P. 1
JURNAL

JURNAL

|Views: 295|Likes:
Published by rieriess

More info:

Published by: rieriess on Nov 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2014

pdf

text

original

The 2nd National Conference UKWMS Surabaya, 6 September 2008

PERSEPSI MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP ETIKA PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
Nurita Universitas Kristen Duta Wacana WED Radianto Universitas Ciputra Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan persepsi mahasiswa akuntansi terhadap etika penyusunan laporan keuangan, antara mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika. Analisis didasarkan pada data dari 134 responden penelitian yang pengumpulannya melalui kuesioner.Metode yang digunakan oleh peneliti adalah uji Mann Whitney yang digunakan untuk menguji perbedaan persepsi mahasiswa terhadap penyusunan laporan keuangan dan menguji tanggung jawab mahasiswa terhadap pelaporan keuangan, sedangkan uji T-Test digunakan untuk menguji perbedaan persepsi antara pria dan wanita.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika. Mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika memiliki persepsi yang baik terhadap etika penyusunan laporan keuangan dibandingkan dengan mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika. Sedangkan mengenai tanggung jawab terhadap pelaporan informasi keuangan mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika lebih tinggi dari pada mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika. Hal ini berarti kurikulum Akuntansi di perguruan tinggi tersebut dianggap belum cukup memberi bekal etika kepada mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja, KataKunci: Laporan Keuangan, Etika, Persepsi, mahasiswa

1

The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Akuntansi merupakan sistem yang digunakan untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan banyak pihak. Tidak mengherankan jika sejak dahulu etika selalu menyoroti akuntan dalam menyajikan laporan keuangan. 6 September 2008 PENDAHULUAN Kemajuan ekonomi suatu perusahaan memacu para akuntan untuk melakukan tindakan persaingan yang cukup tajam dalam dunia bisnis. untuk itu kesiapan yang menyangkut profesi seorang akuntan mutlak diperlukan. pemakai jasa dan akan menentukan keberadannya dalam persaingan di antara rekan profesi dari negara lainnya. Misal: Rasio-rasio kegiatan perusahaan di bidang sosial dan sebagainya. yang disertai dengan catatan atau informasi atas laporan keuangan. Profesionalisme suatu profesi akuntan mensyaratkan tiga hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota akuntan yaitu keahlian. pemahaman dan dapat menerapkan etika secara memadai dalam melaksanakan 2 . informasi tersebut berupa informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan. maupun akuntan pemerintah. Di Indonesia sedang berkembang issue seiring dengan terjadinya beberapa pelanggaran etika yang terjadi. baik yang dilakukan oleh akuntan publik. Hal ini tidak akan terjadi jika setiap akuntan dan calon akuntan mempunyai pengetahuan. Karakter menunjukkan kepribadian seorang akuntan yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan etis akuntansi akan sangat menentukan posisinya di masyarakat. Profesi akuntan Indonesia pada masa yang akan datang akan menghadapi tantangan yang semakin berat. Semua perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya. akuntan intern. Terkadang penyajian laporan keuangan yang telah dibuat oleh akuntan menyimpang dari etika dan sikap positif seorang akuntan. agar dapat memperluas jaringannya. pengetahuan. dan berkarakter.

Mata kuliah yang mengandung muatan etika tidak terlepas dari misi yang telah dimiliki oleh pendidikan tinggi akuntansi sebagai subsistem pendidikan tinggi. dimana kemampuan seorang akuntan untuk dapat mengerti dan peka terhadap persoalan etika juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia berada. 3 . Pekerjaan seorang akuntan harus dikerjakan dengan sikap yang professional yang sepenuhnya berlandaskan pada standar moral dan etika yang ada.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. tetapi pendidikan tinggi akuntansi juga bertanggung jawab pada pengajaran ilmu pengetahuan yang menyangkut tentang etika yang harus dimiliki oleh mahasiswanya dan agar mahasiswanya mempunyai kepribadian (personality) yang utuh sebagai calon akuntan yang profesional. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai perbedaan persepsi mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika tentang penyajian laporan keuangan. Dalam hal ini ada salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seorang akuntan adalah lingkungan pendidikan. Dengan sikap akuntan yang professional maka akan mampu menghadapi tekanan yang muncul dari dirinya sendiri ataupun dari pihak eksternal. Oleh sebab itu pemahaman seorang calon akuntan (mahasiswa akuntansi) sangat diperlukan dalam hal etika dan keberadaan pendidikan etika ini juga memiliki peranan penting dalam perkembangan profesi akuntansi di Indonesia. Dunia pendidikan akuntansi juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku etis seorang akuntan. serta memperoleh bukti empiris mengenai perbedaan persepsi mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika tentang tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan. 6 September 2008 tugasnya sebagai seorang akuntan yang professional.

(1993) mengenai persepsi akuntan publik terhadap kode etik akuntan. menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara kelompok akuntan publik terhadap kode etik akuntan.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Penelitian yang dilakukan oleh Stevens et al. Rustiana dan Dian Indri (1999) juga membandingkan persepsi antara novice accountant (mahasiswa). Hasil analisis dengan t-test menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak ada perbedaan signifikan di antara kelompok. Rahmi. (1993) melakukan penelitian tentang perbandingan evaluasi atas dari staf pengajar dengan mahasiswa sekolah bisnis. Selain itu hasil dalam penelitian ini juga menunjukkan adanya kecenderungan bahwa mahasiswa akhir lebih berorientasi etis dibandingkan mahasiswa baru. Gudono (2000) menyimpulkan tidak ada perbedaan 4 . dan persepsi akuntan publik lebih baik dibanding akuntan pendidik dan novice accountant (mahasiswa). Sedangkan Sriwahjoeni dan M. Penelitian yang dilakukan oleh Desriani. Data dikumpulkan dari 137 mahasiswa bisnis (46 mahasiswa baru dan 67 mahasiswa akhir) dan 34 anggota staf pengajar di Southem University. akuntan pendidik dan akuntan publik terhadap kode etik akuntan yang hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi tentang kode etik akuntan diantara tiga kelompok akuntan tersebut. Sedangkan Ward et al.(1993) melakukan penelitian untuk menginvestigasi kemampuan Certified Publik Accountats (CPA) mengenali dan mengevaluasi situasi etis dan tidak etis serta menguji sikap CPA berkaitan tentang pendidikan etika. Hasil analisis yang menggunakan Kolmogorov Sminov one sample test dan pair t-test menunjukkan bahwa dalam derajat tertentu CPA dapat membedakan perilaku etis dan tidak etis. walaupun ada kecenderungan staf pengajar lebih berorientasi etis dibanding mahasiswa baik di tingkat akhir maupun mahasiswa baru. 6 September 2008 KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Beberapa penelitian mengenai topik terkait sudah pernah dilakukan.

karena jumlah responden mahasiswa yang akan diberi kuesioner diketahui persis oleh peneliti yaitu mahasiswa semester 1 yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa semester akhir yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa tidak ada perbedaan persepsi yang signifikan antara kelompok akuntan pendidik dengan mahasiswa akuntansi. Penelitian ini menggunakan skala 5 .The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Dari tinjauan dan penelitian terdahulu. maka dua hipotesis sebagai berikut: H1: Terdapat perbedaan persepsi mengenai penyajian laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan memberikan pertanyaan kepada responden mengenai persepsi mereka terhadap etika penyajian laporan keuangan. Wulandari dan Sularso (2002) juga meneliti tentang persepsi akuntan pendidik dan mahasiswa akuntansi terhadap kode etik akuntan Indonesia. H2: Tidak terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. Data dalam penelitian ini dikumpulkan sejak bulan Agustus sampai awal Desember 2007. 6 September 2008 persepsi diantara tujuh kelompok akuntan yang diteliti terhadap kode etik akuntan. METODA PENELITIAN Dalam penelitian ini populasi atau obyek penelitiannya diambil dari mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Sampel mahasiswa belum mewakili seluruh perguruan tinggi di Indonesia sehingga hasil penelitian tidak dapat di generalisir. 6 September 2008 likert dengan menggunakan 5 kategori penelitian yaitu sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Keterbatasan Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kuesioner yang diisi lengkap dan dapat digunakan untuk analisis data adalah 64% yaitu sebanyak 128 kuesioner. 6 . Menambah sample dan populasi penelitian. Hasil Pengolahan Data Pada bagian pengolahan data akan dilakukan uji reliabilitas dan validitas terlebih dahulu. Data yang diperoleh tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan T-Test dan Uji MannWhitney (U). ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini jumlah kuesioner yang disebarkan secara keseluruhan berjumlah 200 kuesioner. kuesioner yang tidak diisi dengan lengkap 15% yaitu sebanyak 36 kuesioner. Berikut ini adalah data responden yang digunakan untuk pengolahan data. Tingkat pengembalian kuesioner 85% yaitu sebanyak 170 kuesioner. Dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan 128 sampel. sehingga dapat menghasilkan penelitian yang lebih baik. diharapkan penelitian selanjutnya dapat meningkatkan sampel lebih dari jumlah tersebut. Uji validitas dan reliabilitas yang dilakukan menunjukkan valid dan reliabel.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Setelah dilakukan uji reliabilitas dan validitas selanjutnya dilakukan uji T-Test dan Mann Whitney sebagai konfirmasi. 2.

Pengujian Hipotesis Kedua Tabel 3.05 Mahasiswa Total Signifikansi 7 . Hasil Pengujian Hipotesis Kedua kelompok sudah mengambil matkul etika belum mengambil matkul etika N 64 64 128 .95 74.004 Mean Rank 54.14 60.262 Mean Rank 68.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. 6 September 2008 Tabel 1 Data Responden Keterangan Mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika Mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika Laki-laki 30 26 Perempuan 34 38 Pengujian Hipotesis pertama Tabel 2 Hasil Pengujian Hipotesis Pertama Kelompok Mahasiswa sudah mengambil matkul etika belum mengambil matkul etika Total Signifikansi N 64 64 128 . terlihat pada kolom tingkat signifikansi sebesar 0.05 sehingga mendukung hipotesis pertama atau memang persepsi mengenai penyajian laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika benar berbeda.262 yang mempunyai nilai lebih dari 0.86 Tabel 2 menunjukkan hasil pengujian hipotesis pertama.

yang membayarnya).262 sehingga mendukung hipotesis pertama. atau tidak terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika Analisis Terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi mengenai penyajian laporan keuangan pada perusahaan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Hal ini dapat dilihat juga dari nilai rata-rata kelompok mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika yaitu sebesar 68.14. Dalam pelaporan informasi keuangan lebih baik disajikan menurut standar etik akuntansi atau dengan perkataan lain dalam kegiatan akuntansi berlaku nilai-nilai akuntansi: 8 .86. Seorang akuntan harus memiliki akurasi dan kejujuran dalam mengungkapkan segala hal yang terkait dengan peristiwa/kegiatan yang ia periksa (pelaporannya harus accountable). bahwa jika menjadi seorang akuntan dan pelaku kegiatan akuntansi tidak boleh memalsukan ‘informasi‘ sekitar laporan keuangan. tetapi ia juga harus memperhitungkan kepentingan/kebutuhan semua pihak yang menggunakan pelaporannya. nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika yaitu 60. 6 September 2008 Tabel 3 menunjukkan hasil pengujian hipotesis kedua. Ini terjadi karena jika mahasiswa mengikuti pendidikan etika di kelas mereka akan memperoleh penjelasan dan mengerti tentang kode etik seorang akuntan.05 sehingga mendukung hipotesis kedua.004 yang mempunyai nilai lebih dari 0. terlihat pada kolom tingkat signifikansi sebesar 0. Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi sebesar 0.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Seorang akuntan tidak boleh memberi pelaporan yang bertujuan membela kepentingan satu pihak saja (pemakai jasa akuntan.

apakah kita setuju untuk melakukan hal tersebut. Dalam banyak kasus riil. dan menginformasikan kepada pemegang saham bahwa kondisi keuangan perusahaan baik-baik saja serta dapat memberikan pengembalian deviden yang cukup untuk pemegang saham.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. sebaiknya kita mengundurkan diri saja dan mencari pekerjaan yang lain. sebab ketiganya bermakna dan berperan besar mendukung seorang akuntan yang dapat menghasilkan apa yang seharusnya/wajib dilakukan oleh seorang akuntan. karena pada 9 . yang menurut kita pekerjaan yang lebih baik serta tidak menuntut kita untuk melakukan perbuatan yang tidak kita inginkan. jika kita mempunyai prinsip dan lebih mengarah ke yang benar serta standar kode etik dapat dipegang bahwa kita tidak boleh melakukan hal tersebut lebih baik jangan melakukan perbuatan tersebut. etika selalu memperhitungkan situasi konkrit yang ada. Mungkin kita dapat berpikir apakah keputusan yang kita ambil dari segi etik/moral dapat dipertanggungjawabkan. etika memungkinkan pilihan tindakkan yang tidak sepenuhnya baik/benar. tetapi tentu saja tidak boleh yang jahat/salah. 6 September 2008  Ketelitian (dalam pemeriksaan)  Kejujuran dan akurasi (dalam pelaporan)  Kepentingan semua pihak Ketiga hal diatas disebut sebagai nilai yang berlaku dalam akuntansi. Kita terkadang bingung jika kita bekerja pada sebuah perusahaan yang akan bangkrut dimana pajak yang harus dibayarkan ternyata cukup tinggi serta banyak karyawan akan di phk (putus hubungan kerja) apabila seorang akuntan diperintah untuk melakukan pelaporan keuangan palsu. Jika mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika maka mahasiswa tersebut belum mengerti kode etik yang diberlakukan bagi seorang akuntan. dan mereka lebih memandang kepentingan pihak perusahaan dan karyawan yang bekerja diperusahaan tersebut. Menurut pendidikan etika.

persepsi terhadap profesi inilah yang mempengaruhi derajat tanggung jawab yang dirasakan mahasiswa jurusan akuntansi terhadap pengguna laporan keuangan.004 sehingga mendukung hipotesis kedua. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika lebih memandang tinggi profesi akuntan dibandingkan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika.95. tetapi jika penulis melihat dari nilai rat-rata pada mahasiswa yang belum mengambil matakuliah etika lebih tinggi yaitu 74. semua bersumber pada diri kita sendiri. Tidak terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan antara mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika. maka mereka merasa 10 .The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Jadi jika perusahaan memberikan kita pekerjaan untuk melakukan manupulasi data dalam laporan keuangan itu pada prinsipnya ada pada diri kita sendiri kita mau tidak melakukannya apa kita tidak memiliki prinsip yang teguh dan tidak termakan dengan iming-iming yang diberikan perusahaan tersebut. karena jika hasil mean yang lebih tinggi menggambarkan tanggung jawab yang lebih tinggi untuk menyajikan laporan keuangan yang informatif bagi penggunannya. hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi sebesar 0.05 jauh dibandingkan dengan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah etika yaitu 54. 6 September 2008 kuesioner yang peneliti sebarkan pada pertanyaan “Saya akan dengan sengaja membuat kesalahan dalam laporan keuangan jika hal itu diperlukan untuk mencegah kebangkrutan perusahaan dan menjaga keamanan pekerjaan karyawan saya“. pada mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika lebih mengarah ke setuju sedangkan pada mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika lebih mengarah ke tidak setuju. Mahasiswa baru tanggung jawabnya lebih tinggi karena mereka merasa orang awan yang baru masuk pada suatu perkerjaan yang baru.

KESIMPULAN Setelah melakukan penelitian maka dapat diperoleh kesimpulan dari hipotesis sebagai berikut: a. karena kita harus merasa memiliki perusahaan tersebut maka kita melakukan perkerjaan tersebut akan dengan hati yang tulus dalam melaksanakannya.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. 11 . biasanya dalam rangka pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keikutsertaannya dalam pendanaan kegiatan. untuknya pelaporan itu bukan sekedar sebuah laporan yang mengesahkan kebenaran laporan keuangan. tetapi juga untuk kepentingan pengambilan keputusan untuk kegiatan berikutnya. bukan manager perusahaan’ pada pertanyaan yang ini kebanyakkan oleh responden mahasiswa baru lebih memilih tidak setuju karena mereka berpikir jika kita sudah berkerja pada perusahaan tersebut maka kita harus memiliki rasa bertanggung jawab bersama jangan hanya merupakan tanggung jawab seorang independen auditor saja. Pengguna pelaporan akuntansi bisa terdiri dari berbagai pihak dengan kepentingannya masing-masing misalnya: Pemilik modal atau sponsor keuangan. maka hipotesis pertama diterima. Mereka memakai pelaporan itu. Sedangkan pada mahasiswa lama mereka lebih memilih kata setuju jadi dapat kita simpulkan bahwa mahasiswa lama memiliki tanggung jawab yang lebih rendah daripada mahasiswa yang baru masuk perguruan tinggi. Masyarakat umum pengguna pelaporan. 6 September 2008 mempunyai tanggung jawab yang penuh terhadap pekerjaan tersebut pada pertanyaan yang penulis ajukan yaitu ‘Yang bertanggung jawab untuk menjaga kepentingan investor adalah independen auditor. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan mengenai penyajian laporan keuangan antara mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika.

Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan mengenai tanggung jawab terhadap pengguna dalam laporan keuangan antara mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Pada akhirnya penelitian ini tidak mengatakan bahwa persepsi mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika adalah buruk atau baik. 12 . Oleh sebab itu hendaknya dunia pendidikan akuntansi semakin memperhatikan pendidikan etika mahasiswa akuntansi dalam berbagai jenjang pendidikan. 6 September 2008 b. karena pada dasarnya semua profesi memerlukan etika yang baik dalam menjalankan profesinya tidak terkecuali pada pendidikan akuntansi yang mencetak calon akuntan yang berjasa dalam penyediaan informasi laporan keuangan kepada pihak publik. maka hipotesis kedua ditolak.

Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS Edisi 3. Sihwahjoeni dan M. Deck. Edisi ketiga.B. 1999.R. Jakarta: Penerbit Balai Pustaka. Drs. 2005. Penerbit: PT Elex Media Komputindo. Gudono. 3. 1993. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. BPFE. Journal of Business Ethics 12. Mengolah Data Statistik Secara Profesional.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Journal of Business Ethics 12: 611-619. Semarang. Thesis S-2.2 Des: 17-89 13 . Yogyakarta. Steven. No. No. 2 Juli: 168-184.”Persepsi Akuntan Pendidik dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia Studi Kasus Di Surakarta”.”Persepsi Akuntan Terhadap Kode Etik Akuntan”. Rahmi. Simposium Nasional Akuntansi II IAIKAPd September. 600-610. Jurnal Perspektif FE UNS Vol. 6 September 2008 DAFTAR REFERENSI Djarwanto. Desriani. Ward. 1993. Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. Ghozali. D. Singgih Santoso. 2002. dan A. Akuntan Pendidik. Imam. 2005. Persepsi Kode Etik Akuntan Indonesia: Komparasi Novice Accountant. 7. Ethical Perception Skill and ttitudes on Ethics Education. dan Akuntan public. 1985. Certified Public Accountants. Ward. Universitas Gadjah Mada. Statistik Nonparametrik Edisi 2. 1993. Suzanne Pinac. Program Pasca Sarjana.2001. Yogyakarta.”Persepsi Akuntan terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia”. Wulandari dan Sularso. A Compration of Ethical Evaluations of Business Scholl Faculty and Students: A Pilot Study. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Penerbit: Universitas Diponegoro. Rustiana dan Dian Indri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->