P. 1
Kajian Teknis Per Bandingan Penerapan Tipe Konstruksi Pile Slab

Kajian Teknis Per Bandingan Penerapan Tipe Konstruksi Pile Slab

|Views: 1,596|Likes:
Published by Audya Angga

More info:

Published by: Audya Angga on Nov 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2014

pdf

text

original

KAJIAN TEKNIS PERBANDINGAN PENERAPAN TIPE KONSTRUKSI CAKAR AYAM MODIFIED, KONSTRUKSI PRECAST ROAD ON PILE DAN KONSTRUKSI

PILE SLAB PADA PEMBANGUNAN JALAN TOL SIMPANG SUSUN WARUJUANDA SIDOARJO, JAWA TIMUR

OLEH: Ir. H. Dindin Solakhuddin, M Tech

1

I. Pendahuluan Kota Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan merupakan pusat kegiatan ekonomi terutama untuk wilayah Indonesia bagian Timur, mempunyai kecenderungan mobilitas penduduk yang tinggi. Terlebih dengan membaiknya perekonomian nasional dimana hal tersebut menyebabkan bertambahnya mobilitas penduduk yang menggunakan jasa angkutan udara dalam pergerakan domestik maupun internasional. Kondisi ini direspon Pemerintah Departemen melalui Direktorat Jenderal Republik Perhubungan Indonesia Udara dengan Perhubungan

merencanakan penambahan kapasitas Bandara Udara Juanda. Penambahan kapasitas terminal Bandara Internasional Juanda direncanakan dengan membangun terminal baru disisi utara landasan pacu yang ada saat ini. Rencana pengembangan Bandara Udara Juanda Surabaya sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1978 dan rencana induk serta desain Terminal Bandara Udara baru tersebut selesai pada tahun 1994/1995. Akan tetapi akibat terjadinya krisis moneter pada pertengahan 1997, pekerjaan konstruksi rencana pengembangan bandara baru tersebut menjadi terhambat. Setelah membaiknya perekonomian Indonesia pasca krisis ekonomi berkepanjangan serta tuntutan terhadap pemerintah untuk menyediakan sarana infrastruktur guna menunjang kelancaran kegiatan perekonomian, maka pemerintah mengupayakan kembali pembangunan proyek ini dimana pada akhirnya pekerjaan 2

konstruksi baru terlaksana dengan bantuan dana dari pemerintah melalui program Official Development Assistance dari Japan Bank for International Cooperation (JIBIC). Lokasi terminal baru bandara yang berada disisi utara landasan pacu dan terpisah dari lokasi terminal lama tentunya membutuhkan akses jalan untuk menghubungkannya dengan pusat kota Surabaya dan kota-kota lain di sekitarnya. Oleh karena itu pemerintah juga merencanakan pembanguan jalan akses menuju terminal baru tersebut, yaitu dengan rencana Pembangunan Jalan Tol Lingkar Timur Surabaya atau dikenal nama Surabaya Eastern Ring Road (SERR) yang lebih populer saat ini dengan nama Proyek Pembangunan Jalan Tol Simpang Susun Waru – Bandara Juanda. Akses menuju Bandara Internasional Juanda maupun dari bandara menuju kota Surabaya saat ini adalah melalui jalan lokal yang sempit dan sangat padat sehingga tidak memadai lagi. Selain itu dengan adanya bandara internasional tanpa dibangun akses khusus seperti Tol Lingkar Timur ini, maka pertambahan arus lalu lintas orang dan barang dari dan menuju bandara akan menambah beban dari jalan lokal yang ada saat ini.

3

Gambar 1. Peta Lokasi Rencana Jalan Tol di Surabaya Dalam perkembangannya, Proyek Pembangunan Jalan Tol ini investasinya dimenangkan oleh PT. Citra Margatama Surabaya, dimana dalam pelaksanaan konstruksi, proyek terbagi dalam tiga section paket pekerjaan seperti terlihat dalam gambar berikut :

Gambar 2. Peta Lokasi Rencana Jalan Tol Waru-Bandara Juanda II. Desain Paket III Dalam makalah ini akan dibahas secara khusus penerapan desain konstruksi Pile Slab untuk Paket III yaitu Ruas Berbek-Tambak Sumur yang dilaksanakan oleh PT. Hutama Karya. Sebagaimana diketahui bahwa Pembangunan Jalan Tol Waru-Bandara Juanda ini sebagian besar ruasnya akan melintas tanah lunak (daerah rawa dan tambak) dengan rencana desain awal Jalan Tol diatas merupakan timbunan tanah dimana perbaikan tanah dasar dilakukan PVD dengan pemasangan Vertical Drain). (Prefabricated

4

Kenyataan dilapangan bahwa proses pengadaan tanah untuk rencana konstruksi tidak berjalan mulus sesuai dengan rencana awal, sehingga hal yang paling signifikan terjadi pada Ruas Paket III yaitu konstruksi Fly Over yang sedianya akan dibangun didaerah bekas alur sungai tidak dapat dilaksanakan dikarenakan lahan alur baru untuk sungai pengganti tidak dapat dibebaskan. Hal ini berakibat pada perubahan letak konstruksi Fly Over yang dibangun bergeser dari atas sungai existing ke arah arteri dari jalan komplek perumahan, dengan konsekuensi diperlukan satu ketinggian clearance yang minimum sesuai dengan persyaratan teknis karena arteri pengganti akan berada dibawah Fly Over yang dibangun.

Gambar 3. Lokasi Fly Over Tambak Sumur Dengan bangunan diputuskannya pendekat desain pada yang baru ujung tersebut permasalahan baru muncul yaitu pada kedua mempunyai ketinggian timbunan diatas 4 meter yang berakibat pada perubahan alignement vetikal secara menyeluruh dimana rata-rata ketinggian timbunan tanah akan berada diatas 2 meter. Hal ini akan menjadi problem tersendiri dimana syarat teknis untuk timbunan diatas threatment tanah dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD) 5

mengikuti tahapan konsolidasi tanah sesuai dengan rencana teknis yang mensyaratkan adanya preloading timbunan tanah sehingga untuk memperoleh ketinggian timbunan tanah sesuai alignement yaitu antara 2 sampai 4 meter diperlukan waktu antara 3 sampai 5 bulan ditambah lagi permasalahan pembebasan tanah yang tidak bisa berjalan secara frontal sehingga lokasi pekerjaan tidak dapat dilaksanakan menyeluruh. Disamping permasalahan–permasalahan tersebut satu kondisi yang tidak kalah pentingnya adalah banyaknya jaringan utilitas yang berada dijalur tol ini yaitu kabel telkom,pipa PDAM dimeter 1.2 m dan jaringan seluler, dimana para pemilik utilitas mengharuskan untuk relokasi apabila diatas jaringan utilitas akan dipakai untuk badan jalan dan dari perkiraan waktu untuk relokasi kurang lebih sekitar 2 bulan. Berawal dari kondisi tersebut diatas pihak investor meminta kepada kontraktor pelaksana untuk dapat memberikan usulan teknis. Sebagai dasar pertimbangan utama adalah adanya tipe kontruksi yang sesuai denagan karakteristik Ruas Tol Waru-Juanda ini yang dapat dilaksanakan dalam waktu konstruksi 300 hari dengan karakteristik desain yang teruji dan dapat menjawab segala permasalahan yang ada dilapangan dengan nilai ekonomis yang masih dapat diterima sebagai acuan dasar dalam investasi jalan tol. Tahap awal yang dilakukan adalah melakukan kajian beberapa tipe konstruksi baik itu yang sudah pernah diaplikasikan maupun yang masih dalam tahap riset, diantara beberapa tipe konstruksi yang menjadi bahan kajian antara lain: 1. Konstruksi Cakar Ayam Modified 2. Precast Road on Pile 3. Konstruksi Pile Slab Dalam pelaksanaanya saat ini dari tipe-tipe konstruksi tersebut diatas, dalam aplikasinya dipilih konstruksi Pile Slab, dimana pemilihan tipe konstruksi ini didasarkan pada kajian teknis, ekonomis dan kepastian 6

waktu

pelaksanaan

sebagaimana

yang

akan

didetailkan

dalam

makalah ini. III. Kajian Tipe-tipe Konstruksi III.1. Konstruksi Cakar Ayam Modified Secara umum sistem perkerasan cakar ayam terbuat dari slab tipis beton bertulang (tebal 20-30 cm) yang diperkaku dengan pipa-pipa beton diameter 120 cm, tebal 8 cm, dan panjang pipa 150-200 cm, yang tertanam pada lapisan subgrade lunak dibawahnya, dengan jarak pipa-pipa 200-250 cm. Dibawah slab beton terdapat lapisan Lean Concrete setebal sekitar 15 cm (terbuat dari beton mutu rendah) dan lapisan sirtu setebal sekitar 40 cm. Fungsi utama dari slab Lean Concrete dan lapisan sirtu adalah :  sebagai perkerasan sementara agar alat-alat berat dapat agar permukaan atas subgrade dapat rata sehingga melintasinya selama masa pelaksanaan/konstruksi  dapat berfungsi sebagai bekisting pengecoran slab beton cakar ayam.  agar transfer beban dari slab ke tanah dapat berlangsung Konstruksi Cakar Ayam Modified pada dasarnya merata. Adapun merupakan pengembangan dari tipe cakar ayam yang lama, dimana tujuan pengembangan ini adalah untuk memperoleh sistem yang ringan tapi kaku, sehingga dalam menghadapi kondisi tanah lunak, dapat memperkecil terjadinya penurunan segera maupun penurunan jangka panjang. Sedangkan modifikasi yang dilakukan adalah : 1. Mengganti pipa beton dengan pipa baja tipis diameter 80 cm tebal 1,4 mm, dengan panjang 120 cm digalvanisasi

7

setebal 600 gr/m2 zinc dengan hotdip galvanize dimana berat per pipa hanya 35 kg. 2. Selain untuk mencapai elevasi yang diinginkan maka sistem cakar ayam diperlakukan sebagai pondasi yang diatasnya diletakan suatu konstruksi semacam “box culvert” dimana berat box culvert tersebut hanya setengah dari berat material timbunan biasa per m2 area. 3. Dalam menghadapi tanah yang tergenang air maka pelaksanaan dimulai terlebih dahulu harus sebelum

dilakukan pekerjaan drainase, sehingga orang dapat lewat tanpa terperosok (daya dukung tanah > 0.3 kg/cm2). 4. Jalan kerja dibuat pada ruang kosong diantara 2 jalur untuk mengurangi jumlah material yang jalan, dengan granular material, dan geotextile mungkin diperlukan 5. merosok/masuk ke dalam tanah. Urugan pasir minimum 30 cm diperlukan sebagai alas blanket dan separator. Kemungkinan diperlukan pelat cakar ayam dan juga berfungsi sebagai drainase layer, sand geotextile kalau jumlah pasir yang merosok ke dalam tanah dirasa banyak. Geotextile dipilih yang tembus oleh pipa. 6. Pemancangan pipa baja pada koordinat dan level masing-masing cukup dengan dibebani bucket excavator PC-200 karena tipisnya pipa.

8

7.

Selanjutnya merupakan pekerjaan beton biasa dengan

mutu K-350, wiremesh dan bekisting.

Gambar 4. Konstruksi Cakar Ayam Modified Tabel 1 : Cakar Ayam Modified STRUKTU R UPPER STRUCTU RE WAKTU PELAKSAN AAN (per 100 M’) 7 hari BIAYA (per 100 M’) Rp. 4.2 Milyard

KONSTRUKSI

PERALATAN

Pelat lantai beton dengan tulangan wire mesh SUB Pipa baja STRUCTU galvanis RE Box culvert

Concrete Pump Excavator Excavator Pompa air Tripodal

9

Urugan pasir

tuckle

Keuntungan sistem Cakar Ayam Modifikasi : • • • • • • • Tidak memerlukan peralatan khusus Relatif mudah dilaksanakan Waktu pelaksanaan bisa cepat Podasi pipa baja galvanis tahan terhadap korosi Akurasi instalasi pondasi pipa baja agak sulit Masih memungkinkan terjadinya penurunan konstruksi Utilitas yang ada dibawah konstruksi masih harus

Kekurangan system Cakar Ayam Modifikasi :

direlokasi III.2. Konstruksi Pile Slab Struktur pile slab secara ringkasnya (one group way tiang slab) oleh adalah yang system Jarak tiang pancang pada arah
1050 0 25 00 4 00 0 40 00 4 000 4000 400 0 1 00 05 400 0 250 0

struktur pelat satu arah ditumpu

pancang.

longitudinal adalah 5 m sedangkan pada arah transversal adalah 4 m. Konfigurasi ini diterapkan untuk mengakomodir daya dukung tiang pancang dan juga kapasitas material tiang pancang itu sendiri. Module struktur pile slab dibuat per 100 m, sehingga pada setiap 100 m dipasang expantion joint dan rubber sheet bearing. Hal ini diterapkan untuk menghindari keretakan pada slab yang diakibatkan oleh pergerakan pada saat muai dan susut akibat perubahan suhu dan juga creep dan shrinkage. Langkah selanjutnya setelah menetapkan system strukturnya adalah sebagai berikut : 10

A. Analisis Stabilitas Global B. Pemodelan struktur A. Analisis Stabilitas Global Maksud dari analisis ini adalah untuk mengkaji stabilitas struktur Pile Slab secara terintegrasi pada saat beban-beban rencana bekerja. Beberapa hal yang ditinjau pada analisis ini yaitu antara lain : • • • • B. Gaya aksial yang terjadi pada tiang pancang pada Momen yang terjadi pada tiang pancang pada Deformasi struktur pada saat layanan Deformasi struktur pada saat terjadi gempa Pemodelan Struktur kondisi layanan kondisi gempa rencana terjadi (gaya lateral)

Untuk mensimulasikan system struktur pile slab tersebut sedemikian hingga mendekati kondisi yang sebenarnya, maka struktur yang dimodelkan program SAP mendekati shell secara 2000. dengan element. 3 dimensi kondisi pancang dimodelkan secara terintegrasi sampai kedalaman pemancangan. Isometri dari model struktur pile 11 ujung dengan riil slab tiang menggunakan kekakuan dimodelkan Untuk memperoleh

sebagai

Sedangkan

slab tersebut tampak pada gambar berikut :

Gambar 5. Model Struktur Pile Slab Dari analitis stabilitas global dan pemodelan struktur yang telah dilakukan didapatkan hasil analisis sebagai berikut :  Gaya aksial maksimum yang bekerja pada tiang pancang adalah 692 kN atau sama dengan 69.2 ton.  Momen maksimum yang terjadi pada kondisi service (SLS) adalah 72 kN-m dan pada kondisi ultimate (ULS) adalah 182 kN-m.  Deformasi maksimum pada kondisi sevice (SLS) adalah 9 mm pada arah longitudinal. Berdasarkan batasan teknis sebagaimana tersebut diatas diteruskan dengan penentuan jenis dan dimensi dari struktur dibawah ini : B.1. Bangunan Bawah atau Pondasi B.2. Lantai Pile Slab B.1. Bangunan Bawah atau Pondasi Dasar penentuan tipe dan jenis bangunan bawah atau pondasi mempertimbangkan kondisi-kondisi dibawah ini : 12

a. b. c.

Kondisi

tanah

pada

lokasi

dimana

tiang

pancang tersebut akan dipergunakan. Kondisi beban yang bekerja termasuk daerah Batasan-batasan deformasi serta gaya-gaya zona gempa pada lokasi tersebut maximum yang diijinkan oleh material pancang itu sendiri dan batasan dari system struktur atas. Kondisi tanah sepanjang Tol Waru-Juanda kususnya pada lokasi Paket III merupakan tanah lunak dengan ketebalan 24-35 meter. Kondisi tanah tersebut seperti diperlihatkan pada gambar di bawah ini :

13

SA N D

SA ND

SA N D

SA N D

Gambar 6. Kondisi Lapisan Tanah pada lokasi Paket III Berdasarkan atas kondisi tanah lunak yang dalam dan gaya gempa yang cukup besar serta properties tiang pancang, maka tiang pancang yang cocok untuk lokasi tersebut adalah tiang pancang yang memiliki “radius girasi” paling besar, sebab dengan radius girasi yang besar tiang pancang tersebut lebih kaku. Kekakuan merupakan properties yang penting dalam pemilihan tiang pancang sebab deformasi lateral menjadi salah satu persyaratan dalam perencanaan. Besarnya radius girasi dapat dihitung dengan formula berikut : Rg = (1/A)1/2 Dimana : 14

Rg = Radius girasi (m) I = Moment inersia (m4) analitis ditetapkan dua pilihan jenis tiang A = Luas penampang (m2) Dalam pancang yaitu tiang kotak 45 cm x 45 cm dan tiang spun pile diameter 50 cm. Pemilihan kedua jenis tiang pancang ini dengan pertimbangan bahwa kedua jenis tiang pancang ini memilki moment cracking dan ultimate capacity yang setara. Properties dari tiang pancang PC square pile 45 cm x 45 cm adalah: A I Rg = 0.2025 m2 = 3.4210 x 10 m
-3 4

4 5 0

P C S p

S t r a n d ir a l w ir e

Gambar 7. Gambar PC Square Pile 45 cm x 45 cm Sedangkan properties dari tiang pancang PC Spun pile adalah : A I Rg = 0.116 m2 = 2,5510 x 10-3 m4 = 0,1483 m
P C S p W ir e ir a l

Gambar 8. Gambar PC Spun Pile diameter 50 cm Dari besarnya radius girasi yang menandakan kekakuan tiang, penggunaan tiang pancang PC spun pile diameter 50 cm adalah paling tepat disamping dari kapasitas 15

450

= 0.1299 m

pabrik penyuplai yang ada di Surabaya bahwa rata-rata kapasitas produksi tiang PC spun pile tiga kali lebih banyak dari tiang kotak. Sehingga untuk bangunan bawah atau pondasi ditetapkan menggunakan PC spun pile diameter 50 cm.

B.2. Perencanaan Lantai Pile Slab Dengan mengaplikasikan dan melakukan kombinasi dari beban – beban yang bekerja pada kondisi ultimate maka diperoleh data momen positif maksimum (momen lapangan) pada area slab adalah 350 kN-m dan momen negative 170 kN-m, sedang momen yang terjadi pada arah melintang slab sangat kecil, hal ini menunjukan bahwa system struktur ini adalah pelat satu arah (one way slab system). Sedang pada area pile head adalah momen positif maksimum sebesar 255 kN-m dan momen negative maksimum adalah 1100 kN-m. Dari data tersebut ditentukanlah desain sebagaimana dibawah ini :

16

Gambar 9. Konstruksi Lantai Pile Slab Tabel 2 : Pile Slab STRUKTU R UPPER STRUCTU RE WAKTU PELAKSAN AAN (per 100 M’) 10 hari BIAYA (per 100 M’) Rp. 5.1 Milyard

KONSTRUKSI

PERALATAN

Pelat lantai Concrete beton dengan Pump tulangan besi Agitator Truck beton Alat Pancang

SUB Spun Pile φ 50 STRUCTU cm RE

Keuntungan sistem Pile Slab : • • • • • Dapat dikerjakan sesuai dengan ketersediaan lahan Tidak memerlukan bahan konstruksi yang special Waktu pelaksanaan bisa cepat Utilitas dibawah konstruksi tidak perlu relokasi Penurunan kontruksi kecil kemungkinan terjadi

Kekurangan sistem Pile Slab : 17

• • •

Diperlukan urugan untuk plat form alat pancang Untuk produksi masal diperlukan perancah yang banyak Perlu space pekerjaan yang agak luas

III.3. Road on Pile Konstruksi road on pile ada sebenarnya didalam merupakan produk slab derivative dari konstruksi Pile Slab. Analitis teknis sama sebagaimana yang perhitungan pile konvensional perbedaannya terletak pada modul pile head dan lantai deck slabnya yang diproduksi secara precast, pile head precastnya dibuat dengan dimensi lebar 90 cm dan panjang 1150 cm atau sesuai dengan lebar jalan yang direncanakan. Pada balok pile head telah disiapkan lubang yang sesuai dengan konfigurasi tiang dimana pada saat instalasi sebelum disatukan dengan tiang pancangnya terlebih dahulu pile head ditahan oleh coral clamp yang dipasang pada tiang pancang tepat dibawah balok pile head.

18

Gambar 10. Detail dan Section Precast Pile Head Beam Sedang untuk deck slab precastnya dibuat perpanel dengan ukuran lebar 3,153 m dan panjang 4,8 m. Untuk menyatukan

panel deck slab pada arah melintang dimana dalam satu lebar jalan terdiri atas tiga panel dipergunakan sambungan (sleep selanjutnya lubang konektornya digrouting. terlihat pada gambar detail disamping ini. Lebih mekanik yang jelasnya sleeve)

Gambar 11. Detail dan Section Road Plan Precast Slab Tabel 3 : Road on Pile STRUKTU R KONSTRUKSI PERALATAN WAKTU PELAKSAN AAN (per 100 BIAYA (per 100 M’) 19

M’) UPPER STRUCTU RE Concrete Pelat lantai Pump beton dengan Agitator Truck modul precast Crane 25T Alat Pancang

6 hari

Rp. 5.1 Milyard

SUB Spun Pile φ 50 STRUCTU cm RE

Keuntungan sistem Road on Pile : • • • • Kualitas pekerjaan lebih mudah dikontrol Waktu pelaksanaan paling cepat Utilitas dibawah konstruksi tidak perlu relokasi Penurunan kontruksi kecil kemungkinan terjadi

Kekurangan sistem Road on Pile : • • • • Diperlukan urugan untuk plat form alat pancang Memerlukan sleep sleeve device yang bukan produk lokal Perlu space pekerjaan yang agak luas Instalasi pile head sangat sulit kalau pemancangan tiang

tidak presisi Dari tiga alternatif sebagaimana dipaparkan diatas, pilihan tipe konstruksi ditetapkan ”Konstruksi Pile Slab”, dimana pemilihan ini didasarkan pada sasaran proyek yaitu cepat, mudah, kuat, biaya pemeliharaan minimum dan biaya konstruksi masih masuk koridor investasi dengan cara mensimulasikan bobot dan penilaian pada setiap kriteria yang telah ditetapkan. Bobot dari setiap kriteria ditetapkan berbeda dengan memberikan bobot yang besar sesuai dengan prioritas dari investor. Sedangkan penilaian merupakan urutan keunggulan yang didasarkan pada baik, sedang dan jelek, dengan 20

masing-masing penilaian diberikan besaran untuk dapat dibuat datadata numerik berurutan dari 1 untuk kondisi jelek, 2 untuk sedang dan 3 untuk yang baik agar dapat diperoleh besaran angkanya.

Tabel 4 : Kriteria Penilaian
N I ILA N. O K ITER R IA B B T OO A 1 LT
( k r Ay m Ca a a M d ie ) o if d

B B TXN I OO ILA A 3 LT
( oa on P ) R d ile

A 2 LT
( ileS b P la )

A 1 LT

A 2 LT

A 3 LT

1 2 3 4 5

Ce at p Md u ah Ku at In ial Cost it M t n ceCost aine an

2% 5 2% 5 2% 0 2% 0 1% 0 10 0%

2 2 1 3 1

1 3 3 1 3

3 1 2 2 2 JU LA M H

0 0 .5 0 0 .5 0 0 .2 0 0 .6 0 0 .1 19 .0

0 5 .2 0 5 .7 0 0 .6 0 0 .2 0 0 .3 21 .0

0 5 .7 0 5 .2 0 0 .4 0 0 .4 0 0 .2 20 .0

Dari tabel 4 diatas didapatkan bahwa alternatif 2 atau ”konstruksi pile slab” mempunyai angka penilaian paling tinggi, sehingga hal ini menyimpulkan bahwa konstruksi pile slab paling handal ditinjau dari aspek teknis dan pembiayaan. IV. Penutup Berdasarkan dari pemeparan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut; • Sistem konsruksi pile slab paling sesuai untuk kondisi tanah lunak dengan ketebalan yang dalam sebagaimana pada ruas tol Waru – Juanda. • Apabila didasarkan pada total ivesment cost yang mencakup biaya konstruksi dan biaya pemeliharaan maka konstruksi pile slab paling efisien • Dengan urutan dan durasi pekerjaan pile slab yang sudah sangat terukur masa penyelesaian konstruksi dapat tepat waktu. 21

Konsruksi ”pile slab” untuk kondisi dan karakteristik parameter kondisinya berubah masih sangat

sebagaimana lokasi diatas adalah pilihan paling tepat namun apabila dimungkinkan untuk bisa diaplikasikan tipe konstruksi yang lainnya disesuaikan dengan pembobotan dan skala prioritas dari pelaksanaan proyek.

Referensi : 1. 2. DR. Ir. Takim Andriono, M. Eng, Precast Road on Pile DR. Ir. Harry Christiadi Hardijatmo,Msc, Sistem Cakar solusi untuk Proyek Tol Simpang Susun Waru – Juanda Ayam Modifikasi dengan Box Culvert untuk Menangani Masalah Penurunan Timbunan di Atas Tanah Lunak 3. Ir. Suhara, MT, Laporan Perencanaan Struktur dan Pondasi Fly Over dan Pile Slab Tambak Sumur

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->