan biaya kesehatan dan kesejahteraan keluarganya dapat tercapai. dan rehabilitasi. 2004: 35). Rawat inap di rumah sakit. Rawat jalan lanjutan.000. tetapi lebih komprehensif. 40 Medan.000. Ultrasonography (USG). 2002: 149).000. Jika populasi kurang dari 100 maka sampel dapat diambil seluruhnya. 6. prothese mata Rp 100. paket tersebut dari: 1. Pelayanan khusus terutama berupa penggantian maksimum biaya kacamata Rp 50. Menurut Arikunto. Implementasi Jaminan Sosial. terutama berupa: tindakan medis oleh dokter atau bidan yang menginap di rumah sakit. terutama berupa: pemeriksaaan. JPK memberi pelayanan promotif (peningkatan). Pelayanan gawat darurat. antara lain berupa: pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter. tetapi apabila lebih dari 100 orang maka diambil sampel sebesar 25% (Arikunto. tindakan medis dan rawat inap (jika perlu) ( Kertonegoro. radiologi. preventif pencegahan. Metode ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu objek yang diteliti dalam hal ini adalah menggambarkan implementasi jaminan sosial tenaga kerja dan kesejahteraan keluarga karyawan yang diberikan PT Asam Jawa Medan. pemeriksaan kehamilan. pengobatan. Penunjang diagnosis. pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan. Metode Penelitian Tipe penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis.-. prothese tangan Rp 125. Rawat inap tingkat pertama. Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti yang dianggap dapat menggambarkan populasinya.. terutama berupa: pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis. Penelitian ini dilaksanakan di PT Asam Jawa yang berkantor pusat di Jalan Gajahmada No. kuratif (penyembuhan dan rehabilitatif).000. PT 139 Koleksi BPAD Prov SU . Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di Kantor Pusat PT Asam Jawa Medan yang berjumlah 40 orang. terutama berupa: pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter umum dan dokter gigi. Di samping itu perusahaan ini telah melaksanakan program Jamsostek dengan memasukkan karyawannya sebagai peserta Jamsostek. prothese kaki Rp 150.-. Electro Encephalogy (EEG).-. Computerized Tomography (CT) Scaning sesuai tersedianya fasilitas tersebut. Perusahaan ini bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan merupakan perusahaan perkebunan swasta nasional.000. 1993: 36). Dalam hal ini karena populasi kurang dari 100 orang maka seluruhnya dijadikan sampel.-. kompensasi. menginap dan makan pada kelas II rumah sakit pemerintah atau kelas III rumah sakit swasta. Jaminan pemeliharaan kesehatan bukan saja dilaksanakan terhadap tenaga kerja itu sendiri tentu juga keluarga tenaga kerja dengan 3 orang anak. Jaminan pemeliharaan kesehatan diberikan dalam bentuk pelayanan medis sebagai paket jaminan pemeliharaan kesehatan dasar.. 5.000. Jamsostek tidak hanya memberi ganti rugi dan pelayanan penyembuhan semata-mata. Di samping itu JKK juga memberi prothetse anggota badan dan alat bantu seperti kursi roda bagi penderita cacat tenaga kerja. Maka sampel dari penelitian ini adalah semua karyawan yang bekerja di kantor pusat PT Asam Jawa Medan.

yaitu program Jaminan Kecelakaan Kerja. maka perusahaan akan menanggung anggota keluarga karyawan dengan berupa tunjangan tetap pendidikan yang diperoleh setiap tahun. Untuk mengetahui data atau informasi. perusahaan telah mengadakan 1 unit kendaraan ambulans yang dapat mempercepat pelayanan darurat ke rumah sakit PTP IV Torgamba (45 km) dari lokasi kebun. Volume 5. Setiap bulannya karyawan yang telah ditunjuk oleh perusahaan sebagai pelaksana Jamsostek memberikan iuran kepada PT Astek (persero). 334 Medan. b.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan. Bagi karyawan yang belum memiliki rumah sendiri. Sedangkan untuk karyawan pusat perusahaan juga mempunyai rumah sakit rujukan seperti RSU Permata Bunda dan RSU Gleneagles Medan. huni. dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Nomor 2. Jaminan Kesehatan serta Jaminan Hari Tua yang juga dilaksanakan oleh perusahaan sendiri yakni yayasan perusahaan dana pensiun PT Asam Jawa Medan. Secara periodik melaksanakan Medical Chek Up kepada karyawan dan staf. Untuk yang masih sekolah perusahaan juga memberikan 2 stel pakaian seragam sekolah setiap tahun. juga di dalam keputusan kerja bersama antara karyawan dengan perusahaan menetapkan hal. berusia di bawah 19 tahun. Rumah Tempat Tinggal Kebutuhan yang amat mendasar salah satunya adalah rumah tinggal yang layak 140 Koleksi BPAD Prov SU . Pelayanan Kesehatan Pemeliharaan kesehatan karyawan beserta keluarganya merupakan faktor yang menentukan keluarga tersebut dapat dikatakan sejahtera. Sehubungan dengan hal tersebut. c. Maksimal 3 (tiga) orang anak dari hasil perkawinan yang sah (termasuk anak angkat/tiri yang sah). belum kawin dan tidak mempunyai penghasilan sendiri atau berusia di bawah 24 (dua puluh empat tahun) tetapi masih sekolah/ kuliah dengan dibuktikan surat keterangan dari sekolah/universitas. keterangan atau fakta yang diperlukan peneliti dengan menggunakan teknik pengumpulan berupa observasi dan penyebaran angket. 2. Halaman 132-150 Asam Jawa juga telah melaksanakan berbagai bentuk pemberian kesejahteraan bagi karyawan juga keluarga karyawan tersebut. Iuran berdasarkan jumlah yang tercantum dalam formulir Daftaran Tenaga Kerja yang telah diisi oleh karyawan yang bertugas sebagai pelaksana Jamsostek atas keterangan karyawan yang akan menjadi peserta Jamsostek. Rantau Prapat atau Medan.hal yang berhubungan dengan pemberian kesejahteraan keluarga karyawan yaitu: a. Jaminan Kematian. Perusahaan juga memberikan immunisasi hepatitis B kepada karyawan. Di kebun semua karyawan mendapat perumahan yang layak huni dengan fasilitas listrik dan air. diberi kompensasi rumah sebesar 25 % dari gaji tiap bulannya. atau dengan kata lain aspek kesehatan adalah salah satu indikator tingkat kesejahteraan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada Perusahaan PT Asam Jawa Medan Jamsostek diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jamsostek yakni PT Astek (Asuransi Tenaga Kerja) yang berkantor di Jalan Patimura No. dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Jamsostek yang telah dilaksanakan oleh perusahaan. Pembayaran Iuran. Pembayaran Santunan. biaya pengobatan dan rawat inap seluruhnya menjadi tanggung jawab perusahaan yang akan diklaim oleh PT Astek. Sedangkan untuk karyawan pusat perusahaan memberikan bantuan rumah dengan memberikan tunjangan tidak tetap berupa penggantian uang sewa rumah yang diperoleh setiap tahun. Selain pelaksanaan jaminan sosial yang dijelaskan sebelumnya. Mei 2006. yaitu dengan cara menjabarkan data yang diperoleh dari penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif. Pendidikan Untuk meringankan beban tanggungan karyawan. kemudian dilakukan analisis data dengan menggambarkan kenyataan yang ada di tempat penelitian yang tersusun dalam bentuk tabel tunggal untuk memberikan penjelasan dan komentar-komentar.

1. Prapat dan tempat lain. 1. Banyaknya responden yang berjenis kelamin pria pada dasarnya tidak berpengaruh terhadap hasil penelitian ini. bola voli. Program Pensiun Pimpinan PT Asam Jawa tidak akan membiarkan karyawannya yang purna tugas akan kehilangan penghasilannya.0 40. Tabel 2. lama bekerja.5 37. e. Begitu pula dengan penginapan karyawan bebas memilih penginapan yang diinginkan di Berastagi. karena itu ditetapkan program pensiun.5 %) dan responden yang berjenis kelamin wanita sebanyak 15 orang (40 %). Tabel di atas menunjukkan responden yang berjenis kelamin pria lebih dominan daripada responden wanita. 3. Dengan peranan yayasan ini. Tabel 1. Implementasi Jaminan Sosial. Semua jenis olah raga tersebut mendapat fasilitas dari perusahaan. Untuk mendapatkan cuti menunaikan ibadah haji seorang karyawan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1.. Setiap bulannya 5. Hal ini ditujukan untuk kesejahteraan karyawan yang purna tugas tersebut. f. Olah raga massal biasanya diadakan pada saat menjelang 17 Agustus pada setiap tahunnya.7 % dari saldo gaji akan disetor ke PT Astek sedangkan yayasan yang dimiliki perusahaan tidak memungut iuran dari karyawannya tetapi perusahaan memberikan 8. Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah Sumber: Data Primer F 25 15 40 % 62.4 % dari gaji mereka untuk masa pensiun mereka tiba. responden yang berjenis kelamin pria sebanyak 25 orang (62. konsumsi dan transport ditanggung perusahaan. Sedangkan untuk karyawan yang beragama Kristen. 2. 3. Hanya untuk 1 (satu) kali naik haji. h. 2. d. bahwa pada saat sesudah purna tugas nanti hidupnya akan tetap terjamin.0 100. 4. Telah bekerja sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Karakteristik umum responden terbagi ke dalam 6 pertanyaan yang meliputi: jenis kelamin. Bantuan Fasilitas Olah Raga Kegiatan olah raga bagi karyawan merupakan salah satu usaha peningkatan kesehatan karyawan. Rekreasi Rekreasi bersama dilaksanakan setiap 1 tahun secara priodik dengan biaya akomodasi. Usia < 25 tahun 25-35 tahun 36. bulu tangkis. catur.46 tahun >46 tahun Jumlah Sumber: Data Primer F 0 18 16 6 40 % 0 45. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin No. Distribusi Responden Berdasarkan Usia No. dan jumlah anak. usia. baik peralatan maupun lapangan dan waktu latihan.0 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden yang berjumlah 40 orang. pendidikan formal. tenis meja.0 15.. semua karyawan telah mengetahui. Olah raga yang menonjol di perusahaan ini adalah sepak bola. status perkawinan. bela diri dan golf khusus untuk karyawan staf dan untuk tingkat asisten ke atas. Tempat Ibadah Untuk karyawan yang beragama Islam sebuah mesjid sudah dibangun permanen di emplasmen induk yang dapat menampung ±200 orang.5 100. Surat permohonan ibadah haji harus dilengkapi dengan surat resmi dari Departemen Agama mengenai quota yang diperoleh. Menunaikan Ibadah Haji Karyawan diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya sendiri.Utamaningsih dan Siagian. Untuk karyawan pusat disediakan mushalla di kantor.0 g. 2. di emplasmen induk di bangun gereja yang biasanya menampung 100 jemaat. Program pensiun di PT Asam Jawa dilaksanakan oleh PT Astek dan juga oleh yayasan perusahaan sendiri. Koleksi BPAD Prov SU 141 .

Pendidikan Sarjana Diploma SMU/ Sederajat Jumlah Sumber: Data Primer F 21 10 9 40 % 52.5%) dan bukanlah karyawan yang baru bekerja tetapi merupakan karyawan lama. Volume 5.5 100.5%). menanggapi hal ini perusahaan merasa bahwa untuk meningkatkan produktivitas perusahaan. Tabel 3. Kita tahu bahwa di atas umur 45 tahun adalah umur yang sangat produktif. dan menyandang gelar diploma adalah 10 orang (25%). 3. Mei 2006. 1. 4 Status Perkawinan Tidak Menikah Menikah Janda Duda Jumlah F 1 35 3 1 40 % 2.5 100.5 25. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Bekerja No. Hal ini disebabkan perusahaan mengadakan penyaringan sumber daya manusianya guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas perusahaan. Rata-rata yang berpendidikan SMA merupakan karyawan yang telah bekerja cukup lama dan berada pada posisi di kantor pun cukup dihormati. Para responden pada umumnya bekerja pada kurun waktu yang cukup lama disebabkan kemauan yang kuat dari dalam diri responden tersebut untuk meningkatkan karier melalui prestasi di perusahaan.5%) adalah sarjana.5 2. Halaman 132-150 Pada Tabel 2 di atas dapat diketahui responden yang berusia 36-46 tahun berjumlah 16 orang (40 %) dan responden yang berumur 25-35 tahun sebanyak 18 orang (45%). Hal ini juga karena responden merasa aman dan nyaman bekerja. Lama Bekerja < 1 Tahun 1-10 tahun 11-20 tahun > 20 tahun Jumlah Sumber: Data Primer F 0 8 25 7 40 % 0 20. Responden yang berumur kurang dari 25 tahun tidak ada. 1. Sedangkan Pada jawaban responden diketahui hanya 8 orang (20%) yang bekerja di bawah 1-10 tahun. Nomor 2. 2. 2.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dalam hal ini perusahaan tidak memfokuskan pada usia produktif.5 7.5%). 3.20 tahun yakni sebanyak 25 orang (62. maka perusahaan harus mencari sumber daya manusia yang produktif. Sedangkan yang belum menikah hanya satu orang saja (2.5) responden yang telah mengabdi lama selama lebih dari 20 tahun.0 22. Sedangkan responden yang berumur > 46 tahun berjumlah hanya 6 orang.0 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat mayoritas responden PT Asam Jawa Medan dengan jumlah 21 orang (52.5 100. Dalam UU No. 3 1992 tentang Jamsostek meyebutkan suatu perusahaan wajib menjadi 142 Koleksi BPAD Prov SU . Juga Terdapat sebanyak 7 orang (17. Pada Tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata responden bekerja di atas 11. Begitu pula terdapat 3 karyawan yang janda dan 1 karyawan duda.5 87. Ini membuktikan bahwa perusahaan juga sangat menuntut prestasi dan dedikasi karyawan mereka. 2. Meskipun gaji mereka terbatas namun gaji tersebut mampu mencukupi kebutuhan mereka. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan No.0 62. hal ini disebabkan karena mereka baru bergabung dengan perusahaan. Sedangkan pendidikan formal minimal SMU/Sederajat berjumlah hanya 9 orang (2.5%) dari jumlah seluruh karyawan sebanyak 40 orang.0 Tabel 4.5 17. Apalagi sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan. 1. Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pendidikan formal mayoritas responden adalah sarjana. 3. 4. Tabel 5.0 Sumber: Data Primer Pada Tabel 5 di atas dapat diamati bahwa jumlah responden PT Asam Jawa Medan yang sudah menikah cukup tinggi yakni berjumlah 35 orang (87. Distribusi Responden Berdasarkan Status Perkawinan No. Sedangkan karyawan yang memiliki pendidikan SMA ternyata dapat memberikan dedikasi yang dapat disejajarkan dengan para karyawan yang sarjana ataupun diploma. akan tetapi difokuskan pada kemampuan responden menemukan ide-ide baru yang mampu meraih serta meningkatkan produksi perusahaan.

Utamaningsih dan Siagian.5 0 100.. Implementasi Jaminan Sosial.5 %) bagi mereka memperoleh Jamsostek.5 0 100. janda. Berdasarkan pendapat seorang responden perusahaan tidak pernah mempersulit responden untuk mendapatkan jaminan tersebut. atau mengalami kekurangan nafkah lain-lain karena diluar kekuasaannya”.5 0 100.. 1.5 77.0 untuk dirinya dan keluarganya. Bahkan sebanyak 9 orang (22. Tanpa melihat status karyawan tersebut. 3. Penerimaan Santunan oleh Responden No. 2.0 0 0 100. Distribusi Responden Berdasarkaan Kesertaan pada Program Jamsostek No 1.-.0 27.5%) hanya beberapa menerima santunan. Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak No. Jaminan Kematian. perlindungan kecelakaan kerja dan lainnya sesuai dengan pasal 25 ayat (1) Declaration of Human Right sebagai berikut: “Setiap warga negara berhak atas hidup yang menjamin kesehatan dan keadaan baik Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa mayoritas responden menyatakan mudah sebanyak 31 orang (77.5 70. Tabel 9.0 Sumber: Data Primer Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa responden yang memiliki jumlah anak 34 anak adalah 11 orang (27. pekerjaan. Rata-rata responden telah memiliki anak. Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kesehatan.0 Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden yang terdiri dari 40 orang telah menerima santunan sebanyak 31 orang (77.0 Sumber: Data Primer Berdasarkan distribusi jawaban responden pada Tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa karyawan telah menjadi peserta seluruh program Jamsostek. Dengan demikian karyawan telah mempunyai hak untuk mendapatkan upah dan perlindungan kesehatan. 2. Tabel 6. Tabel 7.000. Tabel 8.5 17. Hal ini terlihat dari jawaban responden (N = 40) yang menyatakan telah menjadi peserta Jamsostek dengan bukti memiliki kartu peserta Jamsostek dan saldo Jaminan Hari Tua. termasuk soal makanan. 2.5 %) menyatakan sangat mudah untuk mendapatkan jaminan sosial tersebut. Kategori Sangat mudah Mudah Sulit Jumlah Sumber: Data Primer F 9 31 0 40 % 22. Kategori Semua program Sebagian program Belum menjadi peserta Jumlah F 40 0 0 40 % 100. peserta Jamsostek jika mereka mempekerjakan lebih dari 10 karyawan dengan upah di atas Rp 1000. 3. Juga anak-anak mereka telah duduk di bangku sekolah yang rata-rata masih SLTP. 3. Mereka mengutip iuran dari karyawan dan melaporkan kepada PT Astek. Program Jamsostek yang diikuti yakni Jaminan Kecelakaan Kerja. Jumlah Anak 0 1 –2 3-4 5-6 Jumlah F 1 28 11 0 40 % 2. Persepsi Responden tentang Prosedur Menjadi Peserta Jamsostek No. Di perusahaan diketahui bahwa bagian pelaksana Jamsostek adalah karyawan yang berada pada jabatan Pelaksana Administrasi Kesejahteraan Karyawan.5%) dan jumlah 1-2 anak sebanyak 28 orang (70%). 3. lanjut usia. sebaliknya perusahaan membantu dalam mengurus jaminan sosial yang harus diterima oleh responden. 4. Kategori Pernah Beberapa jenis Jamsostek Tidak Pernah Jumlah Sumber: Data Primer F 31 9 0 40 % 82. Hal ini dimungkinkan karyawan yang akan menerima santunan seperti jaminan kesehatan yang disediakan karyawan tidak dipergunakan dengan alasan karyawan tersebut malas karena fasilitas 143 Koleksi BPAD Prov SU . 1. Karyawan dinyatakan menjadi peserta Jamsostek dihitung setelah menjadi pegawai PT Asam Jawa Medan. 2.5%) dan sebanyak 9 orang (22. perumahan dan perawatan kesehatan serta usaha-usaha sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan di waktu mengalami pengangguran. 1.

2. Mei 2006. Tabel 10.5 0 100.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.5%). 3. Kategori Semua dibayar Sebagaian dibayar Tidak dibayar Jumlah Sumber: Data Primer F 34 6 0 40 % 90. Tetapi perusahaan tetap memotong uang transport karyawan yang tidak dapat bekerja dikarenakan sakit. Bagitu pula dengan biaya pemakaman. Perusahaan tidak tinggal diam membiarkan karyawannya yang terkena musibah atau yang sedang dalam kesulitan.0 10.0 Pada Tabel 12 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan memberikan informasi pada karyawan tentang pemberian tunjangan kematian tentunya perusahaan akan melaksanakan kewajibannya dengan memberikan santunan kematian kepada karyawannya.0 0 100.5 %). Berdasarkan Tabel 11 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan memberikan perhatian yang besar kepada karyawan dengan tetap membayarkan gaji terhadap karyawan yang tidak dapat bekerja. Dapat kita ketahui bahwa pengobatan kesehatan betul-betul mahal harganya apalagi di era seperti sekarang ini.0 Tabel 11. Kategori Diberikan santunan Hanya orang tertentu Tidak diberikan Jumlah Sumber: Data Primer F 34 6 0 40 % 90. Volume 5.0 0 100. Menurut pengakuan responden. 2. Selain santunan kesehatan juga salah satunya adalah santunan kemalangan atau kematian. Terlihat dari data mayoritas responden menjawab perusahaan tetap membayar sebanyak 34 orang (90%). 3.5 12. Penggantian Biaya dari Perusahaan Jika Responden Mengalami Kecelakaan Kerja No. pemberian santunan kematian tersebut sangat membantu keluarga yang ditinggalkan Hal ini diketahui 144 Koleksi BPAD Prov SU . 2. Hal ini dimungkinkan karyawan tersebut baru bekerja. Begitu pula apabila karyawan mengalami kecelakaan yang cukup berat dan rumah sakit yang telah dirujuk tidak dapat menanganinya maka perusahaan pun bersedia memindahkan karyawan tersebut ke rumah sakit lain yang lebih baik. Sedangkan responden yang menjawab kurang memadai hanya 5 orang (12.. 1. Nomor 2. Karyawan yang mengalami kecelakaan kerja akan dirawat di rumah sakit rujukan dari perusahaan setelah itu fotokopi kuitansi tersebut akan menjadi bukti untuk mengajukan klaim ke Jamsostek yakni PT Astek. Responden hanya perlu menunjukan bukti-bukti kecelakaan dengan memberikan fotokopi kuitansi dari rumah sakit dan apotek tempat mereka berobat. Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga karyawan tentunya. Halaman 132-150 kesehatan jauh dari rumah/tempat tinggal karyawan. Pembayaran Gaji Karyawan yang Belum Bekerja Karena Kecelakaan Kerja No. 3. Santunan Bagi Karyawan yang Meninggal No. Sedangkan responden yang menjawab hanya sebagian saja hal ini dikarenakan responden tersebut adalah karyawan yang baru masuk bekerja. Tabel 12. beberapa karyawan mengaku bersyukur karena tidak menerima santunan kematian . Responden mengaku untuk biaya kesehatan bagi mereka perusahaan telah memberikan yang terbaik. Sehingga tidak dapat dipungkiri biaya kesehatan yang diberikan perusahaan telah mempengaruhi peningkatan kesejahteraan mereka dan ketentraman serta perasaan aman karyawan dalam bekerja pun dapat lebih produktif lagi. Menurut beberapa responden mereka merasa perusahaan cukup memperhatikan sehingga kesejahteran karyawan tetap diutamakan. Kategori Memadai Kurang memadai Tidak memadai Jumlah Sumber: Data Primer F 35 5 0 40 % 87.0 10. 1. Perusahaan mengganti seluruh biaya akibat kecelakaan kerja. 1. Mereka memberikan kepada pihak keluarga yang ditinggalkan.0 Pada Tabel 10 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan sangat memperhatikan karyawannya ini dapat terlihat pada data di atas bahwa mayoritas responden menjawab memadai sebanyak 35 orang (87.

Pemberian Bantuan Bagi Keluarga Karyawan yang Meninggal No.0 27. Fasilitas Kesehatan No. Responden yang menjawab memadai berjumlah hanya 16 orang (40 %). Tetapi dengan pembayaran iuran yang berasal dari gaji mereka responden yakin perusahaan pasti memberikan yang terbaik kepada karyawannya. Implementasi Jaminan Sosial. Pihak perusahaan akan mengurus klaim jaminan kematian segera sehingga pihak keluarga karyawan yang ditinggalkan tidak perlu mengurus jaminan kematian tersebut.0 10. dari jawaban responden sebanyak 34 orang (90%) dan hanya 6 orang (10%) saja yang menjawab hanya orang tertentu saja. 2. Kategori Cukup Memadai Memadai Tidak Memadai Jumlah Sumber: Data Primer F 24 16 0 40 % 60.0 Koleksi BPAD Prov SU 145 . Tabel 13. Tabel 16. 3.0 Pada data Tabel 14 di atas dapat diketahui fasilitas yang disediakan oleh perusahaan cukup memadai. Ini berlaku bagi seluruh anggota keluarga karyawan. Tabel 15. Hal ini diketahui dari jawaban responden yang menjawab point 1 sebanyak 36 orang (90%). 1.5 0 100. Anggota keluarga yang mendapatkan bantuan hanya istri/suami dan anak. Bahkan 21 orang (52. 1. 3.000.5 17. Hal ini responden adalah karyawan yang baru bekerja. Hanya saja mayoritas responden tidak mengetahui secara pasti berapa besar jumlah biaya yang biasa diberikan kepada ahli waris sebagai santunan apabila ada karyawan yang meninggal dunia.000. Kategori Semua mendapat Hanya orang tertentu Tidak diberikan Jumlah Sumber: Data Primer F 36 4 0 40 % 90. 2. check up.0 0 100.500.0 0 100. Sedangkan sebanyak 4 orang (10%) menjawab hanya orang tertentu saja.0 Pada Tabel 15 dapat diketahui rata-rata responden mengaku bahwa jaminan hari tua yang akan mereka terima memadai sebanyak 19 orang (47. Jaminan Hari Tua dari Perusahaan No. 2. 3. berobat. Selain itu sebagai rasa bela sungkawa para karyawan memberikan sumbangan ala kadarnya untuk memberikan kepada ahli waris tanpa mengurus biaya pemakaman. Distribusi Karyawan Berdasarkan Gaji per Bulan No.0 Pada Tabel 13 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan juga turut serta membantu keluarga karyawan yang mengalami musibah sekalipun di luar hubungan kerja. 1. Selain itu sebagai rasa bela sungkawa para karyawan memberikan sumbangan ala kadarnya untuk memberikan kepada ahli waris tanpa mengurus biaya pemakaman.5%). Hal ini dimungkinkan karyawan tersebut relatif baru bekerja dalam kata lain dalam proses masuk peserta jaminan kematian. Responden mengaku bahwa saat ini biaya rumah sakit sangat mahal sehingga jelas fasilitas yang diberikan oleh perusahaan telah membantu karyawan untuk menjaga kesehatan mereka.5 100.5%) menjawab sangat memadai. Kategori (Rp) > 3.000-3.000 650. Tentunya dengan kesehatan yang cukup baik karyawan dapat bekerja lebih produktif lagi dan kesejahteraan keluarga mereka dapat terpenuhi. 1. Fasilitas yang diberikan perusahaan meliputi rawat inap. Walaupun mereka juga mengakui bahwa responden itu sendiri tidak tahu berapa besar jumlah pesangon yang akan mereka terima. 3.5 47.000 Jumlah Sumber: Data Primer F 11 22 7 40 % 55.Utamaningsih dan Siagian. 2. Hal ini diketahui dari jawaban responden sebanyak 24 orang (60%). Kategori Cukup Memadai Memadai Tidak Memadai Jumlah Sumber: Data Primer F 21 19 0 40 % 52..000-1.000 1. penggantian lensa kaca mata setiap tahun serta perobatan dan perawatan gigi.0 40. Tabel 14.. Masa kepesertaan sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun semenjak pembayaran iuran pertama program jaminan hari tua.500.

000. Penerimaan Tunjangan Hari-Hari Besar Agama No.000.5 0 100. 1. Kategori Bantuan perusahaan Bantuan keluarga dan Perusahaan Diperoleh sendiri Jumlah Sumber: Data Primer F 23 17 0 40 % 57. Ini berarti PT Asam Jawa telah menerapkan penghasilan karyawannya sesuai dengan UMR yang berlaku. Hal ini berarti perusahaan memperhatikan kesejahteraan karyawannya. 3.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 1.0 0 0 100.kadang Tidak menerima Jumlah Sumber: Data Primer F 40 0 0 40 % 100.0 Pada Tabel 17 di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden menjawab menerima 40 orang (100%). Halaman 132-150 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui responden yang berpenghasilan Rp 650. Volume 5.000. Beberapa responden merasa gaji yang mereka terima dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka tetapi ada juga responden yang merasa gaji yang mereka terima saat ini walaupun sudah melebihi UMP tetap belum mencukupi kebutuhan mereka dikarena harga-harga yang terus naik dan sebagainya. Cara Karyawan Memperoleh Tempat Tinggal No..000.000 berjumlah 11 orang (17%). Tunjangan diberikan berdasarkan jabatan dan golongan reseponden masing-masing. Natal dan hari besar keagamaan lainnya. Beberapa responden mengakui bahwa mereka juga sering menerima tunjangan tidak tetap berupa uang pengganti transportasi terutama apabila responden melakukan perjalanan dinas keluar kota maka perusahaan mengeluarkan Surat Perintah Perjalan Dinas (SPPD). 146 Koleksi BPAD Prov SU . 2. Kategori Sangat sering Sering Tidak pernah Jumlah Sumber: Data Primer F 0 40 0 40 % 0 100. 1.500. Bantuan perusahaan dimasukkan ke dalam tunjangan perumahan. Hal ini berarti perusahaan memperhatikan karyawan dari segi tunjangan-tunjangan hari besar seperti Idul Fitri.0 Berdasarkan Tabel 19 di atas dapat diketahui bahwa responden 57.5 % atau sebanyak 23 orang bertempat tinggal sendiri atas bantuan dari perusahaan.hari mereka tanpa menggangu gaji yang mereka terima. Nomor 2.000.– Rp 3..5%).berjumlah 7 orang (17.000. tunjangan golongan dan natura dan tunjangan kehadiran yang diberikan saat penerimaan gaji pokok bulanan. Menurut pengakuan responden mereka memperoleh bantuan keluarga berasal dari warisan. Tabel 19. Mei 2006.5 42.– Rp 1. lembur. Sedangkan Responden mengaku dengan pemberian berbagai tunjangan tidak tetap tersebut dapat meningkatkan serta mempertahankan kesejahteraan bagi keluarga karyawan.0 0 100.. Responden mengakui dengan pemberian tunjangan tersebut responden tidak terlalu terbebani dalam mencukupi kebutuhan menjelang perayaan hari besar meliputi uang belanja kebutuhan makanan dan baju baru yang tentunya sangat besar biayanya apalagi disangkutkan dengan gaji yang mereka peroleh sehingga mereka betul-betul merasa senang dengan tunjangan yang diberikan perusahaan. Selain bonus tunjangan tidak tetap yang diberikan perusahaan meliputi tunjangan sekolah anak karyawan. Kategori Menerima Kadang. 2.000. Responden betul-betul merasa terbantu dalam mencukupi kebutuhan sehari.5%) dan yang berpenghasilan Rp 1. 3. Penerimaan Bonus oleh Karyawan No. Gaji pokok yang diberikan oleh PT Asam Jawa Medan kepada seluruh karyawanya adalah di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) yakni Rp 660. Tunjangan perumahan diberikan kepada responden berdasarkan jenjang dan golongan responden masing-masing. tunjangan jabatan.0 Berdasarkan data Tabel 18 di atas dapat diketahui responden yang menerima bonus sebanyak 40 (100%). Responden yang menjawab poin 2 sebanyak 17 orang (42. Ini membuktikan adanya perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan keluarga karyawan.berjumlah 22 orang (55%) dan di atas Rp 3.-perbulan Tahun 2005. Menurut responden apabila perusahaan telah mencapai target produksi yang telah ditentukan oleh perusahaan maka bonus yang diterima karyawan minimum sekali setahun dengan jumlah lebih besar dari gaji karyawan.500. 3. 2. Tabel 17. Tabel 18.

1. Dari hasil penelitian dengan menggunakan penyebaran kuesioner dan memberikan tabulasi ke dalam tabel tunggal maka dapat diambil kesimpulan umum bahwa implementasi Jamsostek dan kesejahteraan keluarga karyawan telah berjalan dengan baik di PT Asam Jawa Medan. 2.5%). Jelas hampir seluruh responden merasa terbantu dengan pemberian beasiswa tersebut. Karena gaji yang mereka peroleh dapat dipergunakan untuk kebutuhan yang lain. 2. 2. 3. Tabel 20. Kategori Ya. Hal ini diketahui dari jawaban responden di atas yang menjawab “ya” ada sebanyak 40 orang (100%) sehingga dimungkinkan kondisi kesejahteraan karyawan sudah membaik. Keinginan dan Optimisme Responden Menyekolahkan Anak No 1. Hal ini diketahui dari jawaban responden yang menjawab poin 1 sebanyak 32 orang (80%). Sedangkan karyawan menjawab kurang mencukupi sebanyak 8 (20 %).5 % karyawan telah menerima santunan berupa santunan kesehatan dan santunan kematian sedangkan sisanya 22.Utamaningsih dan Siagian.0 0 0 100. Oleh karena itu karyawan dapat menyisihkan tabungan mereka untuk membeli rumah bagi mereka tinggal bersama dengan keluarga tercinta.5 % hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya perusahaan betul-betul terlibat dalam memberikan keterangan mengenai Jamsostek. Sedangkan responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 9 orang (22. Dan beberapa karyawan mengaku bahwa tunjangan yang diberikan menambah gaji pokok yang diberikan dan selain itu tunjangan tersebut juga cukup untuk mendapatkan rumah yang layak dalam persepsi masing-masing. 3. Tabel 21. jaminan hari tua dan jaminan kematian. Apalagi diketahui bahwa ratarata responden memiliki anak yang telah Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden setiap bulannya menyisihkan sebagian gaji yang diterima untuk ditabung sebanyak 31 orang (77. Dalam hal penerimaan Jamsostek pada Tabel 9 sebanyak 77. Kategori Optimis Kurang optimis Tidak optimis Jumlah Sumber: Data Primer F 40 0 0 40 % 100.0 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai keinginan besar menyekolahkan anaknya sampai pada pendidikan yang lebih tinggi.. ditabung Kadang.5 %) dimungkinkan gaji yang diterima karyawan dipergunakan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga kesempatan untuk menabung tidak kontinu. Hal ini dikarenakan karyawan tersebut belum memiliki jabatan yang tinggi sehingga tunjangan perumahan yang diberikan tidak terlalu besar. Harapan Memiliki Rumah yang Layak Huni No. Tabel 22. Pada Tabel 12 juga dapat dilihat bahwa 90 % mengaku bahwa perusahaan juga mengurus pemberian santunan biaya 147 Koleksi BPAD Prov SU .kadang Tidak di tabung Jumlah Sumber: Data Primer F 31 9 0 40 % 77.0 bersekolah. Responden mengaku pada saat ini biaya sekolah sangat besar dan mahal harganya. jaminan kesehatan. Perilaku Frekuensi Menabung Responden No.0 Pada Tabel 20 di atas dapat diketahui bahwa gaji yang diberikan dapat memiliki rumah yang layak bagi mereka.5 % karyawan bersyukur belum pernah menerima santunan kematian. Seperti telah diketahui di atas bahwa perusahaan telah memberikan tunjangan perumahan kepada karyawan.. Implementasi Jaminan Sosial. Dilihat pada Tabel 8 Karyawan juga tidak merasa kesulitan memahami prosedur Jamsostek terbukti jawaban karyawan 77.5 22. 3. 1.5 0 100. Pelaksanaan Jamsostek telah seluruhnya diikuti oleh perusahaan seperti jaminan kecelakaan kerja. Hal ini berarti gaji yang diterima cukup layak dalam memenuhi kebutuhan.0 20. Kategori Optimis Tidak terlalu optimis Pesimis Jumlah Sumber: Data Primer F 32 8 0 40 % 100. Tunjangan perumahan yang diberikan kepada karyawan berdasarkan golongan dan jabatan masing-masing responden. Dalam hal mengenai Jamsostek dapat kita lihat pada Tabel 7 bahwa 100 % karyawan telah terdaftar menjadi peserta Jamsostek.0 0 100.

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 132-150

pemakaman dan juga hal ini berlaku bagi keluarga karyawan. Dalam hal penggantian biaya yang diberikan perusahaan terhadap karyawan yang mengalami kecelakaan juga cukup memadai pada Tabel 10 sebanyak 87 % karyawan mengatakan dengan tercukupinya biaya kesehatan yang diberikan tentunya mereka tidak perlu memikirkan biaya pengobatan sekarang yang begitu besar sehingga kebutuhan hidup tidak terganggu. Begitu juga pada Tabel 14 dapat dilihat karyawan mengaku dengan pemberian fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh perusahaan bagi keluarga mereka, sebanyak 40 % karyawan merasa senang karena fasilitas kesehatan yang diberikan perusahaan memadai bahkan 60 % karyawan mengatakan sangat memadai. Pada Tabel 15 sebanyak 47,5 % karyawan mengatakan bahwa jaminan hari tua yang akan mereka dapat kelak memadai bahkan yang menjawab cukup memadai sebanyak 52,5%. hal ini jelas membuktikan karyawan tidak perlu merasa kuatir apabila masa purna tugas itu tiba karena jaminan hari tua yang mereka dapat kelak dilaksanakan dengan baik dan jujur oleh perusahaaan. Selain J amsostek pemberian kesejahteraan keluarga karyawan oleh PT Asam Jawa Medan juga telah terlaksana dengan baik hal ini dapat kita lihat pada Tabel 16 bahwa perusahaan telah menetapkan pemberian upah di atas UMR yang berlaku. Pemberian tunjangantunjangan oleh perusahaan juga telah berjalan dengan baik dapat kita lihat pada Tabel 17 sebanyak 100 % karyawan telah menerima tunjangan hari besar. Karyawan mengaku bahwa tunjangan hari besar yang mereka terima sudah dapat membantu mencukupi kebutuhan menjelang hari raya. Pada Tabel 18 karyawan mengaku sebanyak 100 % karyawan menjawab sering menerima bonus. Selain bonus terlihat perusahaan juga memberikan kepada karyawan berupa tunjangan kehadiran, tunjangan golongan, natura, tunjangan jabatan, tunjangan perumahan. Karyawan mengaku dengan adanya banyak tunjangan yang diberikan dapat meningkatkan serta mempertahankan kesejahteraan bagi keluarga mereka. Dalam hal menerima tunjangan perumahan pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa 57 % karyawan memperoleh bantuan dari perusahaan sedangkan 42,4 % karyawan
148

mengaku selain bantuan perusahaan juga mendapatkan bantuan dari keluarga mereka yang merupakan hasil dari warisan. Pada Tabel 20 sebanyak 80 % karyawan merasa dapat mempunyai harapan memiliki rumah yang layak. Dalam hal menyekolahkan anak karyawan pada Tabel 21 karyawan 100 % berkeinginan menyekolahkan anak dan 90 % karyawan merasa sangat bersemangat untuk menyekolahkan anak mereka sampai keperguruan tinggi terlihat pada Tabel 22. Tetapi sebanyak 10 % karyawan kurang bersemangat hal ini dikarenakan bahwa dibandingkan perusahaan perkebunan swasta lainnya beasiswa yang mereka terima sangat minim. Pada Tabel 23 sebanyak 77,5 % karyawan dapat menabung sehingga ini membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan mereka telah tercukupi. Sedangkan sebanyak 22,5 % menjawab kadang-kadang ditabung, hal ini dimungkinkan kebutuhan yang mereka yang terlalu besar sehingga menabung pun tidak kontinu.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai Implementasi Jamsostek dan Kesejahteraan Keluarga Karyawan maka kesimpulan umum yang dapat diperoleh adalah: 1. Seluruh karyawan PT Asam Jawa telah memper oleh Jamsostek. Umumnya responden merasa dengan adanya Jamsostek perusahaan peduli terhadap kesejahteraan keluarga karyawan itu sendiri. Baik di saat terjadi kecelakaan kerja maupun kematian. Jamsostek juga merupakan penghargaan terhadap kar yawan yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran kepada perusahaan tempat mereka bekerja. 2. Jaminan hari tua selain dilaksanakan oleh PT Astek juga dijalankan oleh Yayasan Dana Pensiun Perusahaan. Seluruh responden merasa pemberian jaminan hari tua mereka memadai sehingga mereka tidak perlu kuatir apabila masa purna tugas itu tiba. 3. Jaminan kesehatan juga sangat membantu karyawan dalam memperoleh kesehatan bagi keluarga mereka. Apalagi di saat ini biaya kesehatan yang sangat mahal sangat

Koleksi BPAD Prov SU

Utamaningsih dan Siagian, Implementasi Jaminan Sosial...

4.

5.

6.

7.

mempengaruhi karyawan dalam memenuhi kehidupan bagi keluarga mereka. Wujud kepedulian PT Asam Jawa Medan juga ditujukan oleh pemberian berbagai tunjangan dan fasilitas-fasilitas kerja bagi karyawannya seperti tunjangan tidak tetap yang diterima dalam bentuk tunjangan kehadiran, penggantian uang transport, upah lembur, dan lain- lain. Berdasarkan hasil penelitian responden mengaku karyawan merasa terbantu dalam mencukupi kehidupannya. Dalam hal kepemilikan rumah PT Asam Jawa Medan juga memberikan tunjangan perumahan bagi kar yawannya. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tunjangan perumahan yang diberikan dapat memberikan harapan kepada karyawan untuk memiliki rumah yang layak bagi keluarga tercinta. Berdasarkan hasil penelitian dengan adanya beasiswa yang diberikan oleh PT Asam Jawa terhadap keluarga karyawan dirasakan sangat membantu dalam menyekolahkan anak mereka sampai ke perguruan tinggi. Mereka juga sangat bersemangat dalam menyekolahkan anak mereka setinggitingginya walaupun didapatkan beberapa responden mengaku bahwa beasiswa yang diberikan perusahaan terhadap karyawannya sangat minim dibandingkan perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta lainnya. Implementasi Jamsostek dan kesejahteraan keluarga karyawan yang telah dilakukan oleh PT Asam Jawa Medan ternyata sangat membantu karyawannya dalam mencapai kesejahteraan bagi keluarga mereka

2. Pihak perusahaan PT Asam Jawa Medan sudah memberikan kebijakan yang arif tentang pelaksanaan Jamsostek begitu pula ditambah dengan pemberian tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap. Hal ini menunjukan bahwa PT Asam Jawa sudah memberikan contoh yang baik dalam usaha peningkatan kesej ahteraan karyawan. Untuk itu agar cara yang sudah ditempuh dapat dipertahankan dan dapat ditingkatkan. 3. Dalam tingkat mencapai tujuan kesejahteraan karyawan yang lebih optimal ternyata PT Asam Jawa Medan telah memberikan apa yang menjadi hak karyawan. Untuk itu kepada karyawan diharapkan dapat meningkat kan produktivitasnya agar pemberian kesej ahteraan dapat ditingkatkan dan dipertahankan.

Daftar Pustaka
Abud, Abdul Ghani, 1987, Keluarga Muslim dan Berbagai Macam Masalahnya, Pustaka Bandung. Arikunto, Suharsimi, 1993, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Yogyakarta, 1993 Asikin, Zainal, et al, 1993, Dasar-dasar Hukum Perburuhan, Raja Grafindo Persada Indonesia Cohen, Bruce C. 1992, Sosiologi Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta, 1992. Hasibuan, S.P. Malayu, H., 2003, Manjemen Sumber Day Manusia. Bumi Aksara. Jakarta. Husni, Lalu, 2003, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta. Kansil, Christine, 1997, Pokok- Pokok Hukum JAMSOSTEK, Pustaka Sinar Harapan. Kertonegoro, Sentanoe. Et al, 1993, Prinsip dan Praktik Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Jakarta.

Saran
Hasil penelitian ini pada akhirnya mencoba memberi masukan atau saran yang ditujukan kepada semua pihak yang berkepentingan, di sini penulis mencoba memberi saran antara lain: 1. Pemberian beasiswa yang minim dirasakan beberapa karyawan sehingga untuk menyekolahkan anak mereka tidak begitu dapat mencukupi biaya sekolah yang besar sehingga diharapkan kepada pihak PT Asam Jawa dapat lebih meningkatkan jumlah pemberian beasiswa tersebut agar semua karyawan merasa senang dan terbantu.

Koleksi BPAD Prov SU

149

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 132-150

Lanny, Ramli, 1997, Jaminan sosial tenaga kerja Indonesia, Airlangga Universitas Press. Manulang, Sendjun, 2001, Pokok Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta. Nawawi, Hadari, 1991, Metode Penelitian Bidang Sosial, Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta. Nurdin, Fahdi, 1989, Pengantar Studi Pekerjaan Sosial, Angkasa Bandung. Partowisastro, Koestoer, 1983, Dinamika Psikologi Sosial, Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta. Siagian S.P, 1999, Manajemen Sumber Daya Manusia, PTRajawali Press, Jakarta. Simanjuntak, Payaman, J, 1994, Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, LPFE Universitas Indonesia, Jakarta Singarimbun, Masri, 1995, Metode Penelitian Survei, LEP3S, Jakarta.

Soehartono,Irawan, 2004, Metode Penelitian Sosial, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Suharsimi, Arikunto, 1993, Prosedur Penelitian, Bina Aksara, Jakarta Wahab, Solichin Abdul, 1991, Analisis Kebijaksanaan Dari Formulasi Keimplementasi Kebijakan Negara, Bumi Aksara, Jakarta.. Sumber-sumber lain: Majalah Jamsostek, Edisi 4 April – Mei 1996 Majalah Jamsostek, Edisi September 1995 7 Oktober –

www.yahoi.com (Jamsostek, Jakarta), Suara Karya “Jamsostek TingkatkanTarget Laba dan Kepesertaan” Minggu, 19 Februari 2006.) www.nakertrans.go.id. (Prof. Dr. Payaman J. Simanjuntak.) Forum Diskusi Kerja. Kompleksitas Masalah Tenaga

150

Koleksi BPAD Prov SU

The happiness and welfare mention that they are good in health. kecenderungan yang terjadi adalah semakin meningkatnya penduduk berusia 55 tahun ke atas dan meningkatnya batas umur produktif. good in social interaction and environment. mereka yang produktivitasnya rendah ditentukan di kelompok umur 60-64 tahun (www. tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. bahkan putus sama sekali. and well in social interaction and their environment. Data di atas menunjukkan bahwa pada umur tertentu manusia akan mengalami penurunan produktivitas. Keywords: welfare. The life style of retired officials contribute to reach the happiness and welfare retired time for officials. This is a descriptive research shows how are their condition in 5 years later. Di Indonesia. Jika diperhatikan pada saat ini.co. The research result shows that retired state company officials have economy activities in formal and informal field. and have two income resources are the company and new economy activity. aktivitas bekerja seorang karyawan akan berkurang. golongan karyawan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan di dalam gerak roda ekonomi bangsa. Pekerjaan dilakukan untuk kemajuan karier dan perusahaan serta demi mendapatkan upah atau gaji guna memenuhi kebutuhan hidup. Ini menunjukkan bahwa pada umur tersebut kekuatan manusia mulai berkurang untuk meneruskan aktivitas bekerja. They have house good for lived. bahkan melepaskan keterlibatan diri dari berbagai pekerjaan. penurunan produktivitas tersebut mengharuskan manusia untuk mengurangi. Teknologi maju telah menciptakan ribuan pekerjaan baru yang menuntut pendidikan dan keahlian. happiness Pendahuluan Kemajuan zaman yang diiringi dengan kemajuan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap generasi tua.depnaker. Salah satunya adalah pekerja tua. Setelah berhenti dari Fahru Izhar adalah Staf di Centra Mitra Remaja Medan. menghabiskan waktu. Dari segi umur dan produktivitas. have money enough.ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN PENSIUNAN PADA KANTOR PUSAT PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I MEDAN Fahru Izhar & Edward Abstract The goal of research about retired state company officials welfare is shows the fact how is the level of welfare of retired state company in centre office of Pelabuhan Indonesia I PT in Medan. sehingga para pekerja tua sering menjadi hasil penolakan dari pasar tenaga kerja. Pada masa aktif bekerja karyawan memiliki jadwal kerja yang terencana dan ketat. Hal ini dikarenakan para pekerja tua dianggap sebagai manusia yang memiliki produktivitas yang rendah. The research data collected from 46 retired officials of centre office Pelabuhan Indonesia I in Medan. Pekerja tua cenderung memiliki pendidikan dan keahlian yang terbatas dan keahlian mereka mungkin tidak sesuai dengan industri modern. Edward adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Koleksi BPAD Prov SU 151 . tetapi teknologi maju juga membatasi dan menurunkan kebutuhan ribuan pekerjaan yang membutuhkan keahlian rendah.id). data yang ada menunjukkan bahwa menurut kelompok umur. Setelah memasuki masa pensiun. bahkan sama sekali tidak produktif.

lebih sentimental dan karena itu menjadi agak kabur. sebagai contoh: pekerja sosial. bebas dari kehinaan dan kemiskinan. mengingat keadaan ekonomi dan tingkat ekonomi masyarakat tenaga kerja. yang dituangkan dalam Undang-Undang No. tanpa adanya paksaan dari luar. Maka dalam hal ini usaha-usaha kesejahteraan sosial harus dilaksanakan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat secara bersama-sama atas dasar kekeluargaan. berpikir. Sebagai suatu indikasi dari kehidupan bersama makhluk manusia. Permasalahan kesejahteraan sosial yang begitu luas dan kompleks telah menyebabkan timbulnya beraneka pemahaman konsepsi dan usaha perwujudan kesejahteraan itu dalam masyarakat setiap negara. Tidak ada lagi rutinitas kerja yang padat dan terencana. kesukaran.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. sentosa. A Ponsion mempunyai dua arti yang berbeda. Ditinjau secara harfiah. Perkembangan perikehidupan sosial yang sehat akan tumbuh dari masyarakat itu sendiri. kemudian berkembang dalam segala arah yang bersangkut paut dengan pembaharuan masyarakat yang bertujuan menanggulangi kemiskinan dan ketelantaran. 1987: 253). tunjangan pribadi. Menurut Walter A. Usaha-usaha kesejahteraan sosial itu mewujudkan sarana utama untuk secara Koleksi BPAD Prov SU . dan lain-lain). Volume 5. Status dan peranan dalam lingkungan kerja pun ditinggalkan. seperti istilah yang serupa yang dikaitkan dengan persoalan kemiskinan dan ketelantaran orang. nilai budaya dan faktor 152 lainnya yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat tersebut. Secara umum yang dimaksud dengan “kesejahteraan sosial” adalah keadaan sejahtera. seperti dana pensiun. Kekhawatiran ini semakin besar. Sedangkan istilah “sosial” menurut Dr. karena itu setiap warga negara Indonesia berhak atas kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya. Dalam penjelasan umum tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Halaman 151-167 pekerjaan. bertindak dan dalam hubungan dengan manusia. Dari konotasi ini. tetapi hanya sebagian kecil yang mengalami hal itu. rohani dan sosial. yang dimaksudkan untuk mencari landasan yang jelas tentang pengertian kesejahteraan sosial. yaitu: 1. 6 Tahun 1974.” Undang-Undang Dasar 1945 merumuskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia antara lain bertujuan untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nomor 2. J. Mei 2006. Sebaliknya pemerintah wajib memberikan pengarahannya serta menetapkan garis-garis kebijaksanaan yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu. maka setiap warga negara Indonesia berhak dan wajib menurut kemampuannya masing-masing untuk sebanyak mungkin ikut serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial. 1990: 26) mengatakan: “Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk membantu individu dan kelompok untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan. jaminan sosial. makmur atau selamat (terlepas dari sagala macam gangguan. Sebagian besar karyawan mengimpikan kebahagiaan di masa pensiunnya (adanya jaminan pendapatan dari berbagai sumber. pada umumnya meliputi jasmani. bebas dari penindasan dan penghisapan. Setiap negara mempunyai batasan pengertian sendiri tentang kesejahteraan sosial dan penggunaannya dipengaruhi oleh sejarah. ditambah lagi terdapatnya unsur pokok yang menjadikan dasar untuk tetap melakukan hubungan kerja. pelayanan sosial. dan relasi-relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat. Pada umumnya. pensiunan akan kehilangan aktivitas kesehariannya. Agar kesejahteraan sosial itu dapat dicapai. Karyawan yang tidak makmur masa pensiunnya merasa khawatir menghadapi masa pensiun. dan sebagainya). 2. 1982: 150). bahwa setiap warga negara berhak hidup layak. Dalam uraian ini akan dikutip beberapa definisi kesejahteraan sosial. umpama dalam kebersamaan rasa. pemutusan hubungan kerja karena usia lanjut tidaklah diterima dengan gembira (Poerwono. kesejahteraan (sejahtera) mempunyai arti “aman. 1987: 23). aksi sosial dan semacamnya (Coleman. Friedlander (dalam Nurdin. Sejak abad ke-19 istilah sosial mempunyai konotasi yang berbeda. Sebagian lagi karyawan “tidak makmur” pada masa pensiunnya (Coleman.

153 Koleksi BPAD Prov SU . “. Kebutuhan-kebutuhan fisik (udara. Analisis Tingkat Kesejahteraan. langsung dapat memperbaiki syarat-syarat kehidupan dan penghidupan rakyat. Akan tetapi hanya sebagian kecil yang dari mereka mengalami hal itu. Hanya sebagian kecil penduduk di Indonesia yang menerima tunjangan di hari tua. jaminan sosial. Pada umumnya para karyawan pada Perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang memasuki masa pensiun mendapatkan penghasilan yang jauh lebih rendah dibandingkan pada masa aktif bekerja. Oleh karena itu usaha-usaha kesejahteraan sosial tersebut perlu diselenggarakan sebagai bagian integral dari usaha-usaha pembangunan nasional ke arah mempertinggi taraf hidup seluruh rakyat Indonesia. Untuk golongan ini pun pendapatan yang diterima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Memasuki masa pensiun jumlah pendapatan yang diterima sejumlah karyawan mengalami pengurangan yang cukup besar.. Elizabeth Nicholds mengemukakan empat dasar kebutuhan manusia. Pemutusan hubungan kerja akan mempengaruhi tugas kemasyarakatannya. yaitu: 1. Juga. Bagaimanapun pemutusan hubungan kerja akan membuat perubahan-perubahan kemasyarakatan dan ekonomis dari karyawan yang bersangkutan. Kebutuhan untuk hidup 2. maka penghentian dari pekerjaan disertai dengan berkurangnya pendapatan dan terputusnya sumber hidup akan menempatkan buruh dan keluarganya dalam penghidupan yang sangat sulit. Usaha kesejahteraan sosial merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk penghargaan 5. 2001).. Kebutuhan melakukan pekerjaan yang disenangi Pengelompokan lain yang cukup dikenal adalah dari Maslow.” Gaji yang diterima pada masa aktif kerja pada umumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. misalnya menyiapkan anak-anaknya menjadi anggota masyarakat sepenuhnya. Berkurang atau berhentinya hasil-hasil yang diterima setelah terjadinya pemutusan hubungan kerja akan mempengaruhi juga kehidupannya (Poerwono.” (Simanjuntak. Kebutuhan untuk aktualisasi diri dan bertumbuh (Maslow. 1982: 24).. 1995: 217) menguraikan lima tingkat kebutuhan manusia sebagai berikut: 1. Tidak semua karyawan yang telah lanjut usianya telah selesai dengan tugas kemasyarakatannya. Kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi 4. makan dan sebagainya) 2. yaitu: kebutuhan akan kasih sayang. Sasarannya adalah paling sedikit cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup karyawan dan keluarganya. tabungan pribadi. Pendapatan yang rendah tersebut dapat dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup apabila ada penambahan dari berbagai sumber dana seperti dana pensiun. Seperti yang dikatakan Hadi Poerwono (1982: 5): “Kalau pada umumnya upah yang diterima buruh di Indonesia belum merupakan upah buruh. kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan merasa aman 3. 1985: 16). Pada masa aktif bekerja gaji yang diterima disesuaikan dengan golongan dan jabatan pada perusahaan yag bersangkutan. gaji yang diterima oleh karyawan disesuaikan pada tingkat golongan di kalangan pegawai negeri (Peraturan Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pengerukan.Izhar & Edward. Sedangkan Laird (dalam Ellinor. 1982: 150).. kebutuhan untuk mencapai sesuatu dan kebutuhan agar diterima dalam kelompok. yaitu pegawai negeri dan sebagian kecil pegawai swasta.. air. sedangkan pada masa pensiun. Ada beberapa perusahaan yang hanya memberikan gaji tanpa ada penambahan sumber dana lain kepada karyawannya yang memasuki masa pensiun. Kebutuhan akan rasa aman 3. sehingga rakyat akan lebih mampu dan bersedia untuk aktif ikut serta dalam usaha-usaha pembangunan nasional. Kebutuhan untuk bertingkah laku sosial 4. tidak semua karyawan karena mencapai usia lanjut berkurang kebutuhan hidupnya. dan lain-lain. Oleh karena itu maka usaha kesejahteraan sosial merupakan usaha serta strategi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. Permasalahan dari segi lain adalah faktorfaktor sosial-ekonomis. Untuk mengatasi keadaan dan tingkat ekonomi dari tenaga kerja terlihat pemerintah menetapkan upah minimum yang cenderung naik setiap tahun. seperti kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan di atas. Kebutuhan untuk dihargai 5.

yaitu: a. Halaman 151-167 Berdasarkan uraian di atas. Menurut Undang-Undang No. Dari tahap-tahap pensiun di atas terlihat bahwa masa pensiun tidaklah datang secara tiba-tiba. banyak pensiunan yang mengalami kekecewaan hidup depresi. bahkan Koleksi BPAD Prov SU . mereka telah menyadari bahwa telah mencapai usia jauh di bawah batas produktivitasnya. pensiunan mulai menyadari bahwa ia harus dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup dan peran-peran sosialnya yang baru. Di dalam pikiran karyawan telah terlintas pikiran bahwa akan tiba saatnya bagi mereka untuk keluar dari tempat bekerja. Volume 5. Kegiatan rutin dalam tahap stabilitas berkurang yang berangsur-angsur lepas. b. Di kalangan instansi pemerintah tahapan ini dikenal dengan Masa Persiapan Pensiun (MPP). Tahap Stabilitas (Stability) Pada tahap ini. sebenarnya dapat dilakukan berbagai persiapan yang direncanakan sebelum masa pensiun (Flippo. Suatu kenyataan adalah tidak ada karyawan yang ingin lebih awal untuk pensiun. pensiun adalah pemberhentian dengan hormat kepada pegawai atau karyawan yang telah mencapai batas ketentuan usia dan masa kerja sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Adapun tahap-tahap tersebut adalah: 1. karyawan berada di mana tibanya masa pensiun. Oleh sebab itu peneliti akan meneliti mengenai Analisis Tingkat Kesejahteraan Pensiunan pada Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan. b. Tahap Masa Mempersiapkan Pensiun (preretirement) Tahapan ini adalah masa persiapan hingga sampai tibanya masa pensiun yang sesungguhnya. Tahap Reorientasi (Reorientation) Pada tahap ini pensiunan mulai mengadakan kaji ulang dan melakukan penyesuaian diri terhadap kehidupan yang baru. Hanya mereka yang tidak mempersiapkan diri yang biasanya mengalami tahap ini. Tahap Kesengsaraan (Disenchantment) Tidak semua pensiunan melewati tahap ini. ditambah dengan lingkungan sosial baru yang membuat pensiunan merasa asing. Pada tahap ini pensiunan merasakan masa pensiun sebagai suatu masa yang menyenangkan. Hidup yang tergantung pada orang lain atau lembaga. b. 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai. Pensiun a. Dengan demikian antisipasi dan penyesuaian diri terhadap masa pensiun dilakukan. Karena itu. Tahap Dekat (Near) Di tahap ini. maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai tingkat kesejahteraan pekerja pada masa pensiun. “post power sidrom” dan merasa tidak punya apaapa lagi. Pensiunan akan melakukan rutinitas kegiatan yang baru. Beberapa pekerjaan dikurangi. Di dalam tahap ini ditandai dengan semakin bertambahnya umur. 3. Pensiunan semakin dekat dengan kematiannya. Biasanya pensiunan akan melakukan aktivitas liburan dan bepergian. Peristiwa Pensiun a. adakalanya diminta untuk melatih/membimbing penggantinya. 1992: 285) Kelangsungan bekerja. Tahap Jauh (Remote) Pada tahap ini karyawan berada di beberapa tahun sebelum tibanya masa pensiun. Setelah tahap bulan madu mulai membosankan. dan tidak ada karyawan yang tetap bekerja terus sampai mati. kondisi fisik yang semakin lemah. Nomor 2. Tahap Bulan Madu (Honeymoon) Tahap ini terjadi setelah pensiunan memasuki masa pensiun. Tahapan ini dibedakan atas dua. Beberapa ahli sosiologi mencoba memahami tahap-tahap kehidupan setiap manusia. Akhir Pensiun (Termination) Tidak semua pensiunan mengalami tahap ini dikarenakan kematian. Bantuan yang diterima dari lingkungan sekitar dan lembagalembaga yang mempunyai program untuk itu. meraih kebebasan untuk mengisi 154 waktunya dengan hal-hal yang digemari. Meskipun.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 2. Mei 2006. 4. untuk sebagian pensiunan merupakan hal yang tidak diinginkan lagi. karyawan merasa teman-teman di sekeliling memandangnya dalam perspektif jangka pendek.

Dalam hal ini bagaimanakah potensi dan kemampuan karyawan yang bekerja setelah pensiun? Alsop dan Wojahn mengatakan kita tidak perlu menghilangkan bakat dan produktivitas karyawan dan rencana pensiun di masa depan. Menurut Bernard Benjamin rumah tangga pensiunan mengandalkan dari antara beberapa sumber yaitu pekerjaan. pensiunan mengandalkan dari satu atau beberapa sumber pendapatan. Umumnya sebesar setengah dari pendapatan mereka sebelum pensiun (Coleman. Mungkin terlalu dini tidak perlu membebani dengan peningkatan jam kerja penuh. 1987: 256). James Coleman mengatakan cukuplah beralasan bagi sebagian besar orang untuk takut mengenai keuangan (Coleman. Menurut David Popenoe dan Robert C. Hubungan Antar-pribadi Pensiun Salah satu unsur yang mempengaruhi dalam masa pensiun adalah hubungan antarpribadi. biaya pengobatan. Hadi Poerwono mengatakan di dalam masyarakat bentuk-bentuk usaha di Indonesia kini tampak gejala-gejala untuk sedapat mungkin mempertahankan tenaga kerja lama.. Berarti pensiunan harus belajar untuk hidup sesuai dengan pendapatan beberapa tahun sebelum pensiun. James Coleman dan Donald Cressey mengemukakan mayoritas terbesar dari orang tua menerima sebagian besar pendapatan mereka dari tunjangan jaminan sosial dan pensiun pribadi atau pemerintah (Coleman. Namun Grace Craig mengatakan untuk sebagian besar orang. Tiga. 1987: 26). kadang-kadang telah segan untuk terus bekerja. Dua. perlengkapan rumah. 1987: 159). Hubungan antar-pribadi dalam masa pensiunan artinya adalah bagaimana pensiunan membawa diri dalam hubungan dengan orang lain. 1984: 542). sumber yang dimiliki. khususnya anak dewasa mereka. 1986: 272). Usia lanjut berinteraksi dengan kelompok seumur 155 Koleksi BPAD Prov SU . bahkan uang (Thio. Dengan adanya masalah yang dihadapi dalam hal pendapatan di masa pensiun. penampilan. Pensiunan juga berhubungan dengan lingkungan sosialnya terutama dengan kelompok seumur. Keintiman antara anak dan orang tua dapat dilihat dalam beberapa cara. Bahkan tampak pula kecenderungan untuk menerima tenaga baru yang berasal dari perusahaan lain atau instansi pemerintah yang telah diberhentikan (Poerwono. Di mana pendapatan akan mempengaruhi faktor-faktor yang lain seperti aktivitas bekerja. Atchly mengatakan sebagian besar interaksi yang dihargai untuk sebagian besar usia lanjut adalah dengan anggota keluarganya. mereka terpaksa mempertahankan untuk tetap bekerja. Biasanya pendapatan beberapa tahun sebelum pensiun merupakan titik puncak pendapatan masa kerja (Craig. terlebih lagi dalam tugas-tugas pekerjaan yang memerlukan kemahiran dan keahlian.Izhar & Edward. Tetapi demi mempertahankan kelangsungan sumber penghidupan. pensiun tidaklah berarti benar-benar kehilangan secara ekonomis. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Logino. Robert C. tabungan. hadiah. terutama dengan mereka yang hampir selalu berada di dekatnya. kebutuhan sandang dan pangan. jarak rumah anak dan rumah orang tua tidak lebih dari satu jam perjalanan. 1987: 252). Mc Celland dan Peterson (dalam Thio. Dengan menciptakan pemecahan seperti pilihan pekerjaan yang sebagian waktu atau kurang mementingkan fisik (Craig. 6. sering mengunjungi untuk melihat dan berbicara pada anak cucu. Hubungan antar-pribadi merupakan gambaran dari status dan peranan seseorang. Athcly bahwa pendapatan pensiunan akan berkurang dengan tibanya masa pensiun. orang tua sering memberi nasehat. 5. Analisis Tingkat Kesejahteraan.. 1986: 275) mengatakan : “Ditemukan bukti bahwa usia lanjut lebih sering senang berinteraksi dengan orang tua lain. untuk sebagian besar pensiunan mengalami ketakutan. 1982: 153). Pertama. 1984: 545). Pendapatan Pensiunan Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kendala utama dari seorang karyawan untuk pensiun salah satunya adalah pendapatan. tunjangan jaminan sosial (Benjamin. tetapi dibutuhkan untuk hidup setengah dari pendapatan mereka terakhir.

yaitu suatu cara yang dilakukan dengan turun ke lapangan untuk 156 mengumpulkan data melalui wawancara yang juga dipandu dengan kuesioner dan observasi. Untuk menjaring data dari responden dalam penelitian ini. pendapatan pada waktu pensiun. Nomor 2. dan mengembangkan suatu kekuatan. Adapun yang digambarkan dalam penelitian ini adalah gambaran beberapa faktor sosial dan ekonomi dari karyawan dalam masa pensiun. 2003: 125). di mana sampel dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan variabel penelitian (Singarimbun. Identitas Responden Berdasarkan Usia No 1 2 3 58 – 62 63 – 67 68 – 72 Jumlah Sumber: Data Primer Usia F 27 13 6 46 % 58.0 100. Gambaran pensiunan melakukan aktivitas bekerja.0 Data dari Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa 27 responden (58. 13 responden (28. Data penelitian dianalisis berdasarkan perhitungan persentase dari setiap tabel. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. artikel. terhitung dari tahun 2000 – 2005. Halaman 151-167 mereka daripada dengan orang-orang dari usia lain. melalui studi kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dan diperoleh dari buku-buku.70%) berada pada kelompok usia 58 – 62 tahun.3 13. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden didominasi pada kelompok usia 58 – 62 tahun. Tabel 2. Memperoleh data primer dilakukan penelitian lapangan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Dalam bagian ini. hubungan pribadi yang dilakukan dan kondisi rumah tempat tinggal di masa pensiun. Dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang ada. Data dikumpulkan dari hasil kuesioner dan wawancara.26%) berada pada kelompok usia 63 – 67 tahun. peneliti menggunakan teknik sebagai berikut: memperoleh data sekunder. 1989: 155). yaitu para pensiunan Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan terhitung mulai 5 (lima) tahun terakhir yaitu dari tahun 2000 – 2005 yang berjumlah 187 orang.0 Koleksi BPAD Prov SU . Jika peneliti mempunyai beberapa ratus subjek dalam populasi. Maka sampel yang diambil adalah 25% dari 187 orang. yaitu sebanyak 46 orang. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah dengan Teknik Purposive Sampling.7 28. membentuk orientasi kesadaran-kesadaran politis sebagai kelompok mereka sendiri. Dalam hal ini tidak dilakukan perhitungan yang bersifat uji statistik karena analisis ini hanya bersifat deskriptif.1 10.9 100. surat kabar. gambaran diri yang lebih positif. dan 6 responden (13. yaitu hanya para pensiunan yang berdomisili di Kota Medan. Mei 2006. Volume 5. di mana pengolahan data dilakukan dengan manual. menurut data dari pihak Pelabuhan Indonesia adalah sebanyak 187 orang. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pensiunan di Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan.” Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif. penulis mencoba menganalisis data-data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan wawancara yang diajukan kepada responden. Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber: Data Primer F 41 5 46 % 89. Adapun data-data yang dianalisis dalam bab ini adalah: Tabel 1. kemudian ditabulasikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan kemudian dianalisis. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif. yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan wawancara.04%) berada pada kelompok usia 68 – 72 tahun. maka dapat ditentukan sampel sebesar 25 – 30% dari jumlah subjek tersebut (Suharsini.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Lokasi penelitian dilakukan di Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan dan pada alamat pensiunan yang dijadikan sampel penelitian. dan lain-lain sesuai dengan masalah yang diteliti. yang diwakili oleh 46 orang.

Izhar & Edward, Analisis Tingkat Kesejahteraan...

Data temuan jenis seperti yang digambarkan pada Tabel 2 di atas bahwa responden laki-laki terdapat sebanyak 41 orang (89,13%) dan hanya 5 orang perempuan (10,87%). Responden laki-laki merupakan jumlah terbanyak dibandingkan dengan perempuan dari keseluruhan responden.
Tabel 3. Identitas Responden Berdasarkan Tahun Pensiun

Tabel 5 menyajikan bahwa 100% dari responden mempunyai pendidikan formal. Responden yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi sebanyak 21,74%. Responden yang mempunyai tingkat pendidikan SMU sebanyak 78,26%.
Tabel 6. Identitas Responden Berdasarkan Kelas Terakhir No Kelas 1–5 6–9 10 - 16 Jumlah F 2 14 30 46 % 4,4 30,4 65,2 100,0

No 1. 2.

Tahun Pensiun 2000 – 2002 2003 – 2005 Jumlah

F 3 43 46

% 6,5 93,5 100,0

1 2 3

Sumber: Data Primer

Sumber: Data Primer

Data temuan tahun pensiun dari responden menggambarkan bahwa 3 orang (6,52%) berada pada kelompok tahun pensiun 2000 – 2002, sedangkan sebanyak 43 orang (93,48%) responden berada pada kelompok tahun pensiun 2003 – 2005.
Tabel 4. Identitas Responden Berdasarkan Masa Kerja No 1 2 Masa Kerja (tahun) 31 – 33 34 – 36 Jumlah Sumber: Data Primer F 9 37 46 % 19,6 80,4 100,0

Data pada Tabel 6 menyajikan kelas terakhir yang diduduki responden semasa aktif bekerja di PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan. Sebanyak 65,22% dari responden menjawab bahwa kelas terakhir pensiunnya adalah kelas 10 – 16. Responden yang menduduki kelas 6 – 9 sebanyak 30,43%. Responden yang menduduki kelas 1 – 5 sebanyak 4,35%.
Tabel 7. Identitas Responden Berdasarkan Status Perkawinan No 1 2 3 4 Status Kawin Belum Kawin Cerai Janda Jumlah F 45 1 46 % 97,8 2,2 100,0

Data pada Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa masa kerja responden berkisar antara 31 tahun sebagai masuknya yang paling singkat dan 36 tahun sebagai masa kerja yang paling panjang. Masa kerja 35 tahun sebagai masa kerja yang paling banyak dijalani responden. Masa kerja 31 – 33 tahun (19,57%) merupakan masa kerja yang paling sedikit dijalani responden.
Tabel 5. Identitas Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Sumber: Data Primer

Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa 98% responden masih didampingi pasangan perkawinannya. Hanya 2% dari responden yang tidak mempunyai pasangan perkawinannya lagi yaitu status janda.
Tabel 8. Lama Persiapan Menghadapi Pensiun No Waktu Sejak mulai bekerja 2-5 tahun < 2 tahun Tanpa persiapan Jumlah Sumber: Data Primer F 3 22 16 5 46 % 6,5 47,8 34,8 10,9 100,0

No 1 2 3 4

Tingkat Pendidikan Pendidikan Tinggi SMU SLTP SD Jumlah

F 10 36 46

% 21,7 78,3 100,0

1 2 3 4

Sumber: Data Primer

Koleksi BPAD Prov SU

157

Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Mei 2006, Volume 5, Nomor 2, Halaman 151-167

Di dalam menjawab pertanyaan tentang lama mengadakan persiapan untuk menghadapi masa pensiun ada beberapa variasi jawaban yang diberikan. Terdapat 16 responden (34,78%) menyatakan melakukan persiapan kurang dari 2 tahun sebelum masa pensiun, 22 responden (47,83%) menyatakan melakukan persiapan 2–5 tahun sebelum pensiun, 5 responden (10,87%) menyatakan melakukan persiapan setelah pensiun dimulai, dan 3 responden (6,52%) menyatakan melakukan persiapan jauh hari sebelum masa pensiun atau sejak mulai bekerja. Dari hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Slamet A. Sumka, SE (55 tahun), Kelas: 12, Staf Ahli Bidang Administrasi dan Kesejahteraan SDM, beliau mengatakan bahwa sebagian besar responden melakukan persiapan pada Masa Persiapan Pensiun (MPP). Hal ini dilakukan karena pada Masa Persiapan Pensiun itulah responden baru benar-benar memikirkan masa pensiunnya.
Tabel 9. Jenis Persiapan yang Dilakukan No 1 2 3 Jenis Persiapan Menabung di bank Membeli tanah Membangun rumah Jumlah Sumber: Data Primer F 16 3 27 46 % 34,8 6,5 58,7 100,0

Tabel 10. Pendapat Umur Pensiun 56 Tahun No 1 2 3 Jawaban Responden Setuju Kurang setuju Tidak setuju Jumlah Sumber: Data Primer F 45 1 46 % 97,8 2,2 100,0

Data pada Tabel 10 di atas menunjukkan pendapat responden mengenai peraturan perusahaan yang menetapkan umur 56 tahun sebagai batas usia pensiun. Tabel tersebut menggambarkan bahwa ada 2 pendapat responden mengenai penetapan umur pensiun. Sebanyak 45 responden (97,83%) di antaranya menyatakan setuju dengan peraturan tersebut, sedangkan hanya 1 responden (2,17%) saja yang menyatakan tidak setuju. Sebagai pertimbangan, menurut hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Slamet A. Sumka, SE (55 tahun), Kelas: 12, Staf Ahli Administrasi dan Kesejahteraan SDM, beliau mengatakan bahwa batas usia pensiun tersebut tergantung dari kondisi kesehatan karyawan. Jika kondisi kesehatan mereka tidak memungkinkan untuk pensiun pada usia yang telah ditetapkan, mereka dapat mengajukan pensiun dipercepat atau pensiun muda dengan alasan kesehatan.
Tabel 11. Perasaan Menjelang Pensiun No 1 2 3 Jawaban Responden Gelisah/takut Biasa-biasa saja Gembira Jumlah Sumber: Data Primer F 4 36 6 46 % 8,7 78,3 13,0 100,0

Data pada Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa 16 responden (34,78%) melakukan persiapan menabung di Bank untuk mempersiapkan masa pensiunnya, 3 responden (6,52%) membeli tanah, dan sebanyak 27 responden (58,70%) melakukan persiapan untuk rumah tempat tinggal. Tetapi persiapan yang paling dini yang dilakukan oleh responden adalah rumah tempat tinggal, sesuai dengan hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Drs. Ridwan Kadri (58 tahun), Kelas: 10, pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, beliau menyatakan bahwa rumah tempat tinggal lebih dini dipersiapkan. Hal ini terjadi karena, ada responden yang pada awal bekerja, tinggal beberapa lama di rumah perusahaan sebelum pindah ke rumah sendiri.

Data pada Tabel 11 di atas menunjukkan bahwa 4 responden (8,70%) memiliki perasaan gelisah/takut menjelang pensiun. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, hal ini terjadi karena mereka merasa belum memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi masa pensiun. Terutama bagi responden yang pada masa aktif bekerja menempati rumah dinas dari perusahaan lengkap dengan fasilitasnya. Tabel di atas juga menunjukkan bahwa sebanyak 36 responden (78,26%) memiliki

158

Koleksi BPAD Prov SU

Izhar & Edward, Analisis Tingkat Kesejahteraan...

perasaan biasa-biasa saja, karena mereka tidak terlalu menghiraukan masa pensiun, dengan alasan masa pensiun dapat dipikirkan nanti setelah pensiun itu tiba. Sedangkan terdapat sebanyak 6 responden (13,04%) memiliki perasaan gembira menjelang datangnya masa pensiun. Hal ini dikarenakan oleh anggapan mereka akan segera bebas dari rutinitas seharihari di kantor yang menurut mereka sangat melelahkan, baik fisik maupun pikiran. Perasaan tersebut terutama dijumpai pada responden yang sewaktu aktifnya memegang jabatan penting di perusahaan atau yang menduduki kelas 1–5.
Tabel 12. Keikutsertaan dalam Program Persiapan Pensiun dari Perusahaan No 1 2 Jawaban Responden Mengikuti Tidak mengikuti Jumlah Sumber: Data Primer F 46 46 % 100,0 100,0

mengisi masa persiapan pensiun dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk masa pensiun seperti membangun rumah dan mencari peluang usaha. 8 responden (17,39%) menyatakan mengisi masa persiapan pensiun dengan melakukan rekreasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, yaitu Bapak Martumpal Lumbangaol, SE (56 tahun) Kelas: 10, dan Bapak Drs. Ridwan Kadri (58 tahun) Kelas : 10, pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I, mengatakan bahwa rekreasi dapat mereka lakukan karena mereka telah mempersiapkan hal-hal yang penting untuk masa pensiun sejak beberapa tahun setelah bekerja.
Tabel 14. Perasaan pada Minggu Pertama Pensiun No 1 2 3 Jawaban Responden Gembira Biasa-biasa saja Gelisah dan bingung Jumlah Sumber: Data Primer F 4 35 7 46 % 8,7 76,1 15,2 100,0

Data pada Tabel 12 di atas menunjukkan keikutsertaan responden dalam program persiapan pensiun dari perusahaan. Seluruh responden 100% menyatakan bahwa mereka mengikuti Program Persiapan Pensiun yang diselenggarakan oleh perusahaan. Hal itu berarti seluruh responden menyadari betapa pentingnya persiapan untuk menghadapi dan menjalani masa pensiun.
Tabel 13. Kegiatan pada Masa Persiapan Pensiun (MPP) No 1 2 3 Kegiatan Santai di rumah Mempersiapkan diri Rekreasi Jumlah Sumber: Data Primer F 11 27 8 46 % 23,9 58,7 17,4 100,0

Data pada Tabel 14 di atas menunjukkan bahwa pada minggu-minggu pertama masa pensiun, 4 responden (8,69%) menyatakan gembira, karena seperti yang telah disebutkan bahwa mereka telah terbebas dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan, 35 responden (76,09%) menyatakan biasa-biasa saja, dan 7 responden (15,22%) menyatakan gelisah dan bingung, karena mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan selanjutnya untuk mengisi hari-hari pensiun dan mengatasi masalah keuangan.
Tabel 15. Kegiatan yang Dilakukan pada Masa Pensiun No 1 2 3 Kegiatan Santai di rumah Keagamaan Menyalurkan hobi Jumlah Sumber: Data Primer F 3 17 26 46 % 6,5 37,0 56,5 100,0

Data pada Tabel 13 di atas menunjukkan kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan responden pada Masa Persiapan Pensiun (MPP). Jawaban responden terdapat 3 variasi, yaitu santai di rumah, mempersiapkan masa pensiun, dan melakukan rekreasi. Pada tabel di atas terdapat 11 responden (23,91%) melakukan kegiatan pada masa persiapan pensiun dengan santai di rumah saja, 27 responden (58,70%) menyatakan

Data pada Tabel 15 di atas menunjukkan bahwa 3 responden (6,52%) hanya santai di rumah, 17 responden (36,96%) menyatakan mengisi hari-hari pensiun dengan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, dan 26 responden
159

Koleksi BPAD Prov SU

pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Halaman 151-167 (56. responden perlu berinteraksi. Volume 5. Berinteraksi sosial bagi pensiunan artinya adalah bagaimana pensiunan membawa diri dalam hubungan dengan orang lain. Tabel 19.22%) menyatakan mereka mempunyai keterampilan dibidang elektronik.26%) mempunyai keterampilan di bidang pertanian dan 24 responden (52. Nomor 2. Tabel 17. beternak dan berkebun. seperti dengan istri.35%) yang mendapatkan uang pensiun per bulannya di atas Rp 1. Jumlah Uang Pensiun per Bulan No 1 2 Jumlah (Rp) 500.3 52. Kelas: 10.00 Data dari Tabel 16 di atas menunjukkan bahwa untuk menjalani hari-hari pensiun.8 47. 16 responden (34.17%) tidak mempunyai keterampilan khusus.000. dan ingin beristirahat sambil menikmati hari tua.0 Data pada Tabel 18 di atas menggambarkan tentang keterampilan/keahlian khusus yang dimiliki oleh responden.0 100.00 Jumlah Sumber: Data Primer F 44 2 46 % 95. terutama dengan mereka yang hampir selalu berada di sekitarnya. yaitu Bapak Drs. Keterampilan/Keahlian Khusus yang Dimiliki No 1 2 3 4 Keterampilan Bidang elektronik Bidang otomotif Bidang pertanian Tidak ada Jumlah Sumber: Data Primer F 7 2 13 24 46 % 15.000– 1.78%) melakukan interaksi sosial lebih banyak dengan warga masyarakat sekitar tempat tinggal.000.0 formal setelah mereka pensiun (misalnya bekerja di kantor dan lain-lain).8 100. mengatakan bahwa pada umumnya para pensiunan sudah jenuh dengan rutinitas di kantor.000. anak dan cucu. dalam pensiun kemungkinan besar lebih dari separuh waktu akan dijalani dengan pasangan. tetapi seperti yang telah dijelaskan pada tabel sebelumnya bahwa mereka tidak ingin bekerja kembali dengan alasan faktor usia dan hanya ingin beristirahat dan menikmati masa pensiun. di mana kegiatan tersebut hanya sebatas untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang. Tabel 18.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dengan pasangan. dengan anggota keluarga lainnya. sedangkan 22 responden (47.52%) mengisi hari-hari pensiun dengan menyalurkan hobi mereka. Ridwan Kadri (58 tahun). yang jika dimanfaatkan akan sangat membantu.2 4. Bagaimanapun juga.0 Data pada Tabel 17 di atas dapat diketahui bahwa seluruh responden (100%) tidak ada yang bekerja kembali dalam sektor 160 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa sebanyak 2 responden (4.1 100. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Mereka adalah yang pada Koleksi BPAD Prov SU .00. Rekan Berinteraksi Sosial Sehari-hari No 1 2 3 Jawaban Responden Bekas teman sekerja Warga sekitar rumah Anggota keluarga Jumlah Sumber: Data Primer F 8 16 22 46 % 17.000. Tabel 16. 13 responden (28.4 34.000 > 1. Apakah Setelah Pensiun Bekerja Kembali dalam Sektor Formal No 1 2 Jawaban Responden Ya Tidak Jumlah Sumber: Data Primer F 46 46 % 100. Dari tabel di atas juga dapat dilihat bahwa 7 responden (15.83%) lebih banyak melakukan interaksi sosial sehari-hari dengan anggota keluarganya di rumah.000. dengan teman serta dengan masyarakat sekitar. Walaupun sebagian dari mereka mempunyai keahlian khusus di bidang tertentu.6 4.4 100.39%) lebih banyak melakukan interaksi dengan bekas teman sekerjanya. Aspek ini memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam kehidupan masa pensiun.4 28.35%) mempunyai keterampilan di bidang otomotif. bukan sebagai sumber pendapatan. 2 responden (4. Sebanyak 8 responden (17. Mei 2006. seperti bercocok tanam. Mereka hanya bekerja di sektor informal yang mana tidak membutuhkan terlalu banyak tenaga dan tidak terikat dengan waktu.

Kelas: 11.00 – 1.9 4.4 100..48%) menyatakan bahwa status kepemilikan rumah mereka adalah milik sendiri. deposito. karena berdasarkan hasil wawancara dengan responden.000. 3 responden (6. Ridwan Kadri (58 tahun). responden juga memiliki pendapatan dari sumber lain.000. karena semakin banyak kebutuhannya. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. yaitu Bapak Binsar Marupa Sibuea (58 tahun).43%) menyatakan bahwa mereka memiliki pengeluaran Rp 500. beliau mengatakan selain uang pensiun per bulannya.91%) memiliki pendapatan lain dari bantuan anak setiap bulannya.000. seperti tabungan. Ridwan Kadri (58 tahun).000. Sebanyak 34 responden (73.00 – 1. Dapat kita lihat dari data terdahulu. Kelas: 10. yang dapat menunjang pendapatan selain uang pensiun. Sedangkan selebihnya sebanyak 44 responden (95. Jadi uang merupakan salah satu sumber kehidupan. 5 responden (10. masa aktif bekerjanya menduduki kelas 1 – 5. dan sebanyak 2 responden (4. Kelas: 10..000 – 1. Analisis Tingkat Kesejahteraan. Uang merupakan syarat yang akan menopang kehidupan para pensiunan beserta keluarga. mereka mendapat bantuan keuangan dari sumber lain.00 ke atas. dan Bapak Drs.000. Berdasarkan wawancara dengan responden. yang telah mereka beli sebelum mereka pensiun.4 19.00 per bulan. mereka lebih mementingkan biaya pendidikan anak-anak mereka yang cukup tinggi.000.52%) menyatakan bahwa status kepemilikan rumah mereka adalah kontrak/sewa.000 – 500.0 Tabel 21. Status Kepemilikan Rumah Tempat Tinggal No 1 2 Status Milik sendiri Kontrak / sewa Jumlah Sumber: Data Primer F 43 3 46 % 93. 5 responden (10.65%) mendapatkan uang pensiun per bulannya Rp 500. Oleh sebab itu sudah semestinya pensiunan memiliki sumber keuangan lain dalam masa pensiun. dan Bapak Drs. Tabel 20. 37 responden (80.000 1. investasi dan sebagainya. Tabel 22.Izhar & Edward.000. Kelas: 10. tetapi sumber ini pasti akan habis.000. Jumlah Pengeluaran Rumah Tangga per Bulan No 1 2 3 Jumlah (Rp) 100. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar pendapatan responden maka semakin besar pula pengeluarannya.0 Data pada Tabel 20 di atas menunjukkan bahwa selain uang pensiun per bulannya.000 keatas Jumlah Sumber: Data Primer F 37 9 46 % 80.87%) memiliki pendapatan lain dari hasil penyewaan rumah. Berdasarkan wawancara dengan responden. Dapat dilihat bahwa 43 responden (93.5 6. Pendapatan dari Sumber Lain No 1 2 3 4 Sumber Keuangan Bantuan anak Dana pensiun Sewa rumah Angkutan kota Jumlah Sumber: Data Primer F 34 5 5 2 46 % 73. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I.35%) memiliki pendapatan lain dari hasil angkutan kota yang dimilikinya.9 10. SE (56 tahun).57%) menyatakan mereka memiliki pengeluaran rumah tangga Rp 1.6 100.87%) memiliki pendapatan lain dari uang pensiun suami/istrinya.9 10. Data pada Tabel 22 di atas menunjukkan bahwa seluruh responden telah memiliki rumah tempat tinggal pada masa pensiun dengan berbagai status. SE (56 tahun). mengatakan bahwa mereka senang dengan adanya pendapatan lain ini. yaitu Bapak Martumpal Lumbangaol. Kelas: 10.000. Koleksi BPAD Prov SU 161 .00.5 100. yaitu Bapak Martumpal Lumbangaol.000 500.000.0 Pada Tabel 21 di atas dapat dilihat berapa besarnya jumlah pengeluaran responden ratarata per bulan. dan 9 responden (19.

transportasi.0 Data di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki halaman rumah yang cukup untuk dikatakan sebagai tepat tinggal yang layak.74%) memiliki luas rumah 100 – 150 m². Sebanyak 33 responden (71.7 21.4 100. Menurut responden. dan sebanyak 32 responden (69. Tabel 25.74%) memiliki rumah permanen.91%) memiliki rumah permanen bertingkat. Selain memiliki tanah untuk rumah. Halaman 151-167 Tabel 23. Tabel 24.7 4. Dapat diketahui bahwa 12 responden (26. Rumah tempat tinggal setelah pensiun merupakan salah satu unsur pokok yang mempengaruhi kesejahteraan diri. relatif aman dari tindakan kriminal. Luas Rumah yang Dimiliki No 1 2 3 Luas (m²) 50 – 100 m² 100 – 150 m² > 150 m² Jumlah Sumber: Data Primer F 4 10 32 46 % 8.6 100. Volume 5. Nomor 2.39%) memiliki luas halaman 1000 – 1500 m².9 100.52%) memiliki luas halaman rumah di atas 1500m².09%) memiliki luas halaman 500 – 1000 m². Luas Halaman yang Dimiliki No 1 2 3 Luas (m²) 500 – 1000 m² 1000 – 1500 m² > 1500 m² Jumlah Sumber: Data Primer F 12 31 3 46 % 26. yang dapat mengembangkan dan melanjutkan minat dan pengalaman mereka. seluruh responden sudah berlangganan dengan PLN.65%).4 23. Mei 2006. Alat Penerangan Rumah No 1 2 Alat Penerangan PLN PLN dan genset Jumlah Sumber: Data Primer F 44 2 46 % 95. Menurut responden. Responden yang 162 Untuk alat penarangan rumah.7 69. ada beberapa responden yang memiliki tanah diluar tempat tinggal mereka.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. semi permanen dan permanen bertingkat. Koleksi BPAD Prov SU . pusat hiburan. 31 responden (67.1 67. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya hidup masa pensiun.70%) memiliki luas rumah 50 – 100 m2.0 memiliki luas rumah cukup besar menyatakan bahwa mereka sangat kesepian karena satu per satu anak mereka mulai meninggalkan rumah untuk membina rumah tangga yang baru (menikah). Terlebih bagi pensiunan yang tidak beraktivitas bekerja kembali. hal ini terlihat dari sebanyak 44 responden (95. Rumah tempat tinggal erat hubungannya dengan kondisi pendapatan sebelum ataupun setelah pensiun. seperti permanen.4 6.5 100. pasar. dekat dengan fasilitas kesehatan. Sebagian besar rumah yang dibutuhkan usia lanjut adalah jarak ke pelayanan.0 Dari data pada tabel di atas dapat dilihat terdapat bentuk-bentuk rumah responden.6 4. Rumah tempat tinggal pada dasarnya tempat yang paling banyak waktu untuk menghabiskan sisa hidupnya. luas tanah yang mereka miliki ada yang berasal dari warisan orang tua dan ada yang memang khusus dibeli untuk masa pensiun. yang dijadikan sebagai kebun atau sawah. Tetapi sebagian responden ada yang menyewakan rumah mereka dan tinggal bersama anak mereka yang sudah menikah.35%) memiliki rumah semi permanen dan sebanyak 11 responden (23. dari hasil wawancara ada sebagian rumah yang sudah dimodifikasi dari bentuk awalnya sehingga jauh lebih besar. Sedangkan sebanyak 2 responden (4.56%) memiliki luas rumah di atas 150 m². dengan alasan sebagai sumber listrik cadangan jika PLN melakukan pemadaman aliran listrik di permukiman mereka.0 Data pada Tabel 24 di atas menunjukkan bahwa 4 responden (8.35%) memiliki mesin penbangkit listrik sendiri. Beberapa hal yang dipertimbangkan di dalam menentukan rumah tempat tinggal. dan sebanyak 3 responden (6. Tabel 26. Tipe Rumah yang Dimiliki No 1 2 3 Bentuk Permanen Semi permanen Permanen bertingkat Jumlah Sumber: Data Primer F 33 2 11 46 % 71. 10 responden (21. 2 responden (4.

merupakan sesuatu yang mereka idamkan. Tabel 29. Sedangkan bagi mereka yang memilih tempat-tempat rekreasi sebagai tujuan perjalanan dengan alasan di sana mereka dapat menikmati suasana yang tidak mereka dapatkan di rumah.9 76. Mereka menggunakan sumber air tersebut dengan alasan lebih bersih. 35 responden (76. 36 responden (78.4 4.91%) menyatakan sering melakukan perjalanan. Tabel 28. Untuk itu pemeriksaan kesehatan sangatlah penting.5 13. Tabel 30.26%) menyatakan sering memeriksakan kesahatan mereka. Alasan mereka lebih memilih ke rumah anak atau famili adalah di sana mereka dapat bertemu dengan anggota keluarga mereka. jiwa dan perasaan seseorang.0 Bagi pensiunan yang memiliki gangguan kesehatan berat maupun ringan pasti selalu memeriksakan kesehatan mereka secara berkala. Sedangkan 9 responden (19. Frekuensi Rekreasi (80. Frekuensi Memeriksakan Kesehatan No Jawaban Responden Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Sumber: Data Primer F 36 8 2 46 % 78.6 80.Izhar & Edward. Dari data pada Tabel 28 di atas dapat dilihat 11 responden (23.57%) lebih sering ke tempattempat rekreasi sebagai tujuan perjalanan atau rekreasi. menghirup udara segar. hal ini terlihat pada Tabel 29. Berdasarkan data pada tabel di atas juga hanya 2 responden (4.. Tempat Pemeriksaan Kesehatan/Berobat No 1 2 3 Tempat RS Perusahaan RS Swasta RS Pemerintah Jumlah Sumber: Data Primer F 37 3 6 46 % 80. Tujuan Perjalanan/Rekreasi No 1 2 Tujuan Tempat rekreasi Rumah anak/famili Jumlah Sumber: Data Primer F 9 37 46 % 19.3 17.0 Perjalanan ke rumah anak atau ke rumah famili merupakan tujuan yang paling banyak ditempuh oleh para responden.4 6.1 100. Apalagi di usia mereka yang tergolong lanjut ini.0 1 2 3 Sumber: Data Primer Rekreasi merupakan hal yang sangat penting dalam menjalani hidup. Analisis Tingkat Kesejahteraan. terutama dengan cucu-cucu mereka. hal ini terlihat dari data pada Tabel 27 di atas. sebanyak 37 orang responden Koleksi BPAD Prov SU 163 .0 100.09%) menyatakan kadang-kadang/jarang melakukan perjalanan.43%) menyatakan hal tersebut.0 Keseluruhan dari responden telah menggunakan sumber air yang berasal dari PDAM. walaupun tidak ada gejala-gejala penyakit tertentu yang mereka alami. tubuh mereka dapat mudah terserang penyakit.3 100.4 100. Menurut responden yang jarang melakukan perjalanan/rekreasi. melihat pemandangan indah.. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 30. Dengan melakukan perjalanan atau rekreasi dapat menenangkan pikiran. Tabel 27. hal ini dikarenakan dalam usaha untuk menekan biaya hidup.35%) yang tidak pernah memeriksakan kesehatannya dengan alasan kesehatan mereka sudah cukup baik.39%) menyatakan kadangkadang/jarang memeriksakan kesehatan. dan tidak satupun responden yang menyatakan tidak pernah melakukan perjalanan/rekreasi. Sedangkan 8 responden (17.1 100. Sumber Air yang Digunakan No 1 2 Sumber Air Air PDAM Sumur bor Jumlah Sumber: Data Primer F 46 46 % 100.0 No 1 2 3 Jawaban Responden Sering Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah F 11 35 46 % 23. Tabel 31. mereka hanya memeriksakan diri jika sudah mengalami suatu gejala penyakit tertentu.

5 26. Responden yang memilih rumah sakit swasta beralasan bahwa di sana kualitas pengobatannya lebih baik. 8 responden (17. maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Data pada Tabel 32 di atas menunjukkan bahwa 26 responden (56. Jenis Pemeriksaan yang Dilakukan No 1 2 3 Jenis Pemeriksaan Gula darah Tekanan darah Kolesterol Jumlah Sumber: Data Primer F 26 12 8 46 % 56. Persiapan masa pensiun sedini mungkin sangatlah penting.00%) menyatakan kondisi kesehatan mereka cukup baik. berdasarkan hasil penelitian lebih didominasi oleh kaum pria. mayoritas beragama islam. 3. Mei 2006.52%) memilih rumah sakit swasta dan 6 responden (13. Sebanyak 7 responden (15. dan 8 responden (17. 48% pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia di Medan telah melakukan persiapan 2 – 5 tahun sebelum pensiun. dikarenakan masalah keuangan dan kesehatan.8 15. berusia antara 58 – 62 tahun dan mempunyai masa kerja rata-rata 35 tahun. berstatus menikah.4 8.52%) memeriksakan kadar gula dalam darah mereka.0 Data pada Tabel 33 menunjukkan bahwa 11 responden (23. Hal ini membuktikan bahwa tingkat kesadaran akan kesehatan pada diri pensiunan sudah cukup tinggi. jika pensiunan ingin menikmati masa pensiun yang bahagia. hal ini terlihat pada data di atas sebanyak 37 responden (80.91%) mengidap penyakit diabetes.39%) mengidap 164 Koleksi BPAD Prov SU . 3 responden (6. 4 responden (8.09%) memeriksakan tekanan darah mereka.78%) menyatakan bahagia pada masa pensiun. Kesimpulan Berdasarkan analisis data yang telah diuraikan. Tabel 33.7 50. Halaman 151-167 Berhubung para pensiunan masih diberikan fasilitas pengobatan gratis.0 penyakit tekanan darah tinggi. Volume 5. sedangkan responden yang memilih ke rumah sakit pemerintah beralasan di sana biaya lebih murah dengan kualitas yang tidak kalah dibandingkan rumah sakit swasta. Tabel 34.2 100. Tabel 32.39%) memeriksakan kadar kolesterol dalam darah mereka. Apakah Sudah Merasa Bahagia pada Masa Pensiun No 1 2 3 Jawaban Responden Bahagia Kurang bahagia Tidak bahagia Jumlah Sumber: Data Primer F 39 7 46 % 84. 2.4 100.0 100. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I sebagai perusahaan pengelola pelabuhan aktif memberikan perhatian yang besar terhadap kesejahteraan karyawannya pada masa pensiun. 12 responden (26.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I lima tahun terakhir yaitu dari tahun 2000 – 2005.0 Data pada Tabel 34 di atas menunjukkan bahwa 39 responden (84. bahagia di sini artinya tidak mengalami gangguan. keuangan maupun gangguan dalam bersosialisasi. Nomor 2. poliklinik/rumah sakit perusahaan masih merupakan pilihan utama sebagai tempat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan/berobat.9 17. baik fisik.1 17.43%) memilih poliklinik/rumah sakit perusahaan sebagai tempat pemeriksaan kesehatan. maka berdasarkan Tabel 31 di atas. Jenis Penyakit yang Diderita No 1 2 3 4 Jawaban Responden Diabetes Tekanan darah tinggi Kolesterol tinggi Tidak ada penyakit Jumlah Sumber: Data Primer F 11 8 4 23 46 % 23. Hal ini terbukti dengan adanya Masa Persiapan Pensiun sebagai masa latihan untuk menghadapi pensiun.04%) memilih rumah sakit pemerintah sebagai tempat untuk memeriksakan kesehatan atau berobat. dan 23 responden (50.70%) menyatakan tingkat kolesterol tinggi. dalam arti menjalani masa pensiun tanpa adanya sesuatu yang dirisaukan.22%) menyatakan masa pensiun mereka kurang bahagia. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

pensiunan harus memiliki sumber keuangan lain seperti dana bantuan dari anak. Mereka yang berhasil menjalani masa pensiun yang bermakna dan bahagia karena mereka mempunyai tekad dan berupaya dengan sungguh-sungguh. waktu dan energi mereka untuk mewujudkannya. beternak dan kegiatan lain yang sifatnya non-profit. Dengan demikian seseorang akan lebih mudah memandang segala sesuatunya lebih positif. dalam manjalani masa pensiun. terutama yang berusia 50 tahun keatas. menyusun menjadi suatu rencana masa pensiun lalu mengaplikasikannya. Rumah tempat tinggal setelah pensiun merupakan salah satu unsur pokok yang mempengaruhi kesejahteraan diri. memperoleh gagasan dan informasi dari berbagai sumber. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian bahwa tidak ada seorangpun pensiunan yang bekerja kembali. bercocok tanam. 72% responden memiliki rumah permanen.. 8. Kehidupan seseorang dalam masa pensiun sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan fisik dan mentalnya. Sikap positif sangat diperlukan terutama ketika seseorang menghadapi masa pensiun dan dalam kehidupannnya masa pensiun itu sendiri. pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I di Medan tidak melakukan aktivitas bekerja kembali pada suatu instansi ataupun lembaga formal. lebih konstruktif artinya mengarah kesegi yang bermanfaat dan bermakna. 5. Sebanyak 50% pensiunan tidak memiliki penyakit tertentu. Rumah tempat tinggal pada dasarnya tempat yang paling banyak waktu untuk menghabiskan sisa hidup. lebih sering berinteraksi dengan keluarga mereka. Uang merupakan salah satu syarat yang akan menopang kehidupan para pensiunan. 24% responden memiliki rumah permanen bertingkat dan hanya 4% responden yang memiliki rumah semi permanen. Hubungan antarpribadi (interaksi sosial). Dimasa pensiun. 10. hendaknya dapat memberikan pembekalan dalam persiapan menghadapi masa pensiun. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui bahwa kondisi kesehatan bersifat dinamis bukan statis. jadi kesehatan seseorang itu. Pembekalan ini diberikan kepada para pensiunan pada 165 Koleksi BPAD Prov SU . Pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. Mereka sering memeriksakan kesehatan.Izhar & Edward. persentase terbesar 48%. 9. dana pensiun pasangannya (bagi pasangan yang bekerja) dan hasil usaha mereka lainnya. tetapi hanya sebatas pemeriksaan bukan pengobatan. Mencintai apa yang dimiliki artinya selalu menjaga dan memeliharanya. 7.. memanfaatkan peluang yang mereka jumpai. meyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Hasil penelitian membuktikan pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I telah memiliki rumah sebelum mereka pensiun. terutama dengan mereka yang di sekitar orang yang ada di sekitar lingkungannya. karena itu perlu pengelolaan yang baik. mengarahkan sepenuh daya dan upaya. berdasarkan hasil penelitian. semakin menurun dan renta terhadap penyakit. Dalam masa pensiun. Hasil penelitian membuktikan bahwa tingginya kesadaran pensiunan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I akan kondisi kesehatannya. Analisis Tingkat Kesejahteraan. menganalisisnya. Interaksi sosial artinya di sini adalah bagaimana pensiunan membawa diri dalam hubungan dengan orang lain. Jadi uang merupakan sumber kehidupan pensiunan dan sebagaimana yang kita ketahui sumber dapat habis. Pandangan dan sikap positif sangat berguna dalam memandang dan merencanakan hari esok. Mereka hanya beraktivitas untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang. Kantor Pusat PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan yang berpartisipasi aktif dalam peningkatan kesejahteraan para pensiunannya. 4. Rumah tempat tinggal erat hubungannya dengan kondisi pendapatan sebelum ataupun sesudah pensiun. 6. aspek ini memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam kehidupan masa pensiun. Mereka yang bisa meraih usia 56 tahun dan pensiun haruslah disyukuri dan mencintai apa yang dimiliki. seperti berkebun. tidak ada yang disia-siakan. Keberhasilan para pensiunan disebabkan oleh kesungguhan hati mereka dalam mencapai apa yang diinginkan. Saran 1. Mereka mempunyai kemampuan untuk belajar terutama dari pengalaman orang lain.

Hal ini dimaksudkan agar para pensiunan dapat berkarya pada masa pensiunnya dan dapat memenuhi kebutuhan dari hasil karyanya tersebut. Masri. Harper & Row Publishers. 1995. 1992. Gajah Mada University Press. Hughes. Pensiun Rimbow. Northcote. Fergus P. Manajemen Penelitian. Mei 2006. Sistem Sumarnonugroho. Jakarta. Soemodiwirjo. Nomor 2. Motivasi dan Kepribadian. Neppe. 1987. New York. Cressey. A Cross Life Span. Bandung. Masa Pensiun Yang Bahagia. 1990. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta. Donald. Metode Penelitian Bidang Sosial. Flippo. Sociology an Introduction. Pensions . The Problem of Today and Tomorrow. Walter E. Djambatan. Intervensi Hanindita. West Publishing. Pedoman Peraturan Perusahaan Bidang Sumber Daya Manusia (Administrasi & Kesejahteraan Sumber Daya Manusia PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Medan). Minnesota. Prentice Hall. Jr. Fourth Edition. "Undang-undang Republik Indonesia No. Craig. PT Pustaka Biman Pressindo. Manajemen Personalia. Social Problem.. Cetakan III. LPFE VI. 1990. Angkasa. Everett J. PT Yogyakarta. 03 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Yogyakarta. Be Your Best. Rineka Cipta. 1987. hendaknya dapat memanfaatkan masa pensiun dengan melakukan berbagai aktivitas yang bisa menghasilkan. Soegiono. Singarimbun. Tata Personalia. Medan. Jakarta. Suharsini. CV. James. Haradi Nawawi. 1997. Jakarta. Sixth Edition. tanpa tahun. Simanjuntak. Nurdin. Elinor Lenz & Adams Linda. Binarupa Aksara. Jakarta. Halaman 151-167 Program Persiapan Pensiun. Kekaryawanan. 2. Pengantar Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. B. Rustomji. LP3ES. 1982. 166 Koleksi BPAD Prov SU . jika kondisi kesehatan masih memungkinkan. Thio. Arikunto. 2002. Pensiun Yang Bermakna. 1987. 1984. Inc. New York. Soepomo.. PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. 1986. London. Moyd D. 1985. Jakarta. Kesejahteraan Sosial. Allen & Unwin. Tata Administrasi Penerbit Djambatan. Metode Penelitian Survay. Third Edition. Benjamin.. Harper & Row Publishers. Gramedia Pustaka Utama. “Pendirian Perusahaan”. Fadhil. Poerwono Hadi. Edwirn B. Adapun pembekalan yang dapat diberikan seperti: Pengembangan keterampilan dan potensi diri yang dimiliki para pensiunan. Bandung 1982 Sumber-sumber lain: Buku Kerja. Ichsan Achmad. Jakarta. Irwin. Alex.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Jilid 2. M K. 1992. Coleman. Grace. 2003. Maslow A. Illnois. Human Development. Untuk para pensiunan. tanpa tahun. Volume 5. Erlangga. 1988. New Jersey. Tanpa Kegelisahan. et al. Jakarta. Human Development.. Cetakan V. Jakarta. Daftar Pustaka Allen. et al. Pension Planning. Drs. Payaman J. Gino. 1985. 1989. Parkison C. Hal ini dimaksudkan agar para pensiunan dapat mengisi masa pensiunnya dengan aktivitas yang bermanfaat dan tidak merasakan kebosanan. Edisi Enam. 1987..

12 / 2001 PT (PERSERO) Pelabuhan Indonesia I.id Koleksi BPAD Prov SU 167 ..co. Profil Organisasi Perusahaan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I. 2002 Situs http://www. 2004. “Daftar Pensiun Pegawai.com Situs www. Analisis Tingkat Kesejahteraan. Peraturan Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan & Pengerukan (DP4)..depnaker.Izhar & Edward. Pensiun Janda/Duda/Yatim-Piatu PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I”.inaport1.

The first. agar pemerintah mendesak perusahaan untuk memberikan pakaian keselamatan (safety) kepada pekerja seperti safety shoes. Ada empat pokok yang menjadi tuntutan mereka. Kesejahteraan pekerja/buruh pada tahun 2004 bila dilihat dari upah atau penghasilannya Fronner M. how is life condition of the workers.(tujuh ratus dua puluh delapan ribu rupiah). Selama ini karyawan hanya menerima gaji di bawah UMP sebanyak Rp 380. H. sebab tanpa diketahui karyawan saat itu. how did H. Pertama.M.000 per bulannya. law.-. Batam. SAMPOERNA SALES DIVISION BATAM Fronner M. Akibatnya status karyawan tidak jelas (Analisis. Ketiga. safety goggles. Selasa 21 Desember 2004.M. 12:24 WIB. Sementara itu status perusahaan tersebut tidak dapat diketahui secara pasti. It is very important to know how in fact.M. Karyawan yang ingin bekerja tidak diperbolehkan masuk perusahaan tersebut. usir tenaga kerja asing yang mengambil alih posisi pekerja Indonesia. dengan alasan. Kemudian pihak perusahaan malah mengalihkan status karyawan kepada pihak koperasi dan kontraktor PT Rico. especially about their social welfare. (Tempo Interaktif. M. because government put it to effect worker’s social welfare. di Gabion Belawan. D.000. Sampoerna Company is the subject of research. dan welding mask. adalah Staf di Yayasan Anak Jalanan AGAPE Medan 168 Koleksi BPAD Prov SU . Sampoerna Company implement worker rights according to the law.(enam ratus tiga puluh lima ribu rupiah). Keywords: worker right. S. Sampoerna Company implemented the worker right as taken in the law so the worker’s social welfare will be good. bila harga terus merangkak naik. karena tidak ada gunanya menaikkan upah.M. and worker’s social welfare is good. Second. Kedua. hand glove. This research is descriptive research and shows two issues.TINJAUAN IMPLEMENTASI HAK NORMATIF DAN KESEJAHTERAAN KARYAWAN PT H. Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) telah ditetapkan sebesar Rp728. Keempat.000. According to the data analysis. D. Mereka menuntut Upah Minimum Provinsi (UMP) dan menolak dialihkannya status karyawan menjadi karyawan kontraktor. Para demonstran menolak Ketetapan Pemerintah Kota soal Upah Minimum Kota (UMK) Batam sebesar Rp 635. Rabu 23 April 2003: 2). If H.. S. social welfare Pendahuluan Ribuan pekerja berunjuk rasa mendatangi gedung Gubernur Provinsi Kepulauan Riau di Batam Center. Abstract Implementation worker rights according to the law by H. Di lain pihak. Sampoerna Company has implemented worker rights very well. Keputusan pengalihan status karyawan dinilai sepihak. dengan alasan karyawan yang tergabung dalam PT Rico saja yang boleh bekerja.000. menolak UMK yang ditetapkan Pemerintah Kota Batam sebesar Rp 635. ratusan karyawan PT Semen Andalas Indonesia yang tergabung dalam Gabungan Solidaritas Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo) berunjuk rasa di depan perusahaan tersebut.. turunkan harga sembilan bahan pokok di Batam. Sebelumnya pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Metal Indonesia di Batam telah melakukan aksi serupa dengan tuntutan serupa pula.).

Memang jika dibandingkan. yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan. S. PTPN III. D. Hak asasi lahir setahap demi setahap melalui periode-periode tertentu di dalam sejarah perkembangan masyarakat. Untuk biaya hidup seharihari antara lain makan (dengan harga paling murah dan tanpa rokok). Dengan jumlah ini. artinya yang diperoleh pekerja setelah menutupi biaya hidup yang minimum hanya Rp 240. transportasi dan biaya lainnya mencapai Rp 12. Persoalan lain adalah kecenderungan perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak tanpa mempertimbangkan kondisi pekerja. karena perusahaan ini peduli terhadap kesejahteraan karyawannya.73 persen. Sabtu 3 Mei 2003: 9). Di Indonesia konsep hak asasi manusia telah secara tegas dan jelas diakui 169 Koleksi BPAD Prov SU . Ini berarti bahwa Indonesia bertekad untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh Bangsa Indonesia.000 terdapat kenaikan 11. Dalam mewujudkan kesejahteraan kehidupan warganya.000 sangat menyiksa perasaan buruh dalam menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. sesuai dengan kemauan dan kemampuan karyawan membayar kredit per bulan. pekerja memperoleh pendapatan yang layak (Analisis. Dilihat dari tujuan pembangunan nasional maka negara RI menganut tipe negara kesejahteraan (welfare state). maka dengan adanya fasilitas yang disediakan oleh perusahaan dapat meringankan beban ekonomi karyawan. Upah sejumlah Rp 600. Secara minimum kebutuhan sebulan mencapai Rp 360.Fronner M. Pihak manajemen PTPN III melihat. karena konsep utama perusahaan adalah untuk mensejahterakan karyawan dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada (Analisis.000. masih relatif rendah atau tidak sesuai dengan kebutuhan pekerja atau buruh. Sebagai suatu konsep moral. baik material maupun spiritual. Banyak perusahaan yang belum memberikan hak-hak normatif sesuai ketentuan perundang-undangan menjadi salah satu pemicu munculnya tuntutan dari pekerja. Pengalaman-pengalaman dari kelompokkelompok sosial dalam masyarakat bernegara itulah yang mewarnai konsep hak asasi. hak asasi dibangun dan dikembangkan berdasarkan pengalamanpengalaman kemasyarakatan manusia itu sendiri. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. Hak asasi sebagai konsep moral dalam bermasyarakat dan bernegara bukanlah suatu konsep yang lahir seketika dan bersifat menyeluruh. dengan gaji atau upah yang standar untuk seorang karyawan biasa tidak akan dapat memenuhi seluruh kebutuhannya. Hal ini tercermin dari banyaknya aksiaksi dari pekerja.. bukan hanya bagi sekelompok atau sebahagian masyarakat tertentu saja. namun kenaikan ini sangat tidak wajar sehingga perlu ditinjau kembali upah yang dinilai layak agar semangat kerja pekerja meningkat. Pembangunan nasional merupakan pengamalan Pancasila dan UUD 1945 yang diarahkan pada peningkatan harkat. Salah satunya adalah membangun perumahan karyawan Griya Nusantara yang bekerja sama dengan Developer Trisna yang dibiayai dengan dana kredit Bank Niaga Cabang Medan. Berbicara mengenai hak pekerja berarti kita membicarakan hak-hak asasi maupun hak yang bukan asasi. dapat dikatakan telah mengimplementasikan hak-hak normatif pekerja dengan baik.000. yaitu rata-rata besarnya Upah Minimum Propinsi (UMP) Sumatera Utara sebesar Rp 600. Perusahaan ini dapat sebagai contoh bagi perusahaan yang lain. 23 Desember 2004: 6). Diskriminasi antarkaryawan pribumi dan karyawan nonpribumi sangat mencolok (SIB. Pemerintah menekankan pada terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur secara merata.000 per bulan..000. seperti aksi mogok ratusan staf dan manajer PT Tolan Tiga Indonesia yang menuntut hak-hak normatif seperti kenaikan upah dan pemberian fasilitas dengan menyetarakan dengan perusahaan PMA lainnya seperti PT Lonsum dan PT Socfin. Selasa 21 Desember 2004: 6).. martabat dan kemampuan manusia serta kepercayaan pada diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur.000 per bulan. sedangkan hak yang bukan asasi berupa hak pekerja yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang sifatnya nonasasi. Seluruh karyawan memiliki kesempatan mendapat fasilitas rumah dengan pedoman tipe bangunan yang berbedabeda. Hak asasi adalah hak yang melekat pada diri pekerja itu sendiri yang dibawa sejak lahir dan jika hak tersebut terlepas dari diri pekerja akan menjadi turun derajat dan harkatnya sebagai manusia. Upah yang layak bagi pekerja saat ini minimal Rp 900. Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2003 sebesar Rp 537. sehingga masalah pemenuhan kebutuhan pekerja/buruh sedikit teratasi.

Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan (pasal 5). maka pelaksanaan undang-undang tersebut akan menjadi baik. untuk meningkatkan harkat. Hak-hak normatif tenaga kerja telah diatur dan dilindungi negara dalam berbagai 170 peraturan dan perundangan-undangan. walaupun suatu undangundang tidak begitu baik tetapi bila pelaksanaannya baik. Volume 5. walaupun suatu undang-undang itu adalah baik tetapi pada pelaksanaannya tidak baik. Demikian juga hak-hak yang bukan asasi mengalami proses sesuai dengan kepentingan dan perkembangan masyarakat diatur dalam peraturan perundang-undangan. ras. suku.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. makmur dan merata baik material maupun spiritual. 3. yaitu untuk meningkatkan harkat. Perlindungan tenaga kerja mendapat perhatian dalam Hukum Ketenagakerjaan. Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan atau meningkatkan dan atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat. Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin. 2. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ditentukan bahwa pembangunan tenaga kerja dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia yang seluruhnya. Maka suatu undang-undang tergantung pada pelaksanaannya. Mei 2006. para pelaksana Undang-Undang No. 5. Karena itu. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan pengertian tenaga kerja yaitu setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Tetapi dalam pelaksanaannya banyak perusahaan yang tidak bertanggung jawab atas kesejahteraan karyawannya dengan tidak mengimplementasikan dengan baik hak-hak normatif para pekerjanya. suku. Pengusaha harus memberikan hak dan kewajiban pekerja tanpa membedakan jenis kelamin. yaitu: 1. maka pelaksanaan undang-undang tersebut akan menjadi tidak baik. adil. moral dan kesusilaan dan lain-lain yang sesuai dengan harkat dan Koleksi BPAD Prov SU . warna kulit dan aliran politik. minat dan kemampuannya melalui pelatihan kerja (pasal 11). Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang No. Pada kenyataannya usaha yang telah dilakukan dalam rangka perlindungan itu belum berjalan seperti yang diharapkan. Setiap pekerja berhak memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja. Salah satu tujuan pembangunan tenaga kerja adalah memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan (pasal 4 huruf c). martabat dan harga diri tenaga kerja serta mewujudkan masyarakat adil. martabat dan harga diri tenaga kerja serta mewujudkan masyarakat sejahtera. 4. Begitu pula. pemogokan yang dilakukan pekerja yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan. mendapatkan atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri (pasal 31). namun ada kasus unjuk rasa. makmur dan merata. agama. Itu berarti bahwa negara tidak diperkenankan mengeluarkan kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi substansi dari hak konstitusional. Nomor 2. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan harus menyadari jiwa atau azas dari undang-undang tersebut. agama dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan. Hal ini tercermin dalam beberapa pasal dalam Undang-Undang No. termasuk perlakuan yang sama terhadap penyandang cacat. Hak asasi pekerja yaitu hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan yang telah diakui keberadaannya dalam UUD 1945 merupakan hak konstitusional. Bahkan di dalam negara hukum modern (negara kesejahteraan) negara berkewajiban untuk menjamin pelaksanaan hak konstitusional itu. 6. Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha (pasal 6). Di dalam Undang-Undang No. pemogokan tersebut yang berakhir dengan pemutusan hubungan kerja yang berakibat memperpanjang barisan pengangguran. hal ini terbukti dengan banyaknya kasus unjuk rasa. Setiap pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan kerja (pasal 12 ayat 3). Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih. ras. 7. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Artinya. Halaman 168-181 keberadaannya di dalam UUD 1945 dan dilaksanakan oleh negara di dalam masyarakat.

2. sakit. 9. RI No. bahwa setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 171 Koleksi BPAD Prov SU . 2. Perlindungan tenaga kerja dibagi menjadi 3 (tiga) macam. Pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja yang meliputi (Hardijan Rusli. Beberapa hal penting berkenaan dengan hak normatif pekerja dalam jaminan sosial tenaga kerja adalah: 1. sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal (Depnaker. Pengupahan termasuk sebagai salah satu aspek penting dalam perlindungan pekerja (hak normatif pekerja). rekreasi dan jaminan hari tua. Setiap pekerja berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja atau serikat buruh (pasal 104 ayat 1). kesehatan. yang menderita penyakit akibat hubungan kerja berhak menerima Jaminan Kecelakaan Kerja (Pasal 8 Ayat 1 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Pasal 2 Keppres. papan. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin. Setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (pasal 88 ayat 1). termasuk bila tenaga kerja tidak mampu bekerja diluar kehendaknya. 5. Perlindungan Sosial. ahli warisnya berhak atas Jaminan Kematian (Pasal 12 Ayat 1 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 6. bersalin. 2004: 115): 1. pendidikan. Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja. D. yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan kerja (Soepomo. S. 11. Perlindungan Ekonomis.. Untuk itu pengusaha wajib melaksanakan secara sistematis dan terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.Fronner M. yaitu: 1. pesawat alat kerja. bahan dan proses pengelolahannya. 1994/ 1995: 11). 1993: 76). Setiap pekerja dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja (pasal 99 ayat 1). (Sumakmur. yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk pengahasilan yang cukup. Setiap tenaga kerja berhak atas jaminan sosial tenaga kerja (Pasal 3 Ayat 2 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 1987: 1). Objek keselamatan kerja adalah segala tempat kerja. Setiap tenaga kerja yang tertimpa kecelakaan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu hak dasar pekerja (pasal 86 ayat 1 huruf a UU Tenaga Kerja). sandang. Pengertian jaminan sosial tenaga kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja. Maksud dari penghidupan yang layak di mana jumlah pendapatan pekerja dari hasil pekerjaannya mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja dan keluarganya secara wajar. yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja dan kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi.. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya. martabat manusia serta nilai-nilai agama (pasal 86 ayat 61). Setiap tenaga kerja atau keluarganya berhak memperoleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Pasal 16 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Upah tidak masuk kerja karena berhalangan. Setiap tenaga kerja atau keluarganya berhak atas Jaminan Hari Tua (Pasal 14 dan 15 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Upah minimum. 8. baik fisik. 4. landasan tempat kerja dan lingkungannya. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 88 Ayat 1 UU Tenaga Kerja. yang meliputi makanan dan minuman. Mogok kerja sebagai hak dasar pekerja dan serikat pekerja dilakukan secara sah. tertib dan damai sebagai akibat gagalnya perundingan (pasal 137). 3. 4.. 2. Setiap perusahaan wajib melaksanakan program Jamsostek bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan berdasarkan hubungan kerja (Pasal 4 Ayat 1 dan pasal 17 UU Jaminan Sosial Tenaga Kerja). 10. 22 Tahun 1993). Tinjauan Implementasi Hak Normatif. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja). Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna. Upah kerja lembur. hamil. 3. hari tua dan meninggal dunia (Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No. mental maupun sosial. Perlindungan Teknis. 3.

Volume 5.4 7. Friedlander. dengan cara memeriksa data yang diperoleh dari penelitian. yang terletak di kawasan industri Pulau Batam. Sampoerna Batam yang berjumlah 39 orang.5 38. Penelitian dilakukan di PT H. Pengetahuan Responden tentang Perlindungan terhadap Tenaga Kerja No 1 2 Ketagori Tahu Tidak tahu Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 (%) 100.0 Metode Penelitian Penelitian ini mencoba menjawab masalah yang dirumuskan.7 2.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sturktur dan skala pengupahan yang proporsional. Sampoerna Sales Division Batam dalam mempengaruhi kesejahteraan karyawan tersebut dan bagaimana kesejahteraan karyawan PT H.7 7. 10. 1-3 Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau. Tabel 2.1 20. kemudian dicari frekuensi dan persentasenya untuk disusun dalam bentuk tabel serta selanjutnya dijelaskan secara kualitatif. Hal-hal yang diperhitungkan dengan upah. digunakan sistem penskoran Skala Likert. Nomor 2. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya. Upah untuk pembayaran pesangon.6 5. rohani dan sosial. Bentuk dan cara pembayaran. Sampoerna Sales Division Batam ditinjau dari implementasi hak normatif tersebut? Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. Untuk memperoleh kesimpulan yang general.M.0 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden mengetahui perihal perlindungan terhadap tenaga kerja. Sampoerna Sales Division Batam yang berlokasi di Blok Komplek Nagoya Center Batam No.5 15. Semua populasi dijadikan sampel. 8. 1990: 63). Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan karyawan Sales Division PT H. Hasil Penelitian dan Pembahasan Sebelum dilakukan analisis data. Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan sosial dan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk membantu individu dan kelompok untuk mencapai standar hidup dan kesehatan yang memuaskan dan relasi-relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat (Walter A. 6. 9.M. Mei 2006. terlebih dahulu digambarkan secara umum identitas dari responden yang disajikan dalam bentuk tabel. Karakteristik Responden Berdasarkan Posisi Pekerjaan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Posisi Manajer Supervisor Administrasi Salesman Driver Security Gudang Helper Total Sumber: Data Primer F 1 2 8 15 6 3 3 1 39 % 2. Dapat dijelaskan bahwa pengetahuan responden dalam perlindungan tenaga kerja ini di dapat dari Buku Panduan Peraturan Perusahaan Sampoerna.M. Koleksi BPAD Prov SU . yakni: bagaimana implementasi hak-hak normatif karyawan PT H. menggunakan kuesioner. Upah untuk perhitungan pajak penghasilan. Halaman 168-181 5.0 0 100. Tabel 1. 7. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah wawancara dengan 172 Hal pertama yang perlu diketahui adalah pengetahuan karyawan perihal hak berupa perlindungan tenaga kerja.M. Secara umum yang dimaksud dengan kesejahteraan sosial adalah keadaan sejahtera pada umumnya yang meliputi jasmani. yaitu menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian lembaga seseorang dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya (Nawawi. 1961). Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. 6 100. Alasan memilih lokasi tersebut di atas adalah karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan swasta nasional yang tergolong besar.

seluruh responden merasa bahwa mereka diberikan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.0 Dalam melamar pekerjaan di PT H. Dalam hal ini diharapkan terciptanya dan bertambahnya motivasi karyawan dalam bekerja yang pada akhirnya karyawan dapat Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden mengaku mendapatkan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi dalam memilih. bagi salesman diberikan pelatihan yang berkala selama 6 (enam) bulan sekali untuk dapat menembus target pemasaran di pasar. Hak dan Peluang dalam Melamar Pekerjaan No 1 2 Ketagori Sama Diskriminasi Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100. Sampoerna Sales Division Batam.0 0 100. Koleksi BPAD Prov SU 173 .M. yaitu karyawan yang hendak memilih. Tabel 5.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak semua karyawan memperoleh pelatihan kerja yang mengacu pada standar kompetensi kerja dengan tujuan untuk memaksimalkan kontribusi dalam bekerja yang dilakukan oleh karyawan.6 13.0 memberikan kontribusi terbaiknya demi kemajuan perusahaan.. mendapatkan atau pindah bidang pekerjaan tersebut memenuhi berbagai kriteria yang diperlukan untuk suatu bidang pekerjaan tersebut. perusahaan memberi kesempatan yang sama tanpa diskriminasi. sama tanpa diskriminasi oleh pimpinan PT H. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. Tabel 4. Kenyamanan dalam bekerja diharapkan akan memberikan kontribusi terbaiknya demi kemajuan perusahaan.0 Dari data di atas dapat diketahui bahwa keseluruhan responden dalam bekerja seharihari di perusahaan merasa diperlakukan dengan baik.4 100. maka perusahaan mengambil kebijakan memasang iklan lowongan pekerjaan di korankoran lokal. Sampoerna. Perlakuan dalam Karier No 1 2 Jawaban Sama Diskriminasi Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100. sebab hanya membawa kendaraan pengangkut barang yang akan didrop ke pasar. Tabel 7. Contohnya. Hak yang Sama dalam Memilih atau Pindah Bidang Pekerjaan No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100.0 0 100.M. dan dalam melamar pekerjaan ini.. Tabel 6. Standard Kompetisi dalam Pelatihan Kerja No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 33 6 39 % 84. D. Bila ada lowongan pekerjaan. mendapatkan atau pindah bidang pekerjaan. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu. S. yang pada hakikatnya tidak perlu untuk diberikan pelatihan kerja oleh perusahaan.0 Dari data tersebut di atas semua responden mengaku merasa mendapatkan perlakuan yang sama dari perusahaan dalam meniti karier di perusahaan ini. dan dapat dijelaskan bahwa sebanyak 6 (enam) orang responden yang tidak menerima pelatihan kerja seperti data yang disajikan di atas dikarenakan posisi pekerjaan mereka sebagai driver (supir). Perlakuan Pengusaha atau Pimpinan No 1 2 Ketagori Sama Tidak sama Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100..0 0 100.Fronner M.0 0 100. Tabel 3.

Tabel 10. dan untuk bagian administrasi. Volume 5.0 0 0 100. perangkat PPPK.0 0 0 100. diketahui bahwa responden secara keseluruhan mengetahui dengan jelas bahwa upah yang mereka dapatkan adalah lebih besar dari UMP Riau/Batam. ternyata terjadi perbedaan jawaban. bahwa ada 2 orang responden yang menyatakan hanya kadang-kadang alat-alat perlindungan kerja di perusahaan dirasakan cukup memadai. demi kesehatan bersama dan keselamatan barang. Padahal pihak perusahaan mengaku telah semaksimal mungkin memberikan perlindungan kerja yang baik dan memadai kepada pekerjanya. 4) perawatan gigi yang berkala.0 1) poliklinik atau dokter perusahaan. Sampoerna kepada karyawan). Tabel 9. racun api dan kelengkapan satpam. dan 5) tunjangan alat bantu koreksi penglihatan.0 0 0 100. Besarnya Upah Dibandingkan dengan UMR Kota Batam No 1 2 3 Jawaban Lebih besar Sama Lebih kecil Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. suami/ istri karyawan dan 3 (tiga) orang anak karyawan.0 Data di atas menginformasikan.6 23.M.0 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa semua responden mendapatkan fasilitas dan program kesehatan dari perusahaan. Adanya Ketentuan atau Langkah-Langkah Demi Keselamatan dan Kesehatan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak ada Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. Hak Mendapatkan Alat-Alat Perlindungan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 13 17 9 39 % 33. Mei 2006. tunjangan kesehatan dan fasilitas pengobatan untuk karyawan. maka mematikan alat-alat elektronik ketika hendak pulang kerja.3 43.9 5. 2) Sampoerna Human Resources Policy (sistem dan prosedur biaya pengobatan yang diberikan oleh PT H. Tabel 12. Halaman 168-181 Tabel 8. Ketersediaan Alat Perlindungan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak ada Total Sumber: Data Primer F 37 2 0 39 % 94.0 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa keseluruhan responden mengaku adanya ketentuan atau langkah-langkah yang diterapkan perusahaan gunna menjamin keselamatan dan kesehatan kerja. larangan merokok di ruangan yang menggunakan pendingin udara dan di dalam gudang stok barang.1 0 100.0 Dalam hal hak mendapatkan fasilitas perlindungan kerja.1 100. Nomor 2. Tabel 11. driver dan satpam.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Koleksi BPAD Prov SU . 3) bantuan dana untuk biaya melahirkan karyawan wanita. demi mencegah kebakaran. sedangkan 37 orang responden menganggap alat perlindungan kerja yang tersedia di perusahaan sudah memadai. Adapun fasilitas dan program kesehatan tersebut adalah: 174 Berdasarkan data yang disajikan di atas. Adapun alat-alat perlindungan kerja tersebut adalah seperti: helm dan sarung tangan untuk karyawan gudang. Salah satu langkah tersebut adalah dengan adanya SOP (Standard Operational Procedure) yang harus dilakukan karyawan untuk meminimalisir kecelakaan kerja. Ketersediaan Fasilitas dan Program Kesehatan No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. yaitu karyawan bagian gudang.

semua responden ikut serta dalam Program Jamsostek. tapi tidak boleh sekaligus digunakan oleh para karyawan. Tabel 17. Berarti dapat disimpulkan bahwa responden tidak ada yang menjadi pengurus Serikat Pekerja pada PT H.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui.0 Perusahaan memberikan hak Cuti Tahunan kepada karyawannya. Cuti Tahunan tersebut sebanyak 12 hari dalam setahun.0 Dari data di atas menunjukkan bahwa.0 0 100. bahwa semua responden tidak pernah dilibatkan dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama. Sampoerna untuk mewajibkan setiap karyawan permanen atau karyawan tetap untuk ikut serta dalam Program Jamsostek tersebut. Dan seperti kebisaaan di seluruh dunia Hari Istirahat Mingguan tersebut adalah Hari Minggu. Keikutsertaan dalam Program Jamsostek No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100.0 0 0 100. D. padahal hak tersebut adalah salah satu hak normatif tenaga kerja dan dengan jelas diatur dan dilindungi oleh pemerintah dalam UU Tenaga Kerja No. Tabel 14. Ditelusuri lebih lanjut bahwa responden hanya mengetahui hal-hal tentang perlindungan kerja dari Buku Pedoman Peraturan Perusahaan Sampoerna. sehingga tidak dilibatkan membuat Perjanjian Kerja Bersama.0 100.Fronner M. yaitu harus 2 kali ambil cuti tahunan. Keterlibatan dalam Membuat Perjanjian Kerja Bersama No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100. Hak untuk Istirahat Setiap Minggu sebagai Istirahat Mingguan No 1 2 3 Kategori Selalu Kadang-kadang Tidak pernah Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. Tabel 13. S.0 100. sebagaimana yang diakui oleh seluruh responden.0 Dan dapat dijelaskan bahwa perusahaan berhak membatalkan Hak Cuti Tahunan tersebut bila tidak diambil atau digunakan karyawan pada tahun tersebut. sehingga dalam sekali Cuti Tahunan hanya boleh diambil sebanyak 6 hari cuti saja. 13 Tahun 2003. Seperti yang diketahui bahwa. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa memang ada peraturan di PT H. Undang-Undang Tenaga Kerja mengatur bahwa yang membuat Perjanjian Kerja Bersama itu adalah pengusaha dengan perwakilan dari serikat pekerja perusahaan..0 Diketahui bahwa seluruh responden selalu mendapatkan hak untuk libur setiap minggunya sebagai Hari Istirahat Mingguan. karena keseluruhan responden tidak mengetahui perihal hak untuk mogok kerja bagi karyawan atau pekerja. Tabel 15.0 0 100. Dan hak untuk libur setiap minggu ini tak pernah disia-siakan oleh para karyawan untuk beristirahat setelah 6 hari kerja yang melelahkan.M. Sampoerna. Hak Cuti Tahunan No 1 2 Jawaban Ya Tidak Total Sumber: Data Primer F 39 0 39 % 100. Tabel 16. Tinjauan Implementasi Hak Normatif.. Data yang disajikan di atas merupakan hal yang menarik. Pengetahuan Perihal Hak untuk Mogok Kerja No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100.. sedangkan 175 Koleksi BPAD Prov SU . Selanjutnya para karyawan pun mengaku bahwa tidak akan mengambil Cuti Tahunan bila tidak ada keperluan penting di luar pekerjaan.M.

0 disebabkan oleh posisi pekerjaan yang berbeda dan lamanya masa kerja karyawan tersebut di perusahaan.Rp 1. Hal ini tentunya 176 Bonus selain upah yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya berdasarkan omzet dan target yang dicapai perusahaan.0 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas.000. semua responden mengaku mendapatkan Buku Pedoman Peraturan Perusahaan.0 Berdasarkan data di atas. nyaman dan tertib agar perusahaan dapat berjalan dengan baik dengan mendapatkan income yang baik pula.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa.000.Rp 1.Rp 1.000.1 5. gaji atau upah para karyawan PT H. Distribusi Jawaban Responden tentang Penghasilan atau Upah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jawaban Rp 1. Sampoerna Sales Division Batam sangat bervariatif. sengaja tidak karyawannya.Total Sumber: Data Primer F 1 3 1 8 2 1 10 8 2 2 1 39 % 2.000.000.500.5 5.000. Halaman 168-181 di dalam buku tidak dimuat Mogok Kerja.Rp 2. Bonus yang diberikan sesuai dengan target yang dicapai karyawan dan Koleksi BPAD Prov SU . Kecukupan dan Kelayakan Upah yang Diperoleh No 1 2 3 Jawaban Sudah cukup Tidak selalu cukup Tidak pernah cukup Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. Tabel 20.200.400.M.6 25. keseluruhan responden mengaku sudah menerima gaji atau upah yang sudah layak dan mencukupi.Rp 6.000.0 0 100. sebab bantuan dan tunjangan bagi karyawan semuanya telah diatur dalam Sampoerna Human Resources Policy (Sistem dan Prosedur Biaya Pengobatan.000.000.Rp 3.000. Adanya Bonus Selain Upah No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. Dan tidak lain tujuan dari hal tersebut adalah demi terciptanya suasana kerja yang aman.600.0 0 100.000. Volume 5.000.6 20.000.500.1 2.1 2.Rp 4. Alasan diberikannya bonus adalah sebagai motivasi bagi karyawan untuk bekerja lebih baik dan diharapkan dapat mencapai target yang telah ditentukan perusahaan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.0 0 0 100. Tunjangan Serta Dana Bantuan dan Kesejahteraan yang diberikan oleh PT H.6 100.6 7. Adapun pihak perusahaan juga dengan sengaja membagi buku pedoman tersebut dengan gratis dengan tujuan untuk dapat memberikan pengetahuan tentang tata tertib perusahaan dan perlindungan kerja karyawan.Rp 1.800.6 20. Sedangkan tunjangan dan dana pendapatan lainnya tidak ada sama sekali diberikan oleh perusahaan.5 5. Jadi hal ini membuat seluruh responden mengakui adanya bonus setiap tiga bulannya selain upah atau gaji yang mereka terima setiap bulannya. Nomor 2. Mei 2006.Rp 2.500. Ada kebijakan dari perusahaan bahwa setiap tahunnya gaji atau upah karyawan itu meningkat sebesar 8% (delapan persen) s.M.Rp 1.7 2. semata. Perolehan Buku Pedoman tentang Peraturan Perusahaan No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. kondusif. peraturan perusahaan tersebut dan diatur mengenai Hak Diyakini perusahaan memang menjelaskannya pada para demi kepentingan bisnis Tabel 18. Dari gaji pokok setiap karyawan dipotong sebanyak 2% (dua persen) tiap bulannya untuk Asuransi Tenaga Kerja (Astek).d. 13% (tiga belas persen). Sampoerna kepada karyawan). Tabel 19.000. Tabel 21.500.

Kepuasan Karyawan Atas Bantuan dan Bonus No 1 2 3 Jawaban Ya Tidak Perlu ditingkatkan Total Sumber: Data Primer F 39 0 0 39 % 100. yaitu 61. Tabel 22. S. Sedangkan sebanyak 28. Dumai. selebihnya. Dapat digambarkan bahwa.3 Dapat diketahui dari data yang tersaji pada tabel di atas yaitu sebanyak 61.000. tetapi para pekerja yang mencari kerja ke Kota Batam dari luar Kota Batam (ada yang dari Pekanbaru.per malammya. yaitu bagian administrasi.5 0 0 38.8 100. supervisor sales dan manajer. driver.5 28..0 % 61. sebanyak 32 responden yang tempat tinggalnya menyewa atau mengontrak adalah bukan warga asli Kota Batam.Fronner M.5 100.1 0 12. Tabel 25. perusahaan dan bisa saja bonus tersebut sebesar gaji atau upah yang diterima oleh karyawan. Sedangkan responden yang menjawab tidak tahu adalah mereka yang belum dan tidak pernah pergi untuk perjalanan dinas. Sedangkan yang memiliki tempat tinggal sendiri hanya sebanyak 2 orang responden saja dan yang menumpang (bisa pada tempat tinggal saudara atau masih bersama orang tua) ada sebanyak 5 orang responden.0 0 0 100. maka didapat data yang menjelaskan bahwa keseluruhan responden merasa puas atas bantuan dan bonus yang diberikan perusahaan kepada mereka. Adapun responden yang pernah dan bahkan selalu melakukan perjalanan dinas adalah salesman.000.M. yakni 10.0 Dengan alasan bahwa bantuan atas kesejahteraan yang cukup melalui Sampoerna Human Resources Policy (Sistem dan Prosedur Biaya Pengobatan.1 82.. Tinjauan Implementasi Hak Normatif.54% responden mengaku mendapatkan biaya perjalanan dinas dan penginapan yang cukup. Tabel 23.5% mengaku dapat menabung dari penghasilan atau upah yang mereka terima setiap bulannya.per harinya dan biaya untuk menginap sebesar Rp 140.3% Bila jawaban responden dikaitkan dengan biaya hidup di Kota Batam yang relatif besar.2 10. Tunjangan Serta Dana Bantuan dan Kesejahteraan yang diberikan oleh PT H..0 Berdasarkan data yang tersaji pada tabel di atas. D. Status Tempat Tinggal Karyawan No 1 2 3 4 Jawaban Milik sendiri Menyewa Rumah dinas Menumpang Total Sumber: Data Primer F 2 32 0 5 39 % 5. dapat diketahui bahwa sebagian besar responden. gudang dan security.0 sisa penghasilan atau upah yang dapat ditabung serta responden yang pandai berhemat.2% responden mengaku kadangkadang dapat menabung dari gaji atau penghasilan mereka. dapat ditarik gambaran bahwa responden yang tidak dapat menabung dari gaji tersebut adalah responden yang berpenghasilan pas-pasan dengan biaya hidupnya. Peluang Menabung Karyawan No 1 2 3 Jawaban Dapat Kadang-kadang Tidak dapat Total Sumber: Data Primer F 24 11 4 39 100. Sampoerna kepada karyawan) dan atas bonus yang memuaskan. yaitu 82. Dapat dijelaskan bahwa biaya perjalanan dinas tersebut sebesar Rp 79.1% responden menyewa atau mengontrak rumah dan menyewa kamar kost. dan Jakarta). dan yang dapat menabung adalah responden yang mempunyai Dapat diketahui dari data yang tersaji pada tabel di atas bahwa sebahagian besar. Kecukupan Biaya untuk Perjalanan Dinas No 1 2 3 4 Jawaban Cukup Kadang-kadang Tidak cukup Tidak tahu Total Sumber: Data Primer F 24 0 0 15 39 % 61. Dan rupanya tidak ada 177 Koleksi BPAD Prov SU . Medan.. Tabel 24..

Sampoerna Sales Division Batam tidak memberikan bantuan perumahan. Dan memang perusahaan tidak ada memiliki rumah dinas perusahaan ataupun mess untuk para karyawannya. Rasa Terlindungi dalam Hal Biaya Pengobatan dan Perawatan No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 37 2 0 39 % 94. Tapi ada juga sedikit responden yang merasa belum sepenuhnya terlindungi kesehatannya. yaitu dalam hal biaya pengobatan dan perawatan medis. yaitu sejumlah 2 orang responden.. Jadi bila menyewa atau mengontrak tempat tinggal. Bantuan Sewa Tempat Tinggal No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100. Sampoerna Batam menjelaskan bahwa dalam hal bantuan biaya menyewa atau mengontrak tempat tinggal bagi karyawan. yaitu sebesar Rp 3.0 Dari distribusi jawaban responden di atas dapat diketahui bahwa PT H. Mei 2006. Rasa terlindunginya kesehatan responden ini bisa dipastikan karena budget untuk pengobatan dan kesehatan karyawan PT H. seperti mess ataupun rumah dinas kepada keseluruhan responden. Tidak dapat diketahui dengan jelas apa alasan mereka sehingga merasa kadang-kadang saja terlindungi. Tabel 26. Sampoerna yang lumayan besar jumlahnya.0 Dari data yang disajikan pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sebanyak 37 orang responden mengaku merasa terlindungi dalam hal kesehatan.0 0 100.0 Dari distribusi jawaban responden pada tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden mendapatkan dana pensiun dari pensiun.9 5.000.per tahun per orang. Nomor 2. Tapi bukan secara langsung perusahaan memberikannya dan menetapkan besarnya dana.0 Semua responden mengaku mendapatkan pakaian seragam untuk bekerja dari perusahaan.0 100. Volume 5.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sehingga bila seorang 178 Koleksi BPAD Prov SU . Bantuan Perumahan No 1 2 Ada Tidak ada Total Sumber: Data Primer Jawaban F 0 39 39 % 0 100.0 Perusahaan tidak memberikan bantuan kepada karyawan dalam hal bantuan biaya perumahan bila karyawan menyewa atau mengontrak tempat tinggalnya. melainkan diberikan berdasarkan dana yang dikelola oleh Dana Pensiun Sampoerna. Adapun tujuan perusahaan memberikan pakaian seragam pada karyawannya adalah supaya identitas perusahaan tergambar pada karyawannya dan juga sebagai prasarana untuk menciptakan suasana kerja yang baik dan kondusif.0 100.000. Perolehan Pakaian Seragam untuk Bekerja dari Perusahaan No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. sehingga sebagian besar karyawan menyewa atau mengontrak tempat tinggal atau bahkan menumpang di tempat tinggal saudara. Tabel 28. perusahaan tidak ada mengalokasikan dana untuk itu. karyawan hanya dapat berharap dari gaji atau penghasilannya saja ditambah dengan bonus yang diterimanya.1 0 100. Tabel 27. Hal ini dapat diketahui dari data yang disajikan pada tabel di atas.M. Tabel 30.M.0 0 100.M. Dan memang pihak PT H. Adapun dana pensiun yang didapatkan kelak oleh para karyawan adalah dari pemotongan gaji setiap bulannya sesuai ketentuan perundangan tentang Jamsostek. Tabel 29. Mendapatkan Dana Pensiun No 1 2 Ya Tidak Total Sumber: Data Primer Jawaban F 39 0 39 % 100. Halaman 168-181 satupun responden yang bertempat tinggal pada rumah dinas perusahaan.

Lebih jelas lagi bahwa responden yang merasa kadang-kadang saja aman. Rasa Terjamin dan Terlindunginya Keselamatan dan Kesehatan Kerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer.33% responden merasa kadang-kadang saja terlindungi keselamatannya dan kesehatannya dalam bekerja. Tapi meskipun begitu. 2005 F 26 13 0 39 (%) 66. Nyaman dan Kondusif dalam Bekerja No 1 2 3 Jawaban Ya Kadang-kadang Tidak Total Sumber: Data Primer F 29 10 0 39 % 74. nyaman dan kondusif dalam bekerja. Sampoerna Sales Division Batam yang telah mengimplementasikan dengan baik hak-hak normatif tenaga kerja sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang.0 driver. Dan sisanya sejumlah 5 orang responden hanya kadang-kadang saja merasakan kepuasan dalam bekerja pada perusahaan tersebut.7 33.8 0 100. yang didapat berdasarkan pemotongan terhadap gaji setiap bulannya sesuai ketentuan perundangan tentang Jamsostek. Sampoerna dalam kesejahteraan karyawannya sudah cukup baik. Sampoerna Sales Division Batam. Tabel 31. atau hanya sebagai batu loncatan dan mencari pengalaman kerja dan sebagainya. responden yang hanya kadang-kadang saja merasa terjamin keselamatannya adalah karyawan yang di antaranya bekerja pada posisi Koleksi BPAD Prov SU .3 25. Merasa Aman. maka diketahui secara umum dengan pengunaan Skala 179 Rasa terjamin dan terlindunginya keselamatan dan kesehatan kerja responden berdasarkan data yang tersaji di atas. karyawan statusnya sudah sebagai karyawan tetap. D.33 s. apalagi bila dilihat dari segi penghasilan yang cukup. Adapun sebagian responden merasa hanya kadang-kadang saja puas bekerja adalah dikarenakan oleh responden yang memang tak berniat bekerja atau meniti karier pada perusahaan tersebut..M..Fronner M. suasana kerja yang kondusif dan usaha menjamin keselamatan dan kesehatan karyawannya.7 0 100.18% karyawan merasa puas dalam bekerja di PT H.0 Dapat dilihat pada data yang tersaji pada tabel di atas. Tabel 32. helper gudang dan juga salesman.M. nyaman dan kondusif. maka karyawan mendapatkan dana pensiun. Tinjauan Implementasi Hak Normatif.d.3 0 100. nyaman dan kondusif dapat dikatakan dikarenakan oleh suasana Kota Batam yang hiruk pikuk dengan aktivitas setiap warganya. sehingga mempengaruhi karyawan yang bekerja turun ke lapangan tidak mendapatkan suasana kerja yang kondusif seperti suasana kerja di kantor perusahaan. melihat usaha yang dilakukan oleh PT H. Sedangkan selebihnya sebanyak 29 orang responden mengaku merasakan suasana aman. 1). security.0 Pada distribusi jawaban responden di atas.. Atas dasar keseluruhan distribusi jawaban responden tentang kesejahteraan karyawaan PT H. Nilai Skala Likert Setelah berbagai gambaran dan penjelasan yang disajikan di atas tentang implementasi hakhak normatif tenaga kerja di PT H.M. karena perusahaan berusaha semaksimal mungkin menciptakan suasana kerja yang aman. Sampoerna Sales Division Batam yang telah digambarkan dan dijelaskan di atas.M.2 12. diketahui bahwa 87. sebab rata-rata sebahagian besar distribusi jawaban responden adalah memberikan keterangan tentang PT H. maka secara umum dapat dikatakan mempunyai pengakuan yang positif secara signifikan (bobot nilai = 0. Sedangkan 33. S. Ditelusuri lebih lanjut bahwa. ditarik kesimpulan bahwa sebesar 66.M.67% responden yang merasakannya. Kepuasan Bekerja No 1 2 3 Jawaban Puas Kadang-kadang Tidak puas Total Sumber: Data Primer F 34 5 0 39 % 87. Tabel 33. Sampoerna Sales Division Batam. bahwa sebanyak 10 orang responden merasa hanya kadang-kadang saja merasa suasana yang aman. nyaman dan kondusif.

M. Secara umum dengan pengunaan Skala Likert. sehingga diharapkan tidak terjadinya aksi-aksi yang mengkritisi tajam Koleksi BPAD Prov SU . Sampoerna Sales Division Batam juga sangat dirasakan sangat baik oleh karyawannya. Kesimpulan Implementasi hak normatif tenaga kerja oleh PT H. suasana kerja yang baik. Memang penghasilan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya cukup besar dan diyakini telah mencukupi untuk biaya tempat tinggal. Halaman 168-181 Likert. Sampoerna Sales Division Batam dapat diberikan saran yaitu. Bagi pihak PT H. Implementasi hak-hak normatif tenaga kerja di PT H. tapi bukan secara langsung perusahaan memberikannya dan menetapkan besarnya dana. dan diketahui bahwa pengakuan keseluruhan responden dapat dikatakan sebagai pengakuan yang positif secara signifikan (dengan bobot nilai = 0. Jaminan kesehatan bagi karyawan PT H.M. bahwa perusahaan tersebut telah berusaha dengan memberikan yang terbaik dalam hal kesejahteraan karyawannya sesuai kemampuan perusahaan tersebut.33 s. Sampoerna Sales Division Batam dengan sangat baik. 1). Sampoerna Sales Division Batam yang telah dideskripsikan di atas dalam menciptakan kesejahteraan para karyawannya. Kedua. pertama agar pihak perusahaan dapat memikirkan dan mewujudkan fasilitas perumahan (seperti mess atau rumah dinas) bagi karyawannya.M. Mei 2006. Sampoerna Sales Division Batam sudah berusaha memenuhi hak-hak dasar karyawannya. Volume 5.33 s. Dengan adanya perlakuan-perlakuan yang sama tanpa diskriminasi oleh pengusaha atau pimpinan dalam kesempatan melamar.d. Sampoerna Sales Division Batam telah berjalan dengan baik. bahwa perusahaan tersebut telah berusaha dengan memberikan yang terbaik dalam hal kesejahteraan karyawannya sesuai kemampuan perusahaan tersebut. Apalagi bila dilihat perwujudan kesejahteraan yang baik tersebut dari segi penghasilan yang cukup. hal ini karena didukung oleh Sampoerna Human Resources Policy. Kesejahteran karyawan telah terwujud dengan baik. PT H. atau paling tidak perusahaan dapat memberikan bantuan berupa dana untuk biaya tempat tinggal para karyawannya. Sampoerna Sales Division Batam agar meningkatkan mutu kerjanya sehingga perusahaan dapat memperoleh laba yang meningkat dari tahuntahun sebelumnya.M. maka karyawan mendapatkan dana pensiun dari perusahaan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Sampoerna Sales Division Batam yang telah mengimplementasikan dengan baik hakhak normatif tenaga kerja sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang. Nomor 2. perlakuan dalam berkarier yang sama dan lain-lain. maka dapat diberikan saran yang ditujukan bagi karyawan PT H. mencerminkan kebijakan-kebijakan perusahaan menyangkut hak normatif karyawan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. tapi alangkah baiknya bila fasilitas perumahan tersebut dapat terwujud demi lebih terjaminnya kesejahteraan karyawan.d.M. bonus dan biaya perjalanan yang diberikan oleh perusahaan tersebut sudah dirasakan cukup oleh seluruh responden dan bahkan sebahagian besar karyawannya dapat 180 menabung dari penghasilan tersebut.d. Sedangkan untuk jaminan hari tua. 1). tunjangan. agar perusahaan pada tahun-tahun berikutnya dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang lebih lagi memperhatikan dan mengutamakan hak-hak normatif karyawannya tanpa membebani perusahaan lebih berat.33 s. melainkan diberikan berdasarkan dana yang berasal dari pemotongan terhadap penghasilan karyawan yang didapatkan setiap bulannya yang dikelola oleh Dana Pensiun Sampoerna. suasana kerja yang kondusif dan usaha menjamin keselamatan dan kesehatan serta jaminan sosial karyawannya. Sampoerna Sales Division Batam juga telah memberikan fasilitas dan menjalankan program yang menunjang kesehatan para karyawannya.M.M. hal ini dapat dilihat melalui upayaupaya dalam hal kesejahteraan karyawannya yang dilakukan oleh PT H. Mengenai perlindungan keselamatan kerja dan kesehatan kerja. Adapun upah.M. Hal ini dapat diketahui dari pengakuan responden yang sebagian besar positif secara signifikan. dan diketahui bahwa pengakuan keseluruhan responden dapat dikatakan sebagai pengakuan yang positif secara nilai = signifikan (dengan bobot 0. Saran Melihat upaya-upaya PT H. sebab sebagian besar jawaban responden tentang PT H.M. maka PT H. 1). Sampoerna Sales Division Batam secara umum bersifat positif secara signifikan (bobot nilai = 0.M.

Jakarta. 2004. Ghalia Indonesia. Hukum Tenaga Kerja Kebebasan Berserikat Bagi Pekerja. T. S. Kesejahteraan Bandung. 1990. Pokok-Pokok Hukum Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Bahder. Tempo Interaktif. Evaluasi Depnakertrans. Jakarta. 2004. Gadjah Mada University Press. Bagi pihak perusahaan dan karyawan agar lebih lagi meningkatkan suasana kerja yang lebih baik dan menjaga agar semangat kerja karyawannya meningkat dan terutama target perusahaan dapat tercapai. Yogyakarta. Jakarta. 2005. 3 Mei 2003: 9.. 1987. Sampoerna Sales Division Batam. Konstruksi Kearah Penelitian Deskriptif. Selasa. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja. 23 April 2003: 2. kebijakan perusahaan yang biasanya disertai dengan pemogokan kerja.Fronner M. Hakim. Lalu. Medan. Peraturan Perusahaan Sampoerna 2003-2005. 2003. 1992. Selasa 21 Desember 2004. Singarimbun. Mandar Maju. LP3S. Kansil. 1985. Harian Analisis. 1968. yang bila pada akhirnya hal tersebut terjadi. Rajawali Pers. Fadhil. Introduction to Social Welfare 3th Edition. Perburuhan. 2000. Hukum Tenaga Kerja Berdasarkan UU No. Medan. Azwar. yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesejahteraan karyawan dan kemajuan serta kesuksesan PT H.. Poedarminta.. Saifuddin. Pengantar STKS. Daftar Pustaka Abdul. D. Medan. 2004. RI. Pustaka Pelajar. Sumber-sumber lain: Harian Analisis. W. Sosial. J. Prentice Hall Inc. 1981. Syarif. 1996. Bandung. 1997.. 12:24 WIB. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Prosedur Penelitian. Suharsini. Erna Widodo & Mukhtar. Pengantar Studi Kesejahteraan Sosial. New Jersey. Koleksi BPAD Prov SU 181 . Jakarta. Masri. Nawawi. Hadari. Penerbit PT Hanindita.M. Djambatan. Penerbit Balai Pustaka. 1987. 1993. Harian Analisis. 1991. Pustaka Sinar Harapan. Metode Penelitian Survei. Yogyakarta. Harian Sinar Indonesia Baru. Haji Mas Agung. S. Sumarnonugroho. Hardijan Rusli. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta. Yogyakarta. 21 Desembrer 2004: 6. 23 Desember 2004: 6. Aneka Cipta. Jakarta. Husni. Hukum Tenaga Kerja 2003. Sumakmur. Friedlander. 13 Tahun 2003. Jakarta. Medan. Arikunto. Johan. Hukum Soepomo. Bandung. Jakarta. Citra Aditya Bakti. Sabtu. Tinjauan Implementasi Hak Normatif. Kamis. 1998. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. Nasution. Avyrouz. Muhidin. maka hanya mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi kedua belah pihak. Rabu. Metode Penelitian Bidang Sosial. Nurdin. Englewood Cliffs. PT Angkasa. Yogyakarta. Walter A. Jakarta. Depnakertrans Tahun 2004. Pengantar Hukum Tenaga Kerja Indonesia.

yakni untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi warga negaranya. Keywords: entrepreneur. Silalahi adalah Staf Pengajar Jurusan Manajemen STIE Tricom Medan 182 Koleksi BPAD Prov SU . Pada akhirnya. especially to solve the latest unemployment problem in Indonesia. Pengangguran yang tidak segera dicarikan jalan keluar yang tepat. This means that Indonesia only can supply the new field of work for 2. Silalahi Abstract The unemployment high level in Indonesia is the national big problem. 7 – 8 percents curtained not enough to supply the need number of field of work. Kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh rumah tangga yang mengalami pengangguran membuat retaknya harmonisasi hubungan keluarga. suku bunga yang kompetitif untuk membuat sektor riel bergairah melakukan usahanya. Mengingat dampak pengangguran yang begitu luas. psikologis. maupun secara makro ekonomi. We have to appreciate that 37 million unemployment is the large number and the government has to do something. pada akhirnya dapat menjadi pemicu masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.000 – 400. Menyadari realitas yang ada. maka perlu dicari suatu terobosan yang tepat dan terarah serta berkesinambungan. dapat dipastikan tidak produktifnya sumber daya manusia akan menjadi beban bila diukur dari produktivitas nasional. Bagi pemerintah atau penguasa baru sesungguhnya kondisi buruk seperti ini bahkan dianggap sudah merupakan alasan kuat untuk mengajak jajaran kabinetnya untuk segera angkat koper. As we know that 1 percent economic grow can supply the new field of work for 300. Tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup akan membuat pengangguran menjadi pemicu masalah di tengah-tengah masyarakat. iklim investasi yang transparan dan efisien. Terowosan ini dilakukan untuk menciptakan suatu kondisi bahwa semua komponen bangsa harus bahu membahu untuk menciptakan lapangan pekerjaan.000 workers. Kebijakan ini harus dapat dilaksanakan secara komprehensif dengan kebijakan makro ekonomi lainnya seperti pengendalian inflasi yang terukur.4 millions workers in one year.PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENTREPRENEURSHIP SEBAGAI ALTERNATIF PEMBUKAAN LAPANGAN KERJA SELUAS-LUASNYA Mulatua P. Salah satu kebijakan yang perlu dilakukan adalah melalui "pendidikan dan pelatihan entrepreneurship sebagai alternatif pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya". maka masalah pengangguran adalah prioritas yang harus diselesaikan oleh pemerintah sesegera mungkin. berakibat kondisi mental semakin tertekan dan cenderung untuk bertindak negatif. Pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri akan mengurangi Mulatua P. Adapun dampak buruk dari pengangguran dapat berpengaruh kepada kondisi sosial ekonomis. agar lapangan pekerjaan dapat terbuka seluas-luasnya.1 – 2. job creation Pendahuluan Angka pengangguran yang mencapai puluhan juta orang saja bagi negara berpenduduk 200 juta jiwa lebih sesungguhnya sudah merupakan problema yang sangat besar. dan bukan berlomba-lomba untuk mencari lapangan pekerjaan. Economic growth planned by the government. Hal ini terjadi karena Pemerintah ternyata tidak mampu melakukan sesuatu yang merupakan kewajiban dasarnya. Individu yang menganggur cukup lama.

Noneconomic factors (faktor nonekonomi) Pada mulanya Uni Soviet begitu tertinggal jauh kesejahteraannya dibandingkan dengan Amerika Serikat. Sementara Uni Soviet masih ketinggalan dalam pembangunan entrepreneurshipnya. 3. diperlukan entrepreneurship yang tangguh. tetapi pada akhirnya industri tersebut kini lebih didominasi oleh private ownership. 2. telah memiliki banyak industri yang dapat menghasilkan pesawat.. Pada dasarnya seorang entrepreneur memerlukan dan mengusahakan agar manpower. labor.Silalahi. walaupun negara tersebut sudah berusaha memperbaiki undang-undang yang berkaitan dengan entrepreneurship. Bentuk yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah melalui insentif pasar (market incentives). material. yang pada awalnya diproduksi oleh perusahaanperusahaan negara. sebagai konsekuensi peran pemerintah di dalam pembangunan ekonomi. The pursuit of opportunities Seorang entrepreneur adalah orang yang mencari peluang untuk dapat meningkatkan bisnisnya melalui perubahan dan transformasi. Ada dua faktor ekonomi yang perlu diidentifikasikan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi tumbuhnya entrepreneurship. sehingga perubahan apapun yang terjadi di masa yang akan datang. Pengelolaan perusahaan yang banyak dilakukan oleh pihak swasta mampu memberikan kondisi yang positif kepada pemerintah. Pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri diharapkan dapat membuat bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat dan bermartabat. tersedianya dana/modal yang cukup untuk mendukung berkembangnya aktivitas para entrepreneur. dan Singapura. citra bahwa bangsa ini adalah bangsa kelas "kuli/budak" bagi bangsa lain. Innovation Mampu menggunakan faktor produksi yang ada (land. dan capital dapat secara optimal digunakan. labor. Beberapa negara di mana entrepreneurshipnya sudah mencapai tingkat yang mapan. Korea Selatan. dan negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand. Growth Seorang entrepreneur akan berusaha semaksimal mungkin agar usahanya dapat terus mengalami pertumbuhan. Jadi jelaslah bahwa untuk dapat memberikan kesempatan perusahaan memenangkan kompetisi. tetapi sejak Mikhail 183 Beberapa Konsep Entrepreneur adalah individu atau sekelompok individu yang memiliki kemampuan mengkombinasikan faktor-faktor produksi (land. Di sinilah peran lembaga perbankan sangat diharapkan untuk dengan cepat dan tanggap membuka akses yang lebih luas lagi agar talenta ataupun benih entrepreneurship terus digali dan ditumbuhkembangkan. Pendidikan dan Pelatihan. Ada tiga komponen yang penting dari pengertian entrepreneurship ini. Entrepreneurship adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang yang dapat menggunakan faktor-faktor produksi yang ada untuk dapat menghasilkan suatu produk/jasa yang baru. Malaysia. yaitu: 1. dapat membuat produk/jasa yang dihasilkan memberikan nilai tambah yang besar bagi perusahaan dan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap proses Koleksi BPAD Prov SU . Economic factors (faktor ekonomi) Pada dasarnya entrepreneurship dapat tumbuh melalui promosi atas perubahan ekonomi ditinjau dari sudut pertumbuhan (growth) dan pengembangan (development). karena didukung oleh banyak entrepreneur yang cakap dan tangguh. 2. Sedangkan manajemen adalah kemampuan untuk dapat mengkoordinasikan aktivitas/ proses produksi yang sedang berjalan. hingga pengenalan atas produk dan jasa yang dihasilkan. dan capital) untuk dapat menghasilkan produk yang baru. Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Tumbuhnya Entrepreneurship Beberapa negara maju khususnya Amerika Serikat. produksinya. dan capital) untuk menghasilkan produk dan jasa yang baru. karena pemerintah dapat lebih mudah melakukan bimbingan dan pengarahan. mobil.. ternyata dapat mencapai perkembangan ekonomi yang tergolong sangat cepat. Perbedaan Entrepreneurship Manajemen dengan Entrepreneurship adalah kemampuan mengkombinasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu produk/jasa baru. yakni: 1. seperti Inggris.

dan kebanyakan negara-negara maju lainnya. wilayah. dan pada praktiknya mampu memberikan hasil lebih dari 95% produk-produk terbaru yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Seorang entrepreneur adalah juga sebagai "agent of change" untuk mempersiapkan suatu produk baru yang akan dihasilkan. Sekolah Calon Juragan di Bantul sebagai Model Pendidikan dan Pelatihan Entrepreneurship Untuk memberikan gambaran betapa pentingnya pendidikan dan pelatihan entrepreneurship sebagai alternatif pembukaan lapangan kerja yang seluas-luasnya. Nomor 2. sehingga masyarakatnya dibagi atas kegiatan ekonomi tertentu. Sedangkan bagi kelompok usaha kecil (yang mempekerjakan 20 orang pegawai) yang didirikan oleh entrepreneur. maka dapat diperkirakan sulit untuk mengembangkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi bagian gerakan nasional. Untuk dapat lebih banyak melahirkan pelaku bisnis yang lain.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. maka pemerintah seharusnya memberikan peluang yang lebih luas lagi agar entrepreneurship dapat ditumbuhkembangkan lagi. Faktor nonekonomis lain yang dapat mempengaruhi pengembangan entrepreneurship adalah nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. Persepsi mahasiswa Koleksi BPAD Prov SU . Peran statistik pada tahapan ini menjadi sangat perlu dan penting. Pada dasarnya ada 3 (tiga) hal yang membuat mengapa entrepreneurship itu menjadi penting. sebagai akibat dari proses entrepreneurship yang konsisten. Jadi dapat diperkirakan apabila struktur sosial masyarakat tidak akomodatif terhadap nilai entrepreneurship. Mei 2006. Innovation Innovation (pembaharuan) adalah suatu proses perubahan. misalnya sebagai petani atau nelayan. 3. Data yang paling akhir menunjukkan bahwa dapat dilakukan perekrutan pegawai baru sebanyak 500 pegawai dengan lahirnya perusahaan baru. kesejahteraan masyarakat secara perlahan tetapi pasti mengalami peningkatan yang cukup berarti. transformasi. Dampak dari adanya kasta membuat seorang anak yang lahir dari ayah tukang kayu akan sulit untuk dapat dikembangkan menjadi seorang yang memiliki entrepreneurship tangguh.2%. 2. yang dipimpin oleh Rakhmat Sulistyobudi dapat dijadikan contoh. Mengapa Penting Entrepreneurship? Entrepreneurship dalam kelanjutan perkembangannya adalah sangat penting bagi sektor industri khususnya di Amerika Serikat. Bantul. Halaman 182-185 Gorbachev melakukan pembaharuan (glasnost/perestroika). Yogyakarta. Organisasi berskala kecil yang baru akan membuat 24 jam sebagai waktu melakukan inovasi produk-produk baru melalui suatu penelitian 184 dan pengembangan. percobaan. dan Jobs Creation. Volume 5. karena entrepreneurship dapat meliputi Innovation. Di India. yang dikenal dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Pandak. yang masyarakatnya dikelompokkan atas kasta (tingkatan sosial). mampu mengalami peningkatan pertumbuhan lebih kurang 77. maka entrepreneurship secara keseluruhan telah memberikan kontribusi yang sangat luas untuk tumbuhnya pelaku-pelaku bisnis yang lain. Mengapa Amerika begitu maju perekonomiannya? Jawabannya adalah karena di Amerika para politikus dan ekonom telah memiliki visi dan misi yang sama tentang pentingnya kemapanan entrepreneurship bagi kemapanan pertumbuhan ekonominya. ataupun negara. sekolah calon juragan di Bantul. Number of New Start-Ups. dan revolusi yang menjadi kunci utama dari proses entrepreneurship. Saudara Rakhmat Sulistyobudi mampu menghidupkan budaya learning by doing di lingkungan sekolah tersebut untuk dapat menempa mental siswanya menjadi wirausahawan sejak dini. Jika kita setuju bahwa entrepreneur mampu menghasilkan bisnis baru yang inovatif dan mampu meraih laba serta mampu meningkatkan skala pertumbuhan usahanya. Job Creation Kita mengetahui bahwa job creation (penciptaan lapangan kerja) sangatlah penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang bagi suatu masyarakat. 1. Number of New Start-Ups Kehadiran entrepreneur akan menjadi pendorong lahirnya pelaku-pelaku bisnis yang baru.

15000 tanaman anggrek. 14 Oktober 2004... Mc Graw-Hill International Inc. Mc Graw-Hill International Inc. Pendidikan dan pelatihan entrepreneurship perlu dijadikan alternatif kebijakan oleh pemerintah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Sekolah berbasis Broad Base Curriculum ini didukung dengan fasilitas laboratorium fisika. peternakan. hingga asrama siswa ini mampu memberikan insentif bagi siswanya secara proporsional.Silalahi. Kesimpulan Pengangguran yang masih begitu besar jumlahnya perlu dijadikan prioritas yang penting untuk dapat diselesaikan oleh pemeritah. Pembinaan dan pengembangan entrepreneurship sangat tergantung dari goodwill pemerintah. yang pada awalnya tidak berminat terhadap program kelas wirausaha. Pendidikan dan Pelatihan.. sirup.000/bulan). 7th Edition. Koleksi BPAD Prov SU 185 . dalam bentuk kebijakan yang dapat memihak kepada lahirnya entrepreneur yang cakap dan tangguh. Samuelson and Nordhaus. 1995. Management. Dengan biaya sekolah yang relatif tidak mahal (Rp 25. biologi.. Economics. Luthans. 25 ekor sapi. agar masyarakat mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Juga diberikan pinjaman modal kepada siswa yang ingin mengembangkan usaha sendiri. mampu diubah menjadi program yang bergengsi dan diminati oleh siswanya. Membangun Sekolah Calon Juragan di Bantul. Kebijakan dalam merencanakan pendidikan nasional seharusnya "match" dengan kebijakan pembangunan di bidang ekonomi. Dengan ini diharapkan siswa dapat "belajar" dari kegagalan berwirausaha. 7th Edition. Untuk anggrek misalnya siswa mendapat 70% dari hasil jual anggrek. Prentice Hall International Inc. serta sangat tergantung kepada struktur sosial masyarakat yang terbuka akan pentingnya pengembangan nilai entrepreneurship. juga memproduksi minuman instan seperti temulawak. Daftar Pustaka Robbins and Coulter. sehingga output dari pendidikan nasional dapat mendorong aktivitas perekonomian secara komprehensif. Organizational Bahavior. Adapun prestasi yang dicapai oleh sekolah juragan ini adalah mengembangkan 1000 ekor ayam. jahe. unit produksi ayam potong dan sapi potong.. dan mampu menghasilkan 100 ton beras per tahunnya dengan merek Borobudur SMK Pandak. kimia. 2004 Harian Bisnis Indonesia. Perlu dicatat bahwa beras yang dihasilkan oleh sekolah juragan ini bebas pupuk kimia dan pestisida. maka sekolah ini seharusnya dapat dijadikan model untuk membuka pendidikan dan pelatihan entrepreneurship yang lebih luas lagi. kunyit putih. maka kerugian tersebut ditanggung oleh sekolah. Pendidikan dan pelatihan entrepreneurship penting untuk diperkenalkan sejak dini kepada siswa/masyarakat. Pemerintah juga harus segera memberikan dukungan sepenuhnya kepada pendidikan dan pelatihan kewirausahaan seperti ini dalam rangka membuka lapangan kerja yang seluasluasnya. dengan pertimbangan bahwa siswa yang melakukan pembibitan dan perawatan. 2002. namun bila setelah dievaluasi merugi.

tahun 1999 dalam Laporan Situasi Anak-Anak terungkap keberadaan 80 juta anak menjadi pekerja anak dan di antara 30 juta dibiarkan oleh orang tuanya untuk mengurus dirinya sendiri dan menjadi anak jalanan (www.id). This research try to know how The YAKMI (foundation) help the poor children which have the street children status. Menurut Sarjono dalam tulisannya. dapat berisiko besar meninggalkan rumah dan sekolahnya (artikel: yanto_sagu@yahoo.3 juta jiwa ini tidak termasuk anak di bawah umur 10 tahun. hingga 2. there are some positive changes in the street children’s selves. pedagang asongan. deviation Pendahuluan Keberadaan pekerja anak sudah lazim terlihat di kota-kota besar di Indonesia. tukang pakir. go. tukang sapu. Keywords: street children. This research especially to know how the change in the mind of the street children after got the treatment program which be done by YAKMI. Begitu pula anak jalanan yang masih tinggal dengan orang tua dan masih bersekolah. Pada umumnya mereka bekerja pada sektor informal. Jurnal tingkat dunia menyebutkan. justru dipergunakan untuk bekerja. Anak jalanan merupakan suatu pribadi dan dunia tersendiri yang berbeda dengan dunia anak-anak lain. Dan akan bertambah banyak pula di tahun 2004 ini (www. berperilaku. Bagi yang bersangkutan. mengemukakan problematika pekerja anak dalam skala dunia merupakan masalah sosial yang cukup pelik bagi semua negara. Perubahan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia sejauh ini tampaknya belum memiliki pengaruh dan dampak bagi kehidupan pekerja anak khususnya anak-anak jalanan. Mereka tidak lagi tinggal di rumah. The street children are the social problem caused by the economical poverty. lap mobil. pengemis. Secara empiris juga mengindikasikan peningkatan pekerja anak pada kondisi yang sangat berisiko yaitu mencari sisa makanan dan pemungut sampah dan juga pekerja anak di atas jermal perikanan lepas pantai yang sering dijumpai pada daerah pesisir pantai. berkomunikasi. The result of this research shows. Mai Yusra adalah Staf PT Satelindo Dumai. Sementara di Indonesia sendiri adanya peningkatan tajam jumlah pekerja anak.id). dan terutama mereka telah meninggalkan sekolah. Kebanyakan dari mereka sebagai pemulung.dipnakertransjateng. Hairani Siregar adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU 186 Koleksi BPAD Prov SU . dan pekerjaan lain yang menghasilkan uang.com).dipnakertransjateng. penyemir. Berdasarkan perbandingan data BPS dari tahun 2000 hingga 2002 jumlah pekerja anak di Indonesia naik dari 2183 juta jiwa. tidak mempunyai kelompok sebaya di lingkungan rumahnya.go. Dan pada tahun 2003 pekerja anak di bawah 15 tahun mencapai 6 – 8 juta jiwa. di usia mereka semestinya dipergunakan untuk menuntut ilmu dan menambah keterampilan bahkan untuk bermain. Sebagai suatu dunia di dalamnya terdapat mekanisme hidup yang khas seperti cara berinteraksi. Anak jalanan yang termarjinalkan ini dijadikan isu sebagai gambaran keadaan fungsi sosial mereka yang tidak terpenuhi.PROGRAM PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN OLEH YAYASAN AKMI MEDAN Mai Yusra & Hairani Siregar Abstract The economical poverty is very significant to social problem. After got the treatment program by YAKMI they tried change their selves as good as they can and try to prepare their future.

Di mana labilitas emosi dan mental mereka ditunjang dengan penampilan yang kumuh sehingga melahirkan pencitraan negatif oleh sebagian besar masyarakat terhadap anak jalanan yang diindentifikasikan sebagai pembuat onar. 1981). 1995). Perkembangan seorang anak akan tergantung pada fungsi keluarga (Zeithlin dkk. Keluarga mempunyai beberapa fungsi yaitu reproduksi (Riddele. Semakin lama anak di jalanan. hendaknya kita harus mengetahui definisi anak jalanan tersebut. fungsi penyedia kebutuhan dasar (Riddle 1987. sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia jalanan yang keras dan cenderung berpengaruh negatif bagi perkembangan dan pembentukan kepribadian mereka. 1987). H. Sebagaimana yang lebih lanjut diungkapkan oleh Zeitlin bahwa keluarga yang berfungsi secara sehat akan memberikan kesempatan besar bagi perkembangan anak (Zeithin dalam Siregar. Program Pemberdayaan Anak. dan lainlain.bpk. siapapun yang bekerja dengan anak jalanan dalam rangka mencapai perubahanperubahan yang diinginkan harus memahami mekanisme hidup mereka tersebut (UNDP. sosialisasi dan pendidikan anak (Riddele. Hidup menjadi anak jalanan bukanlah sebagai pilihan hidup yang menyenangkan. Mereka berada di jalanan tanpa kontrol dan perhatian. ekonomi keluarga yang miskin. dan bertahan hidup.go. Lingkungan internal seperti keluarga dan lingkungan eksternal yaitu sekolah. seperti preman. Sosok anak jalanan dianggap merupakan pekerjaan yang paling hina di mata masyarakat. ketika anak tidak lagi memperoleh perhatian dari orang tua maka anak akan mudah 187 Koleksi BPAD Prov SU . Khairuddin mengatakan bahwa keluarga adalah kelompok pertama yang mengenal nilai-nilai kebudayaan pada si anak dan di sinilah yang dialami antar-aksi dan disiplin pertama yang dikenakan kepadanya dalam kehidupan sosial (Khairuddin. menggunakan teori pendekatan Behavioristik (teori lingkungan). 1997:13).1997: 67). Bila dicermati terbentuknya perilaku anak jalanan. bahkan di antaranya ada yang justru diusir orang tua atau sengaja meninggalkan rumah. Anak jalanan sering diidentifikasikan sebagai anak yang bebas. Baik buruknya perkembangan anak baik secara fisik. 1997: 51). Andayani 1998).id). dan psikologis sangat bergantung pada keluarga ketika menjalankan fungsinya. Yaitu suatu pendekatan yang menitikberatkan pada pembentukan perilaku karena adanya proses belajar terhadap lingkungan baik dalam lingkungan internal maupun eksternal. Mekanisme tersebut terbentuk dari proses interaksi dengan cara hidup di jalanan dan umumnya berinteraksi dengan orang-orang yang berada di jalanan oleh karena itu. Penampilan mereka yang jorok. anak-anak kumuh. mental. liar. melakukan kegiatan negatif seperti mencuri. berkelompok. Departemen Sosial RI mendefinisikan anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. secara psikologis mereka adalah anakanak pada taraf tertentu belum mempunyai bentuk mental emosional yang kokoh. dan sumber dukungan sosial (Heristanti. Aspek psikologis ini berdampak kuat pada aspek sosial.. tidak mau diatur. suka mencuri. permukiman mereka yang kumuh atau bahkan sama sekali mereka tidak mempunyai tempat tinggal.. 1996). Kondisi ini terjadi karena hubungan dengan orang tua renggang bahkan sebahagian telah putus. Karena mereka hidup pada lingkungan luar yang menerapkan kebebasan tanpa aturan (Proyek INS/94/007. Menurut Arief. dan malah ada beranggapan sebagai sampah masyarakat yang harus diasingkan (www. Hidup tanpa adanya orang tua memungkinkan anak bebas melakukan apa saja (Proyek INS/94/007 hal: 60) Minim bahkan tiada perhatian orang tua diperkuat oleh pengaruh jalanan. Memahami anak jalanan secara utuh.Yusra & Siregar. mabuk. melakukan hubungan seks.. 2004: 27). dll. Kepribadian anak lambat laun akan membentuk perilaku yang tidak berbeda dengan orang-orang jalanan. 1987) dan di dalamnya mencangkup pula berbagai kasih sayang antara suami dan istri (Andayani. Dari definisi tersebut kita tahu bahwa kehidupan anak jalanan tersebut rentan terhadap berbagai tindak kekerasan dan eksploitasi anak. menggunakan obat-obat terlarang. tempat bermain maupun lingkungan masyarakat. berkelahi. melainkan keterpaksaan hidup yang mereka harus terima karena adanya sebab tertentu. Anak jalanan bagaimanapun telah menjadi fanomena yang menuntut perhatian kita semua. Ini sangat berbeda dengan anak-anak kebanyakan lainnya yang tidak hidup di jalanan. semakin kuat pengaruh pada sikap dan perilakunya.

2004: 1). Inilah yang akan lebih mengarah pada pembentukan perilaku anak jalanan. 4) Ingin memiliki uang sendiri. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak-Hak Anak. Halaman 186-212 dipengaruhi perilakunya dengan lingkungan luar. 2004: 27). apalagi idola yang dikenalkan di jalanan dan biasanya yang ditiru adalah sifat dan perilaku yang menentang dari aturan formal yang ada dalam masyarakat. bahkan tempat tinggal yang layak untuk mereka tinggali. adalah faktor kondisi sosial ekonomi. 3) Ingin bebas. Namun seringkali hak anak tidak dipenuhi malah seakan-akan diabaikan. Dari hasil wawancara mendalam yang dilakukan dengan beberapa pendamping di Medan. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. mandiri. Ini yang menjadi dasar pertimbangan adanya pengesahan konvensi tersebut (Elvayani dalam Lintas Anak-PPAI.526 jiwa anak. Pengamatan visual dalam keseharian utama anak jalanan Kota Medan. Sub kultur menjadi sebutan bagi budaya yang lahir tersebut sering menjadi pegangan bagi orang yang masih hidup dalam komunitas tersebut menjadi hukum tidak tertulis yang patut dipatuhi. keinginan akan kebebasan yang tinggi tanpa aturan formal yang mengikat (Ikhsan dkk. Dari data Dinas Sosial Kota Medan sendiri. Mei 2006. Disimpulkan bahwa kekerasan terhadap anak semakin meningkat dari tahun ke tahun khususnya di Kota Medan. Hal tersebut menunjukkan kepekaan masyarakat kepada anak-anak jalanan itu nampaknya tidak begitu tajam. melainkan karena situasi dan kondisi anak jalanan yang buruk. Jumlah anak jalanan di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2002 hingga 2003 tidak andanya perbedaan jumlah yang berarti hanya saja beberapa kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara sendiri. ulet dalam bekerja walaupun usia mereka masih tergolong muda. yaitu: 1) Kekerasan dalam keluarga. menyebutkan bahwa jumlah anak jalanan pada tahun 2003 berjumlah 2. Tentu saja penanganan yang baik masalah anak jalanan diharapkan akan dapat memperkuat sendi-sendi kesejahteraan sosial serta stabilitas nasional di masa yang akan datang. bila mana orang yang diimitasikan memiliki perilaku yang buruk maka perilaku buruk itu pula yang akan ditiru oleh anak tersebut. Pada dasarnya setiap manusia memiliki hak-hak tersendiri yang dilindungi oleh undangundang.. ada beberapa sifat khas yang dimiliki oleh anak jalanan yaitu: rasa solidaritas yang tinggi. yang didapat dari berbagai sumber. Data mencatat bentuk kekerasan yang paling tinggi jumlahnya adalah pencabulan sebanyak 66 kasus dari 227 Koleksi BPAD Prov SU . dan 5) Pengaruh teman. Sedemikian seriusnya masalah ini dituangkan dalam suatu peraturan. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. 2) Dorongan keluarga. Namun faktor yang paling dominan munculnya anak jalanan. Budaya dalam kehidupan anak jalanan terbangun dari interaksi mereka selama berada di jalanan yang sudah pasti berbeda dengan budaya yang ada di masyarakat “normal”. karena hak asasi anak itu merupakan bagian dari hak asasi manusia. tidak perlu indentitas dalam bentuk formal. di mana kelompok ini belum mendapatkan hakhaknya bahkan sering terlanggar. 2004: 2). ialah banyaknya anak-anak jalanan di bawah umur yang bekerja mencari nafkah di jalan yang jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Nomor 2. Banyak faktor yang menyebabkan anak pergi ke jalanan. Demikian juga dengan kesejahteraan yang termasuk dalam ruang lingkup pemberian hak pada anak. Ini dapat terlihat pada hasil monitoring PPAI yang dilakukan oleh pusat Data dan Informasi PPAI – Sumut tahun 2004. Bila dicermati lebih teliti. UU No. Padahal anak merupakan karunia ilahi dan amanah yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. tidak terkecuali anak sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan. 188 Peningkatan jumlah anak jalanan yang pesat merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Volume 5. Padahal sudah ada undang-undang yang mengatur secara tegas tentang hak-hak anak yang dikenal dengan hak asasi anak. berdasarkan penuturan mereka ada 5 faktor yang menjadi latar belakangnya. yang menduduki tingkat tertinggi di Medan (Siregar. perlindungan. dan Keputusan Presiden RI No. rasa ingin tahu dan kreativitas yang tinggi. adanya proses imitasi (peniruan) dalam diri anak jalanan sangat tinggi. Pada kenyataannya ada banyak anak yang tidak dapat menerima haknya untuk merasakan pendidikan. Bahkan seringkali mereka menerima perlakuan kasar (tindak kekerasan). Perhatian ini tidak semata-mata terdorong oleh besarnya jumlah anak jalanan.

E. Tidak ada perempuan berkelahi karena membela teman. PKPA. Pemberdayaan menjadi peluang untuk anak jalanan dapat berkembang menjadi lebih baik. Mereka tinggal bersama orang tua/ 189 Koleksi BPAD Prov SU . secara berkelanjutan melakukan program pemberdayaan terhadap anak jalanan.8% dari jumlah anak dampingan (360 anak). Sehingga anak jalanan menjadi lebih produktif dengan memanfaatkan peluang di jalan maupun di luar lingkungan jalanan sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. kasus yang ada dari 12 bentuk kekerasan. ini sangat penting dilakukan agar anak jalanan dapat keluar dari kondisi marjinal. beasiswa. Dari data ini terlihat bahwa lingkungan membentuk perilaku buruk pada anak..M. 22 anak memakai alasan ini (81%). KARANG yang dilakukan pada masing-masing lokasi Rumah Singgah tersebut. Sementara dalam mengkonsumsi rokok ditemukan sekitar 50% anak jalanan telah mengkonsumsinya. Perilaku yang sering berkelahi pada anak jalanan dapat dilihat dari tabel di bawah ini.Yusra & Siregar. Sweeting dkk. Upaya ini akan berdampak besar apabila ada keterlibatan dan jalinan kerja sama berbagai pihak seperti pemerintah. akademis dan masyarakat umum.1998: 15). maka diharapkan berpartisipasi LSM dalam penanganan masalah anak jalanan tersebut. YAKMI. Dari data baseline survey (penelitian dasar) ditemukan. Program Pemberdayaan Anak. Namun kadang-kadang ada yang terus-menerus sakit dan malah ada pula anakanak yang berhenti dari sekolah karena membantu menambah penghasilan keluarga. Menanggapi kompleksitas masalah tersebut. Menindaklanjuti masalah di atas. bimbingan dan motivasi. Dari data pada tabel di atas terlihat bahwa anak yang tidak berkelahi adalah 8 % atau 20 orang anak. Menurut Dr. Sedangkan bentuk kekerasan Konflik dengan Hukum berada di urutan kedua dengan 50 kasus (Elvayani dalam Lintas Anak-PPAI. pemberian bantuan modal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan upaya pemberdayaan. Program yang dilakukan antara lain meliputi pemberian bantuan kepada anak jalanan seperti pelayanan pendidikan dan keterampilan. di mana anak laki-laki yang berusia di atas 15 tahun umumnya mengkonsumsi rokok hingga 6 batang per hari. keagamaan. Upaya pengembangan dan peningkatan kualitas generasi bangsa (termasuk di dalamnya anak jalanan) tidak dapat dilepaskan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Sehingga mereka terpaksa tidak memperdalam pendidikan mereka. mengatakan bahwa rata-rata anak yang putus sekolah diperkirakan karena masalah ekonomi yang buruk. dimulai sedini mungkin agar dapat berpartisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan negara. Jenis perilaku anak jalanan yang sering dilakukan salah satunya adalah berkelahi. Anak merupakan potensi sumber daya insani bagi pembangunan nasional. Pada umumnya anak yang didampingi lembaga YAKMI adalah anak yang Vulnarabel yaitu 89. 2004: 3). kesehatan. Pendidikan yang dimaksud bisa berupa pendidikan formal maupun pendidikan informal berupa keterampilan. 2001: 32). Dari 27 anak perempuan. organisasi sosial dan kemasyarakatan. harus ada upaya-upaya konkret untuk melakukan perbaikan atas situasi anak jalanan atau bahkan – yang bersifat utopis – menghilangkan keberadaan anak jalanan.. organisasi non – pemerintah (NGO).. Dari data bahwa alasan berkelahi yang paling banyak karena diganggu (53. Pemberdayaan tidak hanya dilakukan dalam segi ekonomi (pekerjaan dan penghasilan) tapi juga pendidikan yang akan merupakan investasi bagi mereka dalam meraih pekerjaan yang lebih baik di masa dewasanya. Yayasan Kesejahtraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) sebagai salah satu organisasi non pemerintahan. intelektualitas. perilaku buruk anak jalanan di Kota Medan dalam hal pemakaian napza pada anak jalanan yang paling umum adalah ngelem dan alkohol masing-masing sekitar 27%. Sementara penyakit yang paling banyak ditemukan pada anak jalanan adalah penyakit kulit sekitar 46. dan khususnya anak yang diwarnai dengan upaya pendalaman di bidang pendidikan. kumudian ganja/cimeng 21%. Jumlah batang rokok bervariasi dari 1 sampai 24 batang per hari.8% dibandingkan diare dan penyakit kelamin (Kencana.6%). LSM tersebut meliputi KKSP. Data ini diperoleh dari hasil survei yang dilakukan kepada anak jalanan dari empat LSM yang didanai oleh Save The Children. Apalagi pembentukan perilaku mereka di jalan terutama perilaku buruk (Sweeting. Agar mereka dapat terhindar dari ancaman dan masalah penyalahgunaan dirinya di jalanan.

Maka perilaku anak jalanan terbentuk dari kehidupan mereka di jalanan karena hampir sebahagian waktu mereka habiskan di jalanan maka terbentuknya perilaku buruk dari proses peniruan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Nomor 2. Di samping itu juga dilakukan wawancara yaitu peneliti dalam memperoleh dan mengumpulkan data. Biasanya yang dihubungi adalah subjek yang mudah ditemui (Arikunto. yaitu kabupaten terdekat seperti Deli Serdang dan Langkat. Yayasan ini berdiri pada tahun 1999 berdasarkan ide dan prakarsa murni pekerja sosial profesional sehingga kinerja kegiatannya berorientasi pada metode pekerja sosial. 09. yaitu suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang masyarakat dan lain-lain) pada saat ini berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi. yaitu teknik sampling yang tidak mendasarkan kepada strata atau daerah. Alasan pemilihan lokasi penelitian ini adalah karena Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) secara aktif terlibat dalam menangani perilaku anak jalanan dengan memberikan pemberdayaan guna merubah penyimpangan perilaku anak jalanan.8 dan Sanggar PKBM Ganesa di Jalan Sei Lepan No. Sekarang 48.5%). dilakukan dengan memperhatikan dan mengamati kehidupan anak jalanan sehari-hari yang menjadi responden.6/17 Tanggal 11 Januari 2001. Metode Penelitian Tipe penelitian tergolong penelitian penelitian deskriptif. Hasil Penelitian dan Pembahasan Yayasan kesejahteraan masyarakat Indonesia (YAKMI) merupakan lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial yang pada saaat ini memusatkan perhatian pada pembinaan. 1990: 63). Dalam penelitian ini peneliti mengambil 10% dari 318 orang anak jalanan yang mendapat program pemberdayaan oleh YAKMI.8% dari jumlah anak dalam keadaan putus sekolah. Mei 2006. Mereka yang mengontrak pada umumnya berasal dari luar Kota Medan. Dame No. Oleh sebab itu YAKMI sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada anak jalanan memiliki program untuk menekan perilaku buruk pada anak. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Volume 5. 1997: 119). 78/ Tanggal 22 Mei 2000 dan terdaftar pada Dinas Sosial Sumatera Utara No. Hal inilah yang menimbulkan ketertarikan peneliti untuk mengakaji program tersebut terlaksana dalam kaitan merubah perilaku anak jalanan. Halaman 186-212 keluarga dan ada yang hidup mengontrak bersama teman-teman (5. Penelitian ini dilakukan di lembaga swadaya masyarakat yaitu Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) yang berada di jalan Gajah Mada/Jl. Selain itu tambahan informasi dari wanwancara pendamping anak selama ini serta teman anak tersebut. Karena pada hakikatnya anak jalanan bagaimanapun merupakan generasi penerus sehingga perilaku buruk tersebut harus segera dirubah. Landasan hukum lembaga YAKMI berakte notaris No. 467. pemberdayaan dan perlindungan anak jalanan melalui model sanggar belajar anak jalanan. Oleh karena itu masalah ini harus segera diteliti agar program tersebut memiliki dampak perubahan terhadap sasaran ataupun sebaliknya. LembagaYAKMI saat ini memusatkan pembina anak jalanan di wilayah pasar petisah Koleksi BPAD Prov SU . Data studi lapangan diperoleh melalui observasi (pengamatan). Sedangkan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel kuota. Dengan demikian sampel yang diambil berjumlah 32 orang. tetapi mendasarkan diri pada jumlah yang sudah ditentukan. akan mengadakan dialog secara langsung dengan mengajukan pertanyaan mengenai persoalan perilaku pada anak jalanan yang dibahas dalam penelitian ini kepada responden yaitu anak jalanan yang telah ditetapkan. Jika didasari dari teori behavioralisme yaitu teori yang mengungkapkan bahwa perilaku sesorang terbentuk dari proses belajar terhadap lingkungan yang bersangkutan. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa studi pustaka dan studi lapangan. 190 Adapun populasi dalam penelitian ini adalah anak jalanan yang mendapat program pemberdayaan oleh Yayasan Kesejahtraan Masyarakat Indonesia (YAKMI) yang berjumlah 318 Anak. Dalam hal ini menggunakan tipe penelitian deskriptif ingin membuat gambaran atau melukiskan secara sistematis aktual dan akurat tentang Program Pemberdayaan Anak Jalanan terhadap Perilaku Anak Jalanan yang dibimbing oleh YAKMI.

Ternyata di lapangan umumnya usia anak-anak mulai bekerja di atas 5 tahun Dalam kasus ini anak-anak jalanan yang berusia di atas 4 tahun juga memiliki risiko kecelakaan lalu lintas saat mereka bekerja.5 100. Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur No 1 2 3 Kelompok Umur 5 – 9 tahun 9 – 13 tahun 13 – 18 tahun Jumlah Sumber: Data Primer F 4 16 12 32 (%) 12. Data tabel di atas menunjukan bahwa responden 50% lebih didominasi anak-anak yang memiliki usia sekolah.5 50. bundaran golden.3 100. keselamatan dan tidak mengganggu kehidupan mereka di sekolah/pelatihan/ kejuruan maka anak-anak yang berusia 15 tahun menurut mereka telah diperbolehkan untuk bekerja sementara pekerjaan yang mereka lakukan sangat membahayakan mental dan kesehatan moral mereka yang pada umumnya pekerjaan yang tidak boleh dilakukan di bawah umur 18 tahun ke bawah. Dari hasil wawancara diperoleh umumnya anak-anak jalanan tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). mengungkap tentang batas usia anak bekerja di jalan: “Kerja di jalan akan membawa risiko besar seperti ditabrak atau diserempet kendaraan yang lewat.20/1999 mengenai batas minimum anak yang bekerja minimal 15 tahun. Dari hasil wawancara terhadap anak yang tidak tamat SD maupun SLTP. Ada beberapa anak yang menjawab SLTP dan SMU.5 18. Tabel 2. terutama anak-anak yang pemula atau baru turun ke jalanan. Yaitu di atas 4 tahun.. khususnya kecelakaan lalu lintas”.8 0. diharapkan anak jalanan tetap terpelihara pendidikan mereka serta anak jalanan tersebut dapat meninggalkan kehidupan di jalanan di kemudian hari. sekitarnya.0 ancaman jalanan. Proses pemandirian pada anak jalanan juga dilakukan dengan memberikan keterampilan kepada anak jalanan menjelang usia 18 tahun agar mereka dapat mandiri. budi pekerti yang baik. Anak-anak yang menjawab tidak tamat SD dan tidak tamat SLTP termasuk ke dalamnya yaitu anak-anak yang sebelumnya tidak sekolah dari awal atau anak yang tidak pernah duduk di bangku sekolah maupun anakanak yang telah bersekolah namun putus di tengah jalan karena sesuatu hal. Dari hasil wawancara di lapangan terungkap bahwa beberapa anak mengaku pernah menjadi korban kecelakaan saat mereka mengamen dan meminta-minta. Menurut Wiwid Trisnadi. Pelayanan sosial ini bertujuan memberikan alternatif bagi anak jalanan agar waktu yang dihabiskan di jalan semakin berkurang dan dengan modal keterampilan yang dimiliki oleh anak jalanan dan tetap terpeliharanya kelangsungan pendidikan mereka. Ini berarti risiko kecelakaan tidak hanya pada anakanak usia di bawah 4 tahun tetapi usia di atas 4 tahun juga berisiko kecelakaan lalu lintas. Program Pemberdayaan Anak. terungkap bahwa mereka tidak menamatkan sekolah akibat dari 191 Koleksi BPAD Prov SU . Pada usia ini anak dipandang sudah mampu melindungi diri dari Jika diperhatikan dari data sebelumnya bahwa responden didominasi oleh anak-anak yang berusia sekolah.. maka dari tabel di atas anak-anak dampingan YAKMI umumnya masih sekolah dasar (SD).0 Ditegaskan dalam UU No. Batas usia minimum ini sangat jauh berbeda dengan fakta anak yang berada di jalanan. Distribusi Responden Menurut Pendidikan No 1 2 3 4 5 6 Pendidikan Tidak Tamat SD Tamat SD Tidak Tamat SLTP Tamat SLTP Tidak Tamat SMU Tamat SMU Jumlah Sumber: Data Primer F 4 16 4 6 0 2 32 (%) 12. Ternyata anak-anak bekerja di jalanan tidak membatasi keinginan mereka untuk memperoleh pendidikan. anak diperbolehkan untuk bekerja dengan catatan tidak membahayakan kesehatan. Risiko ini secara tidak langsung membatasi umur anak mulai bekerja di jalan. Adapun pelayanan sosial yang diberikan YAKMI kepada anak jalanan berupa bimbingan sosial. Setia Luhur.Yusra & Siregar. Tabel 1.0 12. dan advokasi pendidikan. Tetapi tidak menutup kemungkinan anak-anak yang tidak bersekolah lagi.0 37.0 6. Simpang Seikambing dan Simpang Lampu Merah Brayan.5 50.

Daerah persimpangan jalan atau lampu merah termasuk: di Lampu Merah Seikambing. Simpang Golden Petisah. kadang-kadang kami di titi bobrok. dan Simpang Titi Layang Brayan. Volume 5. Tetapi banyak pula anak-anak yang selalu berpindah-pindah. Pokoknya kak kalau udah ramai di sini kami pindah-pindah kak ” Koleksi BPAD Prov SU . Begitu juga anak jalanan dampingan YAKMI umumnya laki-laki.” (dalam Trisnadi. Hingga umur Amar 15 tahun saat ini Muamar tidak bersekolah lagi dan sekarang dia mengikuti program belajar kelompok yang dibuat oleh YAKMI. Seperti yang diungkapkan responden yang mengaku sering berpindah-pindah: “kami kak gak tentu ngamenya. direktur LSM Anak mengatakan bahwa: “Pada iklim budaya timur tidak bisa disangkal bahwa relasi sosial antara anak laki-laki dan perempuan memiliki tingkat yang berbeda. 2004: 72) Sehingga dalam hal ini jelas alasan anak jalanan perempuan lebih sedikit jumlahnya. Pada undangundang perkawinan. Salah satunya di persimpangan jalan (lampu merah). Usia dewasa ini jelas bersifat diskriminatif karena mendudukan anak perempuan sebagai individu yang masa kanak-kananya lebih pendek 192 Anak-anak yang bekerja di jalanan umumnya memilih tempat-tempat ramai. Distribusi Daerah Titik Mangkal Responden No Daerah Mangkal Pajak Setia luhur Lampu Merah Seikambing Simpang Golden Belakang Petisah Baru Titi Layang Brayan Jumlah Sumber: Data Primer F 6 7 4 11 4 32 % 18. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin daripada laki-laki.9 12. Muamar yang ngamen di Simpang Seikambing.5 34.4 12. sedangkan perempuan berusia 16 tahun.8 21. Tabel 3. pusat pasar dan ada pula yang memilih dekat dengan lokasi rumah mereka. Tabel 4. Ini juga dibuktikan dari hasil penelitian Dinas Sosial Sumatera Utara dan Universitas Atmajaya pada tahun 2002. Hal ini terjadi karena anakanak merasa bosan pada tempat tersebut dan ada pula karena pengaruh ajakan teman namun kebanyakan anak-anak mengakui mereka pindah karena lokasi mereka sebelumnya telah banyak yang seprofesi dengan mereka sehingga menimbulkan persaingan.0 No 1 2 Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah F 28 4 32 (%) 87. Dari persoalan pekerjaan. Halaman 186-212 tidak adanya biaya sekolah dari orang tua.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dan lokasi dekat dengan rumah mereka meliputi: Pajak Setia Luhur. Nomor 2. Dari hasil wawancara terhadap responden. Jumlah anak jalanan laki-laki lebih banyak tidak terkait dengan persoalan jenis pekerjaan anak di jalan karena tidak ada peran gender pada pekerjaan anak jalanan. Kadangkadang kami di Seikambing kadangkadang-kadang kami di simpang guru patimpus.0 1 2 3 4 5 Sumber: Data Primer Kenyataan di lapangan bahwa sering sekali terjadi penyimpangan dalam memperlakukan anak-anak jalanan.5 12. Anak jalanan perempuan lebih sering mengalami kondisi keterpakasaan di lingkungan kerjanya seperti pelecehan seksual malahan pemerkosaan sehingga dalam hal ini anak jalanan lebih didominasi oleh anak-anak laki-laki.5 100. Namun pendapat dari Paramita Hapsari. Selain tidak adanya biaya ternyata kurangnya motivasi dari anak maupun lingkungan yang dibarengi dengan malas juga mempengaruhi anak untuk menamatkan sekolah. Perbedaan ini menunjukkan bahwa anak perempuan dipandang lebih cepat dewasa daripada anak laki-laki. anak laki-laki boleh menikah setelah berusia 19 tahun. misalnya. sedangkan di daerah pusat pasar meliputi: Belakang Petisah Baru. Alasan ia tidak bersekolah karena ikut orang tuanya pindah dari Aceh. bahwa batas usia anak laki-laki dan perempuan.5 100. bahwa anak jalanan di Kota Medan didominasi oleh anak laki-laki. tidak adanya pengkhususan pekerjaan karena semua anak bebas memilih pekerjaan yang ada baik anak laki-laki maupun anak perempuan yang menurut mereka pekerjaan tersebut cocok. Sebelumnya Muamar sekolah SD di Lansa tetapi sewaktu umur Muamar 9 tahun orang taunya pindah ke Medan. Mei 2006.

. Seperti halnya Juli Opariani yang bekerja berdagang di Pajak Tradisional Setia Luhur.. Mereka ikut serta tidak hanya mengontrol anak yang sedang bekerja di jalanan namun mereka juga terlibat bekerja di jalan. Sianak biasanya meletakkan peralatan sekolah dan berganti baju dan kemudian bergabung dengan anggota keluarganya yang lain di jalanan”(Trisnadi. Ini membuktikan bahwa anak-anak masih meluangkan waktu berada di rumah. Jarangnya anak-anak pulang ke rumah akan membentuk perilaku tidak baik karena proses imitasi anak terbentuk dari apa Dari data tabel di atas terlihat bahwa sekitar 68% anak-anak yang dibimbing YAKMI berada di jalan selama 4 sampai 5 jam per hari. 1 2 3 4 5 Pulang ke Rumah per Minggu 2 kali 3-4 kali 4-5 kali 6 kali setiap hari Total Sumber: Data Primer F 2 4 2 4 20 32 % 6. maka ia akan bekerja sepulang sekolah. Sementara yang memilih pulang 6 kali dalam seminggu alasan mereka karena malam minggu dan hari minggu mereka habiskan bersama teman-teman mereka di jalan maupun di kontrakan teman mereka dan di hari lain mereka pulang karena mereka masih sekolah. Rumah adalah salah satu tempat ternyaman untuk mereka tinggali dan proses pendidikan berlangsung. bermain. bangunan. Sianak bersama ibunya berangkat dari pagi hari dan pulang sore hari. Semakin jarang anak pulang maka semakin besar proses pembentukan perilaku yang muncul pada diri anak dari pengaruh lingkungan luar. Anak-anak dampingan YAKMI didominasi oleh seringnya mereka pulang ke rumah karena mereka masih bersekolah. mengaku bekerja selama kurang lebih 5 jam per hari dan sisanya “saya buat PR kak. Sedangkan anak-anak yang frekuensinya pulang ke rumah lebih dari 5 jam per hari dihabiskan untuk melaklukan aktivitas di jalan seperti bekerja. 2. Kehidupan di jalan indentik liar dan bebas sangat tidak cocok bagi anak seusia mereka. Distribusi Responden Menurut Lamanya Berada di Jalanan dalam Sehari No. walaupun jualanya habis maupun tidak”. pemulung. Khusus daerah Belakang Petisah Baru dan Simpang Lampu Merah Seikambing. biasanya kecuali bapaknya.Yusra & Siregar. Waktu anak berada di rumah digunakan untuk belajar maupun beristirahat.8 9.5 62. bahwa adanya dua kategori lokasi tempat kerja anak-anak jalanan: “Lokasi kerja anak-anak jalanan dapat dipilah menjadi dua kelompok.0 Budaya dalam kehidupan anak jalanan terbangun dari interaksi mereka selama berada di jalan. di mana orang tuanya ikut serta khususnya ibu.0 saja yang mereka pelajari dan mereka anggap baik di luar. perempatan di tengah kota dan perempatan di pinggir kota. buruh. Tabel 6. Hal ini dipertegas oleh Wiwied trisnadi. 1. Frekuensi Responden Pulang ke Rumah dalam Seminggu No. 5. Namun dari koresponden yang memilih 2 kali dan 3 hingga 4 kali frekuensi pulang ke rumah adalah anak-anak yang remaja yang tidak bersekolah lagi sementara 4 hingga 5 kali adalah anak yang rumahnya jauh seperti Muamar yang rumahnya di Binjai dan dan Hesekharianto yang mengaku malas pulang. 3. Apalagi bahaya-bahaya yang kemungkinan akan menimpa mereka. Bagi anak yang bersekolah pagi hari.5 100. Program Pemberdayaan Anak.3 12. Sementara si bapak biasanya bekerja di sektor informal. dsb. Frekuensi pulang ke rumah yang dimaksud pada tabel di atas adalah seberapa sering anak-anak tersebut pulang ke rumah orang tua mereka. Lama di Jalanan < 4 jam 4 sampai 5 jam 6-7 jam 8 sampai 10 jam > 11 jam Total Sumber: Data Primer F 2 22 3 2 3 32 % 6. mejeng 193 Koleksi BPAD Prov SU .3 9. Anak yang bekerja dipusat kota umunya bekerja bersama-sama dengan keluarganya. seperti tukang beca.4 6. 4.5 6. 2004: 37).3 12. Tabel 5.3 68.4 100.

Begitu juga berjualan rokok. Bagi anak yang pandai menyanyi dan main gitar maka mereka mengamen. Distribusi Responden Menurut Pekerjaanya No. menurut Wiwied Trisnadi bahwa ngamen yang serius seperti menggunakan gitar. Apalagi di jalan mereka tidak hanya memperoleh duit tetapi juga mereka bisa bermain bebas. Disaat keluarga sudah disibukan dengan aktivitas ekonomi untuk mencukupi kebutuhan (ekonomi) maka sosialisasi anak tidak lagi sepenuhnya dapat dilakukan oleh keluarga. tukang minta maupun jualan rokok. Dari data pekerjaan yang banyak dilakukan adalah mengamen. Lamanya keberadaan anak di jalanan menentukan besarnya pengaruh buruk yang terbentuk kepada diri anak. mereka lebih memilih berjualan plastik. Bagi mereka yang lokasi kerjanya di simpang jalanan maka mereka bekerja sebagai pengamen. Umumnya tidak butuh keterampilan khusus untuk mencari uang di jalan. kadang-kadang juga penjual rokok adalah anak perempuan walaupun dengan alasan ia berjualan menggantikan abangnya. indentik dengan penguasaan keterampilan bermain musik. 1 2 3 4 Pekerjaan Anak Mengamen Berjualan Menyemir sepatu Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 11 9 1 11 32 % 34. Ini diperkuat oleh pendapat Wiwied Trisnadi. Pada masyarakat tradisional peran keluarga begitu dominan dalam sosialisasi anak.1 3. Di tempat inilah anak-anak menghabiskan sebahagian besar waktunya. Koleksi BPAD Prov SU . Menurut Wiwied tentang jenis pekerjaan: “Jalan memberi peluang bagi anak-anak untuk mencari uang. Karena faktor lingkungan memegang peran penting dalam pembentukan gaya hidup seseorang dan tidak terkecuali pada anak. mudah menghasilkan uang.1 34. Sosialisasi keluarga kemudian perlahan-lahan mulai diambil alih oleh lembaga pendidikan (sekolah). Nomor 2. Orang tua tidak lagi dapat berperan penuh dalam sosialisasi anak. Anak-anak selain bekerja mereka juga bersekolah sehingga keberadaan anak semakin lama di jalanan akan mengurangi aktivitas belajar mereka di rumah dan pembentukan perilaku di jalanan pun semakin besar. Sedangkan tukang semir selalu berpindah-pindah dan lebih banyak di kedai-kedai kopi maupun pasar. itu berarti di tempat inilah anak lebih banyak belajar untuk menjalani kehidupan menuju dewasa. Volume 5.” Tabel 7. khususnya mengantar anak memasuki jenjang yang lebih dewasa. dan fleksibel dalam waktu dan tempat” (Trisnadi.0 Pekerjaan anak-anak di jalanan bervariasi tergantung kemampuan masing-masing yang dimiliki anak. sehingga seorang anak yang bekerja sebagai pengamen akan merasa “derajatnya” lebih tinggi dibandingkan bekerja sebagai pengemis yang hanya mengandalkan belas kasihan orang. Selain itu pemilihan pekerjaan juga tidak terlepas dari pengaruh lokasi kerja mereka seperti lokasi kerja di pasar tradisional misalnya. Halaman 186-212 maupun ngumpul-ngumpul bersama kawankawan. peran ini digantikan dengan keluarga luas. butut maupun makanan ternak.4 100. Sehingga dengan beberapa pertimbangan tersebut anak-anak jalanan bebas memilih pekerjaan apa saja. Jika keluarga ini tidak lagi mampu. sejauh mereka memperoleh uang yang banyak pekerjaan apa saja mereka lakukan. Selain ngamen ada juga anak-anak yang bekerja berjualan. kadang-kadang juga pengamen pindah menjadi Tumin. yakni pekerjaan itu secara teknis mudah dilakukan. 2004 hal: 37).4 28. dan peer group. Anak-anak ini mempunyai modal sedikit dari orang tuanya seperti berjualan rokok.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Pilihan atas suatu pekerjaan dengan beberapa pertimbangan. tentang sosialisasi keluarga terhadap anak: “Perubahan pola kerja jelas berpengaruh besar dalam sosialisasi anak. atau plastik maka mereka memilih berjualan plastik sedangkan anak-anak yang pandai menyemir mereka memilih profesi sebagai penyemir dan juga bekerja sebagai tukang minta dan masih banyak pekerjaanpekerjaan lain yang mereka bisa tekuni. Mei 2006. kadang-kadang anak Tumin pindah menjadi pengamen. aqua. Hal ini dapat dibuktikan 194 dengan keadaan di lapangan. cairan pemutih atau yang lainya dan ada juga mengumpul karton.

lamanya anak berada di jalan mempengaruhi seberapa banyak perubahan yang terjadi pada anak. Pada anak pemulung lebih kelihatan kumuh dan dekil daripada pengamen.6 15.0 21. 4.1 100.4 3.5 12. Lama Responden Bergabung dengan YAKMI No. 3.0 Lamanya anak jalanan mengikuti YAKMI yang dimaksud dalam tabel ini adalah lamanya anak-anak jalanan bergabung dalam yayasan ini.9 15. 8. Lamanya Mengikuti Program YAKMI < 6 bulan 6 bulan . Ternyata anak tersebut dibawa ibunya untuk meminta. 4. 1.6 25. tetapi dari pengamatan peneliti ada juga beberapa pengamen yang dekil dan jorok. Ini dikarenakan perilaku anak berkaitan erat dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Dari tabel di atas menunjukkan bahwa anak-anak yang didampingi YAKMI rata-rata di bawah 6 tahun dan kebanyakan sudah dua hingga tiga tahun berada di jalanan. Semula anak tersebut dan ibunya berpakain sedikit bersih lalu ia menukar pakaiannya dan pakaian anaknya yang koyak dan kotar lalu ibu pun berpakain seperti muslim yang menggunakan jilbab.0 9.4 3. Distribusi Lamanya Responden Turun ke Jalan No. ini dikarenakan untuk menarik minat orang untuk memberi uang. Pada saat itu kondisi anak tersebut memprihatinkan karena di bahagian tubuhnya penuh kudis dan telinganya berlendir “tungkik” dan flu. 6. Dari hasil wawancara terhadap pendamping mengenai fanomena tersebut ternyata banyak kejadian serupa yang terjadi pada anak jalanan tersebut. Penyakit ini hampir diderita anak-anak jalanan.1 100. Tabel 9. Tabel 8.0 Seperti data-data sebelumnya.. 195 Koleksi BPAD Prov SU . Program Pemberdayaan Anak.1 15. Namun berbeda dengan anak pengamen. Namun kebanyakan ibu dari anak melarang anaknya diperiksa kesehatannya. Anak tersebut dibebaskan di tengah jalan dengan membawa gelas plastik aqua. anak lebih kelihatan memprihatinkan baik segi fisik maupun penampilan. 3. Semakin lama anak berada di jalanan maka semakin banyak pula peniruan pada anak yang ia dapat dari luar. peneliti melihat fanomena unik di mana anak yang masih berumur 5 tahun dipaksa bekerja. kalo kami bauk mana ada orang yang mau kasi kami uang”. 7.Yusra & Siregar. mereka lebih bersih dibandingkan tukang minta..1 tahun 1 sampai 2 tahun 2 sampai 3 tahun 3 sampai 4 tahun tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 8 7 5 8 3 1 32 % 25. Tentunya semakin lama anak tersebut bergabung di YAKMI maka semakin mandiri anak-anak tersebut karena salah satu tujuan dari YAKMI terhadap anak jalanan adalah menciptakan kemandirian pada anak. Dari data tabel di atas dapat terlihat bahwa anak-anak yang didampingi YAKMI lebih banyak bekerja sebagai pengamen dan responden yang memilih lain-lain bekerja sebagai pemulung dan tukang minta. 2. Variasinya pekerjaan mereka maka semakin variasi pula perilaku yang terbentuk diri mereka. 5. 5. 6. Lamanya Turun ke Jalan < 1 tahun 1 – 2 tahun 2 – 3 tahun 3 – 4 tahun 4 – 5 tahun 5 – 6 tahun > 6 tahun tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 4 4 9 5 5 3 1 1 32 % 12. 2. Menurut pendamping mereka sudah pernah dikenai program kesehatan khususnya pemeriksaan kesehatan terhadap anak-anak jalanan.1 3. Adanya hubungan antara lamanya perilaku anak tersebut mendarah daging sehingga butuh waktu dalam merubah perilaku anak tersebut. Bergabungnya anak dalam yayasan ini berarti anak-anak jalanan tersebut telah menerima program-program yang diberikan YAKMI kepada mereka. 1.6 9. Saat pengalaman peneliti membagi angket.5 28. Dari hasil wawancara dengan beberapa pengamen menjawab “ya lah kak. Tetapi bagi tukang minta.

Latar belakang program ini diadakan: Hasil observasi dan analisis yang dilakukan oleh pendampingpendamping YAKMI terhadap kondisi fisik dan sosial anak. Ini berarti kurangnya motivasi dari anak maupun lingkungan untuk mengikuti program etika. Halaman 186-212 Lembaga ini sudah ada sejak tahun 2000 oleh karena itu anak paling lama ikut lembaga ini sekitar 4 tahun. yaitu diri anak. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Kesehatan Dasar No. sikat gigi dan lain-lain dan ada juga menyebutkan pemeriksaan kesehatan. Namun ada beberapa responden yang tidak mengetahui pendidikan kesehatan dasar.8 9. Seperti pengakuan Muhamad Ridwan Chaniago bahwa ia tahu tentang adanya pendidikan kesehatan namun Ridwan tidak mengikuti pendidikan tersebut karena sibuk. Dari pengakuan anak-anak yang menjawab lainlain terlihat bahwa anak-anak yang mengaku menjawab sekitar 3 hingga 4 kali mengikuti pendidikan kesehatan dasar berjumlah 8 Koleksi BPAD Prov SU ..4 100. Frekuensi anak mengikuti pendidikan kesehatan dasar ini bervariasi.0 Pendidikan kesehatan dasar yang dimaksud di atas adalah program pendidikan yang dibuat YAKMI tentang kesehatan guna memperkenalkan pentingnya hidup sehat kepada anak-anak jalanan sehingga anak-anak dapat berperilaku sehat dalam kesehariannya. Ada pula beberapa yang lainya mengaku “malas”. sikat gigi eee…cuma itu yang ingat Kak” Begitulah ungkapan dari responden Yanti.” Bagi anak-anak yang menjawab lain-lain maksudnya adalah anak-anak mengikuti pendidikan kesehatan dasar lebih dari dua kali. kesehatan dasar itu kak yang dibilang kak Rohtua (pendamping YAKMI) kita harus mencuci tangan 196 Frekuensi anak jalanan mengikuti pendidikan kesehatan dasar yang dimaksud pada tabel di atas adalah seberapa sering anak mengikuti pendidikan kesehatan dasar yang diberikan YAKMI. lingkungan tempat tinggal anak serta lingkungan di titik mangkal. Variasi anak-anak megikuti pendidikan kesehatan dasar dikarenakan oleh kurangnya motivasi anak untuk mengikuti pendidikan dan selain motivasi juga ketersediaan waktu anak-anak yang terbatas. Selain itu juga ancaman obatobatan terlarang yang tersebar bukan saja di kalangan pemadat dewasa tetapi juga pada anakanak di sekolah dan di jalanan. Semakin sering anak mengikuti pendidikan maka anak semakin mengerti tentang kesehatan dasar. Nomor 2.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Volume 5.0 sebelum makan kan kak. Ada lagi Kak itu. 1 2 3 4 5 Frekuensi Mengikuti Tidak pernah Satu kali Dua kali Lain-lain Tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 5 5 5 14 3 32 % 15. Tetapi berbeda dengan Sakti yang berada di Simpang Jembatan Layang Brayan mengaku: “Saya kak pernah beberapa kali ikut. Seperti yang diungkapkan oleh koresponden yang bernama Yanti di Pajak Tradisional Setia Luhur: “Ooo. Dari data di atas dapat diketahui bahwa hampir separuh anak-anak jalanan tahu mengenai pendidikan kesehatan dasar. Secara umum. Mei 2006. Distribusi Frekuensi Responden tentang Pendidikan Kesehatan Dasar No. supaya gak cacingan. Ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara terhadap anak di mana anak tersebut secara keseluruhan anak-anak dapat menyebutkan apa-apa saja yang berkaitan dengan kesehatan dasar seperti: mencuci tangan.6 43.. 1 2 3 Pendidikan Kesehatan Dasar Tidak tahu Tahu tidak ada jawaban Total Sumber: Data Primer F 5 25 2 32 % 15. Aku pernah juga ikut dari rumah singgah Harapan mulia kak.6 78.6 15. Tapi sudah lupa berapa kali.harus sering mandi.3 100. bahkan dalam polanya yang sederhana seperti penggunaan lem sebagai pengganti napza membuat tema ini penting untuk diberikan pada anak.1 6. anak jalanan memiliki penampilan gadel/dekil dan kurang terawat dalam hal kebersihan tubuh serta kesehatannya. mandi.6 15. Hal ini menjadi latar belakang diberikannya topik-topik penyuluhan kesehatan dasar dan umum bagi anak. Tabel 10. Tabel 11.

” Namun ada juga anak yang menjawab: “Kadang-kadang kak jorok ini membawa rezeki. Namun dari pengamatan peneliti di lapangan masih banyak juga anak-anak yang mengaku mereka mandi dua kali sehari namun kondisi mereka tidak menunjukan kebersihan diri. Keinginan anak untuk membersihkan diri salah satunya dapat diukur dengan frekuensi anak jalanan mandi minimal dua kali dalam sehari. sementara anak-anak yang menjawab lain-lain yaitu anak-anak yang mengaku mandi tiga kali sehari. Adapun materi yang dibuat adalah tentang kebersihan tubuh yang di dalamnya meliputi pola mandi dalam sehari. Program Pemberdayaan Anak. Jarangnya mereka mandi dalam sehari diungkapkan oleh anak karena kelelahan setelah mereka pulang dari kerja dan dibarengi kurangnya motivasi dari anak sendiri dan juga keluarga. Anak-anak tersebut diminta untuk menceritakan kepada temantemanya tentang kondisi yang anak rasakan setelah mandi.2 % bertambah anak-anak yang mandi 2 kali sehari. Materi tentang pola mandi yang dijelaskan oleh YAKMI meliputi alasan keharusan mandi. kadang aku lupa cape udah pulang kerja aku tidur aja. mereka lebih kotor dan bau.. Dari hasil wawancara terhadap beberapa anak jalanan mengenai mandi dalam setiap harinya terungkap bahwa: “Aku ingat kali kak.4%.” Tetapi ada juga anak yang sebelumnya menjawab mandi 2 kali sehari kemudian setelah mengikuti program kesehatan dasar menjadi mandi 1 kali sehari. Jadi aku mandi kadang mau pergi sekolah aja. Setelah menerima program tersebut dari YAKMI frekuensi anak jalanan mandi dalam sehari dari tabel di atas terlihat bahwa hampir setengah jumlah anak-anak tersebut mengaku mandi dua kali sehari. Tapi kak pernah lah aku pergi sekolah itu cuma cuci muka aja…he he.Yusra & Siregar. cara mandi yang benar.. Selain itu alasan mereka jarang mandi dalam sehari karena tidak memiliki sabun. sementara anak-anak yang tidak pernah mandi menurun sekitar 25% setelah mengikuti program dan begitu juga anak-anak mandi satu kali sehari menurun sekitar 9.tapi kalau paling sering aku mandi pagi karena kalau sore aku masih ngamen. responden sementara 6 responden lagi menjawab lebih dari 5 kali. Dari data tabel di atas terlihat bahwa frekuensi anak jalanan mandi dalam sehari sebelum menerima program YAKMI menjawab hanya sekali dalam sehari malahan banyak juga anak jalanan yang tidak pernah sama sekali mandi dalam sehari. lagian aku juga gak sekolah. malahan Koleksi BPAD Prov SU 197 . Dari hasil wawancara kepada anak mengaku alasannya: “He he…iya kak malas aku kak..” Namun berbeda pula dengan ungkapan Hesekharianto sebagai pengamen di simpang Seikambing: “Ah aku dari dulu sampai sekarang …aku malas pulang ke rumah. Aktivitas anak jalanan yang hidup dan bekerja di jalan setiap saat tidak terlepas dari pengaruh keadaan yang kotor baik dari diri anak maupun dari lingkungan kerja anak. Dari tabel di atas terlihat bahwa ternyata adanya kemajuan frekuensi mandi anak jalanan yang dibimbingi YAKMI sekitar 31. Mamak aku gak marah kok. juga ada seperti iritasi atau gatal-gatal pada kulit anak dan juga ada kudis dan luka malahan ada juga tungkik pada telinga mereka yang telah membau. lebih banyak orang yang mau ngasi kalau keadaan kami jorok. jadi kalo aku nginap rumah kawan aku mandi di sana aja. Namun orang tua anak mengaku bahwa mereka selalu meminta anakaanak mereka mandi setiap hari seperti hasil wawancara kepada ibu anak pengumpul botot berikut ini: “Anak saya mandi kok. Kadangkadang pulang malam. Lain halnya pada anak-anak tukang botot dan pengumpul makan ternak. Penyampaikan materi ini kepada anak digunakan metode modeling. dulu aku kak malas kali mandi. Di mana beberapa anak diminta untuk mandi dan memperagakan cara mandi yang benar. Ada banyak daki di lipatan-lipatan kulit anak. Ini berarti adanya kemajuan anak menjaga kebersihan diri. habis kak di rumah aku tidaknya punya sabun. kadang mau pergi sekolah. Saya selalu marahi kalau dia gak mandi.” Kemudian Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia membuat program pendidikan kesehatan dasar tentang kebersihan tubuh anak-anak jalanan. Jadi kalo ingat aku mandi. mamak aku pagi-pagi aja udah pergi cari makan babi. dan frekuensi mandi.

Sekalian aku sampoan di sini.0 Tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah anak-anak jalanan yang tidak pernah menyikat gigi menurun sekitar 28. Halaman 186-212 kadang kala sengaja kami gak mandi supaya bisa cari banyak duit. Distribusi Frekuensi Responden Menyikat Gigi dalam Sehari Sesudah Mengikuti Program No. 1 2 3 4 5 Menyikat Gigi Tak pernah Satu kali Dua kali Lain-lain Ragu Total Sumber: Data Primer F 6 15 8 2 1 32 % 18. karena aku masuk sekolah siang kak.3%. anak anak yang menyikat gigi satu kali naik 31. Nomor 2. Distribusi Frekuensi Responden Menyikat Gigi dalam Sehari Sebelum Mengikuti Program No.8 46.3%.9 25. Adapun materi yang diberikan yaitu kebersihan tubuh dengan topik pola kebersihan gigi.” Jadi alasan anak-anak jalan yang masih jarang mandi setelah menerima program pendidikan kesehatan dasar dari YAKMI yaitu dikarenakan kurangnya motivasi anak dan keluarga. Materi yang diberikan oleh YAKMI tentang kebersihan gigi yaitu membangun kesadaran anak tentang pentingnya menyikat gigi. sikat gigi. Tapi ada juga anak yang menjawab dua kali seperti Novita mengaku: “Aku menyikat gigi dua kali dulu kak tapi sekarang tidak lagi kak.3 3. Alasan meraka menjawab tidak pernah dikarenakan malas. Sekalian nyari duit sekalian juga aku mandi.1 6. Dulu mamakku belum sibuk jualan jadi aku dimarahi kalau tidak sikat gigi tapi sekarang aku malas kak.” Tapi berbeda dengan yang dijawab oleh responden yang satu ini: “Aku mandi kak kalau hujan.6 28. langsung di jalan. trus pulang ngamen kak..1% sementara yang menjawab lain-lain mengaku menyikat gigi lebih dari dua kali tetap 6. ini membuktikan adanya kemajuan anak-anak setelah mengikuti program YAKMI. mandi pagi. Volume 5. Menurut pengakuan mereka tidak pernahnya karena mereka kecapean setelah pulang kerja.1%.” Motivasi mereka untuk menyikat gigi sebenarnya kurang sehingga mereka cenderung tidak mau menyikat gigi. Kemudian masing-masing anak-anak dibagikan sikat gigi oleh pendamping dan diminta memperagakan menyikat gigi secara benar.. Mei 2006. Frekuensi menyikat gigi anak jalanan sebelum mengikuti program Pendidikan kesehatan dasar dari 32 responden lebih banyak mengaku tidak pernah. Tabel 12a.9 15. anak-anak yang mengaku menyikat gigi dua kali dalam sehari sedikit menurun 3. hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi anak jalanan menyikat gigi lebih didominasi satu kali dalam sehari dan ada juga tidak pernah menyikat gigi dalam sehari.he. he.0 6. cara menyikat gigi yang benar dan penggunaan pasta gigi. mandi sore terus mandi hujan…kan tiga kali kak” “Aku kak suka mandi 3 kali dalam sehari.. pasta gigi. Setelah anak-anak menerima program pendidikan kesehatan dasar.1 100. Seperti yang diungkapkan oleh seorang responden: 198 Koleksi BPAD Prov SU . 1 2 3 4 5 Menyikat Gigi Tak pernah Satu kali Dua kali Lain-lain Ragu Total Sumber: Data Primer Tabel 12b. Selain dari kurang perhatian ada juga anak-anak yang mengaku mandi tetapi kondisi sebenarnya tidak menunjukan kebersihan diri yaitu disebabkan cara mandi anak yang tidak benar seperti tidak menggunakan air yang bersih. Motivasi itu lebih banyak berasal dari diri mereka sendiri yang tidak mau peduli.” Ada juga responden yang menjawab lainlain maksudnya adalah mereka mengaku mandi lebih dari 2 kali dalam sehari seperti anak-anak ini menjawab: “Kalau kami kak mandi lebih lah 3 kali sehari.1 100. Dalam menyampaikan materi tentang kebersihan gigi pada anak dengan menggunakan alat peraga seperti: metaplan. lebih enak lagi kak.3 3. mandi tanpa sabun dan mandi tanpa air yang cukup dan juga sengaja tidak mandi untuk meminta belas kasihan orang lain. Kemudian YAKMI memberikan program kebersihan tubuh. bangun pagi. mau pergi sekolah siang.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Responden yang menjawab lebih dua kali ini mengaku menyikat gigi sebelum tidur dan sesudah makan.0 F 15 5 9 2 1 32 % 46.

1 2 3 4 5 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah 1-5 batang 5-10 batang 10-1 bks >1 bungkus Total Sumber: Data Primer F 13 10 4 3 2 32 % 40.0 Frekuensi responden tidak pernah berhubungan seks maksudnya adalah responden tidak sama sekali melakukan hubungan seks. Materi yang dibawa guna mencegah bahaya penyakit ini dengan memberi pemahaman kepada anak-anak tentang peyakit IMS.4 15. Sedangkan jarang maksudnya responden pernah melakukan hubungan seks namun tidak dilakukan secara terus-menerus sedangkan responden sering maksudnya adalah responden berhubungan seks dilakukan secara teratur dan terus-menerus. Tidak pernahnya responden melakukan hubungan seks dikarenakan mereka masih dalam pengawasan Merokok bagi anak jalanan merupakan hal yang biasa.6 3.3%.3 6.0 orang tua sehingga menekan keinginan mereka dalam berhubungan seks. Distribusi Responden Melakukan Hubungan Seks Bebas Sesudah Mengikuti Program No.. 1 2 3 4 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah Jarang Sering Tidak menjawab Total Sumber: Data Primer Tabel 13b. “Kalau udah pulang kak mana ada ingat lagi mau menggosok gigi.3 100.0 F 7 11 5 5 4 32 % 21. 1 2 3 4 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah Jarang Sering Tidak menjawab Total Sumber: Data Primer F 29 1 2 32 % 90.2% dari hasil wawancara mereka diketahui anak-anak jalanan telah mengetahui bahaya berhubungan seks yang menyimpang. Program kesehatan dasar dengan topik penyakit IMS dilakukan YAKMI guna mengantisipasi anak-anak jalanan terinfeksi penyakit menular seksual.0 F 26 2 2 2 32 % 81.6 31.3 6. Metode yang dipakai oleh YAKMI sendiri adalah peer educator (pendidikan sebaya) dan penyuluhan.5 100. upaya pencegahan dengan tidak melakukan seks menyimpang.” Tabel 13a.6 12. Tabel di atas menunjukkan bahwa frekuensi anak jalanan sebelum dan sesudah mengikuti program kesehatan dasar menunjukan selisih yaitu anak-anak yang menjawab tidak pernah berhubungan seks sekitar 9.3 100.5 9. Tabel 14a.4 6.Yusra & Siregar. 1 2 3 4 5 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah 1-5 batang 5-10 batang 10-1 bks >1 bungkus Total Sumber: Data Primer Tabel 14b. Hubungan seks yang dimaksud di sini meliputi melakukan hubungan seks sempurna. kalau udah keluar.9 34.6 15.1 6. Distribusi Responden Melakukan Hubungan Seks Bebas Sebelum Mengikuti Program No. Udah capek habisnya kak. akibat penyakit IMS. udah lupa kak. anal seks dan oral seks bersama pasangan maupun bersama pekerja seks diluar pernikahan. Sedangkan responden yang menjawab jarang berkurang jumlahnya sekitar 3.3 100.” Sementara anak yang memilih jarang alasanya adalah kelupaan: “Aku rajin kan tapi kalau aku di rumah. Program Pemberdayaan Anak. Distribusi Frekuensi Jumlah Batang Rokok Responden Merokok dalam Sehari Sesudah Mengikuti Program No. Ini dikarenakan anak-anak jalanan menganggap dirinya telah mampu mencari uang sendiri.. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah batang rokok yg dikonsumsi anak jalanan sebelum mengikuti program YAKMI mencapai satu hingga lima 199 Koleksi BPAD Prov SU .3 12.3 6. Distribusi Frekuensi Jumlah Batang Rokok Responden Merokok dalam Sehari Sebelum Mengikuti Program No. melakukan petting. Sementara responden yang menjawab sering berhubungan seks tidak ada.

1 2 3 4 Frekuensi Keramas Dalam Seminggu Tak pernah Tiap hari Tiap minggu Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 5 10 11 6 32 % 15. Materi pola kebersihan rambut meliputi: membangun kesadaran anak tentang pentingnya kebersihan rambut. Sedangkan anak-anak yang mengaku mencuci rambut seminggu sekali pun masih banyak dan sedikit sekali mengalami perubahan ini dapat dilihat sekitar 9. Adapun dari hasil angket diketahui beberapa di antara responden menjawab 3 kali sampai 4 kali dalam seminggu mereka keramas. Anak-anak yang menjawab seminggu sekali dikarenakan kurangnya dukungan terhadap anak baik dari diri anak sendiri maupun dari keluarga anak tentang Koleksi BPAD Prov SU .5 100. Volume 5.4 18. Pengurangan ini kemajuan yang sangat berarti karena merokok merupakan suatu kebiasaan yang sulit dirubah.” Selain itu maksud pilihan anak-anak ke lain-lain adalah bahwa anak-anak diberi kebebasan menjawab berapa kali mereka keramas dalam seminggu. Metode yang dipakai adalah diskusi dan tanya jawab bersama anak-anak jalanan. Ini dikarenakan anak tidak peduli dengan kebersihan tubuhnya dan ada juga anak yang mengaku tidak ada sampo di rumahnya serta ada beberapa anak yang mengaku dikarenakan kelelahan setelah bekerja dan langsung tidur.8 100. jadi kayak mana kami mau keramas seringsering.3 34. kalau pagi udah buruburu mau kesekolah kak. Setelah program diberikan maka hasil yang dicapai dapat diketahui dari tabel di atas yaitu anak-anak masih banyak yang menjawab seminggu sekali. Halaman 186-212 batang per hari.8 12. Nomor 2. Kemudian pada 200 anak-anak yang keramas setiap hari sekitar 6. Distribusi Frekuensi Responden Keramas dalam Seminggu Sebelum Mengikuti Program No. Mei 2006. cara mencuci rambut yang benar. Melihat kondisi anak-anak di atas maka Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia membuat program tentang pola hidup sehat pada anak jalanan. Setelah program tersebut diberikan kepada anak-anak jalanan perubahan perilaku anak jalanan merokok sedikit berkurang. Adapun metode yang digunakan adalah modeling di mana anak diminta keramas dengan menggunakan sampo dan air yang bersih lalu anak tersebut diminta mengungkapkan kesegaran yang anak rasakan setelah mencuci rambut kepada teman-teman yang lain. Kecenderungan anak-anak sebelum menerima program dari YAKMI. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia mengadakan suatu program mengenai bahaya merokok bagi anak-anak. Program yang dibuat yaitu penyakit yang ditimbulkan dari merokok seperti penyakit TBC dan kesehatan paru-paru. Distribusi Frekuensi Responden Keramas dalam Seminggu Sesudah Mengikuti Program No. 1 2 3 4 Frekuensi Hubungan Seks Bebas Tak pernah Tiap hari Tiap minggu Lain-lain Total Sumber: Data Primer Tabel 15a. namun ada juga beberapa dari anak-anak jalanan yang merokok hingga satu bungkus dan lebih. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa anak: “Di rumah aku kak gak ada sampo.6 31.2% dari anak yang sebelumnya mengaku tidak pernah keramas ini dikarenakan tidak ada keinginan mereka untuk menjaga kebersihan diri seperti diungkapkan oleh mereka: “males kak”.4%. Responden yang mengaku merokok mencapai satu bungkus per hari umumnya anak-anak jalanan yang tergolong remaja.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Pola hidup sehat ini meliputi kebersihan rambut. Materi yang disampaikan meliputi kesehatan paru-paru. penyakit yang rentan paruparu dan penyuluhan tentang bahaya merokok.8 25. frekuensi mencuci rambut. anak-anak mengaku jarang mencuci rambut dikarenakan kurangnya motivasi dari mereka ini dapat dilihat dari anak pada tabel di atas bahwa banyak anakanak yang mengaku mencuci rambut hanya satu kali dalam seminggu dengan alasan tidak ada sampo di rumah mereka.0 43. Tabel 15a.0 F 6 8 14 4 32 % 18.0 Dari tabel dapat diketahui bahwa anak jalanan keramas dalam seminggu mengalami sedikit kemajuan sekitar 3.3% telah menyadari penting menjaga kebersihan rambut dikarenakan mereka yang sebahagian besar waktu berada di jalanan dengan kondisi penuh debu. lagian pun udah ngantuknya kak kami pulang kerja.

kebersihan tubuh.9 12. Tabel 17a.6 46.0 21. Habis uang ku aja beli sendal terus-terusan. Mana ada duit ku beli sepatu.9 37. diskusi dan tanya jawab terhadap anak. Mending aku gak pake sendal.0 Menggunakan alas kaki bagi setiap orang adalah hal yang sangat penting dan begitu juga pada anak..0 F 13 15 4 32 % 40.5 100.9 50. apa lagi anak jalanan yang mereka setiap harinya berada di jalan. Dan bagi yang anak-anak yang mengaku sering memakai alas kaki mengalami kemajuan sekitar 25%. Distribusi Frekuensi Responden Memakai Alas Kaki Sesudah Mengikuti Program No. Alas kaki dimaksud di sini termasuk sepatu maupun sendal. “Kek mana aku mau pake sepatu kak. 1 2 3 Frekuensi Memakai Alas Kaki Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 16b. Namun tidak sedikit juga anak-anak yang sering menggunakan alas kaki. dan ada juga anak-anak yang tidak memakai sendal dikarenakan malas malahan ada beberapa anak yang mengaku tidak memiliki sendal maupun sepatu.Yusra & Siregar. Sedangkan anak yang masih tetap tidak mau memakai alas kaki mengaku bahwa mereka tidak memiliki sendal maupun sepatu.. Ini menunjukan kesadaran anak telah terbangun mengenai bahaya bila tidak memakai alas kaki saat keluar rumah.0 3.1 100.5 100. Materi yang dipakai adalah membangun kesadaran anak tentang bahaya ketika anak-anak tidak menggunakan alas kaki saat bekerja. Alas kaki ini sangat membantu anak jalanan terhindar dari bahaya luka yang bisa disebabkan oleh pecahan kaca.” Kecenderungan anak jalanan jarang dan hampir tidak pernah memakai alas kaki dikarenakan kelalaian mereka dalam menjaga sendal sehingga sering hilang. Sedangkan bagi anak yang menjawab jarang tetap tidak mengalami kemajuan maupun kemunduran yang artinya tidak mengalami perubahan apapun. ungkap seorang responden. Metode yang dipakai adalah metaplan.0 Koleksi BPAD Prov SU 201 .6 46. Distribusi Frekuensi Responden Memakai Alas Kaki Sebelum Mengikuti Program No. Distribusi Frekuensi Responden Membersihkan Telinga dalam Seminggu Sebelum Mengikuti Program No. sendal aja aku gak punya”. Dari Tabel 16a dan 16b di atas dapat diketahui kesadaran anak memakai alas kaki dapat dilihat dari frekuensi mereka sebelum menerima program dengan setelah mengikuti program yang dibuat YAKMI. pantang di lepas sebentar udah hilang. Tabel 16a. Selain kurangnya motivasi juga anak-anak mengaku pengaruh kesibukan anak diluar rumah sehingga mereka kelelahan setelah tiba di rumah. yaitu anak-anak menjawab tidak pernah memakai alas kaki berkurang sekitar 25% ini dikarenakan mereka telah menyadari bahaya mereka di jalanan tanpa alas kaki. 1 2 3 4 Frekuensi Membersihkan Telinga Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 8 7 16 1 32 % 25. Melihat kondisi anak-anak jalanan yang jarang memakai alas kaki menyebabkan Yayasan Kesejahteraan Mayarakat Indonesia membuat penyuluhan memakai alas kaki saat keluar rumah terutama saat bekerja. apalagi bagi anak-anak pemulung yang mereka harus berada pada tong-tong sampah besar. Seperti salah satu responden mengatakan: “Payah kali aku kak. paku maupun yang lainya. 1 2 3 Frekuensi Memakai Alas Kaki Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F 5 15 12 32 % 15. Program Pemberdayaan Anak. Bagi anak yang jarang memakai alas kaki dikarenakan selalu hilang saat bekerja. Setelah diberikan program hasil yang dicapai ternyata anak-anak masih jarang memakai alas kaki alasan mereka karena masih sering hilang.

1 2 3 4 Frekuensi Membersihkan Telinga Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 5 18 8 1 32 % 15. mereka harus mengais tongtong sampah untuk mencari botot begitu juga anak-anak pengumpul makanan ternak babi. Ada juga anak yang mengaku jarang mengganti pakaian dalam sehari dikarenakan orang tuanya malas mencuci sehingga ia terpaksa memakai pakain yang sama dengan yang sebelumnya. anak-anak mudah sekali mengotori pakaian yang mereka pakai. Halaman 186-212 Tabel 17b.4 18.0 3. Distribusi Frekuensi Responden Mengganti Pakaian dalam Sehari Sesudah Mengikuti Program No. Tabel 18a. misalnya di mana mereka duduk.” Dari hasil observasi terhadap anak-anak di lapangan ada beberapa anak yang sampai “tungkik” dan orang tuanya tidak mengizinkan 202 Jarangnya anak jalanan mengganti pakaian dalam sehari pada tabel di atas maksudnya adalah anak jalanan selalu memakai pakaian yang sama dengan hari sebelumnya.6 56. seperti hasil wawancara dari paa pendamping bahwa orang tua anak enggan anaknya diperiksa oleh pemeriksaan kesehatan yang disediakan oleh lembaga. Hal ini dikarenakan mereka juga bekerja tanpa memperdulikan lingkungan mereka. kalau aku bersihkan mamak aku marah. Setelah diberikan program ternyata hasilnya anak-anak yang membersihkan telinga semakin sedikit. Alasan anak-anak yang jarang maupun tidak mau untuk membersihkan telinga karena motivasi mereka yang kurang. Distribusi Frekuensi Responden Membersihkan Telinga dalam Seminggu Sesudah Mengikuti Program No. Materi penyuluhan kebersihan telinga yang diberikan meliputi pentingnya telinga sebagai salah satu indera pada tubuh.0 Frekuensi responden membersihkan telinga sebelum mengikuti program kesehatan dasar dapat dilihat pada tabel di atas hampir 50% sering membersihkan telinga. Volume 5. Jika kita melihat kondisi anak bekerja di jalan. Nomor 2. Metode yang dipakai adalah penyuluhan kepada anak-anak jalanan. 1 2 3 Frekuensi Mengganti Pakaian dalam Sehari Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 18b. mereka mengelap keringat di baju bahkan mereka tidak mengelap tangan mereka di baju yang mereka pakai. Distribusi Frekuensi Responden Mengganti Pakaian dalam Sehari Sebelum Mengikuti Program No. namun juga ada hubungan antara gaya hidup yang tidak bersih dengan pekerjaana anak. namun tidak sedikit juga anak-anak yang jarang dan malah beberapa anak tidak mau membersihkan telinga. Program yang dibuat pihak lembaga yaitu pendidikan kesehatan di mana di dalamnya ada penyuluhan mengenai kebersihan telinga.” “Kalau aku kak.1 46. jenis-jenis penyakit dan rujukan untuk pengobatan penyakit telinga. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu responden yang bernama Gunawan (seorang pemulung): “Kek mana aku mau ganti pakain kak karena mamak aku malas mencuci jadi terpaksa aku Koleksi BPAD Prov SU .0 F 7 19 6 32 % 21.1 100.9 59. pola perawatan.8 100. Oleh sebab itu para orang tua anak melarang anak-anak mereka untuk menjaga kebersihan khususnya telinga.9 100. Mei 2006. tidak punya congkel telinga di rumah. Adapun alasan mereka jarang mengganti pakaian adalah karena mereka “malas” ungkap mereka.3 25.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Seperti hasil wawancara terhadap beberapa anak: “Jarang kak aku bersihkan telinga. Khususnya pada anak pemulung.0 anaknya untuk diperiksa maupun diberi rujukan berobat gratis oleh lembaga. Alasan anak-anak tidak membersihkan telinga karena dimarahi oleh orang tua dan beberapa anak mengaku karena mereka juga tidak punya kapas telinga. 1 2 3 Frekuensi Mengganti Pakaian dalam Sehari Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F 0 17 15 32 % 0 53. Makanya jarangnya mereka mengganti pakaian akan mengganggu kesehatan mereka.

Frekuensi Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 19b.” Pengadaan program YAKMI mengenai mencuci tangan diberikan ketika pemeriksaan kesehatan di mana anak-anak dijelaskan mengenai penyakit yang sering diderita anak ketika makan tidak bersih.2% karena ini dipengaruhi dari situasi anak di jalanan yang sulit mendapatkan air. Kecenderungan anak jalanan jarang mencuci tangan dikarenakan kesulitan anak untuk memperoleh air yang bersih di jalan sehingga anak-anak mengaku sering menggunakan plastik untuk menutupi tangan yang kotor ketika makan. Tabel 19a.4 21.3%. Distribusi Frekuensi Responden Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Sesudah Mengikuti Program No. Selain itu responden juga menjawab penggunaan sendok membantu mereka untuk tidak perlu mencuci tangan. Seperti yang diungkapkan responden berikut ini: “Kek mana kak kami mau cuci tangan.4 9.1 31.4%. Hasil yang dicapai setelah program tersebut dilaksanakan anak-anak masih jarang mencuci tangan. Distribusi Frekuensi Responden Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Sebelum Mengikuti Program No.1 3. kan sama ajanya kak.Yusra & Siregar. Dari tabel 5. dan pada anak-anak yang sering mengganti pakaian naik sekitar 28. Program Pemberdayaan Anak.4 3. Setelah anak-anak diminta mandi kemudian anak-anak diminta memakai pakaian ganti yang bersih yang telah disediakan oleh lembaga.21 dapat dilihat hasilnya meliputi anakanak yang sebelumnya jarang mengganti pakaian mengalami penurunan drastis menjadi tidak ada sama sekali. dan juga pada anak-anak yang sering mencuci tangan naik menjadi 9. Tapi kalo lupa bawa sendok aku pake plastik aja kak. 1 2 3 4 Frekuensi Ngelem Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 27 3 1 1 32 % 84.” “Aku makan kan kak pake sendok. paling kalu hujan aja baru ada air kak. Distribusi Frekuensi Responden Ngelem Sebelum Mengikuti Program No.0 Pada Tabel 19a dan 19b di atas dapat dilihat bahwa anak-anak yang tidak pernah mencuci tangan baik telah mendapat program maupun sebelum mendapat program dari Koleksi BPAD Prov SU 203 .” Hal ini di iyakan oleh kawan-kawanya pada saat itu berada di samping gunawan.0 1 2 3 5 17 10 32 15. jadi gak perlu aku cuci tangan kak. Kadang aku bawa sendok dari rumah kak. Melihat kondisi anak jalanan maka dibuat program mengenai kebersihan diri meliputi kebersihan pakaian. Sedangkan pada anakanak yang jarang mengganti pakaian berkurang sekitar 6. Sedangkan anak jalanan yang jarang mencuci tangan hanya berkurang 6.0 YAKMI ternyata hanya berkurang sekitar 3.6 53.8 59.3 100. Salah satu penyebab penyakit itu melalui tangan. pake baju ini lagi. Frekuensi Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F % F % 1 2 3 6 19 7 32 18.1 100.9 100.. mana ada air di jalan ini kak. Metode penyampaian adalah ceramah dan gambar. dalam hal ini anak lebih banyak menyadari pentingnya mencuci tangan.. Namun ada beberapa anak yang menjawab memakai sendok. Tabel 20a. Metode yang digunakan adalah modeling atau pemberian contoh langsung. Ya udah aku makan aja kak yang penting udah aku lap pake baju aku sebelum makan. Ini dikarenakn anak-anak masih menganggap sulit memperoleh air di jalan.3%. Pakaian yang disediakan berasal dari sumbangan masyarakat maupun gereja.1% ini menunjukkan YAKMI berhasil membuka kesadaran anak jalanan untuk menjaga kebersihan diri mereka.

Metode yang digunakan adalah ceramah.’ lagian aku juga tidak bergaul dengan orang-orang itu kak. Responden yang memilih tidak pernah “ngelem” pada tabel di atas mengaku bahwa mereka tidak tertarik menggunakan zat tersebut. Pemahaman anak tentang narkoba ini dilihat dengan kemampuan anak dapat menyebutkan bahaya-bahaya bagi pengguna penggunaan narkoba. Tabel 21a.9 3. Setelah diberikan program tersebut kepada anak jalanan ternyata hasilnya yang dicapai adalah anak-anak tetap tidak menggunakan narkoba.1 0 9. “Dulu aku pernah kak beberapa kali ikutikutan sich tapi sekarang gak lagi. Namun anak-anak mengetahui bahaya narkoba tersebut.1 0 100. menerangkan gambar dan memakai alat peraga. Adapun alasan mereka pernah menggunakan karena pengaruh ajakan teman serta anak tidak mengetahui risiko akibat penggunaannya. tukang minta dan berjualan rokok maupun minuman.” Sedangkan anak-anak yang menjawab sering adalah anak-anak yang sudah ketagihan dan sulit lepas. Mereka bekerja sebagai pengumpul botot.23 juga terlihat bahwa frekuensi anak jalanan ngelem sebelum maupun sesudah mengikuti program YAKMI yang tergolong tidak pernah ini dapat dilihat dari perbedaan sekitar 0. aku takut ayah aku selalu bilang ‘awas ya kalau kau ngelem bapak libas kau. 1 2 3 Frekuensi Menggunakan Narkoba Tak pernah Jarang Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 31 1 0 32 % 96. Sementara dari anakanak juga mengaku pernah menggunakan namun hanya sesekali. Volume 5. Nomor 2. sedangkan sering maksudnya adalah anak jalanan telah ketagihan dan dilakukan berulang-ulang.4 100.5 3. Habis aku dulu diajak kawan kak. jenis-jenis narkoba. Adapun materi yang disampaikan meliputi: bahaya narkoba. Banyak orang tua anak jalanan yang bekerja di jalanan.0 Koleksi BPAD Prov SU .0 Frekuensi anak jalanan tidak pernah ngelem maksudnya adalah anak jalanan sama sekali tidak menggunakan “ngelem”. Kecenderungan anak jalanan tidak pernah “ngelem” karena mereka masih dimonitor keluarga secara teratur baik di jalanan maupun di rumah. sedangkan jarang maksudnya adalah anak jalanan pernah ngelem namun tidak diteruskan. anak-anak yang didampingi oleh 204 YAKMI tergolong tidak banyak karena mereka masih dalam keadaan pengontrolan orang tua.” Selain itu responden yang mengaku jarang “ngelem” maksudnya bahwa mereka pernah menggunakannya namun tidak terusmenerus. mereka bilang itu gak apa-apa dan aku juga gak setia katanya kalau aku gak ikut ngerasain. Halaman 186-212 Tabel 20b. Pada tabel 5.31%. Distribusi Frekuensi Responden Menggunakan Narkoba Sebelum Mengikuti Program No.. Mei 2006. Lembaga YAKMI membuat program mengenai bahaya narkoba dan di dalamnya ngelem. mendingan aku pulang kalau udah ada orang kek gitu. ini dikarenakan pada dasarnya anak jalanan sebelum masuk YAKMI cenderung tidak pernah “ngelem”. Hubungan yang teratur terhadap orang tua akan memperkecil keinginan anak untuk “ngelem”. Ini dibuktikan dari wawancara terhadap anak. pengumpul makanan ternak. 1 2 3 4 Frekuensi Ngelem Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 28 1 0 3 32 % 87.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Selain itu dari hasil data sebelumnya bahwa anak-anak yang didampingi oleh YAKMI ini masih adanya hubungan teratur dengan orang tua mereka. Seperti yang dikatakan oleh responden: “Dari dulu sampai sekarang aku gak pernah ngelem kak. Distribusi Frekuensi Responden Ngelem Sesudah Mengikuti Program No. Responden yang mengaku ini adalah responden yang lebih remaja.

9 3. Nantik aku bisa ketagihan kak.1 100.” Responden yang mengaku jarang minum.” “Kalau aku kak gak mau minumminuman kek gituan.1 0 0 100. menurut pengakuan mereka adalah “kalau udah malam minggu kak. Distribusi Frekuensi Responden Mabuk Sesudah Mengikuti Program No.Yusra & Siregar. Distribusi Frekuensi Responden Mabuk Sebelum Mengikuti Program No. sedangkan dimaksud sering yaitu anak jalanan menggunakan narkoba berulang-ulang hingga sekarang. Nantik aku dimarahi pula sama mamak aku kalau udah pulang. Pada umumnya yang menjawab ini adalah anak jalanan yang udah remaja.” Responden yang mengaku sering minum. 1 2 3 4 Frekuensi Mabuk Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 23 6 2 1 32 % 71. Distribusi Frekuensi Responden Menggunakan Narkoba Sebelum Mengikuti Program No. tapi paling sering kalo natal dan tahun baru kak.8 6. 1 2 3 Frekuensi Menggunakan Narkoba Tak pernah Jarang Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 29 0 3 32 % 90. hal ini dikarenakan anak-anak dampingan YAKMI sebelumnya tidak menggunakan narkoba dan begitu juga setelahnya. Mereka sering tidak pulang ke rumah setiap malam minggu. Tabel 22a. Adapun anak mengaku jarang yaitu alasanya anak pernah sekali mencoba narkoba jenis ganja namun tidak diteruskan.. Sedangkan jarang adalah anak jalanan pernah mencoba mabuk namun tidak dilakukan terus-menerus atau berulang-ulang.0 Tabel 22b. Tabel 21a. Anak ini mengaku keterlibatan ia menggunakan narkoba karena ajakan teman. Alasan mereka tidak pernah mabuk karena mereka tau kalau hal itu tidak baik bagi kesehatan mereka seperti yang diungkap kan mereka: “Untuk apa mabuk kak. Dari tabel di atas hampir semua anak-anak jalanan menjawab tidak pernah mabuk. mending aku main PS daripada habis uang ku beli kamput. menurut pengakuan mereka pernah mencoba tetapi tidak dilakukan berulang-ulang. 1 2 3 4 Frekuensi Mabuk Tak pernah Jarang Sering Lain-lain Total Sumber: Data Primer F 31 1 0 0 32 % 96. Sehingga masih ada pengontrolan orang tua yang ketat.4 100. Ini dikarenakan mereka terpengaruh teman sekeliling mereka yang peminum dan juga pengaruh orang tua yang peminum: “Aku kak pernah sekali minum tapi sekarang gak lagi.0 Frekuensi anak-anak jalanan tidak pernah mabuk maksudnya yaitu dalam kehidupan anak sama sekali anak jalanan tersebut tidak pernah minum minuman beralkohol. Sedangkan frekuensi sering maksudnya adalah anak jalanan mabuk dilakukan terus-menerus hingga sekarang. Pada Tabel 5.. kan gak bagus untuk kesehatan. kan biasa ngumpul-ngumpul gitu lho”. Ini dikarenakan mereka masih berhubungan teratur dengan orang tua dan juga mereka masih sekolah sehingga masih adanya peraturanperaturan yang melarang mereka menggunakan narkoba baik itu dari sekolah maupun dari orang tua. Pada Tabel 22a dan 22b terlihat bahwa anak-anak jalanan yang tidak pernah mabuk baik sebelum mendapat pendidikan kesehatan 205 Koleksi BPAD Prov SU . Seperti yang terlihat dari data-data pada tabel sebelumnya bahwa anak dampingan YAKMI masih berhubungan teratur dengan orang tua.9 18.23 terlihat bahwa anak yang menggunakan narkoba baik sebelum mengikuti program kesehatan dasar hingga setelah mengikuti pendidikan kesehatan dasar cenderung tidak berubah.0 Frekuensi anak jalanan tidak pernah menggunakan narkoba adalah anak jalanan sama sekali tidak mencoba menggunakan narkoba. aku gak beli kak bapak aku bawa minuman ke rumah trus aku coba sikit. Dari tabel di atas terlihat bahwa hampir semua anak-anak jalanan dampingan YAKMI tidak menggunankan narkoba.6 0 9.3 3. Program Pemberdayaan Anak.

Dari hasil wawancara terungkap bahwa: “Memang kak kami sering pukul-pukulan sebentar aja palingan besok udah kawanan lagi. 1 2 3 Frekuensi Memukul Orang Lain Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer F 2 19 11 32 % 6. Namun di kalangan anak-anak yang lebih kecil lebih sering dipukul oleh anakanak jalanan yang lebih besar namun mereka tidak membela maupun membalas. Kadang mereka kompas kami terus ditokoknya kepala kami kak. selisih perubahan perilaku anak-anak yang jarang memukul sebelum dan sesudah menerima program etika naik sekitar 18.0 F 2 13 17 32 % 6. ya…aku balas lah kak. Distribusi Frekuensi Responden Berkelahi Sebelum Mengikuti Program No.” Program yang diberikan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia untuk menekan perilaku memukul pada anak yaitu etika bergaul. seperti yang diungkapkan responden berikut ini: “Kami kak kalau memukul jarang tapi dipukul sama anak-anak yang besar itu kak. Anak-anak sering memukul dikarenakan konflik kecil dalam pergaulan anak-anak di jalanan. Halaman 186-212 dasar maupun setelah mendapat pendidikan kesehatan dasar terlihat ada kemajuan sekitar 52% anak-anak yang tidak pernah mabuk. sedangkan yang sering yang sebelum masuk pendidikan kesehatan dasar mabuk namun setelah masuk pendidikan kesehatan dasar menjadi tidak ada sama sekali.4 34.1 100.4 34. Perubahan ini tidak begitu signifikan dikarenakan berkelahi merupakan kebiasaan yang sering dilakukan pada anak-anak jalanan. Tabel 23a.3 59. takut lah.6 53. Distribusi Frekuensi Responden Memukul Sebelum Mengikuti Program No. Arti sering di sini yaitu anak-anak pernah memukul dalam setiap hari baik terhadap teman maupun terhadap saudara kandung. tapi kak paling sering kami ngomong jorok daripada mukul. Materi yang disampaikan yaitu cara bergaul yang baik.” “Aku mukul dia kak karena dia pukul aku dulu.0 206 Koleksi BPAD Prov SU . Konflik ini disebabkan adanya ketidaksenangan anak dalam perkawanan.3 40. Namun umumnya konflik ini tidak berlangsung lama. 1 2 3 Frekuensi Memukul Orang Lain Tak pernah Jarang Sering Total Sumber: Data Primer Tabel 23b.0 Frekuensi responden memukul sebelum mengikuti program pendidikan etika didominasi oleh anak-anak yang mengaku sering memukul.7%.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Tabel 24a.8%.4 100. Nomor 2. Kadang karena berebut. Volume 5. menghargai teman dan melarang anak melakukan kekerasan. Mei 2006.7%. Sedangkan anak-anak yang jarang mabuk sekitar berkurang sekitar 15.3 59. kemudian anak-anak diminta untuk mempresentasikan bergaul yang baik sesama teman-temanya. Distribusi Frekuensi Responden Memukul Sesudah Mengikuti Program No. Mana berani kami membalas kak. dari ungkapan responden mengaku bahwa berkelahi merupakan kebiasaan sesama mereka.4 0 100. Metode yang dipakai untuk menyampaikan materi tersebut yaitu menonton tayangan dari VCD kartun yang mengandung nasehat berperilaku.” Selisih perubahan anak-anak yang sering memukul sebelum dan sesudah menerima program etika berkurang sekitar 18. Setelah mengikuti program etika hasilnya anak-anak jalanan menunjukan kemajuan yaitu di mana anak-anak yang sebelum mengikuti program tergolong sering namun setelah mengikuti anakanak menjadi jarang berkelahi. sedangkan untuk anak-anak yang tidak pernah memukul dalam jumlah yang tetap. 1 2 3 4 Frekuensi Berkelahi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 2 19 11 0 32 % 6.

Metode yang dipakai untuk menyampaikan materi tersebut yaitu menonton tayangan dari VCD kartun yang mengandung nasehat berperilaku.” “Kalau dia kak sering kelahi sama adiknya. Dari hasil wawancara terhadap responden pemulung berikuti ini: “Kalau kami kak jarang berkelahi. 1 2 3 4 Frekuensi Berkelahi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 9 18 4 1 32 % 28. dan anak-anak yang tidak pernah sama sekali bertambah sekitar 21. Alasan mereka dikarenakan perkelahian antara mereka pernah dilakukan namun tidak sering. Setelah diadakan program tersebut maka kondisi anak-anak jalanan. 1 2 3 4 Frekuensi Bermain Judi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 25b. artinya ini telah menunjukan kemajuan yang baik dalam pergaulan anak jalanan.3 100. “Kami kalau dibilang tidak pernah kelahi kak tapi sering juga namun kalau sering.” Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kemajuan anak-anak jalanan mengikuti program yaitu sebelumnya jarang berkelahi berkurang sedikit yaitu sekitar 3..1 3. menghargai teman dan melarang anak melakukan kekerasan.0 F 16 9 5 2 32 % 50.0 43. Distribusi Frekuensi Responden Bermain Judi Sesudah Mengikuti Program No. Tapi besoknya kami baikan lagi kak. palingan soal duit atau berebut kotak.3 12. Dari pengakuan mereka alasan anak-anak jarang berkelahi dikarenakan kuatnya persahabatan di kalangan mereka walaupun ada beberapa kali konflik kecil namun bagi mereka itu bukan dikatakan perkelahian dan di kalangan mereka hanya sering beradu kata-kata kasar. Distribusi Frekuensi Responden Bermain Judi Sebelum Mengikuti Program No. frekuensi anak-anak jalanan berjudi dapat 207 Koleksi BPAD Prov SU . Tabel 25a. adanya sedikit kemajuan di mana anak-anak yang sebelumnya sering berkelahi menjadi tidak pernah berkelahi.” Pengakuan dari temanteman responden. kemudian anak-anak diminta untuk mempresentasikan bergaul yang baik sesama teman-temanya. jarang juga kak.5 3.1 100. karena kami gak suka tapi sesekali pernah lah.1 100. Distribusi Frekuensi Responden Berkelahi Sesudah Mengikuti Program No.8 3. Program Pemberdayaan Anak. Sehingga untuk melihat pengukuran agar lebih jelas peneliti memisahkan antara memukul dan berkelahi.1 15.0 28. Pernahlah kak dibuat tapi kadang-kadang kalau lagi membela teman yang sedang dipukul. 1 2 3 4 Frekuensi Bermain Judi Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 16 14 1 1 32 % 50. Diadakan program etika bergaul yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia. seperti dari hasil wawancara responden berikut ini..1%. Dari data tabel di atas terlihat bahwa frekuensi anak jalanan sebelum mengikuti program etika anak-anak lebih banyak mengaku jarang berkelahi.9%.0 Peneliti memisahkan antara memukul dan berkelahi dengan pertimbangan anak-anak selalu mengaku memukul namun tidak sampai dalam perkelahian.6 6. Namun perkelahian mereka tidak berlangsung lama. Materi etika bergaul berisi cara bergaul yang baik. Tabel 24b. Sedangkan anak-anak yang sering berkelahi mengaku perkelahian antara saudara kandung misalnya abang berkelahi bersama adiknya maupun sebaliknya.0 Sebelum anak-anak mendapat program etika. sampai nangis adiknya kak baru dia berhenti.8% ini menunjukan keberhasilan YAKMI dalam membentuk pola perilaku pada anak jalanan. Sedangkan anak-anak yang sebelumnya sering berkelahi berkurang 21.Yusra & Siregar. Namun anak-anak yang mengaku jarang berkelahi masih tetap dengan jumlah yang sama.1 56.

208 Koleksi BPAD Prov SU .5 25. menghargai orang lain saat berbicara.” Diadakan program etika mengenai kerugian berjudi. sedangkan bagi anak yang mengaku sering berjudi berkurang sekitar 12.-. Anak-anak yang mengaku berbicara kotor lebih banyak dari yang mengaku jarang maupun tidak pernah. Seperti responden ini mengaku: “Aku kak sering juga kak. Kesibukan aktivitas mereka dari sekolah pada pagi hari hingga kerja pada sore hari menekan keinginan anak-anak untuk bermain judi. Taruhan yang sering dipakai anak-anak tersebut paling sedikit Rp 500. Ada beberapa anak-anak jalanan yang mengaku jarang berjudi maksudnya yaitu mereka pernah berjudi namun hanya sesekali.7%. Ini dapat dilihat pada tabel di atas bahwa anak-anak yang mengaku jarang berjudi setelah menerima program berkurang jumlahnya sekitar 15. aku ikut juga kak.. Metode yang digunakan adalah diskusi dan tanya jawab.000. Kebiasaan ini juga dikarenakan pengaruh faktor imitasi dari lingkungan sekitar anak-anak. kadang-kadang rokok. 1 2 3 4 Frekuensi Berbicara Kasar Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 4 20 8 0 32 % 12.dan paling banyak Rp 10.0 0 100. Nomor 2. Sehingga anak-anak mudah sekali menyebutkan kata-kata kasar.0 Berbicara kotor yang dimaksud di sini adalah berbicara dengan mencela dan menggunakan bahasa kotor atau “ngomong jorok”.5 37. Setelah dilakukan program tersebut ternyata anak-anak yang semula sering berbicara kasar telah berkurang frekuensinya. Selain itu dipengaruhi pula dengan pengontrolan orang tua saat mereka berada di jalanan.9%.” Yayasan kesejahteraan Masyarakat Indonesia mengadakan program tentang sopan santun berbicara.5%.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Seperti yang diungkapkan oleh responden berikut ini: “Duh kak kalau kami kak sudah biasa itu kak.9 3. Dari tabel terlihat bahwa anak-anak sebelum mengikuti program mengaku sering berbicara kotor. Tabel 26a. Distribusi Frekuensi Responden Berbicara Kasar Sebelum Mengikuti Program No. 1 2 3 4 Frekuensi Berbicara Kasar Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 4 12 15 1 32 % 12. Distribusi Frekuensi Responden Berbicara Kasar Sebelum Mengikuti Program No. Taruhan kadang-kadang duit. Setelah diadakan program etika tentang kerugian berjudi ternyata hasilnya anak-anak jalanan semakin berkurang bermain judi. ini menunjkan kemajuan yang positip bagi anak adapun selisih kemajuan sekitar 21. mensosialisasikan kepada anak bahwa telah ada razia perjudian oleh aparat dan menjelaskan kepada anak tentang risiko anak apabila telah tertangkap oleh aparat. Mei 2006. Halaman 186-212 dikatakan tidak pernah. daripada kami kelahi baik kami kelahi mulut. Anak-anak yang mengaku tidak pernah berjudi dikarenakan mereka tidak ada waktu untuk bermain judi. Berkata jorok atau ngomong jorok menurut kamus bahasa Indonesia yaitu perkataan kotor.5 62.5 46. kalau kawan-kawan ada yang main. melarang anak berbicara kotor.” “Aku kak pernah berjudi kak. dan bagi anakanak yang mengaku tidak pernah berjudi dalam jumlah yang tetap. Materi terseut disampaikan dengan metode diskusi dan tanya jawab.1 100. Volume 5. Sementara anak-anak yang mengaku sering bermain judi menggunakan kartu dengan taruhan kecilkecilan. Materi mengenai kerugian berjudi meliputi menanamkan pemahan kepada anak tentang kerugian berjudi.0 Tabel 26b. Sedangkan untuk anak yang sebelumnya jarang berbicara kasar bertambah banyak sekitar 25% sementara bagi anak-anak yang mengaku tidak pernah dalam jumlahyang tetap. cabul atau tidak senonoh. Dengan materi program yaitu mengajarkan tentang etika berbicara. Itupun kalau bergadangnya. Kebiasaan sering berbicara kotor terbangun dalam lingkungan anak jalanan yang sudah lama. kalau udah malam minggu.

Tapi aku ikut PA (pendalaman alkitab) kak. dan bagi yang islam mengaku mengaji.” Program pendidikan etika mengenai etika beragama yang materi tentang pola hidup yang mengasihi Tuhan.1 100.” “Kadang-kadang hari minggu aku ke gereja tapi Kak aku sering main. Distribusi Frekuensi Responden Sembahyang/Kebaktian Sebelum Mengikuti Program No. ini maksudnya adalah anak-anak semakin rajin membaca alkitab dengan berkurangnya anak-anak yang mengaku jarang dan bertambahnya anak-anak yang mengaku sering. aku di jalanan. Koleksi BPAD Prov SU 209 . Metode yang dipakai dalam menyampaikan materi tersebut yaitu penyuluhan dan diskusi tanya jawab. rajinnya mereka membaca kitab karena mereka bergabung dalam persatuan penelaah alkitab atau dikenal PA.9 59. Menurut pengakuan mereka. Program Pemberdayaan Anak. Distribusi Frekuensi Responden Sembahyang/Kebaktian Sesudah Mengikuti Program No. Metode yang digunakan dalam menyampaikan materi tersebut diskusi tanya jawab.2%.6 0 100. Selain anak-anak selalu berada di jalan juga dipengaruhi kurangnya dukungan dari orang tua untuk menjalankan ibadah. Namun anak-anak yang menjawab jarang dikarenakan kurangnya motivasi dari anak untuk membaca alkitab. membaca alkitab serta kedisiplinan dalam menjalankan ibadah.” Frekuensi responden dalam membaca alkitab sebelum mendapat program etika beragama dapat dilihat pada tabel di atas yakni didominasi anak-anak yang mengaku sering membaca kitab suci.9 15.0 Pelaksanakan sembahyang atau kebaktian pada anak-anak Kristen mengaku mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) yang dilakukan pada masing-masing gereja mereka tetapi khusus anak-anak di Setia Luhur pendalaman alkitab diadakan oleh YAKMI sendiri. Pada anak-anak yang tidak pernah berkurang sekitar 18.4 15. Mana ada ingat aku lagi. ini menunjukan kemajuan program dalam merubah perilaku anak jalanan. Ini dikarenakan kurang motivasi atau dukungan terhadap anak-anak jalanan tersebut.5 46.. kadang hari minggu aku main-main kak. Kecenderungan anak jalanan jarang melaksanakan sembahyang atau kebaktian sebelum mengikuti program pendidikan etika dikarenakan kesibukan anak-anak jalanan yang menghabiskan sebahagian besar di jalan sehingga anak-anak melupakan waktu ibadah dan juga banyak anak-anak yang mengaku menghabiskan waktu minggunya bermain bersama teman-teman dan ada beberapa anak yang bekerja. Setelah anak-anak jalanan menerima program pendidikan etika beragama ternyata hasilnya anak-anak masih tetap jarang menjalankan ibadah. Seperti yang diungkapkan oleh responden dari hasil wawancara: “Malas kali aku ke gereja kak.7%. membaca alkitab serta kedisiplinan dalam menjalankan ibadah. mengasihi sesama manusia dan diri sendiri.” Program yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia kepada anak-anak jalanan yaitu etika beragama. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa responden: “Kadang aku malas kak ikut PA. aku main-main aja bersama teman-teman aku. 1 2 3 4 Frekuensi Sembahyang/Kabaktian Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 27b. Setelah program tersebut diberikan ternyata hasilnya anak-anak semakin bertambah dalam membaca alkitab yaitu naik sekitar 31.0 F 7 19 5 1 32 % 21. Kadang-kadang aku nyari. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang anak: “Kek mana kak mau sembahyang.. mengasihi sesama manusia dan diri sendiri. Tabel 27a. sedangkan pada anakanak jalanan yang jarang membaca alkitab berkurang jumlahnya sekitar 53.Yusra & Siregar.1% setelah mengikuti program etika. Materi program etika beragama mengenai pola hidup yang mengasihi Tuhan. 1 2 3 4 Frekuensi Sembahyang/Kabaktian Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 12 15 5 0 32 % 37.6 3. Malas aku kak.

8%. Metode yang dipakai adalah lembaga menyediakan celengan untuk masing-masing anak agar mereka menyisihkan pendapatan yang mereka terima setiap harinya. Sehingga tidak jarang anakanak jalanan membelajakan uang mereka tanpa adanya batasan. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sebelum Mengikuti Program No.4 25.4 18.3% berkurang. Koleksi BPAD Prov SU .0 100.3 9. 1 2 3 4 Frekuensi Menabung Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 28b.3 3. Setelah adanya program dari yayasan Kesejahteraan masyarakat indonesia tentang program etika budi perkerti yang di dalamnya tentang tidak bolos sekolah. 1 2 3 4 Frekuensi Bolos Sekolah Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer Tabel 29b. 1 2 3 4 Frekuensi Menabung Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 6 7 18 1 32 % 18.0 Anak-anak jalanan tidak terlepas dari pola perilaku yang konsumtif. Namun ada juga anak-anak jalanan yang rajin menabung dengan orang tuanya dan sewaktu-waktu dapat diminta kembali.1 56. Mei 2006. 210 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kecenderungan anak jalanan bolos sekolah lebih banyak menjawab tidak pernah. Hasil dari program tersebut ternyata anak jalanan yang sering bolos sekolah telah berkurang sekitar 12. Nomor 2. Materi yang disampaikan pemberian pengarahan dalam masing-masing kelompok belajar yang mengandung makna bahwa tidak baik bolos sekolah. Setelah program tersebut dilakukan ternyata hasilnya anak-anak yang menabung semakin bertambah 43. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sesudah Mengikuti Program No.5 3. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sebelum Mengikuti Program No.0 100.Jurnal Pemberdayaan Komunitas.9 25. Sementara anakanak yang tidak pernah menabung 9. Sedangkan anak-anak yang mengaku sering dikarenakan ajakan teman.0 F 11 6 7 8 32 % 34.8 21. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia mengadakan program giat menabung kepada anak-anak jalanan.0 Tabel 29a. Dari tabel di atas terlihat bahwa kecenderungan anak-anak jalanan jarang menabung sebelum mengikuti program dikarenakan anak-anak selalu menghabiskan uang untuk bermain game maupun berbelanja atau jajan. sedangkan untuk anak yang tidak pernah bolos masih dalam jumlah yang tetap. Dan sewaktu-waktu mereka bisa mengambilnya kembali.4 31. Distribusi Frekuensi Responden Menabung Sesudah Mengikuti Program No. Metode yang dipakai adalah peraturanperaturan yang dibuat saat kelompok belajar.1 100.0 F 9 18 4 1 32 % 28. Pembentukan pola perilaku konsumtif ini dipengaruhi oleh kemudahan anak-anak jalanan seusia mereka memperoleh duit.9 56.3 12.5%. Volume 5. Halaman 186-212 Tabel 28a.1 100. Namun adanya juga anak-anak jalanan yang mengaku memberikan semua uang mereka kepada orang tua anak. Anak-anak jalanan tidak pernah bolos dikarenakan anakanak tersebut masih dalam pengontrolan orang tua sehingga anak-anak tidak pernah bolos. 1 2 3 4 Frekuensi Bolos Sekolah Tak pernah Jarang Sering Lainnya Total Sumber: Data Primer F 11 10 3 8 32 % 34. Dan anak-anak yang memilih tidak menjawab dikarenakan mereka tidak bersekolah lagi.8 21.

dan pendidikan hukum sehingga anak dapat merubah perilakunya atas keinginan anak sendiri. 4. cacingan. 1999 Psikologi Praktis: Anak. Program pemberdayaan yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia dalam merubah perilaku anak jalanan dapat dibagi menjadi tiga program. Gunarsa. Gita. Program yang berkelanjutan dibuat agar anak-anak dapat menyerap program tersebut secara sempuran selain itu sebaiknya dari lembaga mengadakan evaluasi tentang kebutuhan anak tentang program dan dilakukan monitoring setelah program tersebut diadakan. Bina Aksara. PTBPK Gunung Mulia. Pendidikan etika adalah pendidikan tentang merubah perilaku kesaharian anak yang dalam pergaulanya. Program pemberdayaan yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia untuk mengubah perilaku anak jalanan dalam hal pendidikan kesehatan dasar ternyata anak-anak mengalami kemajuan dalam perubahan perlaku ke arah yang lebih baik. 2004. Program pemberdayaan seperti pendidikan kebersihan. Dra. paru-paru dan lainlainya. Program pemberdayaan perlu ditanamkan kepada anak sehingga menumbuhkan kesadaran anak akan pentingnya pendidikan kesehatan dasar. dkk. 2. Ikhsan. 3. Singgih. pendidikan etika dan pendidikan hukum. Asas-Asas Manajemen. dan pendidikan hukum tidak hanya diberikan kepada anak tetapi juga kepada orang tua sehingga nantinya pemberian program tidak hanya diberikan oleh YAKMI namun juga dapat diberikan oleh orang tua kepada anak. Suharsimi. Edy. pendidikan kesehatan dasar. Nurlela. Suatu Pendekatan Praktik. 3. Indonesia & Save the Children-USAID. 1. Daftar Pustaka Arikunto. D. Jakarta. USU PRESS. Sedangkan pendidikan hukum adalah pendidikan yang diberikan kepada anak agar anak dapat berperilaku 2.. 1989. Program Pemberdayaan Anak.Yusra & Siregar. Dr. Buku Saku Pendampingan Bagi Anak Jalanan Yang Berkonflik Yayasan Pusaka Dengan Hukum. Kencana. Ini dikarenakan metode yang dipakai adalah pendidikan sebaya atau (peer educator). Program pemberdayaan tentang pendidikan hukum ternyata hasilnya anak-anak banyak yang tidak memahami tentang pendidikan hukum tersebut. Kepada Lembaga Yayayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia dalam membuat program kepada anak jalanan agar lebih bersifat kontinu atau berkelanjutan. Jakarta. Dan tidak salah bila program tersebut diadakan berulang-ulang dengan metode yang berbeda agar anak sadar betapa pentingnya program tersebut bagi anak. Sehingga perubahan yang terjadi pada perilaku anak-anak sedikit tidak kentara. pendidi kan etika. pendidikan etika.. Tiga program tersebut yaitu. Medan. Remaja dan Keluarga. Dra. pendidikan ini dilakukan karena anak-anak jalanan dampingan YAKMI cenderung tidak perhatian akan kebersihan diri sehingga tidak jarang anak-anak berpenyakit seperti sakit kulit. Perubahan ini tidak terlalu signifikan karena pergaulan anak telah terbentuk dari anak kecil sehingga untuk merubah perilaku dalam pergaulan ini memerlukan waktu yang lebih lama. Prosedur Penelitian. Program pemberdayaan tetang pendidikan etika yang dilakukan oleh YAKMI untuk mengubah perilaku dalam bergaul pada anak jalanan ternyata hasilnya anak-anak mengalami perubahan perilaku ke arah yan baik. Medan. Ny. Baseline Survei Untuk Program Dukungan Dan 211 Saran Koleksi BPAD Prov SU . Kataren. D. Prof & Gunarsa. 2001. Singgih. Pendidikan kesehatan dasar adalah pendidikan mengenai perubahan perilaku anak dalam menjaga kebersihan tubuh dan kesehatan dirinya. Kesimpulan 1. Y. Ini dapat dibuktikan dengan adanya perhatian dari anak-anak dalam menjaga kebersihan diri dan kesehatan tubuhnya.

LP3S. A. PT Gramedia Pustaka Utama. Lintas Anak. 1983.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. 1993. 2004. 1997. 1999. Siregar. Suharto. Edi. 1984. artikel: yanto_sagu@yahoo. Spektrum pemikiran. Muzaham. H. Gajah Mada University Perss.M. Pembinaan Arti Dan Metode Kanisus. Pengantar Statistik. Harvarindo. Jakarta. Drs. Walpole.go. Halaman 186-212 Pemberdayaan Anak Jalanan Di Perkotaan. M.id 212 Koleksi BPAD Prov SU . A. Setia. Koperasi Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Beberapa Penyebab Murid Mengulan Kelas. James. H.disnakertransjateng. H. 1998. Yogyakarta. Hadari. PT Eresco. 1995.com PPAI.SS. Sumber-sumber lain: Soedijar. Jakarta. 1997. 2003. Hadi. Medan. Dan Melanjutkan Sekolah Dari SD ke SLTP. Masri dan Sofyan Effendi. Konvensi HakHak Anak. 1991. 1997. Sweeting. Teori. E. Pengubahan Perilaku dalam Pekerjaan Sosial. Pembangungan. Schellenberg. -. Singarimbun. PPAI.I.Hairani. Sosiologi Keluarga. USU. Tunggal. Jakarta.S. Bumi Aksara. E. Khairuddin. Penyelenggara Rumah Singgah Program Iji Coba Anak Jalanan Di 7 Propinsi. Medan. Ronald. Direktorat jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. E. Nawawi. LP3ES. Cetakan kedua. DRS. 1989. Bandung. 1997. Mangunharjana.id www. Mei 2006.Si. Ajat & Sutisna.bpk. Proyek INS/94/077 Kerja sama UNDP & DEP Pedoman SOSIAL R. Bandung. Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan. Penelitian Anak Jalanan Di DKI Jakarta.Teori Kepribadian. Jakarta. SH.1990. Jogyakarta. Jakarta. Jakarta. Putus sekolah.SC. UIP. Medan. Liberty. Badan Penelitian Dan Pengembangan Sosial. Bandung. Nono. Jakarta. Dr. Jakarta. M. Koeswara. Lembaga Studi Pembangunan LSP-STKS Bandung. Save The ChildreUSAID. Fauzi. Tokoh-Tokoh Psikologi Sosial. Departemen pendidikan Dan kebudayaan. FaktorFaktor Anak Menjadi Anak Jalanan. Z. Sudrajat.go.Sos. Volume 5. www. MEDAN. Kebijakan Sosial & Pekerjaan Sosial. 2000. Metode Penelitian Survay. Metode Penelitian Bidang sosial. Nomor 2.

hasangapon (Property. Kaum laki-laki dalam masyarakat Batak Toba mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam meneruskan silsilah dan keturunan keluarga. Batak Toba people prohibits the marriage with the same clan. They also do anything to reach their children’s success in life. moyang lelaki. aturan dan penerapan sistem kekerabatan. Sa ompung dapat disebut klen. Mereka yang berasal dari nenek moyang yang satu (na sa ompu) dari generasi ke generasi akan menjadi satu marga. karena dalam urutan generasi setiap ayah yang mempunyai anak laki-laki menjadi bukti nyata dalam silsilah kelompok patrilinealnya. This ethnic professes patrilineal system who pull descent line from father. Hubungan kekerabatan yang timbul sebagai akibat dari penarikan garis keturunan itu mempunyai nilai yang sangat penting. descents. damai. Erika Revida adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Administrasi Negara FISIP USU dan Program Pascasarjana USU Koleksi BPAD Prov SU 213 . satu kakek disebut “sa ompung” dan kelompok kekerabatan yang besar adalah marga (Bangun dalam Koentjaraningrat. Suku bangsa Batak Toba pada dasarnya menarik garis keturunan melalui garis ayah (patrilineal). they have motto: My children are my property. tenteram dan tertib. Kelompok kekerabatan yang terkecil atau keluarga batih disebut ripe. So. Apabila mereka berkumpul maka akan menyebut ayah tadi “Ompu parsadaan”. atau setiap anak yang dilahirkan baik laki-laki maupun perempuan selalu mencantumkan marga bapaknya dan bukan marga dari ibunya. Hal ini dimaksudkan agar anak lebih dekat dengan bapaknya. Ompu berarti kakek. 1990). jadi merupakan titik temu mereka. masyarakat Batak Toba dapat hidup dalam situasi aman. 1980). sedangkan ibu sudah pasti dekat dengan anaknya karena ibulah yang melahirkan. Dengan perkataan lain bahwa marga itu merupakan suatu pertanda bahwa orang yang menggunakannya masih mempunyai kakek bersama atau percaya bahwa mereka adalah keturunan dari seorang kakek menurut garis patrilineal (Bruner.SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA SUMATERA UTARA Erika Revida Abstract Batak Toba people is one of some Batak ethnics in North Sumatra. The work ethic in Batak Toba people are (1) Boras Pati Ni Tano (the land’s rice) and (2) Hamoraon. hagabeon. Istilah ripe dapat juga dipakai untuk menyebut keluarga luas patrilineal. Satu kelompok kerabat dihitung dari dari satu ayah disebut “sa ama”. and honor). The children are the best and highest property or the property which has highest price in Batak Toba people. sada artinya satu. Dengan ikatan. Laki-lakilah yang dapat meneruskan marga bagi keturunannya. society. Dari seorang ayah lahir dua atau lebih kelompok keturunan yang masing-masing mempunyai identitas sendiri. So she does not have the right to get her parent’s property. because ti is specially for her brother. Keywords: kinship system. clan Pendahuluan Sistem kekerabatan dalam masyarakat Batak Toba termasuk satu hal yang amat penting dan menentukan serta berperan banyak dalam hal menentukan perilaku hidup orang Batak Toba sehari-hari. The woman has been married came to her husband’s clan group.

Ciri khas bentuk perkawinan masyarakat suku Batak Toba yang mengikuti garis bapak (patrilineal) adalah apa yang disebut perkawinan jujur. perkawinan juga dianggap suci. Halaman 213-218 Masyarakat Batak Toba menurut ketentuan dalam kebudayaannya. Harta peninggalan orang tua tidak beralih dari garis keturunan ayah kepada keluarga ibu. Proses seperti demikian disebut martutur atau martarombo. akan tetapi juga terhadap keluarga jauh yang semarga. 2) Uang pelepas wanita dari keluarga dan dimasukkan ke dalam keluarga suami. jujur itu disebut juga dengan istilah “sinamot”. sehingga dengan demikian mereka mengetahui kedudukan masing-masing dan hal-hal yang tabu dapat dihindarkan. perkawinan dianggap masalah keluarga. urusan masyarakat. yaitu antara seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya (Bangun dalam Koentjaraningrat. sakral dan berbahagia untuk meneruskan keturunan. harus selalu memelihara kepribadian dan rasa kekeluargaan tetap terpupuk bukan saja terhadap keluarga dekat. c. 3) Menjaga keseimbangan dalam keluarga perempuan. 1990). artinya harta yang diperoleh dari hasil manramot (bekerja dengan keras dan tekun). Pertalian dengan keluarga ibu tidak putus. 214 Koleksi BPAD Prov SU . Volume 5. Dengan demikian fungsi uang jujur itu adalah sebagai berikut : 1) Syarat suatu perkawinan. Nomor 2. Dengan mengetahui nama marga. Perkawinan adalah suatu keharusan bagi setiap manusia. sehingga anak yang lahir dari perkawinan tersebut akan meneruskan marga si suami dengan anak menjadi ahli waris dari keluarga laki-laki tersebut. Perkawinan di luar klen atau marganya yang melarang kawin di dalam marganya sendiri. Orang yang tidak mempunyai keturunan akan hilang dari rentetan dan jenjang silsilah yang ditarik sepanjang zaman dari satu klen atau marga. maka permasalahan yang diajukan dalam tulisan ini adalah “Bagaimana sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba Sumatera Utara?” Pembahasan 1. Ter Haar (1960) menyatakan bahwa perkawinan itu adalah urusan keluarga. Apabila terjadi perkawinan tersebut akan dikucilkan atau dikutuk oleh pemuka adat dan masyarakat Batak Toba. Mempererat kekeluargaan b. biasanya dalam bentuk uang atau barang yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak kedua orang tua pengantin sebelum perkawinan dilangsungkan. Mei 2006. Sistem perkawinan dalam masyarakat Batak Toba adalah perkawinan “eksogami”. Jadi apabila orang Batak Toba bertemu. pembayaran uang jujur dari pihak laki-laki kepada pihak keluarga wanita untuk memasukkan perempuan ke dalam keluarga laki-laki. Perkawinan jujur adalah suatu perkawinan yang pihak laki-laki menyerahkan jujur kepada pihak keluarga wanita yaitu berupa uang yang diserahkan sebelum mempelai wanita dibawa ke lingkungan keluarga laki-laki. Karena itu pihak keluarga laki-laki harus menyerahkan sinamot kepada pihak keluarga wanita. mereka akan mengikuti proses penelusuran silsilah untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara mereka. Dahulu kala pada masyarakat Batak Toba dianjurkan kawin dengan pariban atau “boruni tulang” (anak gadis paman). urusan derajat dan urusan pribadi satu sama lain dalam hubungannya yang sangat berbeda-beda. maka yang pertama sekali ditanya adalah apa nama marganya dan bukan nama pribadinya atau tempat asalnya. Ter Haar (dalam Koentjaraningrat. Nama panggilan seseorang adalah nama marganya dan bukan nama pribadinya. Sistem dan Bentuk Perkaw inan Masyarakat Batak Toba Dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian orang yang saling berkenalan dapat mengetahui apakah ia mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lainnya. sehingga dapat ditentukan kedudukan dalam hubungan tersebut. karena selain panggilan alamiah. Permasalahan Berdasarkan hal-hal di atas. 1990) berpendapat bahwa uang jujur adalah pembayaran dengan mata uang atau dengan barang sebagai syarat magis untuk melepaskan dan mengalihkan (bersama anaknya) dengan tidak mengganggu keseimbangan sosial. Adapun tujuan perkawinan dengan boruni tulang (marpriban) menurut masyarakat suku Batak Toba adalah: a.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Ini menumbuhkan persaudaraan di kalangan masyarakat Batak Toba.

Suatu perkawinan yang bercerai dan perkawinan itu akibat kesalahan wanita. 5) Menentukan kedudukan harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung. laki-laki ataupun wanita yang telah menjadi suami istri itu. 2. 4) Menentukan kedudukan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu.Revida.. Harta dalam Perkawinan Masyarakat Suku Batak Toba Untuk dapat membina dan membangun satu rumah tangga yang bahagia. Apabila istri itu mau kawin lagi bukan dengan anggota keluarga suaminya. Dengan demikian. pinahan (ternak). artinya sebagai akibat perkawinan. sebelum kawin telah mempunyai harta sendiri yang kemudian setelah kawin dibawa ke dalam rumah tangga. sedangkan keluarga laki-laki tidak dapat menuntut kembali sinamot. Harta yang diperoleh bersama selama perkawinan diperoleh setelah “manjae” terdiri dari: a) harta hasil jerih payah suami istri berdua. Sawah itu adalah untuk indahan arian (nasi siang) bagi cucunya. yaitu hewan piaraan atau emas yang diberikann oleh seorang ayah kepada seorang anak perempuannya yang sudah mempunyai anak atau untuk cucunya. bentuk harta kekayaan keluarga baru yang terpisah dari harta kekayaan orang tuanya adalah pada saat “manjae” artinya keluarga baru itu mempunyai tempat tinggal sendiri lepas dari rumah orang tuanya. maka harta pauseang dari seorang wanita yang meninggal dunia akan menjadi milik suaminya. perkawinan suku Batak Toba haruslah diresmikan menurut adat Dalihan Na Tolu. 2) Don-don Tua. selain itu setiap pihak juga menentukan pemberian dari orang tua mereka. suami dan istri itu harus mempunyai modal berupa harta perkawinan yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Apabila laki-laki yang meninggal maka pauseang akan tetap milik wanita. Seorang wanita Batak Toba setelah kawin mungkin menerima harta dari ayahnya sendiri. yaitu pihak 215 Koleksi BPAD Prov SU . b) harta yang diperoleh dari keluarga masing-masing. pemberian orang tuanya disebut “pauseang”. Perkawinan adalah upacara adat yang terpenting bagi suku Batak Toba. Harta kekayaan pada masyarakat suku Batak toba terdiri dari: hauma (sawah). Sistem Kekerabatan Masyarakat. Dengan demikian harta mereka telah terpisah dari harta orang tua lakilaki. karena hanya orang yang sudah kawin yang berhak mengadakan upacara adat. Harta itu tetap milik anaknya. Apabila suatu perkawinan berakhir karena kematian salah satu pihak dan mereka mempunyai anak. yaitu sebidang tanah yang diberikan oleh seorang ayah kepada anak perempuannya yang sudah kawin dan mempunyai anak. Perkawinan menurut adat Batak Toba adalah merupakan semacam jembatan yang mempertemukan “Dalihan Na Tolu” dari orang tua penganten laki-laki dengan Dalihan Na Tolu dari penganten perempuan. Pemberian ini adalah pemberian terakhir dan baru dapat diterima oleh si perempuan itu apabila orang tuanya sudah meninggal. atau demikian sebaliknya. Dilihat dari sumbernya maka harta keluarga dalam masyarakat Batak Toba itu adalah: 1) Harta yang diperoleh laki-laki dari orang tuanya sendiri sebagai modal pertama yang diberikan pada saat ia berpisah rumah dengan orang tuanya. perhiasan emas dan sawah. dan hepeng (uang). maka pauseang istri tidak dapat dibawa olehnya. selama perkawinan berjalan. maka Dalihan Na Tolu dari penganten laki-laki berkerabat dengan Dalihan Na Tolu penganten perempuan. Biasanya wanita yang mau kawin membawa barang rumah tangga. yaitu sawah yang diberikan oleh seorang ayah kepada cucunya yang paling besar dari seorang anak perempuannya. yaitu sawah yang diberikan orang tua kepada anak perempuannya. 2) Harta yang dibawa wanita. maka harta peninggalan istri menjadi milik anaknya dan harta peninggalan suami menjadi milik istri bersama anakanaknya. omas (emas).. Pengadaan harta kekayaan/rumah tangga yang baru. 3) Batu Ni Assimun. maka terjadi penggeseran harta kekayaan. upacara agama dan catatan sipil hanyalah sebagai pelengkap. dapat bersumber dari kedua belah pihak. jabu (rumah). Apabila dari perkawinan tersebut memperoleh anak. harta tersebut disebut: 1) Indahan Arian. 4) Punsu Tali. Dalam masyarakat suku Batak Toba.

3 H dalam masyarakat Batak Toba adalah singkatan dari Hamoraon (kekayaan). Anak perempuan tidak berhak mendapat warisan. bentuk ekornya bercabang dua. pauseang harus kembali kepada pihak wanita. 3. Kekayaan memperhatikan akan harga diri dan atas keberadaan anak dalam keluarga. Menurut pandangan masyarakat Batak Toba. bentuk kekayaan dalam harga diri. Sistem Pew arisan Ideal dalam Masyarakat Batak Toba Warisan adalah hal peralihan dan penerus harta benda dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. harga diri dan anak. Van Dijk (1960) mengatakan bahwa pada sistem patrilineal. tuah sehingga mendapat hasil pertanian. berasal dari bahasa Sansekerta “brihan pati” yang menunjukkan sifat kedewaan. hanya anak laki-laki yang menjadi ahli waris.1. Susunan kekeluargaan memegang peranan penting dalam hal siapa yang berhak menjadi ahli waris. walaupun Koleksi BPAD Prov SU . Halaman 213-218 keluarga wanita harus mengembalikan sinamot dan tidak dapat pauseang (harta bawaan istri dari ayahnya). Selain itu. konsep 3 H telah melekat pada pola pemikiran dan setiap tingkah laku masyarakat Batak Toba. Sebaliknya jika laki-laki atau suami yang salah. Harta kekayaan dari seorang yang tidak mempunyai anak laki-laki akan jatuh ke tangan bapaknya dan apabila sudah meninggal maka jatuh ke tangan saudara laki-laki bapaknya. oleh karena anak perempuan keluar dari golongan famili patrilinealnya semula sesudah kawin. Walaupun seorang anak perempuan bukan ahli waris. karena anak laki-lakilah yang meneruskan keturunan. Tanpa anak akan merasa tidak kaya. Anak laki-laki mendapat warisan dari bapaknya maupun ibunya dan pada asasnya berhak atas semua harta benda. perempuan tersebut akan masuk pada golongan famili suaminya. Hasangapon (3 H) Konsep tentang 3 H dalam masyarakat Batak Toba begitu mengkristal di dalam kehidupannya. Volume 5. 216 4. Konsep 3 H ini sekaligus merupakan tujuan hidup dari setiap masyarakat Batak Toba.2 Konsep Hamoraon. Ketentuan ahli waris hukum adat adalah berdasarkan sistem kekeluargaan. Nomor 2. Bekerja di lahan pertanian tidak terlepas dari perlindungan Boras Pati ni Tano ini. Mereka dapat bercocok tanam di ladang. 4. dalam mana susunan kekeluargaan sangat erat hubungannya dengan sistem perwarisan. walaupun telah mempunyai harta banyak namun belum kaya apabila tidak mempunyai anak. penuh dengan semangat mengusahakan lahan adalah karena bantuan Boras Pati ni Tano yang memberikan berkat. maka dianggap tidak berketurunan dan kurang berarti dalam hidupnya. kekayaan dalam harta dan kekayaan dalam anak. apabila tidak mempunyai keturunan anak laki-laki.2. maka laki-laki tidak dapat menuntut sinamot kembali. Boras Pati ni Tano melambangkan suatu kekuatan pelindung manusia dari marabahaya dan memberikan harta kekayaan kepada manusia atau melambangkan kemakmuran dan kesuburan tanah. yang sejak kawin telah melepaskan diri dari keluarga orang tuanya dan masuk menjadi keluarga anggota suaminya. Ini merupakan wujud dari kebudayaan sebagai ide dan gagasan yang terus-menerus mewarisi dan mendarah daging bagi masyarakat Batak Toba. Bahwa hanya anak laki-laki saja yang berhak mewarisi harta peninggalan orang tuanya. namun menurut adat Batak Toba ada pemberian tertentu kepada anak perempuan sebelum atau pada saat perkawinan atau sesudah kawin dan mempunyai anak. Pemberian seperti ini harus disertai upacara adat tertentu yang dihadiri oleh pihak keluarga. badannya berloreng-loreng dengan warna gelap kemerah-merahan. Masyarakat Batak Toba yang berdasarkan pada hubungan genealogik yang patrilineal. Anak perempuan bukan ahli waris dari orang tuanya. 4. kebahagian (Hagabeon) dan kehormatan (Hasangapon). Bekerja sebagai petani ladang dan sawah mempunyai tujuan yang luhur dalam hidupnya untuk memperoleh kekayaan (Hamoraon).1 Lambang Boras Pati ni Tano (Dewa Tanah) Boras Pati ni Tano adalah dewa tanah yang wujudnya berupa kadal. Mei 2006. Hamoraon (Kekayaan) Kekayaan (Hamoraon) adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Hagabeon (kebahagiaan) dan Hasangapon (Kehormatan). Hagabeon. Kekayaan (Hamoraon) selalu identik dengan harta kekayaan. Etos Kerja Masyarakat Batak Toba 4.

Karena itu. yang berkaitan dengan harga diri. 217 Koleksi BPAD Prov SU . Hasangapon (Kehormatan) Hasangapon atau kehormatan adalah suatu kedudukan seseorang yang dimiliki di dalam lingkungan masyarakat. dengan status tertentu harus berperilaku sesuai dengan statusnya. Setiap pelaksanaan pesta adat yang dilakukan selalu memperhitungkan akan kesempurnaan material untuk melakukan pesta adat. Perkawinan dari luar klen atau perkawinan yang melarang kawin dengan satu marganya sendiri.3. karena keturunan itu adalah suatu kebahagian yang tidak ternilai bagi orang tua.. Setelah panen selesai warga masyarakat suku Batak Toba melakukan berbagai kegiatan adat istiadat. Kesimpulan Sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba pada dasarnya menganut sistem kekerabatan “patrilineal”. Harkat dalam kehidupan sosial dalam masyarakat selalu diukur materi atau kekayaan. Hal ini juga diungkap dalam syair lagu: “hugogoh pe mansari arian nang bodari laho pasingkolahkon gelengki” (kuatpun saya bekerja siang dan malam adalah untuk keperluan sekolah anakku). seperti guru.2. kepala desa. omas (emas). mereka merupakan kebanggaan orang tua dan sekaligus anak adalah harta yang dibangga-banggakan orang tua. Hal ini diungkapkan dalam untaian lagu yaitu “Anakkonhi do Hamoraon di Ahu” (anakku adalah harta yang paling berharga bagiku). Manusia hidup untuk memperoleh Kekayaan (Hamoraon). dan hepeng (uang)”. Harta dalam masyarakat Batak Toba yang telah kawin terpisah dari orang tuanya. Keluarga yang tidak mempunyai keturunan anak laki-laki menganggap hidup ini tidak mempunyai kebahagian hidup. Orang Batak Toba bekerja siang dan malam hari adalah demi untuk kepentingan dan keperluan anak-anaknya. sebab anak perempuan juga didambakan oleh keluarga Batak Toba. Sebagai tujuan hidup. yang biasanya status perolehannya melalui proses belajar.2. sebagi panutan masyarakat dianggap suatu kehormatan bagi dirinya.. Hagabeon (Kebahagiaan) Hagabeon sama artinya dengan kebahagiaan atau kesejahteraan. konsep 3 H merupakan kepemilikan adat dalam kehidupan masyarakat yang harus menjadi milik setiap individu. yang sesuai dengan peran garis keturunan laki-laki pada sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba. orang kaya. tubuan anak ma hamu jala tubuan boru” (bagaikan kulit kayu yang melekat pada batangnya dan bagaimana manik-manik yang dikalungkan di leher. 4. yang menilai apakah seseorang itu dianggap baik dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan peran masyarakat menurut keinginan masyarakat. karena itu segala pikiran. kerabat dan keluarga. tenaga serta harga diri senantiasa dikorbankan demi anak-anaknya. Demikianlah pengantin diharapkan dapat melahirkan anak laki-laki yang melekat dalam adat dan melahirkan anak perempuan yang mempunyai sifat keibuan. Kebahagian (Hagabeon) dan Kehormatan (Hasangapon). Kelahiran anak lakilaki dan anak perempuan dalam suatu keluarga senantiasa merupakan kebahagiaan (Hagabeon) yang tumbuh dalam keluarga tersebut. Sistem Kekerabatan Masyarakat. yaitu menarik garis keturunan melalui garis dari marga ayah. 4. maka setiap masyarakat Batak Toba dalam kehidupannya harus mencerminkan ketiga konsep ini.Revida. Pada setiap pemberkatan perkawinan orang Batak Toba seringkali terdengar syair bahwa “Lak-lak ma tutu singkoru. Hal ini disebabkan tidak adanya tempat berlindung dan bertaut bagi anak perempuan. banyak harta. Sistem perkawinan dalam masyarakat batak Toba adalah perkawinan “eksogami”. Kebahagian dalam hal ini adalah kebahagian dalam keturunan. dalam arti keturunan yang memberi harapan hidup. Kedudukan sosial dapat dikatakan sebagai suatu kehormatan (hasangapon).. jabu (rumah). Harapan keluarga adalah kelahiran anak laki-laki. Orang yang dianggap terhormat itu adalah orang yang memiliki status tertentu.2. Anak perempuan yang tidak mempunyai saudara lakilaki dianggap hambar dan kurang mendapat kehormatan di mata pemuda Batak Toba. Sebenarnya pada semua lapisan masyarakat memiliki konsep Hasangapon. pengurus gereja atau tokoh-tokoh adat yang dapat dijadikan tauladan. Dalam masyarakat suku Batak Toba. Keluarga yang mempunyai anak berhasil dalam sekolah dan pekerjaan adalah merupakan keberhasilan orang tua yang telah bersusah payah membesar kannya. Harta dalam masyarakat Batak Toba terdiri dari “hauma (sawah). pinahan (ternak).

Jakarta. Penerbit Jambatan. Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran. Penerbit Rajawali. Addison Wilsley. Kebudayaan Mentalitas Dan Pembangunan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. 1996. Halaman 213-218 Pengadaan harta untuk rumah tangga yang baru dapat bersumber dari kedua belah pihak.London. Judistira. 1977. Jakarta. Bandung. Mei 2006. Fajar Agung. Dalam Urban Ethnicity. Pernanan Elite Penentu Dalam Masyarakat Modern. 1990. ____ . Sugihan. Jones. Suzanne. The Expression Of Tethnicity In Indonesia. Jakarta. 2000. Abner Cohen (Ed). maka yang menjadi ahli waris adalah bapaknya sendiri. Lambang Boras Pati ni Tano adalah dianggap sebagai dewa pelindung dan pemberi berkat. ____ . Taviscook. Sistem pewarisan dalam masyarakat Batak Toba ditentukan oleh susunan kekeluargaan. Koentjaraningrat. Penerbit PT RajaGrafindo Persada. Penguasa Dan Kelompok Elite. TM. Usman. Sihombing. Pengantar Ilmu Antropologi. Barhein T. 1990. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Massachussets. Konflik Dan Persesuaian Antar Etnik. Manusia dan kebudayaan Di Indonesia. Etos kerja dalam masyarakat Batak Toba terdiri dari dua hal yaitu Lambang Boras Pati ni Tano dan konsep 3 H yaitu Hamoraon. Penerbit Yayasan BinaBudaya Nusantara TaoToba NusaBudaya. Jakarta. Pelly. Jakarta. 218 Koleksi BPAD Prov SU . Edward H. 1996. Pembauran Dan Batas Interaksi Antar Etnik. Keller. Daftar Pustaka Bruner. Hagabeon dan Hasangapon. Budaya Batak. 1972. Gens. James. 1984. Konsep 3 H merupakan tujuan hidup masyarakat Batak Toba dan selalu melekat dan mendarah daging dalam pola pemikiran masyarakat Batak Toba. Jakarta. Volume 5. Nomor 2. Prejudice And Racism.M. Garna. Filsafat Batak.1985. Malau. Sosiologi Pedesaan. Pemerbit Balai Pustaka. 1989. Apabila tidak mempunyai anak laki-laki. 1990. dan kalau bapaknya sudah meninggal yang menjadi ahli waris adalah saudara kandung laki-laki dari bapaknya. Jakarta.

especially their future make us aware that child worker is a big problem in the future. Pada wacana peringatan 1 tahun undangundang perlindungan anak. konvensi hak-hak anak dengan Kepres Nomor 38 Tahun 1990. seorang pendidik yang menaruh perhatian terhadap masalah dan perkembangan anak juga menyebutkan bahwa “anak bukan miniatur orang dewasa”. Seorang anak haruslah dipandang sebagai makhluk yang harus dilindungi. bukan sebaliknya memandang anak sebagai suatu komoditas yang siap dieksploitasi. They justificated that poverty is a reason to carry their children to economic activity and get family’s income. Sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kepentingan anak. but the national problem. Kemudian Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang mengatur tantang hak-hak anak. 25 September 2003). such in rural and especially in urban area.PEKERJA ANAK DAN KONTRIBUSINYA DALAM EKONOMI RUMAH TANGGA Tuti Atika Abstract The child worker is the common phenomenon in Indonesia. The child worker is a human resources for a poor family. To understand about the children’s need. 1986: 2). maka kegiatan anak sebagian besar berbentuk aktivitas bermain. So the government must make the program how to up grade the poor people’s economy to make the children go to school and learning to prep ear their selves. Karena itu seharusnya semua elemen maupun keadaan harus berpihak pada kepentingan anak. child worker. konvensi ILO nomor 182 tentang bentuk terburuk pekerja anak dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000. bukan dunia kerja mencari uang” (Kompas. Jika pada orang dewasa sebagian besar dari perbuatannya diarahkan pada pencapaian tujuan dan prestasi dalam bentuk kegiatan kerja. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. seperti yang tercantum dalam UU No. Dengan demikian seharusnya waktu yang dimiliki anak-anak hanya dipergunakan dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. But the fact shows that the child worker problem is not only the poor family’s problem. because there are many children who have not prepared to get the good future as a long run need. Namun Tuti Atika adalah Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Koleksi BPAD Prov SU 219 . dikembangkan dan dijamin kelangsungan hidupnya. UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang telah disahkan pada 22 oktober 2002 yang lalu ditambah dengan Permenaker dan surat edaran yang melarang keterlibatan anak dalam sektor berbahaya. social problem Pendahuluan Sebagai manusia. Bahkan seorang anak juga memiliki hak yang tidak dimiliki orang dewasa. yang berbeda dengan dunia orang dewasa (Elizabeth dalam Kartono. Indonesia sendiri telah memiliki ratifikasi ILO nomor 138 tentang batas usia minimum anak bekerja dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999. Keywords: poverty. 23 september dinyatakan “perlu selalu diingat bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Pengertiannya yaitu anak mempunyai dunia masa anak-anaknya sendiri. Generally the child worker phenomenon is a authentication that poverty still a big problem in Indonesia. Selanjutnya John Amos Comenius. sesungguhnya anak memiliki hak hidup yang sama dengan manusia lainnya.

Sektor nonformal terdiri atas berusaha sendiri misalnya menjadi penjual makanan. menjual atau mengedarkan narkotika dan obat-obat terlarang atau memproduksi serta mengedarkan gambar porno. Tahun 1995 No. bahkan mereka harus putus sekolah/ meninggalkan bangku sekolah.IPEC memperkirakan bahwa di tahun 2003 jumlah pekerja anak di Indonesia yang berusia 15 tahun mencapai 6-8 juta jiwa anak. Seperti menempatkan anak-anak pada risiko tindakan kekerasan fisik. terisolasi atau bekerja malam hari. Semua pekerjaan yang bertentangan dengan hak-hak dasar anak.1: 5 ) Dari temuan studi Semeru yang dirancang untuk mengetahui pilihan antara bersekolah dan bekerja dengan menggunakan data survei 100 desa tahun 1998 dan 1999 diperoleh kesimpulan bahwa pekerja anak yang tidak bersekolah berasal dari rumah tangga yang rata-rata pengeluaran riil rumah tangga per kapitanya terendah dibandingkan dengan pekerja anak yang bersekolah. penjual koran. jermal. tukang parkir atau jenis pekerjaan lain. Semua pekerjaan berbahaya atau mengancam keselamatannya. Bila dilihat menurut status pekerjaan. 3. hingga mencapai lebih 10 juta akibat krisis ekonomi yang mengharuskan anak bekerja. ILO . walaupun usia. Seperti bagi anak-anak yang telah bekerja yang merupakan realitas dari masa kanak-kanak yang sama sekali berbeda. dapat tergambar bahwa begitu banyak anak-anak dalam usia yang relatif masih muda sudah bekerja dan tentunya hal ini akan membuat anak tidak dapat menikmati sepenuhnya masa anakanaknya dengan baik. pelecehan seksual. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satupun yang tidak membahayakan. Panji Putranto. jam kerja yang panjang dan bekerja dalam kondisi suhu yang diluar batas normal.net). Hal ini menunjukkan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang termiskin di antara anak-anak yang miskin dan kemiskinan yang semakin parah adalah alasan utama anakanak terpaksa bekerja. 4. Dengan melihat kondisi di atas. anak-anak lebih banyak bekerja di sektor nonformal dibandingkan sektor formal. Volume 5. kekuatan serta fisik dan mentalnya sebenarnya belum layak untuk memasuki dunia kerja. semua sektor pekerjaan yang melibatkan anak-anak itu memiliki risiko bahaya yang sama (www. Menurut ILO IPEC (2002:4). Seperti pekerja anak yang menjadi jaminan utang. Ahmad Sofyan dari pusat kajian dan pemberdayaan anak menyatakan jumlah pekerja anak di Indonesia yang meningkat hingga 8 juta orang. Mei 2006. penyemir sepatu. diperkirakan jumlah tersebut lebih banyak lagi. Meningkatnya jumlah pekerja anak bukanlah pembengkakan. Mereka dipekerjakan di perkebunan. pembantu rumah tangga atau menjadi anak jalanan. 2. alat-alat dan mesin yang berbahaya atau mengangkat beban yang berat dan melakukan tugastugas yang sulit.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. Masa kanak-kanak mereka seharusnya dinikmati dalam suasana yang menyenangkan seperti bermain atau bersekolah. menyediakan atau memanfaatkan anak-anak untuk pelacuran. jenis-jenis pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan oleh anak: 1. Disebabkan berbagai faktor telah dipergunakan dalam kegiatan bekerja mencari nafkah. Volume 5. menguras tenaga. Misalnya pekerjaan yang 220 menggunakan bahan-bahan kimia. Semua pekerjaan yang merusak tumbuh kembangnya atau merampas kehidupan masa kanak-kanaknya. lepas pantai. Nomor 2.gloria. melainkan karena faktor kondisi ekonomi yang turun (Waspada. Koleksi BPAD Prov SU . 11 Juni 2003). Semua pekerjaan itu seharusnya tidak dikerjakan oleh anak-anak. Sayangnya hingga kini masih banyak anak yang terpaksa menghadapi bahaya itu. Dan yang jelas keberadaan pekerja anak tersebut sesungguhnya menggambarkan buruknya kesejahteraan masyarakat Indonesia (Majalah Kalingga. pabrik. merusak fisiknya dan memanfaatkan usia mereka yang muda. Halaman 219-231 kenyataannya hampir selalu terdapat jurang yang lebar antara undang-undang ataupun peraturan tersebut dengan kanyataan yang ada. Semua pekerjaan yang menghalangi mereka untuk sekolah dan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk tumbuh kembang demi masa depan mereka. Menurut koordinator program nasional ILO untuk Indonesia. lebih jauh untuk masa-masa berikutnya Indonesia berpotensi kehilangan generasi (lost generation) disebabkan mereka tidak punya harapan bagi masa depan yang lebih baik. Angka itupun masih berupa estimasi yang angka riil nya bisa jadi jauh lebih besar. anak-anak bekerja di bawah kondisi praktik kerja sejenis perbudakan.

Dan satu hal yang menarik lagi bila liburan tiba. Ratarata dari mereka berdomisili di sekitar lingkungan stasiun kereta api. bahkan mereka berlari. maka pekerja anak semakin banyak. Hal yang menarik dan membedakan mereka dengan penumpang kereta api. Melihat dari situasi pekerjaan.. Pada umumnya negara berkembang seperti Indonesia mempunyai kemampuan ekonomi yang terbatas dalam menghadapi masalah penduduknya. Sebagai stasiun kereta api terbesar kedua. misalnya di kawasan Terminal Bandar Kajum. mereka mengisi waktu liburan dengan berjualan. Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi termasuk salah satu yang terbesar setelah Stasiun Kereta Api Medan. Pajak Mini dan stasiun kereta api. Ditinjau dari sisi usia. Ini merupakan hal yang menarik untuk diteliti mengapa mereka bekerja. Di Stasiun Tebing Tinggi inilah para pekerja anak melakukan aktivitas. Bila kondisi mereka kurang fit atau kurang hati-hati. usia mereka bervariasi antara 6-18 tahun dan kebanyakan dari mereka sudah tidak bersekolah lagi. Meskipun jumlah pekerja anak tidak diketahui secara pasti.000 sampai Rp 15. Pematang Siantar. Dilihat dari sisi jam kerja. sebenarnya pekerjaan yang mereka lakoni termasuk kategori yang berbahaya. biasanya mereka berjalan lebih sigap.id). maka kecelakaan akan menimpa mereka. Hal ini tentunya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2000 yang memberikan pengecualian anak yang terpaksa bekerja membantu orang tua maksimal 3 jam sehari. Hal ini terlihat di beberapa tempat keramaian. beberapa di antara mereka beraktivitas sekitar 12 jam.go. Namun yang menjadi informan adalah pekerja anak yang tetap (yang keberadaannya tidak dipengaruhi musim liburan). penelitian ini menarik karena 221 Koleksi BPAD Prov SU .. Dengan demikian ada semacam benang merah terhadap munculnya anggapan bahwa anak adalah tenaga kerja alias sebagai pemasok pendapatan bagi keluarga. berinteraksi dengan penumpang dan masyarakat yang berbaur di stasiun untuk menjajakan makanan. Tidak dapat dihindari bahwa para pekerja anak itu mempunyai kaitan yang erat dengan keluarganya masing-masing.Atika. tidak luput dari persoalan pekerja anak. sawit dan lain sebagainya. Banyak anak-anak yang menawarkan jasa atau menawarkan dagangannya dengan harapan mendapatkan uang. Jumlah ini mereka peroleh dengan bekerja dari pagi sampai sore. Gejala ini menunjukkan peluang pasar yang membuka kesempatan bagi penduduk termasuk anak-anak di sekitar stasiun untuk memperoleh penghasilan dari profesi penjaja makanan. Anggapan seperti ini juga dapat dijumpai dari fenomena pekerja anak di kota-kota besar di Indonesia. Dalam kasus demikian anak akan ikut bekerja untuk menunjang ekonomi keluarga.000 per hari. Menurut pra survei yang dilakukan penulis bahwa penjaja makanan ini memperoleh pendapatan rata-rata Rp 5. Di dalam bekerja mereka juga mempunyai motivasi dan yang pasti keberadaan pekerja anak dilatarbelakangi oleh beberapa hal tertentu yang menyebabkan mereka harus beraktivitas sedemikian rupa yang terkadang bisa membahayakan keselamatan mereka. Bahkan yang menarik untuk diperhatikan dari fenomena pekerja anak adalah isu bahwa anak yang bekerja adalah wujud partisipasinya terhadap ekonomi orang tuanya (www. bagaimana kehidupan sosial ekonomi orang tua mereka sehari-hari menjalankan dunia kerjanya dengan berbagai masalah yang terkait di dalamnya. karet. bahkan ada juga yang sampai malam hari. Pekerja Anak dan Kontribusinya. Tentu saja selama selang waktu perjalanan pun pekerja dan penumpang di Stasiun Tebing Tinggi membutuhkan makanan kecil. Di samping itu. melompat dari satu gerbong ke gerbong lain. Kereta api dapat dibedakan atas dua jenis yaitu kereta api barang yang mengangkut hasil hutan dan produk perkebunan yang antara lain berupa kayu. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah menjajakan makanan di stasiun kereta api. Beban ekonomi tidak hanya cukup dipikul oleh orang tua. Kemudian ada juga kereta api penumpang yang setiap harinya melayani masyarakat untuk bepergian.depdiknas. Hal ini sejalan dengan asumsi yang menyatakan bahwa anak-anak yang bekerja mencari nafkah mempunyai kaitan erat dengan keadaan sosial ekonomi rumah tangga suatu masyarakat. naik. Kota Tebing Tinggi seperti halnya dengan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia. Kisaran dan Rantau Prapat. Stasiun Tebing Tinggi merupakan tempat berhenti (530 menit) bagi kereta api jurusan Medan.

kecerdasan dan tanggung jawab. 1996).Bekerja di tempat dan kondisi berbahaya. “bekerja” (work) dan. batasan usia seorang anak adalah 18 tahun. Pekerja Anak Masalah pekerja anak makin ramai dibicarakan dan menjadi program aksi pemerintah dan badan-badan nonpemerintah. . Keadaan demikian menjadi salah satu alasan mengapa begitu sulit membuat definisi pekerja anak.Bekerja karena ijon dan perbudakan. berat badan. Kemudian menurut keputusan menteri dalam negeri dan otonomi daerah tentang penanggulangan pekerja anak pasal 1 dinyatakan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang melakukan semua jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan dan menghambat proses belajar serta tumbuh kembang. . Konteks anak dan pekerja anak batasannya masih bervariasi menurut rujukan tiap regulasi yang berlaku. Sulit menentukan sejak kapan batasan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa.Bekerja yang berhubungan dengan kekerasan dan kerja paksa. lebih dahulu berangkat dari definisi pekerja anak atau konsep pekerja anak itu. dengan menerima imbalan maupun tidak (penelitian T. T. . Sektor Koleksi BPAD Prov SU . Membicarakan masalah pekerja anak. 4 Tahun 1979) memberikan definisi anak sebagai orang yang belum berusia 21 tahun dan belum pernah kawin. “pekerja” (ILO. Menurutnya pekerja anak adalah anak-anak yang melakukan pekerjaan secara rutin untuk orang tuanya atau untuk orang lain yang membutuhkan sejumlah besar waktu. Sementara ada yang menyatakan pekerja anak hanya anak yang melakukan aktivitas ekonomi dalam curahan waktu yang panjang (Grotaert dan Kanburt dalam Muhammad Joni. karena banyak anak-anak yang telah terintegrasi dengan kehidupan sosial ekonomi dan tradisi dari masa kanak-kanak (childhood) kepada masa dewasa (adulthood) berlangsung secara bertahap. mengikuti batasan yang diberikan hukum nasional mengenai usia pekerja anak sangat variatif. Secara juridis formal. pekerja anak adalah anak-anak yang bekerja kurang lebih seperti pekerja pada umumnya yang bertujuan untuk membiayai kehidupan ekonomi untuk dirinya dan keluarganya. undang-undang kesejahteraan anak (UU No. 1996). Dalam konvensi hak anak yang telah diratifikasi dengan Kepres Nomor 36 Tahun 1990. banyak dan mendapatkan upah. tidak mempunyai waktu yang luang dapat dihitung sebagai pekerja anak.Bekerja terlalu berat. Sebab konsep pekerja anak meliputi batasan yang sulit mengenai: “anak” (child).Bekerja terlalu muda. masalah yang muncul dari pendefinisian pekerja anak itu. Pengertian yang ekstrim menyebutkan bahwa semua anak pada usia tertentu yang tidak bersekolah. . Bila merujuk pada Undang-Undang No. Jandraningsih memberi definisi anak tanpa menyebut batas usia. Halaman 219-231 dari beberapa sumber bacaan yang penulis baca. belum ada peneliti yang melakukan penelitian terhadap pekerja anak di Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi. dengan mencurahkan waktu yang besar. . karena pada umumnya diskursus mengenai pekerja anak dipahami oleh banyak orang sebagai anak-anak yang bekerja dalam keadaan buruk. Volume 5. . tetapi adanya aktivitas ekonomi yang dilakukan anak-anak. sebagai contoh: . Mei 2006. menghambat tumbuh kembangnya dan kehilangan kesempatannya untuk memperoleh pendidikan dasar. tulang dan pancaindra tumbuh sesuai dengan usia dan kembang dalam arti bertambahnya dalam kematangan fungsi tubuh yaitu pendengaran. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan di sebutkan bahwa pekerja anak adalah anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun. Yang dimaksud tumbuh kembang anak adalah tumbuh dalam arti bertambahnya ukuran dan masa yaitu tinggi. penglihatan. sehingga menentukan berapa jumlah pekerja anak itupun sulit dan variatif. anak-anak lebih banyak bekerja di sektor nonformal dibandingkan sektor formal. Sementara itu.Bekerja dengan jam kerja yang panjang.Bekerja yang melibatkan terlalu banyak tanggung jawab. Nomor 2. Definisi pekerja anak tidak sederhana dan bisa memperlihatkannya dengan terang begitu saja. Jandraningsih 1995). . berbagai negara di dunia. 222 Menurut karakteristik pekerjaan yang dilakukannya. Kemudian ILO berpendapat bahwa pekerja anak adalah anak-anak di bawah usia kerja yang melakukan pekerjaan yang membahayakan kesehatannya. Joni.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. dalam M.Bekerja yang berhubungan dengan eksploitasi seks. Bila dilihat menurut status pekerjaan.

1991: 20). Tanjung Balai.00 WIB. seperti anak yang bekerja di pabrik. biasanya pendapatan mereka sangat tergantung dari seberapa giat mereka melakukan pekerjaan tersebut. Sebagian mengakhirinya pada pukul 16. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum pekerja anak dapat didefinisikan sebagai anak yang bekerja. Pekerjaaan reproduksi yaitu kegiatan kerja yang tidak mempunyai implikasi langsung terhadap penghasilan. kepala perwakilan UNICEF untuk Indonesia dan Malaysia menyatakan bahwa isu sentral pekerja anak di Indonesia. maka pekerjaan penjaja makanan termasuk dalam kerja usaha sendiri dengan penghasilan sendiri.Atika. Stephen J. ternyata mereka bekerja dengan tidak mengenal waktu.. yaitu mereka mulai beraktivitas sekitar pukul 09. dan Rantau Prapat. terlepas apakah mereka itu bekerja dengan atau tanpa majikan. industri rumah tangga maupun sektor bangunan. Sehubungan dengan hal yang di atas. penyemir sepatu. Pekerjaan produksi yang dilakukan anak-anak bertujuan untuk menambah penghasilan keluarga atau rumah tangga (Tjandraningsih. Kerja “reproduksi” versus kerja “produksi”. Kemudian Grootear dan Kanbur (dalam Konvensi Vol III. Dalam kasus kerja bagi pihak lain untuk siapa anak bekerja (orang tua. Artinya pekerja anak ada yang bekerja berdasarkan sistem majikan. yaitu: 1. Dilihat dari jam kerjanya. Pada umumnya anak-anak penjaja makanan ini adalah anak-anak yang berjenis kelamin laki- laki. Bahkan banyak dari mereka yang melanjutkannya sampai pukul 21. Dikatakan rentan. kerabat lainnya atau pihak lain). terkoordinasi dan cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenangwenang dari pihak yang tidak bertanggung jawab. September 1999) menyatakan secara empirik. Bila kita mengamati pekerjaan dan aktivitas pekerja anak sesungguhnya ada banyak masalah yang dihadapi pekerja anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari dua jenis pekerjaan di atas dapat dikategorikan bahwa aktivitas yang dilakukan pekerja anak termasuk pekerjaan produksi. Rodger dan Standing membuat kerangka tipologi anak-anak yang bekerja. Pekerjaan sebagai penjaja makanan lebih bersifat jasa. Wordhouse. Untuk pekerjaan anak yang bekerja di sektor informal. penjaja makanan di Stasiun Kereta Api Tebing Tinggi banyak yang digolongkan pada usia anak-anak. bahkan dapat dikatakan mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang. mereka tidak saja menjual makanan di sekitar stasiun kereta api tetapi terkadang mereka ikut kereta api ke jurusan lain misalnya ke Kisaran. tetapi memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan pekerjaan produksi. sedangkan disebut eksploitatif karena mereka biasanya memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) yang sangat lemah. 2. Berbicara mengenai pekerjaan anak.00 WIB. pekerjaan ini dapat tercipta karena kondisi dan situasi lingkungan pekerjaan yang mendesak dan memaksa dalam upaya memenuhi kebutuhan yang makin meningkat. 3. banyak bukti menunjukkan bahwa keterlibatan anak-anak dalam aktivitas 223 Koleksi BPAD Prov SU . 4. bukan terletak pada pekerjaannya. Untuk pekerja anak yang bekerja pada sektor seperti ini biasanya mereka telah mempunyai standar pendapatan sendiri. baik di sektor formal maupun informal dengan batasan usia 18 tahun ke bawah dan mendapatkan upah dari apa yang dikerjakannya. dengan membawa dagangannya. Dalam pembagian dimensi kerangka tipologi pekerjaan anak yang ditawarkan oleh Rodgers dan Standing. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Berdasarkan pengamatan peneliti. Kerja atas usaha sendiri versus kerja untuk pihak lain. nonformal terdiri atas berusaha sendiri misalnya penjual makanan. Tjandraningsih membagi pekerjaan anak menjadi dua yaitu pekerjaan reproduksi dan produksi. karena risiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang.00 WIB. bila kereta api tersebut transit di stasiun kereta api Tebing Tinggi. benar-benar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan.. Pekerja Anak dan Kontribusinya. rentan dan eksploitatif. yang terbagi atas 4 dimensi dari hubungan kerja anak. tukang parkir atau jenis pekerjaan lain. penjual koran. Secara umum ciri yang menandai pekerja anak adalah marjinal. tetapi lebih pada pengaruh negatif yang tumbuh dan terpaksa dialami anak-anak akibat mereka terlalu dini bekerja (Konvensi edisi September 1997: 3). Kerja yang dibayar versus kerja yang tidak dibayar (Rodger dan Standing. Sedangkan pekerjaan produksi adalah pekerjaan yang berimplikasi kepada penghasilan dan memperoleh imbalan/upah. 1995: 8).

pemulung. Kenyataannya. Dan yang sering terjadi bahwa anak-anak yang bekerja tidak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan penting yang merupakan bagian dari masa pertumbuhan seperti pergi sekolah dan bermain. Mereka tidak mendapat pendidikan dasar yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan dan mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dan ikut berpartisipasi aktif di tengah masyarakat dan menikmati hidup secara wajar. Pekerja anak di daerah pedesaan lebih banyak melakukan pekerjaan di bidang pertanian. melompat dari satu gerbong ke gerbong lain. Sampai saat sekarang ini jumlah pekerja anak belum terdata secara pasti. Demikian juga halnya dengan anak yang bekerja menjual makanan di stasiun kereta api. Volume 5. emosi dan sosial. dan sebagainya. Umumnya ini terjadi pada masyarakat golongan bawah. Sedangkan pekerja anak di daerah perkotaan dapat ditemukan di perusahaan. bahkan terkadang mereka harus melompat dari kereta api ketika kereta api telah mulai melaju. pertambangan maupun kegiatan ekonomi di lingkungan ekonomi keluarga. dapat disimpulkan bahwa permasalahan pekerja anak sebenarnya hampir menyerupai gunung es. Pepatah tersebut menunjukkan bahwa anak masih dianggap modal yang besar untuk dapat membantu menjalankan perokonomian rumah tangga. Halaman 219-231 ekonomi. Adanya pepatah yang berkembang di sebagian masyarakat di Indonesia yang menyatakan “banyak anak banyak rezeki”. dampak pekerjaan terhadap anak adalah perkembangan fisik. budaya masyarakat lebih cenderung bersifat patrilineal dan kemiskinan struktural menciptakan suatu iklim yang permisif terhadap pekerja anak Indonesia. Sedangkan aktualisasi pada permukaan berupa tindakan-tindakan eksploitasi terhadap anak yang muncul hanya sedikit. 1990: 14). Mei 2006. terkadang berbahaya dan bahkan tidak mustahil dapat mengganggu perkembangan fisik. Kegiatan seperti itu terpaksa mereka tinggalkan. 1995: XIII). Hal tersebut dilakukan dengan cara mencurahkan tenaga si anak membantu pekerjaan orang tuanya (Koentjaraningrat. Dari kasus-kasus yang dialami pekerja anak. membantu di rumah atau membantu aktivitas orang tuanya di luar. Mereka sangat rawan dengan kecelakaan.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. karena harus bekerja dan sebagai akibatnya mereka terdorong masuk ke dunia orang dewasa sebelum waktunya dan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Pekerja anak tersebar baik di pedesaan maupun di perkotaan. Bekerja semacam itu dianggap sebagai pengenalan awal menuju dunia orang dewasa/dunia kerja dan merupakan bagian dari proses kehidupan dari masa anak-anak memasuki masa dewasa. mungkin mereka 224 Koleksi BPAD Prov SU . Anggapan tersebut nantinya berimbas pada tidak optimalnya pemberian perhatian orang tua terhadap anaknya. rumah tangga (sebagai pembantu rumah tangga atau sebagai pekerja industri rumahan atau industri keluarga) maupun di jalanan seperti penjual koran. posisi mereka sangat rentan sekali. Aktivitas tersebut sering didukung oleh orang-orang dewasa dalam keluarga. perkebunan. penyemir sepatu. Keadaan demikian tentu berbahaya bagi fisik. Menurut ILO-IPEC (2002:19). karena ternyata pekerjaan yang mereka lakukan itu justru menghambat tumbuh kembang mereka dan sama sekali tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. Anakanak belajar bertanggung jawab dan merasa bangga dapat mengerjakan tugas-tugas orang dewasa dalam mempertahankan hidup keluarganya. disebabkan jam kerja yang tidak menentu dan bahkan terlalu panjang tidak sesuai dengan usia mereka. karena dengan menjajakan makanan mereka harus sigap berlari. kompleksitas pada dasar permasalahan tidak tampak. baik di sektor formal maupun informal yang terlalu dini cenderung rawan eksploitasi. Saat ini Partisipasi Anak dalam Kegiatan Ekonomi Rumah Tangga Di seluruh dunia. psikologis dan sosial anak. pekerjaan yang mereka lakukan sering tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. psikologis dan sosial anak. banyak anak bekerja pada usia yang relatif masih muda yaitu pada usia enam atau tujuh tahun. penjual makanan. perikanan. karena mereka dihadapkan pada adanya tuntutan pemenuhan ekonomi agar tetap bertahan dalam menjalani kehidupan ini (Tjondronegoro dalam Haryadi. karena hal itu dianggap akan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Nomor 2.

baik secara langsung maupun tidak langsung.. pelabuhan. banyak para ilmuwan yang tertarik pada gejala anak-anak yang bekerja.15 tahun. menyatakan bahwa dengan mempekerjakan anak yang dianggap sebagai pencari nafkah kedua.3% dari anak yang secara ekonominya aktif yang dapat bersekolah sekalipun bekerja. Dan studi yang tergolong baru yang dilakukan pusat studi ketenagakerjaan Universitas Airlangga (1999) menemukan akibat tekanan kebutuhan hidup yang makin berat acapkali ditemui anak-anak di dalam usia di bawah 10 tahun atau bahkan baru berusia 6-7 tahun sudah terpaksa bekerja membantu orang tua dalam pekerjaan produktif yang menghasilkan uang. Kemudian survei yang dilaksanakan oleh BPS dan ILO/IPEC di Kabupaten Bandung dan Kotamadya Bandung menunjukkan bahwa hanya 22. Ia mengungkapkan bahwa dalam usaha mencapai nafkah setiap anggota keluarga yang terlibat umumnya adalah istri dan anak. Sedangkan teori yang berpijak pada sisi permintaan. Selanjutnya Tjandranigsih (1995: 67) menyatakan bahwa dari sisi pasar tenaga kerja upahan. India termasuk Indonesia merupakan tipikal negara seperti itu. Ditinjau dari segi penawaran menyatakan bahwa kemiskinan merupakan sebab utama yang mendorong anakanak bekerja untuk menjamin kelangsungan hidup diri dan keluarganya. sedangkan negaranegara di Afrika kendati pun distribusi pendapatannya relatif merata akan tetapi nyaris semua penduduk menghadapi masalah yang terkait dengan penyediaan kebutuhan hidup sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa lebih dari 25% anak yang secara ekonomi aktif sudah tidak bersekolah lagi (BPS dan ILO. Dan disebutkan juga bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak bekerja yaitu karena memenuhi kebutuhan ekonomi. majikan dapat melipatgandakan keuntungan. mereka 225 Koleksi BPAD Prov SU . Penelitian yang dilakukan White dan Tjandraningsih (1991) di Jawa Tengah menemukan bahwa anak-anak di bawah usia 14 tahun sudah bekerja pada industri kecil dan industri besar. sehingga dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan keluarga. Selain teori-teori yang dikemukakan di atas. Beberapa di antara pekerjaan yang dilakukan anak tertentu dapat dikategorikan sebagai bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. Tenaga anak merupakan sumber berharga bagi setiap keluarga. terminal. terdapat lebih dari 53% keluarga yang terlibat mencari nafkah. anak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. dijumpai pada negara-negara dengan tingkat pendapatan per kapita rendah serta distribusi pendapatan yang sangat timpang.6% anak pertama dari 5. Dengan bekerja. bahkan tempat-tempat lokalisasi pun banyak ditemukan pekerja anak. terdapat dua teori yang menjelaskan mengapa anak-anak bekerja. Sementara itu studi yang dilakukan Manning Effendi dan Tukimin (1990) di sebuah kampung miskin di Yogyakarta menemukan bahwa sekitar 83% penduduk mulai bekerja pada saat berumur 10 . hampir setiap perempatan jalan. Berkaitan dengan pekerja anak. Penghasilan keluarga di sini artinya seluruh peneriman pendapatan yang diterima oleh keluarga ditambah dengan penghasilan anak. petani berlahan sempit atau buruh pabrik. selanjutnya 18.4% untuk anak kedua yang termasuk bekerja (Prijono dalam Dini. stasiun. Penghasilan anak di sini diperoleh dari upah bekerja dari berbagai jenis pekerjaan. Bhutan. Sedangkan pengertian ekonomi keluarga secara sederhana adalah seluruh penghasilan yang diterima oleh keluarga baik berupa uang maupun barang. Mendellavich (1995:15) menyatakan bahwa fenomena pekerja anak dalam setiap kehidupan masyarakat di suatu daerah ataupun negara merupakan hal yang selalu berkaitan dengan kondisi sosial. dan mau dibayar murah. Pekerja Anak dan Kontribusinya.Atika. ekonomi dan kebudayaan di mana anak itu berada. Mereka pada umumnya berasal dari keluarga buruh tani. Secara sederhana partisipasi anak dalam bekerja dapat diartikan sebagai keikutsertaan anak dalam menyumbangkan penghasilan atau pendapatan keluarga yang diperolehnya dari upah kerja. 1993). Seluruh anggota rumah tangga golongan ekonomi lemah dan menengah di daerah terlibat dalam membantu perokonomian keluarga. 2005: 8). Walaupun belum ada data yang pasti namun diperkirakan bahwa tingginya persentase anak yang bekerja. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa anak-anak sangat membantu di dalam keluarga khususnya dalam mencari nafkah dapat kita lihat dari hasil penelitian yang dilaksanakan para ilmuwan misalnya Prijono Tjiproherianto..

1986: 128). Apapun latar belakang yang menyebabkan mereka menjadi pekerja anak. menurut Talcott fakta bahwa lebih banyak anak yang bekerja karena alasan ekonomi dibandingkan alasan-alasan budaya. Kemiskinan akan mendorong anak-anak masuk bidang pekerjan yang membahayakan. Sejalan dengan hal di atas. faktor penting yang mempengaruhi tingkat upah kerja anak. Wanita sebagai kepala rumah tangga. Kompas 25 Juli 2001). I. Hal ini terjadi karena ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah utama keluarga. orang tua dengan anak atau antara anak dengan anak. Situasi ini sebenarnya juga berkaitan dengan struktur pasar kerja. sehingga keberadaan anak yang dipaksakan bekerja. situasi ekonomi yang mempengaruhi kalau banyak lapangan kerja untuk orang dewasa harus ditutup. 3. dan papan. Orang tua sering kali menganggur dan dalam usaha mencari nafkah anak-anak disuruh bekerja. Karena cara-cara mencari nafkah dari keluarga miskin ditandai ketidakpastian dan ketidak-mantapan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hanya dengan upah pula si anak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri yang nota bene selalu berkembang karena gesekan-gesekan sosial dan lingkungannya (Bali Post Perspektif 26 Maret 1997). anak-anak akan segera masuk kerja yang eksploitatif. (1995) yang mengutip pendapat Talcott menyebutkan banyak anak bekerja karena alasan ekonomi bukan karena budaya.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. pendidikan yang kurang. Jumlah anggota keluarga yang besar. Namun demikian penelitian Irwanto juga menunjukkan faktor pendorong lain anak-anak bekerja yaitu: 1. pangan. Hal ini berhubungan dengan beberapa kondisi keluarga miskin bahwa pola sosialisasi di mana seseorang dibimbing khusus untuk mencari pekerjaan yang layak. Bagi keluarga miskin. Tetapi terdapat faktor lainnya yang turut mendorong meningkatnya jumlah pekerja anak antara lain faktor budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang melatih anak bekerja secara dini. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama seorang anak terpaksa bekerja. serta tradisi dan pola sosial yang menempatkan anak pada posisi yang rentan. Jakarta dan Surabaya yang menunjukkan kesusahan ekonomi merupakan faktor pendorong utama anak bekerja. karena tiga faktor utama: eksploitasi yang lahir dari kemiskinan. anak-anak bekerja pada usia yang sangat muda justru belajar dan harus mengalami sesuatu bahwa yang penting adalah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. 2. misalnya karena budaya masyarakat setempat. Situasi keluarga bermasalah. kesadaran dan kepedulian tentang hak-hak anak oleh orang tua dan masyarakat. atau suami yang tidak pernah memberikan uang belanja kepada istri. Karena situasi ekonomi yang tidak kondusif. karena kemiskinan. minimnya tingkat pengetahuan. berikut ini. anakanak sering terdorong untuk bekerja pada bidang kerja yang mengganggu tumbuh kembangnya. Pandangan masyarakat mengenai kesiapan anak untuk bekerja Hal ini terjadi terutama pada pandangan orang tua yang menginginkan dan menentukan kapan seorang anak sudah layak bekerja. kurangnya pendidikan yang relevan. Situasi keluarga yang sarat masalah. (1995) di Medan. dianggap sesuatu yang taken for granted (Nani Indriati. yang pasti dalam bekerja mereka mempunyai motivasi masing- Koleksi BPAD Prov SU . perubahan yang relatif cepat serta gesekan-gesekan sosial. Halaman 219-231 memandang banyak faktor yang menyebabkan anak-anak bekerja. sehingga ia justru belajar bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dalam berbagai tindakan yang selalu tidak sesuai dengan harapan lingkungan sosial pada umumnya (Sadly. seperti sandang. Volume 5. karena mereka lebih muda dieksploitasi. Menurut Irwanto dkk. Akan dijalankan pendapat mereka mengenai faktor-faktor anak terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga. Sebab hanya dengan memperoleh upah mereka dapat meringankan beban orang tua. Mei 2006. Menurut laporan UNICEF (1990). Terjadinya hal tersebut disebabkan karena terjadinya perceraian orang tua. Nomor 2. 4. Pernyataan Talcott ini diperkuat pada penelitian Irwanto dkk. Pekerja anak di sektor 226 informal di kota bekerja keras untuk mendapatkan upah. Kejadian ini bisa disebabkan oleh adanya pertentangan orang tua. Kosa dan IK Zole dalam bukunya Proverty and Health menyatakan bahwa kondisi miskin sebagai lingkungan sosial di mana anakanak dibesarkan tidak mendukung atau membantu terbentuknya watak atau sifat-sifat pribadi yang dapat mendobrak kemiskinannya.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya adanya seperangkat kebutuhan-kebutuhan. maka ia akan mencari informasi tentang daerah lain yang bisa memberi atau memenuhi kebutuhannya. menyebabkan orang-orang desa pindah ke daerah perkotaan. bahkan motivasi timbul karena adanya kebutuhan (Abu Ahmadi. Adanya tekanan ekonomi orang tua. kemudian terbukanya kesempatan dan harapanharapan yang tinggi untuk meningkatkan kehidupan. dari anak itu sendiri maupun dari pihak lain. bekerja adalah Kedua : Ketiga : Keempat : salah satu cara untuk tetap bersekolah. motivasi sering diartikan sebagai faktor yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu. Sebagaimana kita ketahui bahwa dengan semakin sempitnya lahan pertanian di pedesaan.. keberadaan pekerja anak tersebut berkaitan dengan bekerja hal yaitu: 1. Pekerja Anak dan Kontribusinya. Dengan demikian semakin banyak kebutuhan manusia. 1985: 35). Khususnya untuk anak perempuan.000 per hari. tekanan dari orang tua agar tetap tinggal di rumah untuk melakukan pekerjaan domestik dan tak perlu sekolah atau memasuki pasar tenaga kerja menimbulkan persoalan khusus yang sering kali justru mendorong lahirnya keputusan yang diambil oleh anak perempuan itu sendiri untuk masuk ke pasar tenaga kerja. khususnya anak-anak yang dilahirkan dalam tekanan kemiskinan. tentunya anak tidak terlepas dari motivasinya. Adanya asumsi dengan bekerja bisa digunakan sarana bermain. Hal ini sejalan dengan pendapat Todaro dan Stilkind (dalam Manning dan Effendi. masing. Adanya pembenaran budaya bahwa sejak kecil anak harus bekerja. 5. Adanya keinginan anak untuk mencari uang sendiri. Hal ini juga dialami oleh pekerja anak. Apabila di suatu daerah kebutuhan ekonomi maupun nonekonomi seseorang belum terpenuhi. Orang tua responden sebagian besar hanya tamatan sekolah dasar (sekitar 43 persen) dan mencari nafkah sebagai buruh tidak terampil. adanya berbagai masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan tersebut memunculkan dorongan dalam diri anak untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Globalisasi ide tentang gaya hidup menyebarnya budaya konsumen menyebabkan pentingnya dimulai akses terhadap uang bagi anak Kenyataan yang menunjukkan begitu banyak pengangguran di kalangan orang tua menyebabkan anak segera terjun ke dunia kerja. 1999: 191). maka manusia akan mencari alternatif untuk melaksanakan tindakan tertentu sama dengan motivasinya (Wijaya 1987: 24). Berhubungan dengan hal di atas. Hal ini sejalan dengan pendapat Terry (1986 : 132) yang mengatakan bahwa motivasi adalah keinginan-keinginan yang terdapat pada diri individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan. Motivasi erat kaitannya dengan kebutuhan. hampir 60 persen dari orang tua responden berpenghasilan kurang dari Rp 4. menurut Tjandraningsih. Dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Lebih jauh White dan Tjandraningsih (1998: XII) dalam studi mereka tentang pekerja anak di Indonesia secara lengkap menyimpulkan sejumlah hal kontradiktif yang menjadi dilema anak di Indonesia. Daerah perkotaan di setiap negara telah dijadikan tempat yang paling lumrah untuk menampung surplus penduduk. Adanya paksaan orang tua.. Kebutuhan dan dorongan tadi sebenarnya merangsang anak untuk berbuat atau bertingkah laku yaitu dengan bekerja. 3. 2. Di mana motivasi anak dalam bekerja dapat dipengaruhi dari dalam keluarga. Pertama : Di kalangan anak-anak dari keluarga miskin. Adanya paksaan dari orang yang lebih dewasa. yang menyatakan bahwa dorongan utama untuk berimigrasi ke kota adalah untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. 4. Kegiatan Ekonomi Kaum Miskin di Daerah Perkotaan Berdasarkan penelitian Irwanto (1995) dinyatakan bahwa urbanisasi dipandang signifikan terhadap problema pekerja anak. Karena dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kasus pekerja anak di kota-kota besar merupakan “korban” urbanisasi.Atika. 6. Secara umum. akan merangsang orang untuk bertingkah laku. Keadaan ini 227 Koleksi BPAD Prov SU .

b. Besarnya hyper masculinity complex di kalangan pria dan marty complex di kalangan wanita (S. Upah yang rendah atau keamanan kerja yang rendah. Tidak memiliki tabungan. politik dan lain sebagainya. penyewa payung dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan khas itu tampak selanjutnya di dalam cara berperilaku. tukang becak dan lain sebagainya. Kegiatan rumah tangga dan kegiatan mata pencaharian terpisah. j. Kehidupan keluarga adalah otoriter. i. tukang becak dan sebagainya. l. o. Fenomena yang menonjol pada masyarakat kota adalah dikotomi dalam struktur sosialnya. g. Tidak jarang pula terlihat dalam keluarga kelas bawah di kota mempergunakan potensi seluruh keluarga untuk melaksanakan kegiatan perekonomian di kota. Golongan inilah yang dimaksudkan golongan miskin di kota. Sedikit saja memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota seperti toko-toko. penjual asongan. f. n. sehingga timbullah penonjolan-penonjolan perbedaan itu dengan jalan menciptakan simbolsimbol dan tanda-tanda yang membedakan kelas yang satu dengan kelas yang lainnya. c. 1992:61). di mana terdapat gedung-gedung pemerintahan dan pusat-pusat agama. Anak-anak dalam kelas bawah mengambil kegiatan perekonomian dapat sebagai penjaja makanan. kebanyakan mereka ini adalah orang yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pegawai rendahan di kantor-kantor dan toko-toko kecil. Perbedaan itu juga tampak dalam pola permukiman dan perkampungan di kota. pembantu rumah tangga. Pusat kota terutama menjadi tempat permukiman orang elite. m. Nomor 2. museum dan bank. d. Menno. sehingga sering terjadi perceraian dan pembuangan anak. Begitu juga dengan keadaan anak-anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah atau sekolah sambil bekerja untuk memperoleh penghasilan sendiri atau membantu perekonomian keluarga. Oscar Lewis mengemukakan bahwa kemiskinan itu mempunyai ciri-ciri: a. Volume 5. Kalau diperhatikan bahwa masyarakat kota yang digolongkan pada ciri-ciri di atas. yakni adanya lapisan bawah dan lapisan atas. mulai dari mencari atap untuk tempat berteduh sampai bagaimana cara mempertahankan hidup di daerah perkotaan. Penyerahan diri pada nasib. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sumardi dan Hans Dieter ever yang menyatakan bahwa golongan berpenghasilan rendah atau golongan miskin adalah golongan yang memperoleh pendapatan atau penerimaan sebagai imbalan terhadap kerja Koleksi BPAD Prov SU . p. memiliki pendidikan yang rendah dan sering menjadi korban dari majikan-majikan yang jahat atau organisasi-organisasi kejahatan. Perkawinan sering berdasarkan konsensus. bisa juga sebagai tukang cuci dan juga penjaga anak. kelas atas memiliki kecenderungan yang kuat untuk mempertahankan posisi-posisi yang menguntungkan. Sedangkan kelas bawah untuk mempertahankan hidup di kota cenderung bekerja sebagai buruh kasar bangunan. Tidak atau jarang ambil bagian dalam perawatan medis dan program-program kesejahteraan lainnya. Partisipasi yang rendah dalam organisasiorganisasi sosial seperti organisasi buruh. buruh. Halaman 219-231 menimbulkan permasalahan yang besar bagi perkotaan. penyemir sepatu. Kelas bawah bermukim di tempat-tempat seputar kota itu juga. Sering terjadi tindak kekerasan. Tingkat keterampilan yang rendah. Meskipun kota telah mempunyai hampir seluruh fasilitas untuk meningkatkan taraf hidup 228 masyarakatnya. tukang parkir. masih saja terdapat kelompok masyarakat yang hidup dalam keadaan yang menyedihkan atau tidak sesuai dengan standar hidup yang layak. Dengan memasuki daerah perkotaan. Istri terkadang bekerja sebagai tukang masak bagi keluarga kelas atas. Mei 2006. Kehidupan mereka tanpa kerahasian pribadi. baik bagi diri sendiri maupun bagi anak cucu mereka. Mereka biasanya tidak mempunyai keterampilan khusus. k. Keluarga bertumpu pada ibu.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. pencuci mobil. Di sini peran istri dan anak sangat menonjol untuk turut serta dalam kegiatan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendesak. h. maka timbullah berbagai macam permasalahan. Singkatnya mereka itu adalah para pekerja yang mempunyai pendapatan yang sangat rendah. juga masing-masing kelas mengawasi anggotanya dalam hal demikian itu. Tingkat mortalitas yang tinggi atau harapan hidup yang rendah. e. Tidak memiliki persediaan makanan dalam rumah untuk hari esok. Tingkat pendidikan yang rendah. termasuk pemukulan anak-anak. cara bicara dan berpakaian.

timbullah masalah seperti pengangguran. Begitu juga dengan keadaan anakanak. ILO (International Labour Organization) memperkirakan akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan jumlah anak Indonesia telah menjadi enam sampai delapan juta (Waspada 29 Juni 2002). Hasil studi “SMERU” yang dirancang untuk mengetahui pilihan antara bersekolah dan bekerja. 1995 : VI). Kondisi demikian mendorong anak-anak yang belum mencapai usia untuk bekerja terpaksa harus bekerja. Secara teoretis. mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Anak-anak mau tidak mau terpaksa ikut andil dalam kegiatan ekonomi rumah tangga. Dan hal yang penting dari temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin makmur kondisi ekonomi suatu rumah tangga. kelompok masyarakat miskin tersebut sering jatuh sakit. mudah tergeser. Profil pekerja anak secara umum mencerminkan profil kemiskinan.. jika dibandingkan dengan kebutuhan pokoknya (Sumardi dan Hans Dieter ever. ternyata kemudian melonjak beberapa kali lipat kembali. sering dijadikan sebuah alasan pembenaran terhadap praktik mempekerjakan anak dalam usaha memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagaimana telah ditunjukkan. Di satu sisi kemiskinan yang membuat mereka tidak bersekolah. pasokan pekerja anak kebanyakan dari rumah tangga dan kepala rumah tangga yang tidak mempunyai atau hanya berpendidikan formal sangat rendah. Seandainya pun mereka sekolah.. sehingga sangat tergantung pada sedikit penghasilan tertentu. istri-istri yang tidak berpendidikan turut dalam kegiatan perekonomian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendesak. kesempatan kerja dan tanah-tanah permukiman dikota. Bila diamati sebenarnya kemiskinan ini merupakan masalah yang sangat pelik. kelompok marjinal atau masyarakat miskin. bagi anak-anak usia 5-14 tahun pada masa krisis ekonomi dengan menggunakan survei 100 desa tahun 1998-1999 menunjukkan bahwa terdapat kaitan erat antara pekerja anak dengan kemiskinan. Kesemuanya ini membawa efek terhadap meningkatnya jumlah kemiskinan di kota. kelompok masyarakat yang diperkirakan paling terpukul dengan adanya situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan adalah mereka yang termasuk kelompok masyarakat yang tidak stabil. ketika pekerja anak ini dewasa dan berkeluarga. baik oleh orang tuanya sendiri maupun pihak pengusaha. Akibat kerentanan yang diderita. Akibatnya muncul “orang-orang miskin baru” (Suyanto dalam Konvensi edisi ketiga). tetapi dipihak lain karena tidak bersekolah. pekerja anak sangat mungkin akan tumbuh dewasa sebagai orang yang kurang mengenyam pendidikan dan kemungkinan besar. Di wilayah perkotaan keberadaan kelompok tersebut dengan mudah ditemui di permukiman kumuh atau perkampungan liar di sudut-sudut kota. anakanak mereka juga akan masuk dalam pasar kerja dengan tingkat keterampilan yang rendah dan upah yang rendah pula. Hasil studi mendukung pendapat bahwa ada lingkaran setan antara kemiskinan dan pekerja anak. Keluarga miskin terpaksa mengerahkan sumberdaya keluarga untuk secara kolektif memenuhi kebutuhan hidup. lemah jasmani. Pekerja Anak dan Kontribusinya. mereka sulit untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Studi yang dilakukan Bagong Suyanto dkk. Dan hal ini cenderung terjadi terus-menerus akibat konsumsi yang kurang layak dan jauh dari syarat-syarat kesehatan dan gizi. Seperti yang kita ketahui bahwa krisis ekonomi yang dialami Indonesia mengakibatkan Indonesia merosot kembali menjadi negara miskin di dunia. Salah satu konsekuensi dari meningkatnya kemiskinan bagi dunia anak dan pendidikan adalah 229 Koleksi BPAD Prov SU . (1997-1998) menunjukkan bahwa kelompok masyarakat miskin umumnya buta hukum.Atika. kejahatan. terisolasi dari informasi dan koneksi. tidak memiliki patron yang kuat. semakin rendah kemungkinan adanya pekerja anak dalam rumah tangga. Tingkat kemiskinan yang semula mengalami perbaikan dan mendekati angka 20 juta. rapuh dan jauh dari jangkauan pembangunan. bekerja tentu dapat menghambat proses sekolah/belajar. karena terlalu banyak biaya yang dikeluarkan dan kurang dapat memberikan jaminan akan masa depan yang lebih baik. Achdian Aminuddin (1995: 15) menyatakan bahwa kemiskinan yang lekat dengan golongan lapisan bawah pada sebagian terbesar masyarakat Indonesia. jauh dari akses pelayanan publik. hal ini juga terjadi bagi pekerja anak dengan tingkat ekonomi keluarga yang rendah. Kelompok inilah yang lazim disebut massa rentan. Bagi mereka sekolah adalah beban. Akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan lajunya pembangunan antara lain seperti penyediaan fasilitas kota. pendidikan merupakan masalah/persoalan yang dilematis.

tentu masih ada masalah lain yang tersisa. khususnya di kalangan keluarga miskin. Motivasi anak untuk bekerja antara lain untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh orang tua. dalam Konvensi edisi ketiga). Pemerintah perlu membentuk zona-zona bebas pekerja anak. sehingga kesadaran akan kedudukan anak sebagai generasi penerus yang harus dirintis masa depannya bagi orang tua meningkat. menikmati hiburan. Sanafiah. Jakarta Ever. Sosiologi Perkotaan. Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia cukup tinngi dan golongan ini merupakan penghuni terbesar di dalam masyarakat perkotaan. Saran Kemiskinan sering sekali dijadikan alasan secara langsung dan tidak langsung untuk memaksa anak agar mau terjun ke dunia kerja. dan adanya sejumlah besar orang miskin pedesaan yang bersedia menambah jumlah orang miskin di perkotaan. diperkirakan jumlahnya melonjak cukup besar. Makin besar laju perpindahan dari desa ke kota. Bina Aksara. dari 2. USU & ILO IPEC. Arus urbanisasi di kota-kota besar sebagai proses perpindahan penduduk dari desa ke kota merupakan masalah yang perlu diperhatikan. maka sulit rasanya keluarga mengirimkan anaknya ke sekolah. Motivasi ini terlihat dari alokasi uang 230 Koleksi BPAD Prov SU . Dieter Hans. Jakarta Faisal. Suharsimih. dasar-dasar dan Aplikasi. 1985. Malang Fisip. Jakarta Prosedur Arikunto. membeli alat-alat elektronik. hasil kerja mereka. Dan yang memprihatinkan. dan ingin mempunyai penghasilan sendiri. Kendati kebiasaan untuk melatih anak bekerja sejak dini bukanlah hal yang baru. potensi angka putus sekolah meningkat tajam. dan menabung (untuk beberapa/sedikit orang). kecuali apabila ada perkembangan yang cepat sekali dalam perluasan kesempatan kerja serta permukiman. Daftar Pustaka Ahmadi.Jurnal Pemberdayaan Komunitas. diberikan kepada orang tua. Peran seorang anak dalam keluarga miskin sebagai salah satu pencari nafkah dalam keluarga akan terganggu. Hal ini menggambarkan bahwa diperlukan adanya koordinasi antara usaha-usaha pendidikan dengan usaha-usaha yang memberi perhatian pada masalah kemiskinan. Rapid Assesment Child Labour in Off Shore Fishing. maka makin besar persentase dari seluruh penduduk kota yang hidup di bawah garis kemiskinan. 2003. Menurut perkiraan Bapenas. Sehingga apabila si anak bersekolah. 1990. 1985. Nomor 2. Jakarta Kesimpulan 1. tetapi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pertengahan tahun 1997 lalu. Halaman 219-231 terjadinya penurunan angka partisipasi anak-anak yang bersekolah. memang mau tak mau harus tetap hidup di kota-kota besar untuk jangka waktu yang lama. kemampuan keluarga untuk memperoleh pendapatan akan berkurang. Psikologi Sosial. Akibat dari kemiskinan.8 juta menjadi 8 juta pertahun (Tjandraningsih dkk. 1992. mengingat biaya yang tidak dapat mereka jangkau. Rineka Cipta. Asih Asuh. Hal ini merupakan jawaban pada fakta: demikian mudahnya orang tua menyuruh anak terjun ke dunia kerja dan begitu mudahnya orang tua mengabaikan sekolah anak. Kenyataan aspek demografi di Indonesia adalah cepatnya pertumbuhan penduduk. bahwa daerah pedesaan akan mengekspor kemiskinannya ke kota melalui urbanisasi. untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga. karena krisis. Penelitian Kualtatif. Dengan kata lain mungkin akan terjadi. Seandainya biaya pendidikan dasar dibiayai pemerintah secara menyeluruh. Tampaknya anak bekerja merupakan suatu pilihan dalam keadaan sosial ekonomi yang demikian. Sejumlah besar rakyat miskin. biaya sekolah. 2. Pada dasarnya anak bekerja tidak terlepas dari kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah (miskin/serba kekurangan). LP3ES. Alan. bersamaan dengan makin tingginya kecenderungan anak putus sekolah adalah kemungkinan bertambahnya anak-anak usia sekolah yang terpaksa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Volume 5. Penelitian. misalnya untuk membeli pakaian. Mei 2006.

dan Keluarga. 1986. 1990. Psikologi Praktis. LP3ES. 1996. Remaja. Kemiskinan Perkotaan. Mulandar. Pressindo. Yusuf. 1991. T. Bandung Gunarsa. Dehumanisasi Anak Marginal. 1985. Bandung Rogers & Standing Guy. Medan Suparlan. Jakarta Gunawan. Chris dan TN Effendi. Surya. Yayasan Obor. LAAI. Kartini. Anak. Pembangunan Bunga Rampai Antropologi Terapan. Buruh Anak Jermal. Psikologi nak dan Remaja. Rajawali Press. 1992. Akatiga. Jakarta Mendelevic. Pengangguran dan Sektor Informal di Kota. Jakarta di Sumardi & Hans Dieter Ever. A. 1995. Singgih. 1986. Pernanan Motivasi dalam Kepemimpoinan Akademi. Parsudi. Jakarta ILO IPEC. Gerungan. Medan Kartono. Jakarta Manning. PT Gramedia. Jakarta Sumarnonugroho. Ahmad. Rajawali. Genewa. 1991. 1986. Sadly. Gelandangan. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Psikologi Sosial. Jakarta Masalah-masalah Kuntjaraningrat. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. 1986.Atika. Urbanisasi.. Koleksi BPAD Prov SU 231 . Pekerja Anak dan Kontribusinya. Children at Work. Geneva ILO. 1985. Kondisi Pekerja Anak Jermal di Kawasan Perairan Pantai Timur Sumatera Utara. 1991. Eresco. 1995. 1984.. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Saparna. Yogyakarta Widyaja. Jakarta Sofyan. LP3ES. Gramedia. Gunung Mulia. Jakarta. PT Hanindita Graha Widya. W. POusat Kajian dan Perlindungan Anak. Child Work Poverty and Underdevelopment.

.

08153136263 . Sofyan No. 1 Medan.P JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL emberdayaan Komunita S INFORMASI BERLANGGANAN Biaya Berlangganan: (Termasuk Biaya Pengiriman) dengan pos udara Pulau Sumatera Rp 60. Rekening: 106-00-9302992-7 Informasi lebih jelas dan lengkap dapat diperoleh pada: Redaksi Pemberdayaan Komunitas (Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial) Kantor Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Jalan Dr. Fax (061) 8211633 HP.000 (enam puluh ribu rupiah) per tahun Luar Pulau Sumatera Rp 90. 20155 Telepon (061) 8211965.n.000 (sembilan puluh ribu rupiah) per tahun LEMBAR PEMESANAN LANGGANAN Nama Alamat Kota Telepon Instansi : _______________________________________________ : _______________________________________________ : ________________________ Kode Pos ____________ : ______________ Fax _____________ e-mail_________ : _______________________________________________ _______________________________________________ Pemesanan Tahun Terbitan : _________________________________ Pembayaran Tunai Transfer Transfer melalui: Bank Mandiri Cabang USU Medan A. Matias Siagian No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->