P. 1
Tiang Pancang

Tiang Pancang

|Views: 3,227|Likes:
Published by riza_irham

More info:

Published by: riza_irham on Nov 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/27/2013

pdf

text

original

iang Pancang Pemancangan Tahap Awal dan Pemancangan Selanjutnya Pondasi yang digunakan untuk causeway adalah tiang

pancang baja dengan diameter 600 mm dengan spesifkasi sesuai dengan ASTM A252 Grade 2. Panjang masing-masing pipa 12 m, dengan kedalaman pemancangan rata-rata untuk Sisi Surabaya sekitar 25 m dan sisi Madura 33 m. Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang ini meliputi pekerjaan pemancangan, pengisian pasir, pengisian beton tanpa tulangan dan pengisian beton dengan tulangan. Kedalaman dari masing-masing pengisian ini didasarkan atas kondisi daya dukung tanah dan penggerusan tanah (scouring). Saat pelaksanaan 2003-2004, pemancangan di tahap awal dilakukan dengan memanfaatkan jalan kerja yang dibuat dengan menimbun, yaitu di Abutment (A0), Pilar 1-5 untuk sisi Surabaya. Sementara di sisi Madura di Abutment (A102), dan Pilar 101 sampai dengan pilar 96. Untuk pilar selanjutnya pekerjaan pemancangan dilaksanakan dengan menggunakan ponton pancang. Persiapan Hal penting yang harus diperhatikan adalah monitoring stok tiang pancang pipa baja yang sudah di-coating, sesuai kebutuhan untuk menjaga kontinuitas pekerjaan pemancangan. Selanjutnya adalah pemindahan stok pipa ke tepi pantai sesuai dengan kebutuhan. Peralatan yang digunakan untuk pemindahan ini adalah crane service 25 ton dan truk trailer. harus sudah dipersiapkan di posisi yang telah ditentukan. Kemudian crane ditempatkan di titik yang ditentukan dan dikontrol dengan teropong teodolit. Metode Pelaksanaan Pemancangan Ponton service ditarik boat mendekati stok tiang pancang yang telah diposisikan di dekat pantai. Dengan bantuan crane, tiang pancang diletakkan di atas ponton service untuk dibawa menuju ponton pancang. Tahapan selanjutnya adalah pengukuran posisi dengan mengunakan teodolit (lihat penjelasan metoda pengukuran). Lalu mengarahkan leader crane pancang yang memegang tiang pancang di atas kapal ponton ke sasaran bidik teropong yang telah disetting dengan komando dari surveyor. Apabila sudah sesuai dengan posisi yang diinginkan, maka tiang pancang sudah siap untuk dipancang.

dan crane pancang. alat ukur. Apabila sudah tepat maka tiang pancang di turunkan sesuai dengan kemiringannya dan siap untuk dipancang. Dump truck mengambil pasir pada stok area dengan bantuan excavator. Pengisian Pasir Pengisian pasir dilakukan dengan menggunakan ponton 120 ft.Untuk tiang pancang dengan kondisi miring (sudut 1:10) maka dibuat perbandingan dengan menggunakan mal yang dilengkapi dengan waterpass.5 cm) maka pemancangan dihentikan. Selanjutnya tiang pancang yang elevasinya tidak sama dipotong dengan menggunakan alat las. Diatas pontoon diposisikan sebuah excavator untuk memindahkan pasir dari dermaga ke ponton. Untuk pengisian pasir dipasang tremi di ujung tiang pancang. Dan setelah dilakukan kalendering (10 pukulan terakhir maksimal sebesar 2. . yang mampu menampung pasir 200 m3 sesuai dengan kebutuhan satu pile cap serta excavator PC 200 dengan kapasitas ± 67 m3/ jam. Selanjutnya dump truck yang telah berisi pasir menuju dermaga dan menuangkan pasir. Pelaksanaan pemancangan disesuaikan dengan nomor urut dengan pengondisian ponton. setelah terlebih dahulu diukur dengan menggunakan teodolit. dan excavator mengisi pasir ke dalam tiang pancang dengan bantuan tremi.

Pengecoran dilakukan dengan concrete pump yang dilengkapi dengan belalai untuk memasukkan beton ke tiang pancang. Selanjutnya truk mixer dari batching plan menuju ke pompa pengecoran (concrete pump). agar bisa mencapai kedalaman rencana dari pasir pada tiang pancang. Stok besi diangkut dengan truk menggunakan bantuan crane menuju dermaga dan dinaikkan ke atas ponton. Metode Penentuan Posisi (Stakeout) Tiang Pancang di Laut Secara prinsip Metoda Perpotongan Kemuka yang digunakan untuk Sisi Surabaya dan Sisi Madura diuraikan sebagai berikut: .Selanjutnya dilakukan pengukuran kedalaman tiang pancang dengan menggunakan tali yang ujungnya diberi pemberat dan diukur dengan meteran. Pengisian beton Besi isian pancang dipersiapkan di stockyard. maka pada ujung tulangan dimasuki besi melintang yang panjangnya lebih dari diameter pipa pancang. Untuk mengantisipasi agar tulangan besi tersebut tidak jatuh. Besi isian dimasukan ke tiang pancang dengan bantuan crane.

Setting sudut a dan b untuk masing-masing titik pancang (1-36) dibuatkan dalam bentuk tabel sesuai koordinat titik-titik rencana. Cara tersebut digunakan untuk tiang pancang tegak Untuk tiang pancang miring dengan perbandingan sudut 1:10. Untuk memudahkan pelaksanaan. Apabila tepi kiri dan tepi kanan sudah tepat bersinggungan. ladder crane pancang diset membentuk sudut 1:10 dengan menggunakan mal yang dilengkapi dengan waterpass. maka tiang pancang tersebut sudah berada di posisi yang tepat dan siap pancang. mengarah ke garis singgung tepi tiang pancang. bukan bagian tengahnya.50 meter dengan melalui perhitungan pengesetan sudut vertikal. Apabila sudah tepat. dengan posisi kedudukan teropong mendatar (90°). apakah 2 (dua) setting suduthorizontal yang kita lakukan sudah benar atau tidak. Secara prinsip dari 2 (dua) setting sudut horizontal saja sudah cukup memadai untuk penentuan posisi secara tepat. maka tiang pancang tersebut diturunkan sesuai kemiringan dan siap untuk dipancang. Settingsinggung tepi tiang pancang. disesuaikan dengan posisi tepi tiang pancang yang akan dibidik. sedang setting sudut horizontal yang ketiga. Mengarahkan ladder crane pancang yang memegang tiang pancang di atas kapal ponton ke sasaran bidik teropong teodolit-1 dan teodolit-2. keempat dan seterusnya hanya berfungsi sebagai control/ checking. • • • • • . Kemudian singgungkan tepi tiang pancang (seperti gambar ilustrasi) dengan komando dari surveyor. Bacaan sudut horizontal teodolit-1 dengan acuan arah centerline jembatan diset sebesar b = 03º 59' 42" mengarah ke garis singgung tepi tiang pancang. Tahapan pelaksanaan pengukuran di lapangan adalah sebagai berikut: • Alat ukur teodolit-1 dan teodolit-2 didirikan di titik-titik BM yang telah direncanakan (menggeser ke kiri ke kanan dari as BM). Tiang pancang kemudian diarahkan ke arah bidikkan teropong teodolit-1 dan teodolit-2 dan disinggungkan ke tepi kiri dan tepi kanannya hingga tepat. Bacaan sudut vertikal teodolit-1 dan teodolit-2 diset pada elevasi 2. bagian tiang pancang yang di-stake-out atau dibidik adalah tepi tiang pancang.Titik-titik tempat alat ukur digeser ke kiri atau ke kanan dari as BM sejauh setengah diameter pipa pancang (300 mm). Bacaan sudut horizontal teodolit-2 dengan acuan terhadap arah centerline jembatan diset sebesar b = 273º 59' 42".

dan pengecoran. guna koordinasi antara tim pengukur (surveyor) dengan tim pancang.05 m Dimensi bawah Panjang : 30 m Lebar :4m Tinggi : 1. secara teknis memenuhi persyaratan dan tidak terlalu sulit dilaksanakan. yaitu pembuatan bekisting.• Dalam pelaksanaan penentuan titik-titik pancang tersebut. Pengecoran dilakukan dalam dua tahap. perlu adanya alat komunikasi. .5 m Pelaksanaan pembuatan pier head/ pile cap dilakukan dalam tiga tahap. Penentuan titik-titik BM yang dipakai untuk referensi posisi alat ukur berdiri disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan maksud memudahkan pengukuran dan sasaran tidak terhalang. serta operator crane. Metoda perpotongan kemuka yang dipilih untuk penentuan posisi titik-titik pancang Jembatan Suramadu. pembesian. yaitu bagian bawah pier dan bagian atas pier. Abutment dan Pier Head Pelaksanaan Pembuatan dilakukan Bertahap Dimensi Pile Cap Dimensi Atas: Panjang Lebar Tinggi : 32 :2m : 1.

dilakukan pekerjaan pembesian yang meliputi pemasangan/ pengelasan besi WF pengikat tiang pancang. Setelah semua tulangan terpasang. Beton dengan K-350 dibuat berdasarkan hasil test pencampuran/ trial mix. probe sudut 70º Block kalibrasi V1 dan V2.DI. Agar didapat suhu beton merata tanpa terjadi perbedaan yang besar dilakukan perawatan atau curing beton dengan karung basah selama 14 hari.Setelah bekisting selesai dikerjakan. Slump yang dipersyaratkan adalah t ± 8-12 cm. (Doc No: UT22 HH). pembesian tulangan pilar bagian bawah. Kedua gelombang tersebut dibangkitkan oleh suatu probe (transduser) yang juga berfungsi sebagai penerima . Pengujian Ultrasonic Pengujian terhadap Sambungan Las pada Tiang Pancang Tujuan pengujian ultrasonic adalah melakukan pengujian terhadap kualitas las yang digunakan untuk menyambung dua pipa tiang pancang. pilar samping. Coupant yang digunakan adalah CMC. tahap berikutnya adalah pekerjaan pengecoran. dilakukan uji slump beton. Untuk setiap truk mixer beton yang berasal dari batching plant. dan pilar bagian atas.I (Structural Welding Code. dilakukan pengambilan benda uji sebanyak 48 buah untuk tiap pile cap serta pengujian slump ulang. 2002 Edition) dan Ultrasonic Examination Procedure for Steek Structure. Sebelum dituang. beton tersebut dituangkan ke dalam pile cap lapis demi lapis sambil dipadatkan. Pengujian dilakukan dengan standart ANSI/AWS. Pengujian material dengan metode ultrasonic digunakan gelombang transversal maupun longitudinal. Truk mixer kemudian membawa beton ke lokasi proyek untuk dituangkan ke concrete pump. Pengujian dengan menggunakan satu unit pesawat Ultrasonic model USK 7 Krautkramer dengan dilengkapi probe normal. Dengan bantuan concrete pump. Setelah itu dilaksanakan pekerjaan finishing pada permukaan beton Hal penting yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan pengecoran beton dengan massa besar (mass concrete)adalah perbedaan suhu. Tebal tiap lapisan ± 30 cm.

dan dipakai untuk menilai apakah beban kerja rencana dapat diterima oleh tiang terpasang. yang dilakukan dengan memasang dua buah sensor yaitu strain transduser dan accelerometer transduser pada sisi tiang dengan posisi saling berhadapan. Gelombang yang diterima sensor secara otomatis akan disimpan oleh komputer. dekat dengan kepala tiang. maka kapasitas dukung termobilisasi dengan FK=2 yang dihasilkan dinilai memenuhi target beban rencana dengan penurunan (displacement) dan masih dalam batas yang aman.gelombang. Pelaksanaan Pengujian dilaksanakan sesuai ASTM D-4945.Apabila gelombang tersebut mengenai bidang yang tegak lurus dengan arah gelombang. yang besarnya ditentukan oleh beban dan energi. masing-masing menerima perubahan percepatan dan regangan. Beban kerja yang diharapkan per-tiang adalah 140 ton. di mana gelombang pantul yang diberikan oleh reaksi tanah akibat kapasitas dukung ujung dan gerak akan memberikan kapasitas dukung termobilisasi (mobilized capacity). Dari hasil-hasil pengujian akan didapatkan informasi besarnya kapasitas dukung termobilisir dengan faktor keamanan 2. Pengujian Beban pada Tiang Pancang Baja PDA test bertujuan untuk memverifikasikan kapasitas daya dukung tekan pondasi tiang pancang terpasang. Dari hasil uji pembebanan dinamis meliputi kapasitas dukung termobilisasi. {mosimage} Prisip dasar pengujian sambungan las tiang pancang dengan adalah dengan ultrasonic test merambatkan gelombang ultrasonic ke dalam material yang akan diuji melalui transducer probe. Rekaman hasil gelombang ini akan menjadi dasar bagi analisa dengan menggunakan program TNOWAVE-TNODLT. Kedua sensor tersebut mempunyai fungsi ganda. Gelombang tekan akan merambat dari kepala tiang ke ujung bawah tiang (toe) setelah itu gelombang tersebut akan dipantulkan kembali menuju kepala tiang dan ditangkap oleh sensor. Hasil Pengujian Angka penurunan yang diambil sebagai immediate displacement (perpindahan sesaat) saat beban mencapai kapasitas dukung dengan faktor keamanan (FK) = 2. PDA . dan tidak menyatakan penurunan konsolidasi. maka akan dipantulkan kembali dan diterima oleh transducer probe dalam bentuk pulsa pada layar CRT (monitor ultrasonic) yang merupakan pulsa cacat (defecta) atau pulsa pantulan balik dari dinding belakang.

di mana gelombang pantul yang diberikan oleh reaksi tanah akibat kapasitas dukung ujung dan gerak akan memberikan kapasitas dukung termobilisasi (mobilized capacity). dekat dengan kepala tiang. {mosimage} Dari hasil uji pembebanan dinamis meliputi kapasitas dukung termobilisasi. Dari hasil-hasil pengujian akan didapatkan informasi besarnya kapasitas dukung termobilisir dengan faktor keamanan 2. masing-masing menerima perubahan percepatan dan regangan. Kedua sensor tersebut mempunyai fungsi ganda. Hal ini . Rekaman hasil gelombang ini akan menjadi dasar bagi analisa dengan menggunakan program TNOWAVE-TNODLT. yang dilakukan dengan memasang dua buah sensor yaitu strain transduser dan accelerometer transduser pada sisi tiang dengan posisi saling berhadapan. dan dipakai untuk menilai apakah beban kerja rencana dapat diterima oleh tiang terpasang. Gelombang yang diterima sensor secara otomatis akan disimpan oleh komputer.Test Pengujian Beban pada Tiang Pancang Baja PDA test bertujuan untuk memverifikasikan kapasitas daya dukung tekan pondasi tiang pancang terpasang. Gelombang tekan akan merambat dari kepala tiang ke ujung bawah tiang (toe) setelah itu gelombang tersebut akan dipantulkan kembali menuju kepala tiang dan ditangkap oleh sensor. Hasil Pengujian Angka penurunan yang diambil sebagai immediate displacement (perpindahan sesaat) saat beban mencapai kapasitas dukung dengan faktor keamanan (FK) = 2. yang besarnya ditentukan oleh beban dan energi. dan tidak menyatakan penurunan konsolidasi. Beban kerja yang diharapkan per-tiang adalah 140 ton. Approach Bridge maupun Main Span sebagian besar konstruksinya menggunakan beton bertulang. maka kapasitas dukung termobilisasi dengan FK=2 yang dihasilkan dinilai memenuhi target beban rencana dengan penurunan (displacement) dan masih dalam batas yang aman. Pelaksanaan Pengujian dilaksanakan sesuai ASTM D-4945. Special Blended Cement Mengantisipasi Serangan Sulfat dan Korosi pada Daerah laut Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu baik konstruksi Causeway.

karena itu konstruksi beton harus tahan terhadap air laut. Walaupun kita sudah mempunyai tipe semen yang selama ini digunakan di lingkungan laut. . Perhatian khusus dalam penggunaan semen pada pembangunan Jembatan Suramadu telah dimulai di tahap perencanaan maupun tahap pra-pelaksanaan. seperti semen portland type II (semen portland yang digunakan pada bangunan yang memerlukan ketahanan terhadap sulfat atau kalor hidrasi sedang) dan type V (semen yang digunakan pada bangunan yang memerlukan ketahanan tinggi terhadap sulfat). Seperti misalnya. akan tetapi semen baru diproduksi pada tahun 1802 di Perancis. Akhirnya sebuah paten tentang cara pembuatan batu-batuan atas nama Joseph Aspdin yang tinggal di daerah Portland. korosi pada besi beton serta suhu beton yang ditimbulkan oleh reaksi hidrasi semen dan air. Semen Portland dan Portland Pozolan Di awal tahun 2003.berarti sebagian besar proyek ini menggunakan bahan semen. serangan sulfat. disusul kemudian pembuatan semen dari batu kapur yang dicampur dengan tanah liat oleh Edger Dobbs dari Inggris tahun 1810 dan oleh Vicat dari Perancis (1813) serta James Frost dari Inggris (1822). Mustasir Nozir MM beserta staf dan PT. Semen Gresik telah terjadi berbagai diskusi tentang spesifikasi teknik dan berbagai bahan/ material yang akan dipakai dalam pembangunan Jembatan Suramadu. Walaupun bahan sejenis semen yang disebut "Hydraulic Cement" ditemukan tahun 1796 oleh Joseph Parker dari Kent (Inggris) yang dibuat dari butiran-butiran batu kapur dan kemudian dikenal dengan nama "Roman Cement". akan tetapi kita menginginkan adanya karakter semen yang lebih sebagai bahan bonding terhadap bahan beton lainnya. termasuk jenis semen yang terbaik untuk konstruksi jembatan ini. negara Inggris yang ditemukan tahun 1824 dan dikukuhkan dengan nama "Portland Cement". Mengingat Jembatan suramadu terletak di laut maka konstruksinya harus tahan terhadap lingkungan laut. durabilitas dan level densitasnya serta karakter-karakter lainnya. Ir. dalam hal berkaitan dengan permeabilitas. Semen baru ini terbuat dari butiran-butiran nodule. yang mempunyai sifat adesif maupun kohesif. bersama almarhum Dr.

Semen ini merupakan bahan pengikat hidrolis spesial yang dibuat dengan menggiling bersama-sama terak semen Portland.Dalam pembangunan Jembatan Suramadu. membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat seperti semen (kalsium silikat dan kalsium aluminat hidrat). tetapi dengan bentuknya yang halus. gipsum dan bahan silica amorf. atau mencampur secara merata bubuk semen Portland dan bubuk bahan yang mempunyai sifat pozolan dan boleh di tambahkan bahan-bahan lain asal tidak mengakibatkan penurunan kualitas. Dibandingkan dengan sifat fisika semen Portland maka kekuatan awal semen Portland Pozolan agak lebih rendah akan tetapi pada perkembangan reaksi berikutnya. semen jenis Portland sudah dikenal dengan baik. di mana walaupun Pozolan tidak punya sifat sementasi. mengingat adanya beberapa kelebihan. yaitu jenis semen yang dihasilkan dengan cara menggiling terak semen Portland terutama yang terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambah bahan tambahan lain. Semen untuk Suramadu Semen jenis Portland Pozolan yang dipakai di proyek pembangunan Jembatan Suramadu selanjutnya disebut dengan Special Blended Cement (SBC). serta digunakan untuk bangunan yang . Sedangkan semen jenis Pozolan (Portland Pozolan) yaitu jenis bahan pengikat hidrolis dihasilkan dengan cara menggiling bersamasama terak semen Portland dan bahan yang mempunyai sifat pozolan. Selama ini. Definisi Pozolan menurut ASTM C 618-96 adalah bahan yang mengandung senyawa silika atau silika dan alumina. diputuskan menggunakan type Pozolan. bereakasi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu biasa. dengan adanya air maka akan terjadi. akan terjadi dua reaksi yang bersamaan yaitu reaksi antara Portland cement dengan air dan reaksi antara silika aktif (amorf) dengan Ca (OH)2 dan air sehingga kekuatan Portland Pozolan semakin lama menjadi semakin tinggi.

0 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan di Jl Sangkuriang 14 Bandung. kuat tekan. waktu pengikatan dengan alat Vicat.62% dan 2. Belerang Trioksida (SO3) dan Hilang Pijar (LOI) masing-masing sebesar 1.30 1. panas hidrasi serta ketahanan sulfat. Hasil pengujian kimia terhadap benda uji air laut Tekanan (Bar) Perembesan Air Kedalam Beton (ML) SYARAT STANDAR DIN 1045 1. bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penetrasi air bila dipermukaan beton diberi tekanan secara berurutan 1 bar selama 2x24 jam.00 < 5 CM Hasil pengujian terhadap salah satu benda uji untuk "Kekedapan Air" Uraian Batu Poron Madura Tengah Laut Tambak Wedi Surabaya . 1. dengan hasil-hasil sebagai berikut: Hasil Uji Kimia Pengujian kimia didasarkan pada Standar ASTM C 595 Type IP (MS) yang dalam hal ini persyaratan kandungan Magnesium Oksida (Mg O). kekekalan bentuk. Uji kimia dan fisika serta permeability test terhadap Special Blended Cement telah dilakukan di Balai Besar Bahan dan Barang Teknik.27%. 3 bar selama 1x24 jam dan 7 bar selama 1x24 jam sehingga dapat diketahui bahwa beton tersebut dapat menahan penetrasi serangan sulfat. Test permeability Pengujian permeability test sesuai dengan DIN 1048.0 7.0 Penetrasi (cm) SBC-0.40 TGL 4-7-2003 1 2 2 3 7 7 10 1 1.15% telah memenuhi standar yang disyaratkan. Persyaratan penetrasi air sesuai DIN 1048 untuk serangan Sulfat sedang maksimum adalah 5 cm dan untuk serangan sulfat kuat maksimum adalah 3 cm. hasilnya juga telah memenuhi persyaratan standar. Hasil Uji Fisika Pengujian fisika didasarkan pada Standar ASTM C 595 Type IP (MS) yang dalam hal ini pengujian kehalusan.memerlukan ketahanan sulfat tinggi dan digunakan untuk kondisi di lingkungan laut.

juga ditemukan di tanah dan di lingkungan industri. Senyawa-senyawa sulfat dan klorida selain di air laut.SIO2) dan C2S (2CaO. menunjukkan bahwa air laut di Selat Madura. Menurunkan pembentukan enttringite dengan mengeliminasi Ca (OH)2 dari hasil reaksi C3S (3CaO. maupun di sisi Madura mempunyai kadar sulfat dan klor yang dapat dikatagorikan berat.9 2481.64 Teknologi SBC Dari hasil uji kimia terhadap benda uji air laut seperti yang ditunjukkan dalam tabel disamping. SBC Persamaan dan Perbedaan antara SBC dan Semen Portland type II dan V C3 A rendah Meminimalisasi Ca(OH) 2 Membentuk CSH (semen gel) baru Memperbaiki kekedapan C3 A rendah Tidak dapat Tidak bisa Tidak bisa memperbaiki kekedapan Seputar perbedaan aktivitas peningkatan resistensi SBC terhadap serangan air laut dan sulfat baik pada SBC maupun semen Portland Cement type II maupun type V dapat dijelaskan sebagai berikut: • • Eliminasi pembentukan enttringite dengan menurunkan C3A (3CaO . di tengah Selat Madura. Dengan data-data tersebut maka sangat jelas bahwa dalam pembangunan Jembatan Suramadu sangat memerlukan jenis semen yang mempunyai ketahanan terhadap serangan sulfat yang tinggi.02 1199.80 17742. C3A diturunkan berturut-turut maksimum 8% dan 5% sedangkan pada SBC tergantung pada Silica Amorf yang ditambahkan.40 2404. makin besar Silica Amorf yang ditambahkan C3A makin kecil dan enttringite makin sedikit.PH Ca (ppm) Mg (ppm) Cl (ppm) SO4 (ppm) 7.98 17494.Al2O3).66 1163. dan hal ini dapat merusak beton dan tulangan beton. baik disisi Surabaya.Pada semen Portland type II dan type V tidak bisa mengeliminasi Ca(OH)2 sedangkan pada SBC terjadi pengeliminasian Ca(OH)2 yaitu dengan jalan pengikatan Ca(OH)2 oleh Silica Amorf membentuk CSH ( semen gel ) baru.Pada semen Portland Type II dan Type V. .40 1164.4 2498.18 17991.46 8. Lebih jauh akan dijelaskan bahwa jenis semen SBC mempunyai keunggulan teknologi dalam meningkatkan resistensi terhadap serangan air laut dan serangan sulfat dibandingkan dengan semen Portland type II dan semen Portland type V.94 366.02 7.SIO2) dengan air.98 355.19 310.

perlu dicegah dan dikendalikan. Berdasarkan data penelitian yang ada. sehingga dapat diketahui tingkat beton tersebut dapat menahan serangan sulfat. Pada semen Portland type II dan V tidak ada pembentukan CSH (semen gel) baru. masalah ini sudah diantisipasi.34 dan beton bersifat kedap air. Penelitian juga ditujukan untuk melihat sejauh mana penetrasi air yang terjadi pada masingmasing campuran bila diuji dengan metode DIN 1048. Pipa pancang yang dipakai pada causeway (di sisi Surabaya dan sisi Madura) terbuat dari baja lunak (mild steel) grade 2 sesuai ASTM A.54. Sedangkan pada daerah sub-mergedDan immersed laju korosi hanya .252. Dengan penelitian seperti yang disebutkan diatas maka dapatlah disampaikan beberapa catatan sebagai berikut: Walaupun untuk K250 dan K350 secara kuat tekan cukup dengan FAS 0. kuat lentur. K350 dan K500 untuk proyek Pembangunan Jembatan Suramadu dapat ditentukan.63 dan 0. Coating Pencegahan Korosi pada Tiang Pancang Perhatian Khusus di Kawasan Laut Struktur baja yang dibangun di kawasan laut memerlukan perhatian khusus. daerah atmosfer dan splash zone memiliki laju korosi yang sangat tinggi (mencapai 0. Di proyek Jembatan Suramadu.l mm/ tahun). hal ini terlihat dari penetrasi air yang tidak dalam. akan tetapi agar beton memenuhi syarat tahan sulfat berat maka untuk kedua mutu beton tersebut disarankan menggunakan FAS 0.• Meningkatkan kekedapan melalui pembentukan CSH (semen gel) baru. Pengujian-pengujian kuat tarik belah. sedangkan pada SBC ada peningkatan kekedapan dengan terbentuknya CSH baru: SIO2+Ca(OH)2+H2 ==> CSH Hubungan Faktor Air Semen – Kuat Tekan Beton Dari hasil penelitian beton yang menggunakan SBC yang dimaksudkan untuk mendapatkan kurva hubungan antara FAS (Faktor Air Semen) dengan Kuat Tekan Beton sehingga proporsi campuran beton mutu K250. yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan produksi beton. Jenis pipa baja yang digunakan terdiri dari pipa SAW (spiral) dan pipa ERW (longitudinal) dengan penempatan berdasarkan pada pertimbangan laju korosi yang bervariasi sepanjang tiang pancang.50 ( DIN 1048 Campuran beton mutu K500 diperoleh dengan menggunakan FAS 0. Laju korosi akibat kondisi lingkungan dengan salinitas yang tinggi. sehingga memenuhi persyaratan beton tahan sulfat sesuai DIN 1048. hammer test untuk digunakan sebagai acuan pengawasan di lapangan.

Sistem proteksi pada pipa pancang dilakukan dengan memakai coating system dan cathodic protection system. ketahanan korosi maupun mikrostrukturnya. Metode coating pipa dilakukan langsung lapangan sebelum di pancang untuk menghasilkan kualitas coating yang optimal. Coating System Epoxy Glass Flake Coating pipa yang dipakai jenis epoxy glass flake 2000 mikron pada daerah splash zone dan tidal zone.01mm/tahun. Dari hasil uji memperlihatkan bahwa kinerja sambungan las (baik daerah HAZ maupun) weld metal lebihbaik atau sama dengan kualitas pada base metal. . Sebelum pipa SAW digunakan telah dilakukan serangkaian pengujian. Atau minimal dua meter di bawah LWL untuk pipa pancang di daerah marinel laut. ditinjau dari sifat mekanik.0. benturan dan gangguan lainnya. {mosimage} Cathodic Protection Sacrifical Anode Sistem proteksi cathodic digunakan untuk mengantisipasi cacat coating yang terjadi akibat pemancangan. dengan garansi life time 25 tahun. Sistem yang digunakan adalah sacrificial anode yang dipasang pada tiap tiang pancang pada kedalaman 1 meter di bawah seabed untuk daerah coast pasang surut. Untuk atmospheric zone sampai tidal zone (1meter di bawah pada / pasang surut dan 1 meter di bawah LWL pada daerah marine) digunakan pipa ERW sebagai tiang pancang sedangkan pada daerah sub-merged dan immersed digunakan pipa SAW dengan pertimbangan daerah las lebih panjang. Sedangkan daerah submerged zone dipakai glass flake 450 mikron.

Informasi ini dapat diwakili dengan pengujian adesif dan kekuatan geser atau uji geser yang dilakukan. Kombinasi reaksi "oksidasi" dan "deduksi" disebut reaksi "REDOX" OKSIDASI: Fe+ ==> Fe 2+ + 2e REDUKSI: 2H2 O + O2 + 4e ==> 4 OH2Fe + 2H2 O + O2 ==> 2Fe + 4 OH2Fe + 2H2 O + O2 ==> 2Fe (OH)2 (besi terkorosi) . Kebutuhan anode harus mempertimbangkan cacat coating yang terjadi di bawah seabed akibat pemancangan. yang disebabkan perbedaan potensial pada permukaan besi/ baja. Kriteria Perencanaan Proteksi cathodic direncanakan untuk mendapatkan voltage lebih rendah dari -850mV yang diukur antara permukaan tiang pancang pipa baja terhadap referensi elektroda perak/ perak clorida yang tercelup air laut. Proses korosi terjadi akibat reaksi elektrokimia. perawatan. biaya operasional. aman terhadap lingkungan. serta lebih baik dari sisi estetika.{mosimage} {mosimage} Pertimbangan digunakannya sacrificial anode antara lain adalah kemudahan dalam hal pelaksanaan. Proteksi cathodic untuk causeway Jembatan Suramadu direncanakan dengan kriteria lingkungan sebagai berikut: • • • • Resistivitas air laut 20 ohm cm Rasistivitas dasar laut 150 ohm cm Suhu rata-rata air laut 29° C Umur Rencana 25 Tahun Penempatan Anode Pemasangan anode harus didistribusikan agar tidak terjadi perbedaan potensial secara drastis terhadap keseluruhan tiang pancang dan untuk mendapatkan kelebihan perlindungan sesedikit mungkin.

oksigen.Al +3e + 3e (Sacrificial Anonda) 2Al + 3Fe (OH)2 ==> 3Fe + 2Al (OH)3 Bahan metal dalam hal ini pipa baja apabila terletak pada lingkungan bahan/ zat yang menyebabkan korosi. . Sebagai contoh. Untuk menghindari proses terjadinya korosi salah satu caranya adalah dengan mengorbankan metal (Aluminium/ Al) yang mempunyai sifat lebih kuat pengikatannya terhadap zat-zat korosif tersebut. Dengan demikian maka pipa baja akan terlindungi selama aluminium tersebut masih melekat pada pipa baja (+ 25 tahun) dengan pemeriksaan berkala minimum 6 bulan sekali. maka akan terjadi proses kimia antara baja tersebut dengan zat-zat penyebab korosi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->